Makalah Akhir

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Setelah Uni Soviet bubar, dan berganti menjadi Rusia, perlahan-lahan negara-negara di Asia Tengah
tersebut melepaskan diri dari negara induknya dan memerdekakan diri menjadi negara-negara Republik,
seperti Kazakhstan, Turkmenistan, Kyrgystan, Uzbekistan dan Tajikistan. Negara-negara tersebut dikenal
sebagai Central Asian States (CAS). Asia Tengah kira-kira luas wilayahnya seperempat luas wilayah
Rusia. Negara terluas adalah Kazakhstan (2.669.800 km2), Turkmenistan (488.100 km2), Uzbekistan
(425.400 km2), Kyrgystan (101.300 km2) dan terkecil adalah Tajikistan (142.000 km2)1.
Secara ekonomi, pasca pemerintahan komunis era globalisasi dan pasar bebas yang berlaku di
sebagian negara-negara di dunia tidak dikenal di wilayah ini. Menurut studi Bank Dunia, Asia Tengah
saat ini keadaannya tidak lebih baik dari pada masa komunisme. Standar kesehatan dan pendidikan yang
buruk mengakibatkan kemunduran ataupenurunan dalam Gross Domestic Product (GDP), kecuali negaranegara kaya minyak seperti Kazakhstan, namun negara lain kurang beruntung2. Reformasi ekonomi telah
dilaksanakan,namun hanya menyebabkan resiko besar tanpa hasil nyata karena antara satu negara dengan
negara lainnya tidak mencapai kesepakatan.
Namun demikian, wilayah Asia Tengah menyimpan sebuah daya tarik tersendiri bagi negara-negara
besar di dunia. Bahkan sejak abad ke-19, wilayah ini sudah menjadi wilayah perselisihan diantara negaranegara besar. Wilayah ini tepat berada di tengah-tengah antara benua Eropa dan Asia sehingga Asia
Tengah selalu menjadi penting dan strategis sebagai jalur vital yang menghubungkan Eropa dan Asia.
Pada awal abad ke-20 Sir Halford Mackinder, seorang ahli geografi Inggris, pernah mengatakan bahwa
Asia Tengah akan selalu menjadi kawasan yang sangat penting di dunia, dan penguasaan Asia Tengah
berarti mengontrol rimlands (lingkar benua) dan kemudian dunia3.
Terdapat beberapa faktor yang menjadikan Asia Tengah sebagai wilayah strategis bagi negara-negara
di dunia, yakni4 faktor geopolitik, ekonomi, serta budaya dan agama. Ketika kelima negara merdeka dan
secara geopolitik menjadi “new continent”, saat itu Rusia terbelenggu krisis ekonomi sehingga
pengaruhnya atas wilayah itu berkurang. Terjadilah kekosongan kekuasaan (vacuum of power) selama
beberapa periode, yang mengundang kekuatan asing yang berkepentingan di wilayah itu. Kedua, faktor
ekonomi, dimana Asia Tengah mempunyai tiga keuntungan besar, yakni keuntungan sumber daya alam,
1
Pacicolan, Paolo. US and Asia Statistic Handbook 2001-2002.Washington D.C.: The Heritage Foundations, 2001. hlm. 123127
2
Maynes, Charles William. “America Discoves Central Asia”, Jurnal Foreign Affairs, Vol. 82/No.2, March/April 2003 hlm.
122
3
Wang Haiyun. “The Security Situation In Central Asia”, International Strategic Studies, No.1, January, 2001 hlm. 17
4
Ibid.. Hlm. 14
pasar dan keuntungan sebagai jembatan. Dari segi sumber daya, Asia tengah sangat kaya akan minyak
bumi dan gas alam, bahkan berdasarkan data statistik, cadangan minyak di seluruh kawasan (termasuk
laut Kaspia) mencapai 23 milyar ton, yang berarti kedua terbesar setelah kawasan teluk. Sedang cadangan
gas alamnya mencapai 3000 milyar ton, menempati urutan ketiga di dunia 5. Cadangan uranium, dan
emas sangat besar dan merupakan produsen kapas terbesar di dunia.
Makalah ini kami tulis dengan melihat perkembangan tren yang terjadi berupa semakin intensifnya
AS terlibat di wilayah Asia Tengah, terlihat dalam beberapa poin sebagai berikut: (a)Kehancuran Uni
Soviet tahun 1991 langsung disikapi sejumlah investor AS dengan berburu rente ke negara-negara mantan
Uni Soviet6; (b)perusahaan-perusahaan dan konsultan AS mendesak ex-Uni Soviet menyetujui rute
jaringan pipa migas yang menghindari negeri-negeri yang dianggap AS sebagai musuh, yaitu Rusia dan
Iran.; (c) pada 3-5 September 2008 (setelah pertempuran di Georgia) Dick Cheney melakukan kunjungan
formal ke Azerbaijan, Georgia, dan Ukraina7; (d) Sebelum administrasi Bush, Bill Clinton pun sudah
menaruh perhatian besar terhadap potensi migas Kaspia  dua proyek jaringan pipa utama untuk
mengekspor migas Kaspia, dengan tidak melalui wilayah Iran, Rusia, dan China8. (a) proyek pertama
adalah rencana mengekspor gas Turkmenistan melalui Afganistan dan Pakistan ke Samudra Hindia. Akan
tetapi, proyek ini akhirnya gagal karena keamanan di Afganistan dan Pakistan yang hingga kini sangat
tidak mendukung; (b)proyek kedua adalah rencana membangun jaringan pipa melingkar ke barat melalui
negara-negara pro-AS di daerah rangkaian pegunungan Kaukasus, yaitu Georgia dan Azerbaijan. Jaringan
itu akan digabung dengan jaringan pipa bawah laut yang menghubungkan Kazakhstan dan Turkmenistan
di sisi timur Kaspia, yang menyambung dengan jaringan pipa Baku (Azerbaijan)-Tbilisi (Georgia)Ceyhan (Turki) atau BTC. Jaringan pipa ini menjadi jalan utama untuk mengirimkan sebagian besar
ekspor energi Kaspia ke kawasan Mediterania, dan diproyeksikan akan menjadi pukulan besar terhadap
dominasi rute energi Rusia dari Kaspia ke Barat. Namun, pelaksanaannya ternyata tidak mudah karena
sejumlah negara bekas Soviet masih sangat memperhitungkan Rusia jika terlalu pro-Barat. Bahkan
kalaupun belum lama ini calon presiden Demokrat, Barack Obama, menegaskan bahwa AS akan
menghilangkan ketergantungan dari minyak Timur Tengah dalam waktu 10 tahun (jika dia terpilih), hal
itu bisa jadi bermakna AS menggeser prioritas politik migasnya dari Timur Tengah ke wilayah lain,
dalam hal ini Kaspia.

