pertimbangan manajemen untuk penerapan - TFF

advertisement
PERTIMBANGAN MANAJEMEN UNTUK
PENERAPAN PEMBALAKAN BERDAMPAK
RENDAH YANG BERHASIL
September, 2006
Ministry of Forestry
BUKU KELIMA DARI RANGKAIAN PEDOMAN TEKNIS
PROJECT ITTO PD 110/01 REV.4 (I) :
“PROGRAM UNTUK MEMFASILITASI DAN MEMPROMOSIKAN
PELAKSANAAN REDUCED IMPACT LOGGING DI INDONESIA DAN
WILAYAH ASIA PACIFIC”
Pertimbangan Mana jemen Untuk
Pener apan Pembalak an Berdampak
Rendah Yang Berhasil
Badan Pelaksanaan :
Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Departmen Kehutanan, Republik Indonesia
Jl. Gunung Batu, P.O. Box. 141
Bogor 16610, Indonesia
Phone : (0251) 312841 / 313622 / 337742
Fax : (0251) 323565
E-mail : [email protected]
Bogor, September 2006
TROPICAL FOREST FOUNDATION
Manggala Wanabakti Build., Block IV, Floor 7, Wing B
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta 10270, Indonesia
Telephone: (62-21) 573 5589, Fax. (62-21) 5790 2925
E-mail : [email protected]
http://www.tff-indonesia.org
ISBN : 979-97847-0-0
Publikasi ini ditujukan untuk penggunaan dan distribusi secara luas.
Seluruh bagian dari dokumen ini dapat direproduksi untuk tujuan
peningkatan penerapan praktek-praktek kehutanan dengan menyebutkan
Tropical Forest Foundation sebagai sumber. Salinan dalam bentuk digital
dari manual ini dapat diperoleh di Tropical Forest Foundation dengan
membayar biaya penggantian duplikasi dan pengiriman.
Pertimbangan Mana jemen Untuk
Pener apan Pembalak an Berdampak
Rendah Yang Berhasil
Penulis :
Art Klassen
Editor :
Hasbillah
Layout :
Mario Ekaroza
September, 2006
Prepared for ITTO Project PD 110 / 01 Rev. 4 (I)
TROPICAL
FOREST
FOUNDATION
Departemen Kehutanan
REPUBLIK INDONESIA
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Kata Pengantar
K ata Pengantar
Buku ini merupakan yang kelima
dari seri buku pedoman teknis
tentang
strategi
penerapan
pengelolaan sistem pembalakan
berdampak rendah (RIL) di
hutan-hutan
dipterocarp
di
dataran rendah dan tinggi di
Indonesia.
”Pertimbangan
Manajemen
Untuk Penerapan Pembalakan
Berdampak Rendah
Yang
Berhasil”,
mencakup
bidang
manajemen yang penting diluar
aspek-aspek teknis pembalakan
berdampak rendah (RIL). Buku
manual
ini
menyampaikan
analisa mengenai bagaimana
kebijakan
dan
praktek
pengelolaan
HPH
secara
fundamental mempengaruhi
hasil akhir aspek teknis
RIL.
Dalam
pandangan
ini,
peran
menajemen
sering
kali
menjadi
faktor paling mendasar
dan
berpengaruh
untuk
menentukan
apakah suatu HPH bisa
berhasil melaksanakan
pengelolaan
hutan
secara
baik
sesuai
standar RIL.
Buku ini merupakan buku
pedoman terakhir tentang RIL
yang telah dikembangkan oleh
Tropical Forest Foundation
i
Kata Pengantar
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Tropical Forest Foundation dengan dana bantuan dari International
Tropical Timber Organization (ITTO).
Rangkaian buku-buku pedoman teknis pembalakan berdampak
rendah (RIL) yang telah terbit lebih dahulu adalah :
1.
“Prosedur Survei Topografi Hutan dan Pemetaan
Pohon”. Buku pedoman pertama ini menguraikan langkah
demi langkah prosedur pengumpulan data inventori dan
kontur untuk menghasilkan peta posisi pohon dan kontur
yang akurat bagi perencanaan operasional.
2.
“Pertimbangan dalam Merencanakan Pembalakan
Berdampak Rendah”, menguraikan berbagai pertimbangan
dan standar yang perlu diperhatikan dalam perencanaan
kegiatan pembalakan sistem RIL. Buku pedoman ini
menyampaikan kepada pembaca lengkah-langkah yang
diperlukan untuk mempersiapkan rencana kerja lapangan.
3.
“Pertimbangan
Operasional
untuk
Pembalakan
Berdampak Rendah”, meninjau kegiatan operasional mulai
dari proses pembukaan hutan, penebangan, bucking dan
penyaradan hingga proses deaktivasi jalan sarad. Bagian
khusus mengenai pemanfaatan menitikberatkan pada masalah
limbah; penyebab dan saran untuk penyelesaiannya.
4.
“Perencanaan,
Lokasi,
Survei,
Konstruksi
dan
Pemeliharaan
untuk
Pembuatan
Jalan
Logging
Berdampak Rendah”. Ini adalah buku pedoman khusus
yang terpisah dengan memusatkan perhatian pada kegiatan
perencanaan, penempatan, pembuatan dan pemeliharaan
jaringan jalan di hutan. Penekanannya adalah pada
pengurangan dampak yang ditimbulkan. Tema pokok dari
buku pedoman ini adalah dampak yang besar menyebabkan
biaya tinggi, dan dampak kecil menghasilkan penghematan.
Buku pedoman ini disusun oleh Tropical Forest Foundation dengan
dana hibah dari International Tropical Timber Organization
(ITTO). Badan pelaksana dana hibah ini adalah Pusat Pendidikan
dan Pelatihan (PUSDIKLAT) Departemen Kehutanan RI, dimana
pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh TFF bekerjasama dengan
PUSDIKLAT.
ii
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Direktur Regional
Tropical Forest Foundation
Manggala Wanabakti, Blk.IV, Lt. 7, Wing ‘B’
Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta 10270, Indonesia
Kata Pengantar
Kritik dan saran untuk perbaikan dapat dikirim ke :
Tel. (+021) 5735589
Fax. (+021) 57902925
E-mail: [email protected]
Buku petunjuk ini dapat diperoleh tanpa biaya selama persediaan
masih ada hanya dengan mengajukan permohonan. Buku petunjuk
ini juga tersedia dalam bentuk file PDF yang dapat didownload
melalui website TFF : www.tff-indonesia.org.
Tropical Forest Foundation
iii
Daf tar Isi
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Daftar Tabel
Daftar Foto
Pendahuluan
........................................................................................... i
......................................................................................... iv
......................................................................................... vi
........................................................................................ vii
....................................................................................... viii
.......................................................................................... 1
BAB
1.1
1.2
1.3
I - Pengantar RIL .............................................................................. 3
Lingkup Pertimbangan Manajemen ...................................................... 3
Apa itu RIL? ......................................................................................... 4
Kerangka Kerja untuk Petunjuk Implementasi .....................................16
BAB
2.1
2.2
2.3
2.4
II - Kebijakan Pemerintah dan Praktek di Lapangan ...................21
Peran “Manajemen” dari Pemerintah ...................................................21
Tujuan dari Kerangka Kerja Peraturan ............................................... 22
Dampak dari Buruknya Peraturan ....................................................... 24
Praktek Korupsi .................................................................................. 25
BAB III - Persyaratan Pengorganisasian dan Operasional RIL .......... 26
3.1
Persyaratan Pengorganisasian .............................................................. 27
3.1.1 Jumlah staf yang memadai ....................................................... 27
3.1.2 Kualifikasi yang memadai ........................................................ 27
3.1.3 Struktur Organisasi ................................................................... 28
3.2
Persyaratan Operasional ..................................................................... 28
3.2.1 Definisi tugas dan tanggung jawab .......................................... 28
3.2.2 Memadukan fungsi .................................................................... 29
3.2.3 Komunikasi .............................................................................. 29
3.2.4 Feedback / Umpan Balik ........................................................... 30
BAB IV - Peran Teknologi dan Keahlian ..................................................32
4.1
Peran Teknologi ...................................................................................32
4.1.1 Peralatan yang Tepat .................................................................32
4.1.2 Alat yang Tepat ........................................................................ 36
4.2
Sebagian besar adalah mengenai keahlian ...........................................37
iv
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
LAMPIRAN I - Contoh Prosedur Standar Operasional (SOP) ............ 38
PENGELOLAAN WILAYAH KHUSUS ..................................42
SOP #24 :
PERENCANAAN PEMBALAKAN ........................................ 48
SOP #25 :
PENETAPAN LOKASI JALAN SARAD DAN TPN ................. 54
SOP #40 :
PEMBANGUNAN JALAN SARAD DAN
TEMPAT PENIMBUNAN KAYU / TPN ...................................57
SOP #41 :
STANDAR PEMANFAATAN ....................................................61
SOP #42 :
PENEBANGAN DAN BUCKING ............................................. 66
SOP #43 :
KEGIATAN EKSTRAKSI ....................................................... 73
Tropical Forest Foundation
Daf tar Isi
SOP #22 :
v
Daf tar Gambar, Tabel dan
Foto
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
vi
Daftar Gambar
Gambar 1
:
Anda bisa membuat SOP untuk meruncingkan pensil.
Tetapi apakah itu berguna ?!! ...........................................39
Gambar 22-1
:
Batasan Pembalakan ........................................................47
Gambar 24-1
:
Contoh Perencanaan Pembalakan .....................................53
Gambar 40-1
:
Membuat tempat penyeberangan dari kayu log
pada sungai kecil. ........................................................... 60
Gambar 41-1
:
Perbaikan pemanfaatan volume kayu dari
batang pohon. .................................................................. 64
Gambar 42-1
:
Kerangka pengambilan keputusan untuk penebang. .........71
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Daf tar Gambar, Tabel
dan Foto
Daftar Tabel
Tabel 1
:
Kriteria dan Indikator Penerapan Sistem RIL di Indonesia ........16
Table 2
:
Elemen RIL dibandingkan dengan Peraturan Serta
Usulan Departemen Kehutanan. ............................................... 23
Tabel 3
:
Usulan kerangka kerja SOP yang mencakup administrasi
kehutanan, perencanaan serta pelaksanaannya. ......................... 40
Tropical Forest Foundation
vii
Daf tar Gambar, Tabel dan
Foto
viii
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Daftar Foto
Foto 1
:
Keterlibatan menajemen dalam aspek operasional RIL
sangat penting untuk penerapan teknik RIL yang berhasil. ......... 8
Foto 2
:
Pengumpulan data pohon. ........................................................... 9
Foto 3
:
Pembuatan peta kontur dengan mengunakan data yang
teklah dikumpulkan di lapangan. ...............................................10
Foto 4
:
Persiapan rencana kegiatan logging. ..........................................11
Foto 5
:
Penetapan lokasi jalan sarad di lapangan. ...................................11
Foto 6
:
Pembukaan jalan sarad sebelum penebangan..............................12
Foto 7
:
Cara bucking yang benar guna meningkatkan pemanfaatan .......13
Foto 9
:
Pembuatan sudetan .....................................................................14
Foto 8
:
Mempersiapkan pengunaan winch pada pohon
yang telah ditebang. ...................................................................14
Foto 10
:
Penilaian kayu yang terbuang, sebagai salah
satu kegiatan evaluasi. ................................................................15
Foto 11
:
Sikorsky S-64F ...........................................................................32
Foto 12
:
Thundebird TTY-70 skyline yarder, memang biasanya
dihubungkan dengan kegiatan pembalakan di kawasan
Amerika dan Canada.. ................................................................33
Foto 13
:
Alat Rimbaka Timber Harvester ............................................... 34
Foto 14
:
Penampilan bisa mengelabui. Alat ini bukanlah traktor
crawler yang biasa. Caterpillar 527 Track Skidder .....................35
Foto 15
:
Alat penyaradan dengan ban karet. ........................................... 36
Foto 16
:
Pengunaan baji; adalah cara sederhana tapi
efektip dalam memperbaiki arah rebah. .................................... 36
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Pendahuluan
Pendahuluan
Ketidaktahuan sudah tidak bisa menjadi alasan yang logis bagi
HPH untuk tidak menerapkan pembalakan berdampak rendah
atau RIL. Konsep ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu dan
aspek teknisnya sudah dipahami.
Informasi dan pelatihan tentang pembalakan berdampak
rendah (RIL) telah diadakan oleh beberapa organisasi, sehingga
kekurangan sumber informasi juga tidak bisa dijadikan alasan.
Manfaat dari RIL telah dibuktikan secara terus menerus, dan
alasan lama, seperti ”terlalu mahal untuk dilaksanakan” sama
sekali tidak berlaku lagi. Lagi pula, kini sudah ada contoh-contoh
RIL yang telah sukses dilaksanakan oleh HPH di Indonesia. Tetapi,
banyak HPH yang mulai menerapkan RIL, sebenarnya tidak
mengikuti penerapannya secara penuh, yaitu hingga titik di mana
manfaat RIL bisa dicapai pada tingkat operasional.
Mengapa sesuatu yang begitu bermanfaat untuk perusahaan HPH,
tidak bisa diterima dengan cepat? Apa yang menjadi penghalang?
Dan bagaimana halangan itu
bisa diatasi? Buku pedoman
ini menyelidiki pertanyaanpertanyaan tersebut dan
memberikan
beberapa
jawaban serta petunjuk
mengenai penerapan RIL
secara lebih efektif.
Semakin banyak jumlah
peneliti
dan
praktisi
yang menemukan bahwa
ternyata
sering
sekali
pihak
”Menajemen”lah
menjadi
penghambat
utama perbaikan praktekpraktek
kehutanan.
Ini
terjadi
dalam
berbagai
Tropical Forest Foundation
1
Pendahuluan
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
bentuk mulai dari sikap/pendirian, kelalaian, dan penyusunan
kelembagaan dan cara kerja yang tidak tepat. Menajemen juga
bisa menjadi penghalang pelaksanaan RIL melalui kesalahan
penggunaan teknologi dan keahlian yang sesuai.
Buku pedoman ini menyelidiki rintangan utama keberhasilan
menerapkan RIL, yang ada dibawah pengawasan langsung
Menajemen HPH. Buku ini juga memberikan petunjuk bagaimana
untuk mengatasi rintangan ini.
Walaupun, fokus utama buku ini adalah Menajemen perusahaan
HPH, disadari bahwa Departemen Kehutanan juga memiliki peran
utama dalam pengelolaan sumber kekayaan hutan. Peran itu telah
tercatat dalam bentuk hukum dan peratuan yang menyebabkan
beban bagi staff dan menajemen HPH, yaitu melalui kunjungan
lapangan dan peraturan pengawasan.
Telah semakin jelas bahwa sistem peraturan kehutanan seperti
telah ditetapkan oleh pemerintah mengandung banyak rintangan
untuk pemanfaatan pengelolaan hutan secara lestari dan
strategi pengelolaan tertentu seperti RIL. Penghambat bisa
berupa peraturan yang telah dirumuskan secara tidak baik, atau
bagaimana peraturan tersebut dilaksanakan.
Walaupun buku ini tidak mengulas secara detil peran manajemen
dari Departemen Kehutanan, namun menyoroti dampak yang
ditimbulkan oleh kebijakan, peraturan dan praktek terhadap
kemauan Menajemen HPH untuk menerapkan RIL.
2
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Pengantar RIL
BAB I
Pengantar RIL
1 .1
Lingkup Pertimbangan Mana j e m e n
Pembalakan Berdampak Rendah (RIL) biasanya dianggap sebagai
hal praktis yang mencakup perubahan dalam perencanaan
pembalakan, penebangan terarah(directional felling), peralatan
yang tepat, deaktivasi jalan sarad serta serangkaian modifikasi
teknis lain terhadap praktek-praktek yang berlaku. Memang hal ini
merupakan elemen penting dari RIL dan juga merupakan elemen
yang paling mudah untuk dicapai melalui diseminasi informasi,
program pelatihan dan peragaan.
Namun ada aspek RIL yang lebih signifikan dan sering kurang
diperhatikan tapi cukup berperan dalam menentukan apakah RIL
telah diterapkan secara efektif atau belum.
Aspek ini adalah
peran manajemen. Secara dasar manajemen perusahaanlah yang
akan menentukan apakah strategi RIL telah diterapkan secara
efektif atau apakah strategi ini akan mati begitu saja karena staf
perusahaan harus berjuang keras menghadapi masalah jurisdiksi
dan komunikasi saat mereka berusaha menerapkan solusi
teknisnya.
Peran manajemen adalah memberi visi, bimbingan, serta fasilitasi.
Untuk dapat menjalankan peran ini, manajemen perlu memenuhi
beberapa syarat yang sangat dasar seperti:
Perlu ada pemahaman yang baik dan benar tentang sistem
RIL. Apa tujuan, peluang, tantangan serta aspek teknis yang
terlibat.
2.
Manajemen benar-benar harus menunjukkan komitmen yang
penuh agar berhasil menerapkan sistem RIL. Inilah yang
disebut sebagai “komitmen manajemen” yang sering dibahas
para pelaku riset dan praktisi RIL saat membahas masalah
yang mungkin timbul pada saat akan menerapkan system.
3.
Manajemen harus dapat menjamin bahwa mereka memiliki
kebijakan, struktur organisasi, staf terlatih dan prosedur
Tropical Forest Foundation
BAB I
1.
3
Pengantar RIL
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
pelaksanaan yang tepat yang mampu menjamin bahwa semua
kegiatan RIL yang dilaksanakan berada dalam sinergi antara
satu dengan lainnya.
Dalam buku petunjuk ini, kami berusaha memberi bimbingan
guna memfasilitasi pemahaman mengenai tiga kondisi di atas.
Kami juga akan membahas peran manajemen secara ringkas.
Dalam konteks Indonesia, hutan adalah milik pemerintah dan hak
untuk memanfaatkan hasil hutan telah diberikan kepada sektor
swasta. Walaupun sektor swasta melaksanakan semua kegiatan
pengelolaan hutan yang memberi dampak secara langsung
pada hutan, pemerintah melalui penetapan serta implementasi
kerangka kerja peraturan juga secara signifikan mempengaruhi
perilaku manajer hutan yang berasal dari sektor swasta. Intinya,
tindakan pemerintah dapat dilihat sebagai cara untuk menetapkan
insentif atau disinsentif dalam menerapkan praktek pengelolaan
hutan yang berkelanjutan seperti RIL.
1.2
Apa itu RIL?
Pembalakan berdampak rendah (Reduced-Impact Logging/RIL)
terdiri dari serangkaian teknologi dan praktek yang dirancang guna
mengurangi dampak lingkungan akibat kegiatan penebangan.
BAB I
Tidak ada satupun definisi RIL yang dapat diterapkan secara global
guna menjelaskan aspek teknis RIL karena peraturan pemerintah,
kondisi hutan, topografi, silvikultur pohon, praktek manajemen,
peralatan penebangan serta variable lain umumnya berbeda dari
satu hutan tropis ke hutan tropis lainnya.
4
Di Indonesia/Malaysia penerapan sistem RIL umumnya mencakup
hal-hal berikut:
• Inventarisasi sebelum pemanenan serta pemetaan masingmasing pohon yang akan ditebang.
• Mempersiapkan peta kontur yang tepat berdasarkan skala
operasional.
• Merencanakan jalan utama, jalan sarad, serta TPn guna
memberikan akses menuju areal penebangan dan pohonpohon yang telah dijadwalkan untuk ditebang dengan
mengurangi kerusakan pada lapisan tanah serta melindungi
anak sungai dan aliran air dengan penyeberangan yang dibuat
secara benar.
