Bab 2 - Widyatama Repository

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Manajemen
2.1.1 Pengertian Manajemen
Manajemen merupakan alat untuk pencapaian tujuan yang diinginkan,
manajemen yang tepat akan memudahkan terwujudnya tujuan perusahaan,
karyawan, dan masyarakat. Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya
mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diaturnya berdasarkan urutan
dari fungsi-fungsi manajemen itu (perencanaan, pengorganisasian pengarahan,
pengendalian). Jadi, manajemen itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan
tujuan yang diinginkan. Adapun unsur-unsur manajemen terdiri dari Men, Money,
Method, Materials, Machine dan Market yang disingkat 6M.
Setiap perusahaan dalam usaha mencapai tujuan pasti dihadapkan pada
kendala-kendala yang ada, oleh karena itu setiap perusahaan atau organisasi dalam
menciptakan kerjasama yang baik guna mencapai tujuannya membutuhkan suatu
sistem yang disebut manajemen. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas
mengenai manajemen, berikut ini akan diungkapkan oleh para ahli :
Menurut Stoner dan Wankel yang dikutip oleh Siswanto (2003:22) adalah
“Management is the process of planning, organizing, leading and
controlling, the effort or organizing members and of using all other
organizational resources to achieve stated organizational goals.
13
14
(Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan
dan upaya pengendalian anggota organisasi dan penggunaan sumber daya
oeganisasi lainnya demi tercapainya tujuan organisasi yang dicapai).
Menurut
Kartono
(2008:168)
dalam
bukunya
“Pemimpin
dan
penyusunan
dan
Kepemimpinan” menyatakan bahwa :
“Manajemen
adalah
penyelenggaraan
usaha
pencapaian hasil yang diinginkan dengan menggunakan upaya-upaya
kelompok, terdiri atas penggunaan bakat-bakat dan sumber daya manusia.”
Sedangkan menurut Handoko (2001:10), manajemen adalah bekerja
dengan orang-orang untuk menentukan, menginterpretasikan, dan mencapai
tujuan-tujuan
organisasi
dengan
pelaksanaan
fungsi-fungsi
perencanaan,
pengorganisasian, penyusunan personalia, pengarahan, kepemimpinan dan
pengawasan. Dari uraian-uraian di atas dipahami bahwa :
1. Manajemen mempunyai tujuan yang ingin dicapai
2. Manajemen merupakan kolaborasi antara ilmu, proses, dan seni
3. Manajemen baru dapat diterapkan jika ada dua orang lebih melakukan
kerja sama dengan suatu organisasi
4. Manajemen
terdiri
dari
beberapa
fungsi
yaitu
perencanaan,
pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan Manajemen
sangat penting untuk mengatur semua kegiatan dalam kehidupan baik di
rumah
tangga,
sekolah,
organisasi,
perusahaan,
yayasan-yayasan,
pemerintahan dan lain sebagainya. Manajemen yang baik
akan
menimbulkan pembinaan kerja sama yang akan serasi dan harmonis,
15
saling menghormati serta mencintai sehingga tujuan dari organisasi akan
tercapai secara optimal.
Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan manajemen adalah
suatu proses yang terdiri dari perencanaan, pengarahan dan pengendalian melalui
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya sumber daya lain secara
efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Manajemen sangat
penting untuk mengatur semua kegiatan dalam kehidupan baik di rumah tangga,
sekolah, organisasi, perusahaan, yayasan-yayasan, pemerintahan dan lain
sebagainya. Manajemen yang baik akan menimbulkan pembinaan kerja sama
yang akan serasi dan harmonis, saling menghormati serta mencintai sehingga
tujuan dari organisasi akan tercapai secara optimal.
2.1.2
Fungsi Manajemen
Fungsi-fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang selalu ada
dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer
dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Namun terdapat perbedaan
pandangan mengenai fungsi-fungsi manajemen oleh beberapa ahli. Menurut
Henry Fayol (Safroni, 2012 : 47), fungsi-fungsi manajemen meliputi 1)
Perencanaan (planning), 2) Pengorganisasian (organizing), 3) Pengarahan
(commanding),
4)
Pengkoordinasian
(coordinating),
5)
Pengendalian
(controlling). Sedangkan menurut Ricki W. Griffin (Ladzi Safroni, 2012 : 47),
fungsi-fungsi manajemen meliputi Perencanaan dan Pengambilan Keputusan
(planning and decision making), pengorganisasian (organizing), Pengarahan
(leading) serta pengendalian (controlling). Menurut Terry (2010: 9), fungsi
16
manajemen dapat dibagi menjadi empat bagian, yakni planning (perencanaan),
organizing
(pengorganisasian),
actuating
(pelaksanaan),
dan
controlling
(pengawasan) :
1) Planning (Perencanaan)
Planning Planning (perencanaan) ialah penetapan pekerjaan yang harus
dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan.
Planning mencakup kegiatan pengambilan keputusan, karena termasuk
dalam
pemilihan
alternatif-alternatif
keputusan.
Diperlukan
kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna
merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa
mendatang.
2) Organizing (Pengorganisasian)
Pengorganisasian Organizing berasal dari kata organon dalam bahasa
Yunani
yang
berarti
alat,
yaitu
proses
pengelompokan
kegiatankegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan dan penugasan setiap
kelompok kepada seorang manajer (Terry & Rue, 2010: 82).
Pengorganisasian dilakukan untuk menghimpun dan mengatur semua
sumber-sumber
yang diperlukan,
termasuk
manusia,
sehingga
pekerjaan yang dikehendaki dapat dilaksanakan dengan berhasil.
3) Actuating (Pelaksanaan)
Pelaksanaan
merupakan
usaha
menggerakkan
anggota-anggota
kelompok sedemikian rupa, hingga mereka berkeinginan dan berusaha
17
untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan bersama Terry
(1993:62).
4) Controlling (Pengawasan)
Controlling atau pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan
alat utk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan.
Dari perbandingan beberapa fungsi-fungsi manajemen di atas, dapat
dipahami bahwa semua manajemen diawali dengan perencanaan (Planning)
karena perencanaan yang akan menentukan tindakan apa yang harus dilakukan
selanjutnya. Setelah perencanaan adalah pengorganisasian (organizing). Hampir
semua ahli menempatkan pengorganisasian diposisi kedua setelah perencanaan.
Pengorganisasian merupakan pembagian kerja dan sangat berkaitan erat dengan
fungsi perencanaan karena pengorganisasian pun harus direncanakan. Selanjutnya
setelah menerapkan fungsi perencanaan dan pengorganisasian adalah menerapkan
fungsi pengarahan yang diartikan dalam kata yang berbeda-beda seperti actuating,
leading, dan commanding, tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu
mengarahkan semua karyawan agar mau bekerjasama dan bekerja efektif untuk
mencapai tujuan organisasi. Tetapi juga ada penambahan fungsi pengkoordinasian
(coordinating) setelah fungsi pengarahan. Fungsi pengkoordinasian untuk
mengatur karyawan agar dapat saling bekerjasama sehingga terhindar dari
kekacauan, percekcokan dan kekosongan pekerjaan. Selanjutnya fungsi terakhir
dalam proses manajemen adalah pengendalian (controlling).
18
2.2
Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia sangat penting bagi suatu perusahaan
dalam mengelola, mengatur, dan mengembangkan sumber daya manusia yang
ada. Sumber daya manusia harus dikelola dan dikembangkan hingga dapat
mencapai kemampuan yang maksimal dan memiliki sikap yang professional
hingga dapat memudahkan dalam pencapaian tujuan perusahaan. Hubungan baik
antara perusahaan dan karyawan juga seharusnya menjadi tugas yang menjadikan
peran penting manajemen sumber daya manusia dibutuhkan oleh perusahaan,
dengan memperhatikan kesejahteraan karyawan adalah salah satu contoh tugas
manajemen sumber daya manusia.
2.2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan komponen dari perusahaan yang
mempunyai arti yang sangat penting sumber daya manusia menjadi sumber
penentu dari perencanaan tujuan perusahaan, karena fungsinya sebagai inti dari
kegiatan perusahaan. Tanpa adanya sumber daya manusia maka kegiatan
perusahaan tidak akan berjalan sebagaimana mestinya meskipun pada saat ini
otomatisasi telah memasuki setiap perusahaan, tetapi apabila pelaku dan
pelaksana mesin tersebut manusia, tidak memberikan peranan yang diharapkan
maka otomatiasi itu akan menjadi sia-sia.
Untuk memperjelas pengertian dari manajemen sumber daya manusia
berituk ini penulis mengutip beberapa definisi yang dikemukanan oleh beberapa
ahli :
19
Menurut Rivai (2008:1), menyatakan bahwa :
“Manajemen sumber daya manusia adalah salah satu bidang dari
manajemen
umum
yang
meliputi
segi-segi
perencanaan,
pengorganisasian, pelasanaan dan pengendalian.”
Sedangkan menurut Mangkunegara (2007:2) menyatakanan bahwa :
“Manajemen sumber daya manusia adalah suatu pengelolaan dengan
pendayagunaan sumber daya yang ada pada individu (pegawai).”
