pola komunikasi guru bk dalam mencegah perilaku seks bebas

advertisement
POLA KOMUNIKASI GURU BK DALAM
MENCEGAH PERILAKU SEKS BEBAS SISWA
DI SMA NEGERI 1 CINANGKA
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Konsentrasi Ilmu Humas
Program Studi Ilmu Komunikasi
Oleh:
RIFKI KURNIAWAN
NIM. 6662111397
KONSENTRASI ILMU HUMAS
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
SERANG - BANTEN
2015
“Dream, Believe, Make it Happen”
(Agnez Mo)
“Percayai Dirimu Orang Paling Beruntung,
Karena Keberuntungan Itu Akan Selalu Mengikutimu”
(R.K)
Karya kecil yang berisikan pelajaran tentang doa, usaha,
kesabaran, kesungguhan, keikhlasan, keberuntungan dan
keberhasilan.
Skripsi ini kupersembahkan untuk
Ibu, Abah dan keluarga tercinta,
seseorang yang menjadi motivasi,
serta sahabat-sahabat terbaiku.
Terima kasih
ABSTRAK
Rifki Kurniawan. NIM. 2111397. Skripsi. Pola Komunikasi Guru BK Dalam
Mencegah Perilaku Seks Bebas Siswa Di SMA Negeri 1 Cinangka. Pembimbing
1 : Dr. Rahmi Winangsih, M. Si dan Pembimbing II : Teguh Iman Prasetya, SE,
M.Si
Di zaman yang semakin berkembang, dengan beragam pula tingkah laku serta
masalah sosial yang terjadi di masyarakat terutama remaja. Perkembangan
teknologi sekarang ini telah banyak memberi pengaruh buruk bagi remaja,
sehingga menyebabkan terjadinya kenakalan remaja. Seks bebas di kalangan
anak-anak (pelajar), ini merupakan fenomena yang meresahkan. Banyak orangtua
sangat khawatir dan berdoa, agar anak-anaknya tidak menjadi salah satu
pelakunya. SMA Negeri 1 Cinangka merupakan sekolah yang sedang
berkembang, namun tidak menutup mata dengan fenomena perilaku seks bebas di
kalangan pelajar pada umumnya, terlebih wilayah SMA Negeri 1 Cinangka
termasuk kedalam daerah wisata, maka arus seks bebas tidak bisa dibendung lagi.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisa pola komunikasi guru
BK dalam mencegah perilaku seks bebas siswa di SMA Negeri 1 Cinangka. Pada
penelitian ini peneliti menggunakan teori Atribusi. Penelitian ini menggunakan
metode penelitian deskriptif dengan paradigma intrerpretif. Teknik pengumpulan
data yang digunakan peneliti yaitu wawancara mendalam dan observasi dengan
pihak guru BK di SMA Negeri 1 Cinangka, dengan wawancara memakai 1 key
informan dari guru BK, 4 orang informan pendukung dan 2 informan pendukung
praktisi remaja dan reproduksi seksual serta dokumentasi kegiatan. Hasil dari
penelitian ini ialah pola komunikasi yang digunakan guru BK di SMA Negeri 1
Cinangka menggunakan pola Roda dalam mengadakan kegiatan bimbingan
classical, sosialisasi, penyuluhan serta menggunakan media informasi lainnya.
Komunikasi yang dilakukan oleh guru BK menggunakan komunikasi pendekatan
secara preventif dan persuasif, ada beberapa faktor pendukung dalam kerja sama
dengan guru BK yang kaitannya mencegah perilaku seks bebas dilingkungan
sekolah. Diantaranya, kerja sama dari BNN, BKKBN, DISPAPORA, serta pihak
kepolisian. Hambatan yang terjadi terdapat di gangguan semantik yaitu adanya
bahasa saru, gangguan mekanik adanya kegaduhan dari para siswa, hambatan
kepentingan, motivasi dan prasangka masih bisa diminimalisir oleh guru BK
dengan memberikan informasi yang benar dan konkret. Solusi dalam mencegah
perilaku seks bebas, selain pemberian informasi yang benar, juga dilakukan
bimbingan yang rutin serta pendidikan agama dan akhlak yang kuat sebagai filter
pelajar kedalam kehidupannya.
Kata Kunci : Pola Komunikasi, Teori Atribusi, Remaja, Seks Bebas
ABSTRACT
Rifki Kurniawan. NIM. 2111397. Thesis. Communication Patterns
Counseling Teachers in Preventing Sexual Behaviour Free Students In SMA
Negeri 1 Cinangka. Supervisor 1: Dr. Winangsih Rahmi, M. Si and
Supervisor II: Teguh Iman Prasetya, SE, M.Si
In the developing era, there are varieties of behaviors and social problems that
happen in the society, especially teenagers. Technological developments have
made many bad influences towards teenagers, that causing juvenile delinquency.
Free sex among young people (students) is an unsettling phenomenon. Many
parents were very worried and prayed that their children did not become one of
the perpetrators. SMA Negeri 1 Cinangka is a growing school, but without
ignoring to the phenomenon of sex behavior among students in general, especially
the region of SMA Negeri 1 Cinangka included into the tourist areas, which the
flow of free sex is irreversible. The purpose of this research is to identify and
analyze patterns of communication of counseling teachers in preventing sex
behavior of students in SMA Negeri 1 Cinangka. . In this study, researchers used
Attribution theory. This research used descriptive method with interpretive
paradigm. Data collection techniques used by researchers, namely in-depth
interviews and observations by the counseling teacher at SMA Negeri 1 Cinangka,
with by using one key informant from counseling teachers, 4 supporters informant
and 2 supporting informant youth practitioners and sexual reproduction and the
documentation of the research.. Results from this study was that communications
made by communication patterns which was used by counseling teachers in SMA
Negeri 1 Cinangka was wheel in conducting classical guidance activities,
socialization, counseling and used other information media. The counseling
teachers used a preventive approach communication and persuasive, There are
several contributing factors in cooperation with the counseling teachers related to
the free sex preventive within school environment. For instance, the cooperation
of BNN, BKKBN, DISPARPORA, and the police. Barriers that occur were in
semantic disorder which is vague of language, mechanical disruption such as the
noise from the students, the barriers of interest, motivation and prejudice still be
minimized by counseling teachers by providing the right and concrete
information. Solution in preventing sex behavior, besides giving the right
information, also conducted regular guidance and religious education and a
strong morality as a filter for students’ life.
Keywords: Communication Patterns, Attribution Theory, Teens, Free Sex
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dalam rangka memenuhi
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial pada Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan judul “Pola Komunikasi
Guru BK Dalam Mencegah Perilaku Seks Bebas Siswa di SMA Negeri 1 Cinangka.”
Selama proses penulisan skripsi ini tentunya banyak sekali menerima
bantuan, bimbingan, dorongan, support, dan nasihat dari berbagai pihak, sehingga
skripsi penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu dalam
kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Allah SWT, yang telah melimpahkan karunia, kemudahan dan hidayah Nya.
2. Bapak Prof. Dr. Sholeh Hidayat, M.Pd selaku Rektor Universitas Sultan
Ageng Tirtayasa beserta staff dan jajarannya
3. Bapak Dr. Agus Sjafari, S.Sos., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa beserta staff dan jajarannya.
4. Ibu Neka Fitriyah, S.Sos,. M.Si selaku Ketua Prodi Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
5. Ibu Puspita Asri Praceka, S.Sos., M.Ikom selaku Sekretaris Prodi Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa.
i
6. Ibu Nurprapti, M.Si selaku dosen Akademik. Terimakasih saran dan
bimbingan selama peneliti masuk kuliah hingga menyelesaikan skripsi ini
7. Ibu Dr. Rahmi Winangsih, M.Si, selaku dosen pembimbing I. Terimakasih
atas bimbingannya, kesabaran dan juga saran, kritik serta masukan yang telah
banyak membantu peneliti menyelesaikan skripsi ini.
8. Bapak Teguh Iman Prasetya, SE., M.Si, selaku dosen pembimbing II.
Terimakasih atas bimbingannya, kesabaran, dan juga saran, kritik serta
masukan yang telah banyak membantu peneliti menyelesaikan skripsi ini.
9. Seluruh dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan selama peneliti duduk
dibangku perkuliahaan.
10. Ibu dan Abah yang selalu memberi motivasi, mendoakan, serta memberikan
dukungan moril maupun materil agar peneliti dapat menyelesaikan skripsi.
11. Kepada kakak tercinta Teh Yeni, Kak Edward dan Kak Hendri serta keluarga
besar yang turut memberikan dukungan dan doa agar peneliti dapat
menyelesaikan skripsi.
12. Ibu Dra. Wonisah, Ibu Dra. Rohanah dan Bapak Drs. H. Subki selaku
narasumber. Terimakasih atas ketersediaannya memberikan informasi dan
jawaban pada penelitian ini sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.
13. Panji Wali Raksa dan Dwi Riska Maulia selaku narasumber. Terimakasih atas
ketersediaannya memberikan jawaban pada penelitian ini sehingga peneliti
dapat menyelesaikan skripsi ini.
ii
14. Ibu Yamtini, SST, Keb dan Bapak Ahmad Yani Amd, Kep selaku
narasumber
Bidan
Kandungan
dan
Perawat.
Terimakasih
atas
ketersediaannya memberikan ilmu bermanfaat, waktu dan jawaban pada
penelitian ini sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.
15. Sahabat-sahabatku Tenar (Tiara, Ema, Nana, Arin Nia), Euis Rahma Pujiani,
Raudatul Faizah dan Asep Budianto. Terimakasih atas dukungan, motivasi
dan menjadi teman curhat, hiburan kalian selama ini sehingga peneliti bisa
menyelesaikan skripsi ini.
16. Kawan-kawan seperjuangan C Humas 2011. Abel, Ade, Agung, Amanda,
Dina, Fairus, Fauzul,Gima, Hari, Helmi, Ifat, Irene, Irhas, Ismah, Laras,
Lifah, Mitha, Mutia, Neni, Noni, Nurjanah, Puti, Reza Ali, Resty, Seftian,
Tanya, Ufi, Yudi dan Zahra. Terimakasih atas saran, motivasi, bantuan, doa,
dukungan serta kebersamaan selama ini sehingga peneliti bisa menyelesaikan
skripsi ini.
17. Triara Yunisari, Gebby Irene dan Uum Umedah. Terimakasih atas saran,
bantuan, doa dan dukungan sehingga peneliti bisa menyelesaikan skripsi ini.
18. Teman-teman angkatan 2011 yang selalu memberikan saran, dukungan dan
semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
19. Kawan-kawan KKM 57 2011 Padasuka. Alinda, Andry, Ardian, Debora,
Devi, Eki, Hezron, Ika, Nelly, Nuraeni, Nurafni, Nufus, dan Yudha.
Terimakasih atas kebersamaan selama KKM di Desa Padasuka.
iii
20. Pihak-pihak yang telah membantu peneliti tetapi tidak dapat peneliti sebutkan
satu persatu.
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,
dikarenakan keterbatasan wawasan peneliti. Oleh karena itu, peneliti dengan rendah
hati memohon maaf atas kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam skripsi ini,
peneliti berharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan
peneliti ini.
Akhir kata, peneliti berharap skripsi ini dapat berguna dan dapat menambah
ilmu pengetahuan serta wawasan bagi siapa pun yang membacanya.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Serang, Juni 2015
Rifki Kurniawan
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR ORISINALITAS
LEMBAR PERSETUJUAN
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
ABSTRAK
ABSTRACT
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL .......................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................................... iv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 8
1.3 Identifikasi Masalah....................................................................................... 8
1.4 Tujuan Penelitian .......................................................................................... 8
1.5 Manfaat Penelitian ........................................................................................ 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teoritis .......................................................................................... 10
2.1.1 Komunikasi......................................................................................... 10
2.1.2 Tujuan Komunikasi ............................................................................ 11
2.1.3 Fungsi Komunikasi ............................................................................ 12
2.1.4 Hambatan Komunikasi....................................................................... 15
2.1.5 Pola Komunikasi ................................................................................ 18
2.2 Komunikasi Pendidikan............................................................................... 21
2.3 Guru .............................................................................................................. 22
2.4 Bimbingan dan Konseling ........................................................................... 22
2.4.1 Tujuan Bimbingan dan Konseling..................................................... 23
2.4.2 Fungsi Bimbingan dan Konseling..................................................... 24
2.5 Remaja .......................................................................................................... 25
2.5.1 Tahap Perkembangan Remaja ........................................................... 26
2.5.2 Perkembangan Perilaku Seksual Remaja.......................................... 27
2.6 Perilaku Seks Bebas..................................................................................... 28
2.6.1 Bentuk-Bentuk Perilaku Seks Bebas................................................. 28
2.6.2 Faktor-Faktor Penyebab Seks Bebas................................................. 29
2.6.3 Akibat yang Ditimbulkan Seks Bebas .............................................. 30
2.6.4 Penanggulangan Dampak Seks Bebas .............................................. 33
2.7 Teori Atribusi ............................................................................................... 35
2.8 Kerangka Berpikir........................................................................................ 37
2.8 Penelitian Terdahulu .................................................................................... 39
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian ............................................................. 41
3.2 Paradigma Penelitian ................................................................................... 42
3.3 Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 45
3.4 Informan Penelitian...................................................................................... 49
3.5 Analisis Data ................................................................................................ 51
3.6 Uji Validitas Data.................................................................................53
3.7 Lokasi Penelitian..................................................................................54
3.8 Jadwal Penelitian..................................................................................55
BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Obyek Penelitian ......................................................................... 56
4.1.1 Profil Singkat SMA Negeri 1 Cinangka ........................................... 56
4.1.2 Visi, Misi, dan Tujuan dan Sasaran Sekolah .................................... 58
4.1.3 Potensi Lingkungan Sekolah ............................................................. 61
4.2 Deskripsi Data .............................................................................................. 62
4.3 Pembahasan .................................................................................................. 64
4.3.1 Pola Komunikasi Guru BK SMA Negeri 1 Cinangka..................... 65
4.3.1.1 Penyebab Perilaku Seks Bebas ............................................... 70
4.3.1.1.1 Faktor Lingkungan ............................................................ 70
4.3.1.1.2 Faktor Personal .................................................................. 71
4.3.2 Faktor Pendukung............................................................................... 74
4.3.3 Hambatan Pola Komunikasi Guru BK.............................................. 75
4.3.4 Solusi Mencegah Perilaku Seks Bebas ............................................. 81
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan................................................................................................... 83
5.2 Saran.............................................................................................................. 86
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................91
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Penelitian Sejenis ...................................................................................38
Tabel 1.2 Jadwal Penelitian ...................................................................................55
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir...............................................................................38
Gambar 4.3.1.1 Alur Pola Komunikasi Guru BK SMA Negeri 1 Cinangka .........68
Gambar 4.3.1.2 Diagram Pola Komunikasi Guru BK SMA Negeri 1 Cinangka ..69
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di zaman yang semakin berkembang semakin beragam pula tingkah laku
serta masalah sosial yang terjadi di masyarakat terutama remaja.
Perkembangan teknologi sekarang ini telah banyak memberi pengaruh buruk
bagi remaja sehingga menyebabkan terjadinya kenakalan remaja. Kemajuan
teknologi telah merubah pola pikir kalangan remaja. Perubahan pola pikir
remaja juga disertai dengan perubahan perilaku remaja dalam menyikapi
zaman modernisasi. Kenakalan remaja tidak hanya disebabkan oleh pengaruh
teknologi yang semakin modern, namun bisa juga disebabkan oleh berbagai
faktor yaitu faktor intern yang berasal dari dalam diri sendiri dan faktor
ekstern yang bisa berasal dari pengaruh lingkungan. Perubahan perilaku yang
banyak terjadi di kalangan remaja kini menjadi hal yang sangat di takuti orang
tua.
Pergaulan bebas yang tak terkendali secara normatif dan etika-moral
antarremaja yang berlainan jenis, akan berakibat adanya hubungan seksual di
luar nikah (pergaulan bebas/seks pranikah). Free sexs atau seks bebas menjadi
hal yang sangat biasa bagi kalangan remaja saat ini. Tanpa merasa malu
mereka meminta pasangannya untuk melakukan hal itu, hal yang sebenarnya
dianggap tabu oleh masyarakat sekitar. Bukan hanya wanita dewasa (> 20
1
2
tahun) saja yang melakukannya, namun sekarang kalangan remaja SMP-SMA
sudah melakukannya walaupun hanya satu kali. Kita juga tidak tahu lagi
berapa jumlah wanita dan pria yang masih perawan dan masih perjaka, karena
tidak sedikit masyarakat di Indonesia telah melakukan seks bebas.
Seks bebas di kalangan anak-anak (pelajar), ini merupakan fenomena yang
menggerahkan. Banyak orangtua sangat khawatir dan berdoa agar anakanaknya tidak menjadi salah satu pelakunya. Kewaspadaan tinggi dengan
membuat berbagai aturan di rumah ataupun upaya-upaya untuk mengontrol
agar anak tidak terjerumus tentulah juga sudah dilakukan sebagai langkah
pencegahannya.
Survei Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), menyatakan, secara nasional
terdata bahwa sebanyak 66 persen remaja putri usia sekolah menengah
pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) tidak lagi perawan yang
artinya pada usia sekolah tersebut mereka sudah mengenal seks bebas.
Pemberitaan di berbagai media, tampaknya menunjukkan fenomena yang
sama terjadi di berbagai kota, tidak terbatas pada kota-kota besar melainkan
juga pada kabupaten-kabupaten kecil.
Temuan berdasarkan survey atau penelitian semacam ini memang benarbenar bukan merupakan berita yang menggembirakan. Tapi itulah kenyataan
yang mengemuka yang telah hadir dalam kehidupan kita.
Di Banten sendiri, Selama kurang lebih 15 tahun terakhir atau sejak tahun
1998 sampai dengan Maret 2013, sebanyak 144 warga Banten yang meninggal
2
3
akibat mengidap HIV/AIDS. Total warga Banten yang mengidap HIV/AIDS
selama kurun waktu tersebut sebanyak 2.731 orang yang terdiri atas 1.844
yang terjangkit HIV dan 887 yang terjangkit AIDS.
Project Officer Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Banten, Arif
Mulyawan mengatakan, dari data yang didapat Dinas Kesehatan Provinsi
Banten, untuk di Kabupaten Serang penderita HIV 350 orang, penderita AIDS
sebanyak 60 orang dan kasus kematin akibat HIV/AIDS sebanyak 21 orang.
Untuk di Kota Serang, penderita HIV sebanyak 45 orang, AIDS 71 orang dan
kasus kematian 26 orang.
Selanjutnya, di Kabupaten Pandeglang, penderita HIV sebanyak 48
orang, AIDS 22 orang dan kasus kematian 13 orang; Kabupaten Lebak
penderita HIV 46 orang, AIDS sebanyak 57 orang dan kasus kematian 13
orang; Kabupaten Tangerang, penderita HIV 487 orang, penderita AIDS
sebanyak 239 orang dan kasus kematian 14 orang.
Untuk di Kota Tangerang penderita HIV sebanyak 674 orang, AIDS 311
orang dan kasus kematian 21 orang; Kota Tangerang Selatan penderita HIV
sebanyak 85 orang, AIDS sebanyak 28 orang dan kasus kematian 1 orang.
“...Penularan penderita HIV/AIDS yang ada di Banten, umumnya karena
prilaku seks yang tidak benar atau tidak dengan pasanganya. “Penularanya
lebih karena faktor seks bebas,” ujarnya.1
1
http://sp.beritasatu.com/home/144-warga-banten-meninggal-akibat-hivaids/35302
(Diakses, 19-02-2015 jam 20:47)
3
4
Seperti zaman yang semakin berkembang, semakin beragam pula tingkah
laku serta masalah sosial yang terjadi di masyarakat terutama masalah remaja.
Perkembangan teknologi sekarang ini telah banyak memberi pengaruh buruk
bagi remaja sehingga menyebabkan terjadinya kenakalan remaja. Kemajuan
teknologi telah merubah pola pikir kalangan remaja. Perubahan pola pikir
remaja juga disertai dengan perubahan perilaku remaja dalam menyikapi
zaman modernisasi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pola diartikan sebagai bentuk
(struktur) yang tetap. Sedangkan komunikasi adalah proses penciptaan arti
terhadap gagasan atau ide yang disampaikan. Komunikasi adalah pengiriman
dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih dengan cara
yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.2 Dengan demikian,
pola komunikasi di sini dapat dipahami sebagai pola hubungan antara dua
orang atau lebih dalam pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang
tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.
Pola komunikasi guru BK yang efektif dalam mengadakan bimbingan
adalah pola komunikasi yang didalamnya terjadi interaksi dua arah antara guru
BK dan siswa. Artinya, guru tidak harus selalu menjadi pihak yang dominan
yang berperan sebagai pemberi informasi saja tetapi guru juga harus
memberikan stimulus bagi siswa agar tergerak lebih aktif. Komunikasi yang
dilakukan guru harus mampu menggugah motivasi siswa untuk terlibat
2
Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M. Ag, 2004, Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam
Keluarga, PT Rineka Cipta, Jakarta, hlm.1
4
5
mengisi dan menemukan makna pemberian informasi yang diberikan pada
saat bimbingan tersebut.
Siswa akan menjadi lebih aktif ketika mereka memiliki rasa
kebersamaan di kelas atau ruangan konseling tersebut. Rasa kebersamaan ini
dapat dibina dari komunikasi yang dilakukan guru BK ataupun siswa yang
lain agar dirinya merasa di terima. Perasaan diterima inilah sebagai salah satu
komponen yang dapat menumbuhkembangkan siswa. Ketika seseorang
diterima, dihormati, dan disenangi orang lain dengan segala bentuk keadaan
dirinya, maka mereka akan cenderung untuk meningkatkan penerimaan
dirinya. Komunikasi efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang
baik. Setiap kali guru melakukan komunikasi, sebenarnya bukan hanya
sekedar menyampaikan isi pesan tetapi juga membangun sebuah hubungan
interpersonal.
SMA Negeri 1 Cinangka merupakan sekolah filial dari SMA Negeri 1
Anyer. Sebagai sekolah rintisan yang mulai beraktifitas pada tahun 2002,
sampai sekarang telah memiliki jumlah siswa sebanyak 558 siswa. 3 SMA
Negeri 1 Cinangka merupakan sekolah yang sedang berkembang, namun tidak
menutup mata dengan fenomena perilaku seks bebas di kalangan pelajar pada
umumnya. Menurut penuturan Guru BK SMA Negeri 1 Cinangka, Dra
Wonisah.
“...Fenomena seks bebas dikalangan pelajar sudah sangat meresahkan,
banyak kejadian-kejadian. Namun untuk wilayah SMA Negeri 1 Cinangka
3
Profil SMA Negeri 1 Cinangka
5
6
belum sampai kejadian, apalagi kita di daerah wisata pantai fenomena seks
bebas tersebut Masya Allah sudah merajalela.4
Secara geografis SMAN 1 Cinangka terletak di kecamatan Cinangka
kabupaten Serang, dan berada disepanjang pantai Anyer dan Carita yang
merupakan objek wisata. Disamping itu kecamatan Cinangka juga memiliki
geografis perbukitan dengan tanah yang subur dan penghasil hasil bumi yang
melimpah terutama dibagian timur kecamatan Cinangka.
Fenomana yang terjadi tersebut mengakibatkan rusaknya moral remaja
saat ini yang dimana dikhawatirkan akan merusak sendi-sendi kehidupan di
masyarakat yang akan datang. Saat ini banyak hal yang dilakukan oleh remaja,
orang tua, dan pemerintah dalam memerangi seks bebas yang sudah mulai
menghiasi kehidupan remaja.
Menghadapi segala gejala-gejala seks bebas di kalangan pelajar yang
sudah sangat meresahkan, tindakan-tindakan pencegahan atau preventif pun
tidak luput dilakukan oleh pihak sekolah, terlebih Guru BK sebagai orang
yang paling merasa bertanggung jawab terhadap siswa-siswi yang berada di
wilayah lingkungan SMA Negeri 1 Cinangka.
Salah satu faktor terbesar yang mengakibatkan remaja kita terjerumus ke
dalam prilaku seks bebas adalah kurangnya kasih sayang dan perhatian dari
orang tuanya selain itu peranan agama dan keluarga sangat penting untuk
mengantisipasi perilaku remaja tersebut.Selain itu peran guru sebagai model
4
Hasil wawancara dengan Guru BK SMA Negeri 1 Cinangka, Dra. Wonisah pada tanggal 6 April
2015
6
7
atau contoh bagi anak di lingkungan sekolah harus diperhatikan. Setiap anak
mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh
karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh
masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat,
bangsa dan negara.Peran guru sebagai pelajar (leamer).
Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan
keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya
tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak
hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas
profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan
terutama yang berkaitan dengan pendidikan karakter, budaya dan moral.
Komunikasi yang baik antara guru BK dan siswa memiliki peranan yang
penting dalam membentuk karakter dan perilaku seksual siswa. Selain itu,
dengan komunikasi yang baik akan memberikan gambaran atau pandangan
mengenai pemaknaan seks yang benar sehingga siswa dapat mengerti batasan
mana yang seharusnya baik atau tidak baik bagi mereka. Melalui komunikasi
yang baik pula, guru BK dapat membimbing serta memberikan pemahamanpemahaman mengenai seksualitas dan perilaku seksual yang bertanggung
jawab pada anak.
