3. Fisiologi danPatologi Sel, Jaringan dan Darah

advertisement
SESI 3 a
FISIOLOGI & PATOLOGI
SEL (Cell), JARINGAN
dan
DARAH
(Revisi 2014)
1
DESKRIPSI
Pembahasan materi meliput struktur dan
fisiologis sel berserta perubahan patologis
pada sel berserta organellanya,
cedera sel dan jaringan,
fisiologi dan patologi sel darah,
gangguan darah, golongan dan
donor darah berserta berbagai jenis
produk darah.
2
KOMPETENSI
MAMPU:
Paham tentang:
struktur, fisiologis dan
patologi sel,
sel darah,
cedera sel dan jaringan berserta
diagnosis gangguan darah,
golongan darah, donor dan
berbagai jenis produk darah.
3
POKOK BAHASAN
Menjelaskan:
Struktur dan fisiologis sel
Cedera sel
Jaringan
Cairan interstitial
Sel darah
Ganggguan dan Diagnoses gangguan darah
Golongan dan donor darah
Berbagai jenis produk darah
4
FISIOLOGI & PATOLOGI
Sel (Cell) & Jaringan
SEL adalah satu kesatuan struktur dasar tubuh.
Setiap manusia mengandung jutaan sel
yang secara struktur dan fungsi terintegrasi
membentuk berbagai upaya komplek, yang
tak terhitung jumlahnya, yang dibutuhkan
bagi kehidupan.
• Terdapat berbagai variasi di antara sel-sel
dalam tubuh.
5
Contoh:
Eritrosit hanya kurang lebih 7 mikron (0.0003
inch) berfungsi sangat khusus yakni mentransportasi O2, akibatnya sel eritrosit kehilangan
sebagian struktur internal (nucleus) yang normal
ada di sel-sel tubuh lain-lain.
Lain lagi dengan sel saraf, bisa sampai 1m
panjangnya dan berfungsi khusus untuk
mentransmisi perintah elekrokimiawi (impuls)
saraf.
6
FISIOLOGI & PATOLOGI Sel & Jaringan (Lanjutan)
Pada dasarnya struktur sel-sel tubuh
manusia semuanya sama.
Sel berupa suatu kantung kecil
mengandung materi cairan (sitoplasma)
dikelilingi membrane sel, di dalamnya
mengandung nucleus (inti) dan struktur
khusus organella.
7
STRUKTUR SEL
MEMBRANE SEL
Dinding sel terdiri dari lapisan ganda fosfolipid
(lemak), mengandung molekul protein-protein
yang berfungsi mempertahankan bentuk sel.
Fungsi lain membrane adalah meregulasi
keluar masuknya material secara partial atau
total ke dalam sel.
8
Membrane sel (Lanjutan)
Dengan demikian substansi yang diperlukan
tubuh (O2 dan nutrients) masuk ke dalam,
sedangkan produk sampah (CO2) dan juga
produk lain yang diperlukan tubuh (di antaranya
hormon) keluar sel terkait.
Material kecil masuk keluar dengan mudah,
material besar memerlukan sistem transportasi
molekuler khusus untuk melewati membran sel.
9
INTI (NUCLEUS) SEL
Adalah pusat kontrol sel yang mengatur semua
aktivitas mayor dan fungsi sel.
Perintah/pengaruh inti sel dilaksanakan dengan
cara meregulasi jumlah dan tipe protein yang
dibentuk di dalam sel.
Protein memiliki 2 (dua) fungsi utama:
1. Protein besar pembentuk struktur kuat
tubuh (contoh; sel otot)
2. Protein kecil (= enzymes) mengatur
segenap fungsi-fungsi dan aktivitas sel.
10
Di dalam inti ada:
Kromosom (Chromosomes) yang merupakan
material genetik sel dalam bentuk DNA dan ada
di dalam inti.
DNA mengandung instruksi sintese-sintese
protein, yang ditransmisikan oleh tipe RNA
kepada ribosomes (= penghasil produksi
protein) di dalam sitoplasma.
Di ribosomes inilah protein disintesis
(= penggabungan berbagai jenis asam amino
menjadi protein yang dibutuhan tubuh).
11
Struktur sel
(lanjutan)
DNA & RNA
DNA = Deoxyribonucleic acid
= pembawa utama informasi genetik,
berstruktur double helix  sehingga
saat pembelahan sel dapat dihasilkan
2 (dua) kopi yang sama.
RNA = ribonucleic acid adalah satu di antara
dua tipe zat kimia yang mengangkut code
instruksi genetik di dalam sel untuk
aktivitas sel, atau yang membantu
memecah code (decoding) instruksi
terkait.
12
Struktur sel (lanjutan)
Pada sel hewan dan tumbuhan, DNA
adalah pemegang code (sandi) instruksi
dan RNA adalah pembantu pemecah code
instruksi terkait.
Pada virus tertentu instruksi multiplikasi
dirinya dikuasai RNA (dengan demikian ada
grup virus DNA dan grup virus RNA, ini
membedakan virus dengan bakteria).
13
Struktur sel (lanjutan)
Organella lain-lain di dalam sitoplasma:
Setiap organela menjalankan peran khusus.
Endoplasmik retikulum
= lapisan membrane tunggal yang terpelintir
menjadi untaian lititan yang komplek.
Bagian permukaan ada yang kasar berbijibiji yang merupakan ribosomes penghasil
protein, dan ada bagian permukaan yang
halus.
14
Struktur sel (lanjutan)
Protein yang selesai diproduksi
akan ditransfer ke sistem membrane lain
yang disebut:
Aparatus Golgi yang strukturnya mirip
seperti tumpukan piring.
Di sini struktur protein dimodifikasi dan
dikemas menjadi vesikel yang menonjol
ke luar permukaan.
15
Struktur Sel (lanjutan)
Organel mitokondria:
Adalah organel penghasil energi
(berasal dari pembongkaran lemak dan
gula), bentuk mitokondria mirip biji-biji kopi
yang memiliki lipatan lapisan dalam yang
komplek.
