Apakah Trinitas itu Alkitabiah?

advertisement
Apakah Trinitas itu Alkitabiah? Ketuhanan
Tritunggal Vs Eloah yang Esa
Sekilas Info!! Di antara berbagai teologi yang tersebar di seluruh lingkungan Kekristenan, kepercayaan dalam
ketuhanan tritunggal merupakan salah satu doktrin yang paling banyak dipegang. Pembelajaran yang rajin pada
Alkitab dan sejarah yang didokumentasikan mengungkap bahwa doktrin tritunggal ini berasal dari agama berhala dan adalah salah satu doktrin yang ditentang dengan tegas oleh Yahuwah melalui peringatan-Nya di dalam Alkitab!
Keyakinan akan sebuah ketritunggalan begitu luas tersebar di dalam kalangan Kekristenan, dan
kebanyakan orang Kristen menerima ajaran ini tanpa pertanyaan. Mereka menerimanya sebagai
sebuah keyakinan Alkitab, yang dilandaskan pada Kitab Suci. Segelintir kecil denominasi yang
menyangkal adanya ketuhanan Tritunggal dipandang dengan cara yang baik sebagai kelompok
yang aneh (misalnya, Mormon, Saksi-Saksi Yehova) atau, yang paling buruk dipandang sebagai
aliran sesat (Kristen Sains, Sainstologi). Fakta bahwa Alkitab memang mengacu pada "Roh Kudus"
diterima sebagai bukti yang cukup untuk doktrin ini.
Kebenaran yang mengejutkan adalah bahwa doktrin Trinitas tidak dapat ditemukan dalam Alkitab.
Bahkan, Alkitab mengutip Yahuwah mengeluarkan peringatan menentang keyakinan yang sudah
sangat berurat akar ini! Penelitian yang seksama mengungkapkan bahwa ketuhanan Tritunggal
berasal dari agama berhala.
Alkitab mengungkapkan bahwa Lusifer di Surga cemburu pada hubungan dekat yang terjalin antara
Yahushua dengan Bapa-Nya. Yesaya mencatat pernyataan sombong dari Lusifer:
"Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Lusifer, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh
ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!
Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan
takhtaku mengatasi bintang-bintang EL, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di
sebelah utara.
Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! (Yesaya
14: 12-14)
Setan mencuri ibadah yang sah milik Yang Mahatinggi, dan mengarahkannya kepada dirinya
sendiri. Dia melakukan ini dengan menciptakan sebuah doktrin trinitas. Doktrin ini mengalihkan
penyembahan untuk menjauh dari Yahuwah. Karena penyembahan yang tidak diberikan kepada
Sang Pencipta adalah dosa, maka Iblislah yang sebenarnya menerima penyembahan yang telah
dibelokkan ini.
Trinitas dalam Agama Berhala
Berbagai jenis Trinitas ditemukan di dalam seluruh agama berhala kuno. Beberapa agama memiliki
lebih dari satu trinitas, tetapi masing-masing dianggap "tiga di dalam satu". Catatan paling kuno
dari kepercayaan Trinitas ditemukan di Sumeria, sesaat setelah air bah. Ketuhanan Tritunggal kuno
ini terdiri dari Anu, "Bapa" dan "Raja para Dewa," Enlil, dewa pencipta; dan Enki, yang menjadi
"tuan kebijaksanaan". Babel melandaskan trinitasnya pada pendirinya, Nimrod, si pemberontak
mula-mula yang melawan pemerintahan ilahi. Untuk pertama kalinya, sosok ibu adalah bagian dari
trinitas "suci": Nimrod, Semiramis, dan Tammuz. Semiramis, sebagai istri Nimrod dan ibu dari
Tammuz "Sang Juruselamat", diangkat sebagai "Bunda Allah" dan "Ratu Surga".
Versi yang sama dari orang Mesir untuk trinitas yang menghujat ini adalah Osiris, sebagai Bapa;
Isis, sebagai Ibu; dan Horus, sebagai Anak. Sejarah Osiris dengan tegas menunjukkan bahwa Osiris
dan Nimrod adalah satu dan merupakan pribadi yang sama. Agama Hindu juga memiliki trinitas
Bapa/Ibu/Anak yang terdiri dari Brahma, Wisnu, dan Siwa. Orang-orang Yunani menyembah Zeus,
Athena, dan Apollo, mengklaim bahwa ketiganya berada dalam "satu kesatuan".
