7 bahan dan metode

advertisement
7
Prinsip dasar teknik ini adalah molekul
DNA, RNA atau protein dapat dipisahkan
berdasarkan laju perpindahannya oleh gaya
gerak listrik di dalam matriks gel. Laju
perpindahan tersebut bergantung pada
ukuran molekulnya. Sampel molekul
ditempatkan ke dalam sumur pada gel yang
ditempatkan di dalam larutan penyangga
yaitu TAE (Tris HCl-Acetic acid-EDTA),
dan listrik dialirkan sebesar 80 Volt.
Molekul-molekul sampel akan bergerak di
dalam matriks gel ke arah salah satu kutub
listrik sesuai muatannya. RNA dan DNA
arah pergerakannya adalah menuju elektroda
positif, disebabkan oleh muatan negatif pada
rangka gula-fosfat yang dimilikinya (Nur &
Adijuwana 1987).
Gel yang digunakan adalah agarosa
yang berasal dari ekstrak rumput laut yang
telah dimurnikan. Marka atau penanda
(marker) yang digunakan pada proses
running merupakan campuran molekul
dengan ukuran berbeda-beda yang dapat
digunakan untuk menentukan ukuran
molekul dalam pita sampel. Ukuran DNA
dapat ditentukan dengan menyertakan marka
atau penanda yang digunakan pada proses
running. Setelah tahap running selesai,
dilakukan metode pewarnaan (staining) dan
penghilangan warna (destaining). Metode
pewarnaan pada DNA atau RNA merupakan
pewarnaan gel agarosa yang dilakukan
dengan menggunakan larutan etidium
bromida selama 15 menit. Hal ini dilakukan
dengan tujuan agar molekul sampel
berpendar
dalam
sinar
ultraviolet.
Penghilangan warna dilakukan dengan cara
gel dimasukkan ke dalam aquades selama 5
hingga 7 menit (Mikkelsen & Corton 1960).
Media pendukung yang digunakan
dalam
elektroforesis
antara
lain:
kertas/membran selulosa, gel pati, gel
poliakrilamida, dan gel agarosa. Media
kertas merupakan media paling awal yang
digunakan dalam teknik elektroforesis.
Media ini digunakan untuk memisahkan
protein. Media gel pati terbuat dari ekstrak
pati kentang yang dibuat gel. Media tersebut
kemudian disempurnakan menjadi gel
poliakrilamid dan gel agarosa. Gel
poliakrilamid dan agarosa dibedakan
berdasarkan ukuran pori pada gel. Gel
poliakrilamid yang mempunyai ukuran pori
kecil,
biasanya
digunakan
untuk
memisahkan protein, molekul RNA, dan
molekul DNA dengan ukuran yang sangat
kecil. Sedangkan gel agarosa yang memiliki
pori relatif lebih besar dari gel poliakrilamid,
biasanya digunakan untuk memisahkan
molekul DNA yang ukurannya lebih besar
(Mikkelsen & Corton 1960).
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan adalah
padi (daun padi) varietas aromatik (Pandan
Wangi, Pulu Mandoti, Mentik Wangi,
Sintanur, Pare Kembang, Gunung Perak,
Gilirang, Rojo Lele), padi varietas
nonaromatik (Ciherang, IR64, Niponbare,
T309, Fatmawati), bufer ekstrak yang
mengandung sodium dodesil sulfat (SDS),
lauryl sarcosine, NaCl, Tris-HCl, dan
etilendiamin tetraasetat (EDTA), untuk
isolasi DNA. Bahan lain yang digunakan
untuk isolasi DNA adalah isopropanol,
etanol 70%, bufer tris-EDTA (TE) yang
mengandung RNAse. Bahan yang digunakan
pada reaksi PCR adalah 1x bufer PCR (10
mM Tris-HCl (pH 8,3), 50 mM KCl, 1,5
mM KCl, 1,5 mM MgCl2, 0,01% Gelatin),
dNTP (dATP, dCTP, dGTP, dTTP), primer
Bradbury (ESP, EAP, IFAP, dan INSP)
primer RM223, DNA, dan Taq DNA
polimerase. Bahan lain yang digunakan
adalah gel agarosa, etidium bromida (etbr),
dan DNA standar yang digunakan pada
analisis elektroforesis.
