Tingkat Pengetahuan Siswi Sekolah Menengah Atas Tentang

advertisement
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
Tingkat Pengetahuan Siswi Sekolah Menengah Atas tentang
Kanker Serviks dan Pencegahannya
Rosnancy Sinaga : email : [email protected]
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kematian akibat kanker serviks di
seluruh dunia dan penyakit ini dapat membahayakan wanita. Namun pencegahan sejak dini
dapat mengurangi angka kematian tersebut walaupun kadang tidak mudah untuk
melakukannya. Dalam penelitian ini diidentifikasi masalah pertama bagaimana tingkat
pengetahuan siswi SMA X tentang kanker serviks. Masalah kedua, bagaimana tingkat
pengetahuan siswi SMA Advent Martoba mengenai pencegahan kanker serviks. Masalah
ketiga, aspek-aspek manakah yang paling diketahui dan kurang diketahui siswi SMA X
tentang kanker serviks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana
tingkat pengetahuan siswi SMA X tentang kanker serviks dan pencegahannya. Dimana
metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Sampel dalam
penelitian ini adalah 42 orang siswi SMA X yang dipilih dengan menggunakan kriteria
memilih sampel. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang
divalidasi oleh dosen yang terdiri dari 25 butir pernyataan. Setelah data dianalisa,
kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa tingkat pengetahuan siswi SMA X tentang
kanker serviks adalah baik dengan persentase 79%. Menurut persentase objektif termasuk
dalam kategori baik. Sedangkan tingkat pengetahuan mengenai pencegahannya adalah
cukup baik dengan persentase 74%. Menurut persentase objektif termasuk dalam kategori
cukup baik. Aspek yang paling diketahui adalah tanda dan gejala dengan nilai 93% dan
yang kurang diketahui adalah pencegahan dan faktor risiko dengan nilai yang sama yaitu
74%. Saran yang diberikan kepada siswi SMA X yaitu agar menambah wawasan terutama
bagian reproduksi dan mempertahankan pengetahuan mengenai kanker serviks dan
hendaknya melakukan pencegahan.
Vol I No: 10 Januari 2014
1
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
Kata Kunci : Pengetahuan, Pencegahan, Kanker Serviks
Pendahuluan
Kanker serviks merupakan penyakit
yang sangat mematikan bagi wanita bila
tidak ditangani dengan cepat. Banyak
wanita tidak peduli, walau sudah
mendengar dan menonton berita-berita di
siaran televisi maupun situs internet.
Kepedulian terhadap rahim seharusnya
menjadikan semua wanita berhati-hati sejak
dini agar terhindar dari kanker serviks. Jika
wanita peduli sejak dini maka penyakit
kanker serviks ini dapat disembuhkan
dengan total, dengan mencari informasi
sebanyak-banyaknya mengenai kanker
serviks. Tingkat prevalensi kanker serviks
tertinggi ada pada remaja yang aktif
melakukan aktivitas seksual dan ketika
perempuan melakukan aktivitas seksual
pertama kali di usia kurang dari 25 tahun
(National Cancer Institute, 2006 cit.
Juntasopeepun et al., 2012 ).
Kanker serviks merupakan penyakit
kanker nomor tiga paling banyak diderita
wanita di seluruh dunia. Diperkirakan
529.000 kasus baru tahun 2008 dan > 85%
kejadian secara global terdapat di negara
sedang berkembang. Wilayah dengan risiko
tinggi termasuk Afrika Timur, Barat dan
Selatan, Asia Tengah dan Selatan, Afrika
Tengah dan Amerika Selatan. Wilayah yang
mempunyai risiko rendah ada di Asia Barat,
Amerika Utara, Australia dan New Zealand.
Secara
keseluruhan
rasio
insiden
kematiannya 52%. Dalam hal ini kanker
serviks telah menyebabkan 275.000
kematian pada tahun 2008 dan hampir 88%
kejadian tersebut terjadi di negara
berkembang yaitu 53.000 di Afrika, 31.400
di Amerika Latin dan Karibia serta 159.800
di Asia (Ferlay et al., 2010).
