Bantahan HTI Terhadap Permohonan Pengujian Materiil

advertisement
Bantahan HTI Terhadap Permohonan Pengujian Materiil
UU Tentang Penyalahgunaan Dan/Atau Penodaan Agama
Bantahan Hizbut Tahrir Indonesia
Terhadap Permohonan Pengujian Materiil Undang-undang nomor 1/PNPS/1965 Tentang
Penyalahgunaan Dan/Atau Penodaan Agama oleh Tim Advokasi Kebebasan Beragama
Sebagaimana telah diketahui, Undang-undang nomor 1/PNPS/1965 berisi tentang
Penyalahgunaan Dan/Atau Penodaan Agama. Undang-undang itu kini sedang dimintakan Tim
Advokasi Kebebasan Beragama untuk dicabut.
Jika dicermati, undang-undang itu bagian dari upaya negara untuk melindungi warganya dari
beredar dan tersebarnya penafsiran dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyimpang
terhadap pokok-pokok ajaran agama yang dianut di Indonesia. Juga, dari perbuatan yang bersifat
permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.
Sebagai salah satu agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia, Islam dan umatnya
termasuk di antara yang dilindungi oleh undang-undang itu. Apabila undang-undang itu dicabut
sebagaimana diinginkan penggugat, maka perlindungan terhadap kesucian dan kemurnian Islam
menjadi terancam. Ketika undang-undang ini masih berlaku saja, berbagai penafsiran dan praktik
keagamaan yang menyimpang terus bermunculan, apalagi jika dihapus. Demikian pula dengan
berbagai tindakan yang menjurus pada permusuhan, penyalahgunaan, dan penodaan terhadap
Islam. Maka bisa dipastikan, jika larangan terhadap semua perbuatan itu dicabut, penyimpangan,
dan penodaan terhadap Islam akan semakin marak.
Namun anehnya, dalam materi gugatannya tim penggugat juga menjadikan Islam dan realitas
umat Islam sebagai dasar argumentasinya; sehingga dikesankan bahwa gugatan mereka seolaholah sejalan atau tidak bertentangan dengan Islam. Padahal, setelah dikaji secara cermat dan
mendalam, argumentasi yang digunakan penggugat ternyata banyak mengandung kelemahan,
tidak berdasar, dan tidak sesuai dengan fakta. Bahkan di antara isinya mengandung unsur
provokasi yang bisa menyulut konflik. Beberapa di antaranya adalah:
1.
Dalam materi gugatannya penggugat mengatakan (38a, hal. 19): Seperti dalam Islam,
misalnya yang mengenal banyak aliran keagamaan: Sunni, Syi’ah, Mu’tazilah, Khawarij, dan
seterusnya. Dalam satu aliran dikenal pula beragam mazhab. Setidaknya ada empat mazhab
fikih dalam aliran Sunni: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Pada level teologi, Sunni bahkan
terbagi pula dalam aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah. Begitu juga, penggugat menyatakan
(154, hal. 53): Bahwa keniscayaan tidak tunggalnya pemahaman agama menimbulkan
problematika tentang siapa otoritas yang dipakai untuk menafsirkan bahwa suatu agama telah
dimusuhi, disalahgunakan, atau dinodai. Penggugat juga menegaskan (169, hal. 60): Bahwa
seyogyanya dalam menyikapi perbedaan keyakinan dan/atau agama negara tetap berada di
tengah dengan tidak berpihak pada salah satu ajaran/aliran/tafsir.
Realitas beragamnya kelompok dan madzhab di tengah kehidupan umat Islam ini dijadikan
sebagai dasar argumentasi bahwa pokok-pokok ajaran tidak memiliki ketentuan yang baku.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Memang benar, bahwa di tengah kehidupan umat Islam terdapat banyak madzhab seperti yang
disebutkan oleh penggugat. Namun banyaknya madzhab dan kelompok di dalam Islam tidak
membuat Islam itu kehilangan alat ukur untuk menilai apakah sebuah madzahab atau kelompok
masih berada dalam koridor Islam atau sudah keluar darinya. Alat ukur itu tidak lain adalah alQuran dan al-Sunnah. Sebab, keduanya merupakan sumber utama ajaran Islam, baik dalam
perkara akidah -yang menjadi perkara pokok atau ushûl- maupun syariah -yang disebut sebagai
perkara cabang atau furû’.
Jika dikatakan, bukankah semua kelompok dan madzhab berhak untuk mengklaim bahwa
pendapatnya diambil dari al-Quran dan al-Sunnah, mengapa masih terjadi perbedaan? Bukankah
itu menunjukkan bahwa panafsiran terhadap keduanya bersifat relatif sehingga tidak bisa
menafikan satu sama lain?
Kalau ada yang berpendapat demikian, itu menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui -atau purapura tidak tahu– fakta al-Quran dan al-Sunnah. Sebagai sebuah kalam (perkataan) -kaum liberal
sering menyebutnya sebagai ‘teks’–, al-Quran dan al-Sunnah memang berpotensi menimbulkan
beragam penafsiran. Akan tetapi tidak semua ayat al-Quran dan Hadits Nabi saw bersifat
demikian. Sebab, dalâlah (penunjukan makna) dalam kedua sumber itu ada yang bersifat qath’iy
(tegas dan jelas) sehingga tidak memungkinkan penafsiran lebih dari satu makna; dan ada yang
bersifat zhanniy (samar dan berisi dugaan), yang membuka peluang terjadinya perbedaan.
Realitas inilah yang dinyatakan oleh al-Qur’an surat Ali Imran [3]: 7, bahwa ayat al-Quran
terbagi menjadi dua, yakni: ayat muhkamât dan ayat mutasyâbihât.
Ayat muhkamât adalah ayat yang jelas makna dan penunjukannya, tidak ada kesamaran di
dalamnya,[1] dan hanya mengandung satu makna[2] sehingga tidak menimbulkan perbedaan
penafsiran.[3] Contohnya adalah firman Allah Swt:
﴾ ‫﴿ ٌَ َد ََ ْ َّللاَ ُْ ْ ُل‬
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (QS al-Ikhlash [112]: 1).
