identifikasi konflik yang terjadi - MMT-ITS

advertisement
C-5-1
IDENTIFIKASI KONFLIK YANG TERJADI
PADA PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG
Aderiani, R. Sutjipto Tantyonimpuno, Tri Joko Wahyu Adi
Laboratorium Manajemen Konstruksi Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS
Jl. Arif Rahman Hakim, Gedung Teknik Sipil Lt.1 Telp.031-5939925
Email : [email protected]
ABSTRAK
Pada proyek konstruksi, konflik merupakan hal yang tidak dapat dihindari akibat
sifat dinamis dari lingkungan proyeknya. Konflik tersebut harus diselesaikan dengan
cara yang tepat untuk meminimalkan pengaruh buruknya terhadap usaha-usaha
pencapaian sasaran proyek. Oleh karenanya, identifikasi terhadap konflik yang
berpotensi terjadi menjadi sangat penting untuk dilakukan guna pengelolaan konflik
secara efektif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konflik-konflik yang berpotensi terjadi
pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung beserta faktor penyebabnya, mengetahui
konflik-konflik yang sering terjadi, dan mengetahui cara penyelesaian konflik yang
sering digunakan pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung.
Dari survei kuesioner, terkumpul 35 manajer proyek sebagai responden penelitian
dari 19 perusahaan kontraktor di Surabaya dengan kualifikasi besar yang
berpengalaman menangani pelaksanaan proyek konstruksi gedung. Data yang
terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis faktor.
Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat empat jenis konflik yang berpotensi
terjadi pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung, yaitu konflik akibat faktor
organisasi, konflik akibat faktor teknis, konflik akibat faktor sumber daya, dan konflik
akibat faktor jadwal. Namun demikian, konflik-konflik tersebut mempunyai frekuensi
yang cukup rendah untuk terjadi. Di antara keempat jenis konflik di atas, frekuensi
terjadinya konflik akibat faktor sumber daya dan faktor jadwal adalah lebih tinggi
dibandingkan dengan konflik-konflik lainnya. Untuk menyelesaikan konflik yang
terjadi, manajer proyek sering mempergunakan pendekatan confrontation atau problem
solving dan pendekatan compromising atau negotiating. Khusus untuk konflik
personalitas, manajer proyek mempergunakan pendekatan smoothing sebagai alternatif
lain penyelesaian konflik yang terjadi.
Kata kunci : konflik, proyek konstruksi gedung
PENDAHULUAN
Kegiatan konstruksi terdiri dari beberapa tahap, dimana tahap yang paling
menentukan adalah tahap konstruksi karena kualitas keseluruhan proyek sangat
tergantung pada pembuatan dan manajemen pada tahap tersebut. Disamping itu
sebagian besar dari seluruh dana dan waktu proyek dicurahkan selama pembangunan
konstruksi. Mengingat pentingnya tahap pembangunan konstruksi ini, kontraktor harus
berhati-hati dalam merencanakan, membuat jadwal, dan mengelola proyek (Oberlender,
2000:258). Untuk itu diperlukan suatu manajemen dalam proyek yang terdiri atas proses
pengelolaan, pengalokasian, dan penjadwalan sumber-sumber daya dalam proyek untuk
meraih sasaran-sasaran yang telah ditetapkan (Badiru dan Pulat, 1995:2).
____________________________________________________________________________
ISBN : 979-99302-0-0
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi I
25-26 Pebruari 2005
Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
C-5-2
Sumber daya yang berperan paling besar dalam pengelolaan proyek adalah
sumber daya manusia sehingga sumber daya ini perlu dikelola dengan baik walaupun
mengelola sumber daya manusia merupakan hal yang paling sulit dilakukan dalam
setiap organisasi. Adanya perbedaan-perbedaan dalam hal tujuan, pandangan, pendapat
atau nilai antar kelompok atau individu dalam setiap organisasi akan mendorong
timbulnya friksi yang bisa menjurus ke arah terjadinya konflik (Soeharto, 1997:103).
Apabila konflik tersebut tidak ditangani dengan tepat maka sangat berpotensi untuk
menggagalkan pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Pada proyek konstruksi, suatu
konflik dapat tumbuh disebabkan karena organisasi proyek sering dibentuk pada saat
ada proyek baru. Akibatnya seringkali terjadi pergantian personil dimana sebelumnya
mungkin belum pernah bekerja sama. Disamping itu, para personil tersebut memiliki
pola pikir yang ditempa oleh pengalaman yang berbeda dan harus menghadapi situasi
proyek yang dinamis dengan periode yang relatif singkat. Dari kondisi-kondisi inilah
bibit-bibit konflik dalam organisasi proyek tersebut akan tumbuh dan sulit dihindari.
Prioritas pekerjaan, jadwal dan alokasi sumber daya merupakan beberapa sumber
potensial terjadinya konflik dalam organisasi tim proyek. Dualisme kepemimpinan dan
otoritas seringkali juga menjadi sumber utama konflik, baik berupa konflik kepentingan
atau konflik-konflik yang lain.
