studi kasus asuhan keperawatan gangguan rasa nyaman : nyeri

advertisement
STUDI KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN RASA NYAMAN :
NYERI AKUT PADA NY. W DENGAN POST OPERASI
TIROIDEKTOMI ATAS INDIKASI STRUMA
NODUSA NON TOKSIK DI RUANG
KANTIL NO. 19 RSUD
KARANGANYAR
DISUSUN OLEH :
IIS AMALIAH PUTRI UTAMI
NIM. P.10100
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2013
STUDI KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN RASA NYAMAN :
NYERI AKUT PADA NY. W DENGAN POST OPERASI
TIROIDEKTOMI ATAS INDIKASI STRUMA
NODUSA NON TOKSIK DI RUANG
KANTIL NO. 19 RSUD
KARANGANYAR
Karya Tulis Ilmiah
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan
DISUSUN OLEH :
DISUSUN OLEH :
IIS AMALIAH PUTRI UTAMI
NIM. P.10100
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2013
i
ii
iii
HALAMA
AN PENGE
ESAHAN
K
Karya
Tulis ini diajukann oleh :
N
Nama
MALIAH PU
UTRI UTAM
MI
: IIS AM
N
NIM
: P. 101000
P
Program
Stu
udi
: DIII K
KEPERAWA
ATAN
J
Judul
Karyaa Tulis Ilmiahh
: Asuhan keperawattan gangguaan rasa nyam
man : nyeri
akut pada Ny. W dengan Postt Operasi Tiiroidektomi
Atas IIndikasi Struuma Nodusaa Nontoksikk di Ruang
Kantil 19 Rumah Sakit
S
Umum
m Daerah Karranganyar.
Telah disetujui
d
untuuk diujikan dihadapan Dewan
D
Penguuji Karya Tuulis Ilmiah
P
Prodi
DIII Keperawatan
K
STIKes Kussuma Husadda Surakarta
D
Ditetapkan
dii
: Suurakarta
H
Hari/Tanggal
: Seelasa, 25 Junni 2012
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
berkat rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya
Tulis Ilmiah dengan judul “STUDI KASUS ASUHAN KEPERAWATAN
GANGGUAN RASA NYAMAN : NYERI AKUT PADA NY. W DENGAN
POST OPERASI TIROIDEKTOMI ATAS INDIKASI STRUMA NODUSA NON
TOKSIK DI NRUANG KANTIL NO. 19 RSUD KARANGANYAR”.
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat
bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini
penulis menucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada yang terhormat:
1. Setiyawan, S.Kep.,Ns, selaku Ketua Program Studi DIII Keperawatan yang
telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKes Kusuma
Husada Surakarta
2. Erlina Windyastuti, S.Kep.,Ns selaku Sekretaris Program Studi DIII
Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu
di STIKes Kusuma Husada Surakarta serta selaku pembimbing dan penguji I
yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, saran, selama penyusunan
laporan Karya Tulis Ilmiah ini.
3. Amalia Agustin, S.Kep.,Ns selaku penguji II yang telah memberikan
bimbingan, pengarahan, saran, selama penyusunan laporan Karya Tulis Ilmiah
ini.
v
4. Tyas Ardi S, S.Kep.,Ns selaku penguji III yang telah memberikan bimbingan,
pengarahan, saran, selama penyusunan laporan Karya Tulis Ilmiah ini.
5. Direktur RSUD Karanganyar yang telah memberikan kesempatan kepada
penulis untuk melakukan pengambilan kasus di Ruang Kantil.
6. Semua Dosen dan Karyawan beserta Staf Prodi DIII Keperawatan STIKes
Kusuma Husada Surakarta yang telah memberikan bimbingan dan
wawasannya serta ilmu yang bermanfaat.
7. Kedua orang tuaku, yang selalu menjadi inspirasi dan memberikan semangat,
kepercayaan, kasih sayang, kesabaran, nasihat dan dukungan dalam segala
bentuknya serta atas doanya selama ini yang tidak terbalas oleh apapun.
8. Sahabat dan teman-teman angkatan 2013 Program Studi DIII Keperawatan
STIKes Kusuma Husada Surakarta dan berbagai pihak yang tidak dapat
disebutkan satu-persatu yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam laporan Karya Tulis
Ilmiah ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi kesempurnaan laporan Karya Tulis Ilmiah ini.
Surakarta, Juni 2013
Penulis
vi
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.....................................................................................
i
PERNYATAAN TIDAK PLAGIATISME ..................................................
ii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ...............................................
iii
HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................
iv
KATA PENGANTAR ..................................................................................
v
DAFTAR ISI ................................................................................................
vii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................
ix
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .......................................................
1
B. Tujuan Penulisan ...................................................................
5
C. Manfaat Penulisan ................................................................
7
LAPORAN KASUS
A. Identitas Klien ......................................................................
8
B. Pengkajian .............................................................................
8
C. Perumusan Masalah ............................................................
12
D. Rencana Tindakan Keperawatan ..........................................
13
E. Implementasi Keperawatan ..................................................
14
F. Evaluasi Keperawatan ...........................................................
16
vii
BAB III
PEMBAHASAN DAN SIMPULAN
A. Pembahasan ..........................................................................
18
1. Pengkajian ........................................................................
19
2. Diagnosa Keperawatan ....................................................
24
3. Rencana Tindakan Keperawatan .....................................
26
4. Implementasi ....................................................................
26
5. Evaluasi ............................................................................
32
B. Simpulan dan Saran
1. Kesimpulan ......................................................................
33
2. Saran ................................................................................
36
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Keterangan Selesai Pengambilan Data
Lampiran 2 Format Pendelegasian Pasien
Lampiran 3 Log Book
Lampiran 4 Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah
Lampiran 5 Asuhan Keperawatan
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Struma Nodusa non toksik atau yang sering disebut goiter adalah
pembesaran kelenjar tyroid (Grace dan Borlay, 2006). Struma nodusa non
toksik ditemukan di daerah pegunungan yang airnya kurang iodium. Struma
endemik ini dapat dicegah dengan substitusi iodium. Di luar daerah endemik,
struma nodusa ditemukan atau pada keluarga tertentu (Sjamsuhidajat dan
Wim, 2004).
Kekurangan yodium di Indonesia sudah dikenal sejak tahun 1927,
ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia mulai dari ujung utara (Aceh)
pulau Sumatera sampai ke Papua. Penanggulangannya telah diupayakan
dengan memperkenalkan garam beryodium dengan konsentrasi 1 : 200.000
atau 5 ppm, khususnya di daerah Pegunungan Dieng dan Tengger di pulau
Jawa. Kota Padang termasuk salah satu wilayah endemik sedang. Situasi ini
tampak dari hasil pemetaan GAKY Nasional tahun 2003 dengan
meningkatnya prevalensi GAKY pada murid Sekolah Dasar dari 8.5 persen
pada tahun 1998 menjadi 10.8 persen pada tahun 2003. Berdasarkan evaluasi
diatas bahwa TGR pada tahun 2003 adalah 21,5 persen. Di beberapa propinsi
terlihat pula daerah-daerah endemik sedang dan berat yang baru, seperti
beberapa daerah pantai di Jawa Timur dan Sumatera Barat (Muhalil dalam
Agus Zukarnain, 2006). Berdasarkan evaluasi Program Penanggulangan
GAKY Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah pada Tahun 2004, TGR
1
2
Kabupaten Brebes adalah sebesar 8,49 persen. Namun demikian masih ada
kecamatan dengan TGR tertinggi yakni Kecamatan Sirampog sebesar 40,71
persen (Gatie, 2006).
Faktor-faktor yang
menyebabkan
struma nodusa
non
toksik
bermacam-macam. Pada setiap orang dapat dijumpai masa dimana kebutuhan
terhadap tiroksin bertambah, pubertas, menstruasi, kehamilan, laktasi,
menopause, infeksi atau stress. Pada masa-masa tersebut dapat ditemui
hiperplasi dan involusi kelenjar tyroid. Perubahan ini dapat menimbulkan
nodularitas kelenjar tyroid serta kelainan arsitektur yang dapat berlanjut
dengan berkurangnya aliran darah di daerah tersebut sehingga terjadi iskemia
(Mansjoer, 2004).
Penderita struma nodusa tidak mempunyai keluhan karena tidak
terdapat hipo atau hipertiroidisme. Nodul dapat tunggal tetapi dapat
berkembang berubah menjadi multinodular tanpa perubahan fungsi.
