hasil dan pembahasan

advertisement
3
Pembuatan Preparat Histopatologi
Organ yang sudah difiksasi kemudian dipotong dengan ketebalan kurang
lebih 5 mm dan potongan tersebut dimasukkan ke dalam kaset jaringan dan
diberi label kode sampel. Potongan organ dibuat preparat histopatologi kemudian
diberi pewarnaan HE (Hematoksilin-Eosin) (Lampiran 1).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Riwayat Kasus
Signalemen
• Nama hewan
• Jenis
• Ras
• Jenis kelamin
• Umur
• Nama penemu
: Didi
: Kucing
: Siamese (campuran)
: Jantan
: 6 bulan
: Ageng Syarif Dwidzuriputra
Anamnesa
Seekor kucing ditemukan dengan keadaan sebagian tubuhnya memiliki
luka yang bernanah dan bau, bagian bantalan jari (pad) yang sudah hampir
terlepas dari bagian telapak kaki dan terdapat robekan yang dalam pada bagian
ekornya yang hampir putus karena terjadi perlukaaan yang melingkar, dan
kondisinya pun diperparah dengan keadaan dehidrasi berat. Kucing tersebut sudah
diberikan bantuan dengan penambahan cairan infus melalui daerah subkutan dan
bagian-bagian tubuhnya yang mengalami perlukaan diolesi dengan antiseptik.
Gejala klinis yang terlihat selain perlukaan yaitu anoreksia, kaheksia,
exophthalmus, anemia, konstipasi, dan dipsnoe. Bantuan untuk defekasi diberikan
setelah dibawa ke Rumah Sakit Hewan IPB yaitu dengan menggunakan bahan
pelicin berupa minyak yang dimasukan ke dalam anusnya untuk dilakukan pijatan
selanjutnya agar fesesnya dapat keluar dengan cara dipaksa. Keadaan feses keras
kadang berdarah dan berlendir. Kemudian diberikan infus menggunakan larutan
NaCl fisiologis melalui intarvena selama 4 hari.
Penemu melakukan roentgen pada Didi untuk melihat daerah thoraks dan
menghasilkan interpretasi bahwa susunan organ abdomennya sudah tidak
beraturan dengan kondisi diafragma yang hancur dan paru-paru yang sudah tidak
terlihat. Didi menderita hernia diafragmatika, namun tidak dilakukan pengujian
laboratorium untuk kasus ini dan juga tidak dilakukan operasi karena prognosanya
infausta terkait penyembuhan post-operasi.
Pemberian pakan tidak boleh banyak karena lambung yang penuh dapat
menekan paru-paru sehingga sulit bernafas, Didi diberikan pakan yang berserat
tinggi sehingga makanannya selalu dicampurkan agar-agar supaya defekasinya
mudah dan juga setiap hari diberikan Dulcolax® sehari 1 tablet. Selama 2
minggu kucing tersebut diberikan makanan recovery untuk pencernaannya
sehingga kondisinya mulai membaik. Kondisi Didi yang tidak memungkinkan
4
untuk mengalami persembuhan menyebabkan hewan tersebut akhirnya mati
dalam keadaan kolaps.
Gejala Klinis
Kucing yang diduga menderita hernia diafragmatika menunjukkan gejala
klinis yang telah disebutkan sebelumnya yaitu anoreksia, kaheksia, exophthalmus,
anemia, konstipasi, dan dispnoe. Diagnosa untuk kasus penyakit ini diperkuat
dengan bantuan radiografi (Gambar 1). Hasil roentgen menunjukkan bahwa batas
diafragma sudah tidak terlihat dan posisi organ-organ bagian abdomen tampak
berubah yaitu masuk ke dalam rongga thoraks sehingga menyebabkan marginasi
menjadi tidak jelas.
Gambar 1
Radiogram daerah thoraks. (A) Pada kesan ventrodorsal jantung
(panah) masih dapat dilihat meskipun marginasi antara batas thoraks
dan abdomen sudah tidak jelas. (B) Pada kesan lateral organ rongga
thoraks sudah tidak bisa dibedakan dengan organ dalam abdomen
5
Pengamatan Patologi Anatomi (PA)
Sebelum dilakukan tahap nekropsi, pengamatan setelah kematian
memperlihatkan bahwa kucing mengalami kiposis dan bagian flank tampak
kosong (Gambar 2). Selain itu terdapat kelainan yang menunjukkan bahwa
palpebrae yang terlihat pucat disertai kemunculan membrana nictitans disertai
exophthalmos dan pada hidung terlihat mengalami kebiruan atau sianosis
(Gambar 3).
Gambar 2
Tubuh kucing sebelum dilakukan nekropsi terlihat bahwa bentuk
punggung cekung ke atas atau kiposis (panah a) dan bagian flank
terlihat kosong (panah b)
Gambar 3
Kondisi kepala kucing pasca kematian menunjukkan wajah kucing
tampak kurus (tirus) disertai keadaan mata yang mengalami
exophthalmus (panah a) disertai dengan kemunculan membrana
nictitans dan permukaan palpebrae yang pucat (panah b), selain itu
mukosa hidung mengalami sianosis (panah c)
6
Setelah rongga thoraks dibuka, terlihat adanya perubahan situs viserum
yaitu adanya perpindahan usus halus dan sebagian hati yang masuk ke dalam
rongga thoraks dari rongga abdomen yang menyebabkan sebagian usus tersebut
mengalami sianosis (Gambar 4). Rongga thoraks terlihat berisi cairan transudat
berwarna bening kekuningan yang menandakan bahwa kucing ini mengalami
hidrothoraks. Paru-paru nampak mengalami perubahan akibat penekanan yang
dapat diduga mengalami atelectasis dan terdapat lesio pneumonia. Sedangkan
jantung mengalami kongesti hingga bagian aorta (Gambar 5). Sebagian hati yang
masuk ke dalam rongga thoraks mengalami perubahan seperti kongesti yang
disertai dengan adanya kompresi tulang rusuk pada permukaan organ yang biasa
disebut dengan rib impressions (Gambar 6). Selain mengalami hidrothoraks, dapat
dilihat juga bahwa kucing ini mengalami hemothoraks (Gambar 7).
Gambar 4 Perpindahan sebagian besar usus dan sebagian hati ke dalam rongga
thoraks juga terdapat lesio sianosis pada sebagian usus (tanda panah)
Gambar 5 Akumulasi cairan terdapat di rongga thoraks (panah a) yang disertai
dengan sebagian paru-paru yang mengalami atelektasis disertai lesio
pneumonia pada lobus cranial (panah b) dan jantung mengalami
kongesti dan dilatasi pada pembuluh darahnya (panah c)
7
Gambar 6 Hati mengalami kongesti yang disertai dengan rib impression (panah)
Gambar 7 Gumpalan darah terlihat dalam rongga thoraks (hemothoraks)
Pada daerah abdomen yang seharusnya dibatasi oleh diafragma yang utuh,
namun diafragma tidak tumbuh sempurna disertai tidak ditemukannya jaringan
ikat yang menandakan bahwa diafragma tersebut telah mengalami perlukaan
akibat trauma. Selain itu, dapat diduga kelainan ini ada sejak lahir (anomali
kongenital) yaitu diafragma kira-kira hanya tumbuh seperempat bagian menutupi
daerah abdomen (Gambar 8). Ginjal mengalami kongesti yang jelas (Gambar 9)
dan untuk usus terlihat bahwa pembuluh darahnya juga mengalami dilatasi dan
kongesti (Gambar 10).
