Evaluasi pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu proses

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Psikologi Pendidikan
Pengukuran Dalam Pendidikan
Fakultas
Program Studi
Psikologi
Psikologi
Tatap Muka
13
Kode MK
Disusun Oleh
MK61022
Ainul Mardiah, M.Sc
Abstract
Kompetensi
Dalam perkuliah ini akan didiskusikan
pengukuran dalam pendidikan
Mahasiswa
mampu
memahami
pengukuran dalam pendidikan
Pengukuran Dalam Pendidikan
Evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Mengukur lebih bersifat kuantitatif,
sedangkan
menilai
lebih
bersifat
kualitatif.
Namun
secara
umum
orang
hanya
mengidentikkan kegiatan evaluasi sama dengan menilai, karena aktifitas mengukur sudah
termasuk didalamnya. Dan tak mungkin melakukan penilaian tanpa didahului oleh kegiatan
pengukuran (Arikunto, 1989). Pengukuran dapat dilakukan dengna cara membandingkan
hasil tes terhadap standar yang ditetapkan. Perbandingan yang telah diperoleh kemudian
dikualitatifikan sesuai dengna ketentuan yang berlaku.
Sesungguhnya, dalam konteks evaluasi atau penilaian ada beberapa istilah yang digunakan,
yakni pengukuran, assessment dan evaluasi. Pengukuran atau measurement merupakan
suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numeric.
Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrument untuk melakukan
penilaian. Unsur pokok dalam kegiatan evaluasi pengukuran ini, antara lain adalah sebagai
berikut: (1) tujuan evaluasi pengukuran (2) ada objek ukur (3) alat ukur (4) proses evaluasi,
dan (5) hasil pengukuran kuantitatif dan kualitatif.
Evaluasi merupakan salah satukegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru
dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guru akan mengetahui perkembangan
hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa
atau peserta didik. Adapun langkah-langkah pokok dalam penilaian secara umum terdiri dari
(1) perencanaan (2) pelaksanaan, pengumpulan data (3) pengeolahan atau verifikasi data
(4) analisa data, dan (5) kesimpulan atau interpretasi data.
Evaluasi hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar
(guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus
mengetahui sejauh mana pembelajar telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh
mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat
pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah
dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai.
Pengertian Evaluasi Belajar
Evaluasi pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu proses sistematik untuk
menentukan sejauhmana objektif pembelajaran telah dicapai oleh para peserta didik.
Evaluasi pembelajaran adalah proses penentuan apakah materi dan metode pmebelajran
telah sesuai dengna tujuan yang diharapkan. Penentuan bisa dilakukan salah satunya
dengna pemberian tes kepada pembelajar. Pengertian assessmet adalah kegiatan
mengukur dan mengadakan estimisasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-
2014
2
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan. Sedangkan evaluasi secara
etimologi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti value, yang secara harfiah
dapat diartikan sebagai penilaian. Namun, dari sisi terminologis ada beberapa definisi yang
dapat dikemukakan, yakni:
a. Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu.
b. Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah
berdasarkan tujuan yang jelas.
c. Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif sbagai hasil pengukuran untuk
keperluan pengambilan keputusan.
Berdasarkan pada berbagai batasan 3 jenis penilaian di atas, maka dapat diketahui bahwa
perbedaan antara evaluasi dan pengukuran adalah dalam hal jawaban terhdap pertanyaan
“what value” untuk evaluasi dan “how much” untuk pengukuran. Adapun asesmen berada di
antara kegiatan pengukuran dan evaluasi. Artinya bahwa sebelum melakukan asesmen
ataupun evaluasi lebih dahulu dilakukan pengukuran.
Sekalipun makna dari ketiga istilah (measurement, assessment, evaluation) secara teoretik
denisiinya berbeda namun dalam kegiatan pembelajaran terkadang sulit untuk membedakan
dan memisahkan batasan antara ketiganya, dan evaluasi pada umumnya diawali dengna
kegiatan pengukuran (measurement) serta pembandingan (assessment).
Tujuan Evaluasi Dalam Pembelajaran
Dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran
dalam jangka waktu tertentu.
2. Untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran.
3. Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya.
4. Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka
perbaikan.
Arikunto (1989) menyatakan bahwa harus ada hubungan yang erat antara: 1) tujuan
kurikulum dengna bahan pelajaran 2) bahan pelajaran dengan evaluasi, dan 3) tujuan
kurikulum dengna evaluasi. Jadi evaluasi itu harus merujuk kepada kurikulum dan bahan
pelajaran. Hubungan evaluasi terhadap kurikulum dan bahan pelajaran adalah sebuah
hubungan yang saling control. Kalau materi pelajaran sudah relevan dengan tujuan
pembelajran yang tercantum dalam kurikulum, maka evaluasi yang berhubungan dnegna
materi akan secara otomatis berhubungan dengan kurikulum. Namun jika materi pelajaran
2014
3
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
tidak relevan dengan kurikulum, maka tes yang dibuat berdasarkan materi tidak akan
menyokong tujuan kurikulum. Fokusnya tertuju kepada tujuan yang ada dalam kurikulum.
Materi dan metode merupakan sarana untuk pencapaian tujuan. Pemikiran ini bisa
diformulasikan kedalam bentuk lain bahwa pencarian, pembahasan, dan perumusan materi
adalah untuk
menjawab persoalan dalam evaluasi
yang
mengacu pada tujuan
pembelajaran.
Adapun posisi evaluasi dalam pembelajaran dapat penulis gambarkan secara jelas melalui
skema berikut:
Rencana Pembelajaran:
 Tujuan
 Bahan Pelajaran
 Metode
Proses Pembelajaran
Berhasil
Evaluasi
Gagal
Dari skema terlihat bahwa evaluasi tetap mengacu kepada rencana awal. Dia tidak dibuat
berdasarkan proses perkembangan pembelajaran yang berlangsung, tapi berdasarkan
perencanaan awal. Proses pembelajaran hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian
tujuan. Mereka yang gagal harus mengikuti proses kembali, sedangkan yang sudah
berhasil, dapat mengikuti tahap berikutnya.
Pada tulisan ini, penulis ingin memperdalam bahasan bagaimana fungsi diagnostik sebuah
evaluasi bisa terwujud. Fungsi pronostik dan sertifikasi tidak terlalu banyak berkontribusi
terhadap keberhasilan pembelajaran. Konsep fungsi diagnostic menurut Tagliante (1996)
adalah sebagai berikut:
1. Evaluasi bertujuan untuk menemukan kesulitan pembelajaran dalam mengikuti
pelajaran, yang selanjutnya akan diberikan perlakuan yang tepat, sehingga tujuan
pembelajaran dapat dicapainya.
2. Evaluasi dilaksanakan selama berlangsungnya proses pembelajaran.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk merespon dua prinsip itu adalah: pertama, untuk
menemukan kesulitan pembelajar dalam mencapai tujuan pembelajaran, seorang pengajar
dapat merancang sebuah tes yang benar-benar valid. Valid itu maksudnya adalah mengukur
apa yang hendak diukur. Validitas benar-benar berorientasi kepada hasil tes.
2014
4
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Fungsi Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran dapat befungsi sebagai alat seleksi, penempatan, dan diagnostik,
guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Penjelasan dari setiap
fungsi tersebut adalah:
a. Fungsi seleksi. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan seleksi, yaitu
menyeleksi calon peserta suatu lembaga pendidikan/kursus berdasarkan kriteria
tertentu.
b. Fungsi penempatan. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan
penempatan agar setiap orang (peserta pendidikan) mengikuti pendidikan pada jenis
dan/ atau jenjang pendidikan yang sesuai dengna bakat dan kemampuannya
masing-masing.
c. Fungsi
Diagnostik.
Evaluasi
diagnostic
berfungsi
atau
dilaksanakan
untuk
mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami peserta didik, menentukan faktorfaktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar, dan menetapkan cara
mengatasi kesulitan belajar tersebut.