Dari beberapa pendapat di atas bahwa Manajemen Sumber Daya Manusia
adalah suatu cara mencapai suatu tujuan dengan cara menggerakan orang lain
melalui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian yang baik,
juga disertai dengan berbagai cara dalam menjaga, memelihara, dan
mengembangkan sumber daya manusia. Manajemen Sumber Daya Manusia
secara garis besar sama yaitu bahwa, manajemen sumber daya manusia mengatur
semua tenaga kerja secara efektif dan efisien dengan mengembangkan
kemampuan yang mereka miliki dalam mewujudkan tujuan perusahaan, karyawan
dan masyarakat. Dengan memiliki tujuan tertentu maka tenaga kerja akan
memotivasi untuk bekerja sebaik mungkin.
2.2.2 Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Fungsi manajemen sumber daya manusia sangatlah luas, hal ini disebabkan
karena tugas dan tanggung jawab manajemen sumber daya manusia untuk
mengelola unsur- unsur manusia seefektif mungkin agar memiliki tenaga kerja
yang memuaskan. Edwin B. Flippo pada tahun 1981 (Suwatno dan Doni Juni
20
Priansa, 2011:30-33) mengungkapkan bahwa fungsi Manajemen Sumber Daya
Manusia itu terbagi menjadi fungsi manajerial dan fungsi operatif.
1. Fungsi Manajerial
a. Perencanaan, adalah proses penentuan tindakan dalam mencapai
tujuan. Fungsi perencanaan manajemen sumber daya manusia adalah
memberikan masukan, saran, dan informasi kepada pemimpin
perusahaan yang berkaitan dengan karyawan.
b. Pengorganisasian, dilakukan setelah perencanaan dibuat dengan
matang. Fungsi pengorganisasian bertugas membentuk unit-unit yang
terdiri dari fasilitas dan sumber daya manusia. Unit-unit tersebut harus
diberi tugas dan fungsinya masing-masing tetapi dengan tujuan yang
sama.
c. Pengarahan, setelah unit-unit dibuat sesuai dengan fungsinya masingmasing, maka selanjutnya adalah memberikan pengarahan kepada
setiap unit dan karyawan untuk mau bekerja tanpa paksaan dan dapat
bekerja sama dengan unit lain.
d. Pengendalian, fungsi ini dilakukan setelah fungsi perencanaan,
pengorganisasian, dan fungsi pengarahan dilakukan. Fungsi ini berarti
mengamati, mengendalikan, dan mengawasi berjalannya proses
pencapaian tujuan perusahaan.
2. Fungsi Operatif atau Fungsi Teknis
a. Recrutment
21
Manajemen Sumber Daya Manusia harus menemukan sumber daya
manusia yang memiliki kualifikasi dan jumlah yang dibutuhkan dalam
perusahaan yang dilanjutkan dengan proses seleksi, juga melakukan
penempatan sumber daya manusia sesuai dengan keahlian dan
kebutuhan perusahaan.
b. Development
Manajemen Sumber Daya Manusia diharuskan dapat mengembangkan
sumber
daya
manusia
yang
baru
diterima
sehingga
dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja baru dan dapat segera
menghasilkan kinerja yang baik. Manajemen Sumber Daya Manusia
juga harus memberikan banyak pelatihan guna meningkatkan
kemampuan dan keahlian yang karyawan miliki.
c. Compensation
Kompensasi adalah suatu bentuk penghargaan perusahaan kepada
karyawan atas seluruh usaha yang telah mereka lakukan, oleh karena
itu fungsi ini sangat penting bagi karyawan itu sendiri. Kompensasi
yang biasanya diterima oleh karyawan berupa uang yang biasa
diterima setiap bulannya atau biasa disebut dengan gaji/upah.
d. Integration
Setelah karyawan dapat mengembangkan keahliannya, maka tahap
selanjutnya yang harus diperhatikan oleh manajemen sumber daya
manusia adalah bagaimana para karyawan dapat merubah sikap dan
tingkah laku guna memiliki satu tujuan yaitu mencapai tujuan
22
perusahaan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu akan menjadi tugas
para manager tiap departemen untuk mengetahui karakter dari masingmasing karyawannya, sehingga treatment yang akan dilakukan dalam
pengintegrasian tepat untuk dilakukan.
e. Maintenance
Pemeliharaan yang dimaksud adalah bagaiman cara agar para
karyawan merasa diperhatikan oleh perusahaan dan bisa menjadi
karyawan yang loyal. Hal ini bisa diberikan dalam bentuk uang yang
biasanya disebut dengan insentif, atau bentuk lain seperti pemberian
asuransi kesehatan, penyediaan alat-alat kerja yang memadai, dan
menciptakan lingkungan pekerjaan yang menyenangkan. Jika fungsi
pemeliharaan ini kurang diperhatikan bisa jadi akan menjadi penyebab
menurunnya motivasi kerja karyawan.
f. Separation
Fungsi menjamin rasa aman para pegawai saat dilakukannya pensiun,
hal ini berhubungan dengan pemberian tunjangan pensiun yang
sebetulnya dana tersebut adalah dana potongan gaji karyawan tersebut
selama aktif bekerja. pekerjaan yang menyenangkan. Jika fungsi
pemeliharaan ini kurang diperhatikan bisa jadi akan menjadi penyebab
menurunnya motivasi kerja karyawan.
Dari uraian diatas tersebut, jelaslah bahwa peranan manajemen sumber daya
manusia, baik yang bersifat manajerial ataupun operatif sangat berguna dalam
mendukung pencapaian dari tujuan perusahaaan.
23
2.3
Ruang Lingkup Kepemimpinan
2.3.1 Kepemimpinan
Dalam buku The Art of Leadership, Ordway Tead menyatakan bahwa
kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang agar mereka mau bekerja
sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Rivai (2005:2),
Kepemimpinan (Leadership) adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh
kepada pengikut-pengikutnya lewat proses komunikasi dalam upaya mencapai
tujuan organisasi. Sedangkan menurut Nawawi (2006 : 127-128) Kepemimpinan
didefinisikan sebagai suatu proses mempengaruhi aktifitas dari individu atau
kelompok untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Menurut Young (dalam
Kartono, 2003;23) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang
didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang
lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan
memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus. (Miftah Thoha,
2012:259) Stephen P. Robbins dan Mary Coulter (2012:488) menyampaikan
bahwa, “Leadership is what leaders do. It’s process of leading a group and
influencing that group to achieve it’s goals”. “Kepemimpinan adalah apa yang
pemimpin lakukan. Itu adalah proses memimpin kelompok dan mempengaruhinya
untuk mencapai tujuan.”
Kepemimpinan tidak hanya tergantung kepada pribadi seseorang, tetapi juga
tergantung situasi di mana pemimpin itu berada. Adair (2000:24) menyatakan
bahwa “kepemimpinan itu bersifat spesifik menurut situasi tertentu yang diamati”.
Senada dengan Adair, Wursanto (2003:196) memberikan perumusan tentang
24
kepemimpinan adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang lain untuk bekerja
sama guna mencapai tujuan tertentu yang diinginkan. Dalam pengertian tersebut,
dapat diketahui bahwa masalah kepemimpinan tidak terbatas pada organisasi atau
kantor saja, tetapi berlaku secara umum. Kepemimpinan dapat digunakan oleh
setiap orang dalam segala situasi, dalam segala tingkatan organisasi. Hal ini
berarti bahwa setiap pemimpin unit dalam organisasi mulai dari pemimpin puncak
(tertinggi) sampai dengan pemimpin unit terendah, diharapkan mempunyai
kemampuan untuk mempengaruhi para bawahannya.
Berdasarkan definisi-definisi kepemimpinan diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa kepemimpinan adalah bagian yang dianggap penting dalam manajemen
organisasi, yang dimana melekat pada diri seorang pemimpin dalam bentuk
kemampuan dan atau proses untuk mempengaruhi orang lain atau bawahan
perorangan atau kelompok, agar bawahan perorangan atau kelompok itu mau
berperilaku seperti apa yang dikehendaki pemimpin, dan memperbaiki budayanya,
serta memotivasi perilaku bawahan dan mengarahkan ke dalam aktivitas-aktivitas
positif yang ada hubungannya dengan pekerjaan dalam rangka mencapai tujuan
organisasi.
2.3.2
Fungsi dan Sifat-sifat Pemimpin
Menurut Kartini Kartono (2011:93), fungsi dari kepemimpinan ialah
memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi atau membangunkan
motivasi-motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan-jaringan
komunikasi yang baik, memberikan supervise/pengawasan yang efisien, dan
membawa para pengikutnya kepada sasaran yang dituju, sesuai dengan ketentuan
25
waktu dan perencanaan. Menurut Suwatno dan Donni Juni Priansa (2011:149),
seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang mampu menampilkan dua
fungsi penting, yaitu fungsi tugas dan fungsi pemeliharaan. Fungsi tugas
berhubungan dengan segala sesuatu yang harus dilaksanakan untuk memilih dan
mencapai tujuan-tujuan secara rasional, tugas-tugas tersebut antara lain
menciptakan kegiatan, mencari informasi, memberi informasi, memberikan
pendapat, menjelaskan, mengkoordinasikan, meringkaskan, menguji kelayakan,
mengevaluasi, dan mendiagnosis. Fungsi pemeliharaan berhubungan dengan
kepuasan emosi yang diperlukan untuk mengembangkan dan memelihara
kelompok, masyarakat atau untuk keberadaan organisasi.
