pendahuluan - Kota Tanpa Kumuh

advertisement
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
`
Pengantar
Pada umumnya, kegiatan sosialisasi dilaksanakan
dengan tujuan agar masyarakat mengetahui dan
memahami konsep dan mekanisme pelaksanaan
suatu program baru. Dalam program P2KP, selain
sebagai kegiatan diseminasi konsep dan nilai,
kegiatan sosialisasi dimaksudkan pula sebagai
kegiatan pemberdayaan masyarakat, yang dilaksanakan melalui cara dialogis antara pelaku kegiatan
sosialisasi dan warga masyarakat.
Untuk melakukan kegiatan sosialisasi secara efektif
kepada khalayak sasaran, diperlukan pemahaman
karakter dan budaya khalayak sasaran, sehingga
konsep dan metodologi serta alat atau media-media
dapat dengan efektif digunakan.
1
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Apa itu Kegiatan SOSIALISASI
dalam P2KP?
Dalam konteks proyek P2KP, kegiatan sosialisasi
tidak hanya bertujuan agar masyarakat paham, baik
substansi maupun prosedur P2KP. Kegiatan
sosialisasi bukan sekedar diseminasi atau media
publikasi, melainkan bagian dari proses
pemberdayaan, yang diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kritis, menumbuhkan perubahan sikap, dan perilaku masyarakat. Karena itu,
kegiatan sosialisasi harus terintegrasi dalam aktivitas
pemberdayaan dan dilakukan secara terus menerus
untuk memampukan masyarakat menanggulangi
masalah-masalah kemiskinan secara mandiri dan
berkesinambungan.
Kegiatan sosialisasi diharapkan menerapkan pendekatan ataupun metode yang didasarkan atas
perbedaan khalayak sasaran. Pendekatan yang
dilakukan, diharapkan bisa membangun keterlibatan
masyarakat (sebagai subjek pelaksana program)
melalui pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan
pemahaman untuk menemukan kesepakatan-kesepakatan bersama yang berpijak pada kesetaraan,
kesadaran kritis dan akal sehat.
Pada akhirnya, diharapkan melalui kegiatan
sosialisasi terjadi internalisasi konsep P2KP secara
utuh, serta terbangunnya kebiasaan menanamkan
prinsip dan nilai P2KP di kalangan masyarakat dalam
segala aktivitasnya.
2
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Mengapa harus ada
Kegiatan SOSIALISASI ?
Secara umum, kegiatan sosialisasi P2KP dihadapkan pada permasalahan adanya pandangan
negatif masyarakat terhadap program-program
penanggulangan kemiskinan yang diakibatkan
oleh pelaksanaan proyek secara tidak amanah,
bersifat karitatif, salah sasaran dan demi
kepentingan kelompok atau golongan. Selain itu,
pembangunan di masa lampau, menempatkan
masyarakat sekedar sebagai objek bukan subjek
pembangunan itu sendiri. Dari situasi tersebut
kemudian timbul ketidak-percayaan masyarakat
terhadap program penanggulangan kemiskinan.
Pandangan dan sikap demikian akan sangat
bertentangan dengan nilai-nilai pemberdayaan,
semangat kerjasama dan kemandirian yang ingin
diwujudkan oleh P2KP.
Pada konteks kegiatan sosialisasi P2KP,
masyarakat ditempatkan sebagai pelaku (subjek),
dimana mereka terlibat secara aktif dalam
pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan.
Kegiatan sosialisasi bertujuan untuk membangun
suatu
kesepakatan
dalam
penanggulangan
kemiskinan yang dilandasi pemahaman yang sama
diantara pelaku P2KP. Oleh karena itu, kegiatan
sosialisasi dilakukan seiring (integrasi) dengan
jalannya alur program yang dilaksanakan, baik oleh
para pendamping program maupun masyarakat yang
terlibat.
3
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Apa Tujuan Pelaksanaan
Kegiatan SOSIALISASI?
A. TUJUAN UMUM
1. Mengupayakan agar masyarakat luas memahami dan mampu menginternalisasikan
‘makna’ dari konsep, maksud dan tujuan,
serta metodologi P2KP
2. Masyarakat luas mengetahui dan memahami
perkembangan pelaksanaan proyek P2KP
sebagai bagian dari pertanggungjawaban
pada publik.
B. TUJUAN KHUSUS
1. Terdapatnya komitmen dan kerjasama antara
konsultan
P2KP
dengan
Pemerintah
Kabupaten/Kota untuk merencanakan, melak4
Acuan Bagi Fasilitator
2.
3.
4.
5.
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
sanakan dan memonitor serta mengawasi
secara bersama kegiatan P2KP.
Dapat merangsang minat Kelompok Strategis
dan Kelompok Peduli untuk melakukan upaya
kerjasama membangun pengawasan berbasis
masyarakat.
Menyebarluaskan
hasil-hasil
dan
perkembangan proyek kepada masyarakat luas.
Bersama dengan bidang pelatihan, menyiapkan materi-materi bagi kepentingan masyarakat kelurahan untuk tujuan belajar mandiri.
Membangun KBP (Kelompok Belajar Perkotaan) dan KBK (Kelompok Belajar Kelurahan)
sebagai wujud nyata dari tumbuhnya kegiatan
belajar mandiri masyarakat.
Strategi Dasar Pelaksanaan
Kegiatan SOSIALISASI?
Strategi dasar kegiatan sosialisasi pada konteks
program P2KP, adalah :
1. Pesan-pesan P2KP disosialisasikan dengan
menggunakan metode dialogis.
2. Media kegiatan sosialisasi dibuat untuk
kepentingan mempermudah pemahaman dan
pelaksanaan
program
P2KP
dengan
memperhatikan kondisi riil masyarakat
(muatan lokal).
3. Menempatkan
masyarakat
kelurahan
sasaran sebagai pelaku kegiatan sosialisasi,
baik
dalam
perencanaan,
pelaksanaan maupun evaluasinya.
5
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
4. Media kegiatan sosialisasi dibuat bersama
masyarakat, pemerintah ataupun pihak-pihak
yang peduli lainnya (misalnya: pihak swasta)
di kelurahan sasaran.