Cadangan gas terukur di Azerbaijan, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Kazakhstan lebih dari
236 triliun kaki kubik, total cadangan minyak yang kemungkinan lebih dari 60 miliar
5
Paolo, Pacicolan. US and Asia Statistic Handbook 2001-2002.Washington D.C.: The Heritage Foundations, 2001.
Hans de Vreij, Persaingan Sengit Asia Tengah-Asia Selatan jadi ajang persaingan politik internasional, artikel ditulis pada 14
Januari 2004, diakses dari http://www.ranesi.nl/arsipaktua/asiapasifik/persaingan_sengit_asteng.html. pada tanggal 12
Desember 2008 pukul. 20.14
7
Rakaryan Sukarjaputra, Konflik Georgia: Perburuan Migas di Kaspia, artikel dimuat dalam harian Kompas 14 september
2008, diakses dari http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/09/14/22234348/perburuan.migas.di.kaspia pada tanggal
12 Desember 2008 pk. 20.45
8
Alex Lantier, US oil pipeline politics and the Russia-Georgia conflict, artikel ditulis pada August 21, 2008 diakses dari
http://www.wsws.org/articles/2008/aug2008/pipe-a21.shtml pada tanggal 12 Desember 2008 Pk. 20.34
6
2
barrel dan cukup untuk melayani kebutuhan minyak Eropa selama 11 tahun membuat
wilayah ini terlalu strategis untuk diacuhkan begitu saja9.

kebutuhan energi AS dan potensi minyak di Laut Kaspia, berkontribusi terhadap dinamika
hubungan internasional di kawasan tersebut.
1.2.
Pertanyaan Permasalahan
”Bagaimanakah Kebijakan Energy Security Amerika Serikat mempengaruhi Dinamika Kawasan NegaraNegara di Kawasan Asia Tengah terkait dengan Potensi Minyak di Laut Kaspia?”
1.3.
Konseptualiasi Kerangka Berpikir
1.3.1. Keamanan Energi (Energy Security)
Keamanan energi (energy security) merupakan sebuah konsep dimana sebuah negara mampu
mempertahankan diri dan melakukan pembangunan dengan mengutamakan keamanan dan ketersediaan
cadangan energi yang memadai dengan harga yang terjangkau, baik minyak ataupun variasi jenis energi
lainnya10. Hal ini semakin penting dengan kenyataan bahwa dinamika ekonomi dan politik turut
mempengaruhi suplai energi yang sangat krusial bagi kegiatan pembangunan sebuah negara. Hal-hal yang
mempengaruhi keberlanjutan cadangan enegri antara lain adalah ketersediaan cadangan energi, fluktuasi
harga, ancaman terorisme, instabilitas domestic negara pengekspor energi, adanya perang, persaingan
geopolitik, hingga peta energi oleh negara-negara besar pengkonsumsi energi dunia11.
Ketersediaan suplai energi menjadi masalah yang cukup signifikan dalam hal ini. Pertama, jika
suplai energi menurun, maka akan menimbulkan kenaikan harga energi yang berakibat pada turunnya
daya beli energi12. Hal ini akan berimbas pada kolapsnya kegiatan ekonomi dan bersifat destruktif
terhadap kegiatan produksi dan konsumsinya masyarakat. Kedua, dengan ditemukannya sumber suplai
energi baru, maka hal ini dapat menunda kelangkaan energi yang mungkin terjadi dan mengamankan
cadangan energi dalam kurun waktu tertentu. Suplai memegang peranan yang sangat penting, karena
permintaan akan energi sebagai komoditas primer cenderung selalu tetap dan bersifat inelastis 13.
1.3.2. Stabilitas Hegemoni (Hegemonic Stability)
Stabilitas hegemoni dicetuskan oleh Hindleberger dan Keohane. Ide dasar dari teori ini adalah
bahwa stabilitas sistem internasional membutuhkan dominasi dari sebuah negara untuk mengartikulasikan
dan mengimplementasikan aturan akan interaksi antar anggota-anggota dalam sistem internasional
9
Pacicolan, Paolo. US and Asia Statistic Handbook 2001-2002.Washington D.C.: The Heritage Foundations, 2001. hlm. 123127
10
Daniel Yergin, “Ensuring Energy Security”, dalam jurnal foreign affairs . Volume 85 No. 2 March/April 2006
11
Ibid.
12
Florian Baumann, Energy Security as multidimensional concept, dalam jurnal CAP policy analysis, no. 1 March 2008
13
Ibid.
3
tersebut.14 Sebuah negara dapat menjadi hegemon apabila negara tersebut dapat memenuhi ketiga atribut,
di antaranya kapabilitas untuk menciptakan aturan dalam sistem, adanya niat atau kemauan dari negara
tersebut untuk melakukan hal tersebut, dan adanya komitmen terhadap sistem yang dilihat sebagai sebuah
bentuk hubungan mutual antar negara-negara tersebut.15 Kapabilitas negara hegemon sangat
menitikberatkan pada kondisi pertumbuhan ekonomi dan dominasinya pada sektor teknologi dan ekonomi
serta adanya back-up dari kekuatan politik yang ditunjukkan dalam bentuk proyeksi kekuatan militer.
Instabilitas dalam sistem dapat berakibat pada runtuhnya heirarki internasional dan berimplikasi pada
kerapuhan posisi negara dominan.
