Partisipasi Politik, Budaya Politik Pemilih Dalam Sistem

advertisement
Jurnal Kajian Ilmu Pemerintahan
jkp Journal of Government, Social and Politics
,
Volume
1, Nomor 1
Maret 2012
Partisipasi Politik, Budaya Politik Pemilih Dalam Sistem Politik
Di Indonesia
Oleh:
Yusri Munaf
Abstrak
Partisipasi publik pada dasarnya merupakan bagian dari partisipasi pada umumnya.
Merujuk pada the 1995-1997 World Value Survey, Charles Andrain dan James Smith (2006:
67) mengelompokkan tiga bentuk partisipasi. Pertama adalah partisipasi yang lebih pasif. Di
dalam tipe pertama ini, partisipasi dilihat dari keterlibatan politik seseorang, yakni
sejauhmana orang itu melihat politik sebagai sesuatu yang penting, memiliki minat terhadap
politik, dan sering berdiskusi mengenai isu-isu politik dengan teman. Kedua adalah
partisipasi yang lebih aktif. Yang menjadi perhatian adalah sejauh mana orang itu terlibat
dalam organisasi-organisasi atau asosiasi-asosiasi sukarela (voluntary associations) seperti
kelompok-kelmpok keagamaan, olahraga, pencinta lingkungan, organisasi profesi, dan
organisasi buruh. Ketiga adalah partisipasi yang berupa kegiatan-kegiatan protes seperti ikut
menandatangani petisi, melakukan boikot, dan demonstarsi.
Key Word : Pengaruh, Kualitas Diklat, Iklim Organisasi, Kinerja & IPDN
79
Jurnal Kajian Ilmu Pemerintahan
Journal of Government, Social and Politics
,
jkp
Volume 1, Nomor 1
Maret 2012
isu itu berkembang secara akumulatif,
menjadi perhatian publik, dan terpublikasi
secara luas, apa yang diperbincangkan di
dalam ruang-ruang publik semacam itu bisa
berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan
publik yang akan dibuat dan dilaksanakan.
(Kacung Marijan, 2000; 112).
Meskipun partisipasi merupakan salah
satu elemen dasar di dalam polyarchy, nama
lain dari demokrasi menurut Robert Dahl, di
dalam demokrasi perwakilan partisipasi itu
lebih dimaksudkan sebagai keterlibatan warga
negara dalam pemilu. Hal ini, contohnya,
terlihat dari penjelasan Joseph Schumpeter,
salah satu ilmuwan politik penganut
demokrasi elitis (perwakilan). Dalam
pandangan dia, peran politik warga negara
adalah pada pemilu, sementara para
pemimpin yang terpilih merupakan orangorang kunci di dalam proses pembuatan
keputusan-keputusan. Lebih jauh Schumpeter
mengatakan:
The role of the people is to produce a
government... The voters outside of
parliament must respect the division of
labour between themselves and the
politicians they elect. They must not
withdraw confidence too easily between
election and they must understand that, one
they have elected an individual, political
action is his (her) business and not their.
This means that they must refrain from
instructing him (her) about what he (she)
about what he (she) is to do (Schumpetetr,
1950: 269).
Dalam
pandangan
seperti
itu,
keterlibatan warga negara di dalam politik
memang lebih banyak berhenti pada proses
pemilihan. Proses perumusan kebijakankebijakan publik lebih banyak menjadi arena
tugas para wakil, bukan terwakil.
Pendahuluan
Dalam kategori semacam itu partisipasi
publik memang tidak secara khusus bisa
masuk ke dalam salah satu dari ketiga
kategori itu. seperti disinggung di depan,
partisipasi publik acap kali lebih ditekankan
pada proses pembuatan dan pelaksanaan
keputusan publik, seperti terlibat dalam
pertemuan-pertemuan publik, melakukan
inisiatif, dan referendum. Dalam konteks
demikian, kalaupun ditempatkan di dalam tiga
kategori itu, partisipasi publik lebih dekat
menjadi bagian dari partisipasi dalam kategori
kedua. Kebijakan publik sendiri memiliki
pengaruh yang tidak kecil terhadap kehidupan
warga negara, baik secara individual maupun
kelompok. Kebijakan publik, sebagaimana
secara
individual
maupun
kelompok.