5. Pelaksanaan kegiatan sosialisasi lebih banyak
dilakukan melalui media-media lokal
(sebagai media dialogis untuk memahami,
internalisasi dan media untuk mengangkat
permasalahan yang dihadapi masyarakat).
6. Kegiatan sosialisasi merupakan kegiatan
yang terus menerus dan bertahap sesuai
dengan tahapan siklus P2KP.
7. Kegiatan sosialisasi menjadi kesatuan yang
terintegrasi dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan yang terdapat dalam siklus proyek
dan kegiatan-kegiatan spesifik proyek.
Siapa Sasaran Kegiatan
SOSIALISASI?
A. KHALAYAK SASARAN
Khalayak sasaran kegiatan sosialisasi P2KP bagi
fasilitator dapat dibagi dalam 2 katagori berupa :
1. Khalayak sasaran Primer:
Seluruh warga masyarakat di tingkat kelurahan yang menjadi lokasi sasaran P2KP
2. Khalayak Sasaran Sekunder:
a. Kelompok Strategis yang terdiri atas:
Para pemegang posisi kunci yang dianggap
dapat mempengaruhi atau mendorong terjadi6
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
nya perubahan di masyarakat (antara lain:
pejabat pemerintah tingkat kelurahan, tokohtokoh masyarakat/adat/agama yang menjadi
panutan warga)
b. Kelompok Peduli yang terdiri atas:
Orang-orang yang memiliki kepedulian tinggi
terhadap masalah penanggulangan kemiskinan namun tidak memiliki jabatan/posisi
strategis. Misalnya pemerhati masalah
pembangunan,
cendekiawan,
akademisi,
pengusaha, organisasi massa (seperti:
Aisyah, fatayat NU, dan lainnya)
Selanjutnya, khalayak sasaran sekunder, dapat
digolongkan secara bertingkat, yaitu khalayak
sasaran sekunder tingkat kabupaten/kota, tingkat
propinsi dan tingkat pusat/nasional. Khalayak
sasaran pada masing-masing tingkatan ini
memiliki kebutuhan dan kepentingan yang
berbeda terhadap P2KP. Karena itu, kegiatan
sosialisasi pada khalayak sasaran pada tingkatan
yang berbeda harus memiliki tujuan dan perlakuan yang berbeda, disesuaikan dengan
kebutuhan dan kondisinya masing-masing.
7
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Apa Pesan yang harus
disampaikan pada
Kegiatan SOSIALISASI?
Pesan-pesan yang harus disampaikan dalam
pelaksanan kegiatan sosialisasi, paling tidak adalah:
1. Visi, misi, konsep, tujuan, prinsip, nilai,
metodologi dan prosedur P2KP.
2. Peran pemanfaat langsung, peran aktor
pengubah, peran pejabat formal, pemuka
masyarakat, relawan pendamping masyarakat, lembaga-lembaga yang ada di masyarakat (termasuk partisipasi perempuan melalui
organisasi/kelompok
perempuan),
serta
kalangan media massa.
3. Prinsip-prinsip penyelenggaraan BKM, UP-UP
dan KSM.
4. Prinsip-prinsip penyelenggaraan KBP.
8
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
5. Prinsip-prinsip penyelenggaraan KBK.
6. Konsep Partisipasi Aktif Perempuan dalam
P2KP
7. Program PAKET, Kemitraan (Chanelling) dan
Replikasi
8. Prinsip-prinsip pelaksanaan Neighbourhood
Development
9. Proses pelaksanaan proyek.
10. Prinsip-prinsip penyelenggaraan Pengaduan
Masyarakat (PPM)
11. Media-media dari Materi-materi umum seperti
ancaman kemiskinan, kepedulian sosial,
tanggungjawab sosial, permasalahan kemiskinan, model-model penanggulangan kemiskinan, dan lainnya.
12. Media-media dari Materi-materi pemberdayaan dan keswadayaan masyarakat yang
digunakan pada pelatihan maupun rembugrembug warga.
Strategi Operasional Pelaksanaan
Kegiatan SOSIALISASI?
Strategi Operasional Pelaksanaan yang dilakukan
pada kegiatan sosialisasi disesuaikan dengan
karakteristik khalayak sasaran yang beragam.
Keberagaman ini mencakup status sosial, status
ekonomi, tingkat pemahaman terhadap P2KP dan
kepentingan terhadap P2KP, pola hidup, pola
komunikasi, cara memperoleh informasi, dan lainnya.
Keberagaman akan berpengaruh pada tingkat daya
serap informasi, cara, serta media atau alat yang
akan digunakan serta dimanfaatkan oleh khalayak
sasaran untuk mencerna informasi.
9
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Ada beberapa hal yang perlu dicermati pada saat
pelaksanaan kegiatan sosialisasi. Setiap tingkatan
khalayak sasaran akan memerlukan strategi pelaksanaan yang berbeda, yang harus dipahami oleh
pelaku kegiatan sosialisasi.
Beberapa strategi pelaksanaan yang bisa menjadi
bahan acuan kegiatan sosialisasi, adalah:
1. Jalur Komunikasi.
Peran kegiatan sosialisasi dalam pemberdayaan
dan peran dalam pembangunan opini dan kepedulian publik diselenggarakan sepanjang masa
proyek. Maka strategi pelaksanaan yang
dilakukan melalui multi jalur komunikasi, yaitu:
a. Jalur Interpersonal
Jalur ini dilakukan dengan melakukan kontak
langsung secara individual dengan khalayak
sasaran. Jalur interpersonal ini memungkinkan
terjalinnya komunikasi lebih mendalam dan dapat
memahami sasaran secara lebih efektif. Selain itu
jalur komunikasi ini akan mencegah terjadinya
penyimpangan dalam komunikasi.
Sasaran jalur komunikasi ini adalah anggota
masyarakat dan pihak-pihak yang dianggap
dapat berpengaruh dalam terbentuknya sikap
dan pandangan masyarakat, atau pihak-pihak
yang dianggap memahami kondisi dan situasi
masyarakat di tingkat kelurahan.
