i. pendahuluan - IPB Repository

advertisement
I. PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim yaitu
sebesar 85 persen dari penduduk Indonesia, merupakan pasar yang sangat besar
untuk pengembangan industri keuangan syariah. Perkembangan industri keuangan
syariah dapat ditinjau melalui perbankan syariah, asuransi syariah, dan pasar
modal syariah. Pasar modal syariah mempunyai peranan yang cukup penting
untuk dapat meningkatkan perekonomian negara. Meskipun perkembangannya
relatif baru dibandingkan dengan perbankan syariah, keberadaan pasar modal
syariah di Indonesia terus mengalami perkembangan. Kondisi ini dapat dilihat
baik dari segi jumlah emiten maupun jumlah produk,yang beredar sehingga dapat
memberikan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia.
Beik (2003) mengemukakan bahwa secara faktual, pasar modal telah
menjadi financial nerve-centre (saraf finansial dunia) dalam dunia ekonomi
modern. Setiap hari terjadi transaksi triliunan rupiah melalui institusi ini.
Kebijakan pengembangan terhadap pasar modal dipercaya dapat menstimulus
pertumbuhan
ekonomi.
Sudah
banyak
negara-negara
berkembang
yang
melakukan pengembangan usaha dalam pasar modal. Hal ini dimanfaatkan untuk
mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara maju.
Saat ini, kondisi iklim investasi di Indonesia meningkat cukup pesat yang
ditandai dengan membaiknya berbagai indeks yang terkait dengan daya saing
Indonesia baik IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan), JII (Jakarta Islamic
Index), ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia), bahkan LQ45. Keberadaan pasar
2
modal yang terus berkembang di Indonesia, dipercaya mampu menstimulus
perekonomian. Hal ini dikarenakan aliran modal yang masuk dapat digunakan
untuk perbaikan pembangunan ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Berdasarkan informasi dalam Bursa Efek Indonesia (BEI), kontribusi
pasar modal Indonesia sebesar 35,9 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Tabel 1.1 menggambarkan kondisi perkembangan pasar modal di
Indonesia selama peiode bulan Desember 2007 sampai dengan Desember 2011,
dimana emisi saham dan obligasi diukur berdasarkan pernyataan efektif untuk
penawaran umum saham. Data saham yang tersedia merupakan data komulatif
termasuk delisting. Posisi akhir obligasi adalah nilai obligasi yang belum jatuh
tempo.
Tabel 1.1. Emisi Saham dan Obligasi pada Pasar Modal
2007
2008
No.
Keterangan
Dec
Dec
1
Saham
2
Jumlah Emiten
468
485
Emisi Saham (miliar
3
1,125
8,399
lembar)
4
Nilai Emisi (triliun Rp)
328
407
5
Obligasi
6
Jumlah emiten
175
178
7
Nilai Emisi (triliun Rp)
134
148
8
Posisi Akhir (triliun Rp)
85
73
2009
Dec
497
2010
Dec
521
2011
Dec
546
8,423
8,680
8,758
420
183
175
88
495
189
215
-
555
199
261
-
Sumber : Statistik Pasar Modal LK-Bapepam (2012)
Kondisi pasar modal Indonesia pada tahun 2011 mampu menunjukkan
kepada investor global maupun domestik betapa tingginya resilience pasar modal
Indonesia terhadap krisis global yang dipicu oleh kondisi ekonomi negara-negara
Eropa. Indonesia telah memperoleh status sebagai investment grade. Status ini
diberikan kepada suatu negara yang memiliki fundamental ekonomi kuat,
stabilitas politik dalam jangka panjang solid, dan memiliki manajemen anggaran
3
pemerintah serta kebijakan moneter yang prudential. Pada level ini, perhatian
terhadap Indonesia akan semakin terbuka terutama dari kalangan-kalangan
investor. Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Muliaman D Hadad,
mengatakan bahwa status Investment Grade yang diraih Indonesia diharapkan
akan memacu perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia.
Tabel 1.2. IHSG dan Kapitalisasi Pasar Tahun 2010 dan 2011
Tahun
2010
2011
IHSG
3.703,512
3.808,772
Kapitalisasi Pasar
(Rp Triliun)
3.247,10
3.524,48
Sumber: Bursa Efek Indonesia
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai kapitalisasi pasar saham
Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mengalami peningkatan. IHSG meningkat 2,84
persen ke level 3.808,772 pada tanggal 29 Desember 2011 dari posisi penutupan
akhir tahun 2010 sebesar 3.703,512. IHSG BEI pernah mencapai titik tertinggi
pada tingkat 4.193,441 pada 1 Agustus 2011 namun kemudian menurun. Hal ini
juga dialami indeks saham dari negara lain akibat krisis ekonomi di negara-negara
zona Eropa. Nilai kapitalisasi pasar saham meningkat 8,54 persen menjadi Rp
3.524,48 triliun pada 29 Desember 2011 dari Rp 3.247,10 triliun pada akhir
Desember 2010.
