modul berbicara - Pendidikan Bahasa Indonesia

advertisement
1
MODUL 1
BAHASA DAN ASPEK-ASPEKNYA
No
1
2
3
4
5
6
Kompetensi Dasar
Menjelaskan pengertian bahasa sebagai alat berbicara/ komunikasi
Menjelaskan bahasa sebagai sistem
Menjelaskan bahasa berupa lambang bunyi tutur
Menjelaskan bahasa bersifat arbitrer
Menjelaskan bahasa yang terjadi karena konvensi
Menjelaskan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi
A. Pengertian Bahasa
Bahasa
sebagai
budaya
tumbuh
dengan
pesat
seiring
dengan
perkembangan pola pikir manusia sebagai penggunanya. Perkembangan budaya
manusia juga ditentukan dan dipengaruhi oleh perkembangan bahasa. Sebagai
budaya, bahasa dapat berkedudukan sebagai ilmu dan sebagai alat komunikasi.
Kedudukan bahasa, baik
sebagai ilmu yang memfokuskan pada keilmuan
kebahasaan, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik
maupun sebagai alat komunikasi yang memfokuskan pada keterampilan
berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis saling melengkapi
dalam perkembangannya.
Pengertian bahasa secara lengkap harus memasukkan konsep bahasa
sebagai ilmu dan sebagai alat komunikasi. Bahasa merupakan sebuah kata yang
tidak asing lagi bagi telinga kita sebab sering terdengar. Namun, untuk
memberikan pengertian bahasa sering terjadi tumpang-tindih dan kurang lengkap.
Misalnya, banyak orang atau bahkan guru bahasa Indonesia yang mendefinisikan
bahasa sebagai alat komunikasi atau bahasa merupakan alat komunikasi manusia
dalam kehidupan sehari-hari. Definisi bahasa seperti itu tidak salah hanya kurang
lengkap sebab fungsi bahasa memang sebagai alat komunikasi. Jawaban bahwa
bahasa merupakan alat komunikasi itu jika pertanyaannya: Apakah fungsi
bahasa?. Oleh karena itu, perlu dimasukkan konsep bahasa sebagai ilmu dalam
pendefinisian bahasa.
2
Seorang anak sejak kecil yang masih balita (usia di bawah lima tahun)
selalu ingin berkumpul dengan teman-teman seusianya atau sebaya. Dia selalu
mendengarkan ucapan orang lain kemudian berupaya menirukannya meskipun
masih terbata-bata. Setiap anak akan merekam dan membentuk bahasa atas dasar
daya neuron motoriknya. Perekaman dan pembentukan bahasa itu selalu berproses
bagi dirinya di dalam kehidupan sosial atau bermasyarakat.
Dengan bahasa yang dimilikinya, seorang anak selalu berpikir dan akan
mencapai tingkat kesadaran secara manusiawi. Artinya, setiap anak (manusia)
selalu berproses dengan pikirannya untuk berkembang sebagai manusia yang
berbudaya. Proses untuk mencapai tingkat kesadaran itu tidak dimiliki oleh
makhluk lain, seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan yang memang tidak
memiliki simbol atau lambang bunyi bahasa. Oleh karena itu, bahasa bersifat
manusiawi. Artinya, bahasa yang dimilikinya dapat membentuk manusia sebagai
makhluk sosial dan menjadikannya sebagai makhluk berbudaya. Manusia secara
alamiah akan mengadakan hubungan dengan orang lain atau bermasyarakat dan
mampu berpikir untuk berkembang atau selalu mengadakan inovasi bagi dirinya.
Cara bersosial dan berbudaya bagi manusia seperti itu tidak dapat dilepaskan dari
peranan bahasa yang digunakan setiap harinya.
Bahasa sangat berperanan di dalam kehidupan manusia sebagai alat
berbicara dan juga sebagai pengembang kebudayaan. Maka, bahasa dapat
dijadikan sebagai alat komunikasi dan sebagai ilmu yang selalu dikaji untuk
mendukung proses komunikasi tersebut. Definisi bahasa menurut Keraf (2001:1)
adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat yang berupa simbol bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia. Hal yang lain dikatakan oleh Achmad dan
Alex`Abdullah (2013:3) bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer
yang dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama,
berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Jadi, dapat disimpulkan batasan bahasa
secara lengkap dan padat, artinya batasan itu mencakup bahasa sebagai alat
komunikasi dan sebagai ilmu pengetahuan. Dalam konteks itu, bahasa
didefinisikan “sebagai sistem lambang bunyi tutur yang bersifat arbitrer, terjadi
karena konvensi dan digunakan untuk berkomunikasi”. Ada lima butir penting
3
dari definisi bahasa itu, yaitu (1) bahasa sebagai sistem, (2) bahasa berupa
lambang bunyi tutur, (3) bahasa bersifat arbitrer, (4) bahasa terjadi karena
konvensi, dan (5) bahasa untuk berkomunikasi.
B. Aspek-aspek Bahasa
1. Bahasa sebagai Sistem
Bahasa merupakan sistem. Artinya, bahasa itu memiliki aturan yang telah
disepakati oleh para pemakainya. Aturan atau kaidah di dalam bahasa mempunyai
sistem yang berbeda-beda dengan pemakainya. Sistem bahasa Indonesia berbeda
dengan sistem bahasa Inggris, juga berbeda dengan sistem bahasa Arab, dan lain
sebagainya. Sistem bahasa yang berbeda itu dapat terjadi pada sistem makna,
sistem bentuk, dan juga sistem strukturnya. Misalnya, dalam bahasa Inggris kite
yang berarti layang-layang akan dibaca /kait/ tetapi kata dalam bahasa Indonesia
selalu dibaca sesuai dengan fonemnya.
Bahasa sebagai sistem menekankan pada pemakaian penuturnya.
Misalnya, penutur bahasa Jawa menyebut pitu untuk bilangan tujuh, sab’ah dalam
sistem makna bahasa Arab, dan seven dalam bahasa Inggris. Jadi, penyebutan
dalam suatu bahasa pada dasarnya merupakan sistem kesepakatan para
pemakaianya. Di dalam sistem struktur bahasa Indonesia baku, pemakaian kalimat
“Sepedanya Anton berwarna hitam” adalah salah, yang benar “Sepeda Anton
berwarna hitam”. Sebab, bentuk –nya pada sepedanya merupakan bentuk
enklitiks yang berarti kepemilikan. Jadi, tidak perlu digunakan sebab ada kata
Anton sebagai pemilik. Namun, di dalam sistem bahasa Jawa justru yang benar
“Pite Anton warnane ireng”. Kata pite berarti sepedanya, jarane (kudanya),
klambine (bajunya), dan lain-lain.
2. Bahasa Berupa Lambang Bunyi Tutur
Bahasa berupa lambang bunyi tutur. Artinya, bahasa itu terdiri atas
sejumlah simbol ujaran yang dapat ditulis. Simbol ujaran itu berupa fonem,
morfem, kata, frase, kalimat, dan wacana. Simbol ujaran seperti itu berupa bunyibunyi bahasa. Agar bunyi-bunyi itu disebut bahasa maka harus bermakna. Oleh
4
karena itu, syarat utama suatu bunyi disebut bahasa maka bunyi itu harus
memiliki makna. Misalnya, rangkaian bunyi yang berupa fonem /k/, /u/, /d/, dan
/a/ akan dibaca /kuda/. Bentuk rangkaian fonem itu disebut bahasa yang berupa
kata. Sebab, bentuk kuda sebagai kata adalah bentuk yang bermakna. Sebaliknya,
bentuk keda bukan kata sebab tidak memiliki makna sehingga kata keda tidak ada
di dalam bahasa Indonesia. Untuk membuktikan tentang pemaknaan bunyi
sebagai bahasa dapat dicek pada kamus. Contoh yang lain, meja (kata/ bahasa)
dan ajem (bukan kata/ bukan bahasa).
3. Bahasa Bersifat Arbitrer
Bahasa bersifat arbitrer atau memiliki sifat manasuka. Maksudnya, di
dalam bahasa kemunculan makna bersifat manasuka atau memiliki sifat bebas.
Kata kucing mengacu kepada binatang berkaki empat, berkumis, dan suka makan
tikus. Binatang seperti itu memang dinamakan kucing, bukan kacing atau cuking.
Mengapa bisa dinamakan kucing? Jawabnya sangat sulit, sebab sejak dahulu
sampai sekarang binatang dengan tanda-tanda seperti yang disebutkan di atas
dinamakan kucing. Kata kucing ada di dalam bahasa Indonesia (lihat kamus),
bahasa Inggrisnya (cat), dan bahasa Arabnya (al-hirrun). Jadi, penyebutan atau
penamaan pada setiap bahasa bisa berbeda-beda. Oleh karena itu, sifat bahasa
termasuk manasuka dan selalu didasarkan pada kesepakatan. Kesepakatan penutur
bahasa Jawa memasukkan air melewati mulut disebut ngombe, penutur bahasa
Indonesia menyebutnya minum, penutur bahasa Inggris menamakannya drink,
penutur bahasa Arab menyebutnya syaroba, dan penutur bahasa lain juga
memiliki kesepakatan masing-masing yang berbeda.
Dalam bahasa Jawa yang terbagi atas beberapa dialek juga terjadi
kesepakatan masing-masing. Dialek adalah bagian dari suatu bahasa yang bersifat
kedaerahan atau individu. Jadi, ada bahasa Jawa dialek Banyumas, dialek Yogya
dan Solo, dialek Tegal, dan lain-lain. Kata bagaimana untuk menanyakan sesuatu
keadaan seseorang pada bahasa Jawa dialek Yogya dan Solo diungkapkan dengan
kata kepiye. Dalam pertanyaan: Kepiye tho kowe? Dialek Tegal diungkapkan
dengan kepriben. Dalam pertanyaan: Kepriben sih koen? Dialek Wonosobo
5
diungkapkan keprige. Dalam pertanyaan: Keprige tah deke? Selanjutnya, dialek
Banyumas untuk mengungkapkan kata bagaimana dengan kepriwe.
4. Bahasa Terjadi karena Konvensi
Proses terjadinya bahasa didasarkan secara konvensi. Artinya, bahasa itu
kemunculannya karena konvensi (kebiasaan) para penuturnya. Para penutur
bahasa
melakukan
kegiatan
berbahasa
secara
terus-menerus.
Hal
itu
menggambarkan bahwa sebuah kata akan diterima oleh para penutur jika selalu
digunakan secara terus-menerus. Misalnya, sekitar tahun 70-an para penutur
bahasa Indonesia mengenal kata gali, seperti menggali tanah atau menggali
kuburan. Namun, sejak tahun 80-an kata gali digunakan terus-menerus dan
dialihkan artinya menjadi orang yang jahat. Maka, kata gali di samping menggali
tanah juga diartikan penjahat. Jadi, kebiasaan menggunakan bahasa dapat
memunculkan makna baru pada bahasa itu sendiri. Pada tahun 1980-an tersebut
ada gerombolan anak nakal yang mengganggu ketenangan masyarakat yang
disebut dengan “gabungan anak liar”. Frase tersebut diakronimkan dengan gali
yang digunakan terus-menerus. Maka, dalam perkembangannya muncul kata gali
sebagai padanan kata penjahat. Jadi, kata gali sudah menjadi kata dan tidak lagi
dikenal kepanjangannya oleh pengguna bahasa Indonesia.
5. Bahasa Digunakan untuk Berkomunikasi
Fungsi utama bahasa adalah untuk berkomunikasi, baik komunikasi secara
lisan maupun komunikasi secara tulis. Manusia di dalam kehidupannya sehari-hari
selalu mengadakan hubungan dengan manusia lainnya. Maka, peranan bahasa di
dalam kehidupan manusia sangat penting sebab bahasa selalu diperlukan oleh
masyarakat untuk berkomunikasi antaranggotanya.
Tes`(Latihan)
1. Jelaskan tentang pengertian bahasa!
2. Jelaskan aspek-aspek bahasa secara singkat!
3. Jelaskan hubungan bahasa dengan komunikasi!
6
MODUL 2
KEGIATAN BERBAHASA DAN ASPEK-ASPEKNYA
No
1
2
3
4
5
Kompetensi Dasar
Mengidentifikasi kegiatan berbahasa
Menjelaskan keterampilan menyimak
Menjelaskan keterampilan berbicara
Menjelaskan keterampilan membaca
Menjelaskan keterampilan menulis
A. Kegiatan Berbahasa
Bahasa sebagai alat komunikasi sangat diperlukan bagi kehidupan
manusia. Sekelompok manusia atau orang yang hidup dengan tujuan yang sama
dan dilakukan secara bersama-sama itulah yang disebut masyarakat. Dalam
kesehariannya, masyarakat menggunakan bahasa sebagai alat berinteraksi
antaranggota untuk saling berkomunikasi. Kegiatan komunikasi dapat disebut
sebagai kegiatan berbahasa. Artinya, masyarakat melakukan proses komunikasi
dengan alat yang disebut bahasa.
Berdasarkan paparan tersebut, kegiatan komuniksi dengan alat bahasa
disebut kegiatan berbahasa. Adapun, kegiatan berbahasa meliputi empat aspek,
yaitu.
1. Aspek lisan pasif ----> berupa kegiatan mendengar (menyimak)
2. Aspek lisan aktif ----> berupa kegiatan berbicara
3. Aspek tulis pasif -----> berupa kegiatan membaca
4. Aspek tulis aktif -----> berupa kegiatan menulis
Penggambaran keempat aspek kegiatan berbahasa itu dapat dijelaskan
sebagai berikut. Sejak seorang anak manusia dilahirkan (masa pralinguistik)
sampai menginjak kanak-kanak (masa linguistik), setiap anak yang normal akan
mengalami dan melakukan kegiatan keempat aspek kegiatan berbahasa tersebut.
Selanjutnya, proses secara alami bagi seorang anak yang sehat (normal) akan
melakukan kegiatan berbahasa yang dapat diurutkan: mendengar – berbicara –
membaca – menulis.
7
Seorang anak akan bisa menulis setelah ia bisa membaca. Kemudian, ia
akan bisa membaca setelah ia bisa berbicara. Selanjutnya, anak akan bisa menulis,
membaca, dan berbicara terlebih dahulu ia harus bisa mendengar. Namun, jika
dikaitkan dengan masalah keterampilan maka urutan secara alami itu akan
berubah. Artinya, urutan secara alami tidak dapat diberlakukan terhadap masalah
keterampilan berbahasa seseorang. Bisa saja seseorang memiliki keterampilan
berbicara tetapi ia tidak memiliki keterampilan menulis dan sebaliknya. Suatu
keterampilan akan diperoleh didasarkan pada latihan yang intensif. Oleh karena
itu, keterampilan pada hakikatnya berkaitan dengan kerja pikir, perasaan, dan
ketenangan.
B. Aspek Kegiatan Berbahasa
1. Keterampilan Menyimak
Istilah menyimak berbeda dengan mendengar. Kata menyimak lebih
difokuskan pada mendengar bunyi-bunyi bahasa, seperti ceramah, pidato, dan
khutbah. Adapun, mendengar lebih luas daripada menyimak. Di samping
mendengar bunyi-bunyi bahasa juga mendengar bunyi-bunyi yang bukan bahasa
seperti mendengar suara deru mobil, ketukan pintu, benda yang jatuh, dan lainlain. Jadi, menyimak pasti mendengar tetapi mendengar belum tentu menyimak.
Dalam aspek lisan, menyimak merupakan kegiatan memahami bahasa
lisan yang bersifat reseptif (pasif dan hanya menerima). Kegiatan menyimak
bukan sekadar mendengarkan bunyi-bunyi bahasa tetapi sekaligus memahaminya.
Dalam bahasa pertama (bahasa ibu), kegiatan menyimak diperoleh melalui proses
yang tidak disadarinya sehingga seseorang (anak) yang menyimak tidak
menyadari tentang kompleksnya proses pemerolehan keterampilan menyimak
tersebut. Namun, ia tetap melakukan kegiatan menyimak secara terus-menerus
hingga terbiasa dan mampu berkembang terhadap bahasa pertama yang
diperolehnya.
Dalam kegiatan menyimak, ada dua jenis situasi dalam menyimak, yaitu
menyimak secara interaktif dan menyimak secara non-interaktif. Menyimak
secara interaktif terjadi dalam percakapan tatap muka dan percakapan tidak tatap
8
muka, seperti percakapan lewat telepon. Jenis kegiatan menyimak ini penutur
secara bergantian melakukan aktivitas menyimak untuk memperoleh penjelasan,
meminta lawan tutur mengulang apa yang diucapkan olehnya dan mungkin
memintanya berbicara agak lebih lambat. Selanjutnya, menyimak non-interaktif
terjadi dalam percakapan yang sepihak, seperti menyimak siaran radio, siaran
televisi, dialog pada film, khotbah, dan acara-acara seremonial/ sambutan pada
upacara. Dalam situasi menyimak non-interaktif tersebut, penyimak tidak dapat
meminta penjelasan dari pembicara dan tidak dapat meminta pembicaraan
diperlambat.
2. Keterampilan Berbicara
Dalam aspek lisan, berbicara merupakan aspek kegiatan lisan aktif.
Kegiatan ini berantonim dengan kegiatan menyimak atau mendengarkan. Sebab,
kegiatan menyimak merupakan aspek kegiatan lisan pasif. Berbicara dengan
keterampilan berbicara sangat berbeda. Setiap orang yang sehat alat bicaranya
dipastikan dapat berbicara. Sedangkan orang yang sudah dapat bebicara belum
tentu terampil berbicara atau memiliki keterampilan berbicara. Sebab,
keterampilan berbicara harus melalui latihan yang intensif.
3. Keterampilan Membaca
Dalam aspek tulis, membaca adalah keterampilan reseptif. Keterampilan
membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari keterampilan
menyimak dan keterampilan berbicara. Namun, pada masyarakat yang memilki
tradisi
literasi
dikembangkan
yang
secara
telah
berkembang,
terintegrasi
dengan
keterampilan
keterampilan
membaca
menyimak
dapat
dan
keterampilan berbicara. Setiap orang yang normal, artinya tidak tuna aksara (buta
huruf) dapat membaca tetapi belum tentu terampil membaca. Sebab, keterampilan
membaca berkaitan dengan pemahaman teks yang dibacanya.
