Modul Pendidikan Agama Islam [TM7]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
REVIEW MATERI
Modul Standar untuk
digunakan dalam Perkuliahan
di Universitas Mercu Buana
Fakultas
Program Studi
FAKULTAS
EKONOMI DAN
BISNIS
AKUNTANSI
TM 7
Kode MK
Disusun Oleh
AHMAD LUTFI, SS.,MM
Abstract
Kompetensi
Modul ini akan menjelaskan
bagaimana sikap seorang muslim
bukan hanya pribadinya tetapi
juga kepada orang lain.
Diharapkan mahasiswa mengerti
tentang Islam dan akhlak atau
sikap seorang muslim terhadap
lingkungannya.
1
BAB I
MENGENAL ISLAM
A. ISLAM DAN PERADABAN DUNIA
Abad modern yang sekarang kita hadapi tidak muncul dengan sendirinya begitu
saja, akan tetapi muncul melalui proses yang cukup panjang. Eropa Barat mempunyai
kontribusi kuat terhadap peradaban dunia, begitu pula Amerika dan Cina memberikan
sumbangsih yang tidak sedikit dalam mewujudkan peradaban dunia. Apabila kita gali
lebih dalam proses berkembangnya peradaban dunia, ternyata Islam yang berpusat di
Timur Tengah mempunyai pengaruh yang paling signifikan terhadap peradaban dunia.
Dalam kosa kata ilmu pengetahuan modern seperti al-jabar (al-jabru), logaritma
(al-khawarizmiyyah), dan lain-lain ternyata sudah muncul pada masa keemasan Islam
sekitar abad 7-13 M. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mempunyai kontribusi yang
sangat besar terhadap peradaban dunia.
Tidak seluruh peradaban Islam dihasilkan oleh kreasi umat Islam itu sendiri.
Selain berkreasi, pada masa keemasannya umat Islam juga berfungsi sebagai
penengah bagi seluruh masyarakat dunia. Fungsi itu dijalankan dengan menerapkan
sikap terbuka terhadap peradaban dan ilmu pengetahuan umat-umat lain. Sikap ini
melahirkan sikap-sikap yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan
peradaban dunia, seperti sikap tidak segan mengambil sesuatu yang baik dan
bermanfaat dari umat lain.
Karena itu sejarah mencatat bahwaumat Islam adalah kelompok umat manusia
yang pertama menginternasionalisasikan ilmu pengetahuan. Jika sebelumnya suatu
cabang ilmu pengetahuan hanya merupakan keayaan nasional bangsa tertentu, seperti
Yunani, Persia, India, dan Cina, maka sejak Islam dan peradaban Islam muncul, ilmuilmu itu tumbuh menjadi kekayaan bersama umat manusia.
2
B. ISLAM DAN PERUBAHAN MASYARAKAT
1. Arti Islam
Islam adalah
agama yang berlandaskan ketundukan terhadap aturan Allah
SWT. Islam adalah agama penghambaan kepada Allah SWT, yang mencipta,
mengatur, dan memelihara alam semesta.
Secara etimologis Islam berasal dari kata ‫ إسالما‬-‫ يسلم‬-‫) أسلم‬aslama, yuslimu islaman( yang
artinya tunduk, patuh dan berserah diri. Dari pengertian di atas maka dapat
disimpulkan bahwa Islam mengandung arti berserah diri, tunduk, patuh dan taat
sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT. Kepatuhan dan ketundukan itu akan
melahirkan keselamatan dan kesejahteraan diri serta kedamaian kepada sesame
manusia dan lingkungan.
Secara terminologis Islam adalah kaidah hidup yang diturunkan kepada
manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Kaidah hidup ini dapat
kita jumpai dalam kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu AlQur’an al-Karim yang di dalamnya terkandung tuntutan yang universal mengenai aspek
kehidupan manusia, baik spiritual maupun material.
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang
diturunkan Allah SWT kepada manusia melalui rasul-rasul-Nya, yang mengandung
hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan
manusia, dan manyusia dengan alam semesta. Agama yang diturunkan Allah ke muka
bumi dari nabi Adam sampai nabi Muhammad SAW adalah agama Islam sebagaimana
firman Allah SWT dalam surat Ali ‘Imron (3) ayat 19:










     
3





     
 
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih
orang-orang yang telah diberi Al Kitab1 kecuali sesudah datang pengetahuan kepada
mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir
terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
Semua rasul mengajarkan keesaan Allah (Tauhid) sebagai dasar keyakinan
bagi umatnya. Sedangkan aturan-aturan pengamalannya disesuaikan dengan tingkat
perkembangan budaya manusia sesuai tempat dan waktunya. Oleh karena itu terdapat
perbedaan syariat di antara para raul-rasul Allah SWT.
Setelah rasul-rasul yang membawanya wafat, maka agama Islam yang dianut
oleh para pengikutnya mengalami perkembangan dan perubahan baik nama dan isi
ajarannya. Akhirnya Islam menjadi nama bagi satu-satunya agama, yaitu agama yang
dibawa oleh nabi Muhammad SAW.
2. Islam dan Perubahan Masyarakat
Islam dalam arti agama yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW, lahir
bersama turunnya Al-Qur’an empat belas abad yang lalu. Masyarakat jahiliyah adalah
masyarakat pertama yang bersentuhan dengannya, serta masyarakat pertama pula
yang berubah pola piker, sikap, dan tingkah lakunya, sebagaimana dikehendaki Islam.
Masyarakat jahiliyah memiliki pola piker, sikap, dan tingkah laku yang terpuji
dan tercela. Dalam hal ini, Islam menerima dan mengembangkan tingkah laku yang
terpuji, serta menolak dan meluruskan yang tercela. Hasan Ibrahim Hasan
1
Maksudnya ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti Taurat, Zabur, dan Injil.
4
menyebutkan beberapa adat kebiasan mereka yang tercela antara lain; (a) syirik
(menyekutukan Allah) dan menyembah berhala; (b) perdukungan dan khurafat; (c)
mabuk-mabukkan; (d) mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan sebagainya.
Sementara itu mereka mempunya sifat yang positif di antaranya; (a) mempunyai
semangat dan keberanian; (b) mempunyai sifat derma; (c) kebaktian terhadap suku,
dan lain sebagainya.
3. Syarat Utama Perubahan
Perubahan dapat terlaksana melalui pemahaman dan penghayatan nilai-nilai
Al-Qur’an, serta kemampuan memanfaatkan dan menyesuaikan diri dengan hokumhukum sejarah. Al-Qur’an adalah kitab pertama yang dikenal umat manusia yang
berbicara tentang hokum-hukum sejarah dalam masyarakat. Al-Qur’an sebagai Kitab
Suci yang berfungsi melakukan perubahan-perubahan positif, atau dalam bahasa AlQur’an:









    
   
Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin
Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
Al-Qur’an dalam hal ini tidak menjadikan dirinya sebagai alternative pengganti
usaha manusiawi, sebagai pendorong dan pemandu, demi berperannya manusia
secara positif dalam bidang-bidang kehidupan.
Salah satu hukum masyarakat yang ditetapkan Al-Qur’an menyangkut
perubahan adalah firman Allah SWT dalam Surat al-Ra’d (13): 11.
5
      
    






       

Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka
merobah keadaan2 yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki
keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekalikali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Ayat di atas berbicara tentang dua macam perubahan dengan dua pelaku.
Pertama, perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah SWT; dan kedua,
perubahan keadaan diri manusia yang pelaunya manusia itu sendiri. Perubahan yang
yang dilakukan Tuhan terjadi secara pasti melalui hokum-hukum yang telah ditetapkanNya. Hokum-hukum tersebut tidak memilih atau membedakan antara satu masyarakat
dengan masyarakat lainnya. Siapapun yang mengabaikan akan mendapatkan
punishment (hukuman) dari Allah SWT.
C. KERANGKA DASAR ISLAM (AKIDAH, SYARIAH DAN AKHLAK)
Islam pada hakikatnya adalah aturan atau undang-undang Allah SWT yang
terdapat dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya yang meliputi perintah-perintah dan
larangan-larangan, serta petunjuk-petunjuk untuk menjadi pedoman hidup dan
kehidupan manusia guna kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Secara garis besar,
ruang lingkup ajaran Islam meliputi tiga hal pokok, yaitu:
1. Akidah
Sebagaimana
agama-agama
pada
umumnya
yang
memiliki
system
kepercayaan dan keyakinan yang mendasari seluruh aktivitas pemeluknya yang biasa
2 Tuhan tidak akan merubah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab
kemunduran mereka.
6
disebut sebagai akidah. Akidah Islam berisikan ajaran tentang apa yang mesti
dipercayai, diyakini, dan diimani oleh setiap orang Islam. Karena agama Islam
bersumber pada kepercayaan dan keimanan kepada Tuhan, maka akidah merupakan
sistem kepercayaan yang mengikat manusia kepada Islam. Seorang manusia disebut
muslim jika dengan penuh kesadaran dan ketulusan bersedia terikat dengan system
kepercayaan Islam. Karena itu akidah merupakan ikatan dan simpul dasar Islam yang
pertama dan utama.
Sistem kepercayaan Islam atau akidah dibangun di atas enam dasar keimanan
yang lazim disebut rukun iman. Rukun iman meliputi keimanan kepada Allah, malaikat,
kitab-kitab, rasul, hari akhir serta qadha dan qadar. Allah berfirman:










   






  





 
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan
kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan
sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat
sejauh-jauhnya (Al-Nisa, 4: 136)
Berdasarkan enam pondasi iman tersebut, maka keterikatan setiap muslim
kepada Islam yang semestinya ada pada jiwa muslim adalah:
7
a. Meyakini bahwa Islam (seperti yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW)
adalah agama yang terakhir, mengandung syariat yang menyempurnakan
syariat-syariat yang diturunkan Allah sebelumnya, Allah berfirman:
     




    
   
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara
kamu3, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah
Maha mengetahui segala sesuatu (Al-Ahzab, 33: 40)
b. Meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar di sisi Allah
SWT, karena Islam adalah agama yang dianut oleh para nabi sejak Adam as
sampai Muhammad SAW. Islam datang dengan membawa kebenaran yang
bersifat absolute guna menjadi pedoman hidup vdan kehidupan manusia
selaras dengan fitrahnya. Allah berfirman:
     












    






Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada
berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab4 kecuali sesudah datang
3 Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. bukanlah ayah dari salah seorang sahabat, karena itu janda
Zaid dapat dikawini oleh Rasulullah s.a.w.
4 Maksudnya ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.
8
pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.
Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah
sangat cepat hisab-Nya (Ali Imron, 3: 19)
c. Meyakini bahwa Islam adalah agama yang universal dan berlaku untuk semua
manusia, serta mampu menjawab segala persoalan yang muncul dalam segala
lapisan masyarakat dan sesuai dengan tuntutan budaya manusia sepanjang
zaman. Allah berfirma:




   
    
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya
sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi
kebanyakan manusia tiada mengetahui (Saba, 34:28)
2. Syariah
Komponen Islam yang kedua adalah syariah yang berisi peraturan-peraturan
dan perundang-undangan yang mengatur aktivitas yang seharusnya dikerjakan dan
tidak boleh dikerjakan manusia. Syariat adalah system nilai yang merupakan inti ajaran
Islam. Syariat atau sistem nilai Islam ditetapkan oleh Allah sendiri. Dalam kaitan ini
Allah disebut sebagai syaari’ atau pencipta hukum.
Allah berfirman:
     