Kebijakan publik, sebagaimana dikatakan
oleh Theodore Lowi (1964), paling tidak
mencakup tiga keputusan penting. Pertama
adalah yang berkaitan dengan dengan alokasi
dan distribusi sumber-sumber. Kedua adalah
berkaitan dengan regulasi terhadap pelaku
dan kekuatan-kekuatan ekonomi. Termasuk di
dalamnya
adalah
regulasi
mengenai
persaingan usaha dan regulasi tentang
proteksi. Terakhir adalah kebijakan tentang
realokasi dan redistribusi sumber-sumber
terhadap kelompok-kelompok yang tidak
diuntungkan. (Kacung Marijan, 2000; 112).
Apabila dikaitkan dengan sejauh mana
aktivitas itu berpengaruh terhadap proses
pembuatan dan pelaksanaan keputusan publik,
cakupan partisipasi publik itu menjadi lebih
luas lagi. Termasuk di dalamnya adalah
diskusi di dalam ruang-ruang publik yang
membahas isu-isu yang sedang berkembang
seperti di radio, televisi, forum konsultasi,
dan pertemuan-pertemuan lainnya. Diskusi di
dalam ruang-ruang publik seperti itu memang
tidak semuanya secara langsung berkaitan
dengan proses-proses pembuatan keputusan
politik, kecuali forum konsultasi yang
diadakan lembaga-lembaga yang memiliki
otoritas di dalam proses pembuatan dan
pelaksanaan keputusan publik baik di tingkat
nasional maupun lokal. Tetapi, manakala isu-
Pembahasan
1. Konsepsi Tentang Budaya Politik
Budaya politik merupakan bagian
terpenting bagi bekerjanya pilar-pilar
demokrasi. Bagi berjalannnya kehidupan
demokrasi perlu dikembangkan nilai-nilai dan
80
Jurnal Kajian Ilmu Pemerintahan
Journal of Government, Social and Politics
,
jkp
Volume 1, Nomor 1
Maret 2012
orientasi tertentu yang menopangnya seperti
nilai-nilai ‘moderration, tolerance, civility,
efficacy, knowledge, and participation’
(Diamond, 19994: 1). Secara lebih
operasional, Gabriel Almond dan Sydney
Verba memahami budaya politik berdasarkan
tiga orientasi politik individu, yaitu:
(1) “cognitive
orientation”
that
is,
knowledge of and belief about the
political system, its roles and the
incumbents of these roles, its inputs,
and is outputus; (2) “affective
orientation” or feeling about the
political system, its roles, personnel,
and performance, and (3) “evaluational
orientation, “ the judgements and
opinion about poltical objects that
typically involve the combination of
value standards and criteria with
information and feelings. ( Almond and
Verba, 1963: 14)
Ketika studi tentang budaya politik
bangkit
kembali
(resurgence)
pada
pertengahan 1980-an, budaya politik memang
tidak lagi dipandang sebagai variabel yang
paling menentukan dalam membentuk
demokrasi. Sebagaimana dikemukakan oleh
Ronald Inglehart (1988), kebangkitan
pendekatan budaya politik itu tidak lepasdari
ketidakmampuan pendekatan pilihan rasional
(rational choice) untuk menjelaskan secara
memuaskan sejumlah fenomena politik di
dunia, seperti keterlibatan geraja di Amerika
Latin dan keterlibatan sejumlah agama (Islam,
Kristen, dan Yahudi) di dalam ketegangan
politik di Timur Tengah. Dalam realitasnya,
sebagaimana dikemukakan oleh Aaron
Wildavsky, budaya itu ‘ shared values
legitimating social practices’ yang bisa
menjadi rujukan perilaku politik individuindividu (Wildavsky, 1987: 5-6). Hanya saja,
sebagaimana dikemukakan oleh Larry
Diamond, budaya politik tidak lagi dilihat
sebagai satu-atunya yang menentukan
demokrasi. Budaya politik lebih dilihat
sebagai “ intervening variabel”
Dalam pandangan Almond dan Verba,
budaya politik negara dapat menopang
terjadinya “governmental power” dan
“government responsiveness”
di dalam
sistem perwakilan (Almond dan Verba, 1963:
18). Government power berarti adanya elite di
dalam sistem politik yang memiliki otoritas
dari rakyat sehingga memungkinkan mereka
bisa membuat dan melaksanakan kebijakankebijakan secara absah. Sementara itu,
government responsiveness berarti bahwa
para elit itu harus accountable sehingga
memungkinkan rakyat melakukan evaluasi
terhadap apa yang telah mereka lakukan. Hal
serupa dikemukakan oleh Robert Dahl yang
mengatakan, ‘a key characteristic of a
democracy is the continued responsiveness
ofgovernment to the preferences of its
coitizens’
(Dahl
1971:
1). Adanya
responsibilitas dan akuntabilitas di dalam
sistem perwakilan, dengan demikian,
merupakan sesuatu yang tidak bisa dielakkan.
