Makalah Akhir

advertisement
Makalah Akhir
Dinamika Kawasan Asia Selatan dan Asia Tengah
Geopolitik Energi di Asia Tengah:
Kepentingan Energy Security Amerika Serikat, Rusia, dan Cina di Asia Tengah
(Geopolitics of Energy in Central Asia:
Energy Security of United States, Russia, and China in Central Asia)
Disusun Oleh:
Ilham Yulhamzah Arif (0606097932)
DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS INDONESIA
Depok, 2008
Bab I
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang
Sistem internasional paska-Perang Dingin bertransformasi menjadi sistem internasional yang
relatif berbeda. Sistem internasional selama Perang Dingin lebih diwarnai dengan konflik militer dan
perlombaan senjata antara dua superpower, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Isu keamanan
selama Perang Dingin sangat berfokus pada isu konvensional, seperti: kekuatan militer, penyebaran
pengaruh (sphere of influence), dan geopolitik. Berkahirnya Perang Dingin yang sering diasumsikan
sebagai kemenangan Blok Barat – dipimpin oleh Amerika Serikat – atas Blok Timur sempat
menyebabkan AS menjadi hegemoni di dalam sistem internasional. Namun, beberapa tahun
kemudian, mulai muncul kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi baru, seperti: Cina dan Rusia,
menyebabkan relative-power AS dalam sistem internasional menurun.
Sedangkan, sistem internasional paska-Perang Dingin diwarnai dengan konflik nonkonvensional, seperti: perebutan sumber daya, baik air maupun energi, ancaman kelompok radikal
dan fundamentalis, konflik internal negara, seperti: gerakan separatis dan bentrokan antaretnis, dan
lain-lain. Hal tersebut mendorong munculnya wacana-wacana baru dalam studi keamanan, salah
satunya adalah konsep sekuritisasi, dipelopori oleh Mazhab Kopenhagen, antara lain: Barry Buzan,
Ole Waever. Konsep tersebut berusaha mengkonseptualisasi makna “ancaman eksistensial”, dimana
makna ancaman dewasa ini tidak sekedar berasal dari faktor exogenous, melainkan juga berasal dari
faktor endogenous. Selanjutnya, dapat dipahami bahwa dewasa ini isu keamanan non-konvensional
menjadi satu hal yang penting dalam studi keamanan, seperti: energy security, human security,
environmental security, economic security, dan lain-lain.
Sistem internasional paska-Perang Dingin yang tidak lagi diatribusikan sebagai sebuah sistem
yang bipolar ataupun unipolar mengindikasikan transformasi sistem internasional yang progresif.
Munculnya kekuatan-kekuatan dunia baru, seperti: Cina yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang
drastis dan Rusia yang mewarisi kekuatan militer Uni Soviet dan kekayaan sumber minyak bumi dan
gas alam, mengimposisi sebuah makna bahwa sistem internasional dewasa ini memiliki kutub-kutub
power yang tidak lagi terkonsentrasi pada satu kekuatan hegemoni, dengan kata lain, sistem
internasional dewasa ini adalah multipolar. Mengutip asumsi (neo)realisme, tujuan akhir dari negara
adalah power dan interaksi antarnegara tidak lain merupakan interplay antar-power negara. Oleh
karena itu, dengan sistem yang multipolar, sistem internasional lebih banyak diwarnai dengan tarikmenarik power negara dengan asumsi bahwa setiap negara berusaha mempromosikan kepentingan
nasionalnya.
Interaksi power dapat dijelaskan melalui analisis geopolitik yang terjadi dalam konstelasi
politik internasional. Salah satu area geopolitik yang diperjuangkan oleh negara-negara adalah energi,
dimana oil shock pada dasawarsa 1970-an telah memberi makna penting bahwa energi merupakan
hal yang sangat esensial bagi keberlanjutan perekonomian suatu negara, serta energi merupakan
salah satu instrumen politik untuk memperoleh power – mempengaruhi kebijakan negara lain.
Sejalan dengan konsep sekuritisasi, aksesibilitas energi menjadi penting bagi keamanan suatu negara
karena kelangkaan energi akibat ketiadaan aksesibilitas yang mungkin dapat menjadi ancaman
eksistensial bagi negara. Oleh karena itu, banyak negara-negara besar yang menggantungkan dirinya
pada suplai energi luar mulai mengadopsi kebijakan energy security dalam konteks geopolitik yang
ikut menentukan strategic outlook negara-negara importir energi, terutama negara-negara yang
berperan besar dalam satu kawasan.
Salah satu perebutan aksesbilitas terhadap sumber energi terjadi di kawasan Asia Tengah
karena di sana terdapat satu lahan yang kaya energi, yaitu Laut Kaspia. Laut Kaspia atau Asia
Tengah dapat dikatakan sebagai region yang memiliki potensi untuk menjadi salah satu penyulai
minyak dunia. Ladang minyak di Laut Kaspia diperhitungkan dapat memproduksi 4 juta barel
minyak per hari pada 2015, hampir sama dengan kombinasi tingkat produksi Iraq-Kuwait. 1 Laut
Kaspia memiliki cadangan minyak 77,1 milyar barel atau 7,4% minyak dunia, dilihat sebagai sumber
minyak terbesar kedua atau ketiga di dunia.2 Selain itu, Laut Kaspia memiliki kekayaan alam berupa
gas alam yang melimpah. Sebagai negara industri maju, AS harus mencari sumber-sumber energi di
luar region penyuplai minyak utamanya (Teluk Persia). Hal tersebut dikarenakan stabilitas politik
ekonomi minyak Teluk mulai labil dan posisi AS di dalam konflik Israel-Palestina yang tidak
didukung oleh negara-negara penyuplai minyaknya di Timur Tengah, misalnya Arab Saudi. Di
dalam Administrasi Bush, AS memandang bahwa perluasan ke Laut Kaspia yang memiliki cadangan
minyak dan gas alam merupakan suatu hal yang krusial bagi kepentingan Washington. Seperti apa
yang dinyatakan oleh Brezinski dalam bukunya ”The Grand Chessboard” bahwa Eurasia (dan Teluk
Persia) merupakan papan catur yang besar di mana perjuangan untuk memperoleh dominasi global
tetap dimainkan. Di samping itu, dia juga menyatakan bahwa politik luar negeri AS harus tetap
berdasarkan pada dimensi geopolitik.3
Di samping AS, Rusia juga memiliki peran dalam mempengaruhi geopolitik di kawasan Asia
Tengah, terutama dalam area energi. Rusia sebagai patron dari negara-negara Asia Tengah tetap
menganggap region tersebut sebagai sphere of influence-nya. Di dalam energy policy-nya, Moskow
telah berusaha menanamkan pengaruhnya. Bagi Rusia, ekspor minyak dan gas alam merupakan
1
Arial Cohen Ph.D, U.S. Interests and Central Asia Energy Security, 15 November 2006, diakses dari pada 3 Desember
2007 pukul 12:16.
2
BP Statistical Review of World Energy, (London: BP, Juni 2003), hal:4.
3
Zbigniew Brzezinski, The Grand Chessboard, (New York: Basic Books, 1997), hal:xiv.
penyumbang terbesar pendapatan luar negerinya – pada tahun 2002, 50% di dapatkan dari ekspor,
40% dari pendapatan pemerintah. Oleh karena itu, Rusia melakukan segala sesuatu untuk
meningkatkan produksi energi untuk revitalisasi ekonomi dan politik.4
Cina juga merupakan aktor yang menginginkan keterlibatan geopolitik di Asia Tengah,
terlihat dari usaha Cina membangun ikatan-ikatan bisnis energi dengan mengirim perusahaanperusahaan minyaknya ke negara-negara Asia Tengah, dipandang sebagai kepentingan energy
security Cina. Kepentingan Cina terlibat dalam geopolitik Asia Tengah dapat dipandang berangkat
dari kepentingan keamanan nasionalnya. Cina sedang menghadapi ancaman separatisme di Xinjiang
Uighur – mayoritas masyarakatnya berbahasa Turki. Oleh karena gerakan di Uighur memiliki
hubungan erat dengan milisi Islam radikal di Asia Tengah, Cina merasa perlu meningkatkan
pengaruhnya di Asia Tengah.
1.2.
Rumusan Masalah
Bagaimana interaksi power dan kepentingan nasional three major powers, yaitu Amerika
Serikat, Rusia, dan Cina, dalam perebutan aksesibilitas energi di Asia Tengah?
1.3.
Kerangka Pemikiran
Ekonomi Politik Energi
Hubungan antarnegara tidak dapat terlepas dari dinamika konflik, terutama dalam konteks
interaksi power negara, dimana interaksi tersebut tidak hanya terjadi dalam konteks kekuatan militer,
melainkan juga dalam konteks ekonomi-politik. Seperti apa yang diasumsikan oleh perspektif
(neo)realisme bahwa sistem internasional yang anarki – tidak ada central authority yang mampu
mengatur dan membatasi perilaku unit-unit (negara-negara) di dalam sistem – mendorong negaranegara bersikap self-help dalam mempromosikan kepentingan nasionalnya. Seperti apa yang
diasumsikan oleh Hobbes dalam ‘state of nature’ yang memandang bahwa hubungan internasional
merupakan sebuah konteks untuk mempertahankan hubungan antar-power. Tiap-tiap negara
berdaulat dan bebas (independen) untuk berperilaku – mengambil tindakan atau kebijakan – untuk
melindungi, memelihara, dan mewujudkan kepentingan nasionalnya. Kepentingan nasional, yang
salah satunya adalah kepentingan ekonomi, menjadi suatu faktor yang menyebabkan terjadinya
bentrokan kepentingan (clash of interests) antarnegara sehingga konflik muncul. Mengutip aliran
ekonomi-politik internasional realis-merkantilis, Gilpin menekankan bahwa untuk memahami pola
perilaku negara-negara dalam ekonomi politik internasional, diperlukan pemahaman dalam kerangka
kepentingan nasional.
