EFEKTIVITAS PENAMBAHAN NUTRIEN DAN

advertisement
ISSN : 0854 – 641X
E-ISSN : 2407 – 7607
J. Agroland 22 (1) : 86 - 93, April 2015
EFEKTIVITAS PENAMBAHAN NUTRIEN DAN MANIPULASI
CAHAYA UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI DAN KUALITAS
AGAR Gracilaria sp.
Eka Rosyida 1) dan Nasmia1)
1)
Program Studi Peternakan. Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas Tadulako. Jl. Soekarno – Hatta Km5 Palu
94118. Sulawesi Tengah Telp/Fax : 0451 – 429738
ABSTRACT
Nutrient enrichment and environmental manipulation in this study were aimed to enhance
the growth and quality of Gracilaria sp. Enrichment treatments were N: P ratio of 10:0 (A), N: P
ratio of 10:1 (B), N: P ratio of 5:1 (C) and no nutrient added (D) with stocking density of 800 g per
culture media and water depth of 50 cm in week I-IV. Light manipulation as water depth variation
was conducted in week V-VI. Completely randomize design was employed with 6 and 2
replication in week I-IV and week V-VI, respectively. The results showed no significant effect of
treatments on the growth of seaweed (ANOVA, P> 0.05), however DGR maximum indicated by
treatment B. The highest water content of the dried Gracilaria <24%, while the average ash content
for all treatments <33%. In general, higher agar yields were obtained from non-enriched treatment
(D) and treatment with a depth of 80 cm.
Key words : Disease, enrichment, Gracilaria sp. manipulation, seaweed active extract.
PENDAHULUAN
Rumput laut jenis Gracilaria sp.
merupakan salah satu jenis alga merah
(Rhodophyta) yang tumbuh di daerah tropik
dan subtropik yang tumbuh dominan di
perairan laut dangkal. Permintaan ekspor
komoditas Gracilaria sp. terus meningkat,
bahkan hasil produksinya di Indonesia
sebagian besar (81,60%) juga diserap oleh
industri agar dalam negeri (Anggadiredja,
dkk., 2011). Keadaan tersebut tentunya harus
diimbangi oleh ketersediaan bibit dan bahan
baku berkualitas hasil kegiatan budidaya.
Pertumbuhan
rumput
laut
Gracilaria sp. sangat tergantung kepada
ketersediaan unsur hara seperti Nitrogen
(N), Fosfor (P), Karbon (C) dan lain-lain.
Aplikasi penggunaan urea sebanyak 3
kg/ha/minggu dan ditambah dengan kotoran
babi menunjukkan pertumbuhan yang
signifikan dari Gracilaria sp. (Trono,
1988). Sementara itu, Angkasa, dkk.. (2006)
menganjurkan pemberian pupuk Nitrogen
86
sebanyak 10 kg/ha pada 4 minggu pertama
penanaman dan phosphate sebesar 5 kg/ha
pada 2 hingga 3 minggu berikutnya, serta
untuk meningkatkan kulitas agar, dapat
dilakukan dengan menambah kedalaman air
hingga 80 cm pada umur tanam minggu
ke-5 hingga ke-7.
Pertumbuhan diukur dari produksi
yang dihasilkan, sedangkan kualitas agar
dikatakan baik bila rendemen agar dan gel
strength tinggi, tetapi sebaliknya kandungan
sulfatnya rendah. Selain itu, kandungan air
dan kadar abu bahan baku kering sebelum
proses ekstraksi juga merupakan komponen
penting terkait mutu rumput laut.
Meskipun upaya budidaya rumput
laut jenis ini telah berkembang, namun
variasi kualitas dan kuantitas diberbagai
daerah di Indonesia masih menjadi kendala
dalam pemasaran di tingkat Internasional.
