COPING PADA ANAK DALAM PERKAWINAN BEDA AGAMA DI

advertisement
COPING PADA ANAK DALAM PERKAWINAN BEDA AGAMA
DI KECAMATAN KALIBAWANG
ARTIKEL JURNAL
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta
untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
Putri Yanuariska Sari
NIM 10104241024
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
NOVEMBER 2014
Coping pada Anak .... (Putri Yanuariska Sari) 1
COPING PADA ANAK DALAM PERKAWINAN BEDA AGAMA DI
KECAMATAN KALIBAWANG
CHILDREN’S COPING
KALIBAWANG
OF
DIFFERENT
RELIGION
MARRIAGE
IN
KECAMATAN
Oleh: Putri Yanuariska Sari, Bimbingan dan Konseling/Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Universitas Negeri
Yogyakarta, [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan permasalahan psikologis yang dialami anak dalam perkawinan
beda agama dan mendeskrisipsikan gambaran coping anak dalam perkawinan beda agama. Pendekatan penelitian
yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian adalah tiga anak yang
memiliki orang tua beda agama di Kecamatan Kalibawang. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara
mendalam dan observasi. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara dan pedoman observasi. Uji keabsahan
data menggunakan teknik triangulasi. Teknik analisis yang digunakan adalah interactive model. Hasil penelitian
yang didapat yaitu permasalahan yang dihadapi adalah ingin orang tua memiliki agama yang sama dengan
agama anak, ingin merayakan hari raya bersama orang tua, tidak nyaman dengan perbedaan agama orang
tua, perkawinan orang tua belum diresmikan secara agama, tidak mampu mempelajari agama orang tua,
dan tidak mampu mendoakan orang tua. Hasil penelitian selanjutnya adalah coping yang digunakan pada anak
dalam perkawinan beda agama adalah coping yang berfokus pada emosi dan coping yang berfokus pada masalah.
Kata kunci: coping, perkawinan beda agama
Abstract
This research aimed to described children psychological problem and children’s coping of different
religion marriage. This research used qualitative approach through case study model. The research subjects were
three children who have different religion parents in Kalibawang. Data were collected by in depth interview and
observation guide. Data were validate using triangulation technique. Interactive model was used as a technique
analysis. The result showed that the most common problem that children face are children want their parents to
have same religion, children want to celebrate religion day together with their parents, children feel uncomfortable
with their parents that have a different religion, their parents’s marriage still not legalized, children can’t learn their
parents’s religion, and children can’t pray for their parents. It is also showed that children tent to used emotion
focused coping and problem focused coping.
Keywords: coping, inter-religion marriage
PENDAHULUAN
Mila Hikmatunnisa dan Bagus Takwin, 2007:
Perkawinan beda agama sudah menjadi
157). Pada dasarnya, di Indonesia perkawinan
gejala sosial yang biasa terjadi di lingkungan
beda agama tidak diperbolehkan. Sesuai dalam
masyarakat. Perkawinan beda agama adalah
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1
ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang
tentang Perkawinan, pada pasal 2 disebutkan
wanita yang masing-masing berbeda agamanya
bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan
dan mempertahankan perbedaannya itu sebagai
menurut hukum masing-masing agama dan
suami dan istri dengan tujuan membentuk rumah
kepercayaannya itu. Dengan demikian, lembaga
tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan
perkawinan yang ada di Indonesia tidak melayani
Ketuhanan yang Maha Esa (Handrianto dalam
pernikahan
beda
agama.
Namun
pada
kenyataannya banyak pasangan beda agama dapat
2 Jurnal Bimbingan dan Konseling Edisi 2 Tahun ke-4 2015
melangsungkan
perkawinan
tetap
berbeda agama. Selain itu anak akan merasa iri
masing-masing
ketika melihat orang lain menjalankan ibadah
dengan cara salah satu pasangan mengikuti
bersama kedua orangtuanya. Bossard & Boll
agama pasangannya hanya untuk melengkapi
(dalam Mila Hikmatunnisa dan Bagus Takwin,
syarat administratif. Setelah legalitas secara
2007: 158) menyebutkan bahwa anak dalam
hukum diperoleh maka pasangan suami istri
keluarga
tersebut akan menjalankan agamanya masing-
masalah yang lebih banyak dibandingkan anak
masing. Hal lain yang populer dilakukan oleh
pada pasangan seagama. Hal tersebut diakibatkan
selebriti di Indonesia adalah menikah di luar
oleh perbedaan yang anak lihat dari kedua orang
negeri yang tidak mempermasalahkan perbedaan
tua.
