Modul Pendidikan Agama Islam [TM14]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Pendidikan
Agama Islam
Islam dan Globalisasi
 Peranan dan fungsi muslim dalam globalisasi
 Islam sebagai agama yang universal
 Peran agama Islam dalam perdamaian
 Konsep Islam tentang gender, kemanusiaan,
kepemimpinan dan demokrasi
Fakultas
Program Studi
Psikologi
Psikologi
Tatap Muka
13
Kode MK
90002
Abstract
1
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Dian Febrianingsih, M.S.I
Kompetensi
Era globalisasi sudah di depan mata. Ibarat
tamu yang sudah berada dalam rumah.
Kedatangan tamu bisa memberikan beberapa
permasalahan negatif atau tantangan yang
positif, bergantung pada kacamata apa yang
digunakan. Mahasiswa muslim diharapkan
dapat menghadapi era globalisasi secara tepat
dengan segala kemampuan dan kompetensi
yang dimiliki.
2015
Disusun Oleh
- Mampu mengetahui peranan dan fungsi
muslim dalam fenomena globalisasi
- Mampu menguraikan implementasi agama
Islam sebagai agama universal
- Mampu menjelaskan peran agama Islam
dalam perdamaian baik konsepsi maupun
implementasi
- Memahami konsep Islam dalam masalah
gender, kemanusiaan, kepemimpinan dan
demokrasi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Peranan dan Fungsi Muslim dalam Fenomena Globalisasi
Muslim saat ini, terutama generasi muda muslim menyadari bahwa dunia adalah
global village dimana jaringan informasi telah merajut kehidupan manusia dalam satu
keterikatan image. Kesadaran ini membangkitkan semangat keagamaan yang terbangun
oleh suatu kesadaran global mengenai realitas keagamaan dan umat manusia di selurug
dunia. Melalui teknologi media massa, kesadaran itu muncul bahwa saat ini, umat Islam di
seluruh dunia sedang terpuruk dan Barat sedang berjaya.
Dalam konteks ini, kaum muda muslim yang memiliki akses kepada media dapat
berperan sebagai pewarna kesadaran global kebangkitan Islam. Melalui mereka, gaya
hidup, nilai-nilai dari ideologi kebangkitan Islam mewarnai masyarakat.
Mahasiswa sebagai salah satu unsur pemuda yang notabene kaum intelektual dan
penjaga norma-norma sosial, adalah aset bangsa yang potensial. Penguasaan sains dan
teknologi bukan suatu alternatif, namun sudah menjadi keharusan. Akan tetapi penguasaan
teknologi harus selaras dengan pemaknaan tauhid (ilahi). Disamping itu, perlu disusun pola
akademis yang mengarah kepada langkah kuratif terhadap semakin parahnya degradasi
moral imbas dari sains dan teknologi yang bebas nilai dan cenderung destruktif.
Penguasaan mahasiswa Islam akan sains dan teknologi yang dilandasi konsep keimanan
akan memancarkan cahaya yang memerangi gerak langkah peradaban dunia.
Berikut ini sikap dasar yang harus dimiliki generasi muda muslim dalam menghadapi
era globalisasi:
1. Setiap generasi muda seharusnya memiliki sikap percaya diri yang terbangun
melalui proses aktualisasi secara terus menerus terhadap potensi riil yang
dimilikinya. Sikap ini akan mampu melahirkan partisipasi dan kepastian prakarsa,
yang tidak lagi didasari sikap mengandalkan dukungan maupun kemudahan dari
orang lain.
2. Setiap generasi muda semestinya kian memperbesar sikap kemandirian dalam
memecahkan permasalahan. Kemandirian di sini bukanlah sikap individualistis
yang tidak memiliki kepedulian sosial, tetapi suatu sikap yang secara sadar
dibentuk untuk menjauhkan kemungkinan keterpaksaan melakukan sesuatu.
3. Sudah saatnya sikap generasi muda mengemas kemampuan profesionalnya.
Dalam pengertian ini, setiap orang tidak lagi cukup hanya mengetahui fungsi dan
peranannya masing-masing, tetapi bagaimana mengembangkan fungsi dan
peranannya secara profesional.