Sampai pada tingkat tertentu konflik bersifat alami. Bahkan terkadang konflik bisa
bermanfaat dan menguntungkan apabila konflik tersebut merupakan sarana perubahan
yang positif dan menjadi bagian dari proses penyelesaian masalah yaitu mencari titik
temu dan memunculkan alternatif terbaik. Oleh karena itu, selama konflik yang terjadi
dalam proyek tidak mengganggu proses pencapaian setiap sasaran proyek maka konflik
bisa diperbolehkan muncul (Kerzner, 2001:382).
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka perlu dilakukan identifikasi
terhadap konflik-konflik yang terjadi pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung.
Selain itu perlu diketahui juga mengenai metode penyelesaian konflik yang dianggap
dapat menyelesaikan masalah konflik yang terjadi pada pelaksanaan proyek konstruksi
gedung. Hasil identifikasi dan analisa dari penelitian ini diharapkan dapat membantu
para manajer proyek untuk mengetahui konflik-konflik yang terjadi dalam proyek
konstruksi gedung untuk selanjutnya dapat digunakan dalam mengelola konflik yang
timbul dalam proyek-proyek yang ditanganinya sehingga dapat mendukung
kemungkinan pencapaian sasaran proyek yang lebih baik.
TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui konflik-konflik yang dapat terjadi pada pelaksanaan proyek konstruksi
gedung beserta faktor penyebabnya.
2. Mengetahui konflik yang sering terjadi pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung.
3. Mengetahui cara penyelesaian yang sering digunakan untuk menyelesaikan masalah
konflik yang terjadi pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung.
BATASAN PENELITIAN
Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas dan dapat memberi
arah dalam pelaksanaan penelitian sesuai dengan tujuan yang akan dicapai maka perlu
dilakukan pembatasan terhadap penelitian yang dikerjakan. Batasan dalam penelitian ini
adalah:
____________________________________________________________________________
ISBN : 979-99302-0-0
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi I
25-26 Pebruari 2005
Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
C-5-3
Konflik yang diteliti adalah konflik yang berpotensi untuk menjadi disfungsional
yaitu konflik yang mempunyai konsekuensi negatif terhadap pencapaian sasaran proyek.
2. Penelitian dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan kontraktor di kota Surabaya
dengan kualifikasi besar yang pernah/sedang menangani proyek konstruksi gedung.
3. Konflik yang diteliti adalah konflik yang terjadi di dalam perusahaan kontraktor itu
sendiri selama proyek gedung dilaksanakan.
4. Perincian konflik-konflik yang diteliti diperoleh dari literatur-literatur sebagaimana
yang ada pada Tinjauan Pustaka dan berdasarkan pengalaman para ahli dalam
pelaksanaan proyek konstruksi gedung.
5. Penelitian yang dilakukan adalah hanya sebatas penelitian terhadap persepsi para
ahli yang berpengalaman dalam pelaksanaan proyek konstruksi gedung.
1.
DEFINISI KONFLIK
Pruitt dan Rubin (dalam Lewicki dan kawan-kawan, 2003:18) dan Winardi (1994:1)
mendefinisikan konflik sebagai suatu pertentangan atau ketidakcocokan pendapat yang
kuat dalam hal kepentingan atau pemikiran yang terjadi antara orang-orang, kelompokkelompok, atau organisasi-organisasi.
Terdapat dua pandangan yang berbeda mengenai konflik yaitu pandangan
tradisional dan pandangan baru (Thamhain, 1984:238). Perbedaan ini dapat dilihat
dalam tabel 1 dibawah ini.
Tabel 1. Pandangan Realistis Mengenai Konflik
Pandangan Tradisional
Pandangan Baru
Konflik sebaiknya dihindari
Konflik merupakan bagian dari suatu perubahan sehingga
konflik tidak bisa dihindari
Konflik merupakan akibat dari para pengacau dan orang-orang
yang egois
Konflik terjadi karena struktur sistem dan hubu-ngan di
antara komponen-komponen yang ada
Konflik merupakan sesuatu yang buruk
Konflik bisa bermanfaat
Sumber: Thamhain (1984:238)
Gibson, Ivancevich, dan Donnelly (1985:294), Hatch (1997:302-304), dan Winardi
(1984:6). memberikan penjelasan mengenai dua sifat dasar dari konflik, yaitu sifat
fungsional/konstruktif (konflik yang meningkatkan dan menguntungkan kinerja
organisasi karena membawa pengaruh positif terhadap kinerja organisasi berupa
timbulnya inovasi dan penyesuaian) dan sifat disfungsional/destruktif (konflik yang
berpengaruh negatif terhadap kinerja setiap individu, kelompok, dan organisasi karena
membahayakan organisasi atau mengganggu pencapaian tujuan organisasi).
Menurut Kerzner (2001:386) dan Soeharto (1997:103-104) meskipun konflik dalam
proyek dapat menghalangi pencapaian sasaran salah satu pihak, namun keuntungannya :
Konflik bisa memberikan informasi dan gagasan baru yang pada akhirnya
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.
b. Konflik dapat memaksa pihak-pihak yang terlibat didalamnya untuk berpikir dan
mempertimbangkan kembali pandangannya.
a.
