KPU Kota

advertisement
DAFTAR ISI
Halaman
……………………………………………………………......
KATA
PENGANTAR
………………………………………………………….…......
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.
1.5.
Latarbelakang ……………………………………….......
IdentifikasiMasalah …………………………………......
BatasanMasalah ……………………………………........
PerumusanMasalah ………………………………...........
TujuandanManfaatPenelitian
1.5.1. TujuanPenelitian …………………………….......
1.5.2. ManfaatPenelitian ………………………….........
1.6. SitematikaPenulisanPenelitian …………………............
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. TinjauanPustaka…………………………………….......
2.2. LandasanTeori ……………………………………...........
a) TeoriDemokrasi ………………………………........
b) TeoriPolitik ………………………………………...
c) TeoriKesadaranPolitik ………………………........
d) TeoriPartisipasiPolitik ………………………….....
e) TeoriKesukarelaanPolitik…………………….........
2.3. Faktor
Faktor
Yang
MempengaruhiPartisipasiWargaDalamBerpolitik…………………………….........
.........
2.4. Faktor
Faktor
Yang
MempengaruhiKesukarelaanWargaDalamberpolitik…………………………….....
...
2.5. Motif dan bentuk kerelawanan
2.5.1. Motif kerelawanan .................................................
2.5.2. Bentuk kerelawanan ..............................................
2.6. Peranan Partai Politik, Media dan Penyelenggara Pemilu
2.6.1. Peranan Partai Politik ...........................................
2.6.2. Peranan Media ......................................................
2.6.3. Peranan Penyelenggara Pemilu .............................
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1. SifatdanPendekatanPenelitian..........................................
3.1.1. SifatPenelitian .........................................................
3.1.2. PendekatanPenelitian ..............................................
3.2. RuangLingkupPenelitian
3.2.1. LokasiPenelitian .....................................................
3.2.2. WaktuPenelitian .....................................................
3.3. MetodePengumpulanData .................................................
3.3.1. Sumber Data
a) Data Primer
b) Data Sekunder
3.3.2. TeknikPengumpulanData ......................................
a) Focus Group Discussion (FGD) danPenyebaran Questioner
b) Questioner
c) Dokumentasi
3.4. MetodeAnalisaData ..........................................................
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. SekilasGambaranUmumObjekPenelitian ……...............
4.2. AnalisadanPembahasan …………………………............
4.2.1. Focus Group Discussion (FGD) ……………..........
4.2.2. Survey Lapangan …………………………….........
4.2.3. Data Penelitian ……………………………….........
4.3. AnalisadanPembahasan………………………….............
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1. Kesimpulan ……………………………………………...
5.2. Rekomendasi .....................................................................
Lampiran – lampiran
Laporan Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014 di
Wilayah Kota Administrasi Jakarta Barat.
Pengarah :
Sunardi Sutrisno, SE, MM
Saryono Noto, S.Kom
H. Cucum Sumardi
Ir. Abdullah
Maryadi, S.Pd
Drs. Rudi Ikhwan
Penyusun :
Sunardi Sutrisno, SE, MM
Saryono Noto, S.Kom
Ike Arianti. AZ, SE,MM
Editor :
SaryonoNoto, S.Kom
Ramdhan Samudra, SH
Ike Arianti AZ, SE, MM
Keuangan :
Suyanta
NiningSumarni, A.Md
KATA PENGANTAR
Denganmemanjatkanpujidansyukurkehadirat
KomisiPemilihanUmum
Kota
Allah
SWT
Administrasi
atasizindanridhoNya,
Jakarta
Barat
telahmenyelesaikanLaporanPenelitiantentang“KesukarelaanWargaDalamBerpolitik”di
Wilayah Kota Administrasi Jakarta Barat.Laporanpenelitian inidibuatsebagaisalahsatutugas
KPU Kabupaten/Kota berdasarkan surat Komisi Pemilihan Umum Nomor 155/KPU/IV/2015
Tentang pedoman riset partisipasi dalam pemilu, yang hasil penelitian ini akan digunakan
sebagai dasar untuk penyusunan kebijakan dalam merumuskan strategi peningkatan
partisipasi masyarakat yang efektif pada pemilu selanjutnya.
Disadaribahwameskipenyusunanlaporaninisudahdiusahakansecara
optimal,
namuntentusajamasihterdapatkekurangannya.Semogalaporaninidapatdijadikanacuandalam
mengambil kebijakan ke depan.
Akhirnyakamimenyampaikanterimakasihkepadasemuapihak
yang
telahberpartisipasiaktifdalammenyelesaikan laporan penelitian ini.
Jakarta,
Juli 2015
KOMISI PEMILIHAN UMUM
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA BARAT
Ketua,
SUNARDI SUTRISNO, SE, MM
DAFTAR TABEL
Halaman
1)
Tabel3.1
:
Data Responden Relawan Di Jakarta Barat …………………..
37
2)
Tabel3.2
:
PengukuranSkalaLikert ……………………..………………
38
3)
Tabel4.1
:
Data BerdasarkanJenisKelaminResponden…………………..
42
4)
Tabel 4.2
:
Data BerdasarkanUsiaResponden….…………………………
43
5)
Tabel 4.3
:
Data BerdasarkanPendidikanResponden……………………..
43
6)
Tabel4.4
:
Data BerdasarkanJenisPekerjaanResponden……………….
44
7)
Tabel4.5
:
HasilJawabanResponden…………………………………..
45
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelaksanaan demokrasi Indonesia saat ini sedang berjalan menuju
demokrasi yang dewasa, dimana rakyat sebagai pemegang kekuasaan
tertinggi tampak terlihat jelas.Partisipasi masyarakat dalam politik
menunjukkan bahawa demokrasi semakin tampak di Indonesia. Partisipasi
politik masyarakat merupakan salah satu bentuk aktualisasi dari proses
demokratisasi. Keinginan ini menjadi sangat penting bagi masyarakat
dalam proses pembangunan politik bagi negara-negara berkembang seperti
di Indonesia, karena di dalamnya ada hak dan kewajiban masyarakat yang
dapat dilakukan salah satunya adalah berlangsung dimana proses
pemilihan kepala negara sampai dengan pemilihan Walikota dan Bupati
dilakukan secara langsung. Sistem ini membuka ruang dan membawa
masyarakat untuk terlibat langsung dalam proses tersebut.
Demokrasi meniscayakan kesukarelaan masyarakat untuk terlibat di
dalamnya.Tanpa kesukarelaan tak ada demokrasi, karena sesungguhnya
mereka mengalami keterpaksaan dalam menentukan pilihan.Dalam tradisi
masyarakat di Indonesia saat ini kesukarelaan dalam politik bisa dikatakan
sangatlah rendah.Nampaknya, hal ini disebabkan oleh kesalahan dalam
memahami makna politik.Politik dianggap sebagai arena yang kotor dan
jahat yang dihuni oleh mereka yang hanya ingin memperkaya diri
sendiri.Karena itu, rakyat menuntut imbalan secara langsung untuk
1
dukungan politik yang mereka berikan.Partisipasi politik yang lemah
berakibat pada sebuah realitas politik yang kini menggejala di permukaan
dan terkait dengan era otonomi daerah yaitu terjadinya kesenjangan politik
antara masyarakat sipil dengan lembaga kekuasaan lokal, di mana aktor
pelaksana kekuasaan lokal sering melakukan langkah pengambilan dan
pelaksanaan kebijakan politik yang tidak selaras dengan aspirasi kolektif
masyarakat sipil. Moment pemilu tahun 2014 ini dijadikan tolok ukur
menilai partisipasi masyarakat sebagai bagian dari proses pendidikan
politik yang baik. Kesadaran politik akan memunculkan peran aktif
masyarakat dalam meningkatkan mutu kehidupan dengan melakukan
pengawasan ketat atas kebijakan penguasa. Politik adalah pengaturan
urusan masyarakat melalui kekuasaan.Kekuasaan diperoleh dari rakyat
melalui pemilihan. Ini berarti yang akan menduduki tampuk kekuasaan
ditentukan oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat juga merupakan lahan
tempat lahirnya para pemimpin. Oleh karena itu, kualitas masyarakat akan
menentukan kualitas penguasa yang terpilih. Di sinilah pentingnya
mencerdaskan masyarakat dengan membangun kesadaran politik.
Pemilihan
umum
(Pemilu)
merupakan
salah
satu
ciri
pokok
demokrasi.Sebuah negara tak bisa disebut demokratis, jika di dalamnya
tidak terdapat pemilu yang diselenggarakan secara periodik dan berkala
untuk melakukan sirkulasi elite politik.Indonesia merupakan negara yang
telah berhasil menyelenggarakan Pemilu pada tahun 2004 sehingga dapat
sebagai negara terdemokratis ketiga setelah Amerika dan India.Gelar
2
tersebut bukan saja karena Indonesia telah terbebas dari rezim birokratikotoritarian orde baru, tetapi juga karena pemilu dapat diselenggarakan
dengan baik.Pemilu diperuntukkan untuk peralihan kekuasaan secara
damai, dalam pemilu rakyat memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di
parlemen dan memilih pemimpin di semua tingkatan tatanan politik, mulai
dari pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah (Gubernur dan
Walikota/Bupati) hingga pemilihan Kepala Desa.Demokrasi di Indonesia
adalah demokrasi Pancasila yang menjadikan Pancasila sebagai ideologi
negara, pandangan hidup bangsa Indonesia, dasar negara Indonesia dan
sebagai identitas nasional.Sebagai ideologi nasional, Pancasila sebagai
cita–cita masyarakat dan sebagai pedoman dalam membuat keputusan
politik, sekaligus sebagai pemersatu masyarakat yang menjadi prosedur
penyelesaian konflik.Nilai-nilai demokrasi pada umumnya mencakup
tentang kebebasan masyarakat dalam berpendapat, dimana demokrasi
membangun
kondisi
agar
setiap
warga
mampu
menyuarakan
pendapatnya.Demokrasi juga menjunjung kebebasan berkelompok artinya
demokrasi memberikan jalan bagi masyarakat untuk membentuk
kelompok, bisa berupa partai politik maupun organisasi yang dapat
memberikan dukungan kepada siapapun sesuai kepentingannya.
Demokrasi juga mengandung nilai kesetaraan (egalitarianism), yang
berupa kesetaraan antar warga dan kesetaraan gender, kesetaraan antar
warga artinya setiap warga memiliki kesempatan yang sama. Kesetaraan
gender dapat diartikan perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama di
3
depan hukum karena memiliki kodrat yang sama sebagai makhluk sosial.
Nilai-nilai lainnya adalah menghormati orang atau kelompok lain,
kerjasama, kompetisi, kompromi, kedaulatan rakyat, dan rasa percaya. Di
Indonesia berpartisipasi politik dijamin oleh negara, tercantum dalam
UUD 1945 pasal 28 yang berbunyi “kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan sebagainya ditetapkan
dengan undang-undang”. Dan diatur secara jelas dalam dalam UndangUndang Nomor 12 Tahun 2005 mengenai “Jaminan hak-hak sipil dan
politik”, dimana poin-poin hak yang harus dilindungi oleh negara
mengenai hak berpendapat, hak berserikat, hak memilih dan dipilih, hak
sama dihadapan hukum dan pemerintahan, hak mendapatkan keadilan dan
lain-lain. Dalam budaya demokrasi, setiap warga berhak ikut menentukan
kebijakan publik seperti penentuan anggaran, peraturan-perauran dan
kebijakan-kebijakan publik.Namun oleh karena secara praktis tidak
mungkin melibatkan seluruh warga suatu negara terlibat dalam
pengambilan keputusan maka digunakan prosedur untuk memilih wakilwakil mereka di pemerintahan. Para wakil inilah yang diserahi mandat
untuk mengelolah masa depan bersama warga negara melalui berbagai
kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Pemerintahan demokrasi
diberi kewenangan membuat keputusan melalui mandat yang diperoleh
lewat pemilihan umum.Pemilu yang regular memungkinkan partai-partai
turut bersaing dan mengumumkan kebijakan-kebijakan alternatif mereka
agar didukung masyarakat.Selanjutnya warga negara, melalui hak
4
memilihnya yang periodik, dapat terus menjaga agar pemerintahanya
bertanggung jawab kepada masyarakat.Dan jika pertanggungjawaban itu
tidak diberikan, maka warga negara dapat mengganti pemerintahan
melalui mekanisme demokrasi yang tersedia.
Salah satu bentuk nyata dari adanya partisipasi politik adalah dengan
mengikuti pemilihan umum atau pemilu yang biasanya digelar untuk
memilih calon legislatif dan calon presiden yang dilakukan setiap lima
tahun sekali. Pesta rakyat tersebut diikuti oleh seluruh elemen masyarakat
baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah. Bentuk-bentuk
partisipasi politik seseorang tampak dalam aktifitas-aktifitas politiknya,
bentuk partisipasi politik yang paling umum dikenal adalah pemungutan
suara (voting) untuk memilih para calon wakil rakyat dan untuk memilih
kepala negara. Dalam buku (Michael Rush dan Philiph Althoff dalam
Ravael Raga Maran, 2007:148) mengidentifikasi bentuk-bentuk partisipasi
politik sebagai berikut ; menduduki jabatan politik atau administratif,
mencari jabatan politik atau administratif, menjadi anggota aktif dalam
suatu organisasi politik, menjadi anggota pasif dalam suatu kompensasi
politik, menjadi anggota aktif atau pasif dalam suatu organisasi semi
politik, partisipasi dalam rapat umum, demonstrasi dan lain-lain,
partisipasi dalam diskusi politik informal, dan partisipasi dalam pemilihin
suara (voting). (Rafael Raga Maran 2007;155).
Pemilu merupakan salah satu bentuk demokrasi negara Indonesia, pemilu
adalah media demokrasi masyarakat untuk menyalurkan partisipasinya
5
kepada negara. Hampir semua negara demokrasi melakukan sistem pemilu
untuk menunjukan kedemokrasiannya, dalam negara yang demokratis,
aktivitas memilih orang atau sekelompok orang untuk dijadikan seorang
pemimpin dilakukan dengan sistem pemilu yang dilandasi dengan prinsip
pemilu secara langsung, bebas, rahasia, jujur dan adil sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan
Umum. Penyelenggaraan pemilihan umum dilaksanakan oleh Komisi
Pemilihan Umum (KPU) yang bersifat nasional, tetap dan mandiri.Untuk
meningkatkan
kualitas
penyelenggaraan
pemilihan
umum,
perlu
penyempurnaan terhadap peraturan perundang-undangan.Sifat nasional
mencerminkan bahwa wilayah kerja dan tanggung jawab KPU sebagai
penyelenggara pemilihan umum mencakup seluruh wilayah negara
kesatuan Republik Indonesia.Sifat tetap menunjukkan KPU sebagai
lembaga yang menjalankan tugas secara berkesinambungan meskipun
dibatasi oleh masa jabatan tertentu.Sifat mandiri menegaskan KPU dalam
menyelenggarakan dan melaksanakan Pemilihan Umum bebas dari
pengaruh pihak manapun.
