link

advertisement
MAKALAH
SEJARAH PERADABAN ISLAM
Di ajukan untuk memenuhi tugas terstuktur
Mata kuliah : Sejarah Peradaban Islam
Dosen pengampu : Anwar Sanusi, M. Ag.
Disusun Oleh :
Nama
NIM
Melia
1414152081
Widya Ningsih
1414152101
Desi Ratnasari
1414153112
JURUSAN MATEMATIKA”C”- SEMESTER 1
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang
1
B. Rumusan
1
C. Tujuan
1
BAB II. Pembahasan
A. Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW
2
B. Periode Mekah
4
C. Periode Madinah.................
7
DAFTAR PUSTAKA
11
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Segala puji kehadirat Allah SWT karena kehendak dan ridhanya, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya berupa nikmat iman dan nikmat islam,
kesehatan dan kemampuan berfikir serta nikmat-nikmat lainnya yang tak terhitung
banyaknya. Sehingga makalah ini dapat tersusun dan terselesaikan dengan lancar.
Shalawat serta salam tak lupa penulis curahkan kepada junjungan Nabi besar
Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-qur’an dan
Sunnah untuk keselamatan didunia dan akherat.
Alhamdulilah, penulis dapat menyelesaikan makalah tentang “Sejarah Nabi
Muhammad SAW”. Makalah ini merupakan tugas terstuktur dari mata kuliah
Sejarah Peradaban Islam yang dipegang oleh dosen pengampu bapak. Anwar
Sanusi, M. Ag. Penulis mengucapkan banyak berterima kasih kepada beliau yang
telah membimbing dalam proses pembelajaran.
Dalam makalah ini sekiranya masih banyak kekurangan dan kesalahan, hal
ini dikarenakan penulis masih dalam proes belajar. Kritik dan saran yang
membangun sangat kami harapkan, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi semua pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Cirebon, September 2014
Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah dalam bahasa arab, Tarikh atau history (inggis), adalah
cabang ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan kronologi berbagai
peristiwa. Definisi serupa di ungkapkan oleh Abd. Ar-Rahman AsSakhawi bahwa sejarah adalah seni yang berkaitan dengan serangkaian
anekdot yang berbentuk kronologi peristiwa. Secara teknis formula, Nisar
Ahmad Faruqi menjelaskan formula yang di gunakan dikalangan sarjana
barat bahwa sejarah terdiri dari (man + time +space = History).
Secara esensial, kelahiran Nabi Muhammad pada masyartakat Arab
adalah terjadinya kristalisasi pengalaman baru dalam dimensi ketuhanan
yang memengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk hukumhukum yang di gunakan pada masa itu. Keberhasilan Nabi Muhammad
SAW dalam menegakan kepercayaan bangsa arab pada waktu yang
relative singkat kemampuannya dalam memodifikasi jalan hidup orangorang arab. Sebagian dari nilai dan budaya arab Pra-islam, untuk beberapa
hal di ubah dan di teruskan oleh masyarakat Muhammad kedalam tatanan
moral islam. Secara geonologis, ia merupakan keturunan suku Quraisy,
suku yang terkuat dan berpengaruh di Arab.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dirumuskan
masalahnya sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah Nabi Muhammad SAW ?
