Modul Antropologi [TM7]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
ANTROPOLOGI
Menghormati Nilai-Nilai
Kepercayaan Masyarakat
Fakultas
Program Studi
PSIKOLOGI
PSIKOLOGI
2012
1
Tatap Muka
Kode MK
Disusun Oleh
07
MK61005
DR. DADAN ANUGRAH, M.Si.
Abstract
Kompetensi
Religi (agama) telah menjadi
bagian yang tak terpisahkan bagi
masyarakat dimanapun, dari
mulai masyarakat primitif sampai
modern. Agama sangatlah
penting dalam kehidupan
manusia. Demikian pentingnya
agama dalam kehidupan
Setelah mempelajari modul ini,
mahasiswa diharapkan dapat
memahami dan menjelaskan
tentang:
1. Pengertian religi
2. Unsur-unsur religi
3. Fungsu=I dan peran religi
dalam masyarakat.
Antropologi
Dr Dadan Anugrah, S.Sos, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
manusia, sehingga diakui atau
tidak sesungguhnya manusia,
sangatlah membutuhkan agama
MODUL 7
MENGHORMATI NILAI-NILAI
KEPERCAYAAN MASYARAKAT
A. Pendahuluan
Religi (agama) telah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi
masyarakat dimanapun, dari mulai masyarakat primitif sampai modern. Agama
sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Demikian pentingnya agama dalam
kehidupan manusia, sehingga diakui atau tidak sesungguhnya manusia,
sangatlah membutuhkan agama. Bagi manusia, tidak saja di masa primitif dulu
sewaktu ilmu pengetahuan belum berkembang, tetapi juga di zaman modern
sekarang sewaktu ilmu dan teknologi telah sedemikian maju.
Ada beberapa
manfaat agama yang dapat diperoleh manusia yaitu
antara lain sebagai berikut: Pertama, memberikan manusia tuntunan dan ajaran
hidup. Manusia tanpa agama merupakan manusia yang tidak memiliki tujuan.
Dalam ajaran agama, manusia dituntun agar beribadah dan melakukan kebaikan
dalam hidup, baik antar sesama manusia maupun dengan alam. Manusia
diajarkan oleh agama untuk saling tolong menolong antar manusia, saling
toleransi dalam menerima keberagaman dalam manusia baik berdasarkan suku,
agama, ras dan kelompok. agama juga mengajarkan manusia untuk tidak
melakukan hal yang merugikan orang lain maupun lingkungan sekitarnya. Agama
berguna dalam kebudayaan, agar manusia tidak akan kembali menjadi makhluk
primitif yang hanya memiliki tujuan bertahan hidup dan berkembang biak tanpa
memiliki orientasi untuk berkembang.
Kedua, memberi jawaban tentang hal yang tidak dapat dijawab oleh
manusia. Agama merupakan sumber tatanan hidup dan pengetahuan manusia.
Di dunia ini terdapat banyak hal dan kejadian yang tidak mampu dijawab dengan
keterbatasan yang ada pada manusia. Misalnya pertanyaan seperti kemanakah
2012
2
Antropologi
Dr Dadan Anugrah, S.Sos, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
jiwa manusia setelah raganya mati? Untuk apa manusia ada di dunia ini? Untuk
apa manusia hidup dengan berbagai cara namun akhirnya harus mati?
Pertanyaan pertanyaan tersebut tentu sulit untuk dijawab manusia dengan
keterbatasan pikiran yang ada. Agama memberikan jawaban jawaban dari
pertanyaan yang tidak dapat ditemukan oleh nalar manusia. Agama akan
membimbing manusia untuk menemukan hakikat hidup dari setiap manusia
merupakan salah satu dari banyak manfaat agama.
Ketiga, mengenalkan pada hal yang buruk dan baik, Pada dasarnya,
manusia ingin memperoleh semua hal yang ada di dunia ini karena nafsu yang
ada dalam masing masing diri manusia. Segala cara tentu akan dilakukan untuk
mendapatkan hal yang diinginkan. Dengan adanya agama dan ajaran ajaran
yang ada dalam agama, manusia dapat mengetahui mana hal yang boleh
dilakukan dan mana hal yang tidak boleh dilakukan. Aturan aturan dalam agama,
adalah mengatur mana hal yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan oleh
manusia. Dengan adanya larangan dalam agama bertujuan agar manusia tidak
merugikan diri sendiri, merugikan orang lain ataupun merugikan makhluk hidup
lain dalam rangka memperoleh hal yang ingin dimiliki oleh manusia.