Dengan komunikasi tersebut, orang tua dapat segera menyadari masalahmasalah yang terjadi pada diri anak remajanya, termasuk masalah seksualitas
anak dan dapat membantu mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi.
Dari segi pandang itulah tidak luput peneliti mencari penelitian terhadap pola
7
8
komunikasi guru BK terhadap siswadan bagaimana pencegahan perilaku seks
bebas dikalangan siswa SMA inilah yang akan dikaji oleh peneliti.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Pola Komunikasi Guru BK Dalam Mencegah Perilaku
Seks Bebas Siswa di SMA Negeri 1 Cinangka”.
1.3 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian permasalahan diatas, maka dapat diidentifikasikan
permasalahan-permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana pola komunikasi guru BK terhadap siswa di SMA
Negeri 1 Cinangka?
2. Seperti apa faktor pendukung guru BK dalam mencegah perilaku
seks bebas siswa di SMA Negeri 1 Cinangka?
3. Bagaimana hambatan dan solusi dalam mencegah perilaku seks
bebas siswa di SMA Negeri 1 Cinangka?
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun beberapa tujuan penelitian yang ingin dicapai dari hasil penelitian
ini, adalah untuk:
1. Mengetahui pola komunikasi antara guru BK terhadap siswa.
8
9
2. Mengetahui faktor pendukung dalam mencegah perilaku seks
bebas siswa di SMA Negeri 1 Cinangka.
3. Mengetahui hambatan dan solusi dalam mencegah perilaku seks
bebas siswa di SMA Negeri 1 Cinangka.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
Kegunaan
penelitian
ini
secara
teoritis
diharapkan
dapat
memberikan kontribusi terhadap ilmu komunikasi khususnya mengenai
pola komunikasi. Menerapkan ilmu yang diterima peneliti selama menjadi
mahasiswa komunikasi FISIP Untirta serta menambah cakrawala
pengetahuan dan wawasan peneliti tentang pola komunikasi guru BK
dalam mencegah perilaku seks bebas siswa.
1.5.2 Manfaat Praktis
Adapun hasil penelitian bagi kegunaan praktis, diharapkan hasil
penelitian ini dapat berguna:
1. Diharapkan dapat memperkaya khasanah penelitian dan sumber
bacaan di lingkungan SMA Negeri 1 Cinangka.
2. Penelitian ini diharapkan menjadi masukan yang berarti bagi para
guru serta para orang tua maupun siswa mengenai perilaku seks
bebas.
9
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1 Komunikasi
Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku “Ilmu Komunikasi dalam
Teori
dan
Praktek”.
“Istilah
komunikasi
dalam
bahasa
Inggris
“Communications” berasal dari kata latin “Communicatio, dan bersumber dari
kata “Communis” yang berarti “sama”, maksudnya adalah sama makna. 5
Kesamaan makna disini adalah mengenai sesuatu yang dikomunikasikan,
karena komunikasi akan berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai
apa yang dipercakapkan atau dikomunikasikan, Suatu percakapan dikatakan
komunikatif apabila kedua belah pihak yakni komunikator dan komunikan
mengerti bahasa pesan yang disampaikan”.
Menurut Carl I. Hovland, ilmu komunikasi adalah “Upaya yang sistematis
untuk merumuskan secara tegas asas-asas penyampaian informasi serta
pembentukan pendapat dan sikap”.6
Definisi Hovland di atas menunjukkan bahwa yang dijadikan objek studi
ilmu komunikasi bukan saja penyampaian informasi, melainkan juga
pembentukan pendapat umum (public opinion) dan sikap publik (public
5
Prof. Drs. Onong Uchajana Effendy, M.A, 2006, Komunikasi : Teori dan Praktek, Remaja
Rosdakarya, Bandung, hlm.9
6
Prof. Drs. Onong Uchajana Effendy, M.A, 2006, Komunikasi : Teori dan Praktek, Remaja
Rosdakarya, Bandung, hlm.10
1010
11
attitude) yang dalam kehidupan sosial dan kehidupan politik memainkan
peranan yang amat penting. Bahkan dalam definisinya secara khusus mengenai
pengertian komunikasinya sendiri, Hovland mengatakan bahwa komunikasi
adalah proses mengubah perilaku orang lain (communication is the process to
modify the behavior of other individuals).
Akan tetapi, seseorang akan dapat mengubah sikap, pendapat, atau
perilaku orang lain apabila komunikasinya itu memang komunikatif seperti di
uraikan di atas.
2.1.2 Tujuan Komunikasi
Menurut Onong Uchajana Effendy dalam buku yang berjudul “Ilmu,
Teori dan Filsafat Komunikasi”. Tujuan komunikasi adalah :
a. Perubahan sikap (attitude change)
Adalah kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat
dengan tujuan akhirnya supaya masyarakat akan berubah sikapnya.
b. Perubahan pendapat (Opinion change)
Adalah informasi pada masyarakat dengan tujuan akhirnya supaya
masyarakat dengan tujuan akhirnya supaya masyarakat mau berubah
pendapat dan persepsinya terhadap tujuan informasi itu disampaikan.
11
12
c. Perubahan perilaku (behavior change)
Adalah kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat
dengan tujuan supaya masyarakat akan berubah perilakunya.
d. Perubahan sosial (social change)
Adalah perubahan sosial dan partisipasi sosial,memberikan
berbagai informasipada masyarakat tujuan akhirnya supaya masyarakat
mau mendukung dan ikut serta terhadap tujuan informasi itu di sampaikan.
Sedangkan menurut Gordon I. Zimmerman yang dikutip oleh Dedy
Mulyana dalam buku yang berjudul “Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar”
merumuskan tujuan komunikasi menjadi dua kategori besar, yaitu :
a. Berkomunikasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang penting bagi
kebutuhan.
b. Berkomunikasi untuk menciptakan dan memupuk hubungan dengan
orang lain.
2.1.3 Fungsi Komunikasi
Pada umumnya fungsi komunikasi dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Komunikasi Sosial
“Fungsi
komunikasi
sebagai
komunikasi
sosial
setidaknya
mengisyaratkan bahwa komunikator itu penting untuk membangun konsep
diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar
12
13
dari tekanan dan tegangan, antara lain lewat komunikasi yang bersifat
menghibur, memupuk hubungan dengan orang lain”. 7
Fungsi ini adalah fungsi utama dalam sebuah komunikasi. Guru
BK tentu ingin agar semua komunikasi yang disampaikan kepada siswasiswanya tepat mengenai mereka dan informasi yang dikomunikasikan
oleh guru BK sesuai dengan kebutuhan mereka.
2. Komunikasi Ekspresif
“Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi
orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi
instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaannya (emosi)”.8
Komunikasi guru BK kepada siswa akan dapat diterima apabila
menggunakan kekuatan emosional dalam setiap penyampaian komunikasi.
Guru BK tidak hanya dituntut untuk menyampaikan informasi dalam
komunikasinya kepada siswa, namun guru BK juga dituntut agar bisa
membuat suasana komunikasi yang berlangsung menjadi lebih akrab serta
kedekatan dalam komunikasi tersebut.
3. Komunikasi Ritual
“Komunikasi ritual sering juga bersifat ekspresif, menyatakan
perasaan terdalam seseorang. Kegiatan ritual memungkinkan para
pesertanya berbagi komitmen emosional dan menjadi perekat bagi
kepaduan mereka, juga sebagai pengabdian kepada kelompok. Bukankah
substansi kegiatan ritual itu sendiri yang terpenting, melainkan perasaan
7
Deddy Mulayana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, 2003, Remaja Rosdakarya, Bandung, hlm.5
Deddy Mulayana.,Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, 2003, Remaja Rosdakarya, Bandung,
hlm.21
8
13
14
senasib sepenanggungan yang menyertainya, perasaan bahwa adanya
keterikatan oleh sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri, yang
bersifat abadi, dan bahwa diakui dan diterima dalam kelompok”.9
Fungsi ini harus diterapkan oleh guru BK untuk menciptakan
suatuperasaan yang saling menghargai dan dihargai oleh siswa, sehingga
dapat tercipta suatu keterikatan tersebut.
4. Komunikasi Instrumental
“Mempunyai
beberapa
tujuan
umum:
menginformasikan,
mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, dan mengubah
perilaku atau menggerakan tindakan, dan juga untuk menghibur. Sebagai
instrumen, komunikasi tidak saja kita gunakan untuk menciptakan dan
membangun hubungan, namun juga untuk menghancurkan hubungan
tersebut. Studi komunikasi membuat peka terhadap berbagai strategi yang
dapat digunakan dalam komunikasi untuk bekerja lebih baik dengan orang
lain demi keuntungan bersama. Komunikasi berfungsi sebagai instrumen
untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan, baik tujuan jangka
pendek maupun tujuan jangka panjang. 10
Fungsi komunikasi ini merupakan pelengkap dari semua fungsi
komunikasi yang harus diterapkan oleh guru BK. Dimana guru BK harus
dapat menyampaikan informasi yang menarik dan bermanfaat. Serta guru
BK dalam berkomunikasi dengan siswa juga harus memiliki tujuan selain
9
Deddy Mulayana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, 2003, Remaja Rosdakarya, Bandung,
hlm.25
10
Ibid, Deddy, hlm.30
14
15
agar pesan dapat diterima oleh siswa, tetapi juga dapat berpengaruh
sehingga membuat siswa melakukan apa yang disampaikan oleh guru BK.
2.1.4 Hambatan Komunikasi
Berikut ini adalah beberapa hal yang merupakan hambatan
komunikasi yang harus menjadi perhatian bagi komunikator untuk dapat
berkomunikasi dengan sukses, yaitu :11
1. Gangguan
Ada dua jenis gangguan yang menjadi penghambat jalannya
komunikasi yang dapat diklasifikasikan dengan gangguan semantik dan
gangguan mekanik.
a. Gangguan semantik adalah gangguan tentang bahasa terutama
terutama yang berkaitan dengan perbedaan dan pemahaman bahasa
yang digunakan oleh komunikator maupun komunikan, sehingga
menimbulkan salah paham. Guru BK harus menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar serta mudah dipahami oleh siswa
agar siswa dapat menerima isi pesan yang disampaikan oleh guru
BK.
b. Gangguan mekanik adalah gangguan yang disebabkan saluran
komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik, terutama yang
berkaitan dengan alat atau media yang digunakan. Hal ini bisa
terjadi pada saat guru BK menyampaikan pesan informasi kepada
11
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, 2003, Bandung, Citra Aditya
Bakti, hlm 45-50
15
16
siswa kurang begitu jelas, karena adanya gangguan suara bising
dari luar. Sehingga hal ini mempengaruhi pemahaman siswa
terhadap isi pesan yang disampaikan oleh guru BK.
2. Kepentingan
Komunikator yang tidak memperhatikan kepentingan komunikan
akan terjadi ketidakseimbangan antara keduanya, sehingga komunikan
hanya akan melakukan komunikasi apabila ada kepentingan yang berkaitan
dengannya. Biasanya kepentingan ini juga akan membuat seseorang
selektif dalam menanggapi atau menghayati suatu pesan. Kepentingan juga
bukan hanya mempengaruhi perhatian akan tetapi juga daya tanggap,
perasaan, pikiran dan tingkah laku yang merupakan sifat reaktif terhadap
segala perangsang yang tidak bersesuaian atau bertentangan dengan suatu
kepentingan.
Agar hambatan komunikasi ini dapat diminimalisir oleh guru BK,
maka peran guru BK harus dapat mengutamakan kepentingan siswanya,
misalnya dalam mendengarkan curhatan serta apa yang dirasakan oleh
siswa pada saat itu.
3. Motivasi
Terpendam motivasi adalah dorongan seseorang untuk mencapai
tujuan, keinginan maupun kebutuhannya, sehingga apabila komunikasi
sesuai dengan motivasi seseorang terutama komunikan, maka komunikasi
akan dapat berjalan sukses. Sebaliknya apabila komunikasi tidak sesuai
dengan motivasi yang terpendam dalam diri komunikan, maka komunikasi
16
17
mengalami hambatan. Selain kepentingan, motivasi dari siswa dalam
mendengarkan setiap komunikasi yang disampaikan oleh guru BK perlu
diperhatikan. Misalnya dalam memenuhi kebutuhan akan informasi,
pendidikan yang dibutuhkan oleh siswa agar dapat terpenuhi.
4. Prasangka
Prasangka merupakan salah satu rintangan yang berat dalam
berkomunikasi, karena inilah ada komunikan yang memiliki prasangka
terhadap komunikator, maka kecurigaan komunikan kepada komunikator
akan menjadi penghambat. Selain itu juga adanya sikap menentang dan
berburuk sangka kepada komunikator bisa memperburuk keadaan, tetapi
apabila komunikator mampu memberi kesan yang baik dan mampu
meyakinkan komunikan, maka komunikasi akan dapat berjalan sukses.
Prasangka yang timbul dari siswa itu karena kurangnya
pemahaman mereka terhadap isi informasi yang disampaikan oleh guru BK
sehingga siswa langsung mengambil kesimpulan bahwa guru BK tidak
menguasai informasi yang disampaikannya. Berdasarkan awal peneliti, hal
ini dapat terjadi biasanya dikalangan siswa yang masih pasif dalam
mendengar informasi yang disampaikan, dan kurang aktif dalam merespon
setiap informasi komunikasi yang disampaikan oleh guru BK. Jadi dari
keseluruhan hambatan yang telah dikemukakan adalah faktor yang terjadi
dalam diri komunikator dan komunikan.
17
18
2.1.5 Pola Komunikasi
Pola komunikasi berasal dari dua kata yaitu pola dan komunikasi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pola bisa diartikan sebagai
model atau bentuk (struktur) yang tetap, sedangkan komunikasi dapat
diartikan sebagai pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua
orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Jika
kedua kata tersebut dihubungan menjadi pola komunikasi, secara ringkas
dapat diartikan sebagai bentuk atau struktur penyampaian pesan.
12
Dengan demikian, pola komunikasi disini dapat dipahami sebagai pola
hubungan antara dua orang atau lebih dalam pengiriman dan penerimaan
pesan dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat
dipahami.13 Pola komunikasi ini merupakan interaksi yang tujuannya
menciptakan hubungan yang harmonis guru BK dan siswa. Untuk itu, agar
kerjasama tersebut dapat tercipta dengan baik maka pola komunikasi guru
BK harus dibangun dengan baik pula.
Ada empat pola komunikasi, yaitu komunikasi pola roda, pola
rantai, pola lingkaran, dan pola bintang.14 Keempat pola tersebut dapat
dilihat pada gambar berikut:
12
Departemen Pendidikan Nasional, KBBI Edisi Ketiga, 2005, Jakarta, Balai Pustaka, hlm.885
Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag, 2004, Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam Keluarga,
Jakarta, PT Rineka Cipta, hlm.1
14
Prof. Drs. H.A.W. Widjaja, 2000, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi, PT Rineka Cipta, Jakarta,
hlm.102
13
18
19
B
E
A
C
D
Roda
A
B
C
D
Rantai
A
E
B
D
C
Lingkaran
19
E
20
A
E
B
D
C
Bintang
Sumber: Drs. Mudjito, M.A. “Teknik Komunikasi” (makalah)
Penjelasan:
1. Pola roda, seseorang berkomunikasi pada banyak orang,
yaitu: B, C, D, dan E.
2. Pola rantai, seseorang (A) berkomunikasi pada seseorang
yang lain (B), dan seterusnya ke (C), ke (D), dan ke (E).
3. Pola lingkaran, hampir sama pada pola rantai, namun orang
terakhir (E) berkomunikasi pula kepada orang pertama (A).
4. Pola bintang, semua anggota berkomunikasi dengan semua
anggota.
Perlu digarisbawahi pola komunikasi kegiatan belajar mengajar
tidak hanya melalui presentasi di depan kelas saja tetapi juga dapat melalui
contact hours. Dalam saat-saat semacarn itu dapat dikembangkan
komunikasi dua arah. Guru BK dapat menanyai dan mengungkap keadaan
siswa dan sebaliknya siswa mengajukan berbagai persoalan-persoalan dan
20
21
hambatan yang sedang dihadapi. Terjadilah suatu proses interaksi dan
komunikasi yang humanistik.
Hal ini jelas akan sangat membantu keberhasilan studi para siswa.
Berhasil dalarn arti tidak sekedar tahu atau mendapatkan nilai baik dalam
ujian, tetapi akan menyentuh pada soal sikap mental dan tingkah laku atau
hal-hal yang intrinsik.
2.2 Komunikasi Pendidikan
Menurut Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi (Teori
dan Praktek) menyatakan : “Ditinjau dari prosesnya, pendidikan adalah
komunikasi dalam artikata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua
komponen yang terdiri atas manusia,yakni pengajar sebagai komunikator dan
pelajar sebagai komunikan...”.15
Tujuan Pendidikan akan tercapai jika secara minimal prosesnya
komunikatif. Bagaimana caranya agar proses penyampaian suatu materi mata
ajar oleh Pengajar/Guru/Dosen (sebagai komunikator) kepada para Pelajar/
Murid/ Siswa/ Mahasiswa (sebagai komunikan) harus terjadi secara tatap muka
(face to face) dan secara timbal balik dua arah (two way communication).
Pengajar menyajikan materi pelajarannya sebaiknya bukan hanya dengan
metoda ceramah saja sebaiknya juga dengan metoda diskusi.
15
Prof. Drs. Onong Uchajana Effendy, M.A. 2006, Komunikasi : Teori dan Praktek, Remaja
Rosdakarya, Bandung, hlm.101
21
22
2.3 Guru
Guru bermakna sebagai pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan
mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal. Tugas utama itu
akan efektif jika guru memiliki derajat profesionalitas tertentu yang tercermin
dari kompetensi, kemahiran, kecakakapan, atau keterampilan yang memenuhi
standar mutu atau norma etik tertentu.16
2.4 Bimbingan Dan Konseling
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik)
agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara
optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi
hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada
juga dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti, Bimbingan adalah proses
pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang
atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar
orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan
mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan
dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka
antarab dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan
16
Prof. Dr. Sudarwan Danim dan Dr. H. Khairil, 2011, Profesi Kependidikan, Alfabeta, Bandung,
hlm.44
22
23
kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi
belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri,
keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia
ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk
kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar
bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhankebutuhan yang akan datang.17
2.4.1 Tujuan Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling bertujuan membantu peserta didik
mencapai tugas-tugas perkembangan secara optimal sebagai makhluk
Tuhan, sosial, dan pribadi. Lebih lanjut tujuan bimbingan dan konseling
adalah membantu individu dalam mencapai:
a) Kebahagiaan hidup pribadi sebagai makhluk Tuhan,
b) Kehidupan yang produktif dan efektif dalam masyarakat,
c) Hidup bersama dengan individu-individu lain,
d) Harmoni antara cita-cita mereka dengan kemampuan yang
dimilikinya.
Dengan demikian peserta didik dapat menikmati kebahagiaan
hidupnya dan dapat memberi sumbangan yang berarti kepada kehidupan
masyarakat umumnya
17
http://belajarpsikologi.com/pengertian-bimbingan-dan-konseling/(Diakses,
21:13)
23
24-02-2015
jam
24
2.4.2 Fungsi Bimbingan dan Konseling
1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan yang membantu peserta
didik
(siswa)
agar
memiliki
pemahaman
terhadap
dirinya
(potensinya) danlingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma
agama).
2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor
untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin
terjadi danberupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh
peserta didik. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan
kepada siswa tentang caramenghindarkan diri dari perbuatan atau
kegiatan yang membahayakan dirinya.
Adapun
teknik
yang
dapat
digunakan
adalah
layanan
orientasi,informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah
yang perlu diinformasikan kepada para siswa dalam rangka
mencegah terjadinya tingkahlaku yang tidak diharapkan, diantaranya
: bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan,
drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
3. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan yang sifatnya lebih
proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya
untukmenciptakan
lingkungan
belajar
yang
kondusif,
yang
memfasilitasi perkembangan siswa.
4. Fungsi Perbaikan (Penyembuhan), yaitu fungsi bimbingan yang
bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian
24
25
bantuan kepadasiswa yang telah mengalami masalah, baik menyangkut
aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat
digunakan adalah konseling,dan remedial teaching.
5. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu siswa
memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi,
danmemantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai
dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
6. Fungsi
Adaptasi,
yaitu
fungsi
membantu
para
pelaksana
pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru
untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang
pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa.
7. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu
siswa (siswa) agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan
lingkungannya secaradinamis dan konstruktif.18
2.5 Remaja
Istilah adolescene atau remaja berasal dari kata Latin adolescene (kata
bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh
menjadi dewasa”.19Dalam bahasa Indonesia sering pula dikaitkan pubertas atau
remaja. Remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa kanak-kanak
dan masa dewasa, berlangsung antara usia 12 sampai 21 tahun. Masa remaja
terdiri dari masa remaja awal usia 12-15 tahun, masa remaja pertengahan usia 1518
Hikmawati, Fenti. 2010.Bimbingan Konseling. Ed. Revisi,-2. Jakarta:Rajawali Pers, 2011.
Muhammad Al-Mighwar, M.Ag. 2006. Psikologi Remaja. Pustaka Setia. Bandung. hlm.55
19
25
26
18 tahun, dan masa remaja akhir usia 18-21 tahun. Masa remaja disebut juga
sebagai periode perubahan, tingkat perubahan dalam sikap, dan perilaku selama
masa remaja sejajar dengan perubahan fisik.
Ciri-ciri masa remaja, Gunarsa menyebutkan bahwa masa remaja sebagai
masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa, meliputi semua perkembangan
yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Semua aspek
perkembangan dalam masa remaja secara global berlangsung antara umur 12–21
tahun, dengan pembagian usia 12-15 tahun adalah masa remaja awal, 15-18 tahun
adalah masa remaja pertengahan, 18- 21 tahun adalah masa remaja akhir.20
2.5.1 Tahap Perkembangan Remaja
Menurut tahap perkembangan, masa remaja dibagi menjadi tiga tahap
yaitu :
a. Masa remaja awal (12-15 tahun), dengan ciri khas antara lain:
1. Lebih dekat dengan teman sebaya
2. Ingin bebas
3. Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan
mulai berpikir abstrak.
b. Masa remaja tengah (15-18 tahun), dengan ciri khas antara lain :
1. Mencari identitas diri
2. Timbulnya keinginan untuk kencan
3. Mempunyai rasa cinta yang mendalam
4. Mengembangkan kemampuan berpikir abstrak
20
Gunarsa, Ny. Singgih, 2001, Psikologi Perkembanga, Gunung Mulia: Jakarta. hlm.201
26
27
5. Berkhayal tentang aktifitas seks
c. Masa remaja akhir (18-21 tahun), dengan ciri khas antara lain :
1. Pengungkapan identitas diri
2. Lebih selektif dalam mencari teman sebaya
3. Mempunyai citra jasmani dirinya
4. Dapat mewujudkan rasa cinta.
5. Mampu berpikir abstrak
2.5.2 Perkembangan Perilaku Seksual Remaja
Mulainya
keingintahuan
perkembanganseksualremaja
yang
tinggi
terhadap
masalah
yang
menyebabkan
seksualitas
sehingga
memunculkan dorongan seks aktif (sex drive) untuk merasakan kenikmatan
seksual. Berbagai faktor eksternal maupun internal turut mempengaruhi
perilaku seksual remaja. Akibatnya, remaja beresiko terhadap perilaku seksual
tidak sehat dan beresiko tinggi berupa tindak seks bebas di usia dini, kehamilan
yang tidak diinginkan (KTD) aborsi, hingga infeksi menular seksual (IMS) di
kalangan remaja.
Pentingnya menjaga remaja untuk berperilaku seksual secara sehat
adalah karena dalam perkembangannya, remaja belum begitu memahami
tentang dampak perilaku seksual yang beresiko, apalagi rasa keingintahuan
remaja mengenai seksual terhitung tinggi. Penyalahgunaan teknologi yang
terjadi pada saat-saat ini, misalnya maraknya peredaran film / video porno,
majalah porno dapat memberikan pengaruh negatif pada perkembangan
27
28
remaja apalagi bila tidak didukung dengan ketersediaan informasi yang benar
mengenai perilaku seksual yang sehat dan aman baik melalui berbagai media
yang ada maupun perhatian orang-orang terdekatnya.
2.6 Perilaku Seks Bebas
Perilaku seks bebas pada remaja adalah cara remaja mengekspresikan dan
melepaskan dorongan seksual, yang berasal dari kematangan organ seksual
dan perubahan hormonal dalam berbagai bentuk tingkah laku seksual, seperti
berkencan intim, bercumbu, sampai melakukan kontak seksual. Tetapi
perilaku tersebut dinilai tidak sesuai dengan norma karena remaja belum
memiliki pengalaman tentang seksual.
2.6.1 Bentuk-Bentuk Perilaku Seks Bebas
Menurut Sarwono (2002) bentuk-bentuk dari perilaku seks bebas
dapat berupa berkencan intim, berciuman, bercumbu, dan bersenggama.