KPU Kota Administrasi Jakarta Barat sebagai salah satu bagian dari
Kabupaten/Kota yang telah melaksanakan proses tahapan pemilu 2014
dengan baik sesuai dengan azas pemilu langsung, umum, bebas, rahasia,
jujur dan adil. Walaupun dalam proses semua tahapan dapat berjalan
dengan baik, namun demikian masih menunjukkan tingkat partisipasi dan
kesukarelaan berpolitik masyarakat yang belum sesuai dengan yang
6
diharapkan.
Sikap
kesukarelaan
dapat
berwujud
dengan
adanya
kelompok/tim yang tergabung dalam satu tujuan untuk menyampaikan
informasi
tentang
ide,
gagasan,
visi,
misi,
program
dan
harapan/tujuan.Keberadaan relawan juga menunjukan adanya kesadaran
masyarakat terhadap keikutsertaan untuk menentukan pimpinan sebagai
wakilnya dalam memperjuangkan aspirasinya, semakin besar tingkat
keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan pemilu akan menentukan
kualitas dari demokrasi itu sendiri. Beberapa kelompok relawan tersebut
antara lain: relawan Jokowi, relawan merah putih, relawan pelangi, Bara
JP, Pro Jokowi (Projo), Jokowi center, Forum Jokowi For President
(JKW4P), Kawan Jokowi, Relawan Pasopati dan Sahabat Prabowo. Ada
beberapa relawan yang lainnya namun sulit untuk diidentifikasi
keberadaannya.Dengan munculnya beberapa relawan tersebut menunjukan
bahwa sikap ataupun respon masyarakat terhadap kesadaran politik untuk
ikut berpartisipasi didalamnya sudah cukup baik, walaupun belum
terkoordinasi dengan baik.
Pada pelaksanaan pemilu legislatif 2014 munculnya relawan tidak
seberapa semarak dibanding dengan pada pemilu presiden dan wakil
presiden, hal ini mungkin disebabkan terpecahnya dukungan dimasingmasing partai politik ataupun calon anggota DPR/DPD/DPRD, sedangkan
pada saat pemilu presiden dan wakil presiden terpokus pada 2 (dua)
pasangan calon saja.
7
Untuk mendapatkan data yang pasti tentang tingkat kesukarelaan
masyarakat dalam berpolitik, sekaligus untuk mengetahui faktor-faktorapa
saja yang dapat meningkatkan kesukarelaan warga tersebut, maka perlu
dilakukan penelitian.
1.2Identifikasi Masalah
Yang menjadi identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah :
1) Masih kurangnya pendidikan politik di masyarakat;
2) Tingkat partisipasi pemilih atau kesukarelaan warga dalam berpolitik
yang masih rendah;
3) Pengelolaan relawan yang belum terorganisir dengan baik;
4) Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang kesadaran politik ;
5) Belum teridentifikasi kelompok relawan yang akurat.
1.3 Batasan masalah
Mengingat luasnya masalah dalam penelitian ini maka yang menjadi
pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah :
1) Yang menjadi objek penelitian adalah para relawan dan tokoh
masyarakat yang tergabung dalam organisasi relawan baik pemilu
legislatif maupun pemilu presiden dan wakil presiden tahun 2014;
2) Yang dimaksud pengertian kesukarelaan politik dalam penelitian ini
adalah kemauan sendiri atau kehendak sendiri untuk berpartisipasi
dalam pemilihan umum dalam bentuk kelompok, organisasi dan
relawan pendukung;
8
3) Yang dimaksud dengan relawan yaitu orang yang terlibat langsung ikut
menjadi sukarelawan.Tokoh masyarakat yaitu orang yang dianggap
mempunyai peran yang kuat dalam masyarakat untuk mempengaruhi
keikutsertaan masyarakat dalam relawan pemilu;
4) Penelitian ini dilakukan di wilayah Kota Administrasi Jakarta Barat
yang terdiri dari 8 (delapan) kecamatan dan 56 (lima puluh enam)
kelurahan. Lokasi penelitian ini mencakup Kecamatan Cengkareng,
Kalideres, Palmerah, Grogol Petamburan, Kebon Jeruk, Kembangan,
Tambora dan Taman sari.
1.4.Perumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, kajian yang bertemakan "Kesukarelaan Warga
Dalam Politik" maka dapat rumuskan beberapa permasalahan antara lain :
a) Mengapa masyarakat ingin menjadi relawan?
b) Faktor apa saja yang mempengaruhi dan menghambat munculnya
menjadi kesukarelaan warga dalam berpolitik?
c) Kebijakan seperti apa yang dapat ditempuh untuk menumbuhkan dan
memperkuat kesukarelaan warga dalam politik?
1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.2.1 Tujuan Penelitian
a) Untuk mengetahui tentang motivasi masyarakat menjadi
relawan;
9
b) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dan
menghambatmunculnya menjadi kesukarelaan warga dalam
berpolitik;
c) Untuk mengetahui kebijakan yang dapat ditempuh untuk
menumbuhkan dan memperkuat kesukarelaan warga dalam
politik.
1.2.2 Manfaat penelitian
a) Hasil dari kajian ini bisa menjadi dasar penyusunan kebijakan
serta perumusan strategi untuk peningkatan partisipasi
masyarakat yang efektif dalam penyelenggaraan pemilu
selanjutnya;
b) Bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan umpan balik untuk meningkatkan
jumlah partisipasi kesukarelaan masyarakat dalam berpolitik;
c) Sebagai bahan evaluasi untuk lebih meningkatkan partisipasi
politik masyarakat pada penyelenggaraan pemilu di Provinsi
DKI Jakarta khususnya di Jakarta Barat dimasa mendatang.
1.6 Sistematika Penulisan Penelitian
Penelitian ini disusun atas 5 (lima) bab agar mempunyai suatu susunan
yang sistematis, dapat memudahkan untuk mengetahui dan memahami
hubungan antara bab yang satu dengan bab yang lain sebagai suatu
rangkaian yang konsisten. Adapun sistematika yang dimaksud adalah:
10
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam bab ini dijelaskan mengenai latar belakang,
perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, batasan
masalah, dan sistematika penulisan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menguraikan landasan teori yang mendasari tiaptiap variabel, ringkasan hasil-hasil penelitian sebelumnya
yang sejenis.
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
Bab
ini
menguraikan
tentang
deskripsi
sifat
dan
pendekatan, ruang lingkup,metode pengumpulan data,
teknik pengumpulan data dan metode analisa data.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan tentang deskripsi objek penelitian,
analisis data, interpretasi hasil dan argumentasi terhadap
hasil penelitian.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini penulis memberikan kesimpulan dan rekomendasi
dari hasil penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan pustaka
Kesadaran dan partisipasi politik merupakan salah satu aspek penting dari
demokrasi.Setiap keputusan politik (Kebijakan Pemerintah) yang dibuat
dan dilaksanakan oleh pemerintah menyangkut dan mempengaruhi
kehidupan masyarakat.Karena setiap keputusan politik akan berdampak
kepada kehidupan masyarakat, maka setiap warga masyarakat berhak ikut
serta dalam menentukan isi keputusan politik.Sehingga dapat dikatakan
bahwa dalam negara demokrasi seperti Indonesia, maka setiap keputusan
politik yang dibuat oleh pemerintah/eksekutif (termasuk legislatif) harus
melibatkan partisipasimasyarakat.Dengan demikian maka yang dimaksud
dengan partisipasi politik adalah keikutsertaan warga negara biasa (rakyat)
dalam
menentukan
segala
keputusan
yang
menyangkut
atau
mempengaruhi hidupnya (Surbakti, 1992:140).Politik adalah sebuah
keikhlasan untuk mendukung figure yang dianggap bisa membawa bangsa
Indonesia pada kemajuan. Akan tetapi diberbagai negara-negara
berkembang seperti Indonesia sulit untuk membedakan antara kegiatan
yang benar-benar sukarela dengan kegiatan yang dipaksakan secara
terselubung,
baik
oleh
pemerintah
maupun
oleh
kelompok
lainnya.Menurut Max Weber masyarakat melakukan aktivitas politik
karena ; alasan rasional nilai yaitu alasan yang didasarkan atas penerimaan
secara rasional akan niai-nilai suatu kelompok ; alasan emosional efektif
12
yaitu alasan didasarkan atas kebencian atau sukarela terhadap suatu ide,
organisasi, partai atau individu ; alasan tradisional yaitu alasan yang
didasarkan atas penerimaan norma tingkah laku individu atau tradisi
tertentu dari suatu kelompok sosial ; alasan rasional instrumental yaitu
alasan yang didasarkan atas kalkulasi untung rugi secara ekonomi.
2.2. Landasan teori
a) Teori Demokrasi
Demokrasi
menurut
asal
katanyaberarti
“rakyat
berkuasa”.Maknarakyat berkuasa disini yaitu rakyatyang menentukan
sendiri segalabentuk kebijakan baik itu menyangkutharkat maupun
martabat rakyat didaerah. Setiap kebijakan yang akandiambil oleh
pemerintah harus didasarioleh keinginan rakyat atau sepertiistilah
yang sering kita dengarataupun paksaan dari pihak manapun.Hak-hak
sipil
dan
kebebasan
dihormatiserta
dijunjung
tinggi.Pemilu
merupakan salah satu bentuk demokrasi negara Indonesia,pemilu
adalah mediademokrasi masyarakat untuk menyalurkan partisipasinya
kepada negara.Dalam bentuk demokrasi, kekuasaan berada di tangan
rakyat sehingga kepentingan umum (kepentingan rakyat) lebih
diutamakan.Beberapa pengertian teori demokrasi menurut beberapa
ahli sebagai berikut :
Menurut Joseph A. Schmeter berpendapat dalam teorinya bahwa
demokrasi
merupakan
suatu
perencanaan
instutisional
untuk
mencapai keputusan politik di mana individu-individu memperoleh
13
kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara
rakyat. Itu berarti bahwa semua keputusan, rakyat yang menentukan,
para wakil rakyat hanya sebagai tempat mencurahkan aspirasi rakyat
dan kemudian memperjuangkannya di hadapan wakil-wakil rakyat
yang lainnya, kemudian merundingkan dengan wakil rakyat yang
lainnya dan mengambil persetujuan untuk disepakati dan ditaati
bersama.
Menurut
H.
Harris
Soche
(Yogyakarta
:
Hanindita,
1985)
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan rakyat, karena itu kekusaan
pemerintahan itu melekat pada diri rakyat atau diri orang banyak dan
merupakan hak bagi rakyat atau orang banyak untuk mengatur,
mempertahankan
dan
melindungi
dirinya
dari
paksaan
dan
pemerkosaan orang lain atau badan yang diserahi untuk memerintah;
Menurut Hans Kelsen Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat
dan untuk rakyat.Yang melaksanakan kekuasaan negara ialah wakilwakil rakyat yang terpilih. Dimana rakyat telah yakin, bahwa segala
kehendak
dan
kepentingannya
akan
diperhatikan
di
dalam
melaksanakan kekuasaan negara.
b) Teori Politik
Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam
masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan,
khususnya
dalam
negara.
Pengertian
ini
merupakan
upaya
penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai
14
hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.Politik adalah seni dan
ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non
konstitusional. Ada beberapa pengertian politik menurut para ahli
sebagai berikut :
Andrew Heywood, politik adalah kegiatan suatu bangsa yang
bertujuan untuk membuat, mempertahankan, dan mengamandemen
peraturan-peraturan umum yang mengatur kehidupannya, yang berarti
tidak dapat terlepas dari gejala konflik dan kerjasama.
Ramlan Surbakti, politik adalah proses interaksi antara pemerintah
dan masyarakat untuk menentukan kebaikan bersama bagi masyarakat
yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.
Kartini Kartolo, politik adalah aktivitas perilaku atau proses yang
menggunakan kekuasaan untuk menegakkan peraturan-peraturan dan
keputusan-keputusan yang sah berlaku ditengah masyarakat.
Roger
F.
Soltau
dalam
Introduction
toPolitics:Ilmu
politik
mempelajari negara, tujuan-tujuan negara dan lembaga lembaga yang
akan melaksanakan tujuan tujuan itu; hubungan antara negara dengan
warga negaranya serta dengan negara-negara lain.
Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda,
yaitu antara lain:
1. politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk
mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles);
15
2. politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan
pemerintahan dan negara;
3. politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan
dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat;
4. politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan
pelaksanaan kebijakan publik.
c) Teori Kesadaran Politik
Dalam hal ini kita dapat mengetahui bahwa peran masyarakat sangat
penting untuk menentukan masa depan bangsa Indonesia. Rakyat
harus memiliki kesadaran berpolitik untuk membantu jalannya
kebijakan-kebijakan
negara.Masyarakat
harus
memiliki
rasa
kepemilikan terhadap negara, pentingnya kesadaran berpolitik
masyarakat untuk berpartisipasi dalam memilih pemimpin negara
untuk masa depan negara Indonesia.
Menurut Drs. M. Taophankesadaran politik adalah suatu proses batin
yang menampakkan keinsyafan dari setiap warga negara akan urgensi
urusan kenegaraan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Kesadaran politik atau keinsyafan bernegara menjadi penting dalam
kehidupan kenegaraan, mengingat tugas-tugas negara bersifat
menyeluruh dan kompleks. Karena itu tanpa dukungan positif dari
seluruh warga masyarakat akan banyak tugas negara yang
terbengkalai. Dari teori diatas dapat kita simpulkan bahwa sangat
penting sekali memberikan pembelajaran politik terhadap masyarakat
16
agar tumbuhnya kesadaran berpolitik, menciptakan masyarakat
madani, masyarakat yang tidak bersifat apatis dalam berpolitik serta
untuk masa depan Negara Indonesia itu sendiri.
d) Teori Partisipasi Politik
Keikutsertaanmasyarakat dalam memilih pemimpin adalah upaya
untuk menjalankan kehidupan berpolitik, yang secara tidak langsung
juga upaya mempengaruhi kebijakan pemerintah.Partisipasi politik
adalah sebagai usaha terorganisir oleh para warga negara untuk
memilih pemimpin-pemimpin mereka dan mempengaruhi bentuk dan
jalannya kebijaksanaan umum. Usaha ini dilakukan berdasarkan
kesadaran akan tangungjawab mereka terhadap kehidupan bersama
sebagai suatu bangsa dalam suatu negara. Ada beberapa pengertian
partisipasi politik menurut para ahli antara lain :
Menurut Bolgherini, partisipasi politik partisipasi politik adalah
segala aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan politik, yang
ditujukan untuk memengaruhi pengambilan keputusan baik secara
langsung maupun tidak langsung - dengan cara legal, konvensional,
damai, ataupun memaksa.
Hebert Miclosky mengemukakan bahwa partisipasi politik adalah
kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mana
mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa, baik
secara langsung atau tidak langsung, dalam proses pembentukan
kebijakan umum (elly m setiady & usman kolip, 2013: 129).