Keempat, menjadi penyeimbang antara fisik dan jiwa manusia. Menurut
filsuf yunani kuno yaitu plato, manusia dilihat secara dualistik yang terdiri dari
unsur raga dan jiwa. Kesehatan manusia tidak hanya dilihat dari fisiknya saja,
namun dari jiwa. Agama memberikan tuntunan kepada manusia untuk dapat
memperoleh ketenangan dan kematangan jiwa ketika beribadah untuk
menyeimbangkan kebutuhan fisik dan jiwa manusia. Dengan banyaknya hal yang
dapat diperoleh manusia dalam mempercayai dan menjalankan aturan dan
ajaran dalam agamanya, banyak aspek dalam ajaran agama yang digunakan
untuk menjadi acuan dalam menentukan dasar serta hukum suatu negara.
Disadari atau tidak, banyak peraturan dalam suatu negara yang diadopsi dari
peraturan agama karena dilihat dari banyaknya hal yang diperoleh dalam
manfaat agama.
2012
3
Antropologi
Dr Dadan Anugrah, S.Sos, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
B. Pengertian Religi (Agama)
Secara bahasa, kata religi adalah kata kerja yang berasal dari kata benda
religion. Religi itu sendiri berasal dari kataredan ligare artinya menghubungkan
kembali yang telah putus, yaitu menghubungkan kembali talihubungan antara
Tuhan dan manusia yang telah terputus oleh dosa-dosanya (Mubarok, 2003:45).
Menurut Gazalba (Rohilah,2010), bahwa religi berasal dari bahasa latin religio
yang berasal dari akar kata religare yang berarti mengikat. Religi adalah
kecenderungan rohani manusia untuk berhubungan dengan alam semesta, nilai
yang meliputi segalanya, makna yang terakhir, dan hakekat dari semuanya.
Sedangkan Sarwono (2006) mendefinisikan religi sebagai suatu kepercayaan
terhadap kekuasaan suatu zat yang mengatur alam semesta ini.
Istilah religi menunjukkan pada aspek religi yang telah dihayati oleh
individu dalam hatinya (Mangunwijaya dalam Sudrajat, 2010). Dister (Sudrajat,
2010) menyatakan bahwa di dalam religi terdapat unsur internalisasi agama
dalam diri individu. Definisi lain menyatakan bahwa religi merupakan perilaku
terhadap agama yang berupa penghayatan terhadap nilai-nilai agama yang
dapat ditandai tidak hanya melalui ketaatan dalam menjalankan ibadah ritual
tetapi juga dengan adanya keyakinan, pengamalan, dan pengetahuan menganai
agama yang dianutnya (Ancok dan Suroso, 2008).
Glock dalam Paloutzian (Sudrajat, 2010) menyebut bahwa religi
meupakan sebuah komitmen beragama, yang dijadikan sebagai kebenaran
beragama, apa yang dilakukan seseorang sebagai bagian dari kepercayaan,
bagaimana
emosi
atau
pengamalan
yang
disadariseseorangtercakupdalamagamanya,danbagaimana seseorang hidup dan
terpengaruh berdasarkan agama yang dianutnya.
Terdapat dua istilah yang dikenal dalam agama yaitu kesadaran
beragama (religious conciousness) dan pengalaman beragama (religious
experience). Kesadaran beragama adalah segi agama yang terasa dalam fikiran
dan dapat diuji melalui introspeksi atau dapat dikatakan sebagai aspek mental
dari aktivitas agama, sedangkan pengalaman beragama adalah unsur perasaan
2012
4
Antropologi
Dr Dadan Anugrah, S.Sos, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
dalam kesadaran beragama yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan
yang dihasilkan oleh tindakan (Drajat, 1989).
Dapat
ditarik
kesimpulan
bahwa
religi
adalah
internalisasi
dan
penghayatan seorang individu terhadap nilai-nilai agamayang diyakini dalam
bentuk ketaatan dan pemahaman terhadap nilai-nilai tersebut untuk kemudian
dapat diimplentasikan dalam perilaku sehari-hari. Sehingga tingkat religi
seseorang dapat dilihat dari tingkah laku ,sikap, dan perkataan, serta kesesuaian
hidup yang dijalani dengan ajaran agama yang dianutnya1.
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sistem yang
mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang
Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan
manusia serta lingkungannya. Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta,
agama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini
adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja
re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan bereligi, seseorang
mengikat dirinya kepada Tuhan.