____________________________________________________________________________
ISBN : 979-99302-0-0
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi I
25-26 Pebruari 2005
Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
C-5-4
Konflik dapat memunculkan masalah yang selama ini terpendam menjadi terbuka
dan memungkinkan pimpinan membantu mencari jalan keluar yang terbaik untuk
proyek.
d. Konflik dapat mengajarkan adanya rasa saling mengerti dan menghargai pendapat
lain.
c.
MANAJEMEN KONFLIK
Manajemen konflik merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengelola konflik.
Ada beberapa langkah yang umum untuk diikuti dalam proses manajemen konflik
(Pena-Mora, Sosa, dan McCone, 2003:203-222), antara lain (Gambar 1):
Identifikasi
Konflik
Gambar 1
2003:202)
Menganalisa
Merancang &
Menerapkan
Manajemen
Konflik
Memantau &
Meninjau
Konflik
Proses Manajemen Konflik (Pena-Mora, Sosa, dan McCone,
Ulang Rencana
SUMBER-SUMBER DAN FAKTOR PENYEBAB KONFLIK
Dari hasil penelitian oleh Kerzner (2001:388) dan Thamhain (1984:239-242) kepada
150 orang manajer proyek, didapatkan tujuh sumber konflik yang potensial terjadi
dalam proyek, yaitu :
1. Konflik karena Prioritas Proyek (Conflict over project priority)
2. Konflik karena Prosedur-prosedur Administrasi (Conflict over administrative
procedures)
3. Konflik karena Pendapat-pendapat Teknis (Conflict over technical opinion)
4. Konflik karena Sumber Daya Manusia (Conflict over manpower resource)
5. Konflik karena Biaya (Conflict over cost)
6. Konflik karena Jadwal (Conflict over schedule)
7. Konflik Personalitas (Personality conflict)
____________________________________________________________________________
ISBN : 979-99302-0-0
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi I
25-26 Pebruari 2005
Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
C-5-5
LOW
0
CONFLICT INTENSITY
1.0
HIGH
2.0
CONFLICT OVER SCHEDULES
CONFLICT OVER PRIORITIES
CONFLICT OVER MANPOWER
CONFLICT OVER TECH. ISSUES
CONFLICT OVER ADMINISTRATION
PERSONALITY CONFLICT
CONFLICT OVER COST
Gambar 2. Intensitas konflik yang terjadi dalam proyek
PENDEKATAN-PENDEKATAN PENYELESAIAN KONFLIK
Sejumlah besar penelitian mengindikasikan bahwa para manajer melakukan pendekatan
dan menyele-saikan permasalahan konflik dengan mempergunakan berbagai cara seperti
pada tabel berikut:
Tabel 2. Perbedaan Metodologi Penyelesaian Konflik
Pendekatan
Penyelesaian
Konflik
Deskripsi
Gaya-gaya
Tujuantujuan
Personil
Hubungan
Force
Memaksakan pandangan seseorang dengan mengorbankan kekuatan pihak
lain.
Win – Lose
Tinggi
Rendah
Smoothing
Memperkecil perbedaan-perbedaan dan menekankan kebersamaan demi
masalah-masalah konflik.
Yield – Lose
Rendah
Tinggi
Withdrawal
Mengundurkan diri dari pertentangan-pertentangan yang kuat atau nyata dan
dari situasi konflik.
Lose – Leave
Rendah
Rendah
Compromise
Mempertimbangkan berbagai masalah, melakukan tawar-menawar, dan
mencari cara-cara penyelesaian atau pemecahan yang mem-bawa kepuasan
kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
Compromise
Sedang
Sedang
Problem
Solving
Berkenaan dengan konflik sebagai suatu masalah untuk diselesaikan
daripada suatu peperangan untuk dimenangkan, dalam rangka untuk
mencapai kepuasan bersama dengan menjaga hubungan dan kepentingan
konflik.
Integrative
Tinggi
Tinggi
Sumber: Ock dan Han (2003:86)
ANALISA DATA
Uji Validitas
Bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pertanyaan-pertanyaan dalam
kuesioner dapat mengukur secara tepat variabel-variabel penelitian dengan prosedur
Bivariate Correlation. Dari uji tersebut didapatkan nilai r product-moment semua butir
pertanyaan mempunyai angka yang lebih besar dari r tabel (0,334), untuk tingkat
signifikansi () 5% dengan 35 sampel. Jadi dapat disimpulkan bahwa semua butir
pertanyaan baik untuk faktor-faktor penyebab konflik maupun frekuensi konflik adalah
valid.
Uji Reliabilitas
Berdasarkan hasil uji reliabilitas terhadap data faktor-faktor penyebab konflik diperoleh
nilai alpha (r alpha) sebesar 0,9354. Untuk hasil uji reliabilitas terhadap data frekuensi
____________________________________________________________________________
ISBN : 979-99302-0-0
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi I
25-26 Pebruari 2005
Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
C-5-6
konflik diperoleh nilai alpha (r alpha) sebesar 0,9492. Terlihat bahwa kedua nilai alpha
ini mempunyai nilai yang lebih besar dari 0,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa butirbutir pertanyaan adalah reliabel (andal).
