isi semua - Fakultas Ilmu Komunikasi

advertisement
PROBLEM SOSIAL DALAM PENYIARAN INDONESIA
Drs. Redi Panuju, MSi
(Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi – Universitas Dr. Soetomo)
PENDAHULUAN
UU No.32 tahun 2002 tentang penyiaran didorong oleh euphoria politik yang
waktu itu mewarnai issu issu politik di tanah air. Semangat reformasi pasca jatuhnya
regim Orde Baru pada Mei 1998 masih berlanjut dalam proses politik. Hampir semua
Undang undang yang lahir pada kurun waktu 1999 sampai dengan 2002 dipenuhi
nuansah keberpihakan pada demokrasi dan hak asasi manusia. Misalnya, UU no 5 tahun
1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; UU No.8
tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen; UU No.39 tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia; UU No. 40 tentang Pers; dan UU No.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta.
Nuansa Undang undang tersebut di atas sangat berpihak kepada kepentingan rakyat.
Seperti, perlindungan hak asasi, kebebasan informasi (pers), persaingan usaha
(melindungi usaha kecil dan menengah), serta memberi akses bagi masyarakat untuk
ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan (decision making). Termasuk juga UU
No 32 tahun 2002 ini peran Negara dalam mengatur sistem penyiaran Indonesia
dilaksanakan secara demokratis. Pertama, Negara memberi kewenangan kepada Komisi
Penyiaran Indonesia (KPI) untuk menata pemakaian frekwensi yang dipergunakan
memancar luaskan siaran radio dan televisi. Kedua, KPI diberi kewenangan untuk
mengontrol isi siaran (content) dan memberi sanksi tertentu kepada lembaga penyiaran
yang melanggar PPP (Pedoman Program Penyiaran) dan SPS (Siaran Program Siaran).
Melalui pemindahan kewenangan Negara kepada lembaga independen ini diharapkan
system penyiaran akan terbentuk berdasarkan aspirasi masyarakat, karena itu anggota
KPI/KPID (Daerah) dipilih oleh DPR/DPRD yang diasumsikan mewakili masyarakat.
Selanjutnya melalui kontrol dari KPI/KPID, isi siaran dapat dikendalikan dari muatan
muatan pornografi, kekerasan, pelecehan pada anak dan perempuan, serta diskriminasi
pada kelompok minoritas.
Namun kenyataannya, cita cita mulia dari undang undang tersebut tidak terwujud
dengan baik. Dalam implementasi kebijakannya justru banyak yang menyimpang.
Semula penulis sangat yakin bahwa penyimpangan penyimpangan tersebut terjadi pada
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
1
konteks fenomena kekuasaan, yakni upaya terik menarik kepentingan dalam
pembentukan opini publik antara steakholder yang ada. Karena itu penulis menulis buku
“Relasi Kuasa, Pertarungan Memperebutkan Opini Publik antara Negara-Media-dan
Masyarakat” 1
Waktu itu penulis sangat dipengaruhi oleh teorinya Michel Faucollt tentang
“Relasi Kuasa” di bidang informasi (pengetahuan), dan terorinya Jargen Habermas
tentang ruang public (public sphere).
Setelah penulis mengikuti perkuliahan Prof. Dr. I Made Weni, SH, MS, pikiran
penulis terbuka bahwa gejala disfungsional dalam kebijakan di bidang penyiaran
tersebut sangat lebih menarik bila didekati dengan menggunakan “teori dalam paradigm
fakta sosial”, karena problem problem implementasi kebijakan penyiaran akan terkuak
secara holistik.
LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam pandangan teori yang ada dalam paradigma “fakta sosial” terdapat 4
katagori teori sosial, yakni : 1. Teori Struktur fungsional, 2. Teori konflik, 3. Teori
system, dan 4. Teori Makro.2
Gejala disfungsional dalam system penyiaran Indonesia (dalam arti tidak sesuai
dengan yang dicita citakan) terdapat asumsi asumsi yang mencolok, sebagaimana yang
disinyalir Talcott Parson, Merton, dan Semieser, bahwa integrasi sempurna tidak pernah
tercapai (tidak pernah ada), dan perubahan berjalan secara gradual sebagai proses
adaptasi.
Dalam hal ini UU Penyiaran dirumuskan saat kekuatan reformasi sedang dominan
dan kekuatan lama (Ode Baru) sedang melatenkan diri (bersembunyi). Sehingga satu
sisi kekuatan dominan mencoba merumuskan nilai nilainya dalam undang undang
tersebut yang pro demokrasi, sementara kekuatan laten mencoba diam tetapi kemudian
mementahkannya kembali dalam proses implementasinya, sehingga tidak pernah
tercapai integrasi yang sempurna. Maka, yang terjadi kemudian adalah perubahan
perubahan struktur sosial penyiaran dan pranatanya secara gradual dan bersifat adaptif.
Proses keduanya ini menyebabkan implementasi kebijakan di bidang penyiaran
1
Redi Panuju, Relasi Kuasa, Persaingan Memperebutkan Opini Publik antara Negara, Media dan
masyarakat, Pustaka Pelajar, Yogya, 2002
2
Kuliah Prof. Dr. I Made Weni, MH, MA, tgl 13 Oktober 2013
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
2
memperlihatkan adanya konsensus atau kesekatan kesepakatan antara pelbagai pihak
yang terkait, khususnya antara Negara (Pemerintah, Kominfo), lembaga penyiaran, dan
masyarakat (diwakili KPI). Proposisi mayornya : pengaturan di bidang penyiaran
merupakan hasil konsensus atau kompromi antar berbagai kepentingan.
Dari segi pandangan teori konflik, sebagaimana disinyalir oleh Randal Collins,
bahwa manusia memiliki sejumlah kepentingan dan berusaha mendapatkannya. Randal
menambahkan bahwa kekuasaan yang tidak terbagi secara merata menjadi sumber
konflik dan ideology kekuasaan acapkali dipergunakan sebagai instrument untuk
mendapatkan kepentingan, bukan sebagai sarana mencapai integrasi.
Dalam dunia penyiaran nampaknya juga demikian, Undang Undang penyiaran
mengalami pergeseran keberpihakkannya tak lepas dari pengaruh kepentingan
kepentingan. Kekuatan yang paling berpengaruh dalam membelokkan cita cita
penyiaran yang demokratis adalah kekuasaan politik dan kekuasaan capital (proposisi
minor).
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimanakah praktek implementasi kebijakan di bidang penyiaran yang
memperlihatkan hasil kompromi antar pelbagai kepentingan?
2.
Bagaimanakah
praktek
kekuasaan
politik
dan
kekuasaan
kapital
dalam
mempengaruhi kebijakan penyiaran?
INDIKATOR dan PEMBAHASAN
Indikator “kompromistis”
Kompromi antara Industri Media, KPI, dan Negara secara historis dapat
diterangkan demikian: UU No.32 tahun 2002 diundangkan pada tanggal 28 Desember
2002. Dua tahun kemudian, industri penyiaran mulai merasakan bahwa undang undang
tersebut membatasi ruang geraknya dalam mengembangkan usahanya. Misalnya, dalam
hal perizinan, kepemilikan media TV dan radio dibatasi. Tujuannya dengan membatasi
kepemilikan (limitation of ownership) akan berimplikasi pada keragaman siaran
(diversity of content). Idealisasi undang undang ini ingin memanjakan pemirsa
(audiences) dengan pilihan pilihan program acara. Sehingga dari perspektif tersedianya
variasi isi siaran memenuhi asas demokrasi yang menguntungkan bagi publik. Undang
undang ini berusaha menjamin memenuhi kebutuhan akan informasi bagi publik.
Namun skema ini merugikan industri, sebab dengan dibatasinya kepemilikan berarti
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
3
membatasi konglomerasi konglomerasi media yang menjadi “ideologi” industri media.
Kedua, undang undang ini membatasi ruang geografis pemancaran. Tidak dikenal lagi
istilah “Televisi Nasional” sebab IPP (Ijin Penyelenggaraan Penyiaran) dibatasi per
wilayah siaran (service area) dan diprioritaskan untuk wilayah lokal. Dari segi text
(narasi) pasal ini sangat mendukung gerakan otonomi daerah. Pada pasal 31 ayat 6
disebutkan mayoritas pemilik modal awal dan pengelolaan stasiun penyiaran lokal
diutakan kepada masyarakat di daerah tempat stasiun lokal tersebut berada.
Esensi UU 32 tahun 2002 yang mengancam kepentingan industry (konglomerasi
media) tersebut menyebabkan para praktisi media melakukan uji metari (judicial
review) ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk membatalkan bebarapa pasal yang
merugikan tersebut. Mereka berasal dari IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI),
Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), Perusahaan Periklanan
Indonesia (PPPI), Asosiasi Televisi Siaran Indonesia (ATVSI), Persatuan Sulih Suara
Indonesia (PERSUSI), Komnitas Televisi Indonesia (KOMTEVE), memberi kuasa
kepada Dr. Todung Mulya Lubis, S.H, dan lainnya untuk mengajukan gugatan ke MK.
Hasilnya pada tanggal 28 Juli 2004 Mahkamah Konstitusi mengabulkan
permohonan para pemohon untuk sebagian, yakni….menyatakan bahwa pasal 44 ayat
(1) untuk bagian anak kalimat “…atau terjadi sanggahan”. Pasal 62 ayat (1) dan (2)
untuk sebagian anak kalimat”….KPI bersama….” Undang Undang No.32 tahun 2002
bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.
Intinya, yang semula UU 32/2002 ini memberi mandat penyusunan Peraturan
Pemerintah disusun bersama antara pemerintah dengan KPI, maka setelah periode ini
Pemerintah secara sendirian berhak menyusun PP atas UU penyiaran. Maka lahirlah
Peraturan Pemerintah (PP) yang isinya didominasi oleh kepentingan pemerintah dan
keberpihakkannya kepada Industri.
Dari Judicial review ini, kontroversi semakin nyata. Pemerintah menyusun PP 11,
PP12, PP13, 14, PP 49, 50,51, dan 52 tahun 2005 tanpa melibatkan KPI. PP 11,12,dan
13 tahun 2005 tahun 2005 mengatur Pedoman Penyelenggaraan Penyiaran Publik, RRI,
dan TVRI. PP 49 tahun 2005 mengatur Pedoman Penyelenggaraan Penyiaran Asing, PP
50 tahun 2005 tentang Penyiaran Swasta, PP 51 tentang Penyiaran Komunitas, PP 52
Penyiaran berlangganan.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
4
Dalam disertasi Henry Subiakto (IIS UNAIR, 2010) gejala di atas disebut sebagai
“kontestasi wacana” atau tarik menarik interpretasi mengenai bagaimana demokratisasi
system penyiaran menurut aparatur Negara, masyarakat sipil, dan kalangan kapitalis
pelaku bisnis media.
Bimo Nugroho Sekundatmo dalam tesis masternya di Universitas Indonesia
melakukan studi kontestasi ini dalam konteks ekonomi politik penyiaran (2006)
menyimpulkan bahwa Pemerintah hanyalah kaki tangan pemilik modal yang sudah
mapan dalam industry media. Bimo Nugroho membenarkan bahwa Negara adalah alat
dari kelas pemilik modal untuk menghisap kelas proletar yang tertindas.
Demikianlah fragmen konflik di tingkat normatif yang menempatkan representasi
masyarakat dalam penyiaran tergerus dan menempatkan pemerintah tetap sebagai
penentu dalam kebijakan penyiaran.
Selanjutnya pada tataran implementatif, Menteri Komunikasi dan Informatika RI
mengeluarkan peraturan Nomor 28 tahun 2008 tentang Tata Cara dan Persyaratan
Penyelenggaraan Penyiaran. Permen ini sudah merubah konstruksi perizinan yang
semula tersentral di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), kemudian dipecah pecah ke
beberapa kewenangan. Sebagai Contoh untuk proses permohonan perisinan Lembaga
Penyiaran swasta (LPS) kewenangannya dipecah menjadi tiga :
Persyaratan
administrasi
kewenangan
memeriksanya
diberikan
kepada
pemerintah/pemerintah daerah, Teknik penyiaran termasuk frwekwensi diserahkan
kepada pemerintah pusat dipanjangkan tangannya ke Pemerintah daerah melalui
BALMON (Balai Monitoring). Sedangkan KPI/KPID diberi kewenangan untuk
memeriksa kelayakan aspek program siarannya. Disinilah letak kontradiksinya, bahwa
IPP hanya diberikan setelah mendapat rekomendasi kelayakan dari KPI/KPID (pasal 33
ayat 4 butir b) tetapi pertimbangan KPI/KPID hanya berdasarkan dimensi program.
Itulah wujud dari kompromistis yang menimbulkan keanehan.
Keikut sertaan pemerintah dalam perizinan penyiaran yang semakin dominan
dikukuhkan melalui Permen Kominfo RI Nomor 18/Per/M.Kominfo/03/2009 tanggal 17
Maret 2009. Bila semula Rekomendasi Kelayakan (RK) hanya dari Komisi Penyiaran,
melaui permenkominfo tersebut ditambah RK dari pemerintah. Pada pasal 9 ayat (1)
disebutkan, pemerintah daerah Provinsi menerbitkan rekomendasi kelayakan data
administrasi dan data teknis bagi pemohon IPP jasa Penyiaran televisi yang telah
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
5
memenuhi persyaratan. Pasal 9 ayat (2) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
menerbitkan rekomendasi kelayanakan data administrasi dan data teknis bagi
permohonan IPP jasa penyiaran radio yang telah memenuhi persyaratan.
Pemeriksaan atas persyaratan persyaratan tersebut dilakukan dalam momen EDP
(Evaluasi Dengar Pendapat) antara KPI/KPID dengan pemohon dalam satu forum yang
dihadiri perwakilan masyarakat. Forum ini dibuat atas acuan UU 32 tahun 2002 pasal
33 ayat 4 butir a: bahwa Izin dan perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran
diberikan oleh Negara setelah memperoleh masukan dan evaluasi dengar pendapat
antara pemohon dan KPI.
Mekanisme perizinan yang demikian ini semakin memperumit birokrasi dan
memperbesar ongkos proses. Forum ini dibiayayi oleh APBD/APBN yang cukup besar.
Satu pemohon bisa membutuhkan anggaran untuk sewa tempat, konsumsi, dan
honorarium penguji serta panitia sebesar Rp.3 jt per pemohon.
Setelah KPI/KPID mengeluarkan Izin Rekomendasi kelayakan (RK) kepada
pemohon, kemudian birokrasi selanjutnya dibawa ke pemerintah pusat. Pemerintah
(Kominfo) menggelar Forum Rapat Bersama (FRB ) yang dihadiri oleh wakil
pemerintah, KPI/KPID. Dalam Forum ini ditentukan kelengkapan persyaratan dan
ketersiadaan kanal. Izin penyelenggaraan Penyiaran (IPP) yang semula dalam pasal 33
ayat 6 disebutkan wajib diberikan (diterbitkan) paling lambat 30 (tiga puluh hari) kerja
setelah ada kesepakatan dari forum rapat bersama, dalam realitasnya bisa bertahun
tahun. Pengalaman pengurusan IPP untuk wilayah jawa Timur bisa mencapai 5 tahun
baru turun.
Itulah salah satu implikasi kompromistis yang juga mesti ditanggung oleh kalangan
industry, karena proses perizinan menjadi berliku liku dan melalui banyak loket.
Nampaknya, konstalasi tarik menarik kekuatan tidak lagi antara Industri media dengan
KPI, tetapi industry media juga tertarik ke dalam permainan pemerintah sehingga biaya
operasi perizinan menjadi berlipat dan waktu yang panjang. KPI memperlihatkan
komprominya dengan menerima semua akibat dari konstalasi tersebut hanya berkutat
pada pengawasan isi siaran.
Lagi lagi sifat kompromis KPI di bidang pengawasan isi siaran pun tidak memiliki
implikasi apa pun tergadap industry penyiaran. Dalam buku “ Kekerasan di Layar
Kaca” yang ditulis oleh mantan Ketua KPI Pusat Mochamad Riyanto Rasyid (Penerbit
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
6
Buku Kompas, Jakarta, 2013, h. xii- xiii) tercatat banyak sekali pelanggaran yang
dilakukan oleh media penyiaran TV, antara lain tentang kekerasan, pornografi, dan jam
tayang. KPI juga sudah melayangkan surat teguran. Namun kenyataannya, media
penyiaran tidak memperhatikan teguran KPI karena tidak memiliki implikasi hukum
apa pun, kecuali sanksi pemberhentian program siaran. Riyanto menyebutkan pada
tahun 2010-2012, materi kekerasan cenderung meningkat.
Malah ada stasiun TV yang melecehkan pengawasan KPI, yakni Trans 7 yang
ditegur KPI karena acara “Empat Mata” Tukul Arwana kerapkali menuguhkan banyolan
banyolan yang menjurus pada pornografi. Trans7 memang menghentikan acara tersebut,
tetapi seminggu kemudian acara tersebut muncul lagi dengan format yang sama namun
dengan judul yang berbeda. Semula judul acaranya “EMPAT MATA”, diganti dengan
“(BUKAN) EMPAT MATA”. Mengapa teguran KPI/KPID terhadap lembaga penyiaran
tidak efektif? Karena yang berwewenang memberikan dan mencabut IPP hanya
pemerintah cq menteri Kominfo.
Sikap kompromistis seperti itu mirip dengan istilah yang diberikan oleh Clifford
Geerzt sebagai sikap fatalistic, nrima ing pandum. Dari pada tidak sama sekali, tidak
rotan akar pun jadilah…..
Kompromi antara Pemerintah, Industri dan KPI/KPID itu membawa korban pada
diskriminasi terhadap lembaga penyiaran Komunitas. Pada UU Nomor 32 tahun 2002,
Lembaga penyiaran Komunitas (LPK) diatur pada pasal 21 -24. Disebutkan bahwa LPK
didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independen, dan tidak komersial, dengan
daya pancar rendah, luas jangkauan wilayah terbatas, serta untuk melayani kepentingan
komunitasnya.
Mestinya LPK ini lebih dipermudah dalam proses perizinannya mengingat tidak
boleh menerima iklan komersial, frekwensinya dibatasi (hanya di 97.7 FM, 97.8 FM
dan 97.9 FM), jangakaiannya hanya radius lingkaran 5 Km, dan tidak ada bantuan dari
Negara. Namun, dalam KemenKominfo nomor 28 tahun 2008 tersebut prosedur
perizinannya disamapakan dengan KPS yang punya banyak capital. LPK juga harus
membuat proposal, syarat administrasi, dan syarat teknis yang tidak kalah ketat karena
dicurigai bisa disusupi kepentingan asing, mengganggu penerbangan (khususnyanya
frekwensi 97.9 sangat dekat dengan frekwensi yang dipergunakan oleh kalangan
penerbangan). KPI/KPID dalam banyak forum sudah meminta kepada pemerintah untuk
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
7
menambah frekwensi bagi LPK, tetapi yang diperbanyak justru frekwensi untuk LPS.