2015
2
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Untuk menghadapi tantangan di era globalisasi, seorang muslim diharapkan dapat
bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat. Bila mengabaikan,
maka kemungkinan akan terbawa arus jahiliyah yang mengitarinya. Tanggung jawab
tersebut adalah:
1) Membina diri menjadi pribadi muslim yang memiliki ciri-ciri: iman kepada Allah,
takwa sebenar-benar takwa, islamisasi kehidupan (tingkah laku, pemikiran,
pergaulan, pendidikan, kemasyarakatan, ruhiyah, ukhuwah islamiyah, cerdas dan
berilmu, berkualitas, rohani dan jasad yang sehat, dan kebal terhadap pengaruh
budaya Barat)
2) Membentuk diri menjadi pribadi dai yang mempunyai ciri-ciri: berdakwah kepada
kebaikan, menyuruh berbuat ma’ruf, dan melarang berbuat munkar)
3) Membimbing keluarga dan masyarakat dengan melakukan: ceramah dan diskusi,
membuat buletin dan artikel, kegiatan sosial dan ilmiah, penataran dan
penyuluhan, mengisi pembangunan masyarakat dan ikut serta dalam kegiatan
ma’ruf.
Implementasi Agama Islam sebagai Agama Universal
Agama Islam bagi kehidupan manusia merupakan rahmatan lil ‘alamin atau universal
bagi seluruh umat manusia. Rahmat dimaksud berdasarkan QS Al Anbiya (21): 107 yang
berarti “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam”. Ayat tersebut menunjukkan bahwa ajaran Islam bukan hanya merupakan rahmat dab
kasih sayang kepada non-Islam, bahkan seluruh makhluk dan isi alam ini. Mewujudkan
kasih sayang dalam perilaku hidup setiap muslim tidak dibatasi oleh dinding agama dan
keyakinan, bahkan perwujudan kasih sayang hendaknya sampai juga kepada seluruh alam
hewani, nabati dan jamadi.
Islam mengenal ajaran bahwa seluruh umat manusia adalah keluarga besar yang
sama sebagai hamba Allah swt dan diberi tugas yang sama yaitu beribadah (mengabdi)
kepada Allah swt. Dasar hukum yang digunakan adalah QS Al Hujurat: 13. Kedudukan
agama Islam di antara agama-agama lain; dalam pengertian bahwa Allah menurunkan nabi
dan rasul terakhir sepeninggal nabi Isa as, yakni nabi Muhammad saw adalah
dilatarbelakangi oleh keadaan (sejarah) sebagai berikut:
1. Karena ajaran-ajaran Allah yang diwahyukan kepada nabi-nabi terdahulu itu telah
banyak yang dipalsukan, ditambah dan dikurangi, sehingga ajaran-ajaran agama
tersebut tidak murni lagi, bahkan telah mengalami penyimpangan-penyimpangan.
2015
3
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Keadaan demikian menjadi penyebab utama diutusnya seorang rasul untuk
meluruskan kembali ajaran-ajaran Allah swt.
2. Ajaran-ajaran Allah yang dibawa oleh nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad
saw memang belum sempurna. Ajarannya masih bersifat lokal yang hanya
diperuntukkan suatu bangsa, kaum dan wilayah tertentu saja. Untuk itu Allah swt
mengutus rasul terakhir dengan membawa ajaran agama Islam yang telah
disempurnakan dan ajarannya bersifat universal.
3. Kitab-kitab suci terdahulu (Taurat, Zabur, Injil) sudah banyaj mengalami distorsi
(penyimpangan) dan kitab suci tersebut sudah tidak ada yang asli lagi, bahkan
isinya sudah banyak yang bertentangan satu dengan yang lain.
Dari latar belakang tersebut, dapat diambil simpulan bahwa berdasarkan logika yang sehat
bahwa agama yang terakhirlah yang sempurna, lengkap, utuh dan ajarannya bernilai benar.
Karakteristik agama Islam yang khas dibandinglan dengan agama yang datang
sebelumnya. Dengan memahami karakteristik Islam, maka akan menghasilkan pemahaman
Islam yang komprehensif. Berikut adalah beberapa karakteristik agama Islam, yaitu:
1. Rabbaniyah
Bersumber langsung dari Allah swt. Islam bukam buatan manusia, melainkan
konsep Allah swt merupakan manhaj Rabbani baik dari aspek aqidah, ibadah,
akhlak, syariat, dan peraturannya semua bersumber dari Allah swt.
