3.1 Sejarah Perusahaan

advertisement
BAB 3
ANALISIS SISTEM YANG SEDANG BERJALAN
3.1
Sejarah Perusahaan
PT. Tripola Interindo berdiri pada tanggal 15 Januari 2009 dengan akte
notaris No. 4 di hadapan notaris Risna Muvida, S.H., M.Kn. (SIUP No. 510/112BBPT/PK/II/2009 tanggal 27 Februari 2009) untuk dapat melakukan kegiatan usaha
jasa
konstruksi
di
seluruh
wilayah
Indonesia.
Kantor,
gudang
dan
workshopperusahaan berlokasi di Jalan Gendul 10, Mustikasari Pengasinan – Bekasi
dengan total luas sebesar 1.080 m2.
PT. Tripola Interindo telah terdaftar sebagai badan usaha jasa pelaksana
konstruksi dengan klasifikasi sub bidang yang dikerjakan antara lain adalah
pekerjaan pemasangan instalasi asesoris bangunan, pekerjaan dinding dan jendela
kaca, pekerjaan interior, serta pekerjaan kayu.Pekerjaan – pekerjaan tersebut
dilakukan dalam bentuk satu proyek renovasi pada kliennya.
PT. Tripola Interindo telah menjalin hubungan baik dengan klien – klien
perusahaan
pembiaya
penjualan
(kredit)
kendaraan
bermotor
sehingga
renovasikantor – kantor cabang klien yang tersebar di seluruh Indonesiadapat
dijalankan oleh Tripola Interindo.Pekerjaan renovasi tersebut dapat dijalankan
melalui tender dan juga non tender.
Pada awalnya pekerjaan renovasi dilakukan hanya di daerah Pulau Jawa,
namun seiring berkembangnya perusahaan dan pertambahan jumlah karyawan, maka
pekerjaan renovasi di luar Pulau Jawa dapat dilaksanakan seperti di Pulau Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, Bali hingga proyek yang pernah dilaksanakan paling jauh
berada di Banda Aceh dan Poso.
Karena bergerak di bidang jasa konstruksi, maka kegiatan usaha PT. Tripola
Interindo memiliki kaitan erat dengan barang – barang material dan perlengkapan
tukang yang menjadi persediaan utama perusahaan. Adapun jumlah karyawan yang
dimiliki Tripola Interindo adalah sebanyak 53 orang, dengan 13 orang karyawan
tetap dan 40 orang karyawan tidak tetap.
41
42
Tripola Interindo memiliki harapan agar kegiatan perusahaan dapat
berkembang tidak hanya di bagian renovasi dan pemeliharaan saja melainkan
melakukan kegiatan pembangunan di Indonesiadan juga memperbesar lingkup klien.
3.2
Visi dan Misi Perusahaan
Adapun visi dan misi PT. Tripola Interindo adalah sebagai berikut.
Visi
Menjadi penyedia jasa konstruksi dan interior di seluruh Indonesia dengan
harga yang bersaingdan tetap menjaga kualitas jasasehingga dapatmengutamakan
kepuasan pelanggan.
Misi

Menyediakan
jasa
menyelesaikannya
konstruksi
dengan
tepat
kepada
waktu
pelanggan
dengan
dan
kegiatan
pemeliharaan yang terjamin.

Menjaga reputasi dan kualitas pekerjaan kepada pelanggan dengan
melakukan standar pengawasan pekerjaan lapangan.

Memberikan pelatihan pekerjaan kepada karyawansehingga dapat
memperkaya pengetahuan karyawan.
3.3
Struktur Organisasi
Gambar 3. 1 Struktur Organsiasi PT Tripola Interindo
(Sumber : PT. Tripola Interindo)
43
3.4
Pembagian Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab
Adapun pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang berada
dalam PT. Tripola Interindo adalah sebagai berikut.
1. Komisaris
a) Menetapkan kebijakan – kebijakan dan tata kelola perusahaan agar
keberlangsungan hidup perusahaan tetap terjaga.
b) Menetapkan tujuan luas perusahaan.
c) Menentukan, mengawasi, dan menilai kinerja direksi / direktur.
d) Membantu direksi dengan cara memberikan saran dan nasihat kepada
direktur dalam melaksanakan kepengurusan perusahaan.
2. Direktur
a) Memimpin perusahaan dengan menetapkan strategi dan keputusan
eksektutif yang akan dipakai perusahaan untuk mencapai tujuan.
b) Memilih, menetapkan, dan mengawasi kinerja karyawan dan kepala
bagian di bawahnya (Manager umum, Teknik sipil & Teknik
Arsitektur)
c) Mengawasi dan mengurus sumber daya kekayaan perusahaan secara
keseluruhan.
d) Melakukan evaluasi kinerja perusahaan, program kerja dan tujuan
perusahaan secara keseluruhan.