Dalâlah atau penunjukan makna ayat ini sangat jelas. Tidak bisa ditafsirkan lain kecuali bahwa
Allah itu hanya satu. Jika ada yang menafsirkan ayat ini bahwa Allah Swt itu ada dua, tiga, atau,
empat, maka dapat dipastikan penafsirannya telah menyimpang dari kandungan ayat ini.
Demikian juga dengan firman Allah Swt:
﴾َ‫َر َْتَال‬
‫﴿الْ بَْ َ ْءََ َّلل ش‬
ْ
ْ َْ ‫َّللةَْح فَاَ ْ َ َّْ إَْ ْ لَ ْا‬
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji
dan suatu jalan yang buruk (QS al-Isra’ [17]: 32).
Berdasarkan ayat ini, zina merupakan perbuatan tercela dan dilarang. Jika ada yang menafsirkan
sebaliknya, misalnya menyatakan bahwa zina merupakan perbuatan yang diperbolehkan, bahkan
perbuatan terpuji dan diperintahkan, jelas merupakan penafsiran yang menyimpang.
Sedangkan ayat mutasyâbihât adalah kebalikan dari ayat muhkamât. Ayat mutasyâbihât adalah
ayat yang maknanya mengandung kesamaran dan multitafsir, sehingga dapat menimbulkan lebih
dari satu kemungkinan makna.[4] Contoh firman Allah Swt:
﴾‫َر‬
ْ ‫﴿ُ َْا‬
ْ ‫ال‬
ْ ‫لِّ َالاَ َُ َّللةسش‬
Atau kalian menyentuh perempuan (QS an Nisaa [4]: 43).
Kata lâmastum di dalam ayat tersebut dipahami oleh sebagian mujtahid dengan makna haqîqiy
(denotatif), yakni menyentuh dalam arti sebenarnya. Sebagaian lainnya, memahami lafadz
tersebut dengan makna majâzi (konotatif), yakni berarti jima’ (bersetubuh).[5]
Pada dalil-dalil yang bersifat zhanniy inilah ladang untuk berijtihad itu terbuka. Karena sifatnya
yang multitafsir, maka perbedaan ijtihad di dalamnya masih dibolehkan, dan ditolelir oleh Islam.
Dalam ranah inilah yang kemudian berkembang menjadi banyak madzhab. Semua madzhab itu,
selama mendasarkan pada dalil-dalil yang mu’tabar, masih terkatagori sebagai al-madzâhib alIslâmiyyah (madzhab Islam). Dalam konteks inilah, sebenarnya perbedaan pendapat tentang
jumlah rakaat shalat Tarawih dan qunut shalat Shubuh itu berada. Anehnya, hal ini justru
dijadikan alasan gugatan oleh penggugat (hal. 23).
Hal yang sama tentu tidak berlaku pada perkara-perkara yang dibangun dari dalil yang bersifat
qath’iy. Karena makna yang ditunjukkan sudah sedemikian jelas, sehingga tidak diperlukan lagi
ada ijtihad di dalamnya. Tidak boleh pula terjadi perbedaan dan perselisihan dalam
memahaminya. Allah Swt melarang sekaligus mengancam orang-orang yang berbeda pendapat
mengenai hal-hal yang ketentuannya sudah jelas (al-bayyinât) di dalam Kitab dan Sunnah
dengan azab yang berat. Allah Swt berfirman:
﴾‫َّللت ْال‬
ْ ِْ‫َر ْاَُاة‬
َ ْ‫َر ََ َُ َّللةَتََْشس‬
ُ ُْ ‫َّ ََْ َُ ْال‬
ُ ٌ﴿
ْ ‫َم بَْ ْءءٌََ َّلل ْاَّلل َلاََُْْ َء َّلل ِّ َم ََْ ََل َِّْ ْا‬
ْ ُ‫َُ ْالْ بْ ََ َ َّلل ْ َة‬
Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah
datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa
yang berat (QS Ali Imran [3]: 105).[6]
Dalam Islam, semua perkara yang menjadi pokok agama (ushûl al-dîn) didasarkan kepada dalil
yang qath’iy ini. Yang tercakup di dalamnya adalah iman kepada Allah Swt, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan al-qadhâ’ wa al-qadar. Maka siapa pun
yang mengingkari perkara itu, seluruhnya atau sebagian, telah keluar dari Islam.
Demikian pula dengan perkara-perkara hukum yang telah diketahui urgensinya dalam Islam
(ma’lumun min ad-din bi ad-dharurah), seperti wajibnya shalat, puasa, zakat, haji, atau
haramnya membunuh, berzina, mencuri, hukuman qishash bagi pembunuh, potong tangan bagi
pencuri, dan sebagainya adalah termasuk perkara yang tidak memerlukan ijtihad.[7] Siapa pun
yang mengingkarinya, maka terjerumus dalam kekufuran.
Dengan demikian, meskipun di tengah umat Islam banyak madzhab dan kelompok bermunculan,
dengan mudah dapat diidentifikasi dan diklasifikasi, apakah sebuah kelompok atau aliran
tersebut masih berada dalam koridor Islam atau sudah darinya. Di dalam Islam telah jelas
perkara apa yang harus sama, dan perkara apa yang diperbolehkan berbeda. Islam juga telah
menetapkan sejumlah pemikiran dasar, baik yang tercakup dalam rukun Islam, rukun iman,
maupun sejumlah pemikiran yang dinyatakan oleh dalil-dalil yang qath’iy. Jika ada kelompok
yang mengklaim sebagai kelompok Islam, tetapi pandangan dan pemikirannya bertentangan
dengan sejumlah pemikiran dasar di atas, maka kelompok tersebut tidak dapat dikatakan sebagai
kelompok Islam.
Bertolak dari sini, maka argumen penggugat yang menyebut bahwa banyak kelompok
menyulitkan penentuan perkara mana yang termasuk dalam pokok-pokok ajaran Islam telah
gugur dan harus ditolak. Begitu juga, sangat jelas bahwa otoritas yang menentukan apakah suatu
agama dimusuhi adalah ajaran agama itu sendiri, dan tentu melalui pemimpin kaum Muslim.
Misalnya, al-Quran secara qath’iy menetapkan bahwa Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul
terakhir, maka Ahmadiyah yang telah menyatakan adanya Nabi lain setelah Nabi Muhammad
jelas-jelas telah menyimpang dari ajaran Islam.
