BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Konsumtif terhadap Produk

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Perilaku Konsumtif terhadap Produk Kosmetik
1. Pengertian Perilaku Konsumtif
Solomon (2007) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai studi
mengenai serangkaian proses yang dilakukan individu mulai dari memilih,
melakukan pembelian dan menggunakan produk/ ide/ jasa untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginannya. Istilah perilaku konsumen
sangat luas mencakup perencanaan, pengambilan keputusan, pembelian,
penggunaan produk hingga perilaku konsumen paska pembelian.
Adapun perilaku konsumtif didefinisikan sebagai perilaku membeli
yang berlebihan sebagai usaha seseorang untuk memperoleh kesenangan
dan kebahagian yang hanya bersifat semu (Fromm, 2008b). Fromm
(2008b) menjelaskan seseorang dikatakan konsumtif apabila ia memiliki
barang yang lebih disebabkan karena pertimbangan status. Seseorang yang
konsumtif membeli barang yang diinginkan, bukan yang dibutuhkan,
secara berlebihan dan tidak wajar untuk menunjukkan status dirinya.
Menurut Sumartono (2002), perilaku konsumtif adalah suatu
perilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan rasional melainkan
karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf tidak rasional lagi.
Perilaku konsumtif melekat pada seseorang bila orang tersebut membeli
sesuatu di luar kebutuhan (need) atau pembelian lebih didasarkan pada
faktor keinginan (want).
Schiffman dan Kanuk (2004) mengatakan bahwa, konsumen
dipengaruhi motif emosional seperti hal-hal yang bersifat pribadi atau
subyektif seperti status, harga diri, perasaan cinta dan lain sebagainya.
Konsumen
yang
dipengaruhi
oleh
motif
emosional
tidak
mempertimbangkan apakah barang yang dibelinya sesuai dengan dirinya,
sesuai dengan kebutuhannya, sesuai dengan kemampuannya, dan sesuai
dengan standar atau kualitas yang diharapkannya. Hal inilah yang
menyebabkan individu dapat berperilaku konsumtif.
Blackwell, Miniard dan Engel (2001) menyatakan bahwa, individu
yang konsumtif seringkali membeli barang yang tidak dibutuhkan. Hal
tersebut dikarenakan kurangnya kendali yang dimiliki individu dalam
perilakunya. Individu melakukan pembelian didasarkan oleh keinginannya
untuk meningkatkan harga diri.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, perilaku
konsumtif adalah perilaku membeli barang secara berlebihan untuk
memuaskan keinginan dan menunjukkan status.
2. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif
Perilaku konsumtif dalam membeli barang dipengaruhi oleh banyak
faktor. Perreault dan McCarthy (2006) menyatakan faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku membeli antara lain faktor psikologis (motivasi,
persepsi, belajar, sikap dan kepribadian), pengaruh sosial (keluarga, kelas
sosial, kelompok referensi, dan budaya) dan situasi pembelian (alasan
membeli, waktu pembelian, dan hal yang menyertai).
Secara garis besar, faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif
dapat dibedakan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal
(Swastha & Handoko, 1997). Faktor internal meliputi pengaruh individual
dan faktor psikologis, dan faktor eksternal meliputi faktor pengaruh
lingkungan dan budaya (Engel, Blackwell, & Miniard, 1995). Berikut
penjelasan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku
konsumtif:
a. Faktor internal (Faktor individual dan psikologis)
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri
individu meliputi perbedaan individual dan faktor psikologis. Faktor
internal meliputi:
1) Motivasi
Motivasi merupakan dorongan bagi individu untuk melakukan
sesuatu. Ada beragam hal yang mendorong individu dalam
melakukan sesuatu antara lain kebutuhan individu, ekspektansi
terhadap hasil dari perilaku, dan sebagainya. Motivasi yang dimiliki
oleh individu berpengaruh dalam perilaku konsumtif yang individu
tunjukkan.
2) Kepribadian
Kepribadian merupakan seperangkat trait yang dimiliki oleh
individu dan bersifat menetap. Kepribadian dapat menentukan pola
perilaku seseorang. Tipe kepribadian tertentu dapat menjukkan
kecenderungan individu dalam bertindak dan mengambil keputusan.
3) Konsep diri
Konsep diri merupakan pandangan individu mengenai dirinya.
Konsep diri, secara umum diatur oleh dua prinsip, yaitu keinginan
untuk mencapai konsistensi dan keinginan untuk meningkatkan
harga diri (self-esteem). Konsep diri memegang peranan penting
dalam menentukan tindakan individu dalam berbagai situasi.
4) Pengalaman belajar
Pembelian merupakan suatu rangkaian proses belajar. Proses
pembelajaran memberikan pengetahuan kepada individu terhadap
produk. Kepuasaan individu terhadap produk dianggap sebagai
penguatan atas perilaku membeli yang dilakukan. Pembelajaran
mengarahkan kepada pembelian yang berulang dan kebiasaan.
5) Gaya hidup
Pengertian gaya hidup adalah sebagai cara hidup yang dimiliki
individu meliputi hal-hal yang individu lakukan dan anggap penting
dalam kehidupannya. Gaya hidup berkembang pada beberapa
dimensi yaitu aktivitas, minat dan opini. Gaya hidup seseorang akan
berpengaruh pada pola konsumsi yang dilakukannya.
6) Keyakinan dan sikap (beliefs dan attitudes)
Keyakinan dapat di definisikan sebagai penilaian subjektif
individu mengenai hubungan dari dua atau lebih objek (Blackwell,
dkk; 2001). Keyakinan terhadap objek yang dimiliki individu
diperoleh dari pengetahuan individu terhadap objek tersebut.
Keyakinan seringkali dikaitkan pula dengan sikap (penilaian suka
atau tidak suka) individu terhadap suatu hal.
Sikap yang dimiliki individu akan mempengaruhi keputusan
individu dalam perilaku membeli. Sikap yang dimiliki individu dapat
menjadi prediktor terhadap intensi individu melakukan pembelian.
Sikap mencakup tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan konatif.