2. Insaniyah ‘alamiyah
Humanisme yang bersifat universal. Islam ditampilkan sebagai cahaya petunjuk
bagi seluruh umat manusia, bukan hanya untuk suatu kaum atau golongan
tertentu. Islam merupakan milik seluruh manusia yang ada di muka bumi, tanpa
mengkhususkan bangsa Arab yang merupakan tempat diturunkannya agama ini.
Hukum Islam bersifat universal, untuk seluruh umat manusia yang ada di muka
bumi serta dapat diberlakukan di setiap bangsa dan negara
3. Syamil mutakamil
Integral, menyeluruh dan sempurna. Islam membicarakan seluruh sisi kehidupan
manusia, dari mulai masalah yang kecil sampai masalah yang sangat besar.
Islam telah memformat dengan sempurna melalui pengaturannya serta
menerangkan hukum-hukumnya.
4. Al basathah
Elastis, fleksibel, mudah. Islam adalah agama fitrah bagi manusia. Manusia
niscaya akan mampu melaksanakan segala perintahNya tanpa ada kesulitan,
tetapi pada umumnya yang menjadikan sulit adalah manusia itu sendiri. Islam
merupakan solusi dari berbagai permasalahan bukan untuk membebani manusia
dengan satu kewajiban, semuanya terukur sesuai kemampuan diri manusia.
2015
4
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
5. Al ‘adalah
Islam datang untuk mewujudkan keadilan yang sebenar-benarnya, untuk
mewujudkan persaudaraan dan persamaan di tengah-tengah kehidupan
manusia, serta memelihara darah (jiwa), kehormatan, harta, dan akal manusia.
6. Keseimbangan
Equilibrum, balans, moderat. Islam dan seluruh ajarannya mengajarkan untuk
senantiasa menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan
umum, antara kebutuhan material dan spritual, serta antara dunia dan akherat.
Ajaran Islam memenuhi jalan tengah, jalan yang imbang, tidak terlalu berat ke
kanan mementingkan kejiwaan (rohani) dan tidak terlalu berat ke kiri
mementingkan kebendaan (jasmani). Inilah yang diiistilahkan dengan teori
keseimbangan, menyelaraskan di natara kenyataan dan fakta.
7. Perpaduan antara keteguhan prinsip dan fleksibilitas
Ciri khas agama Islam adalah perpaduan antara hal-hal yang bersifat prinsip
(tidak berubah oleh apapun) dan menerima perubahan sepanjang tidak
menyimpang dari batas syariat. Dengan sifat yang prinsip, maka ajaran Islam
tidak bisa larut dan tunduk terhadap setiap persoalan zaman dan perputaran
waktu. Dengan sifat fleksibilitas, agama Islam dapat menyesuaikan diri dengan
dinamika perkembangan zaman, serta dapat sesuai dengan setiap keadaan yang
baru timbul.
8. Graduasi (berangsur-angsur/ bertahap)
Allah swt sebagai pembuat hukum adalah Maha Bijaksana. Hukum atau ajaranajaran yang diberikan kepada manusia secara psikologis sesuai dengan fitrah
manusia. Akan menjadi sangat sulit bila hukum tersebut datang sekaligus. Oleh
karena itu, Allah menetapkannya secara bertahap atau berangsur-angsur, tidak
sekaligus secara radikal dan revolusioner.
9. Argumentatif filosofis
Ajaran Islam merupakan ajaran yang argumentatif, tidak bersifat doktriner.
Dengan demikian, Al Qur’an dalam menjelaskan setiap persoalan senantiasa
diiringi dengan bukti-bukti atau keterangan-keterangan yang argumentatif dan
dapat diterima dengan akal pikiran yang sehat (rasional religius).
2015
5
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Peran Agama Islam dalam Perdamaian
Kajian tentang peran umat beragama dalam mewujudkan kedamaian, perlu
menguraikan contoh di dalam agama Islam, yaitu khotbah yang pertama diucapkan oleh
Nabi Muhammad saw, setibanya di Madinah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Salam
(salah seorang sahabat dekat Nabi Muhammad saw) yang mengungkapkan sebagai berikut:
“Wahai segenap umat manusia, sebarluaskan salam itu (salam yang mencakup
arti
kedamaian, kesejahteraan, keselamatan, keamanan) dengan amal perbuatan dan ucapan
kata-kata. Semuanya dilaksanakan sehari-hari”.