Beberapa fungsi tersebut antara lain mendorong semangat, menetapkan
standar, mengikuti, mengekspresikan perasaan, menciptakan keharmonisan, dan
mengurangi ketegangan. Jika disederhanakan fungsi kepemimpinan adalah
memastikan karyawannya mendapatkan segala kebutuhan dalam kegiatan kerja,
yang selanjutnya akan melancarkan proses pencapaian tujuan organisasi. Terdapat
sepuluh sifat pemimpin yang unggul yang diutarakan oleh G.R Terry (Kartini
Kartono, 2011:47), yaitu:
1. Kekuatan.
2. Stabilitas emosi.
3. Pengetahuan tentang relasi insani.
4. Kejujuran.
5. Objektif.
6. Dorongan pribadi.
26
7. Keterampilan berkomunikasi.
8. Kemampuan mengajar.
9. Keterampilan sosial.
10. Kecakapan teknis atau kecakapan manajerial
Sedangkan Tead dalam Kartono (2009 : 44-47) mengemukanan sepuluh
sifat seorang pemimpin, yaitu :
1. Energy jasmania dan mental (psysical and nerveous energy)
2. Kesadaran akan tujuan dan arah ( a sense of prpose and direction)
3. Antusiasme (enthusiasm: semnagat, kegairahan, kegembiraan yang besar)
4. Keramahan dan kecintaan (friendliness and affection)
5. Integritas (integrity: kejujuran, ketulusan hati)
6. Penguasaan teknis (technical mastery)
7. Ketegasan dalam pengambilan keputusan (decisiveness)
8. Kecerdasan (intelligence)
9. Keterampilan mengajar (teaching skill)
10. Kepercayaan diri (faith)
Dari sepuluh sifat yang diungkapkan oleh Tead diatas, seorang ahli yang
bernama Terry dalam Kartono (2009: 47-50) menambahkan sifat pemimpin
lainnya sehingga ia dapat dikatakan sebagai pemimpin yang unggul, yaitu:
1. Objektif
2. Memiliki keterampilan berkomunikasi
3. Dorongan pribadi dalam dirinya untuk memimpin
27
Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka dapat diketahui bahwa pemimpin
yang unggul harus memiliki semua sifat tersebut. seorang pemimpin harus dapat
mnyeimbangkan seluruh sifat dan mewujudkan pada pelaksanaanya ketika para
pengikutnya menjadi lebih respek terhadapnya sehingga pengikutnya dapat
mematuhi segala peraturan dan perintahnya.
2.3.3 Syarat-Syarat Kepemimpinan
Kepemimpinan melibatkan orang lain dan adanya situasi kelompok atau
organisasi tempat pemimpin dan anggotanya berinteraksi. Dalam kepemimpinan
terjadi pembagian kekuasaan dan proses mempengaruhi bawahan oleh pemimpin.
Adanya tujuan bersama yang harus dicapai. Kartini Kartono (2006: 36)
mengungkapkan bahwa konsepsi mengenai persyaratan kepemimpinan itu harus
selalu dikaitkan dengan tiga hal penting, yaitu sebagai berikut :
1. Kekuasaan ialah kekuatan, otoritas dan legalitas yang memberikan
wewenang kepada pemimpin guna mempengaruhi dan menggerakkan
bawahan untuk berbuat sesuatu.
2. Kewibawaan ialah kelebihan, keunggulan, keutamaan, sehingga orang
mampu “Mbawani” atau mengatur orang lain, sehingga orang tersebut
patuh pada pemimpin, dan bersedia melakukan perbuatan-perbuatan
tertentu.
3. Kemampuan ialah segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan
atau keterampilan teknis maupun sosial, yang dianggap melebihi dari
kemampuan anggota biasa.
28
Sedangkan menurut Kartono (2008:36), konsepsi mengenai persyaratan
kepemimpin itu harus dikaitkan dengan tiga hal penting, yaitu:
a. kepada pemimpin guna mempengaruhi dan menggerakan bawahan
untuk berbuat sesuatu.
b. kewibawaan ialah kelebiha, keunggulan, keutamaan sehingga orang
mampu mengatur orang lain, sehingga orang tersebut patuh pada
pemimpin, dan bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu.
c. Kemampuan ialah segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan
atau keteram pilan teknis maupun social, yang dianggap melebihi
kemampuan anggota biasa.
Sedangkan Earl Nightingale dan Whitt Schult dalam buku Creative
Thinking How to win ideas yang dikutip oleh Kartono (2008:37) dalam
bukunya
“Pemimpin
dan
Kepemimpinan”,
menuliskan
kemampuan
kepemimpinan dan syarat yang harus dimiliki, ialah:
1. Kemandirian, berhasrat memajukan diri sendiri.
2. Besar rasa ingin tahu, dan cepat tertarik pada manusia dan
berbeda-beda.
3. Multi terampil atau memiliki kepandaian beraneka ragam.
4. Memiliki rasa humo, antusiasme tinggi, suka berkawan.
5. Perfeksionis, selalu ingin mendapatkan yang sempurna.
6. Mudah menyesuaikan diri adaptasinya tinggi.
7. Sabar namun ulte, serta tidak “mendek” berhenti.
8. Waspada, peka, jujur, optimis, berani, gigih, ulet, realistis.
29
9. Komukatif, serta pandai berbicara atau berpidato.
10. Berjiwa wiraswasta
11. Sehat jasmaninya dinamis, sanggup dan suka menerima tugas
berat, serta berani mengambil resiko.
12. Tajam firasatnya dan adil pertibangannya.
13. Berpengetahuan luas dan haus akan ilmu pengetahuannya.
14. Memiliki motivasi yang tinggi dan menyadaritarget atau tujuan
hidupnya yang ingin dicapai, dibimbing oleh idealism yang
tinggi.
15. Punya imajinasi tinggi, daya kombinasi, dan daya inovasi.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemimpin yang ideal adalah
pemimpin yang berpengetahuan luas, adil, jujur, optimis, gigih, ulet,
bijaksana,mampu memotivasi diri sendiri, berhubungan yang baik dengan
bawahan, dimana semua ini didapat dari pengembangan kepribadiannya sehingga
seorang pemimpin memiliki nilai tambah tersendiri dalam melaksanakan tugas
dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin.
2.4
Gaya dan Tipe-Tipe Kepemimpinan
2.4.1 Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu
perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin yang mengangkut kemampuan
dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau
bentuk tertentu. Pemimpin yang efektif dalam menerapkan gaya kepemimpinan
30
harus terlebih dahulu memahami siapa bawahan yang dipimpinnya, mengertu
kekuatan
dan
kelemahan
bawahannya,
dan
mengerti
bagaimana
cara
memanfaatkan kekuatan bawahan untuk mengimbangi kelemahan yang mereka
miliki. Berbagai ahli berpendapat, bahwa secara umum kepemimpinan adalah
kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan dengan
bersemangat. Kepemimpinan tidak hanya tergantung kepada pribadi seseorang,
tetapi juga tergantung situasi di mana pemimpin itu berada. Adair (2000:24)
menyatakan bahwa “kepemimpinan itu bersifat spesifik menurut situasi tertentu
yang diamati”. Siapa yang menjadi pemimpin suatu kelompok tertentu melibatkan
diri dalam kegiatan tertentu dan karakter-karakter kepemimpinan yang berperan
dalam kasus tertentu merupakan fungsi dari situasi yang spesifik. Ada variasi
besar dalam karakteristik individu-individu yang menjadi pemimpin dalam situasi
yang sama dan bahkan perbedaan itu cukup besar lagi dalam perbedaan perilaku
kepemimpinan dalam situasi yang berbeda. Senada dengan Adair, Wursanto
(2003:196) memberikan perumusan tentang kepemimpinan adalah suatu kegiatan
mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama guna mencapai tujuan tertentu yang
diinginkan.
Dalam pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa masalah kepemimpinan
tidak terbatas pada organisasi atau kantor saja, tetapi berlaku secara umum.
Masalah kepemimpinan juga tidak hanya menjadi milik atau monopoli seseorang
yang menyandang predikat sebagai kepala atau manajer dalam suatu perusahaan
atau kantor. Kepemimpinan dapatdigunakan oleh setiap orang dalam segala
situasi, dalam segala tingkatan organisasi. Hal ini berarti bahwa setiap pemimpin
31
unit dalam organisasi mulai dari pemimpin puncak (tertinggi) sampai dengan
pemimpin
unit
terendah,
diharapkan
mempunyai
kemampuan
untuk
mempengaruhi para bawahannya.
Menurut Tjiptono (2006:161) gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang
digunakan
pemimpin
dalam
berinteraksi
dengan
bawahannya.
Gaya
kepemimpinan mewakili filsafat, keterampilan, dan sikap pemimpin dalam politik.