Secara garis besar, siklus hegemoni dapat digambarkan melalui tahapan-tahapan atau fase
kepemimpinan hegemon.16 Siklus pertama yaitu kemunculan perang global yang ditunjukkan dengan
adanya kondisi dunia yang chaotic dan tanpa aturan. Pada masa ini, negara-negara yang berperang saling
beradu kekuatan, khususnya dengan menunjukkan kapabilitas militernya. Hasil akhir atau pemenang dari
perang ini umumnya akan menjadi salah satu kandidat negara dominan atau hegemon. Siklus kedua
ditunjukkan dengan munculnya kepemimpinan dunia dimana pemenang dari perang global akan
menciptakan
organisasi
internasional
yang
akan
digunakan
hegemon
sebagai
alat
untuk
menginstitusionalisasikan sistem atau tatanan internasional sesuai dengan pandangannya. Institusi ini juga
sekaligus menjadi legitimasi hegemon dalam pengaturan sistem dunia. Siklus ketiga, delegitimasi. Pada
siklus ini, kemunculan negara-negara semi-pheripheri yang dapat mengimbangi kekuatan hegemon
menjadikan hegemon kehilangan kekuasaannya atau paling tidak, kekuatan dominasinya mendapatkan
tantangan yang cukup serius. Siklus terakhir adalah siklus dekonsentrasi. Pada fase ini, negara hegemon
mulai menggunakan force atau kekuatannya untuk memelihara kondisi status quo, biasanya melalui jalur
militer. Kondisi ini akan mempercepat keruntuhan hegemoni karena konfrontasi dalam bentuk militer
cenderung memakan biaya yang mahal dan menelan anggaran negara yang besar. Kondisi ini juga pada
umumnya didukung oleh kemunculan aliansi negara-negara semi-pheriperi untuk menggulingkan sang
hegemon dari tampuk kekuasaannya.
1.3.3. Kebijakan Luar Negeri (Foreign Policy)
Kebijakan luar negeri merupakan seperangkat kajian tentang bagaimana sebuah negara membuat
kebijakan sehingga melibatkan studi politik internasional dan domestik yang menyangkut hubungan
internasional dan kebijakan publik17. Kebijakan ini didasarkan pada analisa dari diplomasi, perang,
hubungan antar organisasi, maupun perspektif lain seperti ekonomi, yang tergantung bagaimana masingmasing negara menerapkan kebijakan asing. Dalam proses pembuatannya,
kebijakan luar negeri
C.P. Kindleberger, “Dominance and Leadership in the International Economy: Exploitation, Public Goods, and Free Rides”,
dalam International Studies Quarterly, 25 1982, hal. 242-254.
15
Ibid., “Dominance and Leadership in the International Economy: Exploitation, Public Goods, and Free Rides”
16
_____, “Hegemonic Stability Theory” diakses dari http://www.angelfire.com/ok3/meredith/realism.html
17
M. Clarke, ‘The Foreign Policy System: A Framework for Analysis’, in M. Clarke and B. White (eds) Understanding
Foreign Policy: The Foreign Policy Systems Approach (Cheltenham: Edward Elgar 1989), pp.27–59.
14
4
melibatkan beberapa tahap18: (1) Penilaian internasional dan domestik politik lingkungan; Kebijakan luar
negeri dibuat dan dilaksanakan dalam konteks politik internasional dan domestik, yang harus dipahami
oleh negara untuk menentukan pilihan kebijakan luar negeri terbaik, (2) Tujuan pengaturan; dimana
sebuah negara harus menentukan tujuan yang sangat dipengaruhi oleh internasional dan domestik politik
lingkungan pada suatu waktu yang akan memudahkan negara untuk melakukan prioritas, (3) Penetapan
kebijakan pilihan; Sebuah negara harus menentukan pilihan kebijakan yang tersedia untuk memenuhi
tujuan atau tujuan yang telah ditetapkan dalam lingkungan politik. Ini akan melibatkan penilaian dari
negara kapasitas untuk melaksanakan kebijakan pilihan dan penilaian tentang konsekuensi dari setiap
pilihan kebijakan, (4) Pengambilan Keputusan Formal; yang biasanya oleh lembaga eksekutif seperti
kepala negara atau kepala pemerintahan, kabinet, atau menteri, dan (5) Implementasi.
Esensi dari kebijakan luar negeri merupakan rencana dan kebijakan-kebijakan yang ditujukan
kepada tujuan yang satu yakni perwujudan kepentingan nasional demi mempertahankan kelangsungan
hidup negara19. Sehingga setiap pengambilan kebijakan luar negeri, suatu negara selalu mendasarkan
pada kepentingan nasional.
1.3.4. Konsep Kepentingan Nasional (National Interest)
Kepentingan nasional adalah tujuan negara baik dalam bidang ekonomi, militer, atau bahkan
budaya dimana hal ini dilihat sebagai kebutuhan dan keinginan yang dirasakan oleh suatu negara dalam
hubungan dengan negara-negara lain yang merupakan lingkungan eksternalnya. Kepentingan nasional
seringkali dipakai sebagai alat untuk menganalisa tujuan kebijakan luar negeri suatu negara 20. Menurut
Holsti, kepentingan nasional diidentifikasikan dalam tiga klasifikasi, yaitu (1) kepentingan dan nilai inti;
(2) tujuan jangka menengah; dan (3) tujuan jangka panjang21. Pertama, kepentingan dan Nilai Inti.
Kepentingan ini bisa digambarkan sebagai jenis kepentingan yang untuk mencapainya kebanyakan
bersedia melakukan pengorbanan sebesar-besarnya. Kepentingan dan nilai inti merupakan tujuan jangka
pendek, karenatujuan lain jelas tidak dapat dicapai apabila unit politik yang mengejarnya tidak dapat
mempertahankan eksistensinya22. Kedua, Tujuan jangka menengah. Dalam tujuan ini, (1) akan mencakup
usaha pemerintah memenuhi tuntutan perbaikan ekonomi melalui tindakan internasional; (2)
meningkatkan prestise negara di dalam sistem itu sendiri, dimana saat ini prestise sebuah negara
diukurdari perkembangan tingkat industri dan teknologinya; dan (3) mencakup bentuk perluasan diri atau
imperialisme, negara lain tidak menduduki wilayah asing, tetapi mencari keuntungan, termasuk akses
pada bahan mentah, pasar dan rute perdagangan yang tidak dapat mereka perolehdari perdagangan biasa
dan diplomasi23. Ketiga, Tujuan Jangka Panjang. dalam tujuan ini, impian dan pandangan tentang
18
Ibid. hlm. 25
Ibid. hlm. 25
20
Angelo Codevilla and Paul Seabury, War: Ends and Means, 2nd edition (Potomac Books Inc. 2006) hlm. 120
21
Ibid., hlm 141
22
Ibid., hlm. 142
23
Ibid, hlm. 145-147
19
5
organisasi ideologi terakhir sistem internasional,aturan yang mengatur hubungan dalam sistem tersebut
dan peran negara tertentu di dalamnya24.