4
Department of Energy, “Russia”, September 2003.
Selanjutnya, untuk memahami konsep kepentingan nasional, lebih baik melihat asumsiasumsi perspektif (neo)realaisme mengenai kepentingan nasional dan power. Negara diasumsikan
sebagai aktor tunggal (unitary actor) dan rasional ketika berinteraksi dengan negara lain dalam
sistem internasional. Perilaku negara diasumsikan berdasarkan pada rasionalitas atau pertimbangan
kalkulasi untung-rugi yang berimplikasi pada pay-off yang nantinya akan diperoleh. Negara akan
senantiasa mewujudkan kepentingan nasionalnya sehingga dalam anarkisme internasional negara
akan senantiasa pula meningkatkan kapabilitas power-nya (struggle for power) demi mewujudkan
kepentingan nasionalnya. Negara satu dengan yang lainnya memiliki kepentingan nasional yang
sama atau tumpang tindih (overlapping) sehingga negara-negara akan senantiasa berlomba-lomba
mewujudkan kepentingan nasionalnya karena sifat interaksi antarnegara yang zero-sum game dimana
ketika negara satu mampu mewujudkan kepentingan nasionalnya merupakan kerugian bagi negara
lain. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa realisme mengasumsikan bahwa hubungan antarnegara
merupakan hubungan yang hakikatnya konfliktual dan kerjasama antarnegara diasumsikan tidak
mungkin terjadi karena negara akan senantiasa mewujudkan kepentingan nasionalnya tanpa
mempedulikan kepentingan nasional negara lain.
Interaksi power negara dan konflik kepentingan nasional terjadi dalam konteks geopolitik
yang biasanya melibatkan beberapa major power dalam sistem internasional. Geopolitik dapat
didefinisikan sebagai berikut: ”Geo-politic is the struggle between rival powers for control over
territory, natural resources, vital geographic features (harbours, rivers, oases), and other sources of
economic and military advantage”. 5 Dewasa ini, faktor geopolitik merupakan salah satu hal yang
mempengaruhi strategic outlook dari major powers. Brezinski dalam bukunya ”The Grand
Chessboard” menuliskan bahwa Eurasia (dan Teluk Persia) merupakan papan catur yang besar di
mana perjuangan untuk memperoleh dominasi global tetap dimainkan.6 Definisi tersebut memberi
sebuah penjelasan penting bahwa interaksi power pada umumnya merupakan perwujudan perjuangan
negara untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya dalam suatu area politik, salah satu area
geopolitik adalah energi.
Salah satu kepentingan nasional dewasa ini yang paling krusial adalah keamanan energi
(energi security), dimana setiap negara memiliki kebijakan-kebijakan yang di dalamnya memuat
strategi-strategi untuk mempromosikan ketahanan energinya guna keberlanjutan pembangunan.
Mason Willrich di dalam bukunya ”Energy and World Politics” mengemukakan bahwa energy
security harus dipandang secara kontekstual. Energy security memiliki berbagai konteks berdasarkan
peran aktor yang mengimplementasikannya. Bagi negara-negara eksportir energi, energy security
dilihat dalam konteks akses terhadap pasar dan tingkat permintaan. Sedangkan bagi negara-negara
importir energi, energy security dilihat dalam konteks bagaimana memperoleh suplai energi bagi
5
6
Michael T. Klare, Blood and Oil, (London: Penguin Books, 2005),, hal:147.
Zbigniew Brzezinski, The Grand Chessboard, (New York: Basic Books, 1997), hal:xiv.
negaranya.7 Bagi negara-negara importir energi, energy security dapat diartikan sebagai “assurance
of sufficient energy supplies to permit national economy to function in a politically acceptance
manner” – jaminan akan adanya suplai energi yang cukup untuk memastikan berjalannya
perekonomian nasional melalui cara-cara politik.8
Mason mengemukakan terdapat tiga kompenen utama energy policy untuk memastikan
energy security. Pertama, bersikap rasional yang berarti berusaha untuk mengalokasikan suplaisuplai yang available dan membatasi konsumsi. Negara mengadopsi kebijakan pengurangan
konsumsi akan menghilangkan masalah-masalah suplai energi yang mendasar dan tingkat waktu
untuk mengatasi masalah tersebut. Kedua, mengadakan penimbunan untuk mengurangi kerentanan
negara importir terhadap suplai yang terhenti dengan melindungi dari efek yang ditimbulkan. Negara
menyiapkan sejumlah cadangan energi nasional untuk memastikan keamanan dan melindungi dari
fluktuasi harga yang abnormal. Ketiga, melakukan diversifikasi yang berindikasi pada usaha untuk
memastikan keberlanjutan suplai energi dengan menganekaragamkan sumber dan penyuplai. Dengan
membuka kontrak dengan negara penyuplai lain, akan mengurangi ketergantungan terhadap
penyuplai energi tunggal.9
Konseptualisasi keamanan energi juga berkaitan dengan paradigma untuk memandang makna
dari energi sebagai komoditas. Makmur Keliat memberikan dua paradigma energi, baik sebagai
komositas strategis maupun sebagai komoditas pasar.10
Konseptualisasi Paradigma Energi
(sebagai Komoditas Strategis maupun Komoditas Pasar)
Paradigma
Energi sebagai Komoditas Strategis
Argumentasi
Menentukan
pertumbuhan
Energi sebagai Komoditas Pasar
ekonomi
Menghindarkan inefisiensi penggunaan energi dan
nasional
menghemat anggaran belanja negara
Pengamanan pasokan fisik membutuhkan
Interdependensi
institusi keamanan
eksportir dan importir energi
Contoh
Mengurangi ketergantungan energi dari
Penentuan harga diserahkan pada pasar menurut
Rekomendasi
sumber
dan
hukum permintaan dan penawaran; perusahaan
Kebijakan
penguasaan wilayah kaya energi; regulasi
negara diberlakukan sama dengan swasta untuk
pembatasan
konsumsi
domestik;
melakukan investasi energi, baik dari energi primer
penyimpanan
energi
(stockpilling);
hingga energi akhir; melakukan kerangka kerjasama
penetapan harga (pricing policy) energi oleh
pada tataran regional antara negara eksportir dan
pemerintah.
importir energi.
7
eksternal;
pengendalian
perekonomian
antara
negara
Mason Willrich, Energy and World Politics, (New York: The Free Press, 1978), hal:70-79, dikutip dari Sugeng Bob
Hadiwinata, “Bringing the State Back In: Energy and National Security in Contemporary International Relations”,
Global: Jurnal Politik Internasional, Vol.8, No.2, Mei-November 2006, hal:2.
8
Mason Willrich, Op.Cit,.
9
Ibid.
10
Makmur Keliat,.“Kebijakan Keamanan Energi”. Global: Jurnal Politik Internasional, Vol.8 No.2 Mei-November 2006,
hal: 42.
Bab II
Pembahasan
2.1.
Energi di Asia Tengah
Energi merupakan satu hal yang diperlukan bagi sustainibilitas perekonomian suatu negara,
baik sebagai komoditas ekspor maupun impor. Misalnya minyak, dimana miinyak merupakan
sumber energi yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Pada akhir abad 20, diperhitungkan
bahwa minyak telah menjadi 39 persen konsumsi energi dunia; batu bara merupakan sumber energi
terbesar kedua dengan 24 persen; selanjutnya, sisa sebesar 37 persen terdiri dari: gas alam (22
persen), energi nuklir (6 persen), dan lain-lain.11 Banyak ahli yang memperhitungkan bahwa minyak
akan tetap menjadi sumber energi terbanyak digunakan selama dasawarsa pertama abad 21.
