Analisis keuntungan dan peluang penggunaan alat tangkap legal

advertisement
III. KERANGKA KONSEPTUAL
Keputusan ekonomi nelayan untuk memilih penggunaan alat tangkap legal
dan illegal perlu dikonseptualisasikan. Kerangka konseptual memberikan
abstraksi mengenai kondisi yang mendorong nelayan untuk menggunakan alat
tangkap legal dan illegal di Kabupaten Indramayu, dan di dalamnya melekat
dengan konsep keuntungan ekonominya. Abstraksi demikian membantu
penyusunan hipotesis dan metode penelitian.
Kerangka konseptual keputusan ekonomi nelayan dalam memilih jenis alat
tangkap legal dan illegal dibangun setelah memahami dua model ekonomi illegal
fishing yang telah digunakan oleh para peneliti sebelumnya. Oleh karena itu,
bagian pertama bab ini menampilkan model dasar ekonomi illegal fishing, dan
bagian
kedua
menampilkan
perluasannya.
Model
dasar
dipahami
dari
Charles et al.(1999) dan perluasannya dipahami dari Sumaila dan Keith (2006).
Sumaila dan Keith (2006) memperluas model dasar dengan menginternalisasikan
pertimbangan moral dan pendirian sosial nelayan dalam masyarakat.
3.1. Model Dasar Ekonomi Illegal Fishing
Charles et al.(1999) telah menyajikan model ekonomi illegal fishing.
Model tersebut dikembangkan dari hasil penelitian Kuperan dan Sutinen (1998)
yang menjadi benchmark dalam awal studi mengenai ekonomi illegal fishing atau
model pencegahan.
Charles et al.(1999) membangun model ekonomi yang menjelaskan
perilaku mikroekonomi nelayan di bawah regulasi input dan output yang bekerja
secara terpisah. Mereka menggunakan dua bentuk fungsi : umum (general) dan
khusus (specific). Fungsi tersebut mencakup fungsi produksi, biaya, peluang
33
tertangkapnya nelayan atas illegal fishing dan besarnya denda atas tindakan illegal
fishing. Melalui kerangka kerja tersebut Charles et al.(1999) dapat menjelaskan :
(1) kondisi ekonomi yang mendorong nelayan untuk melakukan illegal fishing,
(2) respon nelayan terhadap upaya penegakan yang dilakukan oleh pengelola
perikanan, (3) target tingkat konservasi sumberdaya ikan, dan (4) upaya
penegakan yang diperlukan untuk mencapai target tingkat konservasi tersebut.
Keempat macam penjelasan tersebut dibedakan menurut dua macam regulasi :
input dan output. Regulasi input fokus dengan bagaimana meredam input
destruktif dalam usaha perikanan. Sedangkan regulasi output fokus dengan
bagaimana meredam hasil tangkapan nelayan agar tidak melebihi kuota yang
ditetapkan.
Dalam bentuk model yang spesifik, Charles et al.,(1999) menggunakan
asumsi bahwa fungsi produksi nelayan memiliki bentuk linear dan separabel.
Ekspresinya disajikan pada persamaan (3.1) :
h
dimana :
h
q
x
B
l
i
= q l x l B + q i x i B ............................................................................... (3.1)
= Hasil tangkapan ikan
= Koefisien kemampuan tangkap
= Beragam jenis input perikanan
= Ketersediaan biomassa ikan
= Legal
= Illegal
Input perikanan dan biomassa ikan bersifat variabel, sedangkan koefisien
kemampuan tangkap merupakan sebuah konstanta.
Berawal dari bentuk fungsi produksi tersebut, berikutnya diasumsikan
bahwa biaya penangkapan ikan terdiri dari biaya untuk pengadaan input legal dan
illegal, serta ditambah dengan biaya tindakan penghindaran aturan. Komponen
34
biaya tindakan penghindaran tersebut muncul sebagai konsekuensi dari tindakan
illegal fishing. Dimana dalam mengoperasikan input illegal, nelayan harus
menyusun upaya agar terhindar dari kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh
pengelola perikanan. Tindakan ini dianggap akan menimbulkan biaya tambahan
bagi nelayan.
