Pengujian Pengaruh Bakteri Rizosfer dan

advertisement
Studi Pengendalian Penyakit Layu Bakteri Ralstonia solanacearum
Pada Tanaman Pisang dengan Memanfaatkan Bakteri Antagonis
Perakaran Graminae.
Zurai Resti**)
Ujang Khairul
Abstract
Bacterial wilt disease caused of Ralstonia solanacearum represent
one of the important disease which often attack banana. This
dangerous disease enough, because at heavy attack storey; level
can cause death of failure and crop harvest so that generating many
degradation or loss result of which big relative.
herefore have been done by research with aim to for the screnning
of ability of antagonist bacteria from graminae rhizosfer from
various sentra produce banana in West Sumatra. This research is
done by 2 phase that is I phase : done by laboratory with testing
ability of antagonist bacteria from graminae rhizosfer to growth
inhibiting of R. solanacearum. Variable perception in research of
this I phase is : ( A) Identify to cover ( 1) macroscopic
characteristic, ( 2) microscopic characteristic and ( 3) physiological
Test which cover : ( a) Test gram, (b ) levan Produce, ( c)
Pectinase test, ( d) Pigment fluorescence, ( e) Discharge gelatine, (
f) Reaction of hipersensitif and ( g) Patogenicity test.
Result of research indicate that isolat of Bacillus subtilis,
Streptomyces sp dan Pseudomonas flourescens
have high
population in rhizosfer graminae and decrease the growing of R.
solanacearum.
PENDAHULUAN
Tanaman pisang dapat tumbuh dan berkembang diberbagai kondisi
agroekologi baik di daerah rendah yang basah di Sumatera dan Kalimantan
maupun di dataran tinggi yang kering di daerah-daerah Indonesia Bagian Timur.
Tanaman pisang merupakan tanaman unggulan yang mendapat prioritas oleh
pemerintah untuk dikembangkan karena sangat berpotensi untuk memenuhi
--------------------------------------------------------------------------------*) Didanai oleh Direktorat Jenderal pendidikan Tinggi dengan kontrak No:
005/SP3/PP/DP2M//II/2006
**) Staf Pengajar Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Faperta Unand, Padang
2
kebutuhan konsumsi dalam negeri ataupun ekspor (Deptan 1999), dengan
produksi mencapai 4.384.384 ton (Ditbuah 2003).
Sampai saat ini penyakit layu bakteri masih mewabah hampir diseluruh
daerah sentra produksi pisang di Indonesia. Pada tahun 2003, jumlah tanaman
pisang terserang yang dilaporkan mencapai 1.864.109 rumpun (Ditlinhorti, 2004).
Hal ini menunjukkan bahwa penyakit layu bakteri mempunyai potensi untuk terus
berkembang dan menjadi salah satu kendala yang harus dipertimbangkan dalam
rangka pengembangan pisang secara besar-besaran di Indonesia.
Beberapa cara telah dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini seperti
penggunaan bakterisida, kultur teknis, dan kultivar yang resisten, tetapi penyakit
ini belum dapat dikendalikan secara efektif.
Penanaman kultivar resisten merupakan pengendalian penyakit yang
sangat murah, mudah, aman, dan selektif apabila telah tersedia kultivar tahan,
namun bila terus menerus ditanam suatu saat resistensi akan patah karena
munculnya strain – strain baru R. solanacearum yang lebih virulen. Sampai saat
ini belum diketahui kultivar pisang tahan yang rasa dan penampilannya diminati
masyarakat maupun yang dimanfaatkan untuk ekspor (Sahlan dan Nurhadi 1994).
Pengendalian
penyakit
tanaman
dengan
menggunakan
mikroba
antagonisme, khususnya mikrob perakaran graminae yang dapat mengkoloni
perakaran tanaman merupakan salah satu alternatif pengendalian yang dapat
dipandang sebagai cara pendekatan yang ramah lingkungan, berkesinambungan,
dan dapat diintegrasikan dalam program pengendalian hama terpadu. Beberapa
diantara mikrob antagonis ini adalah sebagai agens biokontrol, pemacu
pertumbuhan tanaman, dan penginduksi ketahanan tanaman terhadap patogen
(Kloepper et al. 1999). Oleh sebab itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk
mempelajari kemampuan bakteri yang diisolasi dari perakaran graminae untuk
mengendalikan layu bakteri pada tanaman pisang dan juga diperlukan informasi
tambahan mengenai kemampuan bakteri yang diisolasi dari rumput-rumputan
kelompok graminae dalam mengendalikan penyakit layu bakteri.