Analisa Deskriptif
Tabel 3. Statistik deskriptif
Kode
A1
A2
A3
A4
B1
B2
C1
C2
D1
D2
D3
D4
E1
E2
E3
E4
E5
E6
F1
F2
F3
F4
G1
G2
G3
G4
G5
G6
G7
N
Min
Max
Stat.
Stat
Stat
Mean
Statistic
Std. Dev
Statistic
Mean
Statistic
Std. Dev
Statistic
35
1
5
3.68571
1.23125
2.62857
1.19030
35
1
5
3.74286
0.85209
3.34286
0.93755
35
1
5
3.57143
1.06511
3.11429
1.05081
35
1
5
3.40000
1.06274
2.77143
1.05957
35
1
5
2.88571
1.07844
2.80000
0.93305
35
1
4
2.80000
0.83314
2.57143
0.97877
35
1
5
3.77143
1.16533
2.68571
1.25491
35
1
5
3.57143
1.00837
2.91429
1.19734
35
1
5
3.60000
0.88118
3.11429
1.10537
35
1
5
3.62857
0.94202
2.91429
0.98134
35
1
5
3.37143
1.03144
2.74286
1.01003
35
2
5
3.80000
0.90098
3.14286
0.91210
35
1
4
2.71429
0.85994
2.31429
0.83213
35
1
5
3.25714
1.03875
2.65714
0.87255
35
1
5
3.20000
1.05161
2.71429
0.85994
35
1
5
2.97143
1.04278
2.80000
0.99410
35
1
5
3.51429
1.29186
2.48571
1.12122
35
1
5
2.91429
1.01087
2.28571
0.95706
35
1
5
2.94286
1.16171
2.28571
1.04520
35
1
5
3.00000
1.35038
2.25714
1.09391
35
1
5
3.08571
1.24550
2.22857
1.08697
35
1
5
3.08571
1.46270
1.97143
0.85700
35
1
5
3.37143
1.19030
2.45714
1.01003
35
2
5
3.37143
0.87735
2.88571
0.90005
35
1
5
3.40000
1.00587
2.65714
0.96841
35
1
5
2.97143
0.92309
2.40000
0.88118
35
1
5
3.00000
0.80440
2.54286
0.88593
35
1
4
2.77143
0.77024
2.54286
0.98048
35
1
5
3.51429
0.98134
2.57143
0.94824
Faktor Penyebab Konflik
Penyusunan jadwal peker-jaan2
yang tidak realistis
Perubahan-perubahan pekerjaan
dalam proyek
Penundaan yang terjadi dalam
pelaksanaan proyek
Kurang baiknya pengendalian
jadwal selama pelaksanaan
Banyaknya proyek yang ditangani
dikelola bersamaan
Perbedaan pandangan ttg prioritas
pelaksanaan proyek
Perhitungan anggaran &biaya
proyek yang tidak akurat
Cost overrun dalam pelaksanaan
proyek
Terbatasnya sumber daya untuk
pelaksanaan proyek
Penempatan SDM tdksesuai
kualifikasi yg dibutuhkan
Pemesanan/pengiriman material &
peralatan tidak sesuai kuantitas
dan kualitas
Pengaturan waktu kirim tidak
sesuai dengan jadwal
Penggunaan teknologi baru
Kurangnya pengendalian kualitas
pekerjaan proyek
Rework dalam pelaksanaan proyek
Terbatasnya (work space) di
lapangan (site)
Penggunaan metode kerja yang
kurang tepat
Pedoman kerja, manual, dan
standarisasi kurang cukup
Prosedur pelaporan yang tidak
jelas dalam tim proyek
Adanya keterlambatan
pembayaran gaji tenaga kerja
Rumusan kerja,tugas, tang-gung
jawab,otorita tdk jelas
Rusak atau hilangnya gambar,
dokumen, file / surat2 penting
Komunikasi yang buruk antar
personil dalam tim proyek
Tekanan atas sasaran proyek yang
harus tercapai
Beban kerja yang berlebihan
Perbedaan personalitas para
personil proyek
Perbedaan skilldari para personil
proyek
Perbedaan pengalaman kerja
masing2 personil tim proyek
Kerjasama yang kurang baik antar
personil proyek
Potensi penyebab konflik
Frek. penyebab konflik
____________________________________________________________________________
ISBN : 979-99302-0-0
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi I
25-26 Pebruari 2005
Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
C-5-7
…........Lanjutan tabel 3
G8
G9
Sikap profesionalisme yang
berlebihan terhadap pekerjaan
Ketidakpuasan dalam hal gaji
tenaga kerja
35
1
4
2.74286
0.85209
2.42857
0.81478
35
1
5
3.05714
1.23533
2.40000
1.11672
Analisa Faktor
Analisis faktor merupakan suatu teknik untuk menganalisis saling ketergantungan
(interdependence) dari beberapa variabel secara simultan yang bertujuan untuk
menyederhanakan dari bentuk hubungan antar beberapa variabel yang diteliti menjadi
sejumlah faktor yang lebih sedikit dari jumlah variabel yang diteliti. Selain itu, analisis
ini juga menggambarkan tentang struktur data dari suatu penelitian yang bertujuan
untuk mengetahui susunan dan hubungan yang terjadi pada hubungan antar variabel.
