pengaruh globalisasi hak asasi manusia dalam sistem

advertisement
TRAINING TINGKAT LANJUT
RULE OF LAW DAN HAK ASASI MANUSIA
BAGI DOSEN HUKUM DAN HAM
Jakarta, 3-6 Juni 2015
MAKALAH PESERTA
PENGARUH GLOBALISASI HAK ASASI MANUSIA
DALAM SISTEM KONSTITUSI INDONESIA
Oleh:
Ronny Junaidy Kasalang, S.H., M.H.
PENGARUH GLOBALISASI HAK ASASI MANUSIA DALAM SISTEM
KONSTITUSI INDONESIA
Ronny Junaidy Kasalang, S.H., M.H.1
A. PENDAHULUAN
Dasar keberadaan konstitusi adalah kesepakatan umum atau persetujuan di
antara mayoritas rakyat mengenai bangunan yang diidealkan oleh negara. Konstitusi
merupakan konsensus bersama atau general agreement seluruh warga negara.
Organisasi negara tersebut diperlukan oleh warga masyarakat politik agar kepentingan
mereka bersama dapat dilindungi atau dipromosikan melalui pembentukan dan
penggunaan mekanisme yang disebut negara. Kepentingan yang mendasar dari setiap
warga negara yaitu pelindungan terhadap haknya sebagai manusia.
Persyaratan
dasar
dari
Negara
Hukum
dapat
ditengarai
sebagai
konstitusionalism. Pada dasarnya ini berarti bahwa harus ada sebuah hukum dasar
dalam sistem hukum yang menjabarkan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif
dari negara. Hukum dasar harus memberikan landasan tentang lembaga mana dalam
suatu negara yang bertanggungjawab untuk melaksanakan kekuasaan tersebut dan
bagaiman kekuasaan itu dilaksanakan baik diantara semua lembaga tersebut dan
masyarakat serta pihak swasta. Yang terpenting, peraturan perundangan ini harus
menjabarkan apa saja batasan dari kekuasaan tersebut. Dengan kata lain, konstitusi
harus memberikan struktur dasar dan aturan sistem hukum dan menentukan siapa yang
berhak melaksanakan kekuasaan dan bagaimana. Tanpa kerangka hukum dasar
semacam ini tidaklah mungkin mengukur dengan ketepatan yang patut bagaimana
peemerintah setia terhadap Negara Hukum.
Hukum dasar ini biasanya dibuat dalam bentuk dokumen formal dan tertulis
yang dimaksudkan untuk menjadi ringkasan singkat dari hukum dasar dan disebut
sebagai “Konstitusi”. Sayangnya, ada negara-negara yang memiliki konstitusi tertulis
yang tidak menggambarkan bagaimana kekuasaan sesungguhnya dilaksanakan atau
memenuhi persyaratan untuk kerangka semacam itu. Jelaslah bahwa aturan hanya dapat
memandu bila orang-orang yang disasar oleh aturan ini sadar akan keberadaan aturan
1
. Dosen Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Indonesia Manado
1
tersebut. Hukum karenanya harus diundangkan, dipublikasikan sehingga dapat dibaca
oleh umum. Selain itu, undang-undang juga harus jelas karena masyarakat tidak akan
dapat mematuhi undang-undang bila tidak memahaminya. Juga penting diingat bahwa
hukum berlaku prospektif, tidak berlaku surut atau retroaktif.
Prinsip penerapan hukum yang tidak berlaku surut ini terutama sekali penting
dalam hukum pidana. Inilah mengapa prinsip ini ditegaskan dalam Deklarasi Universal
Hak Asasi Manusia (Duham, 1948). Pasal 11, paragraf 2 menyatakan bahwa “tidak ada
seorangpun dapat dinyatakan bersalah atas tindak pelanggaran pidana dalam bentuk
tindakan atau pembiaran yang dianggap sebagai tindak pidana atau pembiaran menurut
hukum nasional atau internasional saat tindak pidana itu dilakukan...” Konvensi hak
asasi manusia internasional dan regional juga berulangkali menekankan hak dasar ini.
Untuk dunia global, konsep tentang HAM sudah terjadi perubahan yang sangat
mendasar. Saat sekarang HAM bukan hanya dilihat sebagai bentuk pemahaman
individualisme dan libralisme. HAM perlu dipahami secara humanistik untuk hak-hak
yang inheren bersama harkat martabat manusia, bagaimanapun sejarah warna kulitnya,
suku, kepercayaan, kebudayaan, seks, dan aktivitas kerjanya.
Hak asasi manusia sebagai perangkat hak yang melekat pada kodrat manusia
sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, merupakan anugrah Tuhan untuk menempatkan
manusia dalam harkat dan martabatnya sebagai manusia. Hak asasi tersebut bukan
pemberian negara, dan telah ada sebelum negara dan organisasi kekuasaan dalam
masyarakat terbentuk. Penghormatan dan jaminan perlindungan serta pemenuhan hak
asasi manusia secara efektif merupakan indikator akan tingkat perkembangan peradaban
satu bangsa. Ciri‐ciri negara modern, yang mengaku sebagai negara hukum yang
demokratis dan dan negara demokrasi yang berdasarkan konstitusi, menetapkan bahwa
hak asasi manusia tersebut merupakan unsur penting yang harus ada dan memperoleh
perlindungan dan penghormatan yang dijamin dan dipenuhi oleh Negara dan
Pemerintah. Justru perlindungan dan jaminan pemenuhan terhadapnya menjadi salah
satu tujuan yang paling dasar dari dibentuknya negara, dan menjadi tolok ukur
keabsahan
tindakan
pemerintahan.
Pelanggaran
terhadapnya
yang
dilakukan
pemerintah, baik dalam tindakan atau perbuatan tertentu dan terutama dalam
2
pembentukan kebijakan‐kebijakan publik, menyebabkan tindakan dan produk kebijakan
publik yang dibuat menjadi tidak sah.
Terlebih lagi, hukum dan terutama konstitusi atau undang-undang dasar harus
bersifat stabil sepanjang waktu. Kedua hukum ini tidak boleh diubah atau diamandemen
terlalu sering. Jika hukum acap kali berubah maka akan sulit untuk mematuhinya.
Perubahan yang terlalu sering juga akan menyebabkan ketidakpastian akan isi dari
hukum itu sendiri. Terlebih algi tindakan yang membutuhkan perencanaan jangka
panjang menjadi tidak mungkin. Tentu saja stabilitas adalah sesuatu yang memiliki
derajat ketingkatan. Tidaklah mungkin menetapkan periode dimanaa hukum harus tetap
kaku seperti itu. Terlebih lagi, stabilitas lebih penting dalam beberapa ranah hukum
dibandingkan ranah lainnya. Aturannya adalah hukum yang mengatur perencanaan yang
rinci dan keputusan jangka panjang tidak boleh berubah sesering hukum lain yang
menangani masalah-masalah dimana keputusan jangka pendek lebih umum dibuat.