Alat-alat yang digunakan untuk isolasi
DNA yaitu tabung mikro, seperangkat
mortar, tip pipet mikro, satu set pipet mikro,
vorteks, sentrifus, dan inkubator. Alat yang
digunakan untuk cek kualitas DNA adalah
spektrofotometer dan seperangkat alat
elektroforesis. Seperangkat alat dokumentasi
gel (chemidoc gel system) digunakan untuk
visualisasi hasil elektroforesis.
Metode Penelitian
Isolasi DNA Genom Padi
Bibit padi yang telah berumur 3
minggu diisolasi DNA-nya dengan metode
CTAB yang mengacu pada metode Doyle
dan Doyle (1987). Sebanyak lebih kurang
0.5 gr daun padi dimasukkan ke dalam
mortar steril. Ke dalam mortar ditambahkan
sebanyak 1000 µl (2 x 500µl) bufer
ekstraksi. Sampel hasil gerusan dimasukkan
ke dalam tabung mikro 2 ml, kemudian
diinkubasi di dalam penangas air pada suhu
65 C selama 15 menit. Selama inkubasi
sampel dibolak-balik setiap 5 menit sekali.
Setelah inkubasi selesai, sampel didiamkan
pada suhu ruang selama beberapa saat,
8
kemudian ditambahkan sebanyak 100 µl
natrium asetat 3M dan 1000 µl pelarut
kloroform
isoamilalkohol
(Chisam).
Campuran larutan pada tabung mikro
digoyang-goyang
perlahan
untuk
menghomogenkan semua larutan.
Tabung mikro yang berisi campuran
kemudian disentrifugasi pada kecepatan
10.000 g selama 5 menit. Sebanyak lebih
kurang 600 µl supernatan (larutan di lapisan
atas) dipindahkan ke tabung mikro 2 ml
yang baru. Supernatan yang sudah
dipindahkan kemudian ditambahkan dengan
natrium asetat 3 M sebanyak 60 µl dan
larutan isopropanol sebanyak 400 µl.
Campuran larutan kemudian digoyanggoyang perlahan untuk menghomogenkan
campuran larutan. Tabung disentrifuguasi
pada kecepatan 10.000 g selama 5 menit.
Supernatan dibuang, dan endapan DNA
(pelet) dicuci dengan 50 µl ethanol 70%.
Tabung disentrifugasi lagi pada kecepatan
10.000 g selama 3 menit dan kemudian
supernatan
dibuang.
Endapan
DNA
dikeringkan menggunakan oven pada suhu
50 ºC selama lebih kurang 10 menit, dan
dilarutkan kembali dalam 50 µl bufer TE
yang
mengandung
RNase.
Tabung
diinkubasi pada 37 ºC selama 30 menit.
Pengukuran Kualitas dan Kuantitas DNA
Ekstrak DNA padi hasil isolasi
dihitung konsentrasinya menggunakan alat
spektrofotometer. Total volume yang
digunakan
untuk
pengukuran
pada
spektrofotometer sebanyak 400 µl dan faktor
pengenceran yang digunakan sebesar 200
kali. Larutan blanko yang digunakan adalah
ddH2O sebanyak 400 µl. Pengukuran
konsentrasi DNA dilakukan pada panjang
gelombang 260 nm. Sedangkan untuk
pengukuran kemurnian DNA dilakukan
dengan perbandingan absorban 260/280
(A260/280). DNA yang murni mempunyai
A260/280 = 1,8 hingga 2,0. Apabila nilainya
kurang dari 1,8 maka sampel DNA masih
mengandung kontaminan protein, dan untuk
menghilangkannya ditambahkan protease.
Apabila nilainya lebih dari 2,0 maka sampel
DNA masih mengandung kontaminan RNA,
dan untuk menghilangkannya ditambahkan
ribonuklease.
Kalibrasi spektrofotometer
harus
dilakukan sebelum digunakan untuk
pengukuran sampel DNA. Sebanyak 400 µl
ddH2O dimasukkan ke dalam kuvet lalu
dimasukkan ke dalam spektrofotometer dan
ditekan tombol read blank untuk kalibrasi.
