ringkasan eksekutif - Kementerian Keuangan RI

advertisement
LAPORAN
AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH
2012
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
DAFTAR ISI
Daftar Isi 2
Daftar Tabel dan Gambar 4
Nilai-Nilai Kementerian Keuangan 8
Kata Pengantar 10
Ringkasan Eksekutif 12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
17
B. Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi
20
C. Mandat dan Peran Strategis
20
D. Sistematika Laporan25
BAB II
2
RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN/PERJANJIAN KINERJA
A. Rencana Strategis
29
B. Rencana Kerja, Rencana Kerja dan Anggaran K-L dan Kontrak Kinerja
34
C. Penetapan/Perjanjian Kinerja
35
D. Pengukuran Kinerja
38
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA DAN AKUNTABILITAS KEUANGAN
A. Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU)
43
B. Evaluasi dan Analisis Kinerja
43
1.
Sasaran Strategis 1: Pendapatan Negara yang Optimal (KK-1)
43
2.
Sasaran Strategis 2: Perencanaan dan Pelaksanaan Belanja Negara yang Optima (KK-2) 54
3.
Sasaran Strategis 3: Pembiayaan dalam Jumlah yang Cukup, Efisien,
dan Aman Bagi Kesinambungan Fiskal (KK-3)
56
4.
Sasaran Strategis 4: Utilisasi Kekayaan Negara yang Optimal (KK-4)
65
5.
Sasaran Strategis 5: Perimbangan Keuangan yang Adil dan Transparan (KK-5)
67
6.
Sasaran Strategis 6: Pengelolaan Keuangan Negara yang Akuntabel (KK-6)
79
7.
Sasaran Strategis 7: Industri Pasar Modal dan Jasa Keuangan Non Bank yang Stabil,
Tahan Uji dan Likuid (KK-7)
81
8.
Sasaran Strategis 8: Kepuasan Pengguna Layanan yang Tinggi (KK-8)
82
9.
Sasaran Strategis 9: Kajian dan Rumusan Kebijakan yang Berkualitas (KK-9)
83
10.
Sasaran Strategis 10: Pelaksanaan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Negara
yang Efektif dan Efisien (KK-10).
88
11.
Sasaran Strategis 11: Peningkatan Edukasi Masyarakat dan Pelaku Ekonomi (KK-11)
98
12.
Sasaran Strategis 12: Pengawasan dan Penegakan Hukum yang Efektif (KK-12)
104
13.
Sasaran Strategis 13: Pembentukan SDM yang Berkompetensi Tinggi (KK-13)
118
14.
Sasaran Strategis 14: Penataan Organisasi yang Adaptif (KK-14)
120
15.
Sasaran Strategis 15: Perwujudan TIK yang Terintegrasi (KK-15)
126
16.
Sasaran Strategis 16: Pengelolaan Anggaran yang Optimal (KK-16)
128
C. Kinerja Lainnya
131
D. Akuntabilitas Keuangan
147
BAB IV
PENUTUP
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
3
Daftar Tabel, Grafik, dan Gambar
No
4
Nama
Keterangan
Halaman
1
Gambar 1.1
Bagan Organisasi Kementerian Keuangan Republik Indonesia
18
2
Gambar 1.2
Peran Strategis Kementerian Keuangan dalam Pengelolaan Keuangan dan
kekayaan Negara
21
3
Tabel 1.1
Kegiatan Prioritas Nasional Kementerian Keuangan
22
4
Tabel 1.2
Kegiatan Prioritas Bidang Kementerian Keuangan
23
5
Gambar 2.1
Peta Strategi Kementerian Keuangan Tahun 2012
35
6
Tabel 2.1
Sasaran Strategis dan IKU
36
7
Tabel 3.1
Capaian IKU pada Stakeholder Perspective
44
8
Tabel 3.2
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Pendapatan Negara yang Optimal
45
9
Tabel 3.3
Rencana dan Realisasi penerimaan Pajak pertriwulan Tahun 2012
46
10
Tabel 3.4
Sektor Dominan yang Mengalami Penurunan Kontribusi Penerimaan Pajak
47
11
Tabel 3.5
Realisasi Jumlah Penerimaan Bea dan Cukai Tahun 2012
48
12
Tabel 3.6
Perbandingan Realisasi Penerimaan Bea dan Cukai Tahun 2011 dan 2012
49
13
Tabel 3.7
Perbandingan Realisasi Penerimaan Bea dan Cukai Tahun 2010 dan 2011
49
14
Tabel 3.8
Penerimaan PDRI dan PPN Hasil Tembakau Tahun 2011 dan 20112
50
15
Tabel 3.9
Penerimaan Bea Keluar 2012
51
16
Tabel 3.10
Penerimaan Cukai Tahun 2012
52
17
Tabel 3.11
Realisasi PNBP Nasional 2010 - 2012
53
18
Tabel 3.12
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Perencanaan dan Pelaksanaan Belanja Negara
yang Optimal
54
19
Tabel 3.13
Realisasi Dana Blokir TA 2012
54
20
Tabel 3.14
Rincian Penyerapan Dana Triwulan IV Tahun 2012
55
21
Grafik 3.1
Penyerapan Belanja K/L 2011 - 2012
55
22
Tabel 3.15
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Pembiayaan dalam Jumlah yang Cukup,
Efisien dan Aman bagi Kesinambungan Fiskal
56
23
Tabel 3.16
Target dan Realisasi SBN Tahun 2011
58
24
Tabel 3.17
Penerbitan SUN dalam Rupiah
59
25
Tabel 3.18
Kinerja Pengelolaan SUN Tahun 2010 - 2012
59
26
Tabel 3.19
Realisasi SBSN Tahun 2012
59
27
Tabel 3.20
Perkembangan Penerbitan Sukuk Tahun 2010 - 2012
61
28
Tabel 3.21
Ringkasan Kinerja Lelang SBSN Tahun 2010 - 2012
62
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
No
Nama
Keterangan
Halaman
29
Tabel 3.22
Realisasi Persentase Pemenuhan Target Pembiayaan Melalui Utang yang Cukup,
Efisien dan Aman Tahun 2010 - 2012
64
30
Grafik 3.2
Pencapaian Target Effective Cost Tahun 2010 - 2011
65
31
Tabel 3.23
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Utilisasi Kekayaan Negara yang Optimal
66
32
Tabel 3.24
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Perimbangan Keuangan yang Adil dan
Transparan
66
33
Grafik 3.3
Perkembangan Nilai Utilisasi Kekayaan Negara 2009 - 2012
67
34
Tabel 3.25
Mekanisme Pola Penyaluran Anggaran Transfer ke Daerah
68
35
Tabel 3.26
Perkembangan Jumlah Daerah dan Besaran Transfer Tahun 2006 - 2012
69
36
Tabel 3.27
Perkembangan Alokasi DBH per Komponen Tahun 2007 - 2012
70
37
Tabel 3.28
Penyaluran DBH Pajak Tahun 2012
71
38
Tabel 3.29
Penyaluran DBH SDA Tahun 2012
72
39
Tabel 3.30
Perpres Alokasi DAU dan Permenkeu Dana Penyeimbang yang Diterbitkan Tahun
Anggaran 2007 - 2012
72
40
Tabel 3.31
Penyaluran DAU Tahun 2012
73
41
Tabel 3.32
Perkembangan Jumlah Bidang - bidang DAK 2007 - 2012
74
42
Tabel 3.33
Penyaluran DAK Tahun 2012
75
43
Tabel 3.34
Penyaluran Dana Otsus dan Penyesuaian
76
44
Tabel 3.35
Daftar Daerah yang Belum Menyerahkan Laporan Penyerapan Dana Tamsil Guru
Semester II TA 2011
77
45
Tabel 3.36
Realisasi Transfer ke Daerah s.d. 31 Desember 2012
78
46
Tabel 3.37
Jumlah Perda yang Dievaluasi Tahun 2009 - 2011
78
47
Tabel 3.38
Capaian IKU pada Sasaran Pengelolaan Keuangan Negara yang Akuntabel
78
48
Tabel 3.39
Hasil Opini BPK Atas LK 2011
80
49
Tabel 3.40
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Industri Pasar Modal dan Jasa Keuangan Non
Bank yang Stabil, Tahan Uji dan Likuid
82
50
Grafik 3.4
Skor Tingkat Kepuasan Stakeholders Terhadap Layanan Unit Eselon I Lingkup
Kemenkeu RI Tahun 2012
83
51
Grafik 3.5
Skor Kinerja Layanan Kemenkeu Berdasarkan Unsur Layanan
83
52
Tabel 3.41
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Kepuasan Pengguna Layanan yang Tinggi
83
53
Tabel 3.42
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Kajian dan Rumusan Kebijakan yang
Berkualitas
84
54
Tabel 3.43
Capaian Deviasi Proyeksi Indikator Ekonomi Makro Tahun 2012
84
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
5
6
No
Nama
Keterangan
Halaman
55
Tabel 3.44
Perbandingan Capaian Deviasi Proyeksi Indikator Ekonomi Makro Tahun 2011 dan
Tahun 2012
85
56
Tabel 3.45
Deviasi Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi, Nilai Tukar dan Suku Bunga
85
57
Tabel 3.46
Capaian Deviasi Proyeksi APBN Tahun 2012
86
58
Tabel 3.47
Deviasi Proyeksi APBN (Penerimaan Pajak dan Belanja KL)
86
59
Tabel 3.48
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Pelaksanaan Pengelolaan Keuangan dan
Kekayaan Negara yang Efektif dan Efisien
89
60
Tabel 3.49
Capaian Janji Layanan Unggulan Bidang Perpajakan
90
61
Tabel 3.50
Rata - rata Persentase Realisasi dari Janji Layanan Unggulan Bidang Kepabeanan
dan Cukai Tahun 2012
91
62
Tabel 3.51
Layanan Unggulan Bidang Perbendaharaan Negara
92
63
Tabel 3.52
Layanan Unggulan Bidang Kekayaan Negara
93
64
Tabel 3.53
Hasil Pengukuran Rata - rata Persentase Realisasi Janji Layanan Unggulan Bidang
Utang Tahun 2012
94
65
Tabel 3.54
Monitoring Pelaksanaan SOP Layanan Unggulan Bidang Perimbangan Keuangan
95
66
Tabel 3.55
Tingkat Akurasi Perencanaan Kas Semester I TA 2012
96
67
Tabel 3.56
Tingkat Akurasi Perencanaan Kas Semester II TA 2012
96
68
Grafik 3.6
Pemenuhan Struktur Portofolio Utang 2010 - 2012
97
69
Tabel 3.57
Penyelesaian BMN Bermasalah
99
70
Tabel 3.58
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Peningkatan Edukasi Masyarakat dan Pelaku
Ekonomi
99
71
Tabel 3.59
Tingkat Efektivitas Edukasi dan Komunikasi Bidang Penganggaran
100
72
Tabel 3.60
Tingkat Efektivitas Edukasi dan Komunikasi bidang Bea dan Cukai
101
73
Grafik 3.7
Efektivitas Edukasi dan Komunikasi dalam Pengelolaan SBN dan Sistem Akuntansi
Hibah
102
74
Tabel 3.61
Hasil Survey Peserta Sosialisasi Bidang Perimbangan Keuangan
103
75
Tabel 3.62
Rata - rata Hasil Survey Efektivitas Edukasi dan Komunikasi di Bidang Kebijakan
Fiskal dan Keuangan
103
76
Tabel 3.63
Kegiatan Edukasi dan Komunikasi di Bidang Kebijakan Fiskal
104
77
Tabel 3.64
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Pengawasan dan Penegakan Hukum yang
Efektif
105
78
Tabel 3.65
Kinerja Pencairan Piutang Pajak
107
79
Tabel 3.66
Realisasi Penyampaian SPT Tahunan PPh dan Rasio Kepatuhan Tahun 2012
109
80
Tabel 3.67
Perkembangan Capaian IKU P21 Tahun 2010 s.d. 2012
111
81
Tabel 3.68
Capaian IKU P21 Tahun 2012
111
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
No
Nama
Keterangan
Halaman
82
Tabel 3.69
Piutang Bea dan Cukai yang Diselesaikan
113
83
Tabel 3.70
Perbandingan Realisasi Penyelesaian Piutang 3 Tahun Terakhir
114
84
Tabel 3.71
Persentase Pelaksanaan Audit Terhadap Pengusaha Penerima Fasilitas
Kepabeanan dan Cukai Dibanding Rencana
114
85
Tabel 3.72
Rata - rata Kepatuhan Penyampaian Laporan Barang Pengguna (LBP)
116
86
Tabel 3.73
Ketepatan Waktu Penyelesaian Tindak Lanjut Instruksi Presiden Tahun 2012
117
87
Tabel 3.74
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Pembentukan SDM yang Berkompetensi
Tinggi
118
88
Grafik 3.8
Penyerapan Dana APBN TA 2012
119
89
Tabel 3.75
Persentase Pejabat yang Telah Memenuhi Standar Kompetensi Jabatannya
119
90
Tabel 3.76
Program - program Diklat yang Berkontribusi Terhadap Peningkatan Kompetensi
120
91
Tabel 3.77
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Penataan Organisasi yang Adaptif
122
92
Tabel 3.78
Capaian Penyelesaian Mitigasi Risiko
123
93
Tabel 3.79
Hasil Penilaian Reformasi Birokrasi Kemenkeu TA 2012
123
94
Tabel 3.80
Capaian Indeks Reformasi Birokrasi Eselon I TA 2012
124
95
Tabel 3.81
Capaian Indeks Kepuasan Pegawai
124
96
Tabel 3.82
Tindak Lanjut Policy Recommendations TA 2012
126
97
Tabel 3.83
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Perwujudan TIK yang Terintegrasi
127
98
Tabel 3.84
Capaian Akurasi Data SIMPEG
128
99
Tabel 3.85
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Pengelolaan Anggaran yang Optimal
129
100
Tabel 3.86
Penghematan E-Procurement
130
101
Tabel 3.87
Penyerapan Anggaran Kementerian Keuangan 2010 - 2012
131
102
Tabel 3.88
Rapat Koordinasi ALM Tahun 2012
138
103
Gambar 3.1
Tahapan Revisi UU Nomor 33 Tahun 2004
140
104
Tabel 3.89
Progress Tahapan Revisi UU 33/2004 (RUU HKPD)
140
105
Gambar 3.2
Tahapan Pengembangan QMS ISO 9001 : 2008
142
106
Gambar 3.3
IA - CM Levels
143
107
Tabel 3.90
Perkembangan Realisasi Penyerapan Anggaran Kementerian Keuangan TA
2010 - 2012 per Jenis Belanja
148
108
Tabel 3.91
Realisasi DIPA Kementerian Keuangan 2012 per Program
148
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
7
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Kata Pengantar
NILAI-NILAI KEMENTERIAN KEUANGAN
Berpikir, berkata, berperilaku dan bertindak dengan baik dan benar
serta memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral.
Integritas
Bekerja tuntas dan akurat atas dasar kompetensi terbaik dengan
penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi.
Profesionalisme
Membangun dan memastikan hubungan kerjasama internal yang produktif
serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, untuk
menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas.
Sinergi
8
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Ringkasan Eksekutif
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
KEMENTERIAN KEUANGAN
Memberikan layanan yang memenuhi kepuasan pemangku kepentingan yang
dilakukan dengan sepenuh hati, transparan, cepat, akurat dan aman.
Pelayanan
Senantiasa melakukan upaya perbaikan di segala bidang untuk menjadi dan
memberikan yang terbaik.
Kesempurnaan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
9
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
KATA PENGANTAR
AGUS D.W. MARTOWARDOJO
Menteri Keuangan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(LAKIP) Kementerian Keuangan merupakan perwujudan
pertanggungjawaban atas kinerja pencapaian visi dan misi
Kementerian Keuangan pada Tahun Anggaran 2012. LAKIP
Kementerian Keuangan Tahun 2012 merupakan LAKIP
tahun ketiga pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. Penyusunan
LAKIP Kementerian Keuangan mengacu pada Peraturan
Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan
Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, Instruksi
Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah, dan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun
2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, serta
Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2010-2014
sebagaimana telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 40/KMK.01/2010.
LAKIP mempunyai beberapa fungsi, antara lain merupakan alat
penilai kinerja secara kuantitatif, sebagai wujud akuntabilitas
10
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Keuangan menuju
terwujudnya good governance, dan sebagai wujud transparansi
serta pertanggungjawaban kepada masyarakat di satu sisi,
dan di sisi lain, LAKIP merupakan alat kendali dan alat pemacu
peningkatan kinerja setiap unit organisasi di lingkungan
Kementerian Keuangan.
Selanjutnya sejalan dengan pelaksanaan reformasi birokrasi,
Kementerian Keuangan telah menerapkan metode Balanced
Scorecard (BSC) sebagai alat manajemen kinerja. Performance
Kementerian Keuangan diukur atas dasar penilaian indikator
kinerja utama (IKU) yang merupakan indikator keberhasilan
pencapaian sasaran-sasaran strategis (SS/KK) sebagaimana
telah ditetapkan pada Peta Strategis Kementerian Keuangan
tahun 2012 sebagai kontrak kinerja Kementerian Keuangan
Tahun 2012.
Kementerian Keuangan sebagai unsur pelaksana pemerintah
sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor
24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi
Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan
Fungsi Eselon I Kementerian Negara sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 67
Tahun 2010 mempunyai tugas membantu Presiden dalam
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan
dan kekayaan negara.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, Kementerian Keuangan
menetapkan visi: “Menjadi Pengelola Keuangan dan Kekayaan
Negara yang Terpercaya, Akuntabel dan Terbaik di Tingkat
Regional untuk Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera,
Demokratis, dan Berkeadilan.”
Selanjutnya dalam rangka mencapai visi di atas, Kementerian
Keuangan menetapkan 4 (empat) misi, yaitu Misi Fiskal, Misi
Kekayaan Negara, Misi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan,
dan Misi Penguatan Kelembagaan. Keempat misi ini untuk
mendukung implementasi paket Undang-undang Keuangan
Negara yaitu Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara, Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004
tentang Perbendaharaan Negara, dan Undang-undang
Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara.
Misi tersebut selanjutnya dirinci dalam Rencana Strategik
(Renstra) Kementerian Keuangan Tahun 2010-2014 yang
digunakan sebagai landasan penyusunan Rencana Kinerja
Tahunan (RKT). RKT berfungsi sebagai rencana kerja
operasional secara kuantitatif, yang pada intinya merupakan
implementasi pelaksanaan tugas yang sangat strategis
dalam bidang pengelolaan keuangan negara, mulai dari
penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (RAPBN), melaksanakan APBN dengan menghimpun
penerimaan dan menyalurkan dana APBN, dan akhirnya
mempertanggung¬jawabkan dalam bentuk Laporan
Keuangan.
Dalam situasi dan kondisi perekonomian yang sangat fluktuatif,
serta tuntutan masyarakat yang sangat dinamis, tugas
pengelolaan keuangan negara dirasakan semakin berat dan
penuh tantangan.Walaupun demikian, dengan dimotivasi
oleh visi dan misi yang telah ditetapkan aparatur Kementerian
Keuangan telah berhasil mengatasinya, sehingga tugas yang
diemban dapat diselesaikan sesuai dengan harapan.
Penyusunan LAKIP Tahun 2012 ini dimaksudkan untuk
memberikan gam­baran yang jelas dan transparan serta
sekaligus sebagai pertanggungjawa­ban atas pencapaian visi
dan misi yang diamanatkan kepada Kementerian Keuangan.
MENTERI KEUANGAN
AGUS D.W. MARTOWARDOJO
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
11
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
RINGKASAN EKSEKUTIF
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)
Kementerian Keuangan Tahun 2012, merupakan perwujudan
akuntabilitas pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian
yang mendukung terwujudnya good governance berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku, kebijakan yang
transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu LAKIP
Kementerian merupakan wujud dari pertanggungjawaban atas
kinerja pencapaian visi dan misi yang dijabarkan dalam tujuan/
sasaran strategis. Tujuan/sasaran strategis tersebut mengacu
pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2010-2014 dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2012.
Visi Kementerian Keuangan adalah Menjadi Pengelola
Keuangan dan Kekayaan Negara yang Terpercaya, Akuntabel
dan Terbaik di Tingkat Regional untuk Mewujudkan Indonesia
yang Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan. Dalam
mencapai visi tersebut, Kementerian Keuangan sebagai
lembaga/institusi yang mempunyai tugas menghimpun dan
mengalokasikan keuangan negara serta mengelola kekayaan
negara melaksanakan secara transparan dan akuntabel, yang
berlandaskan asas profesionalitas, proporsionalitas, dan
keterbukaan.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Kementerian Keuangan
mempunyai empat misi yaitu (1) Misi Fiskal, yaitu
mengembangkan kebijakan fiskal yang sehat, berkelanjutan,
hati-hati (prudent), dan bertanggung jawab; (2) Misi Kekayaan
Negara, yaitu mewujudkan pengelolaan kekayaan negara
yang optimal sesuai dengan asas fungsional, kepastian hukum,
transparan, efisien, dan bertanggungjawab; (3) Misi Pasar
Modal dan Lembaga Keuangan, yaitu mewujudkan in­dustri
pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai peng­
gerak dan penguat perekonomian nasional yang tangguh dan
ber­daya saing global; dan (4) Misi Penguatan Kelembagaan,
yang meliputi (i) membangun dan mengembangkan
organisasi berlandaskan administrasi publik sesuai dengan
tuntutan masyarakat; (ii) membangun dan mengembangkan
12
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
SDM yang amanah, profe­sional, berintegritas tinggi, dan
bertanggungjawab; (iii) membangun dan mengembangkan
teknologi informasi keuan­gan yang modern dan terintegrasi
serta sarana dan prasarana strategis lainnya.
Dalam mencapai visi dan misi, Kementerian Keuangan
menetapkan 6 tujuan strategis yang akan dicapai dalam
tahun 2010-2014 yaitu: (i) meningkatkan dan mengamankan
pendapatan negara dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan keadilan masyarakat; (ii)
meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan belanja
negara untuk mendukung penyelenggaraan tugas K/L dan
pelaksanaan desentralisasi fiskal; (iii) mewujudkan kapasitas
pembiayaan yang mampu memberikan daya dukung bagi
kesinambungan fiskal; (iv) pengelolaan perbendaharaan
negara yang profesional dan akuntabel serta mengedepankan
kepuasan stakeholders atas kinerja perbendaharaan negara;
(v) mewujudkan pengelolaan kekayaan negara yang optimal
serta menjadikan nilai kekayaan negara sebagai acuan dalam
berbagai keperluan; dan (vi) membangun otoritas pasar modal
dan lembaga keuangan yang amanah dan profesional, yang
mampu mewujudkan industri pasar modal dan lembaga
keuangan non bank sebagai penggerak perekonomian
nasional yang tangguh dan berdaya saing global.
Untuk menunjang pencapaian tujuan strategis tersebut
disusunlah Peta Strategi Kementerian Keuangan berdasarkan
metodologi balanced scorecard yang terdiri dari empat
perspektif yaitu stakeholder, customer, internal process dan
learning and growth. Peta strategi tersebut terdiri dari 16 (enam
belas) sasaran strategis, tujuh sasaran strategis diantaranya
merupakan bagian dari stakeholder perspective, satu sasaran
strategis pada customer perspective, dan masing-masing empat
sasaran strategis pada internal business process dan learning
and growth perspective. Peta Strategi Kementerian Keuangan
2012 memuat 16 sasaran strategis. Sasaran-sasaran strategis
tersebut adalah sebagai berikut: (1) Pendapatan negara yang
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Laporan Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah 2012
optimal; (2) Perencanaan dan pelaksanaan belanja negara yang
optimal; (3) Pembiayaan dalam jumlah yang cukup, aman dan
efisien bagi kesinambungan fiskal; (4) Utilisasi kekayaan negara
yang optimal; (5) Transfer daerah yang adil, transparan, tepat
guna dan tepat waktu; (6) Pengelolaan keuangan negara yang
akuntabel; (7) Industri pasar modal dan jasa keuangan non
bank yang stabil, tahan uji, dan likuid; (8) Tingkat Kepuasan
pengguna layanan yang tinggi; (9) Kajian dan rumusan
kebijakan yang berkualitas; (10) Pelaksanaan pengelolaan
keuangan dan kekayaan negara yang efektif dan efisien;
(11) Peningkatan edukasi masyarakat dan pelaku ekonomi;
(12) Pengawasan dan penegakan hukum yang efektif; (13)
Pembentukan SDM yang berkompetensi tinggi; (14) Penataan
organisasi yang adaptif; (15) Perwujudan TIK yang terintegrasi
dan andal; dan (16) Pelaksanaan anggaran yang optimal.
Penilaian terhadap keberhasilan atau kegagalan pencapaian
sasaran strategis, diukur dengan Indikator Kinerja Utama
(IKU). Kualitas IKU didasarkan pada kriteria SMART-C (Specific,
Measureable, Agreeable, Realistic, Time-bounded dan Continously
Improved). Pada tahun 2012, ini dihasilkan 38 IKU pada level
Kementerian yang merupakan komitmen kinerja Menteri
Keuangan dan Wakil Menteri Keuangan.
Secara umum pencapaian IKU pada tahun 2012 sudah sesuai
dengan target yang ditetapkan, kecuali beberapa IKU yang
berada dibawah target. Dari 38 IKU level Kementerian terdapat
30 IKU berstatus hijau (mencapai target) dan 8 IKU berstatus
kuning (kurang dari target). IKU yang tidak mencapai target
meliputi: (1) Jumlah pendapatan negara; (2) Persentase
penyerapan belanja negara dalam DIPA K/L; (3) Indeks jumlah
LK K/L dan LK BUN yang andal dengan opini audit yang baik; (4)
Rata-rata indeks opini BPK RI atas LK BA 15, BUN, dan BA 999; (5)
Indeks Kepuasan Pengguna Layanan; (6) Persentase integrasi
TIK Kemenkeu; (7) Persentase Akurasi data SIMPEG; dan (8)
Persentase Penyerapan DIPA Kementerian Keuangan.
Selain melaksanakan pengukuran kinerja, dalam rangka
menjaga dan meningkatkan efektifitas pengelolaan kinerja,
telah dilaksanakan reviu terhadap kontrak kinerja secara
sampling pada beberapa unit eselon II di semua unit eselon
I. Reviu meliputi dokumen dan informasi pendukung
penyusunan kontrak kinerja seperti Rencana Strategis (Renstra)
yang memuat pernyataan visi dan misi organisasi, uraian
jabatan, tugas dan fungsi, kontrak kinerja tahun sebelumnya,
Manual IKU, serta Matriks Cascading dan Alignment.
Implementasi manajemen kinerja balanced scorecard di
Kementerian Keuangan telah berjalan baik walaupun masih
butuh banyak penyempurnaan. Segala upaya perbaikan terus
dilakukan untuk meningkatkan kinerja organisasi lebih melejit
lagi. Capaian IKU yang masih dibawah target terus dilakukan
evaluasi dan action plan yang relevan. Perbaikan peraturan
atau pedoman pelaksanaan pengelolaan kinerja juga dilakukan
sehingga dapat mengakomodasi perkembangan yang terjadi
atau yang belum diatur secara jelas. Untuk itu, Kementerian
Keuangan akan senantiasa berupaya dan bekerja lebih
keras lagi, sehingga diharapkan di masa yang akan datang
menjadi organisasi yang berkinerja tinggi (high performance
organization).
MENTERI KEUANGAN
AGUS D.W. MARTOWARDOJO
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
13
14
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
15
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Kata Pengantar
BAB I
Pendahuluan
16
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Ringkasan Eksekutif
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
A. Latar Belakang
Kementerian Keuangan berdasarkan Peraturan Presiden
Nomor 67 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan
Presiden Nomor 24 Tahun 2010 Tentang Kedudukan, Tugas,
dan Fungsi Kementerian Negara Serta Susunan Organisasi,
Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara mempunyai
tugas yang sangat strategis, yaitu mengelola keuangan dan
kekayaan negara. Dalam melaksanakan tugas pengelolaan
keuangan negara tersebut, Kementerian Keuangan dituntut
untuk melaksanakannya dengan prudent, transparan,
akuntabel, efektif, dan efisien sesuai dengan prinsip-prinsip
good governance sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan
Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Salah satu azas penyelenggaraan good governance yang
tercantum dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999
adalah azas akuntabilitas yang menentukan bahwa setiap
kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara
harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat
atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Akuntabilitas tersebut salah satunya diwujudkan
dalam bentuk penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah (LAKIP).
LAKIP disusun sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban
Kementerian Keuangan dalam melaksanakan tugas dan
fungsi selama Tahun 2012 dalam rangka melaksanakan misi
dan mencapai visi Kementerian Keuangan dan sekaligus
sebagai alat kendali dan pemacu peningkatan kinerja setiap
unit organisasi di lingkungan Kementerian Keuangan, serta
sebagai salah satu alat untuk mendapatkan masukan bagi
stakeholders demi perbaikan kinerja Kementerian Keuangan.
Selain untuk memenuhi prinsip akuntabilitas, penyusunan
LAKIP tersebut juga merupakan amanat Peraturan Pemerintah
Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan
Kinerja Instansi Pemerintah, Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun
1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan
Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan
Pemberantasan Korupsi.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
17
Gambar 1.1
BAGAN ORGANISASI
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
INSPEKTORAT
JENDERAL
5
STAF AHLI
DIREKTORAT
JENDERAL
ANGGARAN
DIREKTORAT
JENDERAL
PAJAK
DIREKTORAT
JENDERAL BEA DAN
CUKAI
DIREKTORAT
JENDERAL
PERBENDAHARAAN
DIREKTORAT
JENDERAL
KEKAYAAN NEGARA
KANWIL
DJP
KANWIL /
KPU DJBC
KANWIL
DJPb
KANWIL
DJKN
KPP
KPPBC
KPPN
KPKNL
Tingkat
pusat
Tingkat
Daerah/
Instansi
Vertikal
18
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
MENTERI KEUANGAN
WAKIL MENTERI I
WAKIL MENTERI II
SEKRETARIAT
JENDERAL
PUSAT
DIREKTORAT
JENDERAL
PERIMBANGAN
KEUANGAN
DIREKTORAT
JENDERAL
PENGELOLAAN
UTANG
SET-PP
SETKOM WASJAK
BADAN PENGAWAS
PASAR MODAL
DAN LEMBAGA
KEUANGAN
BADAN KEBIJAKAN
FISKAL
LPDP
BADAN PENDIDIKAN
DAN PELATIHAN
KEUANGAN
BDK
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
19
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
B. Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi
Dalam melaksanakan peran strategis seperti diuraikan diatas,
sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/
PMK.01/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Keuangan, Kementerian Keuangan mempunyai tugas
membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian
tugas pemerintahan di bidang keuangan dan kekayaan
negara. Dalam melaksanakan tugasnya, Kementerian
Keuangan mempunyai fungsi: (a) perumusan, penetapan, dan
pelaksanaan kebijakan di bidang keuangan dan kekayaan
negara; (b) pengelolaan Barang Milik/Kekayaan Negara
yang menjadi tanggung jawab Kementerian Keuangan;
(c) pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan
Kementerian Keuangan; (d) pelaksanaan bimbingan teknis dan
supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Keuangan di
daerah; (e) pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional;
dan (f ) pelaksanaan kegiatan teknis dari pusat sampai ke
daerah.
Dalam menjalankan tugas dan fungsi Kementerian Keuangan,
Menteri Keuangan dibantu oleh 12 Unit Eselon I, 5 Staf Ahli,
dan 5 Pusat. Selain itu, untuk mendukung tugas dan fungsi
Kementerian Keuangan telah dibentuk Pusat Investasi
Pemerintah, Sekretariat Pengadilan Pajak, dan Sekretariat
Komite Pengawas Perpajakan. Berbeda dengan Kementerian
lainnya yang bersifat integrated type, dimana DirektoratDirektorat Jenderalnya melaksanakan tugas yang sejenis,
Kementerian Keuangan bersifat holding company type dimana
Direktorat-Direktorat Jenderalnya melaksanakan tugas dengan
ruang lingkup dan sifat yang berbeda, dan mempunyai instansi
vertikal untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi di
wilayah. Bagan struktur organisasi Kementerian Keuangan
dapat dilihat dalam gambar 1.1 :
Dalam menjalankan tugasnya, Kementerian Keuangan
didukung oleh 61.091 orang pegawai dari berbagai bidang
keahlian seperti ekonomi, keuangan, bisnis, hukum, teknis,
administrasi, dan lainnya. Pegawai Kementerian Keuangan
tersebut ditempatkan pada 12 unit Eselon I yang tersebar
ke dalam Kantor Pusat dan Kantor Vertikal di daerah. Dalam
konteks perimbangan pegawai, terdapat 24,20% pegawai di
Kantor Pusat dan 75,80% pegawai di Intansi Vertikal di daerah.
Distribusi pegawai yang berimbang ini amat perlu dalam
membentuk workforce yang efektif dan efisien. Selain itu
Kementerian Keuangan juga mempertimbangkan komposisi
20
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
dari segi jabatan, golongan, pendidikan dan usia/generasi serta
kompetensi. Komposisi yang berimbang merupakan dukungan
dalam pencapaian sasaran kinerja Kementerian Keuangan
pada tahun 2012 ini sebagaimana tertuang dalam Peta Strategi
Kementerian Keuangan tahun 2012 dalam perspektif learning
and growth.
C. Mandat dan Peran Strategis
Kementerian Keuangan mempunyai peran yang strategis yaitu
pengelola keuangan dan kekayaan negara. Sebagaimana
diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara, Presiden sebagai pemegang
kekuasaan pengelolaan keuangan negara memberi kuasa
kepada Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal dan wakil
pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang
dipisahkan, serta kepada Menteri/Pimpinan Lembaga selaku
Pengguna Anggaran/Pengguna Barang Kementerian Negara/
Lembaga yang dipimpinnya. Menteri Keuangan sebagai
pembantu Presiden dalam bidang keuangan pada hakekatnya
adalah Chief Financial Officer (CFO), sementara setiap menteri/
pimpinan lembaga pada hakekatnya adalah Chief Operational
Officer (COO) untuk suatu bidang tertentu pemerintahan.
Prinsip ini perlu dilaksanakan secara konsisten agar terdapat
kejelasan dalam pembagian wewenang dan tanggung jawab,
terlaksananya mekanisme checks and balances serta untuk
mendorong upaya peningkatan profesionalisme dalam
penyelenggaraan tugas pemerintahan.
Dalam rangka melaksanakan kekuasaan sebagai pengelola
fiskal, Menteri Keuangan mempunyai tugas sebagai berikut:
1. Menyusun kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro;
2. Menyusun rancangan APBN dan rancangan Perubahan
APBN;
3. Mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran;
4. Melakukan perjanjian internasional di bidang keuangan;
5. Melaksanakan pemungutan pendapatan negara yang
telah ditetapkan dengan Undang-Undang;
6. Melaksanakan fungsi Bendahara Umum Negara (BUN);
7. Menyusun laporan keuangan yang merupakan
pertanggungjawaban APBN;
8. Melaksanakan tugas-tugas lain di bidang pengelolaan
fiskal berdasarkan ketentuan Undang-Undang.
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Dalam rangka melaksanakan kekuasaan sebagai pengelola
kekayaan negara, Menteri Keuangan mempunyai tugas sebagai
berikut:
1. Merumuskan kebijakan di bidang kekayaan negara,
piutang negara, dan lelang;
2. Melaksanakan kebijakan di bidang kekayaan negara,
piutang negara, dan lelang;
3. Menyusun norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang
kekayaan negara, piutang negara, dan lelang.
Peran strategis Kementerian Keuangan juga tercermin dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
periode 2009-2014 yang telah menetapkan Arah Kebijakan
dan Strategi Nasional yang terbagi dalam 11 (sebelas) Prioritas
Nasional, yaitu: (1) Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola; (2)
Pendidikan; (3) Kesehatan; (4) Penanggulangan kemiskinan;
(5) Ketahanan Pangan; (6) Infrastruktur; (7) Iklim Investasi dan
Iklim Usaha; (8) Energi; (9) Lingkungan Hidup dan Pengelolaan
Bencana; (10) Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Pascakonflik; dan (11) Kebudayaan, Kreativitas, dan Inovasi Teknologi.
Arah kebijakan dan Strategi Nasional tersebut meruakan
tahapan kedua dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang
(RPJP) Nasional Tahun 2005-2025 sebagaimana dituangkan
dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005
- 2025.
Sesuai dengan tugas dan fungsinya, Kementerian Keuangan
secara langsung mendukung 3 (tiga) Prioritas Nasional pada
substansi inti tertentu. Adapun Prioritas Nasional dimaksud
yaitu: (1) Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola; (2) Ketahanan
Pangan; dan (3) Iklim Investasi dan Iklim Usaha. Dalam rangka
mendukung masing-masing Prioritas Nasional tersebut,
Kementerian Keuangan melaksanakan Kegiatan Prioritas.
Prioritas Nasional, Substansi Inti, dan Kegiatan Prioritas yang
dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan dapat dilihat pada
tabel 1.1
Selain mendukung tiga prioritas nasional, Kementerian
Keuangan juga mendukung Prioritas Bidang Ekonomi. Dalam
Gambar 1.2
Peran Strategis Kementerian Keuangan Dalam Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Negara
Presiden
(CFO)
Bendahara Umum Negara
(COO)
Pengguna Anggaran/Barang
Menteri Keuangan
Menteri Teknis
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
21
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 1.1
Kegiatan Prioritas Nasional Kementerian Keuangan
No
Prioritas Nasional
1.
Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola
Substansi Inti
Kegiatan Prioritas
Perumusan Kebijakan, Bimbingan Teknis, dan
Otonomi Daerah
Pengelolaan Transfer Ke Daerah.
Perumusan Kebijakan, Bimbingan Teknis,
Regulasi
Monitoring dan Evaluasi di bidang Pendapatan
Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).
2.
Ketahanan Pangan
Investasi, Pembiayaan, dan Subsidi
Penyusunan dan Penyampaian Laporan Keuangan
Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (BSBL).
Pengelolaan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat
(ABPP).
3.
Prioritas Nasional Iklim Investasi
dan Iklim Usaha
Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis
Logistik Nasional
Fasilitas Bidang Kepabeanan.
Perumusan Kebijakan dan Pengembangan
Sistem Informasi
Teknologi Informasi Kepabeanan dan Cukai.
Perumusan kebijakan di bidang PPN, PBB, BPHTB,
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
KUP, PPSP, dan Bea Materai.
Perumusan kebijakan di bidang PPh dan
perjanjian kerjasama perpajakan internasional.
RPJMN 2010-2014, elemen-elemen utama pembangunan
di bidang ekonomi yang harus mendapatkan perhatian
dan penanganan yang sungguh-sungguh adalah prioritas
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, penciptaan
stabilitas yang kokoh, serta pembangunan ekonomi yang
inklusif dan berkeadilan. Kementerian Keuangan mendukung
3 (tiga) prioritas di bidang ekonomi yaitu: (1) Prioritas
22
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Optimalisasi Pengeluaran Pemerintah; (2) Prioritas Pengelolaan
APBN yang Berkelanjutan; dan (3) Prioritas Stabilitas Sektor
Keuangan. Masing-masing Prioritas Bidang memiliki Fokus
Prioritas dan Kegiatan Prioritas. Adapun Prioritas Bidang,
Fokus Prioritas, dan Kegiatan Prioritas yang dilaksanakan oleh
Kementerian Keuangan dapat dilihat pada tabel I.2
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 1.2
Kegiatan Prioritas Bidang Kementerian Keuangan
No
Prioritas Bidang
Fokus Prioritas
Optimalisasi Anggaran Belanja
Pemerintah Pusat
Pengelolaan Perimbangan
Kegiatan Prioritas
•
Pengelolaan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat
(ABPP).
•
Pengembangan Sistem Penganggaran.
•
Penyusunan dan penyampaian laporan keuangan
Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (BSBL).
•
Perumusan kebijakan, bimbingan teknis,
monitoring dan evaluasi di bidang pembiayaan
dan kapasitas daerah.
•
Perumusan kebijakan, bimbingan teknis, dan
pengelolaan transfer ke Daerah.
•
Perumusan kebijakan bimbingan teknis,
monitoring, dan evaluasi di bidang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah (PDRD).
•
Perumusan kebijakan, pemantauan dan evaluasi
di bidang pendanaan daerah danekonomi
daerah, penyusunan laporan keuangan transfer
ke daerah, serta pengembangan sistem informasi
keuangan daerah.
Keuangan
1.
Optimalisasi Pengeluaran
Pemerintah
Pembinaan Pelaksanaan Anggaran dan Pengesahan
Dokumen Pelaksanaan Anggaran.
Pengelolaan Perbendaharaan
Peningkatan Pengelolaan Kas Negara.
Negara
Manajemen Investasi dan Penerusan Pinjaman.
Penyelenggaraan pertanggungjawaban pelaksanaan
anggaran.
Perumusan kebijakan, standardisasi, bimbingan teknis,
evaluasi dan pengelolaan Barang Milik Negara.
Pengelolaan Barang Milik Negara
dan Kekayaan Negara
Perumusan kebijakan, standardisasi, bimbingan teknis,
evaluasi dan pengelolaan Barang Milik Negara dan
Kekayaan Negara yang Dipisahkan.
Perumusan kebijakan, standardisasi, bimbingan teknis,
evaluasi dan pengelolaan Kekayaan Negara Lain-Lain.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
23
Tabel 1.2 (Lanjutan)
No
Prioritas Bidang
Fokus Prioritas
Kegiatan Prioritas
•
Perumusan Kebijakan APBN.
•
Pengelolaan Risiko Fiskal dan Sektor Keuangan.
•
Perumusan Kebijakan Ekonomi.
•
Perumusan Kebijakan Pajak, Kepabeanan, Cukai
dan PNBP.
Pengelolaan Pembiayaan
•
Penyusunan Rancangan APBN.
Anggaran dan Pengendalian
•
Pengelolaan Pinjaman.
Resiko
•
Pengelolaan Surat Utang Negara.
•
Pengelolaan Pembiayaan Syariah.
•
Pengelolaan Strategi dan Portofolio Utang.
•
Pelaksanaan Evaluasi, Akuntansi, dan Setelmen
Utang.
•
Pengelolaan PNBP dan subsidi.
•
Peningkatan efektivitas pemeriksaan, optimalisasi
pelaksanaan penagihan.
•
Perumusan kebijakan di bidang PPN, PBB, BPHTB,
KUP, PPSP, dan Bea Materai.
•
Perumusan kebijakan di bidang PPh, dan
perjanjian kerja sama perpajakan internasional.
•
Peningkatan kualitas pelayanan serta efektivitas
penyuluhan dan kehumasan.
•
Perencanaan, pengembangan, dan evaluasi di
bidang teknologi, komunikasi dan informasi
perpajakan.
•
Pelaksanaan reformasi proses bisnis.
•
Pengelolaan data dan dokumen Perpajakan.
•
Perumusan Kebijakan dan Peningkatan
Pengelolaan Penerimaan Bea dan Cukai.
•
Perumusan Kebijakan dan Pengembangan
Teknologi Informasi Kepabeanan dan Cukai.
•
Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis
Bidang Kepabeanan.
•
Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis
Fasilitas Bidang Kepabeanan.
•
Pelaksanaan Pengawasan dan Penindakan atas
Pelanggaran Peraturan Perundangan, Intelijen
dan Penyidikan Tindak Pidana Kepabeanan dan
Cukai.
•
Peningkatan Pengawasan dan Pelayanan
Kepabeanan dan Cukai di daerah .
Perumusan Kebijakan Fiskal,
2
Pengelolaan APBN Yang
Berkelanjutan
Peningkatan dan Optimalisasi
Penerimaan Negara
24
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Tabel 1.2 (Lanjutan)
No
3
Prioritas Bidang
Stabilitas Sektor Keuangan
Fokus Prioritas
Kegiatan Prioritas
•
Perumusan Peraturan, Penetapan Sanksi dan
Pemberian Bantuan Hukum
•
Riset Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non
Bank serta Pengembangan Teknologi Informasi
•
Pemeriksaan dan penyidikan di bidang Pasar
Modal
•
Pengaturan, Pembinaan dan Pengawasan Bidang
Pengelolaan Investasi
•
Pengaturan, Pembinaan dan Pengawasan Bidang
Transaksi dan Lembaga Efek
•
Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten
dan Perusahaan Publik Sektor Jasa
•
Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten
dan Perusahaan Publik Sektor Riil
•
Pengaturan dan Pengawasan di bidang Lembaga
Pembiayaan dan Penjaminan
•
Pengaturan, Pembinaan, dan Pengawasan bidang Perasuransian
•
Pengaturan, Pembinaan, dan Pengawasan Bidang Dana Pensiun
Peningkatan Ketahanan dan Daya
Saing Sektor Keuangan
D. Sistematika Laporan
Sistematika penyajian LAKIP Kementerian Keuangan Tahun
2012 adalah sebagai berikut:
1. Ikhtisar Eksekutif.
Bagian ini menguraikan secara singkat tentang tujuan
dan sasaran yang akan dicapai beserta hasil capaian,
kendala-kendala yang dihadapi dalam mencapai tujuan
dan sasaran, langkah-langkah yang diambil, serta langkah
antisipatifnya.
2. Bab I. Pendahuluan.
Bagian ini menguraikan tentang tugas, fungsi dan struktur
organisasi, mandat dan peran strategis Kementerian
Keuangan, serta sistematika laporan.
3. Bab II.
Bagian ini menguraikan tentang rencana strategis dan
penetapan/perjanjian kinerja Kementerian Keuangan
Tahun 2012.
4. Bab III.
Bagian ini menguraikan tentang pengukuran, sasaran dan
akuntabilitas pencapaian sasaran strategis Kementerian
Keuangan Tahun 2012.
5. Bab IV.
Bagian ini menguraikan tentang keberhasilan dan
kegagalan pencapaian sasaran yang telah ditetapkan,
permasalahan dan kendala, serta strategi pemecahannya
untuk tahun mendatang.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
25
26
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB II
RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN/
PERJANJIAN KINERJA
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
27
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Kata Pengantar
BAB II
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
28
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Ringkasan Eksekutif
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
A. Rencana Strategis
Kementerian Keuangan bertugas membantu Presiden dalam
menyeleng­garakan sebagian urusan pemerintahan di bidang
keuangan dan kekayaan negara. Dalam kurun waktu 20101014 dengan berorientasi kepada hasil yang ingin dicapai
selama 5 (lima) tahun dan memperhitungkan potensi, peluang,
serta kendala yang ada maupun tantangan yang mungkin
terjadi, Kementerian Keuangan dituntut berpandangan jauh
ke depan, serta berupaya meningkatkan kualitas agar lebih
profesional dan mampu menca­pai tingkat kesetaraan di pasar
global. Berkaitan dengan itu, setiap apara­tur Kementerian
Keuangan didorong untuk lebih meningkatkan integritas
dan kredibilitasnya sehingga dipercaya dan dibanggakan
masyarakat serta bekerja secara profesional dan efisien untuk
mendukung tercapainya masyarakat adil dan makmur.
Dalam rangka menghadapi perubahan kondisi global dan
nasional yang cepat dan dinamis, Menteri Keuangan telah
menetapkan Visi Kementerian Keuangan yaitu:
“Menjadi Pengelola Keuangan dan Kekayaan Negara yang
Terpercaya, Akuntabel, dan Terbaik di Tingkat Regional
untuk Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera, Demokratis,
dan Berkeadilan”
Pengertian Pengelola Keuangan dan Kekayaan Negara
dalam visi tersebut bermakna bahwa Kementerian
Keuangan sebagai lembaga/institusi yang mempunyai tugas
menghimpun dan mengalokasikan keuangan negara dan
mengelola kekayaan negara. Terpercaya berarti semakin
meningkatnya kepercayaan masyarakat karena pengelolaan
keuangan dan kekayaan negara dilakukan secara transparan,
yaitu semua penerimaan negara, belanja negara dan
pembiayaan defisit anggaran dilakukan melalui mekanisme
APBN. Akuntabel artinya pengelolaan keuangan dan kekayaan
negara yang mengacu pada praktek terbaik internasional
yang berlandaskan asas profesionalitas, proporsionalitas, dan
keterbukaan. Terbaik di Tingkat Regional berarti semakin
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
29
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
meningkatnya kualitas perumusan kebijakan maupun
implementasinya sehingga menjadi acuan governance di Asia
Tenggara.
Dalam rangka pencapaian visi, Kementerian Keuangan
menetapkan 4 (em­pat) misi, yaitu:
1. Misi Fiskal, adalah mengembangkan kebijakan fiskal yang
sehat, berkelanjutan, hati-hati (prudent), dan bertanggung
jawab.
2. Misi Kekayaan Negara, adalah mewujudkan pengelolaan
kekayaan negara yang optimal sesuai dengan asas
fungsional, kepastian hu­kum, transparan, efisien, dan
bertanggungjawab.
3. Misi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, adalah
mewujudkan in­dustri pasar modal dan lembaga keuangan
non bank sebagai peng­gerak dan penguat perekonomian
nasional yang tangguh dan ber­daya saing global.
4. Misi Penguatan Kelembagaan, adalah
a. Membangun dan mengembangkan organisasi
berlandaskan administrasi publik sesuai dengan
tuntutan masyarakat;
b. Membangun dan mengembangkan SDM yang
amanah, profe­sional, berintegritas tinggi, dan
bertanggungjawab;
c. Membangun dan mengembangkan teknologi
informasi keuan­gan yang modern dan terintegrasi
serta sarana dan prasarana strategis lainnya.
Dalam rangka implementasi atau penjabaran dari
misi,ditetapkan tujuan yang merupakan sesuatu yang akan
dicapai atau dihasilkan pada kurun waktu tertentu, yaitu
satu sampai dengan lima tahun kedepan dalam tahun
2010-2014, serta menggambarkan arah strategik organisasi,
perbaikan-perbaikan yang ingin diciptakan sesuai dengan
tugas dan fungsi, serta meletakkan kerangka prioritas untuk
memfokuskan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan.
Tujuan Kementerian Keuangan untuk periode 2010-2014
dikelompokkan ke dalam 6 (enam) tema pokok sebagai berikut:
1. Tujuan dalam tema pendapatan negara adalah
meningkatkan dan mengamankan pendapatan negara
dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan
keadilan masyarakat
2. Tujuan dalam tema belanja negara adalah meningkatkan
efektivitas dan efisiensi pengelolaan belanja negara untuk
30
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
3.
4.
5.
6.
Ringkasan Eksekutif
mendukung penyelenggaraan tugas K/L dan pelaksanaan
desentralisasi fiskal;
Tujuan dalam tema pembiayaan APBN adalah
mewujudkan kapasitas pembiayaan yang mampu
memberikan daya dukung bagi kesinambungan fiskal;
Tujuan dalam tema perbendaharaan negara adalah
pengelolaan perbendaharaan negara yang profesional dan
akuntabel serta mengedepankan kepuasan stakeholders
atas kinerja perbendaharaan negara;
Tujuan dalam tema kekayaan negara adalah mewujudkan
pengelo­laan kekayaan negara yang optimal serta
menjadikan nilai kekayaan negara sebagai acuan dalam
berbagai keperluan;
Tujuan dalam tema pasar modal dan lembaga keuangan
non bank adalah membangun otoritas pasar modal dan
lembaga keuangan yang amanah dan profesional, yang
mampu mewujudkan industri pasar modal dan lembaga
keuangan non bank sebagai penggerak perekonomian
nasional yang tangguh dan berdaya saing global.
Untuk menjabarkan tujuan agar terukur dan dapat dicapai
secara nyata, Kementerian Keuangan menyusun sasaran
strategis. Sasaran strategis Kementerian Keuangan untuk tahun
2010-2014 adalah sebagai berikut:
1. Sasaran Strategis untuk tema Pendapatan Negara adalah
sebagai berikut:
a. Tingkat pendapatan yang optimal
Tingkat pendapatan yang optimal adalah tingkat
pencapaian penerimaan dalam negeri sesuai dengan
target sebagaimana tercantum dalam APBN atau
APBN-P.
b. Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi dan
citra yang meningkat yang didukung oleh tingkat
pelayanan yang handal.
Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi diukur
berdasarkan hasil survei kepuasan stakeholder oleh
lembaga independen. Hasil survei yang positif akan
meningkatkan citra Kementerian Keuangan di mata
stakeholder.
c. Tingkat kepatuhan wajib pajak, kepabeanan, dan
cukai yang tinggi.
Tingkat kepatuhan wajib pajak, kepabeanan, dan
cukai terhadap peraturan perundang-undangan yang
pada akhirnya menunjukkan potensi pendapatan
pajak, kepabeanan dan cukai.
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
2. Sasaran Strategis dalam Tema Belanja Negara adalah
sebagai berikut:
a. Alokasi belanja negara yang tepat sasaran, tepat
waktu, efektif, efisien dan akuntabel.
1) Alokasi belanja negara yang tepat sasaran adalah
alokasi anggaran yang dapat mencapai kinerja
program dan kegiatan kementerian negara/
lembaga yang telah ditetapkan dalam APBN.
2) Alokasi belanja negara yang tepat waktu adalah
penge­sahan DIPA yang dapat diselesaikan sesuai
jadwal yang ditetapkan.
3) Alokasi belanja negara yang efisien adalah
penuangan anggaran pada DIPA yang dapat
digunakan untuk men­dukung pencapaian
sasaran yang ditetapkan.
4) Alokasi belanja negara yang akuntabel adalah
alokasi belanja negara yang proporsional sesuai
dengan priori­tas rencana kerja pemerintah dan
dapat dipertanggung­jawabkan pelaksanaannya.
b. Tata kelola yang yang tertib transparan, dan akuntabel
dalam pelaksanaan belanja negara.
1) Tata kelola yang tertib adalah pengelolaan
belanja negara sesuai dengan sistem dan
prosedur yang telah ditetapkan dalam peraturan
perundang-undangan.
2) Tata kelola yang transparan dan akuntabel adalah
pengelolaan belanja negara yang dilakukan
secara terbuka sehingga proses pengelolaannya
dapat diketahui oleh stakeholder dan dapat
dipertanggungjawabkan.
c. Peningkatan efektifitas dan efisiensi pengelolaan
hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah.
Perimbangan Keuangan adalah pelaksanaan kebijakan
hubungan keuangan pusat dan daerah yang dapat
menjamin keseimbangan keuangan terkait dengan
besarnya beban, tanggung jawab, dan kewenangan
yang dimiliki oleh pusat maupun daerah sesuai
dengan norma dan standar yang ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan
d. Terciptanya tata kelola yang tertib sesuai peraturan
perundang-undangan, transparan, kredibel,
akuntabel, dan profesional dalam pelaksanaan
hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah.
1) Tata kelola yang tertib adalah pengelolaan
transfer ke daerah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
2) Transparan adalah pelaksanaan kebijakan transfer
ke daerah dapat diakses oleh seluruh stakeholder.
3) Akuntabel adalah pelaksanaan kebijakan transfer
ke daerah dapat dipertanggungjawabkan.
3. Sasaran Strategis dalam Tema Pembiayaan APBN adalah
sebagai berikut:
a. Terpenuhinya pembiayaan APBN melalui utang secara
tepat waktu, cukup, dan efisien.
Memenuhi target pembiayaan APBN melalui utang
yang bersumber dari dalam negeri dan luar negeri,
dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) dan
Pinjaman, dengan mempertimbangkan biaya dan
risiko untuk mendukung kesinambungan fiskal.
b. Terciptanya kepercayaan para pemangku kepentingan
(investor, kreditor, dan pelaku pasar lainnya) terhadap
pengelolaan utang yang transparan, akuntabel, dan
kredibel.
Tersedianya informasi terkait pengelolaan utang
kepada publik secara transparan dan akurat, dan
terjaganya kredibilitas pengelolaan utang dengan
melakukan pembayaran kewajiban secara tepat
waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran
c. Terciptanya struktur portofolio utang yang optimal.
Mengoptimalkan struktur jatuh tempo SBN dengan
memperhatikan jenis, tingkat bunga, dan tenor, serta
kondisi pasar keuangan.
d. Terciptanya pasar SBN yang dalam, aktif, dan likuid.
Mengembangkan pasar SBN dengan menyediakan
alternatif instrument SBN yang variatifserta
meningkatkan sebaran investor.
4. Sasaran Strategis dalam Tema Perbendaharaan Negara
adalah sebagai berikut:
a. Efisiensi dan akurasi pelaksanaan belanja negara.
Penyaluran belanja negara untuk mendukung
pencapaian sasaran yang ditetapkan secara akurat
dan tepat waktu be­rarti pelaksanaan penyaluran
belanja dilakukan sesuai dengan norma waktu yang
ditetapkan.
b. Optimalisasi pengelolaan kas.
Optimalisasi pengelolaan kas negara meliputi
dalam hal peren­canaan kas, pengendalian kas dan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
31
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
pemanfaatan idle cash, yang dilaksanakan untuk
menjamin ketersediaan kas dalam jumlah yang cukup.
Optimalisasi pengelolaan kas negara adalah dalam
rangka mewujudkan efisiensi pengelolaan kas dengan
mengedepank­an prinsip “meminimumkan biaya” dan
“memaksimalkan man­faat” bila terjadi kekurangan kas
(cash mismatch) atau peman­faatan kelebihan kas (idle
cash).
c. Optimalisasi tingkat pengembalian dana di bidang
investasi dan pembiayaan lainnya.
Salah satu bagian dari pengembalian dana
dibidang investa­si dan pembiayaan lainnya adalah
pengembalian penerusan pinjaman. Dana penerusan
pinjaman tersebut harus diopti­malkan pengembalian
dan penyetorannya kembali ke APBN sesuai dengan
target yang telah ditetapkan. Hal ini dikarena­kan
pengembalian dana tersebut mempunyai kontribusi
dalam APBN sebagai penerimaan dalam negeri dan
penerimaan de­fisit APBN.
d. Peningkatan pelayanan masyarakat melalui
penyempurnaan pengelolaan BLU.
Melalui penyempurnaan regulasi terkait dengan
pengelolaan BLU, peningkatan penilaian kinerja satker
BLU serta pembi­naan yang berkelanjutan, diharapkan
satker yang menerap­kan Pengelolaan Keuangan BLU
akan dapat melaksanakan fungsinya secara lebih
efektif dan efisien. Hal tersebut dapat dilihat dari
kinerja keuangan pada satker BLU, sehingga selan­
jutnya akan dapat mendorong peningkatan kualitas
pelayanan­nya kepada masyarakat.
e. Peningkatan transparansi dan akuntabilitas
pengelolaan keuangan negara.
Salah satu kebijakan untuk meningkatkan transparansi
dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara
adalah melalui penerapan akuntansi pemerintah
modern sebagai dasar peny­usunan Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP).Sampai dengan saat ini
LKPP yang telah disusun masih berdasarkan basis Kas
Menuju Akrual. Selanjutnya secara bertahap LKPP
akan disusun berdasarkan akrual basis, sehingga
diharapkan akan terwujud peningkatan transparansi
dan akuntabilitas pen­gelolaan keuangan negara serta
peningkatan opini Badan Pe­meriksa Keuangan (BPK)
dari Disclaimer menjadi Wajar Tanpa Pengecualian
melalui LKPP yang lebih berkualitas.
32
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
f.
Ringkasan Eksekutif
Terciptanya sistem perbendaharaan negara yang
modern, handal dan terpadu.
Untuk menciptakan sistem perbendaharaan
negara yang mod­ern, handal dan terpadu, mulai
tahun anggaran 2009 telah di­laksanakan proyek
penyempurnaan sistem perbendaharaan dan
anggaran negara yang dikenal dengan Proyek Sistem
Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN).
Proyek SPAN adalah sebagai langkah awal untuk
mewujudkan sistem perbendaharaan yang modern,
didukung oleh sistem informasi keuangan yang
terpadu (Integrated Financial Man­agement and
Information System) dengan karakteristik antara lain:
1) Terintegrasi/terotomasi yang sangat mendukung
proses pelaksanaan anggaran, optimalisasi
manajemen kas, serta pencatatan, pelaporan dan
pertanggungjawaban;
2)Database yang terpusat dan memungkinkan
perekaman data hanya sekali (single entry);
3) Memungkinkan ‘what if analysis’;
4) Penerapan proses bisnis yang mengacu pada best
practice, dan
5) Menghubungkan secara on-line baik melalui
satelit, dial-up dan sistem jaringan lainnya
Ditjen Anggaran, Ditjen Perben­daharaan, 30
Kanwil Ditjen Perbendaharaan, 178 KPPN dan
Kementerian Negara/Lembaga.
5. Sasaran Strategis dalam Tema Kekayaan Negara adalah
sebagai berikut:
a. Terlaksananya perencanaan kebutuhan barang milik
negara yang optimal
Mengkoordinasikan pemberian data dan informasi
keberadaan asset idle kementerian dan lembaga
dalam rangka perenca­naan pengadaan belanja modal
dari kementerian dan lembaga, serta penghematan
penggunaan anggaran dengan mengopti­malkan BMN
idle yang ada di kementerian dan lembaga.
b. Terlaksananya penatausahaan kekayaan negara yang
handal dan akuntabel
Penatausahaan kekayaan negara yang handal dan
akuntabel adalah tercatatnya seluruh kekayaan
negara/BMN dalam daft­ar barang baik di kementerian
dan lembaga sebagai pengguna dan di Kementerian
Keuangan sebagai pengelola.
c. Terwujudnya pemanfaatan BMN berdasarkan prinsip
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
“the high­est and best use”
Pemanfaatan BMN adalah upaya penggunaan
secara maksi­mal seluruh BMN untuk mendukung
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi
penyelenggaraan negara
d. Tercapainya peningkatan kualitas pelayanan
pengelolaan ke­kayaan negara
Pelayanan pengelolaan kekayaan negara meliputi
pelayanan permohonan penetapan status
pemanfaatan, penggunaan, penghapusan dan
pemindahtanganan barang milik negara.
e.Terwujudnya database nilai kekayaan negara yang
kredibel