Pada sebuah kasus yang cukup terkenal, Sunday Times v. Inggris (1979),
pengadilan HAM Eropa meringkas beberapa persyaratan yang baru saja disebutkan:
“Hukum harus dapat diakses semua orang: warga negara harus dapat melihat bahwa
hukum memadai pada kondisi dimana aturan hukum berlaku untuk kasus
tertentu...sebuah norma tidak dapat dianggap sebagai ‘hukum’ kecuali dibuat dengan
ketepatan yang memadai sehingga warga negara dapat mengatur tindak-tanduknya: ia
harus dapat—bila perlu diberikan nasihat yang tepat—memperkirakan dengan cara yang
masuk akal mengenai kemungkinan keadaan, konsekuensi dari tindakan yang
dilakukan” 2
Namun ada satu pengecualian penting dari aturan ini terutama tanggungjawab
atas tindak pidana internasional tertentu. Aturan ini mengikuti Pasal 15, paragraf 2, dari
Konvenan Hak Sipil dan Politik yang menyatakan: “tidak ada satupun dalam pasal ini
yang membenarkan pengadilan dan penghukuman yang pada saat tindakan pidana itu
dilakukan dianggap sebagap tindak pidana menurut prinsip umum dari hukum yang
diakui oleh komunitas bangsa-bangsa”. Kesepakatan hak asasi manusia lainnya
memiliki peraturan yang serupa.
2
. The Hague Institute for the Internationalisation of Law (HiiL), Rule of Law (Negara Hukum) : Panduan Bagi
Para Politisi, The Raoul Wallenberg Institute of Human Rights and Humanitarian Law, Sweden, 2012, hal. 10-11.
3
Oleh karena itu, hak asasi manusia (HAM) merupakan materi inti dari naskah
undang-undang dasar modern. HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
dan keberadaan setiap manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati dan dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara,
hukum, pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan
martabat manusia.
B. HAM DALAM KONSTITUSI DI INDONESIA
1.
Sejarah Konstitusi Di Indonesia
Sejak negara Indonesia diproklamirkan menjadi negara merdeka, para pendiri
Republik Indonesia sepakat bahwa negara berlandaskan pada hukum yang diartikan
sebagai konstitusi dan hukum tertulis yang mencerminkan penghormatan kepada HAM.
Undang-Undang Dasar ialah piagam tertulis yang sengaja diadakan dan memuat segala
apa yang dianggap oleh pembuatnya menjadi asas fundamental dari negara tersebut.
UUD Tahun 1945 adalah Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam
UUD Tahun 1945 ditegaskan bahwa sistem pemerintahan negara Indonesia berdasarkan
atas hukum (rechstaat), tidak berdasar atas kekuasaan belaka (maachstaat).
Dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia (UUD) yang dibuat tahun
1945, jelas memperlihatkan dalam Pembukaannya: ”penentangan adanya segala bentuk
penjajahan atas semua bangsa, memajukan kesejahteraan umum, keinginan untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa, ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial”, sangat dipengaruhi oleh situasi politik
Indonesia yang baru saja lepas dari pengalaman pahit dijajah oleh kolonialisme
Belanda. Atau dalam bahasa Ato Masuda, “di dalam UUD Tahun 1945 ini tidak
terdapat ketentuan-ketentuan yang muluk-muluk tetapi tidak berisi seperti dalam
Konstitusi RIS tahun 1949 dan UUDS 1950, akan tetapi di dalamnya cuma terdapat
ketentuan-ketentuan mengenai hubungan di antara orang-orang Indonesia dan
negaranya yang sedang berjuang untuk kemerdekaan nasionalnya. 3 Hampir sependapat
dengan Masuda, adalah Solly Lubis yang menyatakan bahwa, hak-hak asasi yang
3
. Ato Masuda, UUD Negara RI Tahalun 1945 dan Perbandingannya dengan UUD Jepang, Universitas,
Jakarta, 1962, hal. 61.
4
dirumuskan dalam UUD lebih menunjukkan asas kekeluargaan, sedangkan negaranegara lain mendasarkan versianya pada asas liberalisme. 4
Umumnya, banyak pengkaji konstitusi melihat UUD yang dibuat tahun 1945
mengakui hak-hak asasi manusia. Tetapi bagi Moh. Yamin, “sewaktu UU (yang
dimaksudkan adalah UUD) Indonesia dirancang, maka kata pembukaannya menjamin
demokrasi, tetapi pasal-pasalnya benci kepada kemerdekaan diri, menentang liberalisme
dan demokrasi revolusioner. Akibat pendirian ini yaitu hak-hak asasi tidaklah diakui
seluruhnya, melainkan diambil satu dua saja yang kira-kira sesuai dengan suasana
politik dan sosial pada tahun 1945, yang dipengaruhi oleh peperangan antara negara
fasisme melawan negara demokrasi. UU organik yang menjamin atau membatasi hak
asasi yang tersebut dalam Konstitusi 1945 itu belum dibuat. Bagi Republik Indonesia
yang mengakui demokrasi dalam kata pembukaannya sebagai dasar negara maka
mencolok mata benar ke dalam UUD. Hanya tiga pasal yang menjamin hak itu, dan
ketiga pasal (pasal 27, 28, 29) itu berisi :
1. Kemerdekaan berserikat dan berkumpul;
2. Kemerdekaan fikiran;
3. Hak bekerja dan hidup;
4. Kemerdekaan beragama.
Kemerdekaan pertama dan kedua itu belumlah dipaparkan dengan UU, dan hak
asasi ketiga dan keempat hanyalah jaminan yang tidak diatur lebih lanjut. Waktu
merancang Konstitusi 1945, maka hak asasi yang lebih luas memang dimaksudkan,
tetapi usul itu kandas atas alasan bahwa pada waktu itu hak asasi dipandang sebagai
kemenangan liberalisme yang tidak disukai.” 5
Berbeda dengan Yamin, Drs. Soekarno dengan optimisme, menyatakan
“Walaupun UUD 1945 tidak dengan terang mencantumkan hak-hak dan kebebasankebebasan dasar tersebut namun ini tidak berarti bahwa UUD 1945 tidak mengakui
adanya hak-hak dan kebebasan-kebebasan dasar manusia tersebut. Hak-hak dan
kebebasan-kebebasan tersebut memang dilakukan secara sepintas lalu saja, namun UUD
1945 telah mencakup hak-hak dalam empat lapangan, yakni hak-hak dalam lapangan
politik (pasal 28); hak-hak dalam lapangan ekonomi (pasal 27 ayat 2); hak-hak dalam
4
. Solly Lubis, Pembahalasan UUD 1945, Penerbit Alumni, Bandung, 1997, hal. 6.
. H. Moh. Yamin, Proklamasi dan Konstitusi, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1953, hal. 90-91.
5
5
lapangan sosial (pasal 34); hak-hak dalam lapangan kebudayaan (pasal 31). 6 Soekarno,
mengingatkan bahwa UUD Proklamasi ini disusun dalam tempo yang mendesak sekali
pada tahun 1945, dan segala sesuatunya dapat dilanjutkan pengaturannya dalam
peraturan-peraturan organik oleh pemerintah, eksekutif dan DPR. Ia, sebagai Ketua
Panitia Perancang UUD dengan tegas menyatakan bahwa UUD Proklamasi yang
ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945 sebagai “Konstitusi Ekspres, alias UUD Kilat”.
