MATHEdunesa Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Volume 3 No.5 Tahun 2016 ISSN : 23019085 PENERAPAN MODEL TABA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MATERI BELAHKETUPAT DAN LAYANG-LAYANG DI KELAS VII SMP Ditya Rifky Rahmawati PendidikanMatematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail : [email protected] Susanah Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail : [email protected] Abstrak Pembelajaran dalam penelitian ini menggunakan model Taba. Model Taba merupakan prosedur pengajaran yang menggunakan proses penalaran induktif dalam menanamkan suatu konsep. Tujuh langkah model Taba antara lain Listing (mendata), Grouping (mengelompokkan), LabellingandData Collection (melabeli dan mengumpulkan data), Generalizing (menggeneralisasi), Comparing (membandingkan), Explaining (menjelaskan) dan Predicting (memprediksi).Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan bagaimana kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, aktivitas siswa, hasil belajar siswa, dan respon siswa terhadap pembelajaran. Data dikumpulkan menggunakan lembar pengamatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, lembar pengamatan aktivitas siswa, kuis , tes hasil belajar, dan angket respon siswa.Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran menggunakan model Taba termasuk dalam kategori sangat baik dengan skor rata-rata sebesar 3,69, 2) Aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran termasuk dalam kategori kurang aktif dengan persentase rata-rata aktivitas siswa selain berperilaku tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung sebesar 100% dan kesesuaian aktivitas siswa dengan waktu ideal berada dalam kategori kurang sesuai, 3) Hasil belajar siswa dilihat dari nilai kuis dan tes hasil belajar yang menyatakan sebanyak 26 dari 32 siswa telah tuntas dalam materi belahketupat dan layang-layang serta memperoleh persentase ketuntasan secara klasikal sebesar 81,25%, dan 4) Respon siswa terhadap pembelajaran termasuk kategori positif dengan rata-rata presentase respon sebesar 83,44%. Abstract Mathematics learning on this research uses Taba model. Taba model is teaching procedures that uses inductive reasoning process in instilling a concept. Seven steps Taba models include Listings, Grouping, Labelling and Data Collection , generalizing , Comparing, Explaining and Predicting.This research aims to describe how teacher’s proficiency manages teaching process, students` activity, learning output, and students` response. The method of this research is descriptive with qualitative and quantitative approach. The data are gathered by using observation, test, and questionnaire methods. The observation method is used to gather data aboutteacher’s proficiency in managing the learning process and students` activities. Test method is used to collect data about students` learning output, whereas questionnaire method is used to gather data students` response during studying with Taba model.The result of this research showed that: 1) teacher’s proficiency in managing the learning process using Taba model was categorized as very good with average score of 3,69, 2) students` activities during the learning process was categorized as less active with average percentage without irrelevant activities is 100% and and suitability of student activity with ideal time to be in the category of less suitable, 3) the learning output based on recapitulation of score in assignment sheets and final test showed that 26 of 32 students had already passed the material of rhombus and kite and earned the percentage of completeness classically 81,25%, and 4) the students’ response about the learning process included to positive category with an average percentage of responses is 83.44%. Keywords: Mathematics Learning, Taba model Volume 3 No.5 Tahun 2016 pemahaman konsep matematika. Model pembelajaran yang kurang tepat dapat menjadi faktor timbulnya kesulitan siswa dalam belajar (Widdiharto, 2008). Soedjadi (2000) berpendapat bahwa dalam pembelajaran Matematika, terutama pada jenjang SD dan SMP, sangat diperlukan penggunaan pola pikir induktif. Model pembelajaran yang menggunakan pola pikir induktif antara lain Model Induktif, Model “Concept Attainment”, dan Model Taba. Menurut Eggen (1996), Model Induktif sangat bergantung pada proses observasi tetapi penekanan keterampilan untuk menyimpulkan hanya sebatas menggeneralisasi apa yang mereka amati, Model “Concept Attainment” menekankan pada keterampilan menyimpulkan dengan mendorong siswa untuk