kesetiakawanan sosial nasional

advertisement
DEWAN PERTIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
BIDANG KESEJATERAAN RAKYAT
STRATEGI PENGUATAN
KESETIAKAWANAN SOSIAL NASIONAL
UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT
Oleh
Prof. M. Mas’ud Said, PhD
Pengertian Kesetiakawanan Sosial

Kesetiakawanan Sosial atau solidaritas sosial adalah nilai atau sikap
hidup dan perilaku individu atau perilaku kelompok yang memiliki rasa
kebersamaan dalam mengatasi masalah, rasa kebersamaan dalam
menanggung beban orang lain atau kelompok lain, dengan bentuk kemauan
untuk berkorban waktu, memberikan sumbangan tenaga, pemikiran, biaya
dan pengorbanan lain untuk mengatasi masalah bersama secara ikhlas
tanpa pamrih.

Kesetiakawanan sosial ini sangat terasa lebih kuat pada daerah daerah
tertentu yang memiliki sejarah
sosial tertentu yang hidup
mengembangkan kesepakatan
mengatasi tantangan luarnya
immaterial.
lokalitas yang sama, atau keluarga besar
dalam kebersamaan sejak lama yang
tak tertulis untuk bersedia berkorban
tanpa timbal balik yang langsung dan
Kesetiakawanan Sosial dan Kearifan Sosial
Dalam Masyarakat indonesia
Dalam bahasa agama, mungkin kesetiakawanan sosial ini dekat
dengan istilah ukhuwah ijtimaa’iyah atau al taakaaful al
ijtimaa’iyah. Nilai ini menjadi nilai dasar pendidikan pesantren
salaf. Dalam istilah pemerintahan modern sikap itu kemudian
dipromosikan sebagai social responsibility yang akhir akhir ini
dipercaya sebagai obat mujarab bagi mengatasi masalah
ketidak berdayaan sosial.
Di Nusantara, kesetiakawanan sosial itu sangat terbina sebagai
kearifan sosial (local wisdom) yang dicontohkan dan
dipertahankan secara komunal oleh pemimpinan informal di
kawasan desa dan beberapa suku di beberapa pulau kecil dan
perbatasan. Secara agregat desa, kawasan terpencil dan
kawasan tradisi itu oleh lebih dari 60% penduduk Indonesia.
Kesetiakwanan Sosial dan Situasi Terkini

Selama berabad abad, sistem kemasyarakatan di Nusantara
dan rasa kesetiakawanan sosial yang melembaga secara
tradisional menyimpan energi positip bagi kelangsungan
berbangsa dan bermasyarakat. Akhir akhir ini ada kesadaran
bahwa untuk konteks Indonesia, tidak semua masalah sosial
dapat diselesaikan oleh negara sendiri, bukan pula oleh
pemerintah mapupun apalagi hanya oleh aparatur negara.

Apalagi jaman sekarang, nilai kebersamaan tergerus oleh sikap
individualisme dan sikap ananiyah. Nilai luhur kesetiakwanan sosia tergerus
oleh materialisme. Sikap saling tolong menolong ditindas oleh sikap tidak
peduli dan acuh tak acuh. Bahkan di institusi pemerintahan terdapat sikap
formal rules and technocratic mechanism yang memaksa birokrat yang
secara individual salehpun tak bisa berdaya atas segala sesuatu yang
menjadi kewajibannya yaitu menolong orang atau sekelompok orang yang
tak berdaya.
SINERGI TOKOH LOKAL DENGAN PEMERINTAH DAERAH
UNTUK MENGATASI AMSALAH SOSIAL

Sangatlah penting mensinergikan tokoh tokoh lokal yang saleh
(informal leaders) untuk dapat bekerja secara paralel dan
saling mengisi sebagai driving forces mengatasi masalah sosial.

Masalah sosial seperti kemiskinan, kesulitas akses terhadap
pembangunan dan hasil hasilnya, bencana alam, kelaparan,
anak anak yatim harus diatasi bersama.

Demikian juga kesetiakawanan sosial juga harus menjawab
tantangan kebutuhan sosial ibu ibu di daerah miskin dan juga
pengembangan anak muda yang potensial untuk meningkatkan
peran positifnya dalam keluarga besar bangsa.
Kesetiakawanan Sosial Syarat Negara Kuat

Bahwa sebuah bangsa terwujud dan kuat apabila memiliki
syarat apa yang pernah disebut oleh Soekarno—mengikuti
pendapat Ernest Renan— sebagai le desire d’etre ensemble
atau kehendak akan bersatu.

Soekarno mengingatkan syarat pendirian suatu bangsa yang
didasarkan pada keinginan yang kuat dari setiap elemen
masyarakat untuk bersatu (dalam Kebhinnekaan).

Dalam konteks kemasyarakatan maka masalah sosial yang tak
tertangani secara nasional akan menggumpal menjadi antipati
kepada negara.
Kesetiakawanan Sosial Dalam Konteks Otonomi
Daerah

Otonomi daerah itu ialah kebijakan nasional amanat MPR
diimplementasikan UU 22/1999, dilanjutkan oleh 32/2004,
dilanjutkan lagi oleh UU 23/2014 yang juga merupakan trend
dunia untuk mentransfer dan menyerahkan kekuasaan
penyelanggaraan kepada daerah. Otonomi daerah itu ialah
keleluasaan dan kemandirian daerah, peran serta aktif
masyarakat, menggali potensi riil ekonomi daerah.