Emile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang
terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal
yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin berusaha untuk
terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah, mencapai rohani
yang sempurna kesuciannya.
Agama merupakan suatu lembaga atau institusi penting yang mengatur
kehidupan rohani manusia. Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran
dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada
sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal
dari sumber yang luar biasa juga. Keyakinan ini membawa manusia untuk
mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri, yaitu:
1
Lihat http://okhiehidayat.mywapblog.com/definisi-religi.xhtml
2012
5
Antropologi
Dr Dadan Anugrah, S.Sos, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1. Menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin
berasal dari Tuhan.
2. Menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dan lain-lain yang diyakini
berasal dari Tuhan.
Secara sosiologis, agama mendapat tempat dalam kehidupan masyarkat
dalam fungsinya sebagai:
1. Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok.
2. Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia
dengan manusia.
3. Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah.
4. Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan.
5. Pedoman perasaan keyakinan.
6. Pedoman keberadaanPengungkapan estetika (keindahan).
7. Pedoman rekreasi dan hiburanMemberikan identitas kepada manusia
sebagai umat dari suatu agama.
Agama adalah suatu prinsip atau kepercayaan seseorang. Agama
merupakan suatu peranan yang sangat penting dalam kehidupan sosial suatu
masayarakat. Agama juga yang dapat memberikan rasa toleransi, solidaritas
dalam masyarakat pada umumnya. Karena agama mempunyai nilai sosial yang
baik untuk seluruh masyarakat agar dapat saling menghargai dan membantu
walapun di Indonesia ini memiliki beragam suku, adat istiadat, agama yang
berbeda-beda.
Ciri suatu negara yang memiliki nilai sosial yang tinggi adalah dapat
saling membantu satu sama lain terutama dikalangan masyarakat sekitar.
Dengan kerpercayaan masing-masing kita dapat memberikan rasa saling
menghargai dan membantu antar masyarakat satu dengan yang lain. Ada
2012
6
Antropologi
Dr Dadan Anugrah, S.Sos, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan
manusia, antara lain adalah:
1. Karena agama merupakan sumber moral.
2. Karena agama merupakan petunjuk kebenaran.
3. Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
4. Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala
suka, maupun di kala duka.
Keberadaan agama dalam sistem sosial budaya adalah objek yang
menjadi perhatian utama dalam antropologi agama. Aspek kehidupan beragama
tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara
signitifikan dengan aspek budaya yang lain. Ekspresi religious ditemukan dalam
budaya material, perilaku manusia, nilai moral, sistem keluarga, ekonomi, hukum,
politik, pengobatan, sains, teknologi, seni, pemberontakan, dan perang.
Peran agama di dalam perkembangan masyarakat
dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Agama sebagia motivator, agama di sini adalah sebagai penyemangat
seseorang maupun kelompok dalam mencapai cita-citanya di dalam
seluruh aspek kehidupan.
2. Agama sebagai creator dan inovator, mendorong semangat untuk bekerja
kreatif dan produktif untuk membangun kehidupan dunia yang lebih baik
dan kehidupan akhirat yang lebih baik pula.
3. Agama sebagai integrator, di sini agama sebagai yang mengintegrasikan
dan menyerasikan segenap aktivitas manusia, baik sebagai orangseorang maupun sebagai anggota masyarakat.
4. Agama
sebagai
sublimator,
masksudnya
adalah
agama
mengadukan dan mengkuduskan segala perbuatan manusia.
2012
7
Antropologi
Dr Dadan Anugrah, S.Sos, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sebagai
5. Agama sebagai sumber inspirasi budaya bangsa, khususnya Indonesia2.
C. Sistem Religi Pada Masyarakat
Sekurangnya ada dua konsep umum yang menerangkan tentang
‘kepercayaan’ kepada Tuhan atau sesuatu yang dianggap Tuhan, yaitu
antara konsep agama dan konsep religi. Koentjaraningrat (1987) , sebagai
salah
seorang
tokoh
antropologi
terkemuka
di
Indonesia,
mengatakan
bahawa religi adalah sebagai bagian dari kebudayaan; dalam banyak hal
yang membahas tentang konsep ketuhanan beliau lebih menghindari istilah
‘agama’ , dan lebih menggunakan istilah yang lebih netral, yaitu ‘religi’. Ada juga
yang berpendirian bahwa suatu sistem religi merupakan suatu agama, tetapi
itu hanya berlaku bagi penganutnya saja; sistem religi Islam merupakan
agama bagi anggota umat Islam, sistem religi Hindu Dharma merupakan
suatu agama bagi orang Bali; ada juga pendirian lain yang mengatakan
bahwa agama adalah semua sistem religi yang secara resmi diakui oleh negara.
