proposal skripsi - Universitas Sebelas Maret

advertisement
PERANAN PENGAWASAN DALAM MENINGKATKAN
PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN
DI PT. DJITOE INDONESIAN TOBACCO SURAKARTA
Skripsi
Oleh:
PUJI RAHAYU
K 7403168
PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2007
i
PERANAN PENGAWASAN DALAM MENINGKATKAN
PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN
DI PT. DJITOE INDONESIAN TOBACCO SURAKARTA
Oleh :
PUJI RAHAYU
K 7403168
Skripsi
Ditulis dan diajukan guna melengkapi sebagian persyaratan untuk mendapatkan
gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
BKK Pendidikan Administrasi Perkantoran
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2007
ii
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji
Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
Persetujuan Pembimbing
Pembimbing I
Pembimbing II
Drs. Sutaryadi, M. Pd
Dra. Tri Murwaningsih, M. Si
NIP130935942
NIP132014459
iii
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima
untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Pada hari
: .................................
Tanggal
: .................................
Tim Penguji Skripsi :
Nama Terang
Tanda Tangan
Ketua
: Drs. Ign. Wagimin, M. Si
..............................................
Sekretaris
: Dra. C. Dyah SI, M. Pd
..............................................
Anggota I
: Drs. Sutaryadi, M. Pd
..............................................
Anggota II
: Dra. Tri Murwaningsih, M. Si
..............................................
Disahkan oleh
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Dekan
DR. H. Trisno Martono, MM
NIP 130 529 720
iv
ABSTRAK
Puji Rahayu. PERANAN PENGAWASAN DALAM MENINGKATKAN
PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN DI PT. DJITOE INDONESIAN
TOBACCO SURAKARTA. Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan universitas Sebelas Maret Surakarta, April 2007.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Pelaksanaan
pengawasan di PT. Djitoe ITC Surakarta, (2) Peranan pengawasan dalam
meningkatkan produktivitas kerja karyawan di PT. Djitoe ITC Surakarta, (3)
Hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanan pengawasan di PT. Djitoe
ITC Surakarta.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan strategi
tunggal terpancang. Sumber data yang digunakan terdiri dari informan, lokasi
penelitian serta arsip dan dokumen. Teknik sampling yang digunakan teknik
purposive snowball sampling. Dalam mengumpulkan data menggunakan teknik
wawancara, observasi dan analisis dokumen. Teknik analisis yang digunakan
adalah teknik analisis data model interaktif mengalir.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Pelaksanaan pengawasan di
PT. Djitoe ITC Surakarta ini didasarkan pada empat hal, yaitu: a. Waktu
pelaksanaan pengawasan, meliputi pengawasan preventif yaitu pengawasan yang
dilakukan pada waktu rekrut karyawan agar mendapatkan tenaga kerja yang
produktif, represif yaitu pengawasan yang dilakukan selama kegiatan berlangsung
agar berjalan lebih terarah dan kuratif yaitu pengawasan yang dilakukan setelah
kegiatan berlangsung untuk mengevaluasi apabila ada kesalahan, b.
Subyek/pengawas, diwenangkan kepada kepala bagian masing-masing
departemen, c. Obyek/yang diawasi, ini meliputi seluruh karyawan yang ada
dibagian produksi beserta kegiatannya, d. Cara, pengawasan ini dilakukan secara
langsung, tidak langsung, berkala dan tidak berkala. (2) Peranan pengawasan
dalam meningkatkan produktivitas kerja karyawan meliputi : a. dapat membantu
perusahaan menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi di dalam maupun di
luar perusahaan sehingga kelangsungan hidup perusahaan dapat dipertahankan
ditengah-tengah perubahan yang terjadi b. dapat mengimbangi perkembangan
organisasi yang semakin kompleks, c. dapat diketahui kesalahan-kesalahan yang
terjadi dalam pelaksanan dan penyelesaian pekerjaan sehingga dapat dilakukan
tindakan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan tersebut, (3) Hambatanhambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan pengawasan di PT. Djitoe ITC
Surakarta beserta solusinya meliputi : a. masih adanya sifat ABS (Asal Bapak
Senang) dari para karyawan sehingga hasil pengawasan tidak mencerminkan
keadaan yang sebenarnya di lapangan maka hendaknya pimpinan datang secara
langsung dan mendadak minimal 15 hari sekali ketempat berlangsungnya
kegiatan, b. belum adanya tenaga atau personel yang secara khusus dan
independen melaksanakan fungsi pengawasan maka hendaknya dibentuk badan
yang secara khusus dan independen untuk melakukan fungsi pengawasan agar
lebih efektif. Misalnya dibentuk komisaris.
v
MOTTO
Mengakui kekurangan diri adalah tangga untuk mencapai cita-cita, dan berusaha untuk
mengisi kekurangan tersebut adalah keberanian yang luar biasa.
(Hamka)
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai (dari
suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
(Qs. Alam Nasyrah ayat 6-7)
Janganlah kemarahan melupakan kebaikan-kebaikan orang lain dan keridhaan (kecintaan)
menyebabkan matamu buta dari melihat keburukan.
(Hasan Al-Banna)
vi
PERSEMBAHAN
Karya ini dipersembahkan kepada :
Ibu dan Bapak Tercinta,
Kakak-kakak’Q tersayang,
Seseorang yang selalu menemani’Q,
dan almamater
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan
penyusunan skripsi dengan judul : “PERANAN PENGAWASAN DALAM
MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN DI PT. DJITOE
INDONESIAN TOBACCO SURAKARTA”, yang merupakan sebagian syarat
untuk mendapatkan gelar Sarjan Pendidikan Program Pendidikan Administrasi
Perkantoran Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam menyelesaikan
skripsi ini, namun kesulitan-kesulitan yang timbul dapat teratasi. Atas segala
bentuk bantuannya, disampaikan terima kasih kepada yang terhormat :
1.
Bapak DR. H. Trisno Martono, MM selaku Dekan Fakultas keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah
memberikan ijin untuk mengadakan penelitian.
2.
Bapak Drs. Wakino, M. S selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial yang telah memberikan ijin untuk menyusun skripsi.
3.
Ketua dan Sekretaris Program Studi Pendidikan Ekonomi yang telah
memberikan ijin dalam penyusunan skripsi ini.
4.
Ketua dan Sekretaris BKK Pendidikan Administrasi Perkantoran yang telah
memberikan ijin untuk menyusun skripsi ini.
5.
Drs. Sutaryadi, M. Pd selaku pembimbing I yang telah memberikan
bimbingan, pengarahan dan motivasi dalam penelitian ini.
6.
Dra. Tri Murwaningsih, M. Si selaku pembimbing II yang juga telah
memberikan bimbingan, pengarahan dan motivasi dalam penelitian ini.
7.
Bapak/Ibu Dosen Program Pendidikan Ekonomi BKK Pendidikan
Administrasi Perkantoran yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan
kepada peneliti.
viii
8.
Bapak Supadi selaku Manajer Personalia PT. Djitoe ITC Surakarta beserta
karyawan-karyawanya yang telah memberikan data guna penyusunan skripsi
ini.
9.
Ibu, Bapak serta kakak-kakakku atas semangat dan doanya.
10.
“Seseorang” yang selalu menemani hari-hariku yang telah memberikan
motivasi dalam penyusuanan skripsi ini.
11.
Rekan-rekan PAP’03 (Iedha, Riye, Rizma, Gpenk, Pansus, Iyost and Juepe)
atas kekompakan dan bantuannya selama ini.
12.
Semua teman-teman “KOST MERPATI (Mbk San, Ayyu, Anin, Ika, Ganniez,
Dita, Ratri and Ririn)” atas kebersamaan dan perhatiannya selama ini.
13.
“Teman seperjuangan’Q” (Hayyin, Inry, Okta, n Driya) atas masukanmasukannya selama ini, ayo kalo bisa wisuda bareng y,,
14.
Dan semua pihak yang membantu dalam penyusunan skripsi ini sehingga
dapat terselesaikan.
Dengan semua kemampuan yang ada, peneliti berusaha menyajikan skripsi
ini dalam bentuk yang sebaik mungkin, namun peneliti menyadari bahwa masih
ada kekurangan-kekurangannya. Untuk itu besar harapan peneliti agar pembaca
sudi memberikan kritik dan saran yang menuju ke arah perbaikan, sehingga
skripsi ini dapat sempurna.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
pembaca umumnya. Amin.
Surakarta,
April 2007
Peneliti
ix
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL HALAMAN
i
HALAMAN PENGAJUAN
ii
HALAMAN PERSETUJUAN
iii
HALAMAN PENGESAHAN
iv
HALAMAN ABSTRAK
v
HALAMAN MOTTO
vi
HALAMAN PERSEMBAHAN
vii
KATA PENGANTAR
viii
DAFTAR ISI
x
DAFTAR TABEL
xii
DAFTAR GAMBAR
xiii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
1
B.
Perumusan Masalah
4
C.
Tujuan Penelitian
5
D.
Manfaat Penelitian
5
BAB II LANDASAN TEORI
A.
B.
Tinjauan Pustaka
7
1.
Tinjauan Tentang Pengawasan
7
2.
Tinjauan Tentang Produktivitas Kerja
19
Kerangka Berfikir
26
BAB III METODOLOGI
A.
Tempat dan Waktu Penelitian
29
B.
Bentuk dan strategi Penelitian
29
C.
Sumber Data
31
D.
Teknik Pengumpulan Data
32
E.
Teknik Sampling
33
x
F.
Validitas Data
34
G.
Analisis Data
35
H.
Prosedur Penelitian
36
BAB IV HASIL PENELITIAN
A.
B.
C.
Gambaran Umum Perusahaan
38
1.
Sejarah Berdirinya perusahaan
38
2.
Lokasi Perusahaan
40
3.
Personalia
41
4.
Struktur Organisasi Perusahaan
43
5.
Produksi
46
6.
Pemasaran
48
Deskripsi Permasalahan Penelitian
50
1.
Pelaksanaan Pengawasan di PT. Djitoe ITC
50
2.
Peranan Pengawasan di PT. Djitoe ITC
55
3.
Hambatan-hambatan di PT. Djitoe ITC
58
Temuan Studi Yang Berkaitan Dengan Kajian Teori
59
1.
Pelaksanaan Pengawasan di PT. Djitoe ITC
60
2.
Peranan Pengawasan di PT. Djitoe ITC
62
3.
Hambatan-hambatan di PT. Djitoe ITC
64
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A.
Kesimpulan
67
B.
Implikasi Hasil Penelitian
68
C.
Saran
69
DAFTAR PUSTAKA
70
LAMPIRAN
xi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Daftar Jumlah Karyawan PT. Djitoe ITC
xii
42
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Kerangka Berpikir
27
Gambar 2. Skema Model Analisis Data Interaktif
35
Gambar 3. Skema Prosedur Penelitian
37
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam setiap organisasi atau badan usaha apapun bentuknya pasti
memiliki tujuan yang hendak dicapai. Dengan adanya tujuan memberikan arah
yang jelas dalam setiap tindakan atau pengambilan keputusan. Dalam pencapaian
tujuan setiap organisasi memerlukan faktor sumber daya manusia dan faktor non
sumber daya manusia. Faktor sumber daya manusia merupakan faktor yang utama
karena sumber daya manusia yang akan menjalankan kegiatan dalam organisasi.
Adanya faktor non sumber daya yang melimpah tidak akan berarti jika tidak ada
manusia yang mengelola dan mengawasinya.
Sebagaimana dikatakan oleh Unong Uchjana Effendi (1992:150)
“kekuatan organisasi terletak pada manusianya, bukan sistemnya, teknologinya,
prosedurnya atau sumber dananya”. Dari pendapat tersebut menandaskan bahwa
bagaimanapun canggihnya peralatan yang dimiliki oleh perusahaan atau
organisasi, serta tersedianya perlengkapan-perlengkapan lainnya, tidak akan
berarti sama sekali jikalau unsur pelaksanaanya tidak ada. Sedangkan unsur
pelaksana yang dimaksud disini adalah karyawan.
Tujuan masuknya seseorang menjadi anggota suatu organisasi tertentu
bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan adanya
keinginan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya, baik
kebutuhan yang bersifat ekonomis, sosiologis, maupun psikologis. Dengan
demikian akan timbul kecenderungan karyawan untuk memiliki “individual
behavior”. Sedangkan dalam suatu organisasi memerlukan satu macam
“organizational behavior” dalam usaha mencapai tujuan. Adanya ketimpangan
perilaku dalam organisasi tersebut harus bisa dicermati oleh pimpinan maupun
manajer. Dalam hal ini menciptakan dan menegakkan iklim hubungan manusiawi
yang menyenangkan sehingga mampu mempengaruhi karyawannya agar mau
merubah “individual behavior”nya menjadi “organizational behavior”. Secara
lebih spesifik dapat dikatakan bahwa agar tujuan pribadi masing – masing
1
2
karyawan dan tujuan organisasi bisa diarahkan pada tujuan bersama, maka harus
ada seorang pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mengarahkan mereka
pada tujuan bersama tersebut. Dimana salah satu tujuan yang hendak dicapai oleh
setiap organisasi apapun tujuan organisasi itu adalah mengelola sumber daya
manusia untuk meningkatan produktivitas kerja para karyawan.
Naik dan turunnya hasil produktivitas merupakan dampak dari
produktivitas kerja karyawan. Dari uraian di atas tersebut produktivitas dapat
dikatakan suatu kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Selain
itu produktivitas juga menyangkut sikap atau cara pandang dari para karyawan
untuk bekerja lebih baik. Menurut pendapat Komarudin (1986:121) “produktivitas
pada hakekatnya meliputi sikap yang senantiasa mempunyai pandangan bahwa
metode kerja hari ini haruslah lebih baik dari pada metode kerja hari kemarin dan
yang dapat diraih esok hari haruslah dapat lebih banyak/lebih bermutu dari hasil
yang diraih hari ini”. Kalau seseorang memiliki sikap hidup demikian, maka ia
senantiasa memiliki dorongan untuk mencari dan mendapatkan metode kerja guna
memperbaiki dan meningkatkan kemampuannya. Usaha untuk meningkatkan
produktivitas kerja karyawan dapat ditempuh oleh organisasi dengan memberikan
sesuatu yang dapat merangsang produktivitas kerja. Diantaranya adalah dengan
diberikannya kepuasan bagi karyawan baik yang bersifat ekonomis, sosiologis
maupun psikologis. Dimana kepuasan bagi karyawan sendiri adalah karena
berbagai hal yang sengaja diciptakan agar karyawan bekerja dengan produktivitas
yang tinggi karena meningkatnya produktivitas perorangan setiap karyawan akan
menyebabkan meningkatnya produksi secara kelompok. Adanya pemenuhan
kepuasan tersebut mendorong karyawan untuk bersemangat dalam bekerja,
memiliki kedisiplinan, mudah diajak kerjasama, bergairah mengerjakan tugastugasnya dan memiliki
loyalitas
yang tinggi
terhadap pekerjaan dan
organisasinya. Sehingga produktivitas perusahaanpun akan meningkat.
Sedangkan produktivitas seorang karyawan ditentukan oleh banyak
faktor seperti kondisi kerja, peralatan kerja, jenis pekerjaan, dan motivasi kerja.
Namun selain faktor – faktor diatas dalam meningkatkan produktivitas kerja juga
diperlukan adanya faktor pengawasan yang berfungsi sebagai pengendalian
3
pelaksanaan setiap kegiatan yang merupakan usaha pencapaian tujuan yang telah
ditentukan. Pengawasan ini pada dasarnya adalah pengawasan terhadap proses
dan hasil serta orang yang melakukan pekerjaan dalam hal ini karyawan.
Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan hendaknya bukan sekedar
mencari-cari kesalahan karyawan yang terjadi di lapangan tetapi lebih diarahkan
untuk menemukan secara dini kesalahan atau penyimpangan yang terjadi di
lapangan. Setelah penyimpangannya ditemukan dibimbing dan diarahkan kearah
yang benar. Pengawasan yang ketat dan kaku dalam pelaksanaannya tidak akan
meningkatkan produktivitas kerja karyawan karena mereka hanya akan bekerja
dengan baik pada saat diawasi saja. Sedangkan pengawasan yang baik dan tegas
dalam pelaksanaanya dapat menumbuhkan produktivitas kerja karyawan walau
tidak diawasi pimpinan sekalipun. Selain itu pelaksanaan pengawasan hendaknya
wajar dan tidak berlebih-lebihan karena pengawasan yang berlebih-lebihan sering
menghambat pelaksanaan kegiatan. Pengawasan yang baik memerlukan
pengembangan cara-cara pengawasan yang baik seperti pemantauan, pelaporan,
cara pemeriksaan yang baik juga perlu memperhatikan sarana-sarana pengawasan.
Jadi seorang pemimpin dituntut untuk dapat menciptakan dan melaksanakan
pengawasan yang baik dan tegas agar dapat meningkatkan produktivitas kerja
karyawan.
Dengan adanya pengawasan diharapkan usaha yang dilakukan karyawan
dapat mencapai hasil kerja sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
sebelumnya. Pengawasan ini dilakukan untuk membimbing dan mendidik tanpa
melukai perasaan karyawan. Dengan adanya pengawasan yang positif dan tidak
mencari-cari kesalahan karyawan maka produktifitas kerja dapat ditingkatkan.
Dengan demikian seorang manajer dituntut keahliannya untuk dapat
memanfaatkan sebaik-baiknya sumber daya manusia dan sumber daya yang lain
dalam proses produksi, mulai dari aktivitas perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan dan pengawasan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
Sumber daya yang akan dimanfaatkan dalam mencapai tujuan organisasi yang
terpenting adalah sumber daya manusia sebagai tenaga kerja. Karena manusialah
yang memegang kunci dalam segalanya dan sumber daya manusia inilah yang
4
kadang-kadang menjadi persoalan yang pelik dalam manajemen suatu perusahaan
sebab masing-masing individu satu sama lain mempunyai sifat yang berbedabeda.
Apabila dilihat dari sudut individu karyawan, bukan hanya para pimpinan
yang memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan organisasi tetapi juga
karena keikutsertaan karyawan yang menduduki jabatan terbawah. Dengan kata
lain keberhasilan organisasi ditentukan oleh seluruh unit yang ada di dalamnya.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti terdorong untuk mengkaji
lebih dalam tentang peranan pengawasan dalam meningkatkan produktivitas kerja
karyawan PT. Djitoe Indonesia Tobacco Surakarta.
B. Perumusan Masalah
Masalah
adalah
setiap
kesulitan
yang
menggerakkan
untuk
memecahkannya. Suatu masalah yang timbul tidak dapat diabaikan begitu saja,
akan tetapi juga perlu diperhatikan lebih mendalam pemecahannya. Hal ini sesuai
dengan pendapat Winarno Surakhmad (1994:34) yang menyatakan bahwa
“masalah adalah kesulitan yang menggerakkan manusia untuk memecahkannya.
Masalah harus dapat dirasakan sebagai suatu rintangan yang mesti dilalui (dengan
cara melaluinya) apabila akan berjalan terus. Masalah menampakkan diri sebagai
tantangan”.
Menurut Djarwanto PS (1990:15) masalah adalah kesulitan yang
menggerakkan manusia untuk memecahkannya. Masalah harus dirasakan
sebagai tantangan (rintangan) yang harus diatasi dan diteliti. Masalah harus
memenuhi unsur yang menggerakkan untuk membahasnya. Masalah harus
nampak penting, realistis dan ada gunanya dipecahkan.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti mencoba meninjau masalah
yang berkaitan dengan peranan pengawasan dalam meningkatkan produktivitas
kerja karyawan di PT. Djitoe Indonesia Tobacco Surakarta. Adapun perumusan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan pengawasan di PT. Djitoe Indonesia Tobacco
Surakarta ?