Sedangkan Desmita (2005) mengemukakan berbagai bentuk tingkah laku
seksual, seperti berkencan intim, bercumbu, sampai melakukan kontak
seksual.
Menurut Sarwono (2002) juga mengemukakan beberapa bentuk dari
perilaku seks bebas, yaitu: 21
1. Kissing : Saling bersentuhan antara dua bibir manusia atau pasangan
yang didorong oleh hasrat seksual.
21
http://lpkeperawatan.blogspot.com/2014/02/perilaku-seks-bebas.html#.VW9ge1Lq6UI (Diakses,
24-02-2015 Jam 22:00)
28
29
2. Necking : Bercumbu tidak sampai pada menempelkan alat kelamin,
biasanya dilakukan dengan berpelukan, memegang payudara, atau
melakukan oral seks pada alat kelamin tetapi belum bersenggama.
3. Petting : Bercumbu sampai menempelkan alat kelamin, yaitu dengan
menggesek-gesekkan alat kelamin dengan pasangan namun belum
bersenggama.
4. Intercourse : Mengadakan hubungan kelamin atau bersetubuh diluar
pernikahan
2.6.2 Faktor-Faktor Penyebab Seks Bebas
Menurut Ghifari (2003) perilaku negatif remaja terutama
hubungannya dengan penyimpangan seksualitas, pada dasarnya bukan murni
tindakan diri mereka sendiri, melainkan ada faktor pendukung atau yang
mempengaruhi dari luar. Faktor-faktor yang menjadi sumber penyimpangan
tersebut adalah:
a. Kualitas diri remaja itu sendiri seperti, perkembanggan emosional
yang tidak sehat, mengalami hambatan dalam pergaulan sehat, kurang
mendalami norma agama, ketidakmampuan menggunakan waktu
luang.
b. Kualitas keluarga yang tidak mendukung anak untuk berlaku baik,
bahkan tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua dan pergeseran
norma keluarga dalam mengembangkan norma positif. Disamping itu
keluarga tidak memberikan arahan seks yang baik.
29
30
c. Kualitas lingkungan yang kurang sehat, seperti lingkungan masyarakat
yang mengalami kesenjangan komunikasi antar tetangga.
d. Minimnya kualitas informasi yang masuk pada remaja sebagai akibat
globalisasi, akibatnya anak remaja sangat kesulitan atau jarang
mendapatkan informasi sehat dalam seksualitas.
2.6.3 Akibat Yang Ditimbulkan Seks Bebas
Bahaya free sex mencakup bahaya bagi perkembangan mental
(psikis), fisik dan masa depan remaja itu sendiri. Secara terperinci berikut
ini lima bahaya utama free seks:
a. Menciptakan kenangan buruk.
Masih dikatakan “untung” jika hubungan pranikah itu tidak ada yang
mengekspos. Si gadis atau si jejaka terlepas dari aib dan cemoohan
masyarakat. Tapi jika ternyata diketahui masyarakat, tentu yang malu
bukan saja dirinya sendiri melainkan keluarganya sendiri dan
peristiwa ini tidak akan pernah terlupakan oleh masyarakat sekitar.
Hal ini tentu saja menjadi beban mental yang berat.
b. Kehamilan yang tidak diharapkan (unwanted pregnancy).
Unwanted pregnancy membawa remaja pada dua pilihan, melanjutkan
kehamilan atau menggugurkannya. Hamil dan melahirkan dalam usia
remaja merupakan salah satu faktor risiko kehamilan yang tidak
jarang membawa kematian ibu.
Kehamilan
yang
terjadi
akibat
seks
pranikah
bukan
saja
mendatangkan malapetaka bagi bayi yang dikandungnya juga menjadi
30
31
beban mental yang sangat berat bagi ibunya mengigat kandungan
tidak bisa di sembunyikan, dan dalam keadaan kalut seperti ini
biasanya terjadi depresi, terlebih lagi jika sang pacar kemudian pergi
dan tak kembali.
c. Pengguguran kandungan dan pembunuhan bayi.
Banyak kasus bayi mungil yang baru lahir dibunuh ibunya. Sebagian
dari bayi itu dibungkus plastik hidup-hidup, dibuang di kali, dilempar
di tong sampah, dan lain-lain, ini suatu akibat dari perilaku binatang
yang pernah dilakukannya.
Selain melanjutkan kehamilan tidak sedikit pula mereka yang
mengalami unwanted pregnancy melakukan aborsi.
Lebih kurang 60 % dari 1.000.000 kebutuhan aborsi dilakukan oleh
wanita yang tidak menikah termasuk para remaja. Sekira 70-80 % dari
angka itu termasuk dalam kategori aborsi yang tidak aman (unsafe
abortion) yang juga merupakan salah satu factor yang menyebabkan
kematian ibu.
d. Penyakit Menular Seksual (PMS) – HIV/AIDS
Dampak lain dari perilaku seks bebas remaja terhadap kesehatan
reproduksi adalah tertular PMS termasuk HIV/AIDS. Para remaja
seringkali melakukan hubungan seks yang tidak aman dengan
kebiasaan dengan berganti-ganti pasangan dan melakukan anal seks
menyebabkan remaja semakin rentan untuk tertular PMS/HIV seperti
sifilis, gonore, herpes, klamidia, dan AIDS. Dari data yang ada
31
32
menunjukkan bahwa diantara penderita atau kasus HIV/AIDS 53%
berusia antara 15-29 tahun.
e. Keterlanjuran dan timbul rasa kurang hormat.
Perilaku seks bebas (free sex) menimbulkan suatu keterlibatan emosi
dalam diri seorang pria dan wanita. Semakin sering hal itu dilakukan,
semakin mendalam rasa ingin mengulangi sekalipun sebelumnya ada
rasa sesal. Terlebih lagi bagi wanita, setiap ajakan sang pacar sangat
sulit untuk ditolak karena takut ditinggalkan atau diputuskan.
Sementara itu bagi laki-laki, melihat pasangannya begitu mudah
diajak, akan terus berkurang rasa hormat dan rasa cintanya.
f. Psikologis
Dampak lain dari perilaku seksual remaja yang sangat berhubungan
dengan kesehatan reproduksi adalah konsekuensi psikologis. Kodrat
untuk hamil dan melahirkan menempatkan remaja perempuan dalam
posisi terpojok yang sangat dilematis. Dalam pandangan masyarakat,
remaja putri yang hamil merupakan aib keluarga yang melanggar
norma-norma sosial dan agama.
Penghakiman social ini tidak jarang meresap dan terus tersosialisasi
dalam diri remaja putri tersebut. Perasaan bingung, cemas, malu, dan
bersalah yang dialami relaja setelah mengetahui kehamilannya
bercampur dengan perasaan depresi, pesimis terhadap masa depan
yang kadang disertai dengan rasa benci dan marah baik kepada diri
sendiri maupun kepada pasangan, dan kepada nasib yang membuat
32
33
kondisi sehat secara fisik, sosial, dan mental yang berhubungan
dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi remaja tidak terpenuhi.
2.6.4 Penanggulangan Dampak Seks Bebas
Ada
beberapa
upaya
prefentif
yang
bisa
dilakukan
untuk
penanggulangan dampak seks bebas, antara lain:
a. Pendidikan agama dan akhlak.
Pendidikan agama wajib ditanamkan sedini mungkin pada anak.
Dengan adanya dasar agama yang kuat dan telah tertanam pada diri
anak, maka setidaknya dapat menjadi penyaring (filter) dalam
kehidupannya. Anak dapat membedakan antara perbuatan yang harus
dijalankan dan perbuatan yang harus dihindari.
b. Pendidikan seks dan reproduksi.
Pada umumnya orang menganggap bahwa pendidikan seks hanya
berisi tentang pemberian informasi alat kelamin dan berbagai macam
posisi dalam berhubungan kelamin. Hal ini tentunya akan membuat
para orangtua merasa khawatir. Untuk itu perlu diluruskan kembali
pengertian tentang pendidikan seks. pendidikan seks berusaha
menempatkan seks pada perspektif yang tepat dan mengubah
anggapan negatif tentang seks.
Dengan pendidikan seks kita dapat memberitahu remaja bahwa seks
adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi pada semua orang,
selain itu remaja juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku
seksual berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya.
33
34
Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki
informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai
faktor yang ada di sekitarnya.Dengan informasi yang benar,
diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung
jawab mengenai proses reproduksi.
c. Bimbingan orang tua.
Peranan orang tua merupakan salah satu hal terpenting dalam
menyelesaikan
permasalahan
ini.
Seluruh
orang
tua
harus
memperhatikan perkembangan anak dan memberikan informasi yang
benar tentang masalah seks dan kesehatan reproduksi kepada anak.
Orang tua berkewajiban memberikan pendidikan kesehatan reproduksi
kepada anak sedini mungkin saat anak sudah mulai beranjak dewasa.
Hal ini merupakan salah satu tindakan preventif agar anak tidak
terlibat pergaulan bebas dan dampak-dampak negatifnya.
Selain itu orang tua juga harus selalu mengawasi pergaulan anaknya.
Dengan siapa mereka bergaul dan apa saja yang mereka lakukan di
luar rumah. Setidaknya harus ada komunikasi antara anak dengan
orang tua setiap saat. Apabila anak menemukan masalah, maka orang
tua berkewajiban untuk membantu mencarikan solusinya.
d. Meningkatkan aktivitas remaja ke dalam program yang produktif.
Melatih dan mendidik para remaja yang telah dipilih untuk menjadi
anggota suatu organisasi, misalnya Karang Taruna, Karya Ilmiah
Remaja, Pusat Informasi dan Konseling Pendidikan Reproduksi
34
35
Remaja (karena remaja biasanya dapat lebih mudah melakukan
komunikasi dan membicarakan masalah tersebut antara sesamanya),
dan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat.
2.7 Teori Atribusi
Penelitian ini untuk memahami kecakapan komunikasi antara guru BK
dengan siswa pada saat berlangsung penyampaian informasi dari guru BK kepada
siswa perihal pencegahan seks bebas di lingkungan SMA Negeri 1 Cinangka.
Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru BK dalam menyampaikan
informasi mengenai pencegahan perilaku seks bebas adalah dengan cara
memahami latar belakang dan sikap siswa yang akan mendengarkan informasi
mengenai perilaku seks bebas yang disampaikan oleh guru BK, ketika guru BK
memberikan informasi komunikasi mengenai pencegahan seks bebas. Guru BK
harus mampu memberi sikap dan solusi yang tepat untuk siswa. Berdasarkan hal
tersebut, maka teori yang dianggap sesuai dengan penelitian ini adalah teori
atribusi.
Teori atribusi pertama kali diperkenalkan oleh Heider pada tahun 1958.
Teori atribusi berkenaan dengan cara-cara orang menyimpulkan penyebabpenyebab perilaku. “Psikologi naif” sebagaimana teori atribusi ini kadang-kadang
disebut memfokuskan pada apa yang dipandang sebagai penyebab dari orang
biasa pada kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan melalui mana orang memahami
perilakunya sendiri dan orang lain.22
22
Naniek Afrillia F., M.Si, 2011, Komunikasi Persuasi, Sayuti.com, Serang Banten, hlm.49
35
36
Heider seperti yang dikutip Rakhmat (1998) mengungkapkan ada dua jenis
atribusi, yaitu atribusi kausalitas dan atribusi kejujuran. Atribusi kausalitas
mengacu kepada sikap seseorang ketika mempertanyakan perilaku seseorang
apakah dipengaruhi oleh faktor situasional atau faktor-faktor personal. Sedangkan
ketika seseorang melakukan atribusi kejujuran maka ada dua hal yang harus
diamati yaitu sejauh mana pernyataan orang itu menyimpang dari pendapat
umum, dan sejauh mana orang itu memperoleh keuntungan dari anda akibat
pernyataan anda. Semakin besar jarak antara pendapat pribadi dengan pendapat
umum maka kita akan semakin percaya bahwa orang tersebut berkata jujur.23
Teori atribusi juga dapat digunakan untuk menganalisis keberhasilan dan
kegagalan seseorang. Menurut Weiner untuk menganalisis keberhasilan atau
kegagalan seseorang berdasarkan pada dua dimensi, yaitu dimensi locus of control
(disebabkan faktor internal dan eksternal) dan dimensi stabilitas (disebabkan
faktor stabil dan tidak stabil).24 Dengan memperhatikan faktor internal dan
eksternal siswa serta situasi yang ada, akan memudahkan guru BK dalam
menyampaikan informasi komunikasi mengenai pencegahan perilaku seks bebas,
dan juga guru BK dapat mengambil keputusan dengan bijak mengenai solusi
ataupun sikap yang akan diambil yang tidak membuat siswa merasa down atau
diacuhkan.
23
Jalaluddin Rakhmat, 2008, Psikologi Komunikasi Edisi Revisi, Bandung, Remaja Rosdakarya,
hlm.93
24
Sugiyo, Komunikasi Antar Pribadi, 2005, Semarang, UPT Percetakan dan Penerbitan UNNES
PRESS
36
37
2.8 Kerangka Berpikir
Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang
berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanakkanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia
berada pada masa transis. Pergaulan remaja yang diiringi dengan kemajuan
teknologi komunikasi dan informasi, mempermudah remaja dalam memperoleh
berbagai tayangan yang bersifat negatif. Lingkungan tempat remaja bergaul pun
menjadi berubah adakalanya lingkungan tersebut tidak menjamin remaja
memperoleh informasi dan teman yang tepat yang tidak menggiring remaja dalam
berperilaku tidak sehat.
Kurangnya komunikasi yang intens didalam keluarga ditambah dengan
pengaruh lingkungan pergaulan remaja yang mendominasi remaja tersebut,
membuat sebagian besar remaja berperilaku tidak sehat. Dari data-data yang telah
dijelaskan sebelumnya di setiap tahunnya angka remaja yang melakukan
hubungan seks bebas semakin bertambah. Hal ini erat kaitannya dengan
kurangnya pemenuhan informasi dan pendidikan kerohanian yang mencukupi
bagi remaja tersebut dalam membentengi diri mereka dari pergaulan negatif.
Sehubungan hal tersebut guru BK hadir sebagai salah satu wadah yang
nantinya akan menfasilitasi remaja dalam memperoleh informasi serta
mengarahkan siswa agar bergaul yang positif. Komunikasi guru BK dengan
remaja (siswa) akan memberikan informasi mengenai pencegahan perilaku seks
bebas yang semakin mengkhawatirkan, serta mencari solusi dari permasalahan
dari perilaku seks bebas yang semakin bertambah jumlahnya.
37
38
Dalam hal ini konteks berhubungan dengan pola komunikasi guru BK dan
siswa dalam mencegah perilaku seks bebas. Dengan menggunakan teori ini akan
dilihat bagaimana pola berkomunikasi guru BK yang baik kepada siswa akan
menghindarkan siswa dari perilaku seks bebas.
Pola Komunikasi
Guru BK
Teori Atribusi
Pencegahan Perilaku Seks
Bebas di SMA Negeri 1
Cinangka
Gambar 2.1
Kerangka Berpikir
38
Siswa
39
2.9 Penelitian Terdahulu
Tabel 1.1 Tabel Penelitian Terdahulu
No
Nama
Nanda
Fitriyan Tresna
Pratama
1.
Judul
Amaliawati Dea Fidela Amadea Rifki
Putra (Universitas
(Universitas
Ageng
Mulawarman 2013)
2013)
Sultan (Universitas
Tirtayasa Ageng
Dan
Dalam
Anak Hubungan
Pola
Komunikasi
Guru BK Dalam
Petugas Interpersonal
Seks Didik Pemasyarakatan Dalam
Tirtayasa
2015)
Pada Komunikasi
Mencegah Lapas Dengan Anak Konselor
Perilaku
Tirtayasa Ageng
Interaksi Kecakapan
Interpersonal Orang Komunikasi
Tua
Sultan (Universitas Sultan
2012)
Peranan Komunikasi Pola
Kurniawan
Mencegah Perilaku
Sebaya Seks Bebas Siswa
Program Di SMA Negeri 1
Pranikah Di SMA (ANDIKPAS)
Informasi
dan Cinangka
Negeri 3 Samarinda
Konseling Kesehatan
Kelas XII
Reproduksi
Remaja
(PIK-KRR)
2.
Masalah
Bagaimana peranan Bagaimana
komunikasi
pola Bagaimana
hubungan
interpersonal antara Petugas
pola Bagaimana
pola
simetris penyelesaian masalah komunikasi
guru
Lapas
orang tua dan anak Anak
dalam
dan pada konseling PIK BK
Didik ADEM.
mencegah Pemasyarakatan
perilaku
seks (ANDIKPAS)
pranikah.
dalam
mencegah perilaku
seks bebas siswa.
di
Lembaga
Pemasyarakatan Kelas
IIA
Anak
pria
Tangerang.
3.
Teori/Ko
Teori
Cordinated Teori Pola Interaksi Teori
nsep/
Management
of Dalam
Hubungan, Komunikasi,
39
Atribusi, Teori
Atribusi,
Komunikasi,
40
Definisi
Meaning,
KAP, Komunikasi,
Komunikasi
Pemasyarakatan.
Keluarga.
Komunikasi
Bimbingan
Interpersonal,
Konseling, Remaja
Konseling,
dan
Perkembangannya.
4
Metode
Kualitatif,
Teknik Kualitatif
Purposive Sampling, Teknik
Library
Deskriptif, Kualitatif,
Judgement Kasus,
Research, Sampling,
Field Work Research Wawancara,
Studi Kualitatif, Indepth
Wawancara, Interview,
Observasi,
Observasi,
Dokumentasi,
Interview,
Observasi,
Dokumentasi
Dokumentasi
5
Hipotesis/
Bahwa
peranan Hubungan
Hasil
komunikasi
Penelitian
interpersonal
yang
simetris Pola
terjadi
dan
dalam yang
digunakan
yang petugas Lapas dengan Konseling
anak
dimulai Negeri 1 Cinangka
dengan
konsultasi menggunakan pola
di Pemasyarakatan
di yang dilakukan oleh roda dengan bentuk
mencegah Lembaga
perilaku
PIK oleh guru BK SMA
Didik ADEM
SMAN 3 Samarinda (ANDIKPAS)
dapat
komunikasi
pada masalah
dilakukan oleh orang Anak
tua
penyelesaian Pola
konseli
seks Pemasyarakatan Kelas konselor.
kepada komunikasi
preventif
dan
pranikah di kalangan IIA Anak Tangerang
persuasif
dalam
pelajar
setiap
SMAN
Samarinda.
3 berlangsung
dengan
baik.
classical.
40
bimbingan
41
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian
Metodologi adalah proses, prinsip, dan prosedur yang kita gunakan untuk
mendekat problem dan mencari jawaba. Dengan kata lain, metodologi adalah
suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian.
Dalam penyusunan tugas akhir ini penulis menggunakan metode penelitian
kualitatif deskriptif, karena penelitian ini menggunakan metode deskriptif
kualitatif
dengan
wawancara
mendalam
(In-depth
Interview),
dimana
penelitiannya bersifat subjektif bersifat institusi dan masyarakat. Institusi dan
masyarakat sebagai instrumen dalam penelitian ini sangat bersinggungan langsung
dengan peneliti. Data-data yang didapatkan berupa makna bukan angka-angka
karena desain yang digunakan adalah desain kualitatif.
Dengan kata lain penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data
yang dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai sesuatu yang sedang
berlangsung dengan cara membandingkan antara landasaan teori dengan keadaan
aktual di lapangan.
Menurut Sugiono, bila dilihat dari level explanation¸ peneliti kualitatif bisa
menghasilkan informasi yang deskriptif yaitu memberikan gambaran yang
menyeluruh dan jelas terhadap situasi sosial yang diteliti.
4141
42
Penelitian ini hanya memaparkan situasi atau peristiwa yang diteliti.
Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis
atau membuat prediksi.
Metode kualitatif dianggap sesuai dengan penelitian ini, karena peneliti
ingin menggambarkan dan mendapatkan bagaimana komunikasi interpersonal
yang terjalin antara guru dan siswa bisa menjadi jembatan dalam mencegah
perilaku seks bebas dan bagaimana hambatan serta solusi dalam mencegah
perilaku seks bebas khususnya dikalangan siswa SMA Negeri 1 Cinangka.
Dengan digunakan pendekatan kualitatif, maka data yang didapat akan lebih
lengkap serta lebih mendalam sehingga tujuan penelitian ini dapat tercapai, dan
dapat ditemukan data yang bersifat proses kerja, perkembangan suatu kegiatan,
deskripsi yang luas dan mendalam, perasaan, norma, keyakinan, sikap mental,
etos kerja dan budaya yang dianut seorang maupun sekelompok orang dalam
lingkungan kerjanya. Lexy J. Moleong mendefinisikan penelitian kualitatif adalah
penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami
oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll, secara
holisitik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa.25
3.2 Paradigma Penelitian
Paradigma merupakan pola atau model tentang bagaimana sesuatu
distruktur (bagian dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi
25
Lexy. J. Moleong. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.
hlm.6
42
43
(perilaku yang didalamnya ada konteks khusus atau dimensi waktu). Baker (1992)
dalam ‘paradigms: The Business of Discovering the future’. Mendefinisikan
paradigma sebagai ‘seperangkat aturan (tertulis atau tidak tertulis) yang
melakukan dua hal: (1) hal itu membangun dan mendefinisikan batas-batas; dan
(2) hal itu menceritakan kepada anda bagaimana seharusnya melakukan sesuatu di
dalam batas-batas itu agar bisa berhasil.
Penelitian pada hakekatnya merupakan suatu upaya untuk menemukan
kebenaran atau untuklebih membenarkan kebenaran. Usaha untuk mengejar
kebenaran dilakukan oleh para filosof, peneliti, maupun oleh para praktisi melalui
model – model tertentu. Model tersebut biasanya dikenal dengan paradigma.
Paradigma menurut Bogdan dan Biklen, adalah kumpulan longgar dari sejumlah
asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara
berfikir dan penelitian.
Dalam penelitian kualitatif “teori” lebih ditempatkan pada garis yang
digunakan dibidang sosiologi dan antropologi dan mirip dengan istilah
paradigma. Paradigma adalah kumpulan tentang asumsi, konsep, atau proposisi
yang secara logis dipakai peneliti. Peneliti yang bagus menyadari tentang dasar
teori mereka dan menggunakannya untuk membantu mengumpulkan dan
menganalisis data.
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma
interpretif. Paradigma ini menitik beratkan pada interpretasi dan pemahaman ilmu
sosial. Pendekatan ini memfokuskan pada sifat subjektif dari terhadap kejadian
sosial dan berusaha memahaminya dari kerangka berpikir objektif yang sedang
43
44
dipelajarinya.
Adapun pada tradisi kualitatif-interpretatif, manusia lebih
dipandang sebagai makhkuk rohaniah alamiah (natural). Dalam pandangan ini,
manusia sebagai makhluk sosial sehari-hari bukan “berperilaku” berkonotasi
mekanistik alias bersifat otomatis seperti hewan, melainkan “bertindak”
mempunyai konotasi tidak otomatis/mekanistik, melainkan humanistik alamiah :
melibatkan niat, kesadaran, motif-motif, atau alasan-alasan tertentu, yang disebut
Weber sebagai social action (tindakan sosial) dan bukan sosial behavior (perilaku
sosial) karena ia bersifat intensional; melibatkan makna dan interpretasi yang
tersimpan di dalam diri pelakunya. Dunia makna itulah yang perlu dibuka,
dilacak, dan dipahami untuk bisa memahami fenomena sosial apa pun, kapan pun,
dan dimana pun. Pendekatan kualitatif-interpretif diarahkan pada latar gejala
secara holistik (utuh menyeluruh) dan alamiah sehingga metodologi kualitatif
tidak mengisolasikan gejala ke dalam variabel. Namun, mengkaji objeknya sesuai
latar almiahnya. Karenanya, lazim disebut juga penelitian alamiah/naturalistik.
Tujuan paradigma interpretif adalah untuk menganalisis realita sosial
semacam ini dan bagaimana realita sosial itu terbentuk. Penelitian interpretif tidak
menempatkan objektivitas sebagai hal terpenting, tetapi mengakui bahwa untuk
memperoleh pemahaman mendalam, maka subjektivitas para pelaku harus digali
sedalam mungkin.
Peneliti menggunakan paradigma intrepretif karena peneliti ingin
mendapatkan pengembangan pemahaman yang membantu proses interpretasi
suatu peristiwa melalui adanya unsur emosi, perasaan dan perilaku tersembunyi
44
45
yang dapat dimengerti, dipahami dan dirasakan oleh peneliti ketika peneliti
berbaur dalam suasana yang sebenarnya atau melakukan wawancara langsung.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Penulis dalam penelitian ini menggunakan teknik penggumpulan data
berupa metode wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Beberapa
diantaranya mengenai teknik pengumpulan data, yaitu:
1. Metode wawancara (Interview)
Adalah suatu teknik untuk memperoleh data dengan mengadakan
wawancara langsung dengan pihak-pihak yang berkompeten untuk
memberikan
informasi
atau
data
yang
dibutuhkan.