• Menyusun standar lingkungan dan operasional secara tertulis
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
•
•
•
•
•
•
•
Pengantar RIL
•
sebagai dasar dari perencanaan serta pelaksanaan kegiatan
operasional dan integrasi standar ini ke dalam struktur
perusahaan.
Menggunakan sistem penebangan terkendali serta teknik
bucking termasuk penebangan terarah.
Menyusun standar penebangan dan bucking secara tertulis
guna mengurangi limbah pembalakan serta meningkatkan
volume dan pemulihan nilai.
Membangun jalan utama dan tempat penimbunan kayu yang
sesuai dengan petunjuk teknis serta lingkungan sambil pada
saat yang bersamaan mengurangi kerusakan lapisan tanah,
kerusakan pada tegakan tinggal, dampak pada sistem sungai
hutan, serta dampak menyeluruh pada bentang hutan.
Memberi tanda yang jelas pada lokasi jalan sarad sehingga
operator mesin penyaradan dapat melihatnya dengan
mudah.
Membuka jalan sarad sebelum melakukan kegiatan
penebangan. Mengurangi kerusakan pada lapisan tanah pada
saat membangun dan menggunakan jalan sarad dengan jalan
memberikan petunjuk yang sederhana dan supervisi yang
memadai.
Winching balok kayu menuju jalan sarad yang telah direncanakan
dan memastikan bahwa setiap saat alat penyaradan tetap
berada pada jalan sarad yang telah direncanakan.
Untuk mengurangi erosi pada topografi dengan kelerengan
tertentu, jalan sarad harus di non-aktifkan setelah kegiatan
selesai dilakukan (contoh dengan membuat sudetan).
Melakukan penilaian paska pemanenan guna memberi umpan
balik kepada para pemegang hak pengusahaan hutan dan
kru pembalakan, juga untuk mengevaluasi sejauh mana
penerapan petunjuk RIL berhasil dilakukan.
Agar praktek ini dapat diterapkan dengan biaya yang efektif serta
berwawasan lingkungan, persyaratan berikut perlu diperhatikan:
•
Tropical Forest Foundation
BAB I
•
Para pemegang HPH dan pengelola harus dapat memberikan
suatu dokumentasi yang menunjukkan bahwa mereka memang
secara resmi berhak memanen kayu dalam areal penebangan
dan bahwa penebangan tersebut dilakukan sesuai dengan
undang-undang serta hukum yang berlaku.
Harus ada serangkaian prosedur standar operasional dan
lingkungan yang benar-benar ditaati, dan seluruh kru
manajerial, perencanaan, pembalakan harus benar-benar
mengenali standar ini.
5
Pengantar RIL
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
•
•
•
•
•
•
BAB I
•
6
Kru perencanaan dan pembalakan perlu diberi pelatihan
sehubungan dengan tugas-tugas mereka, dan mereka juga
perlu memahami tidak hanya apa yang harus dilakukan dan
cara melakukannya tapi juga perlu memahami mengapa hal
itu penting untuk dilakukan.
Para kru harus dilengkapi dengan alat-alat pengaman dan
perlu diberi pelatihan mengenai cara menggunakan serta
perawatan alat-alat tersebut.
Supervisor yang berpengetahuan, berwawasan harus ada di
lapangan untuk mengawasi kegiatan, memastikan prosedur
standar operasional dilaksanakan dan untuk menjamin bahwa
jadual kegiatan dipenuhi.
Di mana diperlukan tempat bermalam di lapangan, maka kamp
tersebut harus memenuhi standar sanitasi dan makanan yang
sesuai dengan jurisdiksi lokasi tersebut.
Alat pembalakan harus sesuai dengan keadaan di areal
pembalakan, selalu dirawat dengan baik untuk digunakan di
kondisi kerja yang baik.
Kegiatan perencanaan serta operasional harus benar-benar
terpadu agar perencanaan tersebut benar-benar dilaksanakan
dengan baik. Hal ini mungkin membutuhkan penyesuaian atas
pengaturan struktural dan prosedural perusahaan.
Suatu
sistem
manajemen
dan
pengendalian
harus
diimplementasikan sehingga dapat memberi informasi
kegiatan secara berkala kepada para pemegang HPH,
manajer pembalakan, serta auditor eksternal. Sistem ini
mencakup hal-hal seperti daftar tugas, informasi mengenai
staf, inventarisasi peralatan, prosedur standar operasional
dan informasi sejenis.
Pembalakan konvensional seperti yang masih dilaksanakan di
sebagian besar areal konsesi di Indonesia dan Malaysia, bahkan
hampir di sebagian besar negara tropis, memberi dampak yang
sangat tinggi. Penebangan dan ekstraksi kayu bulat dari hutan
umumnya dilakukan tanpa rencana. Pada cara konvensional, kru
pembalakan bebas melaksanakan kegiatan pembalakan mereka
di petak penebangan dengan sedikit pengawasan.
Kegiatan
tanpa perencanaan ini membawa dampak cukup tinggi terhadap
tegakan sisa yang merupakan dasar dari siklus penebangan
berikutnya. Hal ini juga mengakibatkan pergerakan mesin yang
berlebihan sehingga menyebabkan kerusakan lapisan tanah
serta musnahnya vegetasi hutan. Akibatnya, hal ini mendorong
penanaman spesies pohon dengan nilai rendah dan terjadinya
penyebaran vegetasi yang tidak produktif.
Gangguan pada
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Implikasi penting dari pembalakan konvensional yang relatif tidak
terencana dengan dampak yang berlebihan sebagai akibat dari
beroperasinya mesin tanpa kendali ini adalah bahwa pendekatan
ini menunjukkan inefi siensi yang cukup tinggi. Sistem RIL dapat
memperbaiki situasi ini dan memberikan peluang kepada para
manajer untuk mengurangi biaya melalui produktivitas serta
efi siensi yang tinggi, dengan volume pemulihan yang lebih baik.
Pengantar RIL
lapisan tanah yang berlebihan juga dapat mengakibatkan erosi
dan sedimentasi pada sungai hutan dengan dampak yang negatif
pada masyarakat setempat.
RIL dapat dilihat sebagai serangkaian teknik yang bila digabungkan
akan menghasilkan strategi manajemen yang komprehensif.
Dalam strategi ini proses ekstraksi dirancang hingga untuk
masing-masing pohon. RIL juga menekankan diterapkannya
standar serta prosedur operasional yang akan mengarah pada
peningkatan pengetahuan serta implementasi lebih efetif kegiatan
pemanenan.
Perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk mengembangkan informasi
yang dibutuhkan agar bisa melakukan perencanaan yang lebih
rinci. Namun demikian sebagian besar praktisi kehutanan sepakat
bahwa keuntungan finansial yang signifikan dan langsung dicapai
akan dapat diperoleh melalui perencanaan yang lebih baik,
persiapan di lapangan dan pengendalian operasional. Manfaat ini
umumnya dinyatakan dalam istilah seperti efi siensi yang lebih
baik, atau penghematan biaya produksi yang meningkatkan
pendapatan bersih dari kegiatan kehutanan ini.
Manfaat ekonomi jangka panjang dari penerapan sistem RIL
pada proses perencanaan dan pemanenan tidak dapat dipungkiri,
walaupun memang belum banyak studi yang dilakukan atas hal
ini. Dengan mengurangi kerusakan hutan yang terjadi pada awal
dimulainya penebangan, maka dapat diharapkan hasil pemanenan
yang sama atau lebih baik. Di samping itu dari perspektif ekologis
dan sosial dapat dikatakan bahwa berkurangnya dampak akan
menghasilkan hutan yang lestari.
Tropical Forest Foundation
BAB I
Guna mempromosikan penerapan sistem RIL melalui peragaan
dan pelatihan, Tropical Forest Foundation telah mendefinisikan
strategi RIL dalam konteks serangkaian elemen dengan ciriciri yang khas. Sebagian besar dari elemen ini sudah ada pada
kegiatan penebangan. Namun demikian agar sesuai dengan
7
Pengantar RIL
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
standar RIL sebagian dari elemen ini membutuhkan pengembangan
keterampilan khusus atau modifikasi dari kegiatan yang telah
dilaksanakan.
Pada beberapa kasus ditambahkan beberapa
kegiatan atau elemen baru.
Elemen 1
Menciptakan Lingkungan Manajemen yang Tepat
Seringkali RIL dipersepsikan sebagai strategi teknis yang sebagian
besar didasarkan pada aspek perencanaan dan kegiatan ekstraksi.
Akan tetapi tanpa adanya komitmen penuh dari Manajemen,
sangat tidak mungkin hanya
melalui perbaikan praktek
teknis
dapat
menjamin
keberhasilan penerapan dan
implementasi strategi RIL.
BAB I
Komitmen kuat berdasarkan
pemahaman
tentang
manfaat
potensial
RIL
bisa menjadi titik awal.
Tidak kalah penting adalah
kesediaan untuk mengakui
adanya
“kesenjangan”
dalam keterampilan serta
Foto 1 : Keterlibatan menajemen dalam pemahaman tentang konsep
aspek operasional RIL sangat penting untuk RIL pada setiap tingkat proses
produksi. Pemahaman ini
penerapan teknik RIL yang berhasil.
tentunya perlu diikuti dengan
implementasi dari berbagai tindak korektif yang diperlukan.
Di banyak perusahaan, implementasi perubahan teknis atau
prosedural yang diperlukan guna mengimplementasi RIL lebih
berhasil dengan disertai penyusunan petunjuk operasional
dan lingkungan yang sering disebut sebagai prosedur standar
operasional (SOP). Manfaat dari rangkaian SOP kini baru mulai
disadari perusahaan-perusahaan yang progresif. Agar bisa berhasil
melaksanakan satu set SOP yang baru, besar kemungkinan akan
diperlukan tambahan personel, meningkatkan kemampuan staf
yang ada, atau bahkan perlu dilakukan penyesuaian fungsi dan
tanggung jawab dalam perusahaan. (Lampiran I: Contoh dari
SOP)
Elemen 2
8
Melaksanakan Inventarisasi Operasional
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Foto 2 : Pengumpulan data pohon.
bermanfaat.
Elemen 3
Pengantar RIL
Pemetaan pohon merupakan hasil inventarisasi 100% yang
dilakukan sebagian besar perusahaan berdasarkan sistem silvikultur
dan administrasi TPTI1) . Peraturan
yang mendasari inventarisasi 100%
hanya mensyaratkan posisi pohon
diperlihatkan pada peta.
Dapat
dikatakan bahwa pada sebagian
besar perusahaan peta ini tidak
digunakan untuk kegiatan yang
berarti dan hanya untuk memenuhi
persyaratan birokratis Departemen
Kehutanan.
Dalam sistem RIL, pengumpulan
data dapat dimasukkan ke dalam
prosedur survei untuk menghasilkan
peta yang memiliki perencanaan
yang
jelas
dan
kegunaan
operasional. Posisi pohon biasanya
digabungkan dengan rincian kontur
dan planimetrik guna menghasilkan
peta
yang
komprehensif
dan
Mempersiapkan Pembuatan Peta Kontur dan Posisi
Pohon dengan Skala Operasional
Ada pendapat bahwa peta kontur dengan skala operasional
merupakan persyaratan dasar untuk bisa menerapkan sistem RIL
dengan berhasil, khususnya dalam merencanakan lokasi jalan
sarad pada topografi Indonesia dan Malaysia yang berbukit-bukit.
Skala operasional bisa bervariasi dari 1:1,000 hingga 1: 5,000.
Pilihan skala peta dan interval kontur harus merupakan fungsi
variabilitas topografi dan tingkat rincian kegiatan yang ingin
dimasukkan ke dalam peta.
1)
BAB I
Persiapan peta kontur tersebut dapat dilakukan dengan teknik
pemetaan konvensional melalui foto udara, namun demikian karena
berbagai alasan hal ini masih sulit diperoleh di Indonesia.
TFF mempromosikan pendekatan pragmatis dalam mengumpulkan
data topografi dimana prosedur inventarisasi 100% dimodifikasi
Tebang Pilih Tanam Indonesia. Ini adalah sistem resmi administrasi dan silvicultur untuk
pengelolaan hutan di Indonesia.
Tropical Forest Foundation
9
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Pengantar RIL
sehingga
mampu
mencakup
kumpulan data elevasi yang
memungkinkan
dihasilkannya
peta kontur 2) yang tepat dengan
skala operasional. Pengalaman
menunjukkan bahwa modifikasi
ini akan meningkatkan biaya
inventarisasi
sebesar
$1.50
hingga $1.80 per hektar.
Foto 3 : Pembuatan peta kontur Peta dengan skala operasional
dengan mengunakan data yang telah yang menggabungkan kontur,
rincian planimetris dan informasi
dikumpulkan di lapangan.
posisi pohon dapat dilakukan
dengan menggunakan metode kartografi s manual atau
menggunakan serangkaian teknik pemetaan dengan bantuan
computer.
Langkah ini mensyaratkan kru inventarisasi memperoleh pelatihan
bukan untuk mengumpulkan data, tetapi justru untuk mengikuti
protokol survei yang ketat guna menghindari kesalahan data
yang tidak dapat ditangani pada tahap pemetaan. Dari berbagai
langkah yang terdapat dalam proses RIL, langkah ini merupakan
langkah yang memiliki tantangan teknis terbesar.
Elemen 4
Merencanakan Jaringan Jalan Sarad
Peta kontur dan inventarisasi merupakan dasar dari perencanaan
jaringan jalan sarad. Rencana pembuatan jalan sarad3) merupakan
elemen paling mendasar dalam sistem RIL.
BAB I
Pastikan untuk mempertimbangkan konsep spasialnya. Sebagian
besar konsesi masih menggunakan sistem batas/100 ha/petak
penebangan untuk mengorganisir dan melakukan perencanaan
serta operasionalnya. Areal perbatasan seperti ini sebaiknya
tidak digunakan sebagai batas saat melakukan perencanaan jalan
sarad. Batas alam seperti sungai, rawa-rawa, puncak bukit atau
lahan yang sangat curam sebaiknya menjadi batas dari areal
yang akan dilakukan penyaradan menuju tempat penimbunan
2)
3)
10
Prosedur Survei Topografi Hutan dan Pemetaan Pohon, April 2004, buku panduan pertama dari
serangkaian panduan pelaksanaan teknis RIL.
Pertimbangan Dalam Merencanakan Pembalakan Berdampak Rendah, buku pedoman kedua dari
serangkaian panduan pelaksanaan teknis RIL.
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Pengantar RIL
kayu. Perencanaan sistem
jalan sarad yang berhasil
harus bisa melihat di luar
batas administratif di dalam
areal penebangan tahunan
yang sudah disetujui dan
harus dapat dilaksanakan
dalam konteks perencanaan
unit pemanenan yang paling
efi sien.
Yang paling penting dalam
perencanaan
pembalakan
berdasarkan sistem RIL adalah integrasi standar dasar operasional
dan lingkungan. Pedoman operasional dapat menunjuk pada
pertimbangan sederhana seperti kemiringan maksimum jalan
sarad atau lokasi dan rancangan dari Tpn.
Standar lingkungan
dapat berkaitan dengan pertimbangan kemiringan, zona
pengelolaan riparian, dan kemungkinan hambatan lingkungan
lain. Definisi terbaik untuk standar ini dapat dilihat dalam konteks
rangkaian SOP yang komprehensif (Lihat Lampiran 1).
Foto 4 : Persiapan rencana kegiatan
Penggunaan peta untuk perencanaan operasional sangat buruk
pada tingkat pendidikan formal dan di antara staf pemegang
konsesi.
Persyaratan keterampilan ini sering membutuhkan
pelatihan yang signifikan sebelum peta ini dapat memberi
kontribusi yang efektif pada penerapan sistem RIL dan pengelolaan
hutan yang berkelanjutan.
Elemen 5
Lokasi Jalan Sarad dan TPn di lapangan
Menegaskan validitas rencana
jaringan
jalan
sarad
di
lapangan dengan memberi
tanda berupa cat atau pita
pada batas lokasi.
Tropical Forest Foundation
BAB I
Foto 5 : Penetapan lokasi jalan sarad di
lapangan.
Baik perencanaan maupun
lokasi lapangan dari jaringan
jalan sarad harus berdasarkan
standar yang dapat memberi
petunjuk tentang bagaimana
menangani kelerengan jalan
sarad,
jarak
penyaradan
11
Pengantar RIL
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
maksimum dan bagaimana menangani masalah lahan curam,
situs yang berwawasan lingkungan dan sungai di hutan.
Penyeberangan sungai harus dihindari di mana mungkin agar
tetap dapat mempertahankan kualitas air serta fungsi hidrologis
menyeluruh.
Elemen 6
Membuka Jalan Sarad sebelum Melakukan Kegiatan
Penebangan 4)
Manfaat pembukaan jalan sarad sebelum melakukan kegiatan
penebangan belum dipahami
sepenuhnya.
Traktor atau alat penyarad harus
memasuki lokasi jalan sarad
dengan mata pisaunya diangkat
sedikit di atas tanah. Manfaat
dilakukannya hal ini sebelum
memulai kegiatan penebangan
dan penyaradan adalah secara
jelas
dapat
dilihat
bahwa
jaringan “ekstraksi” telah dimulai
sebelum melakukan kegiatan
penebangan. Para penebang
memiliki akses yang lebih baik
dan
akan
lebih
menyadari
pentingnya
penebangan
terarah.
BAB I
Lapisan tanah sebaiknya tidak
diganggu dan semua anakan Foto 6 : Pembukaan jalan sarad
pohon harus dibiarkan tumbuh sebelum penebangan
di jalan sarad. Bahan ini akan
melindungi tanah pada saat
dilakukan penyaradan. Namun di mana penyaradan harus melalui
areal bukit dengan kelerengan maka pemotongan lereng tidak
akan dapat dihindari.
12
Elemen 7
4)
Penebangan - Menyusun Petunjuk Penebangan dan
Untuk Elemen 6 s/d 10 berpedoman ke “Pertimbangan Operasional untuk
Pembalakan Berdampak Rendah”, buku pedoman ketiga dari serangkaian
pedoman teknis untuk RIL.
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Pertimbangan yang perlu disertakan dalam menyusun petunjuk ini
adalah hal-hal seperti penebangan terarah, menghindari pohonpohon yang dilindungi, pohon-pohon yang memiliki nilai dagang
di masa depan serta cara bucking yang benar guna meningkatkan
pemanfaatan, zona perlindungan riparian dan keamanan para
pekerja.
Pengantar RIL
Bucking yang Tepat
Para penebang perlu mendapatkan pelatihan agar selalu
mengingat petunjuk ini pada saat
memilih arah penebangan yang
paling tepat. Oleh karena prosedur
inventarisasi telah mensyaratkan
penandaan pohon-pohon yang akan
ditebang pada masa selanjutnya
dan pohon-pohon yang dilindungi,
maka seorang penebang yang
mengetahui cara menebang pohon
dilatih dan diberikan beberapa
petunjuk yang selalu harus diingat
tentang bagaimana menentukan
arah penebangan yang tepat. Yang
ingin dikemukakan disini adalah
bahwa para penebang merupakan
pembuat keputusan utama dalam
kegiatan di hutan karena apa yang
dilakukan penebang akan memberi
dampak terbesar di hutan.
Foto 7 : Cara bucking yang benar
guna meningkatkan pemanfaatan
Tingkat
keterampilan
para
penebang harus memadai sehingga dapat melaksanakan
penebangan terarah secara efektif. Perusahaan perlu memastikan
bahwa para penebang dilengkapi dengan peralatan yang sesuai
untuk melakukan penebangan terarah.
