asean free trade agreement

advertisement
Dr. Obsatar Sinaga
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT
DI JAWA BARAT
Perpustakaan Nasional: Katalog dalam terbitan (KDT)
ISBN : 978-602-96935-0-8
© LEPSINDO
All right reserved
Penulis:
Dr. H. Obsatar Sinaga
Editor :
Dadi J. Iskandar
Desain :
Adhy M. Nuur
Diterbitkan oleh:
LEPSINDO
[email protected]
““UntukAnak-anak&Istriku“
Kata Pengantar
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Padjadjaran
K
ecenderungan regionalisme dan terbentuknya
berbagai kelompok kerja sama, baik geografis
maupun fungsional, mewarnai era percaturan
politik dan ekonomi global dewasa ini. Globalisasi
tanpa disadari telah merasuki ranah kehidupan
masyarakat-bangsa di jagat ini; bahkan telah ikut
mengaliri urat nadi tatanan kehidupan negaranegara di muka bumi, termasuk di Indonesia.
Sebagai sebuah arus kekuatan yang dampaknya
sulit dielakkan oleh Negara mana pun di dunia ini,
mainstream globalisasi berwajah kembar: di satu sisi
ia membuka peluang besar bagi kemajuan
perekonomian Negara-negara yang mampu
menyikapi secara proaktif-responsif, dengan bertumpu
pada seperangkat kemampuan memanfaatkannya,
sedangkan di sisi lain, arus globalisasi dengan segala
dampak ikutannya ternyata tidak selalu berdampak
menguntungkan, atau jangan-jangan malah
merugikan, terutama bagi Negara-negara yang
sedang berkembang.
Secara teoretis, persoalan utama dalam
menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas
yang terindikasi mulai massif dewasa ini, sangat
tergantung pada kemampuan menangkap peluang
i
yang ada, sekaligus memanfaatkan kesempatankesempatan yang tersedia. Memang tidak mudah,
untuk katakan saja memberi definisi operasional
terhadap ungkapan pernyataan tersebut. Dari
perspektif akademis misalnya, suatu kajian yang
mendalam perlu dilakukan sehingga diperoleh
informasi yang akurat dan berguna dalam
menghadapi tantangan tersebut. Kendatipun
demikian, dapat dikatakan dalam bahasa terang,
bahwa optimalisasi dari totalitas kemampuan dan
kapasitas sumber daya yang dimiliki suatu bangsa
merupakan kerangka dasar yang visioner yang
perlu dikedepankan dalam upaya merespons secara
positif arus kekuatan globalisasi. Berbagai
pemahaman yang hanya memaknai arus globalisasi
sekadar sesuatu hal yang buruk dan menyedihkan—
karena kita merasa tidak atau belum siap,
semestinya tidak menjadi wacana yang justru dapat
mengganggu kesiapan kita menghadapi tantangan
besar ini.
Dengan demikian, betapa mutlaknya peningkatan
sumber daya manusia dalam arti yang seluasluasnya, karena hanya dengan cara demikian kita
dapat menampilkan keunggulan kompetitif
(competitive advantage), atau daya saing yang akan
menentukan keberhasilan dan kemajuan ekonomi
suatu Negara-bangsa, termasuk bagi bangsa
Indonesia.
Suatu hal yang menggembirakan, dalam
beberapa tahun terakhir ini konstelasi dunia di
bidang ekonomi dan perdagangan, tampak mulai
bergerak secara berarti ke kawasan Asia-Pasifik.
ii
Rupanya hal ini tidak terlepas dari semakin
meningkatnya bobot dan peranan Negara-negara
industri di Asia Timur dan Asia Tenggara, antara
lain melalui APEC dan AFTA.
Seiring dengan diterapkannya Undangundang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah, dimana memberikan otonomi yang luas,
nyata dan dinamis bagi setiap daerah di Indonesia,
tentunya harus merangsang elit-elit dan stakeholders
pembangunan di daerah untuk mewujudkan
keberhasilan penerapan otonomi daerah bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat daerah yang
bersangkutan. Misalnya dengan mengembangkan
kualitas produk terunggulkan yang memiliki daya
saing ekonomi, selain membangun relasi atau
jaringan kerja sama dalam pemasarannya. Dengan
demikian, setiap daerah—sesuai dengan pemahaman
otonomi yang di dalamnya terdapat desentralisasi,
sudah selayaknya memiliki kecenderungan membuka
diri, karena hal itu tidak bertentangan dengan
globalisasi atau regionalisasi.
Dalam konteks tersebut, kerja sama luar negeri
untuk memajukan perekonomian dan pemberdayaan
potensi daerah, dalam kaitannya dengan
perdagangan internasional dalam kerangka AFTA,
merupakan hal yang penting untuk dilakukan.
Demikian halnya bagi Jawa Barat, yang memiliki
potensi dan peluang yang besar dalam perdagangan,
jasa, industri, dan agrobisnis, perlu merespons
secara cermat dengan mengimplementasikan
kesepakatan perdagangan bebas di kawasan Asia
Tenggara (AFTA).
iii
Saya menyambut dengan rasa gembira
kehadiran buku Implementasi ASEAN Free Trade
Agreement di Jawa Barat, yang ditulis Sdr. Dr. H.
Obsatar Sinaga. Buku ini sangat menarik karena
mengungkapkan, bahwa dalam implementasi AFTA
bidang perdagangan komoditas pertanian di Jawa
Barat, ditemui beberapa faktor yang cukup berarti.
Antara lain: tidak lancarnya komunikasi, terbatasnya
sumberdaya, kurang sesuainya perilaku pelaksana,
dan tidak jelasnya struktur birokrasi menjadi
penyebab tidak tercapainya daya saing Jawa Barat
di dalam menghadapi perdagangan bebas di
kawasan Asia Tenggara. Selain itu juga, dalam buku
ini mengungkapkan, bahwa implementasi suatu
kebijakan tidak terlepas dari keadaan masyarakat
atau publik dimana kebijakan tersebut diberlakukan.
Buku ini dapat memperkaya khasanah ilmu
pengetahuandansekaligussebagaibahanpertimbangan
bagi perumus kebijakan, serta pengayaan informasi
bagi masyarakat pada umumnya. Sekaligus buku ini
dapat meningkatkan rasa nasionalisme di tengah era
globalisasi.
Selamat atas karya ini.
Bandung, Mei 2010
Prof. Dr. H. Asep Kartiwa, Drs., S.H., M.Si.
iv
Seuntai Kata
G
lobalisasi perekonomian yang sedang
berlangsung dewasa ini, maraknya liberalisasi
perdagangan, investasi maupun jasa baik pada
tingkat regional maupun global telah menuntut
negara-negara di seluruh dunia untuk meningkatkan
kemampuan bersaingnya seiring dengan semakin
terbukanya pasar internasional. Indonesia dalam hal
ini juga tidak luput dari tuntutan yang sama dengan
komitmen terhadap liberalisasi perdagangan ASEAN
Free Trade Agreement (AFTA).
Hal itu perlu secara saksama dikaji karena
dewasa ini pelaksanaan otonomi daerah telah
membuka peluang keikutsertaan daerah sebagai
salah satu komponen dalam penyelenggaraan
hubungan luar negeri. Pemerintah Indonesia
melalui Departemen Luar Negeri (Deplu) RI
memberikan peluang seluas-luasnya kepada daerah
untuk menjalin kerja sama dengan luar negeri. Buku
ini merupakan salah satu upaya telaah kritis
terhadap proses regionalisme ASEAN melalui
implementasi AFTA dengan studi kasus di Jawa
Barat.
Kami berharap buku ini dapat menjadi
semacam referensi bagi para penstudi Hubungan
Internasional untuk mendalami lebih lanjut
kompleksitas Hubungan Internasional baik sebagai
v
fenomena maupun disiplin ilmu yang bersifat
interdisipliner, khususnya dinamika hubungan
internasional di kawasan ASEAN.
Akhir kata, kami berharap kontribusi kami
yang tertuang dalam buku ini bukan saja dapat
bermanfaat bagi para penstudi dan peminat
Hubungan Internasional di Indonesia namun juga
dapat memperkaya khasanah referensi Hubungan
Internasional berbahasa Indonesia dalam mengembangkan disiplin ilmu Hubungan Internasional di
Indonesia.
Bandung, Mei 2010
Obsatar Sinaga
vi
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Padjajaran .............................................. i
Seuntai Kata ............................................................... v
Daftar Isi .................................................................. vii
BAB I
PENGANTAR ............................................................ 1
BAB II
REGIONALISME ASEAN: PERSPEKTIF
TEORETIS ................................................................ 17
2.1 Organisasi Internasional .................................. 17
2.2 Bentuk Organisasi Internasional .................... 31
2.3 Konsensus dalam Organisasi Internasional . 34
2.4 Kerja Sama dalam Organisasi Internasional . 38
2.5 Kebijakan............................................................ 42
2.5.1 Kebijakan Nasional .................................. 46
2.5.2 Politik Luar Negeri .................................. 47
2.5.3 Implementasi Kebijakan ......................... 50
2.6 Liberalisasi Perdagangan Agro ....................... 57
2.6.1 Motif Perdagangan dan Tekanan
Liberalisasi ................................................ 58
2.6.2 Kebijakan Pemerintah di Bidang Agro . 61
2.6.3 Skenario dan Dampak Liberalisasi ........ 62
2.6.3.1 Skenario Liberalisasi .................... 62
2.6.3.2 Sisi Positif dan Negatif
Liberalisasi ..................................... 63
vii
2.6.4 Pendekatan Daya Saing dalam
Pengembangan Usaha Industri Agro .... 68
2.7 Kerangka Kerja untuk Analisis
Implementasi AFTA di Jawa Barat .................. 69
BAB III
KONFIGURASI PERKEMBANGAN
LINGKUNGAN REGIONAL ............................... 75
3.1 Lingkungan Strategis ASEAN:
Peluang dan Kendala ........................................ 75
3.2 Struktur Organisasi dan Keanggotaan
ASEAN ................................................................ 83
3.3 ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) ......... 93
3.4 Kesepakatan AFTA Bagi Indonesia ................. 96
BAB IV
STUDI KASUS IMPLEMENTASI
KESEPAKATAN PERDAGANGAN BEBAS
ASEAN DI JAWA BARAT (BIDANG
KOMODITAS AGRO) ......................................... 107
4.1 Pengembangan Agrobisnis dalam Rencana
Pembangunan Jangka Panjang (RPJPD)
Jawa Barat 2005-2025 ....................................... 109
4.2 Faktor-Faktor Daya Saing dan Model
Strategi Pengembangan Ekspor Komoditas
Agro Jawa Barat dalam Kerangka AFTA ...... 116
4.2.1 Faktor-Faktor Penentu Daya Saing
Jawa Barat ............................................... 116
4.2.2 Strategi Pengembangan Ekspor
Komoditas Agro Jawa Barat dalam
Kerangka AFTA ...................................... 119
viii
4.3 Kondisi Riil Kesiapan Jawa Barat
Melakukan Implementasi AFTA Bidang
Perdagangan Komoditas Agro
(Model Edward III) .......................................... 123
4.3.1 Kegiatan Komunikasi ............................. 124
4.3.2 Faktor Transmisi dari Komunikasi ...... 130
4.3.3 Kecenderungan dari Para Pelaksana
(Disposisi) ................................................ 160
4.3.4 Struktur Birokrasi (Bureaucratic
Structure) .................................................. 167
4.4 Implikasi Kebijakan ......................................... 173
BAB V
PENUTUP............................................................... 187
DAFTAR PUSTAKA ................................................ 191
ix
x
BAB I
PENGANTAR
P
aska era Perang Dingin interaksi antarnegara
dalam pola hubungan internasional sifatnya
semakin mengarah pada kompleksitas kepentingan
yang lebih berorientasi pada bidang ekonomi
daripada konteks hubungan yang mengarah
pada politik dan keamanan. Terlihat dengan
tumbuhnyakecenderunganregionalismeberdasarkan
kepentingan ekonomi negara-negara yang
ditandai dengan terwujudnya berbagai kerangka
kerja sama bidang ekonomi yang bersifat
regional.
Sejalan dengan perkembangan politik dan
ekonomi dunia yang semakin pesat, kekuatan
ekonomi dewasa ini mengacu pada sistem global,
gejala pengelompokkan ekonomi regional
semakin jelas, ditandai dengan munculnya blok
ekonomi yang mengembangkan kerja sama
regional seperti Asia-Pacific Economic Cooperation
(APEC), Single European Market (UNI Eropa) dan
North America Free Trading Area/NAFTA (Amerika
Serikat, Kanada dan Meksiko).
Globalisasi dan liberalisasi dikenali dengan
meningkatnya kerangka kerja sama ekonomi
antarnegara anggota organisasi internasional
yang bersifat regional, cenderung erat dan
berusaha menghilangkan berbagai hambatan di
Pengantar
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
bidang perdagangan secara koordinatif untuk
memperkuat perekonomian regional dalam
menghadapi tantangan blok ekonomi regional
lain yang menimbulkan keyakinan efektivitas dan
modalitas kerja sama internasional.
ASEAN adalah organisasi regional yang
merupakan perhimpunan bangsa-bangsa,
dibentuk oleh pemerintah lima negara yang
terletak di kawasan Asia Tenggara pada tanggal
8 Agustus 1967 di Bangkok, dengan ditandatanganinya deklarasi ASEAN yang terkenal
dengan sebutan “Bangkok Declaration” oleh Wakil
Perdana Menteri Malaysia dan para Menteri
keanggotaan ASEAN mencakup hampir seluruh
negara di kawasan Asia Tenggara kecuali
keanggotaan negara Kamboja yang sampai saat
ini masih ditangguhkan.
Isu mengenai “musuh” bersama, mampu
membawa para anggota untuk menyadari
pentingnya ASEAN. Ancaman Uni Soviet,
misalnya, yang hadir di kawasan Asia Tenggara
khususnya di Vietnam mampu memperkuat
ikatan ASEAN dengan satu interpretasi bahwa
perdamaian dan stabilitas nasional masing-masing
negara anggotaASEAN harus ditingkatkan melalui
perdamaian dan stabilitas regional.
Untuk itu, secara formal ASEAN merupakan
kerja sama ekonomi, sosial dan budaya. Namun
demikian, Deklarasi Bangkok yang memuat
maksud dan tujuan dibentuknya ASEAN, juga
mengacu pada upaya mewujudkan perdamaian
dan stabilitas regional yang bisa menunjang
2
Pengantar
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
pembangunan nasional di segala bidang bagi
negara anggotanya. Di samping itu juga untuk
meningkatkan kerja sama yang aktif dan saling
menguntungkan, membantu menyelesaikan
masalah-masalah yang merupakan kepentingan
bersama di bidang ekonomi, sosial, teknik,
komunikasi, ilmu pengetahuan, administrasi.
Kerja sama intra-ASEAN bukan koordinasi
yang bersifat integratif melainkan kooperatif
dengan landasan utama musyawarah, kepentingan
bersama, saling membantu dengan semangat
ASEAN. Setelah lebih dari 30 tahun, ASEAN
terkait dengan proses dinamis yang berlangsung
sejak awal perkembangannya, para pendiri
maupun pimpinan ASEAN menyadari realitas
kehidupan sosial, budaya, ekonomi, latar
belakang sejarah maupun sikap politik negara
anggotanya masih menentukan saling pengertian
satu-sama lain (international understanding) untuk
mencapai dan memelihara kelangsungan
harmonis di antara anggota. Untuk itu diperlukan
adanya koordinasi dalam pencapaian tujuan
ASEAN.
Pada konteks demikian, pertumbuhan
ASEAN menurut sebagian pengamat relatif
lamban, namun pengamat lain memandang
sebagai konsekuensi upaya internal. Minimal hal
ini merupakan tahapan dalam upaya memantapkan
saling pengertian melalui penanggulangan dan
pemupukan solidaritas dan kesatuan sikap
dengan kerja sama yang saling menguntungkan
dengan memanfaatkan forum regional, bahkan
3
Pengantar
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
dapat diartikan sebagai masa konsolidasi untuk
menyelesaikan masalah persepsi yang negatif di
antara anggota ASEAN sendiri.
Makna keyakinan tersebut melandasi pula
upaya Indonesia untuk lebih memajukan
perkembangan ASEAN hingga dewasa ini, yakni
sejauh yang termanifestasikan pada kebijakan
luar negeri Indonesia dalam bidang kerja sama
intra-ASEAN di era globalisasi.
Globalisasi perekonomian yang sedang
berlangsung dewasa ini, maraknya liberalisasi
perdagangan, investasi maupun jasa baik pada
tingkat regional maupun global, menuntut
negara-negara di seluruh dunia untuk meningkatkan
kemampuan bersaingnya seiring dengan semakin
terbukanya pasar internasional. Indonesia pun
tidak luput dari tuntutan yang sama dengan
komitmen terhadap liberalisasi perdagangan
ASEAN Free Trade Agreement (AFTA).
AFTA ditandatangani dalam Konferensi
Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-IV tahun 1992.
Peluncuran AFTA ini dilatarbelakangi oleh
keberhasilan kerja sama regional lainnya seperti
NAFTA, Pasar Tunggal Eropa, dan keinginan
negara-negara anggota ASEAN sendiri untuk
lebih membuka perekonomiannya. Melalui
pembentukkan AFTA, ASEAN yang akan
berpenduduk lebih dari 500 juta jiwa pada tahun
2010 akan merupakan suatu pasar potensial,
sekaligus mempunyai daya tarik yang lebih besar
bagi investasi intraregional maupun dari luar
ASEAN.
4
Pengantar
Penurunan tarif dari beberapa komoditas
tersebut telah dimulai pada tahun 1993 dan
(diharapkan) akan berakhir pada tahun 2008.
Maksudnya tingkat tarif seluruh komoditas
manufaktur dan hasil olahan pertanian akan
diturunkan menjadi 0 - 5% dalam waktu 15 tahun.
Hambatan-hambatan teknis dan nonteknis
yang melingkupi perdagangan intra-regional
ASEAN juga akan dihilangkan. Untuk komoditas
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Upaya perwujudan AFTA ini sangat
memberikan harapan. Hal itu secara jelas
tercermin dari kesediaan negara-negara ASEAN
untuk memulai pelaksanaan AFTA terhitung
sejak tanggal 1 Januari 1993 ketika semua negara
anggota telah menyampaikan jadwal penurunan
tarifnya dan mencapai puncaknya pada tahun
2002 ketika suatu kawasan perdagangan bebas
AFTA telah terbentuk di Asia Tenggara.
Indonesia mendukung diberlakukannya
AFTA secara bertahap melalui skema Common
Effective Preferential Tariff (CEPT), yaitu daftar
barang-barang komoditi yang diperjualbelikan
antar negara-negara ASEAN yang telah dikurangi
tarif bea masuknya. Implementasi penurunan
tarif beberapa komoditas yang tertuang dalam
ketentuan CEPT dalam agenda AFTA terbagi
dalam tiga kelompok yaitu:
1. Katagori CEPT (Fast Track).
2. Katagori Normal (Normal Track) dan
3. Katagori perkecualian sementara (Temporary
Exclusion List)
5
Pengantar
2. Jalur Cepat (fast track)
Komoditas dengan tarif di atas 20% akan
dikurangi menjadi 0-5% sebelum 1 Januari
2000. Komoditas dengan tarif sebesar 20% atau
kurang akan dikurangi hingga 0-5% sebelum
1 Januari 1998.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
yang termasuk dalam katagori cepat (fast track)
yang meliputi 15 kelompok komoditas dan konon
mencapai 40% dari volume perdagangan
ASEAN, setiap negara anggota ASEAN bahkan
diharapkan untuk mengurangi tingkat tarif pada
perdagangan intra-ASEAN lebih kecil 5% paling
lambat pada akhir tahun 2003.
Untuk komoditas yang termasuk dalam
katagori perkecualian (temporary exclusion list),
walaupun bersifat untuk sementara, negara
anggota mempunyai komitmen moral untuk
melepas status eksklusivitas itu pada akhir tahun
2001. Tahapan menuju ke sana telah dimulai,
misalnya pada pertemuan para Menteri Ekonomi
ASEAN (AEM) ke-26 di Thailand (September
1994), penurunan tarif kedua jalur pertama (cepat
dan normal) dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
1. Jalur Normal (normal track)
Komoditas dengan tingkat tarif di atas 20%
akan dikurangi hingga 20% sebelum 1 Januari
1998, dan secara bertahap dikurangi dari 20%
menjadi 0-5% sebelum 1 Januari 2003. Komoditas
dengan tingkat tarif sebesar 20 % atau kurang
akan dikurangi hingga 0-5% sebelum 1 Januari
2000.
6
Pengantar
7
Secara keseluruhan melalui skema CEPT
terdapat lebih dari 14.800 komoditas yang
termasuk dalam katagori cepat, dan hampir
26.000 dalam katagori perekonomian sementara.
Tabel 1.1
Jumlah Komoditas dalam CEPT
Negara
Cepat
Brunei
Indonesia
Malaysia
Filipina
Singapura
Thailand
Sub total
Total
2,377
2,819
2,985
960
2,183
3,531
14.885
Normal
3,618
4,539
5,170
5,170
3,473
5,146
25.918
44.095
Perkecualian
Sementara
236
1,648
621
694
1
122
3,322
Sumber: Sekretariat Nasional ASEAN, 2003.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Sejak tahun 2003 daftar perkecualian
sementara umumnya meliputi bahan kimia,
plastik dan sektor kendaraan bermotor yang
mencapai lebih dari 45%. Dari daftar perekonomian
itu, Indonesia bahkan memasukkan jumlah
komoditas terbesar, yaitu sebesar 1.648 terutama
pada sektor bahan kimia. Sementara Brunei
memasukkan daftar perkecualian sementara
pada sektor mesin dan barang-barang elektronik,
kendaraan di Malaysia, tekstil di Filipina dan
kendaraan di Thailand.
Pengantar
8
Sementara itu, hasil kesepakatan AEM ke26 di Thailand (September 1994) juga antara lain
memasukkan semua komoditas pertanian yang
belum diolah ke dalam skema CEPT. Para anggota
ASEAN pun sementara telah mengelompokkan
komoditas pertanian ke dalam tiga jalur:
1. Daftar normal/cepat.
2. Daftar perkecualian dan.
3. Daftar sensitif.
Pada pertemuan tingkat Menteri Ekonomi
ASEAN (AEM) dan tingkat Menteri Pertanian
dan Kehutanan ASEAN (AMAF) telah berhasil
menghasilkan sejumlah daftar yang termasuk ke
dalam tiga katagori tersebut. Hal yang cukup
mengagumkan adalah bahwa 68% dari hampir
200 komoditas yang semula tidak termasuk
CEPT, kini telah dimasukkan dalam daftar
normal cepat (immediate inclusion).
Sumber: Sekretariat Nasional ASEAN, 2007.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Tabel 1.2
Komoditas Pertanian Belum Diolah
Uraian
Jumlah
Persentase
Daftar Normal/Cepat
1.358
68
Daftar Perkecualian
402
20
Daftar Sensitif
235
12
Total
1.995
100
Pengantar
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Berdasarkan tabel 1.2 terlihat bahwa
komoditas yang masuk daftar cepat/normal
sebagai agenda penting AFTA mencatat angka
yang tinggi. Hal tersebut sekaligus menjadi
penyebab lambatnya proses implementasi
kebijakan AFTA secara menyeluruh. Hambatan
pelaksanaannya adalah pertama, hambatan
prosedur dan administrasi. Kedua, perbedaan
tarif efektif di negara-negara anggota ASEAN atas
suatu barang yang sama setelah dikenakan MOP
(Margin of Preference). Ketiga, perbedaan kebijakan
dan program di antara negara-negara atas
produk yang termasuk dalam CEPT. Keempat,
produk-produk CEPT masih terkena halangan
nontarif, seperti pembatasan jumlah impor.
Berdasarkan hal tersebut tentu saja dibutuhkan
suatu terobosan bagi kerja sama ASEAN.
Meskipun AFTA sudah dilaksanakan sejak
tahun 2003, namun pada kenyataannya terus
mengalami kemunduran karena terdapat
sejumlah produk-produk yang masih dipersoalkan
tarifnya, terutama komoditas pertanian. Secara
khusus, Indonesia sebagai salah satu negara
anggota ASEAN juga tidak dapat menghindar
dari proses liberalisasi perdagangan di kawasan
Asia Tenggara ini.
Sekretariat ASEAN (ASEAN Secretariat)
memiliki perwakilan di setiap negara anggota
ASEAN yakni Sekretariat Nasional ASEAN di
bawah Departemen Luar Negeri. Dengan kata
lain di era reformasi Indonesia, implementasi
AFTA di tingkat nasional meliputi instansi terkait
9
Pengantar
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
seperti Seknas ASEAN, pemerintahan pusat, dan
pemerintah daerah. Hal itu perlu secara saksama
dikaji karena dewasa ini pelaksanaan otonomi
daerah telah membuka peluang keikutsertaan
daerah sebagai salah satu komponen dalam
penyelenggaraan hubungan luar negeri. Pemerintah
Indonesia melalui Departemen Luar Negeri
(Deplu) RI memberikan peluang seluas-luasnya
kepada daerah untuk menjalin kerja sama dengan
luar negeri.
UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah dalam beberapa pasalnya mengatur
mengenai kerja sama dimaksud. Salah satu di
antaranya disebutkan bahwa “daerah dapat
mengadakankerjasamayang saling menguntungkan
dengan lembaga/badan luar negeri yang diatur
dengan keputusan bersama”.
Sementara dalam UU Nomor 37 Tahun 1999
tentang Hubungan Luar Negeri, antara lain
disebutkan hubungan luar negeri adalah setiap
kegiatan yang menyangkut aspek regional dan
internasional yang dilakukan pemerintah di
tingkat pusat dan daerah, atau lembagalembaganya, lembaga negara, badan usaha,
organisasi masyarakat, LSM atau warga negara
Indonesia (Pasal 1, Ayat 1).
Hubungan luar negeri diselenggarakan
sesuai dengan Politik Luar Negeri, peraturan
perundang-undangan nasional dan hukum serta
kebiasaan internasional. Ketentuan ini berlaku
bagi semua penyelenggara Hubungan Luar
10
Pengantar
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Negeri, baik pemerintah maupun non-pemerintah
(Pasal 5, Ayat 1 dan 2).
Kaitannya dengan implementasi AFTA,
Departemen Luar Negeri RI memberi peluang
kepada daerah untuk melakukan kerja sama luar
negeri dalam kerangkaAFTAdengan berpedoman
pada UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang
Hubungan Luar Negeri dan UU Nomor 24 Tahun
2000 tentang Perjanjian Internasional. Peran
Deplu yaitu memadukan seluruh potensi kerja
sama daerah agar tercipta sinergi dalam
penyelenggaraan hubungan luar negeri. Selain
itu, mencari terobosan baru, menyediakan data
yang diperlukan dan mencari mitra kerja di luar
negeri, mempromosikan potensi daerah di luar
negeri, memberikan perlindungan kepada
daerah, memfasilitasi penyelenggaraan hubungan
luar negeri.
Kemudian sesuai dengan perkembangan
ekonomi dan politik di dalam negeri, penyelenggaraan hubungan luar negeri dan pelaksanaan
politik luar negeri tampaknya cenderung
memberikan penekanan pada kepentingan
ekonomi. Dalam mengintensifkan penyelenggaraan
hubungan luar negeri dan pelaksanaan politik
luar negeri di bidang ekonomi, Indonesia lebih
mendorong keterlibatan lembaga-lembaga nonpemerintah (second track diplomacy) di bidang
ekonomi, seperti Kamar Dagang dan Industri
Indonesia (Kadin), baik di tingkat nasional
maupun daerah.
11
Pengantar
2. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000
tentang Program Pembangunan Nasional;
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Untuk mencapai tujuan tersebut, UU
Nomor 37 tentang Hubungan Luar Negeri dan
UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
Internasional telah memberikan dasar hukum
yang lebih baik bagi koordinasi dan keterpaduan
pelaksanaan hubungan luar negeri. Pola
diplomasi yang kini berkembang pun tidak lagi
semata-mata bertumpu pada jalur first track
diplomacy yang bersifat formal antar pemerintah,
melainkan juga semakin sering terlaksana melalui
jalur second track diplomacy yang bersifat informal
antarlembaga non-pemerintah.
Kaitannya dengan keterlibatan aktif
pemerintahan daerah dalam proses perdagangan
bebas di kawasan Asia Tenggara, Propinsi Jawa
Barat mempunyai potensi dan peluang yang
sangat besar menjadi salah satu pusat perdagangan,
jasa, agrobisnis dan agroindustri terkemuka di
Indonesia melalui pengembangan kerja sama luar
negeri dalam kerangka AFTA.
Lebih lanjut, dasar hukum kerja sama
daerah, khususnya Propinsi Jawa Barat, dengan
luar negeri yaitu:
1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah;
12
Pengantar
13
4. UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan
Luar Negeri;
5. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
Internasional;
6. Keputusan Menlu RI Nomor SK.03/A/OT/
X/2003/01 tentang Panduan Umum Tata
Cara Hubungan Luar Negeri oleh Daerah;
7. Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 21
Tahun 2004 tentang Pedoman Kerja sama
antara Daerah dengan Pihak Luar Negeri.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Secara khusus, di Propinsi Jawa Barat telah
dikeluarkan Keputusan Gubernur Jawa Barat
Nomor 21 Tahun 2004 tentang Pedoman Kerja
sama antara Daerah dengan Pihak Luar Negeri.
Keputusan Gubernur Jawa Barat ini
merupakan salah satu bentuk upaya sungguhsungguh membangun kerja sama luar negeri
dalam rangka pemberdayaan potensi daerah
Jawa Barat, termasuk upaya keterlibatan Jawa
Barat dalam perdagangan bebas komoditas
pertanian di bawah aturan AFTA.
Perkembangan agrobisnis dan agroindustri
di Jawa Barat mempunyai prospek yang sangat
baik. Hal itu dikarenakan beberapa faktor yakni
didukung oleh sumber daya alam dan sumber
daya manusia yang melimpah, permintaan
komoditas dari dalam dan luar negeri tinggi,
variabilitas produk yang dapat dihasilkan untuk
pasar domestik dan ekspor tinggi, usaha dalam
bidang agrobisnis dan agroindustri merupakan
Pengantar
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
bisnis dengan nilai milyaran dollar sehingga
dapat menjadi sumber devisa. Secara demikian
pengembangan agrobisnis dan agroindustri
dapat memiliki keunggulan komparatif dengan
bangsa lain.
Hasil pengamatan awal di lapangan
terdapat berbagai kendala yang dihadapi
agrobisnis dan agroindustri di Jawa Barat antara
lain: pertama, berkenaan dengan ketersediaan
sumber logistik bahan baku yang memiliki
ketidakpastian yang tinggi karena pemetaan
potensi sumber bahan baku belum adikuat serta
kapasitas, kualitas, dan kuantitas yang belum
memadai karena kerap menerapkan manajemen
uji coba (trial and error); kedua, masih terdapat
mismanajemen dalam produksi, keuangan,
perawatan, persediaan, dan organisasi; ketiga,
masih terbatasnya informasi pasar yang dapat
menunjang kelancaran distribusi dan pemasaran
karena terdapatnya hambatan dalam akses dan
distribusi informasi, sistem dan tataniaga, metode
distribusi dan transportasi, implementasi MSTQ
(Measurement, Standard, Testing and Quality) yang
tidak berjalan dengan baik; keempat, masih
rendahnya tingkat pelayanan purnajual dan nilai
tambah komoditas karena latar belakang
pendidikan, pengetahuan, teknologi dan inovasi
yang masih rendah di kalangan petani serta
standar mutu dan HAKI yang minim.
Kondisi di atas memunculkan ketertarikan
untuk menelaah secara mendalam tentang
bagaimana sebenarnya kondisi riil kesiapan
14
Pengantar
15
komunitas pertanian Jawa Barat di dalam
menghadapi perdagangan bebas di kawasan Asia
Tenggara.
Alasan pemilihan komoditas pertanian
karena dalam konteks implementasi AFTA
terdapat empat daftar produk yang masuk dalam
skema CEPT, yaitu:
- Inclusion list (hambatan nontarifnya harus
dihapuskan dalam 5 tahun; tidak ada
pembatasan kuantitatif);
- General exception list (daftar produk yang
dikecualikan dari skema CEPT oleh suatu
negara karena dianggap penting untuk alasan
perlindungan keamanan nasional. Misalnya:
senjata, amunisi, arkeologis, narkotik, dsb);
- Temporary exclusion list (daftar produk yang
dikecualikan sementara untuk dimasukkan
dalamskemaCEPT.Misalnya:barang manufaktur,
produk pertanian olahan);
Tahun 2008 diharapkan semua negara
anggota ASEAN sudah menerapkan skema CEPT
terhadap sensitive list (produk pertanian bukan
olahan). Padahal perdagangan agrikultur intraASEAN masih memiliki tingkat proteksi yang
tinggi, hanya Singapura, Brunei (0%), Vietnam
(0,92%) yang sudah menerapkan tarif di bawah
5%. Sedangkan Malaysia (5%), Filipina (8%),
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
- Sensitive list (produk pertanian bukan olahan.
Misalnya: beras, gula, produk daging,
gandum, bawang putih, cengkeh, dsb.
Pengantar
16
Indonesia (12%), dan Thailand (15%) pada tahun
2003.
Buku ini mencoba untuk mengupas lebih
dalam implementasi ASEAN Free Trade Agreement
dalam perdagangan komoditas pertanian pada
tataran akar rumput di Jawa Barat. Adapun
informasi dan data yang didapat penulis berada
dalam kurun waktu sampai dengan Desember
2008.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
17
BAB II
REGIONALISME ASEAN:
PERSPEKTIF TEORETIS
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
2.1 Organisasi Internasional
Perkembangan peradaban manusia senantiasa
memerlukan adanya organisasi yang berkembang
mulai dari organisasi yang bentuknya sederhana
seperti organisasi keluarga, organisasi rukun
tetangga, kelurahan sampai organisasi yang
kompleks seperti organisasi negara/pemerintah.
Keterkaitan organisasi dengan kehidupan manusia
ditegaskan sebagai berikut: “Individu dengan
organisasinya adalah tidak mungkin melepaskan
diri dari jalin-menjalin. Adalah sangat sulit untuk
memikirkan tentang seseorang tanpa orang lain.
Orang itu banyak berbuat pada pekerjaannya dan
menikmati manfaat yang besar dari organisasi.
Keadaan itu sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang
besar dari organisasi” (Hicks dan Gullet, 1995:25).
Berdasarkan uraian tersebut, jelas bahwa
manusia dalam kehidupannya tidak akan terlepas
dari suatu organisasi. Organisasi sangat diperlukan
oleh setiap manusia dalam kelangsungan hidupnya.
Tidak ada seorang pun dari umat manusia di dunia
ini yang dapat menghindari suatu organisasi.
Bahkan sejak dilahirkan sampai dengan mati pun
manusia tetap terkait dengan organisasi.
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Begitu juga halnya dalam bidang manajemen,
organisasi sangat berkaitan dengan manajemen
dalam rangka menunjang pencapaian tujuan
organisasi yang telah ditetapkan. Organisasi
merupakan salah satu fungsi dari manajemen.
Manajemen selalu berkaitan dengan kehidupan
organisasional dimana terdapat seseorang atau
sekelompok orang yang menduduki jabatan atau
tingkatan kepemimpinan dan sekelompok orang
yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugas.
Keberhasilan seseorang bukan hanya dilihat
dari kemampuannya secara individual, melainkan
dari bagaimana kemampuannya dalam melaksanakan
salah satu fungsi manajemen yang disebut actuating
yaitu menggerakkan orang lain untuk melakukan
tugasnya dalam kegiatan yang telah ditentukan
dalam suatu organisasi.
Keterkaitan manajemen dengan organisasi
adalah sebagai berikut: 1) Keberhasilan organisasi
sesungguhnya merupakan hubungan antara
kemahiran manajerial dan keterampilan teknis para
pelaksana kegiatan operasional; 2) Kedua kelompok
utama dalam organisasi yaitu kelompok manajerial
dan kelompok pelaksana mempunyai bidang
tanggung jawab masing-masing yang secara
konseptual dan teorika dapat dipisahkan, akan
tetapi secara operasional menyatu dalam berbagai
tindakan nyata dalam rangka pencapaian tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya (Siagian, 1988:4).
Beberapa faktor yang mempengaruhi
keberhasilan suatu organisasi menurut Siagian
(1988:5) antara lain:
18
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
19
1. Mampu tidaknya kelompok manajerial dalam
organisasi menjalankan fungsinya.
2. Tersedianya tenaga operasional yang matang
secara teknis dan mempunyai keterampilan
sesuai dengan berbagai tuntutan tugas.
3. Tersedianya anggaran yang memadai untuk
pembiayaan kegiatan.
4. Tersedianya sarana dan prasarana dalam
menjalankan kegiatan.
5. Mekanisme kerja yang tingkat formalitasnya
disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
6. Adanya iklim kerja dalam organisasi yang
harmonis.
7. Situasi lingkungan diharapkan dapat mendukung
pelaksanaan kegiatan kerja.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Faktor tersebut perlu dipahami setiap
pimpinan organisasi untuk efektivitas tujuan dan
kelangsungan perkembangan organisasi. Efektivitas
organisasi merupakan tujuan yang ingin dicapai
setiap organisasi, sedangkan ukuran untuk
menentukan efektivitasnya adalah: 1) Produksi, 2)
Efisiensi,3)Kepuasan,4)Keadaptasian,5)Pengembangan
(Gibson, 1994:34).
Dalam memahami organisasi internasional,
perlu dipahami terlebih dahulu konsep-konsep dasar
organisasi. Berbagai pengertian, definisi dan konsep
tersebut, yang disajikan para pakar menunjukkan ada
kesamaan arti secara mendasar, walaupun cara
pengungkapannya berbeda-beda. Dapat dijelaskan
sebagai rujukan antara lain pendapat Hodges (1956:
114):
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
20
“Organization was defined as the process of
building, for any enterprise a structure that will
provide for the separation of activities to be
performed and for the arrangement of these activities
in a framework which indicated their hierrachical
importance and functional associations.
(organisasi sebagai proses pembentukan bagi
macam-macam badan usaha, suatu kerangka
yang akan memberikan pembagian aktivitas
yang dilakukan dan untuk pengaturan
aktivitas-aktivitas ini dalam suatu kerangka
yang menunjukkan kepentingan tingkatan
mereka dan hubungan Internasional)”.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Sedangkan Mooney menyatakan bahwa:
“Organisasi merupakan suatu bentuk setiap
perserikatan manusia untuk mencapai suatu tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya” (Manullang,
1990:67).
Merujuk pada konsep-konsep tersebut, dapat
disimpulkan bahwa pada dasarnya organisasi
mempunyai tiga unsur inti, yaitu:
1. Adanya sekelompok orang-orang
2. Antar hubungan terjadi dalam suatu kerja sama
yang harmonis. Kerja sama didasarkan atas hak:
a. Kejelasan tujuan;
b. Pemahaman tujuan.
3. Penerimaan tujuan oleh para anggota. Kewajiban
atau tanggung jawab masing-masing orang untuk
mencapai tujuan.
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
21
Terdapat beberapa prinsip dasar yang perlu
dipahami oleh setiap anggota organisasi, yaitu:
a. Adanya kesatuan arah;
b. Kesatuan perintah;
c. Fungsionalisasi;
d. Deliniasi berbagai tugas;
e. Keseimbangan antara wewenang dan tanggung
jawab;
f. Pembagian tugas;
g. Kesederhanaan struktur;
h. Pola dasar organisasi yang relatif permanen;
i. Adanya pola pendelegasian wewenang;
j. Rentang pengawasan;
k. Jaminan pekerjaan;
l. Keseimbangan antara jasa dan imbalan
(Siagian, 1988:94).
Keberhasilan suatu organisasi dalam pengembangan ke arah yang telah diprogramkan sangat
tergantung kepada konfigurasi struktural yang
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Kemudian Allen dalam Sutarto (1988:44)
mengemukakan bahwa prinsip organisasi adalah:
a. Objective (tujuan)
b. Distribution of function (pembagian fungsi)
c. Responsibility and authority (tanggung jawab
dan wewenang)
d. Delegation (pelimpahan)
e. Supervision (pengawasan)
f. Control (kontrol).
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
22
dipilih. Hal ini menyangkut kemampuan seorang
pemimpin organisasi untuk menentukan bentuk
konfigurasi mana yang efektif dalam menjalankan
pencapaian tujuan organisasi.
Jika kebutuhan organisasi sangat kompleks
maka diusahakan untuk menggunakan konfigurasi
struktural yang kompleks juga. Mintzberg
menyatakan bahwa setiap organisasi mempunyai
lima bagian dasar:
1. The Operating Core
Para pegawai yang merupakan kelompok
pelaksana yang melaksanakan pekerjaan pokok
yang berhubungan dengan upaya menghasilkan
barang atau jasa.
2. The Strategic Apex
Manajer tingkat puncak merupakan kelompok
puncak strategis yang bertanggung jawab atas
seluruh kegiatan organisasi.
4. The Technostructure
Para analis atau tenaga ahli yang bertanggung jawab
atas efektifnya bentuk-bentuk standardisasi
tertentu dalam organisasi.
