1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Desa Jinengdalem

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Desa Jinengdalem adalah salah satu desa di Kecamatan Buleleng yang merupakan
daerah agraris yang mengandalkan sektor pertanian sebagai penggerak perekonomian.
Sebagian besar penduduk Desa Jinengdalem bermata pencaharian bercocok tanam padi
dengan luas lahan terbanyak adalah persawahan yang membentang di bagian timur dan
barat, yang menghasilkan padi. Untuk memproses hasil panen padi, di Desa
Jinengdalem terdapat usaha penggilingan padi yang sudah ada sejak tahun 1976 sebagai
usaha sektor informal yang menyerap tenaga kerja lokal dari desa setempat.
Desa Jinengdalem terletak kurang lebih lima kilometer arah timur dari kota
Singaraja. Berbatasan dengan: sebelah selatan Desa Alasangker, barat Desa Penglatan,
utara Kelurahan Penarukan, timur Desa Sinabun. Desa Jinengdalem memiliki
ketinggian berkisar 75-100 meter dari permukaan air laut. Luas daerah 288,10 Ha
dengan jumlah penduduk 4.626 orang dibagi lima wilayah dusun yaitu: Dusun Bukit,
Dusun Tingkih, Dusun Gambang, Dusun Ketug Ketug dan Dusun Dalem. Potensi yang
ada di Desa Jinengdalem adalah: pertanian, peternakan, kerajinan (tenun dan songket)
(BPS Kabupaten Buleleng 2012).
Penggilingan padi merupakan salah satu usaha di sektor informal yang diusahakan
secara turun temurun oleh masyarakat Desa Jinengdalem, di samping memberikan
sumbangan yang cukup berarti bagi perekonomian pekerja, penggilingan padi juga
memberi dampak yang merugikan kesehatan bagi pekerja karena proses produksi selain
menghasilkan beras, juga menimbulkan polutan berupa debu dan bising. Polutan ini
mengganggu kenyamanan pekerja dan masyarakat yang tinggal di sekitar penggilingan
1
padi. Debu merupakan bahaya yang dapat menyebabkan pengurangan kenyamanan
kerja, gangguan penglihatan, gangguan fungsi faal paru bahkan dapat menimbulkan
keracunan umum (Depkes RI, 2003). Lingkungan kerja yang bising dapat menyebabkan
tenaga kerja mengalami gangguan konsentrasi, gangguan komunikasi, gangguan
berfikir, penurunan kemampuan kerja, emosi meningkat, otot menjadi tegang dan
metabolisme tubuh menjadi meningkat (Suma’mur, 2011). Lingkungan kerja pada
proses penggilingan padi belum memberikan kenyamanan terhadap pekerja. Hasil
pengukuran di empat titik tempat kerja ditemukan intensitas bising mencapai 88,33
dB(A). Intensitas tersebut melebihi ketentuan Kemenakertrans No 13/MEN/X/2011
yang menyarankan agar intensitas bising tidak melebihi 85 dB(A). Intensitas bising
yang melebihi 85 dB(A) pada penggilingan padi memapar pekerja selama delapan jam
kerja dan keadaan ini akan mempengaruhi kenyamanan pekerja, gangguan komunikasi,
sehingga dapat meningkatkan beban kerja, keluhan muskuloskeletal, ketegangan otot
dan kelelahan. Konsekuensinya tentu akan berpengaruh terhadap kesehatan kerja dan
produktivitas kerja. Sedangkan kadar debu di penggiling padi yaitu sebesar 3,22 mg/m³
melebihi NAB yaitu 3 mg/m³ menimbulkan gangguang pernafasan, keluhan sesak nafas
yang dirasakan pekerja, pencemaran lingkungan kerja karena debu, maupun lingkungan
masyarakat di sekitar tempat penggilingan padi.
Pada penelitian pendahuluan, proses kerja penggilingan padi di Desa Jinengdalem
diawali dengan datangnya petani pemilik gabah untuk menggiling gabah, akan tetapi
tidak menutup kemungkinan perusahaan penggilingan padi menjemput gabah yang
akan digiling ke setiap pemilik gabah bila ada pesanan. Usaha penggilingan padi di
Desa Jinengdalem produksinya berupa beras siap konsumsi rata-rata 4000 kg per hari
(420 kg per jam). Bila musim panen tiba, maka perusahaan perlu menambah jam kerja
selama 1,5 jam.