agama. Meskipun legalitas secara hukum dapat
menimbulkan stres pada anak. Sumber stres
dimanipulasi, namun permasalahan akan kembali
sendiri bisa berasal dari dalam (internal) maupun
muncul ketika menentukan agama anak. Setiap
dari luar (eksternal) individu itu sendiri. Oleh
pemeluk agama, pasti meyakini bahwa agamanya
karena itu diperlukan coping untuk menghadapi
yang paling benar sehingga memiliki keinginan
stres yang dialami individu tersebut. Coping
agar anaknya pun mengikuti agama yang dianut.
adalah usaha untuk mengontrol, mengurangi, atau
Tanpa disadari perbedaan agama kedua orangtua
belajar
baik secara langsung atau tidak langsung
menimbulkan stres (Feldman, 2012: 220). Coping
membawa kebingungan pada anak. Norma dan
sendiri dibedakan menjadi dua jenis yaitu
nilai pada anak diperoleh sejak kecil melalui
problem-focused coping atau coping berfocus
proses
dan
masalah dan emotion-focused coping atau coping
sosialisasi dari orang lain. Seperti yang kita tahu,
berfokus emosi. Aspek coping sendiri terdiri dari
agen sosialisasi pertama dalam perkembangan
keaktifan diri yaitu suatu tindakan untuk mencoba
anak adalah keluarga, terutama kedua orang tua.
menghilangkan penyebab stres atau memperbaiki
Peran orang tua untuk menanamkan nilai agama
akibatnya dengan cara langsung. Perencanaan
pada anak sangat penting. Tidak dapat dipungkiri
merupakan
bahwa perbedaan agama kedua orang tua akan
mengatasi penyebab stres antara lain dnegan
berdampak pada perkembangan psikologis anak.
membuat strategi untuk bertindak, memikirkan
Tekanan-tekanan secara psikologis maupun sosial
tantangan langkah upaya yang perlu diambil
akan dirasakan oleh anak, seperti anak menjadi
dalam menangani suatu masalah. Kontrol diri
kebingungan
dengan
yaitu individu membatasi keterlibatannya dalam
dilihat sehari-hari
aktifitas kompetisi atau persaingan dan tidak
mempertahankan
imitasi,
agamanya
indentifikasi,
ketika
mengalami
asimilasi
dihadapkan
perbedaan-perbedaan yang
sehingga
dengan
konflik
batin
berbeda
Permasalahan
untuk
agama
yang
memiliki
muncul
menoleransi
memikirkan
potensi
seringkali
ancaman
tentang
yang
bagaimana
untuk
bertindak buru-buru. Mencari dukungan sosial
memantapkan hati pada agama yang dianut.
yang bersifat instrumental yaitu sebagai nasihat,
Permasalahan lain yang sering muncul adalah
bantuan atau informasi. Mencari dukungan sosial
anak merasa selalu mendapat reaksi negatif ketika
yang bersifat emosional yaitu melalui dukungan
orang lain mengetahui bahwa kedua orang tuanya
moral, simpati atau pengertian. Penerimaan
Coping pada Anak .... (Putri Yanuariska Sari) 3
diartikan sesuatu yang penuh dengan stres dan
dimaksudkan
keadaan yang memaksanya untuk mengatasi
permasalahan psikologis yang dialami pada anak
masalah
adalah
dalam perkawinan beda agama dan bagaimana
religiusitas yaitu sikap individu menenangkan dan
gambaran coping pada anak dalam pasangan beda
meyelesaikan masalah secara keagamaan dalam
agama.
tersebut.
Yang
terakhir
untuk
mengetahui
apa
saja
hubungan secara vertikal kepada Tuhan.
Apabila coping yang dilakukan individu
tidak tepat dan efektif, maka dapat memberikan
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
dampak negatif pada individu tersebut. Anakanak
tersebut
secara
sadar
maupun
tidak
Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan jenis studi kasus.
sebenarnya sudah melakukan coping, misalnya
dengan
menghindari
orang
yang
memberi
Waktu dan Tempat Penelitian
penilaian negatif pada dirinya atau melampiaskan
Penelitian ini dilakukan pada bulan
pada hal-hal negatif, seperti merokok dan minum-
Agustus
minuman keras. Tanpa disadari strategi coping
Kalibawang Kapupaten Kulon Progo.
sampai
September
di
Kecamatan
yang dilakukan akan menimbulkan dampak
negatif sehingga muncul permasalahan baru.
