01-gdl-raufiahana-14.. - Perpustakaan Digital STIKes Kusuma

advertisement
STUDI KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN
OKSIGENASI PADA Tn. L : DECOMPENSASI CORDIS
DI RUANG MAWAR 1 RSUD
KARANGANYAR
DI SUSUN OLEH :
RAUFI’AH ANADH MAHENDAR
NIM P.09040
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2012
STUDI KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN
OKSIGENASI PADA Tn.L : DECOMPENSASI CORDIS
DI RUANG MAWAR 1 RSUD
KARANGANYAR
Karya Tulis Ilmiah
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan
DISUSUN OLEH :
RAUFI’AH ANADH MAHENDAR
NIM P.09040
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2012
ŝ
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertandatangandibawahini :
Nama
:
RAUFI’AH ANADH MAHENDAR
Nim
:
P.09040
JudulKaryaTulisIlmiah
: ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN
OKSIGENASI
Tn.L:DECOMPENSASI
CORDIS
PADA
DI
RUANG
MAWAR 1 RSUD KARANGANYAR
MenyatakandengansebenarnyabahwaTugasAkhir yang sayatulisinibenar –
benarhasilkaryasayasendiri,
bukanmerupakanpengambilalihantulisanataupikiran
orang lain yang sayaakuisebagaitulisanataupikiransayasendiri.
ApabiladikemudianharidapatdibuktikanbahwaTugasAkhiriniadalah hasiljiplakan,
makasayabersediamenerimasanksiatasperbuatantersebutsesuaiden-
ganketentuanakademik yang berlaku.
Surakarta, April 2012
Yang MembuatPernyataan
RAUFI’AH ANADH MAHENDAR
NIM. P.09040
ŝŝ
LEMBAR PERSETUJUAN
KaryaTulisinidiajukanoleh :
Nama
:
RAUFI’AH ANADH MAHENDAR
Nim
:
P.09040
JudulKaryaTulisIlmiah
: ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI PADA Tn.LDI RUANG
MAWAR 1 RSUD KARANGANYAR
TelahdisetujuiuntukdiujikandihadapanDewanPengujiKaryaTulisIlmiah
Prodi DIII KeperawatanSTIKesKusumaHusada Surakarta
Pembimbing
Ditetapkan di
: Surakarta
Hari / Tanggal
: 28 April 2012
: ErlinaWindyastuti, S.Kep.,Ns
NIM. 201187065
ŝŝŝ
(.............................)
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :
Nama
:
RAUFI’AH ANADH MAHENDAR
Nim
:
P.09040
JudulKaryaTulisIlmiah
: ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI PADA Tn.LDI RUANG
MAWAR 1 RSUD KARANGANYAR
Telah diajukan dan dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah
Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
Ditetapkan di
: Surakarta
Hari / tanggal
: Kamis / 3 Mei 2012
DEWAN PENGUJI
Penguji I
Penguji II
Penguji III
:ErlinaWindyastuti, S.Kep.,Ns
NIK. 201187065
: Nurma Rahmawati, S.Kep.,Ns
NIK.201186076
: Setiyawan, S.Kep.,Ns
NIK.201084050
(…………………..)
(…………………..)
(…………………..)
Mengetahui,
Ketua Program Studi DIII Keperawatan
STIKes Kusuma Husada Surakarta
Setiyawan, S.Kep.,Ns
NIK. 201084050
ŝǀ
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
berkat, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya
Tulis Ilmiah dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN
KEBUTUHAN OKSIGENASI PADA Tn.L DI RUANG MAWAR 1 RSUD
KARANGANYAR.”
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat
bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi – tingginya
kepada yang terhormat :
1. Setiyawan, S.Kep.,Ns, selaku Ketua Program Studi DIII Keperawatan yang
telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKes Kusuma
Husada dan sekaligus sebagai dosen penguji yang telah membimbing dengan
cermat, memberikan masukan – masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam
membimbing serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.
2. Erlina Windyastuti, S.Kep.,Ns, selaku Sekretaris Ketua Program Studi DIII
Keperawatanyang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu
di STIKes Kusuma Husada Surakartadansekaligussebagaipembimbing yang
telahmembimbingdengancermat, memberikanmasukan – masukaninspirasi.