5
2. Bagaimana peranan pengawasan dalam rangka meningkatkan produktivitas
kerja karyawan di PT. Djitoe Indonesia Tobacco Surakarta ?
3. Hambatan-hambatan apakah yang dihadapi dalam pelaksanaan fungsi
pengawasan di PT. Djitoe Indonesia Tobacco Surakarta beserta solusinya ?
C. Tujuan Penelitian
Setiap usaha yang dilakukan pasti mempunyai tujuan yang akan dicapai.
Tujuan merupakan sasaran yang akan dicapai dalam setiap kegiatan yang hendak
dilaksanakan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh
Kartini Kartono (1993:29) bahwa “tujuan penelitian untuk menemukan,
mengembangkan dan menguji kekurangan dan vakum/kekosongan atau
menciptakan/menemukan sesuatu yang sebelumnya belum ada”. Sedangkan
Suharsimi Arikunto (1993:29) mengemukakan bahwa “tujuan penelitian adalah
merumuskan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh
setelah penelitian”. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pelaksanan pengawasan di PT. Djitoe Indonesia Tobacco
Surakarta.
2. Untuk mengetahui peranan pengawasan dalam rangka meningkatkan
produktivitas kerja karyawan di PT. Djitoe Indonesia Tobacco Surakarta.
3. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan
fungsi pengawasan di PT. Djitoe Indonesia Tobacco Surakarta beserta
solusinya.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini penting karena menghasilkan informasi yang rinci, akurat
dan aktual yang akan memberikan manfaat dalam menjawab permasalahan secara
teoritis maupun praktis. Secara teoritis untuk langkah pengembangan lebih lanjut
dan secara praktis berwujud aktual.
1. Manfaat Teoritis
a Untuk menambah dan memperluas ilmu pengetahuan khususnya dalam
bidang pengawasan.
6
b Untuk mendukung toeri-teori yang sudah ada sehubungan dengan masalah
yang dibahas yaitu mengenai peranan pengawasan.
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan masukan dan sumbangan pemikiran kepada pihak yang
bersangkutan dan terkait dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja
karyawan, khususnya di PT. Djitoe Indonesia Tobacco Surakarta.
b. Dapat digunakan sebagai bahan acuan dan pertimbangan dari berbagai
pihak dalam rangka pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan
yang berhubungan dengan aktivitas pengawasan.
c. Sebagai dasar acuan dalam melaksanakan penelitian sejenis secara
mendalam.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Tinjauan Tentang Pengawasan
a. Pengertian Pengawasan
Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen yang perlu
diupayakan dalam mencapai tujuan organisasi secara efisien. Dengan adanya
pengawasan dapat mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan,
pemborosan, penyelewengan, hambatan, kesalahan dan kegagalan dalam
pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas-tugas organisasi. Untuk memperoleh
pengertian pengawasan lebih lanjut, peneliti akan mengkaji beberapa teori
yang bersangkutan. Menurut Sudibyo Triatmodjo, bahan diklat Adum
(2000:5) “pengawasan adalah suatu bentuk pengamatan yang pada umumnya
dilakukan secara menyeluruh, dengan jalan mengadakan perbandingan antara
kenyataan yang dilaksanakan dengan yang seharusnya dilaksanakan atau
terjadi”.
Dari pendapat tersebut dijelaskan bahwa pengawasan merupakan
tindakan melakukan pengamatan antara kenyataan yang dilaksanakan dengan
yang seharusnya dilaksanakan atau terjadi (das sollen dengan das sein). Jadi
dalam pengawasan tersebut, pengamatan dilaksanakan secara menyeluruh
terhadap semua yang diamati, bukan secara terpisah-pisah, serta untuk
mengetahui hasilnya dilakukan dengan mengadakan perbandingan antara
kenyataan yang dilaksanakan dengan yang seharusnya dilaksanakan atau
terjadi.
Sondang P. Siagian (2002:170) mengatakan bahwa “pengawasan
merupakan usaha sadar dan sistematik untuk lebih menjamin bahwa semua
tindakan operasional yang diambil dalam organisasi benar-benar sesuai
dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya”.
7
8
Dari pengertian tersebut, jelaslah bahwa pengawasan berkaitan
dengan tujuan yang ingin dicapai, dilaksanakan berdasarkan rencana.
Artinya seorang manajer tidak akan dapat mengamati penyelenggaraan
kegiatan-kegiatan operasional dan mengukur hasil yang dicapai oleh para
bawahannya tanpa adanya rencana.
Menurut Manullang (2002:172) “bahwa pengawasan merupakan
suatu proses untuk menetapkan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya
dan mengoreksi bila perlu dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan
sesuai dengan
rencana
semula”.
Dengan
demikian
pengawasan
bertujuan
agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana yang
ditentukan
dan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan serta kesulitan-
kesulitan yang dihadapi dalam
pelaksanaan rencana.
Menurut Sukanto Reksohadiprodjo (1999:63) bahwa “pengawasan
pada hakekatnya merupakan usaha memberikan petunjuk pada para pelaksana
agar mereka selalu bertindak sesuai dengan rencana”.
Dari pengertian di atas, maka pengawasan dilakukan dengan
maksud untuk memberikan bimbingan dan arahan pada para karyawan yang
melakukan kegiatan supaya kegiatan yang dilakukan tersebut sesuai dengan
rencana sehingga tujuan dapat dicapai.
Menurut Hamdan Mansoer (1989:153) bahwa “pengawasan dapat
dirumuskan sebagai proses pemantauan kegiatan untuk menjaga bahwa
kegiatan tersebut memang dilaksanakan terarah dan menuju kepada
pencapaian tujuan yang direncanakan dan mengadakan koreksi terhadap
kegiatan-kegiatan yang menyimpang atau kurang tepat sasaran yang
dituju”.
Dari pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa pengawasan sebagai
proses untuk menjaga agar semua pekerjaan dapat dilakukan secara terarah
untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan serta untuk mengadakan
perbaikan terhadap kegiatan yang tidak sesuai atau kurang sesuai dengan
rencana yang ditetapkan.
Dari definisi-definisi tersebut di atas dapat peneliti simpulkan bahwa
pengawasan
adalah
keseluruhan
dari
kegiatan-kegiatan
untuk
9
mengusahakan agar semua pelaksanaan pekerjaan dapat berlangsung serta
berhasil sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
b. Tujuan Pengawasan
Proses usaha kerja sama sekelompok orang sangat memerlukan
adanya pengawasan yang baik supaya dapat diketahui apakah tujuan yang
dicapai sesuai dengan yang direncanakan dan apakah pelaksanaan pekerjaan
itu sesuai dengan rencana. Seseorang melaksanakan tugas harus mengerti arti
dan tujuan dari tugas yang dilaksanakan tersebut. Dengan demikian pemimpin
yang melakukan tugas pengawasan harus sungguh-sungguh mengerti arti dan
tujuan dari tugas pengawasan. Menurut Soewarno Handayaningrat (1997:143)
“tujuan dari pengawasan yaitu agar hasil pelaksanaan diperoleh secara berdaya
guna (efisien) dan berhasil guna (efektif), sesuai dengan rencana yang telah
ditentukan sebelumnya”. Simon Devung (1988:117) berpendapat tentang
tujuan pengawasan, yaitu:
1. Untuk menjamin agar hasil yang dicapai sedapat mungkin mendekati
tujuan yang telah ditentukan untuk segala kegiatan yang dijalankan.
2. Untuk bisa mendapatkan informasi sedini mungkin untuk
mengadakan penyesuaian mengenai tujuan yang ingin dicapai
tersebut lebih realistis dan secara operasional bisa dijangkau.
Menurut Manullang (2002:173) “tujuan utama dari pengawasan
adalah mengusahakan agar apa yang direncanakan menjadi kenyataan”.
Sedangkan Djati Julistriarsa dan John Suprihanto (1998:102) mengatakan
bahwa “tujuan dari pengawasan adalah untuk membuat segenap kegiatan
manajemen menjadi dinamis serta hasil secara efektif dan efisien”.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pengawasan
adalah untuk mengusahakan agar pelaksanaan pekerjaan dalam rangka
pencapaian tujuan perusahaan dapat sesuai dengan rencana. Selain itu untuk
mencegah terjadinya penyimpangan dan memberdayakan ketaatan karyawan
secara sadar.
10
c. Fungsi Pengawasan
Melihat dari tujuan dan fungsi pengawasan di atas, maka pengawasan
ini mempunyai berbagai fungsi pokok diantaranya sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
Mencegah terjadinya berbagai penyimpangan atau kesalahankesalahan, artinya bahwa pengawasan yang baik adalah suatu
pengawasan yang dapat mencegah kemungkinan terjadinya berbagai
bentuk penyimpangan, kesalahan ataupun penyelewengan.
Untuk memperbaiki berbagai penyimpangan atau kesalahan yang
terjadi, artinya dengan adanya pengawasan haruslah dapat diusahakan
cara-cara tindakan perbaikan terhadap penyimpangan atau kesalahan
yang terjadi, agar tidak berlarut-larut yang dapat mengakibatkan
kerugian perusahaan.
Untuk mendinamisir perusahaan serta segenap kegiatan manajemen
lainnya, yakni dengan adanya pengawasan diharapkan sedini mungkin
dapat dicegah terjadinya penyimpangan. Sehingga setiap bagian yang
ada dalam perusahaan selalu dalam keadaan yang ‘siap’ dan selalu
berusaha jangan sampai terjadi kesalahan pada bagiannya atau dengan
kata lain bahwa setiap bagian yang ada selalu dalam kondisi yang
dinamis namun juga terarah dengan sistem manajemen yang mantap
pula, sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
Untuk mempertebal rasa tanggung jawab, dengan memperhatikan no.
1-no. 3 di atas, adanya pengawasan yang rutin mengakibatkan setiap
bagian berikut karyawannya akan selalu bertanggung jawab terhadap
semua tugas yang dilaksanakan. Sehingga tidak akan muncul tindakan
saling menyalahkan dalam pelaksanaan tugas. Untuk meningkatkan
rasa tanggung jawab, dapat pula ditempuh suatu cara yakni apabila
memang tidak dapat dihindarkan adanya penyimpangan, maka kepada
setiap pihak diwajibkan untuk membuat suatu laporan secara tertulis
mengenai penyimpangan tersebut (Djati Julistriarsa dan John
Suprihanto (1998:102-103)).
Sedangkan menurut Soewarno Handayaningrat (1997:144) fungsi dari
pengawasan diantaranya yaitu:
1.
2.
3.
4.
Mempertebal rasa tanggung jawab terhadap pejabat yang diserahi
tugas dan wewenang dalam pelaksanaan pekerjaan.
Mendidik para pejabat agar mereka melaksanakan pekerjaannya sesuai
dengan prosedur yang telah ditentukan.
Untuk mencegah terjadinya penyimpangan, kelalaian dan kelemahan,
agar tidak terjadi kerugian yang tidak diinginkan.
Untuk memperbaiki kesalahan dan penyelewengan, agar pelaksanan
pekerjaan tidak mengalami pemborosan-pemborosan.
11
Menurut Sukanto Reksohadiprodjo (1999:64) fungsi pengawasan
adalah :
1. Perubahan yang selalu terjadi baik di luar maupun di dalam organisasi.
2. Kekomplekan organisasi
3. Kesalahan-kesalahan atau penyimpangan yang dilakukan oleh
anggota organisasi.
Dari pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa pengawasan perlu
untuk dilakukan karena dengan pengawasan akan membantu atau perusahaan
dalam menghadapi berbagai perubahan yang terjadi baik di luar maupun di
dalam perusahaan sendiri. Jika berbagi perubahan tersebut tidak disertai
dengan pengawasan perusahaan akan tertinggal dan tujuan tidak dapat atau
kurang dapat dicapai secara maksimal. Pengawasan semakin diperlukan
karena perusahaan yang semakin berkembang sehingga kegiatan yang
berlangsungpun semakin banyak. Pengawasan juga diperlukan karena
dalam pelaksanaan kegiatan terkadang terjadi kesalahan sehingga dengan
pengawasan dimaksudkan untuk mengetahui kesalahan yang terjadi dalam
pelaksanaan kegiatan yang kemudian akan dilakukan tindakan perbaikan.
Sedangkan menurut Mahduh M. Hanafi (1997: 450) fungsi
pengendalian meliputi:
1. Perubahan
2. Kompleksitas
3. Kesalahan
Untuk lebih jelasnya berikut ini akan peneliti terangkan lebih lanjut:
1. Perubahan
Persaingan, produk baru, munculnya peraturan baru, bahan baku yang
baru, semuanya membuat pengendalian diperlukan untuk mengatasi
sekaligus memanfaatkan perubahan-perubahan yang terjadi. Perusahaan
yang tidak mengantisipasi perubahan akan mengalami kesulitan.
2. Kompleksitas
12
Perusahaan atau organisasi akan berkembang menjadi semakin komplek,
organisasi besar akan mempunyai tingkatan-tingkatan manajemen yang
lebih banyak lagi. Untuk mengimbangi kompleksitas tersebut hal yang
dilakukan adalah pendelegasian wewenang.
3. Kesalahan
Apabila tidak ada kesalahan dalam organisasi barangkali pengendalian
tidak diperlukan. Tetapi kesalahan sering terjadi dan untuk mengetahui
kesalahan-kesalahan tersebut pengendalian diperlukan agar kesalahan
dapat diketahui seawal mungkin dan kualitas produksi menjadi semakin
baik.
Dari pendapat di atas dapat peneliti simpulkan bahwa pengendalian
sangat penting dilakukan oleh suatu organisasi/perusahaan untuk :
a. Mengatasi berbagai perubahan-perubahan yang terjadi baik di dalam
maupun di luar perusahaan;
b. Mengimbangi perkembangan permasalahan perusahaan yang semakin
kompleks dengan cara pendelegasian wewenang;
c. Selain itu suatu organisasi/perusahaan tidak akan luput dari kesalahan,
untuk
mengetahui
kesalahan-kesalahan
tersebut
diperlukan
suatu
pengendalian agar kualitas produksi maksimal.
d. Prinsip-prinsip Pengawasan
Pengawasan
terdiri
dari
beberapa
kegiatan
agar
segala
penyelenggaraan kegiatan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab dapat
berlangsung dan berhasil sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Agar
pengawasan dapat dilaksanakan dengan baik oleh atasan maka diperlukan
pengetahuan tentang pengawasan.
Menurut Sondang P. Siagian (2002:175) agar pengawasan
berlangsung dengan efektif maka pengawasan harus mempunyai prinsipprinsip sebagai berikut:
1. Pengawasan harus merefleksikan sifat dari berbagai kegiatan yang
diselenggarakan.
2. Pengawasan harus segera memberikan petunjuk tentang
13
kemungkinan adanya deviasi dari rencana.
3. Pengawasan harus menunjukkan pengecualian pada titik-titik
strategik tertentu.
4. Obyektivitas dalam melakukan pengawasan.
5. Keluwesan pengawasan
6. Pengawasan harus memperhitungkan pola dasar organisasi.
7. Efisiensi pelaksanaan pengawasan.
8. Pemahaman sistem pengawasan oleh semua pihak yang terlibat.
9. Pengawasan mencari apa yang tidak beres.
10. Pengawasan harus bersifat membimbing.
Menurut Soewarno Handayaningrat (1985:149) prinsip-prinsip dalm
pengawasan adalah :
1. Pengawasan berorientasi kepada tujuan organisasi
2. Pengawasan harus obyektif, jujur dan mendahulukan kepentingan
umum daripada kepentingan pribadi
3. Pengawasan harus berorientasi terhadap kebenaran-kebenaran
yang berlaku, berorientasi terhadap tujuan atau manfaat dalam
pelaksanaan pekerjaan
4. Pengawasan harus menjamin daya dan hasil guna pekerjaan
5. Pengawasan harus berdasarkan atas standar yang objektif, teliti
dan tepat
6. Pengawasan harus bersifat terus menerus
7. Hasil pengawasan harus dapat memberikan umpan balik terhadap
perbaikan dan penyempurnaan dalam pelaksanaan waktu yang
akan datang.
Sedangkan Manullang (2002: 173) mengemukakan “bahwa untuk
mendapatkan suatu sistem pengawasan yang efektif, maka suatu
sistem pengawasan harus mempunyai dua prinsip pokok yaitu
adanya rencana tertentu dan adanya pemberian instruksi-instruksi
serta wewenang-wewenang kepada bawahan”.
Kedua prinsip pokok tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut,
prinsip pokok pertama merupakan suatu keharusan, karena rencana
merupakan
standar
atau
alat
pengukur
daripada
pekerjaan
yang
dilaksanakan oleh bawahan. Rencana tersebut menjadi petunjuk apakah
suatu pelaksanaan pekerjaan berhasil atau tidak. Demikian juga prinsip
pokok kedua juga merupakan suatu keharusan, karena wewenang dan
instruksi-instruksi yang jelas harus dapat diberikan kepada bawahan
sehingga dapat diketahui apakah bawahan sudah melaksanakan tugas-
14
tugasnya dengan baik. Atas dasar instruksi-instruksi yang diberikan
kepada bawahan dapat diawasi pekerjaan seorang bawahan.
Masih menurut Manullang (2002:173) selain kedua prinsip pokok
di atas, maka suatu sistem pengawasan harus pula mempunyai prinsipprinsip berikut:
1. Dapat dimengerti
2. Dapat mereflektir sifat-sifat dan kebutuhan-kebutuhan dari
kegiatan-kegiatan yang harus diawasi
3. Dapat dengan segera melaporkan penyimpangan-penyimpangan
4. Fleksibel
5. Dapat mereflektir pola organisasi
6. Ekonomis
7. Dapat menjamin diadakannya tindakan korektif
Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa prinsipprinsip pengawasan meliputi: 1) seorang pengawas harus memahami dan
menguasai sistem pengawasan yang dianut perusahaan; 2) dapat mereflektir
sifat-sifat dan kebutuhan-kebutuhan dari kegiatan yang harus diawasi dimana
setiap kebutuhan membutuhkan sistem pengawasan yang berbeda maka sistem
pengawasan harus dapat merefleksikan sifat dan kebutuhan dari kegiatan yang
diawasi; 3) dapat segera melaporkan penyimpangan-penyimpangan dari
rencana yang telah ditentukan; 4) fleksibel, sistem pengawasan dapat
digunakan meskipun terjadi perubahan-perubahan terhadap rencana yang
terjadi di luar dugaan; 5) dengan adanya pengawasan, penyimpangan yang
terjadi dapat ditunjukkan pada pola organisasi yang bersangkutan; 6) sistem
pengawasan harus bisa dibuat seekonomis mungkin; 7) dapat menjamin
adanya tindakan korektif, dimana sistem pengawasan dapat dikatakan efektif
bila dapat segera mengoreksi kegiatan yang salah.
e. Proses Pengawasan
Agar pengawasan dapat berjalan dengan baik dan efisien, maka tidak
boleh lepas dari urut-urutan atau proses pengawasan itu sendiri.
Menurut Fremant E. Kast dan James E. Rosenzweig (2002: 736)
proses pengawasan meliputi:
1. Menentukan tujuan dan program-program yang direncanakan
15
2.
3.
4.
5.
Sumber daya dialokasikan
Melaksanakan pekerjaan
Membandingkan pekerjaan dengan rencana
Perbaikan terhadap hasil yang tidak sesuai dengan rencana
Menurut Hamdan Mansoer (1989: 154) bahwa proses pengawasan
terdiri atas 3 tahap, yaitu:
1. Mengukur pelaksanaan tugas sesungguhnya
2. Membandingkan pelaksanaan tugas riil dengan standar
3. Mengambil tindakan manajerial untuk mengadakan koreksi terhadap
penyimpangan atau yang tidak sesuai dengan standar.