Jalur komunikasi interpersonal ini perlu digunakan untuk membangun saling pengertian yang
10
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
lebih dalam antara Tim Fasilitator dengan unsurunsur yang diperkirakan berperan dalam perubahan pandangan, pendapat dan pemahaman
masyarakat.
Kelebihan jalur komunikasi ini terletak pada
potensi dari pihak-pihak yang dianggap sebagai
orang yang memiliki pengaruh di masyarakat. Bila
komunikasi kegiatan sosialisasi yang dilakukan
dapat mempengaruhi sikap, pandangan dan
tindakan dari pihak-pihak tersebut untuk mendukung P2KP, maka akan berdampak positif
terhadap
keberlangsungan
penanggulangan
kemiskinan yang dilakukan masyarakat.
b. Jalur Komunikasi Kelompok
Jalur komunikasi kelompok dilakukan melalui
sekumpulan anggota masyarakat. Penerapannya dilakukan terhadap kumpulan anggota
masyarakat dalam komunitas lokal kelurahan dan
kumpulan masyarakat dalam bentuk-bentuk
lainnya.
b.1. Kelompok Komunitas Lokal
Yang dimaksud komunitas lokal adalah kumpulan
masyarakat yang berada pada tingkat RT/RW
ataupun dusun dalam kelurahan sasaran
program P2KP.
b.2. Kelompok Bentuk Lain
Kelompok bentuk lain adalah kumpulan
masyarakat dan pihak tertentu yang sengaja
dibentuk secara terencana dengan tujuan
tertentu.
Bentuk
kelompok
antara
lain:
11
Acuan Bagi Fasilitator
Saresehan,
Seminar.
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Temu
Karya,
Lokakarya,
dan
c. Jalur Komunikasi Media Massa
Jalur Komunikasi Media Massa yang dapat
digunakan sebagai media kegiatan sosialisasi,
antara lain:
c.1. Media Elektronik
Televisi
Sesuai dengan jangkauan wilayah yang luas,
media televisi dapat menjadi media kegiatan
sosialisasi yang efektif untuk penyampaian
informasi. Bentuk acara yang dapat ditampilkan
antara lain berupa diskusi interaktif atau
‘talkshow’. Bentuk acara semacam peliputan
langsung media televisi pada lokasi-lokasi
sasaran P2KP, dapat pula berfungsi sebagai
pertanggung-jawaban pada publik secara lebih
obyektif karena dilakukan oleh pihak independen,
yang akan menggambarkan perkembangan
pelaksanaan kegiatan P2KP. Namun demikian,
mengingat segmentasi pemirsa yang cukup
beragam dan biaya yang besar, tentunya penggunaan media televisi perlu mendapatkan
tinjauan yang seksama.
Radio
Media ini dapat dilakukan melalui radio-radio lokal
dengan membentuk paket acara berupa diskusi
interaktif, sehingga diharapkan dapat terjadi
interaksi antara pelaku P2KP dengan masyarakat
sasaran yang menjadi pendengar radio tertentu.
Tentunya peliputan sebagaimana pada media
12
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
televisi dapat pula dilakukan oleh media radio.
Bentuk media radio lain adalah Radio Komunitas
yang dibentuk bersama-sama masyarakat.
VCD
Penggunaan media kegiatan sosialisasi melalui
VCD diharapkan menjadi alat untuk mendiseminasikan standard konsep dan nilai P2KP,
selain itu juga berfungsi sebagai media penggerak diskusi pada pelatihan maupun pada
rembug-rembug warga.
c.2. Media Surat Kabar
Media Surat Kabar digunakan sebagai alat untuk
penyebaran informasi P2KP, membangun opini
publik, membangun kepedulian publik, sebagai
pertanggungjawaban publik, dan juga sebagai
sumber belajar dan pertukaran pendapat bagi
khalayak umum.
c.3. Media Tradisional
Media Tradisional yang telah akrab dan telah
sering digunakan oleh masyarakat untuk menyampaikan pesan-pesan dapat merupakan
pilihan yang cukup efektif untuk melaksanakan
kegiatan sosialisasi P2KP pada tingkat lokal.
Bentuk media tradisional antara lain berupa
kesenian rakyat dan kegiatan budaya lokal,
seperti: ludruk, campur sari, wayangan, ketoprak,
sandiwara rakyat, acara keagamaan.
c.4. Media (materi) Cetakan
Materi Cetakan yang digunakan dalam kegiatan
sosialisasi dapat berisi informasi/penjelasan
tentang konsep-konsep pelaksanaan program
13
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
P2KP dan pemberdayaan masyarakat, atau
dapat pula berupa kisah/alat untuk penggerak
diskusi warga dalam rembug-rembug masyarkat.
Bentuk cetakan yang memungkinkan antara lain:
leaflet, booklet, poster, lembar balik, komik dan
selebaran.
Siapa saja Pelaku
Kegiatan SOSIALISASI?
Pelaku kegiatan sosialisasi adalah segenap pelaku
P2KP, aparat Pemerintahan dari berbagai tingkatan,
kelompok strategis/peduli ataupun setiap warga
masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadap
masalah-masalah kemiskinan. Kegiatan sosialisasi
14
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
ini dilaksanakan pada tingkatan nasional hingga
kelurahan sasaran. Pada tingkatan lokal atau
kelurahan sasaran, kegiatan sosialisasi dilakukan
oleh Fasilitator bersama dengan Relawan, sejak
tataran RT, RW, dusun dan hingga Kelurahan.
Pada tingkatan kabupaten, anggota KBP bersama
dengan KMW (Korkot/asisten Korkot) diharapkan
dapat melakukan kegiatan sosialisasi secara lebih
luas pada khalayak sasaran dalam cakupan kabupaten. Sedangkan pada tingkatan propinsi, KMW
(Team Leader) dapat membangun pula komunitas
peduli tingkat propinsi untuk ikut serta melaksanakan
kegiatan sosialisasi pada tingkatan propinsi.
Demikian pula hal yang sama berlaku pada tingkat
Pusat/Nasional di Jakarta oleh KMP dan kelompok
peduli tingkat nasional.
Kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh fasilitator
pada warga masyarakat tingkat kelurahan, perlu
diarahkan pada terbangunnya kesadaran warga
masyarakat
kelurahan
itu
sendiri
untuk
melakukan kegiatan sosialisasi secara mandiri,
terlepas dari hadir atau tidaknya konsultan pendamping. Hal ini sekaligus merupakan perwujudan
dari masyarakat sebagai pelaku aktif program P2KP.
Untuk itu diperlukan sebuah strategi kegiatan
sosialisasi yang efektif dengan penggunaan multi
jalur komunikasi.
Prinsipnya, kegiatan sosialisasi menjadi
tanggung jawab setiap pelaku P2KP dan juga
setiap warga masyarakat yang peduli
pada peningkatan kesejahteraan warga
di lingkungannya
15
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Kapan Kegiatan SOSIALISASI
harus dilakukan?
Kegiatan sosialisasi dilakukan sejak awal dicanangkannya proyek P2KP, baik oleh KMW maupun KMP.
Mengingat pentingnya peran kegiatan sosialisasi
dalam menginternalisasi konsep dan nilai-nilai P2KP,
maka kegiatan sosialisasi harus dilaksanakan secara
terus-menerus dan berkelanjutan oleh konsultan
ataupun oleh warga masyarakat sendiri, baik dalam
masa proyek maupun setelah proyek secara
administratif berakhir.
Kegiatan sosialisasi dapat pula dilaksanakan pada
saat warga memiliki acara-acara pertemuan, seperti
arisan RW, pertemuan/acara keagamaan, pertemuan
ibu-ibu PKK, dan lainnya.
Prinsipnya, kapan saja dan dalam
kesempatan apapun (sesuai
kesepakatan warga) kegiatan
sosialisasi dapat dilaksanakan
Dimana saja Kegiatan SOSIALISASI
dapat dilakukan ?
Kegiatan sosialisasi dapat dilaksanakan secara
formal, yaitu dengan cara mengundang resmi warga
masyarakat untuk berkumpul di balai warga atau
16
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
kelurahan, (biasanya dalam jumlah besar), atau
dapat juga dilaksanakan secara informal, dimana
warga berkumpul dalam jumlah kecil (misalnya di
warung kopi, di pinggir jalan, di teras rumah warga,
dan sebagainya).
Prinsipnya, dimanapun (sesuai
kesepakatan warga) kegiatan
sosialisasi dapat dilaksanakan
Apa saja Media Bantu dalam
Kegiatan SOSIALISASI?
Media bantu kegiatan sosialisasi yang digunakan
untuk program P2KP pada tingkat masyarakat lokal
sebaiknya menggunakan Media Warga atau media
komunitas. Media ini adalah media yang biasa
digunakan oleh masyarakat setempat untuk berkomunikasi. Contoh media warga misalnya teater
rakyat,
koran
kampung,
papan
pengumuman/informasi, ataupun radio komunitas yang
dikemas untuk pemberdayaan. Kemudian, alat atau
media bantu kegiatan sosialisasi yang sifatnya lebih
umum antara lain adalah leaflet, poster, selebaran
yang bernuansa lokal, VCD, juga media lain seperti
kesenian tradisional. Media bantu digunakan sesuai
dengan konteks yang akan disosialisasikan. Tentu
saja, selain daya tarik juga yang perlu diperhatikan
adalah segi pesan yang tidak menimbulkan
interpretasi ganda dan dapat dengan mudah
dipahami masyarakat. Dan khusus untuk media17
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
media yang digunakan dalam rembug-rembug
warga, diupayakan agar dapat menumbuhkan terjadinya dialog diantara peserta rembug.
Kegiatan sosialisasi dilakukan untuk
menumbuhkan tingkat pemahaman
masyarakat terhadap konsep P2KP serta
mendorong terjadinya perubahan perilaku
(kebiasaan) di masyarakat yang sesuai
dengan prinsip dan nilai P2KP
18
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Peran Fasilitator dalam
Pelaksanaan Kegiatan SOSIALISASI
Tim Fasilitator akan dipandang oleh komunitas
masyarakat sebagai petugas program P2KP dan
dianggap sebagai sumber informasi pertama yang
terdekat dan kompeten dalam memberikan informasi.
Konsekuensinya, pertama, Fasilitator dianggap
memiliki pengaruh, minimal menjadi perantara dalam
menyalurkan kepentingan masyarakat terhadap para
pengambil keputusan. Kedua, dikarenakan Fasilitator
dianggap sebagai sumber informasi utama dan
kompeten, maka setiap ucapan Fasilitator akan
19
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
diingat oleh masyarakat dan dapat dijadikan sebagai
patokan/ukuran.
Dengan kedua anggapan tersebut, maka Tim
Fasilitator menempati kedudukan yang unik. bahkan
peka terhadap kesan yang dibawanya. Tampilan,
sikap, ucapan dan tindakannya tidak luput dari
perhatian dan penilaian masyarakat. Ringkasnya,
kesan terhadap Tim Fasilitator dan tingkat kepercayaan terhadapnya diyakini akan mempengaruhi
sikap dan pandangan masyarakat terhadap konsep
P2KP, yang selanjutnya akan mempengaruhi
pelaksanaan P2KP.
Status dan Pelaksanaan Peran
Fasilitator dalam
Kegiatan SOSIALISASI
Dengan keunikannya, Tim Fasilitator pada dasarnya
berstatus sebagai pembawa pesan atau pembawa
amanat. Pada saat yang sama, juga berstatus
sebagai subyek yang secara langsung melakukan
transaksi sosial dengan menempatkan ‘pesan’ sebagai suatu alat.
Tim Fasilitator akan memfasilitasi masyarakat untuk
memahami pesan dan menanggapi isi pesan sehingga antara Fasilitator dan masyarakat akan terjadi
proses dialogis. Sebagai pembawa amanat, Tim
Fasilitator tentunya tidak boleh menyimpang dari isi
pesan/amanat yang telah ditetapkan dalam P2KP.
