- Rifky Peternakan UNIB

advertisement
LAPORAN PRODUKSI HIJAUAN PAKAN
TENTANG
Persiapan Lahan, Penanaman Hijauan, Mengatasi Masalah
Dormansi, Pengenalan Jenis Hijauan Pakan
Dan Produki Biji
Oleh:
Jurusan Peternakan – Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
2016
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Usaha peternakan ruminansia di Indonesia pada saat ini masih mengalami kendala
dan hambatan terutama dalam hal penyediaan pakan hijauan, mengingat semakin
terbatasnya lahan pertanian untuk penanaman hijauan pakan ternak. Keterbatasan lahan
tersebut mengakibatkan para peternak cenderung untuk memanfaatkan limbah dari sektor
pertanian yang pada umumnya memiliki kualitas dan nilai gizi yang rendah.
Usaha pengembangan sub sektor peternakan dapat berpedoman pada segi tiga
produksi peternakan yang meliputi bibit, pakan dan manajemen pemeliharaan. Ketiga
faktor tersebut harus dalam keadaan yang seimbang agar produktifitas yang diperoleh
dapat seoptimal mungkin. Berdasarkan konsep segi tiga produksi peternakan dalam upaya
mendukung peningkatan populasi, maka ketersediaan bahan pakan memegang peranan
penting karena untuk dapat hidup, melakukan produksi dan bereproduksi dengan baik.
Peningkatan produksi ternak khususnya ternak ruminansia akan berhasil dengan
baik jika ketersediaan pakan hijauan sebagai sumber pakan dapat dipenuhi secara kualitas
dan kuantitas dan tersedia secara kontinyu. Hijauan makanan ternak bersumber dari
padang rumput alam atau dengan melakukan penanaman hijauan makanan ternak. Jenis
dan kualitas hijauan dipengaruhi oleh kondisi ekologi dan iklim di suatu wilayah.
Ketersediaan hijauan pakan ternak di Indonesia tidak tersedia sepanjang tahun, dan hal ini
merupakan suatu kendala yang perlu dipecahkan.
Ternak ruminansia sebagai penghasil daging dan susu dengan pakan utamanya
hijauan memiliki kendala dalam penyediaannya disebabkan oleh semakin berkurangnya
lahan/padang penggembalaan dan ketersediaan pakan hijauan sangat dipengaruhi oleh
musim. Musim kemarau jumlahnya kurang dan sebaliknya pada musim hujan melimpah
sehingga ketersediaan tidak kontinyu sepanjang tahun. Kecukupan pakan bagi ternak
yang dipelihara merupakan tantangan yang cukup serius dalam pengembangan
peternakan di Indonesia. Indikasi kekurangan pasokan pakan dan nutrisi ialah masih
rendahnya tingkat produksi ternak yang dihasilkan.
Keterbatasan lahan mengakibatkan para peternak cenderung untuk memanfaatkan
limbah dari sektor pertanian yang pada umumnya memiliki kualitas dan nilai gizi yang
rendah. Limbah pertanian seperti halnya jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah,
daun ubi kayu dan daun ubi jalar dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia
atau ternak potong pada khususnya karena pada saat ini penggunaan hasil samping
produk pertanian belum semuanya dimanfaatkan secara maksimal terlebih lagi digunakan
sebagai bahan pakan hijauan utama. Selain itu hijauan yang berasal dari hasil produk
pertanain merupakan sisa akhir yang tidak digunakan lagi dan untuk mendapatkannya
tidaklah sulit karena selalu tersedia setiap saat karena ketersediaannya selalu merata
sepanjang tahun, selain itu untuk mendapatkannya tidak bersaing dengan manusia.
Pakan untuk ternak ruminansia selama ini diperoleh dan bersumber dari padang
penggembalaan. Padang penggembalaan menyediakan hijauan berupa rumput-rumputan
dan leguminosa sebagai sumber pakan ternak ruminansia. Beberapa tahun terakhir
terdapat kecenderungan menurunnya produktivitas padang penggembalaan sebagai
penyedia pakan akibat terjadinya perubahan fungsi lahan. Lahan yang selama ini sebagai
padang penggembalaan dikonversi menjadi lahan pertanian untuk persawahan,
perkebunan dan pemukiman. Akibatnya padang penggembalaan sebagai basis ekologi
untuk ternak khususnya ternak ruminansia semakin berkurang.
Wilayah
Indonesia
beriklim
tropis,
yang
cukup
berpengaruh
terhadap
produktifitas ternak. Iklim tropis mempengaruhi ketersediaan bahan pakan khususnya
bahan pakan hijauan yang merupakan bahan pakan utama ternak ruminansia. Iklim tropis
umumnya dicirikan dengan melimpahnya bahan pakan hijauan terutama pada saat musim
penghujan sedangkan pada musim kemarau sulit untuk mendapatkan bahan pakan
hijauan. Dengan demikian maka kontinuitas dari bahan pakan menjadi masalah yang
cukup serius dalam melaksanakan suatu usaha peternakan.
Hijauan Makanan Ternak (hmt), adalah merupakan salah satu hal yang sangat
penting bagi dunia peternakan. Tanpa manajemen pakan yang baik, niscaya ternak yang
kita pelihara akan merana, karena makanan yang diberikan ke ternak tidak dapat tersedia
secara tetap. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara yang tepat untuk mengatur agar
supaya hmt yang diperlukan oleh ternak tidak terganggu pengadaannya.
I.2
Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
 Untuk mengetahui bagaimana cara-cara budidaya pakan hijauan dari pengolahan
tanah hingga pemanenan hijauan
 Untuk mengetahui dosis-dosis pupuk yang diberikan pada tanaman hijauan pakan
 Untuk mengetahui produksi hijauan pada suatu luasan lahan tanpa mengukur seluruh
luasan lahan tersebut
 Untuk mengetahui bagaimana cara-cara mempercepat tumbuhnya biji
 Untuk mengetahui macam-macam hijauan yang diberikan kepada ternak
 Untuk mengetahui produksi biji pada suatu pohon hijauan yang dapat digunakan
sebagai bibit yang unggul
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pengolahan lahan adalah
melakukan pembersihan lahan dari tanaman gulma,
memisahkan bibit yang masih dapat digunakan untuk kemudian dilakukan pembalikan tanah
serta pembuatan ulang dan rekondisi galur tanam. Pengolahan tanah lahan pastura dapat
menggunakan alat mesin traktor dan dapat juga menggunakan cara manual yaitudengan cara
menggunakan alat bantu sederhana
cangkul. Menurut Hardjowigeno (1993), tanah
merupakan kumpulan benda alam di permukaan bumi yang mengalami modifikasi atau
bahkan dibuat oleh manusia dari bahan bumi yang mengandung gejala-gejala kehidupan, dan
mampu menopang pertumbuhan tanaman yang didalamnya meliputi horizon-horizon tanah
yang terletak diatas bahan batuan.
Kondisi tanah pada suatu lahan memiliki tingkat kesuburan yang berbeda-beda.
Tingkat kesuburan tersebut dipengaruhi oleh factor-faktor yang mempengaruhi pembentukan
tanah. Faktor-faktor pembentukan tanah, diantaranya yaitu (Hardjowigeno, 1993):
1. Iklim, yang menentukan reaksi-reaksi kimia dan sifat fisis didalam tanah. Iklim memiliki
hubungan dengan kandungan bahan organik.