Berikut ini akan peneliti jelaskan lebih lanjut mengenai proses
pengendalian di atas:
1. Pengukuran
Sumber-sumber informasi yang biasa sering digunakan oleh manager
dalam mengukur pelaksanaan tugas adalah observasi pribadi, laporan
statistik, laporan lisan dan laporan tertulis.
2. Perbandingan
Pada saat membandingkan manager memusatkan perhatian kepada
besaran hasil kerja, arah dan ragam kerja yang dibandingkan.
3. Tindakan Koreksi
Tindakan koreksi bisa berupa mengubah strategi, struktur, sistem
imbalan, program latihan, penugasan kerja, penggantian pegawai, ada
kalanya manager harus melakukan tindakan koreksi ditempat yaitu
langsung meluruskan pekerjaan yang telah menyimpang.
Menurut Kusdiyanto dan Edi Priyono (2002: 88) bahwa tahap-tahap
proses pengawasan adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
Penetapan standar pelaksanaan (perencanaan)
Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan
Penentuan pelaksanaan kegiatan
Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan
penganalisaan penyimpangan.
5. Pengambilan tindakan korektif bila diperlukan
standar
dan
16
Dari pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa proses pengawasan
meliputi tahap-tahap sebagai berikut: menentukan standar atau membuat
perencanaan, menentukan pengukuran hasil pekerjaan, melaksanakan
pekerjaan, membandingkan hasil dengan standar dan selanjutnya melakukan
tindakan perbaikan apabila memang diperlukan.
Menurut Mahduh M. Hanafi (1997: 448) proses pengawasan
meliputi:
1. Menetapkan standar dan metode pengukuran prestasi
2. Melakukan pengukuran prestasi
3. Membandingkan apakah prestasi yang dicapai sesuai dengan
standarnya.
4. Melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.
Dari beberapa pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa
proses pengawasan meliputi:
1. Menetapkan ukuran atau standar
Merupakan fase pertama, dimana seorang pemimpin harus menentukan
atau menetapkan standar atau alat-alat pengukur. Berdasarkan standar
tersebut kemudian diadakan penilaian.
2. Menilai atau mengadakan penilaian
Merupakan fase kedua yaitu evaluasi yakni membandingkan pekerjaan yang
telah dikerjakan (actual result) dengan standar tadi. Jika terdapat
ketidaksamaaan, artinya actual result tidak sama dengan standar, maka
mulailah fase ketiga yakni corrective action.
3. Mengadakan tindakan-tindakan perbaikan
Merupakan fase ketiga, di mana pada fase ini akan dilakukan tindakantindakan perbaikan dengan maksud agar tujuan pengawasan itu dapat dicapai.
f. Jenis-jenis Pengawasan
Salah satu penyebab kegagalan pencapaian tujuan organisasi adalah
diakibatkan karena tidak tepatnya atau kurang tepatnya jenis pengawasan yang
diterapkan dalam suatu organisasi atau perusahaan, maka sangat diperlukan tipe
pengawasan yang tepat sesuai dengan kebutuhan sehingga akan dapat mencapai
tujuan dengan baik.
17
Menurut Agus Sabardi (2001:215-218) bahwa “ada empat dasar
pengelolaan jenis pengawasan (controlling) yaitu waktu pengawasan, obyek
pengawasan, subyek pengawasan dan cara pengawasan”.
Menurut
Manullang
(1992:172)
ada
empat
macam
dasar
penggolongan jenis pengawasan, yakni:
1. Waktu pengawasan
Waktu pengawasan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a. Pengawasan preventif, merupakan jenis pengawasan yang
dilakukan sewaktu kegiatan belum dimulai. Hal ini dilakukan
dengan tujuan untuk mencegah terjadinya penyimpangan atau
kesalahan dalam pelaksanaan kegiatan.
b. Pengawasan represif, merupakan jenis pengawasan yang
dilakukan sewaktu kegiatan sudah berjalan tetapi belum selesai.
Hal ini dalakukan untuk mengurangi penyimpangan atau
kesalahan-kesalahan selama suatu kegiatan sedang berlangsung,
sehingga kegiatan tersebut dapat selesai dengan baik.
c. Pengawasan kuratif, merupakan pengawasan yang dilakukan
setelah suatu kegiatan selesai.
2. Obyek pengawasan
Dilihat dari obyek yang diawasi, pengawasan dapat dibedakan
menjadi empat, yaitu pengawasan produksi, keuangan, waktu dan
manusia beserta kegiatannya.
3. Subyek pengawasan
Dilihat dari subyeknya pengawasan dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu pengawasan intern dan pengawasan ekstern. Pengawasan intern
adalah pengawasan yang dilakukan oleh pihak organisasi dan
pengawasan ekstern adalah pengawasan yang dilakukan oleh pihak
luar. Pengawasan intern dilaksanakan dalam rangka pencapaian
tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Sedangkan pengawasan
ekstern dilaksanakan agar tidak melanggar norna-norma yang berlaku
dalam masyarakat.
4. Cara mengumpulkan fakta-fakta guna pengawasan
Pengawasan kegiatan organisasi dapat dilakukan dengan berbagai
cara, terutama cara untuk mengumpulkan fakta untuk pengawasan,
yaitu:
a. Mengadakan inspeksi
b. Wawancara/laporan tertulis
c. Laporan tertulis
d. Pengawasan dilakukan jika ada penyimpangan yang mencolok.
Menurut Hamdan Mansoer (1989: 158) bahwa ada 3 bentuk
pengawasan. yaitu :
1. Pengawasan pra-kerja
18
2. Pengawasan semasa kerja
3. Pengawasan pasca-kerja
Untuk lebih jelasnya berikut ini akan peneliti jelaskan sebagai
berikut:
1. Pengawasan pra-kerja
Pengawasan ini bersifat mempersiapkan antisipasi permasalahan yang
akan datang. Sifatnya mengarahkan keadaan yang akan terjadi dimasa
yang akan datang, sebagai peringatan untuk tidak dilanggar. Pengawasan
bentuk ini memberikan patokan kerja dan tidak memandori kerja.
2. Pengawasan semasa kerja
Pengawasan
yang
dilakukan
pada
saat
tugas-tugas
dilakukan,
memungkinkan manajer melakukan perbaikan di tempat pada waktu
penyimpangan
diketahui.
Perbaikan
secara
langsung
sebelum
penyimpangan terlalu jauh terjadi yang mungkin akan sangat sulit
meluruskannya.
3. Pengawasan pasca-kerja
Yaitu pengawasan yang dilaksanakan sesudah suatu kegiatan atau
pekerjaan berlangsung dan malah sudah berselang waktu yang lama.
Kelemahannya adalah penyimpangan baru diketahui setelah pekerjaan
seluruhnya selesai, sehingga tidak mungkin diperbaiki lagi.
Dari uraian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa pengawasan dapat
dilakukan pada saat :
a. Sebelum bekerja yaitu mempersiapkan antisipasi permasalahan yang akan
datang dan juga memberikan patokan kerja,
b. Semasa bekerja, memungkinkan manager untuk melakukan perbaikan
langsung ditempat kerja,
c. Sesudah bekerja.
19
2. Tinjauan Tentang Produktivitas Kerja
Ketercapaian tujuan suatu organisasi dapat ditunjukkan dengan
naiknya, tingkat produktivitas kerja pegawai pada organisasi tersebut.
Dengan adanya produktivitas yang tinggi dari pegawai dalam suatu organisasi
merupakan syarat mutlak bagi suatu organisasi untuk dapat berkembang,
bersaing dan memenuhi tuntutan lingkungan yang kompleks.
Meskipun suatu organisasi telah didukung oleh modal yang besar.
peralatan dan sarana yang lengkap dan teknologi yang canggih, apabila
tidak
didukung
oleh
adanya
pegawai-pegawai
yang
mengatur,
menggunakan dan memelihara semua tidak akan ada artinya.
a. Pengertian Produktivitas Kerja
Dalam suatu organisasi keberadaan dari faktor sumber daya yang
mendukung merupakan hal yang menentukan keberhasilan dari organisasi
tersebut. Sumber daya tersebut adalah sumber daya manusia dan sumber daya
non manusia.
Sumber daya manusia yang berkualitas dan telah memiliki banyak
pengalaman kerja serta mempunyai semangat kerja yang tinggi sangat
mendukung tercapai produktivitas kerja yang tinggi dari para pegawainya.
Dengan adanya produktivitas yang tinggi dari setiap pegawai dalam suatu
organisasi merupakan syarat mutlak bagi organisasi tersebut untuk
berkembang, bersaing dan memenuhi tuntutan lingkungan yang kompleks.
Hadari Nawawi dan Martini Hadari (1994: 248) mengemukakan
bahwa “Produktivitas kerja adalah perbandingan terbaik antara hasil yang
diperoleh (output) dengan jumlah sumber kerja yang digunakan (input)”.
Produktivitas menurut Fremont E. Kast dan James E. Rosenzweig (2002:
926) adalah “suatu ukuran efisiensi/dari proses transformasi organisasi yang
mengolah masukan (inputs) menjadi 7 keluaran (outputs)".
Sedangkan Sondang P. Siagian
(1996: 154) mengemukakan
bahwa “Produktivitas kerja adalah kemampuan memperoleh manfaat yang
20
sebesar-besarnya dengan menggunakan sarana dan prasarana yang tersedia
sehingga mampu menghasilkan keluaran (output) yang optimal”.
Dari beberapa pendapat di atas dapat peneliti simpulkan bahwa
produktivitas kerja merupakan kemampuan untuk memperoleh manfaat yang
sebesar-besarnya dengan menggunakan sarana dan prasarana yang tersedia
sehingga mampu menghasilkan keluaran yang maksimal.
b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja
Telah dikemukakan di atas bahwa faktor produktivitas manusia
memiliki peran besar dalam menentukan suksesnya suatu usaha. Secara
konseptual, produktivitas manusia sering juga disebut sebagai sikap mental
yang selalu memiliki pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih
baik dari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. Oleh karena itu agar
produktifitas karyawan dapat ditingkatkan berbagai faktor harus dapat
dipenuhi.
Menurut John Suprihanto (1997:113) bahwa: “faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi tingkat produktivitas tenaga kerja antara lain:
pendidikan dan latihan keretampilan, gizi atau nutrisi dan kesehatan, bakat
atau bawaan, motivasi kemauan, kesempatan kerja, kesempatan manajemen
dan kebijaksanaan pemerintah.
Berdasarkan uraian di atas dapat penulis kemukakan bahwa untuk
memperoleh produktivitas kerja yang diharapkan, pimpinan perusahan atau
organisasi harus mengupayakan berbagai fasilitas dan sarana yang dapat
mendukung para karyawan dalam melaksanakan tugas-tugas pekerjaan.
Menurut Muchdarsyah Sinungan (2003:59), ”faktor-faktor yang
mempengaruhi produktivitas pada tingkat perusahaan antara lain: 1)
Tenaga kerja, 2) Manajemen dan organisasi, 3) Modal pokok, bahan
mentah”. Penjelasan dari masing-masing faktor tersebut antara lain:
1) Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor penting yang mempunyai
peranan besar dalam mendukung produktivitas suatu perusahaan. Oleh
21
karena itu faktor tenaga kerja harus mendapat perhatian penting dari
perusahaan.
2) Manajemen dan Organisasi
Produktivitas juga dipengaruhi oleh bagaimana manajemen melakukan
proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian
usaha-usaha para anggota organisasi guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
3) Modal pokok, bahan mentah
Peningkatan produktivitas juga tergantung dari modal pokok dan
pemilihan bahan-bahan maupun daya guna secara optimal.
Selanjutnya Bambang Kusriyanto (1993:2) mengemukakan faktorfaktor yang mempengaruhi produktivitas kerja adalah:
Tingkat pendidikan, keterampilan, disiplin, sikap dan etika
pekerjaan, motivasi, gizi dan kesehatan, tingkat penghasilan, jaminan
sosial, lingkungan dan iklim kerja, hubungan industrial, sarana
produksi, manajemen, kesempatan berprestasi, kebijakan pemerintah
dibidang produksi, investasi, perijinan, teknologi, moneter, fiskal,
harga, distribusi dan lain-lain.
Sedangkan menurut Payaman J. Simanjutak (1995:10) berpendapat
bahwa: produktivitas kerja karyawan sebagai suatu kesatuan sistem dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor dan digolongkan dalam tiga kelompok
yaitu:
1.
Menyangkut kualitas dan kemampuan fisik karyawan
2.
Sarana pendukung
3.
Supra sarana
Penjelasan lebih terperinci dibahas satu persatu berikut ini :
1) Menyangkut kualitas dan kemampuan fisik karyawan
Kualitas dan kemampuan karyawan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan,
latihan, motivasi kerja, mental dan kemampuan fisik karyawan.
Pendidikan memberikan pengetahuan bukan saja langsung dengan
pelaksanaan pekerjaan akan tetapi juga diri, dalam memanfaatkan semua
unsur sarana dan prasarana yang ada untuk kelancaran pelaksanaan tugas
22
pekerjaannya. Disamping itu motivasi kerja, etos kerja, sikap mental
harus dapat berperan sebagai motor penggerak untuk menggali potensi
diri, agar dapat mendayagunakan sumber daya manusianya secara lebih
terarah dan produktif.
2) Sarana pendukung
Sarana pendukung untuk meningkatkan produksi kerja karyawan dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu:
a.
Menyangkut lingkungan kerja fisik, termasuk teknologi dan cara
produksi, sarana dan peralatan yang digunakan serta untuk
keselamatan dan kesehatan kerja serta suasana dalam lingkungan
kerja itu sendiri.
b.
Menyangkut lingkungan kerja non fisik, yang berhubungan dengan
karyawan yang tercermin dalam tingkat interaksi sosial di
lingkungan kerja dan adanya berbagai macam pelayanan yang ada,
juga kesejahteraan penghasilan dan jaminan sosial.
3) Supra sarana
Dalam usaha peningkatan produktivitas, kemampuan perusahaan tidak
saja ditentukan dari pihak manajemen perusahaan, akan tetapi juga
ditentukan faktor dari luar perusahaan. Seperti faktor produksi yang
digunakan, prospek pemasaran, perpajakan dan perijinan usaha,
kesemuanya
itu
akan
berpengaruh
terhadap
usaha
peningkatan
produktivitas.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi produktivitas meliputi tingkat pendidikan,
latihan, motivasi kerja, mental dan kemampuan fisik karyawan, teknologi,
cara produksi, sarana dan peralatan yang digunakan, faktor produksi yang
digunakan, prospek pemasaran, perpajakan dan perijinan usaha, dll. Dimana
faktor-faktor yang telah disebutkan di atas akan berpengaruh pada usaha
peningkatan produktivitas.
c. Sumber-Sumber Produktivitas
23
Umumnya seseorang yang bekerja selalu berusaha meningkatkan
produktivitas kerjanya, namun demikian dalam mencapai hasil yang
memuaskan dalam bekerja sangat tergantung dari kemampuan dan kecakapan
dalam mendayagunakan potensi sumber daya yang ada dalam dirinya maupun
lingkungan sekitarnya.
Menurut Hadari Nawawi dan Hartini Hadari (1990:103-104) dalam
Administrasi Personel dan Produktivitas Kerja mengemukakan bahwa
“seseorang tenaga kerja agar produktif harus mampu mendayagunakan lima
sumber kerja yaitu”:
1.
2.
3.
4.
5.
Penggunaan pikiran
Penggunaan tenaga jasmani atau fisik
Penggunaan waktu
Penggunaan ruangan
Penggunaan material atau bahan dan uang
Untuk memperjelas pendapat di atas, maka dibawah ini diuraikan
secara terperinci sebagai berikut :
1. Penggunaan pikiran
Perusahaan
dalam
usahanya
menyelesaikan
pekerjaan
untuk
mendapatkan hasil yang maksimal, menghendaki para karyawannya
dapat bekerja dengan menggunakan cara-cara yang paling mudah, aman
dan selamat dalam arti dapat menggunakan pikirannya untuk bekerja
secara produktif, kreatif dan dapat menemukan cara kerja yang lebih
sederhana namun mampu meningkatkan produktivitas kerja.
2. Penggunaan tenaga jasmani atau fisik
Produktivitas
akan
meningkat
apabila
dalam
mengerjakan
atau
menyelesaikan pekerjaan dengan hasil yang maksimal serta mutu yang
baik, dapat menggunakan tenaga jasmani atau fisik secara maksimal
namun tidak berlebihan sehingga kesehatannya tidak terganggu dengan
demikian dapat melakukan tugas sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya.
3. Penggunaan waktu
24
Ketepatan
waktu
dalam
mengerjakan
suatu
pekerjaan
dapat
mempengaruhi peningkatan produktivitas, hal ini disebabkan waktu
adalah sesuatu yang berharga sehingga apabila produktivitas kerja tidak
dilaksanakan secara tepat waktu akan mengakibatkan kerugian yang
sangat besar bagi pihak perusahaan atau karyawan.
4. Penggunaan ruang
Penggunaan ruang kerja yang luas dan banyak kadang dapat
memperlambat proses pekerjaan karena panjangnya jarak yang harus
ditempuh dalam menyelesaikan suatu pekerjaan sehingga kurang efektif
dan efisien. Untuk itu maka perlu adanya pengaturan ruang yang tepat
untuk masing-masing bagian. Dengan jarak yang lebih pendek dapat
menghemat waktu yang digunakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan
sehingga karyawan dapat bekerja secara lebih produktif.
5. Penggunaan bahan atau material dan uang
Dalam usaha meningkatkan produktivitas kerja, karyawan harus dapat
mendayagunakan material atau bahan yang ada. Dalam hal ini karyawan
harus dapat mempergunakan material atau bahan yang ada dengan
kemampuan menggunakan secara efektif dan efisien serta dengan mutu
yang tinggi baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa produktivitas dapat
diperoleh dari:
(1) penggunaan pikiran yaitu menggunakan cara-cara yang mudah, aman dan
selamat;
(2) penggunaan tenaga jasmani/fisik, yaitu menggunakan tenaga jasmani/fisik
secara maksimal namun tidak berlebihan, sehingga tetap menjaga
kesehatan;
(3) penggunaan waktu, yaitu ketepatan waktu dalam mengerjakan sesuatu
akan mempengaruhi peningkatan produktivitas kerja;
(4) penggunaan ruang, yaitu pengaturan ruang secara tepat untuk menghemat
waktu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan;
25
(5) penggunaan bahan/material dan uang, yaitu kemampuan secara efektif
dan efisien serta dengan mutu yang tinggi baik dari segi kualitas maupun
kuantitas.
d. Upaya-upaya Untuk Meningkatkan Produktivitas
Pada dasarnya setiap organisasi maupun perusahaan selalu berupaya
untuk
meningkatkan
produktivitasnya.
Untuk
dapat
meningkatkan
produktivitas kerja pegawainya organisasi harus dapat menciptakan suatu
kondisi yang dapat mendukung pegawai untuk bekerja dengan tenang dan
nyaman, tanpa ada gangguan yang dapat menghambat terselesaikannya tugastugas yang harus dikerjakan.
Produktivitas suatu organisasi perlu ditingkatkan dengan berbagai
cara. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Bambang Tri Cahyono (1996: 285286) yang mengemukakan bahwa:
Peningkatan produktivitas tenaga kerja perlu diupayakan karena
mempunyai banyak manfaat, baik secara makro maupun mikro. Secara
makro peningkatan produktivitas bermanfaat dalam pendapatan
masyarakat yang lebih tinggi, tersedianya barang kebutuhan masyarakat
yang lebih banyak dengan harga lebih rendah, perbaikan kondisi kerja
termasuk jam kerja dan lain-lain.