Mendapatkan, mengumpulkan dan mengolah
data kekayaan negara sehingga menjadi informasi
eksekutif yang utuh, tepat waktu, akurat, dan dapat
digunakan untuk proses pengambilan keputusan bagi
pimpinan Kementerian Keuangan.
6. Sasaran Strategis dalam Tema Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan Non Bank adalah:
a. Terwujudnya regulator bidang pasar modal dan
lembaga keuangan yang amanah dan profesional.
b. Terwujudnya pasar modal dan lembaga keuangan
non bank sebagai sumber pendanaan yang mudah
diakses, efisien dan kompetitif.
c. Terwujudnya pasar modal dan lembaga keuangan
non bank sebagai sarana investasi yang menarik dan
kondusif dan sa­rana pengelolaan risiko yang handal.
d. Terwujudnya industri pasar modal dan lembaga
keuangan non bank yang stabil, resilience dan likuid.
e. Tersedianya kerangka regulasi yang menjamin adanya
kepas­tian hukum, keadilan dan keterbukaan (fairness
and transpar­ency).
f. Tersedianya infrastruktur pasar modal dan lembaga
keuangan non bank yang kredibel, dapat diandalkan
dan berstandar in­ternasional.
7. Sasaran Strategis Pembelajaran dan Pertumbuhan dalam
menun­jang pencapaian tujuan strategis 6 (enam) tema
pokok adalah:
a. Terwujudnya SDM yang berintegritas dan
berkompetensi ting­gi;
Sistem rekrutmen yang kredibel dan pengembangan
SDM yang tertata dan berkelanjutan diharapkan
menghasilkan SDM yang berintegritas dan
berkompetensi tinggi dalam men­gelola Keuangan
Negara.
b. Terwujudnya organisasi yang handal dan modern;
Pengembangan organisasi dilakukan berdasarkan
fungsi mas­ing-masing unit organisasi dan SOP yang
dimiliki.
1) Fungsi unit organisasi merupakan fungsi yang
telah dis­usun berdasarkan Keputusan Menteri
Keuangan.
2) Standard Operating Procedures (SOP)/
Prosedur Op­erasi Standar adalah standar yang
dijadikan panduan bagaimana suatu kegiatan
dilaksanakan, sehingga akan memberikan
kepastian mengenai apa yang harus dilak­
sanakan, waktu penyelesaian, dan biaya (bila ada
biaya). SOP yang disusun harus memenuhi prinsip
efisiensi.
c.Terwujudnya good governance;
Good Governance adalah terciptanya tata kelola
pemerintahan dalam menerapkan prinsip
Good Governance (Transparansi, Akuntabilitas,
Responsiveness, Responsibilitas, Efektifitas, dan Efisien)
d. Terwujudnya dan termanfaatkannya Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) yang terintegrasi;
Sistem informasi/aplikasi yang ada di seluruh
lingkungan Ke­menterian Keuangan diupayakan
terintegrasi didukung dengan kualitas layanan
infrastruktur yang prima.
e. Tercapainya akuntabilitas laporan keuangan;
Sasaran strategis ini terkait dengan product/service
yang di­hasilkan oleh Itjen yang difokuskan pada hasil
pengawasan yang dapat memberikan nilai tambah
bagi kinerja Kementerian Keuangan melalui asistensi,
monitoring dan reviu penyusunan Laporan Keuangan
pada unit-unit di lingkungan Kementerian Keuangan
dan Laporan Keuangan Bagian Anggaran Pembiayaan
dan Perhitungan (BAPP).
Sasaran Strategis Kementerian Keuangan di atas akan dicapai
melalui 12 (dua belas) Program yang dilaksanakan oleh masingmasing unit eselon I sesuai tugas dan fungsinya. Adapun
keduabelas program tersebut adalah :
1. Program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas
teknis lain­nya Kementerian Keuangan;
2. Program pengawasan dan peningkatan akuntabilitas
aparatur Ke­menterian Keuangan.
3. Program pengelolaan anggaran Negara;
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
33
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
4. Program peningkatan dan pengamanan penerimaan
pajak;
5. Program pengawasan, pelayanan, dan penerimaan di
bidang kepa­beanan dan cukai;
6. Program peningkatan pengelolaan perimbangan
keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah
daerah;
7. Program pengelolaan dan pembiayaan utang;
8. Program pengelolaan perbendaharaan Negara;
9. Program pengelolaan kekayaan negara, penyelesaian
pengurusan piutang negara, dan pelayanan lelang;
10. Program pengaturan, pembinaan, dan pengawasan pasar
modal dan lembaga keuangan non bank;
11. Program pendidikan dan pelatihan aparatur Kementerian
Keuangan;dan
12. Program perumusan kebijakan fiskal.
Selain menyusun dokumen Renstra sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku, Kementerian Keuangan
juga berinisiatif menyusun Roadmap Kementerian Keuangan.
Roadmap Kementerian Keuangan Tahun 2010-2014 merupakan
penjabaran lebih lanjut dari Renstra Kementerian Keuangan
Tahun 2010-2014, sebagaimana telah ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 40/KMK.01/2010 tanggal
29 Januari 2010.
Roadmap tersebut digunakan untuk lebih menjelaskan secara
detail mengenai pelaksanaan program dan kegiatan yang
dilengkapi dengan informasi mengenai milestone tahunan
mulai dari awal tahun sampai dengan akhir tahun periode
Renstra. Hal ini mengingat indikator kinerja yang ada dalam
Renstra hanya mencantumkan target pada tahun 2010 dan
2014, sedangkan target tahun 2011, 2012, dan 2013 tidak
dicantumkan. Dengan adanya Roadmap tersebut, harapan
pimpinan Kementerian Keuangan untuk meningkatkan
atau mempercepat pencapaian target dalam Renstra dapat
dituangkan dalam dokumen yang bersifat tahunan sehingga
pencapaian kinerja masing-masing unit dapat dipantau dan
dievaluasi secara periodik.
34
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
B. Rencana Kerja, Rencana Kerja Dan
Anggaran K/L, Dan Kontrak Kinerja
Dengan memperhatikan rancangan awal RKP dan berpedoman
pada Renstra, Kementerian Keuangan menyusun Rencana
Kerja (Renja) yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan
yang meliputi kegiatan pokok serta kegiatan pendukung untuk
mencapai sasaran hasil program induknya, dan dirinci menurut
indikator keluaran, sasaran keluaran pada tahun rencana,
prakiraan sasaran tahun berikutnya, lokasi, pagu indikatif
sebagai indikasi pagu anggaran, serta cara pelaksanaannya.
Dari Renja yang telah disusun dan setelah ditetapkannya
Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Pagu Anggaran K/L,
Kementerian Keuangan menyusun Rencana Kerja dan
Anggaran (RKA). RKA-K/L yang memuat informasi kinerja yang
meliputi program, kegiatan dan sasaran kinerja, serta rincian
anggaran.
Keterkaitan antara Renja dan RKA adalah RKA memuat
informasi yang tertuang dalam Renja, termasuk informasi
alokasi pendanaan yang telah dimutakhirkan sesuai dengan
kemampuan fiskal pemerintah (resources envelope). Informasi
pendanaan dalam RKA memuat informasi Rincian Anggaran,
antara lain: output, komponen input, jenis belanja, dan
kelompok belanja.
Kementerian Keuangan sebagai pioneer reformasi birokrasi di
Indonesia telah menerapkan Balance Scorecard (BSC) sebagai
metode mengukur pencapaian target kinerja. BSC Kementerian
Keuangan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 454 /KMK.01/2011 tentang Pengelolaan
Kinerja di Lingkungan Kementerian Keuangan terdiri dari
dari sasaran-sasaran strategis dimana setiap sasaran strategis
menjadi basis dalam penentuan Indikator Kinerja Utama
(IKU). IKU dalam setiap sasaran strategis dilengkapi dengan
target, unit penanggung jawab, dan inisiatif strategis yang
akan dimonitoring dan dievaluasi secara berkala. Penerapan
BSC di lingkungan Kementerian Keuangan berfungsi sebagai
Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang memuat indikator kinerja
dan target capaian kinerja pada suatu tahun anggaran. IKU
dan target capaiannya disusun dengan memperhatikan
dokumen-dokumen perencanaan serta penganggaran yang
telah ditetapkan untuk menjamin keterkaitan antara dokumen
perencanaan dan penganggaran serta RKT di lingkungan
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Kementerian Keuangan. IKU dan target IKU yang dicantumkan
dalam Kontrak Kinerja dapat menggunakan ukuran-ukuran
yang lebih spesifik atau target yang lebih tinggi untuk
mendukung pencapaian target indikator yang ditetapkan
dalam Renja.
Untuk menjamin tercapainya sasaran dan target secara optimal
dan tepat waktu, visi dan misi Kementerian Keuangan harus
menjadi acuan sekaligus landasan penyusunan strategi.
Dari visi dan misi tersebut kemudian dirumus­kan sasaran
strategis Kementerian Keuangan (KK). Sasaran Strategis (SS/
KK) Kementerian Keuangan tahun 2012 telah ditetap­kan dan
dikelompokkan sebagaimana tertuang dalam Peta Strategi
Kemente­rian Keuangan. Peta Strategi Kementerian Keuangan
2012 memuat 16 Sasa­ran Strategis. Sasaran-sasaran strategis
tersebut adalah sebagai berikut: (1) Pendapatan negara yang
optimal; (2) Perencanaan dan pelaksanaan belanja negara yang
optimal; (3) Pembiayaan dalam jumlah yang cukup, aman dan
efisien bagi kesinambungan fiskal; (4) Utilisasi kekayaan negara
yang optimal; (5) Transfer daerah yang adil, transparan, tepat
guna dan tepat waktu; (6) Pengelolaan keuangan negara yang
akuntabel; (7) Industri pasar modal dan jasa keuangan non
bank yang stabil, tahan uji, dan likuid; (8) Tingkat Kepuasan
C. Penetapan/Perjanjian Kinerja
Penetapan/perjanjian kinerja merupakan pelaksanaan
Instruksi Presiden No­mor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan
Pemberantasan Korupsi, dan sesuai dengan Peraturan Menteri
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Re­formasi
Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010, dokumen Penetapan Kinerja/
perjan­jian kinerja merupakan suatu dokumen pernyataan
kinerja/kesepakatan kin­erja/perjanjian kinerja antara atasan
dan bawahan untuk mewujudkan target kinerja tertentu
berdasarkan pada sumber daya yang dimiliki oleh instansi.
Gambar 2.1
Peta Strategi Kementerian Keuangan Tahun 2012
KK-2
Perencanaan dan
Pelaksanaan
belanja Negara
yang optimal
KK-1
Pendapatan
Negara yang
optimal
Learning and Growth
Perspective
Internal Process
Perspective
Customer
Perspective
Stakeholder
perspective
VISI
Menjadi Pengelola keuangan dan kekayaan Negara yang dipercaya, akuntabel dan terbaik di tingkat regional untuk mewujudkan Indonesia yang
sejahtera, demokratis dan berkeadilan.
KK-3
Pembiayaan dalam
jumlah yang cukup,
aman, efisien bagi
kesinambungan fiscal
KK-4
Utilisasi kekeyaan
Negara yang optimal
KK-5
Transfer daerah yang
adil, transparan, tepat
guna dan tepat
waktu
KK-6
Pengelolaan
keuangan negara
yang akuntabel
KK-7
Industri pasar modal
dan jasa keuangan
non bank yang stabil,
tahan uji dan likuid
KK-8
Tingkat kepuasan pengguna
layanan yang tinggi
PERUMUSAN
KK-9
Kajian dan
rumusan kebijakan
yang berkualitas
SDM
KK-13
Pembentukan SDM yang
berkompetensi tinggi
PENGELOLAAN DAN PENGEMBANG
KK-10
Pelaksanaan Pengelolaan
keuangan dan kekayaan
negara yang efektif dan
efisien
PENGAWASAN DANPENEGAKAN HUKUM
KK-11
Peningkatan edukasi
masyarakat dan pelaku
ekonomi
ORGANISASI
TIK
KK-14
Penataan organisasi
yang adaptif
KK-15
Perwujudan TIK yang
terintegrasi dan Andal
KK-12
Pengawasan dan penegakan
hokum yang efektif
ANGGARAN
KK-16
Pelaksanaan anggaran
yang optimal
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
35
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
pengguna layanan yang tinggi; (9) Kajian dan rumusan
kebijakan yang berkualitas; (10) Pelaksanaan pengelolaan
keuan­gan dan kekayaan negara yang efektif dan efisien;
(11) Peningkatan edukasi masyarakat dan pelaku ekonomi;
(12) Pengawasan dan penegakan hukum yang efektif; (13)
Pembentukan SDM yang berkompetensi tinggi; (14) Penataan
organisasi yang adaptif; (15) Perwujudan TIK yang terintegrasi
dan andal; dan (16) Pelaksanaan anggaran yang optimal.
Peta strategi Kementerian Keuangan menerapkan 4 perspektif,
yaitu: stakeholders perspective, customers perspective, internal
process perspective dan learning and growth perspective.
Stakeholders perspective berisi hal-hal yang harus dihasilkan
oleh organisasi agar dinilai berhasil oleh stakeholders.
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Customers perspective berisi ekspektasi dari customer dan
apa yang menjadi ukuran keberhasilan atas pelayanan yang
dilaksanakan. Internal Process perspective berisi proses bisnis
seperti apa yang harus dikelola untuk memberikan layanan
dan nilai-nilai kepada stakeholder dan customer. Sedangkan
learning and growth perspective berisi sumber daya internal
yang dimiliki untuk melakukan perbaikan dan perubahan
sehinggga dapat menghasilkan pelayanan yang dihasilkan.
Dari Peta Strategi Kementerian Keuangan Tahun 2012 tersebut
diketahui bahwa jumlah sasaran strategis yang dikembangkan
oleh Kementerian Keuangan mencapai 16 (enam belas) sasaran
strategis (SS/KK) dan IKU yang diidentifikasi sebanyak 38 IKU.
Selanjutnya keterkaitan antara sasaran strategis dan IKU dapat
disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 2.1 Sasaran Strategis dan IKU
Sasaran Strategis
Sasaran Strategis 1
Pendapatan negara yang optimal
Indikator Kinerja
Satuan
Target
Triliun
1.310,56
1.
Jumlah pendapatan negara
2.
Persentase dana blokir (tanda bintang)
%
3
3.
Persentase penyerapan Belanja Negara dalam DIPA
K/L
%
90
Sasaran Strategis 3
Pembiayaan dalam jumlah yang cukup,aman,
dan efisien bagi kesinambungan fiskal
4.
Persentase pemenuhan target pembiayaan melalui
utang yang cukup
%
100
5.
Persentase pencapaian target effective cost
%
100
Sasaran Strategis 4
Utilisasi kekayaan negara yang optimal
6.
Nilai kekayaan negara yang diutilisasi
Triliun
102,56
7.
Indeks pemerataan keuangan antar daerah
Indeks
0,8
8.
Persentase ketepatan jumlah penyaluran dana transfer
ke daerah
%
100
9.
Persentase Perda DPRD yang sesuai dengan peraturan
perundang-undangan
%
90
WTP
80
10.
Indeks jumlah LK K/L dan LK BUN yang andal dengan
opini audit yang baik
WDP
4
Sasaran Strategis 2
Perencanaan dan pelaksanaan belanja
negara yang optimal
Sasaran Strategis 5
Perimbangan keuangan yang adil dan
transparan
Sasaran Strategis 6
Pengelolaan keuangan negara yang
akuntabel
Sasaran Strategis 7
Industri pasar modal dan jasa keuangan non
bank yang stabil, tahan uji, dan likuid
36
No.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Indeks
97,62
11.
Rata-rata indeks opini BPK RI atas LK BA 15, LK BUN,
dan LK BA 999
-
4 (WTP)
12.
Rata-rata tingkat kesehatan perusahaan efek, asuransi,
dan pembiayaan
%
87,67%
13.
Persentase nilai transaksi efek yang tidak memenuhi
persyaratan minimum MKBD yang berpotensi
mengganggu perdagangan saham di bursa
%
15%
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 2.1 (Lanjutan)
Sasaran Strategis
No
Indikator Kinerja
Satuan
Target
Sasaran Strategis 8
Tingkat kepuasan pengguna layanan yang
tinggi
14.
Indeks kepuasan pengguna layanan
Indeks
3,92
15.
Deviasi proyeksi indikator ekonomi makro
%
5
16.
Deviasi proyeksi APBN
%
5
17.
Deviasi proyeksiexercise I-account
%
5
18.
Deviasi penetapan dana transfer ke daerah
%
5
19.
Jumlah kebijakan tentang peningkatan penerimaan
negara
Buah
5
20.
Rata-rata persentase realisasi janji layanan unggulan
%
100
21.
Persentase tingkat akurasi perencanaan kas
%
90
22.
Persentase pemenuhan target risiko portofolio utang
%
100
23.
Penyelesaian LKPP dan Rancangan UU PPAPBN secara
tepat waktu
Indeks
24.
Persentase penyelesaian BMN Kemenkeu yang
bermasalah dengan kategori rusak berat atau hilang
%
25.
Tingkat efektivitas edukasi dan komunikasi
26.
Rata-rata persentase kepatuhan dan penegakan
hukum
27.
Indeks ketepatan waktu penyelesaian tindak lanjut
Instruksi Presiden
Indeks
28.
Persentase ketepatan pola penarikan dana DIPA K/L
%
80
29.
Persentase pejabat yang telah memenuhi standar
kompetensi jabatannya
%
82,5
30.
Persentase diklat yang berkontribusi terhadap
peningkatan kompetensi
%
85
31.
Rasio jam pelatihan dibandingkan jam kerja
%
2,5
32.
Persentase mitigasi risiko yang selesai dijalankan
%
70
33.
Indeks reformasi birokrasi
Indeks
92
34.
Indeks kepuasan pegawai
Indeks
3,04
35.
Persentase policy recommendation hasil pengawasan
yang ditindaklanjuti
%
85
36.
Persentase integrasi TIK Kemenkeu
%
60
37.
Persentase akurasi data SIMPEG
%
100
38.
Persentase penyerapan DIPA Kementerian Keuangan
%
95
Sasaran Strategis 9
Kajian dan rumusan kebijakan yang
berkualitas
Sasaran Strategis 10
Pelaksanaan pengelolaan keuangan dan
kekayaan negara yang efektif dan efisien
Sasaran Strategis 11
Peningkatan edukasi masyarakat dan pelaku
ekonomi
Sasaran Strategis 12
Pengawasan dan penegakan hukum yang
efektif
Sasaran Strategis 13
Pembentukan SDM yang berkompetensi
tinggi
Sasaran Strategis 14
Penataan organisasi yang adaptif
Sasaran Strategis 15
Perwujudan TIK yang terintegrasi dan andal
Sasaran Strategis 16
Pelaksanaan anggaran yang optimal
3
(tepat waktu)
50
Indeks
75,56
%
60,79
80
(tepat waktu)
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
37
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
D. Pengukuran Kinerja
1) Perhitungan untuk Indikator Kinerja Utama (IKU) yang
memiliki polarisasi Maximize
Dalam rangka mengukur capaian indikator kinerja Kementerian
Keuangan Tahun 2012, Kementerian Keuangan berpedoman
kepada Keputusan Menteri Keuangan Nomor 454/KMK.01/2011
tentang Pengelolaan Kinerja di Lingkungan Kementerian
Keuangan. Pengukuran capaian Indikator Kinerja Utama (IKU)
ditetapkan berdasarkan ketentuan sebagai berikut:
1) Angka maksimum indeks capaian setiap IKU ditetapkan
sebesar 120%;
2) Indeks capaian IKU dikonversikan menjadi maximize semua
agar sebanding dengan yang lainnya;
3) Status capaian IKU yang ditunjukkan dengan warna
merah/kuning/hijau, ditentukan oleh Indeks Capaian IKU;
4) IKU yang ditetapkan diupayakan realisasi pencapaiannya
memungkinkan melebihi target;
5) Untuk IKU yang capaiannya tidak memungkinkan melebihi
target, maka capaiannya ditetapkan sebagai berikut:
a) Apabila realisasi pecapaiannya sama dengan target,
maka indeks capaian IKU tersebut dikonversi menjadi
120%;
b) Apabila realisasi pencapaiannya tidak memenuhi
target, maka indeks capaian IKU tersebut tidak
dilakukan konversi.
IKU yang memiliki polarisasi maximize, merupakan
indikator kinerja yang menunjukkan ekspektasi arah
pencapaian indikator kinerja lebih tinggi dari nilai target
yang ditetapkan.
2) Perhitungan untuk Indikator Kinerja Utama (IKU) yang
memiliki polarisasi Minimize
IKU yang memiliki polarisasi minimize, merupakan
indikator kinerja yang menunjukkan ekspektasi arah
pencapaian indikator kinerja lebih kecil dari nilai target
yang ditetapkan.
3) Perhitungan untuk Indikator Kinerja Utama (IKU) yang
memiliki polarisasi Stabilize
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung persentase
pencapaian target indikator kinerja terdiri dari tiga (3) jenis,
yaitu:
Grafik :
120
100
75
Indeks
Capaian
50
25
0
22.5
0
Capaian
100
In
In-1
In+1
Ca
Ca
38
90
= Indeks capaian
= Indeks capaian dibawahnya
= Indeks capaian diatasnya
= Capaian awal
= Realisasi/Target X 100%
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
67.5
Cn
45
= Capaian, dengan ketentuan:
a. Apabila Realisasi > Target, maka:
Cn = 100 – (Ca – 100), dimana
Ca maksimum adalah 200%
b. Apabila Realisasi < Target, maka:
Cn = Ca
Cn-1 = Capaian dibawahnya
Cn+1 = Capaian diatasnya
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
IKU yang memiliki polarisasi stabilize, merupakan indikator
kinerja yang menunjukkan ekspektasi arah pencapaian
indikator kinerja diharapkan berada dalam suatu rentang
target tertentu. Apabila hasil perhitungan nilai capaian IKU
melampaui target, akan menghasilkan nilai maksimal 120%.
Karena IKU stabilize mengharapkan capaian dalam rentang
tertentu di sekitar target, maka capaian yang dianggap paling
baik adalah capaian yang tepat sesuai dengan target.
Kementerian Keuangan yang telah menerapkan Balance
Scorecard (BSC) sebagai metode mengukur pencapaian target
kinerja, telah melaksanakan reviu Kontrak Kinerja Kementerian
Keuangan. Reviu Kontrak Kinerja Kementerian Keuangan
merupakan kegiatan evaluasi/penelaahan terhadap Kontrak
Kinerja 2012 pada suatu satuan kerja dalam bentuk asistensi
Pengelolaan Kinerja.
dengan kaidah sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 454/KMK.01/2011 Tentang Pengelolaan
Kinerja Pegawai di Lingkungan Kementerian Keuangan,
sehingga kualitas kontrak kinerja dapat lebih disempurnakan
agar benar-benar mampu mendongkrak kinerja serta lebih
selaras dengan strategi organisasi.
Reviu Kontrak Kinerja dilaksanakan dengan memilih beberapa
kontrak kinerja pada beberapa unit eselon II di unit eselon
I di lingkungan Kementerian Keuangan. Reviu terhadap
Kontrak Kinerja diupayakan menyeluruh, tidak terbatas pada
Kontrak Kinerja tetapi juga terhadap dokumen atau informasi
pendukungnya, seperti Rencana Strategis (Renstra) yang
memuat pernyataan visi dan misi organisasi, uraian jabatan,
tugas dan fungsi, Kontrak Kinerja tahun sebelumnya, Manual
IKU, serta Matriks Cascading dan Alignment.
Reviu ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan
umpan balik pelaksanaan kontrak kinerja dalam rangka
perbaikan pengelolaan kinerja di masa mendatang sesuai
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
39
40
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA DAN
AKUNTABILITAS KEUANGAN
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
41
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Kata Pengantar
BAB III
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
42
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Ringkasan Eksekutif
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
A. Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU)
Sebagaimana disebutkan pada Bab II (lihat halaman 33), pada
tahun 2012, Kementerian Keuangan menetapkan 16 (enam
belas) Sasaran Strategis (SS) dimana 7 (tujuh) diantaranya
merupakan sasaran dalam stakeholder perspective yang
menjadi fokus penyajian dalam LAKIP Kementerian Keuangan
Tahun 2012. Setiap SS memuat Indikator Kinerja Utama (IKU),
yang pencapaian IKU dari ketujuh sasaran dalam stakeholder
perspective tersebut dapat ditabulasikan seperti tabel 3.1
B. Evaluasi dan Analisis Kinerja
Pelaksanaan evaluasi dan analisis kinerja dilakukan melalui
pengukuran kinerja dengan menggunakan formulir
pengukuran kinerja sesuai Peraturan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan
Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah. Pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar
untuk menilai keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan
kegiatan program sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan
dalam rangka mewujudkan visi dan misi Kementerian
Keuangan. Pengukuran kinerja dimaksud merupakan hasil dari
suatu penilaian yang didasarkan pada Indikator Kinerja Utama
(IKU) yang telah diidentifikasi agar sasaran-sasaran strategis
dan tujuan strategis sebagaimana telah ditetapkan dalam Peta
Strategi Kementerian Keuangan yang menjadi kontrak kinerja
pada Tahun 2012 dapat tercapai.
1. Sasaran Strategis 1:
Pendapatan Negara yang Optimal (KK-1)
Dalam pencapaian sasaran strategis ini, Kementerian Keuangan
mengidentifikasikan 1 (satu) Indikator Kinerja Utama (IKU),
yaitu IKU pendapatan negara yang optimal. IKU ini dijabarkan
ke dalam 3 (tiga) sub IKU yang masing-masing pencapaiannya
ditabulasikan seperti tabel 3.2
Jumlah pendapatan negara merupakan angka penerimaan
pajak dan non pajak yang diperoleh dari angka resmi yang
diterbitkan Kementerian Keuangan dan yang telah ditetapkan
dengan peraturan resmi (UU APBN/P). Target yang ditetapkan
sesuai dengan angka yang tersebut dalam peraturan resmi/
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
43
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.1
Capaian IKU pada Stakeholder Perspective
Sasaran Strategis (SS)
Kode
IKU
1.
Pendapatan negara
yang optimal
KK-1.1
Jumlah pendapatan negara
KK-2.1
2.
Perencanaan dan
Pelaksanaan belanja
negara yang optimal
No.
3.
4.
5.
6.
7.
44
Pembiayaan dalam
jumlah yang cukup,
efisien, dan aman bagi
kesinambungan fiskal
Utilisasi kekayaan
negara yang optimal
Perimbangan
keuangan yang adil dan
transparan
Pengelolaan keuangan
negara yang akuntabel
Industri pasar modal
dan jasa keuangan non
bank yang stabil, tahan
uji dan likuid
Target
Realisasi
%
Kategori
IKU
Rp1.357,38 T
Rp1.331,35 T
98,08%
max
Persentase dana blokir (tanda
bintang)
3%
1,45%
120,00%
min
KK-2.2
Persentase penyerapan Belanja
Negara dalam DIPA K/L
90%
88,21%
98,01%
max
KK-3.1
Persentase pemenuhan target
pembiayaan melalui utang yang
cukup
100%
98,87%
117,74%
stbz
KK-3.2
Persentase pencapaian target
effective cost
100%
80,58%
119,42%
min
KK-4.1
Nilai kekayaan negara yang
diutilisasi (dalam triliun)
Rp102,56 T
Rp103,31 T
100,73%
max
KK-5.1
Indeks Pemerataan keuangan
antar-daerah
0,8
0,74
107,50%
min
KK-5.2
Persentase ketepatan jumlah
penyaluran dana transfer ke
daerah
100%
100,12%
100,12%
max
KK-5.3
Persentase Perda PDRD yang
sesuai dengan peraturan
perundang-undangan
90%
94,98%
105,53%
max
KK-6.1
Indeks jumlah LK K/L dan LK
BUN yang andal dengan opini
audit yang baik
97,62
87,36
89,49%
max
KK-6.2
Rata-rata indeks opini BPK RI
atas LK BA 15, BUN, dan BA 999
4
3,88
97,00%
max
KK-7.1
Rata-rata tingkat kesehatan
perusahaan efek, asuransi, dan
pembiayaan
87,67%
96,94%
110,57%
max
KK-7.2
Persentase nilai transaksi
perusahaan efek yang tidak
memenuhi persyaratan
minimum MKBD yang
berpotensi mengganggu
perdagangan saham di Bursa
15%
0,0011%
120,00%
min
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
IKU
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.2
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Pendapatan Negara yang Optimal
KK 1. Pendapatan negara yang optimal
Indikator Kinerja
Target
Realisasi
Jumlah pendapatan negara
Rp1.357,38 T
Rp1.331,35 T
98,08%
a. Jumlah penerimaan pajak
Rp885,027 T
Rp835,26 T
94,38%
b. Jumlah penerimaan bea dan cukai
Rp131,211 T
Rp144,46 T
110,10%
c. Jumlah PNBP nasional
Rp341,142 T
Rp351,63 T
103,07%
undang-undang terkait. Semula, target jumlah pendapatan
negara ditetapkan sebesar Rp1.310,56 T. Namun di tengah
tahun, target ini dikoreksi melalui APBN Perubahan menjadi
Rp1.357,38 T.
Hingga akhir tahun, capaian realisasi IKU ini hanya tercapai
sebesar 98,08% atau teralisasi sebesar Rp1.331,35 T. Jumlah
pendapatan negara tidak tercapai dikarenakan tidak
tercapainya penerimaan pajak yang disebabkan basis
pengenaan pajak pada tahun 2012 mengalami pertumbuhan
dibawah target yang berdampak pada menurunnya
penerimaan pajak pada beberapa sektor tertentu. Penurunan
harga komoditas juga menyebabkan penurunan pembayaran
pajak, terutama jenis PPh Non Migas di sektor tertentu. Selain
itu, PPh Pasal 25/29 Badan juga mengalami pertumbuhan
negatif sebesar -11,91%, sementara untuk periode yang sama
di tahun lalu mampu tumbuh hingga 32,52%. Sedangkan untuk
penerimaan bea dan cukai dan PNBP Nasional telah melebihi
target yang telah ditetapkan.
Berikut merupakan uraian masing-masing sub IKU pendapatan
negara.
a. Jumlah Penerimaan Pajak.
Pada tahun 2012 target penerimaan pajak untuk pertama
kalinya diproyeksikan melewati angka Rp1.000 trilyun, yaitu
sebesar Rp1.016,20 trilyun. Jumlah tersebut meningkat sebesar
%
Rp142,33 trilyun dari realisasi tahun 2011 sebesar Rp873,87
trilyun atau 16,29%. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp885,02
trilyun atau 87,09% merupakan jumlah pajak yang harus
dikumpulkan oleh Kementerian Keuangan. Target ini naik
15,89% dari target tahun 2011, dan naik 19,17% dibandingkan
realisasi tahun 2011.
Target penerimaan pajak adalah target penerimaan PPh,
PPN, PPnBM, PBB, dan Bea Materai yang tergambar dalam
APBN/P. Rencana Penerimaan Termasuk PPh Migas Tahun 2012
berdasarkan UU APBN-P 2012 sebesar Rp 885.026,59 Miliar.
Berdasarkan data penerimaan sampai dengan 31 Desember
2012, realisasi penerimaan termasuk PPh Migas tahun 2012
sebesar Rp.835.255,12 miliar. Dengan demikian capaian
realisasi penerimaan pajak adalah 94,38 persen. Adapun
rencana dan realisasi per triwulan 2012 dapat ditabulasikan
seperti tabel 3.3.
Dalam usaha mencapai target, Kementerian Keuangan
telah melakukan langkah-langkah strategis agar target
penerimaan dapat dicapai. Langkah-langkah yang dilakukan
berupa maksimalisasi sumber daya internal, memfokuskan
kegiatan pada sektor-sektor yang belum digali secara
maksimal, penerapan manajemen yang lebih sinergis, serta
memanfaatkan teknologi sehingga memungkinkan kinerja
yang lebih efektif dan efisien. Langkah-langkah tersebut
kemudian dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu langkah
administratif (administrative measures) dan langkah kebijakan
(policy measures).
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
45
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Tabel 3.3
Rencana dan Realisasi Penerimaan Pajak per Triwulan Tahun 2012
Triwulan
APBN-P
Realisasi 2012
Triwulan I
164.944,38
165.051,85
107,47
100,07%
Triwulan II
207.109,77
222.580,57 15.470,80
107,47%
Triwulan III
228.396,51
228.528,12
131,61
100,06%
Triwulan IV
284.575,92
219.094,57
(65.481,35)
76,99%
885.026,59
835.255,12
(49.771,47)
94,38%
Th. 2012
Langkah administratif berupa perbaikan pelayanan, sistem
administrasi serta pemanfaatan data dan teknologi informasi,
sementara untuk kebijakan berupa sinkronisasi kebijakankebijakan yang saat ini ada, penguatan aturan untuk
mendukung penerimaan, serta fokus terhadap sektor-sektor
usaha yang dapat meningkatkan penerimaan.
Program-program tersebut dilakukan sepanjang tahun 2012
dengan kegiatan berupa pengembangan aplikasi (dashboard
dan Approweb), sosialisasi dan kunjungan, serta bimbingan
teknis dalam pembuatan, pelaksanaan, dan pemanfaatannya.
Langkah-langkah administrasi dan kebijakan tersebut
diimplementasikan dalam beberapa program.
1) Penggalian Pajak Sektoral.
Sehubungan dengan fungsi pengawasan atas kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan oleh setiap Wajib Pajak
sebagai konsekuensi penerapan sistem self assessment dan
untuk lebih memaksimalkan pengamanan potensi penerimaan
pajak, dilakukan upaya penggalian potensi pajak atas sektorsektor usaha unggulan, antara lain industri pengolahan,
perdagangan besar dan eceran, perantara keuangan,
pertambangan dan penggalian, transportasi, pergudangan
dan komunikasi, serta real estate. Upaya tersebut dilakukan
dengan lebih memantapkan tugas pokok dan fungsi setiap
Kantor Pelayanan Pajak dan pemanfaatan data-data pihak
ketiga melalui pelaksanaan Pasal 35A Undang-undang KUP,
serta pemanfaatan teknologi informasi dalam administrasi
perpajakan.
46
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Selisih
Capaian
Untuk mendukung upaya penggalian potensi pajak sektoral
dengan menghimpun data dan informasi yang berkaitan
dengan perpajakan serta sebagai pelaksanaan Pasal 35A
Undang-undang KUP, telah diterbitkan Peraturan Pemerintah
Nomor 31 Tahun 2012 yang mengatur tentang pemberian
dan penghimpunan data dan informasi berkaitan dengan
perpajakan. Ketentuan ini mewajibkan Instansi Pemerintah,
Lembaga, Asosiasi dan Pihak lain (ILAP) untuk memberikan
data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan kepada
Kementerian Keuangan.
Sebagai suatu bentuk pemanfaatan teknologi informasi
dalam kegiatan penggalian potensi perpajakan, pada tahun
2012 telah dibangun suatu sistem aplikasi perpajakan yakni
“ApproweB”. Sebuah aplikasi yang dirancang ulang sebagai
“rumah” bagi kegiatan mapping, profiling, dan benchmarking.
Secara umum, ApproweB berisi 4 modul yaitu modul
penerimaan, modul profil, modul data dan analisis dan modul
pengawasan.
2) Pengembangan Benchmark dan Pemanfaatannya.
Pemanfaatan metodologi benchmarking ini diawali dengan
tiga tahap uji coba (pilot project) pembuatan dan pemanfaatan
Benchmark Behavioral Model (BBM). Uji Coba Tahap I yang
diikuti oleh 6 kantor wilayah dilaksanakan pada bulan Oktober
– Desember 2011. Uji coba tahap II dan III masing-masing
dilaksanakan pada bulan Maret dan Mei 2012, diikuti oleh
kantor wilayah. Selama tahap-tahap tersebut kantor wilayah
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
dibimbing juga oleh Tim Benchmark Kantor Pusat dalam
proses pemahaman dan pembuatan BBM dengan sosialisasi,
kunjungan dan bantuan teknis.
penerimaan, tetapi bisa digunakan untuk melakukan analisa
data sehingga Manajemen bisa mendapatkan informasi
pendukung pengambil keputusan bagi organisasinya.
Pada tanggal 16 Agustus 2012 diterbitkan Surat Edaran Nomor
SE-40/PJ/2012 tentang Pembuatan Benchmark Behavioral
Model dan Tindak Lanjutnya. Dalam Surat Edaran ini diatur
agar seluruh Kanwil kecuali Kanwil Wajib Pajak Besar dan
Kanwil Jakarta Khusus melakukan pembuatan/pemutakhiran
BBM. Pengecualian ini dibuat dikarenakan Kanwil Wajib Pajak
Besar dan Kanwil Jakarta Khusus memiliki pendekatan Wajib
Pajak terdaftar yang berbeda dengan Kanwil lainnya yang
berdasarkan wilayah (regional). Sampai dengan tanggal
13 Desember 2012, sebanyak 26 Kanwil telah melakukan
pembuatan Benchmark Behavioral Model dan menyampaikan
laporannya.
4) Penggalian Potensi Wajib Pajak Orang Pribadi Berbasis
Internet Searching.
3) Pembuatan dan Pengembangan Aplikasi Dashboard
Penerimaan.
Dalam rangka pengamanan target penerimaan pajak
tahun 2012 dan untuk melaksanakan program intensifikasi
perpajakan sesuai dengan kebijakan umum perpajakan 2012
sebagaimana di muat dalam nota keuangan tahun anggaran
2012, diperlukan sebuah model penggalian potensi pajak bagi
Wajib Pajak Orang Pribadi yang lebih terukur dan terstruktur.
Pembayaran Pajak oleh Wajib Pajak Orang Pribadi lebih rendah
dari Penerimaan Wajib Pajak Badan dimana setiap WP Badan
dimiliki oleh satu atau beberapa orang pribadi yang mendapat
penghasilan/keuntungan dari perusahaan yang dimilikinya
sehingga seharusnya pajak yang dibayarkan lebih tinggi oleh
Wajib Pajak Orang Pribadi.
Aplikasi Dashboard Penerimaan dibuat dalam rangka program
Quick Wins, yaitu monitoring pembayaran pajak dalam
sebuah sistem MIS/EIS. Aplikasi nasional ini digunakan untuk
melakukan pengawasan penerimaan pajak secara berjenjang
dari tingkat Kantor Pusat hingga pelaksana. Dashboard
Penerimaan tidak hanya berfungsi menampilkan informasi
Walaupun sudah dilakukan berbagai langkah, namun target
penerimaan pajak tahun 2012 tidak dapat terealisasi 100%.
Penyebab tidak tercapainya target penerimaan pajak di tahun
2012 disebabkan karena beberapa hal sebagai berikut:
1) Basis pengenaan pajak pada tahun 2012 mengalami
pertumbuhan dibawah target, antara lain ditunjukkan
Tabel 3.4
Sektor Dominan yang Mengalami Penurunan Kontribusi Penerimaan Pajak
Kategori
Realisasi
2011
Realisasi
2012
Kontribusi
2011
Kontribusi
2012
Pertumbuhan
2011
Pertumbuhan
2012
Industri Pengolahan
71.557,58
69.828,98
31,07%
27,71%
55,65%
-2,44%
Perdagangan Besar dan
Eceran
31.103,95
33.955,61
13,51%
13,47%
28,73%
9,12%
Perantara Keuangan
17.270,67
18.038,14
7,50%
7,16%
22,13%
4,43%
Konstruksi
13.173,23
15.255,96
5,72%
6,05%
41,68%
15,74%
Pertambangan dan
Penggalian
17.153,06
12.098,10
7,45%
4,80%
22,88%
-29,57%
150.258,48
149.176,78
65,24%
59,20%
39,73%
-0,76%
Jumlah 5 Sektor Dominan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
47
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Kata Pengantar
dengan pertumbuhan ekonomi yang berada dibawah
target (realisasi 6,3% dari target 6,5%) yang berdampak
pada menurunnya penerimaan pajak pada beberapa
sektor tertentu.
2) Penurunan harga komoditas yang menyebabkan
penurunan pembayaran pajak, terutama jenis PPh Non
Migas di sektor tertentu seperti pada sektor pertambangan
dan penggalian.
3) Penurunan secara signifikan juga terjadi atas jenis
pajak PPh Pasal 25/29 Badan, padahal jenis pajak ini
mendominasi struktur penerimaan nasional setelah PPN
Dalam Negeri.
4) Selama tahun 2012 terdapat beberapa sektor penyumbang
kontribusi penerimaan pajak yang besar mengalami
penurunan. Sektor-sektor tersebut antara lain sektor
industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran,
perantara keuangan, konstruksi, serta pertambangan
dan penggalian. Sektor yang signifikan mempengaruhi
penerimaan pajak tampak pada tabel 3.4
Dari kelima sektor tersebut, sektor yang mengalami
pertumbuhan negatif yaitu sektor industri pengolahan
(-2,44 persen) dan pertambangan-penggalian (-29,57
persen). Sementara untuk tiga sektor lainnya, meskipun
mengalami kenaikan, akan tetapi pertumbuhannya berbeda
sangat signifikan jika dibandingkan dengan kontribusi dan
pertumbuhan di tahun sebelumnya. Penurunan tersebut lebih
diakibatkan oleh situasi dunia usaha di Indonesia pada tahun
2012 yang mengalami perlambatan ekonomi global. Hal ini
mengakibatkan penurunan pendapatan perusahaan sehingga
pajak yang disetor juga berkurang.
Ringkasan Eksekutif
Strategi Pengamanan Penerimaan yang akan dilaksanakan
sebagai action plan di tahun 2013 atas evaluasi penerimaan
pajak tahun 2012 adalah:
1) penyempurnaan aplikasi Approweb (termasuk aplikasi
feeding) dan optimalisasi pemanfaatannya dalam
pengawasan Wajib Pajak;
2) optimalisasi pemanfaatan aplikasi Dashboard sebagai alat
penggalian potensi dan pengawasan;
3) peningkatan kepatuhan WP berbasis sektoral;
4) pengawasan berbasis IT; dan
5) tindak lanjut hasil Sensus Pajak Nasional.
b. Jumlah Penerimaan Bea dan Cukai.
Total realisasi penerimaan Bea Masuk, Bea Keluar dan Cukai
tahun 2012 adalah sebesar Rp144.464,41 milyar dengan
persentase capaian 110,10% dari target APBN-P sebesar
Rp131,210,73 milyar atau terdapat kelebihan atau surplus
penerimaan sebesar Rp13.253,69 milyar (10,10%). Penerimaan
bea dan cukai tahun 2012 terdiri dari :
1) Bea masuk.
Penerimaan bea masuk sampai dengan 31 Desember 2012
adalah sebesar Rp28.277,75 milyar dengan persentase
capaian 114,31% dari target APBN-P sebesar Rp24.737,90
milyar sehingga terdapat kelebihan pencapain target atau
surplus sebesar Rp3.539,85 milyar (14,31%).
2) Bea keluar.
Penerimaan bea keluar sampai dengan 31 Desember 2012
adalah sebesar Rp21.372,92 milyar dengan persentase
capaian 92,10% dari target APBN-P sebesar Rp23.206,20
milyar sehingga terdapat kekurangan pencapaian target
atau defisit sebesar Rp1.833,28 milyar (7,90%).
Tabel 3.5
Realisasi Jumlah Penerimaan Bea dan Cukai Tahun 2012
Rp Jutaan
No.
Jenis Penerimaan
Target APBN-P
%
Surplus/Defisit
Nominal
%
1.
Bea Masuk
24.737.900,00
28.277.747,59
114,31
3.539.847,59
14,31
2.
Bea Keluar
23.206.200,00
21.372.924,03
92,10
(1.833.275,97)
-7,90
3.
Cukai
83.266.625,00
94.813.740,82
113,87
11.547.115,82
13,87
Total
131.210.725,00
144.464.412,44
110,10
13.253.687,44
10,10
1. Sumber Data Laporan KPU/KPPBC pada Aplikasi MPO
2. Target Bea Masuk sudah termasuk nilai BM-DTP sebesar Rp. 600 milyar (APBN-P)
48
Realisasi
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.6
Perbandingan Realisasi Penerimaan Bea dan Cukai Tahun 2011 dan 2012
Rp Miliar
No.
Jenis
Penerimaan
2011
Target
APBN-P
2012
Realisasi
%
Target
APBN-P
Growth
Realisasi
%
Nominal
%
1.
Bea Masuk
21.000,79
25.191,49
119,95
24.737,90
28.277,75
114,31
3.086,26
12,25
2.
Bea Keluar
25.439,08
28.855,58
113,43
23.206,20
21.372,92
92,10
(7.482,66)
-25,93
3.
Cukai
68.075,34
77.009,46
113,12
83.266,74
94.813,74
113,87
17.804,28
23,12
Total
114.515,21
131.056,53
114,44
131.210,73
144.464,41
110,10
13.407,88
10,23
Sumber Data: Rapat Evaluasi Kemenkeu-One DJBC
Tabel 3.7
Perbandingan Realisasi Penerimaan Bea dan Cukai Tahun 2010 dan 2011
Rp Miliar
No.
Jenis
Penerimaan
2010
Target
APBN-P
Realisasi
2011
%
Target
APBN-P
Growth
Realisasi
%
Nominal
%
1.
Bea Masuk
15.106,81
19.760,43
130,80
21.000,79
25.191,49
119,95
5.431,06
27,48
2.
Bea Keluar
5.454,56
8.897,78
163,13
25.439,08
28.855,58
113,43
19.957,80
224,30
3.
Cukai
59.265,92
66.165,29
111,64
68.075,34
77.009,46
113,12
10.844,17
16,39
Total
79.827,29
94.823,50
118,79
114.515,21
131.056,53
114,44
36.233,03
38,21
Keterangan: Target dan realisasi BM tidak termasuk BM DTP
3)Cukai.
Penerimaan cukai sampai dengan 31 Desember 2012
adalah sebesar Rp94.813,74 milyar dengan persentase
capaian 113,87% dari target APBN-P sebesar Rp83.266,63
milyar sehingga terdapat kelebihan pencapaian target atau
surplus sebesar Rp11.547,12 milyar (13,87%).
Rincian realisasi penerimaan bea dan cukai tahun 2012 adalah
sebagaimana tabel 3.5. Perbandingan realisasi penerimaan Bea
dan Cukai tahun 2011 dan 2012 tampak pada tabel 3.6.
Adapun perbandingan realisasi penerimaan Bea dan Cukai
tahun 2010 dan 2011 adalah sebagaimana pada tabel 3.7.
Realisasi penerimaan Bea dan Cukai pada tahun 2012
mengalami peningkatan dibandingkan dengan realisasi
penerimaan Bea dan Cukai tahun 2011, terdiri dari kenaikan
jenis penerimaan Bea Masuk sebesar Rp3.086,26 milyar (naik
12,25%), Cukai sebesar Rp17.804,28 milyar (naik 23,12%),
walaupun Bea Keluar mengalami penurunan sebesar
Rp7.482,66 milyar (turun 25,93%). Secara keseluruhan
penerimaan Bea dan Cukai pada tahun 2012 mengalami
peningkatan sebesar Rp13.407,88 milyar atau 10,23%
dibandingkan periode yang sama tahun 2011.
Disamping melaksanakan pemungutan terhadap pungutan
negara di bidang Kepabeanan dan Cukai, Kementerian
Keuangan c.q Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga
mengemban tugas untuk melaksanakan pemungutan dibidang
perpajakan lainnya yaitu pemungutan terhadap Pajak Dalam
Rangka Impor (PDRI) yang meliputi PPN Impor, PPnBM Impor
dan PPh pasal 22 Impor serta pemungutan terhadap PPN Hasil
Tembakau. Tabel 3.8 menampilkan rincian Penerimaan PDRI
dan PPN hasil tembakau pada tahun 2011 dan 2012.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
49
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.8
Penerimaan PDRI dan PPN Hasil Tembakau Tahun 2011 dan 2012
Rp Miliar
No.
Jenis Penerimaan
1.
PPN Impor
2.
PPNBM Impor
3.
PPh Ps. 22 Impor
Sub Total PDRI
4.
PPN HT
Total Pajak (dipungut DJBC)
Realisasi s.d. Desember
2011
2012
Growth
Nominal
%
107.016,02
126.629,63
19.613,61
18,33
5.374,48
8.432,40
3.057,92
56,90
25.835,92
31.613,69
3.318,50
11,73
140.685,69
166.675,72
25.990,03
18,47
12.856,79
14.156,59
1.299,80
10,11
153.542,47
180.832,30
27.289,83
17,77
Sumber Data: Rapat Evaluasi Kemenkeu-One DJBC
Sampai dengan Desember 2012 realisasi penerimaan Pajak
Dalam Rangka Impor (PDRI) mencapai Rp166.675,7 milyar
(meningkat 18,47% dari tahun 2011) dan PPN Hasil Tembakau
sebesar Rp14.156,6 milyar (naik 10,11% dari tahun 2011). Secara
keseluruhan total PDRI dan PPN HT tahun 2012 mengalami
peningkatan dibandingkan tahun 2011 yaitu sebesar
Rp27.289,83 milyar (naik 17,77%).
Faktor yang mempengaruhi penerimaan Bea dan Cukai antara
lain:
1) Bea Masuk.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan bea masuk
per 31 Desember 2012, antara lain disebabkan:
a) Devisa impor Bayar sampai dengan bulan Desember
sebesar US$ 146,14 Milyar, meningkat 3,59%
dibandingkan periode yang sama tahun 2011 sebesar
US$ 141,06 Milyar.
b) Tarif efektif rata-rata s.d. periode Desember 2012
sebesar 2,06%, naik 1,02% dari periode yang sama
tahun 2011 sebesar 2,04% dan berada di atas tarif
yang diasumsikan dalam APBN-P pada tahun 2012
sebesar 1,92%.
c) Nilai Kurs Rata-rata sampai dengan Desember 2012
sebesar Rp9.396,09 melemah sebesar Rp620,88
(7,08%) dibanding periode yang sama tahun 2011 (Rp
8.775,21) dan di atas kurs asumsi makro APBN-P 2012
sebesar Rp9.000.
50
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Tercapainya target penerimaan bea masuk tahun 2012, antara
lain disebabkan:
a)Peningkatan dutiable import dan nilai tukar rupiah yang
tinggi, berada diatas asumsi APBN-P 2012.
b) Tarif efektif rata-rata yang berada diatas tarif yang
diasumsikan.
c) Internal effort dalam peningkatan pelayanan dan
pengawasan di bidang kepabeanan seperti intensifikasi
pemeriksaan dokumen dan fisik barang, pemberantasan
penyelundupan, temuan hasil audit, dan lain-lain.
2) Bea Keluar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan Bea Keluar
tahun 2012 antara lain:
a) Tarif BK dan HPE periode Januari sampai dengan
Desember lebih rendah dari periode yang sama
Tahun 2011 menjadi salah satu penyebab turunnya
penerimaan BK.
b) Dari hasil kajian diperoleh kesimpulan bahwa
restrukturisasi tarif yang ada hanya merangsang
produsen untuk melakukan hilirasisasi sampai tingkat
RBD Palm Olein. Pemrosesan sampai tingkat RBD
sesungguhnya tidak sepenuhnya dapat dikatakan
sebagai proses hilirisasi tetapi lebih memanfaatkan
penurunan pembayaran Bea Keluar yang nilainya jauh
melebihi peningkatan Nilai Tambah (Perbedaan Harga
Ekspor antara RBD Palm Olein dengan CPO).
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak tercapainya target
penerimaan Bea Keluar tahun 2012 antara lain:
a) Penerimaan BK dari ekspor mineral yang mulai berlaku
mulai Juni 2012 belum efektif/menghasilkan penerimaan.
Pada tahun 2012 penerimaan bea keluar dari ekspor
mineral logam hanya sebesar Rp1.746,41 miliar
sebagaimana pada tabel 3.9 di bawah ini.
b) Masih rendahnya penerimaan BK dari komoditi mineral
logam disebabkan adanya kendala di bidang perizinan
terhadap eksportir dimana eksportir harus mendapat izin
Clear and Clean dari Kementerian ESDM dan rekomendasi
Eksportir Terdaftar dari Kementerian Perdagangan. Karena
belum mendapatkan perizinan tersebut, para pengusaha
penambangan tidak dapat melakukan ekspor mineral
sehingga penerimaan BK relatif tertunda.
c) Pada KWBC Sumatera Utara terdapat 55 Perusahaan/
eksportir CPO, sebanyak 6 perusahaan pengguna fasilitas
Kawasan Berikat (KB) yang merupakan kontributor
penerimaan bea keluar terbanyak di KWBC Sumatera
Utara. Adanya PMK-147/PMK.04/2011 tentang Kawasan
Berikat yang berlaku tanggal 01 Januari 2012, perusahaan
KB yang membuat produk turunan CPO/produk hilir tidak
diperbolehkan mengekspor CPO (trading) melalui KB.
d) Pada KWBC Kalimantan Bagian Timur harga Jual Eceran
(HJE) CPO menurun sehingga mengakibatkan jumlah
penerimaan menurun. Mulai bulan Oktober ekspor CPO
(Crude Palm Oil) menurun sedangkan ekspor RBD (Refined
Bleached Deodorized) Palm Oil meningkat. RBD Palm Oil
tidak dikenakan Bea Keluar sehingga mengakibatkan
penerimaan Bea Keluar Kanwil DJBC Kalbagtim menurun.
Tabel 3.9
Penerimaan Bea Keluar 2012
Rp Jutaan
No.
KPPBC
Jun
Jul
Agt
Sep
Okt
Nov
Des
Total
Rata-Rata
Bulanan
1.
Ketapang
0,00
9.890,40
11.218,26
1.524,08
21.265,76
22.882,03
24.082,49
90.863,02
18.172,60
2.
Pontianak
0,00
6.732,18
12.008,14
17.983,33
19.233.63
26.204,42
18.671,72
100.833,43
16.805,57
3.
Kotabaru
23.185,85
31.989,54
39.073,44
38.729,60
28.636,94
50.907,78
37.815,45
250.338,61
35.762,66
4.
Kendari
8.242,86
28.888,37
43.556,79
47.537,86
66.998,41
153.823,78
135.880,76
484.928,82
69.275,55
5.
Pomalaa
5.478,88
7.729,74
2.450,18
7.263,33
29.956,62
43.046,24
60.882,08
156.807,06
22.401,01
6.
Poso
7.817,07
13.771,46
12.602,00
24.566,54
20.846,73
33.179,86
13.221,20
126.004,86
18.000,69
7.
Luwuk
0,00
0,00
0,00
0,00
12.527,53
10.561,36
9.142,87
32.231,76
10.743,92
8.
Ternate
44.521,06
43.069,54
43.736,98
66.328,73
77.787,21
53.310,44
85.549,30
414.303,26
59.186,18
9.
Sorong
0,00
0,00
0,00
0,00
6.261,15
3.916,44
3.499,17
13.776,76
4.592,25
10.
Dabo
Singkep
0,00
0,00
0,00
0,00
2.661,19
8.218,58
11.164,88
22.044,65
7.348,22
11.
Tj. Pinang
0,00
0,00
0,00
0,00
3.663,31
23.459,23
27.153,29
54.275,83
18.091,94
89.245,72
142.071,24
164.645,79
203.933,47
289.938,47
429.510,16
427.063,20
1.746.408,05
262.288,65
Total
Sumber Data: Rapat Evaluasi Kemenkeu-One DJBC
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
51
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.10
Penerimaan Cukai Tahun 2012
Jenis
Penerimaan
Growth (YoY 2011)
Target APBN-P
2012
Realisasi
2012
Pencapaian
Tahun 2012
Nominal
%
CUKAI
83.266,62
95.022,33
114,12%
11.755,70
14,12
a. HT
79.858,13
90.575,46
113,42%
10.717,33
13,42
3.284,36
4.288,20
130,56%
1.003,84
30,56
124,13
158,67
127,82%
34,54
27,82
b. MMEA
c. EA
Sumber Data: Rapat Evaluasi Kemenkeu-One DJBC
3)Cukai.
Rincian penerimaan cukai tahun 2012 adalah sebagaimana
tabel 3.10.
Dapat terlampauinya penerimaan Cukai tahun 2012, antara lain
disebabkan:
a) Dampak kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau rata-rata 16%
yang mulai berlaku Januari 2012.
b) Internal effort meliputi kegiatan pemantauan kepatuhan
pengusaha (antara lain produksi, pelekatan, dan
pencatatan), pengawasan peredaran rokok illegal, dan
memaksimalkan penagihan cukai serta optimalisasi
sosialisasi di bidang cukai.
Kendala dan risiko fiskal dalam pencapaian target penerimaan
bea dan cukai tahun 2012 antara lain:
1) Sektor Bea Masuk.
a) Konsekuensi Kerjasama Perdagangan Internasional
melalui skema FTA (IJ-EPA, China, Korea, India, AANZ).
b) Fasilitas Pembebasan dan Keringanan BM.
c) Tarif umum BM (MFN) cenderung menurunkan tarif
efektif rata-rata BM.
d) Kebijakan non tarif yang berorientasi pada
pengendalian barang impor dan penggunaan
produksi dalam negeri.
2) Sektor Bea Keluar.
a) Bea Keluar bukan merupakan Instrumen penerimaan
negara, karena tujuan penerapan BK adalah
untuk mengantisipasi lonjakan harga yang tinggi,
ketersediaan bahan baku dalam negeri, kelestarian
52
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
SDA, dan menjaga kestabilan harga komoditas dalam
negeri (Pasal 2A UU Kepabeanan).
b) Harga internasional CPO cenderung fluktuatif, yang
berpengaruh pada penerimaan BK.
3) Sektor Cukai.
a) Konsisten dengan Road Map Industri Hasil Tembakau.
b) Rencana pemberlakuan PP Pengendalian Tembakau.
c) Antisipasi Ratifikasi FCTC (Framework Convention on
Tobacco Control).
d) Antisipasi Pemberlakuan Pajak Rokok.
Strategi dalam pencapaian target penerimaan tahun 2012
adalah:
1) Optimalisasi di Bidang Kepabeanan.
a) Peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan
klasifikasi barang impor dan Peningkatan efektivitas
pemeriksaan fisik barang.
b) Optimalisasi fungsi unit pengawasan melalui
peningkatan patroli darat dan laut dan Peningkatan
pengawasan di daerah perbatasan terutama jalur
rawan penyelundupan dan post audit.
2) Optimalisasi di Bidang Cukai.
a) Kenaikan tarif cukai Hasil Tembakau.
b) Optimalisasi Pengawasan peredaran BKC.
c) Pembinaan kepatuhan pengguna jasa terhadap
ketentuan di bidang cukai.
d) Penerapan manajemen risiko dalam pelayanan dan
pengawasan di bidang cukai.
3) Peningkatan Sektor Pelayanan.
a) Penyempurnaan implementasi Indonesia National
Single Windows (INSW), dalam rangka menyongsong
b)
c)
d)
e)
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
ASEAN Single Windows (ASW).
Pelayanan Kepabeanan 24 (dua puluh empat)
Jam sehari 7 (tujuh) hari seminggu di pelabuhanpelabuhan utama, seperti pada Kantor Pelayanan
Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok.
Pengembangan otomatisasi pelayanan di bidang
kepabeanan dan cukai.
Transformasi Kelembagaan dalam bentuk penetapan
Kantor Modern pada Ditjen Bea dan Cukai yang pada
tahun 2012 ini telah ditrasformasi 77 (tujuh puluh
tujuh) kantor pengawasan dan pelayanan bea dan
cukai yang dimodernkan menjadi kantor madya
dan pratama. Sehingga dari tahun 2008 s.d 2012
seluruh kantor pengawasan dan pelayanan sudah
dimodernkan yaitu sebanyak 114 kantor.
Penanganan pengaduan masyarakat secata otomasi
dengan menggunakan aplikasi Sistem Penanganan
Pengaduan Masyarakat (SIPUMA).
c. Jumlah PNBP Nasional.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) merupakan seluruh
penerimaan pemerintah pusat yang tidak berasal dari
penerimaan perpajakan. Yang dimaksud dengan jumlah PNBP
adalah jumlah PNBP secara nasional sebagaimana tercantum
dalam APBN atau APBN-P dengan pengelompokkan sebagai
berikut:
1) penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana
Pemerintah
2) penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam
3) penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan negara
yang dipisahkan
4) penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan
Pemerintah
5) penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang
berasal dari pengenaan denda administrasi
6) penerimaan berupa hibah yang merupakan hak
Pemerintah
7) penerimaan lainnya yang diatur dalam Undang-undang
tersendiri
Pencapaian penerimaan PNBP adalah realisasi penerimaan
PNBP sesuai Undang-undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran
2012. Mengingat porsi PNBP yang signifikan menyumbang
penerimaan, maka diperlukan ukuran kinerja guna mengukur
capaian perolehannya. Melalui penyusunan jumlah PNBP
nasional ini diharapkan dapat menjamin upaya pencapaian
jumlah PNBP dengan cara sebagai berikut :
1) Mengamankan pendapatan negara dari PNBP melalui
optimalisasi pendapatan negara.
2) Memantau tingkat pencapaian penerimaan PNBP agar
sesuai dengan tingkat pencapaian pada tiap tahapannya.
Total realisasi PNBP pada tahun 2012 berdasarkan Buku
Merah adalah sebesar Rp351,63 triliun (indeks pencapaian
sebesar 103,07% dari target PNBP dalam APBN-P sebesar
Rp341,142triliun). Realisasi tersebut antara lain berasal dari :
1) Sumber Daya Alam Migas Rp205,85 triliun
2) Sumber Daya Alam Non Migas Rp20,61 triliun
3) Laba BUMN Rp30,7 triliun
4) PNBP Lainnya Rp73,22 triliun
5) Badan Layanan Umum Rp21,16 triliun
Gambaran target dan realisasi capaian jumlah PNBP nasional
terlihat pada tabel 3.11
Tabel 3.11
Realisasi PNBP Nasional 2010-2012
Rp Triliun
Kinerja
Jumlah PNBP Nasional
% Realisasi terhadap target
TA 2010
TA 2011
TA 2012
Target
Realisasi
Target
Realisasi
Target
Realisasi
247,17
269,37
286,57
321,28
341,14
351,63
108,98%
112,11%
103,07%
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
53
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
2. Sasaran Strategis 2: Perencanaan dan Pelaksanaan Belanja Negara yang Optimal (KK-2).
Perencanaan belanja negara yang optimal adalah kemampuan
merumuskan kebijakan, menyusun norma, standar, prosedur
dan kriteria di bidang belanja negara sebagai pedoman
pelaksanaan belanja negara yang baik. Sedangkan pelaksanaan
belanja negara yang optimal adalah kemampuan satuan
kerja pada Kementerian Negara/Lembaga dalam mengelola
belanja dalam pelaksanaan kegiatan yang ada pada dokumen
pelaksanaan anggaran sesuai perencanaan anggaran. Dalam
pencapaian sasaran strategis ini, Kementerian Keuangan
mengidentifikasikan 2 (dua) Indikator Kinerja Utama (IKU).
Uraian mengenai kedua IKU tersebut tampak seperti pada tabel
3.12
dipergunakan untuk mengukur persentase dana blokir adalah
membandingkan jumlah dana yang diblokir dengan total
anggaran belanja negara dalam setahun.
Semakin kecil persentase dana blokir berarti semakin akurat
perencanaan anggaran belanja dan kesiapan satuan kerja
untuk mengelola belanja negara secara optimal. Pelaksanaan
belanja negara yang optimal menunjukan kemampuan satuan
kerja pada Kementerian Negara/Lembaga dalam mengelola
belanja dalam pelaksanaan kegiatan yang ada pada dokumen
pelaksanaan anggaran sesuai perencanaan anggaran.
Persentase dana blokir menjadi salah satu ukuran kinerja
yang cukup penting untuk menunjukan kualitas perencanaan
yang disusun masing-masing satuan kerja pada Kementerian
Negara/Lembaga. Penggunaan ukuran ini mulai dilaksanakan
sejak tahun 2012. Pada tahun 2012 realisasi persentase dana
blokir tercapai sebesar 1,45% dari yang ditargetkan sebesar 3%.
Dari sisi dana terlihat bahwa total dana yang diblokir sebesar
Rp7,776triliun dari total pagu anggaran belanja K/L tahun 2012
sebesar Rp534,554 triliun sehingga diperoleh capaian kinerja
sebesar 1,45%, dengan rincian sebagaimana tabel 3.13.
a. Persentase Dana Blokir (tanda bintang) (KK-2.1)
Dana blokir merupakan dana dalam RKA-K/L dan DIPA yang
belum dapat dicairkan karena belum memenuhi persyaratan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pengukuran persentase dana blokir ditujukan untuk mengukur
akurasi perencanaan anggaran belanja. Formulasi yang
Tabel 3.12
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Perencanaan dan Pelaksanaan Belanja Negara yang Optimal
KK 2. Perencanaan dan pelaksanaan belanja negara yang optimal
No.
Indikator Kinerja
Target
1.
Persentase dana blokir (tanda bintang)
2.
Persentase penyerapan Belanja Negara dalam DIPA K/L
Realisasi
%
3%
1,45%
120,00%
90%
88,21%
98,01%
Tabel 3.13
Realisasi Dana Blokir TA 2012
Rp Triliun
Unit Eselon II
54
Dana Blokir Awal
Dana Blokir s.d. Q-4
Dit. Anggaran I
23,263
3,35
Dit. Anggaran II
83,787
4,3
Dit. Anggaran III
1,49
0,126
108,54
7,776
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.14
Rincian Penyerapan Dana Triwulan IV Tahun 2012
Uraian
Triwulan IV 2011
Triwulan IV 2012
Pagu
Realisasi
%
Pagu
Realisasi
%
Belanja Pegawai
109.191,71
108.297,19
99,18
131.277,12
128.095,74
97,58
Belanja Barang
145.665,25
124.488,36
85,46
164.789,98
141.790,22
86,04
Belanja Modal
144.137,74
116.505,13
80,83
180.817,96
147.210,35
81,41
Bantuan Sosial
73.215,86
67.211,76
91,80
81.767,08
75.717,33
92,60
472.210,56
416.502,45
88,20
558.652,14
492.814,39
88,21
Total
Capaian kinerja tersebut menunjukan bahwa bimbingan teknis
yang dilakukan Kementerian Keuangan terhadap Kementerian
Negara/Lembaga cukup efektif untuk mengurangi dana blokir
yang ada dalam RKA-K/L dan DIPA satuan kerja.
b. Persentase Penyerapan Belanja Negara dalam DIPA
K/L (KK-2.2)
Persentase penyerapan belanja negara dalam DIPA K/L adalah
jumlah realisasi penyerapan belanja negara dalam satu periode
dibandingkan pagu DIPA K/L dalam satu tahun. Penyerapan
anggaran K/L sampai dengan triwulan IV 2012 sebesar
Rp492.814,39 milyar atau 88,21% dari pagu DIPA Kementerian/
Lembaga sebesar Rp558.652,14 M. Rincian penyerapan
belanja Negara dalam DIPA K/L pada triwulan IV tahun 2012