Gaya kepemimpinan merupakan pola tingkah laku yang dirancang untuk
mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk mencapai tujuan
tertentu (Heidjrachman dan Husnan, 2002:224). Pendapat lain menyebutkan
bahwa gaya kepemimpinan adalah pola tingkah laku (kata-kata dan tindakantindakan) dari seorang pemimpin yang dirasakan oleh orang lain. (Hersey,
2004:29). Gaya kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang dipilih dan
dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan
perilaku para anggota organisasi bawahannya (Nawawi, 2003:115). Beberapa
gaya kepemimpinan menurut Nawawi (2003 : 15) antara lain adalah sebagai
berikut :
a. Gaya Kepemimpinan Demokratis.
Kepemimpinan Demokratis berorientasi pada manusia, dan memberikan
bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi
pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung
jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. Kekuatan
kepemimpinan demokratis ini bukan terletak pada person atau individu
32
pemimpin, akan tetapi kekuatan justru terletak pada partisipasi aktif dari
setiap warga kelompok.
b. Gaya Kepemimpinan Otoriter
Gaya Otoriter ini menghimpun sejumlah perilaku atau gaya kepemimpinan
yang bersifat terpusat pada pemimpin (sentralistik) sebagai satu-satunya
penentu, penguasa, dan pengendali anggota organisasi dan kegiatannya
dalam usaha mencapai tujuan organisasi.
c. Gaya Kepemimpinan Bebas (Laissez Faire)
Pada gaya kepemimpinan laissez faire ini sang Pemimpin hanya
menggunakan sedikit kekuasaan dan memberikan banyak kebebasan
kepada bawahan untuk melakukan kegiatan.
Menurut Rivai (2002:122) ada tiga macam gaya kepemimpinan yang
mempengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai, yaitu :
a. Gaya Kepemimpinan
Otoriter Kepemimpinan otoriter disebut juga kepemimpinan direktif
atau diktator. Pemimpin memberikan instruksi kepada bawahan,
menjelaskan apa yang harus dikerjakan, selanjutnya karyawan
menjalankan tugasnya sesuai dengan yang diperintahkan oleh atasan.
Gaya kepemimpinan ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan
dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya, sehingga
kekuasaanlah yang paling diuntungkan dalam organisasi.
b. Gaya Kepemimpinan Demokratis
33
Gaya kepemimpinan ini ditandai oleh adanya suatu struktur yang
pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan
yang kooperatif. Dalam gaya kepemimpinan ini, ada kerjasama antara
atasan dengan bawahan. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan
cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu
kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri.
c. Gaya Kepemimpinan Bebas
Gaya kepemimpinan ini memberikan kekuasaan penuh pada bawahan,
struktur organisasi bersifat longgar, pemimpin bersifat pasif. Peran
utama pimpinan adalah menyediakan materi
pendukung dan
berpartisipasi jika diminta bawahan.
Menurut Lewin yang dikutip oleh Maman Ukas (Kartono, 2008)
mengemukakan gaya kepemimpinan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
a. Otokratis
pemimpin yang demikian bekerja keras, bersungguh-sungguh, teliti
dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan
intruksi-intruksinya harus ditaati.
b. Demokratis
pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari
kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha
bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya dan bersifat
terbuka. Agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatankegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian.
34
Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha
pencapaian tujuan yang diinginkan.
c. Laissezfaire
pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan
pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para
bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi
tanggung jawabnya. Ia hanya akan menerima laporan-laporan hasilnya
dengan tidak terlampau turut campur tangan atau tidak terlalu mau
ambil inisiatif, semua pekerjaan itu tergantung pada inisiatif dan
prakarsa dari para bawahannya, sehingga dengan demikian dianggap
cukup dapat memberikan kesempatan pada para bawahannya bekerja
bebas tanpa kekangan
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan yaitu
pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan pemimpin, dengan
menyatukan tujuan organisasi dengan tujuan individu atau pegawai, dalam rangka
mencapai tujuan atau sasaran yang telah menjadi komitmen bersama.
2.4.2
Tipe-tipe Kepemimpinan
Seseorang dapat dikatakan pemimpin apabila dia mempunyai pengikut
atau bawahan. Sedangkan kepemimpinan membutuhkan penggunaan kemampuan
secara aktif untuk mempengaruhi pihak lain dalam mewujudkan tujuan organisasi.
Ada beberapa tipe kepemimpinan yang diutarakan oleh G.R Terry yang kembali
dikutip oleh Suwatno dan Donni Juni Priansa (2011:156) , yaitu:
35
1. Kepemimpinan Pribadi (Personal Leadership)
Dalam tipe ini pimpinan mengadakan hubungan langsung dengan
bawahannya, sehingga timbul hubungan pribadi yang intim.
2. Kepemimpinan Non-Pribadi (Non-Personal Leadership)
Dalam tipe ini hubungan antara pimpinan dengan bawahannya melalui
perencanaan dan instruksi-instruksi tertulis.
3. Kepemimpinan Otoriter (Authoritarian Leadership)
Dalam tipe ini pimpinan melakukan hubungan dengan bawahannya
dengan
sewenang-wenang
sehingga
sebetulnya
bawahannya
melakukan semua perintah bukan karena tanggung jawab tetapi lebih
karena rasa takut.
4. Kepemimpinan Kebapakan (Paternal Leadership)
Tipe kepemimpinan ini tidak memberikan tanggung jawab kepada
bawahan untuk bisa mengambil keputusan sendiri karena selalu
dibantu oleh pemimpinnya, hal ini berakibat kepada menumpuknya
pekerjaan pemimpin karena segala permasalah yang sulit akan
dilimpahkan kepadanya.
5. Kepemimpinan Demokratis (Democratic Leadership)
Dalam setiap permasalahan pemimpin selalu menyertakan pendapat
para bawahnnya dalam pengambilan keputusan, sehingga mereka akan
merasa dilibatkan dalam setiap permasalahan yang ada dan merasa
bahwa pendapatnya selalu diperhitungkan, dengan begitu mereka akan
36
melaksanakan tugas dengan rasa tanggung jawab akan pekerjaannya
masingmasing.
6. Kepemimpinan Bakat (Indigenous Leadership)
Pemimpin tipe ini memiliki kemampuan dalam mengajak orang lain,
dan diikuti oleh orang lain. Para bawahan akan senang untuk
mengikuti perintah yang diberikan karena pembawaannya yang
menyenangkan.
Sedangkan
menurut
Buchari
(2003:134)
ada
beberapa
tipe-tipe
kepemimpinan, yaitu :
1. Tipe kharismatik
Merupakan kekuatan energi, daya tarik yang luar biasa yang akan
diikuti oleh para pengikutnya. Pimpinan ini mempunyai kekuatan gaib,
manusia super, berani dan sebagainya.
2. Tipe laissez faire
Tipe ini membiarkan bawahan berbuat semaunya sendiri, semua
pekerjaan dan tanggung jawab.
3. Tipe demokratis
Tipe ini berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan kepada
pengikutnya.Tipe ini menekankan pada rasa tanggung jawab dan kerja
sama antara karyawan.Kekuatan organisasi tipe ini pada partisipasi
aktif dari para karyawan.
4. Tipe populistis
37
Yaitu mampu menjadi pemimpin rakyat. Dia berpegang pada nilainilai masyarakat.
5. Tipe administrasi
Yaitu
pemimpin
administrasi
yang
secara
mampu
menyelenggarakan
efektif.Dengan
kepemimpinan
tugas-tugas
administratif
diharapkan muncul perkembangan teknis, manajemen modern dan
perkembangan sosial.
6. Tipe peternalistis
Yaitu bersikap melindungi bawahan sebagai seorang bapak atau
seorang ibu yang penuh kasih sayang.Pemimpin tipe ini kurang
memberikan kesempatan kepada karyawan untuk berinisiatif dalam
mengambil keputusan.
7. Tipe otokratis
Yakni berdasarkan kekuatan dan paksaan yang mutlak harus
dipatuhi.Pemimpin berperan sebagai pemain tunggal, dia menjadi
raja.Setiap perintah ditetapkan tanpa konsultasi, kekuasaan sangat
absolut.
8. Tipe militeristis
Banyak menggunakan sistem perintah, sistem komandodari atasan ke
bawahan, sifatnya keras sangat otoriter, menghendaki bawahan agar
selalu patuh, penuh secara formalitas. Tipe kepemimpinan yang
dikemukakan merupakan karakter dari pimpinan dalam menjalankan
kepemimpinannya. Seorang pemimpin harus dapat menilai dan
38
menganalisis apa yang dibutuhkan oleh para karyawan sehingga ia
dapat mengkombinasikan tipe-tipe kepemimpinan dalam pelaksanaan
kepemimpinannya dalam mencapai totalitas kepemimpinan.
Menurut White dan Lippit dalam Reksohadiprodjo dan handoko
(2001:298), mengemukakan tiga tipe kepemimpinan, yaitu:
1. Otokratis
Semua penentuan kebijaksanaan dilakukan oleh pemimpin, teknik-teknik
dan langkah-langkah diatur oleh atasan setiap waktu, sehingga langkahlangkah yang akan dating selalu tidak pasti utnuk tingkat yang luas,
pemimpin biasanya mendikte tugas kerja bagian dan kerja bersama setiap
anggota, pemimpin cenderung menjadi “pribadi” dalam pujian dan
kecamannya terhadap kerja setiap anggota, mengambil jarak dari
partisipasi kelompok aktif kecuali bila menunjukkan keahliannya.