Berdasarkan pengamatan di lapangan,
para pembudidaya umumnya kurang
memperhatikan kualitas rumput laut yang
dihasilkan karena hanya mengejar target
produksi (kuantitas), sehingga mutunya
berada dibawah standar perdagangan
internasional. Disamping itu, produksi juga
kadang mengalami fluktuasi disebabkan
oleh hama dan penyakit, dimana hal ini
dapat merugikan budidaya rumput laut
karena sulit ditanggulangi dan waktu
penyebarannya yang cepat.
Penelitian ini bertujuan untuk
dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas
Gracilaria sp. melalui aplikasi pemberian
nutrien dengan dosis berbeda dan dilanjutkan
dengan manipulasi cahaya dengan cara
mengatur ketinggian/kedalaman air media.
METODE PENELITIAN
Budidaya Gracilaria sp.. Budidaya
Gracilaria sp. menggunakan metode
tebar (broadcast) di dalam petakan yang
diberi wadah terpal persegi berukuran
75x80x100 (cm2). Untuk menghindari
resiko hujan, maka petakan budidaya
dinaungi dengan plastik bening transparan
sehingga cahaya matahari dapat tetap
masuk menembus ke media budidaya.
Penelitian menggunakan padat tebar setara
4 ton/ha, sehingga padat tebar dalam tiap
wadah adalah sebesar 800 g rumput laut.
Penelitian ini menggunakan bibit
rumput laut yang berasal dari tambak
budidaya masyarakat di daerah Parigi,
Kabupaten Parigi Mautong, Provinsi
Sulawesi Tengah. Sebelum dibudidayakan
dan diberikan perlakuan, bibit rumput
laut diaklimatisasi selama 24 jam untuk
penyesuaian salinitas dan suhu daerah
asal dengan lokasi penelitian. Pada masa
budidaya, diberikan perlakuan pemberian
berbagai dosis nutrien setiap seminggu
sekali. Perlakuan berbagai variasi kedalaman
air/pemberian jaring untuk memanipulasi
cahaya dilakukan sejak umur tanam minggu
V hingga minggu VI. Untuk menjaga
kualitas air, dilakukan penggantian air
seminggu sekali sebelum dilakukan
pemberian nutrien. Pengukuran terhadap
DO terlarut, suhu, pH dan Salinitas
dilakukan setiap sebelum penggantian air.
Pemberian Nutrien dan Manipulasi
Cahaya. Nutrien yang ditambahkan ke dalam
media budidaya berupa N (Nitrogen) dan P
(Phosphat) masing-masing dalam bentuk
pupuk urea (25 ppm) dan pupuk SP-36
dengan perlakuan pemberian : N:P dengan
ratio 10:0 (A), N:P dengan ratio 10:1 (B),
N:P dengan ratio 5:1 (C) serta sebagai
kontrol dilakukan tanpa pemberian nutrien
(D). Pada Minggu I hingga Minggu IV
kedalaman air pada media sebesar 50 cm.
Pengaturan cahaya dilakukan dengan
perlakuan berbagai variasi kedalaman air
media budidaya pada Minggu V hingga
minggu VI, yaitu masing-masing 50 cm (1),
kedalaman 50 cm disertai pemberian/penutupan
jaring (2) dengan meshsize 5 mm diatas
media dan kedalaman 80 cm (3).
Rancangan Percobaan. Masing-masing
perlakuan menggunakan 6 ulangan pada
minggu I-IV dan selanjutnya 2 ulangan pada
minggu V-VI. Setelah budidaya 6 minggu,
rumput laut dipanen dan dikeringkan selama
1-2 hari, untuk kemudian rumput dikemas
dan dilakukan analisis kualitas agarnya.
Analisis dan Parameter Data.
Pertumbuhan
dan
Kualitas
Agar.