Itulah bukti lain diskriminasi penyiaran yang dilakukan oleh pemerintah terhadap LPK.
Bentuk kompromi yang dilakukan oleh KPI/KPID adalah tutup mata terhadap
pelanggaran atas frekwensi, sifat isi siaran, dan iklan iklan terselubung, sebab kalau hal
tersebut dilarang, sulit bagi LPK untuk memperoleh sumber logistiknya. Dalam UU
32/2002 hanya membolehkan LPK mendapatkan sumber dana dari iuran anggota, hibah,
dan sponsor (pasal 22 ayat 5).
Sedangkan bagi LPK bentuk kompromi yang dilakukan adalah memperbanyak
acara acara “off air” seperti jalan sehat, pameran, dan lomba lomba yang tidak
disiarkan. Dengan cara inilah mereka memperoleh masukan dari sponsor.
Indikator Pengaruh Kekuatan Politik dan Kapital dalam Implimentasi Kebijakan
Indikasi bahwa kekuatan politik dan kapital mempengaruh kebijkan penyiaran
sudah dimulai pada tingkat formulasi kebijakan. Menurut Disertasinya Henri Subiakto
“Kontestasi Wacana Tentang Sistem Penyiaran Yang Demokratis pasca Orde baru”
(UNAIR, 2010), para pemilik media besar (konglomerat media) sering meloby koninfo
ketika sedang menyusun PP tentang penyiaran, antara lain meloby pasal pasal yang
menyangkut pembatasan kepemilikan, siaran berjaringan, dan proses perizinan.
Henri Subiakto menulis, “industry dengan kekuatannya dan segala upaya
mencoba untuk menyiasati aturan perundangan tersebut. Walhasil, terjadilah
diskrepansi atau gap antara wacana yang ideal dan disuarakan civil society
dengan implementasi di lapangan . Sedangkan dalam aras normative, Negara
nampak lebih akomodatif
dengan keadaan industry, karena mereka
menganggap bahwa tugas negara salah satunya adalah memajukan iklim
industry di dalam negeri, termasuk industry media penyiaran.”
Intervensi kalangan industri ini menghasilkan kebijakan diskresi Menkominfo
merekayasa pembagian canal perwilayah layanan sehingga bisa dipergunakan secara
parallel. Desakan industry media TV yang berkeinginan mendapat kanal untuk bersiaran
di wilayah layanan Surabaya (Surabaya, gersik, Sidoarjo, Jombang) menyebabkan
Menkominfo (waktu Prof. Dr. M. Nuh, DEA) mengijinkan kanal yang dipakai di
daerah Malang dan sekitarnya dipakai bersiaran di Surabaya. Istilahnya Co-chanal.
Maka lahirlah Surabaya TV, Oqcy TV, BBS TV, Arek TV, JTV, SBO TV, MH TV dan
Pasuruan TV. Khusus untuk Pasuan TV merupakan hasil loby kalangan Nahdliyin (NU)
yang awalnya berdomisili di Pasuruan kemudian dipindahkan ke Surabaya dengan name
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
8
call “TV 9”. Ditengarai hubungan antara Prof. Muhammad Nuh, DEA dengan kalangan
NU sangat dekat sehingga pengaruh priordialismenya lebih kental ketimbang pengaruh
pemilik kapital.
Namun secara umum, tangan tangan konglomerat media di pusat terus meloby
regulator penyiaran di daerah untuk memuluskan diversifikasi kepemilikan stasiun TV
sebagai bagian dari ekspansi bisnisnya. Modusnya macam macam.
Pertama, memberi makna yang berbeda dari pembatasan kepemilikan. Test
casenya adalah merger beberapa TV di bawah bendera MNC-Group (kelompok bisnis
Hary Tanoesudibjo) dengan cara menanam nama lain pemilik saham di setiap anak
perusahaan, sehingga secara administrative tidak terbukti ada akumulasi kepemilikan.
Di tingkat provinsi dan kabupaten kota mendirikan TV dan Radio baru dengan struktur
kepemilikan saham dan direksi yang berbeda beda, sehingga KPID (Daerah) tidak bisa
membuktikan adanya kepemilikan silang, namun setelah IPP diperoleh, kepemilikan
saham berubah sehingga pemilik media dari pusat dapat mengendalikan medianya di
daerah. MH TV sudah jatuh ke tangan MNC Group sementara Arek TV jatuh ke Group
Bakrie.
Media besar dari pusat tidak perlu lagi menggunakan system berjaringan, karena
masing masing “anak perusahaan”nya di daerah sudah memenuhi legal formal. Babakan
berikutnya baru ketahuan bahwa para konglomerat media ini berkaitan dengan politik.
Banyak Konglomerat media yang terjun ke politik, sebagai ketua partai maupun calon
Presiden dan wakil Presiden, sehingga mendekati Pilpres tahun 2014 banyak iklan
pencitraan sosok calon presiden dari pemilik medianya. Sebut saja misalnya pemilik
Media Group yang mengoperasikan Metro TV, Media Indonesia, dan portal internet,
Surya Paloh menjadi ketua umum Partai Nasdem, Abu Rizal Bakrie yang menguasai
TV One, AN TV adalah ketua Partai Golkar dan mencalonkan diri sebagai Capres tahun
2014. Hary Tanoesudibjo pemilik MNC Group (RCTI, MNC, dan Global TV) menjadi
Calon Wakil Presiden dari Partai Hanura bersama Jenderal (Purn) Wiranto sebagai
Capresnya.
Bentuk intervensi yang lain adalah mencoba mempengaruhi DPRD ketika
melakukan penjaringan calon anggota Komisi Penyiaran Daerah (KPID). Para
konglomerat ini berusaha memasukkan anggotanya untuk terpilih menjadi regulator
penyiaran di daerah, sehingga diharapkan memperlemah sifat kritis dan indepensinya.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
9
Demikian juga ketika pemilihan ketua KPID berlangsung, loby untuk menjadikan sosok
tertentu menjadi ketua sangat beraroma.
KESIMPULAN
Sistim Penyiaran Indonesia sebagai fakta social tak terlepas dari kenyataan bahwa
integrasi yang sempurna tidak pernah ada dan perubahan perubahan berjalan secara
gradual sebagai proses adaptasi.
UU Nomor 32 tahun 2002 yang semula diharapkan dapat memperkokoh bangunan
demokrasi di tanah air, pada level implementasi menjadi ajang tarik menarik
kepentingan antara Negara, industry penyiaran, dan civil society (yang diawakili
Komisi Penyiaran Indonesia). Tarik menarik kepentingan itu mulai berjalan pada saat
formulasi kebijakan publik dibuat pemerintah. Industri media menggunakan Mahkamah
Konstitusi untuk memandulkan peran civil society sehingga kewenangan kebijakan
jatuh kembali di pangkuan Negara sebagai mana yang pernah terjadi pada masa
pemerintahan Orde Baru. Industri penyiaran lebih nyaman bekerjasama dengan
pemerintah ketimbang dengan KPI.
Dalam perjalanannya, ternyata pemerintah tidak sepenuhnya berpihak pada industry
media, tetapi memperkuat kekuasaan brokrasinya dengan memberikan kewenangan
pada Pemerintah Daerah untuk memberikan rekomendasi kelayakan Administrasi dan
teknis pada pemohon IPP Radio dan Televisi (LPS). Dengan demikian integrasi yang
terjadi adalah integrasi yang bersifat kompromistis.
Pihak yang paling dimarginalisasikan oleh tarik manarik kebijakan penyiaran adalah
kalangan Lembaga Penyiaran Komunitas (LPK), yang tidak pernah terakomodir
aspirasinya. Kanal yang diberikan tetap terbatas, jangkauan siarnya dipersempit, dan
tidak diperbolehkan mencari untung.
Daftar Pustaka
Albab, Ulul dan Budi Wiyoto, Kajian Strategik Kebijakan Publik: Proses Formulasi,
Proses Formulasi , Implementasi dan Evaluasi Kebijakan Publik di Era Good
Government, ITS Press, Surabaya, 2010
Bungin, Burhan, Sosiologi Komunikasi, Prenada Media, Jakarta, cet ke-2, 2007
Panuju, Redi, Relasi Kuasa : Pertarungan memperebutkan Opini Publik antara Media,
Negara, dan Masyarakat, Pustaka Pelajar Yogya, 2002
------------------, Sistem Komunikasi Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogya, 1997
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
10
Rasyid, Mochamad Riyanto, Kekerasan di Layar Kaca, penerbit KOMPAS, Jakarta,
2013
Sadana, Realitas Kebijakan Publik, UM Press, Malang, cet ke3, 2013
Subiyakto, Henri, Kontestasi Wacana Tentang Sistem Penyiaran Yang Demokratis
Pasca Orde Baru, Disertasi IIS UNAIR, Surabaya, 2010
Sukundatmo, Bimo Nugroho, Kontestasi Negara, Industri, dan Masyarakat Sipil dalam
Kontroversi peraturan Pemerintah tentang Penyiaran, tesis Pascasarjana UI,
Jakarta, 2006
==============================
Kuliah Prof. Dr. I Made Weni, MH MS, tahun 2013
UU Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran
Himpunan Peratutan Perundangan di Bidang penyiaran 2009-2011, Kominfo pusat,
2013
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
11
MEDIA MASSA DAN PENCITRAAN JOKO WIDODO
(Analisis Pencitraan Joko Widodo Dalam Pilkada DKI Jakarta di Harian Jawa
Pos Edisi bulan September 2012)
Iwan Joko Prasetyo, MSi
(Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi – Universitas Dr. Soetomo)
ABSTRAKSI
Pencitraan politik calon kepala daerah dalam rangka memperebutkan kursi
kekuasaan dapat dibentuk, diciptakan, dan dikuatkan melalui media massa. Salah satu
faktor yang mengantarkan kemenangan Joko Widodo (Jokowi) dalam Pemilihan Kepala
Daerah DKI Jakarta adalah pemberitaan media massa yang memberikan citra yang kuat
kepada sosok Jokowi melalui baju kotak-kotaknya yang menguatkan identitas dirinya
berbeda dengan calon lainnya.
Penelitian ini mencoba mengungkap bagaimana pencitraan Jokowi di harian
Jawa Pos edisi September 2012. Tipe penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif
yang mendeskripsikan konstruksi wacana dan pencitraan politik Jokowi dalam harian
Jawa Pos.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Citra seseorang dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dapat dibentuk,
diciptakan, dan diperkuat. Pencitraan politik calon kepala daerah dalam rangka
memperebutkan kursi kekuasaan sangat penting dilakukan untuk merebut perhatian dan
simpati dari masyarakat. Masing-masing calon akan berusaha sekuat tenaga untuk
menciptakan pencitraan yang positif di kalangan para pemilih. Citra atau kesan khusus
tentang baik dan buruknya seorang kandidat akan mempengaruhi pemilih dalam
menentukan pilihannya.
Kampanye politik di era media massa adalah bagaimana membuat citra yang
positif. Tim kampanye dari setiap pasangan calon kepala daerah akan berusaha
menciptakan citra diri yang positif dari pasangan calon tersebut di mata masyarakat,
sebab citra diri yang positif dan prestasi calon kepala daerah berpengaruh besar bagi
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
12
pemilih pemula dalam menentukan pilihannya. Kelebihan-kelebihan tersebut harus
dikemas dengan baik melalui kegiatan kampanye politik yang telah disiapkan secara
matang, sehingga dapat dijadikan sebagai nilai jual bagi pasangan calon kepala daerah
dan wakil kepala daerah yang mengikuti pemilihan umum.
Kemenangan Joko Widodo (Jokowi) dalam Pemilihan Kepala Daerah DKI
Jakarta membuktikan bahwa pencitraan politik seseorang merupakan salah satu faktor
yang sangat dominan untuk merebut perhatian dan simpati masyarakat untuk
menentukan piilhannya. Sedangkan media massa mempunyai peran yang sangat
signifikan dalam membentuk citra politik seorang kandidat melalui pemberitaannya.
Dengan fungsi agenda setingnya, media dapat memilih peristiwa-peristiwa politik yang
akan menjadi headline dalam pemberitaannya.
Media massa yang merupakan saluran pesan mempunyai fungsi memberikan
informasi bagi masyarakat luas. Sebagai salah satu saluran pesan sudah selayaknya
media massa mempunyai fingsi untuk menginformasikan peristiwa-peristiwa politik,
sosial-budaya, ekonomi, perang, konflik, bencana alam, dan sebagainya.
Sebagai suatu alat untuk menyampaikan berita, media dapat berperan sebagai
institusi yang dapat membentuk opini dan wacana. Hasil pemberitaan surat kabar yang
diturunkan berupa teks atau tulisan, khalayak pada umumnya akan memaknai pesan
sebagaimana adanya. Artinya, khalayak hanya terpengaruh pada judul berita yang
ditonjolkan dan kesan yang dapat disimpulkan daripada menganalisis isi berita secara
mendetail.
Pilihan terhadap surat kabar Jawa Pos
karena media tersebut menduduki
ranking pertama sebagai surat kabar dengan jumlah pembaca terbanyak. Posisi pertama
ini berdasar survei Nielsen pada kuartal ketiga 2010 yang diselenggarakan di sembilan
kota besar. (Survei Nielsen : Jawa Pos Tetap Nomor 1 di Indonesia dalam
www.jawapos.co.id)
Rumusan Masalah
“Bagaimana pencitraan Joko Widodo dalam Pilkada DKI Jakarta di Harian
Jawa Pos Edisi September 2012.”
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah “Untuk mengetahui pencitraan Joko
Widodo dalam Pilkada DKI Jakarta di Harian Jawa Pos Edisi September 2012”
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
13
Landasan Berpikir
Pengertian Pencitraan Politik
Pengertian citra berkaitan erat dengan suatu penilaian, tanggapan, opini,
kepercayaan publik, asosiasi, lembaga dan juga simbol simbol tertentu terhadap bentuk
pelayanan, nama perusahaan dan merek suatu produk barang atau jasa yang diberikan
oleh publik sebagai khalayak sasaran (audience). Dengan demikian, tanggapan dan
penilaian publik merupakan unsur penting dalam melakukan penelitian tentang Citra.
Citra (image) adalah seperangkat keyakinan, ide dan kesan seseorang terhadap suatu
obyek tertentu. Sikap dan tindakan seseorang terhadap obyek tersebut akan ditentukan
oleh citra obyek yang menampilkan kondisi yang paling baik.
Menurut Firmansyah dalam bukunya Marketing Politik menyatakan bahwa :
“Image politik didefinisikan sebagai konstruksi atas representasi dan persepsi
masyarakat (publik) akan suatu partai politik atau individu mengenai semua hal yang
terkait dengan aktivitas politik (Firmansyah:2007;230). Yang dimaksud dengan
aktivitas politik adalah semua aktivitas yang dilakukan oleh partai politik atau individu
dalam usaha mereka untuk berkuasa, menciptakan keteraturan sosial, menciptakan
semangat kolektif, menciptakan dan menguatkan legitimasidalam masyarakat.
Dengan demikian citra politik adalah suatu gambaran tentang politik yang
memiliki makna, walaupun tidak selamanya sesuai dengan realitas politik yang
sebenarnya. Suatu image politik dapat mencerminkan hal yang tidak real atau imajinasi
yang terkadang bisa berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.
Citra yang baik, dengan sendirinya akan meningkatkan popularitas dan
elektabilitas kandidat, begitupun sebaliknya. Sehingga, tidak salah bila para politisi
melakukan pencitraan politik. Karena semakin dapat menampilkan citra yang baik,
maka peluang untuk meraup dukungan pemilih semakin besar. Namun dalam konteks
pembentukan citra, tidak sedikit yang kehilangan kekuatan penarik perhatian (eye
catching). Citra yang sebelumnya diharapkan mampu menciptakan kejutan, stimulasi,
dan gebrakan informasi tak terduga (entropy) berubah menjadi pengulanganpengulangan yang terduga (redundancy). Citra-citra berestetika dan berselera tinggi,
karena kehabisan perbendaharaan tanda, pada akhirnya menjadi citra-citra yang
murahan dan dangkal. Dalam konteks komunikasi politik, hal ini berlangsung saat citra-
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
14
citra politik tampil dalam jumlah banyak, frekuensi tinggi, dan waktu cepat sehingga
menyebabkan pesan yang disampaikan tidak lagi menarik perhatian publik.
Identitas Politik
Image politik juga dapat dikatagorikan sebagai sebuah strategi positioning
suatu partai politik atau individu untuk membedakan dengan partai politik lainnya. Oleh
karena itu image politik mempunyai keterkaitan yang erat dengan identitas. Atributatribut yang dipakai selama kampanye politik membentuk kesan tertentu atas suatu
entitas. Image/citra merupakan visualisasi dari atribut yang diberikan dan dipersepsikan
oleh pihak luar tentang suatu partai politik atau calon/kandidat pemimpin politik.
Seiring dengan meningkatnya penggunaan pencitraan politik sebagai salah satu
sarana untuk memenangkan perebutan kekuasaan, maka masing-masing calon/kandidat
akan berusaha memperkuat citra dirinya yang telah ada. Mereka akan memantapkan
posisi dan identitas mereka dalam persaingan dengan calon/kandidat yang lainnya
Jadi identitas politik dapat membedakan antara partai politik atau individu yang
satu dengan yang lainnya. Identitas juga dapat menyatukan orang-orang yang
mempunyai kesamaan yang sama dengan karakteristik dari identitas tersebut.
Teori Agenda Setting
Agenda-setting diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972). Asumsi
teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media
itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang
dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media
diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan
dengan
proses
belajar
bukan
dengan
perubahan
sikap
dan
pendapat.
Agenda setting menjelaskan begitu besarnya pengaruh media--berkaitan dengan
kemampuannya dalam memberitahukan kepada audiens mengenai isu-isu apa sajakah
yang penting. Media memiliki kemampuan untuk menciptakan pencitraan-pencitraan ke
hadapan publik.
Ada dua asumsi mendasar dari teori ini adalah, (1). pers dan media tidak
mencerminkan realitas yang sebenarnya, melainkan mereka membentuk dan
mengkonstruk realitas tersebut. (2). Media menyediakan beberapa isu dan memberikan
penekanan lebih kepada isu tersebut yang selanjutnya memberikan kesempatan kepada
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
15
publik untuk menentukan isu mana yang lebih penting dibandingkan dengan isu
lainnya. Salah satu aspek yang paling penting dari konsep agenda setting ini adalah
masalah waktu pembingkaian fenomena - fenomena tersebut.dalam artian bahwa tiap tiap media memiliki potensi - potensi agenda setting yang berbeda - beda satu sama
lainnya. Pendekatan ini dapat membantu kita untuk menganalisa kecenderungan kecenderungan suatu media dalam memberitakan suatu peristiwa.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ada tidaknya pengaruh agenda setting
(pengaruh agenda media terhadap agenda publik) disebut faktor kondisional,
yang dapat dapat dikategorikan menjadi 2 (dua) sebagai berikut:
1. Dari perspektif agenda media adalah sebagai berikut: framing; priming;
frekuensi dan intensitas pemberitaan/penayangan; dan kredibilitas media
di kalangan audiens.