Perasaannyamandalambimbingansertamemfasilitasi demi sempurnanyastudikasusini.
ǀ
3. Nurma Rahmawati, S.Kep.,Ns, selakudosenpenguji yang telahmembimbingdengancermat, memberikanmasukan – masukan, inspirasi, perasaannyamandalambimbingansertamemfasilitasi demi sempurnanyastudikasusini.
4. Semua dosen Program studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada
Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan wawasannya
serta ilmu yang bermanfaat.
5. Kedua orangtuaku, yang selalu menjadi inspirasi dan memberikan semangat
untuk menyelesaikan pendidikan.
6. Teman – teman Mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan STIKes
Kusuma Husada Surakarta dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan
satu – persatu, yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual.
Semoga laporan studi kasus ini bermanfaat untuk perkembangan ilmu
keperawatan dan kesehatan. Amin.
Surakarta, April 2012
Penulis
ǀŝ
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i
PERNYATAAN TIDAK PLAGIATISME .......................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................... iii
LEMBAR PENGESAHAN............................................................................
iv
KATA PENGANTAR ........................................................................................ v
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Tujuan Penulisan ............................................................................. 3
C. Manfaat penulisan ........................................................................... 4
BAB II LAPORAN KASUS
A. Pengkajian ...................................................................................... 5
B. Perumusan Masalah Keperawatan .................................................. 8
C. Perencanaan Keperawatan .............................................................. 8
D. Implementasi Keperawatan ............................................................. 9
E. Evaluasi Keperawatan ................................................................... 11
BAB III PEMBAHASAN DAN SIMPULAN
A. Pembahasan .................................................................................. 12
B. Simpulan ...................................................................................... 22
Daftar Pustaka
Lampiran
Daftar Riwayat Hidup
ǀŝŝ
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Surat Keterangan Selesai Pengambilan Data
Lampiran 2
Format Pendelegasian Pasien
Lampiran 3
Log Book
Lampiran 4
Asuhan Keperawatan
Lampiran 5
Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah
Lampiran 6
Daftar Riwayat Hidup
ǀŝŝŝ
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Decompensasi Cordis (Gagal jantung) merupakan masalah yang terus
berkembang secara global diseluruh dunia, dengan lebih dari 20juta orang yang
menderita penyakit ini. Prevalensi decompensasi cordis secara keseluruhan
pada populasi dewasa di negara maju adalah 2%. Sekitar 3 – 20 per 100 orang
pada populasi mengalami decompensasi cordis, dan prevalensinya meningkat
seiring bertambahnya usia (100 per 1000 pada usia diatas 65 tahun) dan angka
ini akan meningkat karena peningkatan usia populasi dan perbaikan ketahanan
hidup setelah infark miokard akut. Di Inggris, sekitar 100.000 pasien dirawat di
rumah sakit setiap tahun untuk decompensasi cordis, merepresentasikan 5%
dari semua perawatan medis dan menghabiskan lebih dari 1% dan perawatan
kesehatan nasional (Leatham, 2009).
Decompensasi Cordis (Gagal jantung) adalah suatu kondisi dimana
jantung mengalami kegagalan dalam memompa darah guna mencukupi
kebutuhan sel – sel tubuh akan nutrisi dan oksigen secara adekuat (Udjianti,
2011). Kegagalan jantung dalam memompa darah tersebut berpengaruh pada
keterbatasan aktivitas, karena tidak sebanding suplai oksigen yang digunakan
dengan yang dihasilkan. Berdasarkan tujuan terapi pemberian oksigen, maka
indiksi pemberian oksigen yaitu pasien dengan kadar oksigen arteri rendah dari
hasil AGD, pasien dengan peningkatan miokard, untuk mengatasi gangguan
ϭ
Ϯ
oksigen melalui peningkatan laju pompa jantung yang adekuat (Rufaidah,
2005).
Oksigen merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses
metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh tubuh.
Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup udara ruangan
dalam setiap kali bernafas. Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh ditentukan
oleh interaksi sistem respirasi, kardiovaskuler dan keadaan hematologis
(Harahap, 2005)
Oksigen memegang peranan penting dalam semua proses tubuh secara
fungsional. Tidak adanya oksigen akan menyebabkan tubuh secara fungsional
mengalami kemunduran atau bahkan dapat menimbulkan kematian. Oleh
karena itu kebutuhan oksigen merupakan kebutuhan yang utama dan paling
vital bagi tubuh (Asmadi, 2008).
Pemenuhan kebutuhan oksigen ini tidak terlepas dari kondisi sistem
pernafasan secara fungsional. Bila ada gangguan pada salah satu organ system
respirasi, maka kebutuhan oksigen akan mengalami gangguan. Sering kali
individu tidak menyadari terhadap pentingnya oksigen (Asmadi, 2008).
Dari hasil studi kasus di RSUD Karanganyar didapatkan kasus tentang
pemenuhan kebutuhan oksigen pada pasien gangguan jantung dengan
decompensasi cordis 1 pasien dari 20 pasien yang ada pada bangsal Mawar
RSUD Karanganyar. Hasil observasi pada pasien dengan decompensasi cordis
tingkat kebutuhan oksigen sangat berperan, karena jantung yang tidak
sempurna dalam memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga oksigen dalam
ϯ
tubuh juga tidak sempurna. Dengan latar belakang tersebut maka penulis
tertarik untuk mengangkat kasus “Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan
Oksigenasi pada Tn.L dengan Decompensasi Cordis Di ruang Mawar 1 RSUD
Karanganyar” untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan oksigen pada pasien
Decompensasi Cordis.
B. Tujuan Penulisan
1) Tujuan Umum
Melaporkan kasus pemenuhan kebutuhan oksigen pada Tn.L dengan
Decompensasi Cordis di ruang Mawar 1 RSUD Karanganyar
2) Tujuan Khusus
a) Penulis mampu melakukan pengkajian pada Tn.L dengan pemenuhan
kebutuhan oksigen dengan Decompensasi cordis
b) Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Tn.L dengan
pemenuhan kebutuhan oksigen dengan Decompensasi Cordis
c) Pasien mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada Tn.L
dengan pemenuhan kebutuhan oksigen dengan Decompensasi Cordis
d) Penulis
mampu
melakukan
implementasi
pada
Tn.L
dengan
pemenuhan kebutuhan oksigen dengan DecompensasiCordis
e) Penulis mampu melakukan evaluasi pada Tn.L dengan pemenuhan
kebutuhan oksigen dengan Decompensasi Cordis
f) Pasien mampu menganalisa kondisi yang terjadi pada Tn.L dengan
pemenuhan kebutuhan oksigen dengan Decompensasi cordis
ϰ
C. Manfaat penulisan
1. Bagi Penulis
Menambah wawasan dan mengaplikasikan dalam memberi asuhan
keperawatan pada pasien dengan pemenuhan oksigen pada Decompensasi
Cordis
2. Bagi pembaca
Menambah pengetahuan dan wawasan bagi para pembaca dalam
pemenuhan oksigen Decompensasi Cordis
3. Bagi institusi pendidikan
Memberikan kontribusi laporan kasus bagi pengembangan praktik
keperawatan dan pemecahan masalah khususnya dalam bidang/profesi
keperawatan
4. Bagi rumah sakit
Sebagai bahan masukan khususnya untuk perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien yang mengalami
kekurangan dalam kebutuhan oksigen dan sebagai pertimbangan perawat
dalam mendiagnosa kasus sehingga perawat mampu memberikan tindakan
yang tepat kepada pasien
5. Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai bahan referensi dalam penyusunan penelitian selanjutnya agar
lebih sempurna
BAB II
LAPORAN KASUS
A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 5 – 7 April 2012 di RSUD
Karanganyar, dengan metode wawancara langsung kepada pasien dan
keluarga pasien. Wawancara tersebut telah didapatkan data – data dengan,
nama Tn.L, alamat Ngijo wetan 2/3 Kecamatan Tasikmadu Karanganyar,
umur 54 tahun, jenis kelamin laki – laki, pekerjaan buruh, pendidikan
Sekolah Dasar, tanggal masuk 5 April 2012 dan diagnosa medis yang muncul
adalah Decompensasi Cordis.