Penelitian ini bertujuan untuk : a) Mengisolasi dan mengkarakterisasi
bakteri rizosfer dan endofit perakaran graminae, b) Skrening kemampuan isolat –
isolat bakteri rizosfer dan endofit perakaran graminae dari berbagai sentra
3
produksi pisang di Sumatera Barat dan menguji kemampuan bakteri tersebut
dalam mengendalikan layu bakteri pada tanaman pisang, c) Untuk mendapatkan
metoda aplikasi yang lebih efektif dari bakteri rizosfer dan endofit perakaran
graminae dalam mengendalikan penyakit layu bakteri pada tanaman pisang
METODE PENELITIAN
A. Penelitian Laboratorium
Isolasi dan Perbanyakan R. solanacearum.
Sumber inokulum bakteri penyebab penyakit layu pada tanaman pisang
diambil dari tanaman pisang yang menunjukkan gejala penyakit layu bakteri.
Gejala penyakit layu bakteri pada tanaman pisang yang terinfeksi Ralstonia
solanacearum dicirikan dengan layunya daun-daun tua sebelum waktunya dan
daun menguning diikuti oleh nekrosis. Kelayuan yang menyeluruh terjadi pada
tanaman muda. Kulit buah sering tampak normal, kadang-kadang ada yang
tampak kuning terlalu awal dan menghitam. Kalau buah dipotong, bagian dalam
buah kelihatan berwarna coklat kemerahan atau menjadi busuk berlendir
(Tjahjono & Eden-Green 1988; Semangun 1994).
Contoh bagian tanaman sakit (bonggol atau tandan) diambil secukupnya
dan dibawa ke laboratorium untuk diisolasi patogennya. Isolasi R. solanacearum
dari contoh bonggol dilakukan dengan metode gores. Bonggolyang terinfeksi
disterilkan permukaannya dengan merendam dalam larutan natrium hipoklorit 1%
selama 5 menit, kemudian dibilas dengan akuades steril sebanyak tiga kali.
Bonggol dipotong secara aseptik sehingga mengeluarkan lendir (massa bakteri).
Massa bakteri diambil dengan jarum ose, digoreskan pada media sukrosa pepton
agar (SPA) lalu diinkubasi pada suhu ruang selama 2-3 hari. Koloni bakteri yang
tumbuh dan diduga penyebab penyakit layu bakteri pada tanaman pisang
dimurnikan dan diperbanyak untuk digunakan pada pengujian-pengujian
berikutnya. Pada media SPA, koloni R. solanacearum yang menyebabkan
penyakit layu pada tanaman pisang dicirikan oleh pertumbuhan relatif lambat,
koloni kecil-kecil berukuran 2-3 mm, berbentuk mukoid dan viscid (Supriadi
1994).
4
Isolasi Bakteri Rhizosfer.
Tanaman graminae yang digunakan dalam percobaan ini adalah jagung,
sorgum, padi gogo dan 3 jenis rumput-rumputan kelompok graminae yang ada di
sekitar tanaman pisang sehat.
Isolasi bakteri dari rizosfer dilakukan dengan metode pengenceran
berseri. Akar tanaman graminae ditimbang sebanyak 10 g, kemudian dimasukkan
ke dalam erlenmeyer ukuran 250 ml, 90 ml air steril ditambahkan ke dalam
erlenmeyer dan ditutup dengan aluminium foil. Akar yang sudah direndam dalam
air steril kemudian dikocok dengan menggunakan shaker dengan kecepatan 150
rpm selama 30 menit. Suspensi akar yang telah dikocok diambil 1 ml dengan
menggunakan mikropipet dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang sudah
mengandung 9 ml air steril, sehingga didapatkan suspensi dengan tingkat
pengenceran 10-2. Seterusnya dilakukan pengenceran dengan cara yang sama dan
diperoleh suspensi 10-3, 10-4, 10-5, dan 10-6. Untuk mendapatkan bakteri antagonis
dari kelompok Bacillus sp, masing-masing dari suspensi 10-4 dan 10-5 dipanaskan
di dalam waterbath pada suhu 80oC selama 30 menit, kemudian diambil sebanyak
0,1 ml dan ditumbuhkan di dalam 10 ml media TSA (kekuatan 0,1%). Media
TSA yang sudah mengandung bakteri rizosfer diinkubasi selama 48 jam pada
suhu ruang, kemudian dimurnikan.. Untuk mendapatkan bakteri Pseudomonas
fluorescens masing-masing dari suspensi 10-5 dan 10-6 diambil sebanyak 0,1 ml
dan ditumbuhkan dalam 10 ml media King’s B. Inkubasi selama 48 jam pada
suhu ruang. Untuk membuktikan bakteri ini adalah P. fluorescens, koloni yang
tumbuh dapat dilihat di bawah lampu ultra violet, warna hijau yang muncul
menandakan bakteri ini adalah kelompok P. fluorescens, kemudian dimurnikan.