3. Teknik Sipil
a) Bertanggung jawab
sebagai
konsultan
atas
perhitungan
dan
perancangan struktur bangunan yang dipesan kepada klien.
b) Memahami spesifikasi teknis rancangan bangunan dan ruangan
sebagai pedoman melaksanakan pekerjaan proyek di lapangan.
c) Pada proyek tertentu teknik sipil menentukan material, struktur dan
rancangan untuk pembangunan atau renovasi proyek yang dijalankan.
44
4. Teknik Arsitektur
a) Bertanggung jawab sebagai konsultan atas penataan tata letak
bangunan yang memiliki kaitan fungsi satu sama lain dalam
pemesanan kepada klien.
b) Memahami rancangan tata kelola bangunan dan interior sebagai
pedoman dalam melaksanakan pekerjaan proyek di lapangan.
c) Pada proyek tertentu teknik arsitektur melakukan perancangan
bangunan dan ruangan sesuai dengan keinginan dan pesanan klien.
5. Manager Umum
a) Bertanggung jawab secara keseluruhan atas kegiatan operasi
perusahaan sehari – hari
b) Mengawasi kinerja semua bagian dalam perusahaan.
c) Melaksanakan kebijakan – kebijakan yang telah ditentukan komisaris.
d) Mengotorisasi kegiatan pembelian dan pembayaran barang.
e) Mengadakan rapat internal untuk mengevaluasi kinerja perusahaan.
6. Bagian Pemasaran
a) Mencari dan membuka pasar baru mengenai klien yang berpotensi.
b) Menjaga hubungan baik dengan klien.
c) Mengikuti kegiatan penjelasan tender (aanwijzing) dan tender
bersama kepala konstruksi.
d) Melakukan penawaran jasa kepada klien.
e) Melakukan negosiasi dengan klien mengenai penentuan waktu
pengerjaan, produk dan sketsa pekerjaan lapangan.
f) Menangani acara serah terima pekerjaan dan penagihan kepada klien.
7. Bagian Administrasi & Personalia
a) Mengurus masalah dan prosedur mengenai legalitas perusahaan.
b) Mengadakan pengurusan surat izin konstruksi di lapangan.
c) Merekap data karyawan tetap dan tidak tetap perusahaan.
d) Bertanggung jawab menerima dan menempatkan karyawan sesuai
dengan kebutuhan perusahaan
e) Mengawasi kegiatan karyawan dan absensi.
45
f) Menghitung biaya gaji, lembur, dan tunjangan karyawan.
iii. Membuat laporan utang pembelian.
g) Kasir
i. Melakukan pembayaran gaji karyawan tetap dan tidak tetap.
ii. Melakukan pembayaran utang terhadap vendor.
iii. Melakukan pembayaran atas gaji karyawan.
iv. Melakukan pembayaran atas pajak penghasilan.
8. Bagian Konstruksi
a) Mengikuti kegiatan penjelasan tender (aanwijzing) dan tender
bersama Bagian Pemasaran.
b) Memahami kondisi lapangan klien dan pekerjaan yang akan
dilakukan.
c) Bertanggung jawab mengawasi kegiatan konstruksi lapangan.
d) Melakukan pemeriksaan terhadap volume pekerjaan lapangan yang
sudah dilaksanakan.
e) Membuat laporan biaya – biaya tambahan yang terjadi dalam proyek.
9. Bagian Workshop
a) Bertanggung jawab mengawasi kegiatan fabrikasi di workshop.
b) Memeriksa hasil produksi workshop.
c) Melaporkan hasil produksi workshop.
10. Bagian Pembelian
a) Melakukan Order pembelian barang kepada vendor.
b) Menentukan vendor yang dipilih untuk mengadakan pembelian
barang.
c) Melakukan proses pembelian mulai dari menentukan vendor,
membuat order pembelian, penerimaan hingga tagihan dari vendor.
d) Bertanggung jawab dalam proses pengeluaran barang dari gudang
untuk dikirim ke lapangan atau keworkshop.
46
11. Bagian Gudang
a) Menyimpan barang perusahaan seperti material, perlengkapan
konstruksi, perlengkapan tukang dan alat konstruksi lainnya.
b) Menyimpan kembali barang sisa proyek.
c) Mempersiapkan barang yang diminta untuk dikirim ke lapangan.
3.5
Jasa Perusahaan
Jasa yang ditawarkan perusahaan merupakan jasa konstruksi arsitektural
dengan sub bidang :
1. Pekerjaan pemasangan instalasi asesori bangunan, instalasi listrik,
termasuk perawatannya.
2. Pekerjaan dinding dan jendela kaca, termasuk perawatannya.
3. Pekerjaan interior, termasuk perawatannya.
4. Pekerjaan kayu.
Secara mendetail, pada satu pekerjaan lapangan, pekerjaan diawali dengan
melakukan persiapan pekerjaan seperti melakukan marking / penandaan untuk
melakukan pekerjaan, membersihkan lokasi (misalkan membuang puing), dan
pengadaan steger.