Elemen 8
Penyaradan - Menyusun Petunjuk Penyaradan yang
Tepat
Tropical Forest Foundation
BAB I
Pada praktek penebangan konvensional, kegiatan penyaradan
mengakibatkan kerusakan yang berat pada lapisan tanah dan
tegakan tinggal. Melalui perencanaan, penetapan lokasi, serta
pembukaan jalan sarad sebelum memulai kegiatan penebangan,
akan terjadi perbaikan yang signifikan pada penyaradan
13
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Pengantar RIL
Foto 8 : Mempersiapkan pengunaan
winch pada pohon yang telah
ditebang.
dan
kerusakan
dikurangi.
dapat
Agar tingkat kerusakan
akibat
penyaradan
dapat berkurang maka
dibutuhkan
pengawasan
yang ketat serta penerapan
petunjuk
penyaradan
sederhana
yang
tepat
bagi perusahaan atau situasi tertentu.
Beberapa hal yang
perlu dipertimbangkan mencakup meningkatnya penggunaan
winch, perlunya untuk berada tetap pada jalan sarad yang telah
ditentukan, menghindari penyeberangan sungai, dan menerapkan
strategi yang tepat dalam menangani situs-situs yang berkaitan
dengan adat.
Penyusunan pedoman atau SOP merupakan tanggung jawab
masing-masing perusahaan, supaya petunjuk yang diberikan
tepat dan sesuai dengan sistem manajemen serta situasi fi sik
areal konsesi.
Untuk kegiatan penebangan dan penyaradan, penting untuk
mengingat jenis peralatan yang tepat untuk digunakan agar
meningkatkan manfaat dari melakukan perencanaan serta
pengendalian operasional yang lebih baik.
BAB I
Elemen 9
14
Deaktivasi
Dalam banyak kasus, akan
sangat baik untuk melakukan
deaktivasi
jalan
sarad,
terutama
bila
lokasinya
di kawasan berbukit. Ini
termasuk
sudetan
untuk
mengurangi penyaluran dan
erosi dari jalan sarad yang
curam.
Kegiatan ini perlu
dicantumkan dalam daftar
tugas operator traktor dan
harus
segera
dilakukan Foto 9 : Pembuatan sudetan
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Sebagaimana aspek operasional lain dalam sistem manajemen
RIL, pedoman yang jelas dan sederhana perlu dikembangkan
dalam konteks unit operasional atau konsesi, guna merefleksikan
kondisi manajemen dan operasional yang unik di tiap areal.
Pengantar RIL
segera setelah jalan sarad selesai digunakan untuk mengurangi
biaya tambahan yang tidak diperlukan.
Di mana diperlukan atau sesuai, reklamasi TPn dan jalan sarad
dapat dijadikan bagian dari kegiatan ini, dengan menggunakan
berbagai teknik.
Elemen 10
Evaluasi dan Monitoring
Untuk menjamin keberhasilan penerapan sistem RIL dan memberi
masukan yang baik kepada manajemen dan staf di areal konsesi,
maka perusahaan perlu mengembangkan prosedur evaluasi yang
tepat. Ini melibatkan survei pasca pembalakan pada jalan sarad
untuk memperoleh sampling kerusakan pada lapisan tanah, atau
bisa juga dengan melakukan inspeksi lapangan yang sederhana
terhadap unit pembalakan oleh orang yang telah dipilih kemudian
membuat laporan sederhana.
Tujuan dari evaluasi dan
inspeksi
adalah
untuk
memberikan
masukan
internal sehingga kekurangan
dalam menerapkan sistem RIL
dapat langsung diidentifikasi
dan
dikoreksi.
Evaluasi
semacam ini juga perlu
dilakukan untuk menjamin
agar manajemen dan staf
menyadari tujuan, prestasi,
serta hal-hal yang perlu
diperbaiki demi keberhasilan Foto 10 : Penilaian kayu yang terbuang,
dalam menerapkan sistem sebagai salah satu kegiatan evaluasi.
RIL.
Tropical Forest Foundation
BAB I
Untuk memperoleh petunjuk teknis yang lebih rinci tentang
pertimbangan operasional dalam menerapkan sistem RIL, dapat
membaca buku petunjuk, “Pertimbangan Operasional untuk
Pembalakan Berdampak Rendah”, yang diterbitkan pada bulan
Maret 2006.
15
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Pengantar RIL
1.3
Kerangka Kerja untuk Petunjuk I m p l e m e n t a s i
Dalam proses mengembangkan modul pelatihan untuk menerapkan
sistem RIL, TFF menemukan bahwa sangat bermanfaat untuk
mengelaborasi persyaratan teknis dan prosedural dalam bentuk
matriks kriteria dan indikator.
Matriks ini dapat digunakan oleh para manajer sebagai petunjuk
untuk memahami dan mengimplementasikan perubahan yang
dibutuhkan guna merealisasikan manfaat sistem RIL.
Kerangka kerja ini juga dapat digunakan oleh pihak lain yang ingin
mengevaluasi dan memonitor kinerja unit manajemen kehutanan
dalam usahanya menerapkan sistem RIL.
Tabel 1 : KRITERIA DAN INDIKATOR PENERAPAN SISTEM RIL DI INDONESIA
Kegiatan atau
elemen
1.
Indikator
Implementas
Verivikasi
Implementasi
Inventarisasi sebelum kegiatan pemanenan telah dilakukan untuk mengidentifikasikan semua pohon
yang akan dipanen dan pohon yang dilindungi, sesuai standar yang diatur dalam sistem silvikultur dan
administrasi TPTI5) atau TPTJ6) .
1.1
Kunjungan lapangan memverifikasikan bahwa inventori telah dilakukan dan pohonpohon telah diberi label dan dinomori sesuai dengan peraturan yang berlaku.
1.1.1
PENDAPAT :
2.
BAB I
16
Pemeriksaan lapangan harus dilakukan secara berkala pada
berbagai lokasi.
1.2
Perusahaan telah menyusun standar kegiatan cruising termasuk kebijakan yang
jelas tentang pohon mana tepat diinventori (lihat catatan audit di bawah).
1.3
Ringkasan hasil cruising (LHC) tersedia semua areal yang akan dipanen.
1.4
Dokumen harus dapat menunjukkan bahwa spesies yang dilindungi Undang-undang
Indonesia dan protokol CITES tidak termasuk dalam daftar yang akan dipanen.
Inventori 100% merupakan hal yang mandatoris bagi konsesi di Indonesia. Sudah banyak
persyaratan serta prosedur untuk inventori ini yang telah didokumentasikan oleh Departemen Kehutanan dan dapat diperoleh oleh semua perusahaan. Peraturan Departemen
Kehutanan merinci prosedur inventarisasi, penandaan, pemetaan, dan pelaporan untuk
pohon-pohon komersial, pohon-pohon yang dilindungi, serta pohon-pohon yang memiliki
nilai komersial di masa mendatang.
Surat Keputusan tentang standar minimum stok untuk memperoleh izin HPH dan perpanjangan RKT tidak dianggap sah dalam kerangka audit RIL karena hal tersebut berlawanan dengan tujuan RIL dan menjanjikan harapan-harapan yang tidak dapat diimplementasikan.
Tersedia Peta Posisi Pohon dan Kontur Skala Operasional dengan akurasi yang baik untuk seluruh
area yang akan dipanen.
2.1
Perusahaan telah memiliki peta kontur dengan skala yang tepat yang diperoleh
melalui metode remote sensing atau telah menerapkan prosedur survei yang baik
sehingga dalam memetakan kontur dan posisi pohon yang akurat secara rutin.
2.1.1
5)
6)
Pendapat tambahan
Skala peta operasional yang baik adalah tidak lebih dari 1:
5.000 dengan interval kontur tidak lebih dari 5m.
TPTI - Tebang Pilih Tanaman Indonesia
TPTJ - Tebang Pilih Tanaman Jalur
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Indikator
Implementas
2.2
Verivikasi
Implementasi
2.1.2
Informasi yang terdapat pada peta operasional kontur dan
posisi pohon sedikitnya memuat mencakup informasi lintasan air yang permanen maupun yang musiman, kontur,
jalan (yang sudah ada atau yang masih direncanakan), batas
wilayah, tanda-tanda alam yang dapat mempengaruhi perencanaan pembalakan dan lokasi seluruh pohon yang dapat
dipanen.
2.1.3
Direkomendasikan agar survey dasar dilakukan dengan
menggunakan jaringan survey yang dapat digunakan untuk
orientasi lapangan.
Tingkat keakuratan peta harus memadai agar dapat dilakukan perencanaan jalan
sarad yang juga akurat sesuai dengan kontur, lokasi tanda-tanda alam (misal sungai) dan informasi lokasi pohon.
2.1.4
PENDAPAT :
3.
Walaupun pemetaan kontur direkomendaskan dalam peraturan Departemen Kehutanan,
tapi bukanlah keharusan. Namun, dibandingkan dengan peta posisi pohon, peta kontur
yang akurat memegang peran yang lebih besar dalam perencanaan RIL. Akibatnya indicator serta verifikasi ini merupakan prakondisi yang penting untuk menerapkan RIL dan perlu
mendapat perhatian yang besar pada saat dilakukan audit.
3.1
Standar khusus perusahaan untuk pembangunan jalan telah disusun sebagai
pedoman dalam membuat rencana, menetapkan lokasi, konstruksi, perawatan dan
deaktivasi jalan hutan.
3.2
Pembangunan jalan raya dilakukan di lokasi berdasarkan sesuai standar yang
dimiliki perusahaan.
3.3
Lokasi jalan secara rutin dimasukkan pada peta perencanaan operasional sebelum
membuat rencana pembalakan dan pelaksanaannya.
3.4
Jalan selalu dirawat guna mengurangi erosi.
3.5
Jalan raya yang tidak dibutuhkan lagi untuk kegiatan pengelolaan hutan dideaktivasi
untuk mencegah terjadinya kegiatan –kegiatan yang tidak memiliki izin dan erosi.
Petunjuk teknis tentang pembangunan jalan dapat dilihat dalam publikasi TFF yang berjudul: “Perencanaan, Lokasi, Survei, Konstruksi dan Pemeliharaan untuk Pembuatan Jalan
Logging Berdampak Rendah” .
Batas wilayah pemanenan harus dibuat di lapangan dan ditunjukkan di atas peta sesuai dengan peraturan/persyaratan yang ada.
4.1
Prosedur tentang penetapan batas areal pembalakan diuraikan secara jelas.
4.1.1
4.2
PENDAPAT :
Pemeriksaan lapangan secara random dan representatif
memverifikasi tapal batas areal operasional.
Batas areal pemanenan tidak tumpang tindih dengan batas kawasan yang dilindungi
dengan diidentifikasikan pada peta baik yang terdapat di dalam maupun diluar batas
konsesi.
Demarkasi tapal batas merupakan persyaratan yang terdapat dalam peraturan Departemen Kehutanan dan harus dipenuhi Prosedur telah dijelaskan secara rinci oleh Departemen Kehutanan. Baik pemeriksaan peta maupun lapangan harus dilakukan untuk memverifikasikan kepatuhan pada petunjuk yang ada.
Perusahaan memiliki izin HPH dan SK Rencana Karya Tahunan (SK RKT) yang valid.
5.1
BAB I
5.
Pemeriksaan lapangan akan memverifikasi keakuratan peta.
Lokasi pohon harus akurat dalam radius 20m.
Jalan di hutan dirancang, ditentukan lokasinya, dibangun dan dipelihara untuk mengurangi dampak
yang terjadi pada hutan dan nilai-nilai terkait.
PENDAPAT :
4.
Pendapat tambahan
Pengantar RIL
Kegiatan atau
elemen
Surat izin HPH dan RKT disetujui dan ditandatangani oleh pihak yang berwenang.
Tropical Forest Foundation
17
Pengantar RIL
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Kegiatan atau
elemen
Indikator
Implementas
Verivikasi
Implementasi
5.1.1
PENDAPAT :
6.
Rancangan pemanenan dengan skala operasional dipersiapkan yang menunjukkan bagaimana perusahaan merencanakan pemanenan yang akan dilakukan.
6.1
Rencana pemanenan dipersiapkan pada peta kontur dan posisi pohon.
6.2
Perusahaan telah mengembangkan standar operasional dan lingkungan sebagai
petunjuk dalam perencanaan dan pembalakan.
6.2.1
Standar operasional mencakup pertimbangan kelerengan
maksimum jalan sarad, kondisi tanah, lokasi TPn, pembuatan
sub-petak penebangan7), dan prosedur penyeberangan sungai.
6.2.2
Standar lingkungan mencakup kebijakan kelerengan maksimum baik untuk pembalakan ground based, zona riparian,
penyeberangan sungai serta pertimbangan-pertimbangan
yang berkaitan dengan aspek budaya8).
Perusahaan telah menunjuk staf yang bertanggung jawab membuat persiapan perencanaan pembalakan yang rinci.
6.3.1
PENDAPAT :
Penetapan lokasi jalan sarad dan TPn dilakukan sebelum kegiatan penebangan sesuai standar operasional dan ingkungan.
Perusahaan telah menunjuk staf yang bertanggung jawab menetapkan lokasi jalan
sarad dan TPn.
7.1.1
7.2
PENDAPAT :
BAB I
8)
9)
18
Pemeriksaan lapangan memastikan bahwa lokasi jalan sarad
dan TPn secara rutin ditetapkan sesuai rencana pembalakan
dan standar yang telah dispesifikasikan.
Peta-peta diperbaharui dengan memperlihatkan lokasi TPN dan jalan sarad yang
actual bila terjadi perubahan pada peta sebelumnya.
Pemeriksaan lapangan perlu dilakukan untuk mengkonfirmasikan kepatuhan sesuai
pedoman.
Pembukaan jalan sarad dilakukan sebelum penebangan dimulia dan sesuai dengan standar operasional dan lingkungan9)
8.1
7)
Rancangan yang akurat dimana informasi kontur dan posisi
pohon berhubungan erat dengan standar perencanaan, haruslah menjadi kegiatan yang rutin.
Ini merupakan persyaratan RIL. Satu-satunya persyaratan Departemen Kehutanan untuk
rencana pembalakan membagi areal RKT menjadi petak seluas +/-100 hektar dan perencanaan membangun jalan hutan dua tahun sebelum pemanenan. Namun, persiapan
pemanenan yang rinci oleh staf yang kompeten merupakan elemen kunci dari keberhasilan
penerapan RIL.
7.1
8.
Pemeriksaan dokumen untuk memverifikasikan sahnya dokumen perijinan,
Memiliki surat izin resmi HPH dan RKT merupakan bagian dari standar legalitas dan
merupakan prakondisi utama untuk bisa berpartisipasi dalam program “Verifikasi RIL”.
6.3
7.
Pendapat tambahan
Tujuan dan prosedur pembukaan jalan sarad disampaikan secara jelas kepada supervisor dan staf operasional.
Standar Operasional telah dipublikasikan dalam buku pedoman “Pertimbangan dalam Perencanaan
Pembalakan Berdampak Rendah”.
Standar Lingkungan telah dipublikasikan dalam buku pedoman “Pertimbangan dalam Perencanaan
Pembalakan Berdampak Rendah”.
Buku pedoman “Pertimbangan Operasional ... “ telah dipublikasikan sebagai bagian dari proyek
ITTO, dan merupakan buku ketiga.
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Indikator
Implementas
Verivikasi
Implementasi
8.1.1
8.2
9.
Penebangan dan bucking dilaksanakan sesuai dengan prinsip dan pedoman RIL11)
Para penebang telah diberi petunjuk mengenai bagaimana pengambilan keputusan
yang sederhana sebagai pedoman mereka saat melakukan penebangan terarah.
Termasuk pertimbangan tingkat keselamatan, kesesuaian dengan jalan sarad, lokasi pemanenan berikutnya dan pohon-pohon yang dilindungi serta pohon inti lokasi,
tingkat pemulihan pohon yang ditebang serta memperkecil penebangan yang patah,
tidak sempurna.
9.1.1
9.2
9.3
PENDAPAT :
Para penebang dilengkapi dengan alat keselamatan kerja
yang paling dasar (top/helm) serta perlengkapan penebangan lainnya seperti baji.
Perusahaan memiliki kebijakan yang jelas dan tertulis mengenai standar pemanfaatan dan bucking. Kebijakan ini harus menyebutkan batas maksimum kerusakan
yang bisa ditolerir, panjang kayu bulat dan jenis-jenis apa saja yang dikehendaki.
Untuk mengetahui lebih banyak rincian teknis dapat membacanya dalam buku petunjuk
“Pertimbangan Operasional untuk Pembalakan Berdampak Rendah”.
Penyaradan dilakukan sedemikian rupa untuk menekani kerusakan tanah dan tegakan tinggal.
10.1
Perusahaan mengeluarkan petunjuk operasional kepada operator traktor untuk
memastikan bahwa mesin tetap berada di jalan sarad dan memaksimalkan winching.
10.1.1
10.2
Apabila kayu bulat berada sekitar 20 m dari jalan sarad, maka
harus ditarik dengan menggunakan winch kecuali bila posisinya sulit sehingga tidak memungkinkan memasukan sling ke
kayu log atau jika ada rintangan yang menghalangi winching.
Operator traktor tidak akan membuka jalan sarad baru yang tidak ditandai tanpa
berkonsultasi dengan mandor.
10.2.1
Tidak dibenarkan adanya jalan sarad berpotongan atau ganda.
Ini telah dimasukkan dalam buku pedoman “Pertimbangan Operasional untuk Pembalakan
Berdampak Rendah”.
Lihat footnote No. 4.
Tropical Forest Foundation
BAB I
11)
Apakah para penebang memiliki buku saku yang berisi informasi perhitungan dasar penebangan dan bucking?
Para penebang dilengkapi dengan peralatan dasar leselamatan kerja dan alat-alat
yang penebangan terarah.
9.2.1
10)
Pemeriksaan lapangan memastikan bahwa pembukaan jalan sarad dan TPN secara rutin dilakukan sebelum memulai
penebangan berdasarkan standar yang telah ditetapkan.
Hal ini merupakan persyaratan RIL guna memastikan bahwa manfaat rencana pemanenan
yang rinci benar-benar dilakukan hingga ke tahap operasional. Pengalaman menujukkan
bahwa membuka jalan sarad yang progresif dengan kegiatan pembalakan tidak akan efektif bila dilakukan pada kondisi di mana terdapat pohon-pohon yang tinggi dan areal yang
berbukit-bukit yang sering ditemukan di Indonesia. Sebagai akibatnya pembukaan jalan
sarad sebelum penebangan merupakan langkah penting dalam proses implementasi sistem RIL.
9.1
10.
Mandor yang bertanggung jawab melakukan kegiatan pembalakan harus memiliki peta terbaru yang akurat sebagai
panduan dalam melaksanakan kegiatan pembalakan.
Tersedianya petunjuk teknis yang sederhana untuk membuka jalan sarad. 10)
8.2.1
PENDAPAT :
Pendapat tambahan
Pengantar RIL
Kegiatan atau
elemen
19
Pengantar RIL
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Kegiatan atau
elemen
PENDAPAT :
11.
Indikator
Implementas
Verivikasi
Implementasi
Hal ini merupakan persyaratan RIL sehubungan dengan penyaradan. Dalam hutan Dipeterocarp meminimalkan kerusakan lapisan tanah merupakan kunci regenerasi yang baik.
Lapisan tanah di hutan biasanya memiliki banyak benih tumbuhan baru. Terjadinya pembukaan tajuk mahkota maka regenerasi yang ada akan tumbuh dengan agresif.