5. The Support Staff
Orang-orang sebagai staf pembantu yang mengisi
unit staf yang memberi jasa pendukung tidak
langsung kepada organisasi (Robbins, 1994:304).
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
3. The Middle Line
Para manajer sebagai pimpinan pelaksana yang
menjadi penghubung antara operating core dengan
strategic apex.
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
2. Organisasi informal
Organisasi informal disusun secara bebas,
fleksibel, tidak pasti dan spontan. Keanggotaan
diperoleh secara sadar atau tidak sadar dan sukar
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Mengacu kepada pengertian tersebut, dapat
dijelaskan bahwa bagian yang bersifat mendasar
dalam setiap organisasi dapat mendominasi
organisasi tersebut. Bila kontrol bertitik berat pada
operating core, konfigurasi ini akan melahirkan
birokrasi profesional dan keputusan lebih bersifat
desentralistis. Peranan strategic apex yang lebih
dominan maka kontrol bersifat sentralistis dan
organisasi akan berstruktur sederhana. Jika middle
management memegang posisi mengontrol, maka
organisasi bersifat divisional, karena merupakan
kelompok-kelompok pelaksana yang pada dasarnya
bersifat otonom. Apabila kontrol dipegang oleh para
analis dalam teknostruktur maka akan melahirkan
birokrasi mesin karena alat pengendalinya adalah
pembakuan (standardisasi) dan jika kontrol
dipegang oleh Support staff maka akan melahirkan
adhocracy.
Organisasi mempunyai bermacam ragam dan
bentuk juga dapat dilihat dari berbagai faktor.
Dilihat dari kepastian tingkatan struktur menurut
Hicks dan Gullet ada dua macam, yaitu:
1. Organisasi formal
Organisasi formal adalah organisasi yang
mempunyai struktur yang dinyatakan dengan
baik yang dapat menggambarkan hubunganhubungan wewenang, kekuasaan, akuntabilitas,
dan tanggung jawab.
23
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
24
untuk menentukan waktu yang pasti kapan
seseorang akan menjadi anggota (Hicks dan Gullet,
1995:103).
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Jika dilihat dari pendapat tersebut, jelas bahwa
ASEAN merupakan suatu organisasi formal, yang
pembentukan dan keanggotaannya ditentukan oleh
peraturan.
Struktur organisasi digambarkan secara jelas,
dimana terdapat pembagian tugas dan wewenang
serta hubungan tugas antar unit-unit yang
tergambar dalam struktur organisasinya dengan
tujuan yang jelas dan sudah ditetapkan. Di samping
itu organisasi disusun melalui berbagai kreasi,
komunikasi untuk rencana perluasan organisasi
yang disesuaikan dengan kesanggupan organisasi.
Hal ini terlihat dari adanya pelaksanaan berbagai
pertemuan yang diselenggarakan oleh ASEAN baik
itu Konferensi Tingkat Tinggi ataupun Konferensi
Tingkat Menteri dan pertemuan lainnya untuk
mengkaji tindak, mengevaluasi eksistensinya dan
menghasilkan kebijakan-kebijakan sebagai
pedoman untuk bertindak.
Berdasarkan ruang lingkup daerahnya,
klasifikasi organisasi terdiri atas:
1. Organisasi Daerah
Organisasi daerah luas wilayahnya meliputi
suatu satuan daerah sesuai dengan pembagian
wilayah yang berlaku dalam suatu negara.
Misalnya: Desa, Kecamatan, Kabupaten dan
sebagainya.
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
25
2. Organisasi Nasional
Organisasi nasional luas wilayahnya meliputi
seluruh daerah negara. Misalnya: Pemerintah
Pusat.
3. Organisasi Regional
Organisasi regional luas wilayahnya meliputi
kawasan tertentu. Misalnya: ASEAN
4. Organisasi Internasional
Organisasi Internasional luas wilayahnya
meliputi seluruh atau sebagian negara anggota
PBB. Misalnya: WHO (Sutarto, 1988:16).
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Istilah umum yang digunakan untuk organisasi
Internasional berdasarkan keanggotaannya adalah
organisasi yang beranggotakan dua negara atau
lebih disebut organisasi Internasional, sedangkan
bila dilihat dari ruang lingkupnya bisa berbentuk
organisasi Internasional yang bersifat regional dan
global. Kedua sifat organisasi tersebut perbedaannya
terletak pada ruang lingkup, tujuan dan maksud
pendirian organisasi tersebut. Uraian berikut
bermaksud untuk menjelaskan istilah organisasi
Internasional dengan berbagai pertimbangannya.
Organisasi Internasional dapat dimanfaatkan untuk
mencapai kepentingan tujuan dan kontrak antar
negara dan bangsa.
Organisasi Internasional mempunyai konsep
yang kompleks yang dapat didefinisikan tergantung
kebutuhan analisis. Couloumbis dan Wolfe mendefinisikan organisasi Internasional melalui tiga
tingkat sesuai dengan permasalahannya, yaitu:
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
26
1. International organization could be defined in term of
its intended purposes (Organisasi Internasional
dapat didefinisikan menurut tujuan pembentukkan
organisasi tersebut).
2. It could be defined in term of exsiting international
institutions or term of ideal models and blueprints for
future institutions (organisasi Internasional dapat
didefinisikan dengan mengacu pada keberadaan
lembaga-lembaga Internasional yang ada atau
menurut model ideal dan cetak biru institusiinstitusi di masa depan).
3. International organization could be defined as a process
approximating government regulation of relations
(organisasi Internasional dapat didefinisikan
sebagai suatu proses yang mendekati pengaturan
pemerintahan mengenai hubungan di antara para
aktor negara dan nonnegara) (Couloumbis dan
Wolfe, 1986:276).
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Suatu organisasi Internasional dapat dipandang
sebagai hal yang ekstrem bila sudut pandangnya
adalah mengemukakan kemunculan pemerintah
dunia, dan sebaliknya suatu uji coba dalam memacu
kerja sama di antara negara-negara berdaulat.
Hal tersebut menjadikan negara-negara
dewasa ini memiliki kekuasaan (power) dan
kewenangan (authority), yang merupakan unit
politik utama, maka perubahan, akomodasi dan
perluasan hubungan antara negara dan kontrakkontrak transnasional merupakan ciri meningkatnya
kesalingtergantungan. Perwujudannya direfleksikan
melalui eksistensi suatu organisasi Internasional.
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
27
Keberadaan organisasi Internasional dewasa
ini semakin kompleks bentuknya, tujuan pembentukannya secara umum adalah:
1. Regulation of international relations primarily through
techniques of peaceful settlement of diputes among
nation states (Regulasi Hubungan Internasional
terutama melalui teknik-teknik penyelesaian
damai mengenai sengketa antar negara).
2. Minimization, or, at the least, control of international
conflict and war (Meminimalkan atau paling tidak
mengendalikan konflik/perang Internasional).
3. Promotion of cooperative, developmental activities
among nation-states for the social and economic benefit
of certain regions or humankind in general
(Meningkatkan kerja sama dan pembangunan
sosial ekonomi antar negara baik regional
ataupun untuk manusia pada umumnya).
Dari sudut pandang institusinya, Couloumbis
dan Wolfe menggolongkan organisasi Internasional
dalam kategori utama, yaitu inter-govermental
organizations (IGOs) dan Non Govermental
Organizations (NGOs). IGOs beranggotakan
perwakilan resmi suatu negara. Sedangkan NGOs
private (swasta), terdiri dari kelompok-kelompok
swadaya dengan orientasi bervariasi, bisa keagamaan,
ilmu pengetahuan, budaya, kemanusiaan, teknik
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4. Collective defence of a group of nation-states against
external threat (Pertahanan bersama sekelompok
negara dalam menghadapi ancaman luar)
(Couloumbis dan Wolfe, 1986:276).
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
28
ataupun ekonomi yang tidak melibatkan
pemerintah secara aktif.
Dari sudut pandang prosesnya organisasi
Internasional dapat mengandung berbagai makna,
paling tepat digambarkan sebagai suatu bentuk
yang belum sempurna dari pengaturan global yang
telah maju dari pemerintah nasional yang mempunyai
kedaulatan dan memiliki klasifikasi khusus.
Perbedaan antara pemerintahan nasional
dengan organisasi Internasional menurut Couloumbis
dan Wolfe adalah:
1. Subyek pemerintahan pada umumnya meliputi
individu-individu, keluarga-keluarga, desa-desa,
kelas-kelas sosial, perusahaan, kota dan
kelompok-kelompok nasional lainnya.
3. Organisasi pemerintahan nasional mempunyai
pandangan yang berbeda dengan organisasi
Internasional terhadap arti kedaulatan. Dalam
organisasi pemerintahan nasional, kedaulatan
adalah kekuasaan tertinggi dalam arti tidak ada
kekuasaan lain yang dapat melebihinya, tetapi
dalam organisasi Internasional pengertiannya tak
mutlak karena harus mempertimbangkan
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
2. Subyek organisasi Internasional adalah Negaranegara yang mewakili pemerintahannya. Fungsi
pemerintahan nasional biasanya inklusif dan
sangat dalam meresap pada gaya hidup
subyeknya, dan hanya mempunyai pengaruh
tidak langsung terhadap anggotanya dengan
fungsi yang terbatas pada aktivitas-aktivitas
tertentu.
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
29
kedaulatan negara anggota lain. Negara
berdaulat dalam arti selama dalam tindakannya
itu tidak ada campur tangan asing.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Seringkali organisasi regional didefinisikan
berdasarkan letak geografis tertentu dari sistem
keanggotaannya. Seperti ASEAN yang merupakan
organisasi regional dimana anggota-anggotanya
adalah negara-negara yang terletak di kawasan Asia
Tenggara.
Namun organisasi regional bisa juga
didefinisikan berdasarkan kepentingan khusus
seperti halnya commonwealth, disebut organisasi
regional padahal anggotanya tersebar di seluruh
dunia sebagai negara bekas jajahan Inggris (Bennet,
1984:347).
Rumusan mengenai organisasi regional yang
dapat lebih menjelaskan pengertiannya adalah
mengacu pada pendapat bahwa:
“Regional organization is a segment of the world
bound together by a common set of objectives based
on geographical, social, cultural, economic,
organization, political ties and possessing a formal
structure provide for in formal intergovernmental
agreements (Organisasi regional adalah
organisasi yang terikat oleh tujuan bersama
yang didasarkan atas wilayah, sosial, budaya,
ekonomi, atau ikatan politik yang memiliki
struktur formal untuk menjalin kesepakatankesepakatan antar pemerintah)” (Bennett,
1984:348).
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Dasar pembentukkan organisasi regional itu
bervariasi, bisa berdasarkan kawasan tertentu,
sosial, budaya, ekonomi, atau berdasarkan politik,
tetapi yang penting adalah merupakan kerja sama
antar negara dalam struktur organisasi yang formal.
Ciri-ciri keunggulan regionalisme yang disebut
oleh Bennett adalah bahwa suatu organisasi regional
cenderung alamiah yang berdasarkan kondisi
homogenitas dari kepentingan tradisi dan nilai
dalam kelompok kecil negara-negara sekitar atau
negara tetangga (Bennett, 1984:348).
Integrasi politik, ekonomi dan sosial lebih
mudah dilakukan dalam jumlah terbatas dalam
kawasan tertentu daripada yang bersifat global.
Kerja sama ekonomi regional terbukti lebih efisien
dan berhasil dalam pemasaran dunia karena dalam
bentuk-bentuk yang lebih kecil. Ancaman terhadap
perdamaian lokal di kawasan dapat diselesaikan
sendiri oleh pemerintah/negara yang tergabung
dalam kawasan tertentu. Adanya berbagai organisasi
regional dapat memelihara keseimbangan kekuatan,
perdamaian dan keamanan dunia, juga merupakan
langkah pertama untuk memelihara perdamaian
dan pembangunan dalam bidang-bidang yang telah
dikonsensuskan dalam kerangka koordinasi antar
pemerintah dan dapat mengakomodasikan perbedaanperbedaan yang lebih heterogen.
Regionalisme terbentuk atas dorongan
perkembangan dan kemajuan bidang-bidang
teknologi transportasi, teknologi komunikasi dan
teknologi informasi.
30
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
2.2 Bentuk Organisasi Internasional
Dalam buku ini, pembahasan bentuk organisasi
dititikberatkan pada IGOs karena dampaknya dalam
hubungan antar pemerintah. IGOs diciptakan oleh dua
negara berdaulat atau lebih. Mereka mengadakan
pertemuan reguler dan mempunyai staf pekerja penuh
waktu. Dalam IGOs kepentingan dan kebijakan negara
anggota dikemukakan oleh perwakilan secara tetap.
Keanggotaannya bersifat sukarela, secara teknik IGOs
tidak akan mengganggu kedaulatan negara meskipun
mungkin saja pada kenyataannya muncul sebagai
pengganggu kedaulatan.
LebihjauhCouloumbisdanWolfemengemukakan,
IGOs dikatagorikan berdasarkan keanggotaan atau
tujuannya, yaitu bersifat global, regional atau
lainnya, contohnya liga bangsa-bangsa (LBB) atau
perserikatan bangsa-bangsa (PBB) dianggap
organisasi global dengan keleluasaan anggotanya.
IGOs regional seringkali didefinisikan berdasarkan
letak geografis seperti ASEAN, atau berdasarkan
kepentingan khusus. Organisasi Internasional
adalah bentuk keterikatan bersama dari tujuan
berdasarkan wilayah, sosial, budaya, ekonomi,
politik dan struktur formal yang mengatur
persetujuan antar pemerintah. Klasifikasi IGOs
adalah sebagai berikut:
1. General-membership and general-purposes organizations.
(organisasi yang keanggotaannya juga tujuannya
umum). Katagori ini khusus dapat diacukan
kepada PBB dan LBB. Organisasi seperti itu ruang
lingkupnya adalah global dan melakukan
berbagai fungsi, seperti keamanan, kerja sama
31
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
32
sosial-ekonomi, perlindungan hak-hak azasi
manusia, dan pembangunan serta pertukaran
kebudayaan.
2. General-membership and limited purpose
organizations (organisasi yang keanggotaannya
umum dan tujuannya terbatas). Organisasi ini
juga dikenal sebagai organisasi yang fungsional
karena organisasi tersebut diabdikan kepada
suatu fungsi yang spesifik. Contoh yang khas
adalah badan-badan PBB seperti International
Bank For Reconstruction and development (Bank
InternasionaluntukRekonstruksidanPembangunan,
World Bank (Bank Dunia), International Labour
Organization (ILO/Organisasi Buruh Internasional),
World Health Organization (WHO/Organisasi
Kesehatan Internasional), dan United Nations
Educational. Scientific, and Cultural Organization
(UNESCO/ Organisasi PBB Bidang Pendidikan,
Keilmuan, dan Kebudayaan).
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
3. Limited-membership and general-purpose
organizations (organisasi yang keanggotaannya
terbatas dan tujuannya umum). Organisasi
seperti ini merupakan organisasi regional yang
fungsinya bertanggung jawab dalam hal
keamanan, politik, dan sosial ekonomi dan
berskala luas. Contohnya adalah Organizations of
American States (OAS/Organisasi Negara-negara
Amerika), Organizations of African Unity (OAU/
Organisasi Persatuan Afrika), Arab League (Liga
Arab), dan European Communities (Masyarakat
Eropa).
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
33
4. Limited-membership and limited purpose
organizations (organisasi yang keanggotaannya
dan tujuannya terbatas). Organisasi ini dibagi
menjadi organisasi sosial-ekonomi dan organisasi
militer/pertahanan. Contohnya adalah: Latin
American Free Trade Association (LAFTA/Asosiasi
Perdagangan Bebas Amerika Latin). Soviet-East
European Common Market (Pasar Bersama SovietEropa Timur) yang disebut Council for Mutual
Economic Assistance (CMEA/Dewan Bantuan
Ekonomi Bersama), North Atlantic Treaty
Organization (NATO/Pakta Pertahanan Atlantik
Utara) dan Warsaw Treaty Organization (Warsaw
Pact/Pakta Warsawa) (Couloumbis dan Wolfe,
1986 : 278).
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Organisasi-organisasi Internasional dapat
dilihat dari struktur dan fungsinya. Organisasi ini
didirikan berdasarkan pada perjanjian (treaty) atau
persetujuan khusus. Negara-negara yang membentuk
organisasi internasional sebagai suatu alat dan
forum untuk bekerja sama antar negara
menawarkan sejumlah manfaat bagi seluruh
ataupun sebagian besar negara anggotanya. Area
kerja sama organisasi Internasional ini dapat berupa
kerja sama di bidang politik, ekonomi, militer,
budaya, sosial, teknik, hukum atau kerja sama yang
bersifat pembangunan.
Hal tersebut lebih ditegaskan oleh Couloumbis
dan Wolfe bahwa, organisasi Internasional mempunyai peran yang sangat penting dimana fungsi
utama dari organisasi tersebut adalah:
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
34
1. Menyelenggarakan kerja sama antarnegara/
bangsa;
2. Saluran komunikasi dari berbagai masalah suatu
bangsa;
3. Untuk melakukan perubahan kondisi, misalnya
dari situasi konflik ke arah kompromistis.
Berdasarkan fungsinya, organisasi Internasional
berperan dalam menangani masalah-masalah yang
bersifat Internasional yang terjadi sebagai refleksi
kompleksitas dan meluasnya kehidupan dunia
sehingga tidak dapat diselesaikan secara nasional,
khususnya dalam hubungan Internasional.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
2.3 Konsensus dalam Organisasi Internasional
Perbedaan aspirasi dan keinginan negara-negara
anggota ASEAN merupakan fenomena yang harus
dipecahkan dalam menyusun program kerja. Setiap
negara anggota ASEAN menyadari dan berusaha
untuk memadukan program kerja negaranya menjadi
program kerja ASEAN yang akan menguntungkan
ASEAN. Untuk itu perlu adanya ketepatan dalam
pengambilan keputusan dengan memperhatikan
kepentingan bersama dan pemilihan beberapa
alternatif yang merupakan usulan-usulan dari anggota
ASEAN.
Konsensus adalah pengambilan keputusan
untuk mencapai tujuan bersama secara mufakat.
Hicks dan Gullet (1994:550) mengungkapkan bahwa
“Pengambilan keputusan adalah proses suatu
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
35
kegiatan dari sejumlah pilihan kegiatan adalah apa
yang dimaksud dengan keputusan.”
Tingkat keputusannya menjadi sebagai berikut:
1. Keputusan otomatis.
2. Keputusan memori.
3. Keputusan pengamatan.
Pengertian-pengertian yang membedakan
kebijakan dengan keputusan, adalah:
1. Kebijakan mempunyai ruang lingkup lebih luas
dari keputusan.
2. Penelaahan dalam kebijakan dilakukan pada
langkah-langkah permulaan dan langkahlangkah selanjutnya.
3. Dalam keputusan tergantung kepada decision
making, sedangkan pada kebijakan tergantung
pada usaha penelusuran interaksi yang
berlangsung antar individu kelompok organisasi
(Wahab, 1989:34).
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Keputusan adalah pengakhiran dari suatu
proses perkiraan tentang apa yang dianggap sebagai
masalah, sebagai suatu yang merupakan
penyimpangan daripada yang dikehendaki,
direncanakan atau dituju dengan menyatukan
pilihan pada salah satu alternatif pemecahan”
(Atmosudirjo, 1982:45). Pengambilan keputusan
adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap
hakekat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta
dan data, penentuan yang matang dari alternatif
yang dihadapi dan pengambilan tindakan yang
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
36
menurut perhitungan merupakan tindakan yang
paling tepat.” (Suradinata, 1996:66).
Keputusan merupakan hasil pemilihan
beberapa alternatif, jika keputusan merupakan
suatu sistem, terdapat input, process dan output, maka
pengambilan keputusan dapat digambarkan sebagai
berikut:
Gambar 2.1
Sistem Pengambilan Keputusan ASEAN
- Tuntutan
- Dukungan
- Sumber - sumber
Pembuatan atau
pengambilan
keputusan
Keputusan ASEAN
Keputusan ASEAN
Implementasi
keputusan ASEAN
Keberhasilan
program ASEAN
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Dari gambar tersebut, dalam pengambilan
keputusan harus ada masukan yang diolah melalui
suatu proses sehingga akan menghasilkan keluaran
berupa pemilihan beberapa alternatif yang
menyangkut kepentingan bersama. Pengambilan
keputusan merupakan bagian dari proses
Dalam organisasi Internasional, tidak tertutup
kemungkinan berkembangnya aneka pemikiran
tentang berbagai isu. Hal ini cenderung untuk
melemahkan organisasi itu sendiri, terutama dalam
mencapai tujuan-tujuan prinsip sesuai dengan
anggaran dasar atau statusnya. Karena organisasi
Internasional didirikan berdasarkan suatu
konsensus, maka dalam menghadapi permasalahan
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
dalam kerangka eksistensi dan pelaksanaan
fungsinya, dikenal suatu mekanisme yang disebut
sebagai mekanisme konsensus.
Terdapat berbagai mekanisme konsensus,
misalnya melalui voting dengan perhitungan suara
setengah plus satu, dianggap sebagai suara
mayoritas dan merupakan konsensus. Atas dasar
konsensus ini setiap kebijakan dirancang dan
dilaksanakan, karenanya akan membawa konsekuensi
kekuatan yang mengikat (secara hukum) bagi negaranegara anggota untuk memenuhinya.
Dalam situasi yang tengah berubah (seperti
halnya sistem Internasional dimana organisasi
Internasional berbeda), diperlukan adanya suatu
proses pembuatan kebijakan yang efektif, yaitu
dengan berbasis pada suatu kosensus sosial yang
kuat. Konsensus ini diperlukan dalam suatu dunia
yang modern, yang menampakkan banyak
perbedaan sistem, perubahan sosial yang tidak
berimbang serta bermobilitas sosial yang tinggi.
Negara-negara yang merasa memiliki tujuan
yang sama dan membentuk organisasi Internasional
karena berbagai hal kedinamisannya, akan
menghadapi visi dan interpretasi tersendiri
mengenai situasi dan kondisi dunia. Pada dasarnya
mereka ingin memaksakan keinginannya dan
mengambil keuntungan maksimal. Di sini timbul
pergesekan kepentingan, yang dapat menjadi awal
perpecahan dan ketidakutuhan organisasi
mengadakan kesepakatan bersama yang dinamakan
konsensus.
37
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
2.4 Kerja sama dalam Organisasi Internasional
Kerja sama dimaksud dalam arti kerja sama
Internasional. Dalam hal ini tingkah laku negara
dapat mengacu kepada dua bentuk ekstrim, yaitu
kerja sama atau konflik. Konflik sebenarnya
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Dalam situasi tertentu, ada “konsensus politik”,
yaitu konsensus yang melibatkan hubungan para
pelaku yang berimbang atau setidaknya mendekati
keseimbangan. Di sini masyarakat terdiri dari unit-unit
politik (individu, kelompok dan negara) yang tingkat
informasinya tinggi, aktif dan otonom, yang bersamasama berupaya untuk mempertahankan kemerdekaan
dan kemakmuran mereka, juga mengakui pentingnya
kerja sama dan pengaturan koeksistensi bagi
kepentingan mereka masing-masing demi kebaikan
seluruh masyarakat. Konsensus di sini dapat
diasumsikan sebagai suatu hal yang dipraktekkan
dalam suatu masyakarat yang memiliki cukup barang
dan jasa untuk memuaskan permintaan dan
penawaran dari para anggotanya. Contoh penerapan
konsensus ini, misalnya bahwa konsensus dalam
hubungan antara AS dengan sekutu NATO-nya yang
lebih kecil, seperti Portugal, Yunani dan Turki.
Dengan demikian dalam organisasi Internasional
perlu ada konsensus untuk mempersatukan
pandangan negara anggotanya, biasanya konsensus
dibuat oleh adanya kesederajatan antaranggota, antara
lain melalui “one state one vote”. Dalam arti lain,
konsensus bisa dilakukan oleh negara-negara yang
berperan politik pengaruhnya lebih besar.
38
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
diusahakan untuk dihindari, karena berdasarkan
pengalaman telah memicu timbulnya peperangan,
baik perang dunia maupun perang dingin, sebagian
besar disebabkan adanya konflik (mispersepsi).
Adanya pemahaman persepsi dengan pengetahuan
yang penuh, sebaliknya dapat menghindarkan
konflik dan mendorong ke arah kerja sama.
Kerja sama Internasional dapat terjadi karena
adanya saling pengertian (mutual understanding)
antara negara atau pemerintah yang satu dengan
yang lain. Apalagi pada masa sekarang ini setiap
negara yang ingin diakui eksistensinya tidak
mungkin lagi terpenuhi secara domestik sehingga
membutuhkan adanya ikatan dalam bentuk kerja
sama untuk memenuhi kesalingtergantungan antar
negara.
Dewasa ini kerja sama Internasional dapat
diacukan pada kerangka multilateral, yaitu
kerangka yang diinginkan oleh suatu kerja sama
Internasional karena dapat memberikan pengaturan
yang dapat diaplikasikan oleh semua negara
anggota, yang sebaliknya memenuhi kriteria
nondiskriminatif dan penggabungan secara timbal
balik, yang biasanya tercakup dalam suatu
persetujuan Internasional.
Suatu konsep kerja sama melibatkan negara
secara nyata hingga prinsip-prinsip dan praktekpraktek dari lembaga-lembaga yang ada. Arti kerja
sama tersebut menyertakan asumsi tentang each
participant’s rational advantage.
Bentuk-bentuk kerja sama regional masa kini
dapat dijumpai di sektor seperti: European Economic
39
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Community (EEC). Central American Common Market
(CACM), Association Of South East Asian Nations
(ASEAN), dan lain-lain.
Organisasi-organisasi Internasional ini dapat
dibedakan berdasarkan intensitas kerja sama dan
tujuan pembentukannya. Terdapat perbedaan
antara kerja sama di bidang ekonomi dengan
integrasi ekonomi.
Suatu organisasi regional diklasifikasikan
sebagai wadah dari kerja sama ekonomi, jika tujuan
dari organisasi regional tersebut hanya untuk
mengadakan koordinasi dalam kerja sama di bidang
ekonomi tanpa mencantumkan perangkat-perangkat
kerja sama untuk mencapai suatu integrasi ekonomi.
Sedangkan integrasi ekonomi bertujuan untuk
memadukan pasar dan perekonomian negara-negara
anggota organisasi melalui beberapa tahapan.
Untuk mencapai tujuan mengadakan
koordinasi dalam kerja sama di bidang ekonomi
tersebut, diperlukan struktur organisasi yang
bersifat “supranasional” di mana negara-negara
anggota organisasi tersebut bersedia melimpahkan
sebagian kedaulatannya, yaitu melalui pengambilan
keputusan bersama oleh “organ pusat” yang bersifat
mengikat.
Secara teoretis, integrasi ekonomi terdapat
beberapa bentuk dan menunjukkan derajat
intensitas integrasi, yaitu:
a. Free Trade Area (FTA)
b. Customs Union (CU)
c. Common Market (CM)
d. Economic Union (EU)
40
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
41
e. Total Economic Integration (TEI) (Departemen
Luar Negeri Republik Indonesia, 1996:15-17).
b. Customs Union (CU)
Dua negara atau lebih dikatakan membentuk CU
bila mereka sepakat untuk menghilangkan semua
kewajiban impor atau hambatan-hambatan
perdagangan dalam bentuk tarif maupun
nontarif terhadap semua barang yang
diperdagangkan di antara sesama mereka,
sedangkan terhadap negara-negara lain yang
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
a. Free Trade Area (FTA)
Dua negara atau lebih dapat dikatakan
membentuk FTA apabila mereka sepakat untuk
menghilangkan semua kewajiban impor (import
duties) atau hambatan-hambatan perdagangan
(trade barriers), baik dalam bentuk tarif (tariff
barrier) maupun nontarif (non Tariff barrier)
terhadap semua barang yang diperdagangkan di
antara mereka, sedangkan terhadap negaranegara bukan anggota, masih tetap diberlakukan
menurut ketentuan masing-masing negara.
Dalam keadaan terjadi penghapusan tarif di
antara sesama anggota, sementara terhadap
pihak ketiga tetap dikenakan tarif, dimungkinkan
terjadinya trade deflection. Artinya sulit untuk
menghindari kemungkinan impor barang dari
negara ketiga ke negara anggota yang
mengenakan tarif yang relatif tinggi melalui
negara yang mengenakan tarif yang relatif
rendah.
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
42
bukan anggota diberlakukan penyeragaman
ketentuan. Hal ini ditempuh untuk menghilangkan
kemungkinan terjadinya trade reflection pada
kondisi FTA.
c. Common Market (CM)
Dua negara atau lebih dikatakan membentuk CM
jika terpenuhi kondisi CU plus mengizinkan
adanya perpindahan yang bebas dari seluruh
faktor produksi di antara sesama negara anggota.
d. Economic Union (EU)
Dua negara atau lebih dikatakan membentuk CU
jika terpenuhi kondisi CM plus, adanya harmonis
dalam kebijakan makroekonomi nasional di
antara sesama negara anggota. Dengan begitu
dapat dihindari kebijakan yang saling bertentangan
dan kontroversial satu sama lain.
2.5 Kebijakan
Kebijakan merupakan hasil suatu proses, jika
melihat teori sistem, kebijakan dapat dibagi menjadi
tiga bagian, yaitu:
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
e. Total Economic Integration (TEI)
TEI terwujud apabila telah terjadi penyatuan
kebijakan makroekonomi maupun sosial dan
memfungsikan suatu badan yang “supranasional”
dengan kewenangan yang luas dan sangat
mengikat.
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
43
1. Adanya input
Dalam merumuskan suatu kebijakan yang
terpenting adanya masukan, berupa berbagai
informasi yang menyangkut kepentingan umum.
bukan kepentingan pribadi. Informasi tersebut
diharapkan sesuai dengan tuntutan, dukungan
dan sumber-sumber yang ada pada masyarakat.
2. Adanya proses
Dari berbagai tuntutan tersebut, pemerintah
mempertimbangkan baik buruknya tuntutan
tersebut disesuaikan dengan kemampuan dari
pemerintah dan manfaatnya bagi kepentingan
umum.
3. Adanya output
Hasil dari proses tersebut dapat keluar suatu
kebijakan atau peraturan yang diharapkan mampu
menjawab berbagai fenomena masyarakat, dan
membantu kendala-kendala bagi masyarakat bukan
memberatkan (Islamy, 1984:7).
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Kebijakan ASEAN mengandung aspirasi
negara-negara anggotanya.Aspirasi yang dituangkan
merupakan keputusan politik, ide-ide yang
dimasukkan dalam program ASEAN merupakan
kebijakan atau putusan politik. Dalam menentukan
keputusan politik berpedoman pada beberapa
faktor, antara lain: ideologi, konstitusi, undangundang, anggaran, sumber daya, etika, moral, dan
sebagainya. Alternatif politik secara umum meliputi
program perilaku untuk mencapai tujuan masyarakat
orang-orang yang akan menyelenggarakan kebijakan
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
44
umum. Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam
pembuatan kebijakan adalah:
1. Jumlah orang yang ikut mengambil keputusan
2. Peraturan pembuatan keputusan
3. Informasi (Surbakti, 1992:190).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
kebijakan adalah:
1. Lingkungan
2. Persepsi pembuat kebijakan
3. Aktivitas pemerintah
4. Aktivitas masyarakat perihal kebijakan (Surbakti,
1992:194).
Menurut Dunn, pada dasarnya efektivitas
kebijakan sangat tergantung pada tiga unsur yang
saling berkaitan, yaitu pelaku kebijakan, lingkungan
kebijakan, dan isi kebijakan tersebut. Lebih jelasnya
dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 2.2
Kaitan antara pelaku kebijakan, lingkungan
kebijakan dan kebijakan publik.
PELAKU
LINGKUNGAN
KEBIJAKAN
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Sumber: Dunn, 1995:63
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
45
Hogwood dan Gunn mengelompokkan kebijakan
sebagai:
1. Kebijakan sebagai merek bagi suatu bidang
kegiatan tertentu.
2. Kebijakan sebagai suatu pernyataan mengenai
tujuan umum atau keadaan tertentu.
3. Kebijakan sebagai usulan-usulan khusus .
4. Kebijakansebagaikeputusan-keputusanpemerintah.
5. Kebijakan sebagai pengesahan formal.
6. Kebijakan sebagai program.
7. Kebijakan sebagai keluaran.
8. Kebijakan sebagai hasil akhir.
9. Kebijakan sebagai teori dan model.
10. Kebijakan sebagai proses(Wahab, 1989: 13-14).
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Telah dijelaskan bahwa kebijakan adalah suatu
kegiatan yang bertujuan untuk memecahkan
masalah dengan berbagai tindakan terarah.
Penyusunan kebijakan dapat dilakukan tidak hanya
pada organisasi nasional, tetapi juga pada berbagai
organisasi Internasional, baik regional maupun
global.
Penyusunan kebijakan yang diambil oleh
ASEAN juga merupakan pengambilan keputusan
yang ditujukan untuk memecahkan suatu masalah
dalam menyusun kebijakan-kebijakan. Terdapat
beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Adanya dukungan (Support)
2. Adanya tuntutan (Demand)
3. Adanya sumber-sumber (Resources)
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
46
4. Adanya keputusan (Decision)
5. Adanya tindakan (Action)
6. Adanya kebijakan (Policy) (Islamy, 1984:46).
2.5.1 Kebijakan Nasional
Setiap negara atau bangsa yang modern harus
membuat suatu kebijakan luar negeri untuk diimplementasikan ke dalam lingkungan eksternalnya,
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Faktor-faktor tersebut merupakan proses
penyusunan kebijakan meliputi input yaitu
dukungan, tuntutan, dan sumber-sumber output
keputusan, tindakan, dan kebijakan (kebijakan
ASEAN dalam menghadapi AFTA).
Kebijakan dalam konteks negara yang
direferensikan pemerintah adalah serangkaian
keputusan yang diproses dan dihasilkan atas
kemufakatan bersama pada strategi-strategi di
atasnya yang diimplementasikan dalam rangka
merespon isu tersebut. Kebijakan ini biasa disebut
sebagai “kebijakan luar negeri” karena kebijakan
tersebut merupakan respon suatu negara terhadap
lingkungan eksternal yang merupakan bagian
politik luar negeri. Kebijakan di sini adalah
terjemahan dari kata policy, suatu political, yaitu
tindakan yang telah disetujui (Lexicon, 1991:290)
Dengan demikian kebijakan dapat dibedakan
dari kebijaksanaan, karena kata ini hanya berarti
kearifan (wisdom) semata tanpa adanya unsur politis
atau berpedoman pada strategi di atasnya,
merupakan keputusan spontan dan dijadikan
landasan ke dua belah pihak.
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
2.5.2 Politik Luar Negeri
Politik luar negeri menurut Kusumaatmadja
adalah merupakan suatu pencerminan dari berbagai
kepentingan nasional yang ditujukan ke luar negeri
dan merupakan bagian dari keseluruhan suatu
kebijakan yang bertujuan untuk mencapai tujuantujuan nasionalnya (Kusumaatmadja, 1983:7).
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
baik lingkungan yang bersifat multilateral, regional
maupun bilateral, dan dalam kerangka organisasi
IGOs maupun NGOs.
Kebijakan luar negeri didefinisikan sebagai
suatu strategi yang dibentuk oleh para pembuat
keputusan suatu negara/bangsa dalam upaya
menghadapi negara lain, untuk mencapai tujuan
nasionalnya yang spesifik yang dituangkan dalam
terminologi kepentingan nasional. (Plano dan Olton,
1990:5).
Hal tersebut masuk ke dalam konteks
kebijakan nasional, yaitu suatu kebijakan negara
yang dirancang oleh para pelaku nasional (elit
politik nasional) negara tersebut dalam rangka
merespons lingkungan eksternalnya.
Kebijakan nasional yang berkaitan dengan
operasional pembentukan AFTA perlu dibuat
pedomannya berdasarkan pada suatu strategi
dengan pertimbangan adanya kemajuan di bidang
teknologi dan sistem ekonomi internasional yang
membuat suatu negara/bangsa secara ekonomi dan
budaya menjadi dekat satu sama lain. Inilah yang
akan dimanisfestasikan melalui suatu politik luar
negeri.
47
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
48
Pendapat berikutnya adalah:
“Reduced to its most fundamental ingredients,
foreign policy consists of two elements : national
objective to be achieved and means for achieving
them. The interaction between national goals and
the resources for attaining them is the perennial
subject of statecraft. In its ingredients the foreign
policy of all nations, great and small, is the same”.
(Jika dilihat dari unsur unsur fundamental,
politik luar negeri terdiri dari dua unsur, yaitu
tujuan-tujuan nasional yang akan dicapai dan
alat untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Interaksi antara tujuan-tujuan nasional dengan
sumber-sumber untuk mencapainya merupakan
suatu subyek kenegaraan yang abadi. Dalam
unsur-unsur tersebut terdapat politik luar
negeri semua negara, baik besar maupun kecil
adalah sama) (Couloumbis dan Wolfe,
1986:125).
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Dalam setiap pembuatan kebijakan luar negeri,
terdapat banyak tipe, tingkatan dan dimensinya.
Dari hal-hal inilah kemudian dibedakan mengenai
sifat dan karakteristik kebijakan yang diambilnya.
Apakah itu bersifat kritis, penting atau hanya rutin
saja. Di samping itu, kebijakan luar negeri dapat pula
dilihat dari aspeknya. Antara lain apakah itu militer,
politik, ekonomi, teknik, budaya, kemanusiaan dan
tipe yang paling umum adalah kebijakan campuran.
Dalam setiap pembuatan kebijakan luar negeri,
terdapat sasaran dan tujuan yang hendak dicapai
oleh suatu negara/bangsa, sedikitnya ada tiga
kriteria yang harus dipenuhi, yaitu:
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
49
1. Nilai yang berada pada tujuan atau tingkat nilai
yang mendorong pembuat kebijakan dan
penggunaan sumber daya negara untuk mencapai
tujuan.
2. Unsur waktu untuk mencapai tujuan.
3. Jenis tuntutan tujuan yang dibedakan terhadap
negara lain di dalam sistem.
Tujuantujuanberdasarkankebijakandikategorikan
sebagai berikut:
a Core interest and values, yaitu tujuan yang
mendorong pemerintah untuk mempertahankan
eksistensinya dan yang harus dicapai sepanjang
waktu, serta mempertimbangkan perpaduan
lingkungan Internasional dan kapabilitas
negara. Tujuan inti ini umumnya berhubungan
dengan kelangsungan hidup suatu negara dan
dinyatakan sebagai prinsip dasar yang harus
diterima tanpa dipertanyakan.
c Long Range Goals, yaitu tujuan yang paling
kurang segera bagi pembuat keputusan, dan
termasuk didalamnya rencana-rencana,
harapan dan visi yang berkaitan dengan tujuan
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
b Middle range objectives, adalah tujuan yang
relatif kurang penting dan kurang segera
dalam pembuatan keputusan dan lebih
membutuhkan kerja sama dari negara lain.
Banyak hal yang menjadi hirauan pada tujuan
ini termasuk di dalamnya pembangunan
ekonomi dan kesejahteraan sosial dan lain
sebagainya.
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
50
akhir organisasi politik dan ideologi dari
sistem Internasional serta peraturan-peraturan
hubungan negara tertentu (Holsti, 1987:145).
2.5.3 Implementasi Kebijakan
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Implementasi kebijakan dapat diidentifikasikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh
pemerintah maupun swasta, baik secara individu
maupun kelompok dengan maksud untuk
mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam
kebijakan. Secara sederhana kegiatan implementasi
kebijakan merupakan suatu kegiatan penjabaran
suatu rumusan kebijakan yang bersifat makro
(abstrak) menjadi tindakan yang bersifat mikro
(konkret); atau dengan kata lain, melaksanakan
keputusan (rumusan) kebijakan yang menyangkut
aspek manajerial dan teknis. Proses implementasi
baru dimulai apabila tujuan-tujuan dan sasaran
telah ditetapkan, program kegiatan telah tersusun,
serta dana telah siap dan telah disalurkan untuk
mencapai sasaran-sasaran tersebut.
Menurut Howlet dan Ramesh (1995:153), “Its
is defined as the process whereby programs or policies are
carried out; it donotes the translation of plans into
practice”. Kemudian Lane (1993:197) dalam bukunya
The Public Sector; Concepts, Models, and Approaches
menyebut Paul A Sabatier sebagai pionir dalam
implementasi kebijakan khususnya analisis
implementasi. Paul A Sabatier mengemukakan
bahwa ada dua model yang dipacu (competing)
dalam implementasi kebijakan yakni implementasi
berdasarkan top down dan berdasarkan bottom up.
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
51
“Paul A. Sabatier, a pioneer in implementation
analysis, raises some fundamental questions about
the nature of implementation in a review of the
present state of implementation theory (Sabatier,
1986). Although Sabatier’s analysis of the two
competing models of implementation—topdown
versus bottom-up implementation….”(Lane,
1993:90).
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Jika dilihat dari model pembuatan kebijakan
publik maka kedua aspek ini terdapat pada setiap
model dari pembuatan kebijakan tersebut, seperti
model elite, model proses (sebagai aktivitas politik),
dan model inkrementalis menggambarkan
pembuatan kebijakan yang didasarkan pada model
top down. Gambar dari model bottom up dapat dilihat
pada model kelompok, model kelembagaan dan
beberapa model lain yang jika digambarkan akan
merupakan model yang berasal dari bawah (bottom
up). Lebih lanjut dijelaskan oleh Lane bahwa pada
dasarnya implementasi dapat dibedakan berdasarkan
implementasi sebagai outcome dan implementasi
sebagai suatu proses.