Setelah persiapan selesai dilakukan, pekerjaan akan dilanjutkan pada
pekerjaan sipil seperti pemasangan keramik, batu bata, tembok, beton, fondasi, dan
lain – lain. Kemudian pekerjaan interior dan pekerjaan listrik dapat dikerjakan secara
bersama. Contoh dari bentuk pekerjaan interior adalah pengecatan, pemasangan
partisi, pembuatan pintu, dan lain – lain, sedangkan contoh dari bentuk pekerjaan
listrik adalah instalasi lampu, sub panel listrik tiap lantai, UPS, line AC, dan lain –
lain.
Pada proyek tertentu pekerjaan interior juga dapat dilakukan di workshop
terdahulu, misalkan seperti pembuatan meja teller, meja kantor, dan pintu. Setelah
fabrikasi selesai dilakukan maka barang jadi tersebut kemudian dapat dikirim ke
lapangan.
47
3.6
Sistem dan Prosedur Perusahaan yang Berjalan
1. Sistem dan Prosedur Pembelian untuk Pekerjaan Lapangan
1. Setelah menerima dan menandatangani kontrak pekerjaan, bagian
pemasaran akan melengkapi Daftar Volume Pekerjaan (DVP) yang
akan di lakukan dalam pekerjaan lapangan.
2. Bagian Pemasaran akan membuat Daftar Volume Material dan
perlengkapan (DVM) berdasarkan pada DVP. DVM dicetak sebanyak
2 rangkap :
A. Rangkap 1 diberikan kepada Bagian Pembelian sebagai referensi
pembelian.
B. Rangkap 2 disimpan Bagian Pemasaran sebagai arsip.
3. Berdasarkan DVM Bagian Pembelian dan Bagian Gudang melakukan
pengecekan barang telah tersedia atau tidak di gudang.
4. Bagian Pembelian kemudian menghitung jumlah barang yang tersedia
untuk dikirim ke lapangan dan mencatat jumlah barang yang tidak
tersedia atau kurang sehingga perlu melakukan pembelian. Hasil
perhitungan ditulis di samping Daftar Volume Material.
5. Untuk barang yang tersedia, maka barang dapat dikirim ke lapangan.
Sedangkan untuk barang yang tidak tersedia atau kurang, Bagian
Pembelian bertanya kepada berbagai Vendor melalui telepon apakah
barang tersebut tersedia dan berapa harga yang diminta oleh vendor.
Bagian Pembelian kemudian memilih Vendor yang memiliki harga
terendah lalu membuat Order Pembelian (PO) untuk barang tersebut.
6. PO kemudian akan diotorisasi oleh Manager umum. Jika Manager
Umum menyetujui maka PO dapat dilayangkan kepada Vendor.
7. PO yang telah diotorisasi dapat diinformasikan kepada Vendor
melalui telepon atau email oleh Bagian Pembelian. PO akan dicetak
sebanyak dua rangkap :
a. Rangkap 1 akan diberikan kepada Vendor.
b. Rangkap 2 disimpan Bagian Pembelian sebagai arsip.
8. Jika vendor yang dipilih adalah vendor yang bersedia menyediakan
barang tanpa perusahaan perlu terlebih dahulu, maka proses
pembelian dapat berlanjut ke prosedur penerimaan barang. Namun
jika Vendor yang dipilih merupakan vendor yang membutuhkan
48
pelunasan pembayaran terlebih dahulu, maka proses pembelian
berlanjut ke prosedur pembayaran uang muka terdahulu.
B. Sistem dan Prosedur Pembelian untuk Penambahan Stok Barang
1. Bagian Gudang melakukan pengecekan jumlah stok barang yang
tersedia di gudang. Jika jumlah stok barang tidak tersedia atau kurang
dari jumlah cadangan persediaan maka Bagian Gudang akan
memberitahukan ke Bagian Pembelian untuk melakukan order
pembelian (PO). Pemberitahuan dilakukan secara lisan.
2. Bagian Pembelian kemudian bertanya kepada berbagai Vendor
melalui telepon apakah barang yang diperlukan telah tersedia dan
berapa harga yang diminta oleh Vendor. Bagian Pembelian kemudian
memilih Vendor yang memiliki harga terendah lalu membuat Order
Pembelian / Purchase Order (PO).
3. PO akan diotorisasi oleh Manager Umum. Jika Manager Umum
menyetujui maka PO dapat dilayangkan kepada Vendor.
4. PO yang telah diotorisasi dapat diinformasikan kepada Vendor
melalui telepon atau email oleh Bagian Pembelian. PO akan dicetak
sebanyak dua rangkap :
1. Rangkap 1 diberikan kepada Vendor .
2. Rangkap 2 disimpan Bagian Pembelian sebagai arsip.
5. Jika vendor yang dipilih adalah vendor yang bersedia menyediakan
barang tanpa dilunasi terlebih dahulu, maka proses pembelian dapat
berlanjut ke prosedur penerimaan barang. Jika Vendor yang dipilih
merupakan vendor yang membutuhkan pelunasan pembayaran
terlebih dahulu, maka proses pembelian berlanjut ke prosedur
pembayaran uang muka terdahulu.