Uji Kelayakan
Beberapa cara dapat dilakukan untuk tujuan ini yaitu suatu proses pembuktian apakah
kumpulan pengamatan yang akan menggunakan analisis faktor telah terbukti
interdependent. Metode yang dipakai :
1.
Matriks Korelasi
Dari correlation matrix pada 35 sampel terlihat bahwa sebagian besar dari koefisien
korelasi yang diperoleh menunjukkan nilai yang lebih besar dari r (0,05;35-2) = 0,3340
sehingga dapat dibuktikan bahwa telah ada keterkaitan yang signifikan antar variabel.
2.
Nilai Determinan
Karena nilai determinan matriks korelasi mendekati nol (1,097 x 10-10 ) maka
mendukung adanya saling keterkaitan antar variabel.
3.
Nilai Kaiser-Meyer-Olkin (KMO)
Nilai ini menyediakan sebuah nilai yang dapat digunakan untuk menilai apakah
indikator-indikator yang ada dapat membangun suatu konstruk secara bersama-sama.
Nilai KMO dari 21 variabel penyebab konflik yang layak digunakan dalam analisis
faktor menghasilkan nilai yang cukup tinggi yaitu sebesar 0,795 sehingga berada pada
klasifikasi cukup (middling). Nilai KMO ini menunjukkan adanya ukuran
kecukupdekatan sampel.
4.
Uji Bartlet
Bertujuan untuk menguji apakah suatu matriks korelasi telah cukup layak untuk
dilakukan analisis faktor (Sharma, 1996:123). Hasil uji Bartlett pada matriks korelasi di
dalam penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa matriks ini memang tidak
ortogonal yang berarti ada korelasi di antara variabel yang ada. Hal ini bisa dibuktikan
dari nilai 2 sebesar 600,096 dengan nilai signifikan sebesar 0,000 adalah lebih besar
dari nilai 2 (0,05;210) = 244,8076.
5.
Nilai Measure of Sampling Adequacy (MSA)
Perhitungan nilai Measure of Sampling Adequacy (MSA) pada setiap variabel semakin
memperkuat bukti bahwa antar variabel saling terkait. Perhitungan MSA untuk setiap
variabel penyebab konflik berada pada rentang 0,644 hingga 0,877. Hair dan kawankawan (1995:393) menyarankan untuk tidak melibatkan variabel yang memiliki nilai
MSA kurang dari 0,5 dalam ekstraksi faktor.
____________________________________________________________________________
ISBN : 979-99302-0-0
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi I
25-26 Pebruari 2005
Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
C-5-8
Ekstraksi Jumlah Faktor
Tabel 4. Hasil Ekstraksi Jumlah Faktor
Faktor
Nilai Eigen
Keragaman Total Keragaman Total Kum
Keterangan
1
10.436
49.694
49.694
Digunakan
2
1.926
9.170
58.864
Digunakan
3
1.589
7.566
66.430
Digunakan
4
1.290
6.142
72.572
Digunakan
Sumber: Hasil Analisis (2004)
Komunalitas (besar keragaman tiap variabel asal)
Diperoleh dengan menghitung jumlah kuadrat loading faktor setiap variabel asal
(Santoso dan Tjiptono, 2001:263). Hasil ekstraksi seluruh faktor yang terbentuk dan
perubahan nilai komunalitas yang terjadi masih berada di atas nilai 0,5. Artinya common
faktor masih cukup kuat dalam menjelaskan keragaman variabel asal.
Pola matriks sesudah rotasi
Rotasi yang digunakan adalah rotasi varimax yang bertujuan untuk menghasilkan
struktur faktor dimana setiap faktor akan memiliki nilai loading tertinggi di salah satu
faktor dan akan mendekati nol pada loading faktor lainnya (Sharma, 1996:119). Nilainilai loading faktor yang terhitung pada umumnya akan diperhatikan jika lebih besar
dari 0,5. Hasil ringkasan 4 faktor potensi konflik yang terbentuk dari 21 variabel
penyebab konflik yang berpotensi menimbulkan konflik pada pelaksanaan proyek
konstruksi gedung memiliki nilai loading lebih besar dari 0,5.
Analisis Potensi
Potensi Konflik
3.21905
Organisasi
Teknis
3.01143
3.64286
Sumber Daya
Jadwal
3.55238
0
1
Rendah
2
3
Potensi
4
Tinggi
Gambar 3. Potensi Konflik yang terjadi dalam proyek
Dari hasil analisa, 4 faktor penyebab konflik yang dirasa berpotensi agak rendah dalam
menimbulkan konflik yaitu faktor prosedur pelaporan yang tidak jelas dalam tim proyek
(F1), penggunaan teknologi baru (E1), terbatasnya ketersediaan ruang kerja di lapangan
(E4), dan tidak cukup tersedianya pedoman kerja, manual, dan standarisasi. Namun
apabila dilihat secara keseluruhan keempat faktor utama penyebab konflik yaitu faktor
organisasi, teknis, sumber daya, dan jadwal rata-rata mempunyai potensi yang tinggi
dalam menimbulkan konflik pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung.
