PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF

advertisement
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF, KREATIF, EFEKTIF
DAN MENYENANGKAN (PAKEM)
PADA MATA PELAJARAN PKn
(SUATU STUDI DI MTs NEGERI I MALANG)
SKRIPSI
OLEH:
KHITHOK AHMAD PURWANTO
104261472305
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
JANUARI 2009
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF, KREATIF, EFEKTIF DAN
MENYENANGKAN (PAKEM) PADA MATA PELAJARAN PKn
(SUATU STUDI DI MTs NEGERI I MALANG)
SKRIPSI
Diajukan kepada
Universitas Negeri Malang
untuk memenuhi salah satu persyaratan
dalam menyelesaikan program Sarjana
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Oleh:
Khithok Ahmad Purwanto
NIM 104171471938
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
Januari 2009
Lembar Persetujuan Pembimbing Skripsi
Skripsi oleh Khithok Ahmad Purwanto ini
telah diperiksa dan disetujui untuk diuji.
Malang, Januari 2009
Pembimbing I
Dra. Yayik Sayekti, S.H, M.Hum
NIP. 130 520 460
Malang, Januari 2009
Pembimbing II
Drs. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M.Si
NIP. 131 914 5
Lembar Pengesahan Skripsi
Skripsi oleh Khithok Ahmad Purwanto ini
telah dipertahankan di depan dewan penguji
pada tanggal 14 Januari 2009
Dewan Penguji
Drs. H. Edi Suhartono, S.H.,M.Pd.
NIP. 131 571 123
,Ketua
Dra. Yayik Sayekti, S.H, M.Hum.
NIP. 130 520 460
,Anggota
Drs. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M.Si.
NIP. 131 914 579
,Anggota
Mengetahui,
Ketua Jurusan PPKn
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan
Drs. Ketut Diara Astawa, S.H, M.Si.
NIP. 131 123 505
Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd.
NIP. 130 870 650
ABSTRAK
Purwanto, Khitok A. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif,
dan Menyenangkan (PAKEM) Pada Mata Pelajaran PKn
(Suatu Studi di MTs Negeri 1 Malang), Skripsi, Jurusan Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan Program Studi Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra.
Yayik Sayekti, S.H, M.Hum, (II) Drs. Nur Wahyu Rochmadi, M. Pd,
M. Si.
Kata Kunci: Pembelajaran, Pendidikan Kewarganegaraan, Pakem.
Tuntutan dalam menciptakan suatu pembelajaran yang efektif, membuat
guru berupaya untuk memperbaiki proses pembelajaran yang akan dikelolanya.
Proses pembelajaran yang lebih mengaktifkan peserta didik, membuat peserta
didik kreatif menghasilkan karya-karya yang bermanfaat, serta menyenangkan
sehingga peserta didik merasa nyaman mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar di
kelas. Guru dapat merencanakan berbagai macam strategi dengan menggunakan
metode yang lebih bervariasi, sumber belajar yang sesuai, dan media pendukung
serta alat bantu yang sesuai. Model pembelajaran yang dimaksudkan di atas
adalah model Pakem (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan).
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan penerapan
model Pakem pada mata pelajaran PKn di MTsN I Malang. Sedangkan tujuan
penelitian ini adalah: (1) mengkaji perencanaan model Pakem pada mata pelajaran
PKn; (2) mengkaji pelaksanaan model Pakem pada mata pelajaran PKn; (3)
mengetahui faktor pendorong dan penghambat dalam penerapan model Pakem
pada mata pelajaran PKn; (4) mengetahui upaya-upaya untuk mengatasi hambatan
dalam penerapan model Pakem pada mata pelajaran PKn.
Penelitian tentang penerapan model Pakem ini menggunakan pendekatan
kualitatif, dan jenis penelitian ini adalah studi kasus. Subjek dalam penelitian ini
adalah guru Pendidikan Kewarganegaraan dan para siswa di MTsN I Malang.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Analisis data mengacu pada teknik analisa data model Miles dan
Hubberman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Perencanaan model Pakem dalam
mata pelajaran PKn di MTsN I Malang meliputi penyusunan Rencana Program
Efektif, Program Semester, Silabus dan sistem penilaian, menyusun Rencana
Program Pembelajaran, serta menyiapkan metode, media, alat bantu, bahan ajar
dan penilaian; (2) Pelaksanaan model Pakem pada mata pelajaran PKn di MTsN I
Malang dilaksanakan dengan pemanfaatan lingkungan luar kelas untuk belajar
karena prinsip belajarnya adalah belajar sambil bermain. Kegiatan pembelajaran
diawali dengan salam pembuka, menulis indikator pembelajaran, mereview
pelajaran sebelumnya dengan tanya jawab kemudian guru menerangkan inti dari
materi yang akan diberikan selama beberapa menit saja setelah itu siswa yang
aktif, guru hanya sebagai fasilitator, dan menutup pelajaran dengan refleksi
bersama-sama dengan siswa; (3) faktor pendorong dan penghambat dalam
penerapkan Pakem adalah: Pakem merupakan strategi pembelajaran yang
memberikan kesempatan pada siswa untuk termotivasi dalam pembelajaran,
sehingga memperoleh hasil yang baik. Dengan model Pakem, dapat mengurangi
situasi dan kondisi model pembelajaran konvensional yang lebih menitik beratkan
pada metode ceramah. Sedangkan faktor penghambatnya adalah: Belum
dipahaminya model Pakem oleh guru. Kurangnya memperoleh kesempatan
memahami inovasi dalam pendidikan, termasuk penerapan model Pakem.
Kecenderungan diterapkannya model pembelajaran konvensional yang dipandang
lebih mudah dan murah, dan karena kemampuan tingkat berfikir siswa yang
beragam, jadi guru masih belum optimal dalam menerapkan Pakem.
(4) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan adalah: Guru
berusaha untuk menjalin komunikasi yang lebih akrab dengan seluruh siswa,
memotivasi siswa agar tidak takut dalam mengemukakan pendapat, tidak takut
untuk menjawab pertanyaan dari guru serta tidak takut disalahkan jika
jawabannya salah. Guru membentuk kelompok belajar yang sesuai dengan model
Pakem agar pembelajaran lebih efektif, guru terus berupaya memotivasi siswa
dengan memberikan penghargaan berupa poin atau ucapan selamat bagi siswa
yang aktif memberikan pendapat, menjawab pertanyaan dan menanggapi pendapat
temannya.
Berdasarkan temuan penelitian disarankan agar: (1) Sekolah lebih
meningkatkan penerapan pakem secara berkesinambungan, (2) Guru dituntut
untuk lebih dapat memahami karakteristik siswa yaitu dengan memahami sifat
yang dimiliki anak dan memahami siswa secara perorangan serta tingkat
kemampuan siswa agar pakem dapat diterima siswa dengan baik, (3) Dalam
pakem, guru ataupun siswa diharapkan dapat bersama-sama berperan aktif dalam
proses pembelajaran, dan 4) peneliti lain diharapkan dapat menjadikan penelitian
ini sebagai bahan referensi sekaligus koreksi untuk penyempurnaan penelitian
selanjutnya, sehingga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah, tiada kata yang patut diucap melainkan puji syukur
kehadirat Allah SWT yang selalu melindungi, mencurahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga penyusunan skripsi yang berjudul ” Penerapan Model
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) Pada Mata
Pelajaran PKn
(Suatu Studi Di MTs Negeri I Malang) ” ini dapat terselesaikan.
Pada kesempatan ini, penulis banyak mendapat bantuan dari banyak pihak,
baik yang terkait dengan penyusunan skripsi ini maupun yang tidak secara
langsung memberikan dukungan secara moril dan materiil. Untuk itu, penulis
menyampaikan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo M.Pd, selaku Dekan Fakultas Ilmu pendidikan
Universitas Negeri Malang yang telah memberikan ijin untuk mengadakan
penelitian.
2. Drs. Ketut Diara Astawa, S.H, M.Si selaku ketua Jurusan Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang yang telah
memberikan ijin untuk melaksanakan ujian skripsi.
3. Dra. Yayik Sayekti, S.H, M.Hum selaku pembimbing I yang senantiasa
memberikan masukan, arahan, kritik, dan saran sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
4. Drs. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M.Si selaku pembimbing II yang telah
membimbing penulis, memberikan masukan, arahan, kritik, dan saran
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
5. Dra. Binti Maqsudah, M.Pd selaku Kepala MTs Negeri I Malang yang telah
memberikan ijin untuk mengadakan penelitian.
6. Ira Kristina, S.Pd selaku guru mata pelajaran PKn di MTs Negeri I Malang
yang telah sudi meluangkan waktu dan membantu peneliti dalam proses
pengumpulan data sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan lancar dan
baik.
7. Kedua orang tua, Ibu Datik, Bapak Suparno dan adikq yang senantiasa
menyayangi, mencintai dengan tulus dan tanpa henti memberikan dukungan,
baik berupa doa, motivasi, serta materi kepada peneliti untuk dapat
menyelesaikan skripsi ini.
8. Gendiezq, thanks atas semua dukungan, doa, motivasi dan yang telah bersedia
meminjamkan laptop sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
Penulis berupaya menyelesaikan tugas penyusunan skripsi ini dengan baik.
Menyadari adanya kekurangan, oleh karena itu penulis mengharap adanya saran
dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca untuk penyempurnaan
penyusunan skripsi. Akhirnya, dengan segala kekurangan dan kelebihan, semoga
skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca.
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK .......................................................................................................
i
KATA PENGANTAR .....................................................................................
iii
DAFTAR ISI ....................................................................................................
v
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................
vii
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................
viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................
B. Rumusan Masalah .......................................................................
C. Tujuan Penelitian ........................................................................
D. Kegunaan Penelitian ...................................................................
E. Definisi Istilah .............................................................................
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran
1. Pengertian Pembelajaran .......................................................
2. Strategi Pembelajaran............................................................
3. Komponen Pembelajaran ......................................................
B. Pakem
1. Pengertian Pakem ..................................................................
2. Penerapan Pakem ..................................................................
3. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pakem
4. Faktor Pendorong diterapkannya pakem...............................
5. Faktor Penghambat Diterapkannya pakem ...........................
C. Pendidikan Kewarganegaraan .....................................................
1. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan...................................
2. Ruang Lingkup Pendidikan Kewargnegaraan.......................
BAB III METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian .................................................................
B. Kehadiran Peneliti .......................................................................
C. Lokasi Penelitian .........................................................................
D. Fokus Penelitian ..........................................................................
E. Subjek Penelitian.........................................................................
F. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data ..............................................................................
2. Sumber Data ..........................................................................
G. Teknik Pengumpulan Data
1. Wawancara ............................................................................
2. Observasi ...............................................................................
3. Dokumentasi .........................................................................
H. Analisis Data ...............................................................................
I. Pengecekan Keabsahan Data.......................................................
1
7
7
8
9
10
11
13
22
26
29
30
31
32
34
35
37
39
39
40
40
41
43
45
47
48
50
J. Tahap-Tahap Pnelitian ................................................................
1. Kegiatan Pra Lapangan .........................................................
2. Kegiatan Lapangan ...............................................................
3. Tahap Pelaporan ....................................................................
BAB IV PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
A. Paparan Data
1. Gambaran Umum
a. Sejarah Berdirinya MTsN I Malang ................................
b. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...............................
c. Visi dan Misi MTsN I Malang ........................................
d. Tujuan MTsN I Malang ..................................................
2. Perencanaan Model Pakem di MTsN I Malang Pada Mata
Pelajaran PKn ........................................................................
3. Pelaksanaan Model Pakem di MTsN I Malang Pada Mata
Pelajaran PKn ........................................................................
4. Faktor pendorong dan Penghambat Penerapan Model Pakem
di MTsN I Malang Pada Mata Pelajaran PKn.......................
5. Upaya Mengatasi Hambatan dalam Penerapan Model Pakem
di MTsN I Malang Pada Mata Pelajaran PKn.......................
B. Temuan Penelitian
1. Perencanaan Model Pakem di MTsN I Malang Pada Mata
Pelajaran PKn ........................................................................
2. Pelaksanaan Model Pakem di MTsN I Malang Pada Mata
Pelajaran PKn ........................................................................
3. Faktor pendorong dan Penghambat Penerapan Model Pakem
di MTsN I Malang Pada Mata Pelajaran PKn.......................
4. Upaya Mengatasi Hambatan dalam Penerapan Model Pakem
di MTsN I Malang Pada Mata Pelajaran PKn.......................
5. Kelebihan dan Kekurangan Model Pakem di MTsN I Malang
...............................................................................................
BAB V PEMBAHASAN
A. Perencanaan Pakem di MTsN I Malang Pada Mata Pelajaran
PKn..............................................................................................
B. Pelaksanaan Pakem di MTsN I Malang Pada Mata Pelajaran
PKn..............................................................................................
C. Faktor Pandorong dan Penghambat Penerapan Pakem di MTsN I
Malang Pada Mata Pelajaran PKn ..............................................
D. Upaya Mengatasi Hambatan Penerapan Pakem di MTsN I
Malang Pada Mata Pelajaran PKn ..............................................
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................
B. Saran............................................................................................
51
52
52
54
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
95
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .......................................................
97
LAMPIRAN .....................................................................................................
98
RIWAYAT HIDUP..........................................................................................
156
55
57
58
59
59
63
71
74
76
76
78
79
79
82
84
89
89
91
93
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
3.1 Bagan Teknik Analisis Data dari Milles dan Huberman ....................
49
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Halaman
1. Perangkat Pembelajaran ...................................................................... 99
2. Silabus dan Sistem Penilaian .............................................................. 109
3. Rencana Program Pembelajaran (RPP) ............................................... 116
4. Modul Pembelajaran PKn ................................................................... 124
5. Pedoman Wawancara .......................................................................... 136
6. Surat Ijin Penelitian ............................................................................. 139
7. Foto-foto Penelitian............................................................................. 142
8. Lembar Konsultasi Bimbingan ........................................................... 156
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia pada saat sekarang ini
sangatlah dipengaruhi oleh globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang
berkembang pesat, selain membawa dampak positif juga membawa dampak
negatif, hal itu bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi sangat membantu dalam
kemajuan pendidikan di Indonesia agar mampu bersaing di tingkat internasional,
hal ini telah dibuktikan oleh pelajar Indonesia yang mampu mengharumkan nama
bangsa dan Negara dengan menjuarai olimpiade sain beberapa waktu lalu. Pada
sisi yang lain, bisa mengurangi mutu pendidikan di Indonesia. Semakin
terbukanya peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mancanegara
masuk ke Indonesia membuat keyakinan akan kualitas pendidikan nasional
berkurang, yang secara bersamaan dengan disadari maupun tidak telah
mengurangi rasa nasionalisme dalam diri, sehingga menganggap pendidikan
nasional kurang memberikan menjamin untuk masa depan. Hal ini dibuktikan
dengan tidak sedikit para pelajar Indonesia yang melanjutkan studinya di luar
negeri.
Untuk menanggulangi hal tersebut diatas, maka kebijakan pendidikan
nasional haruslah dapat memberikan kemudahan dan membuka akses seluasluasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Ada banyak
masalah pendidikan yang menjadi catatan penting dan memerlukan perhatian
lebih, diantaranya menyangkut masalah kebijakan pendidikan, perkembangan
1 2 anak Indonesia, tenaga pendidik/guru, relevansi pendidikan, mutu pendidikan,
pemerataan, manajemen pendidikan dan pembiayaan pendidikan.
Sekolah dapat dimisalkan sebagai pabrik yang dapat menghasilkan suatu
produk atau hasil. Sebelum diolah, sekolah terlebih dahulu menerima masukan
atau bahan mentah yaitu calon siswa. Potensi-potensi yang ada dalam diri calon
siswa inilah yang nantinya akan dikembangkan mutunya melalui proses
pembelajaran agar menghasilkan lulusan atau produk yang baik. Proses inilah
yang amat penting untuk dicermati dari waktu ke waktu dan terus ditingkatkan
kualitasnya. Dengan demikian, maka perlu adanya pendekatan pembelajaran yang
akan mencipatkan iklim pembelajaran yang kondusif agar pembelajaran lebih
bermakna, sehingga dapat mencetak generasi-generasi penerus yang handal dan
mampu menyesuaikan dengan tuntutan zaman (Dinas Pendidikan Kota Malang,
2004:3.1).
Guru atau tenaga pendidik harus dapat menerapkan model-model
pembelajaran dengan berbagai jenis pendekatan, metode, dan penggunaan alat
peraga, atau media secara efektif dan kreatif pada seluruh aspek yang akan
dikembangkan pada diri anak didiknya, antara lain aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik siswa yang sesuai dengan potensi yang dimiliki siswa. Guru
memiliki peran sangat penting dalam menentukan kualitas pembelajaran yang
dilaksanakannya didalam kelas.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, guru dapat memikirkan atau
membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar
bagi siswanya dan memperbaiki gaya mengajarnya. Untuk memenuhi hal tersebut
di atas, guru dituntut agar mampu mengelola proses belajar mengajar yang dapat
3 memberikan rangsangan kepada siswa sehingga mau belajar karena memang
siswalah subjek utama dalam pembelajaran (Usman, (1995:12).
Guru diharapkan mampu mengembangkan suasana aktif, kreatif, efektif
dan menyenangkan bagi siswa untuk mengkaji hal yang dapat menarik minat dan
motivasi siswa sehingga mampu mengatasi problem yang dihadapi guru dan siswa
dalam proses belajar mengajar dikelas. Pakem atau singkatan dari Pembelajaran
Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan merupakan suatu model pembelajaran
yang dirancang agar mengaktifkan anak, mengembangkan kreatifitas, sehingga
efektif namun tetap menyenangkan (WWW.google.com.search_:pakem).
Penggunaan model pakem dapat diterapkan di berbagai macam mata
pelajaran, tak terkecuali dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
(PKn). Banyak siswa yang kurang begitu antusias mengikuti pelajaran PKn,
mereka menggangap mata pelajaran PKn membosankan karena merupakan
pelajaran menghafal, metode yang diterapkan kurang begitu menarik dan
bervariasi, sehingga tidak bisa membawa mereka untuk ikut berpartisipasi secara
langsung atau aktif dalam pembelajaran dikelas.
Pada umumnya guru dalam menyampaikan materi pelajaran PKn selama
ini menggunakan cara atau metode yang kurang bervariasi dan cenderung
monoton, sehingga peserta didik mudah merasa jenuh serta kurang bersemangat.
Hal ini akan mengakibatkan perhatian, motivasi dan minat siswa terhadap
pelajaran menurun. Untuk itu perlu adanya keanekaragaman dalam penyajian
materi pembelajaran (Hasibuan dan Moedjiono, 1986:64).
Kepekaan dan kejelian dalam membaca situasi oleh guru sangat
diharapkan untuk merubah pandangan siswa yang selama ini pelajaran PKn
4 dianggap sebagai pelajaran yang membosankan dirubah menjadi pelajaran yang
menyenangkan, sehingga motivasi dalam diri siswa dapat muncul kembali.
Motivasi merupakan dorongan dasar yang menggerakkan seseorang untuk
bertingkah laku (Winataputra dan Rosita, 1995/1996:102). Sedangkan menurut
Thomas L. Good dan Jere B. Braphy 1986, (dalam Winataputra dan Rosita,
1995/1996:102) “Motivasi adalah suatu energi penggerak, pengarah dan
memperkuat tingkah laku“. Jadi motivasi merupakan kebutuhan, yang artinya
setiap individu termotivasi untuk melakukan sesuatu aktifitas yang merupakan
kebutuhannya. Oleh karena itu, perbuatan seseorang didasarkan atas motivasi
mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya, termasuk dalam
hal belajar.
Suatu proses belajar akan berhasil jika didasarkan pada motivasi yang ada
pada diri siswa, segala aktivitas dijalankan berdasarkan penggerak psikis. Maka,
untuk mengorganisir suatu proses pembelajaran perlu diketahui terlebih dahulu
proses psikis apa yang terjadi pada siswa waktu ia mempelajari sesuatu, keadaan
psikis inilah yang nantinya akan sangat mempengaruhi efektifitas dalam proses
belajar mengajar. Berhubungan dengan hal tersebut, seorang guru harus dapat
memperhitungkan aspek-aspek psikologis siswanya, misalnya faktor-faktor yang
dapat memotivasi siswa guna mengaktifkan proses berfikir, mempermudah
menerapkan materi pelajaran untuk meningkatkan taraf pengetahuan dan
kemampuan (Hardjono, 1988:73).
Seorang siswa tidak termotivasi dalam mengikuti pelajaran akan sulit
untuk menerima pelajaran tersebut. Motif siswa belajar dikarenakan adanya dua
hal, pertama karena motivasi yang timbul dari dalam dirinya sendiri sebagai
5 unsur Intrinsik dan yang kedua adalah karena motivasi yang timbul dari luar
sebagai unsur Ekstrinsik (Hunt 1965 dan Carol 1968, dalam Hardjono, 1988:72).
Motivasi yang timbul dari luar inilah yang terkait dengan usaha guru,
khususnya guru mata pelajaran PKn untuk menggunakan metode pembelajaran
yang lebih menarik sehingga peserta didik lebih antusias dalam mengikuti
pelajaran PKn (siswa ikut terlibat secara aktif dalam pembelajaran) apabila
merasakan situasi pembelajaran yang cenderung memuaskan dirinya dan sesuai
dengan apa yang diharapkannya. Oleh karena itu penggunaan model pakem dapat
dijadikan sebagai salah satu alternatif yang baik, sebab dalam model pakem, Aktif
dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus dapat menciptakan
suasanan
dimana
siswa
dapat
aktif
bertanya,
mempertanyakan
dan
mengemukakan pendapat yang dapat menghasilkan suatu gagasan/ide yang
cemerlang. Proses aktif dalam belajar dari si pembelajar sangat penting bagi usaha
meningkatkan pengetahuan, bukan seperti proses pasif yang selama ini
berkembang, karena siswa hanya dicekoki materi melalui metode ceramah sjaa
sehingga siswa tidak dapat ikut terlibat secara langsung atau aktif, hal ini sangat
bertentangan dengan hakekat belajar. Peran aktif siswa sangatlah penting dalam
pembentukan generasi penerus yang kreatif dan berguna bagi dirinya secara
pribadi maupun bagi orang lain.
Kreatif dimaksudkan agar guru dapat menciptakan kegiatan belajar yang
bervariasi atau beragam dan sesuai dengan harapan, jika dilihat dari kemampuan
siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar mengajar yang menyenangkan,
tidak membuat siswa bosan melainkan dapat membuat siswa memusatkan seluruh
perhatiannya secara penuh pada pelajaran termasuk juga penggunaan lingkungan
6 sekitar sekolahan sebagai salah satu media/sumber belajar yang mendukung agar
tetap menarik perhatian siswa.
Pembelajaran tidak cukup sampai pada tingkat aktif, kreatif dan
menyenangkan saja, tetapi juga harus efektif. Unsur efektif, akan menghasilkan
apa yang harus dikuasai oleh siswa setelah proses pembelajaran berlangsung,
sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan yang harus dicapai. Jika
pembelajaran hanya aktif, kreatif dan menyenangkan saja, maka pembelajaran
tersebut belum bisa memenuhi tujuan daripada pembelajaran itu sendiri. (Dinas
Pendidikan Kota Malang, 2004:3.4)
Bertolak dari latar belakang permasalahan-permasalahan diatas, maka
dilakukanlah penelitian terhadap “Penerapan Model Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) pada mata pelajaran PKn. (suatu studi di
MTs negeri I Malang)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian
pada
latar
belakang
masalah
diatas,
maka
permasalahan yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan model pembelajaran pakem pada mata pelajaran PKn
di MTs Negeri I Malang?
2. Apa faktor yang mendorong diterapkannya model pakem pada mata pelajaran
PKn di MTs Negeri I Malang?
3. Apa faktor yang dapat menghambat penerapan model pakem pada mata
pelajaran PKn di MTs Negeri I Malang?
7 4. Bagaimana upaya yang dilakukan guru-guru untuk mengatasi hambatan dalam
pelaksanaan model pembelajaran pakem pada mata pelajaran PKn di MTs
Negeri I Malang?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan pengertian pakem dan penerapan prinsip pakem pada
mata pelajaran PKn di MTs Negeri I Malang.
2. Untuk mendeskripsikan faktor yang dapat mendorong diterapkannya model
pakem pada mata pelajaran PKn di MTs Negeri I Malang.
3. Untuk mendeskripsikan faktor yang dapat menghambat penerapan model
pakem pada mata pelajaran PKn di MTs Negeri I Malang.
4. Untuk mendeskripsikan upaya yang dilakukan guru-guru untuk mengatasi
hambatan dalam pelaksanaan model pembelajaran pakem pada mata pelajaran
PKn di MTs Negeri I Malang.
D. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:
1. MTs Negeri I Malang
Dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dalam menerapkan model pakem
selanjutnya. Tidak hanya pada mata pelajaran PKn saja, tetapi jika memungkinkan
dapat juga diterapkan pada mata pelajaran yang lain.
2. Bagi Jurusan PKn
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan yang sangat
berarti bagi kemajuan pendidikan yang berupa pengetahuan tentang karakteristik
8 pelaksanaan pakem di MTs Negeri I Malang, khususnya pada mata pelajaran PKn
dan dijadikan sebagai bahan revisi bagi perkembangan penelitian selanjutnya.
3. Penelitian Lanjutan
Untuk memberikan masukan tentang upaya dan strategi yang dapat
dilakukan oleh peneliti selanjutnya dalam memecahkan permasalahan yang sama
dan masih ada kaitannya dengan penerapan model pembelajaran pakem.
E. Definisi Istilah
Untuk menghindari kesalah pahaman dan salah penafsiran dalam
penelitian ini perlu ada penegasan istilah dalam judul penelitian ini.
1. Pakem merupakan suatu usaha guru untuk bisa menciptakan suasana
sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya dan mengeluarkan gagasan.
Sedangkan kreatif, seorang guru harus mampu menciptakan suasana beragam
sehingga memenuhi tingkat kemampuan siswa dan menyenangkan suasana
belajar siswa diharapkan memusatkan perhatiannya secara penuh terhadap
pelajaran (http://www.pontianakpost.com).
2. Pendidiakan Kewarganegaraan merupakan suatu bidang studi yang mencakup
dimensi pengetahuan, keterampilan, dan nilai. Pendidikan Kewarganegaraan
ingin membentuk warga negara yang ideal, yakni yang mempunyai
pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang sesuai dengan konsep dan prinsipprinsip Pendidikan Kewarganegaraan (Untari, 2005/2006:3).
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran
1. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatau proses, dimana dapat membuat orang
melakukan proses belajar sesuai dengan rancangan. Karena sifat dari proses
tersebut, maka proses belajar yang tejadi adalah proses perubahan perilaku dalam
konteks pengalaman yang memang pada dasarnya telah dirancang terlebih dahulu
(Winataputra dan Rosita, 1995/1996:2). Seperti apa yang diungkapkan oleh
Romiszowski (1981:147), dalam (Winataputra dan Rosita, 1995/1996:2 “proses
belajar yang berpusat pada tujuan atau goal directed teaching process yang dalam
banyak hal dapat direncanakan sebelumnya (pre-planed)”.
Menurut
Gagne
(1975),
dalam
(Saputro
dan
Abidin,
2005:3)
“pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang diciptakan dan dirancang untuk
mendorong, menggiatkan dan mendukung belajar siswa”.
