Petunjuk Sinopsis Genap 13/14

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Rumah Susun
2.1.1 Pengertian Rumah Susun
1.
Menurut ketentuan pasal 1 angka 1 UU Rumah Susun
Rumah susun (Rusun) adalah bangunan gedung bertingkat
yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian –
bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah
horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan – satuan yang
masing – masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah,
terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian
bersama, benda bersama, dan tanah bersama.
2.
Menurut kuswahyono (2004) ditinjau dari sudut penggunaanya,
rumah susun dapat dibagi menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu:
1. Rumah susun hunian yaitu rumah susun yang seluruhnya
berfungsi sebagai tempat tinggal,
2. Rumah susun bukan hunian yaitu rumah susun yang seluruhnya
berfungsi sebagai tempat usaha atau kegiatan social,
3. Rumah susun campuran yaitu rumah susun sebagian berfungsi
sebagai tempat tinggal dan sebagian berfungsi sebagai tempat
usaha.
2.1.2
Jenis – jenis rumah susun
UU Rumah Susun mengenal beberapa jenis Rumah Susun, yaitu
1. Rumah Susun Umum
Rumah susun yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan
rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.Rumah Susun Umum
inilah yang kemudian berkembang menjadi Rusunami dan Rusunawa.
Rusunami adalah akronim dari Rumah Susun Umum Milik,
sedangkan Rusunawa adalah akronim dari Rumah Susun Umum
Sewa,
2. Rumah Susun Khusus
7
8
Rumah susun yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan
khusus,
3. Rumah Susun Negara
Rumah susun yang dimiliki oleh Negara yang menjadi tempat tinggal,
sarana pembinaan dan penunjang pelaksanaan tugas pejabat dan
pegawai negeri,
4. Rumah Susun Komersial
Rumah
susun
yang
diselenggarakan
untuk
mendapatkan
keuntungan.Rumah Susun Komersial oleh pengembang sering disebut
apartemen, flat atau kondominium.
Berdasarkan
penggunaannya,
Rumah
Susun
kemudian
dapat
dikelompokkn menjadi:
1. Rumah susun hunian, yaitu rumah susun yang seluruhnya berfungsi
sebagai tempat tinggal,
2. Rumah susun bukan hunian, yaitu rumah susun yang seluruhnya
berfungsi sebagai tempat usaha dan atau kegiatan social,
3. Rumah susun campuran, yaitu rumah susun yang sebagian berfungsi
sebagai tempat tinggal dan sebagian berfungsi sebagai tempat usaha.
Terdapat 3 macam rumah susun (Neufert, 1986) yaitu :
1. Rumah susun bertingkat rendah (low rise apartment) atau
bertingkat tinggi (high rise apartment). Merupakan rumah susun
yang dimana pencapaian vertikalnya mempunyai lebih dari 1
tangga atau lift. Untuk rumah susun bertingkat rendah, jumlah
lantai maksimal adalah 4, sedangkan jika lebih dari 8 lantai disebut
rumah susun bertingkat tinggi.
2. Rumah susun memusat (point block) yaitu rumah susun dengan
pencapaian vertikal hanya menggunakan 1 (satu) tangga atau lift
(single vertical acess system). Dalam perkembangannya rumah
susun memusat berkembang pula menjadi rumah susun memusat
panjang atau disebut dengan tipe cluster (cluster type), yang
mempunyai keuntungan privasi yang tinggi.
9
3. Maisonet (maisonette) merupakan hunian 22 lantai dan memanjang
dan mempunyai potensi memanfaatakan pemandangan. Tipe ini
juga disebut rumah susun tipe memanjang (row type).
2.1.3
Persyaratan teknis
Peraturan Pemerintah Nomor 4 tahun 1988 tentang Rumah Susun juga
mengatur mengenai persyaratan teknis pembangunan rumah susun, antara lain
meliputi :
1. Ruang;
Semua ruang yang dipergunakan untuk kegiatan sehari-hari
harus mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan
udara dan pencahayaan langsung maupun tidak langsung secara alami