2. Jasad hidup, yang memegang peranan besar dalam pembentukan tanah yaitu vegetasi
bahwa kondisi lingkungan yang berbeda. Jenis vegetasi mempengaruhi pula jumlah unsur
hara.
3. Bahan induk, dimana perkembangan suatu tanah akan tergantung pula pada jenis bahan
induk yang mementukan sifat-sifat fisis dan kimia dari tanah yang dihasilkan.
4. Topografi, yang mempengaruhi perkembangan pembentukan profil tanah yaitu jumlah
curah terabsorbsi dan penyimpanannya didalam tanah, tingkat perpindahan tanah oleh erosi
dan arah gerakan bahan-bahan dalam suspensi atau larutan dari suatu tempat ketempat lain.
Waktu, jika waktu telah cukup maka tanah yang matang dapat memiliki differensiasi profil
yang mantap. Lama waktu yang dibutuhkan tanah untuk pembentukan horizon-horizon
tergantung pada faktor-faktor lain yang berhubungan seperti iklim, sifat bahan induk,
binatang-binatang dalam tanah dan topografi.
Praktek penggemburan tanah sebelum penanaman telah berlangsung sejak lama.
Dibeberapa daerah penggemburan sangat sulit dilakukan karena kondisi tanah yang tidak
mendukung. Petani telah mengatasi masalah ini dengan menggunakan alat berat. Dibeberapa
daerah yang biaya tenaga kerjanya tidak terlalu tinggi, banyak lahan digemburkan dengan
menggunakan tenaga manusia. Pada saat mesin pengolah tanah belum tersedia, beberapa
kuda digunakan untuk mengolah lahan. Namun selama pengolahan lahan dengan
menggunakan tenaga kuda, luas olahan yang diperoleh masih terlalu kecil, mesin pengolahan
tanah dapat mengolah lahan dalam ukuran yang lebih luas (Burton, 1997)
Menurut Rizaldi (2006) klasifikasi traktor dibedakan menjadi dua macam, yaitu
berdasarkan kegunaan dan jenis roda penggeraknya.
1. Traktor berdasarkan kegunaannya
2. Traktor berdasarkan roda penggeraknya
A. Traktor roda kepyak (crawler tractor)
a. Standard crawler tractor
b. Low ground pressure tractor (LGP)
c. Swam crawler tractor
d. Extra swam crawler tractor
e. Special application crawler traktor
B. Traktor roda karet (ban)
a. Single axle
b. Double axle
Traktor roda dua atau traktor tangan (power tiller/hand tractor) adalah mesin
pertanian yang dapat dipergunakan untuk mengolah tanah dan lain-lain. Pekerjaan pertanian
dengan alat pengolah tanahnya digandengkan/dipasang di bagian belakang mesin
(Hardjosentono dkk, 2000).
Alat ini mempunyai efisiensi tinggi, karena pembalikan dan pemotongan tanah dapat
dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Traktor roda dua merupakan mesin serba guna
karena dapat juga berfungsi sebagai tenaga penggerak untuk alat-alat lain seperti pompa air,
alat prosesing, gandengan (trailer) dan lain-lain (Hardjosentono dkk, 2000).
BAB III
METODELOGI
3.1.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
 Traktor
 Sabit
 Cangkul
 Parang
 Square Sampling 50 cm x 50 cm
 Alat-alat tulis
 Penggaris
 Timbangan
 Gerobak sorong
 Karung
 Termometer
 Gelas kimia
 Erlenmeyer
 Ember
 Terpal
 Tampah
 Tongkat pemukul
 Meteran
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
 Solar
 Kapur
 Pupuk kandang
 Bibit rumput Raja dan rumput Staria
 Luasan lahan
 Berbagai macam hijauan pakan ternak
 Biji Lamtoro, biji flemingia congesta dan biji Indigofera
 Pohon indigofera
 Asam sulfat
 Air panas
 Polybag
 Amplas
3.2 Persiapan Lahan
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam persiapan lahan dan penanaman hijauan adalah
sebagai berikut :
 Membersihkan lahan dari rumput dan gulma yang ada
 Pengolahan lahan dengan cara membajak dengan hand traktor merek quick dan
meratakannya dengan cangkul
 Membersihkan lahan dari akar-akar rumput dan gulma yang tertinggal
 Pembuatan lubang tanam
 Pengapuran tanah pada lubang tanam
 Penyediaan bibit rumput Raja dengan batang dan rumput Setaria dengan sobekan
 Pemupukan dasar dengan pupuk kandang pada lubang tanam
 Penanaman bibit dengan sudut 45o pada rumput Raja dan dengan sudut 90o pada
rumput Setaria
 Penyiraman tanaman pada saat musim kemarau
 Pengamatan tanaman pada setiap hari sabtu setelah penanaman
 Penyiangan rumput yang ada disekitar tanaman
 Pemupukan kedua dengan pupuk kandang pada minggu ke-4
 Pengamatan tetap dilakukan pada setiap hari sabtu
 Pemanenan
ESTIMASI PRODUKSI LAHAN
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam estimasi produksi hijauan pada suatu luasan lahan
adalah sebagai berikut :
 Menentukan luas lahan ang akan diukur estimasi produksinya
 Melemparkan square sampling pada lahan yang akan diukur produksi hijauannya,
pelemparan dilakukan sebanyak lima kali
 Memotong rumput yang terkena luasan square sampling
 Memasukkan potongan rumput tersebut ke dalam kantong plastik, dipisahkan
antara pelemparan satu dengan pelemparan yang lainnya
 Menimbang rumput yang telah diperoleh
MENGATASI DORMANSI
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam mengatasi dormansi biji hijauan adalah sebagai
berikut :
 Menyediakan biji Kaliandra, biji Indigo, biji Turi
 Mengisi polybag dengan tanah yang sudah dicapur dengan pupuk kandang dengan
perbandingan 1 : 1
 Mengamplas biji yang akan ditanam dengan perlakuan abrasi
 Merendam biji ke dalam air panas yang akan ditanam dengan perlakuan air panas
selama 4 menit, kemudian diangkat dan ditiriskan
 Merendam biji ke dalam asam sulfat bagi biji yang akan ditanam dengan
perlakuan asam sulfat selama 2 menit, kemudian disiram dengan air kran dan
tiriskan
PENGENALAN HIJAUAN
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam pengenalan hijauan pakan adalah sebagai berikut
:
 Mengumpulkan hijauan-hijauan pakan ternak yang ada di lahan Peternakan UNIB
 Mengenali hijauan dengan cara melihat secara morfologi kemudian menentukan
nama latin dari hijauan tersebut
 Mencatat data-data yang telah diperoleh
PRODUKSI BIJI
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam produksi biji hijauan adalah sebagai berikut :
 Menandai pohon, pengamatan terhadap polong-polong biji, perubahan warna, di
panen pada biji-biji yang sudah tua
 Timbang biji segar beserta tangkainya, lalu keringkan
 Penghancuran polong, untuk menghancurkan tangkai dan mengeluarkan biji dari
polong
 Bersihkan biji dari kotoran polong yang ada dengan menggunakan tampah
 Menimbang biji yang telah diperoleh
 Menentukan presentase biji
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Persiapan lahan
 Pengolahan Lahan
a. Pengolahan lahan dengan menggunakan traktor.