Tagliante (1996) menyatakan juga terdapat tiga fungsi evaluasi dalam proses pembelajaran,
tiga fungsi itu adalah fungsi pronostik, fungsi diagnostic, dan fungsi sertifikasi.
a. Fungsi Pronostik, yaitu tes awal proses pembelajaran untuk mengetahui kondisi
obyektif dari pembelajar. Hasil yang diperoleh digunakan untuk menentukan dimana
posisi pembelajar, misalnya apakah dia termasuk pemula dalam sebuah materi atau
dia sudah pantas menerima kelanjutan materi tersebut dalam pembelajaran yang
akan dilaksanakan. Fungsi pronostik juga berguna untuk memprediksi kompetensi
lanjutan yang mungkin dapat dicapai oleh pembelajar. Artinya, dengna hasil tes yang
ada, dapat direncanakan kompetensi apa yang dapat dikuasai pada tahap
berikutnya. Menyamaratakan kemampuan pembelajar pada awal proses akan sangat
berpengaruh terhadap perkembangan pembelajar itu. Selaku pembelajar, tiap
individu berbeda-beda kemampuan dasarnya. Perbedaan itu harus dicermati dan
diakomodir dengan memberikan perlakuan yang berbeda juga. Perbedaan itu
meliputi
pemberian
materi
lanjutan
yang
akan
dibahas,
penugasan,
dan
penghargaan.
b. Fungsi diagnostic, yaitu evaluasi yang menganalisis kemampuan pembelajran pada
saat berlangsungnya proses pembelajaran. Fokusnya adalha membantu mereka
bagaimana supaya mampu memiliki kompetensi sesuai dengan yang diharapkan.
Evaluasi ini berlangsung sepanjang proses pembelajaran. Tujuan utamanya adalah
membantu pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri. Evaluasi diagnostic,
memungkinkan seorang pengajar mempertahankan metode yang digunakan atau
2014
5
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
segera menggantinya. Fungsi ini dapat diwujudkan dalam bentuk tes formatif, yag
mengevaluasi pembelajar pada setiap sub pokok bahasan, atau sub unit suatu
pelajaran. Jadi, tes itu tidak hanya dilakukan sekali diakhir suatu periode
pembelajaran, melainkan ada tes-tes pengontrol atau pendamping dari tes akhir.
Bentuk dan pelaksanaannya pun tidak sekaku yang ada selama ini, seperti mid
semester, tidak, tapi bisa lebih dinamis, yang sedemikian rupa bisa dirancang oleh
pengajar.
c. Fungsi sertifikasi. Evaluasi ini berguna untuk menyatakan kedudukan atau peringkat
seseorang dalam sebuah pembelajaran. Evaluasi dilaksanakan di akhir sebuah
periode pembelajaran, umpama di akhir semester, program, paket, atau tingkat.
Kriteria Penilaian Kelas
Dalam proses pembelajaran seseorang pendidik mempunyai posisi netral dalam
menentukan keberhasilan dan kegagalan kegiatan penilaian proses pembelajaran. Untuk itu,
dalam pelaksanaan penilaian berbasis kelas harus memperhatikan kriteria-kriteria berikut:
a. Validitas
Validitas dalam penilaian kelas merupakan penilaian yang dilakukan dengna menilai
apa yang harus dinilai dan menggunakan alat penilaian yang sesuai dengan apa
yang akan dicapai dengan tepat atau sahih (valid). Artinya, ada kesesuaian antara
alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran. Apabila alat ukur tidak
memiliki kesahihan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka data yang masuk
salah sehingga kesimpulan yang ditarik juga besar kemungkinan menjadi salah.
Contoh: guru menilai kompetensi berbicara akan valid bila menggunakan tes lisan.