____________________________________________________________________________
ISBN : 979-99302-0-0
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi I
25-26 Pebruari 2005
Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
1.
C-5-9
Analisis Konflik Yang Sering Terjadi
F r ekuensi Ko nf lik
Or gani sasi
2.36825
Tekni s
2.55429
Sumber Daya
2.90714
Jadwal
2.83810
0
1
2
3
Jar ang
4
Fr ekuensi
Ser i ng
Gamba
Gbr 4. Frekuensi Konflik dalam Proyek
Frekuensi terjadinya konflik akibat faktor organisasi, faktor teknis, faktor
sumber daya, dan faktor jadwal pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung adalah
cukup rendah atau bisa dikatakan cukup jarang terjadi. Namun dari keempat jenis
konflik yang berpotensi terjadi ini, konflik akibat faktor sumber daya dan faktor jadwal
menunjukkan lebih sering terjadi dibandingkan dengan konflik-konflik lainnya. Hal ini
terlihat dari nilai rata-rata frekuensinya yang lebih tinggi dibanding dengan kedua
konflik lainnya. Pada faktor sumber daya, konflik paling sering ditimbulkan oleh
terbatasnya sumber-sumber daya yang ada untuk pelaksanaan proyek (D1). Sementara
pada faktor jadwal, konflik paling sering ditimbulkan oleh adanya penundaan yang
terjadi dalam pelaksanaan proyek (A3).
Hubungan antara potensi dan frekuensi konflik
Tabel 5. Hubungan Potensi dan Frekuensi Konflik untuk Faktor Organisasi
Rata-rata
Kode
Nama
Statistik
Kesimpulan
Selisih
Potensi
Frek
t hitung
p-value
E5
Penggunaan metode kerja yang kurang tepat
3.51
2.49
1.03
4.875
0.000
Berbeda
F1
Prosedur pelaporan yang tidak jelas
2.94
2.29
0.66
4.015
0.000
Berbeda
F2
Keterlambatan pembayaran gaji
3.00
2.26
0.74
2.965
0.005
Berbeda
F3
Rumusan kerja, tanggung jawab, dan wewenang
yang tidak jelas
3.09
2.23
0.86
3.747
0.001
Berbeda
F4
Rusak atau hilangnya dokumen penting
3.09
1.97
1.11
4.748
0.000
Berbeda
G1
Komunikasi yang buruk
3.37
2.46
0.91
5.512
0.000
Berbeda
G3
Beban kerja yang berlebihan
3.40
2.66
0.74
4.120
0.000
Berbeda
G7
Kerjasama yang kurang baik antar personil
3.51
2.57
0.94
4.802
0.000
Berbeda
G9
Ketidakpuasan dalam hal gaji
3.06
2.40
0.66
3.276
0.002
Berbeda
Tabel 6. Hubungan Potensi dan Frekuensi Konflik untuk Faktor Teknis
Rata-rata
Kode
Nama
Statistik
Selisih
Potensi
Frek
Kesimpulan
t hitung
p-value
E1
Penggunaan teknologi baru
2.71
2.31
0.40
2.287
0.029
Berbeda
E2
Kurangnya pengendalian performance pekerjaan
3.26
2.66
0.60
3.179
0.003
Berbeda
E3
Rework dalam pelaksanaan
3.20
2.71
0.49
3.368
0.002
Berbeda
E4
Terbatasnya ketersediaan ruang kerja (work space)
di site
2.97
2.80
0.17
1.000
0.324
Tidak Berbeda
E6
Tidak cukup tersedianya pedoman kerja dan
standarisasi
2.91
2.29
0.63
3.124
0.004
Berbeda
____________________________________________________________________________
ISBN : 979-99302-0-0
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi I
25-26 Pebruari 2005
Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
C-5-10
Tabel 7. Hubungan Potensi dan Frekuensi Konflik untuk Faktor Sumber Daya
Rata-rata
Kode
Nama
Pehitungan anggaran dan biaya proyek yang tidak
akurat
C1
C2
Statistik
Kesimpulan
Selisih
Cost overrun
Potensi
Frek
t hitung
p-value
3.77
2.69
1.09
5.729
0.000
Berbeda
3.57
2.91
0.66
3.683
0.001
Berbeda
D1
Terbatasnya sumber2 daya
3.60
3.11
0.49
3.022
0.005
Berbeda
D2
Penempatan sumber daya manusia tidak sesuai
kualifikasi
3.63
2.91
0.71
3.751
0.001
Berbeda
Tabel 8. Hubungan Potensi dan Frekuensi Konflik untuk Faktor Jadwal
Rata-rata
Kode
Nama
Statistik
Kesimpulan
Selisih
Potensi
Frek
t hitung
p-value
A1
Penyusunan jadwal pekerjaan yang tidak realistis
3.69
2.63
1.06
4.712
0.000
Berbeda
A3
Penundaan (delay)
3.57
3.11
0.46
2.678
0.011
Berbeda
A4
pengendalian jadwal kurang baik
3.40
2.77
0.63
3.263
0.003
Berbeda
PENYELESAIAN KONFLIK
PENYELESAIAN KONFLIK
25
Frekuensi
20
15
10
5
Personalitas
Prosedur
Administrasi
Teknis
Masalah
Daya
Sumber
Withdrawal/Avoiding
Smoothing
Compromising/Negotiating
Forcing/Dominating
Confrontation/Problem Solving
Biaya
Prioritas
Jadwal