17
Surbakti memberikan pengertian partisipasi politik ialah segala
keikutsertaan warga negara biasa dalam menentukan segala keputusan
yang menyangkut atau mempengaruhi hidupnya.
Menurut Budiardjo menyebutkan bahwa partisipasi politik adalah
kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara
aktif dalam kehidupan politik, antara lain seperti memilih pimpinan
negara dan secara langsung atau tidak langsung, mempengaruhi
kebijakan pemerintah.
Pengertian partisipasi politik menurut Habermas adalah kegiatan
warganegara yang bertujuan untuk mempengaruhi pengambilan
keputusan politik, partisipasi politik dilakukan orang dalam posisinya
sebagai warganegara, bukan politikus atau pegawai negeri dan sifat
partisipasi politik ini adalah sukarela, bukan dimobilisasi oleh negara
ataupun partai yang berkuasa.
Dalam studi klasik mengenai partisipasi politik yang dilakukan
oleh Samuel P. Huntington dan Joan Nelson dalam bukunya No Easy
Choice,
Participation
in
Developing
Countries
menyebutkan
partisipasi yang dimobilisir juga termasuk dalam kajian partisipasi
politik.Bagi Huntington dan Nelson, perbedaan partisipasi politik
sukarela dan mobilisasi (diarahkan, hampir senada dengan dipaksa)
hanya dalam aspek prinsip, bukan kenyataan tindakan; intinya baik
sukarela maupun dipaksa, warganegara tetap melakukan partisipasi
politik.
18
e) Teori Kesukarelaan Politik
Menurut Herbert McClosky yang dikutip oleh damsar di dalam
“pengantar sosiologi politik” partisipasi warga dapat diartikan sebagai
sukarela dari warga masyarakat melalui mana mereka mengambil
bagian dalam proses pemilihan penguasa secara langsung atau tidak
langsung dalam proses pembentukan kebijakan umum. Dalam kamus
besar definisi kesukarelaan adalah kemauan sendiri atau kehendak
sendiri untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum.
Menurut Kristin Samah dan Fransisca Ria dalam bukunya berpolitik
tanpa partai “fenomena relawan dalam pilpres” bahwa kesukarelaan
adalah rela membantu tanpa berharap balasan, kecuali kerja nyata
untuk perbaikan bangsa dan negara.
2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi warga dalam berpolitik
Dalam kaitan partisipasi dalam proses politik, terdapat faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi tinggi rendahnya partisipasi seseorang, yaitu
kesadaran politik dan kepercayaan kepada pemerintah (sistem politik).
Kesadaran politik, adalah kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai
warga negara yang dapat berupa pengetahuan seseorang tentang
lingkungan masyarakat dan politik, serta minat dan perhatian seseorang
terhadap lingkungan masyarakat dan politik tempat ia hidup. Sedangkan
yang dimaksud dengan sikap dan kepercayaan kepada pemerintah, ialah
penilaian seseorang terhadap pemerintah, apakah ia menilai pemerintah
19
dapat dipercaya dan dapat dipengaruhi atau tidak (Ramlan Surbakti, 1999:
144).
Dalam penelitian ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat
partisipasi warga dalam berpolitik antara lain :
1. Status sosial warga, dapat dilihat dari tingkat pendidikan, tingkat
pendapatan, pekerjaan dan pengaruh keluarga;
2. Faktor psikologis, yang pada dasarnya dikelompok menjadi dua
kategori yakni :
a) Berkaitan dengan ciri kepribadian seseorang, melihat bahwa
perilaku pemilih dalam berpartisipasi politik disebabkan oleh sikap
yang tidak toleran, tak acuh, kurang mempunyai tanggungjawab
secara pribadi. Warga yang memiliki sikap ini cenderung untuk
tidak berpartisipasi dalam pemilu karena merasa kegiatan pemilu
tersebut tidak berhubungan dengan kepentingannya.
b) Orientasi kepribadian, bahwa perilaku politik warga disebabkan
oleh orientasi kepribadian warga, yang secara konseptual
menunjukkan karakter apatis, anomi, dan alienasi. Hal ini dapat
disebabkan oleh rendahnya sosilalisasi atau rangsangan (stimulus)
politik, atau adanya anggapan atau perasaan bahwa aktivitas politik
tidak menyebabkan perasaan kepuasaan atau memberikan hasil
secara langsung.
3. Faktor pilihan rasional, faktor ini melihat kegiatan berpartisipasi
sebagai produk kalkulasi untung dan rugi. Yang dipertimbangkan
20
bukan hanya “ongkos” memilih atau berpartisipasi politik dapat
mempengaruhi hasil yang diharapkan. Tapi juga perbedaan dari
alternatif berupa pilihan yang ada.
4. Faktor-faktor situasional, bahwa warga atau pemilih tidak terbelenggu
oleh karakteristik sosiologi, melainkan bebas bertindak. Biasanya
pemilih atau warga adalah seseorang yang aktif bukan pasif dengan
melihat faktor-faktor situasional, berupa isu-isu politik dan pristiwaperistiwa politik tertentu yang bisa saja mengubah prefrensi pilihan
politiknya dan atau melihat dari visi, misi, dan program kandidat atau
partai yang dapat menyebabkan dia menggunakan hak pilihnya atau
tidak. Berdasarkan pendekatan ini Him Helwit mendefinisikan bahwa
perilaku warga atau pemilih dalam berpartisipasi politik adalah sebagai
pengambilan keputusan yang bersifat instant, tergantung hanya pada
situasi sosial politik yang terjadi.
Ada empat tipe partisipasi yang berkaitan dengan faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi tinggi dan rendahnya partisipasi seseorang dalam melihat
suatu persoalan dalam lingkungannya (Jeffry M Paige, dalam Surbakti,
1999: 144) yaitu:
a) Apabila seseorang memiliki kesadaran politik dan kepercayaan kepada
pemerintahyang tinggi, maka partisipasi politik cenderung aktif;
b) Apabila seseorang tingkat kesadaran politik dan kepercayaan kepada
pemerintah rendah, maka partisipasi politik cenderung pasif-tertekan
(apatis);
21
c) Apabila
kesadaran
politik
tinggi
tetapi
kepercayaan
kepada
pemerintah sangatrendah, maka akan melahirkan militan radikal; dan
d) Apabilakesadaran politik sangat rendah tetapi kepercayaan kepada
pemerintah sangat
tinggi, maka akan melahirkan partisipasi yang
tidak aktif (pasif).
2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi kesukarelaan warga dalam
berpolitik
Kesukarelaan warga dalam berpolitik dapat dilihat dari sikap-sikap
dan tindakan yang dilakukan oleh warga.Kesukarelaan memiliki hubungan
erat dengan perilaku politik warga. Sedangkan Kesukarelaan dan perilaku
politik warga pada umumnya ditentukan oleh faktor internal dari individu
sendiri seperti : idealisme, tingkat kecerdasan, kehendak hati dan faktorfaktor ekternal seperti : kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan seperti :
kehidupan beragama, sosial , politik, ekonomi dan sebagainya yang
mengelilinginya. Ada juga faktor-faktor situasional yang ikut berperan
dalam mempengaruhi kesukarelaan warga dalam menggunakan hak
politiknya di pemilu. Faktor-faktor situasional, bisa berupa isu-isu politik,
dan isu-isu program kandidat yang meyakinkan akan dapat merubah
keadaan. Faktor ini tidak terbelenggu oleh karakteristik sosiologi,
melainkan bebas bertindak, dengan begitu pemilih ini bukan hanya pasif
melainkan individu yang aktif.Pendekatan rasional melihat bahwa pemilih
benar-benar secara sadar dan rasional dalam mengambil keputusan untuk
menggunakan hak pilihnya.Pemilih ini melakuan penilaian secara valid
terhadap visi, misi dan program kerja partai atau kandidat.Pemilih rasional
22
memiliki motivasi yang lebih untuk berpartisipasi, prinsip, pengetahuan,
dan informasi yang cukup.Tindakan mereka bukanlah karena faktor
kebetulan atau kebiasaan atau faktor uang atau barang lainnya, dan tidak
semata-matauntuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk kepentingan
umum, menurut pikiran dan pertimbangan yang logis.
2.5 Motif dan Bentuk Kerelawanan
2.5.1. Motif kerelawanan
Huntington dan Nelson membagi landasan partisipasi politik -- baik
individu maupun kelompok dalam melakukan kegiatan politik,
berdasarkan:
a) Kelas; individu dengan status sosial, pendapatan, dan pekerjaan
yang serupa
b) Kelompok atau komunal; individu dengan asal-usul ras, agama,
bahasa atau etnis yang serupa
c) Lingkungan; individu yang berdomisilinya berdekatan
d) Partai; individu yang mengidentifikasi diri dengan organisasi
formal yang sama yang berusaha meraih atau mempertahankann
kontrol atas eksekutif dan legistatif pemerintahan.
e) Golongan atau faksi; individu yang dipersatukan oleh interaksi
yang terus menerus antara satu sama lain, yang akhirnya
membentuk hubungan patron - client yang berlaku atas orangorang dengan tingkat status sosial, pendidikan dan ekonomi
yang beragam.
23
Motif yang muncul di masyarakat untuk menjadi relawan juga
didasarkan pada hal-hal tersebut.Motif yang paling dominan adalah
karena
alasan
kesamaan
kelompok/komunal
dan
faktor
lingkungan.Faktor idenitas seperti asal usul, agama dan etnis masih
menjadi
alasan
kuat
bagi
masyarakat
dalam
memberikan
dukungan.Hal tersebut ditunjang dengan faktor tempat tinggal yang
saling berdekatan yang membangun intensitas kebersamaan yang
sangat berpengaruh dalam menentukan keberpihakan mereka
secara politik.
Pada level tertentu di masyarakat, faktor kelas juga cukup
mempengaruhi keterlibatan mereka sebagai relawan. Hal ini
ditandai dengan kemunculan sekelompok masyarakat dengan mata
pencaharian yang sama yang kemudian membuat paguyuban
relawan untuk salah satu kandidat tertentu (misalnya tukang ojek).
Sementara keberadaan partai belum menjadi alasan kuat bagi
masyarakat untuk berpartisipasi sebagai relawan, karena sebagain
besar masyarakat kita tidak terikat pada satu partai politik
tertentu.Trendnya selalu berubah terkait dukungan masyarakat
terhadap partai politik. Dengan kata lain, pola rekruitmen yang
dilakukan untuk menjaring relawan dalam pelaksanaan pemilu lalu
menggunakan jalur tradisional karena alasan identitas dan faktor
lingkungan. Rekruitmen relawan belum digarap secara modern
24
dengan pola-pola yang tertata dengan menggarap isu-isu substantif
sebagai perangsang orang untuk berpartisipasi.
2.5.2 Bentuk Kerelawan
Huntington dan Nelson juga membagi bentuk-bentuk partisipasi
politik ke dalamkegiatan pemilihan (pemberian suara), lobby untuk
mempengaruhi keputusan tentang suatu isu, kegiatan organisasi,
membangun jaringan dengan pejabat-pejabat pemerintah untuk
mempengaruhi keputusan mereka, dan bahkan dengan melakukan
tindakan kekerasan untuk mempengaruhi keputusan. Masyarakat
kita, khususnya yang berdomisili di wilayah Jakarta Barat,
walaupun sempat mengalami euforia untuk berpartisipasi dalam
pelaksanaan pemilu kemarin.Tindakan yang mereka lakukan masih
dalam batas-batas kewajaran tanpa harus menimbulkan kerusuhan
atau tindakan kekerasan yang mempengaruhi siatuasi keamanan.
Walaupun faksi-faksi di masyarakat terbagi dengan sangat jelas,
tapi upaya yang mereka lakukan untuk mempengaruhi pihak lain
dengan menggalang kegiatan organisasi dan kerja-kerja jaringan
tidak sampai menimbulkan konflik yang serius.
Motif dan bentuk kerelawanan di tingkat masyarakat, di satu
sisi dapat dilihat sebagai peningkatan kesadaran politik warga
dalam berdemokrasi. Sementara disisi lain kerelawanan perlu
ditunjang dengan kebijakan dan agenda yang jelas yang diusung
oleh pemerintah dan partai politik untuk mendorong pelibatan
25
dalam konteks demokrasi secara substantif serta pengelolaan
kerelawanan yang tertatat dengan baik agar tidak menjadi bahaya
laten yang dapat memunculkan perpecahan dalam kehidupan
bernegara.
2.6 Peranan Partai Politik , Media dan Penyelenggara Pemilu
2.6.1 Peranan Partai Politik
Cara lain dalam mendorong partisipasi masyarakat dalam pemilu
melalui penguatan partai politik. Argumentasinya, bahwa partai
politik diwajibkan melakukan pendidikan politik.Tidak lagi partai
politik mengarahkan pemilih dengan metode politik instan, yaitu
melalui pemberian uang. Ketika cara ini masih di reproduksi secara
terus menerus, bisa dipastikan nilai dan pemahaman masyarakat
terhadap partisipasi menjadi mengecil hanya dihargai dengan uang.
Bukan karena kesadaran sendiri untuk memilih partai karena
kinerja serta keberpihakan dalam momentum pemilu dengan
menjadi relawan.
Secara lebih tegas lagi mengenai pendidikan politik dapat dilihat
dalam Pasal 31 UU Nomor 2 tahun 2008, yang menyatakan bahwa
Partai politik melakukan pendidikan politik bagi masyarakat sesuai
ruang lingkup tanggung jawabnya dengan memperhatikan keadilan
dan kesetaraan gender dan tujuannya antara lain: Meningkatkan
kesadaran hak dan kewajiban masyarakat dalam kehidupan
bermasyarakat, meningkatkan partisipasi politik dan inisiatif
26
masyarakat,
meningkatkan
kemandirian,
kedewasaan,
dan
membangun karakter bangsa dalam rangka memelihara persatuan
dan kesatuan bangsa. Atas dasar ini pendidikan politik rakyat
adalah hal yang strategis untuk menimbulkan efek Pemilu yang
lebih berkualitas.Pasal ini menegaskan apa-apa saja yang harus
menjadi agenda partai di masyarakat, namun hal tersebut tidak
diikuti dengan pengelolaan isu yang baik serta manajemen
kepartaian yang memadai.Hampir semua partai politik yang ada
saat ini lebih disibukkan dengan ambisi-ambisi politik dalam
penguasaan posisi-posisi strategis pemerintahan, baik di tingkat
pusat maupun daerah. Namun tidak mengelola dengan baik basis
dukungan massa sebagai penunjang legitimasi politik mereka.
Termasuk pengelolaan terhadap relawan dalam mensuksseskan
agenda politik mereka dalam pemilu. Hampir sebagian besar
relawan yang ada bekerja untuk mendukung individu yang
mencalaonkan diri dalam proses pemilu, baik untuk legislatif
maupun presiden, bukan bekerja untuk partai. Karena pengelolaan
relawan juga dilakukan secara individual oleh para kandidat
tersebut. Sehingga kerap terjadi perselisihan antar relawan yang
mendukung kandidat-kandidat yang notabene berasal dari partai
yang sama.