Untuk memahaminya, Bernard Mann, Adam
Przeworski, dan Susan Stokes mengatakan,
Manakala
budaya
politik
itu
dipandang secara fungsional atau secara
instrumental (Pammett dan Whittington,
1976: 31), sebagaimana dilakukan oleh
sejumlah ilmuwan politik pada era tahun
1950-an dan 1960-an, budaya politik itu
memiliki posisi penting karena mampu
mempengaruhi perilaku politik seseorang,
termasuk
di
dalamnya
membangun
demokrasi. Melalui studinya di lima negara,
Gabriel Almond dan Sydney Verba (1963)
melihat
bahwa
budaya
politik
kewarganegaraan itu sangat cocok bagi
bangunan negara demokrasi. Di dalam budaya
demikian terdapat kombinasi yang relatif
bagus antara tiga budaya politik: parokial,
subjek, dan partisipasi. Dalam pemahaman
yang lebih sederhana, budaya politik
kewarganegaraan merupakan kombinasi
antara karakteristik- karakteristik
aktif,
rasional, mempunyai informasi yang cukup
mengenai politik, kesetiaan pada sistem
politik, kepercayaan dan kepatuhan kepada
pemerintah, keterkaitan pada keluarga, suku,
dan agama (Surbakti, 1984: 69).
81
Jurnal Kajian Ilmu Pemerintahan
Journal of Government, Social and Politics
,
jkp
Volume 1, Nomor 1
Maret 2012
‘representation is a relation between interests
and outcomes’. (Kacung Marijan, 2010: 116).
Dalam pandangan Mann et al., suatu
pemerintahan itu dikatakan reponsif manakala
mereka mengadopsi “policies thatare
signaled as preferences by citizens’. Adapun
tanda-tanda pilihan kebijakan yang dikendaki
oleh warga itu terlihat dari jajak pendapat,
berbagai bentuk tindakan politik langsung
seperti demonstrasi, surat terbuka, dan
sejenisnya, dan pada saat pemilu terlihat dari
pilihan-pilihan warga. Sementara itu, suatu
pemerintahan
dikatakan
accountable
manakala ‘citizens can discern representative
from unrepresentative government and can
sanction them appropriately, retaining in
office those incumbent who are perform well
and outsing from office those who do not’
(Kacung Marijan, 2010: 117).
Kalau mengikuti teori principal-agent
alur relasi seperti itu harus berjalan. Sebagai
pemberi mandat, rakyat yang bertindak
sebagai principal tidak hanya berhenti
memberikan suara atau dukungan pada saat
pemilu. Para pemilih juga memiliki hak untuk
menerima pertanggungjawaban dari para
anngota DPR/D yang bertindak sebagai agent
itu. meskipun demikian, sebagaimana
dikemukakan oleh David Sapparington
(1991), terdapatnya kontrol dari principal itu
tergantung tiga kondisi. Pertama, tindakantindakan dari para agents itu, berikut kondisikondisi yang memungkinkan bekerjanya
tindakan-tindakan itu dapat diketahui secara
luas (publicly known). Kedua, baik agent
maupun principal sama-sama bisa melakukan
ancang-ancang manakala tedapat sesuatu hal
yang di luar dugaan yang dapat
mempengaruhi relasi keduanya. Terakhir,
para agents itu dipaksa oleh principal tanpa
harus mengeluarkan biaya mahal untuk selalu
berpegang
teguh
pada
preferensi
kepentingannya. (Kacung Marijan; 2010: 117)
Di dalam situasi seperti adanya
kontrol dari para warga itu menghadapi
masalah yang berkaitan dengan informasi,
pemantauan dan penekanan. Ketiga hal ini
merupakan bagian penting di dalam
partisipasi
publik.
dengan
demikian,
demokrasi perwakilan dan demokrasi
partisipatoris atau demokrasi langsung bisa
saling mengisi satu sama lain. Keduanya akan
memungkinkan terdapatnya pemerintahan
yang responsif dan accountable, baik secara
vertikal maupun secara horizontal.
