9 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Lansia 2.1.1 Pengertian dan

advertisement
9
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Lansia
2.1.1 Pengertian dan Batasan Umur Lansia
Lanjut usia atau lansia merupakan tahap akhir dari siklus hidup manusia.
Hal ini pasti dialami bagi individu yang memiliki umur panjang. Lansia
bukanlah merupakan suatu penyakit, melainkan tahap lanjut dari suatu
proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan untuk
beradaptasi terhadap stimulus internal maupun internal yang dipengaruhi
perubahan struktur dan fungsi anatomi tubuh. Untuk dapat mengatakan
seseorang telah lansia, para ahli membedakannya menjadi usia kronologis
dan usia biologis. Usia kronologis adalah usia yang dihitung dengan
kalender, sedangkan usia biologis adalah usia yang dilihat dari kondisi
jaringan tubuh seseorang yang sangat tergantung dari faktor nutrisi maupun
lingkungan sehingga usia biologis dapat dipengaruhi (Lestiani, 2014;
Nugroho, 2014).
Pengertian lansia dibagi menjadi beberapa batasan-batasan berdasarkan
usia. Menurut WHO, lansia dibagi tiga, yaitu lanjut usia (elderly) 60-74
tahun, lanjut usia tua (old) 75-90 tahun, dan usia sangat tua (very old) di
atas 90 tahun. Menurut Prof. DR. Koessoemanto, lansia (usia lebih dari
65/70 tahun) dibagi lagi menjadi tiga, yaitu usia 70-75 tahun (young old),
usia 75-80 tahun (old), dan usia lebih dari 80 tahun (very old). Menurut
9
10
Hulock (1979), lansia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu early old age
(usia 60-69 tahun) dan advanced old age (usia >70 tahun). Menurut
Burnside (1979), membagi lansia menjadi empat tahapan, antara lain young
old (usia 60-69 tahun), middle age old (usia 70-79 tahun), old-old (usia 8089 tahun), dan very old-old (usia >90 tahun). Di Indonesia, berdasarkan UU
No.13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan
Usia Lanjut, seseorang
dikatakan lansia apabila telah berusia 60 tahun atau lebih, karena pada
umumnya digunakan sebagai usia maksimal kerja dan mulai tampaknya ciriciri ketuaan (Nugroho, 2014; Noorkasiani, 2009).
2.1.2 Perubahan yang Terjadi pada Lansia
Proses menua menyebabkan terjadinya perubahan secara fisik dan
psikososial pada lansia.
1. Perubahan Fisik
Perubahan
fisik
muskuloskeletal,
yang
sistem
terjadi
antara
persarafan,
lain
gangguan
penurunan
sistem
pendengaran
dan
penglihatan, sistem reproduksi. Penurunan kemampuan pada sistem
muskuloskeletal akibat digunakan secara terus-menerus menyebabkan sel
tubuh lelah terpakai dan regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan
kestabilan lingkungan internal, seperti penurunan aliran darah ke otot,
atropi dan penurunan massa otot, gangguan sendi, tulang kehilangan
densitasnya, penurunan kekuatan dan stabilitas tulang, kekakuan jaringan
penghubung yang menyebabkan hambatan dalam aktivitas seperti
gangguan gaya berjalan. Hal tersebut sesuai dengan teori ‘wear and tear’
11
dan ‘genetic clock’. Oleh karena itu, semakin tua usia seseorang maka
semakin besar juga potensi gangguan gerak yang dialami. Penurunan
pada sistem persarafan dapat terjadi seiring bertambahnya usia, hal ini
dikaitkan
dengan teori ‘genetic clock’, dimana pada waktu tertentu
dalam kehidupan, otak secara perlahan dan pasti mengalami atrofi
sehingga beratnya menurun 10-20% (Nugroho, 2014). Penurunan ini juga
dikatikan dengan teori radikal bebas, dimana radikal bebas dapat memicu
terjadinya inflamasi kronik. Menurut Marshland, et al (2006), inflamasi
kronik berhubungan dengan buruknya fungsi kognitif, dimana inflamasi
kronik merangsang dilepaskannya sitokin pro-inflamasi oleh otak seperti
interleukin-6 (IL-6) yang bertanggung jawab atas kerusakan sel korteks
otak yang merupakan area kognitif.
Penurunan lainnya yang sangat jelas terlihat pada sistem reproduksi
terutama pada perempuan. Ketika sudah mengalami masa menopause,
secara perlahan dan pasti organ-organ reproduksi akan mengalami
penurunan baik secara struktur dan fungsinya. Ovari akan menciut dan
ukurannya mengecil, atrofi pada uterus, dan penurunan produksi hormon
estrogen. Pada laki-laki tidak terjadi perubahan yang drastis pada sistem
reproduksinya (Nugroho, 2014; Santoso & Rohmah 2011).
2. Perubahan psikososial
Perubahan psikososial dapat terjadi akibat adanya penyakit kronis,
gangguan panca indra seperti kebutaan dan ketulian, dan gangguan gerak
12
sehingga intensitas hubungan lansia dengan lingkungan sosialnya
berkurang karena lansia lebih banyak berada di rumah. Bahkan dapat
timbul kesepian akibat pengasingan dari lingkungan sosialnya ini
(Nugroho, 2014).
3. Penurunan Fungsi Kognitif
Perubahan tidak hanya terjadi pada fisik dan psikososial, tetapi juga pada
kognitif , karena fungsi kognitif dipengaruhi oleh adanya perubahan pada
struktur dan fungsi organ otak, penurunan fungsi sistem muskuloskeletal,
dan sistem reproduksi. Atropi yang terjadi pada otak akibat penuaan
menyebabkan penurunan hubungan antarsaraf, mengecilnya saraf panca
indra sehingga waktu respon dan waktu bereaksi melambat, defisit
memori, gangguan pendengaran, penglihatan, penciuman, dan perabaan.
Menurunya daya pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap
nada tinggi, suara tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada
orang di atas umur 65 tahun (Nugroho, 2014). Selain itu radikal bebas
dapat
memicu
terjadinya
inflamasi
kronik
yang
menyebabkan
meningkatnya kadar IL-6 yang merupakan sitokin proinflamasi dan
adanya peningkatan IL-6 dapat digunakan menjadi sebagai biomarker
untuk risiko penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut (Frydecka, et al,
2004 dan Marshland, et al, 2006).
Fungsi kognitif juga berkaitan dengan aktivitas fisik, dimana aktivitas
fisk erat kaitannya dengan sistem muskloskeletal. Pada dasarnya, setiap
13
gerakan fisik yang dilakukan memberikan rangsangan kepada otak,
dengan menurunnya aktivitas maka rangsangan kepada otak juga
berkurang. Karena otak memiliki sifat plastisitas dimana bila terus
diberikan rangsangan, fungsinya akan tetap terjaga dan sebaliknya bila
rangsangan tersebut kurang atau tidak ada, proses plastisitas tidak terjadi
dan otak akan mengalami penurunan struktur dan fungsinya (Nugroho,
2014). Santoso dan Rohmah (2011) dalam penelitiannya menyimpulkan
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara gangguan gerak dan
fungsi kognitif, dimana pengaruhnya sebesar 68,5%.