Identitas penanggung jawab yaitu, nama Ny.T, alamat Ngijo wetan 2/3
Kecamatan Tasikmadu Karanganyar, pekerjaan ibu rumah tangga, pendidikan
Sekolah Dasar, umur 52 tahun dan Ny.T adalah istri dari Tn.L.
Pada tanggal 3 April 2012, pasien mengeluh sesak dan dada sebelah kiri
sakit, Tn.L dibawa ke Pelayanan kesehatan terdekat didaerah rumahnya
namun sesak belum berkurang. Tanggal 4 April 2012 jam 22.00 WIB, pasien
dirujuk ke RSUD Karanganyar untuk melakukan pengobatan lebih lanjut, pasien diterima di IGD, mendapatkan terapi infus RL 20 tetes per menit. Tanggal 5 April 2012 jam 01.48 WIB pasien dipindah ke bangsal Mawar 1 untuk
mendapatkan perawatan lebih lanjut. Ketika penulis melakukan pengkajian
pada tanggal 5 April 2012 jam 10.00 WIB, keluhan utama pasien adalah
sesak nafas. Pasien mengatakan tidak pernah mengalami sesak nafas
5
6
sebelumnya, didalam keluarganya tidak ada penyakit yang sama dengan Tn.L
serta tidak ada penyakit menular misal Tubercolosis, Diabetus Melitus, Tn.L
pernah mengalami penyakit hipertensi sebelumnya 3 tahun yang lalu.
Pengkajian menurut pola Gordon. Pola persepsi dan pemeliharaan
kesehatan, kesehatan menurut keluarga pasien sangat penting, terbukti dari
pasien yang mengeluh sesak dan sakit dada segera dibawa ke pelayanan
kesehatan terdekat. Pola istirahat tidur, sebelum sakit pasien mengatakan
bahwa sehari tidur 6 -7 jam, selama sakit pasien tidur hanya 1 – 2 jam, karena
dada sesak. Pola aktivitas latihan, sebelum sakit pasien melakukan aktivitas
dengan mandiri (makan, minum, toileting, mobilisasi, berpindah, berpakaian),
selama sakit pasien melakukan aktivitas dibantu oleh keluarga terutama istri,
misal toileting, berpakaian, mobilisasi dan berpindah.
Pengkajian pada pemeriksaan fisik diperoleh data yaitu tekanan darah
120/80 mmHg, suhu 36,8 derajat celcius, nadi 150 kali per menit dan
pernafasan 26 kali per menit. Pemeriksaan fisik pada kepala yaitu, rambut tidak ada ketombe, lurus. Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil
isokor. Hidung bersih, simetris antara kanan dan kiri, tidak ada polip, terdapat
penggunaan alat bantu pernafasan 3 liter per menit, menggunakan kanul
nasal. Mulut bersih, tidak ada stomatitis, simetris antara kanan dan kiri. Gigi
bersih, tidak ada karies gigi. Telinga bersih, tidak ada alat bantu pendengaran.
Leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. Pemeriksaan fisik dada, dari
inspeksi ekspansi dada sama antara kanan dan kiri, menggunakan otot bantu
pernafasan, palpasi vokal fremitus sama antara kanan dan kiri, perkusi sonor
7
disemua lapang paru, auskultasi suara ronkhi. Pemeriksaan jantung, inspeksi
Ictus Cordis tampak, palpasi Ictus Cordis teraba dan tampak di subintercosta
5, perkusi terdapat pelebaran jantung, batas atas di SIC2, batas atas kanan di
garis sternum, batas bawah di SIC6, auskultasi suara bunyi jantung I – bunyi
jantung II murni, reguler, cepat. Pemeriksaan fisik abdomen, dari inspeksi tidak ada bekas luka, keelastisitasan kulit baik, auskultasi peristaltik 8 kali per
menit, perkusi tympani, palpasi terdapat nyeri tekan epigastrik, dan nyeri
tekan pada hati. Genetalia terkaji bahwa pasien menggunakan kateter, dalam
keadaan bersih, tidak ada bekas luka. Ekstremitas atas kanan terpasang infus
RL, kekuatan otot penuh, tidak terdapat edema. Ekstremitas bawah dalam
keadaan baik, kekuatan otot penuh, akral teraba dingin serta capilarry refill
lebih dari 2 detik, tidak terjadi edema.