C. Sistem dan Prosedur Penerimaan Barang
1) Vendor akan mengirim barang pesanan beserta dengan Surat Jalan
Vendor (SJ Vendor) dan Faktur Pembelian (FP).
2) Bagian pembelian menerima barang dan mencocokkan PO dengan SJ
Vendor dan FP.
49
3) Setelah selesai diperiksa, Bagian pembelian membuat Checklist
Faktur (FP yang dicek jumlah barang yang kemudian diberi tanda
centang ()) lalu menandatangi SJ Vendor untuk diberikan kembali ke
Vendor beserta dengan PO.
4) Bagian Pembelian kemudian menyerahkan barang ke bagian gudang
untuk disimpan dan menyerahkan Checklist Faktur kepada bagian
keuangan.
5) Bagian gudang kemudian mencatat pemasukan stok barang dalam
Kartu Stok Barang.
6) Jika barang langsung dibayar setelah menerima Faktur, maka proses
dapat berlanjut ke prosedur pembayaran langsung. Jika barang tidak
dibayar secara langsung, maka proses berlanjut ke prosedur
pencatatan utang dagang.
D. Sistem dan Prosedur Pembayaran Langsung
1) Setelah bagian pembelian memberikan Checklist Faktur kepada
Bagian Keuangan, maka bagian keuangan kemudian melakukan
pembayaran secara langsung kepada Vendor.
2) Bagian Keuangan melakukan pembayaran dengan membuat Slip
Pembayaran (SP). SP dibuat dua rangkap :
a. Rangkap 1 (asli) sebagai arsip.
b. Rangkap 2 (copy) diberikan kepada Vendor beserta dengan uang.
E. Sistem dan Prosedur Pencatatan Utang Dagang
1) Setelah beberapa transaksi pembelian dilakukan dalam satu vendor,
Vendor kemudian mengirimkan tagihan atas beberapa faktur lalu
Bagian Keuangan membuat Tanda Terima Tagihan (TG). TG dibuat
sebanyak 2 rangkap :
a. Rangkap 1 (asli) diberikan kepada Vendor (Vendor diberikan
Tanda Terima Tagihan copy jika pembayaran sudah dilunasi).
b. Rangkap 2 (copy) disimpan Bagian Keuangan sebagai arsip
sementara.
2) Bagian keuangan kemudian mencatat jumlah utang yang dimiliki
dengan menambahkan informasi dalam file utang perusahaan.
50
3) Setiap akhir bulan, Bagian Keuangan mencetak laporan utang
Perusahaan untuk diberikan kepada Manager Umum.
F. Sistem dan Prosedur Pembayaran Utang
1) Setelah menerima tagihan dari Vendor, Manager Umum melakukan
pembayaran utang dengan menerbitkan cek atau giro, atau melakukan
transfer atas sejumlah uang untuk diberikan kepada Vendor sesuai
dengan tagihan yang telah diterima. Bukti Pembayaran dari Manager
kemudian diserahkan kepada Bagian Keuangan untuk dibuatkan Slip
Pembayaran (SP). SP dibuat sebanyak dua rangkap :
a. Rangkap 1 (asli) sebagai arsip Bagian Keuangan.
b. Rangkap 2 (copy) diberikan kepada vendor (beserta dengan Bukti
Pembayaran).
2) Tanda Terima Tagihan yang asli diminta kembali dan akan diberikan
Tanda Terima copy sebagai bukti bahwa tagihan telah dibayar.
G. Sistem dan Prosedur Pembayaran Uang Muka
1) Jika pembelian yang dilakukan dtujukan kepada vendor yang
mengharuskan pelunasan terlebih dahulu, maka PO yang telah
diotorisasi dikirimkan kepada Vendor melalui email.
2) Vendor akan mengirimkan informasi bahwa Vendor telah menyetujui
PO tersebut dan memberikan nomor rekening.
3) disetujui maka Manager Umum akan melakukan transfer atas
sejumlah uang muka lalu memberikan Bukti Pembayaran kepada
Bagian Keuangan untuk dibuatkan Slip Pembayaran (SP). SP terdapat
dua rangkap :
a. Rangkap 1 (asli) disimpan Bagian Keuangan sebagai arsip.
b. Rangkap 2 (copy) diberikan kepada vendor beserta bukti
pembayaran.
4) Vendor kemudian mengirimkan konfirmasi bahwa uang muka telah
dilunasi dan menyetujui PO.
5) Satu minggu kemudian, vendor memberikan informasi bahwa barang
telah siap dan sisa dari pembayaran harus dilunasi barang diambil.
Bagian Keuangan akan membuat SP kedua dan meminta otorisasi dari
51
Manager Umum melakukan transfer atas sejumlah sisa dari uang
muka lalu memberikan Bukti Pembayaran kepada Bagian Keuangan.