Charles et al.(1999) menggunakan fungsi biaya dengan bentuk linearkuadratik. Ekspresinya disajikan pada persamaan (3.2). Dalam bentuk linearkuadratik, fungsi biaya tersebut merefleksikan biaya marjinal yang timbul sebagai
akibat dari penggunaan input.
C
dimana :
C
A
cl
ci
cA
= c l x l 2 + c i x i 2 + c A A2 ...................................................................... (3.2)
= Total biaya variabel
= Tindakan penghindaran terhadap regulasi
= Biaya per unit penggunaan input legal
= Biaya per unit input illegal
= Biaya per unit tindakan penghindaran
Selanjutnya, untuk mengantisipasi kegiatan illegal fishing, diasumsikan
pengelola perikanan telah menyusun upaya penegakan regulasi perikanan, E.
Karena itu nelayan akan menghadapi peluang untuk tertangkap (caught) dan
dihukum (convicted) bila melakukan illegal fishing, θ, sebagai konsekuensi dari
adanya upaya penegakan tersebut. Di bawah regulasi input perikanan, peluang
tersebut diekspresikan pada persamaan (3.3) :
θ
= θ I (x i , E, A)................................................................................... (3.3)
dimana :
∂θ/∂x i ≥ 0, ∂θ/∂E I ≥ 0, ∂θ/∂A < 0, dan θ ≡ 0 bila x i = 0
Persamaan (3.3) menunjukkan peluang tertangkapnya nelayan di bawah
regulasi alat tangap.
Peluang tersebut diasumsikan sebagai fungsi dari
35
seperangkat input illegal, x i , upaya penegakan regulasi input perikanan, E, dan
tindakan penghindaran terhadap regulasi oleh nelayan, A. Upaya pengendalian
input perikanan dapat meningkatkan peluang nelayan untuk tertangkap dan
dihukum, ∂θ/∂x i ≥ 0 dan ∂θ/∂E I ≥ 0. Sebaliknya, peluang tersebut akan menurun
bila nelayan melakukan tindakan penghindaran, ∂θ/∂A < 0.
Dalam hal penghukuman terhadap illegal fishing, berikutnya diasumsikan
bahwa bila nelayan tertangkap melakukan illegal fishing, maka mereka akan
terkena denda (fine). Karena itu, dalam proses pengambilan keputusan untuk
melakukan illegal fishing, nelayan akan mempertimbangkan perkiraan nilai denda
(expected value of the fine). Besaran tentatif perkiraan denda dalam kasus regulasi
alat tangkap disajikan pada persamaan (3.4) :
θF I =
dimana :
F
Term
................................................................................. (3.4)
= Besaran denda atas tindakan illegal fishing.
merupakan faktor yang dapat mengurangi peluang tertangkapnya
nelayan oleh upaya penegakan regulasi. Dimana γ merupakan sebuah konstanta
yang di set hingga satu. Simbol tersebut diterjemahkan Charles et al.(1999)
sebagai tingkat efektifitas tindakan penghindaran nelayan, sedangkan notasi Ex i
jadi diartikan sebagai perkiraan denda per unit illegal fishing bila nelayan tidak
melakukan penghindaran, A = 0.
Berikutnya
diasumsikan
bahwa
nelayan
memiliki
tujuan
untuk
memaksimisasi keuntungan dari usaha perikanan, π. Di bawah regulasi input,
ekspresi masalah ekonomi nelayan tersebut disajikan pada persamaan (3.5) :
[pq l Bx l + pq i Bx i – c l x l 2 – c i x i 2 – c A A2 –(1 - γA)Ex i ] ... (3.5)
36
Notasi p pada persamaan tersebut menunjukkan harga per unit ikan. Keuntungan
tersebut merupakan selisih antara penerimaan dengan pengeluaran. Melalui
penjelasan sebelumnya, keuntungan tersebut merupakan komposisi dari
persamaan (3.1), (3.2) dan (3.4). Variabel keputusan bagi nelayan adalah input
legal, x l , bundel input illegal, x i , dan tindakan penghindaran, A.