2
Dari proses penggilingan padi tersebut masalah ergonomi muncul ketika proses
pengolahan gabah bersih menjadi beras pecah kulit, di mana pekerja bekerja dengan
sikap membungkuk mengangkat gabah dalam karung untuk dipindahkan ke mesin
pecah kulit yang dilakukan berulang kali (50 kali/jam). Kondisi tersebut mengakibatkan
beban kerja bertambah.
Pada proses pecah kulit, pekerja menggunakan meja kerja berundak untuk
mencapai mesin dengan ketinggian 208 cm, undak pertama tingginya 78 cm dari lantai
dan undak ke dua dengan ketinggian 61 cm dari undak pertama. Di mana sebelumnya
pekerja mengangkat karung berisi gabah kering seberat 50 kg menaiki undakan setinggi
78 cm dengan sikap membungkuk dan kaki ditekuk sehingga paha menyentuh perut.
Pada mesin penyosohan pekerja memindahkan beras pecah kulit dengan sikap
menengadah, posisi lengan melebihi tinggi bahu yang dilakukan secara berulang (175
kali/jam). Di mana sikap kerja ini merupakan sikap kerja yang tidak alamiah. Menurut
Suyoga (2003), dimensi tangga dan antropometri pengguna memiliki hubungan erat,
desain ini diperlukan untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna.
Jam kerja pada penggilingan padi ini dimulai dari pukul 08.00-17.30 WITA, bila
musim panen, jam kerja bisa mencapai pukul 18.00 WITA. Istirahat siang atau waktu
makan diberikan pada pukul 11.30-12.30 WITA. Berdasarkan kurva laju produksi
individu yang bekerja fisik tampak bahwa produksi akan meningkat mulai jam kerja
pukul 08.00 dan produksi maksimum pada pukul 10.00 setelah itu menurun hingga
istirahat makan siang pada pukul 12.00. Setelah istirahat satu jam produktivitas
meningkat lagi dari pukul 13.00 dan konstan hingga pukul 13.30, kemudian terus
menurun (Meyer dan Steward, 2002). Waktu produksi yang terlalu panjang melebihi
waktu kerja normal (>8 jam/hari) dan tidak menentu, akan menyebabkan kelelahan
yang terakumulasi. Mengacu pada Kemenaker No 102/MEN/VII/2004 di mana waktu
3
kerja normal dalam satu hari adalah delapan jam dan 40 jam kerja dalam satu minggu
untuk lima hari, perlu ada pembenahan dalam waktu produksi.
Pada penelitian terhadap lima orang pekerja, ditemukan hasil pengukuran denyut
nadi pada saat bekerja menunjukkan rerata 128,8±1,92 dpm. Beban kerja tersebut
termasuk katagori beban kerja berat (Grandjean dan Kroemer, 2009). Posisi kerja
berdiri dengan sikap kerja membungkuk dan kepala menunduk terutama gerak lengan
dan tangan mengangkat dan mengangkut yang dilakukan berulang kali, menyebabkan
keluhan
muskuloskelatal
dan
kelelahan
meningkat,
dengan
beda
keluhan
muskuloskeletal rerata 10,53±1,11. Kondisi kerja yang tidak sesuai dengan kaidah
ergonomi akan menimbulkan terjadinya (a) beban kerja tambahan; (b) keluhan
muskuloskeletal pada leher, bahu, lengan, tangan, pinggang, paha, kaki; (c) kelelahan;
(d) waktu penggilingan yang tidak efisien; dan (e) produktivitas yang rendah. Sikap
kerja yang tidak alamiah akan menyebabkan adanya gerakan otot yang tidak seharusnya
terjadi serta pemborosan energi, sehingga menimbulkan risiko kelelehan dan cedera
otot (Adiputra, 2004).