Dalam konteks yang demikian, menurut pandangan Bagir Manan, peperangan Asia
Timur Raya merupakan kenyataan paling dominan mempengaruhi pada saat
penyusunan UUD 1945. Salah satu pengaruhnya adalah keadaan serba tergesa-gesa
dalam penyusunan dan pengesahan UUD 1945, sehingga didapati berbagai
kekurangan. 7
Bila dibandingkan dengan Konstitusi RIS dan UUDS 1950, hak-hak asasi
manusia yang diatur dalam Konstitusi RIS jauh lebih lengkap, dan dimasukkan dalam
suatu bagian tersendiri oleh UUDS 1950, yaitu dalam Bagian V yang meliputi 27 pasal
(lihat pasal 7 sampai pasal 34). Yamin sendiri mencatat dalam kitabnya “Proklamasi
dan Konstitusi RIS”, sebagaimana dikutip oleh Koentjoro, menyatakan bahwa
“Konstitusi RIS dan UUDS 1950 adalah satu-satunya dari segala konstitusi yang telah
berhasil memasukkan hak asasi manusia seperti putusan UNO itu ke dalam Piagam
Konstitusi” 8
Dalam masa pemberlakuan UUDS, krisis yang terjadi sepanjang tahun 19501959, terlebih-lebih setelah Pemilu 1955 tidak menghasilkan partai mayoritas mutlak
sehingga gagal melakukan pembentukan pengganti UUDS. 9 Setelah melalui Dekrit
Presiden 1959, Soekarno yang saat itu kecewa dengan hasil sidang Dewan Konstituante,
memberlakukan kembali UUD 1945 dan menyatakan adanya Demokrasi Terpimpin
(Guided
Democracy),
dengan
jalan
yang
6
sesungguhnya
“inkonstitutional”. 10
. Drs. Soekarno, Tata Negara Indonesia, hal. 145, sebagaimana dikutip oleh Solly Lubis, 1997, hal. 271.
. Prof. Dr. Bagir Manan, SH., MCL., Perkembangan UUD 1945, FHAL UII Press, Yogyakarta, 2004, hal. 13.
8
. Prof. Mr. Koetjoro Poerbopranoto, Hak-Hak Manusia dan Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia,
Groningen, J.B. Wolters, Jakarta, 1953, hal. 92.
9
. Perbedaan yang tajam di antara para politisi saat itu memang banyak terjadi, dan kabinet begitu mudah
berganti-ganti, ditambah pula pergolakan di daerah yang terus menerus terjadi, seperti pergolakan dengan PRRI dan
Permesta. Sementara partai yang mayoritas mutlak tidak ada, maka menambah deretan persoalan tidak segera
terbentuknya konstitusi baru yang macet tatkala tidak berhasil menyepakati dasar negara. Meskipun partai mayoritas
mutlak bukanlah syarat untuk bisa mengubah atau mengamandemen UUD, tetapi saat itu quorum sidang tidak
terpenuhi sebagaimana diatur dalam pasal 137 ayat (1) dan (2) UUDS 1950.
10
. Pemberian tanda kutip di atas kata inkonstitutional disengaja untuk menjelaskan, bahwa dalam situasi
ketatanegaraan yang macet, buntu, dan tidak segera mendapat jalan keluar, sementara struktur kelembagaan negara
yang seharusnya bekerja untuk menyelesaikannya tidak bisa melakukan tindakan lebih jauh, maka langkah Soekarno
7
6
Pemberlakukan kembali UUD 1945 yang diharapkan memberikan proses demokratisasi
dan penopang jaminan hak-hak asasi manusia, sangat berat dilakukan, karena banyak
sekali praktek penyalahgunaan kekuasaan yang justru diawali dari sang pemimpin itu
sendiri.
Hal ini diperjelas dengan pandangan Bagir Manan yang menyatakan bahwa
kembali ke UUD 1945 berarti kembali pada produk yang dibuat secara tergesa-gesa
yang mengandung kekosongan. Selain soal hak asasi, sistem check and balances yang
kurang memadai, sistem UUD 1945 sangat menekankan pada kekuasaan eksekutif
(executive heavy). Sehingga ia menyimpulkan potensi menuju sistem kediktatoran
penguasa, sebagaimana terjadi pada rezim Orde Lama dan Orde Baru. 11
Gagasan negara yang berlandaskan konstitusi dan hukum juga secara jelas
terekam dalam perdebatan di sidang pleno konstituante pada saat membahas falsafah
negara atau dasar negara, HAM, dan pemberlakuan kembali UUD 1945 antara kurun
waktu tahun 1956- 1959. Dalam rentangan berdirinya bangsa dan negara Indonesia telah
lebih dulu dirumuskan dari Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia (DUHAM)
PBB, karena Pembukaan UUD 1945 dan pasal-pasalnya diundangkan pada tanggal 18
Agustus 1945, adapun Deklarasi PBB pada tahun 1948. Hal tersebut merupakan fakta
pada dunia bahwa bangsa Indonesia sebelum tercapainya pernyataan HAM sedunia oleh
PBB, telah mengangkat dan melindunginya dalam kehidupan bernegara yang tertuang
dalam UUD 1945. Hal ini juga telah ditekankan oleh para pendiri negara, misalnya
pernyataan Moh. Hatta dalam sidang BPUPKI sebagai berikut : “Walaupun yang
dibentuk itu negara kekeluargaan, tetapi masih perlu ditetapkan beberapa hak dari warga
negara agar jangan sampai timbul negara kekuasaan (Machsstaat atau negara
penindas)”.
Deklarasi bangsa Indonesia pada prinsipnya termuat dalam naskah Pembukaan
UUD 1945, dan Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber normatif bagi hukum positif
Indonesia terutama penjabaran dalam pasal-pasal UUD 1945. Dalam Pembukaan UUD
1945 alinea kesatu dinyatakan bahwa “kemerdekaan ialah hak segala bangsa”. Dalam
secara hukum bisa dikatakan keliru, tetapi secara politik (atau tepatnya naluri sebagai politisi) dengan perhitungan
resiko-resiko ketatanegaraan untuk mencari jalan keluar penyelesaian adalah hal yang patut dihargai sebagai langkah
yang menyelamatkan situasi negara akibat perpecahalan yang terjadi di level elit politik.
11
. Prof. Dr. Bagir Manan, SH., M.C.L., Perkembangan UUD 1945, FH UII Press, Yogyakarta, 2004, hal. 1718. Potensi ini bisa dilihalat dari upaya sakralisasi dan ideologisasi UUD 1945 sebagai cara mencengkeram
kekuasaan, sehingga UUD 1945 dinyatakan tidak dapat diganggu gugat (onchalenbaar). Bila ada fikiran atau
tindakan untuk mengubahalnya maka dipandang sebagai upaya “merongrong pembangunan” yang mengancam sendisendi dasar bernegara.
7
pernyataan tersebut terkandung pengakuan secara yuridis hak asasi manusia tentang
kemerdekaan sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 PBB DUHAM. Dasar filosofi
HAM tersebut bukanlah kebebasan individualis, melainkan menempatkan manusia
dalam hubungannya dengan bangsa (makhluk sosial) sehingga HAM tidak dapat
dipisahkan dengan kewajiban asasi manusia. Kata-kata berikutnya adalah pada alinea
ketiga Pembukaan UUD 1945, sebagai berikut: “Atas berkat rahmat Allah Yang
Mahakuasa dan dengan didorong oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan
kebangsaan
yang
bebas,
maka
rakyat
Indonesia
menyatakan
dengan
ini
kemerdekaannya”.
