BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tesis ini akan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tesis ini akan membahas mengenai apa peranan ASEAN melalui diplomasi
kemanusiaan terhadap Myanmar dalam kasus Siklon Nargis serta penggunaan diplomasi
kemanusiaan ASEAN melalui norma ASEAN Way yang digunakan untuk membantu
meyakinkan Myanmar untuk membuka penerimaan bantuan kemanusiaan dari negaranegara donor melalui ASEAN.
Siklon Nargis merupakan topan kategori 3 yang menghantam negara Myanmar
pada tanggal 3 Mei 2008, dan berdampak pada 50 kota-kota di divisi Ayeyarwaddy
termasuk Yangon (Rangoon), kota terbesar di negara tersebut. Bencana ini menimbulkan
kehancuran yang cukup masif, hilangnya nyawa serta pengungsi internal. Bencana itu
adalah bencana alam terburuk yang terjadi di Myanmar dan topan paling dahsyat di Asia
Tenggara sejak tahun 1991.1 Meskipun jumlah korban meninggal secara pasti mungkin
tidak akan pernah diketahui, kelompok inti negara-negara Asia Tripartite, yang terdiri dari
PBB, Asosiasi Tenggara (ASEAN) dan Pemerintah Junta Militer Myanmar, mengklaim
jumlah korban tewas resmi menurut data tanggal 24 Juni 2008 sebanyak 84.537 jiwa
dengan 53.836 jiwa hilang dan 19.359 jiwa terluka,2 meskipun sumber lain memperkirakan
jumlah korban tewas yang sebenarnya mendekati lebih dari 140.000. Selain itu, sekitar 2,4
juta orang berisiko mengalami penderitaan, penyakit dan kematian atau yang disebut
second wave of humanitarian disaster.3
Masyarakat internasional, badan-badan kemanusiaan PBB, pemerintah dari
beberapa negara dan sejumlah LSM, secara cepat menawarkan bantuan untuk mendukung
junta yang berkuasa di Myanmar dengan memberikan bantuan kepada para korban. Namun
pemerintah junta militer Myanmar tidak bersedia menerima bantuan masyarakat
internasional seperti yang diharapkan. Mereka menolak untuk menerima kehadiran
personil asing di negara itu dan hanya bersedia menerima bantuan persediaan jika diangkut
melalui kapal sipil. Harapan kapal angkatan laut asing untuk berlabuh di Myanmar dengan
1
Tripartite Core Group, Post Nargis Joint Assessment, (2008).
Jumlah korban yang hilang sampai sekarang dihitung sebagai jumlah korban meninggal dunia. Lihat J.
Belanger and R. Horsey, “Negotiating Humanitarian Access to Cyclone-affected Areas of Myanmar: A
Review,” Humanitarian Exchange Magazine 4 (2008): accessed Oktober 25, 2014, doi:
http://www.odihpn.org/report.asp?id¼2964
3
UN News Centre, „lebih dari 1 juta korban Siklon Nargis sudah menerima bantuan”, 2008. accessed
Oktober 25, 2014, doi: http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID¼26896&Cr¼myanmar&Cr1¼
2
cepat ditolak, karena rezim tersebut sangat mencurigai niatan masyarakat internasional
melalui pemberian bantuan.4
Pasca Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon bertemu dengan Jenderal Senior Than
Shwe, Kepala Junta militer Myanmar, pada tanggal 23 Mei 2008 dan sebuah kesepakatan
dicapai bahwa Myanmar akan membuka perbatasannya untuk operasi kemanusiaan dengan
skala internasional.5 Setelah pertemuan itu, pekerja kemanusiaan, terutama dibidang
komunikasi dan logistik mempunyai akses ke daerah yang terkena bencana tersebut. Akan
tetapi komplikasi lebih lanjut menghambat kemajuan mereka. Menurut seorang perwakilan
dari Program Pangan Dunia (WFP), gerakan pekerja memiliki akses yang sangat terbatas
ke kota Yangon dan tidak diperbolehkan mengakses ke wilayah delta yang menderita
kerusakan paling parah.6
Menyadari kecaman internasional yang menumpuk pada Myanmar untuk membuka
secara akses pengiriman bantuan kemanusiaan secara penuh dan harapan bahwa "sesuatu
harus dilakukan" untuk membuka akses kemanusiaan, ASEAN berinisiatif bekerja sama
dengan Sekretaris Jenderal PBB guna mengamankan persetujuan rezim untuk pengiriman
bantuan internasional dan kemudian memainkan peran penting dalam membantu untuk
mengkoordinasikan pengiriman bantuan itu. Respon ASEAN sebagai organisasi regional
terhadap bencana terebut dinilai tergolong lambat, ragu-ragu, dan bersifat sementara.
Namun, beberapa anggota ASEAN berpikir bahwa hal tersebut merupakan cara yang
sesuai untuk organisasi regional tersebut untuk terlibat dengan masalah ini dan beberapa
anggota parlemen daerah dan kelompok masyarakat sipil diharapkan ASEAN untuk
memainkan peran yang konstruktif. Melalui peran ASEAN, tindakan pertolongan terhadap
korban bencana alam secara memadai mungkin tidak pernah tercapai, dan membiarkan
ASEAN untuk memimpin pada respon kemanusiaan dalam konteks ini terbukti tepat dan
memperkuat argumen kepada pimpinan Junta Militer Myanmar bahwa bantuan yang
disediakan dengan alasan tanpa syarat dan disajikan adalah untuk memudahkan Pemerintah
Junta Militer Myanmar dalam menanggulangi bencana Siklon Nargis.