Untuk mendapatkan bakteri antagonis yang lain (Serratia sp.), masing-masing
dari suspensi 10-5 dan 10-6 diambil sebanyak 0,1 ml dan ditumbuhkan dalam 10 ml
media TSA. Inkubasi selama 48 jam pada suhu ruang, kemudian dimurnikan.
Isolasi Bakteri Endofit.
Bakteri endofit yang digunakan dalam penelitian ini adalah bakteri endofit
yang berasal dari perakaran graminae.
Bakteri endofit diisolasi dengan
menggunakan metode yang dilakukan oleh Zinniel et al. (2000).
Sebelum
diisolasi akar yang akan digunakan terlebih dahulu disterilisasi permukaannya
5
dengan menggunakan alkohol 70% selama 1 menit, dan clorox (natrium klorida)
2,5% selama 3 menit. Untuk mengetahui apakah sterilisasi permukaan berhasil
atau tidak, diuji dengan meletakkan akar yang sudah disteril ke dalam cawan petri
yang sudah diisi PDA, diinkubasi selama 3 hari.
Untuk akar yang masih
ditemukan mikroorganisme yang tumbuh pada permukaan akar, berarti sterilisasi
gagal dan bakteri yang didapatkan tidak dapat digunakan. Akar yang sudah steril
sebanyak 10 g dihancurkan dengan mortal sampai halus. Ekstrak akar dicampur
90 ml air steril dalam erlenmeyer kapasitas 250 ml. Suspensi tersebut dikocok
dengan menggunakan shaker berkecepatan 150 rpm selama 30 menit, selanjutnya
dipindahkan sebanyak 1 ml suspensi tersebut ke dalam 9 ml air steril pada tabung
reaksi.
Dengan demikian diperoleh tingkat pengenceran 10-2 dan sterusnya
dilakukan pengenceran dengan cara yang sama dan diperoleh suspensi 10-3 dan
10-4. Untuk mendapatkan bakteri antagonis caranya sama dengan metoda yang
dilakukan untuk mendapatkan bakteri antagonis rizosfer, tetapi pengenceran yang
digunakan untuk Bacillus sp. adalah 10-2 dan 10-3, untuk P. fluorescens dan
Serratia sp. 10-3 dan 104.
Peubah yang perlu diamati pada saat mengisolasi bakteri antagonis ini
adalah: jumlah populasi bakteri yang didapatkan pada tiap-tiap tanaman;
morfologi koloni bakteri yang berbeda kemudian diamati dan dihitung jumlah
masing-masing koloni bakteri yang cirinya sama. Dengan cara demikian dapat
diestimasi populasi suatu jenis bakteri setiap gram akar. Karakterisasi didasarkan
pada ukuran koloni, bentuk koloni, bentuk pinggiran koloni, permukaan koloni,
dan warna koloni.
Karakteristik masing – masing isolat
Masing – masing isolat bakteri rizosfer dan bakteri endofit yang telah
murni diuji ciri – ciri fisiologisnya untuk dicocokkan dengan kunci identifikasi
masing – masing bakteri, Pengujian fisiologis tersebut meliputi : Pewarnaan
Gram (Swanopel, 1988), b) KOH test (Swanopel, 1988), c) Produksi Levan
(Schaad, 1988), d) Pectinase Test , (Schaad, 1988), e) Pigmen fluorescens
(Schaad, 1988), f) Reaksi hypersensitif dan g) Uji patogenisitas
6
Pengujian Pengaruh Bakteri Rizosfer dan Endofit Perakaran Graminae
terhadap Pertumbuhan R. solanacearum Secara in vitro
Uji antagonis secara in vitro dimaksudkan untuk melakukan seleksi
terhadap isolat-isolat yang sudah didapatkan baik bakteri rizosfer maupun bakteri
endofit. Ini hanya salah satu cara untuk melakukan seleksi bakteri yang akan
digunakan.
Bakteri
yang
tidak
menunjukkan
keefektifan
menghambat
perkembangan R. solanacearum belum tentu tidak efektif karena kemungkinan
mekanismenya adalah induksi ketahanan, maka dalam percobaan ini juga
digunakan dua isolat yang tidak menunjukkan kemampuan antagonis secara in
vitro.
Untuk Skrening ini, masing – masing isolat baik bakteri rizosfer maupun
bakteri endofit. yang telah murni yang diisolasi dari beberapa daerah sentra
produksi tanaman pisang diuji kemampuannya dalam menekan perkembangan R.
solanacearum dengan menggunakan metoda Arwiyanto et al (1993).