Menurut
Koentjaraningrat, percakapan dengan maksud tertentu, yang dilakukan
oleh kedua belah pihak, yaitu pewawancara (interviewer) sebagai orang
yang mengajukan pertanyaan data yang diwawancarai (interviewee)
sebagai orang yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
Untuk mendapatkan data yang diinginkan, dalam penelitian ini
peneliti melakukan wawancara mendalam (Indepth Interview) terhadap
orang-orang yang berkompeten. Wawancara mendalam adalah suatu
proses untuk memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara
tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan
atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman
(guide) wawancara, pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan
45
46
sosial yang relatif lama.26 Dengan demikian, kekhasan wawancara
mendalam adalah keterlibatannya dalam kehidupan informan.
Metode wawancara mendalam (in-depth interview) adalah sama
seperti metode wawancara lainnya, hanya peran pewawancara, tujuan
wawancara, peran informan, dan cara melakukan wawancara yang berbeda
dengan wawancara pada umumnya. Wawancara mendalam dilakukan
berkali-kali dan membutuhkan waktu yang lama bersama informan di
lokasi penelitian, hal mana kondisi ini tidak terjadi pada wawancara pada
umumnya.
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dengan
beberapa informan yang telah dipilih sesuai dengan pedoman kriteria
informan yang telah dibuat oleh peneliti dengan mengajukan pertanyaan
seputar bagaimana pola komunikasi guru BK, apa saja faktor pendukung
dalam komunikasi tersebut serta bagaimana hambatan yang dialami oleh
guru BK dalam melakukan pola komunikasi tersebut. Peneliti memilih
untuk mewawancarai secara face to face untuk mengetahui proses tanya
jawab dilakukan, sehingga menambah kepuasan dan keakuratan data yang
didapat dari hasil wawancara ini.
2. Metode observasi (Observation)
Observasi merupakan salah satu kegiatan yang kita lakukan untuk
memahami lingkungan, selain membaca koran, mendengarkan radio dan
televisi atau berbicara dengan orang lain. Observasi dapat diartikan
26
Rachmat Kriyantono, 2008, Teknik Praktis Komunikasi, Kencana, Jakarta, hlm.100
46
47
sebagai kegiatan mengamati secara langsung tanpa mediator sesuatu objek
untuk melihat dengan dekat kegiatan yang dilakukan objek tersebut.
Observasi merupakan metode pengumpulan data yang digunakan pada
riset kualitatif. Keunggulan metode ini adalah data yang dikumpulkan
dalam dua bentuk interaksi dan percakapan (conversation). Artinya selain
perilaku nonverbal juga mencakup perilaku verbal dari orang-orang yang
diamati.27
Dalam penelitian kualitatif, ada dua jenis observasi yaitu observasi
participant dan non participant. Observasi participant yaitu peneliti terlibat
langsung dalam kehidupan sehari-hari informan yang diteliti. Sedangkan
observasi non participant, peneliti tidak terlibat langsung dan hanya
sebagai pengamat independen.
Penelitian ini, peneliti menggunakan observasi non participant
yaitu peneliti hanya memerankan diri sebagai pengamat. Peneliti
mengamati, memeriksa dan mencatat semua kegiatan atau hal yang
berhubungan dengan pelayanan public. Observasi itu sendiri sebagai suatu
alat pengumpulan data, data yang relevan, dan mampu membedakan
“kategori” dari setiap objek pengamatannya. Oleh karena itu, dibutuhkan
suatu
pedoman
atau
panduan
observasi
yang
digunakan
untuk
mendapatkan data hasil pengamatan.
Observasi difokuskan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan
fenomena penelitian. Fenomena ini mencakup interaksi (perilaku) dan
27
Kriyantono,2012:110-111
47
48
percakapan yang terjadi diantara subjek yang diteliti sehingga metode ini
memiliki keunggulan, yakni mempunyai dua bentuk data: interaksi dan
percakapan. Dengan hasil observasi yang akan dilampirkan di dalam
penelitian ini, yaitu melakukan observasi langsung ke SMA Negeri 1
Cinangka.
3. Dokumentasi
“Dokumentasi adalah instrumen pengumpulan data yang sering
digunakan dalam berbagai metode pengumpulan data. Tujuannya untuk
mendapatkan informasi yang mendukung analisis dan interpretasi data”.
Dokumentasi
adalah
kegiatan
menghimpun,
mengolah,
menyeleksi, dan menganalisis kemudian mengevaluasi seluruh data,
informasi dan dokumen tentang suatu kegiatan, peristiwa, atau pekerjaan
tertentu yang dipublikasikan baik melalui media elektronik maupun cetak
dan kemudian secara teratur dan sistematis.
Dokumentasi adalah teknik terakhir dalam pengumpulan data
sekunder yang bersifat tercetak (printed) yang bertujuan untuk melengkapi
data-data tambahan penelitian, seperti foto-foto kegiatan yang berkaitan
dengan mewawancarai narasumber, surat keterangan penelitian, surat
ketersediaan sebagai informan, serta tulisan-tulisan dan sebagainya.
48
49
3.4 Informan Penelitian
Menurut Sugiyono dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah
populasi, tetapi oleh Spadley dinamakan “Sosial Situation” atau situasi sosial
yang terdiri atas tiga elemen yaitu tempat (place), pelaku (actors), dan aktifitas
(activity) yang berinteraksi secara sinergis. Situasi sosial tersebut dapat
dinyatakan sebagai obyek penelitian yang ingin diketahui apa yang terjadi
didalamnya.28
Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi
sebagai narasumber, atau partisipan, informan, teman, dan guru dalam penelitian.
Maka, untuk selanjutnya sampel yang dimaksud dalam penelitian ini disebut
informan, karena dianggap memiliki sumber data yang dibutuhkan dalam
penelitian
Menurut Kriyantoro (2006:119) mengatakan bahwa “informan yaitu
berkaitan dengan sekelompok orang, kejadian atau semua yang mempunyai
karakteristik tertentu. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik
Purposive Sampling. Purposive Sampling yaitu memilih orang-orang tertentu
yang dianggap mewakili statistik.”29
Diantara sekian banyak informan tersebut, ada yang disebut narasumber
kunci (Key informan) seorang ataupun beberapa orang, yaitu orang atau orang
yang paling banyak menguasai informasi (paling banyak tahu) mengenai objek
yang sedang diteliti tersebut.
28
Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung, Alfa Beta. hlm.21
Kriyantono. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta, Indonesia, Kencana Prenada Media
Group. Media Group. Hlm119
29
49
50
Adapun sumber informasi yang digunakan peneliti dalam penelitian dari
key informan, yaitu guru BK itu sendiri, yaitu Ibu Dra. Wonisah. Beliau sudah 8
tahun menjadi guru dan BK di SMA Negeri 1 Cinangka. Key informan tersebut
merupakan pihak-pihak yang terlibat langsung dan memiliki pengalaman dalam
melakukan komunikasi dengan para siswa.
Sedangkan untuk menunjang informasi tambahan yang dibutuhkan peneliti
dalam penelitian ini, informan tambahan ini terdiri dari Drs. H. Subki beliau
merupakan guru Sosiologi sekaligus Wakasek (Wakil Kepala Sekolah) Bidang
Kesiswaan. Beliau sudah berada di SMA Negeri 1 Cinangka selama 8 tahun. Lalu,
Dra. Rohanah, beliau ada guru Agama SMA Negeri 1 Cinangka. Beliau mengajar
kelas X dan XII, beliau sudah berada di SMA Negeri 1 Cinangka selama 9 tahun.
Sedangkan dari pihak siswa, peneliti meminta informan tambahan kepada Panji
Wali Raksasiswa kelas XI IPA 3 sekaligus yang menjabat Ketua Osis SMA
Negeri 1 Cinangka periode 2014-2015 dan pernah terlibat dalam komunikasi yang
diadakan oleh Guru BK dan Wakasek Kesiswaan terkait dengan tema Pencegahan
Perilaku Seks Bebas, serta Dwi Riska Mulia siswi kelas XI IPA 2 pernah terlibat
komunikasi dengan guru BK terkait tema yang diteliti oleh peneliti dan pernah
mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Wakasek Kesiswaan. Sedangkan, untuk
pihak luar yang menjadi informan tambahan untuk peneliti, peneliti meminta
bantuan Bidan Yamtini, beliau merupakan Bidan Kandungan dan memahami
informasi mengenai reproduksi seksual serta Pak Ahmad Yani, beliau adalah
Perawat di Puskemas Cinangka, yang memiliki program sosialiasi kepada anak
sekolah, khususnya diwilayah Cinangka.
50
51
Berdasarkan karakteristik diatas, maka peneliti mengambil responden
sebanyak 1 Key Informan dan 5 Informan Tambahan. Diantaranya :
a. Dra. Wonisah selaku Key Informan
b. Drs. H. Subki (Guru Sosiologi – Wakasek Kesiswaan)
c. Dra. Rohanah (Guru Agama)
d. Panji Wali Raksa (Siswa XI IPA 3 – Ketua Osis)
e. Dwi Riska Maulia (Siswi XI IPA 2)
f. Bidan Yamtini (Bidan Kandungan)
g. Pak Ahmad Yani (Perawat Puskesmas)
3.5 Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data
yang
diperoleh
dari
hasil
wawancara
dan
observasi
dengan
cara
mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit,
melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan
yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh
diri sendiri dan orang lain.30
Data yang telah diperolah dan terkumpul secara komprehensif selanjutnya
dianalisis. Dalam penelitian ini peneliti menganalisis dengan menerapkan aplikasi
terkonsep, yaitu melakukan penafsiran dengan menggunakan tataran ilmiah atau
logika. Adapun penjabaran analisis data, yaitu: 31
30
Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung, Alfabeta. hlm.89
Matthew B. Milles dan A Michael Huberman, 1992, Analisis Data Kualitatif: Penerjemah Tjejep
Rohendi Rosidi, Universitas Indonesia Press, Jakarta, hlm.25
31
51
52
a. Data reduction (reduksi data)
Data yang diperoleh dilapangan jumlahnya cukup banyak,
untuk itu perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti
merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal
yang penting dan dicari tema dan polanya.
b. Data display (penyajian data)
Penyajian data merupakan upaya penyusunan, pengumpulan
informasi ke dalam suatu matrik atau konfigurasi yang mudah
dipahami. Penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat,
bagan, hubungan antar kategori dan lainnya. Dalam penelitian
kualitatif, yang paling sering digunakan dalam menyajikan data adalah
dengan teks yang bersifat naratif. Penyajian data dilakukan dengan
menyederhanakan informasi yang kompleks ke dalam suatu bentuk
yang lebih mudah untuk dipahami.
c. Conclusion drawing/verivication
Langkah terakhir dalam proses analisis data adalah penarikan
kesimpulan verifikasi terhadap data-data yang ada. Data inilah yang
kemudian disusun ke dalam satuan-satuan, kemudian dikategorikan
sesuai dengan masalah-masalahnya. Data tersebut dihubungkan dan
52
53
dibandingkan antara satu sama lain sehingga mudah ditarik
kesimpulan sebagai jawaban dari sikap permasalahan yang ada. 32
Dikarenakan penelitian ini bersifat deskriptif, maka peneliti akan
menjabarkan hasil penelitian dalam bentuk kata-kata dan gambaran, bukan angkaangka. Dalam metode penelitian kualitatif, temuan atau data yang dinyatakan
valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang
sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.
3.6 Uji Validitas Data
Dalam metode penelitian kualitatif, hasil temuan atau data yang telah
diperoleh peneliti dapat dinyatakan valid apabila hasil temuan atau data yang
diperoleh dan dikemukakan peneliti sesuai dengan temuan atau data yang
sebenarnya terjadi pada objek yang diteliti. Demikian halnya dengan penelitian
mengenai pola komunikasi guru BK dalam mencegah perilaku seks bebas siswa di
SMA Negeri 1 Cinangka. Penelitian ini dianggap valid apabila hasil temuan yang
diperoleh sesuai atau sama dengan yang sebenarnya terjadi pada objek penelitian.
Untuk itu diperlukan uji validitas data.
Untuk menguji validitas data dalam penelitian mengenai pola komunikasi
guru BK dalam mencegah perilaku seks bebas siswa di SMA Negeri 1 Cinangka,
peneliti menggunakan cara uji kredibilitas atau kepercayaan terhadap data yang
dilakukan dengan menggunakan Teknik Triangulasi Data, yaitu teknik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data
32
Matthew B. Milles dan A Michael Huberman, 1992, Analisis Data Kualitatif: Penerjemah Tjejep
Rohendi Rosidi, Universitas Indonesia Press, Jakarta, hlm.25
53
54
untuk keperluan pengecekkan atau sebagai pembanding terhadap data itu.33 Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan dua teknik triangulasi data yaitu triangulasi
sumber dan triangulasi teknik.
Dalam melakukan triangulasi sumber, peneliti mengecek kebenaran data
kepada sumber lain. Misalnya data yang diperoleh dari hasil wawancara peneliti
dengan informan kunci (key informan), yaitu guru BK, dicek kembali dengan
melakukan wawancara dengan informan-informan pendukung yaitu, guru
keagamaan, wakasesk kesiswaan, siswa, perawat dan bidan kandungan.
Selain itu, pada triangulasi teknik dilakukan dengan teknik yang berbeda.
Misalnya data yang peneliti dapatkan melalui teknik wawancara mengenai pola
komunikasi guru BK dalam mencegah perilaku seks bebas siswa di SMA Negeri 1
Cinangka, kemudian dicek atau disesuaikan dengan menggunakan teknik
observasi. Jika dalam proses pengecekkan tersebut menghasilkan data yang
berbeda, maka peneliti akan melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data
untuk memastikan data mana yang sekiranya lebih tepat dan benar.
3.7 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dipilih adalah SMA Negeri 1 Cinangka sebagai
tempat penelitian mengenai “Pola Komunikasi Guru BK Dalam Mencengah
Perilaku Seks Bebas Siswa Di SMA Negeri 1 Cinangka”.
33
Lexy J. Moleong.2007, Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, hlm.178
54
55
3.8 Jadwal Penelitian
Penelitian ini berlangsung dari bulan Januari 2015 sampai sekarang, dan
dituangkan ke dalam bentuk tabel dibawah ini.
Tabel 1.2
55
56
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Obyek Penelitian
4.1.1 Profil Singkat SMA Negeri 1 Cinangka
SMA Negeri 1 Cinangka merupakan sekolah filial dari SMA Negeri 1
Anyer. Sebagai sekolah rintisan yang mulai beraktifitas pada tahun 2002,
pada awalnya proses belajar mengajar SMA Negeri 1 Cinangka dilaksanakan
menumpang di sekolah lain yaitu SMP Negeri 1 Cinangka dengan pendidik
dan tenaga kependidikan dari SMA Negeri 1 Anyer, SMP Negeri 1 Cinangka
dan beberapa tenaga honorer yang ada dilingkungan Cinangka.
Sejalan dengan bertambahnya siswa dan pengadaan sarana yang
berbentuk bantuan dari masyarakat dan pemerintah (seperti lokasi, ruang
kelas, ruang kepala sekolah, ruang TU dan beberapa sarana kelengkapan lain)
telah disiapkan maka pada yahun pelajaran 2006/2007 proses belajar
mengajar mulai dilaksanakan di SMA Negeri 1 Cinangka, sampai sekarang.
SMA Negeri 1 Cinangka berada di sebelah barat Kabupaten Serang,
tepatnya di Jl.Raya Karang Bolong Ciparay kecamatan Cinangka kabupaten
Serang, dengan luas tanah 13.466 M2 . Lingkungan di sekitar sekolah
sebagian besar pertanian dan peternakan. SMA Negeri 1 Cinangka terletak di
daerah kawasan wisata pantai yang sering dikunjungi oleh turis lokal maupun
manca negara.
5656
57
PROFIL SEKOLAH
1. Identitas Sekolah
1. Nama
: SMA NEGERI 1 CINANGKA
2. Status
: Negeri
3. NSS/NIS
: 301280432041 / 300420
4. NPSN
: 20605090
5. Mulai Berdiri
: Tahun 2002
6. SK Pendirian
: No.421/Kep.425-Org/2003
7. Hasil Akreditasi
: A
8. Lokasi
:
Jalan
: Raya Karang Bolong
Desa
: Sindanglaya
Kecamatan
: Cinangka
Kabupaten
: Serang
Propinsi
: Banten
Kode Pos
: 42467
Telepon/Fax
: (0254 ) 651451 / (0254) 651467
9. Bank
Nama Bank
: BRI Cabang Cilegon
No. Rekening
: 3470-01-013451-53-3
10. Identitas Kepala Sekolah
Nama
: Drs. H. Agus Rustamana, M.Pd,M.Si
NIP
: 196510051989031021
Alamat
:
Kp. Baru Rt 22, Des. Kosambi Ronyok, Kec. Anyer
11. Jumlah Guru
: Jumlah seluruh personil SMA
Negeri 1 Cinangka pada Tahun Pelajaran 2010-2011 berjumlah 38
orang yang terdiri atas 17 guru PNS termasuk Kepala Sekolah, 21 guru
57
58
non PNS,
8 staf tata usaha, 2 penjaga sekolah dan 2 petugas
kebersihan/tukang kebun.
4.1.2 Visi, Misi dan Tujuan dan Sasaran Sekolah
Visi SMA Negeri 1 Cinangka
5.
“ TERWUJUDNYA
PENDIDIKAN BERBUDAYA MUTU
6.
YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN DAN
KEBANGSAAN BERLANDASKAN IMAN DAN TAKWA.”
DENGAN INDIKATOR:

Berakhlak Mulia

Menumbuhkembangkan Budaya Mutu Pendidikan

Gandrung Iptek

Mampu Mengembangkan Potensi Diri Secara Optimal

Memiliki Daya Juang Tinggi Dalam Mengejar Ketertinggalan

Terdepan dalam Disiplin

Memiliki Kreativitas Tinggi

Peduli terhadap Lingkungan

Menghormati Nilai-nilai Luhur dan Semangat Juang
Para
Pahlawan
Visi tersebut di atas mencerminkan cita-cita sekolah yang memiliki
orientasi masa depan yang gemilang dengan memperhatikan potensi
lingkungan, norma dan harapan yang ada pada masyarakat.
Untuk mewujudkan visi tersebut, sekolah menentukan langkah-langkah
strategis yang dinyatakan dalam Misi sebagai berikut.
58
59
Misi SMA Negeri 1 Cinangka
Keberadaan SMA Negeri 1 Cinangka harus berperan aktif dalam hal :
1. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif dengan
menerapkan kaidah-kaidah didaktik yang sesuai dengan disertai upayaupaya perbaikan secara terus menerus sehingga setiap siswa berkembang
optimal sesuai potensi yang dimilikinya.
2. Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga
sekolah dan kelompok kepentingan yang terkait (stakeholder) dalam
rangka menumbuhkembangkan budaya mutu pendidikan.
3. Menumbuhkembangkan semangat juang dan sikap kerja keras kepada
seluruh warga sekolah sehingga setiap warga sekolah memiliki daya juang
tinggi untuk mengejar ketertinggalan.
4. Memberikan pelayanan prima dan menumbuhkan semangat belajar yang
tinggi sehingga di dalam diri setiap siswa dan seluruh warga sekolah pada
umumnya memandang bahwa belajar adalah suatu kebutuhan.
5. Meningkatkan kemampuan siswa dalam mengadakan hubungan timbal
balik dengan lingkungan/budaya sekitar.
6. Menumbuhkan nilai-nilai luhur dan semangat juang melalui pengkajian
keteladanan dari para pahlawan.
7. Menumbuhkan sikap dan perilaku mulia melalui pengkajian nilai-nilai
keagamaan.
59
60
Tujuan SMA Negeri 1 Cinangka
1. Menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif, efektif dan disiplin dalam
belajar dan mengajar.
2. Membekali peserta didik pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan
dan sesuai dengan potensinya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih
tinggi.
3. Membekali peserta didik pengetahuan dan keterampilan serta teknologi
yang diperlukan oleh masyarakat sekitar.
4. Membekali peserta didik agar mempunyai semangat juang dan sikap kerja
keras untuk mengejar ketertinggalan.
5. Mempersiapkan
peserta didik agar menjadi pribadi yang mempunyai
semangat yang tinggi untuk belajar secara mandiri.
6. Membekali peserta didik agar menjadi pribadi yang menyayangi dan dapat
beradaptasi dengan lingkungan dan budaya sekitar.
7. Mempersiapkan peserta didik yang memahami budaya bangsa dan
mengikuti keteladanan para pendiri bangsa dan tokoh bangsa.
8. Mempersiapkan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
Sasaran SMA Negeri 1 Cinangka
1. Memiliki prestasi akademik yang lebih baik dibandingkan tahun
sebelumnya dengan indikator meningkatnya tingkat kelulusan 100% dan
yang melanjutkan ke perguruan tinggi mencapai 30%;
60
61
2. Memiliki prestasi olahraga sebagai juara umum pada even Olimpiade
Olahraga Siswa Nasional (OOSN) tinkat kabupaten;
3. Memiliki tim kesenian yang berlatih secara rutin dan mampu tampil pada
kegiatan-kegiatan sekolah, kecamatan, dan kabupaten;
4. Melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler secara terprogram dalam rangka
mengembangkan bakat siswa dalam bidang non akademik;
4.1.3 Potensi Lingkungan Sekolah
Secara geografis SMAN 1 Cinangka terletak di kecamatan Cinangka
kabupaten Serang, dan berada disepanjang pantai Anyer dan Carita yang
merupakan objek wisata. Disamping itu kecamatan Cinangka juga memiliki
geografis perbukitan dengan tanah yang subur dan penghasil hasil bumi yang
melimpah terutama dibagian timur kecamatan Cinangka.
Siswa SMAN 1 Cinangka sebagian besar (80%) berasal dari wilayah
kecamatan Cinangka, dan selebihnya berasal dari wilayah kecamatan Anyer
dan Padarincang yang taraf karakteristiknya relatif sama. Dengan demikian
latar belakang sosial budaya dan ekonomi siswa berasal dari keluarga petani,
pedagang dan pegawai.
Mengingat kondisi geografis tersebut pendidikan di SMAN 1 Cinangka
salah satunya adalah menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan dan
pembekalan life skill (keterampilan hidup) lainnya. Pembekalan jiwa
kewirausahaan dilakukan baik secara terintegrasi dengan mata pelajaran
ekonomi maupun melalui bimbingan usaha kecil, baik jasa maupun barang,
melalui Koperasi Siswa. Selain itu kamipun memberikan pembekalan life skill
61
62
lainnya seperti pengetahuan pariwisata dan perhotelan serta keterampilan
penggunaan dan meracik Komputer.
Adapun tantangan yang kami hadapi antara lain, kemampuan ekonomi
orang tua yang kurang, motivasi siswa yang rendah, kultur dan mental.
4.2 Deskripsi Data
Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah Pola Komunikasi Guru
BK Dalam Mencegah Perilaku Seks Bebas Siswa Di SMA Negeri 1 Cinangka.
Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan
observasi serta dokumentasi. Pada observasi, peneliti mengamati fenomena yang
terjadi mengenai seks bebas, terlebih lokasi peneliti merupakan daerah wisata
yang notabene banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun
mancanegara, sehingga potensi terjadinya kasus seks bebas tidak bisa
dihindarkan. Peneliti juga mendokumentasikan proses wawancara serta kegiatan
yang dilakukan oleh Guru BK, Wakasek Kesiswaan sertia Guru Agama dalam
kegiatan sosialiasi terkait pencegahan seks bebas untuk kalangan siswa.
Wawancara dengan guru BK serta pihak terkait dilingkungan SMA Negeri
1 Cinangka, dilakukan sebanyak dua kali pada tanggal 29 April 2015 dan 9 Mei
2015. Wawancara pertama dengan guru BK, Wakasek Kesiswaan, Siswa-siswa
kelas XI dan wawancara kedua dengan guru Agama. Alasan peneliti memilih
Guru BK sebagai key informan tersebut karena guru BK adalah orang yang paling
mengetahui mengenai permasalahan yang ada didalam siswa, serta mengetahui
permasalahan sosial yang sedang hangat dilingkungan sekolah. Kemudian
62
63
informan pendukung sebagai triangulasi sumber peneliti mewawancarai perawat
puskemas yang memiliki program penyuluhan untuk kalangan siswa, serta praktisi
reproduksi sosial yaitu bidan kandungan.
Pada wawancara, peneliti menyiapkan sejumlah pertanyaan lalu merekam
jawaban dan menulis hal-hal yang penting. Daftar pertanyaan dan jawaban dari
para narasumber dapat di lihat di lampiran. Hasil wawancara dan observasi
merupakan data primer dalam penelitian ini. Kemudian untuk data sekunder
diperoleh dari dokumentasi yang diambil dari kegiatan ketika peneliti melakukan
wawancara dan kegiatan yang telah dilakukan oleh Guru BK beserta pihak terkait
lainnya di SMA Negeri 1 Cinangka.