Kerusakan pada lapisan tanah tidak hanya berimplikasi pada perusakan anak pohon tapi
juga benihnya. Gangguan/pemindahan lapisan tanah merupakan factor penting yang mempengaruhi regenerasi hutan.
Perusahaan memiliki kebijakan yang jelas mengenai deaktivasi TPn dan jalan sarad untuk meminimalisir resiko erosi.
11.1
Pedoman deaktivasi untuk jalan sarad harus menjelaskan bagaimana dan seperti
apa kondisi sudetan harus dibuat.
11.2
Sudetan pada jalan sarad merupakan bagian dari pekerjaan seorang operator traktor.
11.2.1
PENDAPAT :
12.
Monitoring dan evaluasi setelah pemanenan dilakukan sebagai evaluasi-diri secara kontinu dan umpan
balik kepada pihak manajemen atas penerapan RIL.
Monitoring dan evaluasi diidentifikasikan sebagai tugas serta tanggung jawab pekerjaan dan dari staf yang cakap yang telah diberi petunjuk bagaimana kegiatan-kegiatan ini dilakukan.
12.1.1
PENDAPAT :
Tugas-tugas ini dapat ditambahkan ke dalam daftar tugas
mandor atau kemungkinan ada staf baru yang akan direkrut
sebagai inspector petak.
12.2
Monitoring rutin di lapangan dilaksanakan selama pembalakan untuk memastikan
bahwa tujuan RIL telah dicapai.
12.3
Prosedur evaluasi setelah pemanenan yang telah diterapkan, yang menilai bagaimana tujuan RIL terpenuhi dan melaporkannya kepada manajemen.
12.3.1
Tersedia ‘laporan petak’ penebangan. Laporan tersebut
harus memuat seluruh aspek dan persyaratan pembalakan
maupun deaktivasi serta melaporkan hal-hal yang berkaitan
dengan pemanfaatan. Peta yang mengindikasikan area yang
dibalak sebaiknya disertakan.
Rincian petunjuk teknis dapat dilihat dalam publikasi TFF yang berjudul, “Pertimbangan
Operasional untuk Pembalakan Berdampak”.
Manajemen telah memiliki kebijakan, pedoman dan personel yang tepat untuk memastikan bahwa
seluruh aspek kegiatan jelas dipahami atau perlu dilakukan modifikasi sehingga dapat merealisasikan
penerapan praktekRIL.
BAB I
13.1
13.2
PENDAPAT :
20
Pemeriksaan lapangan memastikan bahwa sudetan dan
deaktivasi TPn dilakukan sesuai standar perusahaan.
Pemeriksaan lapangan diperlukan. Petunjuk teknis dapat dibaca dalam buku, “Operational
Considerations for RIL”.
12.1
13.
Pendapat tambahan
Kebijakan dan pedoman perusahaan mengenai inventori, perencanaan dan personel operasional menyebutkan/menjelaskan tujuan penerapan sistem RIL dan secara jelas mendeskripsikan tanggung jawab masing-masing staf.
13.1.1
Terdapat standar operasionial prosedur dan/atau kebijakan
yang menguraikan berbagai elemen system RIL.
13.1.2
Terdapat uraian tugas dan tanggung jawab yang memperlihatkan integrasi fungsi dan tanggung jawab.
Personel yang telah dipiih, dilatih dan diberi petunjuk yang memadai agar kegiatan
RIL dapat dilaksanakan secara efektif.
Petunjuk implementasi RIL terdapat dalam publikasi TFF yang berjudul “Pertimbangan
dalam Merencanakan Pembalakan Berdampak Rendah”.
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Kebijak an Pemerintah dan
Pr aktek di Lapangan
2 .1
Kebijakan Pemerintah
dan Praktek di Lapangan
BAB II
Peran “Manajemen” dari Pem e r i n t a h
Walaupun fokus buku pedoman ini adalah mengenai pengelola/
manajer hutan dari sektor swasta dan bagaimana ia dapat
memberi pengaruh pada penerapan RIL, namun pembahasan
ini tidak akan lengkap tanpa melihat peran pemerintah sebagai
mitra dalam pengelolaan.
Undang-undang kehutanan di Indonesia secara jelas menyatakan
bahwa hutan di Indonesia adalah milik Negara dan pemerintah
tetap memegang tanggung jawab penuh atas pengelolaannya
guna memastikan tercapainya pengelolaan hutan Negara yang
lestari. Undang-undang kehutanan ini juga memberi peluang
adanya pengalihan hak pengusahaan hutan ke sektor swasta
Indonesia sehingga mereka juga dapat memanfaatkan hasil hutan
tentunya dengan imbalan melaksanakan pengelolaan hutan yang
berkelanjutan dan membayar royalty serta pajak sebagiamana
ditetapkan pemerintah.
Pemerintah memenuhi tanggung jawab pengelolaannya melalui
pengembangan kerangka kerja peraturan yang terdiri dari Undangundang, Peraturan, Surat Keputusan, serta Surat Instruksi Khusus.
Kerangka ini mencakup serangkaian persyaratan yang cukup
rumit mengenai pelaporan dan inspeksi. Departemen Kehutanan
beserta jajaran perwakilannya di tingkat Provinsi dan Kabupaten
bertanggung jawab melaksanakan dan mengatur kebijakan
kehutanan melalui penerapan kerangka kerja tersebut.
Komitmen Pemerintah
Departemen Kehutanan meyadari pentingnya arti RIL dalam
usaha mencapai tujuan pengelolaan hutan lestari.
Tropical Forest Foundation
BAB II
Niat pemerintah untuk mendukung penerapan RIL dikemukakan
dalam Kriteria 2 dan 3 dalam “Kriteria dan Indikator Pengelolaan
Hutan yang Berkelanjutan” (SK Menhut No. No. 4795/KPTS
11/2002) yang ditandatangani Menteri Kehutanan. Walaupun
21
Kebijakan Pemerintah
dan Praktek di Lapangan
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
dalam SK ini tidak diberikan keterangan yang rinci, namun isi
dari SK ini merupakan persyaratan yang cukup ketat bagi para
pemegang hak pengusahaan hutan. SK kedua telah diterbitkan
oleh Dir. Jen. Pengelolaan Hutan Produksi (SK DirJen Pengelolaan
Hutan Produksi No. 274/VI-PHA/2001). SK ini mengambil bentuk
sebagai “lembar saran” yang memberi petunjuk yang cukup rinci
tentang aspek teknis dari RIL.
Peraturan versus Rekomendasi
Dasar dari sebagian besar peraturan mengenai pengelolaan
hutan di Indonesia adalah sistem silvikultur dan administrative
TPTI1) . Beberapa kegiatan yang sangat penting dalam penerapan
RIL tercakup dalam peraturan TPTI. Sedangkan kegiatan lain
memang tidak dijelaskan secara rinci dan biasanya hanya sebagai
acuan secara umum,
Pemerintah sebagai pembuat kebijakan telah berusaha
melembagakan konsep RIL ke dalam kerangka peraturan
dengan menerbitkan dua peraturan.
Yang pertama dalam
bentuk peraturan yang menjelaskan tentang pengelolaan hutan
yang berkelanjutan. Dalam peraturan ini, penjelasan tentang
pentingnya penerapan sistem RIL dikemukakan dalam kriteria 2
dan 3. Sedangkan yang kedua dikemukakan dalam bentuk “surat
edaran” yang memberikan definisi kegiatan RIL dengan lebih
rinci. Namun demikian perlu dipahami bahwa definisi yang rinci
tentang RIL ini hanya dalam bentuk “himbauan” sehingga tidak
memiliki kekuatan untuk memberi sanksi.
2.2
Tujuan dari Kerangka Kerja Per a t u r a n
BAB II
Tujuan dari kerangka kerja peraturan adalah untuk memastikan
bahwa pengelolaan hutan yang berkaitan dengan produksi kayu
dikelola secara berkelanjutan dan bahwa fungsi ekologis hutan
tetap dipertahankan demi kesejahteraan masyarakat setempat.
Perolehan pendapatan dari hasil hutan merupakan salah satu
cara pemerintah akan manfaat hutan bagi masyarakat yang lebih
luas.
Indonesia telah berulang kali menyampaikan komitmennya
untuk mencapai pengelolaan hutan lestari pada berbagai forum
nasional maupun internasional.
Salah satu komitmen yang
1)
2)
22
Tebang Pilih Tanaman Indonesia
International Tropical Timber Organization
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Peraturan TPTI
Lembar Saran DepHut
tentang RIL
(SK No. 151/Kpts/IV-BPHH/1993)
(SK No. 274/VI-PHA/2001)
Tidak dikemukakan secara khusus
Ditekankan tetapi tidak ada penjelasan khusus mengenai kegiatan yang
dilakukan, juga tidak diberikan perincian kegiatan.
Inventori sebelum pemanenan
(pemotongan tanaman perambat)
Ya. Saran rinci tentang prosedur
inventori.
Ya. Diarahkan pada prosedur inventarisasi TPTI
(Tidak disebut tentang pemotongan
tanaman merambat)
Pemetaan topografi dan posisi
pohon
Peta posisi pohon diperlukan;
Di sini tidak disebut apakah
diperlukan peta topografis.
Ya. Disebutkan bahwa peta posisi
pohon dan peta kontur merupakan
persyaratan penting yang harus
dipenuhi.
Perencanaan jalan sarad
Secara umum disebutkan pentingnya pembuatan rencana
pembangunan jalan sarad.
Dijelaskan tentang pentingnya perencanaan jalan sarad.
Lokasi jalan sarad
TIdak disebut
Tidak disebutkan secara khusus
Pembukaan jalan sarad sebelum
penebangan.
Tidak disebut
Disarankan
Kegiatan penebangan (standar)
Pendapat umum tentang kegiatan penebangan
Disarankan mengenai tebang terarah
Penyaradan (standar)
Pendapat umum tentang penyaradan
Disebutkan tentang pentingnya
mengurangi kerusakan akibat penyaradan dan pentingnya winching.
Deaktivasi jalan sarad
Tidak disebut
Disarankan
Pemantauan dan evaluasi paska
panen
Dijelaskan sebagai prosedur sistematis yang mencakup 100%
areal penebangan.
Menekankan pentingnya evaluasi
dan pemantauan.
Deskripsi tentang elemen dan
Kegiatan RIL
Komitmen Manajemen
- Standar Prosedur Operasional
- Standar dan sistem, dll.
Kebijakan Pemerintah
dan Praktek di Lapangan
Table 2 : Elemen RIL dibandingkan dengan Peraturan Serta Usulan Departemen
Kehutanan.
paling menonjol adalah yang dikemukakan pada tujuan ITTO1)
tahun 2000 yang menyatakan bahwa negara-negara anggota
akan berusaha mencapai tujuan pengelolaan hutan lestari pada
tahun 2000. Tujuan ini dianggap banyak Negara sebagai tujuan
yang terlalu optimistis, namun perkembangan yang terjadi baik
di dalam maupun di luar kendali pemerintah Indonesia telah
mengakibatkan gerak yang semakin menjauh dan bukannya
mendekati pencapaian tujuan ini.
BAB II
Di banyak wilayah Indonesia, pencapaian pengelolaan hutan lestari
akan dikaitkan dengan pembangunan berkelanjutan, yang mana
menurut World Commission on Environment and Development
pada tahun 1987 didefinisikan sebagai:
“Pembangunan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
Tropical Forest Foundation
23
Kebijakan Pemerintah
dan Praktek di Lapangan
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
saat ini tanpa harus mengkompromikan kemampuan generasi
masa depan dalam memenuhi kebutuhan mereka”.
Hal ini meningkatkan urgensi untuk mengelola hutan Indonesia
secara
berkelanjutan
dimana
permintaan
industri
dan
masyarakat tidak sejalan dengan kemampuan hutan memenuhi
tuntutan tersebut. Oleh karenanya, pengelolaan Hutan Secara
Berkelanjutan (SFM) didefinisikan oleh ITTO sebagai:
“ . . . proses mengelola lahan hutan permanen guna mencapai
satu atau lebih tujuan manajemen sehubungan dengan
penghasilan produk dan layanan jasa hutan yang kontinu,
tanpa mengurangi nilai yang dimiliki maupun produktivitasnya
di masa depan dan tanpa adanya pengaruh yang tidak
diinginkan terhadap lingkungan fi sik dan sosialnya.” 3)
2.3
Dampak dari Buruknya Peratura n
BAB II
Pembelaan/argumentasi yang sering terdengar di berbagai ruang
di Departemen Kehutanan saat membahas jarak yang terdapat
antara tujuan kerangka kerja peraturan dengan realitas yang
dijumpai di areal konsesi, adalah bahwa, “…. Masalahnya bukan
pada peraturannya melainkan pada cara implementasinya.”
Terlihat kebenaran pada pernyataan tersebut, namun argumentasi
tersebut juga tidak sepenuhnya benar. Indonesia telah menikmati
berbagai proyek kehutanan yang sebagian besar komponen
proyeknya menganalisa kebijakan administrasi hutan. Salah
satu hasil temuan adalah bahwa sektor kehutanan Indonesia
menghadapi sejumlah undang-undang, surat keputusan, peraturan
dan petunjuk, di mana banyak dari peraturan-peraturan tersebut
yang hanya sedikit atau bahkan tidak memiliki validitas teknik;
seringkali saling bertentangan, pada beberapa kasus justru
menghambat pencapaian pengelolaan hutan yang berkelanjutan;
bahkan ada yang menghambat pelaksanaannya karena berbagai
alasan.
24
Peraturan, undang-undang, surat keputusan ataupun surat edaran
yang tidak memiliki nilai teknis atau ekonomis atau yang tidak
memberi hasil positif terhadap pencapaian keberlanjutan dalam
pengelolaan hutan tidak bisa dilaksanakan dengan baik dan hanya
akan mengakibatkan timbulnya budaya korupsi.
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Praktek Korupsi
Peraturan yang tidak tepat dan berlebihan cenderung mengarah
pada praktek korupsi karena manajer perusahaan banyak
yang berusaha menghindari biaya yang terlampau tinggi
saat menerapkan peraturan yang tidak tepat atau tidak logis,
sementara pejabat pemerintah yang bertugas menegakkan
peraturan ini justru melihat keadaan tersebut sebagai sumber
untuk memperoleh pendapatan tambahan.
Kebijakan Pemerintah
dan Praktek di Lapangan
2 .4
Tidak dapat disangkal bahwa kerangka kerja peraturan di Indonesia
diselimuti dengan berbagai masalah. Hal inilah mengarah pada
budaya korupsi yang menambah biaya dalam melakukan kegiatan
bisnis. Efek tambahannya adalah bahwa hal ini menghambat
motivasi mereka yang ingin mencapai pengelolaan hutan yang
lestari.
Sebagai mitra dalam pengelolaan hutan yang berkomitmen untuk
melaksanakan praktek pengelolaan hutan lestari antara lain
dengan menerapkan sistem RIL, tanggung jawab Departemen
Kehutanan cukup besar karena relatif sedikit pemegang HPH yang
telah berhasil menjalankan praktek-praktek yang lebih baik.
Solusi atas dilema ini bukanlah dengan menerbitkan lebih banyak
peraturan, melainkan hanya dengan membuat peraturan yang
lebih baik. Suatu uji coba bisa diterapkan pada setiap peraturan
atau surat keputusan: Apakah peraturan atau surat keputusan
tersebut memberikan nilai positif guna mencapai pengelolaan
hutan lestari? Apabila jawabannya tidak, tidak pasti atau tidak
jelas, maka perlu dipertimbangkan untuk merevisi atau bahkan
membatalkan peraturan tersebut.
Kerangka kerja peraturan di Indonesia harus lebih berorientasi
pada hasil dan bukan pada restruktif guna memberi lebih
banyak insentif pada manajer hutan untuk menerapkan praktek
pengelolaan hutan yang lebih baik.
BAB II
Tropical Forest Foundation
25
Persyaratan Organisasional
dan Operasional RIL
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
BAB III
Persyar atan Pengorganisasian
dan Oper asional RIL
Keberhasilan atau kegagalan upaya pemegang HPH dalam
menerapkan RIL pada sistem pengelolaan hutan mereka bukan
hanya bergantung pada kemampuan perusahaan dalam menguasai
aspek teknisnya melainkan juga pada kesediaan manajemen
perusahaan untuk melakukan perubahan yang diperlukan
sehubungan dengan cara melaksanakan kegiatan pembalakan itu
sendiri.
Bagaimanapun, tingginya antusiasme atau dukungan awal dari
manajemen atau pemilik perusahaan terhadap RIL, ini tidak secara
langsung akan mengarah pada penerapan RIL. Banyak contoh
menunjukkan bahwa walaupun perusahaan HPH telah mengubah
sistem inventarisasi, pemetaan serta fungsi perencanaannya
agar sesuai dengan metode RIL, namun semua usaha menjadi
gagal karena pada saat terakhir tim yang melakukan kegiatan
pembalakan tidak melaksanakan rencana pembalakan RIL.
Kegagalan dalam menerapkan RIL jika ditelusuri biasanya
disebabkan karena adanya hambatan pada pengaturan
organisasi atau operasional atau keduanya yang terdapat dalam
perusahaan.
BAB III
Merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan untuk
memastikan diterapkannya metode serta teknologi baru.
Komitmen kuat dari manajemen merupakan persyaratan, namun
demikian hal tersebut belumlah cukup.
Manajemen harus
memastikan bahwa seluruh persyaratan pengorganisasian dan
operasional harus dipenuhi.
26
Dilihat dari perspektif kelembagaan, salah satu cara untuk
memastikan bahwa seluruh elemen dari struktur manajemen telah
dilaksanakan adalah dengan mulai mengembangkan serangkaian
prosedur standar operasional (SOP) yang khas bagi perusahaan
tersebut. Tentu saja hal ini akan tetap membutuhkan manajemen
untuk memantau secara seksama semua usaha penerapan sistem
Tropical Forest Foundation
RIL yang dilakukan, namun hal ini juga akan dapat memberikan
kerangka kerja yang berguna untuk memastikan bahwa setiap
personel perusahaan mengetahui fungsi pekerjaan mereka dan
memahami bagaimana hubungan antar fungsi tersebut dengan
langkah-langkah sebelum dan sesudah proses produksi.
Dalam lampiran 1 disampaikan serangkaian contoh SOP. Contohcontoh ini hanyalah petunjuk tentang cara mengembangkan SOP
yang khas bagi perusahaan.
3 .1
Persyaratan Organisasional
dan Operasional RIL
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Persyaratan Pengorganisasia n
Tujuan umum sistem RIL adalah untuk memperkecil dampak
dan meningkatkan efi siensi pembalakan. Namun, hal ini tidak
selalu dapat dicapai pada saat yang bersamaan dalam setiap fase
kegiatan.
Memang untuk melaksanaan inventarisasi yang lengkap di areal
kegiatan akan memakan biaya yang tinggi bila dibandingkan
dengan tidak melakukannya sama sekali. Namun demikian
melalui perencanaan yang efektif serta supervisi yang lebih
baik saat melakukan pembalakan maka produktivitas mesin
akan lebih meningkat sehingga manfaat yang diperoleh melalui
produktivitas mesin akan mampu mengimbangi biaya yang tinggi
dan pada saat yang bersamaan juga merealisasikan dua tujuan
utama sistem RIL yaitu: mengurangi dampak dan meningkatkan
efi siensi pembalakan.
Agar dapat mengoptimalkan pencapaian tujuan ini, seorang
manajer harus dapat memastikan bahwa serangkaian prasyarat
penting sudah dipenuhi. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengajukan serangkaian pertanyaan.