membentuk dan menganalisis hipotesis, sedangkan Model Taba meningkatkan lingkup pengembangan keterampilan proses dengan melibatkan siswa dalam membuat generalisasi, penjelasan, dan prediksi. Model pembelajaran Taba merupakan prosedur pengajaran yang menggunakan proses penalaran induktif dalam menanamkan suatu konsep. Dalam pembelajaran dengan model Taba, siswa akan mendapat serangkaian contoh spesifik yang dapat menanamkan sampai pada suatu aturan, prinsip, atau fakta yang pasti. Titik tekan model Taba adalah mengajarkan siswa untuk bagaimana berpikir (Eggen et al., 1979). Model Taba juga memiliki sintaks yang sesuai jika diterapkan dengan pendekatan scientific. Fase listing pada model Taba memuat aktifitas mengamati yang ada pada pendekatan scientific. Fase grouping dan labeling pada model Taba mengajak peserta didik mengeksplorasi hasil pengamatannya lebih detail. Hal itu akan memaksimalkan pendekatan scientific yang diterapkan dalam kurikulum 2013. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Penerapan Model Taba pada Pembelajaran Matematika Materi Belahketupat Dan Layang-Layang di Kelas VII SMP”. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan bagaimana kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, aktivitas siswa, hasil belajar siswa, dan respon siswa terhadap pembelajaran. Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pada penelitian ini adalah keterampilan guru dalam melaksanakan setiap tahap pembelajaran, dalam hal ini pembelajaran dengan model Taba, sesuai dengan rencana PENDAHULUAN Matematika merupakan mata pelajaran yang memiliki peranan penting dalam kehidupan. Sejalan dengan hal tersebut, Permendiknas Tahun 2006 mengenai Standar Isi menyatakan bahwa Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang mendasari perkembangan teknologi modern karena mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu lain dan pengaruh besar dalam memajukan daya pikir manusia. Dewasa ini banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari matematika. Hal tersebut menurut Lestari (2014) disebabkan oleh kurangnya minat dan perhatian siswa pada pembelajaran matematika. Kesulitan siswa dalam mempelajari dan memahami matematika menurut Fitri (2014) terletak pada mengaitkan antar konsepkonsep. Salah satu materi Matematika yang mengaitkan antar konsep-konsep adalah materi bangun datar dengan sub materi Belahketupat dan Layang-Layang. Fakta yang diperoleh dari beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan untuk memahami materi bangun datar dengan submateri Belahketupat dan Layang-Layang. Berdasarkan hasil penelitian Chairani (2012) di SMP Assalam Bandung diperoleh kesimpulan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menjelaskan sifat-sifat dan rumus luas daerah belahketupat dan layang-layang. Hal tersebut dikarenakan mereka hanya mengingatnya tanpa mengonstruksi sendiri rumus tersebut. Hasil yang sama diperoleh Chasanah (2014) yang menyatakan bahwa berdasarkan diagnosis kesulitan dalam menyelesaikan soal, kesulitan terbanyak pertama yang dialami siswa terletak pada aspek penguasaan konsepyang selalu berkaitan dengan materi segiempat khususnya layang-layang dan belah ketupat. Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan suatu tindakan untuk mengatasi permasalahan tersebut sehingga pemahaman konsep matematika pada materi belahketupat dan layang-layang dapat ditingkatkan. Higgins (dalam Wahyudi, 2011) menyatakan bahwa peserta didik akan lebih mudah memahami dan memaknai konsep yang menjadi tujuan pembelajaran jika peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran yang berlangsung. Selain itu menurut Frudenthal (Lestari, 2014) dalam suatu konsep akan lebih dipahami dan diingat oleh peserta didik apabila konsep tersebut disajikan melalui prosedur atau langkah-langkah yang menarik. Maka sangat diperlukan adanya penerapan model pembelajaran yang menarik, melibatkan keaktifan peserta didik dan dapat meningkatkan 132 Volume 3 No.5 Tahun 2016 pelaksanaan pembelajaran (RPP). Aspek yang diteliti antara lain. Aktivitas siswa dalam penelitian ini adalah kegiatan yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran dengan model Taba.Keenam aktivitas belajar siswa yang diamati dalam penelitian ini antara lain 1) Visual activities, yaitu aktivitas mengamati objek yang ditampilkan guru. 2) Oral activities, yaitu aktivitas menjelaskan kesimpulan akhir dan mengajukan pertanyaan; 3) Listening activities, yaitu memperhatikan penjelasan guru atau teman; 4) Writing activities, yaitu membuat list berdasarkan