9










  
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan
untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang
menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orangorang yang zalim itu akan memperoleh azab yang Amat pedih (Al-Syura, 42: 21)
Sistem nilai Islam secara umum meliputi dua bidang:
a. Syariat yang mengatur hubungan manusia secara vertical dengan Allah SWT,
hal sperti shalat, puasa dan haji, serta ibadah lain yang berdimensi hubungan
dengan manusia, seperti zakat. Hubungan manusia dalam bentuk ibadah
kepada Allah SWT disebut abadah mahdhah atau ibadah khusus, karena
sifatnya yang khas dan tata caranya sudah ditentuan secara pasti oleh Allah
SWT dan dicontohkan secara rinci oleh Rasulullah SAW.
b. Syariat yang mengatur hubungan manusia secara horizontal, dengan sesama
manusia dan makhluk lainnya disebut muamalah. Muamalah meliputi ketentuan
atau peraturan segala aktivitas hidup manusia dalam pergaulan sesamanya
dan dengan alam sekitarnya.
Adanya
subsistem
muamalah
ini
membuktikan
bahwa
Islam
tidak
meninggalkan urusan dunia, bahkan tidak pula melakukan pemisahan antara
persoalan dunia dan akhirat. Bagi Islam ibadah yang diwajibkan Allah atas hamba-Nya
bukan sekadar menjalankan peribadahan yang bersifat formal (mahdhah) belaka,
melainkan semua perbuatan dapat bernilai ibadah. Ajaran ini sesuai dengan konsep
dasar Islam tentang penciptaan manusia, yaitu ibadah kepada Allah SWT. Allah SWT
berfirman ‫س إِالَّ ِليَ ْعبُد ُْو ِن‬
aku tidak menciptakan jin dan manusia
ِ ُ‫(و َما َخلَ ْقت‬Dan
ِ ‫الج َّن َو‬
َ ‫اإل ْن‬
َ
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku )Al-Dzariyat: 56). Hubungan
horizontal ini disebut pula dengan istilah ghairu mahdhah atau ibadah umum, karena
10
sifatnya yang umum, jenis dan caranya tidak dirinci, melainkan hanya diberikan prinsipprinsip dasarnya saja oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
3. Akhlak
Akhlak merupakan komponen dasar Islam yang ketiga yang berisi ajaran
tentang prilaku atau moral. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak
diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak merupakan bentuk jamak
dari kata khuluk artinya daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah
dan spontan tanpa dipikir dan direnungkan kembali. Dengan demikian akhlak pada
dasarnya adalah sikap yang melekat pada diri seseorang yang secara spontan
diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan. Apabila perbuatan spontan itu baik
menurut akal dan agama, maka tindakan itu disebut akhlak yang baik atau al-akhlaq alkarimah. Sebaliknya, akhlak yang buruk disebut al-akhlaq al-mazhmumah. Baik dan
buruk akhlak didasarkan kepada sumber nilai, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
Secara umum dapat dikatakan bahwa bahwa akhlak yang baik pada dasarnya
adalah akumulasi dari akidah dan syariat yang bersatu secara utuh dalam diri
seseorang. Maka dapat disimpulkan bahwa akhlak merupakan prilaku yang tampak
apabila syariat Islam telah dilaksanakan berdasarkan akidah yang benar.
Menurut obyek atau sasarannya pembahasan tentang akhlak biasanya
dikategorikan menjadi akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap manusia dan akhlak
terhadap lingkungan. Akhlak kepada Allah bisa berupa beribadah kepada Allah SWT,
berdzikir kepada Allah, berdo’a dan bertawakkal kepada-Nya. Akhlak kepada manusia
seperti sabar, syukur, rendah hati dll. akhlak kepada lingkungan di antaranya
melestarikan dan memakmurkan alam dengan mengelola sumber daya alam sehingga
dapat member manfaat bagi kesejahteraan manusia tanpa merugikan alam itu sendiri.
D. MASA KEJAYAAN ISLAM
11
Dalam masa tiga tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 623
Masehi, pasukan kaum muslimin yang telah menguasai jazirah Arab mulai menuju
wilayah luar semenanjung Arabia menuju wilayah-wilayah yang telah lama di bawah
pemerintahan Bizantium dan Sasani. Di bawah pimpinan para khalifah, pemimpin
spiritual dan politik yang menggantikan Nabi Muhammad, pasukan Muslim menyebar
dengan cepat ke segara arah. Mereka berhasil menaklukan Syiria, Irak, dan
Yerussalem pada tahun 623 M, Mesir pada tahun 624 M, Asia Tengah dan Afrika Utara
bagian Barat pada tahun 670 M. kurang dari lima puluh tahun kemudian pasukan Islam
memasuki Spanyol, Persia, dan India. Dalam waktu satu abad kaum muslimin telah
menaklukkan tidak hanya sebagian besar Timur Tengah, Afrika Utara, Semenanjung
Liberia, tapi juga sebagian anak Benua India.
Luas daerah kekuasaan kaum muslimin melampaui apa yang pernah dilakukan
oleh imperium Roma pada saat kejayaannya. Apa yang diperoleh pasukan kaum
muslimin disebabkan oleh semangan keimanan para pengikut nabi Muhammad SAW,
kemampuan kepemimpinan para panglimanya, kemampuan merancang strategi
peperangan, kekuatan mental pantang menyerah para pasukan muslim yang dididik
oleh nabi Muhammad SAW.
Cepatnya ekspansi wilayah pemerintahan muslim yang diikuti perpindahan
agama sukarela dari banyak pengikut Kristen, Yahudi dan lain-lain menyebabkan kaum
muslimin dihadapkan pada pilihan bagaimana cara mengadaptasikan kepercayaan dan
pemikiran Islam dengan kepercayaan, pemikiran, budaya, dan filsafat dari wilayahwilayah yang kaum muslimin taklukkan.
Islam dilahirkan tanpa filsafat seperti yang dipahami oleh dunia Barat. Namun
demikian, sejak awal kaum muslimin senantiasa mencari jawaban atas pertanyaan
tentang Tuhan, penciptaan alam semesta, tujuan umat manusia, dan tatanan yang
bagus untuk kehidupan individu dan masyarakat di atas dunia. Sebelum bersentuhan
12
dengan karya-karya filosof Yunani, para cendikiawan muslim menemukan warisan
intelektual yang mereka dapatkan dari wilayah-wilayah non-muslim yang mereka
taklukkan, dan dengan semangat yang luar biasa mereka mengungkap serta menggali
secara mendalam harta karun berupa naskah-naskah filosofis yang terkadung di
dalamnya pemikiran dari Yunani, India dan Persia kuno, termasuk karya-karya
Pythagoras, Sokrates, Plato, Aristoteles, dan Epicurus menarik minat para cendikiawan
muslim. Seluruh karya-karya tersebut merupakan akumulasi intelektual yang kaya
yang mereka piker dapat dan harus mereka manfaatkan secara islami.
Berkat kerja keras dalam menggali dan menerjemahkan karya-karya filsafat
warisan filosof Yunani telah melahirkan filosof Arab pertama Al-Kindi, seorang
cendikiawan muslim yang mendorong penerjemahan karya-karya Aristoteles ke dalam
bahasa Arab, sehingga kemudian Al-Kindi yang berperan di Baghdad pada abad ke-9
dikenal sebagai filosof muslim yang turut mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang
pemikiran politik, sains, filsafat, fisika, matematika, optic, music, meteorology dan
kosmologi.
Selain Al-Kindi dikenal pula Al-Farabi yang memiliki pengetahuan cukup
mendalam atas ide-ide filosof Aristoteles dan Plato. Al-Farabi dan Al-Kindi sangat
berperan menentukan hal-hal penting dalam filsafat Islam. Di bidang kedokteran
muncul seorang ilmuan muslim Ibnu Sina yang hidup di abad ke-11, di barat dikenal
dengan Avicenna. Di bidang hokum, filsafat dan teologi dikenal nama al-Ghazali yang
hidup pada abad ke-11 yang memainkan peranan penting dalam menyatukan unsure
filsafat, teologi Islam dan sufisme. Karya-karya monumental al-Ghazali dikemudian hari
sangat mempengaruhi para teologdan filosof Kristen dan Yahudi. Akhirnya Ibnu Rusyd,
juga dikenal sebagai Averroes, merupakan cahaya paling terang pada puncak budaya
yang dicapai Spanyol muslim selama abad ke-11 da ke-12 yang dianggap sebagai
bapak pemikir Islam rasional.
13
E. MUSLIM SAAT INI
Berawal pada abad ke-14, Islam sebagai sebuah imperium mengalami
kemunduran di bidang militer, politik dan budaya, sebuah kondisi dan kecendrungan
yang tidak berubah hingga saat ini. Penaklukkan oleh Turki Seljuk, invasi bangsa
Norman terhadap Sisilia, Perang Salib dan perebutan kembali Spanyol menimbulkan
gejolak dan ketidakstabilan di wilayah Islam yang mengakibatkan hilangnya vitalitas
dan tujuan sosial.
Setelah abad ke-15 sains dan ilmu pengetahuan di wilayah muslim menjadi
tertutup dari energy yang inovatif dan keberhasilan di bidang ilmu pengetahuan lebih
berkembang di Eropa yang telah belajar dari ilmuan-ilmuan muslim.
Antara pertengahan abad ke-18 dan abad ke-20, dominasi kerajaan Utsmani pada
wilayah muslim digantikan oleh Inggris, Prancis, Italia di hampir seluruh wilayah kecuali
di Turki sendiri. Teknologi, pendidikan dan strategi politik yang dikembangkan Barat
menjadi kekuatan-kekuatan sosial dan budaya baru yang progresif dan menjadi asing
bagi Islam yang semakin kurang dinamis dalam karakter dan tujuan.
Dunia muslim saat ini memilii keterbatasan dalam berbagai bidang terutama
ekonomi, politik dan militer. Dalam konteks ekonomi misalnya, mayoritas Negaranegara Islam merupakan Negara berkembang dan tergolong miskin, kecuali di
beberapa wilayah seperti Kuwait, Saudi Arabia, Brunei Darussalam Uni Emirat Arab,
Qatar dan lainnya. Sedangkan lebih dari 60 negara berpenduduk muslim dapat kita
katakana memiliki penduduk miskinyang kurang lebih sama dengan Indonesia, bahkan
lebih menderita seperti Somalia, Kashmir, Afganistan, Nigeria, Uganda, Mali, Kamerun
dan yang lainnya. Sedangkan di Negara-negara muslim yang relative kaya pun,
terdapat kesenjangan yang cukup signifikan antara si kaya dengan si miskin.
14
BAB II
SUMBER AJARAN ISLAM
A. Alqur’an
1. Pengertian Al-Qur’an
Secara etimologi Alquran berasal dari kata qara’a, yaqra’u, qiraa’atan, atau
qur’anan yang berarti mengumpulkan (al-jam’u) dan menghimpun (al-dlammu).
Secara harfiyah, Quran artinya “bacaan” (qoroa, yaqrou, quranan), sebagaimana
firman Allah dalam Q.S. 75:17-18.
    





Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan
(membuatmu pandai) membacanya (17) apabila Kami telah selesai membacakannya
Maka ikutilah bacaannya itu (18) (Al-Qiyamah, 75: 17-18)
Sedangkan secara terminologi (syariat), Alquran adalah Kalam Allah ta’ala
yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu
15
‘alaihi wasallam, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.
Dan menurut para ulama klasik, Alquran adalah Kalamulllah yang diturunkan pada
rasulullah dengan bahasa arab, merupakan mukjizat dan diriwayatkan secara
mutawatir serta membacanya adalah ibadah.
Al-Quran membenarkan Kitab-Kitab sebelumnya dan menjelaskan hukumhukum yang telah ditetapkan sebelumnya.





     










 
Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu)
membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang
telah ditetapkannya,5 tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan
semesta alam (Yunus, 10:37)
Al-Quran tersusun dalam 114 surat dengan 6.236 ayat, 74.437 kalimat, dan
325.345 huruf. Al-Quran diturunkan Allah dalam dua periode:
a. Periode Makkah, yakni selama 12 tahun 13 hari. Ayat-ayatnya disebut Ayat
Makiyah. Ayat pertama turun adalah Q.S. Al-’Alaq:1-5, ketika Nabi Muhammad
berkhalwat di Gua Hira tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 M yang dikenal
sebagai “Malam Qadar” (Lailatul Qadr).Ayat-ayat yang turun di Makkah disebut “AyatAyat Makiyah” dengan ciri khas: ayatnya pendek-pendek, ditujukan kepada umat
manusia (diawali kalimat “Ya Ayuhan Naas”, Wahai Manusia), dan berisi hal-hal yang
5
Maksudnya Al Quran itu menjelaskan secara terperinci hukum-hukum yang telah disebutkan
dalam Al Quran itu
16
berhubungan dengan tauhid, keimanan, ancaman dan pahala, serta sejarah bangsabangsa terdahulu.
b. Periode Madinah, ayat-ayatnya disebut Ayat Madaniyah. Di Madinah pula ayat
terakhir turun, yakni Q.S. 5:3, ketika Nabi Saw tengah menunaikan ibadah haji Wada di
Arafah (9 Dzulhijjah 10 H/Maret 632 M). Ayat-ayat yang turun di Madinah disebut
“Ayat-Ayat Madaniyah”, dengan ciri khas: umumnya panjang-panjang, ditujukan
kepada kaum beriman (diawali dengan “Ya Ayuhal Ladzina Amanu”, Wahai OrangOrang
Beriman),
dan berisi
ajaran
tentang
hukum-hukum,
kemasyarakatan,
kenegaraan, perang, hukum internasional, serta hukum antaragama dan lain-lain.
Al-Quran dalam wujud sekarang merupakan kodifikasi atau pembukuan yang
dilakukan para sahabat. Pertama kali dilakukan oleh shabat Zaid bin Tsabit pada masa
Khalifah Abu Bakar, lalu pada masa Khalifah Utsman bin Affan dibentuk panitia ad hoc
penyusunan mushaf Al-Quran yang diketuai Zaid. Karenanya, mushaf Al-Quran yang
sekarang disebut pula Mushhaf Utsmany.
Al-Quran yang merupakan sumber utama ajaran Islam ini benar-benar
merupakan kebenaran sejati sebagai pedoman hidup (way of life) manusia. Melalui AlQuranlah Allah SWT menyatakan kehendak-Nya. Mengikuti tuntunan dan tuntutan AlQuran berarti mengikuti kehendak-Nya. Itulah sebabnya Allah sendiri yang menjamin
keaslian Al-Quran sejak pertamakali diturunkan. Makanya, hingga kini apa yang ada
dalam Al-Quran, itu pula yang diterima dan dicatat para sahabat Nabi Saw. Hingga kini
isinya masih dalam teks asli, tanpa sedikit pun perubahan, baik dalam jumlah surat,
ayat, bahkan huruf. Tidak tercampur di dalamnya ucapan Nabi Muhammad Saw atau
perkataan para sahabat. Allah berfirman:
    
  
17
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benarbenar memeliharanya6(Al-Hijr, 15:9)
Salah satu indikasi keaslian al-Quran adalah tidak adanya “Quran tandingan” karena
manusia yang paling cerdas sekaligus paling membenci al-Quran pun tidak akan
sanggup membuatnya. Allah SWT sendiri menantangnya.











   

     




   




 
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada
hamba Kami (Muhammad), buatlah7 satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan
ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar (23)
Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat
membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu,
yang disediakan bagi orang-orang kafir (24) (Al-Baqarah, 2: 23-24)
    





6




Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.
Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu
tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan
mukjizat Nabi Muhammad s.a.w.
7
18
    

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang
serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan
Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain” (Al-Isra,
17: 88)
2. Pokok-pokok kandungan dalam Alquran antara lain:
a. Tauhid, yaitu kepercayaan ke-esaan Allah SWT dan semua kepercayaan yang
berhubungan dengan-Nya
b. Ibadah, yaitu semua bentuk perbuatan sebagai manifestasi dari kepercayaan
ajaran tauhid
c. Janji dan ancaman, yaitu janji pahala bagi orang yang percaya dan mau
mengamalkan isi Alquran dan ancaman siksa bagi orang yang mengingkari
d. Kisah umat terdahulu, seperti para Nabi dan Rasul dalam menyiaran syariat
Allah SWT maupun kisah orang-orang saleh ataupun kisah orang yang
mengingkari kebenaran Alquran agar dapat dijadikan pembelajaran.
3. Al-Quran mengandung tiga komponen dasar hukum, sebagai berikut:
a. Hukum I’tiqadiah, yakni hukum yang mengatur hubungan rohaniah manusia
dengan Allah SWT dan hal-hal yang berkaitan dengan akidah/keimanan.
Hukum ini tercermin dalam Rukun Iman. Ilmu yang mempelajarinya disebut
Ilmu Tauhid, Ilmu Ushuluddin, atau Ilmu Kalam.
b. Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan
manusia dengan Allah SWT, antara manusia dengan sesama manusia, serta
manusia dengan lingkungan sekitar. Hukum amaliah ini tercermin dalam Rukun
19
Islam dan disebut hukum syara/syariat. Adapun ilmu yang mempelajarinya
disebut Ilmu Fikih.
c. Hukum Khuluqiah, yakni hukum yang berkaitan dengan perilaku normal
manusia dalam kehidupan, baik sebagai makhluk individual atau makhluk
sosial. Hukum ini tercermin dalam konsep Ihsan. Adapun ilmu yang
mempelajarinya disebut Ilmu Akhlaq atau Tasawuf.
4. Sedangkan khusus hukum syara dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni:
a. Hukum ibadah, yaitu hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah
SWT, misalnya salat, puasa, zakat, dan haji
b. Hukum muamalat, yaitu hukum yang mengatur manusia dengan sesama
manusia dan alam sekitarnya. Termasuk ke dalam hukum muamalat adalah
sebagai berikut:
 Munakahat (hukum pernikahan).
 faraidh (hukum waris).
 jinayat (pidana).
 Al-Ahwal al-Syakhshiyyah (hukum perdata)
 hudud (hukuman).
 Hukum jual-beli
 Hukum tata Negara/kepemerintahan
 Murafa’at (hukum acara).
 dll
B. Al-Sunnah
As-Sunnah disebut juga Al-Hadits. Secara harfiyah (etimologis), Sunnah berarti
adat-istiadat (traditions). Secara maknawi (terminologis), Sunnah adalah segala
perkataan, perbuatan, dan penetapan Nabi Muhammad Saw. Penetapan (taqrir)
adalah persetujuan atau diamnya Nabi Saw terhadap perkataan dan perilaku sahabat.
20
Kedudukan As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam dijelaskan Al-Quran dan
sabda Nabi Muhammad Saw.