1.3.5. Geopolitik Kawasan (Geo-political Consideration)
Konsep geopolitik merupakan konsep yang melihat hubungan antara kondisi bumi (wilayah),
institusi politik dan kebijakan dari sebuah negara25. Geopolitik adalah sebuah studi geografi yang
dikaitkan dengan kondisi kebijakan luar negeri sebuah negara dan fenomena politik dengan sumsi bahwa
kekuatan sebuah negara bergantung pada wilayahnya, sungai jalanan, bahan mentah dan makanan dan
termasuk penduduknya, pemerintahnya, ekonominya dan budayanya. Secara abstrak, geopolitik
tradisional menunjukkan hubungan dan pernyataan kausalitas antara kekuatan politik dan ruang geografis.
Terinologi ini sering dianggap sebagai formulasi khusus yang berhubungan dengan kepentingan strategis
relatif dari pentingnya potensi geografis dalam perspektif dunia internasional. Fokus utama konsep
geopolitik berhubungan dengan korelasi antara kekuatan dalam bidang politik, identifikasi wilayah inti
dari perspektif internasional, dan hubungan antara kapabilitas laut dan darat yang dimiliki26.
24
Ibid, hlm. 147
Olivier Roy, The New Central Asia: Geopolitics and the Birth of Nations, (New York: NYU Press ,2007) hlm. 7
26
Oyvind Osterud, "The Uses and Abuses of Geopolitics", Journal of Peace Research , no. 2, 1988, p. 2, 1988, hal 192
25
6
BAB 2
PEMBAHASAN
2.2.
Kepentingan Nasional AS
2.2.1. Kepentingan Nasional AS perspektif Global
Tujuan jangka panjang yang akan dicapai AS, sesuai dangan apa yang digariskan dalam “Strategi
Kebijakan Nasional Amerika Serikat”, adalah ingin menciptakan dunia yang tidak saja aman, namun
lebih baik yang bertujuan: kebebasan ekonomi dan politik, hubungan yang serasi dengan negara lain,
penghargaan pada nilai-nilai kemanusiaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satunya AS akan
bekerjasama dengan pihak lain untuk menghindari konflik regional, menciptakan era baru bagi
pertumbuhan ekonomi global lewat pasar dan perdagangan bebas, dan lain-lain27. Menurut Anthony Lake,
pada periode pasca Perang Dingin pemerintah AS perlu menemukan komponen-komponen baru bagi
kepentingan nasionalnya. Lake menggariskan tujuh aspek kepentingan nasional AS yakni28: (1) untuk
mempertahankan AS, warga negaranya di dalam maupun luar negeri, para sekutu AS dari berbagai
bentuk serangan langsung; (2) untuk mencegah timbulnya agresi yang dapat mengganggu perdamaian
internasional; (3) untuk mempertahankan kepentingan ekonomi AS; (4) untuk mempertahankan dan
menyebarluaskan nilai-nilai demokrasi; (5) untuk mencegah proliferasi senjata nuklir; (6) untuk menjaga
rasa percaya dunia internasional terhadap AS. Untuk itu AS harus selalu mempertahankan komitmenkomitmen internasionalnya. (7) memerangi kemiskinan, kelaparan serta pelnggaran terhadap hak-hak
asasi manusia
2.2.2. Refleksi Kepentingan Jangka Pendek, Mennengah, dan Panjang AS
Menurut Holsti, kepentingan nasional diidentifikasikan dalam tiga klasifikasi, yaitu (1)
kepentingan dan nilai inti; (2) tujuan jangka menengah; dan (3) tujuan jangka panjang29. Pertama,
kepentingan dan Nilai Inti. Kepentingan ini bisadigambarkan sebagai jenis kepentingan yang untuk
mencapainya kebanyakan bersedia melakukan pengorbanan sebesar-besarnya. Kepentingan dan nilai inti
merupakan tujuan jangka pendek, karenatujuan lain jelas tidak dapat dicapai apabila unit politik yang
mengejarnya tidak dapat mempertahankan eksistensinya30. AS menganggap kawasan Asia Tengah
sebagai kepentingan, maka tidak sedikit sumberdaya yang telah dikeluarkannya demi mempertahankan
eksistensinya secara ekonomi, politik dan militer di kawasan Asia Tengah karena dalam pandangan AS
wilayah ini sangat strategis dan akan menguntungkan di kemudian hari bagi kepentingan nasional AS.
27
(Kompas, 23 Maret 2003)
Indrya Smita Notosusanto,.”Politik Global Amerika Serikat Pasca Perang Dingin”,dalam Juwono Sudarsono, dkk.,
Perkembangan Studi Hubungan Internasional dan Tantangan Masa Depan. (Jakarta: Pustaka Jaya, 1996 ) hlm. 117
29
(Ibid., 141).
30
(Ibid., 142)
28
7
Kedua, Tujuan jangka menengah. Dalam tujuan ini, (1) akan mencakup usaha pemerintah
memenuhi tuntutan perbaikan ekonomi melalui tindakan internasional; (2) meningkatkan prestise negara
di dalam sistem itu sendiri, dimana saat ini prestise sebuah negara diukurdari perkembangan tingkat
industri dan teknologinya; dan (3) mencakup bentuk perluasan diri atau imperialisme, negara lain tidak
menduduki wilayah asing, tetapi mencari keuntungan, termasuk akses pada bahan mentah, pasar dan rute
perdagangan yang tidak dapat mereka perolehdari perdagangan biasa dan diplomasi31. Pengendalian dan
akses ekslusif mungkin diperoleh melalui kolonisasi, protektorat, satelit atau lingkup pengaruh. Perluasan
diri secara ideologis juga lazim dalam banyak bentuk, dimana wakil pemerintah berusaha
mempromosikan nilai politik, ekonomi dan sosialnya sendiri di luar negeri. AS sebelum dan pasca perang
serangan 11 September 2001, sedang dalam krisis ekonomi yang cukup parah sehingga
memerlukanlangkah-langkah untuk membantu mengatasi masalah dalam negerinya.Seperti AS
mendukung kepentingan sejumlah Multinational Corporation (MNC) di luar negeri demi mendorong
perluasan perdagangan atau akses umum pada pasar luar negeri, dalam hal ini tentu saja pemerintah AS
mendapat pengaruh dari kelompok kepentingan ekonomi untuk mengambil kebijakan ini. Terutama MNC
dalam eksplorasi minyak dan gas atau non-migas. Ketiga, Tujuan Jangka Panjang. dalam tujuan ini,
impian dan pandangan tentang organisasi ideologi terakhir sistem internasional,aturan yang mengatur
hubungan dalam sistem tersebut dan perannegara tertentu di dalamnya (Ibid, 147).