Sebenarnya pendapat Koentjaraningrat di atas yang mengatakan bahwa
religi adalah bagian dari kebudayaan karena beliau mengacu pada sebagain
konsep yang dikembangkan oleh Emile Durkheim(1912), yaitu:
1. Eemosi keagamaan, sebagai suatu substansi yang menyebabkan
manusia menjadi religius;
2. Sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan serta bayanganbayangan
manusia tentang sifat -sifat Tuhan atau yang dianggap
sebagai Tuhan, serta tentang wujud dari alam gaib (supernatural);
2
Lihat https://itha911.wordpress.com/kumpulan-makalah-2/antropologi-agama-agama-dankemajuan-sosial/
2012
8
Antropologi
Dr Dadan Anugrah, S.Sos, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
3. Sistem upacara religius yang bertujuanmencari hubungan manusia
dengan Tuhan, Dewa-dewa atau Mahlukmahluk halus yang mendiami
alam gaib;
4. Kelompok-kelompok
religius
atau
kesatuan-kesatuan
sosial
yang
menganut sistem kepercayaan tersebut
Keempat komponen tersebut sudah tentu terjalin erat satu dengan
yang
lain
menjadi suatu sistem yang terintegrasi secara bulat; emosi
keagamaan merupakan suatu getaran
yang menggerakkan
jiwa
manusia.
Proses-proses fisiologis dan psikologis apakah yang terjadi apabila manusia
terhinggap oleh getaran jiwa tadi, agaknya belum banyak diteliti oleh orang-orang
yang
berkepentingan
keadaan
tentangnya,
namun
demikianlah
kira-kiranya
jiwa manusia yang dimasuki cahaya Tuhan. Terlepas dari pendapat
perorangan
ataupun
batasan-batasan
tertentu
yang
ditetapkan sebuah
negara tentang konsep religi atau agama ini, yang jelas menurut konsep
ilmu pengetahuan dan agama-agama yang ada di muka bumi ini menyatakan
bahwa suatu bentuk aktifitas
manusia
yang
dianggap
sebagai
suatu
penyerahan diri terhadap Zat yang dianggap mengatur, menciptakan, atau
menentukan kehidupan manusia di dunia dimana manusia hidup dan di dunia
dimana manusia sudah mati yang mengacu kepada konsep E. Durkheim diatas
dapat disebut sebagai agama.Tidak semua perilaku keagamaan atau religi itu
adalah khas manusia; untuk ajaran Islam misalnya bahkan hampir seluruh
aktifitas keagamaan itu sumbernya adalah wahyu Tuhan, dan hanya sedikit
sekali unsur-unsur gagasan manusia disana, demikian juga dengan agamaagama yang lain yang menganggap berbagai aktifitas itu sumbernya adalah
Tuhan. Disini agama itu dipisahkan dengan kebudayaan, pada aktifitasaktifitas tertentu
yang tujuannnya adalah penyerahan diri (taat, bakti, doa,
pemujaan, penyembahan dan sebagainya) pada Tuhan atau
yang dianggap
sebagai Tuhan, walaupun ada gagasan-gagasan atau tangan-tangan manusia
yang turut di dalamnya
merupakan aktifitas keagamaan; dilain fihak, segala
bentuk tindakan, gagasan, dan hasil tindakan khas manusia yang relatif
tidak melibatkan unsur-unsur keagamaan atau tidak dimaksudkan sebagai
2012
9
Antropologi
Dr Dadan Anugrah, S.Sos, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
bentuk
ritual
tertentu,
itulah kebudayaan. Sebelum diuraikan lebih lanjut
mengenai hal-hal yang berhubungan dengan religi, perlu ditekankan terlebih
dahulu
tentang
penggunaan
peristilahan,
dan
pendekatan
dalam studi
tentang religi ini. Untuk peristilahan, dalam buku ini selanjutnya lebih
banyak menggunakan istilah religi sebagai terjemahan dari religion daripada
istilah agama, karena istilah agama bagi banyak orang Indonesia mempunyai
arti tertentu seperti agama Islam atau Nasrani misalnya. Studi tentang religi
yang dikembangkan adalah merupakan tinjauan antropologis, dimana ilmu
tentang manusia ini sebagai ilmu yang mencoba merumuskan pengertianpengertian dan
obyek
yang
konsepnya melalui penyelidikan yang empiris, dan obyek-
akan diselidiki terutama adalah tingkah laku dan tatakelakuan
manusia. Dengan mengadakan studi komparatif,
antropologi
mencoba
memahami asal usul tentang religi, fungsi religi, keberadaan, persebaran,
dan pengaruhnya dalam kehidupan manusia3.
