3. teori dan model pembangunan pertanian di negara berkembang

advertisement
Oleh
Yonariza
Para pelopor
 Adam Smith
Thomas Malthus
David Ricardo

 Spesialisasi
dan Pembagian kerja (work
specialization and division of labor)
 Pasar bebas
 Keuntungan, tabungan dan investasi
 Upah subsisten (subsistence wage)
 Cadangan upah (wage fund)
 Supply tenaga kerja yang inelastik sempurna
pada tingkat upah subsisten
 Hukum kenaikan hasil yang semakin
menurun
 Industri
sebagai motor pembangunan, namun
pengembangan industri tergantung pada
pertanian melalui supply dan harga pangan
 Keuntungan industri pengembangannya
 Keuntungan industri tergantung pada upah
buruh
 Keuntungan yang meningkat  cadangan
upah naik  kompetisi untuk mendapatkan
buruh  upah buruh
Upah buruh buruh naik  populasi
penduduk meningkat  kebutuhan pangan
meningkat  biaya produksi pangan
meningkat harga pangan naik  upah
buruh naik  keuntungan perusahaan
merosot  stagnasi
 Kenapa harga pangan naik ?
 Teori David Ricardo mengenai sewa tanah


Anggapan dasar:
Biaya produksi menentukan harga
pangan
Semakin kurang subur lahan yang
digunakan untuk produksi pangan,
semakin mahal ongkos produksinya
 Implikasinya pada harga pangan:
 Bila populasi penduduk bertambah, maka
perlu tambahan produksi pangan.
 Untuk itu, lahan kurang subur harus
ditanami untuk meningkatkan produksi
pangan (ekstensifikasi).
 Dengan demikian, ongkos produksi
semakin mahal sehingga harga pangan
menjadi lebih mahal.
 Implikasinya pada sewa lahan:
 Semakin mahal harga pangan, maka semakin
tinggi tingkat keuntungan pada lahan yang
subur
 Keuntungan yang makin tinggi ini merupakan
akibat langsung dari perbedaan produktivitas di
lahan subur dan di lahan marjinal. Sehingga,
peningkatan keuntungan di lahan subur ini
harus dipandang sebagai imbalan pada jasa
lahan dalam produksi.
 Jadi, sewa lahan harus dinaikkan
 Jadi,
semakin tinggi permintaan pangan 
sewa tanah akan semakin mahal.
 Pertumbuhan penduduk  permintaan
pangan  sewa tanah
 Jadi, ‘penemuan’ tanah baru hanya akan
menguntungkan tuan tanah
 Tampilkan presentasi grafis di sini.


Model Dualisme Sosial (oleh J.H.
Booke)
Model Dualisme Teknologi (oleh
B.Higgins)
Sistem perekonomian negara berkembang
tersegmentasi:
 Sektor modern
 Sektor tradisional

 Sektor modern
Mencakup industri dan perkebunan besar
Berorientasi pada pasar dan pertumbuhan
ekonomi
Respon terhadap stimulus ekonomi akibat
perubahan pasar dan kemajuan teknologi
Sektor tradisional
 Mencakup pertanian rakyat
 Berorientasi pada harmoni sosial, sehingga
mengutamakan pemerataan dari pertumbuhan
ekonomi
 Tidak respon terhadap stimulus ekonomi dan
kemajuan teknologi
 Masalah “back binding supply curve”
 Jelaskan dengan bantuan grafis
 Rekomendasi
 Tidak perlu pembangunan pertanian

back bending supply curve
Boeke (1973:1-15) menggambarkan perkembangan
ekonomi di Indonesia dengan tesis dualisme ekonomi.
Boeke (1973:5-10) membagi masyarakat ekonomi
menjadi;
- sektor modern yang kapitalistik dengan
- sektor tradisional yang pra kapitalistik.
Ciri-ciri pokok ekonomi tradisional yang
prakapitalistik adalah
1. Melebih-lebihkan hubungan sosial sampai
merugikan hubungan ekonominya,
2. tingkah laku ekonominya berorientasi pada
konsumsi dari pada produksi;
3. terlalu mengutamakan kepentingan umum
dan terlalu meremehkan kepentingan pribadi;
dan
4. menyamakan hubungan kerja dengan
hubungan patriarkhal.
The "Dualistic Theory" of Underdeveloped Areas Benjamin Higgins
Economic Development and Cultural Change
Vol. 4, No. 2 (Jan., 1956), pp. 99-115
ekonomi modern yang kapitalistik memiliki ciri-ciri
1. beorientasi pada kepentingan produksi;
2. mengutamakan pertimbangan ekonomi di atas
pertimbangan sosial
3. mendahulukan kepentingan perorangan dari kepentingan
bersama; dan
4. hubungan kerja bersifat lugas dan kontraktual.
Sektor modern kapitalis ditandai dengan dinamika yang
menghasilkan pertumbuhan ekonomi, sebaliknya sektor
tradisional yang pra kapitalistik ditandai stasioner dan tidak
menghasilkan pertumbuhan ekonomi.
Boeke (1973:10-15) menyatakan sektor tradisional yang pra
kapitalistik dan sektor modern yang kapitalistik berkembang
sendiri-sendiri dan terpisah
Perbedaan bukan pada orientasi dari
pelaku ekonominya, tetapi pada
perbedaan teknologi yang digunakan
 Sektor Modern
Teknologi yang padat modal
 Teknologi dengan koefisien yang
tetap  sehingga, tidak ada ruang
untuk substitusi antara modal dan
buruh

 Sektor Modern
Kapital
Kalau L1 ke L2, tanpa
penambahan K, maka
pengangguran
meningkat
Rasio
harga K
dan L
Q2
K2
K1
Q1
L1
L2
Labor
Sektor Tradisional
Kapital
Rasio harga
pada K1/L1
Rasio harga
pada K2/L2
K1
Q2
K2
Q1
L1
L2
Labor
Perhatikan:
Perubahan
rasio harga K/L
mengubah
penggunaan
komposisi
penggunaan
dari K dan L
Industrialisasi bukanlah solusi untuk
masalah penganguran ini.
 Pengembangan industri tergantung pada
modal dari luar negeri, bukan dari akumulasi
kapital
 Teknologi produksi industri tidak
memungkinkan penyerapan tenaga kerja
yang efektif untuk mengatasi pengangguran
yang semakin besar

Jhingan, M.L. 2003. Ekonomi Pembangunan
dan Perencanaan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada. Bab 7,8,9, dan 20
Download