8
Gambar 8 Diafragma yang tidak utuh (tanda panah), tidak sempuna
Gambar 9 Kongesti pada ginjal dengan pembuluh darah terlihat jelas (tanda
panah)
Gambar 10
Kongesti disertai dengan dilatasi pembuluh darah daerah
mesenterium usus terlihat jelas (tanda panah)
9
Bagian limpa yang telah disisihkan dari lambung diduga mengalami atrofi
(Gambar 11). Selain limpa, penyisihan organ juga dilakukan pada jantung dan
otak. Badan jantung normal hanya memiliki satu buah apeks, lain halnya dengan
temuan organ jantung pada kucing ini yang terlihat memiliki dua apeks setelah
diinsisi pada sulcus longitudinalis terlihat penebalan disertai dilatasi pada dinding
otot jantung (Gambar 12 dan 13). Otak yang telah diambil dari kepala mengalami
kongesti dan dilatasi pada pembuluh darahnya (Gambar 14).
Gambar 11 Limpa yang mengalami atrofi
Gambar 12 Jantung memiliki dua buah apeks (tanda panah)
Gambar 13 Penebalan disertai dilatasi dinding otot jantung
10
Gambar 14 Kongesti pada otak terlihat jelas (tanda panah)
Pengamatan Histopatologi (HP)
Pengamatan HP dilakukan untuk melihat lesio lebih detail pada jaringan
organ yang setelah sebelumnya dilakukan pengamatan PA.
Jantung
Pembuluh darah mengalami dilatasi berisi sel darah merah akibat kongesti
sehingga terjadi edema (Gambar 15). Pada jaringan jantung yang ditandai dengan
bertambahnya jarak atau lebar antar serabut otot akibat edema (Gambar 15 dan
16) selain itu terjadi degenerasi hidropis pada otot jantung (Gambar 15 dan 16).
Gambar 15 Pembuluh darah mengalami dilatasi berisi sel darah merah akibat
kongesti (tanda panah) yang disertai edema dengan adanya
degenerasi sel otot jantung, Do= degenerasi otot jantung, Edm=
edema, pewarnaan HE
11
Gambar 16 Jaringan pada otot jantung mengalami degenerasi hidropis; akumulasi
cairan di antara sel menyebabkan susunan sel menjadi tidak beraturan,
pewarnaan HE
Paru-paru
Lain halnya dengan organ paru-paru yang tidak hanya mengalami
atelektasis saja namun juga terdapat berbagai macam lesio lainnya bila diamati HP
organ tersebut. Atelektasis disertai kongesti dapat terlihat jelas keadaannya
(Gambar 17) diikuti dengan keadaan emfisema (Gambar 18), edema (Gambar 19),
bronkhiolitis (Gambar 20), kongesti disertai dengan adanya hiperplasia jaringan
limfoid (BALT) pada bronkhus (Gambar 21), infiltrasi sel-sel plasma (Gambar
22), penebalan septum interalveolar (Gambar 23), dan hemoragi yang disertai
infiltrasi hemosiderofag (Gambar 24).
12
Gambar 17
Jaringan paru-paru yang mengalami atelektasis ditandai dengan
pengkerutan pada daerah alveoli dan disertai kongesti pada
pembuluh darah di daerah sekitarnya, Atl= atelektasis, Kgs=
kongesti, pewarnaan HE
Gambar 18
Jaringan paru-paru yang mengalami emfisema ditandai dengan
adanya perluasan lumen alveoli dan disertai kongesti pada
pembuluh darah di daerah sekitarnya, Emf= emfisema, Kgs=
kongesti, pewarnaan HE
13
Gambar 19 Jaringan paru-paru yang mengalami edema ditandai dengan adanya
akumulasi cairan pada lumen alveoli dan terjadi infiltrasi sel radang
pada jaringan paru-paru, Edm= edema, pewarnaan HE
Gambar 20 Eksudat (tanda panah) dalam lumen bronkhiolus dan infiltrasi sel
radang yang didominasi oleh limfosit dan makrofag pada epitel
bronkhiolus jaringan sekitarnya merupakan penanda terjadinya
peradangan (bronkhiolitis), pewarnaan HE
14
Gambar 21 Hiperplasia jaringan limfoid (BALT) pada jaringan paru-paru (panah
a) yang disertai kongesti pada pembuluh darah (panah b), pewarnaan
HE
Gambar 22 Ditemukan sel plasma (panah hitam) pada jaringan paru-paru yang
mengalami lesio dan sel radang lain yang didominasi oleh limfosit
(panah biru) dan makrofag (panah kuning), Kgs= kongesti,
pewarnaan HE
15
Gambar 23 Penebalan septum interalveolaris pada jaringan paru-paru, Psi=
penebalan septum interalveolaris yang diisi oleh sejumlah besar sel
radang yaitu makrofag dan limfosit menandakan pneumonia,
pewarnaan HE
Gambar 24 Hemosiderin dan hemosiderofag/ heart failure cells (dalam lingkaran)
pada jaringan paru-paru yang mengalami hemoragi, pewarnaan HE
16
Hati
Perubahan HP pada organ hati yang tampak mencolok adalah kongesti.
Akibat kongesti tersebut hati membengkak dan terjadi penekanan tulang rusuk
pada organ yang meninggalkan cetakan tulang rusuk (rib impression). Rib
impression dapat memicu adanya kejadian degenerasi pada sel-sel hati (hepatosit).
Kongesti terjadi pada regio porta, vena sentralis (Gambar 25), dan sinusoid yang
disertai adanya degenerasi hepatosit (Gambar 26).
Gambar 25 Kongesti pada pembuluh darah hati, pewarnaan HE. (A) Kongesti
pada regio porta hati (panah a). (B) Sinusoid hati meluas berisi sel
darah merah (panah b)
17
Gambar 26 Degenerasi lemak disertai nekrosa (tanda panah) pada hepatosit,
pewarnaan HE
Limpa
Limpa yang mengalami atrofi dapat dilihat lebih jelas keadaan jaringannya
pada pengamatan HP. Lesio yang terjadi adalah deplesi folikel yaitu berkurangnya
populasi limfosit pada pulpa putih limpa (Gambar 27), hemoragi (Gambar 28),
jarak trabekula tampak semakin berdekatan pada bagian medula limpa (Gambar
29), dan kongesti yang disertai hipertrofi dinding pembuluh darah (Gambar 30).
18
Gambar 27
Folikel pada limpa mengalami deplesi yang ditandai dengan
berkurangnya jumlah sel dalam di dalamnya (dalam lingkaran),
pewarnaan HE
Gambar 28 Hemoragi (dalam lingkaran) pada pulpa putih ditandai dengan sel-sel
darah yang keluar dari pembuluh darah beredar ke dalam jaringan
pulpa putih limpa, pewarnaan HE
19
Gambar 29
Trabekula beserta ellipsoid (tanda panah) tampak aktif ditandai
dengan jumlahnya yang bertambah dalam jaringan medula limpa,
pewarnaan HE
Gambar 30
Kongesti pada pulpa merah limpa disertai hipertrofi dinding
pembuluh darah, pewarnaan HE. (A) Kongesti pada sinusoid
(panah a) dan pembuluh darah limpa menebal (panah b).
20
Limfonodus
Apabila dilihat secara utuh limfonodus tidak dapat menunjukkan lesio
yang mudah dikenal oleh karena itu dilakukan pengamatan HP. Lesio yang dapat
terlihat antara lain deplesi folikel limfoid (Gambar 31), dan kongesti (Gambar 32).