Ilmu
antropologi
menyebabkan
perhatian
terhadap
yang
religi,sebenarnya
besar,yaitu
upacara
ada
dua
hal
keagamaan
yang
dalam
kebudayaan suatu suku bangsa biasanya merupakan unsur kebudayaan yang
tampak paling lahir. Yang kedua yaitu bahan etnografi mengenai upacara
keagamaan diperlukan untuk menyusun teori teori tentang asal mula religi. Asal
mula dari suatu unsur universal seperti religi,artinya masalah mengapa manusia
percaya kepada adanya suatu kekuatan ghaib yang dianggapnya lebih tinggi
daripadanya,dan mengapa manusia itu melakukan berbagai hal dengan caracara yang beraneka warna.
Unsur- unsur khusus dalam rangka sistem religi. Rangka pokok
antropologi tentang religi, sebaliknya juga di bicarakan sistem ilmu gaib sehingga
pokok itu dapat dibagi menjadi dua pokok khusus, yaitu sistem religi dan sistem
ilmu gaib.
Semua aktivitas manusia yang bersangkutan dengan religi berdasarkan
atas suatu getaran jiwa,yang biasanya disebut emosi keagamaan,atau religious
3
Lihat http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/195903051989011SYARIF_MOEIS/MAKALAH__9.pdf
2012
10
Antropologi
Dr Dadan Anugrah, S.Sos, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
emotion. Emosi keagamaan itulah yang mendorong orang melakukan tindakantindakan yang bersifat religi. Pokoknya, emosi keagamaan menyebabkan bahwa
sesuatu benda,suatu tindakan,atau suatu gagasan,mendapat suatu nilai
keramat,dan dianggap keramat.
Suatu sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri- ciri
untuk sedapat mungkin memelihara emosi keagamaan itu diantara pengikutpengikutnya. Dengan demikian emosi keagamaan merupakan unsur penting
dalam suatu religi bersama keagamaan dengan tiga unsur yang lain yaitu sistem
keyakinan,sistem upacara keagamaan, suatu umat yang menganut religi itu.
Para ahli antropologi biasanya menaruh perhatian terhadap konsepsi tentang
dewa-dewa yang baik maupun yang jahat;sifat sifat dan tanda-tanda dewa-dewa;
konsepsi tentang makhluk-makhluk halus lainnya seperti roh-roh leluhur.
Sistem upacara keagamaan secara khusus mengandung empat aspek
yang menjadi perhatian khusus dari para ahli antropologi ialah tempat upacara
keagamaan dilakukan,saat- saat upacara keagamaan dijalankan, benda-benda
dan alat upacara orang-orang yang melakukan dan memimpin upacara.
Upacara-upacara itu sendiri banyak juga unsurnya,yaitu bersaji, berkorban,
berdoa, makan bersama makanan yang telah disucikan dengan doa,berpuasa.
Sub-unsur ke-3 dalam rangka religi adalah sub-unsur mengenai umat
yang menganut agama atau religi yang bersangkutan. Secara khusus sub-unsur
itu meliputi misalnya soal-soal pengikut sesuatu agama, hubungannya dengan
para pemimpin agama,baik dalam saat adanya upacara keagamaan maupun
dalam kehidupan sehari-hari4.
________________________________
4
Lihat http://www.kompasiana.com/windaalmufidah/sistem-religi-dan-kepercayaan-dalammasyarakat_54f770b5a3331149348b482e
2012
11
Antropologi
Dr Dadan Anugrah, S.Sos, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Referensi:
Ihromi, T.O., (ed)., 1981. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Gramedia.
Koentjaraningrat, 2005. Pengantar Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Koentjaraningrat, 1992. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta:
Gramedia.
http://www.kompasiana.com/windaalmufidah/sistem-religi-dan-kepercayaandalam-masyarakat_54f770b5a3331149348b482e
http://okhiehidayat.mywapblog.com/definisi-religi.xhtml
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/195903051989011SYARIF_MOEIS/MAKALAH__9.pdf
https://itha911.wordpress.com/kumpulan-makalah-2/antropologi-agama-agamadan-kemajuan-sosial/
2012
12
Antropologi
Dr Dadan Anugrah, S.Sos, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download