Degenerasi jaringan menyebabkan terbentuknya kista atau adenoma. Karena
pertumbuhan terjadi secara perlahan, struma dapat menjadi besar tanpa
memberikan gejala, selain adanya benjolan di leher. Sebagian besar penderita
struma nodusa dapat hidup dengan struma tanpa keluhan (Sjamsuhidajat dan
Wim, 2004).
Sebagian besar dari struma nodusa tidak mengganggu pernafasan
karena pertumbuhan ke lateral dan anterior, sebagian lain dapat
menyebabkan penyempitan trakhea jika pembesarannya bilateral. Struma
nodusa unilateral dapat menyebabkan pendorongan trakhea kearah kontra
3
lateral tanpa gangguan akibat ostruksi pernafasan. Penyempitan yang hebat
dapat menyebabkan gangguan pernafasan dengan gejala stridor inspirator
(Sjamsuhidajat dan Wim, 2004).
Penatalaksanaan dari struma Nodusa Non Toksik yaitu dengan biopsi
aspirasi jarum halus cara ini dilakukan pada kista tiroid hingga nodul kurang
dari 10 milimeter (Mansjoer, 2004). Penatalaksanaan yang selanjutnya
medikamentosa dengan obat antitiroid seperti karbimazoyol digunakan untuk
kista yang ukuranya kurang dari 4 centimeter, bila kista lebih dari 4
centimeter dilakukan lobektomi dan dilakukan yodium radioaktif (Grace dan
Borley, 2012). Yodium radioaktif yaitu memberikan radiasi dengan dosis
yang tinggi pada kelenjar tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan.
Pasien yang tidak mau dioperasi maka pemberian yodium radioaktif dapat
mengurangi gondok sekitar 50 persen. Yodium radioaktif tersebut berkumpul
dalam kelenjar tyroid sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan
tubuh lainnya (Landenson dalam Damaryanti, 2012). Apabila kista sudah
adenoma atau karsinoma serta goiternya besar dan menekan jaringan sekitar,
sehingga harus segera dilakukan tidakan pembedahan dengan tiroidektomi,
dari tindakan tiroidektomi mengakibatkan pasien merasakan nyeri (Baradero,
2009).
Selain pemantauan rutin pasca–operasi, pasien pasca tiroidektomi
perlu diobservasi ketat mengenai kemungkinan timbulnya komplikasi (trauma
atau kerusakan pada saraf laring, perdarahan tetani dan obstruksi) (Baradero
dkk. 2009). Nyeri akibat insisi menyebabkan klien gelisah dan nyeri ini
4
merupakan penyebab tanda-tanda vital berubah. Klien yang dapat anestesi
regional dan local biasanya tidak mengalami nyeri karena area insisi masih
berada dibawah pengaruh anestesi (Potter dan Perry, 2006).
Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan
bersifat sangat subyektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang
dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tertentu yang dapat
menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya. Munculnya nyeri
berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan. Reseptor nyeri yang
dimaksud adalah nociceptor, merupakan ujung-ujung saraf sangat bebas yang
memiliki myelin yang tersebar pada kulit dan mukosa, khususnya pada visera,
persendian, dinding arteri, hati, dan kandung empedu. Reseptor nyeri dapat
memberikan respon akibat adanya stimulus atau rangsangan.Stimulus tersebut
dapat berupa zat kimia seperti histamine, bradikinin, prostaglandin, dan
macam-macam asam yang dilepas apabila terdapat kerusakan pada jaringan
akibat kekurangan oksgenasi. Stimulus tersebut dapat berupa termal, listrik,
atau mekanis (Hidayat, 2012).
Klasifikasi nyeri secara umum dibagi menjadi dua, yakni nyeri akut
dan nyeri kronis. Nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara mendadak
dan cepat menghilang, yang tidak melebihi 6 bulan dan ditandai adanya
peningkatan tegangan otot. Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul secara
perlahan-lahan, biasanya berlangsung dalam waktu cukup lama, yaitu lebih
dari 6 bulan (Hidayat, 2012).
5
Hasil observasi penulis di ruang kantil no 19 pada tanggal 25 April
2013 diperoleh data bahwa ada 2 pasien dari 25 pasien yang mengalami
gangguan rasa nyaman nyeri karena post operasi tiroidektomi. Hasil studi
kasus pada Ny. W dengan post operasi SNNT (Struma Nodosa Non Toksik)
hari pertama di ruang kantil RSUD Karanganyar didapatkan masalah Ny. W
mengatakan nyeri saat menelan dan bergerak, dan pasien juga takut untuk
batuk, dan apabila Ny. W tidak segera dilakukan intervensi keperawatan
maka dapat menyebabkan perubahan tanda-tanda vital dan mengganggu
aktivitas yang lain. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka penulis
tertarik untuk mengangkat kasus Asuhan Keperawatan Gangguan Rasa
Nyaman : Nyeri Akut pada Ny. W dengan Post Operasi Tiroidektomi dengan
Indikasi Struma Nodusa Nontoksik di Ruang Kantil 19 Rumah Sakit Umum
Daerah Karanganyar.
B. Tujuan Penulisan
1.
Tujuan Umum
Melaporkan kasus asuhan keperawatan gangguan rasa nyaman :
nyeri akut pada Ny. W dengan post operasi tiroidektomi atas indikasi
Struma Nodusa Nontoksik di ruang Kantil 19 Rumah Sakit Umum
Daerah Karanganyar.
2.
Tujuan Khusus
a.
Penulis mampu melakukan pengkajian pada Ny. W dengan
gangguan rasa nyaman : nyeri akut pada pasien post operasi
6
tiroidektomi atas indikasi Struma Nodusa Non Toksik di Ruang
Kantil 19 Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.
b.
Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny. W
dengan gangguan rasa nyaman : nyeri akut pada pasien post operasi
tiroidektomi atas indikasi Struma Nodusa Non Toksik di Ruang
Kantil 19 Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.
c.
Penulis mampu menyusun rencana tindakan keperawatan pada Ny.
W dengan gangguan rasa nyaman : nyeri akut pada pasien post
operasi tiroidektomi atas indikasi Struma Nodusa Non Toksik di
Ruang Kantil 19 Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.
d.
Penulis mampu melakukan implementasi pada Ny. W dengan
gangguan rasa nyaman : nyeri akut pada pasien post operasi
tiroidektomi atas indikasi Struma Nodusa Non Toksik di Ruang
Kantil 19 Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.
e.
Penulis mampu melakukan evaluasi pada Ny. W dengan gangguan
rasa nyaman : nyeri akut pada Ny. W atas Post Operasi tiroidektomi
dengan Indikasi Struma Nodusa Non Toksik di Ruang Kantil 19
Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.
f.
Penulis mampu melakukan analisa kondisi pada Ny. W dengan
gangguan rasa nyaman : nyeri akut pada pasien post operasi
tiroidektomi atas indikasi Struma Nodusa Non Toksik di Ruang
Kantil 19 Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.
7
C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Penulis
Menambah pengetahuan dan menerapkan asuhan keperawatan
dengan gangguan rasa nyaman : nyeri akut pada pasien post operasi
tiroidektomi atas indikasi struma nudosa non toksik.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai referensi untuk menambah wawasan bagi para mahasiswa
khususnya yang
berkaitan dengan asuhan keperawatan gangguan rasa
nyaman : nyeri akut pada pasien post operasi tiroidektomi atas indikasi
struma nodusa non toksik.
3. Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan dan evaluasi yang diperlukan dalam
pelaksanaan praktek pelayanan keperawatan khususnya pada gangguan
rasa nyaman : nyeri akut pada pasien post operasi tiroidektomi atas
indikasi struma nodusa non toksik.
4. Bagi Pembaca
Sebagai bahan untuk mengetahui tentang manajemen nyeri akut
post operasi tiroidektomi atas indikasi struma nodusa non toksik.
BAB II
LAPORAN KASUS
Bab II ini akan menjelaskan tentang Asuhan Keperawatan Rasa Nyeri
Akut dengan kasus pada pasien Ny. W dengan post operasi tiroidektomi dengan
indikasi Struma Nodusa Non Toksik di ruang Kantil Rumah Sakit Umum Daerah
Karanganyar pada tanggal 25 April sampai 27 April 2013. Asuhan keperawatan
ini dimulai dari pengkajian, analisa data, perumusan diagnosa keperawatan,
intervensi, implementasi dan evaluasi.