UUD 1945 sebelum diubah dengan perubahan kedua pada tahun 2000, hanya
memuat sedikit ketentuan yang dapat dikaitkan dengan pengertian HAM. Pasal yang
biasa dinisbatkan dengan pengertian HAM yaitu Pasal 27 ayat (1) dan ayat (2), Pasal
28, Pasal 29 ayat (2), Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 34. Dari semua
pasal tersebut, istilah HAM tidak dijumpai namun yang ditemukan adalah hak dan
kewajiban warga negara. Meskipun UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis yang di
dalamnya memuat hak-hak dasar menusia serta kewajibannya yang bersifat dasar pula,
seharusnya mengenai HAM dicantumkan secara tegas dalam UUD Tahun 1945. Namun
jika diperhatikan dengan sungguh-sungguh hanya satu ketentuan saja yang memang
memberikan jaminan konstitusional atas HAM yaitu Pasal 29 ayat (2) yang
menyatakan, “negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan itu”.
Sedangkan ketentuan yang lain, sama sekali bukan rumusan tentang HAM, melainkan
hanya kententuan mengenai hak warga negara atau the citizen rights atau biasa juga
disebut the citizen constituonal rights. Hak konstitusional warga negara hanya berlaku
bagi orang yang berstatus sebagai warga negara, sedangkan bagi orang asing tidak
dijamin. Satu-satunya yang berlaku bagi tiap-tiap penduduk, tanpa membedakan status
kewarganegaraannya adalah Pasal 29 ayat (2) tersebut. Selain itu, ketentuan Pasal 28
dapat dikatakan memang terkait dengan ide HAM. Akan tetapi, Pasal 28 UUD 1945
belum memberikan jaminan konstitusional secara langsung dan tegas mengenai adanya
kemerdekaan berserikat dan berkumpul serta kemerdekaan mengeluarkan pikiran
dengan lisan dan tulisan bagi setiap orang, Pasal 28 hanya menentukan hal ihwal
mengenai kemerdekaan berserikat dan berkumpul, serta mengeluarkan pikiran dengan
8
lisan dan tulisan itu masih akan diatur lebih lanjut dan jaminan mengenai hal itu masih
akan ditetapkan dengan undang-undang.
Dalam UUD Tahun 1945 perubahan kedua, pengaturan mengenai HAM
tercantum dalam satu bab tersendiri yaitu dalam Bab XA dengan 10 pasal serta 24 ayat
yaitu Pasal 28A sampai dengan Pasal 28J terkait jaminan HAM dan penegakan hukum
untuk menjamin tegaknya HAM sebagai sebuah pilar negara hukum. Rumusan
mengenai HAM ini sangat lengkap yang mencakup seluruh aspek HAM yang diakui
secara universal. Seluruh HAM yang tercantum dalam Bab XA UUD 1945
keberlakuannya dapat dibatasi. HAM dapat dibatasi juga diperkuat dengan Pasal 28J
sebagai pasal penutup dari seluruh ketentuan yang mengatur tentang HAM. Sistematika
pengaturan mengenai HAM dalam UUD 1945 ini sejalan pula dengan sistematika
pengaturan dalam Universal Declaration of Human Rights yang juga menempatkan
pasal pembatasan HAM sebagai pasal penutup, yaitu Pasal 29 ayat (2) yang berbunyi,
:”in the exercise of his rights and freedoms, everyone shall be subject only to such
limitations as are determined by law solely for the purposes of securing due regocnition
and respect for the rights and freedoms of others and of meeting the just requirements
of morality, public order and the general walfare in a democratic society.” HAM harus
pula dipahami bahwa setiap orang memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang juga
bersifat asasi. Setiap orang, selama hidupnya sejak sebelum kelahiran, memiliki hak dan
kewajiban yang hakiki sebagai manusia. Pembentukan negara dan pemerintahan, untuk
alasan apapun, tidak boleh menghilangkan prinsip hak dan kewajiban tidak ditentukan
oleh kedudukan orang sebagai warga suatu negara. Setiap orang di manapun ia berada
harus dijamin hak-hak dasarnya. Pada saat yang bersamaan, setiap orang di manapun ia
berada, juga wajib menjunjung tinggi hak-hak asasi orang lain sebagaimana mestinya.
Keseimbangan kesadaran akan adanya hak dan kewajiban asasi ini merupakan ciri
penting pandangan bangsa Indonesia mengenai manusia dan kemanusiaan yang adil dan
beradab.
HAM yang diatur dalam perubahan kedua UUD 1945 tidak ada yang bersifat
mutlak, termasuk hak asasi yang diatur dalam Pasal 28I ayat (1) UUD 1945.
Pembatasan HAM di Indonesia telah memberikan kejelasan bahwasannya tidak ada satu
pun HAM di Indonesia yang bersifat mutlak dan tanpa batas. HAM dalam UUD 1945
dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok, yaitu hak sipil dan politik, hak
9
ekonomi, sosial, dan budaya, hak atas pembangunan dan hak khusus lain, serta
tanggung jawab negara dan kewajiban asasi manusia. Selain itu, terdapat hak yang
dikategorikan sebagai hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (non
derogable rights) yang meliputi hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak
kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak
untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar
yang berlaku surut. Sebelum perubahan UUD 1945, pada tahun 1988-1990 yaitu pada
masa pemerintahan Presiden BJ Habibie, telah dikeluarkan Ketetapan MPR RI Nomor
XVII/1998 mengenai HAM yang di dalamnya tercantum Piagam HAM Bangsa
Indonesia dalam Sidang Istimewa MPR RI 1998, dan dilanjutkan dengan UndangUndang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Kedua peraturan perundang-undangan
tersebut telah mengakomodir DUHAM. Apa yang termuat dalam perubahan UUD 1945
(Pasal 28A s/d Pasal 28J) adalah merujuk pada kedua peraturan perundang-undangan
tersebut, dengan perumusan kembali secara sistematis. Kecurigaan bahwa konsep HAM
yang diadaptasi oleh bangsa Indonesia selama ini dari Barat diantisipasi oleh
amandemen pada Pasal 28J UUD 1945 yang mengatur adanya pembatasan HAM.
Karena itu, pemahaman terhadap Pasal 28J pada saat itu adalah pasal mengenai
pembatasan HAM yang bersifat sangat bebas dan indvidualistis itu dan sekaligus pasal
mengenai kewajiban asasi. Jadi tidak saja hak asasi tetapi juga kewajiban asasi.
Ketentuan HAM dalam UUD 1945 yang menjadi basic law adalah norma tertinggi yang
harus dipatuhi oleh negara. Karena letaknya dalam konstitusi, maka ketentuanketentuan mengenai HAM harus dihormati dan dijamin pelaksanaanya oleh negara.
Karena itulah pasal 28I ayat (4) UUD 1945 menegaskan bahwa perlindungan,
pemajuan, penegakkan, dan pemenuhan HAM adalah tanggung jawab negara terutama
pemerintah. Pengaturan mengenai HAM dalam UUD 1945 yaitu bahwa antara hak dan
kewajban warga negara adalah seimbang. Kebebasan HAM terhadap manusia lainnya
dibatasi oleh undang-undang. Pembatasan atas pelaksanaan HAM hanya dapat
ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin
pengakuan dan penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi
tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan
ketertiban umum dalam masyarakat demokratis. HAM di Indonesia bersumber dan
bermuara pada Pancasila. Yang artinya HAM mendapat jaminan kuat dari falsafah
10
bangsa, yakni Pancasila. Bermuara pada Pancasila dimaksudkan bahwa pelaksanaan
HAM tersebut harus memperhatikan garis yang telah ditentukan dalam ketentuan
falsafah Pancasila. Bagi bangsa Indonesia, melaksanakan HAM bukan berarti
melaksanakan dengan sebebas-bebasnya melainkan harus memperhatikan ketentuan
yang terkandung dalam pandangan hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Hal ini
disebabkan pada dasarnya memang tidak ada hak yang dapat dilaksanakan secara
mutlak tanpa memperhatikan hak orang lain. Pengaturan HAM dalam UUD 1945
mengatur hak-hak dasar setiap warga negara di dalam bidang sosial, ekonomi, politik,
budaya, sipil, serta hak atas pembangunan. Setiap warga negara seimbang antara hak
dan kewajibannya. Pengaturan mengenai HAM dalam UUD 1945 adalah seimbang
antara hak dan kewajiban.