Tabel . Pengenalan Hijauan Pakan
1. Rumput
 Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
Klasifikasi
Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas
: Commelinidae
Ordo
: Poales
Famili
: Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus
: Pennisetum
Spesies
: Pennisetum purpureum
Rumput gajah merupakan keluarga rumput rumputan (graminae ) yang telah dikenal
manfaatnya sebagai pakan ternak pemamah biak (Ruminansia) yang alamiah di Asia
Tenggara. Rumput ini biasanya dipanen dengan cara membabat seluruh pohonnya lalu
diberikan langsung (cut and carry) sebagai pakan hijauan untuk kerbau dan sapi, atau dapat
juga dijadikan persediaan pakan melalui proses pengawetan pakan hijauan dengan cara silase
dan hay. Selain itu rumput gajah juga bisa dimanfaatkan sebagai mulsa tanah yang baik. Di
Indonesia sendiri, rumput gajah merupakan tanaman hijauan utama pakan ternak. Penanaman
dan introduksi nya dianjurkan oleh banyak pihak.
Deskripsi dan Sifat Rumput Gajah
Nilai pakan rumput gajah dipengaruhi oleh perbandingan (rasio) jumlah daun
terhadap batang dan umurnya. Kandungan nitrogen dari hasil panen yang diadakan secara
teratur berkisar antara 2-4% Protein Kasar (CP; Crude Protein) selalu diatas 7% untuk
varietas Taiwan, semakin tua CP semakin menurun) Pada daun muda nilai ketercernaan
(TDN) diperkirakan mencapai 70%, tetapi angka ini menurun cukup drastis pada usia tua
hingga 55%. Batang-batangnya kurang begitu disukai ternak (karena keras) kecuali yang
masih muda dan mengandung cukup banyak air.
Rumput ini secara umum merupakan tanaman tahunan yang berdiri tegak, berakar
dalam, dan tinggi dengan rimpang yang pendek. Tinggi batang dapat mencapai 2-4 meter
(bahkan mencapai 6-7 meter), dengan diameter batang dapat mencapai lebih dari 3 cm dan
terdiri sampai 20 ruas / buku. Tumbuh berbentuk rumpun dengan lebar rumpun hingga 1
meter. Pelepah daun gundul hingga berbulu pendek; helai daun bergaris dengan dasar yang
lebar, ujungnya runcing.
Rumput gajah merupakan tumbuhan yang memerlukan hari dengan waktu siang yang
pendek, dengan fotoperiode kritis antara 13-12 jam. Namun kelangsungan hidup serbuk sari
sangat kurang sehingga menjadi penyebab utama dari penentuan biji yang lazimnya buruk.
Disamping itu, kecambahnya lemah dan lambat. Oleh karenanya rumput ini secara umum
ditanam dan diperbanyak secara vegetatif. Bila ditanam pada kondisi yang baik, bibit
vegetatif tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ketinggian sampai 2-3 meter dalam waktu
2 bulan.
Rumput gajah ditanam pada lingkungan hawa panas yang lembab, tetapi tahan
terhadap musim panas yang cukup tinggi dan dapat tumbuh dalam keadaan yang tidak
seberapa dingin. Rumput ini juga dapat tumbuh dan beradaptasi pada berbagai macam tanah
meskipun hasilnya akan berbeda. Akan tetapi rumput ini tidak tahan hidup di daerah hujan
yang terus menerus. Secara alamiah rumput ini dapat dijumpai terutama di sepanjang
pinggiran hutan.
Perkembang biakan vegetatif dilakukan baik dengan cara membagi rumpun akar dan
bonggol maupun dengan stek batang (minimal 3 ruas, 2 ruas terbenam di tanah). Hal ini dapat
dilakukan dengan tangan atau dengan peralatan seperti yang dilakukan pada penanaman tebu.
Jarak antar barisan berkisar antara 50 – 200 cm. di daerah yang lebih kering jaraknya lebih
lebar. Jarak dalam barisan bervariasi mulai dari 50 – 100 cm. penanaman yang dicampur
dengan tanaman lain semisal ubi kayu dan pisang sering dilakukan di kebun rumah.
Kandungan nutrien setiap ton bahan kering adalah N:10-30 kg; P:2-3 kg; K:30-50 kg;
Ca:3-6 kg; Mg dan S:2-3 kg. dengan hasil bahan kering tiap tahun 20-40 ton/Ha, karenanya
banyak zat diserap dari tanah. Jika tidak dipupuk hasilnya akan segera menurun drastis dan
gulma akan menyerang. Walaupun rumput gajah jarang ditanam dengan polong-polongan
(legume), namun tetap dapat dikombinasikan dengan baik.
Penyakit yang biasa menyerang yaitu kutu Helminthosporium sacchari. Tindakan yang paling
baik untuk mencegahnya adalah dengan menggunakan kultivar yang tahan penyakit tersebut.
Namun demikian secara umum kami tidak menemukan serangan hama pada rumput gajah
yang ditanam. Kebanyakan hanya merupakan serangan belalang dan ulat yang masih bisa di
tolerir.
Rumput gajah dapat dipanen sepanjang tahun. Biasanya rumput ini diberikan dalam
bentuk segar, tetapi dapat juga diawetkan sebagai silase. Hasil bahan kering setiap tahun
diharapkan berkisar 2 – 10 ton/hektar untuk tanaman yang tidak dipupuk atau dengan pupuk
yang sedikit, tetapi yang menggunakan banyak pupuk N dan P hasilnya berkisar antara 6 – 40
ton/hektar.
Prospek rumput gajah cukup baik bila dilakukan pemupukan yang baik pula. Dengan
memanen pada pertumbuhan yang masih muda atau dengan menggunakan kultivar yang baik
akan mencapai nilai pakan yang tinggi. Keuntungan dari jenis ini adalah kemampuannya
berproduksi, dapat ditanam dalam jumlah besar atau kecil, dan dapat diusahakan secara
mekanis atau juga untuk pertanian/peternakan skala kecil.
 Alang-alang (Imperata cylindrica)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Poales
Famili
: Poaceae
Genus
: Imperata
Spesies
: I. Cylindric
Nama binomial Imperata cylindrica (L.)
Alang-alang atau ilalang ialah sejenis rumput berdaun tajam, yang kerap menjadi
gulma di lahan pertanian. Nama ilmiahnya adalah Imperata cylindrica, dan ditempatkan
dalam anak suku Panicoideae. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bladygrass, cogongrass,
speargrass, silver-spike atau secara umum disebut satintail, mengacu pada malai bunganya
yang berambut putih halus. Orang Belanda menamainya snijgras, karena sisi daunnya yang
tajam melukai.
Rumput menahun dengan tunas panjang dan bersisik, merayap di bawah tanah. Ujung
(pucuk) tunas yang muncul di tanah runcing tajam, serupa ranjau duri. Batang pendek,
menjulang naik ke atas tanah dan berbunga, sebagian kerapkali (merah) keunguan, kerapkali
dengan karangan rambut di bawah buku. Tinggi 0,2 – 1,5 m, di tempat-tempat lain mungkin
lebih.
Helaian daun berbentuk garis (pita panjang) lanset berujung runcing, dengan pangkal
yang menyempit dan berbentuk talang, panjang 12-80 cm, bertepi sangat kasar dan bergerigi
tajam, berambut panjang di pangkalnya, dengan tulang daun yang lebar dan pucat di
tengahnya. Karangan bunga dalam malai, 6-28 cm panjangnya, dengan anak bulir berambut
panjang (putih) 1 cm, sebagai alat melayang bulir buah bila masak.