Data-data yang diperoleh melalui wawancara langsung kepada key
informan dan informan, dan observasi, dikategorisasikan sebagai identifikasi
masalah. Data mana saja yang termasuk mengenai pola komunikasi guru BK yang
lebih membahas tentang pola komunikasi yang dilakukan, yaitu mengenai bentuk
kegiatan komunikasi tersebut, penyebab, pencegahan serta solusi dalam
komunikasi tersebut, dan dari adanya bentuk komunikasi tersebut maka diketahui
pola seperti apa yang diterapkan guru BK dalam berkomunikasi dengan siswa dan
dan penyebab terjadinya perilaku seks bebas yang berkaitan pula dengan teori
yang digunakan yaitu teori Atribusi. Lalu, data tersebut dijabarkan secara jelas
dan terbuka sehingga dengan demikian dapat disimpulkan hasil dari penelitian
mengenai pola komunikasi guru BK dalam mencegah perilaku seks bebas siswa di
SMA Negeri 1 Cinangka.
63
64
4.3 Pembahasan
Pembahasan berikut ini merupakan penjelasan dari teori-teori komunikasi
yang dijelaskan pada bab II yang berkaitan dengan pola komunikasi guru BK
yang didapatkan oleh peneliti dari hasil wawancara dan observasi yang telah
dilakukan.
Menurut Abu Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang
diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki
mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri,
memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa
depan yang lebih baik. Sedangkan konseling adalah hubungan pribadi yang
dilakukan secara tatap muka antarab dua orang dalam mana konselor melalui
hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya,
menyediakan situasi belajar.
Menurut hasil wawancara dengan Dra. Wonisah, mengatakan :
“...Memposisikan diri, saya sebagai guru BK itu memposisikan diri ehhh,,
sebagai teman. Teman dalam berbagi rasa, sharing, bersosialisasi. Kamu
anggap ibu itu sebagai ibu kamu sendiri, atau teman kamu sendiri, biar kita
itu enak. Kita itu akan memecahkan masalah dengan baik, dan terhindar dari
hal yang tidak baik...”34
Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama
sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun, tetapi lebih mengandalkan pada
terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor
dan siswa yang bermasalah, sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat
34
Hasil wawancara dengan Guru BK SMA Negeri 1 Cinangka, Dra. Wonisah pada tanggal 29
April 2015
64
65
memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri
guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK maka pada fungsi
komunikasi mengenai pengertian mengenai bimbingan dan konseling, guru BK di
SMA Negeri 1 Cinangka telah menggunakan fungsi pengertian dari bimbingan
dan konseling tersebut, yang diterapkan oleh guru BK kepada siswa-siswanya.
4.3.1 Pola Komunikasi Guru BK SMA Negeri 1 Cinangka
Pola bisa diartikan sebagai model atau bentuk (struktur) yang tetap,
sedangkan komunikasi dapat diartikan sebagai pengiriman dan penerimaan
pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud
dapat dipahami. Jika kedua kata tersebut dihubungan menjadi pola
komunikasi, secara ringkas dapat diartikan sebagai bentuk atau struktur
penyampaian pesan.35Pola komunikasi ini merupakan interaksi yang
tujuannya menciptakan hubungan yang harmonis guru BK dan siswa. Untuk
itu, agar kerjasama tersebut dapat tercipta dengan baik maka pola komunikasi
guru BK harus dibangun dengan baik pula.
Model komunikasi yang diterapkan oleh Dra. Wonisah selaku guru BK
adalah dengan model bimbingan classical (konseling) terhadap siswasiwanya, seperti yang dikatakan oleh beliau :
“...Model komunikasinya adalah satu, dengan bimbingan classical,
kita memberikan semuanya kepada seluruh siswa, dan juga ibu
menawarkan bagi yang merasakan dirinya masih kurang paham
atau apa. Tolong, langsung aja konseling individu gitu yah....”
35
Departemen Pendidikan Nasional, KBBI Edisi Ketiga, 2005, Jakarta, Balai Pustaka, hlm.885
65
66
Untuk mencegah dan menangkal perilaku-perilaku yang tidak
diharapkan, maka dapat dilakukan dengan mengembangkan potensi siswa dan
memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai
standard kompetensi kemandirian. Dengan demikian pendidikan yang
bermutu, efektif, atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang
utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan,
bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling.
Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan
dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial,
klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi
perkembangan dan preventif. Pendekatan Preventik adalah bimbingan yang
diarahkan untuk mengantisipasi masalah-masalah umum yang dihadapi oleh
individu dan mencoba jangan sampai terjadi masalah tersebut pada individu.
Konselor berupaya untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan untuk
mencegah masalah tersebut.
Adapun komunikasi lainnya yang diterapkan oleh Dra. Wonisah selaku
guru BK, dengan melakukan komunikasi persuasif. Istilah persuasi
(persuasion) bersumber pada perkataan latin persuaio, kata kerjanya adalah
persuader yang berarti membujuk, mengajak atau merayu, komunikasi
persuasif sama dengan koersif, namun dilakukan secara halus, luwes dan
mengandung sifat manusiawi. Dapat ditegaskan bahwa persuasi bukan
merupakan pembujukan terhadap seseorang atau pun kelompok untuk
menerima pendapat lain, akan tetapi merupakan suatu teknik untuk
66
67
mempengaruhi manusia dengan memanfaatkan atau menggunakan data dan
fakta psikologis maupun sosiologis dari komunikan yang hendak dipengaruhi.
Pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat memengaruhi
sikap mereka dan pada akhirnya memengaruhi perilaku dan tindakan mereka
terhadap sesuatu. Mengubah pengetahuan seseorang akan sesuatu dipercaya
dapat mengubah perilaku mereka. Hal inilah yang diterapkan oleh Dra.
Wonisah selaku guru BK, beliau berusaha memberikan pengetahuan
informasi mengenai seks bebas beserta dampaknya kepada anak didik
siswanya, dengan harapan mereka lebih punya bekal informasi mengenai
tentang seks bebas dan bisa menjaga perilaku mereka terhadap perbuatanperbuatan yang merugikan mereka.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan key informan serta hasil
pengamatan kegiatan dilapangan, maka peneliti membuat alur pola
komunikasi yang digunakan oleh guru BK dalam menyampaikan informasi
kepada siswa-siswa SMA Negeri 1 Cinangka, seperti yang tertera dibawah ini
67
68
:
Alur Komunikasi Guru BK
dalam memberikan informasi
1. Mengadakan
bimbingan
classical
(konseling)
2. Memanfaatkan waktu 2 jam selama 1
minggu guna meluangkan waktu untuk
bimbingan classical
3. Bekerja sama dengan pihak ke-3 atau
pihak terkait guna memberikan informasi
yang konkret kepada siswa.
4. Mengadakan
kegiatan
peyuluhan,
sosialisasi maupun lewat media dalam
menyampaikan informasi perilaku seks
bebas.
5. Evaluasi kegiatan, jika ada siswa yang
belum paham. Bisa dilakukan komunikasi
face to face diruang BK
Gambar 4.3.1.1
Bagan Alur Komunikasi Guru BK SMA Negeri 1 Cinangka
Dari penjabaran alur komunikasi yang dilakukan oleh guru BK terhadap
siswa dalam menyampaikan informasi perihal pencegahan perilaku seks
bebas di lingkungan SMA Negeri 1 Cinangka. Peneliti menyimpulkan alur
yang dilakukan oleh guru BK tersebut kedalam sebuah pola komunikasi,
seperti gambar berikut ini.
68
69
Pihak Ke-3 (Disparpora, Puskesmas, BNNB, KKBN, Kepolisian)
Siswa
Guru BK
Orang Tua
Guru Sekolah/Kepsek
Gambar 4.3.1.2
Diagram Pola Komunikasi Guru BK SMA Negeri 1 Cinangka
Berdasarkan penjabaran diatas, maka pola komunikasi yang
digunakan oleh guru BK SMA Negeri 1 Cinangka menggunakan pola roda.
Pola roda adalah pola yang mengarahkan seluruh informasi kepada individu
yang menduduki posisi sentral.Orang dalam posisi sentral menerima kontak
dan informasi yang disediakan oleh anggota organisasi lainnya dan
memecahkan masalah dengan saran dan persetujuan anggota lainnya.Hal ini
dikarenakan, guru BK melakukan komunikasi kepada semua orang termasuk
pihak yang terkait dalam tindakan pencegahan perilaku seks bebas siswa di
SMA Negeri 1 Cinangka. Dalam penggunaan pola roda ini, guru BK menjadi
fokus perhatian dan dapat berkomunikasi dengan semua pihak. Penggunaan
pola ini dirasa efektif dalam pencegahan perilaku seks bebas di SMA Negeri
1 Cinangka. Dimana, guru BK dapat leluasa dan bekerja sama dengan semua
69
70
pihak dalam memberikan informasi yang konkret kepada siswa-siswi di SMA
Negeri 1 Cinangka.
4.3.1.1 Penyebab Perilaku Seks Bebas
4.3.1.1.1 Faktor Lingkungan
Masa remaja adalah masa dimana suatu anak masih mencari
jati diri mereka yang sebenarnya, masa ini masa yang sangat rentan
dan harus terus di control oleh para orang tua kepada anak mereka.
Remaja yang tidak dapat memilih teman dan lingkungan yang baik
serta orangtua yang tidak memberi arahan dengan siapa dan di
komunitas mana remaja harus bergaul. Karena remaja yang tidak
bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima
dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’.
Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua
tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri
untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Hasil wawancara peneliti dengan Dra. Wonisah yang
mengatakan :
“...Dari lingkungan itu karena pergaulan, karena sering
melihat. Ehh,, media internet itu yah. Itu akibatnya ingin
coba-coba, ingin itu, akhirnya dia terjerumus...”36
Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Ahmad Yani dan
Bidan Yamtini yang mengatakan :
36
Hasil wawancara dengan Guru BK SMA Negeri 1 Cinangka, Dra. Wonisah pada tanggal 29
April 2015
70
71
“...terus lingkungan yah, terus yang lebih fokusnya karena
disini kita daerah wisata, banyak kalangan remaja diluar
yah yang masuk kesini dengan lokasi seperti kita disini
daerah wisata bebas adanya pantai yang seperti itu...”37
“...terus dirumahnya itu dia biasanya kurang perhatian dari
orang tua. Kemudian, didalam keluarga juga ada masalah
dari kedua orang tuanya, jadi dia lari ke situ...”38
Dari pernyataan diatas menggambarkan bahwa
faktor lingkungan yang dimana pergaulan yang tidak terkontrol,
dimana masa remaja merupakan masa mencari jati diri. Belum
mengetahui mana teman yang memberikan dampak positif ataupun
negatif, serta komunikasi orang tua yang buruk sehingga menjadi
penyebab remaja menjadi seperti itu, akhirnya mereka terjerumus ke
dalam pergaulan seks bebas yang dimana tidak terkontrol oleh orang
tuanya. Ditambah dengan lingkungan geografis daerah wisata, yang
semakin mempermudah akses terjadinya seks bebas dikalangan
remaja khususnya pelajar.
4.3.1.1.2 Faktor Personal
Masa remaja merupakan masa seseorang dalam kondisi
pubertas aktif yang mana segala sesuatu baginya ingin diketahuinya,
oleh karena itu pada masa remaja seorang anak perlu sekali
mendapat bimbingan moral maupun spiritual. Sebagai makhluk yang
mempunyai sifat egoisme yang tinggi maka remaja mempunyai
37
Hasil wawancara dengan Perawat Puskesmas Cinangka, Ahmad Yani, Amd, Kep pada tanggal 8
Mei 2015
38
Hasil wawancara dengan Bidan Kandungan, Yamtini, SST, Keb pada tanggal 9 Mei 2015
71
72
pribadi yang sangat mudah terpengaruh. Pada masa ini mereka
sangat rentan dalam hal yang dapat mempengaruhi perilaku baik
ataupun buruk.
Masa remaja sangat dipengaruhi oleh kualitas diri, kualitas
diri remaja itu sendiri seperti, perkembanggan emosional yang tidak
sehat, mengalami hambatan dalam pergaulan sehat, kurang
mendalami norma agama, ketidakmampuan menggunakan waktu
luang.
Hasil wawancara peneliti dengan Dra. Wonisah yang
mengatakan :
“...Penyebab dari siswa/diri sendiri yah itu, karena
ingin coba-coba, karena melihat didalam internet itu.
Yah, makanya itu dia ingin coba-coba...”39
Dari penyataan di atas menggambarkan bawah faktor
personal yang paling berpengaruh di usia remaja adalah rasa ingin
tahu yang besar, rasa ingin coba, rasa penasaran yang semakin
mengebu-ngebu. Sehingga menyebabkan mereka tidak terkontrol,
ditambah kurangnya mereka diberikan pemahaman informasi
mereka mengenai dampak seks bebas, kurangnya pengawasan dari
lingkungan sekitar. Maka remaja khususnya pelajar semakin mudah
melakukan rasa keingin tahuan mereka.
Berdasarkan teori Atribusi, dimana teori atribusi pertama kali
diperkenalkan oleh Heider pada tahun 1958. Teori atribusi berkenaan
39
Hasil wawancara dengan Guru BK SMA Negeri 1 Cinangka, Dra. Wonisah pada tanggal 29
April 2015
72
73
dengan cara-cara orang menyimpulkan penyebab-penyebab perilaku.
“Psikologi naif” sebagaimana teori atribusi ini kadang-kadang
disebut memfokuskan pada apa yang dipandang sebagai penyebab
dari orang biasa pada kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan melalui
mana orang memahami perilakunya sendiri dan orang lain.40
Dengan kata lain maka berdasarkan hasil pernyataan diatas,
diketahui penyebab pelajar melakukan tindakan perilaku seks bebas
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor lingkungan dan faktor
personal. Yang dimana faktor lingkungan lebih disebabkan salahnya
pelajar dalam memilih kawan dalam bergaul dan juga kurangnya
komunikasi dengan orang tua dalam memberikan pemahaman
mengenai informasi seks bebas sehingga menyebabkan pelajar
menjadi terjerumus. Sedangkan dalam faktor personal disebabkan
rasa ingin tahu yang besar didalam diri pelajar, yang dimana para
pelajar belum bisa mengontrol hawa nafsu dan tidak memikirkan
dampak dari akibat sebuah perbuatan yang dilakukannya serta
emosional pelajar yang belum stabil. Yang pada akhirnya kedua
faktor tersebut merupakan penyebab pelajar terlibat dalam perilaku
seks bebas, dimana wilayah SMA Negeri 1 Cinangka merupakan
daerah wisata, sehingga memudahkan kegiatan seks bebas semakin
mudah dan tidak terkendali.
40
Naniek Afrillia F., M.Si, 2011, Komunikasi Persuasi, Sayuti.com, Serang Banten, hlm.49
73
74
4.3.2 Faktor Pendukung
Dalam masalah ini untuk menekan jumlah pelaku seks bebas
terutama dikalangan remaja bukan hanya membentengi diri mereka dengan
unsur agama yang kuat, juga dibarengi dengan pendamping orang tua dan
selektivitas dalammemilih teman - teman.Karena ada kecendrungan remaja
lebih terbuka kepada teman dekatnya ketimbang orang tua mereka sendiri.
Tenaga kesehatan mempunyai peranan penting serta dapat bekerja
sama dengan pihak sekolah dalam menyumbangkan pengetahuan serta
memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi dikalangan remaja,
namun bukan pendidikan seks secara vulgar, melainkan pendidikan
seperti; tentang organ reproduksi, bahaya akibat pergaulan bebas, seperti
penyakit menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, diharapkan
para remaja ini bisa terhindar dari percobaan untuk melakukan seks bebas.
Hasil wawancara peneliti dengan Dra. Wonisah yang mengatakan :
“...Tapi kalau yang didalam sekolah khusus guru BK dan
kesiswaan. Dari luar yang membantu yah itu BNN (Badan
Narkotika Nasional) sama BKKBN...”
Dari pernyataan di atas memberikan gambaran bahwa faktor
pendukung dalam membantu guru BK di SMA Negeri 1 Cinangka dalam
mencegah perilaku seks bebas tetap yang utama dari dalam sekolah, yaitu
melibatkan guru BK dan pihak guru lain serta kesiswaan, tapi demi
memudahkan penyebaran informasi yang didapatkan pelajar di sekolah, Ibu
Dra. Wonisah bekerja sama dengan pihak terkait misalnya BNN dalam
memberikan pemahaman mengenai bahaya dan dampak narkoba serta
74
75
BKKBN dalam memberikan informasi mengenai reproduksi seksual kepada
pelajar di sekolah sebagai pihak ke-tiga yang merupakan sebagai faktor
pendukung dalam mengadakan setiap penyuluhan dan pembinaan yang
dilakukan disekolah.
4.3.3 Hambatan Pola Komunikasi Guru BK
Pada bab II telah dijelaskan tentang hambatan komunikasi, yaitu
gangguan (semantik dan mekanik), kepentingan, motivasi, dan prasangka.41
Pada keempat kategori hambatan ini, guru BK pun pernah mengalami
hambatan-hambatan tersebut yang menjadi awal kendala guru BK dalam
melakukan pola komunikasi dengan siswanya.
Hambatan-hambatan yang mungkin datang atau berasal dari siswa
bisa berupa karena siswa tidak terbuka sepenuhnya kepada guru BK atas
persoalan yang sedang dihadapi atau siswa merasa tidak bebas untuk
mengungkapkan persoalannya karena suasana di sekitaran tempat pelayanan
kurang nyaman/aman atau siswa tidak percaya kepada guru BK untuk dapat
membantu menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapinya, terutama
bagi siswa yang dipanggil.
Sementara itu, hambatan-hambatan yang mungkin datang dari seorang
guru BK biasanya disebabkan oleh kurangnya kemampuan/penguasaan
seorang guru BK dalam menggunakan teknik-teknik konseling, baik itu
verbal maupun non verbal, sehingga masalah yang dialami siswa tidak
terungkap dengan jelas. Selain itu, juga mungkin disebabkan oleh
41
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, 2003, Bandung, Citra Aditya
Bakti, hlm 45-50
75
76
ketidakmampuan seorang guru BK dalam membina hubungan yang baik
dengan siswa pada saat/permulaan konseling, sehingga membuat siswa
merasa tidak bebas untuk mengungkapkan masalahnya, terutama bagi siswa
yang dipanggil.
Namun selain hambatan-hambatan tersebut, masih banyak ditemukan
hambatan-hambatan lain yang dihadapi konselor dalam melakukan layanan
bimbingan dan konseling.
1. Gangguan
a. Gangguan Semantik
Gangguan semantik adalah gangguan tentang bahasa
terutama terutama
yang berkaitan dengan
perbedaan dan
pemahaman bahasa yang digunakan oleh komunikator maupun
komunikan, sehingga menimbulkan salah paham.Berdasarkan hasil
wawanacara peneliti yang dilakukan oleh peneliti dalam hambatan
yang terjadi pada pola komunikasi guru BK terhadap siswa dengan
Dra. Wonisah yang mengatakan :
“...Jadi ada bahasa-bahasa yang misalnya, saru gitu bahasa
jawa yah. Maka untuk memperjelas hal itu yah itu diadakan
kalau kalian belum paham tolong masuk ke ruangan ibu...”
Dari pernyataan diatas menggambarkan bahwa faktor
hambatan gangguan semantik lebih kepada bahasa saru atau
kurang jelasnya apa yang dijelaskan oleh oleh guru BK kepada
siswa diruangan kelas. Untuk mengantisipasi hal tersebut, guru BK
berinisiatif memanggil siswa yang tidak paham mengenai yang
76
77
dikatakan oleh guru BK tersebut dengan cara berbicara secara face
to face diruangan bimbingan konseling.
b. Gangguan Mekanik
Gangguan mekanik adalah gangguan yang disebabkan
saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik, terutama
yang berkaitan dengan alat atau media yang digunakan.
Berdasarkan hasil wawanacara peneliti yang dilakukan oleh
peneliti dalam hambatan yang terjadi pada pola komunikasi guru
BK terhadap siswa dengan Dra. Wonisah yang mengatakan :
“...Jadi misalnya ibu mengatakan hal-hal yang belum dia itu
kenali, itu memang hore itu yah si anak itu bersoraksorei...”
Dari pernyataan diatas menggambarkan bahwa faktor
hambatan dalam gangguan mekanik adalah kegaduhan yang
ditimbulkan oleh para siswa didalam kelas sehingga menimbulkan
informasi yang disampaikan oleh guru BK menjadi tidak begitu
jelas. Kegaduhan terjadi, karena siswa menemui sesuatu hal yang
baru yang akan disampaikan oleh guru BK, namun kegaduhan
tersebut apakah terkait karena rasa antusias terhadap informasi
yang akan diterima atau karena ada hal lain yang menyebabkan
kegaduhan tersebut.
2. Kepentingan
Komunikator yang tidak memperhatikan kepentingan
komunikan akan terjadi ketidakseimbangan antara keduanya,
77
78
sehingga komunikan hanya akan melakukan komunikasi apabila
ada kepentingan yang berkaitan dengannya. Biasanya kepentingan
ini juga akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau
menghayati
suatu
pesan.
Kepentingan
juga
bukan
hanya
mempengaruhi perhatian akan tetapi juga daya tanggap, perasaan,
pikiran dan tingkah laku yang merupakan sifat reaktif terhadap
segala perangsang yang tidak bersesuaian atau bertentangan
dengan suatu kepentingan.
Berdasarkan hasil wawanacara peneliti yang dilakukan oleh
peneliti dalam hambatan yang terjadi pada pola komunikasi guru
BK terhadap siswa dengan Dra. Wonisah yang mengatakan :
“...yang jelas saya kepentingannya satu. Supaya anak-anak
itu jangan sampai terjerumus ke dalam hal seks bebas itu...”
Dari pernyataan diatas menggambarkan bahwa kepentingan
yang disampaikan oleh guru BK tersebut, terlebih untuk
kepentingan siswanya, maka dari itu Dra. Wonisah selaku guru BK
tersebut selalu menyempatkan waktu untuk menyisihkan sebagian
aktifitas waktunya disekolah demi mendengarkan curhat serta
memberikan nasihat kepada siswa tersebut terkait permasalahan
yang dihadapi oleh siswa tersebut, sehingga hambatan kepentingan
ini tidak didasari oleh kepentingan oleh satu pihak saja.
78
79
3. Motivasi
Terpendam motivasi adalah dorongan seseorang untuk
mencapai tujuan, keinginan maupun kebutuhannya, sehingga
apabila komunikasi sesuai dengan motivasi seseorang terutama
komunikan, maka komunikasi akan dapat berjalan sukses.
Sebaliknya apabila komunikasi tidak sesuai dengan motivasi yang
terpendam dalam diri komunikan, maka komunikasi mengalami
hambatan.
Berdasarkan hasil wawanacara peneliti yang dilakukan oleh
peneliti dalam hambatan yang terjadi pada pola komunikasi guru
BK terhadap siswa dengan Dra. Wonisah yang mengatakan :
“...Memotivasi bahwa hal-hal yang tidak perlu kalian
lakukan jangan dilakukan, terus bahwa hal-hal kaya gitu
juga tidak bagus untuk kamu. Dan kamu itu harus semangat
belajar, tugas kamu adalah belajar...”
Dari hasil pernyataan diatas menggambarkan bahwa
motivasi yang kuat harus dilakukan terhadap siswa, dalam motivasi
tersebut Dra. Wonisah selaku guru BK tersebut tidak lupa
menyelipkan informasi-informasi mengenai dampak seks bebas
tersebut, sehingga dengan bertambahnya informasi tersebut
membuat siswa termotivasi untuk menghindari seks bebas dan
mengalihkan perhatiannya kepada kegiatan-kegiatan positif yang
berguna untuk siswa tentunya tetap dalam pengawasan guru dan
pihak terkait di sekolah.
79
80
4. Prasangka
Prasangka merupakan salah satu rintangan yang berat dalam
berkomunikasi, karena inilah ada komunikan yang memiliki
prasangka terhadap komunikator, maka kecurigaan komunikan
kepada komunikator akan menjadi penghambat. Selain itu juga
adanya sikap menentang dan berburuk sangka kepada komunikator
bisa memperburuk keadaan, tetapi apabila komunikator mampu
memberi kesan yang baik dan mampu meyakinkan komunikan,
maka komunikasi akan dapat berjalan sukses.
Berdasarkan hasil wawanacara peneliti yang dilakukan oleh
peneliti dalam hambatan yang terjadi pada pola komunikasi guru
BK terhadap siswa dengan Dra. Wonisah yang mengatakan :
“...Untuk mengatasi hal itu yah, ibu menjelaskan dengan
sejelas-jelasnya, dengan memberikan contoh yang konkret.
Sehingga siswa itu paham...”
Dari pernyataan diatas menggambarkan bahwa untuk
meminimalisir prasangka didalam siswa, Dra. Wonisah dalam
memberikan informasinya kepada siswa selalu dengan memberikan
contoh yang konkret. Sehingga siswa pun paham dan mengerti apa
yang disampaikan oleh guru BK tersebut, disisi lain. Siswa dan
guru BK bisa saling bertukar pertanyaan dan jawaban, sehingga
prasangka-prasangka buruk yang dipikirkan oleh siswa selama ini,
perlahan-lahan akan hilang setelah diberikan pemahaman yang
benar oleh Dra. Wonisah selaku guru BK tersebut.