2. Bagaimana masa Periode perjuangan dakwah di makkah ?
3. Bagaimana masa Periode perjuangan dakwah di madinah?
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui Sejarah Nabi kita Muhammad SAW
2. Untuk mengetahui masa periode Nabi Muhammad SAW di Makkah
3. Untuk mengetahui masa periode Nabi Muhammad SAW di Madinah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Muhammad SAW adalah putra pasangan Abdullah bin Abdul
Mutholib dan Siti Aminah binti Wahab, yang semuanya berasal dari
keluarga terhormat. Bapaknya (25 tahun) Meninggal di madinah ketika
Muhammad masih dalam kandungan.1
Nabi Muhammad SAW di lahirkan pada tahun gajah- tahun ketika
pasukan gajah Abraha menyerang Mekah untuk menghancurkan ka’bah,
namun pasukan Abrahah mengalami kehancuran. Peristiwa itu terjadi
kira-kira pada tahun 570 M. (12 Rabiul Awal). Merupakan suatu
kebiasaan di antara orang-orang kaya dan kaum bangsawan Arab bahwa
ibu-ibu tidak mengasuh anak-anak mereka, tetapi mereka mengirimkan
anak-anak itu ke pedesaan untuk diasuh dan dibesarkan disana. Begitu
pula Muhammad, setelah di asuh beberapa lama oleh ibunya, beliau di
percayakan kepada Halimah binti Ab Dzuabi As-Sa’diah dari suku Banu
Sa’ad untuk diasuh dan di besarkan hingga usia 6 tahun. Ketika
Muhammad dikembalikan kepada ibunya, Aminah. Pada waktu itu,
ibunya bermaksud menziarahi makam suaminya di madinah, tempat
1
Dhurrorudin mashad, Mutiara hikmah kisah 25 rosul. Hlm 242
suaminya di makamkan. Namun di tengah perjalanan yaitu di AbwMadinah, Aminah menderita sakit dan menghembuskan nafas yang
terakhir di sana. Dengan demikian pada usia 6 tahun, Muhammad sudah
kehilangan kedua orang tuanya.2
Setelah Aminah meninggal, abdul Mutholib mengambil alih
tenggung jawab merawat Muhammad. Namun 2 tahun kemudian abdul
Mutholib meninggal dunia karena renta. Tanggung jawab selanjutnya
beralih kepada pamannya, Abu Tholib. Seperti hal nya abdul Mutholib,
sang paman sangat di segani dan di hormati orang Quraisy dan penduduk
mekah secara keseluruhan, walaupun beliau tergolong keluarga tidak
mampu(miskin). Dalam usia muda, Muhammad hidup sebagai
pengembala kambing milik keluarganya dan kambing penduduk mekah.
Melalui kegiatan pengembalaan ini, beliau menemukan tempat untuk
berfikir dan merenung. Dalam suasana demikian, beliau ingin melihat
sesuatu di balik semuanya. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya
jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi, sehingga beliau terhindar dari
berbagai macam noda yang dapat merusak namanya. Oleh karena itu,
sejak muda beliau sudah dijuliki al-Amin, orang yang terpercaya.3
Selanjutnya, Nabi Muhammad melakukan perjalanan (usaha) untuk
pertama kali dalam khafilah dagang ke Siria (syam) dalam usia baru 12
tahun. Khafilah itu dipimpin oleh abu Thalib. Dalam perjalanan ini, di
Bushra, sebelah selatan siria beliau bertemu dengan pendeta kristen
bernama Buhairah. Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian pada
Muhammad sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen. Sebagian
sumber menceritakan bahwa pendeta itu menasehati Abu Tholib agar
tidak terlalu jauh memasuki daerah siria, sebab dikhawatirkan orangorang yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat
terhadapnya. Perkiraan pendeta tersebut akhirnya dibuktikan dengan
sejarah kenabian Muhammad sampai sekarang.
2
3
Syed Mahmudunnasir. Islam Its Concepts & History. New Delhi: Kitab Bhavan, 1981, hlm. 75
Ibid. lihat pula badri yatim, op. cit., hlm. 17
Ketika nabi Muhammad berusia 25 tahun, beliau berangkat ke siria
membawa barang dagangan milik seorang saudagar wanita kaya raya
yang telah lama menjanda, Khodijah. Dalam perdagangan ini,
Muhammad memperoleh laba yang sangat besar. Itu semua berkat
kejujuran dan keagungan pekerti Muhammad. Mendengar cerita
maesaroh, abdi yang disertakan dalam misi dagang, Khadijah dengan
langsung kesengsem bin kepincut (tertarik dan merasa suka) pada pekerti
Muhammad. Khodijah kemudian melamarnya. Lamaran itu diterima dan
perkawinan segera dilaksanakan. Ketika itu Muhammad berusia 25 tahun
dan khodijah 40 tahun. Dalam perkembangan selanjutnya, Khodijah
adalah wanita pertama yang masuk islam dan banyak membantu nabi
dalam perjuangan menyebarkan islam. Perkawinan bahagia dan saling
mencintai itu dikaruniai 6 orang anak, 2 putra dan 4 putri: Qasim,
Abdullah, Zainab, Ruqoyah, Umu Kulsum dan Fatimah. Kedua putranya
meninggal waktu kecil. Nabi Muhammad tidak menikah lagi sampai
Khodijah meninggal ketika Muhammad berusia 50 tahun.