“In addition, because policy implementation is
considered to depend on program outcomes, it is’
difficult to separate the fate of policies from that of
their constituent programs…… Its success
programs as designed. In turn, overall policy
implementation can be evaluated by measuring
program outcomes against policy goals. ”
(Grindle,1980:7).
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Hubungan antara kebijakan dan program
dalam suatu implementasi kebijakan merupakan
fungsi dari implementasi program yang mempunyai
pengaruh dalam mencapai outcome sebagai
konsekuensi dari studi implementasi kebijakan.
Implementasi kebijakan senantiasa melibatkan hasil
penulisan dan analisis dari pelaksanaan program
nyata yang mempunyai bentuk sebagai sarana yang
dapat menjadi sasaran kebijakan yang luas.
Walaupun studi implementasi merupakan
suatu pendekatan atau kecenderungan baru dalam
studiAdministrasiNegara(administrasipembangunan),
pada hakekatnya bukanlah hal yang sama sekali
baru, paling tidak dalam arti konsep dan ruang
lingkup yang telah lama menjadi bidang perhatian
studi administrasi pembangunan. Namun harus
diakui bahwa konseptualisasi, model, pendekatan
penerapan dalam penulisan dan pengkajian
terhadap proses pembangunan nasional, dengan
studi kasus terhadap beberapa program pembangunan
nasional tertentu, memang merupakan sesuatu yang
relatif baru di Indonesia.
Masalah implementasi kebijakan (policy
implementation) sejak kurang lebih dua dekade
terakhir, telah menarik perhatian para ahli ilmu
sosial, khususnya ilmu politik dan Administrasi
Negara, baik di Negara maju atau industri maupun
di Negara berkembang. Masalah implementasi
kebijakan (pembangunan) telah menarik perhatian
karena dari berbagai pengalaman di Negara maju dan
di Negara berkembang menunjukkan bahwa terdapat
berbagai faktor yang dapat mempengaruhinya, mulai
52
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
dari yang sederhana sampai yang rumit. Faktor
tersebut antara lain berupa sumberdaya manusia
sampai pada struktur organisasi dan hubungan kerja
antarorganisasi; dari masalah komitmen para
pelaksana sampai sistem pelaporan yang kurang
lancar, dan dari sikap politisi yang kurang setuju
sampai faktor lain yang sifatnya kebetulan.
Dalam kenyataan, hal itu dapat mempengaruhi
program-program pembangunan, baik dalam arti
mendorong keberhasilan maupun menjadi penyebab
berbagai kegagalan atau kurang berhasilnya mencapai
apa yang telah dinyatakan semula sebagai tujuan
kebijakandibandingkandenganapayangsesungguhnya
terwujud dan diterima oleh masyarakat. Upaya untuk
memahami adanya kesenjangan antara apa yang
diharapkan dengan apa yang sesungguhnya
terlaksana atau yang diwujudkan dan diterima oleh
masyarakat sebagai “outcome” dari kebijakan telah
menimbulkan kesadaran mengenai pentingnya studi
implementasi.
Secara umum implementasi adalah menghubungkan antara tujuan kebijakan terhadap
realisasi dengan hasil kegiatan pemerintah seperti
yang dikemukakan oleh Grindle (1980:6) bahwa:
In general, the task of implementation is to establish
a link that allows the goals of public policies to be
realized as outcomes of governmental activity. It
involves, therefore, the creation of a “policy delivery
system”, in whuch specific are designed and pursued
in the expectation of arriving at particular ends.
53
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
Berdasarkan definisi implementasi kebijakan
tersebut, maka menurut Lane (1993:91), terdapat
dua konsep dalam implementasi yang memiliki
fokus yang berbeda, yaitu:
1. Implementasi sebagai tujuan akhir atau
pencapaian kebijakan (policy achievement).
Focus dalam konsep ini adalah evaluasi, yaitu
menilai (implementation judgment) sampai
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Menurut Lane (1993:191), implementasi dapat
dinyatakan dalam formula-formula sebagai berikut:
(DF1) Implementation = F = (Intention, Output,
Outcome).
Dimana implementasi mengacu kepada
menghasilkan output dan outcome yang
kongruen dengan maksud awalnya. Dengan
demikian implementasi memiliki pengertian
ganda, yaitu: (1) “eksekusi” di satu sisi dan, (2)
“fulfil” atau penyelesaian (accomplishment) di
sisi lain.
Konsep implementasi mencakup dua hal
pokok yaitu program kebijakan (policy) yang
kemudian akan menghasilkan outcome.
Tujuan-tujuan dari kebijakan dirumuskan oleh
berbagai aktor dalam proses politik, sehingga
definisi aktor ini meliputi dua kelompok yaitu
formator dan implementator.
Dengan mengembangkan formula awal, maka
implementasi dapat dikemukakan dalam
formula berikut:
(DF2) Implementation = F (Policy, Outcome,
Formator, Implementor, Initiator, Time).
54
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
55
sejauh mana keberhasilan implementasi
(fungsi penyelesaian/accomplishment function);
2. implementasi sebagai proses atau eksekusi
kebijakan yang memberikan fokus pada
prosesnya (fungsi sebab akibat/causal function).
Selanjutnya Lane mengemukakan bahwa
konsep implementasi memiliki dua aspek, yaitu:
1. Hubungan antara tujuan (objective) dan hasil
(outcome), sisi tanggung jawab (responsibility
side);
2. Proses untuk membawa kebijakan kedalam
efek yang merupakan sisi keepercayaan (trust
side) (Lane, 1993:102)
Berdasarkan sisi tanggung jawab dan
kepercayaan tersebut dalam proses kebijakan terdapat
dua model, yaitu:
1. Top-down model yang memberikan tekanan
berlebih pada sisi tanggungjawab (responsibility);
Proses implementasi adalah kombinasi dari
tanggung jawab (responsibility) dan kepercayaan
(trust) dalam kaitan antara warga negara dan sektor
publik secara umum, dan dalam hubungan antara
politisi dan pejabat. Dalam proses implementasi
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
2. Bottom-up model yang menekankan pada sisi
kepercayaan (trust side), yang berusaha untuk
memberikan kebebasan kepada implementor,
sebagai alat untuk menangani ketidakpastian
dengan fleksibilitas dan pembelajaran (Lane,
1993:103).
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
sekurang-kurangnya terdapat tiga unsur yang
penting dan mutlak harus ada, yaitu: (1) adanya
program atau kebijakan yang dilaksanakan; (2)
kelompok target, yaitu kelompok masyarakat yang
menjadi sasaran, dan diharapkan akan menerima
manfaat dari program tersebut, baik perubahan atau
peningkatan; dan (3) adanya pelaksana (implementor),
baik organisasi atau perorangan, yang bertanggung
jawab dalam pengelolaan, pelaksanaan maupun
pengawasan dari proses implementasi tersebut.
Ketidakberhasilan pelaksanaan suatu kebijakan
yang sering dijumpai antara lain disebabkan oleh
keterbatasan sumberdaya, struktur organisasi yang
kurang memadai dan kurang efektif, dan atau
karena komitmen (nilai) yang rendah di kalangan
pelaksana. Faktor-faktor politik atau waktu yang
kurang tepat serta bermacam alasan lainnya, turut
pula mempengaruhi sebuah kebijakan atau program
hingga tidak dapat terlaksana dengan baik.
Terdapat beberapa teori utama tentang
implementasi. Donald S. Van Meter and Ccarl E. Van
Horn (1978) menyatakan implementation as a linear
process. Pandangan ini melihat implementasi
meliputi proses linear yang terdiri atas enam
variabel yang mengkaitkan kebijakan dengan
performance: (a) Standar dan tujuan; (b) Sumber
daya; (c) Komunikasi dan aktivitas antarorganisasi;
(d) Karakteristik agen-agen implementasi; (e)
Kondisi ekonomi, dan politik; (f ) Sikap dari
pelaksana.
Kemudian secara sederhana dikatakan bahwa
implementasi kebijakan merupakan penterjemahan
56
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
57
dari pernyataan kebijakan ke dalam tindakan
(Cooper, 1998:185). Keterkaitan yang sangat kuat
antara perumusan kebijakan dan implementasi
dikemukakan oleh Hogwood dan Gunn (Hogwood
and Gunn, 1986:198).
“………there is not sharp divide between (a)
formulating a policy and (b) implementing that
policy. What happens at the so – called
“Implementation” stage will influence the actual
policy outcome. Conversely the probability of a
successful outcome (which we define for the moment
as that outcome desired by the initiators of the
policy) will be increased if thought is given as the
policy design stage to potential problems of
implementation”.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka
perumusan kebijakan harus dilakukan dalam
“perspektif” implementasi, agar kebijakan tersebut
dapat diimplementasikan secara efektif.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
2.6 Liberalisasi Perdagangan Agro
Sebagai negara ekonomi terbuka, situasi pasar
domestik di Indonesia tidak terlepas dari gejolak
pasar dunia yang semakin liberal. Proses liberalisasi
pasar tersebut dapat terjadi karena kebijakan
unilateral dan konsekuensi keikutsertaan meratifikasi
kerja sama perdagangan regional maupun global
yang menghendaki penurunan kendala-kendala
perdagangan (tarif dan nontarif).
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
58
Isu liberalisasi perdagangan mewarnai
perdagangan komoditas di pasar internasional
dalam era globalisasi dewasa ini, tidak terkecuali
perdagangan komoditas agro. Sebagai negara
ekonomi terbuka dan ikut meratifikasi berbagai
kesepakatan kerja sama ekonomi dan perdagangan
regional maupun global, tekanan liberalisasi melalui
berbagai aturan kesepakatan kerja sama tersebut,
bukan tidak mungkin pada akhirnya akan
berbenturan dengan kebijakan internal dan
mengancam kepentingan nasional.
2.6.1 Motif Perdagangan dan Tekanan Liberalisasi
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Menurut Chacholiades (1978:5) partisipasi
dalam perdagangan internasional bersifat bebas
(free) sehingga keikutsertaan suatu negara pada
kegiatan tersebut dilakukan secara sukarela. Dari
sisi internal, keputusan suatu negara melakukan
perdagangan internasional merupakan pilihan
(choice). Oleh sebab itu sering dikatakan bahwa
perdagangan seharusnya memberikan keuntungan
pada kedua pihak (mutually benefited). Dalam sistem
ekonomi tertutup (autarky) negara hanya dapat
mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak yang
diproduksi sendiri. Akan tetapi dengan melakukan
perdagangan (open economic) suatu negara memiliki
kesempatan mengkonsumsi lebih besar dari
kemampuannya berproduksi karena terdapat
perbedaan harga relatif dalam proses produksi yang
mendorong spesialisasi (Chacoliades, 1978:7;
Chaves et al., 1993:19). Perbedaan harga relatif itu
muncul sebagai dampak perbedaan penguasaan
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
sumberdaya dari bahan baku proses produksi
(resource endowment) antar negara. Derajat
penguasaan sumberdaya dan kemampuan
mencapai skala usaha dalam proses produksi secara
bersama akan menjadi determinan daya saing dan
menentukan arah serta intensitas partisipasi negara
dalam pasar internasional (Susilowati, 2003:17).
Ilham (2003:9) menyebut liberalisasi sebagai
penggunaan mekanisme harga yang lebih intensif
sehingga dapat mengurangi bias anti ekspor dari
rezim perdagangan. Disebutkan pula bahwa
liberalisasi juga menunjukkan kecenderungan
makin berkurangnya intervensi pasar sehingga
liberalisasi dapat menggambarkan situasi semakin
terbukanya pasar domestik untuk produk-produk
luar negeri. Percepatan perkembangan liberalisasi
pasar terjadi karena dukungan revolusi di bidang
teknologi, telekomunikasi dan transportasi yang
mengatasi kendala ruang dan waktu (Kariyasa,
2003:7).
Menurut pendapat Kindleberger dan Lindert
(1978:9), perdagangan antar negara sebaik-nya
dibiarkan secara bebas dengan seminimum
mungkin pengenaan tarif dan hambatan lainnya.
Hal ini didasari argumen bahwa perdagangan yang
lebih bebas akan memberikan manfaat bagi kedua
negara pelaku dan bagi dunia, serta meningkatkan
kesejahteraan yang lebih besar dibandingkan tidak
ada perdagangan. Dijelaskan oleh Hadi (2003:17),
selain meningkatkan distribusi kesejahteraan antar
negara liberalisasi perdagangan juga akan
59
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
meningkatkan kuantitas perdagangan dunia dan
peningkatan efisiensi ekonomi.
Namun demikian, oleh karena terdapat
perbedaan penguasaan sumberdaya yang menjadi
komponen pendukung daya saing, sebagian pakar
yang lain berpendapat liberalisasi pasar berpotensi
menimbulkan dampak negatif karena mendorong
persaingan pasar yang tidak sehat. Atas dasar itu
maka timbul pandangan pentingnya upaya-upaya
proteksi terhadap produksi dalam negeri dan
kepentingan lainnya dari tekanan pasar internasional
melalui pemberlakuan kendala atau hambatan
perdagangan (Abidin, 2000: 89).
Pada kondisi semakin kuatnya tekanan untuk
meliberalisasi pasar, efektivitas pemberlakuan
kendala atau hambatan tersebut dalam perdagangan
akan menentukan derajat keterbukaan pasar.
Keterbukaan pasar semakin tinggi bila pemerintah
suatu negara menurunkan tarif (bea masuk) produk
yang diperdagangkan (tariff reduction) dan
menghilangkan hambatan-hambatan nontarif (non
tariff barriers). Hal sebaliknya terjadi bila pemerintah
cenderung menaikkan tarif dan meningkatkan
hambatan nontarif.
Secara internal, Indonesia mulai mereformasi
kebijakan di bidang perdagangan sejak pertengahan
dekade 1980-an, ketika terjadi penurunan harga minyak
mentah di pasar dunia yang merupakan andalan ekspor
nasional. Namun dalam hal ini pemerintah melakukan
serangkaian deregulasi ekonomi untuk mendorong
ekspor yang menghasilkan devisa (Erwidodo, 1999:17;
Feridhanusetyawan dan Pangestu, 2003:57).
60
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
2.6.2 Kebijakan Pemerintah di Bidang Agro
Selain kebijakan yang bersifat protektif dalam
perdagangan juga dikenal kebijakan promotif.
Kebijakan promotif ditujukan untuk mendorong
pertumbuhan perdagangan dari dalam negeri
(ekspor). Salah satu contoh kebijakan promotif
terdapat pada sektor pertanian.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Makin terbuka dan terintegrasinya perdagangan
(pasar) antar negara juga didorong faktor eksternal
seperti karena terikat ratifikasi perjanjian
perdagangan antar negara, kawasan, atau bahkan
yang bersifat global (Anugerah, 2003:69; Kanyasa,
2003:17). Dijelaskan oleh Feridhanusetyawan dan
Pangestu (2003:60), tekanan eksternal liberalisasi
selain karena dorongan upaya regionalisasi yang
terjadi pada akhir 1900-an hingga pertengahan 1990an (seperti dengan pembentukan AFTA dan APEC)
juga karena keterikatan komitmen terhadap
Kesepakatan Putaran Uruguay (the Uruguay Round
Agreement) sebagai bagian dari rangkaian putaran
GATT (General Agreement on Tax and Tariff) yang
kemudian diubah menjadi organisasi formal
bernama WTO (World Trade Organization).
Kesepakatan dalam AFTA dan WTO bersifat
mengikat (binding), sedangkan dasar kesepakatan
APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) bersifat
sukarela. Namun demikian semangat yang dibawa
oleh ketiga bentuk kelembagaan relatif sama, yaitu
liberalisasi melalui penurunan kendala perdagangan
(tarif dan kendala nontarif).
61
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
2.6.3 Skenario dan Dampak Liberalisasi
2.6.3.1 Skenario Liberalisasi
Budiono (2001:37-42) menyebutkan, terda-pat
lima manfaat dibukanya Iiberalisasi perdagangan.
Pertama. akses pasar lebih luas sehingga memungkinkan
diperoleh efisiensi karena liberalisasi perdagangan
cenderung menciptakan pusat-pusat produksi baru
yang menjadi lokasi berbagai kegiatan industri yang
saling terkait dan saling menunjang sehingga biaya
produksi dapat diturunkan. Kedua, iklim usaha
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Pada dasarnya terdapat dua tipe kebijakan
pemerintah di bidang pertanian yaitu development
policy dan compensating policy (Suryana, 2001:7).
Development policy biasanya dilakukan pemerintah
untuk mendorong produksi pertanian dengan
tujuan yang ingin dicapai adalah meningkatkan
produksi dan pendapatan petani. Dalam
compensating policy, tujuan utama kebijakan adalah
meningkatkan pendapatan petani tetapi dengan
kecenderungan menekan produksi. Development
policy banyak dilakukan oleh negara yang
kekurangan (defisit) produk pertanian, sedangkan
compensating policy banyak dilakukan oleh negara
yang mengalami surplus dan sulit memasarkan
produknya. Misalnya, kebijakan harga dasar dan
kebijakan subsidi, seperti kebijakan harga gabah dan
subsidi pupuk yang pernah diberlakukan di
Indonesia, dapat dikatagorikan sebagai development
policy. Tujuan kedua kebijakan tersebut adalah
mendorong produksi beras agar meningkat, di sisi
lain petani mendapat harga yang wajar.
62
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
2.6.3.2 Sisi Positif dan Negatif Liberalisasi
Menurut Indrawati (1995:89), Putaran
Uruguay merupakan kesepakatan yang paling
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
menjadi lebih kompetitif sehingga mengurangi
kegiatan yang bersifat rent seeking dan mendorong
pengusaha untuk meningkatkan produktivitas dan
efisiensi, bukan bagai-mana mengharapkan
mendapat fasilitas dari pemerintah. Ketiga, arus
perdagangan dan investasi yang lebih bebas
mempermudah proses alih teknologi untuk
meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Keempat,
perdagangan yang lebih bebas memberikan signal
harga yang “sesuai” sehingga meningkatkan
efisiensi investasi. Kelima, dalam perdagangan yang
lebih bebas kesejahteraan konsumen meningkat
karena terbuka pilihan-pilihan baru. Namun untuk
dapat berjalan dengan lancar, suatu pasar yang
kompetitif perlu dukungan perundang-undangan
yang mengatur persaingan yang sehat dan melarang
praktek monopoli.
Dalam praktek, proses liberalisasi perdagangan
dapat dilakukan melalui berbagai skenario. Selain
proses liberalisasi unilateral, ratifikasi kerja sama
perdagangan internasional melalui pembentukan
kelembagaan seperti AFTA dan WTO merupakan
pilihan skenario liberalisasi bagi negara pelaku
perdagangan, termasuk Indonesia. Akan tetapi, oleh
karena memiliki sasaran dan mekanisme
implementasi yang berbeda-beda maka masing-masing skenario proses liberalisasi tersebut akan
menghasilkan dampak berbeda pula.
63
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
ambisius dibandingkan putaran-putaran GATT
sebelumnya karena bertujuan mengontrol
proliferasi segala bentuk proteksionisme baru
untuk menuju pada kecenderungan liberalisasi
perdagangan antarnegara, termasuk aturan
internasional dalam bidang Hak Properti
Intelektual, dan memperbaiki mekanisme penyelesaian
perselisihan dengan menerapkan keputusan dan
mematuhi aturan-aturan GATT. Misalnya proteksi
yang dilakukan negara maju terhadap sektor
pertanian melalui kebijaksanaan harga (price
support), bantuan langsung (direct payment), dan
bantuan pasokan (supply management program)
telah menyebabkan distorsi perdagangan hasil
pertanian dunia. Distorsi terjadi seiring dengan
meningkatnya hasil produksi pertanian dari
negara-negara maju yang mengakibatkan penurunan
harga dunia untuk produk pertanian. Meskipun harga
produk pertanian yang rendah menolong negara
pengimpor tetapi faktor rendahnya harga produk
pertanian tersebut juga akan merugikan negara-negara
berstatus produsen netto.
Secara umum menurut Indrawati (1995: 94),
liberalisasi akan menguntungkan bagi negara
berkembang dan penduduk miskin dari kelom
pok pendapatan menengah karena ekspor produk
yang bersifat padat karya akan meningkat. Namun
demikian, derajat manfaat dan keuntungan
liberalisasi perdagangan sangat tergantung pada
reformasi kebijaksanaan yang diambil dan keadaan
struktur perekonomian domestik negara berkembang
itu sendiri.
64
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Pada studi keterkaitan liberalisasi dengan
aspek lingkungan Abimanyu (1995:189) berpendapat,
bahwa dalam liberalisasi perdagangan masingmasing negara sebenarnya dibolehkan menerapkan
kebijaksanaan subsidi. pajak, dan peraturan
pemerintah lainnya selama tidak membedakan
antara perusahaan domestik dan asing, sebagaimana
klausul dalam aturan GATT. Adanya peluang
tersebut menurut Abimanyu dapat menimbulkan
dampak positif dalam hal fairness kompetisi dan
kemampuan suatu perusahaan asing untuk
menyesuaikan dengan kondisi (khususnya teknologi)
di negara di mana perusahaan berlokasi. Akan tetapi
di sisi lain, peluang tersebut juga berpotensi
menimbulkan dampak negatif, yaitu masuknya
teknologi dan produk “kolor” ke negara tujuan
perdagangan, khususnya negara berkembang yang
lebih rendah standar lingkungannya.
Dalam studinya tentang dampak liberalisasi
perdagangan terhadap pertanian di Indonesia,
Erwidodo (1999) menunjukkan beberapa temuan
sebagai berikut: Pertama, sebelum tahun 1985
Indonesia sangat mengutamakan kebijakan proteksi
pasar domestik. Kebijakan ini menimbulkan
ekonomi biaya tinggi dan manfaat ekonomi lebih
banyak dinikmati oleh sebagian besar penerima
proteksi tersebut. Dalam rangka mendorong
reformasi menuju perdagangan bebas yang
digulirkan sejak awal 1980-an pemerintah
memperkenalkan beberapa kebijakan berikut: 1)
penyederhanaan prosedur kepabeanan termasuk
dikeluarkannya undang-undang kepabeanan yang
65
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
baru; (2) menurunkan tarif dan pungutan-pungutan;
3) mengurangi lisensi impor dan hambatan nontarif;
4) deregulasi dari sistem distribusi; 5) deregulasi rejim
investasi; dan 6) memantapkan batas wilayah dan
prosedur ekspor. Salah satu sektor yang mendapat
proteksi cukup tinggi adalah sektor makanan dan
minuman (food and beverage).
Kedua, liberalisasi perdagangan secara
potensial akan memperluas akses pasar untuk
Indonesia, khususnya ke negara industri. Ketiga,
liberalisasi perdagangan diperkirakan akan
meningkatkan pendapatan dunia secara signifikan
dan terdistribusi secara luas di antara negara maju
dan negara berkembang. Hasil studi juga menunjukkan
indikasiadanyaderegulasiperdagangan dengan partner
dagang Indonesia mengakibatkan tidak hanya
kehilangan daya saing ekspor tetapi juga
kemungkinan penurunan kesejahteraan masyarakat.
Keempat, seberapa besar Indonesia akan
memperoleh manfaat diterapkannya liberalisasi
perdagangan tergantung tidak hanya pada
penurunan hambatan perdagangan di pasar partner
dagang Indonesia tetapi juga upaya dalam
membuka pasar Indonesia sendiri.
Amang dan Sawit (1997:27-35) mengingatkan
bahwa dampak perdagangan bebas cukup serius
buat Indonesia, tidak hanya menyangkut bidang
ekonomi tetapi juga bidang non-ekonomi.
Perpindahan faktor produksi seperti tenaga kerja,
lahan, kapital secara cepat dan berlebihan dalam
waktu yang relatif singkat dari sektor pertanian dan
jasa ke sektor manufaktur, akan menimbulkan
66
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
masalah baru yang lebih sulit dan mahal untuk
mengatasinya. Hampir tidak mungkin dibangun
infrastruktur perkotaan yang cukup untuk
menampung pesatnya urbanisasi, sehingga akan
muncul masalah kekumuhan dan kemiskinan di
kota, kepadatan kota, kekurangan tempat tinggal,
tidak cukupnya tanah, kekurangan air bersih
(kualitas dan kuantitasnya), memburuknya
lingkungan hidup dan meningkatnya kriminalitas.
Di samping itu distribusi pendapatan masyarakat
akan semakin timpang.
Indikasi dampak negatif dari liberalisasi
terhadap petani (pertanian) juga terjadi di negara
maju seperti Jepang. Studi Kamiya (2002)
menyebutkan, liberalisasi menyebabkan harga
komoditas pertanian di pasar domestik Jepang yang
semula sangat tinggi karena diproteksi menjadi
terus menurun. Penurunan harga tersebut
mengakibatkan pengusahaan komoditas pertanian
menjadi tidak menguntungkan. Akibat selanjutnya,
banyak areal pertanian yang dibiarkan tidak
tergarap, di samping semakin sedikit petani yang
bersedia mengusahakan areal tersebut menjadi
produktif.
Meskipun secara teori liberalisasi perdagangan
disebutkan akan meningkatkan perolehan manfaat
bagi para pelaku perdagangan, akan tetapi pada
kenyataannya implementasi liberalisasi juga
membawa dampak buruk yang mengancam pasar
domestik dan kepentingan domestik lain, khususnya
menyangkut kesejahteraan petani produsen.
Sejumlah kajian terdahulu telah mengulas cukup
67
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
68
banyak sisi positif dan negatif liberalisasi perdagangan
dari berbagai sisi perekonomian.
2.6.4 Pendekatan Daya Saing dalam Pengembangan
Usaha Industri Agro
Porter (1990:19-27) menyatakan bahwa faktorfaktor penentu yang menciptakan keunggulan
bersaing adalah:
1) Kondisi Faktor (Factor Conditions),
2) Kondisi Permintaan (Demand Conditions),
3) Industri Terkait dan Industri Pendukung
(Related and Supporting Industries).
4) Strategi perusahaan, struktur, dan persaingan
(Firm Strategy, Structure and Rivalry)
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Merujuk pada faktor-faktor penentu daya
saing di atas dapat dinyatakan bahwa kemakmuran
bangsa ditentukan oleh produktivitas ekonomi,
yang diukur dengan nilai barang dan jasa yang
diproduksi per satuan sumber daya manusia,
modal, dan alam. Produktivitas tergantung dari nilai
produk dan jasa, diukur dengan harga yang dapat
membuka pasar dan efisiensi dalam produksinya.
Daya saing yang benar diukur dengan
produktivitas. Produktivitas memberikan kemampuan
sebuah negara untuk mendukung upah tinggi, mata
uang yang kuat, dan pengembalian modal yang
menarik dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi.
Produktivitas adalah tujuan, bukan hanya sekadar
ekspor. Hanya negara yang meningkatkan ekspor
produk atau jasa dengan cara produktif akan
menaikkan produktivitas nasional.
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
69
Dalam lingkup mikro, daya saing perusahaan
dapat didefinisikan sebagai suatu tingkat di mana
perusahaan mampu, dalam kondisi pasar kerja yang
bebas dan adil, menghasilkan barang dan jasa yang
memenuhi pasar internasional, dan secara bersamaan
meningkatkan dan memelihara penghasilan riil dari
orang-orangnya dalam jangka panjang,
Perbedaan dalam pemilikan sumber daya,
penguasaan teknologi produksi, perkembangan
ekonomi dan komitmen pemerintah untuk membela
kepentingan produsen di dalam negeri, sangat
menentukan kemampuan suatu negara bersaing
dalam pasar global yang makin liberal.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
2.7. Kerangka Kerja untuk Analisis Implementasi
AFTA di Jawa Barat
Setiap kebijakan perlu dianalisis dalam rangka
pemecahan masalah yang terjadi. Ilmu administrasi
memberikan bantuan untuk melakukan analisis
kebijakan tersebut, mulai dari tahap formulasi,
implementasi sampai dengan evaluasi kebijakan.
Salah satu analisis yang dijelaskan oleh Dunn adalah
analisis kebijakan yang tujuannya bersifat
penandaan (designative), penilaian (evaluative) dan
anjuran (advocative) yang dapat diharapkan
menghasilkan informasi-informasi dan argumenargumen yang masuk akal (Dunn, 1995:50).
Dengan kata lain, kebijakan dapat dilukiskan
sebagai sistem dalam kerangka input dan output
melalui transformasi dan merangkum feedback yang
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
merupakan proses, sehingga bermakna sebagai
sesuatu yang bersifat dinamis.
Kebijakan Publik selalu mengandung tiga
komponen dasar, yaitu: tujuan, sasaran dan cara
mencapai sasaran dan tujuan tersebut. Tiga
komponen ini biasa disebut sebagai implementasi.
Implementasi kebijakan dapat didefinisikan sebagai
suatu upaya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu,
dengan sarana tertentu dan dalam urutan waktu
tertentu (Hoogerwerf, 1983:157). Implementasi
kebijakan berarti pelaksanaan dan pengendalian
arah tindakan kebijakan sampai dicapainya hasil
kebijakan (Dunn, 1995:80). Jones (1994:26)
mengemukakan bahwa implementasi kebijakan
merupakan serangkaian aktivitas atau kegiatan yang
ditujukan untuk memberikan dampak tertentu.
Dengan demikian, implementasi kebijakan
merujuk pada pelaksanaan kebijakan publik secara
efektif, sehingga implementasi kebijakan juga
memuat aktivitas-aktivitas program yang akan
dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan, dan dirasakan hasilnya atau manfaatnya
oleh kelompok sasaran yang dituju melalui berbagai
sarana.
Berdasarkan makna tersebut, implementasi
kebijakan mengandung unsur-unsur: 1) Proses,
yaitu rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
mewujudkan sasaran yang ditetapkan; 2) Tujuan,
yaitu sesuatu yang hendak dicapai melalui aktivitas
yang dilaksanakan; dan 3) Hasil atau dampak, yaitu
manfaat yang dirasakan oleh kelompok sasaran.
70
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Pembentukkan AFTA dapat dianggap sebagai
kebijakan yang dikeluarkan oleh sejumlah negara
yang terhimpun dalam asosiasi. ASEAN, dalam
rangka sinkronisasi dan harmonisasi kepentingan
di kawasan Asia Tenggara (Bennet, 1984:348). Untuk
keperluan mensikapi lingkungan tersebut ASEAN
sebagai organisasi regional mengeluarkan kebijakan
yang dipandang perlu bagi kepentingan bersama,
yang dikatagorikan sebagai kebijakan regional
(Anderson, 1984:24). Meskipun dasar pembentukkan
organisasi regional ini bervariasi, namun ASEAN
merupakan kerja sama antar negara yang dalam
struktur formal didasari oleh kawasan (Bennet,
1984:349).
Pada tataran tingkat nasional, Indonesia
sebagai salah satu negara anggota ASEAN perlu
tanggap terhadap perubahan di lingkungan ASEAN
khususnya proses pelaksanaan kesepakatan AFTA.
Dengan kata lain, secara administratif pemerintah
Indonesia perlu mengimplementasikan kebijakan
publik yang berkenaan dengan implementasi AFTA
di Indonesia.
Susunan kebijakan publik di Indonesia
meliputi pertama, di Indonesia kebijakan publik
tertinggi dibuat oleh Legislatif. Hal ini sejalan
dengan ajaran pokok dari Montesquieu yang
berkembang pada abad ke-17 yang pada intinya
mengatakan bahwa: Formulasi kebijakan dilakukan
oleh Legislatif, implementasi oleh eksekutif,
sedangkan Yudikatif bertugas menerapkan sanksi
jika terjadi pelanggaran oleh Eksekutif. Pada
perkembangannya yaitu pada abad ke-19 ajaran
71
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Montesquieu ini kemudian ditindaklanjuti dengan
teori administrasi publik yang dikenal dengan
paradigma “When the politics end administration begin”.
Bentuk kebijakan yang ke dua: Kebijakan yang
dibuat secara bersama oleh Legislatif dan Eksekutif.
Hal ini mencerminkan kompleksnya masalah yang
harus dihadapi, yang tidak mungkin hanya dihadapi
oleh legislatif saja. Contoh di tingkat nasional:
Undang-Undang, Perpu; sedangkan di tingkat
daerah Prop/Kab/Kota: Perda.
Bentuk kebijakan yang ke tiga: Kebijakan yang
dibuat oleh eksekutif saja. Sebagai konsekuensi dari
kompleksnya kehidupan masyarakat maka
eksekutif pun dapat membuat kebijakan turunan
dari kebijakan tingkat atasnya.
Kaitannya dengan implementasi AFTA,
tersidik bahwa pemerintahan tingkat pusat
bertindak sebagai implementor pada tataran
nasional dengan dikeluarkannya beberapa kebijakan
publik dengan pola top-down yakni ratifikasi
Pemerintah RI terhadap skema CEPT dalam
kerangka AFTA yang tertuang dalam Keppres
Nomor 228/M Tahun 2001; Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah; Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan
Nasional; UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang
Hubungan Luar Negeri; UU Nomor 24 Tahun 2000
tentang Perjanjian Internasional; Keputusan Menlu
RI Nomor SK.03/A/OT/X/2003/2001 tentang
72
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Panduan Umum Tata Cara Hubungan Luar Negeri
oleh Daerah; Keputusan Menkeu RI Nomor 392/
KMK.01/2003 tentang Penetapan Bea Masuk Atas
Impor Barang dalam Rangka Skema CEPT.
Pada tataran tingkat daerah Jawa Barat,
Lembaga Pemerintah dan non-Pemerintah tingkat
Jawa Barat bertindak sebagai implementor dengan
dikeluarkannya kebijakan publik Keputusan
Gubernur Jawa Barat Nomor 21 Tahun 2004 tentang
Pedoman Kerja sama antara Daerah dengan Pihak
Luar Negeri.
Keseluruhan kebijakan publik termaktub di
atas diimplementasikan kepada target (sasaran)
implementasi kebijakan yakni komunitas komoditas
pertanian di Jawa Barat termasuk di dalamnya para
petani di tingkat akar rumput.
Keberhasilan implementasi kebijakan salah
satunya ditentukan oleh pemilihan model yang
tepat sesuai dengan level atau isi dari kebijakan
tersebut. Dari beberapa model implementasi
kebijakan yang dikemukakan, penulis mengambil
model Edward III sebagai pisau analisis dalam
implementasi kebijakan tentang AFTA terhadap
efektivitas pelayanan publik, dengan alasan: model
Edward III lebih cocok untuk dijabarkan kepada
organizational level melalui institutional arrangement.
Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa dalam setiap
kebijakan perlu dibuat organisasi birokrasi yang
akan melaksanakan kebijakan tersebut.
Institusional arrangement tersebut berkait erat
dengan bagaimana memperhatikan keterpaduan
antara komunikasi, sumber daya sarana dan
73
Regionalisme Asean: Perspektif Teoretis
74
prasarana, kecenderungan-kecenderunganimplementor
(disposisi), dan struktur birokrasi pada implementasi
AFTAbidang perdagangan komoditas pertaniandiJawa
Barat, Indonesia.
Implementasi suatu kebijakan pada kenyataannya
merupakan strategi komunikasi dalam menyelaraskan
semua sumber daya sarana dan prasarana yang
dimiliki dengan keadaan lingkungan di sekitarnya
yang selalu berubah. Keserasian hubungan organisasi
dengan lingkungan merupakan suatu keharusan
karena organisasi akan tetap bertahan manakala bisa
menyesuaikan dengan lingkungannya, sebaliknya
organisasi akan mengalami kematian manakala tidak
bisa menyesuaikan dengan lingkungan.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
BAB III
KONFIGURASI PERKEMBANGAN
LINGKUNGAN REGIONAL
3.1 Lingkungan Strategis ASEAN: Peluang dan
Kendala
Eksistensi ASEAN telah berusia lebih dari tiga
dasawarsa, sebagai organisasi regional, ASEAN
terbukti mampu bertahan dan menjalankan
tujuannya sebagai wadah aspirasi negara-negara
anggota. ASEAN didirikan di tengah berkecamuknya
perang dingin dan struktur sistem internasional
bipolar yang ketat (tight-bipolarity). Saat itu, Asia
Tenggara diwarnai oleh pergolakan antarnegara
maupun kekuatan di luar kawasan sehingga sulit
bagi negara-negara anggota ASEAN untuk
menjalankan kebijakan luar negerinya yang
independen tanpa harus condong ke salah satu blok
(lean to one block). Namun berdasarkan komitmen
politiknya negara-negara anggota ASEAN bertekad
untuk bersatu dan bekerja sama dalam suatu
organisasi sudah tidak dapat ditunda lagi,
mengingat stabilitas kawasan perlu dipelihara dan
dibina oleh negara-negara kawasan sendiri tanpa
campur tangan asing karena stabilitas itulah yang
dapat menunjang pembangunan nasional negaranegara anggota ASEAN.
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
76
ASEAN resmi didirikan pada tanggal 8
Agustus 1967, dengan ditandatanganinya Deklarasi
Bangkok (lebih sering disebut DeklarasiASEAN) oleh
lima negara pendirinya: Indonesia, Malaysia, Filipina,
Singapura, dan Thailand dengan maksud dan tujuan
sebagai berikut :
1. Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi,
kemajuan sosial serta pengembangan kebudayaan
di kawasan ini melalui usaha bersama dalam
semangat kesamaan dan persahabatan untuk
memperkokoh landasan sebuah masyarakat
bangsa-bangsa Asia Tenggara yang sejahtera
dan damai.
2. Untuk meningkatkan perdamaian dan
stabilitas regional dengan jalan menghormati
keadilan dan tertib hukum di dalam hubungan
antar negara-negara di kawasan ini serta
mematuhi prinsip-prinsip Piagam Perserikatan
Bangsa-Bangsa.
4. Untuk saling memberikan bantuan dalam
bentuk sarana-sarana pelatihan dan penulisan
dalam bidang-bidang pendidikan, profesi,
teknik dan administrasi.
5. Untuk bekerjasama secara lebih efektif guna
meningkatkan pemanfaatan pertanian dan
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
3. Untuk meningkatkan kerja sama yang aktif
dan saling membantu dalam masalah-masalah
yang menjadi kepentingan bersama di bidang:
ekonomi, sosial, teknik, ilmu pengetahuan dan
administrasi.
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
77
industri mereka, memperluas perdagangan
dan pengkajian masalah-masalah komoditi
internasional, memperbaiki sarana-sarana
pengangkutan dan komunikasi, serta meningkatkan taraf hidup rakyat mereka.
6. Untuk memajukan pengkajian mengenai Asia
Tenggara.
7. Untuk memelihara kerja sama yang erat dan
berguna dengan berbagai organisasi Internasional
dan regional yang mempunyai tujuan serupa,
dan untuk menjajagi segala kemungkinan
untuk saling bekerjasama secara erat di antara
mereka sendiri (Sekretariat Nasional ASEAN,
1997: 4).
2. Kerja sama ekonomi yang tidak berkembang
dikarenakan tingkat pertumbuhan ekonomi dan
industri yang tidak seimbang, serta kesamaan
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Lingkungan globalASEAN pada satu dasawarsa
pertama berdirinya tidak memberikan peluang yang
berarti bagi usaha-usaha dalam melaksanakan
Deklarasi ASEAN sesuai dengan maksud dan
tujuannya. Hal ini berkembang dalam pengaruh
tight bipolarity di lingkungan eksternal ASEAN,
antara lain:
1. Pangkalan militer yang keberadaannya tetap
dipertahankan oleh beberapa negara (Thailand
dan Filipina), menjadikan ASEAN terjebak dalam
dilema “kepanjangan tangan” strategi imperialisme
Barat seperti yang dituduhkan oleh beberapa
Negara Blok Timur.
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
78
sebagai negara berkembang yang segaris
menyebabkan kesamaan produk hasil komoditi,
kecuali Singapura.
3. Latar belakang kolonialisme menyebabkan
perbedaan visi dalam pelaksanaan kebijakan luar
negeri, dimana sebagai negara lebih senang
mengambil strategi non-blok, sebagian mengembangkan hubungan dengan negara bekas
penjajah melalui commonwealth of nations, dan
sebagian lagi mengambil strategi aliansi militer,
serta ada negara yang masih dijajah.
4. Masih besarnya rasa saling curiga akibat
pemikiran tradisional dan belum bangkitnya sense
of asiness, menyebabkan kawasan ini tertantang
untuk suatu perlombaan senjata.
5. Adanya pemetaan politik dengan corak ideologi
yang bertentangan.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Lingkungan globalASEAN pada dua dasawarsa
pertama pembentukannya telah memberikan
kontribusi yang besar untuk meningkatkan aspirasi
“sekawasan” bagi negara-negara anggotanya.
Untuk sebagian besar hal ini didukung oleh situasi
dan kondisi lingkungan eksternal ASEAN sendiri
yang merupakan subsistem dari lingkungan global
yang tengah bergeser ke self-bipolarity. Dengan
dicapainya persetujuan perlucutan senjata nuklir
Strategic and Arms Limited Talk (SALT) antara
Amerika Serikat dan Uni Sovyet pada tahun 1972
yang mendorong dunia pada situasi perbedaan
ketegangan (détente). Peredaan ketegangan antara
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
dua negara adikuasa ini menjadikan struktur sistem
internasional berubah menjadi multipolar, dalam
artian aspek politik ideologis dan militer tidak lagi
menjadi penentu hubungan internasional. Akan
tetapi aspek-aspek lainnya seperti ekonomi, sosial,
budaya, koalisi diplomasi dan peran PBB menjadi
faktor penentu hubungan internasional yang lain.