sebagaimana tampak pada tabel 3.14
2012 tanggal 31 Juli 2012 tentang Langkah-langkah
pengendalian belanja pemerintah pusat dalam
rangka pelaksanaan APBN TA 2012, maka dilakukan
penghematan anggaran pada semua K/L. Langkahlangkah penghematan dimaksud dengan kriteria antara
lain tidak mengurangi anggaran untuk kebutuhan belanja
pegawai dan belanja barang operasional penyelenggaraan
kantor (5211). Kebijakan ini membawa akibat adanya
penjadwalan ulang kegiatan pada belanja modal dan
barang (non belanja barang operasional) sehingga banyak
kegiatan pengadaan barang dan jasa yang tertunda
bahkan tidak dilaksanakan.
100%
Persentase penyerapan anggaran K/L pada tahun 2012
mengalami penurunan dari tahun 2011. Pada tahun 2012 dari
Pagu DIPA untuk 4 klasifikasi belanja yaitu belanja pegawai,
barang, modal dan sosial sebesar Rp. 558.652,14M terealisasi
sebesar Rp. 492.814,39M (88,21%). Capaian IKU ini dari tahun
2011 dapat dilihat pada grafik 3.1.
Penyerapan anggaran yang masih dibawah target antara lain
disebabkan oleh:
1) Pemblokiran anggaran Kementerian/Lembaga sebesar
Rp17.456 M (3,15%) dari total pagu DIPA K/L sebesar
Rp554.883,80 M.
2) Dengan adanya Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun
75%
50%
25%
0%
Q1
Q2
2011
Q3
Q4
2012
Grafik 3.1
Penyerapan Belanja K/L 2011-2012
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
55
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Langkah-langkah yang akan dilaksanakan pada tahun 2013
untuk meningkatkan capaian IKU ini adalah:
1) Melaksanakan sosialisasi dan bimtek kepada stakeholder
untuk percepatan penyerapan anggaran;
2) Penyusunan modul/guideline pelaksanaan APBN
(berdasarkan PMK-190/PMK.05/2012).
3. Sasaran Strategis 3: Pembiayaan Dalam
Jumlah yang Cukup, Efisien, dan Aman Bagi
Kesinambungan Fiskal (KK-3).
Pembiayaan APBN harus dapat disediakan dalam jumlah yang
cukup dan tersedia pada saat diperlukan dengan biaya yang
efisien dan tingkat risiko terkendali. Pembiayaan meliputi
pembiayaan defisit (deficit financing) dan pembayaran kembali
utang jatuh tempo (debt refinancing). Dalam pencapaian
sasaran strategis ini, Kementerian Keuangan mengidentifikasi 2
(dua) Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagaimana tabel 3.15.
a. Persentase Pemenuhan Target Pembiayaan Melalui
Utang yang Cukup (KK-3.1)
Persentase pemenuhan target pembiayaan melalui utang yang
cukup, efisien, dan aman yang menjadi IKU unit pengelola
utang dihitung dari realisasi penerbitan SBN dan pengadaan
pinjaman program. Pemenuhan pembiayaan dari pinjaman
yang digunakan sebagai komponen IKU hanya yang berasal
dari pinjaman program, tidak termasuk pinjaman proyek karena
sifat pinjaman program yang relatif sama dengan SBN dalam
hal pola penarikannya. Pinjaman proyek tidak dimasukkan ke
dalam komponen IKU karena penyerapan pinjaman proyek
sangat dipengaruhi oleh pelaksanaan kegiatan/proyek pada
Kementerian/Lembaga sebagai Executing Agency.
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Dalam memenuhi target pembiayaan melalui utang,
realisasi penerbitan SBN/pengadaan pinjaman program
dilakukan dengan menggunakan konsep gross agar lebih
mencerminkan upaya/kinerja Pemerintah dalam memenuhi
total kebutuhan pembiayaan APBN yang berasal dari utang.
IKU ini menggunakan polarisasi stabilize, dimana capaian
yang diharapkan adalah sesuai atau mendekati target yang
ditetapkan.
Pada tahun 2012, Persentase pemenuhan target pembiayaan
melalui utang yang cukup, efisien, dan aman ditargetkan
sebesar 100% (Rp286,83 triliun) dengan realisasi sebesar
98,87% (Rp283,58 triliun), sehingga terdapat kekurangan
sebesar 1,13% (Rp3,25 triliun), dengan perincian:
1) Kekurangan realisasi penerbitan SUN bruto terutama
disebabkan oleh adanya rencana buyback dan rencana
penerbitan SPN 3 bulan yang tidak terlaksana seluruhnya.
Rencana buyback tidak terlaksana seluruhnya karena
buyback yang semula disiapkan untuk berjaga-jaga pada
saat kondisi pasar SUN tertekan ternyata tidak perlu
dilakukan mengingat kondisi pasar SUN tahun 2012 yang
cukup kondusif, ditandai dengan masuknya dana asing,
menyebabkan harga SUN menjadi lebih mahal. Adapun
realisasi penerbitan SPN 3 bulan yang tidak sesuai dengan
rencana penerbitan semula disebabkan oleh permintaan
atas SPN 3 bulan yang tidak signifikan, di atas benchmark
serta sangat volatile.
2) Kekurangan penarikan pinjaman karena terdapat pinjaman
DPL8 dari JICA yang tidak dapat ditarik sebesar USD200
juta, disebabkan keterlambatan penyelesaian Exchange of
Note oleh Kementerian Luar Negeri
Pembiayaan melalui utang yang cukup, efisien, dan aman
terdiri dari:
Tabel 3.15
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Pembiayaan dalam Jumlah yang Cukup, Efisien dan Aman bagi Kesinambungan Fiskal
KK 3. Pembiayaan dalam jumlah yang cukup, efisien, dan aman bagi kesinambungan fiskal
No.
56
Indikator Kinerja
Target
Realisasi
%
1.
Persentase pemenuhan target pembiayaan melalui utang yang
cukup
100%
98,87%
117,74%
2.
Persentase pencapaian target effective cost
100%
80,58%
119,42%
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
1) Pinjaman Program
Pembiayaan atas defisit APBN diusahakan dalam jumlah yang
cukup, tersedia pada saat diperlukan dan dengan biaya yang
efisien serta tingkat risiko yang terkendali. Sumber pembiayaan
defisit APBN antara lain melalui pengadaan pinjaman luar
negeri (Pinjaman Tunai dan Pinjaman Kegiatan) dan pinjaman
dalam negeri yang bersumber dari kreditor multilateral,
bilateral, dan kreditor komersial swasta asing.
Pengadaan pinjaman harus didukung oleh verifikasi atas
readiness criteria proyek yang ketat dan pelaksanaan
monitoring dan evaluasi pinjaman proyek yang efektif. Selain
itu, berbagai risiko yang terkait dengan pinjaman (Exchange
Risk, Interest Risk, Market Risk, Refinancing Risk) harus dikelola
dengan baik antara lain dengan pengelolaan portofolio utang
Pemerintah melalui securities buyback, loan prepayment, debtswitch/reprofiling, debt swap, debt restructuring, dan transaksi
hedging.
Pemenuhan target pembiayaan melalui Pinjaman Program
adalah persentase realisasi pembiayaan melalui Pinjaman
Program terhadap target pembiayaan dalam UU APBN atau
perubahannya. Perubahan target pembiayaan dapat dilakukan
apabila terdapat perubahan target APBN atau kebijakan
Pimpinan dengan memperhatikan proyeksi kebutuhan
riil pembiayaan (realisasi defisit APBN). Untuk pengadaan
pinjaman program, data target menggunakan kurs APBN dan
realisasi berdasarkan kurs pada saat disbursement date.
Dalam rangka memenuhi pembiayaan APBN, pada tahun
2012 dilakukan perjanjian Pinjaman Program dengan pemberi
pinjaman multilateral dan bilateral yaitu World Bank, Asian
Development Bank (ADB) dan Islamic Development Bank (IDB).
Selama tahun 2012 telah ditandatangani tujuh perjanjian
Pinjaman Program (dengan target penarikan sebesar
USD1.750 juta (APBN-P 2012). Penarikan pinjaman program
sampai dengan Triwulan IV tahun 2012 ditargetkan 100%
(Rp15,6 triliun/USD 1,75juta) dengan realisasi sebesar 96,15%
(Rp15,003 triliun/USD1,566 juta). Rincian realisasi tersebut
terdiri atas penarikan pinjaman program:
a) BOS KITA 2 sebesar Rp1,036 triliun (USD113,485 juta);
b) PNPM sebesar Rp2,337 triliun (USD251,847 juta);
c) Local Government Development Program (LGDP) – DAK
Reimbursement program sebesar Rp.0,393 triliun (USD
41,622 juta);
d) Institutional, Tax Administration, Social And Investment –
Development Policy Loan (INSTANSI-DPL) dari Bank Dunia
sebesar USD 300 juta;
e) Connectivity Development Policy Loan dari Bank Dunia
sebesar USD 100 juta;
f ) Financial Sector and Investment Climate Reform and
Modernization Development Policy Loan (FIRM DPL) dari
Bank Dunia sebesar USD 100 juta;
g) Capital Market Development Program (Financial Market Dev
and Integration Program) dari ADB sebesar USD 300 juta;
h) Enhancing Inclusive Growth Through Connectivity (EIGTC)
dari ADB sebesar USD 300 juta;
i) Integrated Community Driven Development (ICDD) dari IDB
sebesar USD 59,2 juta;
Terdapat satu pinjaman program yang tidak bisa ditarik pada
tahun 2012, yaitu pinjaman program DPL8 dari JICA, Japan
sebesar USD 200 juta disebabkan keterlambatan penyelesaian
Exchange of Note oleh Kementerian Luar Negeri.
Untuk tahun 2013 Kementerian Keuangan akan meningkatkan
koordinasi dengan Kementerian/Lembaga, Menko
Perekonomian dan Bappenas terkait dengan penyiapan policy
matrix, sedangkan penarikan pinjaman program sesuai dengan
kebutuhan riil pembiayaan juga memerlukan koordinasi
internal Kementerian Keuangan terkait dengan manajemen kas
Pemerintah.
2) Surat Berharga Negara
Realisasi penerbitan tahun 2012 dimana capaian penerbitan
SBN Neto sebesar Rp159,6 Triliun dengan jumlah penerbitan
SBN Gross sebesar Rp268,5 Triliun, SBN jatuh tempo sebesar
Rp107,6 Triliun, dan buyback sebesar Rp1,1 Triliun. Perhitungan
SBN Neto tersebut telah memperhitungkan net utang bunga.
Tabel 3.16 berikut menampilkan rincian target dan realisasi SBN
tahun 2011.
Realisasi penerbitan SBN yang dominan dilakukan melalui
lelang SBN di pasar perdana domestik yaitu sebanyak 22
kali lelang SUN dan 19 kali lelang SBSN, menggambarkan
masih tingginya minat investor terhadap pasar SBN, dimana
penawaran yang masuk pada setiap kali lelang sangat
tinggi dengan tingkat WAY yang relatif rendah. Untuk hasil
penerbitan SBN Valas pada tahun 2012 terdiri dari SUN Valas
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
57
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.16
Target dan Realisasi SBN Tahun 2011
Rp Triliun
Target
Nominal Realisasi
(31 Desember 2012)
% Realisasi
159.596.700
159.826.290
100,14%
2683549.525
268.549.525
100,00%
Uraian
SBN Netto (APBN-P 2012) /
Government Securities-net (Revised Budget 2012)
Kebutuhan Penerbitan 2012 (Gross)/
Issuance Need
SUN/Government Debt Securities
211.460.714
SUN Domestik/Domestic GDS
165.441.745
- ON
122.245.000
- SPN
30.520.000
- ORI
12.676.745
SUN Valas/International Bonds
46.018.969
SBSN/Government Islamic Debt Securities
57.088.811
SBSN Domestik/Government Islamic Debt Securities
47.449.805
- IFR/PBS (-Islamic Fixed Rate Bond/Project Based Sukuk (IFR/PBS))
17.114.000
- SPN-s
1.380.000
- SBSN-Ritel
13.613.805
- SDHI
15.342.000
SBSN Valas/International Sukuk
(USD) sebesar USD4,25 miliar, Samurai Bond 2012 sebesar
JPY60 miliar, serta SUKUK Valas (USD) sebesar USD1 miliar.
Sedangkan untuk hasil penerbitan SBN ritel tahun 2012 sebesar
Rp26.28 triliun yang terdiri dari Obligasi Negara Ritel (ORI009)
sebesar Rp12,68 triliun dan Sukuk Ritel (SR004) sebesar Rp13,6
triliun. Selain itu, terdapat juga realisasi dari penerbitan SDHI
melalui Private Placement sebesar Rp15,34 triliun.
Surat Berharga Negara terdiri dari:
a) Surat Utang Negara
Sampai dengan berakhirnya kegiatan penerbitan SUN
pada tahun 2012, realisasi penebitan Surat Utang Negara
adalah sebesar Rp211,459 triliun atau sebesar 98,71% dari
target tahunan penerbitan gross sebesar Rp214,23 triliun.
Total penerbitan SUN dalam mata uang rupiah pada
tahun 2012 adalah sebesar Rp165,4 triliun dengan rincian
sebagaimana tabel 3.17.
58
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
9.639.006
Total penerbitan SUN dalam valuta asing di pasar perdana
internasional (Global Bonds) pada tahun 2012 adalah
sebesar Rp46,02 triliun, dengan rincian penerbitan melalui
GMTN-Program sebesar Rp39 triliun dan Samurai Bond
sebesar Rp7,01 triliun. Kinerja Pengelolaan SUN tahun
2010-2012 tampak pada tabel 3.18.
b) Surat Berharga Syariah Negara
Sampai dengan berakhirnya kegiatan penerbitan SBSN
pada tahun 2012, realisasi penebitan Surat Berharga
Syariah Negara (SBSN)/Sukuk Negara telah mencapai
sebesar Rp.57,09 triliun atau 100% dari total target tahun
2012 yaitu Rp57 triliun. Adapun rincian realisasi adalah
sebagaimana tabel 3.19
Penerbitan Sukuk Negara valuta asing di pasar perdana
internasional sebesar USD1 miliar dengan kurs setelah
closing date Rp9.639,-
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.17
Penerbitan SUN Dalam Rupiah
Rp Miliar
Jenis Instrumen
Metode Penerbitan
Nominal
Obligasi Negara (ON)
Lelang
122.245
Surat Perbendaharaan Negara (SPN)
Lelang
30.520
ORI
Bookbuilding
12.676
Total
165.441
Tabel 3.18
Kinerja Pengelolaan SUN Tahun 2010-2012
Instrumen
ON
2010
Frek.
21
SPN
2011
Rp (miliar)
72.100,00
29.795,00
Frek.
2012
Rp (miliar)
22
Frek.
Rp (miliar)
98.850,00
21
122.245, 00
40.000,00
22
30.520,00
Global Bond
1
18.550,00
1
21.442,00
2
39.005,00
Samurai Bond
1
6.491,00
-
-
1
7.012,00
ORI
1
8.000,00
1
11.000,00
1
12.676,00
134.936,00
171.292,00
211.459,00
Tabel 3.19
Realisasi SBSN Tahun 2012
Rp Miliar
Instrumen
Metode Penerbitan
Jumlah
Porsi
(%)
IFR
Lelang
400,00
1
PBS
Lelang
16.714,00
29
SPN-S
Lelang (termasuk Lelang GSO)
1.380,00
2
SR
Bookbuilding
13.613,81
24
SDHI
Private Placement
15.342,00
27
SNI*
I-GMTN Program (int’l)
9.639,00
17
57.088,81
100
Total
* Penerbitan Sukuk Negara valuta asing di pasar perdana internasional sebesar USD1 miliar dengan kurs setelah closing date Rp9.639,-
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
59
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Total realisasi penerbitan SBSN pada tahun 2012 tersebut
mengalami peningkatan dari jumlah nominal, yaitu sebesar
1,71 kali lipat atau 171% dibandingkan total realisasi
penerbitan SBSN tahun 2011 sebesar Rp33,3 triliun. Selain
itu juga adanya peningkatan dari komposisi instrumen yang
diterbitkan. Faktor-faktor yang turut berkontribusi dalam
pencapaian tersebut, antara lain:
i.Ketersediaan underlying asset, baik berupa BMN maupun
proyek K/L, yang memenuhi kebutuhan dalam jumlah dan
waktu yang tepat;
ii. Lelang SBSN yang dilaksanakan secara berkesinambungan
serta tepat waktu sesuai dengan calendar of issuance yang
dipublikasikan;
iii. Minat yang tinggi terhadap Sukuk Ritel seri SR-004, baik
peningkatan dari jumlah institusi yang berminat menjadi
Agen Penjual maupun jumlah investor dan nominal
penerbitan. Dimana hasil penjualan SR-004 meningkat
hampir 2 kali lipat dibandingkan SR-003 pada tahun 2011,
serta total investor yang mencapai 17.606 yang merupakan
jumlah investor terbanyak dalam penerbitan Sukuk Ritel
selama ini.
iv. Total penerbitan instrumen non tradable SDHI secara
nominal mengalami peningkatan serta merupakan
yang paling tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Akan
tetapi komposisinya justru menurun menjadi 27% tidak
sebesar tahun sebelumnya yang mencapai 33% dari total
penerbitan.
Penerbitan SBSN dalam mata uang rupiah sebesar Rp47,44
triliun atau 83% dari total penerbitan SBSN, terdiri dari:
i.Penerbitan SBSN melalui metode lelang di pasar perdana
dalam negeri.
Realisasi penerbitan SBSN seri IFR, PBS dan SPN-S dengan
metode lelang di pasar perdana dalam negeri yang
dilakukan secara reguler selama tahun 2012 sebanyak 19
kali lelang dengan realisasi jumlah penerbitan sebesar
Rp18,49 triliun atau 32% dari total penerbitan SBSN.
Jumlah penawaran (bid) pembelian yang disampaikan
oleh investor melalui lelang SBSN tahun 2012 cukup besar,
yaitu mencapai Rp56,084 triliun atau rata-rata mencapai
Rp2,957 triliun. Hal ini mencerminkan permintaan pasar
atas SBSN yang cukup baik dalam setiap penerbitan SBSN,
namun Pemerintah selalu memperhatikan cost and risk of
borrowing, sehingga tidak selalu memenangkan seluruh
bid yang masuk.
60
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
ii.Penerbitan SBSN melalui metode Private Placement.
Penerbitan SBSN melalui metode Private Placement
selama tahun 2012 dilakukan dengan seri Sukuk Dana
Haji Indonesia (SDHI) yang merupakan bentuk kerjasama
antara Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan
Kementerian Agama Republik Indonesia. Penerbitan SBSN
seri SDHI selama tahun 2012 dilakukan sebanyak 4 kali
dengan realisasi jumlah penerbitan sebesar Rp15,34 triliun
atau 27% dari total penerbitan SBSN.
iii. Penerbitan SBSN/Sukuk Negara Ritel melalui metode
bookbuilding di pasar perdana dalam negeri.
Sukuk Negara Ritel ini adalah salah satu jenis Sukuk Negara
yang didesain khusus untuk investor individu Warga
Negara Indonesia di pasar perdana. Sejak penerbitan
Sukuk Negara Ritel yang pertama kali, yaitu seri SR-001
pada tahun 2009, Pemerintah melakukan penerbitan
Sukuk Negara Ritel secara berkelanjutan satu kali
penerbitan setiap tahun. Sampai dengan tahun 2012,
Pemerintah telah melakukan 4 (empat) kali penerbitan
Sukuk Negara Ritel. Realisasi jumlah penerbitan Sukuk
Negara Ritel seri SR-004 pada tahun 2012 sebesar Rp13,61
triliun atau 24% dari total penerbitan SBSN.
Pada tahun 2012 dilakukan penerbitan SBSN dalam valuta
asing di pasar internasional melalui metode bookbuilding,
dengan pertimbangan sebagai berikut:
i.Menciptakan benchmark di pasar keuangan syariah
internasional;
ii. Perluasan basis investor, khususnya Islamic investors dari
pasar internasional;
iii. Menjaga kontinuitas eksistensi dan kehadiran Indonesia di
pasar keuangan syariah internasional;
iv. Menghindari terjadinya crowding out di pasar dalam
negeri; dan
v. Mengurangi tekanan terhadap kondisi pasar Surat
Berharga Negara (SBN) di dalam negeri;
Realisasi jumlah penerbitan Global Sukuk pada tahun 2012
sebesar USD1 billion (ekivalen Rp9,6 triliun) atau 17% dari total
penerbitan SBSN, yang merupakan:
i. Tenor 10 tahun terpanjang selama penerbitan sukuk valas
(sebelumnya 5 dan 7 tahun);
ii. Tingkat imbalan 3,3% yang terendah selama penerbitan
SBN valas (termasuk Global Bond);
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Penerbitan Global Sukuk pada tahun 2012 tersebut
memperoleh penghargaan internasional, berupa:
i. Best Sukuk Deal dari Euromoney Islamic Finance Awards;
ii. Indonesia Deal of the Year dari Islamic Finance News;
iii. Highly Commended Islamic Deal Indonesia dari The Asset;
iv. Highly Commended Sovereign Sukuk dari The Asset.
Tabel 3.21menunjukkan kinerja lelang SBSN selama 3 tahun
terakhir.
Perkembangan penerbitan SBSN selama tiga tahun terakhir
adalah sebagaimana tabel 3.20. Terkait dengan perkembangan
penerbitan SBSN tersebut dapat dijelaskan hal-hal sebagai
berikut:
i. Pelaksanaan lelang SBSN pada tahun 2011 lebih sedikit
dibandingkan dengan tahun 2012 karena pada tahun 2011
pelaksanaan lelang SBSN terkendala oleh keterbatasan
ketersediaan underlying asset untuk memenuhi kebutuhan
penerbitan SBSN;
ii. Pada tahun 2011 lelang SBSN menawarkan seri-seri IFR,
serta SPNS baru ditawarkan mulai Kuartal III tahun 2011.
Sedangkan pada tahun 2012 lelang SBSN menawarkan
seri-seri PBS dan SPN-S;
iii. Pada tahun 2012 terdapat beberapa fitur yang berbeda
dalam penerbitan Sukuk Ritel, yaitu penggunaan akad
ijarah asset to be leased dengan underlying asset berupa
proyek, adanya batasan jumlah maksimal pembelian Rp5
Tantangan yang dihadapi dalam rangka pemenuhan target
pembiayaan melalui utang yang cukup, efisien, dan aman
antara lain sebagai berikut:
1) Pembiayaan melalui utang khususnya SBN perlu
memperhatikan keseimbangan antara realisasi
penyerapan/belanja pada APBN dan kondisi saldo kas
pemerintah dengan keteraturan penerbitan SBN di pasar
keuangan;
2) Proyeksi realisasi defisit APBN tidak dapat diketahui secara
akurat lebih awal sehingga berdampak pada operasi
penerbitan dan buyback SBN;
3) Potensi daya serap pasar SBN domestik relatif masih
terbatas, yang disebabkan antara lain tingginya tingkat
imbal hasil/return yang diharapkan oleh institusi keuangan
domestik, termasuk masih rendahnya partisipasi investor
terhadap instrumen yang berbasis syariah;
4) Risiko nilai tukar cukup tinggi mengingat penerbitan SBN
miliar per investor, serta tenor 3,5 tahun;
iv. Penerbitan Sukuk Global sebesar USD1 miliar pada tahun
2012 menggunakan format Islamic GMTN Program.
Tabel 3.20
Perkembangan Penerbitan Sukuk Tahun 2010-2012
Instrumen
Metode
Penerbitan
2010
Frek.
2011
Rp (miliar)
IFR
Lelang
PBS
Lelang
SPN-S
Lelang
SR
Bookbuilding
1
8.033,86
SNI
Bookbuilding
(int’l)
-
-
SDHI
Private
Placement
Total
%
Frek.
Rp (miliar)
%
4.610,00
14
-
-
1.320,00
4
1
7.341,41
22
1
9.030,00
27
11.000,00
33.301,41
6.150,00
13
-
-
-
-
-
12.783,00
26.966,86
100
2012
8
Frek.
Rp (miliar)
%
400,00
0,7
16.714,00
29,3
1.380,00
2
1
13.613,81
24
1
9.638,00
17
33
15.342,00
27
100
57.088,81
100
19
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
61
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.21
Ringkasan Kinerja Lelang SBSN Tahun 2010 – 2012
No.
5)
6)
7)
8)
9)
62
Deskripsi
1.
Frekuensi lelang
2.
Jumlah penawaran yang masuk
3.
2010
2011
2012
13 kali
8 kali
19 kali
Rp21,558 T
Rp33,705 T
Rp56,084 T
Jumlah penawaran yang memenuhi benchmark
Rp6,950 T
Rp14,456 T
Rp26,358 T
4.
Jumlah penawaran yang dimenangkan
Rp6,150 T
Rp5,930 T
Rp18,494 T
5.
Rata-rata penawaran yang masuk
Rp1,661 T
Rp4,213 T
Rp2,952 T
6.
Rata-rata penawaran yang memenuhi benchmark
Rp0,535 T
Rp1,807 T
Rp1,387 T
7.
Rata-rata penawaran yang dimenangkan
Rp0,473 T
Rp0,741 T
Rp0,973 T
valas masih diperlukan akibat pasar SBN domestik yang
masih terbatas, serta untuk menghindari crowding out
effect;
Tingginya kepemilikan asing pada portofolio SBN
mengakibatkan terjadinya peningkatan volatilitas pasar
SBN domestik sehingga menghambat upaya Pemerintah
untuk menyediakan pembiayaan APBN melalui penerbitan
SBN dengan tingkat biaya yang wajar serta terdapat
potensi risiko pembalikan arus modal asing (sudden
reversal);
Terbatasnya sumber pembiayaan dalam bentuk pinjaman
lunak seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian
Indonesia yang ditunjukkan oleh meningkatnya GDP per
Kapita;
Krisis keuangan yang masih berlanjut di beberapa kawasan
di dunia terutama di zona eropa turut memberikan
ketidakpastian antar pelaku pasar. Situasi yang serba sulit
akibat beban utang yang tinggi di negara-negara zona
eropa tersebut berpotensi mempengaruhi arus dana
masuk dan keluar dari dan ke Indonesia yang berdampak
pada pasar keuangan di Indonesia;
Keterbatasan jumlah dan jenis underlying assets yang siap
digunakan untuk penerbitan SBSN;
Tingginya dominasi oleh sektor perbankan pada basis
investor SBN domestik, sehingga menuntut Pemerintah
secara aktif mendorong investor domestik seperti
Perusahaan Asuransi, Dana Pensiun, Reksa dana,
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
10)
11)
12)
13)
Perusahaan Sekuritas dan investor individu atau ritel
untuk mampu berperan lebih besar sebagai penyeimbang
dominasi perbankan dalam berinvestasi pada SBN serta
diharapkan dapat mengurangi derasnya arus dana asing
yang masuk ke Indonesia;
Belum lengkapnya infrastruktur pasar SBN yang dapat
mendukung pengembangan pasar repo dan pasar
derivatif;
Saat ini investor ritel masih belum banyak yang
berinvestasi di SBN dibandingkan dengan besarnya dana
pihak ketiga yang berada perbankan;
Pasar sekunder SBSN yang belum likuid;
Kapasitas daya serap dan partisipasi investor dan/atau
institusi syariah, baik di pasar perdana maupun sekunder,
yang masih belum besar;
Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut dan
sejalan dengan strategi umum pengelolaan Surat Berharga
Negara (SBN) adalah:
1) Meningkatkan koordinasi dengan Otoritas Moneter dan
internal Kemenkeu;
2) Meningkatkan akurasi proyeksi kas pemerintah oleh tim
Cash Planning Information Network (CPIN);
3) Bekerjasama dengan lembaga terkait (antara lain SRO,
Bank Indonesia, Bapepam-LK) dalam mengupayakan
pengembangan pasar SBN domestik antara lain melalui
deregulasi aturan terkait investasi oleh lembaga keuangan
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
domestik, memperluas basis investor SBN domestik, dan
mengembangkan instrumen SBN;
4) Mengembangkan strategi pengelolaan risiko nilai tukar
melalui instrumen derivatif (hedging) dan penerapan
konsep asset liability management dengan Ditjen
Perbendaharaan dan Bank Indonesia (natural hedging);
5) Meningkatkan koordinasi dengan lembaga keuangan
baik domestik maupun internasional dalam rangka
mendapatkan sumber pembiayaan utang alternatif;
6) Mengimplementasikan CMP (Crisis Management Protocol)
dan Bond Stabilization Framework (BSF) dalam rangka
pemeliharaan stabilitas pasar SBN dari potensi sudden
reversal dan mengefektifkan pelaksanaan transaksi
langsung SBN dengan tujuan stabilisasi pasar SBN;
7) Mengoptimalkan penggunaan pinjaman secara efektif
yang didukung pemanfaatan pemberi pinjaman sesuai
dengan expertise dan spesialisasinya. Dengan fokus
kegiatan yang sesuai dengan spesialisasinya, pemberi
pinjaman menurunkan kebutuhan untuk tambahan
biaya pendampingan dan supervisi kegiatan yang pada
akhirnya akan ditransmisikan ke biaya pinjaman. Selain itu,
pemberi pinjaman juga dapat dipastikan telah memiliki
pengalaman untuk mengerjakan sebuah kegiatan
tertentu sehingga kemampuan menganalisa pada saat
perencanaan lebih terjamin kualitasnya dan kemungkinan
gagal dalam pelaksanaan relatif kecil. Dua hal ini akan
mengurangi beban biaya baik bagi pemberi pinjaman
(overhead cost) maupun bagi Pemerintah (cost of capital);
8) Mengingat pasar SBSN domestik baru mulai terbentuk
dan masih dalam tahap pengembangan, maka secara
konsisten akan terus melakukan berbagai aktivitas
meliputi, penyempurnaan mekanisme penerbitan SBSN,
penguatan infrastruktur dalam rangka peningkatan kinerja
pasar sekunder SBSN, dan transparansi harga SBSN;
9) Menjamin ketersediaan underlying asset sesuai dengan
jumlah kebutuhan penerbitan, dengan terus melakukan
kajian diversifikasi Aset SBSN dan mengembangkan
instrumen SBSN baru menggunakan underlying selain
Barang Milik Negara seperti proyek-proyek pada APBN.
10) Kajian program Primary Dealers (PD’s) dan Benchmark Series
SBSN;
11) Penyiapan transaksi buyback dan switching SBSN;
12)Implementasi Green Shoe Option (GSO) dalam lelang SBSN;
13)Meningkatkan size penerbitan SBSN yang tradable.
14) Meningkatkan efektifitas edukasi/ sosialisasi/diseminasi
SBSN kepada masyarakat, investor, dan pelaku pasar.
15) Melakukan riset/survey untuk mengetahui preferensi
investor SBSN (termasuk terhadap jenis instrumen baru),
serta mengukur potensi demand SBSN
Secara umum pencapaian target pemenuhan dalam rangka
pemenuhan target pembiayaan melalui utang yang cukup,
efisien, dan aman telah sejalan dengan arah kebijakan
pembiayaan APBN dalam Renstra Kementerian Keuangan
2010-2014 yaitu: (i) penurunan stok utang terhadap PDB secara
bertahap dan berkelanjutan; (ii) peningkatan diversifikasi
instrumen pembiayaan melalui utang termasuk menciptakan
sumber-sumber pembiayaan alternatif; (iii) pengelolaan
portofolio utang untuk mencapai struktur portofolio utang
yang optimal guna meminimalkan biaya utang pada tingkat
risiko yang semakin terkendali dalam jangka panjang; (iv)
pengembangan pasar SBN yang dalam (deep), aktif, dan likuid
untuk mengoptimalkan pendanaan utang dari pasar domestik;
dan (v) meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan
berbagai pihak dalam rangka meningkatkan sovereign credit
rating.
Tabel 3.22 menunjukkan perkembangan kinerja terkait
pemenuhan target pembiayaan melalui utang yang cukup,
efisien, dan aman tahun 2010-2012.
Kondisi pasar SBN yang semakin baik ditandai dengan semakin
meningkatnya rata-rata perdagangan harian SBN pada tahun
2012 serta yield yang semakin baik dan stabil meskipun pada
akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012 kepemilikan asing di
SBN sempat menurun, mendukung pemenuhan pembiayaan
APBN melalui SBN.
b. Persentase Pencapaian Target Effective Cost
(KK-3.2)
Effective cost merefleksikan biaya riil yang harus dikeluarkan
oleh Pemerintah dalam menerbitkan/mengadakan utang.
IKU ini bertujuan supaya Pemerintah dalam menerbitkan/
mengadakan utang dengan biaya utang yang wajar sesuai
target yang ditetapkan. Persentase pencapaian target effective
cost adalah pengukuran tingkat biaya utang dalam berbagai
mata uang dan jenis instrumen utang yang diterbitkan dalam
satu tahun terhadap target. Pencapaian target effective cost
berarti kombinasi tingkat biaya utang yang diterbitkan dalam
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
63
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.22
Realisasi Persentase Pemenuhan Target Pembiayaan Melalui Utang yang Cukup, Efisien, dan Aman Tahun 2010-2012
IKU
2010
2011
2012
Persentase pemenuhan target pembiayaan melalui utang yang
cukup, efisien, dan aman
99,47%
99,17%
98,87%
satu tahun sama dengan atau di bawah target effective cost
yang ditetapkan.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang lebih rendah
dari target (minimize), dimana capaian yang makin rendah dari
target adalah capaian yang diharapkan.
Pada tahun 2012, pencapaian target effective cost selama 2012
ditargetkan sebesar 100%, dengan realisasi sebesar 80,58%.
Adapun rincian pencapaian effective cost berdasarkan mata
uang sampai dengan kuartal lV tahun 2012 adalah sebagai
berikut:
1)realisasi effective cost IDR sebesar 5,84% dari target sebesar
6,91% (84,57%);
2)realisasi effective cost USD sebesar 4,51% dari target
sebesar 5,35% (84,32%); dan
3)realisasi effective cost JPY sebesar 1,76% dari target sebesar
2,42% (72,86%).
Keberhasilan penurunan biaya utang (target effective cost)
disebabkan:
1) Strategi penerbitan SBN yang tepat, melalui:
a) penetapan target indikatif penerbitan yang
disesuaikan dengan kondisi pasar keuangan; dan
b) pemilihan instrumen pembiayaan melalui SBN yang
tepat dengan kombinasi penerbitan SPN/SPNS yang
memiliki biaya yang rendah serta pengelolaan risiko
yang optimal melalui penerbitan SBN jangka panjang
sehingga biaya yang ditanggung pemerintah dalam
setiap penerbitan SUN menjadi lebih efisien.
2) strategi komunikasi yang efektif dengan pelaku
pasar saat lelang SBN dan kreditor dalam negosiasi
pinjaman, sehingga didapatkan biaya pinjaman yang
lebih rendah;
64
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
3) kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang baik,
yang ditunjukkan dengan:
a) tingkat pertumbuhan ekonomi tahun 2012 mencapai
6,3% (est);
b) tingkat inflasi pada Desember tahun 2012 tercatat
sebesar 4,30% yoy; dan
c) pencapaian level Investment Grade dari Fitch dan
Moody’s mendorong masuknya modal asing dalam
jumlah yang cukup signifikan dalam pasar keuangan
domestik sehingga berperan dalam menurunkan yield
SUN.
4) tingkat likuiditas pasar domestik dan internasional masih
cukup tinggi sehingga memberikan demand yang cukup
besar bagi penerbitan SBN dan menjaga bunga pinjaman
luar negeri dan dalam negeri pada level yang cukup
rendah.
5) transaksi pengelolaan portofolio SUN melalui cash
buyback dan debt switch dilaksanakan secara efektif dalam
mendukung terwujudnya likuiditas SUN seri benchmark.
Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target
effective cost
1) Kondisi pasar keuangan yang fluktuatif berpotensi dapat
meningkatkan yield SBN, sehingga biaya utang yang
ditanggung pemerintah meningkat;
2) Tingginya biaya utang melalui pinjaman komersial
yang disebabkan adanya tambahan biaya-biaya terkait
penarikan utang.
Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
1) Memperhatikan kondisi pasar keuangan untuk
menentukan waktu penerbitan SBN yang optimal
sehingga dapat menurunkan yield penerbitan SBN;
2) Meningkatkan usaha negosiasi terms and conditions
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
pinjaman untuk menekan/mengurangi biaya-biaya terkait
penarikan pinjaman komersial;
3) Mengefektifkan strategi komunikasi dengan dealer utama
dan pelaku pasar lainnya baik saat transaksi secara reguler
maupun yang sifatnya ad hoc;
4) Mengoptimalkan pelaksanaan transaksi Debt Switch
maupun Cash Buyback;
Berdasarkan Rencana Strategis tahun 2010-2014, salah satu
sasaran strategis pengelolaan utang adalah pembiayaan yang
aman bagi kesinambungan fiskal melalui pengadaan pinjaman
serta pengelolaan SBN. Rencana aksi dalam rangka pemenuhan
sasaran strategis tersebut di dalam Rencana Strategis tahun
2010-2014 adalah dengan pengelolaan pinjaman dan hibah
serta portofolio SBN yang optimal dan efektif, sehingga sebagai
indikator untuk mengukur keberhasilan hal tersebut disusunlah
IKU “persentase pencapaian target effective cost”.
Perkembangan kinerja terkait pencapaian target effective cost
tahun 2010-2012 digambarkan dalam grafik 3.2
4. Sasaran Strategis 4: Utilisasi Kekayaan Negara yang
Optimal (KK-4).
Utilisasi adalah pendayagunaan barang milik negara/kekayaan
negara yang tidak dipergunakan sesuai dengan tugas pokok
84
83,5%
83
82
81
80
80,58%
80,02%
79
78
2010
2011
2012
Grafik 3.2
Pencapaian Target Effective Cost Tahun 2010 -2011
dan fungsi kementerian/lembaga/satuan kerja, dalam bentuk
penetapan status penggunaan, sewa, pinjam pakai, kerja sama
pemanfaatan (KSP), dan bangun serah guna (BSG)/bangun
guna serah (BGS) dengan tidak mengubah status kepemilikan
serta pemindahtanganan melalui tukar menukar, hibah, dan
penyertaan modal pemerintah. Kekayaan negara meliputi
persediaan, aset tetap, aset tak berwujud dan aset lainnya
sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor
24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Utilisasi kekayaan negara adalah optimalisasi pendayagunaan
kekayaan negara melalui pemanfaatan, penetapan status
penggunaan, tukar menukar dan penyertaan modal
pemerintah. Nilai kekayaan negara yang diutilisasi termasuk
di dalamnya pemanfaatan idle asset. Untuk dapat ditetapkan
sebagai utilisasi kekayaan negara, aset tersebut harus berstatus
free and clear dalam arti memiliki dokumen kepemilikan, tidak
dalam sengketa, dan tidak dikuasai pihak lain.
Nilai kekayaan negara yang diutilisasi diperoleh dari nilai
kekayaan negara yang ditetapkan utilisasinya dengan rincian
sebagai berikut:
a. Utilisasi melalui pemanfaatan kekayaan negara diperoleh
dari:
1) Nilai BMN yang disewakan
2) Nilai BMN yang di-KSP-kan
3) Nilai BMN yang di-BGS/BSG-kan
4) Nilai BMN yang di-pinjampakai-kan
b. Utilisasi melalui penetapan status penggunaan diperoleh
dari:
1) Nilai BMN yang ditetapkan status penggunaannya
2) Nilai BMN yang ditetapkan statusnya karena hibah
masuk
3) Nilai aset yang ditetapkan statusnya yang berasal
dari aset Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS), aset
eks. Kelolaan PT. Perusahaan Pengelola Aset (PPA),
dan aset eks. Badan Penyehatan perbankan Nasional
(BPPN)
c. Utilisasi melalui tukar-menukar diperoleh dari nilai
aset baru hasil tukar menukar
d. Utilisasi melalui penyertaan modal pemerintah dari
nilai aset yang dikonversi sebagai penyertaan modal
pemerintah
e. Utilisasi melalui underlying asset dalam rangka
penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
65
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Salah satu persyaratan agar suatu aset dapat diutilisasi adalah
aset tersebut berstatus free and clear dalam arti memiliki
dokumen kepemilikan, tidak dalam sengketa, dan tidak
dikuasai pihak lain. Dengan demikian proses utilisasi kekayaan
negara perlu didukung dengan kesadaran K/L untuk mengelola
kekayaan negara sesuai ketentuan dengan prinsip 3 T (tertib
hukum, tertib administasi dan tertib fisik).
Dalam proses penyelesaian permohonan utilisasi kekayaan
negara ditemukan masih terdapat BMN yang belum berstatus
free and clear, hal tersebut secara otomatis menghambat proses
penetapan utilisasi kekayaan negara. Untuk itu diperlukan
kerjasama dari pihak-pihak terkait seperti: Badan Pertanahan
Nasional (BPN), Pengadilan, dan Kementerian Negara/Lembaga
untuk menyelesaikan aset-aset yang bermasalah tersebut.
Dalam pencapaian sasaran strategis ini, Kementerian Keuangan
mengidentifikasikan 1 (satu) Indikator Kinerja Utama (IKU) lihat
Tabel 3.23 . Adapun perkembangan nilai utilisasi kekayaan
negara selama 4 (empat) tahun terakhir dapat dilihat pada
grafik 3.3
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Realiasi IKU nilai kekayaan negara yang diutilisasi adalah
sebesar 103,31 T dari target 102,56 T sehingga nilai capaiannya
100,73%. Realisasi tersebut diperoleh dari:
a. Penyampaian Daftar Nominasi Aset (DNA) untuk
penertiban SBSN sebesar Rp21,17 triliun
b. Utilisasi BMN melalui penetapan status penggunaan,
pemanfaatan, maupun hibah masuk yang diselesaikan
sebesar Rp71,01 triliun
c. Utilisasi BMN melalui penetapan PMN dari konversi aset
yang diselesaikan sebesar Rp8,46 triliun
d. Utilisasi BMN melalui penetapan status penggunaan,
pemanfaatan, maupun hibah masuk sebesar Rp2,6 triliun
e. Utilisasi BMN dari pemanfaatan BMN KKKS sebesar Rp0,01
triliun
Walaupun target tercapai namun terdapat kendala dalam
penetapan utilisasi yang berasal PMN dari korversi aset dimana
proses persetujuan PMN BPYBDS pada PT. PLN terlebih dahulu
harus mendapat persetujuan DPR.
Dalam rangka pencapaian target tahun 2013, strategi-strategi
yang akan ditempuh diantaranya melalui:
Tabel 3.23
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Utilisasi Kekayaan Negara yang Optimal
KK 4. Utilisasi kekayaan negara yang optimal
Indikator Kinerja
Nilai kekayaan negara yang diutilisasi
Target
Realisasi
%
102,56 T
103,31 T
100,73
Tabel 3.24
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Perimbangan Keuangan yang Adil dan Transparan
KK 5. Perimbangan keuangan yang adil dan transparan
No.
66
Indikator Kinerja
1.
Indeks Pemerataan keuangan antar-daerah
2.
3.
Target
Realisasi
%
0,8
0,74
107,50%
Persentase ketepatan jumlah penyaluran dana transfer ke daerah
100%
100,12%
100,12%
Persentase Perda PDRD yang sesuai dengan peraturan perundangundangan
90%
94,98%
105,53%
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
dan daerah yang disebabkan oleh tidak meratanya
pelaksanaanpembangunan antara lapisan masyarakat dan
daerah.
120
102,45
103,31
Kesenjangan fiskal antar daerah diukur dengan menggunakan
metode Williamson Index, sebagai berikut:
100
80
52,68
60
2009
40
2010
2011
20
2012
0,21
0
Utilisasi Kekayaan Negara
Grafik 3.3.
Perkembangan Nilai Utilisasi Kekayaan Negara 2009-2012
a. Official assesment untuk mengidentifikasi BMN yang
berpotensi untuk ditetapkan utilisasinya.
b. Intensifikasi koordinasi dan kesamaan persepsi soal
pentingnya penetapan status BMN.
5. Sasaran Strategis 5: Perimbangan Keuangan yang
Adil dan Transparan (KK-5).
Hubungan Keuangan pusat dan daerah mengacu pada Undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Secara umum,
yang ingin dituju adalah meminimumkan vertical fiscal imbalance
dan horizontal fiscal imbalance sehingga daerah mempunyai
sumber daya fiskal yang cukup signifikan untuk menunjang
tugas otonominya tanpa membuat pusat kekurangan sumber
daya fiskal untuk menjalankan fungsinya sebagai pemerintah
Negara kesatuan. Dalam pencapaian sasaran strategis ini,
Kementerian Keuangan mengidentifikasikan 3 (tiga) Indikator
Kinerja Utama (IKU) adalah sebagaimana tabel 3.24. Uraian
mengenai ketiga IKU tersebut tampak berikut ini.
a. Indeks Pemerataan Keuangan Antar-Daerah (KK5.1).
Pemerataan keuangan antar daerah adalah ketimpangan
distribusi pendapatan antar lapisan masyarakat
Dimana :
Wi = Nilai / indeks ketimpangan wilayah / provinsi / kabupaten
/ kota
Yi = Pendapatan perkapita masing-masing provinsi /
kabupaten / kota
Y = Total pendapatan perkapita kawasan indonesia
Fi = Jumlah penduduk masing-masing provinsi / kabupaten /
kota
n = Jumlah penduduk Indonesia
Besarnya indeks kesenjangan fiskal (Vw) adalah 0 < Vw < 1
Vw = 0, berarti pembangunan wilayah sangat merata
Vw = 1, berarti pembangunan wilayah sangat tidak merata
(kesenjangan sempurna)
Vw~0, berarti pembangunan wilayah semakin mendekati
merata
Vw~1, berarti pembangunan wilayah semakin mendekati tidak
merata.
Indeks Williamson adalah suatu indeks yang menunjukkan
tingkat ketimpangan antar wilayah dengan memperhatikan
distribusi pendapatan per kapita dan jumlah penduduk.
Dimana Indeks Williamson merupakan suatu indeks yang
jika menunjukkkan tingkat ketimpangan semakin mendekati
0 (nol), ini menunjukkan tingkat ketimpangan yang kecil /
tingkat pemerataan yang semakin baik. Indeks Williamson
untuk Pemerataan Fiskal Provinsi sebesar 0,79. Indeks
Williamson untuk Pemerataan Fiskal Kabupaten/Kota sebesar
0,69. Sehingga realisasi 0,74 didapat dari rata-rata tertimbang
dari IW Provinsi dan Kabupaten/Kota. Dengan perhitungan
IKU minimize, berarti pencapaian ini lebih baik dari target yang
ditentukan yaitu 0,8.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
67
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Tabel 3.25
Mekasnisme Pola Penyaluran Anggaran Transfer ke Daerah
No.
Uraian Transfer
I.
Dana Bagi Hasil Pajak
A. DBH PBB
a.
DBH PBB Bagian Pusat (10%)
Tahap I : 25%; Tahap II : 50%; Tahap III : selisih alokasi definitif dengan yang
telah disalurkan
b.
DBH PBB Bagian Daerah (81%)
Setiap minggu yaitu sebesar 81% (64,8 % untuk Kabupaten/Kota; 16,2% untuk
Provinsi) dari realisasi penerimaan secara mingguan
c.
DBH Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah
(9%)
Setiap minggu, yaitu sebesar 9 % dari realisasi penerimaan secara mingguan
d.
DBH PBB & Biaya Pemungutan DBH PBB
Sektor Pertambangan Migas & Panas Bumi
Setiap triwulan sebesar 25%(Maret, Juni, September, Desember); Triwulan IV :
selisih alokasi definitif dengan yang telah tersalur
B. DBH PPh
a.
DBH PPh Pasal 21
Triwulan I : 20%; Triwulan II : 20%; Triwulan III : 20%; Triwulan IV : selisih definitif
dengan yang telah disalurkan
b.
DBH PPh Pasal 25/29
Triwulan I : 20%; Triwulan II : 20%; Triwulan III : 20%; Triwulan IV : selisih definitif
dengan yang telah disalurkan
II .
DBH Cukai Hasil Tembakau
III.
Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Triwulan I : 20%; Triwulan II & Triwulan III: 30% ; Triwulan IV : selisih alokasi
definitif dengan yang telah disalurkan
A
Migas & Panas Bumi
Triwulan I & II: 20% ; Tw III: selisih realisasi penerimaa s/d Tw III dengan yang
telah tersalur; Tw IV selisih realisasi penerimaan s/d Tw IV dengan yang telah
tersalur
B
Pertambangan Umum
Triwulan I & II: 20% & 15% ;selisih realisasi penerimaa s/d Tw III dengan yang
telah tersalur; Tw IV selisih realisasi penerimaan s/d Tw IV dengan yang telah
tersalur
C
Kehutanan & Perikanan
Triwulan I & II: masing-masing 15% ; selisih realisasi penerimaa s/d Tw III
dengan yang telah tersalur; Tw IV selisih realisasi penerimaan s/d Tw IV
dengan yang telah tersalur
IV
Dana Alokasi Umum
Tiap bulan sebesar 1/12 dari alokasi
1. Penyaluran tahap I (30% dari total DAK)
V.
Dana Alokasi Khusus
Dilaksanakan setelah daerah menyampaikan Perda APBD tahun 2012, Laporan
Penggunaan DAK tahun sebelumnya, dan Surat Pernyataan Dana Pendamping
DAK TA 2012
2. Penyaluran Tahap II (45%) dan Tahap III (25%)
Dilaksanakan setelah menyampaikan Laporan Penggunaan DAK tahap
sebelumnya yang secara kumulatif telah mencapai 90%
VI.
68
Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian A
Dana Otonomi Khusus dan Dana Tambahan
Infrastruktur
Penyaluran dilaksanakan setelah mendapat pertimbangan dari Mendagri Tahap I (Maret) : 30%; Tahap II (Juli) : 45%; Tahap III (Oktober) : 25%
B
Dana Tambahan Penghasilan Guru PNSD
C
Tunjangan Profesi Guru
Penyaluran dilakukan per triwulan, masing-masing sebesar 25%; Triwulan I
disalurkan tanpa syarat. triwulan II s/d IV disalurkan dengan syarat Pemda
menyampaikan laporan realisasi Semester II TA 2011
E
Dana Insentif Daerah
F
BOS Terpencil
G
BOS Tidak Terpencil
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Penyaluran dilakukan setelah menyampaikan perda APBD 2011 dan surat
pernyataan, disalurkan sekaligus
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
b. Persentase Ketepatan Jumlah Penyaluran Dana
Transfer ke Daerah (KK-5.2).
Pelaksanaan penyaluran anggaran Transfer ke Daerah selama
TA 2012 dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 06/PMK.07/2012 tanggal 9 Januari 2012 tentang
Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke
Daerah. Secara singkat mekanisme penyaluran dana diuraikan
dalam tabel 3.25.
Perkembangan alokasi Dana Transfer ke Daerah selama lima
tahun terakhir telah mencapai sasaran sesuai renstra tahun
2010-2014 dan mengalami kemajuan yang cukup signifikan.
Norma dan standardisasi kebijakan telah diselaraskan dengan
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, Peraturan Pemerintah
Nomor 55 Tahun 2005, Undang-Undang APBN Tahun 2012
dan Undang-Undang APBN-P Tahun 2012 , serta Kesepakatan
Panitia Anggaran DPR-RI dengan Pemerintah sebagai bagian
tak terpisahkan dari Undang-Undang APBN. Perhitungan
dan pengalokasian diberlakukan secara keseluruhan daerah
berdasarkan perhitungan tertentu. DBH dengan persentase
tertentu, DAU dengan formula, DAK dengan kriteria, Dana
Otsus dan Penyesuaian berdasarkan undang-undang terkait.
Di sisi lain, perkembangan jumlah daerah penerima dana
transfer ke daerah dari tahun 2006 sebanyak 467 menjadi 524
pada tahun 2012, atau meningkat 57 daerah selama 6 tahun,
sebagaimana terlihat pada tabel 3.26
1) Dana Bagi Hasil
DBH telah mencapai sasaran sesuai dengan renstra 2010-2014
dan dalam pelaksanaannya mengacu pada kebijakan yang
ditetapkan dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 yang mengatur
bagian Pemerintah Pusat dan bagian pemerintah daerah
dengan persentase tertentu dari realisasi penyetoran ke kas
negara dari penerimaan negara pajak (PNP) dan penerimaan
negara bukan pajak (PNBP). Jenis DBH dalam undang-undang
tersebut sebanyak 8 (delapan) jenis yang dalam tahun 2005 s/d
2008 telah dilaksanakan 7 jenis sedangkan satu jenis DBH, yaitu
Panas Bumi dilaksanakan mulai tahun 2009. Untuk pertama
kalinya DBH Panas Bumi pada tahun 2009 dibagikan kepada
daerah di wilayah Provinsi Jawa Barat, yaitu DBH dari PNBP
tahun 2006 s.d. 2009. Adapun perkembangan alokasi DBH SDA
dan Pajak selama kurun waktu 2007-2012 sebagaimana tabel
3.27.
Pada tahun 2008 dikenal DBH Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT)
berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang
Perubahan Atas UU No 11 Tahun 1999 tentang Cukai. Pada
tahun 2008 dan 2009 DBH-CHT diberikan kepada lima daerah
di wilayah provinsi penghasil CHT, yaitu Sumatera Utara, Jawa
Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Timur. Berbeda
dengan DBH SDA pada umumnya yang sifatnya sebagai block
grant, DBH Cukai bersifat specific grant.
Tabel 3.26
Perkembangan Jumlah Daerah dan Besaran Transfer Tahun 2006 s/d 2012
No
Daerah
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
33
33
33
33
33
33
33
1
Provinsi
2
Kabupaten/Kota
434
434
451
477
491
491
491
3
Jumlah
467
467
484
510
524
524
524
4
Realisasi Transfer
(Triliun rupiah)
226,2
253,3
292,6
303,1
344,6
411,2
479,62
5
% Kenaikan
50,30
11,98
15,51
3,59
13.69
16,63
16,64
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
69
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 35 UU No 33
Tahun 2004, DBH SDA Migas dibagikan kepada daerah dengan
porsi 15,5% dari PNBP Minyak Bumi dan 30,5% dari PNBP Gas
Bumi. Porsi tambahan 0,5% tersebut sebagai specific grant yang
harus dimanfaatkan untuk menambah anggaran pendidikan
dasar di daerah dengan pembagian untuk provinsi/daerah
penghasil/daerah lainnya masing-masing sebesar 0,1%, 0,2%
dan 0,2%. Perkembangan alokasi DBH Pajak dan DBH SDA
dapat dilihat pada Tabel 3.27.
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Mengingat ketentuan mengenai perhitungan DBH dan
penetapan alokasinya kepada daerah telah diatur secara jelas
dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005,
maka kebijakan pengalokasian dari tahun ke tahun adalah
menyempurnakan proses perhitungan, penetapan alokasi dan
ketepatan waktu penyaluran melalui peningkatan koordinasi
dengan institusi pengelola PNBP seperti Kementerian
Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian
ESDM, Kementerian Dalam Negeri, dan unit-unit eselon I di
Tabel 3.27
Perkembangan Alokasi DBH per Komponen Tahun 2007 s/d 2012
Rp Triliun
No
Komponen
2007
2008
2009
2010
2011
2012
A. Pajak
1
PBB
21,79
22,37
22,8
27,12
27,59
26,03
2
BPHTB
4,29
7,35
7,65
7,69
-
-
3
PPh
7,94
9,98
10,09
10,93
13,16
19,37
4
Cukai HT
0,2
0,96
1,2
1,35
1,73
34,02
39,9
41,5
46,94
42,10
47,13
22,02%
17,28%
4,01%
13.11%
-10,31%
11,95%
Sub jumlah (A)
% kenaikan
B. Sumber Daya Alam
1
Pertambangan Umum
2,85
4,24
6,98
7,79
15,14
12,86
2
Kehutanan
1,52
1,71
1,51
1,75
1,75
1,53
3
Minyak & Gas
24,46
23,44
17,6
35,196
37,306
47,39
4
Perikanan
0,20
0,16
0,12
0,12
0,12
0.179
5
Panas Bumi
-
-
0,26
0,305
0,351
0,626
Sub jumlah (B)
29,03
29,55
26,82
45,165
54,673
62,60
% kenaikan
-6,39%
1,79%
-9,24%
68,4%
21,05%
14,5%
Total (A+B)
63,05
69,45
68,32
92.1
96,77
109,98
% Kenaikan
7,06%
10,15%
-1,63%
34,81%
4,98%
13,65%
C
Catatan :
- DBH SDA TA 2010 mengacu pada APBN Perubahan 2010
- DBH SDA TA 2011 mengacu pada APBN Perubahan 2011
- DBH SDA TA 2012 mengacu pada APBN Perubahan 2012
- DBH Pajak TA 2008, 2009 dan 2010 belum termasuk Biaya Pemungutan PBB bagian Daerah.
70
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
lingkungan Kementerian Keuangan dalam rangka menyediaan
data yang lebih akurat. Koordinasi tersebut dilakukan melalui:
a) Konsultasi regional untuk semua komponen DBH-SDA
yang dihadiri pengelola DBH-SDA kementerian/lembaga
dengan daerah penghasil dengan tujuan antara lain agar
daerah turut berperan dalam optimalisasi penyetoran
PNBP dan menghimpun data setoran supaya daerah dapat
berperan aktif dalam acara rekonsiliasi PPNBP/DBH, agar
setoran PNBP per daerah dapat dibagikan secara optimal.
b) Rekonsiliasi data PNBP dan perhitungan DBH yang
dilakukan bersama institusi pengelola PNBP/DBH SDA
dengan daerah penghasil dalam rangka transparansi dan
akuntabilitas penyaluran DBH SDA
c) Rapat kerja antara unit eselon I di lingkungan Kementerian
Keuangan yang mengelola penerimaan pajak dan cukai
hasil tembakau dengan daerah penghasil.
Perubahan yang penting dalam pengelolaan DBH pada tahun
2008 adalah pola penyaluran SDH SDA yang semula murni
berdasarkan realisasi penyetoran PNBP berdasarkan hasil
rekonsiliasi triwulanan menjadi penyaluran dengan pola
penggabungan antara penetapan persentase dengan realisasi
penyetoran PNBP melalui rekonsiliasi.
a) Penyaluran DBH Pajak 2012
Realisasi DBH Pajak yang terdiri DBH PPh, DBH PBB,
dan DBH BPHTB mencapai Rp46.819.211.020.806,- atau
102,56% dari pagu alokasi Rp45.651.984.955.878,-. Rincian
atas realisasi DBH Pajak tersebut adalah sebagaimana
tampak pada tabel 3.28
b) Penyaluran DBH CHT 2012
Realisasi DBH CHT pada tahun 2012 mencapai
Rp1.722.781.272.658,00 atau 99,25% dari alokasi DBH
CHT sebesar Rp1.735.723.719.623,00. Penyaluran tidak
mencapai 100% karena terdapat daerah yang hingga batas
akhir tahun tidak menyampaikan laporan penggunaan
DBH CHT TA 2012.
c) Penyaluran DBH SDA 2012
Realisasi untuk semua jenis DBH SDA baik DBH SDA Migas,
Pertambangan Umum, Kehutanan, Perikanan, dan Panas
Bumi mencapai 100% atau sama dengan pagu alokasi
sebesar Rp62.600.285.617.315,00 rincian selengkapnya
sebagaimana tabel 3.29.
2) Dana Alokasi Umum
Capaian sasaran selama 2007-2012 antara lain telah
menerbitkan beberapa peraturan baik Perpres maupun
Permenkeu. Adapun peraturan-peraturan tersebut terinci
dalam tabel 3.30.
Telah terjadi perubahan yang mendasar dalam periode
tahun 2007 hingga tahun 2012 ditandai dengan berlakunya
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 menggantikan
Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999, dimana Indonesia
memulai fase kedua dari penerapan Desentralisasi Fiskal.
Terdapat perubahan yang mendasar dengan berlakunya UU
tersebut antara lain penyederhanaan formulasi perhitungan
DAU, penerapan kebijakan non-holdharmless, dan peningkatan
persentase penentuan pagu DAU Nasional sekurang-kurangnya
25% menuju 26% terhadap Penerimaan Dalam Negeri
Tabel 3.28
Penyaluran DBH Pajak Tahun 2012
Jenis Dana
Pagu
Realisasi
%
DBH PPh
19.378.280.456.694
19.378.280.456.694
100,00 %
DBH PBB
26.034.891.478.128
27.202.117.543.056
104,48%
DBH CHT
1.735.723.719.623
1.722.781.272.658
99,25%
238.813.021.056
238.813.021.056
100%
47.387.708.675.501
48.541.992.293.464
102,44%
DBH BPHTB
Total
Catatan:
DBH BPHTB yang disalurkan TA 2012 merupakan penyaluran sisa DBH BPHTB TA 2010
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
71
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.29
Penyaluran DBH SDA Tahun 2012
Jenis Dana
Pagu
Realisasi
DBH Migas
47.397.497.222.732
47.397.497.222.732
100,00 %
DBH Pertambangan Umum
12.860.854.426.197
12.860.854.426.197
100,00 %
1.535.890.432.615
1.535.890.432.615
100,00 %
DBH Perikanan
179.764.557.362
179.764.557.362
100,00 %
DBH Panas Bumi
626.278.978.409
626.278.978.409
100,00 %
62.600.285.617.315
62.600.285.617.315
100,00 %
DBH Kehutanan
Total
%
Tabel 3.30
Perpres Alokasi DAU dan Permenkeu Dana Penyeimbang yang Diterbitkan
Tahun Anggaran 2007 – 2012
Alokasi
Tahun
2007
2008
2009
2010
2011
2012
72
Perpres (Miliar Rp)
Peraturan Menteri Keuangan
(Miliar Rp)
Jumlah Daerah
164.787,40
842,91
33 Provinsi
Perpres 104 Tahun 2006
PMK No. 129 Tahun 2006
434 Kab/Kota
179.507,14
242,84
33 Provinsi
Perpres 110 Tahun 2007
PMK No. 172 Tahun 2007
451 Kab/Kota
186.414,1
-
33 Provinsi
Perpres 74 Tahun 2008
-
477 Kab/Kota
192.490,34
187,35
33 Provinsi
Perpres 53 Tahun 2009
PMK No. 225 Tahun 2009
477 Kab/Kota
225.532,83
0,89
33 Provinsi
Perpres Nomor 6 Tahun 2011
PMK No.73 Tahun 2011
491 Kab/Kota
273.814,4
-
33 Provinsi
Perpres Nomor 96 Tahun 2011
-
491 Kab/Kota
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Netto. Menghilangkan unsur lumpsum dan proporsi belanja
pegawai sebagai komponen pembentuk perhitungan Alokasi
Minimum untuk menyederhanakan formulasi perhitungan
DAU. Perubahan persentase, meskipun baru berlaku efektif
mulai tahun 2006, telah ditentukan pagu DAU Nasional
sebesar 25,5% terhadap PDN Netto selama kurun waktu
transisi. Penerapan kebijakan non-holdharmless merupakan
salah satu pencapaian dalam prinsip keadilan dalam proses
pengalokasian DAU dimana dimungkinkan suatu daerah
memperoleh alokasi lebih kecil dari tahun sebelumnya. Fokus
penerapan kebijakan tersebut dapat mengurangi beban
APBN yang harus ditanggung dengan penambahan Dana
Penyeimbang DAU. Selain dari itu pula , penerapan formula
AD+CF sangat berbeda dengan AM+AKF dimana AD (Alokasi
Dasar) ketika disandingkan dengan CF (Celah Fiskal) memiliki
beberapa kemungkinan yang akan menghasilkan perhitungan
DAU, yaitu:
a) Daerah yang memiliki nilai CF lebih besar dari nol (CF > 0)
akan menerima DAU sebesar AD (Alokasi Dasar) ditambah
dengan CF.
b) Daerah yang memiliki nilai CF = 0 akan menerima alokasi
DAU sebesar AD.
c) Daerah yang memiliki nilai CF negatif (CF < 0) dan nilai
negatif tersebut lebih kecil dari AD (CF < 0; |CF| < AD), akan
menerima DAU sebesar AD setelah dikurangi dengan nilai
CF.
d) Daerah yang memiliki nilai CF negatif dan nilai negatif
tersebut sama dengan atau lebih besar dari AD (CF < 0
; |CF| >= AD), maka DAU yang diterima daerah tersebut
adalah negatif atau disesuaikan menjadi 0 (nol).
Sedangkan formula sebelumnya AM+AKF, tidak ada proses
persandingan antara AM dan AKF untuk menghasilkan alokasi
DAU. Hal ini mengandung makna bahwa alokasi gaji suatu
daerah yang direpresentasikan dalam AD, dengan penerapan
formula sesuai UU No. 33 tahun 2004, diperhitungkan terhadap
Celah Fiskalnya. Implikasi kebijakan ini yang perlu dicermati
suatu daerah bahwa DAU dialokasikan dengan menitikberatkan
pada upaya mengurangi kesenjangan horizontal (horizontal
fiscal imbalances) antardaerah.
Pada tahun anggaran 2012 total alokasi DAU adalah sebesar
Rp273.814.438.203.000,00. Dari alokasi tersebut telah
diterbitkan SPM dengan nilai sebesar Rp273.814.438.203.000,00
atau 100%, dengan rincian sebagaimana pada tabel 3.31.
3) Dana Alokasi Khusus
DAK dalam waktu antara tahun 2003 s/d 2005 dikenal
dengan terminologi DAK Non Dana Reboisasi (DAK Non-DR),
selanjutnya pada tahun 2006 dipakai istilah DAK. Sejak tahun
2007 s/d 2012 telah terjadi perkembangan jumlah bidang
dalam DAK dari mulai 2003 sebanyak 5 bidang menjadi 19
bidang pada tahun 2012 sebagaimana pada tabel 3.32.
Pada tahun 2008 hingga 2011 penambahan bidang DAK
dikaitkan dengan pelaksaan Pasal 108 Undang-Undang
Nomor 33 Tahun 2008 bahwa kegiatan kementerian/lembaga
yang sebenarnya merupakan kegiatan kewenangan daerah
dialihkan secara bertahap ke DAK. Penambahan bidang DAK
pada tahun 2008 ditandai dengan pengalihan anggaran
K/L dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) dan
Kementerian Kehutanan, sedangkan pada tahun 2009 dialihkan
anggaran K/L dari Kementerian Perdangan dan Kementerian
Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), dan pada tahun 2010
dialihkan anggaran K/L dari Kementerian Pekerjaan Umum
(PU).
Sejak Tahun 2006 pola perhitungan DAK per daerah
dengan menggunakan Kriteria Umum, Kriteria Khusus, dan
Tabel 3.31
Penyaluran DAU Tahun 2012
Jenis Dana
DAU Propinsi (murni)
DAU Kabupaten/Kota (murni)
Total
Pagu
Realisasi
%
27.381.443.820.000
27.381.443.820.000
100,00%
246.432.994.383.000
246.432.994.383.000
100,00%
273.814.438.203.000
273.814.438.203.000
100.00%
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
73
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.32
Perkembangan Jumlah Bidang-Bidang DAK 2007 s.d 2012
No
Bidang
Prov
2009
K/K
Prov
2010
K/K
Prov
2011
K/K
1
Pendidikan

