Ringkasan Panduan Tatalaksana Infeksi Saluran Nafas Dewasa

advertisement
Current Articles | Archives | Search
Ringkasan Panduan Tatalaksana Infeksi Saluran Nafas Dewasa
(CMA Foundation)
Oleh Kalbe Medical Dept
March 22, 2013 06:30
Infeksi saluran napas merupakan infeksi yang paling banyak terjadi.
Infeksi saluran napas ini dapat disebabkan oleh virus ataupun bakteri. Pemberian
antibiotik direkomendasikan ketika ada keterlibatan bakteri, dan bukan virus.
Terdapat berbagai guideline yang menjelaskan mengenai pemberian antibiotik untuk
infeksi saluran napas, beberapa di antaranya adalah: American Academy of Allergy,
Asthma & immunology (AAAAI), American Academy of Family Physicians (AAFP),
American College of Physicians (ACP), Centers for Disease Control and Prevention
(CDC), Sinus and Allergy Health Partnership (SAHP), Infectious Diseases Society of
America, Institute for Clinical Systems Improvement (ICSI), dan American Thoracic
Society (ATS).
Pada tahun 2012, California Medical Association (CMA) Foundation menyusun suatu
ringkasan dari guideline-guideline untuk tatalaksana antibiotik pada infeksi saluran
napas akut pada pasien dewasa.
Penyakit
Sinusitis
Bakterialis
Akut
Indikasi untuk
perawatan antibiotik
Diberikan antibiotik:
Diagnosis sinusitis
bakterialis akut dapat
ditegakkan jika infeksi
saluran napas viral tidak
membaik setelah 10
hari atau memburuk
setelah 5 - 7 hari.
Tidak diberikan
antibiotik: Hampir
semua kasus sinusitis
mereda tanpa
pemberian antibiotik.
Patogen
Streptococcus
pneumoniae
- Nontypeable
Haemophilus
influenzae
- Moraxella
catarrhalis
Virus
Terapi
Antimikroba
Durasi antibiotik:
7 - 10 hari. Jika
tidak merespons
dalam waktu 72
jam, reevaluasi
pasien dan ganti
ke antibiotik jenis
lain
Antibiotik
Lini pertama:
Amoxicillin
Alternatif:
- Amoxicillin clavulanate
- Cephalosporin
oral
(bukan generasi
1
dan bukan
cefixime
(contoh:
cefpodoxime,
Gui
acu
AAA
AAF
ACP
CD
SAH
Antibiotik hanya
digunakan untuk gejala
yang
sedang dan tidak
membaik setelah 10
hari, atau yang
memburuk setelah 5 - 7
hari
Faringitis
Batuk nonspesifik /
Bronkitis
akut /
Pertusis
Diberikan antibiotik:
Streptococcus
pyogenes (Group A
Strp); gejala: leher sakit,
demam, sakit kepala.
Temuan mencakup:
demam, eritema
tonsiolofaringeal dan
nanah, petechiae pada
palatum, kelenjar limfe
anterior servikal
membesar dan nyeri,
tidak ada batuk.
Konfirmasi diagnosis
dengan kultur atau
deteksi antigen sebelum
menggunakan
antibiotik.
Tidak diberikan
antibiotik: Kebanyakan
faringitis berawal dari
infeksi virus. Jika
terdapat gejala berikut:
konjungtivitis, batuk,
hidung berair, diare,
tidak ada demam,
hindari penggunaan
antibiotik.
Tidak diberikan
antibiotik: 90% kasus
non-bakterial. Jangan
diberikan kecuali ada
riwayat bronkitis kronik
atau komorbiditas lain.
cefuroxime,
cefdinir)
- Quinolone
(levofloxacin,
moxifloxacin)
Alergi β-Lactam:
- Trimethoprim-
Streptococcus
pyogenes
Group A Strep:
Berikan antibiotik
setelah deteksi
antigen atau
kultur positif.
Durasi
antibiotik: 10
hari
sulfamethoxazole,
- doxycycline,
- azithromycin,
- clarithromycin
Lini pertama:
- Penicillin V
- Benzathine
penicillin G
- Amoxicillin
Alternatif:
Cephalosporin oral
Alergi β-Lactam:
- Azithromycin
- Clindamycin
- Clarithromycin
ACP
CD
ISD
ICS
Virus
Virus
Tanpa
komplikasi:
Tidak
diindikasikan
Tanpa
komplikasi:
Tidak diindikasikan
COPD kronik:
Amoxicillin,
trimethoprim-
AAF
ACP
CD
IDS
Diberikan antibiotik:
Jika terdapat
eksaserbasi bakterialis
akut dari bronkitis kronik
dan COPD, umumnya
pada perokok. Pada
pasien dengan gejala
lebih berat, eksklusikan
kondisi lain yang lebih
berat, misal pneumonia.