Menyongsong perubahan lingkungan yang
kondusif ke arah peredaan Perang Dingin, ASEAN
menyiapkan suatu konsepsi strategis untuk
menciptakan stabilitas kawasan. Tanggal 28
November 1971 ASEAN melansir Zone of Peace,
Freedom and Neutrality (ZOPFAN). ASEAN berupaya
untuk mendinamisasikan kawasan dengan suatu
pertanyaan, apakah kawasan Asia Tenggara akan
dipelihara stabilitasnya dengan menggadaikan pada
kekuatan besar atau pada daya kemampuan sendiri?
Ternyata ZOPFAN tidak didukung oleh negaranegara Asia Tenggara lainnya di luar ASEAN.
Masalah stabilitas kawasan kembali muncul
ketika Amerika Serikat kalah dalam perang di
Vietnam. Namun situasi ini justru tidak mendorong
ke arah kemandirianAsia Tenggara, karena kehadiran
Amerika Serikat tetap dipertahankan di Filipina dan
adanya ketakutan negara-negara non komunis diAsia
Tenggara yang kebetulan terhimpun dalam ASEAN
akan terbuktinya Teori Domino. Kehadiran Amerika
Serikat dianggap dapat memberikan perlindungan
sebagai containment policy. Di sinilah titik awal konflik
dua adikuasa di Asia Tenggara seolah terbagi dua ke
dalam strategi global, yaitu kapitalisme-liberalisme
dan sosial-komunisme.
79
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Dalam situasi ini ASEAN mengadakan KTT I
di Bali (1976) tujuannya untuk membuat visi ke
depan sehubungan perubahan situasi dan kondisi
lingkungan global, yaitu dengan reorientasi visi
dasawarsa pertama ASEAN yang tidak berjalan
sesuai dengan rencana. KTT ASEAN I menghasilkan
Deklarasi kesepakatan ASEAN (Declaration of
ASEAN Concord) dan perjanjian persahabatan dan
kerja sama di Asia Tenggara (Treaty of Amity and
Cooperation in South East Asia-TAC). Kerja sama
ASEAN ditingkatkan melalui apa yang dinamakan
kerja-sama intra-ASEAN.
Lingkungan global ASEAN pasca KTT I,
sekalipun tidak memberikan peluang yang besar
untuk meningkatkan kerja sama ASEAN, karena
Asia Tenggara mulai diwarnai konflik Indocina.
Tetapi ada peluang yang dapat diraih ASEAN,
terutama setelah konsolidasi ASEAN pasca KTT
ASEAN II (1997) di Kuala Lumpur. Namun pada tahun
1979 ditandaiperistiwa besar yang mendorong dunia ke
arah Perang Dingin II, yaitu invasi Uni Sovyet ke
Afganistan.
Di Asia Tenggara, Vietnam yang telah
mengadakan perjanjian aliansi dengan Uni Sovyet
bulan Agustus 1978, pada bulan Desember tahun itu
juga melakukan invasi ke Kamboja. Inilah peristiwa
yang mengguncangkan ASEAN, karena semakin
menjauhkan kawasan Asia Tenggara dari kondisi
stabil, sehingga ancaman Teori Domino menjadi
semakin dekat.
80
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Diplomasi ASEAN dimainkan sepenuhnya
untuk menyelesaikan masalah krusial dan multi
dimensi ini. Lingkungan global yang mengacu pada
perang dingin kembali semakin suram oleh turut
campurnya Republik Rakyat Cina (RRC) dan
membanjirnya “manusia perahu” ke negara-negara
ASEAN. Vietnam sendiri tidak mau menyelesaikan
permasalahan ini melalui dimensi internasional
(PBB) seperti yang diusulkan oleh ASEAN, tetapi
menginginkan penyelesaian dimensi regional,
dimana tidak melibatkan negara-negara di luar
ASEAN. Perbedaan metoda penyelesaian yang
mendasar ini membuat permasalahan menjadi maju
mundur karena masing-masing pihak menarik dan
mengulur waktu saja.
Diplomasi Indonesia sebagai center point of
ASEAN atau yang national role-nya adalah sebagai
regional leader dilakukan secara gencar. Namun di
satu pihak, Indonesia mendukung pendirian
pemerintah koalisi, di lain pihak secara piawai
Indonesia mengetengahkan beberapa formula.
Dimulai dengan cocktail party, yaitu suatu
pertemuan informal untuk mencari solusi masalah
kamboja dari perspekif Vietnam, dilanjutkan dengan
Jakarta Informal Meeting (JIM) I dan Jakarta Informal
Meeting (JIM) II. Kesemuanya menggunakan
kerangka regional sesuai dengan keinginan Vietnam
tetapi jalan tengahnya adalah “informal”. Diplomasi
inilah yang kemudian dapat menggiring Vietnam
ke konferensi. Dengan demikian masalah Kamboja
yang berdimensi regional dan internasional, telah
81
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
2. Perdamaian di Asia Tenggara yang mendorong
terciptanya stabilitas kawasan dan pada gilirannya
stabilitas nasional yang dapat mendinamiskan
pembangunan nasional di negara masing-masing.
3. Kemitraan ASEAN dengan beberapa kekuatan
ekonomi dunia dipandang sebagai kawasan yang
dinamis yang potensial.
4. Pangkalan militer asing di Asia Tenggara mulai
berkurang fungsinya sebelum kemudian
dibongkar.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
terselesaikan tinggal yang berdimensi internal,
yang dicarikan solusi rekonsiliasinya.
Formula yang digunakan oleh Indonesia
sangat tepat, yaitu face saving formula, yaitu
menyelamatkan “muka” Vietnam di Forum
Internasional. Vietnam pada akhirnya menarik
pasukannya dari Kamboja.
Situasi dan kondisi global menjelang
penyelesaian krisis Kamboja, Mikail Gorbachev,
mengadakan gebrakan inward-looking melalui
strategi Perestroika dan Glasnot. Keterlibatan Uni
Soviet di berbagai kawasan dunia dikurangi,
termasuk di kawasan Asia Tenggara. Pada KTT
ASEAN II tahun 1987 di Manila, ASEAN mencari
strategi untuk menghadapi gerak dan dinamika
perubahan global. Kelihatannya situasi dan kondisi
global memberikan peluang bagi ASEAN, hal ini
antara lain disebabkan oleh:
1. Pertumbuhan ekonomi ASEAN yang cukup
tinggi, ditandai dengan kemunculan industriindustri manufaktur.
82
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
83
5. Dikembangkannya kawasan ekonomi berikat
untuk kerja sama intra-ASEAN.
3.2 Struktur Organisasi dan Keanggotaan ASEAN
Struktur organisasi ASEAN sejak berdirinya
dikembangkan sesuai dengan tuntutan perkembangan
kerja sama, dan telah mengalami beberapa
perubahan yang hingga saat ini adalah sebagai
berikut:
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Peluang yang lebih besar yang diberikan oleh
lingkungan global ASEAN adalah pada awal tahun
1990-an, yaitu dengan apa yang dinamakan Pasca
Perang Dingin. Uni Sovyet sebagai kekuatan polar
adikuasa runtuh kemudian digantikan oleh Rusia
dan Commonwealth of Independent States (CIS).
Dampak perubahan tersebut terhadap kawasan Asia
Tenggara adalah berubahnya orientasi politik luar
negeri Vietnam, yang pada gilirannya menjadi
anggota ASEAN (Juli 1995) dan diikuti oleh Laos
dan Myanmar (Juli 1997). RRC-pun menjalankan
diplomasi persahabatan dan membuka kembali
hubungan diplomatik dengan negara-negara
ASEAN.
Perubahan global yang mengacu pada kerja
sama antar bangsa yang lebih dinamis ini
diantisipasi oleh ASEAN, yaitu dengan jalan
diselenggarakannya KTT ASEAN IV pada tahun
1992 di Singapura yang menghasilkan suatu upaya
untuk meliberalisasikan perdagangan di Asia
Tenggara melalui pembentukan kawasan Perdagangan
Bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Area-AFTA).
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
2. Sidang tahunan para Menteri Luar Negeri (KTM)
ASEAN (ASEAN Ministerial Meeting—AMM) :
Pertemuan tahunan para Menteri Luar Negeri ini
mempunyai peran dan tanggung jawab untuk
merumuskan garis-garis kebijakan dan
koordinasi dari kegiatan-kegiatan ASEAN yang
merupakan penjabaran keputusan-keputusan
KTT. Dalam situasi khusus, para Menteri Luar
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
1. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN.
KTT merupakan pertemuan para kepala negara
atau kepala pemerintahan, merupakan lembaga
yang mempunyai otoritas tertinggi pada
organisasi ASEAN. KTT I diadakan di Bali pada
tanggal 23-25 Februari 1976, KTT II di Kuala
Lumpur, pada tanggal 4-5 Agustus 1977 dan KTT
III di Manila, pada tanggal 14-15 Desember 1987.
Pada KTT IV di Singapura, pada tanggal 27-28
Januari 1992, ditetapkan bahwa KTT diselenggarakan
setiap tiga tahun sekali, sedangkan pertemuan
informal diadakan sekurang-kurangnya sekali di
antara dua KTT. KTT diselenggarakan untuk
menentukan arahan-arahan bagi kegiatan kerja
sama ASEAN, Deklarasi KTT V di Bangkok,
tanggal 14-15 Desember 1995, antara lain
menyatakan keinginan untuk segera mewujudkan
ASEAN yang meliputi sepuluh negara di Asia
Tenggara. Pada KTT ini diputuskan bahwa di
antara dua KTT akan diadakan KTT informal
ASEAN setiap tahun. KTT informal I diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 30 November
1996.
84
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
85
Negeri dapat mengadakan pertemuan lebih dari
sekali dalam setahun. Pada KTT ASEAN III
disetujui bahwa KTM ASEAN dapat melibatkan
Menteri-menteri lainnya jika diperlukan.
4. Sidang Menteri-menteri Sektoral ASEAN :
Sidang Menteri-menteri yang menyangkut bidangbidang tertentu dalam kerja sama ekonomi, yaitu
bidang energi, pertanian, dan kehutanan
dilaksanakan bila diperlukan untuk memberikan
arahan bagi kerja sama ASEAN. Sidang para
Menteri tersebut memberikan laporan kepada
AEM.
5. Sidang Menteri-menteri ASEAN lainnya :
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
3. Sidang Menteri-menteri Ekonomi ASEAN (ASEAN
Economic Ministers—AEM):
Sidang ini merupakan badan tertinggi dalam
menentukan kebijakan kerja sama ekonomi
ASEAN. Sidang AEM pada mulanya diadakan dua
kali setahun, kemudian diadakan setahun sekali.
AEM mulai dilembagakan sejak KTT ASEAN II.
Pada KTT IV dibentuk Dewan AFTA untuk
mengawasi, melaksanakan koordinasi dan
memberikan penilaian terhadap skema Tarif
Preferensi Efektif yang sama (Common Effective
Prefential Tariff-CEPT) menuju kawasan
perdagangan bebas ASEAN. AMM maupun AEM
memberikan laporan bersama kepada kepala
pemerintahan negara-negara ASEAN pada saat
KTT.
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
86
Sidang-sidang Menteri Lingkungan Hidup,
Tenaga Kerja, Kesehatan, Sosial, Kehakiman,
Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
yang diadakan menurut keperluan. Sidang
tersebut dikoordinasikan dengan AMM dan
dapat menyampaikan langsung kepada kepala
pemerintahan.
6. Sidang gabungan para Menteri Luar Negeri dan
Menteri Ekonomi (Joint Ministerial Meeting--JMM):
Sidang ini dibentuk pada KTT III, dan diadakan bila
diperlukan untuk menyusun koordinasi lintas
sektoral serta konsultasi mengenai kegiatankegiatan ASEAN. Pertama kali diselenggarakan di
Kuching bulan Februari 1991 membahas tentang
peran ASEAN dan APEC.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
7. Sekretaris Jenderal ASEAN:
Diangkat oleh kepala-kepala pemerintahan
ASEAN dengan rekomendasi AMM berdasarkan
kecakapan. Ia diberi status setingkat Menteri
dengan mandat yang diperluas untuk memprakarsai, memberikan, melakukan koordinasi,
melaksanakan kegiatan-kegiatan ASEAN,
mengepalai Sekretariat ASEAN (di Jakarta);
bertangung jawab kepada KTT dan seluruh
pertemuan para Menteri ASEAN dalam
persidangan serta kepada ketua Panitia Tetap
(Pantap) ASEAN atas nama ketua Pantap (kecuali
sidang Pantap pertama dan terakhir), Joint
Consultative Meeting-JCM) yang terdiri dari Senior
Officials Meeting (SOM), Senior Economic Officials
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
87
Meeting (SEOM) dan pertemuan para Direktur
Jenderal ASEAN.
8. Panitia tetap ASEAN (ASEAN Standing
Committee—ASC) :
Segala kegiatan ASEAN yang dilakukan selama
setahun di antara dua KTM menjadi tanggung
jawab Pantap ASEAN yang terdiri dari ketuanya,
Menteri Luar Negeri Negara tuan rumah,
Sekretaris Jenderal dan para Direktur Jenderal
Sekretariat Nasional ASEAN. Pantap ASEAN
menyampaikan laporan langsung kepada AMM.
9. Sidang-sidang Pejabat Tinggi ASEAN (Senior
Officials Meeting—SOM):
Secara resmi dilembagakan sebagai bagian dari
mekanisme ASEAN, pada KTT III dan bertanggung
jawab untuk menangani kerja sama di bidang
politik dan keamanan. SOM diselenggarakan bila
diperlukan dan menyampaikan laporan tanggung
jawab kepada AMM.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
10.Sidang Pejabat-pejabat Tinggi Ekonomi ASEAN
(Senior Economic Officials Meeting—SEOM):
Dibentuk secara resmi pada KTT III. Pada KTT
IV disetujui bahwa lima komite yang ada
dibubarkan yaitu: Committee of Finacial and
Banking (COFAB), Committee on Food, Agricultural
and Foresty (COFAF), Committee on Industry,
Mineral and Energy (COIME), Committee on
Transportation and Communication (COTAC) serta
Committee on Trade and Tourism (COTT). Kegiatan-
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
88
kegiatan dalam kerja sama ekonomi selanjutnya
diambil alih dan dilaksanakan oleh SEOM.
11. Sidang Pejabat-Pejabat Tinggi ASEAN bidang
lainnya:
merupakan sidang para pejabat yang menangani
sosial budaya/kerja sama fungsional ASEAN.
Sidang tersebut sudah melembaga. Komitekomitenya terdiri dari: Committee on Culture and
Information (COCI), Committee on Social
Development (COSD), Committee on Science and
Technology (COST), ASEAN Senior Officials on Drug
Matters (ASOD), ASEAN Officials on Environment
(ASOEN), dan ASEAN Conference on Civil Service
Matters (ACCSM). Komite-komite tersebut
menyampaikan laporan kepada Pantap ASEAN
dan Sidang para Menteri yang terkait.
13.Sidang ASEAN dengan para Mitrawicara:
Dalam kerja sama ASEAN dengan para Mitrawicara,
setiap anggota diberi tanggung jawab sebagai
koordinator. Berdasarkan keputusan AMM XVIII
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
12.Sidang Konsultasi Gabungan (Joint Consultative
Meeting—JCM):
Sidang ini dibentuk pada KTT III, meliputi
Sekretaris Jenderal ASEAN, SOM, SEOM, dan
para Direktur Jenderal ASEAN. Sidang dilaksanakan
bila diperlukan dan dipimpin oleh Sekretaris
Jenderal, untuk keperluan koordinasi lintas
sektoral, kegiatan-kegiatan ASEAN pada tingkat
pejabat-pejabat pemerintah. Sekretaris Jenderal
melaporkan kegiatan ini secara langsung kepada
AMM dan AEM.
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
89
di Kuala Lumpur, negara koordinator bergilir
setiap tiga tahun secara alfabetis.
14.Sekretariat Nasional :
Dibentuk untuk melaksanakan maksud dan
tujuan ASEAN di setiap negara anggota dalam
rangka melaksanakan tugas perhimpunan atas
nama negara masing-masing, dan melayani
Sidang Tahunan atau Sidang khusus para Menteri
Luar Negeri, sidang-sidang Pantap dan komitekomite ASEAN. Strukturnya di dalam negara
anggota berada di dalam departemen luar negeri.
Tentu saja fungsinya tidak akan dapat seluas
ASEAN Secretariat yang diketuai oleh seorang
Sekretaris Jenderal.
Sidang komite ASEAN di negara ketiga yang
lain/markas besar PBB yaitu :
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
15.Komite-komite ASEAN di negara ketiga:
Dibentuk di setiap negara mitrawicara berfungsi
sebagai penghubung dialog ASEAN. Komitekomite ini di negara mitra wicara beranggotakan
para Duta Besar negara-negara ASEAN di negara
akreditasi sebagai berikut :
1) ASEAN Brussels Committee (ABC);
2) ASEAN Canberra Committee (ACC);
3) ASEAN Ottawa Committee (AOC);
4) ASEAN Washington Committee (AWC);
5) ASEAN Committee in Tokyo (ACT)
6) ASEAN Committee in Wellington (ACW);
7) ASEAN New Delhi Committee (ANDC).
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
1)
2)
3)
4)
90
ASEAN London Committee (ALC);
ASEAN Paris Committee (APC);
Bonn ASEAN Committee (BAC);
ASEAN Geneva Committee (AGC).
16. ASEAN Secretariat:
Dibentuk atas persetujuan negara-negara
ASEAN pada KTT I dan mulai berfungsi sejak
7 Juni 1976 sebagai badan administratif dan
bertugas untuk menyelaraskan, memperlancar
dan memantau segala kegiatan ASEAN.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
17.Jaringan Informasi ASEAN (ASEAN Web):
ASEAN menyediakan jaringan pelayanan dan
informasi mengenai ASEAN melalui komputer
yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang
membutuhkannya.
Untuk melaksanakan maksud dan tujuan
ASEAN, maka dibentuk Sekretariat Nasional
ASEAN di setiap negara anggota atas nama
negara masing-masing yang ditentukan dalam
Deklarasi Bangkok tahun 1967. Indonesia
membetuk Sekretariat Nasional ASEAN dengan
keputusan Presiden No.237/1967 tanggal 5
Desember 1967, yang menempatkan Sekretariat
Nasional di bawah koordinator Menteri
Sekretaris Negara, dan dipimpin Sekretaris
Umum. Pada tahun 1982 mengalami perubahan.
Sebagaimana diatur Keputusan Presiden No.15/
1982 kedudukan Sekretariat Nasional ASEAN
diintegrasikan sepenuhnya ke Departemen Luar
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
91
Negeri dan dipimpin Direktur Jenderal yang
bertanggung jawab langsung kepada Menteri.
Sekretariat nasional ASEAN merupakan
organisasi formal dari setiap negara anggota
ASEAN yang mempunyai tugas–tugas pokok dalam
melaksanakan berbagai fungsinya seperti tercantum
dalam pasal 823 Keputusan Menteri Luar Negeri
Nomor SK.203/OR/II/83/01 mengenai organisasi dan
tata kerja departemen luar negeri, yaitu:
1. Memberikan rekomendasi kepada menteri
luar negeri mengenai kerja sama ASEAN
dalam bidang ekonomi dan sosial budaya serta
bidang lainnya.
3. Melaksanakan dan membantu penyelenggaraan
sidang-sidang ASEAN.
4. Menyusun rencana kerja nasional dan
melaksanakan kegiatan program-program
kerja sama ASEAN.
5. Memprakarsai penulisan dan pengkajian
pelaksanaan bidang-bidang kerja sama ASEAN.
6. Melaksanakan koordinasi antar instansi
pemerintah guna penentuan sikap Indonesia
dalam rangka pelaksanaan kegiatan ASEAN
serta mengadakan evaluasi tentang hasilhasilnya.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
2. Mengadakan hubungan dan melaksanakan
koordinasi dengan instansi-instansi pemerintah
dan organisasi non-pemerintah mengenai
perencanaan dan pelaksanaan keputusan di
bidang kerja sama antar ASEAN dan
organisasi regional lainnya atau dengan
negara-negara ketiga.
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
92
7. Melaksanakan koordinasi dan mengikuti serta
menunjang kegiatan-kegiatan komite ASEAN
yang berada di Indonesia.
8. Mengadakan kerja sama dan koordinasi
dengan ASEAN Secretariat, dan dengan
Seketariat Nasional di negara anggota lainnya,
serta dengan komite-komite ASEAN di negara
ketiga.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Secara struktural, susunan organisasi
Sekretariat Nasional ASEAN terdiri atas beberapa
biro dengan tugas dan wewenang masing-masing.
Pembagian tugas dari biro-biro pada dasarnya
dalam praktek adalah sama tugasnya secara umum,
yang berada hanya biro umum yang tidak
operasional
Dalam melaksanakan kerja sama intra-ASEAN
atau antara ASEAN dengan Negara-negara ketiga,
organisasi regional dan internasional dalam bidang
ekonomi dan sosial budaya merupakan tugas-tugas
dari Biro Ekonomi dan Biro Sosial Budaya ASEAN.
Masalah pengembangan kerja sama, baik kerja sama
intra-ASEAN ataupun ASEAN dengan negaranegara maju dan berkembang, dengan organisasiorganisasi regional dan internasional menjadi tugas
dari Biro Pengembangan dan Analisis ASEAN.
Bila ditelaah sebagai kajian dari sub bidang
administrasi dan organisasi internasional maka akan
terlihat Direktur Jenderal dan para Kepala Biro
dalam melaksanakan tugasnya tidak terlepas dari
prinsip-prinsip sinkronisasi baik dalam lingkungan
masing-masing maupun antara satuan organisasi
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
93
dalam departemen atau dengan instansi di luar
departemen, sesuai tugas pokoknya masing-masing.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
3.3 ASEAN Free Trade Agreement (AFTA)
ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) lahir
berdasarkan kesepakatan untuk meningkatkan kerja
sama ekonomi antar negara anggota ASEAN. KTT
ASEAN IV tahun 1992 di Singapura mempunyai bobot
keputusan-keputusan semua dimensi kerja sama
ASEAN.
Hasil dari penilaian dan pengkajian ulang dari
KTT IV tersebut menuntut ASEAN untuk
menyesuaikan arah dan kebijakan-kebijakannya di
bidang politik, ekonomi dan keamanan, baik intraASEAN ataupun ekstra ASEAN. Dalam menggalang
solidaritas sekaligus untuk menunjang usaha-usaha
ASEAN untuk meningkatkan kerja samanya di
berbagai bidang, maka dilakukan kerja sama yang
sifatnya fungsional. Melalui KTT ASEAN IV tahun
1992 di Singapura telah disepakati dokumen untuk
meningkatkan kerja sama intra-ASEAN yang
melahirkan AFTA.
AFTA bertujuan untuk meningkatkan daya
saing barang-barang manufaktur negara anggota
ASEAN di pasar dunia, untuk mempromosikan
investasi asing langsung di negara-negara ASEAN
dan investasi antar negara anggota. Para anggota
setuju untuk memulai AFTA pada Januari 1993
melalui tahapan-tahapan tertentu.
Perdagangan intra-ASEAN sulit berkembang,
karena negara-negara anggotanya memproduksi
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
barang-barang sejenis yang menimbulkan
persaingan di antara mereka, sedangkan masingmasing negara ASEAN juga masih lebih banyak
melakukan aktivitas perdagangan dengan negaranegara lain di luar ASEAN.
Pendorong gagasan pembentukan AFTA
adalah semakin ketatnya persaingan antar negara
yang memperlemah perdagangan intra-ASEAN dan
sulitnya menarik investor asing ke negara-negara
ASEAN, sehingga perlu diperluas pasar dan
peluang investasi melalui penggabungan pasar
termasuk membebaskan lalu lintas barang dan jasa.
Tujuan itu disepakati untuk dilaksanakan
secara bertahap melalui common effective preferential
tariff (CEPT) untuk menggantikan ASEAN
preferential trading agreement (ASEAN-PTA) yang
dianggapsudahtidakmemadailagidalamperdagangan
antar negara ASEAN.
ASEAN-PTA merupakan kerja sama di mana
setiap negara anggota memberikan kemudahan di
bidang tarif kepada negara anggota lainnya, berupa
margin of preference (MOP) sebesar antara 25-50%
untuk sekitar 15,75 produk. Efektivitas kerja sama
ini sangat rendah karena produk-produk yang
disepakati tersebut memiliki nilai perdagangan
sangat rendah di antara negara-negara ASEAN.
Hambatan pelaksanaannya adalah pertama,
sebagian besar barang-barang yang termasuk dalam
ASEAN-PTA bukan barang-barang bernilai tinggi.
Kedua, hambatan prosedur dan administrasi.
Ketiga, perbedaan tarif efektif di negara-negara
anggota ASEAN atas suatu barang yang sama
94
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
setelah dikenakan MOP. Keempat, perbedaan
kebijakan dan program di antara negara-negara atas
produk yang termasuk dalam ASEAN-PTA. Kelima,
produk-produk ASEAN PTA masih terkena
halangan nontarif, seperti pembatasan jumlah
impor, karena itu, ASEAN-PTA tidak memberikan
keuntungan timbal balik bagi negara-negara
anggota ASEAN, dari sini dibutuhkan suatu
terobosan bagi kerja sama ASEAN. Untuk maksud
itu, Indonesia mengusulkan beberapa hal penting
yang kemudian disetujui dalam sidang para menteri
ekonomi ASEAN ke-22 di Bali.
Tujuan skema CEPT adalah untuk meningkatkan
kegiatan perdagangan dan investasi cepat dan adil
melalui pemberian preferensi tarif kepada produkproduk yang sama, hasil produksi negara anggota
ASEAN. Hal ini akan memberikan tarif efektif yang
sama di pasar-pasar ASEAN. Dalam sepuluh tahun,
terhitung sejak Januari 1993, diharapkan dapat
terwujudnya AFTA secara bertahap melalui
pelaksanaan skema CEPT, yaitu dengan penurunan
tarif menjadi 0-5% dalam jangka waktu 10 tahun.
Realisasi AFTA itu sendiri dipercepat dari 15
tahun menjadi 10 tahun, karena didasarkan pada
keyakinan bahwa semua negara ASEAN akan
mampu melakukan penurunan tarif dan memasukkan exclusion list ke dalam inclusion list. Di lain pihak,
dipandang perlu adanya pendalaman dan perluasan
AFTA, yakni perluasan sektor yang ikut dalam
skema CEPT terutama sektor pertanian dan jasa,
serta mempercepat AFTA dan mengurangi daftar
produk sensitif. Hal lain yang juga mengemuka
95
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
96
adalah perluasan dan penambahan anggota baru
negara-negara tetangga seperti Vietnam, Kamboja,
Myanmar yang tujuannya untuk memperbesar skala
ekonomi AFTA. Diharapkan bahwa AFTA akan
benar-benar dapat terwujud pada tahun 2003,
dengan meliputi seluruh negara yang ada di Asia
Tenggara.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
3.4 Kesepakatan AFTA Bagi Indonesia
Indonesia sebagai negara yang merdeka dan
berdaulat, merupakan anggota yang aktif dalam
masyarakat internasional. Pelaksanaan politik luar
negeri Indonesia ditujukan untuk memelihara dan
memperjuangkan kepentingan dalam hubungannya
dengan negara-negara lain. Keanggotaan Indonesia
dalam ASEAN merupakan salah satu karakteristik
utama dari kebijakan luar negerinya. Kebijakan luar
negeri Indonesia umumnya ditentukan atau terkait
dengan faktor-faktor domestik. Berbagai informasi
yang dikumpulkan berikut ini merupakan
rangkuman dari serangkaian wawancara dan bahan
tertulis yang diterima dari sumber di departemen
luar negeri.
Pada periode 1967-1984 politik luar negeri
Indonesia kurang aktif mengambil prakarsaprakarsa politik karena sangat terkait dengan
kepentingan nasional sehingga dipandang sebagai
“Inward looking policy”. Keterlibatan diplomatik
cenderung dibatasi hanya pada peran regional
dalam ASEAN sebagai upaya mencari penyelesaian
dalam konflik kawasan. Namun demikian, Indonesia
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
tetap melaksanakan keputusan yang telah
disepakati dalam Deklarasi Bangkok untuk
mencapai tujuan bersama anggota yang tergabung
dalam ASEAN.
Pembinaan dan peningkatan kerja sama di
segala bidang antar-negara anggota ASEAN adalah
penting untuk memperkokoh ketahanan nasional
masing-masing negara anggota yang kemudian
akan memperkuat ketahanan regionalnya. Karena
semakin besar kekuatan yang dimiliki oleh para
anggota asosiasi, maka akan memperkuat
kedudukan Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari
berbagai pertimbangan politis, antara lain bahwa
stabilitas dan keamanan regional merupakan syarat/
prakondisi dalam usaha-usaha melaksanakan
pembangunan; antara lain dengan jalan memahami
aspirasi negara-negara tetangga yang ditujukan
sejauh fungsional untuk menghindarkan berbagai
perbedaan yang dapat menimbulkan konflik dan
atau konfrontasi, termasuk juga untuk meningkatkan
kerja sama di segala bidang pada masa perang dingin
yang marak dengan pertentangan ideologi.
Berdasarkan pertimbangan tersebut maka arah
dan kebijakan pembangunan di bidang hubungan
luar negeri Indonesia dituangkan ke dalam
kebijakan konkret melalui Garis Besar Haluan
Negara (GBHN) dengan TAP MPR No. II/1973
kemudian dalam GBHN tahun 1988 dan tahun 1993,
dimana sasarannya masih belum berubah.
Indonesia sebagai negara anggota ASEAN
merupakan kekuatan utama dalam hal ukuran
demografi dan sumber daya, juga merupakan salah
97
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
satu negara pencetus gagasan pembentukan dan
pendiri ASEAN, sehingga kurangnya konsensus atas
peran Indonesia dalam ASEAN pada kenyataannya
akan menghambat keberhasilan upaya menuju kerja
sama regional. Indonesia dianggap sebagai Central
point ASEAN, baik oleh para anggota maupun para
pengamat dari luar ASEAN. Oleh karena itu kebijakan
luar negeri Indonesia terhadapASEAN menjadi bahan
kajian bagi anggota ASEAN yang lainnya.
Secara struktural-fungsional ASEAN telah
mengalami perkembangan yang bertujuan untuk
meningkatkan perdamaian, kemajuan, kemakmuran
dan kesejahteraan negara-negara ASEAN, melalui
stabilitas politik di kawasan Asia Tenggara. Pada
KTTASEAN I tahun 1976 di Bali, telah disempurnakan
berbagai hal yang menyangkut kerja sama regional
dalam menghadapi dinamisme perubahan dalam
lingkup internasional, yakni dengan menyetujui
pembentukan Sekretariat ASEAN, Deklarasi
kesepakatan ASEAN (Declaration of ASEAN
Concord), perjanjian persahabatan dan kerja sama di
Asia Tenggara (Treaty of Amity and Cooperation in
Southeast Asia) merupakan tata perilaku yang
mengatur hubungan internasional (Code of Conduct)
bagi pergaulan di Asia Tenggara.
Dalam KTT ASEAN III di Manila (1987),
dilakukan terobosan besar yang mengubah model
kerja sama ekonomi ASEAN, yang selama ini tidak
berlangsung mulus. Faktor utama yang menjadi
penyebabnya adalah karena situasi politik Asia
Tenggara yang pada saat itu masih diwarnai oleh
konflik politik dan pertentangan ideologi, selain
98
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
99
kurangnya perekat untuk menciptakan komplementaritas komoditi unggulan ASEAN, model kerja
sama ASEAN pun yang terlalu berdasarkan pada
Declaration of ASEAN Concord dan Treaty or Amity
and Cooperation in Southeast Asia padahal ASEAN
harus berpandangan jauh ke depan. Mengingat
situasi dan kondisi internasional sedang mengacu
ke arah perubahan yang kondusif ke arah
perdamaian yang dapat menjamin kelangsungan
hidup ASEAN. Situasi dan kondisi tersebut antara
lain ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:
1. Tercapainya persetujuan pengurangan dan
pembatasan senjata nuklir jarak menengah antara
Amerika Serikat dan Uni Sovyet pada tahun 1987;
2. Munculnya Mikhail Gorbachev sebagai tokoh
reformis Uni Sovyet dengan gebrakan inward
looking melalui strategi Glasnost dan Perestroika;
4. Pendekatan Timur-Barat yang mengubah
pandangan selamaini,bahwasosialisme-komunisme
tidak dapat berhubungan dengan kapitalismeliberalisme.
Hal ini menjadi masukan bagi Indonesia,
dimana stabilitas regional akan mendukung
stabilitas nasional negara-negara di kawasan.
Karenanya segala konflik yang menyebabkan
instabilitas kawasan harus segera diakhiri. Untuk
maksud tersebut solidaritas ASEAN perlu
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
3. Rapprochment antara Beijing dan Moskow yang
membawa dampak dalam hubungan negaranegara di Asia Tenggara; dan
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
ditingkatkan, khususnya dalam menghadapi konflik
Kamboja yang saat itu dianggap sebagai prasyarat,
sekaligus faktor dominan untuk menciptakan
stabilitas kawasan. Indonesia menjadi pelopor
diplomasi penyelesaian masalah Kamboja melalui
forum internasional dan mendirikan pemerintah
koalisi Kamboja (CGDK). Kini mencoba diplomasi
gaya baru untuk membuat terobosan, dengan
menawarkan konsep Cocktail Party atau pertemuan
tidak formal antara pihak-pihak yang bersengketa
atas Kamboja. Formula ini menggunakan model
penyelesaian regional, tanpa melibatkan negaranegara besar. Hal ini sesuai dengan keinginan Vietnam,
dan prasyarat bagi terwujudnya perdamaian sesuai
dengan tuntutan ASEAN yakni keluarnya Vietnam
dari Kamboja.
Gagasan Indonesia menyelenggarakan Cocktail
Party ini diramu dalam kerangka “face saving
formula” dalam arti menyelamatkan muka Vietnam
yang sudah mulai terdesak di forum internasional.
Upaya ini menampakkan keberhasilan sehingga
kemudian dilanjutkan dengan Jakarta Informal
Meeting I (JIM I) dan Jakarta Informal Meeting II (JIM
II). Pada akhirnya Vietnam menyetujui untuk
menggunakan formula internasional dalam
penyelesaian masalah Kamboja, yaitu dengan
diselenggarakannya Konferensi Paris pada tahun
1990.
Upaya penyelesaian masalah Kamboja,
diimbangi konsolidasi ASEAN di bidang ekonomi.
Declaration of ASEAN Concord, khususnya yang
100
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
101
mengatur kerja sama joint venture dan bidang
industri, perlu direvisi. Di sinilah kerja sama intraASEAN mulai diwujudkan, yaitu bahwa kerja sama
ASEAN tidak selalu harus meliputi semua negara
ASEAN, tapi dapat secara bilateral atau trilateral,
yang dapat dilakukan oleh sesama negara anggota
ASEAN. Indonesia juga beranggapan belum saatnya
untuk melakukan kerja sama integrasi ekonomi
melalui kawasan perdagangan bebas di Asia
Tenggara, mengingat masih terdapatnya berbagai
kendala antara lain:
1. Masih belum berimbangnya perkembangan
ekonomi antara negara ASEAN.
2. Sektor industri belumlah dapat dijadikan andalan
ekspor penerimaan devisa.
3. Masih terjadi kompetisi perdagangan komoditi
yang sama.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Dalam mempersiapkan diri ke arah
perdagangan bebas ASEAN dilakukan dengan
mengembangkan konsep yang diajukan oleh
Singapura “Growth Triangle” atau segitiga
pertumbuhan; suatu model kerja sama tiga negara
yang mempunyai kedekatan geografis dan
mengembangkan kawasan berikat untuk kerja sama
di bidang ekonomi. Sebagai produk percontohannya
adalah apa yang dinamakan IMS-GT (IndonesiaMalaysia-Singapua Growth Triangle), dan IMT-GT
(Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle).
Model kerja sama inilah yang diupayakan untuk
perdagangan intra-ASEAN agar saling komplementer.
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Dalam mengkonsolidasikan diri pada kerja
sama ekonomi intra-ASEAN, tahun 1991 Indonesia
mulai tampil sebagai negara pembina kerukunan di
kawasan Asia Tenggara, termasuk mencari cara
untuk menghindarkan konflik di masa mendatang.
Pasca konflik Kamboja, antisipasi bahwa klaim
tumpang tindih atas kepulauan Spartly di laut China
Selatan dan Ligitan (Malaysia dengan Indonesia)
akan menjadi konflik potensial di masa mendatang.
Karena itu, pemerintah Indonesia secara antisipatif
mengajak pihak-pihak yang bersengketa agar sejak
dini berunding dan menghindarkan pertentangan
yang memuncak, maka diadakanlah sejumlah
lokakarya, yang rutin diselenggarakan setiap tahun.
Di samping kebijakan luar negeri yang
diarahkan ke ASEAN dan Asia Tenggara, Indonesia
ikut berperan aktif dalam kegiatan forum
internasional. Pada periode pasca perang dingin
(1990-sekarang), terlihat berbagai upaya Indonesia
untuk memainkan peran yang lebih besar di dunia
internasional disertai prinsip bebas aktif yang
dijalankan lebih tegas. Indonesia mulai meningkatkan
kredibilitasnya dan peduli terhadap masalah-masalah
yang dihadapi negara berkembang. Manifestasinya
terlihat dari adanya kesepakatan untuk normalisasi
hubungan diplomatik dengan RRC (1990), adanya
kesepakatan para Menteri Luar Negeri Gerakan
Non Blok (GNB) yang menempatkan Indonesia
sebagai tuan rumah KTT GNB X tahun 1992 telah
membuka peluang bagi Indonesia untuk memimpin
GNB (sebagai Ketua pada periode 1992-1995).
102
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
103
Guna menghadapi lingkungan strategis baru,
Indonesia mulai mencoba melakukan penyeimbangan
antara aspek bebas dan aktif dalam politik luar
negerinya.
Sejalan dengan perkembangan liberalisasi dan
globalisasi dunia yang mempunyai ciri dan dampak
tertentu yang didorong oleh adanya kemajuan di
bidang teknologi komunikasi, teknologi transportasi,
teknologi informasi, ternyata menimbulkan
terjadinya hal-hal berikut ini:
1. Interlinkages yang sangat erat antara berbagai
faktor yang terjadi dari kepentingan negaranegara sebagai pelaku politik luar negeri,
menjadi sangat integrated dari kepentingan
subjek di luar negara termasuk pelaku
ekonomi, pelaku bisnis, dan juga LSM yang
saling terkait.
3. Pendekatan bilateral, regional, antar regional
dan global terkait artinya, dan tidak bisa
dipisahkan.
Liberalisasi dan globalisasi dunia dalam
perkembangannya ternyata mengarah pada kerja
sama ekonomi dan telah membentuk blok-blok
perdagangan seperti ME, UE dengan single marketnya, termasuk NAFTA untuk Amerika, Kanada dan
Meksiko.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
2. Sektor-sektor dalam hubungan luar negeri dan
internasional dalam bidang ekonomi, politik
sosial dan budaya tidak bisa dipisahkan,
karena terdapat saling ketergantungan
(interdependensi).
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Hal ini merupakan ancaman eksternal
terhadap Survival Economic Cooperation ASEAN di
samping adanya faktor lain yang bersifat internal
yaitu yang menimbulkan kesadaran bahwa tidak
baik apabila terdapat ketergantungan terhadap
komoditi tertentu. Secara faktual yang terjadi pada
akhir tahun 70-an dan pada awal tahun 80-an, ketika
terjadi dua krisis yaitu krisis energi dan krisis
komoditi, harga minyak jatuh sangat tajam setelah
naik begitu tinggi. Disusul kemudian jatuhnya
komoditi primer.
Kenyataan tersebut membuat banyak negara
termasuk Asia Timur, Asia Tenggara sadar, bahwa
memang tergantung pada komoditi tertentu itu
sangat tidak baik. Untuk menjawab tantangantantangan eksternal dan internal tersebut maka
ASEAN melakukan penyesuaian dan adjustment di
dalam kebijakannya sehingga secara berangsurangsur dapat tercapai. Perubahan-perubahan antara
lain mengenai komoditi yang dihasilkan oleh
negara-negara anggota ASEAN yang pada awalnya
bersifat kompetitif menjadi komplementer. Dalam
waktu 10-15 tahun terlihat adanya situasi internal
kerja sama ASEAN berubah ke arah yang lebih
kondusif, dimana perubahan struktur ini menghasilkan
perekonomian ASEAN yang mulai strategis.
Pada KTT ASEAN IV di Singapura (1992),
ASEAN memutuskan menerapkan kawasan
perdagangan bebas atau liberalisasi perdagangan
untuk kawasan Asia Tenggara. Hal ini dimungkinkan karena secara politis-ideologis negara-negara
104
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
105
di Asia Tenggara tidak terlibat konflik yang serius.