Jika menggunakan tes tertulis, penilaian itu tidak valid.
b. Reliabilitas
Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi hasil penilaian. Penilaian yang reliable
memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. Misalnya,
guru menilai proyek, penilaian akan reliable jika hasil yang diperoleh itu cenderung
sama bila proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relative sama. Untu
menjamin penilaian yang reliable, petunjuk pelaksanaan proyek dan penskoran
harus jelas.
c. Mendidik
Penilaian kelas harus memberikan sumbangan positif pada proses pembelajaran
artinya penilaian dilakukan untuk mempberbaiki proses pembelajaran bagi guru dan
meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik. Penilaian dilakukan untuk
2014
6
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
memperbaiki proses pembelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi
peserta didik.
d. Berorientasi pada kompetensi
Penilaian kompetensi siswa di kelas yang meliputi seperangkat pengetahuan, sikap,
dan keterampilan/nilai yang terefleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.
Dengan
berpijak
pada
kompetensi
ini,
maka
ukuran-ukuran
keberhasilan
pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan terarah.
e. Objektif
Penilaian
berbasis
kelas
harus
dilakukan
secara
objektif,
dengan
cara
mempertimbangkan rasa keadilan, terencana, berkesinambungan, menggunakan
bahasa yang dapat dipahami oleh peserta didik dan membuat kriteria yang jelas
dalam pembuatan keputusan atau pemberian skor (nilai) kepada peserta didik.
f.
Terbuka
Penilaian berbasis kelas hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai
kalangan baik langsung maupun tidak langsung, sehingga keputusan tentang
keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa
atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.
g. Berkesinambungan
Penilaian kelas dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan dari waktu
ke waktu, untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan siswa, sehingga
kegiatan dan unjuk kerja siswa dapat dipantau melalui penilaian.
h. Keseluruhan/komperhensif
Penilaian berbasis kelas secara keseluruhan atau komperhensif artinya penilaian
harus menyeluruh dengan menggunakan baragam cara dan alat untuk menilai
beragam kompetensi atau kemampuan sehingga tergambar profil kemampuan
peserta didik yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotrik serta
berdasarkan pada strategi dan prosedur penlaian dengan berbagai bukti hasil kerja
siswa yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak.
i.
bermakna
Penilaian berbasis kelas diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua
pihak. Hasil penilaian hendaknya mencerminkan gambaran yang utuh tentang
2014
7
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
prestasi siswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan, minat dan
tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.
Teknik Penilaian Proses dan Hasil Belajar di Kelas
Untuk keperluan evaluasi diperlukan alat evaluasi yang bermacam-macam, seperti
kuesioner, tes, skala, format observasi dan lain-lain. Dari sekian banyak alat evaluasi,
secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni alat test dan non-test. Khusu untuk
evaluasi hasil pembelajaran alat evaluasi yang paling banyak digunakan adalah tes. Oleh
karena itu, pembahasan evaluasi hasil pembelajaran dengna lebih menekankan pada
pemberian nilai terhadap skor hasil tes, juga secara khusus akan membahas
pengembangan tes untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes sebagai alat evaluasi.
1. Tekni tes
Tes secara harfiah berasal dari bahasa Prancis kuno “testum” artinya piring untuk
menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan
atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan,
kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat dijelaskan bahwa tes merupakan alat ukur yang
berbentuk pertanyaan atau latihan, dipergunakan untuk mengukur kemampuan yang
ada pada seseorang atau sekelompok orang. Sebagai alat ukur dalam bentuk
pertanyaan, maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan
dan kemampuan obyek yang diukur. Sedangkan sebagai alat ukur berupa latihan,
maka tes harus dapat mengungkapkan keterampilan dan bakat seseorang atau
sekelompok orang.
Tes adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu
tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok
siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa tersebut.
Prestasi atau tingkah laku tersebut dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan
instruksional pembelajaran atau tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi
yang telah diberikan dalam proses pembelajaran, dan dapat pula menunjukkan
kedudukan siswa yang bersangkutan dalam kelompoknya.
Dalam kaitan dengna rumusan tersebut, sebagai alat evaluasi hasil belajar, tes
minimal mempunyai dua fungsi, yaitu:
a. Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat
pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu.
b. Untuk menentukan kedudukan atau perangkat siswa dalam kelompok, tentang
penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.
2014
8
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Fungsi (a) dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran,
sedangkan fungsi (b) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan belajar
masing-masing individu peserta tes.