Permintaan dunia terhadap minyak akan meningkat sekitar 2 persen tiap tahunnya antara sekarang
dan 2020. Berdasarkan proyeksi Departemen Energi Amerika Serikat (AS), penggunaan minyak
dunia akan meningkat dari sekitar 77 juta barel per hari di tahun 2000 menjadi 85 juta barel per hari
di tahun 2005, 94 juta barel per hari di tahun 2010, 102 barel per hari di tahun 2015, dan 110 juta
barel per hari di tahun 2020.12
Laut Kaspia merupakan salah satu kawasan yang potensial sebagai produsen energi, baik
dalam bentuk minyak bumi maupun gas alam. Tidak terlepas adalah kawasan Asia Tengah yang
berbatasan langsung dengan Laut Kaspia sehingga sebagian negara-negara Asia Tengah dianugerahi
dengan kekayaan sumber energi yang melimpah. Sebut saja Kazakhstan, dimana Kazakhstan pada
2002 mampu memproduksi minyak sebanyak 0,99 juta barel per hari dan besaran produksi tersebut
memperoleh proporsi sebesar 1,3 persen dari produksi minyak seluruh dunia. Kazakhstan
diperhitungkan memiliki cadangan minyak sebesar 9 milyar barel dan besaran tersebut memperoleh
proporsi hampir 1 persen dari cadangan dunia.13
Laut Kaspia sendiri diperhitungkan akan menjadi sumber energi yang mampu menggantikan
atau menyubstitusikan kawasan-kawasan lain sebagai penyuplai energi, mempertimbangkan bahwa
kondisi politik kawasan penyuplai energi, terutama Teluk Persia dan Afrika, tidak begitu kondusif
bagi negara-negara importir. Atau paling tidak, Laut Kaspia mampu menjadi kawasan komplemen
kawasan penyuplai energi lainnya dalam pasar energi dunia. Ekspektasi tersebut merupakan hal yang
berdasar karena Laut Kaspia telah membuktikan dirinya sebagai salah satu kawasan pemain dalam
suplai energi global. Pada 2002, memiliki tingkat produksi minyak aktual sebesar 9,35 juta barel per
hari dan besaran tersebut memiliki proporsi 12,6 persen dari jumlah dunia. Tingkat produksi minyak
11
U.S. Department of Energy, Energy Information Administration, International Energy Outlook 1999, (Washington,
D.C.: DoE/EIA, 1999), Tabel A2, hal:142-143.
12
DoE/EIA, IEO 1999, Tabel A4, hal: 145.
13
BP Statistical Review of World Energy 2003, (London: BP, 2003), hal: 4, 6, 9.
tersebut merupakan kedua terbesar di dunia setelah kawasan Teluk Persia, dimana Teluk Persia
berproduksi aktual sebesar 19,88 juta barel per hari (26,9 persen dari jumlah dunia). Untuk cadangan
minyaknya, Laut Kaspia diperhitungkan memiliki cadangan pada akhir 2002 sebesar 77,1 milyar
barel (7,4 persen dari jumlah dunia). Fakta dan estimasi tersebut, tentunya, menggambarkan bahwa
Laut Kaspia merupakan kawasan yang kaya sumber energi dan diespekstasikan dapat menjadi
alternatif kawasan penyuplai energi.
Tingkat dan Cadangan Minyak di Teluk Persia dan Region Lainnya,
2002 dan 2025
Negara/Region
Cadangan
Produksi
Akhir
Persentase
Produksi
Persentase
Estimasi
Persentase
2002
dari
aktual,
dari
kapasitas
dari jumlah di
(milyar
jumlah di
2002
jumlah di
produksi,
dunia
barel)
dunia
(juta
dunia
2025 (juta
barel per
barel
hari)
hari)
per
Teluk Persia
679
64,8
19,88
26,9
45,2
36,3
Amerika
30,4
2,9
7,70
10,4
9,4
7,6
19,5
1,9
6,44
8,7
8,9
7,1
16,3
1,6
6,16
8,3
4,5
3,6
77,1
7,4
9,35
12,6
15,9
12,8
Afrika
77,4
7,4
7,94
10,7
16,2
13,0
Asia
38,7
3,7
7,99
10,8
7,5
6,0
Amerika Latin
98,6
9,4
6,65
9,0
12,3
9,9
Lainnya
10,7
1,0
1,83
2,5
4,6
3,7
Jumlah
1047,7
100
73,94
100
113,5
100
Serikat
Kanada dan
Meksiko
Negara Laut
Utara
Negara Laut
Kaspia
Sumber: untuk data 2002, BP, Statistical Review of World Energy 2003, (London:BP, Juni 2003), hal: 4,6,9;
untuk data 2025, U.S. Department of Energy, Energy Information Administration (DoE/EIA), International
Energy Outlook 2003, (Washington, D.C.: DoE/EIA, 2003, Tabel D1, hal: 235.
2.2.
Geopolitik Energi di Asia Tengah antara AS, Rusia, dan Cina
Kompetisi memperebutkan aksesibilitas energi di Asia Tengah terjadi antara Amerika Serikat
(AS), Rusia, dan Cina. Ketiga major power tersebut memiliki kepentingan vital dalam konteks
keamanan energinya, yaitu dalam aliran minyak global dan berusaha memperoleh kontrol politik atas
negara-negara Asia Tengah. Atas kepentingan keamanan energi, ketiga major power tersebut harus
menggunakan instrumen-instrumen politik untuk memperoleh ”simpati” dari negara-negara yang
baru saja merdeka dan melepaskan diri dari Uni Soviet pada awal 1990-an, dimana sebagian besar
negara Asia Tengah diperintah secara otoriter. Dengan begitu, negara-negara Asia Tengah dan Laut
Kaspia merupakan kawasan strategis yang mempengaruhi strategic outlook ketiga major power
tersebut, terutama sebagai alternatif kawasan penyuplai energi dan sebagai kawasan yang
memiliki ”nilai” geostrategis.
Kompetisi yang ”alot” terjadi antara AS dan Rusia, dimana Rusia berusaha mempertahankan
pengaruhnya sebagai negara patron dari negara-negara Asia Tengah. Rusia pada awalnya – sebelum
adanya pipa BTC – menguasai rute distribusi energi di Laut Kaspia, dipandang oleh AS sebagai
ambisi Rusia untuk memonopoli rute energi di Asia Tengah. Sebaliknya, kehadiran pengaruh AS di
Asia Tengah, terutama sewaktu pembangunan pipa BTC dan kehadiran pangkalan militer AS di
negara-negara Asia Tengah selama Perang Afghanistan 2001, Rusia mengalami dilema terhadap
perilaku AS tersebut. Rusia memandang bahwa AS sedang memperkuat pengaruh politik dan
militernya di negara-negara eks-Uni Soviet tersebut. Seperti apa yang diungkapkan oleh Menteri
Luar Negeri Rusia Y. Urnov pada Mei 2000 bahwa Rusia tidak dapat membiarkan kepentingankepentingan tertentu dari luar yang memperlemah posisi Rusia di Laut Kaspia, serta seharusnya tidak
ada yang terlukai jika Rusia berhasil membatasi usaha-usaha yang mengganggu kepentingan Rusia.
14
Kehadiran militer AS – dilihat sebagai usaha AS untuk menanamkan pengaruh politiknya di
Asia Tengah – membawa dilema bagi Rusia. Rusia memandang bahwa AS telah mengambil
keuntungan daru kepercayaan negara-negara Kaspia untuk mengdukung posisi geopolitik AS di Laut
Kaspia. 15 Kehadiran militer AS di negara-negara Asia Tengah dimulai ketika Perang Afghanistan
2001 untuk melaksanakan Operation Enduring Freedom (OEF). Terlebih lagi, ketika AS mengirim
instruktur militer ke Georgia pada Februasi 2002 dengan alasan untuk meningkatkan kemampuan
Georgia dalam melindungi perbatasan dan infrastrukturnya, termasuk pipa minyak dan gas, dari
ancaman insurgensi Abkhazia dan Ossetia Selatan dan militan-militan Islam. Hal tersebut dipandang
oleh Rusia sebagai usaha AS untuk mengurangi dominasi pengaruh Rusia di kawasan. 16 Bahkan,
Menteri Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa penempatan instruktur militer dapat lebih jauh
memperburuk situasi di Kaspia. 17
Andrei Y. Urnov, “Russian and Caspian Energy Export Prospects”, address given at the Central Asia-Caucasus
Institute of the Johns Hopkins University School of Advanced International Studies (SAIS), Washington, D.C., May 17,
2000, diakses dari http://www.cacianalyst.org pada 7 Agustus 2000.
15
“The Tankees Are Coming”, Economist, 19 Januari 2002, hal:37.
16
Guy Chazan, “Russia Bristles at Possible U.S.-Georgia Plan”, Wall Street Journal, 28 Februari 2002.
17
Patrick E. Tyler, “Moscow Fears G.I.’s Role Could Deepen Conflicts”, New York Times, 28 Februari 2002.
14
Rusia seolah-olah tidak ingin pengaruhnya di Asia Tengah mengalami penurunan. Oleh sebab
itu, pada Desember 2002, Rusia melakukan inisiatif yang sama, yaitu Rusia menempatkan sebuah
skuadron pesawat tempur dan 700 pasukan di pangkalan dekat Biskek, Kirgistan. Penempatan
pasukan militer Rusia tersebut merupakan dukungan terhadap ”tentara reaksi cepat” bersama antara
Rusia, Kazakhstan, Kirgistan, dan Tajikistan dalam kerangkan Collective Security Organization
(CSTO). Walaupun demikian, banyak analisis yang melihat kebijakan tersebut sebagai usaha Rusia
untuk mengimbangi kehadiran militer AS di Asia Tengah – terutama pangkalan-pangkalan militer
AS di Asia Tengah.18 Selanjutnya, Rusia juga meningkatkan jumlah pasukannya di Tajikistan – 14
ribu tentara Rusia berpatroli di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan – dan juga memperkuat
kehadiran armada laut Rusia di Laut Kaspia.19 Ambisi Rusia selanjutnya diperlihatkan ketika Rusia
menolak menutup pangkalan militernya di Georgia dan menarik pasukannya dari sana. 20 Rusia juga
berusaha memperkuat posisi strategisnya di Asia Tengah dengan menyediakan persenjataan dan
bantuan militer di beberapa negara bekas federasinya tersebut, seperti: Armenia, Kazakhstan,
Kirgistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Misalnya pada 2001, Moskow menyediakan
sistem artileri, helikopter, dan aircraft guns, serta memanggil pejabat dan pilot Uzbekistan untuk
dilatih di akademi militer Rusia.21 Perjanjian yang serupa juga dilakukan dengan negara-negara eksUni Soviet lainnya.22
Kehadiran pengaruh AS semakin besar setelah pipa BTC terselesaikan. AS mengirim bantuan
1,3 juta dolar, serta melatih dan memperlengkapi pasukan militer negara-negara yang dilalui oleh
pipa BTC. Untuk tetap mempertahankan kontrol atas aliran energi dari Kaspia, Moskow mendukung
gerakan separatis di Abkhazia dan Ossetia Selatan – kedua konflik tersebut terjadi dekat dengan rute
pipa – dan menolak untuk menarik pasukan Rusia dari Georgia. Karena mempertimbangkan perilaku
Rusia tersebut, AS memperketat penjagaan bersama dengan pasukan Georgia untuk menghadang
serangan-serangan terhadap pipa. Kompetisi AS dan Rusia tersebut juga terlihat di dalam konflik
Nagorno-Karabakh antara Armenia dan Azerbaijan di mana Rusia membantu Armenia dan AS
membantu Azerbaijan.