Kanker serviks menjadi penyebab
kematian perempuan yang utama di Asia
Tenggara. Di Vietnam, kanker serviks
menjadi penyebab kematian perempuan
dengan nomor urut pertama, sedangkan di
Indonesia dan Filipina menduduki urutan
penyebab kematian yang kedua. Sementara
itu, di Thailand dan Malaysia, kanker
serviks menduduki penyebab kematian
perempuan ketiga (Delia Wijaya, 2010).
Setiap tahun, setidaknya muncul 15.000
kasus baru kanker serviks dan 7.500
kematian akibat kanker serviks. Kanker ini
merupakan kasus terbanyak kedua pada
Vol I No: 10 Januari 2014
2
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
perempuan Indonesia usia produktif antara
14-44 tahun (Castellsagué et al., 2007).
ACS (2012) memperkirakan 11.270
kasus kanker serviks terdiagnosa di
Amerika Serikat tahun 2009, dengan
perkiraan jumlah kematian 4.070 orang.
Diperkirakan sebanyak 52.000 kasus baru
penyakit kanker serviks dan 27.000 wanita
meninggal akibat penyakit tersebut di Eropa
setiap tahunnya (Giordano et al., 2008).
Menurut National Cancer Institute (NCI,
2007) di Amerika Serikat diperkirakan
terdapat 11.070 kasus kanker serviks dan
3870 akan berakhir dengan kematian.
Kurang dari atau sama dengan 15.000 kasus
baru kanker serviks setiap tahunnya terjadi
di Indonesia, dimana 7.500 diantaranya
berakhir dengan kematian dan merupakan
kejadian kanker nomor dua terbanyak pada
wanita usia reproduksi antara 15-44 tahun
(Domingo et al., 2008).
Kanker serviks sampai saat ini
merupakan salah satu penyebab kematian
kaum perempuan yang cukup tinggi, baik di
negara-negara maju maupun di negara
berkembang seperti Indonesia (Yayasan
Kesehatan Indonesia, 2008). Pada tahun
2005 telah terjadi sekitar 260.000 kematian
akibat kanker serviks dan sekitar 95%
terjadi di negara-negara sedang berkembang
(WHO, 2006). Di Indonesia, diperkirakan
setiap harinya terjadi 41 kasus baru kanker
serviks dan 20 perempuan meninggal dunia
karena penyakit tersebut. Kanker serviks
menjadi kanker terbanyak dan hampir 70%
mencapai stadium lanjut. Wanita di
Indonesia beresiko menderita kanker
serviks pada usia 15-61 tahun mencapai 58
juta orang, sedangkan usia 10-14 tahu
sekitar 10 juta wanita mengalami kasus
yang sama (Hasto, 2009).
Di Sumatera Utara menurut data
dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP)
Haji Adam Malik Medan periode tahun
2009 sampai dengan tahun 2012 terjadi
peningkatan kasus insiden kanker serviks
dari 108 menjadi 202 orang (Yayasan
Kesehatan Indonesia, 2008).
Dengan merubah perilaku seks
individu merupakan salah satu cara untuk
menekan tidak terjadinya kanker serviks
yang menjadi masalah kesehatan secara
global karena angka kematiannya sangat
tinggi di seluruh dunia terutama di negara
berkembang. Diperkirakan lebih dari 7,5
juta penduduk dunia meninggal karena
kanker pada 2005 dan lebih dari 70% dari
kematian tersebut berada pada negara yang
berpenghasilan rendah dan sedang (WHO,
2006).
hasil wawancara terhadap beberapa
anak SMA X di Pematangsiantar, mereka
Vol I No: 10 Januari 2014
3
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
menyatakan bahwa mengetahui tentang
kanker serviks tetapi tidak terlalu banyak
informasi yang didapat. Responden
mengetahui tentang vaksinasi dini tetapi
harganya kurang terjangkau. Berdasarkan
data dan fakta yang tertera di atas maka
dilakukan penelitian mengenai “Tingkat
Pengetahuan Siswi Sekolah Menengah Atas
Tentang
Kanker
Serviks
dan
Pencegahannya.” Adapun tujuan khusus
dari penelitian karya tulis ilmiah ini adalah
untuk menentukan sejauh mana tingkat
pengetahuan responden tentang kanker
serviks dan pencegahannya.