Kondisi ini menuntut perlunya kemampuan Tim Fasi20
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
litator untuk menilai reaksi dan serapan komunitas
masyarakat. Kemampuan ini penting untuk mendorong tumbuh-kembangnya tingkat kesadaran yang
dilandasi oleh pengertian dan pemahaman terhadap
maksud dan tujuan P2KP. Situasi ini memposisikan
Tim Fasilitator sebagai salah satu pelaku pada
proses pembelajaran, yang mengedepankan proses
dialogis. Pendekatan dialogis akan membutuhkan
suasana dan kondisi dimana terciptanya kesetaraan,
adanya suasana psikologis yang menunjang
kebersamaan dan adanya kebutuhan atau minat dari
pihak komunitas masyarakat
untuk tertarik
mengetahui dan ingin lebih memahami. Kesadaran
akan masalah dan tantangan bersama pada tingkat
kelurahan dengan tolok ukur pemberdayaan
masyarakat, akan menjadi awal dari proses pembelajaran secara dialogis. Dengan pendekatan ini,
komunitas masyarakat dapat menemukan nilai-nilai
baru yang diharapkan oleh P2KP. Dan bilamana hal
tersebut tercapai, maka Fasilitator dapat dikatakan
telah memerankan dirinya sebagai agen perubahan.
Dengan gambaran di atas, maka peran Fasilitator
dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi secara
umum, adalah:
1.
2.
Menyampaikan pesan berupa konsep P2KP
termasuk tujuan, maksud, dan proses pencapaiannya. Pesan ini harus disampaikan sesuai
dengan isi dan maknanya yang tercantum
dalam koridor sebagai batasan acuan ucapan
dan tindakan Fasilitator.
Melakukan dialog dengan komunitas dalam
rangka pemberdayaan, agar terbangun komunitas masyarakat yang mengerti dan memahami
21
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
maksud yang diinginkan oleh P2KP. Dengan
pemahaman
yang
dimiliki,
masyarakat
diharapkan dapat menerapkan konsep P2KP
seperti yang telah digariskan, atas kesadaran
kritis yang telah terbangun dalam diri
masyarakat.
Tujuan utama program P2KP adalah membangun
manusia, meletakkan manusia pada harkat dan
keberadaan martabatnya yang tinggi, saling mempedulikan satu sama lain, tidak membedakan sikap
dan perlakukan karena kaya atau miskin, laki-laki
atau perempuan, atau karena etnik maupun
keturunan. Menghargai perbedaan pendapat dan
pandangan atau kepercayaan siapapun, menjunjung
tinggi kemerdekaan tanpa melenyapkan kemerdekaan orang lain. Jadi terlalu sederhana kiranya
untuk menganggap bahwa melalui dana BLM
program P2KP akan mampu menyelesaikan atau
menuntaskan
kemiskinan
masyarakat
di
kelurahan. Demikian pula menganggap bahwa
masalah kemiskinan akan dapat diselesaikan
semata-mata melalui dana atau uang.
Kemiskinan hanya mampu diselesaikan melalui
peningkatan mutu sumberdaya manusia, baik individu maupun sistem kemasyarakatan, bahkan
melalui suatu keputusan kebijakan publik. Atas
landasan inilah dibangun kerjasama warga untuk
memecahkan persoalan bersama, masalah kemiskinan dan masalah lingkungan secara proporsional
dan berkesinambungan.
Sejalan dengan hal ini dapat diartikan bahwa keputusan dan tindakan ditempatkan menurut pro22
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
porsinya. Adalah tidak bermartabat dan tidak
manusiawi kiranya, bilamana seseorang atau sekelompok warga menerima sesuatu yang sesungguhnya bukan menjadi haknya. Sebaliknya, juga
tidak manusiawi dan bermartabat bila hak yang
diterima seseorang atau sekelompok warga
dianggap sebagai kepemilikan pribadi, tanpa
mempedulikan adanya hak warga lain sesamanya.
Terbentuknya kerjasama dan kebersamaan warga
berdasarkan nilai-nilai di atas menjadi tujuan
program yang sekaligus menjadi esensi program
P2KP. Oleh karena itu kegiatan sosialisasi
hendaknya mampu membangun pandangan, pendapat, dan konsensus komunitas masyarakat bahwa
keberadaan dan pelaksanaan program adalah
semata-mata sebagai alat/instrument dan bukan
merupakan tujuan.
Persiapan apa saja yang perlu
dimiliki oleh Fasilitator
Internalisasi Substansi P2KP
Aktifitas internalisasi dilakukan melalui rembugrembug kajian intensif sebelum fasilitator dimobilisasi
ke lokasi sasaran P2KP. Kegiatan ini dimaksudkan
agar fasilitator mempunyai bekal yang cukup baik
tentang konsep, subtansi maupun metodologi pelaksanaan P2KP pada tingkat lapangan. Di dalam
rembug intensif ini, yang menjadi bahan kajian
adalah tentang Subtansi P2KP, Prinsip dan Nilai
P2KP, Siklus P2KP, konsep-konsep, koridor
23
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
pelaksanaan, pendekatan serta metodologi yang
akan dilakukan di lapangan. Dengan dilakukannnya
aktifitas internalisasi (sebagai kegiatan sosialisasi
internal) oleh pelaksana P2KP, maka diharapkan
kesulitan-kesulitan secara subtansial di lapangan
akan bisa diminimalkan.
Pemetaan Sosial
Pemetaan Sosial dapat dikatakan sebagai aktivitas
awal Fasilitator untuk melakukan kegiatan sosialisasi. Fasilitator bertindak sebagai representasi dari
program P2KP yang akan dilaksanakannya.
Sebelum melakukan pemetaan sosial, Fasilitator
wajib untuk mengunjungi secara personal
pejabat dan tokoh-tokoh kunci masyarakat dan
menjelaskan tentang aktiftas yang akan dilakukannya. Hal ini, dimaksudkan untuk mendapatkan
dukungan dalam pelaksanaan program P2KP. Untuk
tujuan ini, maka alat-alat kegiatan sosialisasi
tahap awal yang minimal diperlukan adalah leaflet
atau booklet tentang P2KP, serta kebijakankebijakan pemerintah yang berkaitan dengan
penanggulangan kemiskinan.