Selanjutnya, kompetisi antasa AS dan Rusia terlihat dalam penentuan rute pipa yang
mengalirkan energi dari Kazakhstan. Selama ini, aliran energi dari Kazakhstan dimonopoli oleh pipa
Tengiz-Novorossiysk yang melewati teritori Rusia. AS memandang hal tersebut sebagai ancaman
sehingga berusaha menekan Kazakhstan dan perusahaan-perusahaan energi untuk membangun pipa
Steven Lee Myers, “Russia to Deploy Air Squadron in Kyrgyzstan, Where U.S. Has Base”, New York Times, 4
Desember 2002.
19
“Russia Moots New Caspian Share-Out”, BBC World Service, London, April 26, 2002, diakses dari
http://news.bbc.co.uk pada 29 April 2002.
20
Seth Mydans, “Georgia and Its Two Big Brothers”, New York Times, 28 November 2003.
21
Yuriy Chernogayev, “Uzbeks Will Take Up Russian Guns to Rebuff Islamist Offensive”, Kommersant (Moscow), 2
Maret 2001 diterjemahkan di Foreign Broadcast Information Service.
22
Jim Nichol, Central Asia’s New States: Political Developments and Implications for U.S. interests, issue brief for
Congress (Washington D.C.” Libraryof Congress, Congressional Research Service, 1 April 2003), hal:5-6.
18
di bawah Laut Kaspia (Trans-Caspian Pipeline) yang terhubungan dengan pipa BTC di Baku. 23
Merespon hal tersebut, pada Januari 2002, Rusia mengajukan pembentukan ”Eurasian Gas Alliance”
yang akan menyatukan semua produsen minyak dan gas di Asia Tengah ke dalam sistem transportasi
terintegrasi yang tentunya akan melewati teritori Rusia.24
Cina sebagai the rising power dalam sistem internasional merupakan aktor baru yang
menginginkan keterlibatannya dalam geopolitik energi di Asia Tengah. Kepentingan keamanan
energi Cina merupakan tuntutan yang mendasar bagi sustainibilitas pembangunan industri dan
perekonomian Cina. Mengingat Cina merupakan negara industri yang sedang berkembang, maka
Cina merupakan salah satu negara konsumen energi terbesar di dunia, sehingga Cina membutuhkan
suplai energi yang lebih untuk menjalankan aktivitas perekonomiannya, terutama suplai energi dari
luar. Oleh karena itu, sebagai kawasan yang kaya akan cadangan energi, Asia Tengah menarik minat
Cina untuk ”berkecimpung” dalam persaingan memperebutkan aksesibilitas energi Asia Tengah.
Keterlibatan Cina tersebut dapat terlihat dalam investasi dan pengaturan perdagangan dengan
perusahaan-perusahaan energinya, seperti: China National Petroleum Corporation (CNPC), China
National Petrochemical Corporation (Sinopec), dan China National Offshore Oil Corporation
(CNOOC). Bahkan pada 2003, perusahaan-perusahaan tersebut membangun ikatan-ikatan penting
dengan negara-negara eksportir minyak, salah satunya adalah negara-negara Asia Tengah seperti
Kazakhstan.
Kazakhstan merupakan salah satu negara yang memiliki peran kritis dalam kebijakan energi
Cina dan telah menerima beberapa investasi Cina. Hal tersebut terlihat dari saham mayoritas CNPC
di dalam Aktobemuniagaz – bekas perusahaan milik negara yang mengontrol beberapa ladang
minyak di Aktyubinsk. CNPC dilaporkan membayar 4,3 milyar dollar untuk 63% saham di
Aktobemuniagaz dan berjanji untuk melakukan investasi dalam infrastruktur, termasuk sebuah pipa
sepanjang 3.700 mil dari Aktobinsk ke Cina. CNPC juga memiliki kepentingan di Uzen, ladang
minyak terbesar kedua di Kazakhstan, dan sedang mencari kesempatan investasi tambahan di
Kazkahstan, bersama dengan perusahaan-perusahaan Cina lainnya.25
Dalam strategic outlook Cina, Kazakhstan memiliki kemenarikan karena berbatasan langsung
dengan Cina sehingga dapat memberikan ”jembatan” antara Laut Kaspia dan Asia Timur. Pengajuan
pembangunan pipa Atobinsk-Cina dapat memperkuat ikatan Cina di Kazakhstan dan melepaskan diri
dari ketergantungan terhadap minyak Teluk Persia yang sirkumstansi politiknya tidak kondusif.
Kunjungan Presiden Cina Hu Jintao ke Kazakhstan pada 2003 yang menegaskan komitmen Cina
terhadap pipa tersebut sebagai suatu hal yang penting bagi Cina, serta menyatakan bahwa Cina
Kalicki, “Caspian Energy at the Crossroads”.
Jim Nichol, Op.Cit., hal:6.
25
DoE/EIA, “Kazakhstan”, country analysis brief, Juli 2003, diakses dari http://www.eia.doe.gov/cabs/kazak.html pada
30 Desember 2003.
23
24
menempatkan perhatian yang besar dan pentingnya membangun hubungan baik dengan
Kazakhstan.26
Pertimbangan Cina dalam keterlibatannya dalam geopolitik di Asia Tengah adalah
kepentingan geostrategis Cina. Kendati Cina memiliki hubungan baik dengan AS – dalam hal
counter-terrorism dan AS telah mengangkat Cina dari isolasionisme internasional – Cina memiliki
tensi dengan AS, yaitu masalah Taiwan. Terlebih lagi, Cina merasa dirinya sedang berada dalam
pengepungan yang dilakukan oleh AS karena AS telah menanamkan pengaruhnya di Taiwan, Jepang,
dan Asia Selatan. Oleh karena itu, Cina tidak ingin AS ”mengukuhkan” pengepungannya tersebut
dengan menanamkan pengaruhnya di Asia Tengah. Cina berusaha keras membangun ikatan dengan
negara-negara Asia Tengah untuk mengurangi, atau bahkan, menyingkirkan pengaruh AS dari
kawasan Asia Tengah.
Usaha selanjutnya untuk memperkuat ikatannya dengan negara-negara Asia Tengah, Cina
menyediakan suplai persenjataan dan perlengkapan, serta berbagai bentuk bantuan militer. Cina
memberikan persenjataan dan perlengkapan ke negara-negara Asia Tengah, seperti: Kirgistan,
Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan, untuk keamanan internal di negara-negara Asia Tengah dan
perlindungan perbatasan. Di samping itu, Cina juga memberikan pelatihan kepada militer dan polisi
di negara-negara tersebut dan membagi informasi intelijen mengenai aktivitas pemberontak dan
gerakan separatis. 27 Kerjasama kongkrit antara Cina dengan negara-negara Asia Tengah salah
satunya terealisasi pada Oktober 2002, dimana tentara Cina dan Kirgistan mengadakan perlawanan
terhadap pemberontakan di area Kirgistan di perbatasan Cina-Kirgistan.28
Selain itu, untuk memperkuat pengaruhnya di Asia Tengah, Cina membentuk institusi
keamanan regional untuk melegitimasi dan memfasilitasi perluasan keterlibatan militernya di Asia
Tengah, yaitu: Shanghai Five, yang dibentuk melalui pertemuan di Shanghai pada 1996 bersama
dengan Rusia, Kazakhstan, Kirgistan, dan Tajikistan. Kesepakatan yang dihasilkan pada pertemuan
tersebut adalah Agreement on Confidence Building in the Military Field Along the Border Areas
yang bertujuan mencegah konflik perbatasan dan mewujudkan kerjasama militer. Selanjutnya pada
1999, Shanghai Five sepakat untuk memerangi terorisme dan dibentuk pusat counter-terrorism
bersama di Bishkek, Kyrgyzstan. Pada 2001, kelima negara tersebut ditambah Uzbekistan bersedia
memformalisasikan aliansi sebagai Shanghai Cooperation Organization (SCO) – piagamnya
dihasilkan pada KTT Moskow 2003.
Dalam SCO, Cina terlihat sebagai kekuatan dominan. Hal tersebut diindikasikan oleh
beberapa perilaku China, yaitu: mengatur pertemuan pertama, membujuk Uzbekistan untuk
Eric Watkins, “China, Kaakhstan Sign Oil Pipeline Agreement”, Oil and Gas Journal Online, 3 Juni 2003, diakses dari
http://www.ogj.pennet.com pada 5 Juni 2003.