Gambar 31 Deplesi folikel limfoid pada limfonodus (panah a) dan keberadaan
folikel limfoid yang sudah hilang akibat deplesi (panah b) disertai
adanya kongesti pada bagian korteks, pewarnaan HE
21
Gambar 32
Kongesti pembuluh darah (tanda panah) pada bagian medula
limfonodus, pewarnaan HE
Ginjal
Pengamatan PA pada ginjal menunjukkan adanya kongesti yang jelas pada
pembuluh darahnya namun tidak hanya itu pada pengamatan HP. Lesio yang
ditemukan yaitu mikrokista pada korteks yang disertai dilatasi tubulus dan
glomerulus pada jaringan tersebut (Gambar 33), lebih dalam lagi terdapat endapan
hyalin, kongesti, degenerasi tubulus distal dan proksimal, penebalan dinding
pembuluh darah (Gambar 34), degenerasi hidropis dan degenerasi lemak jelas
terlihat pada tubulus (Gambar 35), adanya infiltrasi sel radang pada glomerulus
dan tubulus yang disertai temuan hyalin dalam tubulus yang sudah nekrosa
(Gambar 36), nekrosa tubulus disertai dengan temuan pembuluh darah yang
sangat berdilatasi (Gambar 37), dan temuan kongesti pada medula disertai
jaringan tubulus di sekitarnya yang mengalami edema (Gambar 38).
22
Gambar 33 Mikrokista terlihat pada bagian korteks disertai adanya perubahan
pada jaringan yaitu dilatasi tubulus (panah a) dan glomerulus (panah
b), Mkst= mikrokista, pewarnaan HE
Gambar 34 Keadaan korteks ginjal lebih dalam lagi terdapat endapan hyalin pada
interstisium (panah a), degenerasi tubulus distal (panah b), kongesti
(panah c), (degenerasi tubulus proksimal (panah d), dan dinding pada
pembuluh darah mengalami penebalan (panah e), pewarnaan HE
23
Gambar 35 Degenerasi hidropis (panah a) dan degenerasi lemak (panah b) pada
tubulus terjadi, pewarnaan HE
Gambar 36 Infiltrasi sel radang yang didominasi limfosit pada glomerulus dan
tubulus (panah a) disertai endapan hyalin dalam tubulus yang sudah
mengalami nekrosa (panah b), pewarnaan HE
24
Gambar 37 Nekrosa pada sebagian jaringan tubulus (panah a) dan salah satu
pembuluh darah pada jaringan sangat berdilatasi (panah b),
pewarnaan HE
Gambar 38 Kongesti pada medula ginjal (dalam lingkaran) yang dikelilingi oleh
tubulus yang sudah berdegenerasi akibat edema pada sekitar daerah
tersebut, pewarnaan HE
25
Otak
Lesio yang sampai ke otak menandakan bahwa kucing ini telah menderita
hernia diafragmatika yang kronis. Lesio yang dapat ditemukan pada jaringan otak
dalam pengamatan HP antara lain degenerasi disertai apoptosis pada sel-sel
neuron (Gambar 39), gliosis (Gambar 40), kongesti (Gambar 41), edema
perivaskular (Gambar 42), infiltrasi sel-sel mikroglia (Gambar 43), dan malacia
pada jaringan otak (Gambar 44).
Gambar 39 Perubahan bentuk neuron menjadi segitiga (panah a) dan neuron yang
mengalami nekrosa tanpa disertai respon sel glia di sekitarnya
(apoptosis) (panah b), pewarnaan HE
26
Gambar 40 Reaksi sel-sel glia/ astrosit (gliosis) terhadap tiap sel neuron yang
mengalami nekrosa terjadi dalam jaringan cerebrum (dalam
lingkaran), pewarnaan HE
Gambar 41
Pada cerebellum (A) terdapat kongesti meningen (panah a) dan
kongesti yang disertai edema perivaskular (panah b). Pada
cerebrum (B) kongesti yang disertai edema submeningen (panah c)
dan kongesti yang disertai edema perivaskular, pewarnaan HE
27
Gambar 42 Edema perivaskular yang disertai kongesti pembuluh darah (tanda
panah) pada jaringan cerebrum, pewarnaan HE
Gambar 43 Infiltrasi sel-sel mikroglia hampir menyebar pada jaringan cerebrum
(tanda panah), pewarnaan HE
28
Gambar 44
Malacia pada jaringan medulla cerebellum, pewarnaan HE. (A)
Jaringan cerebellum yang mengalami malacia (dalam lingkaran).
(B) Pembesaran jaringan cerebellum yang mengalami malacia
(tanda panah)
Pembahasan
Gejala Klinis
Anamnesa yang telah didapat menyatakan kucing mengalami gejala klinis
seperti anoreksia, kaheksia, exophthalmus, anemia, konstipasi, dan dispnoe.
Gejala klinis yang ditimbulkan sesuai dengan Catcoot dan Smithcors (1996) yang
mengatakan bahwa penyakit ini menimbulkan gejala klinis termasuk dispnoe dan
terhambatnya kerja jantung. Sedangkan menurut Ettinger (1975) kejadian hernia
diafragmatika dapat menimbulkan gejala disphagia. Anoreksia dapat disebabkan
salah satunya oleh disphagia yang dapat mungkin terjadi. Konstipasi terjadi akibat
adanya perpindahan letak organ saluran pencernaan. Hal tersebut dapat sampai
mempengaruhi penyaluran makanan yang seharusnya normal menjadi lebih
lambat dan lama-kelamaan makanan yang sudah tercerna dalam usus besar seakan
tertahan dan memerlukan waktu yang sangat lama untuk pengeluarannya.
Selain itu radiografi dilakukan untuk memperkuat diagnose. Hasil
menunjukkan bahwa terdapat ketidakjelasan marginasi antara peletakan organ
pada rongga thoraks dan abdomen dalam tubuh kucing (Gambar 1). Menurut
Kealy et al. (2011), ciri-ciri utama hewan yang mengalami hernia diafragmatika
bila diamati secara radiologi antara lain: (1) bagian dari saluran pencernaan seperti
lambung, usus halus, usus besar dapat terpindah letaknya lebih cranial masuk ke
dalam rongga thoraks, (2) terdapat peningkatan opasitas pada rongga thoraks, (3)
batas garis diafragma terlihat samar-samar tergantung lokasi celah/ robekan pada
29
diafragma, (4) apabila hati mengalami hernia akan menimbulkan perubahan yang
signifikan terhadap perpindahan letak paru-paru dalam rongga thoraks. Secara
umum hal tersebut sesuai dengan radiogram namun untuk poin ke-4 dapat
dibuktikan kesesuaiannya pada saat pengamatan patologi anatomi.
Keadaan Luar Tubuh
Pengamatan setelah kematian memperlihatkan bahwa kucing mengalami
kiposis disertai bagian flank yang tampak kosong (Gambar 2). Menurut Jubb et al.
(2006), kiposis merupakan pertumbuhan abnormal/ displasia pada tulang belakang
yang menyebabkan bagian dorsal tubuh mengalami kelengkungan. Selain itu
dapat diduga juga bahwa kiposis merupakan kelainan yang merupakan bawaan
sejak hewan dalam masa fetus yang terbentuk akibat massa organ abdomen yang
tertahan dalam rongga thoraks. Sedangkan usus halus yang biasa menempati
daerah flank telah terpindah masuk ke dalam rongga thoraks akibat hernia
sehingga menyebabkan flank tampak kosong.