4
Junta militer Myanmar mencurigai adanya agenda terselubung dari komunitas internasional, terutama
Amerika Serikat, melalui pemberian bantuan kemanusiaan dalam kasus Siklon Nargis tersebut. Pembahasan
lebih lanjut bisa dilihat di Strefford, Patrick, “America Adopts 'the Asian Way'? Or, the Emergence of a Twolevel Game in US Policy towards Myanmar,” Journal of International Cooperation Studies, Vol. 18, No. 3.
(2011).
5
BBC News, “Will Burma keep its Word on Aid”; BBC News, “UN Head Pressures Burma’s Leader,” 2008,
accessed Oktober 25, 2014, http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/asia-pacific/7415873.stm
6
BBC News, “New Challenges for Delta Aid Workers,” 2008, accessed Oktober 25, 2014
http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/asia-pacific/7432874.stm
Asosiasi Bangsa-bangsa Asia Tenggara, atau ASEAN, didirikan pada tanggal 8
Agustus 1967 di Bangkok, Thailand, dengan penandatanganan Deklarasi ASEAN
(Deklarasi Bangkok) oleh negara pendiri ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina,
Singapura dan Thailand. ASEAN merupakan sebuah organisasi regional yang
mengakomodir kepentingan-kepentingan negara anggotanya. Definisi regionalisme sendiri
mencakup aspek yang lebih luas termasuk ekonomi, sosial, politik dan keamanan.
Sebagai norma hukum, esensi dari ASEAN Way disebutkan dalam Deklarasi
ASEAN tahun 1967 yang ditandatangani untuk pembentukan ASEAN. Penekanan pada
ASEAN Way terutama dibuat dalam frase seperti:
“...That they are determined to ensure their stability and security from
external interference in any form or manifestation in order to preserve their
national identities...” (ASEAN, 1967).
Seperti yang dinyatakan oleh Johnston, salah satu faktor paling fundamental yang
membuat ASEAN terlihat “kuat”, meskipun belum terbukti benar, adalah ASEAN Way itu
sendiri. ASEAN Way adalah konsep lingkungan sosial yang menekankan efek keakraban,
membangun konsensus, konsultasi, non-argumentasi koersif, menghindari solusi legalistik
untuk distribusi masalah dan lain-lain."7 Setidaknya ada 4 aspek menurut Acharya yang
menjadi dasar dari ASEAN Way dan membuat ASEAN Way berbeda dengan konsep lain,
yaitu:
“Close interpersonal ties among ASEAN's founding leaders; As an
expression of cultural similarities; The regulatory norms of ASEAN, or the
principles of inter-state relations adopted by the ASEAN members; The
process of interaction and socialization that has marked ASEAN's evolution
since 1967”.8
Sedangkan menurut sudut pandang mantan menteri luar negeri Malaysia, Ghazalie Shafie,
warisan kultur dari negara-negara Asia Tenggara itu sendiri yang menjadi basis dari
ASEAN Way, khususnya spirit kebersamaan ala kampung atau the village spirit of
togetherness.9
Disisi lain, sebagaimana ringkas dinyatakan oleh Thakur dan Weiss, ASEAN
melalui diplomasi berupa cara-cara yang lazim dilakukan oleh negara-negara anggota
7
Alastair I. Johnston, “Socialization in International Institutions: The ASEAN Way and International
Relations Theory,” in International relations theory and the Asia-Pacific, ed. Ikenberry, G. John, and
Michael Mastanduno. (New York: Columbia University Press, 2003), 107.
8
Amitav Acharya, Constructing a Security Community in South East Asia: ASEAN and the problem of
Regional Order (London and Newyork: Routledge, 2001) 56.
9
Acharya, Constructing a Security Community in South East Asia, 57.
ASEAN untuk menyelesaikan masalah, mempunyai peranan efektif dalam menyelesaikan
masalah
di
kawasan
regionalnya
sendiri10.
Sementara
konsep
netralitas
dan
ketidakberpihakan memainkan peranan besar dalam wacana kemanusiaan, dalam konteks
yang sangat dipolitisir seperti di Negara Myanmar.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, rumusan masalah yang akan dibahas dalam tesis ini adalah:
1. Apa saja peranan ASEAN dalam intervensi kemanusiaan ditinjau dari
diplomasi kemanusiaan ASEAN?
2. Mengapa ASEAN menggunakan konsep ASEAN Way dalam mediasi
intervensi kemanusiaan di Myanmar?
C. Tinjauan Literatur
Guna menjawab masalah penelitian, penulis berpegang pada beberapa sumber yang
telah ditulis oleh para ahli di bidangnya. Salah satu sumber yang penting dalam penulisan
penelitian ini adalah referensi dari jurnal yang ditulis oleh Alpaslan Ozerdem yang
berjudul The Responsibility to Protect in Natural disaster: another excuse for
interventionism? Nargis Cyclone, Myanmar.11 Dalam jurnal tersebut, penulis menyatakan
bahwa ketidakmampuan sebuah Negara yang gagal melindungi kesejahteraan warganya,
terutama pasca terkena bencana alam dalam skala yang besar, maka intervensi dari negaranegara lain wajib dilakukan. Rezim junta militer yang bertindak sebagai pemegang
kekuasaan pemerintah menghalangi bantuan yang masuk dari negara-negara lain yang
ingin membantu dalam kasus Siklon Nargis ini dengan alasan melindungi kepentingan
kedaulatan Negara dari negara-negara donor tersebut. Argumen ini dapat mudah
dipatahkan dengan isu kemanusiaan yang lebih mendesak. Akan tetapi keteguhan rezim
junta militer dalam melihat kedaulatan Negara diatas segalanya membuat bantuan
kemanusiaan dari Negara donor yang dikirimkan ke Myanmar menjadi terlihat mustahil
untuk dilakukan.