2. Dari perspektif agenda publik adalah sebagai berikut: faktor perbedaan
individual; faktor perbedaan media; faktor perbedaan isu; faktor perbedaan
salience; faktor perbedaan kultural.
Perbedaan individual, pengaruh agenda setting akan meningkat pada
diri individu yang memberikan perhatian lebih terhadap isu-isu yang disajikan
oleh media massa. Bukti-bukti empirik menunjukkan bahwa perhatian individu
terhadap isi media dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, luas pengalaman,
kepentingan, perbedaan ciri demografis, sosiologis. Bukti-bukti eksperimental
menunjukkan bahwa efek agenda setting akan meningkat pada individuindividu yang memberikan perhatian lebih terhadap isu-isu yang dikaji,
sedangkan intensitas perhatian sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan
derajat kepentingannya.
Media Surat Kabar
Surat kabar merupakan salah satu media massa yang berperan penting dalam
pendistribusian informasi kepada khalayak. Selain karena kontennya yang faktual,
penerbitan surat kabar juga terjadi secara periodik sehingga masyarakat akan lebih
mudah untuk mengakses dan mnerima informasi. Seiring perkembangan teknologi,
surat kabar mulai melakukan berbagai perkembangan baik dari sisi konten maupun
teknologi.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
16
Yang dimaksud dengan surat kabar adalah kumpulan berita, artikel, cerita,
iklan dan sebagainya yang dicetak dalam lembaran kertas ukuran plano, terbit berkala
secara teratur, bisa setiap hari atau seminggu sekali. Sebuah surat kabar isinya
merupakan catatan peristiwa (berita) atau karangan (artikel, feature, dsb) dan iklan
karena biasa memuat hal yang bersifat dagang (promosi) diterbitkan secara berkala
(periodik) waktu penerbitannya akan menggolongkan sebagai sebuah surat kabar atas
harian, mingguan, bulanan, atau mungkin tahunan.
Fungsi yang paling menonjol pada surat kabar adalah memberikan informasi
kepada khalayak. Hal ini sesuai dengan tujuan utama khalayak membaca surat kabar,
yaitu keingintahuan akan setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Sedangkan
karakteristik surat kabar adalah sebagai berikut :
 Publisitas : adalah penyebaran pada publik atau khalayak
 Periodesitas : menunjuk pada keteraturan terbitnya, bisa harian, mingguan,
atau dwi mingguan
 Universalitas : menunjuk pada kesemestaan isinya, yang beranieka ragam
dan dari seluruh dunia.
 Aktualitas : menunjuk pada keadaan yang ”kini” dan ”sebenarnya”
 Terdokumentasikan : dari berbagai fakta yang disajikan surat kabar dalam
bentuk berita atau artikel, dipastikan ada beberapa diantaranya yang oleh
pihak-pihak tertentu dianggap penting untuk diarsipkan dan dibuat kliping.
Media Massa Dan Pembentukan Citra Politik
Strategi pencitraan politik, tidak dapat dilepaskan dari peran media massa
dalam kapasitasnya sebagai media (wadah) untuk memberitakan kepada publik serta
memberi citra dari aktivitas para aktor politik yang diberitakan dan menjadi konsumsi
media massa. Disini peranan “Framing” maupun “Agenda Setting” menjadi penting,
karena agenda media (dalam hal ini media memilih berita-berita yang akan menjadi
headline dalam pemberitaannya) merupakan agenda publik, artinya adalah publik
disodorkan headline berita yang memang telah diagendakan oleh media untuk menjadi
berita utama
(headline). Media massa
mempunyai
peranan
penting dalam
mensosialisasikan nilai-nilai tertentu kepada masyarakat. \
Peristiwa politik selalu menarik perhatian media massa sebagai bahan liputan.
Hal ini terjadi karena dua faktor yang saling berkaitan. Yang pertama adalah karena
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
17
saat ini politik berada di era mediasi (politics in the age of mediation), yaitu media
massa sebagai wadah yang dapat melakukan proses mediasi antara kepentingan publik
dan politik, hampir mustahil jika kehidupan politik dipisahkan dari media massa. Para
aktor politik yang melakukan strategi pencitraan senantiasa berusaha menarik perhatian
wartawan agar aktivitas politiknya memperoleh liputan dari media. Yang kedua adalah
peristiwa politik dalam bentuk tingkah laku dan pernyataan para aktor politik lazimnya
selalu mempunyai nilai berita sekalipun peristiwa politik itu bersifat rutin belaka,
misalnya kegiatan rapat kerja partai atau pertemuan seorang tokoh politik dengan para
pendukungnya. Apalagi jika peristiwa politik itu bersifat luar biasa seperti pemilihan
Kepala Daerah.
Dalam melaporkan atau mengkonstruksikan realitas pemberitaan politik,
lazimnya media massa memanfaatkan tiga komponen, yaitu pemakaian simbol-simbol
politik (language of politics), strategi pengemasan pesan (framing strategies) dan
kesediaan media memberi tempat (agenda setting function). Seorang tokoh politik
hendaknya dapat memberikan pemberitaan-pemberitaan politik yang aktual dan kritis
yang dapat memberikan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya sistem politik
yang lebih demokratis.
Para aktor politik yang akan melakukan proses pencitraan terhadap dirinya
maupun pencitraan terhadap partai politik yang diusungkan hendaknya dapat
memanfaatkan media massa yang dapat memberikan pengaruh besar kepada publik.
Pesan-pesan politik yang akan dihadirkan oleh para aktor politik tersebut biasanya
disusun terlebih dahulu sehingga sesuai dengan target pencitraan yang diinginkan
melalui media massa, hal tersebut akan memberikan efek yang lebih besar jika isi media
lebih disesuaikan dengan karakteristik masing-masing media yang berfungsi sebagai
transmitter. Disamping karakteristik media, diperlukan juga karakteristik dari khalayak
pemirsanya. Hal ini penting karena segmentasi khalayak akan memperjelas besarkecilnya pengaruh yang diharapkan, dan segmentasi khalayak perlu dilakukan karena
mereka punya preferensi pilihan medianya sendiri-sendiri.
METODE PENELITIAN
Kerangka Konseptual
1.
Citra merupakan suatu penilaian, tanggapan, opini, kepercayaan publik, asosiasi,
lembaga dan juga simbol simbol tertentu terhadap bentuk pelayanan, nama
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
18
perusahaan dan merek suatu produk barang atau jasa yang diberikan oleh publik
sebagai khalayak sasaran (audience).
2.
Pencitraan politik merupakan suatu konstruksi atas representasi dan persepsi
masyarakat (publik) akan suatu partai politik atau individu mengenai semua hal
yang terkait dengan aktivitas politik.
3.
Media surat kabar merupakan kumpulan berita, artikel, cerita, iklan dan sebagainya
yang dicetak dalam lembaran kertas ukuran plano, terbit berkala secara teratur, bisa
setiap hari atau seminggu sekali.
Unit Analisis
Adapun yang menjadi unit analisis dalam penelitian adalah seluruh teks
berita(judul berita, isi berita) dan gambar/foto pada harian Jawa Pos edisi September
2012 terkait dengan berita Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran
kedua. Mulai dari judul berita, lead berita, tubuh berita, gambar/foto.
Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang mendeskripsikan
konstruksi wacana dan pencitraan politik yang berkembang seputar pemberitaan
pemilihan Kepala daerah DKI Jakarta pada harian Jawa Pos edisi bulan September
2012.
Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah pencitraan Jokowi dalam harian Jawa Pos edisi
bulan September 2012.
Teknik Pengumpulan Data
1.
Teknik dokumentasi. Karena semua data yang akan dijadikan unit analisis hanya
bersumber dari dokumentasi, maka teknik pengumpulan data yang utama dalam
penelitian ini adalah mendokumentasikan data yang diperlukan, setelah itu
dilakukan penelitian.
2.
Studi kepustakaan, teknik pengumpulan data dengan mempelajarai beberapa
literatur dari buku yang dapat digunakan sebagai pendukung penelitian ini, dengan
mengutip beberapa teori yang dapat memperkuat penjelasan atas fenemona yang
diteliti.
Teknik Analisa Data
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
19
Setelah berita utama/head line dikumpulkan dan dikliping, maka langkah
selanjutnya data tersebut dianalisis dengan menggunakan perangkat wacana model Sara
Mills yaitu:
TINGKAT
Posisi Subyek – Obyek
Yang ingin dilihat
Bagaimana peritiwa dilihat, dari kacamata siapa
peristiwa itu dilihat. Siapa yang diposisikan
sebagai pencerita (subyek) dan siapa yang
menjadi
obyek
yang
diceritakan.
Apakah
masing-masing aktor dan kelompok sosial
mempunyai kesempatan untuk menampilkan
dirinya
sendiri,
gagasannya
ataukah
kehadirannya, gagasannya ditampilkan oleh
kelompok/orang lain
Posisi Penulis – Pembaca
Bagaimana posisi pembaca ditampilkan dalam
teks. Bagaimana pembaca memposisikan dirinya
dalam teks yang ditampilkan. Kepada kelompok
manakah pembaca mengidentifikasidirinya.
ANALISA DATA
Pemaparan Data Penelitian
1.
Berita Utama Jawa Pos, 20 September 2013
Posisi
Subyek- Aktor yang diposisikan sebagai subyek adalah penulis teks
Obyek
berita yaitu wartawan harian Jawa Pos, sedangkan peristiwa
yang diposisikan sebagai obyek adalah hasil perhitungan
cepat (quick count). Hal ini nampak dalam awal kalimat yang
ditulis oleh penulis berita yaitu :
Judul berita : “Foke Bertemu Amien, Jokowi Sungkem Ibu
“Saat Jokowi datang, Sujiatmi sedang duduk di salah satu
kursi panjang ruang tanu. Jokowi langsung menghampiri dan
sungkem dengan mencium tangan sembari bersimpuh di
pangkuannya. Ibundanya langsung memberikan wejangan
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
20
kepada putra pertamanya itu. Sujiatmi membisikkan nasihat
kepada Jokowi. Dia juga mencium kening dan kedua pipi
Jokowi.”
Gambar/Foto : Kening Jokowi sedang dicium oleh
ibundanya saat Jokowi duduk bersimpuh di pangkuan
ibundanya.
Istilah "sungkeman" berasal dari kata dasar "sungkem" yang dalam bahasa Jawa
yang berarti menjabattangan dan mencium tangan sebagai tanda penghormatan sang
anak atau orang yang lebih muda kepada orangtua atau orang yang lebih tua dalam
silsilah keluarga. Hingga kini tradisi Sungkeman masih hidup abadi didalam jiwa
masyarakat Indonesia dan nampak terwujud dalam nuansa "pulang kampung" atau
"mudik" (kembali ke udik atau ke kampung) setiap tahun. Pada masa kini, mungkin
banyak keluarga yang telah meninggalkan tradisi Sungkeman ini. Namun tak sedikit
pula keluarga yang kembali menggali dan melestarikan budaya leluhur yang sangat
indah dan bernuansa religious.
Makna sungkeman itu sejatinya sangat mendalam, mulia dan terpuji, diantaranya
adalah :
1. Penghormatan, tanda bakti dan tanda kasih anak kepada orangtua atau
orang yang lebih tua;
2. Mediasi keluarga saling bertemu dan kenal satu dengan lainnya, menjalin
hubungan keluarga yang harmonis tanpa memandang kondisi sosial dan
status masing-masing keluarga;
3. Menyatukan dan membahagiakan keluarga, sanak saudara dan handai-tolan
yang tak pernah bertemu atau jarang bertemu muka dalam suatu acara
kumpul keluarga besar yang disebut "trah" (silsilah keluarga besar);
Perlu dipahami bahwa sungkeman bukanlah bentuk penyembahan seorang
manusia kepada manusia, namun sungkeman merupakan bentuk penghormatan kepada
orang yang lebih tua. Sungkeman menunjukkan kesopan santunan orang yang masih
muda. Tak bisa dipungkiri bahwa sungkeman menjadi salah satu cara untuk
mendekatkan hubungan antara anak dengan orang tuanya, atau antara orang muda
dengan orang tua.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
21
2.
Berita Utama Jawa Pos, 21 September 2013
Posisi
Subyek- Aktor yang diposisikan sebagai subyek adalah penulis teks
Obyek
berita yaitu wartawan harian Jawa Pos, sedangkan peristiwa
yang diposisikan sebagai obyek adalah hasil perhitungan
cepat (quick count). Hal ini nampak dalam awal kalimat
yang ditulis oleh penulis berita yaitu :
Judul berita : “Dan Pemenangnya Adalah ...........
“Pasangan yang diusung PDIP dan Partai Gerindra tersebut
unggul dengan selisih suara 5-8 persen. Misalnya, berdasar
penghitungan cepat Lembaga Survey Indonesia (LSI),
Jokowi-Ahok meraih 53,81 persen dan Foke-Nara 46,19
persen suara. Dengan margin of error 2 persen atau ada
kemungkinan perolehan suara Jokowi-Ahok berkurang 2
persen sedangkan suara Foke-Nara bertambah 2 persen,
kemenangan pasangan yang ngetop dengan baju kotak-kotak
itu tidak akan berubah.
Gambar/Foto : Baju kotak-kotak yang ada tulisanyya
Jokowi-Ahok
Harian pagi Jawa Pos dalam mengupas berita utamanya tanggal 21 September
2013 lebih menitikberatkan pada hasil penghitungan cepat (quick count). Subyek
menceritakan peristiwa kemenangan sementara pasangan Jokowi-Ahok dalam
pemilihan Kepala daerah DKI Jakarta versi penghitungan cepat atau quick count oleh
berbagai lembaga survey nasional. Meskipun belum resmi dinyatakan sebagai
pemenang oleh lembaga resmi penyelenggara Pilkada DKI Jakarta, tetapi hasil
perhitungan cepat (quick count) telah menjadi model perhitungan yang hampir
mendekati kebenaran.
Berdasarkan hasil quickcount Lembaga Survei Indonesia (LSI), pasangan calon
Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Jokowi-Ahok memenangi pilkada putaran
pertama. Hasil itu didapat dari 410 tempat pemungutan suara (TPS) yang dijadikan
sampel di seluruh Jakarta. Dari yang terkumpul mencapai 98,54 persen. Dari hasil
survei itu, Jokowi-Ahok mengungguli dengan 42,76 persen. Peringkat kedua, yakni
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
22
Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dengan 33,9 persen. Peringkat selanjutnya yakni Hidayat
Nur Wahid-Didik J Rachbini 11,9 persen, Faisal Basri-Biem Benyamin 4,94 persen,
Alex Noerdin-Nono Sampon 4,74 persen, dan Hendardji Soepandji-Riza Patri 2,06
persen.
Di akhir kalimat disebutkan bahwa .......”kemenangan pasangan yang ngetop
dengan baju kotak-kotak” memberikan sesuatu identitas unik yang tidak dimiliki oleh
pasangan yang lain. Kata “ngetop” memberikan arti sama dengan populer, tenar,
masyhur,
terkenal,
kesohor.
Semuanya
mengarah
kepada
keterkenalan
atau
kemasyhuran akan seorang tokoh.
Subyek menulis kata “ngetop” yang memang sengaja ditujukan kepada Joko
Widodo. Kata “ngetop” menggambarkan kepopuleran dan keterkenalan Jokowi sudah
memasyarakat sampai masyarakat tingkat bawah. Masyarakat yang diwakili oleh anakanak sampai orang-orang tua sudah mulai akrab dengan pasangan Jokowi-Ahok.
Bahkan orang-orang pinggiran sampai orang-orang yang mempunyai status sosial tinggi
pun mengenal pasangan tersebut. Inilah yang ingin disampaikan oleh penulis bagaimana
“ngetop”nya Jokowi-Ahok sampai ke semua lapisan masyarakat.
Sedangkan baju kotak-kotak yang selalu dipakai selama kampanye
menggambarkan identitas dari seorang Jokowi-Ahok dan para pendukung fanatiknya.
Oleh karena itu, tak pelak lagi bahwa baju kotak-kotak sebagai identitas Jokowi-Ahok
telah menyusup dan melintas ke segenap ranah dan ruang. Bahkan baju kotak-kotak
tersebut menjadi alat identifikasi termudah untuk mengenali para pendukung Jokowi.
Baju sederhana itu menjadi branding ampuh bahkan mendadak tren di tengah
masyarakat pada saat itu sampai sekarang ini.
Identitas tidak tunggal, seseorang boleh menggunakan berbagai macam
identitas untuk berkomunikasi dengan pihak lain. Kemeja kotak-kotak memberi
identitas baru bagi pasangan Jokowi-Ahok. Identitas baru ini tidak menegasikan
identitas lama dari seorang Jokowi maupun Ahok. Identitas baru dipandang memberi
nuansa dan harapan baru bagi adanya sebuah perubahan yang lebih baik.
Kemeja kotak-kotak dipandang sebagai symbol kebersamaan, tidak ekslusif
dan tidak merupakan representasi dari warna partai politik pengusung dan tidak
menusuk atau memusuhi warna dari parpol-parpol yang ada. Rasa kebersamaan
ditangkap masyarakat sebagai penyegar dalam kehidupan social politik yang selama ini
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
23
penuh konflik. Kebersamaan yang telah ditelan oleh sikap egois – individual yang
terbawa arus globalisasi diharapkan kembali mewarnai kehidupan social budaya.
3.
Berita Utama Jawa Pos, 22 September 2013
Posisi
Subyek- Aktor yang diposisikan sebagai subyek adalah Susilo
Obyek
Bambang Yudoyono (SBY) selaku presiden RI, sedangkan
peristiwa yang diposisikan sebagai obyek adalah hari
pemungutan suara Pilgub DKI Jakarta. Hal tersebut
nampak dalam kalimat sebagai berikut:
Judul berita : “Pulang Kampung ke Solo, Jokowi Diarak
Naik Becak”
“Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, Jokowi
berhenti
di
pendukungnya
Lapangan
mengarak
Kotabarat.
Dari
lokasi
itu,
Jokowi
naik
becak
dan
menyusuri Jalan Slamet Riyadi. Di Loji Gandrung, ratusan
simpatisan dan warga sudah menantikan kedatangan
Jokowi. Mereka melantunkan nyanyian Jokowi siapa yang
punya, yang punya kita semua.”