27
Gill dan Oresman, China’s New Journey to the West, hal:20.
28
David Stern, “Beijing and Kyrgyzstan Hold Anti-Terror Exercise”, Financial Times, 5 Oktober 2003.
26
mendirikan pusat counter-terrorism di Tashkent, serta menjanjikan kantor sekretariat SCO dan
membayar banyak tanggungan organisasi. 29 Zbigniev Brzezinski pada 2003 menyatakan bahwa
perluasan keterlibatan Cina di Asia Tengah di dalam SCO merupakan bagian dari geopolitik Cina,
dan Cina sedang mulai menjadi pemain utama di Asia Tengah.30 Patroli bersama Cina-Kirgistan pada
Oktober 2002 dianggap sebagai perwujudan piagam SCO yang belum dipublikasikan.31
Selanjutnya, melalui SCO, Rusia dan Cina bersama-sama menentang kehadiran pengaruh AS
di Asia Tengah. Pada pertemuan SCO 5 Juli 2005 di Kazakhstan, Rusia dan China mendorong
negara-negara Asia Tengah – Uzbekistan, Kirgistan, dan Tajikistan – untuk melawan secara rasional
kehadiran militer AS dan memberi deadline pada kehadiran AS tersebut. Pada Juli 2005, sebuah
communique dari Menteri Luar Negeri Uzbekistan menuduh AS telah melanggar kesepakatan 7
Oktober 2001 yang menjadi dasar operasi pangkalan udara Karshi-Khanabad. Bahkan, Presiden
Uzbekistan Islam Karimov menuduh AS memiliki hubungan dengan pemberontakan 12-13 Mei 2005
di Andijan.32 Akhirnya, pada 21 November 2005, pangkalan udara Karshi-Kanabad resmi ditutup.33
Mengingat bahwa Rusia dan Uzbekistan pada November 2005 telah menandatangani traktat aliansi,
mencuatkan rumor bahwa Rusia akan mengambilalih pangkalan udara tersebut.34
Namun, tidak semua negara Asia Tengah ”tunduk” pada permintaan Rusia dan Cina tersebut.
Menteri Luar Negeri Kirgistan Roza Otunbayeva menyatakan bahwa selama Afghanistan belum
stabil, maka operasi militer yang aktif masih diperlukan di sana. Sedangkan Deputi Perdana Menteri
Adakhan Madumarov menyatakan bahwa keputusan untuk tidak melanjutkan pengaturan merupakan
keputusan internal Kirgistan yang tidak berkewajiban menjelaskan alasannya. Otunbayeva dan
Madumarov merupakan bagian dari perubahan rezim Kirgistan yang didukung oleh AS. 35 Deputi
Direktur Strategic Research Center Tajikistan Sayfullo Safarov menyatakan bahwa SCO dan CIS
Collective Security Organization masih belum dapat dikatakan efektif dalam counter-terrorism dan
perdagangan obat-obatan terlarang, serta belum berkapasitas untuk menjaga keamanan Asia Tengah.
Oleh karena itu, masih terlalu dini bagi Tajikistan untuk menafikkan kebutuhannya akan militer AS
dan NATO.36
Menyikapi deklarasi SCO tersebut, AS (State Department dan kedutaan besar di Moskow dan
di negara-negara Asia Tengah) menyatakan bahwa perjanjian pangkalan dan aspek-aspek lain dari
29
Gill dan Oreman, Op.Cit.
Ibid, hal:iv.
31
“Shanghai Group ‘a Military Alliance’”, Straits Times, 21 Juli 2001, diakses dari http://web.lexis-nexis.com pada 25
Oktober 2003.
32
Vladimir Socor, “U.S. Military Presence at Risk in Central Asia”, Eurasia Daily Monitor, 8 Juli 2005, diakses dari
http://www.jamestown.org pada tanggal 3 Desember 2007 pukul 13:46 WIB.
33
Eugene Rumer, “The U.S. Interests and Role in Central Asia after K2”, Washington Quarterly, Summer 2006, hal:141.
34
Ibid., hal.142.
35
Vladimir Socor. Op.Cit.
36
Ibid.
30
kehadiran militernya di Asia Tengah ditentukan oleh perjanjian bilateral dengan tiap-tiap negara.37
Sedangkan di lain pihakl, Yevgeny Primakov, mantan perdana menteri dan menteri luar negari Rusia,
merasa bangga atas kinerja Rusia dalam SCO untuk mempromosikan tuntutan nasional atas
penarikan pasukan AS. Primakov menyatakan bahwa pertama kalinya sebuah formula diplomatik
telah memperlihatkan keefektifannya untuk mengakhiri kehadiran militer AS di Asia Tengah.
2.3.
Keamanan Energi AS, Rusia, dan Cina di Asia Tengah
Perilaku ketiga major power dalam perebutan aksesibilitas energi di Asia Tengah merupakan
refleksi dari beberapa kepentingannya, terutama adalah kepentingan keamanan energi. Kepentingan
keamanan energi tiap-tiap negara yang terlibat di atas berbeda satu sama lain. Hal tersebut dapat
dipahami karena sekuritisasi yang dilakukan oleh tiap-tiap negara berbeda. Sekuritisasi merupakan
suatu usaha mereproduksi makna ancaman eksistensial atau ketidakamanan terhadap suatu wacana
keamanan yang sedang dihadapi oleh negara; ketika suatu negara menghadapi ancaman tertentu,
maka ancaman tersebut belum tentu dihadapi oleh negara lain. Misalnya dalam konteks keamanan,
ketika suatu negara menghadapi ancaman kelangkaan energi, maka tidak mungkin hal tersebut
mengancam negara-negara produsen energi. Melainkan, ancaman yang dihadapi oleh negara-negara
produsen energi adalah aksesibilitas komoditas energi mereka ke pasar internasional.
Kepentingan keamanan energi dari negara-negara tersebut dipahami sebagai satu hal yang
mendorong keterlibatan mereka dalam geopolitik di Asia Tengah. Secara singkat yang akan
dijelaskan selanjutnya, negara-negara tersebut memiliki konteks keamanan energi yang berbeda.
Keamanan energi AS adalah memperoleh suplai energi dari luar untuk memenuhi kebutuhan akan
energi di dalam negerinya. Keamanan energi bagi Rusia adalah mengontrol aksesibilitas energi dari
Laut Kaspia melalui monopoli rute pipa dari Laut Kaspia. Sedangkan keamanan energi bagi Cina
adalah memuaskan permintaan energi bagi sustainibilitas pertumbuhan ekonominya sebagai negara
industri yang sedang berkembang. Namun, analisis selanjutnya akan memaparkan bagaimana negaranegara tersebut berusaha mewujudkan kepentingan keamanan energinya dengan menanamkan
pengaruhnya di negara-negara Asia Tengah, terutama dengan membangun ikatan-ikatan militer dan
politik. Tidak dipungkiri pula, ketiga major power memiliki kepentingan-kepentingan di luar konteks
keamanan energi, seperti kepentingan keamanan nasional dan nilai-nilai – pada umunya bersifat
ideologis.
Keterlibatan AS dalam geopolitik di Asia Tengah dapat dinilai sebagai manifestasi Doktrin
Carter. Doktrin Carter menegaskan bahwa untuk menghadapi instabilitas dalam suplai energi, maka
AS perlu merepson dengan meningkatkan kapabilitas militernya. Doktrin tersebut berupaya untuk
memperluas area suplai energi ke AS, dimana aliran energi luar dipandang sebagai kepentingan
37
Ibid.
keamanan nasional dan memerlukan perlindungan dari militer AS. Hal tersebut terlihat ketika U.S.
Central Command – pada awalnya mengimplementasikan Doktrin Carter di Teluk Persia – diberikan
otoritas atas kawasan Asia Tengah pada 1 Oktober 1999.38
Kepentingan keamanan energi AS didorong oleh permintaan energi AS yang semakin
meningkat, serta keinginan AS untuk memperoleh area suplai energi baru di luar Teluk Persia yang
dinilai sebagai kawasan labil dan posisi AS tidak begitu menguntungkan di depan negara-negara
Teluk atas konflik Israel-Palestina. Pada 2002, tercatat AS memproduksi minyak sebesar 9 juta barel
per hari, tetapi besaran tersebut tidak cukup memuaskan permintaan minyak domestiknya sebanyak
19,8 juta barel per hari, untuk itu, AS harus mengimpor minyak dari luar sebanyak 10,8 juta barel per
hari.39 Defisit produksi minyak mendorong AS untuk memperoleh kekuasaan dan otoritas yang lebih
untuk menekan konsumen untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap bahan bakar fosil dan
berusaha mendapatkan sumber-sumber energi alternatif. Jika AS tidak mengedepankan kebijakan
keamanan energinya, akan berdampak buruk pada sustainibilitas perekonomian AS, terutama dalam
sektor industri, akan mengurangi tingkat ekspor AS dan selanjutnya menyebabkan penurunan GDP
(Gross Domestic Product). Bahkan, kenaikan 50% harga minyak di AS akan menyebabkan defisit
GDP sebesar 0,5%. Sejak kenaikan harga minyak yang drastis pada 1973-1974 hingga sekarang (tiga
dasawarsa), AS diperhitungkan telah mengalami kerugian sebanyak 4 triliun dollar.40
Tingkat Produksi dan Konsumsi Minyak Amerika
Serikat, 2001-2025 (dalam juta barel per hari)
30
25
20
19.71
20.48
22.71
26.41
24.8
28.3
15
10
5
5.74
5.58
5.93
5.53
4.95
4.61
2001
2005
2010
2015
2020
2025
0
Produksi
Konsumsi
Sumber: U.S. Department of Energy, Annual Energy Outlook 2004, (Washington, D.C.: DoE/EIA, 2004), Tabel A11,
hal: 150.