Sedangakn menurut James A. F. Stoner (1992:262) peningkatan
produktivitas suatu organisasi dapat ditempuh dengan cara:
1. Pengadaan system pendukung keputusan menejemen.
2. Pembangunan gudang sentral dengan penyimpangan dan
pengambilan secara otomatis.
3. Pengaturan aliran kerja guna mengurangi jumlah pekerja pada masa
sibuk.
4. Pengadaan fasilitas komputer di lokasi kerja.
5. Latihan.
6. Program insentif yang didasarkan pada produktivitas jangka panjang.
Bambang Tri Cahyono (1996: 286-28?) mengemukakan unsur-unsur
program peningkatan produktivitas yang penting adalah:
1. Insentif (perangsang)
Yang paling penting program peningkatan produktivitas yang
berhasil itu ditandai dengan adanya andil yang luas dari keuangan dan
tunjangan-tunjangan lain, di seluruh organisasi. Setiap pembayaran
26
kepada perorangan harus ditentukan oleh andilnya bagi
produktivitas, sedangkan kenaikan pembayaran harus diberikan
terutama berdasarkan hasil produktivitasnya.
2. Kepuasan kerja
Karena persoalan peningkatan kepuasan kerja merupakan hal yang
kompleks, maka diperlukan penyusunan kembali yang
menyangkut penggandaan kerja, perluasan tugas kerja.
Agar produktivitas pegawai dapat meningkat dalam perekrutan
pegawai pun harus selalu diutamakan pegawai-pegawai yang berkualitas dan
produktif karena dengan perekrutan pegawai-pegawai yang berkualitas dapat
mempermudah suatu organisasi dalam mencapai tujuannya termasuk dalam
upaya peningkatan produktivitas kerja.
Dimana
upaya
yang
dapat
dilakukan
untuk
meningkatkan
produktivitas kerja karyawan diantaranya adalah pemberian perangsang dan
kepuasan kerja bagi karyawan baik kepuasan yang bersifat ekonomis,
sosiologis maupun psikologis.
B. Kerangka Berfikir
Setiap organisasi atau badan usaha, pada dasarnya menginginkan
tercapainya produktivitas yang semakin meningkat di dalam bidang kerjanya.
Salah satu diantaranya produktivitas kerja karyawan, karena tenaga kerja
merupakan sumber daya yang paling penting maka tinggal bagaimana
organisasi itu mengusahakan agar tenaga kerja itu dapat menjadi sumber daya
yang paling aktif, kreatif dan inovatif. Untuk mencapai tujuan tersebut
organisasi memerlukan tenaga kerja yang terdidik, terampil dalam
menjalankan tugas. Baiknya pengawasan akan membantu dalam mengatasi
kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam hubungannya dengan produktivitas
kerja karyawan. Pengawasan yang tidak bersifat mengancam dan obyektif
akan menimbulkan rasa tidak terganggu dalam bekerja, yang kemudian diikuti
oleh rasa aman, tenteram, senang, kerasan, sehingga karyawan dapat bekerja
dengan sungguh-sungguh, loyal dan produktif.
27
Pimpinan
Pengawasan
Perusahaan
Karyawan
Produktivitas
Tujuan
Perusahaan
Tercapai
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
BAB III
METODOLOGI
Dalam penelitian untuk mendapatkan kebenaran diperlukan tata cara atau
prosedur tertentu. Dimana pemilihan aspek metodologi penelitian yang akan
digunakan dilaksanakan pada waktu penelitian berlangsung. Ketepatan dalam
menentukan aspek metodologi disesuaikan dengan jenis data yang akan
mengantar penelitian ke arah tujuan yang diinginkan.
Sutrisno Hadi (1987:4) mengatakan bahwa “metodologi berasal dari
dua istilah yaitu metodos berarti cara dan logos berarti ilmu. Jadi metodologi
adalah ilmu yang memperbincangkan cara-cara atau metode ilmiah”.
Kartini Kartono (1996:20) mengatakan bahwa “penelitian adalah
merupakan usaha untuk menemukan, mengembangkan dan melakukan
verivikasi terhadap kebenaran suatu peristiwa atau pengetahuan dengan memakai
metode-metode ilmiah”.
Menurut Aslam Sumhudi (1991:37) bahwa “metodologi penelitian adalah
tata cara atau prosedur untuk menjalankan seluruh kegiatan penelitian,
dengan kata lain metodologi merupakan suatu pengetahuan tentang tata
kerja dan tata cara yang mencakup instrumen-instrumen yang berisi
mekanisme tertentu untuk dipakai dalam pencapaian suatu tujuan”.
Sedangkan menurut Hadari Nawawi dan Mimi Martini (1996:9) bahwa
“metodologi
penelitian
dapat
diartikan
juga
sebagai
ilmu
untuk
mengungkapkan dan menerangkan gejala-gejala alam dan gejala-gejala sosial
dalam kehidupan manusia, dengan mempergunakan prosedur kerja yang
sistematis, teratur, tertib dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah”.
Dari pendapat-pendapat tersebut diatas dapat penulis simpulkan
bahwa “metodologi penelitian adalah ilmu yang membahas tentang cara yang
ditempuh dalam kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah atau
persoalan
dengan
memakai
pendekatan
ilmiah,
antara
lain
meliputi
pengumpulan data, pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara
sistematis dan obyektif”.
28
29
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Dalam penelitian memerlukan tempat untuk memperoleh data yang
mendukung tercapainya tujuan penelitian. Adapun yang menjadi tempat penelitian
ini adalah PT. Djitoe Indonesia Tobacco Surakarta dengan alasan sebagai berikut :
a. Adanya data yang tersedia di lokasi tersebut sehingga memudahkan peneliti
untuk melakukan penelitian.
b. Belum adanya penelitian tentang peranan pengawasan dalam meningkatkan
produktivitas kerja karyawan di PT. Djitoe Indonesia Tobacco Surakarta.
c. Jangkauan lokasi penelitian mudah dan dekat dengan peneliti sehingga
memperlancar jalannya penelitian.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu 9 bulan mulai bulan Agustus
2006 sampai April 2007. Penelitian ini dilakukan setelah usulan penelitian
disetujui serta setelah adanya ijin dari pihak-pihak yang berwenang.
B. Bentuk dan Strategi Penelitian
1. Bentuk Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian kualitatif, yaitu
untuk mencari kebenaran secara alamiah dan memandang obyek secara
keseluruhan, interpretasi berdasarkan atas fenomena alamiah dan akan digunakan
sebagai dasar untuk mengamati, mengumpulkan informasi dan menyajikan
analisis hasil penelitian. Selain itu juga mendukung cara penetapan jumlah sampel
atau cuplikan serta pemilihan instrumen penelitian yang dipergunakan untuk
mengumpulkan informasi. Atas dasar telaah teori yang telah disusun dan melihat
permasalahan yang ada dalam penelitian ini peneliti memilih bentuk penelitian
kualitatif.
Menurut Hadari Nawawi dan Mimi Martini (1996:176) bahwa “penelitian
kualitatif dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan atau proses menjaring data /
informasi yang bersifat sewajarnya, mengenai suatu masalah dalam kondisi aspek
/ bidang kehidupan tertentu pada obyeknya”.
30
Bentuk penelitian ini mengikuti paradigma penelitian deskriptif kualitatif
yang dilakukan terhadap “variabel mandiri” yaitu tanpa membuat perbandingan
atau menghubungkan dengan variabel yang lain. Di mana peneliti tidak
memberikan treatment atau perlakuan terhadap objek, sehingga objek dibiarkan
seperti kondisi aslinya secara apa adanya. Pada penelitian kualitatif peneliti
merupakan instrumen utama yang menentukan tinggi rendahnya kualitas hasil
penelitian.
Karakteristik penelitian kualitatif tersebut antara lain peneliti cenderung
mengarahkan kajiannya pada perilaku manusia sehari-hari dalam keadaan yang
rutin secara apa adanya. Mengarahkan kegiatannya secara dekat kepada masalah
kekinian, memusatkan pada deskripsi, Peneliti sebagai alat utama penelitian,
teknik penelitiannya cenderung bersifat purposive, lebih mementingkan proses
dari pada produk. Berdasarkan rangkaian teori tentang penelitian kualitatif
tersebut, maka Peneliti yang merupakan instrumen penelitian menekankan sifat
naturalisme dengan mengungkapkan secara nyata peristiwa-peristiwa atau
kegiatan pelaksanaan pengawasan dalam meningkatkan produktivitas kerja
karyawan. Dengan penelitian kualitatif Peneliti lebih mampu memahami
kenyataan yang ada di lapangan secara lebih mendetail.
2. Strategi Penelitian
Dalam mengkaji permasalahan diperlukan suatu strategi yang tepat guna
memperoleh data yang relevan dengan permasalahan. Strategi merupakan dasar
untuk mengamati, mengumpulkan informasi, dan untuk menyajikan analisis hasil
penelitian, sekaligus akan mendukung cara menetapkan jumlah sampel atau
cuplikan serta pemilihan instrumen penelitian yang akan digunakan untuk
mengumpulkan informasi.
Strategi penelitian pada dasarnya merupakan pola penelitian yang
dilaksanakan berdasarkan jenisnya. Dalam penelitian kualitatif ada 3 (tiga) macam
strategi pendekatan, yaitu deskriptif, eksplanatif dan eksploratif. Penelitian
deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan data
dengan kata-kata atau uraian dan penjelasan. Penelitian eksplanatif bertujuan
31
menjelaskan suatu pegangan atau patokan untuk pembuktian suatu pendapat,
sedangkan penelitian eksploratif bertujuan untuk menemukan hal-hal yang baru.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan strategi penelitian deskriptif
tunggal terpancang dimana peneliti hanya mengkaji satu masalah saja yaitu
tentang seberapa jauh pengawasan mampu menunjang peningkatan produktivitas
kerja karyawan di PT. Djitoe Indonesia Tobacco Surakarta. Jadi srtategi tunggal
terpancang yang digunakan dalam penelitian ini mengandung pengertian sebagai :
tunggal dalam arti hanya satu ruang lingkup lokasi penelitian yaitu PT. Djitoe
Indonesia Tobacco Surakarta, sedangkan terpancang pada tujuan penelitian,
maksudnya yaitu apa yang harus diteliti dibatasi pada aspek-aspek yang sudah
dipilih sebelum melaksanakan penelitian lapangan. Pada penelitian ini terpancang
pada tujuan untuk mengetahui bagaimana peranan pengawasan dalam
meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Penelitian deskriptif tunggal
terpancang bertujuan agar penelitian dilakukan secara lebih mendalam sehingga
hasilnya memiliki mutu yang tidak dapat disangkal.
C. Sumber Data
Menurut Sutopo (2002:33) bahwa “sumber data penelitian kualitatif dapat
berupa manusia, peristiwa dan tingkah laku, dokumen dan arsip serta benda-benda
lain”. Sedangkan menurut Lofland dan Lofland yang dikutib oleh Lexy J.
Moleong (2002:112) “sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah katakata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lainlain”. Peran sumber data sangat penting, karena berkaitan dengan bisa tidaknya
data penelitian diperoleh. Oleh karena itu, pada penelitian ini peneliti
menggunakan sumber data sebagai berikut:
1. Informan
Informan adalah orang yang dianggap mengetahui dengan baik dan
benar tentang masalah yang sedang diteliti. Dalam hal ini peneliti harus
memilih informan yang memiliki sikap obyektif serta mau dengan sukarela
memberikan informasi yang diperlukan peneliti. Sehingga informan
32
merupakan tumpuan pengumpulan data bagi peneliti dalam mengungkapkan
permasalahan penelitian.
Dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah:
a. Manager Personalia
b. Kepala bagian produksi
c. Karyawan Operasional bagian produksi
2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah PT. Djitoe Indonesia Tobacco Surakarta
dengan segala aktivitas-aktivitas yang dilihat maupun didengar di bagian
produksi yang dapat dijadikan bahan untuk diobservasi oleh peneliti
3. Arsip dan Dokumen
Dokumen yang dijadikan sumber data berupa buku dan arsip yang ada
PT. Djitoe Indonesia Tobacco Surakarta yang mempunyai hubungan dengan
permasalahan dan tujuan penelitian. Data-data tersebut antara lain: sejarah
berdiri dan perkembangan perusahaan, data jumlah karyawan, struktur
organisasi, dll.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara khusus yang dipergunakan untuk
memperoleh data dalam penelitian. Data sangat diperlukan guna membuktikan
kebenaran suatu peristiwa atau pengetahuan. Seperti pendapat Suharmi Arikunto
(2002:198) bahwa “... maka pengumpulan data merupakan pekerjaan yang penting
sekali”. Untuk itulah diperlukan data yang obyektif, valid dan memadai sehingga
untuk mencapai hal tersebut perlu diperhatikan mengenai cara atau teknik
mengumpulkan data yang dipergunakan sebagai teknik pengumpulan data.
1. Wawancara
Dalam penelitian kualitatif teknik wawancara merupakan salah satu
cara untuk mengumpulkan data. Pada dasarnya wawancara merupakan
teknik percakapan yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara dan
yang diwawancarai. Sebagaimana dikatakan oleh Lexy J. Moleong
(2001:135) mengatakan bahwa “wawancara adalah percakapan yang
33
dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan
dan yang diwawancarai memberikan jawaban atas pertanyaan itu”.
2. Pengamatan (Observasi)
Menurut Suharsimi Arikunto (2002:197) yang mengutip dari
Kerlinger bahwa “mengobservasi adalah suatu istilah umum yang
mempunyai arti semua bentuk penerimaan data yang dilakukan dengan
cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukurnya dan mencatatnya”.
Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti meliputi segala aktivitas di
obyek yang diteliti, baik aktivitas yang dilihat dan didengar. Dalam
melaksanakan observasi ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan
data yaitu pengamatan langsung ke PT. Djitoe Indonesia Tobacco
Surakarta.
3. Analisis Dokumen
Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mencatat arsip maupun dokumen yang isinya berhubungan dengan
masalah dan tujuan penelitian. Terutama untuk mengungkapkan data atau
fakta yang telah dilampaui. Jenis dokumen dapat berupa surat,
memorandum, agenda, pengumuman, proposal, kliping berita, artikel dan
media massa yang relevan.
E. Teknik Sampling
Dalam penelitian ini penentuan sampel ditentukan dengan cara purposive
sampling. Menurut Lexy J. Moleong (2001:165) bahwa “dengan teknik purposive
sampling ini terkandung maksud untuk menjaring sebanyak mungkin informasi
dari berbagai macam sumber dan bangunannya”.
Menurut Sutopo (2002:30) bahwa “dalam teknik purposive sampling
peneliti cenderung memilih informan yang diangap tahu dan dapat dipercaya
untuk menjadi sumber data yang mantap dan mengetahui masalahnya secara
mendalam”.
Peneliti juga menggunakan teknik snowball sampling yaitu peneliti
pertama-tama datang pada seseorang yang menurutnya sebagai Key Informan,
34
tapi setelah berbicara cukup informan tersebut menunjuk informan lainnya yang
diangap mengetahui lebih banyak mengenai masalah yang diteliti. Sehingga
dalam peneltian ini menggunakan teknik purposive snowball sampling, dengan
mengambil sampel sesuai dengan kebutuhan peneliti.
F. Validitas Data
Menurut Suharsimi Arikunto (2002:136) bahwa “ validitas adalah suatu
ukuran yang menunjukkan suatu tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu
instrumen”.
Menurut Sutopo (2002:80-82) menyebutkan bahwa ada empat macam
trianggulasi yaitu:
1. Trianggulasi data atau sumber, adalah penelitian dengan
menggunakan berbagai sumber data yang berbeda untuk
mengumpulkan data yang sejenis.
2. Trianggulasi penulis, yaitu cara mana hasil penelitian baik data
ataupun kesimpulan mengenai bagian tertentu atau keseluruhan diuji
validitasnya dari berbagai penulis.
3. Trianggulasi metodologi, yaitu penelitian yang dilakukan dengan
menggunakan data yang sejenis tetapi dengan menggunakan teknik
pengumpulan data yang berbeda.
4. Trianggulasi teori, yaitu melakukan penelitian tentang topik yang
sama dan datanya dianalisis dengan menggunakan perspektif lebih
dari satu teori.
Sedangkan
dalam
penelitian
ini
peneliti
menggunakan
teknik
pemeriksaan data yaitu trianggulasi data dan trianggulasi metodologi, trianggulasi
data
yaitu
menggunakan
berbagai
sumber
data
yang
berbeda
untuk
mengumpulkan data yang sejenis, dan trianggulasi metodologi yaitu dengan
membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang
diperoleh melalui situasi dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif dan
dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda. Menurut peneliti
hal tersebut dapat dicapai dengan jalan : (1) membandingkan data hasil
pengamatan dengan data hasil wawancara; (2) membandingkan apa yang
dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi; (3)
membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian
35
dengan apa yang dikatakannya; (4) membandingkan keadaan dan perspektif
seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa,
orang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan; (5)
membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
G. Analisis Data
Dalam penelitian ini yang digunakan adalah analisis interaktif dan
mengalir. Milles dan Huberman (1992:19) mengemukakan bahwa “analisis terdiri
dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian
data dan penarikan kesimpulan/verifikasi”. Jadi antara reduksi data, penyajian
data dan penarikan kesimpulan/verifikasi dilakukan sebelum, selama dan sesudah
pengumpulan data dalam bentuk yang sejajar untuk membangun suatu analisis
yang tangguh.
Skema analisis data interaktif sebagai berikut:
Pengumpulan
Data
Reduksi
Data
Penyajian
Data
Kesimpulan/
Verifikasi
Gambar 2. Analisis Data Interaktif Mengalir
36
Keterangan :
1.
Reduksi data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian
pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang
muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan.
2.
Penyajian data
Penyajian
data
merupakan
sekumpulan
informasi
tersusun
yang
memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan
tindakan. Penyajian data dapat berupa matriks, grafiks maupun teks naratif
yang
didesain
secara
sistematis
sehingga
memudahkan
dalam
pemahamannya.
3.
Penarikan kesimpulan
Dari data yang telah dikumpulkan sejak awal penelitian, dicari pola, tema,
keterangan-keterangan, penjelasan dan kesamaan-kesamaan yang muncul.
Tiga komponen analisis yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan (verifikasi), aktivitasnya dilakukan dengan bentuk interaktif dengan
proses mengalir (siklus). Analisis dilakukan bersamaan atau serentak dengan
proses pengumpulan data. Hal ini berarti bahwa analisis tidak dilakukan setelah
data yang dikumpulkan secara keseluruhan telah terkumpul. Bila kesimpulan
dirasa kurang mantap karena kekurangan data dalam mereduksi data dan
penyajian data, maka peneliti dapat menggalinya dalam field note. Bila ternyata
dalam field note juga tidak diperoleh data pendukung yang dimaksud, maka
peneliti wajib kembali melakukan pengumpulan data khusus bagi pendalaman
dukungan yang diperlukan.
H. Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan prosedur atau langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Tahap Pra Lapangan
Tahap pra lapangan ini dilakukan mulai dari pembuatan usulan penelitian
sampai dengan pencarian berkas perijinan lapangan.
37
2. Tahap Lapangan
Tahap lapangan ini dilakukan untuk menggali data yang relevan dengan
tujuan peneltian. Dalam tahap ini peneliti sudah mulai terjun ke lapangan
peneltian yakni mulai dari pengumpulan data, analisis data sampai dengan
penulisan laporan.