Adapun kegunaan dari penelitian
ini adalah agar responden mempertahankan
dan meningkatkan pengetahuan tentang
kanker serviks, sehingga dapat mengenali
dengan baik penyebab, faktor risiko dan
pencegahan kanker serviks sehingga
terhindar dari bahaya kanker serviks.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah deskriptif yaitu untuk
membuatpenilaian terhadap kondisi dan
penyelenggaraan di masa sekarang dan
dapat diartikan sebagai suatu penelitian
yang dilakukan untuk mendeskriptifkan
atau menggambarkan suatu fenomena yang
terjadi di dalam masyarakat (Notoatmodjo
(2010). Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah siswi Sekolah
Menengah Atas di Sekolah Lanjutan Atas
Advent Martoba, yakni yang berjumlah 52
orang terdiri dari 22 orang XI IA 1, 21
orang XI IA 2, dan 9 orang XI IS.
Hasil Penelitian
Tabel 1 menunjukkan sejauh mana
pengetahuan responden tentang kanker
serviks
dan
pencegahannya.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa nilai ratarata persentase pengetahuan responden
tentang kanker serviks dan pencegahannya
adalah 79%. Tabel 2 menunjukkan aspek
mana yang paling diketahui dan kurang
diketahui oleh responden tentang kanker
serviks. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa aspek yang dinilai paling diketahui
adalah “Aspek Tanda dan Gejala” dengan
nilai 93%.
Tabel 1 Butir Pengetahuan tentang Kanker Serviks dan Pencegahannya
N
o
Pernyataan
Jumlah Persenta
se
Vol I No: 10 Januari 2014
4
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
4.
Kanker serviks adalah keganasan kanker yang hanya dialami 42
oleh wanita.
100%
1.
Kanker serviks merupakan proses keganasan kanker dari sel- 41
sel leher rahim yang tidak abnormal akibat pertumbuhan yang
tidak terkendali.
98%
13 Gejala kanker serviks adalah pendarahan vagina yang tidak 40
.
normal atau perdarahan diluar siklus menstruasi.
93%
14 Gejala yang lain adalah keputihan yang berlebihan atau tidak 40
.
normal.
93%
20 Jika membersihkan daerah kewanitaan, terlebih dahulu 40
.
membersihkan tangan agar daerah kewanitaan tidak
terkontaminasi.
93%
10 Wanita yang tidak membersihkan daerah kewanitaan setelah 38
.
melakukan hubungan seksual mempunyai resiko terkena
kanker serviks.
93%
24 Untuk menjaga daerah kewanitaan/vagina tetap kering 38
.
disarankan memakai handuk khusus atau tisu
90%
5.
Human Papilloma Virus (HPV) merupakan penyebab dari 37
kanker leher rahim (serviks).
88%
7.
Human Papilloma Virus dapat ditularkan melalui hubungan 37
seksual dengan berganti-ganti pasangan.
88%
22 Untuk menjaga kebersihan daerah kewanitaan dan terhindar 37
.
virus kanker serrviks, wanita disarankan mengganti celana
dalam 2 kali sehari.
88%
11 Wanita yang merokok adalah salah satu pencetus kanker 33
.
serviks.
83%
Vol I No: 10 Januari 2014
5
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
8.
Human Papilloma Virus dapat berpindah bukan hanya 34
melalui hubungan seksual vagina tetapi juga oral vagina.
81%
23 Memakai pantyliner dapat menyebabkan daerah kewanitaan 34
.
lembab, sehingga kuman cepat berkembang.
81%
2.
Setiap satu menit satu orang wanita meninggal karna kanker 33
rahim di Indonesia.
79%
3.
Kanker leher rahim rawan pada wanita berusia 35-50 tahun.
33
79%
25 Dengan tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung zat 33
.
pengawet seperti indomie, makanan kalengan, dll, akan
membantu mengurangi kemungkinan tumbuhnya kanker.