Untuk itu, diperlukan upaya-upaya yang cukup kuat agar partai
politik mulai menata mekanisme dalam manajemen partainya agar
27
fungsi-fungsi partai politik yang diharapkan bisa berjalan dengan
baik.Perbaikan terhadap Undang-Undang partai politik menjadi
sebuah kebutuhan. Selain untuk mendorong perbaikan pengelolaan
internal partai secara baik yang berjenjang dari tingkat pusat hingga
tingkat kecamatan (atau kelurahan tergantung kehendak partai)
mulai dari pola rekruitmen hingga pengelolaan agenda partai, juga
mendorong partai politik untuk mengelola serta melakukan
pendidikan politik terhadap massa pendukungnya di tingkat
masyarakat.
Hal lain yang juga terkait peran partai politik adalah isu yang saat
ini juga sedang hangat diberitakan di media massa, yakni terkait
dengan keberadaan rumah aspirasi yang dikelola oleh para
legislator. Terlepas dari perdebatan terkait penganggaran rumah
aspirasi tersebut, keberadaannya dianggap cukup dibutuhkan
karena bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan aspirasi
masyarakat secara langsung diluar proses pemilihan umum. Serta
diharapkan bisa menjadi sumber informasi untuk sosialisasi dan
konsultasi kepada masyarakat terkait kebijakan serta perkembangan
isu-isu lainnya. Mengingat keberadaan rumah aspirasi ini bisa
dipastikan keberadaannya (mengacu pada UU no. 17 tahun 2014
tentang MPR, DPD, DPR-RI, dan DPRD sebagai landasan
hukumnya), perlu dipastikan dalam pelaksanaan teknisnya rumah
aspirasi tersebut memang difungsikan sebagai mana semestinya
28
dan ada mekanisme kontrol yang melekat dari masyarakat terhadap
aktivitasnya.
2.6.2
Peranan Media
Media memiliki peran yang cukup signifikan dalam membentuk
karakter kerelawanan di masyarakat dalam perhelatan pemilu.Ada
faktor psikologis yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk
terlibat dalam partisipasi politik.Pertama, yang disebut dengan
Political Disaffection istilah yang mengacu pada perilaku dan
perasaan negatif individu terhadap suatu sistem politik. Penyebab
utama dari perilaku ini adalah media massa, terutama televisi.
Dengan banyaknya seseorang menyaksikan acara televisi, terutama
berita-berita politik, mereka mengalami keterasingan politik.Hal ini
terungkap dalam kajian yang dilakukan oleh Michael J. Robinson.
Keterasingan ini akibat melemahnya dukungan terhadap strukturstruktur politik yang ada seperti parlemen, kepresidenan,
kehakiman, partai politik, dan lainnya.Individu merasa bahwa
struktur-struktur tersebut dianggap tidak lagi memperhatikan
kepentingan mereka.Wujud keterasingan ini muncul dalam bentuk
sinisme politik berupa protes, demonstrasi dan huru-hara.Kedua,
yang disebut dengan Political Efficacy istilah yang mengacu pada
perasaan bahwa tindakan politik seseorang dapat memiliki dampak
terhadap proses-proses politik.Keterlibatan individu atau kelompok
29
dalam partisipasi politik tidak bersifat permanen melainkan
berubah-ubah.
Belajar dalam pengalaman pemilu yang lalu, di media tidak ada
satu
mediapun
yang
dianggap
netral
dalam
memberikan
pemberitaannya selama proses pemilihan umum, dan tidak
jalannya mekanisme hukuman terkait hal tersebut, kedepan, perlu
dibangun pula upaya-upaya untuk penataan media massa agar lebih
terfokus pada pendidikan politik dan bisa menyampaikan informasi
secara baik yang perlu diketahui masyarakat luas, bukan sebagai
provokator. Untuk itu, perlu ditunjang dengan pelaksanaan hukum
terkait penyiaran yang ditegakkan dengan baik, di samping itikad
baik dari para pemilik media dan tim redaktur untuk menjalankan
profesinya sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalisme.
2.6.3 Peranan Penyelenggara Pemilu
Penyelenggara
pemilu
baik
kabupaten/kota
memiliki
dari
tingkat
kepentingan
cukup
pusat
hingga
besar
dengan
keberadaan para relawan dalam pergelatan politik. Kepentingan
tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek; Pertama, aspek kapasitas
penyelenggara. Aspek kapasitas ini utamanya dilihat pada
tingkatan kabupaten/kota sebagai entitas penyelenggara pemilu
ditingkat
lokal
yang
paling
banyak
bersentuhan
dengan
masyarakat. Berdasarkan pengalaman pada pemilu yang lalu
dengan
bermumculannya
30
kelompok-kelompok
relawan
di
masyarakat baik relawan peserta pemilu maupun pemantau
independen, di satu sisi relawan-relawan tersebut cukup membantu
tugas-tugas KPU Kabupaten/kota baik untuk melakukan verifikasi
data pemilih, sosialisasi agenda pemilu dan informasi lainnya
kepada masyarakat. Keterbatasan jumlah personel di KPU
Kabupaten/Kota untuk menjangkau seluruh wilayahnya, serta
pemahaman tugas yang masih belum sepenuhnya dipahami
kemudian dalam beberapa situasi bisa dipenuhi oleh relawan.
Namun disisi lain, keberadaan relawan yang sporadis dan tidak
terorganisir dengan baik malah menambah beban kerja bagi KPU
Kabupaten/Kota untuk mengawasi sepak terjang mereka agar tidak
melanggar
kaidah-kaidah
yang
telah
ditentukan
dalam
penyelenggaraan pemilu.
KPU Kabupaten/Kota, dalam hal ini KPU Kota Administrasi
Jakarta Barat, sebenarnya cukup memahami keterbatasan yang
mereka miliki untuk bisa memastikan seluruh penyelenggara
pemilu yang berada dibawah koordinasi KPU Kota Administrasi
Jakarta Barat (PPK, PPS, KPPS) memiliki pemahaman yang sama
terkait tupoksi mereka, termasuk juga sosialisasi yang merata
kepada seluruh warga. Hal ini tentu saja tidak lepas dari
keterbatasan agenda kerja dan pendanaan yang harus dijalankan
oleh mereka.Agenda kerja KPU di tingkat daerah ditentukan oleh
tingkatan diatasnya (KPU Provinsi dan Pusat), mereka hanya
31
menjalankan
tugas-tugas
pendanaannya.Sayangnya,
yang
sudah
penyusunan
ditentukan
agenda
kerja
berikut
yang
dilakukan di tingkat Provinsi dan Pusat sering kali digeneralisir,
sehingga agenda dan anggarannya tidak sesuai dengan kondisi riil
dilapangan. Seperti misalnya untuk kegiatan sosialisasi kepada
masyarakat pemilih yang jumlah kegiatannya sangat terbatas serta
target pesertanya yang juga sangat terbatas, sehingga tidak semua
pemilih dapat mengikuti kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh
KPU. Contoh lainnya, bimbingan teknis yang diberikan kepada
KPPS hanya diwakili oleh 1-2 orang anggota KPPS di tiap-tiap
TPS, sehingga tidak semua anggota KPPS bisa memahami
tupoksinya dengan baik. Demikian halnya dengan kinerja PPK dan
PPS yang pada tahap-tahap tertentu agenda pemilu membutuhkan
kapasitas dan ketrampilan tertentu serta dukungan logistik yang
memadai (misalnya saat verifikasi data pemilih dan proses
penghittungan suara). Sempitnya ruang inisiatif bagi KPU di
daerah untuk berimprovisasi juga didudkung dengan pendanaan
yang sangat terbatas. Sehingga banyak celah di masyarakat dalam
tahapan-tahapan penyelenggaraan pemilu yang kemudian diambil
alih oleh para relawan yang cara kerjanya lebih fleksibel dan
dinamis. Kedepannya, perlu upaya penyusunan agenda kerja dan
penganggaran yang bersipat partisipatoris untuk menjawab
hambatan-hambatan yang ada dilapangan.Hal tersebut untuk
32
menunjang pelaksanaan distribusi logistik yang lebih rapi,
penyelenggaraan bimbingan teknis yang lebih merata untuk
seluruh petugas penyelenggara pemilu dari tingkat kecamatan
hingga TPS, sosialisasi terhadap pemilih yang lebih komunikatif
dan tersebar secara merata yang pelaksanaannya melibatkan pihakpihak yang kompeten yang ada dimasyarakat. Sehingga semua
pihak baik petugas pemilihan maupun masyarakat pemilih bisa ikut
memperlancar proses penyelenggaraan pemilu tersebut.
Hal penting yang belum tersedia dalam keterlibatan para relawan
dalam penyelenggaraan pemilu adalah, perangkat kebijakan yang
mengatur keberadaan relawan dalam pemilu.Baik UU Pemilu
maupun Keputusan KPU dan kebijakan turunan terkait lainnya
dalam
penyelenggaraan
tersebut.Sehingga
pemilu
perlu
belum
diperkuat
mengakomodir
kerangka
hal
kebijakan
penyelenggaraan pemilu yang lebih baik lagi, utamanya untuk
pengelolaan para relawan yang terlibat dalam pelaksanaan
pemilu.Termasuk
didalamnya
mempersiapkan
mekanisme
pengawasan terkait keberadaan dan aktivitas para relawan tersebut,
sebagai upaya pemerintah untuk mengakomodir geliat politik
warganya kearah yang membangun untuk meningkatkan kesadaran
dan partisipasi dalam politik.
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
33
3.1 Sifat dan Pendekatan Penelitian
3.1.1. Sifat Penelitian
Sifat penelitian yang digunakan dalam menyusun riset ini adalah
Empiris Analitik, yaitu suatu penelitian yang berusaha untuk
menggambarkan,
menjelaskan
dan
memaparkan
fakta-fakta
seadanya (fact finding) serta menemukan korelasi antara yang satu
dengan
yang
lainnya,
yang
kemudian
dianalisis
dengan
menggunakan teori atau kaidah umum yang telah berlaku.
3.1.2. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi politik, yaitu
pendekatan yang lebih mengukur atau menilai sosial politik
masyarakat Jakarta Barat dengan menggunakan bantuan teori yang
sesuai atau berhubungan dengan penelitian ini;
3.2 Ruang Lingkup Penelitian
3.2.1. Lokasi Penelitian
Survey lapangan dilaksanakan di semua kecamatan yang ada di
Jakarta Barat (Cengkareng, Kalideres, Tambora, Taman Sari,
Palmerah, Grogol Petamburan, Kebon Jeruk dan Kembangan)
dengan cara membagikan questioner kepada para responden.
Sedangkan FGD dilakukan diKantor KPU Kota Administrasi
Jakarta Barat Jl. C No. 38 Kelapa dua raya Kebon Jeruk.
3.2.2. Waktu Penelitian
34
Penelitian inidimulai dari bulan April 2015hingga bulan Juli 2015.
Penelitian ini dimulai secara bertahap diambil dari pra survey mulai
dari pendahuluan, pengajuan proposal, pembuatan surat ijin riset ke
kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Jakarta Barat,
konsultasi dengan KPU DKI Jakarta, berdiskusi dengan para
relawan dan tokoh masyarakat, membuat daftar pertanyaan dan
mengolah data untuk disusun menjadi sebuah laporan penlitian.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data yang berkenaan
dengan penelitian ini adalah :
3.3.1 Sumber Data
a) Data primer
Data primer merupakan data yang didapat dari sumbernya,
melalui Focus Group Discussion (FGD) dan penyebaran
questioner melalui jawaban–jawaban responden atas pertanyaanpertanyaan yang diajukan
b) Data sekunder
Data sekunder merupakan data atau informasi kedua yang
berhubungan dengan masalah penelitian. Data sekunder lainnya
dengan melakukan kajian pustaka, yang bersumber dari bukubuku, karya ilmiah, jurnal, koran, internet, dan lain-lain yang
berhubungan dengan penelitian ini.
3.3.2 Teknik Pengumpulan Data
35
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang
dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Untuk
memperoleh data tersebut, teknik
pengumpulan data dalam
penelitian ini adalah:
a) Focus Group Discussion (FGD) dan penyebaran questioner
Penelitian dilakukan dengan cara Focus Group Discussion
(FGD) dan penyebaran questioner. Focus Group Discussion
(FGD) dilakukan untuk memperoleh informasi secara cepat,
mulai
dengan
mengidentifikasi
dan
menggali
informasi
mengenai kepercayaan, sikap dan perilaku kelompok tertentu,
dan menghasilkan ide-ide untuk penelitian lebih mendalam serta
untuk cross-check data dari sumber lain atau dengan metode
lain.
FGD
juga
memungkinkan
peneliti
mengumpulkan
informasi secara cepat dan konstruktif dari peserta yang
memiliki latar belakang berbeda-beda. Selain itu FGD juga
dapat digunakan untuk menyusun instrumen, menginventarisasi
narasumber/responden, dan membahas hasil.
b) Questioner
Questioner atau angket merupakan cara mengumpulkan data
dengan memberikan daftar pertanyaan kepada responden untuk
diisi (Aoeratno dan Lincolin Arsyad, 1993 ; 96). Penelitian ini
dilakukan dengan cara membagikan questioner kepada 120
(seratus dua puluh) relawan yang tersebar di wilayah Jakarta
36
Barat.Dari masing-masing kecamatan diambil sampling 15 (lima
belas) orang relawan pada pemilu 2014. Penelitian dilakukan
dengan cara membagikan questioner kepada relawan dan tokoh
masyarakat yang mempunyai peran dalam menggerakan
kesukarelaan berpolitik warga dalam pemilu 2014 . Adapun
respondennya adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1
Data Responden Relawan Di Jakarta Barat
NO.
1
2
3
4
5
6
UNSUR
JUMLAH
RESPONDEN
Panwaslu
Tokoh Relawan Pemilu 2014 : Jokowi – Jusuf Kalla
Tokoh Relawan Pemilu 2014 : Prabowo - Hatta
Relawan unsur tokoh ormas pemerhati kepemiluan
Relawan unsur akademisi
Relawan unsur tokoh masyarakat pemerhati pemilu atau
politik lainnya
1
4
4
3
1
Jumlah Peserta
15
2
c) Dokumentasi
Yaitu mengumpulkan data dengan melihat atau mencatat suatu
laporan yang sudah tersedia. Dokumentasi yang digunakan
peneliti terkait dalam pokok masalah yang diambil baik dari
literatur yang sudah ada ataupun dalam bentuk buku laporan.
