249 BAB V PENUTUP 1. Kesimpulan Penelitian ini

advertisement
BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan terkait dengan fokus
kajian tentang praktik marginalisasi politik pengawasan pemilu di Kabupaten
Banyumas. Berdasarkan hasil temuan dan analisa terhadap praktik pengawasan
pemilu legislatif 2004 dan 2009 diperoleh beberapa kesimpulan.
Pertama, terjadi praktik marginalisasi politik pengawasan pemilu. Desain
politik penyelenggaraan pemilu menempatkan pengawas pemilu sebagai institusi
politik penyelenggara pemilu dalam posisi yang lemah, marginal. Panwaslu tidak
mempunyai otoritas memberi sanksi kepada para aktor politik pelaku pelanggaran
pemilu. Panwaslu tidak mempunyai kekuatan politik dan hukum untuk
“memaksa” para aktor politik pelaku pelanggaran pemilu untuk mematuhi
Panwaslu. Tidak ada sanksi hukum bagi para aktor politik pelaku pelanggaran
pemilu yang mengabaikan kewenangan Panwaslu tersebut. Bahkan diantara para
aktor politik pelaku pelanggaran pemilu melakukan perlawanan yaitu dengan
melakukan tekanan politik dan kriminalisasi Panwaslu.
Kewenangan Panwaslu meneruskan kasus pelanggaran pemilu kepada
aparat terkait, tidak disertai dengan adanya jaminan hukum bahwa para aktor
politik pelaku pelanggaran pemilu itu akan di proses dan mendapat sanksi pidana
atau administrasi pemilu. Pada akhirnya beberapa aktor politisi dan partai politik
pelaku pelanggaran pemilu bebas dari jerat pidana pemilu dan lolos dari sanksi
249
administrasi pemilu. Panwaslu tidak diciptakan untuk menjadi instrument politik
penting untuk mendukung upaya penegakan hukum dan aturan main pemilu.
Kedua, desain politik penyelenggaraan pemilu yang menempatkan
pengawas pemilu dalam posisi lemah dan melakukan praktik marginalisasi politik
pengawas pemilu, merupakan produk politik para aktor politik, politisi dan partaipartai politik berkuasa di DPR sebagaimana tersusun dalam desain politik
penyelenggaraan pemilu. Upaya mempertahankan eksistensi lembaga pengawas
pemilu dalam peta politik penyelenggaraan pemilu tidak disertai dengan
penguatasn lembaga pengawas pemilu secara sungguh-sungguh. Langkah ini
merupakan suatu bentuk praktik politik eksternalisasi pengawasan pemilu para
aktor politik, politisi dan partai-partai politik berkuasa di DPR. Aktor-aktor
politik, politisi dan partai-partai politik berkuasa di DPR melepas tanggung jawab
moral dan politik mengawasi, mengawal pemilu yang bersih, berkualitas, jujur,
adil dan demokratis. Tanggung jawab moral dan politik itu didelegasikan kepada
lembaga pengawas pemilu. Sementara itu para aktor politik, politisi dan partaipartai politik peserta pemilu sibuk dengan upaya politik meraih dukungan politik
rakyat untuk meraih kekuasaan. Pada saat memperebutkan suara rakyat, para aktor
politik, politisi dan partai-partai politik peserta pemilu tidak segan melakukan
tindak pelanggaran pemilu.
Ketiga, aktor-aktor politik, politisi dan partai-partai berkuasa menikmati
keuntungan politik dibalik praktik marginalisasi politik pengawas pemilu. Posisi
marginal Panwaslu membuat para aktor politik, politisi dan partai politik peserta
pemilu dengan mudah dan leluasa menghindari tindakan tegas Panwaslu. Mereka
250
bebas dari jerat pidana pemilu dan lolos dari sanksi administrasi pemilu. Hal ini
mendorong mereka melakukan duplikasi tindakan pelanggaran pemilu tanpa suatu
kekhawatiran politik dan hukum.
Kewenangan Panwaslu mengawasi aktor-aktor aparat penyelenggara
pemilu (anggota KPU dan anggota sekretariat KPU) dan menyampaikan
rekomendasi kepada KPU agar di bentuk Dewan Kehormatan KPU untuk
mengadili para aktor aparat KPU yang melakukan pelanggaran kode etik
penyelenggara pemilu, pada akhirnya sulit terwujud. Para aktor KPU yang
bertindak tidak netral, melakukan “main mata” dengan para aktor politik, politisi
atau partai-partai politik peserta pemilu, akhirnya bebas dari jerat sanksi kode etik
penyelenggara pemilu. Bebasnya para aktor KPU dari pengadilan kode etik
penyelenggara pemilu ini menjadi semacam jaminan politik, keamanan posisinya
sebagai anggota KPU, dari para aktor politik, politisi dan partai-partai politik
berkuasa di DPR yang menyusun desain politik penyelenggara pemilu tersebut.
Para aktor politik, politisi dan partai-partai politik berkuasa itu menikmati
marginalisasi politik pengawas pemilu, sehingga tidak efektif mengawasi tindak
netralitas aktor aparat KPU. Kondisi seperti ini terus menarik bagi para aktor
politik peserta pemilu yang melakukan pelanggaran administrasi pemilu untuk
terus “menggoda” KPU bertindak tidak netral, memihak kepentingan politik
mereka. Sehingga para aktor politik peserta pemilu pelaku pelanggaran pemilu itu
bebas dan lolos dari jerat sanksi administrasi pemilu.