2.
Konstitusi Indonesia Setelah Tahun 1999 Sampai Era Reformasi
Di bawah hukum dasar yang sama, memungkinkan terjadinya pergeseran-
pergeseran atau juga pergesekan-pergesekan politik dalam rangka mencapai tujuan
negara sebagaimana tercantum dalam UUD. Kajian terhadap hukum dasar tersebut,
secara teori tidak bisa dilepaskan dari praktik ketatanegaraan yang telah berjalan, karena
sistem ketatanegaraan Indonesia dijalankan berdasarkan tidak hanya pada konstitusi
tertulis (UUD), tetapi juga didasarkan pada kebiasaan praktik penyelenggaraan
pemerintahan. Meskipun demikian, UUD sebagai hukum tata negara tertulis memiliki
ajaran-ajaran (karena mengandung tinjauan ideologi dan filosofi negara) yang menjadi
pemandu ukuran konstitutionalitas bagi tindakan (tanggung jawab) pemerintah atas
nama negara terhadap rakyatnya. Mengkaji sistem ketatanegaraan belumlah cukup
hanya dengan mengkaji dari sisi asas atau ajaran dalam konstitusi, karena konstitusi
berbeda dengan hukum konstitusi dan ia hanya salah satu sumber dari hukum konstitusi.
Finer menyatakan, “that these documents are highly incomplete, if not misleading,
guides to actual practice, that is to what is often called the “working constitution” or
the “governance” of a country.” 12
Untuk menelusuri sistem ketatanegaraannya, maka kita mengawali dengan
melihat bagaimana tujuan suatu negara itu. Ada dua pembedaan fungsi dan tujuan
negara, yakni fungsi dan tujuan negara klasik dan fungsi dan tujuan negara modern.
12
. SE Finer (et al.), Comparing Constitutions, 1995, hal. 1.
11
Fungsi dan tujuan negara klasik ialah hanya memelihara ketertiban dan keamanan
masyarakat, negara hanya merupakan negara penjaga malam (nacht wakerstaat). 13
Sedangkan fungsi dan tujuan negara yang modern adalah di samping berfungsi
pemeliharaan ketertiban dan keamanan, negara juga berfungsi dan bertujuan untuk
menyelenggarakan kesejahteraan umum bagi seluruh warganya dalam arti seluasluasnya, jasmaniah, rohaniah, di lapangan ekonomi, sosial, kultural, dan lain-lain.14
Pembedaan tersebut juga memiliki implikasi terhadap konteks hukum dalam kaitan
fungsi dan tujuan negara hukum, dimana Prof. Dr. E. Utrecht menyatakan adanya
“klassiekerechtstaat” (negara hukum klasik atau negara hukum dalam arti formal) dan
“modernrechtstaat” (negara hukum modern dalam arti materiil, yang melihat
berlakunya hukum yang tidak hanya tertulis, tetapi mengkui hukum tidak tertulis serta
melihat tujuan negara yang lebih memperluas kesejahteraan warganya). 15
Para pendiri negara kita telah mengkonsepsikan bahwa negara Indonesia
merupakan negara yang berdasarkan hukum, negara yang demokratis (berkedaulatan
rakyat), berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dan berkeadilan sosial, atau disebut
oleh Prof. Mukhtie sebagai “theo-democratische-sozial-rechstaat”. 16 Indonesia yang
menegaskan dirinya sebagai negara hukum, memiliki beberapa tujuan sebagaimana
termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, yang salah satunya menyebutkan tujuan untuk
memajukan kesejahteraan umum, sehingga ia terkategori sebagai bagian dari bentuk
negara hukum modern (modernsrechtstaat). 17
Meskipun demikian, kita harus lebih berhati-hati menggunakan pengistilahan
modern dalam arti tersebut, karena seringkali pemahamannya akan justru terjebak
dalam simplifikasi “normativisme”. Karena istilah modern tidak serta merta berarti soal
hukum harus tertulis, dan atau terundangkan, tetapi secara substansial mengandung
pengertian pembeda dan lebih luas, yakni upaya mencapai tujuan penyejahteraan warga
negaranya.
13
. J. Barent, Ilmu Politik (terjemahalan dari De Wetenschalap Der Politiek), PT. Pembangunan, Jakarta, 1965,
hal. 152.
14
. A. Mukhtie Fadjar, Tipe Negara Hukum, Bayumedia-Intrans, Malang, 2004, hal. 34.
15
. Utrech, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, Balai Buku Ichaltiar, Jakarta, 1962, hal. 19.
16
. A. Mukhtie Fajar, Konsep Negara Hukum dan Pembangunan, master thesis, 1985, dikutip dari A. Mukhtie
Fadjar, Tipe Negara Hukum, Bayumedia-Intrans, Malang, 2004, hal. 85.
17
. Menarik pula berdasarkan analisis Kuntjoro Purbopranoto bahwa Tujuan Negara yang dimiliki Indonesia
berdasarkan UUD 1945 tersebut memiliki dua arah, yakni ‘tujuan ke dalam’ terhadap seluruh bangsa Indonesia dan
juga ‘tujuan ke luar’, yang ditujukan kepada dunia internasional yakni untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Tetapi, dalam Mukadimana Konstitusi RIS dan
UUDS, ‘tujuan ke luar’ tersebut tidak lagi disebut dan berubah penyusunannya. Lihat, Kuntjoro Purbopranoto, HakHak Asasi Manusia dan Pancasila, Pradnya Paramita, Jakarta, 1979, hal. 45.
12
Pasca amandemen UUD 1945, tujuan negara yang termaktub dalam Pembukaan
UUD 1945, tetap tidak mengalami pengubahan dalam amandemen I-IV yang dilakukan
sejak tahun 1999-2002. Artinya, meskipun pasal-pasal atau dulu disebut batang tubuh
UUD 1945 mengalami banyak perubahan, bahwa konsepsi tujuan negara tersebut tetap
dipergunakan sebagai landasan setiap penyelenggaran kehidupan negara dan bangsa
Indonesia. Tetapi, dalam pasal-pasalnya, pengaturan hak-hak asasi manusia yang
terdapat dalam UUD 1945 pasca amandemen mengalami banyak sekali perubahan dan
tambahan, yang nampak mencolok dan sangat berkeinginan untuk memasukkan segala
hak-hak yang diakui secara universal dalam Universal Declaration of Human Rights
1948.
Di dalam UUD 1945 tersebut, terselip konsepsi tanggung jawab negara dalam
hak asasi manusia (state responsibilities), sebagaimana terlihat dalam pasal 28I (4) dan
(5), yang menyatakan “Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi
manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah dan Untuk menegakkan
dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang
demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam
peraturan perundang-undangan.” 18 Keduanya, merupakan kunci dalam melihat
tanggung jawab konstitutional yang harus dilakukan oleh negara, dalam hal ini
pemerintah, untuk melaksanakan upaya-upaya pemajuan hak asasi manusia.