Fase kenabian Nabi Muhammad dimulai ketika beliau bertahanus
atau menyepi di gua Hira, sebagai imbas keprihatinan beliau melihat
keadaan bangsa Arab yang menyembah berhala. Ditempat inilah beliau
menerima wahyu pertama, yang berupa surah Al-‘Alaq ayat 1-5. Dengan
wahyu yang pertama ini, maka beliau telah diangkat menjadi Nabi,
utusan Allah. Pada saat itu, Nabi Muhammad belum di perintahkan
untuk menyeru kepada umatnya, namun setelah turun wahyu kedua,
yaitu surah Al-Muddatstsir ayat 1-7, Nabi Muhammad diangkat menjadi
Rosul yang harus berdakwah. Dalam hal ini dakwah Nabi Muhammad
dibagi menjadi dua periode,4 yaitu:
1. Periode Mekah, cirri pokok dari periode ini adalah pembinaan
dan pendidikan tauhid (dalam arti luas) ;
2. Periode Madinah, ciri pokok dari periode ini adalah pendidikan
sosial dan politik (dalam arti luas).
4
Prof. Dr. A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 1, hlm. 84, 87.
B. Periode Mekah
Pada periode ini, tiga tahun pertama, dakwah islam dilakukan
secara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad mulai melaksanakan
dakwah islam di lingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri,
yaitu Khadijah yang menerima dakwah beliau, kemudan Ali bin Abi
Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid bekas budak beliau.
Disamping itu, juga banyak orang masuk islam dengan perantaraan Abu
Bakar yang terkenal dengan julukan Assabiqunal Awwalun5(orang-orang
yang lebih dahulu masuk Islam), mereka adalah Utsman bin Affan,
Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdur Rahman bin Auf,
Arqam bin Abil Arqam, yang rumahnya dijadikan markas untuk
berdakwah (rumah Arqam).
Kemudian setelah turun ayat 94 Surah Al-Hijr, Nabi Muhammad
memulai berdakwah secara terang-terangan.
“ Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa
yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang
yang musyrik. (QS. Al-Hijr:94).”
Namun dakwah yang dilakukan beliau tidak mudah karena
mendapat tantangan dari kaum kafir Quraisy. Hal tersebut timbul karena
beberapa factor, yaitu sebagai berikut:
1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan
kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk pada seruan Nabi
Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul
Muthalib.
2. Nabi
Muhammad
menyerukan
persamaan
hak
antara
bangsawan dan hamba sahaya.
3. Para pemimpin Quraisy tidak mau percaya ataupun mengakui
serta tidak menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan
pembalasan di akhirat.
4. Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat
akar pada bangsa arab,sehingga sangat berat bagi mereka untuk
5
Dr. Ali Mufrodi, Islam di kawasan kebudayaan Arab, hlm. 20.
meninggalkan agama nenek moyang dan mengikuti agama
islam.
5. Pemahat dan penjual patung memandang islam sebagai
penghalang rezeki.