Selama penelitian dilakukan penimbangan
terhadap rumput laut seminggu sekali untuk
mengetahui Laju pertumbuhan rumput laut
tersebut. Laju pertumbuhan harian (Daily
Growth Rate = DGR) dihitung berdasar
Lignell, dkk., (1987) dalam Mtolera (2003)
dan Villanueva, dkk., (2009) sebagai berikut:
DGR (g berat basah)= [ (Wt/W0)1/t - 1] x 100
Dimana :
Wt = Berat awal
W0 = Berat akhir
t
= Waktu pada umur ke-t
Pengujian terhadap kualitas agar
meliputi:
A. Kadar air.
Sebanyak 5 g sampel dimasukkan
ke dalam cawan yang telah dikeringkan
dalam oven 100-102oC selama 15 menit
dan telah diketahui bobotnya. Sampel
dalam cawan dikeringkan selama 6 - 16
jam (suhu 100-102oC). Cawan kemudian
dipindahkan ke dalam desikator sampai
87
bobotnya tetap kemudian ditimbang
kembali. Uji kadar air (AOAC, 2005)
ditentukan dengan rumus :
Kadar air (%) = Berat sampel awal (g) - berat sampel kering (g) x 100%
Berat sampel awal (g)
B. Kadar Abu.
Uji kadar Abu (AOAC, 1984) menggunakan
sampel seberat 2-3 g yang dimasukkan
dalam cawan kering yang telah diketahui
bobotnya, kemudian dipijarkan dalam
tanur 600o C sampai diperoleh abu
berwarna keputihan. Cawan dan abu
dimasukkan ke dalam desikator dan
ditimbang beratnya setelah dingin.
Cawan dan abu dimasukkan ke dalam
tanur selama 30 menit dan dimasukkan
dalam
desikator.
Setelah
dingin
ditimbang kembali, dan perlakuan terus
diulang hingga diperoleh berat abu yang
konstan. Kadar abu ditentukan berdasar
perhitungan :
Kadar abu(%) =
Berat abu (g)
Berat awal bahan (g)
x 100%
C. Rendemen Agar.
Agar diekstraksi dengan prosedur
sebagai berikut (Sumber : BPPBAP,
Maros): 10 gram rumput laut kering
direndam dalam larutan kaporit 0,25%
selama 3 x 24 jam. Kemudian dibilas dan
dibersihkan, lalu direndam air tawar
salama 3 jam. Sesudah itu, rumput laut
direndam H2SO4 0,1% selama 15 menit
dan dicuci sampai bersih, lalu direndam
air tawar kembali selama 15 menit.
Selanjutnya, rumput laut dimasak dengan
aquadest sebanyak 500 mL, disaring dan
dituang ke dalam baki dan dikeringkan.
Agar yang telah kering kemudian ditimbang.
Kandungan agar dalam rumput laut
kering (rendemen/yield) dihitung setelah
di ekstraksi :
Rendemen (%) = Berat kandungan agar x 100 %
Berat Rumput Laut Kering
Analisis Statistik. Data hasil penelitian
diolah dengan analisis ragam menggunakan
program minitab 14. Hubungan antara
parameter penentu kualitas rumput laut dan
agar diinterpretasikan secara deskritif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil.
Selama masa budidaya 4 minggu
dengan perlakuan penambahan dan tanpa
penambahan nutrien di bak terkontrol,
diperoleh
laju
pertumbuhan
harian
(Daily growth rate = DGR) rumput laut
Gracilaria verrucosa sebagaimana tersaji
pada Gambar 1.