0
Tipe Konflik
Gambar 5. Penyelesaian konflik yang dilakukan manajer proyek
Selanjutnya untuk melihat apakah cara-cara penyelesaian konflik yang diambil
akan berhubungan dengan tipe konflik yang terjadi, maka perlu dilakukan pengujian
dengan menggunakan uji Chi-Square. Dari hasil pengujian didapat nilai Chi-Square
hitung sebesar 33,541 yang berarti mempunyai nilai lebih kecil dari nilai Chi-Square
tabel sebesar 36,415. Ini berarti H0 diterima. Selain itu nilai probabilitasnya didapat
sebesar 0.093 yang berarti lebih besar dari 0,05. Ini berarti H0 diterima. Jadi kedua
analisis di atas dapat diambil kesimpulan yang sama yaitu cara-cara penyelesaian
konflik yang diambil tidak berhubungan dengan tipe konflik yang terjadi. Pada tabel di
atas terlihat bahwa seluruh tipe konflik yang terjadi umumnya diselesaikan dengan
pendekatan confrontation atau problem solving dan pendekatan compromising atau
negotiating, kecuali pada konflik personalitas yang diselesaikan dengan pendekatan
confrontation atau problem solving dan smoothing.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh empat jenis konflik yang berpotensi
tinggi terjadi pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung akibat faktor
____________________________________________________________________________
ISBN : 979-99302-0-0
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi I
25-26 Pebruari 2005
Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
C-5-11
2.
3.
4.
penyebab konflik, yaitu : konflik akibat faktor organisasi, konflik akibat faktor
teknis, konflik akibat faktor sumber daya, dan konflik akibat faktor jadwal.
Konflik yang berpotensi paling tinggi terjadi pada pelaksanaan proyek
konstruksi gedung adalah konflik akibat faktor sumber daya. Konflik ini
disebabkan oleh faktor-faktor perhitungan anggaran dan biaya proyek yang tidak
akurat, cost overrun dalam pelaksanaan proyek, terbatasnya sumber-sumber
daya yang ada untuk pelaksanaan proyek, dan penempatan sumber daya manusia
yang tidak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan.
Apabila ditinjau dari frekuensi terjadinya konflik pada pelaksanaan proyek
konstruksi gedung, terlihat bahwa secara keseluruhan frekuensinya adalah cukup
rendah atau dengan kata lain konflik cukup jarang terjadi. Dari keempat jenis
konflik yang berpotensi terjadi, konflik akibat faktor sumber daya dan faktor
jadwal menunjukkan lebih sering terjadi dibandingkan dengan konflik-konflik
lainnya.
Dalam menyelesaikan konflik yang terjadi pada pelaksanaan proyek konstruksi
gedung, manajer proyek umumnya menggunakan pendekatan confrontation atau
problem solving dan pendekatan compromising atau negotiating. Khusus untuk
konflik yang berkaitan dengan masalah personalitas, manajer proyek
mempergunakan pendekatan smoothing sebagai alternatif lain penyelesaian
konflik yang terjadi.
Saran
1.
2.
3.
4.
5.
Obyek penelitian bisa dikembangkan pada jenis proyek konstruksi lain diluar
proyek konstruksi gedung.
Perlu dilihat kecenderungan dari konflik yang terjadi pada masing-masing tahap
dalam tahap pelaksanaan proyek konstruksi.
Penelitian dapat dikembangkan untuk melihat pengaruh konflik yang terjadi
terhadap kinerja (performance) proyek khususnya pada tahap pelaksanaan
proyek konstruksi.
Dalam penelitian lebih lanjut mengenai konflik yang terjadi pada tahap
pelaksanaan proyek konstruksi perlu dipertimbangkan juga mengenai pengaruhpengaruh dari tahap-tahap sebelumnya sebagai bagian dari project life-cycle
dalam menimbulkan konflik pada tahap pelaksanaan proyek konstruksi.
Dalam penelitian lebih lanjut mengenai konflik yang terjadi pada tahap
pelaksanaan proyek konstruksi gedung, perlu dilihat juga mengenai hubungan
antara pengalaman kerja para manajer proyek dalam pelaksanaan proyek
konstruksi gedung dengan tipe konflik dan frekuensi konflik yang terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Alhusin, Syahri. (2003). Aplikasi Statistik Praktis dengan SPSS 10 for Windows. Edisi Kedua.