Sel-sel tubuh yang memerlukan energi
tinggi (sel otot dan sel hati) akan memiliki
mitokondria dalam jumlah banyak.
16
Struktur Sel (lanjutan)
Banyak proses dalam sel yang melibatkan
substansi yang bisa merusak sel apabila
ia menyentuh sito-plasma, oleh karenanya,
substansi terkait disimpan di dalam vesikel
khusus, yakni enzyme (ensim) yang disebut:
lysosomes dan
peroxisome.
Fungsi lysosome adalah enzyme pencernaan yang memecah partikel besar jadi
kecil (bakteri) sedangkan peroxisomes
adalah penetralisir substansi toksin.
17
Sitoplasma (cytoplasm)
Bagian di dalam sel yang berada di luar inti sel.
Sitoplasma di samping mengandung organella,
juga mengandung kerangka sitoskeletal yang
terdiri dari jaringan tube halus disebut:
microtubuli dan
mirofilament (cytoskeleton).
Jaringan struktur ini memungkinkan sel memiliki
bentuk rapi dan dapat bergerak.
18
Struktur sel (lanjutan -10)
Mikrofilament
Ini menunjang mikrovili yang merupakan
projeksi kecil-kecil keluar permukaan sel
untuk meluaskan area permukaan sel,
ia juga membentuk mikromucles yang
memungkinkan kontraksi dan gerak sel.
19
DEVISI SEL
Suatu proses sel memperbanyak diri.
Ada 2 (dua) cara:
1. mitosis yang menghasilkan dua anak sel
yang identik dengan sel induknya
2. meiosis yang menghasilkan sel telur dan
sperma, yang berbeda dari sel induknya,
mereka hanya memiliki ½ jumlah kromosom
(chromosomes).
20
CEDERA SEL
Cedera sel terjadi apabila suatu sel tidak
lagi dapat beradaptasi terhadap rangsangan,
misalnya rangsangan tersebut:
terlalu lama atau
terlalu berat.
Berat ringannya cedera akan menentukan
apakah sel tersebut dapat pulih kembali.
21
Sebab-sebab cedera sel:
-
hipoksia
infeksi mikroorgansime
suhu yang berlebih
radiasi
terpajan oleh radikal bebas.
Apabila suatu sel mengalami cedera, maka sel
tersebut dapat mengalami perubahan dalam
ukuran, bentuk, sintesis protein, susunan
genetik dan sifat-sifat transportasinya.
22
JARINGAN (TISSUE)
• Kumpulan sel khusus untuk menjalankan
fungsi tertentu.
Contoh:
- Jaringan otot (muscle tissue) yang terdiri
dari kumpulan sel khusus yang berkemampuan untuk berkontraksi.
-
Jaringan epitel (epithelial tissue)
membentuk kulit serta membrane mukosa
yang melapisi sistem pernapasan dan organ
dalam lain-lain.
23
JARINGAN (Lanjutan-1)
- Jaringan saraf (nerve tissue) terdiri dari
kumpulan sel khusus yang mampu
menyalurkan impuls elektrokimiawi saraf.
- Jaringan ikat (connective tissue) termasuk
ini adalah darah, jaringan lemak (adiposa)
dan jaringan fibrosa serta elastik (tendon,
tulang rawan) yang berfungsi menopang
bentuk tubuh menjadi satu kesatuan.
24
JARINGAN (Lanjutan-2)
Jaringan tubuh menghasilkan TPA (tissueplasmogen activator): berfungsi mencegah
pembekuan darah abnormal, dihasilkan oleh
lapisan dalam pembuluh darah dan dinding
otot uterus.
Cairan jaringan (Tissue fluid)
= cairan interstitial.
Adalah cairan ekstraseluler yang
berada di luar sel, termasuk darah
dan limfe.
25
Cairan Interstitial (Tissue Fluid)
Cairan mirip air yang berada di rongga kecil di
antara badan sel = cairan instertitial.
Cairan interstitial berfungsi sebagai sarana
- transportasi O2,
- nutrient yang harus lewat pembuluh
darah  ke dalamnya.
Gerak arus balik akan mengangkut CO2 dan
produk sampah dari sel ke dalam cairan
jaringan dan masuk kembali ke aliran darah.
26
Cairan Interstitial (Lanjutan-1)
Cairan tubuh juga mengangkut ion-ion.
Cairan tubuh mengandung:
- konsentrasi tinggi ion natrium dan
- konsentrasi rendah ion kalium dibanding
yang ada di dalam intraseluler ( mengatur
keseimbangan gerak air ke dalam & ke luar
sel melalui mekanism osmosis); kadar ion
berperan dalam transmisi impuls elektrik
melalui saraf dan otot.
27
Cairan Interstitial (Lanjutan-2)
• Cairan jaringan ke luar dinding bagian pertama
kapiler darah (yang paling dekat dengan
arteriole) hasil dorongan tekanan darah.
• Di ujung kapiler dekat venula tekanan darah
lebih rendah, maka cairan akan masuk kembali
ke kapiler; sebagian cairan masuk aliran
pembuluh limfe. Oleh kerenanya kadar cairan
interstitial selalu seimbang.
Bila keseimbangan terganggu  edema.
28
SEL DARAH
Sel darah berada di dalam darah hampir
sepanjang hidupnya, termasuk:
sel eritrosit yang menduduki kadar
tertinggi dalam komposisi darah
normal berserta
sel leukosit dan
sel keping (trombosit),
mereka menduduki kadar 5% dari total
volume darah.
29
HEMATOPOEISIS
Semua jenis sel darah dibentuk di:
hati,
limpa janin dan
sumsum tulang
setelah lahir, barasal dari satu tipe sel
bakal (stem cell) pluripotensial, dan
dengan cara devisi sel (pembelahan sel)
 banyak.