Sedangkan pendapat dari Raka Joni (1980:1), dalam (Saputro dan Abidin,
2005:3) “pembelajaran adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan
teradinya belajar”. Penciptaan sistem lingkungan berarti menyediakan peristiwakondisi lingkungan yang dapat merangsang anak untuk melakukan aktivitas
belajar.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu usaha
manusia yang dilakukan untuk memfasilitasi belajar orang lain dan pembelajaran
merupakan kegiatan guru yang mendorong tejadinya aktivitas belajar siswa.
9 10 2. Strategi Pembelajaran
Pengertian pembelajaran di atas dapat diartikan sebagai penciptaan
lingkungan belajar. Berkaitan dengan makna tersebut, maka strategi pembelajaran
adalah proses penetapan, pengorganisasian, dan pengoperasian sistem lingkungan
belajar yang bersifat efektif dan efisien untuk pencapaian tujuan pembelajaran
(Saputro dan Abidin, 2005:6).
Sedangkan menurut Al-Hakim S. Dkk (2002:80), dalam (Saputro dan
Abidin, 2007:7) “Strategi pembelajaran memiliki dua hal, (1) Perencanaan
tindakan secara sistematis, dan (2) Implementasi perencanaan dalam tindakan di
lapangan”. Strategi pembelajaran merupakan bagian dari keseluruhan komponen
pembelajaran. Strategi pembelajaran berhubungan dengan cara-cara yang dipilih
guru untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar di kelas, sehingga mampu
mencapai tujuan pembelajaran dan berfungsi untuk mewujudkan aktualisasi
proses pembelajaran.
Strategi pembelajaran aktualisasinya terwujud sebagai seperangkat
tindakan guru untuk mewujudkan proses pembelajaran yang memudahkan siswa
untuk mencapai tujuan belajarnya. Cakupan tindakan tersebut adalah sebagai
berikut: (1) setting atau latar pembelajaran, (2) pengelolaan dan pengorganisasian
bahan ajar, (3) pengalokasian waktu, (4) pengaturan pola aktivitas pembelajaran,
(5) metode, teknik, dan prosedur pembelajaran, (6) pengaturan dan pemanfaatan
media pembelajaran, (7) penerapan prinsip pembelajaran, (8) penerapan
pendekatan pola aktivitas pembelajaran, (9) pengembangan dan pengaturan iklim
pembelajaran.
11 Aktualisasi pembelajaran dikatakan strategis manakala setiap jenis dan
atau pola aktivitas pembelajaran beserta seluruh variabel yang terkait dapat
dilacak rasionalitasnya, kadar keefektifan dan keefisiensiannya untuk pencapaian
tujuan pembelajaran. Nilai strategis suatu strategi pembelajaran dapat juga diuji
atas dasar kesesuaiannya dengan variabel-variabel penentu pembelajaran, seperti:
(1) sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, (2) sesuai dengan karakteristik bahan
pembelajaran, (3) karakteristik guru, (4) karakteristik siswa, dan (5) sesuai dengan
karakteristik sarana dan prasarana yang tersedia. Oleh karena itu, keakuratan
strategi pembelajaran dalam memfasilitasi keoptimalan pencapaian tujuan belajar
anak sangatlah penting (Saputro dan Abidin, 2005:9-10).
3. Komponen Pembelajaran
Peranan guru dalam proses pembelajaran, disamping menyampaikan
informasi, guru juga berperan untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa,
meyeleksi materi pembelajaran, memberikan bimbingan belajar, menggunakan
berbagai macam media, strategi dan metode. Menurut Simpson; Anderson
(1981:60) dalam (Saputro dan Abidin, 2005:1) “peran lain dari guru adalah
mengajak diskusi, mengajukan pertanyaan, menyelenggarakan simulasi serta
berbagai peran lainnya”.
Berbagai peran yang diemban guru dalam proses pembelajaran, pada
dasarnya berkenaan dengan hal membelajarkan siswa. Guru hanya memfasilitasi
terjadinya proses belajar dalam diri siswa, perubahan perilaku yang terjadi dalam
diri siswa merupakan akibat dari keaktifan yang dilakukan oleh siswa dalam
interaksinya dengan lingkungan belajarnya (Saputro dan Abidin, 2005:1).
12 Guru hanya sebagai fasilitator yang mengarahkan terhadap terjadinya
aktivitas belajar, keberhasilan pendidikan ditentukan oleh terciptanya suasana
yang nyaman antara guru dengan siswa sejak berlangsungnya kegitan belajarmengajar di kelas. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya diharapkan mampu
mengenali karakteristik komponen-komponen sistem pembelajaran yang menjadi
rangkaian kerjanya, yang nantinya akan diberikan kepada siswa sebagai
pendukung program pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya dalam
pelaksanaan tugasnya sebagai tenaga pendidik.
Komponen-komponen pembelajaran yang dimaksud adalah sebagai
berikut:
a) Komponen Input atau masukan
Komponen ini terdiri dari: (1) Row input (siswa), yakni peserta didik yang
diharapkan mengalami perubahan tingkah laku setelah mengikuti proses
pembelajaran. (2) Instrumental input, yakni komponen guru, materi, media, dan
manajemen kelas. (3) Environmental input, yakni komponen yang terdiri dari
kondisi sosial ekonomi, kultural, dan lain sebagainya. (4) Struktural input, yaitu
komponen yang terdiri dari tujuan sekolah, tujuan pendidikan, visi dan misi
sekolah.
b) Komponen Proses
Komponen proses yaitu serangkaian interaksi dinamis pembelajaran,
antara siswa sebagai masukan dan dengan sejumlah komponen InstrumentalEnvironmental serta Struktral input pembelajaran.
13 c) Komponen Output
Komponen output terdiri dari hasil belajar, sebagaimana seperti yang telah
dirumuskan dalam tujuan pembelajaran yang berupa kualifikasi tingkah laku yang
diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah mengikuti interaksi pembelajaran.
Komponen ini berkaitan dengan domain kognitif, afektif, dan psikomotor.
d) Komponen umpan balik
Merupakan komponen yang memiliki fungsi informatif bagi efektifitas
pencapaian tujuan dan relevansi dari komponen-komponen yang terkait.
B. Pakem
I. Pengertian Pakem
Pakem atau singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan
Menyenangkan merupakan suatu model pembelajaran yang dirancang agar
mengaktifkan anak, mengembangkan kreatifitas, sehingga efektif namun tetap
menyenangkan (WWW. google.com.search:PAKEM).
Pengertian lain, pakem merupakan suatu usaha dari guru untuk bisa
menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya dan
mengeluarkan gagasan. Sedangkan kreatif, seorang guru harus mampu
menciptakan suasana belajar yang beragam sehingga memenuhi tingkat
kemampuan siswa dan menyenangkan adalah suasana belajar, dimana siswa
diharapkan dapat memusatkan perhatiannya secara penuh ke pelajaran.
(http://www.pontianakpost.com).
Pakem adalah sebuah model pembelajaran yang memungkinkan peserta
didik melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan keterampilan dan
pemahaman dengan penekanan kepada belajar sambil bekerja, sementara guru
14 menggunakan berbagai sumber dan alat bantu berlajar termasuk pemanfaatan
lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif.
(http:/pbmtutik.blogspot.com/)
Menurut Best 2001, (dalam http://www.pendidikan.net/development.html)
pakem adalah “A conception that helps teacher relate subject matter content to
real world situation and motivates students to make connections between
knowledge and its applications to their lives as family members, citizens, and
workers.” Satu konsep yang membantu guru-guru menghubungkan isinya mata
pelajaran dengan situasi keadaan di dunia (real world) dan memotivasikan siswasiswi untuk lebih paham hubungan pengetahuan dan aplikasinya kepada hidup
mereka sebagai anggota keluarga, masyarakat dan karyawan-karyawan.
Menurut
Philip
Rekdale
http//www.pendidikan.net/developmen.html)
pakem
2005,
adalah
(dalam
singkatan
dari
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Fokus pakem adalah
pada kegiatan siswa dalam bentuk grup, individu, dan kelas, partisipasi di dalam
proyek, penelitan, penelidikan, penemuan, dan beberapa macam strategi yang
hanya dibatasi dari imaginasi guru.
Secara garis besar, gambaran pakem adalah sebagai berikut:
a. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan
kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
b. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat,
termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan
pembelajaran menarik, menyenangkan serta cocok bagi siswa.
15 c. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang
lebih menarik serta menyediakan pojok baca.
d. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif,
termasuk cara belajar kelompok.
e. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan
suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa
dalam mencipatakan lingkungan sekolahnya (Dinas Pendidikan Kota Malang,
2004:3.4).
Pakem diterapkan di sekolah untuk menghasilkan lulusan yang memiliki
sejumlah keterampilan yang beragam, yang nantinya diperlukan untuk menjalani
kehidupan di masa yang akan datang. Untuk menjamin keberhasilan proses
pembelajaran, maka proses belajar-mengajar di kelas haruslah dirancang agar
mengaktifkan anak, mengembangkan kreativitas sehingga efektif namun tetap
menyenangkan.
Sekolah dan guru haruslah mampu mengembangkan kegiatan belajar
mengajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan tentang kegiatan siswa
selama belajar di sekolah, pemanfaatan sumber belajar yang berbeda dengan
sebelumnya serta peran guru dalam mengajar sebagai upaya untuk mengurangi
gaya lama dalam pembelajaran (Dinas pendidikan kota Malang, 2004:3.11).
Pakem
dijadikan
sebagai
model
pembelajaran
yang
mempunyai
karakteristik tersendiri dan dirasa cocok untuk diterapkan dalam kegiatan belajarmengajar di kelas. Karakteristik dalam model pembelajaran pakem adalah sebagai
berikut:
16 1). Aktif
Dimaksudkan disini, bahwa dalam proses pembelajaran guru harus dapat
menciptakan suasana dimana siswa dapat aktif bertanya, mempertanyakan dan
mengemukakan pendapat yang dapat menghasilkan suatu gagasan atau ide yang
cemerlang. Proses aktif dalam belajar dari si pembelajar sangat penting bagi usaha
meningkatkan pengetahuan, bukan seperti proses pasif yang selama ini
berkembang, karena siswa hanya dicekoki materi melalui metode ceramah saja
sehingga siswa tidak dapat ikut terlibat secara langsung, hal ini sangat
bertentangan dengan hakekat belajar. Peran aktif siswa sangatlah penting dalam
pembentukan generasi penerus yang kreatif dan berguna bagi dirinya pribadi
maupun bagi orang lain.
Menurut Willian Burton, (dalam Usman, 1995:21) “Mengajar adalah
membimbing kegiatan belajar siswa sehingga mau belajar atau Teaching is the
guidance of learning activities, teaching is for purpose of aiding the pupil learn”.
Dengan demikian, aktifitas murid sangat diperlukan dalam kegiatan belajarmengajar sehingga muridlah yang harus banyak aktif, sebab sebagai subjek didik
adalah yang merencanakan dan ia sendiri yang melaksanakan belajar. Hal ini
sangat berbeda dengan kenyataan yang terjadi di sekolah-sekolah, dimana guru
yang lebih aktif sedangkan siswa menjadi pasif. Aktivitas belajar murid yang
dimaksud disini adalah aktivitas jasmaniah maupun aktivitas mental. Aktivitas
murid dapat digolongkan kedalam beberapa hal, yaitu:
a. Aktivitas visual (Visual activities), seperti membaca, menulis, melakukan
eksperimen, dll.
17 b. Aktivitas lisan (Oral activities), seperti bercerita, membaca sajak, Tanya
jawab, diskusi, dll.
c. Akitvitas
mendengarkan
(Listening
activities),
seperti
mendengarkan
penjelasan guru, ceramah, pengarahan, dll.
d. Aktivitas gerak (Motor activities), seperti senam, atletik, menari, melukis, dll.
e. Aktivitas menulis (Writing activities), seperti mengarang, membuat makalah,
membuat surat, dan lain-lain.
Menurut John dewey, (dalam Dimyati dan Moedjiono, 1994:42)
mengemukakan bahwa “belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan
siswa untuk dirinya sendiri” maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri guru
hanya sekedar pembimbing dan pengarah. Sedangkan menurut teori kognitif, anak
memiliki sifat aktif, konstruktif dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu
untuk mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang telah
diperolehnya.
Dalam proses belajar mengajar siswa harus mampu mengidentifikasi,
menganalisis, menafsirkan serta menarik kesimpulan. Jadi, siswa adalah sebagai
makhluk yang aktif, mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, dan mempunyai
kemauan serta aspirasi sendiri. Belajar tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain,
belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif (Dimyati dan Moedjiono,
1994:42).
Untuk menimbulkan keaktifan belajar pada diri siswa, maka guru dapat
melakasanakan perilaku-perilaku sebagai berikut:
a) Menggunakan multimetode dan multimedia
b) Memberikan tugas secara individual maupun kelompok
18 c) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan eksperimen
dalam kelompok kecil.
d) Memberikan tugas untuk membaca bahan belajar kemudian mencatat hal-hal
yang dirasa kurang jelas.
e) Mengadakan tanya jawab dan diskusi (Dimyati dan Moejiono, 1994:57).
2). Kreatif
Dimaksudkan agar guru dapat menciptakan kegiatan belajar yang
bervariasi dan beragam dengan membuat alat bantu belajar yang sederhana dan
sesuai dengan harapan siswa sehingga siswa dapat merancang atau membuat
sesuatu yang dapat berguna bagi dirinya pribadi maupun bagi orang lain serta
dapat membuat tulisan atau karangan ilmiah. Di dalam proses belajar-mengajar
seorang guru dituntut untuk memilki keterampilan mengadakan variasi yang
bertujuan mengatasi rasa jenuh pada diri siswa, sehingga siswa senantiasa
menunjukan ketekunan, antusias, dan ikut berpartisipasi.
Adapun tujuan atau manfaat yang lain dari keterampilan mengadakan
variasi oleh guru adalah sebagai berikut:
a) Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek
belajar mengajar yang relevan.
b) Untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya bakat ingin mengetahui
dalam diri siswa terhadap hal-hal yang baru.
c) Untuk memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan
berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih
baik.
19 d) Memberikan kesempatan pada siswa untuk memperoleh cara menerima yang
disenanginya (Usman, 1995:84).
Guru juga harus menciptakan metode-metode belajar yang menarik,
ditunjang dengan media yang bervariasi, alat bantu yang sederhana tetapi
mendukung, dan yang tidak kalah penting adalah pemilihan sumber belajar yang
tepat, sehingga guru dan siswa dapat melaksanakan KBM dengan baik, hasil yang
diperoleh siswapun juga memuaskan. Setelah mengikuti KBM di kelas, siswa
diharapkan mampu menunjukkan potensi yang ada di dalam dirinya dengan
karya-karya yang bermanfaat, mampu menciptakan media dan alat bantu sendiri
yang dapat membantu mempermudah dirinya dalam memahami materi serta
mencari sumber belajar yang lain selain dari sekolah, baik dari koran, majalah,
dan internet.
3). Menyenangkan
Suasana belajar-mengajar yang menyenangkan adalah suasana belajar
yang tidak membuat siswa bosan, yang tidak membuat siswa takut salah, takut
ditertawakan, dan takut disepelekan melainkan dapat membuat siswa memusatkan
seluruh perhatian secara penuh pada pelajaran termasuk juga penggunaan
lingkungan sekitar sekolahan sebagai salah satu media atau sumber belajar yang
mendukung agar tetap menarik perhatian siswa. Guru harus dapat menciptakan
suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa dapat memusatkan
perhatiannya secara penuh pada pelajaran. “Kegembiraan dapat membuat siswa
siap belajar dengan lebih mudah, dan bahkan dapat mengubah sikap negatif
siswa“ (De Porter, Reardon dan Singer-nourie, 1992:26).
20 Metode atau konsep pembelajaran yang menyenangkan penting untuk
diterapkan, sehingga membuat siswa selalu termotivasi dalam belajar dan
mengikuti pelajaran di kelas dengan penuh antusias. Selain itu, untuk
menanamkan keyakinan dalam diri siswa bahwa belajar dapat dilakukan kapan
saja, dimana saja serta belajar merupakan suatu keharusan bagi seorang pelajar
karena belajar sama asyiknya dengan bermain.
Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang bisa
membuat siswa berani mengungkapkan apa yang dirasakan dan dipikirkannya
tanpa membuat mereka takut. Baik takut salah, takut ditertwakan maupun takut
disepelekan, sehingga pada akhirnya siswa akan selalu senang untuk belajar
(Dinas Pendidikan Kota Malang, 2004:3.10).
Walberg dan Greenberg 1997, (dalam De porter, Reardon dan singernourie, 1992:19) berpendapat “Suatu penelitian menunjukkan bahwa lingkungan
sosial atau suasana
kelas adalah penentu psikologos utama yang dapat
mempengaruhi belajar akademis”. Dari pendapat tersebut dapat dikemukakan,
bahwa pada dasarnya suasana atau keadaan lingkungan belajar dapat
mempengaruhi emosi pada diri siswa. Untuk menumbuhkan semangat dan
antusias siswa agar tetap konsentrasi pada pelajaran, maka guru dapat merubah
suasana kelas yang awalnya biasa saja menjadi luar biasa dengan keterampilan
mengelola kelas.
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu
mangatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana
yang menyenangkan didalam kelas. Guru dituntut agar bisa mengelola kelas
dengan baik agar proses belajar-mengajar yang efektif dapat tercipta, salah satu
21 contohnya adalah belajar di luar kelas, yaitu dengan memanfaatkan halaman
sekolah, perpustakaan, dan aula. Selain itu juga membiasakan untuk membentuk
kelompok-kelompok belajar.
Pembelajaran tidak cukup sampai pada tingkat aktif, kreatif dan
menyenangkan saja, tetapi harus efektif.
4). Efektif
Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika dapat menghasilkan apa yang
harus dikuasai oleh siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab
pembelajaran memiliki sejumlah tujuan yang harus dicapai. Jika, pembelajaran
hanya aktif, kreatif dan menyenangkan saja, maka pembelajaran tersebut belum
bisa memenuhi tujuan dari pembelajaran itu sendiri (Dinas Pendidikan Kota
Malang, 2004:3.4 & 3.8-3.9). Guru dapat berupaya agar siswanya selalu berusaha
menunjukkan potensi yang ada pada dirinya dengan belajar, dan upaya tersebut
dapat diwujudkan dengan memberikan rangsangan atau stimulus, dimana dengan
rangsangan atau stimulus tersebut siswa dapat berfikir bahwa dengan belajar, akan
membuat dirinya berhasil.
Kriteria yang harus di penuhi dalam pembelajaran untuk mengefektifkan
kegiatan belajar-mengajar adalah sebagai berikut:
•
Siswa mengetahui cara berpikir dan berbuat dalam melaksanakan tugas
yang harus dikerjakannya.
Setiap siswa dapat belajar sendiri dari sumber belajarnya, tetapi kefektifan
hasil belajar siswa kurang terjamin, jika siswa tidak mengetahui bagaimana cara
mempelajari pelajaran yang akan dialami. Dalam pakem guru melatihkan cara
berpikir dan bekerja dalam mempelajari pelajaran dan menyelesaikan masalah,
22 sedangkan siswa menggunakan cara yang dilatihkan gurunya untuk mempelajari
pelajaran tersebut dari suatu sumber belajar.
•
Siswa berpikir dan berbuat mengikuti suatu metode yang dapat
membuatnya berhasil.
Untuk kefektifan pembelajaran, guru hanya mengajarkan cara berpikir dan
bekerja. Siswa menggunakan cara-cara yang diajarkan gurunya itu untuk
mempelajarinya dan mencoba untuk menyelesaikan masalah yang timbul
(http://www.p4tkipa.org).
II. Penerapan Pakem
Penerapan pakem dapat diwujudkan dalam setiap kegiatan belajarmengajar, belajar merupakan proses internal yang kompleks, dapat dipandang dari
dua subjek, yaitu dari siswa dan dari guru. Siswa dalam belajar haruslah dapat
mengalami secara langsung, baik aktif secara fisik, mental maupun emosional
dalam memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi, sedangkan guru hanya
bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator (Dimyati dan Mudjiono, 1994:43).
Guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa siswanya berhasil
mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian, ada dua tolok ukur mengenai
efektivitas mengajar, yakni tercapainya tujuan dan hasil belajar yang tinggi. Untuk
mencapai tingkat efektivitas mengajar yang tinggi, guru harus mampu menguasai
beberapa keterampilan dalam mengajar yang kompleks dan utuh (Hasibuan dan
Moedjiono, 1986:46).
Keterampilan-keterampilan dalam mengajar memiliki prinsip dasar,
tujuan, dan komponen tersendiri. Berikut ulasan tentang beberapa keterampilan
dalam mengajar tersebut:
23 a. Keterampilan Bertanya (questioning skills)
Dalam proses belajar-mengajar, bertanya memainkan peranan penting
sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan dengan teknik pelontaran yang
tepat pula, maka akan memberikan dapak positif terhadap siswa. Diantaranya
dapat meningkatkan partisipasi siswa, membangkitkan minat dan rasa ingin tahu
siswa, memusatkan perhatian siswa, dan mengembangkan pola serta cara belajar
aktif dari siswa. Adapun dasar pertanyaan yang baik adalah sebagai berikut:
1) Jelas dan mudah dimengerti oleh siswa.
2) Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu.
3) Bagikan semua pertanyaan kepada seluruh murid secara merata.
4) Berikan waktu yang cukup kepada anak untuk memikirkan jawabannya.
5) Berikan respons yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul keberanian
siswa untuk menjawab.
b. Keterampilan Memberi Penguatan
Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respon, apakah bersifat
verbal atau non-verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru
terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau
umpan balik (feedback) bagi siswa atas perbuatannya sebagai suatu tindak
dorongan atau koreksi. Tindakan ini dimaksudkan untuk mengganjar atau
membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi
belajar-mengajar. Tujuan dari pemberian penguatan adalah sebagai berikut:
1) Meningkatkan perhatian siswa.
2) Melancarkan atau memudahkan proses belajar.
3) Membangkitkan dan mempertahankan motivasi.
24 4) Mengarahkan kepada cara berfikir yang baik.
c. Keterampilan Mengadakan Variasi
Variasi atau stimulus adalah sesuatu kegiatan guru dalam konteks interaksi
belajar-mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan siswa, sehingga
siswa senantiasa menunjukan ketekunan, antusiasme, dan berpartisipasi. Prinsip
yang perlu dipahami oleh guru dalam melaksanakan kemampuan ini dalam
kegiatan belajar-mengajar adalah sebagai berikut:
1) Perubahan yang perlu dilakukan harus bersifat efektif.
2) Penggunaan teknik variasi harus lancar dan tepat.
3) Penggunaan teknik variasi harus luwes dan spontan berdasarkan balikan
siswa.
d. Keterampilan Menjelaskan
Yang dimaksud dengan keterampilan menjelaskan dalam kegiatan belajarmengajar adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara
sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya.
Adapun prinsip dari keterampilan memberikan penjelasan adalah sebagai berikut:
1) Penjelasan dapat diberikan di awal, di tengah, atau di akhir jam pertemuan.
2) Penjelasan dapat diiringi tanya jawab.
3) Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran.
4) Penjelasan dapat diberikan bila ada pertanyaan dari siswa ataupun telah
direncanakan sebelumnya.
e. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Yang dimaksud dengan membuka pelajaran adalah usaha atau kegiatan
yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar-mengajar untuk menciptakan
25 prokondisi bagi murid agar mental maupun perhatiannya terpusat pada apa yang
akan dipelajarinya. Kegiatan ini tidak hanya dapat dilakukan oleh guru pada awal
sebelum pelajaran dimulai saja, melainkan pada awal setiap penggal kegiatan inti
pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu.
f. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan
sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai
pengalaman dan informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah.
Pengertian dikusi kelompok dalam kegiatan belajar-mengajar tidak jauh berbeda
dengan pengertian di atas, siswa berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil
dibawah pimpinan guru atau temannya untuk berbagi informasi, pemecahan
masalah, atau pengambilan keputusan. Diskusi tersebut berlangsung secara
terbuka, setiap siswa dapat mengemukakan ide-ide tanpa ada tekanan dari teman
atau gurunya.
g. Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan
memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi
gangguan dalam proses belajar-mengajar. Dengan kata lain, kegiatan untuk
menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses
belajar-mengajar. Kegiatan yang termasuk ke dalam hal ini adalah penghentian
tingkah laku siswa yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran
bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, dll. Suatu kondisi belajar
yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana
pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan.
26 h. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Secara fisik bentuk pembelajaran ini adalah bila jumlah siswa yang
dihadapai oleh guru terbatas, yaitu berkisar 3-8 orang untuk kelompok kecil, dan
seorang untuk perseorangan. Ini tidak berarti, bahwa guru hanya menghadapi satu
kelompok atau seseorang siswa saja sepanjang waktu belajar. Guru menghadapi
banyak siswa yang terdiri dari beberapa kelompok yang dapat bertatap muka, baik
secara perseorangan atau kelompok. Hakikat pembelajaran ini adalah:
1) Terjadinya hubungan interpersonal antara guru dengan siswa dan juga siswa
dengan siswa.
2) Siswa belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing.
3) Siswa mendapat bantuan dari guru sesuai dengan kebutuhannya, dan
4) Siswa dilibatkan dalam perencanaan kegiatan belajar-mengajar (Usman,
1995:74-102).
III. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Pelaksanaan Pakem
Komponen dalam pakem merupakan suatu hal yang penting untuk
dicermati dan harus dikelola dengan baik agar pembelajaran yang akan
dilaksanakan oleh guru dapat diterima dengan baik oleh siswa. Ada aspek yang
harus diperhatikan, yaitu:
1) Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memilki sifat rasa ingin tahu yang tinggi dan
berimajinasi. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar berkembangnya
sikap/berpikir kritis dan kreatif, kegiatan belajar merupakan lahan yang harus
diolah secara baik demi berkembangnya kedua sifat tersebut. Suasana
pembelajaran yang menyenangkan, dimana guru memuji anak karena hasil
27 karyanya, mengajukan pertanyaan menantang dan mendorong anak untuk
melakukan
percobaan
merupakan
sedikit
contoh
dari
langkah-langkah
pembelajaran yang dapat dilakukan.
2) Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki
kemampuan berbeda. Dalam pakem, perbedaan individual harus diperhatikan dan
tercermin dalam kegiatan pembelajran, semua anak tidak harus mengerjakan tugas
ynag sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Dengan
mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan
sehingga belajar anak tersebut dapat optimal.
3) Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain
berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku yang demikian dapat
dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam membahas suatu tugas,
anak dapat menyelesaikannya dengan berkelompok karena berdasarkan
pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik apabila berkelompok
sehingga memudahkan mereka dalam bertukar pikiran. Akan tetapi, juga
diperlukan penyelesaian tugas secara perorangan agar bakat individunya dapat
berkembang.
4) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan
memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini merupakan pemecahan masalah dan hal ini
membutuhkan pemikiran kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah dan
kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis pemikiran
28 tersebut, berasal dari rasa keingin tahuan dan imajinasi pada diri anak. Oleh
karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya dengan cara sering memberikan
tugas atau mengajukan pertanyaan terbuka.
5) Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang paling disarankan oleh
pakem. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa dan ditata
dengan baik dapat membantu guru dalam proses belajar-mengajar dikelas karena
dijadikan sebagai bahan rujukan kerika membahas suatu masalah. Yang dipajang
merupakan hasil kerja perorangan, kelompok, atau berpasangan. Dapat berupa
gambar, peta, diagram, puisi atau karangan-karangan lain yang diharapkan dapat
lebih memotivasi siswa untuk belajar lebih baik dan menimbulkan inspirasi buat
siswa lain.
6) Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat
kaya untuk bahan belajar anak, lingkungan dapat berperan sebagai media belajar
dan juga sebgai objek kajian (sumber belajar). Pemanfaatan lingkungan sebagai
sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Pemanfaatan
lingkungan dapat mengembangkan keterampilan mengamati (dengan seluruh
indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, mengklasifikasi, membuat tulisan,
dan lain-lain.
7) Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat jika terjadi interaksi dalam belajar,
pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk
interaksi antara guru dengan siswa. Selain itu, cara memberikannya pun harus
29 secara santun sehingga siswa lebih percaya diri dalam memeriksa hasil pekerjaan
siswa dan memberikan komentar atau catatan, catatan tersebut diharapkan dapat
menjadikan pekerjaan siswa agar lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa
dari pada sekedar angka.
8) Membedakan antara aktif mental dengan aktif fisik
Banyak guru yang merasa senang jika melihat siswanya kelihatan sibuk
bekerja secara kelompok dengan posisi duduk saling berhadapan, keadaan
demikian bukanlah cirri dari pakem. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif
fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain dan sering
mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda orang yang aktif mental, syarat
dari berkembangnya aktif mental adalah tumbuh perasaan tidak takut ditertawakan
maupun disalahkan. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab
rasa takut tersebut (dinas Pendidikan Kota Malang, 2004:3.13-3.15).
IV. Faktor Yang Mendorong Diterapkannya Pakem
Pakem diterapkan karena dilatarbelakangi oleh kenyataan, bahwa
pembelajaran model konvensional dinilai menjemukan dan dirasa kurang menarik
bagi para peserta didik, sehingga berakibat kurang optimalnya penguasaan materi
bagi peserta didik terlebih lagi peserta didik kurang begitu antusias dalam
mengikuti kegiatan belajar-mengajar di kelas, mudah merasa bosan serta minat
untuk
mendengarkan
penjelasan
dari
guru
berkurang
(http://pbmtutik.blogspot.com/).
Seorang guru dituntut agar lebih peka dalam membaca situasi,
membalikkan keadaan dari yang konvensional dan monoton menjadi lebih modern
dan bervariasi di dalam pembelajaran serta menciptakan suasana belajar yang
30 dapat memberikan kenyamanan bagi peserta didik, sehingga dapat mengatasi
masalah-masalah yang timbul saat kegiatan belajar-mengajar sedang berlangsung.
Di samping hal yang tersebut di atas, masih terdapat faktor lain yang
menjadi pendorong diterapkannya pakem, yaitu antara lain:
a. Adanya lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan pakem.
b. Digunakan pakem sebagai strategi pembelajaran di sebagian besar sekolah.
c. Adanya hubungan kerja yang harmonis dan kondusif.
d. Adanya partisipasi dari masyarakat yang besar bagi penerapan pakem dalam
dunia pendidikan.
e. Adanya dukungan dana bantuan langsung (block grant).
V. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pakem
Di samping terdapat faktor pendorong, pelaksanaan pakem di sekolahsekolah juga menemui berbagai kendala, sehingga pelaksanaannya kurang optimal
terlebih lagi ada sekolah-sekolah yang belum mencoba menerapkan pakem
dikarenakan banyak faktor yang menghambat. Faktor tersebut antara lain adalah
sebagai berikut:
a. Kurangnya
sosialisasi
tentang
pentingnya
pelaksanaan
pakem
demi
meningkatkan mutu pendidikan.
b. Kurangnya kesiapan dan pemahaman dari pihak sekolah dalam melaksanakan
pakem.
c. Adanya kesalahan dalam praktek pakem.
d. Minimnya sarana dan prasarana sekolah yang menunjang pelaksanaan pakem.
e. Kurangnya kesediaan serta rendahnya kemauan atau semangat kerja dari
tenaga pendidik dalam melaksanakan pakem.
31 f. Adanya sikap tenaga pendidik yang telah terkondisi, bersikap pasif, tidak
kreatif, dan tetap menggunakan gaya konvensional serta monoton dalam
memberikan pembelajaran (Setiani, Analisis Implementasi Manajamen
Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) di gugus 03 kecamatan
Mojosari Kabupaten Mojokerto).
C. Pendidikan Kewarganegaraan
Sebagaimana lazimnya suatu bidang studi yang diajarkan disekolah, materi
keilmuan bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan mencakup dimensi
pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan nilai (values). Pendidikan
Kewarganegaraan ingin membentuk warga negara yang ideal, yakni warga negara
yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang sesuai dengan
konsep serta prinsip-prinsip Pendidikan Kewarganegaraan. Secara garis besar,
bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan terdiri dari beberapa dimensi berikut:
1) Dimensi pengetahuan (civic knowledge) mencakup bidang politik, hukum dan
moral. Artinya dari segi materi, pembelajaran bidang studi Pendidikan
Kewarganegaraan meliputi pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan proses
demokrasi, lembaga pemerintahan dan non-pemerintahan, identitas nasional,
pemerintahan berdasarkan hukum (rule of law), peradilan yang bebas dan
tidak memihak, konstitusi, sejarah nasional, hak dan kewajiban, tanggung
jawab warga negara serta hak asasi manusia.
2) Dimensi keterampilan kewarganegaran (civic skills), meliputi keterampilan
partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, misalnya berperan serta
secara aktif mewujudkan masyarakat madani, keterampilan mempengaruhi
dan monitoring jalannya pemerintahan dan proses pengambilan keputusan
32 politik, keterampilan memecahkan masalah-masalah sosial, keterampilan
mengadakan koalisasi, kerjasama, mengelola konflik, dan sebagainya.
3) Dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civic values) mencakup percaya diri,
komitmen, penguasaan atas nilai religius, norma dan moral luhur, nilai
keadilan, demokratis, toleransi, kebebasan individu, kebebasan berbicara,
kebebasan pers, kebebasan berserikat dan berkumpul, perlindungan terhadap
minoritas, dan sebagainya (Untari 2005/2006:3).
Pendidikan kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang strategis
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan Kewarganegaraan
mengemban misi dalam mempersiapkan bangsa Indonesia yang tangguh dalam
mengatasi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang berpengaruh pada
eksistensi dirinya. Kompetensi yang demikian harus diimbangi dengan
kemampuan berpikir kearah pemahaman dan pengamalan jiwa dan nilai-nilai
pancasila serta pengalaman nilai-nilai ajaran agama yang diyakini oleh masingmasing bangsa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan merupakan pendidikan
yang mengupayakan pembentukan manusia yang sadar akan wawasan nasional
dan pertahanan nasional (Al-Hakim, 2002:4-5).
1) Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan untuk membentuk pribadi warga
negara yang baik (desirable personal quality). Menurut Dimond 1970, (dalam AlHakim, 2002:5), kualitas kepribadian warga negara yang baik meliputi beberapa
hal, yaitu:
a) Loyal.
b) Orang yang selalu belajar.
33 c) Seorang pemikir.
d) Bersikap demokratis.
e) Gemar melakukan tindakan kemanusiaan.
f) Pandai mengatur diri, dan
g) Seorang pelaksana.
Selain itu, Pendidikan Kewarganegaraan juga bertujuan untuk memperluas
wawasan dan menimbulkan kesadaran warga negara, sikap serta perilaku cinta
tanah air yang berdasarkan pada kebudayaan bangsa, wawasan nusantara dan
ketahanan nasional. Dengan demikian, target Pendidikan Kewarganegaraan dalam
kerangka sistem pendidikan nasional dipusatkan pada kredibilitas kepribadian
warga negara dan mampu berpartisipasi dalam kehidupan bernegara, berbangsa,
dan bermasyarakat (Al-Hakim, 2002:6).
Sedangkan tujuan Pendidikan Kewarganegaraan menurut Depdiknas 2006,
(dalam Untari, 2005/2006:3) adalah:
1. Berfikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.
2. Berpartisipasi secara bermutu, bertanggung jawab serta bertindak cerdas
dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan
pada karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama bangsa lain.
4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam pecaturan dunia secara
langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi, informasi, dan
komunikasi.
34 2. Ruang Lingkup Pendidikan Kewarganegaraan
Menurut (Depdiknas, 2006) ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
a) Persatuan dan kesatuan bangsa, meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan, cinta
lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, partisipasi dalam bela
negara, dan lain-lain.
b) Norma, hukum dan peraturan, Meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga, tata
tertib sekolah, norma yang berlaku di sekolah, norma yang berlaku
dimasyarakat, peraturan-peraturan daerah, hukum dan peradilan internasional,
dan lain-lain.
c) Hak asasi manusia, meliputi: Hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban
anggota masyarakat, penghormatan dan perlindungan HAM, dan lain-lain.
d) Sebutuhan warga negara, Meliputi: Hidup gotong royong, harga diri sebagai
warga masyarakat, kebebasan berorganisasi, dan lain-lain.
e) Konstitusi negara, Meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang
pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia, dan lain-lain.
f) Kekuasaan dan politik, Meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan,
pemerintahan daerah dan otonomi, pemerintah pusat, sistem pemerintahan,
budaya politik, demokrasi dan sistem politik, dan lain-lain.
g) Pancasila, Meliputi: Kedudukan pancasila sebagai dasar dan ideologi negara,
pancasila sebagai ideologi terbuka, pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari, dan lain-lain.
h) Globalisasi, Meliputi: Politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, dampak
globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan lain-lain.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Berdasarkan permasalahan penelitian, penulis dalam penelitian ini
menggunakan metode penelitian kualitatif. Menurut Denzin dan Lincoln 1987,
(dalam Moleong, 2005:5) ”penelitian kualitatif terkait dengan suatu realita atau
kenyataan yang dapat menunjukkan ciri-ciri alamiah secara utuh. Penelitian
kualitatif cenderung mengarah pada metode penelitian secara deskriptif karena
mencoba menafsirkan fenomena yang ada dan terjadi, sehingga arah dan latar
belakangnya mempunyai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif”.
Dalam penelitian ini penulis mengamati dan mengkaji suatu fenomena
tertentu, menganalisis serta mendeskripsikan hasil dari pengamatan tersebut
dengan kata-kata, gambar dan bukan angka sehingga laporan penelitiannya berisi
kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut
(Moleong, 2005:11).
Oleh karena itu, pendekatan dalam penelitian ini menggunakan
pendekatan deskriptif. Seperti apa yang telah dikemukakan oleh (Faisol,
1982:120-121) ”penelitian deskriptif atau penelitian non-eksperimental ialah
suatu penelitian yang berkenaan dengan hubungan antara berbagai variabel,
menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, tidak memanipulasi variabelvariabel atau menetapkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi melainkan
menyangkut peristiwa yang sudah terjadi serta berhubungan dengan kondisi saat
ini”. Sedangkan menurut (Arikunto, 1999:12) ”penelitian deskriptif adalah suatu
penelitian
yang
dilakukan
dengan
35
menjelaskan,
menggambarkan
atau
36
membeberkan variabel masa lalu dan masa sekarang (sedang terjadi)”.
Tujuan diterapkannya metode deskriptif dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut: (1) Untuk mencari informasi faktual yang mendetail yang
mencandra gejala yang ada. (2) Untuk mengidentifikasi masalah-masalah atau
untuk mendapatkan justifikasi
keadaan dan praktek-praktek yang sedang
berlangsung, dan (3) Untuk mengetahui apa yang dikerjakan oleh orang lain
dalam menangani masalah atau situasi yang sama, agar dapat belajar dari mereka
untuk kepentingan pembuatan rencana dan pengambilan keputusan di masa depan
(Suryabrata, 2002:19).
Alasan mengapa digunakan pendekatan deskriptif dalam penelitian ini
adalah antara lain sebagai berikut: pertama bahwa penelitian ini mengarah pada
pengkajian suatu kegiatan belajar mengajar di kelas. Kedua, digunakannya
pendekatan deskriptif dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan fenomena apa
yang terjadi saat ini, menganalisis kondisi-kondisi tertentu yang muncul dalam
kegiatan belajar mengajar menyangkut bagaimana perencanaan yang akan
dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar yang dapat mengaktifkan
anak, mengembangkan kreatifitas, sehingga efektif sehingga tetap menyenangkan
dan bagaimana pelaksanaannya di dalam kelas, apakah dari semua yang telah
direncanakan dapat terlaksana dengan baik serta bagaimana juga evaluasinya.
Ketiga, karena sesuai dengan apa yang telah dicantumkan di dalam
rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka untuk memperoleh data harus
berhubungan langsung dengan subjek penelitian dan waktu mengumpulkan data
di lapangan harus terlibat secara aktif karena memang manusialah alat pengumpul
data yang utama serta yang mampu memahami kaitan antara kenyataan-kenyataan
37
di lapangan (Moleong, 2005:9).
B. Kehadiran Peneliti
1. Peneliti Sebagai Instrumen Penelitian
Kedudukan peneliti dalam penelitian ini tidak hanya sebagai perencana,
pelaksana, dan penafsir data saja tetapi juga sebagai pengumpul data serta pelapor
hasil penelitiannya. Oleh karena itu, kedudukan peneliti dalam penelitian ini
sangat penting karena menjadi segalanya dari keseluruhan proses penelitian
(Moleong, 2005:168).
Peneliti dalam proses penelitian haruslah siap dan aktif terjun langsung ke
lapangan karena jika memanfaatkan alat yang lain selain dirinya sendiri, sangat
tidak mungkin untuk menyesuaikan dengan kondisi di lapangan, harus mampu
menggali sumber-sumber yang diperlukan guna melengkapi hasil laporan
penelitiannya secara langsung dan dapat mengontrol hasil yang didapat secara
berulang-ulang, sehingga derajat keandalannya dapat ditingkatkan.
Oleh karena itu, berkaitan dengan hal di atas langkah pertama yang
dilakukan sewaktu memasuki tempat penelitian ialah menemui ibu Dra. Binti
Maqsudah, M.Pd selaku kepala sekolah, kemudian mengungkapkan maksud dan
tujuan datang ke sekolah adalah untuk melakukan penelitian dengan membawa
surat ijin penelitian dari Departemen Agama (DEPAG) yang telah didapat sehari
sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk memperoleh tanggapan secara langsung,
untuk mengetahui respon dari pihak sekolah yang digunakan sebagai tempat
penelitian dan untuk mendapatkan ijin dari kepala sekolah.
Setelah menemui kepala sekolah dan telah memperoleh tanggapan secara
langsung, respon yang baik, serta mendapatkan ijin selanjutnya memperkenalkan
38
diri kepada subjek penelitian, di sini yang menjadi subjek penelitian agar samasama mengetahui bahwa nantinya sewaktu proses penelitian berlangsung akan
saling berinteraksi serta diharapkan subjek penelitian dapat membantu
memberikan informasi yang dibutuhkan. Subjek penelitiannya disini adalah guru
mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) kelas VII di MTsN I Malang,
yaitu ibu Ira Kristina, S.Pd,
ibu Dra. Binti Maqsudah, M.Pd selaku kepala
sekolah, dan siswa kelas VII yang nantinya akan diwawancarai, diobservasi, dan
diambil dokumentasinya.
Ketika melakukan penelitian, haruslah mengetahui dan mematuhi aturanaturan yang berlaku di tempat penelitian. Hal ini dilakukan agar penelitian yang
dilakukan tetap berjalan dengan baik dan subjek penelitian tetap respek sehingga
informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh.
Menurut (Moleong, 2005:172-173)
”Seorang peneliti hendaknya memiliki kualitas kepribadian sebagai
berikut, diantaranya toleran, sabar, dapat menjadi pendengar yang baik,
bersikap terbuka, jujur, objektif, berpenampilan menarik, senang
berbicara, memiliki rasa ingin tahu terhadap segala sesuatu, gampang
menyesuaikan diri dengan segala macam situasi, menghargai perasaan dan
pendapat subjeknya, dan lain-lain”.
Dari pendapat di atas, dapat dijadikan suatu pemahaman bagi sorang
peneliti khususnya sebelum melakukan wawancara terhadap subjek penelitian.
Hal ini dikarenakan, dalam penelitian seorang peneliti senantiasa berhubungan
secara langsung dengan subjeknya, oleh karena itu sangat diperlukan kepribadian
yang baik, sehingga waktu melakukan wawancara dalam penelitiannya dapat
terlaksana dengan baik.
C. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di MTsN I Malang yang terletak di Jalan
39
Bandung, No.7 Malang, tepatnya bersebelahan dengan MIN I Malang dan MAN
III Malang. Alasan dipilihnya MTsN I Malang sebagai lokasi penelitian karena
beberapa hal, diantaranya: (1) Keinginan untuk meneliti bagaimana penerapan
model pakem di sekolah yang berbasis agama (bukan di sekolah umum), sehingga
data yang dihasilkan nantinya diharapkan berbeda dan memiliki ke-khasan
tersendiri dibandingkan dengan penelitian di sekolah umum. (2) MTsN I Malang
merupakan sekolah berbasis agama di kota Malang dengan dilengkapi fasilitasfasilitas yang menunjang, maka oleh masyarakat dianggap sebagai sekolah elit,
sehingga dirasa cocok untuk tempat penelitian karena sedikit banyak kegiatan
belajar mengajar yang dilaksanakan di sekolah mengarah pada penerapan model
pakem. (3) Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan oleh guru mata pelajaran PKn
di MTs N I Malang dalam menerapkan pakem, karena di MTsN I Malang diduga
atau ditengarai menerapkan model pembelajaran yang bernuansa pakem.
D. Fokus Penelitian
Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penerapan model pakem pada kegiatan belajar mengajar, khususnya pada mata
pelajaran PKn yang meliputi bagaimana perencanaan yang disusun oleh guru,
pelaksanaannya di dalam mengajar serta evalusinya. Media, sumber, metode,
dan alat bantu apa yang digunakan oleh guru agar pelaksanaan model pakem
dapat terwujud.
2. Faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan model pakem bagi guru dalam
kegiatan belajar mengajar.
40
E. Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini, yang menjadi subjek penelitian adalah guru sebagai
tenaga pendidik, dalam hal ini Ibu Ira Kristina, S.Pd selaku guru mata pelajaran
PKn kelas VII di MTsN I Malang, tentang bagaimana upaya yang dilakukan
terkait dengan pelaksanaan model pakem dalam kegiatan belajar mengajar
dikelas, apa saja yang direncanakan dan diwujudkan melalui apakah perencanaan
tadi, setelah itu sesuaikah apa yang telah direncanakan tadi dengan apa yang
diterapkan sewaktu kegiatan belajar berlangsung, ibu Dra. Binti Maqsudah, M.Pd
selaku kepala sekolah, dan siswa kelas VII sebagai sasaran didiknya dalam
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang menerapkan model pakem, apakah
upaya yang dilakukan oleh guru dapat diterima dan dipahami oleh siswanya
terkait dengan pengetahuan, pemahaman materi serta hasil belajar.
F. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
Penelitian ini menggunakan dua jenis data, yaitu data primer dan data
sekunder.
a. Data primer
Data yang diperoleh secara langsung di lapangan. Data ini diperoleh dari
pengamatan langsung di MTsN I Malang, wawancara dengan guru mata pelajaran
dan siswa, serta diperoleh dari dokumentasi yang berkaitan dengan perencanaan
model pakem dalam mata pelajaran PKn, penerapan model pakem pada mata
pelajaran PKn, faktor penghambat dan pendorong pelaksanaan model pakem serta
upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan pelaksanaan model pakem.
b. Data sekunder
41
Data sekunder merupakan data yang dapat memperkuat data primer. Data
ini berkaitan dengan perangkat pembelajaran, kondisi sekolah, jumlah kelas, fotofoto kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung, dan arsip lain yang
masih ada kaitannya dengan pakem.
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ialah merupakan subjek darimana data dapat
diperoleh. Apabila menggunakan teknik wawancara dalam pengumpulan datanya,
maka sumber datanya berupa subjek penelitian, apabila menggunakan observasi,
maka sumber datanya bisa berupa benda gerak atau proses sesuatu, dan apabila
menggunakan dokumentasi, maka dokumen atau catatan sumber datanya
(Arikunto, 1999:114). Sumber data yang utama dalam penelitian ini adalah katakata hasil dari wawancara yang dilakukan kepada guru mata pelajaran PKn kelas
VII di MTsN I Malang, dalam hal ini Ibu Ira Kristina, S.Pd, ibu Dra. Binti
Maqsudah, M.Pd selaku kepala sekolah, dan siswa kelas VII tentang pelaksanaan
pakem, serta tindakan guru dalam melaksanakan pakem di kelas.
Guru dan siswa merupakan subjek penelitian atau orang yang paling
banyak memberikan informasi karena mereka merupakan informan yang
berkecimpung secara langsung dalam kegiatan belajar mengajar. Disamping
sumber data berupa orang atau informan, terdapat juga sumber data pendukung
yang berupa peristiwa dan dokumentasi. Peristiwa disini berkaitan dengan
perencanaan model pakem pada mata pelajaran PKn yang dilakukan oleh guru
sebelum melaksanakan KBM di kelas, yaitu dengan mempersiapkan perangkat
pembelajaran terlebih dahulu. Perangkat pembelajaran tersebut terdiri dari
Rencana Program Pembelajaran (RPP), Program Semester, Program Tahunan,
42
Rencana Program Efektif, dan Silabus serta Sistem Penilaian.
Bagaimana pelaksanaannya pada mata pelajaran PKn berkaitan dengan
metode yang digunakan, media, alat bantu, dan sumber belajarnya. Metode yang
diterapkan pada waktu pelaksanaan KBM di kelas adalah metode permainan
(game lari-duduk), studi kasus, dan pengamatan. Sedangkan media pendukungnya
adalah gambar, lembar studi kasus serta artikel, baik dari koran atau dari internet.
Alat bantunya yaitu spidol, papan tulis, kursi, kertas folio bergaris. Bahan ajarnya
terdiri dari buku paket, LKS, dan artikel dari koran ataupun dari internet.
Selain upaya yang dilakukan oleh guru dalam merencanakan dan
melaksanakan model pakem pada saat akan melaksanakan KBM di kelas, guru
juga harus memperhatikan faktor-faktor apa yang menjadi penghambat serta
pendorong pelaksanaan model pakem, karena hal tersebut sangat mempengaruhi
keberhasilan penerapan pakem di sekolah. Setelah mengidentifikasi faktor apa
yang menjadi penghambat dan pendorong, maka guru diharapkan mampu untuk
mengatasi hambatan tersebut.
Dokumentasi terdiri dari sumber tertulis (buku, arsip, catatan resmi
maupun catatan harian, dan dokumen tentang pakem). Data lain yang juga dapat
digunakan sebagai data pendukung yang relevan dan berkaitan dengan masalah
penelitian adalah data tentang sekolah, jumlah siswa, jumlah kelas, gambaran
umum lokasi penelitian, sejarah berdirinya sekolah, perangkat pembelajaran yang
berupa Rencana Program Pembelajaran (RPP), Program Semester, Program
Tahunan, Rencana Program Efektif, dan Silabus serta Sistem Penilaian, serta fotofoto kegiatan belajar mengajar di kelas. Hal ini seperti apa yang telah
diungkapkan oleh Lofland dan Lofland 1984:47, (dalam Moleong, 2005:157)
43
”sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan.
Selebihnya ialah data tambahan seperti dokumentasi dan lain-lain”.
G. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang berkualitas, maka dipengaruhi pula oleh
kualitas alat pengambil data atau alat pengukurnya. Kalau alat pengambil datanya
cukup reliabel dan valid, maka data yang akan diperoleh juga akan cukup reliabel
serta valid (Suryabrata, 2002:84).
Pengumpulan data merupakan hal penting dalam kegiatan penelitian, hal
ini dikarenakan jika pengumpul data melakukan kesalahan sikap dalam
wawancara, maka akan mempengaruhi data yang diberikan oleh subjek penelitian
dan jika itu terjadi akan mempengaruhi kesimpulan yang diperoleh.
Berkaitan dengan cara yang akan ditempuh untuk memperoleh data yang
sesuai dengan jenis data dan sumber data, maka cara yang dapat dilakukan
diantaranya ialah dengan (1) wawancara, (2) observasi, dan (3) dokumentasi.
Teknik-teknik tersebut akan dipaparkan secara lebih rinci seperti berikut ini:
1. Wawancara
Sebelum melakukan wawancara, maka haruslah dipikirkan terlebih dahulu
tentang pelaksanaannya. Mengorek jawaban secara langsung dari subjek
penelitian dengan bertatap muka, lebih sulit dibandingkan dengan memberikan
angket dan menghendaki jawaban tertulis (Arikunto, 1999:231).
Persiapan
merupakan
langkah
rawan
dalam
keseluruhan
proses
wawancara. Pewawancara harus mempunyai konsep yang jelas mengenai hal-hal
yang akan ditanyakan dan informasi yang dibutuhkan, merinci urutan pertanyaan
dengan sebaik-baiknya dan sejelas-jelasnya, sehingga subjek penelitian terdorong
44
untuk memberikan komentar yang akan mengungkapkan jawaban yang diinginkan
(Faisol, 1982:214).
Dalam melakukan wawancara diharapkan untuk menjalin hubungan baik
dan keakraban dengan subjek penelitian, maka informasi yang penting akan dapat
diperoleh. Sikap pewawancara, kecerahan wajah, tutur kata dan bahasa dan
keramahan akan sangat berpengaruh terhadap isi jawaban dari subjek penelitian
yang diterima, suasana harus tetap rileks agar data yang diperoleh merupakan data
yang objektif dan dapat dipercaya. Wawancara harus dilaksanakan dengan efektif,
dalam waktu yang singkat dapat diperoleh data yang sebanyak-banyaknya.
Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan secara terstruktur. Wawancara
terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah
dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan terformat secara baik.
Wawancara yang dilakukan ini ditujukan kepada ibu Ira Kristina, S.Pd selaku
guru mata pelajaran PKn kelas VII di MTsN I Malang, ibu Ana selaku guru mata
pelajaran PKn di MtsN I Malang, ibu Dra. Binti Maqsudah, M.Pd selaku kepala
sekolah, dan siswa kelas VII.
Wawancara yang dilakukan tersebut adalah untuk memperoleh informasi
mengenai perencanaan model pakem, yaitu tentang apa yang dilakukan oleh guru
sebelum melaksanakan KBM di kelas, diantaranya adalah dengan menyiapkan
perangkat pembelajaran (Rencana Program Pembelajaran (RPP), Program
Semester, Program Tahunan, Rencana Program Efektif, dan Silabus serta Sistem
Penilaian) terlebih dahulu.
Wawancara
selanjutnya
dilakukan
untuk
mengetahui
bagaimana
pelaksanaan model pakem, mulai dari metodenya (metode yang dipakai adalah
45
metode game lari-duduk, studi kasus, dan pengamatan), medianya (media yang
disiapkan guru adalah gambar, lembar studi kasus, serta artikel dari koran atau
internet), alat bantunya (papan tulis, spidol, kursi, dan kertas folio bergaris), dan
bahan ajarnya (buku paket, LKS, artikel). Selain hal tersebut di atas, wawancara
yang dilakukan adalah untuk mengetahui faktor penghambat dan pendorong
pelaksanaan model pakem serta upaya dalam mengatasi hambatan tersebut.