Cetakan Pertama. Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta.
Barrie, Donald S. dan Paulson, Boyd C., Jr. (1995). Manajemen Konstruksi Profesional.
Penerjemah: Sudinarto. Edisi Kedua. Cetakan Keempat. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Badiru, Adedeji Bodunde dan Pulat, P. Simin. (1995). Comprehensive Project Management:
Integrating Optimization Models, Management Principles, and Computers. Prentice
Hall PTR, Jew Jersey.
Botha, Henk. (2000). Conflict in The Construction Industry. Bellstone Training (International)
Limited, London.
____________________________________________________________________________
ISBN : 979-99302-0-0
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi I
25-26 Pebruari 2005
Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
C-5-12
Dipohusodo, Istimawan. (1996). Manajemen Proyek dan Konstruksi. Jilid 1 dan Jilid 2. Cetakan
Ketujuh, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Gapensi. (2002). Daftar Anggota Periode 30 Agustus 2002. BPC Gapensi Kota Surabaya.
Gibson, James L., Ivancevich, John M., dan Donnelly, James H., Jr. (1985). Organization:
Behavior, Structure, Process. Fifth Edition Business Publications, Inc., Texas.
Hair, Joseph F., et al. (1995). Multivariate Data Analysis. Fourth Edition. Prentice-Hall
International, Inc., New Jersey.
Hardjana, Agus M. (1994). Konflik di Tempat Kerja. Cetakan Pertama. Penerbit Kanisius,
Yogyakarta.
Harrison, F. L. (1981). Advanced Project Management. Gower Publishing Company Limited,
England.
Hatch, Mary
Jo. (1997). Organization Theory: Modern, Symbolic, and Postmodern
Perspectives. Oxford University Press, New York.
Kerzner, Harold. (2001). Project Management: A Systems Approach to Planning, Scheduling,
and Controlling. Seventh Edition. John Wiley & Sons, Inc., New York
Lewicki, Roy J. et al. (2003). Negotiation. Fourth Edition. McGraw-Hill Companies, Inc., New
York.
Malhotra, Naresh K. (1996). Marketing Research: An Applied Orientation. Second Edition.
Prentice-Hall International, Inc., New Jersey.
Martella, Ronald C., Nelson, Ronald, dan Marchand, Nancy E. (1999). Research Methods:
Learning to Become A Critical Research Consumer. Allyn & Bacon.
Meredith, Jack R. dan Mantel, Samuel J., Jr. (2000). Project Management: A Managerial
Approach. Fourth Edition. John Wiley & Sons, New York.
Nazir, Moh. (1999). Metode Penelitian. Cetakan Keempat. Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta.
Nicholas, John M. (1991). Managing Business and Engineering Projects: Concepts and
Implementation. Prentice Hall, New Jersey.
Oberlender, Garold D. (2000). Project Management for Engineering and Construction. Second
Edition. McGraw-Hill Companies, Inc.
Ock, Jong H. dan Han, Seung H. (2003). “Lessons Learned from Rigid Conflict Resolution in
an Organization: Construction Conflict Case Study”. Journal of Management in
Engineering. April 2003.
Peña-Mora, Feniosky, Sosa, Carlos E., dan McCone, D. Sean. (2003). Introduction to
Construction Dispute Resolution. Pearson Education, Inc., New Jersey.
Santosa, Budi. (1997). Manajemen Proyek. Edisi Pertama. Penerbit PT Guna Widya, Jakarta.
Santoso, Singgih, dan Tjiptono, Fandy. (2001). Riset Pemasaran: Konsep dan Aplikasi dengan
SPSS. Penerbit PT Elex Media Komputindo, Jakarta.
Santoso, Singgih. (2002). Buku Latihan SPSS Statistik Multivariat. Penerbit PT Elex Media
Komputindo, Jakarta.
Sekaran, Uma. (1992). Skill-Building Approach. Second Edition. John Wiley & Sons, Inc., New
York.
Sharma, Subhash. (1996). Applied Multivariate Techniques. John Wiley & Sons, Inc., New
York.
Soeharto, Iman. (1997). Manajemen Proyek: Dari Konseptual Sampai Operasional. Cetakan
Ketiga. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Sugiyono. (2000). Metode Penelitian Bisnis. Edisi Pertama. Penerbit CV. Alfabeta, Bandung.
Thamhain, Hans J. (1984). Engineering Program Management. John Wiley & Sons, Inc., New
York.
Tjiptono, Fandy dan Diana, Anastasia. (2002). Total Quality Management. Edisi Keempat.
Cetakan Kedua. Penerbit ANDI, Yogyakarta.
Umar, Husein. (1999). Metodologi Penelitian: Aplikasi dalam Pemasaran. Cetakan Kedua.
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Winardi. (1994). Manajemen Konflik: Konflik Perubahan dan Pengembangan. Cetakan
Pertama. Penerbit CV. Mandar Maju, Bandung.
____________________________________________________________________________
ISBN : 979-99302-0-0
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi I
25-26 Pebruari 2005
Program Studi Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Download