Pemetaan Sosial, dimaksudkan untuk meneropong
maupun memahami tentang struktur sosial dan
budaya setempat. Melingkupi kebiasaan-kebiasaan
masyarakat, nilai-nilai, hubungan antar sosial,
kegiatan keagamaan, kelembagaan, kelompok-kelompok dominan serta aktifitas keseharian masyarakat pada umumnya.
24
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Hasil dari pemetaan sosial, wajib dikaji dan dibahas
dalam rapat Tim Kerja Sosialisasi (Tim Fasilitator,
Korkot, TA Pelatihan, TA Monev dan TA Kegiatan
sosialisasi KMW) untuk mencari dan menemukan
strategi dan pendekatan kegiatan sosialisasi yang
akan diterapkan.
Tahapan Pelaksanaan
Kegiatan SOSIALISASI
Kegiatan SOSIALISASI Awal
Kegiatan sosialisasi awal dilaksanakan berdasarkan strategi maupun pendekatan yang telah
dibuat dari hasil pemetaan sosial. Untuk itu, alatalat bantu kegiatan sosialisasi yang akan
digunakan oleh Fasilitator harus telah diproduksi
oleh KMW. Dikarenakan kegiatan sosialisasi awal
ini lebih menitik beratkan pada level komunitas
masyarakat, maka alat maupun media bantu
kegiatan sosialisasi yang diproduksi harus
bermuatan lokal dan tidak bertentangan dengan
nilai-nilai lokal yang ada. Media publikasi yang
wajib ada pada kegiatan sosialisasi awal ini, adalah
booklet, lembar balik, leaflet, poster tentang
P2KP yang bernuansa lokal, dan VCD.
Kegiatan sosialisasi awal, bisa dilakukan melalui
berbagai bentuk media kegiatan masyarakat.
Misalnya melalui kumpulan-kumpulan arisan, pertemuan keagamaan, warung kopi, kumpulan
kesenian rakyat, serta kumpulan-kumpulan warga
lainnya. Dan tentu saja alat atau media bantu
kegiatan sosialisasi yang digunakanpun akan
25
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
berbeda sesuai dengan khalayak sasaran
ada.
yang
Yang patut diperhatikan pada kegiatan sosialisasi
awal oleh fasilitator adalah, memahami mana yang
boleh dan tidak boleh diungkapkan, tidak
mengobral janji-janji muluk, tidak menggurui,
serta tidak arogan dalam hal menyatakan
pendapat tentang konsep penanggulangan
kemiskinan. Jadi kegiatan sosialisasi awal
merupakan media dialog dan sekaligus media
integrasi bagi Fasilitator ke dalam suatu tatanan
kehidupan masyarakat sasaran proyek, dimana
masyarakat diharapkan akan memahami secara
benar konsep P2KP.
Dalam hubungan ini, secara khusus pesan utama
Tim Fasilitator dalam pelaksanaan kegiatan
sosialisasi adalah:
1. Menjelaskan gagasan, maksud dan tujuan,
serta prosedur P2KP secara argumentatif
dan dialogis.
2. Menerima dan menghargai pengalaman,
pandangan, pemahaman, aspirasi, informasi
dan opini masyarakat dan mengajukan
alternatif konsep P2KP sebagai salah satu
solusi permasalahan.
3. Memfasilitasi terbentuknya konsensus dan
komitmen dikalangan komunitas masyarakat
untuk menerapkan program sebagaimana
pesan atau amanat yang dimiliki Tim
Fasilitator.
26
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Kegiatan SOSIALISASI berkelanjutan
a. Sosialisasi Konsep/Materi Pemberdayaan
Sosialisasi Konsep/Materi Pemberdayaan akan
mencakup aktifitas kegiatan sosialisasi yang lebih
menitik beratkan pada penerapan konsep-konsep
pemberdayaan pada khalayak sasaran P2KP
(masyarakat), dengan mempertimbangkan dinamika yang terjadi pada masyarakat.
Konsep-konsep/Materi
pemberdayaan
yang
dimungkinkan untuk disosialisasikan di masyarakat, adalah:
Bagaimana masyarakat membentuk kelompok dinamika pembelajaran, pemecahan
masalah, manajemen kelompok, perencanaan kegiatan kelompok, dan konsepkonsep pengembangan masyarakat lainnya yang menjadi daya dukung pemberdayaan dan pembelajaran masyarakat di
wilayah sasaran.
Media atau alat yang dapat digunakan untuk
kegiatan sosialisasi Konsep/Materi Pemberdayaan ini adalah; alat-alat peraga, komik, poster,
VCD, dan lembar-lembar pembahasan yang bisa
dicerna dengan mudah dipahami oleh masyarakat.
Selanjutnya wadah untuk melakukan kegiatan
sosialisasi adalah rembug warga, pertemuan
keagamaan, arisan dan pertemuan warga lainnya,
dimana metodologi yang harus diterapkan adalah
melalui pendekatan partisipatif dan dialogis
(interaktif).
27
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
b. Sosialisasi Materi Siklus P2KP:
Merupakan aktivitas kegiatan sosialisasi untuk
mendukung pelaksanaan siklus P2KP secara
benar, yang dilakukan agar masyarakat memahami
secara utuh tentang subtansi, proses serta
metodologi pelaksanaan setiap tahapan siklus
P2KP.
Alat atau Media sosialisasi harus dibuat secara
effektif dan bernuansa lokal, menyesuaikannya
dengan karakter dari masing-masing khalayak
sasaran. Untuk suatu kegiatan yang cukup besar,
bisa digunakan alat atau media publikasi kegiatan,
seperti radio, spanduk ataupun poster pemberitahuan dimana kegiatan sosialisasi tersebut
dilangsungkan.
Alat atau media sosialisasi yang bisa digunakan
pada sosialisasi siklus P2KP ini, adalah poster,
leaflet, komik, fotonovella, booklet, radio
komunitas, teater rakyat, koran kampung,
lembar diskusi, VCD, serta media-media
komunitas lainnya. Khusus untuk media-media
warga seperti teater rakyat, koran kampung, poster
kampung maupun fotonovella, maka diharapkan
dalam pembuatannya masyarakat ikut terlibat
secara langsung.
Untuk kegiatan sosialisasi melalui radio lokal, maka
kemasan acara harus dibuat sedemikian rupa
sehingga mempunyai daya tarik yang khusus.