Kelainan lain menunjukkan wajah kucing terlihat kurus (tirus) akibat
anoreksia yang disertai kemunculan membrana nictitans disertai keadaan
palpebrae yang terlihat pucat dan exophthalmos. Pada hidung terlihat mengalami
kebiruan atau sianosis (Gambar 3). Wajah kucing yang terlihat tirus sebagai
penanda bahwa kucing ini mengalami kaheksia yang merupakan dampak
anoreksia yang telah diderita oleh kucing sebelum kematian. Palpebrae yang
tampak pucat merupakan akibat dari anemia yang dapat disebabkan oleh
terhambatnya kerja jantung, hal ini sesuai dengan pernyataan Catcoot dan
Smithcors (1996) bahwa gejala klinis yang ditimbulkan dari hernia diafragmatika
antara lain dispnoe dan terhambatnya kerja jantung.
Membrana nictitans yang muncul dapat diduga sebagai respon tubuh
terhadap keadaan kucing yang mengalami dehidrasi berat. Sedangkan pada bola
mata yang mengalami exophthalmus diduga disebabkan oleh kegagalan sistem
kardiovaskular sebagai akibat terhambatnya kerja jantung karena menurut Sorden
dan Watts (1996), apabila terdapat kejadian exophthalmus unilateral yang tidak
jelas terdapat trombus, benda asing atau tumor, bukti trauma, maupun edema pada
daerah orbital maka hal ini mungkin disebabkan oleh kegagalan jantung bagian
kanan yang dapat dihubungkan dengan kejadian myopathi pada otot jantung.
Mukosa hidung yang mengalami sianosis merupakan pertanda bahwa
darah yang beredar kurang oksigen. Hemoglobin yang mengikat oksigen seperti
darah dalam arteri akan berwarna merah yang secara langsung akan mewarnai
kulit berpigmen dan jaringan menjadi merah muda, sebaliknya apabila
hemoglobin tidak mengikat oksigen seperti darah dalam vena lebih banyak
berwarna kebiruan, namun apabila darah yang dialirkan tidak mengandung cukup
oksigen maka jaringan akan terlihat berwarna kebiruan (McGavin dan Zachary
2007). Sianosis yang terjadi dapat dikaitkan dengan gejala klinis yang terjadi
pada kucing ini yaitu dispnoe.
Keadaan Dalam Tubuh
Bagian thoraks hingga abdomen memperlihatkan adanya perpindahan usus
halus dan sebagian usus besar serta sebagian hati yang masuk ke dalam rongga
thoraks dari rongga abdomen (Gambar 4). Lambung terlihat dalam posisi dan
bentuk yang normal, namun sebagian dari usus halus dan hati jika dilihat dari
30
posisinya memicu adanya penekanan terhadap vena cava caudal. Kondisi ini
mempengaruhi usus halus yang mengalami sianosis. Menurut King (2004), aliran
darah pada vena cava caudal yang tertekan akan mengalami penurunan sehingga
dapat menyebabkan nekrosa pada lambung dan usus.
Rongga thoraks terlihat berisi cairan berwarna bening kekuningan yang
menandakan bahwa kucing ini mengalami hidrothoraks disertai dengan adanya
kongesti yang jelas pada bagian jantung dan paru-paru yang terlihat mengalami
atelektasis (Gambar 5). Hidrothoraks dapat terjadi akibat hipoproteinemia dan
gangguan sirkulasi di dalam tubuh. Menurut Bellah (2005), hidrothoraks dapat
terjadi apabila hernia diafragmatika bersifat kronis atau bisa juga akibat dari
penyakit yang lain. Dalam kasus ini tidak ditemukannya lesio edema umum
seperti anasarca dan ascites sehingga kemungkinan kejadian hidrothoraks pada
kucing ini disebabkan keadaan gangguan sirkulasi pada tubuh.
Gumpalan darah terlihat dalam rongga thoraks, dapat diduga selain
mengalami hidrothoraks kucing ini juga mengalami hemothoraks (Gambar 7).
Hemoragi dapat terjadi per rhexis atau diapedesis pada pembuluh darah organ dan
menurut lokasi hemoraginya terbagi beberapa jenis hemoragi yang salah satunya
adalah pada rongga thoraks yang disebut dengan hemothoraks (Chauhan 2007).
Selain itu menurut Jubb et al. (2006), kejadian hemothoraks dapat disebabkan
oleh keadaan hidrothoraks yang kronis karena dapat memicu pembuluh darah
papila pada pleura terisi cairan hingga pecah bersama darah di dalam rongga
thoraks.
Diafragma terlihat tidak utuh dan tidak menutup sempurna (Gambar 8).
Bagian diafragma yang ditemukan adalah yang terletak melekat pada bagian
dorsal batas antara rongga thoraks dan rongga abdomen. Sedangkan pada bagian
ventralnya menunjukkan pengeriputan akibat tidak adanya perlekatan otot.
Ketebalan otot diafragma bervariasi yaitu bagian tengah tampak lebih tipis, namun
tidak ditemukan bekas sobek ataupun luka trauma dan kondisi costae dan otot
intercostalis terlihat normal. Pada diafragma juga tidak ditemukan jejak
persembuhan dari luka trauma seperti cicatrix (pembentukan jaringan ikat sesudah
penyembuhan luka). Hal ini menandakan kemungkinan besar diafragma tidak
terbantuk sempurna sehingga dapat diduga diafragma mengalami anomali
kongenital. Menurut Voges et al. (1997), sebagian besar kejadian hernia dapat
terjadi akibat kelainan pada diafragma dan diperkirakan terjadi sebagai kelainan
kongenital. Jaringan otot atau kolagennya tidak tumbuh antara pleura dan
peritoneum secara sempurna sehingga diafragma tidak dapat memisahkan organ
abdomen dari jantung dan paru-paru.
Diafragma terbentuk dari penggabungan septum transversum, membran
pleuroperitoneal, lapisan mesenkhim yang mendekati bagian esofagus dan
pertumbuhan otot dari tubuh. Ketidaksempurnaan dalam penggabungan beberapa
komponen ini yang diyakini dapat mengumpulkan berbagai macam kelainan pada
diafragma (Ways 2006). Apabila diamati dapat diduga komponen septum
transversum dan sebagian lapisan mesenkhim tidak tumbuh sehingga celah pada
diafragma yang telah terbentuk cukup luas. Hal ini memicu perpindahan organ
dalam rongga abdomen ke dalam rongga thoraks terjadi dan menyebabkan
berbagai macam lesio pada organ yang mempengaruhi kelangsungan hidup kucing
sebelum kematian.
31
Lesio pada Organ
1. Jantung
Keadaan jantung secara makroskopis terlihat mengalami kongesti (Gambar
5) dan memiliki dua buah apeks (double apex) (Gambar 12). Kongesti yang terjadi
pada jantung akibat adanya penyumbatan pada pembuluh darah yang tertekan oleh
organ abdomen yang berpindah ke dalam rongga thoraks. Menurut Chauhan
(2007), salah satu penyebab kongesti adalah penyumbatan pada pembuluh darah
vena. Hal ini dapat memicu kejadian gagal jantung kongestif. Menurut McGavin
dan Zachary (2007), gagal jantung kongestif biasanya diakibatkan berkurangnya
efisiensi pemompaan darah secara bertahap terkait dengan peningkatan tekanan
dan volume darah pada jantung. Akibatnya aliran darah ke jaringan perifer
menurun dan terdapat akumulasi darah yang tertahan pada ruang jantung.