Berdasarkan hadits di atas, dapat diketahui dan dipahami langkah-langkah di dalam
ajaran agama Islam untuk mewujudkan perdamaian, yaitu:
1. Umat Islam diperintahkan untuk menyebarluaskan salam
Salam dalam pengertian mewujdukan kedamaian, kesejahteraan, keselamatan,
keamanan, melalui ucapan dan perbuatan. Oleh karena itu, ajaran Islam
menghendaki orang Islam mewujudkan kedamaian. Konsep kedamaian dalam
Islam adalah melakukan interaksi sosial dalam arti komodatif. Hal ini
menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial sesama manusia
yang harmonis antara seseorang dengan orang lain, antara satu kelompok
manusia dengan kelompok manusia lainnya.
Interaksi sosial dimaksud adalah diawali dengan ucapan salam ketika bertemu
sesama muslim atau seaqidah. Salam sebagai semboyan dari setiap muslim
menjumpai sesamanya dan merupakan doa kepada Allah swt untuk memohon
kedamaian dan keamanan serta saling kasih sayang. Setiap muslim yang
mengucapkan salam kepada sesama muslim berarti memohon kepada Allah swt
keselamatan dan kedamaian. Hal tersebut berarti mengucapkan salam sesama
muslim merupakan sesuatu yang sangat penting.
2. Memberikan makanan kepada fakir miskin, anak yatim dan semacamnya
Perintah Allah dalam QS At Taubah merupakan tuntutan kepada setiap muslim
yang mempunyai kemampuan untuk memberikan makanan kepada fakir miskin,
anak yatim, dan semacamnya. Perintah dimaksud, disebut zakat, baik dalam
bentuk zakat fitrah maupun dalam bentuk zakat mal. Namun masyarakat muslim
yang belum mempunyai kriteria wajib zakat, ia dianjurkan memberikan hartanya
dalam bentuk infaq dan atau sedekah kepada orang yang berhak menerimanya.
2015
6
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Hal ini menunjukkan bahwa orang Islam berkewajiban melaksanakan hal-hal
yang berkaitan dengan perintah agama, baik dalam bentuk kewajiban untuk
mengeluarkan zakat maupun dalam bentuk sunnah untuk mengeluarkan infaq
dan atau shadaqah. Semua bentuk pengeluaran harta dimaksud, selain berfungsi
ibadah kepada Allah swt dalam aspek tertentu dan dalam aspek lainnya
berfungsi sosial kemasyarakatan yang berpengaruh dalam interaksi sosial di
antara sesama manusia.
3. Bersilaturrahmi atau menjalin hubungan baik dengan kerabat
Perintah agama dalam bersilaturrahmi atau menjalin hubungan baik dengan
kerabat merupakan hubungan sesama manusia secara horizontal yang harus
berkesinambungan baik terhadap si kaya dengan si miskin, pejabat dengan
rakyat, si majikan dengan buruh, maupun terhadap manusia yang status
pekerjaannya sebagai petani, nelayan, dan sebagainya terhadap manusia
lainnya. Hal ini berarti ajaran Islam tidak mengenal pemisahan sesama muslim
yang dilatarbelakangi oleh pekerjaan, status sosial, jabatan dan sebagainya,
melainkan yang membedakan hubungan sesama manusia di hadapan Allah swt
adalah kualitas ketaqwaan.
4. Melakukan shalat di waktu malam ketika umat lain sedang tidur
Melakukan shalat di waktu malam ketika umat lain sedang tidur biasa disebut
dengan shalat lail atau shalat tahajud. Shalat dimaksud dilaksanakan oleh setiap
muslim yang mencari keridhaanNya di luar shalat wajib yang diperintahkan oleh
Allah swt dan RasulNya. Shalat lail atau shalat tahajud dijelaskan oleh Allah swt
dalam QS Al Isra’ (17): 79. Dengan melakukan sholat malam, bertambah naik
martabat jiwa umat yang melakukan shalat malam itu, sehingga mencapai tempat
yang terpuji (maqam mahmudah).
Konsep Islam dalam masalah gender, kemanusiaan, kepemimpinan dan
demokrasi
Konsep Islam dalam masalah gender
Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, semuanya dalam alam dirahmati
oleh Allah swt, sebagaimana dalam QS Al Anbiya’: 107. Laki-laki dan perempuan,
merupakan insan yang saling melengkapi antara satu dan lainnya, bagaikana peralatan
benda komplementer (tidak dapat digunakan tanpa ada yang lain), dan karenanya Allah swt
menyatakan dalam QS Al Baqarah: 187 yaitu “Mereka kaum wanita, adalah pakaian bagi
2015
7
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
kaum pria, dan kaum pria adalah pakaian bagi kaum wanita”. Dari ayat tersebut, Allah
memberikan kedudukan yang sama antara pria dan wanita.