Ozerdem menyatakan bahwa kombinasi makro (pemerintah) dan mikro (pekerja
yang menyalurkan bantuan kemanusiaan) pada tingkat diplomasi ini terbukti efektif dalam
mengambil langkah-langkah progresif untuk respon bantuan kemanusiaan yang lebih
10
Ramesh Thakur and Thomas G Weiss, “R2P: From Idea to Norm - and Action?,” Global Responsibility to
Protect 1, No. 1. (2009): 27.
11
Alpaslan zerdem, The „responsibility to protect‟ in natural disasters: another excuse for interventionism?
Nargis Cyclone, Myanmar,” Conflict, Security & Development 10 (2010): 693-713.
besar. Terutama berguna bagi badan-badan regional yang memainkan peran dalam bidang
diplomatik dan dalam menilai kebutuhan bantuan yang memang benar-benar dibutuhkan di
lapangan. Tanpa masukan tindakan pertolongan yang memadai dari ASEAN melalui
ASEAN Way, mungkin bantuan kemanusiaan ini tidak akan pernah tercapai, dan
membolehkan ASEAN untuk memimpin respon kemanusiaan ini memperkuat argumen
bahwa bantuan yang disediakan dengan alasan tanpa syarat dan disajikan sebenarnya
adalah untuk memudahkan Pemerintah Junta Militer Myanmar.12
Jurnal ini menjadi penting buat penulis karena banyak sekali menyediakan
informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus Siklon Nargis di Myanmar
yang dilihat secara analitis. Kekuatan diplomasi kemanusiaan ASEAN melalui ASEAN
Way berhasil membuka jalur bantuan kemanusiaan yang memang sangat dibutuhkan oleh
para korban yang sempat ditutup oelh pemerintah junta militer Myanmar dengan alasan
kedaulatan Negara.
Hal yang tidak dipaparkan oleh Ozerdem ini kemudian penulis temukan ada dalam
pembahasan soft power oleh Nye dalam bukunya The Paradox of American Power: Why
the World Only Superpower Can’t Go It Alone.13 Nye menggolongkan kekuatan dalam dua
bentuk yang berbeda yaitu hard power dan soft power. Nye mengungkapkan bahwa aspek
koersi yang diwujudkan dalam penguatan militer, tidak cukup efektif untuk membangun
suatu kekuasaan. Nye kemudian memperkenalkan aspek baru yang menyentuh ranah afeksi
demi mewujudkan kekuasaan. Aspek tersebutlah yang dimaksud dengan Soft Power. Ide
utamanya adalah bukan dengan menghilangkan lawan, namun dengan manambah kawan.
Karena
dalam
tujuannya
adalah
menyentuh
ranah
afeksi,
maka
dalam
pengimplementasiannya, soft power lebih mengeksplorasi aspek-aspek yang dapat
digunakan untuk menyebarkan kesan positif dari suatu negara. Aspek-aspek tersebut dibagi
menjadi tiga kategori besar yaitu: kebudayaan (pada tempat-tempat yang memiliki
kebudayaan yang menarik), nilai politik (jika nilai ini layak sukses di negaranya sendiri
dan negara luar), dan kebijakan luar negeri (apabila kebijakan ini masuk akal dan
mempunyai nilai moral).
Dari tiga kategori besar tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan
memiliki turunan yang terbanyak. Akan tetapi kebijakan luar negeri dan nilai politik juga
memilki peranan yantg besar. Sejak terbentuknya ASEAN sebagai sebuah kawasan
12
Ozerdem, The „responsibility to protect‟, 701.
Joseph S. Nye, The paradox of American Power: Why the World's Only Superpower Can't Go It Alone.
(Oxford: Oxford University Press, 2002).
13
regional, ASEAN memegang teguh beberapa norma yang tumbuh sejalan dengan evolusi
ASEAN. Setidaknya ada empat norma yang melandasi kehidupan ASEAN. Pertama
menentang penggunaan kekerasaan dan mengutamakan solusi damai. Kedua otonomi
regional. Ketiga prinsip tidak mencampuri urusan Negara lain. Keempat menolak
pembentukan aliansi militer dan menekankan kerjasama pertahanan bilateral.14 Kekuatan
soft power dari ASEAN yang terbentuk dari norma dan prinsip diatas yang justru
membedakan ASEAN dengan organisasi regional lain. Pemanfaatan soft power melalui
ASEAN Way dalam kasus Siklon Nargis di Myanmar justru menguntungkan satu sama lain.
Bagi ASEAN, keberhasilannya dalam memimpin bantuan kemanusiaan di Myanmar
menguatkan posisi ASEAN, baik bagi negara-negara anggotanya maupun nama ASEAN di
mata dunia. Myanmar sebagai negara tuan rumah yang terkena bencana, diuntungkan
dengan adanya bantuan yang datang dari Negara donor tanpa mengganggu kedaulatan
mereka. Keuntungan juga diperoleh Negara donor yang berhasil mengirimkan bantuan
kemanusiaan dan mendapatkan kepercayaan Myanmar melalui perantara ASEAN.
D. Kerangka Konseptual
Sejarah pembentukan organisasi regional seperti ASEAN lekat dengan pendekatan
kontruktivis. Dalam ilmu hubungan internasional sendiri terdapat beberapa tema utama
dalam konstruktivisme yang dikemukakan oleh Steans. Pertama adalah negara dengan
power. Bagi konstruktivis sosial, politik internasional tidak dapat diteliti dalam analisis
sistem internasional. Tidak seperti pandangan neorealisme yang dalam memandang sistem
internasional dengan sifat yang begitu mekanistik. Melalui perspektif konstruktivis sosial,
tidak ada yang bersifat universal atau otomatis tentang hal tersebut. Sebaliknya, negara
berperilaku sedemikian rupa karena tersosialisasikan ke dalam lembaga-lembaga politik
internasional. Hal ini sejalan dengan pendapat kaum konstruktivis bahwa politik
internasional tidak murni diatur oleh kekuasaan dan dan kepentingan semata. Terdapat
norma-norma mendasar dalam politik internasional15. Norma-norma mendasar inilah yang
menjadi patokan penting negara-negara untuk melakukan interaksi dalam hubungan
internasional di kawasan Asia Tenggara khususnya dalam tataran ASEAN.