Negara-negara yang berproses menuju
demokrasi, termasuk di dalamnya Indonesia,
berusaha membangun prosedur demokrasi
yang
memungkinkan
terdapatnya
pemerintahan
yang
accountable
dan
responsible itu. Tetapi, untuk melaksanakan
desain kelembagaan demikian tidaklah
mudah.
2.
Fenomena Pelaksanaan Pemilihan
Umum Tahun 2004 di Indonesia.
Sebelum menemukan bagaimana
fenomena perilaku pemilih dalam pemlihan
umum tahun 2004 di kota Pekanbaru, yang
juga perlu untuk diuraikan yakni fenomena
secara umum pelaksanaan pemilihan umum
tahun 2004 di Indonesia.
Menarik
mengikuti
pelaksanaan
pemilu tahun 2004 di beberapa di daerah di
Indonesia. fenomena konstituen dalam
menentukan pilihannya memiliki latar
belakang yang bervariasi bukan saja interest
nya terhadap kesamaan ideologi, program,
atau figur, namun juga banyak faktor yang
muncul akibat “keterpaksaan”. Seperti halnya,
potret pelaksanaan pemilu yang terjadi di
beberapa daerah konflik seperti Aceh dan
Papua. Partisipasi masyarakat Aceh dalam
menentuakan pilihannya seperti hanya
sekadar mencoblos, atau datang kebilik suara
karena khawatir akan berhadapan dengan
sejumlah pertanyaan dari orang-orang yang
akan mempertanyakan ketidakhadirannya.
Bahkan ada yang memiliki alasan datang ke
Tempat Pemungutan Suara (TPS) sebagai
penghormatan
kepada
pihak
yang
melaksanakan pemilu meskipun sebelumnya
mereka merasa tidak dihormati. Fenomena
yang terjadi di Papua lebih menarik lagi
ketika masyarakat yang terlihat begitu
antusias datang ke TPS lebih dikarenakan
ketakutannya, jika dianggap Organisasi Papua
Merdeka (OPM), sehingga banyak penduduk
82
Jurnal Kajian Ilmu Pemerintahan
Journal of Government, Social and Politics
,
jkp
Volume 1, Nomor 1
Maret 2012
yang ditolak melakukan hak pilihnya ketika
datang ke TPS hanya karena tidak memiliki
kartu pemilih. Banyak lagi yang beranggapan
jika memilih semakin banyak partai (dalam
satu surat suara), maka hasilnya akan sinergis
dengan banyaknya perhatian pemerintah yang
akan diberikan kepada masyarakat Papua,
alhasil, banyak surat suara yang tidak sah.
(Mardyanto Wahyu Tryatmoko; 2004, 111).
Gambaran itulah yang merupakan sisi
lain dari masyarakat untuk memberikan
pilihannya dalam pemilu tahun 2004.
Fenomena di atas sangatlah wajar mengingat
kondisi mereka yang berada kantong-kantong
separatis. Namun di luar keterpaksaan
tersebut, bagaimana masyarakat yang secara
sadar memberikan pilihannya baik atas
pertimbangan
hati
nurani
maupun
rasionalitasnya? Motif kuat apa yang
mendasari pilihannya, dari sekian banyak
alternatif calon politisi maupun partai itu
snediri? Apakah sebenarnya yang ditawarkan
oleh parpol untuk mempengaruhi pilihan
masyarakat.
Penilaian dan pilihan masyarakat
terhadap suatu partai atau politisi tertentu
yang didasarkan atas intuisi maupun
rasionalitasnya pastilah didasarkan dari
pengalaman historis dan wacana yang
berkembang atas perilaku partai atau politisi
tersebut. Padahal, segala tingkah laku partai
politik dengan segala konflik kepentingan
yang mereka jalani dipengaruhi
secara
langsung oleh sistem kepartaian dan pemilu.
(Anthony H. Brich, 2002; 112).
Pemilihan umum di Indonesia Tahun
2004 merupakan sistem multi partai keempat
setelah pemilu tahun 1955, 1971, dan 1999
yang lebih menganut pluralism party system
dibandingkan dengan pemilu lainnya yang
lebih mengarah pada hegemonic party system.
Meskipun sebenarnya pluralism yang
dimaksud masih dalam koridor pembatasan
“administratif”.