Untuk lebih memudahan peneliti dalam melangkah, berikut ini peneliti
sajikan bagan prosedur penelitian sebagai berikut:
Penarikan
kesimpulan
Proposal
Persiapan
pelaksanaan
Pengumpulan
data dan
Analisis awal
Analisis
Akhir
Gambar 3. Prosedur penelitian
Penulisan
laporan
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Perusahaan
1. Sejarah Berdirinya PT. Djitoe ITC Surakarta
Perusahaan rokok Djitoe didirikan pada tahun 1964 oleh Bapak H.
Soetantyo dengan bentuk badan hukum Perusahaan Perseorangan dengan nomor
ijin usaha: 8124/F/1964. Pada awal berdirinya perusahaan ini hanya memproduksi
rokok kretek tangan lintingan tradisional, yang dikerjakan oleh beberapa tenaga
kerja yang sebagian masih merupakan kerabat dari pemilik perusahaan tersebut.
Kata “Djitoe” yang digunakan sebagai nama perusahaan memiliki
beberapa makna. Djitoe, dalam bahasa Jawa berarti siji lan pitu. Dalam bahasa
Indonesia berarti satu tujuh atau tujuh belas yang merupakan tanggal
Kemerdekaan RI. Selain itu kata Djitoe juga dapat berarti tepat, yang maksudnya
tepat untuk dinikmati oleh konsumen golongan bawah dan menengah dengan
harga yang terjangkau.
Tujuan utama dari pendirian perusahaan antara lain :
1. Mendapatkan keuntungan yang layak sebagai sumber penghasilan.
2. Memberikan kepuasan pada konsumen melalui produk perusahaan.
3. Membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran dengan adanya
kesempatan lapangan kerja khususnya bagi penduduk di sekitar pabrik.
4. Menambah penerimaan bagi pemerintah daerah, melalui pita cukai dan pajak.
Pada tahun 1968 perusahaan rokok Djitoe mengalami kemunduran. Salah
satu penyebabnya adalah adanya persaingan dengan perusahaan sejenis,
khususnya yang berada di wilayah Solo. Selain itu alat-alat yang dipakai dalam
proses produksi dinilai kurang efisien sehingga perusahaan perlu menambah
sejumlah modal untuk menggantikan atau menambah alat-alat yang lebih baik dan
modern, agar perusahaan dapat mengembangkan usahanya.
38
39
Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 7/1968 yang berisi
tentang pemberian Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan syarat
perusahaan tersebut telah berbadan hukum dan berbentuk Perseroan Terbatas
(PT), maka muncul dorongan dan kesempatan bagi perusahaan rokok Djitoe untuk
mengangkat kembali usahanya dengan demikian Bapak Soetantyo sebagai pemilik
perusahaan mengubah perusahaannya dari Perusahaan Perseorangan menjadi
Perseroan Terbatas (PT) dengan disahkan melalui Akte Notaris H. Moeljanto
dengan nomor 4 tanggal 7 Mei 1969 dengan nama PT. DJITOE INDONESIAN
TOBACCO. Satu tahun kemudian Akte Notaris tersebut di atas mengalami
perbaikan lagi dengan Akte pendirian No. 7 tanggal 18 Februari 1970. Dengan
adanya perubahan di atas kemudian modal yang semula dari perseorangan diganti
menjadi modal yang terdiri dari saham-saham yang sebagian besar sahamnya
dipegang oleh pihak keluarga sendiri.
Dari tahun 1964 sampai sepuluh tahun kemudian perusahaan rokok PT.
DJITOE mengalami perkembangan, hai ini disebabkan karena masih jarangnya
perusahaan rokok di Surakarta, sehingga persaingan belum terlalu ketat. Pada
sekitar tahun 1976 sampai 1980 perusahaan mengalami penurunan tingkat volume
penjualan, ini disebabkan sudah adanya saingan dari perusahaan lainnya yang
telah membuka cabangnya di Surakarta. Permasalahan tersebut dapat diatasi
dengan adanya kegiatan promosi yang baik dari perusahaan, yang akhirnya dapat
membuahkan hasil dengan adanya peningkatan volume penjualan yang terjadi
antara tahun 1981 sampai dengan tahun 1985, dan sampai sekarang semakin
berkembang.
Perusahaan rokok PT. Djitoe Surakarta dapat mengelola usahanya tidak
hanya menginginkan laba yang maksimal, tetapi ada tujuan perusahaan yang
lainnya, yaitu ingin menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat disekitarnya
sesuai dengan kemampuan perusahaan agar bisa menambah penghasilan bagi
penduduk disekitar kota Surakarta yang menanam tembakau sebagai bahan baku
rokok tersebut.
40
2. Lokasi Perusahaan
Pemilihan lokasi perusahaan sangat penting, karena lokasi merupakan
salah satu unsur yang menentukan berhasil tidaknya suatu perusahaan dalam
menjalankan usahanya. Dalam hal ini perusahaan rokok PT. Djitoe berlokasi di
jalan LU Adisucipto No. 67 Surakarta.
Ditinjau dari lokasi perusahaan ini, maka dapat dikatakan bahwa tempat
kedudukan perusahaan cukup strategis dan cukup banyak menguntungkan
perusahaan, ini dapat dilihat dari beberapa faktor :
1.
Faktor Primer
Faktor primer ini meliputi :
a. Harga Tanah
Karena letak pabrik di pinggir kota, maka harga tanah pada waktu itu
masih murah dibandingkan dengan harga tanah di dalam kota. Dan
sangat memungkinkan untuk perluasan perusahaan, karena daerah
disekitar perusahaan masih banyak terdapat tanah kosong.
b. Prasarana Angkutan
Pengangkutan bahan baku dan bahan jadi dari perusahaan ke penyalurpenyalur sangat mudah, karena letak pabrik yang sangat strategis yaitu
berada di pinggir jalan raya yang dilalui jalur bis dan truk.
c. Sumber Bahan Baku
Dalam pembelian bahan baku, perusahaan membelinya dari penduduk
disekitar kota Surakarta yang merupakan penghasil tembakau ada juga
banyak penduduk setempat yang bersedia menyediakan tanahnya untuk
ditanami tembakau.
d. Tenaga Kerja
Kebanyakan tenaga kerja terutama bagian pelintingan, ketok dan
pembungkus berasal dari sekitar pabrik, sehingga tidak memerlukan
sarana antar jemput karyawan.
Dan memungkinkan dilakukan adanya penambahah atau penggantian
tenaga kerja, baik itu tenaga kerja operasional maupun administrasi
karena di daerah Surakarta terdapat fasilitas pendidikan yang memadai.
41
e. Pasar
Pada tahun 1960 sampai dengan tahun 1970 yang merupakan pasar bagi
produk PT. DJITOE hanya di daerah Solo dan sekitarnya. Kemudian
diperluas ke daerah Jawa Timur, bahkan hingga ke luar Jawa.
2.
Faktor Sekunder
Faktor sekunder ini meliputi :
a. Lingkungan Pabrik
Pabrik terletak di jalan LU Adisucipto No. 67 Surakarta yang merupakan
daerah industri, karena disekitarnya terdapat pabrik-pabrik lain seperti
Iskandar Tex, Pabrik Es Sumber Tirta dan lain-lain.
b. Fasilitas Air dan Listrik
Selain menggunakan air dari PAM, perusahaan juga menggunakan air
dari dalam tanah dengan menggunakan pompa listrik, yang cukup jernih
dan memenuhi syarat untuk dimanfaatkan untuk keperluan merendam
cengkeh.
c. Kebersihan Kota dan Udara
Letak pabrik dipinggir kota dan berada di kawasan industri, maka tidak
mengganggu kebersihan kota dari pencemaran udara.
3. Personalia
Perusahaan rokok PT. Djitoe menggolongkan para karyawannya
berdasarkan pekerjaan dan waktu bekerja, yang antara lain :
1. Berdasarkan Pekerjaan
a. Karyawan Harian
Karyawan menerima upah setiap hari Sabtu. Besarnya upah yang
diperoleh berdasarkan presensi karyawan, ini dimaksudkan untuk
mempermudah administrasi perusahaan. Karyawan ini terdiri dari tenaga
pengudal, perajang tembakau, tukang pembersih pabrik, dan tukang angkat
barang.
42
b. Karyawan Bulanan
Karyawan menerima upah tiap akhir bulan. Besarnya upah yang mereka
terima berdasarkan pada jabatan yang diduduki dan juga perjalanan kerja
yang dijalaninya. Karyawan ini terdiri dari staf direksi, kepala bagian,
bagian teknik dan bengkel, mandor, dan sopir.
c. Karyawan Borongan
Karyawan yang perhitungan upahnya berdasarkan pada jumlah produk
yang dihasilkan. Karyawan ini terdiri dari tenaga pelinting dan
pembungkus.
2. Berdasarkan Waktu Kerja
Jam kerja karyawan PT. Djitoe sebagai berikut :
a. Pukul 07.00 – 11.30 adalah waktu kerja
b. Pukul 11.30 – 12.30 adalah waktu istirahat
c. Pukul 12.30 – 16.30 adalah waktu kerja
d. Pukul 16.30 – selesai adalah waktu lembur
3. Jaminan Kesehatan
Bagi karyawan yang menderita sakit dapat ditangani oleh dokter poliklinik
perusahaan, bagi yang memerlukan rawat inap perusahaan bekerjasama
dengan rumah sakit umum pusat pemerintah Surakarta dan rumah sakit swasta
yaitu Panti Waluyo Surakarta.
4. Jumlah karyawan
Tabel I
Data jumlah karyawan PT. Djitoe ITC Tahun 2007
Klasifikasi
Pekerjaan
Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan
Jumlah
Staf
25
21
46
Harian
190
61
251
Borongan
-
232
232
Jumlah
215
314
529
43
4. Struktur Organisasi Perusahaan
Agar perusahaan dapat menjalankan fungsinya serta aktivitas bisa berjalan
lancar maka diperlukan susunan organisasi yang jelas, sehingga tidak akan terjadi
kekeliruan dalam melaksanakan pekerjaan maupun pemberian tugas dan perintah
yang tidak sesuai dengan prosedur dan fungsi tugasnya. Organisasi mempunyai
pengertian sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan yang
sama. Struktur organisasi yang digunakan PT. Djitoe adalah bentuk garis dan staf.
Hal ini dimaksudkan agar ada suatu kesatuan dalam pimpinan serta pembagian
tugas dan tanggung jawab yang jelas. Adapun struktur organisasi PT. Djitoe
terlampir.
Sedangkan pembagian tugas dan tanggung jawab setiap bagian di dalam
organisasi perusahaan secara garis besar adalah sebagai berikut :
1.
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
Rapat umum pemegang saham adalah suatu badan yang memiliki kekuasaan
tertinggi dalam perusahaan, dimana para anggotanya adalah pemegang
saham yang berhak menentukan arah jalannya perusahaan.
2.
Komisaris
Komisaris merupakan badan pengawas dan penasehat Direksi yang ditunjuk
dan bertanggungjawab langsung kepada RUPS. Komisaris beranggotakan
dua orang dengan tugas sebagai berikut:
a. Memberi nasehat kepada Direksi bilamana dipandang perlu.
b. Mengawasi kegiatan peusahaan serta menilai kebijakisanaan Direksi,
apakah sesuai dengan yang tercantum dalam AD/ART perusahaan yang
telah ditetapkan.
3.
Direksi
a. Direktur I
Direktur I PT. Djitoe dijabat sendiri oleh Bapak HA. Soetantyo,
memiliki tanggung jawab langsung kepada RUPS. Tugas Direktur I
adalah:
1.
Melaksanakan fungsi-fungsi pimpinan dan menjalin hubungan
dengan pihak ekstern.
44
2.
Memberi
laporan
kepada
pemegang
saham
mengenai
perkembangan perusahaan serta menentukan diadakannya RUPS.
b. Direktur II
Direktur II bertindak sebagai Direktur I manakala Direktur I berhalangan
hadir atau tidak ada di tempat. Direktur II juga sebagai pengawas
langsung yang bertanggungjawab penuh terhadap segala kegiatan intern
perusahaan.
4.
Staf Direksi
Merupakan badan penasehat dan sebagai pembantu Direksi, yang tugasnya
membantu
Direktur
dan
memberikan
saran
atau
pendapat
serta
pertimbangan-pertimbangan dalam mengambil keputusan atau perumusan
kebijaksanaan perusahaan.
5.
Bagian Keuangan
Bagian ini bertanggungjawab langsung kepada Direksi. Tugas bagian
keuangan adalah:
a. Menyelenggarakan
atau
mengatur
anggaran
perusahaan
yang
menyangkut penerimaan dan pengeluaran kas.
b. Menyelenggarakan sistem pembukuan dan pengawasan keuangan yang
baik dan teratur.
6.
Bagian Umum
Bagian umum langsung bertanggungjawab kepada Direksi. Bagian ini
bertanggungjawab penuh atas urusan :
a. Teknik yang meliputi listrik, mesin dan bengkel kendaraan.
b. Kesehatan dan kebersihan.
c. Perawatan gedung dan bangunan.
d. Keamanan (security).
7.
Bagian Administrasi
Bagian ini langsung bertanggungjawab kepada Direksi. Tugasnya adalah:
a. Mengurus keluar masuknya surat-surat perusahaan.
b. Menyelenggarakan sistem file/pengarsipan atas dokumen perusahaan.
45
c. Mengadakan atau membuat laporan perkembangan perusahaan yang
meliputi anggaran baik secara berkala tiap triwulan, maupun laporan
pada akhir tahun.
8.
Bagian Humas dan Personalia
Bagian ini bertanggungjawab langsung kepada Direksi. Tugasnya:
a. Melaksanakan seleksi penerimaan karyawan.
b. Mengatur tata tertib kerja bagi karyawan serta menyelenggarakan dan
mengawasi absensi karyawan dan pembayaran upah/gaji karyawan.
c. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bagi karyawan yang tidak memenuhi
syarat atau bagi karyawan yang melanggar aturan yang berlaku baik
yang diatur oleh PKB ataupu ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja.
9.
Bagian Produksi
Bagian ini bertanggungjawab langsung kepada Direksi. Tugasnya adalah:
a. Menjalankan proses produksi sesuai rencana yang telah ditetapkan, baik
untuk produksi pesanan maupun untuk persediaan gudang barang jadi.
b. Menjaga dan meningkatkan kualitas produk.
c. Mengadakan pengawasan pelaksanaan proses produksi serta pengawasan
mesin atau peralatan produksi baik dalam pengoperasiannya maupun
dalam perawatannya.
10.
Bagian Pembelian
Bagian pembelian bertanggungjawab secara langsung kepada Direksi dan
memiliki tugas sebagai berikut:
a. Melaksanakan pembelian bahan-bahan yang diperlukan perusahaan serta
pembelian peralatan dan perlengkapan lainnya yang diperlukan.
b. Meretur barang-barang yang dibeli jika tidak sesuai dengan pesanan
baik kualitas maupun harga yang telah disetujui sebelumnya.
c. Menyelenggarakan administrasi pembelian dan membuat laporan
pembelian yang ditujukan kepada direksi.
11.
Bagian Penjualan
Bagian ini bertanggungjawab langsung kepada Direksi, dengan tugas antara
lain:
46
a. Melaksanakan penjualan produk kepada konsumen melalui lembaga
perantara.
b. Menyelenggarakan administrasi penjualan dan rekapitulasi laporan
penjualan baik secara berkala maupun laporan pada akhir tahun.
c. Mengadakan saluran distribusi yang baik.
d. Mengadakan
survei
ke
masing-masing
daerah
pemasaran
dan
memperluas daerah pemasaran.
5. Produksi
Di dalam kegiatan produksi perusahaan rokok PT. Djitoe ITC perlu
memperhatikan masalah-masalah sebagai berikut:
1.
Hasi Produksi
Hasil produksi perusahaan rokok PT. Ditoe pada dasarnya dapat
digolongkan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Sigaret Kretek Tangan (SKT)
Yaitu rokok yang pembuatannya dengan menggunakan tangan, sedang
jenis-jenisnya dapat dibagi menjadi:
1. Djitoe king size merah
2. Djitoe king size hijau
b. Sigaret Kretek Mesin (SKM)
Yaitu rokok filter yang pembuatannya menggunakan tenaga mesin,
sedangkan jenisnya dapat dibagi menjadi:
1. Djitoe International Hijau
2. Djitoe International Super
3. Djitoe International 90’s
4. Djitoe International Golden
c. Sigaret Putih Mesin (SPM)
Yaitu rokok putih yang dalam proses produksinya menggunakan tenaga
mesin, sedangkan hasilnya dapat dibagi menjadi:
1. Djitoe International Menthol
2. Djitoe International Non Menthol
47
2.
Bahan-bahan yang dipergunakan
Bahan-bahan yang dipergunakan untuk proses produksi pada perusahaan
rokok Djitoe dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu:
a. Bahan baku
Bahan baku ini terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
1.
tembakau
2.
cengkeh
3.
saos
4.
kertas pembungkus
b. Bahan penolong
Bahan penolong terdiri dari beberapa jenis, yaitu
3.
1.
pati
2.
manis jangan
3.
gula jawa
4.
sakarine
5.
mentol
Proses Produksi Rokok Djitoe
Tembakau dari gudang dikeluarkan. Kemudian dimasukkan ke
Vacum Chamber untuk diberi uap (di Steam). Setelah di steam kemudian
dirajang dengan mesin Cutter Mollin). Setelah dirajang kemudian di udal
dengan mesin Thrasser, gunanya untuk memisahkan antara debu, gagang
dan daun. Setelah di udal kemudian dimasukkan ke Conditioning, fungsinya
untuk menambah kadar air, agar tembakau bisa mengembang di mesin.
Conditioning tersebut, juga diberi saos dasar, fungsinya untuk memperkuat
rasa dari tembakau. Dari conditioning terus ke mesin Dryer, fungsinya untuk
mengeringkan tembakau. Dari dryer ke mesin Culler untuk penyaringan
debu lagi. Dari culler masuk ke mesin Silo untuk perataan tembakau. Dari
silo masuk ke Blending silo, di dalam blending silo dicampur bermacammacam tembakau, cengkeh, dan saos top. Setelah dicampur selama lebih
kurang 4 jam tembakau diturunkan dan siap untuk diproses menjadi rokok
jadi. Setelah menjadi rokok jadi (filter) maka proses selanjutnya adalah
48
making, yaitu pemrosesan rokok dengan mesin, adapun mesin yang
digunakan adalah mesin mollin. Setelah selesai (sudah menjadi rokok
batangan) siap di pack.
Proses selanjutnya adalah packing dari bagian making, rokok siap di
pack/dibungkus dengan mesin packing. Kemudian diberi kertas kaca/plastik,
tetapi sebelumnya ditempel pita curensi. Kemudian dimasukkan ke mesin
Chelopine, setelah itu kembali dibungkus (di pres).
Untuk lebih jelasnya skema proses produksi rokok Djitoe terlampir.
4.
Seleksi Produk
Seleksi produk ini terjadi antara proses making dan packing. Jadi setelah
pemrosesan membuat rokok dengan mesin mollin disekeksi terlebih dahulu
rokok-rokok yang tidak bermutu, misalnya rokonya kempes itu berarti ada
bagian yang kosong dalam batang rokok. Proses seleksi ini sangat penting
dilakukan untuk tetap menjaga kualitas rokok yang dihasilkan. Setelah
melalui proses seleksi kemudian rokok-rokok yang berkualitas dipack.
5.
Jumlah Produk Yang Dihasilkan
Untuk jumlah produk yang dihasilkan di PT. Djitoe ini tergantung dari
permintaan agen. Jadi tidak ada data yang menunjukkan bahwa produk yang
dihasilkan dalam mingguan, bulanan, ataupun tahunan sekian. Misalnya
agen minta perusahaan untuk mengirim 500 pack rokok, maka perusahaan
akan memproduksi sejumlah yang diminta agen.
6. Pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang dapat membantu
konsumen dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Pada
situasi perekonomian sekarang pengusaha menyadari pentingnya kegiatan
pemasaran untuk meningkatkan volume penjualan. Karena pemasaran merupakan
kunci utama untuk mencapai keberhasilan dibidang penjualan, yang pada akhirnya
nanti perusahaan dapat berkembang dan terjamin kelangsungan hidupnya.
Untuk melakukan kegiatan pemasaran tersebut perusahaan rokok Dijtoe
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
49
1.
Daerah Pemasaran
PT. Djitoe ITC Surakarta pada mulanya memasarkan produknya di daerah
Surakarta saja, kemudian perusahaan berusaha untuk memperluas ke daerah
lain di luar Surakarta, yang antara lain meliputi:
a. Jawa Tengah, yaitu Pekalongan dan Tegal
b. Jawa Barat, yaitu Bandung dan Cirebon
c. Jawa Timur, yaitu Madiun dan Malang
d. Luar Jawa, yaitu Palembang, Samarinda, Banjarmasin.
Tersebarnya daerah pemasaran tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan
konsumen sebanyak mungkin dan untuk memperkenalkan hasil produksinya
kepada masyarakat luas.
2.
Saluran Distribusi
Dalam melaksanakan kegiatan pemasaran, perusahaan rokok PT. Djitoe ITC
Surakarta memerlukan adanya penyaluran barang dari produsen kepada
konsumen. Penggunaan saluran distribusi yang tepat dan baik akan
menjadikan barang tersebut lebih terjaga kualitasnya dan tidak akan mudah
rusak. Perusahaan dalam menyalurkan hasil produksinya kepada konsumen
menggunakan beberapa cara, yaitu :
a. Melalui perwakilan PT. Djitoe yang telah ditunjuk, kemudian dari
perwakilan kepada pedagang besar dengan perantara salesman atau
penjual keliling, baru kepada pengecer dan akhirnya sampai pada
konsumen akhir.
b. Melalui agen utama kemudian diteruskan melalui sub agen hingga
sampai pada pengecer dan akhirnya dikonsumsi oleh konsumen akhir.
Perusahaan dalam mendistribusikan produksinya ke beberapa daerah
pemasaran menggunakan berbagai angkutan, antara lain :
1.
Colt
Digunakan untuk melayani daerah pemasaran dalam kota saja.
2.
Truck
Digunakan untuk melayani daerah pemasaran di Jawa dan
Sumatera.
50
3.
Kapal Laut
Digunakan untuk melayani daerah pemasaran di Kalimantan,
sulawesi dan pulau-pulau di kawasan timur Indonesia.
B. Deskripsi Permasalahan Penelitian
1. Pelaksanaan Pengawasan
Pengawasan yang dilakukan oleh perusahaan terhadap hasil kerja
karyawan merupakan suatu hal yang penting, sebab dengan adanya pengawasan
akan membantu perusahaan dalam pencapaian tujuan yang telah direncanakan.
Dengan adanya pengawasan yang baik juga akan membantu perusahaan dalam
mengevaluasi kegiatan atau hasil pekerjaan yang telah dicapai, kemudian dari
hasil evaluasi tersebut perusahaan dapat mengambil tindakan perbaikan apabila
ada kegagalan atau hambatan dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.
Pengawasan yang baik juga dapat dilakukan untuk mempertahankan hasil
pekerjaan yang telah sesuai dengan rencana agar tidak mengalami penurunan.
Pelaksanaan pengawasan dalam upaya peningkatkan produktivitas kerja
karyawan di PT. Djitoe ini dilakukan berdasarkan empat hal, yaitu :
a.
Waktu pelaksanaan pengawasan
1) Pengawasan Preventif
Pengawasan yang dilakukan sebelum melakukan pekerjaan.
Sebelum karyawan diterima atau dipekerjakan sudah dilakukan
pengawasan terhadap rekrut karyawan. Jadi pada saat perusahaan
melakukan rekrut karyawan, sebelumnya perusahaan telah membuat
persyaratan yang diinginkan perusahaan yang harus dipenuhi oleh
calon karyawan. Dengan penetapan syarat yang harus dipenuhi oleh
calon karyawan tersebut diharapkan rekrut yang dilakukan dapat
menjaring orang atau karyawan yang benar-benar produktif, sehingga
akan memberikan keuntungan yang diinginkan oleh perusahaan.
Setelah calon karyawan tersebut dinyatakan memenuhi persyaratan
yang ditetapkan tidak langsung dipekerjakan di perusahaan, tetapi
51
terlebih dahulu diberikan masa percobaan training 3 bulan. Selama
masa training akan dipantau perilaku dan hasil kerja calon karyawan
tersebut. Jika dalam masa training tersebut calon karyawan
menunjukkan hasil kerja yang sesuai dengan keinginan perusahaan dan
berperilaku baik selama masa training tersebut maka calon karyawan
tersebut baru akan ditetapkan sebagai karyawan tetap.
Hal tersebut sebagaimana diungkapakan oleh informan II pada
wawancara tanggal 12 Februari 2007 sebagai berikut:
Untuk mendapatkan tenaga kerja yang benar-benar produktif itu
kita mulai dari awal ya mbak, yaitu mulai dari rekrut/penerimaan
calon tenaga kerja. Dari penerimaan ini kita benar-benar
melakukan seleksi terhadap calon tenaga kerja dengan
persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, misalnya
pendidikan minimal SLTA, sehat jasmani dan rohani, umur
maksimal 27 tahun, dan sebagainya. Setelah diseleksi baru
diadakan pelatihan selama kurang lebih 3 bulan. Apabila dalam
kurun waktu 3 bulan itu karyawan rajin maka baru akan
ditetapkan sebagai karyawan tetap perusahaan, begitu mbak.
2) Pengawasan Represif
Pengawasan yang dilakukan ketika suatu pekerjaan sedang
berlangsung, khususnya dibagian produksi dan dilakukan oleh kepala
bagian produksi. Tujuan penagawasan ini agar pelaksanaan pekerjaan
lebih jelas, terarah dan lancar dalam usaha pencapaian tujuan
perusahaan.
Seperti yang dijelaskan oleh informan IV pada wawancara tanggal
20 Februari 2007 sebagai berikut:
Begini mbak, kabag sering datang untuk melihat kegiatan
karyawan dibagian produksi ini secara berkala atau rutin. Hal ini
dimaksudkan untuk mengetahui mana karyawan yang bener-bener
rajin dan mana yang enggak. Biasanya kabag langsung menegur
karyawan yang melakukan kesalahan, setelah itu diberi jalan
keluarnya, kurang lebih begitu ya mbak.
3) Pengawasan Kuratif
Pengawasan yang dilakukan setelah melakukan suatu pekerjaan.
Pengawasan ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana tujuan
perusahaan tercapai. Dalam hal ini kepala bagian berusaha untuk
52
menemukan letak kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan karyawan,
setelah itu diambil tindakan perbaikan.
Seperti yang dujelaskan oleh informan IV pada wawancara tanggal
20 Februari 2007 sebagai berikut:
Setelah karyawan melakukan aktivitas produksi kabag datang
untuk mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan tersebut ya
mbak. Setelah itu kabag melaporkan kepada pimpinan perusahaan
untuk mengadakan tindakan perbaikan atas masalah-masalah
tersebut, begitu mbak.
b.
Subyek atau pengawas
Pengawasan di PT. Djitoe ITC ini dilakukan dan diwenangkan kepada
kepala bagian yang ada dimasing-masing departemen, salah satunya
adalah departemen produksi yang melakukan kegiatan produksi,
pengawasan terhadap karyawan di departemen ini dilakukan oleh kepala
bagian yang ada di Departemen Produksi. Meski telah dilakukan oleh
kepala bagian dimasing-masing departemen namun tidak lantas pimpinan
lepas tangan terhadap fungsi pengawasan ini tetapi tetap melaksanakan
pengawasan terhadap semua aktivitas dan kegiatan yang ada diperusahaan.
Seperti yang diungkapakan oleh informan I pada wawancara tanggal 8
Februari 2007 sebagai berikut:
Pada dasarnya pengawasan dilakukan oleh pimpinan tertinggi/direktur
utama ya mbak, tetapi untuk melakukan pengawasan secara
keseluruhan ditiap-tiap bagian dalam perusahaan itu tidak mungkin,
karena tugas dari seorang direktur tidak hanya mengawasi saja, maka
ditiap-tiap bagian dalam perusahaan ada kepala bagian yang akan
melakukan pengawasan lebih lanjut. Kemudian kepala bagian ini akan
melaporkan hasil pengawasannya kepada pimpinan perusahaan, begitu
ya mbak.
Hal senada juga diungkapkan oleh informan III pada wawancara
tanggal 15 Februari 2007 sebagai berikut:
Kadang-kadang pimpinan datang untuk melihat pekerjaan karyawan
itu secara mendadak ya mbak, sehingga tau mana karyawan yang
benar-benar rajin dan mana yang hanya pura-pura. Kebanyakan
karyawan rajin bekerja pada saat diawasi saja, tetapi nanti bila
pimpinan sudah pergi terus malas bekerja, begitu mbak.
53
c.
Obyek atau yang diawasi
Pelaksanaan
pengawasan
dalam
rangka
untuk
meningkatkan
produktivitas kerja karyawan ini dilakukan terhadap karyawan dan
kegiatan yang berlangsung dibagian produksi. Selain menguntungkan
perusahaan, pengawasan juga menguntungkan bagi karyawan. Dengan
adanya pengawasan, karyawan akan merasa dihargai oleh perusahaan
karena setiap hasil pekerjaannya bisa segera dikoreksi apabila ada
kesalahan, sehingga dapat memotivasi karyawan untuk dapat bekerja
dengan lebih disiplin dan teliti, yang akhirnya dapat meningkatkan hasil
kerja atau produktivitas kerja karyawan. Pengawasan yang baik tidak
hanya berusaha mencari kesalahan tetapi lebih sebagai pemberian
bimbingan dan pengarahan kepada hasil yang diinginkan oleh perusahaan,
yaitu untuk dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Hal
tersebut seperti diungkapkan oleh informan I pada wawancara tanggal 8
Februari 2007 sebagai berikut:
Menurut saya pengawasan terhadap hasil pekerjaan para karyawan itu
sangat penting dan harus dilakukan ya mbak. Karena dengan adanya
pengawasan akan diketahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan
organisasi tercapai. Apabila dalam pencapaian tujuan organisasi itu
mengalami penyimpangan maka dapat diambil tindakan perbaikan
yang tepat. Dengan adanya pengawasan suatu organisasi juga akan
terhindar dari pelanggaran dan penyelewengan dari tujuan yang telah
ditentukan. Begitu ya mbak.
Hal senada juga diungkapkan oleh informan IV pada wawancara
tanggal 19 Februari 2007 sebagai berikut:
Dengan adanya pengawasan selain menguntungkan karyawan juga
akan menguntungkan pihak perusahaan ya mbak, karena dengan
adanya pengawasan perusahaan dapat meningkatkan produktivitas
kerja dari karyawan, selain itu pihak perusahan juga dapat
memperbaiki kualitas hasil produksinya. Sedangkan bagi karyawan
dengan adanya pengawasan dapat menumbuhkan sikap disiplin kerja
yang tinggi dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi pula.
d.
Cara pengawasan
Agar pengawasan dilakukan dengan baik, maka pengawasan tidak
hanya dilakukan dengan satu cara yang monoton tetapi dengan beberapa
54
cara untuk memberikan bimbingan dan pengarahan kepada pencapaian
tujuan yang diinginkan oleh perusahaan. Jadi pengawasan yang dilakukan
di PT. Djitoe ITC ini tidak hanya melihat kesalahan atau kekurangan dari
para karyawan dalam melakukan kegiatan dan hasil kerja yang tidak sesuai
dengan keinginan perusahaan, tetapi pengawasan dilakukan agar
karyawan bekerja atau hasil kerjanya sesuai dengan keinginan perusahaan.
Pengawasan yang dilakukan berupa pengawasan langsung dan tidak
langsung. Pengawasan langsung dilakukan dengan datang dan melihat
secara langsung aktivitas atau kegiatan yang sedang terjadi, dalam hal ini
aktivitas karyawan bagian produksi. Pengawasan langsung ini dilakukan
oleh kepala bagian dimasing-masing departemen. Pengawasan seperti ini
dilakukan secara berkala maupun tidak berkala. Berkala artinya pimpinan
secara rutin datang melihat aktivitas karyawan bagian produksi, sedangkan
tidak berkala berarti pimpinan hanya kadang-kadang saja melihat aktivitas
karyawan dalam hal ini karyawan bagian produksi. Sedangkan
pengawasan tidak langsung berarti pimpinan tidak secara langsung melihat
aktivitas karyawan dibagian produksi. Pengawasan ini dilakukan melalui
PKB (Perjanjian Kerja Bersama). Pengawasan tidak langsung ini
dilakukan juga secara berkala dan tidak berkala. Pengawasan tidak
langsung berkala misalnya melalui presensi elektronik, yaitu mewajibkan
bagi setiap karyawan untuk ijin tiap kali akan meninggalkan kantor atau
pekerjaan, laporan yang diminta pada rapat kerja secara rutin, laporan
bulanan, triwulan maupun tahunan. Sedangkan pengawasan tidak langsung
tidak berkala dilakukan dengan laporan yang diminta secara mendadak
tanpa pemberitahuan sebelumnya dengan rapat yang mendadak pula,
selain itu juga disediakan kotak saran untuk masukan keluhan dari
karyawan
yang
ditempatkan
disetiap
departemen.
Hal
tersebut
sebagaimana yang diungkapkan oleh informan I pada wawancara tanggal 8
Februari 2007 sebagai berikut:
Pengawasan yang dilakukan disini ada beberapa cara ya mbak,
diantaranya langsung dan tidak langsung. Kadang-kadang pimpinan
secara langsung datang ketempat produksi untuk melihat dan
55
mengawasi karyawan bagian produksi, tetapi kadang-kadang pimpinan
hanya melihat dari presensi elektronik. O iya mbak selain itu
dimasing-masing departemen disediakan kotak saran untuk
menyampaikan kritik dan saran buat perusahaan.
2. Peranan Pengawasan
Sebelum melakukan suatu kegiatan terlebih dahulu perlu diketahui
peranan yang akan diperoleh dalam melakukan kegiatan tersebut. Demikian pula
dengan kegiatan pengawasan yang dilakukan terhadap hasil kerja para karyawan.
Banyak peranan yang dapat diperoleh dengan adanya pengawasan, peranan
tersebut dirasakan oleh karyawan maupun perusahaan yang melakukan
pengawasan. Oleh karena itu, dalam melakukan pengawasan hendaknya
dipersiapkan terlebih dahulu sistem pengawasan yang sesuai dengan situasi dan
kondisi karyawan maupun perusahaan yang bersangkutan. Disamping itu, perlu
pula dipersiapkan pengawas yang memahami sistem pengawasan yang digunakan
sehingga dalam melakukan pengawasan dapat diketahui oleh kedua belah pihak,
baik karyawan maupun perusahaan. Karyawan dalam bekerja akan merasa lebih
dihargai karena setiap ada kesalahan bisa langsung dikoreksi, sedangkan bagi
perusahaan, tujuan perusahaan akan tercapai.
Peranan yang dapat diperoleh dengan adanya pengawasan melekat antara
lain adalah mendorong peningkatan produktivitas. Dengan adanya pengawasan
tersebut karyawan dapat mengetahui hasil pekerjaannya. Kemudian karyawan
akan terdorong untuk berusaha meningkatkan produktivitas kerjanya. Dengan
demikian, pengawasan terhadap produktivitas kerja berperan dalam upaya
peningkatan produktivitas kerja karyawan. Adapun peranan pengawasan dalam
meningkatkan produktivitas kerja karyawan antara lain:
a. Untuk menghadapi perubahan yang terjadi baik di dalam maupun di luar
perusahaan
Pengawasan juga berperan dalam menghadapi berbagai perubahan yang
terjadi baik di dalam perusahaan atau di luar perusahaan. Adanya perubahan di
dalam perusahan misalnya bertambah atau berkurangnya karyawan, harga
bahan baku yang meningkat, kualitas produksi yang menurun dan sebagainya.
56
Perubahan yang terjadi di luar perusahaan misalnya perubahan selera
konsumen, kemajuan teknologi, kebijakan pemerintah, strategi pemasaran dan
sebagainya. Kesemuanya itu perlu selalu diikuti dan disikapi, tidak bisa
diabaikan
begitu
saja
agar
kelangsungan
hidup
perusahaan
dapat
dipertahankan. Jika perusahaan tidak mengikuti perubahan atau perkembangan
yang terjadi maka perusahaan tidak dapat bersaing dengan perusahaan lain
dengan produk sejenis, maka pengawasan terhadap hasil kerja/produktivitas
kerja karyawan sebagai salah satu usaha untuk menghadapi perubahan yang
terjadi tersebut. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh oleh
informan II pada wawancara tanggal 12 Februari 2007 sebagai berikut:
Ini kaitannya untuk mengimbangi persaingan pasar ya mbak. Persaingan
membuat pengawasan perlu dilakukan, diluar sana kita akan menghadapi
pesaing-pesaing perusahaan yang juga menghasilkan produk yang sejenis.
Kalau kita tidak mengikuti perubahan dan perkembangan yang ada kita
akan tertinggal. Menurut saya perubahan ini misalnya perubahan selera
konsumen, teknologi yang semakin maju, peraturan pemerintah, cara
pemasaran dan sebagainya. Untuk menghadapi kesemuanya itu diperlukan
pengawasan terhadap hasil kerja karyawan, begitu mbak.
Hal senada juga diungkapkan oleh informan V pada wawancara tanggal 8
Maret 2007 sebagai berikut:
Pengawasan itu perlu banget ya mbak buat menghadapi perubahan, baik
perubahan dari dalam maupun dari luar. Apalagi untuk menghadapi
persaingan pasar yang semakin ketat. Dengan adanya pengawasan
perusahaan akan dapat mengambil tindakan perbaikan guna peningkatan
mutu hasil produksi. Apabila produk yang dihasilkan berkualitas maka
persaingan dapat teratasi, begitu mbak.
b. Untuk mengimbangi perkembangan organisasi yang semakin kompleks
Selain berperan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dan mengatasi
perubahan-perubahan, pengawasan juga berperan dalam mengimbangi
perkembangan
organisasi
yang
semakin
kompleks.
Semakin
besar
permasalahan suatu organisasi maka pengawasan semakin perlu untuk
dilakukan karena aktivitas yang berlangsung dalam pencapaian tujuan yang
telah ditentukan sebelumnya juga kompleks.
Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh informan I tanggal 8 Februari
2007 sebagai berikut:
57
Menurut saya pengawasan ini penting dilakukan ya mbak, bayangkan
perusahaan yang besar seperti ini bila tidak ada pengawasan pasti
semrawut. Disetiap perusahaan pasti ada bagian-bagian yang berbeda yang
kesemuanya itu butuh pengawasan yang intensif, apabila tidak ada
pengawasan apa jadinya perusahaan, apalagi nanti bila karyawan
bertambah juga produksi barangnya bertambah, pasti akan membutuhkan
pengawasan yang lebih ketat.
Hal senada juga diungkapkan oleh informan V pada wawancara tanggal 8
Maret 2007 sebagai berikut:
Ini kaitannya untuk menghadapi permasalahan organisasi yang semakin
kompleks ya mbak. Pengawasan sangat perlu untuk dilakukan karena bila
tidak dilakukan maka perusahaan tidak akan berjalan dengan baik dan
otomatis tujuan yang diharapkan tidak akan tercapai.