Perubahan lainnya yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif adalah
penurunan pada sistem reproduksi. Menurut Nugroho (2014) dan Schiff
and Walsh (1995) dalam Santoso dan Rohmah (2011), hal ini terjadi pada
lansia perempuan yang mengalami menopause dimana terjadi penurunan
struktur dan fungsi organ reproduksi, ovari menciut, atrofi pada uterus,
dan penurunan produksi hormon estrogen, dimana hal ini berdampak
negatif bagi tubuh perempuan, antara lain peningkatan aterosklerosis,
kadar kolesterol total, trigliserida, dan lain sebagainya. Diketahui bahwa
penurunan estrogen erat kaitannya dengan penurunan fungsi kognitif.
Menurut Czlonkowska, Ciesielska, and Joniec (2003), estrogen memiliki
fungsi neuroprotektif yang perannya sebagai antioksidan yang mampu
mengubah produksi radikal bebas. Pada perkembangan otak, kontrol
diferensiasi dan plastisitas populasi saraf yang berbeda dipengaruhi oleh
estrogen. Estrogen juga berperan dalam meningkatkan pertumbuhan
14
hipotalamus, hipokampus, otak tengah, dan korteks yang dapat
mempengaruhi seuasana hati, status mental dan belajar serta ingatan.
Oleh karena itu. Lansia perempuan lebih rentan menderita penyakit
neurodegeneratif
yang
menyebabkan
penurunan
fungsi
kognitif.
Sedangkan pada pria tidak terjadi perubahan yang begitu nampak karena
tidak terjadi penurunan produksi hormon seks secara drastis selama
proses penuaan.
2.2 Kognitif
2.2.1 Pengertian Kognitif
Kognitif adalah kegiatan-kegiatan mental
memperoleh,
menyimpan,
mendapat
yang dibutuhkan dalam
kembali,
dan
menggunakan
pengetahuan suatu hal. Kognitif meliputi proses-proses mental, seperti
mempersepsikan, belajar, mengingat, menggunakan bahasa, dan berpikir.
Dalam kognisi, kita mempelajari sesuatu dan menempatkan sesuatu tersebut
dalam ingatan kita, mengkomunikasikannya lewat bahasa menggunakan
simbol-simbol
mental,
dan
secara
cerdas
memecahkan
masalah
menggunakan informasi yang telah dipelajari dan disimpan. Oleh karena itu
kemampuan fungsi mengingat pada seseorang akan mempengaruhi
kemampuan berpikir sehingga respon kognitif yang ditimbulkan akan
berbeda. Proses mengingat terjadi dengan menggabungkan antara informasi
yang diterima melalui panca indra dengan informasi yang telah disimpan
dalam ingatan jangka panjang. Kapasitas atau kemampuan kognisi
15
seseorang disebut sebagai kecerdasan atau intelegensi (Semium, 2010;
Kompasiana, 2014).
Proses kognitif adalah proses tentang bagaimana cara memperoleh
pengetahuan di dalam kehidupan yang melibatkan fungsi panca indra,
kesadaran, dan perasaan yang berupa pengalaman (Kushartanti, Yuwono,
dan Lauder, 2005). Kemampuan kognitif adalah kemampuan untuk
memikirkan sesuatu, berkhayal, bercita-cita, atau melihat jauh ke depan,
menetapkan tujuan-tujuan, dan membuat rencana kegiatan guna mencapai
hal tersebut (Waruwu, 2014).
2.2.2 Struktur dan Fungsi Otak
Otak manusia dbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu otak besar (serebrum),
batang otak (brain stem), dan otak kecil (serebelum). Lapisan yang
menyelimuti otak besar adalah korteks serebri yang juga sering disebut
sebagai ‘thinking cup’ karena di bagian inilah kemampuan intelektual
disimpan (Kushartanti, Yuwono, dan Lauder, 2005).
Korteks serebral dibagi menjadi dua bagian, yaitu hemisfer kiri dan
hemisfer kanan, dimana fungsi kedua hemisfer ini berbeda bahkan
bertentangan
dalam
proses
kognitif.
Hemisfer
kanan
mengontrol
pemrosesan informasi spasial dan visual seperti melihat, memperkirakan,
atau memahami ruang atau benda secara tiga dimensi. Dengan demikian,
kegiatan seperti menuruni tangga atau mengambil barang di depan kita
dapat dilakukan dengan baik.
Sedangkan, hemisfer kiri mengontrol
16
kegiatan berbahasa, berpikir secara sistematis, logika. Bila terjadi gangguan
pada bagian ini, maka yang terganggu adalah fungsi berbicara, bahasa, dan
matematika (Kushartanti, Yuwono, dan Lauder, 2005).
Daerah di otak dibagi menjadi beberapa bagian (lobus) yang memiliki
fungsi spesifik. Fungsi pancaindra seperti pusat penglihatan terletak di area
17 lobus oksipitalis, pusat pendengaran di area 41 lobus temporalis, pusat
sensorik di area 3,4,5 lobus parietalis (postsentral), pusat penghidu terletak
di daerah yang berdekatan dengan girus parahipotalamus lobus temporalis,
dan pusat motorik terletak di area 4,6,8 lobus frontalis (presentral). Masingmasing pusat pancaindra memiliki area asosiasi untuk memahami stimulus
sensorik yang masuk. Kemampuan otak (kognitif) akan meningkat secara
optimal apabila terdapat integrasi yang baik antara area sensoris dan asosiasi
(Syaifuddin, 2012; Ganong, 2012).
Lobus frontalis, parietalis, dan temporalis merupakan tiga daerah asosiasi
yang penting, serta bertanggung jawab atas kemampuan kognitif. Perhatian
atau konsentrasi berada di lobus frontalis terutama otak bagian sisi kanan,
pusat visuospasial (persepsi dan orientasi) di lobus parietalis (bagian atas
otak) terutama bagian otak sisi kanan, pusat daya ingat di lobus temporalis,
untuk daya ingat visual di belahan otak sisi kanan, pusat bahasa di lobus
frontalis dan temporalis terutama bagian otak sisi kiri. Lobus frontalis
merupakan lobus terbesar dan paling akhir berkembang, dan merupakan
pusat integrasi semua fungsi lobus yang ada. Integrasinya dengan lobus
17
disekitarnya memiliki peran yang penting, termasuk kemampuan memori
kerja (working memory) dan kemampuan seseorang dalam executive
function (pengorganisasian, perencanaan, dan pelaksanaan) (Kushartanti,
Yuwono, dan Lauder, 2005; Ganong, 2012)
2.2.3 Fungsi Kognitif
Fungsi kognitif adalah suatu kegiatan mental yang dimiliki manusia yang
diantaranya adalah perhatian, persepsi, proses berpikir, pengetahuan dan
memori. Fungsi kognitif yang merupakan salah satu fungsi otak, memiliki
area sebesar 75% di otak, terutama di bagian korteks otak (Saladin, 2007).