80
81
4.3.4 Solusi Mencegah Perilaku Seks Bebas
Kita semua mengetahui peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada
Tuhan, penyaluran minat dan bakat secara positif merupakan hal-hal yang
dapat membuat setiap orang mampu mencapai kesuksesan hidup nantinya.
Tetapi walaupun kata-kata tersebut sering ‘didengungkan’ tetap saja masih
banyak remaja yang melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan.
Selain daripada solusi di atas masih banyak solusi lainnya.
Hasil wawancara peneliti dengan Dra. Wonisah yang mengatakan:
“...Kita disitu kasih pengarahan dari hati ke hati, pelan-pelan mulai
dikasih pengertian mengenai bagaimana agama, kenapa agama
melarang begini, karena akibatnya akan fatal...”
Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Ahmad Yani dan Bidan
Yamtini yang mengatakan :
“...Nah itu kita harus memberikan pembinaan. Pembinaan
bimbingan, dengan adanya pembinaan dan bimbingan yang rutin ke
pelajar Insya Allah kalangan remaja ataupun anak sekolah karena
sudah tahu bahaya dari seks bebas dan sudah tahu kejelekan
daripada perilaku seks bebas...”
“...Yah, diadakan penyuluhan-penyuluhan lah didalam kalangan
pelajar, terus ada juga pendidikan tentang seks bebas itu. Jadi kan
pelajar itu bisa mengetahui apa akibatnya, apa dampaknya yang
ditimbulkan oleh seks bebas itu.
Dari pernyataan diatas menggambarkan bahwa solusi penanggulangan
dampak seks bebas dikalangan pelajar salah satunya ditanamkan pendidikan
agama dan akhlak yang kuat, karena dengan pendidikan agama dan akhlak
yang kuat akan menjadi filter untuk pelajar dalam kehidupannya, pelajar
mengetahui mana perbuatan yang harus dijalankan mana perbuatan yang
81
82
harus dihindari. Adapun pembinaan dan penyuluhan tersebut berfungsi
memberikan informasi mengenai dampak akibat perbuatan seks bebas
kepada pelajar. pendidikan seks berusaha menempatkan seks pada
perspektif yang tepat dan mengubah anggapan negatif tentang seks.
Dengan pendidikan seks kita dapat memberitahu remaja bahwa seks
adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi pada semua orang, selain itu
remaja juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual berisiko
sehingga mereka dapat menghindarinya.
82
83
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab IV maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1. Pola komunikasi yang digunakan oleh guru BK SMA Negeri 1
Cinangka dengan menggunakan pola rodadengan menggunakan
komunikasi secara preventif dan persuasif melalui bimbingan classical.
Dimana guru BK bekerja sama dengan pihak terkait memberikan
pemahaman informasi mengenai seks bebas, narkoba, dll ke setiap kelas
dengan diberikan waktu oleh pihak sekolah selama 2 jam dalam 1
minggu. Bentuk komunikasi yang dilakukan oleh guru BK SMA Negeri
1 Cinangka tidak hanya sebatas memberikan penyuluhan, sosialisasi
saja. Tetapi juga menggunakan media sebagai bentuk informasi, hal ini
dilakukan untuk mempermudah siswa memahami isi pesan yang
disampaikan dalam media tersebut, seperti contoh media karikatur.
Penggunaan media yang dilakukan oleh guru BK dan guru lainnya
dalam menyebarkan informasi juga bertujuan untuk menggali dan
mengembangkan potensi kreatifitas seni didalam diri siswa, sehingga
siswa bisa di arahkan ke dalam kegiatan positif yang disukai oleh siswa.
Dari adanya pola komunikasi yang diterapkan oleh guru BK ini memang
telah mengacu pada teori Atribusi, hanya saja secara teori guru
8383
84
BKbelum memahami. Namun, secara prakteknya telah dilakukan demi
mencegah terjadinya perilaku seks bebas di wilayah SMA Negeri 1
Cinangka.
2. Terdapat beberapa faktor pendukung yang didapatkan oleh guru BK
guna mencegah perilaku seks bebas di SMA Negeri 1 Cinangka, selain
dukungan penuh dari guru, juga adanya dukungan dari pihak luar yang
terkait. Seperti adanya kerja sama dengan BNN (Badan Narkotika
Nasional)
yang
memberikan
penyuluhan
bahaya
dampak
dari
penggunaan narkoba, penyuluhan narkoba juga pernah diberikan oleh
DISPARPORA Serang kepada siswa SMA Negeri 1 Cinangka , kerja
sama dengan pihak BKKBN dalam memberikan informasi mengenai
sistem reproduksi seksual yang dimana kaitan informasi ini erat dalam
mencegah seks bebas di kalangan siswa, karena siswa bisa mengetahui
dampak seks bebas bagi sistem reproduksi mereka. Adapun faktor
pendukung lainnya yaitu kerja sama dengan pihak kepolisian dari Polda
Banten, Polres Cilegon dan Polsek Cinangka dalam kegiatan penyuluhan
kenakalan remaja. Banyaknya faktor pendukung dari berbagai pihak
yang terkait, sehingga memudahkan guru BK memberikan informasi
secara konkret kepada siswa-siswanya, sehingga siswa tidak hanya
mendapatkan informasi dari guru di sekolah, tetapi juga dari pihak luar
yang terkait, sehingga meminimalisir terjadinya perilaku seks bebas di
lingkungan sekolah.
84
85
3. Terdapat beberapa hambatan dalam pola komunikasi guru BK yaitu
pada gangguan semantik adanya bahasa saru, sehingga menyebabkan
kurang jelasnya informasi yang diberikan ketika bimbingan classical.
Untuk meminimalisir gangguan semantik tersebut, maka siswa yang
belum memahami informasi tadi segera menghadap guru BK untuk
bertemu di ruangan bimbingan konseling untuk mengetahu informasi
lebih jelasnya. Sedangkan pada gangguan mekanik, diakibatkan oleh
kegaduhan yang dibuat oleh siswa-siswa didalam kelas. Hambatan
lainnya yaitu kepentingan, tidak adanya hambatan dalam hal ini. Karena
apa yang dilakukan oleh guru BK tersebut semata-mata demi
kepentingan dan kebaikan siswa kedepannya. Hambatan motivasi sering
menjadi kendala, ketika guru BK telah memotivasi siswa-siswanya
dalam hal-hal yang positif terkadang mendapat tanggapan yang beragam
dari siswanya. Dan yang terakhir adalah hambatan prasangka, dugaandugaan yang salah mengenai informasi yang didengar oleh siswa
mengenai seks bebas, akan dijelaskan secara konkret oleh guru BK.
Sehingga prasangka-prasangka salah tersebut bisa diminimalisir dengan
pemberikan informasi yang benar guna mencegah siswa dalam
mengambil langkah kedepannya.
Solusi yang diberikan oleh guru BK guna mencegah perilaku seks bebas
selain memberikan informasi serta penyuluhan dan sosialiasi, juga
diberikannya pembinaan dan bimbingan yang rutin kepada siswa dan
ditanamkan pendidikan agama dan akhlak yang kuat di sekolah. Karena
85
86
dengan pendidikan dan akhlak yang kuat akan menjadi filter untuk
pelajar ke dalam kehidupannya.
5.2 Saran
Adapun saran yang ingin disampaikan oleh peneliti adalah :
1. Adanya interaksi terbuka antara guru BK dengan siswa, yang tidak hanya
terjadi ketika bimbingan classical saja. Namun interaksi secara pribadi,
dengan mendatangi siswa secara langsung diluar jam bimbingan classical.
2. Semakin dikembangkannya program-progam yang dilakukan oleh guru
BK, tidak hanya melibatkan pihak guru disekolah saja. Namun juga
dengan pihak lainnya, guna memberikan variasi informasi yang diterima
oleh siswa.
3. Perlu adanya keterlibatan dari pihak Kepala Sekolah dalam setiap kegiatan
yang dibuat oleh guru BK dan pihak guru lainnya, karena dengan
keterlibatan tersebut, kepala sekolah ikut andil dalam mensukseskan
kegiatan yang dibuat.
4. Diberikan pelatihan-pelatihan untuk guru BK disetiap sekolah, guna
menambah seputar informasi yang didapatkan oleh pihak terkait. Sehingga
guru BK disekolah bisa mengetahui permasalahan terbaru disetiap sekolah,
serta diberikan pelatihan untuk mengembangkan potensi siswa.
5. Diharapkan adanya peran aktif guru BK dengan orang tua siswa, sehingga
dengan komunikasi yang terjalin bisa meminimalisir siswa dalam salah
pergaulan.
86
87
DAFTAR PUSTAKA
Afrilla, Naniek F. 2002. Komunikasi Persuasi. Serang : Sayuti.com
Cangara, Hafied. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi., Jakarta : Raja Grafindo
Persada
Danim, Sudarwan dan Khairil, H. 2011. Profesi Kependidikan. Bandung ; Alfabeta
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi
Ketiga., Jakarta : Balai Pustaka
Djamarah, Syaiful Bahri. 2004. Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam
Keluarga., Jakarta : PT Rineka Cipta
Effendy, Onong. 2003. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi., Bandung : PT. Citra
Aditya Bakti
Gunarsa, Ny. Singgih, 2001, Psikologi Perkembangan, Gunung Mulia: Jakarta
Jalaluddin, Rakhmat. 2008. Psikologi Komunikasi Edisi Revisi, Bandung : Remaja
Rosdakarya
Kriyantono, Rachmat. 2008. Teknis Praktisi Komunikasi., Jakarta : Kencana
Muhammad Al-Mighwar, M.Ag. 2006. Psikologi Remaja. Bandung : Pustaka Setia
Milles, Matthew B, dan A Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.
Penerjemah Tjejep Rohendi Rosidi. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya
Morisan dan Andy Corry Wardhani. 2009. Teori Komunikasi tentang
Komunikator, Pesan, Percakapan, dan Hubungan. Jakarta : Ghalia
Indonesia
Mulyana, Deddy. 2003. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : Remaja
Rosdakarya
8787
88
Rosady, Ruslan. 2008. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi.,
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Sugiyo. 2005. Komunikasi Antar Pribadi. Semarang : UPT Percetakan dan
Penerbitan UNNES PRESS
Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta
Vardiansyah, Dani. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Bogor : Ghalia Indonesia
Widjaja,H.A.W. 2000. Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Jakarta : PT Rineka Cipta
Wirjanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : Grasindo
Sumber lainnya :
http://sp.beritasatu.com/home/144-warga-banten-meninggal-akibat-hivaids/35302
(Diakses, 19-02-2015 jam 20:47)
http://belajarpsikologi.com/pengertian-bimbingan-dan-konseling/
(Diakses, 24-02-2015 jam 21:13)
http://lpkeperawatan.blogspot.com/2014/02/perilaku-seksbebas.html#.VW9ge1Lq6UI (Diakses, 24-02-2015 Jam 22:00)
88
LAMPIRAN 1
PEDOMAN WAWANCARA
PEDOMAN WAWANCARA KEY INFORMAN
(GURU BK)
1. Apa arti seks bebas menurut anda? Jelaskan
2. Bagaimana anda menanggapi fenomena seks bebas dikalangan pelajar?
Jelaskan
3. Apa penyebab seseorang melakukan tindakan seks bebas (atribusi
kausalitas) ?
-
Faktor situasional (lingkungan) dan faktor personal (diri sendiri)
Jelaskan
4. Ketika anda mendiskusikan atau memberikan informasi dengan siswa,
sejauh mana anda berpendapat bahwa siswa tersebut jujur ketika anda
menanyakan perihal mengenai seks bebas? Jelaskan
5. Seperti apa pemahaman seks bebas di lingkungan SMA Negeri 1
Cinangka? Jelaskan
6. Seperti apa pola komunikasi yang diterapkan oleh anda kepada siswa
dalam menyampaikan informasi mengenai seks bebas? Jelaskan
7. Apakah dengan menggunakan pola komunikasi tersebut, anda yakin bisa
memberikan pemahaman kepada siswa mengenai seks bebas? Jelaskan
8. Adakah faktor pendukung (pihak ke 3) ketika anda memberikan informasi
kepada siswa mengenai seks bebas? Jelaskan
9. Bagaimana anda mencari faktor pendukung tersebut, guna membantu anda
dalam memberikan informasi tersebut? Jelaskan
10. Bisa anda sebutkan atau jelaskan, faktor-faktor pendukung apa saja yang
membantu anda dalam memberikan informasi seks bebas kepada siswa?
Jelaskan
11. Apa anda merasakan perbedaan fenomena seks bebas pelajar jaman
sekarang dengan jaman dahulu? Jelaskan
12. Mengapa tingkat fenoma seks bebas dikalangan pelajar semakin
meningkat? Jelaskan
13. Seperti apa ciri-ciri orang yang telah melakukan seks bebas, menurut
kacamata anda? Jelaskan
14. Dalam memberikan informasi mengenai seks bebas, tentu ada tujuan nya.
Apa yang anda harapkan dari tujuan tersebut, dilihat dari :
-
Perubahan sikap (apa yang diharapkan)
-
Perubahan pendapat (apa yang diharapkan)
-
Perubahan perilaku (apa yang anda harapkan)
-
Perubahan sosial (apa yang anda harapkan)
Jelaskan?
15. Bagaimana anda memposisikan diri anda sebagai guru BK terhadap siswa
dan lainnya? Jelaskan
16. Fungsi guru BK itu sendiri menurut anda di sekolah seperti apa? Jelaskan
17. Berapa lama anda biasanya memberikan informasi seks bebas kepada
siswa? Jelaskan
18. Bagaimana anda mensiasati siswa yang masih penasaran dengan informasi
mengenai seks bebas tersebut? Jelaskan
19. Dorongan apa yang membuat anda selaku guru BK harus melakukan atau
memberikan informasi seks bebas kepada siswa? Jelaskan
20. Dalam hal hambatan ketika anda melakukan komunikasi dengan siswa,
ada 4 macam. Yaitu, gangguan, kepentingan, motivasi dan prasangka.
-
Dalam hal gangguan semantik (bahasa) seperti apa hambatannya,
sedangkan gangguan mekanik (kegaduhan) seperti apa hambatannya.
Jelaskan?
-
Kepentingan,
bagaimana
hambatan
komunikasi
dalam
bentuk
kepentingan yang anda rasakan? Jelaskan
-
Motivasi, pernahkan anda memperhatikan motivasi siswa bisa jadi
hambatan, bagaimana anda mensiasatinya? Jelaskan
-
Prasangka, bagaimana anda mengubah prasangka yang salah dari
siswa mengenai informasi yang anda berikan terkait kurangnya
kemampuan anda menguasai isi informasi tersebut? Jelaskan
21. Apa feedback yang anda dapatkan dan siswa dapatkan ketika anda
memberikan informasi seks bebas kepada siswa di sekolah? Jelaskan
22. Menurut anda, perkembangan perilaku seksual remaja khususnya pelajar.
Harusnya seperti apa? Jelaskan
23. Bagaimana tindakan anda, ketika ada salah satu siswa yang menjadi
korban perilaku seks bebas? Jelaskan
24. Dampak seks bebas menurut anda seperti apa? Jelaskan
25. Bagaimana solusi mencegah perilaku seks bebas di kalangan siswa?
Jelaskan
PEDOMAN WAWANCARA INFORMAN
(WAKASEK KESISWAAN)
1. Bagaimana persepsi anda mengenai seks bebas di kalangan pelajar?
Jelaskan
2. Bagaimana persepsi anda terhadap pelajar yang telah melakukan perilaku
seks bebas? Jelaskan
3. Seperti apa komunikasi yang anda lakukan kepada siswa, mengenai
memberikan informasi seks bebas? Jelaskan
4. Apakah anda mempunyai waktu khusus, ketika siswa/anda ingin
menanyakan/memberikan perihal informasi seks bebas kepada anda?
Jelaskan
5. Apakah anda memahami apa yang disampaikan mengenai komunikasi
tersebut? Jelaskan
6. Sudah berapa kali anda terlibat dalam kegiatan mencegah perilaku seks
bebas pelajar? Jelaskan
7. Bagaimana bentuk kegiatan tersebut? Jelaskan
8. Langkah-langkah apa saja yang sudah anda lakukan dalam mencegah
perilaku seks bebas tersebut? Jelaskan
PEDOMAN WAWANCARA INFORMAN
(GURU AGAMA)
1. Menurut anda, bagaimana fenomena seks bebas di kalangan pelajar?
Jelaskan
2. Bagaimana pandangan anda terhadap pelajar yang telah melakukan
aktifitas seks bebas? Jelaskan
3. Menurut anda, penyebab pelajar melakukan aktifitas seks bebas tersebut?
Jelaskan
4. Adakah faktor atau dorongan pelajar melakukan aktifitas seks bebas
tersebut? Jelaskan
5. Menurut anda, dampak yang diakibatkan oleh perilaku seks bebas?
Jelaskan
6. Apakah anda mempunyai waktu khusus, ketika siswa/anda ingin
menanyakan/memberikan perihal informasi seks bebas kepada anda?
Jelaskan
7. Bagaimana solusi atau penanggulangan dampak seks bebas di kalangan
pelajar? Jelaskan
PEDOMAN WAWANCARA INFORMAN
(SISWA)
1. Bagaimana persepsi anda mengenai seks bebas di kalangan pelajar?
Jelaskan
2. Bagaimana persepsi anda terhadap pelajar yang telah melakukan perilaku
seks bebas? Jelaskan
3. Apakah anda memahami apa yang disampaikan mengenai komunikasi
tersebut? Jelaskan
4. Sudah berapa kali anda terlibat dalam kegiatan mencegah perilaku seks
bebas pelajar? Jelaskan
5. Bagaimana bentuk kegiatan tersebut? Jelaskan
6. Langkah-langkah apa saja yang sudah anda lakukan dalam mencegah
perilaku seks bebas tersebut? Jelaskan
PEDOMAN WAWANCARA INFORMAN
(PERAWAT)
1. Menurut anda, bagaimana fenomena seks bebas di kalangan pelajar?
Jelaskan
2. Bagaimana pandangan anda terhadap pelajar yang telah melakukan
aktifitas seks bebas? Jelaskan
3. Menurut anda, penyebab pelajar melakukan aktifitas seks bebas tersebut?
Jelaskan
4. Menurut anda perkembangan perilaku seksual remaja itu seperti apa?
Jelaskan
5. Bantuk-bentuk perilaku seks bebas yang sering dilakukan oleh pelajar
seperti apa? Jelaskan
6. Adakah faktor atau dorongan pelajar melakukan aktifitas seks bebas
tersebut? Jelaskan
7. Menurut anda, dampak yang diakibatkan oleh perilaku seks bebas?
Jelaskan
8. Menurut anda, bagaimana seharusnya seorang guru BK di sekolah dalam
melakukan komunikasi informasi dalam mencegah perilaku seks bebas
tersebut? Jelaskan
9. Apa pengaruh aktifitas seks bebas bagi perkembangan pelajar? Jelaskan
10. Bagaimana solusi atau penanggulangan dampak seks bebas di kalangan
pelajar? Jelaskan
PEDOMAN WAWANCARA INFORMAN
(BIDAN KANDUNGAN)
1. Menurut anda, bagaimana fenomena seks bebas di kalangan pelajar?
Jelaskan
2. Menurut anda, penyebab pelajar melakukan aktifitas seks bebas tersebut?
Jelaskan
3. Menurut anda, dampak yang diakibatkan oleh perilaku seks bebas?
Jelaskan
4. Apa pengaruh aktifitas seks bebas bagi perkembangan pelajar? Jelaskan
5. Bagaimana kondisi janin/rahim pada pelajar yang hamil dibawah umur?
Jelaskan
6. Bagaimana solusi atau penanggulangan dampak seks bebas di kalangan
pelajar? Jelaskan
LAMPIRAN 2
TRANSKRIP WAWANCARA
TRANSKRIP WAWANCARA KEY INFORMAN
(DRA. WONISAH)
1. Apa arti seks bebas menurut anda? Jelaskan
Jawaban : Menurut ibu seks bebas itu suatu perbuatan yang melanggar
norma susila di kalangan masyarakat dan pelajar khususnya yah di
sekolah.
2. Bagaimana anda menanggapi fenomena seks bebas dikalangan pelajar?
Jelaskan
Jawaban : Cara saya menanggapi fenomenanya itu adalah ibu dengan
jalan, ehh, melaksanakan apa namanya dengan bimbingan individual
namanya dengan masuk ke kelas dengan memberikan informasi tentang ...
akibat dari seks bebas itu sendiri. Menurut pendapat saya itu sangat tidak
bermoral, jadi saya menanggapinya itu sangat tidak bermoral, ehh.
Melanggar norman-norma sosial yang ada dikalangan pelajar yang ada di
siswa kita, yah.. Sangat tidak bermoral gitu intinya.
3. Apa penyebab seseorang melakukan tindakan seks bebas (atribusi
kausalitas) ?
-
Faktor situasional (lingkungan) dan faktor personal (diri sendiri)
Jelaskan
Jawaban : Dari lingkungan itu karena pergaulan, karena sering melihat.
Ehh,, media internet itu yah. Itu akibatnya ingin coba-coba, ingin itu,
akhirnya dia terjerumus. Penyebab dari siswa/diri sendiri yah itu, karena
ingin coba-coba, karena melihat didalam internet itu. Yah, makanya itu dia
ingin coba-coba Jadi karena siswa itu melihat gambar-gambar porno atau
yang di internet itu loh film-film blue, makanya anak-anak itu ingin cobacoba disamping itu dia mungkin ada juga yang berkelainan khusus.
4. Ketika anda mendiskusikan atau memberikan informasi dengan siswa,
sejauh mana anda berpendapat bahwa siswa tersebut jujur ketika anda
menanyakan perihal mengenai seks bebas (atribusi kejujuran)? Jelaskan
Jawaban : Kalau ibu setelah masuk yah, dan memberikan informasi
tentang seks bebas itu. Misalnya, siswa siapa yang pernah melakukan itu
jarang siswa yang jujur yah. Saya juga percaya siswa itu tak mungkin lah
seumur dia itu melakukan kaya gitu perbuatan amoral.
5. Seperti apa pemahaman seks bebas di lingkungan SMA Negeri 1
Cinangka? Jelaskan
Jawaban : Menurut saya di SMA Cinangka siswa-siswi saya itu sangat
kecil yah, jadi dia itu positif gak pernah yang namanya melakukan seks
bebas itu yaitu di dalam kelas yah. Kalau di luar kelas itu bukan urusan
guru BK yah.
6. Seperti apa pola komunikasi yang diterapkan oleh anda kepada siswa
dalam menyampaikan informasi mengenai seks bebas? Jelaskan
Jawaban : Pola komunikasinya adalah satu, dengan bimbingan classical,
kita memberikan semuanya kepada seluruh siswa, dan juga ibu
menawarkan bagi yang merasakan dirinya masih kurang paham atau apa.
Tolong, langsung aja konseling individu gitu yah.
7. Apakah dengan menggunakan pola komunikasi tersebut, anda yakin bisa
memberikan pemahaman kepada siswa mengenai seks bebas? Jelaskan
Jawaban : Nah, Insya Allah semuanya bisa yah. Masuk ke dalam siswasiswa pun paham yah.
8. Adakah faktor pendukung (pihak ke 3) ketika anda memberikan informasi
kepada siswa mengenai seks bebas? Jelaskan
Jawaban : Hmm, kalau setahu ibu yang di sekolah itu guru BK dan
kesiswaan, kalau yang dari luar itu belum. Tapi, mungkin dalam bentuk
sosialisasi, workshop gitu yah itu yang kalau di luar. Tapi kalau yang
didalam sekolah khusus guru BK dan kesiswaan. Dari luar yang
membantu yah itu BNN (Badan Narkotika Nasional) sama BKKBN.
9. Bagaimana anda mencari faktor pendukung tersebut, guna membantu anda
dalam memberikan informasi tersebut? Jelaskan
Jawaban : Saya pernah ke dinas sosial yah, dan meminta kepada dinas
sosial yah, untuk ke apa yah ke sekolah untuk memeriksa urine atau apa
gitulah yah dalam hubungannya dengan sekolah kepada siswa-siswa kami
tapi sampai saat ini dari pihak dinas kesehatan belum, tapi ibu sudah
mencoba untuk memberikan, meminta yah untuk pihak dinas ‘coba sih ke
sekolah’.
10. Bisa anda sebutkan atau jelaskan, faktor-faktor pendukung apa saja yang
membantu anda dalam memberikan informasi seks bebas kepada siswa?
Jelaskan
Jawaban : Bantuannya yah berupa informasi, seminar, workshop,
sosialisasi kaya gitu yah. Kadang mengundang siswa-siswa kita ke
misalnya workshop gitu yah sosialisasi.
11. Apa anda merasakan perbedaan fenomena seks bebas pelajar jaman
sekarang dengan jaman dahulu? Jelaskan
Jawaban : Ehh,,, Ibu merasakan yah karena ibu sudah tahu yah. Oh...
Jaman sekarang itu yah luar biasa dimana alat-alat itu mendukung yah.
Baik lewat media yah internet, kalau dulu kan belum ada internet. Ini
sangat sekali, sangat....... Mendukung untuk melakukan itu.