Bagian keuangan kemudian membuat Slip Pembayaran (SP). SP
dibuat dua rangkap :
a. Rangkap 1 (asli) disimpan Bagian Keuangan sebagai arsip.
b. Rangkap 2 (copy) diberikan kepada vendor(beserta bukti
pembayaran pelunasan).
6) Vendor kemudian mengirimkan konfirmasi bahwa pembayaran telah
dilunasi dan barang dapat diambil.
H. Sistem dan Prosedur Pengambilan Barang
1) Vendor menyiapkan barang pesanan beserta dengan Faktur Pembelian
(FP).
2) Kurir menuju tempat pengambilan barang, kemudian menerima
barang dan mencocokkan jenis dan jumlah barang dalam PO dengan
FP.
3) Kurir akan membuat Checklist Faktur dan kemudian menyerahkan PO
kepada Vendor.
4) Kurir kemudian kembali mengantarkan barang ke Bagian Gudang dan
menyerahkan Checklist Faktur kepada Bagian Keuangan.
5) Bagian Gudang kemudian mencatat pemasukan stok barang dan
perlengkapan dalam Kartu Stok Barang.
I. Sistem dan Prosedur Retur Pembelian
1) Apabila barang yang diterima ternyata tidak sesuai atau rusak, maka
Bagian Pembelian membuat Memo Debit (MD) atas barang yang
tidak sesuai dengan pemesanan. Memo Debit dibuat tiga rangkap :
a. Rangkap 1 (asli) disimpan bagian pembelian.
b. Rangkap 2 (copy) diberikan kepada bagian keuangan.
c. Rangkap 3 (copy) diberikan kepada vendor.
2) Bagian pembelian kemudian menginformasikan bagian gudang agar
barang yang tidak sesuai tersebut diambil dalam gudang untuk
dikembalikan kepada vendor. Bagian Gudang mengurangi jumlah
52
stok dalam Kartu Stok Barang. Barang yang rusak atau tidak sesuai
tersebut kemudian dikirim kembali ke vendor beserta dengan MD.
3) Melalui MD Bagian Keuangan mengurangi pencatatan utang
perusahaan sebanyak jumlah barang yang diretur dengan melakukan
update atas file utang perusahaan.
J. Sistem dan Prosedur Pengeluaran Barang
1) Bagian pembelian membuat Form Pengeluaran Material dan
Perlengkapan (FPM) untuk menyertakan informasi barang apa saja
yang akan diambil untuk dikirim ke lapangan atau ke proyek. FPM
dibuat tiga rangkap :
a. Rangkap 1 (asli) disimpan Bagian Pembelian sebagai arsip.
b. Rangkap 2 (copy) diberikan ke Bagian Gudang.
2) Bagian Pembelian akan memberikan FPM kepada Bagian Gudang.
Bagian Gudang kemudian mengeluarkan barang yang diminta.
3) Bagian Gudang mencatat pengeluaran barang dalam Kartu Stok
Barang.
4) Pengeluaran barang dapat ditujukan ke dua tempat, antara lain ke
Workshop atau ke lapangan atau proyek, yaitu ke Bagian konstruksi.
5) Jika barang dikirim ke lapangan, maka Bagian pembelian perlu
membuat Surat Jalan (SJ) berdasarkan pada FPM. Jika barang hanya
ditujukan ke workshop, maka SJ tidak perlu dibuat. SJ dibuat
sebanyak dua rangkap :
a. Rangkap 1 disimpan Bagian pembelian sebagai arsip,
b. Rangkap 2 diberikan kepada bagian konstruksi.
6) FPM akan diberikan kepada Bagian Workshop beserta barang, atau
FPM akan diberikan kepada Bagian Konstruksi beserta material dan
SJ.
53
3.7
Flowchart Diagram
A. Flowchart Prosedur Pembelian untuk Pekerjaan Lapangan
Bag. Gudang
Bag. Pembelian
Bag. Pemasaran
1
General Manager
3
Mulai
DVM
Menerima
proyek dari
klien
Mengecek
stok
Mengecek
stok
Melengkapi
Daftar
Volume
Pekerjaan
Order Pembelian
(PO)
Disetujui
ya
2
4
Diberikan
ke klien
pusat
3
2
Daftar vol 1
pekerjaan
(DVP)
Diberikan
ke klien
lapangan
Stok?
Tidak tersedia
tersedia
PO ACC1
PO ACC
tidak
J
Meminta informasi
barang dan harga
vendor melalui
telepon
Selesai
Membuat
Daftar
Volume
Material
Memilih
vendor
2
Daftar Volume1
Material
(DVM)
Membuat
Pemesanan
Pembelian
1
Order
Pembelian
(PO)
2
1
2
Uang muka
G
PO ACC
PO ACC
jenis
Pembayaran?