Tema kedua berbicara mengenai institusi dan tatanan dunia. Dalam tema kedua ini
terdapat dua subtema. Subtema pertama membahas mengenai masyarakat internasional.
14
Acharya, Constructing a Security, 45-46.
Jill Steans, Lloyd Pettiford, and Thomas Diez. Introduction to International Relations, Perspectives &
Themes, 2nd edition, (Pearson & Longman, 2005), Chap. 7: 192.
15
Karena adanya norma-norma dan lembaga-lembaga di tingkat internasional, konstruktivis
sosial lebih memilih untuk membahas mengenai masyarakat internasional daripada sistem
internasional. Sebuah masyarakat ditandai dengan adanya norma-norma umum dan
lembaga-lembaga di dalamnya, sedangkan di dalam sistem masih dapat tetap ada tanpa
hal-hal seperti itu dan cara kerjanya berdasarkan pada hukum yang bersifat mekanik.
Subtema kedua berbicara mengenai tipe berbeda mengenai anarki. Para konstruktivis sosial
mempunyai pandangan berbeda mengenai konsep anarki. Dalam pandangan konstruktivis,
negaralah yang membentuk anarki dalam interaksinya. Oleh sebab itu anarki yang
dimaksud oleh konstruktivis bersifat konteks-spesifik.
Ketiga mengenai rezim
internasional. Bagi para konstruktivis, mendapatkan absolute gain seperti yang ditekankan
oleh neoliberalisme tidaklah cukup. Hal yang terpenting dalam sebuah rezim adalah proses
pembelajaran sosial yang didapatkan melalui prinsip, norma, dan aturan di dalamnya.16
Tema ketiga berbicara mengenai identitas dan komunitas. Identitas merupakan
konsep krusial bagi para konstruktivis. Identitas tidak hanya digunakan dalam menjelaskan
kepentingan nasional tetapi juga identitas bersifat penting dalam pembuatan decisionmaking. Karena identitas dianggap begitu penting bagi kaum konstruktivis, maka kaum
konstruktivis tertarik pula pada struktur dari identitas dan bagaimana identitas dapat
berubah. Tema keempat yang menjadi tema terakhir berbicara mengenai perdamaian dan
keamanan. Sama halnya dengan argumen mengenai anarki, dalam perspektif ini keamanan
adalah apa yang dibuat oleh aktor. Keamanan sebenarnya hanyalah sebuah wacana yang
dibuat. Konteks keamanan sendiri tergantung pada apa yang ada dalam masyarakat tertentu
tergantung pula konteks sejarah yang ada.17 Identitas dan komunitas ini memang dianggap
sebagai sesuatu yang sakral oleh ASEAN. Terlebih jika kita membicarakan identitas
ASEAN melalui norma-norma yang dibentuk dan dibangun dalam ASEAN itu sendiri. Isuisu mengenai komunitas juga menjadi salah satu perhatian utama ASEAN dewasa ini
dalam rangka untuk selalu memperbaiki organisasi ini maupun hubungan, baik antara
ASEAN dengan negara-negara anggota maupun antar negara-negara anggota itu sendiri
Dalam studi hubungan internasional, Power atau kekuasaan selalu menjadi isu
utama yang selalu menjadi tujuan dari negara. Joseph Nye dalam bukunya The Paradox of
American Power mendeskripsikan konsep kekuasaan sebagai kemampuan untuk
mempengaruhi hasil yang diinginkan, bahkan bila perlu mengubah perilaku orang lain
demi terwujudnya hasil yang diinginkan tersebut.Untuk mendapatkan kekuasaan ini, ada
16
17
Steans et al, Introduction to International Relations, 192-196.
Steans et al, Introduction to International Relations, 196-200.
beberapa alternatif pilihan yang dapat ditempuh oleh sebuah negara. 18 Pilihan untuk
mendapatkan kekuasaan tersebut antara lain adalah dengan mengembangkan hard power,
soft power maupun smart power. Setelah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945,
popularitas penggunaan kekuatan militer sebagai basis utama hard power semakin
menurun. Dalam perkembangannya, dunia internasional lebih melihat penggunaan soft
power sebagai alat kepentingan yang lebih prospektif. Hal ini didukung oleh fakta
kecenderungan dunia internasional untuk lebih menjaga perdamaian dan mengurangi
konflik bersenjata. Soft power juga mempunyai efek yang berlangsung lebih lama daripada
penggunaan hard power maupun smart power.
Tiga Jenis Power
Perilaku
Arus Primer
Kebijakan
Pemerintah
Kuasa Militer
Koersi
Ancaman
Diplomasi Koersif
Deterrence
Paksaan
Perang
Perlindungan
Kuasa Ekonomi
Aliansi
Imbalan
Pembayaran
Bantuan
Koersi
Sanksi
Suapan
Sanksi
Soft power
Ketertarikan
Nilai
Diplomasi Publik
Seting agenda
Budaya
Diplomasi Bilateral
Kebijakan
dan Multilateral
Institusi
Sumber: J.S. Nye, Soft power: The Means to Success in World Politics. Halaman 31
Soft power terletak pada kemampuan untuk mengatur agenda politik dalam tatanan
yang dapat membentuk preferensi aktor lain19. Dalam pengaturan agenda ini hal yang
dapat mempengaruhi preferensi orang lain adalah hal-hal yang bersifat intangible seperti
kebudayaan yang menarik, ideologi, maupun nilai-nilai yang luhur. Dengan adanya hal-hal
tersebut, aktor yang menjadi tujuan dari penggunaan soft power ini akan dengan senang
hati dan bahkan tanpa disadari akan dapat bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan
dari aktor pemilik soft power. Akan tetapi yang perlu dicermati disini adalah bahwa soft
power tidak hanya semata terbatas pada peran pengaruh. Apabila hanya tentang pengaruh,
maka hard power pun dapat pula mempengaruhi dengan memberikan ancaman maupun
18
19
Nye, The paradox of American Power, 4.