Sedangkan untuk rata-rata laju
pertumbuhan pada tiap-tiap perlakuan
selama masa pemeliharaan 6 minggu,
yaitu setelah diberi nutrien kemudian
dilanjutkan manipulasi cahaya tersaji pada
histogram berikut:
Laju pertumbuhan (%/hari)
3.50
3.00
2.50
2.00
A
B
C
D
1.50
1.00
0.50
0.00
0
1
2
minggu ke-
3
4
Gambar 1. Laju Pertumbuhan Harian Rumput Laut Gracilaria sp. selama 4 Minggu Setelah
Pemberian Nutrien di Bak-bak Terkontrol. A = N:P Ratio 10:0, B = N:P Ratio 10:1,
C = N:P Ratio 5:1, D = Tanpa Pemberian Nutrient
88
1.40
Laju pertumbuhan
(%/hari)
1.20
1.00
0.80
1.32
0.60
1.17
1.14
1.00
0.40
0.20
0.00
A
B
C
D
PERLAKUAN
kadar pada kedalaman 50 cm (%)
Gambar 2. Rata-rata Laju Pertumbuhan Harian Rumput Laut Gracilaria sp. pada Tiap Perlakuan
Selama Masa Budidaya 6 Minggu
32.73
35
30.21
28.97
28.16
30
23.99
25
22.45
20.05
20
18.55
17.26
14.56
13.76
15
Air
14.17
Abu
Agar
10
5
0
A
B
C
D
Gambar 3. Kadar Air dan Abu, serta Kadar Agar Gracilaria sp. Hasil Budidaya selama 6 Minggu
dengan Perlakuan Kedalaman 50 cm
kadar pada kedalaman 50 cm +
ditutup jaring (%)
35
30.4
28.6
30
15
30.9
22.9
25
20
28.86
19.52
19.74
17.89
20.44
18.56
Air
14.5
Abu
10.13
10
Agar
5
0
A abu , serta kadarBagar Gracilaria sp.
C hasil budidaya Dselama 6 minggu
Gambar 3. Kadar air dan
dengan perlakuan kedalaman 50 cm
Gambar 4. Kadar Air dan Abu, serta Kadar Agar Gracilaria sp. Hasil Budidaya selama 6 Minggu
dengan Perlakuan Kedalaman 50 cm + Ditutup Jaring
89
Untuk kualitas rumput laut dan agar,
dalam hal ini terkait kadar air dan abu
rumput laut, serta rendemen agar, hasil untuk
perlakuan pengkayaan nutrien (4 minggu)
dan dilanjutkan manipulasi cahaya dengan
kedalaman berbeda (2 minggu) masing-masing
disajikan sebagai berikut:
Pembahasan.
Pemberian nutrien ke dalam media
budidaya bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan unsur hara bagi organisme
yang dibudidayakan. Aplikasi pengkayaan
dengan urea sebagai sumber hara nitrogen
dan TSP sebagai sumber hara fosfor di
tambak telah dilakukan secara meluas
dalam budidaya Gracilaria sp., bahkan
di Philipina, Trono (1983). Menyarankan
untuk menambah lagi dengan pupuk
organik yang berasal dari kotoran babi
untuk meningkatkan pertumbuhan rumput
laut tersebut. Namun aplikasi pengkayaan
yang berlebihan tidak terlalu efektif untuk
dilakukan di bak-bak terkontrol, karena
keadaan di tambak senantiasa terjadi
gerakan air dan kemudian sebagian yang
tidak termanfaatkan oleh rumput laut dapat
mengendap di tanah dasar tambak.
Perlakuan yang dicobakan dalam
penelitian ini tidak memberikan pengaruh
yang nyata terhadap pertumbuhan rumput
laut (Anova, P>0,05), baik setelah pemberian
nutrien selama 4 minggu maupun setelah
dilakukan manipulasi cahaya pada 2
minggu berikutnya. Namun demikian, Laju
Pertumbuhan Harian (LPH) rumput laut
Gracilaria sp. selama penelitian ini didapatkan
berkisar antara 0,57%/hari hingga 3.23%/hari
pada masa pemberian nutrien hingga
minggu IV. Laju pertumbuhan maksimal
pada penelitian ini rata-rata dicapai pada
minggu I setelah pemberian nutrien, dan
selanjutnya terjadi penurunan. Patadjai
(1993) dan Sakdiah (2009) mendapatkan
LPH Gracilaria sp. tertinggi pada minggu
III masa budidaya dan kemudian menurun
pada akhir penelitian mereka pada minggu
90
IV. Namun nilai LPH maksimal pada
penelitian ini hampir sama dengan yang
diperoleh Patadjai (1993) yaitu > 3%/hari,
dan lebih tinggi dari yang diperoleh oleh
Sakdiah (2009) (2,62%/hari). Perbedaan
laju pertumbuhan maksimal yang dicapai
tersebut disebabkan oleh jumlah pupuk yang
digunakan dan kemungkinan disebabkan
kandungan hara dalam air media yang
digunakan dalam tiap penelitian adalah
berbeda-beda. Disamping itu, Syafrie (1998)
menyatakan bahwa laju pertumbuhan thallus
(pertumbuhan panjang yang kemudian
akan mempengaruhi pertumbuhan berat)
berbeda-beda di setiap periode pembelahan
sel Gracilaria sp. dan hal tersebut dapat
dipengaruhi oleh suhu. Pada saat penelitian
berlangsung, keadaan cuaca yang kurang
mendukung juga kerap terjadi, dimana
sering terjadi hujan dan sinar matahari yang
meredup. Untuk pertumbuhannya, diketahui
bahwa rumput laut memerlukan proses
fotosintesis, dimana hal ini akan efektif jika
ada sinar matahari.