9
4. Keterampilan Menulis
Dalam aspek tulis, menulis adalah keterampilan produktif. Artinya, kata
produktif berantonim dengan reseptif. Jadi, menulis bukan kegiatan menerima.
Kegiatan menulis dapat dikatakan sebagai keterampilan berbahasa yang paling
rumit di antara aspek-aspek keterampilan berbahasa lainnya. Sebab, menulis
bukan sekadar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat, melainkan merupakan
kegiatan yang mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu
struktur tulisan yang teratur.
Tes (Latihan)
1.
2.
3.
4.
Tulislah dengan urutan secara alami kegiatan berbahasa!
Jelaskan bahwa berbicara identik dengan komunikasi lisan!
Jelaskan bahwa kegiatan menyimak merupakan aspek lisan pasif!
Jelaskan masa pralinguistik dan masa linguistik bagi anak!
10
MODUL 3
KETERAMPILAN BERBICARA
No
1
2
3
4
Kompetensi Dasar
Menjelaskan pengertian berbicara
Mampu membedakan antara berbicara dengan keterampilan berbicara
Menjelaskan aspek pendukung keterampilan berbicara
Menjelaskan tujuan umum kegiatan berbicara
A. Pengantar
Kegiatan berbicara merupakan salah satu aspek kegiatan berbahasa, di
samping kegiatan menyimak, membaca, dan menulis. Kegiatan berbicara pada
prinsipnya sangat sederhana tetapi yang sulit justru pada masalah keterampilan
sebab menyangkut keruntutan ucapan dan kejelasan artikulasinya. Maksudnya,
seseorang dikatakan terampil berbicara jika ia mampu mengatur ucapannya
(runtut) dan artikulasinya (jelas). Jadi, bukan pada masalah kelancarannya.
B. Pengertian Berbicara
Pengertian berbicara dapat dibedakan atas dua macam, yaitu pengertian
berbicara secara sempit dan secara luas. Pengertian berbicara secara sempit adalah
kegiatan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa. Selanjutnya, pengertian berbicara
secara
luas
adalah
kegiatan
mengucapkan
bunyi-bunyi
bahasa
untuk
menyampaikan pesan, mengekspresikan perasaan, dan menyatakan pikiran.
Berdasarkan pengertian berbicara tersebut dapat dikatakan bahwa
berbicara merupakan kegiatan lisan yang melibatkan sebagian organ fisik, seperti
gerakan bibir, tangan, mata, dan yang lainnya. Keterlibatan organ fisik dapat
mengurangi ketegangan pada saat berbicara di hadapan orang banyak. Juga,
merupakan gaya (style) bagi pembicara sehingga tidak menjemukan bagi para
pendengar yang melihatnya (audience). Gerakan anggota badan (organ fisik) itu
pada dasarnya merupakan gerak refleks (tidak disengaja). Gerak refleks bagi
pembicara sangat bermanfaat dan terkesan tidak kaku. Namun, jika gerakan itu
terlalu berlebihan (over acting) maka dapat mengganggu mitratutur atau audience.
11
Kegiatan berbicara pada prinsipnya bersifat individual. Maksudnya,
kegiatan berbicara berlangsung secara individu (perseorangan). Oleh karena itu,
kegiatan berbicara tidak dapat dilangsungkan oleh banyak orang pada waktu yang
bersamaan. Jadi, kegiatannya harus dilaksanakan secara bergiliran (satu-persatu).
Hal seperti itu berbeda dengan kegiatan menyimak, membaca maupun menulis
yang dapat dilangsungkan oleh banyak orang pada waktu yang bersamaan. Di
samping bersifat individual, kegiatan berbicara bagi setiap orang bersifat
nonhayati. Artinya, seseorang itu dapat berbicara tidak dengan sendirinya dan
penguasaannya tidak secara alamiah. Dengan demikian, kegiatan berbicara
memerlukan latihan dan seseorang yang tidak pernah dilatih dipastikan tidak
dapat berbicara. Adapun, yang melatih kegiatan berbicara adalah lingkungan.
Yang disebut lingkungan dalam konteks ini adalah ibu, bapak, kakak, saudarasaudara, teman-temannya, atau para tetangga. Misalnya, jika seorang anak sejak
dilahirkan sampai usia remaja tidak pernah berhubungan dengan orang lain maka
dipastikan ia tidak dapat berbicara. Oleh karena itu, sangat mustahil seseorang
dapat berbicara jika tidak pernah mendengar bahasa manusia. Contoh lain yang
ekstrim, jika seorang anak sejak dilahirkan sudah tunarungu (tuli) maka ia pun
akan tunawicara (bisu). Jadi, ada tiga syarat seorang anak (manusia) agar dapat
berbicara, yaitu (1) sehat alat pendengarannya (tidak tunarungu) sejak lahir, (2)
sehat alat ucapnya (tidak cacat), dan (3) hidup dengan orang lain (bermasyarakat).
Ketiga syarat berbicara tersebut mutlak harus ada, jika salah satu syarat
tidak dipenuhi maka dimungkinkan tidak dapat berbicara. Misalnya, seseorang
sejak lahir tidak sehat alat pendengarannya (tunarungu), padahal ia sehat alat
ucapnya dan hidup bermasyarakat maka anak itu tidak akan dapat berbicara. Juga,
misalnya ia tidak tunarungu dan tidak cacat alat ucapnya tetapi tidak pernah
berhubungan dengan orang lain sejak dilahirkan maka dapat dipastikan anak itu
tidak dapat berbicara atau tidak berbahasa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
berbicara identik dengan berbahasa. Oleh karena itu, manusia adalah makhluk
yang berbicara. Artinya, manusia adalah makhluk yang berbahasa.
Manusia memang memiliki perangkat alat ucap yang memungkinkan
untuk dapat berbicara dan akal yang mampu mengembangkan bahasa. Juga, otak
12
manusia memuat lebih banyak neuron sehingga memiliki kemampuan ingatan
yang lebih tajam. Itulah yang membedakan antara manusia dengan binatang
sehingga binatang tidak dapat berbicara seperti halnya manusia. Maka, dapat
diungkapkan paradigma bahwa “manusia berbicara dan binatang bersuara”.
Kegiatan berbicara bagi manusia sudah ada sejak manusia pertama (Adam)
diciptakan. Sejak dahulu sampai sekarang berbicara bagi manusia adalah sama,
yaitu adanya sistem tanda yang dapat didengar (audible) dan melibatkan organ
fisik yang dapat dilihat (visible). Jadi, pada dasarnya berbicara merupakan sebuah
sistem, yakni cara yang teratur untuk melakukan sesuatu. Adapun, yang
dimaksudkan keteraturan di dalam berbicara adalah bahasanya, yaitu adanya
keteraturan bidang makna (sistem semantik), bidang bunyi (sistem fonologi),
bidang kata (sistem morfologi), dan bidang kalimat (sistem sintaksis). Maka,
segala bentuk suara seperti bersin, batuk, mendesis, mendesah, mendengkur, dan
mendehem
bukan
merupakan
kegiatan
berbicara
sebab
suara
yang
dimunculkannya itu tidak bersistem.
C. Aspek Pendukung Keterampilan Berbicara
Seseorang yang memiliki dan memenuhi tiga macam syarat berbicara
dipastikan dapat berbicara tetapi belum tentu terampil berbicara. Keterampilan
membutuhkan latihan yang intensif sebab keterampilan sudah mengarah kepada
bidang keahlian. Keterampilan berbicara tidak hanya sekedar dapat mengucapkan
kata-kata dan kalimat tetapi lebih menekankan kepada pengolahan bahasa secara
teratur. Atas dasar itu, keterampilan berbicara didefinisikan sebagai “suatu
aktivitas berbicara yang menekankan kepada pengolahan bahasa secara teratur
dan pengucapan bunyi-bunyi artikulasi secara jelas”.
Agar dapat tercapai tujuan dan maksud berbicara maka seseorang yang
ingin terampil berbicara perlu memiliki empat aspek pendukung, yaitu (1)
keterampilan sosial (social skills) adalah keterampilan untuk berperanan secara
aktif dan efektif di dalam kehidupan bermasyarakat, (2) keterampilan semantik
(semantic skills) adalah keterampilan untuk menggunakan kata-kata secara tepat,
(3) keterampilan fonetik (phonetic skills) adalah keterampilan untuk membentuk
13
unsur-unsur bunyi bahasa secara akurat, dan (4) keterampilan vokal (vocal skills)
adalah keterampilan untuk menciptakan efek emosional dengan suaranya kepada
pendengar atau mitratutur.
D. Tujuan Umum Kegiatan Berbicara
Berbicara sebagai kegiatan berkomunikasi lisan aktif mempunyai tujuan
umum. Pertama, untuk menginformasikan (to inform). Pembicara bertugas
menginformasikan isi pembicaraan kepada pendengar atau mitratutur. Tujuannya
agar pendengar atau mitratutur memahami isi pembicaraan. Misalnya, seorang
guru menyampaikan materi pelajaran kepada para siswanya atau orang yang
berpidato di hadapan orang banyak.
Kedua, untuk menghibur (to entertain). Pembicara dapat menghibur
pendengar atau mitratutur melalui ucapan-ucapannya. Misalnya, guru yang selalu
menyampaikan ide-ide segar, menarik, dan mempesona pada saat mengajar.
Artinya, pada saat mengajar guru jangan terlalu tegang yang menyebabkan siswa
ikut tegang. Maka, para siswa akan merasa senang dan terhibur.
Ketiga, untuk mempengaruhi (to persuade), yaitu pembicara dapat
mempengaruhi atau meyakinkan pendengar atau mitratutur dengan argumentasi
yang tepat. Seorang guru selalu mempunyai argumentasi setiap menyampaikan
materi pelajarannya sehingga para siswa merasa yakin atas ucapan gurunya.
Misalnya, saat menerangkan bahwa bahasa Melayu dipilih menjadi dasar bahasa
nasional bukan bahasa Jawa. Maka, guru harus dapat menerangkan dengan
argumentasi yang meyakinkan.
Tes `(Latihan)
1. Kegiatan berbicara bersifat individual dan menulis tidak individual.
Jelaskan!
2. Jelaskan keterampilan sosial sebagai aspek pendukung keterampilan
berbicara!
3. Jelaskan bahwa tujuan berbicara itu untuk menghibur!
14
MODUL 4
TEKNIK BERBICARA
No
Kompetensi Dasar
1 Menjelaskan teknik-teknik berbicara
2 Mampu menerapkan teknik berbicara
3 Mampu mengidentifikasi macam-macam teknik berbicara
A. Pengantar
Seseorang yang ingin terampil berbicara, maka ia harus selalu berlatih
secara intensif. Agar tujuan berbicara tercapai dan keterampilan berbicara
meningkat maka diperlukan latihan. Latihan itu disebut dengan teknik berbicara.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan pokok bahasan wicara atau
berbicara di sekolah-sekolah, baik di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah
Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), atau Madrasah
Aliyah (MA) dikenal tiga teknik berbicara, yaitu: (1) berbicara terpimpin, (2)
berbicara semi terpimpin, dan (3) berbicara bebas.
B. Macam-macam Teknik Berbicara
1. Teknik Berbicara Terpimpin
Teknik berbicara terpimpin merupakan teknik pengajaran berbicara yang
selalu mendapat pengawasan dari guru. Artinya, para siswa berlatih berbicara di
kelas dan guru mengontrol ucapan siswa. Agar siswa lancar berbicara, seperti
pidato dan pelaksanaan wawancara maka diperlukan latihan yang intensif. Latihan
seperti itu dapat dimulai dari menyusun frase dan kalimat secara lisan. Oleh
karena itu, janganlah menganggap mudah menyusun kalimat yang benar sebab
aspek psikologis sangat berperanan pada saat tampil di hadapan teman-temannya.
Ada paradigma yang patut dijadikan pegangan, yaitu menganggap mudah sesuatu
justru sebenarnya sulit.
15
2. Teknik Berbicara Semi Terpimpin
Teknik berbicara semi terpimpin merupakan teknik pengajaran berbicara
yang membiarkan siswa berbicara sebebas-bebasnya tetapi masih dibantu oleh
guru. Topik pembicaraannya ditentukan oleh guru dan siswa bebas mengolahnya.
Selanjutnya, di dalam latihan teknik berbicara semi terpimpin ini ada beberapa
macam cara kegiatan berbicara.
a. Reproduksi Cerita
Reproduksi cerita adalah mengulang kembali cerita yang pernah dibaca
atau didengarnya. Misalnya, siswa disuruh mengulang kembali cerita yang
telah disampaikan oleh gurunya. Pengulangan cerita itu tidak harus sama
seperti gaya gurunya tetapi siswa dapat mengolah kembali bahasanya
sendiri. Namun, inti ceritanya sama. Cerita tersebut dapat berupa cerita
pendek (cerpen), biografi, dan pengalaman seseorang.
b. Melaporkan Isi Bacaan
Melaporkan isi bacaan adalah menyampaikan isi bacaan buku, baik buku
yang berisi cerita fiktif maupun nonfiktif. Misalnya, siswa disuruh
membaca buku tertentu di rumah dan hasilnya disampaikan secara lisan di
hadapan teman-temannya. Guru dapat mengecek kebenaran laporan
tersebut dengan cara “menyimak sambil membaca inti buku yang telah
dibaca siswa”.
c. Cerita Berantai
Cerita berantai adalah cerita yang disampaikan secara berantai dari
kelompok satu kepada kelompok lain dan terus berlangsung sampai
kelompok tersebut habis. Misalnya, kelompok 1 mendengarkan cerita dari
gurunya dan kelompok yang lain berada di luar kelas. Selanjutnya, salah
satu siswa dari kelompok 1 tersebut menceritakan kembali kepada
kelompok 2, dan seterusnya sampai habis kelompok yang telah dibentuk.
16
Praktik kegiatan cerita berantai (jika satu kelas ada 40 siswa) sebagai
berikut. Satu kelas dibentuk menjadi 10 kelompok (setiap kelompok ada 4 siswa).
Kelompok 1 tinggal di kelas untuk mendengarkan cerita dari gurunya dan
kelompok 2 s.d. 10 diminta keluar. Selanjutnya, kelompok 1 itu bertugas
menceritakan kembali kepada kelompok 2, dan kelompok 2 menceritakan kepada
kelompok 3 dan seterusnya sampai habis. Cerita berantai itu dapat mengasah
keterampilan menyimak dan berbicara dengan baik.
3. Teknik Berbicara Bebas
Berbicara bebas merupakan teknik pengajaran berbicara yang membiarkan
siswa berbicara sebebas-bebasnya dan guru hanya mengawasi. Siswa bebas
menyampaikan topik pembicaraan dan guru hanya memberikan rambu-rambunya.
Rambu-rambu yang dimaksud misalnya siswa dilarang mengeluarkan kata-kata
yang kurang etis dan mengkritik tanpa dasar.
Tes (Latihan)
1. Mengapa diperlukan teknik berbicara? Jelaskan!
2. Jelaskan secara runtut cerita berantai!
3. Apakah kesulitan reproduksi cerita?
17
MODUL 5
SENI BERBICARA DAN ASPEK PENDUKUNG
No
1
2
3
4
Kompetensi Dasar
Menjelaskan seni berbicara
Mampu menerapkan seni berbicara
Mampu mengidentifikasi macam-macam seni berbicara
Menjelaskan aspek pendukung seni bebicara
A. Seni Berbicara
Seni berbicara (the specch arts) pada dasarnya berupa berbicara terapan.
Berbicara sebagai seni ditekankan kepada penerapan bahasa sebagai alat
komunikasi. Kegiatan berbahasa yang meliputi seni berbicara antara lain: (1)
berpidato, (2) berdiskusi, (3) berdebat, (4) bersidang, (5) bermain drama, (6)
bertelepon, dan (7) adu argumentasi.
Berdasarkan macam-macam seni berbicara tersebut maka seni berbicara
dapat dibagi atas dua macam ragam, yaitu berbicara pada masyarakat dan
berbicara pada konferensi.
1. Berbicara pada Masyarakat
Ragam berbicara pada masyarakat (Public Speaking) sangat penting untuk
diketahui bagi pelajar yang ingin belajar tentang teori dan praktik keterampilan
berbicara. Kegiatannya meliputi.
a. Berbicara informatif (informative speaking) adalah kegiatan berbicara
yang dilakukan di dalam situasi yang bertujuan memberitahukan sesuatu
kepada masyarakat. Kegiatan berbicara itu bersifat informatif.
b. Berbicara kekeluargaan (followship speaking) adalah kegiatan berbicara
yang dilakukan di dalam situasi yang bertujuan mengakrabkan di dalam
masyarakat. Kegiatan berbicara itu bersifat kekeluargaan.
c. Berbicara meyakinkan (persuasive speaking) adalah kegiatan berbicara
yang dilakukan di dalam situasi yang bertujuan meyakinkan kepada
masyarakat
meyakinkan.
sebagai
pendengar.
Kegiatan
berbicara
itu
bersifat
18
d. Berbicara merundingkan (deliberative speaking) adalah kegiatan berbicara
yang dilakukan dalam situasi yang bertujuan merundingkan sesuatu
dengan masyarakat. Kegiatan berbicara itu bersifat merundingkan.
2. Berbicara pada Konferensi
Ragam berbicara pada konferensi (conference speaking) merupakan
kegiatan berbicara yang diatur dalam sidang. Kegiatan berbicara itu bersifat resmi,
seperti sidang dan rapat-rapat dinas. Bahasa yang digunakan pun bersifat resmi,
yaitu bahasa baku atau standar. Oleh karena itu, berbicara pada konferensi
berbeda dengan berbicara pada masyarakat. Berbicara pada konferensi
mementingkan hasilnya sedangkan berbicara pada masyarakat mementingkan
tujuannya.