Dalam bukunya, Written In Stone, penulis Richard Cassaro memperlihatkan adanya bukti agama
tiga-dalam-satu yang sangat kuat dan yang sangat tua, yang menyebar luas di seluruh Eropa
berabad-abad sebelum Kristus. Keyakinan ini begitu mendarah daging yang pada awalnya
mencegah penyebaran agama Kristen di Eropa!
Agama kuno Tiga-Dalam-Satu ini adalah sebuah pengembangan kearifan di dalam diri sendiri yang
memberkati penduduk Eropa dengan kemampuan indra keenam yang legendaris. . . ini juga
memberkati mereka dengan kemampuan untuk mendongeng atau menguasai pikiran. Orang yang
telah dimampukan secara alami akan sulit untuk dipengaruhi dan hampir mustahil untuk dikontrol.
Oleh karena itu menjadi keinginan para pendiri Gereja yang selalu bertujuan untuk mendapatkan
hegemoni atas orang banyak-untuk menghilangkan kearifan ajaib kuno ini dari benua itu, dan
memberikan mereka dasar yang lebih kuat untuk menegakkan agama Kristen baru dan mencabut
sistem kepercayaan yang ada.1
Gambar: Richard Cassaro, http://www.deepertruth.com/trinity.
Jelas, sesuatu harus dilakukan jika Kekristenan mau mentobatkan kekafiran tersebut. Solusinya:
membuat Kristen trinitas.
Paham Trinitas Memasuki Kekristenan
Ambisi Uskup Roma untuk memperpanjang kekuasaan dan pengaruhnya dengan mentobatkan
orang-orang kafir bertepatan dengan keinginan Kaisar Konstantin untuk mengkonsolidasikan
kekuasaan politiknya di seluruh wilayah kekuasaannya yang luas. Kaisar mengadakan Konsili Nicea
pada tahun 322 M dengan tujuan menyatukan umat Kristen. Titik utama dalam pembahasan adalah
sifat Yahuwah. Konstantin dengan tegas menyatakan bahwa semua uskup akan tetap berada di
dalam Konsili sampai mereka bersatu. Dan mereka melakukannya - selama tiga tahun. Beberapa
bukti menunjukkan bahwa para uskup yang menolak untuk melepaskan keyakinan mereka dibunuh
sementara yang lain diasingkan.
Pada akhirnya, para uskup dikompromikan. . . dan paham oikumene lahir. Doktrin dan penafsiran
Alkitab yang mempromosikan individualitas Yahuwah ditinggalkan demi teologi Tritunggal kafir.
Konsili Nicea, dengan Arius yang digambarkan
berlutut di bawah kaki Kaisar Konstantin dan para
uskup. 13
Eusebius dari Nicomedia, pendukung utama dari ‘Yahuwah adalah pribadi yang esa yang memiliki
satu Anak tunggal’, menjadi sebuah contoh untuk kompromi yang telah dilakukan oleh para pendeta
dan gereja-gereja sejak: pernyataan-pernyataan yang diputar balik untuk diterapkan dalam lebih
dari satu cara untuk mencapai awal dari "kesatuan dalam keragaman". Kompromi demi persatuan
merupakan sebuah karakteristik untuk mengidentifikasi kesalahan. Hal ini secara langsung
bertentangan dengan pernyataan Yahushua yang merefleksikan reaksi dunia terhadap kebenaran
yang Dia bawa: "Jangan berpikir bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku
datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang." (Matius 10:34, NKJV)
Eusebius dari Nicomedia pertama-tama mengajukan pengakuan keyakinan Arian [non-trinitas] dan
itu ditolak. . . bukannya mengajukan pengakuan keyakinan mereka sendiri, mereka yang anti-Arian
mengubah pengakuan keyakinan milik Eusebius, dan membuat dia menandatanganinya dan
akhirnya benar-benar menyingkirkan orang-orang Arian keluar. Orang-orang Arian yang tidak
menandatanganinya digulingkan dan diasingkan. . .