LPH maksimal pada penelitian
ini ditunjukkan oleh perlakuan dengan
pengkayaan nutrien N:P dengan ratio 10:1
(Gambar 1). Penelitian sebelumnya telah
mengklaim bahwa ratio N:P adalah penting
dalam aplikasi pengkayaan nutrien, misalnya
Lu-Min et.al (2005) mendapatkan respon
pertumbuhan terbaik untuk Gracilaria spp.
adalah dengan pengkayaan N+P ratio 10:1
dimana laju penyerapan unsur P oleh rumput
laut pada perlakuan tersebut sangat efektif.
Pada penelitian ini penambahan
nutrien dengan ratio N:P=5:1 (C)
menunjukkan rata-rata laju pertumbuhan
terendah (Gambar 2), dimana laju
pertumbuhan tersebut bahkan lebih rendah
dibanding perlakuan tanpa penambahan
nutrien (D). Pemberian N dan P dengan
ratio yang tidak tepat menyebabkan rumput
laut dalam media tidak mampu menyerap
nutrien tersebut, sehingga nutrien dalam
media akan berlebih dan dapat menghambat
pertumbuhan rumput laut, terlebih lagi di
dalam wadah terkontrol dimana pergerakan
air terbatas dan pupuk yang berlebihan tidak
dapat diuraikan oleh media lain misalnya
tanah sebagaimana keadaan di tambak seperti
telah dijelaskan di atas. Briggs dan FungeSmith (1993) menyatakan bahwa walaupun
N dan P sangat penting, namun apabila dosis
keduanya telah berlebihan dalam perairan,
maka dapat menghambat pertumbuhan.
Percobaan in vitro oleh Yulianto dan Arfah
(2003) juga menunjukkan semakin tinggi
konsentrasi urea dalam medium budidaya
menyebabkan tanaman mudah putus dan
lemah. Aplikasi pupuk yang berlebihan
menyebabkan air media menjadi jenuh
apalagi bila hara tersebut tidak langsung
diserap oleh rumput laut. Oleh sebab itu,
penambahan hara ke dalam media
kemungkinan lebih efektif apabila dilakukan
secara bertahap sebagaimana rekomendasi
Friedlander et. al. (1991).
Kadar air merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi daya tahan suatu
bahan dan menunjukkan kestabilan serta
indeks mutu rumput laut. Bahan dengan
kadar air tinggi akan lebih mudah rusak
dibanding dengan bahan berkadar air rendah
(Winarno, 1996). Kadar air bahan baku
kering G.verrucosa tertinggi yang didapatkan
dari penelitian ini adalah < 24% pada
perlakuan pengkayaan N+P ratio 10:1 &
kedalaman air 50 cm, sedangkan kadar
terendah pada perlakuan tanpa pengkayaan
& kedalaman 50 cm+ditutup jaring. Namun
demikian secara keseluruhan kadar air
rumput laut pada penelitian ini menunjukkan
nilai yang sesuai dengan standar SNI 012690 (1998) yaitu ≤ 25%. Kadar air bahan
baku kering sebelum diekstraksi sebaiknya
memenuhi standar tersebut karena jika
kadar air lebih tinggi, dikhawatirkan akan
mempengaruhi proses penyimpanan, dimana
akan mudah terjadi pembusukan sehingga
pada gilirannya dapat menurunkan kualitas
agar (misalnya rendemen agar) yang dihasilkan.