3.1.1 Jumlah staf yang memadai
3.1.2 Kualifikasi yang memadai
BAB III
Apakah jumlah staf yang dipekerjakan sudah memadai untuk
melaksanakan semua kegiatan pokok? Persyaratan tenaga kerja
untuk kegiatan yang membutuhkan banyak tenaga kerja seperti
kegiatan inventarisasi hutan sudah diketahui secara umum,
sehingga jumlah staf yang ada akan mudah diverifikasi.
Apakah staf dan pekerja di hutan memiliki keterampilan serta
Tropical Forest Foundation
27
Persyaratan Organisasional
dan Operasional RIL
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
kualifikasi yang diperlukan? Persyaratan keterampilan dasar
akan berbeda dari satu pekerjaan dengan pekerjaan yang lain.
Manajemen harus mampu menilai kemampuan yang dimiliki staf
yang diberi tanggung jawab atas suatu pekerjaan.
Bila ternyata tingkat keterampilan staf/pekerja kurang memadai,
apakah ada program pelatihan eksternal yang dapat meningkatkan
kemampuan para staf yang membutuhkannya atau apakah perlu
dikembangkan program pelatihan internal?
3.1.3 Struktur Organisasi
Apakah manajer telah membuat suatu struktur organisasi yang
memastikan bahwa semua tugas penting telah dilaksanakan?
Dalam beberapa kasus, perubahan ke sistem RIL membutuhkan
penciptaan fungsi kerja baru. Apakah struktur organisasi yang
ada dapat mengakomodasikan fungsi kerja baru dan mampu
memadukannya secara efektif ke dalam system? Sebagai contoh
adalah penciptaan fungsi kerja sebagai pengawas blok yang
bertugas menyusun laporan pemantauan yang efektif kepada
manajemen guna memastikan bahwa kegiatan pembalakan telah
memenuhi tujuan yang ingin dicapai.
3.2
Persyaratan Operasional
Keberhasilan penerapan sistem RIL seringkali terhambat oleh
masalah operasional yang tidak terselesaikan.
3.2.1 Definisi tugas dan tanggung jawab
BAB III
Seorang manajer hutan/kamp biasanya hanya memiliki satu
tujuan yaitu mencapai target produksi sehingga mereka sering
kurang memperhatikan fungsi-fungsi inti lainnya seperti rencana
operasional yang memiliki peran penting dalam merealisasikan
kegiatan pembalakan yang lebih efi sien namun secara tradisional
kurang memiliki peran dalam meraih target produksi.
28
Apabila manajer kamp kurang memahami manfaat penerapan
sistem RIL dan apabila ia tidak memperoleh arahan yang jelas
dari manajemen tingkat atas, maka bisa dikatakan ia tidak juga
memperoleh arahan dari divisi perencanaan walaupun manajer
tersebut mampu mengembangkan sistem RIL lengkap dengan
Tropical Forest Foundation
metodologinya untuk pengumpulan data, pemetaan serta fasefase perencanaannya. Hasil umum yang dapat dilihat dari situasi
ini adalah bahwa penerapan sistem RIL tidak akan lebih dari dari
tahap perencanannya saja.
Sebagian dari masalah ini berkaitan dengan pemberian definisi
yang jelas mengenai tugas, atau job description. Sebagai contoh,
bila tugas membuat sudetan di areal jalan sarad yang akan
dideaktivasi tidak ditambahkan pada job-description operator
traktor, maka besar mungkin pekerjaan tersebut tidak akan
dilakukan.
Persyaratan Organisasional
dan Operasional RIL
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
3.2.2 Memadukan fungsi
Sebagian besar perusahaan HPH memiliki struktur organisasi
yang didasarkan pada fungsi, sehingga tugas inventarisasi dan
pemetaan akan dilakukan oleh Bagian Inventarisasi. Mungkin
akan terdapat Bidang Teknis Kehutanan yang bertanggung jawab
untuk melakukan perencanaan, survei, penetapan lokasi dan
pembangunan jalan utama. Kegiatan pembalakan dilakukan oleh
Bagian Produksi dan seterusnya.
Perubahan ke sistem RIL seringkali dimulai dengan fungsi
pengumpulan data dan perencanaan. Kemampuan teknis tingkat
tinggi dapat dicapai melalui pembuatan peta yang akurat dan
rencana pembalakan yang rinci, namun demikian hal ini tidak
selalu menjamin terealisasinya tujuan RIL.
Pihak manajemen harus bisa meyakinkan bahwa sistem sudah
diterapkan dan menunjukkan bagaimana usaha yang dilakukan
Bidang Perencanaan sudah beralih ke Bidang Produksi sehingga
rencana serta lokasi jaringan ekstraksi diikuti oleh para operator
traktor.
3.2.3 Komunikasi
BAB III
Komunikasi yang efektif merupakan prasyarat yang tidak dapat
dihindari saat hendak melakukan perubahan.
Pembaharuan
teknik, sistem manajemen yang baru, job description yang
diperluas, serta staf yang memperoleh pelatihan memang perlu
namun tidak menjamin berlangsungnya penerapan RIL kecuali
bila ada komunikasi yang jelas dan efektif.
Perubahan perlu disosialisasikan. Penyebarluasan instruksi secara
Tropical Forest Foundation
29
Persyaratan Organisasional
dan Operasional RIL
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
tertulis akan sangat membantu. Pertemuan sering merupakan
forum yang bermanfaat untuk mengkomunikasikan tujuan
serta rasional dilakukannya perubahan, juga agar memastikan
penerapan prosedur atau teknik baru secara efektif. Adalah peran
pihak manajemen untuk memastikan berlangsungnya komunikasi
yang efektif.
3.2.4 Feedback / Umpan Balik
Mengubah kebiasaan atau cara seseorang melaksanakan tugas
sehari-harinya bukanlah hal yang mudah dan keberhasilannya
akan membutuhkan waktu.
Pada saat menerapkan suatu sistem yang baru, pihak manajemen
perlu menyadari kemungkinan terjadinya serangkaian masalah
sehingga dapat dengan cepat melakukan tindakan koreksi. Oleh
karenanya, sistem RIL menyarankan dikembangkannya fungsi
pemantauan serta evaluasi sehingga dapat memberi evaluasi
terkini mengenai kegiatan pembalakan berdasarkan tujuan yang
telah ditetapkan.
Di sebagian besar perusahaan hal ini membutuhkan dibuatnya
fungsi kerja baru atau perluasan dari job description seorang
staf.
BAB III
Kegiatan pemantauan dan evaluasi dapat dilakukan melalui
berbagai cara dan pengumpulan informasi, semuanya bergantung
pada serangkaian prioritas yang telah ditetapkan pihak manajemen.
Kegiatan pemantauan umumnya merupakan kegiatan yang
dilakukan secara kontinu guna memastikan bahwa produksi serta
tujuan yang ditetapkan dalam RIL sudah terpenuhi. Hal ini dapat
dilakukan dengan memperluas tanggung jawab seorang mandor
atau dengan cara membuat posisi pengawas blok yang baru.
Evaluasi biasanya dilakukan setelah selesai melakukan kegiatan
pembalakan dan ditujukan untuk memberi masukan yang
lebih formal kepada pihak manajemen. Evaluasi ini juga dapat
dikembangkan menjadi suatu prosedur yang menghasilkan
catatan permanent mengenai kegiatan serta hasil dari suatu blok
penebangan. Bila demikian halnya maka hal ini akan mencakup:
•
•
30
Pemutahirkan peta jalan sarad sehingga mampu
menunjukkan lokasi jalan sarad terkini
Melakukan survei serta sampling dari jalan sarad guna
Tropical Forest Foundation
•
•
•
•
•
•
mengevaluasi dampak keseluruhan dari kerusakan
pada lapisan tanah.
Penilaian atas kerusakan yang terjadi pada tegakan
tinggal.
Pemeriksaan terhadap jalan sarad yang tidak
diperlukan
Pemeriksaan atas berbagai kegiatan yang belum tuntas
dilakukan seperti sudetan.
Pemeriksaan balok kayu yang tertinggal atau limbah
pembalakan yang berlebihan
Mengidentifikasikan dan melaporkan tindakan korektif
yang diperlukan
Mengidentifikasikan pada peta, areal mana yang tidak
dilakukan penebangan karena alasan lingkungan atau
adanya hambatan lain.
Persyaratan Organisasional
dan Operasional RIL
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Hasil dari evaluasi blok penebangan harus berupa peta terkini
yang dilengkapi dengan laporan singkat sehingga menghasilkan
catatan yang permanent mengenai kegiatan pembalakan di setiap
blok penebangan.
Rekomendasi untuk tindakan korektif yang diperlukan harus
dicantumkan secara jelas.
BAB III
Tropical Forest Foundation
31
Peran Teknologi dan
Keahlian
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
BAB IV
Per an Teknologi dan Keahlian
Teknologi dan keahlian telah menjadi fokus utama dari keempat
buku petunjuk mengenai RIL, oleh karenanya mengapa harus
membahas kembali topik ini dalam pertimbangan manajemen?
Jawaban yang sederhana adalah karena pihak manajemenlah
yang akhirnya menentukan teknologi terbaik mana yang akan
digunakan dan berperan dalam keberhasilan penerapan.
4.1
Peran Teknologi
4.1.1 Peralatan yang Tepat
BAB IV
Di Indonesia, Caterpillar D7-G
(atau Komatsu) dan sejenisnya
merupakan alat yang sering
digunakan dalam pembalakan.
Kekhasan
alat
tersebut
terletak pada ukurannya yang
cukup besar sehingga dapat
digunakan untuk membangun
jalan dan juga cukup kuat
untuk mengangkat balok kayu
yang besar.
Alat tersebut
dibuat di Indonesia sehingga
harganya relatif terjangkau
serta kemudahan memperoleh
suku
cadang
membuatnya
lebih menarik.
Foto 11 : Sikorsky S-64F
32
Tropical Forest Foundation
Namun demikian, alat tersebut
dirancang
untuk
kegiatan
mendorong dan bukan untuk
menarik sehingga cenderung
akan menjadi sangat merusak
bila digunakan dalam konteks
kegiatan pembalakan yang
selektif.
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Peran Teknologi dan
Keahlian
Para manajer atau pemilik suatu perusahaan HPH berperan
dalam memutuskan pilihan alat yang akan digunakan. Fakta
memang menunjukkan bahwa bulldozer standar D7-G merupakan
pilihan utama, tetapi ini bukan berarti bahwa tidak ada pilihan
lain. Berikut ini beberapa pilihan lain yang dapat menjadi bahan
pertimbangan:
Sikorsky S-64F yang sering digunakan dalam kegiatan pembalakan
selektif di Serawak, merupakan pilihan lain yang cukup menarik
untuk digunakan pada kondisi lereng berteras. Alat ini memiliki
kekuatan di luar kemampuan traktor crawler yang konvensional.
Biaya penggunaannya yang cukup tinggi sebagian diimbangi
dengan kemampuan produksinya.
Dengan kemampuannya
memberi hasil sebanyak 11 ton, alat ini dapat menggantilkan 17
traktor crawler.
Penggunaannya dapat diterima di Serawak di mana harga kayu
balok ditetapkan oleh pasar internasional, berbeda dengan pasar
di Indonesia di mana harga kayu balok kurang lebih sedikit di atas
separuh harga kayu balok
di Malaysia.
Namun,
harga
kayu
balok di Indonesia telah
meningkat secara drastis.
Mungkin sudah waktunya
untuk mempertimbangkan
kembali pilihan kegiatan
pembalakan yang efi sien
dan
berdampak
sangat
rendah ini.
Tropical Forest Foundation
BAB IV
Alat
jenis
Thundebird
TTY – 70 skyline yarder
memang
biasanya
dihubungkan
dengan
kegiatan pembalakan kabel
yang dilakukan di kawasan
barat daya Amerika dan
Canada sehingga memang
akan terlihat sedikit ganjil
bila digunakan di hutan Foto 12 : Thundebird TTY-70 skyline yarder,
Dipterocarp,
Kalimantan memang biasanya dihubungkan dengan kegiatan
Timur.
Namun demikian pembalakan di kawasan Amerika dan Canada..
33
Peran Teknologi dan
Keahlian
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
PT Sumalindo menggunakan alat tersebut pada kawasannya di
mana bentang alamnya berbukit dan ternyata cukup berhasil
karena alat tersebut dapat mengakses lereng yang sangat curam
sehingga tidak perlu menerapkan kegiatan pembalakan traktor
yang cenderung merusak.
Namun demikian, memilih untuk menggunakan alat ini bukanlah
sesuatu hal yang dapat dipertimbangkan secara sepintas lalu
karena membutukan cukup banyak biaya program pelatihan
khusus serta kegiatan perencanaan yang khusus.
Alat Rimbaka Timber Harvester merupakan inovasi setempat yang
mampu melaksanakan kegiatan pembalakan berdampak rendah
secara efektif.
Alat ini merupakan ekskavator yang dimodifikasi dan merupakan
hasil kerja sama antara perusahaan Malaysia dengan Hyundai,
Korea. Lengan ekskavator Hyundai 320 ini diganti dengan sebuah
tiang yang didukung dengan lengan ekskavator yang lebih kecil
untuk memberi dukungan pada mesin saat melakukan winching
dan juga bisa digunakan untuk mengangkat balok kayu serta
melakukan ekskavasi jalan sarad.
BAB IV
Sebuah drum yang diletakkan di sebelah tiang memungkinkan
dilakukannya winching pada berbagai macam bentuk kelerengan
dari ke dua sisi jalan sarad.
34
Harga
beli
serta
kapasitas
produksi
mesin
ini
setara
dengan Caterpillar D7G. Sedangkan masalah
dampak
tidak
ada
bandingnya. Rimbaka
Timber
Harvester
dapat
melakukan
winching balok kayu
di berbagai bentuk
kelerengan
dan
meninggalkan hutan
dalam keadaan yang
cukup
baik.
Suatu
alternative yang perlu Foto 13 : Alat Rimbaka Timber Harvester
dipertimbangkan!!
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Peran Teknologi dan
Keahlian
Penampilan
memang
ada
kalanya
bisa
mengelabui.
Alat ini
bukanlah traktor crawler
yang biasa. Caterpillar
527
Track
Skidder
mewakili perancangan
ulang
dari
bulldozer
standar.
Dibangun di atas chasis
D-5
dengan
pusat
gravitasi yang diposisi
Foto 14 : Penampilan bisa mengelabui. Alat ini
ulang, alat ini memiliki
bukanlah traktor crawler yang biasa. Caterpillar
kekuatan setara dengan
527 Track Skidder
D-6
dan
kapasitas
winching dan penarikan tidak begitu beda jauh dengan D-7.
Beratnya yang lebih ringan, konfigurasi idler yang lebih tinggi,
serta mobilitas yang lebih baik memungkinkan alat ini memiliki
kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan alat caterpillar D7G pada waktu melakukan penyaradan. Dirancang khusus untuk
menarik, alat ini merupakan alat penyarad berdampak rendah
yang sangat sesuai untuk digunakan pada topografi kelerengan,
lapisan tanah serta kondisi kayu di Asia Tenggara.
Alat ini banyak digunakan di Serawak dan Sabah, namun hanya
sedikit digunakan di kawasan pembalakan di Indonesia, karena
persaingan harga dan lebih banyak digunakannya D7-G.
Untuk seorang manajer yang menginginkan produktivitas tinggi,
mesin pembalakan yang dapat mengurangi dampak merupakan
pilihan yang perlu dipertimbangkan.
Alat penyarad dengan ban karet merupakan alat yang banyak
digunakan pada industri pembalakan di Amerika Selatan dan
Afrika, namun hanya sedikit sekali penggunaannya di Asia
Tenggara.
Tropical Forest Foundation
BAB IV
Alat ini merupakan mesin pembalakan yang gerakannya lebih
cepat dan lebih produktif dibandingkan traktor crawler, tapi
penggunaannya di Asia Tenggara sangat terbatas karena
curamnya kondisi lahan serta jenis tanah liat yang terdapat di
kawasan tersebut.
35
Peran Teknologi dan
Keahlian
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Foto 15 : Alat
penyaradan dengan ban
karet.
Apabila areal konsesi Anda memiliki kelerengan yang sesuai, maka
alat ini merupakan pilihan yang perlu dipertimbangkan karena
relatif murah, memiliki dampak rendah serta produktivitas yang
tinggi.
4.1.2 Alat yang Tepat
Seringkali, hal-hal kecil memberi
perbedaan yang besar. Para
manajer harus memiliki sikap
terbuka terhadap berbagai saran
teknis yang diajukan oleh staf
mereka yang dapat membuat
perbedaan
dalam
mencapai
efi siensi atau dampak yang lebih
rendah.
BAB IV
Dapat berupa penggunaan pita
survei, gergaji rantai model baru
dengan alat anti getar, mesin
pembuat lembar biru (blue print
machine) di bagian produksi, atau
sesuatu yang sangat sederhana
seperti menebang / memotong
tumbuhan liar.
36
Foto 16 : Pengunaan baji; adalah
Banyak cara yang dapat dilakukan cara sederhana tapi efektip dalam
untuk mencapai tujuan RIL, dan memperbaiki arah rebah.
memiliki alat yang tepat akan
sangat membantu pencapaiannya!
Tropical Forest Foundation
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Sebagian besar adalah menge n a i k e a h l i a n
Memang banyak pilihan teknis untuk menggantikan traktor crawler
yang konvensional, berdampak tinggi, akan tetapi hal ini memang
membutuhkan keputusan investasi yang cukup berat.
Peran Teknologi dan
Keahlian
4 .2
Usaha untuk menurunkan dampak pembalakan memang dapat
dilakukan melalui berbagai teknik yang sudah diperbarui. Bahkan
Rimbaka yang berdampak rendah atau alat penyarad 527 tidak
akan menghasilkan perbedaan bila tidak digunakan secara
tepat.
Dan, melalui cara yang sama, kinerja traktor crawler yang
tradisional juga dapat diperbaiki guna meningkatkan produktivitas
dan menurunkan dampak dengan jalan menerapkan teknik RIL.
Informasi, perencanaan yang lebih baik, serta pengendalian
kegiatan operasional yang lebih ketat merupakan teknik sederhana
yang dapat memberi dividen yang cukup banyak pada investasi
yang minimal.
Memang pada akhirnya semua itu bergantung pada manajer untuk
mengusahakan tercapainya tujuan RIL dengan menggunakan
teknik-teknik yang sudah diperbaiki.
Hal ini dapat dilakukan melalui:
• memberikan dukungan atas prakarsa individual.
• menjalankan sistem manajemen yang memastikan terciptanya
sinergi untuk perbaikan.
• mempromosikan program pelatihan serta peningkatan
ketrampilan para pekerja.
• memberi dukungan terhadap perubahan teknis, inovasi, dan,
• mendorong dilakukannya percobaan serta riset operasional.
Bila sampai pada peran teknologi yang digunakan untuk
menerapkan RIL, maka sebenarnya yang dibicarakan adalah
mengenai tekniknya.
BAB IV
Tropical Forest Foundation
37
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
LAMPIRAN I
Contoh Prosedur
Standar Oper asional (SOP)
Prosedur Standar Operasional (SOP) dapat dikatakan sebagai
petunjuk kerja tapi sebenarnya lebih dari itu. SOP yang baik
harus mampu menjelaskan lingkup dari pekerjaan atau tugas
yang akan dilakukan. SOP juga harus dapat menjelaskan tujuan
yang ingin dicapai dan dapat menunjukkan hubungan antara suatu
tugas dengan fungsi sebelum dan sesudahnya dalam keseluruhan
proses produksi.