Nye, The paradox of American Power, 9.
sanksi militer, begitu pula smart power yang dapat memberikan pengaruh melalui
pemberian dana bantuan maupun embargo. Namun, yang lebih ditekankan dalam kuasa
soft power adalah kemampuan untuk dapat memancing ketertarikan. Dimana wujud dari
ketertarikan dan kekaguman itu tadi akan berbentuk pada imitasi ataupun kepatuhan.
Dalam usahanya untuk meraih ketertarikan dari pihak lain, maka suatu negara harus
memiliki reputasi yang baik. Reputasi selalu menjadi isu penting dalam dunia politik,
namun kredibilitas menjadi sumber kekuatan yang lebih penting dengan adanya „paradox
of plenty‟20 sebagai efek dari merebaknya informasi dalam era globalisasi sekarang ini.
Untuk membangun reputasi dan kredibilitas yang bagus inilah dibutuhkan adanya
diplomasi publik.
Tabel yang menjelaskan tentang tiga jenis kekuatan menurut Joseph Nye, turut
menjelaskan bahwa dalam soft power, untuk mendapatkan ketertarikan, maka dapat
melalui kebijakan pemerintah yaitu dengan menggunakan diplomasi publik. Diplomasi
publik
dapat
diartikan
sebagai
program
pemerintah
yang
bertujuan
untuk
menginformasikan ataupun mempengaruhi opini publik di negara lain21. Nye
menambahkan bahwa sumber soft power di suatu negara dapat diperoleh dari tiga hal
berikut: budaya (yang dapat memicu ketertarikan negara lain), nilai-nilai politik (yang
berkembang di dalam dan luar negeri), dan kebijakan politik luar negeri (yang terlegitimasi
serta memiliki otoritas moral).22 Kebudayaan sendiri merupakan salah satu spektrum dari
diplomasi publik. Nilai-nilai suatu negara terbungkus dalam budaya yang menjadi
identitasnya. Oleh karena itu, budaya yang menjadi sarana diplomasi publik mempunyai
nilai keefektifan yang tinggi guna membentuk soft power. Budaya dari suatu negara yang
kemudian mempengaruhi masyarakat di negara lainnya sehingga membentuk tindakan dan
pola pikir yang sama di antara masyarakat dapat menjadi jalan akan terciptanya hubungan
jangka panjang antara kedua negara.
Sebagai sebuah kawasan yang multikultur dengan berbagai identitas etnis dan suku
bangsa di dalamnya, konflik tentu sudah dianggap sebagai suatu hal lumrah sering terjadi
diantara negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Namun, isu yang ada di dalam konflik
yang terjadi rupanya semakin meninggi kompleksitasnya dari waktu ke waktu. Hal ini
membuat konflik tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan kerjasama bilateral saja.
20
Terminologi paradox of plenty banyak digunakan untuk membahas masalah sumber daya alam. Lihat F. D.
V. Ploeg dan S. Poelbekke, The Violatile Curse: Revisiting Paradox of Plenty. DNB Working Paper, 206,
(2008).
21
Charle Wolf Jr and Brian Rosen, Public Diplomacy: How to Think about and Improve It? (California:
Rand Cooperation, 2004), 15.
22
Joseph S. Nye, Soft power: The Means to Success in World Politic, (New York: PublicAffairs, 2004), 11.
ASEAN sebagai organisasi yang memayungi kawasan Asia tenggara, adalah instrumen
yang diharapkan mampu mengatasi problema ini, yaitu dengan berperan sebagai pihak
ketiga yang berusaha menyelesaikan permasalahan negara-negara anggotanya agar konflik
tidak berlarut. Dalam menjalankan fungsinya ini ASEAN mempunyai aturannya sendiri,
yang terangkum dalam Norma dan Prinsip ASEAN.23
Association of South East Asia Nation (ASEAN) adalah satu-satunya organisasi
regional Asia Tenggara, yang sekaligus menjadi wadah bagi negara-negara anggota untuk
mengadakan dialog dan kerjasama di antara mereka. ASEAN lahir karena adanya keraguan
dikalangan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.24 Itu termaktub dalam prinsip-prinsip
dasar pembentukan ASEAN, diantaranya adalah prinsip non-intervensi. Disusunnya
piagam ASEAN dipengaruhi oleh norma-norma yang berlaku di kwasan tersebut. Maka
dari itu, ketika kita berbicara ASEAN, kita juga akan berbicara tentang bagaimana negaranegara ASEAN menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Layaknya rezim internasional, ASEAN juga memiliki caranya sendiri dalam
menyelesaikan setiap masalah. Cara-cara tersebut terangkum dalam jargon ASEAN Way
yang didengungkan para pendahulu ASEAN untuk menciptakan stabilitas keamanan di
kawasan Asia Tenggara. ASEAN Way juga merupakan salah satu nilai yang menjadi
pedoman paling dasar dalam penerapan metode diplomasi ASEAN.25 ASEAN Way dalam
tesis ini akan coba dilihat sebagai cara-cara negara di kawasan Asia Tenggara dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi. Kultur budaya yang melekat dalam negaranegara di Asia Tenggara ini mempunyai pengaruh yang besar dalam sesuatu yang
kemudian muncul dan menjadi pedoman bagi mereka. ASEAN Way sebagai sebuah norma
yang berkembang dalam negara-negara anggota ASEAN dapat menjadi senjata ampuh
diplomasi ASEAN terhadap negara-negara anggotanya, terutama dalam diplomasi
kemanusiaan, dalam mengakali celah yang ditimbulkan oleh penggunaan prinsip nonintervensi yang dibawa oleh Myanmar sebagai salah satu bentuk kebijakan politik luar
negeri mereka. Semangat yang dibawa dalam ASEAN Way ini terbukti cukup ampuh untuk
membuka pengiriman bantuan kemanusiaan yang dibawa oleh negara-negara diluar
kawasan ASEAN masuk ke Myanmar karena ditutup aksesnya oleh pemerintah junta
militer Myanmar. Norma ini berkembang menjadi budaya dalam negara-negara anggota
ASEAN itu sendiri dan menjadi soft power bagi ASEAN. Dalam konteks kemanusiaan,
23
Bambang Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2007) 17.