Adapun yang tersisa hanyalah konflik-konflik
internal seperti di Kamboja dan Myanmar. Dengan
kondisi seperti ini maka Indonesia beranggapan
bahwa kawasan berikat kini dapat ditingkatkan
melalui AFTA atas pertimbangan:
1. Negara-negara ASEAN, khususnya Thailand,
Malaysia, Indonesia dan Filipina, berkembang
menjadi negara industri manufaktur. Mengikuti
Singapura yang kerja sama ekonominya komplementer;
2. Konflik-konflik regional telah surut;
3. Adanya blok-blok perdagangan dari luar kawasan
yang bersifat ekslusif; dan
4. Peran swasta ASEAN mulai dilibatkan dalam
mekanisme kerja sama ekonomi intra-ASEAN.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
AFTA yang telah disetujui dan mulai
direalisasikan sejak 1 Januari 1993 sampai kurun
waktu 15 tahun, dipercepat menjadi 10 tahun (tahun
2003). Indonesia mengusulkan diberlakukannya
AFTA secara bertahap melalui skema Common
Effective Preferential Tariff (CEPT), yaitu daftar
barang-barang komoditi yang diperjualbelikan antar
negara-negara ASEAN yang telah dikurangi tarif
bea masuknya. Hal ini adalah langkah awal
penyeragaman sikap ASEAN dalam menyongsong
era perdagangan bebas di Asia Tenggara.
Dari kenyataan sikap Indonesia yang dinamis
dan perkembangan menuju AFTA tahun 2003,
terlihat pula kebijakan luar negeri Indonesia yang
Konfigurasi Perkembangan Lingkungan Regional
106
berubah menjadi assertive, dalam arti lebih sesuai
dengan arti, prinsip bebas aktif dan peran nasional
Indonesia di Asia Tenggara. Kawasan ini juga
dianggap sebagai first belt atau lingkungan eksternal
yang paling dekat dan berpengaruh terhadap
strategi kebijakan luar negeri Indonesia yang makin
dinamis. Di samping dan semakin menyadari akan
adanya tantangan-tantangan baru yang harus
dihadapinya di masa mendatang. Memang, dalam
setiap KTT dilakukan evaluasi dan kaji tindak yang
hasilnya diterapkan untuk model kerja sama
ASEAN yang disesuaikan dengan kondisi dan
situasi yang selalu berubah.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
BAB IV
STUDI KASUS IMPLEMENTASI
KESEPAKATAN PERDAGANGAN BEBAS
ASEAN DI JAWA BARAT
(BIDANG KOMODITAS AGRO)
P
ropinsi Jawa Barat merupakan bagian dari
rangkaian pegunungan yang membentang dari
ujung Utara Pulau Sumatera atau Bukit Barisan
melalui Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara sampai ke
ujung Utara Pulau Sulawesi, yang berupa deretan
gunung api yang masih aktif maupun tidak aktif
serta membentuk suatu rangkaian pegunungan.
Secara umum, Propinsi Jawa Barat terbagi menjadi
wilayah pegunungan di bagian Selatan, serta
wilayah dataran dan lereng yang landai di bagian
Utara. Wilayah Selatan pada umumnya terdiri atas
pegunungan yang secara morfologi dapat
dibedakan atas pegunungan batuan tua dan
kerucut-kerucut gunung api muda serta morfologi
pantai yang relatif curam apabila dibandingkan
wilayah utara yang landai selain dataran pantainya
yang luas.
Kondisi geografis Jawa Barat yang strategis
merupakan keuntungan bagi daerah Jawa Barat
dalam bidang komunikasi dan perhubungan.
Kawasan Utara merupakan daerah dataran rendah,
sedangkan kawasan Selatan berbukit-bukit dengan
Studi Kasus Implementasi...
2. Belum adanya Sistem Penjaminan/Sertifikasi Mutu
produk agribisnis yang kredibel, independen,
terakreditasi dan diakui pasar dunia internasional.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
sedikit pantai dan dataran bergunung-gunung ada
di kawasan tengah. Jawa Barat memiliki lahan yang
subur yang berasal dari endapan vulkanis serta
banyaknya aliran sungai menyebabkan sebagian
besar dari luas tanahnya digunakan untuk
pertanian, sehingga Jawa Barat ditetapkan sebagai
lumbung pangan nasional.
Agribisnis sebagai salah satu core business
pembangunan Jawa Barat, berkonotasi bahwa sektor
ini adalah sebagai penggerak dan titik bertemunya
sektor ekonomi lainnya yaitu industri manufaktur
dan jasa-jasa. Adanya keterbatasan infrastruktur
agribisnis akibat ketimpangan perhatian terhadap
pertanian di masa lalu, kurangnya sinkronisasi dan
koordinasi antara instansi pengemban pembangunan,
serta keterbatasan sumberdaya pembangunan yang
dimiliki pemerintah maupun masyarakat dunia
usaha, menjadi dasar perlunya perhatian dalam
akselerasi penataan dan pengembangan agribisnis
sebagai salah satu sumberdaya ekonomi di Jawa
Barat.
Permasalahan utama yang kini dirasakan dan
memerlukan pemecahan segera dalam pengembangan
agribisnis di Jawa Barat, antara lain:
1. Produk agribisnis Jawa Barat masih lemah dalam
tingkat pemenuhan kuantitas, kualitas, harga
yang proporsional dan kontinuitas supply
sebagaimana yang diinginkan oleh pasar.
108
Studi Kasus Implementasi...
109
3. Masih lemahnya sistem informasi yang menghubungkan antara kebutuhan pasar dengan
produksi yang ada di produsen (petani), sehingga
segmen pasar yang tersedia tidak dapat dimasuki
oleh produk yang ada. Di lain pihak, berlimpahnya
produksi menimbulkan terjadinya stagnasi di
sentra-sentra produsen sebagai akibat dari
keterbatasan informasi pasar yang terlalu
mengandalkan pasar langganan yang sudah ada,
sekalipun jumlahnya masih terbatas.
4. Terbatasnya fasilitas transaksi antara produsen
dengan segmen pasar yang ada.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4.1 Pengembangan Agrobisnis dalam Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah
(RPJPD) Jawa Barat 2005-2025
Misi ketiga dari Misi Pembangunan Jawa Barat
2005-2025 menyebutkan “Mewujudkan perekonomian.
yang tangguh berbasis pada agrobisnis; adalah
mengembangkan dan memperkuat perekonomian
regional yang berdaya saing global dan berorientasi
pada keunggulan komparatif, kompetitif dan
kooperatif dengan berbasis pada potensi lokal
terutama dalam agribisnis. Pengembangan ekonomi
regional didukung oleh penyediaan infrastruktur yang
memadai, tenaga kerja yang berkualitas dan regulasi
yang mendukung pencapaian iklim. investasi yang
kondusif”.
Terwujudnya perekonomian yang tangguh
berbasis pada agribisnis, ditandai oleh hal-hal
sebagai berikut:
Studi Kasus Implementasi...
110
1. Meningkatnya keterkaitan antara sektor primer,
sektor sekunder dan sektor tersier dalam suatu
sistem yang produktif, bernilai tambah dan
berdaya saing serta keterkaitan pembangunan
ekonomi antar wilayah.
2. Tersedianya jaringan infrastruktur transportasi yang
andal dan terintegrasi, terpenuhinya pasokan energi
yang andal dan efisien, tersedianya infrastruktur
komunikasiyangefisiendanmodernsertatersedianya
infrastruktur sumber daya air yang berkualitas.
3. Meningkatnya PDRB, laju pertumbuhan ekonomi,
penyerapan tenaga kerja, investasi di daerah, nilai
ekspor produk serta mengurangi ketergantungan
terhadap bahan baku impor.
4. Tercukupinya kebutuhan pangan masyarakat
Jawa Barat.
Berikut beberapa poin penting yang disarikan
dari RPJPD Jawa Barat Tahun 2005-2025:
1. Arah pencapaian pertumbuhan ekonomi yang
lebih tinggi harus berkelanjutan dan berkualitas,
dalam arti meningkatkan kemakmuran bagi
seluruh masyarakat Jawa Barat yang didukung
oleh iklim usaha yang berdaya saing secara
global.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
5. Tersedianya penunjang perkembangan ekonomi
dalam bentuk regulasi yang efektif, pembiayaan
yang berkelanjutan, sumberdaya manusia yang
berkualitas, teknologi tinggi dan tepat guna,
jaringan distribusi efektif dan efisien serta sistem
informasi yang andal.
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Keberhasilan pencapaian visi pembangunan
sangat ditentukan oleh kemampuan daerah
untuk memanfaatkan potensi wilayah melalui
pengembangan kegiatan utama (core business).
Pembangunan ekonomi daerah Jawa Barat tahun
2005-2025 diarahkan kepada peningkatan nilai
tambah segenap sumberdaya ekonomi melalui
industri pengolahan dan jasa dalam arti luas yang
berbasis pada agribisnis serta revitalisasi pertanian
dalam arti luas
Agribisnis di Jawa Barat sudah ada dan
tumbuh di masyarakat serta masih memiliki
potensi yang besar dan variatif untuk didukung
agroekosistem yang cocok, untuk pengembangan
komoditas pertanian sehingga komoditas pertanian
memiliki citra yang positif dan berdaya saing baik
pada tingkat lokal, regional dan internasional.
Pengembangan agribisnis di Propinsi Jawa
Barat diarahkan pada: 1) pengembangan industri
input yang memadai dari segi jumlah, kualitas dan
waktu sesuai dengan tuntutan pengembangan
agribisnis hiIir; 2) pengembangan teknologi
budidaya dan organisasi produksi yang dapat
meningkatkan produktivitas tanaman, ternak
dan ikan dengan menggunakan lahan minimal
dan ramah lingkungan untuk menghasilkan
produk yang berkualitas dan aman bagi
konsumen; 3) peningkatan nilai tambah melalui
pengolahan hasil produk primer; 4) pengembangan
sistem pemasaran yang berorientasi pada
perubahan permintaankonsumen; 5) pengembangan
penunjang sistem agribisnis yang berfungsi
111
Studi Kasus Implementasi...
112
mengatur dan memandu sistem agribisnis, dan
6) pengembangan jejaring bisnis terintegrasi yang
menggambarkan harmoni antar pelaku bisnis
pada tingkat institusi pemerintah terkait, produsen
dan pelaku jasa agribisnis dalam lingkup wilayah
dan lingkup fungsional.
3. Pengembangan perdagangan dalam negeri
diarahkan pada peningkatan sistem informasi
pasar dan penguasaan akses pasar lokal dan
regional, meningkatkan sistem distribusi yang
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
2. Dalam rangka meningkatkan daya saing,
pengembangan industri Jawa Barat diarahkan
pada; Pertama, peningkatan nilai tambah dan
produktivitas melalui diversifikasi produk
(pengembangan ke hilir), pendalaman struktur
(hulu-hilir), penguatan hubungan antar industri,
dan pendukungan infrastruktur produksi yang
antara lain tersedianya sarana dan.prasarana
fisik (transportasi, komunikasi, energi, serta
sarana dan prasarana teknologi), prasarana
pengukuran standardisasi, pengujian dan
pengendalian kualitas; serta sarana dan
prasarana pendidikan dan pelatihan tenaga kerja
industri. Kedua, pembangunan industri yang
berkelanjutan, dimana produksi industri harus
memperhatikan faktor lingkungan sehingga
dapat menghasilkan industri produksi bersih
(green product/ecological product). Ketiga,
pengembangan Industri Kecil dan Menengah
(IKM) sehingga mampu berdaya saing baik di
pasar lokal maupun internasional.
Studi Kasus Implementasi...
113
efektif dan efisien dengan harapan akan
terjaminnya ketersediaan kebutuhan pokok
masyarakat. Adapun untuk pengembangan
perdagangan luar Negeri diarahkan pada
penguatan akses dan jaringan perdagangan
ekspor, sehingga diharapkan dapat memperkuat
posisi produk Jawa Barat di mata internasional.
Upaya tersebut diharapkan dapat memberikan
dampak positif terhadap pembangunan perekonomian Jawa Barat sehingga diharapkan dapat
memberikan nilai tambah yang sebesar-besarnya
terhadap kesejahteraan masyarakat.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4. Kini dalam memasuki RJPM tahap Kedua (20082013) pengembangan agribisnis terfokus pada
beberapa hal dimulai dengan penataan agribisnis
yang ada dan penyelesaian permasalahan yang
dihadapi di setiap sub sistem agribisnis. Dari segi
sistem agribisnis yang perlu dilakukan pada tahap
ini yaitu: 1) penataan agribisnis yang ada; 2)
perbaikan subsistem agribisnis yang bermasalah;
3) revitalisasi agribisnis untuk pembangunan
ekonomi; 4) mengubah proporsi peran agribisnis
dalam struktur PDRB Propinsi Jawa Barat; dan
5) realokasi sumberdaya, pendanaan, dan
wilayah pertumbuhan agribisnis.
Dengan menempatkan agribisnis sebagai
suatu sistem, konsekuensinya akan mengubah
proporsi peran agribisnis dalam perekonomian
Propinsi Jawa Barat. Implikasi lebih lanjut dari
reposisi ini adalah realokasi sumberdaya
ekonomi yang lebih berat ke pengembangan
Studi Kasus Implementasi...
114
agribisnis. Sedangkan pada sektor perdagangan
diharapkan dapat mengoptimalkan pasar dalam
negeri, penataan distribusi barang dan meningkatkan
orientasi ekspor.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
5. Pada RPJM tahap Ketiga (2013-2018) akan terjadi
tahap pemantapan mutu. Ini merupakan tahap
pengembangan teknologi agribisnis hulu dengan
agribisnis hilir, diperoIehnya komitmen terhadap
pembangunan agribisnis di Propinsi Jawa Barat.
Pemantapan mutu merupakan komitmen
Propinsi Jawa Barat untuk merespons setiap
tuntutan konsumen, terutama terhadap mutu,
kenyamanan, keamanan, kesehatan, kelestarian
dan isu-isu lingkungan lainnya. Tuntutan
tersebut memerlukan rekayasa teknologi di
semua subsistem agribisnis. Pada tahap ini
diperlukan: 1) Supply Chain Management yang
efektif dan efisien; 2) Budaya mutu dan merek;
3) Sertifikasi dan standardisasi produk; 4)
Respons terhadap upaya mencapai kepuasan
konsumen; dan 5) Kelembagaan penunjang yang
efisien. Pada faktor industri dan perdagangan
tahapan pembangunan ini diarahkan pada
penciptaan lingkungan bisnis yang nyaman dan
kondusif, pengembangan kemampuan inovasi,
peningkatan kemampuan sumber daya industri
dan mengembangkan industri kecil yang
tangguh. Sedangkan pada sektor perdagangan
diarahkan pada perluasan kawasan perdagangan
ekspordanpenataandistribusibarang,pemberdayaan
produk dalam negeri dan pengembangan pasar
dalam negeri.
Studi Kasus Implementasi...
7. Pada tahap Kelima (2023-2025), pertanian
Propinsi Jawa Barat harus sudah memasuki tahap
pemenangan persaingan baik nasional maupun
global. Untuk itu diperlukan: 1)Penguatan
keunggulan kompetitif; 2)Terpenuhinya konsumsi
Propinsi Jawa Barat dan domestik; 3) Tingginya
daya terima pasar internasional; dan 4) Nilai
tambah ekspor yang tinggi. Kegiatan agribisnis
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
6. Pada RPJM tahap Keempat (2018--2023) pengembangan pertanian Propinsi Jawa Barat harus
sudah menguasai jaringan bisnis yang luas. Hal
ini ditunjukkan dengan adanya integrasi vertikal
dan integrasi horizontal dalam sistem agribisnis.
Untuk itu diperlukan: 1) Holding Company dan
integrasi integrasi vertikal tingkat lokal, regional,
dan internasional; 2) Kolaborasi bisnis di tingkat
Jawa Barat dan propinsi lain; dan 3) Relasi bisnis
di pasar internasional. Pada tahap ini agribisnis
Propinsi Jawa Barat sudah berkembang
menembus batas--batas wilayah propinsi dan
negara. Konsekuensinya adalah pada tahap ini
persaingan global akan semakin kuat. Selama
tahapan sebelumnya dapat dilalui dengan baik,
pada tahap pengembangan jaringan ini akan
dapat dilalui dengan baik. Dalam faktor industri
dan perdagangan, tahapan pemantapan diarahkan
pada peningkatan daya saing industri yang
berorientasi ekspor, menciptakan kesempatan kerja
dalam jumlah besar dan mengoptimalkan
pendayagunaan potensi dalam negeri serta
perluasan perdagangan luar negeri.
115
Studi Kasus Implementasi...
116
pada tahap ini dicirikan dengan komitmen yang
tinggi terhadap tujuan memenangkan keunggulan
kompetitif di pasar global, dengan ciri bisnis yang
berorientasi pada efisiensi, kualitas, keamanan,
dan keberlanjutan.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4.2 Faktor-Faktor Daya Saing dan Model Strategi
Pengembangan Ekspor Komoditas Agro
Jawa Barat dalam Kerangka AFTA
4.2.1 Faktor-Faktor Penentu Daya Saing Jawa Barat
Berdasarkan hasil wawancara dengan Dirjen
ASEAN Departemen Luar Negeri serta kalangan
pengusaha agro, baik di tingkat nasional maupun
Propinsi Jawa Barat dapat dimaknakan bahwa
dengan diterapkannya otonomi daerah pembahasan
mengenai daya saing wilayah, misalnya propinsi
atau wilayah administrasi lebih rendah, di Indonesia
saat ini menjadi sangat relevan. Persaingan tidak
hanya dalam perdagangan eksternal tetapi juga
dalam menarik investasi dari luar, dan persaingan
juga tidak hanya antara suatu wilayah dengan
wilayah di negara (tetangga) tetapi juga antar
wilayah di Indonesia. Pertanyaan sekarang adalah
apakah Jawa Barat mampu menarik lebih banyak
investor asing dibandingkan wilayah-wilayah lain
di Indonesia. Juga, apakah Jawa Barat mampu untuk
lebih banyak mengekspor ke wilayah lain daripada
mengimpor dari wilayah lain di dalam negeri atau
luar negeri.
Daya saing Jawa Barat ditentukan terutama
oleh daya saing dari sektor-sektor atau unit-unit
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
kegiatan usaha, misalnya sektor industri dan sektor
pertanian di Jawa Barat. Kemudian daya saing
Propinsi Jawa Barat sangat tergantung pada
kapasitas masyarakatnya (terutama pengusaha)
untuk berinovasi dan melakukan pembaharuan
terus menerus, dan untuk ini diperlukan teknologi
dan SDM. Oleh karena itu, berbeda dengan
keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif
sifatnya sangat dinamis: teknologi berubah terus,
demikian juga kualitas SDM berkembang terus.
Lebih lanjut, dalam perdagangan eksternal
(atau internasional), kemampuan Jawa Barat untuk
menembus pasar eksternal (global) atau meningkatkan ekspornya ditentukan oleh suatu kombinasi
dari sejumlah faktor keunggulan relatif yang
dimiliki masing-masing perusahaan di Jawa Barat
atas pesaing-pesaingnya dari wilayah/negara lain.
Dalam konteks ekonomi/perdagangan internasional
pengertian daripada keunggulan relatif dapat
didekati dengan keunggulan komparatif dan
keunggulan kompetitif. Suatu wilayah memiliki
keunggulan bisa secara alami (natural advantages)
atau yang dikembangkan (acquired advantages).
Keunggulan alami yang dimiliki Jawa Barat
adalah jumlah tenaga kerja, khususnya dari
golongan berpendidikan rendah dan bahan baku
yang berlimpah. Kondisi ini membuat upah tenaga
kerja dan harga bahan baku di Indonesia relatif lebih
murah. Keunggulan alamiah ini sangat mendukung
perkembangan ekspor komoditas-komoditas
primer Jawa Barat hingga saat ini yaitu minyak dan
pertanian; dan sebagian besar ekspor manufaktur
117
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
khususnya yang padat karya dan berbasis sumber
daya alam (seperti produk-produk dari kulit,
bambu, kayu dan rotan) hingga saat ini. Sedangkan
yang dimaksud dengan keunggulan yang
dikembangkan adalah misalnya tenaga kerja yang
walaupun jumlahnya sedikit memiliki pendidikan
atau keterampilan yang tinggi dan penguasaan
teknologi sehingga mampu membuat bahan baku
sintesis yang kualitasnya lebih baik daripada bahan
baku asli, atau berproduksi secara lebih efisien
dibandingkan wilayah/negara lain yang kaya
sumber daya alam.
Inti daripada keunggulan kompetitif adalah
bahwa keunggulan suatu wilayah atau industri di
dalam persaingan global, selain ditentukan oleh
keunggulan komparatif yang dimilikinya, yang
diperkuat dengan proteksi atau bantuan dari
pemerintah, juga sangat ditentukan oleh keunggulan
kompetitifnya. Faktor-faktor keunggulan kompetitif
yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan/
pengusaha nasional, khususnya Jawa Barat, untuk
dapat unggul dalam persaingan di pasar internasional
di antaranya yang paling penting yaitu:
a. Penguasaan teknologi dan know-how;
b. SDM (pekerja, manajer, insinyur, saintis) dengan
kualitas tinggi, dan memiliki etos kerja, kreativitas
dan motivasi yang tinggi, dan inovatif;
c. Tingkat efisiensi dan produktivitas yang tinggi
dalam proses produksi;
d. Kualitas serta mutu yang baik dari barang yang
dihasilkan;
118
Studi Kasus Implementasi...
4.2.2 Strategi Pengembangan Ekspor Komoditas
Agro Jawa Barat dalam Kerangka AFTA
Dalam upaya menciptakan sistem penyediaan
dan distribusi pangan di Jawa Barat yang
direncanakan, perlu melibatkan beberapa komponen
sebagai berikut:
1. Fungsi/peran pemerintah daerah, mulai dari
tahap penyiapan/perencanaan dan pengoperasian
pasar;
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
e. Promosi yang luas dan agresif;
f. Sistem manajemen dan struktur organisasi yang
baik;
g. Pelayanan teknis maupun nonteknis yang baik
(service after sale);
h. Adanya skala ekonomis dalam proses produksi;
i. Modal dan sarana serta prasarana lainnya yang
cukup;
j. Memiliki jaringan bisnis di dalam dan terutama
di luar negeri yang baik;
k. Proses produksi yang dilakukan dengan sistem
just in time;
l. tingkat entrepreneurship yang tinggi, yakni seorang
pengusaha yang sangat inovatif, inventif, kreatif
dan memiliki visi yang luas mengenai produknya
dan lingkungan sekitar usahanya (ekonomi,
sosial, politik, dll.), dan bagaimana cara yang
tepat (efisien dan efektif) dalam menghadapi
persaingan yang ketat di pasar global.
m.Pemerintahan yang solid dan bersih, serta sistem
pemerintahan transparan dan efisien.
119
Studi Kasus Implementasi...
120
2. Peran sektor swasta dan publik, mulai dari tahap
penyiapan/perencanaan dan pengoperasian
pasar;
3. Indikator kinerja, yang dapat digunakan sebagai
tolok ukur keberhasilan dalam melakukan
monitoring dan evaluasi khususnya dalam
pengoperasian pasar;
4. Prioritas pengembangan, disesuaikan dengan
sumberdaya yang dimiliki dalam upaya mengembangkan pengelolaan dan pengoperasian yang
maksimal menuju sasaran yang diinginkan;
5. Tahapan pengembangan.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Penulis mengamati secara langsung beberapa
kegiatan antara lain koordinasi dan sinergitas
implementasi AFTA di Jawa Barat yang melibatkan
para birokrasi pemerintahan di Jawa Barat seperti
rapat koordinasi dan seminar-seminar sehingga
dapat menangkap ungkapan-ungkapan pikiran,
perasaan, yang dikemukakan para birokrasi
pemerintahan berkenaan dengan implementasi
AFTA di Jawa Barat. Kemudian pada tataran akar
rumput banyak aktivitas di tingkat masyarakat yang
dapat diamati secara langsung oleh penulis,
misalnya proses di lapangan yang berkenaan
dengan pengadaan komoditas, pengolahan dan
pemasaran komoditas pertanian Jawa Barat dalam
kerangka AFTA. Dari keseluruhan proses di atas
penulis mendapatkan gambaran menyeluruh
mengenai upaya terpadu peningkatan ekspor
komoditi agro Jawa Barat dalam kerangka AFTA
seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.1
Studi Kasus Implementasi...
4.1
Keterpaduan Upaya Peningkatan Ekspor
Komoditi Agro Jawa Barat dalam Kerangka AFTA
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Gambar
121
Studi Kasus Implementasi...
122
Sebagaimana terlihat, dalam gambar 4.1
tampak adanya tahapan-tahapan yang saling terkait
satu sama lain dalam proses peningkatan ekspor
komoditi agro dalam kerangka AFTA yaitu:
1. Tahap penulisan dan pengkajian kebijakan yang
di dalamnya terdapat proses pembuatan analisis
ekspor.
2. Tahap pengembangan operasional; meliputi
bimbingan ekspor terpadu dan bimbingan
program internet homepage ekspor.
3. Tahap pengembangan sistem informasi industri
dan perdagangan; meliputi pengembangan
jaringan informasi pusat data dan pengembangan
sistem informasi industri dan perdagangan.
5. Tahap pengembangan dan diversifikasi produk
agro; meliputi sistem informasi industri dan
perdagangan peningkatan desain produk dan
promosi, sertifikasi komoditi agro, akses pasar
lokal, regional dan internasional, dan pengembangan
kemitraan usaha dan pembiayaan.
6. Tahap pengembangan dan pembinaan usaha
nasional; meliputi identifikasi produk BUMN
untuk ekspor dan peningkatan ekspor melalui
BUMN.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4. Tahap Penataan Struktur Industri dan Perdagangan;
meliputi pengembangan iklim peningkatan
ekspor, peningkatan pasar ekspor komoditi,
pengembangan industri olahan produk agro
berorientasi ekspor, dan identifikasi produk
ekspor potensial/unggulan/ diunggulkan.
Studi Kasus Implementasi...
123
7. Tahap pengembangan ekspor; meliputi pelatihan
ekspor, identifikasi pelaku ekspor, identifikasi
pelaku ekspor di daerah, pameran dan promosi
ekspor, informasi muatan ruang kapal, pengamatan
dan intelejen pasar, pengembangan bursa
komoditi, analisis produk-produk agro, pengembangan ekspor daerah, pelayanan informasi ekspor,
pembinaan mutu produk untuk komoditi ekspor,
forum komunikasi dan konsultasi ekspor,
identifikasi hambatan prosedur dan dokumentasi
ekspor, dan peningkatan perdagangan imbal beli.
8. Tahap pengembangan kerja sama perdagangan
internasional; meliputi penyusunan pedoman
kontak hubungan dagang, identifikasi hambatan
akses pasar, pembentukan tim pengkajian strategi
ekspor, dan penyusunan dan penyebarluasan
informasi perdagangan bilateral, regional, dan
multilateral.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4.3 Kondisi Riil Kesiapan Jawa Barat Melakukan
Implementasi AFTA Bidang Perdagangan
Komoditas Agro (Model Edward III)
Lebih lanjut, kaitannya dengan kondisi riil
kesiapan Jawa Barat melakukan implementasi AFTA
bidang perdagangan komoditas pertanian di Jawa
Barat, berdasarkan panduan teoretis dari pemikiran
Edward III, hasil observasi dan wawancara terkaji
beberapa hal sebagai berikut:
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4.3.1 Kegiatan Komunikasi
Dari pengamatan di lapangan, kegiatan
komunikasi dalam kerangka perdagangan komoditas
pertanian di Jawa Barat tidak berjalan sesuai dengan
entitas dassein. Pemerintah seharusnya menunjuk
implementor yang dinilai akan menjalankan seluruh
proses komunikasi. Di tingkat propinsi Jawa Barat
implementor tersebut hanya bertumpu pada satu
instansi yakni Dinas Industri dan Perdagangan
Agro. Padahal proses komunikasi yang dijalankan
berkenaan dengan implementasi AFTA bidang
komoditas pertanian di Jawa Barat memerlukan
suatu institusi yang tingkat kewenangannya dapat
bersifat lintas sektoral dan implementor yang dimaksud
diharapkan dapat mengawasi dan mengendalikan
transmisi seluruh pesan yang menjadi dasar dari
pemahaman perdagangan komoditas pertanian
dalam kerangka AFTA di Jawa Barat.
Dari pengamatan di lapangan, tidak
berjalannya kegiatan komunikasi sesuai yang
diharapkan misalnya terkaji dalam tataran Dinas
Industri dan Perdagangan Agro Jawa Barat. Tugas
komunikasi yang menjadi tanggung jawab dari
instansi dimaksud hanya berkisar pada penyuluhan
kepada komunikan dengan mempergunakan media
seminar-seminar dan lokakarya. Kegiatan seperti ini
hanya diikuti oleh para pelaku pasar yang berada
di tingkat organisasi profesi seperti Kamar Dagang
dan Industri (Kadinda) atau asosiasi yang bergerak
di bidang pertanian, seperti DPD Asosiasi
Pengusaha Komoditas Pertanian Jawa Barat, KUD
dan kelompok-kelompok tani.
124
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Kegiatan yang menjadi substansi dari faktor
komunikasi ini tidak dapat dilaksanakan karena
persepsi terhadap komunikasi yang lebih dipahami
sebagai suatu proses untuk menyampaikan pesan
dalam tatanan stuktural saja. Dalam pemahaman
para implementor, perdagangan komoditas pertanian
di Jawa Barat hanya berkisar pada para pelaku pasar
saja. Informasi yang disampaikan sebagai pesan
tidak dirasakan oleh para petani secara langsung,
bahkan persyaratan perdagangan bebas yang
kemudian menjadi tujuan dari informasi yang
disampaikan tidak dipahami secara jelas.
Para petani juga tidak merasa berkewajiban
untuk menyesuaikan dengan kebutuhan hasil
produksi mereka dalam kerangka perdagangan
bebas yang menjadi tuntutan untuk dilaksanakannya
AFTA. Hal ini merupakan bukti dari pemahaman
yang dimiliki komunikator/implementor terhadap
komunikasi yang dimaknakan hanya sebagai
sosialisasi. Lebih tegasnya, implementor merasa
berkewajiban untuk mensosialisasikan kondisi
kesiapan untuk perdagangan komoditas pertanian
dalam kerangka AFTA. Sosialisasi yang dimaksud
tidak dengan pemahaman yang mendalam tentang
berbagai substansi mendasar dari sebuah persyaratan
perdagangan bebas.
Pemahaman yang terbatas terhadap situasi
dan kondisi yang menjadi persyaratan bagi
pelaksanaan perdagangan bebas dalam kerangka
AFTA tersebut, berdasarkan catatan wawancara,
tidak sepenuhnya menjadi kesalahan dari para
implementor. Setidaknya, keputusan pelaksanaan
125
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
AFTAmerupakan sebuah kesepakatan mengikat yang
menjadi hasil dari berbagai pertemuan di tingkat tinggi
antarnegara anggota ASEAN. Kesepakatan tersebut
lebih banyak merupakan hasil dari pertemuan tingkat
kepala negara anggota ASEAN atau tingkat menteri.
Bahkan apabila dilihat dari kajian pustaka yang ada,
mulai dari pembentukan ASEAN (8 Agustus 1967),
KTTASEANIVdi Singapurasampaidenganpertemuan
yang sama tahun 1997 terlihat lebih banyak pertemuan
dan kesepakatan AFTA dilakukan oleh para eksekutif
di tingkat menteri luar negeri. Menteri luar negeri dari
negara-negara ASEAN ini bertindak sebagai
pengambil keputusan meneruskan struktur sistem
ASEAN Secretariat yang ada dalam tataran supranasional
dari negara-negara anggota.
Kondisi seperti itu memungkinkan terjadinya
ketidakjelasan perintah yang ada bagi pelaksanaan
komunikasi. Paling tidak, kebijakan yang merupakan
hasil dari kesepakatan ASEAN melalui menteri luar
negeri tidak akan mudah untuk disampaikan secara
langsung kepada Departemen Perdagangan.
Kebijakan tersebut harus melalui proses panjang mulai
dari ratifikasi Dewan Perwakilan Rakyat sampai
kepada keputusan presiden yang dilanjutkan kepada
Departemen Perdagangan (pada masa itu Departemen
Perdagangan dan Industri).
Kesulitan selanjutnya justru berada di tingkat
pemerintah daerah yang sudah menganut pola kerja
otonomi daerah. Pemberlakuan otonomi daerah
berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999
dan direvisi UU No 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, memperlihatkan adanya
126
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
ketimpangan hubungan instansi departemen
terhadap struktur yang sama di pemerintah daerah.
Artinya, struktur Dinas Perdagangan yang ada di
pemerintah daerah tidak akan sama kedudukannya
dengan ketika menjadi bagian integral dari
Departemen Perdagangan Republik Indonesia.
Demikian halnya Dinas Industri dan Perdagangan
Propinsi Jawa Barat bukan merupakan “bawahan”
dari Departemen Perdagangan Republik Indonesia
yang berkedudukan di Jakarta. Pola kerja yang ada
pun hanya bersifat koordinatif tidak bersifat
intruksif, sehingga masih harus berdasarkan
persetujuan (tembusan) dari kepala daerah atau
gubernur.
Pola hubungan yang tidak langsung seperti ini
mengakibatkan sulitnya komunikasi yang terjadi dari
Departemen Perdagangan kepada Dinas Industri dan
Perdagangan di pemerintah daerah. Kesulitan yang
sama juga dialami oleh implementor dari posisi Dinas
Industri dan PerdaganganAgro yang oleh pemerintah
Daerah Jawa Barat dikatagorikan secara mandiri
terpisah dari Dinas Industri dan Perdagangan induk.
Dengan kondisi tersebut dapat dimengerti sulitnya
menemukan faktor ketegasan dalam informasi yang
diberikan oleh implementor dari pejabat di Dinas
Industri dan Perdagangan Jawa Barat. Selain posisinya
sebagai Dinas yang baru berdasarkan Perda tentang
SOTK Pemerintah Daerah Jawa Barat, implementor
perdagangan agro ini berhadapan dengan persoalan
klasik dari posisi Dinas Industri dan Perdagangan Jawa
Barat yang masih memposisikan diri sebagai induk
organisasi dari Dinas Industri dan Perdagangan Agro.
127
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Pada praktiknya, informasi kebijakan yang
turun dari Departemen Perdagangan RI mengenai
kerangka pelaksanaan AFTA sudah berhadapan
dengan struktur yang ada di Departemen Luar
Negeri. Setidaknya, ejawantah dari kebijakan
perdagangan bebas sebagai kesepakatan ASEAN
dari Departemen Luar Negeri masih menjadi bagian
dari proses kerja yang dihasilkan dari Direktorat
Jenderal ASEAN. Berdasarkan wawancara dengan
pejabat di lingkungan Direktorat ASEAN dinyatakan
bahwa kesulitan struktural merupakan kendala
yang sering dihadapi dalam pelaksanaan kesepakatan
perdagangan bebas ASEAN (AFTA).
Kendati keputusan yang diambil atas nama
menteri luar negeri dan disampaikan kepada
departemen terkait dalam pelaksanaan AFTA,
kerapkali keputusan tersebut dipandang “sebelah
mata” oleh instansi dimaksud. Hal ini sebagai akibat
dari arogansi sektoral yang berkembang dari budaya
organisasi di negeri ini. Seorang menteri pemimpin
departemen tertentu tidak akan merasa berkewajiban
untuk melaksanakan kebijakan yang datang dari
struktur direktorat jenderal, apalagi dari departemen
lain. Bahkan keputusan sejenis yang datang dari
menteri di lingkungan yang berbeda pun sulit untuk
dilaksanakan oleh menteri di departemen lain.
Keadaan ini, menurut Dirjen ASEAN akan
membuat kebijakan tentang AFTA menjadi bias dan
sulit dipahami sampai pada tingkat “akar rumput”.
Masyarakat awam (man in the street) tidak akan bisa
memahami secara utuh, bagaimana sesungguhnya
makna dari sebuah kebijakan perdagangan bebas
128
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
yang menjadi kesepakatan ASEAN itu. Apalagi
kenyataan akan adanya perdagangan bebas dunia
justru diartikan sebagai praktek liberalisasi yang
negatif sehingga terkadang maknanya sama dengan
kolonialisme. Selain substansi dari kebijakan yang
terkadang bias (perintah yang tidak jelas), tidak
jarang kebijakan tersebut berjalan lambat karena
keterlambatan dari sampainya informasi tentang
kebijakan itu kepada masyarakat pelaku ekonomi
dan petani yang berkepentingan dengan kebijakan
AFTA.
Penulis berpendapat bahwa kondisi di atas
menyiratkan adanya bias komunikasi antara para
implementor kebijakan tingkat nasional, tingkat
propinsi, para pelaku bisnis sampai dengan tataran
akar rumput. Secara teoretik isi pesan yang
disampaikan tidak diterima dengan baik oleh
komunikan. Ini berarti, proses efek dari transformasi
informasi yakni kesan yang didapat oleh komunikan,
setelah dia mendapatkan pesan pun tidak berlangsung
semestinya.
Dalam konteks implementasi AFTA di tataran
akar rumput terlihat bahwa para petani tidak
memberikan feed-back positif yang mendukung
implementasi AFTA. Hal itu karena komunitas
petani agro di Jawa Barat tidak memperoleh
informasi berkenaan dengan apa manfaat yang
secara langsung dapat mereka dapatkan dengan
adanya keikutsertaan komunitas petani agro Jawa
Barat dalam kerangka perdagangan bebas di
kawasan Asia Tenggara.
129
Studi Kasus Implementasi...
130
Dengan demikian, tidak mengherankan
apabila di masa depan implementasi AFTA di
tataran akar rumput tampaknya tidak akan
mendapatkan dukungan penuh dari komunitas agro
Jawa Barat apabila sosialisasi untung ruginya
implementasi AFTA tidak disampaikan sebagaimana
mestinya.
Lebih lanjut, seperti yang disampaikan pada
kajian teoretis pada pembahasan sebelumnya,
interpretasi penulis ini dapat dijelaskan secara lebih
mendalam seperti di bawah ini.
1. Pertentangan Pendapat
Apabila ditinjau dari hasil observasi dan
wawancara dengan berbagai informan di Dinas
Industri dan Perdagangan Agro, terlihat adanya
pertentangan pendapat yang cukup tajam antarpara pelaksana kebijakan kesepakatan AFTA.
Masing-masing informan memiliki persepsi yang
berbeda-beda tentang aplikasi kesepakatan AFTA.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4.3.1.1 Faktor Transmisi dari Komunikasi
Sejak tahun 2002 kesepakatan AFTA ini sudah
dilaksanakan. Perintah kebijakan telah dikeluarkan
akan tetapi komunikasi dari kebijakan ini tidak
berjalan sesuai yang diharapkan. Berbagai hal yang
menjadi entitas transmisi dari komunikasi kebijakan
ini adalah: 1) pertentangan pendapat; 2) distorsi/
penyimpangan karena informasi; dan 3) persepsi
pribadi pelaksana. Tiga hal tersebut akan dibahas
secara akumulatif dan bersama-sama dalam
subjudul ini.
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Sebagian di tataran Subdinas menilai bahwa
kebijakan AFTA ini tidak realistik sehingga akan
sulit dilaksanakan di lapangan. Kekhawatiran
mereka ini diawali oleh tuduhan bahwa
perdagangan bebas akan memaksa masuknya para
pelaku ekonomi asing yang sudah pasti memiliki
tingkat kemampuan kompetisi yang tinggi.
Kemampuan kompetisi yang tinggi tersebut akan
mengalahkan seluruh komponen pelaku ekonomi
khususnya pedagang komoditas agro di Jawa Barat.
Sebagian yang lain menilai bahwa kebijakan
AFTA ini merupakan kebijakan yang sempurna dan
harus segera dilaksanakan untuk mewujudkan
kemajuan bagi para petani di Jawa Barat. Asumsi
dari pendapat ini adalah bahwa perdagangan bebas
tidak mungkin dapat dibendung, sehingga yang
mungkin adalah memanfaatkan arus perdagangan
bebas untuk kemakmuran petani di Jawa Barat.
Apabila pola adaptasi yang cepat dilaksanakan
kepada seluruh jajaran petani dan pelaku ekonomi
(pedagang komoditas agro) di Jawa Barat maka ke
depan perdagangan bebas akan menguntungkan
bagi seluruh komponen komunitas agro di Jawa
Barat.
Pandangan lain lagi juga muncul, bahwa
perdagangan bebas hanya akan menjadi isu rejim
internasional yang tidak membawa perubahan
signifikan bagi perdagangan agro di Jawa Barat.
Pandangan ini menilai bahwa perkembangan dunia
tentang perdagangan bebas tidak sepenuhnya dapat
dilaksanakan. Perdagangan bebas hanya akan
menjadi isu politik dari negara-negara kaya untuk
131
Studi Kasus Implementasi...
2. Penyimpangan (distorsi)
Faktor kedua yang muncul adalah penyimpangan
(distorsi) karena adanya informasi melalui lapisan
birokrasi yang panjang. Dalam faktor ini yang
mengemuka adalah lapisan birokrasi yang terjadi
di Dinas Industri dan Perdagangan Agro di Jawa
Barat tidak memiliki komunikasi yang cukup baik
dan intensif dengan pusat pemerintahan di Gedung
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
bisa menyerap sumber daya alam yang ada di
negara-negara berkembang.Akan tetapi perdagangan
bebas tersebut tidak akan berjalan lama, sehingga
pada saatnya akan pupus seperti isu-isu globalisasi
yang lainnya.