Achsien (2000) menyatakan bahwa pengembangan pertama indeks syariah
dan equity fund seperti Reksa Dana adalah Amerika Serikat, setelah The Amana
Fund diluncurkan The North American Islamic Trust sebagai equity fund pertama
di dunia tahun 1986, tiga tahun kemudian Dow Jones Index meluncurkan Dow
Jones Islamic Market Index (DJIM). Hal ini mengindikasikan bahwa negara maju
seperti Amerika sudah lebih awal melakukan aktivitas dalam pasar modal syariah.
4
Pasar modal syariah di Indonesia memiliki indeks yang dikenal
dengan Jakarta Islamic Index (JII) terdiri dari 30 saham syariah yang go public
tercatat di BEI. Daftar Efek Syariah (DES) yang terdapat di pasar modal syariah
Indonesia berjumlah 238 pada bulan November 2011. Saham syariah yang masuk
ke dalam DES sering kali mengalami perubahan dikarenakan ketentuan, prinsip
dan kriteria syariah yang masih belum sesuai. Saham syariah yang masuk dalam
DES diseleksi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN).
Tabel 1.3. Perkembangan Jumlah Saham Syariah dalam DES
Periode
Tanggal Terbit
Saham Syariah
I
30 Nov 2007
164
II
30 Mei 2008
180
III
28 Nov 2008
185
IV
29 Mei 2009
177
V
30 Nov 2009
186
VI
27 Mei 2010
194
VII
29 Nov 2010
209
VIII
31 Mei 2011
221
IX
30 Nov 2011
238
Sumber: Bursa Efek Indonesia
Keberadaan pasar modal syariah di Indonesia telah memberikan kontribusi
terhadap perekonomian negara di berbagai sektor. Banyak perusahaan-perusahaan
dari berbagai sektor, seperti: pertanian, pertambangan, properti, real estate dan
lain sebagainya menerbitkan saham syariah. Adapun nilai kapitalisasi saham
tercatat dalam BEI dari periode 2008-2011 mengalami penurunan pada Oktober
2008 hal ini dikarenakan adanya penutupan perdagangan bursa. Pasca krisis yang
terjadi di 2008 nilai kapitalisasi pasar saham syariah terus mengalami
peningkatan. Pada Gambar 1.1 akan mengkondisikan perkembangan kapitalisasi
saham dan nilai perdagangan saham syariah yang ada di Indonesia sejak tahun
2008 hingga 2011.
5
1,400,000.00
Miliar RP
1,200,000.00
1,000,000.00
800,000.00
600,000.00
400,000.00
200,000.00
Kapitalisasi saham
Oct-11
Jul-11
Apr-11
Jan-11
Oct-10
Jul-10
Apr-10
Jan-10
Oct-09
Jul-09
Apr-09
Jan-09
Oct-08
Jul-08
Apr-08
-
Nilai Perdagangan Saham
Sumber: Bursa Efek Indonesia (2012)
Gambar 1.1. Kapitalisasi Pasar dan Nilai Perdagangan Saham Syariah
Ditinjau dari segi moneter dan keuangan negara, pasar modal syariah telah
menciptakan suatu sistem moneter yang lebih lengkap dan terpadu. Dalam teori
makroekonomi variabel-variabel makroekonomi yang berpengaruh secara
signifikan terhadap pasar modal khususnya saham antara lain:
1.
Gross Domestic Product (GDP)
2.
Inflasi
3.
Tingkat pengangguran
4.
Suku bunga
5.
Nilai tukar
6.
Transaksi berjalan
7.
Defisit anggaran
Variabel di atas juga berkaitan dengan kebijakan moneter yang akan
dijadikan acuan oleh Bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi. Dalam teori
kebijakan moneter menunjukkan bahwa kebijakan moneter dapat memengaruhi
6
sektor riil melalui jalur harga aset, kebijakan moneter ekspansif maupun kontraktif
akan mempengaruhi jumlah uang beredar dan kemudian melalui mekanisme
tersebut sejumlah uang akan terserap ataupun keluar dalam pasar saham. Taylor
(2007) menyatakan bahwa kebijakan moneter yang ekspansif menyebabkan
jumlah likuiditas yang ada di masyarakat meningkat, besarnya jumlah likuiditas
ini akan menyebabkan meningkatnya harga aset apabila likuiditas yang disediakan
terlalu banyak akan menyebabkan asset price bubble.