12. Mengapa tingkat fenoma seks bebas dikalangan pelajar semakin
meningkat? Jelaskan
Jawaban : Hmm,,, mengapa semakin meningkat yah. Karena itu,
didukung oleh faktor lingkungan yah, faktor media sosial, faktor internet.
Itu yang sangat, sangat mendukung. Faktor pergaulan juga yah, itu lewat
film blue. Uh, itu pokoknya sangat luar biasa itu.
13. Seperti apa ciri-ciri orang yang telah melakukan seks bebas, menurut
kacamata anda? Jelaskan
Jawaban : Eh,, ciri-cirinya yah. Kalau menurut ibu, satu. Eh,, jalannya
sudah agak lain, terus,, ini apa. Badannya itu kalau di sentuh oleh ibu itu
agak apa lembek gitu yah, kalau itu kan masih kerasa gitu yah. Itu kalau
dilihat sepintas yah, terus juga pinggulnya juga yah, semuanya
payudaranya juga. Ibu kan seorang ibu jadi tahu gitu.
14. Dalam memberikan informasi mengenai seks bebas, tentu ada tujuan nya.
Apa yang anda harapkan dari tujuan tersebut, dilihat dari :
-
Perubahan sikap (apa yang diharapkan)
Jawaban : Sikap itu, perubahan sikap yang saya perhatikan dalam
siswa itu harus merubah sikapnya yah. Jadi yang tadinya berpandangan
negatif harus positif, bahwa melakukan hal itu dilarang oleh agama
yah, disamping itu dosa yah. Pokoknya jangan sampai melakukan halhal yang dilarang oleh agama.
-
Perubahan pendapat (apa yang diharapkan)
Jawaban : Pendapat siswa yah, pendapat siswa itu ‘nong, nak... kamu
itu berpendapat bahwa seks bebas kalau dilakukan itu akan merugikan
diri kamu sendiri’ gak merugikan orang lain, diri kamu sendiri yang
gitu dalam hal berpendapat.
-
Perubahan perilaku (apa yang anda harapkan)
Jawaban : Perilakunya supaya dia itu tidak melakukan yah, dan harus
berbuat hal-hal yang positif untuk menghindari hal-hal yang, maaf seks
bebas itu sangat tidak bermoral.
-
Perubahan sosial (apa yang anda harapkan)
Jawaban : Lingkungan sosial yah, lingkungan sosial dalam
masyarakat. Kalian juga memberikan pengertian kepada teman-teman
jangan sampai eh,,, melakukan seks bebas, karena itu tidak sesuai
dengan norma agama, norma susila, norma sosial, kamu di masyarakat
harus
saling
memberikan,
eh.,,,,
apa
namanya.
Memberikan
pengetahuan yang baik, bahwa hal itu tidak dilakukan itu tidak akan
menguntungkan akan merugikan.
15. Bagaimana anda memposisikan diri anda sebagai guru BK terhadap siswa
dan lainnya? Jelaskan
Jawaban : Memposisikan diri, saya sebagai guru BK itu memposisikan
diri ehhh,, sebagai teman. Teman dalam berbagi rasa, sharing,
bersosialisasi. Kamu anggap ibu itu sebagai ibu kamu sendiri, atau teman
kamu sendiri, biar kita itu enak. Kita itu akan memecahkan masalah
dengan baik, dan terhindar dari hal yang tidak baik.
16. Fungsi guru BK itu sendiri menurut anda di sekolah seperti apa? Jelaskan
Jawaban : Guru BK itu sangat penting yah, bahwa untuk memberikan
informasi-informasi yang bersifat sosial yah. Itu yang tidak disampaikan
oleh guru mata pelajaran, maka disampaikan oleh guru BK termasuk seks
bebas ini disampaikan oleh guru BK.
17. Berapa lama anda biasanya memberikan informasi seks bebas kepada
siswa? Jelaskan
Jawaban : Alhamdulillah, saya dikasih jam 2 jam dalam 1 minggu. Itu
bertemu dengan siswa-siswa yang saya asuh, kadang diruang BK kadang
diruang kelas bimbingan classical itu.
18. Bagaimana anda mensiasati siswa yang masih penasaran dengan informasi
mengenai seks bebas tersebut? Jelaskan
Jawaban : Nah, makanya. Kalau kalian itu, yang masih tidak jelas dan
penasaran dan mungkin ini menyangkut hal-hal yang sangat pribadi.
Tolong, kamu ketemu ibu, temui ibu dengan jalan kita konseling individu.
19. Dorongan apa yang membuat anda selaku guru BK harus melakukan atau
memberikan informasi seks bebas kepada siswa? Jelaskan
Jawaban : Dorongan yang sangat kuat, kalau negara ini akan hancur yah.
Kalau seandainya siswa-siswa kita itu, tidak diberikan pengarahan tentang
seks bebas itu. Karena itu akan merugikan dirinya apalagi negara itu akan
sangat rugi.
20. Dalam hal hambatan ketika anda melakukan komunikasi dengan siswa,
ada 4 macam. Yaitu, gangguan, kepentingan, motivasi dan prasangka.
-
Dalam hal gangguan semantik (bahasa) seperti apa hambatannya,
sedangkan gangguan mekanik (kegaduhan) seperti apa hambatannya.
Jelaskan?
Jawaban : Jadi ada bahasa-bahasa yang misalnya, saru gitu bahasa
jawa yah. Maka untuk memperjelas hal itu yah itu diadakan kalau
kalian belum paham tolong masuk ke ruangan ibu ‘ibu saya kebelum
paham’ dan terus nanti yang tidak paham itu masuk aja nanti ke ruang
ibu ‘ibu tadi saya belum jelas, tolong jelaskan’ . Jadi misalnya ibu
mengatakan hal-hal yang belum dia itu kenali, itu memang hore itu
yah si anak itu bersorak-sorei.
-
Kepentingan,
bagaimana
hambatan
komunikasi
dalam
bentuk
kepentingan yang anda rasakan? Jelaskan
Jawaban : Nah,, kepentingannya yah itu, yang jelas saya
kepentingannya satu. Supaya anak-anak itu jangan sampai terjerumus
ke dalam hal seks bebas itu. Dua, kita harus taat kepada Allah yah,
perintah Allah kita jangan sampai melakukan sebelum kita menikah.
-
Motivasi, pernahkan anda memperhatikan motivasi siswa bisa jadi
hambatan, bagaimana anda mensiasatinya? Jelaskan
Jawaban : Eh,, ibu dengan jalan masuk tadi ke kelas yah. Memotivasi
bahwa hal-hal yang tidak perlu kalian lakukan jangan dilakukan, terus
bahwa hal-hal kaya gitu juga tidak bagus untuk kamu. Dan kamu itu
harus semangat belajar, tugas kamu adalah belajar, bukan pacaran
bukan itu yah. Pokoknya kamu tugas kamu adalah belajar, belajar, dan
belajar. Pendidikan, pendidikan, pendidikan. Education, education,
bukan seks bebas jauhkan hal itu.
-
Prasangka, bagaimana anda mengubah prasangka yang salah dari
siswa mengenai informasi yang anda berikan terkait kurangnya
kemampuan anda menguasai isi informasi tersebut? Jelaskan
Jawaban : Untuk mengatasi hal itu yah, ibu menjelaskan dengan
sejelas-jelasnya, dengan memberikan contoh yang konkret. Sehingga
siswa itu paham, oh yah,, ternyata orang-orang yang melakukan seks
bebas itu eh rugi segala-galanya.
21. Apa feedback yang anda dapatkan dan siswa dapatkan ketika anda
memberikan informasi seks bebas kepada siswa di sekolah? Jelaskan
Jawaban : Feedbacknya yah, hmmm,, siswa itu biar paham yah. Bahwa
seks bebas itu tidak bagus, tidak bermoral, tidak bersusila, dan kamu itu
harus sampai yang sabar, sampai ke jenjang pernikahan sampai kamu bisa
melakukan itu. Dan kamu siswa-siswa ku yang manis, kalian jauhkan halhal yang itu, kamu ke arah yang positif selalu memberikan kreasi.
Tunjukkan kreasi kamu yang terbagus, jangan memikirkan hal-hal yang
belum seharusnya kamu kerjakan dan lakukan.
22. Menurut anda, perkembangan perilaku seksual remaja khususnya pelajar.
Harusnya seperti apa? Jelaskan
Jawaban : Perkembangan perilaku seksualnya yah, jadi kalau hal-hal
yang perilaku seksual yang umur usia sekolah yah, harus belajar.
Misalnya, seumur remaja, dia juga harus membatasi yah, masa remaja itu
adalah masa pancaroba dimana kamu itu bingung. Terus dan setelah kamu
dewasa, kamu juga akan berkembang melalui pengetahuan kamu akan
tahu sendiri semakin dewasa kamu akan semakin paham.
23. Bagaimana tindakan anda, ketika ada salah satu siswa yang menjadi
korban perilaku seks bebas? Jelaskan
Jawaban : Nah,,, seandainya ada siswa yang ibu tahu bahwa kamu
melakukan seks bebas, maka ibu itu panggil, dan ibu tidak akan
mengeluarkan, selama dia tidak hamil yah. Seandainya ibu tahu lagi, ibu
akan panggil saya kasih ‘tolong nak, jangan sampai lagi. Kamu harus
sadar, jangan sampai terulang kembali’ harus dikasih tahu kelemahan dan
kelebihannya.
24. Dampak seks bebas menurut anda seperti apa? Jelaskan
Jawaban : Dampaknya, dampaknya itu sangat luar biasa. Memalukannya
luar biasa, mengerikan yah, pokoknya tidak bermoral, tidak berasusila,
pokoknya merugikan diri sendiri juga masyarakat, orang tua malu, guru
apalagi, mencemarkan nama baik sekolah.
25. Bagaimana solusi mencegah perilaku seks bebas di kalangan siswa?
Jelaskan
Jawaban : Solusinya untuk mencegah yah, jadi salah satu jalan untuk
mencegah preventif sekolah itu yaitu dengan memberikan bimbingan
individual, konseling face to face wawancara semuanya dilakukan untuk
memberikan pengertian bahwa seks bebas itu tidak bagus, tidak baik untuk
kalian, kalian harus membentengi diri dari hal-hal yang tidak baik
terutama setan itu harus dilawan jangan diikuti atau dituruti, kamu itu
harus bisa membentengi diri dengan iman.
TRANSKRIP WAWANCARA INFORMAN
(Drs. H. SUBKI SYARBINI RAIS)
1. Bagaimana persepsi anda mengenai seks bebas di kalangan pelajar?
Jelaskan
Jawaban : Kalau dari sudut pandang persepsi siswa seks bebas, itu selalu
berkonotasi dengan hal-hal sifatnya amoral atau negatif. Tapi kalau
dikaitkan dengan BP dalam hal ini, BP hanya bisa menyampaikan hal
tersebut memang negatif. Tapi melihat dari suatu kenyataan, seks bebas
munculnya dimana itu, saya yakin siswa belum tahu persis wujudnya.
Yang tahu sudut pandang siswa itu amoral tidak bermoral, tidak beretis
lah, tidak berbudaya lah, bukan budaya kita lah. Tapi bentuk seks
bebasnya kaya gimana tuh, wujudnya gimana, apakah seks bebas itu yang
hamil diluar nikah apakah termasuk seks bebas. Apakah ada kaitannya,
saya kira yakin siswa, persepsi kita pandangannya kalau negatif amoral
tapi wujud dari hal itu saya tidak tahu persis. Wujud seks bebas itu apa
hanya dilihat dari bergaul saja, bergaul-gaul bebas sehingga dia melakukan
hal seperti itu apakah itu termasuk pergaulan bebas.
2. Bagaimana persepsi anda terhadap pelajar yang telah melakukan perilaku
seks bebas? Jelaskan
Jawaban : Kembali ke aturan sekolah, artinya sebaiknya memang
seharusnya itu, sekolah jangan semena-mena langsung mengeluarkan
siswa itu. Inilah peran BP, sehingga harus ditelusuri dulu, kenapa dia
melakukan hal seperti itu. Timbulnya pembinaan, tapi yang terjadi,
kadang-kadang yang dianggapnya sudah menyalahi aturan, tidak bermoral.
Siswa bisa saja dikeluarkan, karena aturannya bertindak amoral. Inilah
yang menjadi pertentangan peran BP dalam suatu kenyataan, BP kan
sifatnya membimbing, kok siswa yang sudah begitu dibimbing. Narkoba,
misalnya, kalau bagi BP, kalau ada yang kecanduan cenderung dia dibina
tapi dalam suatu aturan tata tertib misalnya, orang yang pengedar narkoba
itu tidak bisa ditolerir sebagai siswa gitu. Dia sudah melakukan tindakan,
apalagi dia mengedarkan kan harus dikeluarkan. Jadi dari sudut pandang
BP hal itu harus dibina, sudut pandang saya sebagai kesiswaan itu sudah
menyalahi aturan ketentuan tertentu. Peran BP itu harus seperti itu, bukan
jadi sebagai eksekutor, tapi dibina. Tapi sementara orang lain, di luar ke
BP an misalnya. Dia akan berpendapat, kenapa BP tidak mengeluarkan
saja seakan-akan hal seperti itu di lindungi.
3. Seperti apa komunikasi yang anda lakukan kepada siswa, mengenai
memberikan informasi seks bebas? Jelaskan
Jawaban : Banyak hal, karena hal tersebut termasuk kedalam BPN,
mengenai komunikasi dalam hal buruknya tentang seks bebas. Salah
satunya sosialisasi, dulu pernah ada kerja sama. 2 tahun yang lalu,
Wakasek dengan BP sosialisasi tentang HIV itu kan dari narkoba lari ke
seks bebas. Kedua, saya sendiri kaitannya karena saya sendiri guru
Sosiologi, karena tidak jauh dengan masalah sosial. Saya mengadakan
deklarasi tentang narkoba, kedua mengadakan lomba poster anti narkoba,
ini kan komunikasi. Semakin banyak peserta dalam lomba itu, semakin
banyak dia mengetahui akan apa itu narkoba. Itu kaitannya dengan saya
guru Sosiologi, ini suatu komunikasi kepada siswa yang efektif yang
menumbuhkan bahwa narkoba itu bahaya dari sudut pandangnya dia
setelah itu saya tempel.
Ada, dalam hal komunikasi. Misalnya ada
kegiatan dari tingkat kabupaten, misalnya Dispora untuk mengirim siswa
dalam sosialisai narkoba HIV. Kami selalu mengirimkan perwakilan siswa
4. Apakah anda mempunyai waktu khusus, ketika siswa/anda ingin
menanyakan/memberikan perihal informasi seks bebas kepada anda?
Jelaskan
Jawaban : Kalau waktu secara khusus sudah engak, Cuma itu sangat
tergantung kondisi, yang memang yang uniknya. Tidak ada siswa yang
mau konsultasi dengan saya, seakan-akan saya tidak memberikan waktu
yang khusus, sehingga berbaliklah strategi dengan cara sosialisasi itu,
lomba poster tentang narkoba itu, deklarasi gitu. Jadi dibuatnya seperti itu,
jadi siswa sendiri tidak ada sengaja lah konsul ke BP tentang narkoba,
saya pikir begitu. Makanya dengan cara sosialisasi itu cara yang paling
efektif.
5. Apakah anda memahami apa yang disampaikan mengenai komunikasi
tersebut? Jelaskan
Jawaban : Yah, tentunya mengambil intisari dari sosialisasi itu. Artinya
begini, tidak semua bahan itu kita informasikan kembali kepada siswa
lainnya. Point-point penting dari sosialisasi itu yang disampaikan kepada
siswa lainnya itu. Karena kan orang yang sosialisasi tentunya dia yang
lengkap, dari A sampai Z. Tapi orang yang tidak ikut, masa dia harus ikut
A sampai Z lagi, yang penting point-point pentingnya yang mengarah pada
bahaya seks bebas atau narkoba.
6. Sudah berapa kali anda terlibat dalam kegiatan mencegah perilaku seks
bebas pelajar? Jelaskan
Jawaban : Itu lebih 3x, seingat saya untuk tahun ajaran sekarang di Hotel
Marbella dalam rangka dengan narasumber tentang bahaya narkoba terus
sosialisasi HIV AIDS pada saat MOPDB, LDKS itu kan kegiatan-kegiatan
yang efektif untuk memberikan penyuluhan kepada siswa.
7. Bagaimana bentuk kegiatan tersebut? Jelaskan
Jawaban : Literasi media, sosialiasi, deklarasi, tentunya pendekatanpendekatan siswa yang bermasalah. Masalahnya, pendekatan juga suatu
cara juga, Cuma memang tidak ada siswa yang sengaja, jadi kita memang
tidak tahu apakah segan.
8. Langkah-langkah apa saja yang sudah anda lakukan dalam mencegah
perilaku seks bebas tersebut? Jelaskan
Jawaban : Langkah yang pertama adalah, selalu memberikan nasihat atau
peringatan baik yang tadi saya sebutkan tadi. Tentunya harus kerja sama
dengan BP tentang bahaya itu, disamping itu yah kami ingin sekali ada
kegiatan-kegiatan yang sifatnya langsung mempengaruhi jiwa mereka.
Misalnya, lomba poster, lomba karikatur narkoba, deklarasi pernyataan itu.
Ini kan untuk menumbuhkan jiwa anti narkoba.
TRANSKRIP WAWANCARA INFORMAN
(Dra. ROHANAH)
1. Bagaimana persepsi anda mengenai seks bebas di kalangan pelajar?
Jelaskan
Jawaban : Yah kalau kita melihat fenomena sekarang yah, bagaimana
keadaann seks bebas di kalangan pelajar. Yah memang ini sudah nampak
yah, dikalangan pelajar. Dengan mengawali mereka dengan menghindari
hubungan antar kawan biasa, hingga akhirnya lama-lama menjadi akrab
sering bertemu akhirnya mereka kan sampai mengadakan hubungan
pacaran namanya yah, akhirnya kan janjian di luar. Setelah itu mereka
ternyata pinter, misal ada kegiatan disekolah, mereka tidak ikut kegiatan
disekolah. Tapi ke orang tua, dia bilangnya ikut. Pulang sore ada kegiatan,
ternyata, waktu-waktu itu dia gunakan di luar sekolah. Nah awalnya dari
situ, nih fenomena yang terjadi di SMA Cinangka kan, ataupun di sekolah
lain pun sama seperti ini. Tapi gak banyak, hanya beberapa orang. Bisa
kita lihat, terkadang istirahat ada anak yang sedang duduk berdua, Cuma
itu tidak semuanya, hanya beberapa orang saja. Dan itupun kita sudah
mencarikan solusi, dengan cara kita tegur. Bukan saja guru agama, guru
lain pun kita tegur mereka, karena memang dakwah itu kan bukan tugas
guru agama. Tapi tugas semua manusia, Ammar Ma’ruf Naif Munkar.
2. Bagaimana persepsi anda terhadap pelajar yang telah melakukan perilaku
seks bebas? Jelaskan
Jawaban : Yah, ternyata yang sudah-sudah gitu yah. Anak sudah
melakukan seks bebas, umumnya yang terjadi. Anak-anak pada
kebablasan, kebablasan dikalangan pelajar mana saja pada umumnya
akhirnya terjadi kehamilan juga anak-anak. Ternyata setelah terjadi
kehamilan, barulah muncul penyesalan, setelah anak melahirkan begitu
melihat temannya masih sekolah. Disitu baru mereka menyesal, andaikan
waktu saya bisa menjaga diri, enak banget sama anak-anak bisa sekolah
lanjut. Ternyata penyesalan itu ada, Cuma kita disini, guru agama, guru
umum, guru siapapun. Selalu kasih pengarahan dikelas, bahwa kalian itu
haruskan jaga pergaulan, masalahnya kalau sudah terlanjur, kalian tidak
bisa lagi memperbaiki diri, karena sudah tercemar namanya seperti itu.
3. Menurut anda, penyebab pelajar melakukan aktifitas seks bebas tersebut?
Jelaskan
Jawaban : Yang paling inti pendidikan kembali ke orang tua dirumah,
yang namanya sekolah itu kan, kita hanya beberapa jam, 7:15 masuk jam 2
kita keluar. Sedangkan waktu yang paling banyak itu dirumah, di orang
tua. Nabi sendiri sudah menyatakan dalam hadist nya, jadi setiap anak
yang terlahir di muka bumi itu, bersih suci. Sekarang mau anak itu
Yahudi, mau agama Nasrani ataupun istilahnya mau anak baik itu
perilakunya, mau tidak baik. Itu kan bagaimana pendidikan orang tua di
dalam rumah yah, karena pendidikan utama itu orang tua. Mencontohkan
anak bagaimana dia berperilaku, bagaimana si orang tua itu berbicara,
komunikasi bapak dengan anak harus bagaimana, anak dengan orang tua
bagaimana, ketika salah harus saling meminta maaf, kan kalau terjalin
komunikasi yang baik, terbuka setiap masalah terbuka kepada orang tua,
kalau terjalin komunikasi yang baik, yah Insya Allah kan ada kedekatan
antara anak dengan orang tua. Yah, akhirnya mereka tidak ada yang
disembunyi-sembunyikan, dan sudah terbiasa dengan didikan dengan
agamanya, terutama agamanya dirumah. Ketika dasar agama nya kuat
dirumah, Insya Allah anak itu tidak mudah untuk menyimpang, ketika
menyimpang sedikit, namanya manusia yah. Yah tetap mereka akan
kembali lagi, karena basic saya di agamanya sudah di keluarga. Jadi
kesimpulannya, yang paling penting itu adalah pendidikan keluarga dulu
tapi penanaman agama.
4. Adakah faktor atau dorongan pelajar melakukan aktifitas seks bebas
tersebut? Jelaskan
Jawaban : Yah, kalau dari diri kita sendiri pasti ada, karena kita punya
nafsu. Tapi nafsu ini akan bisa kita kendalikan, ketika kita punya dasar
yang kuat dari agamanya nih di keluarga. Jadi keluarga itu ada tontonan,
terkadang anak dibebaskan oleh orang tua nonton film itu di TV atau
sinetron yang tayangannya ciuman atau berpakaian diatas lutut. Andai kata
orang tua menyetir dirumah, ‘nak nanti belajar dulu, tv dimatikan’. Atau
ketika nonton tv anak itu ada orang tua, ‘nak matikan, tayangannya tidak
bagus’. Andai kata dari keluarga sudah di setir begitu, nah nafsu anak itu
tidak akan muncul terangsang, terangsang nafsu nya anak itu karena habis
nonton, habis melihat film-film yang porno. Andai kata mereka tidak
dirangsang dengan itu, Insya Allah dengan didikan agama yang kuat, nafsu
akan terkendali. Tapi kenyataannya, yang muncul dari mereka sendiri,
karena memang ada rangsangan seperti itu.
5. Menurut anda, dampak yang diakibatkan oleh perilaku seks bebas?
Jelaskan
Jawaban : Dampaknya, yah diantaranya jelas masa depan anak semuanya
sudah, artinya masa depan dia sendiri hancur. Artinya citra dia jelek, citra
keluarga jelek, sekolah jelek, yang jelas orang itu kalau udah jelek.
Selamanya, sulit dipercaya. Ah.... sebutannya wanita yang tidak baik-baik
bukan, itu yang repot yah. Dampak berikutnya, dimasyarakat juga akan
dikucilkan, akan dipermalukan oleh orang, tinggi rendahnya martabak
kita, bisa tidak kita menjaga diri kita sendiri kan, dengan menjaga
keimanan kita, dampaknya seperti itu. Jadi yah, masa depan dia fatal gitu
kan.
6. Apakah anda mempunyai waktu khusus, ketika siswa/anda ingin
menanyakan/memberikan perihal informasi seks bebas kepada anda?
Jelaskan
Jawaban : Yah, Alhamdulillah, karena dari awal kita sudah minta kepada
Allah, Ya Allah.. andai kata engkau takdirkan saya disini menjadi CPNS.
Saya akan pertaruhkan semuanya jiwa raga, itu sudah dibuktikan. Jadi
anak bukan hanya disekolah konsultasinya, konsultasi tentang seks,
tentang keluarganya, atau tentang semuanya. Jangankan disekolah, diluar
sekolah dilayani, bahkan malam sampai jam 2 malam anak nelepon sms
dilayani. Tidak ada istilahnya ‘oh menganggu’ batasan gak. Kita selalu
open buat anak-anak, karena memang tugas guru agama, jam berapa pun
kita jangan menolak, karena ini kan bagian dari dakwah islam. Karena
kalau kita nolak, berarti kita terhenti untuk meluruskan orang menjadi baik
kan. Jadi guru agama tidak pernah berhenti untuk selalu dakwah islam
nya.
7. Bagaimana solusi atau penanggulangan dampak seks bebas di kalangan
pelajar? Jelaskan
Jawaban : Kalau misalnya, yang kita lakukan yah. Kalau kita lagi melihat
anak melakukan itu, baru berduaan saja jalan. Kita panggil dia, kita bawa
ke suatu tempat yang memang tidak orang lain gak tahu khawatir malu.