Misalnya acara talk show dipadukan dengan
kesenian rakyat, maupun dipadukan dengan acaraacara yang menjadi pusat perhatian dan kesukaan
masyarakat setempat.
28
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Media kegiatan sosialisasi yang lainnya adalah
kumpulan kelompok-kelompok masyarakat yang
telah ada, baik yang secara rutin dilakukan maupun
yang sifatnya pertemuan-pertemuan untuk melakukan rembug-rembug masyarakat dan sebagainya.
Untuk kegiatan sosialisasi materi siklus P2KP,
maka pesan yang harus termuat dalam alat atau
media bantu sosialisasi (sebelum kegiatan siklus
dimulai) adalah :
1. Siklus atau kegiatan apa yang akan di
sosialisasikan?
2. Apa Tujuan dari siklus tersebut?
3. Apa manfaatnya siklus bagi masya-rakat?
4. Untuk siapa kegiatan siklus dilakukan?
5. Siapa yang akan melakukan siklus tersebut?
6. Kapan dan dimana akan dilakukan ke-giatan
siklus?
7. Bagaimana proses untuk melaksana-kan
siklus?
Terkait dengan kegiatan sosialisasi sebagai
pertanggungjawaban terhadap publik setelah kegiatan siklus P2KP dilakukan, maka pesan yang
harus disampaikan adalah: “Hasil-hasil apa saja
yang didapatkan dari kegiatan siklus yang telah
dilakukan”. Pesan ini disebarkan kepada masyarakat melalui alat atau media-media publikasi lokal
maupun lembaga-lembaga lokal
29
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Untuk kegiatan sosialisasi materi siklus P2KP, maka
pesan yang harus termuat dalam media sosialisai,
minimal, adalah:
a. Kegiatan sosialisasi RKM dan Hasil
RKM
b. Kegiatan sosialisasi RK dan Hasil RK
c. Kegiatan sosialisasi PS dan hasil PS
d. Kegiatan sosialisasi BKM dan Hasil
Pembentukkannya
e. Kegiatan
sosialisasi
PJM
PRONANGKIS dan hasilnya
f. Kegiatan sosialisasi KSM dan Hasil
Pembentukkannya, jumlah serta jenis
usahanya
g. Kegiatan sosialisasi UP-UP dan hasil
pembentukkannya
h. Kegiatan
sosialisasi
BLM
dan
Pemanfaatannya
Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan monitoring aktifitas sosialisasi dimaksudkan untuk melihat sejauh mana tingkat
efektifitas pelaksanaan kegiatan sosialisasi
tersebut, dari sisi pelaku maupun dari sisi alat
atau media yang digunakannya. Juga untuk
melihat tingkat perubahan yang terjadi di
masyarakat (positif maupun negatif).
Hasil dari monitoring dan evaluasi, diharapkan
menjadi dasar untuk penyusunan kebijakan
internal yang akan menyempurnakan strategi dan
pendekatan kegiatan sosialisasi, untuk digunakan
pada kegiatan kegiatan sosialisasi selanjutnya.
30
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Membangun Proses Dialog
Proses dialogis tentunya akan dapat berjalan secara
wajar bila tidak terjadi hambatan komunikasi. Komunikasi bisa terhambat bila salah satu pihak atau
kedua-duanya tidak dapat menanggalkan topeng
masing-masing. Komunikasi juga tidak efektif bila
informasi yang diberikan terlalu banyak dan bila tidak
terpusat pada satu topik. Juga dapat terjadi karena
topik yang disampaikan terasa tidak sesuai dengan
kebutuhan dan kepentingan mereka. Untuk mengatasi hambatan komunikasi, maka perlu dibentuk
suasana kebersamaan dan keterbukaan. Secara
praktis, keterbukaan dan kebersamaan ini antara lain
dapat dimulai dengan membangun “ke-kita-an”
yang sekaligus menghindari “ ke-kami-an”. Program
kita, masalah kita, tujuan kita, harapan kita!
Dialog dimulai dengan realitas yang diketahui oleh
masyarakat. Tegasnya, dialog dimulai dari apa yang
mereka tahu dan bukan dari apa yang ingin diketahui
oleh Tim Fasilitator.
Proses tersebut harus diupayakan tunjang oleh Tim
Fasilitator untuk lebih banyak mendengarkan
sekaligus mempelajari dan memahami pemikiranpemikiran, pemahaman-pemahaman, pandanganpandangan serta kepentingan masyarakat, sebagai
dasar untuk menyusun topik-topik pembahasan
yang dikaitkan dengan upaya pembangunan pemahaman masyarakat terhadap program P2KP.
31
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Membangun Kondisi/Situasi
Pengenalan dan pemahaman terhadap masyarakat dapat merupakan syarat awal bagi pelaksanaan kegiatan sosialisasi. Pengenalan ini
mencakup kebiasaan setempat, hubungan antar
kelompok sosial, potensi sosial yang dapat
mendorong atau menghambat program P2KP,
pengenalan terhadap proyek-proyek yang pernah
diluncurkan, kelompok-kelompok yang dominan atau
berpengaruh, kepercayaan, serta hal-hal peka yang
terdapat ditengah masyarakat berikut hubungan
masyarakat dengan aparat/pejabat lokal.
Selain itu untuk penggunaan jalur komunikasi interpersonal, maka pengenalan sikap, bahkan sifat serta
kebiasaan khalayak sasaran juga penting untuk
dicermati Informasi ini dapat diperoleh melalui
pengamatan langsung dengan cara mendengar,
mengamati dan dialog dengan anggota masyarakat,
yang diperkaya dengan pertemuan/pembicaraan
ditingkat RW dan RT. Pengetahuan ini akan sangat
berguna untuk menemukan jalan masuk, baik berupa
bahasa yang digunakan, sikap yang tepat, bahkan
upaya-upaya antisipatifsi yang dianggap bijak dan
tepat.
32
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Membangun Kesan
Kepercayaan
dan Kepercayaan
Pertemuan pertama dengan komunitas masyarakat merupakan titik kritis. Subtansi pertemuan
pertama akan dapat berpengaruh pada langkah
selanjutnya, baik terhadap Tim Fasilitator maupun
keberlanjutan proyek.