Pemeriksaan penunjang pasien meliputi pemeriksan laboratorium dan
pemeriksaan EKG. Pemeriksaan laboratorium pada tanggal 5 April 2012,
terdiri dari WBC menunjukkan hasil 7,7 103/ul, RBC menunjukkan hasil 4,63
106/ul, HGB 11,8 g/dl, HCT menunjukkan hasil 36,1%, MCH menunjukkan
hasil 25,5 pg, GDS menunjukkan hasil 92 mg/dl. Pemeriksaan kedua yaitu
pemeriksaan EKG,menunjukkan hasil Q patologis pada V1, V2, V3,
menunjukkan sinus takikardi.
Terapi yang didapat pada tanggal 5 April 2012 yaitu meliputi terapi oral
dan injeksi. Terapi oral meliputi digoxin (0,25 mg) 3 kali sehari,
ISDN/Isosorbid dinitrat (0,25mg) 1 kali sehari, aspilet (80mg) 1 kali sehari.
8
Terapi injeksi meliputi furosemid (25mg) 3 kali sehari dan ranitidine (25mg)
3 kali sehari.
B. Analisa Data
Dari data – data yang telah ada, dapat disimpulkan menjadi suatu diagnosa. Diagnosa tersebut berguna untuk memberikan asuhan keperawatan pada
Tn.L, maka dilakukan pengumpulan data yang bersifat subyektif dan
obyektif, analisa dapat ditegakkan. Data subyektif tersebut adalah pasien
mengeluh sesak nafas, hasil dari data obyektif yaitu bahwa pasien tampak
mendapatkan oksigen kanul nasal 3 liter per menit, pernafasan menggunakan
otot bantu pernafasan, pernafasan 26 kali per menit. Dari data – data tersebut
dapat dimunculkan suatu masalah pola nafas tidak efektif dan penyebabnya
karena perubahan sekuncup jantung.
C. Intervensi Keperawatan
Tanggal 5 April 2012 tujuan keperawatan setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan pola nafas efektif dengan kriteria
hasil pasien tidak sesak nafas lagi, tidak ada tanda – tanda kesulitan dalam
bernafas dan pernafasan normal (16 – 24 kali per menit). Intervensi yang
muncul yaitu observasi status dalam pernafasan, rasionalnya untuk
mengobservasi kelainan pernafasan. Atur posisi tidur yang nyaman (semi
fowler), rasionalnya untuk memfasilitasi ekspansi jantung. Anjurkan pasien
untuk melakukan aktivitas sesuai toleransi dan batasi aktivitas, rasionalnya
9
untuk memfasilitasi jantung serta untuk mengurangi konsumsi oksigen.
Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat dan oksigen, rasionalnya
untuk meningkatkan suplay oksigen di miokardium.
D. Implementasi Keperawatan
Dari rencana keperawatan diatas akan dilakukan tindakan keperawatan
selama 3 hari, tindakan keperawatan dimulai dari tanggal 5 April 2012 jam
10.00 WIB implementasi yang dilakukan yaitu, melaksanakan terapi dari
dokter dalam pemberian obat oral dan intravena, terapi oral digoxin 0,25 mg,
ISDN/Isosorbid dinitrat 0,25 mg , aspilet 80 mg, terapi injeksi furosemid 25
mg dan ranitidine 25 mg, masuk melalui intravena, respon obyektif obat
masuk dan tidak ada tanda – tanda alergi. Implementasi pada jam 10.30 WIB
memonitor vital sign, respon obyektif tekanan darah 120/80 mmHg, suhu
36,8 derajat celcius, pernafasan 26 kali per menit, nadi 150 kali per menit.
Implementasi pada jam 12.10 WIB yaitu melaksanakan terapi dari dokter
dalam pemberian oksigen, respon obyektif pasien tampak nyaman dan
terpasang oksigen 3 liter per menit.