30
Asal Sel Darah
Eritroblast
Sel bakal Mieloblast
(Stem cell)
pluripotential
Riculocyt:
Granulosit:
Eritrosit
Eosinofil
Basofil
(mast cell)
Neutrofil
Monoblast
Monosit
Megaloblast
Trombosit (Platelets)
Prolimfoblast
Makrofag
Sel bakal Limfoid:
Limfosit B
Limfosit T
31
Darah (lanjutan -1)
Sel bakal distimulasi oleh tanda in-utero dan
setelah lahir, untuk membentuk sel-sel darah
yakni meliputi pelepasan molekul-molekul
produk lokal, yang merupakan petunjuk terhadap keadaan kepadatan di dalam jaringan
hematopoeitik, termasuk peredaran hormon
yang menstimulasi terjadinya proliferasi
banyak atau seluruh sel.
Faktor pertumbuhan hematopoeitik spesifik
= colony stimulating factor.
32
Darah (lanjutan -2)
• Darah terdiri dari butir darah dan plasma.
Plasma terdiri dari:
- 90% air dan
- 10 % elektrolit,
- gas larut,
- produk sisa metabolisme dan zat gizi gula,
- asam amino, lemak, kolesterol, vitamin,
protein albumin dan imunoglobulin,
protein komponen koagulasi & komplemen.
Cairan darah mengalir di arteria dan vena.
33
Fungsi Darah
Mengatur transportasi O2 dan nutrient,
dan membuang CO2 dan sampah;
berperan penting dalam:
perlindungan terhadap infeksi;
menghentikan perdarahan;
memperbaiki luka; juga
mengangkut:
protein,
hormon dan
lemak.
34
ERITROSIT
• Eritrosit (Red Blood Cells, red blood
corpuscles, erythrocytes)
Mereka mengangkut O2 dari paru ke jaringan
dalam respirasi O2 ditukar dengan CO2.
Formasi:
Dibentuk berasal dari sel bakal di sumsum
tulang (kira-kira 5 hari). Mereka memerlukan
cukup nutrient (zat besi, asam amino, dan
vitamin B12 dan B11 (asam folat)).
Laju formasi eritrosit dipengaruhi hormon ginjal
Erythropoietin.
35
ERITROSIT (Lanjutan-1)
Sel yang baru dilepas dari sumsum tulang
ke dalam aliran darah disebut:
Reticulocytes
setelah 2 – 4 hari
Mature (dewasa) RBCs.
Bentuk reticulosit mudah dikenal dengan
metode pengecatan laboratorium, jumlah
mereka menjadi estimasi laju pertumbuhan
sel eritrosit
36
ERITROSIT (Lanjutan-2)
Struktur dan Fungsi:
Jumlah di aliran darah tepi: kira-kira 5000,000
RBCs/1cc darah.
Bentuk seperti donat, diameter kira-kira
7.5/1000 mm, tengah cekung tepi bulat lebih
menonjol.
Bentuk terkait memberi keuntungan:
(1) memungkinkan area permukaan lebih luas,
memudahkan mengisap dan melepas O2.
37
Eritrosit (Lanjutan-3)
(2) memudahkan sel merembes dinding
pembuluh kapiler arteriola yang sempit
dengan tidak rusak.
Setiap sel eritriosit mengandung jumlah besar
hemoglobin, suatu protein yang mengandung
iron (Fe).
Hb ini ada di semua hewan, dan bekerja sangat
efisien mengikat O2 bila kosentrasi O2 tinggi
(di paru), dan melepasnya kembali bila kadar O2
rendah (di jaringan).
38
Eritrosit (lanjutan -4)
OXYHEMOGLOBIN:
Terbentuk saat Hb berkombinasi dengan
O2 dan memberi warna merah cerah pada
darah (di arteria).
Hb yang telah melepas O2  warna
gelap darah (di vena) (di luar sirkulasi paru).
39
Eritrosit (Lanjutan-5)
Setiap eritrosit juga mengandung:
ensim,
mineral dan
gula yang diperlukan sebagai sumber
energi untuk menjaga bentuk, struktur dan
elastisitet sel.
Eritrosit tidak memiliki inti, mitokondria, atau
ribosom  Tidak dapat melakukan mitosis,
fosforilasi oksidasi sel, atau pembentukan
protein.
40
Eritrosit (lanjutan -3)
Eritrosit hidup selama 120 hari  disintegrasi
dan mati.
Sel yang mati diganti sel baru produksi
sumsum tulang.
Batas usia 120 hari juga menjadi perhatian
bank darah (PMI) bahwa darah dalam waktu
3-4 minggu akan mengandung proporsi sel mati
yang siknifikan, sehingga, harus dibuang, tidak
dapat digunakan untuk transfusi.
41
Eritrosit (lanjutan -4)
Darah yang lama, zat perlengkapan kimiawi
internalnya akan usang, kehilangan
elastisitet dan akan terjebak di pembuluh
darah halus di dalam limpa dan organ-organ
lain  ini akan dihancurkan oleh sel
makrofag (fagosit).
Komponen molekul Hb dinetralisir namun
sebagian akan dibongkar menjadi produk
sampah bilirubin.
42
Eritrosit (lanjutan -5)
Gangguan abnormalitas bisa timbul
dalam paparan:
laju pembentukan dan
pembongkarannya;
jumlah RBCs di dalam darah; dan
bentuk,
ukuran dan
kandungan Hb
di dalamnya.
43
Sifat-Sifat eritrosit atas dasar
ukuran jumlah Hb-nya:
-
normositik (sel ukuran normal)
normokromik (jumlah Hb normal)
mikrositik (ukuran sel terlalu kecil)
makrositik (ukuran sel terlalu besar)
hipokromik (jumlan Hb terlalu sedikit)
hiperkromik (jumlah Hb terlalu
banyak)
44
Eritrosit (lanjutan -6)
• Antigen eritrosit:
Antigen spesifik ini diberi nama A, B dan Rh.
Seorang memiliki dua alel (gen) yang mengkode
antigen A atau B, atau tidak memiliki keduanya
diberi kode O.
Satu alel diterima dari masing-maisng orang tua.
• Antigen A dan B bersifat kodominan.
• Golongan darah dibagi menjadi:
A, B, AB dan O
45
LEUCOCYTES (WBCs)
• Leukosit (White corpuscle or Leukocytes)
memiliki peran utama memproteksi tubuh dari
infeksi dan juga memerangi infeksi.