B. Aspek Pendukung
Aspek pendukung dalam seni berbicara dapat berupa keterampilan
menjelaskan dan bertanya. Istilah menjelaskan adalah memberikan penjelasan
tentang sesuatu hal atau permasalahan kepada seseorang atau masyarakat luas.
Sedangkan bertanya sebagai bagian dari kegiatan berbicara merupakan kegiatan
yang berupa mengajukan pertanyaan kepada seseorang yang dianggap mengetahui
permasalahan.
Kegiatan berbicara yang berupa menjelaskan dan bertanya tidak semudah
yang dibayangkan. Jadi, kegiatan menjelaskan dan bertanya secara lisan itu pada
dasarnya untuk diterapkan agar lawan bicara atau mitratutur itu memahami
terhadap sesuatu yang dijelaskan dan ditanyakan. Oleh karena itu, kegiatan
menjelaskan dan bertanya memerlukan latihan yang baik karena kedua kegiatan
itu merupakan keterampilan.
1. Keterampilan Menjelaskan
Bentuk kata menjelaskan berbeda dengan menceritakan. Menjelaskan
adalah kegiatan verbal yang menghubungkan antara satu fakta dengan fakta
lainnya, peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya, baik secara induktif
19
maupun deduktif. Tujuannya agar mitratutur lebih jelas (paham). Adapun,
kegiatan menceritakan adalah kegiatan verbal yang menyampaikan pesan, amanat,
dan informasi. Tujuannya agar mitratutur dapat mengetahui (mengerti). Jadi,
dalam proses pelaksanaan secara lisan maka kegiatan menjelaskan dan
menceritakan sama-sama merupakan kegiatan verbal meskipun bobotnya tidak
sama. Orang yang sudah jelas pasti sudah tahu tetapi orang yang sudah tahu
belum tentu sudah jelas.
Agar tujuan keterampilan menjelaskan dapat berhasil maka diperlukan
persyaratan. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu.
a. Bahasa yang digunakan tidak samar
Apabila kita menjelaskan sesuatu kepada orang lain maka bahasa yang
digunakan tidak samar, seperti makna kata, frase, dan kalimat harus jelas
(tidak bermakna ganda). Juga, hindarilah ungkapan yang ragu-ragu dan
tidak pasti seperti ungkapan ... apa itu, ... bagaimana ya, ... yang penting
begitulah. Di samping itu, jangan sering mendehem, mengucapkan ... des
dan berhenti terlalu lama. Hal itu akan mengganggu mitratutur saat
menerima penjelasan.
b. Suka menggunakan contoh
Apabila kita menjelaskan sesuatu kepada orang lain sebaiknya digunakan
contoh yang baik dan konkret sehingga dapat menambah wawasan dan
pengalaman bagi mitratutur. Penggunaan contoh dapat dinyatakan dalam
bentuk yang positif dan bisa negatif. Juga, bisa penggunaan contoh yang
berupa perbandingan, perbedaan, dan peragaan. Contoh yang kurang baik
atau negatif dapat mengenai dirinya sendiri.
c. Adanya penekanan isi pembicaraan
Penekanan dimaksudkan agar mitratutur dapat lebih memperhatikan inti
pembicaraan. Penekanan sesuatu yang penting dapat dilakukan dengan
cara pengulangan atau menekankan dengan ungkapan “perlu diperhatikan,
ini sangat penting”.
20
d. Adanya umpan balik
Umpan balik merupakan cara evaluasi yang dilakukan di sela-sela
pembicara sedang menjelaskan sesuatu. Cara evaluasi itu bukan untuk
mengetes tetapi untuk melibatkan mitratutur agar merasa terlibat berperan
dalam situasi pembicaraan.
Misalnya, evaluasi dalam bentuk retoris.
“Pernahkan anda memikirkan tentang hancurnya peradaban kita”.
Hindarilah cara evaluasi dalam bentuk pertanyaan, “Sudah paham
belum?”.
2. Keterampilan Bertanya
Cara bertanya secara lisan merupakan bagian dari aktivitas berbicara.
Seorang yang terampil berbicara belum tentu pandai bertanya. Bertanya itu pada
dasarnya memerlukan mental yang baik dan pertanyaan yang baik adalah yang
tepat sasaran. Pertanyaan yang baik secara lisan ada beberapa persyaratan, yaitu
(1) penanya harus pandai mengolah bahasa, (2) penanya harus memiliki daya
ingat yang tinggi, dan (3) pertanyaannya harus mengarah pada sasaran dan tidak
berbelit-belit. Hal ini sering dijumpai bahwa jawaban sering tidak sesuai dengan
yang ditanyakannya. Kemungkinan bisa saja bahwa penanya kurang bisa
mengatur bahasanya sehingga penanya merasa kurang puas.
Jika seorang guru bertanya mengenai perbedaan antara A dengan B maka
siswa akan menjawab definisi A dan B. Jawaban seperti itu salah. Misalnya, apa
perbedaan antara becak dengan sepeda? Jawaban yang benar adalah becak beroda
tiga dan sepeda beroda dua. Jadi, bukan becak adalah angkutan umum dan sepeda
adalah angkutan pribadi.
Pada kenyataannya bertanya memerlukan kerja pikir sehingga penanya
harus memiliki kemampuan yang baik. Ada tiga macam cara kerja pikir dalam
bentuk pertanyaan, yaitu.
a. Berpikir Ingatan
Berpikir ingatan adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban dengan
cara mengingat-ingat, seperti mengingat -ingat fakta, kejadian, dan apa
saja yang ditanyakan. Bertanya dengan berpikir ingatan merupakan jenis
21
pertanyaan yang rendah dan kurang berbobot. Pertanyaan seperti itu sangat
baik untuk anak SD atau SMP. Misalnya: Apakah ibukota Inggris? Kapan
Indonesia merdeka? Di kota apa R.A. Kartini dilahirkan?
b. Berpikir Konvergen
Berpikir konvergen adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban
dengan cara menganalisis data dan fakta. Misalnya: Bagaimana tsunami
bisa terjadi? Coba Anda kemukakan bahwa bangsa Indonesia adalah
bangsa yang ramah. Mengapa bahasa Indonesia mudah menyerap bahasa
asing?
c. Berpikir Divergen
Berpikir divergen adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang
kreatif, imajinatif, dan tidak dibutuhkan bukti empiris. Misalnya: Apa
akibatnya jika narkoba dikonsumsi secara bebas? Mengapa Abu Jahal
sangat membenci Nabi Muhammad padahal beliau keponakannya?
Dalam kegiatan bertanya dikenal taksonomi bertanya atau tingkatan
kesulitan pertanyaan. Jadi, taksonomi bertanya menggambarkan tingkat kesulitan
bertanya dan jawabannya. Untuk mengetahui tingkat kesulitan di dalam
taksonomi bertanya dapat diketahui klasifikasinya. Klasifikasi bertanya secara
urut, yakni dari tingkat yang paling rendah (mudah) sampai ke tingkat yang paling
tinggi (sulit) adalah.
a. Mengingat-ingat
Pertanyaan dengan jawaban mengingat-ingat adalah siswa hanya
mengingat-ingat jawabannya dan tidak diperlukan argumentasi yang
faktual. Contohnya: sebutkan ibukota Jepang? Siapakah Presiden pertama
Republik Indonesia? Berasal dari bahasa apakah kata syukur itu?
22
b. Menerjemahkan
Pertanyaan dengan jawaban menerjemahkan adalah siswa menjawab
dengan cara menerjemahkan ke bahasa lain atau mendefinisikan suatu
istilah. Contohnya: Apa makna kata insentif dan intensif? Apakah yang
disebut kontaminasi? Apakah yang dimaksud interferensi?
c. Menginterpretasikan
Pertanyaan dengan jawaban menginterpretasikan adalah siswa menjawab
dengan menentukan atau menemukan hubungan antara fakta dengan
kejadian. Contohnya: Mengapa Nabi Muhammad disebut Al-Amin?
Mengapa bangsa Indonesia disebut bangsa yang ramah? Mengapa akhirakhir ini banyak terjadi tanah longsor?
d. Mengaplikasikan
Pertanyaan dengan mengaplikasikan adalah siswa menjawab secara
empirik dan argumentatif. Contohnya: Buktikan bahwa agama Islam itu
bukan agama kekerasan? Buktikan bahwa bahasa itu merupakan budaya
yang sangat unggul?
e. Menganalisis
Pertanyaan dengan menganalisis adalah siswa menjawab dengan cara
menyelesaikan permasalahan dan pemikiran yang logis. Contohnya:
Mengapa penulisan preposisi itu harus terpisah? Mengapa kata analisa itu
salah? Mengapa ikan itu akan mati jika di darat?
f. Mensintesis
Pertanyaan dengan mensintesis adalah siswa menjawab dengan cara
menyelesaikan permasalahan dan pemikiran yang logis serta kreatif.
Contohnya: Jelaskan dengan beberapa contoh tentang penulisan preposisi!
Jelaskan dengan contoh tentang morfem terikat!
23
g. Mengevaluasi
Pertanyaan dengan mengevaluasi adalah siswa menjawab dengan
mempertimbangkan dan memberikan penilaian yang objektif. Contohnya:
Bagaimana pendapat Anda tentang perkembangan bahasa Indonesia di
media massa saat ini? Bagaimana tingkat kesulitan bahasa Indonesia
dibandingkan bahasa Inggris?
Sebagai calon guru Bahasa Indonesia, mahasiswa Jurusan Pendidikan
Bahasa Indonesia (PBI) perlu memahami taksonomi bertanya. Perlu diingat
bahwa bertanya itu tidak perlu disuruh tetapi merupakan kebutuhan bagi orang
yang memang ingin mengetahui tentang jawaban atas permasalahan yang
dihadapinya. Jadi, biasakanlah bertanya jika belum mengetahui duduk
permasalahannya saat pembelajaran.
Tes (Latihan)
1. Mengapa diperlukan seni berbicara? Jelaskan!
2. Jelaskan macam-macam seni berbicara!
3. Apakah yang dimaksudkan aspek pendukung seni berbicara?
24
MODUL 6
METODE BREBICARA
No
Kompetensi Dasar
1 Menjelaskan metode berbicara yang disebut catur cara saji wicara.
2 Mampu menerapkan metode berbicara
3 Mampu mengidentifikasi macam-macam metode berbicara
A. Pengantar
Berbicara merupakan kegiatan berbahasa yang disampaikan secara lisan.
Orang yang terampil berbicara akan menggunakan bahasa dengan baik, benar,
runtut, dan menyampaikan dengan artikulasi yang jelas. Kegiatan berbicara dapat
dilakukan dengan berbagai macam metode penyampaian. Ada empat macam
metode penyampaian berbicara atau yang disebut “Catur Cara Saji Wicara”.
B. Macam-macam Metode Berbicara
1. Metode Impromptu
Metode impromptu (Impromptu Delivery) adalah metode penyampaian
berbicara yang dilakukan secara mendadak (serta merta). Misalnya, seseorang
yang tidak terdaftar sebagai pembicara dalam suatu acara diminta (didaulat) oleh
panitia untuk berbicara (berpidato) secara mendadak. Dia harus menggunakan
pengalaman yang dimiliki untuk bahan pidatonya. Orang yang kurang
berpengalaman biasanya tidak mau jika diminta berpidato secara mendadak.
Metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah pembicara
dapat mengembangkan gagasan. Kelemahannya adalah pembicara yang kurang
berpengalaman sangat monoton dan akan bingung apa yang akan disampaikan.
2. Metode Ekstemporan
Metode
ekstemporan
(extemporaneous
delivery)
adalah
metode
penyampaian berbicara yang dilakukan tanpa persiapan naskah. Jadi, pelaksanaan
metode ekstemporan itu tidak menggunakan naskah sebagai bahan pidatonya. Dia
sudah mengetahui bahwa dirinya akan berpidato dan sengaja tidak menggunakan
25
naskah tetapi memanfaatkan catatan ringkas pada selembar kertas sebagai bahan
pengingat. Catatan ringkas itu biasanya berisi ide pokok dan hal-hal yang sulit
untuk dihafalkan. Misalnya, peribahasa, cuplikan ayat Al-Quran atau hadis, dan
nama orang-orang yang akan disampaikan saat berpidato. Kelebihannya adalah
pembicara
yang
berpengalaman
lebih
kreatif.
Kelemahannya
adalah
pembicarannya kurang berkembang.
3. Metode Naskah
Metode naskah (manuscript delivery) adalah metode penyampaian
berbicara yang dilakukan dengan menggunakan naskah atau teks. Metode naskah
digunakan pada saat acara penting, seperti pidato kenegaraan, khutbah Jumat, atau
laporan. Kelebihannya adalah isinya sudah diedit sehingga kebenaran teks dapat
diantisipasi. Kelemahannya adalah tatapan mata kepada audience atau hadirin
terbatas.
4. Metode Hafalan (Ingatan)
Metode ingatan atau hafalan (memory delivery) adalah metode
penyampaian berbicara yang dilakukan dengan cara mengingat-ingat atau
menghafal bahan pidato. Biasanya dilakukan oleh pembicara pemula atau kurang
berpengalaman. Jadi, mirip deklamasi sehingga penyampaian kelihatan kaku dan
monoton. Kelebihannya adalah sebagai ajang latihan tampil di muka umum.
Kelemahannya adalah pembicara sangat kaku, monoton, dan arah pandangan
searah.
Metode apa pun yang digunakan oleh pembicara dalam berbicara di muka
umum tidak menjadi persoalan. Namun, yang terpenting adalah bahwa usaha yang
dilakukan berhasil, komunikasi berjalan lancar, dan pembicara memiliki sikap
percaya diri (PD) yang tinggi. Oleh karena itu, perlu diketahui lima faktor, yaitu
(1) bunyi-bunyi atau fonem (vokal dan konsonan) diucapkan dengan tepat, (2)
pola-pola intonasi, seperti naik-turunnya suara dan tekanan kata sudah
memuaskan, (3) ketepatan ucapan sudah mencerminkan pemahaman pembicara,
26
(4) kata-kata yang disampaikan sudah runtut secara bentuk dan struktur, dan (5)
sudah mencerminkan keaslian penutur (native speaker) bahasa yang digunakan.
Kelima faktor itu dapat memberikan ketepatan bagi kita untuk dapat
berbicara secara efektif. Seseorang yang mampu berbicara secara efektif dapat
meraih keberhasilan dalam semua aspek kehidupan. Namun, perlu diketahui
bahwa berbicara efektif tidak sama dengan berbicara cepat. Ada teori yang
mengatakan bahwa “orang yang berbicara cepat biasanya lamban berpikir dan
orang yang berbicara efektif biasanya cepat berpikir”.
Berbicara efektif dilakukan dengan pemilihan kata-kata yang baik dan
sesuai dengan apa yang dimaksud. Artinya, penggunaan kata yang tepat dalam
berbicara efektif sangat dipentingkan. Hal itu dapat menghindari kesalahpahaman
bagi mitratutur atau audience (pendengar). Sebab, kesalahpahaman dapat
menimbulkan fitnah sehingga menyebabkan konflik. Oleh karena itu, berbicara
efektif tidak sama dengan berbicara lambat dan berbicara efektif lebih baik
daripada berbicara cepat.
Tes (Latihan)
1. Jelaskan tentang metode berbicara!
2. Menurut Anda, manakah metode yang paling baik? Berilah alasannya!
3. Apakah kelebihan dan kekurangan metode naskah?
27
MODUL 7
BERBICARA UNTUK BERKOMUNIKASI
No
Kompetensi Dasar
1 Menjelaskan pengertian komunikasi
2 Mampu berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan benar
3 Mampu mengidentifikasi komunikasi lisan dan tulis
A. Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi dipungut dari bahasa Inggris “communication” yang
berasal dari akar kata common atau communis yang memiliki arti sama
(kesamaan). Dalam proses komunikasi, baik komunikasi lisan maupun tulis antara
penutur dan mitratutur harus memiliki kesamaan pemaknaan kata-kata yang
disampaikan. Jadi, komunikasi dapat berlangsung jika keduanya (penutur dan
mitratutur) memiliki kesamaan makna. Hal itu sesuai dengan pendapat Widjaja
(2008:8) bahwa komunikasi merupakan penyampaian informasi dan pengertian
dari seseorang kepada orang lain. Jadi, adanya pengertian yang sama tentang
informasi yang disampaikan.
Komunikasi yang santun dan efektif akan saling menguntungkan antara
penutur (komunikator) dengan mitratutur (komunikan). Juga, keduanya dapat
terlaksana dengan baik tergantung pada bahasa yang digunakan. Misalnya, jika
seseorang berbelanja di pasar kemudian berkomunikasi dengan penjual sayur dan
bahasa yang digunakan adalah bahasa baku. Maka, proses komunikasi tersebut
akan berlangsung kaku dan tidak efektif bahkan akan dianggap kurang santun.
Jadi, sebaiknya bahasa yang digunakan adalah bahasa nonbaku. Namun, hal
tersebut pada dasarnya sudah memenuhi lima unsur proses komunikasi. Kelima
unsur tersebut adalah (1) komunikator/ penyampai pesan, (2) pesan/ isi informasi,
(3) saluran/ udara, (4) komunikan/ penerima pesan, dan (5) hasil/ efek. Kelima
unsur tersebut harus ada dalam proses komunikasi lisan.
Komunikator dan komunikan harus ada dalam proses komunikasi lisan
sebab mustahil komunikator berbicara tidak ada komunikan. Jika keduanya ada
dan tidak ada pesan yang disampaikan maka tidak akan terjadi proses komunikasi.
28
Juga, jika tidak ada udara maka tidak akan dapat berkomunikasi. Misalnya, dua
orang berbicara di dalam air maka proses komunikasi tidak dapat berlangsung. Di
samping itu, hasil yang disampaikan harus ada. Sebab, tidak ada gunanya jika
berkomunikasi tidak saling mengerti antara komunikator dengan komunikan.
B. Komunikasi Lisan
Komunikasi lisan dapat diidentikkan dengan berbicara dengan orang lain.