3.4 Metode analisa Data
Dalam penelitian ini, analisa yang digunakan adalah Empiris Analitik,
yaitu suatu penelitian yang berusaha untuk menggambarkan, menjelaskan
dan memaparkan fakta-fakta seadanya (fact finding) serta menemukan
korelasi antara yang satu dengan yang lainnya, yang kemudian dianalisis
37
dengan menggunakan teori atau kaidah umum yang telah berlaku. Selain
dengan metode kualitatif, juga digunakan metode kuantitatif untuk
mengukur tentang sejauh mana tingkat hubungan yang terjadi diantara
beberapa variabel.
Metode
yang
gunakan
untuk
mengukur seberapa besar tingkat
kesukarelaan warga dalam berpolitik di Kota Administrasi Jakarta Barat
adalah dengan menggunakan Metode Skala Likert (kuantifikasi yang
besifat kualitatif) untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi para tokoh
tentang kesukarelaan yang penilaiannya berjenjang yaitu : (1, 2, 3, 4, 5, 6,
7, 8, 9, 10). Jawaban disetiap item instrument yang menggunakan skala
likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, dengan
penilaian sangat penting, penting, netral, tidak penting dan sangat tidak
penting. Untuk keperluan analisis secara kualitatif, jawaban dari responden
diberi skor sebagai berikut :
Tabel 3.2
Pengukuran Skala Likert
Penilaian
Skor
Sangat
Penting/Tinggi/Paham/berpengaruh/memadai/
bermanfaat/kendala/responsif/berminat/puas
Penting/Tinggi/Paham/berpengaruh/memadai/
bermanfaat/kendala/responsif/berminat/puas
Netral
Tidak
Penting/Tinggi/Paham/berpengaruh/memadai/
bermanfaat/kendala/responsif/berminat/puas
Sangat Tidak
Penting/Tinggi/Paham/berpengaruh/memadai/
bermanfaat/kendala/responsif/berminat/puas
Sumber : Data yang sudah diolah
38
10 dan 9
8 dan 7
6 dan 5
4 dan 3
2 dan 1
Responden dapat menjawab soal instrument penelitian menggunakan
bentuk checklist (√). (Soegiyono, 2000:2).
39
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian
KPU Kota Administrasi Jakarta Barat adalah bagian dari penyelenggara
Pemilu di tingkat daerah yang bertanggung jawab untuk melaksanakan
semua tahapan pemilu ditingkat Kabupaten/Kota, yang terbagi menjadi 8
(delapan)
kecamatan
(Kalideres,
Cengkareng,
Palmerah,
Grogol
Petamburan, Taman Sari, Tambora, Kembangan dan KebonJeruk) dan 56
(lima puluh enam) kelurahan. Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT, DPK,
DPKTb) dalam pemilu legislatif sebanyak 1.684.043 dengan jumlah
pengguna hak pilih sebanyak 1.105.541, sehingga partisipasi pemilih
sebesar 66%, dengan jumlah TPS 3.818. Jumlah pemilih (DPT, DPK,
DPKTb)
pada
pemilu
presiden
dan
wakil
presiden
sebanyak
1.746.826dengan jumlah pengguna hak pilih sebanyak 1.233.195 sehingga
partisipasi pemilih sebesar 71%, dengan jumlah TPS 2.474 .
Pada pemilu legislatif untuk anggota DPR RI Jakarta Barat termasuk
dalam Dapil 3 (tiga), sedangkan untuk pemilu anggota DPRD Provinsi
DKI Jakarta terbagi menjadi 2 (dua) dapil yaitu dapil 9 (Cengkareng,
Kalideres dan Tambora) dan dapil 10 (Grogol Petamburan, Palmerah,
Kebon Jeruk, Kembangan dan Taman Sari).
Pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden diikuti oleh dua pasangan
calon yaitu Prabowo Subianto – Hatta Rajasa dan Joko Widodo – Jusuf
Kalla dengan jumlah pemilih untuk Jakarta Barat sebanyak 1.746.826.
40
4.2. Analisa dan Pembahasan
4.2.1. Focus Group Discussion (FGD)
Pada tanggal 12 Mei 2015, KPU Kota Administrasi Jakarta Barat
melaksanakan diskusi terfokus (Focus Group Discussion - FGD)
terkait kajian partisipasi kesukarelawanan warga dalam pemilu di
aula kantor KPU Jakarta Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk
menggali informasi serta masukan dari berbagai pemangku
kepentingan yang ada di masyarakat yang baik secara langsung
maupun tidak langsung terlibat dan cukup memahami keikutsertaan
warga sebagai sukarelawan dalam pelaksanaan Pemilihan Presiden
2014 lalu.
Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) ini dihadiri oleh 30 (tiga
puluh) peserta yang terdiri dari; Unsur tokoh masyarakat se-Kota
Administrasi Jakarta Barat, MUI Kota Administrasi Jakarta Barat,
Relawan Tim Pemenangan Capres dan Cawapres Prabowo - Hatta
dan Jokowi - JK, mantan Ketua Panwaslu Kota Administrasi
Jakarta Barat, Forkabi Jakarta Barat, Karang Taruna, KIPP Jakarta,
Universitas Mercu Buana Jakarta, serta Petugas Pelaksana
Kecamatan dan Kelurahan (PPK dan PPS) Jakarta Barat.
FGD ini difokuskan untuk menjawab 3 (tiga) pertanyaan besar
yang diberikan oleh KPU Provinsi DKI Jakarta, yakni; (1) Apa
alasan masyarakat untuk terlibat menjadi relawan? (2) Faktorfaktor apa yang mendukung dan menghambat, serta tantangan
41
menjadi relawan? Dan (3) Tantangan kebijakan seperti apa terkait
keberadaan relawan?
4.2.2. Survey lapangan
Surveylapangan ini melalui questioner yang disebarkan kepada
para relawan sebanyak 120 (seratus dua puluh) orang. Penyebaran
questioner dilakukan pada tanggal 18 – 24 Mei 2015di 8 (delapan)
kecamatan yang masing-masing kecamatan diwakilkan oleh 15
(lima belas) orang relawan pada pemilu 2014.
4.2.3. Data Penelitian
Untuk mendapatkan gambaran mengenai relawan yang menjadi
responden dalam penelitian ini, maka karakteristik responden
dikelompokkan berdasarkan :jenis kelamin, pendidikan, usia dan
pekerjaan. Setelah melakukan penyebaran,maka diperoleh data
mengenai gambaran atau karakteristik responden yang menjadi
relawan pada pemilu 2014 sebagai berikut :
a) Data reponden berdasarkan jenis kelamin
Tabel :4.1
Data Berdasarkan Jenis Kelamin Responden
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
JUMLAH
Jumlah
82
38
120
Persentase
68,5 %
31,5%
100%
Sumber : Data Questioner
Dari tabel diatas, dapat dijelaskan bahwa responden dalam
penelitian ini sebagian besar adalah laki-laki yaitu sebesar
68,5%,
sedangkan
perempuan
42
sebesar
31,5%.
Jumlah
responden wanita sudah mencukupi keterwakilan 30%
perempuan (minimal 36 keterwakilan perempuan).
b) Data responden berdasarkan usia
Data responden yang berhasil didapatkan melalui hasil
penelitian berdasarkan usia adalah :
Tabel :4.2
Data Berdasarkan Usia Responden
Usia Responden
20 s/d 30 tahun
31 s/d 40 tahun
41 s/d 50 tahun
51 s/d 60 tahun
61 s/d 70 tahun
JUMLAH
Jumlah
10
30
49
22
9
120
Persentase
8%
25 %
41 %
18 %
8%
100 %
Sumber : Data Questioner
Usia responden yang dijadikan sample dalam penelitian ini
terbagi 5 (lima) golongan tingkat usia, dimana usia antara 20
s/d 30 tahun sebesar 8%, usia 31s/d 40 tahun sebesar 25%, usia
51 s/d 60 tahun sebesar 18%, usia 61 s/d 70 tahun sebesar 8%
sedangkan usia 41 s/d 50 tahun mendominasi dari total jumlah
responden yaitu 41 %.
c) Data responden berdasarkan tingkat pendidikan
Pemberian kuesioner juga didasarkan pada tingkat pendidikan,
melalui hasil penelitian dilihat dari tingkat pendidikan sebagai
berikut:
Tabel :4.3
Data Berdasarkan PendidikanResponden
Pendidikan Responden
SD
SMP
43
Jumlah
0
3
Persentase
0
2,5 %
SLTA
Sarjana (S1)
Pasca Sarjana (S2)
JUMLAH
71
44
2
120
59 %
37 %
1,5 %
100 %
Sumber : Data Questioner
Berdasarkan tabel 4.3
dapat diketahui bahwa tingkat
pendidikan responden terbanyak adalah SLTA yaitu 59 % atau
71 orang responden.Dimana tingkat pendidikan SD tidak ada
(0%), SMP sebanyak 3 orang (2,5%), Sarjana (S1) sebanyak
44 orang (37%) dan Pasca sarjana sebanyak 2 orang (1,5%).
d) Data responden berdasarkan pekerjaan
Selain tingkat pendidikan, responden juga dilihat dari jenis
pekerjaan. Dari hasil penelitian diperoleh data responden
sebagai berikut :
Tabel :4.4
Data Berdasarkan JenisPekerjaan Responden
Jenis Pekerjaan
Mahasiswa
Bekerja
Pensiunan
JUMLAH
Jumlah
2
111
7
120
Persentase
1,5 %
93 %
5,5 %
100 %
Sumber : Data Questioner
Dari tabel diatas diperoleh data yang dilihat dari jenis
pekerjaan responden sebagai berikut : mahasiswa sebanyak 2
orang (1,5%), bekerja sebanyak 111 orang (93%) dan
pensiunan 7 orang (5,5%). Dari data tersebut responden yang
bekerja mendominasi dari total responden yaitu sebesar 93 %.
44
4.3. Analisa dan Pembahasan
Hasil jawaban dari 120 responden tentang kesukarelaan warga dalam
berpolitik yang terdiri dari 13 pertanyaan, jawaban tersebut kemudian akan
dianalisa oleh peneliti dengan menggunakan jumlah prosentase jawaban,
semuanya itu tertuang dan dijelaskan hasil seperti pada tabel sebagai
berikut :
Tabel 4.5
Hasil Jawaban Responden
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
PERTANYAAN
Menurut saudara
seberapa penting
relawan dalam
pelaksanaan pemilu
Apakah tingkat
partisipasi masyarakat
cukup tinggi untuk
menjadi relawan dalam
pelaksanaan pemilu
Sejauh pemahaman
saudara apakah relawan
dalam aktifitasnya cukup
memahami tugasnya
Menurut saudara apakah
munculnya
relawan/kelompok
relawan pemilu 2014
berpengaruh dan
termotivasi untuk
melakukan perubahan
Menurut saudara
seberapa pentingkah
peran relawan/kelompok
relawan mendorong agar
masyarakat
berpartisipasi dalam
pemilu
Apakah dengan menjadi
relawan dapat
memperoleh manfaat
Menurut saudara dalam
menjalankan tugas
kerelawanan apakah
menemukan kendala
Apakah lembaga yang
menanungi
relawan/kelompok
relawan responsive
terhadap kendalan yang
dihadapi oleh relawan
Menurut saudara apakah
oeraturan terkait
kesukarelawanan sudah
cukup memadai
Seberapa pentingkah
pengelolaan relawan
SP
SP
P
P
N
N
TP
TP
STP
STP
28
20
22
16
15
8
4
3
1
3
15
17
19
22
15
15
8
6
1
2
8
13
17
20
24
24
6
4
3
1
23
12
26
18
15
9
8
5
2
2
29
21
19
22
11
10
4
3
1
0
22
20
22
26
11
11
2
3
3
0
5
8
10
21
7
9
16
20
12
12
11
16
20
12
19
20
9
10
3
0
6
9
13
18
11
10
12
22
15
4
30
25
17
19
6
12
5
2
3
1
45
atau kelompok relawan
dalam pemilu
Menurut saudara
seberapa besar
11
pandangan masyarakat
terhadap rumah aspirasi
Menurut saudara masih
pentingkah peran
12
lembaga dalam tugas
relawan atau kelompok
relawan dilapangan
Menurut saudara apakah
dimasa yang akan
13
datang masyarakat
masih berminat menjadi
relawan
JUMLAH
PROSENTASE
PROSENTASE
9
12
22
19
18
15
10
9
5
1
28
26
17
21
10
9
3
3
2
1
24
28
13
27
10
8
6
2
2
0
238
15,26
227
14,55
237
15,19
261
16,73
172
11,03
160
10,26
93
5,96
92
5,90
53
3,40
27
1,73
29,81
31,92
21,28
11,86
5,13
Sumber :Data Questioner (diolah kembali)
Dari data tersebut diatas, maka dapat dianalisa dari masing-masing
pertanyaan sebagai berikut :
1. Pentingnya keberadaan relawan
Berdasarkan datatabel 4.5 diatas keberadaan relawan pada saat pemilu
2014 di Kota Administrasi Jakarta Barat dengan jumlah relawan
sebanyak120 responden, untuk pertanyaan nomor 1 (satu) dengan
hasilprosentase sebagai berikut yang menjawab “sangat penting”
sebanyak 48responden atau 40%, yang memberi jawaban “penting”
sebanyak 38 responden atau 31,67%, yang menjawab “netral” sebanyak
23 responden atau 19,17%, jawaban ‘tidak penting” sebanyak
7responden atau 5,83% dan responden yang menjawab “sangat tidak
penting” sebanyak 4 responden atau 3,33%. Dari data tersebut, dapat
dianalisa bahwa keberadaan relawan pada saat pemilu 2014 di Kota
Administrasi
Jakarta
Barat
termasuk
dalam
kategori
sangat
pentingdengan prosentase tertinggi sebesar 40% , karena dengan
adanya relawan sosialisasi tentang kepemiluan akan maksimal; relawan
46
adalah sumber informasi yang sangat dekat dengan masyarakat
sehingga dapat memberikan motivasi kepada masyarakat untuk
berpartisipasi dalam pemilu; relawan sebagai alat untuk menyampaikan
maksud dan tujuan dari Pemilu kepada masyarakat karena sering terjadi
diskomunikasi ; relawan juga dapat membantu pelaksanaan pemilu
dalam sisi informasi dan faktualisasi ; selain itu relawan juga berfungsi
sebagai kontrol kepada penyelenggara dan sebagai ujung tombak
penggalang suara di tataran masyarakat non partisipan partai .