Pasar modal syariah memberikan kontribusi terhadap sektor riil baik
secara langsung maupun tidak langsung. Transmisi kebijakan moneter secara
spesifik merupakan kebijakan jalur harga aset adalah suatu mekanisme dimana
Bank sentral berusaha untuk memengaruhi sektor riil melalui kebijakan yang
ditetapkan. Mekanisme tersebut akan memengaruhi harga aset dan kekayaan
masyarakat yang selanjutnya akan berpengaruh pada pengeluaran investasi dan
konsumsi (Warjiyo,2004).
Dalam melaksanakan operasi pasar terbuka (open market operation),
sarana pengendali moneter dapat dilakukan melalui Sertifikat Bank Indonesia
(SBI), Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), dan surat berharga pasar uang
(SBPU). SBI dan SBIS digunakan untuk kontraksi moneter, sedangkan SBPU
untuk ekspansi moneter. Seberapa besar keterkaitan perkembangan pasar modal
syariah dengan instrument moneter Indonesia dalam menciptakan peranannya
terhadap pertumbuhan ekonomi (GDP).
Penelitian mengenai dinamika interaksi antara variabel moneter dengan
pasar modal syariah di Indonesia perlu dilakukan. Dalam ekonomi global saat ini
perkembangan pasar modal akan terus berjalan, termasuk pasar modal syariah di
7
Indonesia. Tentunya kita semua berharap perekonomian Indonesia dapat
berkembang ke arah yang positif. Dengan melihat hubungan dari variabel moneter
dengan pasar modal syariah kita akan mengkaji lebih lanjut mengenai keterkaitan
yang muncul akibat respon yang terjadi dalam penelitian ini.
1.2.
Perumusan Masalah
Indonesia telah memasuki level Investmen Grade oleh lembaga
pemeringkat Fitch Rating. Kondisi ini memungkinkan adanya peningkatan
aktivitas pasar modal baik pasar modal konvensional maupun pasar modal
syariah.
Pada umumnya, pasar modal mampu memberikan kontribusi sebesar 40
persen terhadap pertumbuhan ekonomi negara, namun Indonesia masih sebesar
35,9 persen. Negara-negara berkembang di Asia saat ini sudah mampu
memberikan 50 persen kepada pertumbuhan ekonomi negaranya yang ditinjau
dari aktivitas pasar modal. Bahkan rasio kapitalisasi pasar saham Malaysia
terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) sebesar 150 persen, sedangkan Singapura
rasio kapitalisasi pasar saham terhadap PDB sebesar 260 persen, dan Hongkong
sebesar 1.080 persen. Berbeda dengan Indonesia yang masih 50 persen. Hal ini
menggambarkan kondisi rendahnya peminat pasar modal di Indonesia.
Pasar modal syariah memiliki peluang yang sangat besar untuk
berkembang di Indonesia. Selain karena Indonesia merupakan negara dengan
jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, instrumen investasi berbasis syariah
masih belum memiliki banyak variansnya di Indonesia. Di negara lain yang
penduduk muslimnya minoritas, kini mulai agresif dalam mengembangkan
8
instrument investasi berbasis syariah. Prinsip pasar modal syariah tentunya
berbeda dengan pasar modal konvensional. Namun, masih banyak kalangan
masyarakat yang meragukan keberadaan pasar modal syariah ini.
Terjadinya krisis global tahun 2008 yang dipicu oleh jatuhnya Subprime
mortgage membawa dampak spillover secara signifikan bagi negara-negara maju.
Meskipun Indonesia tidak terlalu terpengaruh pada krisis global 2008, akan tetapi
derasnya modal asing yang masuk ke Indonesia sebagai hot money sangat rentan
terhadap sentimen dan gejolak di pasar modal asing menimbulkan kekhawatiran
akan penarikan dana secara besar-besaran dan mendadak akan memberikan
guncangan hebat bagi pasar modal domestik.