Maksud orang lain dapat berupa individu atau kelompok. Berbicara dengan orang
lain yang berupa individu dapat disebut dialog. Adapun, berbicara dengan
kelompok orang dapat berupa pidato atau ceramah. Hal itu dapat disebut berbicara
di muka umum. Berbicara di muka umum didasarkan pada ragam berbicara pada
masyarakat. Seperti yang telah disampaikan bahwa berbicara pada masyarakat
atau public speaking terdiri atas empat macam, yaitu (1) berbicara untuk
menginformasikan/ informative speaking, (2) berbicara untuk kekeluargaan/
followship speaking, (3) berbicara untuk meyakinkan/ persuasive speaking, dan
(4) berbicara untuk merundingkan/ deliberative speaking.
1. Berbicara untuk Menginformasikan
Berbicara untuk menginformasikan adalah kegiatan berbicara yang
dilakukan di dalam situasi yang bertujuan memberitahukan sesuatu kepada
masyarakat. Maksud masyarakat adalah semua komunitas orang dari berbagai
aspek kehidupan, seperti mahasiswa di kampus dapat disebut masyarakat. Seorang
dosen atau guru yang memberikan kuliah atau menyampaikan bahan
pembelajarannya dapat dikatakan bahwa ia berbicara untuk menginformasikan.
Berbicara model ini jika pembicara bermaksud, antara lain (1) memberikan atau
menanamkan pengetahuan, (2) menerangkan atau menjelaskan suatu proses, (3)
menguraikan suatu tulisan, dan (4) menafsirkan suatu persetujuan.
Untuk melakukan pidato atau berbicara di muka umum dengan tujuan
menginformasikan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a. Memilih pokok pembicaraan yang menarik. Hal yang akan disampaikan harus
menarik bagi audience sehingga tidak menjemukan.
29
b. Membatasi pokok pembicaraan. Hal ini dimaksudkan agar pembicaraan tidak
menyimpang dari pokok permasalahan yang disampaikan.
c. Menyusun bahan. Pembicaraan yang akan disampaikan biasanya terdiri atas
pendahuluan, isi, dan simpulan.
d. Menyampaikan bahan pembicaraan dengan baik yang dapat dikaitkan dengan
situasi aktual. Hal ini dimaksudkan agar audience tidak bosan, situasi lebih
segar, dan isinya kontekstual.
2. Berbicara untuk Kekeluargaan
Berbicara untuk kekeluargaan adalah kegiatan berbicara yang dilakukan di
dalam situasi yang bertujuan mengakrabkan dengan audience/ pendengar. Jadi,
pembicaraannya bersifat kekeluargaan atau akrab. Berbicara dengan tujuan untuk
kekeluargaan biasanya diselingi dengan ungkapan yang menghibur. Ucapan atau
ungkapan yang menghibur akan membuat suasana menjadi lebih meriah sebab
audience akan lebih sering tersenyum dan tertawa. Orang yang tersenyum dan
tertawa selalu terhibur hatinya. Jangan dianggap mudah menyampaikan ungkapan
yang dapat menyebabkan orang lain dapat tertawa sebab pembicara harus
mempunyai pengalaman yang banyak dan memiliki kekayaan perbendaharaan
kata atau kosa-kata yang menyegarkan.
Acara yang dapat digunakan pada saat berbicara untuk kekeluargaan dapat
disebutkan antara lain (1) pidato sambutan, (2) pidato perpisahan, (3) pidato
perkenalan, (4) pidato balasan, (5) pidato atau ceramah saat pengajian, (6) pidato
tasyakuran, dan (7) pembelajaran dapat juga diselingi ungkapan hiburan dan
keakraban antara pengajar dengan pembelajar.
3. Berbicara untuk Meyakinkan
Berbicara untuk meyakinkan adalah kegiatan berbicara yang dilakukan di
dalam situasi yang bertujuan meyakinkan kepada audience/ pendengar. Para
pendengar dapat meyakini isi pembicaraan dari seorang pembicara adalah yang
pertama kali melihat pribadi atau karakter pembicara itu sendiri. Kita tidak dapat
30
meyakini isi pembicaraan tentang disiplin waktu jika pembicara itu sendiri tidak
pernah disiplin dan tidak pernah menepati waktu yang dijanjikan.
Sebelum menyampaikan pidato yang bertujuan untuk meyakinkan
hendaknya perlu introspeksi diri: Apakah diriku sudah melaksanakan hal-hal
yang akan disampaikan? Para pendengar perlu dirangsang untuk berbuat aksi
dengan daya tarik yang emosional. Adapun, daya tarik yang emosional itu
biasanya muncul dari pribadi dan karakter pembicara itu sendiri. Oleh karena itu,
dapat ditengarai bahwa tidak ada orang yang tertarik jika mereka tidak
mempunyai keyakinan pada pribadi dan karakter pembicara. Perasaan para
pendengar itu sangat wajar dan vital. Maka, sangat wajar pula diperlukan “orang
tampan yang terampil berbicara” atau dalam bahasa Latinnya “bonus vir docendi
dicendi”. Pendengar sangat tidak yakin jika orang yang suka berjudi dan
berselingkuh menjadi pembicara dalam pengajian. Hal itu dapat meyakinkan jka
orang tersebut sudah bertobat dan tidak lagi melakukan perbuatan yang buruk.
Jadi, pengalaman yang buruk dapat saja disampaikan sebagai materi atau bahan
agar menjadi pembelajaran bagi masyarakat bahwa judi dan selingkuh merupakan
perbuatan yang buruk.
4. Berbicara untuk Merundingkan
Berbicara untuk merundingkan adalah kegiatan berbicara yang dilakukan
dalam situasi yang bertujuan untuk merundingkan sesuatu. Hal yang dirundingkan
mengharuskan dua pihak memiliki fakta sehingga muncul keputusan yang baik.
Berbicara untuk merundingkan merupakan pembicaraan interaktif. Jadi, perlu
diketahui bahwa tujuan bukan tindakan (aksi) tetapi merupakan bayangan
pemikiran (refleksi). Berbicara untuk merundingkan yang dipentingkan adalah
memutuskan bukan melakukan (to decide but not to do). Berbicara untuk
merundingkan dimaksudkan agar kedua belah pihak memiliki keyakinan yang
sama. Jadi, meyakinkan pada dasarnya membuat seseorang sadar akan suatu
kebenaran. Sebab, meyakinkan faktor penentunya adalah akal dan memaksakan
faktor penentunya adalah perasaan. Dengan demikian, kedua tindakan tersebut
berbeda dalam faktor penentunya.
31
Berbicara untuk merundingkan agar kedua belah pihak memiliki
keyakinan. Faktor-faktor yang berkaitan dengan meyakinkan dalam berbicara
untuk merundingkan adalah (1) kejelasan, (2) kemurnian, (3) kecerahan, (4)
ketertiban, (5) kerapian, (6) keteraturan, (7) fakta, (8) bukti, (9) petunjuk, (10)
alasan, (11) bantahan, (12) penjelasan, dan (13) kejujuran.
Tes (Latihan)
1. Jelaskan tentang pengertian komunikasi!
2. Jelaskan perbedaan antara bahasa lisan dengan bahasa tulis!
3. Apakah yang dimaksud berbicara untuk meyakinkan?
32
MODUL 8
PEMBELAJARAN BERBICARA
No
Kompetensi Dasar
1 Mampu menerapkan pertanyaan yang baik dalam wawancara
2 Mampu menyusun kalimat yang baik dalam pidato
3 Mampu mengungkapkan ide-ide dalam diskusi
A. Pengantar
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia sebagai calon guru Bahasa
Indonesia di tingkat SMP atau SMA/ SMK/ MA perlu memahami teori dan
praktik pembelajaran berbicara. Materi pembelajaran berbicara ini sebagian besar
diambilkan dalam Modul pada kurikulum yang berisi tentang wacana lisan yang
dikeluarkan oleh Depdiknas. Namun, contoh-contohnya disesuaikan pada kondisi
yang terbarukan dan situasional.
Kompetensi inti yang akan dipelajari ini terdiri atas tiga Kompetensi Dasar
(KD). Pertama, wacana lisan untuk wawancara yang terdiri atas dua indikator
esensial, yakni (1) menentukan jenis pertanyaan yang cocok dengan kutipan dan
(2) menentukan jawaban yang harus disampaikan narasumber dengan benar.
Kedua, wacana lisan untuk presentasi laporan dan pidato terdiri atas tiga indikator
esensial, yakni (1) memilih kalimat yang tidak sesuai dengan konteks penggalan
pidato, (2) menentukan jenis komponen pidato yang sesuai dengan penggalan
pidato, dan (3) menentukan kalimat pembuka/ penutup pidato. Ketiga, wacana
lisan untuk diskusi terdiri atas dua indikator esensial, yakni (1) menentukan
pernyataan persetujuan atau bukan persetujuan yang tepat dan (2) memilih
komponen diskusi.
B. Wacana Lisan untuk Wawancara
Wawancara merupakan satu di antara beberapa bentuk komunikasi lisan.
Dengan mengacu pendapat Leech (2003:80) bahwa dalam berkomunikasi lisan
penutur dan petutur beretorika interpersonal, hal itu mengisyaratkan bahwa dalam
wawancara pewawancara dan narasumber/ informan juga beretorika interpersonal.
33
Dalam retorika interpersonal terdapat dua prinsip yang idealnya ditaati peserta
komunikasi agar tujuan komunikasi tercapai, yakni prinsip kerja sama dan prinsip
kesantunan. Substansi prinsip kerja sama adalah bahwa sumbangan informasi
yang diberikan penutur idealnya sebatas yang diperlukan petutur (Leech,
2003:80). Hal itu berarti bahwa dalam wawancara, misalnya, informasi yang
diberikan oleh narasumber/ informan idealnya sebatas yang diperlukan
pewawancara. Berbeda dengan prinsip kerja sama, substansi prinsip kesantunan
adalah bahwa tuturan penutur idealnya dapat menjaga keharmonisan sosial (tidak
menyebabkan konflik dengan petutur atau orang lain yang disebut dalam tuturan)
(Leech, 2003:131).
1. Menentukan Jenis Pertanyaan yang Cocok dengan Kutipan
Pertanyaan merupakan variabel utama dalam wawancara. Pertanyaan
berguna bukan hanya bagi pewawancara dan narasumber/ informan, melainkan
juga bagi pihak lain. Bagi pewawancara, pertanyaan merupakan sarana untuk
menggali informasi yang diinginkannnya. Bagi narasumber/ informan, pertanyaan
merupakan
sarana
untuk
mengidentifikasi
informasi
yang
diinginkan
pewawancara. Bagi pihak lain, pertanyaan merupakan sarana untuk mengetahui
informasi yang diinginkan pewawancara dan sarana pengecek kesesuaian dan
kedalaman jawaban narasumber/ informan.
Pertanyaan pewawancara biasanya terdiri atas dua komponen, yakni kata
atau frasa tanya dan proposisi. Dalam pertanyaan “Seberapa lama pelaksanaan
penelitian tindakan kelas (PTK) itu?”, misalnya, “berapa lama” merupakan frasa
tanya yang berfungsi menanyakan durasi, sedangkan “pelaksanaan PTK itu”
merupakan proposisi. Dalam pertanyaan “Di mana pelaksanaan penelitian
tindakan kelas (PTK) itu?”, misalnya, “di mana” merupakan kata tanya yang
berfungsi menanyakan tempat, sedangkan “pelaksanaan PTK itu” merupakan
proposisi.
34
Jawaban narasumber/ informan dan jenis pertanyaan yang digunakan
pewawancara idealnya relevan. Kerelevanan itu tampak dari kesejajaran kata atau
frasa tanya dan fungsinya. Sebagai contoh, kalau pewawancara menggunakan
pertanyaan “di mana”, jawaban narasumber/informan idealnya tempat tertentu.
Hal itu mengisyaratkan bahwa dari jawaban narasumber/ informan dapat
diprediksi kata tanya yang cocok dan hal yang ditanyakan pewawancara. Kalau
jawaban narasumber/ informan “tiga bulan”, dapat diiprediksi bahwa frasa tanya
yang digunakan pewawancara adalah “seberapa lama”, “berapa bulan”, atau frasa
tanya lain yang menunjukkan durasi.
2. Menentukan Jawaban yang harus Disampaikan Narasumber
Kata tanya “siapa”, misalnya, menanyakan orang atau entitas lain yang
sifatnya sejenis dengan sifat manusia. Hal itu berarti bahwa dari kata atau frasa
tanya yang digunakan pewawancara dapat diprediksi informasi yang diinginkan
pewawancara dan jawaban yang harus disampaikan oleh narasumber/ informan.
Jawaban yang disampaikan narasumber/ informan idealnya sesuai dengan
kebutuhan informasi pewawancara; benar - narasumber/ informan tidak
berbohong; relevan; dan jelas, tidak taksa, singkat, dan teratur. Di samping itu,
jawaban narasumber/ informan idealnya juga santun agar hubungannya dengan
pewawancara harmonis. Sebagai contoh, kalau pewawancara menanyakan “berapa
lama idealnya kegiatan inti pembelajaran”, jawaban - narasumber yang tepat
adalah “dua belas sampai dengan empat belas kali durasi kegiatan awal” atau
redaksi dengan kemasan lain yang menunjukkan durasi.
B. Wacana Lisan untuk Presentasi Laporan dan Pidato
Pidato merupakan kegiatan pengungkapan pikiran secara lisan yang
ditujukan kepada banyak orang. Orang yang berpidato dapat disebut pembicara
memiliki peranan penting karena menjadi “narasumber” (pemberi informasi)
tunggal sekaligus “tokoh utama”. Dia seolah-olah menjadi orang yang paling
pandai karena berhak “menguliahi”, mengelola, menertawakan, memancing
reaksi, serta memengaruhi emosi pendengar. Komunikasi yang pada umumnya
35
satu arah, yakni dari pembicara (komunikator) kepada pendengar (komunikan),
menyebabkan komunikator terasa “aman” karena tidak disanggah, tidak didebat,
atau ditanyai oleh komunikan. Untuk meningkatkan daya tarik pidatonya,
pembicara
biasanya
menunjukkan
keterampilan
verbal
dan
nonverbal.
Keterampilan verbal merupakan kemampuan mengemas dan menyampaikan
pikiran
melalui
bahasa,
sedangkan
keterampilan
nonverbal
merupakan
kemampuan mengemas dan menyampaikan pikiran melalui gerak tubuh (kinesik),
misalnya gerak tangan dan ekspresi wajah.
1. Memilih Kalimat yang tidak Sesuai dengan Konteks Pidato
Kalimat biasa digunakan dalam berbagai komunikasi, misalnya pidato.
Pembicara menuangkan gagasan-gasasan utuhnya ke dalam kalimat-kalimat.
Kalimat-kalimat tersebut disusun sebaik-baiknya oleh pembicara agar bermakna,
informatif, dan mudah dipahami. Untuk kepentingan itu, pembicara juga
mengupayakan kalimat-kalimatnya sesuai dengan konteks pidatonya. Meskipun
pembicara telah mengupayakan kalimat-kalimat pidatonya sesuai dengan konteks
pidato, dalam praktik masih banyak kalimat pidato yang tidak sesuai dengan
konteks pidato. Penyebabnya karena (1) pembicara bisa kehilangan konsentrasi
sesaat, (2) pembicara kurang persiapan, dan (3) pembicara belum berpengalaman.
Ketidaksesuaian kalimat dengan konteks pidato dapat diamati dari
indikator ketidaksejalanan isi kalimat dengan topik pidato. Perhatikan contoh
penggalan pidato berikut!
Saudara-saudara yang saya hormati,
(1) Guru merupakan ujung tombak pendidikan. (2) Guru memegang peran
penting dalam menentukan masa depan pendidikan. (3) Di tangan guru
yang baik, pendidikan akan baik. (4) Kebalikannya, pendidikan akan
hancur kalau guru tidak peduli. (5) Guru dan pendidikan memang tidak
dapat dipisahkan. (6) Makin banyak guru, makin banyak orang yang
membutuhkan pendidikan. .................................
36
Penggalan pidato tersebut terdiri atas enam kalimat. Kalimat pertama
sampai dengan kalimat kelima sesuai dengan konteks pidato, yakni peran guru
dalam pendidikan. Kalimat keenam tidak sesuai dengan konteks pidato karena
tidak sejalan (tidak menunjukkan peran guru dalam pendidikan). Dari segi logika,
kalimat keenam di samping tidak sesuai dengan konteks juga tidak logis karena
jumlah peminat pendidikan tidak disebabkan oleh jumlah guru.
2. Menentukan Jenis Komponen Pidato yang Sesuai dengan Penggalan Pidato
Pidato merupakan kegiatan prosedural yang terdiri atas tiga komponen,
yakni pembuka, isi dan penutup. Sebagai kegiatan prosedural, ketiga komponen
tersebut bersifat urut dan harus ada. Sifat urut mengisyaratkan bahwa komponen
pembuka merupakan komponen pertama, komponen isi merupakan komponen
kedua, dan komponen penutup merupakan komponen ketiga. Ketiga komponen
itu bersifat sinergis dan sistemis sehingga tidak dapat diacak. Aneh suatu pidato
kalau ketiga komponen tersebut disajikan secara acak, misalnya komponen
penutup disampaikan sebelum komponen pembuka dan isi. Selanjutnya, sifat
harus ada mengisyaratkan bahwa ketiga komponen itu harus disajikan secara
lengkap. Pidato akan janggal kalau bagian komponen atau penutupnya
ditanggalkan. Lebih aneh suatu pidato kalau komponen isinya ditiadakan.
Komponen pembuka atau pendahuluan, sesuai dengan namanya, disajikan
pada bagian awal. Komponen pembuka berisi salam awal, ucapan syukur kepada
Tuhan, pernyataan penghormatan kepada hadirin, dan pengantar pidato.
Komponen ini berfungsi membangkitkan perhatian, memperjelas latar belakang
pembicaraan, dan menciptakan kesan baik tentang pembicara.
Komponen isi disajikan pada bagian tengah. Komponen isi berisi butirbutir inti materi pidato. Karena berisi butir-butir inti, sajian komponen isi lebih
banyak
daripada komponen pembuka dan penutup. Sedangkan
komponen
penutup disajikan pada bagian akhir pidato. Komponen penutup berisi simpulan
dan saran pidato, kalimat-kalimat penutupan, ucapan terima kasih, dan salam
akhir.