79%
16 Deteksi dini dengan Pap Smear merupakan cara untuk 31
.
mencegah kanker serviks
74%
18 Dengan melakukan vaksinasi Human Papilloma Virus akan 30
.
membantu para wanita yang belum melakukan hubungan
seksual terhindar dari virus Human Papilloma
71%
17 Melakukan pemeriksaan skrining secara teratur dapat 28
.
membantu wanita mengetahui fase awal kanker sebelum
menimbulkan gejala.
67%
6.
Proses perkembangan virus Human Papilloma sampai 26
menjadi kanker sebagian memerlukan waktu 20 tahun
62%
19 Seorang wanita yang tidak melakukan hubungan seksual pada 26
.
usia dini adalah cara untuk mencegah virus masuk ke daerah
kewanitaan.
62%
21 Dalam membersihkan daerah kewanitaan, tidak disarankan 26
.
menggunakan sabun atau antiseptik lain.
62%
9.
60%
Melakukan hubungan seksual terlalu dini adalah risiko paling 25
besar terserang kanker serviks dibanding yang melakukan
Vol I No: 10 Januari 2014
6
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
hubungan seksual diatas 20 tahun.
12 Wanita yang melakukan diet ketat, rendah konsumsi Vitamin 25
.
A, C, dan E akan mudah terinfeksi virus Human Papilloma.
60%
15 Kanker serviks dapat sembuh secara total jika terdeteksi sejak 19
.
dini.
45%
Rata-rata dari Responden 42 orang
79%
Tabel 2 Distribusi Aspek Pengetahuan Siswi SMA X tentang Kanker Serviks yang
Dinilai Paling Diketahui dan Kurang Diketahui
No. Aspek Aspek
Persentase Peringkat
1.
Defenisi Kanker Serviks
89%
2
2.
Penyebab dan Penularan Kanker Serviks
76%
4
3.
Faktor Risiko
79%
3
4.
Tanda dan Gejala
93%
1
5.
Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Serviks
74%
5
Menurut kriteria persen objektif hal ini
masuk dalam kategori baik. Sedangkan
aspek yang kurang diketahui, yaitu “Aspek
Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker
Serviks” dimana nilai 74%. Menurut
kriteria persen objektif ini termasuk dalam
kategori cukup baik.
Tabel 3 menunjukkan butir mana yang
dinilai paling diketahui dan kurang
diketahui oleh responden tentang kanker
serviks dan pencegahannya, maka nilai rata-
rata tiap butir disusun sesuai dengan
peringkat, kemudian diambil satu butir yang
paling diketahui dan satu kurang diketahui
dan diinterpretasikan menurut Arikunto.
Hasil tabel ini menunjukkan bahwa butir
yang paling diketahui dari aspek defenisi
kanker serviks adalah pernyataan nomor 4
“Kanker serviks adalah keganasan kanker
yang hanya dialami oleh wanita”, dengan
nilai 100%. Menurut persentase objektif
termasuk dalam kategori baik. Sedangkan
Vol I No: 10 Januari 2014
7
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
butir yang kurang diketahui adalah
pernyataan nomor 2 dan 3 “setiap satu
menit satu orang wanita meninggal.
Tabel 3 Distribusi Peringkat Butir Yang Dinilai Paling Diketahui Dan Kurang
Diketahui Dari Aspek Defenisi Kanker Serviks
N
o
Pernyataan
1.
Jumla
h
Persenta
se
Peringk
at
Kanker serviks merupakan proses keganasan kanker 41
yang berasal dari sel-sel leher rahim yang tidak
abnormal akibat pertumbuhan yang tidak terkendali.
98%
2
2.
Setiap satu menit satu orang wanita meninggal karna 33
kanker rahim di Indonesia.
79%
3
3.
Kanker leher rahim rawan pada wanita berusia 35- 33
50 tahun.
79%
4
4.
Kanker serviks adalah sebuah keganasan kanker 42
yang hanya dialami oleh wanita.
100%
1
Jumlah Rata-rata
89%
Tabel 4 Distribusi Peringkat Butir Yang Dinilai Paling Diketahui dan Kurang
Diketahui dari Aspek Penyebab dan Penularan Kanker Serviks
No
Pernyataan
Jumlah
5
Human Papilloma Virus (HPV) merupakan 37
penyebab dari kanker leher rahim (serviks).