Turunan persamaan (3.5) dengan tanggap terhadap tiga macam peubah
keputusan tadi disajikan pada persamaan (3.6) :
∂π/∂x l = pq l B – 2c l x l = 0, atau pq l B = 2c l x l ........................................ (3.6a)
∂π/∂x i = pq i B – 2c i x i – (1 - γA)E I = 0, atau pq i B – (1 - γA)E = 2c i x i (3.6b)
∂π/∂A = -2c A A + γEx i = 0, atau 2c A A = γEx i ...................................... (3.6c)
Sisi kiri persamaan (3.6a) dan (3.6b) merupakan nilai penerimaan produk
marjinal legal dan illegal. Perbedaannya, dalam pengambilan keputusan untuk
mengalokasikan input illegal, perkiraan denda menjadi faktor pengurang terhadap
penerimaan produk marjinalnya, dan besarannya meningkat seiring dengan
tingkat penegakan regulasi input, E, dan akan menurun terhadap tindakan nelayan
untuk mengindari aturan, A. Tindakan penghindaran tersebut proporsional
terhadap tingkat input illegal dan upaya penegakan regulasi input. Tindakan
tersebut akan meningkat seiring dengan tingkat efektifitasnya, γ, dan menurun
seiring dengan perubahan biayanya, c A .
Pemecahan persamaan (3.6) secara simultan dengan menggunakan
Cramer’s rule akan menghasilkan tingkat peubah keputusan yang optimal, baik
legal maupun illegal. Hasilnya disajikan pada persamaan (3.7) :
x l = pq l B/2c l ......................................................................................... (3.7a)
xi =
............................................................................. (3.7b)
37
A=
.............................................................................. (3.7c)
Terdapat tiga kondisi yang harus dipenuhi terkait tiga macam peubah
keputusan tersebut agar memiliki makna secara ekonomi. Pertama, pembagi pada
persamaan (3.7b) dan (3.7c) harus positif. Kedua, pembilang pada persamaan
(3.7b) dan (3.7c) harus positif untuk menjamin nilai input yang positif. Ketiga,
pemecahan persamaan (3.7c) harus memenuhi syarat logis dimana 1 - γA > 0.
Kondisi solusi interior maksimum tersebut disajikan pada persamaan (3.8) 1:
E < (4c i c A /γ2)1/2 .................................................................................... (3.8a)
E < pq i B ............................................................................................... (3.8b)
E < (c A /γ2)(4c i /pq i B) ............................................................................ (3.8c)
Mengacu pada persamaan (3.8), illegal fishing, yaitu x i > 0, akan terjadi
hanya jika upaya penegakan tidak terlalu tinggi untuk meredam insentif atas
tindakan tersebut. Kemudian, parameter c A /γ2 menunjukkan bahwa illegal fishing
akan terjadi meski tingkat penegakan regulasinya tinggi, dan bila biaya atas
tindakan penghindaran terhadap regulasi tersebut tinggi, dan/atau jika tindakan
tersebut secara relatif tidak efektif.
Dalam model dasar ini, keputusan nelayan untuk menggunakan alat
tangkap illegal dapat ditelusuri secara logis dari persamaan (3.7b). Melalui
1
Berikut disajikan bagaimana kondisi (3.8) diturunkan. Pertama, mengacu pada
denominator persamaan (3.7b) dan (3.7c), kondisi yang diperlukan agar denominator
tersebut positif adalah : EI2γ2 = 4cicA → EI2 = 4cicA/γ2 → EI < (4cicA/γ2)1/2. Kedua, mengacu
pada nominator persamaan (3.7b), kondisi yang diperlukan agar nominator tersebut positif
adalah : 2cApqiB – 2cAEI = 0 → 2cApqiB = 2cAEI → EI < pqiB. Ketiga, kondisi yang
diperlukan adalah (1 - γA) > 0. Hasilnya diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan
(3.7c) ke dalam faktor tersebut.