Masing –
masing isolat bakteri rizosfer maupun bakteri endofit dengan kerapatan sel 108
CFU/ml (OD600 = 0.3) dimasukan kedalam erlenmeyer 50 ml, kemudian
dilakukan inokulasi
secara titik kedalam petridish
yang telah berisi 20 ml
medium SPA (satu petri untuk satu isolat bakteri rizosfer dan bakteri endofit)
kemudian cawan petri dibalik dan pada tutupnya dituangkan 1 ml kloroform.
Setelah 2 jam petri dibalik kembali pada posisi semula. Sebanyak 0,2 ml
suspensi R. solanacearum (108 CFU/ml) dituangkan pada medium 0,6% agar
cair (450C), dikocok hingga homogen kemudian dituangkan ke dalam cawan
petri tersebut di atas. Biakan diinkubasi lagi selama 24 jam pada suhu kamar.
Zone hambatan yang terbentuk diukur diameternya.
Semakin besar zone
hambatan yang terbentuk semakin tinggi pula kemampuan isolat bakteri rizosfer
dan bakteri endofit dalam menekan perkembangan R. solanacearum.
Pengujian Pengaruh Bakteri Rizosfer dan Endofit Perakaran Graminae
terhadap Pertumbuhan Tanaman
Bakteri rizosfer maupun bakteri endofit yang tidak menunjukkan
kemampuan antagonis secara in vitro, diuji kemampuannya terhadap pertumbuhan
tanaman. Tanaman uji yang digunakan adalah tanaman mentimun. Bakteri yang
telah didapatkan diperbanyak pada media TSA, diinkubasi selama 48 jam. Bakteri
7
yang telah tumbuh dipanen dengan menggunakan kuas dan dibuat suspensi bakteri
dengan kerapatan 109 cfu/ml. Biji mentimun yang digunakan disterilisasi
permukaan dengan menggunakan Clorox 1% selama 60 menit, kemudian dibilas
dengan air steril sebanyak tiga kali. Biji yang telah disteril direndam dalam
suspensi bakteri selama 24 jam, ditiriskan dan kemudian dikecambahkan pada
kertas merang yang telah dilembabkan selama 2 hari dalam ruangan gelap pada
suhu ruang. Biji yang telah berkecambah ditanam pada polibag (10x10 cm).
percobaan dilakukan dengan Rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan.
Peubah yang diamati adalah tinggi tanaman, dan bobot kering dan bobot
basah. Untuk menguji pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati
dilakukan analisis ragam dengan menggunakan program Statistical Analysis
System (SAS). Selanjutnya tiap perlakuan yang berpengaruh nyata dilakukan uji
wilayah berganda Duncan untuk melihat perbedaan tiap perlakuan pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik
Hasil isolasi terhadap bakteri yang terdapat di rizosfer dan endofit
perakaran graminae (jagung, rumputan dan padi) dapat dilihat pada Tabel 1. Dari
Tabel 1 terlihat ada 3 spesies bakteri yang mendominasi rizosfer graminae yaitu:
Bacillus subtilis, Streptomyces sp dan Pseudomonas flourescens sedangkan dalam
jaringan perakaran graminae (endofit) ditemui 2 spesies yaitu: Bacillus subtilis
dan Pseudomonas flourescens.
Kerapatan populasi masing-masing bakteri
antagonis baik pada rizosfer maupun di dalam jaringan akar berbeda-beda (Tabel
2), Kerapatan populasi tertinggi dari ketiga bakteri antagonis ditemukan pada
rizosfer jagung,
Pada rizosfer jagung, bakteri antagonis yang paling tinggi
kerapatan populasinya adalah Bacillus subtilis, sedangkan pada padi dan
rumputan berturut-turut
Streptomyces, P. flourescens. Bakteri endofitik pada
jagung dan rumputan yang paling tinggi populasinya adalah Bacillus subtilis,
pada padi adalah P. fluorescens Tidak ditemukan Streptomyces sp. pada jaringan
akar ketiga tanaman graminae.
8
Tabel 1. Karakteristik bakteri yang terdapat di rizosfer perakaran graminae pada
medium SPA dan King’s B (umur 72 jam)
Hasil pengamatan
Karakteristik
Bacillus subtilis
Streptomyces sp.
P. flourescens
Bulat, berbentuk benang
Bulat, berbentuk benang
Bulat dan licin
1 – 4 mm
putih
kasar
cembung
1 – 5 mm
putih
agak kasar
agak cembung
1 – 3 mm
putih
halus
cembung
batang
batang
batang
1. Reaksi Gram
2. Produksi Levan
3. Pectinase Test
4. Pigment fluourescent
5. Pelelehan gelatin
+
-
+
-
+
-
D. Reaksi hypersesitif
E. Uji Patogenisitas
-
-
-
A. Makroskopis
1.