Berdasarkan hal itu, gugatan bahwa Negara harus tidak berpihak pada salah satu
ajaran/aliran/tafsir termasuk ajaran/aliran/tafsir yang menodai Islam menjadi tidak relevan.
Sebab, Negara mestinya harus bertindak menjaga kemurnian agama, khususnya Islam dan
berpihak kepada Islam. Negara juga memberikan kebebasan kepada agama lain untuk tetap
hidup. Baru dalam hal-hal yang furu’ (cabang), Negara boleh memberikan kebebasan kepada
masing-masing orang untuk melaksanakan keyakinannya. Bila ada penodaan terhadap agama
Islam, maka pelakunya harus dihukum oleh Negara.
Adapun penghilangan peran Negara dalam masalah agama ini sesungguhnya merupakan ciri
khas pandangan Liberal, baik di bidang ekonomi maupun agama. Pandangan seperti ini jelas
bertentangan dengan Islam itu sendiri yang justru meniscayakan peranan negara, baik di bidang
agama maupun ekonomi, dan tentu dalam seluruh bidang yang lain. Selain itu, juga bertentangan
dengan konstitusi negara ini.
2. Penggugat memaknai kebebasan beragama (45, hal. 27): Bahwa kebebasan ‘memeluk’ suatu
agama atau keyakinan meliputi pula kebebasan memilih agama atau keyakinan, termasuk hak
untuk berganti agama atau keyakinan dengan agama lainnya atau memeluk pandangan atheistik
….
Pemaknaan seperti ini jelas tidak sesuai dengan asas Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari sini jelas,
bahwa yang dikehendaki oleh penggugat adalah kebebasan apapun, kemunculan aliran atau
agama baru apapun, termasuk kebebasan menjadi atheis. Ini adalah usulan yang akan
menghancurkan sendi-sendiri Negara. Karenanya pandangan seperti ini harus ditolak dan batal.
3.
Dalam materi gugatannya penggugat mengatakan (38a, hal.19): Perbedaan pemikiran
keagaaman dalam Islam tidak hanya menyangkut doktrin pinggiran (furu’iyyah), melainkan juga
masalah yang lebih fundamental (ushuli). Perdebatan antara Sunni dan Mu’tazilah bahkan
mengenai hubungan antara zat Allah dan sifatnya. Mu’tazilah mengatakan bahwa al-Quran itu
makhluk, oleh karenanya tidak kekal. Sementara Sunni menganggapnya kekal dan melekat pada
diri Allah.” Begitu juga, dalam materi gugatannya penggugat menyatakan (144, hal. 51): Ahmad
Bin Hambal (Tahun 241H/855), dipenjara dan disiksa karena rezim saat itu mengambil aliran
Mu’tazilah sebagai aliran keagamaan resmi Negara, hal mana Ahmad bin Hambal dianggap
menyimpang dari doktrin Mu’tazilah. Setelah Negara mengganti aliran keagamaan resmi, maka
saat itu pula Ahmad Bin Hambal dipulihkan dari status penyimpangannya, bahkan diakui
sebagai ulama besar.
Dalam khazanah tsaqâfah Islam memang dikenal istilah ushûl dan istilah furû’. Istilah ushûl aldîn merujuk kepada perkara akidah, sementara istilah furû merujuk kepada perkara syariah.
Telah diungkap di muka, bahwa dalam perkara ushûl al-dîn umat Islam tidak diperbolehkan
berbeda. Terhadap perkara ushûl, manusia diwajibkan meyakininya. Siapa pun yang
mengingkarinya meyebabkan seseorang jatuh pada kekufuran.
Akan tetapi, di dalam perkara pokok itu sendiri terdapat perkara-perkara yang menjadi
cabangnya (far’[un] min amri ushûliy). Tentu ada perbedaan di antara keduanya. Jika perkara
pokok tidak boleh terjadi perbedaan, sementara dalam perkara cabang dari perkara yang
mendasar itu masih memungkinkan terjadi perbedaan. Dalam perkara ushûl, dalil yang
digunakan sebagai dasarnya harus bersifat yang qath’iy, baik tsubût (ketetapannya sebagai dalil)
maupun dalâlah (penunjukan maknanya)-nya. Sementara dalam far’[un] min amri ushûliy
memungkinkan terjadinya perbedaan karena tidak harus dibangun dari dalil yang qath’iy.
Perbedaan dalam perkara inilah yang kemudian melahirkan berbagai madzâhib i’tiqâdiyyah
(madzhab akidah), seperti Ahlussunnah, Muktazilah dan Jabariyah.
Sebagai contoh, Iman kepada adanya malaikat-malaikat Allah Swt merupakan perkara ushûl.
Keimanan ini didasarkan pada dalil yang qath’iy, baik tsubût maupun dalâlah-nya. Sedangkan
perkara nama-nama malaikat beserta tugasnya merupakan pembahasan cabang. Apabila perkara
itu didasarkan kepada dalil yang qath’iy, maka wajib dimani. Seperti mengimani kebaradaan
malaikat Jibril dan Mikail. Maka siapa pun yang mengingkari keberadaannya, telah menyimpang
dan keluar dari Islam. Namun jika keberadaannya didasarkan pada dalil yang bersifat dzanni,
baik tsubût maupun dalâlah-nya, maka pengingkaran terhadapnya tidak mengakibatkan
kekufuran. Misalnya, keberadaan malaikat Munkar dan Nakir. Karena dalil mengenainya tidak
sampai qath’iy, maka kalau ada yang mengingkarinya tidak sampai mengeluarkannya dari Islam.
Demikian juga dengan keimanan pada al-Quran. Bahwa al-Quran adalah kalâmul-Lâh, kitab
yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw, semua isinya benar, di dalamnya tidak
ada penambahan, pengurangan, dan perubahan adalah merupakan perkara yang wajib diimani.
Ini merupakan perkara ushûl. Keimanan terhadapnya didasarkan pada dalil-dalil yang qath’iy.
Maka siapa pun yang mengingkarinya bisa dinyatakan telah dari Islam.