Ukuran sel jauh lebih besar dari eritrosit (s/d
15/1000 mm) namun jumlahnya jauh lebih sedikit
(kira-kira 7500/cc darah) usia lebih pendek dari
eritrosit. Ada 3 jenis bentuk sel:
granulosit,
monosit dan
limfosit
(bentuk intinya berbeda-beda).
46
GRANULOSIT: leukosit polimorfonulier.
Terdiri dari 3 tipe:
1. Neutrofil:
Jumlahnya terbanyak, 60% dari jumlah
leukosit; bertugas mengisolasi dan
membunuh bakteri penyerang = fagosit.
tinggal di aliran darah hanya lebih-kurang
6-9 jam, kemudian menepi ke dinding
pembuluh, ke dalam jaringan, di sini ia
akan tinggal sampai beberapa hari.
47
Leukosit (Lanjutan-1)
2. Basofil:
Jumlahnya terkecil.
Mengeluarkan histamin, bradikinin dan
serotonin bila cedera atau infeksi ->
permeabilitet kapiler dan aliran darah
meningkat; juga menghasilkan bahan alamiah
heparin untuk pengawasan jalur pembekuan
darah.
Berfungsi mirip mast-cell (pencetus
peradangan jaringan tertentu)
48
Leukosit (Lanjutan-2)
3. Eosinofil:
Berperan dalam reaksi alergi dan jumlahnya
akan meningkat pada infeksi parasit tertentu.
Ia muncul di site respons alergik dan nampak
berfungsi protektif bagi inang dengan
mengakhiri respons peradangan.
Sel-sel ini terutama penting pada pertahanan
terhadap infeksi parasit dan berfungsi
memfagositosis sisa-sisa sel dengan tingkat
yang lebih rendah dari pada neutrofil.
49
Leukosit (lanjutan-3)
4. Monosit (Phagosites)
Bersirkulasi di dalam aliran darah untuk
kira-kira 6-9 hari dan berperan penting
pada sistem imune tubuh.
Monosit beredar dalam darah dan masuk ke
jaringan yang cedera melewati membrane
kapiler yang menjadi permeable (bisa
ditembus) sebagai akibat reaksi peradangan.
Ia bukan fagosit namun setelah beberapa
jam di jaringan ia berkembang matang jadi
makrofag (sel besar yang berkemampuan
fagositik).
50
Leukosit (lanjutan-4)
Monosit mampu mencerna bakteri dan sisa
sel dalam jumlah besar. (eritrosit, leukosit
yang telah lysis).
Makrofag mengkoloni di jaringan, kulit, kelenjar
limfe dan paru selama berbulan  bertahun.
Sel berfungsi menyapu mikroorganisme
yang masuk rute-rute terkait.
Sistem disebut Sistem Retikulo-endotel.
51
Leukosit (lanjutan -5)
5. Limfosit (Lymphocytes)
Asal in-utero dari sel-sel yang ditemukan di
jaringan limfoid, hati dan limpa.
Setelah lahir, limfosit terus berproliferasi di
tempat-tempat tersebut (hati dan limpa) serta
di ss.tulang, kelenjar limfe, timus dan tonsil.
Banyak diproduksi di kelenjar limfe dari
pada di ss. tulang. Berperan utama dalam
sistem imune tubuh.  Mengalir keliling
tubuh antara aliran darah dan kelenjar limfe,
serta saluran di antara kelenjar limfe.
52
Reading: Lymphocyte
• Any of a group of white blood cells of crucial
importance to the adaptive part of the body’s
immune system.
The adaptive portion of the immune system
mounts a tailor-made defense when dangerous
invading organisms penetrate the body’s general
defense (such as those provided by the other
types of white blood cell)
53
Reading: Lymphocyte (Cont.)
• Some lymphocytes retain a memory of invading
micro-organisms so that the invaders can be
dealt with more rapidly when next encountered.
It is this memory function that is stimulated
by vaccines.
• Lymphocytes protect against the development
of tumors, and cause rejection of tissue in organ
transplants.
54
There are two principal types
of lymphocytes.
(1) B-lymphocytes: this type accounts for about
10% of circulating lymphocytes.
When a particular antigen (foreign protein),
such as a substance on the surface of a
bacterium, is encountered by the immune
system, certain B-lymphocytes are
stimulated to enlarge and undergo cell
division, transforming into cells called
plasma cells.
55
There are two principal types of lymphocytes. (Cont.-1)
The plasma secrete into the blood vast
numbers of tailored made immunoglobulin
or antibodies that attach to the antigen on
the surface of the microorganism.
This starts a process that leads to the
destruction of the microorganism.
The protective effects of the immunoglobuline is called humoral immunity.
56
There are two principal types of lymphocyte (Cont.-2)
(2) T-lymphocytes
This type account for more that 80% of
circulating lymphocytes.
T-lymphocytes are derived from white cells
that have at some stage entered the thymus
gland, where they were “educated” to fullfill a
particular function.
57
There are two principal types of lymphocyte (Cont.-3)
• There are two main groups of T-lymphocytes:
killer (cytotoxic) and
helper cells.
The killer T-lymphocytes (like B-lymphocytes)
are sensitized and stimulated to multiply by the
presence of antigens, in this case by antIgens
present on abnormal body cells, e.g.:
cell that have been invaded by viruses,
cells in transplanted tissues, and
tumor cells.
58
There are two principal types of lymphocyte (Cont.-4)
• Unlike the B-lymphocytes, the killer cells do not
produce antibodies; instead, they travel to and
attach to the cells recognized as abnormal.
The killer cells release the chemicals known as
lymphokines, which help destroy the abnormal
cells.
This is called cell-mediated immunity.
59
There are two principal types of lymphocyte (Cont.-5)
• Helper-T-cells enhance the activities of the
cytotoxic cells and content other aspects of
the immune response.
In people infected with HIV (the AIDS virus)
these helper T-cells are reduced in number,
thus impairing the body’s ability to fight
certain types of infections and tumors.