Kredit menyeluruh
/ Tunai
C
Gambar 3. 2 Flowchart Prosedur Pembelian Barang untuk Pekerjaan Lapangan
54
B. Flowchart Prosedur Pembelian untuk Penambahan Stok
Bag. Pembelian
General Manager
2
3
Meminta informasi
material dan harga
melalui telepon
Order
Pembeliann
(PO)
Memilih
vendor
Disetujui
Bag. Gudang
Mulai
Mengecek
jumlah stok
barang
Stok?
ada
1
ya
2
PO ACC1
PO ACC
Membuat
pemesanan
pembelian
Tidak tersedia
Menginformasikan
keperluan
pembelian
Order
Pembelian
(PO)
2
tidak
2
1
PO ACC
PO ACC
1
Selesai
3
jenis
Pembayaran?
Uang muka
G
Kredit
C
Gambar 3. 3 Flowchart Prosedur Pembelian untuk Penambahan Stok
C. Flowchart Prosedur Penerimaan Barang
Bag. Pembelian
Vendor
Bag. Gudang
1
Beserta
barang
pesanan
C
2
2
FP
Faktur 1
PO ACC
SJ Vendor
Mengecek
Penerimaan
barang
Menyimpan
barang
Mencatat
pemasukan
barang
Mencatat
penerimaan
barang
Bersama SJ
Vendor ACC
2
1
Checklist
Faktur
Mengirim
Faktur
dan
Barang
2
Kartu Stok
Barang
FakturFaktur
Pem. 1
(FP) Jalan
Surat
Vendor
(SJ Vendor)
Diberikan
ke vendor
J
1
2
langsung
D
Jenis
pembayaran?
kredit
E
Gambar 3. 4 Flowchart Prosedur Penerimaan Barang
Beserta
Barang
pesanan
55
D. Flowchart Prosedur Pembayaran Langsung
Bag. Keuangan
D
FP
Melakukan
pembayaran
Beserta
uang
2
1
Slip
Pembayaran
(SP)
Diberikan ke
vendor
Selesai
Gambar 3. 5 Flowchart Prosedur Pembayaran Langsung
E. Flowchart Prosedur Pencatatan Utang Dagang
Bag. Keuangan (Kasir)
E
Checklist
Faktur
Membuat
Tanda
Terima
Tagihan
2
Tanda 1
Terima
Tagihan
Mencatat
utang
perusahaan
Laporan
Utang
Perusahaan
F
Gambar 3. 6 Flowchart Prosedur Pencatatan Utang Dagang
56
F. Flowchart Prosedur Pembayaran Utang
Bag. Keuangan
Vendor
Manager Umum
F
1
Beserta bukti
pembayaran &
copy tanda
terima tagihan
2
Melakukan
pembayaran
1
SP
Bukti
Pembayaran
Membuat Slip
Pembayaran
Menerima
Pembayaran
Beserta
tanda terima
tagihan asli
Disimpan
Vendor dan
Tanda Terima
Tagihan copy
2
1
SP ACC
Beserta bukti
pembayaran &
copy tanda
terima tagihan
Beserta
tanda terima
tagihan asli
2
1
Slip
Pembayaran
(SP)
1
SP ACC
Mengupdate
data utang
Laporan
Utang
Bulanan
Selesai
Gambar 3. 7 Flowchart Prosedur Pembayaran Utang
G. Flowchart Prosedur Pembayaran Uang Muka
Manager Umum
Bag. Keuangan
2
1
Bukti
Pembayaran
Membuat Slip
Pembayaran
Uang Muka 1
Beserta
Bukti
pembayaran
uang muka
1
Vendor
G
Melakukan
pembayaran
uang muka
pertama
2
1
PO ACC
PO ACC
Bukti
Pembayaran
uang muka 1
Meminta
pembayaran
uang muka
2
1
Slip
Pembayaran
(SP)
2
1
3
4
3
5
Bukti Pembayaran
uang muka pelunasan
Membuat
Slip
Pembayaran
Pelunasan
Melakukan
pembayaran
uang muka
pelunasan
Beserta
pembayaran
uang muka
1
2
SP
Bukti Pembayaran
uang muka pelunasan
Meminta
pelunasan
5
Beserta
Bukti
pembayaran
uang muka
pelunasan
2
1
4
SP
Pelunasan
H
Gambar 3. 8 Flowchart Prosedur Pembayaran Uang Muka
57
H. Flowchart Prosedur Pengambilan Barang
Kurir
1
Beserta
material
Vendor
Bag. Gudang
H
I
2
Faktur 1
FP
Mengecek
Penerimaan
material
2
2
Beserta
Bukti
pembayaran
uang muka
pelunasan
1
SP
Pelunasan
Menyiapkan
faktur dan
material
Mencatat
pemasukan
barang
1
Mencatat
penerimaan
barang
Menyimpan
barang
Checklist
Faktur
Diberikan
ke vendor
Kartu Stok
Material
2
Beserta
barang
Faktur
Faktur 1
Pembelian
(FP)
2
7
1
Gambar 3. 9 Flowchart Prosedur Pengambilan Barang
I. Flowchart Prosedur Retur Pembelian
Bag. Pembelian
Bag. Gudang
Membuat
Memo
Debit
2
1
2
Vendor
1
Mulai
Memo 1
Debit
Bag. Keuangan
Mengurangi
jumlah Stok
barang
Memo
Debit
2
2
Beserta
barang
rusak / tdk
sesuai
Memo
Debit
mengupdate
utang
perusahaan
3
Kartu Stok
Barang
Laporan
Utang
Perusahaan
F
Selesai
Gambar 3. 10 Flowchart Prosedur Retur Pembelian
3
58