Kita disitu kasih pengarahan dari hati ke hati, pelan-pelan mulai dikasih
pengertian mengenai bagaimana agama, kenapa agama melarang begini,
karena akibatnya akan fatal. Pelan-pelan, Alhamdulillah itu anak-anak
mulai menerima. Itu setiap ada yang, jadi kita setiap ada yang melihat atau
ada yang melapor, kita panggil. Nanti setelah anak sudah dipanggil oleh
kita, ternyata masih melakakukan juga, maka kita kerja sama dengan BP
dengan Wali Kelas, jadi BP SMA Cinangka itu ada satu kesatuan antara
guru Agama, Wali Kelas dan BP. Jadi kita kerja sama, maka kita barengbareng meluruskan anak yang memang melakukan sex, seperti itu yang
memang sudah-sudah dilakukan.
TRANSKRIP WAWANCARA INFORMAN
(PANJI WALI RAKSA)
1. Bagaimana persepsi anda mengenai seks bebas di kalangan pelajar?
Jelaskan
Jawaban : Ehh,, menurut saya sih itu sebuah kelakuan yang sangat
menyimpang dari moral atau budaya agama kita sendiri gitu. Intinya
sesuatu yang tidak pantas kita pandang, yang memang itu harus ada
pencegahan-pencegahannya baik itu dari pihak keluarga maupun pihak
masyarakat.
2. Bagaimana persepsi anda terhadap pelajar yang telah melakukan perilaku
seks bebas? Jelaskan
Jawaban : Eh,,, dari kalangan pelajar. Ohh, banyak sekali justru. Eh,, seks
bebas banyak dilakukan dari kalangan pelajar bahkan mulai dari SD, dari
SMP, dari SMA, saya pernah mengikuti satu training itu entah apa.
Pokokny materinya tentang seks bebas, jadi mulai dari SD, SMP, SMA itu
banyak sekali bahkan kuliah yang sudah kerja itu. Mulai awalnya, mereka
dari pacaran mereka itu, mulai dari pacaran akhirnya menimbulkan
syahwat atau nafsu-nafsu yang akhirnya menyebabkan mereka terjerumus
ke hal-hal yang seperti itu seks bebas seperti itu. Ehh, kita cukup
mengingatkan dan memberikan pelajaran-pelajaran tentang ke Islaman
gitu, jadi walaupun kita ada sedikit ilmu tentang agama yah kita
sampaikan walaupun sedikit. Yang penting seseorang tersebut telah kita
ingatkan dan sudah kita tegor, karena kewajiban kita sebagai muslim itu
mengingatkan ketika seseorang sesama umat muslim itu melakukan hal
yang salah gitu.
3. Apakah anda memahami apa yang disampaikan mengenai komunikasi
tersebut? Jelaskan
Jawaban : Eh,,,, memahami sekali. Bahwa sesuatu yang, hal-hal seperti
itu yah memang harus dicegah mulai dari kesadaran diri sendiri gitu,
bahwa hal yang seperti itu. Ehhh,, hal-hal yang sangat menimbulkan efek
yang tidak baik terhadap diri kita, terhadap orang lain begitu, begitupun
terhadap masyarakat.
4. Sudah berapa kali anda terlibat dalam kegiatan mencegah perilaku seks
bebas pelajar? Jelaskan
Jawaban : Ehh,,, kalau gak salah baru berapa yah... 2 kali kalau gak salah.
Tapi saya lupa tempatnya dimana saja.
5. Bagaimana bentuk kegiatan tersebut? Jelaskan
Jawaban : Mulai dari,,,, kita kan disini ada mading yah, disini mading
memanfaatkan ketika informasi-informasi seperti ini lagi marak-maraknya
gitu, jadi mading memanfaatkan seperti menempel apa sih, yah di madingmading menempel informasi tentang seks, bahaya seks seperti apa,
pencegahannya seperti apa yang mereka lakukan, menyebarkan informasi
melalui eh berita tertulis.
6. Langkah-langkah apa saja yang sudah anda lakukan dalam mencegah
perilaku seks bebas tersebut? Jelaskan
Jawaban : Eh,,,, yang pertama kita sebagai umat Islam harus menguatkan
dan ehh,, lebih banyak mempelajari ilmu-ilmu tentang agama Islam.
Ketika kita sudah paham, kita sedikit demi sedikit harus bisa menjalankan
dan menguatkan keimanan seseorang, karena yang membuat seseorang itu
terjerumus kepada seks bebas itu, karena mereka tidak mempunyai
pondasi keimanan yang kuat seperti itu.
TRANSKRIP WAWANCARA INFORMAN
(DWI RISKA MAULIA)
1. Bagaimana persepsi anda mengenai seks bebas di kalangan pelajar?
Jelaskan
Jawaban : Ehh,, jadi banyak sekarang itu udah gak asing lagi sama kata
seks bebas itu. Dijelasin disana juga, apalagi diperkotaan banyak banget,
kaya gitu.
2. Bagaimana persepsi anda terhadap pelajar yang telah melakukan perilaku
seks bebas? Jelaskan
Jawaban : Ehh,, yah paling efeknya hamil diluar nikah dan akhirnya ehh,,
apa yah bisa keluar sekolah, bikin malu keluarga sendiri.
3. Apakah anda memahami apa yang disampaikan mengenai komunikasi
tersebut? Jelaskan
Jawaban : Yah paham banget, jadi nambah wawasan. Selain seks bebas,
kita juga diterangin tentang narkoba gitu terusnya, macam-macam narkoba
itu kaya gimana bentuknya terus efek samping dari narkoba terus
pemakaiannya bagaimana itu diterangin banyak disitu.
4. Sudah berapa kali anda terlibat dalam kegiatan mencegah perilaku seks
bebas pelajar? Jelaskan
Jawaban : Baru 1x itu kemaren yang di Marbella.
5. Bagaimana bentuk kegiatan tersebut? Jelaskan
Jawaban : Pernah diluar, tempatnya sama di Marbella. Tapi apa yah,
tentang kesehatan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana gitu.
Sosialiasi kesehatan reproduksi dan keluarga berencana.
6. Langkah-langkah apa saja yang sudah anda lakukan dalam mencegah
perilaku seks bebas tersebut? Jelaskan
Jawaban : Paling langkah-langkahnya itu, ngingetin orang aja. Kalau
untuk riska sendiri menghindari pacaran, selain itu, jadi ikut-ikutan
kegiatan keagamaan jadi itu kan bisa apa yah menghindari lah mencegah.
TRANSKRIP WAWANCARA INFORMAN
(AHMAD YANI Amd. Kep)
1. Menurut anda, bagaimana fenomena seks bebas di kalangan pelajar?
Jelaskan
Jawaban : Ini kalau tidak salah untuk masalah fenomena itu kita mestinya
punya data yah, ada data. Ada data dari sekolah misalkan, berapa tahun
mereka melakukan seks bebas udah berapa tahun, terus tingkatan kelas
berapa mereka melakukan seks bebas. Disini untuk masalah fenomena,
kita harus mempunyai data yang real, dari pihak sekolah yah. Namun
dalam hal ini, ehhh..... saya pribadi yah, untuk pendataan seks bebas itu di
puskesmas itu belum ada belum punya. Mungkin yang ada itu, mungkin di
kepolisian gitu ada, soalnya kalau dikita kan puskesmas hanya sebatas
memberikan penyuluhan. Kalau kita disangkutkan ke orang tua, untuk
seks bebas dikalangan remaja ini sudah jelas-jelas dan pasti nya kita tidak
mengingikan hal yang seperti itu, karena dalam hal ini seks bebas itu yang
diluar daripada nikah, itu sangat-sangat mencoreng nama baik keluarga,
nama baik sekolah, nama baik pribadinya itu sendiri. Sehingga nantinya
kalau mereka tidak bisa dibimbing baik disekolah ataupun dikeluarga
dirumah yah, itu nanti mereka akan melakukan seks bebas karena
ketidaktahuan dan karena tidak ada bimbingan dari orang tua dan sekolah.
2. Bagaimana pandangan anda terhadap pelajar yang telah melakukan
aktifitas seks bebas? Jelaskan
Jawaban : Kalau pandangan pribadi saya, itu sudah jelas-jelas tidak ehh,,,
mengingikan orang yang melakukan seks bebas diluar nikah. Karena ini
sangat berbahaya sekali, terutama ini menyangkut daripada ajaran agama,
terus menyangkut daripada kejelakan keluarga dan rumah tangga. Jadi
menurut pribadi saya, saya tidak menyetujui, tidak setuju dengan adanya
seks bebas yang dilakukan oleh pelajar.
3. Menurut anda, penyebab pelajar melakukan aktifitas seks bebas tersebut?
Jelaskan
Jawaban : Jadi gini, ada beberapa faktor yang mereka itu melakukan seks
bebas. Pertama, dari perilaku mereka itu sendiri. Kedua, dari segi ekonomi
misalkan. Terus yang ketiga, dari faktor teknologi, misalkan hp. Terus
yang keempatnya itu, mungkin itu karena dia kurang adanya pada dirinya
kurangnya keimanan dan taqwa itu yang jelas. Sehingga, kalau mereka
sudah mempunyai iman, sudah mempunyai taqwa, tak mungkin mereka
juga tahu kan. Gimana itu, sehingga mereka melakukan seks bebas itu.
Yang dosanya sangat besar sekali, yang akhirnya mereka akan dijauhi oleh
orang banyak. Jadi faktor penyebab itu, ke pergaulan, terus hp bisa
teknologi yah, ehh,, terus lingkungan yah, terus yang lebih fokusnya
karena disini kita daerah wisata, banyak kalangan remaja diluar yah yang
masuk kesini dengan lokasi seperti kita disini daerah wisata bebas adanya
pantai yang seperti itu. Terus adanya losmen-losmen yang tidak
mempunyai izin yang tidak resmi, sehingga mereka masuk ke losmen
bukan yang mereka bilang suami istri, ternyata bukan. Jadi masalah
lingkungan.
4. Menurut anda perkembangan perilaku seksual remaja itu seperti apa?
Jelaskan
Jawaban
:
Jadi
perkembangan
perilaku
seksual
remaja
disini
perkembangannya ehh,, mungkin kekurangan dari pada memberikan
penyuluhan atau bimbingan tentang melakukan seks. Dimana kalau kita
sudah memberikan ehh,, bimbingan, penyuluhan mungkin mereka tahu
dan mereka bisa membatasi diri dan menjaga diri untuk melakukan seks
bebas. Sehingga mereka bisa untuk keinginan nafsu birahinya itu, kalau
dia itu tahu ada bimbingan misalkan seks bebas itu berbahayanya seperti
ini dan misalkan ia melakukan seks bebas itu karena menimbulkan keaiban
dan segala macam. Kalau mereka sudah tahu hal yang seperti itu, karena
mereka sudah pernah mendengar atau bimbingan penyuluhan dari instansi
yang terkait itu mungkin mereka juga tidak akan melakukan mendekatkan
seks bebas itu.
5. Bantuk-bentuk perilaku seks bebas yang sering dilakukan oleh pelajar
seperti apa? Jelaskan
Jawaban : Saya kurang ini yah, kalau seperti itu. Soalnya gini, ehh... Jadi,
melakukan seks bebas itu yah kalau di Cinangka itu yah, khususnya di
Kecamatan Cinangka, kita jarang mendengar adanya seks bebas diluar
nikah dan melakukan jenis-jenis lain, kalau masalah itu kita kurang paham
yah. Yang jelas mungkin disini dia melakukan seks bebas itu hanya karena
dia ingin mengeluarkan hawa nafsunya tidak dengan cara berlainan
bersentuhan tubuh, tetapi dia sering kita dengar itu saling dengan mulut ke
mulut atau kiss. Jadi kalau untuk itu, saya untuk langsung yah perempuan
laki-laki itu kurang tahu dengan jelas, karena selama ini data yang masuk
ke Puskesmas untuk memberikan visum yang seperti itu, jarang atau tidak
ada. Jarang orang yang minta visum untuk di lakukan seks bebas itu, dan
dia tidak ada kesini. Tetapi, kalau untuk misalkan kita ciuman atau apa,
karena itu tidak ada bekas dan tidak menimbulkan luka, yah itu karena
tidak kesini dan tidak terlihat. Yang jelas disini mungkin untuk seks bebas
di Cinangka ini, bisa dikatakan 0% lah mungkin untuk melakukan praktik
berlainan jenis yah, tapi untuk kiss-kiss nya itu sudah sewajarnya yah udah
biasa gitu.
6. Adakah faktor atau dorongan pelajar melakukan aktifitas seks bebas
tersebut? Jelaskan
Jawaban : Jadi yang setahu saya yah, untuk remaja yang melakukan
dorongan dari dia melakukan seperti itu yah, setahu saya dia pertama.
Sering melihat tontonan yang seperti itu, misalkan bf atau segala macam,
itu sering itu para remaja, apalagi sekarang kan di hp-hp kan banyak yang
film-film seperti itu. Terus yang ketiganya, karena pergaulan. Dari segi
pergaulan ini banyak faktor, pertama mungkin pergaulannya mereka
karena sering minum-minuman, atau pergaulan yang tidak jelas itu.
Sehingga
dengan
emosionalnya
dia
tinggi
minum-minum
sehingga
dia
alkohol,
bisa
juga
tidak
terkontrol,
melakukan
untuk
mengakibatkan seks bebas di kalangan remaja itu. Dan yang jelas disini,
untuk penigkatan psikologi itu. Pertama, bimbingan, terus sering nonton
film-film bf terus pergaulan itu mungkin yah, karena pergaulan anak
remaja sekarang sudah tidak terkontrol dan situasi lokasi kita disini daerah
wisata banyak tempat nongkrong dia yang enak, sehingga dengan adanya
tempat seperti itu mereka itu bisa terjadi dibilang dia untuk minumminuman dan lain semacam. Dan juga setelah dia minum-minuman,
karena fly dan sebagainya, timbulah dia rasa yang tidak terkontrol diri,
sehingga dia menimbulkan seks bebas, baik itu ke selain jenis maupun
sesama jenis. Dan biasanya itu sering terjadi seperti itu.
7. Menurut anda, dampak yang diakibatkan oleh perilaku seks bebas?
Jelaskan
Jawaban : Banyak sekali dampak faktornya, yang pertama. Kita
melakukan seks bebas itu yang pertama kita takutnya kena penyakit IMS
(Infeksi Menular Seksual) karena mereka itu tidak tahu baik itu dengan
pasangannya itu sendiri atau dengan pasangan yang dapat nemu dijalan itu
mereka tidak tahu kalau dirinya itu mempunyai penyakit IMS atau
mungkin dia mempunyai penyakit AIDS dan jenis penyakit kelamin
lainnya. Jadi orang yang melakukan seksual itu dampaknya. Pertama,
IMS, kedua meningkatnya anak yang tidak tanggung jawab, sehingga
banyak kan sering kita lihat ada bayi yang terlantar dan dibuang, itulah
dampaknya. Yang jelas, dampaknya disini itu IMS atau AIDS bisa.
8. Menurut anda, bagaimana seharusnya seorang guru BK di sekolah dalam
melakukan komunikasi informasi dalam mencegah perilaku seks bebas
tersebut? Jelaskan
Jawaban : Jadi menurut pandangan saya, untuk guru Bimbingan
Konseling itu kalau dia konseling dengan sekian banyak pelajar yang hadir
di sekolah. Itu mungkin dia tidak akan tergarap, karena yang namanya
konseling itu, kita bicara dua mata. Tetapi, kalau guru BK nya itu dia
melakukan penyuluhan dengan dikumpulkan murid-muridnya itu sendiri,
dengan dia serentak diberikan penyuluhan tentang seks bebas, diberikan
penyuluhan tentang IMS, yang efeknya akan menimbulkan infeksi
menular seksual itu mungkin untuk mengurangi peningkatan perilaku yang
tidak baik. Karena kalau kita sering melakukan penyuluhan, baik ataupun
konseling yang sewaktu-waktu, kalau konseling itu biasanya kita
dilakukan karena kita langsung ini, biasanya kalau kita ada. Misalkan gini,
di sekolah itu sendiri kita melihat murid yang tingkah lakunya udah
kedeteksi ama kita sering begitu nah biasanya yang dikonseling itu orang
yang seperti itu. Tetapi kalau kita konseling dengan orang yang tingkah
lakunya tidak ketahuan seperti itu, itu percuma. Yang jelas disini, untuk
kita meredam menurunkan angka seksual dilingkungan sekolah itu kita
mengadakan penyuluhan, baik dari puskesma, dari kepolisian, dari KUA
juga bisa. Jadi instansi terkait kita harus melakukan penyuluhan
dikalangan remaja di masing-masing sekolah itu sendiri.
9. Apa pengaruh aktifitas seks bebas bagi perkembangan pelajar? Jelaskan
Jawaban : Pengaruh aktifitas seks bebas bagi kalangan remaja ini sangat
pengaruhnya sangat banyak sekali, pengaruhnya sangat banyak sekali
yang namanya seks bebas. Jadi kita sudah pasti, sebelum mereka
melakukan seks bebas dia tidak memikirkan akibatnya. Tetapi, setelahnya
dia melakukan seks bebas, baru dia berpikiran berpendapat takutnya dia
hamil, nanti bagaimana untuk pertanggung jawabannya untuk pribadi dan
keluarganya, terus lagi bagaimana kalau dia melakukan seks bebas itu
terkena infeksi seksual tadi. Jadi pengaruh aktifitasnya mungkin dia untuk
pelajarnya dia malu, dia merasa malu ke lingkungannya itu sendiri baik di
kalangan keluarga atau dikalangan masyarakat ataupun di sekolah. Karena
yang namanya kita melakukan seks bebas itu sudah pasti dan itu sudah
tentu masyarakat itu melihat orang yang melakukan seks bebas itu dia
sudah melanggar.
10. Bagaimana solusi atau penanggulangan dampak seks bebas di kalangan
pelajar? Jelaskan
Jawaban : Nah itu kita harus memberikan pembinaan. Pembinaan
bimbingan, dengan adanya pembinaan dan bimbingan yang rutin ke
pelajar Insya Allah kalangan remaja ataupun anak sekolah karena sudah
tahu bahaya dari seks bebas dan sudah tahu kejelekan daripada perilaku
seks bebas, sehingga dia tidak melakukan hal seperti itu. Karena dia sudah
pernah mendapatkan bimbingan atau penyuluhan dari guru BK atau pihak
yang terkait, yang jelas disini kita mengadakan penyuluhan dan bimbingan
pada anak remaja ataupun anak sekolah itu sendiri.
TRANSKRIP WAWANCARA INFORMAN
(YAMTINI, SST. Keb)
1. Menurut anda, bagaimana fenomena seks bebas di kalangan pelajar?
Jelaskan
Jawaban : Fenomenanya yah,,,, gimana yah. Takut lah, khawatirlah dan
itu biasanya tidak terkontrol sih dirumah di luarnya gitu.
2. Menurut anda, penyebab pelajar melakukan aktifitas seks bebas tersebut?
Jelaskan
Jawaban : Karena kurangnya pengetahuan tentang agama, terus
dirumahnya itu dia biasanya kurang perhatian dari orang tua. Kemudian,
didalam keluarga juga ada masalah dari kedua orang tuanya, jadi dia lari
ke situ.
3. Menurut anda, dampak yang diakibatkan oleh perilaku seks bebas?
Jelaskan
Jawaban : Dampaknya yah bisa aja dia hamil sebelum nikah itu
pertamanya, kedua bisa penyebaran penyakit seksualnya karena bergontaganti pasangan itu yah jadi bisa nyebabin penyakit seksual menular kayak
HIV, kalau HIV kan emang tertularnya karena ehh,, pasangannya kena
HIV juga. Kalau belum gak HIV yah itu, yaitu terkena penyakit menular
seksual itu.
4. Apa pengaruh aktifitas seks bebas bagi perkembangan pelajar? Jelaskan
Jawaban : Pengaruhnya bisa minder anaknya, terus di masyarakat juga
bisa dihujat di jauhin, ehhh,,, yah itunya bisa hancur lah masa depannya
gitu.
5. Bagaimana kondisi janin/rahim pada pelajar yang hamil dibawah umur?
Jelaskan
Jawaban : Kalau dibawah umur, itu biasanya kondisi janin sih baik-baik
aja yah, itu kalau kondisi janin itu bagaimana gizi dari ibunya, dan dari
pemeriksaan tiap bulannya, sama vitamin-vitaminnya. Cuma, dia itu resiko
tingginya itu bisa pendarahan terus bisa keracunan kehamilan juga yang
menyebabkan ibu hamilnya bisa kejang-kejang.
6. Bagaimana solusi atau penanggulangan dampak seks bebas di kalangan
pelajar? Jelaskan
Jawaban : Yah, diadakan penyuluhan-penyuluhan lah didalam kalangan
pelajar, terus ada juga pendidikan tentang seks bebas itu. Jadi kan pelajar
itu bisa mengetahui apa akibatnya, apa dampaknya yang ditimbulkan oleh
seks bebas itu.
LAMPIRAN 3
DOKUMENTASI
DOKUMENTASI
No.
: 060 /UN43.VI.2/PP/2015
Lamp. : Perihal : Permohonan Ijin Wawancara
Serang, 25 Maret 2015
Yth.,
Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Cinangka
di –
Tempat
Dengan Hormat,
Sehubungan dengan diselenggarakannya kegiatan riset mahasiswa kami di Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa,
maka kami yang bertanda tangan di bawah ini memberikan tugas kepada mahasiswa
berikut ini untuk mencari data yang dibutuhkan,
Nama
NIM
: Rifki Kurniawan
: 6662111397
Semester
:8
Mata Kuliah : Skripsi
Judul
: Pola Komunikasi Guru BK Dalam Mencegah Perilaku Seks Bebas Siswa
Di SMA Negeri 1 Cinangka
Data
diperlukan : Data Narasumber, Dokumentasi dan Wawancara
Untuk itu kami berharap dan memohon kepada Bapak/ Ibu untuk dapat
memberikan
izin guna mencari data yang dibutuhkan mahasiswa tersebut.
Demikian surat ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kerjasamanya, kami
mengucapkan terima kasih.
No.
: 060 /UN43.VI.2/PP/2015
Lamp. : Perihal : Permohonan Ijin Wawancara
Serang, 05 Mei 2015
Yth.,
Kepala Puskemas Cinangka
di –
Tempat
Dengan Hormat,
Sehubungan dengan diselenggarakannya kegiatan riset mahasiswa kami di Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa,
maka kami yang bertanda tangan di bawah ini memberikan tugas kepada mahasiswa
berikut ini untuk mencari data yang dibutuhkan,
Nama
NIM
: Rifki Kurniawan
: 6662111397
Semester
:8
Mata Kuliah : Skripsi
Judul
: Pola Komunikasi Guru BK Dalam Mencegah Perilaku Seks Bebas Siswa
Di SMA Negeri 1 Cinangka
Data
diperlukan : Data Narasumber, Dokumentasi dan Wawancara
Untuk itu kami berharap dan memohon kepada Bapak/ Ibu untuk dapat
memberikan
izin guna mencari data yang dibutuhkan mahasiswa tersebut.
Demikian surat ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kerjasamanya, kami
mengucapkan terima kasih.
No.
: 060 /UN43.VI.2/PP/2015
Lamp. : Perihal : Permohonan Ijin Wawancara
Serang, 05 Mei 2015
Yth.,
Bidan Yamtini, SST. Keb
di –
Tempat
Dengan Hormat,
Sehubungan dengan diselenggarakannya kegiatan riset mahasiswa kami di Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa,
maka kami yang bertanda tangan di bawah ini memberikan tugas kepada mahasiswa
berikut ini untuk mencari data yang dibutuhkan,
Nama
NIM
: Rifki Kurniawan
: 6662111397
Semester
:8
Mata Kuliah : Skripsi
Judul
: Pola Komunikasi Guru BK Dalam Mencegah Perilaku Seks Bebas Siswa
Di SMA Negeri 1 Cinangka
Data
diperlukan : Data Narasumber, Dokumentasi dan Wawancara
Untuk itu kami berharap dan memohon kepada Bapak/ Ibu untuk dapat
memberikan
izin guna mencari data yang dibutuhkan mahasiswa tersebut.
Demikian surat ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kerjasamanya, kami
mengucapkan terima kasih.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama
: Rifki Kurniawan
NIM
: 6662111397
Tempat & Tanggal Lahir
: Serang, 21 November 1991
Jenis Kelamin
: Laki-Laki
Agama
: Islam
Alamat
: Jl. Raya Karang Bolong No 18, Kp. Sirih RT 02
RW 01, Desa Kamasan, Kec Cinangka, Serang – Banten. 42167
No. Telp
: 0838 1260 6640
E – mail
: [email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. 1996 – 1997
: TK Bhakti II Sirih
2. 1997 – 2003
: SDN 1 Kamasan
3. 2003 – 2006
: SMPN 1 Cinangka
4. 2006 – 2009
: SMAN 1 Cinangka
5. 2011 – 2015
: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Jurusan Ilmu
Komunikasi
Pengalaman Organisasi
1. 2006 – 2007
: Anggota PMR SMPN 1 Cinangka
2. 2008 – 2009
: Anggota Rohis SMAN 1 Cinangka
3. 2011 – 2014
: Anggota Karang Taruna “Bina Masa”
Desa Kamasan, Divisi Seni Budaya
Pengalaman Bekerja
1. Magang di PT. Latinusa, Cilegon – Banten, Divisi Humas dan Protokoler.
Serang, Juni 2015
Rifki Kurniawan
Download