Amitav Acharya,
25
Shaun Narine, “ASEAN in the Twenty-First Century,” in Explaining ASEAN: Regionalism in Southeast
Asia. (London: Lynne Rienner Publishers, Inc).
24
bantuan ini dipandang penting tanpa melihat agenda-agenda lain yang mungkin saja
disusupkan negara pendonor.
Potensi suatu budaya untuk menjadi soft power sendiri hanya akan terhenti sebagai
soft power resources atau sumber soft power apabila tidak dimanfaatkan secara benar. Hal
ini dapat dikarenakan apabila suatu negara memiliki budaya yang luhur, yang didalamnya
terdapat nilai-nilai yang tinggi dan norma yang dirasakan bersama, namun budaya tersebut
tidak dikembangkan ke negara lain sehingga tidak dapat berfungsi sebagai soft power.
Proses bagaimana soft power dapat bekerja dan diterima oleh masyarakat negara lain
dijelaskan oleh Alexander Vuving melalui konsep sumber soft power.26
Sumber soft power dapat menunjukan sejauh mana suatu soft power dapat diterima
dan direspon oleh masyarakat di negara penerimanya. Lebih jauh lagi, Vuving membagi
arus soft power tersebut dalam tiga golongan besar yaitu beauty, brilliance dan benignity.
Beauty adalah saat dimana masyarakat merasakan adanya kesamaan ide dan nilai dengan
negara asal soft power. Proses ini kemudian menimbulkan rasa saling memiliki/ shared
value yang memunculkan rasa kepercayaan dan persatuan. Brilliance berarti menonjolkan
pencapaian yang telah diperoleh negara penghasil soft power, sehingga masyarakat di
negara lain akan merasa kagum terhadap negara tersebut. Brilliance dapat memberikan dua
efek kepada masyarakat penerimanya yaitu efek segan dan keinginan untuk meniru negara
asal soft power tersebut. Yang terakhir adalah benignity yang dapat didefinisikan perilaku
yang dianggap baik terhadap masyarakat negara lain yang akan dibalas dengan perlakuan
yang serupa. Hasil dari benignity dapat berupa sikap ramah, toleransi terhadap perbedaan,
tidak menentang, memberikan bantuan bahkan dapat berupa pemberian perlindungan.
Tiga puluh tahun berlalu sejak ASEAN pertama kali dibentuk, negara-negara
ASEAN selalu menerapkan norma diplomatik ASEAN Way yang identik dengan nonintervensinya. Dengan berdasar pada ASEAN Way tersebut, negara anggota selalu
menggunakan metode manajemen konflik melalui musyawarah. Dengan adanya
musyawarah dan non-intervensi yang dilakukan olehh negara-negara anggota tersebut
diharapkan agar tidak akan ada pihak-pihak asing, bahkan dari dalam kawasan regional
Asia Tenggara itu sendiri, yang turut mencampuri masalah domestik negara-negara
anggota. ASEAN memberikan kewenangan penuh pada rezim pemerintahan yang berkuasa
dalam
negara
tersebut
untuk
menyelesaikan
masalahnya
sendiri.
Tujuan
dari
ditetapkannya ASEAN Way adalah untuk mencegah suatu isu masalah menjadi kian
26
A. Vuving. “How Soft power Works”, (paper Presented at the Panel “Soft power And Smart Power,”
American Political Science Association Annual Meeting, Toronto, September 3, 2009).
membesar dan meluas, yang dilakukan dengan cara meredam dan mengabaikan hal-hal
kecil demi tujuan yang lebih besar.27
Penerapaan norma ASEAN Way menjadi krusial untuk diterapkan, mengingat
norma tersebutlah yang menjadi norma dan identitas yang melekat pada negara-negara
anggota ASEAN. Oleh karena itu peletakan norma secara tepat menjadi tuntutan agar
ASEAN dapat berjalan tepat sasaran.28 Hal tersebut dibuktikan seiring dengan berbagai
upaya negara-negara anggota dalam menyelesaikan masalah yang terjadi dengan tetap
memegang teguh prinsip dan norma ASEAN Way, ASEAN berkembang menjadi sebuah
organisasi regional yang dianggap sukses menyelesaikan masalahnya dengan cara damai
serta membawa perdamaian di kawasan tersebut. Norma-norma yang diatur dalam ASEAN
Way juga menjadi salah satu identitas ASEAN itu sendiri. Sebab prinsip non-intervention,
non-use of force, dan juga penggunaan musyawarah, utamanya, sarat sekali dengan nilainilai melayu yang menjadi salah satu mayoritas dari penduduk negara-negara anggota
ASEAN.