Gambar/Foto : Jokowi diarak naik becak
Harian Jawa Pos juga menggambarkan kepribadian dari sosok Jokowi yang
sederhana, pro rakyat kecil, dan tidak mencerminkan seorang pejabat yang harus
dihormati oleh warganya. Kedekatan Jokowi dengan rakyat kecil digambarkan oleh
Jawa Pos dalam beritanya “Pulang kampung ke Solo, Jokowi Diarak Naik Becak”.
Berbicara soal becak, maka bayangan kita langsung menuju kepada sebuah alat
transportasi beroda tiga yang sering dijumpai di banyak tempat di Indonesia. Untuk
bepergian ke tempat yang tidak terlalu jauh, menumpang becak bisa menjadi salah satu
alternatif kendaraan yang dipakai. Becak dapat dimaknai sebagai representatif dari
kehidupan rakyat kecil yang miskin dan sederhana. Banyak calon kandidat kepala
daerah yang memanfaatkan becak sebagai media pencitraan dirinya. Mereka mencoba
mencitrakan dirinya dekat dengan rakyat kecil, pro dengan kemiskinan. Merakyat
dimaknai harus dekat secara fisik kepada mereka.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
24
Strategi pencitraan politik memang didesain sedemikian rupa untuk menarik
perhatian masyarakat. Seorang calon atau kandidat politik harus melakukan sesuatu agar
citra dirinya terkesan merakyat, dekat dengan warga pinggiran. Dunia pencitraan
memiliki peran penting dalam ranah politik, bahkan tak jarang pencitraan itulah
segalanya untuk merebut hati pemilih. Contohnya adalah perilaku merakyat tadi. Di
negeri ini, semakin banyak pejabat yang merakyat. Hal ini bukan lantaran mereka
menyadari perlunya memperbaiki kehidupan rakyat, melainkan ada gejala kesadaran
pejabat untuk memperbaiki citranya di hadapan rakyat. Jadi kesadaran itu bukan
kesadaran sebagai pejabat yang melayani rakyat, melainkan kesadaran untuk
membangun citra sebaik-baiknya di mata rakyat.
Analisa Data
Era sekarang memang era pencitraan. Banyaknya media massa menjadikan
pencitraan tumbuh subur. Peran media dalam mengemas dan menyeleksi realitas sosial
akan membantu masyarakat dalam melihat lingkungan sosial mereka. Realitas yang
ditampilkan media adalah realitas yang sudah diseleksi, sehingga merupakan realitas
tangan kedua (second hand reality). Jadi, masyarakat membentuk citra tentang
lingkungan sosialnya berdasarkan realitas kedua yang ditampilkan media massa. Harian
Jawa Pos sering memberitakan kegiatan kampanye Jokowi yang selalu memakai baju
kotak-kotak, Jokowi yang selalu terjun langsung ke lingkungan kumuh dan dekat
dengan rakyat kecil, Jokowi yang sungkeman kepada ibunya. Oleh karena karena
masyarakat cenderung memandang sosok Jokowi sebagai orang yang sederhana, pro
rakyat kecil, tidak terkesan sebagai seorang pejabat yang minta dihormati, orang yang
pluralis.
Karena media massa sering memuat namanya, gambarnya, kegiatannya maka
hal tersebut membuatnya sangat terkenal. Orang yang sebelumnya tidak dikenal, karena
diungkapkan besar-besaran dalam media massa aka orang tersebut melejit namanya dan
dikenal oleh semua orang. Hal itulah yang dialami oleh seorang Jokowi, putra daerah
yang kemudian melejit namanya di kancah politik nasional.
Namun perlu diingat dan dikririsi bahwa media massa menjadi ancaman
terhadap nilai dan rasionalitas manusia. Menurut Van Den Haag, media massa
menimbulkan depersonalisasi dan dehumanisasi manusia. Media massa menjauhkan
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
25
manusia dari pengalaman personalnya dan memperluas isolasi moral sehingga manusia
terasing dari dirinya sendiri dan lingkungannya.
Masyarakat masuk pada dunia yang coba dibangun oleh calon atau kandidat
politik melalui media massa, yakni “dunia seolah-olah”. Seolah-olah calon tersebut
memikirkan penderitaan rakyat kecil, membela rakyat miskin, memberantas korupsi,
dan lain-lain. Tapi pada kenyataanya, setelah mereka terpilih menjadi pemimpin justeru
perilakunya jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat kecil. Pencitraan politik
memang sebuah keharusan sebagai sebuah strategi untuk meraih kursi kekuasaan, tetapi
harus diimbangi dengan program yang nyata-nyata untuk kesejahteraan masyarakat.
KESIMPULAN
Kesimpulan
Pencitraan Jokowi dalam Harian Jawa Pos edisi bulan september 2012 dapat
disimpulkan sebagai berikut :
- Identitas dan brand image politik Jokowi disimbolkan dengan baju kotakkotak yang melambangkan kebersamaan, keberagaman dari penduduk
Jakarta.
- Pencitraan Jokowi juga ditampilkan sebagai sosok yang sederhana, merakyat,
tidak bersikap sebagai pejabat.
- Pencitraan Jokowi juga digambarkan sebagai seorang Jawa yang selalu patuh
dan menghormati orang yang lebih tua.
Daftar Pustaka
Buku
Alex Sobur.2004. Analisis Teks Media, PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Agus Sudibyo.2001. Politik Media dan Pertarungan Wacana, LkiS, Yogyakarta
Eriyanto 2005. Analisis Wacana, Pengantar Aanalisis Teks Media, PT LKiS Pelangi
Aksara, Yogyakarta
Firmanzah. 2007. Marketing Politik, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Ibnu Hamad.2004, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa, Granit, Jakarta
Jalaluddin Rakhmat.1994. Psikologi Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya, Bndung
Ishwari, Luwi. 2005, Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar, Bukru , Jakarta
Haris Sumadiria. 2005, Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Feature, Simbiosa
Rekatama Media, Bandung
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
26
Dan Nimmo.2005. Komunikasi Politik, Komunikator, Pesan, Dan Media, PT Remaja
Rosdakarya, Bandung
Syarifudin Yunus. 2010, Jurnalistik Terapan, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta
Non Buku
www.jawapos.co.id
Jawa Pos, edisi 20,21, dan 22 September 2012
The Use of ICTs for Poverty Reduction
in Developing Countries
Solikhah Yuliatiningtyas
[email protected]
The electronic and optical networking technologies are linked as internet where
the 25% of the world human population is use it. The internet is extremely dominate
almost all daily activities in many countries. Digital technology is preferred to analogue
technology because digital data can be endlessly copied, edited and transferred without
any loss to the quality. Also a communications satellite is an artificial satellite stationed
in space for the purpose of telecommunications. New ITCs which came from developed
countries, in recent years, there has been avoid the wide gap in access to new
technologies between the developed and developing world. Moreover, fancy
technologies are more interesting and fun to work with, and often make it easier to
improve the standard living of society. Regarding to poverty reduction efforts in
developing countries, ICTs contribution still debatable. A few scientistICTs usage are
the best tool as poverty reduction in developing countriesargue that ICTs usage can not
reduce poverty in poor nations because there are still limited connectivity and high cost.
However, there are also a number of significant positive aspects such as increase
economic growth and improve education. Therefore, this essay argues that ICTs are the
best way to alleviate poverty in developing countries.
For a number of reasons, ICTs projects in poor countries also come with a range
of weaknesses. In some poor nations, ICTs usage is not effective to reduce poverty
directly. Firstly, ITCs access in developing countries is weak, especially in rural areas.
For example, the result study in Uganda shows that there is a negative relationship can
be observed between ICT availability (ICT densities) and poverty level (r = -0,99)
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
27
which is consistent with Flor [2001] (Ssewanyana 2007). Similarly, in five African
countries such as Rwanda, Tanzania, Mozambique, Zambia and Namibia, there are still
limited internet access (Hesselmark 2003).
Secondly, the cost of on-going access and
support can be high. According to Shanmugavelan and Wariock (2004) most of African
people who live in rural area which mainly job as farming, buying and using a mobile
phone is very expensive – a single call can cost as much as half the daily wage of an
agricultural worker (Richardson 2005). It can be seen then that here is some evidence to
show ICTs usage is not the best way to mitigate poverty in poor countries.
However, there are also a number of important positive aspects to ICTs usage in the
third world. some result studies has shown that digital technologies can help reduce
poverty by make stronger economic growth in many developing countries. According
to the ICT Survey in Thailand (2006) multi sectors with an above average proportion
of businesses receiving orders online belong to the ICT-producing services industry,
the retail and wholesale trade industry and hospital. Regarding the hospital industry, the
growth of medical and health tourism activities may explain a relative specialization of
businesses in this sector to receive orders online. The order of magnitude is higher
when comparing sales per employee in firms with and without web presence. As result,
base on World bank survey (2006) report that economy in Thailand has grown to both
real GDP and real per capita GDP of respectively 5.6 and 4.8 percent (CAGR) annual
between 2001 and 2005, which manufacturing and agriculture give contribution to
GDP shares is compose 37 percent and
10 percent respectively (UNCTD 2008).
Indeed, the recent studies show that consumers all around the world are turning to the
internet first to find travel information and 54 per cent of online travel consumers start
travel research with an online travel agencies and airline web sites. The companies
allow customers to find the best value or lowest price for air tickets and hotels,
browsing databases of a large number of distributors that often promise the lowest fare.
ICTs can reduce operating costs, improve business profit, and provide tourism
producers with additional opportunities to present and sell their products. Tourism
enterprises of developing countries could gain autonomy and save costs by promoting
and selling products directly to consumers provided they have an effective website. East
Asia and the Pacific have attracted over 55 per cent of international tourism arrivals in
developing countries. The countries have been able to increase significantly their
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
28
tourism foreign earnings over 30 percent of international tourism receipts income US$
523 billion (UNCTD 2005). Furthermore, computers, networks and internet are being
used in many aspects of education in developing countries. Juma and Lee (2005) argue
that science, technology, and innovation have helped to mitigate poverty in much of
South-East Asia. Then economic circumstances make higher education more
compelling need in developing countries than it has ever been. Key factors in this
change include increased demand for higher education due to improved access to
schooling, pressing local and national concerns that require advanced knowledge to
address with high-technological expertise (Khan & Williams 2006) . In fact, Zlotnikova
also report that ICT educational have been using widely as community telecenters as a
solution to overcome digital divide between urban and rural areas. For example,
Rwanda and Uganda demonstrate rather high level of ICT in education development.
Rwanda has a complete set of ICT/ ICT educational policies and most ICT educational
initiatives are controlled by the Ministry of Education, even it is claimed in 2020
Rwanda will become an information-technology for the resource-rich nations of
Eastern and Central Africa (Zlotnikova 2011). Similarly, Zlotnikova, Muyinda &
Lubega (2010) add in the report that in Mozambique the development of ICT in
education is uneven and depends on the location of the school/ institution and the source
of the financing. University of Eduardo Mondlane (public) and Instituto Superior de
Transportes e Comunicacoes (private) located in Maputo, the capital of Mozambique,
demonstrate a high level of an ICT access and digital content development. Catholic
University of Mozambique (with many up country branches) has vast experience of
running distance education program. The Ministry of Education and Culture of
Mozambique takes significant efforts to coordinate ICT educational initiatives
(Zlotnikova
2011). There are significant efforts to solve the poverty problem in
developing countries by workable economic and education systems which supported
seriously by local government and NGOs. It is clear that, using digital technologies
have strong impact to poverty reduction in poor countries.
Therefore, despite ICTs still have a number of problems in the developing
world, internet using has strong positive effects in terms of poverty mitigation.
These
effects seem especially profound on economic growth in multi sectors. Besides hospital
industry and tourism enterprises, Agribusiness sector has had a significant role in
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
29
national development directly such as to contribute to the Gross Domestic Product
(GDP),
people’s income, foreign exchange earnings through export and poverty
alleviation. Like Indonesia as one of the largest importer countries in the world.
Presently in 2006 the growth still remains around 3.5% per year. The recent research
reports that the agribusiness which adopting digital technology has higher gross sales
than did not use them (Sudaryanto 2011). An other example, economy in Mozambique
has grown rapidly during the last ten years, fuelled by large transfers of donor money.
The per capita income has doubled (Hesselmark 2003). It is clear that ICTs can
facilitate economic growth in more developing countries. Furthermore, digital
technology usage in education has many benefits, such as students will gain some
experience with complex technology. Also computers and network connection can be
used for teaching and learning. For instance, Makerere University Faculty of Law in
Uganda become the host institution for African-led network of institutions actively
strengthening African expertise involved in setting ICT-related policy (Batchelor and
Scott 2005). Most education-related ICT projects have the potential for improving the
quality of education and thus ultimately addressing poverty. Although there are several
problems such as lack of access to connect internet and high cost of hardware, these can
be overcome. Every Government in developing country should avoid monopoly of
internet services or fixed line telecom operator, then build a national fiber-optic
backbone with substantial capacity for an anticipated increase in internet traffic. These
policy predict will make competitive companies between government and private
companies, including the quality of internet service such as connectivity to the internet
link. For example, Tanzania is implementing 2 mbps links into all 22 regional centers
for similar purposes. The competition between many telecom operators which provide
satellite or wireless solutions is increasing available bandwidth, and prices of access
become cheaper. An other benefit, people can connect to internet by using PC or
mobile phone from every where (Hesselmark 2003). The solution can offer solve the
problem about lack of access in developing countries. In addition, the second problem
of ICTs about high cost of hardware, able to solved by decline the prices of devices.
Developing nations should contribute to the public policy environment for ICTs and the
price, make efforts to create a more open investment climate for international operators
and initiative to develop cheaper devices, such as the $100 laptop. Like in China and
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
30
India, Wall Street Journal (2006) report that customers competition is helping to boost
the production of low-cost PCs. In the 2005 the One Laptop Per Child (OLPD), at a
$100 each, was initiated by Massachusetts Institute for Technology (MIT) (Neves
2008). Certainly, if the strong connectivity of internet and provide cheaper devices
have available, then digital technologies usage for multi sectors in the third world is
apparently the best way to reduce poverty.
In conclusion, there are more evidence that ICTs usage are the best tool as
poverty reduction in developing countries. This is because digital technologies can lead
to economic growth and improve education. Albeit ICTs implementation still have
limited access, it can solve by avoid monopoly access of government then build own
satellite and wireless. Furthermore, the problem about high cost of hardware can also
solve by reduce the price of devices. Therefore, governments in developing nations
should support seriously to ICTs usage seriously by open market of internet services,
also make strong contribution to provide cheaper devices for people.
References :
Batchelor, S, Scott, N and Gamos 2005, ‘Good practice paper on CTs for economic
growth and poverty reduction’, the DAC Journal, Vol. 6, No.3, viewed 10
March 2012, <www.oecd.org/dac>.
Hesselmark, O 2003, ICT in Five African Countries , Sida documentation, viewed 12
march 2012, <www.itu.int/osg/spu/wsis.pdf>.
Khan, H and Williams, JB 2006, Poverty alleviation through Access to Education: Can
E-Learning Deliver?, U21 Global Working Paper Graduate School For Global
Leaders, viewed 13 march 2012, <www.u21global.edu.sg>.
Neves, L 2008, The Contribution the ICT Industry Can Make to Sustainable
Development,Global eSustainability Initiative, viewed 12 March 2012,
<www.gesi.org/SustainableICT/tabid/79/Default.aspx>.
Richardson, D 2005, How can Agricultural extension best harness ICTs to improve
rural livelihoods in Developing Countries?, viewed 12 march 2012,
departments.agri.huji.ac.il/economics/gelb-how-11.pdf
Spence, R and Smith, M.L 2010, ‘ICT, development, and poverty reduction: Five
emerging stories’, USC Anneberg School for Communication & Journalism,
Special
Edition,
Vol.
6,
p.11-17,
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
31
viewed
10
March
2012,
<itidjournal.org/itid/article/viewFile/616/256>
Ssewanyana, J.K. 2007, ‘ICT Access and poverty in Uganda’, International Journal of
Computing and ICT Research, Vol. 1, No.2, viewed 10 March 2012,
<http:www.ijcir.org/volume1-number2/article2.pdf>.
Sudaryanto 2011, ‘The need for ICT education for managers or agri-businessmen for
increasing farm income: Study of factor influences on computer adoption in
East Java farm agribusiness’ , International Journal of
Education and
Development using Information and Communication Technology (IJEDICT),
Vol. 7, Issue 1, pp. 56-67, viewed 12 March 2012, < ijedict.dec.uwi.edu>.
United Nations Conference on Trade and Development 2005, ICT and tourism for
development, Background paper by the UNCTAD secretariat, viewed 12
March 2012, <www.unctad.org>.
United Nations Conference on Trade and Development 2008, Measuring the impact of
ICT use in business: the case of manufacturing in Thailand,
UNCTAD
secretariat and the Thailand National Statistical Office, New York and Geneva,
viewed 13 March 2012, <www.unctad.org>.
Zlotnikova, I.Y 2011, ‘An approach to modeling ICT educational policies in African
countries’, International Journal of Education and Development using
Information and Communication Technology (IJEDICT), Vol. 7, Issue 3, pp.
50-73, viewed 12 March 2012, <ijedict.dec.uwi.edu>.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
32
EDUKASI POLITIK DAN PENCITRAAN PARTAI POLITIK
MELALUI MEDIA SOSIAL
Dra. Farida, MSi
( Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi - Universitas Dr. Soetomo )
Abstract
Trend social media (media social networking) should also be used by the
political parties in its function as an agent of political education as well as forming
imagery among the voters. Given social media can provide ease in interacting and
voters can access it with a very low cost.
Keywords: social media, political parties, political education, political imagery, voters
Pendahuluan
Saat ini media komunikasi berkembang dengan pesatnya, memasuki era media
komunikasi kontemporer, salah satunya adalah media sosial online atau sering disebut
sebagai media jejaring sosial. Media sosial ini tidak hanya memiliki kekuatan sosial,
politik dan budaya, tetapi dari perspektif komunikasipun berperan pula tidak hanya
sebagai alat atau media komunikasi, tetapi juga akan membentuk publisitas dan
pencitraan individu atau lembaga ( Junaedi, 2011:xiii).
Trend media jejaring sosial ini seharusnya juga dimanfaatkan oleh para partai
politik yang akan berkompetisi pada pemilu 2014. Seperti diketahui Indonesia adalah
Negara ketiga terbesar setelah Amerika Serikat yang warga negaranya menggunakan
media sosial (facebook) sebagai medium untuk berkomunikasi (Junaedi, 2011:14).
Sehingga dengan trend seperti itu, maka Parpol bisa menggunakan dan memanfaatkan
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
33
media sosial ini dalam melakukan edukasi politik dan pencitraan partai politiknya di
kalangan para pemilih.
Edukasi politik diperlukan bukan saja bagi para pemilih yang kurang atau belum
memiliki pemahaman tentang persoalan politik, tapi edukasi politik juga diperlukan
bagi pelaku
politik yang sudah memiliki pengetahuan tentang persoalan politik.