A. Identitas
Pengkajian pada tanggal 25 April 2013 jam 09.00 WIB, pada kasus ini
dilakukan pengkajian dengan pemeriksaan fisik, menelaah catatan medis, dan
catatan perawat dari data pengkajian tersebut didapat hasil identitas pasien,
bahwa klien bernama Ny W, alamat Malanggaten Karanganyar, berusia 59
tahun, agama Islam, pekerjaan buruh, nomor register 2713xx, diagnosa medis
SNNT (Struma Nodusa Non Toksik). Penanggung bertanggung jawab kepada
klien adalah Tn.S, umur 29 tahun, pendidikan SLTP, pekerjaan swasta,
hubungan dengan pasien adalah anak.
B. Pengkajian
Ketika dilakukan pengkajian tentang riwayat keperawatan, keluhan
utama yaitu nyeri pada bekas operasi tiroidektomi. Riwayat penyakit sekarang
muncul gejala yaitu klien merasakan ada benjolan pada leher, dan benjolan
8
9
itu dirasakan kurang lebih tiga bulan, awalnya benjolan itu hanya sebesar
kelereng tapi lama kelamaaan sebesar kuning telur ayam, kemudian pasien
memeriksakan penyakitnya ke dr. D, dari dr. D menyarankan untuk dilakukan
operasi atau pembedahan, kemudian pada tanggal 13 April 2013 pasien
dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar setelah dilakukan
pemeriksaan hasilnya yaitu terdapat SNNT (Struma Nodusa Non Toksik) atau
yang disebut Goitre (pembesaran tyroid). Setelah dilakukan perekaman EKG
(Elektro Cardiografi) hasilnya sinus ritme lalu pasien mendaftarkan untuk
operasi, kemudian pasien disuruh datang tanggal 21 April 2013, dan
direncanakan operasi tanggal 22 April 2013, setelah tanggal 22 April 2013,
pasien tidak jadi dilakukan operasi, dan pada tanggal 24 april 2013 dari pukul
(11.00 sampai 12.00 WIB) pasien dilakukan operasi. Kemudian pasien
kembali ke ruang perawatan pukul 13.00 WIB, pasien mengeluh sakit dan
nyeri pada bekas operasi, setelah dilakuan pemeriksaan hasilnya tekanan
darah 120/80 mmHg, nadi 76 kali per menit, respirasi 18 kali per menit, suhu
36,5 derajat celcius.
Pola aktivitas dan lingkungan, makan dan minum perlu bantuan orang
lain (nilai 2), toileting perlu bantuan orang lain (nilai 2), molilitas ditempat
tidur perlu bantuan orang lain (nilai 2) berpindah perlu bantuan orang lain
(nilai 2), ambulasi atau ROM tidak ada gangguan (nilai 0)
Pola istirahat tidur, sebelum sakit pasien mengatakan tidur 8 jam
perhari malam jam 21.00 sampai 04.00 WIB dan jarang tidur siang, kondisi
saat bangun tidur segar, selama sakit pasien mengatakan pada malam hari 5
10
jam dari pukul 09.00 sampai 02.00 WIB, setelah itu pasien tidak bisa tidur
lagi sampai pagi dan siang hari pasien tidak pernah tidur siang karena
merasakan nyeri pada bekas operasi terganggu selama perawatan di rumah
sakit.
Pola kognitif perceptual, sebelum sakit pasien mengatakan dapat
berbicara dengan jelas, tidak menggunakan alat bantu penglihatan, tidak
menggunakan alat bantu pendengaran, selama sakit pendengaran jelas, tidak
menggunakan alat bantu penglihatan, dan pasien mengeluh nyeri, Provocative
= nyeri setelah operasi Quality = nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk, Region =
nyeri terasa dileher tepatnya dikelenjar tyroid, Scale = skala nyeri 7, Time =
nyeri timbul 2 sampai 3 menit terutama saat bergerak. Dari pemeriksaan fisik
didapatkan hasil keadaan umum pasien tampak lemah, perut sakit, nyeri
bekas operasi, bicara susah dan pusing, kesadaran composmentis, tanda –
tanda vital pasien dengan hasil tekanan darah 120/80 mmHg, pernafasan 19
kali permenit, nadi 76 kali permenit, suhu 36,8 derajat celsius.
Pemeriksaan head to toe kepala messosepal, kulit kepala bersih, sedikit
ada ketombe, tidak ada lesi, rambut lurus, bersih sedikit uban dan kusam.
Mata simetris kanan kiri, palpebra tidak ada oedema, konjungtiva anemis,
sclera tidak ikterik, pupil isokor, reflek terhadap cahaya baik, penggunaan
alat bantu pasien tidak menggunakan alat bantu penglihatan, penglihatan
normal. Hidung simetris kanan dan kiri, tidak ada polip, tidak ada secret dan
terlihat bersih. Mulut sedikit kering, tidak ada sariawan, bicara agak tidak
jelas dan pelan. Gigi bersih, tidak ada karang gigi, tidak ada karies dan tidak
11
ada perdarahan pada gusi. Telinga simetris kanan kiri, bersih dan tidak ada
serumen. Leher tidak ada kaku kuduk dan ada pembesaran klenjar tyroid
berupa SNNT (Struma Nodusa Non Toksik) sekitar kurang lebih 4 centimeter,
benjolan satu setelah dilakukan pembedahan (Tiroidektomi).
Pada pemeriksaan paru, didapatkan inspeksi pengembangan dada sama
kanan kiri, palpasi vocal fremitus kanan dan kiri sama, perkusi sonor di
semua lapang paru, auskultasi vesikuler, tidak ada suara tambahan. Pada
jantung inspeksi ictus cordis tidak tampak, palpasi ictus cordis teraba di SIC
IV, perkusi batas atas di SIC II batas bawah di SIC IV batas kiri di mid axilla
SIC V batas kanan di SIC III sternum kiri, auskultasi normal tidak ada suara
tambahan. Dan abdomen inspeksi bentuk simetris dan tidak ada jejas, luka
maupun bekas jahitan di abdomen, auskultasi bising usus 11 kali permenit,
perkusi tympani pada kuadran 3 (tiga) serta 4 (empat), palpasi tidak ada nyeri
tekan.
Ekstremitas atas di bagian tangan kiri terpasang infuse RL 20 tetes per
menit, dan tangan kanan tidak terpasang infuse perabaan akral hangat dan
capillary refill < 3 detik kekuatan otot kanan kiri sama 5, perubahan bentuk
tulang tidak ada dan ekstermitas bawah kekuatan otot kanan 5 dan kiri 4,
capillary refill < 3 detik, perubahan bentuk tulang tidak ada perabaan akral
hangat.
Dari pemeriksaan penunjang, pemeriksaan laboratorium padatanggal 13
April 2013 didapatkan hasil WBC 3,9 x 103/ul (normal = 4,5 sampai 11,0 ),
RBC 3,77 x 106/ul (normal = 3.50 sampai 5,50), HGB 12,1 g/dl (normal =
12
11,0 sampai 16,0), HCT 36,2 % (normal 37,0 sampai 50.0), MCV 96,0 fc
(normal 82,0 sampai 95,0), MCHC 33,4 g/dl (normal 11,5 sampai 14,5), PLT
348 x 103/ul (150 sampai 450), FT4 11,72 pmol/L (normal 9-20), TSH 4,17
mU/L (normal eutyroidism = 0,25, Hypertiroidism = kurang dari 0,15,
Hypohtiroidism = kurang dari 7), GDS 80 mg/dL dan dari pemeriksaan
Radiologi didapatkan hasil kesan yaitu proses peradangan yaitu SNNT
(Struma
Nodusa
Non
Toksik),
dilakukan
pemeriksaan
EKG
(Elektrokardiogram) hasilnya Sinus Ritme.
Di ruangan kantil pasien mendapatkan terapi infus RL 20 tetes per
menit, injeksi ceftriaxone 500
milligram, injeksi ranitidin ¾ ampul/12,
paracetamol tablet 500 miligram, keterolac 30 miligram dan sistenol 50
miligram. Pasien menjalani operasi tanggal 24 April 2013 dan penulis
melakukan pengkajian tanggal 25 April 2013.
C. Perumusan Masalah Keperawatan
Data hasil pengkajian dan observasi diatas, penulis melakukan analisa
data kemudian memutuskan prioritas diagnosa keperawatan sesuai dengan
kegawatan yang dialami klien atau yang harus segera mendapatkan
penanganan karena apabila tidak segera ditangani akan menimbulkan masalah
yang lain. Prioritas diagnosa keperawatan yang penulis angkat yaitu
gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan agen cidera fisik
(pembedahan tiroidektomi). Pengkajian data subyektif yang didapatkan
provocative = nyeri setelah operasi, quality = nyeri terasa seperti ditusuktusuk, region = nyeri terasa di leher tepatnya dikelenjar tyroid, scale = skala
13
nyeri 7, time = nyeri timbul 2 sampai 3 menit terutama saat bergerak dan
menelan, data obyektif pasien tampak meringis menahan sakit, pasien juga
takut bergerak karena merasakan nyeri.