(1 - γ
)> 0 → (1 -
)>0→
<1
→
< 4cicA - γ2EI2 → pqiB – EI < (4cicA/γ2EI) – EI → PqiB < (4cicA/γ2EI)
2
→ γ EI < (4cicA/pqiB) → EI < (cA/γ2)( 4ci/pqiB).
38
persamaan tersebut, insentif nelayan untuk menggunakan input illegal
dipengaruhi oleh peubah harga, upaya penegakan, biaya pengadaan input illegal
dan biaya penghindaran sebagai konsekuensinya. Tingginya harga ikan dari hasil
penggunaan
input
illegal
diprediksi
dapat
mendorong
nelayan
untuk
menggunakan input illegal. Kemudian, semakin tinggi upaya penegakan dan
tingginya biaya input illegal serta biaya penghindaran, dapat mengurangi insentif
nelayan untuk menggunakan input illegal.
Variabel upaya penegakan secara konseptual masih tampak sangat abstrak.
Para peneliti sebelumnya memandang bahwa upaya penegakan tersebut
merupakan bagian dari aspek legitimasi. Secara empiris Kuperan dan Sutinen
(1998) serta Eggert dan Lokina (2008) memproksinya dengan beberapa peubah
dummy yang digali dari informasi nelayan, yaitu penilaian nelayan terhadap
efektivitas tindakan pemerintah dalam menegakan regulasi perikanan, penilaian
terhadap konsistensi pemerintah dalam menegakan regulasi tersebut, dan
persentase nelayan lainnya yang dipandang nelayan tidak dapat terdeteksi oleh
pemerintah.
3.2. Pengembangan Model Dasar Ekonomi Illegal Fishing
Mengacu pada Becker (1968), Kuperan dan Sutinen (1998), dan Charles at
al.(1999), Sumaila dan Keith (2006) secara eksplisit menganggap bahwa
pertimbangan nelayan untuk melakukan kegiatan legal atau illegal tergantung
pada pertimbangan sebagai berikut :
1. Manfaat dari kegiatan illegal,
2. Peluang tindakan illegal akan diketahui,
3. Denda yang yang harus dikeluarkan nelayan bila tertangkap,
39
4. Biaya atas tindakan penghindaran, dan
5. Derajat moral dan tekanan sosial nelayan;
Argumentasi logis mengenai efek pertimbangan pertama hingga keempat telah
dijelaskan secara konseptual dalam model dasar yang dikembangkan oleh
Charles et al.(1999).
Untuk mengabstraksi perilaku nelayan dalam merespon regulasi perikanan,
diasumsikan bahwa keputusan untuk terlibat atau tidak dalam kegiatan perikanan
illegal tergantung pada potensi manfaat bersih (net benefit, NB) dari kegiatan
tersebut yang dimoderasi oleh pertimbangan moral dan pendirian sosial. Fungsi
NB disajikan pada persamaan (3.9) :
NB = f[h(A, x i , x), θ(x i , A, R), F, m(x i ), s(x i )]...................................... (3.9)
dimana :
h
xi
x
A
R
θ
F
m
s
=
=
=
=
=
=
=
=
hasil tangkapan dari perikanan illegal oleh nelayan tertentu;
input perikanan illegal;
biomassa ikan yang tersedia;
tingkat kegiatan penghindaran yang ditentukan nelayan;
aturan perikanan;
peluang tertangkap;
denda yang dihadapi pelanggar ketika tertangkap;
pendirian moral individu yang diasumsikan berhubungan terbalik
terhadap input perikanan illegal; dan
= pendirian sosial dalam masyarakat.
Selanjutnya diasumsikan bahwa NB h >0, NB θ <0, NB F <0, NB m <0, dan NB s <0.
Variabel pada persamaan tersebut tergantung juga secara terbalik pada derajat
perikanan illegal yang dilakukan oleh nelayan.