Dengan kata lain, pendidikan politik memiliki makna strategis dalam mendorong agar
warga Negara (para pemilih) untuk memiliki pengetahuan politik yang memadai,
sekaligus mendorong terwujudnya aplikasi sistem politik yang baik dan ideal. Maka
urgensi pendidikan politik, selain berfungsi sebagai sosialisasi pelestarian nilai-nilai
politik lama yang baik, juga berfungsi untuk melakukan pembaharuan politik (reformasi
politik), suatu perubahan politik yang predictable, terencana dan lebih terukur.
(http://www.waspadamedan.com/indexphp?option.com)
Memahami Media Sosial
Media sosial seperti facebook, twitter, myspace, twoo, badoo, google+ dan
sebagainya, merupakan jenis media baru yang termasuk dalam kategori online media.
Dengan jenis media baru ini memungkinkan orang (partai politik) bisa berbicara,
terinspirasi, berbagi dan menciptakan jejaring secara online. Tindak komunikasi melalui
sosial secara intensif dapat dilakukan diantara penggunanya. Disamping itu pengguna
juga cenderung berkomunikasi secara ekspresif – orang bisa merasa nyaman dan
terbuka serta memungkinan lebih jujur dalam menyampaikan pesan-pesan yang ingin
diperukarkan dengan orang lain.
Jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang (partai politik) bisa
membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi
informasi dan berkomunikasi. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan
media broadcash, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak
siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback
secara terbuka, memberi komentar serta membagi informasi dalam waktu yang tepat
dan tak terbatas.
Partai politik bisa menjadikan media sosial sebagai sarana untuk berhubungan
dengan para pemilih secara lebih cepat. Pemberian edukasi politik dan pencitraan partai
politiknya menjadi semakin mudah dijangkau. Jika dulu model komunikasi yang
dipraktikkan adalah komunikasi dari mulut ke mulut (mouth of mouth), maka sekarang
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
34
dunia ada di dalam perkataan kita (world of mouth). Kata-kata yang keluar dari para
pengguna media social serta informasi yang saling bertukar membuat dunia dipenuhi
oleh aneka ragam informasi yang berfungsi saling mempengaruhi satu dengan yang
lainnya.
Mc Quail (2010:144) menguraikan ciri-ciri utama yang menandai perbedaan,
antara media baru dengan media lama (konvensional) berdasarkan perspektif pengguna,
yaitu :
1. Interactivity diidentifikasikan oleh rasio respon atau inisiatif dari pengguna
terhadap tawaran dari sumber/pengirim pesan.
2. Sosial presence (sosialibity) dialami oleh pengguna, sense of personal contact
dengan orang lain dapat diciptakan melalui penggunaan sebuah medium.
Media richness : media baru dapat menjembatani adanya perbedaan kerangka
referensi, mengurangi ambiguitas, memberikan isyarat-isyarat, lebih peka dan
lebih personal.
3. Autonomy : seorang pengguna merasa dapat mengendalikan isi dan
menggunakannya dan bersikap independen terhadap sumber.
4. Playfulness : digunakan untuk hiburan dan kenikmatan
5. Privacy : diasosiasikan dengan penggunaan medium dan / atau isi yang
dipilih.
6. Personalization : tingkatan dimana isi dan penggunaan media bersifat
personal dan unik.
Berarti dengan media sosial, partai politik dapat menjajaki siapa saja yang
tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka,
serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tidak terbatas. Media sosial kini
telah berkembang dengan pesat. Dengan kecepatan penyebaran informasi dan
komunikasi yang bersifat timbal balik, media sosial dalam beberapa hal telah mampu
menggeser fungsi dari media konvensional.
Dengan media sosial, partai politik dapat melakukan kontribusi dan interaksi
dengan lebih intensif, partai politik juga dapat menciptakan gagasan dan mengolahnya
sendiri. Beban psikologis dalam media sosial relatif tereliminasi. Jika dalam kehidupan
sehari-hari partai politik tidak bisa menyampaikan pendapat secara terbuka karena satu
dan lain hal, maka menjadi berbeda jika partai politik menggunakan media sosial, partai
politik bisa menulis apa saja yang dia mau atau partai politik bebas mengomentari
apapun yang ditulis atau disajikan orang lain. Ini berarti komunikasi bisa terjalin dua
arah. Komunikasi ini kemudian menciptakan komunitas dengan cepat, karena ada
keterkaitan yang sama akan suatu hal.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
35
Karakteristik masyarakat dunia maya dengan sistem kolaborasinya dalam media
sosial, kemudian menandakan masyarakat baru dengan gaya hidup baru yang penuh
warna dan kemudahan. Sebagai ruang berkomunikasi (pergaulan), media sosial
menawarkan berbagai ragam harapan yang mungkin dimanfaatkan oleh setiap individu.
( Tabroni, 2012 : 161-162)
1. Media sosial menghilangkan jarak profesi dan status sosial.
2. Di media sosial, kebanyakan orang menyembunyikan status diri yang
sebenarnya, khususnya terkait pekerjaan atau profesi.
3. Munculnya daya kritis alamiah publik.
4. Media sosial pada dasarnya hanya menyambungkan masyarakat maya yang
satu dengan yang lainnya melalui kesepahaman dan persamaan
kepentingan.
Media sosial pada dasarnya dapat menyajikan informasi yang disuguhkan media
konvensional. Di media sosial, masyarakat juga bisa mendapatkan berbagai macam
informasi. Bahkan, media sosial dapat memberikan kemudahan berinteraksi antar
anggota yang belum bisa dilakukan media konvensional. Masyarakat dapat mengakses
media sosial dengan biaya yang sangat murah. Pada aspek pengelolaan, media sosial
dapat dimiliki oleh siapapun, berbeda dengan media konvensional yang hanya dapat
dibuat dan dikelola oleh orang-orang tertentu yang jumlahnya sangat banyak.
Media sosial oleh Antony Mayfield dalam bukunya What is Social Media di
definisikan sebagai satu kelompok jenis baru dari media, yang mencakup karakterkarakter berikut ini:
1. Partisipasi
Media sosial mendorong kontribusi dan umpan balik dari setiap orang
yang tertarik. Tidak ada yang bisa membatasi seseorang untuk menjadi
bagian dari media social. Setiap orang dapat melakukannya secara bersamasama berdasarkan kesadaran sendiri.
2. Keterbukaan
Setiap kata yang telah dipublikasikan di media sosial berpeluang untuk
ditanggapi oleh orang lain, karena pada dasarnya media sosial bersifat
terbuka untuk siapa saja. Hamper tidak ada penghalang untuk mengakses
dan membuat isi. Karenanya setiap pengunjung akan cenderung tidak suka
jika dalam media sosial ada semacam password yang menghambat proses
interaksi.
3. Percakapan
Perbedaan yang mendasar antara media konvensional dengan media sosial
adalah media konvensional bersifat menginformasikan (satu arah),
sedangkan media social lebih pada percakapan dua arah atau lebih.
4. Komunitas
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
36
Media sosial seringkali dimanfaatkan oleh komunitas masyarakat, baik
terkait dengan pekerjaan, etnis, pendidikan, maupun minat yang sama.
Media sosial memberi peluang komunitas terbentuk dengan cepat dan
berkomunikasi secara efektif.
5. Saling terhubung
Sifat dari media sosial it berjejaring. Antara satu dengan yang lainnya akan
saling terhubung. Keberhasilan media social terletak pada link-link yang
menghubungkan media sosial dengan situs-situs, antar media sosial, juga
orang per orang.
Kesamaan karakteristik yang dimiliki oleh media sosial dan media konvensional
adalah kemampuan menjangkau audiens yang kecil atau besar, misalnya,baik posting
blog atau acara televise dapat mencapai nol orang atau jutaan orang. Namun media
sosial memiliki beberapa perbedaan dari berbagai aspek dengan media konvensional
pada umumnya adalah :
1. Keterjangkauan
Media social yang merupakan bagian dari internet, memberikan skala
keterjangkauan tidak terbatas. Tingkat keterjangkauan media sosial sangat
luas, mampu menembus batas ruang dan waktu. Bisa diakses kapan saja dan
dimana saja.
2. Aksesibilitas
Media mainstream biasanya dimiliki dan diakses oleh masyarakat terbatas.
Sedangkan media sosial dapat ditembus oleh masyarakat umum, baik yang
bermodal maupun tidak.
3. Penggunaan
Untuk membuat dan mengelola media bisnis diperlukan keahlian khusus,
sehingga perlu pendidikan secara spesifik. Namun media sosial tidak
demikian, siapapun yang punya keinginan untuk membuat dan mengelola,
pasti bisa sebab dari sisi teknis mudah serta dari sisi biaya murah, sehingga
memungkinkan setiap orang dapat menggunakannya.
4. Respons
Respon dalam proses interaksi antara publik dan media konvensional bersifat
tertunda (delayed feedback). Namun dalam media sosial, respons bersifat
langsung pada saat itu juga, tanpa jeda waktu yang relatif lama. Untuk
menjembatani hal ini, media konvensional pada umumnya juga
menggunakan beberapa fasilitas media sosial dalam berkomunikasi dengan
pembaca dan penontonnya.
5. Konten
Informasi atau konten dalam media sosial dapat diubah kapan saja
pengelolanya mau, bahkan orang yang berkomentar pun dapat ikut
mengubahnya. Sebaliknya, informasi atau konten dalam media konvensional
permanen, tidak dapat diubah sama sekali ( Tabroni, 2012 : 164)
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
37
Dalam wikipedia.com, media sosial diartikan sebagai sebuah media online, di
mana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan isi
meliputi blog, sosial network (jejaring sosial), wiki, forum dan dunia virtual. Blog,
jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan
oleh masyarakat di seluruh dunia. Sementara jejaring sosial merupakan situs di mana
setiap orang bisa membuat webpage pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman
untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jejaring social terbesar antara lain adalah,
facebook, myspace dan twitter.
Pemanfaatan Media Sosial oleh Partai Politik
Kajian tentang pemanfaatan dan penggunaan media social oleh partai politik di
Indonesia secara ilmiah belum banyak dilakukan, bahkan bisa dikatakan belum ada.
Facebook sendiri baru menjadi perhatian penting publik pengguna internet setelah
Obama memanfaatkannya untuk kampanye politik pemilihan presiden Amerika Serikat
pada tahun 2008 (Ibrahim, 2011:104). Facebook dan Barack Obama, atau kampanye
pemilu Amerika Serikat 2008 secara umum, memiliki hubungan yang saling
menguatkan. Obama menang antara lain karena memanfaatkan jejaring sosial,
diantaranya facebook yang paling besar. Sebaliknya facebook sendiri jadi semakin besar
dan penting serta semakin banyak anggotanya karena dipopulerkan oleh kampanye
Obama (Priyatna, 2009:70).
Dalam Kompas (27 Desember 2008) juga diungkapkan bahwa salah satu faktor
penentu kemenangan Barack Obama dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat adalah
karena ia berhasil menggaet pendukung di dunia maya. Selain membuat situs
barackobama.com, ia juga mendekatkan diri dengan pendukungnya melalui banyak
situs-situs jejaring sosial, salah satunya facebook.
Salah satu kekurangan kampanye melalui internet sudah terjadi di Indonesia
adalah minim memanfaatkan media sosial. Baik SBY, Amien Rais, Megawati maupun
Wiranto, pada Pilpres 2004 sama sekali belum menyentuh media sosial. Pada tahun
2009 pun penggunaan media sosial tetap masih sangat terbatas, begitupun yang terjadi
di daerah-daerah. Hal ini sangat berbeda dengan Obama yang lebih dikenal sebagai
Presiden facebook dan Blackberry (Tabroni, 2012:160).
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
38
Meskipun studi tentang media sosial di Indonesia belum banyak dilakukan,
tetapi penggunaannya memang mengesankan. Ini terbukti dari begitu banyaknya grupgrup (dalam facebook) yang menyuarakan isu atau kepentingan khusus. Mereka
bermaksud menarik dukungan publik dan menjadi anggota atau follower mereka. Tak
heran kalau kemudian media social seperti facebook dan twitter tidak hanya bermanfaat
untuk membangun komunitas virtual, tetapi juga ia telah menjadi bagian penting dari
media komunikasi politik baru, bagi generasi net.
Mike Westling, ilmuwan dari University of Wisconsin, telah menguji fitur-fitur
facebook yang digunakan untuk komunikasi politik serta keefektifannnya bagi aktor
politik dan anggota komunitas. Dari hasil pengamatannya dihasilkan bahwa kandidat
hanya akan melanjutkan secara aktif penggunaan facebook jika mereka mengantisipasi
harapan untuk jabatannya kembali di masa depan. Sedikit fitur-fitur yang diadakan oleh
facebook yang original sama sekali, tetapi kombinasinyalah yang membuat facebook itu
efektif. Signifikansi facebook adalah facebook bahwa facebook mengkombinasikan
semua layanan dalam sustu jaringan anggota. Kemudian kebanyakan komunikasi yang
dilakukan antara kandidat dan anggota masih satu facebook arah, tetapi nilai facebo
untuk berasal dari kekuatan anggotanya untuk mengorganisasi diri dan merespon dalam
setting publik (Westling dalam Ibrahim 2011;105)
Minimnya pemanfaatan media sosial pada saat itu karena belum banyak dikenal
sehingga dianggap tidak akan optimal. Namun menjelang pemilihan legislatif dan
pemilihan presiden 2014, diduga akan banyak partai politik menggunakan media sosial,
baik personal maupun lembaga. Hal ini sangat wajar sebagaimana dalam data yang
dirilis Kominfo, Indonesia merupakan pengguna media sosial ketiga di dunia.
Walaupun dari aspek konten, kita juga perlu mendiskusikan kembali manfaatnya.
Namun tidak disangkal lagi saat ini kekuatan media sosial dalam menggalang opini di
dunia maya mulai diperhitungkan banyak pihak, termasuk para partai politik. Karenanya
partai politik seyogyanya bisa memanfaatkan media sosial sebagai medianya untuk
menjalankan fungsinya sebagai agen edukasi politik sekaligus mencitrakan partainya
dan orang-orangnya dengan pesan dan kemasan yang baik kepada para pemilih.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
39
Ibrahim, Idisubandi, Kritik Budaya Komunikasi, Budaya, Media, dan Gaya Hidup
dalam Proses Demokratisasi di Indonesia, Jalasutra, 2011
Junaedi, Fajar, Komunikasi 2.0 Teoritisasi dan Implikasi, Matu Padi Pressindo, 2011
McQuail, Denis, Mass Communication, Theory, Sixth Edition, London, Sage
Publication Ltd, 2010
Priyatna, Haris, Sukses di Era Facebook, Bandung, How Press (Kelompok Pustaka
Hidayah), 2009
Tabroni, Roni, Komunikasi Politik pada Era Multi Media, Simbiosa Rekatama Media,
2012
Non Buku
http://www.waspadamedan.com/indexphp?option.com
Kompas, tanggal 27 Desember 2008
www. Wikipedia.com
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
40
MENGHITUNG HARI MASA DEPAN MEDIA CETAK
(Media Online Menebar Ancaman Lewat Kecepatan)
Yenny, MSi
(Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi – Universitas Dr. Soetomo)
Perilaku masyarakat dalam mengonsumsi media dalam kurun waktu beberapa
tahun terakhir mengalami perubahan. Bila sebelumnya masyarakat terbiasa menunggu
kehadiran surat kabar, kini kebiasaan tersebut berubah dengan kehadiran penggunaan
peranti komunikasi bergerak (mobile gadget).
Selama ini karakteristik surat kabar yang menjangkau semua orang kecuali yang
masih sangat muda, surat kabar menarik perhatian suatu khalayak yang sangat
majemuk. Sekitar (98% dari semua pembaca membaca berita yang terdapat di halaman
muka, sekitar 58% membaca berita di halaman-halaman lain tertentu. Tetapi setelah
halaman muka, subyek menjdai lebih penting daripada nomor halaman dalam
menentukan apa yang ingin dibaca, karena pembaca-pembaca yang berlainan mencari
hal-hal yang berlainan. Umur, pendidikan, jenis kelamin, dan status-ekonomis
merupakan factor-faktor yang menentukan apa yang akan dibaca. Secara umum, kaum
muda tampaknya membaca Koran untuk mencari hiburan, pembaca yang lebih tua
mencari informasi dan pandangan mengenai percaturan masyarakat. Kaum dewasa lebih
banyak membaca berita daripada kaum muda, yang nampaknya lebih tertarik pada
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
41
gambar-gambar yang termuat dalam surat kabar, pada berita kriminal, lalu berita
tentang bencana.
Baru beberapa tahun yang lalu ada anggapan luas bahwa dunia persuratkabaran
sedang sekarat. Sekalipun diandaikan bahwa surat kabar mampu bertahan dalam
persaingannya dengan televisi, demikian anggapan itu lebih lanjut, surat kabar akan
lemah dan tidak efektif lagi. Ia menjadi medium yang kurang berarti. Ramalan demikian
rupanya cukup mengena, dan satu demi satu Koran metropolitan berguguran, bahkan
sering secara mendadak. Namun sejak awal 1980-an menjadi jelaslah bahwa dunia
persuratkabaran hanya sedang mengalami pembenahan kembali, meskipun proses
pembenahan kembali itu sangat sulit. Sementara banyak Koran raksasa sekarat, yang
lainnya mampu bertahan karena telah membangun cita-cita pelayanan yang kuat
Semua tidak akan pernah menyangka majalah Newsweek yang berwibawa dan
terkenal sedunia akan tutup. Menutrut editornya, Tina Brown pada oktober 2012, bahwa
era cetak dan majalah dengan tinta akan berakhir. Tina menegaskan percetakan dengan
tinta dan kertas tidak lagi relevan saat ini, dan ia segera bereinkarnasi menjadi majalah
digital Newsweek Global.
Keunggulan Media Cetak
Walaupun media cetak hanya mengandalkan tulisan untuk menarik pembacanya,
tetapi media cetak ini memiliki keunggulan yang membuat para pembacanya memilih
media cetak sebagai sumber informasinya. Keunggulan media cetak yang pertama,
terletak pada repeatable.
Repeatable ini merupakan kelebihan media cetak yang bisa dibaca berkali-kali
dengan menyimpannya atau mengklipingkan informasi tersebut kedalam bentuk buku.
Hal ini memungkin para pembaca untuk bisa melihat dan membaca kembali ketika
informasi tersebut dibutuhkan.
Kemudian, keunggulan lain dari media cetak ini juga terletak pada analisis yang
bisa dilakukan oleh pembaca. Dengan media cetak, pembaca bisa melakukan analisis
lebih tajam yang bisa membuat pembaca lebih mengerti dan paham terhadap isi berita
atau informasi yang terdapat dalam media cetak tersebut. Dengan analisis yang lebih
mendalam, pembaca dapat berpikir lebih spesifik mengenai tulisan yang berupa
informasi tersebut.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
42
Selain itu, media cetak juga biasanya memberikan informasi dengan lebih jelas
dan mampu menjelaskannya lebih kompleks. Hal ini terlihat dari penyajian informasi
dalam media cetak yang disertai dengan keterangan gambar atau foto yang menjelaskan
informasi yang disampaikan.