Berdasarkan alat ukur MoCA-Ina, data demografi yang harus ada adalah
usia, jenis kelamin, dan pendidikan. Ketiga data ini sangat penting karena
sangat berpengaruh terhadap fungsi kognitif individu (Nasreddine et al,
2005). Hal yang sama ditunjukkan pada penelitian yang dilakukan oleh
Mongisidi (2013), dimana individu yang masuk dalam kategori old age (7590 tahun) memiliki rata-rata persentasi kognitif tidak normal, sehingga
disimpulkan semakun tua usia seseorang, maka fungsi kognitif individu
cenderung menurun. Hasil berikutnya pada data jenis kelamin, ditemukan
bahwa laki-laki lebih banyak memiliki presentasi yang tidak normal, tetapi
menurut hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa
hasil skor penilaian fungsi kognitif perempuan rata-rata lebih rendah
dibandingkan laki-laki. Dilihat dari latar belakang pendidikan, ditemukan
bahwa individu yang mengenyam pendidikan lebih dari sembilan tahun
memiliki fungsi kognitif yang tergolong normal atau lebih baik
18
dibandingkan individu yang pendidikannya kurang dari sembilan tahun.
Sehingga data demografi usia, jenis kelamin, dan pendidikan lebih utama
dapat mempengaruhi fungsi kognitif individu.
Issealbacher, et al, (2006), menyebutkan ada lima komponen kognitif yang
mudah untuk dilihat, antara lain :
1. Kesadaran adalah keadaan sadar akan diri sendiri dan lingkungan yang
mempunyai beberapa sisi, dimana arti kesadaran merupakan gabungan
kognitif dan fungsi mental afektif dan hanya dapat dinilai dengan
penarikan kesimpulan melalui hasi suatu pemeriksaan khusus. Bangun
berhubungan erat dengan gambaran kewaspadaan, yaitu kesiapan
individu memberikan respons terhadap suatu stimulus yang diterimanya.
Perhatian meliputi kapasitas untuk memperhatikan secara selektif
terhadap stimulus yang relevan dan untuk memanipulasi ide yang
abstrak. Kesadaran juga meliputi konsep insight dan pengenalan diri.
2. Persepsi mengenai kesadaran, seleksi, dan identifikasi stimulus dari
lingkungan. Dalam keadaan normal, persepsi dipengarui oleh beberapa
faktor, baik fisiologik dan psikologik, misalnya penglihatan yang buruk
atau tuli dapat mengganggu persepsi orang tua terhadap suatu hal.
3. Ingatan dibedakan berdasarkan lamanya mengingat. Sistem ingatan
segera memegang informasi yang dengan kesadaran selama beberapa
detik dan dapat diperiksa dengan reproduksi barisan angka yang pada
umumnya mempunyai kapasistas terbatas untuk informasi sekitar tujuh
19
angka, yang hanya tertahan beberapa detik atau menit. Ingatan terakhir,
mengingat informasi yang ada dalam beberapa menit, jam, atau hari.
Sedangkan ingatan jauh adalah kemampuan mengingat kejadian atau
informasi beberapa bulan atau tahun sebelumnya. Mengingat informasi
setelah terlambat beberapa menit memerlukan proses konsolidasi atau
belajar yang diperantarai oleh sistem ingatan sekunder atau jangka
panjang dengan kapasitas dan ketahanan yang hampir tanpa batas.
4. Suasana hati dan kepribadian. Suasana hati menunjukkan keadaan emosi
yang paling sering, sedangkan afek adalah pengalaman emosional yang
dicetuskan oleh stimulus khusus. Suasana hati dapat memberikan
pengaruh secara nyata pada seluruh aspek kognitif, terutama pada
rangkaian suasana hati yang ekstrim. Hipomania mungkin disertai
dengan ilusi, pikiran yang melompat-lompat, dan keluaran motorik dan
verbal yang ekstrim. Kondisi sebaliknya ditunjukkan ketika depresi,
dimana terjadi perlambatan pikiran, bicara, dan aktivitas. Kecemasan
yang ektrim juga dapat mempengaruhi koherensi pikiran dan
pembicaraan.
5. Pemecahan masalah. Pikiran sulit untuk dapat dimengerti dan ditangkap,
tetapi dapat dinilai melalui proses penalaran, logik dan kemampuan
memecahkan masalah dengan menggunakan bahasa atau matematika.
20
Pemeriksaan yang teliti dari fungsi kognitif adalah komponen penting dari
pemeriksaan neurologik, yang mencakup antara lain (Issealbacher, et al,
2006) :
1.
Orientasi
Orientasi terhadap orang, tempat, dan waktu (termasuk tanggal, jam,
hari, bulan, dan tahun). Pada gangguan ingatan berat, biasanya
kesalahan dalam penyebutan tanggal.
2.
Kesadaran
Individu sadar yang normal masuk dalam pembicaraan atau beberapa
aktivitas lain yang berbeda, sedangkan individu dengan gangguan
kesadaran tetap tenang atau masuk dalam aktivitas yang berulang-ulang
dan kurang bertujuan.
3.
Abnormalitas persepsi
Sebaiknya dicari dengan pertanyaan spesifik mengenai persepsi
lingkungan, kejadian yang sedang terjadi atau yang dirasakan.
4.
Bahasa
Afasia mengakibatkan pembicaraan menjadi tidak lancar. Pemeriksan
yang dilakukan berguna untuk mengetahui adanya afasia nominal
dengan meminta individu untuk menyebutkan objek yang umum dan
tidak umum dan pemberian perintah yang kompleks untuk menilai
derajat ringan disfasia reseptif. Agraphia dicari dengan meminta
individu untuk
menulis namanya dan kalimat spontan. Membaca
21
sebaiknya dinilai dengan menggunakan teks standar atau artikel surat
kabar dan meminta penjelasan dari artinya.
5.
Fungsi visuospasial
Tes yang paling berguna untuk memeriksa fungsi visuospasial adalah
dengan menirukan gambar. Adanya apraksia konstuksional atau agnosia
visuospasial dapat menyebabkan kesulitan dalam menggambar garis
yang diperlukan untuk orientasi ruang atau posisi yang tepat.
6.
Ingatan
Ingatan segera dan perhatian diperiksa dengan meminta individu
mengulang deret angka yang ditunjukkan dalam interval setengah detik.
Ingatan terakhir dapat dinilai dengan meminta individu mempelajari
tiga nama objek umum, mengingat kembali dites setelah dua sampai
lima menit. ingatan jauh-jangka panjang dapat dites dengan
menanyakan hal yang berkaitan dengan pengetahuan umum seperti
tanggal yang penting tentang kejadian masa lalu, nama-nama orang
politikus yang penting, dan sebagainya.
7.