Supaya lebih spesifik, persamaan (3.9) dapat ditulis kembali seperti
disajikan pada persamaan (3.10) :
NB = [ph(A, x i , x) – T(x i , A)] – θ(x i , A, R)F – m(x i ) – s(x i ) .............. (3.10)
dimana :
p
= Harga ikan per unit yang ditangkap
40
Kemudian diasumsikan bahwa h x > 0, h xi > 0; h A < 0. Term pertama dan
kedua pada sisi kanan persamaan secara berurutan menunjukkan penerimaan total
dan biaya total perikanan illegal. Simbol T(x i , A) menunjukkan biaya total
perikanan illegal. Pada term ketiga sisi kanan diasumsikan bahwa θ xi > 0;
θ A < 0; θ R > 0, dan peluang nelayan untuk tertangkap dan dihukum bila
ditemukan melakukan penangkapan ikan secara illegal berada pada besaran 0 ≤ θ
≤ 1. Simbol F menunjukkan denda yang bisa dikenakan kepada pelanggar, dan
untuk mencapai harapan denda total yang harus dibayar oleh pelanggar, maka
peluang tertangkap harus dikalikan dengan denda.
Selanjutnya diasumsikan bahwa tujuan nelayan adalah memaksimisasi
manfaat bersih potensial dari tindakan illegal yang dimoderasi oleh pertimbangan
moral dan sosial. Jika nelayan memilih untuk tidak melakukan penangkapan ikan
dengan cara illegal, maka NB dalam persamaan (3.10) sama dengan nol. Hal
inilah yang diharapkan oleh setiap pengelola perikanan. Akan tapi, jika nelayan
memilih untuk melakukan penangkapan ikan secara illegal, dalam situasi dimana
tidak ada peraturan, maka peluang nelayan untuk tertangkap sama dengan nol.
Dalam situasi ini akan ada sedikit tindakan kegiatan penghindaran, dan karenanya
T(x i , A) direduksi menjadi T(x i ), dan h(A, x i , x) direduksi menjadi h(x i , X).
Kondisi turunan pertama ketika tidak ada penegakan aturan disajikan pada
persamaan (3.11) :
ph xi = T xi + m xi + s xi ............................................................................ (3.11)
Persamaan (3.13) menampilkan sebuah solusi optimum yang menjelaskan bahwa
nelayan yang melakukan penangkapan secara illegal akan memilih tingkat
kegiatan illegal dalam keadaan dimana penerimaan marjinal dari kegiatan illegal
41
sama dengan biaya marjinal dari kegiatan illegal itu. Persamaan (3.11)
menjelaskan bahwa bagi nelayan yang patuh (non-violators), m xi dan s xi akan
cukup tinggi bagi mereka untuk mengimbangi penerimaan marjinal dari
penangkapan ikan secara illegal.
Jika nelayan melakukan penangkapan secara illegal, dan pada pihak lain
terdapat upaya penegakkan regulasi, yang ditunjukkan oleh θ > 0, F > 0, dan
dengan implikasi A > 0, maka kondisi optimalitas dapat dikaji dari persamaan
(3.12) :
ph xi = θ xi F + T xi m xi + s xi .................................................................. (3.12a)
-θ A F = T A - ph A ................................................................................. (3.12b)
Persamaan (3.12a) menyatakan bahwa dalam kondisi optimum, nelayan
akan memilih tingkat penangkapan illegal ketika penerimaan marjinal sama
dengan jumlah biaya marjinal akibat penangkapan illegal ditambah dengan
potensi denda marjinal bila tertangkap. Persamaan (3.12b) menyatakan bahwa
manfaat marjinal bagi nelayan ketika melakukan tindakan penghindaran harus
sama dengan biaya marjinal dari tindakan penghindaran tersebut, T A , yang
ditambah dengan kerugian marjinal akibat kegiatan penghindaran tersebut, ph A .
Dengan perkataan lain, nelayan akan menimbang resiko tertangkap dan didenda,
θ xi F, resiko kehilangan moral, m xi , dan social, s xi , ketika memutuskan untuk
melakukan penangkapan ikan secara illegal.