Banyak cara dan upaya yang ditempuh para pemimpin
Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi Muhammad SAW,
namun selalu gagal, baik secara diplomatik dan bujuk rayu
maupun tindakan-tindakan kekerasan secara fisik. Puncak dari
segala cara itu adalah dengan di berlakukannya pemboikotan
terhadap
Bani
Hasyim
yang
merupakan
tempat
Nabi
Muhammad berlindung. Pemboikotan ini baru berhenti setelah
kaum Quraisy menyadari bahwa apa yang mereka lakukan
sangat keterlaluan, terlebih setelah meninggalnya dua orang
yang selalu melindungi dan menyokong Nabi Muhammad dari
orang-orang kafir, yaitu paman beliau, Abu Tholib, dan istri
tercinta beliau, Khadijah. Peristiwa itu terjadi pada tahun
kesepuluh kenabian. Tahun ini merupakan tahun kesedihan
bagi Nabi Muhammad SAW sehingga dinamakan Amul
Khuzn.6
Karena di mekah dakwah nabi Muhammad SAW mendapat
rintangan dan tekanan, pada akhirnya nabi memutuskan untuk
berdakwah di luar mekah. Namun, di Thaif beliau di caci dan
dilempari batu sampai beliau terluka. Hal ini semua hampir
menyebabkan Nabi Muhammad putus asa, sehingga untuk
menguatkan hati beliau, Allah mengutus dan mengisra’ dan
memi’rajkan beliau pada tahun kesepuluh kenabian itu. Berita
tentang isra’ dan mi’raj ini menggemparkan masyarakat mekah.
Bagi orang kafir, peristiwa itu dijadikan bahan propaganda
untuk mendustakan Nabi Muhammad SAW. Sedangkan bagi
orang yang beriman ini merupakan ujian keimanan.
6
Dr. Ali Mufrodi, Islam di kawasan kebudayaan arab, hlm.20.
Setelah peristiwa Isra’ dan Mi;raj, suatu perkembangan
besar bagi kemajuan dakwah islam terjadi, yaitu dengan
datangnya sejumlah penduduk Yatsrib (Madinah)
untuk
berhaji ke Mekah. Mereka terdiri dari dua suku yang saling
bermusuhan, yaitu suku Aus dan Khazraj7 yang masuk islam
dalam tiga gelombang. Pada gelombang pertama pada tahun
kesepuluh kenabian , mereka datang untuk memeluk agama
islam dan menerapkan ajarannya sebagai upaya untuk
mendamaikan
permusuhan
antara
kedua
suku.
Mereka
kemudian mendakwahkan islam di yatsrib. Gelombang kedua,
pada tahun ke 12 kenabian mereka datang kembali menemui
nabi dan mengadakan perjanjian yang dikenal dengan
perjanjian (Aqabah Pertama), yang berisi ikrar kesetiaan.
Rombongan ini kemudian kembali ke yatsrib sebagai juru
dakwah disertai oleh mus’ab bin umair yang diutus oleh nabi
untuk berdakwah bersama mereka. Gelombang ke tiga, pada
tahun ke-13 kenabian, mereka datang kembali kepada nabi
untuk menyampaikan pesan yang harus disampaikan kepada
Nabi Muhammad saw. Pesan itu adalah berupa permintaan
masyarakat Yatsrib agar Nabi Muhammad saw, bersedia datang
ke kota mereka, memberikan penerangan tentang ajaran Islam
dan sebagainya. Nabi pun akhirnya menyetujui usul mereka
untuk berhijrah. Perjanjian ini disebut perjanjian (Aqabah
kedua) karena terjadi pada tempat yang sama.8
Akhirnya nabi Muhammad bersama kurang lebih 150 kaum
muslimin berhijrah ke yatsrib. Dan ketika sampai disana,
sebagai penghormatan kepada nabi Muhammad , Nama Yatsrib
di rubah menjadi Madinah.9
Demikian periode mekah terjadi. Dalam periode ini Nabi
Muhammad SAW mengalami hambatan dan kesulitan dalam
7
Prof. Dr. A.S yalabi, ibid., hlm.104.
Prof. Dr. A. Syalabi, ibid., hlm.106.
9
Dr. Badri Yatim, M.A, Sejarah peradaban islam, hlm. 25.
8
berdakwah islamiyah. Dalam periode ini nabi Muhammad
belum berfikir untuk menyusun suatu masyarakat islam yang
teratur, karena perhatian Nabi Muhammad lebih terfokus pada
penanaman teologi atau keimanan masyarakat.
C. Periode Madinah
Dalam periode ini, pengembangan Islam lebih ditekankan pada
dasar-dasar pendidikan masyarakat Islam dan pendidikan sosial
kemasyarakatan. Oleh karena itu, Nabi kemudian meletakkan
dasar-dasar masyarakat Islam di Madinah, sebagai berikut.