Subjek Penelitian
Di sisi lain, masa dewasa dini merupakan
Subjek penelitian dipilih menggunakan
masa ketegsangan emosional. Pada masa dewasa
kriteria sebagai berikut: individu yang memiliki
dini, individu harus menyesuaikan diri dengan
orang tua berbeda agama dan tinggal dalam satu
permasalahan orang dewasa. Selain itu individu
rumah, individu yang sekarang dalam usia 18-25
dituntut
setiap
tahun, dan individu yang tinggal di Kecamatan
permasalahan yang dihadapi. Apabila individu
Kalibawang Kabupaten Kulonprogo. Hal ini
merasa tidak mampu menyelesaikan masalah
dikarenakan banyaknya anak yang memiliki
secara mandiri, maka akan timbul keresahan dan
orang
sering terganggu secara emosional. Individu akan
Berdasarkan
mengalami kebimbangan ketika akan meminta
didapat tiga subjek penelitian yaitu anak yang
bantuan kepada orang lain ketika dihadapkan
memiliki orang tua beda agama di Kecamatan
pada masalah. Hal ini dikarenakan individu takut
Kalibawang dan saat ini berusia 22 tahun.
mampu
menyelesaikan
tua
berbeda
kriteria
agama
di
Yogyakarta.
yang
telah
ditentukan
dianggap tidak mandiri. Pada anak yang memiliki
orang tua berbeda agama, tentu hal ini menjadi
Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
berat karena bagaimanapun anak membutuhkan
Teknik
pengumpulan
data
dalam
bantuan dalam menghadapi perbedaan agama
penelitian
yang terjadi pada orang tua.
mendalam dan observasi. Adapun instrumen
Dari berbagai paparan di atas, peneliti
berupa
perkawinan
observasi.
agama.
Penelitian
ini
menggunakan
wawancara
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
tertarik untuk meneliti coping pada anak dalam
beda
ini
pedoman
wawancara
dan
pedoman
4 Jurnal Bimbingan dan Konseling Edisi 2 Tahun ke-4 2015
pada anak yang memiliki orang tua berbeda
Uji Keabsahan Data
Uji
triangulasi
keabsahan
data.
data
Adapun
menggunakan
triangulasi
agama.
yang
Permasalahan
ekonomi
dimaksudkan
digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi
untuk mengetahui permasalahan yang muncul
sumber yaitu dengan mambandingkan data hasil
pada anak dalam perkawinan beda agama yang
wawancara
hasil
disebabkan oleh kondisi ekonomi keluarga.
wawancara lain yang dianggap dapat memberikan
Sesuai pendapat Yulihananto (2004: 22) yang
informasi yang akurat.
menyebutkan bahwa individu yang berada pada
dengan
subjek
terhadap
tingkat ekonomi rendah akan memiliki tingkat
stres yang lebih tinggi, terutama dengan masalah
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan
ekonomi. Ketiga subjek dalam penelitian ini
dalam penelitian ini yaitu interactive model yang
berada pada status ekonomi yang berkecupukan.
dibagi menjadi tiga tahap yaitu reduksi data,
Hal ini didukung dengan fasilitas yang dimiliki
penyajian data (display data), dan penarikan
subjek mulai dari HP yang lebih dari satu,
kesimpulan/ verifikasi.
kendaraan pribadi, laptop, TV serta menggunakan
pakaian yang bermerk. Oleh sebab itu subjek
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam penelitian ini, peneliti membahas
tentang permasalahan yang sering muncul pada
tidak pernah mengalami permasalahan yang
disebabkan oleh kondisi ekonomi keluarga karena
semua kebutuhan hidup subjek terpenuhi.
anak dalam perkawinan beda agama yang
Selain itu, diungkap pula permasalahan
meliputi permasalahan ekonomi, permasalahan
sosial pada anak dalam perkawinan beda agama.