2.
3.
4.
5.
Bentuk koloni
Ukuran koloni
Warna koloni
Permukan koloni
Elevasi
B. Mikroskopis
1. Bentuk sel
C. Sifat Fisiologis
(a)
(b)
(c)
Gambar 1. Bakteri antagonis yang paling dominan di temukan di rizosfer dan
endofit perakaran graminae. (a) Streptomyces sp, (b) Bacillus subtilis,
dan (c) Pseudomonas flourescens
9
Tabel 2. Kerapatan populasi bakteri antagonis di rizosfer dan endofit tanaman
graminae
Kerapatan Populasi (CFU/ml)
Bakteri antagonis
Rizosfer
jagung
padi
Endofitik
rumputan
jagung
6,7 x 106
Bacillus subtilis
8,0 x 106
9,2 x 104
7,8 x 104
Streptomyces sp
6,2x 105
8,3 x 105
6,7 x 104
Pseudomonas flourescens
5,7x 106
3,5 x 104
5,6x 105
-
padi
5,4 x 104
rumputan
5,6 x 105
-
4,5 x 106
4,9 x 105
6.3 x 103
Kelompok bakteri antagonis yang banyak ditemukan di rizosfer dan
dalam jaringan akar graminae adalah Bacillus spp, Paenibacillus, Pseudomas,
dan Stenotrophomonas spp (Landa et al. 2001), Pseudomonas kelompok
fluorescens (Larkin et al. 1996), dan Serratia marcescens (Press et al. 2001).
Tingginya populasi bakteri antagonis di rizofer jagung disebabkan
adanya senyawa DIMBOA (2,4dihidroxy-7 methoxy (2H)-1,4 benzoxazine-3(4)one
yang
dapat
menjadi
senyawa
attraktan
bagi
bakteri-bakteri
ini
(Manuwoto,1986) selanjutnya Lemaga et al. (2001) melaporkan pada rizofer
jagung ditemukan Pseudomonas cepacia yang bersifat antagonis terhadap R.
solanacearum yang dapat menurunkan kerapatan populasi bakteri patogen ini
Di Lapangan
Pengujian Pengaruh Bakteri Rizosfer dan Endofit Perakaran Graminae
terhadap Pertumbuhan Tanaman
Hasil pengujian pengaruh bakteri rizosfer dan endofit perakaran graminae
terhadap pertumbuhan tanaman dapat di lihat pada Tabel 3.
Ketiga bakteri
antagonis mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman yang dikenal dengan efek
PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria).
Bacillus subtilis mampu
meningkatkan pertumbuhan tanaman lebih baik dibandingkan bakteri antagonis
lain. Mekanisme pemicu pertumbuhan merupakan salah satu nilai tambah dari
aplikasi bakteri antagonis.
Penggunaan bakteri antagonis pada tanaman cabai
merah dapat meningkatkan hasil sampai 95,4%
dibanding tanpa bakteri
antagonis. Bakteri Pemicu Pertumbuhan Tanaman (BPPT)(PGPR) dilaporkan
10
Tabel 3. Pertumbuhan tanaman ketimun dengan aplikasi bakteri rizosfer dan
endofit perakaran graminae
Berat tanaman (gr)
Bakteri antagonis
Tinggi tanaman
(cm)
Berat basah
Berat kering
Bacillus subtilis
68
79
62
Streptomyces sp
54
68
54
Pseudomonas flourescens
50
62
48
Kontrol
42
47
36
dapat menstimulasi pertumbuhan tanaman.
Padua et al. (2001) melaporkan
bahwa Bacillus circulans dan B.megaterium mampu memproduksi hormon
pertumbuhan indole-3-acetic acid (IAA) sehingga dapat meningkatkan bobot
basah tajuk dan akar sampai 53% dan 42%.
Shekhawat et al. (1992) juga
melaporkan bahwa Bacillus subtilis strain Bs 1 dan Bs 2 mampu meningkat hasil
kentang sampai 28,3%.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan : a) Kelompok bakteri yang dominan
di rizosfer dan endofit perakaran graminae adalah Bacillus subtilis, Streptomyces
sp dan Pseudomonas flourescens, b)
rizosfer jagung mempunyai kerapatan
populasi bakteri antagonis yang paling tinggi, dan c) Bakteri antagonis di rizosfer
dan endofit perakaran graminae mampu memicu pertumbuhan tanaman.