Sistem SOP merupakan kerangka kerja yang sangat berguna
untuk memperkuat kendali sistem manajemen dan arah proses
produksi. Perumusan kerangka kerja adalah tanggung jawab
manajemen dan merupakan urusan internal perusahaan.
Lampiran I
TFF menyampaikan beberapa contoh SOP dalam lampiran ini
guna membantu para manajer mengembangkan sistem SOP
mereka. Tabel berikut memberikan ringkasan perumusan serta
pelaksanaan sistem SOP yang mencakup:
38
1.
Nomor dokumen: sejumlah nomor yang ditentukan untuk
beberapa fungsi yang serupa pada sistem manajemen atau
proses produksi. Dalam tabel ini, nomor 0-9 untuk fungsi
pekerjaan yang berkaitan dengan Administrasi; nomor 10
-19 untuk fungsi pekerjaan yang yang berkaitan dengan
Perencanaan sistem Manajemen serta Kebijakaan; nomor
20 – 29 untuk hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan
kegiatan operasional, dan seterusnya.
2.
Kerangka kerja SOP serta Judulnya mengidentifikasikan
bagian umum atau fungsi-fungsi departemen serta petunjuk
kerja masing-masing staf.
3.
Kolom Deskripsi dan pandangan/pendapat menjelaskan
secara singkat mengenai bagian umum atau masing-masing
SOP.
Tropical Forest Foundation
Memang mudah untuk terbawa arus saat mengembangkan
kerangka kerja SOP. Kegiatan umumnya diawali dengan
membuat konsep dari sistem secara menyeluruh serta metode
pelaksanaannya.
Setelah itu baru mengembangkan masingmasing SOP yang dimulai dengan merumuskan petunjuk kerja
yang memang sangat memerlukan penjelasan.
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Apabila tujuannya adalah untuk mengimplementasi RIL, maka
sebagai awalnya adalah merumuskan SOP untuk pekerjaan
pokok yang dianggap baru dalam kegiatan operasional dan yang
dianggap masih memerlukan perubahan atau penjelasan yang
lebih mendalam.
Dalam table berikut contoh SOP dalam fungsi pekerjaan diberi
warna biru. Perhatikan bahwa dalam masing-masing SOP, yang
berwarna biru merupakan bagian editorial dan bukan merupakan
bagian dari SOP.
Struktur SOP yang digambarkan dalam table berikut serta isi dari
contoh SOP hanyalah merupakan saran saja. Setiap perusahaan
harus mampu mengembangkan SOP yang secara tepat
merefleksikankan sistem manajemen dan operasioanal mereka.
SOP merupakan dokumen yang berkembang. SOP tidak dibuat dari
batu sehingga bilamana perlu dapat direvisi dari waktu ke waktu.
Perumusan sistem SOP harus mempertimbangkan kenyataan ini.
Gambar 1 : Anda bisa membuat SOP
untuk meruncingkan pensil. Tetapi
apakah itu berguna ?!!
Tropical Forest Foundation
Lampiran I
Sistem SOP tidak akan bermanfat bagi siapapun apabila tidak
diterapkan. Para penyelia harus benar-benar menguasai SOP
pekerjaan yang berada dalam jurisdiksi mereka. Setiap pegawai
juga harus memahami tanggung jawab mereka sebagaimana
yang
telah
dijelaskan
dalam SOP yang mencakup
deskripsi pekerjaan mereka.
Manajemen
harus
dapat
memastikan bahwa sistem
SOP telah disosialisasikan
guna menjamin efektifi tasnya
secara maksimal.
39
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Tabel 3 :
No.
0-9
Kerangka Kerja SOP dan Judul
Deskripsi dan ulasan
Administrasi
Selurruh kegiatan administrasi;
10-19
Perencanaan, manajemen dan
kebijakaan perusahaan
Inventarisasi intensitas rendah; rencana 20 tahun dan 5
tahunan; kebijakan lingkungan; kebijakan tentang spesies
langka;
20-29
Perencanaan kegiatan
Pemetaan potensi pohon (100% inventory); pemetaan kontur; perencanaan blok; penandaan tapal batas; dan survai,
dll.
20
Inventarisasi hutan (100%) dan
penandaan pohon
Mengorganisasi persyaratan yang ada kedalam format SOP
standar; cross-reference dengan prosedur serta petunjuk
pemerintah yang ada; menambah perbaikan yang berkaitan
dengan persyaratan penambahan data
21
Pembuatan peta kontur
Memberi dukungan 100% terhadap SOP Inventarisasi yang
berkaitan dengan pengumpulan data dan pemetaan
22
Pengelolaan Wilayah Khusus
Zona Riparian; lereng yang curam; kawasan penyangga;
spesies yang dilindungi.dll
24
Mempersiapkan rencana pembalakkan
Merencanakan petak yang mencakup pertimbangan tentang keadaan lingkungan, operasional ; pemanfaatan peta
kontur dan peta lain.
25
Lokasi jalan sarad dan Tpn
30-39
Jalan hutan
Merencanakan jaringan jalan; lokasi jalan; survai dan design; pembangunan jalan; pemeliharaan jalan; menon-aktifkan jalan;
32
Lokasi
jalan,
pemetaan
34
Pembangunan jalan utama
35
Penyelamatan
pohon-pohon
yang lokasinya terarah.
36
Pemeliharaan jalan utama
37
Tindakan pencegahan terjadinya
erosi
39
Menon-aktifkan jalan utama
40-49
Lampiran I
Usulan kerangka kerja SOP yang mencakup administrasi kehutanan,
perencanaan serta pelaksanaannya.
survai
dan
Kegiatan pemanenan
40
Pembangunan jalan sarad dan
TPn
41
Standar pemanfaatan
Konstruksi jalan sarad dan TPn; penebangan dan bucking;
kebijakan pemanfaatan; pemanenan;
BIRU manandakan kategori secara luas yang mengindikasikan sistem SOP yang harus
MERAH mengindikasikan bahwa masing-masing SOP akan dikembangkan menjadi prioritas utama oleh
TFF
Entri secara numeric menjukkan sistem penomoran yang sistematis dari SOP.
40
Tropical Forest Foundation
No.
Kerangka Kerja SOP dan Judul
42
Penebangan dan Bucking
43
Kegiatan penebangan
44
Mempersipakan balok kayu serta
pemahatan
45
Penandaan balok kayu dan administrasinya
46
Menon-aktifkan jalan sarad dan
TPn
50-59
Pemantauan dan Evaluasi
Membuat penilaian tentang petak, pengajuan laporan,
pemetaan; survai paska pemanenan;
51
Pengawasa dan pengendalian
saat penebangan
52
Penilaian blok penebangan
60-69
Kegiatan
silvikultur
penebangan
70-79
Kesehatan
pegawai
80-89
Hubungan dengan masyarakat
dan
Deskripsi dan ulasan
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
paska
Pembibitan hutan; kebijakan dan praktik penanaman; pemeliharaan tegakan; plot percontohan
keselamatan
BIRU manandakan kategori secara luas yang mengindikasikan sistem SOP yang harus
MERAH mengindikasikan bahwa masing-masing SOP akan dikembangkan menjadi prioritas utama oleh
TFF
Entri secara numeric menjukkan sistem penomoran yang sistematis dari SOP.
Lampiran I
Tropical Forest Foundation
41
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
SOP # 22
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.specialV-2.0
1.
Version 2.0
PENGELOLAAN WILAYAH KHUSUS
No. Hal. 1
LINGKUP
Areal yang membutuhkan pengelolaan khusus mencakup areal
yang memiliki nilai-nilai lingkungan dan sosial bagi penduduk
setempat sehingga membutuhkan pertimbangan khusus saat
melakukan perencanaan dan kegiatan pemanenan. Hal ini
mungkin mencakup peniadaan kegiatan atau pembatasan
kegiatan pembalakaan di dalam areal pengelolaan khusus.
Areal dengan pengelolaan khusus ini mencakup:
•
•
•
•
2.
Areal dengan kelerengan yang curam
Zona penyangga sungai
Areal yang letaknya bersebelahan dengan kawasan
pemukiman atau areal peladangan desa
Situs yang dilindungi atau yang memiliki nilai sosial yang
signifikan bagi penduduk setempat.
TUJUAN
2.1 Mentaati petunjuk serta peraturan nasional yang mengatur
perlindungan lingkungan serta pelestarian spesies pohon
yang dilindungi.
2.2 Mengurangi risiko erosi pada lereng yang curam.
Lampiran I
2.3 Mengurangi risiko sedimentasi pada sistem jaringan sungai
dalam hutan.
42
2.4 Mengurangi risiko terjadinya konflik sosial dengan jalan
melindungi nilai-nilai yang dianggap signifikan oleh penduduk
setempat, juga dengan jalan mengurangi dampak terhadap
nilai-nilai lingkungan yang dianggap dapat mempengaruhi
kehidupan penduduk setempat.
3.
KEPUSTAKAAN
•
TPTI Guidelines
BPHH/1993
Tropical Forest Foundation
/
Pedoman
TPTI,
151/KPTS/IV-
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.specialV-2.0
•
•
•
4.
PENGELOLAAN WILAYAH KHUSUS
SOP # 22
Version 2.0
No. Hal. 2
Principles and Practices for Forest Harvesting in
Indonesia”
“Pertimbangan
dalam
Merencanakan
Pembalakan
Berdampak Rendah” (TFF technical procedures manual)
SOP # 70+ Hubungan dengan Mesyarakat
SOP # 24 Persiapan Perencanaan Pembalakan
SOP # 42 Penebangan dan pembagian batang
SOP # 40 Jalan Sarad dan TPN
SOP # 20 Inventarisasi dan Penandaan Pohon
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
PROSEDUR
4.1 Lereng Curam:
4.1.1 Di areal yang curam tidak akan dilakukan pembalakan
ground-base bila derajat kemiringannya secara kontinu
>50% untuk jarak 100 m atau lebih.
4.1.2 Tidak diperkenankan membangun jalan sarad pada
lereng dengan kemiringan >50% kecuali bila tidak dapat
dihindari yaitu misalnya pada saat hendak mencapai
areal dengan kelerengan yang tidak curam yang cocok
untuk melakukan pemanenan dengan ground-based.
4.1.3 Penebangan dapat dilakukan pada areal dengan
kemiringan >50% asalkan setelah penebangan
dilakukan balok kayu dapat ditarik keluar dari areal
yang curam.
4.2 Zona Penyangga Sungai:
4.2.2 Klasifikasi sungai biasanya dilakukan berdasarkan ratarata lebar sungai pada saat air pasang. Sungai akan
dilindungi dengan zona penyangga sebagai berikut:
Tropical Forest Foundation
Lampiran I
4.2.1 Secara jelas sungai diartikan sebagai wadah yang
sedikitnya memiliki aliran air selama 2bulan per tahun,
Anak sungai biasanya memiliki ciri-ciri seperti terdapat
bebatuan, kerikil, atau lapisan tanah yang mengandung
mineral dan dilengkapi dengan saluran yang jelas.
43
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
PENGELOLAAN WILAYAH KHUSUS
TFF.specialV-2.0
SOP # 22
Version 2.0
No. Hal. 3
Kelas
Lebar Sungai
Penyangga sungai (Kiri & Kanan)
1
10 meter / lebih
50 meter
2
5-10 meter
25 meter
3
< 5 meter
10 meter
4.2.3 Zona penyangga untuk Sungai Kelas 1 dan 2 akan
ditandai di lapangan dengan memberi cat atau pita
survai pada pohon. Pohon yang telah ditandai dengan
cat atau pita survai akan terlihat dari jauh. Tanda cat
harus menghadap ke areal pembalakan.
4.2.4 Zona penyangga di sepanjang sungai kelas 3 tidak perlu
diberi tanda di lapangan, namun hambatan-hambatan
yang mungkin terjadi perlu diamati untuk digunakan
saat membuat perencanaan dan pada saat melakukan
pembalakan.
4.2.5 Zona penyangga 100 m akan tetap dipertahankan dan
diberi tanda secara jelas di sekeliling danau, pesisir
pantai, atau areal rawa yang ditumbuhi bakau.
4.2.6 Zona penyangga 50 m akan tetap dipertahankan dan
diberi tanda secara jelas di lapangan, di sekitar mata
air.
Lampiran I
4.2.7 Di daerah penyangga tidak diperkenankan ada jalan
sarad kecuali di tempat perlintasan sungai yang sudah
ditetapkan sebelumnya dan yang seperti dalam rencana
pembalakan sesuai dengan lokasinya di lapangan.
4.2.8 Di tempat-tempat di mana perlintasan sungai tidak
dapat dihindari, sudah termasuk dalam perencanaan,
dan sudah melalui peninjauan lapangan, maka perhatian
benar-benar perlu dilakukan saat mempersiapkan areal
perlintasan sungai seperti yang dijelaskan dalam SOP
# 40 sehubungan dengan pembangunan jalan sarad
dan tempat penyimpanan balok kayu / TPN.
4.2.9 Penebangan pohon-pohon di daerah penyangga dapat
44
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.specialV-2.0
PENGELOLAAN WILAYAH KHUSUS
SOP # 22
Version 2.0
No. Hal. 4
dilakukan asalkan hasil penebangan tersebut tidak
jatuh ke dalam sungai, menutupi saluran sungai atau
bila kayu-kayu tersebut dapat di”winch” keluar dari
daerah penyangga.
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
4.3 Zona Penyangga Desa:
4.3.1 Zona penyangga akan ditetapkan di areal desa serta
ladang tradisional yang berlokasi di sekitar hutan.
4.3.2 Areal tapal batas desa atau ladang desa ini akan
ditetapkan melalui negosiasi dengan para wakil desa
yang resmi dan akan dilakukan sesuai dengan prosedur
yang dijelaskan dalam SOP #70+ mengenai Resolusi
Konflik.
4.3.3 Penetapan tapal batas areal ladang tradisional serta
pemberian tanda akan dilakukan bersama para wakil
perusahaan dan desa.
4.3.4 Penetapan semua tapal batas desa akan dilakuakn
melalui survai dan akan ditampilkan dalam semua peta
perusahaan.
4.3.5 Di daerah penyangga desa tidak diperkenankan
dilakukan kegiatan pembalakan kecuali memperoleh
persetujuan secara tertulis dari pihak yang berwenang
di desa sebagaimana dijelaskan dalam SOP #70+
mengenai Resolusi Konflik.
4.4 Situs dengan nilai budaya khusus:
4.4.2 Dalam kegiatan inventarisasi 100% yang dilakukan
dua tahun sebelum pemanenan, tim inventarisasi
akan mencatat semua tempat-tempat khusus (seperti
Tropical Forest Foundation
Lampiran I
4.4.1 Situs pemakaman, tempat yang dianggap keramat atau
situs lain yang memiliki nilai budaya atau religius akan
diidentifikasikan dan dilindungi.
45
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.specialV-2.0
PENGELOLAAN WILAYAH KHUSUS
SOP # 22
Version 2.0
No. Hal. 5
tempat pemakaman, tempat keramat, pohon-pohon
yang memiliki nilai budaya tertentu) yang ditemukan
dalam survai mereka. Tempat-tempat khusus ini akan
ditampilkan dalam peta kontur serta peta posisi pohon
yang disiapkan untuk setiap petak sesuai dengan
prosedur yang diberikan dalam SOP # 20.
4.4.3 Perusahaan akan melibatkan masyarakat setempat
dalam menetapkan zona penyangga yang tepat atau
menetapkan perlindungan yang sesuai bagi situs-situs
yang memiliki nilai budaya yang signifikan yang telah
ditemukan dalam areal penebangan tahunan.
4.4.4 Penandaan Zona ekslusif akan diberikan pada situssitus yang memiliki nilai budaya yang signifikan
sebagaimana yang telah didiskusikan dan disetujui
besama masyarakat setempat. Zona eksklusif ini juga
akan ditampilkan dalam rencana RIL (Pembalakan
berdampak rendah) dan peta operasional.
4.5 Spesies pohon yang Dilindungi:
4.5.1 Berikut ini adalah spesies yang tidak diikutsertakan
dalam pemanenan komersial sebagaimana yang telah
ditetapkan dalam SK Menteri Kahutanan, namun
demikian spesies ini dapat dipanen untuk konsumsi
lokal melalui izin khusus.
Lampiran I
• Ulin (Eusideroxylon zwagery)
• Pulai (Alstonia scholaris)
• Jelutung (Dyera costulata)
46
(Kemungkinan ada tambahan spesies dalam daftar ini.
diketahui melalui peraturan daerah yang berlaku)
Dapat
4.5.2 Sehubungan dengan hak adat masyarakat setempat,
pohon-pohon yang menghasilkan buah seperti durian
dan Tengkawang tidak akan ditebang. Pohon Sialang
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.specialV-2.0
PENGELOLAAN WILAYAH KHUSUS
SOP # 22
Version 2.0
No. Hal. 6
(pohon-pohon di mana terdapat sarang lebah) juga
tidak boleh ditebang.
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
4.5.3 Spesies yang dilindungi akan diberi tanda, dicatat
dan dipetakan sebagaimana dijelaskan dalam SOP
#20 sehubungan dengan Inventarisasi dan Pemberian
tanda pada pohon.
4.5.4 Situs-situs yang berwawasan ekologis seperti habitat
rawa, gua, pohon-pohon tempat pembiakan, dll
sedapat mungkin akan diidentifikasikan pada saat
dilakukan inventarisasi 100% dan ditampilkan dalam
peta perencanaan RIL dan peta operasional. Setelah
situs-situs tersebut berhasil diidentifikasikan saat
inventarisasi dilaksanakan, informasi yang diperoleh
akan dimasukkan kedalam peta perencanaan RIL dan
disertakan dalam proses perencanaan RIL.
Lampiran I
Gambar 22-1 : Batasan Pembalakan
Tropical Forest Foundation
47
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.specialV-2.0
1.
PERENCANAAN PEMBALAKAN
SOP # 24
Version 2.0
No. Hal. 1
LINGKUP
Rencana pembalakan yang rinci akan dilakukan berdasarkan
petak demi petak dalam seluruh areal operasional (RKT).
Tingkat perencanaan ini ditujukan untuk mengarahkan kegiatan
pembalakan dan akan memanfaatkan informasi berikut guna
memfasilitasikan proses perencanaan:
•
•
•
•
2.
Peta posisi pohon
Peta Kontur
Prosedur Standar Operasional (sebagaimana diuraikan
dalam SOP # 22 tentang Pengelolaan Wilayah Khusus).
Standar Lingkungan (sebagaimana didefinisikan dalam
SOP #22 tentang Pengelolaan Wilayah Khusus).
TUJUAN
Tujuan rencana pembalakan adalah memberi petunjuk yang rinci
dan mudah dimengerti sehubungan dengan kegiatan pembalakan.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan efi siensi kegiatan
pembalakan, meningkatkan tahap pemulihan paska penebangan
dan memastikan minimisasi dampak lingkungan.
Rencana pembalakan yang rinci ditujukan untuk menambah
informasi pada rencana Karya Tahunan (RKT). Tujuan khusus
dari rencana pembalakan adalah:
Lampiran I
i)
48
Mendefinisikan batas kegiatan operasional yang berkaitan
dengan petunjuk mengenai hambatan lingkungan dan
sosial seperti yang dikemukakan dalam SOP #22 mengenai
Pengelolaan Wilayah Khusus.
ii) Mendefinisikan jaringan ekstraksi maksimum dalam batas
hambatan operasional guna mengoptimalkan efi siensi
kegiatan pemanenan.
iii) Memberikan patokan yang jelas agar seluruh kegiatan
lapangan dan pemanenan dapat dikelola dan dipantau.