sosial dan permalahan religius, faktor eksternal
Setiap individu akan berinteraksi sosial dengan
yang mempengaruhi coping, faktor internal yang
lingkungan sosialnya. Individu yang merasa
mempengaruhi
tentang
didukung oleh lingkungan sosialnya maka segala
perbedaan agama orang tua, respon coping yang
sesuatu akan mudah untuk dihadapi (Yulihananto,
terdiri dari yaitu keaktifan, perencanaan, kontrol
2004: 23). Apabila individu merasa tidak
diri, mencari dukungan sosial yang bersifat
didukung oleh lingkungan sosialnya maka ia akan
emosional, mencari dukungan sosial yang bersifat
memiliki
instrumental, penerimaan, dan religiusitas, serta
sosialnya. Sama seperti subjek yang tidak pernah
hasil coping yang digunakan subjek. Adapun
mendapatkan respon negatif dari lingkungan
hasil dari penelitian ini sebagai berikut:
sosial
coping,
penilaian
permasalahan
sehingga
subjek
dengan
tidak
lingkungan
memiliki
permasalahan dengan lingkungan sosial. Hal ini
Permasalahan pada Anak dalam Perkawinan
dikarenakan subjek tidak mendapatkan reaksi
negatif di lingkungan rumah, sekolah maupun
Beda Agama
dalam
masyarakat. Hasil wawancara ini didukung oleh
penelitian ini adalah permasalahan ekonomi,
hasil pengamatan yang dilakukan pada saat
permasalahan sosial dan permasalahan religius
peneliti
Permasalahan
yang
diungkap
melakukan
wawancara.
Dari
hasil
Coping pada Anak .... (Putri Yanuariska Sari) 5
pengamatan
yang dilakukan,
ketiga
subjek
ini disebabkan oleh perbedaan yang dilihat subjek
mampu berinteraksi sosial dengan keluarga,
sehari-hari sehingga subjek seringkali mengalami
tetangga dan teman di kos.
tekanan yang menimbulkan stres.
Permasalahan yang diungkap selanjutnya
adalah permasalahan religius pada anak dalam
Faktor Eksternal Coping pada Anak dalam
perkawinan beda agama. Berdasarkan hasil
Perkawinan Beda Agama
penelitian dapat diketahui bahwa anak yang
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
memiliki orang tua beda agama mengalami
dilakukan, waktu TK dihabiskan untuk kuliah dan
permasalahan yang muncul pada anak dalam
mengikuti UKM. Pada subjek kedua (MN)
perkawinan beda agama cenderung permasalahan
menghabiskan waktu sehari-hari dengan kuliah
yang bersifat religius dan berhubungan dengan
dan memberikan les tambahan. MN merupakan
orang tua, seperti pada subjek TK yang ingin
individu yang tidak pernah berlarut-larut dalam
ibunya mengikuti agama yang dianut oleh TK dan
menghadapi masalah. Pada subjek ketiga (NA)
ayahnya. TK selalu sedih pada saat ramadhan dan
diketahui bahwa waktu NA sehari-hari dihabiskan
lebaran serta merasa iri dengan keluarga lain.
untuk kuliah dan mengajar. NA adalah pribadi
Selain itu TK merasa kasihan dengan ayah karena
yang tidak suka berlarut-larut dalam masalah
tidak mampu membuat ibunya menjadi seorang
sehingga
muslim. Pada subjek MN kejadian yang membuat
maslaahnya. Berdasarkan hasil ketiga subjek
stres adalah belum diresmikannya pernikahan
dapat diketahui bahwa waktu subjek dihabiskan
orang tua secara gereja. Selain itu MN sering
untuk kuliah, mengikuti UKM, aktif dalam
sedih karena ayahnya tidak pernah pernah
organisasi dan mengajar. Dengan demikian ketiga
menjalankan
seorang
subjek tidak pernah berlarut-larut pada masalah
muslim yaitu sholat lima waktu. MN juga sering
yang membuatnya stres karena waktu TK, MN,
dihantui ketakutan pada saat menikah dan harus
dan NA dihabiskan untuk kuliah dan kegiatan
meninggalkan ibunya seorang diri. Sedangkan
lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Lazarus
pada subjek NA permasalahan yang membuat NA
dalam Rahmandani, 2007:17) yang menyebutkan
stres akibat perbedaan agama orang tua adalah
bahwa waktu yang dimiliki seseorang akan
pada saat ayah NA tidak mau meresmikan
mempengaruhi respon coping individu. Individu
pernikahannya
yang tidak memiliki banyak kegiatan akan
kewajibannya
di
gereja,
sebagai
ketakukan
ketika
NA
lebih
menyelesaikan
ayahnya meninggal dan harus merawat secara
cenderung
Islam, dan merasa sedih karena tidak bisa
dibandingkan individu yang memiliki banyak
mendoakan ayahnya. Hal ini senada dengan
aktivitas dalam hidupnya.