2.2.3. Implementasi Kebijakan AS di Asia Tengah
Melihat kenyataan tersebut, maka inti keptingan nasional yang ingin dicapai di Asia Tengah
sebenarnya meliputi beberapa hal, yaitu: (1) untuk mencegah munculnya kembali “ideologi
ekpansionisme Rusia yang radikal”, yang akan menciptakan kembali konfrontasi nuklir dunia; (2)
mencegah atau mengisolir konflik yang terjadi; (3) mencegah pengembangan senjata nuklir; (4)
mencegah gerakan radikal anti-barat dalam bentuk Islam politik; (5) untuk mendorong timbulnya
demokratisasi dan menjujung tinggi hak-hak asasi manusia; dan (6) membolehkan Amerika Serikat untuk
berperan dalampembangunan ekonomi, khususnya akses pada bahan mentah32.
Peristiwa 11 September 2001, kepentingan AS di Asia Tengah mengalami beberapa revisi
khususnya mengenai masalah keamanan regional, dimana AS memfokuskan pada perang terhadap
terorisme internasional dan mencegah agar negara-negara di kawasan tersebut tidak menjadi tempat
perlindungan para teroris. Dengan demikian, politik luar negeri AS di Asia Tengah bertujuan untuk
mencapai kepentingan nasionalnya, seperti menjaga stabilitas keamanan regional dari aksi-aksi terorisme
(keamanan), mengamankan suplai minyak Asia Tengah dan kemudian memasarkannya ke pasaran
internasional (ekonomi), dan mengenalkan nilai-nilai demokratisasi dan hak-hak asai manusia, sehingga
diharapkan akan terjadi reformasi dalam bidang politik.
31
(ibid, 145-147)
Hafeez Malik. Central Asia’s Geopolitical Significance and Problems of Independence: An Introductions, (New York: St.
Martin Press, 1994) hlm, 130
32
8
Munculnya Asia Tengah sebagai kawasan strategis dan kaya akan cadangan sumber alam,
mendorong beberapa kekuatan besar untuk bersaing mencari pengaruh demi kepentingan strategisnya.
Melihat situasi demikian, AS dan negara-negara lainnya telah “menduduki” beberapa posisi strategis di
kawasan ini dengan membawa modal dan teknologi yang diimplementasikan dalam agenda politik luar
negerinya untuk mencapai kepentingan nasional. Jika dilihat dengan seksama, kepentingan nasional AS di
kawasan Asia Tengah dimana prioritas mencegah bangkitnya ideologi ekspansionis Rusia yang radikal di
kalangan negara-negara bekas Uni Soviet yang dapat menimbulkan konflik nuklir global, mengisolir
konflik yang terjadi di kawasan tersebut yang dikhawatirkan akan meluap ke negara tetangga, mencegah
pengembangan senjata nuklir, mencegah berkembangnya paham radikal anti-Barat dalam bentuk Islam
politik, mendorong berkembangnya hak-hak asasi manusia, demokrasi, sistem perekonomian pasar bebas
dan lingkungan dunia yang bersih; adalah tujuan yang berkisar pada agenda pasca perang dingin33.
Agenda tersebut akhirnya bergeser kepada bagaimana AS untuk berperan dalam pembangunan
ekonomi, khususnya akses pada bahan mentah, serta membendung pengaruh Rusia dan Iran dan
menempatkan kawasan ini sebagai lingkungan pengaruh dalam kepentingan strategis AS34. Setelah
peristiwa 11 September, pergeseran prioritas kepentingan nasional AS terfokus pada perang melawan
terorisme, meskipun secara umum idealismenya tetap sama. Sedang secara luas, tujuan AS mencakup tiga
kepentingan strategis, yaitu: keamanan regional, reformasi politik dan ekonomi, dan pembangunan
ekonomi35.
Dalam bidang keamanan regional, AS mendorong negara-negara di kawasan Asia Tengah untuk
saling bekerjasama, karena Asia Tengah menghadapi ancaman transnasional yang serius, umumnya
berasal dari Afghanistan. Ancaman itu berupa gerakan kelompok teroris, Islam ekstrimis, penyelundupan
narkotika dan senjata. Masalah-masalah politik-agama merupakan alasan pertama negara-negara Asia
Tengah bergabung dengan koalisi anti terorisme pimpinan AS mengingat mayoritas negara di kawasan itu
sering terlibat kekerasan sebagai akibat gerakan Islam domestik, yang mempunyai hubungan dengan
Taliban dan Al-Qaeda36. Dengan mendukung AS dalam berperang melawan terorisme internasional,
negara-negara ini ingin menumpas kelompok-kelompok ekstremis tersebut tanpa mendapat kritikan dunia
internasional dan organisasi HAM lainnya, sekaligus mengatasi masalah kurangnya dana dan sumber
daya militer37.
Dari tujuan reformasi politik dan ekonomi, pada dasarnya, Amerika ingin mendorong
demokratisasi dan dari institusi politik dan membangun sebuah sistem perekonomian pasar bebas agar
tidak menghalangi investor dan pedagang asing, termasuk AS. Namun, sayangnya reformasi berjalan
33
Ibid. hlm. 131
Wang Haiyun. Opcit. Hlm. 47
35
___, US Policy in Asia, 2004, diakses dari
http://www.uyghuramerica.org/researchanalysis/Uspolicycenasia.html pada tanggal 27 November 2008
36
Svante E. Cornell, and Regine A. Spector,:”Central Asia More than Islamic Extremist”, dalam The Washington Quarterly,
Vol.25/No.I, Winter, 2002 hlm. 193
37
Sulaiman, Sadia. ”The Role of Central Asia in War Against Global Terrorism: Futuristic Apprisal”, dalam Strategic Studies,
Vol.XXII/No.2, Summer, 2002) hlm. 86
34
9
lambat. Pemerintah Turkmenistan tetap menjadi salah satu rezim represif, di Uzbekistan presiden Islam
Karimov dengan tegas menolak reformasi ekonomi yang ditawarkan AS, dan meskipun Kazakhstan
menyuarakan isu-isu demokrasi namun pengkapan terhadap kelompok oposisi, media massa dan aktivis
NGO terus dilakukan. Serta Kyrgistan yang pernah menjadi pemimpin regional dalam hal demokratisasi
dan pasar bebas, namun dalam dua tahun terakhir mengalami kemunduran38. Sedang Tajikistan, karena
pemerintahan pusat yang kurang kuat, justru melahirkan kebebasan pers, keragaman partai politik, dan
demokrasi.