Suasana hati dan kepribadian
Penilaian terhadap kepribadian, suasana hati, afek, dan insight
sebaiknya dilakukan selama anamnesis dan pemeriksaan. Penampilan
individu, isi pembicaraan, dan kecepatan gerakan memberikan petunjuk
tentang suasana hari. Afek diisyaratkan oleh bahasa, ekspresi wajah,
gerakan isyarat, dan sikap tubuh.
22
8.
Pikiran dan pemecahan masalah
Inkoherensi penalaran dan pikiran logis dapat dideteksi selama
anamnesis melalui tes keterampian bahasa dna matematika. Gangguan
pikiran yang lebih rumit kadang dapat nampak dengan meminta
individu untuk menjelaskan arti peribahasa.
2.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fungsi Kognitif
1. Status kesehatan
Faktor status kesehatan yang paling penting adalah adanya hipertensi.
Peningkatan tekanan darah kronis telah terbukti meningkatkan efek
penuaan struktur otak, termasuk reduksi pada substasi kelabu dan putih
di lobus prefrontal, atrofi hipokampus (Raz and Rodrigue, 2006).
Angina pektoris, infark miokardium, penyakit jantung koroner, dan
penyakit vaskular lainnya berhubungan dengan fungsi kognitif yang
buruk (Britton and Marmot, 2003 dalam Myers, 2008).
2. Usia
Usia yang semakin tua menyebabkan perubahan pada struktur otak,
diantaranya otak menjadi atrofi dan beratnya menurun 10-20%,
perubahan biokimiawi pada susunan saraf pusat, sehingga terjadi
gangguan pada hubungan sinapsis dan daya hantar impuls antar sel saraf
(Nugroho, 2014). Mongisidi (2013) mengemukakan bahwa individu
dengan kategori usia old age (lebih dari 60 tahun) rata-rata memiliki
presentasi fungsi kognitif tidak normal.
23
3. Jenis Kelamin
Perempuan tampaknya lebih berisiko megnalami penurunan kognitif
dibandingkan laki-laki ketika memasuki usia lanjut. hal tersebut
disebabkan karena perbedaan anatomis maupun fisiologis, dimana
secara fisik laki-laki memiilki struktur tubuh yang lebih besardaripada
perempuan (Kartinah, Komariyah, & Giriwijoyo, 2006). Secara
fisiologis, volume darah yang dimiliki laki-laki kurang lebih satu liter
lebih banyak daripada perempuan, dan laki-laki memiliki volume paruparu 10% lebih besar dibandingkan perempuan (Nopembri, 2010).
Perbedaan fisiologis lainnya adalah adanya penurunan level seks
endogen dalam perubahan fungsi kognitif pada perempuan menopause.
Reseptor estrogen telah ditemukan berperan dalam fungsi belajar dan
memori, seperti hipokampus. Pada perkembangan otak, estrogen
mengontrol diferensiasi dan plastisitas populasi saraf yang berbeda.
Estrogen juga diketahui memiliki fungsi neuroprotektif dan membatasi
kerusakan akibat stress oksidatif (Yaffe, et al, 2001 dalam Myers, 2008;
Czlonkowska, Ciesielska, and Joniec (2003). Pada pemeriksaan fungsi
kognitif, sebagian besar (65%) lansia perempuan mengalami penurunan
fungsi kognitif (Fadhia, Ulfiana, & Ismono, 20012).
4. Status pendidikan
Fungsi kognitif pada kelompok dengan status pendidikan rendah
cenderung memiliki fungsi kognitif lebih buruk dibandingkan kelompok
dengan status pendidikan yang tinggi. Mongisidi (2013) mengemukakan
24
bahwa latar belakang pendidikan secara signifikan berpengaruh terhadap
fungsi kognitif, dimana sampel yang memiliki latar belakang pendidikan
lebih dari sembilan tahun atau lebih dari pendidikan dasar (SMA,
diploma ataupun sarjana) memiliki hasil fungsi kognitif tergolong
normal. Hal tersebut dipertegas oleh penelitian yang dilakukan oleh Ardi
(2011), bahwa ada pengaruh yang bermakna antara tinggi rendahnya
jenjang pendidikan dengan ketidakmampuan kognitif, dimana setelah
dilakukan analisis Post Hoc terhadap perbedaan fungsi kognitif antar
jenjang pendidikan dasar, menengah, atas, dan tinggi, didapatkan hasil
kemampuan kognitif sampel yang memiliki jenjang pendidikan SD
berbeda dengan sampel yang memiliki jenjang pendidikan SMP (p =
0,012), SD dengan SMA (p = 0,005), dan SD dengan PT (p = 0,0005).
Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi kognitif yang diidentifikasi pada
penelitian adalah usia, jenis kelamin dan status pendidikan, yang
disesuaikan dengan lembar kuesioner MoCA-Ina.
2.2.5 Gangguan Fungsi Kognitif
Gangguan fungsi kognitif dibagi menjadi beberapa kategori. Menurut
Kurlowiez (1999) dalam Rohana (2011), kategori gangguan fungsi kognitif
dibedakan berdasarkan tingkat keparahan, yaitu: tidak ada gangguan fungsi
kognitif, gangguan kognitif ringan, dan gangguan kognitif berat. Menurut
Global Deterioration Scale, gangguan fungsi kognitif dibagi menjadi tujuh,
antara lain : tidak ada penurunan kognitif, penurunan kognitif amat ringan,
25
penurunan kognitif ringan, penurunan kognitif sedang, penurunan kognitif
sedang sampai berat, penurunan kognitif berat, dan penurunan kognitif
sangat berat. Kategori penilaian fungsi kognitif menggunakan Montreal
Cognitive Assessment Versi Indonesia (MoCA-Ina) yang memiliki rentang
nilai 0-30, menjadi dua, yaitu fungsi kognitif normal (total nilai ≥26) dan
fungsi kognitif tidak normal (total nilai <26). MoCA memiliki tingkat
sensitivitas sebesar 90% untuk mendeteksi adanya gangguan kognitif
sedang dan memiliki sensitivitas sebesar 100% untuk mendeteksi adanya
attention disorder (AD) (Nasreddine, et al, 2005).
2.2.6 Masalah Akibat Gangguan Fungsi Kognitif
Penurunan fungsi kognitif pada lansia merupakan salah satu penyebab
meningkatnya ketergantungan lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Gangguan fungsi kognitif merupakan respon maladaptif yang ditandai oleh
terganggunya daya ingat, disorientasi, inkoheren, dan sukar berpikir logis.
Gangguan kognitif erat kaitannya dengan gangguan atau kerusakan pada
daerah korteks. Masalah akibat gangguan kognitif antara lain: penurunan
kemampuan konsentrasi (misalnya pertanyaan harus diulang); proses pikir
yang tidak tertata (misalnya tidak relevan atau inkoheren); menurunnya
tingkat kesadaran; gangguan persepsi (ilusi, halusinasi); gangguan tidur,
tidur berjalan dan insomnia atau ngantuk pada siang hari; meningkat atau
menurunnya aktivitas psikomotor; disorienasi tempat, waktu, orang;
gangguan daya ingat, tidak dapat mengingat hal baru misalnya nama
beberapa benda setelah beberapa menit (Kushartanti, Yuwono, dan
26
Lauder, 2005; Issealbacher, et al, 2006; Ganong, 2012).