Bossard & Boll dalam Mila Hikmatunisa dan
lebih
suka
memikirkan
masalahnya
Faktor selanjutnya adalah status sosial
Bagus Tanwin (2007:158) yang menyebutkan
ekonomi
keluarga.
bahwa anak dalam keluarga berbeda agama
penelitian
memiliki potensi masalah yang lebih banyak
berkecukupan. Hal tersebut dapat dilihat dari
dibandingkan anak pada pasangan seagama. Hal
fasilitas yang dimiliki subjek. TK memiliki
ini
Ketiga
memiliki
subjek
status
dalam
ekonomi
6 Jurnal Bimbingan dan Konseling Edisi 2 Tahun ke-4 2015
fasilitas yang lengkap seperti HP, laptop,
kurang menyenangkan dari keluarga ayah MN,
kendaraan pribadi dan selalu menggunakan baju
namun MN sendiri tidak pernah mendapat reaksi
yang bermerk. Pada subjek MN fasilitas yang
negatif dari keluarga maupun lingkungan. Sama
dimiliki adalah HP dengan jumlah lebih dari satu,
halnya dengan TK dan MN, NA juga tidak pernah
kendaraan pribadi serta MN terlihat memasang
mendapat reaksi negatif dari keluarga, lingkungan
kawat pada giginya. Pada subjek NA fasilitas
rumah maupun lingkungan sekolah dan kampus.
yang dimiliki terdiri dari HP lebih dari satu,
NA juga selalu mendapat dukungan dari keluarga
laptop, kendaraan pribadi, dan fasilitas kos yang
pada saat mengalami masalah. Dengan demikian
lengkap dengan TV LED serta printer. Dalam
ketiga subjek tidak pernah mendapatkan reaksi
kehidupan
selalu
negatif dari lingkungan sosialnya sehingga subjek
menggunakan pakaian yang bermerk. Dari data
tidak pernah menggunakan coping yang bersifat
tersebut dapat disimpulan bahwa subjek dalam
negatif. Hal ini senada dengan yang diungkapkan
penelitian ini memiliki status ekonomi yang
Yulihananto (2004: 22-23) yang mengatakan
berkecukupan. Oleh karena itu ketiga subjek tidak
bahwa individu yang merasa didukung oleh
pernah
lingkungan sosialnya maka segala sesuatu akan
sehari-hari
menggunakan
NA
terlihat
coping
yang
bersifat
negatif. Senada dengan pendapat Yulihananto
mudah
(2004: 22-23) status sosial ekonomi berpengaruh
didukung oelh lingkungan sosialnya tentu akan
pada pemilihan coping. Individu yang berasa
memiliki
pada tingkat ekonomi rendah akan memiliki
sehinga respon coping yang muncul juga akan
tingkat stres yang lebih tinggi sehingga soping
berbeda dengan individu yang didukung oleh
yang digunakan juga berbeda dengan individu
lingkungan sosialnya.
yang
memiliki
status
ekonomi
yang
berkecukupan.
Faktor
untuk
dihadapi.Individu
permasalahan
Faktor
yang
eksternal
yang
lebih
tidak
banyak
terakhir
yang
mempengaruhi coping adalah stressor dalam
eksternal
adalah
kehidupan sehari-hari. Pada subjek TK diketahui
dukungan sosial. Dukungan sosial dimaksudkan
bahwa hal-hal yang sering menimbulkan stres
untuk mengetahui bagaimana reaksi dari keluarga
adalah permasalahan kuliah seperti skripsi yang
maupun lingkungan subjek mengenai perbedaan
belum
agama otang tua subjek. Berdasarkan penelitian
permasalahan membagi waktu di UKM. Pada
yang telah dilakukan, diketahui bahwa TK tidak
subjek MN permasalahan lain yang sering
pernah
menimbulkan
mendapatkan
selanjutnya
reaksi
negatif
dari
selesai,
nilai
stres
belum
pada
keluar
MN
dan
adalah
lingkungan dan keluarga dari pihak ibu TK.
permasalahan di kampus, seperti mendapat nilai
Namun TK merasa ada yang berbeda dengan
jelek dan permasalahan dengan dosen. Pada
reaksi keluarga dari pihak ayah TK. TK mengaku
subjek NA, hal yang sering membuat NA stres
bahwa keluarga dari pihak ayah TK menunjukkan
selain perbedaan agama orang tua adalah masalah
reaksi yang kurang menyenangkan terhadap ibu
di kampus dan masalah dengan kekasih NA.