Janji akan imbalan ekonomi jika mendukung perang AS melawan terorisme menjadi motivasi
negara-negara kawasan Asia Tengah, karena situasi ekonomi kawasan tersebut (kecuali Kazakhstan) sulit
pulih dari krisis paska lepas dari Soviet tanpa bantuan asing. Bantuan ekonomi AS berkontribusi besar39
meski tarif untuk menyediakan pangkalan militer juga merupakan sumber pendapatan tersendiri bagi
negara-negara tersebut40. Negara-negara Asia Tengah juga membutuhkan bantuan untuk mengekspor
barang-barang dan sumber daya alamnya agar bisa menembus pasar internasional karena wilayahnya
terisolasi.
Meski kehadiran militer AS di kawasan itu adalah untuk mengamankan kepentingan sumber
energi, namun jika AS membangun pipa minyak dan gas dari Asia Tengah ke luar, hal itu tidak saja
menguntungkan AS tetapi juga negara-negara Asia Tengah karena mendapatkan keuntungan ekonomis.
Pembangunan jalur pipa minyak dari Asia Tengah yang melintasi Afghanistan menuju teluk akan
membawa penghasilan, lapangan kerja, pelatihan dan pendidikan baik bagi rakyat Afghanistan dan Asia
Tengah41.
2.3.
Hubungan Asia Tengah dan Amerika Serikat
Bukti bahwa terdapat kepentingan strategis Amerika Serikat, lebih spesifik lagi berhubungan
dengan kepentingan ekonomi strategis; bisa terlihat dari deviasinya saat menghadapi rezim otoriter di
sub-kontinen ini dengan sangat bersahabat; padahal biasanya AS merupakan pengusung nilai-nilai
demokrasi42. Jajaran pemerintah AS yang lekat dengan petinggi-petinggi perusahaan minyak pun
menunjukkan betapa besar signifikansi energi bagi pembangunan AS. Menteri Luar Negeri AS saat ini,
Condoleezza Rice, sebelumnya adalah salah seorang petinggi di perusahaan minyak terbesar AS,
Chevron, pada 1991-1995 sebagai seorang pakar Uni Soviet. Saat itulah Chevron berhasil menguasai kue
terbesar dari ladang minyak Tengiz, Kazakhstan, yang punya cadangan potensial 25 miliar barrel. Wakil
Presiden Dick Cheney juga merupakan pucuk pimpinan perusahaan infrastruktur perminyakan
Halliburton dan merupakan anggota Dewan Penasihat Tengizchevroil (TCO) di Kazakhstan, perusahaan
perminyakan yang didirikan Pemerintah Kazakhstan setelah runtuhnya Soviet, dengan kepemilikan
38
US Policy in Asia, Loc.cit.
Sulaiman, Op.Cit. hlm. 85
40
Ibid, hlm. 86
41
Paul A. Globe, “Back on the Map: The Geopolitics of Central Asia”, dalam jurnal Central Asia, No. 2 (8), 1997
42
Ted Rall, Silk Road to Ruin: Is Central Asia the New Middle East? (Nantier Beall Minoustchine Publishing, 2006) hlm. 5
39
10
Chevron 50 persen, ExxonMobil 25 persen, dan Pemerintah Kazakhstan melalui KazMunazGas 20
persen, sisanya 5 persen dimiliki LukArco Rusia43.
Tidak heran apabila dalam strategi global Amerika Serikat, Asia Tengah memegang posisi
strategis. Terutama sejak tahun 1997 ketika AS mulai memprioritaskan kawasan ini dengan kebijakan
“New Central Asia Strategy”44. Dalam strategi ini, AS berusaha membantu negara-negara baru merdeka
di Asia Tengah untuk dapat keluar dari pengaruh Rusia dan benar-benar merdeka. Untuk
megimplementasikan strategi ini, secara ekonomi AS berusaha menjadikan kawasan ini sebagai basis
suplai energinya yang baru, dengan menanamkan investasi, bantuan ekonomi, dan pembangunan. Secara
militer AS mulai memberikan bantuan militer berupa peralatan, pelatihan personil militer, latihan militer
berkelanjutan dan akhirnya berusahan mendirikan pangkalan militer disana45. Hal ini berlanjut dengan
intens pasca tragedi 11 September 2001, ketika AS mulai mengembangkan doktrin pertahanan baru
dengan mengedepankan pre-emptive strike dan defensive intervention yang sangat berbeda dengan saat
perang dingin yang menggunakan doktrin containtment dan deterrence46. Sejak itu, AS mulai aktif secara
diplomatik, politik dan militer di Asia Tengah dan Uzbekistan menjadi sekutu kunci AS dengan
mengijinkan pangkalannya dipakai oleh tentara AS47 dan dengan cepat pengaruh militer AS meluas ke
negara-negara Asia Tengah lainnya. Belum lagi invasi AS ke Afghanistan – yang tidak lepas dari
kepentingan pembangunan pipa minyak, dijadikan justifikasi AS untuk menempatkan pasukannya dekat
Bishkek serta meningkatkan tensi dengan Rusia.