ASEAN Way oleh beberapa pihak diklaim sebagai norma yang kurang tegas dalam
mengatur perilaku dan segala sesuatu yang terjadi di kawasan Asia Tenggara. Terutamanya
pada penerapan prinsip ketiga, yaitu prinsip non-intervensi. Akan tetapi banyak juga yang
menganggap prinsip ini merupakan salah satu pondasi paling kuat dalam menopang
kelangsungan regionalisme di ASEAN. Negara anggota ASEAN sadar bahwa konflik
internal masih rentan terjadi dan bisa menyulut lahirnya konflik eksternal. Selaras dengan
hal tersebut, poin ketiga ini menjadi alasan bagi negara anggota untuk menerapkan
beberapa hal, antara lain: pertama, tidak melakukan penilaian kritis terhadap masalah yang
sedang terjadi di dalam negara anggota lain supaya tidak menjadi penghalang bagi
keberlangsungan organisasi ASEAN. Kedua, saling mengingatkan jika terdapat salah satu
anggota yang melanggar poin pertama. Ketiga, tidak memberikan perlindungan terhadap
kelompok oposisi negara anggota lain, dan keempat, memberikan dukungan terhadap
negara anggota lain yang sedang mengalami gerakan anti-kemapanan.29
Tidak jarang juga prinsip non-intervensi dan non use of force sebagai sebuah solusi
yang tidak menghasilkan hasil. Hasil dari penerapan prinsip non-intervensi tersebut,
banyak yang berpendapat bahwa ASEAN dianggap kurang dan tidak tegas dalam
menindak serta memberikan kontrolnya terhadap negara-negara anggota. Namun dibalik
27
Amitav Acharya, “Do Norms and Identity Matter? Community and Power in Southeast Asia‟s Regional
Order,” in The Pacific Review. (London: Routledge, 2005).
28
Acharya, Do Norms and Identity Matter, 98.
29
Cipto, Hubungan Internasional, 20.
itu semua, setidaknya ASEAN telah berusaha untuk menjauhkan intervensi pihak-pihak
dominan dalam setiap masalah yang terjadi di negara-negara anggota ASEAN. Dalam
mengatasi masalah, ASEAN lebih memilih untuk membiarkan masalah tersebut mendingin
sebelum nantinya akan mengambil tindakan musyawarah sebagai upaya penyelesaian.
Dalam konteks ini terlihat bahwa ASEAN benar-benar menjaga atmosfer hubungan antar
negara-negara anggota ASEAN agar tetap dingin dan kondusif. Hal tersebut pada akhirnya
berujung pada kestabilan hubungan diantara mereka yang mampu memajukan dan
mengembangkan kawasan Asia Tenggara.
Diplomasi tidak bisa dipisahkan dari aktivitas hubungan internasional. Diplomasi
kemanusiaan merupakan salah satu aspek dalam diplomasi yang sedang banyak dilakukan
karena isu-isu kemanusiaan sedang menjadi perhatian dikalangan dunia internasional
dewasa ini. Pendekatan diplomasi kemanusiaan ini berbeda dengan pendekatan diplomasi
tradisional. Jika diplomasi tradisional mengacu kepada Konvensi Wina tahun 1949,
diplomasi kemanusiaan ditandai denga keadaan yang mendesak yang tidak melihat batas
negara selayaknya yang dilakukan diplomat pada diplomasi tradisional. Diplomasi
kemanusiaan lebih dapat diimprovisasi dan ad hoc, lebih oportunis dan ad hominem.
Secara umum, diplomasi kemanusiaan idefinisikan sebagai upaya untuk
mengurangi penderitaan manusia dalam kondisi krisis kemanusiaan. Tujuan dari diplomasi
kemanusia adalah untuk menyelamatkan kehidupan dan mengurangi penderitaan
manusia.30 Diplomasi kemanusian memang cenderung berbeda dengan diplomasi pada
umumnya. Salah satunya bisa dilihat dari aktornya. Diplomasi dalam ilmu hubungan
internasional berkaitan dengan kedaulatan negara dan diplomat merupakan perwakilan dari
sebuah negara berdaulat di negara lain. Sementara aktor diplomasi kemanusiaan cukup
flexibel, tidak hanya negara saja namun juga non-government organization (NGO) yang
kerap bekerjasama dengan pelaku bisnis, jurnalis, dan pemuka agama untuk memengaruhi
sebuah kebijakan untuk mengurangi penderitaan manusia.31 Aktor-aktor kemanusian
tersebut kerap tidak menyadari bahwa aksi yang mereka lakukan adalah bagian dari
diplomasi kemanusiaan, meskipun mereka sudah melakukan tugas-tugas utama diplomat.32
Dapat dikatakan juga bahwa diplomasi kemanusiaan merupakan proses menciptakan dan
memelihara ruang bagi kemanusiaan agar aksi-aksi kemanusiaan dapat dilakukan juga
30
Larry Minear and Hazel Smith. Humanitarian diplomacy: practitioners and their craft. (Tokyo: United
Nations University Press, 2007).
31
Minear and Smith, Humanitarian diplomacy. 36.
32
Minear and Smith, Humanitarian diplomacy. 8.
memelihara atau memberi akses kepada mereka yang membutuhkan seperti dalam kasus
bencana alam, konflik, dan situasi-situasi lain yang mengancam keselmatan manusia.