Wanita muslim di tengah-tengah masyarakat Islam menempati kedudukan yang
tinggi dan terhormat; satu kedudukan yang dapat menjaga martabat, kemanusiaan dan
kesuciannya. Islam sama sekali tidak menganggap wanita sebagai suatu bakteri yang
mengandung penyakit sebagaimana persepsi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Islam
mengakui kebenaran azali (eternal) yang dapat menghilangkan kehinaan. Islam beda
dengan agaman-agama lain yang cenderung aniaya kepada kaum wanita.
Islam datang untuk melepaskan wanita dari belenggu-belenggu kenistaan dan
perbudakan terhadap sesama manusia. Islam memandang wanita sebagai makhluk yang
mulia dan terhormat; makhluk yang memiliki beberapa hak yang telah disyariatkan oleh
Allah swt. Di dalam Islam, haram hukumnya berbuat aniaya dan memperbudak wanita. Dan,
Allah swt akan mengancam orang yang berani melakukan perbuatan itu dengan ancaman
siksa yang sangat pedih.
Dari aspek kemanusiaan, Islam memandang sama antara laki-laki dan perempuan,
dalam artian bahwa keduanya adalah sama-sama manusia, sesuai dengan QS Al Hujurat:
13. Islam menganggap mereka sama saja dalam soal memikul sebagian besar beban-beban
keimanan, sesuai dengan QS Al Buruuj: 10. Islam menganggap mereka sama dalam hal
menerima balasan akherat, sesuai dengan QS An Nisa: 124. Islam menganggap mereka
sama dalam hal saling tolong menolong, sesuai dengan QS At Taubah: 71
Allah swt juga menerangkan salah satu kedudukan wanita dalam Islam, dimana
kehormatan dan kemuliaannya dijaga demikian ketat, dalam QS An Nuur: 4. Dalam Islam,
kaum wanita berhak mendapatkan bagian sesuai kedekatannya dengan si mayit, yang
dinyatakan dalam QS An Najm: 22. Islam juga mengatur masalah perceraian, sesuai
dengan QS Al Baqarah: 229.
Konsep Islam dalam masalah kemanusiaan
Seperti makhluk lainnya, manusia adalah ciptaan Allah swt. Ia diciptakan secara
alamiah karena Allah menciptakan Adam dari tanah, jika diorganisir ke dalam diri manusia
akan menghasilkan ekstrak sulalah (air mani). Jika masuk ke dalam rahim, air ini akan
mengalami sebuah proses kreatif. Penciptaan manusia dalam proses alami (sunnatullah)
terdiri dari dua aspek pokok:
1. Aspek material
Aspek material adalah jasmaniah (jasad), yaitu jisim manusia, tubuh atau badan.
Realitas jasad adalah realitas manusia yang dharuri (siginifikan, pokok), tanpa
adanya jasad tidak dapat dipahami adanya manusia, karena dengan jasadlah
2015
8
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
realitas dan eksistensi manusia dapat dilihat pada aktivitas ruang dan waktu
tertentu.
2. Aspek immaterial
Aspek immaterial adalah rohaniah. Aspek rohaniah sifatnya abstrak dan tidak
dapat direalitaskan. Ia hanya terlihat dari adanya aktivitas jasmaniah. Ia
memberikan nilai kepada jasmaniahh dalam setiap aktivitasnya. Imam Al Ghazali
membagi aspek rohaniah ini dalam dua bentuk yaitu:
a) Al ruuh
Daya manusia untuk mengenal dirinya sendiri, mengenal Tuhannya, dan
mencapai
ilmu
pengetahuan,
sehingga
dapat
menentukan
manusia
berkepribadian, berakhlak mulia serta menjadi motivator sekaligus penggerak
bagi manusia dalam melaksanakan perintah Allah swt
b) Al nafs
Panas alami yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi, otot-otot dan
syaraf manusia. Ia sebagai tanda adanya kehidupan pada diri manusia.