Menurut Suyasning (1998) bahwa suatu pekerjaan yang dilakukan dengan posisi
berdiri memerlukan rancangan meja kerja yang sesuai dengan pemakainya, jika terlalu
tinggi akan menyebabkan bahu akan sering terangkat sehingga bisa menimbulkan rasa
sakit di daerah leher dan bahu, sedangkan bila terlalu rendah akan menyebabkan
punggung terlalu membungkuk yang dapat menyebabkan timbul rasa sakit di pinggang
(Grandjean, 2000). Menurut Manuaba (1999) alat kerja yang tidak dirancang dengan
baik (secara ergonomis) dapat menyebabkan keluhan subjektif, beban kerja yang berat,
tidak efektif dan efisien kepada pekerja dan secara lebih jauh lagi menyebabkan
terjadinya ketidaknyamanan kerja sehingga menyebabkan produktivitas menurun.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap pemakaian alat kerja,
4
hendaknya prinsip-prinsip ergonomis harus sudah dimasukkan semenjak mendesain
suatu alat atau sistem kerja atau pada tahap perancangan.
Sikap kerja membungkuk menyebabkan reaksi berupa keluhan muskuloskeletal
(Pheasant dan Haslegrave, 2006; Grandjean dan Kroemer, 2009). Diperkirakan bahwa
sekitar 30% cedera otot skeletal bagian belakang disebabkan karena sikap kerja
membungkuk dan memutar, sehingga ikut terputarnya tulang belakang (Pheasant, 2003;
Bridger, 2008). Adnyana (2001) menyampaikan, bahwa perubahan sikap paksa menjadi
sikap kerja secara alamiah atau fisiologis pada proses penggilingan kopi, dapat
menurunkan keluhan muskuloskeletal. Sikap kerja hendaknya diupayakan dalam posisi
alamiah sehingga tidak menimbulkan sikap paksa yang melampaui kemampuan
fisologis tubuh (Grandjean, 2000).
Pada penelitian ergonomi yang selalu melibatkan manusia di dalamnya tidak
terlepas dari faktor sosial budaya di mana orang tersebut dilahirkan dan dibesarkan.
Dalam arti luas konsep kebudayaan diartikan sebagai seluruh total dan pikiran, karya
dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya dan dicetuskan oleh
manusia sesudah proses belajar (Koentjaraningrat, 2000). Kebudayaan Bali pada
hakekatnya dilandasi oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama Hindu. Budaya
Bali banyak disebut sebagai budaya unik yang lahir dari perkawinan antara spiritualitas,
agama, tradisi, seni, kecerdasan, dan lingkungan alam Bali yang me-taksu (Sudira,
2011).
Kebudayaan Bali menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi
hubungan manusia dengan Tuhan (parhyangan), hubungan sesama manusia
(pawongan), dan hubungan manusia dengan lingkungan (palemahan), yang tercermin
dalam filosofi Tri hita karana (THK). Dunia tradisi Bali yang berjiwa Hindu dengan
elemen pemujaan alam dan para leluhur adalah hasil evolusi dan akulturasi dari
5
beberapa budaya yang datang ke pulau Bali. Filosofi THK merupakan konsep nilai
kultur lokal yang telah tumbuh, berkembang dalam tradisi masyarakat Bali yang
dilandasi masyarakat agraris, dan bahkan saat ini telah menjadi landasan falsafah bisnis,
filosofi pengembangan pariwisata, pengaturan tata ruang, dan rencana strategi
pembangunan daerah (Riana, 2007).
Usaha penggilingan padi di Desa Jinengdalem tidak terlepas dari budaya THK.
THK merupakan sebuah filosofi sekaligus telah menjadi way of life masyarakat Hindu
di Bali dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam usaha penggilingan padi. Konsep
ini mengandung makna bagaimana mencari keharmonisan dengan tidak semata-mata
mencari materi ataupun keuntungan, namun bagaimana tujuan hidup untuk
mendapatkan kebahagian yang kekal. Budaya THK merupakan konsep harmonisasi
hubungan yang selalu dijaga meliputi: parahyangan (hubungan manusia dengan
Tuhan), pawongan (hubungan antar-manusia), dan palemahan (hubungan manusia
dengan lingkungan) yang bersumber dari kitab suci agama Hindu Baghawad gita yang
pada dasarnya analog dengan sistem kebudayaan (Windia dan Ratna, 2007).