Persentase
Peringkat
88%
1
Vol I No: 10 Januari 2014
8
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
6
Proses perkembangan virus Human Papilloma 26
sampai menjadi kanker sebagian memerlukan
waktu 20 tahun
62%
4
7
Human Papilloma Virus dapat ditularkan 37
melalui hubungan seksual dengan bergantiganti pasangan.
88%
2
8
Human Papilloma Virus dapat berpindah 34
bukan hanya melalui hubungan seksual
vagina tetapi juga oral vagina.
81%
3
9
Melakukan hubungan seksual terlalu dini 25
adalah risiko paling besar terserang kanker
serviks dibanding yang melakukan hubungan
seksual diatas 20 tahun.
60%
5
Jumlah Rata-rata
76%
karena kanker rahim di Indonesia” dan
“Kanker leher rahim rawan pada wanita
berusia 35-50 tahun”, dengan nilai 79%.
Menurut persentase objektif termasuk
dalam kategori baik Tabel 4 menunjukkan
bahwa butir yang paling diketahui dari
aspek penyebab dan penularan kanker
serviks adalah nomor 5 dan 7 “Human
Papilloma Virus (HPV) merupakan
penyebab dari kanker leher rahim (serviks)”
dan “Human Papilloma Virus dapat
ditularkan melalui hubungan seksual
dengan berganti-ganti pasangan”, dengan
nilai yang sama 88%. Menurut presentase
objektif termasuk dalam kategori baik.
Sedangkan butir yang kurang diketahui
adalah pernyataan nomor 9 “Melakukan
hubungan seksual terlalu dini adalah risiko
paling besar terserang kanker serviks
dibanding yang
Vol I No: 10 Januari 2014
9
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
Tabel 5Distribusi Peringkat Butir Yang Dinilai Paling Diketahui dan Kurang
Diketahui dari Aspek Faktor Resiko Kanker Serviks
No Pernyataan
Jumlah
Persentase
Peringkat
10. Wanita yang tidak membersihkan daerah 39
kewanitaan setelah melakukan hubungan
seksual beresiko terkena kanker serviks.
93%
1
11. Wanita
yang
merokok
satupencetus kanker serviks.
salah 35
83%
2
12. Wanita yang melakukan diet ketat, rendah 25
konsumsi Vitamin A, C, dan E akan mudah
terinfeksi virus Human Papilloma.
60%
3
adalah
Jumlah Rata-rata
79%
Tabel 6 Distribusi Peringkat Butir Yang Dinilai Paling Dketahui Dan Kurang
Diketahui Dari Aspek Tanda dan Gejala
No
Pernyataan
13.
14.
Jumlah
Persentase
Peringkat
Gejala kanker serviks adalah pendarahan 39%
vagina yang tidak normal atau perdarahan
diluar siklus menstruasi.
93%
1
Gejala yang lain adalah keputihan yang 39%
berlebihan atau tidak normal.
93%
2
Jumlah rata-rata
93%
Vol I No: 10 Januari 2014
10
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
melakukan hubungan seksual di atas 20
tahun”, dengan nilai 60%. Menurut
presentase objektif termasuk dalam kategori
cukup. Tabel 5 menunjukkan bahwa butir
yang paling diketahui dari aspek faktor
resiko kanker serviks adalah butir nomor 10
“Wanita yang tidak membersihkan daerah
kewanitaan setelah melakukan hubungan
seksual mempunyai resiko terkena kanker
serviks”, dengan nilai
93%. Menurut
presentase objektif termasuk dalam kategori
baik. Sedangkan butir yang kurang
diketahui adalah nomor 12 “Wanita yang
melakukan diet ketat, rendah konsumsi
Vitamin A, C, dan E akan mudah terinfeksi
virus Human Papilloma”, dengan nilai 60%.
Menurut presentase objektif termasuk
dalam kategori cukup baik. Tabel 6
menunjukkan butir yang paling diketahui
dari aspek tanda dan gejala adalah semua
pernyataan yaitu “Gejala kanker serviks
adalah perdarahan vagina yang tidak
normal atau perdarahan diluar siklus
mestruasi” dan “Gejala yang lain adalah
keputihan yang berlebihan atau tidak
normal” dengan nilai yang sama yaitu 93%.