2. Observasi atau Pengamatan
Menurut (Faisol, 1982:204) ”Observasi dalam penelitian deskriptif
memungkinkan bagi peneliti untuk mendapatkan informasi-informasi tertentu
secara langsung, bila proses dari observasi menyangkut tingkah laku manusia,
maka akan sangat kompleks proses yang dialami”.
Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa observasi atau pengamatan
dapat memberikan sumbangan yang sangat penting bagi proses penelitian dan jika
subjek yang diteliti semakin beragam, maka akan semakin sulit pula observasi
yang akan dilakukan. Dalam penelitian ini, hanya melakukan pengamatan tanpa
melakukan kegiatan apapun dan subjek yang diteliti hanya sebagian untuk
mewakili keseluruhan.
Dapat dikatan pengamatan ini sebagai pengamatan terbuka, karena secara
terbuka subjek pengamatan, dalam hal ini ibu Ira kristina, S.Pd selaku guru mata
pelajaran PKn kelas VII di MTsN I Malang mempersilahkan untuk mengamati
kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di kelas dan pada waktu jam
pelajaran PKn sedang berlangsung. Hal ini memungkinkan didapatkannya
informasi
yang
relevan
tentang
pelaksanaan
model
pakem,
tentang
perencanaannya, yaitu upaya yang dilakukan guru sebelum melaksanakan KBM
46
di kelas (menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Program
Pembelajaran (RPP), Program Semester, Program Tahunan, Rencana Program
Efektif, dan Silabus serta Sistem Penilaian).
Pelaksanaannya, mulai dari menerapkan metode game lari-duduk, studi
kasus, dan pengamatan. Menyiapkan bahan ajar, yaitu buku paket, LKS, dan
artikel. Menyiapkan media pendukung yang berupa gambar, lembar studi kasus,
dan artikel serta alat bantunya yang terdiri dari papan tulis, spidol, kursi, kertas
folio bergaris. Kesemuanya itu diwujudkan demi terciptanya model pakem di
MTsN I Malang.
Pengamatan digunakan dalam penelitian ini dikarenakan adanya beberapa
alasan, seperti yang telah dikemukakan oleh Guba dan Lincoln 1981:191-193,
(dalam Moleong, 2005:174) berikut ini:
a. Teknik pengamatan ini didasarkan atas pengalaman secara langsung, karena
dengan mengamati secara langsung kebenaran dari suatu hal dapat diketahui.
b. Teknik pengamatan memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian
mencatat perilaku atau kejadian yang terjadi dan dilihat.
c. Pengamatan memungkinkan untuk mencatat peristiwa yang terjadi secara
nyata, bukan hanya dari orang atau sumber lainnya.
d. Pengamatan
dapat
dilakukan
untuk
mengurangi
keragu-raguan
dan
ketidakpercayaan terhadap suatu kebenaran.
e. Pengamatan dapat digunakan untuk memahami situasi-situasi yang rumit dan
kompleks.
f. Pengamatan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat dalam kasus-kasus
47
tertentu, dimana ketika teknik-teknik komunikasi yang lainnya tidak
memungkinkan untuk digunakan.
3. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan,
buku, transkrip, agenda, dan lain-lain. Dibandingkan dengan metode lainnya,
dokumentasi tidak begitu sulit untuk dilaksanakan dengan arti apabila ada
kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum berubah.
Menurut Guba dan Lincoln 1981:235, (dalam Moleong, 2005:217)
”Dokumen sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data
dikarenakan dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, dan bahkan untuk
meramal”. Dokumentasi tidak kalah penting dengan metode-metode lainnya.
Tanpa adanya dokumentasi tentang fenomena yang ditemukan, diamati, dan
diteliti waktu penelitian berlangsung, maka penelitian tersebut akan diragukan
kebenarannya.
Dokumen yang diperoleh sewaktu melaksanakan penelitian di MTsN I
Malang tentang pelaksanaan model pakem pada mata pelajaran PKn siswa kelas
VII diharapkan mampu untuk mendukung hasil observasi atau pengamatan dan
wawancara sehingga datanya dapat lebih dipercaya. Hasil yang diperoleh ialah
tentang perangkat pembelajaran yang berupa Rencana Program Pembelajaran
(RPP), Program Semester, Program Tahunan, Rencana Program Efektif, dan
Silabus serta Sistem Penilaian).
Data sekolah atau gambaran umum lokasi penelitian, yaitu mengenai
sejarah berdirinya, visi dan misi, tujuan sekolah, serta foto-foto kegiatan belajar
mengajar di kelas tentang pelaksanaan model pakem di MTsN I Malang pada
48
mata pelajaran PKn yang berhubungan dengan pelaksanaan metode game lariduduk, studi kasus, dan pengamatan. Tentang bahan ajarnya, yaitu buku paket,
LKS, dan artikel. Media pendukungnya yang berupa gambar, lembar studi kasus,
dan artikel serta alat bantunya yang terdiri dari papan tulis, spidol, kursi, kertas
folio bergaris. Kesemuanya itu nantinya dicantumkan pada lampiran laporan
penelitian.
H. Analisis Data
Secara garis besar, pekerjaan analisis data yaitu: mengatur data,
mengorganisasikan data, memilah-milah, mengklasifikasikan dan mencatat data.
Sedangkan menurut Bogdan dan Biklen 1982, (dalam Moleong, 2005:248)
”Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, memilah menjadi satuan yang dapat dikelola,
mensitesiskannya, mencari dan menemukan pola, serta menemukan apa yang
penting dan apa yang dipelajari”.
Ada bermacam-macam proses atau tahapan analisis data, seperti apa yang
diungkapkan oleh Seiddel 1998, (dalam Moleong, 2005:248) ”Proses dari analisis
data akan berjalan sebagai berikut, yaitu:
(1). Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan; dengan hal itu diberi
kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri. (2). Mengumpulkan,
memilah-milah, mengklasifikasikan, membuat ikhtisar, dan membuat
indeks. (3). Berfikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu
mempunyai makna; mencari dan menemukan pola dan hubunganhubungan; serta membuat temuan-temuan umum”.
Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan secara induktif, yaitu setelah
data di lapangan diperoleh, maka segera dilakukan pengelompokan agar data
dapat
dipilah-pilahkan,
diolah,
dan
ditarik
kesimpulan.
Penelitian
ini
49
menggunakan teknik analisa data model Miles dan Hubberman, (dalam Moleong,
2005:308) ”karena pada dasarnya menurut teknik ini, penelitian dilakukan secara
berkaitan”. Lebih jelasnya, teknik ini akan digambarkan melalui bagan di bawah
ini.
3.1 Bagan Teknik Analisis Data dari Milles & Huberman
1. Reduksi Data
Reduksi
Data
adalah
penyaringan
data
secara
sederhana
hasil
pengumpulan data. Reduksi menurut Miles diartikan sebagai proses penelitian,
pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data
kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan.
2. Penyajian Data
Penyajian data sebagai sekumpulan informasi yang tersusun, memberi
kemungkinan adanya penarikan kesimpulan, dan penarikan jawaban.
3. Penarikan Kesimpulan
Setelah
data
terkumpul,
kemudian
data
ditarik
kesimpulannya
menggunakan teknik analisis data deskriptif atau analisis data non-statistik yaitu
mendeskripsikan atau menggambarkan kembali data yang terkumpul dalam
50
bentuk uraian paparan data dan temuan penelitian.
I. Pengecekan Keabsahan Data
Agar hasil penelitian kualitatif dapat dipercaya kebenarannya oleh banyak
pihak, maka perlu adanya pengecekan keabsahan data. Teknik-teknik yang
digunakan dalam pengecekan keabsahan data adalah sebagai berikut, yaitu:
1. Ketekunan Pengamat
Dimaksudkan di sini adalah agar pengamatan yang dilakukan oleh peneliti
cermat, mengenai faktor apa saja yang ada kaitannya dengan masalah atau fokus
penelitian, sehingga menghasilkan informasi yang utuh, lengkap, akurat dan jujur.
2. Triangulasi
Triangulasi
adalah
teknik
pemeriksaan
keabsahan
data
yang
memanfaatkan sesuatu yang lain, atau dengan arti yang lain berarti me-recheck
data temuannya untuk dibandingkan dengan sumber, metode, atau teori. Menurut
Denzin 1978, (dalam Moleong, 2005:330) ”triangulasi dapat dibedakan menjadi 4
macam, yaitu: triangulasi dengan penggunaan sumber, triangulasi dengan
penggunaan metode, triangulasi dengan penyidik, dan triangulasi dengan teori”.
Triangulasi dengan penggunaan sumber berarti membandingkan dan
mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui
waktu dan alat yang berbeda, yaitu dengan jalan membandingkan data hasil
pengamatan dengan hasil wawancara, membandingkan apa yang dikatakan orang
di tempat umum dengan secara pribadi, membandingkan perspektif seseorang
dengan berbagai pendapat atau pandangan orang lain, dan sebagainya seperti
ungkapan dari Patton 1987:331, (dalam Moleong, 2005:330).
Triangulasi dengan penyidik, dalam hal ini berarti memanfaatkan
51
pengamat lainnya untuk mengecek kembali derajat kepercayaan data, dan untuk
membantu mengurangi kemenclengan dalam pengumpulan data. Sedangkan
menurut Patton 1987, (dalam Moleong, 2005:331) triangulasi dengan metode ada
2 macam, diantaranya: (1) pengecekan derajat kepercayaan temuan hasil
penelitian beberapa
teknik pengumpulan data, dan (2) pengecekan derajat
kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.
Triangulasi dengan teori merupakan suatu usaha untuk mengetahui derajat
kepercayaan temuan penelitian, tetapi terdapat silang pendapat ada yang
mengatakan bahwa fakta tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan
satu atau lebih teori, dan ada juga yang berpendapat bahwa itu bisa dilakukan
serta dinamai dengan penjelasan banding (rival explanation).
3. Pembahasan sejawat
Hal ini dilakukan untuk menambah keakuratan dan kepercayaan dalam diri
peneliti terhadap data hasil penelitian yang sudah terkumpul agar dapat dikaji
secara lebih mendalam.
J. Tahap-Tahap Penelitian
Tahap penelitian merupakan langkah-langkah yang ditempuh dalam
penelitian.
1. Kegiatan Pra Lapangan
a. Observasi Awal
Ditentukan terlebih dahulu lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat
penelitian. Penelitian ini dilakukan di MTsN I Malang. Setelah itu, melakukan
observasi dengan menemui Kepala Sekolah untuk memberitahukan maksud dan
52
tujuan sekaligus meminta ijin melakukan penelitian di MTsN I Malang.
b. Menyusun Rencana Penelitian
Sesudah melaksanakan observasi awal, selanjutnya menyusun rancangan
penelitian. Pembuatan rancangan penelitian disusun dan di arahkan oleh dosen
pembimbing skripsi. Rancangan penelitian merupakan pedoman untuk melakukan
penelitian serta untuk mengurus surat ijin penelitian.
c. Mengurus perijinan
Setelah melakukan observasi awal ke MTsN I Malang dan mendapatkan
ijin dari pihak sekolah untuk mengadakan penelitian, maka selanjutnya peneliti
datang ke Fakultas mengajukan permohonan agar dibuatkan surat pengantar untuk
diberikan ke Departemen Agama yang isinya memohon ijin bahwa mahasiswa
yang bersangkutan akan mengadakan penelitian skripsi di MTsN I Malang.
Setelah kurang lebih satu minggu menunggu, akhirnya surat permohonan ijin dari
Departemen Agama keluar dengan nomor Kd.13.32/1/TL.00/636/2008.
2. Kegiatan Lapangan
a. Memahami latar penelitian dan persiapan diri
Sebelum memasuki lapangan penelitian, hendaknya mengetahui terlebih
dahulu latar penelitian. Di samping itu, harus mempersiapkan dirinya dengan
sebaik mungkin, baik secara fisik maupun secara mental dan tak kalah pentingnya
haruslah selalu memperhatikan masalah etika dalam melakukan penelitian.
Hendaknya mengenal istilah tentang latar terbuka maupun latar tertutup.
Menurut Lofland dan Lofland 1984:21-24, (dalam Moleong, 2005:137) latar
terbuka terdapat di lapangan umum seperti, tempat berpidato, toko, bioskop, dll.
Pada situasi seperti ini, peneliti hanya akan mengandalkan pengamatan atau
53
observasi dan sedikit sekali mengadakan wawancara. Hubungan peneliti dengan
subyek kurang begitu akrab, sebaliknya pada latar tertutup hubungan peneliti
dengan subyek akrab. Hal ini dikarenakan, ciri dari latar tertutup adalah orang
yang perlu diteliti dan diwawancarai secara mendalam.
b. Memasuki lapangan
Ketika peneliti sudah berada di lapangan penelitian, maka banyak hal yang
harus diperhatikan, di antaranya adalah keakraban hubungan tidak hanya dengan
subjek penelitian saja, tetapi dengan seluruh orang-orang yang ada di lapangan
dan menggunakan bahasa yang baik dalam melakukan penelitian.
c. Pengumpulan data
Dalam penelitian, alat penelitian yang sering digunakan adalah catatan
lapangan. Catatan lapangan merupakan catatan yang dibuat oleh peneliti sewaktu
mengadakan penelitian, wawancara atau menyaksikan suatu kejadian tertentu.
Umumnya catatan lapangan dibuat dalam bentuk kata kunci, singkatan, dll.
d. Penyusunan data
Penyusunan data ini dilakukan dengan maksud agar data yang diperoleh
dari tahap pengumpulan data dapat disusun dengan baik, sehingga nantinya lebih
mempermudah dalam analisis data.
e. Analisis data
Data yang telah terkumpul dan disusun selanjutnya dianalisis secara
bertingkat, baik pada waktu peneliti masih di tempat penelitian ataupun
sesudahnya dan dilakukan secara berulang-ulang.
f. Menarik kesimpulan
54
Setelah mengadakan penelitian, langkah selanjutnya adalah penarikan
kesimpulan. Kesimpulan yang diambil adalah harus sesuai dengan data yang telah
terkumpul dan yang telah selesai dianalisis.
3. Tahap Pelaporan
Semua
data
hasil
penelitian
yang
sudah
dianalisis
selanjutnya
dikonsultasikan jika datanya masih kurang, maka peneliti haruslah mencari
tambahan data atau informasi untuk dianalisis kembali dan jika sudah cukup
peneliti kemudian membuat laporan penelitian.
BAB IV
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Paparan Data
1. Gambaran Umum
a. Sejarah Berdirinya MTsN I Malang
Kota Malang yang terletak di Provinsi Jawa Timur, merupakan kota
pendidikan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika terdapat banyak sekolah
mulai dari jenjang taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Ada sebagian dari
sekolah tersebut berstatus negeri dan ada pula yang swata.
Di kota Malang terdapat 2 MTsN, diantaranya yaitu MTsN I Malang yang
menjadi lokasi penelitian. Sekolah tersebut terletak di Jl. Bandung no.7 Malang,
karena letaknya yang strategis maka biasa disebut kawasan segitiga emas, dan
dihuni oleh tiga jenjang madrasah, yaitu: Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah
Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah yang kini telah menjadi Madrasah Terpadu.
Madrasah terpadu Malang ini secara berkesinambungan terus berpacu dalam
meningkatkan kualitas pelayanan dan pelaksanaan pendidikan, sehingga saat ini
telah menjadi salah satu sekolah yang favorit di kota Malang.
Hal ini nampak melalui berbagai prestasi yang telah dicapai oleh MTsN I
Malang, baik dalam bidang akademik maupun dalam bidang non akademik.
Dalam bidang akademik kita bisa melihat bahwa alumni MTsN I Malang banyak
yang melanjutkan di SMU-SMU Negeri unggulan, baik di kota Malang maupun di
luar kota Malang.
55
56
Awal terbentuknya tiga jenjang madrasah tersebut adalah dengan adanya
SK Menteri Agama nomor 15/Tahun 78, nomor 16/Tahun 78, dan nomor
17/Tahun 78 yang menetapkan SD latihan PGAN 6 tahun menjadi MIN Malang I,
dan kelas I, II, III PGAN 6 tahun menjadi MTsN I Malang, demikian juga kelas
IV, V, VI PGAN 6 tahun saat itu masih disebut PGA, tetapi setelah seluruh kelas
dapat selesai (tamat) dirubah fungsinya menjadi MAN III Malang.
Memasuki tahun 2000 MTsN I Malang sudah mendapat perhatian
masyarakat, nama madrasah sudah mulai diperhitungkan. Siswa-siswi dari MIN
Malang I yang memperoleh NUN baik sudah mulai tertarik masuk MTsN I
Malang, demikian pula sekolah-sekolah baik MI maupun SD lain, banyak yang
tertarik masuk MTsN I Malang. Daya tarik MTsN I Malang mulai tambah dan
berkembang sejak adanya inovasi yang dilakukan oleh Drs. Abdul Jalil M.Ag
selaku kepala sekolah pada saat itu, dengan mengadakan perubahan gedung
sekolah dan pembenahan lingkungan, serta pengadaan unit-unit usaha, warung
telepon (wartel), pertokoan, fotocopy dan warung intrenet (warnet).
Semua itu sangat menarik perhatian masyarakat yang kebetulan
membutuhkan jasa dari unit usaha tersebut, dengan demikian unit-unit usaha itu
sekaligus berfungsi sebagai alat promosi yang juga mendatangkan penghasilan.
Sebagai pemimpin yang mendapat amanat untuk meneruskan usaha inovasi
kepala madrasah sebelumnya, maka Dra. Hj. Istuti Mamik M.Ag. memulai
kerjanya dengan membuat perencanaan yang melibatkan seluruh staf pimpinan
dan BP3, Tata Usaha serta guru. Kiat-kiat dalam perencanaan didasari oleh
prinsip bahwa ”Tulis apa yang akan dikerjakan, kerjakan dengan baik apa yang
akan ditulis. Perhatikan saran dan kritik serta masukan dari pihak terkait. Evaluasi
57
apa yang telah dikerjakan”. Dan sekarang yang mengemban tugas sebagai
pemimpin untuk meneruskan usaha inovasi kepala madrasah setelah ibu Dra. Hj.
Istuti Mamik M.Ag adalah Dra. Binti Maqsudah M.Pd.
b. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
MTsN I Malang memiliki bangunan gedung yang terletak di Jalan
Bandung No.7. Batas sebelah kanan berbatasan dengan MIN I Malang yang
dibatasi tembok setinggi kurang lebih 1,70m. Sedangkan batas sebelah kiri
berbatasan dengan MAN Malang III yang dibatasi tembok setinggi 1,75m. Pintu
masuk dan pintu keluar berada di depan dan menghadap ke arah jalan raya.
Setelah pintu gerbang utama, terdapat pos satpam yang senantiasa dijaga
oleh seorang satpam secara bergantian setiap harinya. Pos satpam tersebut
letaknya di dalam sekolah. Jika ada tamu yang akan masuk ke dalam sekolah,
haruslah ijin dan mengutarakan kepentingannya terlebih dahulu disana karena
tugas utama dari seorang satpam ialah mengamankan situasi sekolah dan
lingkungan sekolah. Di depan pos satpam terdapat halaman yang memanjang
sekaligus berfungsi sebagai tempat parkir khusus kendaraan tamu, samping kanan
ada ruangan khusus komite sekolah. Sebelah kiri, ada tempat parkir khusus guru
dan karyawan.
Belakang tempat parkir guru, terdapat ruang guru, ruang guru jaga atau
piket. Di samping ruang piket ada UKS dan di belakang UKS terdapat toilet. Dari
pos satpam terus masuk ke dalam terdapat hamparan halaman yang cukup luas,
sebelah kiri terdapat ruang Tata Usaha dan ruang Kepala Sekolah, sebelah kanan
berdiri gedung 2 lantai yang berfungsi sebagai ruang kelas IX.
58
Taman bunga memanjang mulai dari depan tempat parkir guru sampai
hampir ke lapangan sepakbola. Lapangan sepakbola, lapangan voli, dan lapangan
basket berada di depan aula utama. Aula utama ini multi fungsi, disamping
sebagai tempat pertemuan, kadang juga sebagai tempat mengadakan pameran,
tempat memperingati hari-hari besar islam seperti peringatan isro’ mi’roj, dan
terkadang juga digunakan sebagai ruang belajar kelompok.
Gedung kelas VIII berada di belakang aula berbatasan dengan musholla
dan di depan lapangan sepakbola. 2 gasebo dan kantin juga berada di depan
lapangan sepakbola, sedangkan gedung kelas VII berada di atas. Perpustakaan
berada di atas ruang kepala sekolah dan bersebelahan dengan taman bunga,
sedangkan kelas akselerasi berada di atas ruang komite dan ruang guru.
c. Visi dan Misi MTsN I Malang
1). Visi MTsN I Malang
Sebagai bagian Madrasah Terpadu Malang, maka MTsN I Malang
mewujudkan sebuah lembaga pendidikan lanjutan Tingkat Pertama yang berciri
khas agama Islam dengan kondisi dan situasilingkungan yang kondusif untuk
menyiapkan dan mengembangkan segenap sumber daya insani yang ada sehingga
dapat mencapai kualitas unggul di bidang IPTEK dan IMTAQ.
2). Misi MTsN I Malang
Menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas baik bidang IPTEK
maupun IMTAQ dengan mewujudkan: lingkungan yang bersih, asri, nyaman serta
agamis, PBM yang berorientasi pada Student Active Learning, Full Day Learning,
dan Bimbingan Belajar serta efektifitas pembinaan ekstrakurikuler. Pemberdayaan
masjid sebagai laboratorium keagamaan, ucapan kalimat Thoyyibah dan prilaku
59
sopan, kerjasama dengan majelis madrasah, menjalin hubungan baik dengan
masyarakat, kerjasama dengan Dunia Usaha sebagai perwujudan Manajement
Berbasis Sekolah (MBS).
d. Tujuan MTsN I Malang
Adapun yang menjadi tujuan dari MTsN I Malang adalah sebagai berikut,
yaitu:
1). Mampu secara aktif melaksanakan ibadah Yaumiyah dengan benar dan tertib.
2). Khatam Al-Qur’an dengan tartil.
3). Berakhlaq mulia (akhlaqul karimah).
4). Hafal juz 30 (juz ‘amma).
5). Mampu berbicara denagn bahasa Inggris dan bahasa Arab.
6). Dapat bersaing dan tidak kalah dengan para siswa dari sekolah favorit yang
lain dalam bidang ilmu pengetahuan.
2. Perencanaan Model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan (PAKEM) di MTsN I Malang Pada Mata Pelajaran PKn
Seorang guru haruslah mengerti dan tanggap terhadap kemampuan para
peserta didiknya serta harus mengerti juga apa yang akan dilakukan untuk
mengkondisikan agar anak didiknya senantiasa termotivasi dalam belajar. Tidak
semua peserta didik mampu untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang
muncul dalam setiap kegiatan belajar-mengajar dengan cepat dan baik, hal ini
dikarenakan kemampuan setiap anak berbeda.
Oleh karena itu, model belajar yang baru, efektif, dan efisien diharapkan
dapat dipelajari, dikuasai lalu coba untuk diterapkan guna mendukung proses
belajar-mengajar agar membawa hasil yang memuaskan. Salah satu dari model
60
belajar yang dirasa bagus adalah pakem, dikarenakan model pembelajaran ini
berpusat pada siswa. Siswa diharapkan selalu aktif, baik aktif mental maupun
aktif fisik, kreatif terhadap suatu hal yang dapat mendukung dan berguna bagi
dirinya dalam belajar.
Di samping itu, model ini tidak menganut model konvensional dimana
guru menjadi aktor utama dalam setiap kegiatan belajar-mengajar. Siswa hanya
dicekoki materi pelajaran tanpa diberikan kebebasan untuk menunjukkan
kemampuannya. Saat sekarang berubah fungsi, guru hanya sebagai fasilitator,
pengarah, dan penuntun siswalah aktor utamanya karena memang siswa yang
menjadi subjek belajar.
Sebelum melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, seorang guru haruslah
mempunyai persiapan terlebih dahulu sehingga jelas arah dan tujuan
pembelajarannya, sumber belajar yang mendukung, materi yang akan diberikan,
waktu pertemuannya, kompetensi yang ingin dicapai, serta instrumen evaluasinya.
Adapun persiapan yang dilakukan guru di MTsN I Malang dalam melaksanakan
KBM pada mata pelajaran PKn tentang model pakem ialah menyusun Rencana
Program Efektif (RPE), program semester, program tahunan, Rencana Program
Pembelajaran (RPP), silabus dan sistem penilaian, serta menyiapkan media dan
metode pembelajaran. Hal ini seperti yang telah diungkapkan oleh Ibu Dra. Binti
Maqsudah, M.Pd selaku kepala MTsN I Malang.
“Yang harus dipersiapkan oleh seorang guru sebelum melakukan KBM di
kelas adalah menyusun terlebih dahulu Rencana Program Efektif, Program
Semester, Program Tahunan, dan yang sangat penting dan harus benarbenar disusun adalah Rencana Program Pembelajaran atau yang sering
disebut dengan (RPP) serta Silabus dan Sistem Penilaian begitu juga
dengan media,alat bantu, metode juga harus dipersiapkan dengan baik”.
(Wawancara 15 Juli 2008)
61
Pendapat yang sama diungkapkan oleh Ibu Ira Kristina, S.Pd selaku guru
mata pelajaran PKn di MTsN I Malang
“Sebelum melaksanakkan KBM di kelas, sebagai seorang guru saya harus
mempunyai perencanaan yang baik terkait dengan materi, media dan
metode yang akan saya berikan pada anak-anak.Itu nantinya akan
diwujudkan dalam perangkat pembelajaran, diantaranya adalah Rencana
Program Efektif, Program Semester, Program Tahunan, Rencana Program
Pembelajaran (RPP), Silabus dan Sistem Penilaian serta media dan metode
yang akan saya gunakan”. (Wawancara 16 Juli 2008)
Pendapat lainnya diungkapkan oleh ibu Ana yang juga guru mata pelajaran
PKn di MTsN I Malang
“Perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Program Efektif,
Program Semester, Program Tahunan, Rencana Program Pembelajaran
(RPP), Silabus dan Sistem Penilaian yang mencakup media, metode,
bahan ajar atau sumber belajar dan alat pendukung haruslah dipersiapkan
dengan baik sebelum melaksanakan KBM di kelas, karena hal itu penting
untuk keberhasilan pembelajaran”. (wawancara 18 Juli 2008)
Model pakem menuntut guru dan siswa untuk sama-sama aktif, kreatif
serta pembelajaran yang dilakukan haruslah dapat menciptakan suasana yang
menyenangkan, sehingga siswa termotivasi untuk selalu relajar. Ibu Ira Kristina,
S.Pd mengatakan
“Dalam model pakem, guru diharuskan dapat menciptakan suasana relajar
yang menyenangkan bagi siswanya dengan aktif dan kreatif menciptakan
media serta metode yang bervariasi karena dalam relajar tidak ada yang
menakutkan”. (Wawancara 16 Juli 2008)
Ketika menyusun RPP, guru juga harus mencantumkan media, metode,
alat bantu, bahan ajar yang akan digunakan, dan format penilaian. Seperti yang
telah diungkapkan oleh ibu Ana yang juga guru mata pelajaran PKn di MTsN I
Malang
“Ketika membuat RPP, guru juga harus mencantumkan metode apa yang
akan digunakan, medianya apa, dan sumber belajar atau bahan ajarnya
darimana”. (Wawancara 24 Juli 2008)
62
Dengan kesemuanya itu, nantinya dapat digunakan sebagai pendukung
pembelajaran sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang
disampaikan, yang tentunya lebih bervariasi karena metode konvensional sudah
tidak cocok lagi untuk digunakan dalam KBM. Seperti yang dilakukan oleh Ibu
Ira Kristina, S.Pd selaku guru mata pelajaran PKn di MTsN I Malang dengan
menyiapkan media berupa gambar, lembar studi kasus, artikel dari koran maupun
internet. Sedangkan metodenya menggunakan metode permainan (Game LariDuduk), studi kasus, serta pengamatan. Alat bantunya berupa papan tulis, spidol,
kursi, dan kertas folio bergaris. Bahan ajarnya diambil dari buku paket, LKS,
sebagian dari artikel di koran ataupun internet Ibu Ira Kristina, S.Pd mengatakan:
“Pada pembelajaran saat ini, guru sudah tidak perlu lagi banyak ceramah
di depan kelas dan siswa mendengarkan sambil mencatat, hal itu akan
membuat siswa bosan dalam mengikuti pelajaran. Seorang guru haruslah
aktif dan kreatif dalam menghadirkan metode-metode baru dalam
melaksanakan KBM, metode yang saya gunakan adalah game atau
permainan lari-duduk, studi kasus, dan pengamatan sedangkan media
penunjangnya gambar, lembar studi kasus, lingkungan sekolah,
lingkungan masyarakat, teman sekolah, artikel dari koran serta internet.”