2.2.7 Pengukuran Fungsi Kognitif
Ada beberapa alat ukur yang dapat digunakan untuk menilai fungsi kognitif,
antara lain Mini Mental State Examination (MMSE) dan Montreal Cognitive
Assessment Versi Indonesia (MoCA-Ina). Pada penelitian ini, alat ukur yang
digunakan adalah MoCA-Ina yang bertujuan mengukur berbagai fungsi
kognitif, seperti: ruang dan bentuk, daya ingat, atensi, kemampuan
berbahasa, abstraksi, dan sebagainya. Tes MoCA versi Indonesia telah
divalidasi oleh Husein, Lumempouw, Ramli, dan Herqutanto (Departemen
Neurologi, Universitas Indonesia) dan menunjukkan skor validitas yang
tinggi yaitu >80 (EL Rhino Global Reseacrh and Development, 2012). Hal
yang sama ditemukan oleh Panentu (2013), yang mengatakan MoCA-Ina
valid dan reliabel untuk pemeriksaan kognitif pada pasien pasca stroke fase
pemulihan. MoCA adalah alat skrining baru yang dirancang untuk
mengatasi keterbatasan MMSE yang kurang sensitif mendeteksi Mild
Cognitive Impairment (MCI). Menurut laporan Nasreddine, et al, (2005),
dengan batas skor 26, MMSE memiliki tingkat sensitivitas sebesar 18%
untuk mendeteksi MCI, sedangkan MoCA sebesar 90% dari subyek MCI.
Pada grup attention disorder (AD), MMSE memiliki tingkat sensitivitas
sebesar 78%, sedangkan MoCA mendeteksi sebesar 100%.
27
2.2.8 Penatalaksanaan Gangguan Fungsi Kognitif
Penuaan dan penyakit degeneratif pada dasarnya tidak dapat dihentikan
karena merupakan proses alamiah dari siklus kehidupan manusia. Namun
berbagai studi berbasis ilmiah telah menunjukkan berbagai fakta bahwa ada
banyak cara yang dapat dilakukan untuk memperlambat proses penuaan
yang terjadi pada otak. Fakta-fakta tersebut dijadikan landasan untuk
membuat program kegiatan lansia di komunitas, sehingga kegiatan lansia
yang dilakukan rutin tersebut dapat bermanfaat untuk menstimulasi otak dan
memperlambat kemunduran fungsi otak (Kemenkes, 2013).
Kegiatan yang dapat memberikan stimulasi otak dibagi menjadi tiga
kegiatan utama, seperti aktivitas fisik, stimulasi mental, dan aktivitas sosial.
1. Aktivitas fisik
Melakukan aktivitas fisik dapat memberikan stimulasi pada otak, dan
dengan melakukan olahraga secara teratur dapat meningkatkan protein di
otak yang disebut Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Protein
BDNF ini berperan penting menjaga sel saraf tetap bugar dan sehat,
sehingga bila kadar BDNF rendah dapat menyebabkan penyakit
kepikunan. Fakta inilah yang yang menjelaskan bahwa lansia yang
melakukan banyak aktivitas fisik yang menyenangkan memiliki fungsi
kognitif yang lebih baik dibandingkan lansia yang cenderung diam dan
kurang aktivitas (Kemenkes, 2013)
28
Santoso dan Rohmah (2011) melaporkan bahwa gangguan gerak secara
bermakna mempengaruhi fungsi kognitif seseorang. Salah satu kegiatan
yang dapat memberikan stimulasi otak adalah dengan melakukan brain
gym atau senam otak. Brain gym adalah suatu latihan gerak yang
digunakan untuk memudahkan dan membantu kegiatan belajar, serta
penyesuaian dengan tuntutan sehari-hari.
2. Stimulasi mental
Memberikan stimulasi mental secara terus-menerus dengan berbagai
aktivitas otak dapat memperbaiki dan menjaga hubungan antar sel-sel
otak, sehingga terdapat cadangan fungsi kognitif untuk lansia. Aktivitas
yang dapat menstimulasi mental seperti permainan puzzle, membuat
kerajinan tangan, mengisi teka teki silang, diskusi, dan bernyanyi
(Kemenkes, 2013).
3. Aktivitas sosial
Lansia yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan interaksi
dengan orang lain, diketahui memiliki fungsi kognitif yang lebih baik
dibandingkan lansia yang tidak aktif dalam aktivitas sosial. Hal ini sesuai
dengan teori aktivitas, dimana melalui berbagai aktivitas dalam kegiatan
sosial dapat membantu menstimulasi fungsi kognitif. Dengan melakukan
aktivitas sosial maka akan timbul adanya keterikatan sosial. Keterikatan
sosial (meliputi pemeliharaan dan pembinaan berbagai hubungan sosial,
29
serta partisipasi aktif dalam kegiatan sosial) dapat mencegah penurunan
fungsi kognitif pada lansia (Kemenkes, 2013).
Seseorang yang mulai tua akan berefek pada menurunya aktivitas.
Penurunan aktivitas akan mengakibatkan kelemahan serta atropi pada otot
sehingga dapat menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan serta
menyelesaikan suatu masalah. Santoso dan Rohmah (2011) melaporkan
tidak ada hubungan antara usia dan fungsi kognitif yang signifikan, tetapi
terdapat hubungan yang signifikan antara umur dan gangguan gerak, dimana
gangguan gerak secara bermakna mempengaruhi fungsi kognitif seseorang.
Jadi jelas bahwa, untuk mempertahankan fungsi kognitif tetap optimal dan
mengatasi gangguan fungsi kognitif dapat dilakukan melakukan latihan
gerak. Ada berberapa latihan gerak yang diteliti pengaruhnya terhadap
fungsi kognitif, seperti senam vitalisasi otak, senam lansia, dan brain gym
atau senam otak. Brain gym adalah senam otak yang digunakan untuk
memudahkan dan membantu kegiatan belajar dan penyesuaian dengan
tuntutan sehari-hari (Muhammad, 2013).
2.3
Brain Gym
2.3.1 Pengertian Brain Gym
Senam otak atau Brain Gym adalah latihan gerak yang digunakan untuk
memudahkan dan membantu kegiatan belajar dan penyesuaian dengan
tuntutan sehari-hari (Muhammad, 2013). Brain gym adalah latihan gerak
yang terdiri dari gerakan-gerakan yang sederhana dan menyenangkan yang
30
digunakan oleh siswa di Pendidikan Kinesiology (Edu-K) untuk
meningkatkan kemampuan belajar dengan menggunakan seluruh fungsi otak
melalui pembaruan pola gerakan tertentu yang membuka bagian-bagian otak
yang sebelumnya tertutup atau terhambat. Hasil kegiatan tersebut membuat
proses belajar menjadi lebih mudah tetapi lebih efektif untuk meningkatkan
kemampuan akademik (Dennison, 2004).