Keterbukaan
ini
menyebabkan munculnya banyak nama partai
politik baru di smaping partai politik lama
yang lolos electoral treshold. Hal ini jelas
berimplikasi pada besarnya jumlah parpol
dalam pemilu tahun 2004 yang tidak
seimbang dengan diferensiasi ideologi atau
platform, karena ideologi dan platform
bahkan program partai politik di Indonesia
cendrung bernilai relatif konstan. Sedangkan
ideologi, platform/program yang nilainya
konstan tersebut, praktis tidak akan mampu
dibagi lagi menjadi banyak kepengurusan
kuat dengan banyak label partai politik baru.
Inilah sebabnya mengapa banyak partai
politik yang tidak lolos dalam verifikasi
(penentuan) sebagai peserta pemilu 2004
ketika ada pembatasan syarat minimal jumlah
kepengurusan.
(Mardyanto
Wahyu
Tryatmoko; 2004, 112).
Peserta pemilu tahun 2004 lebih
sedikit dibandingkan dengan peserta pemilu
1999. Hal ini mungkin disebabkan oleh
peraturan yuridis formal yang lebih
memberikan
batasan
tentang
syarat
keikutsertaan parpol dalam pemilu tahun
2004. Verifikasi yang dilakukan Departemen
Hukum dan HAM serta KPU menghasilkan
24 parpol yang berhak ikut dalam pemilu
tahun 2004, sedangkan partai politik yang
dinyatakan tidak lolos verifikasi KPU
sebanyak 26 parpol, partai politik yang
dibatalkan sebagai badan hukum berjumlah
153, dan partai politik yang tidak memenuhi
persyaratan UU No 31 Tahun 2004 sebanyak
58. Jumlah ini cukup fantastis untuk dijadikan
sebagai indikator keterwakilan kepentingan
masyarakat. Asumsi yang bisa ditarik dari
realitas di atas adalah banyak “pejuang baru”
di negara Indonesia yang ingin menunjukkan
eksistensinya
dalam
memresentasikan
kepentingan masyarakat meskipun terkadang
hanya dengan modal janji-janji “reformis”.
(Mardyanto Wahyu Tryatmoko; 2004, 112).
Setidaknya, banyak alasan yang
menjadi dasar pembentukan beberapa partai
politik baru. Pertama, kemunculan partai baru
sebagai
pecahan
partai
lama
lebih
dimunculkan akibat kekecewaan politisi lama
terhadap gaya politik “peguasa” partai yang
bersangkutan. Kedua, keyakinan politisi
partai yang memiliki peluang untuk
menunjukkan kemampuannya yang lebih
marketable dibanding jika dia masih berada
dalam posisi lama. Ketiga, bagi politisi di
83
Jurnal Kajian Ilmu Pemerintahan
Journal of Government, Social and Politics
,
jkp
Volume 1, Nomor 1
Maret 2012
dalam partai yang benar-benar baru, ia akan
mencoba menjual ketokohannya dengan jalan
mengembangkan jaringan dan dukungan dari
jabatan yang dipegangnya saat itu.
Bagaimanapun, yang sedang atau masih trend
di Indonesia saat ini adalah mengentalnya
politik ketokohan. (Mardyanto Wahyu
Tryatmoko; 2004, 112).
Kemunculan partai baru juga lebih
disebabkan
karena
fenomena
neo
konsertvatisme yang melekat di dalam
kepengurusan partai politik. Fenomena ini
akan selalu mengkultuskan sosok populer
yang relatif laku jual, dan tentu saja akan
menyingkirkan
rasio
rivalitasnya.
Kemenangan itulah yang menyingkirkan dan
mengakibatkan tokoh penting lain akan segera
membentuk sistem oligarki baru. Teori
Trickle down effect pembentukan partai baru
akan sangat menjelaskan bagaimana ideologi
yang sama akan muncul akibat perpecahanb
tersebut. Beberapa tokoh partai lama
mengalami
kekecewaan
akibat
kedudukannya, secara otomatis membentuk
partai baru yang memiliki kesamaan ideologi.
Bagaimanapun juga politik aliran yang
dikemukakan oleh Cliford Gerts tampaknya
masih berlaku dan menjadi strategi bagi
beberapa partai baru. (Mardyanto Wahyu
Tryatmoko; 2004, 113).