(Wawancara 11 Agustus 2008)
Setelah melakukan observasi dan wawancara, maka dapat disimpulkan
bahwa sebelum melaksanakan KBM di kelas, khususnya pada mata pelajaran PKn
dalam melaksanakan model pakem, guru di MTsN I Malang menyusun perangkat
pembelajaran terlebih dahulu, diantaranya adalah Rencana Program Efektif
(RPE), Program Semester, Program Tahunan, Rencana Program Pembelajaran
(RPP), Silabus dan Sistem Penilaian. Tidak lupa mencantumkan juga metodemetode, media, alat bantu, bahan ajar, dan penilaian.
Metode yang digunakan antara lain metode permainan (game lari-duduk),
studi kasus, pengamatan. Medianya gambar, lembar studi kasus, artikel dari koran
63
maupun Internet. Alat bantunya ialah papan tulis, spidol, kursi, serta kertas folio
bergaris. Bahan ajarnya dari buku paket, LKS, dan artikel dari koran maupun dari
internet.
Kesemuanya yang tersebut di atas dapat dijadikan bukti, bahwa model
pakem tidak hanya mengaktifkan dan mengkreatifkan siswa saja, tetapi juga
menuntut guru untuk ikut aktif dan kreatif dalam memberikan suatu pembelajaran,
sehingga siswa tetap antusias untuk mengikuti karena merasa nyaman dan
menyenangkan.
3. Pelaksanaan Model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan (PAKEM) di MTsN I Malang Pada Mata Pelajaran PKn
Setelah mempersiapkan perangkat pembelajaran yang disertai dengan
dengan mencantumkan metode pembelajaran yang menunjang, media pendukung,
bahan ajar atau sumber belajar serta alat bantu secara baik, barulah seorang guru
dapat melaksanakan KBM di kelas secara maksimal. Berbagai macam metode
belajar, media penunjang, alat bantu, bahan ajar, dan format penilaian yang sesuai
dengan apa yang telah direncanakan di dalam Rencana Program Pembelajaran
(RPP) serta silabus dan sistem nilainya dapat diterapkan guna menciptakan
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM).
Tidak terkecuali pemanfaatan lingkungan di luar kelas dan pengelolaan
kelas harus dimengerti serta dipahami oleh guru, kemudian diterapkan dengan
sebaik mungkin. Konsep belajar sambil bermain dirasa sangat membantu siswa
untuk menerima materi yang diberikan oleh guru dengan mudah karena tidak
membosankan karena salah satu ciri dari model pakem adalah pembelajarannya
menyenangkan dan tidak menimbulkan perasaan takut dalam diri siswa. Siswa
64
berani mengemukakan pendapat, berani menjawab pertanyaan serta tidak takut
jika disalahkan. Menurut Imam Syafi`i, siswa kelas VII E
“Saya senang mengikuti pelajaran PKn karena media dan metode yang
digunakan banyak, sehingga saya tidak bosan. Ibu guru juga tidak pernah
memarahi saya dan teman-teman jika salah dalam menjawab pertanyaan,
malahan selalu sdiberi semangat”. (Wawancara 11 Agustus 2008)
Hal ini sama seperti apa yang telah diungkapkan oleh Ibu Dra. Binti
Maqsudah, M.Pd selaku kepala MTsN I Malang
“Guru harus mengerti dan paham tentang pengelolaan kelas, selain itu
dalam melaksanakan KBM tidak harus dilakukan di kelas saja tetapi dapat
memanfaatkan lingkungan di luar kelas, bagaimana upaya menciptakan
kondisi belajar yang disukai oleh siswa dan tidak membuat siswa takut
haruslah di pikirkan secara baik”. (Wawancara 16 Juli 2008)
Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Ibu Ira Kristina, S.Pd selaku
guru mata pelajaran PKn kelas VII
“Belajar tidak harus di kelas saja, tetapi juga dapat memanfaatkan
lingkungan sekitar sebagai tempat belajar bagi anak-anak agar lebih
bervariasi dan menciptakan suasana yang lebih menarik”. (Wawancara 13
Agustus 2008)
Sedangkan ibu Ana yang juga guru mata pelajaran PKn di MTsN I Malang
berpendapat
“Belajar dengan menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber
merupakan hal yang menarik untuk dilakukan karena dapat membuat
siswa tidak merasa jenuh. Disamping itu, seorang guru haruslah dapat
menghilangkan rasa takut pada diri siswa, baik takut salah menjawab
pertanyaan ataupun takut ditertawakan oleh temannya dalam
melaksanakan KBM di kelas”. (Wawancara 13 Agustus)
Sebelum pelajaran dimulai, siswa di MTsN I Malang diwajibkan membaca
ayat-ayat Al-qur`an terlebih dahulu,siswa dianjurkan membawa Al-qur`an dari
rumah dan bagi siswa yang tidak membawa Al-qur`an, ditiap-tiap kelas telah
disediakan Al qur`an. Hal ini jarang dijumpai pada sekolah-sekolah yang lain,
65
khususnya di sekolah umum. Seperti yang telah diungkapkan oleh Agustina Laily,
siswi kelas VII B
“Sebelum jam pertama dimulai, pada setiap kelas dalam satu sekolah
selalu membaca Al qur`an terlebih dahulu setiap harinya”. (Wawancara 11
Agustus 2008)
Selanjutnya guru membuka pelajaran dengan salam pembuka, dilanjutkan
dengan menulis indikator pembelajaran di papan tulis, kemudian mereview
pelajaran yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya dengan cara tanya
jawab atau kuis terhadap beberapa siswa dengan maksud untuk mengetahui
pemahaman siswa dan mengawali membuka pemikiran siswa.
Setelah itu menerangkan inti dari materi yang akan dipelajari selama
beberapa menit saja dan barulah siswa yang akan aktif kembali, guru hanya
mengarahkan saja. Guru tidak selamanya berceramah di depan kelas karena hal itu
merupakan model konvensional dan akan membuat siswa bosan. Guru mengamati
kegiatan siswa, baik diskusi, yaitu belajar memecahkan masalah secara kelompok
dengan cara menyuruh siswa untuk membentuk kelompok dua bangku-dua
bangku dan sesekali melakukan interaksi dengan siswa dengan mendengarkan
keluhan siswa.
Model
pakem
akan
mengaktifkan
anak
untuk
selalu
bertanya,
mengemukakan gagasannya, mengkritisi pendapat temannya. Di samping aktif
mental, siswa juga diharapkan untuk aktif secara fisik. Hal ini dibuktikan sewaktu
melaksanakan metode permainan (game lari-duduk), guru hanya mengarahkan
dan membacakan soal saja, siswa yang diminta untuk menata bangku serta
mengangkat kursi dari belakang menuju ke depan papan tulis, di papan tulis
66
tersebut terdapat tulisan yang berhubungan dengan soal yang akan diberikan
nantinya.
Cara kerja dari metode ini adalah, siswa yang belum mengikuti
permaianan ini sebelumnya diminta ke belakang kelas, setelah itu guru
membacakan soal. Jika soal sudah selesai dibacakan, maka siswa yang sudah
merasa mengerti jawabannya segera mungkin berlari secepatnya untuk menduduki
kursi yang sudah ditata dengan jawaban di papan tulis. Penilaiannya adalah
ketepatan jawaban dan kecepatan menduduki kursi tersebut.
Selain itu, hasil kreatifitas siswa seperti mading, lukisan-lukisan, dan
kaligrafi arab sebagai pelecut motivasi karena mengandung berbagai makna
dipajang ditiap-tiap kelas serta di sudut-sudut sekolah. Pengaturan kelas yang
sedemikian rupa dapat menjadikan siswa merasa nyaman untuk berada di dalam
kelas. Seperti yang dikemukakan oleh Ibu Ira Kristina guru PKn kelas VII
“Siswa disini selalu bertanya jika dia merasa kurang paham terhadap
materi pelajaran, mengemukakan pendapat dan menanggapi pendapat
temannya jika dirasa berbeda dengan yang dipikirkannya serta dengan
pengaturan kelas yang bagus akan membuat siswa betah untuk berada di
dalam kelas. Siswa yang aktif secara mental memang bagus, tetapi juga
harus aktif secara fisik, seperti yang ditunjukkan pada metode game lariduduk tadi.agar mereka dapat belajar peduli terhadap lingkungan sekitar.
Pajangan berupa kaligrafi arab di dalam kelas ini juga merupakan hasil
kreatifitas siswa, dengan adanya mading maupun lukisan-lukisan, siswa
akan merasa terlecut motifasinya untuk selalu berkarya”. (Wawancara 16
Agustus 2008)
Sedangkan pendapat dari ibu Ana yang juga guru mata pelajaran PKn di
MTsN I Malang
“Hasil kreatifitas siswa-siswi di sini akan dipajang di kelas atau di sudutsudut sekolah, seperti kaligrafi arab yang dipajang ditiap-tiap kelas, selain
untuk memperindah kelas kaligrafi juga berfungsi untuk memotivasi
siswa. Dalam pelaksanaan KBM, guru juga memberikan kebebasan bagi
siswa untuk bertanya dan berpendapat”. (Wawancara 16 Agustus 2008)
67
Pendapat yang sama diungkapkan juga oleh Nikmatul Hidayah, siswi kelas
VII F
“Pada mata pelajaran PKn, ibu guru selalu memberikan kesempatan
kepada kita untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Pengelolaan
kelasnya juga menyenangkan serta dengan dipajangnya hasil kreatifitas
kita, lebih menambah semangat untuk belajar”. (Wawancara 14 Agustus
2008)
Pendapat lainnya diungkapkan oleh Yanuar Ardi. B, siswa kelas VII A
“Kaligrafi arab itu juga kami yang membuat, ada yang berisi tentang
anjuran agar memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, tentang
pengetahuan, dan sebagainya. Dengan dipajang ditiap-tiap kelas, membuat
kelas jadi bagus, kami merasa nyaman dalam relajar dan membuat kita
semangat”. (Wawancara 14 Agustus 2008)
Dalam pakem, pemberian rangsangan kepada siswa agar selalu belajar
sangatlah diperlukan. Untuk memberikan rangsangan atau stimulus agar siswa
tetap fokus terhadap pelajaran, selalu berfikir, dan tetap belajar, maka ibu Ira
Kristina, S.Pd selaku guru mata pelajaran PKn di MTsN I Malang memberikan
hukuman berupa pemberian tompel di wajah siswa yang tidak bisa menjawab
pertanyaan yang di ajukan.
Tompel itupun baru boleh di hapus setelah yang bersangkutan berusaha
untuk bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, jika masih tidak bisa menjawab,
maka tompel yang ada di wajah belum bisa di hapus sampai pergantian jam
pelajaran. Hal ini tidak membuat siswa takut untuk menjawab pertanyaan,
melainkan lebih membuat mereka selalu berusaha agar tidak mengulangi
kesalahan yang sama pada pertemuan selanjutnya dengan belajar lebih giat,
menjadikan siswa selalu merasa senang dalam mengikuti KBM di kelas. Hal ini
dapat dibuktikan ketika ibu Ira Kristina melakukan tanya jawab.
68
Metode pengamatan dan studi kasus dilaksanakan di luar kelas dengan
memanfaatkan
lingkungan
sekitar,
pengamatan
dan
studi
kasus
juga
menggunakan sistem kelompok. Pengamatan dilakukan di halaman sekolah
dengan mengamati tingkah laku teman yang dianggap melanggar peraturan untuk
dicatat, dikomentari serta diberikan tanggapan. Selain di lingkungan sekolah, di
lingkungan masyarakat juga ikut diamati. Hasilnya di kumpulkan di kertas folio
bergaris sesuai kelompok masing-masing.
Metode studi kasus, siswa lebih banyak memanfaatkan perpustakaan,
karena disamping mempermudah untuk mencari bahan melalui koran,
diperpustakaan juga bisa menggunakan akses internet. Jika melalui internet,
permasalahan yang diamati lebih up to date. Selain di perpustakaan, di halaman
sekolah dan aula juga dijadikan sebagai tempat alternatif yang lain untuk
mengerjakan soal.
Setiap akhir pelaksanaan KBM di MTsN I Malang, guru beserta siswa
selalu melaksanakan kegiatan refleksi untuk melihat sejauh mana penguasaan
materi yang telah dikuasai oleh siswa dan melihat tingkat keberhasilan guru dalam
menyampaikan materi. Refleksi yang dilakukan dengan melaksanakan kuis. Kuis
ini dikemas sedemikian menarik, yaitu dengan cara mengadakan kuis berpasword
menirukan suara binatang.
Cara mainnya adalah kelas dibagi menjadi 4 kelompok, tiap kelompok
berhak memilih akan menirukan suara hewan apa terserah kesepakatan antar
anggota, setelah kelompok selesai menentukan suara apa yang akan ditirukan,
maka sesegera mungkin ibu Ira Kristina, S.Pd membacakan soalnya. Jika salah
satu kelompok bisa menjawab, maka sebelum menjawab diharuskan menirukan
69
suara binatang terlebih dahulu. Hal ini menjadikan pelajaran tampak begitu
menarik dan siswa merasa menikmati. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Ira
Kristina, S.Pd, selaku guru mata pelajaran PKn di MTsN I Malang
“Setiap akhir pertemuan, saya selalu melakukan refleksi untuk sekedar
melihat sampai sejauh mana penguasaan materi anak-anak. Biasanya saya
gunakan kuis berpasword menirukan suara binatang seperti yang telah
dilihat barusan, agar siswa tetap antusias, dan menikmati pelajaran”.
(Wawancara 15 Agustus 2008)
Pendapat sama juga dikatakan oleh Muhammad Aldy Hamzah, siswa kelas
VII B
“Saya senang setiap akhir pembahasan materi, guru selalu melaksanakan
kuis, apalagi kuisnya tidak menjenuhkan karena kuisnya menggunakan
kode menirukan suara binatang dan pada setiap kelompok berbeda”.
(Wawancara 15 Agustus 2008)
Penilaian pada mata pelajaran PKn di MTsN I Malang dalam
pelaksanaan pakem yang dilakukan oleh guru, juga beragam sesuai dengan sub
bab yang telah selesai diberikan. Penilaian yang dilakukan terdiri dari 2 macam,
yaitu: (1) Penilaian konsep, terdiri dari ulangan harian dan ulangan umum, serta
(2) Penilaian Praktek, terdiri dari Portopolio, lembar pengamatan, kliping, kuis,
dan game. Seperti yang telah disampaikan oleh Ibu Ira Kristina, S.Pd
“Penilaian yang saya lakukan tidak hanya penilaian konsep saja tetapi juga
penilaian praktek, yaitu dengan portopolio, lembar pengamatan, kliping,
kuis, dan game” (Wawancara 22 Agustus 2008).
Dari data hasil observasi dan wawancara di atas, pelaksanaan model
pakem pada mata pelajaran PKn di MTsN I Malang pengelolaan kelas serta
pemanfaatan lingkungan sekitar untuk belajar dapat menarik perhatian siswa serta
menciptakan suasana yang menyenangkan. Pada waktu KBM dimulai, diawali
dengan salam pembuka, menulis indikator yang ingin dicapai, guru mereview
pelajaran yang telah di berikan pada pertemuan sebelumnya untuk mengetahui
70
pemahaman siswa dan setelah itu guru menerangkan inti dari materi yang dibahas
selama beberapa menit saja. Hal ini dilakukan agar menghindarkan pelaksanaan
model belajar yang konvensional, yaitu model ceramah di depan kelas. Guru
hanya sebagai fasilitator dan pengarah, sesekali melakukan komunikasi dengan
berinteraksi kepada siswa. Setelah itu, siswalah yang harus aktif, baik aktif secara
mental maupun aktif secara fisik.
Guru juga menerapkan metode-metode yang bervariasi, yaitu berupa studi
kasus, melakukan pengamatan, game lari-duduk untuk lebih membuat siswa
merasa nyaman dan senang untuk mengikuti pelajaran. Metode ini didukung
dengan media penunjang yang bervariasi juga, diantaranya gambar, meneliti
lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, tingkah laku teman, meneliti
permasalahan dari artikel koran atau Internet. dan lembar studi kasus. Metode
tersebut juga dilakukan dengan pemanfaatan lingkungan sekitar di luar kelas,
perpustakaan, halaman sekolah dan aula. Bahan ajar yang bervariasi juga, mulai
dari buku paket, LKS, serta artikel dari koran ataupun artikel dari internet. Alat
bantunya berupa papan tulis, spidol, kursi, serta kertas folio bergaris.
Pelaksanaan model pakem sangat mengharuskan siswa untuk selalu aktif.
Siswa aktif mengikuti pelajaran di kelas, aktif bertanya, mengemukakan pendapat,
dan menanggapi pendapat temannya, dan menjawab pertanyaan yang diberikan
oleh guru. Siswa juga kreatif membuat lukisan-lukisan, kaligrafi arab serta
Mading yang nantinya untuk dijadikan pajangan dalam kelas, sehingga suasana
kelas dikondisikan sedemikian rupa guna membuat siswa betah berada di dalam
kelas. Di akhir pembahasan, guru beserta siswa melakukan refleksi untuk melihat
71
sampai sejauh mana pemahaman siswa dengan kuis berpasword menirukan suara
binatang.
Evaluasi yang dilakukan terdiri dari 2 macam, yaitu penilaian konsep yang
terdiri dari ulangan harian dan ulangan umum serta penilaian praktek.yang terdiri
dari portopolio, lembar pengamatan, kliping, kuis, game, dan sebagainya.
Penilaian konsep dinilai berdasarkan penguasaan materi dan hasil tes tulis,
sedangkan penilaian praktek dinilai berdasarkan pengamatan sewaktu siswa
mengikuti KBM di kelas, tentang aktifitas siswa di kelas, dan tugas.
4. Faktor Pendorong dan Penghambat Penerapan Model PAKEM di MTsN I
Malang Dalam Mata Pelajaran PKn
Setelah melakukan wawancara, diketahui bahwa faktor pendorong
pelaksanaan pakem di MTsN I Malang adalah: (1) Ingin dijadikannya model
pakem sebagai strategi pembelajaran agar siswa selalu termotivasi untuk
mengikuti pelajaran, sehingga memperoleh hasil yang baik. (2) Dengan model
pakem, ingin menghilangkan model pembelajaran konvensional, karena dengan
model pembelajaran konvensional siswa merasa bosan untuk mengikuti pelajaran
serta keaktifan dan kreatifitas siswa tidak muncul. Seperti yang diungkapkan oleh
Ibu Dra. Binti Maqsudah, M.Pd selaku kepala MTsN I Malang
”Faktor yang mendorong MTsN I Malang menerapkan model pakem
adalah yang pertama dan yang paling penting yaitu MTsN I Malang tidak
ingin para guru, disemua mata pelajaran tanpa terkecuali masih
menggunakan model konvensional karena sudah tidak jamannya lagi dan
sangat membosankan bagi siswa. Kedua, ingin menjadikan model pakem
sebagai strategi dalam pembelajaran”. (Wawancara 25 Agustus 2008)
Pendapat lainnya menurut Ibu Ira Kristina, S.Pd selaku guru mata
pelajaran PKn kelas VII
72
”Alasan mengapa di sini menerapkan pakem adalah karena ingin
menciptakan suasana KBM yang menyenangkan dan nyaman bagi siswa,
tidak membosankan, tidak seperti dulu, yang hanya ceramah dan tidak
memberi kesempatan siswa untuk aktif. Selanjutnya, sekolah ingin model
pakem dijadikan sebagai teknik pembelajaran untuk lebih meningkatkan
aktifitas dan kreatifitas siswa”. (Wawancara 25 Agustus 2008)
Pendapat ibu Ana yang juga selaku guru mata pelajaran di MTsN I Malang
tentang faktor pendorong diterapkannya pakem adalah sebagai berikut:
”Alasan sekolah ini menerapkan model pakem adalah untuk
menghilangkan model pembelajaran yang konvensional, karena model
tersebut berbasis pada guru, bukan siswa. Selanjutnya sekolah ingin
menerapkan model pakem sebagai strategi untuk lebih meningkatkan
prestasi belajar siswa”. (Wawancara 25 Agustus 2008)
Selain faktor pendorong, tentunya juga ada faktor penghambat. Faktor
penghambatnya yaitu, antara lain: (1) Kurangnya semangat kerja atau kemauan
dari guru untuk menerapkan model pakem, (2) Adanya sikap yang telah terkondisi
pada diri guru untuk tetap menggunakan model konvensional dalam
melaksanakan KBM, dan (3) Karena karakteristik siswa yang beragam, jadi guru
masih belum optimal dalam melaksanakan pakem, guru sangat berupaya agar
siswa yang pasif juga sesegera mungkin dapat mengikuti siswa yang lebih aktif.
Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Dra. Binti Maqsudah, M.Pd selaku kepala
MTsN I Malang
”Sebenarnya tidak ada hambatan yang berarti, karena dalam pakem sarana
dan prasarana sekolah harus menunjang, ada kesiapan serta pemahaman
dari sekolah untuk melaksanakan pakem, hal itu sudah terpenuhi.
Sekarang tinggal semangat dan kemauan dari masing-masing pribadi guru
untuk melaksanakannya, kalau masih merasa males, itu berarti menjadi
hambatan. Kemampuan dari siswa sangat beraneka ragam, ada yang aktif
ada juga yang pasif, ada yang dengan mudah menerima pakem dan ada
juga yang perlu dibimbing lebih lanjut, sehingga guru belum dapat
melaksanakan pakem secara optimal dan itu menjadi hambatan”.
(Wawancara 27 Agustus 2008)
73
Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Ibu Ira Kristina, S.Pd selaku
guru PKn kelas VII
”Hampir tidak ada hambatan dalam pelaksanaan pakem, sarana dan
prasarana lengkap, sekolah juga sudah memberikan penekanan agar
melaksanakan model pembelajaran yang inovatif, tidak tradisional.
Mungkin yang jadi hambatan hambatan adalah kemauan dari pribadi guru
yang kurang dalam melaksanakan pakem, sikap guru yang telah terkondisi
untuk tetap menggunakan model konvensional dalam melaksanakan KBM,
serta kemampuan siswa yang beragam sehingga penerapan pakem belum
bisa dipukul rata, itu saja”. (Wawancara 27 Agustus 2008)
Ibu Ana selaku guru mata pelajaran PKn di MTsN I Malang juga
berpendapat sama
”Untuk penghambatnya hampir tidak ada, soalnya di sekolah ini
mempunyai sarana dan prasarana yang memadai sehingga pelaksanaan
pakem bisa dilakukan dengan baik. Penghambat malah bisa datang dari
gurunya sendiri, jika masih belum menerapakan model pakem dalam
melaksanakan KBM di kelas berarti itu merupakan salah satu hambatan
karena masih menggunakan model konvensional”. (Wawancara 27
Agustus 2008)
Dari hasil wawancara dan observasi di atas, dapat diketahui bahwa faktor
pendorong diterapkannya pakem adalah sebagai berikut: (1) Ingin menjadikan
model pakem sebagai strategi pembelajaran agar siswa dapat selalu termotivasi
untuk mengikuti pelajaran, menyenangkan, dan membuat siswa merasa nyaman.
(2) Dengan menerapkan model pakem, ingin secara perlahan menghilangkan
model
pembelajaran
konvensional,
karena
dengan
model
pembelajaran
konvensional siswa merasa bosan untuk mengikuti pelajaran serta keaktifan dan
kreatifitas siswa tidak muncul.
Sedangkan faktor penghambatnya adalah sebagai berikut: (1) Kurangnya
semangat kerja atau kemauan dari guru untuk menerapkan model pakem, (2)
Adanya sikap yang terkondisi pada diri guru untuk menggunakan model
konvensional dalam melaksanakan KBM, (3) Karena karakteristik siswa yang
74
beragam, jadi guru masih belum optimal dalam melaksanakan pakem, guru
berupaya agar siswa yang pasif segera dapat mengikuti siswa yang lebih aktif.