pengamatan, membuat pengelompokan dari daftar hasil pengamatan, memberikan label nama pada kelompok yang telah dibuat, dan mengumpulkan data dengan mengerjakan LKS; 5) Drawing activities, yaitu mengumpulkan data dengan mengerjakan LKS; 6) Mental activities, yaitu membuat generalisasidari masing-masing kelompok data, membandingkan hasil generalisasi antarkelompok, dan memprediksi penyelesaian soal yang disajikan guru. Hasil belajar siswa adalah skor yang diperoleh siswa dari pengerjaan kuis dan tes hasil belajar setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model Taba. Sedangkan respon siswa adalah tanggapan siswa terhadap pembelajaran menggunakan model Taba dan kejelasan bahasa yang digunakan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) serta Tes Hasil Belajar. Tanggapan terhadap pelaksanaan pembelajaran meliputi suasana selama pembelajaran menggunakan model Tababerlangsung dan minat terhadap model Taba. Adapun rangkaian prosedur yang dilaksanakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Menerapkan model pembelajaran Taba pada materi Belahketupat dan Layang-Layang selama tiga kali pertemuan; 2) Melakukan pengamatan terhadap kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dan aktivitas siswa, serta melaksanakan kuis setiap proses pembelajaran selesai dilaksanakan; 3) Melakukan tes hasil belajar untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa. Data tentang kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran diperoleh dengan menggunakan lembar observasi kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.Pada masingmasing aspek kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan yang telah disusun pada RPP dilakukan penyekoran berdasarkan kategori yang telah ditentukan pada rubrik penyekoran pengelolaan pembelajaran.Nilai rata-rata kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran secara keseluruhan dari tiga kali pertemuandihitung menggunakan rumus yang telah ditentukan, kemudian menggolongkan nilai rata-rata kemampuan guru mengelola pembelajaran ke dalam kategori sangat kurang, kurang, baik,dan sangat baik. Data tentang aktivitas siswa diperoleh dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa. Kemudian akan dianalisis dengan menghitung persentase kemunculan dari masing-masing aktivitas untuk selanjutnya dijumlahkan serta menentukan kesesuaian persentase aktivitas siswa yang menjadi ciri khas model Taba dengan kriteria waktu ideal aktivitas siswa yang berpedoman pada penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan model Taba Sedangkan data tentang hasil belajar diperoleh dengan menghitung nilai kuis dan nilai tes sebagai nilai hasil belajar siswa dengan rumus METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif.Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 20152016.Pengambilan data dilakukan di SMPN 1 Krian Sidoarjo.Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah guru matematika dan siswa kelas VII-I SMPN 1 Krian Sidoarjo yang terdiri dari32 siswa dan 5 siswa yang diamati untuk aktivitas siswa.Pada penelitian ini digunakan rancangan oneshot-case study. Perangkat pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini antara lain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), dan Lembar Kuis. Instrumen dalam penelitian ini berupa lembar observasi kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes hasil belajar, dan angket respon siswa. π»ππ ππ π΅ππππππ πππππ πΎπ’ππ 1 + πππππ πΎπ’ππ 2 + πππππ πΎπ’ππ 3 + (2 × πππππ πππ ) = 5 Hasil belajar tersebut dibandingkan dengan KKM yang diterapkan di sekolah penelitian, yakni 79.Persentase keberhasilan pembelajaran klasikal selanjutnya dihitung untuk mengkategorikan ketuntasan belajar.Aturan yang ditetapkan di SMP Negeri 1 Krian, Sidoarjo dikatakan tuntas belajar secara klasikal jika banyaknya siswa yang tuntas secara individu lebih dari atau sama dengan 80% 133 Volume 3 No.5 Tahun 2016 dari keseluruhan siswa yang ada dalam kelas pembelajaran. Data tentang respon siswa diperoleh dengan menggunakan lembar angket respon siswa.Nilai respon siswa untuk setiap kategori jawaban dihitung dengan cara mengalikan banyaknya siswa/responden yang memilih jawaban dengan skor pilihan jawaban tersebut. Kemudian, persentase nilai respon siswa setiap item pernyataan dihitung dengan menggunakan rumus yang untuk selanjutnyadikategorikan dengan cara mencocokkan hasil persentase dengan kriteria yang telah ditentukan. secara keseluruhan dari tiga kali pertemuan sebesar 3,69 dengan kategori sangat baik. Aktivitas siswa yang mendapatkan