Pembentukan sikap konsumen menunjukkan hubungan antara
kepercayaan, sikap dan perilaku. Kepercayaan dan pengetahuan yang
dimiliki konsumen akan membentuk sikap konsumen. Sikap yang
dimiliki konsumen kemudian akan membentuk perilaku konsumen.
7) Persepsi dan pemrosesan informasi
Schiffman dan Kanuk (2004) mendefinisikan persepsi sebagai
proses pemberian makna terhadap stimulus meliputi seleksi,
organisasi dan interpretasi stimulus. Sumarwan (2014) menuliskan
lima tahap pemrosesan informasi yaitu pemaparan (exposure),
perhatian (attention), pemahaman (comprehension), penerimaan
(acceptance) dan retensi (retention). Persepsi bersama dengan
keterlibatan individu dan memori akan mempengaruhi pemrosesan
informasi yang terjadi pada individu. Pemrosesan individu menjadi
dasar pengambilan keputusan individu dalam perilaku konsumsi.
b. Faktor eksternal (Faktor lingkungan)
Lingkungan merupakan salah satu hal yang mempengaruhi
perilaku konsumen. Perbedaan lingkungan tempat individu tumbuh dan
tinggal akan mempengaruhi perilaku konsumtif yang ditunjukkan.
Adapun yang termasuk dalam faktor eksternal, antara lain:
1) Kebudayaan
Kebudayaan (Swastha dan Handoko, 1997) adalah simbol atau
fakta yang kompleks, yang diciptakan manusia, diturunkan dari
generasi ke generasi sebagai penentu dan pengatur perilaku manusia
dalam masyarakat yang ada. Budaya mempengaruhi keinginan
(needs) dan cara yang digunakan individu dalam memenuhi
kebutuhan tersebut (keputusan untuk melakukan pembelian).
Perbedaan budaya akan menunjukkan perilaku konsumen yang
berbeda pula (Blackwell, dkk., 2001).
2) Kelas sosial
Manusia merupakan makhluk sosial. Manusia hidup dalam
kelompok-kelompok.
Kelas
sosial
merupakan
salah
satu
pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada kesamaan nilai,
gaya hidup, kekayaan, status sosial, kekuasaan, kehormatan dan
pendidikan (Blackwell, dkk., 2001). Kelas sosial terkait erat dengan
daya beli dan perilaku membeli. Pada kelas sosial yang tinggi,
perilaku membeli didasarkan pada keinginan untuk menunjukkan
wibawa (prestige).
3) Kelompok referensi
Kelompok referensi (Mangkunegara, 2002) didefinisikan
sebagai suatu kelompok yang mempengaruhi sikap, pendapat, norma
dan perilaku konsumen. Pengaruh kelompok referensi antara lain
dalam hal pemilihan produk yang akan dikonsumsi oleh individu.
4) Situasi
Situasi pembelian dapat berpengaruh pada keputusan untuk
melakukan pembelian. Situasi-situasi yang mempengaruhi perilaku
membeli antara lain waktu, karakteristik toko, alasan pembelian,
suasana hati, dan situasi lingkungan sosial.
5) Keluarga
Keluarga dapat didefinisikan sebagai suatu unit masyarakat
terkecil yang perilakunya sangat mempengaruhi dan menentukan
dalam pengambilan keputusan membeli (Mangkunegara, 2002).
Keluarga menjadi sangat penting dalam perilaku konsumtif karena
keluarga adalah unit pemakai dan konsumsi untuk banyak produk.
Sebuah studi dilakukan oleh Enrico, Aron, dan Oktavia (2011)
mengenai faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif mahasiswa di
Jakarta, menunjukan faktor perilaku konsumtif antara lain:
a. Faktor memenuhi keinginan
Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas dalam
memenuhi keinginan. Saat satu keinginan terpenuhi maka keinginan
lainnya akan muncul. Hal tersebut menyebabkan perilaku konsumtif.
b. Faktor daya beli
Pada masa kanak-kanak, daya beli individu terbatas karena segala
kebutuhan sudah tersedia di rumah, sehingga konsumsi individu
sepenuhnya mengikuti konsumsi keluarga di rumah. Akan tetapi, saat
menadi mahasiswa, individu biasanya sudah mulai diberikan otonomi
untuk mengurus keuangan mereka sendiri. Daya beli yang tinggi akan
mempengaruhi perilaku konsumtif pada mahasiswa.
c. Faktor kegunaan produk
Kegunaan produk menjadi faktor dari pengambilan keputusan
konsumen dalam membeli produk. Individu yang konsumtif akan
mudah tergiur untuk membeli produk yang lain, walaupun produk lama
yang mereka gunakan masih berfungsi dengan baik.
d. Faktor status sosial
Perbedaan status sosial berkaitan dengan daya beli. Individu
dengan status sosial yang tinggi memiliki daya beli yang tinggi dan
cenderung membeli produk dengan harga yang tinggi. Produk dengan
harga tinggi dapat menunjukkan wibawa mereka.
e. Faktor gaya hidup keluarga
Pola konsumsi dalam keluarga akan berpengaruh pada pola
konsumsi yang ditunjukkan oleh mahasiswa.
3. Aspek-aspek Perilaku Konsumtif
Aspek-aspek perilaku konsumtif oleh Mangkunegara (2002) adalah:
a. Pemilikan produk
Seseorang yang sudah memiliki suatu barang akan cenderung
membeli sesuatu yang berkaitan dengan barang yang sudah dimiliki.
Hal tersebut mendorong terjadinya perilaku konsumtif.
b. Perbedaan individu
Perbedaan individu akan berpengaruh pada motif individu dalam
melakukan pembelian. Ada individu yang membeli karena kebutuhan.
Ada individu yang membeli karena ingin memperoleh kesenangan dari
perilaku pembelian tanpa mementingkan kegunaan produk.
c. Pengaruh pemasaran
Pengaruh pemasaran seperti display toko, iklan, promosi, diskon,
dan sebagainya mendorong individu untuk berperilaku konsumtif.
d. Pencarian informasi
Individu melakukan pembelian berdasarkan informasi yang
dimiliki individu terkait suatu produk.