Menurut persentase objektif termasuk
dalam kategori baik. Tabel 7 menunjukkan
butir yang paling diketahui dari aspek
pencegahan dan deteksi dini kanker serviks
adalah nomor 20 “Jika membersihkan
daerah kewanitaan, terlebih dahulu
membersihkan
tangan
agar
daerah
kewanitaan tidak terkontaminasi”, dengan
nilai 93%. Menurut presentase objektif
termasuk dalam kategori baik. Sedangkan
butir yang kurang diketahui adalah
pernyataan nomor 15 “Kanker serviks dapat
sembuh secara total jika terdeteksi sejak
dini”, dengan nilai 45%. Menurut
persentase objektif termasuk dalam kategori
kurang baik.
Tabel 7 Distribusi Peringkat Butir Yang Dinilai Paling Diketahui dan Kurang
Diketahui dari Aspek Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Serviks
No
Pernyataan
15.
16.
Jumlah
Persentase
Perngkat
Kanker serviks dapat sembuh secara total jika 19
terdeteksi sejak dini.
45%
11
Deteksi dini dengan Pap Smear merupakan 31
74%
5
Vol I No: 10 Januari 2014
11
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
cara untuk mencegah kanker serviks
17.
Melakukan pemeriksaan skrining secara teratur 28
dapat membantu wanita mengetahui fase awal
kanker sebelum menimbulkan gejala.
67%
8
18.
Dengan
melakukan
vaksinasi
Human 30
Papilloma Virus akan membantu para wanita
yang belum melakukan hubungan seksual
terhindar dari virus Human Papilloma
71%
7
19.
Seorang wanita tidak melakukan hubungan 26
seksual pada usia dini adalah cara untuk
mencegah virus masuk ke daerah kewanitaan.
62%
9
20.
Jika membersihkan daerah kewanitaan, terlebih 39
dahulu membersihkan tangan agar daerah
kewanitaan tidak terkontaminasi.
93%
1
21.
Dalam membersihkan daerah kewanitaan, tidak 26
disarankan menggunakan sabun atau antiseptik
lain
62%
10
22.
Untuk menjaga kebersihan daerah kewanitaan 37
dan terhindar virus kanker serrviks, wanita
disarankan mengganti celana dalam 2 kali
sehari
88%
3
23.
Memakai pantyliner dapat menyebabkan 34
daerah kewanitaan lembab, sehingga kuman
cepat berkembang.
81%
4
24.
Untuk menjaga daerah kewanitaan/vagina tetap 38
kering disarankan memakai handuk khusus
atau tisu
90%
2
Vol I No: 10 Januari 2014
12
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
25.
Dengan tidak mengkonsumsi makanan yang 33
mengandung zat pengawet seperti indomie,
makanan kalengan, dll, akan membantu
mengurangi kemungkinan tumbuhnya kanker.
79%
Jumlah Rata-rata
74%
5
Vol I No: 10 Januari 2014
13
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang kanker
serviks dan pencegahannya berada pada kategori baik. Menurut Arikunto (1998) nilai
termasuk kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh responden
mengetahui tentang kanker serviks. Apabila mereka mengetahui banyak tentang
kanker serviks, maka mereka dapat mencegah kanker serviks sejak dini sehingga
tidak berkembang pada saluran genital karena bagian sistem reproduksi yang mudah
diserang virus adalah cervix (Jhon, 2006).
Dari beberapa aspek yang diteliti maka aspek yang paling diketahui adalah
tentang aspek tanda dan gejala pada kanker serviks. Dengan pengetahuan yang baik
tentang tanda dan gejala maka diharapkan responden lebih memperhatikan diri
sendiri maupun teman yang di lingkungan masing-masing. Karena stadium awal
pada kanker serviks adalah perdarahan pada vagina yang abnormal (Williams, 2011).