38
Michael T. Klare, (London: Penguin Books, 2005), hal: 132-133.
Energy Information Administration (EIA), World Production of Crude Oil, NGPL, Other Liquids, and Refinery
Processing Gain 1980-2002, (Washington, D.C.: U.S. Department of Energy, 2004), dikutip dari Sugeng Bob
Hadiwinata, “Bringing the State Back In: Energy and National Security in Contemporary International Relations”,
Global: Jurnal Politik Internasional, Vol.8, No.2, Mei-November 2006, hal:8.
40
Lihat di global!!!
39
Pertumbuhan permintaan energi AS diprediksikan akan terus meningkat dalam kurun waktu
dua dasawarsa ke depan. Dari data Departemen Energi AS, didapatkan data bahwa dari tahun ke
tahun, tingkat konsumsi minyak AS terus bertambah. Diperkirakan pada tahun 2010 kebutuhan AS
akan minyak sekitar 22,71 juta barel per hari, pada tahun 2020 sekitar 26,41 juta barel per hari, dan
pada tahun 2025 mencapai sekitar 28,30 juta barel per hari. Untuk menyikapi pertumbuhan
permintaan energi AS tersebut, AS seharusnya mempromosikan kebijakan energinya demi
keberlangsungan suplai energinya. Oleh karena itu, AS sebagai aktor yang rasional yang selalu
berjuang mempromosikan kepentingan nasionalnya, dalam konteks ini adalah keamanan energi,
dituntut untuk memastikan keamanan dan keberlanjutan aksesibilitas AS atas energi dari luar.
Atas nama kebutuhan energi, Administrasi Bush mengeluarkan strategi energi baru, yaitu
National Energy Policy Development Group (NPEDG) yang diketuai oleh Wakil Presiden Dick
Cheney, atau dikenal dengan Cheney Report. Dalam strategi tersebut terdapat lima area, yaitu: (1)
program mitigasi harga; (2) kebijakan efisiensi energi; (3) peningkatan suplai energi domestik; (4)
pengembangan energi yang dapat diperbaharui; (5) memperkuat hubungan dengan produsen energi
luar. Poin (5) mengindikasikan bahwa salah satu cara memuasakan pertumbuhan permintaan energi
AS adalah dengan memastikan aksesibilitas AS terhdaap sumber-sumber energi dari luar. Untuk
menekankan hal tersebut, Bush menyatakan bahwa apabila AS tidak dapat mengamankan sumbersumber energi dari luar, AS akan menghadapi ancaman ekonomi dan keamanan nasional yang
signifikan.41 Usaha yang terlihat dalam perwujudan strategi tersebut adalah keterlibatan AS dalam
geopolitik energi di Asia Tengah, diasumsikan sebagai manifestasi kepentingan AS dalam
mengamankan suplai energi dari luar. Keterlibatan AS dalam geopolitik energi di Asia Tengah
sangat berdasar dan rasional karena ladang minyak Asia Tengah diperhitungkan dapat memproduksi
4 juta barel minyak per hari pada 2015, hampir sama dengan kombinasi tingkat produksi IraqKuwait.42
Menurut perspektif energi yang membedakan antara energi sebagai komoditas strategis dan
energi sebagai komoditas pasar, keterlibatan AS dalam geopolitik Asia Tengah merupakan
perwujudan keamanan energi AS yang memandang energi sebagai komoditas energi. Jika begitu,
diperlukan pengamanan aksesibilitas energi di Asia Tengah dengan menggunakan institusi kemanan
negara – kekuatan militer negara. Oleh karena itu, Asia Tengah yang dipandang sebagai salah satu
kawasan penyuplai energi bagi AS mendorong AS membangun ikatan-ikatan militer dengan negaranegara Asia Tengah. Di samping itu, poin (5) juga mendorong AS untuk memperkuat dukungannya
41
Olga Oliker dan A. Slaphak. U.S. Interests in Central Asia: Policy Priorities and Military Roles. (The RAND
Corporation 2005), hal:
42
Arial Cohen Ph.D, U.S. Interests and Central Asia Energy Security, 15 November 2006, diakses dari pada 3 Desember
2007 pukul 12:16.
kepada peusahaan-perusahaan energi AS yang beroperasi di luar, seperti: Chevron, Exxon, dan
Unocal.
Di samping itu AS memiliki kepentingan dalam keamanan nasional counter-terrorism.
Tragedi 9 September 2001 memberi trauma yang mendalam bagi AS. Untuk mewujudkan kebijakan
counter-terrorism-nya, AS melakukan invasi ke Afghanistan – diduga sebagai ”sarang” Al-Qaeda
(gerakan teroris pimpinan Ossama bin Laden yang diduga otak tragedi 9/11) – pada 2001. Untuk
melancarkan Operation Enduring Freedom (OEF) ke Afghanistan, AS memerlukan pangkalan
militer yang dapat mencapai atau dekat dengan Afghanistan. Posisi negara-negara Asia Tengah yang
dekat atau berbatasan langsung dengan Afghanistan akan memberikan kemudahan akses ke
Afghanistan, sehingga mendorong AS untuk membuat ikatan-ikatan militer dengan membuka
pangkalan militer di negara-negara Asia Tengah. Azerbaijan, Georgia, dan Kazkahstan bersedia
memberikan dukungan logistik atau hak penerbangan dalam invasi AS ke Afghanistan. Sedangkan
Kyrgystan dan Uzbekistan mengijinkan pembangunan pangkalan militer di teritori mereka. 43 Paskainvasi AS ke Afghanistan, Administrasi Bush menegaskan kembali ikatan-ikatan militer dengan
negara-negara Kaspia. Administrasi Bush meningkatkan kunjungan-kunjungan oleh pejabat senior ke
negara-negara Kaspia dan secara signifikan meningkatkan aliran bantuan militer dan ekonomi. 44
Bantuan AS ke negara-negara Kaspia, termasuk Armenia, Azerbaijan, Georgia, Kazakhstan,
Kyrgystan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan diekspektasi hingga 1,5 milyar dollar pada
tahun fiskal 2004-2005, akan meningkat 50% pada tiga tahun pertama.45 Meningkatnya kemunculan
gerakan islam radikal di Asia Tengah juga mendorong AS untuk melaksanakan counter-terrorism.
Sebagai contoh adalah IMU (Islamic Movement Uzbekistan), gerakan radikal yang dianggap sebagai
teroris dan disinyalir berhubungan dengan Al Qaeda. IMU beroperasi di berbagai negara Asia
Tengah, seperti: Afghanistan, Tajikistan, Uzbekistan, dan Kyrgyzstan. IMU telah melakukan banyak
aksi teror, seperti: aksi bom di Kyrgyzstan dan Uzbekistan.
Selain itu, beberapa negara Asia Tengah, seperti Uzbekistan, memiliki infrastruktur weapons
of mass destruction (WMD) yang merupakan peninggalan Uni Soviet. Untuk mencegah kemunculan
WMD, pada 1994 AS melakukan kerjasama Cooperative Threat Reduction (CTR) dengan negaranegara Asia Tengah. Pada 1998, kerjasaama diperluas, termasuk usaha pengontrolan perbatasan
dengan keharusan counter-poliferation berdasarkan pada CTR.46 Hal tersebut mendorong AS untuk
Lynn Pascoe, “The U.S. Role in Central Asia”, testimony before the Subcommittee on Central Asia and the South
Caucasus of the Senate Committee on Foreign Relations, Washington, D.C., June 27, 2002, diakses dari
http://www.state.gov pada 1 Juli 2002.
44
Jim Garamore, “Rumsfeld Meets with Leaders of Caucasus Nations”, American Forces Information Service news
article, December 15, 2001, diakses dari http://www.defenselink.mil pada 27 Februari 2003.
45
U.S. Department of State, Congressional Budget Justification: Foreign Operationas, Fiscal Year 2004, February 2003,
diakses dari http://www.fas.org pada 27 Februari 2003.
46
Seth G. Jones,Olga Oliker, Peter Chalk, C. Christine Fair, Rollie Lal, James Dobbins, Securing Tyrants or Fostering
Reform, The RAND Corporation 2006.
43
memberi bantuan keamanan agar infrastruktur WMD tersebut tidak menimbulkan proliferasi WMD
atau jatuh ke tangan kelompok teroris yang dapat membahayakan keamanan AS.