Tanggal 6 April 2012 jam 10.20 WIB implementasi yang dilakukan yaitu
melaksanakan terapi dari dokter dalam pemberian obat oral digoxin 0,25 mg,
ISDN/Isosorbid dinitrat 0,25 mg, aspilet 80 mg, terapi injeksi furosemid 25ml
dan ranitidine 25 mg, masuk melalui intravena, respon obyektif obat masuk
dan tidak ada tanda – tanda alergi. Implementasi pada jam 10.40 WIB
memonitor vital sign, respon obyektif tekanan darah 110/80 mmHg, suhu
10
36,5 derajat celcius, pernafasan 26 kali per menit, nadi 130 kali per menit.
Implementasi pada jam 11.50 WIB yaitu mempertahankan terapi dari dokter
dalam pemberian oksigen, respon obyektif pasien tampak nyaman dan
terpasang oksigen 3 liter per menit. Implementasi pada jam 12.30 WIB yaitu
memberikan posisi tidur yang nyaman (semi fowler), respon obyektif pasien
tampak nyaman dan dapat tidur nyaman.
Tanggal 7 April 2012 jam 09.50 WIB implementasi yang dilakukan yaitu, melaksanakan terapi dari dokter dalam pemberian obat oral digoxin 0,25
mg, ISDN/Isosorbid dinitrat 0,25 mg, aspilet 80 mg, terapi injeksi furosemide
25ml dan ranitidine 25 mg, respon obyektif obat masuk dan tidak ada tanda –
tanda alergi. Implementasi pada jam 10.10 WIB memonitor vital sign, respon
obyektif tekanan darah 120/80 mmHg, suhu 36,8 derajat celcius, pernafasan
26 kali per menit, nadi 96 kali permenit. Implementasi pada jam 11.05 WIB
yaitu mempertahankan terapi dari dokter dalam pemberian oksigen, respon
obyektif pasien tampak nyaman dan terpasang oksigen 3 liter per menit.
Implementasi pada jam 12.00 WIB yaitu mengobservasi tingkat status
pernafasan, respon obyektif pernafasan 34 kali permenit. Implementasi pada
jam 12.45 WIB, yaitu memberikan posisi tidur yang nyaman (semi fowler),
respon pasien tampak nyaman dan dapat tidur nyaman.
11
E. Evaluasi Keperawatan
Catatan perkembangan dilakukan setelah implementasi terlaksana, fungsinya untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari setiap tindakan yang dilakukan.
Tanggal 5 April 2012, diuraikan catatan perkembangan sebagai berikut,
dari data subyektif pasien mengatakan masih sesak nafas. Data obyektif
pasien masih mendapatkan terapi oksigen kanul nasal 3 liter per menit,
pernafasan 26 kali permenit, penggunaan otot bantu pernafasan, masalah
belum teratasi saat ini, intervensi dilanjutkan yaitu observasi status
pernafasan, atur posisi tidur yang nyaman (semi fowler), anjurkan pasien
untuk melakukan aktivitas sesuai toleransinya dan batasi aktivitas, kolaborasi
dalam pemberian obat serta oksigenisasi.
Tanggal 6 April 2012, diuraikan catatan perkembangan sebagai berikut,
dari data subyektif pasien mengatakan masih sesak nafas dan belum
berkurang. Data obyektif pasien masih mendapatkan terapi oksigen kanul
nasal 3 liter per menit, pernafasan 26 kali per menit, penggunaan otot bantu
pernafasan, masalah belum teratasi saat ini, intervensi dilanjutkan yaitu
observasi status pernafasan, atur posisi tidur yang nyaman (semi fowler), anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas sesuai toleransinya dan batasi aktivitas, kolaborasi dalam pemberian obat serta oksigenisasi.
Tanggal 7 April 2012, diuraikan catatan perkembangan sebagai berikut,
data subyektif pasien mengatakan masih sesak nafas. Data obyektif pasien
masih mendapatkan terapi oksigen kanul nasal 3 liter per menit, pernafasan
12
34 kali per menit, penggunaan otot bantu pernafasan, masalah belum teratasi
saat ini, dan intervensi dilanjutkan yaitu observasi status pernafasan, atur
posisi tidur yang nyaman (semi fowler), anjurkan pasien untuk melakukan
aktivitas sesuai toleransi dan batasi aktivitas, kolaborasi dalam pemberian
obat serta oksigenisasi.