Alang-alang dapat berbiak dengan cepat, dengan benih-benihnya yang tersebar cepat
bersama angin, atau melalui rimpangnya yang lekas menembus tanah yang gembur.
Berlawanan dengan anggapan umum, alang-alang tidak suka tumbuh di tanah yang miskin,
gersang atau berbatu-batu. Rumput ini senang dengan tanah-tanah yang cukup subur, banyak
disinari matahari sampai agak teduh, dengan kondisi lembab atau kering. Di tanah-tanah yang
becek atau terendam, atau yang senantiasa ternaungi, alang-alang pun tak mau tumbuh.
Gulma ini dengan segera menguasai lahan bekas hutan yang rusak dan terbuka, bekas ladang,
sawah yang mengering, tepi jalan dan lain-lain. Di tempat-tempat semacam itu alang-alang
dapat tumbuh dominan dan menutupi areal yang luas.
Sampai taraf tertentu, kebakaran vegetasi dapat merangsang pertumbuhan alangalang. Pucuk-pucuk ilalang yang tumbuh setelah kebakaran disukai oleh hewan-hewan
pemakan rumput, sehingga lahan-lahan bekas terbakar semacam ini sering digunakan sebagai
tempat untuk berburu.
 Jukut Pahit (Axonopus compressus)
Klasifikasi
Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas
: Commelinidae
Ordo
: Poales
Famili
: Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus
: Axonopus
Spesies
: Axonopus compressus (Sw.) Beauv.
Axonopus compressus adalah rumput yang sering digunakan sebagai permanen
padang rumput, penutup tanah dan gambut dalam kondisi lembab, kesuburan tanah rendah,
terutama dalam situasi teduh.
 Kapuk randu (Ceiba pentandra)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Malvales
Famili
: Malvaceae (Bombacaceae)
Genus
: Ceiba
Spesies
: C. Pentandra
Nama binomial Ceiba pentandra (L.) Gaertn.
Kapuk randu atau kapuk (Ceiba pentandra) adalah pohon tropis yang tergolong
ordo Malvales dan famili Malvaceae (sebelumnya dikelompokkan ke dalam famili terpisah
Bombacaceae), berasal dari bagian utara dari Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia,
dan (untuk varitas C. pentandra var. guineensis) berasal dari sebelah barat Afrika. Kata
"kapuk" atau "kapok" juga digunakan untuk menyebut serat yang dihasilkan dari bijinya.
Pohon ini juga dikenal sebagai kapas Jawa atau kapok Jawa, atau pohon kapas-sutra. Juga
disebut sebagai Ceiba, nama genusnya, yang merupakan simbol suci dalam mitologi bangsa
Maya.
Pohon ini tumbuh hingga setinggi 60-70 m dan dapat memiliki batang pohon yang
cukup besar hingga mencapai diameter 3 m. Pohon ini banyak ditanam di Asia, terutama di
pulau Jawa, Malaysia, Filipina, dan Amerika Selatan. Di Bogor terdapat jalan yang di
sepanjang tepinya dinaungi pohon kapuk. Pada saat buahnya merekah suasana di jalanan
menyerupai hujan salju karena serat kapuk yang putih beterbangan di udara.
Penyebaran dan habitat
Secara alami terdapat pada 160 LU di AS, terus ke Amerika Tengah sam
Amerika Selatan. Biasa terdapat di dataran pesisir sampai di atas 500 m dpl, dengan hujan
tahunan 1000-2500
mm dan suhu dari 20 sampai 270 C. Pionir yang memerlukan cahaya, ditemukan pada hutanhutan basah yang selalu hijau dan menggugurkan daun; juga terdapat di hutan kering dan hutan
tua. Dibudidayakan secara luas di daerah tropis antara 160 LU sampai 160 LS. Dapat tumbuh di
atas berbagai macam tanah, dari tanah berpasir sampai tanah liat berdrainase baik. Menghendaki
tanah aluvial, sedikit asam sampai netral. Dapat hidup pada daerah kering dan temperatur di
bawah nol dalam jangka pendek; peka terhadap kebakaran. Pada saat berbuah, suhu di bawah
150 C dapat merusak.
Kegunaan
Menghasilkan serat yang banyak gunanya, daun untuk makanan ternak minyak bijinya
untuk industri. Pohon sebagai inang lebah madu, pencegahan erosi perlindungan daerah aliran
sungai. Pada agroforestri tumbuh bersama kopi, coklat, di Jawa sebagai penyangga tanaman lada.
Di India untuk sistem tumpang sari. Kayu sangat ringan dengan BJ 0.24 g/cm3. Bila kering
berwarna abu-abu dan kuning bercampur putih. Serat terbungkus, tekstur kasar, tidak mengkilap,
pori tersebar dan berukuran besar. Daya tahan alami tinggi, mudah dikerjakan dan diawetkan.
Digunakan untuk membuat kotak dan peti, kayu lapis, produksi pulp dan kertas.
Diskripsi botani
Pohon tinggi, 25-70 m, diameter 100-300 cm. Batang silindris sampai menggembung.
Tajuk bulat/ bundar, hijau terang, daun terbuka; cabang vertikal dan banyak, condong ke atas;
kulit halus sampai agak retak, abu-abu pucat, dengan lingkaran horisontal, lentisel menonjol
terdapat duriduri
tajam pada bagian batang atas. Daun majemuk menjari, bergantian dan berkerumun di ujung
dahan. Panjang tangkai daun 5-25cm, merah di bagian pangkal, langsing dan tidak berbulu. 5-9
anak daun, panjang 5-20 cm, lebar 1.5-5 cm, lonjong sampai lonjong sungsang, ujung meruncing,
dasar segitiga sungsang terpisah satu sama lain, hijau tua di bagian atas dan hijau muda di bagian
bawah, tidak berbulu. Bunga menggantung majemuk, bergerombol pada ranting; hermaprodit,
keputih-putihan, besar. Kelopak berbentuk lonceng, panjang 1 cm, dengan 5 sampai 10 tonjolan
pendek; mahkota bunga 3-3.5 cm, dengan 5 tonjolan, putih sampai merah muda, tertutup bulu
sutra; benang sari 5, bersatu dalam tiang dasar, lebih panjang dari benangsari; putik dengan bakal
buah menumpang, dekat ujung panjang dan melengkung, kepala putik membesar.
Diskripsi buah dan benih
Buah: keras, menyerupai elips, menggantung, panjang 10-30 cm, lebar 3-6 cm, jarang
pecah di atas pohon. Buah berkotak lima, berisi kapuk abu-abu, terdapat 120-175 butir benih.
Benih: hitam atau coklat tua, terbungkus kapuk. Kandungan minyak 20-25%. Setiap kg
benih terdapat 10,000-45,000 butir tergantung provenan.
Pembungaan dan pembuahan
Penyerbukan dengan burung, kelelawar dan tawon.
Pemanenan buah
Bila buah telah berwarna coklat tua, dapat dipungut dari bawah atau dipetik dari pohon
dengan galah berkait. Setiap pohon menghasilkan 600-900 buah.