2
Kesehatan





3
Jalan





4
Irigasi





5
Air Bersih


6
Pras. Pem

7
Pertanian
8
K/K
K/K























Lingk. Hidup





9
Kelautan & P





10
Kel. Berencana





11
Kehutanan


12
PDT




13
Perdagangan




14
Sanitasi




15
Listrik Pedesaan


16
Perumahan&Pemukiman


17
Transportasi Pedesaan


18
Sarpras Perbatasan


19
Keselamatan Transportasi






Prov



Prov
2012




Pagu DAK (triliun)
21,20
24,82
21,13
25,23
26,11
% Kenaikan
24,05
17,08
-14,85
19,40%
3,49%
Keterangan:
74
2008

Bidang yang tahun sebelumnya sudah ada

Bidang baru pada tahun ybs
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Kriteria Teknis yang dari tahun ke tahun diupayakan untuk
disempurnakan dalam rangka memperbaiki aspek keadilan
pengalokasian sesuai dengan kondisi daerah. Kriteria
Umum mencerminkan kondisi keuangan daerah, kriteria
khusus menggambarkan kondisi kekhususan wilayah yang
diasumsikan menjadi beban daerah dalam pengelolaan
wilayah, dan kriteria teknis menunjukkan kondisi sarana
prasarana dasar di daerah.
Dalam tahun 2006 s.d. 2008 perhitungan DAK per daerah lebih
banyak ditentukan oleh kriteria umum dan kriteria khusus.
Kriteria teknis lebih banyak digunakan untuk mengukur alokasi
bagi daerah-daerah yang dinyatakan layak mendapatkan DAK
berdasarkan kriteria umum dan kriteria khusus. Perkembangan
pola perhitungan terjadi pada DAK Tahun 2012, dengan
menggunakan secara bersama-sama ketiga kriteria tersebut,
baik dalam menentukan kelayakan daerah penerima DAK,
maupun besaran alokasinya Pola ini memungkinkan daerah
yang tidak layak dari kriteria umum dan kriteria khusus
mendapatkan DAK sepanjang indeks teknisnya cukup tinggi
untuk dapat menjadi layak mendapatkan DAK pada bidang
tertentu.
Selanjutnya pencapaian yang cukup penting dari pengelolaan
DAK adalah:
a) Menggunakan kebijakan penyaluran DAK Tahap I untuk
mendorong percepatan penyelesaian Perda tentang APBD.
Strategi tersebut dituangkan dalam ketentuan bahwa bagi
daerah yang belum menyampaikan Perda APBD kepada
Kementerian Keuangan maka DAK Tahap I sebesar 30%
belum dapat disalurkan.
b) Menggunakan kebijakan laporan penyerapan DAK untuk
mendorong percepatan penyerapan dan pelaksanaan
kegiatan fisik DAK. Bagi daerah yang cepat menyerap
DAK Tahap I dengan menyampaikan laporan penyerapan
hingga 90% maka Tahap II sebesar 45% akan disalurkan,
demikian seterusnya sampai tahap akhir pernyaluran, yaitu
sebesar 25% pada Tahap III.
c) Menggunakan kebijakan laporan pelaksanaan DAK dalam
satu tahun (tahunan) untuk mendorong kelengkapan
sistem informasi keuangan daerah (SIKD) di Kementerian
Keuangan dari mulai alokasi, penyaluran, sampai realisasi
penyerapan DAK per bidang.
Pada tahun anggaran 2012 alokasi DAK adalah sebesar
Rp26.115.948.000.000,00. Yang terdiri dari DAK Murni
sebesar Rp25.232.800.000.000,00. Total alokasi DAK ini
jika dibandingkan dengan alokasi tahun 2011 sebesar
Rp21.138.385.200.000,- berarti mengalami kenaikan sebesar
Rp4.094.415.700.000,- atau naik sebesar 3,40% persen dari
tahun anggaran sebelumnya.
DAK tahun anggaran 2012 dialokasikan untuk mendanai
19 bidang. Penyaluran DAK dilakukan dalam 3 tahap yaitu
masing-masing sebesar 30%, 45% dan 25%. Dari alokasi
pagu tersebut telah diterbitkan SPM dengan nilai sebesar
Rp25.941.483.856.000,00 atau 99,33%.
Dalam rangka percepatan penyerapan alokasi DAK oleh
daerah-daerah penerima DAK, dilakukan upaya inisiatif
strategis antara lain dengan menerbitkan Perubahan atas
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 189/PMK.07/2012
tentang Pelaksanaan Penyaluran Dana Alokasi Khusus Tahun
Anggaran 2012 tentang Pelaksanaan Penyaluran Dana Alokasi
Khusus Bidang Pendidikan Tahun 2012. PMK ini dimaksudkan
untuk memberikan kepastian kepada daerah bahwa dana
Tabel 3.33
Penyaluran DAK Tahun 2012
Tahap
Pagu
Realisasi (Rp)
%
Jumlah Daerah
DAK I (30%)
7.834.784.400.000
7.834.784.400.000
100,00%
520
DAK II (45%)
11.752.176.600.000
11.752.176.600.000
100,00%
520
DAK III (25%)
6.528.987.000.000
6.354.522.856.000
97,33%
486
26.115.948.000.000
25.941.483.856.000
99,33%
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
75
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.34
Penyaluran Dana Otsus dan Penyesuaian
JENIS DANA
REALISASI
%
Dana Otonomi Khusus u/ PAPUA
3.833.402.135.000
3.833.402.135.000
100,00%
Dana Otonomi Khusus u/ PAPUA BARAT
1.642.886.629.000
1.642.886.629.000
100,00%
Dana Otonomi Khusus u/ Aceh
5.476.288.764.000
5.476.288.764.000
100,00%
Dana Otonomi Khusus T. Infras u/ Papua
571.428.571.000
571.428.571.000
100,00%
Transfer Dana Tamb. Infras. Papua Barat
428.571.429.000
428.571.429.000
100,00%
Tunjangan Profesi Guru
30.559.800.000.000
30.557.995.724.250
99,99%
Bantuan Operasional Sekolah
22.584.885.440.750
22.584.885.440.750
100,00%
Tambahan Penghasilan Guru PNSD
2.898.900.000.000
2.883.523.500.000
99,47%
Dana Insentif Daerah
1.387.800.000.000
1.387.800.000.000
100,00%
30.000.000.000
30.000.000.000
100,00%
69.413.962.968.750
69.396.782.193.000
99,95%
Dana Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi
Total
DAK Pendidikan yang telah dialokasikan akan tersalur lebih
cepat dengan mempertimbangkan kinerja laporan realisasi
penyerapan DAK dari bidang-bidang lainnya.
4) Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian
Pada tahun 2012, total pagu Dana Otsus dan Penyesuaian
sebesar Rp69.413.962.968.750,00 telah dapat diterbitkan SPM
dengan nilai sebesar Rp69.396.782.193.000,00 atau 99,95%,
dengan rincian sebagaimana tabel 3.34
a) Dana Otonomi Khusus dan Tambahan Infrastruktur.
Realisasi penyaluran dana Otsus untuk Provinsi Papua,
Papua Barat dan Aceh s.d. tanggal 28 Desember 2012
mencapai Rp11.952,57 miliar, atau 100% dari pagu alokasi
APBN 2012.
b) Dana Tunjangan Profesi Guru.
Realisasi penyaluran TPG s.d. tanggal 28 Desember 2012
mencapai Rp30.557,99 miliar, atau 99,99% dari pagu
APBN Rp30.559,80 miliar. Realisasi penyaluran TPG yang
tidak mencapai 100% tersebut disebabkan karena ada 1
daerah, yakni Kabupaten Yahukimo (Provinsi Papua) yang
tidak menyampaikan Laporan Realisasi Penyerapan dana
semester II 2011, sehingga TPG untuk triwulan II s.d. IV TA
76
PAGU
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
2012 tidak dapat disalurkan. Sesuai dengan ketentuan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34/PMK.07/2012,
penyaluran TPG dilakukan secara triwulanan, yakni sebesar
25%/triwulan, dimana penyaluran triwulan II s.d. IV
dilakukan setelah daerah menyampaikan laporan realisasi
penyerapan dana semester II tahun sebelumnya.
c) Dana Tambahan Penghasilan Guru PNSD.
Realisasi penyaluran dana Tamsil Guru s.d. tanggal
28 Desember 2012 mencapai Rp2.883,52 miliar, atau
99,47% dari pagu APBN sebesar Rp2.898,90 miliar.
Realisasi penyaluran yang tidak mencapai 100%
tersebut disebabkan karena ada 15 daerah yang tidak
menyampaikan laporan realisasi penyerapan dana Tamsil
Guru semester II TA 2011, sehingga dana Tamsil Guru untuk
triwulan II s.d. IV TA 2012 tidak dapat disalurkan. Adapun
15 daerah tersebut diuraikan dalam tabel 3.35
Sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 35/PMK.07/2012, penyaluran dana Tamsil Guru
dilakukan secara triwulanan, yakni sebesar 25%/triwulan,
dimana penyaluran triwulan II s.d. IV dilakukan setelah
daerah menyampaikan laporan realisasi penyerapan dana
semester II tahun sebelumnya.
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.35
Daftar Daerah yang Belum Menyerahkan Laporan Penyerapan Dana Tamsil Guru Semester II TA 2011
No
Daerah
No
Daerah
1.
Prov. Sumut
9.
Kab. Seram Bagian Timur
2.
Kota Medan
10.
Kab. Memberamo Raya
3.
Kab. Lingga
11.
Kab. Memberamo Tengah
4.
Prov. Bengkulu
12.
Kab. Lanny Jaya
5.
Prov. Kalbar
13.
Kab. Puncak
6.
Prov. Sulut
14.
Kab. Intan Jaya
7.
Prov. Sulbar
15.
Prov. Papua Barat
8.
Prov. Maluku
d) Dana Insentif Daerah (DID).
Realisasi penyaluran DID s.d. tanggal 28 Desember 2012
mencapai Rp1.387,80 miliar, atau 100% dari pagu alokasi
APBN 2012. DID tersebut disalurkan kepada 66 daerah
penerima guna membantu pelaksanaan fungsi pendidikan.
e) Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Realisasi penyaluran dana BOS s.d. tanggal 28 Desember
2012 mencapai Rp22.584,88 miliar, atau 95,72% dari pagu
APBN sebesar Rp23.594,80 miliar. Rincian penyaluran BOS
adalah sebagai berikut:
i. Realisasi BOS (murni) Rp22.441,11 miliar, atau 100%
dari pagu APBN;
ii. Realisasi dana cadangan (buffer fund) BOS Rp143,77
miliar, atau 12,46% dari pagu APBN Rp1.153,68 miliar.
f ) Dana Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi (PPDD).
Realisasi penyaluran dana P2D2 s.d. tanggal 28 Desember
2012 mencapai Rp30,0 miliar, 100% dari pagu APBN.
Dana P2D2 disalurkan kepada daerah sebagai reward atas
pelaksanaan transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan
kegiatan yang didanai dari DAK, khususnya DAK bidang
infrastruktur.
Tabel-tabel tersebut menunjukkan bahwa realisasi pencapaian
sasaran adalah 100,03% terhadap pagu alokasi dalam
Peraturan Presiden untuk alokasi DAU dan Peraturan Menteri
Keuangan untuk DBH, DAK, Dana Otsus, dan Dana Penyesuaian.
Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3.36.
c. Persentase Perda PDRD yang Sesuai Dengan
Peraturan Perundang-Undangan (KK-5.3).
Indikator Kinerja Utama ini ditetapkan untuk menciptakan
sistem pajak daerah dan retribusi daerah yang menjamin
bahwa pungutan -pungutan yang dilakukan oleh pemerintah
daerah sejalan dengan kebijakan perpajakan nasional untuk
mendukung efisien alokasi sumber daya nasional dan
meningkatkan fungsi akuntabilitas fiskal daerah. Persentase
jumlah perda PDRD yang berkualitas adalah jumlah perda hasil
evaluasi yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan
dan telah mendapat rekomendasi dari Menteri Keuangan.
Penetapan perubahan UU Nomor 34 tahun 2000 menjadi
UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah menuntut Pemerintah Pusat untuk
segera menyelesaikan evaluasi Perda tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah (PDRD). Perda PDRD yang dibuat
berdasarkan UU Nomor 34 Tahun 2000 hanya berlaku sampai
dengan tanggal 31 Desember 2011 dan jumlah Perda PDRD
berdasarkan UU Nomor 34 Tahun 2000 yang telah diterima oleh
Pemerintah Pusat namun belum dievaluasi masih cukup besar
sehingga diperlukan percepatan evaluasi, lihat tabel 3.37
Pada tahun 2009, Kementerian Keuangan melalui task force
telah berhasil menyelesaikan evaluasi Perda sebanyak 1984
Perda, melebihi target yang telah ditetapkan sebanyak 1600
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
77
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.36
Realisasi Transfer ke Daerah s.d. 31 Desember 2012
No
1.
Alokasi
Perpres/pmk
Jenis anggaran
Dana Bagi Hasil (DBH)
a. DBH Pajak
% thd
alokasi
109.987.994.292.816
111.142.277.910.779
101,05%
45.651.984.955.878
46.819.211.020.806
102,56%
1.735.723.719.623
1.722.781.272.658
99,25%
62.600.285.617.315
62.600.285.617.315
100,00%
b. DBH Cukai Hasil Tembakau
c. DBH SDA
Realisasi penyaluran
s.d. 31 Desember 2012
2.
Dana Alokasi Umum (DAU)
273.814.438.203.000
273.814.438.203.000
100,00%
3.
Dana Alokasi Khusus (DAK)
26.115.948.000.000
25.941.483.856.000
99,33%
4.
Dana Otonomi Khusus
11.952.577.528.000
11.952.577.528.000
100,00%
5.
Dana Penyesuaian
57.416.798.003.750
57.399.617.228.000
98,24%
479.287.756.027.566
479.861.040.967.779
100,12%
Jumlah
Keterangan: DBH Pajak termasuk DBH BPHTB
Tabel 3.37
Jumlah Perda yang Dievaluasi Tahun 2009–2011
Tahun 2009
Tahun 2010
Tahun 2011
Tahun 2012
Target
Realisasi
Target
Realisasi
Target
Realisasi
Target
Realisasi
1.600
1.984
545
545
1.000
1.531
1.400
1952
Tabel 3.38
Capaian IKU pada Sasaran Pengelolaan Keuangan Negara yang Akuntabel
KK 6. Pengelolaan keuangan negara yang akuntabel
78
No.
Indikator Kinerja
Target
Realisasi
%
1.
Indeks jumlah LK K/L dan LK BUN yang andal dengan opini audit yang baik
97,62
87,36
89,49%
2.
Rata-rata indeks opini BPK RI atas LK BA 15, BUN, dan BA 999
4
3,88
97,00%
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Perda. Dan pada tahun 2010, Perda yang belum dievaluasi
hanya sebanyak 545 Perda karena dengan diberlakukannya
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 telah memberikan
dampak yang cukup signifikan terkait dengan kebijakan PDRD
yang mengharuskan Pemerintah Daerah untuk melakukan
penggantian Peraturan Daerah tentang PDRD yang masih
menggunakan dasar hukum Undang-Undang Nomor 34 Tahun
2000 dengan Peraturan Daerah yang sesuai dengan UndangUndang Nomor 28 Tahun 2009. Pada tahun 2011 jumlah
Perda PDRD yang sudah dievaluasi sebanyak 1.531 Perda.
Dari evaluasi yang dilakukan, Perda yang sesuai peraturan
perundangan sebanyak 1.501 sedangkan Perda PDRD yang
tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan sampai
dengan akhir tahun 2011 sebanyak 30 Perda.
Pada tahun 2012 Jumlah perda PDRD yang sudah dievaluasi
sampai dengan 31 Desember 2012 yaitu sebanyak 1952
perda. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1854 Perda telah sesuai
dengan hasil evaluasi raperdanya (sesuai dengan peraturanperundangan). Jadi telah melebihi target yaitu 95 % dari target
yang ditentukan yaitu 90%. Hal ini sesuai dengan maksud
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 dimana sebelum Perda
ditetapkan telah dilaksanakan pengawasan preventif dan
korektif. Dengan demikian, capaian atas IKU Ini adalah sebesar
105,53%
6. Sasaran Strategis 6: Pengelolaan Keuangan
Negara yang Akuntabel (KK-6).
Pengelolaan keuangan negara yang akuntabel diwujudkan
dengan penyusunan laporan keuangan yang lengkap oleh
Pemerintah Pusat. Bentuk dari peningkatan dapat diidentifikasi
dari ketepatan penyusunan pertanggungjawaban anggaran
dan opini yang baik dari pemeriksa atas unsur-unsur
pembentuk laporan keuangan. Dalam pencapaian sasaran
strategis ini, Kementerian Keuangan mengidentifikasikan 2
(dua) Indikator Kinerja Utama (IKU), sebagaimana tabel 3.38
Uraian mengenai kedua IKU tersebut adalah sebagai berikut:
a. Indeks Jumlah LK K/L dan LK BUN yang Andal
dengan Opini Audit yang Baik (KK-6.1).
Laporan Keuangan K/L dan Laporan Keuangan BUN merupakan
unsur pembentuk Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(LKPP). Opini BPK atas masing-masing LK K/L dan LK BUN
akan berkontribusi terhadap opini BPK atas LKPP. Dengan
mengetahui perkembangan opini BPK atas LKKL dan
LKBUN, maka dapat diketahui peningkatan transparansi dan
akuntabilitas pengelolaan keuangan negara.
Dari target tahun 2012 untuk IKU berupa Indeks Jumlah LK-KL
dan LK-BUN yang andal dengan opini audit yang baik dengan
target yaitu WTP sebanyak 80 K/L dan WDP sebanyak 4 K/L
dengan Index 97,62 terealisasi WTP sebanyak 67 K/L dan WDP
sebanyak 18 K/L dengan Index 87,36 (89,49%). Pada tahun
2012, terdapat 2 (dua) Kementerian Negara dan Lembaga
yang mendapat opini disclaimer. Kementerian/Lembaga yang
mendapatkan opini disclaimer adalah:
a. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
b. Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan
Sedangkan L/K BUN yang mendapatkan opini audit WDP
adalah BA 999.02 Pengelolaan Hibah.
Khusus pada Kemendikbud dan BNPP yang masih
mendapatkan opini disclaimer telah dilaksanakan hal-hal
sebagai berikut:
a. Pengimplementasian Sistem Akuntansi dan Pelaporan
Keuangan sesuai PSAP dan aturan yang berlaku.
Khusus untuk Kemendikbud, dilakukan pula penertiban
pengelolaan keuangan BLU.
b. Penyusunan dan penetapan Standar Operasional dan
Prosedur (SOP), khususnya pada Pos Pengelolaan Piutang
di lingkungan Kemendikbud.
c. Pelaksanaan pemisahan fungsi, serta peningkatan
koordinasi dan komunikasi di lingkungan Pengelola
Keuangan dan Barang Milik Negara.
d. Pengendalian atas pengelolaan PNBP dengan cara
meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap
pengelolaan, pencatatan, dan pelaporan PNBP di
lingkungan Kemendikbud serta menyusun pedoman
pengelolaan PNBP di lingkungan Kemendikbud.
e. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap
pencatatan dan pelaporan realisasi belanja.
f. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap
penyusunan anggaran (DIPA/RKAKL) sehingga kekeliruan
pengelompokan jenis belanja dipastikan telah sesuai
dengan Bagan Akun Standar.
g. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap
pencatatan, pelaporan, dan pengelolaan kas pada
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
79
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.39
Hasil Opini BPK Atas LK 2011
Opini LK 2011
Realisasi
Target
Opini LK
2010
Kementerian Keuangan
WTP
WTP
WDP
Bendahara Umum Negara
WDP
WTP
WDP
BA 999.01
Pembiayaan Biaya Pinjaman dan Bunga serta
Cicilan Pokok Utang
WTP
WTP
WTP
BA 999.02
Penerimaan Hibah
WDP
WTP
WDP
BA 999.03
Penanaman Modal Negara
WTP
WTP
WTP-DPP
BA 999.04
Penerusan Pinjaman
WTP
WTP
WDP
BA 999.05
Transfer Dana Daerah
WTP
WTP
WTP-DPP
BA 999.07
Belanja Subsidi
WTP
WTP
WDP
BA 999.08
Belanja Lain-lain
WTP
WTP
WDP
Kode
BA 15
Nama Laporan Keuangan
Keterangan:
Sesuai dengan pembobotan yang dilakukan (50% untuk BA 15 dan 50% untuk LK BUN, BA 999.01 s.d BA 999.05, BA 999.07 dan BA 999.08), maka didapatkan
indeks dengan skor 3,88.
Bendahara Pengeluaran di lingkungan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.
h. Mengupayakan peningkatan pengawasan dan
pengendalian dari para pimpinan satker selaku KPA
terhadap pencatatan dan penyajian Persediaan dan Aset
Tetap. Di samping itu, akan dilakukan pembinaan kepada
para pengelola barang persediaan dan aset pada kantor/
satker.
b. Rata-rata Indeks Opini BPK RI atas LK BA 15, BUN,
dan BA 999 (KK-6.2).
Dalam rangka mengawal penyusunan dan menjamin kualitas
Laporan Keuangan Kementerian Keuangan (LK BA 15) serta
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LK BUN dan LK BA
999), sejak tahun 2008 dilaksanakan berbagai kegiatan
monitoring, reviu, dan pendampingan audit BPK RI atas LK BA
15, LK BUN, dan LK BA 999 terhadap unit-unit Kemenkeu oleh
APIP Kemenkeu. Kebijakan pengawasan intern Kementerian
Keuangan, untuk mewujudkan sistem pengendalian intern
yang kuat, sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 130/KMK.09/2011, salah satunya
dilaksanakan melalui pelaksanaan reviu dalam rangka
menjamin kualitas LK BA 15, LK BUN, dan LK BA 999.
80
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Indeks opini dari BPK adalah opini yang diberikan oleh BPK RI
terhadap LK BA 15, LK BUN, dan LK BA 999 yang selanjutnya
dikonversikan dalam indeks 1 s.d. 4, dimana : (1) Tidak Wajar; (2)
Tidak Memberikan Pendapat; (3) Wajar Dengan Pengecualian
(WDP); (4) Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atau Wajar Tanpa
Pengecualian-Dengan Paragraf Penjelas (WTP-DPP) atau Wajar
Tanpa Pengecualian-Modifikasi Kata-kata, dan dihitung dengan
bobot tertentu. Indeks ini digunakan untuk mengetahui
tingkat keberhasilan pengawasan (monitoring, reviu, dan
pendampingan audit BPK RI) yang dilakukan oleh APIP.
Melanjutkan upaya sebagaimana telah dilaksanakan
pada tahun-tahun sebelumnya, selama tahun 2012 telah
direalisasikan berbagai kegiatan monitoring, reviu, kajian,
pembahasan, dan pendampingan audit BPK atas LK BA 15, LK
BUN, dan LK BA 999 tahun 2011, dan telah diperoleh hasil opini
BPK terhadap LK BA 15, LK BUN, dan LK BA 999 tahun 2011
tersebut, dengan nilai indeks opini senilai 3,88 dari 4,00 yang
ditargetkan, dengan rincian sebagaimana tabel 3.39
Realisasi IKU tersebut tidak mencapai target disebabkan
opini BPK atas LK BUN dan Penerimaan Hibah (BA 999.02)
adalah WDP, sedangkan targetnya adalah WTP, sementara
LK lainnya terealisasi sesuai target tertinggi yaitu WTP. Opini
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
WDP atas LK BA 999.02 dan LK BUN disebabkan terdapat
permasalahan uncontrollable yang yang melibatkan K/L atau
pihak lain di luar Kemenkeu. Terkait LK BA 999.02, diketahui
terdapat penerimaan Hibah oleh K/L, namun belum disahkan
dan dilaporkan dalam laporan keuangan. Sedangkan, terkait
LK BUN diketahui adanya permasalahan aset Eks BPPN, Eks
Pertamina, dan KKKS yang perlu dikoordinasikan dengan unit
di luar Kemenkeu, dalam hal ini Kementerian ESDM, BP Migas,
dan Pertamina sendiri. Kedua permasalahan ini telah menjadi
concern dan masuk dalam action plan TPU Peningkatan Kualitas
LK BUN dan LK BA 999.02 di tahun 2013.
Walaupun target indeks opini BPK atas LK BA 15, LK BUN, dan
LK BA 999 belum mencapai nilai 4,00 sebagaimana ditargetkan
di tahun 2012, secara umum kualitas Laporan Keuangan
Kementerian Keuangan dan Laporan Keuangan Pemerintah
Pusat tersebut telah mengalami peningkatan yang cukup
signifikan. Hal ini terlihat antara lain dari peningkatan indeks
opini BPK RI atas LK-LK tersebut dari 3,13 di tahun 2010,
menjadi 3,19 di tahun 2011, dan melonjak mencapai 3,88 di
tahun 2012. Peningkatan tersebut menunjukkan peningkatan
akuntabilitas pengelolaan keuangan negara yang dilakukan
oleh Kemenkeu, baik oleh unit penyusun dan pengelola
LK, maupun oleh APIP selaku unit pemonitor dan pereviu.
Kerjasama dan kemitraan yang baik di lingkungan Kemenkeu
ini telah menumbuhkan semangat dan keyakinan bahwa target
indeks opini BPK senilai 4,00 dapat tercapai di tahun-tahun
mendatang.
Adapun, action plan yang akan dilaksanakan pada tahun 2013
untuk mencapai target tertinggi indeks opini BPK atas LK BA 15,
LK BUN, dan LK BA 999 sebesar 4,00, meliputi:
1) reviu, monitoring tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK RI,
pendampingan audit BPK RI, dan monitoring penyelesaian
koreksi atas LK BUN TA 2012 meliputi LK BA 999.01,
999.02,999.04, 999.99, LAK Konsolidasian BUN, dan LK
Konsolidasian BU;
2) monitoring penyusunan LKPP tingkat Kuasa BUN daerah
KPPN;
3) reviu LK BUN Semester I TA 2013 meliputi LK BA 999.01,
999.02,999.04, 999.99, LAK Konsolidasian BUN dan LK
Konsolidasian BUN;
4) monitoring tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK RI atas LK
BUN TA 2013; serta
5) melakukan koordinasi dengan K/L yang terkait dg temuan
BPK.
7. Sasaran Strategis 7: Industri Pasar Modal
dan Jasa Keuangan Non Bank yang Stabil,
Tahan Uji dan Likuid (KK-7).
Industri pasar modal dan jasa keuangan non bank yang
stabil, tahan uji, dan likuid adalah industri pasar modal dan
jasa keuangan non bank yang mampu menjaga kestabilan
pertumbuhan industrinya terhadap fluktuasi perkembangan
ekonomi serta mampu menghasilkan keuntungan/manfaat
tertentu dengan biaya minimal. Dalam pencapaian sasaran
strategis ini, Kementerian Keuangan mengidentifikasikan 2
(dua) Indikator Kinerja Utama (IKU), sebagaimana tabel 3.40.
Uraian atas kedua IKU tersebut tampak berikut ini.
a. Rata-Rata Tingkat Kesehatan Perusahaan Efek, Asuransi,
dan Pembiayaan (Kk-7.1).
Aturan tingkat kesehatan pada perubahan efek, asuransi dan
pembiayaan adalah:
1) Perusahaan Efek yang memenuhi Modal Kerja Bersih
Disesuaikan (MKBD) sesuai dengan Peraturan BapepamLK Nomor V.D.5 tentang Pemeliharaan dan Pelaporan
Modal Kerja Bersih Disesuaikan dengan ketentuan sebagai
berikut:
a) Paling sedikit Rp 25 miliar untuk PE yang menjalankan
kegiatan Penjamin Emisi Efek (PEE) dan Perantara
Pedagang Efek (PPE).
b) Paling sedikit Rp 200 juta untuk PE yang menjalankan
kegiatan sebagai PPE yang tidak mengadministrasikan
Efek nasabah.
c) Paling sedikit Rp 200 juta untuk PE yang menjalankan
kegiatan sebagai Manajer Investasi (MI).
2) Perusahaan asuransi dan reasuransi harus memenuhi
persyaratan minimum RBC sebesar adalah 120% dari batas
tingkat solvabilitas minimum. (Berdasarkan ketentuan
pasal 43 ayat (2) huruf c Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan Keuangan
Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi). Batas
Tingkat Solvabilitas Minimum adalah suatu jumlah
minimum tingkat solvabilitas yang ditetapkan, yaitu
sebesar jumlah dana yang dibutuhkan untuk menutup
risiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari
deviasi dalam pengelolaan kekayaan dan kewajiban
3) Perusahaan Pembiayaan harus memenuhi Rasio
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
81
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Tabel 3.40
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Industri Pasar Modal dan Jasa Keuangan Non Bank yang Stabil, Tahan Uji dan Likuid
KK 7. Industri pasar modal dan jasa keuangan non bank yang stabil, tahan uji dan likuid
No.
Indikator Kinerja
1.
Rata-rata tingkat kesehatan perusahaan efek, asuransi, dan
pembiayaan
2.
Persentase nilai transaksi perusahaan efek yang tidak memenuhi
persyaratan minimum MKBD yang berpotensi mengganggu
perdagangan saham di Bursa
Permodalan sebagai indikasi kestabilan Industri
Pembiayaan.
Realisasi IKU rata-rata tingkat kesehatan perusahaan efek,
asuransi, dan pembiayaan pada tahun 2012 adalah 96,94%.
Dengan target 87,67%, berarti nilai capaian atas IKU ini adalah
110,57%.
b. Persentase Nilai Transaksi Perusahaan Efek Yang
Tidak Memenuhi Persyaratan Minimum Mkbd Yang
Berpotensi Mengganggu Perdagangan Saham Di Bursa
(Kk-7.2).
Nilai transaksi Perusahaan Efek (PE) yang diperhitungkan
dalam IKU ini adalah nilai transaksi PE yang tidak memenuhi
ketentuan minimal Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD)
sesuai Peraturan Bapepam-LK Nomor: V.D.5 tentang
Pemeliharaan dan Pelaporan Modal Kerja Bersih Disesuaikan.
Perhitungan IKU ini menggunakan pola minimize di mana
semakin rendah realisasi menunjukkan pencapaian yang
semakin tinggi. Sepanjang tahun 2012, nilai transaksi
perusahaan efek yang tidak memenuhi persyaratan minimum
MKBD yang berpotensi mengganggu perdagangan saham
di Bursa hanya terealisasi pada triwulan pertama dan tidak
terealisasi lagi pada ketiga triwulan berikutnya, sehingga total
nilai realisasi adalah 0,0011% atau dengan nilai capaian 120%.
8. Sasaran Strategis 8: Kepuasan Pengguna
Layanan yang Tinggi (KK-8).
Tingkat kepuasan pelanggan yang tinggi diukur berdasarkan
hasil survei kepuasan pelanggan oleh lembaga independen.
Dalam pencapaian sasaran strategis ini, Kementerian Keuangan
82
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Target
Realisasi
%
87,67%
96,94%
110,57%
15%
0,0011%
120,00%
mengidentifikasikan 1 (satu) Indikator Kinerja Utama (IKU),
sebagaimana tabel 3.41
Indeks persepsi stakeholder diukur dari survey opini
stakeholders dari seluruh unit eselon I Kementerian Keuangan
yang bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Layanan yang menjadi obyek survei adalah layanan unggulan
pada 12 unit eselon satu, sama seperti yang sudah disurvei
pada tahun 2011. Kedua belas unit eselon satu yang disurvei
tersebut adalah Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal Pajak
(DJP), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Direktorat
Jenderal Anggaran (DJA), Direktorat Jenderal Perbendaharaan
(DJPB), Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), BapepamLK, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK),
Inspektorat Jenderal, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang
(DJPU), Badan Kebijakan Fiskal (BKF) dan Badan Pendidikan
dan Pelatihan Keuangan (BPPK). Sedangkan cakupan wilayah
penelitian tetap sesuai dengan tahun-tahun sebelumnya (20102011) yang difokuskan di enam kota utama yaitu: (1) Jakarta, (2)
Medan, (3) Surabaya, (4) Balikpapan, (5) Makasar dan (6) Batam
dengan jumlah responden yang diwawancarai sejumlah 2.851
responden.
Dalam survey ini, respon afektif pengguna jasa diukur dengan
skala likert dengan skor angka 1 sampai 5 yang menunjukkan
skala sangat tidak puas sampai sangat puas. Nilai indeks
persepsi stakeholders Kementerian keuangan tahun 2012 yaitu
3,90 naik 0,04 poin dari tahun 2011 yang mencapai 3,86. Nilai
tingkat kepuasan stakeholders terhadap layanan unit Eselon
I di Lingkungan Kementerian Keuangan RI pada tahun 2012
adalah sebagaimana grafik 3.4.
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.41
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Kepuasan Pengguna Layanan yang Tinggi
KK 8. Kepuasan Pengguna Layanan yang Tinggi
Indikator Kinerja
Indeks Kepuasan Pengguna Layanan
Unsur layanan yang diukur dalam survei ini meliputi (1)
pengenaan sanksi/denda atas pelanggaran terhadap ketentuan
layanan, (2) kesesuaian pembayaran, (3) waktu penyelesaian, (4)
akses terhadap kantor layanan, (5) lingkungan pendukung, (6)
ketrampilan petugas, (7) sikap petugas, (8) kesesuaian prosedur
dengan ketentuan yang ditetapkan, (9) informasi layanan
terkait persyaratan dan prosedur, serta (10) keterbukaan/
kemudahan akses terhadap informasi. Grafik 3.5 menunjukkan
nilai kinerja layanan berdasarkan unsur layanan yang diberikan
oleh Kementerian Keuangan.
Unsur layanan yang dinilai responden mempunyai kinerja
paling tinggi adalah “kesesuaian pembayaran” dengan skor
rata-rata 4,06. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja Kementerian
3.76
BKF
4.14
DJPK
3.67
Bapepam LK
4.07
DJPb
3.75
2.5
2.7
2.9
3.1
3.3
3.5
3.7
Keuangan terkait biaya mendapatkan pelayananan relatif lebih
baik. Dengan kata lain, biaya yang terjadi dalam pengurusan
layanan sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.
9. Sasaran Strategis 9: Kajian dan Rumusan
Kebijakan yang Berkualitas (KK-9).
Kebijakan yang berkualitas mencakup kebijakan pemerintah
mengenai pajak, hutang negara (public debt), pengadaan dan
perbelanjaan dana pemerintah dan lain yang sejenis yang
berdampak pada perekonomian secara keseluruhan. Dalam
pencapaian sasaran strategis ini, Kementerian Keuangan
mengidentifikasikan 5 (lima) Indikator Kinerja Utama (IKU),
sebagaimana tabel 3.42
3.95
3.93
3.91
sikap petugas
3.9
ketrampilan petugas
3.9
3.83
3.86
akses terhadap kantor layanan
3.84
4.06
kesesuaian pembayaran
3.92
DJP
99,49%
waktu penyelesaian
3.87
DJBC
3,90
lingkungan pendukung
4
DJKN
DJA
3,92
kesesuaian prosedur
3.92
3.93
Setjen
%
informasi persyaratan dan prosedur
3.77
Itjen
Realisasi
keterbukaan/kemudahan akses
4
BPPK
DJPU
Target
3.9
3.94
Pengenaan sanksi atas pelanggaran
4.1
Grafik 3.4.
Skor tingkat Kepuasan Stakeholders Terhadap Layanan Unit Eselon I
Lingkup Kemenkeu RI Tahun 2012
2.5
2.7
2.9
3.1
3.3
3.5
3.7
3.9
4.1
Grafik 3.5.
Skor Kinerja Layanan Kemenkeu Berdasarkan Unsur Layanan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
83
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.42
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Kajian dan Rumusan Kebijakan yang Berkualitas
KK 9. Kajian dan rumusan kebijakan yang berkualitas
No.
Indikator Kinerja
Target
Realisasi
%
1.
Deviasi proyeksi indikator ekonomi makro
5%
2,52%
120,00%
2.
Deviasi proyeksi APBN
5%
4,84%
103,25%
3.
Deviasi proyeksi Exercise I-Account
5%
0,29%
120,00%
4.
Deviasi penetapan dana transfer ke daerah
5%
0,00%
120,00%
5.
Jumlah kebijakan untuk peningkatan penerimaan negara
5
5
100,00%
Tabel 3.43
Capaian Deviasi Proyeksi Indikator Ekonomi Makro Tahun 2012
T/R
Q1
Q2
Q3
Q4
Y
5%
5%
5%
5%
5%
Realisasi
1,70%
3,14%
2,17%
3,08%
2,52%
Indeks capaian
120%
120%
120%
120%
120%
Target
Uraian mengenai kelima IKU tersebut tampak berikut ini.
a. Deviasi Proyeksi Indikator Ekonomi Makro (KK-9.1).
Indikator ekonomi makro yang akurat sangat penting karena
merupakan dasar bagi penyusunan Nota Keuangan dan RAPBN,
terdiri dari empat variable ekonomi, yaitu pertumbuhan
ekonomi, nilai tukar rupiah terhadap US Dolar, tingkat inflasi,
dan suku bunga. IKU ini terdiri menjadi empat sub IKU yaitu
Deviasi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi, Deviasi Proyeksi Inflasi,
Deviasi proyeksi nilai tukar, Deviasi proyeksi suku bunga SPN.
Dalam menyusun proyeksi asumsi dasar makro pada tahun
2012, Kementerian Keuangan mempertimbangkan berbagai
faktor baik eksternal maupun internal, antara lain (i) seberapa
dalam dan lama krisis perekonomian global akan berlangsung;
84
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
(ii) efektivitas kerjasama global dalam mengatasi krisis dunia;
dan (iii) efektivitas langkah-langkah kebijakan yang ditempuh
Pemerintah untuk mengatasi dan memulihkan perekonomian
nasional, perkembangan harga minyak dunia dan faktor
lainnya. Polarisasi IKU ini adalah minimize, artinya nilai realisasi
angka deviasi proyeksi indikator ekonomi makro diharapkan
lebih kecil dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan.
Capaian IKU Deviasi proyeksi indikator ekonomi makro
kuartalan dan tahunan 2012 adalah sebagaimana tabel 3.43.
Realisasi deviasi proyeksi indikator ekonomi makro pada tahun
2012 (2,52 persen) lebih kecil dari target yang ditetapkan (5
persen), artinya proyeksi indikator ekonomi telah cukup tepat
karena nilai realisasinya berada dibawah deviasi yang telah
ditargetkan. Selain itu, capaian kuartalan juga selalu dibawah
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
target kuartalan yang telah ditetapkan. Perhitungan asumsi di
atas dilakukan dengan menggunakan ModeI Auto Regressive
Integrated Moving Average (ARIMA).
laju inflasi 2012 sebesar 6.8% namun mengingat kebijakan
kenaikan harga BBM tidak jadi dilaksanakan.
Proyeksi awal rata-rata nilai tukar berdasarkan APBN-P adalah
sebesar 9000, namun seiring dengan pelemahan nilai tukar
rupiah sejak kuartal II tahun 2012 mendorong rata-rata nilai
tukar rupiah mengalami tekanan depresiasi hingga menyentuh
9600-9700. Oleh karena itu, pada kurtal IV 2012 diproyeksikan
nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sampai dengan 9400,
namun secara rata-rata tahunan masih berada pada 9384
Apabila dibandingkan dengan capaian tahun 2011, terlihat
bahwa capaian tahun tahun 2012 lebih baik dibandingkan
dengan tahun 2011 karena target yang ditentukan menjadi
lebih kecil. Target yang ditetapkan pada tahun 2011 juga
telah lebih baik dibandingkan dengan tahun 2010. Tabel 3.44
menunjukkan perbandingan capaian IKU deviasi proyeksi
indikator ekonomi makro selama 2 tahun terakhir.
Rata rata SPN 3 bulan di Q4 tahun 2012 diperkirakan sebesar
3,7%. Hal ini didasarkan pada realisasi Q3 yang mencapai
4,2%. berdasarkan trend tahun sebelumnya, di mana yield SPN
akan sedikit menurun di Q4. Realisasi pada bulan Oktober dan
November sejalan dengan tren yang diperkirakan dengan yield
SPN 3 bulan mencapai 4,02% (Oktober) dan 3,7% (November).
Akan tetapi realisasi pada bulan Desember 2012 ternyata jauh
lebih rendah dari yang diperkirakan yaitu mencapai1,9%.
Sehingga rata-rata realisasi Q4 (Oktober, November, Desember)
Adapun capaian kinerja masing-masing sub Indikator Kinerja
Utama yang mendukung capaian IKU dirinci pada tabel 3.45
Realisasi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2% (lebih kecil
dari proyeksi) disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan
yang dipicu oleh semakin anjloknya kinerja ekspor akibat
krisis global. Sedangkan angka proyeksi inflasi sebesar
4,34% merupakan angka hasil penyesuaian yang dilakukan
pada semester I tahun 2012 dari sebelumnya diproyeksikan
Tabel 3.44
Perbandingan Capaian Deviasi Proyeksi Indikator Ekonomi Makro Tahun 2011 dan Tahun 2012
Indikator Kinerja
Deviasi proyeksi indikator ekonomi
makro (KF-2.1)
Tahun 2011
Tahun 2012
Target
Realisasi
Target
Realisasi
8,75%
3,48%
5%
2,52%
Tabel 3.45
Deviasi Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi, Nilai Tukar, dan Suku Bunga
Indikator Kinerja Utama
Deviasi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
Deviasi Proyeksi Inflasi
Deviasi Proyeksi nilai tukar
Deviasi Proyeksi suku bunga SPN
Target
Realisasi
Deviasi
6,4%
6,2%
3,12%
4,34%
4,3%
0,92%
9400
9384
0,17%
3,70%
3,40%
8,11%
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
85
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.46
Capaian Deviasi Proyeksi APBN Tahun 2012
T/R
Q1
Target
Q2
Q3
Q4
Y
5%
5%
5%
5%
5%
Realisasi
2,65%
4,04%
4,81%
7,85%
4,84%
Indeks capaian
120%
119%
104%
63,7%
103%
Tabel 3.47
Deviasi Proyeksi APBN (Penerimaan Pajak, dan Belanja KL)
Rp Miliar
IKU
Target
Realisasi
Deviasi
Deviasi Proyeksi penerimaan perpajakan
230.337,63
204.126,18
11,4%
Deviasi Proyeksi belanja K/L
211.417,28
202.355
4,3%
sebesar 3,4% atau lebih rendah dibandingkan tingkat yield SPN
yg diperkirakan pada Q4.
b. Deviasi Proyeksi APBN (KK-9.2).
Deviasi proyeksi APBN merupakan rata-rata deviasi proyeksi
dua besaran indikator APBN, meliputi Penerimaan Perpajakan
dan Belanja K/L. Proyeksi APBN tersebut merupakan
proyeksi yang disampaikan dalam paparan pemantauan
dini perekonomian Indonesia pada saat Rapat Pimpinan
Kementerian Keuangan. Polarisasi IKU ini adalah minimize,
artinya nilai realisasi angka deviasi proyeksi APBN diharapkan
lebih kecil dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan.
Capaian Kinerja Deviasi proyeksi APBN kuartalan dan tahunan
2012 tampak pada tabel 3.46.
Berdasarkan tabel 3.46 tersebut, terlihat bahwa capaian deviasi
proyeksi APBN sampai dengan Q3 tahun 2012 selalu berada di
bawah target, namun pada Q4 realisasi deviasi proyeksi lebih
besar dari target menjadi sebesar 7,85% dengan perincian
sebagaimana tabel 3.47
1) Deviasi Proyeksi Penerimaan Perpajakan
86
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Deviasi proyeksi disebabkan karena adanya realisasi
penerimaan dari perpajakan terutama pajak non migas
yang tidak sesuai dengan pola sebelumnya karena
pengaruh krisis global yang mengganggu perusahaan
yang berorientasi ekspor.
2) Deviasi Proyeksi Belanja K/L
Setiap tahun realisasi penyerapan belanja Kementerian/
Lembaga menjadi sebuah isu sentral dan bahasan serius
diskusi baik dalam pihak luar maupun intern pemerintah.
Kementerian Keuangan melakukan proyeksi belanja K/L
melalui perhitungan berdasarkan realisasi beberapa tahun
berjalan dengan beberapa penyesuaian terkait kebijakankebijakan aktual pemerintah.
Proyeksi belanja K/L didasarkan pola realisasi beberapa
tahun sebelumnya dengan mempertimbangkan perubahan
mekanisme penganggaran dan upaya optimalisasi penyerapan
anggaran dari K/L.
Sementara itu, realisasi belanja K/L pada tahun 2012 hampir
sama dengan realisasi pada tahun sebelumnya. Belanja modal
sebagai belanja penggerak pembangunan masih kurang
optimal penyerapannya. Hambatan yang menyebabkan
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
kurang optimalnya penyerapan belanja modal berasal dari
sisi administratif maupun teknis. Dari sisi administratif, masih
lambatnya penunjukkan pejabat terkait pelaksanaan anggaran
serta proses pengadaan yang rumit masih menjadi problema
utama sebagian besar satuan kerja. Sedangkan hambatan
teknis seperti ketersediaan transportasi dan kondisi sosial
geografis merupakan kendala yang sering dihadapai terutama
satuan kerja yang berada di daerah luar Jawa.
Namun demikian secara keseluruhan rata-rata deviasi proyeksi
belanja K/L selama tahun 2012 lebih kecil dari 5%, yaitu sebesar
4,3%. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas proyeksi APBN yang
dilihat dari proyeksi penerimaan pajak dan belanja K/L yang
dilakukan setiap triwulan cukup akurat (deviasi < 5%)
c. Deviasi Proyeksi Exercise I-Account (KK-9.3).
Exercise I-account merupakan perhitungan perkiraan besaran
APBN yang tertuang dalam tabel I-account (pagu indikatif,
pagu sementara/RAPBN, RAPBN-P, dan perkiraan realisasi) yang
disusun berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro dan arah
kebijakan fiskal yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Proyeksi adalah perkiraan/prediksi terhadap suatu keadaan di
masa yang akan datang dengan menggunakan data yang ada
sekarang. Adapun yang dimaksud deviasi adalah selisih antara
besaran proyeksi dan realisasi terhadap besaran proyeksi IKU ini
merupakan selisih antara angka dalam RUU APBN yang disusun
berdasarkan formula yang berlaku dan masukan-masukan
dari stakeholders terkait, dengan angka dalam UU APBN hasil
keputusan rapat pimpinan Kemenkeu dengan DPR tentang
penyusunan APBN.
d. Deviasi Penetapan dana transfer ke daerah (KK9.4).
Transfer ke Daerah merupakan dana desentralisasi yang
bersumber dari APBN dan dialokasikan kepada daerah dalam
bentuk Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana
Bagi Hasil (Dana Perimbangan) dan Dana Otonomi Khusus &
Penyesuaian. Pengukuran indikator ketepatan penghitungan
alokasi transfer ke daerah dapat diukur dengan rasio deviasi
penetapan alokasi Transfer ke Daerah terhadap formula,
kriteria, persentase, dan norma dalam peraturan perundangan.
1) Alokasi DAU telah sesuai dengan yang disepakati antara
Pemerintah dengan DPR RI.
2) Alokasi DAK TA 2013 yang dicantumkan dalam Draft
RPMK Pedoman Umum dan Alokasi DAK 2013 telah sesuai
dengan alokasi yang disepakati antara Pemerintah dengan
DPR RI. (Deviasi 0%)
3) Alokasi DBH Pajak per daerah ditetapkan sesuai dengan
rencana Penerimaan dari Ditjen Pajak dan dihitung
berdasarkan persentase yang ada dalam peraturan
perundang-undangan, sedangkan alokasi totalnya telah
sama dengan yang ditetapkan dalam UU APBN 2013.
4) Alokasi DBH SDA (definitif 2012) telah sesuai dengan data
hasil rekonsiliasi dengan unit-unit penyedia data.
Dengan kata lain, tidak ada deviasi yang terjadi dalam
perhitungan penetapan dana transfer ke daerah, sehingga
realisasi atas IKU ini adalah 0% atau dengan nilai capaian 120%.
e. Jumlah Kebijakan untuk Peningkatan Penerimaan
Negara (KK-9.5).
Akurat adalah kesesuaian dan ketepatan antara angka dalam
RUU APBN yang disusun berdasarkan formula yang berlaku
dan masukan-masukan dari stakeholders terkait, dengan angka
dalam UU APBN hasil keputusan rapat pimpinan Kemenkeu
dengan DPR tentang penyusunan APBN.
Kebijakan peningkatan penerimaan negara adalah segala
upaya yang dilakukan dapat berupa ketentuan-ketentuan
hukum, langkah aksi, atau rekomendasi kepada pihak
terkait bertujuan untuk peningkatan penerimaan negara
melalui intensifikasi dan/atau ekstensifikasi sumber-sumber
penerimaan perpajakan dan PNBP sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
Perhitungan deviasi proyeksi exercise I-account diperoleh dari
perhitungan Laporan Semester, APBN-P 2012, resource envelope
2013 dan APBN 2013. Pada tahun 2012 ditetapkan target
deviasi proyeksi exercise I-account sebesar 5%. Berdasarkan
perhitungan capaian triwulan IV tahun 2012 diketahui bahwa
IKU Deviasi proyeksi exercise I-account sebesar 0,29% (lebih
rendah dari target deviasi yang telah ditetapkan).
Selama tahun 2012, kebijakan yang dikeluarkan dalam rangka
peningkatan penerimaan negara adalah:
1) Telah diterbitkan Kebijakan tentang Tarif Cukai Hasil
Tembakau berdasarkan PMK No 179/PMK.011/2012
tanggal 12 November 2012
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
87
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
2) Kebijakan bea keluar berupa Penetapan barang
ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar
berdasarkan PMK nomor 75/PMK.011/ 2012 tanggal 16 Mei
2012
3) Kebijakan PPh khususnya terkait dengan penyusutan atas
pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud yang
dimiliki dan digunakan dalam bidang usaha tertentu
berdasarkan PMK 126/PMK.011/2012 tanggal 6 Agustus
2012
4) Kebijakan tentang pemungutan PPh pasal 22 sehubungan
dengan pembayaran atas penyerahan barang dan kegiatan
di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain
berdasarkan PMK 244/PMK.011/2012 tanggal 26 Desember
2012
Khusus dalam hal Penerimaan Negara Bukan Pajak, pada tahun
2012 ditargetkan untuk menghasilkan 1 (satu) buah kebijakan
yaitu penyusunan RUU revisi atas UU Nomor 20 Tahun 1997
tentang PNBP. RUU dimaksud harus telah disampaikan oleh
Menteri Keuangan kepada Kemenkumham untuk dilakukan
harmonisasi. Sebagai pelaksanaan IKU ini, pada tanggal 27
Desember 2012, Menteri Keuangan telah menyampaikan RUU
revisi atas UU Nomor 20 Tahun 1997 kepada Kemenkumham
(telah tercapai 100%).
Perlu diinformasikan bahwa penyusunan RUU revisi
atas UU Nomor 20 Tahun 1997 tersebut ditujukan untuk
mengoptimalkan peran PNBP sebagai salah satu sumber
pendapatan negara, sekaligus menjawab permasalahan
pengelolaan PNBP saat ini dan mengantisipasi tantangan di
masa yang akan datang. Revisi atas UU Nomor 20 Tahun 1997
ini diarahkan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan
yang baik, meningkatkan akuntabilitas dan transparansi,
serta memastikan dan menjaga ruang lingkup PNBP (sesuai
dengan Undang-undangan Keuangan Negara) dalam rangka
mewujudkan kesinambungan fiskal. Dengan demikian, total
realisasi IKU Jumlah kebijakan untuk peningkatan penerimaan
negara adalah 5 buah, sehingga nilai capaiannya sebesar 100%.
10.Sasaran Strategis 10: Pelaksanaan
Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan
Negara yang Efektif dan Efisien (KK-10).
Pengelolaan keuangan dan kekayaan negara meliputi
aset negara, utang, kas negara. Hal ini tercermin melalui
88
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
pelaksanaan proses bisnis yang sesuai dengan peraturan/
kebijakan yang telah dirumuskan berdasarkan prinsip good
governance. Pengelolaan dikatakan efektif apabila memenuhi
output yang telah ditetapkan. Sedangkan, efisien dapat
didefinisikan sebagai pemenuhan output dengan biaya yang
minimal. Dalam pencapaian sasaran strategis ini, Kementerian
Keuangan mengidentifikasikan 5 (lima) Indikator Kinerja Utama
(IKU) sebagaimana tabel 3.48.
Uraian mengenai kelima IKU tersebut adalah sebagai berikut:
a. Rata-Rata Persentase Realisasi Janji Layanan Unggulan
(KK-10.1).
IKU ini mengukur layanan unggulan yang disampaikan ke pihak
eksternal Kementerian Keuangan sebagai pengguna jasa telah
sesuai dengan Quick Win Standard Operating Procedures (SOP)
sesuai KMK nomor 187/KMK.01/2010 tentang Standar Prosedur
Operasi (Standard Operating Procedure) Layanan Unggulan
Kementerian Keuangan.
1) Layanan Unggulan Bidang Perpajakan.
Jumlah permohonan Wajib Pajak yang diajukan atas 16
Layanan Unggulan sepanjang tahun 2012 adalah sebanyak
2.638.189 permohonan. Dari jumlah permohonan tersebut,
jumlah yang dapat dipenuhi jangka waktu layanan
unggulannya adalah 2.604.038 sehingga capaiannya adalah
98,71%. Angka capaian tersebut masih berada dibawah angka
target 100% yang direncanakan.
Dibandingkan dengan tahun 2011, capaian kinerja janji
layanan unggulan tahun 2012 mengalami peningkatan dari
95,29% menjadi 98,71% (meningkat 3,42%). Peningkatan
capaian tersebut didukung dengan action plan yang dilakukan
pada tahun 2012 sebagai perbaikan dari action plan tahun
sebelumnya. Pelaksanaan action plan tersebut antara lain:
a) melakukan evaluasi dan monitoring terhadap layanan
unggulan telah dilakukan di 10 kantor sampel;
b) membuat rapor kinerja layanan unggulan dibuat untuk
setiap semester, yang kemudian dianalisis dan dibuatkan
rekomendasi perbaikan untuk semua Kantor Wilayah;
c) memantau pengisian laporan melalui Aplikasi Ikhtisar
Pengukuran Kinerja Layanan Unggulan (AIPKLU) dilakukan
dengan monitoring atas pencapaian target kinerja unit
vertikal; dan
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.48
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Pelaksanaan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Negara yang Efektif dan Efisien
KK 10. Pelaksanaan pengelolaan keuangan dan kekayaan negara yang efektif dan efisien
No.
Indikator Kinerja
Target
Realisasi
%
100,00%
106,37%
106,37%
90%
95,11%
105,68%
1.
Rata-rata persentase realisasi janji layanan unggulan
2.
Persentase tingkat akurasi perencanaan kas
3.
Persentase pemenuhan target risiko portofolio utang
100%
98,13%
116,26%
4.
Penyelesaian LKPP dan Rancangan UU PPAPBN secara
tepat waktu
3
4
120%
5.
Persentase penyelesaian BMN Kemenkeu yang
bermasalah dengan kategori rusak berat atau hilang
50%
58,18%
116,36%
d) mengadakan koordinasi internal untuk penyusunan
kebijakan tentang layanan pajak.
Kesulitan pemenuhan pencapaian target indikator ini
dikarenakan luasnya cakupan satuan kerja yang tersebar luas
di seluruh pelosok tanah air, sehingga diperlukan upaya yang
luar biasa untuk memenuhi target IKU layanan unggulan yang
ditetapkan. Untuk target tahun 2013 diusulkan tidak 100%
karena terdapat faktor force majeur yang dapat mempengaruhi
pemenuhan janji layanan unggulan.
Rincian capaian layanan unggulan di bidang perpajakan dapat
dilihat pada tabel 3.49.
2) Layanan Unggulan Bidang Kepabeanan dan Cukai.
Pada tahun 2012 realisasi capain IKU ini adalah sebesar 113,99%
dari target yang ditetapkan sebesar yang ditetapkan sebesar
100%. Data realisasi janji layanan unggulan bidang bea dan
cukai untuk tahun 2012 sebagaimana tabel 3.50.
3) Layanan Unggulan Bidang Perbendaharaan Negara
Rincian realisasi layanan unggulan di bidang perbendaharaan
adalah sebagaimana tabel 3.51. IKU yang tidak mencapai target
yaitu:
a) Persentase Jumlah SP2D yang diselesaikan secara tepat
waktu, pada triwulan IV tercapai 99,42% dari target 100%
disebabkan oleh adanya SPM yang memerlukan penelitian
lebih, sehingga penerbitan SP2D lebih dari 1 jam.
b) Persentase rekonsiliasi realisasi APBN yang handal dan
tepat waktu, target untuk dokumen dengan tepat waktu