5. Upaya Mengatasi Hambatan Dalam Penerapan Model PAKEM di MTsN I
Malang Pada Mata Pelajaran PKn
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, upaya yang dapat dilakukan
untuk mengurangi hambatan pelaksanaan model pakem pada mata pelajaran PKn
dalam KBM di MTsN I Malang adalah sebagai berikut:
(1) Guru berusaha untuk menjalin komunikasi yang lebih akrab dengan
seluruh siswa, memotivasi siswa agar selalu bersemangat, tidak takut dan malu
dalam mengemukakan pendapat, tidak takut untuk menjawab pertanyaan dari guru
serta tidak takut disalahkan jika jawaban yang diajukannya salah. (2) Guru
membentuk
kelompok
belajar
sesuai
dengan
model
pakem,
sehingga
pembelajaran yang dilakukannya lebih efektif, dan terus berupaya untuk
memotivasi siswa dengan memberikan penghargaan berupa poin atau ucapan
selamat bagi siswa yang aktif memberikan pendapat, aktif menjawab pertanyaan,
dan aktif menanggapi pendapat temannya sehingga lebih bersemangat dalam
mengikuti KBM, (3) Guru harus memikirkan pembelajaran yang lebih efektif,
lebih mengaktifkan siswa dan yang terpenting adalah menciptakan suasana belajar
yang menyenangkan serta membuat siswa nyaman bukan pembelajaran yang
konvensional. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Dra. Binti Maqsudah, M.Pd
selaku kepala MTsN I Malang
”Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam
melaksanakan pakem pada KBM ialah (1) Guru harus dapat menjalin
komunikasi secara baik dengan siswa, agar lebih mudah untuk melakukan
pendekatan, sehingga tidak mengalami kesulitan untuk melaksanakan
pakem. (2) Menerapkan belajar kelompok sesuai dengan model pakem,
agar pembelajaran yang dilakukan lebih efektif, memberikan ucapan
75
selamat bagi siswa yang aktif, selain itu juga bisa diberikan poin
tambahan, (3) Guru harus memikirkan pembelajaran yang lebih efektif,
lebih mengaktifkan siswa dan yang terpenting adalah menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan serta membuat siswa nyaman bukan
pembelajaran yang konvensional”. (Wawancara 27 Agustus 2008)
Pendapat sama juga diungkapkan oleh Ibu Ira Kristina, S.Pd selaku guru
mata pelajaran PKn kelas VII
” Untuk dapat mengatasi hambatan dalam pelaksanakan pakem pada KBM
ialah (1) Guru harus dapat menjalin komunikasi secara baik dengan siswa,
untuk melakukan pendekatan, sehingga tidak kesulitan untuk
melaksanakan pakem karena kemampuan siswa yang berbeda-beda. (2)
Dapat juga menerapkan sistem belajar kelompok sesuai dengan model
pakem, agar pembelajaran yang dilakukan efektif, memberikan ucapan
selamat dan poin tambahan bagi siswa yang aktif, (3) Guru harus
menghadirkan model pembelajaran yang lebih efektif bukan pembelajaran
yang konvensional, pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa dan yang
terpenting adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan serta
membuat siswa nyaman”. (Wawancara 27 Agustus 2008)
Berdasarkan data yang diperoleh di atas dapat disimpulkan, bahwa Upaya
yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam penerapan model pakem di
MTsN I Malang pada mata pelajaran PKn adalah guru membentuk sistem belajar
kelompok yang sesuai dengan model pakem, sehingga pembelajaran yang
dilaksanakan lebih efektif, berusaha memotivasi siswa dengan memberikan poin
dan ucapan selamat bagi siswa yang aktif bertanya, aktif mengemukakan
pendapat, serta aktif menanggapi pendapat temannya untuk lebih bersemangat
dalam mengikuti KBM. Guru berusaha untuk menjalin komunikasi lebih akrab
dengan seluruh siswa agar mudah melakukan pendekatan, sehingga dapat dengan
baik melaksanakan pakem karena kemampuan siswa berbeda. Guru menghadirkan
model
pembelajaran
yang
efektif
bukan
pembelajaran
konvensional,
pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan serta membuat siswa nyaman.
76
B. Temuan Penelitian
1. Perencanaan Model PAKEM Pada Mata Pelajaran PKn di MTsN I
Malang
Berdasarkan paparan data tentang perencanaan model pakem pada mata
pelajaran PKn di MTsN I Malang, guru di MTsN I Malang sebelum
melaksanakan KBM menyiapkan perangkat pembelajaran terlebih dahulu,
diantaranya ialah dengan menyusun rencana program efektif, program tahunan,
program semester, Rencana Program Pembelajaran (RPP), silabus dan sistem
penilaian, serta menyiapkan media dan metode pembelajaran. Selain itu guru juga
tidak lupa untuk mencantumkan juga metode-metode, media yang digunakan,
antara lain game lari-duduk, studi kasus, dan pengamatan. Medianya gambar,
lembar studi kasus, artikel dari koran maupun Internet. Alat bantunya berupa
papan tulis, spidol, kursi dan kertas folio bergaris, sedangkan bahan ajarnya dari
buku teks, LKS dan artikel dari koran ataupun internet.
2. Pelaksanaan Model PAKEM Pada Mata Pelajaran PKn di MTsN I
Malang
Berdasarkan paparan data tentang penerapan model pakem pada mata
pelajaran PKn di MTsN I Malang, pemanfaatan lingkungan di luar kelas dan
pengelolaan kelas harus dimengerti serta dipahami oleh guru, kemudian
diterapkan dengan sebaik mungkin. Konsep belajar sambil bermain dirasa
membantu siswa untuk menerima materi yang diberikan oleh guru dengan mudah
karena tidak membosankan. Guru harus mengerti dan paham tentang pengelolaan
kelas, selain itu dalam melaksanakan KBM tidak harus dilakukan di kelas saja
tetapi dapat memanfaatkan lingkungan di luar kelas, bagaimana upaya
77
menciptakan kondisi belajar yang disukai oleh siswa haruslah di pikirkan secara
baik.
Sebelum pelajaran dimulai, siswa di MTsN I Malang diwajibkan membaca
ayat-ayat Al-qur`an terlebih dahulu, siswa dianjurkan membawa Al qur`an dari
rumah dan bagi siswa yang tidak membawa Al-qur`an, ditiap-tiap kelas telah
disediakan pajangan Al-qur`an dalam rak buku. Hal ini jarang dijumpai pada
sekolah-sekolah yang lain, khususnya di sekolah umum. Selanjutnya guru
membuka pelajaran dengan salam pembuka, menulis indikator pembelajaran,
melakukan review untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa, kemudian
menerangkan inti dari materi yang akan dipelajari selama beberapa menit saja dan
setelah itu siswa yang akan aktif kembali, guru hanya sebagai pengarah saja.
Guru tidak selamanya berceramah di depan kelas karena hal itu merupakan
model konvensional dan akan membuat siswa bosan. Guru mengamati kegiatan
siswa, baik diskusi, belajar memecahkan masalah secara kelompok, maupun yang
lainnya dan sesekali melakukan interaksi dengan siswa. Model pakem akan
mengaktifkan
anak
untuk
selalu
bertanya,
mengemukakan
gagasannya,
mengkritisi pendapat temannya, jadi siswa tidak hanya aktif secara mental saja,
tetapi juga aktif secara fisik Di samping itu, hasil kreatifitas siswa seperti mading,
lukisa-lukisan, dan kaligrafi arab akan menjadi pelecut motivasi dan selanjutnya
hasil-hasil kreatifitas tersebut dipajang ditiap-tiap kelas serta di sudut-sudut
sekolah. Pengaturan kelas yang sedemikian rupa dapat menjadikan siswa merasa
nyaman untuk berada di dalam kelas.
Setiap pada akhir pelaksanaan KBM di MTsN I Malang, guru beserta
siswa selalu melaksanakan kegiatan refleksi untuk melihat sejauh mana
78
penguasaan materi yang telah dikuasai oleh siswa dan melihat tingkat
keberhasilan guru dalam menyampaikan materi. Refleksi yang dilakukan juga
dikemas sedemikian menarik, yaitu dengan cara mengadakan kuis berpasword
menirukan suara binatang.
Penilaian pada mata pelajaran PKn di MTsN I Malang dalam pelaksanaan
pakem yang dilakukan oleh guru, juga beragam sesuai dengan sub bab yang telah
selesai diberikan. Penilaian yang dilakukan terdiri dari 2 macam, yaitu: (1)
Penilaian konsep, terdiri dari ulangan harian dan ulangan umum, serta (2)
Penilaian Praktek, terdiri dari Portopolio, lembar pengamatan, kliping, kuis, dan
game.
3. Faktor Pendorong dan Penghambat Pelaksanaan PAKEM Pada Mata
Pelajaran PKn di MTsN I Malang
Berdasarkan hasil paparan data tentang faktor pendorong dan penghambat
pelaksanaan pakem di MTsN I Malang pada mata pelajaran PKn, faktor
pendorongnya adalah terdiri dari 2 hal, yaitu: (1) Ingin dijadikannya model pakem
sebagai strategi pembelajaran agar siswa dapat selalu termotivasi untuk mengikuti
pelajaran, sehingga memperoleh hasil yang baik. (2) Dengan menerapkan model
pakem, ingin secara perlahan menghilangkan model pembelajaran konvensional,
karena dengan model pembelajaran konvensional siswa merasa bosan untuk
mengikuti pelajaran serta keaktifan dan kreatifitas siswa tidak muncul.
Sedangkan faktor penghambatnya adalah sebagai berikut: (1) Kurangnya
semangat kerja atau kemauan dari guru untuk menerapkan model pakem, (2)
Adanya sikap yang telah terkondisi pada diri guru untuk tetap menggunakan
model konvensional dalam melaksanakan KBM, dan (3) Karena karakteristik
79
siswa yang beragam, jadi guru masih belum optimal dalam melaksanakan pakem,
guru sangat berupaya agar siswa yang pasif juga sesegera mungkin dapat
mengikuti siswa yang lebih aktif.
4. Upaya Untuk Mengatasi Hambatan Pelaksanaan Model PAKEM Pada
Mata Pelajaran PKn di MTsN I Malang
Upaya yang dilakukan untuk mengurangi hambatan pelaksanaan model
pakem pada mata pelajaran PKn dalam KBM di MTsN I Malang adalah sebagai
berikut: (1) Guru berusaha untuk menjalin komunikasi yang akrab dengan seluruh
siswa, memotivasi siswa agar bersemangat, tidak takut dan malu dalam
mengemukakan pendapat, tidak takut salah jika menjawab pertanyaan dari guru
(2) Guru membentuk kelompok belajar sesuai dengan model pakem, sehingga
pembelajaran yang dilakukannya lebih efektif, dan terus berupaya memotivasi
siswa dengan memberikan penghargaan berupa poin atau ucapan selamat bagi
siswa yang aktif memberikan pendapat, aktif menjawab pertanyaan, dan aktif
menanggapi pendapat temannya. (3) Guru harus memikirkan pembelajaran yang
lebih efektif, lebih mengaktifkan siswa dan yang terpenting adalah menciptakan
suasana belajar yang menyenangkan serta membuat siswa nyaman bukan
pembelajaran yang konvensional.
5. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif,
dan Menyenangkan (PAKEM) di MTsN I Malang
Suatu proses perbaikan tentunya tidak selamanya mudah untuk
dilaksanakan, pastilah ada faktor-faktor yang mendukung dan yang menghambat.
Begitu juga dengan pelaksanaan Model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan (pakem) di MTsN I Malang, ada kelebihan dan juga
80
kekurangannya. Akan tetapi itu semua haruslah dijadikan sebagai bahan evaluasi
dan berfikir untuk pemecahan masalah agar pelaksanaan selanjutnya dapat
berjalan dengan optimal. Kelebihan dan kekurangan itu antara lain sebagai
berikut:
a. Kelebihan Penerapan Model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan (PAKEM) di MTsN I Malang
1) Pembelajaran yang berpusat pada anak mengharuskan anak untuk selalu aktif.
2) Pembelajaran yang diterapkan membuat suasana selalu menyenangkan dan
tidak membosankan.
3) Guru hanya sebagai fasilitator, pengarah, dan penuntun. Anak yang menjadi
aktor utama.
4) Pembelajaran yang dilakukan menggunakan berbagai macam metode sehingga
menarik dan membuat anak tetap antusias.
5) Mendidik anak untuk selalu kritis terhadap perkembangan dimensi kehidupan,
diantaranya dunia pendidikan karena sumber belajar yang digunakan beragam,
salah satunya dari internet.
6) Mendidik anak untuk selalu kreatif dan inovatif.
b. Kelemahan Penerapan Model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan (PAKEM) di MTsN I Malang
1) Karena pembelajaran yang mengharuskan anak untuk selalu aktif mencari
sumber belajar sendiri, memungkinkan munculnya sifat individualistis.
2) Pembelajaran yang terkadang dilaksanakan di luar kelas, membuat guru harus
ekstra dalam memberikan pengawasan. Jangan sampai hal itu membuat siswa
tidak konsentrasi belajar tetapi malah bermain-main.
81
3) Karena suasana kelas yang dirancang sedemikian rupa, menyenangkan bagi
siswa dan membiarkan mereka untuk mengapresiasikan keinginannya, dapat
mengganggu kelas lain yang juga sedang melaksanakan kegiatan belajar
mengajar.
BAB V
PEMBAHASAN
A. Perencanaan Pakem di MTsN I Malang Pada Mata Pelajaran PKn
Berdasarkan dari temuan penelitian di atas, dapat diketahui bahwa di
MTsN I Malang telah menerapakan model pakem. Alasan mengapa model pakem
diterapakan MTsN I Malang adalah sebagai berikut: 1) Ingin dijadikannya model
pakem sebagai strategi pembelajaran agar siswa selalau termotivasi untuk
mengikuti pelajaran, sehingga memperoleh hasil yang baik. 2) Dengan model
pakem, ingin menghilangkan model pembelajaran konvensional, karena dengan
model pembelajaran konvensional siswa merasa bosan untuk mengikuti pelajaran
serta keaktifan dan kreatifitas siswa tidak muncul.
Guru di MTsN I Malang sebelum melaksanakan KBM di kelas dan
sebelum memulai pelajaran, menyiapkan perangkat pembelajaran terlebih dahulu.
Persiapan guru PKn di MTsn I Malang dalam merencanakan model pakem yang
pertama adalah dengan menyusun Rencana Program Efektif (RPE), program
semester, program tahunan, Rencanan Program Pembelajaran (RPP), silabus dan
sistem penilaian, serta menyiapkan media dan metode pembelajaran. Seperti
dalam
(Usman,
1995:50)
“menyusun
perangkat
pembelajaran
perlu
memperhatikan komponen-komponen penting berikut ini, yaitu: 1) Analisis mater
pelajaran, 2) Program tahunan, 3) Program semester, 4) Rencana program
pembelajaran, serta 5) Silabus dan sistem penilaian”.
Guru juga dituntut untuk menyiapkan media yang bervariasi, sehingga
dapat menghasilkan pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dan tidak
82 83 membosankan. Pemanfaatan lingkungan sekitar untuk belajar juga dirasa cukup
efektif mengaktifkan siswa sebagaimana yang telah diungkapkan oleh
Rosjidan, dkk (1996:62), (dalam Saputro dan Abidin, 2005:34-35)
“untuk menciptakan keaktifan anak, maka kegiatan
pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal berikut ini: 1)
menciptakan suasana kelas yang memungkinkan siswa belajar
dengan bebas dan tidak terancam, namun tetap terkendali. 2)
menghadapkan siswa pada permasalahan yang problematis. 3)
menyediakan sumber dan media yang diperlukan oleh siswa. 4)
mengupayakan metode, teknik, dan media pembelajaran yang
bervariasi. 5) terjadi komunikasi yang multiarah antara guru
dengan siswa. 6) adanya sistem reward atau penghargaan yang
dapat memuaskan serta meningkatkan motivasi siswa. 7)
memberikan kesempatan siswa untuk dapat memecahkan
masalanya, baik akademik maupun pribadi”.
Pakem menuntut siswa dan guru untuk sama-sama aktif dan kreatif dalam
pembelajaran. Dalam silabus dan RPP yang telah dirancang, guru menciptakan
dan menggunakan metode, media, bahan ajar atau sumber belajar yang bervariasi.
Pembelajaran yang dilakukan tidak secara konvensional, ceramah di depan kelas
dan siswa mencatat, hal itu dirasa membosankan bagi siswa tetapi guru di MTsN I
Malang selalu menyediakan dan menggunakan metode yang bervariasi. Seperti
yang telah diungkapkan oleh Hasibuan dan Moedjiono, (1986:64) “Pada
umumnya guru dalam menyampaikan materi pelajaran selama ini menggunakan
cara atau metode yang kurang bervariasi dan cenderung monoton, sehingga
peserta didik mudah merasa jenuh serta kurang bersemangat. Hal ini akan
mengakibatkan perhatian, motivasi dan minat siswa terhadap pelajaran menurun.
Untuk itu perlu adanya keanekaragaman dalam penyajian materi pembelajaran”.
Selain itu, guru juga menyiapkan media pembelajaran yang bermacammacam, diantaranya buku paket, LKS, artikel dari koran maupun internet, dan
84 lain-lain. Dalam model pakem bukan hanya siswa yang dituntut untuk aktif dan
kreatif, disini guru juga aktif dan kreatif. Penentuan perangkat pembelajaran
merupakan wewenang utama guru, guru dapat menentukan arah pembelajaran
yang mengaktifkan siswa, mengkreatifkan siswa, menyenangkan siswa serta
efektif adalah dengan perangkat pembelajaran yang dibuat. Apakah pembelajaran
yang diberikan dapat membuat siswa merasa nyaman dalam belajar dan
mencipatakan suasana pembelajaran yang menyenangkan apa tidak.
B. Pelaksanaan Pakem di MTsN I Malang Pada Mata Pelajaran PKn
Berdasarkan temuan penelitian di atas, dapat diketahui bahwa di MTsN I
Malang pelaksanaan pembelajaran telah sesuai dengan karakteristik pakem. KBM
diawali dengan mengucap salam, berdoa, menyebutkan indikator yang ingin
dicapai dan memberikan pertanyaan pembuka dengan tanya jawab atau kuis.
Bahkan, sebelum jam pertama dimulai siswa di MTsN I Malang diwajibkan untuk
membaca ayat suci Al-Quran dibelakang kelas yang ditempatkan pada rak buku
beserta buku bacaan lainnya. Hal ini jarang dijumpai di sekolah-sekolah lainnya.
Sebagaimana seperti yang diungkapkan oleh Mulyasa (2006:225-256)
“bahwa pada umumnya pelaksanaan proses pembelajaran
dimulai dengan pertanyaan pembuka. Hal ini mempunyai
banyak fungsi dalam menjajaki proses pembelajaran yang akan
dilaksanakan, yaitu: (1) menyiapkan peserta didik dalam proses
belajar, karena dengan pre-tes maka pikiran mereka akan
terfokus pada soal-soal yang harus mereka jawab atau
kerjakan; (2) untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik
sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan; (3)
mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik
mengenai bahan ajar yang akan dijadikan topik dalam proses
pembelajaran; (4) mengetahui dari mana yang seharusnya
proses pembelajaran dimulai, tujuan-tujuan mana yang perlu
mendapat perhatian khusus”.
85 Waktu penyampaian materi, guru selalu memantau kegiatan siswa. Guru
tidak hanya diam di depan kelas, duduk-duduk dan berceramah, guru juga aktif
dalam proses pembelajaran, tidak hanya ceramah dan murid disuruh mencatat saja
tetapi guru juga aktif memberikan bantuan terhadap siswa, membimbing siswa
yang merasa kesulitan dalam pembelajaran. Dalam model pakem, guru harus
kreatif dalam menciptakan metode, media, sumber belajar dan alat bantu
pembelajaran yang bervariasi.
Proses penerapan model pakem di MTsN I Malang menggunakan metode
permainan, studi kasus serta pengamatan. Sebagaimana menurut Phillip Rekdale
2005, (dalam http// www.pendidikan.net/development.html) “pakem adalah
singkatan dari Pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Fokus
pakem adalah pada kegiatan siswa dalam bentuk grup, individu, dan kelas,
partisipasi di dalam proyek, penelitian, penelidikan, penemuan, dan beberapa
macam strategi yang hanya dibatas dari imaginasi guru”. Penggunaan metode
permainan ini sesuai dengan apa yang ada pada bukunya Margono, (2002:38-39)
bahwa “pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang suka bermain (playing
animal). Dalam permainan, orang dapat berkompetisi, menemukan kegembiraan,
dan aktif. Pembelajaran yang dikemas dengan siswa dapat memperoleh intensif
atau hadiah jika memenangkan permainan”.
Penggunaan metode studi kasus sesuai seperti yang ada pada bukunya
Margono, (2002:102) “metode ini menggunakan prinsip berfikir induktif. Hal ini
berarti sejak awal siswa dihadapkan pada data, kemudian perlahan-lahan siswa
menemukan konsep atau kategori dari data tersebut. Pembelajaran ini tidak
sekedar siswa memahami data, tetapi lebih esensial lagi mencari keterkaitan antar
86 data. Pengkategorian tersebut terkait dengan prinsip pemecahan masalah, siswa
dihadapkan pada masalah dari artikel koran atau internet kemudian diidentifikasi
sebab-akibatnya dan dicari alternatif pemecahannya”.
Disamping metode pembelajaran, guru juga menggunakan media sebagai
sarana untuk mempermudah siswa dalam memahami dan mengerti tentang apa
yang sedang dipelajarinya. Media yang digunakan adalah gambar, artikel dari
koran dan internet, serta lingkungan sekolah dan ruang kelas juga dapat
dimanfaatkan untuk mendukung KBM agar mencapai tujuan pembelajaran. Hal
ini sesuai dengan yang ada pada buku Dinas Pendidikan kota Malang (2004:3.15)
“lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya
untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar,
tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunanan lingkungan
sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar”.
Penerapan pembelajaran PKn berbasis pakem tidak terlepas dari
keterlibatan peran aktif siswa dalam pembelajaran. Siswa-siswi di MTsN I
Malang selalu aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran. Siswa siswi di dalam
kelas
tampak
aktif
mengikuti
pelajaran
PKn
mereka
aktif
bertanya,
mengemukakan gagasan, dan menjawab pertanyaan yang telah diberikan oleh
guru. Siswa juga kreatif dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Para
siswa diberi kesempatan untuk menulis. Menulis disini bukan sekedar menyalin,
dari papan tulis atau buku. Lingkungan kelas yang dirancang sedemikian rupa
dapat dijadikan sebagai sumber belajar, misalnya dengan menyiapkan pajangan
hasil karya siswa, pajangan kaligrafi arab di dalam kelas, kliping, dan
menyediakan alat peraga yang menarik serta buku acuan disudut kelas. Seperti
87 yang ada pada buku dinas pendidikan kota malang, (2004:3.14) “ruang kelas yang
menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam pakem. Hasil pekerjaan
siswa sebaiknya dipajang untuk memenuhi ruang kelas, hal ini diharapkan agar
lebih memotivasi siswa dan menimbulkan inspirasi bagi siswa agar lebih baik lagi
dalam berkarya. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli,
puisi, karangan, dan sebagainya”.
Sementara itu, William Burton, (dalam Usman 1995:32) berpendapat
tentang penggunaan alat peraga haruslah seperti ini “dalam memilih alat peraga
yang akan digunakan, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini: 1) Alat-alat
yang dipilih harus sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa. 2) alat yang
dipilih harus tepat, memadai, dan mudah digunakan. 3) harus direncanakan
dengan baik dan diteliti terlebih dahulu. 4) sesuai dengan batas kemampuan
biaya”.
Guru di MTsN I Malang juga memberikan rangsangan atau stimulus yang
berupa pemberian tompel pada anak yang tidak dapat menjawab pertanyaan yang
diajukan sewaktu metode kuis dilaksanakan. Hal ini dapat menambah semangat
siswa untuk selalu belajar agar dirinya dapat menjawab semua pertanyaan yang
diajukan dan tidak mendapatkan hukuman kembali. Pemberian stimulus atau
rangsangan ini dapat berupa hadiah dan hukuman, hukuman sebagai penguatan
negatif, sedangakan hadiah sebagai penguatan positif. Hal ini sesuai dengan apa
yang diungkapkan oleh Hall dan Lindzey, (1978) (dalam Margono, 2002:14)
“pemberian penguatan berkonsentrasi pada pemberian hadiah sebagai penguatan
positif, dan pemberian hukuman sebagai penguatan negatif atas aturan-aturan
sekolah (tata tertib) yang berlaku”.
88 Selama ini siswa sering dicekoki dengan ceramah, sehingga guru yang
banyak aktif sedangkan siswa hanya pasif karena hanya mendengarkan saja tanpa
beraktivitas secara lebih. Oleh karena itu, hasil kreatifitas siswa diharapkan untuk
selalu dipajang agar siswa dapat memperkuat proses belajarnya. Pajangan
bermanfaat untuk membina kepercayaan diri dan memperdalam proses belajar,
sehingga terangsang untuk lebih bekerja, lebih giat lagi dan menghasilkan karyakarya yang lebih baik.
Pada tahap akhir proses belajar-mengajar PKn, guru bersama-sama siswa
melakukan kegiatan penutup dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
Guru juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila ada yang
kurang jelas serta memberikan beberapa pertanyaan terkait materi yang telah di
sampaikan.
Evaluasi dalam pakem tidak di lakukan pada waktu ulangan saja, tetapi
bisa di lakukan sewaktu-waktu. Evaluasi yang di lakukan terdiri dari dua macam,
yaitu: 1) penilaian konsep yang terdiri dari ulangan harian dan ulangan umum,
serta 2) penilaian praktek, yang terdiri dari portopolio, lembar pengamatan,
kliping, kuis, game, dan sebagainya. Penilaian praktek dinilai berdasarkan
pengamatan keaktifan siswa sewaktu mengikuti proses pembelajaran di kelas,
antara lain keberanian dalam mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan,
serta bertanya menjadi salah satu poin dalam menentukan penilaian. Penilaian
tertulis atau konsep dinilai berdasarkan ulangan harian maupun ulangan semester
secara tertulis dan penguasaan materi.
89 C. Faktor Pendorong dan Faktor Penghambat Dalam Penerapan Pakem di
MTsN I Malang Pada Mata pelajaran PKn.
Berdasarkan hasil dari temuan penelitian yang telah dipaparkan di atas,
dapat diketahui bahwa faktor yang mendorong MTsN I Malang untuk menerapkan
model pakem antara lain sebagai berikut: (1) Pakem merupakan strategi
pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk termotivasi dalam
pembelajaran, sehingga memperoleh hasil yang baik. (2) Dengan model pakem,
dapat mengurangi situasi dan kondisi model pembelajaran konvensional yang
lebih menitik beratkan pada metode ceramah, karena dengan model pembelajaran
konvensional siswa merasa bosan untuk mengikuti pelajaran serta keaktifan dan
kreatifitas siswa tidak muncul.
Sedangkan faktor-faktor yang menghambat MTsN I Malang dalam
menerapkan model pakem antara lain: (1) Belum dipahaminya model pakem oleh
guru, (2) Kurangnya memperoleh kesempatan memahami inovasi dalam
pendidikan, termasuk penerapan model pakem, (3) Kecenderungan diterapkannya
model pembelajaran konvensional yang dipandang lebih mudah dan murah, dan
(4) Karena kemampuan tingkat berfikir siswa yang beragam, jadi guru masih
belum optimal dalam menerapkan pakem, guru sangat berupaya agar siswa yang
pasif dapat sesegera mungkin mengikuti siswa yang lebih aktif.