Kedua pasal tersebut juga memiliki konsepsi tersendiri sebagai elemen
kewajiban negara. Konsepsi dalam pasal 28I ayat (4), saya sebut sebagai konsep
realisasi progresif (progressive realization), yang secara substansi menegaskan bahwa
negara harus memajukan kondisi hak-hak asasi manusia secara berkelanjutan, maju
(tiada kesengajaan/kelalaian untuk mundur), dan jelas ukuran atau tahapannya.
Sedangkan pasal 28I ayat (5), disebut sebagai konsepsi pendayagunaan kewenangan dan
instrumentasi hukum. Artinya, negara dalam menjalankan kewajibannya, ia bisa
menggunakan segala kewenangannya terutama untuk membangun instrumentasi hukum
sebagai sarana yang melindungi hak-hak masyarakat, baik dalam pembentukan saranasarana kelembagaan yang melindungi hak-hak asasi manusia maupun proses legislasi.
Bila diperbandingkan, khususnya dalam diskursus hukum tanggung jawab
negara atas hak asasi manusia, terutama bila kita menyimak perdebatan-perdebatan
18
. Ketentuan pasal 28 (4) dan (5) UUD 1945 dihasilkan dalam Perubahan Kedua, disahkan 18 Agustus 2000.
13
dalam sidang umum PBB untuk melihat laporan hasil kemajuan rutin masalah hak asasi
manusia di setiap negara, dikenal pula konsepsi tanggung jawab negara dalam mandat
hukum internasional. Konsepsi tersebut disandarkan pada instrumentasi hukum hak
asasi manusia internasional, yakni pasal 2 ayat (1) International Covenant on Economic,
Social and Cultural Rights 1966 (selanjutnya disebut ICESCR 1966) 19, dinyatakan:
“Each State party to the present Covenant undertakes to take steps, individually and
through international assistance and co - operation, especially economic and technical,
to the maximum of available resources, with a view to achieving progressively the full
realization of the rights recognized in the present Covenant by all appropriate means,
including particularly the adoption of legislative measures.”
Pasal tersebut mengandung empat konsepsi kewajiban hukum negara di bawah
provisi ICESCR 1966, yakni: (1) undertakes to take steps, (2) to the maximum available
resources, (3) achieving progressively the full realization, and (4) by all appropriate
means including particularly the adoption of legislative measures.
Konsepsi ‘undertakes to take steps’ atau mengambil langkah-langkah, 20
merupakan elemen pertama yang menegaskan bahwa negara akan bertanggungjawab
atas segala tindakan atau tiadanya tindakan dalam upaya perlindungan dan pemenuhan
hak-hak asasi manusia. Konsepsi kedua, adalah ‘to the maximum available resources’,
atau upaya pemaksimalan sumberdaya. Upaya memaksimalkan ketersedian sumberdaya
merupakan elemen penting untuk memahami bahwa negara memiliki kewajiban untuk
memprioritaskan program-programnya dan mendayagunakan alokasi sumberdayanya
secara optimal. Konsepsi ini merupakan konsepsi yang menghubungkan antara alokasi
sumberdaya anggaran dengan kewajiban negara dalam hak-hak asasi manusia.
Sedangkan konsepsi ‘achieving progressively the full realization’ dan ’by all
appropriate means including particularly the adoption of legislative measures’,
merupakan konsepsi yang hampir sama dengan konstruksi hukum yang diatur dalam
pasal 28I ayat (4) dan (5) UUD 1945. Dalam UU HAM, juga sama dengan kontruksi
hukum yang ada dalam UUD 1945, yakni mendayagunakan kewenangan dan saranasarana hukum, baik pembentukan lembaga dan hukum baru, review perundangundangan atau kebijakan, atau juga ratifikasi aturan hukum internasional. Bisa
19
. ICESCR sudah diratifikasi dengan UU No. 11 Tahun 2005.
. Konsepsi ini juga dikenal dalam pasal 2 ayat (2) International Covenant on Civil and Political Rights
(ICCPR) 1966.
20
14
disimpulkan bahwa, baik UUD 1945 maupun UU HAM tidak mengenal konsep
kewajiban negara yang pertama dan kedua, yakni yang berupa mengambil langkahlangkah dan upaya pemaksimalan sumberdaya.
Secara konsepsional, tanggung jawab negara yang dimiliki dalam UUD 1945
pasca amandemen dengan hukum HAM internasional masih kurang lengkap, sehingga
faktor ini pulalah yang menyebabkan banyak permasalahan HAM terutama dalam
bidang hak ekonomi, sosial dan budaya kurang diperhatikan. Salah satu contohnya
adalah, ketidakbecusan pemerintah dalam mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan
dasar rakyat miskin bukanlah dipandang sebagai bentuk pelanggaran terhadap
kewajiban negara dalam hak-hak asasi manusia, melainkan hanya dilihat sebagai
persoalan programatik prosedural dan kewajaran tanpa ukuran yang jelas, baik arah
maupun dasar perumusannya. 21 Oleh sebab itu, kegagalan negara dalam mewujudkan
hak-hak asasi manusia sesungguhnya telah dimulai dalam kerangka hukum normatifnya
dalam konstitusi yang lemah dan tidak lengkap.
Di sisi lain, konsep tanggung jawab yang diatur dalam UUD 1945 pasca
amandemen, mengenal apa yang disebut kewajiban asasi (human obligations),
sebagaimana diatur dalam pasal 28J ayat (1) dan (2). Dalam pasal tersebut, “Setiap
orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, dan Dalam menjalankan hak dan
kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan
undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta
penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang
adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban
umum dalam suatu masyarakat demokratis.”
Konsep human obligations ini dimaksudkan untuk melengkapi bahwa persoalan
hak-hak asasi manusia tidak sekedar persoalan di tanggung jawab negara, tetapi ada
pula kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap manusia termasuk wilayah-wilayah
yang tidak mungkin seratus persen dijangkau oleh negara. Seperti contoh persoalan
kekerasan dalam rumah tangga, pemaksaan keyakinan atau agama dalam keluarga,
eksploitasi anak-anak dalam ekonomi keluarga, dan masih ada contoh lainnya yang
21
. R. Herlambang Perdana Wiratraman, Anggaran Berbasis Kebutuhan Dasar Rakyat Miskin: Sebuah Agenda
Advokasi Kebijakan Anggaran dan Perubahan Gerakan Sosial Akar Rumput, Paper untuk Lokakarya “Pengawasan
Anggaran”, 29-31 Januari 2004.
15
mana negara tidak bisa terlibat sepenuhnya karena ada faktor non-negara seperti tradisi
atau budaya. Meskipun demikian, konsep human obligations ini sama sekali tidak
mengajak untuk menegasikan peran negara, melainkan justru sifatnya melengkapi peran
utama negara dalam HAM (state responsibilities).