100% dengan realisasi 99,76% sedangkan target 100%
untuk waktu penyelesaian dokumen hanya mencapai
71,43% disebabkan karena hambatan jarak dan sarana
transportasi satker menuju Kanwil Direktorat Jenderal
Perbendaharaan untuk melakukan rekonsiliasi.
Pada tahun 2013, langkah-langkah yang akan diambil (action
plan) dalam peningkatan capaian IKU ini adalah:
a) Melibatkan kanwil untuk melakukan pembinaan dan
pemantauan kepada KPPN terhadap ketepatan waktu
penerbitan SP2D.
b) Menjamin kebenaran dan kelengkapan dokumen/
persyaratan dalam pengajuan SPM.
c) Mengefektifkan pelaksanaan rekonsiliasi via e-mail seperti
yang telah diterapkan Kanwil dalam layanan unggulannya.
4) Layanan Unggulan Bidang Kekayaan Negara
IKU ini untuk mengetahui penyelesaian permohonan 13 SOP
layanan unggulan di bidang kekayaan negara yang telah
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor
187/KMK.01/2010. Pengukuran difokuskan pada kesesuaian
prosedur dan batas waktu penyelesaian yang sesuai dengan
janji layanan dalam SOP layanan unggulan. Penyelesaian
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
89
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.49
Capaian Janji Layanan Unggulan Bidang Perpajakan
No
SOP
%rata-rata
waktu
penyelesaian
dokumen
(bobot 30%)
%
1
SOP pelayanan penyelesaian permohonan
pendaftaran NPWP
1 hari kerja
%
- 99,96%
2
SOP pelayanan penyelesaian permohonan
pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP)
1 hari kerja
%
-
99,98%
3
SOP pelayanan penyelesaian permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran Pajak
Pertambahan Nilai (PPN)
7 (tujuh) hari kerja (WP
sesuai KUP Pasal 17C)
1 (satu) bulan (WP
sesuai KUP Pasal 17D)
%
-
92,61%
4
SOP pelayanan penerbitan SPMKP
3 (tiga) minggu
%
98,18%
5
SOP pelayanan keberatan
9 (sembilan) bulan
%
64,65%
6
SOP pelayanan penyelesaian Surat Keterangan
Bebas (SKB) pemungutan PPh Pasal 22 Impor
5 (lima) hari kerja
%
99,84%
7
SOP Persentase realisasi pelayanan penyelesaian
permohonan pengurangan Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB)
- KPP 2 (dua) bulan
- Kanwil 3 (tiga) bulan
- KPDJP 5 (lima) bulan
%
99,76%
8
SOP pelayanan pendaftaran objek PBB baru
dengan penelitian kantor
3 (tiga) hari kerja
%
93,17%
9
SOP pelayanan mutasi seluruhnya objek dan
subjek PBB
5 (lima) hari kerja
%
95,46%
10
SOP pelayanan penyelesaian permohonan SKB
PPh Pasal 23
1 (satu) bulan
%
100,0%
11
SOP pelayanan SKB PPh atas bunga deposito,
tabungan, diskonto SBI yang diterima pensiunan
yang ditetapkan Menteri Keuangan
7 (tujuh) hari kerja
%
99,97%
12
SOP pelayanan SKB PPh atas penghasilan
pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan
3 (tiga) hari
%
99,62%
13
SOP pelayanan SKB PPN atas BKP
5 (lima) hari kerja
%
99,66%
14
SOP pelayanan penyelesaian keberatan PBB
9 (sembilan) bulan
%
94,51%
15
SOP pelayanan pengurangan atau penghapusan
sanksi administrasi
6 (enam) bulan
%
98,83%
16
SOP pelayanan pengurangan atau pembatalan
ketetapan pajak yang tidak benar
6 (enam) bulan
%
98,91%
Rata-rata
90
Standar waktu
%dokumen
tepat
waktu
(bobot
70%)
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
98,71%
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.50
Rata-rata Persentase Realisasi dari Janji Layanan Unggulan Bidang Kepabeanan dan Cukai Tahun 2012
s.d. Bulan Desember 2012
No.
Janji Layanan
Unggulan
1.
Pelayanan
Permohonan
Penyediaan Pita
Cukai MMEA Asal
Impor (P3C MMEA)
[11 (sebelas) hari
kerja]
2.
Pelayanan
Pembebasan Bea
Masuk Dan Pajak
Dalam Rangka Impor
Barang Berdasarkan
Kontrak Bagi Hasil
(Production Sharing
Contracts) Minyak
Dan Gas Bumi [5
(lima) hari kerja]
3.
Pelayanan
Penyelesaian Barang
Impor untuk Dipakai
Jalur MITA Prioritas
[20 (dua puluh)
menit]
4.
Pelayanan
Penyelesaian Barang
Impor untuk Dipakai
Jalur Hijau [30 (tiga
puluh) menit]
5.
Pelayanan
Permohonan
Penyediaan Pita
Cukai Hasil Tembakau
(P3C) Pengajuan Awal
Secara Elektronik [1
(satu) jam]
6.
Pelayanan
Permohonan
Penyediaan Pita Cukai
Hasil Tembakau (P3C)
Pengajuan Tambahan
Secara Elektronik [1
(satu) jam]
7.
Pelayanan
Pemesanan Pita Cukai
Hasil Tembakau (CK1) Secara Elektronik
[20 (dua puluh)
menit]
Rata-rata
PIC
Jumlah
Dokumen
Memenuhi Target
(Bobot 70%)
Waktu Penyelesaian
(Bobot 30%)
Dokumen
Capaian
Standar
Ratarata
Capaian
Indeks
Capaian
Dit.
Cukai
109
109
84,00%
11
5,43
36,00%
120,00%
Dit.
Fasilitas
984
984
84,00%
5
3,85
36,00%
120,00%
115,759
115,758
70,00%
1.200
7,67
36,00%
106,00%
247,642
247,637
70,00%
1.800
7,83
36,00%
106,00%
1.001
1.001
84,00%
60
7,18
36,00%
120,00%
601
601
84,00%
60.
5,89
36,00%
120,00%
6747
6747
69,95%
20
5,18
36,00%
105,95%
Target
KPU
Priok
KPPBC
Kudus
100%
113,99%
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
91
Tabel 3.51
Layanan Unggulan Bidang Perbendaharaan Negara
No
SOP
Standar waktu
% dok. tepat
waktu
(bobot 70%)
% ratarata waktu
penyelesaian
dok. (bobot
30%)
%
60 menit
69,59% =
(99,42%x70%)
36% =
(120%x30%)
105,27%
1
Penerbitan SP2D Non Belanja
Pegawai
2
Penelaahan dan pengesahan DIPA
5 hari kerja
70% =
(100%x70%)
36% =
(120%x30%)
106%
3
Pengesahan revisi DIPA
5 hari kerja
70% =
(100%x70%)
36% =
(120%x30%)
105%
4
Rekonsiliasi realisasi APBN
7 hari kerja
setelah bulan
bersangkutan
69,83% =
(99,76%x70%)
21,43% =
(71,43%x30%)
91.26%
permohonan dihitung sejak dokumen permohonan dinyatakan
lengkap. Realisasi sebesar 116,90% diperoleh dari penyelesaian
SOP layanan unggulan dengan rincian sebagaimana tabel 3.52
5) Layanan Unggulan Bidang Utang
Pada tahun 2012, rata-rata persentase realisasi janji layanan
unggulan ditargetkan sebesar 100% dengan realisasi sebesar
100% dengan rincian sebagaimana tabel 3.53.
Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian rata-rata
persentase realisasi janji layanan unggulan antara lain:
a) Terdapat kesulitan dalam perhitungan rentang waktu
efektif pelaksanaan layanan unggulan Pengadaan
Pinjaman Dalam Negeri, karena banyak proses yang
tergantung pada pihak lain yang dianggap sebagai masa
tunggu.
b) Ditunda atau dibatalkan Rencana pelaksanaan transaksi
lelang SBN yang telah dijadwalkan sesuai dengan Calendar
of Issuance yang telah dipublikasikan, antara lain karena:
i. kondisi pasar keuangan global yang tidak kondusif;
ii. perubahan strategi dan kebijakan pengelolaan
utang dan/atau pengelolaan kas yang terkait
dengan penurunan/pengurangan jumlah target atau
penundaan pelaksanaan penerbitan SBN;
92
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
c) Adanya gangguan pada infrastruktur pendukung
pelaksanaan lelang SBN.
Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Menentukan mekanisme yang lebih efektif dalam
menilai realisasi janji layanan unggulan Pengadaan
Pinjaman Dalam Negeri, yaitu dengan mengikuti proses
penyelesaian tiap output kegiatan di dalamnya;
b) Meningkatkan koordinasi dengan pihak-pihak terkait dan
komunikasi secara efektif dengan pimpinan terkait dengan
antisipasi terhadap penundaan/pembatalan jadwal lelang
SBN, baik karena adanya perubahan strategi/kebijakan
maupun kondisi pasar;
c) Melakukan penyiapan dan uji coba system pendukung/
infrastruktur transaksi secara berkala, terutama menjelang
pelaksanaan lelang SBN.
6) Layanan Unggulan Bidang Perimbangan Keuangan
Rata-rata realisasi dari janji layanan unggulan ke pihak
stakeholder mengacu kepada SOP layanan unggulan:
a) SOP Penyaluran Transfer ke Daerah Yaitu:
i. Pengalokasian DAU, target tahunan diselesaikan pada
Akhir Oktober setiap tahunnya
Tabel 3.52
Layanan Unggulan Bidang Kekayaan Negara
No
SOP
Jumlah
Permohonan
Standar
waktu
% dokumen
tepat waktu
(bobot 70%)
% rata-rata waktu
penyelesaian
dokumen
(bobot 30%)
%
1
Penetapan Status Penggunaan Barang
Milik Negara (BMN) Berupa Tanah dan/
atau Bangunan pada KPKNL
425
5 hari kerja
96%
120%
103,36%
2
Persetujuan/ Penolakan Penjualan BMN
Selain Tanah dan/ atau Bangunan pada
KPKNL
1501
7 hari kerja
100%
120%
105,72%
3
Pelayanan Permohonan Keringanan
Utang pada KPKNL
469
15 hari
kerja
99%
120%
105,55%
4
SOP Permohonan Penarikan Piutang
Negara
1070
3 hari kerja
99%
120%
105,55%
5
Penerbitan Surat Pernyataan Piutang
Negara Lunas/ Selesai
3.876
1 hari kerja
100%
105%
101,36%
6
Penyetoran Hasil Bersih kepada Penjual
melalui Bendahara Penerimaan
5.870
3 hari kerja
99%
120%
105,37%
7
Pelayanan Permohonan Penebusan
Barang Jaminan Senilai/ di atas Nilai
Pengikatan
277
4 hari kerja
120%
120%
120%
8
SOP Pelayanan Lelang
a. Lelang eksekusi barang tidak bergerak
8.160
34 hari
kerja
100%
120%
105,96%
b. Lelang eksekusi barang bergerak
1.656
10 hari
kerja
100%
117%
104,91%
c. Lelang non eksekusi barang tidak
bergerak
178
11 hari
kerja
120%
120%
120%
d. Lelang non eksekusi barang bergerak
2.667
9 hari kerja
99%
116%
104,27%
9
Penetapan Status Penggunaan Barang
Milik Negara (BMN) Berupa Tanah dan/
atau Bangunan pada Kanwil
136
6 hari kerja
120%
120%
120%
10
Persetujuan/ Penolakan Penjualan BMN
Selain Tanah dan/ atau Bangunan pada
Kanwil
75
8 hari kerja
120%
120%
120%
11
Pelayanan Permohonan Keringanan
Utang Kanwil
3
25 hari
kerja
120%
120%
120%
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
93
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.53
Hasil Pengukuran Rata-rata Persentase Realisasi Janji Layanan Unggulan Bidang Utang Tahun 2012
No
SOP
Frek
SOP
tepat
waktu
%
1
Pengadaan Pinjaman Dalam Negeri
78 hari kerja
1
1
100%
2
Lelang SUN di Pasar Perdana dan Penyelesaian
Transaksinya
10 hari kerja
22
22
100%
3
Lelang SBSN di Pasar Perdana dan Penyelesaian
Transaksinya
10 hari kerja
18
18
100%
Rata-rata
ii.
Pengalokasian DAK , target tahunan diselesaikan pada
Akhir Oktober setiap tahunnya
iii. Pengalokasian DBH Pajak, target tahunan diselesaikan
pada Akhir Oktober setiap tahunnya
iv. Pengalokasian DBH Sumber Daya Alam, target
tahunan diselesaikan pada Akhir Oktober setiap
tahunnya
v. Penyaluran Dana Transfer ke Daerah, penerbitan SPP
dan SPM paling lama 4 hari setelah syarat administrasi
dipenuhi.
b) Evaluasi Perda/Raperda PDRD, pelaksanaan evaluasi
maksimal 15 hari kerja.
Pengalokasian DAU, DAK, dan DBH telah memenuhi norma
waktu yang telah ditentukan dalam SOP yaitu setelah
diterimanya data dari instansi teknis terkait dan mengikuti
proses siklus pembahasan APBN dengan DPR-RI. Hasilnya
ditindaklanjutidengan penerbitan UU APBN, Perpres, dan PMK/
KMK. Sementara 2 SOP quick win terkait penyaluran transfer
ke daerah telah menyelesaikan proses penerbitan dokument
transfer mulai dari DIPA, SKTRD, s.d. SPM, sesuai dengan norma
waktu dalam SOP, yaitu maksimal 4 hari setelah dokumen
diterima lengkap di DJPK. Pada tahun 2011 telah dilaksanakan
penerbitan dokumen Transfer ke Daerah mencapai 100%
sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan setelah
didukung dengan dokumen laporan Perda APBD (Penyaluran
Triwulan I dan Tahap I), laporan penyerapan Transfer ke Daerah
(Penyaluran Tahap II & III).
94
Standar
waktu
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
100%
Janji layanan unggulan Evaluasi Raperda PDRD paling lama
15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya surat
koordinasi dari Gubernur atas evaluasi Raperda Kabupaten/
Kota atau Menteri Dalam Negeri atas evaluasi Raperda
provinsi. Apabila melewati jangka waktu 15 (lima belas) hari
tersebut, maka dianggap tidak memenuhi kriteria janji layanan
unggulan.
Monitoring terhadap pelaksanaan SOP Layanan Unggulan
bidang perimbangan keuangan tersebut ditampilkan
sebagaimana tabel 3.54
Janji layanan unggulan evaluasi Raperda PDRD paling lama
15 (lima belas) hari kerja sejak diterimanya surat koordinasi
dari Gubernur atau Menteri Dalam Negeri. Jumlah Raperda
yang telah diterima sampai dengan bulan 31 Desember 2012
sebanyak 1660 Raperda dan telah sesuai dengan waktu yang
ditentukan. Rata-rata penyelesaian evaluasi raperda adalah
5 hari kerja dari waktu yang ditentukan sehingga persentase
realisasi penyelesaian evaluasi Raperda adalah 116%
(berdasarkan pembobotan).
b. Tingkat Akurasi Perencanaan Kas (KK-10.2).
Rencana penerimaan kas adalah rencana penerimaan kas (arus
kas masuk) yang berasal dari pendapatan negara, hibah, dan
pembiayaan. Perencanaan penerimaan kas dinyatakan akurat
apabila perbedaan antara realisasi penerimaan kas dan rencana
penerimaan kas dalam suatu waktu tertentu ≤ 5% (akurasi
95%).
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Realisasi pengeluaran kas adalah realisasi pengeluaran kas (arus
kas keluar) yang berasal dari belanja Negara dan pembiayaan.
Perencanaan pengeluaran kas dinyatakan akurat apabila
perbedaan antara realisasi pengeluaran kas dan rencana
pengeluaran kas dalam suatu waktu tertentu ≤ 5% (akurasi ≥
95%).
Data diperoleh dari Tim Cash Planning Information Network
(Tim CPIN), dengan rincian sebagaimana tabel 3.55 Sedangkan
untuk semester 2, IKU Persentase tingkat akurasi perencanaan
kas adalah sesuai rincian pada tabel 3.56.
Pada tahun 2013, langkah-langkah yang akan diambil (action
plan) dalam peningkatan capaian IKU ini adalah:
a)Melakukan updating data perencanaan dengan membuat
aplikasi yang berbasis web sehingga setiap terjadi
perubahan/updating semakin cepat informasi yang akan
diterima.
b) Meningkatkan edukasi dan koordinasi antar anggota
Tim CPIN untuk bersama-sama meningkatkan akurasi
perencanaan yang menjadi tanggung jawab masingmasing anggota Tim.
c. Persentase Pemenuhan Target Risiko Portofolio
Utang (KK-10.3).
Persentase pemenuhan target risiko portofolio utang
merefleksikan komposisi instrumen utang yang memiliki
tingkat risiko yang terkendali. Pencapaian IKU ini menuju
kepada capaian yang diarahkan kepada ketepatan atas target
(stabilize), di mana capaian yang makin mendekati target
adalah capaian yang diharapkan.
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Pada tahun 2012, Persentase pemenuhan target risiko
portofolio utang direncanakan sebesar 100%, dengan realisasi
sebesar 98,13%. Realisasi tersebut disebabkan karena secara
umum pengelolaan portofolio utang telah sesuai dengan
strategi pengelolaan utang, dengan perincian:
a) Realisasi utang valas sebesar 44,41% dari target sebesar
44,78%;
b) Realisasi utang Variable Rate (VR) sebesar 16,24% dari
target sebesar 16,62%; dan
c) Realisasi Short Term Debt (STD) sebesar 6,48% dari target
sebesar 6,66%.
Struktur portofolio utang relatif mendekati target strategi,
dimana pencapaian struktur tersebut dilakukan melalui
penerbitan/pengadaan utang baru serta transaksi pasar
sekunder seperti buyback & debt switch. Realisasi struktur
portofolio valuta asing di atas target yang ditetapkan
disebabkan oleh realisasi kurs yang melampaui asumsi dan
target penerbitan SUN domestik yang tidak mencapai target.
Adapun risiko tingkat bunga dan refinancing yang berada
di bawah target menunjukkan upaya pengurangan risiko
di antaranya melalui debt switch SUN sebanyak 4 kali lelang
dengan total nominal Rp11,86 triliun dan cash buyback melalui
lelang atau transaksi langsung sebanyak 6 kali dengan total
nominal Rp1,14 triliun, merupakan hal yang cukup efektif.
Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target
indikator persentase pemenuhan struktur portofolio utang
sesuai dengan strategi antara lain:
a) Besarnya jumlah utang yang jatuh tempo dalam jangka
pendek yang disebabkan penerbitan SPN 3 bulan
untuk acuan bungan obligasi variable rate sehingga
menyebabkan risiko refinancing.
Tabel 3.54
Monitoring Pelaksanaan SOP Layanan Unggulan Bidang Perimbangan Keuangan
No
SOP
Standar Waktu
%dokumen
tepat waktu
(bobot 70%)
%rata-rata waktu
penyelesaian dokumen
(bobot 30%)
%
1
Penyaluran Transfer ke Daerah
4 hari kerja
120%
120%
120%
2
Evaluasi Raperda
15 hari kerja
95,7%
116,7%
117%
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
95
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.55
Tingkat Akurasi Perencanaan Kas Semester I TA 2012
Rp Miliar
Bulan
Penerimaan
Perkiraan
Realisasi
Pengeluaran
Deviasi
Perkiraan
Realisasi
Deviasi
Januari
106,010.00
116,211.51
9.62%
84,063.39
86,602.10
3.02%
Februari
89,134.24
84,772.87
4.89%
61,720.11
58,112.41
5.85%
105,911.33
102,451.82
3.27%
121,245.22
108,605.31
10.43%
Maret
Jumlah % deviasi
17.78%
19.30%
Rata-Rata % deviasi
5.92%
6.43%
Tingkat Akurasi (100% - rata rata deviasi)
94.07
93.57%
April
137.765,77
149.849,60
8,77%
104.059,33
101.870,00
2,10%
Mei
125.397,30
126.081,50
0,55%
133.490,39
129.848,27
2,73%
Juni
142.271,81
150.904,52
6,07%
174.445,67
179.206,13
2,73%
Jumlah % deviasi
15,38%
7,56%
Rata-Rata % deviasi
5,13%
2,52%
Tingkat Akurasi (100% - rata rata deviasi)
94,87%
97,48%
Semester I
94,47%
95,52%
Tabel 3.56
Tingkat Akurasi Perencanaan Kas Semester II TA 2012
Rp Miliar
Bulan
96
Penerimaan
Pengeluaran
Perkiraan
Realisasi
Deviasi
Perkiraan
Realisasi
Deviasi
Juli
109,409.51
109,233.42
0.16%
113,269.59
101,851.45
10.08%
Agustus
116,053.20
111,668.27
3.78%
111,702.57
107,499.72
3.76%
September
115,501.51
111,930.08
3.09%
143,307.43
138,204.61
3.56%
Jumlah % deviasi
7.03%
17.40%
Rata-Rata % deviasi
2.34%
5.80%
Tingkat Akurasi (100% - rata rata deviasi)
97.66%
94.20%
Oktober
131,469.18
122,079.13
7.14%
118,220.42
109,384.04
7.47%
Nopember
188,618.97
178,125.75
5.56%
157,793.93
150,930.43
4.35%
Desember
237,562.42
232,141.22
2.28%
285,106.07
287,726.92
0.92%
Jumlah % deviasi
14.98%
12.74%
Rata-Rata % deviasi
4.99%
4.24%
Tingkat Akurasi (100% - rata rata deviasi)
95.00%
95.75%
Semester II 2012
96.33%
94.98%
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
b) Melemahnya rupiah terhadap USD pada akhir tahun yang
disebabkan krisis keuangan di Eropa.
Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a)Melakukan debt switching dengan menukar utang yang
jatuh tempo dalam 5 tahun dengan utang yang memiliki
jangka waktu pelunasan lebih panjang.
b) Menjaga penerbitan SBN valas dalam jumlah yang
terkendali.
98.50%
Perbandingan capaian pemenuhan struktur portofolio utang
sesuai dengan strategi selama 3 tahun terakhir menunjukkan
peningkatan kinerja. Grafik 3.6 berikut menunjukkan capaian
IKU selama 3 tahun terakhir.
Secara keseluruhan risiko utang yang dicapai lebih rendah
dari yang ditargetkan tanpa meningkatkan biaya utang secara
signifikan menunjukkan kenerja pengelolaan risiko yang efektif.
d. Penyelesaian LKPP dan Rancangan UU PP APBN
Secara Tepat Waktu (KK-10.4).
Jumlah LKPP yang diselesaikan adalah LKPP unaudited yang
disusun maksimal pada akhir Maret sebelum disampaikan ke
BPK untuk diperiksa. RUU Pertanggungjawaban Pelaksanaan
APBN merupakan bentuk pertanggungjawaban pengelolaan
anggaran dari Pemerintah kepada DPR yang disampaikan
selambat-lambatnya pada akhir bulan Juni tahun anggaran
berikutnya.
Capaian IKU Penyelesaian LKPP dan Rancangan UU PP APBN
secara tepat waktu untuk tahun 2012 dari target 3 (Tepat
Waktu) terealisasi yaitu 4 (Lebih Awal), capaian ini sama dengan
capaian untuk tahun 2011 dan 2010.
98.13%
98.00%
97.50%
97.00%
96.50%
96.00%
96.80%
96.04%
95.50%
95.00%
94.50%
Secara umum pencapaian target pemenuhan struktur
portofolio utang sesuai dengan strategi telah sejalan dengan
arah kebijakan pembiayaan APBN dalam Renstra Kementerian
Keuangan 2010-2014 yaitu pengelolaan portofolio utang
untuk mencapai struktur portofolio utang yang optimal guna
meminimalkan biaya utang pada tingkat risiko yang semakin
terkendali dalam jangka panjang.
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
2010
2011
2012
Grafik 3.6
Pemenuhan Struktur Portofolio Utang 2010-2012
Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun
2004 tentang Perbendaharaan Negara, dalam rangka
penyusunan LKPP, setiap menteri/pimpinan lembaga
menyampaikan Laporan Keuangan K/L (LKKL) kepada Menteri
Keuangan. Untuk memenuhi ketentuan tersebut, seluruh K/L
dan Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN)
telah menyampaikan LKKL dan LK BA BUN Tahun 2011 kepada
Kementerian Keuangan paling lambat akhir Februari 2012.
Berdasarkan LKKL dan LK BA BUN tersebut, Kementerian
Keuangan menyusun LKPP Tahun 2011. Dengan demikian,
tingkat keakurasian dan kevalidan data yang disajikan dalam
LKPP sangat tergantung pada keakurasian dan kevalidan data
yang disajikan dalam LKKL dan LKBUN.
Untuk memenuhi ketentuan Undang-undang Nomor 17 Tahun
2003 dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tersebut telah
dilaksanakan hal-hal sebagai berikut:
1) Menyampaikan LKPP Tahun 2011 (Unaudited) kepada
Ketua BPK RI untuk diaudit. LKPP Tahun 2011 (Unaudited)
telah dikirimkan melalui Surat Menteri Keuangan Nomor
S-207/MK.05/2012 tanggal 28 Maret 2012.
2) RUU tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan
APBN TA 2011 berupa LKPP Tahun 2011 (Audited) telah
dikirimkan melalui Surat Presiden No: R-61/Pres/06/2012
tanggal 15 Juni 2012.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
97
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
E. Persentase Penyelesaian BMN Kemenkeu yang
Bermasalah dengan Kategori Rusak Berat atau
Hilang (KK-10.5).
Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor KMK.271/
KMK.06/2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Tindak Lanjut
Hasil Hasil Penertiban BMN pada Kementerian/Lembaga,
kategori BMN yang bermasalah adalah:
1) BMN dalam kondisi rusak berat namun masih tercatat
dalam daftar BMN;
2) BMN dimanfaatkan oleh pihak lain dengan kompensasi
tetapi tidak sesuai ketentuan;
3) BMN dimanfaatkan oleh pihak lain tanpa kompensasi;
4) Gedung berdiri di atas tanah pihak lain atas dasar kontrak
dan masa kontrak telah habis;
5) Gedung sudah dibongkar tanpa terlebih dahulu mendapat
persetujuan Menteri Keuangan.
Penyelesaian BMN bermasalah merupakan upaya tindak
lanjut untuk menyelesaikan permasalahan BMN. Upaya yang
dilakukan meliputi langkah-langkah pada tabel 3.57
Penyelesaian seluruh BMN bermasalah sesuai dengan Roadmap
Penyelesaian BMN Bermasalah ditargetkan selesai tahun 2013
dan 2014. BMN bermasalah yang ditargetkan diselesaikan
pada tahun 2012 adalah BMN bermasalah di lingkungan
Kementerian Keuangan, dengan kategori rusak berat dan BMN
yang dinyatakan hilang.
IKU persentase penyelesaian BMN Kementerian Keuangan yang
bermasalah dengan kategori rusak berat atau hilang terealisasi
sebesar 58,18%. Perhitungan ini diperoleh dari rata-rata
penyelesaian permohonan penghapusan BMN di lingkungan
Kemenkeu dengan rincian sebagai berikut:
1) Penyelesaian permohonan penghapusan BMN sebanyak
31.159 unit dari 190.402 unit atau sebesar 16,36%.
2) Penyelesaian permohonan penghapusan BMN usang
sebanyak 1.708.615 unit atau sebesar 100% yang terdiri
dari Barang persediaan pada Kanwil DJPB DIY sebanyak
19.197 unit dan pita cukai pada Kantor Pusat DJBC
sebanyak 1.689.418 lembar.
Untuk tahun 2013 dalam rangka penyelesaian tindak lanjut
BMN bermasalah akan dilakukan beberapa hal yaitu:
1) Melakukan verifikasi terhadap BMN rusak berat yang
98
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
telah teridentifikasi untuk diproses lebih lanjut melalui
cek fisik BMN untuk mengetahui fisik BMN beserta nilai
ekonomisnya.
2) Melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen
persyaratan penghapusan BMN.
3) Meningkatkan koordinasi untuk finalisasi pelimpahan
kewenangan penghapusan BMN di tingkat Pengguna
Barang.
11.Sasaran Strategis 11: Peningkatan Edukasi
Masyarakat dan Pelaku Ekonomi (KK-11).
Dalam upaya memperkuat implementasi kebijakan di
bidang keuangan dan kekayaan negara, maka perlu ada
upaya peningkatan pemahaman stakeholders akan fungsi
Kementerian Keuangan sebagai pengelola keuangan
dan kekayaan negara. Bentuk peningkatan pemahaman
stakeholders dapat dilakukan melalui komunikasi dan edukasi
yang dilakukan secara kontinyu dan komprehensif. Dalam
pencapaian sasaran strategis ini, Kementerian Keuangan
mengidentifikasikan 1 (satu) Indikator Kinerja Utama (IKU)
sebagaimana tabel 3.58
Efektivitas edukasi dan komunikasi merupakan bentuk
pengukuran tingkat keberhasilan peserta (stakeholders)
dalam hal pemahaman substansi/materi yang disampaikan
melalui pelatihan/sosialisasi yang dilaksanakan. IKU ini
lebih mengutamakan kualitas edukasi dan komunikasi yang
dilakukan. Peningkatan edukasi masyarakat dan pelaku
ekonomi ialah untuk mengukur peningkatan pemahaman/
pengetahuan stakeholders terhadap ketentuan dan layanan
Kementerian Keuangan dan menjadi umpan balik dalam
mengukur tingkat efektivitas pelatihan.
Efektitas edukasi dan komunikasi diukur melalui kuesioner
yang memuat 4 indikator yaitu: tingkat pemahaman peserta
(bobot 70%), kualitas materi (bobot 15%), kualitas fasilitator
(bobot 10%), dan kualitas fasilitas pelatihan (bobot 5%).
Kegiatan peningkatan edukasi masyarakat dan pelaku ekonomi
dilakukan oleh unit-unit Eselon I Kementerian Keuangan yang
memberikan pelayanan kepada pihak luar. Bidang-bidang
edukasi yang dilakukan meliputi:
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.57
Penyelesaian BMN Bermasalah
Kategori BMN Bermasalah
Tindak Lanjut Penyelesaian
1.
Pengajuan usul penghapusan BMN;
2.
Koreksi pada Laporan Barang Pengguna/Kuasa Pengguna:
BMN dalam kondisi rusak berat namun
masih tercatat dalam daftar BMN
BMN dimanfaatkan oleh pihak lain dengan
kompensasi tetapi tidak sesuai ketentuan
BMN dimanfaatkan oleh pihak lain tanpa
kompensasi
Gedung berdiri di atas tanah pihak lain
atas dasar kontrak dan masa kontrak telah
habis;
Gedung sudah dibongkar tanpa terlebih
dahulu mendapat persetujuan Menteri
Keuangan
• Menggunakan menu transaksi “Perubahan Kondisi (203)”;
• Untuk barang dalam kondisi rusak berat dilakukan pemindahan ke
aset lain-lain dengan menggunakan menu “Penghentian BMN dari
Penggunaan (401)”.
1.
Review atau audit terhadap pelaksanaan pemanfaatan;
2.
Seluruh penerimaan negara dari pemanfaatan BMN harus disetor ke
Rekening Kas Umum Negara;
3.
Sisa waktu perjanjian wajib disesuaikan dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan dalam waktu paling lambat 1 (satu) tahun;
4.
Jika terdapat hak negara yang masih terhutang, seluruhnya wajib dibayar
oleh pihak lain tersebut melalui Rekening Kas Umum Negara;
5.
BMN dicatat dan dilaporkan dalam Laporan Barang Pengguna/Kuasa
Pengguna, serta diungkapkan dalam CaLK dan CaLBMN.
1.
Review atau audit terhadap pelaksanaan pemanfaatan;
2.
Penindaklanjutan atas rekomendasi aparat pengawas fungsional oleh
satuan kerja;
3.
Pemanfaatan harus dilakukan melalui prosedur ketentuan perundangundangan;
4.
BMN dicatat dan dilaporkan dalam Laporan Barang Pengguna/Kuasa
Pengguna, serta diungkapkan dalam CaLK dan CaLBMN.
1.
Dalam hal kontrak tidak diperpanjang lagi, dilakukan pengajuan usul
penghapusan;
2.
BMN dicatat dan dilaporkan dalam Laporan Barang Pengguna/Kuasa
Pengguna, serta diungkapkan dalam CaLK dan CaLBMN.
1.
Review atau audit oleh aparat pengawas fungsional;
2.
Penindaklanjutan atas rekomendasi aparat pengawas fungsional;
3.
Dalam hal terdapat sisa bongkaran, dilakukan penilaian atas bongkaran
yang tersisa;
4.
Pengusulan penghapusan/penjualan atas gedung;
5.
Penyesuaian terhadap pencatatan dan pelaporan gedung yang
bersangkutan
Tabel 3.58
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Peningkatan Edukasi Masyarakat dan Pelaku Ekonomi
KK 11. Peningkatan edukasi masyarakat dan pelaku ekonomi
Indikator Kinerja
Tingkat efektivitas edukasi dan komunikasi
Target
Realisasi
%
75,56
79,75
105,55%
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
99
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.59
Tingkat Efektivitas Edukasi dan Komunikasi Bidang Penganggaran
No.
Kegiatan
Tanggal
Lokasi
Hasil
13 Desember
Ballroom
Dhanapala
222 pegawai
79,5
Hotel Oasis Amir
110 pegawai
80,5
1.
Penguatan Peran K/L dalam Pelaksanaan PBB
melalui Pengembangan Kebijakan Standar
Biaya
2.
Pengembangan Costing Untuk Mendukung
Peran DJA sebagai Budget Analyst
3.
Workshop kebijakan dan proses bisnis
pengesahan DIPA TA 203
23-25 November
2012
Hotel Le Grandeur
117 pegawai
81,5
4.
Sosialisasi alokasi anggaran dan integritas RKAK/L DIPA
24 Oktober 2012
Ballroom
Dhanapala
283 pegawai
81,75
5.
Bimbingan teknis penganggaran
3 Oktober 2012
Makasar
119 pegawai
80,75
6.
Bimbingan teknis
24 – 25
September 2012
Novotel Hotel,
Jakarta
60 pegawai
76,5
7.
Sosialisasi Pagu anggaran K/L
12 Juli 2012
Ballroom
Dhanapala
304 pegawai
74,25
8.
Sosialisasi Penyusunan dan Penelaahan RKAK/L kepada Pegawai DJA
6 Juli 2012
Ballroom
Dhanapala
105 pegawai
71,75
9.
Sosialisasi MPN
12 Juni 2012
Ballroom
Dhanapala
108 pegawai
76
10.
Bimtek Monitoring dan Evaluasi Kinerja RKA-KL
31 Mei 2012
Ballroom
Dhanapala
314 pegawai
75,5
11.
Sosialisasi Standar Biaya Tahun 2013
22 Maret 2012
Ballroom
Dhanapala
248 pegawai
78,25
12.
Sosialisasi Peningkatan Akuntabilitas
Pengelolaan PNBP, BA 999.07, dan BA 999.08
Menuju LKPP dengan Opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP)
7 Februari 2012
Ballroom
Dhanapala
115 pegawai
77,50
28 November
a. Bidang Penganggaran
Pada tahun 2012 ini ditargetkan pencapaian IKU Tingkat
Efektifitas Edukasi dan Komunikasi sebesar 80%, sedangkan
realisasi hingga akhir triwulan IV tercapai 77,15 dengan rincian
sebagaimana tabel 3.59
b. Bidang Perpajakan
Tingkat efektivitas edukasi dan komunikasi di bidang
perpajakan mencapai 73,34 atau mencapai 97,79% dari target
tahun 2012.
Upaya yang telah dilakukan untuk mencapai target IKU
ini adalah memilih media komunikasi yang sesuai dengan
program komunikasi, yaitu Awareness, Image, dan Compliance.
100
Peserta
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Strategi yang akan dilaksanakan di tahun 2013 atas evaluasi
capaian IKU ini pada tahun 2012 adalah sebagai berikut.
1) Mempertahankan media komunikasi saat ini.
2) Meningkatkan kemampuan SDM sehingga memiliki
kompetensi di bidang kehumasan.
3) Melanjutkan strategi penyuluhan secara segmented (calon
WP, WP baru dan WP terdaftar).
4) Meningkatkan jumlah penyuluhan langsung sebagaimana
tercermin dari hasil survei.
5) Menyusun pedoman penyuluhan perpajakan sehingga
pelaksanaan penyuluhan oleh seluruh unit kerja menjadi
lebih terstruktur, terarah dan terukur.
c. Bidang Kepabeanan dan Cukai.
Pada tahun 2012 realisasi capain IKU tingkat efektivitas edukasi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.60
Tingkat Efektivitas Edukasi dan Komunikasi Bidang Bea dan Cukai
No
Bulan 2012
Jumlah
Kegiatan
9
1
1.
2.
Januari
4
4
2
Indeks
Materi Sosialisasi
1.
Februari
1
2.
(skala 1-100)
Sosialisasi Identifikasi Keaslian Pita Cukai 2012
dan Peraturan Cukai lainnya
Sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan 253/
PMK.04/2011 dan 254/PMK.04/2011 (KITE) dan
200/PMK.04/2011 tentang audit kepabeanan
dan cukai
Sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor
243/PMK.04/2011 tentang Premi dan Asistensi
Penanganan Perkara
Sosialisasi persiapan kantor modern
81,07
75
82,34
3
Maret
1
Customs Goes To Campus di Universitas Pendidikan
Indonesia (UPI) Bandung
78,60
4
April
1
Sosialisasi untuk Sekolah Tinggi Ilmu Maritim (AMI)
83,50
5
Mei
1
Customs Goes To Campus di Universitas Trisakti
73,50
6
Juni
1
7
Juli
1
8
Agustus
0
Pada bulan Agustus tidak dilaksanakan Sosialisasi
-
9
September
0
Pada bulan September tidak dilaksanakan
Sosialisasi
-
10
Oktober
0
Pada bulan Oktober tidak dilaksanakan Sosialisasi
-
11
November
0
Pada bulan November tidak dilaksanakan Sosialisasi
-
12
Desember
0
Pada bulan Desember tidak dilaksanakan Sosialisasi
-
Total
23
Rata-rata Indeks
Customs Goes To Campus di Universitas Pakuan
Bogor
Sosialisasi PMK 69/PMK.04/2012, PMK 70/
PMK.04/2012, PMK 76/PMK.011/2012 di Jakarta
Target
76,50
76,80
78,90
Sumber Data : Rapat Evaluasi Kemenkeu-One DJBC
dan komunikasi ini adalah sebesar 78,9 (kategori efektif ) dari
target yang ditetapkan sebesar 75. Pada tahun 2012 telah
dilaksanakan 23 kegiatan edukasi dan komunikasi berupa
sosialisasi yang dilakukan di berbagai tempat. Tabel 3.60
menampilkan rincian data kegiatan edukasi dan komunikasi
beserta tingkat efektivitasnya.
d. Bidang Perbendaharaan Negara.
Tingkat efektivitas edukasi dan komunikasi di bidang
perbendaharaan Negara tahun 2012 ditargetkan sebesar 75
(efektif ), dengan realisasi rata-rata sebesar 82,76 (efektif ).
Capaian tersebut diperoleh melalui penyebaran kuesioner
kepada peserta dalam kegiatan-kegiatan berikut:
1) Bimbingan Teknis Pelaksanaan Anggaran kepada satker
Kementerian/Lembaga dan Kanwil Direktorat Jenderal
Perbendaharaan yang dilaksanakan pada tanggal 2 s.d
20 Desember 2012 berlokasi di Jakarta dan Yogyakarta
dengan jumlah peserta sebanyak 231 pegawai dengan
hasil sebesar 83 (efektif );
2) Bimbingan Teknis Perencanaan Kas, Workshop Pengelolaan
Rekening Pemerintah, dan Sosialisasi Perubahan Kebijakan
Pengelolan PHLN. Kegiatan ini dilaksanakan di Jakarta,
Denpasar dan Kupang dengan jumlah peserta sebanyak
563 pegawai dan hasil yeng diperoleh sebesar 89 (efektif );
3) Bimbingan Teknis Penyusunan Laporan Keuangan dan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
101
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
e. Bidang Kekayaan Negara.
Realisasi efektivitas edukasi dan komunikasi di bidang
Kekayaan Negara senilai 80,73 dari target 75 diperoleh dari
tingkat efektivitas kegiatan sosialisasi yang telah dilaksanakan,
yaitu:
1) Sosialisasi Sistem Akuntansi Investasi Pemerintah (SAIP)
sebesar 82.
2) Sosialisasi di bidang penilaian aset sebesar 80,67.
3) Sosialisasi di bidang Sistem Akuntansi Transaksi Khusus
sebesar 81.
4) Sosialisasi di bidang lelang sebesar 83.
5) Sosialisasi di bidang pengelolaan BMN sebesar 75,5.
6) Sosialisasi peraturan penilaian sebesar 81,73.
f. Bidang Pengelolaan Utang.
Tingkat efektifitas edukasi dan komunikasi di bidang
pengelolaan utang selama tahun 2012 ditargetkan sebesar
75% (efektif ), dengan realisasi sebesar 75,83% (efektif ).
Capaian tersebut diperoleh melalui penyebaran kuesioner
kepada peserta sosialisasi SUN, sosialisasi SBSN, serta sosialisasi
Monitoring dan Evaluasi Pinjaman dan Hibah, dengan rincian
sebagaimana tampak pada grafik 3.7.
Hambatan dan/atau tantangan yang dihadapi dalam rangka
pencapaian target indikator tingkat efektifitas edukasi dan
komunikasi antara lain:
102
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
81%
83%
74%
75%
78%
Q4
77%
81%
81%
Q3
81%
83%
Q2
82%
81%
Q1
72%
72%
Sistem Akuntansi serta sosialisasi RBA telah dilaksanakan
pada triwulan I dan triwulan II;
4) Sosialisasi Sistem Akuntansi Pemerintah (SAP) yang
dilaksanakan pada tanggal 6 s.d 27 November 2012
berlokasi di Lubuk Linggau, Sumbawa Besar, Buntok, ParePare dan Sorong dengan jumlah peserta sebanyak 348
pegawai dengan hasil yang diperoleh sebesar 89,69 (efektif);
5) Bimbingan Teknis Aplikasi VERA dan AKLAP 2012,
Sosialisasi Penatausahaan dan Akuntansi Piutang PNBP
pada Satuan Kerja Kementerian Negara/Lembaga,
Bimbingan Teknis Tenaga Jaringan dan Komputer telah
dilaksanakan pada triwulan I s.d. triwulan III;
6) Bimbingan Teknis dan sosialisasi revisi DIPA yang
dilaksanakan pada bulan Oktober s.d Desember 2012
dengan peserta berasal dari seluruh Kantor Wilayah
dengan jumlah peserta sebanyak 8.041 pegawai dengan
hasil yang diperoleh sebesar 82,64 (efektif ).
85%
BAB II
84%
BAB I
Pemahaman
Materi
Pembicara
Fasilitas
Grafik 3.7.
Efektivitas Edukasi dan Komunikasi dalam Pengelolaan SBN dan
Sistem Akuntansi Hibah
1) Penyebarluasan informasi terkait pengelolaan utang
kepada masyarakat luas belum optimal dalam menjangkau
investor di luar ibukota propinsi terutama di wilayah timur
Indonesia;
2) Belum optimalnya penggunaan sarana informasi
baik melalui media cetak maupun elektronik untuk
meningkatkan pemahaman masyarakat tentang
pengelolaan utang;
3) Kondisi dan perkembangan pasar keuangan baik secara
regional dan internasional yang dinamis menuntut
keahlian dalam merespon informasi dan dinamika pasar
tersebut
Upaya yang dilakukan menghadapi hambatan dan/atau
tantangan tersebut adalah:
1) Terus berupaya meningkatkan kerjasama dengan
berbagai pihak dalam penyelenggaraan sosialisasi terkait
pengelolaan utang, antara lain dengan perguruan tinggi
dan kelompok-kelompok masyarakat, khususnya wilayah
yang belum dijangkau pelaksanaan sosialisasi;
2) Mengoptimalkan penggunaan sarana informasi baik
melalui media cetak maupun elektronik terutama untuk
menjangkau wilayah-wilayah yang secara geografis
sulit dijangkau untuk melakukan sosialisasi tentang
pengelolaan utang;
3) Meningkatkan kerjasama dan partisipasi secara aktif dalam
kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan baik dalam forum
regional maupun internasional.
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
g. Bidang Perimbangan Keuangan.
Tingkat efektifitas edukasi dan komunikasi di bidang
perimbangan keuangan pada tahun 2012 ditargetkan sebesar
75 (efektif ), dengan realisasi sebesar 81,09 (efektif ). Capaian
tersebut diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada
peserta sosialisasi. Adapun rincian hasil survey tersebut
ditampilkan pada tabel 3.61
h. Bidang Kebijakan Fiskal dan Keuangan.
Capaian kinerja Efektivitas edukasi dan komunikasi di bidang
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
kebijakan fiskaldan keuangan pada tahun 2012 adalah sebesar
81,34 (target 75). Bidang kebijakan yang dikomunikasikan
kepada pihak ekstern meliputi kebijakan bidang pendapatan
Negara, bidang ekonomi makro, pengelolaan risiko fiskal, dan
kerja sama keuangan internasional. Kegiatan sosialisasi ini
dilaksanakan di berbagai kota di Indonesia dan melibatkan
narasumber dari berbagai instansi dan asosiasi diantaranya
Kementerian Perindustrian, IKPI, KADIN, Kementerian
Perdagangan, Kementerian Pertanian dan lain-lain. Rata-rata
hasil survey pada tahun 2012 berdasarkan parameter yang
diukur dapat dilihat pada tabel 3.62
Tabel 3.61
Hasil Survey Peserta Sosialisasi Bidang Perimbangan Keuangan
No
Tanggal
Lokasi
Peserta
Hasil
Sosialisasi Pembiayaan dan Kapasitas Daerah :
1.
8 November 2012
Balikpapan
102 Pegawai
82,02
2.
4 Desember 2012
Bandung
143 Pegawai
81,11
Semarang
70 Peserta
81.51
Jakarta
300 Pemda
82.28
Bandung
120 Peserta
81.78
lebih dari 6.600 Peserta
81,85
Sosialisasi di Bidang Dana Perimbangan
1.
3 Oktober 2012
2.
2-20 November 2012
3.
11 Desember 2012
Sosialisasi Pengalihan PBB-P2:
1.
S.D Tgl 31 Desember 2012
160 Lokasi Kabupaten dan Kota
Tabel 3.62
Rata-rata Hasil Survey Efektivitas Edukasi dan Komunikasi Di Bidang Kebijakan Fiskal dan Keuangan
No
Kegiatan
Score
Bobot
Nilai
1
Tingkat Pemahaman Peserta
4,04
70%
2,828
2
Kualitas Materi
4,11
15%
0,6165
3
Kualitas Narasumber/Fasilitator
4,13
10%
0,413
4
Kualitas Penyelenggaraan
4,19
5%
0,2095
Total
Efektifitas
4,067
= (4,067*20)
81,34
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
103
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.63
Kegiatan Edukasi dan Komunikasi di Bidang Kebijakan Fiskal
Tema
Kebijakan Pajak Untuk Small and Medium Enterprises
82,09%
BTKI 2012, Kebijakan Tarif Bea Masuk dalam rangka kerjasama perdagangan internasional
79,76%
Kebijakan Pajak Untuk Small and Medium Enterprises
82,09%
Seminar Jaringan Ahli Ekonomi Tema : "Membangun Kemitraan Profesional Antara
Kementerian Keuangan dan Akademisi"
80%
Pengelolaan Risiko Fiskal sebagai Salah Satu Instrumen Mitigasi Risiko
80%
Menggagas Kebijakan Subsidi Listrik yang Sehat dan Berkeadilan Melalui Service Level
Agreement (SLA)
80%
BTKI 2012, Kebijakan Tarif Bea Masuk(Umum, Preferensi Dalam Rangka Kerjasama
Perdagangan Internasional dan Khusus
81,38%
Sosialisasi PMK 179/PMK.011/2012 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau
82,71%
Adapun tema kegiatan edukasi dan komunikasi yang
dilakukan selama tahun 2012 beserta hasil survei efektivitas
penyelenggaraannya, antara lain dijabarkan melalui tabel 3.63.
12.Sasaran Strategis 12: Pengawasan dan
Penegakan Hukum yang Efektif (KK-12).
Dalam pencapaian sasaran strategis ini Kementerian Keuangan
mengidentifikasikan 3 (tiga) Indikator Kinerja Utama (IKU),
dimana IKU pertama dijabarkan ke dalam 12 (dua belas) sub
IKU dengan rincian sebagaimana tabel 3.64
Uraian mengenai ketiga IKU tersebut tampak berikut ini.
a. Rata-Rata Persentase Kepatuhan dan Penegakan
Hukum (KK-12.1).
Kepatuhan adalah kesesuaian tindakan stakeholder dengan
ketentuan peraturan yang berlaku. Penegakan hukum adalah
segala upaya hukum yang dilakukan agar segala tindakan yang
diambil dalam rangka pengelolaan keuangan dan kekayaan
negara sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.IKU ini
dilaksanakan melalui sub-sub IKU dengan penjelasan sebagai
berikut:
104
Hasil
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
1) Persentase jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi terdaftar
terhadap jumlah Kepala Keluarga.
Jumlah WP OP terdaftar adalah jumlah WP OP yang
terdaftar dalam sistem administrasi Kemenkeu yang
memiliki tanggungan keluarga. Data jumlah kepala
keluarga berdasarkan data dari BPS.
Jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP) terdaftar tahun
2012 adalah sebanyak 22.131.323 WP. Jika dibandingkan
dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) yang tercatat
sebanyak 62.686.531 KK, maka persentase jumlah WP
OP terdaftar dengan jumlah KK mencapai 35,3%. Angka
realisasi tersebut melampaui target yang direncanakan
yakni 35% atau dengan persentase capaian 100,87 persen.
Keberhasilan pencapaian target pada tahun 2012 sangat
dipengaruhi oleh beberapa kegiatan, diantaranya:
a) Pelaksanaan Sensus Pajak Nasional secara optimal
termasuk proses tahapan back office, terutama untuk data
hasil sensus berupa responden belum terdaftar.
b) Optimalisasi pelaksanaan monitoring dan evaluasi
kegiatan ekstensifikasi PER-16/PJ./2007 dan PER-116/
PJ./2007.
c) Monitoring dan evaluasi Sensus Pajak Nasional.
Program yang sangat berpengaruh terhadap penambahan
jumlah Wajib Pajak baru adalah Sensus Pajak Nasional
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.64
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Pengawasan dan Penegakan Hukum yang Efektif
KK 12. Pengawasan dan penegakan hukum yang efektif
Indikator Kinerja
1.
Rata-rata persentase kepatuhan dan penegakan hukum
Target
Realisasi
%
60,79%
67,41%
110,89%
35,00%
35,30%
100,86%
55%
3,66%
120,00%
a.
Persentase jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi
terdaftar terhadap jumlah Kepala Keluarga
b.
Tingkat efektivitas pemeriksaan pajak
c.
Persentase pencairan piutang pajak
30,00%
32,30%
107,68%
d.
Persentase penyampaian SPT PPh
62,50%
51,46%
82,34%
e.
Persentase hasil penyidikan yang dinyatakan
lengkap oleh Kejaksaan (P21)
45,00%
54,00%
120,00%
f.
Persentasi hasil penyidikan bea dan cukai yang
dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan (P21)
50,00%
82,50%
120,00%
g.
Persentase penyelesaian piutang bea dan cukai
60,00%
84,55%
120,00%
h.
Persentase pelaksanaan audit terhadap
pengusaha penerima fasilitas kepabeanan dan
cukai
5,00%
8,07%
120,00%
i.
Persentase kepatuhan pelaporan BMN oleh K/L
95,00%
99,22%
104,44%
j.
Persentase penyampaian APBD yang tepat
waktu
90,00%
97,00%
107,78%
k.
Persentase monitoring dan evaluasi
rekomendasi BPK atas LKPP yang telah
ditindaklanjuti
100,00%
100,00%
100,00%
l.
Persentase sanksi administrasi atas pelanggaran
peraturan perundang-undangan di bidang
pasar modal yang obyektif
97,00%
100%
103,09%
2.
Indeks ketepatan waktu penyelesaian tindak lanjut
Instruksi Presiden
80%
83,62%
104,53%
3.
Persentase ketepatan pola penarikan dana DIPA K/L
80%
83,73%
110,68%
(SPN). Berdasarkan data SPN selama tahun 2012 tercatat
adanya penambahan 1.385.498 WP baru dari sebanyak
3.303.424 FIS yang diisi. Rincian jumlah penambahan WP
dari program SPN tersebut adalah 1.191.212 WP OP baru
dan 194.286 WP Badan baru.
b) Melanjutkan pemanfaatan data hasil Sensus Pajak Nasional
terutama klasifikasi Non Registrant (NR-1 dan NR-2) untuk
menjadi NPWP; dan
c) Optimalisasi pelaksanaan monitoring dan evaluasi
kegiatan ekstensifikasi PER-16/PJ./2007 dan PER-116/
PJ./2007.
Strategi yang akan dilaksanakan di tahun 2013 atas evaluasi
capaian IKU ini pada tahun 2012 adalah:
a) Peningkatan kegiatan ekstensifikasi melalui
penyempurnaan aturan;
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
105
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
2) Tingkat Efektivitas Pemeriksaan Pajak.
Pemeriksaan perpajakan adalah pelaksanaan fungsi
pengawasan terhadap kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan Wajib Pajak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Persentase capaian
IKU efektivitas pemeriksaan pajak adalah perbandingan
antara jumlah SKP yang diterbitkan (yang merupakan
jumlah lembar SKP hasil pemeriksaan yang diterbitkan
oleh fungsional dalam triwulan berjalan) dengan jumlah
SKP yang diajukan keberatan (yang merupakan jumlah
lembar SKP hasil pemeriksaan yang diajukan keberatan
oleh Wajib Pajak). SKP yang dihitung merupakan SKP hasil
pemeriksaan sampai dengan triwulan III tahun berjalan.
Untuk SKP hasil pemeriksaan yang diterbitkan pada
periode triwulan IV tahun berjalan, akan dihitung pada
periode triwulan tahun berikutnya.
Jumlah SKP yang diajukan keberatan sampai dengan
Desember 2012 adalah sebanyak 6.471 keberatan. Jumlah SKP
yang diterbitkan sampai dengan September 2012 (triwulan
III) adalah sebanyak 176.718 SKP. Realisasi tingkat efektivitas
pemeriksaan pajak adalah 3,66%. Capaian IKU sampai dengan
triwulan IV tahun 2012 adalah sebesar 120%.
Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam rangka menunjang
tingkat efektivitas pemeriksaan pajak antara lain:
a) Mengembangkan aplikasi laporan kegiatan pemeriksaan
pajak yang terintegrasi dengan kegiatan penagihan.
b) Mengelola data dan informasi kegiatan pemeriksaan
sebagai bahan penyusunan perencanaan dan kebijakan
pemeriksaan.
c) Tertib administrasi Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP)
dengan melakukan uji coba digitalisasi LHP pada kantorkantor di wilayah Jakarta dengan sistem manajemen
dokumen.
d)Membuat website/portal dan Forum Pemeriksaan dan
Penagihan dalam rangka menjamin dan menyediakan
akses dan pertukaran informasi.
e)Melakukan update proses bisnis dan requirements untuk
perbaikan aplikasi desktop pemeriksaan.
f ) Menyusun prosedur permintaan izin tertulis membuka
rahasia bank tentang keadaan keuangan nasabah
penyimpan untuk diusulkan menjadi SE.
g) Melakukan kerjasama dengan pihak ketiga untuk
mendukung kegiatan pemeriksaan. Sebagai contoh,
106
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
kerjasama dengan Bank Indonesia dalam rangka membuka
rekening Wajib Pajak dan pelaksanaan joint audit antara
Direktorat Pajak dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Action plan yang dilakukan sebagai evaluasi capaian tahun
2012 adalah dengan meningkatkan koordinasi internal serta
melakukan penyempurnaan aplikasi ALPP sehingga terdapat
menu masukan untuk SKP yang diajukan keberatan.
3) Persentase Pencairan Piutang Pajak.
Persentase pencairan piutang pajak adalah perbandingan
antara jumlah pencairan piutang pajak selama setahun
dengan jumlah piutang pajak awal tahun. Pencairan
piutang pajak merupakan pelaksanaan fungsi penegakan
hukum (law enforcement) terhadap Wajib Pajak yang
tidak sepenuhnya melunasi hutang pajak dalam bentuk
surat setoran pajak (SSP) dan pemindah-bukuan (Pbk).
Jumlah pencairan piutang pajak adalah jumlah piutang
pajak tahun-tahun lalu yang dilunasi pada tahun berjalan
oleh Wajib Pajak termasuk pengurangan/pembatalan, SK
keberatan, putusan banding dan keputusan penghapusan
piutang pajak.
Saldo piutang pajak pada awal tahun 2012 adalah sebesar
34.701 miliar rupiah. Dari jumlah tersebut, target pencairannya
30 persen atau sebesar 10.410 miliar rupiah. Selama tahun
2012, realisasi pencairan piutang pajak berhasil melampaui
target dengan persentase pencairan 32,30 persen atau sebesar
11.210 miliar rupiah. Dengan demikian capaian IKU pencairan
pajak adalah 107,68 persen. Kinerja pencairan piutang pajak
tampak pada tabel 3.65
Capaian kinerja penagihan pajak selama tahun 2012 dicapai
melalui upaya dan strategi sebagai berikut.
a) Penyusunan dan penyempurnaan beberapa peraturan di
bidang penagihan antara lain:
i. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-12/
PJ./2012 tentang Pemeliharaan Basis Data PBB Dalam
Rangka Pemutakhiran Data Piutang PBB Sektor
Pedesaandan Perkotaan;
ii. Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-02/
PJ./2012 tentang Penggolongan Kualitas Piutang Pajak
dan Tatacara Penghitungan Penyisihan Piutang Pajak;
iii. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-29/
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
PJ./2012 tentang Kebijakan Penagihan Pajak dan
Pelaksanaan Tindakan Penagihan Berbasis Analisis
Risiko;
iv. Peraturan Menteri Keuangan nomor PMK-68/
PMK.03/2012 tentang Tatacara Penghapusan Piutang
Pajak dan Penetapan Besarnya Penghapusan; dan
v. Penyusunan dan pelaksanaan SE-54/PJ/2012 tentang
Insentif Jurusita Pajak.
b) Peningkatan kemampuan/keahlian SDM bidang penagihan