Pengolahan dan penanganan
Buah ditaruh di atas ayakan atau kotak kemudian dijemur selama 3-4 jam sehari selama
2-3 hari sampai mekar. Ektraksi dan pembersihan dikerjakan secara manual, dengan cara
mengocok buah pada kantong.
Penyimpanan dan viabilitas
Benih orthodoks. Mengandung minyak yang mudah menguap dan cepat menurun
viabilitasnya. Apabila benih disimpan dengan kadar air 10-12 % dalam kantong plastik tertutup
rapat pada suhu 150 C dapat dipertahankan 5-6 bulan.
Dormansi dan perlakuan pendahuluan
Celupkan pada air mendidih selama 1 menit kemudian rendam pada air dingin selama 24
jam untuk meningkatkan perkecambahan.
Penaburan dan perkecambahan
Benih dapat ditabur langsung pada media pasir atau pada rumahkaca. Benih segar dapat
berkecambah 90-95%. Bila sudah keluar sepasang daun dan panjang anakan 12-15 cm, akar
dipotong dan anakan disapih pada kantong plastik. Siap ditanam 4-6 bulan setelah penaburan
dengan tinggi 30-35 cm. Mudah diperbanyak dengan stek.
 Setaria sphacelata
Rumput setaria mempunyai sistematika sebagai berikut :
Kingdom/Kerajaan
: Plantae
Phylum/Filum
: Spermathophyta
Sub Phylum/Anak Filum
: Angiospermae
Class/Klas
: Monocotyledoneae
Ordo/Bangsa
: Glumifora
Family/Suku
: Gramineae
Sub Famili/Anak Suku
: Paniceae
Genus/Marga
: Setaria
Species/Spesies
: Setaria sphacelata
Setaria adalah jenis rumput berumur panjang, tumbuh tegak, mencapai 2 m
dan membentuk rumpun. Bila kondisi baik satu rumpun bisa mencapai ratusan batang,
pertumbuhan kembali sehabis dilakukan pemotongan sangat cepat.
2. Legum
 Centrosema pubescens
Nama umum : Centro, daerah asal : Amerika Selatan, fungsi tanaman sebagai penutup
tanah, tanaman sela dan pencegah erosi.
Gambaran umumnya adalah tumbuhan menjalar, memanjat dan melilit, batang agak berbulu,
tidak berkayu, berdaun tiga pada setiap tangkai daun, bentuk helai daun oval/agak elips,
bunga relatif besar tersusun dalam tandan, warna bunga ungu terang sampai ungu muda atau
putih.
Persyaratan tumbuh dapat ditanam bersama rumput benggala, molasses dan
kolonjono. Perbanyakan tanaman dengan biji 3 – 5 kg/ha, Sebelum ditanam, biji sebaiknya
direndam air hangat 30 menit dengan produksi benih 300kg/ha.
 Flamingia congesta
Klasifikasi
Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga
Kelas
: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas
: Rosidae
Ordo
: Fabales
Famili
: Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus
: Flemingia Spesies: Flemingia congesta Roxb
Daerah asal: Afrika, fungsi tanaman adalah sebagai tanaman pelindung sementara
pada tanaman coklat, kopi, karet dan pisang, pencegah erosi pada sistem terasering, dapat
menekan alang-alang, dapat mengurangi cacing tanah pada perkebunan nanas, daunnya untuk
obat tradisional, cabang dan daun muda dapat digunakan sebagai sayuran.
Gambaran umumnya adalah tanaman perdu berakar dalam tinggi 1- 4 m, berdaun tiga
seperti jari, batang yang tua berwarna coklat.
Persyaratan tumbuh: dapat tumbuh baik pada ketinggian 0 – 2.000m diatas permukaan
laut, curah hujan 1100 -2850 mm/thn, membutuhkan drainase yang baik dan tidak tergenang
air, tumbuh baik pada tanah liat yang berat
Pengelolaan tanaman: dapat ditanam 10.000 tanaman/ha dengan sistem rotasi pangkas
3 bulan sekali, jarak tanam 90 x 100 cm. Perbanyakan dengan menggunakan biji, setiap
lubang perlu 3 -4 biji. Produksi hijauan12 ton/ha/tahun(interval pemotongan 3 bulan sekali)
Akan tumbuh di tanah yang paling, dengan sangat rendah sampai sedang (dan bahkan
tinggi) kesuburan, dengan pH berkisar 4-8, dan aluminium larut tinggi (80 saturasi%).
Membutuhkan minimum curah hujan sekitar mm, 1.100 dan sampai 3.500 / tahun mm,
toleransi sampai dengan 'musim kemarau bulan 6.
 Arachis pintoi.
Nama umum : Kacang Arachis, Kacang Pinto (Bali), daerah asal : Brazil. Fungsi tanaman
sebagai penutup tanah, “pasture” dibawah tanaman perkebunan, padang penggembalaan
campuran.
Gambaran umum merupakan tanaman tahunan, mirip kacang tanah, perakaran dalam
kuat, akarnya berkembang dengan banyak cabang, lunak dan membentuk lapik tebal sampai
kira-kira 20 cm, tinggi batang 50 cm. Daun terdiri atas 4 lembar, bila ditanam pada daerah
yang disinari cahaya matahari penuh, berwarna hijau pucat, bila ditanam dibawah naungan
berwarna hijau gelap, warna bunga kuning.
Persyaratan tumbuh dapat tumbuh pada tanah liat berpasir dengan pH rendahh,
kesuburan rendah dan mengandung aluminium tinggi, toleransi sedang terhdapa aluminium,
toleransi tinggi terhadap Mn, kurang Toleransi terhadap tanah bergaram. Pengelolaan
terhadap biji yang masih segar mempunyai tingkat dormancy yang tinggi dan dapat dikurangi
dengan mengeringkan antara 35-45 derajat C selama 10 hari. Biji ditanam dengan kedalaman
2-6 cm. Perbanyakannya dapat ditanam dengan biji atau polong (10 -15 kg), dengan stek
batang, dapat ditanam bersama dengan rumput BD, rumput bahia dan kikuyu.
 Legum Leucaena leucocephala
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Fabales
Famili
: Fabaceae
Upafamili
: Mimosoideae
Genus
: Leucaena
Spesies
: L. Leucocephala
Nama binomial Leucaena leucocephala
Lamtoro, petai cina, atau petai selong adalah sejenis perdu dari suku Fabaceae
(=Leguminosae, polong-polongan), yang kerap digunakan dalam penghijauan lahan atau
pencegahan erosi. Berasal dari Amerika tropis, tumbuhan ini sudah ratusan tahun dimasukkan
ke Jawa untuk kepentingan pertanian dan kehutanan[1], dan kemudian menyebar pula ke
pulau-pulau yang lain di Indonesia. Oleh sebab itu agaknya, maka tanaman ini di Malaysia
dinamai petai jawa.
Pohon atau perdu, tinggi hingga 20m; meski kebanyakan hanya sekitar 10 m.
Percabangan rendah, banyak, dengan pepagan kecoklatan atau keabu-abuan, berbintil-bintil
dan berlentisel. Ranting-ranting bulat torak, dengan ujung yang berambut rapat.
Daun majemuk menyirip rangkap, sirip 3-10 pasang, kebanyakan dengan kelenjar
pada poros daun tepat sebelum pangkal sirip terbawah; daun penumpu kecil, segitiga. Anak
daun tiap sirip 5-20 pasang, berhadapan, bentuk garis memanjang, 6-16(-21) mm × 1-2(-5)
mm, dengan ujung runcing dan pangkal miring (tidak sama), permukaannya berambut halus
dan tepinya berjumbai.