60
There are two principal types of lymphocyte (Cont.-6)
• Memory function:
Some lymphocytes do not participate directly
in immune responses, instead, they serve as
a memory bank for the different antigens that
have been encountered in the past.
These cells may survive for many years.
61
DUA TIPE LIMFOSIT
1.
LIMFOSIT Tipe-T
Menyusun sistem imune seluler tubuh.
Bertanggungjawab terhadap fenomena
delayed hypersensitivity dan menghasilkan
lymphokines yang berpengaruh pada fungsi
banyak sel.
Ia juga mengatur aktivitas B-limfosit.
Membentuk antibodi-antibodi yang
melindungi kita terhadap serangan kedua
dari penyakit yang sudah dikenal.
(Contoh: Morbilli= measle, dll)
62
DUA TIPE LIMFOSIT (Lanjutan)
2. Lymphosit Tipe-B
Menyusun sistem imune humoral
tubuh.
Ia menghasilkan antibodi,
imuno-globulin yang melindungi tubuh.
Limfosit hidup selama 3 bulan s/d 10 tahun.
63
Leukosit (lanjutan -5)
Gangguan Leukosit:
• Leukemia:
Pada gangguan ini ditemukan
jumlah leukosit terlalu berlebih
(leukositosis).
Ada lebih kurang 13 kasus baru/100.000
penduduk di USA, menduduki peringkat
laju kematian (mortalitas) ke 6-7, ada
beberapa tipe:
64
Type Leukemia
Leukemia akut:
Sel leukosit yang terbanyak diproduksi
adalah sel yang imature (blast),
prognosis baik, pada anak lebih baik dari dewasa.
Leukemia kronik limfositik:
Tipe ini ditandai dengan proliferasi
mature-looking lymphocytes, tak dapat
disembuhkan namun tidak fatal;
jalan penyakitnya lama, survival rate 5 tahun,
kematian akibat terkena infeksi berat.
65
Type Leukemia (Lanjutan)
Leukemia kronik myeloid:
Ada dua fase, fase kronik dan fase malignant,
survival rate 3 tahun, 1 di antara 3 bisa s/d
10 tahun, dan bisa berhasil lebih baik dengan
transplantasi sumsum tulang.
• Leukopenia:
Keadaan jumlah leukosit yang lebih rendah.
AIDs: terjadi infeksi pada T-limfosit  disfungsi sistem
imunitas dan peningkatan risiko terkena
infeksi dan kanker.
66
Sel Keping (Platelets)
• Tipe dengan ukuran terkecil di antara sel darah
(2-3/1000 mm diameter).
Jumlah lebih > leukosit, namun < eritrosit.
Asal dari sel bakal sumsum tulang.
Masa hidupnya lebih-kurang 9 hari.
Fungsi: Ada di sirkulasi darah dalam bentuk
inaktif, pada situasi tertentu ia menempel ke
dinding pembuluh darah dan melekat satu
dengan yang lain.
67
Sel Keping (Platelets) (Lanjutan-1)
Aktivitas tersebut penting dalam homeostasis.
Khususnya:
- dalam penghentian perdarahan) dan
- pembekuan/penggumpalan darah.
Proses juga bisa mengakibatkan formasi
thrombi (bekuan) di dalam pembuluh darah
yang intact (tidak rusak), dan juga deposit
lemak di dinding pembuluh = atheroma.
68
Sel Keping (Platelets) (Lanjutan-2)
Karena beperan dalam formasi pembekuan
maka diberi sebutan:
Trombosit (thrombocytes)
Gangguan:
Platelets yang abnormal, atau kekurangan
platelets  tipe tertentu gangguan
perdarahan.
69
GANGGUAN DARAH
•
Abnormalitas bisa mengena semua komponen sel
butir darah dan kandungan plasma darah.
•
Anemia adalah gangguan terumum. Banyak kausa
dapat menimbulkan anemia.
•
Defek sel keping, dan mekanisme pembekuan
darah bisa mengakibatkan gangguan perdarahan
Sedangkan reaksi berlebih mekanisme pembekuan
darah dapat menimbulkan trombosis yang sangat
berbahaya.
•
Defisiensi protein plasma dapat menimbulkan
hipoalbuminemia dan hipoglobulinemia.
70
Kausa Gangguan Darah:
1. Gangguan genetik
- Abnormalitas pada produksi komponen
darah yang herediter:
- Thalassemia (fragile Hb),
hemophilia (ggn faktor pembeku darah),
sickle cell anemia (abnormal fragile red cell)
2. Gangguan Nutrisional: - Iron-deficiency anemia;
- Hypovitaminose B12 & B11 (anemia
megaloblastic).
71
Kausa Gangguan Darah (Lanjutan-1)
3. Infeksi:
- Bacteremia; septicemia;
- Virus, fungi, protozoa, parasit lain-lain.
- Bisa terjadi anemia hemolitik.
4. Tumor-2: - Leukemia (leukosit >>)
- Polycythemia vera, (eritrosit >>)
- Multiple myeloma (ss tulang)
5. Keracunan: - Gas CO, racun ular, laba-laba,
- Bakteremia, septikemia, toksemia
(adanya racun metabolit di darah)
72
Kausa Gangguan Darah: (Lanjutan-2)
6. Obat-obat:
- Co-trimoxazole, thiazide diuretics, carbimazole
menekan produksi leukosit dan/atau sel keping.
- Chloramphenicol, sulfonamides
 menekan produksi eritrosit.
- Methotrexate, phenytoin
 mengganggu produksi eritrosit.
- Dosis tinggi anti-koagulansia
 perdarahan akibat gangguan mekanisme
pembekuan darah
73
Gangguan Darah (Lanjutan -2)
7. Radiasi:
- Dosis tinggi radiasi (dalam terapi, atau
ledakan nuklear, atau kebocoran radioaktif)
merusak sumsum tulang
penekanan pada produksi
semua tipe sel darah.