melaui penyelenggaraan diklat, seminar, workshop, dan
forum penagihan secara intensif.
c) Pengendalian mutu dan administrasi penagihan melalui
kegiatan-kegiatan berikut.
i. Monitoring dan Evaluasi Persiapan Pengalihan PBB
Sektor Pedesaan dan Perkotaan ke Pemerintah
Daerah, khususnya pelaksanaan pemutakhiran data
piutang PBB pada basis SISMIOP hasil kerja sama
antara Kementerian Keuangan dan Pihak pemerintah
daerah.
ii. Meningkatkan Sistem Pengendalian Intern (SPI)
Administrasi Piutang Pajak melalui Panduan
Penerapan SPI dalam Sistem Informasi Komputer (SIK)
melalui Aplikasi Laporan Pemeriksaan dan Penagihan
(ALPP) Modul Penagihan.
iii. Asistensi dan pendampingan pemeriksaan BPK
atas kewajaran saldo piutang pajak pada Laporan
Keuangan Semester II Tahun 2011 dan Semester I
Tahun 2012;
iv. Asistensi dalam proses penyiapan saldo piutang pajak
pada Laporan Keuangan.
v. Pemutakhiran data piutang Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah pada sistem informasi.
vi. Sosialisasi, pengawasan, dan evaluasi Pelaksanaan
Pemutakhiran Piutang Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah sekaligus aplikasi pendukung.
vii. Pengembangan dan pemeliharaan ALPP Modul
Penagihan sebagai alat bantu dalam administrasi
Laporan Perkembangan Piutang Pajak dan Laporan
Perkembangan PBB yang menjadi dasar evaluasi
kinerja penagihan.
viii. Implementasi dan Penggunaan ALPP Modul
Penagihan di seluruh KPP dan Kanwil DJP untuk
menggantikan beberapa laporan terkait penagihan
yang masih dikerjakan secara manual.
ix. Pengawasan prosedur penerbitan kembali Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan, dan/atau Surat Tagihan
Pajak.
d) Monitoring dan Evaluasi kinerja tindakan penagihan dan
pencairan piutang pajak melalui kegiatan-kegiatan berikut.
i. Sosialisasi dan Bimbingan kepada Kanwil DJP dan KPP
dalam menerapkan strategi penagihan pajak berbasis
analisis risiko (risk based collection).
ii. Penyempurnaan peraturan terkait pemblokiran
rekening Wajib Pajak/Penanggung Pajak yang
tersimpan di bank untuk meningkatkan efektivitas
pencairan piutang pajak dari pemblokiran.
iii. Penyusunan rencana penagihan yang dituangkan
dalam prognosis pencairan piutang pajak.
iv. Permintaan dan pengawasan action plan pencairan
piutang pajak untuk meningkatkan kinerja penagihan.
v. Penentuan dan evaluasi target pencairan piutang
pajak per Kanwil DJP serta penyesuaiannya terkait
Wajib Pajak pindah.
Tabel 3.65
Kinerja Pencairan Piutang Pajak
IKU
Persentase Pencairan
Piutang Pajak
Formula
Target
Jumlah Pencairan
Piutang Pajak
Rp10.410 miliar
Jumlah Piutang Pajak
Awal Tahun
Rp34.701
miliar
Target
(%)
Realisasi
Realisasi
(%)
Rp11.210 miliar
30
Rp34.701
miliar
32,30
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
107
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
vi. Kegiatan pemberian data (data feeding) Penunggak
Pajak kepada KPP/Kanwil DJP yang bersangkutan,
disusun dalam bentuk Surat Rahasia.
vii. Kegiatan bedah penunggak pajak untuk menggali
potensi pencairan atas penunggak pajak.
viii. Kegiatan pemberian data (data feeding) informasi
permohonan PKPU, kepailitan dan pembagian harta
pailit yang diperoleh dari berbagai sumber informasi
untuk diteruskan kepada KPP yang terkait agar dapat
ditindaklanjuti secara tepat waktu.
e) Penyusunan buku pedoman penagihan pajak dan
Pedoman Penerapan Sistem Pengendalian Intern dalam
Sistem Informasi Komputer ALPP.
4) Persentase Penyampaian SPT PPh.
Jumlah penyampaian SPT Tahunan PPh adalah jumlah SPT
Tahunan PPh Badan dan PPh Orang Pribadi yang benar,
lengkap dan jelas yang diterima KPP, meliputi SPT atas
seluruh tahun pajak tetapi tidak termasuk SPT Tahunan
PPh Pembetulan. Jumlah WP terdaftar per awal tahun
adalah jumlah WP terdaftar sesuai dalam administrasi DJP
yang wajib menyampaikan SPT Tahunan
Jumlah Wajib Pajak terdaftar yang wajib menyampaikan SPT
Tahunan PPh Tahun 2012 sebanyak 17.659.278. Penyampaian
SPT Tahunan PPh ditargetkan sebanyak 11.037.049 atau sebesar
62,50 persen dari total jumlah WP yang wajib menyampaikan.
Program kerja yang dilakukan dalam rangka mendukung
pancapaian rasio penyampaian SPT Tahunan PPh antara lain:
a) Inventarisasi terhadap WP yang belum/tidak
menyampaikan SPT Tahunan PPh atas tahun pajak 2012
dan sebelumnya.
b) Melakukan himbauan terhadap WP yang belum
menyampaikan SPT Tahunan PPh dengan memanfaatkan
data yang ada di Portal dan sumber lainnya.
c) Menerbitkan dan mengirimkan teguran/STP.
d) Mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada 1000 WP
OP potensial yang SPT Tahunan PPh nya diterima tepat
waktu.
e) Melakukan sosialisasi dan edukasi perpajakan kepada
masyarakat/WP terutama WP baru.
108
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Selain itu, juga dikeluarkan kebijakan-kebijakan terkait dengan
penyampaian SPT Tahunan, diantaranya:
a) Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-06/PJ/2012
tentang Target Rasio Kepatuhan Penyampaian Surat
Pemberitahuan pada Tahun 2012.
b) Surat Direktur PKP Nomor S-334/PJ.08/2012 tentang
Jumlah WP dan PKP Terdaftar Masing-masing KPP/ Kanwil
DJP per 31 Desember 2011.
c) Surat Direktur PKP Nomor S-442/PJ.08/2012 tentang
Evaluasi Laporan Rasio Kepatuhan Penyampaian SPT
Tahunan PPh dan SPT Masa PPN Tahun 2012.
Tabel 3.66 menjelaskan rincian realisasi penyampaian SPT
Tahunan PPh dan rasio kepatuhan tahun 2012.
Realisasi penyampaian PPh dan Rasio kepatuhan tahun 2012
adalah 51,46 persen dari target yang direncanakan sebesar
62,50 persen. Dengan demikian capaian untuk indikator ini
adalah 82,34 persen.
Alasan tidak tercapainya target rasio kepatuhan penyampaian
kepatuhan penyampaian SPT adalah sebagai berikut.
a) Diindikasikan masih terdapat WP yang memiliki identitas
ganda.
b) Data alamat yang ada di database SIDJP/SIPMOD kurang
valid.
c) Terdapat penambahan jumlah WP pensiunan yang cukup
signifikan yang tidak mengerti kewajiban pelaporan
perpajakannya.
d) Terdapat WP yang telah mempunyai NPWP namun belum
masuk dalam MFWP sehingga menyulitkan dalam proses
pengadministrasiannya.
5) Persentase Hasil Penyidikan Yang Dinyatakan Lengkap
Oleh Kejaksaan (P21).
Target jumlah penyidikan pada tahun 2012 adalah
sebanyak 50 penyidikan. Sedangkan target berkas perkara
yang dinyatakan lengkap oleh kejaksaan (berstatus
P-21) adalah 45 persen sejumlah 23 berkas. Realisasi
berkas perkara yang dinyatakan lengkap oleh kejaksaan
(berstatus P-21) adalah sejumlah 27 berkas. Dibandingkan
dengan target capaian IKU sebesar 45% yang tercatat
dalam kontrak kinerja, realisasi pencapaian IKU pada
tahun 2012 adalah sebesar 54%. Dengan demikian indeks
capaian indikator adalah 120%.
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Adapun action plan yang dilakukan dalam mendukung
pencapaian indikator ini adalah dengan peningkatan
kerjasama dengan instansi penegak hukum lainnya
dalam rangka optimalisasi pelaksanaan penyidikan dan
pemberdayaan kegiatan penyidikan di Unit Vertikal.
yang sudah diserahkan ke Kejaksaan dan memperoleh status
P-21 pada periode tahun berjalan yang berasal dari SPDP (Surat
Perintah Dimulainya Penyidikan) yang terbit sejak tahun 2010
sampai tahun 2012.
6) Persentasi hasil penyidikan bea dan cukai yang
dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan (P21).
IKU ini bertujuan untuk mendorong kinerja penyidikan
kasus tindak pidana kepabeanan dan cukai sampai
dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan yang berasal dari Surat
Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang terbit
sejak tahun 2010 sampai dengan 2012.
Tindak Pidana Kepabeanan dan Cukai adalah segala perbuatan
yang berhubungan dengan Kepabeanan dan Cukai yang atas
perbuatan tersebut diancam dengan pidana. SPDP adalah Surat
Perintah Dimulainya Penyidikan sebagai penugasan penyidik
untuk memulai kegiatan penyidikan. Penyidikan merupakan
tahap dimana penyidik berupaya mengungkapkan fakta-fakta
dan bukti-bukti atas terjadinya suatu tindak pidana serta
menemukan tersangka pelaku tindak pidana tersebut.
Status P-21 adalah status dinyatakan lengkapnya berkas
perkara pidana yang dilakukan penyidik oleh Kejaksaan dan
siap untuk dilimpahkan ke pengadilan untuk menjalani proses
persidangan. Jumlah berkas perkara yang berstatus P-21 adalah
berkas perkara kasus pidana di bidang kepabeanan dan cukai
Jumlah penyidikan adalah akumulasi tunggakan penyidikan
(SPDP) yang terbit sejak tahun 2010 ditambah dengan jumlah
penyidikan (SPDP) yang diterbitkan pada tahun berjalan.
SPDP yang dihentikan penyidikannya berarti bahwa proses
penyidikan telah dinyatakan berhenti. Pasal 109 ayat (2)
KUHAP memberi wewenang kepada penyidik untuk dapat
menghentikan penyidikan yang sedang berjalan. Setiap
penghentian penyidikan yang dilakukan oleh pihak penyidik
maka secara resmi harus menerbitkan Surat Perintah
Penghentian Penyidikan (SP3). Pasal 109 ayat (2) KUHAP
menyatakan bahwa dalam hal penyidik menghentikan
penyidikan karena tidak cukup bukti atau peristiwa tersebut
ternyata bukan merupakan tindak pidana atau penyidikan
dihentikan demi hukum, maka penyidik memberitahukan
hal itu kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya.
Alasan-alasan penyidik dapat menghentikan penyidikan sesuai
dengan Pasal 109 ayat (2) KUHAP adalah sebagai berikut :
a) Karena tidak terdapat cukup bukti, meliputi juga SPDP
yang daluwarsa karena tidak tidak terdapat cukup bukti;
b) Karena peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan
tindak pidana;
c) Penyidikan dihentikan demi hukum.
Tabel 3.66
Realisasi Penyampaian SPT Tahunan PPh dan Rasio Kepatuhan Tahun 2012
Periode
Jumlah SPT
Rasio
Capaian
a. Triwulan I (Q1)
3.488.368
19,75%
79,01%
b. Triwulan II (Q2)
2.967.833
16,81%
84,03%
b. Triwulan III (Q3)
1.847.294
10,44%
104,61%
d. Triwulan IV (Q4)
783.589
4,44%
59,16%
9.087.084
51,46%
82,34%
Tahun 2012
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
109
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Capaian kinerja untuk tahun 2012 diperoleh dengan
membandingkan jumlah berkas perkara yang berstatus P-21
yang berasal dari SPDP yang terbit sejak tahun 2010 sampai
tahun 2012 dan SPDP yang dihentikan penyidikannya (SP3)
atas SPDP yang terbit sejak tahun 2010 sampai tahun 2012
dengan jumlah SPDP yang merupakan bukti telah dimulainya
penyidikan oleh PPNS DJBC yang diterbitkan sejak tahun 2010
sampai 2012.
Perbandingan capaian selama 3 (tiga) tahun terakhir ( 2010 s.d.
2012) dapat dilihat pada tabel 3.67.
Pada tahun 2012 penyidikan tindak pidana di bidang
kepabeanan dan cukai yang dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan
ditargetkan 50%. Sampai dengan bulan Desember 2012
realisasinya mencapai 82,50% melewati target yang ditetapkan
50%. Capaian tahun 2012 ini mengalami peningkatan jika
dibandingkan dengan capaian tahun 2011 yang capaiannya
79,34%.
Capaian realisasi IKU penyidikan tindak pidana di bidang
kepabeanan dan cukai yang dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan
tahun 2012 sebagaimana tabel 3.68.
Kegiatan penyidikan tahun 2012 mencapai 120 kasus, yang
meliputi kasus tahun 2011 sebanyak 22 kasus dan kasus tahun
2012 sebanyak 98 kasus. Dari 120 kasus tersebut sebanyak 98
kasus telah diserahkan ke kejaksaan dengan status P-21, dan
1 kasus yang dihentikan penyidikannya (SP3). Tindak pidana
yang dilakukan penyidikan pada tahun 2012 dengan status
P-21 terdiri dari:
a) Tindak pidana di bidang kepabeanan sebanyak 58 kasus,
yang terdiri dari:
i. Impor sebanyak 37 kasus
ii. Ekspor sebanyak 21 kasus
b) Tindak pidana di bidang cukai sebanyak 41 kasus, yang
terdiri dari:
a. Cukai hasil tembakau sebanyak 29 kasus
b. Cukai MMEA sebanyak 12 kasus
Walaupun pada tahun 2012 capaian IKU ini dapat melampaui
target yang ditetapkan. Akan tetapi dalam pelaksanaan
penyidikan terdapat beberapa kendala yang dihadapi yang
mana kendala-kendala tersebut akan sangat berpotensi
110
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
menghambat kinerja proses penyidikan pada tahun-tahun
mendatang yaitu :
a) Kurangnya tenaga PPNS yang terampil, yang antara
lain disebabkan karena adanya perubahan persyaratan
administrasi untuk mengikuti pendidikan PPNS yang
dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan HAM, yang
mempersyaratkan calon peserta diklat PPNS dengan
pangkat minimal III/a dan telah memiliki ijazah S1.
b) Jumlah penyidik yang relatif sedikit, khususnya untuk
kualifikasi Pelaksana. Banyak Penyidik yang telah
menduduki jabatan Struktural serta telah tersebar ke
seluruh Indonesia serta penyebaran tenaga PPNS yang
tidak merata dan proporsional dengan beban penyidikan
pada masing-masing kantor.
c) Belum adanya kesepahaman dengan instansi penegak
hukum lain di beberapa daerah berkaitan dengan
pelaksanaan penegakan hukum Kepabeanan dan Cukai.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk pencapaian target
IKU persentase hasil penyidikan yang dinyatakan lengkap
oleh Kejaksaan (P21) dengan cara melakukan koordinasi
antara penyidik pada masing-masing unit kerja dengan Jaksa
Penuntut.
7) Persentase Penyelesaian Piutang Bea dan Cukai.
Piutang adalah piutang yang timbul atas pendapatan
sebagaimana diatur dalam undang-undang Pabean dan
Cukai, yang belum diselesaikan sampai akhir periode
Laporan Keuangan. Piutang yang belum jatuh tempo
tidak dimasukkan sebagai penambah saldo piutang dalam
pengukuran IKU ini.
Jumlah Piutang adalah akumulasi jumlah saldo awal piutang
tahun berjalan (piutang outstanding) dengan jumlah piutang
terbit tahun berjalan. Piutang outstanding adalah jumlah
piutang yang telah jatuh tempo dan belum diselesaikan sampai
akhir periode Laporan Keuangan. Sedangkan Piutang Terbit
adalah jumlah piutang yang timbul pada tahun berjalan yang
telah jatuh tempo. Jumlah Piutang yang diselesaikan adalah
akumulasi jumlah piutang yang telah diselesaikan sampai
dengan periode pelaporan baik penyelesaian untuk piutang
yang berasal dari piutang outstanding maupun piutang terbit
tahun berjalan.
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.67
Perkembangan Capaian IKU P21 Tahun 2010 s.d. 2012
Tahun
∑ PDP
P-21
%
Target
2010
184
138
75,00%
50%
2011
121
96
79,34%
50%
2012
120
99
82,50%
50%
Tabel 3.68
Capaian IKU P21 Tahun 2012
No.
Kantor
s.d. Desember 2012
∑SPDP s.d.
31 Desember
2011
∑SPDP
Tahun
2012
∑ P21 dr PDP
Outstanding
∑ P21 & SP3
dr PDP 2012
∑ PDP
P-21 &
SP3
%
Target
Q4
50%
1.
Direktorat P2
-
2
-
2
2
2
100,00
2.
Aceh
1
2
1
1
3
2
66,67
3.
Sumut
2
7
1
6
9
7
77,78
4.
Riau & Sumbar
1
4
1
3*
5
4
80,00
5.
Khusus Kepri
2
10
2
9
12
11
91,67
6.
Sumbagsel
-
1
-
1
1
1
100,00
7.
Banten
2
6
2
6
8
8
100,00
8.
Jakarta
-
4
-
4
4
4
100,00
9.
Jabar
-
8
-
7
8
7
87,50
10.
Jateng & DIY
6
15
5
13
21
18
85,71
11.
Jatim I
1
11
1
9
12
10
83,33
12.
Jatim II
1
8
1
5
9
6
66,67
13.
Bali, NTB & NTT
3
2
-
2
5
2
40,00
14.
Kalbagbar
-
1
-
1
1
1
100,00
15
Kalbagtim
1
3
1
3
4
4
100,00
16
Sulawesi
1
3
1
3
4
4
100,00
17
MPP
1
-
1
-
1
1
100,00
18
KPU Batam
-
2
-
2
2
2
100,00
19
KPU Tg. Priok
-
9
-
5
9
5
55,56
22
98
17
82
120
99
82,50
Total
Keterangan: * 1 Berkas SP3 dari Kanwil DJBC Riau & Sumbar
Sumber Data: Rapat Evaluasi Kemenkeu-One DJBC
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
111
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Bentuk penyelesaian piutang selama tahun berjalan (mutasi
piutang sebagaimana dimaksud pada P-47/BC/2011 jo. PER-58/
BC/2011) terdiri dari beberapa mekanisme sesuai dengan Pasal
9 PER-58/BC/2011 yang dapat berupa :
a.Pembayaran/pelunasan;
b. Pengangsuran pembayaran tagihan utang cukai;
c. Pengalihan piutang pajak ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP);
d. Penggunaan kompensasi cukai;
e. Penggunaan kompensasi PPN;
f. Keputusan Direktur Jenderal atas keberatan;
g. Pembatalan surat penetapan tagihan karena adanya
Persetujuan Direktur Jenderal untuk mengurangi dan
menghapus tagihan dalam surat penetapan; h. Pembatalan surat penetapan tagihan karena adanya
persetujuan Direktur Jenderal untuk mengurangi atau
menghapus sanksi administrasi berupa denda;
i. Penetapan pengadilan pajak untuk mengurangi atau
menghapus tagihan dan/atau sanksi administrasi berupa
denda.
Tujuan strategis dari IKU Persentase penyelesaian piutang bea
dan cukai ini adalah untuk mengukur tingkat ketertagihan
piutang. Pengukuran IKU ini dengan cara membandingkan
antara jumlah piutang bea dan cukai yang diselesaikan dan
jumlah piutang.
Pada tahun 2012 realisasi capain IKU ini adalah sebesar 84,55%
dari target yang ditetapkan sebesar 60%. Rincian realisasi
penyelesaian piutang bea dan cukai tampak pada tabel 3.69
Bebeapa faktor yang mempengaruhi pencapaian IKU
persentase penyelesaian piutang bea dan cukai, yaitu :
1) Pada KWBC Kalimatan Bagian Barat terdapat sebanyak
Rp 12,9 milyar piutang saat ini. Sebanyak Rp 7,5 Milyar
(58%) merupakan piutang tidak dapat ditagih karena
terjadinya piutang beberapa tahun lalu, dan sebagian
bukti administrasi sudah hilang (force major) dan/atau
alamat tidak ditemukan. Piutang tersebut terdapat di
KPPBC Pangkalan Bun (Rp 4,9 milyar), KPPBC Entikong (Rp
2 milyar) dan KPPBC Pontianak (Rp 603 Juta).
2) Pada KWBC Kalimantan Bagian Timur terdapat piutang
sebelum Tahun 2012 yang jumlahnya sangat besar antara
lain piutang dari PT. Vico (SPKPBM Th. 2005), BP. Migas
(SPKPBM Th. 2005) dan PT. Interwidi Adipratama (SPKPBM
Th. 2006).
112
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam rangka
pencapaian target penangihan piutang bea dan cukai adalah
sebagai berikut:
1) Memberikan asistensi kepada KWBC dan KPPBC yang
memiliki piutang yang belum tertagih;
2) Mengoptimalkan penagihan terutama piutang yang
sedang dalam proses penagihan atau penagihannya sudah
berjalan;
3) Terhadap perusahaan-perusahaan yang masih memiliki
utang dan belum diblokir agar dilakukan pemblokiran;
4) Terhadap perusahaan yang masih memiliki utang dan
tidak ditemukan lagi eksistensinya atau dinyatakan
pailit oleh pengadilan, agar dilakukan penelitian dan
pembuktian sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
5) Sisa piutang yang belum tertagih akan dimaksimalkan
penagihannya pada tahun 2013.
Perkembangan realisasi penyelesaian piutang bea dan cukai
selama 3 tahun terakhir adalah sebagaimana tabel 3.70.
8) Persentase pelaksanaan audit terhadap pengusaha
penerima fasilitas kepabeanan dan cukai.
Audit kepabeanan dan cukai adalah pemeriksaan terhadap
buku, catatan, surat menyurat yang bertalian dengan Impor
atau Ekspor, dan sediaan barang dalam rangka menguji
kepatuhan perusahaan terhadap peraturan kepabeanan
dan cukai. Fasilitas kepabeanan dan cukai adalah pemberian
insentif terhadap pengusaha berupa fasiltas yang terkait
dengan pelayanan dan fasilitas terkait dengan fiskal
kepabeanan dan cukai. Rencana adalah sesuai dengan DROA.
IKU ini bertujuan untuk mengukur tingkat pengawasaan
terhadap pengusaha penerima fasilitas kepabeanan dan cukai
melalui kegiatan audit. Capaian kinerja IKU ini dihitung dengan
membandingkan antara jumlah audit terhadap pengusaha
penerima fasilitas yang dilaksanakan dengan jumlah
pengusaha penerima fasilitas.
Total data perusahaan penerima fasilitas per 1 Januari 2012
adalah 3.655 perusahaan, dengan rincian sebagai berikut :
1) Importir jalur prioritas: 108
2) Perusahaaan penerima fasilitas tidak dipungut cukai hasil
tembakau: 93
3) Perusahaaan penerima fasilitas pembebasan EA: 299
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.69
Piutang Bea dan Cukai yang Diselesaikan
No
Kanwil &
KPU
1
Aceh
2
∑ Piutang
∑ Penyelesaian Piutang
Target
Tahun 2012
Realisasi Tahun
2012 (%)
445,619,133
1,314,481
60%
0.29%
Sumut
336,144,878,431
258,273,374,400
60%
76.83%
3
Riau dan Sumbar
294,000,074,416
281,909,460,635
60%
95.89%
4
Khusus Kepri
10,295,322,384
9,322,795,700
60%
90.55%
5
Sumbagsel
190,880,285,087
180,283,400,400
60%
94.45%
6
Banten
882,947,834,950
275,614,494,743
60%
31.22%
7
Jakarta
101,951,010,174
28,651,033,720
60%
28.10%
8
Jabar
16,702,290,640,285
15,053,529,848,614
60%
90.13%
9
Jateng dan DIY
30,149,683,668,516
24,904,680,353,953
60%
82.60%
10
Jatim I
31,410,648,939,274
26,989,404,258,323
60%
85.92%
11
Jatim II
36,412,828,894,846
31,149,547,114,914
60%
85.55%
12
Bali, NTB, dan
NTT
8,373,139,448
5,630,919,211
60%
67.25%
13
Kalbagbar
15,022,140,819
4,651,969,607
60%
30.97%
14
Kalbagtim
204,966,131,868
94,045,471,271
60%
45.88%
15
Sulawesi
102,560,337,185
33,635,130,022
60%
32.80%
16
Maluku, Papua,
dan Papua Barat
37,108,071,273
33,051,283,273
60%
89.07%
17
KPU Batam
191,558,894,745
34,040,310,655
60%
17.77%
18
KPU Tg Priok
2,312,486,363,207
1,583,746,623,219
60%
68.49%
119,364,192,246,042
100,920,019,457,141
60%
84.55%
Total
Sumber Data : Rapat Evaluasi Kemenkeu-One DJBC
4)
5)
6)
7)
Perusahaaan penerima fasilitas tidak dipungut EA: 119
Perusahaaan penerima fasilitas kawasan berikat : 1566
Perusahaaan penerima fasilitas gudang berikat: 455
Perusahaaan penerima fasilitas KITE: 1015.
Realisasi persentase pelaksanaan audit terhadap pengusaha
penerima fasilitas kepabeanan dan cukai dibanding rencana
sampai bulan Desember 2012 adalah sebesar 8,07% dari target
yang telah ditetapkan sebesar 5%. Capaian ini berasal dari
295 perusahaan yang diaudit dari 3.655 perusahaan penerima
fasilitas kepabeanan dan cukai. Tabel III.57 menunjukkan
persentase pelaksanaan audit terhadap pengusaha penerima
fasilitas kepabeanan dan cukai dibanding rencana pada tahun
2012.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
113
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.70
Perbandingan Realisasi Penyelesaian Piutang 3 Tahun Terakhir
Tahun
Σ Tagihan yang diterbitkan
2010
4.519.763.584.690,28
2011
2012
Σ Tagihan yang diselesaikan
% Capaian
Target
2.656.096.185.537,49
58,77%
55%
99.944.876.935.694,00
79.380.661.587.021,00
79,42%
60%
119.364.192.246.042,00
100.920.019.457.141,00
84,55%
60%
Tabel 3.71
Persentase Pelaksanaan Audit Terhadap Pengusaha Penerima Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Dibanding Rencana
No
1
Kantor
Aceh
0
2
Sumut
15
3
Riau dan Sumbar
4
4
Khusus Kepri
2
5
Sumbagsel
14
6
Banten
15
7
Jakarta
10
8
Jabar
37
9
Jateng dan DIY
38
10
Jatim I
34
11
Jatim II
4
12
Bali, NTB, dan NTT
5
13
Kalbagbar
0
14
Kalbagtim
2
15
Sulawesi
1
16
Maluku, Papua, dan Papua Barat
0
17
KPU Tg Priok
46
18
KPU Batam
2
19
Direktorat Audit
66
Total
Sumber Data : Rapat Evaluasi Kemenkeu-One DJBC
114
∑ Pelaksanaan Audit Fasilitas
berdasarkan DROA s.d.
Desember
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
295
Realisasi s.d. Desember (%)
8,07%
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
9) Persentase kepatuhan pelaporan BMN oleh K/L.
Kepatuhan pelaporan BMN dinilai dari ketepatan waktu
penyampaian Laporan Barang Pengguna (LBP) oleh K/L kepada
Pengelola Barang beserta kelengkapan dokumen LBP. LBP yang
dimonitor penyampaiannya meliputi :
a) LBP Tahunan tahun sebelumnya dimonitor pada triwulan I
tahun berjalan;
b) LBP Tahunan tahun sebelumnya (Audited) dimonitor pada
triwulan II tahun berjalan dan
c) LBP Semester I tahun berjalan dimonitor pada triwulan III
tahun berjalan
LBP adalah laporan yang disusun oleh Pengguna Barang
yang menyajikan posisi BMN pada awal dan akhir periode
tertentu secara semesteran dan tahunan serta mutasi yang
terjadi selama periode tersebut. Ketepatan waktu diukur dari
tanggal penyampaian LBP oleh K/L sesuai dengan batas waktu
penyampaian LBP yaitu :
a) LBP Tahunan tahun sebelumnya (Unaudited) disampaikan
paling lambat 25 Februari tahun berjalan;
b) LBP Tahunan tahun sebelumnya (Audited) disampaikan
paling lambat 20 Mei tahun berjalan
c) LBP Semester I tahun berjalan disampaikan paling lambat
26 Juli tahun berjalan
Kelengkapan dokumen diukur dari dokumen yang harus
dilampirkan dalam LBP yaitu:
a) Laporan BMN intrakomptabel
b) Laporan BMN ekstrakomptabel
c) Laporan BMN gabungan
d) Laporan persediaan
e) Laporan BMN per perkiraan neraca
f ) Laporan aset tak berwujud
g) Laporan konstruksi dlm pengerjaan / KDP
h) Laporan PNBP terkait pengelolaan BMN
i) Laporan barang bersejarah
Realisasi sebesar 99,22% diperoleh dari rata-rata kepatuhan
penyampain Laporan Barang Pengguna (LBP) dengan rincian
sebagaimana tabel 3.72
Pencapaian target tersebut didukung oleh pelaksanaan
pembinaan dan bimbingan teknis mengenai penatausahaan
BMN yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan kepada
seluruh K/L. Kegiatan tersebut dapat meningkatkan tingkat
kesadaran K/L untuk menyampaikan laporan BMN tepat
waktu.
Pada tahun 2013, Kementerian Keuangan akan terus
melanjutkan pelaksanaan pembinaan, rapat koordinasi, dan
bimbingan teknis penatausahaan BMN kepada Kementerian/
Lembaga dalam rangka kepatuhan pelaporan LBP tahun 2012
yang disampaikan paling lambat 24 Februari 2013.
10) Persentase Penyampaian APBD yang Tepat Waktu.
Penyampaian APBD tepat waktu adalah penyampaian
APBD sesuai dengan waktu yang ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan, yaitu sampai dengan
akhir kuartal I (31 Maret). Pemerintah Daerah wajib
mengirim APBD yang telah ditetapkan sebagai wujud
kinerja Pemerintahan Daerah dalam melaksanakan amanat
UU Nomor 17 Tahun 2003.
IKU ini telah selesai diukur pada Kuartal I dengan penjelasan
bahwa telah diterima sebanyak 505 APBD TA 2012 yang
disampaikan tepat waktu (97%) pada kuartal I, hanya 19
daerah yang terkena sanksi penundaan penyaluran DAU TA
2011 sebesar 25% disebabkan keterlambatan penyampaian
APDB sehingga tahun berikutnya diharapkan tidak ada lagi
daerah yang terlambat menyampaikan APBD. Pada Semester
I ke 19 daerah tersebut telah menyampaikan APBD dan sanksi
kepada daerah-daerah tersebut telah dicabut.
11) Persentase Monitoring Dan Evaluasi Rekomendasi BPK
Atas LKPP Yang Telah Ditindaklanjuti.
Rekomendasi BPK adalah rekomendasi yang dikeluarkan
oleh BPK atas temuan hasil audit LKPP yang harus
ditindaklanjuti oleh Pemerintah. Tindak lanjut atas
rekomendasi tersebut dikategorikan menjadi 3, yaitu:
(1) kategori I: ditindaklanjuti pada tahun anggaran yang
bersangkutan, (2) kategori II: ditindaklanjuti paling
lambat 1 tahun anggaran mendatang, dan (3) kategori
III: ditindaklanjuti paling lambat 2 tahun anggaran
mendatang. Tindak lanjut oleh Pemerintah tersebut perlu
dimonitoring perkembangan dan penyelesaiannya.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
115
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.72
Rata-rata Kepatuhan Penyampain Laporan Barang Pengguna (LBP)
No
Uraian
Batas Waktu
Jumlah K/L
Tepat Waktu
Lewat Waktu
%
24 Februari 2012
86 K/L
85 K/L
1 K/L (Kementerian
Kelautan dan Perikanan)
98,83%
1
LBP 2011 Unaudited
2
LBP 2011 Audited
7 Mei 2012
86 K/L
85 K/L
1 K/L (Badan
Pengembangan Wilayah
Surabaya Madura
98,83%
3
LBP Semester I 2012
26 Juli 2012
86 K/L
86 K/L
-
100%
Rata-rata
Laporan Monitoring dan evaluasi rekomendasi BPK atas LKPP
disusun setiap akhir bulan Maret, Juli, dan November. Pada
triwulan IV semua K/L (79 K/L) telah menyampaikan laporan
monitoring tindak lanjut terhadap temuan pemeriksaan BPK
atas LKKL. Berdasarkan LHP BPK, opini audit LKPP Tahun 2010
dan 2011 adalah Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Beberapa
temuan signifikan dalam LKPP yang berasal temuan pada LKKL
adalah:
a) Pendapatan hibah langsung yang belum seluruhnya
dilaporkan kepada BUN.
b) PNBP yang belum/terlambat disetor, digunakan langsung
dan di luar mekanisme APBN.
c) Sistem penyaluran, pencatatan, dan pelaporan realisasi
belanja bantuan sosial tidak menjamin pemberian bantuan
mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
d) Pengelompokan jenis belanja pada saat penganggaran
tidak sesuai dengan kegiatan yang dilakukan.
e) Aset Tetap belum seluruhnya dilakukan IP, masih berbeda
dengan laporan hasil IP, dan belum didukung dengan
pencatatan pengguna barang yang memadai.
f ) Realisasi belanja barang tidak dilaksanakan kegiatannya,
dibayar ganda, tidak sesuai bukti pertanggungjawaban,
dan tidak didukung bukti pertanggungjawaban.
Terhadap temuan-temuan tersebut, telah dilakukan upayaupaya sebagai berikut:
a) Pembentukan Tim Pembinaan Akuntansi Pemerintah
Pusat;
b)Dilakukan In House Training (IHT) kepada K/L terkait
dengan temuan BPK;
116
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
99,22%
c) Dilakukan penyempurnaan modul Pembinaan sistem
akuntansi.
Pada tahun 2013, langkah-langkah yang akan diambil (action
plan) dalam peningkatan capaian IKU ini adalah:
a) Menyurati K/L dan Pengguna Anggaran BUN untuk segera
menyampaikan laporan monitoring dan tindak lanjut
atas temuan pemeriksaan BPK atas LKKL dan LKBUN tepat
waktu sesuai PMK No. 116/PMK.05/2007;
b) Melakukan koordinasi dan pembahasan dengan pihak
terkait penyelesaian tindaklanjut atas temuan pemeriksaan
BPK atas LKKL dan LKBUN;
c) Penyelesaian dan penyampaian laporan monitoring
tindaklanjut atas temuan pemeriksaan BPK atas LKPP
kepada Menteri Keuangan;
d) Penyampaian laporan monitoring tindaklanjut atas
temuan pemeriksaan BPK atas LKPP oleh Menteri
Keuangan kepada Wakil Presiden.
12) Persentase Sanksi Administrasi atas Pelanggaran
Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Pasar Modal
yang Obyektif.
Sanksi administratif adalah jenis sanksi administratif
yang telah diatur dalam peraturan perundangundangan di bidang pasar modal yang kewenangan
penetapan sanksinya merupakan kewenangan
Kementerian Keuangan, baik yang bersifat atributif
maupun delegatif. Sanksi administratif atas pelanggaran
peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal
adalah sanksi administratif yang tidak menimbulkan
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
permasalahan hukum baru yang mencerminkan tidak
valid-nya penanganan sanksi. Sanksi yang objektif adalah
penetapan sanksi yang tidak diajukan keberatan sampai
dengan batas waktu pengajuan keberatan atau diajukan
keberatan tetapi tidak dikabulkan Kementerian Keuangan
pada periode tertentu. Jumlah sanksi yang ditetapkan
adalah banyaknya sanksi yang telah lewat batas waktu
pengajuan keberatannya dan sanksi yang keberatannya
sudah mendapat putusan pada periode tertentu.
Inpres Nomor 17 Tahun 2011 tentang Aksi Pencegahan dan
Pemberantasan Korupsi Tahun 2012 dan Inpres lain yang
terkait, yang harus dilaksanakan atau dihasilkan pada periode
tahun berjalan dan menjadi tanggung jawab langsung
Kemenkeu.
Pelaksanaan aksi serta monitoring dan evaluasi keluaran Inpres
dilaksanakan oleh unit eselon I yang memiliki tugas, fungsi,
dan kewenangan terkait atau unit yang ditunjuk langsung
oleh Menteri Keuangan. Inpres dinyatakan telah selesai
ditindaklanjuti apabila “ukuran keberhasilan target antara
aksi” dalam Inpres telah dilaksanakan. Target antara aksi dalam
Inpres adalah target turunan dalam triwulanan yang ditetapkan
oleh APIP untuk mencapai keluaran dan target penyelesaian
sebagaimana ditetapkan dalam Inpres.
Sepanjang tahun 2012, tidak terdapat keberatan atas sanksi
yang diterbitkan. Dengan kata lain semua sanksi yang
diterbitkan dinilai cukup obyektif. Sehingga dari target sebesar
97%, IKU ini terealisasi sebesar 100% dengan nilai capaian
103,09%.
Dari 13 (tiga belas) rencana aksi pencegahan dan
pemberantasan korupsi berdasarkan Inpres Nomor 17 Tahun
2011 yang menjadi tanggung jawab Kementerian Keuangan,
dengan target-target yang sebagian besar diukur secara
triwulanan, dinyatakan telah selesai ditindaklanjuti oleh
seluruh UIC pada tahun 2012 dengan indeks ketepatan waktu
keseluruhan sebesar 83,62%. Adapun, rincian indeks ketepatan
waktu penyelesaian tindak lanjut Instruksi Presiden per UIC,
adalah sebagaimana tabel 3.73
b. Indeks Ketepatan Waktu Penyelesaian Tindak
Lanjut Instruksi Presiden (KK-12.2).
Monitoring, evaluasi, kepatuhan dan penegakan hukum
di lingkungan Kemenkeu dilakukan dengan mengawasi,
mengamati, mengecek dengan cermat, memantau pekerjaan
maupun laporan agar pekerjaan yang dilakukan sesuai
dengan ketentuan/peraturan yang berlaku. Salah satu
indikator pengawasan dan penegakan hukum yang efektif
adalah ditindaklanjutinya Instruksi Presiden (Inpres), terutama
Tabel 3.73
Ketepatan Waktu Penyelesaian Tindak Lanjut Instruksi Presiden Tahun 2012
Unit
TW I
TW II
TW III
TW IV
Rata-Rata
%Capain
DJP
82,20
86,93
84,93
83,67
84,43
105,54%
DJBC
79,50
92,17
80,17
84,00
83,96
104,95%
DJPB
90,00
76,67
90,00
80,67
84,33
105,42%
BKF
100,00
73,33
100,00
80,00
88,33
110,42%
DJA
86,67
77,33
80,00
78,00
80,50
100,63%
DJPK
80,00
80,00
80,00
80,67
80,17
100,21%
SETJEN
80,33
80,00
83,00
81,33
81,17
101,46%
ITJEN
84,03
85,72
83,03
81,72
83,62
104,53%
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
117
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
APIP melaksanakan pemantauan penyelesaian tindak lanjut
Inpres Nomor 17 Tahun 2011 yang dilaksanakan oleh seluruh
unit Eselon I yang menjadi UIC selama tahun 2012. Seluruh aksi
dalam Instruksi Presiden No 17 Tahun 2011 periode pelaporan
B12 yang dilakukan seluruh UIC tersebut telah dilaporkan APIP
dan telah diverifikasi oleh UKP4. Oleh karena itu, capaian indeks
ketepatan waktu penyelesaian tindak lanjut Instruksi Presiden
oleh Itjen selaku APIP sebesar 83,62% menunjukkan capaian
indeks ketepatan waktu penyelesaian tindak lanjut Instruksi
Presiden oleh seluruh UIC Kementerian Keuangan selama tahun
2012.
Capaian ini telah memenuhi atau bahkan melebihi target
sebesar 80%. Hal ini menunjukkan aksi pencegahan
dan pemberantasan korupsi yang telah ditetapkan dan
diamanatkan untuk dilaksanakan Kemenkeu telah terealisasi
secara efektif di tahun 2012. Beberepa target rencana aksi
dalam Inpres Nomor 17 Tahun 2011 yang telah ditindaklanjuti
Kementerian Keuangan, sebagai berikut:
1) Tersedianya laporan pertukaran data antara Ditjen Pajak
dengan PPATK;
2) Diselesaikannya 60 % Kasus Pengaduan yang masuk dan
merupakan tanggung jawab Ditjen Pajak;
3) Beroperasinya infrastruktur dan sistem informasi
pendukung pelaksanaan whistleblowing system; serta
4) publikasi realisasi APBN oleh Ditjen Perbendaharaan.
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
triwulan I s.d. IV, dibandingkan dengan target persentase
penyerapan anggaran DIPA K/L pada masing-masing triwulan
I s.d IV.
Kondisi existing sampai dengan tahun 2012, persentase
ketepatan pola penarikan dana DIPA K/L adalah persentase
realisasi dana DIPA K/L, dibandingkan dengan target
persentase penyerapan anggaran DIPA K/L. Tujuan dari
pengukuran IKU ini adalah untuk mengetahui ketepatan
pola penyerapan dana DIPA K/L pada suatu periode tertentu
(triwulanan). Capaian IKU ini pada Tahun 2011 adalah sebesar
96,17%. Sedangkan untuk tahun 2012, dengan target capaian
80%, sampai dengan tanggal 30 Januari 2013 capaian IKU
ini sebesar 98,01%, dengan catatan bahwa capaian realisasi
tersebut belum bersifat final karena masih adanya dispensasi
dan penyelesaian SPM/SP2D GU-Nihil yang belum terekam
datanya.
Realisasi penyerapan anggaran K/L triwulan IV sebesar 85,61%
dibandingkan dengan target realisasi DIPA pada triwulan III
sebesar 90% adalah sebesar 95,12%. Sampai dengan triwulan
IV tahun 2012 maka ketepatan pola penarikan dana DIPA K/L
adalah sebesar 83,73%.
Penyerapan Dana APBN dapat tergambarkan sebagaimana
grafik 3.8
c. Persentase ketepatan pola penarikan dana DIPA
K/L (KK-12.3).
13.Sasaran Strategis 13: Pembentukan SDM yang
Berkompetensi Tinggi (KK-13).
Persentase ketepatan pola penarikan dana DIPA K/L adalah
persentase realisasi dana DIPA K/L pada masing-masing
Pembentukan SDM adalah upaya untuk menyiapkan SDM yang
berkompetensi tinggi untuk kepentingan jangka panjang.
Tabel 3.74
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Pembentukan SDM yang Berkompetensi Tinggi
KK 13. Pembentukan SDM yang berkompetensi tinggi
118
No.
Indikator Kinerja
Target
Realisasi
%
1.
Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya
82,50%
85,90%
104,12%
2.
Persentase diklat yang berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi
85%
100%
117,65%
3.
Rasio jam pelatihan dibandingkan jam kerja
2,5000%
3,1996%
120,00%
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
100.00%
90.00%
85.57%
80.00%
66.56%
80.00%
Target
Realisasi
Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi
jabatannya sebagaimana tampak pada tabel 3.75
70.00%
57.80%
60.00%
51.58%
55.00%
44.97%
60.00%
45.00%
37.91%
40.00%
30.71%
40.00%
Target dapat dicapai antara lain karena dilakukannya analisa
atas usulan peserta yang mengikuti assesment atau reassesment
dengan memperhatikan pula pemenuhan persyaratan nilai
minimal JPM pada setiap jabatan.
30.00%
22.81%
25.00%
16.89%
15.00%
10.61%
20.00%
0.00%
2.13%
2.00%
Jan
5.00%
4.79%
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Keuangan dibagi dengan jumlah pejabat eselon II dan III yang
telah mengikuti assesment.
Agt
Sep
Okt
Nop
Des
Grafik 3.8.
Penyerapan Dana APBN TA 2012
Dalam pencapaian sasaran strategis ini, Kementerian Keuangan
mengidentifikasikan 3 (tiga) Indikator Kinerja Utama (IKU)
sebagaimana tabel 3.74
Uraian mengenai ketiga IKU tersebut adalah sebagai berikut:
a. Persentase Pejabat yang Telah Memenuhi Standar
Kompetensi Jabatannya (KK-13.1).
IKU ini mengukur persentase pejabat di lingkungan
Kementerian Keuangan yang mempunyai kompetensi sesuai
dengan Standar Kompetensi Jabatannya (SKJ). Angka yang
dijadikan dasar perhitungan adalah nilai Job Person Match (JPM)
seluruh pejabat eselon II dan III di lingkungan Kementerian
b. Persentase Diklat yang Berkontribusi Terhadap
Peningkatan Kompetensi (KK-13.2).
Program pendidikan dan pelatihan adalah program diklat
berbasis kompetensi yang memiliki kurikulum sesuai dengan
tuntutan pemenuhan standar kompetensi jabatan, baik
berupa hard competency maupun soft competency pada
periode tertentu. Program pendidikan dan pelatihan yang
berkontribusi pada peningkatan kinerja adalah program
pendidikan dan pelatihan untuk Kementerian Keuangan yang
dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan
kinerja pegawai.
Melalui kegiatan Evaluasi Pascadiklat, dapat dinilai apakah
suatu program diklat memberikan kontribusi terhadap
peningkatan kompetensi pegawai peserta diklat. Data
diperoleh dari hasil kuesioner yang disampaikan kepada
pengguna pada periode tertentu. Program diklat berkontribusi
terhadap peningkatan kinerja apabila 70% dari kuesioner
yang dikembalikan ke Kementerian Keuangan dinyatakan
berkontribusi.
Tabel 3.75
Persentase Pejabat yang Telah Memenuhi Standar Kompetensi Jabatannya
Eselon
Jumlah
(orang)
Sudah mengikuti
assesment (orang)
Sesuai sesuai dengan SKJ
(orang)
Persentase (%)
II
217
216
189
87,50
III
1.663
1.529
1.310
85,67
Jumlah
1.880
1.745
1.499
85,90
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
119
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Tabel 3.76
Program-program Diklat yang Berkontribusi Terhadap Peningkatan Kompetensi
NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
120
UNIT
Pusdiklat Pengembangan Sumber Daya
Manusia
Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
Pusdiklat Pajak
Pusdiklat Bea dan Cukai
Pusdiklat Kekayaan Negara dan
Perimbangan Keuangan
Pusdiklat Keuangan Umum
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
NAMA DIKLAT
Diklat Berbasis Kompetensi IV
1.
DTSD Tk II Perbendaharaan
2.
DTSD Tk II DJA
3.
DTSS Penguji Tagihan
4.
DTSS Pejabat Pembuat Komitmen
5.
DTSS Pengelolaan Keuangan Satuan Kerja Pemerintah Pusat (SKPP)
1.
Diklat Account Representative,
2.
DTSD I Spesialisasi Administrasi Pemerintahan,
3.
DTSD I Spesialisasi Akuntansi Pemerintahan dan Penilai (PBB)
1.
DTSS Audit Forensik;
2.
DTSS Pemeriksaan Sarana Pengangkut Udara;
3.
DTSS Post Clearance Audit;
4.
DTSS Keterampilan Penggunaan X-Ray Cabin dan Cargo;
5.
DTSS Keterampilan Penggunaan HICO Scan Inspection System;
6.
DTSS Keterampilan Penggunaan Gamma Ray Container Scanner
7.
DF Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen
1.
DTSS Pengelolaan PBB P2 dan BPHTB,
2.
DTSS Analisis Perekonomian Daerah Tingkat Dasar,
3.
DTSS Penilaian Properti Dasar,
4.
DTSS Supervisor TIK DJKN Tingkat Pemula,
5.
DTSS Manajemen Aset,
6.
DTSS Pengelolaan BMN dan
7.
DTSS Pemeriksa Piutang Negara Dasar
1.
DTU Effective Report Writing
2.
DTU Pemeriksaan Pelanggaran Disiplin Pegawai
3.
DTU Sekretaris Pimpinan.
4.
DTU Tata Naskah Dinas
5.
DTU Legal Drafting
6.
DTU Kearsipan Dinamis
7.
DTU Ms. Excel Powerpoint.
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Pada tahun 2012, tiga puluh program diklat telah dilakukan
evaluasi pascadiklat dan seluruhnya dinyatakan berkontribusi
terhadap peningkatan kompetensi. Sehingga dari target
85%, realisasi IKU ini adalah 100% dengan nilai capaian
sebesar Adapun program-program diklat yang dinyatakan
berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi adalah
sebagaimana tabel 3.76
c. Rasio Jam Pelatihan Dibandingkan Jam Kerja (KK13.3).
Sebagai salah satu organisasi modern, Kementerian Keuangan
senantiasa meningkatkan kompetensi pegawai-pegawainya.
Pengembangan kompetensi tersebut dilaksanakan secara
terus-menerus, baik melalui program-program pendidikan
formal, maupun secara non-formal.
IKU rasio jam pelatihan dibandingkan jam kerja menghitung
perbandingan antara jam pelatihan yang diikuti pegawai
Kementerian Keuangan dibandingkan jam kerja. Jam pelatihan
(jamlat) adalah seluruh jam pelatihan yang diikuti oleh SDM
Kementerian Keuangan dari diklat yang diselenggarakan. Diklat
adalah seluruh kegiatan pelatihan yang dibiayai dengan DIPA
Kementerian Keuangan, selain Pascasarjana, Diploma, Ujian
Dinas, Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat dan Sertifikasi.
Untuk tahun 2012, target atas IKU ini ditetapkan sebesar 2,5%
dari total jam kerja di Kementerian Keuangan.
Dengan jumlah Potential Trainees Kementerian Keuangan
sebanyak 55.349 pegawai, realisasi atas IKU ini berhasil
melebihi target dengan capaian persentase jam pelatihan
pegawai terhadap jam kerja Kementerian Keuangan sebesar
3,1996%. Dengan kapasitas Pusdiklat dan Balai Diklat Keuangan
yang pada tahun 2012 mencapai 938 diklat dan mendidik
40.084 peserta diklat, diharapkan Kementerian Keuangan
selalu memiliki garda depan penjaga keuangan negara dengan
kompetensi yang terbaik.
14.Sasaran Strategis 14: Penataan Organisasi
yang Adaptif (KK-14).
Penataan organisasi yang adaptif adalah pembentukan/
penataan organisasi baik tingkat pusat, instansi vertikal
maupun unit pelaksana teknis, sesuai dengan perkembangan
kebutuhan pelaksanaan tugas dan tuntutan masyarakat. Dalam
pencapaian sasaran strategis ini, Kementerian Keuangan
mengidentifikasikan 4 (empat) Indikator Kinerja Utama (IKU)
lihat tabel 3.77
Uraian mengenai keempat IKU tersebut adalah sebagai berikut:
a. Persentase Mitigasi Risiko yang Selesai Dijalankan
(KK-14.1).
Risiko adalah segala sesuatu yang berdampak negatif terhadap
pencapaian tujuan yang diukur berdasarkan kemungkinan
dan dampaknya. Manajemen risiko adalah suatu pendekatan
terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian
yang berkaitan dengan ancaman terjadinya hambatan dalam
pencapaian tujuan bahkan kerugian. Mitigasi merupakan
tindakan untuk menghilangkan potensi bahaya atau
mengurangi probabilitas tingkat risiko.
Mitigasi risiko dinyatakan selesai jika:
Semester I:
apabila rencana seluruh tahapan kegiatan mitigasi suatu risiko
sudah selesai dilaksanakan yang dibuktikan dengan laporan
manajemen risiko sebagaimana diatur dalam PMK Nomor 191/
PMK.09/2008.
Semester II:
Jumlah persentase mitigasi risiko yang selesai dijalankan pada
unit-unit Eselon I dibandingkan dengan jumlah unit eselon I.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
121
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.77
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Penataan Organisasi yang Adaptif
KK 14. Penataan organisasi yang adaptif
No.
Indikator Kinerja
Realisasi
%
70%
93,23%
120,00%
1.
Persentase mitigasi risiko yang selesai dijalankan
2.
Indeks reformasi birokrasi
92
93,53
101,66%
3.
Indeks kepuasan pegawai
3,04
3,39
111,45%
4.
Persentase policy recommendation hasil pengawasan yang
ditindaklanjuti
85%
92,86%
109,25%
Realisasi atas target IKU ini dirinci dalam tabel 3.78.
b. Indeks Reformasi Birokrasi (KK-14.2).
Dalam rangka menata organisasi Kementerian Keuangan
agar selalu adaptif, sesuai dengan perkembangan kebutuhan
pelaksanaan tugas dan tuntutan masyarakat, perlu
dilaksanakan pengukuran sampai sejauh mana reformasi
birokrasi Kementerian Keuangan yang sedang berjalan ini telah
sesuai dengan harapan masyarakat. Untuk merealisasikan hal
ini, digunakan tool indeks reformasi birokrasi Kementerian
Keuangan melalui pelaksanaan quality assurance oleh Itjen
selaku APIP terhadap pelaksanaan reformasi birokrasi pada 12
unit Eselon I Kementerian Keuangan.
Indeks reformasi birokrasi adalah skor yang dihasilkan dari
penilaian atas pelaksanaan program-program reformasi
birokrasi di lingkungan Kementerian Keuangan. Pendekatan
quality assurance yang digunakan adalah dengan mengukur
delapan kriteria yang terdapat dalam Peraturan Presiden
Nomor: 81 tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi
Birokrasi 2010 – 2025 dan Peraturan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Nomor: 20 Tahun 2010 tentang Road Map Reformasi Birokrasi
2010 – 2014. Kriteria tersebut meliputi: Pola Pikir dan Budaya
Kerja, Penataan Peraturan Perundang-undangan, Penataan
dan Penguatan Organisasi, Penataan Tatalaksana, Penataan
Sistem SDM Aparatur, Penguatan Pengawasan, Penguatan
Akuntabilitas Kinerja, Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik.
122
Target
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Melalui teknik pengumpulan data berupa: reviu dokumen,
observasi, kuesioner, dan wawancara, hasil pengukuran quality
assurance reformasi birokrasi di 12 unit Eselon I Kementerian
Keuangan selama tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks
reformasi birokrasi Kementerian Keuangan adalah 93,54
(predikat: sangat baik) dari target 92. Dengan kata lain tingkat
capaian atas indikator indeks reformasi birokrasi adalah
101,67%. Skor Indeks Kementerian Keuangan merupakan ratarata skor indeks semua unit Eselon I. Rincian bobot dan skor
indeks untuk setiap fokus area penilaian reformasi birokrasi
Kementerian Keuangan, sebagaimana tampak pada tabel 3.79
Dengan capaian ini, menunjukkan reformasi birokrasi yang
telah dan sedang dilaksanakan Kementerian Keuangan telah
berjalan dengan baik dan relatif telah sesuai dengan apa yang
diharapkan. Adapun, Indeks reformasi birokrasi per unit Eselon
I Kementerian Keuangan, sebagaimana tabel 3.80
Berdasarkan hasil quality assurance sampai akhir tahun 2012,
diketahui 11 unit eselon I mendapatkan indeks reformasi
birokrasi melebihi target 92 dengan predikat “sangat baik”.
Untuk Badan Kebijakan Fiskal (BKF) masih belum mencapai
target IKU dimaksud, namun progress nilainya menunjukkan
tren yang meningkat. Terhadap BKF, telah disampaikan
beberapa rekomendasi perbaikan untuk meningkatkan indeks
reformasi birokrasinya.
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.78
Capaian Penyelesaian Mitigasi Risiko
No.
Unit eselon I
Target
Realisasi
Capaian
1.
Sekretariat Jenderal
70%
93,9%
120%
2.
Ditjen Anggaran
70%
92,9%
120%
3.
Ditjen Pajak
70%
125%
120%
4.
Ditjen Bea dan Cukai
70%
94,38%
120%
5.
Ditjen Perbendaharaan
70%
99,73%
120%
6.
Ditjen Kekayaan Negara
70%
87,98%
120%
7.
Ditjen Perimbangan Keuangan
70%
96,10%
120%
8.
Ditjen Pengelolaan Utang
70%
100%
120%
9.
Inspektorat jenderal
70%
90,37%
120%
10.
Bapepam-LK
70%
88,08%
120%
11.
BKF
70%
98%
120%
12.
BPPK
70%
87,36%
120%
Tabel 3.79
Hasil Penilaian Reformasi Birokrasi Kemenkeu TA 2012
Fokus Area/Kriteria Penilaian
No
Reformasi Birokrasi
Bobot
(%)
Skor Indeks Reformasi
Birokrasi Kementerian
Keuangan
1
Pola Pikir dan Budaya Kerja
10
8,53
2
Penataan Peraturan Perundang-undangan
10
9,90
3
Penataan dan Penguatan Organisasi
10
9,83
4
Penataan Tatalaksana
10
9,87
5
Penataan Sistem SDM Aparatur
20
19,54
6
Penguatan Pengawasan
10
9,40
7
Penguatan Akuntabilitas Kinerja
10
8,78
8
Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
20
17,69
100
93,54
Jumlah
PREDIKAT
Sangat Baik
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
123
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.80
Capaian Indeks Reformasi Birokrasi Eselon I TA 2012
No
Unit
Indeks
Predikat
No
Unit
Indeks
Predikat
1
Setjen
93,83
Sangat Baik
7
DJBC
93,60
Sangat Baik
2
Itjen
92,53
Sangat Baik
8
DJA
93,56
Sangat Baik
3
BPPK
93,68
Sangat Baik
9
DJPK
97,89
Sangat Baik
4
BKF
88,64
Baik
10
DJPB
94,07
Sangat Baik
5
Bapepam-LK
92,32
Sangat Baik
11
DJKN
92,14
Sangat Baik
6
DJP
93,83
Sangat Baik
12
DJPU
96,72
Sangat Baik
Tabel 3.81
Capaian Indeks Kepuasan Pegawai
No.
124
Unit eselon I
Target
Realisasi
Capaian
1.
Sekretariat Jenderal
3
3,18
106,00
2.
Ditjen Anggaran
3
3,13
104,33
3.
Ditjen Pajak
3
3,32
110,67
4.