37
3. Menentukan Kalimat Pembuka/Penutup Pidato
Kalimat pembuka berisi salam awal, ucapan syukur kepada Tuhan,
pernyataan penghormatan kepada hadirin, dan pengantar pidato. Kalimat penutup
berisi simpulan dan ucapan terima kasih, dan salam akhir. Kalimat-kalimat dalam
komponen
pembuka
bersifat
mengawali
uraian
materi
dengan
fungsi
membangkitkan perhatian, memperjelas latar belakang pembicaraan, dan
menciptakan kesan baik tentang pembicara; sedangkan kalimat-kalimat komponen
penutup bersifat mengakhiri uraian materi dengan fungsi menegaskan atau
menggarisbawahi materi yang telah disampaikan, memberikan saran, dan
menjalin hubungan baik dengan hadirin setelah pidato.
Dengan berdasar isi dan fungsinya, kalimat-kalimat dalam komponen
pembuka dan penutup dapat diidentifikasi dan disusun setelah mengetahui
konteks
atau
topik
pidato.
Sebagai
contoh,
seorang
pembicara
akan
menyampaikan topik “Peran Generasi Muda dalam Pembangunan Bangsa”.
Kalimat-kalimat pembukanya di antaranya sebagai berikut: Assalamualaikum
warohmatullahi wabarokatuh. Saudara-saudara yang saya hormati, selamat
malam. Marilah kita bersyukur kepada Tuhan. Atas rahmat dan karunia-Nya
sehingga kita dapat bertemu di tempat ini guna menyamakan pikiran dan
pandangan kita tentang peran penting generasi muda dalam pembangunan bangsa.
Berbeda dengan kalimat-kalimat pembuka, kalimat-kalimat penutupnya di
antaranya sebagai berikut: Saudara-saudara yang saya hormati. Sekali lagi saya
ingin menggarisbawahi bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam
pembangunan bangsa. Karena itu, sebagai generasi muda kita harus turut berperan
serta secara nyata dalam pembangunan bangsa. Kiranya, demikianlah yang dapat
saya sampaikan. Saya menyampaikan terima kasih dan mohon maaf atas
kekurangan dan kesalahan. Selamat malam. Wassalamualikum warohmatullahi
wabarokatuh.
D. Wacana Lisan untuk Diskusi
Diskusi pada dasarnya merupakan kegiatan bertukar pikiran. Dalam
konteks formal, diskusi adalah pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai
38
suatu masalah. Dalam hal ini, yang bertukar pikiran adalah pembicara dan peserta
diskusi. Pembicara menyampaikan gagasan, pendapat, dan saran; peserta
menyimak dan meresponsnya. Agar mudah dipahami oleh peserta; gagasan,
pendapat, dan saran tersebut perlu disampaikan secara runtut atau teratur. Hal itu
berarti bahwa sebelumnya harus ada penataan ide lebih dahulu.
Diskusi, khususnya yang bersifat formal, tidak sama dengan dialog.
Perbedaannya adalah bahwa peserta diskusi formal biasanya lebih besar,
komunikasinya bersifat tatap muka langsung, berorientasi tukar pikiran, bukan
permintaan informasi, tanpa narasumber, terdapat minimal satu orang yang
berposisi sebagai pembicara, dan melibatkan pemandu diskusi (moderator) dan
penulis diskusi (notulis).
1. Menentukan Pernyataan Persetujuan atau bukan Persetujuan
Dalam diskusi, pernyataan pembicara atau peserta diskusi bermacammacam sesuai dengan kepentingan, cara pandang, dan pengetahuan masing.
Dimungkinkan sebagian di antara mereka mengemukakan pernyataan yang benar
dengan dukungan data atau bukti yang kuat, atau pernyataan yang salah. Kondisi
pernyataan yang bermacam-macam tersebut menyebabkan ada pernyataan yang
disetujui tanpa catatan atau bersyarat, disetujui dengan catatan, dan ditolak.
Pernyataan persetujuan tanpa catatan diberikan kalau pernyataan yang
ditanggapi benar-benar dapat diterima tanpa syarat, misalnya karena isi dan
redaksinya baik serta dukungan data/ buktinya kuat. Pernyataan persetujuan
tersebut misalnya Saya menyetujui pernyataan Saudara Agus karena… atau Saya
rasa pernyataan Saudara Agus dapat diterima karena…. Dari contoh tersebut
tampak bahwa dalam pernyataan persetujuan tanpa syarat idealnya dieksplisitkan
kata-kata yang menunjukkan persetujuan dan alasan persetujuan yang sejalan atau
bahkan menguatkan alasan dalam pernyataan yang ditanggapi.
Pernyataan persetujuan bersyarat diberikan kalau pernyataan yang
ditanggapi memiliki kelemahan, misalnya karena isi dan redaksi baik, tetapi
dukungan data/ buktinya kurang kuat. Pernyataan persetujuan tersebut misalnya
Saya menyetujui pernyataan Saudara Agus dengan catatan bahwa … atau Secara
39
umum pernyataan Saudara Agus dapat saya terima asalkan….
Dari contoh
tersebut tampak bahwa dalam pernyataan persetujuan bersyarat idealnya
dieksplisitkan kata-kata yang menunjukkan persetujuan dan syarat yang harus
dipenuhi dalam pernyataan yang ditanggapi.
Pernyataan penolakan (bukan persetujuan) diberikan kalau pernyataan
yang ditanggapi benar-benar tidak dapat diterima, misalnya karena isi dan
redaksinya tidak baik serta dukungan data/ buktinya lemah. Pernyataan bukan
persetujuan bersifat bertentangan dengan pernyataan orang lain sehingga harus
ditata sebaik-baiknya agar tidak menimbulkan konflik. Hal itu mengisyaratkan
bahwa pernyataan bukan persetujuan harus santun agar pemilik pernyataan yang
ditanggapi tidak kehilangan muka atau tersinggung. Pernyataan bukan persetujuan
atau ketidaksetujuan sebagian tersebut misalnya Secara umum pada pernyataan
Saudara Agus terdapat beberapa hal yang benar, tetapi rasanya kita tetap perlu
memertimbangkan kepentingan yang lebih besar karena... atau Dari sisi A, B, dan
C pendapat saya sejalan dengan pernyataan Saudara Agus, tetapi ada sedikit
perbedaan dalam hal…karena….
Berdasarkan contoh-contoh tersebut tampak bahwa dalam pernyataan
bukan persetujuan sebagian idealnya dieksplisitkan kata-kata yang menunjukkan
persetujuan dan pada bagian akhir dieksplisitkan kata-kata yang menunjukkan
ketidaksetujuan yang disertai dengan alasan yang logis dan kuat. Pernyataan
bukan
persetujuan
mutlak
harus
ketidakharmonisan, bahkan konflik
dihindari
karena
personal. Contoh
dapat
menciptakan
pernyataan
bukan
persetujuan mutlak adalah Saya kira sudah jelas bahwa pernyataan Saudara Agus
salah sehingga sama sekali tidak ada alasan untuk menyetujuinya atau Saya rasa
jelas bahwa pernyataan Saudara Agus tidak hanya jelas, tetapi juga berbahaya.
Pernyataan demikian menurunkan martabat orang yang ditanggapi sehingga harus
dihindari agar keharmonisan tetap terjaga.
2. Memilih Komponen Diskusi
Pembicara dan peserta merupakan dua di antara empat komponen diskusi.
Dua komponen yang lain adalah moderator dan notulis. Diskusi yang bersifat
40
formal (resmi) dengan banyak peserta biasanya dilakukan oleh minimal empat
komponen,
yaitu
pembicara,
pemimpin
diskusi
(pemandu/
moderator),
sekretaris(penulis diskusi/ notulis), dan peserta diskusi (audience).
Tiap komponen mempunyai tugas khusus. Pembicara, misalnya,
mempunyai tugas menyajikan atau memaparkan pokok-pokok permasalahan yang
akan didiskusikan. Pembicara melaksanakan tugas tersebut setelah ia diberi
kesempatan oleh pemandu diskusi untuk berbicara. Biasanya, pokok-pokok
permasalahan disampaikan setelah pembicara mengucapkan salam dan berbasabasi sebentar, sebelum berbicara panjang lebar untuk mengembangkan pokokpokok permasalahan yang akan dikembangkan berdasarkan topik sajian. Secara
sederhana, dalam menyajikan pokok-pokok permasalahan pembicara dapat
mengatakan, misalnya, “Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan beberapa
hal. Pertama, …..; kedua…..; dan seterusnya”.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya pembicara
lupa terhadap pokok permasalahan tertentu atau ketidakruntutan pokok-pokok
permasalahan, pembicara dapat membuat catatan lebih dahulu tentang pokokpokok permasalahan yang akan disajikan. Catatan tersebut harus dikuasai lebih
dahulu dan sebaiknya memang tidak dibaca pada saat penyajian karena hal
tersebut dapat menurunkan kredibilitas pembicara.
Agar hasilnya baik, diskusi juga harus berjalan dengan baik. Untuk itu,
keberadaan pemandu diskusi yang terampil sangat penting dan utama. Tugas
pemandu antara lain (1) menyampaikan tujuan diskusi, (2) mengenalkan
pembicara, (3) menyampaikan aturan-main diskusi, (4) mengatur proses diskusi,
dan (5) memimpin sesi tanya jawab. Hal yang penting untuk diperhatikan terkait
dengan tugas pemandu diskusi adalah bahwa aturan-main atau tata cara diskusi
harus ditaati. Sering terjadi diskusi menjadi kacau karena aturan-mainnya tidak
ditaati.
Bagaimana aturan-main diskusi? Aturan-main diskusi bersifat fleksibel,
dalam arti bahwa aturan-main dalam diskusi yang satu tidak harus sama dengan
aturan-main dalam diskusi yang lain. Yang penting adalah bahwa aturan-mainnya
harus jelas, misalnya diskusi akan berlangsung sekian menit, diskusi dibagi
41
menjadi sekian sesi, tiap pembicara akan menyajikan materi sekian menit,
penanya hanya boleh mengajukan sekian pertanyaan, dan per sesi sekian penanya.
Hal yang juga penting untuk diperhatikan adalah bahwa pemandu diskusi
harus tegas. Sering terjadi diskusi menjadi kacau karena pemandu tidak tegas.
Misalnya, pemandu membiarkan pembicara berbicara melebihi durasi waktu yang
ditentukan dan pemandu membiarkan penanya menanyakan hal-hal di luar
konteks diskusi. Di samping harus tegas, dalam mengatur diskusi pemandu juga
harus dapat menghargai pendapat orang lain, objektif, adil dalam memberikan
kesempatan bicara, tidak berburuk sangka, dan sebagainya. Sifat-sifat itu harus
ditampakkan ketika diskusi berlangsung agar tidak ada pihak-pihak tertentu yang
merasa dirugikan.
Selain pembicara dan moderator, peserta diskusi juga perlu meruntutkan
gagasan, pendapat, dan sarannya. Hal itu penting karena keruntutan merupakan
dasar gagasan, pendapat, dan saran mudah dipahami. Di samping dapat
mengemukakan gagasan, pendapat, dan saran; peserta diskusi juga dapat
mengajukan pertanyaan kalau menurutnya ada hal yang kurang jelas, kurang
tepat, dan sebagainya. Pertanyaan yang diajukan dalam diskusi adalah pertanyaan
untuk memeroleh informasi. Pertanyaan yang dimaksudkan untuk mengetes
pembicara tidak seharusnya ditanyakan karena tidak etis.
Pertanyaan yang diajukan juga harus dipertimbangkan bobotnya.
Pertanyaan yang tidak berbobot sebaiknya tidak diajukan agar tidak mengganggu
dan menyita waktu. Di samping itu, pertanyaan yang diajukan juga harus dilihat
relevansinya. Pertanyaan yang tidak relevan sebaiknya juga tidak diajukan. Hal
lain yang juga penting untuk diperhatikan adalah bahwa pertanyaan harus dikemas
dalam kalimat-kalimat yang santun, tidak menjatuhkan, dan tidak berkesan
menggurui. Dalam mengajukan pertanyaan, peserta diskusi tidak harus
menggunakan kata-kata tanya seperti apa, kapan, di mana, siapa, mengapa dan
bagaimana. Pertanyaan dengan redaksi yang lain juga dapat diajukan, misalnya,
Mohon dijelaskan sekali lagi hal yang dimaksudkan dengan….. atau Pada
paragraf kedua mohon bisa dijelaskan lebih konkret lagi...
42
Tes (Latihan): 1
Untuk mengetahui praktik wawancara, berikut disajikan teks hasil wawancara.
Teruskan wawancara pada kolom di bawahnya!
ï‚·
Wartawan
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
Peternak
Wartawan
Peternak
Wartawan
Peternak
Wartawan
Peternak
: Bapak termasuk peternak ayam yang sukses. Kapan
: memulai usaha ini?
: Tahun 2001 dengan modal hanya Rp 20.000,00
: Lantas, sekarang sudah mencapai berapa ayam yang ada?
: sekitar 100.000 ekor
: Itu diternak untuk dijual ayam potong atau telornya?
: Dua-duanya.
: ..................... (diteruskan siswa)
: ..................... (diteruskan siswa)
Tes (Latihan): 2
Tulislah kata atau frasa tanya dan fungsinya yang dapat digunakan dalam
wawancara dengan menggunakan format berikut!
Nomor
1
2
3
4
5
6
Kata/ Frasa tanya
Di mana
Seberapa lama
Kapan
…
…
…
Fungsi
Tempat
Durasi
Waktu
…
…
…
Tes (Latihan): 3
Teruskan penggaalan pidato sampai kalimat keenam!
Saudara-saudara yang saya hormati,
(1) Narkoba merupakan obat terlarang. (2) Obat tersebut sangat berbahaya bagi
kehidupan generasi penerus bangsa yang sedang membangun. (3)
.................................................(4)..............................................................................
............................(5)...................................................................................................
.(6)...............................................................................
43
MODUL 9
PRAKTIK BERBICARA:
DISKUSI, PIDATO, DAN KHOTBAH
Cuplikan Hadis
“Maka berbicaralah yang baik, jika tidak bisa diamlah”
No
Kompetensi Dasar
1 Mampu menyusun makalah diskusi dan praktik berdiskusi
2 Mampu menyusun naskah pidato dan praktik berpidato
3 Mampu menyusun naskah khotbah dan praktik berkhotbah
Praktik berbicara ini mengungkapkan contoh-contoh teks/ naskah makalah
disksusi, pidato, dan khotbah (Jumat).
A. Praktik Diskusi
Diskusi merupakan kegiatan tukar pikiran dalam kelompok. Diskusi dapat
melibatkan banyak orang (kelompok besar) atau dua sampai sembilan orang
(kelompok kecil). Dalam praktiknya diskusi dibagi menjadi dua macam, yaitu
diksusi formal (formal discussion) dan diskusi informal (informal discussion).
Diskusi formal melibatkan empat komponen, yaitu penyaji, pemandu, notulis
(bisa ada dan bisa tidak ada), dan peserta. Jadi, komponen pokok yang harus ada,
yakni penyaji, pemandu, dan peserta. Untuk lebih lengkapnya penyaji perlu
menyajikan makalah sebagai dokumen ilmiah. Berikut ini contoh makalah
diskusi.
B. Praktik Pidato
Pidato merupakan kegiatan berbahasa yang menghadapi audience/ orang
banyak yang bersifat prosedural. Artinya, melalui prosedur dengan tiga komponen
yang harus dipenuhi dan dilakukan secara urut, yaitu pembuka, isi dan penutup.
Sifat urut dilakukan yang pertama komponen pembuka, kedua komponen isi, dan
komponen penutup. Jadi, ketiga komponen itu harus dilakukan meskipun hanya
sedikit ungkapannya.
44
Pertama, komponen pembuka disampaikan pada bagian awal memulai
pidato. Isinya, salam awal (Assalamualaikum ...), ucapan syukur kepada Tuhan,
dan pernyataan penghormatan kepada hadirin. Fungsi komponen pembuka antara
lain membangkitkan perhatian dan menciptakan kesan baik tentang pembicara.
Kedua, komponen isi disajikan pada bagian tengah. Komponen isi berisi pokok
materi pidato. Penyajian komponen isi harus lebih banyak daripada komponen
pembuka dan penutup. Ketiga, komponen penutup disajikan pada bagian akhir
pidato. Komponen penutup dapat berisi simpulan dan ucapan terima kasih serta
salam (Wassalamualaikum ...).
C. Praktik Khotbah
Khotbah (Jumat) pada dasarnya sama dengan pidato pada umumnya.
Perbedaannya pada prosedur yang dilakukan. Khotbah Jumat disampaikan sebagai
rangkaian dari pelaksanaan shalat Jumat. Urutan yang dilakukan harus sesuai
dengan prosedur khotbah, yaitu harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.
Syarat-syarat khotbah yang harus dipenuhi (1) dilaksanakan dua kali sebelum
shalat, setelah khotbah pertama lalu duduk sejenak kemudian dilanjutkan khotbah
kedua, (2) membaca hamdalah pada awal khotbah pertama dan kedua,
mengucapkan syahadat dan shalawat atas Nabi, (3) wasiat takwa kepada Allah
swt, (4) membaca beberapa ayat Al-Quran, juga bisa dinukilkan beberapa hadis,
(5) memberi peringatan kepada jamaah (isi singkat), (6) duduk sejenak di antara
dua khotbah, dan (7) berdoa pada akhir khotbah.
45
DAFTAR PUSTAKA
Achmad HP dan Alex Abdullah. 2013. Linguistik Umum. Jakarta: Erlangga.
Cangara, Hafied. 2002. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Djajasudarma, Fatimah. 2009. Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandung:
PT. Refika Aditama.
Hidajat, MS. 2006. Public Speaking dan Teknik Presentasi. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Bahasa Indonesia Ekspresi Diri
dan Akademik. Jakarta: Politeknik Negeri Media Kreatif.