Kebijakan-kebijakan AS mengenai penegakkan HAM dan demokrasi merupakan penekanan
dari Kongres AS, NGO HAM, dan kelompok-kelompok lainnya.47 Negara-negara Asia Tengah pada
umumnya masih dipimpin oleh rezim pemerintahan yang otoriter akibat peninggalan tipe
pemerintahan Uni Soviet. Sistem pemerintahan di negara-negara Asia Tengah masih dipimpin oleh
rezim otoriter yang tidak menegakkan HAM dan demokrasi. Oleh karena itu, AS ingin menanamkan
pengaruhnya di Asia Tengah demi mendorong negara-negara Asia Tengah untuk menegakkan nilainilai HAM dan demokrasi. Sebagai contoh adalah di dalam Strategic Partnership Framework
Declaration 2002 antara AS dan Uzbekistan, selain menyediakan bantuan keamanan, AS juga
mendorong Uzbekistan untuk mengintensifkan transformasi demokratis di dalam kehidupan politik
dan ekonomi masyarakatnya. 48 Di samping itu, melihat kesuksesan Revolusi Oranye di Ukraina,
Revolusi Mawar di Georgia, dan Revolusi Tulip di Kyrgyzstan, mendorong AS menggunakan cara
yang sama untuk menggulirkan pemerintahan otoriter Uzbekistan.49
Rusia sebagai negara patron dari negara-negara Asia Tengah – Rusia merupakan pewaris
pemerintahan Uni Soviet dimana negara-negara Asia Tengah sebelum merdeka merupakan negaranegara federasi dari Uni Soviet – menginginkan pengaruh yang besar terhadap kawasan tersebut,
salah satunya ditunjukkan melalui kontrol rute aliran energi dari Laut Kaspia. Sebelum adanya pipa
BTC – pipa yang mengalirkan energi dari Laut Kaspia yang bermula di Baku (Azerbaijan) kemudian
bertransit di Tbilisi (Georgia) dan kemudian berpangkal di Ceyhan (Turki), Rusia merupakan negara
yang mengontrol mayoritas rute aliran energi dari negara-negara Asia Tengah dan Laut Kaspia.
Rusia memandang bahwa pipa BTC merupakan penguatan pengaruh AS dalam geopolitik energi
Asia Tengah yang dapat mengurangi pengaruh Rusia di kawasan tersebut. Pembangunan pipa BTC,
tentunya, dipandang sebagai faktor yang mematahkan monopoli rute dan transit aliran energi dari
Laut Kaspia yang dipegang oleh Rusia, seperti: pipa Baku–Novorossiysk, Atyrau–Samara, dan
Konsorsium Kaspia. Maksud AS untuk mematahkan monopoli Rusia disampaikan oleh staf Dewan
Keamanan Nasional AS Sheila Heslin – pada 1997 di depan komite investigasi Senat – bahwa konstruksi
pipa baru dari Laut Kaspia ke Laut Hitam dan Turki adalah untuk menggagalkan monopoli Rusia atas
kontrol aliran energi dari Laut Kaspia. 50 Perilaku dan interaksi AS dan Rusia di Asia Tengah
memperlihatkan bahwa mereka sedang melakukan kompetisi secara intensif terhadap sumber-sumber
energi yang merupakan bagian dari kebutuhan energi untuk masing-masing perekonomian.51 Kompetisi
47
Olga Oliker dan A. Slaphak. U.S. Interests in Central Asia: Policy Priorities and Military Roles. (The RAND
Corporation 2005), hal:8.
48
Seth G. Jones,Olga Oliker, Peter Chalk, C. Christine Fair, Rollie Lal, James Dobbins, Securing Tyrants or Fostering
Reform, The RAND Corporation 2006.
49
Eugene Rumer, Op.Cit,
50
Dan Morgan dan David Ottaway, “Drilling for Influence in Russia’s Back Yard, Washington Post, 27 September 1997.
51
Arial Cohen Ph.D, Op.Cit.
aksesibilitas energi di Laut Kaspia terlihat dalam National Security Strategy 1998, dimana AS tidak akan
membiarkan kekuatan yang berbahaya untuk mendominasi suatu region yang menjadi kepentingan kritis
bagi AS. 52 Dapat dipahami bahwa kehadiran militer AS di Asia Tengah adalah tuntutan kepentingan
keamanan energi dan sekaligus merupakan instrumen untuk mencegah kemunculan dominasi Rusia di
kawasan tersebut yang dapat mengancam strategi keamanan energi AS. Sebaliknya, Rusia juga memiliki
kepentingan keamanan nasional di Asia Tengah karena kekhawatiran Rusia akan pengaruh AS yang
besar di kawasan. Akibat perluasan NATO dan ekstensifikasi program-programnya, AS telah memiliki
pengaruh di negara-negara tetangga Rusia di Eropa Timur, seperti: Ukraina, Polandia, dan Ceko. AS
telah membangun radar rudal dan interseptor di Polandia dan Ceko, dipandang oleh Rusia sebagai
sesuatu yang mengancam keamanan nasionalnya, kendati AS berdalih sistem pertahanan rudal tersebut
untuk menghadapi ancaman serangan rudal Iran. Oleh karena itu, Rusia tidak mau Asia Tengah menjadi
hal yang serupa dengan negara-negara Eropa Timur dan Tengah yang sekarang lebih berafiliasi dengan
AS, karena apabila hal tersebut terjadi keamanan nasional Rusia akan terancam.
Bagi Rusia, ekspor minyak dan gas alam merupakan penyumbang terbesar pendapatan luar
negerinya – pada tahun 2002, 50% di dapatkan dari ekspor, 40% dari pendapatan pemerintah.
Keamanan energi bagi Rusia dimana Rusia berusaha memonopoli rute aliran energi dari Laut Kaspia
merupakan perwujudan kepentingan nasional Rusia. Rusia melakukan segala sesuatu untuk
meningkatkan produksi energi untuk revitalisasi ekonomi dan politik 53 , serta telah menggunakan
ekspor energi untuk membangun ikatan dengan konsumen-konsumen besarnya, seperti: Jerman,
Jepang, dan AS. 54 Oleh karena itu, Rusia berusaha mempertahankan monopolinya atas rute
pengangkutan minyak dan gas alam dari Laut Kaspia ke Barat; serta berusaha menggagalkan
pembangunan rute pengangkutan alternatif yang tidak melewati teritori Rusia.55
Kepentingan keamanan energi Cina merupakan tuntutan atas permintaan energi bagi sektor
industrinya yang sedang berkembang. Seperti yang kita ketahui, Cina merupakan negara yang
perekonomiannya sedang berkembang secara progresif, terutama dalam sektor industri. Selain
memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia, Cina juga merupakan tujuan bagi FDI (foreign direct
investement) yang mendorong Cina mengindustrialisasi perekonomiannya. Hal tersebut tentunya
mendorong Cina untuk menitikberatkan perekonomiannya pada sektor industri dan manufaktur
karena kedua sektor tersebut merupakan penyokong terbesar GDP (Gross Domestic Product) yang
termasuk jajaran negara ber-GDP besar di Asia-Pasifik. Industrialisasi bagi negara dapat dipahami
sebagai ’ekspansi ekonomi’ yang dapat mendorong peningkatan konsumsi energi bagi kebutuhan
industri, sehingga dengan begitu Cina demi kepentingan ekonomi nasional didorong untuk
52
Stephen J. Blank, U.S. Military Engagement with Transcaucasia and Central Asia, Strategic Studies Institute Juni
2004.
53
Department of Energy, “Russia”, September 2003.
54
Carole Hoyos dan Sheila McNulty, “Russia”s Position Gains as U.S. Hunts for Oil”, Financial Times, 24 September
2003.
55
Hugh Pope, “Moscow Lures Back Central Asia”, Wall Street Journal, 22 Mei 2000.
menyekuritisasi aksesibilitas Cina terhadap suplai energi. Dengan begitu, faktor jumlah penduduk
dan pertumbuhan sektor industri dalam perekonomian Cina menjadikan Cina sebagai negara
konsumen energi terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat. Hal tersebut juga dapat dipahami
melalui pertumbuhan GDP Cina – GDP merupakan indikator standar hidup. Pertumbuhan
spektakuler GDP Cina mengindikasikan bahwa standar hidup masyarakat Cina secara general
meningkat sehingga memaksa meningkatnya permintaan dan konsumsi energi.
Permintaan energi Cina tumbuh dengan cepat, tetapi produksi energi domestik nya lamban
akibat stagnasi ekonomi yang parah tahun 1990an. Namun, sejak tahun 2000an pertumbuhan
produksi dipercepat akibat adanya peningkatan harga minyak dunia dan perluasan eksplorasi hingga
ke Cina bagian barat dan barat-laut. Pada tahun 2005, Cina memproduksi minyak 3,6 juta barel per
hari, naik dari 2,8 juta barel per hari di tahun 1990 dan 3,2 juta barel per hari di tahun 2000. Cina
bahkan berhasil melampaui Jepang di tahun 2003 sebagai konsumen minyak terbesar di Asia-Pasifik
dan kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Selama dua dekade terakhir (1980-2005),
permintaan minyak tumbuh dengan rata-rata 5,7 persen per tahun, dimana rata-rata pertumbuhan
dipercepat hingga 7,4 persen per tahun sejak 1990an. Pada 2005, jumlah perminataan minyak Cina
mencapai 6,5 juta barel per hari, naik dari 2,3 juta barel per hari pada 1990 dan 4,7 juta barel per hari
pada 2000. Berdasarkan asumsi bahwa pertumbuhan konsumsi minyak Cina rata-rata per tahun
adalah 5,1 persen selama periode 2005-2015, permintaan minyak Cina diproyeksikan mencapai 10,7
juta barel per hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa kendati produksi energi domestik Cina
mengalami peningkatan – tetapi secara moderat – sejak awal 2000, produksi energi tersebut tidak
cukup untuk menutupi permintaan energi Cina akibat tren konsumsi energi yang semakin meningkat.