Dari data di atas juga dapat dijelaskan bahwa pengawasan berperan
penting dalam menghadapi perkembangan prusahaan. Semakin besar
permasalahan yang terjadi dalam perusahaan maka kegiatan yang dilakukan
semakin banyak dan tenaga yang dipekerjakannya pun akan bertambah
sehingga pengawasan akan semakin penting. Dengan pengawasan kegiatan
yang banyak akan dapat berjalan lancar dan sesuai dengan tujuan yang
diinginkan oleh perusahaan.
c. Untuk mengetahui dan memperbaiki kesalahan-kesalahan
Dengan adanya pengawasan akan lebih mudah untuk mengetahui adanya
kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam pelaksanaan pekerjaan atau
kegiatan sejak awal, dengan diketahuinya kesalahan-kesalahan tersebut akan
memudahkan untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap kesalahankesalahan tersebut, sehingga kesalahan yang sama tidak akan terulang.
Dengan demikian produktivitas kerja karyawan akan meningkat dari
sebelumnya yang akhirnya akan meningkatkan produktivitas perusahaan.
Hal tersebut seperti diungkapkan oleh informan I pada wawancara
tanggal 8 Februari 2007 sebagai berikut:
Menurut saya pengawasan mempunyai peranan yang sangat besar ya
mbak, diantaranya adalah untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang
terjadi didalam perusahaan. Dengan diketahuinya kesalahan tersebut maka
perusahaan dapat mengadakan perbaikan berupa pembinaan kepada
58
karyawan dan juga memberlakukan sangsi yang tegas bagi setiap
pelanggar peraturan ya mbak.
3. Hambatan-hambatan Dalam Pelaksanaan Pengawasan
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, bahwa untuk dapat
melakukan pengawasan yang baik adalah pengawasan yang dilakukan secara
obyektif bukan subyektif, pengawasan juga bukan sekedar mencari-cari kesalahan
karyawan tetapi pengawasan yang dilakukan untuk membimbing dan mendidik
karyawan. Pengawasan yang dilakukan secara subyektif tidak akan dapat
meningkatkan produktivitas kerja karena pengawas secara subyektif melihat
karyawan bukan hasil kerja dari karyawan.
Adapun
hambatan-hambatan
yang
dihadapi
dalam
pelaksanaan
pengawasan di departemen produksi PT. Djitoe ini sebagai berikut:
1.
Masih adanya sifat ABS (Asal Bapak Senang) dari karyawan
Di PT. Djitoe ini masih ada beberapa karyawan yang kurang sadar untuk
melakukan kewajibannya dengan sebaik-baiknya, masih saja ada karyawan
yang mencari muka dengan memperlihatkan yang baik-baik di depan
pimpinan, menunjukkan bahwa dirinya bekerja sungguh-sungguh di depan
pimpinan, tetapi setelah pimpinan atau atasan pergi maka dia akan kembali
pada kebiasaan yang sesungguhnya yang tidak sebaik ketika di depan atasan.
Sikap karyawan yang seperti inilah yang menyebabkan pengawasan
terhadap hasil kerja karyawan tidak dapat menunjukkan hasil sebenarnya,
hal ini akan merugikan perusahaan karena apa yang diyakini oleh atasan saat
melakukan pengawasan berbada dengan hasil yang dicapai. Selain itu
adanya karyawan yang suka menjegal orang lain yang berprestasi kerja atau
hasil kerjanya lebih baik dengan menjelek-jelekkan yang lain dan
menunjukkan yang baik-baik dari dirinya sendiri di depan atasan. Hal
tersebut seperti yang diungkapkan oleh informan II pada wawancara tanggal
12 Februari 2007 sebagai berikut:
Kalo menurut saya pengawasan itu penting ya mbak, karena kalo tidak
diawasi karyawan akan bekerja seenaknya saja tanpa memperdulikan
hasil pekerjaanya itu, lha bagaimana nasib perusahaan kalo bertindak
seperti itu?. Em salah satu kendala yang ada di PT. Djitoe ITC ini
59
adalah masih adanya sifat asal bapak senang itu ya mbak. Sifat ini
sangt tidak baik untuk dilakukan, menjelek-jelekkan karyawan lain trus
mencari muka dihadapan pimpinan. Dengan adanya karyawan yang
memiliki sifat itu maka pengawasan seperti ini tidak akan
mencerminkan keadaan sesungguhnya. Begitu mbak.
Dari data diatas dapat dijelaskan bahwa adanya sifat karyawan yang
ABS akan menghambat pelaksanaan pengawasan karena hasil pengawasan
tidak akan menunjukkan keadaan sesungguhnya.
2.
Belum adanya personel atau bagian yang secara khusus dan independen
melakukan fungsi pengawasan
Selain hambatan yang berasal dari karyawan ada juga hambatan yang
berasal dari pelaksana atau subyek yang melakukan pengawasan di PT.
Djitoe ini. Hambatan tersebut disebabkan belum adanya orang atau personel
yang secara khusus dan independen melakukan fungsi pengawasan. Selama
fungsi pengawasan dilakukan oleh kepala bagian yang ada dimasing-masing
departemen, maka hal ini akan menimbulkan kerancauan antara tugas
administratif dengan tugas pengawasan. Hal tersebut seperti diungkapkan
oleh informan I pada wawancara tanggal 8 Februari 2007 sebagai berikut:
Menurut saya diperusahaan ini memang belum ada personel atau orang
ahli yang khusus melakukan pengawasan, dikarenakan dalam struktur
organisasi belum ada tugas dan wewenang yang jelas yang mengatur
masalah tugas pengawasan, selama ini kenyataannya pengawasan
dilakukan oleh kepala bagian dimasing-maing departemen. Tidak
adanya personel atau orang ahki yang melakukan pengawasan ini
menurut saya dikarenakan pengawas kurang mengerti antara hak dan
kwajiban dari para karyawan, begitu ya mbak.
C. Temuan Studi yang Dihubungkan dengan Kajian Teori
Pengawasan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk lebih menjamin
bahwa semua pekerjaan yang sedang atau sudah dilakukan berjalan sesuai dengan
rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu, perlu diterapkan
pengawasan yang baik, yaitu pengawasan yang dilakukan untuk membimbing,
mendidik dan tanpa melukai perasaan karyawan. Permasalahan yang terjadi di PT.
Djitoe ITC adalah apakah pengawasan yang dilakukan sekarang berperan dalam
60
meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Untuk lebih jelasnya berikut ini
disajikan temuan studi yang dihubungkan dengan teori yang terdiri dari
pelaksanaan pengawasan yang sekaran g diterapkan di PT. Djitoe, peranan
pengawasan di PT. Djitoe dan hambatan yang dihadapi dalam pengawasan di PT.
Djitoe. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Pengawasan di PT. Djitoe ITC
Menurut Manullang (1992:172) ada empat macam dasar penggolongan
jenis pengawasan, yaitu:
1.
2.
3.
4.
Berdasarkan waktu pengawasan, dibedakan menjadi:
a. Preventif
b. Represif
c. Kuratif
Berdasarkan obyek pengawasan, dibedakan menjadi:
a. Pengawasan produksi
b. Pengawasan keuangan
c. Pengawasan waktu
d. Pengawasan terhadap manusia beserta kegiatannya
Subyek pengawasan, dibedakan menjadi:
a. Pengawasan intern
b. Pengawasan ekstern
Cara mengumpulkan fakta-fakta guna pengawasan.
a. Mengadakn inspeksi
b. Wawancara/laporan tertulis
c. Laporan tertulis
d. Pengawasan jika ada penyimpangan yang mencolok
Pelaksanaan pengawasan di PT. Djitoe ITC bagian produksi ini dilakukan
oieh kepala bagian yang ada dibagian produksi. Namun pengawasan yang
dilakukan oleh pimpinan tertinggi atau direktur utama tetap dilaksanakan
meskipun secara berkala atau kadang-kadang saja. Hal tersebut seperti dalam
teori bahwa pengawasan melekat adaiah pengawasan yang langsung dijalankan
oleh pimpinan terhadap bawahannya, tanpa dibantu oleh sesuatu perangkat yang
khusus untuk itu. Pengawasan ini dilakukan berdasarkan :
a. Waktu Pelaksanaan Pengawasan, dibedakan:
1.
Pengawasan Preventif, pengawasan yang dilakukan pada waktu
penerimaan karyawan/rekrut karyawan untuk memperoleh tenaga kerja
yang produktif
61
2.
pengawasan yang dilakukan saat kegiatan sedang berlangsung
dengan maksud agar kegiatan tersebut dapat diselesaikan dengan baik,
3.
pengawasan juga dilakukan setelah suatu kegiatan atau pekerjaan sudah
selesai, hal ini dimaksudkan sebagai evaluasi terhadap kegiatan yang
sudah dicapai.
Hal tersebut seperti dalam teori bahwa berdasarkan waktunya,
pengawasan dibedakan menjadi 3 yaitu pengawasan preventif, pengawasan
represif, dan pengawasan kuratif.
b. Obyek yang diawasi, pengawasan yang dilakukan dibagian produksi ini
dilakukan terhadap karyawan dan kegiatan yang berlangsung dibagian
produksi.
Hal tersebut seperti yang ada dalam teori bahwa berdasarkan obyeknya
pengawasan dibedakan menjadi pengawasan produksi, pengawasan keuangan,
pengawasan waktu dan pengawasan rnanusia beserta kegiatannya.
c. Subyek yang melakukan pengawasan, dilakukukan dan diwengangkan kepada
kepala bagian masing-masing departemen.
d. Cara pengawasan, berupa pengawasan langsung dan pengawasan tidak
langsung. Pengawasan langsung dilakukan dengan datang dan melihat secara
langsung aktivitas atau kegiatan yang sedang terjadi, dalam hal ini aktivitas
karyawan bagian produksi. Pengawasan langsung ini dilakukan oleh kepala
bagian dimasing-masing departemen. Pengawasan seperti ini dilakukan secara
berkala maupun tidak berkala. Berkala artinya pimpinan secara rutin datang
melihat aktivitas karyawan bagian produksi, sedangkan tidak berkala berarti
pimpinan hanya kadang-kadang saja melihat aktivitas karyawan dalam hal ini
karyawan bagian produksi. Sedangkan pengawasan tidak langsung berarti
pimpinan tidak secara langsung melihat aktivitas karyawan dibagian produksi.
Pengawasan ini dilakukan melalui PKB (Perjanjian Kerja Bersama), PKB ini
dibuat oleh direktur utama selaku pimpinan tertinggi, jadi yang melakukan
pengawasan tidak langsung direktur utama. Pengawasan ini dilakukan juga
secara berkala dan tidak berkala. Pengawasan tidak langsung berkala misalnya
melalui presensi elektronik, yaitu mewajibkan bagi setiap karyawan untuk ijin
62
tiap kali akan meninggalkan kantor atau pekerjaan, laporan yang diminta pada
rapat kerja secara rutin, laporan bulanan, triwulan maupun tahunan.
Sedangkan pengawasan tidak langsung tidak berkala dilakukan dengan
laporan yang diminta secara mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya
dengan rapat yang mendadak pula, selain itu juga disediakan kotak saran
untuk masukan keluhan dari karyawan yang ditempatkan disetiap departemen.
Hal tersebut seperti dalam teori bahwa berdasarkan caranya,
pengawasan
dapat
dilakukan
dengan
mengadakan
inspeksi,
wawancara/laporan lisan, laporan tertulis dan pengawasan yang dilakukan
jika ada penyimpangan yang mencolok.
Berdasarkan uraian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa pelaksanaan
pengawasan di PT. Djitoe ITC sebagai berikut:
1. Berdasarkan waktu pelaksanaan pengawasan. Dibedakan :
a. Pengawasan yang dilakukan sebelum kegiatan dimulai, dalam hal ini
pengawasan terhadap rekrut karyawan agar mendapatkan tenaga kerja
yang produktif.
b. Pengawasan
yang
dilakukan
selama
kegiatan
berlangsung,
agar
pelaksanaan kegiatan lebih terarah pada pencapaian tujuan.
c. Pengawasan yang dilakukan sesudah kegiatan berlangsung, untuk
mengevaluasi apabila ada tindakan yang salah.
2. Berdasarkan obyek yang diawasi, meliputi manusia beserta kegiatan di bagian
produksi.
3. Berdasarkan subyek/pengawas, pengawasan dilakukan dan diwenangkan
kepada kepala bagian dimasing-masing departemen.
4. Berdasarkan cara pengawasan, dilakukan dengan cara mengadakan inspeksi
dan pembuatan laporan tertulis, baik bulanan, triwulan maupun tahunan.
2. Peranan Pengawasan
Menurut Mahduh M. Hanafi (1996:450) pentingnya pengawasan adalah
karena hal-hal di bawah ini:
1. Perubahan lingkungan organisasi
2. Peningkatan kompleksitas organisasi
63
3. Kesalahan-kesalahan.
Peranan yang dapat diperoleh dengan adanya pengawasan di PT. Djitoe
ITC ini antara lain mendorong peningkatan produktivitas kerja karyawan. Dengan
adanya pengawasan tersebut karyawan dapat mengetahui hasil pekerjaannya.
Kemudian karyawan akan terdorong untuk berusaha meningkatkan produktivitas
kerjanya. Dengan demikian, pengawasan terhadap produktivitas kerja berperan
dalam upaya peningkatan produktivitas kerja karyawan. Adapun peranan
pengawasan dalam meningkatkan produktivitas kerja karyawan antara lain:
a. Untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi
Apabila perusahaan telah melaksanakan pengawasan terhadap
produktivitas kerja karyawan maka perusahaan dapat memberikan tindak
lanjut terhadap hasil pengawasan tersebut. Tindak lanjut yang diberikan
oleh perusahaan terhadap hasil pengawasan tersebut dapat membantu
meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Karena dengan pengawasan
yang baik akan memberikan peranan dalam menghadapi berbagai
perubahan yang terjadi baik di dalam maupun di luar perusahaan, sehingga
perusahaan dapat tetap bertahan bahkan bisa mengembangkan diri
ditengah-tengah perubahan yang terjadi.
b. Untuk mengimbangi kompleksitas perusahaan
Dengan pengawasan yang baik berperan juga dalam mengimbangi
perkembangan permasalahan yang terjadi dalam suatu perusahaan atau
organisasi yang dapat menyebabkan tingkatan-tingkatan manajemen yang
lebih banyak, sehingga pengawasan diperlukan untuk mengawasi unit-unit
atau tingkatan-tingkatan manajemen tersebut. Kalau perusahaannya kecil
atau sederhana maka pengawasan yang dilakukan pun akan lebih
sederhana.
c. Untuk mengetahui dan memperbaiki kesalahan-kesalahan
Pengawasan juga bermanfaat dalam memperbaiki kesalahankesalahan yang terjadi dalam suatu kegiatan atau pekerjaan, sehingga
dengan pengawasan dapat diketahui kesalahan-kesalahan yang terjadi saat
pengerjaan suatu pekerjaan atau kesalahan pada saat berlangsungnya suatu
64
kegiatan. Dengan begitu hasil pekerjaan yang tidak sesuai dengan rencana
dapat dihindari. Dengan pengawasan juga bermanfaat untuk mengetahui
kesalahan-kesalahan yang terjadi setelah suatu kegiatan atau pekerjaan
sudah selesai dilakukan, sehingga dengan pengawasan dapat dihindari
adanya kesalahan yang sama dimasa mendatang atau terulangnya kesalahan
yang sama. Dengan begitu produktivitas kerja karyawan akan menjadi lebih
baik dari waktu ke waktu. Hal tersebut seperti yang ada dalam teori bahwa
fungsi dari pengawasan adalah adanya perubahan yang selalu terjadi baik di
luar maupun di dalam organisasi, Kekompleksan organisasi dan kesalahankesalahan atau penyimpangan yang dilakukan oleh anggota organisasi.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengawasan berperan
untuk :
1. Menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi baik di dalam maupun
di luar perusahaan, sehingga kelangsungan hidup perusahaan tetap
terjaga ditengah-tengah perubahan yang terjadi.
2. Mengimbangi perkembangan organisasi yang semakin kompleks,
sehingga pengawasan diperlukan untuk mengawasi tingkatan-tingkatan
manajemen tersebut.
3. Mengetahui dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam
perusahaan, sehingga kesalahan yang sama tidak akan terulang dimasa
mendatang.
3. Hambatan-hambatan Dalam Pelaksanaan Pengawasan
Dalam melaksanakan suatu pekerjaan, tentunya kita pernah mcngalami
hambatan baik hambatan yang besar maupun yang kecil. Begitu juga dalam
pelaksanaan pengawasan di PT. Djitoe ITC ini juga mengalami hambatan.
Hambatan-hambatan tersebut antara lain:
1.
Hambatan dari subyek atau pihak yang melakukan pengawasan
Menurut Tim Penulis Modul FISIP-UT (1994:26-35) hambatan-hambatan
dalam pelaksanaan pengawasan meliputi :
1. Pimpinan maupun bawahan kurang menyadari pentingnya pengawasan
melekat.
65
2. Pimpinan kurang menyadari bahwa semua fungsi-fungsi manajemen
harus berjalan seimbang sebagai mata rantai proses kegiatan
pencapaian tujuan.
3. Perilaku yang kurang mendukung dari pimpinan.
4. Pimpinan kurang menguasai dalam bidang atau substansi yang
dipimpinnya.
5. Pimpinan kurang menguasai bidang teknis administratif yang terkait
dengan tugas pokoknya.
6. Pimpinan merasa cukup dengan pengawasan fungsional.
7. Kelemahan pimpinan dalam mengkoordinasi dan sebagainya.
Hambatan dari subyek atau pihak yang melakukan pengawasan di
bagian produksi. Di PT. Djitoe ITC ini adalah belum adanya tenaga atau
personel yang khusus dan independen melaksanakan fungsi pengawasan,
selama ini pengawasan dilakukan oleh staff / executive di masing-masing
departemen. Maka perusahaan hendaknya menyediakan personel yang
secara khusus dan independen untuk melakukan pengawasan di tiap-tiap
bagian.
2.
Hambatan dari karyawan
Hambatan yang timbul dari karyawan adalah adanya sifat Asal
Bapak Senang atau ABS dari para karyawan dan sifat suka menjegal kawan
sendiri karena iri dengan menjelek-jelekkan orang lain dan memperlihatkan
yang baik-baik dari dirinya sendiri dihadapan pimpinan atau atasan. Hal
seperti ini yang mengakibatkan hasil pengawasan tidak mencerminkan
keadaan yang sesungguhnya di lapangan. Maka hendaknya pimpinan sering
mengadakan pengawasan secara langsung dan mendadak. Dengan begitu
akan dapat diketahui karyawan yang benar-benar produktif.
Dari uraian diatas dapat peneliti simpulkan bahwa hambatan dalam
rangka peningkatan produktivitas kerja karyawan adalah:
1.
Hambatan dari pihak yang melakukan pengawasan, yaitu belum
adanya tenaga atau personel yang secara khusus dan independen
melakukan fungsi pengawasan, dimana selama ini pengawasan hanya
dilakukan oleh kepala bagian dimasing-masing departemen, maka
hendaknya dibentuk badan yang secara khusus dan independen untuk
melakukan fungsi pengawasan.
66
2.
Hambatan dari karyawan, adanya sifat
ABS
menyebabkan
pengawasan tidak mencerminkan keadaan yang sesungguhnya, maka
hendaknya pimpinan datang secara langsung dan mendadak
ketempat berlangsungnya kegiatan minimal 15 hari sekali.
Dari penjelasan di atas dapat peneliti simpulkan bahwa ada kesesuaian
antara teori tentang pelaksanaan pengawasan dalam rangka meningkatkan
produktivitas kerja karyawan di PT. Djitoe Indonesian Tobacco Surakarta, baik itu
pelaksanaan, peranan maupun hambatan yang dihadapi dalam pengawasan.