Sedangkan aspek yang kurang diketahui adalah aspek pencegahan dan deteksi dini
kanker serviks. Ini menunjukkan responden cukup baik dalam mengetahui aspek
pencegahan dan deteksi dini kanker serviks. Dengan pengetahuan yang cukup baik,
maka responden dapat menghindari faktor risiko dan melakukan pencegahan agar
tidak terkena kanker serviks. Cara pencegahan yang disarankan kepada para wanita
adalah dengan deteksi dini sejak awal untuk mengurangi faktor risiko terkena kanker
serviks (Delia, 2010).
Dari butir-butir pernyataan yang paling diketahui adalah responden memahami
dengan baik tentang kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari sel-sel
leher rahim yang tidak abnormal akibat pertumbuhan yang tidak terkendali. Menurut
Delia (2010) kanker serviks merupakan keganasan kanker yang ditandai dengan
pertumbuhan sel-sel yang tidak terkendali. Sedangkan butir yang kurang diketahui
adalah setiap satu menit satu orang wanita meninggal karena kanker rahim di
Indonesia dan kanker leher rahim rawan pada wanita berusia 35-50 tahun.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden memahami bahwa Human
Papilloma Virus (HPV) merupakan penyebab dari kanker leher rahim (serviks) dan
mengetahui bahwa Human Papilloma Virus dapat ditularkan melalui hubungan
seksual dengan berganti-ganti pasangan. Dimana menurut Delia (2010) penularan
Human Papillomavirus (HPV) dapat terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang
dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Sedangkan butir yang kurang diketahui
adalah melakukan hubungan seksual terlalu dini adalah risiko paling besar terserang
kanker serviks dibanding yang melakukan hubungan seksual diatas 20 tahun. Dimana
Delia (2010) menyatakan bahwa wanita yang melakukan hubungan seksual pada usia
terlalu muda lebih berpeluang terkena kanker serviks. Salah satu alasan untuk risiko
ini yaitu bahwa sel-sel yang sedang tumbuh di dalam serviks pada wanita muda lebih
rentan daripada sel-sel serviks dewasa pada wanita yang lebih tua, dan lebih mudah
dirusak oleh luka kecil yang disebabkan seringnya berhubungan seksual berisiko
terserang kanker serviks dua kali lebih besar.
Vol I, No : 10 Januari 2014
25
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
Hasil penelitian juga menjelaskan bahwa responden memahami bahwa wanita
yang tidak membersihkan daerah kewanitaan setelah melakukan hubungan seksual
mempunyai resiko terkena kanker serviks. Dimana menurut Delia (2010) Dengan
membersihkan vagina setelah melakukan hubungan seksual dengan membuang urin
dapat membantu wanita mencegah virus masuk. Sedangkan butir yang kurang
diketahui adalah wanita yang melakukan diet ketat, rendah konsumsi Vitamin A, C,
dan E akan mudah terinfeksi virus Human Papilloma. Dimana teori menurut Delia
(2010) Buruknya gaya hidup seseorang dapat menjadi penunjang meningkatnya
jumlah penderita kanker serviks, dengan kurang mengonsumsi vitamin A, C, vitamin
E adalah salah satu pemicu dan kebanyakan dijumpai pada wanita yang melakukan
diet ketat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa responden mengetahui dengan jelas tanda dan
gejala kanker serviks dengan baik. Dimana menurut Williams (2011) tanda dan
gejala pada kanker serviks dibagi dua yaitu (1) Stadium awal,kemungkinan
pendarahan vaginal abnormal, keputihan yang tidak normal, keluaran persisten dari
vagina, dan nyeri serta pendarahan postkoital dan (2) Stadium atas, terdapat nyeri
pelvis, kebocoran vaginal berupa urin dan tinja dari fistula, anoreksia, berat badan
turun, dan anemia.
Selanjutnya penelitian ini menjelaskan bahwa responden memahami bahwa jika
membersihkan daerah kewanitaan, terlebih dahulu membersihkan tangan agar daerah
kewanitaan tidak terkontaminasi. Menurut Delia (2010) membiasakan pola hidup
sehat jika ingin menyentuh area kewanitaan pastikan tangan bersih agar virus tidak
berpindah ke organ genital dan bisa menginfeksi daerah serviks (leher rahim).