2. Tes menurut tujuannya
Dilihat dari segi tujuannya dalam bidang pendidikan, tes dapat dibagi tujuh, yaitu:
a. Tes kecepatan
Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes dalam hal kecepatan berpikir
atau keterampilan, baik yang bersifat spontanitas maupun hafalan dan
pemahaman dalam mata pelajaran yang telah dipelajari. Waktu yang disediakan
untuk menjawab atau menyelesaikan seluruh materi tes ini relative singkat
dibandingkan dengan tes lainnya, sebab yang lebih diutamakan adalah waktu
yang minimal dan dapat mengerjakan tes itu sebanyak-banyaknya dengna baik
dan benar, cepat dan tepat penyelesaiannya. Tes yang termasuk kategori tes
kecepatan misalnya tes intelegensi, dan tes ketrampilan bongkar pasang suatu
alat.
b. Tes kemampuan
Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes dalam mengungkapkan
kemampuannya (dalam bidang tertentu) dengan tidak dibatasi secara ketat oleh
waktu yang disediakan. Kemampuan yang dievaluasi bisa berupa kognitif
maupun psikomotorik. Soal-soal biasanya relative sukar menyangkut berbagai
konsep dan pemecahan masalah dan menuntut peserta tes untuk mencurahkan
segala kemampannya baik analisis, sintesis dan evaluasi.
c. Tes hasil belajar
Tes ini dimaksudkan untuk mengevaluasi hal yang telah diperoleh dalam suatu
kegiatan. Tes hasil belajar, baik itu tes harian (formatif) maupun tes akhir
(sumatif) bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar setelah mengikuti kegiatan
pembelajaran dalam suatu kurun waktu tertentu. Makalah ini akan lebih banyak
memberikan penekanan pada tes hasil belajar ini.
d. Tes kemajuan belajar
Tes kemajuan belajar disebut juga dengan tes perolehan adalah tes untuk
mengetahui kondidi awal testi sebelum pembelajaran dan kondisi akhir testi
setelah pembelajaran. Untuk mengetahui kondisi awal testi digunakan pre-test
dan kondisi akhir testi digunakan post-test.
2014
9
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
e. Tes diagnostik
Tes diagnostic adalah tes yang dilaksanakan untuk mendiagnosa atau
mengidentifikasi kesukaran-kesukaran dalam belajar, mendeteksi faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya kesukaran belajar, dan menetapkan cara
mengatasi kesukaran atau kesulitan belajar tersebut.
f.
Tes formatif
Tes formatif adalah penggunaan tes hasil belajar untuk mengetahui sejauh mana
kemajuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program
pembelajaran tertentu.
g. Tes sumatif
Istilah sumatif berasal dari kata “sum” yang berarti jumlah. Dengna demikian tes
sumatif berarti tes yang ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa dalam
sekumpulan materi pelajaran (pokok bahasan) yang telah dipelajari.
3. Bentuk tes
Tes hasil belajar dapt dibagi menjadi 3 jenis:
a. Tes lisan
b. Tes tertulis
c. Tes tindakan atau perbuatan
Penggunaan setiap jenis tes tersebut seyogyanya disesuaikan dengan kawasan perilaku
siswa yang hendak diukur. Misalnya tes tertulis atau tes lisan dapat digunakan untuk
mengukur kawasan kognitif, sedangkan kawasan psikomotorik cocok dan tepat apabila
diukur dengan tes tindakan, dan kawasan afektif biasanya diukur dengan skala perilaku,
seperti skala sikap.
Daftar Pustaka
1. Gage, N.L & Berliner, David C. (1998). Educational Psychology (6th ed). Boston, New
York: Houghton Mifflin Company.
2. Iskandar. (2012). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Referensi.
3. Moreno, R. (2010). Educational Psychology. United State of America: John Wiley & Son,
Inc
4. Santrock, J.W. (2007). Educational Psychology(5the edition). NY, America: McGraw- Hill
Company Inc.
5. Slavin, R.E (2006). Educational psychology: theory and practice (8th edition). Boston,
MA: Pearson.
2014
10
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download