Kesan yang dimiliki masyarakat tentang Tim
Fasilitator sebagai kesatuan dan sebagai individu,
baik bahasa maupun sikap dan tindakan akan
menjadi perhatian dan penilaian komunitas masyarakat. Dalam hal ini, kesan sebagai mitra perlu
dibentuk, kesan sebagai petugas perlu dihindari.
Terlebih kesan sebagai petugas yang memiliki kewenangan. Kebersamaan dapat dimulai dari kesan
pertama. Kepercayaan akan tumbuh terhadap Tim
Fasilitator apabila Fasilitator dapat menegakkan
konsistensi pembicaraan dengan sikap, serta dapat
menghargai pandangan komunitas masyarakat. Dan
sebaiknya dihindari hal-hal yang bernuansa
kecaman, penilaian, menggurui atau mengadili
pendapat pihak lain atau terjadinya perdebatan yang
tidak kondusif. Intinya, minimal menghindari hal-hal
yang dapat menimbulkan konflik dan membuat jarak
dengan komunitas masyarakat.
Sebaliknya transaksi sosial yang seakan menempatkan khalayak sasaran pada posisi yang lebih
tinggi (dapat terjadi pada pendekatan persuasif)
akan dapat mengurangi kepercayaan terhadap
33
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Fasilitator. Dalam situasi ini tidak mustahil Fasilitator
seakan menjadi alat komunitas masyarakat yang
dapat menghambat perannya sebagai agen perubahan.
Terhadap kemungkinan-kemungkinan tersebut, sikap
untuk lebih mendengar dan mencermati serta
menganalisa situasi perlu dibangun dikalangan
Fasilitator dalam rangka mempermudah transaksi
sosial, khususnya dalam menyikapi opini dan
pandangan komunitas masyarakat secara tepat,
sesuai dengan ketentuan-ketentuan P2KP.
Unsur-unsur yang dapat menjadi isu peka dalam
transaksi sosial dengan komunitas masyarakat,
antara lain:
1. Pembangunan masyarakat warga (civil
society) dan pembentukan kebersamaan masyarakat kelurahan.
2. Kepentingan praktis, pemahaman, pengetahuan masyarakat, dan pandangan negatif
terhadap proyek-proyek penanggulangan
kemiskinan.
Selain itu, untuk penggunaan jalur komunikasi
interpersonal, maka pengenalan sikap, bahkan
sifat serta kebiasaan khalayak sasaran juga
penting untuk diperhatikan. Menghadapi tantangan ini, dibutuhkan kelenturan sikap tanpa
harus meninggalkan koridor yang telah ditentukan.
Sebaliknya
pengalaman-pengalaman
negatif yang ditemui atau dirasakan, dapat menjadi sumber belajar dan semangat bagi komunitas
masyarakat untuk melakukan perubahan.
34
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Perlakuan Terhadap
Kelompok-Kelompok Masyarakat
Secara umum, di dalam khalayak sasaran akan
ditemui kelompok yang akomodatif terhadap
masukan, kelompok yang tidak peduli, frustasi,
fatalis, atau bersikap menunggu. Beragamnya
kelompok tersebut, harus disikapi dengan tidak
diskiriminatif dalam perlakukan kegiatan kegiatan sosialisasi, perbedaan hanya pada
bagaimana cara melakukan kegiatan sosialisasinya. Karena pemusatan perhatian kegiatan
sosialisasi berorientasi pada penanggulangan
musuh bersama (common enemy) dan menggali
potensi masyarakat tanpa diskriminasi untuk
menuju terbangunnya masyarakat warga.
35
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
CATATAN ISTILAH :
Pendekatan Persuasif.
Upaya menarik minat, simpati atau mengajak
masyarakat untuk ikut program dengan cara
membujuk. Dalam pendekatan ini Fasilitator
cenderung untuk menyenangkan hati khalayak
sasaran, bahkan cenderung untuk selalu
mengalah.
Pendekatan Dialogis
Cara untuk membangun keterlibatan masyarakat
dengan menempatkan pihak yang terlibat pada
posisi subjek, melalui pertukaran pengalaman,
pengetahuan, dan saling memahami serta menghargai pesan masing-masing untuk memperoleh
kesepahaman dan kesepakatan yang berpijak
pada akal sehat.
Proses Dialogis
Rangkaian pertukaran pemahaman, pandangan,
pengalaman, pengetahuan, informasi, aspirasi,
kearifan, transaksi sosial dalam pelaksanaan
dialog yang berpijak pada asas kesetaraan se36
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
bagai manusia bebas dan unik. Proses ini tidak
akan terwujud bila salah satu pihak atau kedua
belah pihak berada pada suasana tekanan
psikologis atau tidak dapat menanggalkan kepentingan dan status pribadi.
Common Enemy (musuh bersama)
Tantangan berupa masalah-masalah nyata atau
masalah yang dirasakan oleh masyarakat untuk
membentuk masyarakat warga (civil society) yang
dapat berbentuk ketidakpedulian terhadap
sesama, mau menang sendiri, serakah dan sebagainya.
Masyarakat Warga (Civil Society)
Himpunan masyarakat warga yang diprakarsai
oleh warga, dikelola oleh warga secara mandiri
dan damai yang berupaya memenuhi kebutuhan
dan kepentingan bersama, memecahkan persoalan bersama, menyatakan kepedulian bersama, menghargai hak orang lain untuk berbuat
sama, dan bebas dari atau merdeka terhadap
institusi Negara, institusi keluarga, institusi agama
dan pasar (Saad Ibrahim, W. Bank.,Des. 96)
Konflik Laten
Pertentangan yang bersifat tersembunyi ditengah
masyarakat yang akan muncul apabila terdapat
alasan atau momentum.
Kelompok Fatalis
Kelompok yang menolak setiap masukan yang
diberikan.
37
Acuan Bagi Fasilitator
Catatan
38
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Catatan
39
Acuan Bagi Fasilitator
Catatan
40
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Acuan Bagi Fasilitator
Bagaimana Melakukan Kegiatan sosialisasi
Catatan
41
Download