     





   
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang
kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (Al-Nisa, 4: 65)
    
    
      
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya
bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Amat keras hukumannya (Al-Hasyr, 59: 7)
‫سنَّةَ نَبِيِ ِه‬
َّ ‫َاب‬
َّ ‫َضلُّوا َما ت َ َم‬
ُ ‫اَّللِ َو‬
َ ‫س ْكت ُ ْم بِ ِه َما ِكت‬
ِ ‫ت ََر ْكتُ فِي ُك ْم أ َ ْم َري ِْن لَ ْن ت‬
“Kutinggalkan untuk kaliam dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya,
selama kalian berpegang kepada keduanya, yakni Kitabullah (Quran) dan Sunnah
Rasul-Nya”.
Sunnah merupakan “juru tafsir” sekaligus “juklak” (petunjuk pelaksanaan) AlQuran. Sebagai contoh, Al-Quran menegaskan tentang kewajiban shalat dan berbicara
tentang ruku’ dan sujud. Sunnah atau Hadits Rasulullah-lah yang memberikan contoh
langsung bagaimana shalat itu dijalankan, mulai takbiratul ihram (bacaan “Allahu
Akbar” sebagai pembuka shalat), doa iftitah, bacaan Al-Fatihah, gerakan ruku, sujud,
hingga bacaan tahiyat dan salam.
21
Ketika Nabi Muhammad Saw masih hidup, ia melarang para sahabatnya
menuliskan apa yang dikatakannya. Kebijakan itu dilakukan agar ucapan-ucapannya
tidak bercampur-baur dengan wahyu (Al-Quran). Karenanya, seluruh Hadits waktu itu
hanya berada dalam ingatan atau hapalan para sahabat.
Kodifikasi Hadits Rasulullah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz
(100 H/718 M), lalu disempurnakan sistematikanya pada masa Khalifah Al-Mansur
(136 H/174 M). Para ulama waktu itu mulai menyusun kitab Hadits, di antaranya Imam
Malik di Madinah dengan kitabnya Al-Mutwatht, Imam Syafi’i menulis Ikhtilaful Hadits.
Berikutnya muncul Imam Ahmad dengan Musnad-nya yang berisi 40.000
Hadits. Ulama Hadits terkenal yang diakui kebenarannya hingga kini adalah Imam
Bukhari (194 H/256 M) dengan kitabnya Shahih al-Bukhari dan Imam Muslim (206
H/261 M) dengan kitabnya Shahih Muslim. Kedua kitab Hadits itu menjadi rujukan
utama umat Islam hingga kini. Imam Bukhari berhasil mengumpulkan sebanyak
600.000 hadits yang kemudian diseleksinya. Imam Muslim mengumpulkan 300.000
hadits yang kemudian diseleksinya.
Ulama Hadits lainnya yang terkenal adalah Imam Nasa’i yang menuangkan
koleksi haditsnya dalam Kitab Nasa’i, Imam Tirmidzi dalam Shahih Tirmidzi, Imam Abu
Daud dalam Sunan Abu Daud, Imam Ibnu Majah dalam Kitab Ibnu Majah, Imam
Baihaqi dalam Sunan Baihaqi dan Syu’bul Imam, dan Imam Daruquthni dalam Sunan
Daruquthni.
C. Sumber-Sumber Ajaran Islam Sekunder
1. Ijma’, yaitu menurut bahasa artinya sepakat, setuju, atau sependapat.
Sedangkan menurut istilah adalah kebulatan pendapat ahli ijtihad umat Nabi
Muhammad SAW sesudah beliau wafat pada suatu masa, tentang hukum suatu
perkara dengan cara musyawarah. Hasil dari Ijma’ adalah fatwa, yaitu keputusan
bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat.
22
2. Qiyas, yaitu berarti mengukur sesuatu dengan yang lain dan menyamakannya.
Dengan kata lain Qiyas dapat diartikan pula sebagai suatu upaya untuk
membandingkan suatu perkara dengan perkara lain yang mempunyai pokok
masalah atau sebab akibat yang sama. Contohnya adalah pada surat Al isra ayat
23 dikatakan bahwa perkataan ‘ah’, ‘cis’, atau ‘hus’ kepada orang tua tidak
diperbolehkan karena dianggap meremehkan atau menghina, apalagi sampai
memukul karena sama-sama menyakiti hati orang tua.
3. Istihsan, yaitu suatu proses perpindahan dari suatu Qiyas kepada Qiyas lainnya
yang lebih kuat atau mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk
mencegah kemudharatan atau dapat diartikan pula menetapkan hukum suatu
perkara yang menurut logika dapat dibenarkan. Contohnya, menurut aturan
syarak, kita dilarang mengadakan jual beli yang barangnya belum ada saat
terjadi akad. Akan tetapi menurut Istihsan, syarak memberikan rukhsah
(kemudahan atau keringanan) bahwa jual beli diperbolehkan dengan system
pembayaran di awal, sedangkan barangnya dikirim kemudian.
4. Mashalat Murshalah, yaitu menurut bahasa berarti kesejahteraan umum. Adapun
menurut istilah adalah perkara-perkara yang perlu dilakukan demi kemaslahatan
manusia. Contohnya, dalam Al Quran maupun Hadist tidak terdapat dalil yang
memerintahkan untuk membukukan ayat-ayat Al Quran. Akan tetapi, hal ini
dilakukan oleh umat Islam demi kemaslahatan umat.
5. Sadd al-Dzari’ah, yaitu menurut bahasa berarti menutup jalan, sedangkan
menurut istilah adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh
atau haram demi kepentingan umat. Contohnya adalah adanya larangan
meminum minuman keras walaupun hanya seteguk, padahal minum seteguk
tidak memabukan. Larangan seperti ini untuk menjaga agar jangan sampai orang
tersebut minum banyak hingga mabuk bahkan menjadi kebiasaan.
23
6. Istishhab, yaitu melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan telah
ditetapkan di masa lalu hingga ada dalil yang mengubah kedudukan hukum
tersebut. Contohnya, seseorang yang ragu-ragu apakah ia sudah berwudhu atau
belum. Di saat seperti ini, ia harus berpegang atau yakin kepada keadaan
sebelum berwudhu sehingga ia harus berwudhu kembali karena shalat tidak sah
bila tidak berwudhu.
7. ‘Urf, yaitu berupa perbuatan yang dilakukan terus-menerus (adat), baik berupa
perkataan maupun perbuatan. Contohnya adalah dalam hal jual beli. Si pembeli
menyerahkan uang sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya
tanpa mengadakan ijab kabul karena harga telah dimaklumi bersama antara
penjual dan pembeli.
BAB III
ISLAM DI INDONESIA
A. Eksistensi Islam di Indonesia
Umat Islam Indonesia sebagai komponen mayoritas bangsa, mempunyai peran
dan tanggung jawab yang besar bagi tercapainya cita-cita nasional masyarakat adil
dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Sehubungan dengan misi yang mulia ini, umat Islam bertanggung jawab penuh
terhadap pengembangan dan penataan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Tanggung jawab seperti itu, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
posisinya sebagai kaum muslimin dan warga Indonesia.
Umat Islam Indonesia perlu menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari nation
Indonesia. Sementara kenyataan menunjukan bahwa sebagai suatu bangsa, Indonesia
mempunyai Heterogenitas tertinggi secara fisik (negara kepulauan) maupun dalam
24
soal keragaman suku, bahasa daerah, adat istiadat, dan bahkan agama. Dengan
demikian, demi perkembangan, pertumbuhan dan masa depan Indonesia sendiri, umat
Islam sebagai mayoritas diharapkan memberikan kontribusi dan tanggung jawabnya
secara maksimal, sesuai dengan posisi dan perannya.
Untuk bisa memenuhi harapan tersebut umat Islam Indonesia perlu memilik
kesadaran sejarah (historical conciusness) yakni kesadaran bahwa segala sesuatu
mengenai tatanan hidup manusia ada sangkut pautnya dengan perbedaan zaman dan
tempat. Ini menuntut pemahaman yang benar dan utuh (kaffah) terhadap keluasan
ajaran-ajaran Islam disamping kecerdasan dan kearifan yang tinggi untuk membaca
tanda-tanda dan perubahan zaman. Selain itu diperlukan juga wawasan yang
kontekstual dalam memadukan gagasan keislaman dan keindonesiaan. Dengan kata
lain, umat Islam Indonesia dituntut untuk “menterjemahkan” Islam dalam setting
Indonesia.
Dengan kata lain, sebagai salah satu pendukung dan sumber utama
pembinaan nilai nilai ke-Indonesiaan, Islam diharapkan terus tampil dengan tawarantawaran kultural yang produktif dan konstruktif khususnya dalam pengisian nilai-nilai
ke-Indonesiaan menurut kerangka Pancasila. Islam juga semakin diharapkan dapat
menawarkan dirinya sebagai sumber pengembangan dan kelestarian keagamaan.
Umat Islam adalah golongan yang unggul, karenanya harus mencerminkan
keunggulan itu dalam sikap-sikap yang mulia dan penuh dengan semangat leadership
yang tinggi, tidak egois, tapi altruis.
B. Kedatangan dan Proses Penyebaran Islam Di Indonesia
Untuk memahami perkembangan Islam di Indonesia saat ini, mau tidak mau
harus dituntut jauh kebelakang, sejak kedatangan Islam di Indonesia. Terjadinya
proses penyebaran Islam di kepulauan Nusantara ditandai oleh akomodasi terhadap
nilai-nilai budaya lokal yang kemudian membentuk semacam tradisi Islam yang khas
25
Indonesia. Sosialisasi nilai-nilai Islam dengan budaya lokal dan adanya gerakan
pembaharuan Islam oleh kaum reformis membentuk sikap dan karakteristik muslim
Indonesia yang beragama.
1. Kedatangan Islam Di Indonesia
Dikalangan sejarahwan timbul perbedaan pendapat tentang sejarah Islam di
Indonesia. Rickles menyimpulkan, walaupun masa masuknya Islam ke Indonesia
merupakan periode terpenting dalam sejarah Indonesia, namun informasi tentang
periode ini masih kurang jelas. Sehingga De Graaf, misalnya, setelah meneliti berbagai
ke perpustakaan mengambil kesimpulan.
Secara umum ada 2 pendapat masuknya Islam ke Indonesia:
A. Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-8 Masehi. Sebagian besar pendapat
ini didukung oleh para ilmuan muslim di Indonesia dan Malaysia
B. Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke 13, sebagai mana dikemukakan
oleh sebagian besar ilmuan asing.
Pendapat pertama berdasarkan argumentasi bahwa sejak abad ke-4 Masehi
telah terdapat jalur transportasi yang menghubungkan Parsi, India dengan daratan
Cina. Sejak masa lalu, wilayah Barat Nusantara di sekitar Malaka telah menjadi titik
perhatian dalam jalur transportasi internasional. Jawa dan Sumatra sering disinggahi
kapal-kapal
asing
untuk
berdagang
rempah-rempah,
sebagaimana
dikatakan
sejarawan Prof. Dr. Taudik Abdullah.
Pada abad ke-7 terdapat pemukiman orang-orang Islam di pantai Barat Laut
Sumatra, yaitu di Barus, daerah penghasil kapur barus. Selain itu, dari tulisan-tulisan
orang-orang Arab, ditemukan pula cerita-cerita tentang kepulauan nusantara yang
merupakan indicator sudah terjalinnya hubungan antara orang Arab dengan penduduk
Nusantara.
26
Penyebaran Islam secara pesat di kepulauan Nusantara diperkirakan baru
terjadi pada abad ke-13 dan menjadi kekuatan kebudayaan/agama yang utama pada
abad ke-16 M. Setelah abad ke-13 M, aktivitas penyebaran agama Islam menjadi misi
kerajaan Islam Nusantara yang sudah memeluk Islam. Menurut perjalanan Ibnu
Batutah, seorang pengembara Arab dalam perjalanan pulang dari Cina pada tahun
1347 M, ia singgah di Sumatra.
Sedangkan berkaitan dengan dari manakah Islam masuk ke Indonesia,
manurut Azyumardi Azra ada tiga teori tentang asal Islam di Asia Tenggara:
A. Islam datang langsung dari Arab, tepatnya dari Hadramaut
B. Islam datang melalui India
C. Islam datang dari Benggali (Banglades)
Islam di Indonesia banyak berkompromi dengan budaya lokal. Sufisme dapat
dikatakan mewakili segi intelektual agama Islam dimasa terjadinya kemunduran
peradaban Islam dibidang politik dan militer karena serangan pihak barat. Kelompok
sufi berjasa menjaga eksistensi ketempat tempat lain seperti ke Indonesia tanpa
penaklukan militer seperti yang terjadi dikawasan lain dimasa jaya pasukan militer
Islam.
2. Proses Penyebaran Islam Di Indonesia
Keberhasilan diterimanya ajaran Islam dalam kehidupan sosial penduduk
Indonesia dan akhirnya dapat membentuk tradisi tersendiri yag menggabungkan tradisi
Islam dan lokal dapat dilihat dari 2 sudut :
a. sifat Islam yang universal dan mengajarkan persamaan dan kebebasan, serta
sifat yang mampu mengakomodasi kepercayaan lama
b. terdapat hubungan yang baik di antara para penyebar agama Islam dengan
penduduk setempat, karena para penyebar agama tersebut menerangan
27
bahwa Islam sebagai ajaran yang universal mewajibkan para penganutnya ikut
menyebarkan ajaran ini dengan cara-cara damai kepada orang lain.
A.H. Jones dalam bukunya “Islam di Dunia Melayu” menulis Islam di Indonesia
berpangkal pada kota-kota pelabuhan seperti Samudra Pasai, Malaka, dan kota-kota
pelabuhan lain di pesisir Utara Jawa seperti Demak kecuali untuk kerajaan
Minangkabau di Sumatera Tengah di kota-kota pelabuhan tersebut, Islam merupakan
fenomena istana. Istana menjadi sumber pengembangan Islam sehingga melahirkan
banyak intelektual Islam yang dekat dengan para pengusaha istana, seperti Hamzah
Fansuri, Syamsudin, Nurudin Ar-Raniri, dan Abdul Rauf Al-Sankili. Para intelektual ini
memiliki keilmuan yang luas sehingga terkenal diluar negeri.
Proses penyebaran Islam terjadi lewat beberapa sarana:
a. Sarana perdagangan terjadi melalui kontak para pedagang dengan para
pribumi. Pemukiman muslim yang mereka dirikan di pesisir pantai cepat
berkembang karena tingkat ekonomi mereka rata- rata bertambah baik dengan
ikut sertanya golongan bangsawan dengan golongan bangsawan dalam
perdagangan tersebut.
b. Sarana perkawinan ketika jumlah umat Islam semaki banyak, sementara
penghasilan mereka relatif tinggi, banyak diantara putri pribumi dari keluarga
bangsawan maupun rakyat biasa merasa tertarik dan ingin menikah dengan
mereka. Sebelum menikah, para wanita ini masuk Islam terlebih dahulu. Dalam
perkembangannya, para wanita-wanita dari keturunan keluarga muslim pun
menikah dengan kaum pribumi.
c. Sarana tasawuf mengajarkan ajaran-ajaran Islam dengan melakukan “adaptasi”
dengan kepercayaan yang sudah dikenal luas. Dengan demikian, Islam mudah
dimengerti dan dipahami.
28
d. Sarana pendidikan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan mempercepat
proses penyebaran Islam. Di sinilah calon-calon ulama didik. Setelah
menyelesaikan pelajarannya, mereka kembali ke daerahnya untuk mendirikan
lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren, merantau untuk menyebarkan
Islam, atau menjadi penceramah.
e. Sarana kesenian penyebaran ajaran Islam juga dilakukan lewat atraksi budaya
dan kesenian yang menarik minat penduduk yang sebelumnya memeluk
agama hindu seperti pertunjukkan wayang di jawa. contohnya: sunan kalijaga,
adalah seorang ahli agama yang dikenal sangat pandai memainkan wayang
dimana ia mementaskan cerita-cerita mahabrata dan ramayana dengan