Selain itu penekanan pada jantung membuat badan jantung memiliki
double apex. Kejadian hipertrofi ventrikel kiri jantung selalu disertai dilatasi pada
lumen jantung kanan dan apabila terjadi pada bagian jantung sebelah kanan
biasanya ditandai oleh pelebaran ukuran organ. Hal ini merupakan akibat dari
lumen jantung kiri yang mengalami penyempitan (Rao 2010). Keadaan double
apex terbentuk akibat kedua lumen baik kiri dan kanan bersamaan mengalami
dilatasi sebelum mengalami kolaps. Menurut McGavin dan Zachary (2007),
hipertrofi pada miokard dipicu oleh peningkatan tekanan pada jantung sedangkan
dilatasi terjadi sebagai respon kompensasi jantung untuk meningkatkan cardiac
output namun peregangan yang melampaui batas dapat menurunkan tekanan
kontraktil sehingga kegagalan jantung terjadi. Insisi pada sulkus longitudinalis
menunjukkan hipertrofi yang disertai dilatasi pada dinding otot ventrikel kiri
jantung dan dilatasi pada lumen jantung kanan (Gambar 13). Apabila dilihat dari
lebar lumennya maka jantung kanan yang lebih berdilatasi sehingga dapat diduga
terjadi kegagalan jantung bagian kanan.
Pada histopatologi jantung ditemukan lesio kongesti dan edema disertai
dengan degenerasi otot jantung (Gambar 15 dan 16). Edema yang terjadi
merupakan akibat peningkatan tekanan hidrostatik pada vena yang mengalami
kongesti sehingga cairan masuk ke ruang insterstisium jaringan otot jantung.
Degenerasi otot jantung tersebut menurut Rao (2010) disebabkan hipertrofi yang
membuat otot jantung berdegenerasi karena ukuran yang meningkat dari otot
jantung membutuhkan pasokan nutrisi yang lebih namun tidak cukup disediakan
oleh serat otot yang disalurkan melalui pembuluh darah koroner jantung.
Penyaluran darah yang terhambat membuat metabolit yang terbentuk dalam serat
otot tidak terbuang melalui aliran darah sehingga menumpuk dan mengakibatkan
serat otot mengalami degenerasi. Otot terus bekerja sehingga menjadi hipertofi
dan serat pada otot mengalami degenerasi. Pada akhirnya kegagalan kompensasi
jantung terjadi yang membuat jantung tidak bekerja sehingga kucing ini
mengalami kematian.
2. Paru-paru
Keadaan paru-paru secara makroskopis terlihat mengalami atelektasis
disertai adanya lesio pneumonia pada lobus cranial (Gambar 5). Menurut Ettinger
(1975), lobus paru-paru tidak dapat meluas sepenuhnya saat waktu pengambilan
nafas sehingga menjadi atelektasis. Kejelasan keadaan peradangan pada sebagian
jaringan tersebut dilihat lebih lanjut keadaannya pada histopatologi organ.
32
Pada histopatologi paru-paru ditemukan lesio atelektasis (Gambar 17),
emfisema (Gambar 18), edema (Gambar 19), bronkhiolitis (Gambar 20), kongesti
dan terdapat hiperplasia BALT (Gambar 21), infiltrasi sel-sel radang disertai sel
plasma (Gambar 22), penebalan septum interalveolaris (Gambar 23), dan
ditemukan adanya hemosiderin pada jaringan (Gambar 24). Emfisema terlihat
pada sebagian jaringan paru-paru. Menurut McGavin dan Zachary (2007),
kejadian emfisema pada hewan merupakan lesio sekunder yang dihasilkan oleh
berbagai lesio pada paru-paru. Umumnya emfisema disebabkan oleh terhalangnya
aliran udara yang dipicu oleh kehadiran eksudat pada bronkhus dan bronkhiolus
sehingga udara yang sudah masuk ke dalam alveolus tidak sebanding dengan
jumlah udara yang dikeluarkan. Dalam kasus ini kejadian penghalangan aliran
udara bisa saja akibat penekanan yang terjadi pada paru-paru oleh organ abdomen
yang masuk ke dalam rongga thoraks dalam jangka waktu yang lama.
Edema terlihat pada sebagian jaringan paru-paru. Kejadian edema pada
paru-paru ini dipicu oleh kegagalan jantung kongestif. Menurut Ettinger (1975),
edema pada jaringan interstisial paru-paru umumnya juga terdapat pada kasus
hernia diafragmatika yang dapat mengakibatkan pelebaran ruang kapiler alveolar
sehingga aktifitas pertukaran oksigen dengan karbondioksida berkurang.
Bronkhiolitis ditandai dengan adanya eksudat dalam lumen bronkhiolus
dan pada dinding bronkhiolus. Menurut Rao (2010), bronkhitis kronis yang
disebabkan oleh iritasi ringan namun berulang-ulang dalam jangka waktu yang
lama dapat menyebabkan lesio pada bronkhiolus yaitu bronkhiolitis obliteran.
Bronkhiolitis obliteran ditandai dengan adanya fibrosis pada dinding epitel
bronkhiolus yang akan berkembang menjadi polip lalu menghasilkan eksudat
yang akan berbentuk polipoid ke dalam lumen. Bila dilihat dalam histopatologi
bronkhiolusnya kondisi tersebut dalam tahap akut karena eksudat yang dihasilkan
belum berbentuk polipoid namun masih mengandung neutrofil dan sel-sel debris.
Kongesti pada pembuluh darah dapat terlihat disertai dengan adanya
hiperplasia bronchial assosiated lymphoid tissue (BALT) di sekitar jaringan
tersebut dan selain itu terdapat infiltrasi dan sel-sel radang lain yang didominasi
oleh limfosit dan makrofag pada jaringan paru-paru. Kejadian kongesti pada paruparu paling sering disebabkan oleh gagal jantung yang menyebabkan stagnasi
darah di pembuluh darah paru-paru yang dapat memicu edema serta infiltrasi
eritrosit ke dalam ruang alveolar. Proliferasi sel-sel limfosit pada daerah
peribronkhiolar (hiperplasia BALT) merupakan penanda bahwa kejadian
bronkhiolitis dalam tahap kronis. Adanya infiltrasi sel-sel plasma menandakan
kondisi peradangan pada jaringan sudah dalam tahap kronis. (McGavin dan
Zachary 2007). Pada kasus ini terlihat infiltrasi limfosit yang diikuti oleh sel
plasma menandakan bahwa peradangan yang terjadi pada bronkhiolus merupakan
peradangan kronik aktif.
Penebalan septum interalveolaris pada sebagian jaringan paru-paru yang
berisi sel-sel radang berupa makrofag merupakan reaksi jaringan terhadap
kerusakan yang diderita oleh paru-paru. Menurut Jubb et al. (2006), kejadian
penebalan septum interalveolaris bersifat menyebar pada jaringan paru-paru yang
dapat bersifat kronis dan salah satu penyebabnya adalah trauma hebat dan gagal
jantung kronis.