Bunga majemuk berupa bongkol bertangkai panjang yang berkumpul dalam malai
berisi 2-6 bongkol; tiap-tiap bongkol tersusun dari 100-180 kuntum bunga, membentuk bola
berwarna putih atau kekuningan berdiameter 12—21 mm, di atas tangkai sepanjang 2—5 cm.
Bunga kecil-kecil, berbilangan 5; tabung kelopak bentuk lonceng bergigi pendek, lk 3 mm;
mahkota bentuk solet, lk. 5 mm, lepas-lepas. Benangsari 10 helai, lk 1 cm, lepas-lepas.
Buah polong bentuk pita lurus, pipih dan tipis, 14-26 cm × 1.5-2 cm, dengan sekatsekat di antara biji, hijau dan akhirnya coklat kering jika masak, memecah sendiri sepanjang
kampuhnya. Berisi 15-30 biji yang terletak melintang dalam polongan, bundar telur terbalik,
coklat tua mengkilap, 6-10 mm × 3-4.5 mm.
Tanah asli lamtoro adalah Meksiko dan Amerika Tengah, di mana tanaman ini tumbuh
menyebar luas. Penjajah Spanyol membawa biji-bijinya dari sana ke Filipina di akhir abad
XVI. dan dari tempat ini mulailah lamtoro menyebar luas ke pelbagai bagian dunia; ditanam
sebagai peneduh tanaman kopi, penghasil kayu bakar, serta sumber pakan ternak yang lekas
tumbuh.
Lamtoro mudah beradaptasi, dan segera saja tanaman ini menjadi liar di berbagai daerah
tropis di Asia dan Afrika; termasuk pula di Indonesia.
Sejak lama lamtoro telah dimanfaatkan sebagai pohon peneduh, pencegah erosi, sumber
kayu bakar dan pakan ternak. Di tanah-tanah yang cukup subur, lamtoro tumbuh dengan
cepat dan dapat mencapai ukuran dewasanya (tinggi 13-18 m) dalam waktu 3 sampai 5 tahun.
Tegakan yang padat (lebih dari 5000 pohon/ha) mampu menghasilkan riap kayu sebesar 20
hingga 60 m³ perhektare pertahun. Pohon yang ditanam sendirian dapat tumbuh mencapai
gemang 50 cm.
Lamtoro adalah salah satu jenis polong-polongan serbaguna yang paling banyak
ditanam dalam pola pertanaman campuran (wanatani). Pohon ini sering ditanam dalam jalurjalur berjarak 3—10 m, di antara larikan-larikan tanaman pokok. Kegunaan lainnya adalah
sebagai pagar hidup, sekat api, penahan angin, jalur hijau, rambatan hidup bagi tanamantanaman yang melilit seperti lada, panili, markisa dan gadung, serta pohon penaung di
perkebunan kopi dan kakao. Di hutan-hutan tanaman jati yang dikelola Perhutani di Jawa,
lamtoro kerap ditanam sebagai tanaman sela untuk mengendalikan hanyutan tanah (erosi) dan
meningkatkan kesuburan tanah. Perakaran lamtoro memiliki nodul-nodul akar tempat
mengikat nitrogen.
Lamtoro terutama disukai sebagai penghasil kayu api. Kayu lamtoro memiliki nilai
kalori sebesar 19.250 kJ/kg, terbakar dengan lambat serta menghasilkan sedikit asap dan abu.
Arang kayu lamtoro berkualitas sangat baik, dengan nilai kalori 48.400 kJ/kg.
Kayunya termasuk padat untuk ukuran pohon yang lekas tumbuh (kepadatan 500 600 kg/m³) dan kadar air kayu basah antara 30—50%, bergantung pada umurnya. Lamtoro
cukup mudah dikeringkan dengan hasil yang baik, dan mudah dikerjakan. Sayangnya kayu
ini jarang yang memiliki ukuran besar; batang bebas cabang umumnya pendek dan banyak
mata kayu, karena pohon ini banyak bercabang-cabang. Kayu terasnya berwarna coklat
kemerahan atau keemasan, bertekstur sedang, cukup keras dan kuat sebagai kayu perkakas,
mebel, tiang atau penutup lantai. Kayu lamtoro tidak tahan serangan rayap dan agak lekas
membusuk apabila digunakan di luar ruangan, akan tetapi mudah menyerap bahan pengawet.
Lamtoro juga merupakan penghasil pulp (bubur kayu) yang baik, yang cocok untuk
produksi kertas atau rayon. Kayunya menghasilkan 50 - 52% pulp, dengan kadar lignin
rendah dan serat kayu sepanjang 1,1 - 1,3 mm. Kualitas kertas yang didapat termasuk baik.
Daun-daun dan ranting muda lamtoro merupakan pakan ternak dan sumber protein
yang baik, khususnya bagi ruminansia. Daun-daun ini memiliki tingkat ketercernaan 60
hingga 70% pada ruminansia, tertinggi di antara jenis-jenis polong-polongan dan hijauan
pakan ternak tropis lainnya. Lamtoro yang ditanam cukup rapat dan dikelola dengan baik
dapat menghasilkan hijauan dalam jumlah yang tinggi. Namun pertanaman campuran lamtoro
(jarak tanam 5 - 8 m) dengan rumput yang ditanam di antaranya, akan memberikan hasil
paling ekonomis.
Ternak sapi dan kambing menghasilkan pertambahan bobot yang baik dengan komposisi
hijauan pakan berupa campuran rumput dan 20 - 30% lamtoro. Meskipun semua ternak
menyukai lamtoro, akan tetapi kandungan yang tinggi dari mimosin dapat menyebabkan
kerontokan rambut pada ternak non-ruminansia. Mimosin, sejenis asam amino, terkandung
pada daun-daun dan biji lamtoro hingga sebesar 4% berat kering. Pada ruminansia, mimosin
ini diuraikan di dalam lambungnya oleh sejenis bakteria, Synergistes jonesii. Pemanasan dan
pemberian garam besi-belerang pun dapat mengurangi toksisitas mimosin. Berbunga
sepanjang tahun, lamtoro menyediakan pakan yang baik bagi lebah madu, sehingga cocok
untuk mendukung apikultur.
Lamtoro menyukai iklim tropis yang hangat (suhu harian 25-30 °C); ketinggian di
atas 1000 m dpl. dapat menghambat pertumbuhannya. Tanaman ini cukup tahan kekeringan,
tumbuh baik di wilayah dengan kisaran curah hujan antara 650 - 3.000 mm (optimal 800 1.500 mm) pertahun; akan tetapi termasuk tidak tahan penggenangan.
Tanaman lamtoro mudah diperbanyak dengan biji dan dengan pemindahan anakan.
Saking mudahnya tumbuh, di banyak tempat lamtoro seringkali merajalela menjadi gulma.
Tanaman ini pun mudah trubus; setelah dipangkas, ditebang atau dibakar, tunas-tunasnya
akan tumbuh kembali dalam jumlah banyak.