2. Tingkat partisipasi menjadi relawan
Tingkat partisipasi masyarakat untuk menjadi relawan di Kota
Administrasi Jakarta Barat pada Pemilu tahun 2014 berdasarkan tabel
4.5 untuk pertanyaan nomor 2 (dua) dengan jumlah responden 120
orang, hasil prosentasesebagai berikut : yang menjawab “sangat tinggi”
sebanyak 32responden atau 26,67%, yang memberi jawaban “tinggi”
sebanyak 41 responden atau 34,17%, yang menjawab “netral” sebanyak
30 responden atau 25%, jawaban ‘tidak tinggi” sebanyak 14responden
atau 11,67% dan responden yang menjawab “sangat rendah” sebanyak
3 atau 2,50%. Dari data tersebut, dapat dianalisa bahwa tingkat
partisipasi masyarakat menjadi relawan pemilu 2014 di Kota
Admnistrasi Jakarta Barat termasuk dalam kategoritinggisebesar
34,17%, karena berkembangnya SDM sebagai masyarakat menjadikan
pemilu sebagai era perubahan masa depan; masyarakat ingin membantu
KPU dalam mensukseskan pemilu ; masyarakat sudah mulai sadar akan
47
pentingnya pemilu; relawan merasa mereka adalah bagian dari
pelaksana pemilu dan merasa bertanggungjawab dengan negara; banyak
masyarakat yang merasa mendapat prestise berpolitik dengan menjadi
relawan sehingga mendapatkan partisipasi dari masyarakat yang berupa
dukungan dalam pelaksanaan pemilu; dengan adanya relawan akan
membantu
mengurangi
golput
dan
menumbuhkan
kesadaran
masyarakat dalam memahami pentingnya politik dalam bernegara ;
masyarakat ingin banyak terlibat langsung dalam pemilu serta ingin
aktif membela yang didukung dan mereka mengharapkan imbalan dan
janji-janji para kandidat pada saat kampanye pemilu 2014.
3. Tingkat pemahaman relawan
Dalam pemahaman tugas dan aktivitas relawan di wilayah Kota
Administrasi Jakarta Barat berdasarkan questioner yang disebarkan
kepada 120 responden, yang menjawab pertanyaan nomor 3 (tiga)
dengan hasil prosentase sebagai berikut yang menjawab “sangat
paham” sebanyak 21responden atau 17,50%, yang memberi jawaban
“paham” sebanyak 37 responden atau 30,83%, yang menjawab “netral”
sebanyak 48 responden atau 40%, jawaban ‘tidak paham” sebanyak
10responden atau 8,33% dan responden yang menjawab “sangat tidak
paham” sebanyak 4responden atau 3,33%. Dari data tersebut, dapat
dianalisa bahwa tingkat pemahaman relawan akan tugas dan aktivitas
relawan dilapangan pada pemilu 2014 di Kota Administrasi Jakarta
Barat termasuk dalam kategorinetral (antara paham dan cukup
48
paham) sebesar 40% , karenakemampuan relawan berbeda-beda ;
kurangnya pembekalan dan pengarahan yang diberikan kepada relawan
sebelum menjalankan tugasnya; ada asumsi bahwa keberadaan relawan
hanya untuk dirinya sendiri dan memeriahkan pemilu saja sehingga
tingkat kepahaman tugas dan pengetahuan tentang relawan kurang
memahami ; hanya koordinator relawan yang mendapat bekal tentang
pemilu, sedangkan dibawahnya hanya sekedar berpartisipasi aktif ; bagi
relawan yang diberikan bimbingan dan operasional sebelum turun
lapangan akan lebih memahami tugas dan tanggungjawabnya
dilapangan
sehingga
mampu
memberikan
pemahaman
kepada
masyarakat akan pentingnya berpartisipasi dan memberikan hak
suaranya pada pemilu.
4. Tingkat perubahan dengan adanya relawan
Keberadaan relawan mempengaruhi dan memotivasi untuk melakukan
perubahan.Berdasarkan tabel 4.5 tentang tingkat perubahan dengan
adanya relawan di Kota Administrasi Jakarta berdasarkan hasil
questioner yang disebarkan kepada 120 responden untuk pertanyaan
nomor 4 (empat) diperoleh hasil prosentase sebagai berikut :yang
menjawab “sangat berpengaruh” sebanyak 35responden atau 29,17%,
yang memberi jawaban “berpengaruh” sebanyak 44 responden atau
36,67%, yang menjawab “netral” sebanyak 24 responden atau 20%,
jawaban ‘tidak berpengaruh” sebanyak 13responden atau 10,83% dan
responden yang menjawab “sangat tidak berpengaruh” sebanyak
49
4responden atau 3,33%. Dari data tersebut, dapat dianalisa bahwa
tingkat perubahan dengan adanya relawan pada pemilu 2014 di Kota
Administrasi Jakarta Barat termasuk dalam kategoriberpengaruh
sebesar 36,67% , karenadengan adanya relawan pelaksanaan pemilu
tahun 2014 jauh lebih baik dimana masyarakat mengharapkan adanya
perubahan ; banyak masyarakat di segala segmen yang berfikir buruk
tentang Pemilu dengan adanya relawan dapat memberi pencerahan
dalam hal tata cara dan lain-lain; relawan dapat memberikan
pemahaman tentang pemilu sehingga semua aspirasi rakyat dapat
disampaikan yang akhirnya akan memberikan perubahan ke arah yang
lebih baik untuk kepentingan masing-masing kelompoknya.
5. Keberadaan relawan dengan tingkat partisipasi warga
Peran relawan dalam mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam
pemilu untuk Kota Administrasi Jakarta Barat berdasarkan tabel 4.5
dengan jumlah responden 120 responden untuk pertanyaan nomor 5
(lima) diperoleh hasil prosentase sebagai berikut : yang menjawab
“sangat penting” sebanyak 50responden atau 41,67%, yang memberi
jawaban “penting” sebanyak 41 responden atau 34,17%, yang
menjawab “netral” sebanyak 21 responden atau 17,50%, jawaban ‘tidak
penting” sebanyak 7responden atau 5,83% dan responden yang
menjawab “sangat tidak penting” sebanyak 1responden atau 0,83%.
Dari data tersebut dapat dianalisa bahwa seberapa penting peran
relawan untuk mendorong partisipasi masyarakat pada pemilu 2014
50
termasuk dalam kategorisangat pentingsebesar 41,67%,karena tanpa
relawan tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu akan rendah ;
relawan membantu pelaksanaan pemilu dalam mensosialisaikan pemilu
kepada masyarakat diluar dari tugas penyelenggara ; relawan juga ikut
serta membantu tugas penyelenggara dan mendorong masyarakat untuk
tidak golput pada saat pelaksanaan pemilu; relawan dapat mendekati
masyarakat secara personal sehingga dapat lebih mengerti pentingnya
partisipasi mereka dalam pemilu ; relawan dapat bertemu langsung,
memotivasi dan menjelaskan kepada masyarakat pentingnya ikut
mensukseskan pemilu ; relawan dominan merangsang masyarakat
Indonesia untuk berdemokrasi.
6. Manfaat menjadi relawan
Salah satu manfaat dengan adanya relawan adalah dampaknya terhadap
masyarakat.Kesukarelawanan memungkinkan untuk terhubung dengan
masyarakat secara luas. Mendedikasikan waktu untuk seorang
sukarelawan akan membantu memperluas jaringan, dan meningkatkan
keterampilan sosial relawan itu sendiri. Berdasarkan tabel 4.5 dan
questioner yang disebarkan kepada 120 responden diperoleh hasil
prosentase untuk pertanyaan nomor 6 (enam) tentang manfaat menjadi
relawan di Kota Administrasi Jakarta Barat sebagai berikut : yang
menjawab “sangat bermanfaat” sebanyak 42responden atau 35%, yang
memberi jawaban “bermanfaat” sebanyak 48 responden atau 40%, yang
menjawab “netral” sebanyak 22 responden atau 18,33%, jawaban ‘tidak
51
bermanfaat” sebanyak 5responden atau 4,17% dan responden yang
menjawab “sangat tidak bermanfaat” sebanyak 3responden atau 2,50%.
Dari data tersebut dapat dianalisa bahwa keberadaan relawan untuk
mempengaruhi masyarakat agar berpartisipasi pada pemilu termasuk
dalam kategori bermanfaat sebesar 40%, karena dengan adanya
relawan dapat membantu masyarakat untuk memahami kebijakan yang
ada dan lebih memahami tentang kepemiluan serta menambah wawasan
dan hubungan yang lebih erat dengan masyarakat ; supaya lebih
mengetahui kondisi politik yang berkembang dimasyarakat ; dapat
menambah relasi dan teman baru ; menjadi relawan membuat
masyarakat
mengerti
dan
menyadari
pentingnya
pemilu
serta
bermanfaat bagi orang lain dan diri sendiri ; dengan menjadi relawan
kita mendapat pengalaman dan pelajaran serta melaksanakan rasa
persatuan dan kesatuan dimasyarakat.
7. Tantangan dan Hambatan Relawan
Kendala menjadi relawan pemilu 2014 di Kota Administrasi Jakarta
Barat berdasarkan questioner yang disebarkan kepada 120 responden
untuk pertanyaan nomor 7 (tujuh) diperoleh hasil prosentase sebagai
berikut : yang menjawab “sangat tidak berkendala” sebanyak
13responden atau 10,83%, yang memberi jawaban “tidak ada kendala”
sebanyak 31 responden atau 25,83%, yang menjawab “netral” sebanyak
16 responden atau 13,33%, jawaban ‘ada kendala” sebanyak
36responden atau 30% dan responden yang menjawab “sangat banyak
52
kendala” sebanyak 24responden atau 20%. Dari data tersebut dapat
dianalisa bahwa tugas kerelawanan menemukan masalah, tetapi masih
bisa diselesaikan dengan baik, sehingga questioner ini termasuk dalam
kategori ada kendalasebesar 30%karena stigma masyarakat yang
menilai relawan sebagai salah satu partisipasi dari salah satu partai
tertentu saja ; tidak semua masyarakat dapat memahami tugas dari
relawan sehingga banyak masyarakat yang tidak perduli dengan pemilu;
minimnya pemahaman masyarakat tentang hak politiknya sehingga
menimbulkan rasa tidak percaya terhadap pelaksanaan pemilu.
8. Respon lembaga yang menaungi terkait kendala yang dihadapi
relawan
Respon lembaga yang menaungi terkait kendala yang dihadapi relawan
di Kota Administrasi Jakarta Barat berdasarkan questioner yang
disebarkan kepada 120 responden untuk pertanyaan nomor 8 (delapan)
diperoleh hasil prosentase sebagai berikut : yang menjawab “sangat
responsif” sebanyak 27responden atau 22,50%, yang memberi jawaban
“responsif” sebanyak 39 responden atau 32,50%, yang menjawab
“netral” sebanyak 32 responden atau 26,67 %, jawaban “tidak
responsif” sebanyak 19responden atau 15,83% dan responden yang
menjawab “sangat tidak responsif” sebanyak 3responden atau 2,50%.
Dari data tersebut dapat dianalisa bahwa respon lembaga yang
menaungi terkait kendala yang dihadapi relawan termasuk dalam
kategoriresponsif sebesar 32,50%. Dikatakan netral karena evaluasi
kinerja para relawan dilakukan setiap pekan dengan menanyakan hal-
53
hal apasaja yang terjadi dilapangan. Para relawan responsif dalam
menjawab semua pertanyaan dan setiap ada permasalahan langsung
ditangani dengan cepat karena menyangkut dengan kepentingan
lembaga yang menaunginya, lembaga yang menaunginya cepat
memberikan repon sehingga tidak ada kendala dilapangan . Hal ini
dapat terjadi karena sudah tercipta komunikasi dan loyalitas yang baik
antara relawan dan kelompok yang menaunginya .
9. Peraturan terkait tentang relawan
Terkait dengan peraturan tentang keberadaan relawan berdasarkan hasil
questioner yang disebarkan kepada relawan sebanyak 120 responden
diwilayah Kota Administrasi Jakarta Barat untuk pertanyaan nomor 9
(sembilan) diperoleh hasil prosentase sebagai berikut yang menjawab
“sangat memadai ” sebanyak 15 responden atau 12,50%, yang memberi
jawaban “memadai” sebanyak 31 responden atau 25,83%, yang
menjawab “netral” sebanyak 21 responden atau 17,50 %, jawaban
“tidak memadai” sebanyak 34responden atau 28,33 % dan responden
yang menjawab “sangat tidak memadai” sebanyak 19responden atau
15,83%. Dari data tersebut dapat dianalisa bahwa peraturan terkait
tentang relawan termasuk dalam kategori tidak memadaisebesar
28,33%, karena belum ada peraturan yang mengatur secara jelas tugas
dan tanggungjawab sebagai relawan, tugas yang dijalankan oleh
relawan sangat berat tetapi belum ada peraturan yang melindungi
relawan dalam pelaksanaan tugasnya dilapangan, tidak adanya bantuan
54
operasional kepada relawan, masyarakat tidak begitu perduli kepada
relawan karena mereka menganggap kegiatan relawan hanya untuk
kepentingan partai saja, keberadaan relawan tidak disosialisaikan
kepada masyarakat sehingga masyarakat tidak mengetahui pentingnya
keberadaan relawan di lapangan.
10. Pengelolaan Relawan
Terkait pengelolaan relawan di Kota Administrasi Jakarta Barat dalam
pemilu berdasarkan hasil questioner yang disebarkan kepada 120
responden untuk pertanyaan nomor 10 (sepuluh) diperoleh hasil
prosentase sebagai berikut ; yang menjawab “sangat penting ” sebanyak
55 responden atau 45,83%, yang memberi jawaban “penting” sebanyak
36 responden atau 30%, yang menjawab “netral” sebanyak 18
responden atau 15 %, jawaban “tidak penting” sebanyak 7responden
atau 5,83 % dan responden yang menjawab “sangat tidak penting”
sebanyak 4responden atau 3,33%. Dari data tersebut dapat dianalisa
bahwa pengelolaan relawan termasuk dalam kategori sangat penting
sebesar 45,83%, karena dengan pengelolaan relawan secara baik, maka
tujuan kegiatan dari relawan pemilu akan mencapai target. Disamping
itu agar pelaksanaan berjalan lancar, teratur dan terorganisir dengan
baik maka relawan harus diberikan akomodasi dan pengelolaan
manajemen yang baik agar melaksanakan tugas secara maksimal. Selain
itu relawan juga harus diberikan pengarahan, pembinaan dan informasi
yang akurat tentang kepemiluan baik berupa data maupun laporan
55
sehingga relawan mengetahui tugas-tugas dilapangan, fleksibel untuk
masuk ke berbagai kalangan sehingga akan meminimalisir segala
bentuk kecurangan pada saat pelaksanaan pemilu.