dalam jumlah yang cukup.
2. Struktur, komponen, dan bahan bangunan;
Rumah susun harus direncakanan dan dibangun dengan
struktur, komponen, dan penggunaan bahan bangunan yang
memenuhi persyaratan konstruksi sesuai dengan standar yang berlaku.
3. Kelengkapan rumah susun;
Rumah susun harus dilengkapi dengan: jaringan air bersih,
jaringan listrik, jaringan gas, saluran pembuangan air hujan, saluran
pembuangan air limbah, saluran dan/atau tempat pembuangan
sampah, tempat untuk kemungkinan pemasangan jaringan telepon dan
alat komunikasi lainnya, alat transportasi yang berupa tangga, lift atau
eskalator, pintu dan tangga darurat kebakaran, tempat jemuran, alat
pemadam kebakaran, penangkal petir, alat/sistem alarm, pintu kedap
asap pada jarak-jarak tertentu, dan generator listrik untuk rumah susun
yang menggunakan lift.
4. Satuan rumah susun;
Satuan rumah susun dapat berada pada permukaan tanah, di
atas atau di bawah permukaan tanah, atau sebagian di bawah dan
sebagian di atas permukaan tanah. Rumah susun juga harus
mempunyai ukuran standar yang dapat dipertanggungjawabkan,
memenuhi
persyaratan
sehubungan
dengan
fungsi
dan
10
penggunaannya, serta harus disusun, diatur, dan dikoordinasikan
untuk dapat mewujudkan suatu keadaan yang dapat menunjang
kesejahteraan dan kelancaran bagi penghuni dalam menjalankan
kegiatan sehari-hari untuk hubungan ke dalam dan ke luar.
5. Bagian bersama dan benda bersama;
1. Bagian bersama yang berupa ruang untuk umum, ruang tangga,
lift, selasar, harus mempunyai ukuran yang dapat memberikan
kemudahan bagi penghuni dalam melakukan kegiatan sehari-hari
baik dalam hubungan sesama penghuni, maupun dengan pihakpihak lain.
2. Benda bersama harus mempunyai dimensi, lokasi, kualitas,
kapasitas yang dapat memberikan keserasian lingkungan guna
menjamin keamanan dan kenikmatan para penghuni.
6. Kepadatan dan tata letak bangunan;
Kepadatan
bangunan
dalam
lingkungan
harus
memperhitungkan dapat dicapainya optimasi daya guna dan hasil
guna tanah.Tata letak bangunan harus menunjang kelancaran kegiatan
sehari-hari dan harus memperhatikan penetapan batas pemilikan tanah
bersama, segi-segi kesehatan, pencahayaan, pertukaran udara, serta
pencegahan dan pengamanan terhadap bahaya yang mengancam
keselamatan penghuni, bangunan, dan lingkungannya.
7. Prasarana lingkungan;
Lingkungan rumah susun harus dilengkapi dengan prasarana
lingkungan yang berfungsi sebagai penghubung untuk keperluan
kegiatan sehari-hari bagi penghuni, baik ke dalam maupun ke luar
dengan penyediaan jalan setapak, jalan kendaraan, dan tempat parkir.
8. Fasilitas bangunan
Dalam rumah susun dan lingkungannya harus disediakan
ruangan-ruangan dan/atau bangunan untuk tempat berkumpul,
melakukan kegiatan masyarakat, tempat bermain bagi anak-anak, dan
kontak sosial lainnya serta ruangan dan/atau bangunan untuk
pelayanan kebutuhan sesuai standar yang berlaku.
Persyaratan teknis pembangunan rumah susun ini ditujukan
untuk
menjamin
keselamatan,
keamanan,
ketenteraman
serta
11
ketertiban para penghuni dan pihak lainnya. Pengaturan atas bagian
bangunan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara
terpisah mengandung hak atas bagian bersama, benda bersama, dan
tanah bersama, memberikan landasan bagi sistem pembangunan yang
mewajibkan kepada penyelenggara pembangunan ("developer") untuk
melakukan pemisahan rumah susun atas satuan-satuan rumah susun
dengan pembuatan akta pemisahan dan disahkan oleh Instansi yang
berwenang. Atas dasar pemisahan yang dilakukan dengan akta dengan
melampirkan gambar, uraian dan pertelaan yang disahkan oleh
instansi yang berwenang dan didaftarkan sebagaimana disyaratkan
tersebut memberikan kedudukan sebagai benda tak bergerak yang