Perbedaan pandangan ini menimbulkan caracara yang berbeda dalam implementasi kebijakan
kesepakatan AFTA di Jawa Barat khususnya dalam
bidang perdagangan komoditas agro. Dengan
perbedaan ini ketegasan untuk menentukan teknis
pelaksanaan kebijakan juga tidak terlihat. Sebagian
pihak menginginkan agar komunikasi dilaksanakan
dengan menggunakan penyuluhan yang mendalam
dan pelatihan-pelatihan agar pemahaman mendalam
juga diperoleh dari komunikan. Akan tetapi
kemudian muncul pertentangan dari pihak yang
berbeda bahwa pelatihan dan penyuluhan akan
memakan biaya mahal dan tujuan tidak terlalu
efektif. Akhirnya komunikasi hanya disepakati
dengan penyampaian pesan melalui seminar dan
lokakarya yang bertujuan untuk mengefisienkan
penggunaan anggaran dan kewajiban dasarnya
sudah dilaksanakan.
132
Studi Kasus Implementasi...
133
Sate. Kondisi ini diakibatkan oleh posisi Dinas
Industri dan Perdagangan Agro yang merupakan
struktur baru dari “pecahan” dari Dinas Industri
dan Perdagangan Jawa Barat. Keputusan pemisahan
Dinas ini pun lebih didasarkan pada kebijakan dari
keinginan kepala daerah untuk meningkatkan
perdagangan dan industri agro di Jawa Barat.
Akan tetapi dalam pelaksanaannya, Dinas ini
lebih banyak overlaping dengan Dinas Industri dan
Perdagangan induk sehingga nuansa kerjanya tidak
bisa maksimal untuk menyampaikan informasi.
Berbagai institusi di masyarakat masih lebih
meletakkan kepercayaan kepada Dinas Industri dan
Perdagangan induk. Kadin dan asosiasi komoditas
pertanian yang ada di Jawa Barat lebih banyak
mempercayakan komunikasi institusi mereka
kepada Dinas Industri dan Perdagangan induk. Hal
seperti ini yang mengakibatkan komunikasi dari
implementor berjalan dalam distorsi lapisan
birokrasi.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
3. Persepsi Pribadi Pelaksana
Faktor terakhir yang menjadi entitas komunikasi
adalah persepsi pribadi pelaksana yang selektif dan
penolakan atas persyaratan-persyaratan. Hal ini
berkaitan erat dengan kondisi sumber daya manusia
yang memiliki latar belakang berbeda-beda di
lingkungan Dinas industri dan Perdagangan Agro
Jawa Barat. Dari kajian faktor ini dapat disebutkan
bahwa peran dan posisi Dinas Industri dan
Perdagangan Agro Jawa Barat ini tidak diminati oleh
personil birokrasi di pemerintah daerah. Personil
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
staf di lingkungan pemerintah daerah memiliki
persepsi yang sama dalam pengakuan bahwa Dinas
Industri dan Perdagangan Agro ini merupakan
wadah bagi personil yang sudah tidak terpakai di
lingkungan pemerintah daerah. Posisinya tidak
berbeda jauh dengan lembaga-lembaga tertentu
yang dipandang sama yang ada di lingkungan
pemerintah daerah, seperti Badan Litbangda
(Penelitian dan Pengembangan Daerah).
Bahkan Dinas Industri dan Perdagangan
Induk pun memiliki nilai yang sama sebagai “Dinas
Buangan”, apalagi Dinas Industri dan Perdagangan
Agro. Semua gambaran ini memberikan persepsi
pribadi dari pelaksana yang selektif. Tidak setiap
personil yang berkedudukan atau ditempatkan di Dinas
Industri dan Perdagangan Agro merasa nyaman
untuk berada dalam posisi tersebut. Bahkan posisi
puncak dari jajaran eselon tertinggi di Dinas
bersangkutan juga masih melakukan manuver
untuk bisa sesegera mungkin mendapat mutasi dari
posisinya saat ini.
Wajar kiranya apabila berbagai persyaratan yang
ada dalam pelaksanaan kesepakatan AFTA dianggap
sebagai sesuatu yang mengganggu oleh personil yang
ada di dalam Dinas Industri dan Perdagangan.
Penolakan tersebut kemudian ditularkan dengan
memberikan penetrasi kepada institusi yang bergerak
di bidang agro pula. Karena dinilai secara pribadi
sebagai nilai-nilai yang persyaratannya bertentangan
dengan persepsi pribadi tersebut maka informasi yang
disampaikan tidak sepenuhnya, sehingga tidak jarang
134
Studi Kasus Implementasi...
135
komunikasi terjadi tidak sesuai dengan harapan dalam
komunikasi kebijakan. Persepsi yang selektif
terhadap pesan yang disampaikan mengakibatkan
pesan tidak seluruhnya disampaikan dan akibatnya
kebijakan kesepakatan AFTA tidak dimengerti.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4.3.1.2 Faktor Kejelasan (Clarity)
Faktor ini mensyaratkan agar komunikasi
berjalan dengan baik, maka diperlukan kejelasan
dari petunjuk-petunjuk yang ada dalam kebijakan
kesepakatan AFTA. Kejelasan dalam petunjukpetunjuk itu menghadapi kendala sebagai akibat
pula dari simpang siur dan biasnya pesan yang ada
dari kebijakan pemerintah pusat sebagai
kesepakatan AFTA sampai kepada kebijakan di
bidang perdagangan komoditas pertanian agro di
Jawa Barat.
Sebagai kebijakan yang dihasilkan dari
keseluruhan bentuk kerja sama ASEAN dan
menanggapi adanya perdagangan bebas dunia, maka
kebijakan kesepakatan AFTAitupun bermakna dalam
kompleksitas yang cukup tinggi. Kompleksitas
kebijakan itu merupakan faktor yang sulit untuk
dipahami dalam pelaksanaannya mengingat di tingkat
akar rumput maupun di tingkat implementor di
daerah akan berhadapan dengan kesulitan dalam
memahami makna yang terkandung secara
menyeluruh dalam kebijakan perdagangan bebas
tersebut. Entitas dari perdagangan bebasASEAN yang
mengandung barang-barang/jasa bersifat fast track,
normal track dan lain-lain bukan merupakan hal yang
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
mudah untuk dipahami katagorisasinya oleh
masyarakat pelaku ekonomi dan petani agro secara
umum.
Selain itu, terdapat banyak keanekaragaman
yang terjadi dalam struktur masyarakat di Jawa
Barat. Keanekaragaman tersebut memunculkan
berbagai kelompok kepentingan baik di bidang
sosial, ekonomi dan politik, misalnya para pemilik
modal, termasuk para tengkulak yang kerap
menerapkan sistem ijon kepada para petani agro;
masuknya parpol yang berupaya menjadikan para
petani agro sebagai bagian dari konstituennya
dengan cara mengelompokkan mereka dalam
organisasi-organisasi bawahan parpol tersebut;
oligarki dalam sistem pemasaran yang dikuasai oleh
kelompok etnis tertentu.
Berbagai kelompok yang ada juga memiliki
kekuatan sosial yang tidak mudah untuk ditembus atau
bahkan memiliki kekuatan penekan tertentu bagi
kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah daerah.
Oleh karena itu, tidak jarang pemerintah daerah (dalam
hal ini Dinas Industridan PerdaganganAgro Jawa Barat)
berhadapan dengan kepentingan kelompok ekonomi
tersebut dalam pelaksanaan kebijakan ekonomi.
Implementasi kebijakan kesepakatan AFTA juga
berbenturan dengan berbagai kepentingan dari
kelompok-kelompok ekonomi dimaksud. Petani Gula,
misalnya, memiliki kepentingan yang sudah
diformulasikan ke dalam kebijakan para petani gula
dalam organisasi petani Tebu. Demikian juga kelompok
kepentingan lainnya yang ada di Jawa Barat dalam
kaitannya dengan perdagangan komoditas agro.
136
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Tegasnya, Dinas Industri dan Perdagangan
Agro juga merasa tidak dapat melaksanakan
kebijakan kesepakatan AFTA terhadap substansi
tertentu apabila berhadapan dengan kelompok
masyarakat dimaksud. Bahkan keinginan untuk
tidak mengganggu kelompok masyarakat tertentu
tersebut merupakan faktor yang mengakibatkan
komunikasi tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Kondisi tidak berjalannya komunikasi tersebut
ditambah lagi dengan kurangnya konsensus
mengenai tujuan-tujuan kebijakan yang tidak
dipahami oleh setiap personil yang ada dalam Dinas
Industri dan Perdagangan Agro. Para staf yang ada
sebagai SDM dalam Dinas dimaksud tidak memiliki
konsensus yang kuat terhadap tujuan-tujuan dari
kebijakan kesepakatan AFTA untuk mewujudkan
perdagangan bebas dan mendorong komoditas agro
di Jawa Barat. Bahkan banyak masalah baru yang
muncul bersamaan dengan munculnya kebijakan
baru yang tidak dapat diselesaikan di tingkat dinas.
Apabila sebuah faktor kebijakan yang ada
berkaitan dengan dinas lain di lingkungan
pemerintah Jawa Barat, maka faktor kebijakan
tersebut cenderung tidak berjalan dikarenakan tidak
mendapat respon yang baik dari dinas terkait
bersangkutan. Sebagai contoh: apabila informasi
dari Dinas Industri dan Perdagangan Agro
mengharuskan agar produk tertentu harus memenuhi
standar perdagangan bebas yang menjadi patokan dari
komoditas pertanian agro di pasar bebas, maka Dinas
Pertanian tidak merasa berkewajiban untuk
menyesuaikan dalam substansi penyuluhan atau
137
Studi Kasus Implementasi...
4.3.2 Keadaan Sumber Daya (resources)
Seperti yang disampaikan kajian teoretis pada
Bab II, tampaknya, faktor sumber daya ini
merupakan faktor penting yang sangat menentukan
dalam keberhasilan sebuah implementasi kebijakan.
Implementor sebagai sumber daya utama juga
membutuhkan sumber daya lainnya yang dianggap
penting dalam melaksanakan kebijakan. Di samping
sumber daya manusia sebagai staf dengan kriteria
jumlah dan kualitas (kuantitas dan keahlian/skill),
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
pengarahan kepada petani di lapangan. Hal
demikian sering terjadi sehingga arogansi lintas
sektoral ini membutuhkan penanganan yang
memadai dan berkesinambungan. Meskipun terlalu
dini apabila disebutkan bahwa dibutuhkan sebuah
struktur yang memadai dalam menangani hal
demikian, lintas sektoral di antara Dinas ini baru
dapat dikoordinasikan dengan lembaga Asisten
Daerah atau setingkat Biro pelaksana koordinasi.
Dari keseluruhan paparan pada kegiatan
komunikasi termaktub di atas, penulis dapat
menginterpretasikan bahwa dari sudut pandang
faktor transmisi dan faktor kejelasan (Clarity) dari
komunikasi sebagaimana yang tertuang dalam kajian
teoretis pada Bab II dari Edward III, kegiatan
komunikasi implementasi AFTA perdagangan
komoditas pertanian di Jawa Barat belum berlangsung
sebagaimana yang diharapkan sehingga belum
mampu mendorong tercapainya daya saing Jawa Barat
di dalam menghadapi perdagangan bebas di kawasan
Asia Tenggara
138
Studi Kasus Implementasi...
139
sumber daya yang dibutuhkan implementor adalah
informasi, wewenang, dan fasilitas-fasilitas.
Berikut ini akan dianalisis sesuai rambu-rambu
teoritis pada Bab II mengenai sumber daya yang
ada dalam implementasi kebijakan perdagangan
komoditas pertanian dalam kerangka AFTA di Jawa
Barat.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4.3.2.1 Staf yang Melaksanakan
Faktor pertama dan utama dalam pelaksanaan
sebuah kebijakan adalah sumber daya manusia
dalam pengertian staf yang melaksanakan membantu
implementor. Sejumlah staf yang ada di jajaran
Dinas Industri dan Perdagangan Agro Jawa Barat
tergolong staf yang berada dalam taraf “terbuang”.
Jajaran staf di bawah eselon II lebih bermakna
sebagai posisi dilempar dari dinas/instansi lain yang
tak dibutuhkan. Tidak jarang SDM yang ada
merupakan personil yang “dihukum” sebagai akibat
kesalahan tertentu dalam melaksanakan tugas,
misalnya saja melanggar disiplin bekerja,
berseberangan dengan kebijakan atasan di instansi
sebelumnya.
Lebih jauh, posisi alamat kantor yang
bertempat di lokasi yang cukup jauh dari pusat
pemerintahan induk memberikan kesan jarangnya
lokasi tersebut dikunjungi; atau mendapat
kunjungan dari kepala daerah. Hal tersebut,
memang benar adanya. Dengan demikian, sangat
memungkinkan apabila staf yang ada di jajaran
eselon III ke bawah akan memiliki tingkat keaktifan
yang rendah dibandingkan dengan dinas lain yang
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
lebih terkontrol dari pusat pemerintahan. Mekanisme
kerja staf juga diwarnai oleh suasana tidak aktif yang
biasa terjadi di instansi yang jarang sekali
melaksanakan kegiatan inti. Posisi Dinas Industri
dan Perdagangan Agro Jawa Barat yang sangat
jarang memiliki inisiatif untuk melaksanakan
kegiatan secara mandiri juga menjadi penyebab
kenapa instansi ini kurang diminati.
Kondisi ini seiring dengan struktur sumber
daya manusia yang ada di lingkungan dinas
tersebut menjadi sangat rendah kualitasnya.
Meskipun secara kuantitas dinas ini memiliki
struktur yang sama dengan dinas lain di lingkungan
pemerintah daerah Jawa Barat, akan tetapi jumlah
personil staf yang ada tidak memadai dalam
melaksanakan tugas seiring dengan semangat untuk
mengimplementasikan kebijakan kesepakatan
AFTA di bidang komoditas agro. Meskipun secara
menyeluruh pendidikan staf berdasarkan penjenjangan
yang berlaku umum di lingkungan pemerintah
daerah, akan tetapi staf dimaksud sangat jarang
mengalami proses mutasi apabila sudah masuk di
lingkungan Dinas Industri dan Perdagangan Agro,
termasuk Dinas Industri dan Perdagangan induk.
Bahkan diklat penjenjangan yang pernah diikuti
tidak berdasarkan bidang kerja yang digeluti. Staf
perdagangan luar negeri misalnya, sangat jarang
mengalami diklat tentang proses perdagangan luar
negeri. Bahkan untuk memahami proses perdagangan
bebas hanya mendapat informasi dari pelaku pasar
atau informasi media massa yang beredar dan
menjadi langganan dari Dinas tersebut.
140
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Secara menyeluruh keahlian dari staf yang ada
sebagai sumber daya manusia di lingkungan Dinas
yang menangani perdagangan komoditas pertanian
agro ini sangat minim sehingga sangat sulit untuk
melaksanakan secara maksimal. Keahlian kesarjanaan
yang ada juga tidak memadai, meskipun 20% dari
staf bergelar Strata 2 (termasuk Kepala Dinas),
namun keahlian yang ditempuh melalui jalur formal
tersebut tidak bersesuaian langsung dengan
keahlian yang dibutuhkan. Dari sejumlah S-2
dimaksud 85% merupakan strata 2 dengan keahlian
bidang pertanian, atau spesialisasi perikanan.
Tentu saja kondisi sumber daya manusia
dengan struktur demikian ini lebih mengarah pada
semakin sulitnya pelaksanaan kebijakan perdagangan
bebas dengan mengandalkan komoditas agro. Selain
itu, sangat tidak mudah untuk menemui staf Dinas
yang ada di tempat pada jam-jam kerja. Kesibukan
yang tidak terjadwal dengan pasti semakin
mempersulit intensitas pelaksanaan kebijakan apa
pun di lingkungan Dinas Industri dan Perdagangan
Agro Jawa Barat. Kenyataan yang kerapkali terjadi
apabila Kepala Dinas tidak berada di tempat (atau
melakukan tugas di luar kantor) dalam waktu yang
cukup lama. Hal ini pun akan secara otomatis
memberikan peluang kepada staf di bawahnya
untuk tidak masuk kantor dengan berbagai alasan
selama kegiatan Kepala Dinas tersebut tidak berada
di kantor. Sebuah kebijakan atau surat disposisi yang
tersalurkan ke para staf pun akan mengalami
penundaan sebagai akibat dari tidak adanya staf di
kantor.
141
Studi Kasus Implementasi...
142
Kesulitan dalam menyelesaikan segala suratmenyurat yang berkaitan dengan kewenangan Dinas
Industri dan Perdagangan Agro ditemukan dalam
kerangka sulitnya staf berada di tempat. Berbagai
wawancara dengan asosiasi petani dan stakeholder di
bidang komoditas agro (pengurus Kadinda) yang
berkepentingan dengan dinas ini ditemukan adanya
kesulitan dalam penyelesaian persoalan perdagangan
agro sebagai konsekuensi dari jarangnya staf ada di
kantor. Semua hal di atas memperlihatkan sumber
daya manusia yang terhitung minim dari Dinas yang
melaksanakan impelementasi kebijakan kesepakatan
AFTA selaku implementor.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4.3.2.2 Informasi
Sumber daya kedua yang cukup penting dalam
pelaksanaan kebijakan adalah informasi. Pengertian
informasi dimaksud sebagai sumber daya adalah
petunjuk pelaksanaan kebijakan dan data ketaatan
personil-personil lain terhadap peraturan pemerintah
yang dikeluarkan dalam kerangka AFTA. Berdasarkan
studikepustakaanyangdilakukandiperolehdatabahwa
kebijakan tentang AFTA sampai ke tingkat pemerintah
daerah Jawa Barat didukung oleh Keputusan Gubernur
No. 21 Tahun 2004. Akan tetapi kebijakan tersebut tidak
didukungsecarateknisdenganpetunjukpelaksanaannya
dilapangan,sehinggamasing-masingDinasmemberikan
penafsiran tersendiri. Sebagai contoh Dinas Industri dan
Perdagangan Induk Jawa Barat yang menterjemahkan
bahwa kawasan perdagangan bebas diimplementasi
dengan membentuk zona ekonomi di lima kawasan di
Jawa Barat.
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Tentu saja pembentukkan zona ekonomi
khusus yang disebut sebagai langkah menuju zona
perdagangan bebas internasional ini dianggap
sebagai langkah tepat untuk mengimplementasikan
kebijakan perdagangan bebas. Kawasan perdagangan
yang sudah dilaksanakan di Kawasan Industri
Cikarang-Bekasi ini lebih merupakan langkah untuk
memberikan stimulasi gerakan kepada industri
yang ada di kawasan di maksud. Namun kebijakan
tersebut tidak mendorong persiapan aturan yang
akan memberikan dorongan bagi pelaksanaan
sistem perdagangan bebas. Sebagai sebuah gerakan,
seperti halnya gerakan lainnnya (GDN—Gerakan
Disiplin Nasional) hanya merupakan kebijakan
sesaat yang tidak berkesinambungan. Bahkan
banyak kalangan pelaku ekonomi seperti para
investor baik dalam maupun luar negeri, distributor
perdagangan, pengembang (develover) infrastruktur
perdagangan serta termasuk para pedagang menilai
gerakan tersebut sebagai kebijakan “latah” akibat
dari gencarnya isu perdagangan bebas.
Demikian halnya dengan kebijakan kesepakatan
AFTAyang menjadikanDinasIndustridanPerdagangan
Agro Jawa Barat sebagai implementor langsung. Dinas
ini juga tidak menerima petunjuk pelaksanaan yang
seragam sebagai bagian integral dari kebijakan
tersebut. Kebijakan yang diejawantahkan ke dalam
Keputusan Gubernur No. 21 Tahun 2004 sebagai
respon dari Surat Keputusan Menteri Luar Negeri No.
3 Tahun 2003 dan Keputusan Menteri Keuangan No.
392 Tahun 2003. Keputusan Gubernur tersebut
143
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
berisikantentang pedomandaerahdalammelaksanakan
kerja sama dengan luar negeri. Keputusan tersebut tidak
berisikan petunjuk pelaksanaan teknis tentang pasar
bebas yang dijalankan sebagai derivasi dari kebijakan
kesepakatanAFTA. Bahkan Keputusan Gubernur No.
21 Tahun 20004 tidak secara langsung menyentuh
kepentingan implementasi kebijakan tentang AFTA.
Apalagi menyangkut komoditas pertanian agro di
Jawa Barat.
Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa
petunjuk pelaksanaan kebijakan tentang AFTA
melalui Dinas Industri dan Perdagangan lebih
banyak didasarkan pada informasi yang diperoleh
dari tingkat kementerian luar negeri dan atau
kementerian perdagangan. Informasi tersebut
bermakna sebagai sumber daya yang sangat lemah
untuk kepentingan pelaksanaan kebijakan di tingkat
implementator. Sebab informasi tersebut hanya
bersifat garis besar saja dari sebuah kebijakan yang
menjadi kesepakatan negara-negara anggota
ASEAN itu.
Lebih jauh lagi, berdasarkan hasil wawancara
dengan pelaku ekonomi di tingkat nonpemerintah,
seperti pengusaha (Kadin) dan asosiasi produksi
pertanian, para pengelola pasar induk, dan para
petani, dapat disimpulkan bahwa peraturan yang
diterapkan untuk mewujudkan sebuah mekanisme
pasar yang menguntungkan bagi pihak pelaku
ekonomi dinilai tidak jelas. Petani di Karawang dan
Bekasi mengetahui tentang kebijakan AFTA sebagai
kebijakan pasar bebas, akan tetapi mereka tidak
mengerti harus bagaimana mensikapinya. Petani di
144
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Indramayu, Kuningan, Cirebon, Majalengka juga
memahami mekanisme pasar bebas, hanya saja
mereka tidak mengerti peranan AFTA dalam
mekanisme tersebut. Petani di Garut, Tasikmalaya,
Ciamis sampai ke Banjar tidak begitu peduli dengan
kondisi pasar bebas. Petani di Kab/Kota Bandung
memahami sepenuhnya tentang mekanisme pasar
bebas AFTA tetapi tidak mendapat persiapan yang
cukup untuk menghadapinya.
Mereka yang bergerak di sektor pelaku
ekonomi tidak merasakan adanya langkah-langkah
yang memadai untuk mewujudkan kebijakan
kesepakatan AFTA dalam bidang pertanian. Bahkan
pelayanan dari lembaga yang menjadi implementor
juga dirasakan belum cukup dalam membantu
pelaku ekonomi mempersiapkan diri menghadapi
era pasar bebas. Pola-pola mekanisme pasar bebas
yang mengandung unsur-unsur mekanisme pasar
tidak dijelaskan dalam interaksi pasar bebas Asia
Tenggara.
Oleh karena itu pada kenyataannya banyak
bagian-bagian yang terdapat dalam ketetapan
tentang pasar bebas dalam kesepakatan AFTA yang
dipilih berdasarkan kebutuhan dari pelaku pasar
sendiri. Pelaku pasar menilai tidak semua ketentuan
yang menjadi kesepakatan menguntungkan apabila
dilaksanakan sehingga harus dipilih bagian mana
dari kesepakatan AFTA tersebut yang bisa
menguntungkan dalam pelaksanaannya. Kesepakatan
tentang peningkatan produk ekspor barang
komoditas pertanian yang tidak memiliki daya saing
serta-merta mendapat persetujuan dari pelaku
145
Studi Kasus Implementasi...
4.3.2.3 Kewenangan (Authority)
Faktor sumber daya yang tidak kalah
pentingnya adalah kewenangan (authority).
Kewenangan dimaknakan sebagai hak untuk
memanggil dengan menggunakan surat panggilan,
hak mengeluarkan perintah kepada pejabat lain, hak
menarik dana dari suatu program, dan hak untuk
menyediakan dana, staf serta bantuan teknis pada
tingkat pemerintahan yang lebih rendah.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
ekonomi. Sebaliknya, kesepakatan yang substansinya
berkaitan dengan produk barang-barang substitutif
dengan persaingan yang ketat akan segera
mendapat penolakan, kalau tidak dikatakan tidak
dihiraukan ketetapan tersebut.
Observasi di lapangan menemukan data
tentang ketaatan akan kesepakatan yang cukup
rendah sehingga dapat dipastikan data ini menjadi
sumber daya yang melemahkan implementasi
kebijakan AFTA di bidang pertanian. Data ini
merupakan informasi dari sumber daya yang tidak
menguntungkan bagi pelaksanaan kebijakan pasar
bebas. Beberapa pelaku ekonomi yang ditemui
memberikan pernyataan yang sama bahwa perilaku
menolak atas aturan yang tidak menguntungkan
dari kesepakatan AFTA merupakan langkah
pragmatis menghadapi persaingan usaha. Bahkan
para petani sendiri menyetujui bahwa sikap
pragmatis yang dilakukan oleh asosiasi dan
pengusaha merupakan upaya untuk melindungi
petani dari persaingan yang tidak dapat dihadapi
secara langsung.
146
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Kewenangan yang terlihat dalam hasil
penulisan di Dinas Industri dan Perdagangan
Agro Jawa Barat sangat terbatas. Seperti sudah
dijelaskan sebelumnya tentang komunikasi, Dinas
Industri dan Perdagangan Agro Jawa Barat
posisinya tidak sekuat dinas/instansi lain di
lingkungan pemerintahan daerah. Dinas Industri
dan Perdagangan Agro Jawa Barat tidak memiliki
kewenangan yang kuat dalam melakukan
pemanggilan terhadap pejabat lain di luar
lingkungan dinas dimaksud. Seperti telah
dijelaskan di atas, apabila terdapat persoalan
dalam pelaksanaan teknis kebijakan perdagangan
bebas misalnya, maka dinas terkait tidak
memberikan respon positif dan tanggap sesuai
dengan permintaan dari Dinas Industri dan
Perdagangan Agro Jawa Barat. Sudah dicontohkan
sebelumnya bahwa produk pertanian yang tidak
memenuhi standar perdagangan bebas pun tidak
dapat dikoordinasikan dengan mudah kepada
Dinas Pertanian Jawa Barat yang memiliki
kewenangan tentang hal tersebut. Ketika dikonfirmasi
ke Dinas Pertanian Jawa Barat mengenai hal ini,
diberikan penjelasan bahwa memang hal semacam itu
sering terjadi. Menurut informan yang dihubungi di
Dinas Pertanian Jawa Barat, kondisi tersebut sebagai
akibat dari tidak sinkronnya program kerja yang ada
di Dinas Pertanian Jawa Barat dengan program kerja
yang ada di Dinas Industri dan Perdagangan Agro
Jawa Barat. Meskipun Dinas Pertanian menerima
permintaan dari Dinas Implementor dalam AFTA,
147
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
namun semua tidak dapat dilaksanakan begitu
saja sebab menyangkut dana/anggaran yang
alokasinya tidak diperuntukkan bagi kegiatan
tersebut. Setiap mata anggaran yang ada dalam
garis kerja Dinas Pertanian Jawa Barat sudah
merupakan hasil pembahasan berdasarkan
Standard Operating Procedures.
Keterbatasan kewenangan tersebut ditambah
lagi dengan ketidakmampuan Dinas Industri dan
Perdagangan Agro Jawa Barat dalam mengeluarkan
perintah langsung kepada dinas lain yang terkait
dengan implementasi perdagangan komoditas
pertanian ini. Perintah tersebut harus dikeluarkan
melalui kepala daerah, Sekretaris Daerah atau
asisten, sedikitnya di tingkat Kepala Biro.
Sedangkan rekomendasi untuk melaksanakan
perintah dimaksud bisa berjalan cukup lama atau
bahkan terkadang tidak mendapat tanggapan sama
sekali. Pemerintah Daerah (dalam hal ini Kepala
Daerah, Sekda dan Asisten serta Kepala Biro) lebih
memfokuskan diri pada tugas-tugas pemerintahan,
ekonomi makro dan administratif. Tugas-tugas
tersebut memiliki nuansa politik yang tinggi
sehingga menarik perhatian yang tinggi dari opini
masyarakat umum. Sedangkan tugas yang bersifat
teknis dalam penanganan masalah seperti yang
dihadapi oleh Dinas Industri dan Perdagangan Agro
Jawa Barat kurang bernuansa politis alias tidak
menarik perhatian publik.
Apabila dilihat dari sisi anggaran, Dinas
Industri dan Perdagangan Agro Jawa Barat tidak
berbeda dengan dinas-dinas lainnya di lingkungan
148
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
pemerintah daerah Jawa Barat. Dinas ini bergerak
berdasarkan anggaran yang telah ditentukan dalam
penyusunan anggaran tahunan bersama-sama
dengan pihak legislatif. Hanya saja, seperti halnya
sifat Dinas ini yang tidak bersentuhan langsung
dengan nuansa politik, maka anggaran yang
diajukan oleh dinas ini pun tidak menarik perhatian.
Bahkan proposal ajuan anggaran pemerintah daerah
secara menyeluruh, apabila harus dikurangi secara
gradual, maka angka pengurangannya dapat
dipastikan akan menyentuh pada dinas-dinas bukan
penghasil seperti Dinas Industri dan Perdagangan
Agro Jawa Barat ini.
Dengan demikian, hak untuk menarik dana
dari sebuah program terbatas pada rencana
anggaran yang sudah ditetapkan sebelumnya dalam
Rencana Kerja Dinas. Selain besarnya yang terbatas,
anggaran Dinas ini juga terkadang mengalami
kesulitan dalam pengalokasian program. Hal
tersebut akibat dari perencanaan yang berjalan lebih
lambat ketimbang perkembangan situasi dan
tantangan yang menjadi bidang kerjanya. Apalagi
perencanaan dari Dinas ini juga menyertakan pula
kemampuan SDM yang tidak memadai dalam
menyusun mekanisme kerja ke depan. Hal yang
terjadi kemudian adanya tuntutan perkembangan
situasi tidak memungkinkan untuk ditangani secara
lebih cepat dalam waktu yang bersamaan ketika
masalah muncul, justru terhambat oleh tersedianya
anggaran. Perencanaan anggaran yang akan datang
sudah tidak relevan secara menyeluruh pada saat
anggaran tersebut dikeluarkan. Hal ini terlihat
149
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
misalnya langkah yang dilakukan Sub Dinas
Perdagangan Disindagro Jawa Barat untuk
melakukan pelatihan ekspor impor produk agro
terakhir di empat wilayah (Kota Cirebon, Kab.
Kuningan, Kab. Bandung, Kab. Ciamis, Kab.
Purwakarta, Kota Bogor, Kab. Bekasi, Kab.
Sukabumi) dengan pembagian waktu pelaksanaan;
Kota Cirebon tanggal 6-8 Maret 2006 bertempat di
Jln. RA. Kartini No.60 Cirebon, Kab. Kuningan
tanggal 13-15 Maret 2006 bertempat di Jln. Raya
Panautan No.98 Sangkanurip, Kuningan, Kab.
Bandung 20-22 Maret 2006 bertempat di Jln. Dokter
Junjunan No. 153 Bandung, Kab. Ciamis tanggal 2729 Maret 2006 bertempat di Jln. Jend. Sudirman
No.185 Ciamis, Kab. Purwakarta tanggal 3-5 April
2006 bertempat di Jln. Rasamala No. 1 Jatiluhur
Purwakarta, Kota Bogor tanggal 24-26 April 2006
bertempat di Jln. Sawo Jajar No. 38 Bogor, Kab.
Bekasi tanggal 8-10 Mei 2006 bertempat di Jln. Teuku
Umar Km. 45 Bekasi, Kab. Sukabumi tanggal 18-20
Mei 2006 bertempat di Jln. Cikukulu Sukabumi.
Kewenangan menyediakan dana, staf dan
bantuan teknis pada tingkat pemerintahan yang
lebih rendah juga merupakan kewenangan dari
Dinas Industri dan Perdagangan Agro sebagai
implementor. Akan tetapi kewenangan ini tidak
otomatis memberikan otoritas mutlak kepada Dinas
ini untuk melakukan perintah langsung kepada
pemerintah daerah Kabupaten/Kota se-Jawa Barat.
Kebijakan Otonomi Daerah sebagai distribusi
kewenangan yang ada sampai ke tingkat Kab/Kota
memberikan kesulitan lain kepada Dinas ini untuk
150
Studi Kasus Implementasi...
151
melakukan perintah mewujudkan implementasi
kebijakan kesepakatan AFTA terutama dalam
bidang komoditas pertanian.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kewenangan
Dinas ini sebagai sumber daya yang dimiliki untuk
melaksanakan kebijakan kesepakatan AFTA dalam
bidang perdagangan komoditas pertanian agro
sangat terbatas. Keterbatasan ini memperlihatkan
pula kesulitan yang dihadapi dalam implementasi
kebijakan.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4.3.2.4 Fasilitas-fasilitas Fisik Material
Faktor dari sumber daya yang lain adalah
fasilitas-fasilitas (berupa bangunan-bangunan,
perlengkapan dan perbekalan). Fasilitas yang
dimiliki secara menyeluruh dalam kajian ini
merupakan fasilitas dari pelaksana kebijakan yang
dimulai dari Departemen Luar Negeri, Departemen
Perdagangan sampai Dinas Industri dan Perdagangan
Agro. Fasilitas di Departemen Luar Negeri memang
tergolong memadai sebatas tugas Departemen ini
untuk melaksanakan implementasi kebijakan AFTA
sampai pada taraf penyampaian informasi. Akan
tetapi fasilitas tersebut tidak bermanfaat langsung
kepada institusi pelaksana terutama dalam tataran
dinas. Demikian halnya dengan fasilitas di
Departemen Perdagangan yang sudah pasti memadai
dalam taraf penyampaian informasi dan pengukuran
teknis dari implementasi kebijakan AFTA. Sekali lagi
fasilitas yang ada tidak dapat dipergunakan dalam
kondisi teknis implementasi kebijakan terutama
dalam bidang perdagangan komoditas pertanian di
Studi Kasus Implementasi...
152
Jawa Barat. Dengan demikian, secara umum sumber
daya yang ada tidak memadai sehingga implementasi
kebijakan tidak berjalan dengan baik. Dibutuhkan
penyediaan sumber daya yang memadai dalam dinas
yang menjadi pelaksana (implementator) dari
kebijakan perdagangan bebas bidang komoditas
pertanian di Jawa Barat.
Kemudian juga dari segi infrastruktur, Jawa
Barat sangat minim memiliki Pusat Perdagangan
Komoditas Agro (PPKA). Terdapat beberapa
masalah yang masih perlu dikaji dan dikembangkan
agar diperoleh gambaran serta arah penyelesaian
yang lebih jelas, antara lain:
1. Gambaran kondisi Pusat Perdagangan
Komoditi Agro di Jawa Barat yang ingin
dicapai, atau biasa disebut visi, masih belum
jelas, sehingga arah yang akan dituju pun
(misi) belum dapat ditentukan.
3. Kegiatan yang ditampung di kawasan Pusat
Perdagangan Komoditi Agro, misalnya di
Purwasuka masih bersifat umum, sehingga
perlu dilakukan analisis yang lebih rinci untuk
dapat menentukan perkiraan kebutuhan
fasilitasnya.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
2. Pasar yang ada saat ini di Indonesia,
khususnya di Jawa Barat, belum ada yang
berfungsi seperti PPKA berstandar internasional,
sehingga perlu dicari acuan lain yang dapat
digunakan untuk menentukan dan menyusun
regulasinya.
Studi Kasus Implementasi...
153
4. Dalam menyusun perkiraan kebutuhan
fasilitas tersebut dilakukan pengkajian, seperti:
a. Kegiatan utama yang akan terjadi dan perlu
ditampung, baik jenis maupun kapasitas/
besarannya.
b. Besaran/volume tiap komoditi unggulan
dari kawasan perencanaan yang bisa/dapat
ditampung di Pusat Perdagangan Komoditi
Agro di Jawa Barat.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Pusat Perdagangan Komoditi Agro di Jawa
Barat seharusnya dapat dimaksimalkan menjadi
Pusat Pasar Lelang komoditi agro Jawa Barat yang
berdaya guna. Hal itu karena berdirinya pasar lelang
fungsi utamanya sebagai pembentuk harga secara
transparan (price discovery) dan Risk Management
dengan mem-pergunakan instrumen hedging
(lindung nilai), karena transaksi dilakukan secara
lelang terbuka. Dengan adanya transparansi harga,
maka petani sebagai produsen komoditi akan
memiliki bargaining position yang lebih baik. Dengan
demikian mereka dapat menjual komoditinya sesuai
dengan harga yang berlaku dalam kontrak, sehingga
petani dapat meningkatkan kualitas hasil
produksinya dan pendistribusiannya sudah jelas.
Fluktuasi harga yang selama ini terjadi akan dapat
dikendalikan dengan baik karena adanya
mekanisme pasar yang wajar. Di sisi lain, petani juga
dapat melakukan pola tanam sesuai dengan kontrak
pada pasar lelang dan akan mengakibatkan secara
otomatis setiap petani yang lain akan melakukan
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
tanam berbeda dan tidak akan terjadi panen raya,
sehingga menekan kekhawatiran pada saat panen
tiba.
Hasil observasi di lapangan menunjukkan
bahwa pada tahun 2006 terjadi 171 transaksi, 27
komoditi di antaranya yang terjadi deal, dengan
jumlah Rp. 143.564.335.000,-. Adapun yang paling
besar terjadi pada komoditi beras sebanyak, 73
transaksi 40.435 ton dengan nilai Rp. 115.069.100.000,terdiri dari 16 penjual, delapan pembeli dan tiga
merangkap penjual/pembeli. Sementara itu, yang
paling dominan melakukan transaksi pembelian oleh
dua pembeli dari Propinsi DKI Jakarta yaitu 29
transaksi dan 17 transaksi, hal ini akan sulit dalam
dalam menentukan harga karena pembeli potensial,
lebih sedikit padahal penjualnya cukup banyak, hal
ini akan mengakibatkan dalam negosiasi dikendalikan
oleh pembeli walaupun harga yang ditawar dengan
sistem terbuka. Kalau kita lihat hasil transaksi dengan
perdagangan sistem lelang forward yang hanya
berjumlah 40.435 ton sedangkan jumlah hasil
produk lokal Jawa Barat pada tahun 2005 sebanyak
6.368.816 ton. Hal ini yang terserap dengan melalui
perdagangan dengan sistem lelang forward hanya
berapa persen saja, yaitu sebesar 0.63%. Sedangkan
dari produksi lokal beras Jawa Barat yang keluar
Jawa Barat terutama ke Propinsi Daerah Khusus Ibu
Kota Jakarta yang dilakukan pedagang besar sebesar
191.149,01 ton berdasarkan data dari statistik.
Apakah data ini sudah termasuk dengan hasil
transaksi lelang yang dilakukan oleh dua pembeli
sebesar 28.451 ton?
154
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Kemudian melihat keadaan pada tahun 20072008 mengindikasikan tingkat persentase yang
menggunakan perdagangan dengan sistem lelang
masih sangat jauh dengan perdagangan tradisional
yang sebesar 99,37%. Sedangkan perdagangan
antarpropinsi baru mencapai 14,88%. Peluang ini
masih cukup besar tinggal bagaimana manajemen
pasar lelang menarik pembeli potensial dari DKI
Jakarta untuk bisa mengenal/mengikuti transaksi
dengan sistem lelang forward.
Berdasarkan data dari pasar lelang forward
Jawa Barat tahun 2007-2008, dimana kepada 61
peserta lelang dilakukan survey, berdasarkan latar
belakang, pendidikan, pekerjaan dan frekuensi
transaksi, diketahui bahwa sebagian besar peserta
lelang yang mengikuti perdagangan dengan sistem
lelang forward adalah sebagai berikut: terdapat 38
peserta yang berpendidikan Sarjana (62,4%), paling
tinggi, terdapat 10 peserta berpendidikan D3/D4,
atau setingkat Sarjana muda 16,4%, disusul peserta
yang berpendidikan SLTA 19,6%. peserta lelang
yang mengikuti perdagangan dengan sistem lelang
forward paling rendah adalah yang berpendidikan
SLTP 1,6%. Hal ini menggambarkan bahwa
melakukan usaha melalui perdagangan sistem lelang
forward komoditi agro diminati oleh para sarjana
disebabkan karena dengan pola lelang forward ini
menawarkan peluang usaha dan sistem perdagangan
modern yang membutuhkan analisa dan strategi
pemasaran.
Selanjutnya, peserta lelang yang mengikuti
perdagangan dengan sistem lelang forward yang
155
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
didasarkan pada latar belakang pekerjaan, diketahui
bahwa sebagian besar peserta lelang paling tinggi
adalah pedagang sebanyak 27 peserta (44,3%),
disusul kemudian 18 peserta Swasta (29,5%), 8
peserta eksportir (13,1%) dan 8 lainnya pesertanya
petani (13,1%). Bila dilihat persentase dari jumlah
13,1% (petani) yang mengikuti perdagangan dengan
sistem lelang, ternyata masih sangat kecil
dibandingkan dengan para pengusaha (pedagang,
eksportir, swasta) yang mencapai 86,9%. Padahal
rohnya pasar lelang bertujuan mengangkat harkat
martabat para petani. Gambaran tersebut, tentu saja
perlu menjadi perhatian agar dilakukan sosialisasi
terus menerus kepada para petani ataupun
kelompok tani. Di sisi lain, para pengusaha telah
mendapatkan kemudahan dalam memenuhi
kebutuhan pengadaan komoditi agro dimana
komoditi yang dicari telah terdapat pada pasar
lelang atau sebagai informasi baik mengenai
permintaan pasar, komoditi dan harga atau sebagai
pasar yang terorganisir. Sebaliknya, para petani
tampaknya belum memanfaatkan secara optimal
perdagangan dengan sistem lelang tersebut.