2. Demokratis
Semua kebijakan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil
dengan dorongan langkah-langkah umum untuk tujuan kelompok dibuat
dan bila dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis pemimpin menyarankan dua
atu lebih alternative prosedur yang dapat dipilih, para anggota bebas
bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas
ditentukan oleh kelompok, pemimpin adalah obyektif atau “fack-mainded”
dalam pujian dan kecamannya dan mencoba menjadi seorang anggota
kelompok biasa dalam jiwa dn semangat tanpa melakukan banyak
pekerjaan.
39
3. Laissez-faire
Kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu, dengan
partisipasi minimal dari pemimpin, bahan-bahan yang bermacam-macam
disediakan oleh pemimpin yang membuat orang selalu siap bila dia akan
memberikan informasi pada saaat ditanya. Dia tidak mengambil bagian
dari diskusi kerja, sama seklai tidak ada pasrtisipasi dari pemimpin dalam
penentuan tugas, kadang-kadang memberi komentar sponsor terhadap
kegiatan anggota atau pertanyaan dan tidak ada maksud menilai atau
mengatur suatu kejadian.
Penggunaan tipe atau gaya kepemimpinan tersebut akan selalu berubah
secara bergantian sesuai dengan perubahan situasi yang dihadapi oleh pemimpin
bersangkutan. Dalam situasi tenang dan dalam mengahadapi masalah-masalah
memerlukan pikiran bersama antara pemimpin dengan pelaksanaanya, dengan
sendirinya saat memimpin memberikan pengarahan atau perintah yang kaku.
Tetapi, pada saat lain ia memberikan saran. Oleh karena itu, tidak ada tipe atau
gaya kepemimpinan yang lebih baik semua tergantun kepada situasi atau
lingkunganya. Ralph and Lippit (2000:26-27).
2.4.3
Teori-teori Kepemimpinan
Menurut Pamuji (dalam Nawawi, 2006;37) Kepemimpinan (leadership)
kepemimpinan merupakan kualitas hubungan atau interaksi antar si pemimpin dan
pengikut dalam situasi tertentu, sedangkan management merupakan fungsi atau
status atau wewenang (authority); jadi kepemimpinan menekankan kepada
pengaruh terhadap pengikut (wibawa) sedangkan management menekankan pada
40
wewenang yang ada .Berikut ini adalah teori-teori gaya kepemimpinan yang
dikemukakan oleh Thoha (2001 : 33) yaitu :
1. Teori Sifat (Trait Theory)
Keith Davis merumuskan 4 sifat umum yang tampaknya mempunyai
pengaruh terhadap gaya kepemimpinan organisasi, yaitu:
a. Kecerdasan
b. Kedewasaan dan kekuasaan hubungan social
c. Motivasi diri dan berprestasi
d. Sikap-sikap hubungan kemanusiaan
2. Teori Kelompok
Teori kelompok dalam kepemimpinan ini dasar perkembangannya
berakar dari psikologi sosial. Suatu hasil penelitian ulang yang
sempurna menunjukkan bahwa para pemimpin yang memperhitungkan
dan membantu pengikutnya mempunyai pengaruh yang positif
terhadap sikap, kepuasan, dan pelaksanaan pekerjaan.
3. Teori Situasional dan Kontijensi
Fiedler mengembangkan suatu model yang dinamakan Model
Kontijensi Kepemimpinan yang efektif (A contigency Model of
Leadership effektiveness). Model ini berisi tentang hubungan antara
gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan, yaitu:
- Hubungan pemimpin dengan anggota
- Derajat dari struktur tugas
41
Sedangkan Mulyadi dan Rivai (2009) mengekemukakan beberapa teori
kepemimpinan, yaitu:
1. Teori Sifat
Teori ini memandang kepemimpinan sebagai suatu kombinasi sifatsifat yang tampak dari pemimpin. Asumsi dasar dari teori ini adalah
keberhasilanpemimpin disebabkan karena sifat atau karakteristik, dan
kemampuan yang luar biasa yang dimiliki seorang pemimpin, dan oleh
sebab itu seseorang dirasa layak untuk memimpin. Adapun sifat atau
karakteristik, dan kemampuan yang luar biasa yang dimiliki seorang
pemimpin, antara lain:
a. Inteligensia.
Seorang pemimpin memiliki kecerdasan diatas para bawahannya.
Pemimpin dengan kecerdasannya itulah dapat mengatasi masalah
yang timbul
dalam
organisasi,
dengan
cepat
mengetahui
permasalahan apa yang timbul dalam organisasi, menganalisis
setiap permasalahan, dan dapat memberikan solusi yang efektif,
serta dapat diterima semua pihak.
b. Kepribadian.
Seorang pemimpin memiliki kepribadian yang menonjol yang
dapat dilihat dan dirasakan bawahannya, seperti:
-
Memiliki sifat percaya diri, dan rasa ingin tau yang besar.
-
Memiliki daya ingat yang kuat.
42
-
Sederhana, dan dapat berkomunikasi dengan baik kepada
semua pihak.
-
Mau mendengarkan masukan (ide), dan kritikan dari bawahan.
-
Peka terhadap perubahan globalisasi, baik itu perubahan
lingkungan, teknologi, dan prosedur kerja.
-
Mampu beadaptasi dengan perubahan-perubahan yang timbul.
-
Berani dan tegas dalam melaksanakan tugas pokoknya, dan
dalam mengambil sikap, serta mengambil keputusan bagi
kepentingan organisasi dan pegawainya.
-
Mampu menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada dalam
organisasi.
c.
Karakteristik fisik.
Seorang pemimpin dikatakan layak menjadi pemimpin dengan
melihat karakteristik fisiknya, yaitu: usia, tinggi badan, berat
badan, dan penampilan.
2. Teori perilaku
Dalam teori ini perilaku pemimpin merupakan sesuatu yang bias
dipelajari. Jadi seseorang yang dilatih dengan kepemimpinan yang
tepat akan meraih keefektifan dalam memimpin. Teori ini memusatkan
perhatiannya pada dua aspek perilaku kepemimpinan, yaitu: fungsi
kepemimpinan, dan gaya kepemimpinan. Terdapat dua fungsi
kepemimpinan, yaitu:
a. Fungsi yang berorientasi tugas.
43
b. Fungsi yang berorientasi orang atau pemeliharan kelompok
(sosial).
Suprayetno dan Brahmasari (2008) menyebutkan beberapa tugas
pemimpin adalah sebagai berikut:
a. Peranan yang bersifat interpersonal. Maskudnya adalah seorang
pemimpin dalam organisasi adalah simbol akan keberadaan
organisasi,
bertanggungjawab
untuk
memotivasi
dan
mengarahkan bawahannya.
b. Peranan yang bersifat informasional. Maksudnya yaitu seorang
pemimpin dalam organisasi mempunyai peran sebagai pemberi,
penerima, dan penganalisis informasi.
c. Peranan pengambilan keputusan. Maksudnya ialah seorang
pemimpin mempunyai peran sebagai penentu kebijakan yang
akan diambil berupa startegi-strategi untuk mengembangkan
inovasi,
mengambil
peluang
atau
kesempatan,
dan
bernegosiasi.
3. Teori situasional
Merupakan
suatu
pendekatan
terhadap
kepemimpinan
yang
menyatakan bahwa pemimpin memahami perilakunya, sifat-sifat
bawahannya,
dan
situasi
sebelum
menggunakan
suatu
gaya
kepemimpinan tertentu. Pendekatan ataupun teori ini mensyaratkan
pemimpin untuk memiliki keterampilan diagnostik dalam perilaku
manusia. Sholeha dan Suzy (1996) mengemukakan bahwa dalam teori
44
ini kepemimpinan dipengaruhi oleh berbagai faktor situasi dalam
organisasi, dan faktor situasi diluar organisasi, antara lain:
a. Faktor situasi diluar organisasi: sosial dan budaya yang
berkembang, perubahan globalisasi, dan kondisi perekonomian.
Faktor situasi dalam organisasi: kepribadian dan latar belakang
pemimpin, pengharapan dan perilaku atasan, tingkatan
organisasi dan besarnya kelompok, pengharapan dan perilaku
bawahan.
2.4.4
Cara Pengukuran Tipe Kepemimpinan
Penggunaan tipe atau gaya kepemimpinan akan selalu berubah secara
bergantian sesuai dengan perubahan situasi yang dihadapi oleh pemimpin
bersangkutan. Dalam situasi tenang dan dalam mengahadapi masalah-masalah
memerlukan pikiran bersama antara pemimpin dengan pelaksanaanya, dengan
sendirinya saat memimpin memberikan pengarahan atau perintah yang kaku.
Tetapi, pada saat lain ia memberikan saran. Oleh karena itu, tidak ada tipe atau
gaya kepemimpinan yang lebih baik semua tergantung kepada situasi atau
lingkunganya. Ralph and Lippit (2000:26-27). Menurut davis yang dikutip oleh
Reksohadiprodjo dan Handoko (2003:290-291), ciri-ciri utama yang harus
dimiliki oleh seorang pemimpin :
1. Kecerdasan (Intelligence)
Penelitian-penelitian
pada
umumnya
menunjukan
bahwa
seorang
pemimpin yang mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi daripada
pengikutnya, tetapi tidak sangat berbeda.