Tujuan ergonomi adalah: (a) meningkatkan kesejahtetaan fisik dan mental; (b)
meningkatkan kesejahteraan sosial; (c) keseimbangan rasional antara sistim manusia
atau manusia-alat dengan aspek teknis, ekonomi, antropologi dan budaya. Untuk
mengimplementasikan tujuan tersebut di atas perlu berpijak kepada kemampuan,
kebolehan dan keterbatasan manusia, dengan memperhatikan aspek task, organisasi dan
lingkungan
(Manuaba,
2003a).
Task
atau
tugas/aktivitas
penggilingan
padi
dihubungkan dengan budaya THK adalah upaya menjaga keselamatan dalam bekerja
yang terwujud dalam berdoa sebelum dan setelah bekerja, menghaturkan sesajen,
mebanten saiban sebagai ungkapan terima kasih atau rasa syukur kepada Tuhan dan
benda-benda ciptaan-Nya yang telah banyak berjasa dalam pekerjaan. Banten saiban
6
tidak hanya dipersembahkan kepada peralatan kerja, tetapi juga kepada dewa-dewa atau
manifestasi Tuhan dan bhuta kala (energi negatif) di setiap tempat yang umumnya
digunakan sebagai tempat persembahyangan (sanggah/merajan), tempat kerja, halaman,
lebuh atau jalan. Dengan harapan setiap aktivitas penggilingan padi dapat dilakukan
dengan aman, nyaman dan tidak mendapat gangguan dari hal-hal negatif/buruk.
Organisasi pada ergonomi adalah bagaimana aktivitas penggilingan padi
diorganisisir, seperti perbaikan sikap kerja, pengaturan jam kerja, pemberian istirahat
pendek dan kudapan. Hal ini sangat jelas mengacu pada konsep tat twam asi (aku
adalah kamu) dan menyama braya yaitu konsep persaudaraan, kebersamaan, kejujuran,
dan saling menghargai sesama pekerja ataupun antara pemilik usaha dan pekerja.
Lingkungan kerja yang tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi
kesehatan kerja pekerja dan juga mengganggu masyarakat sekitar penggilingan padi.
Lingkungan kerja di penggilingan padi yang perlu diperhatikan adalah suhu,
kelembaban, bising dan debu di tempat kerja. Dilihat dari budaya THK aspek ini
mengacu pada redisain undakan dan pemberian pelindung vent belt yang menggunakan
antropometri pekerja penggilingan padi. Penambahan ventilasi yang mengarah pada
kelod kauh untuk mengurangi kadar debu dan bising di ruang kerja. Sehingga pekerja
dapat bekerja dengan efektif, aman, nyaman, sehat dan efisien.
Permasalahan ergonomi dari aspek budaya THK di penggilingan padi adalah: (1)
jam kerja melebihi delapan jam sehari, (2) sikap kerja yang tidak ergonomis, (3)
istirahat satu kali pada saat makan siang tanpa adanya istirahat pendek, hal ini
bertentangan dengan aspek pawongan (hubungan manusia-manusia) dengan nilai-nilai
toleransi didasarkan atas konsep Tat twam asi
sebagai bentuk rasa empati dan
menyama braya berupa hubungan antara pemilik usaha dan pekerja, (4) pekerja bekerja
dengan menggunakan undakan yang tidak ergonomis tidak sesuai dengan antropometri
7
pekerja, dan
(5) pekerja bekerja dalam kondisi lingkungan kerja yang bising dan
berdebu, hal ini bertentangan dengan aspek palemahan (hubungan manusia dengan
lingkungan). Selain mengganggu masyarakat di sekitar penggilingan padi, hal ini
menimbulkan beban kerja bagi pekerja ditambah lagi dengan cara mengangkat dan
mengangkut yang tidak ergonomis disertai gerakan tidak fisiologis yang berulang-ulang
akan menimbulkan gangguan pada otot.
Aplikasi konsep ergonomi total yang selaras dengan THK di penggilingan padi
dari aspek pawongan yaitu hubungan manusia dengan Tuhannya, telah dilaksanakan
pada aktivitas kerja sehari-hari seperti para pekerja sembahyang sebelum bekerja,
mempersembahkan sesaji setiap hari rerainan (purnama, tilem, kajeng kliwon),
memberikan sesaji pada peralatan kerja setiap tumpek landep untuk mendoakan agar
selamat/rahayu selama melaksanakan pekerjaan penggilingan padi.