D. Perencanaan
Prioritas masalah gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
agen cedera fisik (pembedahan tyroidektomi) pada Ny. W penulis akan
membahas rencana keperawatan dengan tujuan, setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri dapat berkurang dari 7
menjadi 4, ekspresi wajah klien tampak rileks.
Intervensi atau rencana tindakan yang akan dilakukan yang pertama
yaitu monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu),
dengan rasional untuk mendeteksi adanya perubahan system tubuh, kedua
kaji ulang karakteristik nyeri (penyebab nyeri, kualitas nyeri, tempat/bagian
yang dirasakan nyeri, skala nyeri, waktu terjadinya nyeri), dengan rasional
untuk membantu mengevaluasi derajat ketidaknyamanan dan keefektifan
analgesik, ketiga berikan posisi yang nyaman (semifowler) dengan rasional
untuk mengurangi tegangan pada insisi dan membantu mengurangi nyeri serta
mengurangi reflek batuk pada pasien, keempat ajarkan tehnik relaksasi seperti
nafas dalam dan tehnik distraksi seperti membaca buku atau membayangkan
hal-hal yang indah-indah, dengan rasional untuk membantu mengarahkan
kembali perhatian pasien dan untuk melokalisasi otot-otot, kelima kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian analgesik : ketorolak, dengan rasional untuk
mengurangi atau mengatasi nyeri dengan tindakan farmakologi
14
E. Implementasi
Tindakan yang dilakukan pada hari Kamis, 25 april 2013 yaitu jam
09.15 WIB mengkaji ulang karakteristik nyeri, respon subyektif, Provocative
= nyeri setelah operasi Quality = nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk, Region =
nyeri terasa dileher tepatnya dikelenjar tyroid, Scale = skala nyeri 7, Time =
nyeri timbul 2 sampai 3 menit terutama saat bergerak dan menelan, respon
obyektif ekspresi wajah pasien tampak meringis menahan sakit. Pada jam
09.45 WIB memberikan posisi yang nyaman (semi fowler atau setengah
duduk), respon subyektif pasien mengatakan bahwa ia lebih nyaman pada
posisi yang diberikan yaitu setengah duduk, respon obyektif pasien tampak
nyaman dengan posisinya saat ini karena memudahkan pasien dan
mengurangi rasa nyeri pada pasien terutama saat bergerak dan menelan. Jam
11.15 WIB mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam dan menganjurkan
untuk mengulanginya saat nyeri kambuh, respon subyektif klien mengatakan
mau untuk diajarkan relaksasi nafas dalam untuk mengurangi rasa nyerinya,
respon obyektif pasien terlihat rileks setelah mempraktikan relaksasi nafas
dalam. Jam 11.35 WIB memberikan obat sesuai indikasi analgentik =
ketorolac 30 miligram, respon subyektif pasien mengatakan bersedia untuk
diinjeksi agar cepat sembuh, respon obyektif obat ketorolac 30 miligram per
delapan jam sudah masuk melalui IV tanpa adanya alergi.
Tindakan yang dilakukan pada hari Jum’at, 26 April 2013 yaitu Jam
09.35 WIB mengkaji ulang karakteristik nyeri, respon subyektif , Provocative
= nyeri setelah operasi, Quality = nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk, region =
15
nyeri terasa di leher tepatnya dikenjar tyroid, scale = skala nyeri 6, time =
nyeri timbul 2 sampai 3 menit terutama saat bergerak dan menelan, respon
obyektif ekspresi wajah klien tampak meringis menahan sakit. Jam 09.45
WIB mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam dan menganjurkan untuk
mengulanginya saat nyeri kambuh, respon subyektif pasien mengatakan mau
untuk diajarkan relaksasi nafas dalam untuk mengurangi rasa nyerinya,
respon obyektif pasien terlihat rileks setelah mempraktikan relaksasi nafas
dalam. Jam 11.30 WIB memberikan obat sesuai indikasi analgentik =
ketorolac 30 miligram, respon subyektif pasien mengatakan bersedia untuk
diinjeksi agar, respon obyektif obat ketorolac 30 miligram sudah masuk
melalui IV tanpa adanya alergi.
Tindakan yang dilakukan pada hari Sabtu, 27 April pada jam 08.45
WIB, mengkaji ulang karakteristik nyeri, respon subyektif Provocative =
nyeri setelah operasi, Quality = nyeri terasa seperti cenut-cenut, region =
nyeri terasa dileher tepatnya dikenjar tyroid, scale = skala nyeri 4, Time =
nyeri timbul 2 sampai 3 menit terutama saat bergerak dan menelan, respon
obyektif ekspresi wajah rileks dan pasien terlihat lebih nyaman. Pada Jam
08.50 WIB mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam dan menganjurkan
untuk mengulanginya saat nyeri kambuh, respon subyektif pasien mengatakan
mau untuk diajarkan relaksasi nafas dalam untuk mengurangi rasa nyerinya,
respon obyektif pasien terlihat rileks setelah mempraktikan relaksasi nafas
dalam. Jam 11.45 WIB memberikan obat sesuai indikasi analgentik =
ketorolac 30 miligram, respon subyektif pasien mengatakan bersedia untuk
16
di injeksi, respon obyektif obat ketorolac 30 miligram sudah masuk melalui
IV tanpa adanya alergi.
F. Evaluasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, hasil
evaluasi yang dilakukan pada hari Kamis, 25 April 2013 jam 13.20 WIB,
dengan menggunakan metode SOAP yang hasilnya adalah, subyektif :,
Provocative =nyeri setelah operasi, Quality = nyeri terasa seperti ditusuktusuk, region = nyeri terasa di leher tepatnya dikenjar tyroid, scale = skala
nyeri 6,Time = nyeri timbul 2 sampai 3 menit terutama saat begerak dan
menelan, miring kiri, obyektif : ekspresi wajah meringis menahan sakit,
Analysis = masalah belum teratasi, Planning : intervensi dilanjutkan antara
lain observasi karakteristik nyeri (PQRST), berikan posisi yang nyaman,
ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam, kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian analgesik : ketorolac 30 miligram.
Hasil evaluasi yang dilakukan pada hari Jum’at, 26 April 2013 jam
14.00 WIB dengan metode SOAP yang hasilnya adalah, subyektif :
Provocative = nyeri setelah operasi, Quality = nyeri terasa seperti ditusuktusuk, region = nyeri terasa di leher tepatnya dikenjar tyroid, scale = skala
nyeri 6, Time = nyeri timbul 2 sampai 3 menit terutama saat begerak dan
menelan, obyektif : ekspresi wajah meringis menahan sakit, Planning :
intervensi dilanjutkan antara lain kaji ulang karakteristik nyeri (PQRST),
berikan posisi yang nyaman, ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam, kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian analgesik : ketorolac 30 miligram.
17
Hasil evaluasi yang dilakukan pada hari Sabtu, 27 April 2013 jam 13.50
WIB dengan metode SOAP yang hasilnya adalah, subyektif : nyeri,
Provocative = nyeri setelah operasi, Quality = nyeri terasa seperti cenutcenut, region = nyeri terasa di leher tepatnya dikenjar tyroid,scale = skala
nyeri 4, Time = nyeri timbul 2 sampai 3 menit terutama saat begerak dan
menelan, obyektif : ekspresi wajah rileks, pasien terlihat nyaman Analysis =
masalah teratasi, Planning : intervensi dipertahankan antara lain, berikan
posisi yang nyaman, ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam, kolaborasi dengan
dokter dalam pemberian analgesik.: ketorolac 30 miligram.
BAB III
PEMBAHASAN DAN SIMPULAN
A. Pembahasan
Manusia mempunyai kebutuhan dasar tertentu yang harus dipenuhi
secara memuaskan melalui proses homeostasis, baik fisiologi maupun
psikologis. Adapun kebutuhan merupakan suatu hal yang sangat penting,
bermanfaat dan diperlukan untuk menjaga homestasis dan kehidupan itu
sendiri. Banyak filsafat psikologis dan fisiologis menguraikan kebutuhan
manusia dan membahasnya dari berbagai segi (Mubarak, 2007).