Jadi sekarang Konstantin telah memiliki Gerejanya yang bersatu yang sama sekali tidak bersatu. . .
Eusebius cukup nyaman dengan pengakuan iman Nicea bahwa dia merasa hal itu perlu dilakukan
untuk membenarkan dirinya demi rakyatnya sendiri dalam sebuah surat yang panjang di mana dia
menyatakan bahwa ‘dia menolak bahkan sampai menit-menit terakhir’ sampai kata-kata itu
diperiksa dan itu menjelaskan bahwa kata-kata 'tidak berarti mereka semua tampaknya berarti
tetapi dimaksudkan hanya untuk menegaskan ketuhanan yang nyata dari Sang Anak ...'2
Para pemimpin di Nicea sebenarnya "mengakui pandangan ganda untuk memenangkan Eusebius
dan para pengikutnya."3 Dengan demikian, kebenaran Alkitab telah digantikan oleh kesalahan
orang kafir demi "persatuan" yang dangkal.
Umat Kristen Mula-mula non-Trinitas
Setelah aliran Ortodoks Trinitas berhasil
mengalahkan Arianisme, mereka menyensor
tanda-tanda yang dirasa masih ditinggalkan
oleh para bid’ah. Lukisan di Basilika
Sant'Apollinare Nuovo di Ravenna ini
bergambar raja Arian, Theoderic, dan
istananya yang telah dihapus. Namun, pada
beberapa kolom tangan mereka masih
tertinggal.14
Umat Kristen mula-mula tidak menganut Trinitas.
Meskipun agama-agama lain selama ribuan tahun sebelum Kristus lahir menyembah dewa
Tritunggal, namun Trinitas bukanlah bagian dari dogma Kristen dan dokumen resmi dari tiga abad
pertama setelah Kristus.
Bahwa tidak ada doktrin Trinitas resmi yang ditetapkan sampai abad keempat adalah fakta sejarah
yang sepenuhnya didokumentasikan.
Jelas, para sejarawan dari dogma gereja dan para teolog sistematis setuju bahwa ide trinitas
Kristen bukanlah bagian dari gereja abad pertama. Kedua belas rasul tidak pernah menganut atau
menerima wahyu tentang hal itu. Lalu kemudian bagaimana sebuah doktrin Trinitas muncul?
Secara bertahap berkembang dan mendapatkan momentum pada akhir dari abad pertama, kedua
dan ketiga, ketika orang kafir yang telah menjadi Kristen, membawa masuk ke dalam Kekristenan
beberapa kepercayaan dan praktek-praktek penyembah berhala.4
Bahkan penganut Tritunggal sendiri mengakui bahwa doktrin yang tidak alkitabiah ini memang
tidak muncul sampai abad keempat setelah Yahushua. Katolik Roma mengakui:
. . . seseorang tidak boleh berbicara tentang paham Trinitas dalam Perjanjian Baru tanpa
persyaratan yang jelas. . . ketika seseorang yang tidak memenuhi syarat berbicara tentang sebuah
paham Trinitas, maka orang itu telah pindah ke periode awal Kekristenan sampai pertengahan dari
abad ke-4. Nanti setelah waktu itu baru dapat disebut dogma Tritunggal definitif "satu Tuhan dalam
tiga Pribadi" dan menjadi benar-benar menyatu di dalam kehidupan dan pikiran orang-orang
Kristen.5
Versi modern dari trinitas, seperti yang dipahami saat ini, digambarkan hampir secara keseluruhan
berasal dari seorang filsuf kafir Yunani, Plato. Para Pengikut Plato percaya kepada Bapa yang tidak
dikenal, Firman (Logos) dan jiwa dunia. "Para teolog, Clement dari Alexandria, Origenes, dan Santo
Agustinus adalah para petinggi Kristen mula-mula yang menganut cara pandang Plato. Ide dari
Plato memiliki peran penting dalam pengembangan teologi Kristen...."6 pengaruh kafir ini pada
pengembangan doktrin Kristen begitu luas sehingga "kita menemukan kekristenan cenderung