Tidak banyak hama yang menyerang tanaman ini, akan tetapi lamtoro teristimewa
rentan terhadap serangan hama kutu loncat (Heteropsylla cubana). Serangan hama ini di
Indonesia di akhir tahun 1980an, telah mengakibatkan habisnya jenis lamtoro ‘lokal’ di
banyak tempat. Dapat tumbuh di daerah gersang atau daerah kurang subur.
Manfaat :
1. Daun segar digunakan sebagai pakan ternak.
2. Kayunya sering digunakan sebagai sumber energi (kayu bakar).
3. Buah berupa polong (petai cina) yang dapat dimakanLamtoro Gung adalah satu dari
10 varietas lamtoro yang pertumbuhannya paling cepat, dan cocok dipakai sebagai
tanaman penghijauan yang multi guna.
Gambaran umumnya berbentuk pohon, dapat mencapai tinggi lebih dari 10 m, dengan
diameter batang ± 20 cm, pada musim kemarau daun-daun akan gugur dan apabila air cukup
tersedia akan tumbuh kembali, berakar dalam dan pada akar serabut kecil dekat permukaan
tanah terdapat bintil – bintil akar yang berisi bakteri (rizobium) yang mampu mengikat
nitrogen dan udara sebagai zat makanan yang sekaligus dapat menyuburkan tanah, berbunga
dan berbuah sepanjang tahun dengan warna bunga putih kekuningan berbentuk bola.
Persyaratan tumbuh yang baik pada ketinggian 0 – 700 m diatas permukaan laut,
menghendaki drainase yang baik, pertumbuhan waktunya lambat, sampai umur 6 minggu
tingginya hanya 30 cm, setelah itu pertumbuhannya cepat dan pada saat umur 6 bulan
tingginya mencapai 2 m, dapat tumbuh pada tanah yang kurang subur, kurang tahan terhadap
tanah asam, dan dapat tumbuh pada struktur tanah sedang sampai berat.
Pengelolaan tanaman: Pada awal penanaman perlu perawatan yang intensif,
pemangkasan pertama dapat dilkukan setelah tanaman mencapai tinggi 1,5 – 2 m dan
pemangkasan berikutnya setiap 4 bulan, tinggi pemangkasan 0 -1 m dari permukaan tanah.
Perbanyakan dengan menggunakan biji (1-2kg/ha), karena biji lamtoro masih cukup
keras, maka untuk mempercepat perkecambahan, perlu perlakuan khusus (baik direndam air
panas, dikikir ataupun dengan cara kimia yaitu menggunakan asam sulfat pekat), biji ditanam
sedalam 2- 3 cm, kemudian ditutup dengan tanah. Jika penanaman dilakukan dengan
persemaian, maka semaikan dengan menggunakan kantong-kantong plastik yang isinya
campuran tanah dan pupuk. Produksi benih : 300 kg biji/ha, dan produksi hijauan : 1-1,5
kg/pohon (setiap 4 bulan).
 LCC (Calopogonium mucunoides)
Spesies : Calopogonium mucunoides Desv Nama Inggris : Calopo Nama
Indonesia : Kalopogonium Nama Lokal : (Indonesia), kacang asu (Jawa) Deskripsi : Terna
yang tumbuh cepat, dengan menjalar, membelit atau melata. Panjang hingga beberapa meter,
membentuk sekumpulan daun yang tak beraturan dengan ketebalan 30-50 cm, dengan batang
padat berrambut-rambut. Berdaun tiga, panjang tangkai daun hingga 16 cm. Daun berbentuk
menjorong, membundar telur atau mengetupat-membundar telur, bagian lateral menyerong,
kedua permukaan menggundul. Bunga tandan lampai, panjang hingga 20 cm, bunga dalam
fasikulum berjumlah 2-6, berwarna biru atau ungu. Polong memita-melonjong, lurus atau
melengkung, dengan rambut coklat kemerahan diantara biji, biji berjumlah 3-8. Biji
berbentuk persegi padat dengan panjang 2-3 mm, berwarna kekuningan atau coklat
kemerahan. Distribusi/Penyebaran : Kalopogonium berasal dari Amerika tropis dan Hindia
Barat. Kacang ini telah diperkenalkan ke Asia dan Afrika tropis pada awal tahun 1900 dan ke
Australia pada tahun 1930. Kalopogonium telah digunakan sebagai pupuk hijau dan tutup
tanaman di Sumatra pad tahun 1922 dan kemudian di perkebunan karet dan perkebunan serat
karung di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kalopogonium di Indonesa ternaturalisasi dan telah
tersebar ke seluruh daerah tropis.
Habitat : Kalopogonium dapat tumbuh mulai dari pantai hingga ketinggian 2000 m,
tetapi dapat beradaptasi dengan baik pada ketinggian 300-1500 m. Kacang ini cocok pada
iklim tropis lembab dengan curah hujan tahunan lebih dari 1250 mm. Kacang ini tahan
terhadap kekeringan tapi mungkin akan mati pada musim kering yang lama. Dapat tumbuh
dengan cepat pada semua tekstur tanah, walaupun dengan pH rendah antara 4.5-5. Cara
tumbuhnya dengan membelit, membuat calopogonium mampu beradaptasi dengan baik pada
beragam kondisi ekologi. Kalopogonium tidak dapat beradaptasi dengan adanya naungan
yang ditunjukkan dengan adanya penurunan pertumbuhan pucuk, akar dan pembentukan
bintil akar dengan turunnya intensitas cahaya. Hal ini mungkin disebabkan karena daun-daun
calopogonium tidak memiliki plastisitas di bawah keteduhan dibandingkan dengan lain
tanaman-tanaman yang toleran terhadap keteduhan seperti Centrosema pubescens dan
Desmodium heterocarpon subsp. heterocarpon var. ovalifolium. Di bawah intensitas cahaya
rendah(< 20%) daun-daun calopogonium akan mengurangi ukurannya sekitar 70%
dibandingkan dengan daun-daun yang berada dalam cahaya matahari penuh .
Perbanyakan : Perbanyakan calopogonium secara normal disebarkan oleh biji. Biji
ditaburkan pada 1-3 kg/ha, pada umumnya ditaburkan dalam lubang berderet atau disebar
bebas untuk produksi makanan hewan. Setelah biji ditebarkan, bubungan harus digulung
untuk meningkatkan kestabilan. Biji yang baru dipanen pada umumnya mempunyai tingkat
perkecambahan tinggi (> 75%). Sebagai konsekwensi, direkomendasikan scarifikasi mekanis,
direndam dalam cuka belerang pekat selama 30 menit, atau direndam dalam air panas ( 75°C)
selama 3 menit. Walaupun batang calopogonium dapat berakar pada setiap bukunya,
biasanya stek yang ditanam tidak dapat bertahan. Benih pada umumnya tidak diinokulasi,
jenis ini akan membentuk bintil akar sembarangan dengan rhizobia setempat. Jika diberikan
inoculan maka digunakan galur rhizobium dari kacang tunggak seperti CB 756 Australia.
Ketika ditanam sebagai penutup tanaman dalam perkebunan, calopogonium pada umumnya
ditaburkan dalam campuran dengan kacang polong lain seperti Centrosema pubescens, dan
Pueraria phaseoloides dengan 1-3 kg/ha calopogonium dalam total campuran 12-15 kg/ha
benih yang ditaburkan. Ketika ditaburkan untuk produksi makanan hewan, calopogonium
telah sukses bercampur dengan rumput berstolon, seperti rumput tetes tebu ( Melinis
minutiflora) dan rumput Rhodes (Chloris gayana), dan dengan rumput tussock seperti setaria
( Setaria sphacelata).