J. Flowchart Prosedur Pengeluaran Barang
Bag. Gudang
Bag. Pembelian
2
J
FPM
Bag. Workshop
Bag. Konstruksi
2
1
Beserta
material
2
Membuat Form
Pengeluaran
Material &
Perlengkapan
Mencatat
pengeluaran
barang
SJ
Menerima
Barang
2
Kartu Stok
Material
1
FPM
Selesai
Mengeluarkan
material
tujuan barang
workshop
lapangan
1
Membuat
surat jalan
2
1
SJ
2
Gambar 3. 11 Flowchart Prosedur Pengeluaran Barang
3.8
Identifikasi Masalah
Berdasarkan analisis proses bisnis yang sedang berjalan, dapat disimpulkan
akan adanya masalah di dalam perusahaan sebagai berikut.
1. Sistem tradisional berbasis file yang digunakan perusahaan masih belum
memiliki laporan kegiatan pembelian dan persediaan secara konkret.
2. Sistem pengelolaan utang perusahaan belum dimiliki oleh perusahaan.
Penagihan dan pembayaran utang kepada vendor yang menggunakan
sistem kepercayaan menyebabkan utang yang jatuh tempo tidak diketahui
tanggalnya dengan pasti sehingga pengaturan pengeluaran kas buruk. Hal
ini juga dapat menyebabkan potensi terjadinya utang usaha yang lupa
dibayar oleh perusahaan.
3. Terjadinya pembuatan dokumen yang sebenarnya tidak diperlukan yaitu
Form Pengeluaran Material dan Perlengkapan (FPM) pada prosedur
59
pengeluaran barang. Form Pengeluaran Material dan Perlengkapan
seharusnya tidak perlu dibuat ulang karena sumber pengeluaran barang
untuk dibawa ke lapangan atau workshop berasal dari Daftar Volume
Material dan Perlengkapan (DVM). Pembuatan dokumen yang berulang
dapat menyebabkan inefisiensi alur proses bisnis dan dapat menghasilkan
data yang tidak akurat karena berpotensi terjadinya ketidak sesuaian
sumber dokumen awal yaitu dengan Daftar Volume Material.
4. Belum adanya pembuatan dokumen yang layak untuk mengecek stok
barang yang perlu dilakukan pembelian berdasarkan pada Daftar Volume
Material. Pengecekan stok saat ini hanya dilakukan dengan membuat
tanda centang () dan penulisan manual pada Daftar Volume Material
sehingga potensi kesalahan pencatatan dapat terjadi dan pada akhirnya
dapat berujung pada kesalahan Order Pembelian material.
5. Belum adanya pembuatan dokumen yang layak untuk mengecek barang
yang diterima dari vendor. Saat ini bagian pembelian yang bertanggung
jawab menerima barang hanya membuat tanda centang () atas faktur
yang diterima saja sehingga risiko atas kesalahan perhitungan besar yang
pada akhirnya dapat berdampak pada kesalahan pencatatan utang.
6. Proses penerimaan barang dari vendor dan pengeluaran barang untuk
dikirim ke workshop atau lapangan dilakukan oleh bagian pembelian
sehingga bagian pembelian memiliki tugas dan tanggung jawab yang
rangkap. Kegiatan penerimaan dan pengiriman barang yang dilakukan
oleh bagian pembelian dapat menimbulkan potensi terjadinya penyalah
gunaan wewenang dan pencurian terhadap material.
7. Pencatatan
akuntansi
perusahaan
yang
berbentuk
single
entry
menyebabkan manager umum sulit mengecek keakuratan pencatatan pada
transaksi yang terjadi.
8. Perusahaan belum memiliki sistem arus persediaan sehingga tidak dapat
menghitung besarnya biaya persediaan dengan tepat dan berapa besar
harga pokok yang digunakan di dalam proyek. Masalah ini dapat
merambat kepada perhitungan keuntungan tiap proyek yang tidak tepat.
9. Perusahaan belum melakukan pengecekan perhitungan barang di gudang
secara berkala sehingga perbedaan antara catatan Kartu Stok Barang dan
kondisi fisik di gudang yang terjadi tidak dilakukan penyesuaian. Masalah
60
ini juga menunjukkan bahwa minimnya pengendalian internal atas barang
dalam gudang sehingga bagian gudang dapat berpotensi melakukan
tindakan kecurangan seperti pencurian barang.