Dari hasil penelitian ini disarankan untuk meneliti lebih lanjut mekanisme
penekanan antara bakteri antagonis ini dengan bakteri patogen layu R.
solanacearum baik di tingkat invitro dan in planta.
DAFTAR PUSTAKA
Agrios GN. 1997. Plant Pathology. Ed ke-3. San Diego: Academic Press.
Arwiyanto T, Goto M, Tsuyumu S, Takikawa Y. 1994. Biological control of
bacterial wilt of tomato by an avirulent strain of Pseudomonas
solanacearum isolated from Strelitzia reginae. Ann Phytopath Soc Japan
60:421-430.
Bakker PAHM, Ran LX, Pietrse CMJ, van Loon LC. 2003. Understanding the
involvement of rhizobacteria-mediated induction of systemic resistance in
biocontrol of plant diseases. Canadian Journal 25: 5-9.
11
Benhamou N. Kloepper JW, Quadt-Hallman A, Tuzun S. 1996. Induction of
defense-related ultrasructural modifications in pea root tissues inoculated
with endophytic bacteria. Plant Physiology 112: 919-929.
Benhamou N, Gagne S, Dominique LG, Dehbi L. 2000. Bacterial-mediated
induced resistance in cucumber: Beneficial effect of the endophytic
bacterium Serratia plymuthica on the protection against infection by
Pythium ultimum. Phytopathology 90: 45-56.
Bernal G, Illanes A, Ciampi L. 2002. Isolation and partial purification of a
metabolite from a mutant strain of Bacillus sp. with antibiotic activity
against plant pathogenic agents. Electronic Journal of Biotechnology 5(1).
Buddenhagen IW, Kelman A. 1964. Biological and physiological aspects of
bacterial wilt caused by P. solanacearum. Ann Review of Phytopath 2:660 –
664.
Cook RJ and Bakker KF. 1983. The Nature and Practice of Biological Control of
Plant Pathogens. St Paul: APS Press. hlm 539-541.
Coventry HS, Dubery IA. 2001. Lipopolysaccharides from Burkholderia cepacia
contribute to an enhanced defensive capacity and the induction of
pathogenesis-related protein in Nicotianae tabacum. Physiology Molleculer
Plant Pathology 58: 149-158.
Defago. 1990. Suppression of black root rot of tobacco and other root disesae by
strain of Pseudomonas fluorescens: potensial aplications and mechanism. Di
dalam:
Hornby D, editor. Biological Control of Soil-Borne Plant
Pathogens. Wallingford: CAB International. hlm. 93-108.
Denny TP, Hayward AC. 2001. Ralstonia. Di dalam: Schaad NW, Jones JB, Chun
W, editor. Laboratory Guide for Identification of Plant Pathogenic
Bacteria. Ed ke-3. St Paul: APS Press. hlm 151 – 173.
[Deptan] Departemen Pertanian. 1999. Warta penelitian dan pengembangan
pertanian. 21(2).
[Ditbuah] Direktorat Tanaman Buah. 2003. Luas Panen, Produktivitas &
Produksi Pisang 2002. http://database1.deptan.go.id/ditbuah/index.php?f
=komoditas/ kom_view.php&id=104 [6 Desember 2004].
Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura [ditlinhorti]. 2003. Luas serangan
OPT utama tanaman pisang. www.deptan.go.id/ditlinhorti/data-its-2001. [8
Januari 2003].
[Ditlinhorti] Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura. 2004. Luas serangan
OPT utama tanaman pisang. http://www.deptan.go.id/ditlinhorti/data-its2003.its [5 Juli 2004].
Eden-Green, Sastraatmaja. 1990. Blood disease in Indonesia. FAO Plant
Protection (Bulletin) (38): 49 – 50.
12
Goto M. 1992. Fundamental of Bacterial Plant Pathology. San Diego:
Academic Press.
Hallmann J. 2001. Plant interaction with endophytic bacteria. Di dalam: Jeger MJ
dan Spence NJ, editor. Biotic Interaction in Plant pathogen Association.
Wallingford: CAB International. hlm 87-119.
Hartman GL, Wong WF, Hanudin, Hayward AC. 1992. Potential of biological
and chemical control of bacterial wilt. Di dalam: Hartman GL, Hayward AC,
editor. Bacterial Wilt; Kaohsiung, 28-30 Okt 1992. Canbera: ACIAR. hlm
232-237.
Hayward AC. 1991. Biology and epidemiology of bacterial wilt caused by
Pseudomonas solanacearum. Annu Rev Phytopath 29:65-87.