D. Upaya Mengatasi Hambatan Dalam Pelaksanaan Model PAKEM di
MTsN I Malang Pada Mata Pelajaran PKn
Berdasarkan hasil temuan penelitian yang telah dipaparkan di atas, dapat
diketahui bahwa pihak sekolah dan guru telah berupaya untuk mengatasi
hambatan yang muncul dalam pelaksanaan model pakem. Upaya yang dilakukan
untuk mengatasi hambatan dalam pelaksanaan model pakem pada mata pelajaran
90 PKn di MTsN I Malang adalah sebagai berikut: (1) Guru berusaha untuk menjalin
komunikasi yang lebih akrab dengan seluruh siswa, memotivasi siswa agar selalu
bersemangat, tidak takut dan malu dalam mengemukakan pendapat, tidak takut
untuk menjawab pertanyaan dari guru serta tidak takut disalahkan jika
jawabannya salah. (2) guru membentuk kelompok belajar yang sesuai dengan
model pakem, sehingga pembelajaran yang dilakukannya lebih efektif, dan terus
berupaya untuk memotivasi siswa dengan memberikan penghargaan berupa poin
atau ucapan selamat bagi siswa yang aktif memberikan pendapat, aktif menjawab
pertanyaan dan aktif menanggapi pendapat temannya, sehingga siswa lebih
bersemangat dalam mengikuti KBM. (3) Guru harus memikirkan pembelajaran
yang lebih efektif, lebih mengaktifkan siswa dan yang terpenting adalah
menciptakan suasana belajar yang menyenangkan serta membuat siswa nyaman
bukan pembelajaran yang konvensional.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bardasarkan paparan data dan temuan penelitian yang kemudian dilakukan
kajian secara teoritis, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Perencanaan pembelajaran model pakem pada mata pelajaran PKn di MTsN I
Malang, dilakukan dengan cara menyiapkan perangkat pembelajaran terlebih
dahulu, yaitu penyusunan Rencana Program Efektif, Program Semester,
Silabus dan sistem penilaian, menyusun Rencana Program Pembelajaran, serta
menyiapkan metode, media, alat bantu, bahan ajar dan penilaian;
2. Pelaksanaan pembelajaran model pakem pada mata pelajaran PKn di MTsN I
Malang adalah memanfaatkan lingkungan di luar kelas untuk belajar dan
pengelolaan kelas yang baik oleh guru, karena prinsip belajarnya adalah
belajar sambil bermain, setelah itu membuka pelajaran dengan salam
pembuka, menulis indikator pembelajaran di papan tulis, mereview pelajaran
sebelumnya dengan tanya jawab, guru menerangkan inti dari materi yang akan
diberikan selama beberapa menit saja setelah itu siswa yang aktif, guru hanya
sebagai fasilitator dan menutup pelajaran dengan refleksi bersama-sama
dengan siswa; Evaluasi dalam pakem tidak dilakukan pada waktu ulangan
saja, tetapi bisa dilakukan sewaktu-waktu. Evaluasi yang dilakukan terdiri dari
2 macam, yaitu: a) penilaian konsep yang terdiri dari ulangan harian dan
ulangan umum, serta b) penilaian praktek.yang terdiri dari portopolio, lembar
pengamatan, kliping, kuis, game, dan sebagainya. Penilaian praktek dinilai
berdasarkan
pengamatan
keaktifan
91
siswa
sewaktu
mengikuti
proses
92
pembelajaran di kelas, antara lain keberanian dalam mengemukakan pendapat,
menjawab pertanyaan, serta bertanya menjadi salah satu poin dalam
menentukan penilaian. Penilaian tertulis atau konsep dinilai berdasarkan
ulangan harian maupun ulangan semester secara tertulis dan penguasaan
materi.
3. Faktor yang mendorong MTsN I Malang untuk menerapkan pembelajaran
model pakem adalah: a) Pakem merupakan strategi pembelajaran yang
memberikan kesempatan pada siswa untuk termotivasi dalam pembelajaran,
sehingga memperoleh hasil yang baik. b) Dengan model pakem, dapat
mengurangi situasi dan kondisi model pembelajaran konvensional yang lebih
menitik beratkan pada metode ceramah, karena dengan model pembelajaran
konvensional siswa merasa bosan untuk mengikuti pelajaran serta keaktifan
dan kreatifitas siswa tidak muncul.
Sedangkan faktor penghambatnya adalah: a) Belum dipahaminya model
pakem oleh guru, b) Kurangnya memperoleh kesempatan memahami inovasi
dalam pendidikan, termasuk penerapan model pakem, c) Kecenderungan
diterapkannya model pembelajaran konvensional yang dipandang lebih mudah
dan murah, dan d) Karena kemampuan tingkat berfikir siswa yang beragam,
jadi guru masih belum optimal dalam menerapkan pakem, guru sangat
berupaya agar siswa yang pasif dapat sesegera mungkin mengikuti siswa yang
lebih aktif.
93
4. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam penerapan model
pakem pada mata pelajaran PKn di MTsN I Malang adalah: a) Guru berusaha
untuk menjalin komunikasi yang lebih akrab dengan seluruh siswa,
memotivasi siswa agar selalu bersemangat, tidak takut dan malu dalam
mengemukakan pendapat, tidak takut untuk menjawab pertanyaan dari guru
serta tidak takut disalahkan jika jawabannya salah. b) guru membentuk
kelompok belajar yang sesuai dengan model pakem, sehingga pembelajaran
yang dilakukannya lebih efektif, dan terus berupaya untuk memotivasi siswa
dengan memberikan penghargaan berupa poin atau ucapan selamat bagi siswa
yang aktif memberikan pendapat, aktif menjawab pertanyaan dan aktif
menanggapi pendapat temannya, sehingga siswa lebih bersemangat dalam
mengikuti KBM. c) Guru harus memikirkan pembelajaran yang lebih efektif,
lebih mengaktifkan siswa dan yang terpenting adalah menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan serta membuat siswa nyaman bukan pembelajaran
yang konvensional.
B. Saran
Berdasarkan temuan penelitian, maka saran yang dapat peneliti berikan
adalah sebagai berikut:
1. Bagi
sekolah,
sekolah
disarankan
agar
menerapkan
pakem
secara
berkesinambungan.
2. Bagi guru, guru dituntut untuk lebih dapat memahami karakteristik siswa yaitu
dengan memahami sifat yang dimiliki anak dan memahami siswa secara
perorangan serta tingkat kemampuan siswa agar pakem dapat diterima siswa
dengan baik.
94
3. Bagi siswa, siswa diharapkan dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran
di kelas serta selalu belajar dengan lebih giat lagi.
4. Bagi Peneliti Lain, diharapkan penelitian ini bisa menjadi bahan referensi dan
juga menjadi bahan koreksi bagi penyempurnaan penyusunan penelitian
selanjutnya, sehingga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hakim, Suparlan. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan
Tinggi. Malang: UM Press.
Arikunto, Suharsimi. 1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi
revisi IV. Bandung: PT Rineka Cipta.
DEPDIKNAS. 2006. Srandart Isi. Malang.
De Porter Bobbi, Hernacki Mike. 1992. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
De Porter Bobbi, Reardon Mark, Singer-Nourie Sarah. 1992. Quantum Teaching.
Bandung: Kaifa.
Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Pendidikan.
Dinas Pendidikan Kota Malang. 2004. Bahan Pelatihan: Manajemen Berbasis
Sekolah: Malang.
Faisol Sanapiah, Waseso Mulyadi G. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.
Surabaya: Usaha Nasional.
Hardjono, Sartinah. 1988. Prinsip-Prinsip Pengajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan.
Hasibuan dan Moedjiono. 1986. Proses Belajar Mengajar. Bandung: CV
Remadja Karya.
Margono. 2002. Dasar Dan Konsep Pendidikan Moral. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Milles, M.B, dan Huberman, A.M. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI
Press.
Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi revisi. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Saputro Supriadi, Abidin Zainul. 2005. Strategi Pembelajaran. Malang:
Laboratorium Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang.
95
96
Setiani. Analisis Implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
(MPMBS) Di Gugus 03 Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto.
Suryabrata, Sumadi. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Universitas Negeri Malang. 2002. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi,
Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Laporan Penelitian. Malang: BAAPSI
bekerja sama dengan Penerbit Universitas Negeri Malang.
Untari, Sri. 2005/2006. Buku Petunjuk Teknis Praktik Pengalaman Lapangan
Bidang Studi Pendidikan Kewarganegaraan. Malang: UPT PPL UM.
Usman, Moh. Uzer. 1995. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Winataputra Udin S, Rosita Tita. 1995/1996. Materi Pokok Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian Proyek
Peningkatan Mutu Guru SLTP Setara D-III.
WWW. Google. Com. Search: PAKEM
.
Http: // pbmTutik. Blogsport. Com.s
Http: // WWW. Pendidikan. Net/ development. Html.
Http: // WWW. Pontianakpost.Com.
Http: // WWW. P4tkipa. Org.
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
: Khithok Ahmad Purwanto
NIM
: 104171471938
Jurusan/Program Studi
: Pend. Pancasila dan Kewarganegaraan/Pend.
Pancasila dan Kewarganegaraan
Fakultas/Program
: Fakultas Ilmu Pendidikan/Strata Satu (S1)
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar
merupakan hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambilan tulisan atau pikiran
orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.
Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan,
maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Malang, 5 Januari 2008
Yang membuat pernyataan,
Khithok Ahmad Purwanto
95 Lampiran 1: Perangkat Pembelajaran
PERANGKAT PEMBELAJARAN:
KELAS 7 REGULER
™
™
™
™
™
™
™
Program Tahunan
Perhitungan Alokasi Waktu Mata Pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan/ PKn
Program Semester
Identifikasi dan Analisis Kurikulum
Klasifikasi Standar Kompetensi dan Materi
Pendidikan Kewarganegaraan/ PKn
Silabus dan Sistem Penilaian
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Disusun untuk memenuhi tugas sebagai guru Pendidikan Kewarganegaraan/ PKn
Di Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I
Oleh:
Ira Kristina, S.Pd
Bidang studi:
Pendidikan Kewarganegaraan/ PKn
DEPARTEMEN AGAMA KOTA MALANG
MADRASAH TERPADU
MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI MALANG I
JALAN BANDUNG 7 MALANG
99
100
PROGRAM TAHUNAN
Mata Pelajaran
Satuan Pendidikan
Kelas
Tahun Pelajaran
Semester
No
I
Dan
II
1.
: Pendidikan Kewarganegaraan/ PKn
: MTs
: VII
: 2008-2009
Jenis Kegiatan
Waktu
Menyusun/ membuat perhitungan
alokasi waktu, pekan tidak efektif,
banyak pekan efektif, banyaknya
jam efektif
Keterangan
2 kali
2.
Menyusun program semester
2 kali
3.
Menyusun identifikasi dan analisis
kurikulum
2 kali
4.
Menyusun silabus dan system
penilaian
2 kali
5.
Menyusun desain pembelajaran
(semester ganjil)
17 kali
Menyusun desain pembelajaran
(semester genap)
15 kali
6.
7.
Penyelesaian bahan kajian:
Semester Ganjil:
1. Norma-norma dalam
Masyarakat
2. Proklamasi Kemerdekaan dan
Konstitusi Pertama
Semester Genap:
3. Istrumen Nasional HAM
4. Kemerdekaan Mengemukakan
Pendapat
10 Jam-Pel
10 Jam-Pel
1 x 45’
1 x 45’
9 Jam-Pel
6 Jam-Pel
2 Jam-Pel
2 Jam-Pel
1 x 45’
1 x 45’
8.
Ulangan harian semester ganjil
2 Jam-Pel
2 kali
9.
Her semester ganjil
2 Jam-Pel
2 kali
101
10.
Ujian semester ganjil
2 Jam-Pel
1 kali
11..
Ulangan harian semester genap
2 Jam-Pel
2..kali
12.
Her semester genap
2 Jam-Pel
2 kali
13.
Ujian semester genap
2 Jam-Pel
1 kali
14.
Cadangan
1 kali
PERHITUNGAN ALOKASI WAKTU
MATA PELAJARAN: PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN/ PKn
Kelas
: VII
Semester
: Ganjil
Tahun Pelajaran : 2008-2009
Bulan
Banyak Pekan
Jumlah Jam
Juli 2008
2
4
Agustus 2008
5
10
September 2008
4
8
Oktober 2008
1
2
Nopember 2008
4
8
Desember 2008
4
8
Januari 2008
1
2
21
42
Jumlah
Catatan: Contoh mengajar hari Jum’at
102
PEKAN TIDAK EFEKTIF
1. Libur / cuti bersama
: 1 hari
2. Libur Ramadhan
: 0 hari
3. Libur Hari Raya
: 3 hari
4. UTS
: 1 hari
5. UAS I
: 1 hari
Jumlah
: 6 hari
BANYAK PEKAN EFEKTIF
= Banyak pekan dalam 1 semester – pekan tidak efektif
= 21 minggu – 6 hari
= 20 minggu
BANYAK JAM EFEKTIF
= Banyak pekan efektif x 2 jam pelajaran
= 20x 2 = 20 jam efektif
103
DISTRIBUSI ALOKASI WAKTU
Semester
No
Pokok Bahasan
Waktu
Ganjil
1.
Norma-norma dalam
Masyarakat
2.
Proklamasi Kemerdekaan dan
Konstitusi Pertama
10.Jam-Pel
Ulangan Harian
2 Jam-Pel
Keterangan
10 Jam-Pel
2 kali
Her
2 Jam-Pel
2 kali
Cadangan
1 Jam-pel
1 kali
104
PROGRAM SEMESTER
Nama Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/ Semester
Tahun Pelajaran
No
1.
Materi/ Kompetensi Dasar/ Indikator
Norma-norma dalam Masyarakat:
1. Mendeskripsikan hakikat normanorma, kebiasaan, adat istiadat,
peraturan, yang berlaku dalam
masyarakat:
™
™
™
™
™
™
™
™
Menyebutkan hakikat norma
Menyebutkan asal, sanksi,
sifat, contoh masing-masing
norma
Menyebutkan hakikat
peraturan
Menyebutkan contoh peraturan
Menyebutkan hakikat adat
istiadat
Menyebutkan contoh adat
istiadat
Menyebutkan hakikat
kebiasaan
Menyebutkan contoh kebiasaan
2. Menjelaskan hakikat dan arti
penting hukum bagi warga Negara:
™
™
™
Menyebutkan fungsi hokum
Mengidentifikasi Menyebutkan
hakikat hokum
Menyebutkan ciri-ciri Negara
hokum
3. Menerapkan norma-norma,
kebiasaan, adat istiadat dan
peraturan yang berlaku dalam
kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara
Ulangan Harian
Remidial
:
:
:
:
MTs. Negeri Malang I
PKn
VII/ Ganjil
2008-2009
Alokasi
Waktu
Agustus
Juli
3
4
1
2
P
E
N
G
A
N
T
A
R
2
2
2
S
E
M
E
S
T
E
R
G
A
N
J
I
L
September
3
4
5
2
2
2
1
2
2
2
3
2
4
2
105
No
.
2.
Materi/ Kompetensi Dasar
Proklamasi Kemerdekaan
dan Konstitusi Pertama:
1.
Menjelaskan makna
proklamasi
kemerdekaan:
™ Menyebutkan arti
proklamasi
kemerdekaan
™ Menjelaskan makna
proklamasi
kemerdekaan
™ Menyebutkan sikap
positip warga negara
terhadap makna
proklamasi
kemerdekaan
2.
Mendeskripsikan
suasana kebatinan
konstitusi pertama:
™ Menyebutkan
pengertian atau
kedudukan konstitusi
™ Menyebutkan alur/
proses pembuatan
konstitusi pertama
™ Mengidentifikasi isi/
komponen kostitusi
™ Menyebutkan fungsi
konstitusi
Alokasi
Waktu
Nopember
Oktober
1
2
3
L
I
B
U
R
L
I
B
U
R
L
I
B
U
R
H
A
R
I
H
A
R
I
H
A
R
I
R
A
Y
A
R
A
Y
A
R
A
Y
A
I
D
U
L
I
D
U
L
I
D
U
L
F
I
T
R
I
F
I
T
R
I
F
I
T
R
I
4
5
1
2
U
J
I
A
N
2
2
3
2
2
4
T
E
N
G
A
H
S
E
M
E
S
T
E
R
I
™ Mendeskripsikan
suasana kebatinan
konstitusi pertama
GAME (TTS KD 2)
3.
Menganalisis hubungan
antara proklamasi
kemerdekaan dan UUD
1945
2
106
No
.
Materi/ Kompetensi Dasar
4.
Menunjukkan sikap positif
terhadap makna proklamasi
kemerdekaan dan suasana
kebatinan konstitusi pertama
Ulangan Harian
Remidial
Desember
Alokasi
Waktu
1
2
2
2
3
2
4
2
Januari
1
2
3
4
C
U
T
I
U
A
S
R
A
P
O
R
T
A
N
L
I
B
U
R
B
E
R
S
A
M
A
G
A
N
J
I
L
I
S
M
T
I
107
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS KTSP 2006
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN/ PKn SEMESTER GANJIL
Kelas
No.
Materi Pokok
Kompetensi Dasar
7
1.
Norma-norma
dalam
Masyarakat:
1. Mendeskripsikan hakikat
norma-norma, kebiasaan,
adat istiadat, peraturan,
yang berlaku dalam
masyarakat
2. Mendeskripsikan suasana
kebatinan konstitusi
pertama
Jumlah
Indikator
12
3. Menerapkan norma-norma,
kebiasaan, adat istiadat dan
peraturan yang berlaku
dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara
7
2.
Proklamasi
Kemerdekaan
dan Konstitusi
Pertama
1. Menjelaskan makna
proklamasi kemerdekaan
2. Mendeskripsikan suasana
kebatinan konstitusi
pertama
3. Menganalisis hubungan
antara proklamasi
kemerdekaan dan UUD
1945
4. Menunjukkan sikap positif
terhadap makna proklamasi
kemerdekaan dan suasana
kebatinan konstitusi pertama
10
108
KLASIFIKASI STANDAR KOMPETENSI DAN MATERI
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN/ PKn SEMESTER GANJIL
STANDAR KOMPETENSI
Menunjukkan
sikap positif
terhadap normanorma yang
berlaku dalam
kehidupan
bermasyarakat,
berbangsa, dan
bernegara
Mendeskripsikan
makna Proklamasi
Kemerdekaan dan
konstitusi
pertama
Materi Pokok
Materi Pokok
12 Indikator
10 Indikator
Lampiran 3: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
116
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Nama Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/ Semester
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
Alokasi Waktu
1.
2.
3.
4.
:
:
:
:
MTs. Negeri Malang I
Pendidikan Kewarganegaraan
7/ Ganjil
Kemampuan menganalisis dan menampilkan
sikap positif terhadap norma-norma yang
berlaku dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara
: Mendeskripsikan hakikat norma-norma yang
berlaku dalam masyarakat
: 1. Menyebutkan pengertian norma
2. Menyebutkan norma-norma yang ada
dalam masyarakat meliputi:
™ Contoh
™ Sifat
™ Asal
™ Sanksi
: 1 x pertemuan (2 x 40’)
Tujuan Pembelajaran:
Setelah selesai pembelajaran, siswa dapat:
™ Menyebutkan pengertian norma
™ Menyebutkan norma-norma dalam masyarakat (contoh, sifat, asal dan
sanksi)
Materi Ajar:
™ Pengertian norma
™ Macam-macam norma
™ Contoh norma
™ Sifat norma
™ Asal norma
™ Sanksi terhadap pelanggaran norma-norma
Metode:
™ Tanya jawab
™ RUN and SIT GAME (permainan lari – duduk)
Langkah-langkah Kegiatan:
Pertemuan
Pertama
Kegiatan
Pendahuluan:
™ Bercerita sekilas tentang kasus pencabulan
terhadap anak di bawah usia (diambil dari berita
actual terkini) kemudian bertanya kepada siswa:
“Tahukah kalian kasus tersebut telah melanggar
norma apa? Mengapa demikian?”
™ Menginformasikan kepada siswa tentang agenda
hari ini, yaitu:
1. Tanya jawab melalui pengisian table tentang
Waktu
10’
117
asal, sanksi, sifat, dan contoh masing-masing
norma
2. RUN and SIT GAME (permainan lari – duduk)
tentang norma-norma
Menjelaskan teknis tanya jawab dan permainan
Menyampaikan teknis penilaiannya
™
™
Inti:
™ Guru membuat table di papan tulis tentang norma
yang meliputi asal, sifat, sanksi, contoh. Siswa
menjawab kolom yang kosong, dst terjadi tanya
jawab antara guru dan siswa. Terakhir guru akan
membahas atau menjelaskan sekaligus memberikan
penilaian terhadap siswa.
™ Pelaksanaan RUN and GAME (permainan lariduduk) tentang norma-norma untuk mempertajam
kompetensi dasar 1.
™ Penilaian permainan dan pembahasan
Penutup:
™ Siswa dengan dibimbing dan difasilitasi guru
membuat rangkuman materi tentang pengertian
norma, macam-macam norma, contoh norma, sifat
norma, asal norma, sanksi terhadap pelanggaran
norma-norma
™ Siswa mencatat tugas-tugas kegiatan yang
diberikan guru
5.
Alat/Sumber Belajar:
• Buku teks siswa kelas VII
• Buku paket lain yang relevan
• Peraturan perundang-undangan nasional
• artikel/berita di media massa
6.
Penilaian:
• Kegiatan 1 (tanya jawab):
Jawaban benar = 100
Jawaban benar tapi kurang sempurna = 80
Jawaban salah = 65
• Kegiatan 2 (permainan):
- Jawaban benar = 100
- Jawaban benar tapi kalah kecepatan = 80
- Jawaban salah = 65
65’
5’
118
Contoh Instrumen:
• Kegiatan 1 (Tanya jawab):
Tabel: Jenis-jenis norma yang berlaku dalam masyarakat
No
Nama norma
Asal norma
Sifat norma
Sanksi terhadap
.
Contoh norma
pelanggaran
norma
1.
Agama
.......................
universal
............................
.........................
2.
.......................
.......................
.........................
............................
Dilarang
menebang
pohon
sembarangan!
3.
Kesopanan
.......................
.........................
............................
.........................
4.
Kesusilaan
.......................
.........................
............................
.........................
•
Kegiatan 2 (permainan):
Tabel: Identifikasi berbagai macam norma yang berlaku dalam masyarakat
No.
Nama Siswa
Butir Pernyataan
Skor Nilai
1.
Janganlah engkau berbuat zina
2.
Mengikuti wajar 12 tahun
3.
Menggunakan hak pilih dalam pilkada
4.
Mengetuk pintu sebelum masuk rumah
119
5.
Memanggil guru dengan sebutan ”hai”
6.
7.
Memperpanjang KTP jika sudah
kadaluarsa
Janganlah engkau berbuat riba
8.
Penebangan pohon secara ilegal
9.
TOGEL
10.
CURANMOR
11.
Merokok dalam angkot
12.
Berbuat anarchis
13.
Bertegur sapa bila bertemu kerabat
14
Menghargai hasil karya orang lain
NB: Butir pernyataan tersebut diidentifikasi apakah termasuk pelaksanaan atau
pelanggaran norma agama/ hukum/ kesopanan/ kesusilaan.
Guru Mata Pelajaran
Malang, Agustus 2008
Kepala Sekolah
Ira Kristina, S.Pd
NIP.
Dra. Binti Maqsudah, M.Pd.
NIP. 150 222 144
120
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Nama Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/ Semester
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
Alokasi Waktu
1.
2.
3.
4.
:
:
:
:
MTs. Negeri Malang I
Pendidikan Kewarganegaraan
7/ Ganjil
Kemampuan menganalisis dan menampilkan
sikap positif terhadap norma-norma yang
berlaku dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara
: Mendeskripsikan hakikat norma-norma yang
berlaku dalam masyarakat
: 1. Menyebutkan hakikat peraturan
2. Menyebutkan contoh peraturan
3. Menyebutkan hakikat adat istiadat
4. Menyebutkan contoh adat istiadat
5. Menyebutkan hakikat kebiasaan
6. Menyebutkan contoh kebiasaan
: 1 x pertemuan (2 x 40’)
Tujuan Pembelajaran:
Setelah selesai pembelajaran, siswa dapat:
™ Menyebutkan hakikat peraturan
™ Menyebutkan contoh peraturan
™ Menyebutkan hakikat adat istiadat
™ Menyebutkan contoh adat istiadat
™ Menyebutkan hakikat kebiasaan
™ Menyebutkan contoh kebiasaan
Materi Ajar:
™ Hakikat peraturan
™ Contoh peraturan
™ Hakikat adat istiadat
™ Contoh adat istiadat
™ Hakikat kebiasaan
™ Contoh kebiasaan
Metode:
™ Tanya jawab
™ Cerita
Langkah-langkah Kegiatan:
Pertemuan
Pertama
Kegiatan
Pendahuluan:
™ Guru menyuruh satu siswa maju ke depan kelas
untuk mendeskripsikan kegiatan apa saja yang ia
lakukan mulai bangun tidur pagi sampai tidur
malam hari. Kemudian guru mengkaitkan kegiatan
Waktu
10’
121
™
™
siswa tadi dengan peraturan yang ada di rumah.
Menyampaikan materi dan agenda hari ini
Menyampaikan teknis permainan pada kegiatan 2
(QUIZ)
Inti:
™ Tanya jawab tentang peraturan mulai dari lingkup
yang paling kecil sampai besar beserta contohnya
™ Guru bercerita tentang larangan wanita suku
Tengger untuk bersekolah dan kegiatan yang
dilakukan masyarakat pada umumnya untuk
membuat kue apem menjelang puasa ramadlan..
Kemudian siswa disuruh untuk menyebutkan mana
yang termasuk adat istiadatdan mana yang
termasuk kebiasaan. Mengapa demikian?
™ Siswa memaparkan hasil pemikirannya
™ QUIZ dengan passward menirukan suara binatang
untuk mempertajam KD 1
Penutup:
™ Siswa dengan dibimbing dan difasilitasi guru
membuat rangkuman materi tentang hakikat
peraturan, contoh peraturan, hakikat adat istiadat,
contoh adat istiadat, hakikat kebiasaan, contoh
kebiasaan
™ Siswa mencatat tugas-tugas kegiatan yang
diberikan guru (mempelajari KD 2 yaitu tentang
hakikat dan pentingnya hokum bagi warga Negara)
5. Alat/Sumber Belajar:
• Buku teks siswa kelas VII
• Buku paket lain yang relevan
• Peraturan perundang-undangan nasional
• Ensiklopedia adat istiadat
6. Penilaian:
• Kegiatan 1 (tanya jawab- pertanyaan lisan di kelas):
- 1-3 kali menjawab dengan jawaban benar = 100
- 1 kali menjawab dengan jawaban benar = 80
- Jawaban kurang sempurna = 70
- Jawaban salah = 65
• Kegiatan 2 (QUIS):
- Jawaban benar = 100
- Jawaban lemparan benar = 50
- Jawaban salah = dikurangi 50
65’
5’
122
-
Pertanyaan belum selesai sudah mengucapkan passward = dikurangi
50 dan tidak boleh menjawab satu kali pertanyaan
Kemudian semua nilai dijumlah dan dapat diketahui skor
masing-masing kelompok
Contoh Instrumen (QUIZ dengan passward menirukan suara binatang):
A. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!
1. Pegangan atau kaidah bagi perilaku hidup manusia disebut …
a. nilai
b. norma
c. adat istiadat
d. kebiasaan
2. Rasa bersalah adalah bentuk sanksi norma …
a. hukum
b. agama
c. kesopanan
d. kesusilaan
3. Norma yang bersumber dari hati nurani manusia adalah norma …
a. agama
b. hukum
c. kesopanan
d. kesusilaan
4. Orang yang melanggar norma kesopanan akan mendapat sanksi berupa …
a. dosa
b. penjara
c. dikucilkan
d. penyesalan diri
5. Orang yang melanggar hukum akan mendapat sanksi berupa …
a. dosa
b. pidana
c. celaan
d. penyesalan diri
6. Di antara norma-norma di bawah ini, norma yang paling kuat berlakunya/
bersifat tegas adalah norma …
a. hukum
b. agama
c. kesusilaan
d. kesopanan
7. Contoh perilaku yang menggambarkan norma kesopanan adalah …
a. meludah di sembarang tempat
b. makan dengan menggunakan tangan kiri
c. memberikan sesuatu dengan tangan kanan
d. membiasakan bertegur sapa bila bertemu dengan orang yang sudah
dikenal
123
8. Salah satu contoh yang sesuai dengan norma kesusilaan adalah …
a. berbuat baik terhadap sesame
b. menghormati orang yang lebih tua
c. berbakti dan mengabdi kepada orang tua
d. membuang sampah di tempat yang telah disediakan
9. Contoh perilaku yang bertentangan dengan norma hukum adalah …
a. berbuat riba
b. tindak pidana korupsi
c. membayar pajak
d. apatis terhadap fakir miskin
10. Salah satu tujuan penerapan norma dalam masyarakat adalah …
a. menghilangkan keanekaragaman dalam masyarakat
b. melindungi masyarakat golongan ekonomi lemah
c. menghindari benturan kepentingan anggota masyarakat
d. mengatur kehidupan sekelompok anggota masyarakat
A. Ucapkan dengan jawaban B bila pernyataan berikut benar dan jawaban
S bila pernyataan berikut salah!