Pengembangan model dasar telah menjelaskan bahwa faktor moral dan
pendirian sosial memiliki potensi untuk mendorong dan meredam tindakan legal
dan illegal nelayan. Kuperan dan Sutinen (1998) serta Eggert dan Lokina (2008)
memproksi faktor sosial dan moral dengan beberapa peubah dummy, seperti
42
keterlibatan nelayan dalam pembuatan regulasi perikanan, penilaian nelayan
terhadap sisi keadilan regulasi, persentase nelayan yang terlihat melanggar
regulasi, dan sikap sesama nelayan terhadap pelanggaran regulasi perikanan.
3.3.
Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Alat Tangkap Legal dan Illegal :
Kerangka dan Hipotesis
Pilihan nelayan terhadap ATL atau ATI dikerangka pada Gambar 2.
Penggunaan jenis alat tangkap diatur Pemerintah Daerah Kabupaen Indramayu
untuk mencapai tujuan kelestarian sumber daya perikanan. Berlakunya peraturan
tersebut menimbulkan konsekuensi munculnya dua klasifikasi umum alat tangkap,
yaitu legal dan illegal, sehingga nelayan pemilik dihadapkan pada dua pilihan
tersebut.
Pilihan terhadap ATL dan ATI tergantung pada empat faktor. Faktor
tersebut adalah keuntungan bersih dari ATL dan ATI, pendapatan off-fishing,
pertimbangan moral dan sosial nelayan, dan efektivitas penegakan aturan. Namun
keuntungan bersih akan berbeda antara ATL an ATI karena perbedaan harga yang
terbentuk pada dua jenis pasar, yaitu Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan di luar
TPI. Kedua jenis pasar tersebut berbeda dalam hal penentuan harga. TPI
menggunakan prosedur lelang sehingga nelayan memiliki posisi tawar, sedangkan
di luar TPI kebanyakan nelayan tidak memiliki posisi tawar. Perbedaan harga
pada dua jenis pasar tersebut berdampak pada perbedaan penerimaan nelayan dan
akhirnya perbedaan keuntungan. Dengan demikian akan terdapat perbedaan antara
keuntungan yang diperoleh di TPI dengan di luar TPI. Oleh karena itu, pilihan
nelayan terhadap jenis alat tangkap dibobot juga oleh jenis pasar ikan yang
diakses nelayan pemilik, apakah jenisnya TPI atau di luar TPI.
43
Kelestarian Sumber Daya
Perikanan
Peraturan Alat Tangkap
Legal
Pertimbangan
Ekonomi
Illegal
Biaya
Keuntungan
Penerimaan
Potensi
Produksi
Bahan Bakar
Konsumsi ABK
Harga Ikan
Reparasi
Es dan Garam
Penyusutan
TPI
Luar TPI
Retribusi
Pendapatan
Off-Fishing
Pemenuhan Kebutuhan
Rumahtangga Nelayan
Penegakan
Aturan
Pertimbangan
Moral & Sosial
Pilihan Alat Tangkap :
A. Legal
B. Legal dan Illegal
C. Illegal
Gambar 2.
Kerangka Pilihan Alat Tangkap Legal dan Illegal Bagi Nelayan
Pemilik
Awalnya, nelayan mempertimbangan potensi keuntungan yang dapat
diperoleh dari penggunaan ATL dan ATI. Mereka mempertimbangkan
konsekuensi biaya dan penerimaannya. Mereka akan mempertimbangkan berapa
44
besar biaya yang harus dikeluarkan untuk mengoperasikan ATL dan ATI,
misalnya untuk bahan bakar, konsumsi atau bahan makanan ABK, biaya reparasi,
es dan garam untuk mengawetkan ikan, penyusutan alat tangkap dan asset
perikanan lainnya, dan besarnya retribusi apabila menjual di TPI. Kemudian,
pertimbangan dari sisi penerimaan adalah berapa banyak ikan yang dapat
diperoleh dari penggunaan ATL dan ATI.
TPI di Kabupaten Indramayu memiliki tata aturan tertentu, lebih dari
sekedar menyediakan pasar leleng ikan dan dana sosial nelayan. Nelayan yang
mengakses TPI harus memiliki surat laik operasi (SLO) yang diperiksa setiap hari
oleh Petugas Pengawas Perikanan. Petugas tersebut harus memastikan keamanan
nelayan dalam melaut sehingga mereka harus memeriksa kondisi perahu dan
perlengkapannya. Bagi nelayan pengguna ATI mungkin akan menghindari TPI,
karena menghadapi resiko tertangkap oleh petugas tersebut. Oleh karena itu, akses
terhadap fasilitas TPI dapat menutup peluang penggunaan ATI.