Hayward AC, Fegan M. 2004. The Ralstonia solanacearum species complex:
Genetic diversity and ecology of bacterial wilt [abstrak]. Di dalam: APS
Annual Meeting; Anaheim, 31 Jul – 4 Agu 2004. St Paul: APS. hlm S121.
He LY. 1986. Bacterial wilt in people’s of China. Di dalam: Persley GJ, editor.
Bacterial Wilt Disease in Asia and the South Pacific. Proceedings of An
International Workshop Held at PCARRD. Los Banos, 8-13 Apr 1984. Los
Banos: PCARRD. hlm 101-116.
Kim DS, Cook RJ, Weller DM. 1997. Bacillus sp. for biological control of three
root diseases of wheat grown. Phytopathology 87: 551-558.
Kloepper JW et al. 1999. Plant root-bacterial interactions in biological control of
soilborne disease and potential extension to systemic and foliar diaseases.
Australasian Plant Pathology 28:21-26.
Landa BB, Navas-Cortes JA, Hervas A, Jimenez-Diaz RM. Influence of
temperatur and inoculum density of Fusarium oxysporum f. Sp. ciceris on
suppression of Fusarium wilt of chikpea by rhizosphere bacteria.
Phytopathology 91: 807- 816.
Larkin R., Hopkins DL, Martin FN. 1996. Suppression of fusarium wilt of
watermelon by nonpathogenic Fusarium oxysporum and other
microorganisms recovered from a disease-suppresive soil. Phytopathology
86: 812-819.
Lelliot RA, Stead DE. 1987. Methods for the Diagnosis of Bacterial Diseases of
Plants. Vol ke-2. London: British Society for Plant Pathology
Lemaga B, Kanzikwera R, Kakuhenzire R, Hakiza JJ, Manzi G. 2001. The effect
of crop rotation on bacterial wilt incidence and potato tuber yield. African
Crop Science Journal. 9: 257-266.
Li J dan Kremer RJ. 2000. Rhizobacteria associated with weed seedlings in
different cropping systems. Weed Science 48: 734-741.
Liu L, Kloepper JW, Tuzun S. 1995. Induction of systemic resistance in
cucumber against bacterial angular leaf spot by plant growth-promoting
rhizobacteria. Phytopathology 85: 843-847.
Mehan VK et al. 1994. Bacterial Wilt of Groundnut. ICRISAT 35: 1-2.
13
Muharam A, Sulyo Y, Djatnika I, Marwoto B. 1992. Identifikasi dan daerah
pencar penyakit penting pada tanaman pisang. Di dalam: Muharam A,
Djatnika I, Sulyo Y, Sunarjono H, editor. Pisang sebagai Komoditas
Andalan Prospek dan Kendalanya. Cianjur, 5 Nop 1992. Segunung: Sub
Balai Penelitian Hortikultura Segunung. hlm 23 – 28.
Notz R et al. 2001. Biotic factors affecting expression of the 2,4diacetylphloroglucinol biosynthesis gene phlA in Pseudomonas fluorescens
biological control strain CHA0 in the rizosphere. Phytopathology 91: 873881.
Phae CG, Shoda M, Kita N, Nakano M, Ushiyama K. 1992. Biological control of
crown and root rot and bacterial wilt of tomato by Bacillus subtilis NB22.
Ann Phytopath Soc Japan 58:329-339
Ploetz RC dan Pegg KG. 2000. Fungal disease of the root, corm and pseudostem:
Fusarium wilt. Di dalam: Jones DR, editor. Disease of Banana, Abaca and
Enset. Wallingford: CAB International. hlm 143-159.
Press CM, Wilson M, Tuzun S , Kloepper JW. 1997. Salicylic acid produced by
Serratia marcescens 90-166 is not the primary determinant of induced
systemic resistance in cucumber or tobacco. Molleculer Plant-Microbe
Interaction 10: 761-68.
Press CM, Loper JE, Kloepper JW. 2001. Role of iron rhizobacteria-mediated
induced systemic resistance of cucumber. Phytopathology 91: 593-598.
Rosales AM, Thomashow L, Cook RJ, Mew TW. 1995. Isolation and
identification of antifungal metabolites produced by rice-associated
antagonistic Pseudomonas spp. Phytopathology 85: 1028-1032.
Reid LM, Zhu X, Ma BL. 2001. Crop rotation and nitrogen effects on maize
susceptibility to gibberella (Fusarium graminearum) ear rot. Plant Soil 237:
1-14.
Sahlan dan Nurhadi. 1994. Inventarisasi penyakit pisang di sentra produksi
Sumatera Barat, Jawa Barat dan Lampung. Jurnal Penelitian Hortikultura 6:
29-36
Schaad NW, Jones JB, Chun W. 2001. Laboratory Guide for Identification of
Plant Pathogenic Bacteria. Ed ke-3. St Paul: APS Press.