Erich Fromm (2008a), membagi aspek perilaku konsumtif menjadi
empat aspek yaitu:
a. Pemenuhan keinginan
Pembelian dilakukan secara terus-menerus dan berlebihan, untuk
memuaskan keinginan. Pembelian dilakukan terus menerus, seringkali
disertai oleh keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lain (hadiah,
potongan harga, kepercayaan diri) sehingga rasa puas yang didapatkan
lebih besar.
b. Barang di luar jangkauan
Pembelian dilakukan tanpa pertimbangan rasional, tetapi lebih
pada pemenuhan keinginan. Barang-barang yang diinginkan seringkali
merupakan barang-barang di luar jangkauan. Individu berusaha untuk
membeli barang di luar jangkauan tersebut untuk menjaga eksistensi
dirinya.
c. Barang tidak produktif
Pembelian tidak didasari oleh tujuan yang rasional, tetapi lebih
didasari oleh motif emosional dan situasi yang meyertai saat pembelian.
Blackwell, dkk. (2001) meyatakan bahwa individu yang konsumtif
memiliki kontrol diri yang rendah yang menyebabkan dirinya membeli
barang yang tidak dibutuhkan. Barang yang dibeli seringkali tidak
produktif atau bersifat pemborosan karena keputusan individu bukan
keputusan yang rasional.
d. Status
Pembelian dilakukan atas dasar keinginan memperoleh status
tertentu. Erick Fromm (2008b) menyatakan bahwa terdapat perubahan
pandangan di masyarakat mengenai produk yang dikonsumsi.
Masyarakat saat ini memiliki pandangan bahwa “new is beautiful”.
Individu dalam menjaga eksistensinya perlu untuk senantiasa mengikuti
perkembangan dari trend yang ada. Barang-barang yang baru dianggap
lebih baik dan menarik daripada barang-barang yang lama. Barangbarang yang dimiliki individu merepresentasikan status yang dimiliki
individu tersebut dalam masyarakat.
Adapun Lina dan Rosyid (1997) menjabarkan aspek-aspek perilaku
konsumtif sebagai berikut:
a. Pembelian yang impulsif
Pembelian yang impulsif artinya pembelian yang dilakukan tanpa
rencana, meliputi pembelian yang di sugesti atau pembelian tanpa
rencana berdasarkan ide orang lain dan pembelian yang didasarkan
pada ingatan.
b. Pembelian yang tidak rasional
Pembelian yang dilakukan berdasarkan motif emosional, seperti
perasaan marah, cinta, gengsi, status sosial dan sebagainya.
c. Pembelian yang bersifat pemborosan
Pembelian yang mengeluarkan uang lebih besar daripada
pendapatannya yang digunakan untuk hal-hal yang kurang diperlukan.
Sumartono (2002) mengemukakan indikator terkait perilaku
konsumtif, yaitu:
a. Membeli produk karena iming-iming hadiah,
b. Membeli produk karena kemasan menarik,
c. Membeli produk demi menjaga penampilan dan gengsi,
d. Membeli produk atas pertimbangan harga,
e. Membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status,
f. Memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang
mengiklankan,
g. Munculnya penilaian bahwa membeli produk dengan harga mahal akan
menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi,
h. Mencoba lebih dari dua produk sejenis (merek berbeda).
Berdasarkan pemaparan, penulis memutuskan untuk menggunakan
aspek perilaku konsumtif dari Erick Fromm (2008a), yaitu pemenuhan
keinginan, barang di luar jangkauan, barang tidak produktif, dan status
dalam mengungkap perilaku konsumtif. Alasan pemilihan indikator
tersebut karena aspek perilaku konsumtif dari Erick Fromm (2008a)
memiliki keluasan cakupan dalam mengungkap perilaku konsumtif. Selain
itu, banyak penelitian lainnya mengenai perilaku konsumtif yang
menggunakan aspek perilaku konsumtif dari Erick Fromm sebagai
rujukan.
4. Produk Kosmetik
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 220 / Menkes / x / 76 tanggal 6
September 1976 tentang definisi kosmetik (dalam Wasitaatmadja, 1997),
menyatakan bahwa kosmetik adalah barang-barang yang bahan atau
campuran
bahannya
untuk
digosokkan,
dilekatkan,
dituangkan,
dipercikkan atau disemprotkan, dimasukkan, dipergunakan pada badan
atau bagian badan manusia dengan maksud untuk membersihkan,
memelihara, menambah daya tarik atau mengubah rupa, dan bukan
termasuk golongan obat. Wasitaatmadja
(1997)
definisi
tersebut
menunjukkan bahwa, kosmetik bukan satu obat yang dipakai untuk
diagnosis, pengobatan maupun pencegahan penyakit. Brauer EW dalam
bukunya Principles of Cosmetics for The Dermatologist menyebutkan
klasifikasi dari kosmetik, yaitu toiletries, skin care, make-up dan fragrance
(dalam Wasitaatmadja, 1997).
Poerwadarminta (dalam Ikhawati, 2005) berpendapat bahwa,
kosmetik mencakup berbagai alat kecantikan seperti bedak, cream, lotion
dan sebagainya yang berfungsi untuk memperindah kulit, rambut, dan
sebagainya. Kosmetik dapat menonjolkan kecantikan dan menutupi
kekurangan pada penampilan penggunanya sehingga meningkatkan rasa
percaya diri dan membuat penampilan lebih menarik.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa,
perilaku konsumtif terhadap produk kosmetik adalah perilaku membeli
berbagai alat kecantikan yang berfungsi untuk membersihkan, memelihara
dan menambah daya tarik, yang dilakukan secara berlebihan untuk
memuaskan keinginan dan menunjukkan status.
B. Stereotip Daya Tarik Fisik
1. Pengertian Stereotip
Stereotip adalah kecenderungan seseorang untuk mengembangkan
dan mempertahankan persepsi yang tetap dan tidak berubah mengenai
sekelompok
mengevaluasi
manusia
anggota
dan
menggunakan
kelompok
persepsi
tersebut
dengan
tersebut
untuk
mengabaikan
karakteristik individual yang unik (Sobur, 2011). Menurut Santrock (2012)
stereotip adalah sebuah generalisasi yang mencerminkan impresi dan
keyakinan kita terhadap beberapa karakteristik dari seseorang atau
kelompok. Stereotip digunakan untuk menunjukkan pendapat baik atau
buruk pada umumnya yang dipunyai seseorang tentang sekelompok orang
tertentu (Pareek, 1996 dalam Sobur, 2011).