Keraf, Gorys. 2001. Komposisi. Ende Flores: Nusa Indah.
Konsorsium Sertifikasi Guru. 2013. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru.
Surabaya: Konsorsium Sertifikasi Guru.
Nazar D, Muhammad. 2011. “Air Sebagai Hakim Kehidupan”. Suara
Muhammadiyah 03 / 96 | 1 - 15 Februari 2011.
Sastra, Gusdi. 2011. Neurolinguistik Suatu Pengantar. Bandung: Alfabeta.
Suhandang, Kustadi. 2009. Retorika: Strategi, Teknik, dan Taktik Berpidato.
Bandung: Nuansa.
Tarigan, Henry Guntur. 1981. Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbicara.
Bandung: Angkasa.
------------------------------. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.
Widjaja, H.A.W. 2008. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta: Bumi
Aksara.
Wijana, I Putu Dewa. 2010. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Yogyakarta:
Program Studi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya UGM Bekerja
sama dengan Pustaka Pelajar.
46
LAMPIRAN
Lampiran 1
Contoh Naskah (Makalah Diskusi)
Lampiran 2
Contoh Naskah Bidang Kebahasaan (Pidato dalam Siaran di RRI)
Lampiran 3
Contoh Naskah Bidang Keagamaan (Pidato dalam Siaran di RRI)
Lampiran 4
Contoh Naskah Bidang Umum (Pidato Sambutan))
Lampiran 5
Contoh Naskah (Khotbah Jumat)
47
Lampiran 1
Contoh Naskah (Makalah Diskusi)
PRAGMATIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Yakub Nasucha
PBI FKIP UMS
A. Pendahuluan
Pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi sebagai mata kuliah
dasar umum dianggap tidak berhasil, sehingga tujuannya tidak tercapai.
Ketidakberhasilan ini didasarkan pada kenyataan bahwa hasil tulisan ilmiah
mahasiswa banyak yang rancu dalam pemakaian bahasanya. Soenardji (1993:446)
mengatakan bahwa kegagalan pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi
bukan rahasia lagi. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sihombing (1998:754)
bahwa pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi belum memuaskan.
Pernyataan seperti itu tidak asal-asalan tetapi didasarkan pada penelitian terhadap
karya ilmiah mahasiswa di beberapa perguruan tinggi.
Pengalaman saya mengajarkan mata kuliah Bahasa Indonesia di
Universitas Muhammadiyah Surakarta, Akademi Fisioterapi, dan Akademi
Kebidanan memang menunjukkan gejala yang sama, yakni mata kuliah Bahasa
Indonesia dianggap sepele dan enteng oleh mahasiswa. Mereka menganggap
sebagai mata kuliah tambahan dan tidak bergengsi. Oleh karena itu, dosen mata
kuliah Bahasa Indonesia di perguruan tinggi tidak hanya dituntut menguasai
materi bahasa Indonesia tetapi perlu menguasai ilmu pendidikan sehingga mata
kuliah Bahasa Indonesia ada “greget” dan tidak disepelekan oleh mahasiswa
program studi lain. Seperti yang diungkapkan oleh Subyakto (1993:5) bahwa
pengajaran Bahasa Indonesia harus melibatkan minimal tiga disiplin ilmu, yakni
linguistik, psikologi, dan ilmu pendidikan. Linguistik sebagai bahan yang
diajarkan, psikologi memberikan uraian mengenai bagaimana orang belajar
sesuatu, dan ilmu pendidikan meramu keduanya sehingga pengajar mampu
menerapkan metode pengajaran yang sesuai. Salah satu pendekatan yang
48
ditawarkan dalam pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi ialah
pendekatan pragmatik.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi pada dasarnya
menitikberatkan pada aspek keterampilan “skills” dan bukan pada pengetahuan
“knowledge”. Mahasiswa harus mampu berkomunikasi, baik komunikasi secara
lisan maupun secara tulis. Jadi, belajar bahasa Indonesia di perguruan tinggi
sebenarnya merupakan kelanjutan dari belajar bahasa Indonesia di sekolah
menengah umum. Dalam GBPP, SMA (1995) disebutkan bahwa belajar bahasa
pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran
bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam
berkomunikasi, baik komunikasi secara lisan maupun komunikasi secara tulis.
Keterampilan berkomunikasi siswa dapat ditentukan oleh penggunaan
bahasa untuk tujuan menyampaikan pesan yang didasarkan pada kesesuaian
konteks dan situasinya. Penggunaan bahasa yang mengaitkan dan menekankan
pada hubungan antara bentuk-bentuk kebahasaan dengan konteksnya inilah yang
dibahas oleh pragmatik. Dengan demikian, untuk mengetahui suatu makna dalam
tuturan perlu menghubungkan bentuk bahasa dengan konteks penggunaan
bahasanya. Pendekatan pragmatik dalam pembelajaran bahasa ini selalu
menekankan pada analisis konteks untuk mengetahui maksud tuturan atau ujaran,
bukan hanya sekedar memaknai bentuk bahasa secara semantis.
Pembelajaran bahasa dengan pendekatan pragmatik pada dasarnya
memberikan asumsi tentang hakikat bahasa yang dihubungkan dengan
penggunaan bahasa secara kontekstual. Jadi, penekanannya bukan bahasa sebagai
sistem makna semantis tetapi kepada penggunaan bahasa “language use” yang
memiliki maksud tertentu dalam proses komunikasi. Untuk mengetahui pesan
dalam komunikasi tidak cukup dengan memahami maknanya, tetapi yang lebih
penting mengetahui maksudnya. Inilah yang harus dikaji oleh pendekatan
pragmatik.
49
B. Pendekatan Pragmatik
Pembelajaran bahasa harus lebih diarahkan kepada analisis bahasa
sebagai media komunikasi, bukan lagi analisis bahasa sebagai bahasa. Dalam
pembelajaran bahasa telah dikenal banyak aliran untuk menganalisis sebuah
kalimat, antara lain tiga aliran yang cukup berpengaruh, yakni aliran tradisional,
struktural, dan transformasional. Ketiga aliran itu tidak mempertimbangkan situasi
sebagai penentu makna dalam analisis suatu kalimat (Lubis, 1994:18). Dengan
munculnya gagasan Austin dan Searle tentang teori ‘speech acts’, analisis bahasa
berubah dari analisis bentuk-bentuk bahasa ke analisis fungsi-fungsi bahasa dan
pemakaiannya dalam komunikasi (Purwo, 1990:10). Maka, untuk mengetahui
makna yang sebenarnya dalam sebuah ujaran atau kalimat tidak cukup dengan
pendekatan semantik, tetapi diperlukan pendekatan pragmatik
Perhatikan contoh berikut ini!
(1) Sekarang saya bebas.
Kalimat (1) akan diketahui makna yang sebenarnya apabila telah diketahui
pula faktor penentunya, yakni identitas penuturnya dan situasinya. Makna kalimat
‘Sekarang saya bebas’ akan bermacam-macam jika identitas ‘saya’ sebagai
penutur berbeda-beda. Jadi, kalimat itu akan berbeda maknanya apabila
diungkapkan oleh ‘saya’ sebagai narapidana, terdakwa, siswa, mahasiswa ‘yang
baru merantau’, seseorang ‘yang baru pensiun’, atau seseorang ‘yang baru
bercerai’. Dengan demikian, kata bebas memiliki maksud yang berbeda-beda
pula.
(1a) Saya “narapidana di LP”
: bebas (tidak dipenjara lagi)
(1b) Saya “terdakwa di pengadilan” : bebas (tidak ada tuntutan)
(1c) Saya “siswa di kelas”
: bebas (tidak menjadi pengurus OSIS)
(1d) Saya “mahasiswa di pondokan” : bebas (tidak dipantau terus oleh orang tua)
(1e) Saya “orang baru pensiun”
: bebas (tidak sibuk bekerja lagi)
(1f) Saya “orang baru bercerai”
: bebas (tidak mengurusi istri/ suami)
50
Dengan mengetahui konteksnya, maka makna sebenarnya dari kalimat itu
dapat diketahui lewat pendekatan pragmatik. Yule (1996:3) menyebut
“pragmatics is the study of contextual meaning”. Jadi, pragmatik merupakan studi
tentang makna konteks. Untuk mengkaji suatu ujaran atau kalimat secara
pragmatik memang harus mengetahui lebih dahulu makna leksikal secara
semantik. Kajian semantik dan pragmatik bersifat komplementer, yakni saling
melengkapi. Hal ini juga diungkapkan oleh Suwandi (2011: 2-3) bahwa pragmatik
menelaah hubungan tanda-tanda dengan para penafsir atau interpretator dan
semantik menelaah hubungan tanda-tanda dengan objek-objek yang merupakan
wadah penerapan tanda-tanda.
Dalam kajian ini perlu dicermati peristiwa lain, misalnya seorang anak
laki-laki remaja yang baru kelas I SMA pulang dari sekolah. Dia pun melepaskan
sepatunya dengan hanya dikendorkan, kemudian dengan kakinya sepatu itu
diayunkan keras-keras sehingga lepas dan mengenai kaca jendela. Melihat tingkah
laku anaknya yang tidak baik itu, ibunya dengan sabar mengatakan, seperti
berikut.
(2) Kamu itu sudah besar.
Si anak itu hanya menjawab dengan singkat ”ya Bu, maaf”. Namun, selang
beberapa saat, anak itu mengatakan kepada ibunya bahwa dirinya sudah
mempunyai pacar dan ingin menikah dengan gadis pujaan sekelasnya. Ibunya
terkejut dan melarangnya. Dia kemudian mengatakan sebagai berikut :
(3) Kamu itu masih kecil.
Kalimat (2) dan (3) ditujukan kepada mitratutur yang sama, namun
terdapat antonimi dalam tuturannya. Adanya perbedaan ungkapan yang
berlawanan ini disebabkan oleh peristiwa yang berbeda, sehingga kata besar dan
kecil pun menjadi relatif. Dalam hal mencopot sepatu dengan melemparkan, anak
itu termasuk besar, tetapi berkaitan dengan menikah seorang anak yang baru kelas
I SMA tergolong masih kecil.
51
Selanjutnya, perhatikan ungkapan berikut!
(4) Anak
Bapak
: Bapak, sekarang sudah tanggal satu.
: (langsung memberikan uang kepada anaknya untuk biaya SPP).
Dari wacana (4) itu dapat diketahui bahwa si anak tidak sekedar
menginformasikan kepada bapaknya bahwa sekarang sudah tanggal satu, tetapi
sebenarnya ia ingin minta uang kepada bapaknya untuk membayar SPP pada
bulan itu. Bapaknya telah mengetahui maksud si anak yang akan berangkat
sekolah dengan tidak menjawab seperti “Oh, kalau begitu sekarang sudah ganti
bulan ya”. Dengan demikian, peserta tuturan menggunakan makna kata-kata yang
dihubungkan dengan konteks, tempat, dan situasi terjadinya percakapan
‘komunikasi’ itu. Secara pragmatis adanya hubungan antara bentuk bahasa dengan
pemakainya. Hal itu diungkapkan oleh Yule (1996:4) adanya “relationships
between linguistic forms and the users of those forms”. Jadi, tuturan yang berupa
dialog nomor (4) seperti itu sebenarnya tidak kohesif tetapi koheren.
Istilah pragmatik sebenarnya sudah dikenal sekitar tahun 1970. Namun,
istilah itu baru dikenal secara luas setelah munculnya pengajaran pragmatik yang
termasuk salah satu komponen khusus dalam Garis-Garis Besar Program
Pengajaran, Kurikulum Bahasa Indonesia 1984. Komponen itu terdiri atas
percakapan-percakapan dalam suatu komunikasi tertentu dengan tujuan untuk
meningkatkan keterampilan berbahasa, khususnya keterampilan berbicara
“speaking skills”. Di samping itu, untuk mengetahui ungkapan dalam komunikasi
secara komprehensif perlu juga mengetahui faktor-faktor penentunya, seperti
situasi, konteks budaya, dan mental penuturnya.
Penggunaan bahasa dalam proses komunikasi akan menghadapi persoalan
makna
yang sering tidak sesuai secara leksikal. Pernyataan ‘Saya mau ke
belakang’ akan ditanggapi berbeda-beda oleh pendengar. Ada yang menanggapi
benar-benar ke belakang tidak ke depan, tetapi ada juga yang memberi tanggapan
ke WC atau akan kencing. Jadi, ada pengaruh konteks budaya sehingga makna dan
maksudnya berbeda-beda dalam ujaran itu. Faktor konteks budaya sangat
berperanan dalam ungkapan untuk tujuan penyampaian makna-makna tertentu
dalam berkomunikasi (Nababan, 1988:3). Kejadian seperti itu pernah saya alami
52
waktu berada di Makassar. Saat itu saya mengatakan ”ingin ke belakang” kepada
teman saya sebagai tuan rumah. Dia bingung, lalu berujar ”ada apa di
belakang?”. Hal ini menunjukkan adanya konteks budaya yang melatarbelakangi.
Makna tuturan dalam sebuah wacana memang sulit dikaji lewat semantik,
sebab yang akan dianalisis maksudnya bukan makna yang tersurat dalam kalimat
tersebut. Ilmu yang membahas mengenai maksud tuturan dalam wacana atau
proses komunikasi adalah pragmatik. Leech (1993:8) mengatakan bahwa
pragmatik merupakan studi makna dalam hubungannya dengan situasi ujaran
‘speech situations’. Kemudian, cara pragmatik dalam telaah makna itu dapat
dihubungkan dengan konteks budayanya (Kramsch, 1998:15). Selanjutnya,
Levinson (dalam Nababan, 1988:2) membatasi pragmatik sebagai kajian tentang
kemampuan
pemakai
bahasa
untuk
mengaitkan
kalimat-kalimat
yang
digunakannya sesuai dengan konteksnya.
Berdasarkan beberapa batasan yang telah dikemukakan di muka, dapat
disimpulkan bahwa pragmatik merupakan kajian tentang bahasa yang dikaitkan
dengan pemakaian bahasa yang menekankan pada hubungan antara bentuk-bentuk
kebahasaan dengan konteksnya. Jadi, untuk mengetahui makna dalam suatu
tuturan atau tindak berbahasa ‘speech acts’ perlu menghubungkan bentuk bahasa
dengan konteks penggunaan bahasanya. Memang sangat sulit memaknai sebuah
kata dalam kalimat ‘tuturan’ apabila tidak mengetahui konteks atau faktor
penentu sebagai indikator penjelasnya.
Perhatikan contoh berikut!
(5) Mari kita lakukan operasi sekarang !
Kita akan kesulitan memaknai atau memberi tafsir kata operasi dalam
kalimat (5). Kesulitan seperti itu dapat diatasi apabila diketahui konteks
situasinya. Siapakah “kita” yang mengajak melakukan operasi? Makna kalimat
tersebut akan berbeda bila yang melakukannya komandan polisi, koordinator
copet, kepala tim dokter, kepala sekolah, atau komandan militer. Di samping
pendekatan semantik ‘linguistik’, diperlukan juga pendekatan pragmatik
‘ekstralinguistik’ untuk memahami maksud suatu tuturan. Ungkapan yang berupa
53
kalimat singkat seperti itu akan semakin jelas maknanya atau maksudnya jika ada
penambahan kata atau frase sebagai indikator.
Contoh berikut ini merupakan perluasan dengan penambahan indikator
dari kalimat (5) :
(5a) Mari kita lakukan operasi sekarang, sasarannya para pencopet di stasiun!
Indikator penjelasnya: sasarannya penjambret. Maka, kata operasi dalam kalimat
itu bermakna razia dari aparat kepolisian.
(5b) Mari kita lakukan operasi sekarang, bila ada yang tertangkap harap tutup
mulut! Indikator penjelasnya: bila ada yang tertangkap. Maka, kata operasi dalam
kalimat itu bermakna melakukan tindakan pencopetan dari para copet.
(5c) Mari kita lakukan operasi sekarang terhadap pasien kanker! Indikator
penjelasnya: pasien. Maka, kata operasi bermakna bedah dari tim dokter.
(5d) Mari kita lakukan operasi sekarang terhadap siswa yang membawa narkoba!
Indikator penjelasnya: siswa. Maka, kata operasi dalam kalimat itu bermakna
penggeledahan dari kepala sekolah/ guru.
(5e) Mari kita lakukan operasi sekarang dengan Sandi Badai Gurun! Indikator
penjelasnya: sandi badai gurun. Maka, kata operasi dalam kalimat itu bermakna
penyerangan dari tentara sekutu.
Dari sebuah kalimat singkat “Mari kita lakukan operasi sekarang!” dapat
dibentuk menjadi beberapa kalimat yang diperluas dengan penambahan kata atau
frase sebagai indikator penjelas untuk memberi makna atau maksudnya. Dengan
demikian, sebuah kalimat pada dasarnya mempunyai struktur batin “deep
structure” lebih dari satu, yakni sebanyak maksud pemakai bahasa dalam
tuturannya. Untuk menganalisis kalimat dalam pembelajaran bahasa secara lebih
lengkap, di samping semantik juga digunakan pendekatan pragmatik. Semantik
menyelidiki nilai kebenaran dan pragmatik adalah semantik minus nilai kebenaran
(Sumarsono, 1987:9).
54
Pembelajaran Bahasa Indonesia MKU di Perguruan Tinggi dengan
pendekatan pragmatik sangat membantu mahasiswa untuk bernalar dan
mengembangkan wawasan keilmuannya. Berikut ini dapat diberikan beberapa
contoh sebagai bahan pembelajaran bahasa Indonesia yang dapat dianalisis
dengan pendekatan pragmatik :
(6) Apakah Anda bisa datang ke rumahku ?
Kalimat (6) dapat menimbulkan makna yang beragam, (a) saya benarbenar bertanya, apakah Anda mempunyai kesempatan untuk bisa datang ke
rumahku, (b) saya mengharapkan agar Anda bisa datang ke rumahku, dan (c)
kemungkinan sebagai bentuk basa-basi, silakan kalau Anda bisa datang ke
rumahku.
(7) Pak Guru sudah datang.