Ditjen Bea dan Cukai
3
3,53
117,67
5.
Ditjen Perbendaharaan
3
3,42
114,00
6.
Ditjen Kekayaan Negara
3
3,52
117,33
7.
Ditjen Perimbangan Keuangan
3
3,25
108,33
8.
Ditjen Pengelolaan Utang
3
3,19
106,33
9.
Inspektorat jenderal
3
3,38
112,67
10.
Bapepam-LK
3
3,44
114,67
11.
BKF
3,5
3,21
91,71
12.
BPPK
3
3,33
111,00
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
c.
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Indeks Kepuasan Pegawai (KK-14.3).
Indeks Kepuasan pegawai adalah rata-rata tingkat kepuasan
pegawai Kementerian Keuangan terhadap organisasi dan
kepegawaian yang diukur melalui survei oleh masing-masing
unit eselon I. Adapun variabel yang akan diukur dalam survei
antara lain: faktor fisik, psikologis, interaksi sosial, dan finansial.
Skala Pengukuran menggunakan skala 1-5
1) 5 = Sangat Puas
2) 4 = Puas
3) 3 = Cukup Puas
4) 2 = Tidak Puas
5) 1 = sangat Tidak Puas
berupa usulan rancangan pmk, rancangan surat edaran, dan
sebagainya, yang dapat mengatasi permasalahan utama unitunit di lingkungan Kemenkeu.
Dari berbagai kegiatan Tema Pengawasan Unggulan terhadap
unit-unit Eselon I selama tahun 2011, telah dihasilkan 42
(empat puluh dua) policy recommendation sebagai alternatif
solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi
Unit-unit Eselon I, berupa usulan draf revisi PMK; usulan draf
revisi KMK; Rancangan PMK; Rancangan KMK; Usulan Draft
SOP; Usulan Surat Edaran, Usulan Kebijakan, serta Usulan
perbaikan lainnya. Tahun sebelumnya (2010), jumlah policy
recommendation yang dihasilkan sebanyak 39 (tiga puluh
sembilan).
Realisasi atas target IKU ini dirinci dalam tabel 3.81
d.Persentase Policy Recommendation Hasil Pengawasan
yang Ditindaklanjuti (KK-14.4).
Reformasi pengawasan APIP ditandai antara lain dengan
modernisasi internal audit berupa reorientasi pengawasan
yang dilakukan dengan mengacu pada standar internal audit
internasional dan Sistem Pengengendalian Intern Pemerintah
(SPIP) baik untuk kegiatan assurance maupun konsultasi.
Reorientasi pengawasan ditandai dengan perubahan
proses bisnis yang mengedepankan pendekatan risk based
audit. Output akhir dari setiap penugasan pengawasan
bukan lagi berupa sekedar jumlah temuan. Namun, lebih
dari itu, pengawasan diharuskan memberikan sejumlah
policy recommendation berupa solusi alternatif antara lain
Namun, jumlah policy recommendation belumlah menunjukkan
efektivitas pengawasan yang dilakukan. Oleh karena itu, mulai
tahun 2012 dilakukan monitoring tindak lanjut oleh Eselon I
atas pelaksanaan usulan strategis yang tertuang dalam policy
recommendation hasil pengawasan tahun sebelumnya, untuk
mengukur tingkat efektivitas pengawasan. Keberhasilan
pencapaian policy recommendation diukur dari pencapaian
100% terhadap output yang ditetapkan pada tahun.
Hasil monitoring selama tahun 2012, diketahui pada
seluruh Unit Eselon I, telah ditindaklanjuti 39 dari 42 policy
recommendation tahun 2011, sehingga persentase policy
recommendation hasil pengawasan yang ditindaklanjuti telah
mencapai 92,86%. Capaian ini telah memenuhi atau bahkan
melebihi target tahun 2012 sebesar 85%. Rekapitulasi tindak
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
125
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Tabel 3.82
Tindak Lanjut Policy Recommendations TA 2012
No
Unit
Q1
Q2
Q3
Q4
Jumlah
Telah ditindak
lanjuti pada
tahun 2012
Persentase
ditindak lanjuti
1
SETJEN
4
-
-
-
4
4
100%
2
DJA
2
1
-
1
4
4
100%
3
DJP
1
-
-
3
4
4
100%
4
DJBC
4
2
1
1
8
6
75%
5
DJPB
8
-
-
1
9
8
88,89%
6
DJKN
-
-
-
3
3
3
100%
7
DJPK
2
-
-
-
2
2
100%
8
DJPU
2
-
-
-
2
2
100%
9
ITJEN
2
-
-
-
2
2
100%
10
BAPEPAM-LK
2
-
-
-
2
2
100%
11
BKF
-
-
-
1
1
1
100%
12
BPPK
-
1
-
-
1
1
100%
27
4
1
10
42
39
92,86%
TOTAL
126
Target
lanjut policy recommendations oleh masing-masing unit Eselon I
selama tahun 2012, dirinci dalam tabel 3.82.
15.Sasaran Strategis 15: Perwujudan TIK yang
Terintegrasi (KK-15).
Capaian ini menunjukkan bahwa secara umum hasil
pengawasan selama tahun 2011 telah secara efektif
dilaksanakan oleh Eselon I Kementerian Keuangan. Tindak
lanjut policy recommendation ini akan terus dipantau untuk
mengukur efektivitas pengawasan yang dilakukan Itjen.
Adapun, jumlah policy recommendation yang telah dihasilkan
dan disampaikan ke unit-unit Eselon I dari pelaksanaan Tema
Pengawasan Unggulan selama tahun 2012 adalah sebanyak 53
policy recommendations, yang akan dimonitor tindak lanjutnya
di tahun 2013 mendatang.
Integrasi TIK adalah penyatuan berbagai sistem TIK ke dalam
satu sistem DC (Data Center)- DRC (Data Recovery Center).
TIK yang andal adalah TIK yang mampu mengelola data dan
informasi yang memenuhi kriteria lengkap, akurat, mutakhir,
dan terpercaya. Dalam pencapaian sasaran strategis ini,
Kementerian Keuangan mengidentifikasikan 2 (dua) Indikator
Kinerja Utama (IKU) sebagaimana tabel 3.83
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.83
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Perwujudan TIK yang Terintegrasi
KK 15. Perwujudan TIK yang terintegrasi
No.
Indikator Kinerja
Target
Realisasi
%
1.
Persentase integrasi TIK Kementerian Keuangan
60%
53,78%
89,63%
2.
Persentase akurasi data SIMPEG
100%
99,98%
99,98%
Uraian mengenai kedua IKU tersebut tampak berikut ini.
a. Persentase Integrasi Tik Kementerian Keuangan
(KK-15.1).
IKU ini dilaksanakan sejak tahun 2011 yang bertujuan untuk
memonitor proses integrasi TIK di Kemenkeu sesuai blueprint
TIK. Realisasi pencapaian target IKU pada tahun 2012 yaitu
53,78% dari target 60%. Adapun rincian pencapaian kinerja
tersebut antara lain:
1) Pelaksanaan perencanaan DRC Kementerian Keuangan di
Balikpapan tercapai 1%.
Pelaksanaan perencanaan DRC Kemenkeu di Balikpapan
telah selesai dilaksanakan dengan output desain DRC
Kementerian Keuangan yang dituangkan dalam KAK
Pengadaan Pelaksana Pembangunan DRC Kemenkeu;
2) Proses pengadaan pelaksana pembangunan DRC
Kementerian Keuangan di Balikpapan tercapai 0,5%.
Proses pengadaan pelaksana pembangunan DRC
Kementerian Keuangan di Balikpapan sudah selesai
dilaksanakan pada bulan September 2012. Sebagai
Pemegang Kontrak adalah PT Pembangunan Perumahan
(Persero) Tbk;
3) Pelaksanaan manajemen konstruksi DRC Kementerian
Keuangan di Balikpapan tercapai 1,17% dari target 1,5%.
Konsultan manajemen konstruksi sedang melakukan
pendampingan dan pengawasan pekerjaan konstruksi;
4) Pelaksanaan pembangunan DRC Kementerian Keuangan di
Balikpapan tercapai 3.11% dari target 4%.
Hingga tanggal 31 Desember 2012, pekerjaan
pembangunan DRC Kementerian Keuangan di Balikpapan
yang telah dilaksanakan adalah 77.68%, dengan rincian
sebagai berikut:
a) pekerjaan listrik utama belum dilakukan test commissioning
karena belum tersedianya tanki solar 20.000 liter, solar
20.000 liter, dan penyambungan listrik sebesar 2770 KVA
oleh PLN setempat;
b) pekerjaan tata suara, MATV, BAS, telepon, penangkal petir,
air bersih, air kotor, dan rak server yang belum tersedia;
c) pekerjaan peringatan kebakaran, CCTV, video wall, access
control, fire supression, dan tata udara belum terpasang dan
dilakukan test commissioning;
d) pekerjaan sipil, arsitektur dan landscape yang belum
terselesaikan;
e) pekerjaan penyambungan daya listrik belum dilaksanakan.
Beberapa hambatan yang ditemui dalam pencapaian kinerja,
antara lain:
1) penyiapan SDM TIK Kementerian Keuangan (jasa
konsultansi gap analysis SDM TIK), target 2%. Proses
pengadaan Penyiapan SDM TIK Kementerian Keuangan
(jasa konsultansi gap analysis SDM TIK) telah dilaksanaan
oleh ULP dengan hasil gagal lelang;
2) penyusunan strategi konsolidasi infrastruktur TIK DRC
Kementerian Keuangan, target 1%. Proses pengadaan
strategi konsolidasi infrastruktur TIK DRC Kementerian
Keuangan telah dilaksanaan oleh ULP dengan hasil gagal
lelang.
Untuk mengatasi hambatan di atas, akan dilakukan:
1) pelaksanaan konsultansi penyiapan SDM TIK Kementerian
Keuangan akan dilaksanakan pada tahun 2013;
2) penyusunan strategi konsolidasi infrastruktur TIK DRC
akan disatukan dalam satu kontrak dengan pelaksanaan
konsolidasi infrastruktur TIK DRC. Kontrak akan
dilaksanakan pada tahun 2013;
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
127
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
3) pelaksanaan manajemen konstruksi dan pembangunan
DRC Kementerian Keuangan akan dilaksanakan hingga 31
Januari 2013.
minimal sebanyak 3% dari seluruh pegawai. Sedangkan, jumlah
sampel pada unit Eselon I yang tidak memiliki kantor vertikal
adalah minimal sebanyak 5% dari seluruh pegawai.
b. Persentase Akurasi Data Simpeg (KK-15.2).
Realisasi atas target IKU ini dirinci dalam tabel 3.84
SIMPEG merupakan aplikasi kepegawaian yang berfungsi untuk
menyimpan data pribadi atau data kepegawaian di lingkungan
Kementerian Keuangan. Yang dimaksud dengan akurasi data
adalah kelengkapan dan kebenaran komponen data pegawai
yang terdapat pada aplikasi meliputi Nama Lengkap, Nomor
Induk Pegawai, Pangkat(golongan/Ruang), Tempat Tanggal
Lahir, dan Jabatan (dirinci sampai unit terendah). Jika salah
satu komponen data seorang pegawai tidak lengkap atau tidak
benar, maka data tersebut dinyatakan tidak akurat.
16.Sasaran Strategis 16: Pengelolaan Anggaran
yang Optimal (KK-16).
Pengukuran akurasi dilakukan oleh unit yang ditunjuk pada
masing-masing unit Eselon I dengan mempertimbangkan
independensi dan terhindar dari konflik kepentingan. Jumlah
sampel pada unit Eselon I yang memiliki kantor vertikal adalah
Salah satu pengelolaan sumber daya organisasi adalah dana.
Dana yang tersedia dalam dokumen pelaksanaan anggaran,
harus dikelola dengan optimal sesuai rencana yang telah
ditetapkan dan dapat dipertanggungjawabkan. Dokumen
yang dipakai dalam pengelolaan dana adalah DIPA. DIPA
merupakan dokumen pelaksanaan anggaran yang sesuai
ketentuan menjadi dasar pengelolaan belanja negara. Dalam
pencapaian sasaran strategis ini Kementerian Keuangan
mengidentifikasikan 1 (satu) Indikator Kinerja Utama (IKU)
sebagaimana tabel 3.85.
Tabel 3.84
Capaian Akurasi Data SIMPEG
No.
128
Unit eselon I
Target
Realisasi
Capaian
1.
Sekretariat Jenderal
100%
100%
100%
2.
Ditjen Anggaran
100%
100%
100%
3.
Ditjen Pajak
100%
100%
100%
4.
Ditjen Bea dan Cukai
100%
99,75%
99,75%
5.
Ditjen Perbendaharaan
100%
100%
100%
6.
Ditjen Kekayaan Negara
100%
100%
100%
7.
Ditjen Perimbangan Keuangan
100%
100%
100%
8.
Ditjen Pengelolaan Utang
100%
100%
100%
9.
Inspektorat jenderal
100%
100%
100%
10.
Bapepam-LK
100%
N/A
N/A
11.
BKF
100%
100%
100%
12.
BPPK
100%
100%
100%
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Tabel 3.85
Capaian IKU Pada Sasaran Strategis Pengelolaan Anggaran yang Optimal
KK 16. Pengelolaan anggaran yang optimal
Indikator Kinerja
Persentase Penyerapan DIPA Kementerian Keuangan
Berdasarkan data Sistem Akuntasi Instansi (SAI) yang diperoleh
per 20 Februari 2012, realisasi penyerapan DIPA Kementerian
Keuangan tahun anggaran 2012 untuk belanja barang (52)
dan belanja modal (53) mencapai 85,66%, sehingga belum
mencapai target yang ditetapkan yakni 95%. Beberapa
kendala yang menyebabkan tidak tercapainya IKU Persentase
Penyerapan DIPA Kementerian Keuangan (non belanja
pegawai) antara lain:
a. Kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) pada satker yang
belum memiliki sertifikat pengadaan barang dan jasa,
sehingga menghambat proses pengadaan;
b. Terdapat anggaran yang masih diblokir pagunya karena
belum lengkapnya dokumen pendukung atau persyaratan;
c. Adanya gagal lelang dan kendala dalam proses pengadaan
barang dan jasa, diantaranya karena adanya sanggahan
banding yang menyebabkan lelang ulang;
d. Terhambatnya pelaksanaan pembangunan dan renovasi
gedung karena kendala persetujuan teknis dari pihak
eksternal, seperti persyaratan clearence dan penghapusan
BMN;
e. Adanya kebijakan penghematan anggaran pada tahun
pelaksanaan anggaran; dan
f. Adanya perubahan struktur organisasi pada Kementerian
Keuangan (Bapepam-LK menjadi OJK).
Pada tahun 2012 terdapat anggaran belanja barang dan
belanja modal pada Kementerian Keuangan yang tidak dapat
digunakan yang totalnya mencapai Rp.417,47miliar. Adapun
rinciannya adalah sebagai berikut :
a. Penyaluran beasiswa BLU LPDP tidak dapat direalisasikan
pada tahun anggaran 2012 karena karena belum ada
persetujuan dari Dewan Penyantun Total pagu yang tidak
Target
Realisasi
95%
85,66%
%
90,17%
dapat diserap terkait hal ini mencapai Rp.242,3miliar. Atas
hal tersebut telah diusulkan revisi anggaran ke Ditjen
Anggaran namun tidak disetujui karena belum diatur
mekanisme pengembalian dari BA K/L ke BA BUN.
b. Anggaran PNBP STAN yang tidak terealisasikan karena
tidak ada penerimaan mahasiswa baru STAN pada tahun
2012. Nilai anggaran yang tidak terserap mencapai
Rp.15,30miliar. Atas hal tersebut telah diusulkan revisi
anggaran ke Ditjen Anggaran namun tidak disetujui
karena Nota Keuangan RAPBN-P tahun anggaran 2012
telah disampaikan ke pimpinan DPR RI.
c. Anggaran untuk persiapan OJK yang tidak direalisasikan
karena telah didanai dari dana hibah (grant) untuk
pendanaan konsultan penyusunan struktur organisasi OJK
dan Infrastruktur OJK serta adanya sisa pagu anggaran gaji
dan tunjangan Dewan Komisioner OJK yang diperkirakan
tidak akan digunakan lagi senilai Rp.159,86miliar. Atas
hal tersebut telah diusulkan revisi anggaran ke Ditjen
Anggaran namun tidak disetujui karena Nota Keuangan
RAPBN-P tahun anggaran 2012 telah disampaikan ke
pimpinan DPR RI.
Dengan nilai pagu anggaran belanja barang dan belanja modal
setelah APBN-P yang mencapai Rp9.027,01miliar, apabila pagu
anggaran tersebut dikurangi dengan anggaran yang tidak
dapat diserap sejumlah Rp.417,47miliar, maka pagu anggaran
untuk belanja barang dan belanja modal yang efektif dapat
digunakan pada tahun 2012 hanya mencapai Rp8.609,54miliar.
Dengan realiasi belanja barang dan belanja modal mencapai
Rp7.732,38miliar, maka persentase penyerapan anggaran untuk
belanja barang dan belanja modal pada tahun anggaran 2012
yang efektif dapat digunakan adalah 89,81%.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
129
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Kementeriaan Keuangan telah menggunakan proses
e-procurement dalam proses pengadaan barang dan jasa
sehingga menghasilkan efisiensi belanja. Berdasarkan data
yang diperoleh dari Pusat layanan Pengadaan Secara Elektronik
(LPSE) Kementerian Keuangan, dari pagu anggaran pengadaan
barang dan jasa (belanja barang dan belanja modal) yang
dilakukan melalui proses e-procurement sebesar Rp3.077,01
miliar dapat dilakukan penghematan sebesar Rp435,97 miliar
atau 14,17 persen. Penghematan tersebut cukup signifikan
mempengaruhi realisasi penyerapan anggaran belanja barang
dan belanja modal karena penghematan yang dilakukan
mencapai 4,8 persen dari total belanja barang dan belanja
modal di Kementerian Keuangan pada tahun anggaran
2012 yang mencapai Rp9.027,01 miliar. Adapun rincian
penghematan dimaksud tersaji dalam tabel 3.86
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Dengan memperhitungkan realisasi anggaran untuk belanja
barang dan belanja modal yang mencapai Rp7.732,38miliar
dan nilai penghematan yang mencapai Rp435,97miliar,
maka realiasi DIPA Kementerian Keuangan untuk belanja
barang dan belanja modal tahun anggaran 2012 mencapai
Rp8.168,35miliar atau 94,88% dari pagu yang efektif dapat
digunakan.
Adapun, hal-hal yang telah diupayakan dalam rangka
mencapai IKU Persentase Penyerapan DIPA Kementerian
Keuangan (non belanja pegawai) antara lain:
a. Melaksanakan pendataan PPK yang belum bersertifikat
dan pengadaan diklat Pengadaan Barang dan Jasa;
Tabel 3.86
Penghematan E-Procurement
No
Unit E. I
Pagu Pengadaan
Selesai (Rp)
Nilai Hasil Lelang
(Rp)
Rp
154
696.924,22
549.168,74
147.755,48
21,20
%
1
Setjen
2
DJA
20
21.227,86
17.412,38
3.815,47
17,97
3
DJP
225
721.118,40
610.172,39
110.946,01
15,39
4
DJBC
211
1.061.205,21
974.940,93
86.264,28
8.13
5
DJPB
166
241.836,35
214.093,83
27.742,52
11,47
6
DJKN
123
120.316,94
107.992,09
12.324,85
10,24
7
DJPU
16
11.497,52
10.512,80
984,71
8,56
8
DJPK
19
28.995,37
23.192,54
5.802,83
20,01
9
Itjen
8
4.166,20
3.480,75
685,44
16,45
10
Bapepam-LK
24
47.344,60
28.912,22
18.432,37
38,93
11
BKF
12
22.918,48
19.862,95
3.055,53
13,33
12
BPPK
146
99.456,11
81.297,64
18.158,47
18,26
Total
1124
3.077.007,24
2.641.039,27
435.967,97
14,17
Sumber : LPSE Kementerian Keuangan
130
Penghematan
Paket
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
b. Penggunaan aplikasi Monitoring Keuangan dan Aset
(MONIKA) sebagai alat pemantauan realisasi dan kendala
penyerapan anggaran secara berkala;
c. Mempercepat proses buka blokir dengan melengapi data
dukung yang dibutuhkan;
d. Penyusunan arahan-arahan yang mendukung percepatan
realisasi anggaran diantaranya penyusunan S-556/
SJ.1/2012 tanggal 27 Juli 2012 hal Rekomendasi Dalam
Rangka Optimalisasi Implementasi PMK Nomor 170/
PMK.05/2010 di Lingkungan Kementerian Keuangan; dan
e. Optimalisasi penggunaan anggaran melalui mekanisme
revisi anggaran dari sisa dana kegiatan yang telah tercapai
outputnya.
Dalam Renstra Kementerian Keuangan tahun 2010-2014,
ditargetkan pada tahun 2014, realisasi belanja Kementerian
Keuangan mencapai lebih dari 90 persen (untuk belanja
pegawai, belanja barang, dan belanja modal), meningkat dari
kondisi pada tahun 2010 yang ditargetkan sebesar 85 persen.
Secara umum dapat disampaikan bahwa realisasi penyerapan
anggaran Kementerian Keuangan untuk belanja pegawai,
belanja barang, dan belanja modal sejak tahun 2010 s.d. 2012
selalu mengalami peningkatan, yakni 84,17 persen pada
tahun 2010 meningkat menjadi 85,7 persen pada tahun 2011
dan 90,28 persen pada tahun 2012. Dengan demikian, target
renstra pada tahun 2014 telah dapat dicapai pada akhir tahun
2012. Selengkapnya progress penyerapan anggaran dari tahun
2010 s.d. 2012 tersaji pada tabel 3.87.
C. Kinerja Lainnya
Selain dari 16 (enam belas) Sasaran Strategis (SS) yang
ditetapkan oleh Kementerian Keuangan dengan capaian
sebagaimana diuraikan pada butir A dan B di atas, Kementerian
Keuangan juga telah melakukan beberapa hal berikut ini yang
secara sengaja tidak dimasukkan sebagai SS maupun Indikator
Kinerja Utama (IKU). Kinerja lain tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Perumusan Undang-undang APBN, APBN-P dan
Nota Keuangan.
Pada tahun 2012 terdapat beberapa kemajuan positif yang
dicapai dalam bidang perencanaan APBN, yaitu:
a. Penyusunan dan perumusan UU APBN dan UU APBN-P,
serta Nota Keuangan Tahun 2013. Beberapa keberhasilan
yang dicapai tahun 2012 adalah:
1) Pemenuhan proses penyusunan RUU APBN yang
sesuai dengan kaidah Undang-undang Nomor
12 Tahun 2010 tentang pembentukan peraturan
perundang-undangan;
Tabel 3.87
Penyerapan Anggaran Kementerian Keuangan 2010-2012
Tahun Anggaran 2010
Pagu
15.391,87
Tahun Anggaran 2011
Realisasi
%
Pagu
Realisasi
12.954,98
84,17
17.346,78
14.875,39
Tahun Anggaran 2012
%
85,75
Pagu
17.402,10
Realisasi
15.709,82
%
90,28
*) Sumber : SAU per 20 Februari 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
131
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
2) Perubahan rumusan konsideran dan dasar hukum
yang hanya memuat dasar hukum berupa Undangundang Dasar Tahun 1945, Undang-undang Nomor
17 Tahun 2003, dan Undang-undang Nomor 27 Tahun
2009;
3) Pemantapan konsepsi definisi di dalam ketentuan
umum yang disesuaikan dengan pasal-pasal dalam
batang tubuh;
4) Restrukturisasi UU APBN dengan melakukan
penyusunan pasal-pasal yang disesuaikan dengan
rincian dalam I-Account (termasuk tidak lagi mengatur
kewenangan kenaikan harga BBM);
5) Pemuatan aturan dalam batang tubuh lebih
ditekankan pada penetapan alokasi dan kebijakan,
sedangkan pasal dan ayat yang cenderung
merupakan penjelasan dimuat dalam bagian
penjelasan pasal per pasal.
a. Dalam pengelolaan postur APBN terdapat penambahan
asumsi dasar, yaitu lifting gas bumi.
b. Terdapat beberapa kebijakan pengelolaan belanja dan
pendapatan untuk mewujudkan kualitas belanja APBN
yang optimal, yaitu:
1) Penajaman prioritas pembangunan berupa
peningkatan alokasi Belanja Modal, perbaikan
infrastruktur, dan efisiensi penghematan perjalanan
dinas kepada kegiatan yang lebih produktif;
2) Pembahasan pengalokasian hasil optimalisasi dan
postur APBN yang lebih transparan melalui forum
rapat kerja Badan Anggaran DPR RI dan Pemerintah/
Bank Indonesia dalam rapat terbuka.
3)Penyusunan resource envelope hingga pelaksanaan
APBN (termasuk pemberian reward dan punishment,
revisi APBN/APBN-P), dan penyusunan APBN yang
akan datang.
2. Pengintegrasian Proses Penyusunan Rencana Kerja
dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L)
dan Pengesahan DIPA.
Sejak tahun 2012 (berlaku untuk APBN tahun 2013) telah
dilakukan pengintegrasian proses penyusunan RKA-K/L
dan pengesahan DIPA. Dengan demikian, kewenangan
pengesahan DIPA yang sebelumnya dilaksanakan oleh Ditjen
Perbendaharaan dilimpahkan kepada Ditjen Anggaran.
Adapun pengalihan kewenangan pengesahan DIPA tersebut
132
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan, antara lain:
a. Memantapkan penerapan Penganggaran Terpadu,
Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) dan Kerangka
Pembangunan Jangka Menengah (KPJM). Pengalihan
wewenang ini menjadikan DIPA sebagai satu kesatuan
dokumen secara integral yang mencerminkan pelaksanaan
dari Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dengan RKA-K/L.
b. Menyederhanakan proses pengurusan RKA-K/L dan DIPA.
Hal ini dilakukan mengingat sampai dengan saat ini masih
ada keluhan dari Kementerian Negara/Lembaga, dimana
dalam pengurusan RKA-K/L dan DIPA harus berhubungan
dengan 2 (dua) unit eselon I pada Kementerian Keuangan
yaitu Direktorat Jenderal Anggaran dan Direktorat Jenderal
Perbendaharan. Penyederhanaan proses ini tentunya
memberikan nilai tambah berupa percepatan waktu
penyelesaian DIPA.
c. Meningkatkan kualitas layanan Kementerian Keuangan
kepada stakeholder. Melalui pengalihan kewenangan
pengesahan DIPA ini diharapkan dapat menghemat waktu
dan biaya pengurusan RKA-K/L dan DIPA, mengingat
proses penyelesaiannya dilakukan oleh satu unit eselon
I. Disamping itu, juga terjadi efisiensi biaya pengesahan
DIPA.
d. Menjamin validitas dan integritas data anggaran,
mengingat proses penyusunan RKA-K/L sampai dengan
penyusunan dan pengesahan DIPA dilaksanakan
secara terintegrasi dengan menggunakan sumber data
yang sama dan disimpan dalam satu database melalui
dukungan sistem teknologi informasi yang handal dan
terintegrasi.
Mulai tahun anggaran 2013, DIPA yang disusun oleh Pengguna
Anggaran (PA) terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu: (1) DIPA Induk,
merupakan akumulasi dari DIPA per satuan kerja yang disusun
menurut unit eselon I Kementerian/Lembaga; (2) DIPA Petikan,
merupakan DIPA per satuan kerja (satker) yang dicetak secara
otomatis melalui sistem.
Proses dan bahan yang digunakan dalam menyusun DIPA
Induk dan DIPA Petikan sepenuhnya menggunakan data
RKA-K/L yang disusun oleh masing-masing satker. Beberapa
pertimbangan yang mendasari perubahan jenis DIPA antara
lain adalah sebagai berikut:
a. Menjaga konsistensi penerapan anggaran berbasis kinerja,
mulai dari penetapan prioritas pembangunan dalam
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Rencana Kerja Pemerintah (RKP), penyusunan RKA-K/L dan
pengesahan DIPA.
b. Memberikan fleksibilitas kepada PA dalam hal diperlukan
adanya pergeseran anggaran antar satker dalam satu unit
eselon I dan satu program, sepanjang pagu anggaran
dan target kinerja tidak berubah sehingga dapat
menyederhanakan proses revisi anggaran.
c. Meningkatkan akuntabilitas K/L sebagai penanggung
jawab pelaksanaan program dan target kinerja yang harus
dicapai termasuk koordinasi terhadap satker-satker yang
berada di bawah program yang bersangkutan.
Penyerahan DIPA kepada PA/KPA dilaksanakan lebih awal dari
tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan dengan harapan agar
pada awal tahun satuan kerja dapat segera melaksanakan
kegiatannya. Hal ini merupakan komitmen pemerintah karena
hasil evaluasi pelaksanaan anggaran tahun-tahun sebelumnya
belum menunjukkan hasil yang optimal, walaupun kita telah
melakukan berbagai upaya. Pola penyerapan yang sering
terjadi adalah penumpukan pada akhir tahun anggaran dimana
kondisi ini menunjukkan perencanaan dan manajemen kas
yang kurang baik.
Untuk itu, perlu dilakukan beberapa upaya guna
mengoptimalkan pengelolaan belanja negara, antara lain:
a. Peningkatan kapasitas pengelola keuangan satker, yaitu
dalam rangka penyusunan rencana penarikan dana dan
rencana pengadaan.
b. Penyempurnaan regulasi, khususnya dalam hal pengadaan
barang dan jasa pemerintah.
c. Peningkatan peran aparat pengawas internal K/L.
3. Penyusunan Nota Kesepahaman Antara
Kementerian Keuangan Dan Kementerian Negara/
Lembaga Tentang Optimalisasi Pengelolaan
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Pada hari Jumat tanggal 14 Desember 2012 bertempat di Aula
Djuanda Mezanine Gedung Djuanda I Kementerian Keuangan,
telah dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman
antara Kementerian Keuangan dengan Kementerian
Negara/Lembaga tentang optimalisasi pengelolaan PNBP.
Penandatanganan Nota Kesepahaman tersebut merupakan
tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 17 Tahun 2011
tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun
2012. Inpres dimaksud mengintruksikan kepada para Menteri
Kabinet Indonesia Bersatu II untuk mengambil langkahlangkah yang diperlukan dalam rangka pencegahan dan
pemberantasan korupsi sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan
masing-masing.
Maksud dan tujuan penyusunan dan penandatangan Nota
Kesepahaman tersebut adalah untuk meningkatkan koordinasi
antara Kementerian Keuangan dengan Kementerian Negara/
Lembaga pengelola PNBP sehingga pengelolaan PNBP yang
optimal, akuntabel, dan transparan dapat segera terwujud.
Sedangkan ruang lingkup Nota Kesepahaman dimaksud
meliputi evaluasi, pelaporan, serta koordinasi pengelolaan
PNBP. Dalam pelaksanaan optimalisasi pengelolaan PNBP
tersebut akan dilaksanakan koordinasi secara berkala yang
hasilnya akan dijadikan sebagai bahan dalam melakukan
pengawasan, supervisi, dan pengendalian pengelolaan PNBP
pada masing-masing Kementerian Negara/Lembaga tersebut.
Pengelolaan PNBP yang transparan dan akuntabel menjadi
salah satu prioritas pemerintah karena PNBP merupakan salah
satu sumber pendapatan yang diandalkan. Selama satu dekade
ini PNBP terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2001
realisasi PNBP mencapai Rp115 triliun dan meningkat menjadi
Rp341 triliun pada tahun 2012 (atau meningkat hampir 3 kali
lipat).
Namun demikian, dalam Laporan Hasil Pemeriksaan BPK
atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun
2011 menunjukan adanya PNBP pada 28 Kementerian
Negara/Lembaga senilai Rp331,9 milyar yang terlambat
atau belum disetor ke Kas Negara, kurang/belum dipungut,
digunakan langsung tanpa mekanisme APBN, serta dipungut
melebihi tarip yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah.
Masalahnya, temuan audit BPK tersebut berulang setiap
tahun pada Kementerian Negara/Lembaga yang sama.
Memperhatikan kondisi demikian, maka perlu dilakukan upaya
kongkrit untuk melakukan optimalisasi pengelolaan PNBP yang
salah satunya diawali dengan melakukan penandatanganan
Nota Kesepahaman.
4. Penandatanganan BAST Barang Rampasan Negara
Sebagai tidak lanjut dari Memorandum of Understanding
(MoU) Kementerian keuangan dan Kejaksaan Agung yang
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
133
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
salah satunya berkaitan dengan penertiban aset Negara dan
sesuai amanat Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2006
jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96 tahun 2007, pada
tanggal 16 Mei 2012 di Gedung Utama Kantor Kejaksaan Agung
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dilakukan penandatanganan
Berita Acara Serah Terima (BAST) barang rampasan negara
berupa sebidang tanah seluas 554 m2 berikut bangunan rumah
di atasnya seluas 169,07 m2. Barang rampasan yang terletak
di Jl. Pendidikan Nomor 20 Mataram telah diserahkan kepada
Menteri Keuangan melalui Surat Jaksa Agung Muda Pembinaan
atas nama Jaksa Agung Republik Indonesia tanggal 11 Januari
2012 tentang permohonan penetapan status penggunaan
BMN hasil rampasan sebagai rumah negara Kantor Pelayanan
Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Mataram. Permohonan
ini kemudian mendapatkan persetujuan Menteri Keuangan
melalui Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 38/KM.6/2012 tentang Penetapan Status Penggunaan
BMN pada Kementerian Keuangan.
Atas inisiatif Kejaksaan Agung, barang rampasan negara ini
akan dipergunakan sebagai rumah dinas KPKNL Mataram.
Penetapan status yang dilakukan Kejaksaan Agung ini
menunjukkan kepatuhan Kementerian/Lembaga (K/L) sebagai
pengguna barang dalam mengelola BMN. Hal ini sejalan
dengan prinsip pengelolaan BMN yaitu tertib fisik, tertib
hukum, dan tertib administrasi (3T).
5. Penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang
Pensertipikatan Tanah
Pada tanggal 2 Oktober 2012 bertempat di Aula Mezzanie
Gedung Juanda I, Jakarta Pusat, Menteri Keuangan dan Kepala
Badan Pertanahan Nasional (BPN) telah menandatangani
kesepakatan bersama tentang pensertipikatan tanah yang
berlaku selama lima tahun. Isi kesepakatan bersama ini
memberikan prioritas pelayanan dalam rangka mempercepat
pengurusan hak dan penerbitan sertipikat tanah Kementerian
Keuangan. Kementerian Keuangan melakukan inventarisasi,
identifikasi, dan verifikasi tanah serta menyiapkan dan
menyampaikan dokumen yang berkaitan dengan bukti
perolehan. Adapun BPN bertugas menyelesaikan percepatan
pensertipikatan tanah serta perubahan nama pada sertipikat
tanah menjadi atas nama Pemerintah Republik Indonesia cq.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
134
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Kesepakatan bersama ini merupakan langkah nyata dalam
pengamanan BMN. Sesuai dengan UU Nomor 1 tahun 2004 dan
Peratuan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2006 sebagaimana
diubah dengan PP Nomor 38 Tahun 2008, pengelola barang,
pengguna barang, kuasa pengguna barang berkewajiban
untuk mengamankan BMN yang meliputi administrasi, fisik,
dan hukum. Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara, Kementerian Keuangan adalah pengelola
fiskal dan pengelola barang. Sebagai pengelola barang,
Kemenkeu telah bekerja sama dengan BPN menerbitkan
Peraturan Bersama Nomor 186 dan 24 Tahun 2009 tentang
Pensertipikatan BMN berupa Tanah. Peraturan inilah yang
menjadi payung hukum Kementerian/Lembaga (K/L) untuk
mensertipikatkan BMN berupa tanah. Peraturan Bersama
ini dapat dijadikan acuan/landasan K/L untuk percepatan
pensertipikatan BMN dengan bekerja sama dengan BPN.
Kesepakatan ini nantinya akan ditindaklanjuti oleh kantor
vertikal Kemenkeu dengan Kanwil BPN di daerah. Target
yang ingin dicapai dari kesepakatan ini adalah penerbitan
dokumen kepemilikan tanah terhadap seluruh aset atas nama
Pemerintah RI.
6. Pelaksanaan Lelang Barang Gratifikasi KPK
Kementerian Keuangan c.q. Direktorat Jenderal Kekayaan
Negara melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
(KPKNL) Jakarta V mengadakan penjualan lelang barang
milik negara yang berasal dari barang gratifikasi Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), pada Selasa, 11 Desember 2012,
sebanyak 20 barang sitaan KPK yang diserahkan kepada DJKN
dilakukan penjualan terbuka kepada publik secara lelang.
Pelaksanaan lelang gratifikasi ini merupakan kegiatan lelang
gratifikasi KPK ketiga. Sebelumnya pada tanggal 18 Juli 2012
dan 11 Oktober 2011 telah dilaksanakan pulang lelang yang
sama bertempat di di Ruang Rapat Pancasila, Gedung AA
Maramis I Kementerian Keuangan.
Lelang dimulai pada pukul 10.00 WIB setelah terlebih dahulu
dilakukan registrasi peserta lelang serta penyetoran uang
jaminan. Lelang kali ini telah diumumkan melalui media
cetak Kompas pada tanggal 3 Desember 2012. Lelang
gratifikasi penyerahan KPK ini erupakan bentuk akuntabilitas
Kementerian Keuangan kepada masyarakat terkait pengelolaan
barang gratifikasi yang telah diserahkan oleh KPK kepada
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Kementerian Keuangan. Hasil lelang barang gratifikasi ini
termasuk bea lelang seluruhnya akan disetorkan ke kas negara.
Lelang dilaksanakan secara lisan dengan penawaran semakin
meningkat dipimpin oleh pejabat lelang Januar Edi Purwoko
dan dipandu oleh Asflager (Pemandu Lelang) Riyanto
dari KPKNL Jakarta V. Sebelum pelaksanaan lelang, telah
dilaksanakan aanwijzing (Penjelasan Lelang) pada hari Senin,
10 Desember 2012 bertempat di Ruang Rapat Direktorat
PKNSI. Barang yang dijual secara lelang ini dijual secara as is
atau apa adanya. Dari 20 item barang yang ditawarkan telah
berhasil terjual sebanyal 19 item barang dengan total nilai Rp.
142.857.000,00 Diharapkan dengan adanya lelang gratifikasi
ini akan semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat akan
transparansi pemerintah dalam pengelolaan barang milik
Negara (BMN) dan menajadikan lelang sebagai sarana transaksi
jual beli barang yang diminati masyarakat.
7. Penyelesaian Revisi SKB Tahun 2003 tentang
Penyelesaian BLBI (Menko Perekonomian, Menteri
Keuangan, dan Gubernur BI)
Revisi SKB Tahun 2003 tentang penyelesaian BLBI (Menko
Perekonomian, Menkeu dan Gubernur BI) telah ditandatangani
pada tanggal 31 Juli 2012. Adapun pokok-pokok SKB tersebut
antara lain:
a. Restrukturisasi SRBI-01, sebesar Rp126,7 triliun;
b. Menyesuaikan kewajiban Pemerintah untuk menutup
kekurangan modal BI sesuai dengan UU BI yaitu apabila
kurang dari Rp2 triliun;
c. Pemerintah dapat melakukan pelunasan SRBI-01/MK/2003
lebih cepat dengan cara konversi SRBI-01 menjadi
SBN tradable dengan persyaratan dan ketentuan yang
disepakati bersama antara Pemerintah dan BI.
8. Penyiapan Pelaksanaan Konversi SUP menjadi SBN
Tradable
Hingga saat ini telah tersusun draft final SKB restrukturisasi
dan/atau konversi SUP dimaksud, namun dalam
pelaksanaannya masih memerlukan pendalaman lebih lanjut.
Pada tanggal 7 November 2012 juga telah dilaksanakan rapat
dengan antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan
dengan agenda rapat Pembahasan surat Gubernur Bank
Indonesia kepada Menteri Keuangan mengenai tindak lanjut
penyelesaian draft SKB Restrukturisasi dan/atau Konversi Surat
Utang Pemerintah menjadi SBN tradable (SKB Konversi). Rapat
tersebut menghasilkan kesimpulan:
a. Berhubung batas waktu tanggal 31 Oktober 2012
sudah terlampaui maka pihak Kementerian Keuangan
mengajukan usulan untuk melakukan addendum
ketentuan pasal II Perubahan SKB tahun 2003 yang telah
ditandatangani tanggal 31 Juli 2012.
b. Untuk sementara pihak Bank Indonesia belum dapat
mengambil keputusan terkait usulan addendum dari pihak
tim teknis Kementerian Keuangan. Namun demikian, tim
teknis Bank Indonesia mengusulkan agar kiranya pihak
Kementerian Keuangan untuk tetap menyampaikan
jawaban atas Surat Gubernur Bank Indonesia sebagai dasar
untuk koordinasi internal lebih lanjut di Bank Indonesia.
c. Updating proyeksi modal BI terkini akan disampaikan
apabila penyelesaian restrukturisasi mendekati tahap
akhir.
d. Masing-masing pihak akan melaporkan hasil pertemuan
ini kepada Pimpinan dan tetap berkoordinasi atas
perkembangan SKB konversi.
Selanjutnya Kementerian Keuangan telah menyampaikan
Tanggapan terkait Tindak Lanjut Penyelesaian Draft SKB
Restrukturisasi dan/atau Konversi SUP menjadi SBN Tradable
(SKB Konversi) kepada Gubernur Bank Indonesia melalui
Surat Menteri Keuangan nomor S-860/MK.08/2012 tanggal 3
Desember 2012.
9.Implementasi Crisis Management Protocol pasar
SBN sebagai salah satu sub-protocol dalam CMPNation Wide;
CMP Pasar SBN telah terintegrasi dengan CMP Nation Wide
atau CMP Nasional. CMP Nasional merupakan pedoman dan
tata cara dalam melaksanakan langkah-langkah pencegahan
dan penanganan krisis sistem keuangan secara nasional. CMP
Nasional merupakan integrasi dari CMP Nilai Tukar, Perbankan,
Lembaga Keuangan Bukan Bank (asuransi, dana pensiun, dan
perusahaan pembiayaan), Pasar Modal, Pasar Surat Berharga
Negara (SBN), dan Fiskal. CMP Nasional diintegrasikan
melalui peran koordinator di masing-masing lembaga yang
berfungsi sebagai penghubung dalam pertukaran data dan
informasi surveillance terhadap indikator CMP di masingmasing lembaga. Hasil surveillance tersebut mengindikasikan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
135
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
kondisi normal atau kondisi tidak normal (waspada, siaga,
atau mengarah krisis). Indikasi kondisi dimaksud kemudian
menjadi dasar pelaksanaan koordinasi antara Kementerian
Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan
Lembaga Penjamin Simpanan, serta menjadi dasar bagi
proses pengambilan keputusan yang dilakukan melalui Forum
Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK).
Dalam kondisi normal, FKSSK wajib melakukan pemantauan
dan evaluasi stabilitas sistem keuangan, melakukan rapat
koordinasi, memberikan rekomendasi kepada setiap anggota
untuk melakukan tindakan dan/atau membuat kebijakan
dalam rangka memelihara stabilitas sistem keuangan, dan
melakukan pertukaran informasi. Dalam kondisi tidak normal,
tiap anggota FKSSK yang mengindikasikan adanya krisis
pada sistem keuangan, dapat mengajukan ke FKSSK untuk
mengadakan rapat koordinasi untuk memutuskan langkahlangkah pencegahan atau penanganan krisis.
Kementerian Keuangan telah mempunyai Crisis Binder Pasar
SBN yang merupakan panduan rinci dalam melakukan langkah
pencegahan dan penanganan krisis pasar SBN. Crisis Binder
Pasar SBN telah terintegrasi dengan Crisis Binder Sekretariat
FKSSK yang merupakan gabungan crisis binder Kementerian
Keuangan (Pasar SBN dan Fiskal), Bank Indonesia (Nilai Tukar
dan Perbankan), OJK (Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
Bukan Bank), dan LPS (Perbankan).
Kementerian Keuangan telah terlibat secara aktif dalam
memberikan kontribusi asesmen pasar SBN, market update
harian CMP Pasar SBN, menghadiri pertemuan-pertemuan Tim
Teknis Sekretariat FKSSK, Deputies Meeting, maupun pertemuan
FKSSK dengan Gubernur BI, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan
Ketua Dewan Komisioner LPS, menghadiri capacity building/
seminar/workshop dalam stabilitas sistem keuangan, serta aktif
dalam simulasi CMP nasional (fire drill).
10.Penerapan Minimum Holding Period (MHP) dalam
penerbitan ORI009
Strategi penerbitan SBN harus berpedoman pada tujuan umum
pembiayaan yang ingin dicapai sebagaimana tertuang dalam
dokumen strategi yang telah ditetapkan. Salah satu strategi
umum yang ingin dicapai dalam pembiayaan utang tahun 2012
adalah mengoptimalkan potensi pembiayaan utang dari pasar
136
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
domestik guna mendorong terciptanya investment society.
Sejalan dengan tujuan tersebut, Pemerintah pada tahun
2012 kembali menerbitkan Obligasi Negara Ritel (ORI), yakni
seri baru ORI009. Dengan penerbitan ORI009 mempertegas
komitmen Pemerintah untuk secara aktif mengembangkan
pasar ritel yang dibangun sejak tahun 2006.
Hal yang baru pada penerbitan ORI009 ini adalah
pemberlakuan fitur baru yaitu Minimum Holding Periode
(MHP). Berdasarkan ketentuan ini, pemilik ORI tidak dapat
memindahbukukan kepemilikan ORI-nya selama 1 (satu)
periode kupon pertama. Tujuan penerapan MHP ini adalah:
a. Mengurangi laju perpindahan kepemilikan ORI dari
investor individu ke investor institusi/lainnya;
b. Memperluas basis investor ritel; dan
c. Memperluas kesempatan investor ritel untuk memperoleh
penjatahan ORI di pasar perdana.
Dengan fitur ini diharapkan tujuan utama penerbitan ORI
dapat lebih tepat sasaran. Selanjutnya, untuk ORI009, MHP
diberlakukan 1 (satu) periode kupon pertama berlaku dari
tanggal 10 Oktober s.d. 15 November 2012.
11. Penyiapan Infrastruktur Dalam Rangka Penerbitan
SUN Valas Dalam Negeri
Beberapa upaya yang telah dilakukan dalam rangka penerbitan
SUN Valas dalam negeri antara lain:
a. Penyusunan kajian terkait penerbitan SUN Valas dalam
negeri yang telah selesai dilaksanakan;
b. Penerbitan PMK No.128/PMK.08/2012 tentang Penjualan
SUN dalam Valas di Pasar Perdana Domestik dengan Cara
Bookbuilding;
c. Penyusunan RPMK tentang Penjualan SUN dalam Valas
di Pasar Perdana Domestik dengan Lelang yang saat ini
sedang dalam proses.
d. Terkait dengan kesiapan sistem lelang dan penatausahaan
setelmen serta agen pembayaran untuk transaksi SUN
Valas di Pasar Domestik, Pemerintah telah menyampaikan
surat kepada BI No. S-394/PU.3/2011 tanggal 5 Oktober
2011 perihal Penyampaian Matriks Terms and Conditions
Obligasi Negara berdenominasi USD di Pasar Domestik dan
No. S-439/PU.3/2012 tanggal 18 Desember 2012 tentang
Tindak Lanjut Persiapan Rencana Penerbitan SUN Valas di
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Pasar Domestik melalui Metode Bookbuilding atau Lelang
dengan menggunakan BI SSSS.
Saat ini BI sedang menyiapkan sistem BI SSSS Generasi II untuk
dapat mengakomodasi transaksi SUN Valas (multi currencies) di
pasar perdana domestik. Telah dilakukan pertemuan dengan
Tim BI SSSS, dimana BI menyatakan kesanggupan untuk
menyiapkan infrastruktur, dan ditargetkan dilakukan simulasi
pada semester I tahun 2013.
12.Penerbitan Global Sukuk
Penerbitan Global Sukuk sebesar USD1 milyar (ekuivalen Rp9,6
triliun), sebagai berikut:
a. Tenor 10 tahun merupakan yang terpanjang selama
penerbitan sukuk valas (sebelumnya 5 dan 7 tahun);
b. Tingkat imbalan 3,3% merupakan yang terendah selama
penerbitan SBN valas (termasuk Global Bond);
Penerbitan Global Sukuk Indonesia telah Memperoleh
penghargaan internasional, berupa:
a. Best Sukuk Deal dari Euromoney Islamic Finance Awards;
b. Indonesia Deal of the Year dari Islamic Finance News;
c. Highly Commended Islamic Deal Indonesia dari The Asset;
d. Highly Commended Sovereign Sukuk dari The Asset.
(balance sheet) Pemerintah. Dalam kerangka kerja pengelolaan
risiko keuangan negara tersebut mulai diperkenalkan sistem
pengelolaan risiko keuangan negara dengan menggunakan
pendekatan Asset Liability Management (ALM).
ALM dapat didefinisikan sebagai suatu teknik pengelolaan
risiko keuangan negara yang berkaitan dengan Neraca
Keuangan Pemerintah dengan mengkoordinasikan
pengelolaan aset dan pengelolaan kewajiban untuk
mengendalikan risiko keuangan negara dalam rangka
mencapai efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan
negara. Risiko keuangan negara yang dicakup dalam ALM
antara lain risiko likuiditas dan risiko pasar (risiko tingkat bunga
dan risiko nilai tukar).
Untuk mengelola keuangan Pemerintah dengan menggunakan
ALM dibutuhkan suatu sistem Teknologi Informasi yang
terintegrasi sehingga dapat memberikan gambaran posisi
keuangan pemerintah utamanya eksposur risiko dan dampak
yang terjadi terhadap eksposur risiko dimaksud apabila terjadi
perubahan faktor ekonomi makro dan pasar keuangan. Adanya
sistem informasi ALM dapat membantu pengambil keputusan
dalam memahami kondisi risiko keuangan negara pada suatu
waktu secara komprehensif sehingga menunjang pelaksanaan
pengelolaan risiko keuangan yang dihadapi Pemerintah secara
optimal.
13. Penerbitan PBS (Project Base Sukuk)
Penerbitan instrumen SBSN baru berupa PBS (Project Base
Sukuk), dengan menggunakan akad Ijarah asset to be leased dan
underlying asset berupa proyek-proyek Pemerintah yang telah
masuk dalam APBN tahun 2012, sebesar Rp30,3 triliun atau
53,12% dari total penerbitan SBSN tahun 2012, terdiri dari:
a. Lelang SBSN seri PBS Rp16,7 triliun;
b. Sukuk Ritel SR-004 Rp13,6 triliun.
14. Penerapan Asset Liability Management
Visi Kementerian Keuangan adalah “Menjadi Pengelola
Keuangan dan Kekayaan Negara yang Dipercaya dan Akuntabel
untuk Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera, Demokratis,
dan Berkeadilan”. Dalam mewujudkan visi tersebut dilakukan
reformasi pengelolaan keuangan negara dimana salah
satu area yang menjadi sasaran adalah pengelolaan risiko
keuangan negara yang berkaitan dengan Neraca Keuangan
Pembangunan IT ALM System dimulai pada tahun 2011 berupa
pengadaan hardware, software, dan aplikasi dasar ALM yang
utamanya terkait dengan proyeksi cash flow Pemerintah. Pada
tahun 2012, IT ALM System yang telah dibangun pada tahap
I tersebut di atas, dilanjutkan dengan pembangunan aplikasi
pengelolaan risiko keuangan Pemerintah berdasarkan ALM
framework yang dilengkapi dengan simulasi yang dinamis dan
stress test terhadap pengelolaan risiko tersebut.
Dalam rangka penerapan ALM secara komprehensif, telah
dilakukan serangkaian koordinasi yang melibatkan unit-unit
terkait di lingkungan Kementerian Keuangan dibantu dengan
Tim Asistensi Penyempurnaan Sistem Treasury yang terdiri
dari para praktisi pasar keuangan khususnya perbankan, yang
menguasai best practice penerapan ALM perbankan untuk
kiranya dapat dijadikan bahan pertimbangan penerapan ALM
Kementerian Keuangan. Berikut rangkaian rapat koordinasi
yang telah dilaksanakan selama tahun 2012 yaitu sebagaimana
tabel 3.88
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
137
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Tabel 3.88
Rapat Koordinasi ALM Tahun 2012
Tanggal
Pokok Pembahasan
9 Maret 2012
ALM Framework
6 Juli 2012
Pembentukan Komite ALM dan Perkembangan IT ALM System
8 Agustus 2012
Kick Off Meeting IT ALM System
14 Agustus 2012
Presentasi Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN)
14 September 2012
Penyampaian Hasil Kajian atas ALM Australia, Business Requirement Document IT ALM
Tahap II dan Organisasi ALM
25 Oktober 2012
Presentasi Konsultan terkait Progress Pembangunan IT ALM System
6 November 2012
Koordinasi Kebutuhan dan Suplai Data IT ALM System
20 November 2012
Formula Proyeksi berdasarkan Driver IT ALM Kementerian Keuangan
11 Desember 2012
Presentasi Konsultan terkait Progress Pembangunan IT ALM System
15. Penyusunan Peraturan Tentang Transaksi Lindung
Nilai Dalam Pengelolaan Utang
Dalam rangka pengelolaan portofolio dan risiko utang
Pemerintah secara lebih aktif khususnya melalui transaksi
lindung nilai (hedging) dengan menggunakan instrumen
derivatif di pasar keuangan, Kementerian Keuangan secara
berkesinambungan melakukan berbagai pengembangan
infrastruktur transaksi yang diperlukan.
Untuk dapat memanfaatkan transaksi lindung nilai dalam
pengelolaan portofolio dan risiko utang Pemerintah diperlukan
infrastruktur transaksi baik dari sisi peraturan pelaksanaan dan
infrastruktur penunjang pelaksanaan transaksi.
Terkait dengan infrasruktur pengaturan pelaksanaan, dasar
hukum penerapan hedging terdapat pada Pasal 9 ayat (2)
huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat
Utang Negara dan Pasal 18 ayat (2) huruf a Undang-Undang
Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara
dimana mengamanatkan mengenai peran Menteri Keuangan
untuk melakukan pengelolaan risiko utang. Kemudian Pasal 7
ayat (2) huruf l Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
138
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Perbendaharaan Negara mengamanatkan pula mengenai
peran Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara
untuk mengelola utang dan piutang Negara.
Namun demikian, ketiga Undang-undang tersebut tidak
secara eksplisit mengamanatkan baik dari sisi instrumen yang
dapat digunakan dalam pengendalian risiko maupun bentuk
pengaturannya lebih lanjut. Oleh karena itu, telah diusulkan
pengaturan transaksi lindung nilai atas pengelolaan risiko utang
Pemerintah secara implisit dalam Pasal 26 ayat (2) dan ayat (3)
Undang-Undang Nomor 19 tahun 2012 tentang APBN 2013.
Berdasarkan Pasal 26 ayat (4) Undang-Undang Nomor 19 tahun
2012 tentang APBN 2013 telah disusun Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 12/PMK.08/2013 tentang Transaksi Lindung
Nilai dalam Pengelolaan Utang Pemerintah. Adapun kerangka
pengaturan PMK dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Pengaturan umum yang meliputi ketentuan umum, ruang
lingkup dan tujuan transaksi lindung nilai.
b. Organisasi pelaksana yang meliputi pembagian tugas
dan kewenangan transaksi antara internal Kementerian
Keuangan.
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
c.
Pelaksanaan transaksi lindung nilai yang mencakup
perencanaan kebijakan lindung nilai, identifikasi
kebutuhan transaksi lindung nilai, pemilihan counterparty
lindung nilai, dan proses pelaksanaan transaksi.
d. Pelaksanaan penatausahaan transaksi lindung nilai
yang mencakup dokumentasi transaksi, penganggaran
transaksi, setelmen transaksi, dan akuntansi dan pelaporan