Berbeda halnya dengan pembahasan apakah al-Quran adalah makhluk atau bukan. Ini termasuk
dalam pembahasan perkara cabang. Dalil-dalil yang menjelaskan perkara ini tidak sampai pada
derajat qath’iy. Maka perbedaan pandangan dalam perkara ini tidak sampai mengantarkan
kepada kekufuran. Inilah sesungguhnya yang terjadi dalam kasus perdebatan antara Ahlussunnah
dengan Mu’tazilah. Imam Ahmad, misalnya, sekalipun tidak sependapat dengan penafsiran
Mu’tazilah yang menganggap al-Quran adalah makhluk, namun beliau tidak menyebut pengikut
Mu’tazilah telah keluar dari Islam. Demikian juga sebaliknya.
Kasus dipenjaranya Imam Ahmad bin Hambal juga tidak bisa dijadikan sebagai argumentasi,
karena ini merupakan bentuk kesalahan kebijakan Khalifah saat itu. Sebab, di dalam Islam
seorang Khalifah tidak boleh mengadopsi satu mazhab tertentu, karena negara, dalam pandangan
Islam, bukanlah negara madzhab. Pandangan Imam Ahmad bin Hambal pun bukan merupakan
penyimpangan dari Islam, karena tidak menyangkut pokok akidah. Namun, hal ini berbeda
dengan penyimpangan yang dilakukan Ahmadiyah, misalnya. Sebab, Ahmadiyah, Moshadek,
Lia Eden, dll menyimpang dari pokok-pokok akidah. Karenanya, peristiwa Imam Ahmad bin
Hambal tidak dapat dijadikan argumen untuk memberi justifikasi penyimpangan akidah.
Hizbut Tahrir sendiri berpandangan, perkara ini tidak perlu dibahas, apalagi menjadi bahan
perdebatan berkepanjangan. Alasannya, tema tersebut merupakan perkara ghaib, sementara dalildalil tentangnya tidak sampai pada derajat qath’iy. Maka sikap terbaik adalah mendiamkannya,
tidak menambah dan mengurangi.
Karena itu, contoh-contoh yang digunakan oleh penggugat tidak relevan untuk menggugat
undang-undang yang melarang penafsiran yang menyimpang dari pokok ajaran agama yang
dianut, dan oleh karena harus ditolak.
4. Dalam materi gugatannya penggugat mengatakan bahwa rumusan pokok ajaran agama
berbeda pada tiap kelompok. Untuk melegalisasinya dinyatakan (38a, hal.19): Misalnya apa
yang didefinisikan sebagai ajaran pokok Islam oleh Ahmad bin Naqib al-Misri berbeda dengan
yang didefinisikan oleh Abu Bakar al-Jazairi, Ali al-Tamimi, dan Abd al-‘Aziz bin Abu Allah bin
Baz. (lihat Abdullah Saeed hal. 44-47). Jika al-Misri mengatakan bahwa ada 9 pokok Islam yang
dihukum berat adalah jika: (1) merendahkan di depan sebuah berhala atau objek, seperti
matahari dan bulan; (2) mengeluarkan kata-kata yang berarti ketidakpercayaan, seperti “saya
adalah Allah” atau Allah itu tiga”; (3) menyangkal keberadan Allah, keabadian-Nya tanpa awal
dan akhir, atau untuk menyangkal segala karakteristik di mana ada konsesus seluruh Muslim
terhadap-Nya; (4} Menghina Allah dan rasul-Nya; (5) Bersikap sinis pada nama Allah,
perintahNya, laranganNya, janjiNya, atau ancamanNya; (6) menyangkal ayat al-Quran atau
pun yang disepakati oleh intelektual menjadi bagiannya, atau menambah ayat yang awalnya
tidak ada di dalamnya; (7) meyakini bahwa pembawa pesan Allah atau Nabi adalah pembohong
atau menyangkal mereka dikirim; (8) menyangkal kewajiban yang sudah dikonsesuskan oleh
Muslim seperti shalat, bahkan rakaah dari 1 dari 5 kali shalat wajib; (9) menyangkal
keberadaan malaikat atau jin atau surga.
Sementara itu al-Jazairi mengatakan bahwa ada 5 hal pokok yang dihukum berat: (1) Menghina
Allah atau Nabi atau Malaikat; (2) menyangkal untuk mengakui bahwa Allah adalah Tuhan
yang sebenarnya atau kenabian Nabi atau memegang keyakinan bahwa ada Nabi setelah Nabi
Muhammad; (3) menolak kewajiban Islam (faridah) di mana ada kesepakatan umum seperti
shalat, zakat puasa, naik haji, berlaku baik pada orang tua, atau jihad; (4} yakin bahwa
tindakan pelanggaran hukum seperti adultery, minum alcohol, pencurian pembunuhan, atau
praktek black magic adalah legal; (5) menolak bab, ayat atau surat dari al-Quran.
Kedua definisi di atas dijadikan contoh oleh penggugat untuk memperkuat argumentasinya
bahwa perkara pokok dalam Islam itu berbeda-beda. Padahal, jika dicermati kedua definisi yang
diberikan para ulama itu tidak berbeda, apalagi saling bertentangan. Kalaupun tampak ada
perbedaan, itu hanyalah terletak pada redaksional bahasa, bukan substansial.
Poin 1 yang disebutkan al-Jazairi: (1) Menghina Allah atau Nabi atau Malaikat, tidak berbeda
dengan poin 4 dan 5 yang disebutkan al-Misri: (4) Menghina Allah dan rasul-Nya; (5) Bersikap
sinis pada nama Allah, perintah-Nya, larangan-Nya, janjiNya, atau ancaman-Nya.
Perkara pokok yang dijelaskan oleh keduanya sesungguhnya adalah sama, yakni melakukan
penghinaan atau pelecehan teradap perkara yang disucikan dan wajib diimani.
Demikian juga dengan poin 2 yang didefinisikan al-Jazairi: Menyangkal untuk mengakui bahwa
Allah adalah Tuhan yang sebenarnya atau kenabian Nabi atau memegang keyakinan bahwa ada
Nabi setelah Nabi Muhammad; sejalan dengan poin 2, 3, dan 7 yang disebutkan al-Misri: (2)
mengeluarkan kata-kata yang berarti ketidakpercayaan, seperti “saya adalah Allah” atau Allah
itu tiga”; (3) menyangkal keberadan Allah, keabadian-Nya tanpa awal dan akhir, atau untuk
menyangkal segala karakteristik di mana ada konsesus seluruh Muslim terhadap-Nya; (7)
meyakini bahwa pembawa pesan Allah atau Nabi adalah pembohong atau menyangkal mereka
dikirim.