dan kakak TK. Pada subjek MN pada awal
Menurut Taylor dalam Syamsu Yusuf dan
pernikahan, ibu MN pernah mendapat reaksi
Juantika Nuruhsan (2006: 265) stressor lain yang
Coping pada Anak .... (Putri Yanuariska Sari) 7
muncul pada seseorang akan mempengaruhi
Sebaliknya subjek yang memiliki penilaian
respon coping. Semakin banyak stressor yang
positif pada kejadian yang menekan akan
muncul makan seseorang akan cenderung sulit
cenderung menggunakan coping yang positif.
untuk
melakukan
rasionalisasi
dan
akan
menggunakan coping negatif. Selain itu, ketiga
subjek
berada
pada
status
ekonomi
Respon Coping
yang
Respon coping terdiri dari keaktifan diri,
berkecukupan sehingga subjek tidak pernah
perencanaan, kontrol diri, mencari dukungan
mengalami permasalahan ekonomi yang dapat
sosial yang bersifat emosional, mencari dukungan
menimbulkan stres.
yang bersifat instrumental, penerimaan diri, dan
Faktor Internal Coping pada Anak dalam
religiusitas.
Keaktifan
Perkawinan Beda Agama
Hal ini juga diungkapakan oleh Smet
diri
dimaksudkan
untuk
mengetahui bagaimana tindakan subjek untuk
(Rahmandani, 2007: 21) yang menyebutkan
menghilangkan
penyebab
faktor kepribadian, mencakup introvert-ekstrovert
mengalami stres TK lebih memilih untuk
mempengaruhi coping yang digunakan individu.
menangis, berkumpul dengan teman-teman di
Pada TK dan MN cenderung menyimpan sendiri
UKM dan berdoa. Sama halnya dengan TK, MN
permasalahan yang ada dan mengatur emosinya
lebih sering memendam sendiri permasalahan
sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Hal ini
yang dihadapi atau berdoa. Hal ini dikarenakan
dikarenakan TK dan MN memiliki kepribadian
TK dan MN cenderung memiliki kepribadian
yang cenderung introvert. Berbeda dengan NA
yang introvert. Berbeda dengan TK dan MN, NA
yang memiliki kepribadian ekstrovert sehingga
cenderung memiliki kepribadian ekstrovert. NA
NA lebih sering meminta bantuan yang bersifat
lebih senang menceritakan masalahnya dengan
emosional maupun instrumental kepada orang
saudara, teman atau kekasih. NA juga memilih
lain.
untuk
menyelesaikan
stres.
Pada
saat
masalahnya
dengan
dimaksudkan
untuk
tindakan.
Perencanaan
Penilaian Perbedaan Agama Orangtua
Dalam
penelitian
ini
ketiga
subjek
mengungkap bagaimana rencana subjek dalam
memiliki penilaian positif mengenai perbedaan
menangani
agama orang tua, oleh sebab itu ketiga subjek
perencanaan, ketiga subjek sudah memiliki
dalam penelitian ini tidak pernah menggunakan
rencana ketika dihadapkan pada masalah. TK
coping secara negatif. Senada dengan yang
lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di
diungkapkan Taylor (Syamsu Yusuf dan Juantik
UKM sedangkan MN dan NA memiliki rencana
Murihson, 2006: 265) bahwa penilai mengenai
jangka panjang yaitu berencana untuk tinggal
kejadian yang menekan akan mempengaruhi
tidak jauh dari orangtuanya. Hal ini dikarenakan
respon coping individu. Penilain negatif pada
MN dan NA tidak tega jika melihat ibunya datang
kejadian yang menekan akan memungkinkan
seorang diri ke gereja.
subjek
untuk
melakukan
coping
negatif.
suatu
masalah.Pada
aspek
8 Jurnal Bimbingan dan Konseling Edisi 2 Tahun ke-4 2015
Dalam aspek kontrol diri, ketiga subjek
dalam
penelitian
ini
lebih
memilih
ada
dengan
tindakan.
Problem-
untuk
focusedcopingmerupakan usaha seseorang untuk
mengontrol diri dengan cara berfikir positif dan
memodifikasi masalah yang menimbulkan stres
berdoa. Pada aspek dukungan yang bersifat
(Folkman dan Moskowitz dalam Feldman, 2012:
instrumental maupun emosional, pada subjek TK
220). Hal ini ditunjukkan pada saat ayah NA
dan MN cenderung tidak pernah mencari
enggan meresmikan pernikahannya di gereja.
dukungan yang bersifat instrumental maupun
Pada saat itu NA memilih untuk berbicara baik-
emosional. hal ini dikarenakan TK dan MN
baik dan membujuk ayahnya agar bersedia
memiliki kepribadian yang cenderung introvert.
meresmikan pernikahan di gereja. Hal ini senada
Berbeda dengan TK dan MN, NA lebih senang
dengan pendapat Smet (dalam Rahmandani,
bercerita dengan saudara, teman dan kekasihnya
2007: 21) yang menyebutkan bahwa kepribadian
untuk mendapatkan dukungan yang bersifat
mempengaruhi respon coping seseorang. Pada
instrumental maupun emosional.