1. Mendirikan Masjid.
Tujuan Rasulullah mendirikan masjid adalah untuk
mempersatukan umat Islam dalam satu majelis, sehingga di
majelis ini umat Islam bias bersama-sama melaksanakan shalat
berjama’ah secara teratur, mengadili perkara-perkara dan
bermusyawarah. Masjid ini memegang peranan penting untuk
mempersatukan kaum muslimin dan mempererat tali ukhuwah
Islamiyah.
2. Mempersatukan dan mempersaudarakan antara kaum Anshar
dan Muhajirin.
Rasulullah mempersatukan keluarga-keluarga Islam yang
terdiri
dari
Muhajirin
dan
Anshar.
Dengan
cara
mempersaudarakan antara kaum Ansar dan Muhajirin yang
berdasarkan agama pengganti persaudaraan yang berdasar
kesukuan seperti sebelumnya.
3.
Perjanjian saling membantu antara sesama kaum muslimin dan
bukan muslimin.
Nabi
Muhammad
hendak
menciptakan
toleransi
antargolongan yang ada di Madinah, oleh karena itu Nabi
membuat perjanjian antara kaum muslimin dan nonmuslimin.
Menurut Ibnu Hasyim, isi perjanjian tersebut antara lain
sebagai berikut.
a. Pengakuan atas hak pribadi keagamaan dan politik.
b. Kebebasan beragama terjamin untuk semua umat.
c. Adalah kewajiban penduduk Madinah, baik muslim
maupun nonmuslim, dalam hal moril maupun materil.
Mereka
harus
bahu-membahu
menangkis
semua
serangan terhadap kota mereka (Madinah).
d. Rasulullah adalah pemimpin umum bagi penduduk
Madinah. Kepada beliaulah dibawa segala perkara dan
perselisihan yang besar untuk untuk diselesaikan.10
4. Meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi, dan social untuk
masyarakat baru.
Ketika masyarakat Islam terbentuk maka diperlukan dasardasar yang kuat bagi masyarakat yang baru terbentuk tersebut.
Oleh karena itu ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan dalam
periode ini terutama ditujukan kepada pembinaan hukum.
Ayat-ayat ini kemudian diberi penjelasan oleh Rasulullah, baik
dengan lisan maupun dengan perbuatan beliau sehingga
terdapat dua sumber hukum dalam Islam, yaitu Al-Qur’an dan
Hadist. Dari kedua sumber hukum Islam tersebut didapat suatu
sistem untuk bidang politik, yaitu musyawarah. Dan untuk
bidang ekonomi dititikberatkan pada jaminan keadilan sosial,
serta dalam bidang kemasyarakatan, diletakkan pula dasardasar persamaan derajat antara masyarakat atau manusia,
dengan penekanan bahwa yang menentuksn derajat manusia
adalah ketakwaan. Namun Sikap ingkar janji yang dilakukan
kaum Yahudi mulai terlihat, ketika terjadinya perang pertama
dalam sejarah Islam yang dikenal dengan perang badr, yakni
perang antara kaum muslimin dengan musyrik quraisy pada
tanggal 8 Ramadhan tahun kedua hijriyah, di daerah Badar,
kurang lebih 120 km dari Madinah. Dalam peperangan ini
kaum muslimin menang atas kaum musyrikin. Namun, orang10
Prof. Dr. A. Syalabi, ibid., hlm.117-120.
orang Mekkah memerangi nabi. Bukti penyelewengan kaum
Yahudi yang lain adalah pada waktu terjadi perang Uhud,
dimana kaum Yahudi berjumlah 300 orang dengan pemimpin
Abdullah bin Ubay keluar kota. Sebagian besar mereka
mengungsi ke Khaibar. Sedangkan suku Yahudi lainnya, yaitu
Bani quraizah, masih tetep berada di Madinah.
Pengkhianatan kaum Yahudi yang lain adalah dengan
bergabungnya kaum Yahudi dengan orang-orang kafir untuk
menyerang Madinah (perang Ahzab atau perang Khandak).