Infiltrasi makrofag yang memfagositosis pigmen hemosiderin terlihat pada
hemoragi yang terdapat di jaringan paru-paru. Hemosiderosis pada paru-paru
33
merupakan kondisi yang sangat jarang terjadi dan ditandai dengan pendarahan
paru-paru yang spontan namun sering dikaitkan dengan anemia defesiensi zat
besi. Penyebabnya sebenarnya belum diketahui namun pernah dilaporkan
penderita memiliki kelainan malformasi jantung atau pembuluh darah, dalam
proses infeksi, vaskulitis, trauma, dan alergi protein (Etzel et al. 1998).
Kemunculan hemosiderin yang menyebar di jaringan paru-paru dapat diakibatkan
oleh trauma penekanan pada paru-paru selama kucing masih hidup dan pigmen ini
juga menandakan adanya kegagalan pada jantung (heart failure cell). Adanya
hemosiderin pada jaringan memicu kedatangan makrofag sebagai salah satu dari
respon imun tubuh.
3. Hati
Keadaan hati secara makroskopis terlihat mengalami kongesti yang
disertai adanya kompresi tulang rusuk pada permukaan organ tersebut (rib
impression) (Gambar 6). Kongesti terjadi akibat sebagian dari hati terjepit oleh
organ abdomen lainnya yang mengalami perpindahan ke dalam rongga thoraks
dalam jangka waktu yang lama selain itu hal ini menyebabkan penekanan ke
bagian tulang rusuk yang berada di sekitarnya sehingga terbentuk cetakan pada
permukaan hati. Menurut Jubb et al. (2006), kejadian perpindahan posisi organ
hati pada hernia diafragmatika biasanya hanya sebagian lobusnya saja yang ikut
masuk ke dalam rongga thoraks sehingga suplai darah tidak dapat sampai ke lobus
tersebut. Kejadian ini memicu timbulnya kongesti hebat pada hati. Selain itu letak
paru-paru tidak berpindah sehingga hal ini berbeda dengan pernyataan Kealy et al.
(2011) yaitu apabila hati mengalami hernia akan menimbulkan perubahan yang
signifikan terhadap perpindahan letak paru-paru dalam rongga thoraks.
Pada histopatologi hati ditemukan lesio kongesti (Gambar 25), dan
degenerasi hepatosit (Gambar 26). Kejadian kongesti selain disebabkan oleh
terjepitnya sebagian lobus hati dapat juga disebabkan oleh gagal jantung. Menurut
McGavin dan Zachary (2007), kongesti pada hati pada setiap spesies hampir
selalu disebabkan oleh gagal jantung. Kegagalan jantung bagian kanan
menghasilkan peningkatan tekanan di dalam vena cava caudal yang kemudian
melibatkan vena hepatik beserta cabang-cabangnya. Kongesti ini awalnya akan
menyebabkan distensi pada vena sentralis dan sinusoid. Hipoksia pada bagian
sentrilobular hati yang terus-menerus akan menyebabkan degenerasi hingga
nekrosa pada hepatosit.
4. Ginjal
Keadaan ginjal secara makroskopis terlihat mengalami kongesti pada
pembuluh darah dan organ (Gambar 9). Kejadian kongesti pada ginjal ini
merupakan akibat dari aliran darah yang terhambat pada jantung. Menurut Vegad
(2008), kongesti merupakan peningkatan jumlah darah dalam pembuluh darah
vena sebagai hasil dari obstruksi pada pembuluh darah yang disebabkan
perpindahan posisi organ sehingga dapat menekan lalu menghambat aliran darah
pada organ lainnya.
Pada histopatologi ginjal ditemukan lesio mikrokista pada korteks yang
disertai dilatasi tubulus dan glomerulus pada jaringan tersebut (Gambar 33), lebih
dalam lagi terdapat endapan hyalin, kongesti, degenerasi tubulus distal dan
proksimal, penebalan dinding pembuluh darah (Gambar 34), degenerasi hidropis
34
dan degenerasi lemak jelas terlihat pada tubulus (Gambar 35), adanya infiltrasi sel
radang pada glomerulus dan tubulus yang disertai temuan hyalin dalam tubulus
yang sudah nekrosa (Gambar 36), nekrosa tubulus disertai dengan temuan
pembuluh darah yang sangat berdilatasi (Gambar 37), dan temuan kongesti pada
medula disertai jaringan tubulus di sekitarnya yang mengalami edema (Gambar
38). Ginjal yang memiliki kerusakan di salah satu bagian pada jaringan akan
melibatkan kerusakan pada bagian yang lain.
Menurut Rao (2010), salah satu faktor yang mengganggu fungsi ginjal
adalah adanya perubahan dalam sirkulasi ginjal. Lesio degenerasi yang disebut
nefrosis mempengaruhi keadaan tubulus sehingga menjadi bengkak keruh,
terdapat degenerasi lemak, hingga menjadi nekrosis. Sedangkan menurut Jubb et
al. (2006), walaupun keadaan degenerasi lemak pada kucing jarang ditemukan,
kasus ini pernah ditemukan dalam tubulus pada hewan yang mati akibat
kelaparan. Selanjutnya keadaan dilatasi pada tubulus dan glomerulus
kemungkinan dipengaruhi iskhemia yang disebabkan kongesti yang terjadi pada
pembuluh darah ginjal. Menurut (Hard et al. 1999), dilatasi pada tubulus dapat
disebabkan salah satunya oleh iskhemia yang sifatnya sementara atau dengan
adanya degenerasi/ regenerasi pada tubulus.
Kista yang ditemukan pada bagian korteks merupakan akibat dari
kerusakan hebat pada jaringan ginjal. Menurut Chang et al. (2007), hilangnya
nefron akibat nekrosa memicu peningkatan kinerja tubulus yang tersisa hingga
mengalami hipertrofi. Hipertrofi pada tubulus tersebut terus berkembang lalu
berubah menjadi kista. Sedangkan adanya endapan hyalin baik dalam glomerulus,
tubulus, dan jaringan instersisium ginjal merupakan respon jaringan terhadap
iskhemia pada organ tersebut. Hal ini bersesuaian dengan pernyataan Tighe
(1977) bahwa reaksi kapiler glomerulus terhadap iskhemia akan kolaps lalu
terkonversi menjadi massa hyalin. Keadaan glomerulus yang seharusnya memiliki
laju filtrasi yang tinggi akan berkurang. Laju filtrasi yang lambat menyebabkan
massa hyalin yang telah terbentuk akan lebih banyak direabsorbsi oleh tubulus
sehingga menimbulkan endapan hyalin yang tersebar dalam jaringan ginjal. Oleh
karena itu terjadi infiltrasi sel-sel radang sebagai respon tubuh terhadap jaringan
yang rusak.
Penghambatan sirkulasi yang terjadi pada ginjal dapat memicu adanya
penebalan (hipertrofi) pada dinding pembuluh darah di jaringan. Apabila terjadi
gangguan pada ginjal, maka ginjal akan banyak mensekresikan sejumlah besar
renin (Basso dan Terragno 2001). Renin bekerja sebagai enzim yang bekerja pada
suatu protein plasma lain yaitu angiotensinogen untuk melepaskan angiotensin I.
Angiotensin I memiliki sifat vasokonstriktor yang ringan tetapi tidak cukup untuk
menyebabkan perubahan fungsional yang bermakna dalam fungsi sirkulasi.