Ashmore dan Del Boca (1979) mendefinisikan stereotip sebagai
suatu keyakinan mengenai sekumpulan atribut personal yang dimiliki
suatu kelompok. Adapun Stephan (1985) menyatakan stereotip adalah
sekumpulan trait yang diatribusikan kepada kelompok sosial (dalam
Scheneider, 2005). Trait yang diatribusikan tersebut dapat bersifat positif
maupun negatif (Allport, 1954 dalam Scheneider, 2005).
Secord dan Backman (1964) menyatakan bahwa, setidaknya ada tiga
karakteristik dari stereotip yaitu kategorisasi individu kedalam kelompok
tertentu, seperangkat trait yang diatribusikan kepada kelompok tertentu
dan ketidaksesuaian antara trait yang diatribusikan dengan trait sebenarnya
(dalam Schneider, 2005).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, stereotip
adalah keyakinan yang menetap mengenai trait/ atribut personal (baik
positif maupun negatif) dari suatu kelompok, yang dijadikan acuan dalam
mengevaluasi perilaku anggota dalam kelompok tersebut.
2. Pengertian Stereotip Daya Tarik Fisik (Physical Attractiveness
Stereotypes)
Konsep stereotip daya tarik fisik pertama kali diperkenalkan oleh
Dion, Berscheid, dan Walster pada tahun 1972 dan populer dengan istilah
what is beautiful is good stereotype. Stereotip daya tarik fisik adalah
keyakinan bahwa seseorang yang memiliki penampilan fisik menarik
diatribusikan akan memiliki trait yang lebih disukai oleh lingkungan sosial
dan diprediksi memiliki kehidupan yang lebih sukses daripada mereka
yang tidak menarik dalam segi fisik/ penampilan (Dion, dkk., 1972).
Schneider, Gruman dan Coutts (2005) menyatakan bahwa, daya tarik
fisik seseorang dapat mengubah persepsi kita akan kualitas karakter yang
dimiliki seseorang tersebut. Seseorang yang menarik diyakini akan lebih
bahagia, lebih hangat, lebih outgoing, lebih memiliki kemampuan
inteligensi,
lebih
dapat
dipercaya,
dan
diprediksi
lebih
sukses
dibandingkan dengan mereka yang tidak menarik (Eagly, dkk., 1991;
Faingold, 1992; Jackson, dkk., 1995 dalam Myers, 2010).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, stereotip
daya tarik fisik merupakan keyakinan bahwa individu yang memiliki
penampilan yang menarik diatribusikan memiliki trait dan kemampuan
sosial yang baik, sehingga lebih disukai oleh lingkungan dan diyakini
memiliki kehidupan yang lebih bahagia daripada individu yang
berpenampilan kurang/ tidak menarik.
3. Bias dari Stereotip Daya Tarik Fisik
Bias terhadap stereotip daya tarik fisik terjadi dalam berbagai bidang
kehidupan antara lain bias dalam bidang pekerjaan (Watkins & Johnson,
2000), bidang penyimpangan sosial (Agnew, 1984; Cavior, Hayes, &
Cavior, 1974; Cavior & Howard, 1973 dalam Schneider, 2005) dan bias
dalam hubungan interpersonal (Myers, 2010). Rohner dan Rasmussen
(2012) menyatakan bahwa, efek dari stereotip daya tarik fisik adalah
seseorang yang menarik akan memperoleh perlakuan yang lebih positif
daripada seseorang yang kurang menarik.
Pada bidang pekerjaan, Watkins dan Johnson (2000) menyebutkan
terdapat bukti empiris bahwa, daya tarik fisik berpengaruh pada
pengambilan keputusan dalam proses rekruitmen tenaga kerja. Individu
yang memiliki daya tarik fisik memiliki kemungkinan yang tinggi untuk
direkrut untuk mengisi sebuah posisi pekerjaan. Survai yang dilakukan
oleh Emma Leslie, editor kecantikan di escentual.com (dalam Amadea,
2016),
menggambarkan
bahwa
64
persen
wanita
akan
selalu
menggunakan make-up saat bekerja dan 98 persen mengatakan mereka
akan menggunakan make-up saat wawancara kerja. Selain itu, hasil survai
juga menunjukkan bahwa 49 persen dari atasan mengatakan riasan wajah
menjadi salah satu faktor utama dalam pekerjaan apalagi jika wanita
tersebut bekerja dalam bidang penjualan atau public relation. Solomon
(2007) menyebutkan bias stereotip daya tarik fisik menyebabkan
perbedaan gaji baik pada pria dan wanita. Seseorang yang memiliki
penampilan menarik dibayar 5% lebih tinggi daripada mereka yang
memiliki penampilan rata-rata.
Pada bidang penyimpangan sosial disebutkan bahwa, remaja yang
tidak menarik cenderung lebih sering terlibat dalam tindak kriminal dan
perilaku bermasalah di sekolah (Agnew, 1984; Cavior, Hayes, & Cavior,
1974; Cavior & Howard, 1973 dalam Schneider, 2005). Pada bidang
kesehatan mental, orang-orang menilai bahwa, individu yang menarik/
cantik
cenderung
lebih
sedikit
mengalami
gangguan
psikologis
dibandingkan mereka yang tidak menarik (Cash, kehr, Polyson &
Freeman, 1977; Jones, Hanson, & Philips, 1978 dalam Schneider, 2005).
Pada bidang hubungan interpersonal, seseorang yang memiliki fisik
menarik akan lebih mudah untuk dicintai dan disukai daripada mereka
yang tidak menarik (Myers, 2010). Kita mengasumsikan seseorang yang
menarik memiliki beberapa trait yang menyenangkan. Kita menduga
bahwa, seseorang yang menarik akan lebih hangat, lebih outgoing, lebih
dapat dipercaya, lebih memiliki kemampuan inteligensi, dan diprediksi
lebih bahagia serta lebih sukses dibandingkan dengan mereka yang tidak
menarik (Eagly, dkk., 1991; Faingold, 1992; Jackson, dkk., 1995 dalam
Myers, 2010). Sebuah survai online yang dilakukan oleh BBC, melibatkan
220.000 responden, menyebutkan bahwa, pria menilai aspek daya tarik
fisik sebagai aspek penting yang harus dimiliki pasangan, sedangkan
wanita lebih memilih kejujuran, selera humor, kebaikan hati dan
kemapanan dalam sebagai aspek penting yang harus dimiliki pasangan
(Lippa, 2007 dalam Myers, 2010).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, individu
yang memiliki daya tarik fisik akan memperoleh lebih banyak keuntungan
dalam kehidupannya dibandingkan individu yang berpenampilan rata-rata
atau kurang menarik. Hal tersebut disebabkan dari adanya bias terhadap
stereotip daya tarik fisik.