Perkara pokok yang dijelaskan oleh keduanya sesungguhnya juga sama, yakni penolakan dan
pengingkaran terhadap keimanan kepada Allah Swt dan rasul-Nya. Keimanan Allah Swt di sini
mencakup semua sifat-Nya yang didasarkan pada dalil yang qath’iy, semisal tentang keesaan dan
keabadian Allah Swt. Demikian juga keimanan kepada Nabi-nabi Allah Swt. Keimanan
terhadap mereka membawa konsekuensi bahwa mereka terjaga dari kesalahan, termasuk dari
perbuatan bohong. Tercakup di dalamnya adalah keimanan kepada Nabi Muhammad saw
sebagai seorang Nabi dan Rasul sekaligus sebagai penutupnya. Ini adalah perkara pokok yang
wajib diimani. Maka pengingkaran terhadapnya menyebabkan pelakunya terjatuh dalam
kekufuran.
Poin 4 yang disebutkan al-Jazairi: Yakin bahwa tindakan pelanggaran hukum seperti adultery,
minum alcohol, pencurian pembunuhan, atau praktek black magic adalah legal; sama dengan
poin 8 yang didefinisikan al-Misri: Menyangkal kewajiban yang sudah dikonsesuskan oleh
Muslim seperti shalat, bahkan rakaat dari 1 dari 5 kali shalat wajib.
Perkara pokok yang dikemukakan keduanya sesungguhnya menunjuk kepada perkara yang sama,
yakni mengingkari perkara hukum yang telah disepakati oleh kaum Muslim. Haramnya alkohol,
pencurian, black magic atau sihir adalah perbuatan haram yang didasarkan pada dalil-dalil qath’i,
baik tsubût maupun dalâlah-nya. Demikian pula dengan wajibnya shalat 5 waktu merupakan
perkara yang qath’iy. Tidak ada perbedaan di kalangan kaum Muslim tentang wajibnya. Maka
apabila ada orang yang menyelisihinya, sudah pasti dia keluar dari Islam.
Poin 5 yang disampaikan oleh al-Jazairi: Menolak bab, ayat atau surat dari al-Quran; sama
dengan poin 6 yang disampaikan oleh al-Misri: menyangkal ayat al-Quran atau pun yang
disepakati oleh intelektual menjadi bagiannya, atau menambah ayat yang awalnya tidak ada di
dalamnya.
Kedua penjelasan ini menunjuk kepada satu tindakan yang sama, yakni mengingkari al-Quran
dan kemurniannya, baik seluruhnya maupun sebagian. Termasuk dalam perkara pokok keimanan
adalah keimanan akan kebenaran seluruh isi al-Quran; tidak ada penambahan, pengurangan, atau
perubahan. Maka siapa pun yang mengingkarinya, maka telah mengeluarkannya dari Islam.
Sesungguhnya, kedua penjelasan ulama mengenai perkara pokok yang wajib dihukum berat itu
dapat ditarik benang merah. Bahwa setiap pengingkaran terhadap perkara yang dibangun atas
dalil yang qath’iy (tusbût dan dalâlah), baik dalam perkara ushûl maupun perkara furu’ dapat
mengeluarkan seseorang dari keimanan atau murtad. Demikian juga penghinaan dan pelecehan
terhadap perkara yang disucikan (umûr muqaddasah) dalam Islam. Sementara murtad dalam
pandangan Islam terkatagori sebagai perbuatan kriminal yang hukumannya sangat berat, yakni
hukuman mati.
Jelaslah bahwa definisi perkara pokok yang dijelaskan oleh kedua ulama itu tidak berbeda
sebagaimana anggapan penggugat. Kalaupun tampak ada perbedaan, itu hanya menyangkut
redaksional bahasanya. Oleh karena itu, dengan sendirinya hal ini tidak bisa digunakan sebagai
dasar argumentasi penggugat.
5. Dalam materi gugatannya mengatakan (38b dan c, hal.21, 22): “Bahwa apa yang disebut
penyimpangan tafsir sesungguhnya adalah perbedaan tafsir antara kelompok yang satu dengan
kelompok yang lain, maka kegiatan yang dianggap menyimpang oleh satu kelompok belum tentu
dianggap menyimpang oleh kelompok lainnya.”
Pernyataan penggugat ini jelas berusaha merancukan antara perbedaan (ikhtilâf) dengan
penyimpangan (inhirâf). Padahal, dalam Islam keduanya menunjukan fakta yaang berbeda. Jika
ikhtilâf masih diperbolehkan, sementara inhirâf jelas dilarang, bahkan inhirâf bisa menyebabkan
pelakunya terjerumus dalam kekufuran. Karena itu, kerancuan terhadap keduanya bisa berakibat
sangat fatal. Sebagai contoh, perbedaan antara NU dan Muhammadiyah tentang qunut dan tidak
qunut dalam shalat Subuh adalah masalah ikhtilâf. Ini berbeda dengan perbedaan antara
Ahmadiyah, yang menyatakan ada Nabi setelah Nabi Muhammad, dengan kelompok Islam yang
menyatakan tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad. Pandangan Ahmadiyah ini disebut
inhirâf (penyimpangan), bukan ikhtilâf.
Sebagaimana telah diungkap di depan, dalâlah (penunjukan makna) dalam al-Quran dan Hadits
Nabi saw ada dua macam, yakni: qath’iy dan zhanniy. Firman Allah Swt:
﴾ُْ ‫ُاَ َُ فل‬
‫ََّ ََْ ََ َء َّْ ُ َْا ََْ ََ َء ْ َّللةُْ ْاف ََّ إُْ َ اَ ََ ََم ِّ َم ٌَْ َتد ُْ ََّ َْْ ن‬
َ ‫ْ َِّْ إَْ ْء‬
َ ‫ق‬
َ ‫ال ََم ْاٌْ َل إَْ ْء‬
ْ َ‫ُاَ َُ ََْم إْء‬
َ ‫َ َل إْس‬
﴿‫ََْلِّ الَ َ ْلدَ َّللةسش ََْي‬
Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal
sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang
telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang
yang memegang ikatan nikah (QS al-Baqarah [2]: 237).