Dalam menganalisis suatu permasalahan ergonomi dari aspek budaya THK di
penggilingan padi, segalanya perlu dipertimbangkan dalam satu kesatuan secara utuh,
dikaji dari sudut pandang berbagai disiplin ilmu dan melibatkan berbagai unsur terkait.
Pemecahan masalah secara komprehensip dapat dilakukan dengan berorientasi pada
pendekatan ergonomi total. Penelitian maupun usaha pemecahan masalah dengan
menitikberatkan pada satu aspek saja tanpa berpikir secara holistik cenderung akan
menimbulkan masalah baru pada aspek lain (Manuaba, 2006).
Pendekatan ergonomi total merupakan salah satu pendekatan yang dilakukan
secara komprehensif dan menyeluruh. Pendekatan ergonomi total merupakan gabungan
penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) melalui pendekatan SHIP (Sitemic, Holistic,
Interdisiplinary dan Partisipatory. Keberhasilan pendekatan ini telah terbukti melalui
penelitian yang dilakukan Adnyani (2013) pada perajin kain endek di Kecamatan
Blahbatuh Gianyar, di mana dengan intervensi ergonomi total yang didalamnya
8
menggunakan penerapan TTG melalui pendekatan SHIP mampu menurunkan kelelahan
17,05%.
Upaya untuk mengurangi berbagai masalah yang dijumpai dengan pendekatan
ergonomi total pada pekerja penggilingan padi dapat menjadi salah satu intervensi yang
mampu memberikan suatu perbaikan secara menyeluruh. Perbaikan yang dilakukan
dengan mengedepankan partisipasi pekerja sehingga mampu menciptakan kondisi kerja
yang nyaman, sehat, efektif dan efisien. Oleh karena itu diperlukan adanya pendekatan
secara interdisipliner dengan melibatkan berbagai ahli seperti ahli budaya, ahli
kesehatan, ahli ergonomi, dan ahli tehnik. Untuk itu perlu adanya pendekatan ergonomi
total yang mengkaji permasalahan ergonomi dari aspek sosio budaya serta intervensi
yang diajukan dalam memecahkan masalah ergonomi sangat efektif dan efisien.
Dengan mengkaji permasalahan ergonomi dari aspek budaya THK menyebabkan
perbaikan yang dilakukan lebih mudah diterima dan dilaksanakan tanpa adanya
resistensi dari penggunanya serta tidak menimbulkan benturan dengan masyarakat
setempat (Manuaba, 2003a).
Modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK di penggilingan padi bertujuan untuk
meningkatkan kesehatan kerja pekerja dengan indikator adalah beban kerja, keluhan
muskuloskeletal, ketegangan otot, kelelahan, dan fungsi paru. Beberapa aspek yang
mempengaruhi peningkatan kesehatan kerja yang diperbaiki dalam modifikasi kondisi
kerja berbasis ergo THK adalah: (a) perbaikan sikap kerja; (b) perbaikan jam kerja, dan
pemberian istirahat aktif; (c) redesain undakan dan pemberian pengaman pada vent belt
disesuaikan dengan antropometri pekerja penggilingan padi; (d) redisain ventilasi
sesuai konsep sanga mandala.
Menurut Adiputra (2011), ergonomi kultural agar menjadi kesadaran para ahli
ergonomi untuk memasukkannya ke dalam program aksi setiap intervensi ergonomi.
9
Hal ini sejalan dengan tujuan akhir ergonomi untuk meningkatkan kualitas hidup
manusia. Karenanya, sudah selayaknya dimulai memakai pertimbangan sosio budaya
dalam penerapan ergonomi.
Keberhasilan penerapan budaya THK dapat dilihat melalui penelitian yang
dilakukan oleh Wijaya (2012) pada perawat dan bidan di Unit Rawat Inap RSU Bangli
di mana penerapan manajemen kinerja klinik berbasis THK meningkatkan komitmen
kerja sebesar 7%. Penelitian tentang redesain berbasis ergonomi dan kearifan lokal
yang dilakukan oleh Sutarja (2012) pada penghuni rumah tradisional di Desa Pengotan,
dilaporkan dapat meningkatkan kepuasan hidup penghuni sebesar 270%.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dipandang perlu melakukan penelitian tentang
modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK dalam penerapan TTG melalui pendekatan
SHIP. Hal ini perlu dilakukan guna meningkatkan kesehatan kerja dilihat dari
menurunnya beban kerja, keluhan muskuloskeletal, ketegangan otot, kelelahan, serta
meningkatnya fungsi paru dan produkivitas pekerja penggilingan padi di Desa
Jinengdalem Buleleng.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai
berikut:
1.