BAB V
KES1MPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan data yang dikumpulkan dan analisis yang telah
dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan dan juga merupakan jawaban
pertanyaan/penelitian yang diajukan sebagai berikut:
1. Pelaksanaan pengawasan dalam upaya peningkatan produktivitas kerja
karyawan di PT. Djitoe ini dilakukan berdasarkan empat hal, yaitu :
e.
Waktu pelaksanaan pengawasan
1) Pengawasan yang dilakukan sebelum kegiatan dimulai, dalam hal
ini pengawasan terhadap rekrut karyawan agar mendapatkan
tenaga kerja yang produktif.
2) Pengawasan yang dilakukan selama kegiatan berlangsung, agar
pelaksanaan kegiatan lebih terarah pada pencapaian tujuan.
3) Pengawasan yang dilakukan sesudah kegiatan berlangsung, untuk
mengevaluasi apabila ada tindakan yang salah.
f.
Subyek atau pengawas
g.
Pengawasan di PT. Djitoe ITC ini dilakukan dan diwenangkan
kepada kepala bagian yang ada dimasingmasing departemen, salah satunya adalah
departemen produksi yang melakukan
kegiatan produksi.
Obyek atau yang diawasi
h.
Pelaksanaan pengawasan dalam rangka untuk meningkatkan
produktivitas kerja karyawan ini dilakukan
terhadap karyawan dan kegiatan yang
berlangsung dibagian produksi.
Cara pengawasan
Pengawasan yang dilakukan berupa pengawasan langsung dan
tidak langsung.
2. Peranan pengawasan dalam rangka meningkatkan produktivitas kerja
karyawan adalah:
67
68
a. Untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi baik di dalam
maupun di luar perusahaan.
b. Untuk
mengimbangi
perkembangan
organisasi
yang
semakin
kompleks.
c. Untuk mengetahui dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi
dalam perusahaan
3. Hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pengawasan adalah sebagai
berikut:
a. Masih adanya sifat ABS (Asal Bapak Senang) dan sifat suka mencari
muka di depan pimpinan atau atasan dari para karyawan.
b. Belum adanya tenaga atau personel yang secara khusus dan
independen melakukan fungsi pengawasan.
B. Implikasi
Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas maka selanjutnya
dikemukakan implikasi hasil penelitian. Implikasi dari hasil penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil
analisis
data menunjukkan bahwa pelaksanaan
pengawasan yang dilakukan oleh bagian produksi di PT. Djitoe ITC ini
masih ada hambatan. Maka hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan
pertimbangan dan masukan bagi perusahaan untuk lebih meningkatkan
perhatiannya dalam pelaksanaan pengawasan karena pengawasan dapat
meningkatkan produktivitas kerja karyawan.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan
bahan masukan bagi para
pengembang teori mengenai perencanan pengawasan dan manajemen
SDM. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gagasan yang
baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan SDM.
C. Saran
Berdasarkan kesimpulan dan implikasi hasil penelitian diatas berikut
69
saran-saran yang peneliti ajukan:
1. Bagi Pimpinan PT. Djitoe Indonesian Tobacco
a. Dengan adanya sikap ABS (Asal Bapak Senang) menyebabkan
pengawasan tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya, maka
hendaknya pimpinan lebih sering melakukan pengawasan secara
langsung dan mendadak ke tempat berlangsungnya kegiatan. Minimal
15 hari sekali.
b. Kurangnya personel handal yang secara khusus dan independen
melakukan fungsi pengawasan maka pengawasan di PT. Djitoe ITC ini
kurang maksimal, maka hendaknya dibentuk badan yang secara khusus
dan independen untuk melakukan fungsi pengawasan agar lebih
efektif. Misalnya dibentuk komisaris.
2. Bagi peneliti lain
Walaupun penelitian ini sudah dilakukan secara maksimal namun
tidak menutup kemungkinan masih adanya beberapa kekurangan.
Penelitian ulang dapat dilakukan dengan menerapkan metode kualitatif
dan teknik penelitian serta pengambilan data yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Sabardi. 2001. Menejemen Pengantar. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Anonimus. 2003. Pedoman Penulisan skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan: UNS.
Aslam Sumhudi. 1991. Komposisi Desain Riset. Jakarta: PT. Ramdhani.
Bambang Kusriyanto. 1993. Meningkatkan Produktivitas Karyawan. Jakarta: PT.
Pustaka Binawan Pressindo.
Bambang Tri Cahyono. 1996. Manajemen Sumaber Daya Manusia. Jakarta:
IPWI.
Djarwanto PS. 1990. Pokok-pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknis Penulisan
Skripsi. Yogyakarta: Liberty.
Djati Julistriarsa dan John S. 1998. Management Umum Sebuah Pengantar.
Yogyakarta: BPFE.
Simon G. Devung. 1988. Efektivitas Organisasi. Jakarta : P&K
Hadari Nawawi dan Martini Hadari. 1990. Administrasi Personel Untuk
Peningkatan Produktivitas Kerja. Jakarta : Haji Masagung.
____________________________. 1994. Ilmu Administrasi. Jakarta: Ghalia.
_____________________________. 1996. Penelitian Terapan. Yogyakarta:
UGM Press.
Hamdan Mansoer. 1989. Pengantar Menejemen. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Handoko, T. Hani. 1992. Manajemen. Yogyakarta: BPFE UGM.
HB. Sutopo. 2002. Metodologi Kualitatif. Surakarta: UNS Press.
James AF. Stoner. 1992. Menejemen. Jakarta : Erlangga.
John Soeprihanto. 1997. Manajemen Personalia. Yogyakarta: BPFE.
Kartini Kartono. 1993. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung: Mandar
Maju.
_____________. 1996. Pengantar Metodologi Research 2. Yogyakarta: UGM.
70
71
Kast, Fremont E. dan James Rozenzweig. 2002. Organisasi dan Manajemen 2.
Jakarta: Bumi Aksara.
Komarudin. 1986. Produktivitas Kerja. Bandung: Alumni.
Kusdiyanto dan Edi Priyono. 2002. Menejemen Pengantar. Surakarta: FE UMS.
Lexy J. Moleong. 2002. Metodologi Peneltian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
______________. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Mahduh M. Hanafi. 1997. Manajemen. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Manullang M. 2002. Dasar-dasar Management. Yogyakarta: UGM Press
___________. 1992. Dasar-Dasar Menejemen. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Miles, Matthew B dan Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.
Jakarta: UI Press.
Siagian, Sondang P. 2002. Fungsi-fungsi Manajerial. Jakarta: Bumi Aksara.
_______________. 1996. Menejemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi
Aksara.
Simanjutak, Payaman T. 1995. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia.
Jakarta: LPKE UI.
Sinungan Muchdarsyah. 2003. Produktivitas Apa dan Bagaimana. Bandung:
Bumi Aksara.
Soewarno Handayaningrat. 1997. Studi Administrasi dan Management. Jakarta :
Gunung Agung.
_____________________. 1985. Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan
Menejemen. Jakarta: PT. Gunung Agung.
Sudibyo Triatmojo. 2000. Sistem Pengawasan. Jakarta: LAN.
Suharsimi Arikunto, 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta : Rineka Cipta.
________________, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Penelitian Praktek. Jakarta
: Rineka Cipta.
72
Sukanto Reksohadiprodjo. 1999. Dasar-dasar Manajemen. Yogyakarta: BPFE.
Sutrisno Hadi. 1987. Metodologi Research. Yogyakarta : Fakultas Psikologi.
Tim Penulis Modul FISIP-UT. 1994. Pengawasan Melekat. Jakarta: UT.
Unong U. Effendy. 1992. Humas Suatu Studi Komunologi. Bandung: PT. Remaja
Posdakarya.
Winarno Surakhmad. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah (Dasar Metode dan
Praktek). Bandung: Tarsito.
Lampiran 1
JADUAL PENELITIAN
URAIAN
2007
Agt
Spt
Okt
Nov
Des
Jan
Feb
Mrt
Apr
I. Persiapan
1. Penyampaian
xxx
Proposal
2. Perijinan
3. Menyusun
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
Landasan
Teori
4. Menyusun
xxx
Daftar
Pertanyaan
II. Pelaksanaan
Penelitian
1. Pengumpulan
Data
xxx
xxx
xxx
xxx
2. Analisis Data
III. Penyusunan
Laporan
1. Penulisan
Laporan
2. UJian
xxx
Lampiran 3
SKEMA PROSES PRODUKSI FILTER RODS
ACETAT TOW
WRAPPING PAPAER
PLASTICEZER
PREPARATION
MACHINE
FILTER MAKING
MACHINE
SELECTION
(SORTIR)
PACKING
Gambar 2. Skema proses produksi filter rods
PASTA
Lampiran 4
SKEMA PROSES PRODUKSI
UNTUK ROKOK NON FILTER / SKT
DAUN
TEMBAKAU
TEMBAKAU
RAKYAT
MESIN
MESIN
MESIN
PERAJANG
UDAL
PERAJANG
CENGKEH
SAOS
KERTAS
DIAYAK
Mesin pencampuran
tembakau, cengkeh,
saos / aroma dll
BAGIAN
Tembakau masak
PELINTINGAN
Bahan setengah jadi
SORTIR
OVEN
PEMBUNGKUSAN
GUDANG BARANG
JADI
Gambar 3. Skema proses produksi untuk rokok non filter/SKT
Lampiran 5
SKEMA PROSES PRODUKSI UNTUK
ROKOK FILTER / SKM / SPM
BERBAGAI JENIS DAUN
SAOS
TEMBAKAU
MENTOL-SPM
FILTER
KERTAS
CENGKEH -SKM
SPM
MESIN
PENYEMPROT
PERAJANG
MENTOL
SKM
DIAYAK
RAJANG CENGKEH
MESIN PENCAMPURAN
TEMBAKAU, SAOS CENGKEH /
SKM MENTHOL / SPM DAN AROMA
TEMBAKAU MASAK
ASSEMBLING FILTER
BAHAN SETENGAH JADI
MACKING MACHINE
MESIN CHELOPANE
PACKING MACHINE
GUDANG
BARANG JADI
Gambar 4. Skema proses produksi untuk rokok filter / SKM / SPM
Lampiran 6
DAFTAR PERTANYAAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian
1.
Bagaimana sejarah berdiri dan perkembangan PT. Djitoe Indonesian
Tobacco Surakarta?
2.
Bagaimana struktur organisasi di PT. Djitoe Indonesian Tobacco
Surakarta?
3.
Apa tugas dan kewajiban dari masing-masing bagian di PT. Djitoe
Indonesian Tobacco Surakarta?
4.
Bagaimana kondisi karyawan di PT. Djitoe Indonesian Tobacco
Surakarta?
5.
Apa produk yang dihasilkan di PT. Djitoe Indonesian Tobacco
Surakarta?
6.
Bagaimana proses produksinya?
7.
Bagaimana cara pengoperasian pabriknya?
8.
Bagaimana seleksi produknya?
B. Deskripsi Permasalahan Penelitian
1.
Bagaimana pelaksanaan pengawasan di PT. Djitoe Indonesian
Tobacco Surakarta?
2.
Bagaimana peranan pengawasan dalam meningkatkan produktivitas
kerja karyawan di PT. Djitoe Indonesian Tobacco Surakarta?
3.
Apa hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pengawasan di PT.
Djitoe Indonesian Tobacco Surakarta?
Lampiran 7
CATATAN LAPANGAN
Sumber data
: Informan I
Jabatan
: Manajer Personalia
Lokasi Penelitian
: PT. Djitoe ITC
Tanggal dan bulan
: 8 Februari 2007
Pewawancara
: Puji Rahayu
HASIL WAWANCARA
“Pada dasarnya pengawasan dilakukan oleh pimpinan tertinggi/direktur
utama ya mbak, tetapi untuk melakukan pengawasan secara keseluruhan ditiaptiap bagian dalam perusahaan itu tidak mungkin, karena tugas dari seorang
direktur tidak hanya mengawasi saja, maka ditiap-tiap bagian dalam perusahaan
ada kepala bagian yang akan melakukan pengawasan lebih lanjut. Kemudian
kepala bagian ini akan melaporkan hasil pengawasannya kepada pimpinan
perusahaan, begitu ya mbak”
Dari hasil wawancara dengan informan I tersebut maka yang dapat
ditangkap oleh peneliti adalah bahwa pengawasan di PT. Djitoe ITC ini dilakukan
dan diwenangkan kepada kepala bagian yang ada dimasing-masing departemen.
Meski telah dilakukan oleh kepala bagian dimasing-masing departemen namun
tidak lantas pimpinan lepas tangan terhadap fungsi pengawasan ini tetapi tetap
melaksanakan pengawasan terhadap semua aktivitas dan kegiatan yang ada
diperusahaan.
Lampiran 8
CATATAN LAPANGAN
Sumber data
: Informan II
Jabatan
: Kepala Bagian Produksi
Lokasi Penelitian
: PT. Djitoe ITC
Tanggal dan bulan
: 12 Februari 2007
Pewawancara
: Puji Rahayu
HASIL WAWANCARA
“Untuk mendapatkan tenaga kerja yang benar-benar produktif itu kita
mulai dari awal ya mbak, yaitu mulai dari rekrut/penerimaan calon tenaga kerja.
Dari penerimaan ini kita benar-benar melakukan seleksi terhadap calon tenaga
kerja dengan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, misalnya pendidikan
minimal SLTA, sehat jasmani dan rohani, umur maksimal 27 tahun, dan
sebagainya. Setelah diseleksi baru diadakan pelatihan selama kurang lebih 3
bulan. Apabila dalam kurun waktu 3 bulan itu karyawan rajin maka baru akan
ditetapkan sebagai karyawan tetap perusahaan, begitu mbak”
Dari hasil wawancara dengan informan II tersebut maka yang dapat
ditangkap oleh peneliti adalah bahwa Pengawasan yang dilakukan dalam upaya
untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan di PT. Djitoe ini dilakukan
ketika karyawan sudah bekerja di perusahaan, tetapi sebelum karyawan diterima
atau dipekerjakan sudah dilakukan pengawasan terhadap rekrut karyawan. Jadi
pada saat perusahaan melakukan rekrut karyawan, sebelumnya perusahaan telah
membuat persyaratan yang diinginkan perusahaan yang harus dipenuhi oleh calon
karyawan. Dengan penetapan syarat yang harus dipenuhi oleh calon karyawan
diharapkan rekrut yang dilakukan dapat menjaring orang atau karyawan yang
benar-benar produktif.
Lampiran 9
CATATAN LAPANGAN
Sumber data
: Informan III
Jabatan
: Karyawan bagian produksi
Lokasi Penelitian
: PT. Djitoe ITC
Tanggal dan bulan
: 15 Februari 2007
Pewawancara
: Puji Rahayu
HASIL WAWANCARA
“Kadang-kadang pimpinan datang untuk melihat pekerjaan karyawan itu
secara mendadak ya mbak, sehingga tau mana karyawan yang benar-benar rajin
dan mana yang hanya pura-pura. Kebanyakan karyawan rajin bekerja pada saat
diawasi saja, tetapi nanti bila pimpinan sudah pergi terus malas bekerja, begitu
mbak”
Dari hasil wawancara dengan informan III tersebut maka yang dapat
ditangkap oleh peneliti adalah bahwa pimpinan dalam mengawasi kerja karyawan
itu secara rutin dan mendadak sehingga bisa diketahui mana yang benar-benar
rajin dan tidak.
Lampiran 10
CATATAN LAPANGAN
Sumber data
: Informan IV
Jabatan
: Karyawan bagian produksi
Lokasi Penelitian
: PT. Djitoe ITC
Tanggal dan bulan
: 19 Februari 2007
Pewawancara
: Puji Rahayu
HASIL WAWANCARA
“Dengan adanya pengawasan selain menguntungkan karyawan juga akan
menguntungkan pihak perusahaan ya mbak, karena dengan adanya pengawasan
perusahaan dapat meningkatkan produktivitas kerja dari karyawan, selain itu
pihak perusahan juga dapat memperbaiki kualitas hasil produksinya. Sedangkan
bagi karyawan dengan adanya pengawasan dapat menumbuhkan sikap disiplin
kerja yang tinggi dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi pula”
Dari hasil wawancara dengan informan III tersebut maka yang dapat
ditangkap oleh peneliti adalah bahwa pengawasan yang dilakukan oleh
perusahaan terhadap hasil kerja karyawan merupakan suatu hal yang penting,
sebab dengan adanya pengawasan akan membantu perusahaan dalam pencapaian
tujuan yang telah direncanakan. Dengan adanya pengawasan, karyawan akan
merasa dihargai oleh perusahaan karena setiap hasil pekerjaannya bisa segera
dikoreksi apabila ada kesalahan, sehingga dapat memotivasi karyawan untuk
dapat bekerja dengan lebih disiplin dan teliti, yang akhirnya dapat meningkatkan
hasil kerja atau produktivitas kerja karyawan.
Lampiran 11
CATATAN LAPANGAN
Sumber data
: Informan V
Jabatan
: Karyawan bagian produksi
Lokasi Penelitian
: PT. Djitoe ITC
Tanggal dan bulan
: 8 Maret 2007
Pewawancara
: Puji Rahayu
HASIL WAWANCARA
“Pengawasan itu perlu banget ya mbak buat menghadapi perubahan, baik
perubahan dari dalam maupun dari luar. Apalagi untuk menghadapi persaingan
pasar yang semakin ketat. Dengan adanya pengawasan perusahaan akan dapat
mengambil tindakan perbaikan guna peningkatan mutu hasil produksi. Apabila
produk yang dihasilkan berkualitas maka persaingan dapat teratasi, begitu mbak”
Dari hasil wawancara dengan informan V tersebut maka yang dapat
ditangkap oleh peneliti adalah bahwa pengawasan terhadap hasil kerja karyawan
sangat penting untuk dilakukan, yaitu untuk menghadapi persaingan pasar.
Dengan adanya pengawasan maka kualitas hasil produksi dapat ditingkatkan
sehingga perusahaan akan mampu bersaing dengan perusahaan sejenis yang lain.
Lampiran 2
STRUKTUR ORGANISASI PT. DJITOE ITC
RAPAT UMUM
PEMEGANG SAHAM
KOMISARIS
DIREKSI
DIREKTUR 1 & II
STAF DIREKSI
BAGIAN
PENJUALAN
PEMASARAN
KANTOR
PERWAKILA
N
AGEN
BAGIAN
PEMBELIAN
PENYEDIAAN BAHAN
EKSPEDISI
KENDARAAN
B.
BAHAN
BAGIA
N
UMUM
TEKNIK
SEKRETARIAT
UMUM
ADMINISTRASI
KESEHATAN
PERAWATAN
GEDUNG
LISTRIK
PEDAGANG
BESAR
MESIN
BAGIAN
KEUANGAN
ADMINISTRASI
KEUANGAN DAN
PEMBUKUAN
BAGIAN
HUMAS DAN
PERSONALI
A
SIE
PENGGAJIA
N
BAGIAN
PRODUKSI
UNIT SKT. SKM
DAN SPM
UNIT
FILTER
URUSAN RT
PERUSAHAAN
KEAMANAN
BENGKEL
PENGECER
IKLAN
PROMOSI
KONSUMEN
AKHIR
PENGOLAHAN
CENGKEH DAN
TEMBAKAU
PENCAMPURAN
SAUS
SETENGAH JADI
KARYAWAN PT. DJITOE INDONESIA TOACCO COY
LINTING/MAKING,
PACKING, TIKET/
PEMBUNGKUS
GUDANG
BARANG
JADI
Download