Sebanyak 2 µl sampel DNA dimasukkan ke
dalam kuvet kemudian ditambahkan ddH2O
sebanyak 398 µl. Konsentrasi DNA diukur
pada panjang gelombang 260 nm dan
kemurnian
DNA
diukur
dengan
perbandingan absorban 260/280 (OD
260/280).
Tahap
selanjutnya
DNA
diencerkan dengan konsentrasi akhir 50
µg/ml untuk proses amplifikasi PCR.
Amplifikasi DNA
Reaksi PCR dilakukan pada 25 µl
volume yang mengandung 10 x bufer PCR
(10 mM Tris-HCl (pH 8,3) sebanyak 2.5 µl,
1,5 µl MgCl2 50 mM, 0.5 µl masing-masing
dNTP (dATP, dCTP, dGTP, dTTP) 5 mM, 1
µl masing-masing primer Bradbury (ESP,
EAP, IFAP, dan INSP) 2 µM, 0.2 µl Taq
DNA polimerase, template DNA 50 µg/ml
sebanyak 2 µl, dan ditepatkan volumenya
menjadi 25 µl dengan ddH2O sebanyak 14.3
µl. Pasangan primer yang digunakan
mengikuti seperti yang diuraikan dalam
Bradbury et al. (2005). Pasangan primer
eksternal EAP dan ESP akan menghasilkan
fragmen berukuran 580 sebagai kontrol
positif untuk masing-masing sampel.
Pasangan primer IFAP dan ESP akan
menghasilkan fragmen alel aromatik
berukuran 257 bp. Pasangan primer INSP
dan EAP akan menghasilkan fragmen alel
nonaromatik berukuran 355 bp. Primer lain
yang
digunakan
adalah
RM223
(GAGTGAGCTTGGGCTGAAAC
dan
GAAGGCAAGTCTTGGCACTG). Primer
ini membedakan padi varietas aromatik dan
nonaromatik berdasarkan ukuran pita
DNAnya. Ukuran DNA yang diamplifikasi
menggunakan primer ini adalah 120 bp-160
bp (Lang & Buu 2008).
Mesin PCR yang digunakan untuk
amplifikasi DNA adalah PCR TETRAD
sebanyak 30 siklus. Program PCR yang
digunakan sebagai berikut: denaturasi
permulaan selama 2 menit pada suhu 94 ºC,
denaturasi selama 30 detik pada suhu 94 ºC,
proses penempelan primer selama 30 detik
pada suhu 58 ºC, dan 45 detik pada suhu 94
ºC untuk perpanjangan primer. Perpanjangan
primer terakhir selama 5 menit pada suhu 72
ºC.
Elektroforesis DNA
Gel agarose 1,5 % dibuat dengan cara
melarutkan sebanyak 0.45 gr agarosa dengan
30 ml bufer TAE dan dipanaskan dengan
microwave selama lebih kurang 1 menit.
Setelah gel agarosa memadat, gel
9
dimasukkan ke dalam tangki elektroforesis
yang berisi 1x bufer TAE. Sebanyak 10 µl
produk PCR ditambahkan dengan 2 µl
loading dye dan dicampur sempurna,
kemudian dimasukkan ke dalam sumur gel.
Disertakan 1 kb ladder sebagai marker
untuk melihat ukuran DNA. Tahap
selanjutnya sampel DNA dialiri arus dengan
voltase 80 volt selama 35 menit.
Gel agarosa diwarnai dengan larutan
etidium bromida (10 mg/L) selama 10 menit.
Tahap ini sering dikenal dengan staining gel
(pewarnaan gel). Tahap selanjutnya adalah
destaining gel (penghilangan warna gel).