Informasi-informasi yang disampaikan dalam media cetak juga sering bersifat
investigasi. Hal ini dapat membuat pembaca bisa lebih kritis dalam menanggapi suatu
berita yang dimuat dalam media cetak tersebut.
Jika dilihat dari harganya, media cetak ini lebih murah daripada harga dari
media lainnya. Hal ini tentunya sangat terjangkau oleh semua kalangan dalam
mendapatkan berita dan informasi terkini baik informasi di wilayahnya maupun
informasi di wilayah lain. Bahkan, pembaca juga bisa memilihi produk apa saja dari
berbagai produk yang dikeluarkan media cetak tersebut, seperti koran, majalah, maupun
tabloid yang beredar.
Kelemahan Media Cetak
Selain keunggulan, media cetak ini memiliki kelemahan dibandingkan dengan
media lainnya. kelemahan-kelemahan ini menjadikan media cetak ini semakin
ditinggalkan oleh beberapa kalangan. Hal ini juga didorong dengan banyaknya gadgetgadget canggih yang bisa dimanfaatkan dalam mencari informasi yang dibutuhkan oleh
orang banyak.
Teknologi yang semakin canggih membuat media cetak ini tertinggal dalam
perkembangannya. Adanya fasilitas internet yang bisa dijangkau di telepon genggam,
sambungan jaringan, dan lain sebagainya membuat media cetak seakan tidak
dibutuhkan oleh pengguna jaringan internet. Beberapa kelemahan dari media cetak yang
saat ini mulai ditinggalkan oleh beberapa kalangan, diantaranya adalah waktu dan
penyajian.Dari
segi
waktu,
media
cetak
dianggap
cukup
lamban
dalam
menginformasikan informasi terbaru bagi para pembacanya. Hal ini terlihat dari
penerbitan media cetak yang tidak secara langsung menginformasikan informasi terbaru
kepada masyarakat.
Berbagai bentuk media cetak, seperti koran, tabloid dan majalah menerbitkan
berita atau informasi setelah penyebarluasan percetakan. Hal ini dilihat dari
penyebarluasan koran, majalah atau tabloid yang diterbitkan setiap edisi, baik itu harian,
mingguan, bahkan bulanan. Tentu hal ini tidak menjamin informasi yang disebarluaskan
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
43
tersebut up to date. Phillip Meyer seorang penulis buku yang berjudul “The Vanishing
Newspaper” meramalkan koran terakhir yang terbit adalah pada april 2040. Hal ini bisa
dilihat dari mulai berjamurnya berita yang disajikan dalam bentuk digital serta
peminatnya banyak.
Generasi Internet
Semenjak kehadiran internet, pola kehidupan masyarakat dunia sedikit demi
sedikit terus berubah. Masyarakat terasa begitu dimanjakan oleh teknologi.
Ditemukannya Komputer, Handphon, Gadget, PDA, sedikit demi sedikit telah
merombak wajah lugu masyarakat kita.
Sekarang kita bisa melihat, bagaimana internet memberikan pengaruh yang
sangat besar terhadap sikap dan perbuatan sebagian masyarakat kita, hampir seluruh
masyarakat kota sudah sangat dekat dengan internet, masyarakat desa juga mulai
terpengaruh oleh keadaan yang memaksa mereka untuk maju dengan menggunakan
teknologi. Internet telah merobohkan tembok pembatas antar informasi yang selama ini
hanya dapat di telusuri melalui media cetak, seperti surat kabar dan majalah. Kini
dengan hanya melakukan browsing melalui perangkat komputer atau gadget
menggunakan internet, kita dapat mengetahui berbagai jenis informasi yang ada.
Terdapat ribuan situs surat kabar digital yang tersebar diinternet. Para penerbit surat
kabar tersebut sebelumnya selalu berkecimpung dalam surat kabar edisi cetak. Tetapi
karena faktor persaingan dan untuk mengatasi keterpurukan, mereka terpaksa membagi
berita melalui edisi cetak dan digital.
Kita bisa melihat bagaimana ambruknya perusahaan surat kabar di Amerika
Serikat (AS), kejadian tersebut bukan disebabkan oleh buruknya kualitas jurnalisme,
tetapi lebih karena berkurangnya pembeli surat kabar edisi cetak yang mengakibatnya
berkurangnya pendapatan iklan melalui surat kabar edisi cetak, pembaca lebih memilih
membaca surat kabar dalam bentuk digital melalui media komputer atau gadged karena
berita yang ditampilkan cenderung lebih baru.
Menurut survei Nielsen Media Research di sembilan kota di Indonesia (populasi
43,87 juta dengan umur 10 tahun ke atas), pada kuartal III 2009, konsumsi koran justru
mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir (awal 2005 mencapai 28 persen,
tetapi terus menurun tinggal 18 persen pada kuartal III 2009). Konsumsi majalah pun
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
44
turun dari 20 persen menjadi 11 persen, tabloid turun dari 20 persen menjadi 13 persen).
Hal ini membuktikan betapa sulitnya surat kabar edisi cetak sekarang ini berkembang.
Sebanyak 34 persen dari pembaca koran adalah pengguna internet dan 41 persen
pembaca koran juga mengakses berita lokal dari internet. Sejak 2006, persentase
pengguna internet yang berusia muda terus bertambah, dari 12 persen menjadi 20 persen
(usia 10-14 tahun) dan dari 24 persen menjadi 33 persen (usia 15-19 tahun), sedangkan
untuk
usia
20-29
tahun
turun
dari
40
persen
menjadi
30
persen
(http://newspaper.pikiran-rakyat.com).
Media Cetak Berguguran
Dunia dikejutkan kabar menghebohkan pada 18 Oktober 2012 lalu. Majalah
Newsweek yang sudah malang melintang selama lebih dari tujuh dekade memutuskan
akan menghentikan penerbitan edisi cetak per 31 Desember 2012. Penerbitan dalam
edisi cetak selanjutnya akan diganti digital dengan mengusung nama Newsweek Global.
Kabar yang disampaikan Tina Brown selaku editor-in-chief Newsweek itu memang luar
biasa mengejutkan bagi kalangan pers internasional. Apalagi jika melihat sejarah
panjang Newsweek sebagai salah satu majalah berita terkemuka dan pesaing utama
majalah Time. Namun apa yang menimpa majalah yang pertama kali terbit pada 17
Februari 1933 ini sudah bisa diprediksi sebelumnya. Perkembangan teknologi digital
yang makin pesat secara tidak langsung turut mempengaruhi eksistensi media cetak.
Sekarang ini, hampir semua orang mengenal internet. Berdasarkan data Internet
World Stats, hingga 2011 jumlah pengguna internet sudah lebih dari 2,2 miliar orang
atau hampir sepertiga dari jumlah penduduk dunia. Angka tersebut berpeluang besar
bertambah pada akhir 2012 mengingat akses internet kian mudah. Dulu, selain
memanfaatkan fasilitas di kantor, orang harus ke warung atau kafe internet untuk bisa
menjelajahi dunia maya.
Kini, internet bisa diakses di mana saja, kapan saja. Dukungan piranti atau
gadget yang semakin canggih memungkinkan orang mendapatkan akses internet dengan
mudah. Selain smartphone dan tablet, mayoritas telepon seluler kini dilengkapi
perangkat lunak untuk mengakses internet. Operator telepon seluler juga berlombalomba menawarkan paket berlangganan internet bertarif murah dengan kecepatan
maksimal. Sementara bagi pengguna PC dan notebook, akses internet bisa diperoleh
dengan memakai modem. Pengguna notebook juga bisa memanfaatkan jaringan Wi-Fi
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
45
untuk akses internet. Saat ini, ruang publik seperti kafe, restoran, taman, stasiun dan
terminal mulai menyediakan fasilitas Wi-Fi untuk umum.
Pesatnya perkembangan teknologi sekarang tak pelak membuat masyarakat
semakin up to date. Mereka bisa mendapatkan informasi tentang apa saja, kapan pun
mereka mau, melalui akses internet. Dibarengi dengan perkembangan media sosial yang
makin pesat, masyarakat seperti tak pernah ketinggalan informasi. Mereka juga bisa
terus saling terhubung tanpa harus bertatap muka secara langsung.
Tren ini tidak hanya membawa dampak pada inovasi teknologi dan pertumbuhan pasar
elektronik, tapi juga pada perkembangan bisnis media. Sejak awal tahun 2000an, media
online banyak bermunculan. Menyuguhkan berita-berita terkini, keberadaan media
online pelan-pelan menggeser eksistensi media cetak. Dulu, media cetak seperti koran,
majalah dan tabloid menjadi acuan masyarakat dalam mendapatkan informasi terkini
tentang peristiwa yang terjadi di sekitar mereka maupun di dunia internasional. Kini,
masyarakat lebih memilih mengakses media online untuk mengetahui berita maupun
perkembangan terbaru. Media online turut mempermudah akses informasi itu dengan
memanfaatkan
sosial
media
seperti
Twitter
dan
Facebook
sebagai
sarana
menyebarluaskan berita terbaru yang sudah diunggah tim redaksi.
Perubahan ini membawa dampak yang kurang menyenangkan bagi media cetak.
Dari sisi pemberitaan, mereka tidak hanya harus bersaing dengan media cetak lain, tapi
juga media online maupun media elektronik seperti televisi dan radio. Dalam
menurunkan sebuah berita dari peristiwa atau isu yang sama, tim redaksi media cetak
harus mencari angle berbeda agar berita yang diturunkan tetap memiliki nilai jual dan
tidak kalah dari media online, yang dari segi kecepatan jelas lebih unggul.
Dari segi pendapatan, sekali lagi, media cetak tidak hanya harus bersaing dengan
sesama media cetak, tapi juga media online. Sama seperti jumlah oplah untuk koran,
tabloid dan majalah, banyaknya hit atau pengakses situs berita berpengaruh pada
pendapatan dari iklan. Perlu diketahui, keputusan sebuah perusahaan untuk memasang
iklan di media cetak tertentu turut dipengaruhi jumlah oplah media cetak tersebut.
Semakin banyak jumlah oplah media cetak, asumsinya, makin banyak juga
pembacanya. Ini berarti, pesan yang ingin disampaikan perusahaan ke masyarakat
melalui iklan yang dipasang di media cetak tersebut bisa sampai sesuai keinginan atau
target yang ditetapkan.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
46
Hal serupa berlaku di media online. Semakin tinggi hit, berarti makin banyak
juga orang yang mengakses portal atau situs tersebut. Pemasang iklan pun akan
mempertimbangkan untuk memasang iklan di sana. Keterbatasan dana untuk
pemasangan iklan kemungkinan besar juga jadi pertimbangan pihak perusahaan dalam
memutuskan di media mana mereka akan memasang iklan. Di sinilah persaingan terjadi.
Tergantung Iklan
Mengapa pendapatan dari sektor iklan sangat penting bagi media cetak?
Alasannya sederhana. Kelangsungan hidup media cetak sangat tergantung pada iklan.
Untuk bisa menutup biaya operasional media cetak yang tidak sedikit, pendapatan dari
pemasangan iklan harus besar. Memang, perusahaan media juga menerima pendapatan
dari penjualan koran, tabloid atau majalah. Namun jumlahnya tidak terlalu besar.
Bahkan jika dihitung, pendapatan dari penjualan koran, tabloid atau majalah tidak
mampu menutup biaya cetak. Artinya, pendapatan dari iklan jadi nafas utama
perusahaan media. Semakin banyak pemasang iklan, semakin besar pula pendapatan.
Sebaliknya, minimnya jumlah pemasang iklan membuat pemilik perusahaan harus terus
mengucurkan dana pribadi untuk menutup biaya operasional. Jika tidak kunjung
menunjukkan tanda-tanda adanya keuntungan, bukan tidak mungkin pemilik perusahaan
akan menutup media tersebut dengan alasan keterbatasan dana.
Dibanding media online, biaya operasional media cetak memang lebih besar dan
lebih mahal. Selain gaji karyawan, beban terbesar media cetak ada di biaya cetak.
Hitungan biaya cetak untuk satu eksemplar koran, misalnya saja, bisa melebihi harga
jual per eksemplarnya. Biaya semakin besar jika pihak perusahaan media tidak memiliki
mesin cetak sendiri. Dalam menerbitkan koran, majalah atau tabloid, mereka harus
menjalin kontrak dengan pihak percetakan selama kurun waktu tertentu. Biaya yang
harus dibayarkan? Bisa mahal, bisa murah. Tarif percetakan, terutama untuk koran,
terbilang beragam. Ada yang murah, ada juga yang mahal. Hanya saja, seperti kata
orang Jawa, ana rega ana rupa. Artinya, jika ingin mendapatkan kualitas cetak yang
bagus, pihak perusahaan koran harus mau mengeluarkan biaya lebih besar. Sebaliknya,
jika perusahaan koran memilih percetakan bertarif murah, kualitasnya yang didapat pun
tidak terlalu bagus.
Memang, perusahaan media cetak bisa mengatasi masalah biaya cetak dengan
membeli mesin cetak sendiri. Memiliki mesin cetak sendiri tidak hanya meringankan
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
47
biaya cetak, tapi juga membuka keran pendapatan bagi pihak perusahaan media dari
sektor lain. Mereka bisa menerima order cetak dari pihak lain, entah itu sesama
perusahaan media atau perusahaan yang bergerak di sektor lain yang butuh membuat
selebaran, brosur dan lain sebagainya. Namun tidak semua perusahaan media mampu
membeli cetak. Terutama perusahaan media dengan dana terbatas tapi tetap bernafsu
menerbitkan sebuah koran, majalah atau tabloid. Jika tidak diimbangi pemasukan yang
besar, biaya cetak lambat laun akan menjadi beban besar bagi keuangan perusahaan.
Kampanye Paperless
Selain masalah persaingan antar media dan keuangan, media cetak juga
menghadapi tantangan lain. Isu lingkungan hidup saat ini kian booming. Kampanye
paperless atau pengurangan penggunaan kertas semakin ramai didengungkan. Proses
administrasi di beberapa instansi pemerintah maupun perusahaan swasta sekarang juga
mulai bergeser dari kertas ke elektronik. Data yang dibutuhkan cukup dimasukkan
dalam data base yang bisa diakses seluruh pihak dalam perusahaan melalui komputer
yang terhubung lewat local area network. Selain lebih efektif, cara ini juga mengurangi
penggunaan kertas yang saat ini menjadi isu tersendiri terkait lingkungan hidup. Seperti
diketahui, bahan pembuatan kertas berasal dari kayu. Artinya, makin banyak kertas
yang dipakai, makin banyak pula pohon yang harus ditebang. Praktik semacam ini
memang sudah berjalan lama. Hanya saja, aksi penebangan pohon tidak dibarengi
dengan penanaman kembali. Imbasnya, jumlah hutan yang ada di dunia semakin
berkurang. Tanpa hutan, masalah lingkungan pun muncul, mulai dari bencana alam
hingga pemanasan global. Fakta inilah yang mendorong para aktivis lingkungan hidup
gencar mendengungkan kampanye paperless.
Mengapa masalah ini berkaitan erat dengan bisnis media cetak? Karena media
cetak salah satu pengguna kertas terbesar di dunia. Bayangkan saja, berapa ribu lembar
kertas koran yang dipakai dalam sehari. Dan berapa ribu lembar juga yang terbuang
setelah seluruh berita dalam koran tersebut selesai dibaca. Memang, saat ini sudah
banyak pihak yang menjalankan bisnis daur ulang kertas maupun orang-orang yang
mulai memilih menggunakan kertas daur ulang. Namun jumlahnya belum sebanding
dengan jumlah kertas yang diproduksi, digunakan dan dibuang setiap hari.
Jika melihat kondisi tersebut dan tren yang berkembang sekarang, bukan tidak
mungkin media cetak nantinya akan ditinggalkan, entah oleh pembaca maupun
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
48
investornya. Memang, untuk saat ini, masih banyak orang yang setia membaca maupun
berlangganan koran, majalah atau tabloid. Tapi tidak sedikit juga publik yang mulai
memilih berlangganan koran, majalah atau tabloid secara elektronik. Tak sedikit pula
yang rajin mengakses berita-berita di media online, minimal sekali dalam sehari.
Bisnis media online juga makin berkembang. Dalam beberapa tahun terakhir,
banyak bermunculan media online baru. Memang, banyak pula koran, majalah atau
tabloid baru yang beredar di pasaran. Namun tidak sedikit pula yang akhirnya gulung
tikar atau statusnya “hidup segan mati tak mau” karena sulit merebut pasar yang sudah
didominasi media cetak tertentu, yang sudah bisa dipastikan punya nama lebih besar.
Bagaimana masa depan media cetak? Akankah media cetak tetap bertahan atau justru
akan menghilang ditengah derasnya arus perkembangan media online? Tak heran jika
hal tersebut banyak ditanyakan oleh berbagai pihak, mengingat dizaman teknologi
internet seperti sekarang ini, keeksisan media cetak semakin menurun. Hal ini dapat
dilihat dari semakin menurunnya jumlah oplah koran, baik di Indonesia maupun di
dunia. Selain itu, mulai banyak industri-indutri koran yang gulung tikar, seperti yang
baru-baru ini dialami oleh salah satu industri raksasa koran di AS. Melihat hal tersebut,
banyak pihak yang memprediksi bahwa suatu saat nanti media cetak akan benar-benar
menghilang, dan digantikan oleh media online.
Jika dilihat dari semakin menurunnya permintaan dan produksi koran, serta
semakin meningkatnya jumlah pengguna internet, bukan tidak mungkin prediksi
mengenai “kematian” media cetak akan benar-benar terjadi. Di Indonesia sendiri,
terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, sebagian masyarakat lebih memilih untuk
membaca berita yang tersaji di media online daripada di media cetak. Hal ini didukung
oleh data yang menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia semakin
meningkat dan pada tahun 2012 jumlah tersebut mencapai 61 juta pengguna
(sumber:tekno.liputan6.com). Berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh media online
pun menjadi alasan masyarakat lebih memilih media online daripada media cetak.
Keunggulan Media Online
Kelebihan yang pertama yaitu berita yang disajikan dalam media online lebih
up-to-date dibandingkan dengan berita yang disajikan dalam media cetak. Berbeda
dengan media cetak yang memiliki periodisasi penerbitan (per hari, per minggu, per
bulan, dsb), media online tidak terpaku pada periodisasi penerbitan. Peristiwa yang baru
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
49
terjadi hari ini bisa langsung dimuat oleh media online dan bisa langsung dibaca oleh
masyarakat yang mengaksesnya. Sedangkan untuk media cetak, peristiwa yang terjadi
hari ini, baru akan dimuat keesokan harinya.