Besarnya potensi keuntungan yang diberikan oleh kedua jenis alat tangkap
muncul dari pemenuhan kebutuhan rumahtangga nelayan pemilik. Keuntungan
merupakan bagian dari pendapatan rumahtangga nelayan sebagai fasilitas
ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Argumentasi ini membuka
kemungkinan bahwa rumahtangga nelayan dapat memiliki pekerjaan diluar
perikanan atau off-fishing untuk memenuhi kebutuhan usaha penangkapan
ikannya dan kebutuhan rumahtangganya. Argumentasi ini dikuatkan juga oleh
fakta bahwa nelayan menghadapi empat musim yang sebagiannya tidak
memungkinkan bagi mereka untuk melakukan penangkapan ikan. Pendapatan offfishing dapat bersifat komplementer bagi nelayan pemilik. Pendapatan off-fishing
45
dapat digunakan untuk menunjang usaha penangkapan ikannya, sehingga muncul
dugaan bahwa kesempatan memperoleh pendapatan off-fishing dapat membuka
peluang penggunaan ATI.
Pilihan nelayan pemilik terhadap ATI juga akan menghadapi konsekuensi
dari penegakan aturan. Di Kabupaten Indramayu terdapat institusi yang secara
khusus melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan perikanan,
baik instansi yang dibentuk pemerintah maupun kelompok masyarakat. Pengguna
ATI, apabila terbukti, akan dikenakan hukuman penjara selama 3 bulan dan denda
sebesar-besarnya 50 juta rupiah. Oleh karena itu, pilihan terhadap ATI
mengandung opportunity cost berupa hilangnya pekerjaan selama tiga bulan, dan
denda sebesar itu dapat melikuidasi asset perikanannya. Disini dapat dikemukakan
bahwa upaya penegakan aturan yang ketat dapat meredam peluang penggunaan
ATI, dan sebaliknya apabila upaya penegakan tersebut tidak ketat, maka akan
membuka peluang penggunaan ATI.
Pilihan terhadap ATI dibobot juga oleh pertimbangan moral dan sosial
nelayan pemilik. Penggunaan ATI, secara sosial menghadapi resiko penentangan
secara horisontal dari masyarakat nelayan, dan secara moral nelayan pemilik yang
akan menggunakan ATI mempertimbangkan juga dampaknya terhadap ekosistem
laut yang nantinya berpengaruh juga terhadap usahanya.
Mengacu pada kerangka konseptual demikian, dapat dikemukakan lima
hipotesis penelitian sebagai berikut :
1. Tingginya tingkat keuntungan ATI dapat memperbesar peluang nelayan untuk
menggunakannya, sebaliknya keuntungan ATI yang rendah dapat membuka
peluang penggunaan ATL.
46
2. Fasilitas TPI dapat mengurangi peluang nelayan untuk menggunakan ATI.
3. Keberadaan pendapatan off-fishing dapat mengurangi peluang nelayan untuk
menggunakan ATI.
4. Tinginya pertimbangan moral dan sosial dapat mengurangi peluang nelayan
untuk menggunakan ATI.
5. Semakin tegasnya upaya penegakan aturan perikanan berpotensi mengurangi
peluang nelayan untuk menggunakan ATI.
47
III. KERANGKA KONSEPTUAL ................................................................................... 32
3.1. Model Dasar Ekonomi Illegal Fishing...................................................................... 32
3.2. Pengembangan Model Dasar Ekonomi Illegal Fishing ............................................ 38
3.3. Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Alat Tangkap Legal dan Illegal : Kerangka dan
Hipotesis ........................................................................................................................... 42
Gambar
2.
Kerangka Pilihan Alat Tangkap Legal dan Illegal Bagi Nelayan Pemilik 43
Download