memasukkan dan menyelipkan pesan-pesan Islam, sehingga pada akhirnya
banyak penduduk yang masuk Islam karena tersentuh pendekatan dan ajaran
Islam yang disampaikan oleh sunan kalijaga.
f.
Sarana politik lewat lembaga kerajaan Islam meluas ke tengah penduduk
seperti di maluku dan sulawesi selatan. Setelah raja dan kaum bangsawan
memeluk agama Islam, masyarakat kemudian mengikuti jejaknya. Untuk
mengukuhkan kekuasaannya, kerajaan-kerajaan Islam yang baru berdiri
memperluas wilayahnya dengan menaklukkan daerah-daerah lain. Pada
umumnya,
kaum
bangsawan
maupun
penduduk
daerah-daerah
yang
ditaklukkan tersebut kemudia masuk Islam.
C. Organisasi Sosial Keagamaan dan Organisasi Pelajar Pemuda Islam
1. Organisasi Sosial Keagamaan
Keberadaan orgaisasi sosial kemasyarakatan Islam sangat strategis di
Indonesia. Ormas bertugas untuk melakukan pengembangan rakyat bawah (grass
root) sebagai strategi perjuangan umat sehingga Islam akan lebih mudah tersebar ke
29
segala aspek kehidupan umat agar Islam dapat tampil dengan tawaran-tawaran
kultural yang produktif, konstruktif serta mampu menyatakan diri sebagai pembawa
kebaikan untuk semua umat manusia. pengembangan umat yang dilakukan ormas
lewat berbagai aktifitas seperti pedidikan, dakwah keagamaan secara kontekstual,
kesehatan,amal usaha,dan seterusnya.
a. Nahdatul Ulama
Keterbelakangan baik secara mental maupun ekonomi yang dialami bangsa
Indonesia akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi,telah menggugah
kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini melalui jalan
pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan
“Kebangkitan Nasional”. semangat kebangkitan memang terus menyebar ke manamana setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya
dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya,muncullah berbagai organisasi pendidikan
dan pembebasan.
Untuk lebih sistematis memperjuangkan aspirasi dalam membela keberagaman
dan untuk mengantisipasi perkembangan zaman, maka setelah berkoordinasi dengan
para kiyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama
Nahdhatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (13 Januari 1926).
Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rais ‘Amm.
Aktifitas NU :
1. Di bidang Agama melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa
persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.
2. Di bidang pendidikan menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai
Islam,untuk membentuk muslim yang bertakwa,berbudi luhur,berpengetahuan luas.
3. Di bidang sosial-budaya,mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan
yang sesuai dengan nilai ke-Islaman dan kemanusiaan.
30
4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil
pembangunan,dengan mengutaakan berkembagnya ekonomi rakyat.
5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
b. Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah organisasi sosial-keagamaan yang ruang lingkupnya
sangat luas, menyetuh seluruh aspek kehidupa masyarakat. Pada awalnya tujuan
utama Muhammadiyah merupakan gerakan pebaharuan Islam di Indonesia, kemudian
berkembang tidak hanya memberantas penyelewengan ajaran agama Islam, tetapi
juga meningkatan kualitas hidup umat.
Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8
Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis,
kemudian dikenal dengan K.H. Ahmad Dahlan. Gerakan Muhammadiyah mempunyai
cirri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat yang lebih maju dan
terdidik. Sebagai dampak positif dari organisasi ini, telah banyak didirikan rumah sakit
dan tempat pendidikan di seluruh Indonesia.
Sebagai organisasi modern, Muhammadiyah juga melakukan pembaruan
pendidikan dengan mengadopsi pendidikan Barat dengan tetap mempertahankan nilai
Islam dengan mendirikan lembaga pendidikan modern. Dengan model pendidikan
seperti itu, Muhammad secara langsung membangkitkan kesadaran nasionalisme
bangsa Indonesia, meyebarkan ide pembaharuan secara luas, serta mempromosikan
penggunaan ilmu praktis dari pengetahuan modern.
2. Organisasi-Organisasi Pelajar Dan Pemuda Islam
Organisasi pelajar dan pemuda Islam melakukan kegiatan yang sifatnya
menyangkut peningkatan akademis, wawasan keagamaan, kenegaraan diantara
organisasi-organisasi tersebut antara lain:
A. Pelajar Islam Indonesia (PII)
31
B. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PIM)
C. Ikatan Pelajar Nadhtul Ulama (IPNU)
D. Himpunan Mahasiswa Islam (HIM)
E. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
F. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
G. Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor)
H. Pemuda Muhammdiyah
I.
Nasiyatul Aisyah (NA)
J.
D. Peran Umat Islam Indonesia
Para pemimpin dan Cendekiawan Islam makin menyadari bahwa Islam adalah
rujukan
yang
paling
layak,
sebgi
sumber
yang
tak
pernah
kering
untuk
mengembangkan kehidupan umat mnusia secara lebih damai, adil, selaras, dan
berkemakmuran. Maka tak terlampau berlebihan kalau dikatakan bahwa kaum
Muslimin sekarang memasuki tahap revolusi yang ketiga yakni mental dan intelektual.
Dalam suasana demikian pada masyarakat muslim yang terbesar di dunia
adalah suatu keniscayaan bahwa semangat pembangunan masyarakat madani
tumbuh di tengah-tengah khalayak muslim indonesia. Umat Islam tak selayaknya acuh
tak acuh terhadap urusan pembangunan masyarakat madani ini. mengingat
keragaman keadaan umat,maka muslim indonesia yang berkepedulian sepatutny
menangani dua tugas sekaligus.
Pertama, mengentaskan dan memberdayakan para dhuafa dan meningkatkan
taraf hidup serta intelektualitas mereka sehingga menjadi umat yang mumpuni.
Kedua, membbangun masyarakat madani itu sendiri. Tak dapat yang satu
menunggu yang lain. keduanya dilakukan bersamaan. itu akan merupakan sumbangan
monumental umat Islam bagi bangsa ini,tak Cuma buat kaum sendiri.
32
Kedua tugas itu jelas tak mudah dan cepat walau khalifah Umar bin Abdul Aziz
dengan penuh pengorbanan sudah memberi contoh bagaimana menyejahterakan
umat hanya dalam jangka dua tahun. Nabi Muhammad pun memerlukan waktu satu
dasawarsa lebih dari peletakan batu permata hingga teerbangnya masyarakat madani
di madinah. Terlebih di masa sekarang mengingat hambatannya sudah mendunia
akibat globalisasi yang melanda dengan derasnya. Menghadapi semua hambatan
tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi,Nabi Muhammad menyebut
tantangan yang harus dihadapi,Nabi Muhammad menyebut tantangan seperti itu
selayak mereka yang baru pulang berperang dari jihad kecil untuk memasuki jihad
besar melawan hawa nafsu.
Umat Islam harus bersatu sebagai langkah awal umat Islam harus
menyelesaikan berbagai konflik sektarian yang memecah-belah. Pada saat yang
sama,umat harus menolak peenindasan dan eksploitasi sesama,korupsi dan
kerakusan serta rasionalisme sempit dan mementingkan golongan sendiri.
Muslim yang benar adalah mereka yang menegakkan keadilan,melawan
tirani,mengupayakan kebebasan dari ketertindasan,terhormat dan jujur,yang bersifat
terbuka dalam kata dan perbuatan.
Muslim
yang
kemanusiaan,menghargai
benar
adalah
kehormatan
mereka
wanita
yang
dan
juga
melindungi
kesejahteraan
anak-
anak,memelihara integritas keluarga,membantu orang-orang yang kelaparan,dan hidup
harmonis bersama lingkungan.
Orang-orang Muslim yang modern adalah mereka yang bisa mengharmonisasi
ajaran Islam yang bersumber dari wahyu dan tradisi Nabi di satu tangan,sementara
tangan yang lain menggenggam ilmu pengetahuan sebagaimana yang diucapkan
cendekiawan muslim,Muhammad Abduh (1849-1905).
33
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menunjukan betapa Islam tidaklah
bertentangan dengan kemajuan,modernitas,maupun praktik demokrasi. Pendekatan
komperhensif untuk pembangunan manusia,masyarakat,dan negara berbasis ajaran
dan peradaban Islam.
1.
Konsistensi pada keimanan Allah.
2.
Mewujudkan pemerintahan yang adil dan bisa dipercaya.
3.
Menumbuhkan tradisi berdemokrasi kepada rakyat.
4.
Mencintai ilmu pengetahuan dengan penuh semangat dan menguasainya.
5.
Melaksanakan pembangunan ekonomi yang berimbang dan menyeluruh.
6.
Meningkatkan kualitas hidup rakyat yang baik.
7.
Memberikan perlindungan terhadap hak-hak minoritas dan kaum perempuan.
8.
Mengintegrasikan nilai-nilai agama dan nilai-nilai budaya.
9.
Menyelamatkan sumberdaya alam dan lingkungan.
10. Berusaha keras memaksimalkan kemampuan.
E. Kesimpulan
Jadi, agama Islam itu sudah ada sejak turun-temurun. Umat Islam sebagai
komponen mayoritas bangsa mempunyai peran dan tanggung jawab yang besar -bagi
tercapainya cita-cita nasional masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila dan
UUD 1945
Sekarang, Indonesia merupakan negara yang mayoritas masyarakatnya
menganut agama Islam yang awal masuknya melalui berbagai sarana, seperti:
pendidikan, perdagangan, perkawinan, budaya, dan lain-lain. Patut disyukuri bahwa
perkembangan yang ada dewasa ini menujukkan bangkitnya kesadaran umat Islam
Indonesia untuk kembali memainkan misi kekhalifahannya dalam mengisi dan
memantapkan arah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan
34
kata lain, sebagai salah satu pendukung
dan sumber utama pembinaan nilai-nilai
keindonesiaan.
BAB IV
EKSISTENSI MARTABAT MANUSIA
A. PENDAHULUAN
Proses lahir dan keberadaan manusia di dunia memang membuktikan
kekuasaan Allah Yang Maha Besar. Dibuktikan dengan adanya jutaan sel sperma yang
dikeluarkan oleh sang suami dan hanya ada satu yang akan bertahan/masuk ke sel
telur istri yang akan dibuahi dan akhirnya menjadi embrio atau calon bayi. Jadi dapat
anda bayangkan, proses awal terbentuknya manusia saja sudah terjadi tingkat
kompetisi yang tinggi. Setelah proses pembuahan, maka pada umur 4 bulan dalam
kandungan, Allah meniupkan roh dan pada akhir bulan ke-9 maka lahirlah sang bayi
manusia. Terkait terjadinya manusia, Allah berfirman :
)20 : ‫ب ث ُ َّم إِذَا أ َ ْنت ُ ْم بَش ٌَر ت َ ْنتَش ُِرونَ (الروم‬
ٍ ‫َومِ ْن آيَاتِ ِه أ َ ْن َخلَقَ ُك ْم مِ ْن ت ُ َرا‬
35
“dan diantara tanda-tanda –Nya inilah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian
tiba-tiba kamu menjadi manusia dan berkembang biak” (QS Ar-Ruum:20)
‫الرو ُح مِ ْن أ َ ْم ِر َربِي َو َما أُوتِيت ُ ْم مِ نَ ْالع ِْل ِم إِ َّال قَل ا‬
)85 : ‫ِيال(اإلسراء‬
ُّ ‫الروحِ قُ ِل‬
ُّ ‫ع ِن‬
َ َ‫َويَ ْسأَلُونَك‬
“dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan roh itu termasuk urusan
Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS Al-Israa:85)
Dari dua ayat di atas terlihat bahwa keberadaan manusia di dunia adalah
sebagai tanda kekuasaan Allah yang maha besar. Namun dengan demikian, usahausaha manusia untuk melakukan penelitian tentang proses pembentukan manusia juga
telah dilakukan, sebagai upaya manusia untuk berpikir.
B. TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA
Terlahirnya Manusia ke dunia ini merupakan salah satu tanda kebesaran Allah.
Tujuan manusia diciptakan di dunia ini adalah untuk mengabdi kepada Allah. Mengakui
keberadaan-Nya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dan dalam
melaksanakan kehidupan manusia melaksanakan shalat sebagai bentuk keimanan
kepada Allah (hablum minallah) dan berbuat baik terhadap sesama dan alam sebagai
bentuk hubungan sosial kemasyarakatan (hablum minannaas).
Terkait dengan tujuan manusia didunia, Allah berfrman :
)56 :‫ُون(الذاريات‬
ِ ْ ‫َو َما َخلَ ْقتُ ْال ِج َّن َو‬
َ ‫اإل ْن‬
ِ ‫س إِ َّال ِليَ ْعبُد‬
“dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku” (QS Adz-dzaariyaat:56)
Sebagai wujud keimanan, Allah menyatakan bahwa manusia tidak cukup hanya
meyakini di dalam hati dan mengucapkan didalam mulut, tetapi manusia harus
melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena, manusia yang beriman harus
mengerti dan melaksanakan apa isi Al-Qur’an. Manusia beriman juga memperhatikan
36
ciptaan Allah dan mengambil hikmah serta memperlajari dan mengambil manfaat dari
segala ciptaan Allah, sebagai iman kita selalu bertambah.
Menjadi Islam yang benar adalah secara konsisten melaksanakan rukun iman
dan rukun islam. Dalam surat Al-Bayyinah ayat 7-8, Allah memerintahkan umat Islam
untuk mengerjakan amal saleh. Ayat ini sebenarnya merupakan bagian dari keimanan
yang berhubungan dengan sesama manusia dan alam sekitar. Terkait dengan tujuan
hidup manusia dengan manusia lain dapat di jelaskan sebagai berikut :
1. Tujuan umum adanya manusia didunia.
Tujuan manusia diciptakan Allah dan berada di dunia adalah untuk menjadi
rahmat bagi alam semesta. Arti kata rahmat adalah karunia, kasih sayang dan
belas kasih. Jadi manusia sebagai rahmat adalah manusia diturunkan untuk
memberikan kasih sayang dan belas kasih kepada alam semesta. Allah
berfirman :
)107 :‫س ْلنَاكَ ِإ َّال َرحْ َمةا ل ِْل َعالَمِ ين(األنبياء‬
َ ‫َو َما أ َ ْر‬
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk rahmat bagi semesta
alam” (QS Al-Anbiyaa:107)
2. Tujuan Individu adanya manusia di dunia
Tujuan setiap individu didunia adalah adanya kehidupan yang baik didunia dan
di akhirat. Sukses didunia dan bahagia diakherat inilah tujuan setiap orang di
dunia. Amal shaleh diwujudkan manusia dalam melakukan perbuatan baik dan
menjauhkan dari perbuatan jelek. Allah berfirman :
َ ‫مِن ذَك ٍَر أ َ ْو أ ُ ْنثَى َوه َُو ُمؤْ مِ ٌن فَلَنُحْ يِيَنَّهُ َحيَاة ا‬
ْ ‫صا ِل احا‬
‫س ِن َما كَانُوا‬
َ ‫َم ْن‬
َ ْ‫َجْزيَنَّ ُه ْم أَجْ َر ُه ْم بِأَح‬
َ ‫عمِ َل‬
ِ ‫طيِبَةا َولَن‬
)97 :‫يَ ْع َملُونَ (النحل‬
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada
37
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan
(QS An-Nahl: 97)
3. Tujuan individu dalam Keluarga
Manusia di dunia tidak hidup sendirian. Manusia diciptakan berpasangpasangan,
maka
manusia
wajib
membentuk
keluarga.
Tujuan
hidup
berkeluarga di setiap manusia adalah supaya tentram. Untuk menjadi keluarga
yang tentram, Allah memberikan rasa kasih sayang. Jangan sampai antara
anggota berkonflik yang menimbulkan kebencian dan kejahatan. Allah SWT