Sedangkan butir yang kurang diketahui adalah kanker serviks dapat sembuh secara
total jika terdeteksi sejak dini. Dimana menurut Delia (2010) tujuan dari deteksi atau
skrining kanker serviks adalah untuk menemukan adanya kelainan pada mulut (leher)
rahim. Kanker serviks termasuk kanker yang dapat dicegah dan diobati apabila
terdeteksi sejak awal. Oleh karena itu, dengan mendeteksi kanker serviks sejak dini
diharapkan dapat mengurangi jumlah penderita kanker serviks.
Simpulan
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan responden tentang kanker
serviks dan pencegahannya adalah baik. Aspek yang dinilai paling diketahui dari
pengetahuan responden tentang kanker serviks dan pencegahannya adalah tanda dan
gejala, sedangkan aspek yang dinilai kurang diketahui dari pengetahuan siswi tentang
kanker serviks adalah pencegahan dan deteksi dini kanker serviks dengan kategori
cukup baik. Butir dari masing-masing aspek yang paling tertinggi adalah dari aspek
defenisi kanker serviks yaitu kanker serviks adalah keganasan kanker yang hanya
dialami oleh wanita dengan nilai 100% dengan kategori baik. Sedangkan butir dari
masing-masing aspek yang paling rendah adalah dari aspek pencegahan dan deteksi
Vol I, No : 10 Januari 2014
26
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
dini kanker serviks yaitu kanker serviks dapat sembuh secara total jika terdeteksi
sejak dini dengan nilai 45% termasuk dalam kategori kurang baik. Sehingga dapat
dikatakan kepedulian responden terhadap deteksi dini kanker serviks masih kurang.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. (1998). Prosedur metode penelitian suatu pendekatan praktis. Jakarta:
Rineka Cipta.
Delia, W. (2010). Pembunuh ganas itu bernama kanker serviks. Ed 1, Yogyakarta :
Sinar Kejora.
Domingo.(2009). Latar belakang penelitian hubungan antara usia dini melakukan
seksual terhadap kanker serviks. Diambil pada tanggal 05 April 2015 dari
digital_3802-Domingo at all.pdf
Heffner, L.J & Schust. D. J. (2006). The reproduktive system at galance. Ed 2,
Jakarta : Erlangga.
Knight, J. F. (2006). Family medical care. Vol 4, Bandung: Indonesia Publishing
House.
Kountur, R. (2005). Statistik praktis. Jakarta : PPM.
Mardalis. (2006). Metode penelitian. Ed 1,Jakarta : Bumi Aksara.
Mira, T (2009). Hubungan pelaksanaan dengan perilaku keluhan fisik dan psikologis
pasien kanker serviks saat menjalani kemoterapi. Diambil 5 April 2015 dari
digital_40-160-Miratriharini.pdf
Notoatmodjo, S. (2007). Promosi kesehatan teori dan aplikasi. Jakarta : Rineka
Cipta.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi penelitian kesehatan. Ed rev,Jakarta : Rineka
Cipta.
Novita, R. (2012). Perilaku perawatan kebersihan alat reproduksi dalam
pencegahan kanker serviks pada siswi SMAN 9 kebon pala Jakartatimur. Diambil
tanggal 05 April 2015 dari digital_20293541-S-Novitarahmayani.pdf
Riani, I. (2009). Alat reproduksi kelamin wanita. Diambil 14 Mei 2015 dari
https://intanrianiwordpress.com/alat-reproduksi-kelamin-wanita/.
https://intanrianiwordpress.com/kanker-serviks/.
Sharon, J. (2011). Keperawatan maternitas. Ed 18,Jakarta : EGC.
Vol I, No : 10 Januari 2014
27
Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)
Syaifuddin, H. (2011). Anatomi dan fisiologi, Ed. 4,Jakarta : EGC.
Wahyu, P. (2013). Buku ajar maternitas. Ed 1, Yogyakarta : Nuha Medika.
Williams, L dkk. (2011). Nursing the series for clinical excellence. Ed 1,
Vol I, No : 10 Januari 2014
28
Download