Kadar abu menunjukkan besarnya
kadungan mineral pada rumput laut kering
yang tidak terbakar selama pembakaran atau
pengabuan. Winarno (1996) menyatakan
bahwa kadar abu ada hubungannya dengan
mineral suatu bahan. Proses pembakaran
menyebabkan bahan-bahan yang mudah
menguap yaitu air dan bahan volatile lainnya
akan mengalami oksidasi dengan menghasilkan
CO2. Sebagaimana kadar air, kadar abu
rata-rata yang dihasilkan dari penelitian ini
(< 33%) masih berada dalam kisaran kadar
abu yang baik untuk rumput laut berdasar
FAO (1971) dalam Angka dan Suhartono
(2000) yaitu sebesar 15-40%o.
Kadar agar cenderung berbanding
terbalik dengan kandungan nutrien pada
jaringan thallus rumput laut. Pada penelitian
ini, meskipun tidak dilakukan analisa
kadar N dan P pada jaringan thallus rumput
laut, tetapi dari aplikasi pemberian nutrien
yang dilakukan dapat diperkirakan terjadi
penyerapan unsur-unsur tersebut oleh rumput
laut sehingga unsur-unsur tersebut akan
mengendap didalam thallus. Kandungan
agar dalam rumput laut menjadi rendah
dengan tingginya N dalam media dan
menjadi meningkat dengan penambahan P
(Briggs dan Funge-Smith, 1999). Hasil
yang didapatkan dari penelitian ini, dimana
rata-rata pada perlakuan dengan N+P ratio
10:0 (A) kadar agar lebih rendah dibanding
pada perlakuan dengan adanya penambahan
P (B dan C). Kadar agar yang rendah diikuti
oleh kadar air bahan baku kering yang
cukup tinggi yaitu hampir 25% (Gambar 4).
Sementara itu, perlakuan tanpa pemberian
nutrien (D) pada penelitian ini rata-rata
menunjukkan kadar agar yang lebih tinggi
dibanding perlakuan lainnya (Gambar 3,4,5),
dan secara umum rumput laut dengan
kandungan agar yang tinggi diperoleh pada
perlakuan yang diikuti dengan penambahan
kedalaman air media hingga 80 cm pada
periode 2 minggu sebelum panen. Hasil
penelitian ini sejalan dengan Angkasa, dkk.,
(2011) untuk menambah kedalaman air
di tambak hingga 80 cm pada umur tanam
mulai minggu ke-5 sehingga tanaman
dapat meningkatkan kandungan agar.
Penambahan kedalaman media menyebabkan
kondisi menjadi lebih gelap, dimana pada
keadaan ini rumput laut lebih meningkatkan
kandungan isi (agar) daripada melakukan
pertumbuhan. Keadaan gelap, menurut
Ekman, dkk., (1991) dan Hemmingson, dkk.
(1996) dapat mengeliminir pembentukan
sulfat dalam jaringan rumput laut sehingga
dapat meningkatkan kualitas agar.
91
kadar pada kedalaman 80 cm (%)
35
32.66
30.18
25.39
22.79
25
20.17
17.64
20
15
29.68
29
30
16.89
Air
13.91
Abu
10.89
10.74
Agar
10
5
0
A
B
C
D
Gambar 5. Kadar Air dan Abu, serta Kadar Agar Gracilaria sp. Hasil Budidaya selama 6 Minggu
dengan Perlakuan Kedalaman 80 cm
KESIMPULAN
Meskipun perlakuan yang dicobakan
tidak memberikan pengaruh yang nyata
terhadap pertumbuhan rumput laut (Anova,
P>0,05), namun LPH maksimal ditunjukkan
oleh perlakuan pengkayaan N:P ratio 10:1.