Abraham Maslow seorang psikolog dari Amerika mengembangkan
teori tentang teori kebutuhan dasar manusia yang lebih dikenal dengan istilah
Hierarki
Kebutuhan
Dasar
Manusia
Maslow.
Konsep
hierarki
ini
menjelasksan bahwa manusia senantiasa berubah, dan kebutuhanya terus
berkembang. Jika seorang merasakan kepuasan yang lebih besar, bila
pemenuhan kebutuhan itu terganggu, akan timbul suatu kondisi patalogis.
Hierarki Maslow tersebut membagi lima kebutuhan dasar manusia yang harus
terpenuhi, yakni kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan keselamatan,
kebutuhan mencintai dicintai dan dimiliki, kebutuhan akan harga diri, serta
kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologi merupakan kebutuhan yang
paling dasar, salah satu yang termasuk di dalamnya adalah kebutuhan untuk
mengindari dari rasa nyeri (Mubarak, 2007).
Bab ini merupakan pembahasan kasus yang diambil dari BAB II, yaitu
membahas mengenai kesenjangan-kesenjangan yang penulis dapatkan antara
18
19
konsep dasar teori dan kasus nyata. Asuhan keperawatan gangguan rasa
nyaman nyeri pada Ny. W dengan post operasi tiroidektomi atas indikasi
Struma Nodusa Non Toksik hari I di ruang kantil 19 RSUD karanganyar.
Pembahasan
yang
penulis
lakukan
meliputi
pengkajian,
diagnosa
keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi.
1.
Pengkajian
Pengkajian adalah mengumpulkan data obyektif dan subyektif dari
pasien. Adapun data yang terkumpul mencakup informasi keluarga,
pasien, masyarakat, lingkungan, atau budaya (Mcfarland dalam,
Deswani, 2009).
Keluhan utama yang didapatkan saat pengkajian terhadap Ny.W
pada tanggal 25 April 2013 ialah nyeri setelah operasi, rasanya seperti
ditusuk-tusuk, lokasi nyeri di leher tepatnya di kelenjar tyroid dengan
skala nyeri 7, nyeri datang secara mendadak dan tiba-tiba sekitar 2
sampai 3 menit terutama saat menelan dan bergerak. Nyeri disebabkan
karena pembedahan atau insisi tyroidektomi.
Tyroidektomi adalah pengangkatan satu lobus tyroid (75 sampai 80
kelenjar tyroid). Tyroidektomi subtotal dapat menghindari hipotiroidism.
Akan tetapi ada kemungkinan timbul hipotyroidism dari hipertrofi sisa
jaringan tyroid yang tidak diangkat. Pembedahan yang seluruh kelenjar
tyroidnya diangkat disebut tyroidektomi total. Dari pembedahan tersebut
sehingga menyebabkan pasien nyeri (Baradero, 2009)
20
Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan
bersifat sangat subyektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang
dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tertentu yang dapat
menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya (Hidayat,
2012). Nyeri yang dialami oleh Ny. W merupakan nyeri akut, yang
ringan karena awitan nyeri baru dirasakan selama kurang lebih tiga hari
dan skala nyeri 7. Hal ini sesuai dengan teori nyeri ini biasanya
berlangsung tidak lebih dari enam bulan. Awitan gejalanya mendadak,
dan penyebab serta lokasinya sudah diketahui (Mubarak, 2007).
Sedangkan penentuan skala nyeri pada Ny. W didasarkan pada skala
nyeri Hayward yang menggunakan skala longitudinal yang terdiri dari
angka 0 sampai 10. Angka 0 menggambarkan tidak adanya nyeri, 1-3
menggambarkan nyeri ringan, 4 - 6 menggambarkan nyeri sedang, 7 - 9
menggambarkan nyeri berat yang masih bisa terkontrol dan 10
menggambarkan nyeri yang sangat berat serta tidak bisa dikontrol
(Mubarak, 2007).
Hasil pengkajian riwayat kesehatan keluarga pada pada Ny.W
ditemukan adanya salah satu anggota keluarga yang terdapat riwayat
seperti yang dialami pasien, tetapi keluarga tidak mengetahui kalau itu
struma nodusa nontoksik tetapi tidak dilakukan pembedahan karena
keluarga mengira itu hanya benjolan biasa saja, dan penyakit keturunan
dari ayahnya. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang
menyebutkan bahwa faktor nongoitrogenik yang dilaporkan berhubungan
21
dengan goiter adalah faktor genetik. Meskipun semua inhibitor tersebut
diatas mengekspos daerah-daerah endemik akan tetapi tidak semua
penduduk dalam daerah tersebut mengalami goiter. Studi terhadap
kembar monosigot menunjukan bahwa pembesaran kelenjar gondok pada
mereka yang terekspos kekurangan yodium mempunyai hubungan
dengan faktor-faktor genetik. Melaporkan bahwa seorang yang di dalam
sebuah keluarga yang memiliki satu penderita gondok mempunyai resiko
mendapat gondok dua kali lebih besar daripada mereka yang berasal dari
keluarga non gondok. Risiko ini meningkat menjadi empat kali pada
mereka yang memiliki dua kali pada mereka yang memiliki dua atau
lebih anggota keluarga yang menderita gondok (Thaha, 2003) .
Pada pola istirahat tidur dicantumkan bahwa sebelum sakit pasien
mengatakan tidur pada malam hari kurang lebih 8 (delapan) jam dari
pukul 22.00 sampai 05.00 WIB, dan tidak ada gangguan saat tidur.
Sedangkan selama sakit pasien mengatakan tidak pernah bisa tidur saat
malam, tidur kurang lebih hanya 5 (lima) jam dari pukul 21.00 sampai
02.00 WIB, setelah itu pasien tidak bisa tidur lagi sampai pagi, dan siang
hari pasien tidak pernah tidur karena merasakan nyeri dan terganggu atas
lingkungan selama perawatan dirumah sakit. Lingkungan yang asing,
tingkat kebisingan yang tinggi, pencahayaan, dan aktivitas yang tinggi di
lingkungan tersebut akan memperberat nyeri dan mengganggu pola tidur
pasien (Mubarak, 2007)
22
Nyeri merupakan kejadian yang menekan atau stres dan dapat
mengubah gaya hidup dan kesejahteraan psikologi individu. Saat nyeri
akut, denyut jantung, tekanan darah, dan frekuensi pernapasan meningkat
(Potter dan Perry 2006). Pada kasus Ny.W, tidak terjadi peningkatan
tekanan darah, ini sesuai dengan teori yang ada yaitu pada awal awitan
nyeri akut, respon fisiologis dapat meliputi peningkatan tekanan darah,
nadi, dan pernapasan akibat terstimulasinya sistem saraf simpatis
(Mubarak, 2008). Sedangkan pada kasus Ny.W, denyut jantung atau
nadi, pernapasan, tekanan darah dan suhu tidak terjadi peningkatan
dengan hasil nadi 76 kali per menit, pernapasan 19 kali per menit, 120/80
mmHg, dan suhu 36,8 derajat celcius. Hal ini dikarenakan pada kasus
Ny.W, pembedahan tiroidektomi sudah berlangsung dua hari yang lalu
dan Ny.W sudah mendapatkan terapi seperti analgesik sebelumnya
sehingga tidak terjadi perubahan tanda-tanda vital yang signifikan (Potter
dan Perry, 2006).
Pada pola kognitif perseptual dicantumkan sebelum sakit klien
mengatakan penglihatan, pendengaran, dan bicara jelas. Selama sakit
penglihatan, pendengaran, dan bicara masih jelas, tidak ada gangguan.
Pasien mengatakan Provocative = nyeri setelah operasi Quality = nyeri
terasa seperti ditusuk-tusuk, region = nyeri terasa dileher tepatnya
dikelenjar tyroid, scale = skala nyeri 7, Time = nyeri timbul 2 sampai 3
menit terutama saat bergerak. Sedangkan pada indra yang lain dan
kognitifnya tidak mengalami gangguan (Muttaqin, 2008).
23
Pada pemeriksaan fisik di leher didapatkan benjolan berupa
pembesaran kelenjal tyroid atau struma nodusa non toksik, benjolan
hanya satu atau tunggal berdiameter kurang lebih 4 centimeter. Seperti
teori yang dijelaskan bahwa adenomatosa benigna walaupun besar, tidak
menyebabkan gangguan neurogik, muskuloskeletal, vaskuler, atau
respirasi, atau menyebabkan gangguan menelan akibat tekanan ataupun
dorongan. Benjolan tunggal harus mendapatkan perhatian yang cukup
karena nodul tunggal dapat berupa nodul koloid, kista, adenoma tyroid,
atau suatu karsinoma tyroid (Sjamsuhidajat dan Wim, 2004).
Hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal 12 Maret 2013 dan
data penunjang pada tanggal 25 April 2013 mengarah ke gambaran
Struma Nodusa Non Toksik. Pemeriksaan tersebut antara lain, FT4 11,72
Pmd/L (nilai normal 9-20 Pmd/L) . TSH 4,17 (nilai normal Eutyroidis :
0,25-5, Hypertiroidism : kurang dari 0,15, Hypotiroidism : kurang dari
7). Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa defisiensi
iodium (endemik) menyebabkan penurunan T4 dan peningkatan stimulus
TSH yang menyebabkan struma difus (Grace Price A, 2006). Seperti
yang dijelaskan pada teori Greenstein (2007) bahwa TSH merupakan tes
fungsi tyroid yang paling banyak digunakan. Pengukuran ini relative
tidak terganggu oleh interverensi assay dan dapat dipercaya dalm
memprediksi fungsi tyroid sesuai prinsip umpan balik negatif oleh karena
itu, pada hipertyrohidism, kosentrasi TSH tidak dapat di deteksi. Pada
hipotyroidism primer, kosentrasi TSH meningkat dan pada hipotyroidism
24
skunder, rendahnya kadar T4 bebas disertai dengan rendahnya kosentrasi
TSH. Setelah dilakukan pemeriksaan Elektrocardiografi hasilnya Sinus
Ritme, dan dilakukan foto Rontgen pada tanggal 12 April 2013 hasilnya
dengan kesan terdapat Struma Nodusa Nontoksik. Sesuai teori yang
menyebutkan bahwa diagnosis struma ditentukan dengan pemeriksaan
foto rontgen polos toraks (Sjamsuhidayat, 2004).
2.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah proses menganalisis data subyektif
dan obyektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk
menegakkan diagnosis keperawatan. Diagnosis keperawatan melibatkan
proses berfikir kompleks tentang data yang dikiumpulkan darri klien,
keluarga, rekam medic, dan pemberi pelayan kesehatan yang lain
(Deswani, 2009)
The Nourth American Nursing Diagnosis Acociation (NANDA),
mengidentifikasikan diagnosis keperawatan sebagai komunitas terhadap
sesuatu yang berpotensi sebagai masalah kesehatan dalam proses
kehidupan. Selain itu diagnosis keperawatan adalah seni dalam
mengidentifikasi masalah dari tanda dan gejala yang ada dan merupakan
pernyataan atau kesimpulan yang berfokus pada sifat dasar dari kondisi
atau masalah. Proses diagnosis keperawatan dibagi menjadi 2, yaitu
proses interprestasi dan proses menjamin keakuratan diagnosis itu
sendiri. Perumusan peryataan diagnosis keperawatan memiliki beberapa
25
syarat, yaitu dapat membedakan antara sesuatu yang actual, resiko,
potensial (Deswani, 2009).
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah gangguan rasa nyaman
nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik (pembedahan tyroidektomi)
(NANDA 2010). Pengkajian data subyektif yang didapatkan Provocative
= nyeri setelah operasi, Quality = nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk,
region = nyeri terasa di leher tepatnya dikelenjar tyroid, scale = skala
nyeri 6, time = nyeri timbul 2 sampai 3 menit terutama saat bergerak dan
menelan, data obyektif pasien tampak meringis menahan sakit, klien juga
takut bergerak karena merasakan nyeri. Karakteristik tersebut sesuai
dengan batasan karakteristik untuk masalah nyeri akut, yaitu dapat dilihat
atau diukur berdasarkan lokasi nyeri, durasi nyeri (menit, jam, hari, atau
bulan), irama atau periodenya (terus-menerus, hilang timbul, periode
seperti ditusuk, terbakar, sakit nyeri dalam atau superficial) (Judha,
2012). Teori lain juga menyebutkan bahwa respon nonverbal yang bias
dijadikan indicator nyeri, salah satunya adalah ekspesi wajah. Perilaku
seperti ekspresi wajah, respons perilaku lain yang dapat menandakan
nyeri adalah vokalisasi misalnya mengeran, meringis, berteriak,
menangis (Mubarak, 2007).
Pembedahan tyroidektomi, diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan agen cedera fisik (pembedahan tyroidektomi)
sebagai prioritas diagnosa keperawatan karena nyeri pasca operasi
merupakan
nyeri
akut
secara
serius
yang
mengancam
proses
26
penyembuhan pasien, yang harus menjadi prioritas perawatan. Kasuskasus nyeri traumatik yang berat, yang menyebabkan individu
mengalami syok, kebanyakan indidu mencapi tingkat adaptasi, yaitu
tanda-tanda fisik kembali normal dengan demikian, pasien yang
mengalami nyeri tidak akan selalu memperlihatkan tanda-tanda fisik
(Potter dan Perry, 2006).
3.
Rencana Tindakan Keperawatan
Penentuan tujuan rencana tindakan dan kriteria hasil menujukkan
hal yang akan dilakukan pasien, kapan akan melakukan, dan sejauh mana
hal itu dapat dilakuakan Seharusnya penentuan kriteria hasil berpedoman
pada prinsip SMART (Specific artinya tujuan tidak menimbulkan arti
ganda, Measureable artinya tujuan harus dapat diukur,
Achievable
artinya tujuan harus dapat dicapai, Rational artinya tujuan harus dapat
dipertanggungjabkan
secara
ilmiah,
Time
artinya
tujuan
harus
mempunyai batas waktu yang jelas) (Nursalam, 2011).
Perencanaan tindakan keperawatan pada kasus ini didasarkan pada
tujuan intervensi pada masalah keperawatan dengan kasus nyeri, yaitu
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
pasien dapat mengontrol nyeri yang dirasakan, dengan kriteria hasil
pasien melaporkan bahwa adanya penurunan nyeri, melaporkan adanya
peningkatan rasa nyaman (Prasetyo, 2010), skala nyeri berkurang
menjadi 4 dan pasien tidak merasakan nyeri baik saat bergerak maupun
menelan. Penentuan skala nyeri ini menggunakan skala nyeri Hayward
27
yaitu dengan skala longitudinal yang terdiri dari angka 0 sampai 10
(Mubarak 2007).
Intervensi yang seharusnya dilakukan pada kasus Ny.W, yang
pertama adalah monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi
dan suhu) tanda-tanda vital dalam batas normal karena pemeriksaan
tanda vital merupakan suatu cara untuk mendeteksi adanya perubahan
sistem tubuh. Adanya perubahan tanda vital mempunyai nilai sangat
penting pada fungsi tubuh. Perubahan pada suhu tubuh menunjukkan
perubahan keadaan metabolisme dalam tubuh. Denyut nadi dapat
menunjukan perubahan pada sistem kardiovaskuler, frekuensi pernafasan
dapat menunjukkan perubahan fungsi pernafasan. Tindakan mengukur
tanda vital tidak hanya merupakan kegiatan rutin tetapi juga merupakan
tindakan pengawasan terhadap gangguan dan perubahan sistem tubuh
(Hidayat, 2004)
Kedua kaji ulang karakteristik nyeri PQRST, hal ini dilakukan
dengan rasional untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan
merupakan indikator secara dini untuk dapat memberikan tindakan
selanjutnya. Pada kasus Ny.W, observasi pada intervensi yang dilakukan
yaitu kaji karakteristik nyeri dengan rasional dapat menentukan terapi
yang akan dilakukan (Jitowiyono 2010).
Relaksasi dan imajinasi
terbimbing efektif mengurangi nyeri,
yakni dengan meningkatkan perasaan kontrol, mengurangi perasaan tidak
berdaya dan putus asa, menjadi metode pengalih yang menenangkan,
28
serta menganggu siklus nyeri dan ansietas Menurut Mubarak, 2007. Pada
Ny.W, penulis memberikan rencana tindakan keperawatan ajarkan teknik
relaksasi (nafas dalam) atau distraksi dengan rasional pernafasan yang
dalam dapat menghirup oksigen secara adekuat sehingga otot-otot
menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri (Jitowiyono,
2010).