berfirman:
‫ت‬
ٍ ‫َومِ ْن آيَاتِ ِه أ َ ْن َخلَقَ لَ ُك ْم مِ ْن أ َ ْنفُ ِس ُك ْم أ َ ْز َوا اجا ِلت َ ْس ُكنُوا ِإلَ ْي َها َو َج َع َل بَ ْينَ ُك ْم َم َودَّة ا َو َرحْ َمةا ِإ َّن فِي ذَلِكَ آليَا‬
)21 :‫ِلقَ ْو ٍم َيتَفَ َّك ُرونَ (الروم‬
“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya
di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].
4. Tujuan individu dalam masyarakat
Setelah hidup berkeluarga, maka manusia mempunyai kebutuhan untuk
bermasyarakat. Tujuan hidup bermasyarakat adalah keberkahan dalam hidup
yang melimpah. Manusia secara individu harus dapat mengajak masyarakat
hidup untuk memelihara Iman & Takwa, sehingga manusia sebagai makhluk
sosial senantiasa dalam memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah
SWT berfirman:
‫ض َولَك ِْن َكذَّبُوا فَأ َ َخ ْذنَا ُه ْم ِب َما‬
ٍ ‫علَ ْي ِه ْم َب َركَا‬
َّ ‫ت مِ نَ ال‬
ِ ‫س َماءِ َو ْاأل َ ْر‬
َ ‫َولَ ْو أ َ َّن أ َ ْه َل ْالقُ َرى آ َمنُوا َواتَّقَ ْوا لَفَت َ ْحنَا‬
)96 :‫كَانُوا يَ ْك ِسبُون(األعراف‬
38
“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi
mereka mendustakan itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”
(QS Al-Araaf:96)
5. Tujuan individu dalam bernegara
Kita ingin negara kita menjadi negara yang baik, yaitu negeri yang makmur atau
setiap saat mendapatkan rejeki yang cukup dan aman. Oleh karena itu, kita
sebagai anak bangsa harus rajin bersyukur. Apabila banyak di antara kita tidak
mensyukuri nikmat Allah, atau berkeluh kesah, maka bangsa kita tidak akan
terlepas dari bencana. Allah SWT berfirman:
ٌ‫طيِبَة‬
َ ٌ ‫ق َربِكُ ْم َوا ْش ُك ُروا لَهُ بَ ْلدَة‬
َ ‫َان‬
َ ‫لَقَ ْد َكانَ ِل‬
ٍ ِ‫ع ْن يَم‬
ِ ‫ين َو ِش َما ٍل ُكلُوا مِ ْن ِر ْز‬
ِ ‫سبَإ ٍ فِي َم ْس َكنِ ِه ْم آيَة ٌ َجنَّت‬
‫س ْي َل ْال َع ِر ِم َو َبد َّْلنَا ُه ْم ِب َجنَّت َ ْي ِه ْم َجنَّتَي ِْن ذَ َوات َ ْي أ ُ ُك ٍل َخ ْمطٍ َوأَثْ ٍل‬
َ ٌّ‫َو َرب‬
ٌ ُ‫غف‬
َ ‫س ْلنَا‬
َ ‫علَ ْي ِه ْم‬
َ ‫) فَأَع َْرضُوا فَأ َ ْر‬15( ‫ور‬
)16-15 :‫ش ْيءٍ مِ ْن ِسد ٍْر قَلِي ٍل (سبأ‬
َ ‫َو‬
Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat
kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri,
(kepada
mereka
dikatakan):
“Makanlah
olehmu
dari
rezeki
yang
(dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu)
adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha
Pengampun”(15) Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada
mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua
kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan
sedikit dari pohon Sidr. (QS Saba: 15-16)
6. Tujuan individu dalam pergaulan Internasional
Terkait dengan kehidupan antar negara, maka yang penting adalah saling
mengenal dan saling mengetahui. Dengan saling mengenal, maka kita tahu
kebutuhan masing-masing, dan apabila saling mengetahui maka kita dapat
39
saling membantu. Kita saling membantu untuk kebaikan, dan kita harus dapat
memilih mana yang baik bagi kita dan mana yang buruk. Allah SWT berfirman:
ُ ‫اس إِنَّا َخلَ ْقنَا ُك ْم مِ ْن ذَك ٍَر َوأ ُ ْنثَى َو َجعَ ْلنَا ُك ْم‬
‫اَّللِ أَتْقَا ُك ْم‬
َّ َ‫ارفُوا إِ َّن أ َ ْك َر َم ُك ْم ِع ْند‬
ُ َّ‫يَا أَيُّ َها الن‬
َ َ‫شعُوباا َوقَبَائِ َل ِلتَع‬
)13 :‫ير(الحجرات‬
َّ ‫إِ َّن‬
ٌ ِ‫علِي ٌم َخب‬
َ َ‫اَّلل‬
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan
perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian
adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13].
C. FUNGSI DAN PERANAN MANUSIA
Allah SWT berfirman bahwa fungsi dan peran manusia adalah sebagai khalifah
atau pemimpin di muka bumi. Allah SWT berfirman:
‫ِس‬
ِ ُ‫ض َخلِيفَةا قَالُوا أَتَجْ َع ُل فِي َها َم ْن يُ ْف ِسدُ فِي َها َو َي ْس ِفك‬
ِ ‫َو ِإ ْذ قَا َل َربُّكَ ل ِْل َم َال ِئ َك ِة ِإنِي َجا ِع ٌل فِي ْاأل َ ْر‬
ُ ‫س ِب ُح ِب َح ْمدِكَ َونُقَد‬
َ ُ‫الد َما َء َونَحْ نُ ن‬
)30 :‫لَكَ قَا َل إِنِي أ َ ْعلَ ُم َما َال ت َ ْعلَ ُمونَ (البقرة‬
“Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat:”Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata:”Mengapa Engkau
hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan mensucikan Engkau”. Rabb berfirman:’Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui’ “. (QS. Al-Baqarah:30)
Dalam kamus bahasa indonesia, khalifah berarti pimpinan umat. Menjadi
pemimpin adalah fitrah setiap manusia. Namun karena satu dan lain hal, fitrah ini
tersembunyi, tercemar bahkan mungkin telah lama hilang. Akibatnya banyak orang
yang merasa dirinya bukan pemimpin.
Kepemimpinan adalah suatu amanah yang diberikan Allah yang suatu ketika
nanti harus kita pertanggung jawabkan.
Anda adalah seorang pemimpin, minimal
40
memimpin diri sendiri. Untuk menumbuhkan kepemimpinan ada tiga hal yang perlu
anda ketahui.
Pertama, menyadari bahwa nasib berada di tangan anda sendiri. Andalah yang
merupakan sutradara terhadap kehidupan anda.
Kedua,sebagai sutradara anda harus menuliskan sekenario hidup anda. Andalah yang
paling tau apa yang penting dan apa yang tidak penting dalam hidup anda. Disini anda
harus memutuskan nilai-nilai yang akan anda jalanin dalam hidup.
Ketiga, menulis sekenario saja tidak cukup. Anda harus menjalankan sekenario anda
tersebut.
Kepemimpinan adalah sesuatu yang tumbuh dari dalam, kepemimpinan adalah sikap,
tindakan, prilaku, kebiasaan dan karakter kita sendiri. Proses mencapai kepemimpinan
tersebut tidak mudah.
Setiap orang sebenarnya pemimpin, setiap orang dapat mengatur dirinya
sendiri. Sayangnya, banyak orang yang tidak sadar. Untuk membangun kesadaran
bahwa setiap kita adalah pemimpin, ada tiga hal yang harus lakukan, yaitu memahami
diri sendiri (self understanding), kesadaran diri (self awareness), dan pengendalian diri
(self control).
1. Memahami diri sendiri ( self understanding)
Untuk menjadi pemimpin anda harus sadar siapakah diri anda sebenarnya.
Pepatah arab mengatakan :
ُ ‫ف َربَّه‬
َ ُ ‫سه‬
َ ‫َم ْن‬
َ ‫ف نَ ْف‬
َ ‫ع َر‬
َ ‫ع َر‬
“siapa yang mengenali dirinya akan mengenal Tuhannya “.
Mengenal diri sendiri adalah dasar dari kecerdasan spiritual (SQ). Untuk itu kita
perlu memikirkan pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti : siapakah kita, untuk apa
kita hidup, dari mana kita berasal, dan kemana kita akan pergi. Pertanyaan–
pertanyaan tersebut perlu kita jawab agar kita dapat menghayati kehidupan lebih
41
bermakna. Tanpa mengenali diri kita dengan benar, sulit untuk menemukan makna
kehidupan. Hidup adalah sebuah perjalan melingkar, kita memulai perjalanan tersebut
dari satu titik dan suatu ketika kita akan tiba kembali ke titik semula.
Dengan demikan hidup adalah sebuah perjalanan untuk kembali. Kembali
kepada asal usul merupakan fitrah kita sebagai manusia. Pemahaman ini juga akan
melahirkan kesadaran bahwa hidup adalah sementara. Ini akan melahirkan sikap
kesederhanaan dan tidak serakah.
a. Kesadaran Diri ( Self Awarness )
Kesadaran diri berarti sadar akan perasaan anda sendiri. Untuk menjadi pemimpin
anda harus “melek emosi “. Anda harus dapat mengenali dan mengidentifikasi
perasaan apa pun yang sedang anda rasakan. Ini dasar dari kecerdasan emosi ( EQ ).
b. Pengendalian Diri
Pengendalian diri berarti sadar sepenuhnya akan apa yg Anda lakukan. ini adalah
Hasil dari kecerdasan emosi (EQ) yang tinggi. Pengendalian diri baru dapat terlihat
pada situasi yang sulit dan melibatkan emosi. Orang yang mampu mengendalikan diri
tidak akan tergoda untuk makan terlalu banyak melakukan korupsi, memakai narkoba,
dan perbuatan apapun yang kelihatannya memberikan kenikmatan jangka pendek.
Pengendalian diri juga ditunjukkan oleh keberanian seseorang untuk membuat
komitmen dan melaksanakan komitmen tersebut .
D. KEUNGGULAN DAN POTENSI MANUSIA
Potensi diri adalah kekuatan dari individu yang masih terpendam di dalam yang
dapat diwujudkan menjadi sesuatu kekuatan nyata dalam kehidupan manusia. Potensi
diri manusia terdiri dari potensi fisik dan potensi non fisik. Potensi fisik adalah tubuh
manusia sebagai sebuah sistem yang paling sempurna bila dibandingkan mahkluk
Allah lainnya seperti binatang, malaikat, dan jin. Potensi non fisik adalah hati qolbu,
ruh, panca indra dan akal pikiran. Sesuai dengan potensi diri yang telah diberikan Allah
42
kepada manusia, konsekuensinya adalah harus dimanfaatkan diaktualisasikan
semaksimal mungkin dalam kehidupannya, agar dapat berguna bagi diri dan
lingkungannya.
Secara umum, manusia dilahirkan normal kedunia ini telah dilengkapi dengan
otak. Para pisikologi sepakat bahwa otak manusia adalah sumber kekuatan yang luar
biasa. Tugas otak tersebut, selain mengendalikan aktifitas fisik bagian-bagian dalam
tubuh seperti jantung, paru-paru, dan sebagainnya, juga berfungsi untuk aktifitas non
fisik seperti menghafal, kegiatan-kegiatan yang memerlukan logika seperti berhitung
menganalisis, bahasa, aktivitas imajinasi, intuisi, kreativitas inovasi dan sebagainnya.
Tugas otak adalah melahirkan kegiatan-kegiatan yang memerlukan logika, intuisi dan
kreativitas. Jadi otak manusia adalah sumber kekuatan untuk menghasilkan karya
melalui proses berfikir.
Dengan potensi yang dimilikinya, Allah menyuruh manusia untuk berfikir dan
mengelola alam semesta serta memanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemasalahan
kesejahteraan hidup manusia. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk
merealisikan harapan-harapan, keinginan-keinginan dan mimpi-mimpi kita menjadi
kenyataan
a. Gunakan potensi yang kita miliki
b. Perasaan takut gagal
c. Melawan kemungkinan-kemungkinan.
d. Sikap hidup biasa-biasa saja
e. Kurang antusias
f.
Menolak perubahan
Selain menggunakan seluruh potensi yang dimiliki seperti pengetahuan, dan
keterampilan, kita juga membutuhkan mesin penggerak untuk mencapai tujuan Anda.
Hal yang dapat mendorong tujuan itu adalah:
43
a. Kebijaksanaan, jika anda ingin menjadikan mimpi menjadikan kenyataan,
jangan lupakan kebijaksanaan dalam menjalankan kehidupan.
b. Semangat juang, kalau anda ingin menjadikan mimpi menjadi kenyataan,
jangan lupakan semangat juang dalam menjalankan kehidupan kita, harus
semangat, disiplin, tegas, dan memiliki rasa setia kawan.
c. Kecerdasan, anda ingin menjadikan mimpi menjadi kenyataan, janganlah
kita menyombongkan diri walaupun memiliki ilmu yang sangat tinggi, berani,
bijak.
Disamping itu seluruh nilai-nilai diatas perlu diatas perlu dibingkai dengan sifatsifat seperti yang dicontohan nabi muhammad saw antara lain amanah , tabligh ,
shiddiq dan fathonah ini bisa dijadikan pelajaran. Sesuai dengan hukum Allah bagi
seseorang yang telah dewasa, semua amal perbuatannya akan dimintai pertanggung
jawabannya, termasuk kegiatan berpikirannya.
E. KESIMPULAN
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa “eksistensi martabat manusia”
adalah sebagai tanda kekuasaan Allah SWT terhadap hamba-hambaNya, bahwa
Dialah yang menciptakan, menghidupkan dan menjaga kehidupan manusia. Dengan
demikian, tujuan diciptakannya manusia dalam konteks hubungan manusia dengan
Allah SWT adalah dengan mengimani Allah SWT dan memikirkan ciptaan-Nya untuk
menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Allah SWT pun berfirman
bahwa fungsi dan peranan manusia adalah sebagai khalifah atau pemimpin dimuka
bumi.
44
BAB V
AKHLAK PRIBADI ISLAM
I. Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, juga budaya.
Populasi sumber daya manusianya berjumlah 237.641.3268. Negara ini juga
merupakan negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia. Namun potret bangsa
ini semakin memprihatinkan. Pengangguran merajalela, Korupsi, tindakan kriminal,
asusila, kemiskinan, merupakan akibat dari hasil akhlak runtuhnya akhlak di Indonesia.
Padahal Islam merupakan agama yang santun karena dalam islam sangat menjunjung
tinggi pentingnya akhlak.
8
http://www.bps.go.id/aboutus.php7sp=0, Badan Pusat Statistik diakses tanggal 4-10-2011 pukul 20:00
WIB
45
Sehingga untuk merubah Indonesia ini menjadi lebih baik. Maka harus di
bangun pembentukan akhlak pribadi masyarakat yang sesuai dalam kandungan AlQuran. Karena didalam Al-Quran telah menjelaskan pribadi akhlak ideal bagi umat
islam yang akan dijelaskan secara ringkas pada makalah ini.
Untuk memahami akhlak pribadi islam, maka setiap umat islam diharapkan
dapat membaca, memahami dan akhirnya melaksanakan apa saja yang menjadi
kaidah akhlak yang sudah ditetapkan dalam Al-Quran. Jika semua umat islam
berakhlak sesuai dengan ketentuan ajaran Al-Quran. Maka citra umat islam akan dapat
dibentuk dari perilakunya seperti jujur, amanah, percaya diri dan berpikir positif,
bekerja keras, menghargai waktu, hemat, mandiri dan selalu bersyukur atas rahmat
Allah SWT.
II. Pembahasan
1. Pengertian Akhlak
Secara etimologis pengertian akhlaq adalah bentuk jamak dari khuluk yang
berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Berakar dari kata khalaqa yang
berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq (Pencipta), makhluq (yang diciptakan)
dan khalq (penciptaan). Sedang arti akhlak secara terminologi sebagai berikut; Ibnu
Miskawaih (w. 421 H/1030 M) mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam
dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan
pemikiran dan pertimbangan. Sementara itu, Imam Al-Ghazali (1015-1111 M)
mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macammacam perbuatan dengan gamblang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.
2. 10 Akhlak Pribadi Islami
46
Sebagai umat islam, tentunya kita juga wajib untuk berakhlak pribadi Islami.
Akhlak Islami ini didasarkan pada Al-Quran dan Sunah Rosul. Dan akhlak Rosul,
sebagai mana dinyatakan Aisyah dalam HR Muslim adalah “akhlak Rasulullah SAW
adalah Al-Quran”. Jadi untuk memahami akhlak pribadi islami, maka setiap umat islam
diharapkan dapat membaca, memahami dan akhirnya melaksanakan apa saja yang
menjadi kaidah akhlak yang sudah ditetapkan dalam Al-Quran.
Berikut ini adalah 10 akhlak pribadi islami, yang harus dimengerti dan
dijalankan oleh pribadi islami, sehingga perilaku dan adatnya sesuai dengan kaidah