Periksa lebih lanjut
sebelum atau selama
perawatan pertusis.
Pemeriksaan pertusis
direkomendasikan
terutama pada saat
wabah dan menurut
rekomendasi badan
kesehatan.
Infeksi
Tidak diberikan
saluran
antibiotik: Jelaskan
napas
kepada pasien bahwa
tidak
antibiotik tidak
spesifik
dibutuhkan pada kasus
ini dan jelaskan
pendekatan nonfarmakologi.
Outpatient Diberikan antibiotik
Community dan pasien dirawat
Acquired
jalan: Lakukan CXR
Pneumonia untuk mengkonfirmasi
diagnosis pneumonia.
Evaluasi untuk pasien
rawat jalan.
Pertimbangkan kondisi
sebelumnya: hitung
pneumonia severity
index. Pemeriksaan
sputum dan kultur
direkomendasikan jika
ada penyalahgunaan
alkohol, obstruksi atau
gangguan struktur paru,
atau efusi pleura.
- Chlaydophila
pneumoniae
- Mycoplasma
pneumoniae
- Bordetella
pertusis
sulfamethoxazole,
tetracycline
Lain-lain:
Bordetella
pertussis,
Chlamydophila
pneumoniae,
Mycoplasma
pneumoniae macrolide
(azithromycin atau
clarithromycin)
atau doxycycline
Virus
Tidak
diindikasikan
Tidak diindikasikan AAF
ACP
CD
ICS
IDS
Streptococcus
pneumoniae
- Mycoplasma
pneumoniae
- Haemophilus
influenzae
Chlamydophila
pneumoniae
Terapi empiris:
Sehat tanpa
DRSP (drug
resistant S.
pneumoniae):
Macrolide;
pertimbangkan
doxycycline
Terdapat
komorbiditas,
penggunaan
antibiotik dalam
3 bulan, atau
risiko DRSP:
quinolone atau
kombinasi β
lactam +
Lini pertama:
- Macrolide
(azithromycin
atau
clarithromycin)
- Doxycycline
(alternatif
macrolide)
Alternatif β
Lactam:
(diberikan
bersama
macrolide)
- Amoxicillin dosis
tinggi
atau amoxicillinclavulanate
IDS
ATS
ICS
Tidak diberikan
antibiotik sebagai
pasien rawat jalan:
Pertimbangkan untuk
dirawat inap jika skor
PSI > 90, skor CURB65 ≥ 2, tidak dapat
diberikan scara per oral,
keadaan sosial tidak
stabil, atau penilaian
klinis.
macrolide (atau
doxycycline):
minimal 5 hari;
hentikan
penggunaan
setelah tidak
demam selama
48-72 jam.
- Cephalosporin
(cefpodoxime,
cefuroxime)
Alternatif lain:
Quinolone
(moxifloxacin,
levofloxacin 750
mg)
Berdasarkan studi dan meta-analisis, CMA merekomendasikan agar antibiotik tidak
diberikan kepada pasien dengan bronkitis akut atau batuk. Pemberian antibiotik
dikaitkan dengan reaksi alergi, infeksi C. difficile dan resistensi antibiotik di masa
mendatang pada pasien dan komunitas.
CMA juga merekomendasikan untuk melakukan edukasi ke pasien bahwa bronkitis
kebanyakan disebabkan oleh virus, dan batuk disebabkan virus atau merupakan reaksi
saluran napas. Perlu dijelaskan mengenai durasi gejala, misal: batuk akan bertahan
selama 4 minggu. Pasien mungkin perlu diberikan terapi simtomatik seperti obat batuk,
NSAID, bronkodilatator.
CMA merekomendasikan pemberian vaksin untuk infeksi saluran napas pada kondisikondisi
berikut:
1.Vaksinasi influenza untuk semua orang berumur = 6 bulan, terutama pasien yang
masih muda dan lnjut usia dan mereka dengan penyakit lain yang menyertai.
2.Vaksinasi pneumococcal untuk mereka dengan penyakit lain yang menyertai dan
semua berumur > 65 tahun yang belum divaksin selama 5 tahun terakhir.
3.Vaksinasi pertusis direkomendasikan pada pasien dewasa semua umur yang sedang
tidak mengandung yang belum divaksin: terutama jika mereka sedang atau akan
banyak berkontak dengan bayi berumur kurang dari 12 bulan (misal: orangtua, kakeknenek, perawat anak, tenaga medis) dan tetap diberikan booster tetanus rutin sekali
dalam 10 tahun. (AGN)
Image:
Ilustrasi
Referensi: CMA Foundation AWARE. Acute respiratory tract infection guideline
summary
[Internet]
2012
[Cited
2012
Dec
31].
Available
from:
http://www.aware.md/HealthCareProfessionals/materials/Toolkit2012/compendium_adul
t_2012_web.pdf
Download