dapat menjadi obyek pemilikan ("real property").
Sedangkan dalam segi lain, pengaturan tersebut memberikan
landasan bagi sistem pemilikan, ditunjukkan bahwa hak milik atas
satuan rumah susun, dalam kedudukannya sebagai hak kebendaan,
meliputi hak milik atas satuan yang bersifat perseorangan dan
terpisah, termasuk juga hak atas bagian bersama, benda bersama, dan
tanah bersama yang kesemuanya merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan dengan satuan yang bersangkutan.
2.1.4 Persyaratan dan jenis peruntukan
Persyaratan lokasi pembangunan rusuna antara lain sebagai
berikut:
1. Tersedianya saran dan prasarana berupa:
a. Rencana jalan paling sedikit 12 meter dan lebar badan jalan
ekisting paling sedikit 8 meter;
b. Saluran air dengan system drainase yang baik;
c. Jalur angkutan umum menuju lokasi; dan
d. Terjangkau pelayanan jaringan utilitas kota
2. Berada pada kawasan peremajaan lingkungan dan pembangunan baru;
3. Terhadap pembangunan rusuna pada kawasan peremajaan, maka
masyarakat yang tinggal pada kawasan tersebut mendapat prioritas
untuk menempati rusuna yang akan dibangun dan dikembangkan;
12
4. Pola pembangunan dan pembangunan rusuna dibatasi sampai dengan
luas lahan 3 hektar;
5. Pada daerah yang memiliki potensi strategis dapat diberikan insentif
berupa pengembangan dan pembangunan rusuna lebih dari 3 hektar
dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan Gubernur dan
dikenakan kewajiban tambahan berupa sarana dan prasarana kota
sebagai bentuk kontribusi terhadap kota yang besarnya ditetapkan
kemudian;
6. Perencanaan rusuna diwajibkan menyediakan fasum/ fasos paling
sedikit 50% dari standar sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah
Nomor 6 Tahun 1999, atau mempertimbangkan ketersediaan fasum/
fasos pada lingkungan sekitarnya, kecuali perbelanjaan niaga untuk
melayani kebutuhan lingkungannya diberikan tambahan luas sampai
dengan 100% dari standar yang ditetapkan;
7. Menyediakan ruang terbuka yang besarannya 2 m² per jiwa (sebagai
ruang gerak pribadi atau personal space atau tempat bermain) yang
berada pada halaman dan/ atau bangunan, dan gerak pribadi tidak
boleh difungsikan untuk kegiatan lain, halaman yang digunakan untuk
ruang gerak pribadi sekaligus berfungsi sebagai ruangan terbuka
evakuasi bencana;
8. Menyediakan sarana dan prasarana bagi penyandang cacat;
9. Perencaan pada lantai dasar bangunan hanya untuk fungsi sarana
penunjang dan fasum/ fasos dengan luas paling banyak 50% dan
sisanya sebagai ruang terbuka tanpa dinding;
10. Setiap 10 unit hunian menyediakan lokasi parkir satu mobil dan 5
motor dalam halaman bangunan;
11. Perhitungan jumlah penghuni berdasarkan luas lantai, setiap luas
lantai hunian 45 m² gross adalah 4 jiwa
12. Permukaan atap bangunan dibangun sebagai taman (roof garden) dan
difungsikan sebagai ruang public.
13. Pada lokasi yang termasuk dalam Kawasan Keselamatan Operasional
Penerbangan
berwenang
(KKOP)
diperlukan
rekomendasi
dari
instansi
13
2.1.5 Fasilitas Lingkungan rumah susun
Fasilitas lingkungan rumah susun harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut :
1. Memberi rasa aman, ketenangan hidup, kenyamanan dan sesuai
dengan budaya setempat;
2. Menumbuhkan rasa memiliki dan merubah kebiasaan yang tidak
sesuai dengan gaya hidup di rumah susun;
3. Mengurangi
kecenderungan
untuk
memanfaatkan
atau
menggunakan fasilitas lingkungan bagi kepentingan pribadi dan
kelompok tertentu;
4. Menunjang fungsi-fungsi aktivitas penghuni yang paling pokok
baik dari segi besaran maupun jenisnya sesuai dengan keadaan
lingkungan yang ada;
5. Menampung
fungsi-fungsi
yang
berkaitan
dengan