Dalam suasana kritis ini, orang-orang Yahudi Bani Quraizah di
bawah pimpinan Ka’ab bin Asad berkhianat. Namun usaha
pengepungan tidak berhasil, yang pada akhirnya dihentikan.
Sementara itu, pengkhinat-pengkhianat Yahudi Bani Quraizah
dijatuhi hukuman mati.
Perjanjian Hudaibiyah
Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, nabi
Muhammad dengan sekitar seribu kaum muslimin berangkat ke
mekah bukan untuk berperang, tetapi untuk melaksanakan
ibadah umrah, namun penduduk mekah tidak mengizinkan
mereka masuk kota. Akhirnya, diadakan perjanjian Hudaibiyah
yang isinya antara lain sebagai berikut.
1. Kaum muslimin belum boleh mengunjungi ka’bah tahun
itu, tetapi ditangguhkan sampai tahun depan.
2. Tiap kabilah yang ingin masuk ke dalam persekutuan kaum
quraisy atau kaum muslimin, bebas melakukannya tanpa
mendapat rintangan.11
3. Kaum muslimin wajib mengembalikan orang-orang Mekah
yang melarikan diri ke Madinah, namun sebaliknya, pihak
11
Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta: Litera Antarnusa,1990, hlm.
402-403. Juga Dr. Badri Yatim. M.A., Sejarah peradaban Islam, hlm. 30
Quraisy tidak harus menolak orang-orang Madinah yang
kembali ke Mekah.
4. Selama sepuluh tahun diberlakukan gencatan senjata antara
masyarakat Madinah dan Mekah.
5. Kesepakatan ini disetujui kedua belah pihak dan tidak boleh
ada penghianatan atau pelanggaran
Dengan perjanjian ini, harapan untuk mengambil
alih Ka’bah dan menguasai Mekah smakin terbuka. Ada
dua factor pokok yang mendorong kebijaksanaa ini;
pertama, Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab dan
melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, Islam bias
tersebar keluar. Kedua, Apabila suku Quraisy dapat di
Islamkan, Islam akan memperoleh dukungan yang kuat
karena orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan dan
pengaruh yang besar.
Fathu makah
Setelah
dua
tahun
berlangsung, dakwah islam
perjanjian
Hudaibiyah
sudahmenjangkau seluruh
jazirah arab, hingga akhir ke pelosok jazirah arab. Hal
tersebut membuat orang-orangkafir mekah khawatie dan
merasa terpojok, oleh karena itu, orang-orang kafir quraisy
secara sepihak melanggar perjanjian Hdaibiyah. Melihat hal
ini, Nabi kemudian bersama dengan sepuluh tentara
bertolak ke mekah untuk meghadapi kaum kafir. Dan tanpa
perlawanan berarti nabipin dapat menguasai mekah. Meski
demikian masih ada dua suku arab yang masi menentang,
yaitu Bani Tsaqit dan Bani Hawazin.12 Kedua suku ini
kemudian bersatu untuk memerangi islam. Mereka ingin
menuntut
atas
penghancuran
berhala-berhala
dengan
melakukan penyerbuan terhadap mekah. Akan tetapi,
mereka dapat dengan mudah di takhlukan.
12
Dr. Badri Yatim. M. A., hlm. 32-33.
Melihat kenyataan bahwa kekuasaan islam mulai
mengancam wilayah romawi, maka Heraclius menyusun
pasukan untuk mengantisipasinya. Namun setelah melihat
kekuatan pasukan islam, akhirnya mereka mengurungkan
diri.
DAFTAR PUSTAKA
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandug: CV Pustaka Setia
Munir Amin, Samsul. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Sinar Grafika
Offcet
Mashad, Dhurorudin. 2002. Mutiara Hikmah Kisah 25 Rosul. Jakarta: Erlangga.
Chalil, Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 1. Jakarta:
Gema Insani
http://hikmah-kata.blogspot.com/2012/11/isi-perjanjian-aqabah-2-dua.html
http://www.fanzila.com/baca_al_quran_dan_maknanya/post/107493/
Download