Yang kedua, media online lebih praktis untuk digunakan, apalagi didukung
dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dan selalu memberikan
kemudahan-kemudahan baru bagi masyarakat. Masyarakat dengan mudah bisa
mengakses internet dan membaca berita-berita di media online melalui smartphone dan
gadget-gadget lainnya. Selain itu, media online juga memungkinkan penggabungan
berbagai format penyajian, seperti penggabungan antara tulisan, video dan audio, yang
tidak bisa ditemukan pada media cetak.
Selanjutnya, media online dianggap lebih ramah lingkungan. Isu global warming
yang berkembang di masyarakat semakin meningkatkan kesadaran masyarakat akan
gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Bagi mereka yang menerapkan gaya hidup
tersebut, media cetak dianggap tidak ramah lingkungan, karena kebanyakan orang
cenderung hanya membaca koran yang dibelinya sekali saja, dan kemudian koran hanya
menjadi kertas bekas dan tidak terpakai. Apalagi sekarang industri media cetak sudah
mulai memanfaatkan terknologi internet dengan menyajikan versi online (seperti koran
Kompas yang membuat kompas.com) dan koran versi digital (e-paper) yang isinya
sama persis dengan koran versi cetak. Tentunya mereka lebih memilih versi online dan
e-paper jika berita yang disajikan pun akhirnya sama dengan berita yang disajikan
dalam koran versi cetak.
Kelebihan berikutnya yaitu media online tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
Pengguna media online bisa mengakses berita-berita di situs tersebut kapan saja dan
dimana saja selama masih ada koneksi internet. Selain itu, media online memungkinkan
adanya interaksi antara pembaca dengan penulis berita. Dalam hal ini, pembaca dapat
ikut aktif dalam memberikan komentar terhadap berita yang mereka baca melalui
kolom-kolom komentar (seperti kolom komentar yang tersedia pada media detik.com
dan media-media online lainnya). Selain itu, pembaca juga dimungkinkan untuk aktif
menjadi penulis dalam forum-forum seperti kompasiana.com.
Jumlah pembaca koran di negara berkembang seperti Indonesia memang bisa
dikatakan masih cukup banyak dibandingkan dengan negara-negara maju yang sudah
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
50
begitu akrab dengan teknologi internet. Salah satu faktor pendukungnya yaitu masih
adanya keterbatasan untuk mengakses internet di daerah-daerah kecil sehingga
membuat masyarakat disana belum bisa membaca berita di media online. Akan tetapi,
tetap saja jumlah pembaca koran dari hari ke hari semakin menurun, dan hal itu turut
menurunkan pula jumlah produksi koran. Penurunan jumlah produksi tentunya juga ikut
merugikan industri koran tersebut dan pada akhirnya akan berakibat pada kebangkrutan.
Bisa kita lihat juga sekarang sudah banyak industri media cetak yang melakukan
konvergensi media, salah satunya dengan membuat versi online (koran Kompas dengan
kompas.com, koran Jakarta Post dengan thejakartapost.com, dsb). Jadi, bukan tak
mungkin suatu saat nanti media cetak akan benar-benar menghilang karena tidak
mampu bertahan melawan arus perkembangan media online.
Daftar Pustaka
Departemen Komunikasi dan Informatika RI, Membangun Pers Nasional Yang Bebas,
Profesional Dan Bermartabat, Jakarta, 2006
Jurnal Dewan Pers, Era Media Online, New Media,Edisi No.4, Januari 2011 Penerbit
Dewan Pers, Jakarta, 2011
Jurnal Pers Indonesia, Edisi Perdana-September 2013, Penerbit PWI Pusat, Jakarta 2013
McQuail Denis, Teori Komunikasi Massa, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1989
Rivers William L, Etika Media Massa, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
1994
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
51
ANALISA EMOTIONAL BRANDING INDOSAT IM3
Bayu Oktavian Wibowo dan Dra. Zulaikha, MSi
Abstraksi
Berkembangnya produk-produk telekomunikasi dengan keunggulan dan tawaran
masing-masing membuat konsumen menjadi crowded sehingga membuat konsumen
hanya membeli satu brand tertentu saja. Dalam menghadapi banyaknya persaingan
produk telekomunikasi, Indosat IM3 sendiri banyak melakukan inovasi dan aktivitas
digital maupun secara BTL yang selalu menampilkan sisi unique and different.
Perusahaan mengkomunikasikan produknya dengan cara membawa konsumen ke dalam
zona fun yang melibatkan kondisi psikologis dan emosi (emotional branding).
Penelitian ini bersifat deskripstif kualitatif yang mencoba mengungkap
bagaimana Indosat IM3 dalam mengkomunikasikan produknya dengan memakai
pendekatan emotional branding. Dengan memakai pendekatan emotional branding,
Indosat IM3 lebih mendekatkan produknya kepada perasaan dan emosi konsumen.
Teori Marc Gobe tentang 10 langkah penting yang disebut 10 perintah emotional
branding yang mendasari penelitian ini. Asumsi teori ini adalah lebih memfokuskan
penerapan strategi pada aspek yang paling mendesak pada karakter manusia, keinginan
untuk memperoleh kepuasan material, dan mengalami pemenuhan emosional, sehingga
tercipta merek yang dapat menggugah perasaan dan emosi konsumen, membuat merek
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
52
tersebut hidup bagi konsumen dan membentuk hubungan yang mendalam serta tahan
lama.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dewasa ini, telekomunikasi bukanlah barang mahal yang bisa dijangkau semua
kalangan mulai dari pelajar sampai professional. Berbeda dengan jangka waktu 10-15
tahun yang lalu. Dimana keadaan komunikasi nirkabel atau telekomunikasi sangat sulit
dijangkau berbagai semua kalangan. Hal ini terbaca oleh para pelaku dunia bisnis
telekomunikasi dan ditunjukkan saat ini banyaknya bermunculan operator GSM dan
CDMA.
Karena banyaknya operator telekomunikasi yang tersedia dengan keunggulan
dan tawaran masing – masing, tentu saja mengakibatkan pikiran konsumen menjadi
crowded dengan informasi. Yang ada, pada akhirnya mereka hanya akan membeli satu
brand tertentu saja. Sebuah keputusan pembelian yang dilakukan oleh seorang
konsumen dalam menggunakan suatu produk Telekomunikasi tidak semata-mata hanya
berdasarkan benefit fungsional nya saja melainkan dipengaruhi juga sejauh mana
peranan brand terhadap konsumen tersebut.
Karena selektifnya para konsumen dan calon konsumen ini, para operator pun
berlomba – lomba untuk menggunakan berbagai strategi untuk bisa dekat dengan
pemakai jasa telekomunikasi. Seperti operator telekomunikasi Indosat IM3 yang ingin
mendekati konsumen mereka maupun calon konsumen mereka. Seperti melalui
Fanpage di Facebook, mailing list komunitas gadget tertentu, hingga customer care
melalui pemanfaatan media digital.
Indosat IM3 sendiri banyak melakukan aktivitas digital maupun secara BTL
yang notabene dilakukan oleh banyak operator telekomunikasi yang lain. Namun,
mereka selalu menampilkan sisi unique and different. Sebelumnya banyak slogan
“Responsbility begins with me”
bahwa kesadaran dimulai dari diri sendiri bukan
paksaan. Slogan ini cukup memberikan gambaran sederhana bahwa perusahaan
sebaiknya tidak mengkomunikasikan produk dan jasa dengan cara lama ,akan tetapi
sebagai gantinya, harus bisa membawa konsumen ke dalam zona fun yang melibatkan
kondisi psikologis dan emosi. Dan hal ini yang akan dianalisis peneliti tentang seperti
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
53
apa bentuk nyata emotional branding yang diimplementasikan oleh salah satu pelaku
bisnis telekomunikasi di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
Rumusan Masalah
Bagaimanakah pengkomunikasian Brand Indosat IM3 ditinjau dari Emotional
Branding?
Tujuan Penelitian
 Untuk menganalisa bagaimana komunikasi sebuah brand kepada pelanggannya
ditinjau dari sisi Emotional Branding.
 Untuk mengetahui bentuk nyata komunikasi dari sisi Emotional Branding yang
diterapkan Indosat IM3.
Landasan Berfikir
Brand atau Merk
Brand merk adalah suatu istilah, tanda, lambang/design atau gabungan dari
semuanya yang dimaksudkna untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang
penjual atau sekelompok penjual dan diharapkan akan membedakan barang dan jasa
dari produk – produk milik pesaing ( Kotler, 1998 ). Sedangkan menurut David A
Aaker ( 1997 ) merek adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti
logo, cap atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasi barang atau jasa dariseorang
penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu. Merek sebenarnya merupakan janji
penjual untuk secara konsisten memberikan keistimewaan, manfaat, dan jasa tertentu
kepada pembeli. Merek-merek terbaik memberikan jaminan mutu, akan tetapi merek
lebih dari sekedar simbol ( Jennifer Al Aaker, 1997 ).
American Marketing Association mendefinisikan merek sebagai nama, istilah,
tanda, simbol atau rancangan atau kombinasi dari hal-hal tersebut. Tujuan pemberian
merek adalah untuk mengidentifikasi produk atau jasa yang ditawarkan oleh pesaing
(Rangkuti, 2004 ). Pengertian merek lainnya ( Rangkuti,2004 ) :
1. Brand name ( nama merek ) yang merupakan sebagian dari merek yang dapat
diucapkan misalnya, pepsodent, BMW, Toyota, dan sebagainya
2. Brand mark ( tanda merek ) yang merupakan sebagian dari merek yang dapat
dikenali namun tidak dapat diucapkan, seperti, disain huruf atau nama khusus.
Misalnya, Mitsubishi, gambar tiga berlian.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
54
3. Trade mark ( tanda merek dagang ) yang merupakan merek atau sebagian dari merek
yang dilindungi hukum karena kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang
istimewa. Tanda dagang ini melindungi penjual dengan hak istimewanya untuk
menggunakan nama merek.
4. Copyright ( hak cipta ) merupakan hak istimewa yang dilindungi oleh undangundang, menerbitkan, dan menjual karya tulis, karya musik, atau karya seni.
Tingkat pengertian Merek
Sebetulnya, merk terdiri atas beberapa point. 6 tingkat pengertian merek yang dikutip
dari buku The Power of Brands (Rangkuti, 2002) adalah :
1. Atribut.
Perlu dikelola dan diciptakan agar konsumen dapat mengetahui dengan pasti atribut
apa saja yang terkandung dalam suatu merek. Contoh : BMW seri 7 berkualitas
tinggi.
2. Manfaat.
Konsumen membeli manfaat dari sebuah produk atau jasa, bukan atribut. Contoh :
atribut berdaya tahan tinggi memiliki arti bahwa produk tersebut menggunakan
bahan dengan kualitas yang tinggi.
3. Nilai.
Merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai bagi produsen. Contoh : mobil
Mercedes Benz selalu identik dengan mobil yang berkemampuan tinggi, tingkat
keamanan yang tinggi serta gengsi yang besar.
4. Budaya.
Merek memakili budaya tertentu. Contoh : Mercedes Benz mewakili budaya negara
Jerman
5. Kepribadian.
Kepribadian pengguna akan tercermin bersamaan dengan merek yang ia gunakan.
Contoh : pengguna Mercedes Benz melambangkan kepribadian yang berkelas dari
pemakainya.
6. Pemakai.
Menunjukkan jenis konsumen pemakai merek tersebut. Contoh : orang sukses
penggunakan BMW seri 7.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
55
Dalam membangun brand atau merk, Perusahaan harus dapat menciptakan brand image
yang positif dan baik agar konsumen mempunyai kepercayaan terhadap produk tersebut.
Dalam menciptakan kesan konsumen terhadap suatu merek yang positif dan baik,
perusahaan dapat membangun merek dengan cara sebagai berikut (Rangkuti, 2002,
p.45)

Memiliki Positioning yang tepat.
Merek dapat diposisikan dengan menempatkannya secara spesifik di benak
konsumen, yaitu menempatkan semua aspek dari brand value secara konsisten
sehingga dapat menjadi nomor satu di benak konsumen.

Memiliki Brand Value yang tepat.
Semakin tepat merek diposisikan di benak konsumen, maka merek tersebut akan
semakin kompetitif. Tetapi untuk mengelola hal tersebut, perusahaan perlu
mengetahui brand value yang nantinya akan membentuk brand personality.

Memiliki konsep yang tepat.
Tahap akhir untuk mengkomunikasikan brand value dan positioning yang tepat
kepada onsumen harus didukung oleh konsep yang tepat. Konsep yang baik adalah
dapat mengkomunikasikan semua elemen-elemen brand value dan positioning yang
tepat sehingga brand image dapat terus menerus ditingkatkan.
Emotional Branding
Emotional branding adalah sebuah alat untuk menciptakan “dialog pribadi”
dengan konsumen. Konsumen saat ini berharap merek yang mereka pilih dapat
memahami mereka - secara mendalam dan individual – dengan pemahaman yang solid
mengenai kebutuhan dan orientasi budaya mereka.
Emotional branding yang kuat dihasilkan dari kemitraan dan komunikasi.
membangun emosi yang tepat merupakan asset terpenting. Hal tersebut adalah
komitment yang kita buat kepada konsumen.
Brand memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan produk. Jika produk
merupakan functional benefit, atribut, kegunaan dan kualitas. Maka brand memberikan
nilai tambah seperti personality, country of origin, user imagery, organizational
associations, dan symbol. Di samping itu brand juga mampu menghasilkan emotional
benefits dan self-expressive benefits.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
56
Paul Temporal (2006) menyatakan bahwa jika perusahaan ingin mereknya
mencapai posisi yang tinggi dan berdiam disana, maka strategi perusahaan harus
melibatkan elemen atau unsur emosi di dalamnya. Marc Gobe menyatakan emotional
branding atau penciptaan merek dengan nuansa emosional merupakan konsep
penciptaan citra merek yang bertujuan menjalin hubungan emosional yang mendalam
antara merek dan konsumen melalui pendekatan-pendekatan yang kreatif dan inovatif
Strategi yang digunakan adalah dengan cara memfokuskan penerapan strategi
pada aspek yang paling mendesak pada karakter manusia, keinginan untuk memperoleh
kepuasan material, dan mengalami pemenuhan emosional, sehingga tercipta merek yang
dapat menggugah perasaan dan emosi konsumen, membuat merek tersebut hidup bagi
konsumen dan membentuk hubungan yang mendalam serta tahan lama. Sebuah merek
dihidupkan untuk konsumen melalui kepribadian perusahaan yang ada di baliknya serta
komitmen perusahaan untuk meraih konsumen pada tataran emosional dari paradigma
baru yang dihidupkan oleh emosi ini, maka konsumen dipersepsikan lebih berpikir
menggunakan hati mereka dibandingkan dengan kepala mereka ketika memilih suatu
produk. Wilayah emosi menjadi bagian yang semakin penting dalam rutinitas pembelian
pada saat ini, dimana banyak produk yang menawarkan kualitas yang sama dan
menghadapi keadaan bahaya karena menjadi sekedar komoditas biasa dalam pasar yang
dipenuhi oleh kompetitor.
Untuk menerapkan strategi emotional branding ini, menurut Marc Gobe, maka
sebuah brand perlu menerapkan 10 langkah penting yang disebut 10 perintah emotional
branding. Dimana tahapannya akan dijelaskan dibawah ini :
1. Dari konsumen menuju manusia
Co-creation dan crowd sourcing adalah bentuk nyata dari pedekatan ini. Melalui Cocreation Indosat tidak lagi sepenuhnya di buat atau diformulasikan oleh pengelola
produk, namun formulasi produk juga dilakukan oleh pelanggan yang telah memiliki
experience dalam menggunakan produk sebelumnya.
2. Dari produk menuju pengalaman
Strategi yang harus dilakukan tidak sebatas membuat produk yang sebaik mungkin,
tetapi
juga
mampu
memberikan
experience yang
luar
biasa.
Umumnya,
experience dapat tercipta dengan memberikan layanan yang memuaskan, membuat
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
57
kemasan produk yang menyenangkan, dan komunikasi yang sebaik mungkin. Intinya,
experience sangat berhubungan erat dengan sisi emosional konsumen.
3. Dari kejujuran menuju kepercayaan
Kepercayaan ini tidak hanya lahir dari sebuah kejujuran. Namun perlu strategi yang
menyeluruh untuk membangunnya. Implementasinya adalah dengan memberikan
layanan yang memuaskan. Intinya, strategi yang mampu memberikan kenyamanan total
kepada konsumen.
4. Dari kualitas menuju Preferensi
Kualitas dengan harga yang tepat merupakan suatu hal yang wajar, preferensi
menciptakan penjualan. Preferensi terhadap merek mempunyai hubungan yang riil
dengan kesuksesan. Preferensi konsumen dapat diartikan sebagai bentuk apresiasi atas
suatu objek, yang pada akhirnya akan membentuk pilihan konsumen, mulai dari yang
sederhanda hinga pilihan yang paling kompleks.
5. Dari Kemasyuran menuju Aspirasi
Kunci utama suatu merek ingin diingat (tidak hanya dikenal) maka harus
mengekspresikan sesuatu yang sesuai dengan aspirasi konsumen dan harus mampu
menjadi produk yang diharapkan konsumen.
6. Dari Identitas menuju Kepribadian
Identitas merupakan sebuah pengakuan. Tetapi, personalitas adalah karakter dan
kharisma. Identitas merek sangatlah unik dan memiliki perbedaan yang jelas terhadap
pesaing. Namun, memiliki identitas merek hanyalah langkah pertama. Saat ini, memiliki
personalitas merek menjadi lebih penting dan lebih khusus.
7. Dari Fungsi menuju perasaan
Fungsionalitas dari suatu produk adalah hanya mengenai kegunaan atau kualitas yang
dangkal. Desain pengindraan adalah mengenai pengalaman. Fungsionalitas dapat
menjadi kurang menarik jika penampilan dan kegunaannya tidak didesain juga demi
pertimbangan feeling.
8. Dari Ubikuitas menuju Kehadiran
Ubiquity berarti dapat dilihat. Sedangkan emotional presence memiliki arti dapat
dirasakan. Umumnya, strategi brand presence berdasarkan pada konsep jumlah, bukan
kualitas. Karena memang ditujukan untuk meningkatkan efek kehadiran merek di
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
58
banyak tempat dengan jumlah yang besar misalnya dengan konsep branding di tempat
umum seperti halte bis, bioskop, badan bis, bahkan toilet.
9. Dari Komunikasi menuju Dialog
Komunikasi adalah memberitahu, dialog adalah berbagi. Komunikasi dua arah
membantu membangun kemitraan yang berharga antara konsumen dengan perusahaan.