penyelenggaraan dan pengembangan aspek-aspek ekonomi dan
sosial budaya
Tabel 2.1 : Fasilitas Lingkungan Rusun
No.
1
Jenis Fasilitas
Lingkungan
Fasilitas niaga
Fasilitas Yang Tersedia
-
2
Fasilitas pendidikan
-
No.
Jenis Fasilitas
Lingkungan
Warung
Toko-toko perusahaan
dan dagang
Pusat perbelanjaan
Ruang belajar untuk pra
belajar
Ruang belajar untuk
sekolah dasar
Ruang belajar untuk
sekolah lanjutan tingkat
pertama
Ruang belajar untuk
sekolah menengah
umum
Fasilitas Yang Tersedia
14
3
Fasilitas kesehatan
4
Fasilitas peribadatan
5
Fasilitas pelayanan umum
6
Ruang terbuka
-
Posyandu
Balai pengobatan
BKIA dan ruamah
bersalin
Puskesmas
Praktek dokter
Apotek
Musola
Masjid kecil
Kantor RT
Kantor/balai RW
Post hansip/siskamling
Pos polisi
Telepon umum
Gedung serba guna
Ruang duka
Kotak Surat
Taman
Tempat bermain
Lapangan olah raga
Peralatan usaha
Sirkulasi
Parkir
Sumber : Standar Nasional Indonesia (2003)
2.1.6 Karakteristik Rumah Susun
Berdasarkan peraturan pemerintah, karakteristik rumah susun di
Indonesia memiliki ketetapan standar sebagi berikut (Teddy, 2010 : 11)
:
1) Satuan Rumah Susun
 Mempunyai ukuran standar minimum 18 m2, lebar muka
minimal 3 meter.
 Dapat terdiri dari satu ruang utama (ruang tidur) dan ruang lain
(ruang penunjang) di dalam dan/atau diluar ruang utama.
 Dilengkapi dengan sistem penghawaan dan pencahayaan
buatan yang cukup, sistem evakuasi penghuni yang menjamin
kelancaran dan kemudahan, serta penyediaan daya listrik yang
cukup, serta sistem pemompaan air.
 Batas pemilikan satuan rumah susun dapat berupa ruang
tertutup dan/atau sebagian terbuka dan/atau ruang terbuka.
2) Benda Bersama
15
Benda bersama dapat berupa prasaran lingkungan dan fasilitas
lingkungan.
3) Bagian Bersama
Bagian bersama dapat berupa ruang untuk umum, struktur, dan
kelengkapan rumah susun, prasarana lingkungan dan fasilitas
lingkungan yang menyatu dengan bangunan rumah susun.
4) Prasarana Lingkungan
Prasarana lingkungan berupa jalan setapak, jalan kendaraan
sebagai penghubung antar bangunan rumah susun atau keluar
lingkungan rumah susun, tempat parkir, utilitas umum yang
terdiri dari jaringan air limbah, sampah, pemadam kebakaran,
listrik, gas, telepon, dan alat komunikasi lainnya.
5) Fasilitas Lingkungan
Lingkungan rumah susun harus dilengkapi fasilitas perniagaan
dan perbelanjaan, lapangan tebuka, kesehatan, pendidikan,
peribadatan, pelayanan umum, serta pertanaman.
Tipe unit rumah susun juga beragam.Kisaran luas unit rumah
susun pada umumnya minimal 18m2 dan paling besar adalah 50
m2 .
Tabel 2.2 : tipe unit rumah susun
Tipe Unit
Fasilitas
Tipe 18 m
- 1 kamar tidur
Tipe 21 m2
- ruang tamu
2
Tipe 24 m
- kamar mandi
Tipe ini biasanya untuk - dapur/pantry
keluarga muda atau seseorang
yang belum memiliki keluarga
Tipe 30 m2
- 2 kamar tidur
Tipe 36 m2
- ruang tamu / keluarga
2
Tipe 42 m
- kamar mandi / WC
Tipe 50 m2
- dapur / pantry
Tipe ini untuk keluarga yang - ruang makan
sudah memiliki anak
Sumber : Rosfian (2009)
2
16
2.2
Photovoltaic (Panel Surya)
Photovoltaic (PV) adalah suatu sistem atau cara langsung untuk mentransfer
radiasi matahari atau energi cahaya menjadi energi listrik [Wulandari Handini, FT
UI, 2008] .Energi listrik yang dihasilkan oleh sel surya selain dipengaruhi oleh
intensitas surya juga oleh efisiensinya.Secara teoritis, efisiensi yang dapat dicapai
oleh sel surya maksimal sekitar 30 – 40% tergantung pada tipe dan konstruksinya,
namun umumnya hanya mencapai efisiensi antara 7 – 17%.Atas dasar efisiensi
tersebut, pengendalian posisi dari panel PV (yang merupakan kumpulan dari modul
sel PV) menjadi penting agar intensitas matahari dapat diserap secara optimal.
2.2.1 Komponen Photovoltaic (Panel Surya)