(contoh: anemia aplastic)
74
8. Gangguan-gangguan lain:
Penyakit hati:
defisiensi albumin (produksi menurun)
hiperbilirubinemia
anemia dan defisiensi faktor pembeku
darah
Penyakit ginjal:
kehilangan >> albumin dalam urine
uremia
anemia akibat kurang hormon
eritropoeitin
perubahan kimia darah yang kompleks
75
Gangguan Darah (Lanjutan – 3)
INVESTIGASI:
Gangguan darah diperiksa dengan cara
Blood tests:
Blood count
Blood smear
Blood clotting test
76
Diagnosis Sel Darah
Atas dasar pemeriksaan mikroskopik bisa
diamati abnormalitas dan variasi umum pada
jumlah masing sel leukosit saat tubuh terserang
berbagai infeksi.
Contoh:
- Jumlah neutrofil umumnya meningkat pada
infeksi bakterial.
- Jumlah limfosit meningkat pada infeksi virus
tertentu.
77
Diagnosis Sel Darah (Lanjutan-1)
Gambaran darah dirinci dalam:
jumlah,
bentuk dan
penampilan fisik lain
dalam upaya diagnosis penyakit.
Blood Count: (hitung jenis sel darah)
Hitungan yang lengkap termasuk:
kadar Hb,
jumlah sel eritrosit dan leukosit dalam
1cc darah.
78
Diagnosis Sel Darah (Lanjutan-2)
Perbandingan jumlah jenis sel leukosit
juga diukur, begitu juga bentuk tampilan
dari eritrosit maupun leukosit.
Hasil penting untuk pemaparan:
- jenis anemia,
- leukemia,
- polycytemia atau
- thrombocytopenia.
79
DONOR DARAH
• Proses pemberian darah agar bisa digunakan
untuk transfusi.
• Whole Blood Donation:
Diambil sampai dengan ½ liter (= 1/10 total
volume darah di dalam sirkulasi) perlahan-lahan
ke dalam kantung plastik yang telah diisi dengan
anticoagulantia (supaya tidak beku).
Umumnya orang merasa baik setelah jadi donor,
bisa sedikit pusing atau meriang dan perlu
diistirahatkan tiduran untuk beberapa menit.
80
DONOR DARAH (Lanjutan-1)
Semua donor harus menghindari olah raga berat
selama lebih kurang 5 jam setelah jadi donor,
dan harus minum air/juice buah yang banyak.
Darah yang terkumpul dikirim ke pusat transfusi,
 ditest untuk deteksi: virus hepatitis B, sifilis
dan antibodi HIV (virus AIDS), malaria.
Kemudian ditentukan golongan darahnya 
disimpan dalam bank darah, secara menyeluruh
atau dipisahkan ke dalam komponenkomponennya.
81
Donor darah (lanjutan -2)
Apheresis:
Suatu teknik yang memungkinkan pengambilan
darah dengan memisahkan komponen darah
yakni: plasma, trombosit, leukosit dari sirkulasi.
Caranya:
Darah sebanyak ½ liter diambil dari satu lengan
disirkulasikan lewat closed sterile seperator
system, kemudian dikembalikan ke lengan
yang lain (donor) setelah dikurangi komponen
yang perlu dikumpulkan.
Tindakan ini diulang sampai 6-8x, dengan
jumlah pengambilan yang sama banyaknya dari
6-8 donor.
82
Donor darah (lanjutan -3)
Umumnya hanya diperlukan cukup satu donor
tunggal bagi satu pasien yang memerlukan
komponen terkait, maka jarang terjadi risiko
reaksi transfusi, dan cukup bisa mengurangi
risiko transmisi hepatitis.
• Donasi whole blood memerlukan waktu lebih
kurang 45 menit, termasuk pemeriksaan
medisnya, sedangkan untuk keperluan
apheresis memerlukan lebih kurang 21/2 jam.
83
Donor Darah (Lanjutan -4)
• Semua orang sehat dapat jadi donor.
• Donor voluntir di anamnese duhulu terkait riwayat
kesehatannya.
Yang pernah:
anemia,
kanker,
sakit jantung,
malaria, atau
hepatitis atau
yang terexposed virus AIDS
harus didiskualifikasi, juga wanita hamil.
84
Donor Darah (Lanjutan -4)
• Sampel darah diambil dari jari tangan atau daun
telinga untuk ditest: anemia, juga dicek suhu badan,
pols (denyut nadi) dan tekanan darah.
• Donor reguler umumnya menyumbangkan darah
(whole blood) 3-4x /tahun, namun untuk mereka yang
bergolongan darah langka bisa medonorkan darahnya
1 kali dalam setiap 2 bulan.
• Apheresis bisa dilakukan 2x/minggu dengan syarat
tidak menjadi donor whole blood di selang waktu
prosedur tersebut.
85
PRODUK DARAH
1.
WHOLE BLOOD
Digunakan untuk tindakan menolong penderita
perdarahan akut (kecelakaan, tindakan operasi
besar)
2
PACKED RED CELLS
Sel darah merah yang dipampatkan.
Digunakan untuk menolong penderita
tipe anemia kronis tertentu yang gagal
diterapi obat, juga untuk menolong kasus
hemolitik anemia pada bayi neonatus
(“Rhesus babies”)
86
PRODUK DARAH (Lanjutan-1)
3.
WASHED RED CELLS
Darah yang bebas dari leukosit dan/atau protein
plasma lain.
Transfusi ini mengurangi reaksi alergik, diberi ke
penderita anemia kronik, yang memerlukan transfusi
untuk jangka panjang
4.
FROZEN RED CELLS
Eritrosit dibekukan untuk penyimpanan lama.
Digunakan untuk menyimpan sel darah merah
golongan langka.
87
Produk Darah (Lanjutan -2)
5.
PLATELETS
Diekstraksi dan dipampatkan dari Whole Blood.
Berperan dalam proses penggumpalan/pembekuan
darah normal.
Kadar rendah platelets pada seorang akan mudah
menimbulkan memar dan perdarahan dalam.
Bila perlu platelets asal berbagai donor bisa
diberikan dalam satu kali transfusi.
88
Produk darah (lanjutan -3)
6.
WHITE BLOOD CELLS
Granulosit bisa dipisahkan dari darah normal atau
dari darah pasien chronic granulocytic leukemia.