BAB III
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
A. Pembahasan
Decompensasi Cordis (Gagal jantung) adalah suatu kondisi dimana
jantung mengalami kegagalan dalam memompa darah guna mencukupi
kebutuhan sel – sel tubuh akan nutrisi dan oksigen secara adekuat (Udjianti,
2011 : 163). Kegagalan jantung dalam memompa darah tersebut berpengaruh
pada keterbatasan aktivitas, karena tidak sebanding suplai oksigen yang digunakan dengan yang dihasilkan.
Bab ini merupakan pembahasan dari proses keperawatan yang dilakukan pada tanggal 5 – 7 April 2012 di ruang Mawar 1 RSUD Karanganyar.
Pembahasan ini meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi,
implementasi dan evaluasi. Adapun penjelasannya sebagai berikut :
1. Pengkajian
Tahap pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan
merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari
berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status
kesehatan pasien. Tujuan dari pengkajian adalah untuk mengumpulkan,
mengorganisir dan mencatat data yang telah menjelaskan respon manusia
yang mempengaruhi pola-pola kesehatan pasien (Handayaningsih, 2007).
12
13
Pengkajian
terhadap
Tn.L
penulis
menggunakan
metode
wawancara, observasi, studi dokumentasi dan pemeriksaan fisik (Handayaningsih, 2007). Pada metode yaitu wawancara terhadap Tn.L
dilakukan wawancara secara langsung. Hal ini penulis tidak menemukan
kesulitan dan hambatan, karena Tn.L dapat menjawab semua pertanyaan
dengan baik dan Tn.L dapat bekerja sama dengan baik dalam memberikan
keterangan.
Metode dalam mengumpulkan data adalah observasi, yaitu
mengamati perilaku dan keadaan pasien untuk memperoleh data tentang
masalah kesehatan dan keperawatan pasien. Dalam metode ini penulis
mengalami kesulitan karena penulis tidak dapat melakukan observasi
secara langsung selama 3x24 jam. Penulis hanya dapat mendelegasikan
kepada tim perawat lain yang berdinas di ruang Mawar 1 RSUD
Karanganyar.
Metode pendokumentasian yaitu dalam melengkapi data pasien,
penulis menggunakan catatan medik pasien yang berisi tentang riwayat
kesehatan pasien, pola kesehatan, program terapi dan data penunjang
lainnya.
Metode pemeriksaan fisik, dilakukan untuk mendapatkan informasi
objektif. Dalam melaksanakan metode ini, penulis tidak menemui hambatan. Fokus pengkajian fisik yang dilakukan adalah pada kemampuan
fungsional pasien untuk memperoleh data objektif. Tujuan dari pengkajian
fisik adalah untuk menentukan status kesehatan pasien, mengidentifikasi
14
masalah kesehatan dan mengambil data dasar untuk menentukan rencana
tindakan perawatan (Handayaningsih, 2007).
Data fokus yang ditemukan dalam pengkajian pada Tn.L tidak jauh
berbeda dengan data fokus yang disebutkan dalam teori sehingga terdapat
kesinambungan antara tinjauan teori dengan kasus sebenarnya, tetapi
masih ada kekurangan yang dilakukan penulis dalam melengkapi data
pasien.
Hasil pengkajian pada tanggal 5 – 7 April 2012 data fokus pada
kasus pada Tn.L adalah pasien mengatakan sebelum masuk rumah sakit
pasien merasa sesak nafas dan nyeri dada bagian kiri. Pasien mengatakan
sesak nafas ketika beraktivitas dan istirahat. Dari data tersebut dapat
disimpulkan bahwa ada persamaan antara data kasus dan teori yaitu
persamaan data pada decompensasi cordis. Decompensasi Cordis (Gagal
jantung) adalah suatu kondisi dimana jantung mengalami kegagalan dalam
memompa darah guna mencukupi kebutuhan sel – sel tubuh akan nutrisi
dan oksigen secara adekuat (Udjianti, 2011).