persentase terbesar adalah aktivitas yang ketujuh.Aktivitas tersebut yaitu mengumpulkan data dengan mengerjakan lembar kerja siswa (LKS). Hal tersebut terjadi karena siswa secara berkelompok harus mengumpulkan data untuk mengorganisasi dan menunjukkan informasi dari data yang telah dimiliki, yang nantinya akan disimpulkan. AA-11, 10, 3.71 1.0 A-9, 4.07 2 A-8, 5.09 Skor Rata-Rata HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, dapat dinyatakan bahwa semua kegiatan guru dalam mengelola pembelajaran sesuai dengan RPP selama tiga kali pertemuan. Hal tersebut dikarenakan skor rata-rata lebih dari 3,00. Dengan demikian, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran termasuk dalam kategori baik atau sangat baik. 4 3.8 3.6 3.4 A-1, 23.98 A-12, 10.17 A-2, 5.09 A-7, 28.94 A-6, 5.09 A-3, 5.09 A-4, 2.69 A-5, 5.09 Aktivitas siswa yang sering dilakukan kedua adalah aktivitas memperhatikan penjelasan guru atau teman dengan rata-rata sebesar 23,98%. Aktivitas selanjutnya yang sering dilakukan oleh siswa adalah mengerjakan kuis individudengan presentase sebesar 10,17%. Aktivitas yang samasama mendapat presentase rata-rata 5,09% antara lain aktivitas mengamati objek yang ditampilkan guru, membuat list berdasarkan pengamatan, membuat pengelompokan dari daftar hasil pengamatan, memberikan label nama pada kelompok yang telah dibuat, serta membuat generalisasi dari masing-masing kelompok data. Aktivitas siswa yang mendapat persentas terendah berturut-turut antara lain membandingkan generalisasi antarkelompok data, memprediksi penyelesaian soal yang disajikan guru, mengajukan pertanyaan, dan menjelaskan kesimpulan akhir. Aktivitas ini tidak sering dilakukan oleh siswa karena kesimpulan akhir hanya dijelaskan oleh beberapa siswa yang mengajukan diri ataupun yang ditunjuk oleh guru secara acak. Berdasarkan data yang diperoleh, total presentase rata-rata aktivitas siswa selain skor perilaku tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung sebesar 100%. Berdasarkan tabel tersebut dapat disimpulkan juga bahwa aktivitas mengumpulkan data dengan mengerjakan LKS dan membandingkan hasil generalisasi antarkelompok data berada dalam rentang waktu ideal, sedangkan aktivitas membuat generalisasi dari masing-masing kelompok data tidak berada pada rentang waktu Pertemuan ke-1 Pertemuan ke-2 Pertemuan ke-3 3.2 Berdasarkan nilai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, terlihat adanya peningkatan dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua karena pada pertemuan kedua aspek memotivasi siswa, mengaitkan materi dengan pengetahuan awal, membimbing kelompok untuk menggeneralisasikan konsep, membimbing kelompok untuk membandingkan konsep, serta memberi umpan balik dan mengajukan soal hipotetik mendapat skor 4. Pada pertemuan ketiga, skor rata-rata yang diperoleh guru mengalami penurunan.Hal tersebut dikarenakan ada beberapa aspek yang mengalami penurunan skor, yaitu mengorganisasikan siswa dalam kelompok, mengaitkan materi dengan pengetahuan awal, serta mengingatkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya mendapat skor 3.Adapun rata-rata kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran 134 Volume 3 No.5 Tahun 2016 ideal, Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa siswa SMPN 1 Krian aktif dalam pembelajaran. Berdasarkan data hasil belajar pada aspek pengetahuan dan keterampilan s, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar kelas untuk materi Belahketupat dan Layang-layang setelah menerapkan model Taba sebesar 82,29. Nilai hasil belajar terendah yang diperoleh siswa yaitu 72,4 dan nilai hasil belajar tertinggi yang diperoleh siswa sebesar 95,2. Dengan model Taba yang menurut Apriyanti (2014) didasarkan pada penalaran induktif, siswa dapat menemukan sendiri kesimpulan atau generalisasi dari hasil observasi yang telah mereka lakukan. Soedjadi (2000) berpendapat bahwa dalam pembelajaran Matematika, terutama pada jenjang SD dan SMP, masih sangat diperlukan penggunaan pola pikir induktif. Dengan demikian, siswa akan lebih mudah menguasai konsep yang dipelajari sehingga memudahkan mereka dalam mengerjakan soal-soal. Persentase ketuntasan hasil belajar penguasaan materi di kelas VII-I SMPN 1 Krian Sidoarjo secara klasikal sebesar 81,25%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kelas VII-I menguasai atau tuntas belajar mengenai materi Belahketupat dan Layanglayang karena persentase ketuntasan hasil belajar kelas lebih dari 80%. Dalam pembelajaran matematika menggunakan model Tabapada materi Belahketupat dan Layanglayang, siswa