Pasien penderita infeksi berat/fatal dengan
granulositosit rendah bisa diberikan darah ini
apabila tidak respons terhadap terapi antibiotikanya.
7.
FROZEN FRESH PLASMA
Plasma dipisahkan dan langsung dibekukan.
Ia kaya faktor pembekuan darah, plasma fresh
digunakan untuk menolong berbagai tipe gangguan
perdarahan.
89
Produk Darah (Lanjutan -4)
8. PLASMA PROTEIN SOLUTION
Bagian cair darah dari whole blood yang
tidak digunakan dalam tempo 3 minggu
setelah dikoleksi, dijadikan larutan pampatan
albumin (protein utama dalam plasma).
Solusi ini dapat tahan lama di dalam
penyimpanan.
Pemanfaatan utama untuk mengatasi shok
akibat kehilangan darah sampai darah yang
kompatibel bagi pasien tersedia.
90
(Lanjutan)
Purified Albumin:
Preparasi ini digunakan untuk
mengatasi nephrotic syndrome (suatu
gangguan ginjal yang disertai kehilangan
albumin berat) dan juga untuk gangguan
hati (yang disertai defisiensi produksi
albumin).
91
Produk Darah (Lanjutan 5)
9.
CLOTTING FACTORS
Pampatan faktor VIII dan IX pembekuan
darah digunakan untuk menolong
Hemophilia dan Christmas disease.
Mengingat diperlukan donor dalam jumlah
banyak, maka perlu di-heat-treated untuk
mereduksi risiko transmisi hepatitis dan
AIDS.
92
Produk Darah (Lanjutan -6)
10. IMMUNOGLOBULINS
Antibodies (imunoglobulin) timbul di dalam darah
pasien yang sembuh dari penyakit virus tertentu
(rubella, hepatitis B) dan pada orang yang pada
waktu dekat telah diimunisasi (tetanus).
Antobodi-antibodi bisa dipampatan dari plasma yang
diambil dari pasien-pasien post sakit infeksi terkait
dan dapat digunakan untuk menolong pasien yang
dirinya tidak mampu menghasilkan anibodinya
sendiri, atau bagi pasien yang baru saja terpajan
penyakit virus.
93
Produk Darah (Lanjutan -7)
Teknik pengganggu imunitas ini disebut:
Imunitas pasif.
Produk darah dengan Anti-D imunoglobulin
diambil dari donor yang darahnya tersensitisasi
terhadap faktor golongan darah Rh.
Apabila diberikan kepada pasien ibu Rh-negatif
dalam waktu 60 jam postpartum bayi Rh-positif,
akan mencegah penyakit hemolitik bayi pada
kelahiran yang akan menyusul kemudian.
94
SESI 3 b
FAGOSIT (Phagocyte)
&
FAGOSITOSIS (Phagocytosis)
95
DESKRIPSI
Mata ajar ini membahas tentang tugas sel fagosit,
makrofage sebagai bagian dari sistem mononuklear
fagosit, definisi humoral dan cellular immunity,
specific dan non-specific immunity, opsonization,
serta sifat sel leukosit dan proses fagositosis.
96
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Mampu memahami tugas sel fagosit, makrofage
sebagai bagian dari sistem mononuklear fagosit,
beda humoral dan cellular immunity, specific dan
non-specific immunity, opsonization, serta sifat
sel leukosit dan proses fagositosis.
97
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
& POKOK BAHASAN
Menjelaskan:
Sel darah putih granulosit, monosit yang merupakan
fagosit ‘bebas’
Humural & Cellular immunity
Non-specific & specific immunity
Opsonization
Leukosit, Makrofag dan proses fagositosis
98
FAGOSIT & FAGOSITOSIS
• Fagosit (Phagocyte):
Sel darah putih yang berkemampuan
mengelilingi, memangsa dan menelan
mikroorganisme (bakteri, virus), benda asing
yang masuk ke dalam tubuh ( di antaranya:
debu yang masuk paru) dan juga sisa hancuran
sel.
Fagosit adalah bagian dari sistem imun tubuh
(pertahanan alamiah tubuh terhadap infeksi) dan
ditemukan di darah, limpa, nodes limfatik dan di
dalam alveoli paru dan lain-lain.
99
FAGOSIT & FAGOSITOSIS (Lanjutan-1)
Sel darah putih granulosit dan sebagian
monosit adalah fagosit.
Disebut sebagai fagosit ‘bebas’ yang bisa
berjalan bebas di jaringan dan memakan
organisme dan sisa-sisa hancuran benda
asing
100
Humoral Immunity:
Imunitas dengan kekuatan antibodi yang
dihasilkan oleh B-limfosit, setelah antibodi
mengikat antigen, oleh karenanya sel
mikro-organismenya mudah untuk bisa
dimakan fagosit.
Pengikatan antigen oleh antibodi akan
mengaktifkan sistem komplement yang
meningkatkan efisiensi kerja fagosit dan
menghancurkan mikro-organisme
penyerang (>> bakteri)
101
Cellular Imunity:
Imunitas dengan kekuatan sel T-limfosit
yang terdiri dari sel Helper-limfosit yang
tugasnya mengenali penyerang, dan
mengaktifkan sel Killer-limfosit yang
tugasnya membunuh penyerang
(>> virus, parasit, sel organ transplantasi
dan juga kanker).
102
(Lanjutan)
Memori sistem imun
(yang terjadi pada acquired immunity
terhadap penyakit tertentu)
bergantung:
kepada survival limfosit yang teraktivasi
atau
tersensitisasi terhadap antigen
pada saat pertama dijumpai.
103
Non-specific & Specific Immunity
• Non-specific immunity = kekebalan tak khas
terhadap kuman
• Specific immunity = kekebalan khas terhadap
satu jenis kuman
Contoh: Seseorang yang terkena infeksi variola timbul
kekebalan khas terhadap kuman (virus) penyebab
variola, tidak akan terkena variola untuk kedua
kalinya.
Kekebalan khas ini meliputi aktivitas sel (darah)
(cellular immunity) dan cairan tubuh (humoral
immunity).