TK dan MN yang cenderung introvert, keduanya
Dilihat pada aspek penerimaan, TK, MN,
lebih memilih untuk memendam sendiri dan
dan NA selalu menerima perbedaan agama
merespon coping secara emosional terhadap
orangtuanya. Hal ini dilakukan dengan selalu
permasalahan yang muncul. Berbeda dengan NA
mengambil hikmah dan menilai secara positif
yang memiliki kepribadian cenderung ekstrovert
perbedaan agama orang tua.
sehingga NA lebih sering merespon coping
Aspek terakhir adalah religiusitas. Pada
aspek ini ketiga subjek dalam penelitian ini selalu
dengan menceritakan masalah dan meminta
bantuan kepada orang lain.
melakukan coping secara keagamaan. Hal ini
dilakukan dengan cara berdoa kepada Tuhan.
Jika dilihat dari macamnya, ketiga subjek
dalam penelitian ini cenderung menggunakan
Jika dilihat dari jenis coping yang
coping positif. Ketiga subjek dalam hal ini selalu
digunakan, pada subjek TK dan MN cenderung
mempertimbangkan penalaran dalam menghadapi
menggunakan emotion-focusedcoping. Emotion-
perbedaan agama orang tua. Penalaran menurut
focusedcopingmerupakan usaha seseorang untuk
Harber
mengatur emosi mereka ketika menghadapi stres
merupakan penggunaan kemampuan kognitif
dengan
untuk
berusaha
mengubah
perasaan
atau
dan
Ruyon
mengeksplorasi
(Siswanto,
2007:
berbagai
64)
alternatif
mempersepsi masalah (Folkman dan Moskowitz
pemecahan masalah dan kemudian memilih salah
dalam Feldman, 2012: 220). Hal ini dikarenakan
satu alternatif yang dianggap menguntungkan.
TK dan MN lebih sering merespon secara
Ketiga subjek dalam penelitian ini selalu menilai
emosional terhadap permasalahan yang datang
secara positif dan mengambil hikmah dari
dengan cara mencari pandangan religius dan
perbedaan agama orangtua. Munculnya coping
mengatur
individu.
yang positif ini tentu dipengaruhi oleh beberapa
Berbeda dengan TK dan MN, NA cenderung
hal mulai dari waktu yang dimiliki, status sosial
menggunakan problem-focusedcoping karena NA
ekonomi, dukungan sosial, dan faktor kepribadian
selalu berusaha memecahkan setiap masalah yang
seperti yang sudah dihabas sebelumnya.
perasaan
masing-masing
Coping pada Anak .... (Putri Yanuariska Sari) 9
Individu
Hasil Coping
yang
memiliki
kepribadian
Berdasarkan penelitian yang dilakukan,
introvert akan memiliki kecenderung untuk
ketiga subjek dalam penelitian ini mampu
menggunakan coping yang berfokus pada emosi
melakukan aktivitas kembali tanpa merasakan
memendam sendiri maslah yang dihadapi dengan
tekanan psikologi atas coping yang dipilih subjek.
melakukan rasionalisasi atau mencari pandangan
Hasil coping yang dirasakan subjek tentu tidak
religius dengan cara berdoa terhadap peristiwa
lepas dari berbagai faktor dan pemilihan coping
yang terjadi. Sedangkan individu yang memiliki
subjek seperti yang telah dihabas sebelumnya.
kepribadian
ekstrovert
menggunakan
akan
coping
yang
lebih
berfokus
senang
pada
SIMPULAN DAN SARAN
masalah dengan memecahkan permasalahan yang
Simpulan
dihadapi serta cara menceritakan masalahnya
Hasil
penelitian
permasalahan
perkawinan
yang
yang
didapat
yaitu
anak
dalam
dihadapi
kepada orang lain untuk mendapatkan dukungan
yang bersifat instrumental maupun emosional.
beda agama adalah permasalahan
Individu yang memiliki penilaian positif
dengan orang tua antara lain subjek ingin orang
terhadap perbedaan agama yang terjadi pada
tua memiliki agama yang sama dengan agama
orang tua akan memiliki kecenderungan untuk
anak, subjek ingin merayakan hari raya bersama
menggunakan coping yang bersifat positif.
