(Sabang) tidak terutang Bea Masuk, cukai dan Pajak Dalam

advertisement
Kebijakan Perpajakan Dalam
Mendukung Pembentukan
Kawasan Pelabuhan Dan
Perdagangan Bebas
disampaikan oleh:
Direktorat Jenderal Pajak
Pembayaran Pajak adalah Salah
satu pencerminan
kegotongroyongan nasional dalam
bentuk pemenuhan kewajiban
kenegaraan bagi setiap warga
negara dalam mewujudkan
kemandirian pembiayaan negara
dan pembangunan nasional yang
pemungutannya harus berdasarkan
undang-undang
Prinsip Equal Treatment &
Kepastian Hukum
Prinsip yang harus dipegang teguh di dalam
Peraturan Perundang-undangan Perpajakan
antara lain:
• Perlakuan yang sama;
• Kepastian hukum
Kemudahan
1. Kalau benar-benar di perlukan, dapat
diberikan kemudahan dalam bidang
perpajakan.
2. Setiap kemudahan dalam bidang perpajakan
harus mengacu pada kaidah di atas dan harus
dijaga agar di dalam penerapannya tidak
menyimpang dari maksud dan tujuan
diberikannya kemudahan tersebut
Tujuan Diberikannya Fasilitas
Perpajakan
1. Berhasilnya sektor-sektor kegiatan
ekonomi yang berprioritas tinggi dalam
skala nasional;
2. Mendorong perkembangan dunia usaha
dan meningkatkan daya saing;
3. Mendukung pertahanan nasional;
4. Memperlancar pembangunan nasional.
Contoh Fasilitas Yang Diberikan
• Untuk Kawasan Perdagangan Bebas dan
Pelabuhan Bebas diatur dalam Undangundang Nomor 37 Tahun 2000.
• Untuk Kawasan Berikat diatur dalam:
Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun
2003 sebagaimana telah diubah terakhir
dengan PP 30 Tahun 2005
Fasilitas untuk Kawasan
Pelabuhan dan Perdagangan
Bebas Sabang
• Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan
Bebas Sabang adalah suatu kawasan yang berada
di dalam Wilayah Hukum Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang terpisah dari Daerah
Pabean, sehingga bebas dari pengenaan Bea
Masuk, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak
Penjualan atas Barang Mewah dan Cukai.
Fasilitas PPN Tidak Dipungut
atas:
• Penyerahan Barang Kena Pajak kepada
Pengusaha di Kawasan Berikat (PDKB)
sepanjang BKP tersebut digunakan untuk
menghasilkan BKP yang diekspor;
• Impor BKP yang dilakukan oleh PDKB
sepanjang BKP tersebut digunakan untuk
menghasilkan BKP yang diekspor.
Fasilitas Pajak Penghasilan
Pasal 31A Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
tentang
Pajak
Penghasilan
(UU
PPh)
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000,
antara lain mengatur bahwa:
• Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal di
bidang-bidang usaha tertentu dan atau didaerahdaerah tertentu dapat diberikan fasilitas
perpajakan.
Bentuk Fasilitas PPh
1. pengurangan penghasilan neto paling tinggi 30%
dari jumlah penanaman yang dilakukan; yang
dapat dinikmati selama 6 tahun,
2. penyusutan dan amortisasi yang dipercepat;
3. kompensasi kerugian yang lebih lama tetapi tidak
lebih dari 10 tahun; dan
4. pengenaan Pajak Penghasilan atas dividen
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 sebesar
10% (sepuluh persen), kecuali apabila tarif
menurut perjanjian perpajakan yang berlaku
menetapkan lebih rendah.
PP No 20/2000 tentang Perlakuan Perpajakan di Kawasan
Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) stdtd PP No
147/2000,
Kelompok harta
Manfaat
menjadi
Tarif Penyusutan &
Amortisasi Dengan Metode
Garis lurus
Saldo menurun
2 Thn
4 Th
8 Th
10 Th
50 %
25 %
12,5 %
10 %
100 %
50 %
25 %
20 %
10 Th
5 Th
10 %
20 %
---
I. Bukan bangunan/
harta harta Tak
Berwujud
Kelompok
Kelompok
Kelompok
Kelompok
I
II
III
IV
II. Bangunan
- Permanen
- Tidak Permanen
PPh Pasal 11 ayat (6)
Kelompok harta
Manfaat
menjadi
Tarif Penyusutan &
Amortisasi Dengan Metode
Garis lurus
Saldo menurun
4Thn
8 Th
16 Th
20 Th
25 %
12,5 %
6,25 %
5%
50%
25 %
12,5 %
10 %
20 Th
10 Th
5%
10 %
---
I. Bukan bangunan/
harta harta Tak
Berwujud
Kelompok
Kelompok
Kelompok
Kelompok
I
II
III
IV
II. Bangunan
- Permanen
- Tidak Permanen
Kesimpulan
• Peraturan Perundang-undangan Perpajakan
telah memberikan payung fasilitas untuk
mendukung pengembangan wilayah lain
dalam Daerah Pabean yang dibentuk
khusus untuk maksud pengembangan
ekspor;
Bentuk Kemudahan Yang Telah
Diberikan Antara Lain
• Untuk free port & free trade zone (Sabang)
tidak terutang Bea Masuk, cukai dan Pajak
Dalam Rangka Impor (PDRI);
• Untuk DKB Batam:
– Atas penyerahan BKP kepada PDKB tidak
dipungut PPN dan PPn.BM
– Atas impor BKP oleh PDKB tidak dipungut PDRI
sepanjang BKP tersebut digunakan untuk
menghasilkan BKP yang diekspor;
• Dapat diberikan fasilitas PPh sesuai Pasal 31A UU
PPh.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
ATAS PERHATIAN SAUDARA
Download