45
2. Kedesawaan, social dan hubungan social yang luas (Social Maturity and
Breadht)
Pemimpin cenderung mempunyai emosi yang stabil dan dewasa atau
matang, serta mempunyai kegiatan dan perhatian yang luas.
3. Motivasi diri dan dorongan berprestasi
Pemimpin secara relatif mempunyai motivasi dan dorongan berprestasi
yang tinggi, mereka bekerja keras lebih untuk nilai intrinsik.
4. Sikap-sikap hubungan manusiawi
Seorang pemimpin yang sukses akan mengakui harga diri dan martabat
pengikut-pengikutnya, mempunyai perhatian yang tinggi dan berorientasi
pada bawahannya.
Disamping itu untuk melihat gaya kepemimpinan seorang pemimpin dapat
dilihat melalui indikator-indikator. Menurut Siagian (2002;121), indikatorindikator yang dapat dilihat sebagai berikut :
1. Iklim saling percaya
2. Penghargaan terhadap ide bawahan
3. Memperhitungkan perasaan para bawahannya
4. Perhatian pada kenyamanan kerja bagi para bawahan
5. Perhatian pada kesejahteraan bawahan
6. Memperhitungkan
faktor
kepuasan
kerja
pada
bawahan
menyelesaikan tugas-tugas yang dipercayakan padanya
7. Pengakuan atas status para bawahan secara tepat dan professional
dalam
46
2.5
Motivasi Kerja
2.5.1
Definisi Motivasi Kerja
Setiap kegiatan yang dilakukan manusia, pasti didasarkan oleh sebuah
motivasi tertentu. Hal ini bertujuan untuk menggerakkan manusia dalam mencapai
sesuai yang diinginkannya. Jika motivasi manusia itu tinggi, maka energi yang
dihasilkan akan tinggi. Sebaliknya jika motivasinya rendah, maka energi yang
dihasilkannya rendah pula. Sumber dari motivasi setiap orang berbeda-beda,
karena tidak ada manusia yang sama. Akan tetapi yang paling penting adalah
bahwa dengan motivasi yang dimilikinya itu, orang tersebut akan lebih
mempunyai ketahanan dan kekuatan untuk mencapai apa yang diinginkannya.
Motivasi menurut Hasibuan (2007:143) adalah pemberian daya gerak yang
menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja
efektif dan terintegrasi dengan segala upayanya untuk mencapai
kepuasan.
Menurut Mangkunegara (2007:61) bahwa “motivasi terbentuk dari sikap atau
(attitude) karyawan dalam menghadapi situasi kerja diperusahaan (situation).
Sedangkan menurut Panggabean (2004 : 4), motivasi pegawai adalah faktor yang
mendorong pegawai melakukan pekerjaannya dengan baik dan melakukan
perbuatan-perbuatan yang membuat dirinya menjadi aktif dinamis dapat
dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri maupun dari luar diri karyawan tersebut.
dengan melihat definisi-definisi diatas motivasi kerja dapat memberi energi yang
menggerakkan segala potensi yang ada, menciptakan keinginan tinggi dan luhur,
serta meningkatkan kegairahan bersama. Masing-masing pihak bekerja menurut
aturan atau ukuran yang ditetapkan dengan saling menghormati, saling
47
membutuhkan, saling menghargai hak dan kewajiban masing-masing dalam
keseluruhan proses kerja operasional.
2.5.2 Aspek-Aspek Motivasi
Seorang pemimpin harus memberikan perhatian kepada pegawai tentang
pentingnya tujuan dari suatu pekerjaan agar timbul minat pegawai terhadap
pelaksanaan kerja, jika telah timbul minatnya maka hasratnya akan menjadi kuat
untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan kerja dalam mencapai
tujuan yang diharapkan oleh pemimpin. Dengan demikian, pegawai akan bekerja
dengan motivasi tinggi dan merasa puas terhadap hasil kerjanya. Sedangkan
motivasi dimaksudkan untuk merangsang pegawai untuk lebih giat dan
bersemangat dalam menyelesaikan tugas-tugasnya (Brahmasari dan Suprayetno,
2008). Dengan adanya motivasi tersebut diharapkan pegawai memiliki kemauan
dan kemampuan yang lebih dalam bekerja sehari-hari, sehingga kinerja pegawai
dapat dikatakan meningkat (Wardono, 2012). Menurut Mangkunegara (2011)
terdapat 6 karakteristik karyawan yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi
yaitu :
1. Memiliki tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi
2. Berani mengambil dan memikul resiko
3. Memiliki tujuan yang realistic
4. Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk
merealisasi tujuan
5. Memanfaatkan umpan balik yang konkret dalam semua kegiatan yang
dilakukan
48
6. Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana
yang telah
diprogramkan.
Veithzal
Rivai
(2005:456),
mengatakan
bahwa
aspek-aspek
yang
memperngaruhi motivasi adalah sebagai berikut :
1. Rasa aman dalam bekerja.
2. Mendapatkan gaji yang adil dan kompetitif.
3. Lingkungan kerja yang menyenangkan.
4. Penghargaan atas prestasi kerja dan perlakuan yang adi dari manajemen.
Tiga aspek utama yang mempengaruhi motivasi kerja karyawan menurut
A.A. Prabu Mangkunegara (2010:74), yaitu:
1. Perbedaan karakteristik individu meliputi kebutuhan, minat, sikap, dan
nilai.
2. Perbedaan karakteristik pekerjaan.
Hal ini berhubungan dengan
persyaratan jabatan untuk setiap pekerjaan, yang menuntut penempatan
pekerjaan sesuai dengan bidang keahliannya.
3. Perbedaan karakteristik organisasi (lingkungan kerja) yang meliputi
peraturan kerja, iklim kerja, dan budaya kerja yang disepakati.
Motivasi akan memicu diri karyawan untuk dapat bekerja dengan lebih
keras. Oleh karena itu, perusahaan atau organisasi harus mengetahui kebutuhan
dan harapan para karyawannya agar dapat memotivasi karyawan sehingga akan
lebih mudah untuk organisasi menempatkan karyawan pada posisi yang tepat
untuk mencapai tujuan organisasi bersama.
49
2.5.3 Prinsip-prinsip Dalam Motivasi
Menurut Mangkunegara (2007:61-62) terdapat beberapa prinsip dalam
memotivasi kerja pegawai, yaitu:
1. Prinsip partisipasi
Dalam upaya memotivasi kerja, pegawai perlu diberikan kesempatan
ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh
pemimpin.
2. Prinsip komunikasi
Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan
dengan usaha pencapaian tugas, dengan informasi yang jelas, pegawai
akan lebih mudah dimotivasi kerjanya.
3. Prinsip mengakui andil bawahan
Pemimpin mengakui bahwa bawahan (pegawai) mempunyai andil
didalam usaha pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut, pegawai
akan lebih dimotivasi kerjanya.
4. Prinsip pendelegasian wewenang
Pemimpin yang otoritas atau wewenang kepada pegawai bawahan untuk
sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan terhadap pekerjaan yang
dilakukannya, akan membuat pegawai yang bersangkutan termotivasi
untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin.
50
5. Prinsip memberi perhatian
Pemimpin memberi perhatian terhadap apa yang diinginkan pegawai
bawahan, akan memotivasi pegawai bekerja apa yang diharapkan oleh
pemimpin.
Didalam bukunya Mangkunegara (2011:100) memaparkan satu persatu
prinsip – prinsip dalam memotivasi pegawai, yaitu :
1. Prinsip Partisipasi
Dalam upaya memotivasi kerja, pegawai perlu diberikan
kesempatan ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan
dicapai oleh pemimpin.
2. Prinsip Komunikasi
Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan
dengan usaha pencapian tujuan, dengan informasi yang jelas,
pegawai akan lebih mudah dimotivasikan kerjanya.
3. Prinsip Mengakui Andil bawahan
Pemimpin mengakui bahwa bawahan (pegawai) mempunyai andil
didalam usaha pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut
pegawai akan termotivasi untuk berdedikasi lebih tinggi dalam
pekerjaannya.
4. Prinsip Pendelegasian Wewenang.
Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada
pegawai untuk sewaktu - waktu dapat mengambil keputusan
51
terhadap pekerjaan yang dilakukannya, akan membuat pegawai
yang bersangkutan menjadi termotivasi dalam bekerja.
5. Prinsip Memberi Perhatian Pemimpin
Memberikan perhatian kepada pegawai bawahan dalam bekerja
dengan memberikan apa yang diinginkan pegawai tersebut untuk
menunjang pekerjaanya. Hal tersebut akan memotivasi pegawai
tersebut dalam bekerja.
2.5.4
Teori-Teori Motivasi
Ada beberapa teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya
adalah sebagai berikut; (Sondang P. Siagian, 2011:287-294)
1. Teori Abraham H. Maslow menyebutkan bahwa motivasi terbentuk karena
5 hierarki kebutuhan;
a. Kebutuhan fisiologikal, seperti sandang, pangan, dan papan;
b. Kebutuhan keamanan, keamanan yang dimaksud bukan hanya
keamanan secara fisik, tetapi juga secara psikologi dan
intelektual;
c. Kebutuhan sosial, pengakuan akan keberadaan dan pemberian
penghargaan atas harkat dan martabatnya;
d. Kebutuhan
prestise,
bahwa
semua
orang
memerlukan
pengakuan atas keberadaan dan statusnya oleh orang lain.
e. Kebutuhan untuk aktualisasi diri dalam arti tersedianya
kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi
52
yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi
kemampuan nyata.