Dalam konteks ini, al nafs diistilahkan dengan nyawa yanng membedakan
manusia dengan benda mati, tetapi tidak menbedakannya dengan makhluk
lainnya, karena sama-sama memiliki al nafs.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah akan memiliki peran yang signifikan dalam
kehidupan di bumi ini. Peran manusia dalam Islam tidak akan terlepas dari beberapa konsep
berikut ini:
1. Konsep al basyr
Manusia dipandang dari pendekatan biologis yang terdiri dari unsur materi,
sehingga menampilkan sosok dalam bentuk fisik material. Ini menjadikan
manusia tak jauh beda dengan makhluk biologis lainnya, maka kehidupan
manusia terikat kepada kaidah prinsip kehidupan biologis. Hal ini sesuai dengan
QS Al Mu’minun (23): 12-14 dan QS Al Ahqaf (46): 67.
2. Konsep al insan
Konsep ini mengacu pada potensi yang dianugerahkan Allah swt kepada
manusia, yaitu potensi untuk bertumbuh dan berkembang biak secara fisik dan
juga potensi untuk bertumbuh dan berkembang secara spiritual. Konsep ini
mengacu pada bagaimana manusia dapat memerankan dirinya sebagai sosok
pribadi yang mampu mengembangkan dirinya agar menjadi sosol ilmuwan yang
seniman serta berakhlak mulia secara utuh.
2015
9
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
3. Konsep an nas
Konsep ini berhubungan dengan fungsi manusia sebagai mahluk sosial, sesuai
dengan QS Al Hujurat: 13. Sejalan dengan konteks kehidupan sosial, maka
peran manusia dititikberatkan pada upaya untuk menciptakan keharmonisan
hidup bermasyarakat mulai dari keluarga dan antarbangsa.
4. Konsep bani adam
Konsep ini mengacu kepada penghormatan pada nilai-nilai kemanusiaan.
Konsep ini menitikberatkan pada upaya pembinaan hubungan persaudaraan
antarsesama manusia. Menyatukan visi bahwa manusia pada hakekatnya
berawal dari nenek moyang yang sama yaitu Adam as. Dalam tataran ini,
manusia berstatus ebagai sebuah keluarga yang bersaudara, apapun latar
belakang sosio-kultur, agama, bangsa dan bahasanya. Semuanya perlu saling
menghargai, menghormati dan memuliakan.
5. Konsep al ins
Konsep ini berangkat dari konsep penciptaan manusia yang berstatus sebagai
pengabbdi Allah. Dalam hidupnya, manusia akan selalu menyadari hakekat ini. Ia
dituntut untuk dapat memerankan dirinya sebagai pengabdi Allah secara
konsisten dengan ketaata penuh. Ketaatan kepada Allah merupakan peran
puncak manusia dalam segala aspek kehidupannya, karena atas dasar dan
tujuan tersebut pulalah manusia diciptakan, sesuai dengan QS Adz Dzariyat: 56.
6. Konsep ‘abd Allah
Konsep ini mengandung arti abdi atau hamba Allah. Konsep ini mengacu bahwa
‘abd Allah tidak dapat berdiri sendiri dalam kehidupan dan seluruh aktivitasnya
dalam kehidupan. Kata ‘abd juga berarti ibadah, sebagai pernyataan kerendahan
diri. Ibadah kepada Allah merupakan sikap dan pernyataan kerendahan diri yang
paling puncak dan sempurna dari seorang hamba. Ibadah itu sendiri berupa
pengabdian yang hanya diperuntukkan kepada Allah semata, sesuai dengan QS
Yusuf (12): 40.
7. Konsep khalifah Allah
Sebagai khalifah Allah, manusia diberikan tanggung jawab untuk mengatur dan
memelihara
alam
semesta.
Semua
diserahkan
pada
manusia
untuk
dipergunakan seluas-luasnya demi kesejahteraan manusia. Untuk dapat
melaksanakan amanahnya sebagai khalifah, manusia diberi akal oleh Allah swt.
Hal tersebut sesuai dengan QS Al Baqarah (2): 31.