Memperjelas
uraian
di
atas,
sebenarnya kita bisa mencermati dengan jelas
apa sebenarnya yang ditawarkan oleh partai
politik peserta pemilu tahun 2004. Dari
database yang dikeluarkan oleh Litbang
Kompas sebagaimana dikutip Mardyanto
Wahyu Tryatmoko, berupa buku mengenai
profil partai politik peserta pemilu tahun 2004
dengan judul Partai-partai Politik Indonesia:
Ideologi dan Program 2004-2009, kita bisa
membaca platform atau program partai
dengan lengkap. Terlebih lagi, dari buku ini
sebenarnya kita bisa lebih memetakan atau
memperkuat
analisis
tentang
sistem
kepartaian atau partai politik itu sendiri.
Di dalam bab pertama dari buku ini,
terdapat bagan geneologi ketiga partai besar
(Golkar, PDI, dan PPP) yang mungkin
sengaja dibuat oleh Dhaniel Dhakidae untuk
memberikan gambaran ringkas tentang
pembentukan partai politik tahun 2004-2009.
Namun jika telah membaca geneologi ini
secara , dan kemudian mencermati perolehan
suara dari partai yang merupakan pecahan
dari partai besar, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa partai yang masih
memiliki strategi politik aliran akan tergilas
oleh partai besar yang memiliki kesamaan
ideologi. Hal ini tercermin bahwa partai baru
sebagai bentukan dari pecahan partai lama
hanya akan memperoleh
suara rata-rata
maksimal 2 %. Namun begitu, perolehan
suara induknya akan mengalami pengurangan.
Lihat saja PDI-P yang melahirkan dua
pecahan
partai
baru
yang
masih
berideologikan
sama.
Partai
Penegak
Demokrasi Indonesia (Partai PDI) yang
diketuai oleh Dimmyati Hartono dan Partai
Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK)
yang diketuai oleh Eros Djarot tidak bisa
menembus perolehan suara 2 % karena masih
rtelatif memiliki kesamaan ideologi. Hanya
saja PNBK yang lebih mengentalkan paham
Maherneisme-nya bisa meraup lebih banyak
suara dibandingkan dengan Partai PDI. Jika
Partai PDI dan PNBK mengharapkan
limpahan swing voter dari PDI-P karena
citranya yang melemah, tentu saja masih jauh
dari harapan. Massa mengambang yang tidak
lagi percaya pada Megawati, juga akan
mengalihkan ideologi nasionalisnya kepada
ideologi dan platform lain. Kecuali para kader
yang telah terbina baik namun kecewa dengan
Mega, mereka tentu akan mencari figur lain
dengan basis ideologi maupun ketokohan
yang hampir sama.
Berbeda halnya dengan Golkar, partai
ini menghasilkan dua partai sempalan yaitu
Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKP
Indonesia) yang diketuai oleh Edi Sudrajat
dan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang
diketuai oleh R. Hartono. Kedua partai ini
sebenarnya bisa dikategorikan ke dalam
“Partai Militer” sosok pengurus dan jaringan
yang coba dibangun berkisar pada elemen
militer. Para mantan jenderal yang duduk
dalam kepengurusan kedua partai ini mencoba
mengakomodasi suara militer melalui
84
Jurnal Kajian Ilmu Pemerintahan
Journal of Government, Social and Politics
,
jkp
Volume 1, Nomor 1
Maret 2012
jaringan purnawirawan maupun keluarga
militer meski TNI dan Polri memiliki
kebijakan untuk tidak menggunakan hak
pilihnya dalam pemilu. Meskipun begitu,
keluarga besar TNI melalui istridan anakanaknya adalah “satu suara” tetapi logika
kemudian adalah suara militer tidak akan kuta
jika terbagi dalam dua kubu (partai) atau
lebih, apalagi mantan Jenderal lain yang
dicalonkan sebagai Presiden oleh beberapa
Partai. maka, dari itu, untuk terlihat lebih
moderat dan relatif bisa diterima oleh sipil,
program yang ditawarkan oleh PKP Indonesia
adalah reposisi TNI dan Polri. Berbeda halnya
dengan PKPB. Partai ini tidak memiliki
program konkrit atau hanya menyebut
program di bidang agama, ekonomi, dan
pendidikan tanpa menyebutkan lebih lanjut
apa yang diinginkan dalam bidang itu.
Friksi yang terjadi di tubuh Partai
Persatuan Pembangunan (PPP) setelah pemilu
tahun 1999 lebih dikarenakan keputusan
penundaan Muktamar II yang menimbulkan
kecurigaan adanya keengganan “penguasa”
partai saat itu untuk melakukan regenerasi
dan restrukturisasi jabatan dalam PPP.