4. Dimensi Stereotip Daya Tarik Fisik
Cuddy, Fiske, Glick, dan Xu (2002) mengembangkan teori model
konten stereotip (stereotype content model- SCM). SCM memiliki dua
dimensi sebagai berikut:
a. Warmth
Dimensi warmth (dalam Cuddy, Fiske & Glick, 2008) meliputi
sifat-sifat hangat yang disukai oleh lingkungan sosial seperti sifat baik
(good-natured), dapat dipercaya (trustworthy), toleran (tolerant), ramah
(friendly), dan tulus (sincere).
b. Competence
Dimensi competence (dalam Cuddy, Fiske & Glick, 2008) meliputi
kompetensi yang diatribusikan dimiliki oleh kelompok/ individu seperti
kelompok atau individu memiliki kecakapan (capable), kecekatan
(skillful), kecerdasan (intelligence), dan percaya diri (confident).
Eagly, Ashmore, Makhijani, dan Longo (1991) melakukan studi
metaanalisis mengenai penelitian stereotip daya tarik fisik. Hasil dari studi
metaanalisis yang dilakukan menunjukkan enam dimensi dari stereotip
daya tarik fisik, yaitu:
a. Social competence,
b. Potency,
c. Adjustment,
d. Intellectual competence,
e. Integrity,
f. Concern for others.
Hasil metaanalisis terhadap keenam dimensi stereotip daya tarik fisik
menunjukkan bahwa, responden memiliki keyakinan terbesar terhadap
hubungan antara stereotip daya tarik fisik dan social competence
(kemampuan sosial). Seseorang yang memiliki daya tarik fisik
diatribusikan memiliki kemampuan sosial yang baik.
Feingold (1989, dalam Jackson, 1992) melakukan studi metaanalisis
serupa mengenai dimensi stereotip daya tarik fisik yang dikaitkan dengan
perbedaan gender. Dimensi stereotip daya tarik fisik dalam studi tersebut
meliputi:
a. Sexual warmth,
b. Social skill,
c. Sociability,
d. Dominance,
e. Mental health,
f. Modesty,
g. Intellegence,
h. Character.
Hasil dari studi metaanalisis menunjukkan bahwa, pengaruh
perbedaan gender terhadap dimensi stereotip daya tarik fisik, paling
terlihat pada dimensi sexual warmth dan social skill.
Berdasarkan pemaparan, penulis memutuskan untuk menggunakan
dimensi stereotip dari Cuddy, dkk. (2002). Dimensi stereotip tersebut
dipilih atas pertimbangan keluasan cakupan dimensi sehingga dapat
melihat konten stereotip daya tarik fisik dengan lebih lengkap.
C. Kesepian
1. Pengertian Kesepian
Menurut De Jong Gierveld (1987, dalam Vangelisti & Perlman,
2006), kesepian adalah pengalaman yang dirasakan individu akibat
kurangnya kualitas dalam suatu hubungan. Hal tersebut disebabkan oleh
sedikitnya hubungan yang ada dibandingkan dengan jumlah hubungan
yang diharapkan, atau tidak tercapainya kualitas keintiman hubungan yang
diharapkan. Burger (1995) menjelaskan bahwa, individu yang tidak
menginginkan teman bukanlah orang yang kesepian, melainkan individu
yang menginginkan teman tetapi tidak memilikinyalah yang disebut
kesepian (dalam Baron & Byrne, 2005).
Peplau dan Perlman (1981, dalam Vangelisti & Perlman, 2006)
mendefinisikan kesepian sebagai pengalaman tidak menyenangkan yang
timbul saat hubungan relasi sosial individu mengalami defisiensi baik
secara kuantitatif ataupun kualitatif. Peplau dan Perlman (1982, dalam
Rotenberg & Hymel, 2008) menyatakan bahwa, terdapat tiga karakteristik
dari kesepian. Pertama, kesepian merupakan hasil dari kurangnya
hubungan sosial. Kedua, kesepian merupakan pengalaman subjektif
individu, artinya individu bisa saja merasa kesepian dalam keramaian.
Ketiga,
kesepian
didefinisikan
sebagai
keadaan
emosional
yang
menyedihkan dan tidak menyenangkan, yang serupa dengan keadaan
emosional pada depresi, dysthmia, dan kecemasan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat didefinisikan bahwa, kesepian
merupakan sebuah pengalaman emosi yang tidak menyenangkan yang
timbul sebagai akibat dari defisiensi hubungan interpersonal baik secara
kuantitatif (jumlah hubungan) maupun kualitatif (kualitas hubungan).
2. Tipe-tipe Kesepian
Weiss (1973 dalam Vangelisti & Perlman, 2006) membedakan
kesepian menjadi dua, yaitu:
a. Kesepian emosional (emotional loneliness) adalah emosi yang
terbentuk sebagai akibat dari hilangnya figur yang lekat secara
emosional (pasangan, keluarga, atau sahabat).
b. Kesepian sosial (social loneliness) adalah kurangnya hubungan dengan
jaringan sosial yang luas (teman, rekan kerja, tetangga, dsb).
Adapun Young (1982, dalam Rotenberg & Hymel, 2008) membagi
kesepian kedalam dua kategori sebagai berikut:
a. Chronic loneliness memiliki karakteristik yaitu kurangnya kepuasan
terhadap hubungan sosial yang dirasakan selama 2 tahun atau lebih,
kemungkinan
melibatkan
defisit
kognisi
dan
perilaku
terkait
ketrampilan sosial dan hubungan interpersonal.
b. Temporary loneliness adalah emosi tidak mengenakan yang dirasakan
individu akibat menurunnya kualitas hubungan, yang dirasakan pada
situasi-situasi tertentu dengan durasi yang lebih pendek daripada
chronic loneliness.