agama, yang merupakan kunci sukses pribadi islam.
a. Jujur (Shidiq, Honesty)
Jujur dapat diartikan adanya kesesuaian/keselarasan antara apa yang
disampaikan/diucapkan dengan apa yang dilakukan/kenyataan yang ada. Kejujuran
juga memiliki arti kecocokan dengan kenyataan atau fakta yang ada. Lawan kata dari
kejujuran adalah Dusta. Dusta adalah apa yang diucapkan dan diperbuat tidak sesuai
dengan apa yang dibatinnya, dan tidak sesuai dengan kenyataan. Dusta juga dapat
berarti tidak berkata sebenarnya, dan menyembunyikan yang sebenarnya.
Al-Quran sangat menganjurkan untuk berbuat jujur, di antara Firman Allah
tentang, kejujuran di antaranya:
َ‫صا ِدقِين‬
َّ ‫اَّلل َو ُكونُوا َم َع ال‬
َ َّ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا اتَّقُوا‬
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu
bersama-sama orang-orang yang benar (QS At-Taubah-119).
Rasulullah SAW juga bersabda mengenai pentingnya kejujuran sebagaimana
diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam: "Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya
kejujuran itu membawa kepada kebijakan, dan kebajikan kepada surga. Seseorang
yang senantiasa jujur dan berusaha selalu jujur, akhirnya ditulis Allah sebagai
seseorang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa
47
kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang
senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis disisi Allah sebagai
seorang pendusta".
Jujur kepada diri sendiri, dapat dimulai dengan jujur dalam niat dan kehendak.
Setiap keinginan pada diri sendiri harus didasarkan niat yang baik dan mengharapkan
ridho Allah. Jujur pada diri sendiri harus dimulai dari mengenal diri sendiri, mengenal
kelemahan, mengenal kelebihan, mengenal kebutuhan dan mengenal keinginan.
Dengan mengenal diri sendiri, maka kita dapat memenuhi kebutuhan diri dengan
cukup, tidak kurang dan tidak lebih.
Jujur kepada sesama, dapat dimulai untuk menyampaikan dan berbuat
sebagaimana mestinya, menyampaikan fakta dengan benar dan tidak berbohong atau
berdusta.
Jujur
terhadap
sesama
ini,
dapat
dilakukan
dengan
membuat
pertanggungjawaban (accountability) terhadap setiap tanggung jawab dan wewenang
atau tugas. Jujur terhadap sesama dapat dimulai dengan mempertanggungjawabkan
sertiap yang kita terima baik uang, amanah-pesan, dan pekerjaan.
Jujur kepada Allah, adalah tingkatkan jujur yang paling tinggi. Jujur kepada
Allah diwujudkan adanya rasa pengharapan, cinta dan tawakal pada setiap niat,
ucapan perbuatan. Jujur kepada Allah dapat berupa tindakan ikhlas di dalam
melakukan seluruh kewajiban yang ditentukan Allah dengan harapan mendapat
ridhonya.
b. Percaya Diri
Akhlak yang kedua dari pribadi islami adalah percaya atau rendah hati
(Tawadhu). Pengertian percaya diri atau tawadhu adalah merendahkan hati atau diri
tanpa
harus
menghinakannya
menghinakannya
atau
atau
meremehkan
meremehkan
harga
diri
harga
sehingga
diri
tanpa
harus
orang
lain
berani
menghinanya dan menganggap ringan. Pribadi yang percaya diri, harus mampu
48
menunjukkan sesuatu yang unggul berupa pengetahuan (knowledge), keterampilan
(skill) dan sikap atau perilaku (attitude), sehingga orang lain memberikan kepercayaan
dan kehormatan yang sepatutnya, dan tidak bersikap sombong terhadap kemampuan
yang dimilikinya.
Lawan sikap percaya diri adalah Takabur. Seseorang yang takabur merasa
dirinya lebih tinggi, lebih mampu, dan lebih sempurna daripada orang lain, padahal
kenyataannya tidak. Ciri orang yang takabur adalah selalu dan ingin menghina orang
lain, menganggap enteng orang lain, menjauhkan diri dari orang lain, enggan bergaul,
mencela orang lain, dan bersikap sewenang-wenang.
Terkait dengan percaya diri dan tidak berbuat sombong. Allah SWT berfirman
dalam Al-Qur'an:
َ‫س َي ْد ُخلُونَ َج َهنَّ َم دَاخِ ِرين‬
َ َ‫َوقَا َل َر ُّب ُك ُم ا ْدعُونِي أ َ ْست َِجبْ لَ ُك ْم ِإ َّن الَّذِينَ َي ْست َ ْك ِب ُرون‬
َ ‫ع ْن ِع َبادَتِي‬
Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orangorang yang menyombongkan diri dari menyembah-Kuakan masuk neraka Jahannam
dalam Keadaan hina dina. (QS Al-Mu'min:60)
Sedangkan Rasulullah SAW bersabda dalam Kanzul Ummal, Juz II, hlm 25
Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku agar kamu semua
bertawadhu sehingga tidak ada yang sombong terhadap yang lainnya dan tidak ada
yang sombong terhadap yang lainnya dan tidak ada seorang menganiaya lainnya. (HR
Muslim)
Orang-orang yang sombong dan orang-orang yang sewenang-wenang kepada orang
lain, pada hari kiamat akan dikumpulkan seperti butir-butir debu. Mereka diinjak-injak
oleh para manusia, disebabkan mereka hina disisi Allah SWT.
c. Bekerja Keras (Hubbul Amal, Excellence)
Bekerja keras merupakan salah satu akhlak islami. Al-Hufiy (2000) dalam
keteladanan akhlak Rasul, menyatakan bahwa "Islam membenci pengangguran,
49
kemalasan, dan kebodohan karena hal itu merupakan maut yang lambat laun akan
mematikan semua daya kekuatan dan menjadi sebab kerusakan di dunia dan akhirat".
Pernyataan ini sangat relevan untuk terus dikumandangkan terutama dikalangan umat
Islam di Indonesia.
Kemalasan akan membuat kehancuran dapat juga dicontohkan pada zaman
Romawi. Bangsa Romawi memandang pekerjaan adalah hina dan harus dikerjakan
budak. Akibat banyak pekerjaan dilakukan oleh budak, maka timbulnya budaya malas
dan berkibat kehancuran Romawi.
Bekerja keras tidak hanya fisik. Akal dan pikiran harus terus digunakan untuk
memikirkan sesuatu yang lebih baik. Kemalasan akal atau malas berpikir lebih jelek
daripada malas badan. Orang yang cerdas tetapi malas berpikir akan merusak jiwa,
karena pikiran-pikiran yang buruk serta rusak ada dalam tubuh manusia yang malas
dan lemah. Orang malas akan menjadi gelisah hatinya, lemah badannya, dan
membenci kehidupan walaupun memiliki harta yang cukup.
Terkait dengan bekerja keras, Allah SWT berfirman:
َ‫ِيرا لَعَلَّ ُك ْم ت ُ ْف ِلحُون‬
ْ َ‫ض َوا ْبتَغُوا مِ ْن ف‬
ِ َ‫ضي‬
َّ ‫اَّللِ َوا ْذ ُك ُروا‬
َّ ‫ض ِل‬
َّ ‫ت ال‬
‫اَّللَ َكث ا‬
ِ ‫ص َالة ُ فَا ْنتَش ُِروا فِي ْاأل َ ْر‬
ِ ُ‫فَإِذَا ق‬
"Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah
karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung" (QS AlJumuah:10)
Sedangkan Rasulullah SAW bersabda "Sesungguhnya sebaik-baik yang
dimakan seseorang ialah dari hasil pekerjaannya sendiri".
Dua orang lelaki datang kepada Rasul SAW untuk meminta bagian dari sedekah.
Kemudian rasul memperhatikan keduanya. Mereka berdua dianggap oleh beliau orang
yang kuat, lalu beliau berkata, "Bila kamu mau, aku akan memberimu. Akan tetapi,
dalam sedekah ini, tidak ada bagian bagi orang yang kaya atau orang yang masih kuat
bekerja.
50
Banyak tauladan Rasul tentang bekerja keras ini di antaranya adalah:
 Rasul mau menjadi penggembala kambing milik Bani Sa'ad,
 Rasul berdagang, menjualkan barang Siti Khadijah, sampai ke negeri Syam
 Rasul ikut bekerja membuat parit dengan memecahkan batu dengan linggis serta
menggali tanah
 Rasul melakukan pekerjaan rumah seperti memberi makan unta, menyapu rumah,
memerah susu, membetulkan sandal, memperbaiki baju, membantu pekerjaan
pembantu, membuat tepung gandum, dan membawa sendiri barang yang dibeli dari
pasar.
d. Menghargai Waktu
Satu akhlak islami yang mendorong sukses pribadi umat Islam adalah
menghargai waktu. Waktu terus berjalan dan tidak pernah kembali. Oleh sebab itu,
setiap detik waktu harus dapat dimanfaatkan untuk kebaikan dan keberhasilan. Untuk
dapat memanfaatkan secara optimal dari waktu, maka perlu adanya manajemen waktu
yaitu aktivitas untuk menfaatkan waktu yang tersedia dan potensi-potensi yang
tertanam dalam diri kita guna mewujudkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai dengan
menyeimbangkan tuntutan kehidupan pribadi, masyarakat, serta kebutuhan jasmani,
rohani dan akal.Terkait dengan menghargai waktu, Alllah SWT berfiriman :
)3( ‫صب ِْر‬
ِ ‫صا ِل َحا‬
ْ ‫َو ْال َع‬
َّ ‫ص ْوا ِبال‬
َّ ‫عمِ لُوا ال‬
َ ‫) ِإ َّال الَّذِينَ آ َمنُوا َو‬2( ‫سانَ لَفِي ُخس ٍْر‬
َ ‫اإل ْن‬
َ ‫ق َوت ََوا‬
َ ‫ت َوت ََوا‬
ِ ْ ‫) ِإ َّن‬1( ‫ص ِر‬
ِ ‫ص ْوا ِبا ْل َح‬
"Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam keadaan merugi,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran" (QS Al-Ashr:1-3).
Selain itu, Rasul juga sangat sayang kepada umat islam dan Rasul
menganjurkan agar umat islam menggunakan waktu dalam ketaatan dan bergegas
berlomba-lomba dalam kebaikan:
51
"Pergunakanlah lima kesempatan sebelum datang lima kesempatan yang lain:
kehidupanmu sebelum datang kematianmu, kesehatanmu sebelum datang sakitmu,
kelonggaranmu sebelum datang kesibukanmu, masa mudamu sebelum datang masa
tuamu, dan masa kayamu sebelum datang masa miskinmu".
e. Berpikir Positif
Berfikir positif adalah pola pikir yang didasarkan pada penyusunan rencana
yang matang dalam mencapai tujuan, selalu berusaha untuk mencapai tujuan, dan
mengambil hikmah setiap kejadian. Berpikir positif juga dapat diartikan kita mencari
hal-hal positif dan baik dari berbagai hal tersebut, kemudian hal-hal yang buruk kita
kesampingkan. Orang yang berpikir positif mengambil sisi baik dari setiap kejadian,
melakukan evaluasi dan merencanakan kembali untuk mencapai tujuan mencapai.
Orang yang berpikir memiliki sikap yang penuh harapan, yakin dalam hidup,
berperilaku baik, ramah, dan menyenangkan.
Berpikir positif sangat penting dalam kehidupan manusia terutama umat islam,
karena menjadikan hidupnya konstruktif dan produktif yang diliputi oleh kebahagiaan
dan kesuksesan. Dengan berpikir positif dapat diwujudkan hasil yang lebih banyak
daripada yang dapat dicapai oleh cara yang lain. Dapat mengubah masalah yang sulit
menjadi masalah yang bisa dimanfaatkan dan digunakan untuk mewujudkan tujuantujuan dalam hidup kita. Hal sebaliknya terjadi jika berpikir negatif. Berpikir negatif
menjadikan kita melihat berbagai hal dengan pandangan pesimis dan dari sisi yang
gelap. Membawa kita kepada kemurungan, kesedihan, dan frustasi.
Allah Berfirman :
َّ ‫ض‬
َّ َ‫ِيرا مِ ن‬
‫ض ُك ْم َب ْعضاا أَيُحِ بُّ أ َ َحدُ ُك ْم أ َ ْن َيأ ْ ُك َل لَح َْم‬
ُ ‫سوا َو َال َي ْغتَبْ َب ْع‬
َّ ‫الظ ِن ِإثْ ٌم َو َال ت َ َج‬
ُ ‫س‬
‫َيا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا اجْ تَنِبُوا َكث ا‬
َ ‫الظ ِن ِإ َّن َب ْع‬
‫اَّلل ت ََّوابٌ َرحِ ي ٌم‬
َّ ‫أَخِ ي ِه َم ْيتاا فَك َِر ْهت ُ ُموهُ َواتَّقُوا‬
َ َّ ‫اَّللَ إِ َّن‬
52
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan),
karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan
orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu
yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu
merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima taubat lagi Maha Penyayang."(QS Al-Hujurat: 12)
َ‫اَّللِ َرا ِغبُون‬
ْ َ‫اَّللُ مِ ْن ف‬
َّ ‫سولُهُ إِنَّا إِلَى‬
َّ ‫سيُؤْ تِينَا‬
َّ ‫اَّللُ َو َرسُولُهُ َوقَالُوا َح ْسبُنَا‬
َّ ‫َولَ ْو أَنَّ ُه ْم َرضُوا َما آت َا ُه ُم‬
ُ ‫ض ِل ِه َو َر‬
َ ُ‫اَّلل‬
"Jikalau mereka sungguh-sungguh ridho dengan apa yang diberikan Allah dan
RasulNya kepada mereka, dan berkata: Cukuplah Allah bagi Kami, Allah akan
memberikan
sebagian
dari
karunia-Nya
dan
demikian
(pula)
Rasul-Nya,
Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah," (QS AtTaubah:59)
Kedua ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah melarang umat Islam untuk
berpikir, berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain atau menggunjingkan
orang lain. Terhadap umat Islam yang telah meninggal, juga dilarang membuka aibnya.
Oleh sebab itu, umat Islam harus mulai merancang aktivitas yang produktif dan selalu
bekerja keras.
Ayat ini juga menganjurkan kepada umat Islam untuk selalu berpengharapan
positif. Apabila umat Islam sudah merencanakan sesuatu dengan baik, menjalankan
rencana dengan baik, serta niat yang biak, maka InsyaAllah, Allah akan memberikan
karunianya. Oleh sebab itu, sangat penting bagi umat Islam untuk berpikir positif dan
berpengharapan baik.
f. Memiliki Harga Diri (dignity, selfesteem)
Harga diri adalah penilaian menyeluruh mengenai diri sendiri, dan bagaimana
ia menjaga kehormatan diri, sehingga orang lain tidak menghinakannya. Memiliki harga
diri berarti seseorang mempunyai kemampuan untuk menjaga perilaku etis dan
53
menjauhi perilaku nista. Harga diri perlu diperkuat agar orang merasa malu melakukan
segala bentuk penyimpangan, kecurangan, dan kenistaan.
Untuk meningkatkan harga diri, manusia tidak boleh sombong, atau riya,
tetapi harga diri dibangun melalui berbagai usaha kepada kebaikan yang sudah
ditentukan oleh Allah, sebagaimana firmannya:
َّ ‫ص َالة َ َوآتُوا‬
‫ير‬
َّ ‫اَّللِ ِإ َّن‬
َّ َ‫الزكَاة َ َو َما تُقَ ِد ُموا ِأل َ ْنفُ ِس ُك ْم مِ ْن َخي ٍْر ت َِجد ُوهُ ِع ْند‬
َّ ‫َوأَقِي ُموا ال‬
ٌ ‫ص‬
ِ ‫اَّللَ ِب َما ت َ ْع َملُونَ َب‬
Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu
usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah.
Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan (QS Al-Baqarah:110)
g. Mandiri
Setiap individu diberi potensi oleh Allah. Setiap umat harus mampu menggali
dan mengembangkan diri dengan baik sehingga hidup di dunia yang hanya satu kali ini
tidak menjadi beban bagi orang lain, bahkan hidup kita akan terhormat jika kita dapat
meringankan beban orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya".
Menjadi manusia mandiri adalah menjadi manusia yang memiliki harga diri.
Mandiri adalah sumber percaya diri. Mandiri adalah seumber percaya diri. Tentang
kemandirian manusia, Allah berfiriman:
‫اَّلل َال يُغَيِ ُر َما بِقَ ْو ٍم َحتَّى يُغَيِ ُروا َما بِأ َ ْنفُ ِس ِه ْم‬
َ َّ ‫إِ َّن‬
"Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka
merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. " (QS Ar Ra'ad:11)
Kita diberi kemampuan oleh Allah untuk merubah nasib kita sendiri dan tidak
bergantung pada orang lain, ini berarti kita harus mandiri, dalam mengarungi hidup ini.
Keuntungan menjadi manusia mandiri adalah:

Kita akan mempunyai wibawa

Hidup akan lebih tenang
54

Kita akan semakin percaya diridalam menghadapi hidup
h. Hemat atau Hidup Sederhana
Hidup hemat atau hidup sederhana adalah sikap hidup yang mengendalikan diri
sendiri untuk mencukupkan kebutuhannya, sehingga tidak boros dan tidak kikir. Terkait
dengan hidup hemat, Allah SWT berfirman :
‫َوالَّذِينَ إِذَا أ َ ْنفَقُوا لَ ْم يُس ِْرفُوا َولَ ْم يَ ْقت ُ ُروا َو َكانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَ َوا اما‬
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan
tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang
demikian.(QS Al-Furqan: 67)
Hidup boros hidup yang membelanjakan harta secara berlebih-lebihan,
melebihi batas kepantasan. Pembelian rumah, mobil, televisi, makanan dan pakaian
yang berlebihan, sehingga tidak terpakai semuanya adalah contoh hidup yang boros.
Termasuk dalam kehidupan yang boros adalah pengeluaran harta yang tidak pantas
seperti maksiat, bermegah-megahan, penyuapan dan lain-lain.
Hidup kikir atau bakhil adalah sikap pelit yaitu orang yang enggan
mengeluarkan hartanya baik untuk keperluan diri sendiri, keluarga atau infak. Orang
kikir merasa apabila mengeluarkan uang, maka hartanya akan berkuranga.
Hidup hemat adalah sifat baik yang diwariskan dalam akhlak Islam dan sangat
baik
diterapkan
dalam
kehidupan
sehari-hari.
Hemat
adalah
apabila
kita
membelanjakan harta secara tidak berlebih-lebihan, melakukan penghematan
pengeluaran dan menabung untuk masa-masa sulit. Hemat adalah fondasi dari segala
macam keberhasilan.
i. Memelihara Amanah
Amanah per definisi adalah titipan berharga yang dipercayakan Allah kita atau
aset penting yang dipasrahkan kepada kita. Konsekuensi sebagai penerima amanah
55
tersebut, kita terkiat secara moral untuk melaksanakan amanah itu dengan baik dan
benar.
Terkait dengan amanah, Allah berfiriman:
َ‫سو َل َوت َ ُخونُوا أ َ َمانَاتِ ُك ْم َوأ َ ْنت ُ ْم ت َ ْعلَ ُمون‬
ُ ‫الر‬
َّ ‫اَّلل َو‬
َ َّ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا َال ت َ ُخونُوا‬
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS Al-Anfaal:27)
Bakat merupakan amanah yang diberikan kepada kita, potensi biologispsikologis-spiritual insani yang kini menajdi milik kita. Menurut Howard Gardner,
seorang pakar kecerdasan dari Universitas Harvard, kita semua menerima kombinasi
unik paling sedikit dari tujuh macam kecerdasan antara lain kecerdasan rasionalmatematika, kecerdasan ruang waktu, kecerdasan musikal, kecerdasan verbal, dan
kecerdasan sosial.
Kesadaran moral atas amanah potensi-potensi inilah yang melahirkan konsep
tanggung jawab pribadi atas pengembangan didi kita secara optimal menuju batas/limit
kesempurnaan yang mungkin. Semakin besar rasa tanggungjawab kita, semakin besar
pula ukuran diri kita.
j. Bersyukur
Syukur adalah menggunakan atau mengolah nikmat yang dilimpahkan Allah
sesuai dengan tujuan dianugerahkannya. Artinya, jika Anda bersyukur, berarti Anda
harus berani mengolah dan mengelola segala anugerah Allah yang berupa rahmat
dengan baik dan benar. Sebab dengan begitu, Allah akan menjamin berkah-berkahNya selanjutnya pada Anda.
Terkait dengan Rahmat, maka terdapat dua jenis Rahmat, yaitu :
1.
Rahmat Umum
56
Rahmat adalah fasilitas ilahi bagi pertumbuhan dan kemajuan kita menuju
pemenuhan potensi manusiawi kita sehingga kita menjadi manusia seutuhnya.
Rahmat umum mencakup semua kebaikan Allah sebagai infrastruktur dan fasilitas
umum agar kita dapat mengalami regenerasi pertumbuhan, dan kesempurnaan
insaniah kita. Jadi, keluarga adalah Rahmat, bumi adalah Rahmat, hutan adalah
Rahmat, sungai adalah Rahmat, laut adalah Rahmat, hujan adalah Rahmat, awan
adalah Rahmat, dll.
2.
Rahmat Khusus
Rahmat khusus ini adalah Rahmat yang secara istimewa diberikan kepada kita
sedangkan orang lain tidak. Misalnya Kecantikan, suara yang merdu, dll.
Pada tingkat emosional, paradigma Rahmat ini membuat hati kita berlimpah
syukur. Secara khusus, kita harus bekerja, nelajar dengan penuh rasa syukur, tidak
boleh bermalas-malasan atau setengah hati.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dan Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa
syukur memiliki tiga persyaratan utama:
 Secara batin kita mengakui nikmat-nikmat Allah,
 Secara lahir kita membicarakan nikmat-nikmat Allah
 Menjadikan segala nikmat Allah untuk taat kepada-Nya
Jika ketiga persyaratan itu kita penuhi, niscaya Allah akan semakin menambah
nikmat dan karuniayanya kepada kita. Allah berfirman:
ٌ ‫شدِيد‬
َ َ‫عذَا ِبي ل‬
َ ‫َو ِإ ْذ تَأَذَّنَ َربُّ ُك ْم لَئ ِْن‬
َ ‫شك َْرت ُ ْم َأل َ ِزيدَنَّ ُك ْم َولَئ ِْن َكف َْرت ُ ْم ِإ َّن‬
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.(QS Ibrahim: 7)
57
BAB VI
AKHLAK SOSIAL ISLAM
A. Definisi
Manusia sejak lahir membutuhkan orang lain, oleh sebab itu manusia perlu
bersosialisasi dengan orang lain dalam hidup bermasyarakat. Hidup sosial
bermasyarakat sering kali membuat kita harus waspada dan menahan diri. Hal ini
karena hidup denganm sejumlah orang lain yang masing-masing mempunyai
keinginan, keyakinan dan pendapatnya berbeda-beda. Tak bisa di pungkiri hidup
bermasyarakat akan senantiasa menemui berbagai gesekan.
58
Bila ada sebagian anggota masyarakat ada yang menderita, serta merta
individu yang lain menolongnya dengan sekuat tenaga. Begitu pun ketika ada seorang
anggota masyarakat yang melakukan tindak kriminal, serta merta pula individu yang
lain menegur dan menasehatinya dan Negara berhak memberikan sanksi bila itu
menyebabkan teraniyanya individu lain.
Masyarakat bukan hanya kumpulan individu semata yang tak memiliki aturan.
Yang bebas berbuat apa saja
semau mereka. Jelas hal ini tidak di ajarkan oleh
Rosullullah. Ukhuwah yang benar dan baik justru adalah saling memeberikan nasihat
kebaikkan. Terkait dengan hidup social bermasyarakat ini, ALLAH berfirman :
)3( ‫صب ِْر‬
ِ ‫صا ِل َحا‬
ْ َ‫َو ْالع‬
َّ ‫ص ْوا بِال‬
َّ ‫عمِ لُوا ال‬
َ ‫) إِ َّال الَّذِينَ آ َمنُوا َو‬2( ‫سانَ لَفِي ُخس ٍْر‬
َ ‫اإل ْن‬
َ ‫ق َوت ََوا‬
َ ‫ت َوت ََوا‬
ِ ْ ‫) إِ َّن‬1( ‫ص ِر‬
ِ ‫ص ْوا بِ ْال َح‬
“ Demi massa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal shaleh dan saling
menasihatti dalam mentaati kebenaraan dan saling
menasihati dalam menetapi
kesabaran. “ ( QS.Al ‘Ashr:1-3).
B. Delapan Akhlak Sosial Islami Ketentuan Hukum Dan Impelementasi
1. Akhlak Saling Menyayangi
Banyak Peristiwa pada akhir-akhir ini yang menunjukkan semakin hilangnya
akhlak saling menyayangi di antara anggota masyarakat. Perkelahian antar kampung
di beberapa propinsi, perampokkan dan pembunuhan, pembalakan hutan dan
penyiksaan hewan, bahkan ada penyiksaan terhadap anak-anak dan sesama umat
islam .
Setiap orang yang beriman harus saling menyayangi, tidak hanya sesame teman,
tetapi kasih sayang kepada hal-hal yang bersifat umum, seperti sesama manusia,
terhadap manusia yang berbeda keyakinan, terhadap keluarga dan bahkan terhadap
alam. Berikut ini adalah tauladan kasih sayang yang di sampaikan Rasul.
59
a. Kasih sayang Terhadap sesama muslim
Setiap muslim atau umat manusia di harapkan saling menyayangi. Sesama
umat harus saling berbagi dan menerima dengan niat ikhlas, sehingga dapat mencapai
kebahagiaan bersama. Janaganlah kita acuh terhadap sesama muslim, sehinga
muslim lain menderita baik secara lahir maupun batin.
b. Kasih sayang terhadap orang musrik
Toleransi terhadap umat beragama, pada saat ini masih merupakan hal penting
dalam kehidupan bersosial di Indonesia, karena di Negara kita banyak perbedaan baik
dalam keyakinan , ekonomi, social, maupun budaya
c. Kasih sayang tehadap anak-anak
Anak-anak adalah amanah bagi orang tua dan masyarakat pada umumnya.
Terhadap anak-anak tersebut, haruslah kita berikan kasih sayang yang cukup dan
bekal ilmu supaya dapat berkembang secara maksimal. Tugas orang tua untuk
membimbing, dan memeberikan pengawasan yang cukup . Terhadap kewajiban
terhadap anak-anak ini,
d. Kasih sayang terhadap alam
Banyak contoh kecil, bahwa kita sekarang kurang menyayangi alam.
Membuang sampah sembarangan yang berakibat polusi dan banjir . Menebang pohon
sembarangan yang berakibat banjir.
2. Beramal Sholeh
Amal artinya melakukan/melaksanakan/membuat. Sedangkan soleh
artinya ialah kebaikan-kebaikan yang berbentuk perintah-perintah dan
larangan-larangan /halal dan haram yang berhak hanya ditentukan oleh Allah
swt,pencipta manusia kehidupan dan alam semesta
60
Beramal sholeh dapat di artikan berbuat baik/ kebajikkan, memeberi
sumbangan atau bantuan kepada orang miskin. Amal sholeh juga dapat berati
melakukan sesuatu yang baik seprti memeberi nasehat, bekerja untuk kepentingan
masyarakat, dan mengajarkan suatu ilmu. Beramal sholeh merupakan wujud akhlak
social dalam rangka mewujudkan kepeduliansosial, sehingga seseorang berbuat baik
terhadap orang lain. Hal demikian sangnat di perlukan, karena kalau kita
memebutuhkan bantuan orang lain, maka kita harus membantu juga orang lain.
Pada saat ini masih banyak umat islam di Indonesia yang miskin, masih banyak
pengemis di jalan-jalan, dan banyaknya bencana seperti di Aceh, Jogyakarta, Dan
sulawesi selatan memebuat ribuan anak yatim dan piatu. Orang-orang demikian ini,
memebutuhkan bantuan dari oaring yang mamapu, yaitu oaring yag memepunyai
pendapatan atas kebutuhan yang normal. Kemiskinan memang harus di atasi , sebab
apabila tidak akan mempunyai dampak social yang tidak baik seperti banyaknya
penganguran, perampokkan dan pencurian dan bentuk kriminilitas lainya, karena
mereka memebutuhkan dalam rangka mempertahankan hidup. Dan seringkali tekanan
hidup ini dapat memebuat seseorang lupa ajaran agama bahkan Tuhanya.
Tekait dengan anjuran agar kita beramal bagi orang yang tidak mampu, Allah
berfirman:
ْ
َّ ‫عةٌ َو ْالكَاف ُِرونَ ُه ُم‬
َ ‫ِي يَ ْو ٌم َال بَ ْي ٌع فِي ِه َو َال ُخلَّةٌ َو َال‬
َ‫الظا ِل ُمون‬
َ ‫شفَا‬
َ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا أ َ ْن ِفقُوا مِ َّما َرزَ ْقنَاكُ ْم مِ ْن قَ ْب ِل أ َ ْن يَأت‬
“ Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah dijalan Allah sebagian rejeki yang telah
kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli
dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan Orangorang kafir itulah orang-orang yang zalim (QS Al-Baqarah 254)
3. Saling Menghormati
61