Panel Surya
Berfungsi merubah cahaya matahari menjadi listrik.Bentuk pipih dari panel
surya memberikan kemudahan pemenuhan kebutuhan listrik untuk berbagai
skala kebutuhan.
Gambar 2.1 Panel Surya
Sumber : Google.com diakses tanggal 15 September 2014

Alat Pengatur Daya (Charge Controller)
Gambar 2.2 Alat Pengatur Daya (Charge Controller)
Sumber : Google.com diakses tanggal 15 September 2014
17
Berfungsi mengatur aliran listrik dari panel surya ke batere /ACCU dan aliran
listrik dari baterai / ACCU ke lampu, TV atau radio. Juga berfungsi
melindungi dari konsleting atau pengiriman muatan arus berlebih ke input
terminal.

Batere
Berfungsi menyimpan arus listrik yang dihasilkan oleh panel surya sebelum
dimanfaatkan untuk menggerakkan beban.Beban dapat berupa lampu
penerangan dan alat elektronik lainnya yang membutuhkan listrik.
Gambar 2.3Batere
Sumber : Google.com diakses tanggal 15 September 2014

Inverter
Berfungsi mengubah arus DC menjadi arus AC.
Gambar 2.4 Inverter
Sumber : Google.com diakses tanggal 15 September 2014
2.2.2 Cara Kerja
Pada siang hari panel surya menerima cahaya (sinar) matahari yang kemudian
diubah menjadi energi listrik oleh sel-sel kristal yang ada pada panel surya. Listrik
yang dihasilkan oleh panel surya dapat langsung disalurkan ke beban ataupun
18
disimpan dalam batere ACCU, sebelum disalurkan ke beban (lampu, komputer, TV,
dll).
Pada malam hari, dimana panel surya tidak menghasilkan listrik. Listrik yang sudah
terkumpul (tersimpan) dalam batere ACCU akan dapat digunakan. Untuk
menyalakan peralatan listrik terutama lampu penerangan dll.
Gambar 2.5 Skema Kerja Panel Surya
Sumber : Google.com diakses tanggal 15 September 2014
2.2.3 Jenis Panel Surya

Monocrystalline
Jenis ini terbuat dari batangan kristal silikon murni yang diiris tipis-tipis.
Dengan teknologi seperti ini, akan dihasilkan kepingan sel surya yang identik
satu sama lain dan berkinerja tinggi. Sehingga menjadi sel surya yang paling
efisien dibandingkan jenis sel surya lainnya, sekitar 12% - 15%.
Mahalnya harga kristal silikon murni dan teknologi yang digunakan,
menyebabkan mahalnya harga jenis sel surya ini dibandingkan jenis sel surya
yang lain di pasaran. Kelemahannya, sel surya jenis ini jika disusun
membentuk solar modul (panel surya) akan menyisakan banyak ruangan yang
kosong karena sel surya seperti ini umumnya berbentuk segi enam atau bulat,
tergantung dari bentuk batangan kristal silikonnya.
19
Gambar 2.6Monocrystalline
Sumber : Google.com diakses tanggal 15 September 2014