3. Aspek-aspek Kesepian
Peplau dan Perlman (1982) mengungkapkan tiga aspek dari
kesepian, yaitu:
a. Need for intimacy
Aspek need for intimacy menyatakan bahwa, individu yang
merasa kesepian adalah individu yang membutuhkan hubungan yang
intim.
b. Cognitive process
Aspek cognitive process menyatakan bahwa, individu yang
merasa kesepian adalah individu yang memiliki persepsi bahwa
hubungan sosial yang dimilikinya tidak memberikan kepuasaan.
c. Social inforcement
Aspek social inforcement menyatakan bahwa, individu yang
kesepian adalah individu yang tidak puas karena hubungan sosial sosial
yang dimilikinya tidak memenuhi ekspektasi akan hubungan sosial
yang diharapkannya.
Russell (1996) melakukan evaluasi psikometri meliputi analisis
reliabilitas, validitas dan analisis faktor pada UCLA Loneliness Scale
(Version 3). Evaluasi psikometri dilakukan kepada mahasiswa, perawat,
guru dan orang lanjut usia. Skala UCLA Loneliness Scale (Version 3)
memiliki 20 pertanyaan dengan pilihan jawaban “tidak pernah”, “jarang”,
“kadang-kadang” dan “sering”. Adapun aspek-aspek dari UCLA
Loneliness Scale (Version 3) sebagai berikut:
a. Personality,
b. Social desirability,
c. Depression.
Berdasarkan pemaparan, peneliti menggunakan skala modifikasi dari
UCLA Loneliness Scale dari Russell (1996) untuk mengukur variabel
kesepian. Skala tersebut dipilih karena memilki konsistensi alat ukur yang
sangat bagus dengan nilai koefisien konsistensi internal yaitu antara 0, 89
sampai dengan 0, 94 dan nilai reliabilitas test-retest dalam jangka waktu
satu tahun yaitu 0, 73.
D. Remaja
1. Pengertian Remaja
Istilah adolescence (remaja) berasal dari kata latin (adolescere/
adolescentia) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”.
Istilah tersebut diperluas dengan mencakup kematangan mental,
emosional, sosial, dan fisik (dalam Hurlock, 2003). Piaget (1921, dalam
Hurlock, 2003) mendefinisikan masa remaja sebagai periode saat individu
mulai berintegrasi dengan masyarakat dewasa yang meliputi banyak aspek.
Masa remaja ditandai dengan masa puber dan adanya transfomasi
intelektual yang khas dari cara berpikir remaja yang memungkinkannya
untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa. Menurut
Santrock (2012), remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak
menuju masa dewasa yang meliputi perkembangan biologis, kognisi dan
sosial-emosional.
Batasan usia remaja untuk masyarakat Indonesia adalah dari umur 11
sampai 24 tahun dan belum menikah (Sarwono, 2003). Fase remaja
kemudian dibagi lagi menjadi tiga masa, yaitu masa remaja awal 12
sampai 15 tahun, masa remaja tengah 15 sampai 18 tahun, dan masa
remaja akhir 18 sampai 21 tahun (Monks, dkk, 2002).
Menurut Santrock (2012), secara umum masa remaja dibagi menjadi
dua periode yaitu masa remaja awal dan masa remaja akhir. Masa remaja
awal adalah periode perkembangan saat anak memasuki usia pertengahan
sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah pertama, termasuk masa
pubertas. Masa remaja akhir adalah periode perkembangan yang dimulai
pada usia 10 sampai 13 tahun sampai dengan maksimal 25 tahun.
2. Tugas Perkembangan Remaja
Tugas utama pada masa remaja adalah melakukan persiapan untuk
masa dewasa (Santrock, 2012). Havighurst (dalam Hurlock, 2003)
menyebutkan remaja memiliki tugas perkembangan, antara lain:
a. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya
baik pria maupun wanita,
b. Mencapai peran sosial pria dan wanita,
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuh secara efektif,
d. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggungjawab,
e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang
dewasa lainnya,
f. Mempersiapkan karier ekonomi,
g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga,
h. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk
berperilaku mengembangkan ideologi.
Pada masa remaja akhir, minat terhadap karir, hubungan pacaran,
dan pencarian identitas lebih terlihat daripada masa remaja awal. Menurut
Santrock (2012), usia 18 sampai 21 tahun merupakan masa transisi dari
remaja menuju masa dewasa yang disebut dengan emerging adulthood.
Jeffrey Arnett (2006, dalam Santrock 2012) menyebutkan 5 kunci
karakteristik pada masa emerging adulthood yaitu:
a. Eksplorasi Identitas, terutama dalam hal cinta dan pekerjaan.
b. Instability, perubahan tempat tinggal dan sekolah menyebabkan
ketidakstabilan dalam cinta, pekerjaan dan pendidikan.
c. Self focused. Remaja pada masa ini merasa memiliki otonomi penuh
untuk menjalankan kehidupannya sendiri sesuai dengan keinginannya,
sehingga terkadang berperilaku tidak patuh, tidak komitmen dan tidak
bertanggung jawab.
d. Perasaan bingung antara masih remaja atau sudah menjadi dewasa
sepenuhnya.
e. Usia yang penuh kemungkinan. Pada masa ini remaja optimis dengan
masa depannya serta memiliki kesempatan untuk mengubah hidupnya.
Hubungan interpersonal menjadi salah satu fokus utama pada masa
remaja akhir dalam mempersiapkan masa dewasa. Dewasa awal menurut
Erik Erickson (dalam Hurlock, 2003) memasuki tahap perkembangan yaitu
intimasi vs isolasi. Kegagalan dalam membangun hubungan interspersonal
yang baik pada masa remaja, akan mempengaruhi persiapan remaja untuk
berintegrasi dengan kehidupan dewasa. Kurangnya hubungan interpersonal
akan menyebabkan perasaan kesepian pada remaja yang berpotensi
berlanjut dengan keterasingan (isolasi) individu pada masa dewasa.