2015
10
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Konsep Islam dalam masalah kepemimpinan
Kepemimpinan dalam Islam disebut dengan “imamah” . Imamah berasal dari kata
“imam” yang artinya “pemimpin” atau “ketua” dalam suatu organisasi atau lembaga. Imamah
juga disebut dengan “khalifah” atau “penguasa” dan “pemimpin tertinggi rakyat”. “Imam” juga
berarti “pedoman”. Al Qur’an karena merupakan “pedoman” bagi umat manusia, disebut
juga sebagai “imam”. Rasulullah saw dapat juga disebut sebagai imam sebab beliau adalah
pemimpin para pimpinan yang sunahnya diikuti oleh seluruh pemimpin. Kata imam juga
digunakan untuk orang yang mengatur kemaslahatan sesuatu, untuk pemimpin pasukan
atau fungsi lainnya. Dalam Al Qur’an, “imamah” disebut dengan “imam” atau “aimmah”
(pemimpin). Hal tersebut sesuai dengan QS Al Baqarah (2): 124.
Dalam masalah penilaian terhadap kepemimpinan yang adil dapat diamati melalui
beberapa fenomena aktivitas kepemimpinan seorang pemimpin. Apabila terlaksana
beberapa syarat berikut, kepemimpinannya terukur dalam keadilan, yaitu:
1. Pemimpin itu telah membela dan menghidupkan agama dalam kekuasaannya.
2. Mentanfidzkan
hukum
antara
orang-orang
yang
berselisih
atau
mendamaikannya, begitu juga hukum yang bersangkutan dengan Allah sematamata (sebagai pengatur pengadilan).
3. Menjaga keamanan umum agar penghidupan segenap umat manusia terjamin
dengan aman tenteram
4. Bermusyawarah dengan wakil-wakil rakyat dalam tiap-tiap urusan yang tidak ada
pemikirannya dalam Al Qur’an dan Sunnah yang jelas dan tidak pula ada ijma’.
5. Mengatur perjuangan batas-batas negeri dengan sekuat-kuatnya
6. Jihad, melakukan peperangan terhadap musuk apabila telah sampai pada batasbatas yang diizinkan oleh agama, dalam hal mengatur ketentaraan.
7. Mengatur kemakmuran menurut apa yang diizinkan oleh agama
8. Menyesuaikan penyerahan pekerjaan dan kekuasaan menurut kecakapan dan
keikhlasan orang yang diserahi serta diberi keleluasaan mengatur dan bertindak
asal tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama
9. Pemimpin itu bekerja sendiri untuk mengamati dan memperhatikan soal-soal
yang diserahkannya kepada wakil-wakilnya. Pemimpin juga sebaiknya bergaul
dengan seluruh lapisan masyarakat, tidak boleh mengasingkan diri dan
bersenang-senang sendiri.
Konsep kepemimpinan dalam Islam sebenarnya memiliki dasar-dasar yang sangat
kuat dan kokoh. Ia dibangun tidak saja oleh nilai-nilai transendental, namun telah
dipraktekkan sejak berabad-abad yang lalu oleh nabi Muhammad saw, para sahabat dan
khulafaur rasyidin.
2015
11
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Pijakan kuat yang bersumber dari Al Qur’an Sunnah serta dengan bukti empiriknya
telah menempatkan konsep kepemimpinan Islam sebagai salah satu model kepemimpinan
yang diakui dan dikagumi oleh dunia internasional.
Dalam pandangan Islam, kepemimpinan merupakan amanah dan tanggungjawab
yang tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada anggota-anggota yang dipimpinnya tetapi
juga akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Pemimpin yang ideal merupakan
dambaan bagi setiap orang, sebab pemimpin itulah yang akan membawa maju-mundurnya
suatu organisasi, lembaga, negara dan bangsa. Oleh karena itu, pemimpin mutlak
dibutuhkan demi tercapainya kemaslahatan umat. Konsep kepemimpinan dalam Islam
merujuk pada beberapa ayat Al Qur’an yaitu:
1) QS Ali Imran: 26
2) QS An Nisa: 58
3) QS An Nisa: 144
4) QS Al Maidah: 56-57
5) QS At Taubah: 71
Konsep Islam dalam masalah demokrasi
Bagi kalangan neo-modernis Islam, demokrasi dan agama sesungguhnya
dapat dipertemukan. Demokrasi dipandang sebagai aturan politik yang paling layak,
sementara agama diposisikan sebagai wasit moral dalam aplikasi demokrasi.
Demokrasi dalam Islam tertumpu pada empat prinsip berikut:
1. Al musawah (persamaan)
Semua warga negara adalah sama hak, kewajiban dan kedudukannya, baik hak
politik, hak agama, hak pekerjaan dan hak pengajaran. Dalam istilah Barat one
man one vote, satu orang satu suara, entah itu perempuan, laki-laki, tua, muda.