10. Dari Pelayanan menuju Hubungan
Pelayanan adalah menjual. Hubungan adalah penghargaan. Hubungan berarti bahwa
orang – orang yang berada di balik merek tersebut sungguh – sungguh berusaha untuk
memahami dan menghargai konsumen mereka
Hubungan antara Emotional Branding , Brand Image dan Keputusan Pembelian
Konsep emotional branding yang diperkenalkan oleh Marc Gobe merupakan salah satu
bentuk praktisi pemasaran modern. Konsep ini menggunakan pendekatan emosional,
dimana memfokuskan atau menekankan pada membangun hubungan dengan konsumen
yang bersifat mendalam dan tahan lama, yang menitikberatkan pada pemberian nilai
jangka panjang pada merek dan produk. Perusahaan yang menerapkan konsep ini
berusaha membangun dan memberikan nilai yang berkesinambungan bagi konsumen.
Muncul konsep emotional branding yang menciptakan merek bernuansa emosional
sangatlah penting pada saat ini, dikarenakan membangun merek yang terkenal saja
tidaklah cukup dan melalui konsep ini, konsumen dipersep sikan lebih berpikir
menggunakan hati (emosi) mereka ketika memilih suatu produk. Penetapan tujuan
konsep ini merupakan bagian untuk menciptakan seperangkat asosiasi yang unik yang
ingin diciptakan dan dipelihara pemasar, dan tentunya hal ini nantinya dapat
menciptakan apa yang disebut dengan brand image (citra merek), karena kalau hal
tersebut dapat diperoleh maka merek yang dibangun sudah pasti hidup di dalam pikiran
konsumen.
METODE PENELITIAN
Kerangka Konseptual
Secara konseptual, penelitian ini menganalisa pengkomunikasian Brand Indosat IM3
yang ada di Jawa Timur ditinjau dari sisi emotional branding. Apakah dari brand
Indosat IM3 yang ada di Jawa Timur ini sudah menggunakan metode – metode atau
perintah – perintah dalam teori Emotional Branding. Dan bagaimana bentuk nyata
kegiatan dari brand Indosat IM3 dalam sisi emotional branding.
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
59
Unit Analisis
Unit analisis yang digunakan adalah keypoint dalam 10 perintah emotional branding.
1. Dari konsumen menuju ke manusia
 Crowd Sourcing, Komunitas , baik itu komunitas bentukan indosat ataupun
insertion community.
 Co Creation
- Formulasi pembuatan program dari trial pelanggan.
- Pemilihan talent ambassador dari usulan pelanggan.
2. Dari produk menuju ke pengalaman
 Experience, Pengalaman pelanggan saat menggunakan.
3. Dari kejujuran menuju kepercayaan

Kepercayaan, Kenyamanan saat menggunakan.
4. Dari kualitas menuju preferensi

Faktor penentu pemilihan produk, Kualitas yang baik, Menjadi TOM di
masyarakat (Top Of Mind).
5. Dari kemasyuran menuju Aspirasi

Aspirasi Konsumen, Bisa menginspirasi dan peka terhadap isu bangsa.
6. Dari identitas menuju kepribadian

Brand Personality, Warna Produk,Penggunaan bahasa komunikasi, Brand
Ambassador, TVC & POS Material
7. Dari fungsi menuju perasaan

Feeling, Kegunaan lain diluar kegunaan utama yang diberikan suatu produk,
Menguntungkan konsumen dengan berbagai fungsionalitas.
8. Dari Ubikuitas menuju kehadiran

Emotional Presence, Visibility, Branding placement.
9. Dari komunikasi menuju dialog

Feedback, Komunikasi dua arah, perusahaan dan pelanggan.
10. Dari pelayanan menuju hubungan

Relationship, Customer loyalty & retention.
Tipe Penelitian
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
60
Tipe penelitian yang diambil peneliti memakai metode penelitian deskriptif kualitatif,
penelitian yang memanfaatkan wawancara atau terbuka untuk menelaah dan memahami
sikap, pandangan, perasaan, dan perilaku individu atau sekelompok orang.
Obyek Penelitian
PT Indosat, tbk Sales Area Surabaya dengan focus brand yang diteliti adalah Brand
Indosat IM3. Area penelitian ini mencakup wilayah kerja PT. Indosat, tbk dengan area
Surabaya dan Jawa Timur.
Informan
Key informan adalah Bapak Mirza Affandi sebagai Manager Marketing, VAS, &
Community Indosat Area East Java , Ibu Citra Yuniari Isnanta selaku staf Marketing,
VAS, & Community Indosat Area East Java, dan Ibu Hariati Prihatini selaku Manager
Marketing Communication Sales Area Surabaya.
Teknik Pengumpulan Data
 Wawancara : pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh
informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam
penelitian.
 Observasi : pada hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan panca
indera untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah
penelitian. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa
atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian.
 Dokumentasi: Informasi atau data dalam penelitian juga bisa diperoleh melalui fakta
yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, jurnal kegiatan, dan
sebagainya.
Teknik Analisa Data
Teknik analisa data dengan mencari dan mengumpulkan data dalam bentuk catatan
tertulis hasil wawancara dan observasi, serta menggunakan beberapa dokumentasi untuk
me representasi kan data secara visual. Dari hasil catatan tertulis serta dokumentasi
tersebut, peneliti akan membuat suatu uraian penjelasan secara sistematis. Dan diakhiri
dengan membuat suatu kesimpulan sehingga peneltian mudah dipahami dan dimengerti.
ANALISIS DATA
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
61
1.
Dari konsumen menuju ke manusia
a. Crowd Sourcing
Team Marketing VAS & Community Indosat tidak hanya “memasuki” komunitas
yang sudah ada saja. Indosat melakukan strategi pendekatan ke pelanggan ini untuk
mendapatkan sebuah engagement dengan pelanggannya sehingga bisa membentuk
sebuah WOM tersendiri di kalangannya dan luar komunitas itu sendiri. Indosat
mempunyai 3 komunitas yang dibentuk oleh indosat sendiri.
1. Indosat IM3 School
Merupakan wadah komunitas yang disediakan oleh indosat IM3 bagi siswa yang
menggunakan nomor indosat IM3. Banyak benefit yang didapat disini, tidak
hanya untuk anggota komunitas sekolah yang tergabung.
Benefit Indosat IM3 @ School :
- Tarif khusus untuk semua siswa yang yang terdaftar di Indosat IM3 @
School.
- Gratis biaya blokir / buka blokir dan penggantian kartu yang hilang atau rusak
(nomor sama sesuai dengan prosedur yang berlaku).
- Bisa berbagi kreativitas anggota dan sekolah dari anggota komunitas di
www.indosatschool.com
- Gratis SMS melalui www.indosatcommunity.com
- Discount dan benefit lainnya dari mitra indosat yang masuk ke dalam
program Merchant Indosat.
- Berkesempatan mengikuti audisi Duta IM3 untuk di perwakilan di masing –
masing kota.
Tetapi tidak hanya siswa yang tergabung ke dalam komunitas Indosat IM3 @
School saja yang mendapatkan benefit, tetapi juga mendapatkan sponsorship
kegiatan sekolah mereka ke Indosat IM3. Saat ini di Jawa Timur, sudah ada
sebanyak 350 sekolah yang tergabung ke dalam Indosat IM3 @ School dan total
ada sebanyak 10.000 siswa dari 350 sekolah se Jawa Timur yang terdaftar di
Indosat IM3 @ School ini.
2. Duta IM3
Duta IM3 adalah sebuah komunitas yang anggotanya terpilih dari sebuah seleksi
atau audisi dari berbagai sekolah di satu kota atau kabupaten di seluruh Jawa
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
62
Timur. Nantinya Duta IM3 ini terpiih 6-10 Duta IM3 di setiap kantor perwakilan
atau 9 Sales Area di Jawa Timur. Setelah terpilih, Duta IM3 ini nantinya akan
akan diberi sebuah coaching atau pelatihan yang sangat berguna bagi mereka.
3. Indosat Blackberry Community
Indosat Blackberry Community ini awalnya dicetuskan oleh salah satu
pelanggan loyal Indosat sebagai pengguna Blackberry. Joegianto, merupakan
salah satu pelanggan loyal indosat pengguna blackberry dan sebagai pecinta
gadget dan pengamat tekhnologi. Media interaksi online yang dibuat pada
tanggal 10 Februari 2008 tersebut pada awalnya baru diikuti oleh 10 member
saja. Namun memasuki tahun ke-4 di Bulan Februari 2013 anggota milis ini
sudah mencapai angka 4.000-an belum termasuk anggota yang ada di milis
turunan di daerah, seperti ISAT BB Palembang, ISAT BB Jatim, ISAT BB
Kaltim , dan masih banyak lagi di beberapa kota besar di Indonesia.
b. Co Creation
Indosat IM3 meluncurkan kata-kata seperti “SMS SUKA SUKA – Gratis SMS
ke semua operator sesukamu!”. Dan operator lain juga banyak memberikan
tawaran – tawaran yang berlomba – lomba untuk menarik perhatian pelanggan.
2.
Dari produk menuju ke pengalaman
Experience, Team MVC Indosat EJ tidak hanya menggunakan promosi secara
konvensional tetapi juga membuat strategi agar pelanggan mendapatkan experience
yang bisa membuat secara sadar bahwa Indosat IM3 ini merupakan kartu
pilihannya. Disini Team MVC mengemasnya dengan beberapa aktivitas promosi
yang langsung mengajak pelanggan untuk mecoba program baru bersama. Seperti
salah satu kegiatan berikut yang melibatkan pelanggan untuk merasakan program
yang baru dilaunching. Di SA Blitar, team MVC disana mengemas dengan
membuat lomba SMS di sebuah sekolah. Dengan segmentasi anak muda, dan SMS
merupakan kebutuhan sebagian besar anak muda maka dari itu team MVC SA
Blitar memilih tempat di halaman sekolah pada waktu pulang sekolah.
3.
Dari kejujuran menuju kepercayaan
Disini Indosat membuat banyak cara untuk menampung wadah keluhan pelanggan.
Diantaranya yang dilakukan secara nyata dan digital. Di langkah nyata, Indosat
melakukan pelayanan dengan menyediakan customer service untuk membantu
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
63
pelanggan dan melayani keluhan pelanggan. Customer Service ini tidak hanya
berada stay di Galeri Indosat saja, tetapi juga ada beberapa program lokal yang
membuat Customer Service untuk di outdoor area atau diistilahkan oleh Indosat
sebagai Galeri Indosat Keliling. Hal ini dibuktikan dengan upaya indosat yang
membuat sebuah account twitter yang focus untuk pelayanan, yaitu @indosatcare.
4.
Dari kualitas menuju preferensi
- Setting Produk :
Dari awal dikeluarkannya Indosat IM3, di setting sebagai operator pertama yang
menggunakan tekhnologi Internet (2001). Indosat IM3 mekrupakan operator
pertama yang menyediakan layanan GPRS dan MMS. Sehingga pada tahun itu
yang notabene menggunakan internet adalah anak muda, otomatis mereka
melirik dan mencoba menggunakan Indosat IM3.
- Segmentasi (ke youth)
Dari pasar yang banyak menyerap adalah anak muda, Indosat IM3 menahbiskan
sebagai kartu yang memang digunakan untuk anak muda dan yang berjiwa
muda. Ditunjukkan dari program promo nya beserta semua pendukung
promonya seperti ATL, BTL, dan digital. Yang bertujuan untuk diakui dan bisa
masuk ke dunia anak muda dan yang berjiwa muda.
- Promo
Di promo ini mengarahkan dan mempertahankan mindset pelanggan maupun
masyarakat luas bahwa indosat IM3 merupakan kebutuhan buat anak muda.
Dirumuskan mulai dari POS Material yang berupa spanduk, poster, T-Banner,
hingga branding kreatif. Dan kemasan untuk TVC pun begitu dinamis dan
mewakili image anak muda.
5.
Dari kemasyuran menuju Aspirasi
Indosat IM3 memperhatikan setiap hal yang mendukung mindset anak muda
terhadap brand nya. Mulai dari materi promosi sampai dengan menchandising. Di
merchandise ini, Indosat IM3 membuat barang – barang yang sangat diminati,
seperti T-shirt ala clothing distro, note, topi, bagpack, tas hangout, sticker, dan
masih banyak lagi. Selain itu Indosat IM3 juga selalu memanfaatkan momen hari –
hari nasional di Indonesia dan dunia, seperti Hari Batik Nasional, Hari Ibu, Hari
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
64
Kartini, sampai Hari AIDS sedunia. Mulai dari membuat sebuah profil picture
hingga campaign activity.
6.
Dari identitas menuju kepribadian
Indosat IM3 dari awal di launching memang di segmen kan untuk kebutuhan anak
muda dan yang berjiwa muda. Untuk menjadi brand yang melambangkan anak
muda, Indosat IM3 menunjukkan melalui identitas brand nya seperti dari template
dan warna, tulisan / typography , bahasa komunikasi / bahasa promo, brand
ambassador , TVC and POS Material, serta sampai dengan
BTL activity dan
merchandise pun dikemas sesuai selera anak muda. Hal ini dapat dilihat dari bahasa
komunikasi yang digunakan, yaitu “Gratis SMS ke semua operatorpat sesukamu!”.
Menggunakan aksen “-mu” dengan “anda” sangat jelas berbeda sasaran komunikasi
nya.
7.
Dari fungsi menuju perasaan
1. I-ring 808
Adalah layanan nada sapa atau nada tunggu yang disediakan oleh Indosat untuk
pelanggan yang tidak ingin nada tunggu saat di telpon “tut tut tut” saja. Lebih
bergengsi dengan memakai lagu favoritnya.
2. Mobile Tools
Merupakan sebuah kumpulan – kumpulan applikasi yang bisa ditanamkan di
gadget dengan difasilitasi installer exclusive brand Indosat. Ada aplikasi
chatting, aplikasi untuk backup data yang ditaruh di dalam cloud system Indosat,
hingga aplikasi untuk bank pilihan kita.
3. Indosat Backstage
Adalah layanan VAS Indosat yang menyediakan lagu tanpa kita harus
mempunyai memori handphone yang besar. Kita hanya memilih dan
menentukan playlist pilihan kita yang bisa kita ganti sewaktu – waktu.
4. Voice Call
Layanan Voice Call ini ada banyak macamnya, mulai dari telpon roaming,
calling line identification, call forwarding, call hold, hingga voice mailbox.
5. Messaging
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
65
Di fitur VAS messaging ini, Indosat memberikan nilai lebih pada layanan MMS,
Diginews, i-chatting, I-milis, SMS Zip, hingga transfer pulsa. Sehingga
pelanggan tidak hanya bisa menikmati fasilitas standard messaging, yaitu SMS.
6. Content Exclusive Barcelona
Di layanan ini, jelas sangat menunjukkan bahwa Indosat berusaha merangkul
penggemar dari klub sepakbola dunia yang sangat mempunyai banyak fans di
setiap negara, yaitu FC Barcelona. Di Layanan ini disediakan bermacam –
macam pilihan yang memnjakan pengguna seperti berita ter-update , wallpaper,
ringtone, hingga profil pemain.
8.
Dari Ubikuitas menuju kehadiran
Di Indosat IM3, sebuah ubikuitas ini berbentuk visibility atau ketersediaan barang
di “pasar” dan juga branding placement program. Ketersediaan barang di etalase
outlet ini juga memperkuat branding dan mempengaruhi mindset seseorang saat
akan membeli sebuah produk telekomunikasi. Dan efeknya yang lebih besar, bisa
mempengaruhi seseorang untuk penentuan pemilihan produk yang akan dibeli.
Tidak kalah pentingnya, team MVC Indosat juga melakukan penguatan ubikuitas
dengan branding. bersifat ATL, BTL, hingga digital.
9.
Dari komunikasi menuju dialog
Di Indosat sendiri sadar akan kepentingan berkomunikasi dengan pelanggannya
maupun untuk menarik non pelanggan indosat untuk bisa mengetahui hal – hal apa
saja yang diharapkan. Indosat mempunyai beberapa media digital untuk
menuangkan segala macam aspirasi dan berusaha membaur dengan masyarakat
luas.
10. Dari pelayanan menuju hubungan
1. Indosat Senyum
Adalah program yang ditujukan untuk semua pelanggan Indosat yang berupa
tukar poin. Poin yang dimaksud didapat dari setiap pembelian pulsa isi ulang
dan pemakaian pulsa untuk penggunaan telpon dengan berbagai macam benefit
yang menarik seperti, diskon di merchant indosat (untuk di Surabaya dan Jawa
Timur tempat yang bekerja sama untuk menjadi merchant indosat adalah
Gramedia, Alfamart, Metro, Texas Chicken, Burger King, Inul Vista dan Kimia
Farma) , masa aktif kartu indosat, menit bicara (telpon), SMS, Data , dan I-Ring
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
66
2. Indosat Community Lounge
Adalah lounge yang memang digunakan untuk tempat komunitas Indosat
maupun pengguna indosat yang ingin bersantai dan kongkow disana. Benefit
yang didapat di indosat lounge ini adalah pengguna indosat dan anggota
komunitas indosat mendapatkan diskon khusus atau tepatnya sebesar 30%.
Sehingga diharapkan tempat ini bisa menjadi bermafaat untuk pengguna indosat.
3. Birthday Greeting Card
Adalah ucapan ulang tahun yang dilakukan Indosat terhadap beberapa pelanggan
indosat yang VIP maupun anggota komunitas Indosat IM3. Tidak hanya berupa
greeting card saja yang dikirimkan, tetapi juga memberikan sedikit surprising
moment dengan kue tart atau kejutan lainnya.
Kesimpulan
Dari sisi emotional branding , Indosat IM3 mengemas kegiatan komunikasi pemasaran
mereka dengan menyertakan peran pelanggan. Dan bentuk nyata kegiatan komunikasi
ini sangat menarik dan menjaga mind share serta heart share pelanggan maupun calon
pelanggan Indosat IM3. Dari segala implementasi pengkomunikasian secara emotional
branding tersebut, Indosat IM3 berhasil untuk menarik setiap pelanggan, menjaga hati
pelanggan, menjadi inspirasi pelanggan yang sesuai segmentasi, dan mengarahkan
mindset pasar segmentasi mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Kriyantono, 2006, Teknik Riset Praktis Komunikasi, Kencana, Jakarta.
Mulyana, 2003, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung
Gobe, Marc. 2005. Emotional Branding : Paradigma Baru untuk menghubungkan
Merek dengan Pelanggan . Jakarta : Erlangga
Rahmat, 2005, Psikologi Komunikasi, P.T Rosdja karya, Bandung
http://books.google.co.id/books/about/Citizen_Brand.html?hl=id&id=mI5K6vTwHR0C
http://www.sarjanaku.com/2013/01/metode-pengumpulan-data-teknik.html
http://www.indosat.com/im3
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
67
Jurnal Ilmu Komunikasi MESSAGE Vol.4 No.1 Juni 2013
68
Download