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.specialV-2.0
3.
No. Hal. 2
DAFTAR KEPUSTAKAAN
•
•
•
•
•
4.
PERENCANAAN PEMBALAKAN
SOP # 24
Version 2.0
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
TPTI Guidelines / Pedoman TPTI, 151/KPTS/IVBPHH/1993
“Prinsip dan Praktik Pemanenan Hutan di Indonesia”
Reduced Impact Logging Guidelines for Indonesia /
Pedoman Reduced Impact Logging Indonesia (CIFOR
2001: Elias, Applegate, Kartawinata, Machfudh, Klassen)
“Pertimbangan
dalam
Merencanakan
Pembalakan
Berdampak Rendah” (TFF technical procedures manual)
SOP #22 Pengelolaan Wilayah Khusus
PROSEDUR
4.1 Tanggungjawab:
4.1.1 Mempersiapkan rencana pembalakan yang rinci
merupakan tanggung jawab Staf yang ditunjuk dalam
Bidang Perencanaan.
4.1.2 Rencana petak yang rinci harus memperoleh
persetujuan Kepala Bidang Perencanaan dan Kepala
Bidang Produksi.
4.2 Pemetaan:
4.2.1 Rencana petak yang rinci akan ditambahkan pada peta
kontur dan posisi pohon yang memiliki skala operasional
yang dibuat sebagai hasil dari inventarisasi 100% (lihat
SOP # 20 tentang Kegiatan Inventarisasi (100%) dan
Pemetaan Pohon, di samping itu juga SOP # 21 untuk
Pembuatan Peta Kontur dan Posisi Pohon).
Tropical Forest Foundation
Lampiran I
4.2.2 Lembar peta rencana operasional yang rinci yang telah
disetujui akan disediakan bagi para penyelia produksi,
para mandor yang bertanggung jawab atas berbagai
kegiatan pemanenan, untuk ditempatkan pada setiap
petak penebangan, dan diberikan kepada setiap
49
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
SOP # 24
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
Version 2.0
PERENCANAAN PEMBALAKAN
TFF.specialV-2.0
No. Hal. 3
penebang dan operator traktor (lihat contoh peta,
Gambar 24-1).
4.3 Pertimbangan
Operasional
mengenai
perencanaan
-
Hambatan
Perencanaan jalan sarad dan tempat penimbunan balok kayu
/ TPN akan dilakukan dengan mempertimbangkan hambatan
operasional yang mungkin terjadi seperti:
-
Jalan sarad harus direncanakan sesuai dengan kondisi
kecuraman:
Jalan sarad yang baik (Menuruni bukit menuju tempat penyimpanan kayu)
35 %
Tanah liat
45 %
Tanah berbatu
Lampiran I
Jalan Sarad yang tidak baik (naik bukit menuju tempat penyimpanan kayu)
50
30 %
Tanah liat
35 %
Tanah berbatu
-
Bilamana mungkin, jalan sarad harus berlokasi di atas
punggung bukit dengan kelerengan yang tidak terlalu
curam.
-
Rencana yang dibuat harus mampu mengurangi
jarak penyaradan dalam batas yang telah ditetapkan
berdasarkan pertimbangan lingkungan yang dijelaskan
pada bagian 4.4 dari SOP ini.
-
Penetapan lokasi penyimpanan kayu / TPK harus
direncanakan pada lokasi yang memiliki kelerengan yang
tidak terlalu curam atau yang berlokasi di atas punggung
bukit sehingga memungkinkan drainase yang baik.
4.4 Pertimbangan Perencanaan - Hambatan lingkungan
Pertimbangan lingkungan yang perlu diperhatikan saat
membuat rencana pembalakan yang rinci mencakup semua
Tropical Forest Foundation
SOP # 24
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.specialV-2.0
Version 2.0
PERENCANAAN PEMBALAKAN
No. Hal. 4
hambatan lingkungan yang berhasil diidentifikasikan dalam
SOP # 22 tentang pengelolaan wilayah khusus dan hal ini
mencakup hal berikut:
-
Sebaiknya jalan sarad tidak melintasi aliran sungai, kecuali
bila memang tidak dapat dihindari, Apabila memang
harus melintasi aliran sungai, maka perlu diperhatikan
agar pemilihan lintasan aliran sungai pada peta haruslah
aliran yang menunjukkan kelerengan yang tidak curam.
Rencana pelintasan aliran sungai harus dikonfirmasikan
di lapangan.
-
Di zona penyangga riparian, sebaiknya tidak dibangun
jalan sarad kecuali bila memang dibutuhkan untuk
menyeberangi sungai.
-
Pada lereng dengan kemiringan > 50% sebaiknya tidak
dibangun jalan sarad kecuali memang diperlukan untuk
mengakses areal dengan kemiringan yang tidak begitu
curam.
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
4.5 Mempersiapkan perencanaan:
Rencana pembalakan yang rinci akan dipersiapkan sesuai
dengan prinsip dan petunjuk yang diberikan dalam manual,
“Pertimbangan dalam Merencanakan Pembalakan Berdampak
Rendah”. Rencana pembalakan yang rinci ini akan dibuat
berdasarkan peta kontur dan posisi pohon yang memiliki
skala operasional. Persiapan dalam membuat rencana ini
akan mencakup langkah-langkah berikut:
2. Mengidentifikasi
beberapa
penyimpanan balok kayu / TPK.
3. Mengidentifikasi
sub-petak
kemungkinan
berdasarkan
batas
lokasi
Lampiran I
1. Memastikan bahwa peta yang digunakan dalam menyusun
perencanaan memiliki semua informasi yang dibutuhkan
termasuk semua jalan utama yang ada maupun yang
sedang direncanakan pembangunannya.
alami
Tropical Forest Foundation
51
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.specialV-2.0
PERENCANAAN PEMBALAKAN
SOP # 24
Version 2.0
No. Hal. 5
(sungai) dan lokasi tempat penyimpanan balok kayu
(TPk). Batas dari sub-petak ini harus sesuai dengan
batas penyaradan.
4. Dalam peta kontur memberi tanda pada semua wilayah
yang memiliki kemiringan lebih dari 50%.
5. Memberi tanda pada semua zona penyangga riparian
6. Memberi tanda pada posisi semua pohon yang memiliki
potensi komersial
7.
Memproyeksikan
jaringan
jalan
sarad
yang
mempertimbangkan hambatan dalam perencanaan
operasional dan lingkungan sebagaimana yang telah
didefinisikan di atas.
4.6 Rencana Tertulis:
Untuk setiap petak akan disiapkan satu rencana tertulis.
Rencana tertulis ini dibuat berdasarkan peta rencana
pembalakan yang menunjukkan bagaimana petak akan
dibagi menjadi unit-unit operasional atau sub-petak, dengan
menggunakan batas alam atau pembatasan kegiatan
pembalakan berdasarkan pertimbangan topografi s (Lihat
contoh peta, Gambar 24-1).
Lampiran I
Rencana tertulis ini akan memuat ringkasan table tentang
sub-petak dan akan menunjukkan areal yang akan ditebang
(dalam hektar), jumlah pohon potensial berdasarkan spesies
serta volume yang akan ditebang berdasarkan spesies.
52
Rencana tertulis ini juga akan memuat informasi tentang areal
yang terdapat dalam peta, yang membutuhkan perhatian
atau perlindungan khusus seperti kawasan yang memiliki
nilai budaya khusus, nilai ekologis, informasi tentang spesies
yang dilindungi, dll.
Rencana tertulis ini juga akan mengidentifikasikan staf yang
bertanggung jawab untuk mengimplementasi, mensupervisi,
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.specialV-2.0
PERENCANAAN PEMBALAKAN
SOP # 24
Version 2.0
No. Hal. 6
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Lampiran I
Gambar 24-1 : Contoh Perencanaan Pembalakan
Tropical Forest Foundation
53
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Skid-TPN / V-2.0
1.
PENETAPAN LOKASI JALAN SARAD
DAN TPN
SOP # 25
Version 2.0
No. Hal. 1
LINGKUP
Petunjuk ini menjelaskan lokasi dari semua tempat penimbunan
kayu, jalan sarad dan memberikan standar serta prosedur dasar
dari kegiatan-kegiatan tersebut.
2.
TUJUAN
2.1 Menempatkan tempat penimbunan kayu sedemikian rupa
sehingga mampu meminimalkan hilangya area hutan produktif
dan tetap dapat memberikan lingkungan kerja yang efi sien
serta aman saat memuat kayu balok.
2.2 Memandu penetapan lokasi jalan sarad agar dapat
mengoptimalkan jarak penyaradan dan menetapkan jaringan
jalan sarad yang dapat mengurangi masalah dampak dari
penebangan.
Lampiran I
2.3 Menempatkan lokasi jalan sarad melalui cara yang dapat
mengurangi dampak dari proses penebangan pada tegakan
sisa, pada lapisan tanah, dan pada hidrologi hutan.
3.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
• “Principles and Practices for Forest Harvesting in
Indonesia”
• TPTI Guidelines / Pedoman TPTI, 151/KPTS/IVBPHH/1993
• Reduced Impact Logging Guidelines for Indonesia (CIFOR
2001: Elias, Applegate, Kuswata, Machfudh, Klassen)
• “Pertimbangan
dalam
Merencanakan
Pembalakan
Berdampak Rendah” (TFF technical procedures manual)
• SOP #24 Persiapan Perencanaan Logging
4.
PROSEDUR
4.1 Tempat Penimbunan Kayu (TPN)
4.1.1 TPN akan dibuat di luar areal di mana tidak akan
54
Tropical Forest Foundation
SOP # 25
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Skid-TPN / V-2.0
Version 2.0
PENETAPAN LOKASI JALAN SARAD
DAN TPN
No. Hal. 2
dilakukan pemanenan dan yang sedikitnya berjarak 50
meter dari tepi sungai.
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
4.1.2 Dimana memungkinkan, TPn akan dibuat di areal yang
berlokasi di atas punggung bukit dan/atau di areal
dengan kemiringan yang tidak terlalu curam dengan
drainase yang baik.
4.1.3 Lokasi TPn ditempatkan sedemikian
mengoptimalkan jarak penyaradan.
rupa
untuk
4.1.4 Bilamana diperlukan suatu TPn besar, maka luasnya
tidak boleh melebih 900 m2. Ukuran TPn biasanya
sudah mencakup areal penumpukan kayu dan areal
pekerjaan. Ukuran TPn ditentukan berdasakan jumlah
balok kayu yang diperkirakan akan disarad menuju
TPn tersebut. Informasi ini dapat diperoleh melalui
peta kontur serta peta posisi pohon setelah membuat
rencana jalan sarad.
4.1.5 Pembangunan TPn akan dilakukan dengan hati-hati
agar tidak merusak pohon-pohon yang terdapat di
sekitarnya, juga utk memastikan adanya drainase yang
baik.
4.2 Menentukan Lokasi Jalan Sarad
4.2.1 Jalan sarad akan ditempatkan serta diberi tanda oleh
staf Bagian Perencanaan. Jalan sarad dapat ditandai
dengan tanda plastik atau cat yang mudah diikuti oleh
operator traktor.
4.2.3 Lokasi jalan sarad akan dibuat sedemikian rupa
sehingga dapat menghindari perubahan arah yang tibaTropical Forest Foundation
Lampiran I
4.2.2 Lokasi jalan sarad akan dibuat berdasarkan rencana
pembalakan
dengan
mempertimbangkan
semua
standar operasional dan lingkungan.
55
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Skid-TPN / V-2.0
PENETAPAN LOKASI JALAN SARAD
DAN TPN
SOP # 25
Version 2.0
No. Hal. 3
tiba. Hal ini ditujukan untuk mengurangi kerusakan
sisa tegakan pohon yang letaknya berdekatan dengan
jalan sarad dan memastikan bahwa kayu balok tidak
akan tertahan pada jalan sarad yang lokasinya kurang
baik karena adanya perubahan arah jalan sarad yang
terjadi secara tiba-tiba.
4.2.4 Apabila kondisi tanah dan lereng tidak memungkinkan
implementasi rencana pembalakan, atau apabila pohon
yang terdapat dalam peta ternyata tidak memenuhi
syarat untuk ditebang, maka rencana pembalakan
dapat dimodifikasi di lapangan.
Lampiran I
4.2.5 Penempatan lokasi akhir dari jalan sarad serta TPn
akan digambarkan secara tepat pada peta rencana
pembalakan. Kopi dari peta ini harus disediakan bagi
supervisor pembalakan, mandor serta semua penebang
dan operator traktor di setiap petak penebangan.
56
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Skid-TPN / V-2.0
1.
PEMBANGUNAN JALAN SARAD DAN
TEMPAT PENIMBUNAN KAYU / TPN
SOP # 40
Version 2.0
No. Hal. 1
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
LINGKUP
Penyaradan mencakup semua kegiatan yang berkaitan dengan
pembukaan hutan sehubungan dengan persiapan kegiatan
penebanagan dan penyaradan. Dua kegiatan utama dalam SOP
ini adalah:
•
•
Persiapan pembangunan TPn.
Pembukaan jaringan jalan sarad.
Diasumsikan bahwa operator traktor hanya
sarad di lokasi yang telah ditetapkan dan
berdasarkan prosedur serta standar yang
SOP # 25 mengenai penandaan jalan Sarad
akan membuka jalan
ditandai di lapangan
dikemukakan dalam
dan Lokasi TPn.
Asumsi dasar adalah bahwa operator traktor akan mentaati
petunjuk serta standar yang jelas sehubungan dengan pembukaan
hutan yang mampu memperkecil dampak pada seluruh asas sumber
daya alam, dan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan
efi siensi produksi.
2.
TUJUAN
2.1 Membangun TPn sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi
hilangnya kawasan hutan produksi dan pada saat yang
bersamaan masih dapat memberikan lingkungan kerja yang
efi sien dan aman guna melakukan pengumpulan, penyimpanan
serta pemuatan kayu balok.
Tropical Forest Foundation
Lampiran I
2.2 Membuka lokasi jalan sarad sesuai dengan perencanaan
yang dibuat sebelum kegiatan penebangan dimulai guna
memfasilitasi kegiatan penebangan dan proses ekstraksi.
Di samping itu juga untuk mengurangi dampak pada lapisan
tanah hutan, sungai dan tegakan sisa.
57
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Skid-TPN / V-2.0
3.
No. Hal. 2
DAFTAR PUSTAKA
•
•
•
•
•
•
4.
PEMBANGUNAN JALAN SARAD DAN
TEMPAT PENIMBUNAN KAYU / TPN
SOP # 40
Version 2.0
“Principles and Practices for Forest Harvesting in
Indonesia”
TPTI Guidelines / Pedoman TPTI, 151/KPTS/IVBPHH/1993
Reduced Impact Logging Guidelines for Indonesia /
(CIFOR, 2001: Elias, Applegate, Kartawinata, Machfudh,
Klassen)
SOP #25 Penandaan jalan sarad dan TPN
“Pertimbangan
dalam
Merencanakan
Pembalakan
Berdampak Rendah” (TFF technical procedures manual).
“Pertimbangan Operasional untuk Pembalakan Berdampak
Rendah” (TFF technical procedures manual).
PROSEDUR
4.1 Tempat penimbunan kayu (TPN)
4.1.1 Seorang supervisor atau staf bagian perencanaan
akan memberi tanda pada areal TPn sebelum operator
traktor mulai melakukan kegiatan pembersihan.
4.1.2 TPn tidak akan dibangun di kawasan di mana tidak
diperkenankan dilakukan pemanenan dan sedikitnya
harus berjarak 50 m dari tepi sungai.
Lampiran I
4.1.3 Dimana dimungkinkan TPn dibangun di lokasi areal yang
terletak di atas punggung bukit dengan kelerengan
yang tidak begitu curam dan memiliki drainase yang
baik.
58
4.1.4 TPn dibangun di lokasi yang dapat meningkatkan jarak
penyaradan.
4.1.5 Ukuran TPn ditetapkan berdasarkan volume balok
kayu yang diperkirakan akan dibawa ke TPn tersebut.
Sebelum membangun TPn, harus melihat peta
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Skid-TPN / V-2.0
PEMBANGUNAN JALAN SARAD DAN
TEMPAT PENIMBUNAN KAYU / TPN
SOP # 40
Version 2.0
No. Hal. 3
perencanaan pemanenan yang menunjukan lokasi
jalan sarad serta posisi pohon.
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
4.1.6 Di mana diperlukan TPn yang besar, maka perlu
diperhatikan bahwa ukurannya tidak boleh melebihi
900m2. Ukuran TPn mencakup areal pembuangan
serta areal kerja.
4.1.7 Pembangunan TPn harus dilakukan secara hati-hati
sehingga tidak merusak pohon-pohon yang tumbuh di
sekitarnya dan juga guna memastikan adanya drainase
yang baik. Drainase sebaiknya diarahkan ke hutan
didekatnya.
4.2 Membuka jalan sarad
4.2.1 Jalan sarad akan dibuka di tempat yang telah
ditetapkan dan diberi tanda di lapangan oleh Bidang
Perencanaan.
4.2.2 Jalan sarad akan dibuka di setiap petak penebangan
sebelum kegiatan penebangan dimulai.
4.2.3 Pada saat pembukaan jalan sarad, harus diperhatikan
agar tidak terjadi kerusakan pada lapisan tanah.
Operator traktor akan menjaga mata pisau traktor
tetap di atas kecuali bila lokasi jalan sarad tersebut
memerlukan pemotongan pada bagian dengan
kelerengan yang curam.
Tropical Forest Foundation
Lampiran I
4.2.4 Operator Chainsaw/pemegang gergaji mesin sebaiknya
mengikuti operator traktor guna memotong pohonpohon tua yang mungkin akan memblokir jalan sarad
atau memotong pohon guna membuka jalan sarad
tersebut. Hal ini ditujukan untuk mengurangi kerusakan
pada pohon-pohon yang tumbuh di sekitar jalan sarad
dan memudahkan traktor menyingkirkan sisa-sisa kayu
yang berserakan.
59
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Skid-TPN / V-2.0
PEMBANGUNAN JALAN SARAD DAN
TEMPAT PENIMBUNAN KAYU / TPN
SOP # 40
Version 2.0
No. Hal. 4
Gambar 40-1 : Membuat tempat penyeberangan dari kayu log pada sungai kecil.
Lampiran I
4.2.5 Di mana perlintasan sungai tidak dapat dihindari
dan merupakan bagian dari lokasi jalan sarad yang
direncanakan, maka akan diletakkan balok kayu di
sungai guna memberi semacam landasan saat mesin
menyeberangi sungai. Pemegang gergaji mesin akan
menebang pohon dan memotongnya dengan ukuran
yang sesuai bila dianggap perlu untuk membuat
landasan penyeberangan.
60
4.2.6 Sebaiknya luas jalan sarad tidak melebihi ukuran mata
pisau yang terdapat pada traktor.
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Utility / V-2.0
1.
STANDAR PEMANFAATAN
SOP # 41
Version 2.0
No. Hal. 1
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
LINGKUP
Standar pemanfaatan mendasari kebijakan perusahaan tentang
bagian mana dari pohon yang telah ditebang akan dibawa keluar
hutan untuk digunakan pada pabrik pemrosesan kayu di hilir.
Standar pemanfaatan adalah bagian konfigurasi industri
perusahaan, sebagai akibatnya akan berbeda antara satu
perusahaan dengan perusahaan lainnya.