Apakah modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK meningkatkan kesehatan kerja
dilihat dari penurunan beban kerja pekerja penggilingan padi di Desa Jinengdalem
Buleleng?
2.
Apakah modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK meningkatkan kesehatan kerja
dilihat dari penurunan keluhan muskuloskeletal pekerja penggilingan padi di Desa
Jinengdalem Buleleng?
10
3.
Apakah modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK meningkatkan kesehatan kerja
dilihat dari penurunan ketegangan otot pekerja penggilingan padi di Desa
Jinengdalem Buleleng?
4.
Apakah modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK meningkatkan kesehatan kerja
dilihat dari penurunan kelelahan pekerja penggilingan padi di Desa Jinengdalem
Buleleng?
5.
Apakah modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK meningkatkan kesehatan kerja
dilihat dari peningkatan fungsi paru pekerja penggilingan padi di Desa Jinengdalem
Buleleng?
6.
Apakah modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK meningkatkan produktivitas
pekerja penggilingan padi di Desa Jinengdalem Buleleng?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1
Tujuan umum
Tujuan Umum penelitian adalah untuk mengetahui manfaat modifikasi kondisi
kerja berbasis ergo THK meningkatkan kesehatan kerja dan produktivitas pekerja
penggilingan padi di Desa Jinengdalem Buleleng.
Tujuan khusus
1.
Membuktikan modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK meningkatkan
kesehatan kerja dilihat dari penurunan beban kerja pekerja penggilingan padi di
Desa Jinengdalem Buleleng.
2.
Membuktikan modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK meningkatkan
kesehatan kerja dilihat dari penurunan keluhan muskuloskeletal pekerja
penggilingan padi di Desa Jinengdalem Buleleng.
11
3.
Membuktikan modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK meningkatkan
kesehatan kerja dilihat dari penurunan ketegangan otot pekerja penggilingan padi
di Desa Jinengdalem Buleleng.
4.
Membuktikan modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK meningkatkan
kesehatan kerja dilihat dari penurunan kelelahan pekerja penggilingan padi di Desa
Jinengdalem Buleleng.
5.
Membuktikan modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK meningkatkan
kesehatan kerja dilihat dari peningkatan fungsi paru pekerja penggilingan padi di
Desa Jinengdalem Buleleng.
6.
Membuktikan modifikasi kondisi kerja berbasis ergo THK meningkatkan
produktivitas pekerja penggilingan padi di Desa Jinengdalem Buleleng.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat akademik
Manfaat akademik yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Dimanfaatkan sebagai pengetahuan dan informasi tentang modifikasi kondisi kerja
berbasis ergo THK pada penggilingan padi di Desa Jinengdalem Buleleng.
2.
Dimanfaatkan sebagai acuan dalam penerapan ergonomi terkait dengan pemecahan
masalah ergonomi dari aspek sosio budaya.
3.
Dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
khususnya dalam bidang ergonomi-fisiologi kerja.
1.4.2 Manfaat praktis
Manfaat praktis yang diharapkan dari hasil penelitian adalah sebagai berikut
1.
Dengan mengetahui hal hal yang diteliti tersebut dapat diambil langkah yang lebih
spesifik di dalam menanggulangi masalah beban kerja, keluhan muskuloskeletal,
12
ketegangan otot, kelelahan, fungsi paru dan produktivitas pekerja penggilingan
padi di Desa Jinengdalem Buleleng.
1.
Hasil penelitian ini akan dapat mengungkapkan seberapa besar penurunan beban
kerja, keluhan muskuloskeletal, ketegangan otot, kelelahan, peningkatan fungsi
paru dan produktivitas pekerja penggilingan padi di Desa Jinengdalem Buleleng.
13
Download