E. Hubungan antara Stereotip Daya Tarik Fisik dan Kesepian dengan
Perilaku Konsumtif terhadap Produk Kosmetik
1. Hubungan Stereotip Daya Tarik Fisik dengan Perilaku Konsumtif
terhadap Produk Kosmetik
Perilaku konsumtif adalah perilaku membeli barang secara
berlebihan untuk memuaskan keinginan dan menunjukkan status. Ada
beragam hal yang menjadi faktor terjadinya perilaku konsumtif, salah
satunya adalah faktor budaya. Budaya mempengaruhi kebutuhan (needs)
dan cara yang digunakan individu dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
Budaya mempengaruhi pengambilan keputusan terkait produk yang dibeli
dan dikonsumsi oleh individu dalam perilaku konsumen. Budaya
mencakup norma, nilai, simbol, ritual, dan keyakinan yang ada di
masyarakat dan diturunkan dari generasi ke generasi. Karz dan Barley
(dalam Schneider, 2005) menyatakan salah satu produk budaya adalah
stereotip. Stereotip yang ada dalam budaya mempengaruhi kategorisasi
diri dan kategorisasi sosial pada individu (Sarwono, 2003). Kategorisasi
terjadi dalam kognisi dan atas dasar kategorisasi kognitif tersebut individu
bereaksi atau berperilaku. Robby, Schot dan Visser (1989, dalam Sarwono,
2003) menyatakan individu melakukan kategorisasi untuk memperoleh
keuntungan bagi dirinya sendiri (economic self interest).
Salah satu dari stereotip yang ada dalam budaya masyarakat adalah
stereotip daya tarik fisik (physical attractiveness stereotypes). Stereotip
daya tarik fisik mengkategorisasikan individu atau kelompok sebagai
kelompok cantik atau jelek. Konsep stereotip daya tarik fisik pertama kali
diperkenalkan oleh Dion, Berscheid, dan Walster pada tahun 1972 dan
populer dengan istilah “what is beautiful is good” stereotype. Stereotip
daya tarik fisik merupakan keyakinan bahwa seseorang yang menarik akan
memiliki trait yang lebih disukai oleh lingkungan sosial dan diprediksi
memiliki kehidupan yang lebih sukses daripada mereka yang tidak
menarik dalam segi fisik/ penampilan (Dion, dkk., 1972). Rohner dan
Rasmussen (2012) menyatakan bahwa, efek dari stereotip daya tarik fisik
adalah seseorang yang menarik akan memperoleh perlakuan yang lebih
positif daripada seseorang yang kurang menarik. Seseorang yang memiliki
daya tarik fisik juga akan lebih disukai dan dicintai daripada mereka yang
kurang menarik (Myers, 2010).
Keyakinan yang dimiliki remaja terhadap stereotip daya tarik fisik
mendorong remaja putri untuk melakukan upaya-upaya untuk membuat
dirinya menjadi lebih menarik dan cantik. Menurut teori planned behavior
(Ajzen, 1991), kepercayaan yang dimiliki oleh individu terhadap suatu hal
akan membentuk sikap individu terhadap hal tersebut dan kemudian
mempengaruhi intensi perilaku individu. Berdasarkan teori tersebut, jika
seorang wanita percaya pada stereotip daya tarik fisik, wanita tersebut
akan membentuk sikap positif terhadap stereotip daya tarik fisik. Hal
tersebut kemudian akan membentuk intensi wanita untuk menjadikan diri
mereka cantik dan menarik, salah satu caranya adalah dengan membeli dan
menggunakan produk kosmetik. Remaja menggunakan produk kosmetik
untuk menonjolkan kecantikan dan menutupi kekurangan pada penampilan
penggunanya sehingga meningkatkan rasa percaya diri dan membuat
penampilan lebih menarik. Kosmetik mencakup berbagai alat kecantikan
seperti bedak, cream, lotion dan sebagainya yang berfungsi untuk
memperindah kulit, rambut, dan sebagainya. Penampilan yang menarik
akan membuat remaja putri memperoleh keuntungan akibat adanya bias
stereotip daya tarik fisik, sehingga memungkinkan remaja putri untuk
memiliki kehidupan yang lebih bahagia.
2. Hubungan antara Kesepian dengan Perilaku Konsumtif terhadap
Produk Kosmetik
Perilaku konsumtif adalah perilaku membeli barang secara
berlebihan untuk memuaskan keinginan dan menunjukkan status. Perilaku
konsumtif pada remaja, dapat didorong oleh keadaan emosional remaja.
Cuddy, Fiske dan Glick (2008) menyatakan bahwa, emosi dapat dilihat
sebagai mesin yang mendorong perilaku individu. Keadaan emosional
memegang peranan penting dalam perilaku konsumen. Keadaan emosional
individu berpengaruh pada pengambilan keputusan, persepsi, pemrosesan
informasi, pemilihan produk dan pengambilan resiko dalam perilaku
konsumen (Cryder, dkk., 2008; Brooks & Schweitzer, 2011; Agrawal,
dkk., 2012; Duclos, dkk., 2013; Achar, dkk., 2016).
Menurut Hall (dalam Santrock, 2012), masa remaja merupakan masa
terjadinya kekacauan emosi. Pada masa remaja individu mengalami
berbagai macam perubahan emosional yang disebabkan oleh perubahan
biologis dan perubahan situasi lingkungan remaja. Salah satu keadaan
emosional yang cenderung timbul pada masa remaja adalah perasaan
kesepian. Perasaaan kesepian yang dialami remaja merupakan manifestasi
dari kegagalan remaja dalam melaksanakan tugas perkembangan yaitu
untuk menjalin hubungan yang baru dan matang dengan teman sebaya.
Blackwell, Miniard dan Engel (2001) menjelaskan bahwa, keadaan
emosional individu dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dan
evaluasi terkait produk yang akan dibeli dan dikonsumsi oleh individu.