orang tua, subjek tidak nyaman dengan perbedaan
Coping yang digunakan pada anak dalam
agama orang tua, perkawinan orang tua belum
perkawinan beda adalah coping yang berfokus
diresmikan
mampu
pada emosi dan coping yang berfokus pada
mempelajari agama orang tua, dan tidak mampu
masalah. Coping yang berfokus pada emosi
mendoakan orang tua. Hasil penelitian lain yang
antara lain mencari pandangan religius dengan
diperoleh
yang
berdoa, memandang positif perbedaan agama
mempengaruhi coping terdiri dari waktu yang
orang tua, dan mengambil hikmah dari perbedaan
dimiliki, status ekonomi, dan dukungan sosial.
agama
Banyaknya waktu dihabiskan untuk melakukan
berfokus pada masalah yang digunakan anak
aktivitas sehari-hari membuat anak tidak berlarut-
dalam
larut pada masalah yang dimiliki sehingga
mengalihkan
individu mampu menggunakan coping yang
bersama
bersifat positif. Faktor selanjutnya adalah status
masalah dengan tindakan.
secara
yaitu
agama,
Faktor
tidak
Eksternal
sosial ekonomi keluarga. Individu yang memiliki
status
ekonomi
berkecukupan
cenderung
orang
tua.
Sedangkan
perkawinan
beda
perhatian
teman-teman
copingyang
agama
dengan
dan
adalah
berkumpul
menyelesaikan
Berdasarkan jenis coping yang ada,
coping
yang digunakan
pada
anak
dalam
menggunakan coping yang bersifat positif. Faktor
perkawinan beda agama adalah coping positif
eksternal selanjutnya adalah dukungan sosial.
karena subjek mampu menghadapi masalah
Individu yang tidak mendapar reaksi negatif
secara langsung, mengevaluasi secara rasional
mengenai perbedaan agama orang tua memiliki
dan mampu mengendalikan diri pada saat
kecenderungan untuk melakukan coping positif.
menghadapi masalah.Munculnya coping yang
10 Jurnal Bimbingan dan Konseling Edisi 2 Tahun ke-4 2015
positif dipengaruhi oleh waktu yang dimiliki,
Skripsi. Fakultas Psikologi-Universitas
status sosial ekonomi, dukungan sosial, dan
Diponegoro.
faktor kepribadian.
Feldman, R. S. (2012). Pengantar Psikologi.
(Alih bahasa: Petty Gina Gayatri dan
Saran
Putri Nurdina Sofyan). Jakarta: Salemba
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh peneliti, diketahui bahwa permasalahan yang
muncul pada subjek disebabkan oleh perbedaan
Humanika.
Mila Hikmatunisa dan Bagus Takwin. (2007).
Pengaruh Perbedaan Agama Orang Tua
agama orang tua subjek. Oleh karena itu orang
tua
diharapkan
tidak
bertengkar
terhadap Psychological Well-Being dan
mengenai
Komitmen Beragama Anak. Laporan
perbedaan agama di depan anak karena hal
tersebut akan menimbulkan tekanan psikologis
pada anak. Selain itu, orangtua juga diharapkan
Penelitian. UPI.
Siswanto. (2007). Kesehatan Mental – Konsep,
Cakupan
merundingkan agama anak sejak memutuskan
menikah dengan berbeda agama sehingga anak
dapat mempelajari salah satu agama sejak kecil
BK
adalah
beragama
memberikan
agar
siswa
materi
mampu
toleransi
Syamsu Yusuf dan A. Juantika Nurihsan. (2006).
Landasan Bimbingan dan Konseling.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Yulihananto. (2005). Dinamika Coping Stres
pada Pasangan Kristiani yang melakukan
menghargai
Perceraian di Catatan Sipil. Skripsi.
perbeaan agama. guru BK juga diharapkan
mampu memberikan materi coping yang positif
agar setiap siswa mampu menggunakan coping
yang positf ketika dihadapkan pada masalah.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia
Rahmadani.
(2007).
Strategi
Penanggulangan (Coping) pada Ibu yang
Mengalami Postpartum Blues di Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Semarang.
Perkembangan.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
agar tidak mengalami kebingungan.
Hal lain yang harus dilakukan oleh guru
dan
Fakutlas Psikologi-USD.
______.
(1974).
Undang-undang
Republik
Indonesia No. 1 tentang Perkawinan
Download