Standar pemanfaatan ini juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan
pemerintah sedemikian rupa sehingga perusahaan memiliki
peluang memilih jenis pohon yang akan ditebang dan seefektif
mana pohon yang sudah ditebang itu akan dimanfaatakan.
SOP ini merupakan petunjuk pengelolaan yang digunakan untuk
menetapkan kebijakan pemanfaatan perusahaan. Merupakan
kebijakan perusahaan untuk meningkatkan pemulihan volume
sisa dari pohon-pohon yang telah ditebang.
Diakui bahwa para penebang merupakan pembuat keputusan
utama dalam pengelolaan hutan. Juga diakui bagaimana seorang
penebang mengubah pohon menjadi balok kayu adalah penentu
utama yang paling penting untuk dapat melihat efektivitas
pemanfaatan pohon.
Lebih lanjut dikatakan bahwa implementasi akhir kebijakan
perusahaan tentang pemanfaatan di tingkat hutan ditentukan
oleh scaler di TPn.
2.
TUJUAN
Tropical Forest Foundation
Lampiran I
Tujuan dari SOP ini adalah untuk menjelaskam kebijakan perusahan
tentang pemanfaatan di tingkat hutan guna memastikan bahwa
semua kegiatan penebangan, pemotongan dapat mencapai
pemanfaatan maksimum sumber daya kayu bagi industri.
61
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Utility / V-2.0
3.
No. Hal. 2
DAFTAR PUSTAKA
•
•
•
•
•
•
•
•
4.
STANDAR PEMANFAATAN
SOP # 41
Version 2.0
“Principles and Practices for Forest Harvesting in
Indonesia”
“Reduced Impact Logging Guidelines for Indonesia” /
(CIFIR, 2001: Elias, Applegate, Kartawinata, Machfudh,
Klassen)
Indonesia Grading Rules
Ministry of Forests, Decree 212/KPTS/IV-PHH/90
“Technical Guidelines for Minimization and Utilization
of Logging Waste” (Pedoman Teknis Penekanan dan
Pemanfaatan Kayu Limbah Pembalokan)
“Chainsaws in Tropical Countries”, 1980, FAO Training
Series 2
“Pertimbangan Operasional untuk Pembalakan Berdampak
Rendah” (TFF technical procedures manual)
SOP #42, Penebangan dan Pemotongan
SOP #44, Persiapan dan Pengukuran
PROSEDUR
Standar pemanfaatan ini akan mengarahkan kegiatan pembalakan
perusahaan sehingga dapat mencapai pemulihan maksimum dari
pohon yang sudah ditebang dan guna menghindari penebangan
pohon yang tidak memenuhi standar pemanfaatan perusahaan.
4.1 Tanggung jawab:
Lampiran I
4.1.1 Supervisor pembalakan atau (mandor pembalakan)
bertanggung
jawab
memastikan
keefektifan
implementasi kebijakan mengenai pemanfaatan ini.
62
4.1.2 Setiap penebang dilengkapi dengan buku saku kecil
tentang standar bucking agar kebijakan pemanfaatn
ini dipahami dan diimplementasikan secara benar.
4.2 Spesies:
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Utility / V-2.0
STANDAR PEMANFAATAN
SOP # 41
Version 2.0
No. Hal. 2
(Memberikan kepada para penabang daftar spesies pohon yang boleh
ditebang. Daftar ini akan berbeda dari satu perusahaan dengan
perusahaahn lain karena sangat bergantung pada persyaratan
perusahaan serta hambatan transportasi yang mungkin dialami).
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
Juga memberikan kepada para penebang daftar dari pohon2 yang
dilindungi.
4.3 Penebangan:
4.3.1 Hanya pohon-pohon dengan spesies komersial dan
bebas cacat yang akan ditebang.
4.3.2 Tinggi penebangan pohon tidak berbanir harus sedekat
mungkin dengan tanah. Sedangkan penebangan pohon
yang berbanir tinggi penebangan tidak boleh lebih dari
titik di mana diameter dari batang mulai melebur ke
bagian banir dari pohon.
4.4 Toleransi Kerusakan:
Toleransi terhadap kerusakan sangat khusus bagi perusahaan.
Setiap perusahaan perlu mengembangkan batas toleransi
terhadap berbagai bentuk kerusakan dan memastikan bahwa
mandor pembalakan, supervisor, penebang, dan scaler benarbenar mengetahui standar yang telah ditetapkan.
4.4.1 Lubang pada batang pohon masih dapat ditolerir bila
batang pohon tersebut memiliki diameter lebih dari 50
cm asalkan maksimum diameter dari lubang tersebut
tidak melebihi 25% dari diameter balok kayu.
4.4.3 Spiral grain / Pelintir : umumnya tidak diperkenankan.
Toleransi yang diberikan pada spiral grain perlu
dijelaskan.
Tropical Forest Foundation
Lampiran I
4.4.2 Mata kayu : toleransi sehubungan dengan jumlah mata
kayu per meter dan ukuran dari mata kayu harus benarbenar dirinci.
63
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Utility / V-2.0
STANDAR PEMANFAATAN
SOP # 41
Version 2.0
No. Hal. 3
4.4.4 ‘Mata buaya : umumnya hanya diperkenankan untuk
kayu gergaji.
4.4.5 Ring shake / Pecah melingkar : umumnya diperkenankan
untuk kayu gergaji dengan batas toleransi maksimum.
4.4.6 Hati pinggir : Derajat toleransi umumnya dijelaskan
untuk kayu lapis; dan biasanya masih ditolerir untuk
kayu gergaji.
4.5 Diameter dan Panjang:
4.5.1 Minimum diameter dibawah kulit pohon adalah 30 cm.
Lampiran I
4.5.2 Minimum panjang batang pohon, bebas mata kayu /
knot free yang masih ditolerir pada kegiatan bucking
adalah sepanjang 2m. (Lihat gambar).
64
Gambar 41-1 : Perbaikan pemanfaatan volume kayu dari batang pohon.
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Utility / V-2.0
STANDAR PEMANFAATAN
SOP # 41
Version 2.0
No. Hal. 4
4.6 Bucking:
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
4.6.1 Panjang batang kayu yang diperlukan untuk bucking
umumnya ditetapkan secara khusus oleh perusahaan.
4.6.2 Banir yang perlu di potong dari titik di mana diameter
balok kayu mulai mengecil. Sisa pinggiran akan di
potong pada lokasi penebangan.
4.6.3 Apabila melakukan bucking / pemotongan pada
mahkota pohon, pastikan bahwa bagian batang pohon
tanpa mata kayu sepanjang 2 m disertakan pada
bagian atas balok kayu. Cabang atau mata kayu yang
menonjol keluar akan di potong di lokasi penebangan.
Lampiran I
Tropical Forest Foundation
65
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Felling_B / V-2.0
1.
PENEBANGAN DAN BUCKING
SOP # 42
Version 2.0
No. Hal. 1
LINGKUP
Penebangan pohon serta bucking merupakan kegiatan yang
sangat signifikan dalam pengelolaan hutan karena:
•
Cara penebangan pohon membawa dampak pada tegakan
sisa yang harus dilindungi untuk pemanenan di masa
depan, oleh karenanya, kegiatan penebangan memiliki
dampak langsung pada keberlanjutan fungsi produksi
dari hutan.
•
Penebangan juga dapat memberi pengaruh yang signifikan
pada produktivitas jalan sarad, dan oleh karenanya
juga memiliki pengaruh langsung pada produktivitas
operasional.
•
Penebangan dan bucking merupakan tugas-tugas yang
cukup beresiko karena sering mengakibatkan insiden
luka dan fatal pada kegiatan hutan. Oleh karena itu
pertimbangan mengenai segi keamanan sangat penting.
•
Bucking dari pohon yang sudah ditebang merupakan
tindakan yang sangat signifikan yang dapat digunakan
untuk memastikan peningkatan pemanfaatan hutan
sehingga oleh karenanya memiliki signifikansi financial
yang cukup tinggi.
Lampiran I
SOP ini mencakup semua aspek yang berkaitan dengan penebangan
dan bucking, dan oleh karenanya merupakan salah satu aspek
utama dari realisasi kebijakan perusahaan tentang pemanfaatan
(SOP # 41).
66
2.
TUJUAN
Tujuan dari SOP ini berkaitan dengan kegiatan penebangan serta
bucking. Beberapa tujuan khusus dari SOP ini adalah untuk
memastikan:
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Felling_B / V-2.0
PENEBANGAN DAN BUCKING
SOP # 42
Version 2.0
No. Hal. 2
Penebangan:
2.1 Pohon-pohon ditebang scara aman.
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
2.2 Pohon-pohon ditebang sedemikian rupa sehingga akan
memudahkan kegiatan ektraksi menghasilkan produksi yang
efi sien.
2.3 Kerusakan pada pohon-pohon yang akan ditebang di
kemudian hari dan pada pohon-pohon yang dilindungi semakin
berkurang.
2.4 Pohon ditebang sedemikian rupa sehingga kerusakannya
dapat diminimisasikan dan pohon tidak akan ditebang ke arah
posisi di mana tidak dapat dilakukan ekstraksi.
2.5 Pengamatan terhadap zona penyangga dan kawasan yang
dilindungi.
Bucking:
2.6 Bucking terhada pohon dilakukan sedemikian rupa sehingga
dapat meningkatkan pemulihan kayu sesuai dengan standar
pemanfaatan perusahaan.
2.7 Bucking dilakukan secara aman.
2.8 Melaksanakan kebijakan pemerintah dan perusahaan
mengenai pencatatan kayu balok dan pemantauan kegiatan
produksi.
3.
DAFTAR PUSTAKA
•
•
•
Tropical Forest Foundation
Lampiran I
•
“Principles and Practices for Forest Harvesting in
Indonesia”
“Reduced Impact Logging Guidelines for Indonesia”,
(CIFOR 2001: Elias, Applegate, Kartawinata, Machfudh,
Klassen)
Indonesia Grading Rules
“Chainsaws in Tropical Countries, 1980, FAO Training
67
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Felling_B / V-2.0
•
•
•
•
4.
PENEBANGAN DAN BUCKING
SOP # 42
Version 2.0
No. Hal. 3
Series 2
“Pertimbangan Operasional untuk Pembalakan Berdampak
Rendah” (TFF technical procedures manual)
SOP #41 Standar Pemanfaatan
SOP #22 Pengelolaan Wilayah Khusus
Ada kemungkinan perusahaan akan mengembangkan buku
pegangan mengenai standar penebangan dan bucking
yang mencakup petunjuk pemanfaatan. Buku petunjuk
ini sebaiknya memiliki ukuran yang mudah dimasukkan
ke dalam kantung lengkap dengan ilustrasi dan dibagikan
kepada setiap penebang.
PROSEDUR
4.1 Tanggung Jawab:
4.1.1 Setiap penebang memiliki tanggung jawab untuk
memastikan bahwa tujuan serta prosedur dari SOP ini
dilaksanakan.
4.1.2 Supervisor serta mandor para penebang bertanggung
jawab untuk memastikan semua penebang dibawah
tanggung jawabnya mentaati peraturan yang berlaku.
4.2 Keamanan para Penebang:
4.2.1 Perusahaan melengkapi para penebang dengan
peralatan dasar demi keamanan mereka seperti helm,
sarung tangan dan lain-lain.
Lampiran I
4.2.2 Gergaji mesin dilengkapi dengan alat keamanan dasar
seperti rem rantai.
68
4.2.3 Pengawas para penebang memastikan bahwa para
penebang menggunakan peralatan keamanan dasar
selama jam kerja.
4.2.4 Para penebang menjaga keamanan di lokasi kerja
dengan jalan:
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Felling_B / V-2.0
PENEBANGAN DAN BUCKING
SOP # 42
Version 2.0
No. Hal. 4
- Memperkirakan arah jatuhnya pohon;
- Membersihkan lokasi sekitar pohon yang akan
ditebang
- Memilih dan membersihkan dua jalur penyelamatan
di setiap saat penebangan.
- Memeriksa kemungkinan adanya hal-hal yang dapat
menghambat kegiatan penebangan, cabang pohon
atau tajuk mahkota yang berkaitan satu dengan
lainnya
- Menggunakan undercuts yang sesuai untuk pohon
yang tegak, pohon yang miring, dll berdasarkan
manual prosedur teknis.
- Melaksanakan prosedur peringatan setiap saat
sebelum kegiatan penebangan dilakukan.
- Menjaga jarak yang aman antar para penebang.
4.3 Pertimbangan mengenai
membuat keputusan
penebangan:
Kerangka
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
dalam
Bagi para penebang prosedur penebangan perlu dilihat
sebagai “kerangka kerja dalam membuat keputusan”.
Berikut ini beberapa petunjuk yang perlu dipertimbangkan
para penebang sebelum menebang pohon. Proses pembuatan
keputusan ini bisa mencakup seluruh atau sebagian dari
pertimbangan berikut.
4.3.1 Menentukan apakah pohon yang akan ditebang
itu termasuk spesies serta memiliki kualitas yang
diinginkan. Apabila penebang memperkirakan pohon
yang akan ditebang itu berlubang, ia dapat membuat
potongan vertical guna menentukan diameter dari
lubang tersebut.
Tropical Forest Foundation
Lampiran I
4.3.2 Saat menentukan arah jatuhnya pohon, penebang
perlu mempertimbangkan hal-hal seperti:
- Secara alami batang pohon cenderung condong ke
arah mana
- Lokasi dari jalan sarad terdekat, dengan demikian
arah jatuh pohon dapat disesuaikan dengan jalan
69
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Felling_B / V-2.0
PENEBANGAN DAN BUCKING
SOP # 42
Version 2.0
No. Hal. 5
sarad untuk memudahkan ekstraksi.
- Lokasi pohon inti untuk penebangan di masa depan
yang letaknya berdekatan
- Hindari untuk melakukan penebangan pohon
yang arah jatuhnya langsung ke lapangan yang
bergelombang guna mengurangi risiko patahnya
batang pohon utama saat penebangan dilakukan.
4.3.3 Melakukan penebangan di kawasan curam (kemiringan
>50%) hanya diperkenankan bila hasilnya dapat
diekstraksi melalui winching.
4.3.4 Setiap saat perlu memperhatikan petunjuk mengenai
zona penyangga serta kawasan yang dilindungi
sebagaimana yang dijelaskan dalam SOP #22. Tidak
diperkenankan melakukan penebangan yang hasilnya
akan langsung masuk atau melintasi sungai.
4.4 Bucking guna meningkatkan pemanfaatan
Merupakan
kebijakan
perusahaan
untuk
melakukan
bucking guna meningkatkan pemulihan sebagaimana yang
dikemukakan dalam SOP #41.
Disarankan agar setiap perusahaan mengembangkan buku
atau kartu kecil yang telah dilaminasi yang dapat menjelaskan
standar pemanfaatan yang harus diikuti para penebang.
Lampiran I
4.5 Adminstrasi kayu balok
70
Apabila pohon telah ditebang (dan dibucking bilamana perlu),
penebang akan menyimpan bagian dari label pohon yang
berwarna merah utk catatan produksinya. Bagian lain dari
label tersebut akan di tempatkan pada bagian ujung balok
kayu dan bagian ketiga akan ditempatkan pada tungak sisa.
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Felling_B / V-2.0
PENEBANGAN DAN BUCKING
SOP # 42
Version 2.0
No. Hal. 6
Tropical Forest Foundation
Lampiran I
Gambar 42-1 : Kerangka pengambilan keputusan untuk penebang.
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
71
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Extract / V-2.0
1.
KEGIATAN EKSTRAKSI
SOP # 43
Version 2.0
No. Hal. 1
LINGKUP
Penyaradan mencakup semua kegiatan yang berhubungan dengan
ekstraksi balok kayu dari hutan ke tepi jalan utama atau TPn.
2.
TUJUAN
2.1 Melakukan kegiatan ekstraksi balok kayu dengan cara yang
paling efi sien.
2.2 Mengurangi dampak proses ekstraksi pada tegakan sisa,
lapisan tanah, serta pada hidrologi hutan.
3.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
•
•
•
•
•
4.
“Principles and Practices for Forest Harvesting in
Indonesia”
TPTI Guidelines / Pedoman TPTI, 151/KPTS/IVBPHH/1993
Reduced Impact Logging Guidelines for Indonesia /
(CIFIR, 2001: Elias, Applegate, Kartawinata, Machfudh,
Klassen)
SOP #40 Jalan Sarad dan TPN
“Pertimbangan Operasional untuk Pembalakan Berdampak
Rendah” (TFF technical procedures manual).
PROSEDUR
Lampiran I
4.1 Tanggung Jawab:
72
4.1.1 Setiap operator traktor memiliki tanggung jawab
untuk memastikan bahwa tujuan serta prosedur SOP
ini diimplementasi.
4.1.2 Supervisor pembalakkan atau Mandor bertanggung
jawab untuk memastikan operator traktor di bawah
tanggungjawabnya
mentaati
secara
menyeluruh
peraturan yang berlaku.
Tropical Forest Foundation
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Extract / V-2.0
KEGIATAN EKSTRAKSI
SOP # 43
Version 2.0
No. Hal. 2
4.1.3 Operator
traktor bertanggung jawab merawat
traktornya dan memastikan traktor tersebut selalu
berada dalam kondisi yang baik.
Di samping itu
operator traktor juga bertanggung jawab atas
traktornya dan perawatan mesinnya sehingga traktor
tersebut selalu berada dalam kondisi baik. Operator
traktor juga perlu melakukan prosedur pemeriksaan
keamanan dan operasional harian juga sebelum
memulai pekerjaannya.
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
4.2 Penyaradan
4.2.1 Operator traktor membatasi geraknya hanya pada jalan
sarad yang sudah disetujui dan sudah dibuka. Apabila
jelas terlihat adanya kebutuhan akan jalan sarad yang
baru, sehubungan dengan kegiatan penebangan dan
penyaradan, atau karena terlewatkan oleh Bagian
Perencanaan, maka operator traktor perlu menghubungi
supervisornya untuk memperoleh petunjuk.
4.2.2 Bila memungkinkan sling/tali baja dan winch akan
digunakan untuk mengakses balok kayu yang baru
ditebang, dengan jarak masksimum 20m dari jalan
sarad.
4.2.3 Apabila traktor harus menjauhi jalan sarad untuk
mendapat akses ke pohon, operator traktor harus
memundurkan posisi traktor sedemikian rupa sehingga
memungkinkan dilakukan winching.
4.2.4 Jika memungkinkan, jalan sarad bisa memasuki TPn
dengan cara menanjak guna menghindari tergelincir
saat memasuki areal penyimpanan kayu/ TPN.
Tropical Forest Foundation
Lampiran I
4.3 Turunnya Hujan
Kegiatan penyaradan berhenti bila hujan turun dan baru akan
mulai kembali sedikitnya empat jam setelah hujan berhenti.
73
Contoh Prosedur Standar
Operasional (SOP)
Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan
Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil
STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
TFF.Extract / V-2.0
KEGIATAN EKSTRAKSI
SOP # 43
Version 2.0
No. Hal. 3
4.4 Keamanan Bekerja
4.4.1 Operator traktor sebaiknya tidak mulai melakukan
kegiatan winching balok kayu hingga ia menerima
petunjuk yang jelas dari chockerman.
Lampiran I
4.4.2 Chockerman akan membimbing operator traktor ke
balok kayu berikut dan memberi indikasi posisi terbaik
guna mengakses balok kayu.
74
Tropical Forest Foundation
The Tropical Forest Foundation
Manggala Wanabakti Build.,
Block IV, 7th Floor, Room 718B
Jl. Jend. Gatot Subroto,
Jakarta 10270, Indonesia
Download