Produk yang seringkali digunakan untuk meningkatkan hubungan
interpersonal pada remaja putri adalah produk kosmetik. Menurut Maslow
(dalam
Solomon,
2007),
kesepian merupakan pengalaman
tidak
menyenangkan yang timbul akibat kurang terpenuhinya kebutuhan akan
cinta dan kasih sayang. Produk yang relevan dalam memenuhi kebutuhan
akan cinta dan kasih sayang yaitu produk fashion dan produk kosmetik
(dalam Solomon, 2007). Remaja putri menggunakan produk kosmetik
untuk meningkatkan daya tarik fisik. Daya tarik fisik merupakan prediktor
yang baik dalam memprediksi keberhasilan individu dalam menjalin
hubungan dengan teman sebaya, khusunya teman sebaya lawan jenis
(Berscheid, dkk., 1971; Krebs & Adinolfi, 1975; Reis, dkk., 1980, 1982;
Walters, dkk., 1966 dalam Myers 2010).
Perasaan kesepian meningkatkan motivasi remaja untuk berbelanja
(Davis & Seepersad, 2010). Remaja yang kesepian cenderung menjadikan
aktivitas berbelanja sebagai sarana untuk membeli barang-barang yang
dapat mengurangi perasaan negatif yang timbul dari kesepian. Fromm
(2008a) menyatakan individu yang kesepian mengurangi perasaan cemas
dan bosan yang dirasakan dengan melakukan pembelian yang berlebihan
dan berulang. Pada situasi pembelian yang memungkinkan adanya
evaluasi dari lingkungan, individu yang kesepian akan lebih memilih
produk-produk yang banyak dipilih oleh kelompok mayoritas atau sesuai
trend (Wang, dkk., 2012). Hal tersebut dilakukan untuk menghindari
evaluasi negatif dari lingkungan sosial. Individu yang kesepian
membelanjakan uang sebagai upaya untuk bisa sesuai dengan lingkungan
atau menjadi bagian dari lingkungan (Mead, dkk., 2010). Duclos, Wan dan
Jiang (2013) menyatakan individu yang kesepian lebih berani mengambil
resiko dalam membelanjakan uang mereka. Akibat dari hilangnya
dukungan sosial, individu yang kesepian, lebih banyak membelanjakan
uang untuk mendapatkan hal yang diinginkan di luar dari sistem sosial
(Duclos, dkk., 2013).
Berdasarkan penjelasan di atas, remaja putri yang kesepian
cenderung membeli produk kosmetik yang sedang trend secara berlebihan
dan berulang, untuk menghindari evaluasi negatif dari lingkungan dan
menjaga eksistensi mereka dalam lingkungan. Konsumsi produk kosmetik
merupakan upaya untuk mengurangi emosi negatif yang timbul akibat dari
kesepian dan upaya untuk bisa menjadi bagian dalam lingkungan.
3. Hubungan antara Stereotip Daya Tarik Fisik dan Kesepian dengan
Perilaku Konsumtif terhadap Produk Kosmetik
Perilaku konsumtif adalah perilaku membeli barang secara
berlebihan untuk memuaskan keinginan dan menunjukkan status. Ada
beragam hal yang menjadi faktor terjadinya perilaku konsumtif. Pada
penelitian ini, penulis berfokus pada faktor budaya yaitu stereotip daya
tarik fisik dan faktor emosional yaitu kesepian sebagai faktor yang
mempengaruhi perilaku konsumtif pada mahasiswi.
Budaya mempengaruhi kebutuhan (needs) dan cara yang digunakan
individu dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Budaya mempengaruhi
pengambilan keputusan terkait produk yang dibeli dan dikonsumsi oleh
individu dalam perilaku konsumen. Budaya mencakup norma, nilai,
simbol, ritual, dan keyakinan yang ada di masyarakat dan diturunkan dari
generasi ke generasi. Karz dan Barley (dalam Schneider, 2005)
menyatakan salah satu produk budaya adalah stereotip. Stereotip yang ada
dalam budaya mempengaruhi kategorisasi diri dan kategorisasi sosial pada
individu (Sarwono, 2003). Kategorisasi terjadi dalam kognisi dan atas
dasar kategorisasi kognitif tersebut individu bereaksi atau berperilaku.
Robby, Schot dan Visser (1989, dalam Sarwono, 2003) menyatakan
individu melakukan kategorisasi untuk memperoleh keuntungan bagi
dirinya sendiri (economic self interest).
Adapun keadaan emosional individu berpengaruh pada pengambilan
keputusan, persepsi, pemrosesan informasi, pemilihan produk dan
pengambilan resiko dalam perilaku konsumen (Cryder, dkk., 2008; Brooks
& Schweitzer, 2011; Agrawal, dkk., 2012; Duclos, dkk., 2013). Blackwell,
Miniard dan Engel (2001) menjelaskan bahwa, keadaan emosional
individu dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dan evaluasi terkait
produk yang akan dibeli dan dikonsumsi oleh individu.
Perilaku konsumen merupakan dinamika interaksi antara pengaruh
kesadaran, perilaku dan lingkungan, tempat manusia melakukan
pertukaran aspek-aspek lingkungan. Perilaku konsumen melibatkan
pemikiran (kognisi) dan perasaan (afeksi) serta tindakan (psikomotorik)
dalam proses konsumsi (Peter & Olson, 2013). Stereotip merupakan
bagian dari kognisi individu, sedangkan rasa kesepian merupakan bagian
dari afeksi individu. Stangor, Sullivan dan Ford (1991, dalam Nelson,
2009) menyatakan bahwa afeksi memprediksi perilaku sama baiknya
dengan kognisi memprediksi perilaku.
F. Kerangka Pemikiran
H2
Stereotip Daya Tarik Fisik
H1
Perilaku Konsumtif
terhadap Produk Kosmetik
Kesepian
H3
Bagan 1. Kerangka Pemikiran
Keterangan:
H1 : Hipotesis 1
H2 : Hipotesis 2
H3 : Hipotesis 3
G. Hipotesis
Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis mengajukan hipotesis
penelitian sebagai berikut:
1.
Ada hubungan antara stereotip daya tarik fisik dan kesepian dengan perilaku
konsumtif terhadap produk kosmetik pada mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret.
2.
Ada hubungan antara stereotip daya tarik fisik dengan perilaku konsumtif
terhadap produk kosmetik pada mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sebelas Maret.
3.
Ada hubungan antara kesepian dengan perilaku konsumtif terhadap produk
kosmetik pada mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Sebelas Maret.
Download