Dalam konteks ini, kita bisa mengartikan bagaimana
kesetiakawanan sosial itu dilaksanakan di daerah, oleh
masyarakat, oleh warda dan tokoh di daerah. Dalam konteks
inilah kesetiakawanan sosial nasional itu sekarang alamatnya di
daerah dan di tokoh tokoh lokal.
Otonomi Daerah

DIPAKAI DAN DIAPLIKASIKAN DI 95% NEGARA ANGGOTA PBB

DIPERCAYA SEBAGAI OBAT MUJARAB MENGATASI PENYAKIT
PEMERINTAHAN (Rondinelli 2003, Turner 2003, Cheema 2003)
((The World bank Report, 2003, 2004, 2005 sampai 2015)
 DIANGGAP SEBAGAI BAGIAN DAN SYARAT
( Cohen and Paterson, Rondinelli and Cheema 2003)

DEMOKRATISASI
SANGAT PAS DENGAN KONDISI NEGARA KEPULAUAN DAN
NEGARA KESATUAN (Litvact, Achmad, Bird, 1981, Said, 2004)
LIMA ALASAN PENTING OTONOMI DAERAH
OTONOMI DAERAH
KESEPAKATAN
FOUNDING
FATHERS
RESPONSE
THD GLOBALISASI
KONDISI
GEOGRAFIS
INDONESIA
ADMINSTRASI
PEMBANGUNAN
ALASAN
POLITIS
PROPOSISI
HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH

DALAM KONTEKS OTONOMI, MESTINYA DAERAH MEMILIKI
KEWENANGAN LEBIH LUAS , SELUAS LUASNYA, KECUALI 6 URUSAN
PUSAT. NAMUN MASIH BANYAK URUSAN YANG SEKARANG BELUM BISA
DIBERIKAN PENUH DENGAN “ALASAN STRATEGIS NASIONAL” DAN ATAU
ALASAN LAIN. SEKARANG AKTOR PENTING BERALIH DARI JAKARTA DAN
KOTA KOTA BESAR KE DAERAH DAERAH...

DALAM KONTEKS OTONOMI, MESTINYA PENYERAHAN KEWENANGAN
DIBARENGI DENGAN PENGUATAN KEUANGAN UNTUK MEHYELESAIKAN
HAL HAL YANG BERAKAITAN DG MASYARAKAT DAN OLEH KARENA ITU
ADA UNDANG UNDANG BARU YAITU UNDANG UNDANG DESA YANG
MENGATUR BEBERAPA POKOK PIKIRAN BAGAIMANA MEMBANGUN DARI
DESA, MEMBERI PORSI ANGGRAN YANG SANGAT BESAR BAGI 82.000
DESA DAN KELURAHAN DI SELURUH NUSANTARA ( UU DESA, NOMOR /
2014)
MENEMPATKAN MANUSIA SEBAGAI TITIK SENTRAL
PEMBANGUNAN
PENDIDIKAN
JADI SUDAH ADA KEYAKINAN BAHWA BANYAK
MASALAH SOSIAL DI INDONESIA YANG HARUS
DISELESAIKAN OLEH MASYARAKAT SENDIRI
Hewan saja memiliki kesetiakwanan sosial
INTEGRASI DAN KESETIAKAWANAN SOSIAL

Dalam konteks kelangsungan bangsa, cukup penting
apa yang disebut dengan ‘mitos integrasi total’, yakni
kesempurnaan keadaan harmonis tanpa konflik atau
antagonisme di mana setiap individu melebur dalam
suatu komunitas yang lebih besar. Dalam kaitan itulah
muncul kesetiakawanan sosial.

Harmoni dalam keadaan yang sempurna, tidak ada
antagonisme atau konflik, sulit diwujudkan tanpa
desain integrasi intra nasional dalam bangsa kita.
Hanya dalam keadaan harmonilah kesetiakaeanan
sosial nasional tumbuh.
MEREKA MUNGKIN WARGA KITA
KERJA BAKTI, GOTONG ROYONG DALAM MASYARAKAT
MEMBACA PETA ORGAN KEMENTRIAN SOSIAL DI DAERAH
PELAYANAN SOSIAL DI 82.000 DESA DAN KELURAHAN,
PELAYANAN DI 6. 600 KUA KECAMATAN ,
PELAYANAN DANPEMBINAAN
DENGAN JALAN:
PEMBUATAN STANDARD OPERATING PROCEDURES
INTEGRASI PROGRAM, SISTEM DAMINISTRASI
MENATA DAN MEMPERKUAT PENGAWASAN ANGGARAN
MENJADIKAN APARATUR KEMENSOS USWAH KHASANAH
MASALAH BENCANA ALAM DAN SOSIAL






Gempa Bumi,
Angin Ribut,
Tsunami,
Letusan Gunung
Berapi,
Tornado, Banjir,
Longsor,