Kata al-ladzî bi yadihi uqdat al-nikâh dalam ayat ini memang dapat menimbulkan penafsiran
ganda, yakni suami atau wali perempuan. Sebab, merekalah yang melakukan akad. Jika
ditafsirkan ‘suami’, maka yang dimaksud dengan pemberian maaf suami adalah dengan
memberikan mahar sebesar jumlah yang ditetapkan. Namun jika ditafsirkan ‘wali perempuan’,
maka maksudnya adalah membebaskan suami dari kewajiban membayar mahar.
Berbeda halnya dengan firman Allah Swt:
‫ك‬
ْ‫ْ ْ ِ ْالْ بَْ َسَ ََ َّلل َّللة َََ َ ءْ َر ْ ِ َََ َرِّم ْاا ِّْْلُ َِّ َرِّس‬
ْ ‫لُ ْل َََ ُء ِّ َم َِّ َ ءْ ل ْاةْ َ ُْ َال ْمتَْ َا ََ َُ ْالْ بََ َسَ ََ َّلل َّللة َََ َ ء‬
ْ ِْ‫ف ْؤ َّلل َذْسل ْاَّللة َََْْء ْءد ن َْلَاَََ َرِّسَ َّلل ْاةْ َْ َت ُل َِّ َرِّ ُم ْل َََ ُء ِّ َم َِّ َ ء كُ ْاةْ َ ُْ َال ْمتْ ََ َُ َُاة‬
َ‫َّ َْ َلالَ َّْ ف ْؤ َّللةسََ ْاَّللاَ َْ َلال‬
َّْ ‫ْ ْ ْ با ةُسَس ةْ َُْ َه َُ ََْاْ ُْ َءا‬
َ ‫ْاَََتَْ ش‬
Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya
wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan
janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum
mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun
dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan
dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada
manusia supaya mereka mengambil pelajaran (QS al-Baqarah [2]: 221).
Ayat ini sangat jelas, tidak menimbulkan banyak tafsir bahwa haram bagi laki-laki Mukmin
menikahi wanita Musyrikah, dan wanita Mukminah dinikahi laki-laki Musyrikah. Jika ada yang
berkesimpulan sebaliknya, membolehkan pernikahan tersebut jelas telah melakukan penafsiran
menyimpang.
Jelaslah, menyamakan perbedaan (ikhtilaf) dengan penyimpangan (inhiraf) merupakan kesalahan
serius. Karena itu, argumentasi penggugat dalam hal ini harus ditolak.
6. Dalam materi gugatannya penggugat mengatakan (38c, hal.22): Sebagai ilustrasi, dalam
penafsiran dan keyakinan orang NU, ziarah kubur dan tahlil adalah bagian dari ibadah
(kegiatan keagamaan). Bagi orang Muhammadiyyah atau Wahabi, ziarah adalah bid’ah yang
menimbulkan syirik. Syirik adalah dosa yang tidak diampuni oleh Allah Swt. Karena itu, dalam
penafsiran orang Muhammadiyyah, orang NU telah melakukan penafsiran dan kegiatan yang
menyimpang. Apabila rumusan hukum positif membutuhkan penjatuhan pilihan pada pebafsiran
tertentu, penafsiran Muhammadiyyah misalnya, maka akan ada puluhan juta warga NU yang
dikriminalisasi karena melakukan kegiatan keagamaan yang menyimpang.”
Argumentasi penggugat ini jelas salah dan tidak dapat diterima. Pertama, klaim bahwa ziarah
kubur menurut orang Muhammadiyah dan Wahabi adalah bid’ah menimbulkan syirik, sementara
syirik adalah dosa yang tidak diampuni oleh Allah Swt merupakan kesimpulan gegabah.
Ziarah kubur merupakan perbuatan yang memiliki landasan dalil syar’i. Meskipun Hadits yang
dijadikan dalil bersifat zhanniy, tetapi dari segi penunjukkannya jelas. Rasulullah saw bersabda:
ََ‫ا‬
ْ َ‫ا‬
َ ََ َْ‫ََْ ْه َََاَ ََ َُ ْال َم ْْ َْد َّللةَ َتَ َ إ‬
Sebelumnya aku pernah melarang kalian berziarah kubu, maka (sekarang) berziarahlah (HR
Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan al-Nasa’i dari Abu Buraidah, Ibnu Majah dari Ibnu
Mas’ud, dan Ahmad dari Abu Said al-Khudri).
Muhammadiyyah dan Wahabi juga tidak menganggap ziarah kubur sebagai bid’ah, apalagi
menimbulkan kesyirikan. Dalam buku Mengenal dan Menjadi Muhammadiyah oleh AR
Fakhruddin disebutkan: Ziarah tidaklah hanya pada waktu-waktu tertentu. Setiap waktu boleh,
pagi, siang, sore, semuanya boleh. Tidak harus hari Kamis sore, tidak harus Jum’at sore, tidak
harus bulan Ruwah, Bulan Syawal, 17 Agustus, 20 Mei, 5 Oktober, 10 November dan
sebagainya. Setiap waktu boleh.[8]
Dalam buku itu pun disebutkan adab-adab berziarah kubur. Hanya saja, ada catatan penting yang
diajukan: Berziarah bukan untuk meminta berkah. Bukan untuk meminta pangestu. Tetapi untuk
mengambil percontohan. Banyak orang yang telah meninggal, tetapi tidak banyak diingat-ingat
orang. Sedang orang-orang yang berjasa kepada masyarakat selalu diingat-ingat akan jasanya.