memberikan respon positif terhadap pengajaran yang dilakukan oleh guru. Dapat diketahui juga bahwa siswa memberikan respon yang positif terhadap LKS dan Tes Hasil Belajar yang diberikan oleh guru. Sebesar 83,59% siswa menyatakan setuju bahwa LKS yang diberikan oleh guru membantu mereka dalam memahami materi Belahketupat dan Layang-layang serta 88,28% siswa tidak setuju dengan pernyataan bahwa LKS yang diberikan oleh guru membingungkan. Berdasarkan angket respon siswa yang diberikan pada pertemuan keempat setelah pembelajaran menggunakan model Taba pada materi Belahketupat dan Layang-layang selesai dilakukan, dapat diketahui bahwa respon peserta didik terhadap penerapan model Taba pada pembelajaran matematika materi Belahketupat dan Layang-layang mendapatkan persentase sebesar sebesar 83,44%. Dari hasil tersebut diperoleh bahwa siswa mempunyai respon positif terhadap penerapan model Taba pada pembelajaran matematika materi Belahketupat dan Layanglayang. Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran menggunakan model Taba termasuk dalam kategori sangat baik dengan skor rata-rata sebesar 3,69, aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran termasuk dalam kategori kurang aktif dengan persentase rata-rata aktivitas siswa selain berperilaku tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung sebesar 100% dan kesesuaian aktivitas siswa dengan waktu ideal berada dalam kategori kurang sesuai, hasil belajar siswa dilihat dari nilai kuis dan tes hasil belajar yang menyatakan sebanyak 26 dari 32 siswa telah tuntas dalam materi belahketupat dan layang-layang serta memperoleh persentase ketuntasan secara klasikal sebesar 81,25%, dan respon siswa terhadap pembelajaran termasuk kategori positif dengan rata-rata presentase respon sebesar 83,44%. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan mengenai penerapan model Taba pada pembelajaran Matematika materi Belahketupat dan Layang-layang, maka peneliti dapat memberikan saran bagi guru yang ingin mengajarkan materi bangun belahketupat dan layang-layang untuk menggunakan model Taba sebagai alternatif dalam pembelajaran. Saran juga peneliti berikan bagi peneliti yang akan melakukan penelitian sejenis, sebaiknya memperhatikan pelaksanaan tahapan model Taba pada perangkat pembelajaran serta menelaah kembali materi yang digunakan. DAFTAR PUSTAKA Chairani, Yuni. 2012. Desain Didaktis Konsep LayangLayang dan Belah Ketupat Untuk Siswa SMP. Thesis tidak diterbitkan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Chasanah, Ulifatul. 2014. Diagnosis Kesulitan Siswa Kelas VII Pada Materi Segiempat Melalui Pembelajaran Remedial Dengan Tutor Sebaya di MTsN 2 Tulungagung. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: UIN Sunan Ampel. Eggen, P. D., Kauchak, D. P., & Harder, R. J. 1979. Strategies for Teachers: Information Processing Models in the Classroom. Englewood Cliffs, New Jersey: Pretince/Hall International, Inc. Fitri, Rahma. 2014. “Penerapan Strategi The Firing Line pada Pembelajaran Matematika Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Batipuh”. Jurnal Pendidikan Matematika. (online) Part 2. Vol. 3 (1): 18-22. PENUTUP Simpulan 135 Volume 3 No.5 Tahun 2016 (ejournal.unp.ac.id/students/index.php/pm at/article/download/.../906 diakses pada 25 Februari 2016) Apriyanti, Iis dan Gurning, Busmin. 2014. Improving Students Achievement in Reading Comprehension by Applying The Taba Model. Vol.3 No.1 (http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.ph p/ellu/article/view/1396/1154 diakses pada 22 November 2015) Lestari, Dewi. 2014. “Penerapan Teori Bruner Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Simetri Lipat di Kelas IV SDN 02 Makmur Jaya Kabupaten Mamuju Utara”. Jurnal Kreatif Tadulako. (Online) Vol. 3 (2): hal.129-141 (jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/JKTO /article/viewFile/2874/1962 diakses pada 3 April 2016) Soedjadi. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: DirektoratJenderal Pndidikan Tinggi. Wahyudi, Endah Bekti. 2011. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams– Achievement Divisions (STAD) untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika pada Materi Persamaan dan Pertidaksamaan Kuadrat pada Peserta Didik Kelas X Teknik Komputer Jaringan (TKJ) di SMK 45 Wonosari. Skripsi Tidak Diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Widdiharto, R. 2008. Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika SMP dan Alternatif Proses Remidinya. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika. 136