Alhasil, Zainuddin MZ, Djafar Badjeber, dan
beberapa kader yang pro Muktammar 2003
menyatakan keluar dari PPP dan kemudian
mendirikan PPP reformasi, Partai Bintang
Reformasi (PBR) yang dipakai untuk
menggantikan
nama
PPP
reformasi
menggunakan ketua umumnya Zainuddin MZ
yang dijuluki “Dai sejuta ummat” tidak bisa
secara serta merta meningkatkan popularitas
politisnya, karena massa lebih rasional
dengan membedakan antara dakwah untuk
ketaqwaan
dengan
kampanye
untuk
kekuasaan. Fenomena inilah yang memaksa
PBR harus puas mendapat suara sekitar 2%.
Meskipun begitu, suara ini cukup signifikan
mengurangi “hak suara PPP”.
Politik aliran yang dahulu sering dipakai
untuk penjaringan massa, kini sudah mulai
ditinggalkan. Pemilahan parpol kedalam
nasionalis, Islam (NU atau Muhammadiyah),
sosialis, dan lain sebagainya, dalam pemilu
tahun 2004 tidak jelas lagi. Banyak partai
yang mengusung nilai-nilai demokratis dan
reforemis. Malahan kemudian beberapa partai
tertentu bangga dengan nilai-nilai lama seperti
“Soekarnois” dan “Soehartois”, sehingga
program yang disusun dan asas yang
dijadikan landasan partai semakin bias dengan
strategi
baru
pengumpulan
massa.
(Mardyanto Wahyu Tryatmoko; 2004, 115).
Sebenarnya, kita bisa melihat apa
yang menjadi preferensi perjuangan suatu
partai politik dari dua elemen politik
sekaligus. Yang pertama adalah dari sisi
masyarakat, dan yang kedua adalah dari sisi
partai itu sendiri. Dari sisi masyarakat, mau
tidak mau kita harus menyatakan bahwa yang
masih terjadi adalah fenomena pragmatisme.
Wacana yang telah berkembang lama di
masyarakat
dijadikan
pelajaran
bagi
preferensi politik mereka. Terlebih lagi
semakin
bertambahnya
middle
class
menjadikan pilihan-pilihan politikmereka
lebih realistis. Memang, sejak awal
masyarakat tidak pernah membaca program
partai. realitas politik-lah yang menjadi
preferensi pilihan mereka, karena di sisi yang
kedua, partai politik hanya beretorika dengan
program semu dan mengedepankan platform
atau ideologi lama peninggalan nenek
moyang. Program-program partai yang
disusun sedemikian rupa hanyalah bersifat
administratif
atau
sebagai
pelengkap
kepengurusan. Sedangkan ideologi seperti
nasionalis, militeris-birokratis, sosialis, dan
religius yang lebih dijadikan jargon kampanye
hanya dipakai untuk mengelabui masyarakat.
(Mardyanto Wahyu Tryatmoko; 2004, 115).
Sistem
proporsional
terbuka
memberikan
peluang
bagi
partai
menggunakan caleg nomor jadi sebagai vote
getter-nya. Sistem inilah kemudian juga turut
dalam melunturkan politik aliran tersebut.
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sepertinya
lebih menerapkan strategi berlapis. Di satu
3. Starategi Partai Politik Dalam Pemilu
Tahun 2004.
Jika kita mencermati karakteristik
strategi pemenangan pemilu yang dimiliki
oleh beberapa partai politik 2004-2009
tampaknya mulai ada perubahan metode.
85
Jurnal Kajian Ilmu Pemerintahan
Journal of Government, Social and Politics
,
jkp
Volume 1, Nomor 1
Maret 2012
sisi, PKB tetap mengusung Gus Dur
(almarhum)
sebagai
calon
presiden
tunggalnya, dan di sisi lain menggunakan
mekanisme pencalonan anggota legislatif
dengan
menampilkan
sosok
populis.