Hal itu dilakukan untuk mengejar sumber energi potensial di Laut Kaspia yang sangat dibutuhkan
untuk kelangsungan industri AS. Jika dirunut satu persatu, Kazkhstan yang berpotensi menjadi satu dari
lima teratas sebagai eksportir minyak, mengingat produksinya pada tahun 2002 mencapai 900.000 barel
per hari dan dapat meningkat menjadi 5 juta barel per hari pada tahun 2015 hingga melebihi produksi Iran
atau Kuwait. Turkmenistan merupakan salah satu negara yang mempunyai sumber gas alam terbesar di
dunia, mencapai 101 trilyun kaki kabik dan produksi minyaknya 160.000 per hari. Sementara itu
Tajikistan dan Kyrgistan menyimpan sumber alam yang dapat dijasikan pembangkit listrik tenaga air
yang potensial untuk dapat memenuhi kebutuhan energi listrik di Asia Tengah, Afghanistan dan Asia
Selatan48. Dari energi hidrokarbon, wilayah Kaspia memiliki cadangan hidrokarbon besar yang belum
tersentuh. Cadangan gas terukur di Azerbaijan, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Kazakhstan lebih dari 236
triliun kaki kubik. Cukup untuk melayani kebutuhan minyak Eropa selama 11 tahun49.
Akan tetapi, sebagai landlocked countries, kawasan sekitar laut Kaspia terisolasi, menjadikannya
sulit untuk mendistribusikan sumber-sumber energi ini untuk dapat mencapai pasaran dunia. Padahal,
43
Ibid. hlm. 112
Ibid. hlm. 3
45
Wang Haiyun. “The Security Situation In Central Asia”, International Strategic Studies, No.1, January, 2001 hlm. 17
46
Husaini, Adian. “Doktrin Ofensif AS, Gejala Paranoid”, dalam Kompas 11 Juli 2002
47
Svante E. Cornell, and Regine A. Spector,:”Central Asia More than Islamic Extremist”, dalam The Washington Quarterly,
Vol.25/No.I, Winter, 2002 hlm. 193
48
Pacicolan, Paolo.Opcit. hlm. 110
49
Pacicolan, Paolo.Opcit. hlm. 115
44
11
sumber daya energi Asia Tengah ini dapat menghadirkan tiga keuntungan baru, yakni bagi pasar dunia,
kawasan dan Amerika Serikat50. Pertama, munculnya pasokan energi baru akan membuat pasokan di
dunia menjadi beragam dan dapat mengendalikan harga minyak yang naik ketika permintaan akan
minyak meningkat. Banyaknya pasokan minyak dari laut Kaspia akan mengamankan suplai minyak dunia
(khususnya sekutu AS) karena suplai terbesar saat ini berasal dari teluk Persia (sebesar 66 %), dimana
daerah tersebut rawan konflik dan politisasi sehingga menganggu pasokan energi dunia 51. Kedua, apabila
dikendalikan dengan baik, maka keuntungan dari penjualan minyak dan gas akan memperbaiki
pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asia Tengah, dimana kemampuan laut Kaspia untuk memasok
energi pada pasaran dunia akan memperkuat prospek bagi pertumbuhan ekonomi dan kestabilan politik di
kawasan tersebut. Ketiga, ada kesempatan yang sangat besar bagi perusahaan minyak multinasional AS
dan negara-negara Barat untuk melakukan investasi pada minyak di laut Kaspia dan juga pada bidangbidang lain.
Meski demikian, tetap harus disadari bahwa kendala geografis – tidak ada jalan yang mudah untuk
mengekspor energi posisinya yang terisolasi dan bergantung pada kerjasama dengan negara tetangga yang
konfliktual dan ‘tidak dapat dipercaya’ secara politis oleh AS; kendala teknologi dan biaya transportasi,
kurangnya sumber daya manusia, masalah politik dan instabilitas domestik, serta minimnya perangkat
hukum untuk melindungi para investor, juga menghambat kertumbuhan ekonomi wilayah ini.
2.4.
Asia Tengah dan Major Power lainnya
Dengan kenyataan seperti itu, tentu bukan hanya AS yang mengincar minyak Kaspia. Rusia sangat
memahami betapa berharga energi migas dalam meningkatkan pendapatan negara itu dan gencar
mengincar migas di negara-negara tetangganya. Desember 2007, Rusia berhasil membuat kesepakatan
dengan Kazakhstan dan Turkmenistan untuk membangun sebuah jaringan pipa gas baru sepanjang pantai
timur Kaspia menuju Rusia. Pembangunan jaringan pipa yang diharapkan bisa mengekspor 20 miliar
meter kubik per tahun pada tahapan awalnya, dipandang sebagai sebuah pukulan atas harapan AS yang
menginginkan pemerintah negara-negara Asia Tengah berkomitmen mengirimkan migasnya ke jaringan
pipa trans-Kaspia yang bersambung dengan jaringan pipa di Kaukasus yang dibangun dengan dukungan
AS52.
China juga berusaha mengamankan suplai energi melalui jaringan pipa Asia Tengah dari negaranegara tetangganya di barat. Sebuah jaringan pipa minyak Kazakhstan-China, yang menghubungkan
ladang minyak Kazakh di utara Kaspia dengan jaringan pipa di China di Wilayah Otonomi Xinjiang,
Sokolsky, Richard and Tanya Charlek-Paley, “NATO Caspian Security: A Mission to Far?”. Santa Monica: Rani, 1999)
hlm. 69-70
51
Hafeez Malik, Op.cit. hlm. 142
52
Pauline Jones Luong, The Transformation of Central Asia: States and Societies from Soviet Rule to Independence, (Cornell
University Press, 2003) hlm. 136
50
12
barat laut China, tengah dibangun dan akan beroperasi Oktober 200953. Sebuah jaringan paralel pipa gas
alam juga tengah dibangun menuju ladang-ladang di Uzbekistan dan Turkmenistan.
Negara-negara lain juga tidak mau ketinggalan. India ingin mencegah supaya Pakistan tidak
memakai Asia Tengah sebagai kegiatan teroris, dan India juga tidak ingin Cina mengepung wilayahnya 54.
Kemudian masih ada Iran yang melihat pentingnya kawasan di luar perbatasannya. Teheran tidak ingin
pengaruh terlalu besar Amerika Serikat yang akhirnya akan mengepung Iran 55. Setiap negara punya
kepentingan mendasar di sana. Bahkan jika menganalisa konflik yang terjadi di Georgia bukan semata
konflik politik peninggalan masa lalu saat Soviet pecah. Lebih dari itu adalah konflik memburu
perdagangan migas dari Kaspia. Dalam hal ini, AS yang sangat bernafsu menguasai sumber daya migas
itu hanya bisa berkomentar cukup keras mengenai serbuan tentara Rusia ke Georgia. Namun, walau
bagaimanapun, Rusia masih jauh lebih berpengaruh di Asia Tengah ketimbang AS, dan negara-negara
kaya migas di Kaspia, yaitu Turkmenistan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Kirgistan, masih lebih
memperhitungkan Rusia.