menyerap nilai-nilai filsafat Yunani, sampai pada akhir abad ketiga perbedaan antara orang-orang
Kristen terdidik yang percaya dengan orang-orang kafir yang berpendidikan di timur sering sulit
untuk digambarkan."7
Trinitas Tidak Ada di dalam Alkitab
Sebuah penelitian yang seksama pada Alkitab mengungkapkan bahwa bukan hanya kata "trinitas"
tidak ditemukan dalam Alkitab, tetapi juga konsep ketuhanan Tritunggal sama sekali tidak
ditemukan di seluruh Alkitab! Edmund Fortman, seorang sarjana Yesuit menyatakan:
Kitab Perjanjian Lama. . . tidak memberitahu kita sesuatu yang eksplisit atau implikasi yang
diperlukan dari Allah Tritunggal yang adalah Bapa, Anak dan Roh Kudus. . . . Tidak ada bukti dari
para penulis suci yang mencurigai adanya sebuah [Trinitas] dalam Ketuhanan. . . . Bahkan untuk
melihat di [Perjanjian Lama] saran atau bayangan atau 'tanda-tanda terselubung' dari pribadi
Tritunggal, adalah jauh diluar kata-kata dan maksud dari penulis suci.
. . . Para penulis kitab Perjanjian Baru. . . tidak memberi kita doktrin resmi atau rumusan dari
Trinitas. . . tidak ada tempat di mana kita menemukan doktrin Trinitas dari tiga pribadi ilahi yang
berbeda yang hidup dalam ketuhanan yang sama.8
Trinitas: Sebuah Kekristenan Baru
Dengan mengakui Yahushua sebagai
Mesias, Kekristenan terpisah dari agama Yahudi kuno. Namun, orang-orang Kristen mula-mula
masih sangat mirip dengan orang-orang Yahudi dalam keyakinan mereka. Mereka masih
menyembah pada Sabat hari ketujuh, tidak makan daging haram, merayakan perayaan tahunan agama murni mereka adalah cerminan dari akar ilahi dari mana mereka terpancar.
Namun, ketika teologi Kekristenan menerima doktrin trinitas, Kekristenan mengalami perubahan
mendasar yang jauh dari asal-usulnya yang murni, yang ditetapkan oleh surga. New Encyclopedia
Britannica menitikberatkan alasan dari perubahan ini dengan sangat tepat: "Kredo Trinitas Kristen.
. . membuatnya menjadi berbeda dari dua agama monoteistik klasik lainnya [agama Yahudi dan
Islam]."9
Dalam tritunggal, fokus diberikan pada "Allah Anak" sebagai Juruselamat dan Allah Roh Kudus
sebagai Mediator yang bekerja sama untuk menggantikan kita. Bahaya dari pergeseran halus dalam
penekanan ini adalah bahwa hal itu menghilangkan dari orang-orang percaya keharusan untuk
melakukan apapun. . . selain hanya "menerima Yesus".
Alkitab mengajarkan bahwa Yahuwah itu bekerja di DALAM kita. "Sebab Yahuwah yang
mengerjakan di DALAM kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." (Filipi
2:13) Adalah rencana Yahuwah untuk memulihkan gambar-Nya sendiri dalam diri orang-orang yang
telah ditebus. Dengan adanya dua anggota dari Ketuhanan yang bekerja menggantikan kita, maka
tidak perlu lagi ada pertobatan atau keharusan untuk hidup kudus. Yang harus dilakukan orang
adalah "hanya menerima". Ini adalah dasar dari anugerah murahan, di mana orang percaya hanya
perlu mengklaim "keyakinan" dan tidak lebih, bahkan ketaatan, tidak lagi perlu. Hal seperti ini
adalah sepupu dekat dari ajaran sesat "sekali selamat tetap selamat".
Akhirnya, dengan membawa trinitas ke dalam Kekristenan, Setan berusaha menghancurkan
Kekristenan, dari dalam, langsung di dasarnya.