Ziarah bukan untuk mendewa-dewakan, lebih-lebih untuk memper-Tuhan-kan seseorang adalah
bukan pada tempatnya.[9]
Demikian juga dengan Wahabi. Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dalam fatwanya juga
mengatakan bahwa ziarah kubur, baik kuburan para wali maupun kaum Muslim secara umum
dalam rangka untuk mengingat kematian, mendoakan mereka, dan memintakan ampun adalah
perbuatan yang disyariahkan.[10] Tokoh salafi lainnya, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga
menyatakan: Apabila seseorang berziarah kubur dengan tujuan untuk belajar, dzikir, dan
mendoakan mereka sebagaimana doa yang diucapkan Rasulullah saw ketika berziarah, maka ini
merupakan ziarah syari’yyah yang diperintahkan untuk dilakukan, baik laki-laki maupun
perempuan, siang maupun malam.[11]
Memang dalam beberapa rincian tentang masalah ini ada perbedaan-perbedaan. Tetapi, kalau
dikatakan bahwa Wahabi dan Muhammadiyah menganggap ziarah kubur sebagai bid’ah yang
menimbulkan syirik jelas merupakan pembelokan fakta, bahkan biasa dianggap sebagai
provokasi yang dapat menyulut konflik antar kelompok.
Kedua, bahwa undang-undang itu berpotensi menimbulkan kriminalisasi terhadap perbedaan
penafsiran orang NU dan Muhammadiyyah merupakan ilusi dari penggugat. Sepanjang
pemberlakuan Undang-undang nomor 1/PNPS/1965 tidak pernah terdengar terjadinya
kriminalissi itu. Tidak ada orang NU yang dikriminalisasi karena telah melakukan tahlilan dan
ziarah kubur, sebaliknya orang Muhammadiyyah yang tidak melakukan seperti yang dilakukan
orang NU tidak ada yang dikriminalisasi. Sebab, para ulama mengetahui bahwa tahlilan dan
ziarah kubur merupakan perkara dalam ranah ikhtilâf.
Bertolak dari dua alasan ini, maka argumentasi penggugat di atas tidak sesuai dengan fakta dan
harus ditolak.
7. Dalam materi gugatannya penggugat mengatakan (38b, hal.21): Islam pasti adalah
penyimpangan nyata dari agama Kristen yang menganggap Yesus sebagai Tuhan, sementara
Islam hanya menganggap Yesus sebagai Nabi. Jika dirujuk ke dalam sejarah, maka semua
agama sebetulnya muncul sebagai bentuk penyimpangan terhadap doktrin-doktrin agama
tradisional sebelumnya.
Ini jelas merupakan kesimpulan yang gegabah dan mengada-ada. Bahwa akidah Islam
bertentangan dengan agama Nasrani atau Yahudi adalah fakta yang tidak bisa disangkal. Akan
tetapi adanya kontradiksi itu tidak bisa disebut bahwa Islam merupakan sempalan dari agama
Nasrani dan Yahudi. Sebab, sesuatu bisa disebut sebagai sempalan dari yang lain jika keduanya
berasal dari pangkal (agama) yang sama. Dan ini tidak terjadi pada Islam.
Sejak awal, Islam dideklarasi sebagai agama sendiri yang berbeda dengan agama-agama lainnya.
Dalam kehidupannya, Rasulullah saw sama sekali tidak pernah menjadi pemeluk dua agama
tersebut. Beliau juga tidak pernah menjadikan kitab kedua agama itu untuk menjustifikasi
ajarannya, ataupun beliau menafsirkannya secara menyimpang. Bahkan, mereka sedang
menunggu Nabi baru tersebut (Muhammad) sebagaimana tertera dalam kitab mereka. Jika
demikian, dari mana bisa dikatakan Islam merupakan penyimpangan nyata dari agama Kristen
seperti yang dikemukakan penggugat? Bukankah ungkapan tersebut justru hanya akan
menimbulkan perpecahan dan permusuhan antarumat beragama?
Ini tentu berbeda halnya dengan Mirza Ghulam Ahmad. Dia mengaku beragama Islam, namun
ajaran yang disampaikannya nyata-nyata bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, Nabi
Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul terakhir. Tidak ada Nabi dan Rasul sesudah beliau.
Maka, siapa pun dan kelompok mana pun yang mengakui ada nabi lagi, seperti yang dilakukan
oleh Mirza Ghulan Ahmad, telah menyimpang dan keluar dari Islam. Begitu juga dengan Lia
Eden, Ahmad Mosadeq, dkk seperti yang dipersoalkan penggugat, memang nyata-nyata bisa
dianggap telah melakukan penyimpangan dari Islam.
Keberadaan sekte semacam ini bisa disebut sebagai penyimpangan. Keberadaannya juga amat
membahayakan umat Islam. Karena pengikut Ahmadiyyah masih mengaku sebagai Muslim,
sebagian ayat al-Quran dan Hadits Nabi saw juga masih digunakan untuk menjustifikasi
keyakinan mereka dan panduan sebagian ibadah mereka. Simbol-simbol Islam juga masih
mereka gunakan. Namun, sudah banyak diotak-atik di sana sini. Realitas ini jelas akan mengecoh
sebagian umat Islam yang awam sehingga menganggapnya masih sebagai bagian dari Islam.
Bertolak dari kenyataan itu, maka argumentasi penggugat jelas salah dan harus ditolak.
8. Dalam materi gugatannya penggugat mengatakan (143, hal. 51): Contoh: Pada Tahun 763
Masehi Imam Abu Hanifah, pendiri Mazhab Hanafi, serta seluruh pengikutnya telah dituduh
kafir dan murtad. Beliau ditangkap dan dipenjara, disiksa dan diracun hingga meninggal dunia
di penjara. Meskipun demikian, ajaran dan pengikut Mazhab Hanafi, sampai saat ini tetap hidup
dan malah semakin berkembang.”
Sejarah yang diajukan contoh oleh penggugat bertentangan dengan sejarah yang benar. Tidak
ada satu pun buku sejarah yang menceritakan bahwa Abu Hanifah serta seluruh pengikutnya
dituduh kafir dan murtad. Memang benar beliau pernah dipenjara oleh khalifah saat itu, akan
tetapi bukan lantaran dia dituduh kafir. Abu Hanifah dipenjara karena menolak tawaran khalifah
Abu Ja’far al-Manshur sebagai qadhi.
Bisa diduga, pembelokan fakta itu hanya digunakan untuk membenarkan gugatannya. Karena itu,
argumentasi itu harus ditolak.