C. HAM DAN GLOBALISASI
Globalisasi telah menjadi realita harian yang tidak dapat dihindari. Prosesnya
yang berlangsung sangat cepat dan kompleks dengan jangkauan aspek-aspek yang luas,
tanpa dapat dihentikan masuk ke seluruh bidang kehidupan umat manusia. Globalisasi
adalah proses multidimensional dalam aspek sosial, ekonomi, politik, kultural yang
bergerak secara ekstensif dan intensif ke dalam masyarakat dunia. 22
Secara harfiah global berarti sedunia, sejagat. 23 Kata ini selanjutnya menjadi
istilah yang merujuk kepada suatu keadaan di mana antara satu negara dengan negara
lain sudah menyatu. Batas teritorial, kultural, dan sebagainya sudah bukan merupakan
hambatan lagi untuk melakukan penyatuan tersebut. Situasi ini tercipta berkat adanya
dukungan teknologi canggih di bidang komunikasi, seperti radio, televisi, telephon,
faxsimile, internet dan sebagainya.
Globalisasi kemudian menembus batas ruang dan waktu,dan aksesibel. Lahirnya
teritori dunia baru yang mendunia, kemudian berpengaruh pada dunia lokal. Dengan
demikian, globalisasi dapat dimaknai sebagai faktor yang bekerja secara bersamaan,
danfaktor itu meliputi ekonomi informasi, percepatan teknologi komunikasi, dan politik
internasional. Kesemuanya terangkum dalam jaringan saling berhubungan. 24
Globalisasi juga dimaknai dengan peningkatan, keterkaitan dan ketergantungan
antar-bangsa dan antar-manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi,
perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi lainnya, sehingga batas-batas
suatu negara tersamarkan. Di samping itu, globalisasi juga dikaitkan dengan
berkurangnya kedaulatan negara dalam melindungi kepentingan nasionalnya. Secara
sederhana, globalisasi dipahami sebagai suatu proses pengintegrasian ekonomi nasional
bangsa-bangsa ke dalam suatu sistim ekonomi global dengan aktor perusahaan22
. Nanang Indra Kurniawan, "Masyarakat Dunia, Globalisasi dan Nation-State", dalam Nanang Pamuji
Mugasejati dan Ucu Martanto, Kritik Globalisasi & Neoliberalisme, FISIP UGM, Yogyakarta, 2006, hal. 36.
23
. John M. Echalols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996,
hal. 271.
24
.
Hanifati
Alifa
Radhalia,
Globalisasi
dan
Antropologi,
halttp://www.academia.edu/4247579/Review_Globalisasi. akses, 14-05-2015
16
perusahaan
transnasional-Transnasional
Corporations
(TNCs),
World
Organization (WTO), serta World Bank dan International Monetary Fund (IMF).
Trade
25
Akbar S. Ahmed dan Hastings Donan memberi batasan bahwa globalisasi ”pada
prinsipnya mengacu pada perkembanganperkembangan yang cepat di dalam teknologi
komunikasi, transformasi, informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang
jauh (menjadi hal-hal) yang bisa menjangkau dengan mudah”. 26
Globalisasi sebagai kelanjutan multinasionalisasi dan transnasionalisasi telah
merobohkan batas-batas kebudayaan secara meluas lebih dari sekadar melintasi batas
geografis administrasi antar negara. Proses ini menjadikan manusia dengan relasi-relasi
sosial budayanya sebagai sub-human dalam pusaran pasar global dunia. Globalisasi
bahkan merupakan puncak dari kapitalisme dunia di penghujung abad ke-20 ini, yang
memberikan kemungkinan besar kepada dunia kemanusiaan sebagai tersubordinasi dan
terkooptasi oleh mesin kapitalisme global yang keras dan serba melintasi. Sejumlah
krisis kemanusiaan diduga akan semakin massive dan kompleks. 27
Setidaknya ada lima dampak buruk globalisasi bagi masyarakat. Pertama,
pengaburan batas-batas kultural dan geografis/ekologis tidak diperhatikan, sehingga
kemampuan menyesuaikan diri dan daya tahan menurun, terutama bagi masyarakat atau
negara lemah. Kedua, gaya pikir akan dipengaruhi oleh produsen informasi dan
penyebarannya yang dominan sehingga menimbulkan gangguan yang tidak dapat
diadaptasi. Ketiga, hak-hak manusia yang dipropagandakan adalah versi Barat dengan
bersandar pada individualisme. Hak-hak kelompok banyak terlanggar, tetapi diabaikan
saja. Hak-hak manusia seringkali dikalahkan
oleh hak-hak modal, sehingga globalisme dapat dianggap perang pembebasan
modal. Keempat, terancamnya demokrasi oleh globalisme. Demokrasi berarti banyak
pilihan, multiopsional, tiap-tiap manusia dan negara bebas memilih yang terbaik untuk
dirinya. Sedangkan globalisme mengurangi penganekaragaman di dunia yang sangat
bervariasi. Kelima, kontak budaya akan terjadi dalam skala besar, cepat,
multidimensional dan serempak, sehingga tidak dapat dielakkan terjadinya peniadaan
25
. Daryono, halttp://sekolahbareng.blogspot.com/2012/10/konsep-dan-ciri-ciriglobalisasi. html. akses 14-05-
2015
26
. Akbar S. Ahmed dan Hastings, Islam, Globalization and Postmodernity Routledge, London, 1994, hal. 1.
Mereka mendasarkan referensi dari A. Giddens, Thale Cosequences of Modernity, Polity Press , Cambridge, 1990,
hal. 64.
27
. Haedar Nashalir, “Sains, Modernitas, dan Kemanusiaan”, dalam Jurnal Inovasi, No. 1. TH. VIII. 1998. Hal.
6.
17
budaya, kesalahan adaptasi, dan kegoncangan budaya. Pengaruh yang mencolok terlihat
dari perubahan pola hubungan antar anggota masyarakat. Masyarakat sebagai individu
lebih bersikap individualistik, hedonis dan acuh terhadap orang lain.
Kelima hal di atas adalah sedikit catatan dari dampak buruk globalisasi.
Globalisasi yang ditandai dengan pesatnya penemuan hal baru baik dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi semakin mendorong masyarakat untuk berubah dengan
cepat. Melalui berbagai peralatan
tersebut berbagai peristiwa atau kejadian yang terjadi di belahan dunia yang lain
pun dapat dengan mudah diketahui bahkan diakses. Semakin banyak manusia
menggunakan peralatan tersebut semakin banyak informasi yang dapat diketahui.
Selanjutnya, mengingat arus informasi tersebut demikian banyak dan padat, maka
tingkat kecepatan untuk mendapatkan informasi tersebut menjadi semakin tinggi.
Pada dataran empirik globalisasi berarti proses kaitan yang semakin erat dari
semua aspek kehidupan, suatu gejala yang muncul dari interaksi yang semakin intensif
dalam perdagangan, transaksi finansial, media dan tehnologi. 28
Globalisasi mengandung ambivalensi. Di satu sisi, proses globalisasi merupakan
kesempatan besar di zaman ini yang membawa kepada perkembangan yang semakin
manusiawi sampai ke pojok-pojok dunia dan memberikan keuntungan bagi semuanya.
Namun di sisi lain, globalisasi melahirkan pertentangan antar manusia di muka bumi
ini, yang disebabkan oleh arus penyeragaman budaya yang memaksa. 29
Selain membawa dampak positif berupa peningkatan akumulasi modal,
teknologi, jaringan yang semakin luas; globalisasi juga membawa dampak negatif
seperti kondisi ketergantungan baik bagi individu, kelompok masyarakat maupun
Negara dan semakin parahnya kemiskinan
yang melanda penduduk di Negara-negara berkembang. Secara tajam dapat
dirumuskan, dengan istilah lain, globalisasi merupakan gejala yang sekaligus dirayakan
dan diratapi. 30
Oleh karena globalisasi terkait dengan situasi konkret dan hidup mati manusia di
planet bumi, maka sudah selayaknya dirumuskan suatu standar etika sosial berhadapan
28
. B. Herry Priyono, “Rakyat dalam Pusaran Globalisasi”, Kompas, 9/08/2002, halal.4-5.