Kualitas agar umumnya cukup baik dan berada
dalam kisaran standar baku mutu rumput
laut yang diinginkan, namun secara umum
kadar agar yang tinggi diperoleh pada
perlakuan tanpa pemberian nutrien yang
dilanjutkan dengan penambahan kedalaman
air media hingga 80 cm.
DAFTAR PUSTAKA
Anggadiredja, J.T., dan Tim Rumput Laut BPPT. 2011. Kajian Strategi Pengembangan Industry
Rumput Laut dan Pemanfaatannya secara Berkelanjutan. Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi, Asosiasi Petani dan pengelola Rumput Laut Indonesia (ASPPERLI), dan
Indonesian Seaweed Society (ISS). Jakarta.
Gambar 5. Kadar air dan abu , serta kadar agar Gracilaria sp. hasil budidaya selama 6 minggu
Angkasa, W.I., Purwoto, H., Anggadiredja, J., 2006. Teknik Budidaya Rumput laut. BPPT. Jakarta.
dengan perlakuan kedalaman 80 cm
(www.kenshuseidesu.tripod.com).
Angka, S.L. dan Suhartono,MT., 2000. Bioteknologi Hasil Laut. Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir
dan Kelautan. Bogor.
Atmadja, W.S. 1991. Rumput Laut sebagai Obat. J. Osean. 17: 1-8.
Briggs, M.R.P. dan Funge-Smith, S.J., 1993. Conference on Marine Biotechnology in The Asia
Pacific Region. Bangkok. Thailand. Institut of Aquaculture. Univ. Of Stirling. UK.
Castro, R. I., Zarrab, dan Lamas, J. 2004. Water-Soluble Seaweed Extracts Modulate the Pantoea
Agglomerans Lipopolysaccharide (LPS). Fish Shellfish Immunol. 10: 555–558.
Delattre, C., Michaud, B., Courtois, B., Courtois, J. 2005. Oligosaccharides Engineering from
Plants and Algae Applications in Biotechnology and Therapeutics. Minerva Biotechnol.
17:107–117.
Deval, A.G., Platas, G. Basilio, A. Cabello, J. Gorrochategui, I. Suay, F. Vicente, E. Portilllo, M.J.
del Rio, G.G. Reina, F. Peláez. 2001. Screening of Antimicrobial Activities in Red, Green
92
and Brown Macroalgae from Gran Canaria (Canary Islands, Spain). Int. Microbiologi.
4: 35-40.
Ekman, P., Yu, S., Pedersen, M., 1991. Effects of Altered Salinity, Darkness and Algal Nutrient
Status on Floridoside and Starch Content, α-Galactosidase Activity and Agar Yield of
Cultivated Gracilaria sordida. Br. Phycol. J. 26: 123-131.
Friedlander,M., Krom,MD., Ben Amotz, A., 1991. The Effect of Light and Ammonium on Growth,
Epiphytes and Chemical Constituens of G.Conferta inoutdoor Cultures. Botanica Marina
34: 161-166.
Hemmingson, J.A., Furneaux, R.H., Murray-Brown, V.H. 1996. Biosynthesis of Agar
Polysaccharides in Gracilaria chilensis Bird, McLachlan et Oliveira. Carbohydrate
Research. 287: 101-115.
Lu-Min, Q, Yong Jian,X., Yong –Seng,W., 2005. Effects of Nutriet Availabilityon the up take Rates
of Nitrogen and Phosphorus by G.lemaneiforms and G.lichevoide. J. of Oceanography in
Taiwan Strait: 04.
Trono, GC., 1988. Manual on Seaweed Culture, “pond Culture of Caulerpa and Pond Culture of
Gracilaria. ASEAN/SF/1988/manual No.3.
Winarno, FG., 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta.
93
Download