transaksi.
e. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi transaksi lindung
nilai yang mencakup kondisi dan kinerja counterparty,
serta efektivitas transaksi lindung nilai.
16. Penyelesaian Pembayaran Biaya Transfer
Pembayaran Utang
Pembayaran utang pemerintah terhadap beberapa kreditor
di luar negeri menimbulkan beban biaya transfer antar
rekening yang harus ditanggung. Setelah dilakukan koordinasi
dengan Bank Indonesia dan koordinasi internal di lingkungan
Kementerian Keuangan, maka mulai tahun 2012, beban biaya
transfer pembayaran utang pemerintah ke luar negeri yang
semula menjadi beban Bank Indonesia telah dialihkan menjadi
kewajiban Kementerian Keuangan yang ditindaklanjuti dengan
dilakukannya auto debet ke rekening biaya transfer yang telah
ditetapkan.
17. Optimalisasi Sistem Aplikasi Debt Management
Financial Analysis System (DMFAS) untuk
pemanfaatan pengelolaan pinjaman dan Surat
Berharga Negara
Sejak tahun 1999 telah terdapat 2 (dua) aplikasi yang
digunakan dalam rangka pengelolaan utang pemerintah, yaitu
Debt Management and Financial Analysis System (DMFAS) untuk
pengelolaan pinjaman dan Aplikasi Pusat Manajemen Obligasi
Negara (PMON) untuk pengelolaan Surat Berharga Negara.
Dalam rangka meningkatkan integrasi data utang, pada tahun
2012 telah dilakukan kerjasama antara Kementerian Keuangan
dengan United Nations Conference on Trade and Development
(UNCTAD) untuk melakukan ujicoba penyatuan sistem aplikasi
dan database pengelolaan pinjaman dengan Surat Berharga
Negara yang diakomodir dengan pengembangan Aplikasi
DMFAS versi 6.0.
15. Revisi Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004
Tahapan revisi UU No.33 Tahun 2004 dibagi dalam 3 tahapan:
a.Harmonisasi;
b. Finalisasi Rancangan Undang-Undang;
c. Penyampaian ke Badan Legislatif DPR RI.
Sampai dengan 31 Agustus 2012, seluruh tahapan kedua
dengan bobot 70% sudah dipenuhi, yang mencakup kegiatan
sampai dengan didapatkan draft net hasil legal drafting oleh
Kementerian Hukum dan HAM. Saat ini hasil legal drafting draft
RUU telah disampaikan kepada Presiden melalui Mensesneg
dengan Surat Menkeu Nomor S-568/MK.07/2012 tanggal 3
Agustus 2012.
Kemudian Mensesneg menyurati Menteri Keuangan pada
melalui Surat dengan Nomor B-1113/M.Sesneg/D-4/
PU.00/08/2012 tanggal 27 Agustus 2012 yang isinya antara lain
memberitahukan bahwa RUU dimaksud tidak masuk dalam
Prolegnas 2012, sehingga Presiden tidak dapat mengeluarkan
surat untuk menyampaikannya ke DPR RI pada tahun
2012. Kementerian Keuangan telah berkoordinasi dengan
Kemkumham, namun RUU tersebut tidak dapat dimasukkan
dalam Prolegnas 2012. Akhirnya dokumen Draft net RUU telah
disampaikan ke Kemkumham pada tanggal 27 Sept 2012 untuk
dimasukkan dalam Prolegnas 2013, sebagaimana gambar 3.1
dan tabel 3.89.
18. Lokakarya APIP K/L dan Pemda dengan tema
“Penguatan Peran APIP dalam Peningkatan
Kualitas Pengelolaan Keuangan Negara dan Kinerja
Instansi Pemerintah”.
Kondisi pada awal tahun 2012 memperlihatkan masih adanya
berbagai kekurangan yang harus terus dibenahi di bidang
pengelolaan keuangan dan kinerja oleh jajaran manajemen
pemerintah, baik pada level pusat maupun daerah. Berbagai
kekurangan tersebut, antara lain:
a. penyerapan anggaran yang masih belum maksimal;
b. tax ratio yang relatif masih rendah;
c. kelemahan pemenuhan kewajiban perpajakan oleh para
Bendahara;
d. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat tahun 2010 yang
masih memperoleh opini “Wajar Dengan Pengecualian”
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
139
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif
Kata Pengantar
Gambar 3.1. Tahapan Revisi UU Nomor 33 Tahun 2004
15%
15%
70%
Finalisasi Kementerian
Hukum dan HAM,
usulan masuk Prolegnas
Finalisasi
Kementerian
Hukum dan HAM,
usulan masuk
Prolegnas
Harmonisasi
Tercapai s.d. Triwulam III
Tabel 3.89
Progress Tahapan Revisi UU 33/2004 (RUU HKPD)
No
Rencana kegiatan
TW
Pelaksanaan
•
1.
Harmonisasi RUU
1
•
•
•
2
•
•
140
Capaian
Keterangan
35%
75% substansi
RUU telah
disepakati bersama
Kementerian
Dalam Negeri dan
Bappenas
Rapat koordinasi Dirjen PK Kementerian Keuangan
dengan Dirjen Keuda Kementerian Dalam Negeri
(12 April 2012)
Rakor Pimpinan Dirjen PK dengan Setwapres
(18 April 2012)
Harmonisasi dengan Kementerian Hukum dan HAM
(1 Mei 2012)
35%
Pending matters
yang belum
disepakati dan legal
drafting RUU secara
keseluruhan
Rapat Pleno Kementerian Hukum dan HAM
(14 Feb 2012),
Pembahasan lanjutan (20-22 Feb 2012 dan
27-28 Feb 2012),
Pembahasan dengan Kementerian Dalam Negeri
dan Bappenas (20-30 Maret 2012)
2.
Finalisasi
Rancangan
Undang-Undang
3
Draft bersih RUU diterima dari Kementerian Hukum dan
HAM, Pengusulan Prolegnas, kemudian disampaikan ke
Sekretariat Negara
15%
3.
Penyampaian ke
Badan Legislatif
DPR RI
4
Ampres dikeluarkan, Sekretariat Negara meminta
paraf kepada Kementerian/lembaga terkait, kemudian
disampaikan kepada Badan Legislatif DPR
15%
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
(WDP), demikian juga Laporan Keuangan K/L dan
Pemerintah Daerah yang masih banyak yang baru
memperoleh opini WDP atau malah “Tidak Menyatakan
Pendapat; serta
e. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang pada tahun 2011 baru
mencapai skala 3,00 dari target 5,00 di tahun 2014.
Pembenahan tersebut secara menyeluruh sedang dijalankan
oleh Pemerintah melalui program reformasi birokrasi. Upaya
ini perlu dijalankan dengan lebih sistematis dan terstruktur,
terutama untuk menyelesaikan berbagai kekurangan tersebut
oleh segenap unsur pemerintah, terutama pihak manajemen.
Dalam pelaksanaannya Aparat Pengawasan Intern Pemerintah
(APIP) dapat dimintakan kontribusinya lebih banyak sesuai
dengan peran dan fungsinya. APIP harus dapat memberikan
keyakinan bahwa pengelolaan keuangan dan pelaksanaan
tugas serta fungsi dapat bebas dari praktik penyimpangan.
Selain itu, APIP juga perlu mengembangkan peran utama
lainnya yang sangat penting yaitu membantu manajemen
instansi pemerintah untuk merancang berbagai perbaikan
sistem agar tools kontrol dan manajemen risiko dapat berjalan
efektif untuk mendapatkan kondisi governance yang lebih baik.
Dalam rangka menguatkan peran APIP bagi peningkatan
kualitas pengelolaan keuangan negara dan kinerja instansi
pemerintah tersebut, Menteri Keuangan selaku Bendahara
Umum Negara menyelenggarakan lokakarya bagi segenap
APIP di lingkungan kementerian/lembaga dan pemerintah
daerah. Lokakarya ini diselenggarakan pada tanggal 22
Februari 2012 di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan
yang dibuka langsung oleh Wakil Presiden, Budiono.
Lokakarya ini dihadiri sekitar 350 peserta, termasuk kepala
UKP4; Menteri PAN dan RB; Kepala BPKP; beberapa perwakilan
gubernur, bupati, dan walikota; Inspektur jenderal dan seluruh
Sekretaris Itjen dari berbagai K/L, serta beberapa Inspektur
daerah dari perwakilan provinsi, kabupaten, dan kota. Acara
lokakarya meliputi, arahan dari Wakil Presiden; keynote speech
dari Menteri Keuangan, Kepala UKP4, Menteri PAN dan RB, dan
Kepala BPKP; diskusi panel mengenai peningkatan pengelolaan
keuangan negara serta peningkatan kinerja instansi
pemerintah dan penguatan kapabilitas APIP; serta tinjauan
akademis dan best practices tentang posisi dan peran ideal yang
harus dijalankan oleh auditor internal agar dapat memberikan
nilai tambah kepada instansi pemerintah.
Pelaksanaan kegiatan ini telah disajikan dalam bentuk Prosiding
Lokakarya Aparat Pengawasan Intern Pemerintah ( APIP )
kementerian negara/lembaga dan pemerintah daerah. Pokokpokok pikiran dimaksud dalam bentuk ikhtisar atas materi
yang disampaikan oleh bapak wakil presiden RI, para keynote
speakers, dan para penelis yang dilengkapi dengan transkripsi
arahan bapak wakil presiden RI dan materi paparan dari para
keynote speakers dan panelis, serta tanya jawab dari dua sesi
diskusi panel.
19. Sertifikasi ISO 9001: 2008 atas Quality Management
System (QMS) Itjen.
Kementerian Keuangan merupakan salah satu institusi
pemerintah yang saat ini sangat dominan dalam penerapan
good governance dalam organisasinya. Sampai saat ini berbagai
sistem telah diterapkan untuk memenuhi kriteria sebagai good
governance, seperti: penerapan Balance scorecard, Performancebase Budgeting, Risk Management, modernisasi kantor-kantor
pelayanan dan lain sebagainya, yang kesemuanya dikemas
dalam suatu program Reformasi Birokrasi Kementerian
Keuangan.
Itjen sebagai unit pengawas yang mengawal perwujudan good
governance di lingkungan Kementerian Keuangan, merasa
perlu untuk merancang dan mengendalikan proses bisnisnya
dalam suatu kerangka terstandarisasi agar dapat memberi
keyakinan kepada stakeholder bahwa kebutuhan dan harapan
mereka dapat dipahami dan dipenuhi secara konsisten.
Untuk mewujudkan hal ini, sejak tahun 2009, Itjen mencoba
mengembangkan Quality Management System (QMS) ISO
9001: 2008, suatu sistem manajemen yang telah dikenal dan
diakui secara worldwide sebagai dasar untuk mengembangkan
sistem manjemen dalam suatu organisasi, baik untuk organisasi
swasta, pemerintah, maupun organisasi non profit lainnya.
Awalnya, Itjen mengembangkan QMS ISO 9001: 2008 untuk
lingkup Bagian Organisasi dan Tata Laksana (BOT), suatu
eselon III di lingkungan Sekretariat Itjen, sebagai pilot project.
Setelah kurang lebih delapan bulan mengembangkan QMS
ISO 9001: 2008, akhirnya pada pertengahan Maret 2010, BOT
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
141
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Daftar Isi
Kata Pengantar
secara resmi mendapatkan sertifikat ISO 9001: 2008 dari Badan
Sertifikasi Independen, yang menunjukkan telah dipenuhinya
standar QMS ISO 9001: 2008. Menindaklanjuti keberhasilan BOT
mendapatkan sertifikat ISO 9001: 2008, Sekretariat Itjen sejak
tahun 2010 mulai mengembangkan QMS ISO 9001: 2008 secara
keseluruhan dengan harapan memperbaiki dan meningkatkan
secara terus-menerus layanan Sekretariat terhadap fungsi
pengawasan Itjen. Akhirnya, setelah kurang lebih satu setengah
tahun melaksanakan berbagai kegiatan pengembangan
yang direncanakan, pada akhir tahun 2011, berdasarkan
hasil audit dari badan sertifikasi independen, Sekretariat pun
berhasil mendapatkan sertifikat ISO 9001: 2008 atas Quality
Management System yang telah dibangunnya.
Akhirnya, setelah selama setahun melaksanakan berbagai
kegiatan pengembangan di atas, pada akhir tahun 2012,
berdasarkan hasil audit dari badan sertifikasi independen
– Indo Quality Aradinamis (IQA) cert. -, Itjen mendapatkan
sertifikat ISO 9001: 2008 atas Quality Management System yang
dirancang Itjen. Dengan sertifikasi ini, dapat dikatakan bahwa
sistem manajemen mutu Itjen telah memenuhi persyaratan
minimal sebagai organisasi yang berstandar internasional.
Hal ini mendorong Itjen untuk terus menjaga konsistensi
dan kesinambungan penerapan QMS ISO 9001: 2008 dalam
memelihara dan/atau improve mutu layanan agar dapat
mempertahankan atau bahkan meningkatkan kepuasan
stakeholders-nya.
Selanjutnya, demi memperoleh manfaat yang lebih besar dari
QMS ISO 9001: 2008, serta memenuhi amanat Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 440/KMK.01/2011 tentang Grand
Design Sertifikasi Kegiatan Pelayanan Berstandar Internasional
di Lingkungan Kementerian Keuangan Tahun 2011 – 2014,
penerapan QMS ISO 9001: 2008 diperluas cakupannya untuk
level Itjen mulai tahun 2012. Tahap pengembangan QMS ISO
9001: 2008 yang dilakukan adalah sebagaimana gambar 3.2
20. Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan
ditunjuk sebagai Ketua Komite Telaah Sejawat
dalam Asosiasi Auditor Intern Pemerintah
Indonesia (AAIPI).
TAHAP I
TAHAP III
PENINJAUAN
SISTEM
MANAJEMEN
DAN
PERSIAPAN
PERANCANGAN
DAN
PENGEMBANGAN
Pembentukan organisasi profesi auditor dengan nama Asosiasi
Auditor Intern Pemerintah Indonesi (AAIPI) merupakan
reformasi birokrasi di bidang pengawasan. Organisasi ini
TAHAP IV
TAHAP V
PENERAPAN
QMS ISO
9001:2008
PERSIAPAN
SERTIFIKASI
QMS ISO
9001:2008
TAHAP II
PELATIHAN PEMAHAMAN PERSYARATAN DAN DOKUMENTASI
QMS ISO 9001:2008
Gambar 3.2.
Tahapan Pengembangan QMS ISO 9001: 2008
142
Ringkasan Eksekutif
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
TAHAP VI
AUDIT
SERTIFIKASI
QMS ISO
9001:2008
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
dibentuk untuk mengemban amanat PP Nomor 60 Tahun
2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Dalam
Pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa pelaksanaan audit intern di
lingkungan instansi Pemerintah oleh pejabat yang mempunyai
tugas melaksanakan pengawasan dan yang telah memenuhi
syarat kompetensi keahlian sebagai auditor. Selanjutnya,
dalam Pasal 52 ayat (1) dan (3) disebutkan, bahwa untuk
menjaga perilaku pejabat auditor disusun kode etik aparat
pengawas intern pemerintah, sedangkan kode etik tersebut
disusun oleh organisasi profesi auditor, dengan mengacu pada
pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah. Sebagai upaya
menjaga kualitas hasil audit maka pada Pasal 53 diamanatkan
adanya standar audit sedangkan pada Pasal 55 secara berkala
dilaksanakan telaah sejawat (peer reviu) yang pedomannya
juga disusun oleh organisasi profesi auditor.
Setelah melalui beberapa proses, AAIPI terbentuk, diketuai oleh
Irjen Kementerian PU, Mochamad Basoeki Hadimoeljono, dan
kepengurusan AAIPI periode 2012 s.d 2015 telah dikukuhkan
oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. DR. Budiono pada
tanggal 19 Desember 2012 di Istana Wakil Presiden. Inspektur
Jenderal Kementerian Keuangan, Sonny Loho, ditunjuk sebagai
Ketua Komite Telaah Sejawat.
IA management and
professional practice
uniformly applied
IA learning from inside and
outside he organization for
continuous improvement
Sustainable and repeatable
IA practices and procedures
IA integrates information
from across the
organization to improve
governance and risk
management
No sustainable, repeatable,
capabilities - dependent
upon individual efforts
LEVEL 3
Integrated
LEVEL 2
Infrastructure
LEVEL 1
Initial
Gambar 3.3.
IA-CM Levels
LEVEL 4
Managed
LEVEL 6
Optimizing
Organisasi profesi auditor internal pemerintah ini diharapkan
dapat menjadi perekat dan pembangun sinergi jabatan
fungsional yang ada di APIP, sekaligus sebagai mitra
pengembangan profesionalisme dan pengembangan
kapabilitas APIP. Selain itu, dengan keanggotaan di AAIPI,
diharapkan Itjen Kementerian Keuangan dapat lebih
memberikan sumbangsih dalam rangka pembinaan,
pengembangan dan pembangunan profesi auditor intern
pemerintah.
21. Level 3 Hasil Assessment atas Tata Kelola (Internal
Audit Capability Model / /IACM) Itjen oleh BPKP.
Dalam rangka melakukan pemetaan levelling kapabilitas
Aparan Pengawas Intern Pemerintah (APIP) dalam mewujudkan
kualitas akuntabilitas dan tata kelola keuangan negara, Badan
Pengawasan Keuangan Pembangunan (BPKP) melaksanakan
evaluasi/assessment tata kelola APIP di lingkungan K/L dan
Pemerintah Daerah. Evaluasi/assessment dilakukan untuk
melihat kemampuaan APIP dalam melaksanakan tugas-tugas
pengawasan yang terdiri dari tiga unsur yang saling terkait,
yaitu kapasitas, kewenangan, dan kompetensi SDM APIP yang
harus dimiliki APIP agar dapat mewujudkan perannya secara
efektif.
Metodologi pemetaan mengacu kepada Internal Audit
Capability Model (IA-CM) yang dikembangkan oleh The Institute
of Internal Auditor (IIA) dengan beberapa penyesuaian. Dengan
model tersebut, tingkat kapabilitas APIP dikelompokan
ke dalam tingkatan (level), yaitu level 1 (initial), Level 2
(Infrastructure), Level 3 (Integrated), Level 4 (managed), dan
Level 5 (Optimizing). Level IA-CM bersifat progresif artinya
makin tinggi levelnya semakin baik kapabilitasnya dan level
rendah merupakan fondasi bagi level lebih tinggi. Setiap
level terdiri dari 6 (enam) elemen yang dipetakan, yaitu peran
dan layanan APIP, pengelolaan SDM, praktik profesional,
akuntabilitas dan manajemen kinerja, budaya dan hubungan
organisasi, serta struktur tata kelola. (lihat gambar 3.3).
Pada akhir tahun 2011, BPKP melakukan evaluasi/assessment
tata kelola APIP pada Itjen Kementerian Keuangan. Evaluasi/
assessment dilakukan dengan menggunakan formulir isian
yang diisi oleh Itjen Kementerian Keuangan sendiri dan
divalidasi oleh BPKP. Hasil evaluasi/assessment Tata Kelola Itjen
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
143
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Kementerian Keuangan oleh BPKP menunjukkan bahwa secara
keseluruhan Itjen Kementerian Keuangan berada pada level 3
(integrated), artinya seluruh kriteria untuk level tersebut telah
terpenuhi 100 % (telah dilaksanakan secara rutin/berulang dan
berkesinambungan).
Pada hasil pemetaan/assessment kapabilitas APIP 2010-2011
terhadap 331 APIP pusat dan daerah, dengan pendekatan
IACM oleh BPKP diketahui bahwa secara nasional 93,96% APIP
masih berada di level 1 (initial), selanjutnya 5,74% berada di
level 2 (infrastructure) dan hanya 1 APIP yang berada di level
3 (integrated), yaitu Inspektorat Jenderal Kementerian
Keuangan. Walaupun demikian, Itjen akan tetap terus
memperbaiki area-area yang masih bisa ditingkatkan sesuai
rekomendasi BPKP untuk menaikkan masing-masing elemen ke
capaian level yang lebih tinggi.
Selama tahun 2012, Itjen melakukan berbagai improvement
untuk memenuhi rekomendasi BPKP. Perbaikan yang dilakukan,
antara lain:
a. Itjen mulai melaksanakan audit atas manajemen risiko
pada lingkup organisasi secara keseluruhan/enterprise wide
risk;
b. Itjen menginformasikan dan mempublikasikan
kepengurusan dan kontribusinya pada organisasi profesi
dalam laporan kinerjanya; serta
c. Itjen menyelaraskan kegiatan pengembangan SDM jangka
panjang untuk memenuhi kebutuhan layanan yang
akan diberikan pada masa mendatang sejalan dengan
kebutuhan Rencana Strategis Kementerian.
Pada akhir tahun 2012, Itjen melaksanakan penilaian/
assessment mandiri sebagaimana dilaksanakan oleh BPKP atas
Tata Kelola Itjen berdasarkan IACM, dengan hasil Itjen konsisten
berada di Level 3 (integrated). Perbaikan-perbaikan akan terus
Itjen laksanakan untuk mencapai level IACM yang lebih tinggi.
22. Konferensi dan Pameran Reformasi dan Birokrasi
dan Stakeholder Meeting.
Mengambil momen pasca hari raya Idul Fitri, di Aula Bhirawa,
Hotel Bidakara Jakarta diselenggarakan pameran, konferensi,
dan stakeholder meeting tahun 2012. Diselenggarakan mulai
tanggal 27 – 29 Agustus 2012, kegiatan ini melibatkan
beberapa pihak dari lingkungan pemerintahan, akademik, dan
144
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
organisasi internasional. Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Refomasi Birokrasi, Kementerian Sekretariat
Negara, Kementerian Keuangan, BPKP, Universitas Indonesia,
Universitas Gajah Mada, Australia AID, dan US AID. Mengusung
beberapa tokoh nasional dan internasional sebagai keynote
speaker. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Refomasi Birokrasi (Azwar Abubakar), Menteri BUMN (Dahlan
Iskan), Kepala BPKP (Mardiasmo), Direktur LKPP (Bima
Wibisana), Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Refomasi Birokrasi (Eko Prasodjo), dan Walikota Denpasar (Ida
Bagus Rai Mantra) turut serta dalam acara ini.
Kegiatan ini membahas isu-isu terkait reformasi manajemen
keuangan negara dan perencanaan nasional, reformasi
birokrasi untuk meningkatkan akuntabilitas dan kinerja,
serta stabilitas ketahanan nasional, dan reformasi birokrasi di
pemerintahan daerah. Pada kesempatan ini pula, Kementerian
Keuangan yang diwakili oleh Inspektorat Jenderal dan
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, turut berpartisipasi dalam
sesi pameran reformasi birokrasi bersama dengan 27 organisasi
lain. Materi yang ditampilkan pada pameran ini adalah capaiancapaian Kementerian Keuangan terkait penyelenggaraan
reformasi birokrasi pada seluruh unit eselon 1.
21. Pencanangan Zona Integritas Kementerian
Keuangan.
Terkait dengan rangkaian acara Peringatan Hari Oeang
ke 66, pada tanggal 31 Oktober 2012 Menteri Keuangan
mencanangkan pembangunan zona integritas menuju wilayah
bebas korupsi di lingkungan Kementerian Keuangan seluruh
Indonesia. Acara dengan tema “Mewujudkan Zona Integritas
dengan Nilai-nilai Kementerian Keuangan” diselenggarakan
di gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan (Kemenkeu)
dihadiri oleh seluruh pejabat eselon I dan II di lingkungan
Kementerian Keuangan. Kegiatan ini dihadiri oleh Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(Menteri PAN & RB) Azwar Abubakar, Komisioner Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas, dan
Wakil Ketua Ombudsman Republik Indonesia Azlaini Agus.
Dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), hadir Indonesia
Corruption Watch (ICW), Transparency International Indonesia
(TII), dan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran
(FITRA). Sedangkan dari perwakilan asing hadir dari World Bank
dan PBB.
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
Acara diawali dengan pemutaran video tentang Reformasi
Birokrasi di Kemenkeu, dan dilanjutkan dengan pembacaan
Naskah Deklarasi (berdasarkan PermenPAN 60 tahun 2012)
oleh Menkeu didampingi para pejabat eselon I, kemudian
penandatanganan Piagam Pencanangan Zona Integritas oleh
Menkeu disaksikan Menteri PAN &RB, wakil dari KPK, dan wakil
ketua Ombudsman.
22. Seminar Internasional Stabilitas Keuangan
“Financial Stability Through Effective Crisis
Management and Inter-Agency Coordination Held by
Coordination Forum of Financial Stability”
Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK)
membuktikan efektifitas kerjanya melalui koordinasi
empat lembaga didalamnya (Kementerian Keuangan, Bank
Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjamin
Simpanan) dengan menyelenggarakan Seminar Internasional
Stabilitas Keuangan yang bertemakan “Financial Stability
Through Effective Crisis Management And Inter-Agency
Coordination Held By Coordination Forum Of Finacial System
Stability”. Bertempat di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Seminar ini
berlangsung selama dua hari (6-7 Desember).
Menteri Keuangan membuka acara seminar ini. Dalam Opening
remarksnya, Menkeu menjelaskan bahwa peristiwa beberapa
tahun terakhir telah menunjukkan kepada kita bahwa krisis
yang dipicu oleh sektor keuangan dapat memiliki dampak
yang mendalam dan jangka panjang pada ekonomi riil.
Indonesia sedang melakukan reformasi sektor keuangan
yang penting. Sebagai salah satu sektor yang paling penting
untuk pembangunan ekonomi, sektor keuangan (baik bank
dan lembaga keuangan lainnya) selalu menjadi bagian dari
upaya reformasi yang sedang berlangsung untuk mencapai
yang lebih baik, lebih transparan, dan intermediasi keuangan
yang lebih efisien. Salah satu upaya reformasi adalah
pengembangan kerangka regulasi dan pengawasan sektor
jasa keuangan melalui pembentukan Otoritas Jasa Keuangan
yang komprehensif dan terintegrasi berdasarkan UU nomor
21 tahun 2011. Bersamaan dengan pembentukan OJK,
Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan Undang-Undang
tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (Jaring pengaman
Sektor Keuangan-JPSK) bersama-sama dengan DPR untuk
secara signifikan meningkatkan stabilitas sistem keuangan.
Rancangan UU yang telah lama ditunggu harus diselesaikan
sesegera mungkin untuk mengatur jaring pengaman keuangan
terhadap krisis masuk yang mungkin ada di depan kami setiap
saat.
Belajar dari krisis masa lalu, menjaga stabilitas sistem keuangan
memerlukan koordinasi yang efektif antar berbagai instansi.
Untuk mengantisipasi dan mitigasi krisis, Pemerintah dan
otoritas keuangan lainnya, Bank Indonesia dan Indonesia
Deposit Insurance Corporation telah membentuk Forum
Stabilitas Sistem Keuangan Koordinasi (FKSSK). Forum ini,
sebagaimana diamanatkan oleh UU OJK, memiliki tanggung
jawab untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Seperti
krisis sebelumnya menunjukkan kepada kita, penanganan
stabilitas sistem keuangan memerlukan koordinasi yang efektif
antara Departemen Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
FKSSK memiliki beberapa mandat seperti memutuskan status
Stabilitas Sistem Keuangan, mengusulkan rekomendasi kepada
setiap anggota untuk melakukan tindakan dan / atau membuat
kebijakan untuk menjaga Stabilitas Sistem Keuangan serta
menentukan dan melaksanakan kebijakan dalam rangka
mencegah dan mengurangi krisis, seperti diungkapkan oleh
Menteri Keuangan. Seminar ini merupakan seminar pertama
yang diselenggarakan empat lembaga tersebut dibawah
koordinasi FKSSK.
23. Seminar Ekonomi Hijau (Green Economy)
Konsep Green Economy adalah komponen penting dari
rencana pembangunan ekonomi Indonesia. Konsep
ini merupakan pendekatan yang komprehensif untuk
mencerminkan saling ketergantungan antara ekonomi dan
ekosistem, dengan mempertimbangkan dampak negatif
dari kegiatan ekonomi terhadap lingkungan dari sudut
pandang pembangunan berkelanjutan. Implementasi Green
Economy bukan hanya tentang masalah lingkungan,
melainkan bagaimana mengelola sumber daya alam yang
terbatas untuk meningkatkan kegiatan ekonomi secara
berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan Kebijakan nasional
jangka panjang dan menengah diarahkan untuk mendorong
pembangunan yang pro-poor, pro-jobs, pro-growth dan proenvironment. Selain itu, prioritas nasional untuk mencapai
tujuan pembangunan jangka panjang yang ditetapkan dalam
rencana pembangunan nasional untuk 2005 - 2025 ( UU no
17/2007), yang berisi kebijakan yang spesifik dan tujuan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
145
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Ringkasan Eksekutif
pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan, sumber daya
alam dan pengelolaan lingkungan.
diperkenalkan instrumen fiskal melalui investment allowances,
tax holidays, and tax and import duty exemptions.
Pemerintah dalam hal ini melalui Kementerian Keuangan
memegang peranan penting untuk melakukan pemetaan
jalan menuju Green Economy untuk memperkuat aktivitas
ekonomi nasional. Ide-ide baru dan sumber informasi dari
lembaga-lembaga internasional dibutuhkan dalam melakukan
transformasi menuju Green Economy melalui kebijakan fiskal.
Menindaklanjuti hal tersebut, Kemenkeu pada tanggal 23 – 24
Oktober menyelenggarakan seminar dengan tema“Seminar
on Charting the Way to a Green Economy through Fiscal Policy
Reforms : A Role for Ministry of Finance”. Bertempat di Hotel Ritz
Carlton Jakarta, Mega Kuningan, acara ini dibuka oleh Menteri
Keuangan RI, Agus D.W. Martowardojo.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Emil Salim menjadi keynote
speaker yang kemudian berlanjut ke sesi seminar yang terbagi
dalam tiga sesi seminar. Prof. Dr. Bambang P.S. Brodjonegoro,
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu menjadi salah
satu narasumber pada sesi kedua, namun sebelumnya
Kepala BKF bersama Prof. Dr. Emil Salim melakukan press
conference mengenai seputar green economy, baik pada faktor
pendukung, pemanfaatan sumber daya alam menjadi bernilai
tambah, maupun terobosan-terobosannya.
Dihadiri oleh para undangan dari Kementerian dan lembaga
serta perwakilan dari AusAID, UK Climate Change Unit, GIZ,
World Bank, ADB, JICA, UNEP, UNESCAP, OECD dan Global
Green Growth Institute, Menteri Keuangan dalam sambutannya
(Opening remarks) membuka acara tersebut mengatakan
bahwa menuju keberhasilan transisi ke arah ekonomi hijau
memerlukan komitmen yang kuat, rencana dikelola dengan
baik dengan tujuan yang jelas dan terukur, pelaksanaan yang
kuat dan mekanisme pengawasan, serta rasa kepemilikan
dan kolaborasi di antara semua pemangku kepentingan.
Kementerian Keuangan dapat menciptakan kondisi yang lebih
kondusif dalam bentuk kebijakan fiskal yang relevan, serta
menggunakan pengeluaran strategis dan ditargetkan. Kita
bisa memainkan peran kunci dalam mengakses dan mengelola
pembiayaan internasional.
Selain itu Menkeu dalam opening remarks-nya dijelaskan
bahwa ada dua arah kebijakan utama: Pertama, untuk
meningkatkan alokasi anggaran dan kualitas pengeluaran
untuk program-program pembangunan berkelanjutan
di kementerian terkait dan, Kedua, untuk mengurangi
pengeluaran yang tidak efisien dan distorsi sambil
meningkatkan insentif bagi pengurangan emisi gas rumah
kaca. Di sisi pengeluaran, telah ditingkatkan anggaran untuk
program lingkungan dan kehutanan, dan bekerja sama
dengan kementerian perencanaan pembangunan nasional
dalam pendanaan komitmen nasional menengah dan jangka
panjang untuk mengurangi emisi karbon. Di sisi insentif, telah
146
Kata Pengantar
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kepala Pusat Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral
(PKPPIM), Dr. Irfa Ampri, menjadi chairman pada sesi ketiga
yang membahas topik ”Investments and Innovation for
Infrastructure in a Green Economy”. Pada Sesi ini membahas
eksplorasi peluang dan lingkungan yang kondusif yang
diperlukan untuk menarik keterlibatan sektor swasta dalam
pembangunan infrastruktur di ekonomi hijau. Berlanjut
pada hari kedua, acara terbagi dalam empat Working
Group dengan masing-masing topik: Sustainable Energy
Infrastructure (Renewable Energy: Geothermal, Hydro, Solar),
Green Economy Financing, Local Government Roles on Green
Economy, dan Green Production and Consumption (Energy
Efficiency). Keseluruhan acara ditutup pada sore hari oleh
Kepala PKPPIM, Badan Kebijakan Fiskal.
24. International Workshop on Indonesia Excise Tax
Reform
Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Asia-Pacific Tax
Forum (APTF) mengadakan kegiatan International Workshop
yang bertajuk Indonesia Excise Tax Reform. Workshop ini
diselenggarakan pada tanggal 26-27 September 2012
bertempat di Hotel Grand Royal Panghegar, Bandung.
Workshop yang dilangsungkan selama dua hari ini dihadiri
oleh peserta dari berbagai instansi pemerintah selain dari
unit Eselon I di Kementerian Keuangan seperti dari Direktorat
Jenderal Bea Cukai Kanwil Jawa Barat, Direktorat Jenderal
Pajak Kanwil Jawa Barat juga dari Kementerian Pertanian,
Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian,
Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, dan instansi
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
pemerintah lainnya. Selain itu peserta dari kalangan akademisi
juga tak kalah pentingnya dalam memberikan pendapat dan
masukan dalam workshop kali ini seperti dari Universitas
Trisakti, Universitas Parahyangan, UNJ, dan instansi pendidikan
lainnya.
Hari pertama pelaksanaan kegiatan ini diisi dengan diskusi
kelompok yang dilaksanakan dengan membagi peserta
menjadi beberapa working group. Pelaksanaan diskusi ini
dipandu oleh para peneliti dari BKF. Adapun tema yang
dibahas pada working group ini adalah “Kebijakan Cukai Hasil
Tembakau Indonesia” yang dipandu oleh Bapak Almizan Ulfa
dan Bapak Makmun.
Pembahasan pada diskusi selanjutnya bertema “Kebijakan atas
Cukai Alkohol” yang dibawakan oleh Bapak Eddy Mayor Putra
Sitepu. Sebagai penutup, tema terakhir pada workshop hari
pertama ini berjudul “Optimizing State Revenue: Cukai atas
otomotif” yang dibawakan oleh Bapak Purwoko.
Adapun susunan acara pada hari kedua, 27 September 2012,
International Workshop ini adalah sebagai berikut :
a. Welcome remarks : Mr. Daniel A. Witt
b. Keynote address : Mr. Mahendra Siregar, Deputy II Minister of
Finance, Indonesia Ministry of Finance
c. Session I : Policy Considerations in Excise Tax Design
d. Session II : Tobacco Excise Tax Policy
e. Session III : Alcohol Excise Tax Policy
f. Session IV : Motor Vehicle and Petroleum Products Excise Tax
Policy
Materi workshop pada acara tersebut akan dihadiri dan
dibawakan oleh beberapa tokoh, antara lain:
a. Bambang PS Brodjonegoro, Head of Fiscal Policy Agency,
Indonesia Ministry of Finance
b. Andin Hadiyanto, Secretary of Fiscal Policy Agency, MoF
c. Astera Primanto Bhakti, Director of the Center for State
Revenue Policy, MoF
d. Decy Arifinsjah, Director of the Center for Regional and
Bilateral Policy, MoF
e. Luky Alfirman, Director of the Center for Macro Economy
Policy, MoF
f. Iswan Ramdana, Director of Excise, MoF
g. Professor Sijbren Cnossen, Maastricht University and Senior
Economic Advisor, ITIC
h. Rob Preece, Associate Director, Center for Customs and Excise
Study, University of Canberra
i. Kara Ribbons, Adviser, Government Advisory Services, KPMG
Australia
j. Permana Agung, Ph.D
k. Siti Baroroh, Directorate of Beverages and Tobacco, Indonesia
Ministry of Industry
l. Leigh Obradovic, Senior Consultant, Government Relations,
Indirect Tax, KPMG Australia
m. Prof. Dr. H. Muslich Anshori, Faculty of Economics, Airlangga
University (Unair)
n. Nutthakorn Utensute, Excise Department, Thailand Ministry
of Finance
o. Raksaka Mahi, Ph.D, University of Indonesia
D. Akuntabilitas Keuangan
1. Perbandingan Pagu DIPA dan Realisasi DIPA
Kementerian Keuangan 2012 Per Jenis Belanja
Berdasarkan data realisasi penyerapan anggaran
per 20 Februari 2013 yang merujuk pada Sistem Akuntansi
Umum (SAU), realisasi DIPA Kementerian Keuangan TA 2012
untuk belanja barang dan belanja modal adalah sebesar
Rp7.732,38 miliar atau 85,66% dari jumlah pagu dalam
DIPA sebesar Rp9.027,01 miliar. Realisasi tersebut masih
belum mencapai target dalam Indikator Kinerja Utama (IKU)
Kementerian Keuangan sebesar 95%. Secara total anggaran
belanja, termasuk belanja pegawai, penyerapan anggaran DIPA
Kementerian Keuangan adalah sebesar Rp15.709,82 miliar atau
mencapai 90,28% dari total pagu sebesar Rp.17.402,10 miliar.
Perbandingan realisasi penyerapan DIPA per jenis belanja untuk
tahun anggaran 2010, 2011 dan 2012 tersaji dalam tabel 3.90.
Berdasarkan data realisasi Kementerian Keuangan dari TA 2010
sampai dengan 2012, Realisasi Penyerapan DIPA Kementerian
Keuangan terus meningkat baik per jenis belanja maupun
secara keseluruhan. Realisasi belanja modal meningkat dari
tahun 2010 sebesar 71,06 persen menjadi sebesar 72,65
persen pada tahun 2011 dan 86,09 persen pada tahun 2012.
Sedangkan realisasi belanja barang, dari realisasi pada tahun
2010 sebesar 76,09 persen pada tahun 2010, meningkat
menjadi 81,53 persen pada tahun 2011 dan 85,54 persen pada
tahun 2012.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
147
Tabel 3.90
Perkembangan Realisasi Penyerapan Anggaran Kementerian Keuangan TA 2010-2012 per Jenis Belanja
Jenis
Belanja
Tahun Anggaran 2010
Pagu
Realisasi
Tahun Anggaran 2011
%
Pagu
Realisasi
Tahun Anggaran 2012
%
Pagu
Realisasi
%
Belanja
Pegawai
7.626,57
7.177,47
94,11
8.000,42
7.510,44
93,88
8.375,08
7.977,44
95,25
Belanja
Barang
5.161,99
3.927,56
76,09
6.476,52
5.280,13
81,53
7.127,80
6.097,35
85,54
Belanja
Modal
2.603,30
1.849,95
71,06
2.869,82
2.084,80
72,65
1.899,22
1.635,03
86,09
15.391,87
12.954,98
84,17
17.346,78
14.875,39
85,75
17.402,10
15.709,82
90,28
Total
Tabel 3.91
Realisasi DIPA Kementerian Keuangan 2012 Per Program
No.
Program
1.
Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya
Kementerian Keuangan
2.
Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Kementerian
Keuangan
3.
Pengelolaan Anggaran Negara
4.
Realisasi (Rp.)
%
6.787,06
6.048,90
89,12
94,74
88,84
93,35
139,37
125,58
90,10
Peningkatan dan Pengamanan Penerimaan Pajak
4.997,44
4.606,09
92,17
5.
Pengawasan, Pelayanan, dan Penerimaan di Bidang Kepabeanan dan
Cukai
2.130,57
1.983,14
93,08
6.
Peningkatan Pengelolaan Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah
117,46
112,70
95,94
7.
Pengelolaan dan Pembiayaaan Utang
70,75
67,95
96,05
8.
Pengelolaan Perbendaharaan Negara
1.534,47
1.413,97
92,15
9.
Pengelolaan Kekayaan Negara, Penyelesaian Pengurusan Piutang
Negara dan Pelayanan Lelang
601,26
553,14
92,00
10.
Pengaturan, Pembinaan dan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan Non Bank
361,10
183,32
50,77
11.
Pendidikan dan Pelatihan Aparatur Kementerian Keuangan
421,88
395,20
93,67
12.
Perumusan Kebijakan Fiskal
145,99
131,40
90,01
17.402,10
15.709,82
90,28
Total
*) Sumber : SAU per 20 Februari 2013
148
Pagu (Rp.)
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Realisasi belanja barang dan belanja modal yang menjadi salah
satu IKU Kementerian Keuangan terus mengalami peningkatan,
dari sebesar 74,40 persen pada tahun 2010, meningkat menjadi
78,80 persen dan meningkat menjadi 85,66 persen pada tahun
2012.
2. Perbandingan PAGU DIPA dan Realisasi DIPA
Kementerian Keuangan 2012 Per Program
Pada tahun anggaran 2012, Kementerian Keuangan
melaksanakan 12 program, yang masing-masing dilaksanakan
oleh unit eselon I sesuai dengan tugas dan fungsinya. Adapun
total Pagu DIPA Kementerian Keuangan TA 2012 sebesar
Rp.17.402,10 miliar. Adapun rincian realisasi penyerapan DIPA
per program TA 2012 tersaji dalam tabel 3.91
Penyerapan DIPA Kementerian Keuangan TA 2012 sebesar 90,28
persen belum memenuhi target yang telah ditetapkan, yaitu
sebesar 95 persen. Beberapa kendala yang menyebabkan tidak
tercapainya target tersebut antara lain:
a. Kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) pada satker yang
belum memiliki sertifikat pengadaan barang dan jasa,
sehingga menghambat proses pengadaan;
b. Keterlambatan dalam penetapan pejabat pelaksana
anggaran;
c. Terdapat anggaran yang masih diblokir pagunya karena
belum lengkapnya dokumen pendukung atau persyaratan;
d. Adanya gagal lelang dan kendala dalam proses pengadaan
barang dan jasa, diantaranya karena adanya sanggahan
banding yang menyebabkan lelang ulang;
e. Terhambatnya pelaksanaan pembangunan dan renovasi
gedung karena kendala persetujuan teknis dari pihak
eksternal, seperti persyaratan clearence dan penghapusan
BMN;
f. Penyelesaian pekerjaan yang melewati batas waktu
kontrak;
g. Adanya kebijakan penghematan anggaran pada tahun
pelaksanaan anggaran; dan
h. Adanya perubahan struktur organisasi pada Kementerian
Keuangan (Bapepam-LK menjadi OJK).
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
149
150
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
BAB IV
PENUTUP
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
151
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
Kata Pengantar
BAB IV
Penutup
152
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Ringkasan Eksekutif
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
LAKIP Kementerian Keuangan ini merupakan laporan
pertanggungjawaban atas pencapaian pelaksanaan visi
dan misi Kementerian Keuangan menuju good governance
dengan mengacu pada Rencana Strategis tahun 2010-2014.
Penyusunan LAKIP Kementerian Keuangan mengacu pada
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan
Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, Instruksi Presiden
Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (AKIP), dan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun
2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. LAKIP ini
merupakan LAKIP tahun ketiga pelaksanaan RPJMN tahun
2010-2014.
Sebagai pengelola keuangan dan kekayaan negara,
Kementerian Keuangan telah mampu menjalankan tugasnya
dengan baik. Dalam situasi dan kondisi perekonomian
yang sangat fluktuatif, tugas pengelolaan keuangan negara
dirasakan semakin berat dan penuh tantangan. Namun
demikian, aparatur Kementerian Keuangan telah berhasil
mengatasi tantangan tersebut, sehingga tugas yang diemban
dapat diselesaikan sesuai dengan harapan. Hal ini tampak pada
pencapaian IKU pada tahun 2012 sudah sesuai dengan target
yang ditetapkan, walaupun masih terdapat beberapa IKU
belum mencapai target yang ditentukan.
Langkah-langkah kedepan yang harus dilakukan oleh
Kementerian Keuangan dalam upaya memperbaiki kinerja dan
menghadapi tantangan ke depan, antara lain:
1. Peningkatan realisasi Pendapatan Negara dengan
mengamankan rencana penerimaan perpajakan,
diantaranya melakukan penyempurnaan sistem
administrasi pajak terutama sistem administrasi
yang berbasis teknologi informasi, dan peningkatan
pengawasan di bidang perpajakan. Di samping itu,
peningkatan pelayanan dan pengawasan di bidang
kepabeanan, serta penyempurnaan sistem administrasi
pengelolaan PNBP
2. Mengoptimalkan penyerapan Belanja Negara dengan
melaksanakan sosialisasi dan bimtek kepada stakeholder
untuk percepatan penyerapan anggaran, dan penyusunan
modul/guideline pelaksanaan APBN yang berdasarkan PMK
Nomor 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran
Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
153
Daftar Isi
Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan
3. Mengupayakan pengembangan pasar SBN domestik
antara lain melalui perluasan basis investor SBN domestik,
dan pengembangan instrumen SBN. Di samping itu
juga mengembangkan strategi pengelolaan risiko
nilai tukar melalui instrumen derivatif (hedging) dan
penerapan konsep asset liability management, serta
mengimplementasikan CMP (Crisis Management Protocol)
dan Bond Stabilization Framework (BSF) dalam rangka
pemeliharaan stabilitas pasar SBN dari potensi terjadinya
pembalikan modal (sudden reversal).
4. Optimalisasi pendayagunaan kekayaan negara melalui
official assessment dalam rangka mengidentifikasi BMN
yang berpotensi untuk ditetapkan utilisasinya dan
meningkatkan koordinasi dan persamaan persepsi
mengenai pentingnya penetapan status BMN.
5. Meningkatkan transparansi pengelolaan keuangan
negara melalui peningkatan kualitas penyusunan LKPP
dan melakukan koordinasi serta konsolidasi pengelolaan
pertanggungjawaban dan pelaporan keuangan.
154
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Akhirnya dengan disusunnya LAKIP ini, diharapkan dapat
memberikan informasi secara transparan kepada seluruh pihak
yang terkait mengenai tugas fungsi Kementerian Keuangan,
sehingga dapat memberikan umpan balik guna peningkatan
kinerja pada periode berikutnya. Secara internal LAKIP tersebut
harus dijadikan motivator untuk lebih meningkatkan kinerja
organisasi dengan jalan selalu menyesuaikan indikatorindikator kinerja yang telah ada dengan perkembangan
tuntutan stakeholders, sehingga Kementerian Keuangan dapat
semakin dirasakan keberadaannya oleh masyarakat dengan
pelayanan yang profesional.
MENTERI KEUANGAN
AGUS D.W. MARTOWARDOJO
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan
Rencana Strategis dan
Penetapan/Perjanjian Kinerja
Akuntabilitas Kinerja dan
Akuntabilitas Keuangan
Penutup
LAMPIRAN
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
155
MATRIKS PERBANDINGAN RENCANA STRATEGIS DAN
ROADMAP KEMENTERIAN KEUANGAN
UNTUK MENDUKUNG KEGIATAN PRIORITAS NASIONAL
Kementerian/Unit Eselon I
TahunAnggaran
FORMULIR PENGUKURAN KINERJA
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
156
Sasaran Strategis
KK-1
KK-2
KK-3
KK-4
KK-5
KK-6
KK-7
Pendapatan negara yang
optimal
Perencanaan dan
Pelaksanaan belanja
negara yang optimal
Pembiayaan dalam
jumlah yang cukup,
efisien, dan aman bagi
kesinambungan fiskal
Utilisasi kekayaan negara
yang optimal
Perimbangan keuangan
yang adil dan transparan
Pengelolaan keuangan
negara yang akuntabel
Industri pasar modal dan
jasa keuangan non bank
yang stabil, tahan uji dan
likuid
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
IndikatorKinerja
Target
Realisasi
: KementerianKeuangan
: 2012
Persentase
KK-1.1
Jumlahpendapatannegara
Rp1.357,38 T
Rp1.331,35 T
98,08%
KK-1.1.1
Jumlah penerimaan pajak
(triliun)
Rp885,027 T
Rp835,26 T
94,38%
KK-1.1.2
Jumlah Penerimaan Bea dan
Cukai (triliun)
Rp131,211 T
Rp144,46 T
110,10%
KK-1.1.3
Jumlah PNBP Nasional (triliun)
Rp341,142 T
Rp351,63 T
103,07%
KK-2.1
Persentase dana blokir (tanda
bintang)
3%
1,45%
120,00%
90%
88,21%
98,01%
Persentase penyerapan Belanja
Negara dalam DIPA K/L
KK-2.2
KK- 3.1
Persentase pemenuhan target
pembiayaan melalui utang
yang cukup
100%
98,87%
117,74%
KK-3.2
Persentase pencapaian target
effective cost
100%
80,58%
119,42%
KK-4.1
Nilai kekayaan negara yang
diutilisasi (dalam triliun)
Rp102,56 T
Rp103,31 T
100,73%
KK-5.1
Indeks Pemerataan keuangan
antar-daerah
0,8
0,74
107,50%
KK-5.2
Persentase ketepatan jumlah
penyaluran dana transfer ke
daerah
100%
100,12%
100,12%
KK-5.3
Persentase Perda PDRD yang
sesuai dengan peraturan
perundang-undangan
90%
94,98%
105,53%
KK-6.1
Indeks jumlah LK K/L dan LK
BUN yang andal dengan opini
audit yang baik
97,62
87,36
89,49%
KK-6.2
Rata-rata indeks opini BPK RI
atas LK BA 15, BUN, dan BA 999
4
3,88
97,00%
KK-7.1
Rata-rata tingkat kesehatan
perusahaan efek, asuransi, dan
pembiayaan
87,67%
96,94%
110,57%
KK-7.2
Persentase nilai transaksi
perusahaan efek yang tidak
memenuhi persyaratan
minimum MKBD yang
berpotensi mengganggu
perdagangan saham di Bursa
15%
0,0011%
120,00%
Formulir Pengukuran Kinerja (Lanjutan)
No.
8.
9.
Sasaran Strategis
KK-8
KK-9
Kepuasan Pengguna
Layanan yang Tinggi
Kajian dan rumusan
kebijakan yang
berkualitas
IndikatorKinerja
KK-8.1
Indeks Kepuasan Pengguna
Layanan
KK-9.1
10.
KK-10
KK-11
Peningkatan edukasi
masyarakat dan pelaku
ekonomi
Persentase
3,90
99,49%
Deviasi proyeksi indikator
ekonomi makro
5%
2,52%
120,00%
KK-9.2
Deviasi proyeksi APBN
5%
4,84%
103,25%
KK-9.3
Deviasi Proyeksi Exercise
I-Account
5%
0,29%
120,00%
KK-9.4
Deviasi penetapan dana
transfer ke daerah
5%
0,00%
120,00%
KK-9.5
Jumlah kebijakan untuk
peningkatan penerimaan
negara
5
5
100,00%
100,00%
106,37%
106,37%
90%
95,11%
105,68%
Rata-rata persentase realisasi
janji layanan unggulan
KK-10.2
Persentase tingkat akurasi
perencanaan kas
KK-10.3
Persentase pemenuhan target
risiko portofolio utang
100%
98,13%
116,26%
KK-10.4
Penyelesaian LKPP dan
Rancangan UU PPAPBN secara
tepat waktu
3
4
120,00%
50%
58,18%
116,36%
75,56
79,75
105,55%
KK-10.5
11.
Realisasi
3,92
KK- 10.1
Pelaksanaan pengelolaan
keuangan dan kekayaan
negara yang efektif dan
efisien
Target
KK-11.1
Persentase penyelesaian BMN
Kemenkeu yang bermasalah
dengan kategori rusak berat
atau hilang
Tingkat efektivitas edukasi dan
komunikasi
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
157
Formulir Pengukuran Kinerja (Lanjutan)
No.
12.
158
Sasaran Strategis
KK-12
IndikatorKinerja
Realisasi
Persentase
KK-12.1
Rata-rata persentase kepatuhan
dan penegakan hukum
(30.23%)
60,79%
67,41%
110,89%
KK12.1.1
Persentase jumlah Wajib
Pajak Orang Pribadi terdaftar
terhadap jumlah Kepala
Keluarga
35,00%
35,30%
100,86%
KK12.1.2
Tingkat efektivitas pemeriksaan
pajak
55%
3,66%
120,00%
KK12.1.3
Persentase pencairan piutang
pajak
30,00%
32,30%
107,67%
KK12.1.4
Persentase penyampaian SPT
PPh
62,50%
51,46%
82,34%
KK12.1.5
Persentase hasil penyidikan
yang dinyatakan lengkap oleh
Kejaksaan (P21)
45,00%
54,00%
120,00%
KK12.1.6
Persentasi hasil penyidikan
bea dan cukai yang dinyatakan
lengkap oleh Kejaksaan (P21)
50,00%
82,50%
120,00%
KK12.1.7
Persentase penyelesaian
piutang bea dan cukai
60,00%
84,55%
120,00%
KK12.1.8
Persentase pelaksanaan audit
terhadap pengusaha penerima
fasilitas kepabeanan dan cukai
5,00%
8,07%
120,00%
KK12.1.9
Persentase kepatuhan
pelaporan BMN oleh K/L
95,00%
99,22%
104,44%
KK12.1.10
Persentase penyampaian APBD
yang tepat waktu
90,00%
97,00%
107,78%
KK12.1.11
Persentase monitoring dan
evaluasi rekomendasi BPK atas
LKPP yang telah ditindaklanjuti
100,00%
100,00%
100,00%
Pengawasandan
penegakan hukum yang
efektif
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Target
Formulir Pengukuran Kinerja (Lanjutan)
No.
13
14
15
16
Sasaran Strategis
KK13
KK-14
KK-15
KK-16
Pembentukan SDM yang
berkompetensi tinggi
Penataan organisasi yang
adaptif
Perwujudan TIK yang
terintegrasi
Pengelolaan anggaran
yang optimal
Jumlah anggaran tahun 2012
Jumlah realisasi anggaran tahun 2012
IndikatorKinerja
KK12.1.12
Persentase sanksi administrasi
atas pelanggaran peraturan
perundang-undangan di
bidang pasar modal yang
obyektif
KK-12.2
Target
Realisasi
Persentase
97,00%
100%
103,09%
Indeks ketepatan waktu
penyelesaian tindak lanjut
Instruksi Presiden
80
83,62%
104,53%
KK-12.3
Persentase ketepatan pola
penarikan dana DIPA K/L
80%
83,73%
110,68%
KK-13.1
Persentase pejabat yang telah
memenuhi standar kompetensi
jabatannya
82,50%
85,90%
104,12%
KK-13.2
Persentase diklat yang
berkontribusi terhadap
peningkatan kompetensi
85%
100%
117,65%
KK-13.3
Rasio jam pelatihan
dibandingkan jam kerja
2,5000%
3,1996%
120,00%
KK-14.1
Persentase mitigasi risiko yang
selesai dijalankan
70%
93,23%
120,00%
KK-14.2
Indeks reformasi birokrasi
92
92,53
101,66%
KK-14.3
Indeks Kepuasan pegawai
3,04
3,39
111,45%
KK-14.4
Persentase policy
recommendation hasil
pengawasan yang
ditindaklanjuti
85%
92,86%
109,25%
KK-15.1
Persentase integrasi TIK
Kemenkeu (54.17%)
60%
53,78%
89,63%
KK-15.2
Persentase Akurasi data SIMPEG
(45.83%)
100%
99,98%
99,98%
KK-16.1
Persentase Penyerapan DIPA
Kementerian Keuangan (100%)
95%
85,66%
90,17%
: Rp 17.402.100.000.000
: Rp 15.709.820.000.000
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2012
159
Download