104
Non-specific & Specific Immunity (Lanjutan)
Elemen seluler:
- Limfosit
- Fagosit yang memakan zat tertentu
(bakteri) yang masuk ke sitoplasma sel.
Ada 2 sel:
1. leukosit polimorfonuklier
(granulosit)
2. makrofag (monosit)
Sifat fagositik mereka dipermudah dengan
hadirnya zat kimia antibodies spesifik (khas).
105
Opsonization (opsonisasi)
Proses peningkatan fagositiosis di
dalam substansi.
Ini vital bagi mekanisme pertahanan tubuh
dan merupakan fungsi penting antibodi.
Molekul opsonin melekat (seperti lem) pada
fagosit dan bakteri.
Perlekatan ini kuat pada permukaan sel,
mendahului proses ingesti (memakan)
= Initial attachment
= initial cell phagocytosis
106
Opsonization (opsonisasi) (Lanjutan-1)
Permukaan fagosit profesional memiliki 2 (dua)
site reseptors pengikat opsonin.
-
Satu disebut Fc-receptor yang akan
mengikat antibodi IgG dan IgM, yang
lain adalah:
- C3-receptor yang melekat pada
C3-component of complement, yang
seperti juga IgG beraksi seperti suatu
opsonin.
Kedua reseptors di atas ini penting dalam
proses perlekatan dan fagositosis.
107
Opsonization (opsonisasi) (Lanjutan-2)
Fagosit juga harus memiliki reseptor untuk
Gamma interferon dan faktor inhibitasi migrasi.
• Fagosit juga memproduksi:
Prostaglandin,
Interferron,
Complement components dan
Interleukin I.
108
Opsonization (opsonisasi) (Lanjutan-3)
• Belum diketahui penyakit yang menunjukkan
bahwa fagositosis adalah defektif.
Apabila ada defek pada inang, menjurus
kegagalan memakan bakteri/kuman maka
kesalahan biasanya ada pada
sistem opsonizationnya.
109
Leukocytes
• Polymorphoneclear Leukocytes (granulocytes)
(polimorfonuklier leukosit) (granulosit)
Ada di sumsum (ss) tulang, ada 3 (tiga) macam sel
atas dasar sifat pengecatan granula intinya
(Lysosomes):
neutrofil,
eosinofil dan
basofil.
Neutrofil  fagosit yang merupakan:
end product pendewasaan sel myeloblast (asal
sumsum tulang)
kemampuan mitosis hilang
110
Leukocytes (Lanjutan-1)
Sifat sel leukosit polimorfonuklier:
- inti multi-lobi
- < 48 jam dalam sirkulasi
 atas pengaruh kemotaksis ia migrasi ke
tissue (jaringan), ia akan
 mengfagosit benda asing yang ada
 dan kemudian mati.
111
Cara Fagositosis
-
-
melekat erat seperti lem pada permukaan
gerak ameboid (dengan pseudopodia)
suplier lysosomes (cytoplasmic vehicles
penuh enzyme cerna)
partikel yang difagosit dikurung dalam
vacuole (rongga) terselubung membrane
(phagosome) bersama dengan lysosomes
 phagolysosomes (secondary
lysosome)  sehingga bakteri atau
leukosit sendiri bisa mati/ larut/ lysis.
112
Cara Fagositosis (Lanutan-1)
Proses fagositosis diikuti peningkatan:
- konsumsi O2
- aktivitas jalur pintas hexose-monofosfat
 hasilkan energi
- hasil H2O2; glycolysis; turnover RNA;
sintesis lipid
Studi menemukan bahwa: inhibitor metabolik
menghambat glycolysis dan tidak berpengaruh
pada respirasi oksidasinya  ini menguntungkan,
karena ada kalanya leukosit harus bekerja dalam
area miskin O2 (anaerobic)
113
Cara Fagositosis (lanjutan -2)
Sel polimorfonuklier memiliki supply glycogen
sebagai sumber glucose.
Fagosit dependens pada ion tertentu
(magnisium) dan beberapa faktor pada serum.
(Peningkatan 2-3x lipat aktivitas oksidasi dan
10x lipat jalur pintas hexose monofosfat adalah
sebagian dari kejadian pada pembunuhan
bakteri intracellular)
114
Makrofag (Macrophage)
Masa hidup sel polimorfonuklier pendek,
disposable, mati segera setelah mangfagosit
bakteri (walau bakteri terbunuh dan dimakan).
Sel lain yang memiliki kemampuan fagosit
adalah: Makrofag.
Macrophage: bersifat:
Masa hidupnya lebih lama.
Berkemampuan mitosis,
Memakan bakteri lebih cepat
115
Makrofag (Macrophage) (Lanjutan-1)
-
Makrofag sama berasal dari sumsum tulang dan
dalam waktu singkat ada di sirkulasi darah sebagai
MONOCYTE. Polimorfonuklier.
-
Makrofag memakan bakteri ukuran > besar (TB),
independens terhadap O2 namun dihambat oleh
glycolysis.
-
Makrofag lebih bisa tahan hidup s/d bertahuntahun dengan material yang termakan ada di
dalamnya.
116
Makrofag (Macrophage) (Lanjutan)
Pembentukan lysosomes sama, hanya vesicle
makrofag dari aparatur Golgi dan juga
lysosomes  phagolysosomes.
-
-
Makrofag juga memakan Carbon plastic
sherules  maka disebut imunitas non
spesifik (tidak khas).
Permukaan makrofag memiliki 3 (tiga)
reseptor: (1). Fc
(2). C3 dan
(3). Non-specific
117
Sistem Mononuklear Fagosit
(The Mononuclear Phagocytes System)
• Bila bakteri disuntikan masuk aliran darah
 ikut aliran dan cepat hilang.
• Bila disuntikan ke subkutan  tahan lebih lama.
• Bila dimasukkan saluran napas  tahan lebih lama
sebelum dibersihkan.
Keadaan sama apabila dimasukkan ke cavum peritonei
Dulu tananan dikenal dengan sebutan:
Reticulo-endothelial system sekarang lebih suka
disebut:  Mononuclear Phagocyte System.
118
Download