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa brain gym
atau senam otak adalah serangkaian gerakan latihan sederhana dan
menyenangkan yang dapat memudahkan dan membantu kegiatan belajar
dengan menggunakan seluruh fungsi otak melalui pembaruan pola gerakan
tertentu yang membuka bagian-bagian otak yang sebelumnya tertutup atau
terhambat.
Penelitian yang dilakukan Verany, dkk, (2013) terkait brain gym pada
lansia, diketahui bahwa senam otak atau brain gym dapat meningkatkan
daya ingat. Hasil serupa juga didapatkan oleh Festi (2010), Nugroho (2009)
dan Lisnaini (2012), dimana dengan melakukan latihan gerak yang dapat
memberikan stimulus pada otak dapat meningkatkan fungsi kognitif seperti
rentang perhatian, daya ingat, orientasi, dan fungsi kognitif lainnya pada
lansia.
2.3.2 Mekanisme Brain Gym
Mekanisme kerja senam otak berdasarkan tiga dimensi otak, yaitu dimensi
lateralis, dimensi pemfokusan, dan dimensi pemusatan. Masing-masing
31
dimensi memiliki tugas yang berbeda, sehingga gerakannya bervariasi untuk
tiap dimensi (Dennison, 2008; Muhammad, 2013).
1.
Dimensi Lateralis
Dimensi lateralis tubuh manusia dibagi dalam sisi kiri dan kanan. Sifat
lateralis memungkinkan dominansi salah satu sisi otak, misalnya
menulis dengan tangan kanan atau kiri. Integrasi kedua sisi tubuh dapat
dilatih sehingga dapat menyeberang garis tengah tubuh untuk bekerja di
bidang tengah. Apabila kemampuan ini dapat dikuasai, kemampuan
belajar akan maksimal, seseorang akan mampu memproses kode linier,
simbol tertulis dengan dua belahan otak dari kedua jurusan.
Latihan untuk menyeberang garis tengah menyangkut sikap positif,
seperti mendengar, melihat, dan bergerak. Otak bagian kiri aktif apabila
tubuh sisi kanan digerakkan, dan sebaliknya. Bila kerjasama otak kanan
dan kiri kurang baik, maka seseorang akan mengalami kesulitan untuk
membedakan antara kanan dan kiri, pergerakan kaku, tulisan tangan
yang jelek, atau cenderung menulis huruf terbalik, sulit membaca dan
menulis, kesulitan mengikuti pergerakan sesuatu dengan mata, serta
sulit menggerakkan mata tanpa mengikutinya dengan kepala, tangan
miring ke dalam ketika menulis, cenderung melihat ke bawah sambil
berpikir, keliru dengan huruf (misalnya d dan b, p dan q), maupun
menyebut kata sambil menulis. Beberapa gerakan dalam senam otak
yang merangsang dimensi lateralis adalah 8 tidur dan gajah.
32
2.
Dimensi Pemfokusan
Dimensi pemfokusan adalah kemampuan menyeberangi garis tengah
partisipasi yang memisahkan bagian belakang dan depan tubuh atau
bagian belakang (occipital) dan depan otak (frontal lobe). Garis tengah
partisipasi adalah garis bayangan vertikal di tengah tubuh (dilihat dari
samping) yang tergantung pada partisipasi batin pada suatu kegiatan
apakah seseorang berada di depan atau belakang garis tersebut.
Adanya gangguan pada dimensi ini menyebabkan seseorang kesulitan
mengekspresikan diri, kurang fokus. Hubungannya dengan otak,
informasi akan diterima oleh otak bagian belakang yang merekam
semua pengalaman, lalu informasi diproses dan diteruskan ke otak
bagian depan untuk mengekspresikan sesuai keinginan atau tuntutan.
Bila seseorang gugup, takut, tidak percaya diri, stress saat belajar, maka
secara refleks energi ditarik ke otak bagian belakang sehingga otak
bagian depan kekurangan energi. Akibatnya, jawaban yang tadinya
sudah siap, tiba-tiba lupa atau tidak dapat dijawab sempurna.
Ada beberapa ciri khas bila otak bagian depan dan belakang kurang
bekerja sama, antara lain otot tengkuk dan bahu yang tegang, kurang
semangat untuk belajar, serta memiliki reaksi yang lambat. Hambatan
pada otak bagian depan dapat berupa sikap pasif, melamun, bingung
bila stress, hipoaktif, perhatian yang kurang, namum perasaan dan
suasana (merekam dengan jelas). Sedangkan hambatan pada otak
33
bagian belakang berupa sikap hiperaktif, memiliki rentang konsentrasi
dan analisis yang terlalu pendek, terinci, dan kurang fleksibel.
Terkadang menjadi agresif, kurang rileks untuk memikirkan sesuatu
yang lebih luas. Gerakan senam otak pada dimensi ini adalah burung
hantu.
3.
Dimensi Pemusatan
Dimensi pemusatan adalah kemampuan untuk menyebrangi garis pisah
antara bagian atas dan bawah tubuh, yaitu bagian tengah sistem limbik
(midbrain) yang berhubungan dengan emosional
dan otak besar
(cerebrum) untuk berpikir yang abstrak. Mempelajari sesuatu,
seseorang harus benar-benar dapat menghubungkannya dengan
perasaan dan memberikan suatu arti. Gangguan pada dimensi
pemusatan ditandai dengan adanya ketakutan yang tak beralasan,
cenderung bereaksi berjuang atau melarikan diri dan ketidakmampuan
untuk merasakan maupun menyatakan emosi. Dalam kondisi stres,
tegangan listrik di otak besar akan berkurang sehingga fungsinya
terganggu.
Tubuh manusia adalah satu sistem listrik yang sangat kompleks.
Dengan gerakan untuk meningkatkan energi dan minum air, aliran
energi
elektromagnetik
antarbagian otak optimal.
manjadi
lancar
sehingga
komunikasi
34
Ciri khas bila bagian otak atas terhambat, antara lain bicara dan
tindakan pelan, kurang fleksibel, kurang konsentrasi, penakut, kurang
percaya diri, ragu-ragu, memiliki hambatan dalam hubungan sosial.
Bila bagian bawah yang terhambat, maka akan menyebabkan tidak
mampu mempertahankan keseimbangan, penilaian yang negatif, bicara
dan tindakan yang terlalu cepat. Beberapa gerakan senam otak untuk
dimensi pemusatan, antara lain tombol bumi, tombol keseimbangan,
tombol angkasa, pasang telinga, titik positif, dan lain sebagainya.
2.3.3 Prosedur Latihan Brain Gym
Elizabeth dan Kim (2013), mengatakan bahwa untuk lanjut usia, durasi
aerobik yang dapat dilakukan adalah 3-5 kali seminggu selama 10-30 menit.