Frekuensi yang diinginkan sebagian besar peserta
lelang yang melakukan transaksi di pasar lelang
adalah menginginkan lelang sebulan sekali 30
peserta 49,2%, sebulan dua kali 40,9 % dan sebulan
tiga kali hanya 9,9%. Hal ini membuktikan bahwa
peserta lelang lebih cenderung untuk melakukan
transaksi dengan sistem lelang forward lebih banyak
memilih sebulan sekali dengan alasan disesuaikan
dengan spesifikasi hasil pertanian, masa tanam,
156
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
ketentuan pasar lelang dan kesiapan para peserta
lelang dan memudahkan melakukan konsolidasi
produknya.
Melihat hasil survey pada peserta lelang
berdasarkan pendidikan, pekerjaan dan frekuensi,
diperoleh gambaran: sarjana 62,4%, pengusaha
86,9% dan sebulan sekali 49,2%. Hal ini harus
menjadi perhatian manajemen pasar lelang sesuai
dengan konsep pendirian awal peranannya untuk
meningkatkan harkat martabat para petani.
Kenyataannya, keberadaan pasar lelang forward
belum optimal bagi kepentingan petani. Jadi
keunggulan perdagangan di pasar lelang yang
menggunakan sistem lelang forward dengan
perdagangan lain masih terlalu kecil, bila melihat
transaksi tahun 2007 misalnya komoditi beras baru
0,63% atau perdagangan ke luar Jawa Barat hanya
mencapai 14,88%. Ini baru satu komoditi belum
komoditi yang lain. Hal ini suatu tantangan bagi
manajemen pasar lelang yang menggunakan sistem
lelang forward sehingga apa yang menjadi keunggulan
dalam kenyataannya belum bisa menjadi kebutuhan
bagi penjual/pembeli. Pertanyaan lain yang juga perlu
dijawab adalah apakah keberadaan pasar lelang
manfaatnya sudah dirasakan secara optimal bagi
peserta lelang, sehingga ada kebutuhan yang
menimbulkan kepuasan/loyalitas peserta lelang
terhadap pasar lelang dengan sistem lelang forward.
Kondisi ini mengisyaratkan pentingnya perhatian
dari penyelenggara pasar lelang yang menggunakan
sistem lelang forward apa keunggulannya dengan
sistem perdagangan lain yang selama ini telah
157
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
dilakukan penjual/pembeli. Apakah masih ada
kelemahannya? Hal tersebut tentunya memerlukan
kajian yang tidak saja lebih mendalam, namun juga
berskala nasional.
Dalam mempertahankan keberadaan Pasar
Lelang dengan sistem transaksi sistem lelang forward,
maka dalam globalisasi perdagangan harus
mempunyai orientasi pasar global yang telah
mengalami pergeseran dari pendekatan konvensional
ke arah pendekatan kontemporer. Pendekatan
konvensional menekankan kepuasan pelanggan,
sedangkan pendekatan kontemporer pada loyalitas
pelanggan. Perlu diingat, bahwa hanya melakukan
pendekatan kepuasan pelanggan (konvensional)
tentunya belum bisa diandalkan, karena para
pelanggan pasar lelang hanya terbatas pada perasaan
puas, bukan loyalitas. Artinya, dengan merubah
pendekatan secara loyalitas pelanggan, maka
pelanggan akan melakukan transaksi ulang dalam
pasar lelang.
Konsep Pemasaran Masyarakat menegaskan
bahwa “tugas organisasi adalah menentukan
kebutuhan, keinginan, dan minat dari pasar sasaran
dan memberikan kepuasan yang diinginkan secara
lebih efektif dan efisien, dibandingkan pesaing
dengan tetap memelihara atau meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan konsumen”. Uraian
di atas menunjukkan bahwa yang menjadi perhatian
dari konsep pemasaran masyarakat adalah sifatnya
memperhatikan lingkungan hidup, sumber daya,
juga pelayanan sosial.
158
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Dari keseluruhan paparan di atas yang
berkenaan dengan ketersediaan sumber daya yang
meliputi sumber daya manusia dengan kriteria
kuantitas dan kualitas (keahlian/skill), informasi, dan
wewenang dan fasilitas-fasilitas, penulis dapat
menginterpretasikan bahwa adanya keterbatasan
sumber daya yang dimiliki Jawa Barat berdampak
pada tidak maksimalnya pendayagunaan potensi
daerah Jawa Barat secara maksimal dalam
implementasi AFTA komoditas pertanian di Jawa
Barat.
Dengan kata lain, penulis juga dapat menginterpretasikan bahwa dari sudut pandang faktor
ketersediaan sumber daya sebagaimana yang tertuang
dalam kajian teoretis pada Bab II, diperoleh keterangan
bahwa implementasi AFTA perdagangan komoditas
pertanian di Jawa Barat belum berlangsung
sebagaimana yang diharapkan, sehingga belum
mampu mendorong tercapainya daya saing Jawa
Barat di dalam menghadapi perdagangan bebas di
kawasan Asia Tenggara
Secara demikian, tampaknya hal itu akan
dapat menghambat upaya pembangunan Propinsi
Jawa Barat sebagai salah satu pusat unggulan (center
of excellence) industri agrobisnis di tingkat nasional.
Ketersediaan sumber daya yang andal, lengkap dan
terintegrasi adalah suatu keharusan bagi suatu
daerah yang ingin berkiprah maju dalam perdagangan
luar negeri.
Karena itu, kaitannya dengan Jawa Barat,
untuk mengantisipasi kelemahan di atas, ke depan
perlu ditingkatkan pengembangan kualitas dan
159
Studi Kasus Implementasi...
160
kuantitas sumber daya yang dapat berdayaguna
mendukung posisi tawar Jawa Barat dalam
perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara.
4.3.3 Kecenderungan dari Para Pelaksana (Disposisi)
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Penelaahan atas disposisi ini berkisar pada
pelaksana kebijakan, tidak menyentuh kepada
pembuat kebijakan awal. Disposisi dipahami sebagai
kecenderungan dari para pelaksana kebijakan dalam
memahami, mengerti dan kemudian melaksanakan
atau tidak melaksanakan kebijakan yang ada sesuai
dengan keinginan yang menjadi tujuan dari para
pembuat kebijakan awal. Dalam konteks tersebut,
Dinas Industri dan Perdagangan Agro Jawa Barat
merupakan pelaksana kebijakan. Selain itu,
Departemen Perdagangan RI termasuk di dalamnya
Dinas Industri dan Perdagangan Induk di Jawa Barat
menjadi objek dari kajian mengenai hal tersebut.
Perlu diingat, apabila para pelaksana
(implementor) sudah memahami latar belakang,
maksud dan tujuan kebijakan yang ada, maka
kemungkinan besar mereka akan melaksanakan
kebijakan tersebut sebagaimana tujuan yang
diinginkan oleh pembuat keputusan kebijakan awal.
Demikian halnya dengan kebijakan perdagangan
komoditas pertanian. Apabila para pelaksana bersifat
baik kepada kebijakan dimaksud, maka kemungkinan
besar para implementor kebijakan tersebut akan
melaksanakan dengan baik tujuan dari pembuat
kebijakan yang sudah disepakati dalam organisasi
regional negara-negara Asia Tenggara.
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Namun demikian, Kasi Perdagangan Luar
Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Agro
Propinsi Jawa Barat mengemukakan bahwa dalam
kebijakan perdagangan bebas bidang komoditas
pertanian agro ini terdapat kecenderungan dari
pelaksana yang kurang baik terhadap kebijakan
dimaksud. Implementor di tingkat staf, misalnya, tidak
memiliki sense of motivation yang setara dengan
kebutuhan dari penanganan terhadap berbagai
persoalan yang timbul dari kebijakan perdagangan
komoditas pertanian ini.
Berdasarkan hasil wawancara dengan para
pelaku ekonomi yang menikmati pelayanan dari
implementor diperoleh informasi bahwa pelayanan
yang diberikan tidak memberikan gambaran
keinginan untuk berhasilnya sebuah program dari
kebijakan perdagangan komoditas pertanian agro
di Jawa Barat. Dalam kerangka kesepakatan AFTA,
misalnya ketika para calon investor dan pengusaha
memerlukan informasi dan data mengenai kondisi
objektif kesiapan komoditas-komoditas pertanian
unggulan Jawa Barat yang akan dipasarkan dalam
kerangka AFTA. Dalam kenyataannya, para
implementor tidak dapat memberikan informasi dan
data yang komprehensif sesuai harapan para calon
investor dan pengusaha tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa terdapat
semacam Zone of Indifference (Zona Ketidakacuhan)
yang diperlihatkan oleh para staf yang ada dalam
lembaga implementor. Lebih jauh lagi, dari hasil
pengamatan dalam pemberian pelayanan publik juga
memang sikap tak acuh tersebut muncul dengan
161
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
perilaku malas-malasan yang ditunjukkan dalam
melakukan pelayanan langsung. Bahkan satu
keperluan pembuatan surat untuk pengolahan
produksi komoditas agro yang diajukan oleh pelaku
ekonomi tertentu, juga membutuhkan waktu yang
cukup lama dalam prosesnya. Mereka, dalam hal ini,
para pelaksana kebijakan cenderung menjanjikan
waktu yang lama untuk sebuah penyelesaian dari
kebutuhan mendasar pelaku ekonomi perdagangan
komoditas pertanian tersebut.
Boleh jadi, berdasarkan pengamatan di lapangan
terlihat adanya perbedaan pandangan yang cukup
tajam antardinas/ instansi terhadap kebijakan
kesepakatan AFTA itu sendiri dalam memahami
tujuan dasar dari kebijakan tersebut. Berbagai instansi
tidak memahami secara utuh kebijakan tentang
perdagangan bebas tersebut sehingga muncul sikap
yang tidak peduli bahkan menganggap tidak
penting kebijakan dimaksud. Seperti sudah
dipaparkan di muka, bahwa Dinas Pertanian pun tidak
memiliki respon yang memadai dalam menanggapi
persoalan yang berkaitan dengan Perdagangan bebas
ini. Dinas Pertanian hanya memposisikan bahwa
perdagangan bebas AFTA bukan merupakan tugas
yang harus ditangani, karena tidak terdapat dalam
tupoksi (tugas pokok dan fungsi) Dinas tersebut.
Bahkan berdasarkan keterangan informan dari Dinas
Pertanian, dalam SOTK hanya terdapat pola
koordinasi yang harus dilakukan dengan Dinas
Industri dan Perdagangan induk, dan tidak tercantum
pola yang sama dengan Dinas Industri dan
Perdagangan Agro sebagai implementor kebijakan
162
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
perdagangan bebas. Belum lagi dinas-dinas yang lain
yang memiliki pandangan yang sama terhadap usulan,
ajakan atau bahkan permohonan bantuan dari pihak
implementor.
Perbedaan pandangan tersebut tidak
diperlihatkan dalam kebijakan (sikap) yang vulgar.
Perbedaan tersebut lebih terlihat sebagai suatu sikap
yang memperlihatkan bahwa ada prioritas yang
berbeda dalam pelaksanaan tugas sehari-hari
ketimbang harus memberikan perhatian yang
khusus kepada pelaksanaan kebijakan tentang
AFTA di bidang perdagangan komoditas agro.
Prioritas kebijakan yang berbeda tersebut
menggiring sikap tak acuh pula dalam memberikan
respon dari permintaan yang dilayangkan dalam
bentuk surat resmi dari dinas implementor. Tidak
sedikit surat yang berhubungan dengan kebijakan
AFTA dalam perdagangan komoditas pertanian di
Jawa Barat dari Dinas Industri dan Perdagangan
yang tidak mendapat respon sama sekali. Bahkan
kegiatan yang berupa seminar atau lokakarya yang
diadakan oleh Dinas implementor pun tidak
mendapat tanggapan berarti. Seringkali yang hadir
hanya staf noneselon atau bahkan tidak dihadiri oleh
dinas-dinas terkait tersebut.
Selain itu, terdapat kebijakan lain yang mereka
setujui untuk dilakukan, dimana substansi bertentangan
secara mendasar dengan kebijakan kesepakatan
AFTA. Sebagai contoh Dinas Pertanian Jawa Barat,
akan lebih menyetujui kebijakan yang bersifat
memberikan proteksi kepada petani tebu, kepada
pengrajin rotan dan kepada petani palawija
163
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
ketimbang harus mempertemukan para petani
tersebut dalam tatanan persaingan bebas di pasar
dunia. Kesepakatan terhadap kebijakan lain ini
memberikan dorongan untuk melakukan sikap
“masa bodoh” atau bahkan penolakan terhadap
kebijakan kesepakatan pasar bebas, terutama dalam
kerangka perdagangan komoditas agro.
Secara internal, di lingkungan Dinas Industri dan
PerdaganganAgro Jawa Barat juga terdapat sebab lain
yang menjadi penghambat dari implementasi
kebijakan kesepakatan AFTA. Hal tersebut terindikasi
dari adanya sentuhan dari kepentingan pribadi atau
organisasi dari staf yang ada pada Dinas implementor
ini. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa
para staf implementor ternyata memiliki kegiatan
sampingan di luar kantor yang berhubungan dengan
perdagangan. Kebanyakan dari mereka menjadi
konsultan dari perusahaan pelaku ekonomi yang
bergerak di berbagai bidang, tidak jarang kegiatan
tersebut di luar komoditas pertanian agro. Kegiatan
tersebut dapat dikatakan sebagai sesuatu ancaman,
meskipun tidak bersentuhan langsung dengan
kebijakan kesepakatan AFTA. Adanya pemahaman
yang salah dari staf terhadap kebijakan perdagangan
komoditas pertanian agro justru menimbulkan
pemikiran negatif yang akan menciptakan sikap tak
acuh kepada kebijakan tersebut. Belum lagi di antara
mereka masih memiliki keinginan yang tinggi untuk
bisa dimutasikan ke instansi lain yang lebih “basah”
sehingga timbul kesan tak acuh yang tinggi terhadap
kebijakan kesepakatan AFTA. Dalam pandangan
personil yang demikian, kebijakan AFTA hanya akan
164
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
menambah kegiatan dan memastikan bahwa mereka
dibutuhkan dalam Dinas tersebut sehingga akan sulit
untuk mendapat kesempatan mutasi jabatan ke
instansi/dinas lainnya yang dikenal sebagai instansi
penghasil.
Memang dalam pemahaman teoretis ada
upaya yang dapat dilakukan dalam menangani
disposisi yang tidak kondusif seperti ini, yakni
dengan melakukan perubahan personil birokrasi.
Akan tetapi perubahan personil birokrasi sangat
tidak tepat apabila dilakukan pada Dinas Industri
dan Perdagangan Agro, karena secara umum
personil birokrasi dari instansi mana pun tidak
menginginkan untuk bisa dipindahtugaskan ke
Dinas tersebut. Apalagi untuk menggunakan tenaga
profesional di Dinas dimaksud sangat tidak
memungkinkan, sebab evaluasi kinerjanya pun
tidak mendapat perhatian memadai dari pusat
pemerintahan di Gedung Sate. Hal tersebut sejalan
dengan yang sudah dijelaskan, bahwa staf yang
sudah masuk ke Dinas tersebut akan sulit ke luar
atau menerima mutasi ke dinas lain.
Dengan demikian, kecenderungan dari
pelaksana kebijakan tidak memperlihatkan adanya
dukungan yang memadai untuk melaksanakan
kebijakan implementasi AFTA dalam bidang
perdagangan komoditas agro. Langkah yang paling
mudah berdasarkan saran dari pertimbangan
teoretis adalah dengan mengubah sikap implementor
melalui manipulasi insentif-insentif. Langkah ini
akan sangat berguna apabila kemudian memberikan
akibat positif kepada implementor dalam
165
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
melaksanakan tugasnya. Namun demikian, Dinas
Industri dan Perdagangan Agro Jawa Barat bukan
merupakan dinas penghasil yang memiliki
kewenangan tinggi untuk mengeluarkan sejumlah
dana kecuali melalui ajuan proposal APBD. Terlebih
lagi, proposal tersebut menjadi satu dalam
pembahasan panitia anggaran eksekutif di bawah
Sekretaris Daerah dan Kepala Biro Keuangan Propinsi
Jawa Barat.
Tentu saja, apabila muatan untuk manipulasi
insentif tersebut dicantumkan ke dalam APBD
cenderung akan ditolak oleh Panitia Anggaran
Legislatif dan Panitia Anggaran Eksekutif (Biro
keuangan di bawah Sekretaris Daerah) karena
dianggap sebagai sesuatu yang di luar kewajaran.
Kondisi ini justru akan menghambat dari
implementasi kebijakan dimaksud.
Keseluruhan paparan di atas yang berkenaan
dengan kecenderungan dari para pelaksana
(disposisi), dapat diinterpretasikan bahwa faktor
kecenderungan dari para pelaksana kebijakan tidak
sedikitpun mengarah pada kepentingan untuk
keberhasilan implementasi kebijakan kesepakatan
AFTA. Berbagai situasi yang mengitari posisi Dinas
pelaksana implementasi kebijakan semakin
mempersulit faktor ini untuk dijadikan pendorong
bagi pelaksanaan kebijakan dimaksud. Dapat
diinterpretasikan bahwa disposisi tidak menjadi
pendukung implementasiAFTAbidang perdagangan
komoditas pertanian di Jawa Barat. Artinya, terbukti
bahwa untuk memanfaatkan faktor kecenderungan
pelaksana (disposisi) dalam pelaksanaan kebijakan
166
Studi Kasus Implementasi...
4.3.4 Struktur Birokrasi (Bureaucratic Structure)
Struktur birokrasi setingkat dinas di
lingkungan pemerintahan Jawa Barat tidak berbeda
dengan struktur birokrasi dinas lainnya. Bahkan
pembentukannya yang didasarkan Sistem Organisasi
dan Tata Kerja yang mendapat persetujuan dari DPRD
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
kesepakatan tentang AFTA dalam kerangka
perdagangan komoditas pertanian, tidak dapat
diwujudkan sebagaimana yang diharapkan.
Berdasarkan kondisi tersebut, dapat dimaknai
bahwa perilaku pelaksana (disposisi) implementasi
AFTA bidang perdagangan komoditas pertanian di
Jawa Barat, baru pada tahap pengembangan sistem
informasi industri dan perdagangan; yang meliputi
pengembangan jaringan informasi pusat data dan
pengembangan sistem informasi industri dan
perdagangan. Selain itu, pengembangan tahapan ini
masih didominasi oleh kepentingan egosektoral
masing-masing, dan belum terakomodasi dalam
suatu sistem keterpaduan pengembangan ekspor
komoditi agro Jawa Barat.
Dengan kata lain, penulis juga dapat menginterpretasikan bahwa dari sudut pandang faktor
kecenderungan dari para pelaksana (disposisi)
sebagaimana yang tertuang dalam kajian teoretis,
implementasi AFTA perdagangan komoditas
pertanian di Jawa Barat belum berlangsung
sebagaimana yang diharapkan, sehingga belum
mampu mendorong tercapainya daya saing Jawa
Barat di dalam menghadapi perdagangan bebas di
kawasan Asia Tenggara.
167
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Propinsi Jawa Barat merupakan bentuk umum pada
lembaga teknis di lingkungan pemerintahan daerah.
Dalam struktur birokrasi dinas yang sudah baku
tersebut terdapat Standard Operating Procedures
(SOP) yang bersifat rutin dan dirancang atas dasar
situasi tipikal yang terjadi di masa lalu.
Sifat dari SOP memang dimaksudkan untuk
mengatasi persoalan-persoalan yang sama seperti
yang pernah dihadapi di masa lalu. Demikian halnya
dengan Dinas Industri dan Perdagangan Agro Jawa
Barat yang memiliki struktur organisasi mulai dari
Kepala Dinas, Kepala Subdinas, Kepala Seksi,
Kepala Bidang, Kepala Tata Usaha sampai staf yang
memiliki kekhususan di bawah Kepala Subdinas.
Perlu disebutkan di sini bahwa Bendahara Dinas,
meskipun memiliki struktur tersendiri dalam jajaran
tugas/fungsi, akan tetapi struktur ini tidak dijabat
oleh staf yang memiliki eselon. Berdasarkan
ketentuan SOTK Pemerintah Daerah, fungsi dan
pembagian struktur disamakan dengan dinas-dinas
lainnya yang ada di lingkungan pemerintah daerah.
Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya
kesulitan ketika terjadi persoalan yang menyangkut
isu-isu kekinian (contemporary issues). Sebagaimana
sifat dari SOP yang didesain dengan asumsi dari
tipikal di masa lalu, maka ketika isu perdagangan
bebas mengemuka dan mengharuskan penanganan
yang komprehensif, Dinas Industri dan Perdagangan
Agro Jawa Barat hanya memiliki struktur birokrasi
yang berorientasi pada situasi di masa lalu. Hal
tersebut semakin didukung pula oleh pengisian staf
168
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
yang tidak memiliki kemampuan dan pengalaman
memadai dalam struktur pada Dinas tersebut.
Seperti telah dijelaskan dalam paparan
mengenai sumber daya manusia, personil yang
duduk dalam jabatan eselon di lingkungan Dinas
Industri dan Perdagangan Agro Jawa Barat
tergolong personil yang tidak memiliki kualifikasi
terhadap tugas yang diemban. Belum lagi masih
terdapat persepsi yang menempatkan posisi di
Dinas ini sebagai posisi terbuang. Dengan demikian,
dapat dipastikan bahwa secara struktural dan
personil birokrasi di Dinas Industri dan Perdagangan
Agro Jawa Barat tidak memadai untuk mendukung
implementasi kebijakan AFTA bidang perdagangan
komoditas pertanian.
Tidak hanya itu, tuntutan untuk menyesuaikan
diri dengan perubahan merupakan kondisi yang
wajar dalam organisasi modern. Sedangkan SOP
bersifat menghambat perubahan. Semakin besar
kebijakan membutuhkan perubahan dalam caracara yang rutin dari suatu organisasi, semakin besar
peluang Standard Operating Procedures menghambat
jalannya implementasi kebijakan. Dari observasi
yang dilakukan terhadap Dinas Industri dan
Perdagangan Agro Jawa Barat, juga ditemukan
kondisi yang sama. Tuntutan perubahan dari suatu
kondisi pasar bebas sesuai dengan kesepakatan
yang diambil dalam AFTA sangat dibutuhkan untuk
dapat melaksanakan tugas implementasi AFTA
bidang komoditas pertanian di Jawa Barat. Prosedur
standar kerja yang ada pada Dinas tersebut tidak
169
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian
dengan tuntutan perubahan yang bersamaan
datangnya dengan kebijakan AFTA itu sendiri.
Beberapa keputusan mengenai jenis barang-barang
yang dimasukkan ke dalam kategori fast track yang
membutuhkan penanganan cepat di lapangan tidak
dapat dilaksanakan oleh Dinas tersebut secara
memadai.
Pertimbangan teoretis memang memungkinkan
SOP berguna kepada tuntutan perubahan. Akan
tetapi kemungkinan tersebut harus dipenuhi
dengan syarat SOP yang dirancang bersifat fleksibel
dan memiliki kontrol yang memadai, sehingga
mampu adaptif terhadap perubahan. Hanya saja,
SOP sedemikian itu hanya terdapat dalam struktur
organisasi bisnis yang memiliki orientasi keuntungan
dalam kebijakannya. Sedangkan SOP yang ada di
Dinas Industri dan Perdagangan Agro Jawa Barat
lebih merupakan keseragaman yang terbentuk dari
kondisi SOTK secara umum. Untuk melakukan
perubahan terhadap SOTK dibutuhkan waktu yang
cukup panjang dan berbagai liku-liku bernuansa
politik, sebab harus berhadapan dengan berbagai
kepentingan yang ada di lingkungan lembaga politik
legislatif. Artinya, struktur birokrasi yang menjadi
kajian penulisan ini tidak fleksibel dan tidak
memiliki kontrol yang memadai sehingga dapat
adaptif terhadap tuntutan perubahan.
Di samping itu, apabila dilakukan pengkajian
secara lebih luas ditemukan bahwa struktur
birokrasi di dalam pemerintahan daerah Jawa Barat
fungsinya bersifat tumpang tindih. Masih terdapat
170
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
fungsi-fungsi yang memiliki kaitan erat, namun
strukturnya tersebar dalam beberapa instansi yang
berbeda. Fragmentasi ini menimbulkan kesulitan
dalam penyelesaian masalah-masalah yang
menyangkut beberapa unit kerja yang tersebar di
berbagai dinas. Sumber-sumber dan kewenangan
yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah
terdistribusikan dalam unit kerja yang tidak dalam
satu lingkup kepemimpinan, sehingga keputusan
yang akan diambil akan menghadapi kesulitan
ketika akan diimplementasikan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan
di tingkat Dinas dimaksud, sebuah keputusan untuk
memberikan izin kepada suatu lembaga/badan
usaha agro untuk melakukan pengembangan usaha
masih harus berurusan dengan Dinas Industri dan
Perdagangan induk mengenai Surat Izin Tempat
Usahanya (SITU). Contoh ini memberikan bukti
bahwa penyebaran tanggung jawab terhadap suatu
wilayah kebijakan yang tersebar di beberapa unit
kerja yang berbeda, memberikan kesulitan dalam
implementasi kebijakan tentang AFTA. Fragmentasi
ini semakin menghambat implementasi AFTA
bidang perdagangan komoditas pertanian di Jawa
Barat ketika muncul suatu tekanan dari pihak
legislatif, kelompok kepentingan atau pejabat
eksekutif yang kesemuanya bermakna tidak
mendukung implementasi kebijakan.
Belum lagi adanya pengaruh antarfaktor SOP
dan fragmentasi yang dapat menimbulkan keinginan
destruktif terhadap struktur birokrasi Dinas Industri
dan Perdagangan Agro Jawa Barat. Adanya
171
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
keinginan untuk melikuidasi Dinas Industri dan
Perdagangan Agro kembali ke induknya semula,
merupakan tanda-tanda ke arah pengaruh langsung
dari kedua faktor tersebut. Dalam hal ini, muncul
kepentingan dari kelompok tertentu yang mendapat
dukungan dari pihak legislatif untuk mengembalikan
Dinas tersebut kepada Dinas induknya. Kondisi
tersebut semakin mempersulit upaya implementasi
AFTA bidang perdagangan komoditas pertanian di
Jawa Barat. Artinya, secara struktural pemerintah
daerah tidak siap, sebab isu keinginan untuk
mengembalikan Dinas implementor kepada Dinas
induknya sudah cukup menciptakan suasana tidak
kondusif bagi lingkungan kerja staf pada Dinas
tersebut. Sangat wajar apabila para pelaku ekonomi
mengeluhkan pelayanan yang bisa diberikan oleh
Dinas Industri dan Perdagangan Agro terhadap
berbagai kepentingan yang berkaitan dengan usaha
mereka. Hal ini dikarenakan struktur birokrasi
terlihat menjadi penghambat dalam implementasi
kesepakatan perdagangan bebas ASEAN, terutama
pada bidang perdagangan komoditas pertanian.
Mengacu pada paparan di atas yang berkenaan
dengan faktor struktur birokrasi, dapat diinterpretasikan
bahwa struktur birokrasi yang ada sekarang hanya
bertumpu, dan terlalu mengandalkan pada satu
institusi teknis yakni Dinas Industri dan Perdagangan
Agro Jawa Barat dalam menangani keseluruhan
permasalahan implementasi AFTA bidang komoditas
pertanian di Jawa Barat.
Ini berarti, struktur birokrasi di Propinsi Jawa
Barat perlu untuk menyesuaikan diri dengan
172
Studi Kasus Implementasi...
4.4 Implikasi Kebijakan
Hasil elaborasi dengan berbagai pihak yang
berkepentingan dengan implementasi AFTA bidang
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
perubahan lingkungan yang ada. Secara teoretik,
lingkungan yang terdiri dari lingkungan ekonomi,
sosial, dan politik akan berpengaruh terhadap
keberhasilan dalam implementasi kebijakan. Sebagai
konsekuensinya, organisasi dituntut mampu
menunjukkan kinerja atau prestasi kerja yang baik
dalam menghadapi atau memenuhi tuntutan
perubahan-perubahan tersebut.
Dalam kaitan kondisi implementasi AFTA
bidang komoditas pertanian di Jawa Barat struktur
birokrasi perlu menyesuaikan diri dengan perubahan
lingkungan yang ada, antara lain melalui perubahan
struktur organisasi yang lebih dinamis karena
lingkungan strategis perdagangan agro di kawasan
Asia Tenggara sudah berubah secara dinamis. Dengan
kata lain, pengkajian ulang terhadap keberadaan
struktur birokrasi di Propinsi Jawa Barat saat ini, perlu
dilakukan agar struktur birokrasi tersebut andal dan
adaptif dengan perubahan lingkungan perdagangan
agro dalam kerangkaAFTAdi kawasanAsia Tenggara.
Dari sudut pandang faktor struktur birokrasi
sebagaimana yang tertuang dalam kajian teoretis,
implementasi AFTA perdagangan komoditas
pertanian di Jawa Barat, belum berlangsung
sebagaimana yang diharapkan, sehingga belum
mampu mendorong tercapainya daya saing Jawa Barat
di dalam menghadapi perdagangan bebas di kawasan
Asia Tenggara
173
Studi Kasus Implementasi...
1. Pembangunan Data Base Potensi Lokal
Salah satu faktor yang sangat mendesak untuk
dikaji dalam proses membangun kerja sama daerah
Jawa Barat dengan luar negeri di era otonomi daerah
adalah pembangunan pangkalan data (data base)
potensi daerah Jawa Barat yang berstandar
internasional sesuai aturan dalam World Intelectual
Property Rights Organization (WIPO). Hal ini mutlak
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
perdagangan komoditas pertanian di Jawa Barat
dari tingkat nasional sampai dengan tataran para
petani, terdapat pemikiran yang berkenaan dengan
implikasi kebijakan sebagai berikut:
Terdapat beberapa implikasi kebijakan yang
kiranya perlu diambil oleh setiap pemerintahan
daerah di Indonesia, khususnya Jawa Barat, dalam
upaya membangun dan atau mengembangkan kerja
sama dengan luar negeri. Pertama, pembangunan
pangkalan data yang komprehensif dan berstandar
internasional tentang potensi-potensi lokal apa saja
yang dimiliki oleh Jawa Barat. Kedua, menentukan
skala prioritas antisipasi terhadap agenda hubungan
internasional yang mendesak, sebab dalam waktu
beberapa tahun lagi (immediate years) harus segera
diikuti oleh bangsa Indonesia, termasuk Propinsi
Jawa Barat. Ketiga, dalam rangka peningkatan
kualitas pelayanan publik, perlu dikaji kemungkinan
adanya pembangunan struktur baru di tingkat
pemerintahan Propinsi, termasuk Jawa Barat.
Keempat, perlu dibuat prosedur umum pengembangan
kerja sama daerah Jawa Barat dengan luar negeri yang
berbasis kebutuhan publik (public needs).
174
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
segera dibangun terutama untuk perlindungan
terhadap hak komunal (adat dan lokal) atas
kepemilikan intelektual, dimana saat ini mulai ramai
diperbincangkan dalam berbagai pertemuan dan
diskusi. Upaya ini perlu dilakukan sebagai usaha
untuk melindungi kekayaan intelektual mereka
dalam interaksi dengan masyarakat global, terutama
sejalan dengan kesepakatan bersama di antara
negara-negara WTO (World Trade Organization) yang
mengatur berbagai faktor intelectual property rights
dalam dunia perdagangan (Trade Related on
Intellectual Property Rights/TRIPs).
Gagasan-gagasan yang terkandung dalam
Trade Related on Intellectual Property Rights (TRIPs)
orientasinya bersifat individual dan bercorak
privatisasi. Ide dasar TRIPs lebih menekankan pada
hak yang berkaitan dengan hukum benda yang
tangible. Di lain pihak, dalam masyarakat tradisional
dan lokal yang menjadi pedoman komunitas mereka
adalah kepatuhan terhadap pimpinan adat dengan
dukungan hukum adat. Dalam hukum adat di
Nusantara, diketahui bahwa yang paling utama
adalah keterikatan hubungan antara tanah dengan
manusia. Artinya, pengaturan kekayaan intelektual
tradisional dan lokal tidak hanya memperlakukan
benda sebagai benda, tetapi juga benda itu berkaitan
dengan tanah, yang erat kaitannya dengan wilayah
geografis. Dengan kata lain, paradigma yang dianut
oleh masyarakat tradisional dan lokal tersebut
berbeda dengan paradigma yang dianut IPRs
selama ini.
175
Studi Kasus Implementasi...
2. Skala Prioritas Agenda Hubungan Luar Negeri
Sesuai dengan namanya Deklarasi Bogor,
deklarasi tersebut ditetapkan di Kota Bogor,
Indonesia. Sesuai dengan kesepakatan Deklarasi
Bogor, mulai tahun 2010 negara-negara ASEAN
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Pembangunan pangkalan data potensi lokal
mutlak diperlukan terutama sebagai alat kontrol
bagi daerah-daerah di Indonesia, apabila suatu
ketika menghadapi perselisihan yang berkaitan
dengan TRIPs. Dewasa ini baru dua negara yang
mempunyai pangkalan data yang lengkap dan
komprehensif yakni negara India dan Brasil.
Padahal keberadaan pangkalan data ini dapat
dijadikan sebagai suatu amunisi apabila negaranegara berkembang, termasuk Indonesia, berselisih
dalam konteks TRIPs dengan negara-negara maju.
Misalnya saja ada peluang terjadi perselisihan
dengan pihak asing/luar negeri apabila masyarakat
Desa Cilembu, Kabupaten Sumedang akan
mengekspor produk unggulannya yakni Ubi Manis
Cilembu secara besar-besaran dalam suatu format
bisnis yang profesional, sebab dewasa ini hak paten
produk ubi manis (sweet potatoes) sudah dimiliki oleh
salah satu perusahaan asing di luar negeri.
Pemikiran di atas perlu menjadi peringatan
dini untuk mempersiapkan Jawa Barat go
international khususnya dalam menghadapi
peristiwa-peristiwa internasional yang dalam waktu
dekat harus diikuti oleh bangsa Indonesia, misalnya
implementasi Bogor Declaration (Deklarasi Bogor)
2010 bagi negara-negara anggota APEC.
176
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
akan dapat memanfaatkan preferensi atas dasar
Most Favoured Nations (MFN) dari negara-negara
maju yang tergabung dalam APEC, yang akan mulai
melibera-lisasikan perdagangannya pada tahun
2010. Sesudah itu, mulai tahun 2020, negara-negara
ASEAN, termasuk Indonesia, harus memberikan
preferensi penuh (baca: membuka penuh pangsa
pasarnya) atas dasar MFN kepada negara-negara
lain, termasuk kepada negara-negara maju anggota
APEC.
Secara bersamaan pada tahun 2020 akan
berlaku juga One World Trade (satu perdagangan
dunia) oleh WTO serta akhir penerapan dari ASEAN
Vision 2020. Pada tahun 2010 juga ada kemungkinan
pengaturan ketat dari WIPO (World Intellectual
Property Rights Organization) akan mulai
diimplementasikan, dan mencapai puncaknya pada
tahun 2020 ketika saat itu sudah tercipta satu pasar
dunia.
Permasalahannya sekarang, sudah siapkah
Pemerintah Pusat (Indonesia), termasuk Pemerintahan
tingkat Propinsi Jawa Barat memasuki peluang dan
tantangan di atas? Terutama yang paling mendesak
adalah persiapan dalam menghadapi implementasi
Deklarasi Bogor tahun 2010. Menurut pengamatan
penulis, mulai tahun 2010 India dan empat negara
ASEAN yaitu Singapura, Thailand, Malaysia, dan
Vietnam yang sudah jauh-jauh hari siap-siap untuk
menikmati kemudahan (preferensi) liberalisasi
perdagangan yang akan diberikan oleh negara-negara maju anggota APEC. Jaringan mereka sudah
dibangun sampai ke tingkat daerah-daerah dengan
177
Studi Kasus Implementasi...
178
dukungan teknologi dan informasi yang adikuat untuk
menggenjot pertumbuhan ekonomi nasionalnya
masing-masing.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
3. Struktur Baru: Biro Kerja sama Luar Negeri di Setda
Propinsi Jawa Barat
Mengkaji begitu luas dan kompleksnya peluang
dan tantangan yang dihadapi serta dalam rangka
peningkatan kualitas pelayanan publik, tampaknya
sudah saatnya para elit pemerintahan di tingkat
Propinsi Jawa Barat membuka wacana pembentukan
struktur baru di Sekretariat Pemerintah Daerah
Propinsi Jawa Barat yaitu Biro Kerja sama Luar Negeri.
Biro Kerja Sama Luar Negeri ini mungkin paling
tidak terdiri dari empat bagian yaitu Bagian Kerja Sama
Bilateral, Bagian Kerja sama Regional dan Multilateral,
Bagian Administrasi Kerja sama, dan Bagian Humas
dan antar Lembaga. Diharapkan keempat bagian ini
dapat terintegrasi secara sinergis dan menjadi aparat
pemerintah terdepan dalam upaya pemberdayaan
potensi daerah dalam membangun kerja sama dengan
luar negeri sekaligus peningkatan kualitas pelayanan
publik.
Struktur baru ini juga menuntut peningkatan
keterampilan dan kompetensi aparat pemerintah,
misalnya saja pengetahuan tentang hubungan
internasional, ekonomi-politik internasional, hukum
internasional, dan keterampilan bahasa asing akan
menjadi sangat penting dalam negosiasi internasional,
dan dalam setiap forum yang menuntut pengertian
tentang sistem dan kerangka pemikiran kebijakan
negara lain.
Studi Kasus Implementasi...
179
Diharapkan dengan makin meningkatnya
pengetahuan dan keterampilan aparat pemerintah
daerah yang terlibat dalam pengelolaan hubungan
luar negeri, maka upaya membangun kerja sama
luar negeri dalam rangka pemberdayaan potensi
daerah dapat secara maksimal didayagunakan.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4. Prosedur Umum Pengembangan Kerja Sama Daerah
Jawa Barat dengan Luar Negeri yang Berbasis
Kebutuhan Publik (Public Needs)
Implikasi kebijakan poin ke empat di atas, sangat
erat kaitannya dengan upaya pengembangan kerja
sama daerah Jawa Barat dengan luar Negeri,
khususnya pengembangan kerja sama daerah Jawa
Barat dengan negara-negara anggota ASEAN di
bidang perdagangan komoditi agro. Hal itu selaras
dengan implementasi kebijakan publik yang berbasis
kebutuhan publik karena program-program yang
dikerjasamakan sudah terlebih dahulu dilakukan
melalui proses bottom-up planning yang terintegrasi
dengan melibatkan Government to Government (Local
Governments), Business to Business, dan People to People
contacts.
Pada tahap ini pengembangan kerja sama
daerah Jawa Barat dengan luar negeri sudah
memiliki panduan kebijakan publik, yakni
Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 21 Tahun 2004
tentang Pedoman Kerja sama antara Daerah dengan
Pihak Luar Negeri. Dalam Keputusan Gubernur
tersebut dinyatakan bahwa inisiatif kerja sama
daerah Propinsi Jawa Barat dalam melakukan kerja
sama luar negeri harus melalui prosedur umum
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku antara lain:
a. Dalam perencanaan setiap kegiatan Hubungan dan
atau Kerja Sama Luar Negeri, pihak pembuat
inisiatif Hubungan dan atau Kerja sama Luar
Negeri perlu menyiapkan Rencana Program yang
sekurang-kurangnya memuat uraian mengenai halhal sebagai berikut:
1) Identitas, status dan kedudukan hukum pihakpihak Pelaku Hubungan atau Kerja Sama;
2) Latar belakang kebutuhan, maksud, dan
tujuan pembinaan Hubungan/Kerja Sama;
3) Objek dan atau Bidang atau sub-bidang kerja
sama;
4) Ruang lingkup kerja sama berdasarkan
kewenangan daerah;
5) Hak, kewajiban dan tanggung jawab utama
parapihak dalam kerja sama;
6) Pengorganisasian dan tata cara pelaksanaan
kerja sama;
7) Rencana, hak dan kewajiban dalam
pembiayaan;
8) Jangka waktu kerja sama;
9) (Bila dianggap perlu) Hal-hal lain yang
umumnya harus disepakati di dalam Perjanjian
atau Kontrak, seperti misalnya:
a) perumusan hak dan tanggung jawab parapihak
dalam menghadapi keadaan memaksa,
perubahan kondisi dan situasi pada saat
pelaksanaan kontrak;
180
Studi Kasus Implementasi...