Saling menghormati adalah sikap social yang mendasar dan luas. Sikap social
ini lebih banyak tampil dalam wujud yang kelihatan, dan umumnya bersifat langsung,
dalam setiap perjumpaan kita satu sama lain. Karena masing-masing hanya
mengutamakan kepentingannya sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain.
Wujud-wujud dari tindakan saling menghormati dapat berupa tindakkan spontan
dalam kehidupan sehari-hari, dalam setiap pertemuan dan kebersamaan kita dengan
orang lain. Sikap-sikap hormat diharapkan muncul dari dalam diri sebagai style of life,
pembawaan yang sudah terpatri dalam diri kita dan menjadi citra diri kita, karena
merupakan sikap dasar kita yaitu bersikap rendah hati agar kita selalu saling
menghormati dimanapun kita berada, Sebagai contoh: setiap hari, setiap saat kita
berharapan dengan orang, dengan bebagi latar belakang yang berbeda. Secara fisik
kita bias berdekatan satu sama lain seperti di bus, mikrolet, di lift, di rumah makan dan
sebagainya.
Sikap saling menghormati dalam kaidah ilmiah di Perguruan Tinnggi, dapat di
berikan secara tidak langsung, sebagsi contoh: kita menyebutkan sumber bahan
bacaan yang kita pakai ketika kita membuat suatu tulisan, demikian pula kita jangn
segan menyebutkan nama kepada siapa kita mendapatkan sesuayu berupa ilmu,
nasehat, keteladanan.
4. Berlaku Adil
Keadilan dapat di artikan sebagai sikap berpihak pada yang benar, tidak
memihak salah satunya, dan tidak berat sebelah. Dengan kata lain yang dimaksud adil
di sini ialah memberi hak kepada yang berhak tanpa membeda-bedakan antara orangorang yang berhak itu, dan melakukan tindakan kepada orang yang salah sesuai
dengan kejahatannya dan kelalaiannya, tanpa mempersukarnya atau bersikap pilih
kasih kepadanya
62
Mengapa kita harus adil? Karena dalm kehidupan social, kita suatu saat akan
dimintai untuk mendamaikan dua belah pihak yang berselisih, seperti perselisihan
dalam keluarga, masyarakat bahkan dalam bernegara. Oleh sebab itu, dalm upaya
menjadi pendamai, kita harus berbuat adil. Banyak sekali Ayat Al-Qur’an yang
memerintahkan kita berbuat adil diantaranya adalah :
ُ ‫ع ِن ْالفَحْ شَاءِ َو ْال ُم ْنك َِر َو ْال َب ْغي ِ َي ِع‬
َ‫ظ ُك ْم لَ َعلَّ ُك ْم تَذَ َّك ُرون‬
َ ‫ان َو ِإيتَاءِ ذِي ْالقُ ْر َبى َو َي ْن َهى‬
َ ‫اإل ْح‬
ِ ْ ‫اَّلل َيأ ْ ُم ُر ِب ْال َع ْد ِل َو‬
ِ ‫س‬
َ َّ ‫ِإ َّن‬
“ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memeberi
kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan
permusuhan, Dia memberi pengajaran kepada much agar kamu mendapat pelajaran” (
QS An-Nahl:90)
َ‫اَّلل يُحِ بُّ ْال ُم ْقسِطِ ين‬
َ َّ ‫َو ِإ ْن َح َكمْتَ فَاحْ ُك ْم بَ ْينَ ُه ْم بِ ْال ِقسْطِ ِإ َّن‬
“Dan Jika Kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlaha perkara itu di antra
mereka dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orangng-orang yang adil” (QS AlMaidah:42)
5. Menjaga Persaudaraan
Menjaga persaudaraan dapat di artikan membuat hubungan persahabatan atau
pertemanan menjadi sangat karib seperti layaknya saudara ( adik dan kakak yang
seayah dan seibu. Dalam kehidupan bermasyarakat,kita hanya berhubungan dengan
saudara, tetapi juga tetangga, teman di kampus, teman di kantor, dan orang lain dalm
banyak tempat dan kesempatan. Dan pada dasarnya persaudaraan tersebut dapat
dibagi menjadi 3 yaitu persaudaraan karena keturunan, karena kepentingan dunia dan
karena se-akidah.
Persaudaraan baik karena keturunan, kepentingan dunia maupun akidah harus terus
terpupukdan di kembangkan, sehinga terjalin rasa senasib dan sepenaggungan.
Dalam realitas social masyarakat, kita menyadari bahwa banyak ragam manusia yang
63
ada seperti satus social, pendidikan, tingkat ekonomi dan profesi, oleh sebab itu untuk
meningkatkan persaudaraan harus ada kebutuhan untuk saling menguatkan ,
sehinggan satu sama lain menjadi kekuatan yang kokoh.
6. Berani Membela Kebenaran
Berani membela kebenaran berartiketeguhan dalam menghadapi bahaya atau
sesuatu yang membahayakan dalam rangka menegakkan kebenaran berdasarkn
ketentuan Allah SWT,berani membela kebenaran juga dapat diartikan mersa takut
pada beberapa hal yang memang harus ditakuti yaitu hal-hal yang jahat dan jelek
seperti kejahatan,criminal dan kejelekan seperti aib,dan kemiskinan.
Mengapa kita umat Islam harus berani membela kebenaran?Banyak kejadian
dalam kehidupan social yang mulai jauh dari sikap berani membela kebenaran.
Sebagai contoh terhadap tindakan kejahatan seperti perampokan, pembunuhan,
pencurian, korupsi dan lain-lain, semakin sedikit orang yang membela. Orang seperti
cuek dan takut untuk membela korban, dan kebanyakan hanya melihat hanya takut,
atau membiarakan urusan menjadi tanggung jawab kepolisian. Sedangkan kejelekan
pada saat ini juga sudah menjadi kebanggan seperti kaya karena korupsi, dan
membuka aib orang lain.
7. Tolong Menolong
Tolong menolong dapat di artikan saling membantu, meminta bantuan. Tolong
menolong merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, karena pada
dasarnya manusia tidak dapat hidup sendirian. Sejak manusia lajir sudah membutuhka
bantuan orang lain, begitu pula saat dewasa dan bekerja, bahkan saat mati manusia
memebutuhkan orang lain karena manusia tidak dapat menguburnya dirinya sendiri.
64
Kehidupan social dan bermasyarakat akan dapat mandiri dan kuat apabila ada kerja
sama dan tolong menolong di antara anggota masyarakat khusus umat islam. Dalam
agama islam, kerja sama dan tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan demi
kemajuan, dan kesejahteraan masyarakat sangat dianjurkan oleh Allah, sebagaimana
firman-Nya:
‫ب‬
َ ‫اَّلل‬
َّ ‫ان َواتَّقُوا‬
ِ ‫شدِيدُ ْال ِعقَا‬
َ ‫علَى ْال ِب ِر َوالت َّ ْق َوى َو َال ت َ َع َاونُوا‬
َ ‫َوت َ َع َاونُوا‬
ِ ْ ‫علَى‬
ِ ‫اإلثْ ِم َو ْالعُد َْو‬
َ َّ ‫اَّللَ ِإ َّن‬
“Saling tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikkan dan taqwa, dan
jangan kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan” (QS Al-Maidah:2)
َّ َ‫ص َالة َ َويُؤْ تُون‬
َ‫الزكَاة َ َويُطِ يعُون‬
ُ ‫َو ْال ُمؤْ مِ نُونَ َو ْال ُمؤْ مِ نَاتُ َب ْع‬
َّ ‫ع ِن ْال ُم ْنك َِر َويُقِي ُمونَ ال‬
ٍ ‫ض ُه ْم أ َ ْو ِل َيا ُء َب ْع‬
َ َ‫ض َيأ ْ ُم ُرونَ ِب ْال َم ْع ُروفِ َو َي ْن َه ْون‬
ٌ ‫ع ِز‬
)71 : ‫يز َحكِي ٌم(التوبة‬
َّ ‫سيَ ْر َح ُم ُه ُم‬
ُ ‫اَّلل َو َر‬
َ ‫اَّلل‬
َ َ‫سولَه ُ أُولَئِك‬
َ َّ ‫اَّللُ إِ َّن‬
َ َّ
“ dan orang –orang yang beriman. Lelaki dan perempuan, sebagian mereka(adalah)
menjadi penolong bagi sebagian lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf,
mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan
mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh
Allah;Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Taubah(9): 71)
Dalam rangka bekerja sama dalam sholat, dapat mewujudkan dalam kegiatan
sholat
berjamaah
sehingga
memperkuat
rasa
persatuan,
silahturahmi
dan
memperbanyak pahala. Selain itu tolong-menolong dalam sholat dapat dilakukan
dalam rangaka memakmuran masjid dengan memperbanyak kegiatan di masjid atau
membangun masjid. Kegiatan membayar Zakat pada dasarnya juga termasuk kegiatan
tolong menolong yaitu orang yang mampu dalam harta memberikan bantuan untuk
orang yang membutuhkan bantuan seperti anak yatim, fakir miskin atau termasuk 8
kelompok yang berhak mendapatkan zakat.
8. Musyawarah
65
Musyawarah dapat di artiakan rapat atau berunding untuk memperoleh
keputusan atau petunjuk yang terbaik. Manusia dan umat Islam dari awal penciptanya
sudah beraneka ragam. Di Indonesia
misalnya, manusia Indonesia terdiri dari
berbagai suku, bahasa, keyakinan dan tempat tinggal. Di dalam agama Islam Sendiri,
Tidak dapat di pungkiri juga terdapat berbagai kelompok seperti NU, Muhammadiah,
Persis dan lain-lain. Sedangkan dalam masyarakat juga terdapat perbedaan dalam
status social, pendidikan, kekayaan, dan lain-lain. Dalam hal banyaknya perbedaan ini,
maka bagai mana mereka dapat menyatukan pendapat untuk mencari keputusan yang
terbaik? Maka jawabanya adalah melalui musyawarah.
Islam menjadikan musyawarah sebagai suatu cara atau aturan dalam rangka
meneliti dan memeriksa pendapat agar diperoleh keputusan atau petunjuk yang
terbaik. Islam juga menjamin kebebasan berpendapat bagi tiap orang selama pendapat
itu tidak bertentangan denga kaidah dan ibadah.
Bagaimana kita umat islam memulai untuk melaksanakan akhlak musyawarah?
Pertama, kita harus mulai berani mengemukakan pendapat yang benar dan menjadi
pendengar yang baik bagi pendapat yang di kemukakan oleh orang lain. Kedua, kita
harus mulai berani berdiskusi dan adu argumentasi tentang sesuatu yang
dimusyawarahkan dengan berbekal ilmu pengetahuan yang cukup memadai. Ketiga,
kita harus mulai berani menerima keputusan bersama dan secara konsekuen mentaati
keputusan yang telah dibuat.
C. Kesimpulan
Manusia sejak lahir membutuhkan orang lain, oleh sebab itu manusia perlu
bersosialisasi dengan orang lain dalam hidup bermasyarakat. Dalam pandangan Islam
sebuah masyarakat adalah kumpulan individu yang berinteraksi secara terus menerus,
yang memiliki satu pemikiran, satu perasaan dan di bawah aturan yang sama.
66
Sehingga diantara mereka akan terjalin hubungan yang harmonis. Ada delapan akhlak
sosial islami yang diperlukan untuk hidup bermasyarakat yaitu 1. Akhlak saling
menyayangi 2. Beramal Sholeh 3. Saling menghormati 4. Berlaku adil 5. Menjaga
persaudaraan 6. Berani membela kebenaran 7. Tolong menolong dan 8. Musyawarah.
Sumber:
Hatim, Dr. Muhammad Abd al-Qadir. 2002. Al-I’lam fi al-Qur’an al-Karim. Kairo:
al-Hai’ah al-Masriyyah al-‘Ammah lil-Kitab.
Wahyuddin, Achmad, dan M. Ilyas dkk, Pendidkan Agama Islam untuk
Perguruan Tinggi , Grasindo: Jakarta 2009.
Departemen Agama Republik Indonesia. 2006. Al-Qur’an dan Terjemahnya.
Jakarta: CV. Naladana.
Dewan Redaksi. 2010. Ensiklopedi Metodologi Al-Quran. Jakarta: Kalam
Publika.
67
Agustian A.g. 2001. ESQ Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan
Spiritual. Arga. Jakarta.
Al-Hufiy, A.M. 2000. Keteladanan Akhlak Nabi Muhammad SAW. Pustaka
Setia. Bandung.
Al-Sya'rani, A A. 2004. 99 Akhlak Sufi: Meniti jalan surga bersama orang-orang
Suci. Mizan Media Utama. Bandung.
Departemen Agama. 1971. Al-Quran dan terjemahannya. Departemen
Agama.
Jakarta.
Sanusi A. 2006. Jalan Kebahagiaan. Gema Insani Press. Jakarta.
68
69
Download