Polycrystalline
Jenis ini terbuat dari beberapa batang kristal silikon yang dilebur / dicairkan
kemudian dituangkan dalam cetakan yang berbentuk persegi. Kemurnian
kristal silikonnya tidak semurni pada sel surya monocrystalline, karenanya sel
surya yang dihasilkan tidak identik satu sama lain dan efisiensinya lebih
rendah, sekitar 11% - 14% . Tampilannya nampak seperti ada motif pecahan
kaca di dalamnya. Bentuknya yang persegi, jika disusun membentuk panel
surya, akan rapat dan tidak akan ada ruangan kosong yang sia-sia seperti
susunan pada panel surya monocrystalline di atas. Proses pembuatannya lebih
mudah dibanding monocrystalline, karenanya harganya lebih murah. Jenis ini
paling banyak dipakai saat ini.
Gambar 2.7PolyCrystalline
Sumber : Google.com diakses tanggal 15 September 2014

Thin Film Solar Cell (TFSC)
Jenis sel surya ini diproduksi dengan cara menambahkan satu atau beberapa
lapisan material sel surya yang tipis ke dalam lapisan dasar. Sel surya jenis
20
ini sangat tipis karenanya sangat ringan dan fleksibel.Jenis ini dikenal juga
dengan nama TFPV (Thin Film Photovoltaic).
Gambar 2.8Thin Film Solar Cell (TFSC)
Sumber : Google.com diakses tanggal 15 September 2014

HIT (High – performance hybird silicon)
Panel surya HIT terdiri dari monocrystalline yang tipis dikelilingi oleh
silicon amorf yang sangat tipis. Produk ini memberikan kinerja industri
terkemuka dan nilai menggunakan teknik manufaktur yang terkini.Efisiensi
yang bisa dihasilkan dari solar panel jenis HIT ini sekitar 17-18%.
Gambar 2.9 HIT solar panel
Sumber : Google.com diakses tanggal 15 September 2014
Tabel 2.3 Perbedaan Efisiensi dan Luas area yang dibutuhkan
21
Sumber :Simon Roberts, Nicolo Guariento.2009.PV Handbook
2.2.4 Sistem On grid dan Sistem Off grid

Sistem off grid
Merupakan sistem pembangkit listrik tenaga surya untuk daerahdaerah terpencil/pedesaan yang tidak terjangkau oleh jaringan PLN. Off Grid
System disebut juga Stand-Alone PV system yaitu sistem pembangkit listrik
yang hanya mengandalkan energi matahari sebagai satu-satunya sumber
energi utama dengan menggunakan rangkaian modul photovoltaic (Solar PV)
untuk menghasilkan energi listrik sesuai dengan kebutuhan. Sistem off grid
umumnya digunakan pada daerah/wilayah yang jauh / tidak terjangkau
jaringan listrik (PLN).
Gambar 2.10 Sistem off grid
Sumber : Google.com diakses tanggal 11 Oktober 2014

Sistem on grid
Sistem ini menggunakan solar panel (panel photovoltaic) untuk
menghasilkan listrik yang ramah lingkungan dan bebas emisi. Dengan adanya
sistem ini akan mengurangi tagihan listrik rumah tangga, dan memberikan
nilai tambah pada pemiliknya. Rangkaian sistem ini akan tetap berhubungan
dengan jaringan PLN dengan mengoptimalkan pemanfaatan energi dari panel
surya untuk menghasilkan energi listrik semaksimal mungkin.
22
Gambar 2.11 Sistem on grid
Sumber : Google.com diakses tanggal 11 Oktober 2014
2.2.5 Cara Pengukuran modul PV
Untuk mengukur modul pv diperlukan langkah langkah pengukuran sebagai berikut:

Tentukan kebutuhan konsumsi daya
Langkah pertama dalam merancang sebuah sistem PV surya adalah untuk
mengetahui daya total dan konsumsi energi dari semua beban yang perlu disediakan
oleh sistem PV surya sebagai berikut:
-
Hitung total Watt-jam per hari untuk setiap alat yang digunakan.
Tambahkan Watt-jam yang dibutuhkan untuk semua peralatan bersama-sama untuk
mendapatkan total Watt-jam per hari yang harus disampaikan kepada peralatan.
-
Hitung total Watt-jam per hari dibutuhkan dari modul PV.
Kalikan total peralatan Watt-jam per hari kali 1.3 (energi yang hilang dalam sistem)
untuk mendapatkan total Watt-jam per hari yang harus disediakan oleh panel.