181
b) kesepakatan para pihak tentang prosedur
penyelesaian sengketa;
c) kesepakatan mengenai kemungkinan
perubahan terhadap persyaratan kerja sama;
d) jangka waktu berlangsungnya kerja sama;
e) kondisi-kondisidan persyaratan pemberlakuan
kerja sama.
b. Program Hubungan dan atau Kerja sama Luar
Negeri dapat dilakukan berdasarkan prakarsa
dari:
1) Pemerintah Daerah (Gubernur, Bupati,
Walikota);
2) Pelaku hubungan luar negeri lainnya di
daerah;
3) Pihak asing.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
c. Prakarsa Hubungan dan atau Kerja sama Luar
Negeri yang diselenggarakan atas dasar prakarsa
Pemerintah Daerah dan atau Pelaku Kerja sama
Luar Negeri lainnya di Daerah dilaksanakan
melalui tahapan sebagai berikut:
1) Pihak pemrakarsa (dalam hal ini Kepala
Daerah) mengirimkan Rencana Program Kerja
Sama kepada Pemerintah, serta mengajukan
permohonan penyelenggaraan rapat koordinasi
yang dihadiri oleh Departemen Dalam Negeri,
Departemen Luar Negeri, dan Departemen
atau Lembaga lain di tingkat Pemerintah Pusat
yang terkait dengan Rencana Program, dan
Gubernur (untuk Rencana Program yang ada
Studi Kasus Implementasi...
182
dalam kewenangan Propinsi) atau Bupati/
Walikota yang terkait (untuk Rencana Program
yang ada dalam kewenangan Kabupaten/
Kota);
2) Dalam hal pihak pemrakarsa program
Hubungan/ Kerja sama Luar Negeri adalah
Pelaku Kerja Sama lain selain kepala daerah,
maka pihak pemrakarsa harus terlebih dahulu
menyampaikan Rencana Program kepada
kepala daerah di wilayah rencana tempat
pelaksanaan program;
3) DalamhalRencanaProgramtersebut menyangkut
kepentingan masyarakat banyak, maka
Rencana Program tersebut harus terlebih
dahulu memperoleh persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD);
5) Kepala Daerah kemudian meneruskannya
kepada Pemerintah Pusat sesuai pada butir a
di atas;
6) Kepala daerah mengadakan rapat dengan
mengundang Departemen Dalam Negeri,
departemen Luar Negeri dan Departemen atau
Lembaga lain yang dimaksud dalam butir a,
untuk membicarakan Rencana Program.
Sebelum dan sesudah penyelenggaraan rapat
konsultasi dan koordinasi, pihak Kepala
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
4) Kepala Daerah sebelum menyampaikan
kepada Pemerintah Pusat, berkonsultasi dan
berkoordinasi dahulu tentang Rencana
Program yang telah dibuat kepada Propinsi;
Studi Kasus Implementasi...
183
daerah dapat melakukan komunikasi resmi
melalui surat menyurat dengan Departemen
Dalam Negeri dan atau Departemen Luar
Negeri dan atau Departemen lembaga lain
yang terkait;
7) Departemen Luar Negeri akan memberikan
masukan dan petunjuk kepada Kepala daerah
mengenai hubungan luar negeri sesuai dengan
kebijakan luar negeri Indonesia. Departemen
Luar Negeri juga akan berperan sebagai
fasilitator dalam mengkomunikasikan Rencana
dan Pelaksanaan Kerja Sama dengan perwakilan
diplomatik dan konsuler pihak asing di
Indonesia dan perwakilan Republik Indonesia
di luarnegeri;
9) Departemen atau Lembaga Pemerintah Pusat
lain yang terkait memberikan masukan dan
petunjuk mengenai subtansi kerja sama dan
korelasi serta konsistensinya dengan perencanaan
pembangunan nasional dalam bidang yang
dikerjasamakan;
10)Dengan memperhatikan pertimbanganpertimbangan yang diperoleh dari kegiatan
koordinasi dan konsultasi, Departemen Luar
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
8) Departemen Dalam Negeri akan memberikan
masukan dan petunjuk kepada Kepala Daerah
mengenai aspek-aspek kewenangan daerah,
masalah-masalah koordinasi, integrasi,
sinkronisasi, aspek pelaksanaan dan pengawasan
internal serta pembiayaan;
Studi Kasus Implementasi...
184
Negeri akan memberikan keputusan final
untuk menyetujui, menyetujui dengan catatan,
atau menolak—menyetujui perubahan status
Rencana Program menjadi Program Hubungan/
Kerja Sama Luar Negeri. Persetujuan Departemen
Luar Negeri dibuktikan dengan penerbitan Surat
Kuasa penuh (Full Powers) oleh Menteri Luar
Negeri kepada kepala daerah untuk membuat
kesepakatan kerja sama dengan pihak luar negeri
dalam bentuk Perjanjian Internasional dan atau
Kontrak Internasional.
Keseluruhan uraian prosedur umum hubungan
dan kerja sama luar negeri atas inisiatif Pemerintah
Daerah dan pelaku hubungan luar negeri di daerah
di atas dapat dilihat pada Gambar 4.2 di berikut ini:
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Gambar 4.2.
Bagan Alir Tata Cara Umum Hubungan dan KejasamaLuar Negeri
Inisiatif Pemerintah Daerah dan Pelaku Hubungan Luar Negeri di Daerah
Studi Kasus Implementasi...
185
Studi Kasus Implementasi...
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Dari Gambar 4.2 di atas terkaji bahwa
sebenarnya panduan teknis tentang bagaimana
membangun kerja sama daerah dengan luar negeri
sudah cukup lengkap. Masalahnya kini adalah
bagaimana Keputusan Gubernur ini disosialisasikan
dengan baik mulai dari tingkatan para impelementor
kebijakan sampai dengan komunitas-komunitas
target sasaran implementasi kebijakan, khususnya
komunitas perdagangan agro Jawa Barat. Kemudian
dari bagan alir tatacara umum hubungan dan kerja
sama luar negeri inisiatif pemerintah daerah dan
pelaku hubungan luar negeri di daerah terungkap
bahwa prinsip upaya pembangunan kerja sama
daerah dengan luar negeri itu harus bermula pada
upaya pemberdayaan potensi daerahnya terlebih
dahulu.
Dengan kata lain upaya pembangunan kerja
sama daerah Jawa Barat dengan luar negeri dalam
kaitannya dengan perdagangan agro dalam
kerangka AFTA, bertumpu pada pola bottom-up
planning. Hal itu dikarenakan pada tahap awal
pembangunan kerja sama daerah dengan luar negeri
proses uji kelayakannya berada pada persetujuan
kepala daerah yang bersangkutan. Secara demikian
diharapkan setiap implementasi kebijakan yang
berkenaan dengan proses pembangunan kerja sama
daerah dengan luar negeri akan sesuai dengan
kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
186
BAB V
PENUTUP
K
erja sama luar negeri dalam rangka
pemberdayaan potensi daerah dapat mewujudkan
kehidupan sosial budaya di setiap daerah yang
berkepribadian, dinamis, kreatif, berdaya saing dan
berdaya tahan pengaruh global. Setiap daerah
mempunyai potensi, peluang, dan tantangan yang
besar menjadi pusat perdagangan, jasa, industri, dan
agrobisnis terkemuka di Indonesia.
Implementasi Kesepakatan Perdagangan
Bebas di kawasan Asia Tenggara (ASEAN Free Trade
Agreement/AFTA) merupakan kebijakan publik
(public policy) yang diterapkan pemerintah yang
bersifat top-down sehingga di tataran pelaksanaan
kurang sesuai dengan kebutuhan publiknya sendiri.
Hal itu terkaji dalam implementasi AFTA
bidang perdagangan komoditas pertanian di Jawa
Barat, dimana tidak lancarnya komunikasi, terbatasnya
sumberdaya, kurang sesuainya perilaku pelaksana,
dan tidak jelasnya struktur birokrasi menjadi
penyebab tidak tercapainya daya saing Jawa Barat
di dalam menghadapi perdagangan bebas di
kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian penulisan
memberi informasi untuk membangun konsep baru
bahwa implementasi suatu kebijakan tidak terlepas
dari keadaan masyarakat atau publik dimana
kebijakan tersebut diberlakukan.
Penutup
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Agar mampu mendorong tercapainya daya
saing Jawa Barat di dalam menghadapi perdagangan
bebas di kawasan Asia Tenggara, faktor, koordinasi
antar pihak-pihak yang berkepentingan dalam
implementasi AFTA bidang komoditas pertanian di
Jawa Barat perlu mendapat perhatian dari pemerintah
Propinsi Jawa Barat.
Dalam praksisnya ada lima komitmen yang
ditawarkan: Pertama, adanya komitmen bersama
dari seluruh Dinas/Badan/Lembaga tingkat Jawa
Barat agar bekerjasama secara kooperatif. Kedua,
perlu adanya sinergi yang bersifat lintas sektoral
terutama antara sektor pertanian dengan sektor
perindustrian dan perdagangan. Ketiga, para pelaku
usaha hendaknya memberikan kontribusi dalam
memfasilitasi pembangunan sarana usaha industri
dan perdagangan agro, tidak hanya mengandalkan
anggaran pemerintah saja. Keempat, mengoptimalkan
fungsi dan peran berbagai kelembagaan usaha yang
ada di daerah Kabupaten/Kota dalam kegiatan
pengembangan ekspor. Kelima, adanya kerja sama
yang kooperatif antara pemerintah Kabupaten/Kota
dengan pemerintah propinsi khususnya dalam
mengembangkan ekonomi kerakyatan.
Peluang dan tantangan kerja sama daerah Jawa
Barat dengan luar negeri telah semakin berkembang
dan kompleks. Karena itu dalam rangka peningkatan
kualitas pelayanan publik sudah saatnya perlu
dibentuk organ baru setingkat Biro Kerja Sama Luar
Negeri dalam struktur organisasi di Setda Propinsi
Jawa Barat yang terdiri dari empat bagian yaitu Bagian
Kerja Sama Bilateral, Bagian Kerja Sama Regional dan
188
Penutup
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Multilateral, Bagian Administrasi Kerja Sama, dan
Bagian Humas dan Antar Lembaga. Diharapkan ke
empat bagian ini dapat terintegrasi secara sinergis
dan menjadi aparat pemerintah terdepan dalam
upaya pemberdayaan potensi daerah dalam
membangun kerja sama dengan luar negeri.
Perlu ditingkatkan kualitas dan kuantitas
sumber daya manusia yang terlibat dalam
pengelolaan pengembangan kerja sama daerah
dengan luar negeri. Hal ini dapat dilakukan melalui
peningkatan kualitas dan kuantitas pelatihan ekspor
dan impor dalam rangka peningkatan kemampuan,
kesejahteraan dan peningkatan pendapatan pelaku
usaha komoditi agro di daerah dalam mengantisipasi
perubahan di lingkungan tempat usahanya.
Hasil keluaran (output) diharapkan dari pelatihan
ini yaitu: Pertama, terwujudnya pemahaman dan
kemampuan eksportir/importir agribisnis di daerah
tentang kebijakan perdagangan luar negeri. Kedua,
terwujudnya pemahaman dan kemampuan eksportir/
importir dalam melakukan sosialisasi pada yang
lainnya dengan menggunakan komunikasi yang
efektif. Ketiga, terinformasikannya kebijakan
perdagangan luar negeri bagi eksportir/importir dan
pihak-pihak pengambil kebijakan yang merupakan
bahan informasi bagi perkembangan usaha
agrobisnis yang akan datang. Keempat, adanya
pengetahuan kebijakan perdagangan luar negeri
yang cukup di masyarakat sasaran (eksportir/
importir) dan tumbuhnya partisipasi masyarakat
dalam pelaksanaan kegiatan ekspor/impor. Kelima,
mengertinya masyarakat sasaran (eksportir/
189
Penutup
190
importir) mengenai kebijakan perdagangan luar negeri
sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat.
Keenam, pelaku usaha mampu memfasilitasi dan
menerapkan teknik perencanaan ekspor/impor yang
tepat.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Syukur. 1991. Budaya Birokrasi di Indonesia.
Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti.
Abidin, Z. 2000. Dampak Liberalisasi Perdagangan
Terhadap Keragaan Industri Gula Indonesia: Suatu
Analisis Kebijakan. Disertasi, tidak dipublikasikan.
Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor.
Abimanyu, A. 1995. Liberalisasi Perdagangan dan Biaya
Lingkungan, dalam Liberalisasi Ekonomi,
Pemerataan dan Kemiskinan. Soetrisno, L. dan
F. Umaya (Editor). Yogyakarta: PT. Tiara Wacana
Yogya.
Amang, B. dan M.H. Sawit. 1997. Perdagangan Global
dan Implikasinya pada Ketahanan Pangan
Nasional. Agro-Ekonomika No. 2 Tahun XXVII: 114. Jakarta: Perhepi.
Anderson, James E. 1984. Public Policy and Politics in
America. California: Wadsworth, Inc. Belmont.
Anderson, James E. 1997. Public Policy Making. New
York: Holt, Rinehart and Winston.
Anugerah, I. S. 2003. ASEAN Free Trade Area (AFTA),
Otonomi Daerah dan Daya Saing Perdagangan
Komoditas Pertanian Indonesia. Forum Agro
Ekonomi, Volume 21 (1). Juli 2003. Bogor:
Puslilbang Sosial Ekonomi Pertanian.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Atmosudirdjo, Prajudi S. 1976. Beberapa Pandangan
Umum tentang Pengambilan Keputusan.Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Bank Dunia. 2004. Indonesia Averting an Infrastructure
Crisis: A Framework for Policy and Action, Second
ed., East Asia and Pacific Region Infrastructure
Development, Washington, D.C. and Jakarta.
Bank Dunia. 2005, “Averting an Infrastructure
Crisis”, Infrastructure Policy Brief, January,
Jakarta.
Bappenas. 2005. Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional Tahun 2004-2009. Jakarta.
Bellone, Carl J. 1980. Organization Theory and the New
Public Administration, Boston: Allyn and Bacon
Inc.
Bennet. 1984. International Organization. New York:
McGraw Hill.
BPS, BAPPENAS dan UNDP. 2001, Menuju
Konsensus Baru. Demokrasi dan Pembangunan
manusia di Indonesia, Laporan Pembangunan
Manusia 2001, Oktober, Jakarta: Biro Pusat
Statistik, Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional dan United Nations Development
Programme.
BPS, Bappenas dan UNDP. 2004. The Economics of
Democracy, Indonesia Human Development
Report 2004, Jakarta.
Brian W Hogwood and Lewis A. Gunn, 1984. Policy
Analysis For The Real World. New York : Oxford
University Press.
192
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Bromley Daniel W. 1989. Economic Interest and
Institutions. The Conceptual Foundations of Public
Policy. Great Britain: Bookcraft (Bath) Ltd.
Budiono. 2001. Ekonomi Internasional. Yogyakarta:
Badan Penerbitan Fakultas Ekonomi. Universitas
Gadjah Mada.
Bungin, Burhan (ed.). 2001. Metodologi Penelitian
Kualitatif: Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam
Varian Kontemporer. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Carl U Patton and David S Sawacki. 1985. “ Basic
Methods Of Policy Analysis and Planning”. New
Jersey : Prentice – Hall International Inc, 1985.
Chacholiades, M. 1978. International Trade Theory and
Policy. New York: McGraw-Hill.
Chadwich, Bruce A., Howard M. Bahar, Stan L.
Albrecht. 1988. Social Research Methods.
Englewood cliffs, New Jersey: Prentice-Hall.
Chaves, R.E., J.A. Frankel dan R.W. Jones. 1993.
World Trade and Payments. An Introduction. Sixth
Edition. New York: Harper Collins.
Cho, Dong-Sung dan Hwy-Chang Moon. 2003. From
Adam Smith to Michael Porter. Evolusi Teori Daya
Saing, Jakarta: Salemba Empat.
Creswell, John W. 1994. Research Design: Qualitative
and Quantitative Approaches. California: Sage
Publications.
Crozier, Michael. 1964. The Bureaucratic Phenomenon.
London: Tavistock publication.
193
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Daniels, John D. dan Radebaugh, Lee H. 1989.
International Business, Environments and Operation,
Edisi ke 5, Addison-Wesley Publishing Company.
David L. Weiner and Aidan R. Vinning. 1989. Policy
Analysis: Concepts and Practice. New Jersey :
Prentice Hall Inc.
Davis, Keith & John W. Newstrom. 1985. Perilaku
dalam Organisasi. Terjemahan Agus Dharma.
Jakarta: Erlangga.
Dollar, David dan E.N. Wolf. 1993. Competitiveness,
Convergence, and International Specialization,
Cambridge, Mass. the MIT Press
Doz, Yves L. dan C.K. Prahalad. 1987. Multinational
Mission, New York: The Free Press.
Dunn, Willian N. 1995. Public Policy Analysis. New
Jersey: Prentice Hall International Inc.
Dye Thomas R. 1992. Understanding Public Policy.
New Jersey: Englewood Cliffs.
Edward III, George C. 1980. Implementing Public Policy.
Washington D.C.: Congressional Quarterly
Press.
Edward III, George C. and Sarkansky. 1980. The Policy
Predicament. San Francisco: W.H. Freeman and
Company.
Erwidodo dan P.U. Hadi. 1999. Effects of Trade
Liberalization on Agricultureure in Indonesia:
Commodity Aspects. The CGPRT centre. Working
Paper No 48.
194
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Erwidodo. 1999. Effects of Trade Liberalization on
Agriculure in Indonesia: Institutional and
Structural Aspects. The CGPRT Centre.
Working Paper No 41.
Etzioni, Amitai. 1985. Organisasi-organisasi Modern
(Modern Organizations) Terjemahan Suryatin.
Jakarta: UI Press.
FAO, 2003. Anti-Hunger Programme. A Twin Track
Approach to Hunger Reduction: Priorities for
National and International Action.
Farnham, Davis and Sylvia Norton, 1993, Managing
in New Public Service. London: Mc. Millans
Press.
Feridhanusetyawan, T and M. Pangestu, 2003.
Indonesian Trade Liberalization: Estimating
The Gains. Buletin of Indonesian Econo-mic
Studies, Volume 29 (1). 2003.
Feser and Bergman. 2000. Industrial Cluster. New
York: McGraw Hill.
Feser. 2001. Cluster Analysis. New York: McGraw
Hill.
Finer, Herman. 1960. The Theory and Practice of
Modern Government. New York: Holt, Rinehart
and Winston.
Fitzsimmons, James A & Mona. J. Fitzsimmons, 1994.
Service Management for competitive Advantage.
New York: Mc Graw-Hill Inc.
Gannon, Marti J. 1979. Organizational Behavior: A
Managerial and Organizational Perspective.
Toronto: Little Brown and Co.
195
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Gasperz, Vincent, 1997, Management Kualitas;
Penerapan konsep kualitas dalam Manajemen
Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
George C Edward III, “Implementing Public Policy”,
Washington: Congressional Quartely Press, 1980.
Gibson, L. James, John. M. Ivancevich, & James H.
Jr., Donelly. 1986. Organisasi – Perilaku, Struktur,
Proses. Terjemahan Jorban Wahid. Jakarta:
Erlangga.
Gibson, L. James. 1984. Organization and Management.
New York: Mc. Graw-Hill.
Goodall, Merrill. 1975. Bureaucracy and Bureaucrats.
Bepal: Experience
Grindle, Merilee S. 1980. Politics and Policy
Implementation in the Third World. New York:
Princeton University Press.
Grossman, G.M. dan E. Helpman. 1993. Innovation
and Growth in the Global Economy, Cambridge,
Mass.: the MIT Press.
Gwartney, James D. dan Stroup, Richard. 1980.
Economics: Private and Public Choice. New York:
Academic Press.
Hadi, PU. 2003. Marketing Policy to Improve
Competitiveness of Agricultural Commodities
Facing Trade Liberalization. Analisis Kebijakan
Pertanian, Volume 1 (2). Juni 2003. Puslitbang
SosiaI Ekonomi Perta-nian. Bogor.
Hamdy, H. 2000. Ekonomi Internasional: Teori dan
Kebijakan Perdagangan Internasional. Buku
Kesatu. Ghalia Indonesia. Jakarta.
196
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Harrison, Ford. 1992. Industrial Cluster. New York:
Mc Graw Hill.
Heady, Farrel. 1991. Empowerment: The Politic of
Alternative Development. Massachusetts:
Blackwell Published.
Henry, Nicholas. 1995. Administrasi Negara dan
Masalah-masalah Publik. Terjemahan Luciana D.
Lontoh. Jakarta: PT. Raja Garfindo Persada.
Hermanto. 2002. Perspektif Implementasi Kebijakan
Stabilisasi Harga Gabah/Beras Pasca Bulog.
Lokakaya Ketahanan Pangan Pasca BuIog.
Badan Bimas Ketahanan Pangan, Departermen
Pertanian, Jakarta, 22 November.
Hersey, Paul, Kenneth H. Blanchard, & Dewey E.
Johnson. 1995. Manajemen Perilaku Organisasi :
Pendayagunaan Sumber Daya Manusia.
Terjemahan Agus Dharma. Jakarta: Erlangga.
Hidayat dan Sucherly. 1986. Peningkatan Produktivitas
Organisasi Pemerintah dan Pegawai Negeri, Kasus
Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Hodge, Grame, 1993, Minding Everybody’s Business
Performance Management in Public Sector Agency,
Public Sector. Sydney: Management Institute.
Monash University.
Hoogerwerf, A. 1983. Ilmu Pemerintahan. Jakarta:
Erlangga.
Hoogwood, Brian W., and Lewis A. Gunn. 1986.
Policy Analysis for the Real World. Princeton:
Princeton University Press.
197
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Howlet, Michael and M. Ramesh. 1995. Studying
Public Policy: Policy Cycles and Policy Subsystems.
Oxford: Oxford University Press.
Hughes,Owen,1998,Public Management &
Administration. Chipenham: Antony Rowe Ltd,
Husaeni, Martani. 1993. Penyusunan Strategi Pelayanan
Prima dalam Suatu Perspektif Reengineering, dalam
Bisnis dan Birokrasi. Jakarta: Erlangga.
Ibrahim, Budi. 1997. Total Quality Management, Panduan
Untuk Menghadapi Persaingan Global. Jakarta:
Djambatan.
Ilham, Nyak. 2003. Dampak Liberalisasi Ekonomi
Terhadap Perdagangan dan Kesejahteraan
Negara-Ngara di Dunia. Jurnal Ekonomi dan
Pembangunan, XI (2) 2003. LIPI. Jakarta.
Indrawati, S.M. 1995. Liberalisasi dan Pemerataan
dalam Liberalisasi Ekonomi, Pemerataan dan
Kemiskinan. Soetrisno, L. dan F. Umaya (Editor).
Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya.
Indrawijaya,Adam. 1989. Perilaku Organisasi. Bandung:
Sinar Baru.
Irfan Islamy, “ Prinsip-prinsip Perumusan Kebijakan
Negara “, Jakarta: Bina Aksara, 1984.
ISEI. 2005. Rekomendasi ISEI. Langkah-Langkah
Strategis Pemulihan Ekonomi Indonesia. Jakarta:
Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia.
Islamy M. Irfan. 2000. Prinsip-prinsip Kebijakan Negara.
Jakarta: Bumi Aksara.
198
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Jabra, Joseph. G & Dwivendi OP. 1993. Public Service
Accountability, A. Comprehensive Perpective. New
York: Kumarian Press Inc.
JenkinsSmith,1990.Democratic PoliticsandPolicyAnalysis:
California: California Publishing Company.
Jenkins, W. I., 1970. Policy Analysis : A Political and
Organizational Perspective. New York : ST. Martin
Press.
Jones, Charles O. 1994. Study of Public Policy. Belmont,
California: Wadsworth Inc.
Kaniya, M. 2002. 1990s: A DecacIe for AgricuturaJ Poley
Reform in Japan- Breakaway from the Postwar
Policies. Food and Agricultural Policy Research
Center, Tokyo daIam Hadi, et aI. 2003. Dampak
Implementasi Perdagangan Bebas AFTA-2003
Terhadap Pertanian Indonesia. Laporan Hasil
Penelitian. Pusat Penulisan dan Pengem-bangan
Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.
Kariyasa. K. 2003. Dampak Tarif Impor dan Kinerja
Kebijakan Harga Dasar serta Implikasinya
Terhadap Daya Saing Beras Indonesia di Pasar
Dunia. Analisis Kebijakan Pertanian Vol 1(4).
Desember 2003. Puslitbang Sosial Ekonomi
Pertanian. Bogor.
Kast, Fremont & Rosenzweig, James E. 1985.
Organization and Management: A Systemic and
Contingency Approach. New York: Mc. Graw-Hill
Book Company.
Kerlinger, Fred N, Elazar J. Pedhazur. 1987. Foundation
of Behavioral. New York: Research Half Rinehard
and Wington.
199
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Kevitt, Davit, 1998, Managing core Public Service.
London: Black Well Publisher.
Kindleberger, C.P. and P.H. Underl. 1978. International
Economics. Six Edition. Illinois. Richard D. Irwin.
Inc.
Kompas. 2006. “Paket Kebijakan Infrastruktur”, Bisnis
& Keuangan, Sabtu, 18 Februari, hal. 17.
Kotler, Philip, Somkid Jatusripitak, dan Suvit
Maesincee. 1997. Pemasaran Keunggulan Bangsa,
Jakarta: PT Prenhallindo.
Kotler, Philip. 1991. Marketing Management, Analysis,
Planning, Implementation & Control. London:
Prentice Hall International Edition.
Kotler, Philip. 1994. Manajemen Pemasaran, Analisis,
Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian.
Terjemahan Supranto. Jakarta: Prentice Hall Edisi
Indonesia. .
Kristiadi, J.B. 1998. Deregulasi dan Debirokratisasi Dalam
Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan,
Pembangunan Administrasi di Indonesia. Jakarta:
LP3ES.
Kristiadi, JB. 1998. Pemberdayaan Birokrasi dalam
Pembangunan. Jakarta: Sinar Harapan.
Krugman, P.R. 1988, “Introduction: New Thinking
about Trade Policy”, dalam Krugman, P.R. dkk.
(ed.), Strategic Trade Policy and New International
Economics, Cambridge, Mass.: the MIT Press
Krugman. 1991.International Trade. New York: Mc Graw
Hill Book Company.
200
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Kumorotomo, Wahyudi. 1992. Etika Administrasi
Negara. Jakarta:Rajawali.
La Palombara. 1967. Bureaucracy and Political
Development. New Jersey: Princeton University
Press.
Lane. 1993. The Public Sectors, Concepts, Models, and
Approaches. Prentice Hall, Inc. New Jersey.
Luthans, Fred. 1992. Organization Behavior. Tokyo: Mc.
Graw Hill.
Marx. 1996. Administrasi Birokrasi dan Pelayanan Publik.
Terjemahan Supriatna. Jakarta: Nimas Multima.
Maxwell, S. and T.R. Frankenberger. 1992. Household
Food security: Concepts, Indicators, Measurement. A
Technical Review. Jointly Sponsored by United
Nation Children’s Fund and International Fund
for Agricultural Development.
Mazmanian, Daniel A., and Paul A. Sabatier. 1983.
Implementation and Public Policy. Illinois: Scoot,
Foresman and Company.
Milles, Mathew B. and A. Michael Huberman. 1992.
Qualitative Data Analysis. California: Sage
Publications Inc.
Moleong Lexy J. 1997. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Muhadjir, Noeng. 1990. Metode Penelitian Kualitatif.
Yogyakarta: Rake Sarasin.
Mulyana, Deddy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif:
Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Lainnya. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
201
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Nasikun. 1997. Proses Perubahan Sosial dan Pembangunan
Nasional. Jakarta: Bulan Bintang.
Newman, Lawrence W. 1997. Social Research Methods:
Qualitative and Quantitative Approaches. Boston:
Allyn and Bacon Co. Needham Heights.
Osborne, David & Ted Gabler, 1992, Reiventing
Government, New York: A William Patrick Book.
Osborne, David and Plastrik. 2001. Memangkas
Birokrasi : Lima Strategi Menuju Pemerintahan
Wirausaha. Tejemahan. Jakarta: Pendidikan
Prasetya Mulya.
Pakpahan, Arten T. 2005. “Gambaran Belanja Modal
Daerah, Dana Alokasi Khusus dan Hibah
Pinjaman Luar Negeri Pemerintah untuk
Pembansunan Infrastruktur”, makalah FGD,
Jakarta: ISEI.
Pamudji, S., Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia,
Jakarta: Bina Aksara, 1982.
Pardede, Raden. 2005. “Infrastructure Financing:
Indonesia Challenges”, makalah FGD, Jakarta:
ISEI.
Parsons, Wayne. 1993. Public Policy: An Introduction
to the Theory and Practice of Policy Analysis.
Cheltenhan: Edward Elgar.
Pollitt & Bouchaert. 2000. Public Management Reform,
New York: Prentice –Hall International edition.
Porter, 1990. Competitive Advantage. New York:
McGraw Hill.
Porter, M.E. 1985. Competitive Advantage, New York:
Free Press.
202
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Porter, M.E. 1990. The Competitive Advantage of
Nations, New York: Free Press.
Porter, M.E. 1998a. The Competitive Advantage of
Nations: With a New Introduction, New York:
The Free Press.
Porter, M.E. 1998b. On Competition, Boston: Harvard
Business School Press.
Porter, M.E. ed.. 1986. Competition in Global Industries,
Boston: Harvard Business School Press.
Porter, Michael E. 1980. Competitiveness Strategy:
Techniques for analyzing industries and companies,
New York: Free Press.
Rasahan, CA 1997. Kesiapan Sektor Pertanian
Menghadapi Era Perdagangan Bebas. AgroEkonomika No. 2 Tahun XXVII : 15-24. Perhepi.
Jakarta.
Rauch, Robert. Industrial Cluster: Relocation,
Investment and Production. New York: McGraw
Hill.
Rouse, Jhon and Berkley, George. 1997. The Craft of
Public Administration, New York: Brown
Benchmark, McGraw-Hill.
Saliem, H.P., S.H. Hartini,APurwoto, dan G.S. Hardono.
2003. Dampak Liberalisasi Perdagangan Terhadap
Kinerja Ketahanan Pangan Nasional. Laporan Hasil
Penelitian. Puslitbang Sosek Pertanian, Badan
Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. Bogor.
Santoso, Priyo Budi. 1997. Birokrasi Pemerintahan
Orde Baru: Perspektif Kultural dan Struktural.
Jakarta: P.T. Grafindo Persada.
203
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Sarundajang. 2001. Pemerintahan Daerah di Berbagai
Negara. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Sawit, MH. 2001. Globalisasi dan NJA-WTO: Pengaruhnya
Terhadap Ketahanan Pangan Indonesia. Makalah
disampaikanpadaLokakarya“KetahananPangan”
diselenggarakan oIeh YLKI dan Consumers
International for Asia and Pacific (CIROAP) 28-29
Agustus 2001, Jakarta.
Sawit, MH. 2003. Indonesia dalam Perjanjian Pertanian
WTO: Proposal Harbinson. Analisis Kebijakan
Pertanian, Volume I (1). Maret 2003. Puslitbang
SOsial Ekonomi Pertanian. Bogor
Schmidtz, David. 1991. The Limit of Government An Essay
on The Public Goods Argument. Colorado: Westview
Press. .
Schwartz, Howard, and Jerry Jacobs. 1979. Qualitative
Sociology. New York: The Free Press.
Scott,James.1986.IntroductiontoIndustrialCluster.London:
Mc Graw Hill.
Simatupang, P. 2001. Food security: Basic Concepts and
MeasurementinFoodSecurityinSouthwestPacificIsland
Countries. CGPRT Center Works Towards
Enhanching Sustainable Agriculure and Reducing
Poverty in Asia and The Pacific
Simbolon, Reobert. 1998. Manajemen Pelayanan Publik.
Jakarta: Rajawali. Jakarta.
Simon, Harbert. 1984. Administrative Behavior : Perilaku
Administrasi,Suatu StudiTentangProses Pengambilan
KeputusandalamOrganisasiAdministrasi.Terjemahan
St. Dianjung. Jakarta: Bina Aksara.
204
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Siregar, Hermanto. 2005. “Penyediaan dan Pembiayaan
Infrastruktur Dasar, “ makalah FGD, Jakarta: ISEI
Pusat.
Sjahrir. 1986. Pelayanan dan Jasa-jasa Publik, Telaah Ekonomi
serta Implikasi Sosial Politik. Jakarta: LP3ES.
Skelcher,Chris,1992.ManagingForServiceQuality.London:
Longman.
Storper, William. 1992. Industrial Management. New York:
Mc Graw Hill.
Strauss, Anselm and Juliet Corbin. 1990. Basics of
Qualitative Research: Grounded Theory Procedures
and Techniques. California: Sage Publications.
Sudarsono, Hardjosoekarto. 1994. Beberapa Perspektif
Pelayanan Prima, Bisnis dan Birokrasi. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. 1993. Metode Penelitian Administrasi.
Bandung: CV. Alfabeta.
Suhadjo, 1996. Pengertian dan Kerangka Pikir
Ketahanan pangan Rumahtangga. Makalah
disampaikan pada Lokakarya Keta-hanan
Pangan Rumahtangga. Kerja sama Departemen
Pertanian dengan UNICEF. Yogyakarta, 26-30
Met
Sunggono, Bambang. 1994. Hukum dan Kebijakan Publik.
Jakarta: Sinar Grafika.
Supriatna, Tjahya. 1997. Administrasi Birokrasi dan
Pelayanan Publik. Jakarta: Nimas Multima.
Suradinata, Ermaya. 1997. Manajemen Pemerintahan dan
Otonomi Daerah. Bandung: Ramadan.
205
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Suryana, A2001. Tantangan dan Kebijakan Ketahanan
Pangan. Makalah disampaikan pada Seminar
Nasional Pemberdayaan Masyarakat untuk
Mencapal Ketahanan Pangan dan Pemulihan
Ekonomi. Depar-temen Pertanian, Jakarta, 29
Maret.
Susilowati, S.H. 2003. Dinamika Days Saing Lada.
Jumal Agro Ekonomi Vol. 21 No. 2.0ktober 2003.
Bogor: Puslilbang Sosial Ekonomi Pertanian.
Syarif. 1990. Teori dan Praktek Kebijaksanaan Negara
Dalam Meningkatkan Produktivitas. Bandung:
Ramadhan.
Tambunan, Tulus. 2006. “Kondisi Infrastruktur di
Indonesia”, April, Jakarta: Kadin Indonesia
Thoha, Miftah. 1994. Perilaku Organisasi : Konsep Dasar
dan Aplikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Thomas R. Dye, “ Understanding Public Policy “, New
Jersey: Prentice Hall International Inc, 1987.
Thompson, Jhon L. 1993. Strategic Management:
Awareness and Changes, 2nd Edition. New York:
Chapman & Hall.
Van Meter, D.S., dan C.E. Van Horn. 1978. “The Policy
Implementation Process: A Conceptual
Framework”, Administration and Society, Vol. 6,
No. 4, Sage Publications Inc.
Wahab, Solichin A. 2002. Analisis Kebijaksanaan. Dari
formulasi ke implementasi kebijaksanaan Negara.
Jakarta: Bumi Aksara. Jakarta.
Warwick, Donal P. 1975. A Theory of Public Bureaucracy:
Massachusetts: Harvard University Press.
206
Daftar Pustaka
207
Weber, Max. 1997. The Theory of Economics and Social
Organization. New York: The Free Press.
Weihrich, Heinz & Koontz, Harold, 1994. Introduction
to Public Management: A Global Perspective, Tenth
edition, McGraw Hill International Edition.
Wibawa Samudera. 1994. Analisis Kebijakan Publik.
Jakarta: Rajawali Press.
William N Dunn. 1987.Public Policy Analysis: An
Introduction. New Jersey: Prentice Hall International
Inc, 1987.
Winoto, Joyo. 2005. Peranan Pembangunan
Infrastruktur Dalam Menggerakan Sektor Riil,
makalah dalam Sidang Pleno ISEI XI, 22-23
Maret, Jakarta.
Zeithaml, V.A. 1990. Delivering Quality Service, Balancing
Customer Perceptions and Expectations. Tnew York:
The Free Press.
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
Dokumen-dokumen
Badan Pusat Statistik Jawa Barat, Tahun 2003-2007.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Program Pembangunan Nasional;
UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar
Negeri.
Daftar Pustaka
IMPLEMENTASI ASEAN FREE TRADE AGREEMENT DI JAWA BARAT
UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
Internasional.
ASEAN Vision 2020.
ASEAN Arrangement for SMEs.
Report of the ASEAN Small and Medium Enterprises
Agencies Working Group.
Keputusan Presiden RI Nomor 99 Tahun 1998 tentang
Bidang/Jenis Usaha yang Dicadangkan untuk
Usaha Kecil dan Bidang Jenis Usaha yang
Terbuka untuk Usaha Menengah atau Usaha
Besar dengan Syarat Kemitraan.
Keppres Nomor 228/M Tahun 2001 tentang Ratifikasi
Pemerintah RI terhadap skema CEPT dalam
kerangka AFTA.
Keputusan Menlu RI Nomor SK.03/A/OT/X/2003/01
tentang Panduan Umum Tata Cara Hubungan
Luar Negeri oleh Daerah.
Keputusan Menkeu RI No. 392/KMK.01/2003 tentang
Penetapan Bea MasukAtas Impor Barang dalam
Rangka Skema CEPT.
Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 21 Tahun 2004
tentang Pedoman Kerja sama antara Daerah
dengan Pihak Luar Negeri.
208
Riwayat Singkat Penulis
Dr. H. Obsatar Sinaga adalah
dosen Pascasarjana Universitas
Padjajaran. Lahir di Deli Serdang
17April 1969. Setelah menamatkan
sekolah menengah di SMA
Negeri 8 Bandung ia melanjutkan
studi di Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Padjajaran dan meraih gelar
sarjana ilmu politik (S.IP). Setamat S-1 ia
melanjutkan studi ke jenjang strata 2 dan strata 3
(S-2 dan S-3) pada Program Pascasarjana Universitas
Padjajaran, dan berhasil memperoleh gelar Magister
Sains (M.Si) dan gelar Doktor (Dr) dari perguruan
tinggi yang sama.
Riwayat pekerjaan pria yang akrab disapa Obi
ini antara lain: Wartawan HU Mandala, Kepala
Wartawan HU Bandung Pos, Pemimpin Perusahaan
HU Bandung Pos, Branch Manager Maranu
International Finance, Staf Ahli Walikota Kota
Bandung, Staf Ahli Bupati Kabupaten Tabanan Bali.
Sejak studi, ia aktif dalam berbagai kegiatan
organisasi dan menduduki jabatan strategis dalam
struktural organisasi, mulai organisasi kepemudaan,
organisasi kemasyarakatan, dan organisasi dalam
bidang olahraga, antara lain: Ketua KNPI Kota
Bandung, Ketua Pemuda Panca Marga Bandung,
Wakil Sekretaris Pemuda Panca Marga Jawa Barat,
Sekretaris Patriot Panca Marga Jawa Barat, Sekjen
Persatuan Golf Indonesia (PGI) Jawa Barat, Ketua
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) KONI Jawa
Barat, Wakil Ketua Umum Pengda PSSI Jawa Barat,
Wakil Ketua Pemuda Panca Marga Jawa Barat, Wakil
Ketua Depidar SOKSI Jawa Barat dan Sekjen Ormas
MKGR Jawa Barat.
LEPSINDO
IMPLEMENTASI
ASEAN FREE TRADE AGREEMENT
di Jawa Barat
G
lobalisasi perekonomian yang sedang berlangsung dewasa
ini, maraknya liberalisasi perdagangan, investasi maupun
jasa baik pada tingkat regional maupun global telah menuntut
negara-negara di seluruh dunia untuk meningkatkan
kemampuan bersaingnya seiring dengan semakin terbukanya
pasar internasional. Indonesia dalam hal ini juga tidak luput dari
tuntutan yang sama dengan komitmen terhadap liberalisasi
perdagangan ASEAN Free Trade Agreement (AFTA).
Hal itu perlu secara saksama dikaji karena dewasa ini
pelaksanaan otonomi daerah telah membuka peluang
keikutsertaan daerah sebagai salah satu komponen dalam
penyelenggaraan hubungan luar negeri. Pemerintah Indonesia
melalui Departemen Luar Negeri (Deplu) RI memberikan
peluang seluas-luasnya kepada daerah untuk menjalin kerja
sama dengan luar negeri. Buku ini merupakan salah satu upaya
telaah kritis terhadap proses regionalisme ASEAN melalui
implementasi AFTA dengan studi kasus di Jawa Barat.
“Inilah buku yang memberi sumbangan berharga bagi para pengambil
kebijakan publik, khususnya dalam membangun daya saing Jawa Barat di
dalam menghadapi perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara.
Keberadaannya patut disambut dengan baik, karena saya merasa buku ini
amat menstimulasi dan memancing pikiran”
H. Dada Rosada
“Buku ini, selain enak dibaca juga menyajikan informasi yang jelas. Isinya
cocok bagi mahasiswa maupun khalayak yang ingin mengetahui lebih
dalam tentang bagaimana kesiapan Jawa Barat memasuki kawasan
perdagangan bebas di Asia Tenggara”
Drg. H. Tonny Aprilani, M.Sc.
“Buku ini memperlihatkan argumentasi yang matang mengenai potensi dan
peluang Propinsi Jawa Barat dalam proses perdagangan bebas di kawasan
Asia Tenggara, khususnya dalam pengembangan kerjasama luar negeri
dalam kerangka AFTA. Sebuah buku yang ditulis secara akademis dan kritis
ini, tidak saja perlu, tapi penting bagi siapa pun yang membacanya”
Yanyan Mochamad Yani, MIR., Ph.D.
Download