Proyeksi Produksi, Konsumsi, dan Impor Minyak di Cina, 2000-2025
Pertumbuhan per
2000
2005
2010
2015
2020
2025
tahun, 2001-2025
(persen)
Gross Domestic Product
(milyar dolar 1997)
Populasi (juta)
Konsumsi Energi (triliun
Btu)
1119
1599
2228
2980
3877
4976
6,1
1275
1321
1365
1402
1429
1445
0,5
37,0
43,2
54,6
65,7
77,7
91,0
3,5
3,3
3,5
3,6
3,5
3,5
3,4
0,0
4,8
5,5
7,6
9,2
11,0
12,8
4,0
Produksi minyak
domestik (milyar barel
per hari)
Konsumsi minyak
domestik (milyar barel
per hari)
Impor minyak (milyar
barel per hari)
Presentasi impor minyak
dari total konsumsi
1,5
2,0
4,0
5,7
7,5
9,4
31,3
36,4
52,6
62,0
68,2
73,4
7,6
Sumber: U.S. Department of Energy, Energy Information Administration (DoE/EIA), International Energy Outlook
2004, (Washington, D.C.: DoE/EIA, 2004), tabel A1, A3, A4, A14, D4. Data untuk 2000 dan 2025 dari edisi 2003 dari
referensi tahunan.
Kebijakan Cina atas nama keamanan energi ditunjukkan dalam strateginya yang melibatkan
perusahaan minyak negara untuk membangun ikatan dengan negara-negara Asia Tengah. Pada akhir
1990-an, CNPC berkomitmen sebesar 800 juta dolar AS dalam proyek pembangunan dua ladang
minyak di Kazakhstan, yaitu Aktyubinsk dan Uzen yang memiliki total cadangan minyak sebesar 2,5
milyar barel. Total investasi yang dibutuhkan untuk proyek Aktyubinsk sendiri melebihi 4 milyar
dolar AS. Pada saat bersamaan, CNPC juga mengusahakan proyek pembangunan minyak dan gas di
Azerbaijan dan Turkmenistan, dan paling tidak tiga proyek pipa dengan keterlibatan CNPC di
dalamnya sudah diajukan. Rute pipa terpendek akan mengangkut minyak ke selatan dari Kazakhstan
melalui Turkmenistan ke Iran dan mungkin berlanjut ke Teluk Persia. Dua rute lainnya adalah ke
timur, yaitu: melalui Kazakhstan dan yang lainnya membawa gas dari Turkmenistan ke Cina. Dua
pipa minyak timur (yang berkemungkinan diperpanjang hingga pantai Cina) akan menjadi pekerjaan
yang substansial, dengan total panjang adalah 4000-7000 km dan total biaya adalah 5-10 milyar
dolar AS.56
Keamanan energi Cina juga diwujudkan dengan membangun ikatan-ikatan militer dengan
negara-negara Asis Tengah untuk menghadapi gerakan militan Isalam yang diduga sering membantu
gerakan separatisme di Uighur-Xinjiang, salah satu provinsi Cina yang menuntut kemerdekaan. Hal
tersebut tentunya mengancam keamanan nasional Cina, serta merupakan ancaman terhadap
keamanan energi Cina. Xinjiang merupakan daerah yang kaya energi di Cina bagian barat. Cina
memiliki lima ladang minyak di wilayah tersebut, yaitu Xinjiang, Tarim, Tu-Ha, Qinghai, dan Tahe,
ditakutkan gerakan separatis yang dibantu oleh militan Islam dari Asia Tengah akan merusak
proyek-proyek dan infrastruktur ladang minyak di sana. Karena hal tersebut mengancam aksesibilitas
energi Cina, maka Cina perlu mengamankan supali energi di Cina bagian barat dengan mengadakan
pelatihan dan bantuan militer bersama dengan negara-negara Asia Tengah, terutama yang berbatasan
langsung dengan Cina, guna menghadapi gerakan militan Islam.
Philip Andrews-Speed dan Sergei Vinogradov, “China’s Involvement in Central Asian Petroleum: Convergent or
Divergent Interests?,” Asian Survey, Vol. 40, No.2. (Mar. – Apr., 2000), hal: 389-390.
56
Bab III
Penutup
3.1.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat dirumuskan beberapa hal. Pertama, kawasan Asia Tengah yang
merupakan kawasan yang masih “ranum” dapat diprediksikan sebagai kawasan penting dan kritis
bagi konstelasi politik internasional. Apalagi dengan adanya perhitungan bahwa kawasan tersebut
menyimpan cadangan energi yang sangat besar sehingga memiliki potensi menjadi kawasan baru
yang bermain dalam ekonomi politik energi internasional. Bahkan, diharapkan kawasan tersebut
mampu menggantikan peran kawasan lain, seperti Teluk Persia, sebagai penyuplai energi bagi
negara-negara besar. Dengan begitu, maka negara-negara Asia Tengah akan memiliki “tempat”
dalam strategic outlook negara-negara major power yang memiliki kepentingan di kawasan tersebut.
Oleh karena itu, banyak wacana yang berkembang bahwa Asia Tengah akan menjadi semacam “papa
catur besar” permainan geopolitik antarnegara-negara besar, serta diwacanakan akan terjadi New
Great Game di kawasan tersebut, tentunya, dengan melibatkan interaksi power dan kepentingan
negara-negara besar.
Kedua, geopolitik energi di Asia Tengah melibatkan power dan kepentingan tiga major
powers, yaitu Amerika Serikat (AS), Rusia, dan Cina. AS sebagai superpower dalam sistem
internasional dewasa ini merasa perlu untuk memasukan pertimbangan-pertimbangan strategis dalam
formulasi kebijakan strategic outlook-nya terhadap kawasan Asia Tengah karena kawasan tersebut
memiliki peran kritis bagi keamanan energi AS. Rusia sebagai negara patron dari negara-negara Asia
Tengah memiliki peran kebijakan luar negerinya untuk mempertahankan pengaruhnya – menjadikan
Asia Tengah sebagai sphere of influence – di kawasan demi kepentingan keamanan energi Rusia.
Sedangkan Cina sebagai the rising power merasa perlu melibatkan dirinya dalam geopolitik energi di
Asia Tengah karena permintaan energi dari sektor industrinya yang sedang berkembang.
Ketiga, keterlibatan ketiga major power dalam geopolitik energi di Asia Tengah
menunjukkan bahwa kepentingan keamanan energi tidak dapat dilepaskan dari cara-cara politik.
Keamanan energi yang merujuk adanya jaminan untuk memastikan aksesibilitas terhadap sumber
energi menghendaki dipergunakannya cara-cara politik untuk mengamankan aksesibilitas tersebut.
Geopolitik energi di Asia Tengah telah membuktikan bahwa tujuan menanamkan pengaruh secara
militer di Asia Tengah selain demi kepentingan keamanan nasional adalah demi kepentingan
keamanan energi. Selanjutnya, disadari pula bahwa kepentingan keamanan energi setiap major
power yang bermain dalam geopolitik Asia Tengah adalah berbeda satu sama lain.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
ISEAS, Energy Perspectives on Singapore and the Region. (Pasir Panjang Institute of Southeast
Asian Studies, 2007).
Klare, Michael T. 2001. Resources War.
_____. 2004. Blood and Oil. London: Penguin Books.
Jurnal
Hadiwinata, Bob Sugeng. “Bringing the State Back In: Energy and National Security in
Contemporary International Relations”. Global: Jurnal Politik Internasional, Vol.8 No.2
Mei-November 2006.
Keliat, Makmur. “Kebijakan Keamanan Energi”. Global: Jurnal Politik Internasional, Vol.8 No.2
Mei-November 2006.
Rumer, Eugene. “The U.S. Interests and Role in Central Asia after K2”. The Washington Quarterly,
Summer 2006.
Volman, Daniel. “The Bush Administration and African Oil: The Security Implications of U.S.
Energy Policy”. Review of African Political Economy, Vol. 30, No. 98, Zimbabwe out in the
Cold? Desember 2003.
Walsh, J. Richard. “China and the New Geopolitics of Central Asia”. Asian Survey, Vol. 33, No. 3,
Maret 1993.
Dokumen
Blank, Stephen J. U.S. Military Engagement with Transcaucasia and Central Asia. Strategic Studies
Institute Juni 2004.
China’s Military Power: Shadow over Central Asia. Lexington Institute Agustus 2006.
Jones, Seth G., Olga Oliker, Peter Chalk, C. Christine Fair, Rollie Lal, James Dobbins. Securing
Tyrants or Fostering Reform.
Mahnovski, Sergej, Kamil Akramov, dan Theodore Karasik. Dimensions of Security in Central Asia.
The RAND Corporation 2006.
Oliker, Olga dan A. Slaphak. U.S. Interests in Central Asia: Policy Priorities and Military Roles.
The RAND Corporation 2005.
Internet
Cohen, Arial Ph.D. U.S. Interests and Central Asia Energy Security. 15 November 2006. (diakses
dari pada 3 Desember 2007 pukul 12:16).
Socor, Vladimir. U.S. Military Presence at Risk Central Asia. Jumat, 8 Juli 2005. (diakses dari pada
3 Desember 2007 pukul 13:46).
Download