Secara umum, penggunaan alasan sebagian dalil dalam Islam, realitas umat Islam dan sejarahnya
adalah tidak relevan, tidak sesuai dengan fakta, digunakan tidak pada konteksnya, dan
mengandung unsur provokasi. Karena itu, semua argumentasi penggugat harus ditolak.
9.
Secara umum, Tuntutan penggugat adalah UU no. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan
Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama dinyatakan tidak memiliki kekuatan hukum yang
mengikat dengan segala akibat hukumnya. Dengan kata lain, mereka menghendaki UU tersebut
tidak berlaku.
Artinya, mereka menginginkan bebas melakukan penafsiran seenak perutnya terhadap ajaran
agama (khususnya Islam) dan penyimpangan terhadap ajaran pokok agama (pasal 1),
penyimpangan tersebut tidak dianggap melanggar hukum (pasal 2 dan 3). Selain itu, mereka
ingin bebas melakukan permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap agama, juga bebas
melakukan hal tersebut supaya orang tidak menganut agama apapun juga (Pasal 4).
Intinya, penggugat menginginkan bebasnya bermunculan aliran sesat dan penistaan/penodaan
terhadap ajaran agama (Islam). Hal ini menunjukkan bahwa mereka mendewakan HAM dan
demokrasi. Mereka telah menjadikan HAM dan demokrasi sebagai agama baru. Semakin
banyak aliran sesat muncul maka akan semakin kokoh agama HAM dan demokrasi tersebut. Ini
jelas sikap permusuhan terhadap agama-agama. Karenanya, tidak mengherankan bila penggugat
secara halus menggiring kepada atheisme.
Dalam butir 45 dasar mereka menggugat disebutkan: “Bahwa kebebasan ‘memeluk’ suatu
agama atau keyakinan meliputi pula kebebasan memilih agama atau keyakinan, termasuk hak
untuk berganti agama atau keyakinan dengan agama lainnya atau memeluk pandangan atheistik
….” Karenanya, kalau dulu gerakan ini adalah kelompok sepilis (Sekulerisme, Pluralisme, dan
Liberalisme), kini berkembang menjadi kelompok Sepilis A+, yakni sekulerisme, pluralisme,
liberalisme, atheisme, plus pengokohan penjajahan.
Berdasarkan hal tersebut maka MK sudah seyogyanya menolak permohonan penggugat. Sebab,
bila tidak, dampaknya akan sangat berbahaya:
Pertama, aliran sesat akan bermunculan laksana jamur di musim hujan. Mereka akan merasa
bebas dengan dalih HAM.
Kedua, penghancuran Islam akan terjadi secara terang-terangan dan massif. Sekarang saja
kartun penghina Nabi, tuduhan bahwa Islam melecehkan perempuan, al-Quran kitab kekerasan,
al-Quran kitab paling porno, harus ada amandemen terhadap al-Quran, cerita kutukan terhadap
homoseks kaum Nabi Luth dalam al-Quran adalah cerita bohong, penulisan al-Quran banyak
fiktif, dll terjadi di Indonesia. Bila MK mengabulkan tuntutan kelompok Sepilis A+ ini maka
akan terjadi penodaan terhadap Islam secara bebas tanpa konsekuensi hukum. Hari ini MK
mengabulkannya, besok berbagai penghinaan dan penyerangan terhadap Islam akan bertebaran.
Ketiga, bila ini terjadi maka akan terjadi kekisruhan dan konflik di tengah masyarakat. Stabilitas
akan terkoyak. Umat Islam akan disibukkan dengan persoalan ini. Sementara, penghancuran
akidah dan akhlak terus berlangsung dengan mulus. Yang untung adalah pihak asing penjajah
dan antek-anteknya yang memang sejak awal memusuhi Islam dan kaum Muslim serta tidak
menginginkan Indonesia aman.
Akhirnya kami mengingatkan para hakim MK, bahwa apa yang Anda putuskan akan dimintai
pertanggungjawaban oleh Allah SWT satu per satu:
‫ك‬
﴾ َِّْ‫َّللر َُ َه ََ َُ ْا‬
ْ ‫َم ْاةْْ َل ا ََِاَ ََ ْح إََ ْء‬
ْ َْ‫َّللمك ْ ََْ ْلُْ َ سَْ َ َُ ُْا َْ ِّْءد ْابَْ ْءَ اَ َُ َِّْ ْل ةَسَْ َ َُ ْا‬
ْ ُ‫َر َ َُ َّللة‬
ْ َْ ‫ََْ ْءك ِّْ َْ ََ َُ َا ْء‬
َ‫ُد ْال َس ََ َُ َِّْ َ َس‬
ْ ‫﴿اَ َُ بَْ ََ َال ََ َّْ ْْ ْال ََاَ َُ ََُْ َه َُ إَ ََ َُ َا ْءْ َرَ ةْْ َل بَْ ْ د ْق ََْ َََسْ ََ َُ ْا‬
“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami
ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami
kurniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa`at yang kamu anggap
bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian)
antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu
Allah).” (QS al-An’am [6]: 94)
1 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 2000), 315; Sa’id Hawa,
al-Asâs fî Tafsîr, vol. 2 (Kairo: Dar al-Salam, 1999), 707; al-Qasimi, Mahâsin al-Ta’wîl, vol. 2
(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), 252
2 al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 8-9
3 Wahbah al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr , vol. 3 (Beirut: Dar al-Fikr, 1991), 150
4 al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkam al-Qur’ân, vol. 2, 9; al-Wahidi al-Naysaburi, al-Wasîth fî
Tafsîr al-Qur’ân al-Majîd, vol. 1 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 414
5 Ali Ash-Shabuny, Rawai’ul Bayan Fi Tafsiri Ayat al-Ahkam, Jilid 2: 486-489
6 al-Syafi’i, Ar-Risalah, terj. Ahmadie Toha (Jakarta, Pustakan Firdaus, 1992), 268
7 Ibid, 1052
[8] AR Fakhruddin, Mengenal dan Menjadi Muhammadiyah (Malang: UMM Press, 2005), 41
[9] Ibid, 41
[10] Abdullah bin Biaz, Hukm Ziyârah al0-Qubûr wa Adhrahah, lihat:
http://www.binbaz.org.sa/mat/4112
[11] Ibnu Shalih Utsaimin, http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_743.shtml
Download