Menurut Festi (2010), brain gym baik dilakukan setiap hari untuk
mendapatkan hasil yang optimal. Senam atau latihan gerak baik dilakukan
pada pagi hari karena olahraga di pagi hari akan membantu menjaga ritme
istirahat di malam hari, membuat pikiran lebih tajam, meningkatkan kualitas
tidur, meningkatkan mood, membakar kalori dan meningkatkan nafsu
makan (Huteri, 2013). Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan Verany,
dkk, (2012), brain gym dilakukan dengan frekuensi empat kali seminggu
selama dua minggu dan ternyata memberikan hasil yang signifikan terhadap
peningkatan fungsi kognitif. Pada penelitian ini, brain gym akan dilakukan
dengan durasi latihan 30 menit, frekuensi empat kali seminggu selama dua
minggu.
35
Perhatian khusus yang perlu diperhatikan bagi lansia yang ingin melakukan
senam (Elizabeth dan Kim, 2013) :
1.
Jika lansia menderita hipertensi dan tidak terkontrol, maka sebaiknya
untuk konsultasi dengan dokter di pelayanan kesehatan untuk
mendapatkan terapi. Batas tekanan darah yang direkomendasikan untuk
dapat melakukan latihan fisik
adalah ≤220 mmHg sistolik, ≤105
mmHg diatolik. Oleh karena itu, akan dilakukan pemeriksaan tekanan
darah baik sebelum maupun sesudah dilakukan Brain Gym.
2.
Lansia yang mendapat terapi Beta Blokers dan diuretik, fungsi
termoregulasi dapat terganggu dan menyebabkan hipoglikemi. Dalam
kondisi ini, informasikan kepada lansia tentang tanda dan gejala
intoleransi jantung dan hipoglikemi. Jika ada tanda gejala tersebut,
anjurkan lansia untuk tidak melakukan latihan fisik.
3.
Bila terdapat perubahan napas pendek, pusing, tidak nyaman pada dada,
palpitasi (dada berdebar) ketika melakukan lathan fisik (senam) agar
segera menghentikan aktivitas dan segera mencari pelayanan kesehatan.
Lansia juga dapat berisitrahat sejenak di kursi yang telah disiapkan di
pinggir lapangan.
Berikut adalah urutan gerakan pemanasan sebelum melakukan brain gym
(Muhammad, 2013):
1.
Minum air putih secukupnya 10 menit sebelum latihan dimulai.
2.
Lakukan pernapasan perut sebanyak 4-8 kali. Pernapasan perut
dilakukan dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas perut dan
36
bernapas seperti biasa, yaitu perut yang mengambang dan mengempis
tanpa menggunakan pergerakan otot dada.
3.
Melihat ke kanan dan ke kiri selama 4-8 kali dengan melakukan
pernapasan perut.
4.
Santai selama 4-8 kali pernapasan perut.
5.
Rentangkan kedua tangan seluas dan senyaman mungkin. Bayangkan
otak tangan kanan adalah otak kanan dan tangan kiri adalah otak kiri,
kemudian satukan kedua tangan sambil membayangkan bahwa otak
kanan dan kiri menjadi satu. Gerakan ini dilakukan 4-8 kali.
6.
Sentuh titik-titik di bagian kepala bagian kiri dan kanan (selain wajah
dan leher) selama 4-8 kali pernapasan perut.
Pedoman gerakan brain gym menurut Muhammad (2013), ada 24 gerakan
dan pada penelitian ini digunakan enam gerakan, antara lain:
1.
Gerakan Delapan Tidur
Menggambar angka delapan dalam posisi tidur dengan titik tengah yang
jelas, memisahkan wilayah lingkaran kanan dan kiri, serta dihubungkan
dengan garis. Gambar delapan tidur dapat dilakukan di udara atau di
atas permukaan seperti pasir, kertas atau papan tulis. Gerakan dilakukan
sebanyak 8 hitungan kali untuk setiap tangan secara bergantian,
sehingga totalnya menjadi 2x8 hitungan. Manfaat gerakan ini adalah
untuk mengaktifkan kedua belahan otak pada saat yang sama,
meningkatkan daya ingat otak.
37
Gambar 2.1 Gerakan 8 Tidur
2.
Gerakan Putaran Leher
Gerakan ini dilakukan dengan memutar leher dari posisi depan sampai
setengah lingkaran ke kiri dan kanan saja, tidak dianjurkan memutar
kepala sampai ke belakang. Kemudian menundukkan kepala dan
ayunkan seperti bandul ke kanan dan ke kiri dengan posisi tubuh tetap
tegak, lakukan gerakan sebanyak 2x8 hitungan.
Maafaat dari gerakan ini adalah relaksasi sistem saraf pusat, pemusatan
perhatian seperti menatap orang untuk berkomunikasi lebih fokus,
mengerjakan sesuatu lebih baik, dan mengurangi efek pegal-pegal
38
sehabis belajar. Gerakan ini dapat dilakukan sebelum membaca atau
menulis karena dapat memacu kemampuan penglihatan dengan kedua
mata (binocular) dan pendengaran dengan kedua telinga (binaural)
secara bersamaan.
Gambar 2.2. Putaran Kepala
3.
Gerakan Burung Hantu
Gerakan burung hantu bertujuan untuk melatih dan meningkatkan
keterampilan penglihatan, pendengaran, dan putaran kepala. Manfaat
melakukan gerakan burung hantu adalah dapat merileksasi daerah
tengkuk dan bahu, meningkatkan koordinasi mata terutama saat
membaca,
maupun
kemampuan
melihat
dekat
lainnya,
serta
39
meningkatkan peredaran darah ke otak, kemampuan fokus, perhatian,
dan ingatan.
Cara melakukan gerakan ini, yaitu berdirilah dengan kedua kaki
direntangkan selebar bahu. Letakkan telapak tangan kiri pada bahu
kanan, sementara tangan kanan dibiarkan bebas. Sambil menengok atau
menggerakan kepala secara perlahan ke kiri dan kanan dengan tinggi
posisi dagu tetap, telapak tangan kiri meremas-remas atau memijat bahu
dan melakukan pernapasan perut. Kemudian gerakan diulangi pada
bahu lainnya. lakukan gerakan yang sama sebanyak 2x8 hitungan.
Gambar 2.3. Gerakan Burung Hantu
40
4.
Gerakan Mengaktifkan Tangan
Gambar 2.4. Gerakan Mengaktifkan Tangan
Jenis gerakan ini adalah gerakan isometrik yang bertujuan untuk
memperpanjang otot-otot dada atas dan bahu. Gerakan isometrik
membantu kemapuan menulis, koordinasi mata dan tangan, membantu
penguasaan penggunaan peralatan, seperti komputer, meningkatkan
durasi perhatian pada tulis-menulis, energi pada tangan dan jari, serta
memperlancar pernapasan.
41
Cara melakukan gerakan ini, yaitu luruskan tangan kiri ke atas, lalu
tangan kanan memegang siku tangan kiri. Kemudian buang napas, lalu
dorong tangan ke depan, ke belakang, baik ke dalam maupun ke luar.