2. Teori “ERG”
Teori ini dikembangkan oleh Clayton Alderfer dari Universitas Yale.
Existence, Relatedness, dan Growth dimana sebenarnya jika didalami
ketiga kata tersebut memiliki maksud yang dengan teori motivasi yang
dikemukakan oleh Abraham Maslow. Existence sama dengan hierarki
kebutuhan pertama dan kedua pada teori motivasi Maslow, Relatedness
sama dengan hierarki ketiga dan keempat pada teori motivasi kerja
Abraham Maslow, dan Growth mengandung arti yang sama dengan
kebutuhan dalam aktualisasi diri. Teori motivasi “ERG” lebih lanjut akan
menghasilkan fakta bahwa;
a) Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, maka semakin
besar pula keinginan untuk memuaskannya.
b) Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi”
semakin besar apabila kebutuhan yang “lebih rendah” telah
terpuaskan.
c) Semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi,
semakin besar keinginan untuk memuaskan kebutuhan yang lebih
mendasar.
3. Teori Herzberg
Menurut teori ini motivasi banyak dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan
ekstrinsik (hygine). Faktor intrinsik berasal dari dalam diri masingmasing
53
individual, dan faktor ekstrinsik berasal dari luar, seperti lingkungan dan
organisasi yang dapat membentuk pribadi tersebut dalam proses
pencapaian tujuannya.
4. Teori Keadilan
Teori ini menyebutkan bahwa seseorang memiliki sifat untuk selalu
menyetarakan antara usaha yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan
organisasi dengan imbalan yang diterimanya. Jika imbalan yang diterima
dirasakan kurang adil, maka kemungkinan mereka akan meminta imbalan
yang lebih besar atau memberikan usaha yang lebih sedikit untuk
organisasinya.
5. Teori Harapan
Teori ini dikemukakan oleh Victor H.Vroom dalam bukunya yang
berjudul “Work and Motivation”. Teori ini menyebutkan bahwa jika
seseorang memiliki harapan untuk mendapatkan sesuatu dan mengetahui
ada jalan untuk mendapatkannya, maka motivasi untuk memenuhi harapan
tersebut akan semakin tinggi.
6. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku
Teori motivasi ini menyebutkan bahwa yang mempengaruhi motivasi
seseorang bukan hanya karena kebutuhan, tetapi juga faktor-faktor dari
luar dirinya. Manusia cenderung akan mengulangi hal yang dapat
memberikan keuntungan bagi dirinya, dan menghindari hal yang dapat
merugikan, dimana hal tersebut bisa jadi merubah perilaku asal dari
individu tersebut.
54
7. Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi
Teori ini sebenarnya adalah hasil dari penyempurnaan teori-teori
sebelumnya oleh para ahli. Pada teori ini dihasilkan faktor-faktor eksternal
dan internal yang apabila berinteraksi secara prositif maka akan
menghasilkan motivasi kerja yang tinggi pada diri karyawan. Faktor
eksternal tersebut antara lain; jenis dan sifat pekerjaan, kelompok kerja
dimana
seseorang
bergabung,
organisasi
tempat
bekerja,
situasi
lingkungan pada umumnya, dan sistem imbalan yang berlaku dan cara
penerapannya. Sedangkan factor internal yang dimaksud antara lain;
persepsi seseorang mengenai diri sendiri, harga diri, harapan pribadi,
kebutuhan, keinginan, kepuasan kerja, dan prestasi kerja yang dihasilkan.
8. Teori Motivasi “Tiga Kebutuhan”
Teori ini dikemukakan oleh David McCleland, ia berpendapat bahwa
seseorang akan memiliki motivasi tinggi jika didasari oleh “Need
forAchievement” (nAch), “Need for Power” (nPo), dan “Need for
Affilliation” (nAff). Need for Achievement berarti bahwa seseorang selalu
ingin dipandang berhasil dalam hidupnya, dengan keberhasilan yang
dimilikinya secara pasti bahwa segala kebutuhannya akan bisa dipenuhi.
Keberhasilan yang dimaksud juga dapat berlaku dalam berumah tangga.
Need for Power memiliki arti bahwa seseorang memiliki kebutuhan untuk
mempengaruhi orang lain, dan berusaha untuk menguasai orang lain.
Orang dengan nPo yang tinggi akan cenderung tidak terlalu peduli dengan
pekerjaan yang tidak dapat memperbesar kemungkinannya untuk
55
memperluas kekuasaan, dan kemungkinan untuk dapat mempengaruhi
orang lain. Need for Afilliation memiliki arti bahwa setiap orang memiliki
kebutuhan akan lingkungan yang bersahabat dan dapat bekerja sama dalam
berorganisasi. Kebutuhan berafiliasi akan membuat seseorang cenderung
menghilangkan suasana yang berpotensi menyebabkan persaingan, namun
hal ini tentunya tidak akan menghambat keberhasilan seseorang dalam
bekerja karena tentunya keterampilan dalam bekerja sama yang baik
menjadi salah satu faktor seseorang dapat bekerja dengan baik. (Miftah
Toha, 2012:235)
2.5.5
Cara Pengukuran Motivasi Kerja
Motivasi adalah suatu tindakan atau perilaku terhadap suatu pekerjaan
dengan tujuan ingin mendapatkan hasil kerja yang memuaskan. Menurut
Mangkunegara (2007:61) bahwa “motivasi terbentuk dari sikap atau (attitude)
karyawan dalam menghadapi situasi kerja diperusahaan (situation). Istilah
motivasi dipakai silih berganti dengan istilah-istilah lainnya, seperti misalnya
kebutuhan (need), keinginan (want), dorongan (drive). Orang yang satu berbeda
dengan lainnya, selain terletak pada kemampuannya untuk bekerja juga
tergantung pada kekuatan dari motivasi itu sendiri. Kekuatan motivasi tenaga
kerja untuk bekerja/berkinerja secara langsung tercermin sebagai upayanya dalam
mengukur seberapa jauh seorang karyawan bekerja keras, upaya ini mungkin
menghasilkan
kinerja
yang
baik
atau
sebaliknya.
Menurut
Siswanto
Sastrohadiwiryo (2002;175), mengatakan bahwa ada dua faktor yang dapat
mengubah motivasi menjadi kinerja adalah sebagai berikut :
56
1. Tenaga kerja harus memiliki kemampuan yang diperlukan untuk
mengerjakan tugasnya dengan baik. Tanpa kemampuan dan upaya
yang tinggi tidak mungkin mrnghasilkan kinerja yang baik.
2. Persepsi tenaga kerja yang bersangkutan tentang bagaimana upayanya
dapat diubah menjadi kinerja.
Salah satu cara untuk mengukur motivasi tenaga kerja adalah dengan
menggunakan teori pengharapan (expectation theory). Teori pengharapan adalah
sesuatu yang bermanfaat untuk mengukur sikap para individu guna membuat
suatu permasalahan motivasi. Pengukuran semacam ini dapat membantu
manajemen tenaga kerja dalam memahami mengapa tenaga kerja terdorong
bekerja atau tidak, apa yang memotivasinya diberbagai bagian dalam perusahaan
dan seberapa jauh berbagai cara pengubahan dapat efektif memotivasikan
kinerja/prestasi.
2.6
Penelitian Terdahulu
Untuk mengadakan penelitian, tidak terlepas dari penelitian yang
dilakukan oleh peneliti terdahulu dengan tujuan untuk memperkuat hasil dari
penelitian yang sedang dilakukan, selain itu juga bertujuan untuk membandingkan
dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya. Berikut ringkasan hasil penelitian
terdahulu yang dilakukan oleh peneliti selama melakukan penelitian.
57
Tabel 2.1
Ringkasan Hasil Riset Penelitian Terdahulu
No
Peneliti
Jenis Penelitian
Judul
Hasil Penelitian
1
Bryan
Journal
Pengaruh
gaya
Berdasarkan hasil pengujian secara statistik
dan
dapat terlihat dengan jelas bahwa secara parsial
Johannes
kepemimpinan
Tampi
motivasi
terhadap
(individu) semua variabel bebas berpengaruh
(2014)
kinerja
karyawan
terhadap variabel terikat. Pengaruh yang
pada
Negara
TBK
PT
Bank
Indonesia,
(REGIONAL
SALES MANADO)
diberikan kedua variabel bebas tersebut bersifat
positif
artinya
kepemimpinan
semakin
dan
tinggi
motivasi
gaya
maka
mengakibatkan semakin tinggi pula kinerja
karyawan yang dihasilkan. Penjelasan dari
pengaruh masing-masing variabel dijelaskan
sebagai berikut:
Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap
Kinerja Karyawan
Hasil
pengujian
hipotesis
telah
membuktikan terdapat pengaruh antara
gaya kepemimpinan terhadap kinerja
karyawan. Melalui hasil perhitungan yang
telah dilakukan diperoleh nilai thitung
sebesar 2,098 dengan taraf signifikansi
hasil sebesar 0,043 tersebut lebih kecil
dari 0,05, dengan demikian membuktikan
bahwa gaya kepemimpinan berpengaruh
secara positif terhadap kinerja karyawan.