Kitab Suci dan Sifat Asli Yahuwah
Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Yahuwah adalah pribadi tunggal yang memiliki seorang
Anak: "Dengarlah, hai orang Israel, Yahuwah itu Elohim kita, Yahuwah itu Esa" (Ulangan 6: 4) Kata
Elohim adalah bentuk jamak dari El (yang berarti "Tuhan"), ini mencakup hubungan yang erat
antara Bapa dan Anak. Namun, adalah tidak bijaksana untuk membuat hal ini menyiratkan ilahi
Tritunggal. Perintah pertama dengan jelas, tanpa perlu dipertanyakan, menyatakan, "Akulah
Yahuwah Elohimmu. . . Jangan ada elohim lain di hadapan-Ku" (Keluaran 20: 2 dan 3).
Para penulis Perjanjian Baru bersatu dalam menyatakan penolakan mereka terhadap trinitas.
Paulus menyatakan dengan tegas:
Tidak ada Theos [Elohim/Tuhan] lain selain dari pada Dia yang esa." Sebab sungguhpun ada apa
yang disebut "theos" [dewa], baik di sorga, maupun di bumi (dan memang benar ada banyak "dewa"
dan banyak "tuhan" yang demikian) namun bagi kita hanya ada satu Theos saja, yaitu Bapa, yang
dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuan saja, yaitu
Yahushua yang Diurapi, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita
hidup. (Lihat 1 Korintus 8:4b-6).
Kebanyakan orang Kristen menerima doktrin tritunggal tanpa pertanyaan tanpa alasan lain selain
keantikannya, tidak menyadari bahwa ada suatu masa ketika subjek ini menjadi sangat
kontroversial yang menyebabkan orang-orang kehilangan nyawa mereka demi kebenaran.
Kebanyakan teolog tahu bahwa doktrin Trinitas tidak alkitabiah.
Karena Trinitas telah menjadi bagian penting dari doktrin Kekristenan belakangan ini, sangat
mengejutkan bahwa istilah tersebut tidak muncul dalam Perjanjian Baru. Demikian juga, konsep
yang dikembangkan dari tiga mitra yang memiliki kedudukan yang sama dalam Ketuhanan yang
ditemukan dalam formulasi pengakuan iman kemudian tidak dapat terdeteksi dengan jelas dalam
batas-batas yang telah di kanon.10
"Salah satu keajaiban terbesar dalam sejarah Kekristenan adalah kemampuan para teolog untuk
meyakinkan umat Kristen bahwa tiga pribadi itu adalah sungguh-sungguh satu Allah."11
1 Yohanes 5: 7 sering dikutip sebagai bukti Alkitabiah untuk keberadaan ilahi Tritunggal: "Sebab
ada tiga yang memberi kesaksian di surga, Bapa, Firman, dan Roh Kudus: dan ketiganya adalah
satu." Namun, sejarawan gereja dan para sarjana pada umumnya sekarang mengakui bahwa ayat
ini tidak muncul dalam bahasa aslinya.
Namun, seperti doktrin-doktrin lain yang muncul menjadi pusat keyakinan, kepercayaan pada
Trinitas adalah sebuah perkembangan sejarah, dan bukan sebuah "pemberian" dari tahun-tahun
awal keyakinan itu.
A. Gagasan dasar dari Trinitas adalah bahwa ada tiga pribadi dalam Ketuhanan: Bapa, Anak, dan
Roh Kudus. Ini semua adalah sama-sama Allah dan bersumber dari zat yang sama, tetapi meskipun
fakta bahwa ada tiga pribadi, bersama-sama, mereka hanya ada satu Tuhan, tak terpisahkan dalam
sifatnya.
B. Doktrin ini tidak menjadi sebuah doktrin yang diucapkan oleh Yesus, Paulus, atau penulis sejarah
Kristen lainnya selama seratus tahun pertama atau lebih dari Kekristenan.
C. Tidak dapat ditemukan secara eksplisit dinyatakan dalam tulisan-tulisan Kristen mula-mula.
Satu-satunya bagian dari Perjanjian Baru yang menyatakan doktrin ini (1 Yohanes 5: 7-8) awalnya
bukan menjadi bagian dari teks itu tetapi ditambahkan oleh penulis doktrin yang licik di kemudian
hari (tidak ditemukan dalam manuskrip Yunani manapun sampai abad ke-11)12.