Sementara itu, tangan lainnya menahan dorongan tersebut. Lakukan
berulang-ulang sampai 2x8 hitungan, kemudian ganti dengan tangan
lainnya secara bergantian.
5.
Gerakan Sakelar Otak
ini dilakukan dengan memijiat jaringan lunak di bawah tulang selangka
di kiri dan kanan tulang dada dengan satu tangan, sementara tangan
yang lainnya memegang atau memijat sebelah kanan dan kiri pusar.
Pijatan pada daerah bawah tulang selangka berfungsi memperlancar
aliran
darah
darah,
sedangkan
tangan
di
pusar
berfungsi
menyeimbangkan impuls-impuls yang berhubungan dengan telinga
bagian dalam dan berpengaruh pada kemampuan belajar. Lebih lanjut,
pengiriman pesan dari otak kiri ke kanan, atau sebaliknya lebih optimal,
dan meningkatkan penerimaan oksigen Penggunaan tangan dapat
diganti untuk mengaktifkan kedua bagian otak. Lakukan gerakan
sebanyak 2x8 hitungan.
42
Gambar 2.5. Gerakan Sakelar Otak
Manfaat gerakan sakelar otak adalah mengkoordinasi kedua belahan
otak, meningkatkan kelancaran aliran darah ke otak dan keseimbangan
badan, serta kerja sama antarkedua mata sehingga dapat mengurangi
mata juling, mengoptimalkan keterampilan motorik halus, memperbaiki
sikap tubuh, meningkatkan energi, mengurangi stress visual dan
relaksasi tengkuk, serta bahu.
6.
Gerakan Tombol Bumi
Ujung satu jari tangan menyentuh bawah bibir, sedangkan ujung jari
lainnya menyentuh pinggir atas tulang kemaluan (±15 cm dibawah
43
pusar). Bila sudah mendapatkan titik yang dimaksud, kemudian
sentuhlah titik tersebut di atas selama 2x8 hitungan. Bernapaslah
dengan perlahan dan dalam untuk merasakan rileksasinya. Ganti tangan
untuk mengaktifkan kedua belahan otak.
Gerakan tombol bumi dapat meningkatkan koordinasi dan konsentrasi
(melihat secara vertikal dan horizontal sekaligus tanpa keliru, seperti
saat membaca kolom dalam tabel). Dapat juga untuk mengurangi stres,
mengoptimalkan jenis pekerjaan, seperti organisasi, perancangan seni,
serta pembukuan yang berhubungan yang dimensi vertikal dan
horizontal.
Gambar 2.6. Gerakan Tombol Bumi
44
2.3.4 Hubungan Brain Gym dan Fungsi Kognitif
Fungsi kognitif dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah usia.
Usia yang bertambah memberikan pengaruh pada berbagai perubahan pada
dirinya, baik yang bersifat fisik maupun secara mental. Berdasarkan usia,
seseorang yang berusia diatas 60 tahun dikatakan lanjut usiat atau sering
disebut lansia (Nugroho, 2014). Menuut penelitian yang dilakukan
Mongisidi (2013), individu dengan kategori usia tua atau old age (>60
tahun) rata-rata memiliki presentasi fungsi kognitif tidak normal. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan secara tidak langsung bahwa, dengan
bertambahnya usia, dapat terjadi penurunan fungsi kognitif.
Bertambahnya usia pada lansia, menyebabkan kondisi fisik menurun, antara
lain massa tulang yang berkurang akibat adanya atrofi serabut otot, sehingga
gerakannya menjadi lamban dan lemah, elastisitas pergerakan sendi
menurun bahkan dapat terjadi gangguan sendi, kekakuan jaringan
penghubung, tendon mengerut dan mengalami sklerosis., serta di tambah
dengan menurunya curah jantung, kehilangan elastisitas pembuluh darah
menyebabkan suplai darah ke otot dan organ lainnya terganggu (Nugroho,
2014).
Kondisi tersebut menyebabkan lansia mudah lelah dan secara umum
menjadi lebih pasif. Hal tersebut juga menambah risiko untuk tejadinya
gangguan gerak yang lebih buruk. Kurang gerak menyebabkan badan
menjadi tidak bugar, pompa otot terhadap aliran darah balik menjadi tidak
45
efektif, dan akhirnya suplai darah ke seluruh tubuh tidak baik. Suplai darah
yang tidak baik dapat mengganggu kerja fungsi organ dan salah satu adalah
otak yang merupakan organ yang sensitif terhadap adanya gangguan suplai
darah (Stanley dan Beare, 2012; Nugroho, 2014). hal tersebut sesuai denga
hasil penelitian yang dilakukan Santoso dan Rohmah (2011), dimana
dikatakan bahwa gangguan gerak memberikan pengaruh sebesar 68,5%
terhadap terjadinya gangguan fungsi kognitif pada lansia.
Faktor internal yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif adalah
perubahan struktur pada otak itu sendiri. Perubahan ukuran otak akibat
atrofi girus dan dilatasi sulkus dan ventrikel otak. Korteks serebral adalah
daerah otak yang paling besar dipengaruhi oleh kehilangan neuron. Korteks
serebral merupakan bagian otak yang sering disebut sebagai kubah
intelegensia dan merupakan pusat fungsi kognitif pada otak.
Bila hal
tersebut terjadi, maka dapat terjadi gangguan atau penurunan fungsi
kognitif. Tidak ada bedanya dengan otot, dimana otot dapat dilatih untuk
meningkatkan ketahanan, kekuatan, dan meningkatkan massa otot. Otak
juga dapat diolahragakan untuk mempertahankan fungsinya melalui latihan
yang memberikan stimulus pada otak karena otak memiliki sifat plastisitas,
yaitu kemampuan struktur dan fungsi otak untuk melakukan reorganisasi
dalam bentuk adanya interkoneksi baru pada saraf dengan adanya stimulasi
(Sanley and Beare, 2012; Muhammad, 2013).
46
Salah satu kegiatan yang dapat memberikan stimulasi otak menurut
Kemenkes (2013) adalah melalui aktivitas fisik, dimana dengan melakukan
olahraga teratur dapat meningkatkan protein-protein penting yang ada di
dalam otak yang berperan untuk menjaga sel saraf tetap bugar dan sehat
(Kemenkes, 2013). Latihan gerak yang dapat memberikan stimulus yang
baik pada otak salah satunya adalah brain gym.
Brain gym merupakan latihan gerak yang terdiri atas gerakan-gerakan
sederhana, dimana masing-masing gerakan dari brain gym dapat
memberikan stimulus pada tiga dimensi Dengan melatih gerakan-gerakan
yang dapat memberikan stimulus pada otak diharapkan proses plastisitas
dapat terus dipertahankan sehingga fungsi kerja otak tetap baik. Selain
adanya proses plastisitas yang dimiliki otak, manfaat melakukan latihan
gerak adalah dapat memperlancar aliran darah terutama aliran darah yang
menyuplai otak. Bila perfusi otak baik, tentu otak akan dapat bekerja dengan
baik. (Stanley and Beare, 2012; Muhammad, 2013).
Download