1. Rasa bersalah adalah bentuk sanksi dari norma kesopanan
2. Main hakim sendiri pada dasarnya merusak tatanan hukum
3. Norma hukum lebih penting daripada norma kesusilaan
4. Adat istiadat umumnya terkait dengan moralitas masyarakat
5. Meskipun bukan aturan, kebiasaan perlu diindahkan
6. Ciri khas norma hukum adalah sanksinya bisa dipaksakan
7. Negara hukum disebut juga machtstaat
8. Peraturan adalah tatanan yang dibuat oleh pihak berwenang
9. Adat istiadat tidak penting karena merupakan budaya masa lalu
10. Hukum haruslah mewujudkan ketertiban dan keadilan
Guru Mata Pelajaran
Malang, Agustus 2008
Kepala Sekolah
Ira Kristina, S.Pd
NIP.
Dra. Binti Maqsudah, M.Pd.
NIP. 150 222 144
Lampiran 4: Modul Pembelajaran
124
PENDAHULUAN
Selamat anda telah diterima di kelas akselerasi. Modul ini dibagi menjadi:
• kegiatan belajar 1 : menjelaskan tentang hakikat norma, kebiasaan,
adat istiadat dan peraturan
• kegiatan belajar 2 : menjelaskan tentang hakikat dan pentingnya
hukum
• kegiatan belajar 3 : menjelaskan tentang penerapan sikap terhadap
norma, kebiasaan, adat istiadat, dan peraturan
Tujuan modul ini adalah agar anda memahami norma dalam masyarakat dengan
indikator:
1. Menyebutkan hakikat norma, kebiasaan, adat istiadat dan peraturan
2. Mengidentifikasi contoh norma, kebiasaan, adat istiadat dan peraturan
3. Menyebutkan sumber/ asal norma, kebiasaan, adat istiadat dan peraturan
4. Menyebutkan sanksi terhadap pelanggaran norma, kebiasaan, adat istiadat dan
peraturan
5. Menyebutkan sifat/ ruang lingkup norma, kebiasaan, adat istiadat dan
peraturan
6. Menyebutkan hakikat hukum
7. Menjelaskan pentingnya hukum bagi warga negara
8. Menunjukkan sikap taat azas terhadap norma, kebiasaan, adat istiadat, dan
peraturan
Untuk mencapai target/ indikator tersebut dapat dilaksanakan melalui
pembelajaran secara individu dan kelompok. Jika mengalami kesulitan silahkan
menghubungi guru pembimbing.
Petunjuk penggunaan modul:
1. Baca uraian materi pada tiap kegiatan. Untuk mempertajam materi
silahkan membaca atau mempelajari :
•
Buku panduan/ paket
•
Peraturan perundang-undangan
•
KUHP dan KUHPer
2. Sebagai data pelengkap, adakan wawancara dengan tokoh masyarakat
yang terkait
3. Kerjakan semua tugas dan uji kompetensi yang ada pada modul ini
4. Jangan melihat kunci jawaban sebelum anda selesai mengerjakan tugas/
uji kompetensi
5. Garis bawahi jika perlu catat pada bagian-bagian yang belum anda pahami
6. Bila belum tercapai penguasaan konsep dan praktek 75% dari tiap
kegiatan maka ulangi lagi langkah-langkah di atas dengan seksama
Mudah-mudahan dengan mempelajari modul ini anda mendapatkan tambahan
wawasan materi pelajaran PKn dan jangan lupa mengingat pelajaran modul ini
karena akan berhubungan dengan modul berikutnya.Tugas dan uji kompetensi
pada modul ini hendaknya dapat anda selesaikan dalam waktu satu minggu.
125
Selamat belajar, semoga berhasil dan sukses.
Kegiatan Belajar
I
HAKIKAT NORMA, KEBIASAAN, ADAT ISTIADAT dan PERATURAN
1.
2.
3.
4.
5.
Target/ indikator yang harus anda kuasai:
Menyebutkan hakikat norma, kebiasaan, adat istiadat dan peraturan
Mengidentifikasi contoh norma, kebiasaan, adat istiadat dan peraturan
Menyebutkan sumber/ asal norma, kebiasaan, adat istiadat dan peraturan
Menyebutkan sanksi terhadap pelanggaran norma, kebiasaan, adat istiadat dan
peraturan
Menyebutkan sifat/ ruang lingkup norma, kebiasaan, adat istiadat dan
peraturan
Kehidupan manusia di dalam pergaulan masyarakat diliputi oleh normanorma, yaitu peraturan hidup yang mempengaruhi tingkah laku manusia dalam
masyarakat. Sejak masa kecilnya manusia merasakan adanya peraturan-peraturan
hidup yang membatasi sepak terjangnya. Pada permulaan yang dialami hanyalah
peraturan-peraturan hidup yang berlaku dalam lingkungan keluarganya kemudian
juga berlaku di luarnya,dalam masyarakat. Seiring dengan bertambahnya waktu/
usia, semakin dewasa maka semakin ia ikut melaksanakan dan merasakan apa
yang menjadi peraturan-peraturan hidup yang berlaku dalam masyarakat dan
negaranya itu.
Akan tetapi dengan adanya norma-norma itu dirasakan pula adanya
penghargaan
dan
perlindungan
terhadap kepentingan-kepentingannya.
Demikianlah norma-norma itu mempunyai tujuan supaya kepentingan masingmasing warga masyarakat dan ketentraman dalam masyarakat terpelihara dan
terjamin.
Dalam pergaulan hidup dibedakan 4 macam norma, yaitu:
1. Norma agama
2. Norma hukum
3. Norma kesopanan
4. Norma kesusilaan
1. Norma Agama ialah peraturan hidup yang diterima sebagai perintah-perintah,
larangan-larangan dan anjuran-anjuran yang berasal dari Tuhan.
2. Norma Hukum ialah peraturanhidup yang dibuat oleh penguasa negara. Isinya
mengikat setiap orang dan pelaksanaannya dapat dipertahankan dengan segala
paksaan pleh pemerintah atau pemegang kekuasaan. Hukum yang dipakai oleh
bangsa Indonesia banyak sekali di antaranya adalah hukum pidana dan
perdata.
3. Norma Kesopanan ialah peraturan hidup yang timbul dari pergaulan
segolongan manusia. Norma ini di setiap daerah belum tentu sama
pelaksanaannya, artinya
bahwa norma kesopanan yang berlaku pada
masyarakat A tidak dapat diterima oleh masyarakat B. Karenanya norma ini
126
bersifat lokal. Terkadang juga terdapat kesamaan norma kesopanan pada
masing-masing daerah.
4. Norma Kesusilaan ialah peraturan hidup yang dianggap sebagai suara hati
sanubari manusia, yang mengajak kepada kebaikan dan menjauhi keburukan.
Dalam norma ini terdapat juga peraturan hidup seperti yang terdapat dalam
norma agama karena tidak ada agama yang mengajak kepada kejelekan.
Semua agama mengajak kepada kebaikan.
Selain norma di atas ada juga beberapa norma yang berlaku berdasarkan
kekuatan berlakunya di masyarakat, yaitu:
1. Cara
2. Kebiasaan
3. Adat istiadat
4. Peraturan
1. Cara adalah bentuk kegiatan manusia yang daya ikatnya sangat lemah. Sanksi
hukum yang diberikan atas pelanggaran ini adalah berupa celaan. Contoh:
Cara makan, duduk, berbusana dan lain-lainl jika tidak semestinya akan
menimbulkan celaan atau gunjingan oleh masyarakat.
2. Kebiasaan adalah kegiatan yang diulang-ulang/ umum/ lazim dilakukan
masyarakat. Meskipun bukan aturan, kebiasaan mempunyai pengaruh terhadap
perilaku keseharian warga masyarakat. Umumnya, orang berusaha berperilaku
sesuai dengan kebiasaan masyarakat sekitar dengan maksud agar ia dapat
diterima oleh masyarakat itu. Sebaliknya jika ia tidak mengikuti kebiasaan
yang ada maka ia akan kurang diterima bahkan tidak sama sekali diterima oleh
masyarakat tersebut. Contoh: Masyarakat Penanggungan-Betek Malang
terbiasa dengan kegiatan mengirimkan makanan ke tetangga sekitar menjelang
acara pernikahan, hari raya Idul Fitri/ Idul Adha ataupun selamatan bayi, dan
lain-lain. Jika ada sebuah keluarga yang tidak melaksanakan kebiasaan
tersebut ia pasti akan mendapat gunjingan warga masyarakat.
3. Adat Istiadat ialah petunjuk hidup yang mengikat perilaku sebuah masyarakat
yang berupa nilai-nilai budaya yang sudah menjadi ikatan dalam sebuah
masyarakat. Suatu kegiatan dapat dikatakan sebagai konsep adat istiadat jika
telah memenuhi unsur yaitu:
1. nilai-nilai budaya
2. sistem norma
3. sisstem hukum
4. aturan khusus
4. Peraturan ialah norma yang berbentuk tertulis atau ketentuan tertulis yang
berisi pedoman tingkah laku. Peraturan dapat dibuat oleh keluarga, sekolah/
instansi, organisasi sosial politik, dan pemerintah.
1.
2.
3.
4.
TUGAS INDIVIDU
Carilah apa yang menjadi kebiasaan di lingkungan masyarakat tempat
tinggalmu! Adakah anggota masyarakat yang perilakunya menyimpang dari
kebiasaan tersebut? Adakah sanksinya? Jelaskan!
Tuliskan adat istiadat yang berlaku di masyarakat X beserta sanksinya jika
dianggap telah melanggar adat istiadat tersebut!
Carilah sebuah peraturan yang berlaku di daerah (desa/ kota) tempat
tinggalmu. Aturan apakah itu? Catatlah ruang lingkup dan sanksinya.!
Salinlah data kalian ke dalam dokumen laporan (lembaran kertas) dengan
format sebagai berikut!
127
Nama Siswa
:
Kelas
:
Lokasi Pengamatan* :
DATA HASIL PENGAMATAN JENIS-JENIS PEDOMAN HIDUP
No.
Jenis Pedoman
Hidup
1.
Kebiasaan
2.
Adat Istiadat
3.
Peraturan:
ƒ Keluarga
Contoh
ƒ
Sekolah
ƒ
Masyarakat
ƒ
Organisasi Sospol
ƒ
Pemerintah
Asal/
Ruang
Sanksi
Sumber Lingkup/ Pelanggaran
Sifat
Hukum
* Tulis nama daerah di mana kalian mencari/ mengamati jenis pedoman hidup.
RIK PENILAIAN:
128
No
Deskripsi/ Aspek
Skor
1
1.
Ketepatan Jawaban:
ƒ Contoh:
1) Kebiasaan
2) Adat Istiadat
3) Peraturan:
a. Keluarga
b. Sekolah
c. Masyarakat
d. Organisasi Sospol
e. Pemerintah
ƒ Asal/ Sumber:
1) Kebiasaan
2) Adat Istiadat
3) Peraturan:
a. Keluarga
b. Sekolah
c. Masyarakat
d. Organisasi Sospol
e. Pemerintah
ƒ Ruang Lingkup/ Sifat:
1) Kebiasaan
2) Adat Istiadat
3) Peraturan:
a. Keluarga
b. Sekolah
c. Masyarakat
d. Organisasi Sospol
e. Pemerintah
ƒ Sanksi Pelanggaran Hukum:
1) Kebiasaan
2) Adat Istiadat
3) Peraturan:
a. Keluarga
b. Sekolah
c. Masyarakat
d. Organisasi Sospol
e. Pemerintah
2.
Ketepatan Waktu Pengumpulan Tugas
NILAI:
Jumlah Skor Perolehan
------------------------------------- x 100 = ….
Jumlah Skor Maksimal (87)
2
3
129
A. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat di bawah ini!
1. Pegangan atau kaidah bagi perilaku hidup manusia disebut …
a. nilai
b. norma
c. adat istiadat
d. kebiasaan
2. Rasa bersalah adalah bentuk sanksi norma …
a. hukum
b. agama
c. kesopanan
d. kesusilaan
3. Norma yang bersumber dari hati nurani manusia adalah norma …
a. agama
b. hukum
c. kesopanan
d. Kesusilaan
4. Orang yang melanggar norma kesopanan akan mendapat sanksi berupa …
a. dosa
b. penjara
c. dikucilkan
d. penyesalan diri
5. Orang yang melanggar hukum akan mendapat sanksi berupa …
a. dosa
b. pidana
c. celaan
d. penyesalan diri
6. Di antara norma-norma di bawah ini, norma yang paling kuat berlakunya/
bersifat tegas adalah norma …
a. hukum
b. agama
c. kesusilaan
d. kesopanan
7. Contoh perilaku yang menggambarkan norma kesopanan adalah …
a. meludah di sembarang tempat
b. makan dengan menggunakan tangan kiri
c. memberikan sesuatu dengan tangan kanan
d. membiasakan bertegur sapa bila bertemu dengan orang yang sudah dikenal
8. Salah satu contoh yang sesuai dengan norma kesusilaan adalah …
a. berbuat baik terhadap sesama
b. menghormati orang yang lebih tua
c. berbakti dan mengabdi kepada orang tua
d. membuang sampah di tempat yang telah disediakan
9. Contoh perilaku yang bertentangan dengan norma hukum adalah …
a. berbuat riba
c. tindak pidana korupsi
b. membayar pajak
d. apatis terhadap fakir miskin
10. Salah satu tujuan penerapan norma dalam masyarakat adalah …
a. menghilangkan keanekaragaman dalam masyarakat
b. melindungi masyarakat golongan ekonomi lemah
c. menghindari benturan kepentingan anggota masyarakat
d. mengatur kehidupan sekelompok anggota masyarakat
B. Isilah dengan jawaban B bila pernyataan berikut benar dan jawaban S
bila pernyataan berikut salah!
1. Rasa bersalah adalah bentuk sanksi dari norma kesopanan
(….)
2. Main hakim sendiri pada dasarnya merusak tatanan hukum
(….)
3. Norma hukum lebih penting daripada norma kesusilaan
(….)
4. Adat istiadat umumnya terkait dengan moralitas masyarakat
(….)
5. Meskipun bukan aturan, kebiasaan perlu diindahkan
(….)
6. Ciri khas norma hukum adalah sanksinya bisa dipaksakan
(….)
130
7. Negara hukum disebut juga machtstaat
(….)
8. Peraturan adalah tatanan yang dibuat oleh pihak berwenang
(….)
9. Adat istiadat tidak penting karena merupakan budaya masa lalu
(….)
10. Hukum haruslah mewujudkan ketertiban dan keadilan
(….)
C.
1.
2.
3.
Jawablah soal-soal berikut dengan jelas dan tepat!
Jelaskan hakikat norma!
Jelaskan perbedaan antara norma agama dan kesusilaan!
Apakah perbedaan antara kebiasaan dan adat istiadat?
Mengapa norma hukum dibutuhkan padahal sudah ada norma yang lain di
masyarakat?
5. Jelaskan pentingnya norma bagi kita!
Kegiatan Belajar II
FUNGSI HUKUM
Hakikat hukum: hukum adalah peraturan. Dalam hal ini, peraturan
mengenai perilaku manusia dalam kehidupan bersama, dibuat oleh pejabat
berwenang untuk mewujudkan ketertiban dan keadilan masyarakat, bersifat
mengikat dan memaksa, memiliki sanksi yang tegas, sehingga barangsiapa yang
melanggarnya dikenakan sanksi oleh pejabat yang berwenang.
Arti Penting Hukum: hukum itu ada untuk mengatur perilaku manusia.
Tujuannya adalah agar tercipta ketertiban dan keadilan dalam masyarakat. Karena
itu, keberadaan hukum amatlah penting, karena:
1. dengan tertib dapat mencegah kesemrawutan sehingga timbul kerapian
2. hukum yang adil mencegah adanya negara kekuasaan, yaitu negara yang
penguasaanya bersikap sewenang-wenang
3. hukum yang adil memungkinkan hak-hak warga negara dilindung
Negara Hukum: pentingnya hukum yang adil bagi warga negara itu
selanjutnya memunculkan ide mengenai negara hukum. Ciri negara hukum:
1) supremasi hukum
2) pembagian kekuasaan negara
3) kekuasaan kehakiman yang bebas dan tidak memihak
4) jaminan perlindungan HAM
5) kedudukan yang sama di muka hukum
Itulah sekilas tentang konsep negara hukum. Bagaimana keberadaan
negara Indonesia jika dihadapkan dengan konsep negara hukum?
131
TUGAS: STUDI KASUS- KEGIATAN INDIVIDU
Petunjuk:
1. Simaklah berita mengenai pelanggaran hukum di Koran selama 1 minggu
2. Catatlah 5 kasus pelanggaran hukum selama satu minggu itu
3. Pengumpulan tugas: waktu satu minggu
4. Salinlah data tugasmu itu ke dalam kolom berikut:
No.
Nama Kasus
Deskripsi Ringkas
Kasus
Ciri Negara Hukum
Manakah yang
Dilanggar?
1.
………………
.…………….
………………
2.
………………
………………
………………
3.
………………
………………
………………
4.
………………
………………
………………
5.
………………
………………
………………
Kesimpulan: (kaitkan dengan fungsi hukum)
………………………………………………………………………………………...
………………………………………………………………………………………...
………………………………………………………………………………………...
………………………………………………………………………………………...
…………………………………………………………………………………………
132
RUBRIK PENILAIAN:
No.
Deskripsi/ Aspek
Skor
1
1.
Ketepatan Jawaban:
ƒ Nama Kasus:
1) Kasus 1
2) Kasus 2
3) Kasus 3
4) Kasus 4
5) Kasus 5
ƒ Deskripsi
Ringkas
Kasus:
1) Kasus 1
2) Kasus 2
3) Kasus 3
4) Kasus 4
5) Kasus 5
ƒ Ciri
Negara
yang
Dilanggar:
1) Kasus 1
2) Kasus 2
3) Kasus 3
4) Kasus 4
5) Kasus 5
2.
KetepatanWaktu
Pengumpulan Tugas
2
3
NILAI: Jumlah Skor Perolehan
------------------------------ x 100 = ….
Jumlah Skor Maksimal (48)
UJI KOMPETENSI
A. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!
1. Negara Indonesia adalah negara hukum. Hal ini diatur dalam ….
a. Pasal 1 ayat 1 UUD 1945
b. Pasal 1 ayat 2 UUD 1945
c. Pasal 1 ayat 3 UUD 1945
d. Pasal 2 ayat 1 UUD 1945
133
2. Negara Indonesia adalah negara hukum, artinya …
a. negara merupakan hukum tertinggi
b. negara harus mewujudkan ketertiban hukum
c. di Indonesia terdapat berbagai macam hukum
d. negara dalam menjalankan pemerintahannya berdasarkan pada hukum
3. Hukum tertulis di Indonesia yang tertinggi adalah
a. Pancasila
b. UUD 1945
c. TAP MPR
d. UU
4. Hukum mempunyai sifat memaksa berarti setiap orang yang melanggar
hukum …
a. ditakut-takuti
b. diintimidasi oleh aparat
c. diancam dengan paksaan jika menolak
d. diancam dengan pidana jika melanggar
5. Contoh hukum tidak tertulis adalah….
a. Hukum adat
b. Hukum waris
c. Hukum pidana
d. Hukum dagang
6. Hukum yang berlaku di Indonesia disebut sebagai hukum …
a. positip
b. negatif
c. umum
d. khusus
7. Hak dan kedudukan yang sama bagi setiap warga negara Indonesia dalam
hukum diatur pada UUD 1945 pasal …
a. 26 ayat 1 b. 26 ayat 2 c. 27 ayat 1 d. 27 ayat 2
8. Setiap warga negara hendaknya menyadari bahwa hukum diperlukan
untuk …
a. menanggulangi bahaya narkoba
b. melindungi masyarakat pedesaan
c. memberantas penyakit masyarakat
d. menciptakan ketertiban dan keadilan
9. Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran hukum adalah …
a. pembinaan kepada para hakim
b. pemberian hadiah kepada penegak hukum
c. pemberian sanksi berat kepada pelanggar hukum
d. mengadakan penyuluhan hukum dan membentuk kadarkum
10. Tegaknya hukum di Indonesia tergantung pada …
a. banyaknya undang-undang
b. hakim dalam memutus perkara
c. jaksa sebagai pihak penuntut perkara
d. kesadaran masyarakat dan mental pemerintah
11. Norma hukum bertujuan…
a. Tercapainya kehidupan bernegara yang tertib
b. Terciptanya aparat Negara yang bersih
c. Terselenggaranya system pemerintah yang baik
d. Terlindungnya hak rakyat kecil
12. Kapan hukum akan terlaksana dengan baik?
a. aturan yang ada disertai sanksi yang berat
b. ada rasa takut dari warga masyarakat terhadap penegak hukum
134
c.
ada kesadaran warga negara untuk menaati aturan-aturan hukum yang
berlaku
d. petugas penegak hukum selalu siap mengawasi tingkah laku warga
masyarakat
13. Kekuasaan tertinggi adalah terletak pada hukum disebut dengan istilah …
a. supremasi hukum
b. kepastian hukum
c. legitimasi hukum
d. keadilan hukum
14. Setiap warga negara Indonesia wajib menjunjung tinggi hukum, tercantum
dalam UUD 1945 pasal …
a. 26
b. 27 ayat 1
c. 27 ayat 2
d. 28
15. Di dalam negara hukum, seseorang dikatakan bersalah apabila ….
a. ia ditangkap polisi
b. hakim memvonis di pengadilan
c. jaksa menuntut ia ke pengadilan
d. banyak orang menyatakan ia bersalah
B. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat dan jelas!
1. Apakah hakikat hukum itu?
2. Jelaskan fungsi hukum bagi warga negara!
3. Sebutkan ciri-ciri negara hukum!
4. Apakah yang dimaksud dengan supremasi hukum?
5.
Apakah negara Indonesia sudah memenuhi kreteria/ ciri negara
hukum? Jelaskan!
Kegiatan Belajar III
PENERAPAN SIKAP terhadap NORMA, KEBIASAAN, ADAT ISTIADAT
DAN PERATURAN
Hukum atau peraturan yang dibuat oleh pemerintah Indonesia secara
teoritis memang bagus-bagus. Tetapi pada kenyataan yang terjadi di lapangan
justru tidak dilaksanakan dengan baik. Kalaupun dilaksanakan, hanya setengah
hati, tidak konsisten. Untuk bisa menjadi bangsa yang bertindak, artinya bahwa
para pembuat peraturan secara teoritis ikut menyusun hukum/ peraturan juga
secara praktek ikut melaksanakan dengan baik dengan cara membuang mentalitas
semacam itu. Mentalitas itu harus dirubah menjadi mentalitas baru, yaitu
mentalitas yang bersusah payah berupaya dari awal, langkah demi langkah demi
terwujudnya kehidupan yang lebih baik.
Terkait dengan mentalitas baru itu, kita harus bersikap positip dan
proaktif, mulai dari diri sendiri, dari yang kecil dan mulai sekarang juga. Kalau
cara seperti itu diikuti, siapapun akan mampu menerapkan berbagai norma yang
ada dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
135
TUGAS: WAWANCARA- KEGIATAN INDIVIDU
1. Pilihlah seorang temanmu di sekolah yang dinilai paling taat aturan.
Kemudian lakukan wawancara terhadapnya dengan fokus pertanyaan: latar
belakang/ alasan/ tujuan siswa tersebut membiasakan diri taat aturan/
hukum dan bagaimana ia membangun kebiasaan seperti itu.
2. Lengkapi hasil wawancaramu itu dengan biografi ringkas, gambaran
situasi pada saat kamu mengadakan wawancara serta kesanmu selama
melakukan wawancara.
3. Rekam hasil wawancaramu itu kemudian tulis dalam kertas laporan tugas
dan kumpulkan.
PENUTUP
Selamat anda telah selesai mempelajari kompetensi dasar 1-3.
Dengan selesainya anda mempelajari modul ini, anda dapat menjelaskan normanorma dalam masyarakat, fungsi hukum dan diharapkan anda dapat menerapkan
aturan-aturan tersebut dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.
Semoga anda berhasil dalam mengikuti tes akhir modul ini dan dapat melanjutkan
pada modul berikutnya.
Bacalah ringkasan berikut ini!
1. Norma ada empat macam (agama- hukum- kesopanan- kesusilaan). Di
antara norma tersebut yang paling tegas adalah norma hukum
2. Selain empat norma tersebut, ada juga norma yang lain, yaitu berupa:
• Cara
• Kebiasaan
• Adat istiadat
3. Norma yang berlaku di lingkungan Negara disebut sebagai norma hukumperaturan hukum.
4. Peraturan hukum yang dibuat oleh pemerintah meliputi peraturan hukum
di pusat dan daerah
5. Peraturan hukum di pusat terdiri dari:
1) UUD 1945
2) TAP MPR RI
3) UU
4) PERPPU
5) PP
6) KEPPRES
6. Peraturan hukum di daerah yaitu:
1) Perda yang dibuat oleh Gubernur
2) Perda yang dibuat oleh DPRD
3) Perda yang dibuat oleh Walikota/ Bupati
7. Penerapan norma-norma mulai dari lingkungan masyarakat, bangsa dan
negara
Lampiran 7: Foto-foto Hasil Penelitian
142 Foto 1. Foto Game Lari Duduk
143 Foto 2. Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas
144 Foto 3. Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas
145 Foto 4. Pajangan Kelas
146 Foto 5. Kreatifitas Siswa
147 Foto 6. Kegiatan Pengamatan Siswa
148 Foto 7. Pojok Baca
149 Foto 8. Majalah Dinding
150 Foto 9. Studi Kasus
151 Foto 10. Media Belajar
152 Foto 11. Sumber dan Alat Bantu Pembelajaran
153 Foto 12. Slogan-slogan
154 Foto 13. Slogan-slogan
155 Foto 14. Lembar Studi Kasus
RIWAYAT HIDUP
Khithok Ahmad Purwanto dilahirkan di Bojonegoro pada
tanggal 11 Mei 1986, anak pertama dari dua bersaudara
pasangan Bapak Suparno dan Ibu Datik. Pendidikan dimulai
dari bangku Taman Kanak-kanak yang ditempuh di kampung
halamannya di Bojonegoro yaitu di TK Cendono Murni dan
selesai pada tahun 1992, kemudian dilanjutkan ke Pendidikan
Dasar dan Menengah. Sekolah Dasar di SD Negeri Cendono
lulus tahun 1998, SLTP di MTsN Bojonegoro II Padangan
lulus tahun 2001 dan SMA di MAN I Bojonegoro lulus tahun 2004.
Pendidikan jenjang yang lebih tinggi penulis tempuh di Universitas Negeri
Malang (UM) Program Studi S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
melalui jalur SPMB. Selama aktif menjadi mahasiswa, penulis pernah
mendapatkan beberapa beasiswa, diantaranya beasiswa PPA pada semester 4,
beasiswa pengganti PPA pada semester 6, dan terakhir beasiswa Bantuan Skripsi
pada saat memprogram skripsi. Selain itu, penulis juga pernah aktif menjadi
anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PPKn periode 2005-2006 bidang
keolahragaan.
Download