Setelah pembentukan angiotensin I, terdapat dua asam amino tambahan yang
memecah dari angiotensin untuk membentuk angiotensin II. Perubahan menjadi
angiotensin II dikatalisis oleh enzim di endotelium pembuluh darah paru-paru
yaitu angiotensin converting enzyme (ACE). Angiotensin II adalah
vasokonstriktor yang sangat kuat, dan memiliki efek-efek lain yang juga
mempengaruhi sirkulasi. Vasokonstriksi terjadi terutama pada arteriol dan sedikit
lebih lemah pada vena (Guyton dan Hall 1997). Salah satu dampak dari
vasokonstriksi tersebut dapat menyebabkan hipertrofi pada pembuluh darah
(Klabunde 2007).
35
Sedangkan dilatasi pada pembuluh darah ginjal dapat disebabkan adanya
kegagalan jantung kongestif dan nefrosis yang terjadi. Hal ini bersesuaian dengan
pernyataan McGavin dan Zachary (2007) yaitu gagal jantung kongestif akan
mengurangi pengaliran darah pada ginjal. Hal ini akan menimbulkan hipoksia
pada jaringan dan memicu pelepasan renin dari sel juxtaglomerular yang
selanjutnya merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan aldosteron. Retensi air
dan natrium pada tubulus merupakan dampak yang diberikan diikuti peningkatan
volume cairan plasma seperti edema. Selain itu menurut Vegad (2008),
pengurangan ekskresi natrium dalam urin selain terjadi pada gagal jantung
kongestif juga dapat ditemukan pada keadaan ginjal yang mengalami nefrosis.
Retensi air dan natrium menyebabkan ekspansi volume cairan intravaskular yang
dapat meningkatkan volume cairan pada interstisium. Dalam kasus ini tidak hanya
tubulus saja yang dapat mengalami dilatasi akibat edema, namun lesio ini dapat
juga ditemukan glomerulus dan pembuluh darah pada jaringan.
5. Usus
Usus yang mengalami sianosis setelah dikeluarkan terlihat organ tersebut
mengalami kongesti dan dilatasi pada pembuluh darahnya. Hal ini dapat
disebabkan oleh perpindahan posisi organ tersebut. Kongesti dapat juga
disebabkan oleh torsio atau volvulus yang terjadi pada suatu organ (Vegad 2008).
Menurut Chauhan (2007), secara makroskopik pembuluh darah yang mengalami
kongesti akan berdistensi sesuai akumulasi darah dalam aliran yang tersumbat.
6. Limpa
Keadaan limpa secara makroskopis mengalami atrofi karena ukurannya
yang lebih kecil dari ukuran yang seharusnya (Gambar 11). Menurut Jubb et al.
(2006) atrofi pada limpa terjadi akibat selenitas pada hewan yang terkait dengan
kelaparan. Biarpun hewan ini masih muda namun gejala klinis menunjukkan
adanya anoreksia sehingga dapat dikaitkan dengan rasa lapar yang diderita hewan
tersebut dalam jangka waktu yang panjang sehingga menyebabkan limpa
kekurangan asupan nutrisi yang untuk berkembang, akibatnya terjadi atrofi pada
limpa.
Pada histopatologi limpa ditemukan lesio deplesi folikel limpa (Gambar
27), hemoragi pada pulpa putih (Gambar 28), trabekula dan ellipsoid aktif pada
bagian medula (Gambar 29), dan kongesti pada pulpa merah yang disertai
hipertrofi dinding pembuluh darah (Gambar 30). Deplesi pada folikel limfoid
merupakan respon terhadap suatu penyakit yang ditandai dengan temuan jumlah
folikel yang sedikit, ukuran folikel yang kecil, hingga tidak terdapatnya folikel
(Frith et al. 2000). Hemoragi yang terjadi pada pulpa putih dapat disebabkan oleh
adanya kerusakan pada pembuluh kapiler limpa sedangkan untuk keadaan pulpa
merahnya mengalami kongesti. Menurut McGavin dan Zachary (2007), hemoragi
pada jaringan organ pada tubuh tergantung tingkat keparahannya yang salah
satunya dapat terjadi akibat diapedesis yang berkaitan dengan kerusakan minor
pada pembuluh darah.
Ellipsoid yang aktif pada limpa menandakan adanya reaksi imun terhadap
penyakit. Ellipsoid mengandung serat kolagen yang kompak berguna sebagai
penyaring bakteri, bahan asing, antigen, dan sel darah yang sudah tua serta jumlah
ellipsoid yang bertambah menandakan hewan memiliki imun yang baik terhadap
36
suatu penyakit (Song et al. 2012). Sedangkan untuk keadaan kongesti pada pulpa
merah limpa lesionya dapat disebabkan adanya kemungkinan gangguan sirkulasi
pada jantung. Menurut Jubb et al. (2006), kongesti pada jantung atau paru-paru
dapat mempengaruhi kejadian kongesti pada limpa namun hal ini tidak biasa
terjadi.
7. Limfonodus
Limfonodus lebih jelas terlihat keadaannya dalam pengamatan
histopatologi. Lesio yang ditemukan antara lain adanya deplesi folikel limfoid
(Gambar 31) disertai kongesti pada daerah medula (Gambar 32). Sama halnya
dengan limpa, deplesi pada folikel limfoid merupakan respon terhadap suatu
penyakit yang ditandai dengan temuan jumlah folikel yang sedikit, ukuran folikel
yang kecil, hingga tidak terdapatnya folikel (Frith et al. 2000). Kejadian kongesti
pada limfonodus dapat disebabkan oleh kegagalan jantung karena menurut
McGavin dan Zachary (2007), penghambatan aliran darah ke seluruh tubuh akan
terjadi setelah kegagalan pada jantung.
8. Otak
Keadaan otak secara makroskopis terlihat mengalami kongesti
menandakan bahwa lesio yang diderita sudah bersifat kronis (Gambar 14). Otak
yang mengalami kongesti disebabkan oleh kerja jantung dan paru-paru yang
terhambat sehingga aliran darah yang menuju ke dalam otak menjadi tidak lancar
hal ini bersesuaian dengan pernyataan Rao (2010) yang menyatakan kongesti
yang sifatnya kronis pada otak terjadi akibat lesio pada jantung atau paru-paru.
Kemungkinan gagal jantung menyebabkan iskhemia pada jaringan otak sehingga
menyebabkan berbagai lesio pada jaringan otak.
Pada histopatologi otak ditemukan lesio degenerasi disertai apoptosis pada
sel-sel neuron (Gambar 39), gliosis (Gambar 40) kongesti disertai edema
submeningen (Gambar 41), edema perivaskular (Gambar 42), infiltrasi sel-sel
mikroglia/ gliosis (Gambar 43), dan malacia pada jaringan otak (Gambar 44).
Menurut Rao (2010), neuron bersifat mudah rentan terhadap cedera akibat
hipoksia yang akan menyebabkan perubahan degeneratif dan nekrotik. Karakterasi
penyusutan neuron yaitu bentuk sel menjadi tidak teratur, ukuran inti sel yang
mengalami piknosis, dan kondensasi pada badan Nissl. Gangguan vaskular yang
terjadi pada jaringan otak yakni edema perivaskular dan kongesti. Edema
perivaskular merupakan kejadian yang dipicu oleh perubahan fungsi endotel
mikrovaskuler menjadi ekstravasasi komponen plasma ke dalam dinding arteriolar
sehingga menjadi edema perivaskular (Mărgăritescu et al. 2009).