Kekeringan,
Kelaparan,
Kebakaran,
Penyakit berbahaya
dan menular,
Mal praktik teknologi,
Kerusuhan dan konflik
sosial
TRILOGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
PEMBERDAYAAN
SEKTOR
YANG TERTINGGAL
PEMBERDAYAAN
WILAYAH
YANG TERTINGGAL
PEMBERDAYAAN
MANUSIA
YANG TERTINGGAL
SINERGI MENGATASI MASALAH SOSIAL
BEMPER
(CADANGAN)
ANGGARAN
SOSIAL
PEMBANGUNAN
SOSIAL DAERAH
ATURAN
KHUSUS
T
O
K
O
H
L
O
K
A
L
Y
A
N
G
S
A
L
E
H
DESA DAN
BPD
LEMBAGA
ADAT
MASALAH
SOSIAL
PESANTREN
ORGANISASI
SOSIAL
AGAMA
TOKOH
AGAMA
ULAMA
DANA GOTONG ROYONG MEMPERKUAT
KESEJATERAAN SOSIAL
BERSUMBER DARI NEGARA:
APBN, BUMN, KEMENTRIAN, APBD DAN
PENDANAAN LAIN YANG SAH
BERSUMBER DARI DANA NON
NEGARA:
(DANA POKOK)
SEKTOR USAHA,
SEKTOR INDUSTRI ,
CSR YG RELEVAN
BERSUMBER DARI DANA NON
NEGARA:
BERSUMBER DARI DANA NON
NEGARA :
DERMAWAN NASIONAL,
LEMBAGA DONOR INTERNASIONAL,
DERMAWAN REGIONAL,
DERMAWAN LOKAL
LEMBAGA DONOR REGIONAL
YAYASAN DONASI
POTENSI SINERGI FORMAL AND
INFORMAL LEADERSHIP
TATA
PEMERINTAHAN
SINERGIS
NILAI NILAI
AGAMA
KEKUATAN
SOSIAL
PIMPINAN
INFORMAL
NILAI NILAI
TRADITION
MASALAH
SOSIAL
Kementrian Negara Terkait
Kesetiakawanan Sosial
SCENARIO PROGRAM
“PENGURANGAN ANGKA KEMISKINAN DAN
KELAPARAN ”
Penyempurnaan Data Keluarga Miskin di Tiap Kecamatan
Penyempurnaan Metode Penganggaran Untuk Pengentasan
Kemiskinan
Penyempurnaan Sistem Komunikasi Pemda- Keluarga
Miskin
Pengembangan Sistem Eksekusi Program pengentasan
Kemiskinan
Penguatan Lembaga Pelaksana Khusus Pengentas
Kemiskinan dan Kelaparan
Kodifikasi dan Penulisan Profile Keluarga Miskin
Proliferasi Kegiatan dan Paket Pengentasan Kemiskinan
SOLUSI PEMERINTAH (KEMENSOS)
• BANTUAN
PERLINDUNGAN
DAN JAMINAN
SOSIAL
• PROGRAM
NASIONAL
PEMBERDAYAAN
KESETIAKAWANAN
SOSIAL
NASIONAL
•
GERAKAN BARU
PENANGGULANGAN
KEMISKINAN
BERBASIS NON
STATE
• SOSIAL
BEASISWA BAGI
MURID DI
PENDIDIKAN
AGAMA
INFORMAL DAN
NON FORMAL
SOLUSI

BAHWA TOKOH TOKOH DAERAH DAN JUGA BUDAYA SALING
ASIH, ASUH, SALING BANTU DAN AGAMA ITU SANGAT
MEMBANTU PENGENTASAN KEMISKINAN DAN MENGATASI
MASALAH SOSIAL DI DAERAH.

BAHWA BURUKNYA PEMIMPIN PEMERINTAHAN DAN
KORUPSI BISA MEMPERBANYAK ORANG MISKIN SEMUA
JENIS.

BAHWA PEMERINTAH SAJA TIDAK CUKUP, HARUS BERSAMA,
TOKOH MASYARAKAT, DUNIA INDUSTRI, TOKOH TOKOH
AGAMA, DENGAN MENJAGA DAN MEREFLEKSIKAN NILAI
NILAI LUHUR (LOCAL WISDOM) UNTUK MENINGKATKAN
KESETIAKAWANAN SOSIAL NASIONAL
PERTANYAAN TERSISA
LEMBAGA APA PELAKSANA KOORDINASI TERINTEGRASI
 LEMBAGA KEPRESIDENAN
 KEMENTRIAN / LEMBAGA NEGARA APA SAJA
 PERAN GUBERNUR – DPRD DIMANA
 PERAN TOKOH AGAMA, TOKOH ADAT DAN TOKOH LOKAL
DILETAKKAN DIMANA
SECARA PRAKTIS
 PARADIGMA APA, STRATEGI APA YANG AKAN DIPILIH
 CONTENTNYA APA, ISINYA APA SAJA
Terima
Kasih
M Mas’ud Said dengan penduduk, saat meneliti
Nasionalisme dan Kebangsaan di Pulau Rote NTT
2010.
Download