Semangun H. 1991. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia.
Yogyakarta: Gajah Mada Press.
Sequeira L. 1998. Bacterial wilt: the missing element in international banana
improvement programs. Di dalam: Prior PH, Allen C, Elphinstone JE,
editor. Bacterial Wilt Disease, Molecular and Ecological Aspects. Gosier,
22-27 Jun 1997. Berlin: INRA. hlm 6-14.
Shekhawat GS, Chakrabarti SK, Kishore V, Sunaina V, Gadewar AV. 1992.
Possibilities of biological management of potato bacterial wilt with strains
of Bacillus sp., B. subtilis, Pseudomonas fluorescens and Actinomycetes. Di
dalam: Hartman, GL, Hayward AC, editor. Bacterial Wilt. Kaohsiung, 2830 Okt 1992. Canbera: ACIAR. hlm 232-237.
14
Stoltzfus JR, So R, Malarvithi PP, Ladha JK, de Bruijn FJ. 1997. Isolation of
endophytic bacteria from rice and assessment of their potential for supplying
rice with biologically fixed nitrogen. Plant Soil 194: 25-36.
Stover RH. 1972. Banana, Plantain and Abaca Disease. London: The Eastern
Press. hlm 167-178.
Sturz AV, Christie BR, Matheson BG, Arsenault WJ, Buchanan MA. 1999.
Endophytic bacterial communities in the periderm of potato tubers and their
potential to improve asistance to soil-borne plant pathogens. Plant Pathology
48: 360-369.
Sulyo Y. 1992. Informasi mengenai hasil-hasil penelitian penyakit pisang
mutakhir. Di dalam: Muharam A, Jatnika I, Sulyo Y, Sunarjono H, editor.
Pisang sebagai Komoditas Andalan Prospek dan Kendalanya. Cianjur, 5
Nop 1992. Segunung: Sub Balai Penelitian Hortikultura Segunung. hlm 822.
Sumner DR dan Bell D K. 1994. Survival of Rhizoctonia spp. and root disease in
rotation of corn, snap bean, and peanut in microplots. Phytopathology 84:
113-118.
Supriadi. 1994. Studies on the characteristics of P. solanacearum and related
species from Indonesia, and the potential use of bacterophage and
bacteriocin for biological control of bacterial wilt disease [Disertasi].
London: University of London.
Susana. 2000. Analisis introduksi mikroorganisme anragonis untuk pengendalian
hayati penyakit layu (Fusarium oxysporum f.sp. cubenser) pada pisang
(Musa sapientum L.). [Tesis]. Institut Pertanian Bogor, Pasca Sarjana.
Thwaites R, Eden-Green S, Masfield J, Seal S. 1998. Studies on the molecullar
basis for patogenicity and host specificity in strains of Ralstonia
solanacearum pathogenic to banana. Di dalam: Prior PH, Allen C,
Elphinstone JE, editor. Bacterial Wilt Disease: Molecular and Ecological
Aspects. Gosier, 22-27 Jun 1997. Berlin: INRA. hlm 192-194.
Tjahjono B, Eden-Green SJ. 1988. Blood disease of bananas in Indonesia
(abstrak). International Congress of Plant Pathology 5th , Kyoto
Wardlaw CW. 1972. Banana Disease. Including Plantains and Abaca. London:
Longman, Green and Co LTD. hlm 188-276.
Wei G, Kloepper JW, Tuzun S. 1995. Induced systemic resistance to cucumber
disease and increased plant growth by plant growth promoting rhizobacteria
under filed condition. Phytopathology 86: 221-224.
Wilson CL. 1991. Biological control of post-harvest disease of fruit and
vegetables alternative to synthetic fungisides. Crop Protection 10: 172-177
15
Winstead NN, Kelman A. 1952. Inoculation techniques for evaluating resistance
to Pseudomonas solanacearum. Phytopathology 42:628-634.
Zehnder GW, Yao C, Murphy JF, Sikora ER, Klopper JW, Schuster DJ, Polstan
JE. 2000. Microbe-induced resistance against pathogens and herbivores:
evidence of effectiveness in agriculture. Di dalam: Agrawal AA, Tuzun S,
Bent E, editor. Induced Plant Defense against Pathogenesis and Herbivores
Biochemistry, Ecology, and Agriculture. St Paul: APS Press. hlm 335-355
Zinniel et al.. 2002. Isolation and characterization of endophytic colonizing
bacteria from agronomic crops and prairie plants. Apllied Environmental
Microbiology 68: 2198-2208.
Download