Menentukan Ukuran modul PV
Ukuran yang berbeda dari modul PV akan menghasilkan jumlah tenaga yang
dihasilkan. Untuk mengetahui ukuran dari modul PV, total watt puncak yang
dihasilkan kebutuhan. Puncak watt/Watt Peak (Wp) yang dihasilkan tergantung pada
ukuran modul PV dan iklim lokasi tapak. Kita harus mempertimbangkan "faktor
generasi panel" yang berbeda di setiap lokasi tapak.Untuk Indonesia, faktor generasi
panel adalah 3.43. Untuk menentukan ukuran modul PV cara yang digunakan adalah
:
-
Hitung total rating Watt-peak yang dibutuhkan untuk modul PV dibagi
total Watt-jam per hari dibutuhkan dari modul PV dengan 3.43 untuk
23
mendapatkan total rating Watt-peak yang diperlukan untuk panel PV
dibutuhkan untuk mengoperasikan peralatan.
-
Hitung jumlah panel PV untuk sistem dengan cara membagi hasil dari
rating Watt peak dari modul pv yang akan digunakan .

Menentukan ukuran Inverter
Inverter digunakan dalam sistem di mana output daya AC yang
dibutuhkan. Rating masukan dari inverter tidak boleh lebih rendah dari
total watt peralatan. Inverter harus memiliki tegangan nominal sama
dengan baterai Anda. Untuk sistem stand alone, inverter harus cukup
untuk menangani jumlah total Watts yang akan Anda gunakan pada satu
waktu yang besar. Ukuran inverter harus 25-30% lebih besar dari jumlah
Watts peralatan. Dalam kasus jenis alat adalah motorik atau kompresor
maka ukuran inverter harus minimal 3 kali kapasitas peralatan tersebut
dan harus ditambahkan dengan kapasitas inverter untuk menangani
lonjakan arus selama awal.

Menentukan ukuran baterai
Jenis baterai direkomendasikan untuk menggunakan sistem PV surya
adalah Deep Cycle Battery.. Untuk mengetahui ukuran baterai, digunakan
perhitungan sebagai berikut:
-
Hitung total Watt-jam per hari yang digunakan oleh peralatan.
-
Bagilah total Watt-jam per hari digunakan oleh 0,85 kerugian baterai.
-
Bagilah jawaban yang diperoleh dengan 0.6 untuk kedalaman debit.
-
Bagilah jawaban yang diperoleh dengan tegangan nominal baterai
-
Kalikan jawaban yang diperoleh dengan hari penggunaan.
Kapasitas Baterai(Ah) =

Menentukan ukuran Solar Charge Controller
Solar charge controller biasanya dinilai melawan ampere dan
Tegangan kapasitas.Pilih Solar charge controller untuk mencocokkan
tegangan PV array dan baterai dan kemudian mengidentifikasi jenis dari solar
charge controller yang tepat untuk aplikasi Anda.Pastikan bahwa solar
24
charge controller memiliki kapasitas yang cukup untuk menangani arus dari
PV array. Ukuran dari solar charge controller adalah diambil dari hubungan
pendek arus (Isc) dari array PV, dan kalikan dengan 1,3.
Solar Charge Controller rating = Total hubungan pendek arus PV array x
1.3.
2.3 Studi Banding
2.3.1 HDB Punggol
Gambar 2.12 HDB Punggol
Sumber : Google.com diakses tanggal 11 Oktober 2014
HDB Punggol berlokasi di Punggol, Singapura. HDB ini menggunakan solar
panel dari sunseap dan target efisiensi dari energi solar panel yang dihasilkan adalah
5% . Solar panel yang digunakan adalah jenis wafer , polycrystalline.
2.3.2 Gedung Teknologi Gas
Gambar 2.13 Gedung teknologi Gas
Sumber : google.com diakses tanggal 15 oktober 2014
Gedung Teknologi Gas atau disebut juga dengan Lemigas merupakan salah
satu bangunan yang mendapatkan sertifikat green building di Indonesia. Gedung
Teknologi gas menggunakan berbagai macam kriteria green building , salah satunya
adalah dengan menggunakan solar panel. Jenis solar panel yang digunakan adalah
HIT yang memiliki tingkat efisiensi yang tinggi yaitu 17-18% sehingga dapat
membantu pasokan tenaga listrik untuk penerangan pada ruangan kerja gedung ini.
Download