10. Order Pembelian (PO) yang dibuat oleh Bagian Pembelian setelah
dilakukan pengecekan barang sebenarnya adalah Permintaan Pembelian
(Purchase Requisition) yang seharusnya tidak dilakukan oleh Bagian
Pembelian.
3.9. Usulan Penyelesaian Masalah
Berikut adalah usulan atau rekomendasi untuk menyelesaikan masalah atas
masalah yang disebutkan sebelumnya dan untuk mendukung sistem informasi yang
akan dirancang.
1. Membuat aplikasi terintegrasi siklus pembelian, utang usaha, dan
persediaan
PT
Tripola
Interindo
dengan
menggunakan
bahasa
pemrograman C# sebagai bahasa pengembang yang dapat menghasilkan
laporan kegiatan pembelian dan persediaan.
2. Membuat sistem yang dapat mengelola utang usaha sehingga sistem
mampu memberi informasi mengenai status utang usaha dan memberikan
notifikasi terhadap utang yang hampir jatuh tempo. Selain itu perusahaan
juga membuat ketetapan tanggal pembayaran utang yang harus
dilakukanya itu adalah 30 hari setelah penerimaan tagihan.
3. FPM tidak perlu dibuat ulang, melainkan dibuat sistem yang langsung
dapat menggenerasikan FPM yang berasal dari DVM. Surat Jalan
pengiriman barang ke proyek juga dapat dibuat secara otomatis
berdasarkan FPM untuk barang yang ditujukan kepada Lapangan / Bagian
Konstruksi. FPM hanya digunakan sebagai bukti bahwa bagian gudang
telah mengeluarkan material tersebut.
4. Membuat sistem pengecekan Analisis stok dalam Daftar Volume Material
dan Perlengkapan yang dapat secara langsung melihat jumlah stok
material dan perlengkapan yang tersedia dan yang kurang sehingga harus
dilakukan pembelian. Analisis stok DVM dapat menampilkan status.
Status yang dibuat antara lain adalah :

Stocked : material dan perlengkapan tersedia di gudang.
61

Out of stock : material dan perlengkapan tidak tersedia di gudang.

Requested : material dan perlengkapan sudah dibuat Permintaan
Pembelian (PR)

On purchasing process : material dan perlengkapan sudah dalam
proses pembelian

Delivered : material dan perlengkapan sudah sampai tujuan (workshop
atau proyek).
5. Membuat dokumen Penerimaan Barang / Goods Received (GR) dari
vendor dengan format yang tetap sehingga dapat dijadikan bukti untuk
mencatat barang yang masuk dalam gudang. GR dapat dijadikan salah
satu bentuk pengendalian internal terhadap barang di gudang. GR dibuat
berdasarkan Order Pembelian (PO). PO yang pada awalnya hanya
memiliki 2 rangkap kini dibuat menjadi 3 rangkap, antara lain :
a. Rangkap 1 diberikan kepada vendor untuk memesan material.
b. Rangkap 2 disimpan bagian pembelian sebagai arsip.
c. Rangkap 3 diberikan kepada gudang untuk dicocokkan dengan
penerimaan material.
Sedangkan GR dibuat sebanyak 3 rangkap, antara lain :
a. Rangkap 1 diberikan kepada vendor setelah menerima material.
b. Rangkap 2 diberikan kepada bagian keuangan untuk mencocokkan
penerimaan material dengan tagihan.
c. Rangkap 3 disimpan oleh bagian gudang sebagai arsip.
6. Kegiatan penerimaan dan pengeluaran material sebaiknya dilakukan oleh
gudang dimana penerimaan dilakukan dengan mencocokkan barang yang
sampai dengan PO dan pengeluaran barang dicocokkan dengan Daftar
Volume Material dan Perlengkapan (DVM). Proses penerimaan dapat
diotorisasi oleh bagian pembelian dan proses pengiriman material ke
lapangan atau workshop harus diotorisasi oleh bagian pemasaran.
7. Membuat pencatatan akuntansi dengan teknik basis akrual dengan
pembuatan jurnal yang memiliki sistem double entry / akun debit dan
kredit sehingga setiap transaksi dapat dicatat dan dijadikan satu dalam
data pembukuan.
62
8. Membuat perhitungan arus persediaan dengan moving average method
sehingga dapat diketahui berapa saldo persediaan akhir dan harga pokok
persediaan yang digunakan untuk proyek.
9. Membuat laporan stock opname secara berkala yang membandingkan
jumlah barang antara data stok dan kondisi fisik yang ada di gudang
sehingga jika terjadi perbedaan sistem akan membuat penyesuaian.
10. Membuat dokumen Permintaan Pembelian / Purchase Requisition (PR)
yang dilakukan oleh Bagian Gudang sebelum dibuat Order Pembelian
(PO).
Download