Aktor diplomasi kemanusian mempunyai fungsi yang sama dengan diplomat
perwakilan negara yakni dengan melakukan negosiasi, persuasi dan dialog untuk mencoba
mencapai kesepakatan dengan pihak lain yang tidak mempunyai nilai maupun kepentingan
yang tidak sejalan. Namun, aktor kemanusiaan bukanlah diplomat. Diplomat dari negara
bertujuan untuk mencapai kepentingan nasional, sementara aktor kemanusian mencapai
kepentingan internasional untuk fokus yang lebih sempit yakni merespon kebutuhan
kemanusiaan.33 Proses dari diplomasi kemanusiaan sendiri mencakup aktivitas yang sama
dengan diplomasi pada umumnya yakni mengumpulkan informasi (inteligen), komunikasi
dan negosiasi.34
Pertama, fungsi inteligen atau mengumpulkan informasi merupakan fungsi yang
problematik untuk agen kemanusiaan karena tidak nyaman dan kadang mempunyai
konotasi yang berbahaya untuk aktor kemanusiaan karena bisa dicurigai oleh negara
penerima atau pun pihak lain di lapangan. Adapun tujuan dari mengumpulkan informasi di
wilayah kerja tersebut di antaranya untuk bisa mengimplementasikan program dan
aktivitasnya secara efisien dan bisa membuat laporan yang bertanggung jawab tentang
bagaimana mereka menggunakan dana bantuan kepada negara donor. Kedua, dalam fungsi
komunikasi, aktor kemanusiaan melakukan hal yang sama dengan diplomat negara yakni
mengkomunikasikan antara negara penerima dengan kantor pusat. Aktor kemanusian
dalam passport maupun surat tugasnya diakui walaupun secara implisit sebagai perwakilan
diplomasi.35 Fungsi komunikasi itu juga bisa cenderung berbahaya, terutama saat berada di
wilayah konflik, karena komunikasi tersebut bisa saja dicurigai sebagai upaya untuk
memperparah konflik. Ketiga, fungsi negosiasi untuk mencapai sebuah kesepakan.
Kesepakatan dicapai dengan menggunakan instrumental diplomasi yang klasik yakni
persuasi, janji dan ancaman.36
Dalam tesis ini, penulis mencoba melihat ASEAN sebagai aktor kemanusiaan
dalam konteks diplomasi kemanusiaan yang mereka lakukan terhadap pemerintah junta
militer Myanmar. Dalam melakukan mediasi antara pemerintah junta militer Myanmar dan
komunitas internasional, ASEAN mengambil peranan untuk menengahi dan menjembatani
kepentingan dua pihak melalui ASEAN sehingga dapat tercapai tujuan yang lebih besar
33
Minear and Smith, Humanitarian diplomacy. 50.
Minear and Smith, Humanitarian diplomacy. 54.
35
Minear and Smith, Humanitarian diplomacy. 56.
36
Minear and Smith, Humanitarian diplomacy. 57.
34
atas nama kemanusiaan. Representasi ASEAN sebagai aktor kemanusiaan ini dapat dilihat
sebagai langkah diplomasi dalam jalur multitrack diplomacy. Dalam konteks ini, penulis
melihat bahwa cara-cara yang dilakukan ASEAN dalam bentuk pendekatan yang dilakukan
secara kultural terhadap Myanmar, dapat membuka celah terhadap pelaksanaan nonintervensi yang dilakukan oleh pemerintah junta militer Myanmar.
E. Hipotesis
Merujuk pada kerangka konseptual untuk menganalisa kasus ini, penulis berhipotesis
ASEAN sebagai organisasi regional mempunyai kekuatan soft diplomacy melalui cara-cara
yang melekat secara kultural diantara negara-negara anggota untuk membantu para korban
bencana siklon nargis mendapatkan bantuan kemanusiaan dari negara-negara pendonor
melalui ASEAN. Diplomasi kemanusiaan yang dikembangkan oleh ASEAN dalam
menghadapi bencana siklon nargis di Myanmar setidaknya mampu meyakinkan
pemerintah junta militer Myanmar untuk membuka akses terhadap bantuan kemanusiaan
dari negara-negara pendonor melalui ASEAN.
F. Metode Penelitian
Tesis ini ditulis menggunakan penelitian yang sesuai dengan metode riset dalam hubungan
internasional. Tesis ini lebih banyak menggunakan studi pustaka yang mempunyai
relevansi terhadap permasalahan yang dibahas sebagai sumber utama/primer sebagai
metode dalam mengumpulkan data. Tesis ini disajikan menggunakan metode analisis
eksplanasi dan dalam teknik penulisannya menggunakan metode kualitatif yang lazim
digunakan dalam penulisan karya ilmiah dalam bidang ilmu sosial. Penelitian kualitatif
tersebut berupa studi kasus yang bisa memudahkan penulis untuk menghimpun,
menganalisis data, serta membuat kesimpulan.
G. Sistematika Penulisan
Dalam Bab pertama tesis ini akan menguraikan latar belakang dan permasalahan, tinjauan
pustaka, kerangka pemikiran, dan metode penelitian. Selanjutnya dalam Bab kedua
dideskripsikan tentang gambaran umum mengenai ASEAN sebagai organisasi regional
yang memiliki ciri khas tertentu melalui norma dan prinsip yang dianut.
Bab ketiga digunakan untuk menyampaikan pembahasan tentang bencana Siklon Nargis
dan bantuan kemanusiaan di Myanmar serta peranan ASEAN dalam diplomasi
kemanusiaan di Myanmar. Selain itu di Bab ini juga akan dibahas mengenai penolakan
junta militer Myanmar terhadap segala bentuk bantuan kemanusiaan asing yang ingin
membantu korban bencana Siklon Nargis tersebut. Pada Bab keempat akan dijelaskan
mengenai analisis terhadap penggunaan ASEAN Way sebagai pendekatan yang dilakukan
ASEAN terhadap Myanmar guna membuka akses terhadap bantuan kemanusiaan yang
datang. Tesis ini ditutup dengan dalam Bab kelima yaitu kesimpulan yang berisi jawaban
atas permasalahan pokok dalam tesis ini serta saran-saran yang perlu dipertimbangkan
untuk pembahasan selanjutnya.
Download