2. Al ‘adalah (keadilan)
Keadilan merupakan landasan demokrasi, dalam arti terbukanya pekuang
kepada semua orang untuk mengatur hidupnya sesuai dengan apa yang
diinginkan. Masalah keadilan penting dalam arti seseorang mempunyai hak untuk
menentukan jalan hidupnya. Selain itu, orang tersebut harus dihormati haknya
dan diberi peluang serta kemudahan untuk mencapainya. Sebuah negara akan
sejahtera dan dapat eksis jika prinisp yang diusungnya adalah keadilan sekalipun
negara itu kafir. Sebaliknya, sebuah negara akan hancur jika prinsip yang
diusungnya kedzaliman sekalipun negara itu Islam. Islam menekankan sekali
bahwa keadilan harus ditegakkan.
2015
12
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
3. Al syuura (musyawarah)
Islam disini tidak mengambil konsep Barat yaitu voting, sebaliknya menekankan
musyawarah, karena dalam musyawarah mampu melindungi hak-hak minoritas.
Hasil dari musyawarah mengakomodir kepentingan-kepentingan minoritas. Kalau
kepentingan tidak terakomodir dalam musyawarah, bukan musyawarah lagi tetapi
memaksakan kehendak. Yang menang yang diuntungkan, yang kalah tidak
terakomodir. Musyawarah itu dapat juga diartikan sebagai bentuk atau cara
memelihara
kebebasan
dan
memperjuangkan
keadilan
lewat
jalur
permusyawaratan.
4. Al hurriyat (kebebasan)
Prinsip kebebasan merupakan prinsip Islam yang paling mulia sejak agama ini
muncul ke dunia, dan dalam kebebasan ini, bentuk kebebasan yang tersurat dan
tersirat dalam revolusi Perancis adalah yang terpenting yaitu kebebasan berfikir
dan mengeluarkan pendapat.
Dari empat prinsip tersebut di atas, Islam dapat beriringan dengan demokrasi. Adapun seluk
beluk demokrasi banyak berlandaskan pada Al Qur’an yang meliputi:
a. Kebebasan dan tanggungjawab individual, sesuai dengan QS Al An’aam (6): 94
b. Kebebasan eksperimen, sesuai dengan QS Al Kahfi (18): 29
c. Kebebasan beragama, sesuai dengan QS Yunus (10): 99
d. Keadilan, sesuai dengan QS Al Maidah (5): 58 dan QS An Nisa (4): 135
e. Musyawarah, sesuai dengan QS Ali Imran (3): 159 dan Asy Syuura (42): 38
Nilai-nilai fundamental tersebut menjadi pesan mendasar dalam Al Qur’an yang menuntut
kaum muslim mampu mengoperasionalkannya.
Sistem politik demokrasi dapat berjalan sealur dengan misi agama. Demokrasi
bahkan dapat disebut yang paling baik dan paling tepat, karena dengan mekanismenya
yang wajar, demokrasi bisa menghindarkan adanya tirani baik mayoritas maupun minoritas.
Kekuatan demokrasi terletak pada:
1) Jaminan berlangsungnya checks and balances antara mereka yang sedang
berkuasa dan mereka yang sedang tidak berkuasa (pemerintah dan rakyat).
2) Jaminan kebebasan asasi, yaitu kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan
berserikat, kebebasan beragama dan kebebasan dari rasa takut.
3) Dalam sistem politik yang demokratis berlaku prinsip the people control the
leaders, lawan the leaders control the mass yang menjadi prinsip otoriterisme.
4) Dalam alam demokrasi, ada kesediaan sharing of power atau kesediaan
membagi kekuasaan dengan pihak lain agar tercapai keseimbangan harmonis
antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat.
2015
13
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
Alim, Muhammad. 2011. Pendidikan Agama Islam: Upaya Pembentukan Pemikiran dan
Kepribadian Muslim. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Aminuddin dkk. 2005. Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi Umum. Bogor:
Penerbit Ghalia Indonesia
Haya binti Mubarok Al Barik. 1424 H. Ensiklopedi Wanita Muslimah. Jakarta: Darul Falah
Tim Guru MGPK Provinsi Jawa Timur. 2012. Bahan Ajar Tafsir MAK. Mojokerto: CV Sinar
Mulia Mojosari
Zainuddin Ali, Haji. 2012. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara
2015
14
Pendidikan Agama Islam
Dian Febrianingsih, M.S.I
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download