Mekanisme yang dilakukan oleh PKB dengan
political appointee memberikan nuansa
penjaringan
massa
dengan
tetap
memperhatikan
jasa
pengurus
partai.
sedangkan mekanisme professional appointee
lebih memberikan nuansa kualifikasi profesi
caleg partai meskipun harus mengambil dari
luar struktur kepengurusan. Keterbukaan
aliran inilah membuat PKB mengumpulkan
suara yang cukup signifikan. Sebagai contoh
yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT),
dari 19 orang Caleg PKB Ende, 9 orang (47,4
peratus) adalah caleg beragama katolik. Di
daerah pemilihan Ende 4, empat orang dari
lima calegnya beragama katolik, kendati
berada di nomor urut 2,3,4, dan 5, sementara
caleg beragama islam di nomor urut 1 daerah
pemilihan yang sama. (Mardyanto Wahyu
Tryatmoko; 2004, 115-116)
Hampir sama halnya degan PDI-P,
partai ini mengusung nama-nama beken
termasuk artis di beberapa daerah pemilihan
strategis, sehingga Taufik Kiemas harus
menerima kenyataan dikalahkan oleh Marisa
Haque di daerah pemilihan Jawa Barat II.
Meski banyak opini mengenai keterpurukan
PDI-P akibat kegagalan pemerintahan
Megawati, namun dalam kenyataannya
perolehan suara partai ini tetap tinggi meski
mengalami penurunan sekitar 4 peratus
dibandingkan dengan hasil pemilu tahun
1999. Kepintaran Megawati dalam menjual
“moncong putih”nya patut diacungi jempol,
sehingga sempat memunculkan kecurigaan
beberapa pihak terhadap PDI-P (partai
pemerintah) dalam melakukan rekayasa.
Mereka menilai perhitungan suara dipelbagai
daerah. alahasil, kemudian aliansi 19 partai
muncul untuk menolak hasilpemilihan umum
tahun 2004. (Mardyanto Wahyu Tryatmoko;
2004, 116).
Sebagai partai yang berkuasa di masa
Orde Baru. Golkar masih tetap menancapkan
pengaruh kuatnya dalam pemilu tahun 2004.
Kasus yang menimpa Akbar Tandjung
ternyata tidak menyurutkan perolehan suara
partai yang berlambang pohon beringin ini.
Memang tampaknya Golkar sekarang lebih
hebat dengan komposisi kadernya yang lebih
beragam dan modern. Beberapa pengusaha,
purnawirawan, dan politisi beken mewarnai
partai ini untuk menjaring massa di daerah
urban. Namun sayang sekali, tampaknya
perolehan suara terbanyak Partai Golkar lebih
berasal daridaerah rural. Banyak warga
pedalaman yang maish susah melepaskan
kepercayaan atau memorinya akan jasa-jasa
yang diberikan Golkar. Banyak orang lama
yang percaya bahwa keberhasilan anakanaknya dalam bekerja akibat jasa Golkar
yang hingga kini menggajinya. Ditambah lagi
fasilitas dan kemakmuran yang sekarang
berkembang adalah akibat kinerja Golkar.
Sebagai contoh di daerah pedaaman
Kalimantan, khususnya di Kalimantan Selatan
dan beberapa di daerah Sumatera yang masih
kuat memori sosialnya terhadap nama Golkar,
meski reformasi menyudutkannya, namun
nama ini tidak gampang tergantikan oleh
nama lain yang juga mengusung janji lain.
(Mardyanto Wahyu Tryatmoko; 2004, 116).
Perlu dicermati juga bahwa ideologi
dan program yang ditawarkan bukanlah suatu
alat bagi perjuangan beberapa partai politik di
Indonesia. hanya sedikit parpol yang
menggunakan programnya untuk menarik
simpati massa. Misalnya saja, Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) yang berhasil menaikkan
melalui program anti Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme (KKN). Perolehan suara PKS yang
naik secara signifikan dari 1,35 peratus (1999)
menjadi sekitar 6 peratus secara nasional pada
pemilu tahun 2004, memang dibangun atas
realitas kesuksesan beberapa kadernya yang
duduk dalam lembaga legislatif. Memang
sebenarya, basis massa PKS sebagian besar
berada di wilayah perkotaam. Karena
bagaimanapun rasionalitas yang dibangun
oleh PKS sangat mudah dipahami oleh middle
class dan elite. Tampaknya untuk wilayah
rural, masih terlalu paternalistik untuk bisa
menerima PKS. Patronase dan politik aliran
yang masih melekat kuat akan menyebabkan
86
Jurnal Kajian Ilmu Pemerintahan
Journal of Government, Social and Politics
,
jkp
Volume 1, Nomor 1
Maret 2012
terfokusnya suara ke partai-partai besar yang
berideologikan nasionalis, islam (Nu dan
Muhammadiyah), dan bahkan kekuatan lama
Orde Baru melalui Golkarnya. (Mardyanto
Wahyu Tryatmoko; 2004, 117).
87
Download