Untuk menghilangkan nyeri dilakukan secara agresif salah satunya
denga pemberian obat sesuai jadwal pada periode pasca operasi (
Mubarak, 2007). Analgesik bertujuan untuk menganggu atau memblok
transmisi stimulus nyeri agar terjadi perubahan persepsi dengan cara
mengurangi kortikel terhadap nyeri (Riyadi, 2012). Analgesik juga
merupakan metode yang paling umum untuk mengatasi nyeri, ketorolac
merupakan agens analgesik
yang kemanjuranya dapat dibandingkan
dengan morfin (Potter dan perry, 2006). Pada kasus Ny.W, penulis
memberikan rencana tindakan keperawatan yaitu kolaborasi dengan tim
medis lain pemberian analgesik ketorolac dengan rasional untuk dapat
menghilangkan
gejala
pasti
sebagai
profilaksis
untuk
dapat
menghilangkan rasa nyeri (apabila sudah mengetahui gejala pasti).
4.
Implementasi
Implementasi adalah tahap melakukan rencana yang telah dibuat
pada pasien. Adapun kegiatan yang ada dalam tahap imlementasi
meliputi : pengkajian ulang, memperbaharui data dasar, meninjau dan
29
merevisi rencana asuhan yang telah dibuat, melaksanakan intervensi
keperawatan yang telah diberikan (Deswani, 2009).
Tipe implementasi berdasarkan tujuan dokumentasi adalah
implementasi terapeutik yaitu dokumentasi ini ditunjukan untuk
mengurangi atau meringankan masalah pasien, mencegah komplikasi,
dan mepertahankan kesehatan dan tingkat paling tinggi yang mungkin
dapat dicapai setiap individu, terdiri atas dua jenis yang pertama adalah
tindakan keperawatan yang merupakan wewenang mandiri perawat, yang
kedua adalah tindakan kolaborasi, merupakan tindakan keperawatan yang
dilakukan oleh perawat dengan berkolaborasi dengan medis atau tim
kesehatan lain. Selanjutnya adalah implementasi survai merupakan
proses yang membutuhkan ketajaman perawat untuk mengobservasi dan
mengukur, sehingga evaluasi yang akurat dari perkembangan status
pasien dapat dinilai (Deswani, 2009). Pada kasus Ny.W memerlukan
implementasi terapeutik karena membutuhkan tindakan baik keperawatan
maupun kolaborasi.
Tindakan keperawatan yang dilakukan penulis secara umum
merupakan implementasi dari rencana keperawatan yang telah disusun,
namun ada beberapa perbedaan tindakan yang dilakukan disetiap harinya,
misalnya tindakan keperawatan pada hari pertama tidak sepenuhnya
sesuai dengan rencana tindakan yang telah ditentukan. Hal ini
dikarenakan tindakan keperawatan dilakukan sebagai tahap awal dalam
menangani kasus.
30
Implementasi pada Ny.W, dapat dilakukan penulis sesuai rencana
tindakan keperawatan yang ada. Saat melakukan tindakan keperawatan,
penulis tidak mengalami kesulitan karena pasien kooperatif. Namun ada
beberapa perbedaan tindakan yang dilakukan disetiap harinya, misalnya
tindakan keperawatan pada hari pertama tidak sepenuhnya sesuai dengan
rencana tindakan yang telah ditentukan. Hal ini dikarenakan tindakan
keperawatan dilakukan sebagai tahap awal dalam menangani kasus.
Tindakan yang dilakukan antara lain,ada beberapa tindakan keperawatan
yang dilakukan penulis antara lain mengkaji ulang karekteristik. Data
karakteristik nyeri digunakan untuk mengetahui kapan harus melakukan
intervensi sebelum terjadi atau memperburuk nyeri dan membentuk
pengertian pola nyeri serta terapi yang dilakukan (Potter dan Perry,
2006). memberikan posisi semi fowler, posisi semi fowler yang diberikan
perawat bertujuan untuk menentukan apakan pasien mampu mentoleransi
posisi yang diberikan perawat (Potter dan Perry, 2006). Mengajarkan
relaksasi nafas dalam, relaksasi ini bisa melatih pasien melakukan nafas
dalam agar pernafasan terkontrol, relaksasi ini menggunakan diafragma
sehingga memungkinkan abdomen terangkat perlahan dan dada
mengembang penuh, saat pasien melakukan pola pernafasan yang teratur
kemudian perawat mengarahkan pasien melokalisasi daerah yang
mengalami ketegangan otot sehingga dapat melepaskan nyeri yang
dialami pasien (Potter dan Perry, 2006).
31
Tindakan pada hari kedua merupakan implementasi penuh dari
intervensi yang sudah disusun dan merupakan rencana tindak lanjut dari
hasil evaluasi pada hari pertama. Tindakan yang dilakukan antara lain
mengkaji ulang karakteristik nyeri, hal ini diperlukan untuk mengetahui
respon pasien terhadap terapi dan intervensi yang diberikan. Memberikan
obat analgetik : Ketorolac 30 miligram yang berisi ketorolac injeksi 10
miligram atau 30 miligram per milliliter, diindikasikan untuk
penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut derajat sedang
sampai berat segera setelah operasi (ISO, 2010).
Tindakan pada hari ketiga merupakan bagian dari rencana tindak
lanjut dari hasil evaluasi pada hari kedua. Tindakan yang dilakukan
hampir sama dengan hari kedua yaitu, mengkaji ulang karakteristik nyeri
pasien, memberikan posisi semi fowler, mengajarkan relaksasi nafas
dalam, memberikan obat analgentik : Ketorolac 30 miligram, membantu
klien untuk melakukan teknik relaksasi dan menganjurkan klien untuk
beristirahat. Membantu klien untuk melakukan teknik relaksasi
diperlukan untuk mengurangi nyeri klien. Teknik relaksasi pada seluruh
tubuh memakan waktu sekitar 15 menit. Pasien memberi perhatian pada
tubuh, memperlihatkan daerah ketegangan, daerah yang tegang
digantikan dengan rasa hangat dan relaksasi. Beberapa pasien lebih rileks
dengan mata yang tertutup (Potter dan Perry, 2006).
32
5.
Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan, namun
evaluasi juga dapat dilakukan pada setiap tahap dari proses keperawatan
(Deswani, 2009). Evaluasi pada proses keperawatan meliputi kegiatan
mengukur pencapaian tujuan pasien dan menentukan keputusan dengan
cara membandingkan data yang terkumpul dengan tujuan dan pencapaian
tujuan (Nursalam, 2011).
Evaluasi keperawatan dilakukan dengan cara pendekatan pada
SOAP yaitu S (Subyektif) : data subyektif yaitu data yang diutarakan
pasien dan pandangannya terhadap data tersebut, O (Obyektif) : Data
obyektif yaitu data yang didapat dari hasil observasi perawat, termasuk
tanda-tanda klinik dan fakta yang berhubungan dengan penyakit pasien,
A (Analisis) : analisa atau kesimpulan dari data subyektif dan data
obyektif, P (Perencanaan) : yaitu pengembangan rencana segera atau
yang akan datang untuk mencapai status kesehatan pasien yang optimal
(Hutahaean, 2010).
Evaluasi pada Ny.W, dilakukan dengan metode SOAP. Pada
evaluasi hari pertama pengelolaan, penulis belum mampu mengatasi
masalah keperawatan gangguan rasa nyaman nyeri karena masa
penyembuhan pasien masih memerlukan waktu dan karena keterbatasan
waktu penulis tidak dapat mengobservasi pasien selama 24 jam sehingga
rencana tindakan keperawatan dilanjutkan pada hari kedua kelolaan
penulis tanggal 26 April 2013 atau hari ke-II post-operasi. Sedangkan
33
pada evaluasi hari kedua pengelolaan, pasien mengatakan masih
merasakan nyeri walaupun skala nyeri berkurang. Ini menandakan
adanya masalah keperawatan gangguan rasa nyaman nyeri belum teratasi
oleh karena belum sesuai dengan kriteria hasil yang telah ditetapkan oleh
penulis sehingga intervensi perlu dilanjutkan. Kemudian tindakan
keperawatan dilanjutkan pada hari ketiga kelolaan penulis tanggal 27
April 2013 atau hari ke-III post-operasi. Pada evaluasi hari ketiga
pengelolaan, pasien mengatakan pasien mengatakan nyeri skala nyeri
berkurang menjadi 4 (empat). Ini menandakan adanya masalah
keperawatan gangguan rasa nyaman nyeri teratasi oleh karena masalah
pasien sudah sesuai dengan kriteria hasil yang telah ditetapkan oleh
penulis sehingga intervensi dioptimalkan.
B. Simpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a.
Pengkajian tanggal 25 April 2013 pada Ny. W dengan gangguan rasa
nyaman nyeri pada pasien post operasi tiroidektomi atas indikasi
Struma Nodusa Non Toksik dengan hasil pengkajian data subyektif
yang didapatkan Provocative = nyeri setelah operasi,Quality = nyeri
terasa seperti ditusuk-tusuk, region = nyeri terasa di leher tepatnya
dikelenjar tyroid, scale = skala nyeri 7, Time = nyeri timbul 2 sampai
3 menit terutama saat bergerak dan menelan, data obyektif klien
34
tampak meringis menahan sakit, pasien juga takut bergerak karena
merasakan nyeri.
b.
Diagnosa yang muncul pada kasus Ny.W adalah gangguan rasa
nyaman nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik (pembedahan
tyroidektomi)
c.
Rencana keperawatan pada Ny.W, dengan prioritas diagnosa
gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik
(pembedahan tyroidektomi) pada Ny. W penulis merencanakan
tindakan keperawatan dengan tujuan, setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri dapat berkurang
dari 7 menjadi 4, ekspresi wajah pasien tampak rileks. Sehingga
penulis
menyusun
rencana
keperawatan
yaitu
kaji
ulang
karakteristik nyeri (penyebab nyeri, kualitas nyeri, tempat/bagian
yang dirasakan nyeri, skala nyeri, waktu terjadinya nyeri), rasional
untuk membantu mengevaluasi derajat ketidaknyamanan dan
keefektifan analgesik. Ajarkan teknik relaksasi seperti nafas dalam
dan tehnik distraksi seperti membaca buku atau membayangkan
hal-hal yang indah-indah, dengan rasional untuk membantu
mengarahkan kembali perhatian klien dan untuk melokalisasi otototot. Berikan posisi yang nyaman (semifowler), dengan rasional
untuk mengurangi tegangan pada insisi dan membantu mengurangi
nyeri serta mengurangi reflek batuk pada pasien. Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian analgesik : ketorolak 30 miligram,
35
dengan rasional untuk mengurangi atau mengatasi nyeri dengan
tindakan farmakologi.
d.
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada Ny.W, selama
kelolaan pada tanggal 25 sampai 27 april 2013 merupakan
implementasi dari rencana keperawatan yang telah disusun, yaitu
mengkaji ulang karakteristik nyeri, mengajarkan teknik relaksasi
seperti nafas dalam dan teknik distraksi seperti membaca buku atau
membayangkan hal-hal yang indah-indah, memberikan posisi yang
nyaman (semifowler), melakukan kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian analgesik : ketorolak 30 miligram.
e.
Evaluasi terhadap keberhasilan tindakan telah dilakukan per hari
dengan hasil evaluasi pada Ny.W, yaitu dengan menggunakan
metode SOAP yang hasilnya adalah, subyektif : nyeri setelah
operasi, Provocative = nyeri setelah operasi, Quality = nyeri terasa
seperti cenut-cenut, Region = nyeri terasa di leher tepatnya dikenjar
tyroid, Scale = skala nyeri 4, Time = nyeri timbul 2 sampai 3 menit
terutama saat begerak dan menelan, obyektif : ekspresi wajah rileks,
pasien terlihat nyaman Analysis = masalah teratasi, Planning :
intervensi dipertahankan antara lain, berikan posisi yang nyaman,
ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam, kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian analgesik.: ketorolac 30 miligram.
f.
Analisa terhadap kondisi nyeri Ny.W, setelah dilakukan tindakan
keperawatan 3 hari kelolaan didapatkan kondisi sebagai beikut
36
pada pada hari pertama pasien mengatakan nyeri karena setelah
operasi, rasanya seperti ditusuk-tusuk, nyeri terasa leher tepatnya
dikelenjar tyroid, dengan skala nyeri 7, dan nyeri timbul 2 sampai 3
menit terutama saat bergerak dan menelan dan pada hari kedua
kelolaan skala nyeri sudah mulai berkurang menjadi 6 tetapi pasien
masih mrasakan nyeri, ekspresi wajah pasien tampak meringis Pada
hari ketiga kelolaan skala nyeri pasien sudah berkurang menjadi 4
dan ini sesuai kriteria hasil, dan ekspresi wajah rileks, pasien
terlihat nyaman kemudian intervensi dipertahankan.
2. Saran
a. Bagi instansi pelayanan kesehatan (Rumah Sakit)
Sebaiknya rumah sakit dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
baik serta mampu menyediakan fasilitas atau sarana dan prasarana
yang memadai yang dapat membantu kesembuhan pasien sehingga
dapat meningkatkan mutu pelayanan yang optimal pada umumnya
dan pada pasien dengan struma nodusa non toksik (SNNT).
b. Bagi Profesi Keperawatan
Sebaiknya para perawat memiliki tanggung jawab dan keterampilan
yang baik dalam memberikan asuhan keperawatan serta mampu
menjalin kerja sama dengan tim kesehatan lain maupun keluarga
pasien, sebab peran perawat, tim kesehatan lain, dan keluarga
sangatlah besar dalam membantu kesembuhan pasien serta
memenuhi kebutuhan dasarnya.
37
c. Bagi Institusi Pendidikan
Sebaiknya institusi mampu meningkatkan mutu pelayanan pendidikan
yang lebih berkualitas sehingga dapat menghasilkan perawat yang
profesional, terampil, inovatif dan bermutu dalam memberikan asuhan
keperawatan secara komprehensif berdasarkan ilmu dan kode etik
keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Baradero Mary dan Marry Wilfrid Dayrit, Yokobus Siswadi. 2009. Seri Asuhan
Keperawatan Klien Gangguan Endokrin.Jakarta : EGC
Deswani. 2009. Proses keperawatan dan Berpikir Kritis. Jakarta : Salemba
Medika
Gatie, Asih Luh. 2006. Validasi Total Goitre Rate (TGR) Berdasarkan palpasi
Tehadap Ultrasonografi Tiroid Serta Kandungan Yodium Garam dan Air di
Kecamatan Simprong Kabupaten Brebes.
http://eprints.undip.ac.id/15388/1/Asih_Luhgatie.pdf. 2012 diakses tanggal 6
Mei 2013
Grace Pierce A dan Borley Neil R. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Jakarta :
Erlangga Greenstein Ben, dan Diana F Wood. 2007. At a Glance Sistem
Endokrin. Jakarta : Erlangga
Hutahaean, Ns Serri. 2010. Konsep dan Dokumentasi Proses Keperawatan.
Jakarta : Perpustakaan Nasional Katalok Dalam Terbitan (KDT)
Hidayat, A Aziz Alimul. 2012. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi
Konsep dan ProsesKeperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Hidayat, A Aziz Alimul dan Musrifatul Uliyah. 2004. Buku Saku Pratikum
Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EGC
ISO (Informasi Spesialite Obat). 2010. ISO Indonesia: Penerbit Ikatan Apoteker
Indonesia. Jakarta : PT. ISFI
Jitowiyono Sugeng, dan Weni Kristiyanasari. 2010. Asuhan Keperawatan Post
Operasi : Dengan Pendekatan Nanda, Nic, Noc. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Judha Mohamad, Sudarti, dan Fauziah Afroh. 2012. Teori pengukuran Nyeri dan
Nyeri persalina. Yogyakarta : Nuha Medika.
Mansjoer Arif dan kuspuji Triyanti, dkk. 2004. Kapita Selekta Kedokteran.
Jakarta : Media Aesculapius.
Mubarak,Wahit Iqbal dan Chayatin Nurul. 2007. Buku Ajar Kebutuhan Dasar
Manusia :Teori dan Aplikasi Dalam Pratik. Jakarta : EGC
Nanda Internasional. 2010. Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi.
Jakarta : EHGC
Nursalam, 2011. Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Pratik.
Jakarta : Salemba Medika
Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses,
dan Pratik. Edisi 4. Jakarta EGC
Prasetyo, Sigit Nian. 2010. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Edisi 1.
Yogyakarta : Graha Ilmu
Riyadi Sujono, dan Harmoko. 2012. Standar Operating Procedure Dalam Pratik
Klinik Kegawatan Dasar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Sjamsuhidayat R, Wim de jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah.Jakarta:EGC
Thaha, Abdul Rozak, dkk. 2003. Analisis Faktor ResikoCoastal Goiter.
http://www.scribd.com/doc/97619857/jurnal12. diakses 10 mei 2013
Zukarnai, Agus. 2006. Peta Prevelensi Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
(GAKY).
http://www.jurnalkesmas.com/index.php/kesmas/article/download/53/42
Download