Kalimat (7) mempunyai berbagai ragam interpretasi makna, yakni (a)
seorang ketua kelas ingin menyampaikan kepada teman-temannya bahwa Pak
Guru benar-benar sudah datang, dan
(b)
seorang ketua kelas
ingin
memberitahukan kepada teman-temannya agar bersiap-siap atau menempatkan
diri di kursinya masing-masing.
(8) Bapak sedang tidur.
Kalimat (8) juga mempunyai beragam interpretasi makna, yakni (a)
seorang kakak memberitahukan kepada adiknya bahwa bapak memang sedang
tidur, (b) bapak sedang tidur sehingga anak-anak bebas bermain-main di luar, (c)
ibu minta kepada anak-anaknya agar tenang atau tidak ramai, dan (d) seorang
anak memberitahukan kepada tamu bahwa bapak sedang tidur dan ia tidak berani
membangunkannya.
(9) Baru jam tiga ‘kok’ sudah pulang, Mas ?
Kalimat (9) mempunyai interpretasi makna, yakni (a) kepulangan suami
lebih awal dari hari-hari biasanya, sebab biasanya pulang jam empat.
55
Digunakannya kata baru pada ungkapan tersebut menunjukkan ungkapan istri itu
benar-benar merupakan pertanyaan biasa dengan rasa heran, dan (b) kepulangan
suami lebih molor dari hari-hari biasanya, sebab biasanya pulang jam dua. Maka,
ungkapan istri itu merupakan sindiran.
(10)
Tamu
: Bapak Prof. Sunaryo ada?
Tuan Rumah : Bapak sudah tidur.
Pertanyaan tamu tentang ada atau tidaknya Prof. Sunaryo, tetapi dijawab
oleh tuan rumah sudah tidur. Dialog tersebut tidak kohesif tetapi koheren. Dalam
situasi tidak formal, penggunaan bahasa tidak perlu lengkap tetapi singkat, sebab
yang dipentingkan adalah memahami di antara kedua peserta tuturnya. Berikut
pengembangan contoh
(11)
Tamu
: Bapak Prof. Sunaryo ada?
Tuan Rumah : Ada.
Tamu
: Saya ingin bertemu.
Tuan Rumah : tidak bisa!
Tamu
: Mengapa?
Tuan Rumah : Sebab beliau sudah tidur. Saya tidak berani
membangunkannya
Berdasarkan uraian dengan beberapa contoh yang telah diungkapkannya,
maka pendekatan pragmatik sangat tepat diterapkan dalam proses pembelajaran
bahasa Indonesia. Seorang dosen Bahasa Indonesia dalam pembelajarannya harus
selalu mencobanya dan perlu mengembangkan sendiri secara kreatif dan inovatif.
Apabila pendekatan pragmatik diterapkan dengan metode yang tepat, mahasiswa
tidak akan merasa jenuh dan mereka akan merasa senang
C. Konteks
Pembahasan tentang pragmatik sebagai pendekatan dalam pengajaran
bahasa selalu berhubungan dengan konteks. Konteks dalam sebuah wacana lisan
maupun tulis sangat berpengaruh terhadap pemaknaan suatu ujaran atau kalimat,
56
sebab konteks dapat membedakan pengertian dan maksud dalam komunikasi.
Jalaluddin (1993: 191) mengatakan bahwa konteks merupakan seberkas andaian
mengenai dunia yang dibina secara psikologis oleh pendengar. Dunia yang dibina
itu dapat berupa tulisan atau lingkungan, sehingga pendengar dapat memahami
makna dan maksud isi konteks itu. Berkaitan dengan itu, Keraf (1981: 56)
berpendapat bahwa lingkungan yang dimasuki kata-kata itulah konteks. Jadi,
konteks itu berupa tulisan atau ujaran yang berisi gagasan dalam suatu wacana
dengan beberapa teks yang saling berhubungan. Maka, teks yang menyertai teks
adalah konteks (Halliday, 1994:6). Pengertian teks yang menyertai teks itu tidak
hanya yang dilisankan atau ditulis, tetapi dapat juga nirkata. Artinya, pengertian
yang tidak dituliskan atau dilisankan secara eksplisit.
Faktor-faktor yang berperanan dalam konteks dapat berupa unsur-unsur
seperti situasi, penutur, mitratutur, waktu, dan tempat. Unsur-unsur itulah yang
dapat berpengaruh terhadap makna konteks.
Perhatikan contoh konteks pada nomor (11) dan (12).
(12) Seorang pemuda mengatakan kepada anak-anak TK di ruang kelas bahwa
dirinya mampu mengangkat meja yang beratnya 40 kg.
(13) Seorang pemuda mengatakan kepada para mahasiswa di ruang kelas bahwa
dirinya mampu mengangkat meja yang beratnya 40 kg.
Konteks (12) dan (13) memiliki unsur-unsur yang sama, hanya satu unsur
yang berbeda, yakni pendengar ‘audience’. Pada konteks (11) pendengarnya anakanak TK. Mereka sangat kagum kepada pemuda yang mampu mengangkat meja
yang beratnya 40 kg, sebab bagi anak TK meja yang beratnya 40 kg tidak
mungkin dapat diangkatnya. Kemudian, pada (12) pendengarnya para mahasiswa.
Mereka pun tidak ada reaksi apa-apa terhadap ucapan pemuda tersebut, sebab 40
kg bagi mahasiswa tidak terlalu berat.
57
D. Simpulan
1. Pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi sebagai Mata
Kuliah Dasar Umum (MKDU) dianggap kurang berhasil atau tujuan
pengajaran tidak mencapai hasil yang diharapkan.
2. Pembelajaran bahasa Indonesia harus melibatkan tiga disiplin ilmu,
yakni linguistik, psikologi, dan ilmu pendidikan.
3. Pembelajaran
bahasa
Indonesia
dengan
pendekatan
pragmatik
diarahkan kepada analisis bahasa sebagai media komunikasi dan bukan
analisis bahasa sebagai bahasa.
4. Pendekatan pragmatik menganalisis maksud ujaran dan tidak
menganalisis kata-kata secara semantis.
5. Konteks adalah lingkungan yang dimasuki kata-kata.
E. Implikatur
1. Pendekatan pragmatik sangat tepat diterapkan dalam pengajaran
Bahasa Indonesia di perguruan tinggi.
2. Pendekatan pragmatik dapat menambah wawasan dan meningkatan
daya penalaran mahasiswa.
3. Pendekatan pragmatik tidak menjadikan mahasiswa semakin jenuh,
tetapi justru mahasiswa semakin bergairah untuk meningkatan
keterampilan berkomunikasi, khususnya ‘writing skills’.
Catatan:
Harus ada daftar pustaka dalam makalah untuk diskusi formal.
58
Lampiran 2
Contoh Naskah Bidang Kebahasaan (Pidato dalam Siaran di RRI)
Assalamualaikum wr. wb.
Pelajar Indonesia yang budiman …
Kita dapat bertemu kembali dengan adik-adik pelajar dan pemerhati
bahasa Indonesia dalam siaran Pembinaan Bahasa Indonesia lewat RRI Surakarta
yang kita cintai ini. Untuk kali ini, saya akan menyampaikan topik bahasan
”PerIstilahan dalam bahasa Indonesia”.
Kita sering mendengar ungkapan atau kata yang berupa istilah tetapi sulit
dipahami maknanya. Meskipun, kata dan istilah itu sudah ada di dalam konteks
kalimat tetapi tetap saja sulit dipahami maknanya. Oleh karena itu, marilah kita
pelajari bersama-sama beberapa istilah dan kata yang dirasakan sulit meskipun
kita sering mendengarnya.
Ada beberapa kata dan istilah yang menjadi pembahasan dan sering kita
dengar, yaitu: alih-alih, blantika, daur, gladiresik, hipokrit, nisbi, nara, nuansa,
pagu, pialang, patungan, totaliter, logistik, dan kampanye. Pada kali ini kita
membahas 14 buah kata yang berupa istilah. Kata-kata iti tadi sering kita jumpai,
baik di massa cetak maupun elektronik.
Pernahkah anda menjumpai kata “alih-alih?”. Kata alih-alih, di dalam
bahasa Inggris maknanya sama dengan instead of atau di dalam bahasa Indonesia
memiliki padanan dengan ganti. Namun, dapat pula diartikan kiranya. Untuk
lebih jelasnya, perhatikan dan dengarkan kalimat berikut ini:
1. Mendengar gurunya akan ke luar negeri, alih-alih sedih para siswa
bergembira. Kata alih-alih dalam konteks kalimat tadi berarti ganti.
Selanjutnya dengarkan kalimat kedua:
2. Kusangka mereka telah pergi, alih-alih masih tidur. Kata alih-alih dalam
konteks kalimat kedua tadi berarti kiranya. Jadi, kata alih-alih dipakai dalam
kalimat untuk mengungkapkan pengertian yang bertentangan. Pada kalimat
pertama “Alih-alih sedih para siswa bergembira” dan pada kalimat kedua
“Mereka telah pergi alih-alih masih tidur”.
59
Kedua, kata blantika yang dipungut dari bahasa Sunda balantik yang berarti jualbeli. Contoh ungkapan dalam kalimat yang sering kita dengar “Suherman sudah
lama berkecimpung di blantika rekaman”.
Yang ketiga adalah kata daur. Kata daur sebenarnya memiliki arti
peredaran masa. Daur besar lamanya 1 abad atau 100 tahun dan daur kecil
lamanya 1 windu atau 8 tahun. Namun, sekarang dipakai sebagai kata yang
bersinonim dengan siklus atau putaran. Misalnya, sampah itu didaur ulang
menjadi bahan bakar batu bata.
Kemudian, kata gladiresik yang terdiri atas dua morfem, yaitu gladi yang
berarti latihan dan resik yang berasal dari bahasa Jawa yang berarti bersih. Maka,
sekarang sering digunakan gladi bersih. Artinya, latihan yang sudah bersih dan
tidak boleh ada kesalahan lagi. Oleh karena itu, gladi bersih ini merupakan latihan
terakhir sebelum acara sebenarnya dimulai.
Para pelajar yang budiman...........
Kata selanjutnya, hipokrit yang dapat diartikan suka berpura-pura atau
istilah lainnya adalah munafik. Maksud hipokrit ini adalah apa yang ditunjukkan
dengan perbuatan sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang ada pada hati
sanubarinya. Atau, bisa diartikan lain di mulut lain di hati.
Berikutnya, kata nisbi memiliki padanan kata relatif. Artinya, tidak
mutlak. Misalnya, Hanya Tuhan yang mutlak namun pemikiran manusia terbatas
dan bersifat nisbi. Selanjutnya, kata nara yang memiliki arti orang. Kata nara ini
biasanya melekat pada kata pidana dan kata sumber sehingga menjadi narapidana
dan narasumber. Narapidana berarti orang yang dipidana atau orang hukuman dan
narasumber berarti orang yang yang menjadi sumber. Maksudnya, orang yang
menguasai atau memahami suatu bidang tertentu yang dapat dijadikan sumber
informasi. Namun, kata nara ini tidak pernah digunakan dalam ungkapan seperti
naragila atau narasakit.
Kemudian, kata berikutnya adalah nuansa. Nuansa berasal dari
perbendaharaan kata dalam dunia warna dan setiap jenis warna itu dapat diperinci
lagi. Jadi, artinya hampir sama dengan kata corak. Seperti, warna biru
60
memunculkan warna biru tua, biru muda, biru laut, biru dongker, kebiru-biruan,
dan biru kehijau-hijauan. Tiap perbedaan itulah yang disebut nuansa. Oleh karena
itu, kata nuansa sering merujuk kepada perbedaan yang sangat kecil atau merujuk
kepada variasi yang memiliki perbedaan sangat kecil dan halus. Misalnya, kita
sering mendengar ungkapan “Memang ada nuansa tersendiri di dalam ruangan
ini”.Jadi, ada suatu variasi yang berbeda tetapi sangat kecil.
Para pelajar mungkin sering mendengar kata pagu. Kata pagu ini berasal
dari bahasa Minang yang mimiliki arti semacam loteng untuk menyimpan barangbarang, seperti padi dan barang lainnya. Kata pagu sekarang diartikan atap. Di
dalam tulisan sering ditemukan harga pagu. Artinya, harga yang sudah mentok
atau tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Kata berikutnya, adalah pialang. Misalnya kalimat “Tono menjadi pialang
di bursa efek Jakarta, maka ia sangat kaya”. Kata pialang bersinonim dengan kata
makelaar dalam bahasa Belanda atau broker dalam bahasa Inggris. Jadi, dalam
bahasa Indonesia sering digunakan ketiga kata tersebut, yakni pialang, mekelar,
dan broker. Ketiganya bersinonim dan memiliki arti yang sama, yaitu orang yang
bekerja sebagai penghubung antara penjual dengan pembeli. Jual-beli tanah,
rumah, atau mobil biasanya menggunakan jasa pialang, broker, atau makelar.
Baiklah, mari kita tinjau kata lainnya, yakni kata patungan. Kata patungan
bukan berasal dari kata patung dengan akhiran atau sufiks –an, tetapi kata
patungan merupakan kata utuh atau monomorfemis. Kata ini berasal dari bahasa
Jawa yang berarti gotong royong atau bareng-bareng. Jadi, usaha patungan berarti
usaha yang dilaksanakan secara bersama-sama. Kata patungan ini untuk
mengganti kata dari bahasa Inggris “Joint venture”.
Para pelajar yang baik...
Mungkin Anda pernah mendengar kata totaliter dalam negara totaliter.
Kata totaliter ini berarti secara keseluruhan. Jadi, negara totaliter adalah negara
yang hanya mengakui satu partai dan tidak mengakui partai-partai lain. Karena,
negara Indonesia memiliki banyak partai politik, maka Indonesia bukan negara
totaliter. Negara yang totaliter adalah Jerman pada masa pemerintahan Hitler dan
61
Italia pada masa kekuasaan Musolini. Jadi, negara yang totaliter tergolong negara
yang tidak demokratis.
Selanjutnya, dua kata terakhir ini sering terdengar, yaitu kata logistik dan
kampanye. Misalnya, logistik pemilu dan kampanye partai politik. Arti kata
logistik
adalah
penyediaan
perlengkapan
atau
perbekalan.
Jadi,
kalau
hubungannya dengan pemilu maka logistik ini diartikan perlengkapan pemilu,
seperti bilik suara, kotak suara, dan surat suara. Adapun, kata kampanye pemilu
dapat diartikan gerakan serentak untuk mengadakan aksi dalam pemilu. Atau,
dapat diartikan gerakan atau tindakan untuk bersaing memperebutkan dukungan
massa partai politik dalam pemilu. Biasanya kampanye ini berupa pidato atau
orasi
untuk
menyampaikan program-program
partainya.
Namun,
sering
dimanfaatkan untuk mengumbar janji-janji.
Orang sering mengartikan arti kata kampanye dengan arak-arakan sepeda
motor dengan suara mesin yang meraung-raung. Kalau tidak meraung-raung
disebut karnaval. Kampanye dengan sepeda motor yang beriring-iringan di jalan
dan knalpot yang dilepas sehingga menimbulkan suara bising serta memekakan
telinga termasuk pengertian yang salah. Namun, kebanyakan orang sudah
terlanjur mengartikan tentang pengertian kampanye seperti tadi, yaitu iringiringan sepeda motor dengan mesin yang meraung-raung. Padahal hakikat
pengertian kampanye adalah penyampaian informasi supaya orang lain simpatik
terhadap program-programnya.
Demikian yang bisa disampaikan kepada para pelajar dan pemerhati
bahasa Indonesia yang budiman. Semoga bermanfaat bagi kemajuan ilmu
pengetahuan dan anda semua dapat lebih memahami peristilahan supaya tidak ada
penyimpangan makna yang sangat besar pengaruhnya terhadap isi konteks.
Selamat dan maju terus pelajar Indonesia supaya negara kita kelak
dipimpin oleh Anda sebagai generus penerus yang cerdas dan berhati bersih serta
tidak sekedar hanya mengumbar istilah yang kosong.
Wassalamualaikum wr. wb.
62
Lampiran 3
Contoh Naskah Bidang Keagamaan (Pidato dalam Siaran di RRI)
Bismillahirrohmanirrohim.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Saudara-saudara, kaum muslimin, dan para pendengar yang budiman .....
Pertama-tama, kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan segala kenikmatan, terutama nikmat Iman dan Islam. Yang kedua,
dalam perilaku kahidupan sebagai seorang muslim, kita pun perlu mencontoh suri
teladan Rosulullah, nabi Muhammad SAW. Juga mengenal para tokoh dan
ilmuwan muslim, antara lain Al-Farabi, Ibnu Bajjah, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Abu
Wafa, dan Ibnu Thufayl. Nama kedua yang terakhir, yaitu Abu Wafa dan Ibnu
Thufayl akan disampaikan pada siaran kali ini.
Para pendengar dan kaum muslimin rokhimakumullah .......
Ilmu adalah jendela dunia. Dengan ilmu manusia dapat menjelajah dunia
dan mengetahui misteri alam yang memang diciptakan Allah SWT untuk
kemaslahatan umat manusia. Orang bijak mengatakan bahwa seseorang yang
bertambah ilmunya, maka ia akan semakin merasa dirinya bodoh. Dan, ilmu yang
tidak diamalkan bagaikan pohon yang tak berbuah. Untuk itu, jadilah orang pinter
tetapi jangan keminter. Seperti, Abu Wafa dan Ibnu Thufayl sebagai orang-orang
pinter yang tidak sombong akan kepinterannya. Mereka sangat bijak dan justru
memanfaatkan ilmunya untuk kemajuan umat manusia.
Marilah kita mengenal sekilas tentang Abu Wafa!
Abu Wafa adalah seorang ilmuwan muslim atau seorang muslim yang
ilmuwan. Nama lain Abu Wafa adalah Albuzdschani tempat ia dilahirkan, yaitu
kota Buzdschan Khurasan sekitar tahun 940 M. Namun, sebagai seorang Arab
nama Albuzdschani tidak populer dan yang lebih populer adalah Abu Wafa.