Tahap ini dilakukan dengan perendaman di
dalam air selama lebih kurang 10 menit. Gel
agarosa selanjutnya divisualisasi dengan
chemidoc gel system.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Kualitas DNA Padi
Isolasi DNA padi dilakukan dengan
menggunakan metode CTAB. Kualitas DNA
yang diisolasi tersebut diuji secara kualitatif
dan kuantitatif dengan spektrofotometer dan
gel agarosa. Data Tabel 3 menunjukkan hasil
pengukuran kualitas DNA secara kuantitatif
dan kualitatif yang meliputi konsentrasi dan
kemurnian DNA. Dari seluruh sampel yang
dihitung konsentrasi dan kemurniannya,
secara umum konsentrasi DNA hasil isolasi
menggunakan metode CTAB memiliki
konsentrasi yang relatif besar. Konsentrasi
DNA yang diperlukan untuk amplifikasi
PCR tidak begitu besar, sehingga
konsentrasi DNA yang sudah diperoleh
sudah
cukup
digunakan
untuk
amplifikasi/perbanyakan
DNA
dengan
mesin PCR. Konsentrasi DNA yang
diperoleh dari hasil isolasi tidak seragam
(Tabel 3). Oleh sebab itu, konsentrasi DNA
yang sudah diperoleh diseragamkan dengan
pengenceran. Hal tersebut dilakukan untuk
menjamin bahwa jumlah DNA yang akan
amplifikasi dengan PCR mempunyai
konsentrasi yang sama dengan harapan
jumlah amplifikasi DNA juga seragam.
Konsentrasi DNA dari seluruh sampel
diseragamkan menjadi 50 µg/ml dengan
pengenceran. Kemurnian DNA diperoleh
dari perbandingan absorban A260/280. Nilai
kemurnian DNA berkisar antara 1.8-2.0
(Sambrook & Russell 1989). Nilai
kemurnian DNA hasil isolasi sudah sesuai
dengan batasan pada literatur.
Tabel
3
Pengukuran Konsentrasi dan
Kemurnian DNA daun padi
Varietas padi
Pare Kembang (A)
Mentik Wangi (A)
Pandan Wangai(A)
Pulu Mandoti (A)
Pinjan (A)
Gilirang (A)
Gunung Perak (A)
Ciherang (NA)
Nipponbare (NA)
IR64 (NA)
Fatmawati (NA)
T309 (NA)
Konsentrasi
(µg/ml)
1481.0271
1963.0995
3417.4866
1022.0799
2217.8862
1184.1504
1068.8307
840.9152
729.3049
2164.5728
1349.0306
933.5104
A260/280
1.8577
1.8432
1.8472
1.8008
1.8394
1.8016
1.8382
1.9024
1.8874
1.9647
1.8471
1.8653
A: aromatik, NA: nonaromatik
Oleh sebab itu, DNA hasil isolasi sudah
dapat digunakan untuk amplifikasi PCR
karena
sudah
tidak
terkontaminasi
polisakarida maupun protein.
Gambar 4 dan Gambar 5 menunjukkan
hasil uji kualitas DNA secara kuantitatif.
Hasil tersebut diperoleh dari DNA hasil
isolasi
yang
diuji
menggunakan
elektroforesis dengan gel agarosa 1.5 %.
Gambar 4 menunjukkan DNA hasil isolasi
belum murni/masih terkontaminasi RNA.
Untuk menghilangkan kontaminasi RNA
dilakukan penambahan enzim RNase yang
akan mendegradasi RNA. Pola pita hasil
elektroforesis yang menunjukkan DNA
sudah murni ditunjukkan oleh Gambar 5.
Sebagai kontrol positif atau pembanding
digunakan
DNA
lambda
yang
konsentrasinya sudah diketahui. Konsentrasi
DNA lambda yang digunakan adalah 20
ng/µl, 40 ng/µl, 60 ng/µl, dan 80 ng/µl.
Konsentrasi DNA lambda ini dapat
digunakan untuk menghitung konsentrasi
DNA dengan cara membandingkan luas pita
hasil elektroforesis. Namun demikian, hal
tersebut tidak dilakukan karena pita DNA
hasil elektroforesis yang diperoleh terdapat
smear. Smear pita DNA tersebut disebabkan
oleh DNA yang diperoleh ada yang
terpotong, sehingga pita-pita DNA yang
tidak sama ukurannya akan menimbulkan
pita smear seperti pada gambar. Dengan
demikian, konversi konsentrasi DNA sampel
dengan DNA pembanding tidak bisa
dilakukan. Pita smear DNA sampel (Gambar
5) bukan kontaminasi RNA, melainkan pitapita DNA yang terpotong. Hal tersebut
mungkin disebabkan oleh pemipetan
berulang-ulang, sehingga DNA akan
terpotong.
Download