Krisis keuangan yang dipicu oleh kredit subprime di Amerika Serikat (AS)
telah memengaruhi banyak negara di dunia termasuk Indonesia. Hal ini
mengakibatkan kondisi keuangan yang semakin memburuk dalam beberapa bulan
terakhir. Penelitian ini berupaya untuk menganalisis pasar bursa syariah di
Indonesia yaitu Jakarta Islamic Index (JII) sebagai investasi halal yang mampu
memberikan efek positif bagi Indonesia.
Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini merupakan salah satu
upaya untuk mengkaji sejauh mana hubungan antara dinamika pasar modal
syariah dengan variabel-variabel moneter. Selain itu, penelitian ini dilakukan
untuk memperluas riset ekonomi di bidang pasar modal syariah. Berikut
merupakan perumusan masalah yang penulis ajukan dalam skripsi ini, antara lain:
1.
Bagaimana hubungan jangka panjang dan jangka pendek dari variabelvariabel moneter dan pasar modal syariah dalam kaitannya terhadap
perekonomian Indonesia?
9
2.
Bagaimana respon pasar modal syariah saat terjadi guncangan pada variabelvariabel moneter di Indonesia?
3.
Bagaimana respon variabel-variabel moneter saat terjadi guncangan pada
Jakarta Islamic Index?
4.
Seberapa besar peranan pasar modal syariah dan kebijakan moneter dalam
meningkatkan perekonomian Indonesia?
5.
Apakah keberadaan pasar modal syariah sangat tahan terhadap krisis global
yang kini melanda di berbagai negara maju ?
1.3.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memperkaya penelitian dalam bidang pasar
modal syariah. Berdasarkan uraian latar belakang dan permasalahan yang
diangkat dalam penelitian, tujuan penelitian ini, antara lain:
1.
Mengkaji kebijakan moneter dan pasar modal syariah dalam memainkan
peranannya untuk memicu perekonomian Indonesia.
2.
Menganalisis hubungan terkait antara kebijakan moneter dan pasar modal
syariah terhadap perekonomian.
3.
Menganalisis pengaruh shock JII terhadap kondisi moneter dan GDP di
Indonesia.
4.
Menganalisis pengaruh shock variabel-variabel moneter terhadap kondisi
pasar modal syariah dan GDP di Indonesia.
5.
Mengkaji ketahanan pasar modal syariah yang ditinjau dari nilai Jakarta
Islamic Index terhadap adanya krisis global yang mengakibatkan dinamika
pada variabel moneter.
10
1.4.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini berguna untuk menganalisis respon dari kebijakan moneter
terhadap perkembangan pasar modal syariah akibat terjadinya dinamika ekonomi
makro. Selain itu, variabel-variabel moneter apa saja yang dapat memberikan
kontribusi kepada perkembangan pasar modal syariah di Indonesia. Penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat bagi para pengambil kebijakan (khususnya
Pemerintah), masyarakat yang akan bertindak sebagai investor, dan bagi
penelitian-penelitian selanjutnya dalam menganalisa pasar modal syariah di
Indonesia.
1.5.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini mencangkup analisis perkembangan pasar modal syariah
yang diukur berdasarkan Jakarta Islamic Index (JII), kapitalisasi saham pada JII
dan nilai perdagangan saham syariah, kemudian direspon melalui kebijakan
moneter dalam beberapa variabel. Ruang lingkup indeks syariah yang digunakan
adalah JII karena Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) baru diluncurkan pada
bulan MEI 2011. Sehingga data ISSI yang dapat digunakan dalam bentuk data
harian. Namun kondisi ini tidak didukung dengan variabel lain yang digunakan.
Maka dari itu, indeks saham syariah yang digunakan adalah JII. JII itu sendiri
merupakan 30 besar the best saham syariah yang go public, sehingga dapat
mewakili dalam mengukur perkembangan pasar modal syariah.
Variabel moneter yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), money
supply (M2), dan nilai tukar Rupiah (Exchange Rate). Variabel lain yang
11
digunakan adalah IHSG. Penelitian ini akan menghasilkan suatu bentuk
responsivitas dari sisi pasar modal syariah dan monetary policy dalam mencapai
perekonomian negara yang lebih baik lagi ditinjau dari GDP (Gross Domestic
Product) dan tingkat pengangguran. Periode waktu yang digunakan dimulai bulan
Januari 2007 sampai Desember 2011. Analisis yang digunakan pada skripsi ini
adalah metode kuantitatif dengan menggunakan ekonometrika. Faktor-faktor
eksternal seperti kondisi politik, hukum, dan lainnya yang dianggap akan
memengaruhi analisis dalam skripsi ini dianggap konstan.
Download