Penerimaan doktrin trinitas mengalihkan perhatian dari Yahuwah, yang adalah sumber dari segala
berkat. Banyak sekali anak kecil yang diajari untuk berdoa "Ya Yesus" daripada kepada Bapa.
Beberapa orang Kristen berdoa kepada Roh Kudus sementara umat Katolik berdoa kepada Maria
yang telah dipoles, yang sebenarnya adalah Semiramis, sebagai "Ratu Surga". Sementara itu, Dia
yang begitu mengasihi orang-orang berdosa sehingga Dia memberikan Anak-Nya yang tunggal
untuk mati bagi penebusan mereka, dipandang sebagai Tuhan yang kejam, tak kenal ampun dan
tidak adil. Yahuwah menyatakan: "tidak ada Elohim selain dari pada-Ku! Elohim yang adil dan
Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu
diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah El dan tidak ada yang lain.." (Yesaya 45:21 dan
22).
Panggilan yang nyaring dari Alkitab adalah "Keluarlah daripadanya, hai umat-Ku!" (Wahyu 18: 4).
Yahuwah ingin menyelamatkan semua orang dari bahaya doktrin kafir ini yang telah diturunkan
dari Babel. Dia memperingatkan, "Aku akan menghukum dewa Bel di Babel . . . tembok Babel akan
runtuh. Keluarlah dari tengah-tengahnya, hai umat-Ku! Hendaklah setiap orang menyelamatkan
nyawanya dari murka Yahuwah yang menyala-nyala itu! "(Yeremia 51:44 dan 45)
Ini merupakan peringatan bagi semua orang untuk meninggalkan agama yang terorganisir dan
merangkul kebenaran murni, yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus, yang tidak
dirusak oleh kesalahan panjang selama berabad-abad, tradisi dan agama berhala. Tinggalkan
keyakinan dan doktrin-doktrin yang berlandaskan pada kekafiran. Kembalilah pada ibadah yang
murni dari Sang Pencipta, hanya Dia saja yang layak untuk menerima penyembahan:
Kudus, kudus, kuduslah Yahuwah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan
datang.
Engkau layak, ya Yahuwah, menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah
menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.
Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan
kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!". (Wahyu 4: 8, 11 dan 5:13).
1
Richard Cassaro, http://www.deepertruth.com/trinity.
2
C. L. Hagensick, “The Origin of the Trinity: From Paganism to
Constantine,”http://www.heraldmag.org/olb/Contents/doctrine/The%20Origin%20of%20the%20Trin
ity.htm, penekanan diberikan.
3
Arthur Cushman McGiffert, A History of Christian Thought, Vol. 1, hal. 266.
4
Victor Paul Wierwille, “Jesus Christ is Not God.”
5
New Catholic Encyclopedia, 1967 ed., Vol. XIV, hal. 295, penekanan diberikan.
6
Archana Srinivasan, Famous Greek Personalities, hal. 30.
7
William H. C. Frend, The Rise of Christianity, seperti yang dikutip di dalam “Historical
Background of the Trinity,”http://www.christadelphia.org/trinityhistory.htm.
8
Edmund Fortman, The Triune God.
9
Seperti yang dikutip dalam Should Christianity Abandon the Doctrine of the Trinity, oleh Michael
Barber, hal. 28.
10
“The Lost Doctrines of Christianity: The Doctrine of the
Trinity,” http://reluctant-messenger.com/Lost-Doctrines-Christianity009.htm.
11
Anthony F. Buzzard and Charles F. Hunting, The Doctrine of the Trinity, as quoted
in http://www.christadelphia.org/trinityhistory.htm.
12
Bart D. Erhman, Lecture course: “From Jesus to Constantine: A History of Early Christianity,”
penekanan diberikan.
13
http://en.wikipedia.org/wiki/File:Nikea-arius.png
14
http://en.wikipedia.org/wiki/Arianism
Download