Pengaruh
Motivasi
terhadap
Kinerja
58
Karyawan
Hasil
pengujian
hipotesis
telah
membuktikan terdapat pengaruh antara
motivasi
terhadap
kinerja
karyawan.
Melalui hasil perhitungan yang telah
dilakukan diperoleh nilai thitung sebesar
3,909 dengan taraf signifikansi hasil
sebesar 0,000 tersebut lebih kecil dari
0,05, yang berarti bahwa secara statistik
membuktikan
berpengaruh
bahwa
positif
terhadap
motivasi
kinerja
karyawan. Artinya bahwa ada pengaruh
antara variabel motivasi terhadap kinerja
karyawan.
Pengaruh
Gaya
Kepemimpinan
Dan
Motivasi terhadap Kinerja Karyawan
Berdasarkan Nilai R Square yang didapat
sebesar 0,637 atau 63,7% menjelaskan
besarnya pengaruh variabel X (gaya
kepemimpinan dan motivasi) terhadap
variabel Y (kinerja karyawan). Nilai R
Square di atas dapat diartikan bahwa
besarnya pengaruh variabel X terhadap Y
adalah sebesar 63,7% sedangkan sisanya
36,3% dipengaruhi oleh variabel lain di
luar variabel yang diteliti dalam penelitian
ini seperti atmosfir kerja, penempatan,
59
pendidikan dan variabel lainnya.
2
Pengaruh Gaya
Tujuan
Podungge,
Kepemimpinan
seberapa besar pengaruh Gaya Kepemimpinan
S.Pd,.M
Partisipatif
Partisipatif Terhadap Pengambilan Keputusan
.AP &
Terhadap
di Desa Longalo Kecamatan Bulango Utara
Moh.
Pengambilan
Kabupaten Bone Bulango.
Agussalim
Keputusan Di Desa
penelitian yang digunakan adalah kuantitatif
Monoarfa,
Longalo Kecamatan
dengan alat analisis regresi sederhana. Metode
. SE.,MM
Bulango Utara
ini dapat di artikan sebagai metode penelitian
(2014)
Kabupaten Bone
yang berdasarkan filsafat positivis, digunakan
Bulango
untuk meneliti pada populasi atau sampel
Robiyati
Skripsi
penelitian
tertentu,
ini
pengumpulan
untuk
mengetahui
Adapun jenis
data
menggunakan
instrument penelitian, analisis data bersifat
statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis
yang telah ditetapkan. Dari hasil analisis
regresi
diperoleh
persamaan
regresi
Ý=
19.045+0.404. Dari persamaan tersebut, dapat
dijelaskan bahwa nilai konstan untuk variabel
Y (pengambilan keputusan) sebesar -0.908,
atau menjelaskan bahwa jika seluruh instrumen
yang digunakan pada penelitian ini atau
variabel
memiliki
X
(kepemimpinan
pengaruh
partisipatif)
terhadap
variabel
pengambilan keputusan, maka diperoleh ratarata sebesar -0.908 satuan bagi pengambilan
keputusan.
3
Floriana
Skripsi
Pengaruh
Penelitian
ini
dilakukan
dengan
jumlah
60
dan
populasi sebanyak 115 orang. Pengambilan
Kerja
data dengan menggunakan sensus, sehingga
Terhadap
Kinerja
data diambil dari seluruh populasi. Adapun
Karyawan
Galeri
variabel dalam penelitian ini terbagi menjadi
Cimbuleuit
Hotel
dua, yaitu variabel independen dan dependen.
Apartemen
Variabel independen terdiri dari kepemimpinan
Sari
Kepemimpinan
(2013)
Motivasi
dan
Bandung
dan motivasi kerja karyawan, dan variabel
dependennya
adalah
kinerja
karyawan.
Penelitian ini dilakukan dengan menguji
validitas dan reliabilitas instrument, selanjutnya
data dianalisis menggunakan metode analisis
jalur (path analysis), dan diuji menggunakan
Uji F. Setelah dilakukan penelitian, dan melalui
proses analisis data diperoleh hasil bahwa
secara parsial kepemimpinan dan motivasi
kerja karyawan memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap kinerja karyawan, yaitu
sebesar 15,6% dan 22,6%, sedangkan secara
simultan kedua variabel memiliki pengaruh
sebesar 38,2% terhadap kinerja karyawan,
61,8% lainnya berasal dari faktor-faktor lain
yang tidak diteliti pada ini. Berdasarkan hasil
analisis juga didapatkan persamaan struktur:
= 0,444 ଵ+ 0,517 ଶ + 0,786ߝ
61
4
Gita
Skripsi
Pengaruh
Gaya
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui
Rakasiwa
Kepemimpinan
pengaruh
gaya
kepemimpinan
(2012)
Terhadap
Motivasi
motivasi kerja pegawai pada PDAM Tirta
kerja Pegawai Pada
Betuah Kabupaten Banyuasin. Penulis memilih
PDAM Tirta Betuah
seluruh pegawai sebagai responden yaitu
Kabupaten
sebanyak 90 orang sebagai sampel dengan cara
Banyuasin
Sampling
Jenuh.Gaya
mempunyai
pengaruh
yang
terhadap
kepemimpinan
positif
dan
signifikan terhadap motivasi kerja pegawai
PDAM Tirta Betuah Kabupaten Banyuasin. Hal
ini dapat terlihat dari hasil uji regresi diperoleh
koefisien sebesar 0,554 dan nilai thitung
sebesar
9,285.
Gaya
kepemimpinan
berpengaruh terhadap motivasi kerja sebesar
49,5 %, sisanya 51,5 % dipengaruhi oleh
faktor-faktor lain seperti faktor gaji pegawai,
faktor budaya dan lingkungan kerja serta faktor
lainnya. Gaya kepemimpinan yang dipakai
pada
PDAM
Tirta
Betuah
kepemimpinan demokrasi.
adalah gaya
62
2.7
Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran merupakan model konseptual tentang bagaimana
landasan teori yang telah dijabarkan berhubungan secara logis dengan berbagai
faktor yang diidentifikasi sebagai masalah yang penting (Sekaran, 2006). Sebuah
model yang baik dapat menjelaskan hubungan antar variabel penelitian, yakni
variabel independen dan variabel dependen (Ferdinand, 2006).
Setelah kita ketahui bahwa sumber daya manusia memegang peranan yang
sangat penting dalam setiap perusahaan dalam usahanya mencapai tujuan
perusahaan, akan tetapi semua itu tidak akan selalu berjalan dengan lancar,
seringkali setiap perusahaan mengalami masalah menyangkut sumber daya
manusia diantaranya tentang rendahnya motivasi kerja pegawai. Salah satu
penyebab rendahnya motivasi kerja pegawai diakibatkan dari pengaruh
kepemimpinan dari seorang pemimpin.
2.7.1
Hubungan antara Tipe Kepemimpinan terhadap Motivasi Kerja
Karyawan
Gaya Kepemimpinan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap motivasi
sebab keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan orang lain untuk
mencapai suatu tujuan tergantung pada bagaimana pemimpin itu menciptakan
motivasi di dalam diri setiap karyawan (Kartono, 2008). Pemimpin yang berhasil
bukanlah yang berhasil dari sisi luas tidaknya kekuasaan, namun lebih karena
kemampuannya memberikan motivasi dan kekuatan kepada orang lain.
Perwujudan dari setiap kata dan langkah senantiasa mampu memberi pengaruh
kuat kepada orang lain. Seorang pemimpin akan membimbing orang lain,
63
mengarahkan orang lain, dan akan memberikan kekuatan pada orang lain, akan
memikul tanggung jawab yang paling besar dimana ia harus menanggung resiko
dari pemikiran dan tindakan orang lain akibat pengaruh yang ia tanamkan.
Kepemimpinan yang efektif sangat diperlukan untuk mempengaruhi dan
menggerakan bawahannya tersebut bekerja secara optimal, penuh semangat, dan
mau bekerja sama (Kartono : 2008). Dalam hal ini efektifitas kepemimpinan
dapat membantu sebuah organisasi dalam pencapaian hasil yang diinginkan. Pada
intinya, penerapan gaya kepemimpinan yang baik akan mempengaruhi motivasi
kerja, dimana hasil kerja efektif sangat diperlukan karena akan menguntungkan
bagi kepentingan organisasi atau perusahaan (Wirjana:2006).
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
Berdasarkan Landasan Teori dan Penelitian Terdahulu
Otokratis
Demokratis
TIPE
KEPEMIMPINAN
MOTIVASI KERJA
KARYAWAN
Laissez-faire
Sumber : konsep yang dikembangkan dalam penelitian ini
64
2.8
Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan pernyataan singkat yang disimpulkan dari landasan
teori dan penelitian terdahulu, serta merupakan jawaban sementara terhadap
masalah yang diteliti, dimana jawaban itu masih bersifat lemah, dan perlu
dilakukan pengujian secara empiris kebenarannya. Adapun hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
“Jika tipe kepemimpinan dilakukan dengan efektif maka motivasi
kerja karyawan tinggi”
Download