11. Peran Rumah Aspirasi
Terkait keberadaan rumah aspirasi yang dianggap mampu menampung
aspirasi masyarakat luas, menurut para relawan di Jakarta Barat
berdasarkan questioner yang disebarkan kepada relawan sebanyak 120
responden untuk pertanyaan nomor 11 (sebelas) diperoleh hasil
prosentase sebagai berikut : yang menjawab “sangat penting ” sebanyak
21 responden atau 17,50%, yang memberi jawaban “penting” sebanyak
41 responden atau 34,17%, yang menjawab “netral” sebanyak 33
responden atau 27,50 %, jawaban “tidak penting” sebanyak
19responden atau 15,83 % dan responden yang menjawab “sangat tidak
penting” sebanyak 6responden atau 5%. Dari data tersebut dapat
dianalisa bahwa peran rumah aspirasi termasuk dalam kategoripenting
sebesar 34,17%, karena dengan adanya rumah aspirasi maka aspirasi
atau usulan masyarakat akan tersalurkan ; rumah aspirasi dapat
membentuk persatuan sesama relawan dan menghindari perpecahan
relawan dalam tugasnya. Selain itu rumah aspirasi dapat membantu
untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada dimasyarakat melalui
informasi dari para relawan yang turun kelapangan.Saat ini masyarakat
lebih kritis dengan rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap orang atau
organisasi yang mereka percaya sebagai satu pilihan, sehingga rumah
56
aspirasi dapat dianggap sebagai tempat pertukaran pandangan dan
pendapat.Selain itu rumah aspirasi juga dapat dijadikan tempat naungan
para relawan untuk berkoordinasi bersama dalam melakukan suatu
kegiatan dilapangan yang berkaitan dengan pemilu.Rumah aspirasi juga
digunakan untuk mensosialisasikan informasi dan program-program
para kandidat yang menjadi peserta pemilu.
12. Pentingnya peranan lembaga yang menaungi relawan
Peranan lembaga yang menaungi relawan dalam membantu KPU
sebagai penyelenggara pemilu di Kota Administrasi Jakarta Barat
berdasarkan questioner yang disebarkan kepada 120 responden untuk
pertanyaan nomor 12 (dua belas) diperoleh hasil prosentase sebagai
berikut : yang menjawab “sangat penting ” sebanyak 54 responden atau
45%, yang memberi jawaban “penting” sebanyak 38 responden atau
31,67%, yang menjawab “netral” sebanyak 19 responden atau 15,83 %,
jawaban “tidak penting” sebanyak 6responden atau 5 % dan responden
yang menjawab “sangat tidak penting” sebanyak 3responden atau
2,50%. Dari data tersebut dapat dianalisa bahwa peran lembaga dalam
tugas relawan dilapangan termasuk dalam kategori sangatpenting
sebesar 45%, karena dengan adanya relawan maka informasi tentang
pelaksanaan pemilu cepat terekspose ke masyarakat melalui berbagai
media,
sehingga
masyarakat
cenderung
lebih
cerdas
untuk
menyampaikan aspirasi. Relawan sangat membantu pelaksanaan tugas
dilapangan, sehingga pemilu dapat berjalan lancar dan kondusif.
57
13. Minat sebagai relawan di masa depan
Minat sebagai relawan dimasa depan untuk wilayah Jakarta Barat
berdasarkan hasil questioner yang disebarkan kepada 120 responden
untuk pertanyaan nomor 13 (tiga belas) diperoleh hasil prosentase
sebagai berikut : yang menjawab “sangat berminat” sebanyak 52
responden atau 43,33%, yang memberi jawaban “berminat” sebanyak
40 responden atau 33,33%, yang menjawab “netral” sebanyak 18
responden atau 15 %, jawaban “tidak berminat” sebanyak 8responden
atau 6,67 % dan responden yang menjawab “sangat tidak berminat”
sebanyak 2responden atau 1,67%. Dari data tersebut dapat dianalisa
bahwa minat masyarakat sebagai relawan pada pemilu yang akan
datang termasuk dalam kategori sangatberminatsebesar 43,33%, karena
mengingat lapangan pekerjaan yang sangat sempit dan suksesnya
pelaksanaan pemilu sehingga mendorong masyarakat untuk menjadi
relawan demi kepentingan bangsa dan terciptanya demokrasi yang baik
di Indonesia.
Dari hasil prosentase dan analisa diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
:keberadaan relawan pada pelaksanaan pemilu sangat
penting (40%),
sehingga partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pemilu menjadi tinggi
(34,17%). Dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawab relawan dilapangan
cukup paham/netral (40%),dengan munculnya relawan pada pemilu akan
berpengaruh (36,67%) terhadap motivasi masyarakat yang mengharapkan
adanya perubahan kearah yang lebih baik. Selain itu peranan relawan untuk
58
mendorong partisipasi masyarakat pada saat pemilu sangat tinggi (41,67%),
karena keberadaan relawan dilapangan dapat bermanfaat (40%)serta
membantu masyarakat untuk lebih memahami akan pentingnya pemilu.
Dalam melaksanakan tugas dilapangan, masih ada kendala (30%) karena
tidak semua masyarakat memahami akan tugas relawan bahkan sebagian
masyarakat menilai keberadaan relawan hanya untuk kepentingan partai
saja. Dengan adanya kendala dilapangan, lembaga yang menaungi para
relawan responsif (32,50%) dalam menyikapi permasalahan yang terjadi
dimasyarakat, sehingga kendala yang terjadi dapat ditangani dengan baik.
Namun keberadaan relawan ternyata tidak memadai (28,33%) hal ini
dikarenakan tidak adanya peraturan yang mengatur secara jelas tugas dan
tanggungjawab sebagai relawan sehingga relawan tidak memiliki payung
hukum yang kuat dalam melaksanakan tugasnya dilapangan. Untuk itu
pengelolaan relawansangat penting (45,83%)dengan dikelolanya relawan
secara baik maka tujuan dari lembaga yang menaungi para relawan akan
tercapai dan dalam pelaksanaannya dapat berjalan lancar, teratur dan
terorganisir dengan baik. Selain itu diperlukan juga peranan rumah aspirasi
yang termasuk dalam kategori penting (34,17%), karena dengan adanya
rumah aspirasi maka para relawan dapat berkumpul dan menyalurkan usulan
masyarakat, selain itu rumah aspirasi juga dapat dijadikan tempat naungan
relawan untuk berkoordinasi bersama dalam melakukan suatu kegiatan
dilapangan yang berkaitan dengan pemilu. Peranan lembaga dalam
menaungi relawan sangat penting (45%) dengan adanya lembaga yang
59
melindungi dan peraturan hukum tentang keberadaan relawan, maka para
relawan dapat bekerja semaksimal mungkin sehingga pelaksanaan pemilu
dapat berjalan lancar, kondusif dan sukses.Untuk masa yang akan datang,
masyarakat yang sudah mengetahui pentingnya peranan relawan pada
pemilu, mereka cenderung sangat berminat (43,33%)untuk menjadi
relawan, mengingat keberadaan relawan dapat membantu suksesnya
pelaksanaan pemilu tahun 2014 dan terciptanya demokrasi yang baik di
Indonesia.
Dari penjelasan hasil analisa data questioner diatas, maka dapat menjawab
pokok permasalahan dari penelitian ini yaitu mengapa masyarakat ingin
menjadi relawan, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dan
menghambat munculnya menjadi kesukarelaan warga dalam berpolitik dan
kebijakan seperti apa yang dapat ditempuh untuk menumbuhkan dan
memperkuat kesukarelaan warga dalam politik. Adapun jawaban dari
permasalahan sebagai berikut :
a.
Alasan Menjadi Relawan
Berdasarkan hasil analisa dan diskusi, maka alasan untuk menjadi
relawan dilatarbelakangi oleh dua hal : yakni terkait alasan individual
dan terkait dengan ideologi. Pertama, alasan terkait dengan individual
dalam keterlibatan sebagai relawan didasari karena adanya kedekatan
faktor spiritual (agama), persamaan suku atau etnis, ajakan dari
lingkungan pergaulan (keluarga, organisasi dan perkawanan), adanya
dorongan untuk menunjukkan eksistensi diri yang diaktualisasikan
60
dengan menjadi relawan, iming-iming uang serta distribusi logistik
lainnya, serta kepuasan batin jika kandidat yang dijagokannya menang.
Sementara alasan kedua yang terkait dengan ideologi, didasari oleh;
Pelaksanaan pemilu sebagai momen politik dengan harapan perubahan
eskalasi politik di tanah air, adanya persamaan visi dan misi dari
kandidat yang didukungnya, merasa memiliki kewajiban untuk
menyukseskan pemilu, adanya harapan terhadap tokoh yang didukung
untuk melakukan perubahan, adanya keinginan perubahan format
pemimpin baru, keinginan adanya peluang bagi masyarakat untuk bisa
ikut mengawasi perubahan secara berkelanjutan dengan menjadi
relawan, serta munculnya kesadaran untuk mewujudkan demokrasi
yang lebih bersifat substansif. Disamping itu, keberadaan relawan
merupakan salah satu daya tarik yang dianggap mampu melakukan
pendekatan di masyarakat agar ikut berpartisipasi dalam perhelatan
politik ini.
b) Faktor yang Mempengaruhi dan Menghambat Dengan Menjadi
Relawan, Serta Tantangan Yang Di Hadapi
Menjadi relawan dalam Pemilu Presiden 2014 lalu memberikan
banyak pelajaran bagi warga, khususnya mereka yang terlibat
sebagai relawaan maupun yang mengkoordinir para relawan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang untuk menjadi
relawan antara lain : dapat menambah wawasan dan pengetahuan
tentang sistem politik dan kepemiluan, menambah perkawanan dan
jejaring, serta dalam skala tertentu mendatangkan keuntungan secara
61
finansial.Sementara disisi lain, dengan menjadi relawan mereka
akanmengalami banyak hambatan dalam melaksanakan aktivitasnya.
Hambatan tersebut berupa:
1) Ada ketidakjelasan dalam konteks definisi antara relawan dan tim
pemenangan di masyarakat sehingga sering terjadi bias di
masyarakat;
2) Sifat kerelawanan yang bersifat instant yang terbentuk ketika
menjelang pemilu, sehingga menjadikan pengorganisasiannya
tidak solid dan hanya bersifat sementara. Tidak ada mekanisme
rekruitmen yang jelas yang ditunjang oleh pendanaan yang baik
serta pembekalan yang memadai;
3) Banyak relawan yang tidak dibekali pemahaman dan pengetahuan
terkait proses /pemilu, seperti proses mudai dari pendaftaran
pemilih sampai dengan pemungutan suara serta perkembangan
perubahan peraturan yang cukup dinamis pada pemilu lalu.
Sehingga sering memunculkan masalah atau perselisihan dengan
pihak penyelenggara pemilu, dan ketidakmampuan menangani
kendala-kendala
yang
dihadapi
masyarakat
terkait
proses
pemilihan;
4) Tidak adanya pengelolaan relawan yang baik dari institusi yang
menaungi, sehingga sering ditemukan perselisihan diantara
relawan itu sendiri. Kendala yang paling dominan terjadi adalah
ketidakmerataan dan ketidakjelasan distribusi logistik bagi
62
relawan.
5) Terkait dengan keberadaan relawan demokrasi yang dibentuk oleh
KPU Kabupaten/Kota, pengelolaannya juga dinilai kurang baik.
Disamping kendala pendanaan yang terbatas, pola rekruitmen
yang ternyata juga tidak mudah karena harus berebut massa
dengan lembaga relawan lainnya, serta tidak disusunnya agenda
kerja yang jelas terkait tugas relawan demokrasi;
Dalam diskusi terkait tantangan yang dihadapi relawan dilapangan,
meliputi:
1) Mekanisme rekruitmen yang dilakukan oleh institusi terkait
dalam menjaring relawan tidak jelas, polarisasi rekruitmen
relawan
lebih
didasari
oleh
kedekatan
kekerabatan
dan
kekeluargaan. Dan tidak dibarengi dengan pembekalan materi
serta agenda yang jelas yang harus dilakukan oleh relawan;
2) Relawan yang telah direkruit atau menggabungkan diri dalam
suatu institusi (baik itu dibawah partai politik dan kandidat
peserta pemilu) tidak dikelola dengan baik, disamping motif
keterlibatan warga sebagai relawan lebih banyak dimotivasi oleh
distribusi logistik dan finansial sering kali mempengaruhi agenda
aktivitas mereka yang bersifat dimobilisir oleh para koordinator
relawan. Sementara untuk relawan independen cukup bisa
mengkoordinasikan
memanfaatkan
diri
sumber
63
mereka
daya
yang
dengan
mereka
baik
miliki
dengan
secara
mandiridengan agenda aktivitas mereka;
3) Partai Politik maupun kandidat individual peserta pemilu tidak
semuanya memanfaatkan keberadaan relawan mereka dengan
baik, termasuk mengkonsolidasikan agenda visi-misi mereka
kepada
masyarakat
dan
ketrampilan
para
relawan
jika
menghadapi kendala dalam setiap proses tahapan pemilu.
Ketidaktanggapan para peserta pemilu tersebut disebabkan karena
tidak adanya aturan yang jelas tentang keberadaan relawan dalam
pemilu yang diatur oleh penyelenggara pemilu, hal ini lebih
banyak ditunjang oleh inisiatif kreatif dari para relawan tersebut;
4) Adanya kerancuan pemaknaan relawan politik dilapangan terutama relawan dari partai politik maupun kandidat individu
peserta pemilu yang sering bermetamorfosa menjadi tim
pemenangan
peserta
pemilu
tertentu.
Hal
ini
sering
membingungkan dilapangan. Karena untuk tim pemenangan
sudah ada koridor-koridor aturannya dari penyelenggara pemilu
dan tercatat di KPU;
5) Belum adanya aturan dari penyelenggara pemilu terkait
keberadaan relawan yang muncul karena spontanitas warga dan
bersifat sporadis, sehingga tidak ada mekanisme kontrol dari
aktivitas para relawan tersebut.
64
c) Tantangan Kebijakan
Undang-undang
Pemilihan
tentang
Umum
Pemilu
terkait
maupun
Peraturan
penyelenggaraan
Komisi
pemilu,
tidak
menyebutkan secara spesifik tentang pelibatan masyarakat umum
sebagai relawan dalam pelaksanaan pemilu.Demikian halnya dengan
Undang-undang tentang Partai Politik juga tidak menyebutkan hal
tersebut, dimana fenomena munculnya para sukarelawan banyak
juga yang berafiliasi pada partai politik tertentu. Dengan kata lain,
saat ini belum ada aturan atau kebijakan yang jelas terkait
keberadaan relawan dalam pelaksanaan pemilu.
Keberadaan relawan demokrasi yang dikelola oleh KPU tingkat
Kabupaten/Kota juga belum dibekali mekanisme pengelolaan yang
baik serta penganggaran yang memadai.Sehingga keberadaan
mereka tidak memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam
menyukseskan penyelenggaraan pemilihan umum.
Dalam
diskusi
juga
muncul
pertanyaan
terkait
kapasitas
penyelenggara pemilu di tingkat kabupaten/kota yang dianggap
masih memiliki banyak kekurangan, baik dari segi personel, program
kerja serta penganggaran yang cakupan keseluruhannya kurang
menyentuh masyarakat di tingkat bawah.Sehingga perlu ada
terobosan kebijakan untuk memperkuat keberadaan penyelenggara
pemilu di KPU Kabupaten/Kota.
65
Peran media masa yang sangat kentara keberpihakannya dalam
pemilu juga menjadi pembahasan dalam diskusi. Biasnya informasi
yang disampaikan dan tidak adanya upaya dari pihak yang
berwenang untuk melakukan teguran turut membentuk mental
kerelawanan di masyarakat yang cenderung memposisikan dirinya
sebagai tim sukses. Di satu sisi, pemberitaan media turut
memperkuat faksi-faksi di masyarakat.