Adapun nama lengkapnya adalah Muhammad Bin Muhammad Bin Yahya Bin
63
Ismail Bin Al-Abbas Abu Wafa Al-Buzajani. Dia dikenal sebagai ahli matematika
dan astronom ulung pada zamannya.
Pertama-tama Abu Wafa belajar matematika kepada dua pamannya. Kedua
paman Abu Wafa, yaitu Abu Amr al-Mughazili dan Abu Abdullah Muhammad
bin Anbasa itu sangat menyayangi kemenakannya yang tergolong sangat cerdas
itu. Kemudian, mereka pun mengajari Abu Wafa tentang ilmu matematika.
Setelah remaja dan cukup bekal, sekitar tahun 959 M, saat berusia 19 tahun Abu
Wafa pun pindah ke Irak dan menetap di kota Baghdad. Kota Baghdad adalah
kota legendaris yang terkenal dengan kisah 1001 malam dan sekarang menjadi ibu
kota negara Irak.
Salah satu buku karya Abu Wafa tentang aritmatika yang cukup populer
adalah Fi ma Yahtaj Ilayh al-Kuttab wa al-Ummal min Ilm al-Hisab yang sama
seperti yang diungkapkan oleh Ibnu al-Qifti, yaitu Al-Manazil fi al-Hisab.
Sebenarnya pemikiran Abu Wafa yang utama adalah pengembangan tentang
trigoniometri. Dialah yang pertama kali menetapkan dalil sinus yang berkaitan
dengan sudut miring segitiga sferis. Begitu juga penggunaan secan dan tangen
dalam trigoniometri dan penyelidikan pada bidang astronomi.
Jasa Abu Wafa sebagai seorang ilmuwan muslim sangat besar di bidang
ilmu pengetahuan terutama bidang astronomi dan matematika. Kemudian, pada
tahun 998 M dalam usia 58 tahun, dia pun wafat, menghadap Illahi Robbi, Allah
swt. Namun, jasa-jasanya dapat dimanfaatkan sampai sekarang,
Kaum muslimin dan para pendengar yang budiman ........
Marilah kita simak tokoh kedua, yaitu tokoh Islam sebagai ilmuwan
muslim secara sekilas. Dia adalah Ibnu Thufayl yang memiliki nama lengkap Abu
Bakar Muhammad Bin Abdul Malik Bin Muhammad Bin Muhammad Bin Ibnu
Thufayl Al-Qaysi. Ibnu Thufayl dijuluki pula dengan nama Al-Andalusi atau AlKurtubi al-Isybili. Kaum skolastik Kristen menyebutnya dengan Abubacer. Ibnu
Thufayl adalah seorang yang ahli dalam bidang matematika, kedokteran, dan
filsatat.
64
Ibnu Thufayl adalah keturunan suku Kays, salah satu keturunan Arab yang
terkemuka. Dia dilahirkan di Wadi-Ash, Guadix, sebelah timur laut Granada,
Spanyol sekitar abad ke-12 M. Dia berfrofesi sebagai tabib atau sekarang sama
dengan dokter. Sekitar tahun 1154 M dia menjadi sekretaris Gubernur Ceuta dan
Tangier, putra Abdul Mukmin pendiri dinasti Almohad atau Almuwahhidun. Dia
pun dijadikan dokter istana oleh Almuwahhidun Sultan Yakub Yusuf.
Murid Ibnu Thufayl, yaitu Al-Bitruji menyebutnya sebagai qadhi. Maka,
ia pun mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap murid-muridnya.
Berhubung sangat dekat dengan Sultan dan sudah menjadi keluarga istana, Ibnu
Thufayl
memperkenalkan
Ibnu
Rusyd
muda
kepada
Sultan
untuk
menggantikannya sebagai dokter pribadi Sultan.
Karya-karya Ibnu Thufayl memang tidak banyak jumlahnya. Namun,
sebuah novel yang berisi tentang filsatat dengan judul Hayy ibn Yaqzan sangat
populer pada abad pertengahan. Selain itu, ia pun menulis naskah tentang ilmu
kedokteran yang banyak hubungannya dengan karya medis Ibnu Rusyd, yaitu AlKulliyyat. Jadi, gagasan Ibnu Thufayl selalu dipakai dan dikembangkan oleh AlBitruji sebagai murid yang sangat setia. Dan, gagasan-gagasan itu ternyata banyak
memberi pengaruh kepada usaha-usaha yang dilakukan oleh Al-Bitruji untuk
menyanggah dan sekaligus membuktikan kekeliruan teori Ptolemaios mengenai
lingkaran-lingkaran epicycles dan excentric.
Demikian
sekilas
mengenal
dua
tokoh
terkemuka
Islam
yang
pemikirannya dapat digunakan oleh semua golongan umat manusia sampai
sekarang. Sebagai seorang muslim, marilah kita gali terus ilmu pengetahuan dan
pertebal iman sehingga diharapkan banyak lahir seorang muslim yang ilmuwan
atau seorang ilmuwan muslim.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
65
Lampiran 4
Contoh Naskah Bidang Umum (Pidato Sambutan)
>>>Contoh sambutan Kepala Sekolah dalam perpisahan lulusan <<<
Assalamualaikum wr. wb.
Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan hadirin yang kami hormati.
Pertama kita panjatkan syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, Allah swt
yang telah memberikan banyak kenikmatan. Salah satunya adalah nikmat sehat
sehingga pada siang hari ini kita dapat berkumpul untuk mengikuti acara
perpisahan lulusan di SMA Bani Nasucha ini.
Pada tahun ini kelulusan SMA Bani Nasucha mencapai 100 %. Maka,
masyarakat menyebutnya sebagai SMA swasta favorit dan ada yang menyebutnya
sebagai SMA teladan. Banyak lulusan SMA Bani Nasucha yang diterima di
Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia, antara lain di UGM, UI, UNDIP,
ITB, IPB, UNS dan banyak lagi. Adapun, yang diterima di Pergurua Tinggi
Swasta tidak terhitung jumlahnya, antara lain diterima di Program Studi
Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Muhammadiyah Surakarta
(UMS), UII Yogyakarta, dan Universitas Trisakti Jakarta. Saya, sebagai Kepala
Sekolah merasa bangga atas capaian alumni kita. Oleh karena itu, harapan kita
“semoga lulusan tahun ini mereka juga dapat diterima di Perguruan Tinggi
ternama, baik di negeri maupun swasta”.
Keberhasilan itu semua berkat doa kita dan kerja sama antara pihak
sekolah dengan para orang tua dan wali murid. Kita memang mengharapkan
lulusan SMA Bani Nasucha adalah anak-anak yang cerdas. Namun, yang lebih
diharapkan adalah adanya cerdas batiniah. Jadi, perlu adanya kecerdasan lahir dan
batin sehingga kelak kalau menjadi pemimpin adalah pemimpin yang amanah,
santun, dan tidak korupsi.
Sekali lagi, kami mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan dan
kerja sama yang baik dari Ibu-ibu dan Bapak-bapak. Semoga Allah memberikan
yang terbaik bagi kita. Selamat berjuang anak-anakku.
Wassalamualaikum wr. wb.
66
Lampiran 5
Contoh Naskah (Khotbah Jumat)
Assalamualaikum wr. wb.
Baca Alhamdulillah … dst.
....................................................................................................................................
...................................................................................................... Terus Ceramah
Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah ...
Pertama kita ucapkan syukur ke hadirat Allah yang telah memberikan
kenikmatan, yakni nikmat Islam, nikmat Iman, dan nikmat kesehatan. Dengan
nikmat yang telah Allah berikan, hendaknya kita selalu bertakwa ke hadirat Allah
swt, Dzat Agung Penguasa dan Pencipta Alam Raya Semesta Yang Maha Luas
dan Tak Terbatas ini. Sebab, dengan bertakwa kita akan dimuliakan di sisi-Nya.
Dalam surat Al-Hujurat, ayat 13 disebutkan:
--- sebaiknya dibaca ayat aslinya ---“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang-orang yang
bertakwa”.
Orang yang benar-benar bertakwa tidak akan berbuat curang, dia akan
bersikap lurus untuk selalu memegang amanah, dan tidak gampang untuk curiga
sebelum punya bukti kuat. Kita sebagai menusia biasa, sangat wajar jika pernah
mencurigai seseorang atau merasa dicurigai oleh orang lain. Curiga dan
mencurigai merupakan sikap normal manusia. Hal itu tentu bukan tanpa alasan
dan pasti ada sesuatu yang mendorong kita untuk melakukan curiga. Namun,
terkadang saling curiga itu menyebabkan hubungan antarteman atau kolega
bahkan hubungan keluarga bisa renggang dan retak sehingga timbul konflik dan
perpecahan.
Oleh
karena
itu,
Islam
memandang
penting
dan
sangat
memperhatikan betul dalam masalah yang satu ini, yakni yang disebut Zhan yang
berarti berprasangka.
Dalam kajiannya, zhan itu terbagi menjadi dua macam, yaitu zhan yang
buruk atau berprasangka buruk yang disebut SUUZHAN dan zhan yang baik atau
67
berprasangka baik yang disebut KHUSNUZHAN. Berkaitan dengan suuzhan,
Rasulullah saw sangat keras memberi peringatan kepada umatnya agar tidak
bersuuzhan. Hal itu ditegaskan dalam sabdanya:
--- sebaiknya dibaca hadisnya --“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk maka sungguh zhan yang buruk
itu merupakan ucapan yang paling dusta” (HR Buchori – Muslim).
Sungguh sangat tidak patut kita jika melakukan prasangka buruk kepada
orang lain secara sepihak tanpa melalui kajian yang benar secara bersama-sama
hingga Rasulullah menyamakan bahwa suuzhan itu ucapan yang paling dusta.
Biasanya suuzhan menghasilkan buah yang dinamakan ghibah dan tajassus, yakni
memata-matai untuk mencari bukti untuk pembenaran kemudian diceritakan
kepada orang lain. Maka, hal itu sudah termasuk ghibah yang telah dilarang dalam
Islam. Maka, kata-kata mutiara yang sering saya ucapkan adalah: “suuzhan
adalah wabah penyakit dan khusnuzhan adalah obat penyakit”. Sebab, suuzhan
merusak jiwa dan menggalakkan emosi sedangkan khusnuzhan dapat membangun
motivasi positif dan selalu menghadirkan ketenangan batin sehingga hidup terasa
nyaman dan rileks.
Rasulullah telah memperingatkan dengan tegas. Sebab, Allah swt terlebih
dahulu sudah melarangnya. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa zhan itu
merupakan dosa. Hal itu tertuang di dalam surat Al-Hujurat, ayat 12:
--- sebaiknya dibaca ayatnya --“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari
persangkaan buruk karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu
merupakan dosa dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan
suka menggunjing orang lain”.
Namun, perlu diketahui bahwa zhan yang dilarang itu adalah zhan yang
tidak ada tanda-tanda menunjukkan ke arah yang dimaksud. Tanda-tanda itu
disebut QARINAH. Misalnya, seorang pegawai biasa, tidak menduduki jabatan
(sebut saja Si Fulan) dengan penghasilan tidak sampai Rp 5.000.000 (lima juta)
perbulan tetapi Si Fulan mempunyai beberapa mobil, rumah bagus, dan tanah
cukup banyak. Hal seperti itu dapat memunculkan zhan. Namun, jika zhan itu
68
dibangun tidak berdasarkan atas qarinah (tanda-tanda) ke arah korupsi maka zhan
seperti itu dilarang. Hal itu oleh Nabi Muhammad, Rasulullah saw dikatakan
sebagai ucapan yang paling dusta. Kekayaan Si Fulan bisa saja diperoleh dari
hasil di luar pekerjaan kantor, bisa juga istrinya sangat mendukung atas segala
pekerjaan suaminya. Namun, jika dibangun berdasarkan atas dasar qarinah maka
zhan yang disampaikan tidak apa-apa dan perlu dikonfirmasikan terlebih dahulu
kepada Si Fulan. Namun, jangan digembar-gemborkan kepada khakayak sebelum
ada pembuktian.
Jamaah Shalat Jumat yang Berbahaia ...
Seorang ulama besar, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan
bahwa diharamkan suuzhan kepada sesama muslim. Namun, kepada orang-orang
kafir halal baginya untuk suuzhan dalam akidah. Misalnya, kita berprasangka
buruk kepada orang kafir bahwa dia pasti masuk neraka. Sebab, tanda-tanda atau
qarinah bahwa dia akan masuk neraka memang ada. Contoh lain, Orang yang
mengaku Islam (sebut saja SI A) tetapi dia tidak shalat maka Si A itu termasuk
kafir. Jadi, kita berprasangka buruk kepada Si A bahwa Si A orang yang buruk
agamanya dan dia akan masuk neraka. Qarinah atau tanda-tanda yang
menunjukkan ke arah tersebut bahwa Si A termasuk orang kafir itu dibangun
berdasarkan Hadis Rasulullah:
--- sebaiknya dibaca hadisnya --“Urusan yang memisahkan antara kita sebagai orang Islam dengan mereka
sebagai orang kafir adalah shalat. Maka, barangsiapa yang meninggalkannya
sungguh telah kafir”.
Dalam kancah politik sering dijumpai Bersuuzhan Ria. Misalnya, saat
Pilkada belum dimulai pasangan A bersuuzhan kepada lawannya pasangan B
bahwa Si B telah berselingkuh, kemudian dibalas bahwa Si A ijazahnya palsu dan
macam-macam zhan yang berseliweran. Jika, keduanya terbukti maka itu bukan
fitnah tetapi jika tidak terbukti itu termasuk fitnah. Itu yang sering terjadi dengan
maksud pasangan lawannya dibenci. Maka, dengan dibenci masyarakat tidak
69
memilihnya. Oleh karena itu, bagi seorang muslim harus menjauhi dan
meninggalkan suuzhan agar tidak timbul fitnah.
Kita pernah melakukan bersuuzhan kepada seorang wanita berjilbab
(mahasiswi). Pada bulan puasa, dia minum dengan santainya di kelas saat temantemannya keluar untuk shalat Dhuhur. Mahasiswa UMS kok tidak puasa? Namun,
setelah ditanyakan dia sedang berhalangan atau datang bulan. Juga, mungkin kita
pernah menjumpai beberapa orang makan di restoran. Jiwa keislaman kita kadang
terusik untuk berprasangka: Bapaknya pakai peci dan yang putri-putri pakai jilbab
kok makan di restoran pada bulan puasa. Kita baru tersadar bahwa mereka dalam
perjalanan jauh naik kendaraan. Ternyata benar bahwa mereka berangkat naik
mobil dari Purwokerto menuju Surabaya. Jadi, mereka boleh membatalkan
puasanya tetapi tidak boleh meninggalkan shalatnya. Maka, hati-hatilah
memandang orang. Ada yang berpendapat bahwa berprasangka buruk yang
dilarang jika ia membicarakanya tetapi jika hanya tersimpan dalam hati dan tidak
membicarakannya maka berparasangka buruk itu tidak berdosa. Namun, sebaikya
harus dihindari berprangka buruk meskipun disimpan dalam hatinya sebab sangat
berbahaya bagi ketenangan jiwanya.
Agar terhindar prasangka buruk dari orang lain maka kita sebaiknya
menjauhi hal-hal yang sifatnya memang buruk. Misalnya, meskipun kita hanya
bergurau menenteng botol minuman keras dan minta difoto. Perbuatan seperti itu
sangat tidak pantas bagi seorang mukmin atau dekat-dekat dengan tempat mesum.
Jadi, jangan suka bergurau dengan hal-hal yang sifatnya buruk sebab hal seperti
itu dapat mengundang setan untuk melakukan hal yang nyata dan sebenarnya.
Padahal setan bagi manusia adalah musuh yangn nyata. Kita harus hati-hati, sebab
Allah telah menegaskan dalam surat Yusuf, ayat 5:
--- sebaiknya dibaca ayatnya --“Sesungguhnya setan itu bagi manusia adalah musuh yang nyata”.
Jadi, gaya kerja setan dengan tipuannya untuk memberi janji dan harapan
palsu dapat menjerumuskan manusia untuk menjadi sahabatnya padahal setan itu
musuh yang selalu ingin menyesatkan manusia. Caranya bisa melalui perzinaan,
70
minuman
keras,
narkoba,
perjudian,
korupsi,
permusuhan,
dan
kebohongan.Padahal Allah telah memperingatkannya dalam surat An-Nisa 60:
--- sebaiknya dibaca ayatnya --“Dan setan itu pada dasarnya selalu hendak menyesatkan kamu sebenarbenarnya sesat”. Selanjutnya, dikuatkan dalam surat yang sama, yaitu An-Nisa,
ayat 120:
--- sebaiknya dibaca ayatnya --“Menjanjikan dan memberi harapan kepada manusia dan tidaklah setan
menjanjikan kepada manusia melainkan hanya suatu tipuan belaka”.
Godaan setan akan semakin dahsyat tatkala seseorang menghadapi
sakaratul maut. Setan sangat paham bahwa saat-saat seperti itu adalah kesempatan
terakhir untuk menyesatkannya dan tidak ada lagi bagi dia kesempatan untuk
bertobat. Inilah fase yang sangat penting bagi setiap orang dan kelak kita pasti
akan mengalaminya. Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan kepada umatnya
satu doa yang dapat bermanfaat sampai akkhir hayatnya sebagai benteng dari
godaan setan terkutuk. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam
sebuah hadis shahih dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa dia mendengar Sabda
Rasulullah:
--- sebaiknya dibaca hadisnya --“Sesungguhnya kalbu-kalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jarijari Allah bagaikan satu kalbu dan Allah membolak-balikkannya sesuai
kehendak-Nya. Kemudian Rasulullah berdoa: Ya Allah, Dzat yang membolakbalikkan kalbu, palingkanlah kalbu-kalbu kami yang hanya patuh kepada-Mu”.
Mudah-mudahan kita menjadi orang yang selalu khusnuzhan dan berakhir
dalam khusnul khotimah. Amin ya Robbal Alamin.
- duduk sejenak –
Baca Alhamdulillah … syahadat – shalawat Nabi. ......... Doa.
Download