Keempat, marginalisasi politik pengawasan pemilu dan praktik politik
eksternalisasi pengawasan pemilu, tersusun dalam desain politik penyelenggara
251
pemilu sebagai produk politik para aktor politik, politisi dan partai-partai politik
berkuasa di DPR. Panwaslu dibebani tanggung jawab moral dan politik
mengawasi dan menindaklanjuti setiap tidak pelanggaran pemilu. Tetapi Panwaslu
tidak diberi otoritas politik dan hukum yang kuat untuk melakukan penegakan
hukum, memberi sanksi pemilu.
Para aktor politik berkuasa di DPR menciptakan lembaga pengawas
pemilu untuk mengawasi para aktor politik, politisi dan partai-partai politik
peserta pemilu. Tetapi pengawas pemilu dalam posisi lemah dan terus mengalami
marginalisasi politik pengawas pemilu tidak memiliki kekuatan politik dan hukum
untuk menindak tegas para aktor politik pelaku pelanggaran pemilu. Bahkan
diantara para aktor politik itu tidak segan melakukan pelanggaran pemilu tanpa
rasa takut adanya sanksi pidana pemilu atau sanksi administrasi pemilu. Sebab
dalam beberapa kasus tindak pelanggaran pemilu yang dilakukan oleh para aktor
politik, politisi dan partai politik itu bebas dari jerat sanksi hukum dan
administrasi pemilu. Inilah praktik politik lempar batu sembunyi tangan para aktor
politik, politisi dan partai-partai politik berkuasa di DPR dalam praktik politik
penyelenggaraan pemilu.
Terakhir, beberapa butir kesimpulan penelitian ini dapat menjadi bahan
pemikiran untuk perbaikan penyelenggaraan pemilu Indonesia yang lebih baik di
masa yang akan datang. Terutama, terkait dengan pengawas pemilu dan upaya
penegakan hukum pemilu. Sehingga pemilu paska reformasi benar-benar
memenuhi harapan politik rakyat. Pertama, terselenggaranya pemilu yang lebih
berkualitas, bersih, bebas, jujur, adil dan demokratis. Kedua, pemilu yang
252
berkualitas, bersih, bebas, jujur, adil dan demokratis akan menghasilkan aktoraktor politik, politisi wakil-wakil rakyat dan partai-partai politik berkuasa yang
bersih, mempunyai integritas moral dan visi politik meningkatkan kesejahteraan
rakyat. Sehingga pemilu menjadi sarana transformasi politik demokrasi menuju
masyarakat sejahtera, sekaligus meninggalkan paradigma politik lama, bahwa
pemilu hanya sebagai sarana politik formal demokrasi prosedural menjadi ajang
perebutan jabatan politik bagi para aktor-aktor politisi dalam buru kekuasaan dan
mempertahankan kekuasaan.
2. Saran
Pemilu yang berkualitas, bersih, bebas, jujur, adil dan demokartis terkait
dengan adanya kemauan politik para aktor-aktor politik yang terlibat dalam
penyelenggaraan pemilu (peserta pemilu, penyelenggara pemilu dan pemilih)
sebagai agen politik mendukung terwujudnya pemilu yang berkualitas tersebut.
Demikian pula, ketersediaan struktur (institusi penyelenggaraan pemilu) aturan
main politik pemilu yang baik dan demokratis akan menciptakan situasi agen,
para aktor politik yang patuh terhadap hukum, aturan main pemilu. Ada beberapa
saran untuk perbaikan penyelenggaraan pemilu yang lebih baik, dan berkualitas di
masa yang akan datang, terutama terkait dengan pengawasan pemilu dan
penegakan hukum pemilu.
Pertama, pengawasan pemilu sebaiknya menjadi mekanisme politik
internal partai-partai politik peserta pemilu, yaitu dengan mengambil tanggung
jawab moral dan politik untuk mewujudkan pemilu yang bebas dari kecurangan
253
dan pelanggaran. Pembentukan lembaga pengawas pemilu seperti saat ini, dari
pusat (Bawaslu) sampai ke tingkat desa (PPL), tidak memiliki kekuatan
kewenangan untuk menegakan hukum dan aturan main pemilu, adalah suatu
bentuk pemborosan politik dan pemborosan anggaran negara. Sudah waktunya,
membangun budaya politik pengawasan pemilu yang berbasis pada nilai-nilai,
norma, etika, moral dan tradisi bangsa yang baik seperti sikap sportif, ksatria dan
perwira dimiliki aktor-aktor politik yang terlibat dalam penyelenggaraan pemilu,
seperti aktor politik peserta pemilu, aktor aparat penyelenggara pemilu, pemilih,
media dan aparat penegak hukum.
Kedua, demokrasi yang berkualitas adalah adanya kepatuhan terhadap
hukum dan berjalannya sanksi hukum bagi setiap pihak yang melakukan tindak
pelanggaran hukum. Oleh karena itu, sesungguhnya yang dibutuhkan adalah
sebuah lembaga penegak hukum pemilu yang bersifat ad hoc atau suatu bentuk
lembaga pengadilan pemilu yang bersifat permanen, mempunyai kewenangan
penuh untuk mengadili setindak tindak pelanggaran pemilu. Lembaga tersebut
diharapkan dapat mengakhiri terjadinya pembiaran terhadap tindak pelanggaran
pemilu dan tindakan curang lainnya, seperti kasus pelanggaran politik uang yang
semakin luas tetapi sulit di proses Panwaslu, karena lemahnya posisi pengawas
pemilu dan terjadinya praktik marginalisasi politik pengawas pemilu secara
sistematis dan struktural.***
254
Download