Peserta diskusi juga berharap, kedepan dalam proses politik
berikutnya, keberadaan rumah aspirasi yang dikelola oleh anggota
parlemen bisa dimaksimalkan fungsinya dalam menjaring aspirasi
warga. Termasuk sebagai jembatan bagi para relawan yang masih
memiliki kepedulian yang tinggi terhadap proses demokratisasi di
Republik ini.
66
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 Kesimpulan
Karena esensinya partisipasi berasal dari dalam diri sendiri dari
masyarakat
tersebut.
Artinya,
meskipun
diberi
kesempatan
oleh
pemerintah atau negara tetapi jika kemauan ataupun kemampuan tidak ada
maka partisipasi tidak akan terwujud. Kesempatan untuk berpartisipasi
juga bisa berasal dari luar masyarakat.Walaupun adanya kemauan,
kemampuan dan kesempatan merupakan faktor yang sangat penting dalam
mewujudkan partisipasi.Selama ini kegiatan partisipasi masyarakat masih
dipahami sebagai upaya mobilisasi masyarakat untuk kepentingan
pemerintah atau negara.Sebenarnya, partisipasi idealnya masyarakat ikut
serta dalam menentukan kebijakan pemerintah sebagai bentuk kontrol dari
masyarakat
terhadap
kebijakan
pemerintah.Dengan
demikian,
implementasi partisipasi masyarakat dimana masyarakat tidak lagi merasa
sebagai obyek dari kebijakan pemerintah tetapi harus dapat mewakili
kepentingan masyarakat itu sendiri.
Berdasarkan hasil analisa dan diskusi, maka alasan untuk menjadi relawan
dilatarbelakangi oleh dua hal yakni : alasan terkait dengan individual
karena adanya kedekatan spiritual, persamaan suku atau etnis, ajakan dari
lingkungan pergaulan (keluarga, organisasi dan perkawanan), adanya
dorongan untuk menunjukkan eksistensi diri yang diaktualisasikan dengan
67
menjadi relawan, iming-iming uang serta distribusi logistik lainnya, serta
kepuasan batin jika kandidat yang dijagokannya menang ; alasan kedua
yang terkait dengan ideologi, didasari oleh pelaksanaan pemilu sebagai
momen politik dengan harapan perubahan eskalasi politik di tanah air,
adanya persamaan visi dan misi dari kandidat yang didukungnya, merasa
memiliki kewajiban untuk menyukseskan pemilu, serta munculnya
kesadaran untuk mewujudkan demokrasi yang lebih bersifat substansif.
Adapun permasalahan kedua yakni faktor yang mempengaruhi seseorang
untuk menjadi relawan antara lain dapat menambah wawasan dan
pengetahuan
tentang
sistem
politik
dan
kepemiluan;sertadapat
mendatangkan keuntungan secara finansial. Sementara disisi lain, dengan
menjadi relawan mereka akan mengalami banyak hambatan dalam
melaksanakan aktivitasnya. Hambatan tersebut berupa ketidakjelasan
dalam konteks definisi antara relawan dan tim pemenangan di masyarakat
sehingga sering terjadi bias di masyarakat ; sifat kerelawanan yang bersifat
instant yang terbentuk ketika menjelang pemilu; belum ada mekanisme
rekruitmen yang jelas yang ditunjang oleh pendanaan yang baik serta
pembekalan yang memadai ; banyak relawan yang belum dibekali
pemahaman dan pengetahuan terkait proses/pemilu, sehingga sering
memunculkan masalah atau perselisihan dengan pihak penyelenggara
pemilu, dan ketidakmampuan menangani kendala-kendala yang dihadapi
masyarakat terkait proses pemilihan ; belum adanya pengelolaan relawan
yang baik dari institusi yang menaungi, sehingga sering ditemukan
68
perselisihan diantara relawan itu sendiri. Kendala yang paling dominan
terjadi adalah ketidakmerataan dan ketidakjelasan distribusi logistik bagi
relawan ; terkait dengan keberadaan relawan demokrasi yang dibentuk
oleh KPU Kabupaten/Kota, pengelolaannya juga dinilai kurang baik.
Disamping kendala pendanaan yang terbatas, pola rekruitmen yang
ternyata juga tidak mudah karena harus berebut massa dengan lembaga
relawan lainnya, serta tidak disusunnya agenda kerja yang jelas terkait
tugas relawan demokrasi;
Dalam Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan di Kantor KPU
Kota Administrasi Jakarta Barat, terkait dengan tantangan/hambatan yang
dihadapi relawan dilapangan, meliputi:
1) Mekanisme rekruitmen yang dilakukan oleh institusi terkait dalam
menjaring relawan tidak jelas, polarisasi rekruitmen relawan lebih
didasari oleh kedekatan kekerabatan dan kekeluargaan. Dan tidak
dibarengi dengan pembekalan materi serta agenda yang jelas yang
harus dilakukan oleh relawan ;
2) Relawan yang telah direkruit atau menggabungkan diri dalam suatu
institusi (baik itu dibawah partai politik dan kandidat peserta pemilu)
tidak dikelola dengan baik, disamping motif keterlibatan warga sebagai
relawan lebih banyak dimotivasi oleh distribusi logistik dan finansial
sering kali mempengaruhi agenda aktivitas mereka yang bersifat
dimobilisir oleh para koordinator relawan.
3) Partai politik maupun kandidat individual peserta pemilu tidak
69
semuanya memanfaatkan keberadaan relawan mereka dengan baik,
termasuk mengkonsolidasikan agenda visi-misi mereka kepada
masyarakat dan ketrampilan para relawan jika menghadapi kendala
dalam setiap proses tahapan pemilu. Ketidaktanggapan para peserta
pemilu tersebut disebabkan karena tidak adanya aturan yang jelas
tentang keberadaan relawan dalam pemilu yang diatur oleh
penyelenggara pemilu, hal ini lebih banyak ditunjang oleh inisiatif
kreatif dari para relawan tersebut;
4) Adanya kerancuan pemaknaan relawan politik dilapangan terutama
relawan dari partai politik maupun kandidat individu peserta pemilu
yang sering bermetamorfosa menjadi tim pemenangan peserta pemilu
tertentu. Hal ini sering membingungkan dilapangan. Karena untuk tim
pemenangan sudah ada koridor-koridor aturannya dari penyelenggara
pemilu dan tercatat di KPU;
5) Belum adanya aturan dari penyelenggara pemilu terkait keberadaan
relawan yang muncul karena spontanitas warga dan bersifat sporadis,
sehingga tidak ada mekanisme kontrol dari aktivitas para relawan
tersebut.
Selanjutnya permasalahan ketiga adalah kebijakan yang dapat ditempuh
untuk menumbuhkan dan memperkuat kesukarelaan warga dalam politik
mengingat bahwa Undang-undang tentang Pemilu maupun Peraturan
Komisi Pemilihan Umum terkait penyelenggaraan pemilu dan Undangundang tentang Partai Politik juga tidak menyebutkan secara spesifik
70
tentang pelibatan masyarakat umum sebagai relawan dalam pelaksanaan
pemilu, dimana fenomena munculnya para sukarelawan banyak juga yang
berafiliasi pada partai politik tertentu. Dengan kata lain, saat ini belum ada
aturan atau kebijakan yang jelas terkait keberadaan relawan dalam
pelaksanaan pemilu.
Dalam diskusi juga muncul pertanyaan terkait kapasitas penyelenggara
pemilu di tingkat daerah yang dianggap masih memiliki banyak
kekurangan, baik dari segi personel, program kerja serta penganggaran
yang cakupan keseluruhannya kurang menyentuh masyarakat di tingkat
bawah.Sehingga perlu ada terobosan kebijakan untuk memperkuat
keberadaan penyelenggara pemilu di daerah.
Keberadaan relawan demokrasi yang dikelola oleh KPU tingkat
Kabupaten/Kota juga belum dibekali mekanisme pengelolaan yang baik
serta penganggaran yang memadai.Sehingga keberadaan mereka belum
memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam menyukseskan
penyelenggaraan pemilihan umum.
Meningkatnya
keterlibatan
masyarakat
sebagai
relawan
dalam
penyelenggaraan pemilu menunjukkan semakin kuatnya tatanan demokrasi
dalam sebuah negara.Demokrasi menghendaki adanya keterlibatan
masyarakat dalam penyelenggaraan negara.Rakyat diposisikan sebagai
aktor penting dalam tatanan demokrasi, karena pada hakekatnya demokrasi
mendasarkan pada gagasan bahwa pemerintah memerlukan persetujuan
dari yang diperintah.Keterlibatan masyarakat menjadi unsur mendasar
71
dalam demokrasi.Untuk itu, penyelenggaraan pemilu sebagai sarana untuk
melaksanakan demokrasi tidak boleh dilepaskan dari keterlibatan
masyarakat.
Partisipasi akan berjalan selaras manakala proses politik berjalan stabil.
Hambatan akan kerap muncul jika stabilitas politik belum terwujud, oleh
sebab itu penting untuk dilakukan oleh para pemangku kekuasaan untuk
melakukan stabilisasi politik. Bersamaan dengan itu perlunya melakukan
upaya perbaikan pelembagaan politik.
Strategi yang harus dilaksanakan untuk meningkatkan partisipasi politik
masyarakat dalam pemilu antara lain; Melakukan pendidikan politik
kepada rakyat melalui proses dialogik agar masyarakat bisa mengenal dan
mempelajari nilai-nilai, norma-norma dan simbol-simbol politik dari
berbagai pihak. Memaksimalkan fungsi partai politik sebagai sarana
komunikasi politik, sosialisasi politik, sarana rekruitmen politik, dan untuk
mengatur konflik. Memaksimalkan sosialisasi oleh penyelenggara pemilu
terkaitnya esensi pemilu dalam sebuah negara yang demokratis, bukan
hanya sosialisasi teknis penyelenggaraan pemilu sehingga masyarakat bisa
memahami partisipasi apa saja yang dapat dilakukan dan apa capaian dari
partisipasi tersebut.Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilu
bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi ada tiga
komponen terkait, yakni Pemerintah sebagai penyelenggara pemilu, partai
politik dan masyarakat yang harus berperan dalam memberikan
72
pemahaman dan kesadaran akan makna demokrasi melalui sosialisasi,
pendidikan politik.
5.2 Rekomendasi
1) KPU sebagai penyelengara pemilu, sudah seharusnya memperhatikan
hal-hal terkait kerelawanan yang muncul baik sebagai bentuk
spontanitas dukungan individual maupun hasil dari bentukan oleh
partai Politik. Sehingga perlu adanya pembenahan dan perbaikan
berkaitan dengan pengelolaan relawan;
2) Pembentukan relawan hendaknya diikuti oleh pengelolaan yang baik
oleh lembaga/institusi yang menaunginya, sehingga relawan bisa
menjadi aset penggerak (mesin politik) yang bisa bekerja untuk
periode waktu yang lebih lama;
3) Pola-pola kerelawan dilapangan perlu diatur dalam pasal yang
mengikat, sehingga para relawan dilapangan bekerja mengikuti aturan
yang telah ditetapkan. Guna mendukung fungsi dan kinerja para
relawan dilapangan, diperlukan adanya bimbingan atau pendidikan
politik kepada para relawan. Upaya tersebut mendorong relawan untuk
lebih memahami tugas-tugas, serta hak dan kewajibannya, khususnya
pada saat hari pemilihan dan pada proses perhitungan suara;
4) Kerjasama antara penyelengara pemilu dengan berbagai pihak di
masyarakat seperti LSM, Ormas, Akademisi dan aktor relevan lainnya
perlu ditingkatkan. Hal ini guna menjawab persoalan terkait
pendidikan politik kepada para relawan politik dan sosialisasi
73
kesadaran berpolitik kepada masyarakat sehingga masyarakat bisa
memahami partisipasi apa saja yang dapat dilakukan dan apa capaian
dari partisipasi tersebut. Kondisi ini juga harus bisa dalam agenda
internal partai politik kepada para relawan partai;
5) Terkait pelaksanaan mekanisme dilapangan, KPU harus menetapkan
suatu prosedur/ sistem yang baku, yang tidak mudah berubah-ubah,
kondisi yang berubah-ubah menyulitkan KPPS dan para relawan dalam
memahami mekanisme pemilihan suara. Misalnya tata laksana
pemilihan suara di TPS dan prosedur perhitungan suara di TPS. Hal ini
untuk meminimalisir kesalahan yang sering terjadi saat pemungutan
dan penghitungan suara di TPS;
6) Memaksimalkan kerja sama antara KPU sebagai penyelengara pemilu
dengan LSM independent atau kelompok masyarakat (Karang Taruna,
dan lain sebagainya) untuk melakukan pengawasan dilapangan terkait
pelaksanaan tahapan pemilu. Hal ini berguna untuk penguatan tenaga
relawan Non Partai politik di lapangan.
74
DAFTAR PUSTAKA
Budhiardjo, Meriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, ( Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama, 2008)
Budhiardjo, Meriam, Demokrasi, (Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 2008)
Damsar, Penghantar Sosiologi Politik, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2010 )
Departemen Pendidikan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai
Pustaka, 2008)
Huntington, Samuel P dan Nelson, Joan, Partisipasi Politik di Negara
Berkembang, ( Jakarta: Rineka Cipta,1990 )
Kaid, Lynda Lee and Holtz-Bacha, Chistina, Encyclopedia of Political
Communication, (California: Sage Publication, 2008)
Kelsen, Hans, Teori Umum Tentang Hukum dan Negara (Bandung: Nusa Media,
2008)
Kristin, Samah dan Susan, Fransisca Ria, Berpolitik tanpa Partai “Fenomena
Relawan Dalam Pilpres”, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014)
Margan, Rafael Raga, Penghantar Sosiologi Politik, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2007)
Refka, Partisipasi Politik, (Padang: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universtias Andalas, 2014)
Saiful Mujadi, R. William Liddle, Kuskridho Ambardi,2012,Kuasa Rakyat :
“Analisis Tentang Perilaku Memilih dalam Pemilihan Legislatif dan
Presiden Indonesia Pasca Orde Baru, Jakarta : Mizan Publik
Sugiyono, Statistik untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta, 2010)
75
Surbakti, Ramlan, Memahami Ilmu Politik, Memahami Ilmu Politik, ( Jakarta:
Gramedia Widiasarana Indonesia, 1999)
. Perundang-Undangan
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPD,
DPR-RI dan DPRD
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik
(Jakarta: Novindo Pustaka Mandiri, 2011)
. Internet
Lenny Yuliana,2013, Faktor-Faktor yang mempengaruhi golongan putih di desa
gunung agung kecamatan terusan nunyai
http://lennyyuliani92.blogspot.com/2013/01/penelitian-sosial.html?m=1)
76
Download