Manfaat tumbuhan : Calopogonium dikenal baik sebagai satu jenis kacang polong
pelopor yang berharga untuk melindungi permukaan lahan, mengurangi temperatur lahan,
memperbaiki kandungan nitrogen, meningkatkan kesuburan lahan dan mengendalikan
pertumbuhan rumput liar. Tanaman ini merupakan satu tanaman penutup panen yang penting
untuk tanaman perkebunan, terutama karet dan kelapa sawit, di mana tanaman ini sering
ditanam bersama dengan centro (Centrosema pubescens) dan kacang ruji (Pueraria
phaseoloides). Calopogonium adalah juga digunakan sebagai suatu pupuk hijau untuk
peningkatan kualitas lahan. Biasanya ditanam untuk makanan hewan, digunakan terutama
sepanjang di akhir musim kering. Sumber Prosea : 4: Forages p.72-74 (author(s): Chen, CP;
Aminah, A) Kategori : Kacang-kacangan
 Gamal (Gliricideae maculata)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi:
Magnoliophyta
Kelas:
Magnoliopsida
Ordo:
Fabales
Famili:
Fabaceae
Upafamili: Faboideae
Genus:
Gliricidia
Spesies:
G. maculata
Nama binomial Gliricidia maculata
Pedoman Teknis
a. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan stek batang atau biji, (biji disarankan untuk perakaran
yang dalam). Stek batang yang baik berasal dari batang bawah, dan tengah yang telah
berumur lebih dari 12 bulan. Diameter stek 3-5 cm dan panjang stek 50 cm. Stek
terlebih dahulu disemaikan dalam kantong plastik. Setelah bertunas 15-20 cm
tingginya (berumur 2-3 bulan) dapat ditanam langsung di lapangan. Jarak tanam
dengan jarak antara barisan 1-2 m. Waktu tanam dianjurkan pada awal musim hujan.
b. Panen
Pemotongan pertama pohon gamal dianjurkan setelah tanaman berumur 1 tahun.
Selang waktu atau interval pemotongan selanjutnya setiap 3 bulan sekali. Rata-rata
produksi hijauan segar berkisar 2-5 kg per potong per pohon.
c. Pemupukan
Pemberian pupuk kandang atau pupuk buatan seperti pupuk P sebanyak 35-40 kg per
hektar per tahun.
d. Pemberian pada ternak
Untuk pertama kali, ternak umumnya menolak akan tetapi setelah dibiasakan (dengan
cara pemberian bertahap) maka berikan gamal dalam bentuk layu.
e. Banyaknya pemberian daun gamal
Pemberian daun gamal secara bebas sebagai tambahan pakan dasar rumput.
Pemberian gamal baik bagi pertumbuhan ternak ruminansia.
Gamal (Gliricidia maculata) adalah nama sejenis perdu dari kerabat polong-polongan
(suku Fabaceae alias Leguminosae). Sering digunakan sebagai pagar hidup atau peneduh,
perdu atau pohon kecil ini merupakan salah satu jenis leguminosa multiguna yang terpenting
setelah lamtoro (Leucaena leucocephala). Perdu atau pohon kecil, biasanya bercabang
banyak, tinggi 2–15m dan gemang (besar batang) 15-30 cm. Pepagan coklat keabu-abuan
hingga keputih-putihan, kadang kala beralur dalam pada batang yang tua. Menggugurkan
daun di musim kemarau.
Daun majemuk menyirip ganjil, panjang 15-30 cm; ketika muda dengan rambutrambut halus seperti beledu. Anak daun 7–17 (-25) pasang yang terletak berhadapan atau
hampir berhadapan, bentuk jorong atau lanset, 3-6 cm × 1.5-3 cm, dengan ujung runcing dan
pangkal membulat.[3] Helaian anak daun gundul, tipis, hijau di atas dan keputih-putihan di sisi
bawahnya.
Karangan bunga berupa malai berisi 25-50 kuntum, 5-12 cm panjangnya. Bunga
berkelopak 5, hijau terang, dengan mahkota bunga putih ungu dan 10 helai benangsari yang
berwarna putih.[3] Umumnya bunga muncul di akhir musim kemarau, tatkala pohon tak
berdaun. Buah polong berbiji 3-8 butir, pipih memanjang, 10-15 cm × 1.5-2 cm, hijau kuning
dan akhirnya coklat kehitaman, memecah ketika masak dan kering, melontarkan biji-bijinya
hingga sejauh 25 m dari pohon induknya
Gamal terutama ditanam sebagai pagar hidup, peneduh tanaman, atau sebagai
rambatan untuk vanili dan lada. Perakaran gamal merupakan penambat nitrogen yang baik.
Tanaman ini berfungsi pula sebagai pengendali erosi dan gulma terutama alang-alang.
Namanya dalam bahasa Indonesia, gamal, merupakan akronim dari: ganyang mati alangalang. Bunga-bunga gamal merupakan pakan lebah yang baik, dan dapat pula dimakan
setelah dimasak.
Daun-daun gamal mengandung banyak protein dan mudah dicernakan, sehingga
cocok untuk pakan ternak, khususnya ruminansia. Daun-daun dan rantingnya yang hijau juga
dimanfaatkan sebagai mulsa atau pupuk hijau untuk memperbaiki kesuburan tanah.
Gamal merupakan sumber kayu api yang baik; terbakar perlahan dan menghasilkan
sedikit asap, kayu gamal memiliki nilai kalori sekitar 4900 kcal/kg. Kayu terasnya awet dan
tahan rayap, dengan BJ antara 0,5- 0,8, kayu ini baik untuk membuat perabot rumah tangga,
mebel, konstruksi bangunan, dan lain-lain.
Daun-daun, biji dan kulit batang gamal mengandung zat yang bersifat racun bagi
manusia dan ternak, kecuali ruminansia. Dalam jumlah kecil, ekstrak bahan-bahan itu
digunakan sebagai obat bagi berbagai penyakit kulit, rematik, sakit kepala, batuk, dan lukaluka tertentu. Ramuan bahan-bahan itu digunakan pula sebagai pestisida dan rodentisida
alami (gliricidia berasal dari bahasa Latin yang berarti kurang lebih racun tikus).
Habitat asli gamal adalah hutan gugur daun tropika, di lembah dan lereng-lereng
bukit, sering di daerah bekas tebangan dan belukar. Pada elevasi 0-1600 m dpl. Gamal bisa
diperbanyak dengan biji. Biji-biji itu, khususnya yang segar (baru), dapat ditanam tanpa
perlakuan pendahuluan, langsung di lahan atau di persemaian.
Cara lain ialah dengan menanam stek batangnya, panjang maupun pendek. Stek
panjang sepanjang 1–2,5 m dan dengan diameter 6–10 cm, diruncingkan kedua ujungnya dan
digores-gores potongan sebelah bawahnya untuk merangsang tumbuhnya akar. Stek panjang
ditanam sedalam lk 50 cm agar kuat. Stek pendek 30 – 50 cm panjangnya dan diperlakukan
serupa dengan stek panjang. Stek pendek ditanam lebih kurang sepertiganya dalam tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Ismail, Inu G. Suryatna Effendi. 1986. Pertanaman Kedelai Pada Lahan Kering.
Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor.
Download