. German Bishop’s Converence Research Group on thale Universal Tasks of the Chalurch, The Many Faces
of Globalization: Perspective for Human World Order, Bonn, 2000, hal. 11.
30
. B. Herry Priyono, “Rakyat dalam Pusaran Globalisasi”, hal. 12.
29
18
dengannya. German Bishop’s Conference (GBS), merumuskan dua premis menyangkut
standar etika sosial tersebut.
Pertama, rakyat hendaknya menjadi pusat setiap perkembangan atau
pembangunan. Yang menjadi dasar premis ini adalah martabat manusia. Orientasi
konkretnya, kaum miskin yang tidak mampu dan tidak punya peluang untuk ambil
bagian dalam proses pembangunan. Kedua, ekonomi, pasar, kemajuan tehnologi, dan
globalisasi bukan demi dirinya sendiri, melainkan merupakan sarana demi kesejahteraan
hidup dan perkembangan manusia. Yang menjadi orientasi di sini adalah tanggung
jawab bersama di berbagai tingkat untuk tujuan bonum communae, kebaikan bersama. 31
Globalisasi dilukiskan sebagai penyusutan ruang dan waktu yang belum pernah
terjadi sebelumnya, yang mencerminkan peningkatan interkoneksi dan interdependensi
sosial, politik, ekonomi dan kultural dalam skala global. 32 Ia dipahami sebagai tatanan
masyarakat baru yang tidak lagi membicarakan hal-hal yang sifatnya lokal.
Transformasi global telah merambah ke seluruh dunia, yang mana tidak lagi ada batasbatas yang jelas dalam suatu negara, budaya, transformasi, ekonomi, hukum dan bahkan
perilaku masyarakat. 33 Globalisasi mengakibatkan kian meredupnya keutamaan faham
negara bangsa (nation state) bahkan merupakan fenomena penting yang tidak bisa
dihindarkan oleh siapapun, bangsa manapun dan negara manapun, termasuk
masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. 34
31
. GBC, The Many Faces, p. 44-45. Baca juga Agustinus Mintara, “Modal Sosial dalam Arus Globalisasi”,
Basis, Nomor 1-2, Tahun ke-52, Januari-Februari 2003. hal. 44.
32
. Manfred B. Steger, Globalisme: Bangkitnya Ideologi Pasar, terj. Heru Prasetyo, Lafa di Pustaka,
Yogyakarta 2006, hal. 7.
33
. Paul Hirst & Grahame Thompson, Globalization in Question, terj. P. Soemitro, Yayasan Obor Indonesia,
Jakarta, 2006, hal. 1-2.
34
. Mahmud Thoha, Globalisasi, Krisis Ekonomi dan Kebangkitan Ekonomi Kerakyatan, Pustaka Quantum,
Jakarta, 2002, hal 1. Pembahasan tentang fenomena globalisasi selama ini pada umumnya menekankan pada besarnya
pengaruh globalisasi terhaladap perubahan budaya-budaya lokal di indonesiayang kemudian mengancam kestabilan
sistem budaya nasional. Ia seringkali dilihat sebagai sumber penyebab munculnya rasionalisasi, konsumerisme dan
komersialisasi budaya-budaya lokal yang kemudian mengakibatkan hancur dan hilangnya identitas budaya nasional.
Pandangan demikian sebenarnya masih sangat berat sebelah, masih menekankan dari satu sisi globalisasi, tetapi
belum melihat dari sisi yang lain, yakni strategi dan dinamika budaya-budaya lokal dalam merespon globalisasi. Baca
juga dalam Lambang Trijono, “Globalisasi Modernitas dan Krisis Negara Bangsa: Tantangan Integrasi Nasional
dalam Konteks Global”, dalam Jurnal Analisis CSIS Tahun XXV, No. 2 Maret-April 1996, hal. 136.
19
DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, Akbar S. dan Hastings, Islam, Globalization and Postmodernity Routledge,
London, 1994.
Barent, J., Ilmu Politik, PT. Pembangunan, Jakarta, 1965.
Daryono, halttp://sekolahbareng.blogspot.com/2012/10/konsep-dan-ciri-ciriglobalisasi.
html. akses 14-05-2015
Fadjar, A. Mukhtie, Tipe Negara Hukum, Bayumedia-Intrans, Malang, 2004.
Fajar, A. Mukhtie, Konsep Negara Hukum dan Pembangunan, master thesis, 1985.
German Bishop’s Converence Research Group on thale Universal Tasks of the
Chalurch, The Many Faces of Globalization: Perspective for Human World
Order, Bonn, 2000.
Giddens, A., Thale Cosequences of Modernity, Polity Press , Cambridge, 1990
Haedar Nashalir, “Sains, Modernitas, dan Kemanusiaan”, dalam Jurnal Inovasi, No. 1.
TH. VIII. 1998.
Hirst, Paul & Grahame Thompson, Globalization in Question, terj. P. Soemitro,
Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2006.
John M. Echalols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta, 1996.
Koetjoro Poerbopranoto, Hak-Hak Manusia dan Pancasila Dasar Negara Republik
Indonesia, Groningen, Jakarta, 1953.
Lubis, Solly, Pembahalasan UUD 1945, Penerbit Alumni, Bandung, 1997.
Manan, Bagir, Perkembangan UUD 1945, FH UII Press, Yogyakarta, 2004.
Masuda, Ato, UUD Negara RI Tahalun 1945 dan Perbandingannya dengan UUD
Jepang, Universitas, Jakarta, 1962.
Nanang Pamuji Mugasejati dan Ucu Martanto, Kritik Globalisasi & Neoliberalisme,
FISIP UGM, Yogyakarta, 2006.
Priyono, B. Herry, “Rakyat dalam Pusaran Globalisasi”, Kompas, 9/08/2002.
Radhalia,
Hanifati
Alifa,
Globalisasi
dan
Antropologi,
halttp://www.academia.edu/4247579/Review_Globalisasi. akses, 14-05-2015
Steger, Manfred B., Globalisme: Bangkitnya Ideologi Pasar, terj. Heru Prasetyo, Lafadi
Pustaka, Yogyakarta 2006.
20
The Hague Institute for the Internationalisation of Law (HiiL), Rule of Law (Negara
Hukum) : Panduan Bagi Para Politisi, The Raoul Wallenberg Institute of
Human Rights and Humanitarian Law, Sweden, 2012.
Thoha, Mahmud, Globalisasi, Krisis Ekonomi dan Kebangkitan Ekonomi Kerakyatan,
Pustaka Quantum, Jakarta, 2002.
Trijono, Lambang, “Globalisasi Modernitas dan Krisis Negara Bangsa: Tantangan
Integrasi Nasional dalam Konteks Global”, dalam Jurnal Analisis CSIS Tahun
XXV, No. 2 Maret-April 1996.
Utrech, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, Balai Buku Ichaltiar,
Jakarta, 1962.
Yamin, H. Moh., Proklamasi dan Konstitusi, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1953
21
Download