Sedangkan untuk kongesti kejadiannya kemungkinan dapat diakibatkan
karena stenosis pada pembuluh darah dari jantung menuju ke otak yang
disebabkan oleh penekanan organ abdomen saat hernia sehingga jaringan otak
mengalami iskhemia. Hal ini yang memicu timbulnya edema submeningen pada
otak. Iskhemia yang terjadi memicu adanya perubahan bentuk neuron dan
apoptosis. Menurut Lipton (1999), Reaksi kematian sel akibat iskhemia antara lain
perubahan bentuk neuron menjadi segitiga dan apoptosis. Perubahan sitoplasma
neuron sangat khas yaitu mengalami kondensasi disertai penyusutan hebat
sehingga membentuk segitiga pada badan selnya. Sedangkan apoptosis pada
neuron merupakan proses kematian sel yang sudah terprogram dalam menanggapi
37
keadaan iskhemia. Menurut Banasiak (2000), sel yang mengalami apoptosis
ditandai dengan penyusutan sitoplasma dan inti tanpa disertai kerusakan pada
membran sel.
Mikroglia merupakan turunan dari fagosit mononuklear yang memiliki
fungsi utama sebagai makrofag dalam sistem saraf pusat. Mikroglia akan
teraktifasi bila ada kerusakan pada jaringan lalu melepaskan sitokin sebagai
pertahanan lalu merekrut makrofag lainnya untuk menuju situs cedera (Jubb et al.
2006). Ploriferasi astrosit yang biasa disebut dengan gliosis juga dapat terjadi
pada kerusakan sistem saraf pusat. Astrosit melindungi sel yang berdegenerasi
dengan mengelilingi daerah yang akan nekrosa tersebut (McGavin dan Zachary
2007). Malacia pada otak merupakan kematian jaringan sistem saraf pusat.
Perubahan dari tahap nekrosis, pembuangan jaringan yang sudah mati, hingga
restorasi sama terhadap setiap kemungkinan yang dapat menyebabkan terjadinya
malacia. Malacia dapat disebabkan oleh gangguan sistem vaskular dan trauma
(Jubb et al. 2006).
Patogenesis
Menurut petMD (2012), kucing ras Himalaya menunjukkan lebih banyak
mengalami kelainan kongenital yaitu terbentuknya celah pada diafragma sejak
lahir sehingga penyakit hernia diafragmatika dapat terjadi. Hal tersebut bisa
dihubungkan dengan jenis ras kucing ini yang mungkin merupakan keturunan ras
Himalaya. Ras Himalaya merupakan persilangan antara ras Persia dan ras Siamese
sehingga kelainan yang diturunkan dapat memicu timbulnya penyakit hernia
diafragmatika yang bersifat kongenital. Hal ini juga didukung dengan keadaan
diafragma pada kucing yang tidak menutup sempurna membentuk lengkung
terbuka yang cukup luas. Diafragma yang terlihat hanya menutup kurang lebih
25% dari yang seharusnya.
Menurut Ettinger (1975), adanya celah yang terbentuk mengakibatkan
tekanan yang tidak sama antara sisi peritoneum dan sisi pleura pada diafragma.
Celah yang terbentuk pada kucing ini cukup besar sehingga sangat
memungkinkan adanya hernia. Kejadian ini juga didukung dengan adanya
perubahan tekanan negatif pada rongga thoraks. Menurut Muttaqin (2008),
tekanan negatif memiliki prinsip tekanan dalam rongga thoraks lebih rendah dari
tekanan atmosfer sehingga udara dapat bergerak ke paru-paru selama inspirasi.
Namun, pada kasus ini akibat diafragma yang tumbuh tidak sempurna dapat
mempengaruhi tekanan negatif dari rongga thoraks. Adanya tekanan negatif
menyebabkan usus dan hati terpindah masuk ke dalam rongga thoraks lalu
menekan jantung dan paru-paru sehingga mengganggu pernapasan dan sirkulasi
darah pada jantung.
Hal tersebut mempengaruhi kinerja jantung dan paru-paru serta sistem
pembuluh darah pada organ. Keadaan tersebut memicu kelainan yang telah dilihat
pada pengamatan patologi anatomi yaitu jantung memiliki double apex (hipertrofi
disertai dilatasi pada jantung) dan paru-paru yang mengalami atelektasis. Selain
itu juga terlihat lesio kongesti pada beberapa organ antara lain paru-paru, usus,
hati, limpa, limfonodus, ginjal, bahkan otak yang telah dibahas sebelumnya dalam
patologi anatomi dan histopatologi. Lesio pada organ-organ tersebut
menyebabkan gangguan pada fungsi organ yang dapat dikaitkan dengan gejala
klinis saat kucing masih hidup yaitu anoreksia, anemia, konstipasi, dan dispnoe.
38
Lesio secara sistemik pada setiap organ terjadi karena terkait kinerja
jantung yang terganggu sehingga mengalami gagal jantung kongestif yang
menyebabkan kematian pada kucing. Kegagalan pada jantung ini dapat dibuktikan
pada pengamatan patologi anatomi kucing mengalami exophthalmus dan pada
pengamatan histopatologi otot jantung mengalami degenerasi akibat keadaan
jantung yang dilihat sebelumnya dalam pengamatan patologi anatomi mengalami
hipertrofi disertai dilatasi sehingga memicu keadaan double apex. Penambahan
apeks tersebut dipicu oleh penyempitan lumen ventrikel kiri jantung akibat
penekanan organ abdomen yang tertahan di dalam rongga thoraks sehingga kedua
lumen baik kiri dan kanan bersamaan mengalami dilatasi sebelum mengalami
kolaps. Pada akhirnya kegagalan kompensasi jantung terjadi yang membuat
jantung tidak dapat lagi bekerja.
SIMPULAN
Penyakit hernia diafragmatika yang diderita kucing ini dapat diduga tidak
terjadi akibat trauma karena tidak ditemukannya temuan jejak persembuhan pada
diafragma, namun dapat dikaitkan dengan kelainan bawaan yang mungkin
diturunkan oleh jenis ras kucing tersebut dan juga disertai dengan kemungkinan
tidak terbentuknya beberapa komponen pembentuk diafragma sebelum kucing
dilahirkan. Hal tersebut memicu perpindahan organ abdomen ke dalam rongga
thoraks. Lesio yang ditemukan pada jantung, paru-paru, usus, hati, limpa,
limfonodus, ginjal, dan otak menandakan bahwa penyakit ini sudah bersifat
sistemik terkait kegagalan pada sistem kerja jantung.
DAFTAR PUSTAKA
Banasiak KJ, Xia Y, Haddad GG. 2000. Mechanisms Underlying hypoxiainduced neuronal apoptosis. Progress in Neurobiology, 62: 215-249. Hlm: 217.
Basso N, Terragno, Norberto A. 2001. History About The Discovery of The
Renin-Angiotensin System. Hypertension, 38(6): 1246-1249. Hlm: 1246-1248.
Bellah JR. 2005. Diaphragmatic Hernias. Standards of Care Emergency and
Critical Care Medicine, 7.5: 1-7. Hlm: 3.
Catcoot EJ, Smithcors JF. 1966. Progress in Feline Practice (Including Caged
Birds and Exotic Animals). Amerika Serikat: American Veterinarian
Publication, Inc. Hlm: 28-314.
Chauhan RS. 2007. Illustrated Veterinary Pathology (General & Systemic
Pathology). Lucknow: International Book Distributing Co. Hlm: 50-52.
Chang CC, Kuo JY, Chan WL, Chen KK, Chang LS. Prevalence and Clinical
Characteristics of Simple Renal Cyst. Journal of the Chinese Medical
Association, 70(11): 486-491. Hlm: 490.
Download