53
Ibid. hlm. 138
Ibid. hlm. 142
55
Ibid. Hlm. 143
54
13
BAB 3
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Pada intinya, Asia Tengah merupakan daerah yang diperebutkan hingga sekarang karena
mempunyai arti strategis secara politik, ekonomi, geografi dan kebudayaan. Karena secara ekonomi,
kawasan ini kaya energi minyak dan gas, dan dalam perspektif AS Asia Tengah potensial sebagai lahan
investasi baru bagi perusahaan-perusahaan minyaknya. Oleh karena itulah, pasca kehancuran Uni Soviet
dan terjadi vacuum of power, sehingga AS berusaha mengambil peluang untuk berperan menggantikan
posisi Soviet dengan membantu negara-negara tersebut agar lebih mandiri dan stabil sehingga dapat
mencegah masuknya kembali peran Rusia. Untuk mencapai tujuan tersebut, AS melakukan berbagai
pendekatan baik politik, ekonomi, bahkan militer.
Dalam rangka mencapai ekpentingan nasionalnya, yakni melanggengkan keamanan energi yang
bisa didapatkan dari potensi minyak di laut kaspia, Amerika Serikat memberlakukan “New Central Asia
Strategy”. Dalam strategi ini, AS berusaha membantu negara-negara baru merdeka di Asia Tengah untuk
dapat keluar dari pengaruh Rusia dan benar-benar merdeka. Untuk mengimplementasikan strategi ini,
secara ekonomi AS berusaha menjadikan kawasan ini sebagai basis suplai energinya yang baru, dengan
menanamkan investasi, bantuan ekonomi, dan pembangunan. Secara militer AS mulai memberikan
bantuan militer berupa peralatan, pelatihan personil militer, latihan militer berkelanjutan dan akhirnya
berusahan mendirikan pangkalan militer disana dengan invasi ke Afghanistan sebagai justifikasi. Hal ini
berlanjut dengan intens pasca tragedi 11 September 2001, ketika AS mulai mengembangkan doktrin
pertahanan baru dengan mengedepankan pre-emptive strike dan defensive intervention yang sangat
berbeda dengan saat perang dingin yang menggunakan doktrin containtment dan deterrence. Sejak itu,
AS mulai aktif secara diplomatik, politik dan militer di Asia Tengah dan dengan cepat pengaruh militer
AS meluas ke negara-negara Asia Tengah lainnya.
14
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Clarke, M. and B. White (eds) Understanding Foreign Policy: The Foreign Policy Systems Approach (Cheltenham:
Edward Elgar 1989)
Codevilla, Angelo and Paul Seabury, War: Ends and Means, 2nd edition (Potomac Books Inc. 2006)
Luong, Pauline Jones, The Transformation of Central Asia: States and Societies from Soviet Rule to Independence,
(Cornell University Press, 2003)
Malik, Hafeez . Central Asia’s Geopolitical Significance and Problems of Independence: An Introductions, (New
York: St. Martin Press, 1994)
Pacicolan, Paolo. US and Asia Statistic Handbook 2001-2002.Washington D.C.: The Heritage Foundations, 2001.
Roy, Olivier The New Central Asia: Geopolitics and the Birth of Nations, (New York: NYU Press ,2007)
Rall, Ted Silk Road to Ruin: Is Central Asia the New Middle East? (Nantier Beall Minoustchine Publishing, 2006)
Sokolsky, Richard and Tanya Charlek-Paley, “NATO Caspian Security: A Mission to Far?”. Santa Monica: Rani,
1999)
Sudarsono,Juwono dkk., Perkembangan Studi Hubungan Internasional dan Tantangan Masa Depan. (Jakarta:
Pustaka Jaya, 1996 )
Jurnal:
Baumann, Florian Energy Security as multidimensional concept, dalam jurnal CAP policy analysis, no. 1 March
2008
Cornell, Svante E. and Regine A. Spector,:”Central Asia More than Islamic Extremist”, dalam The Washington
Quarterly, Vol.25/No.I, Winter, 2002
Globe, Paul A. “Back on the Map: The Geopolitics of Central Asia”, dalam jurnal Central Asia, No. 2 (8), 1997
Haiyun, Wang. “The Security Situation In Central Asia”, International Strategic Studies, No.1, January, 2001
Maynes, Charles William. “America Discoves Central Asia”, Jurnal Foreign Affairs, Vol. 82/No.2, March/April
2003
Sulaiman, Sadia. ”The Role of Central Asia in War Against Global Terrorism: Futuristic Apprisal”, dalam
Strategic Studies, Vol.XXII/No.2, Summer, 2002)
Osterud, Oyvind "The Uses and Abuses of Geopolitics", Journal of Peace Research , no. 2, 1988, p. 2, 1988
Yergin, Daniel “Ensuring Energy Security”, dalam jurnal foreign affairs . Volume 85 No. 2 March/April 2006
Internet:
Alex Lantier, US oil pipeline politics and the Russia-Georgia conflict, diakses dari
http://www.wsws.org/articles/2008/aug2008/pipe-a21.shtml pada tanggal 12 Desember 2008 Pk. 20.34
Hans de Vreij, Persaingan Sengit Asia Tengah-Asia Selatan jadi ajang persaingan politik internasional, diakses
dari http://www.ranesi.nl/arsipaktua/asiapasifik/persaingan_sengit_asteng.html. pada tanggal 12 Desember
2008 pukul. 20.14
15
Rakaryan Sukarjaputra, Konflik Georgia: Perburuan Migas di Kaspia, dalam Kompas 14 september 2008, diakses
dari http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/09/14/22234348/perburuan.migas.di.kaspia pada
tanggal 12 Desember 2008 pk. 20.45
___, US Policy in Asia, 2004, diakses dari http://www.uyghuramerica.org/researchanalysis/Uspolicycenasia.html
pada tanggal 27 November 2008
Lainnya:
Husaini, Adian. “Doktrin Ofensif AS, Gejala Paranoid”, dalam Kompas 11 Juli 2002
16
Download