Penyebab terjadinya decompensasi cordis yaitu karena adanya
miokard, riwayat penyakit hipertensi atau karena sebab yang didapat. Pada
decompensasi cordis keluhan yang didapat dari subyektif pasien adalah sesak nafas, dada terasa sesak dan palpitasi (Udjianti, 2011).
Sesak nafas
yang disebabkan decompensasi cordis tersebut
menyebabkan menurunnya aktivitas pasien dan pergerakan yang lambat.
Penderita decompensasi cordis ini mengalami kesulitan bernafas yang
15
disebabkan karena kelainan struktur dan fungsi jantung (Sudoyo, 2006),
artinya jantung yang seharusnya memompa darah keseluruh sel – sel yang
ada ditubuh mengalami keabnormalan, darah yang terpompa keseluruh
tubuh tersebut membawa kaya oksigen yang nantinya berguna untuk
kelangsungan aktivitas tubuh manusia, bila seseorang kekurangan oksigen
maka yang terjadi pasien tersebut merasakan sesak dalam pernafasan,
akibatnya aktivitas yang dilakukan terganggu karena aktivitas dengan
darah dari pompaan jantung tersebut tidak seimbang.
Penderita decompensasi cordis ini merupakan penyakit sindroma
klinis (sekumpulan tanda dan gejala) yang ditandai oleh sesak nafas dan
fatigue saat istirahat/aktivitas yang disebabkan oleh kelainan struktur dan
fungsional jantung (Sudoyo, 2006). Rasa sesak nafas yang dialami pasien
di lapangan dapat diakibatkan oleh gangguan suplay darah.
Tanda dan gejala decompensasi cordis antara lain kelelahan, denyut nadi cepat dan dangkal (takikardi), terdapat nyeri dada pada bagian
kiri (Leatham, 2003).
Pengkajian telah didapatkan penulis, yaitu meliputi pemeriksaan
inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi. Pemeriksaan fisik pada jantung didapatkan hasil, inspeksi Ictus Cordis tampak, palpasi Ictus Cordis teraba dan
tampak di subintercosta 5, perkusi terdapat pelebaran pada jantung, batas
atas di SIC2, batas atas kanan di garis sternum, batas bawah di SIC6,
auskultasi suara bunyi jantung I – bunyi jantung II murni, reguler. Pemeriksaan penunjang lain yang menyangkut jantung yaitu pemeriksaan EKG
16
(Elektrocardiograf), yang menyimpulkan bahwa hasil Q patologis pada
V1, V2, V3 (sinus takikardi). Pemeriksaan fisik pada dada didapatkan hasil, inspeksi ekspansi dada sama antara kanan dan kiri, menggunakan otot
bantu pernafasan, palpasi vocal fremitus sama antara kanan dan kiri, perkusi sonor disemua lapang paru, auskultasi suara ronkhi. Pemeriksaan
abdomen didapatkan hasil yaitu inspeksi tidak ada bekas luka, auskultasi 8
kali per menit, perkusi tympani, palpasi terdapat nyeri tekan pada epigastrik dan hati.
Pada hasil pengkajian pola kesehatan fungsional ditemukan
masalah pada pola aktifitas latihan dan pola istirahat tidur. Pola aktivitas
latihan yaitu Tn.L mengatakan bahwa dirinya tidak mampu melakukan aktivitas secara mandiri, misal makan/minum dibantu oleh orang lain, mobilitas dibantu oleh orang lain, toileting Tn.L dibantu dengan alat, berpindah
dan mobilisasi dibantu oleh orang lain. Pola istirahat tidur Tn.L mengatakan sulit memejamkan matanya, hanya tiduran, sehari hanya 1 – 2 jam, karena merasa sesak.
2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data - data yang didapatkan penulis dari hasil
pengkajian tanggal 5 – 7 April 2012, pada Tn.L di ruang Mawar RSUD
Karanganyar. Dari data pengkajian dapat disimpulkan bahwa pasien
mempunyai masalah keperawatan pola nafas tidak efektif, etiologi dari
diagnosa ini adalah perubahan sekuncup jantung (NANDA, 2010). Keti-
17
dakefektifan pola nafas yaitu suatu inspirasi atau ekspirasi yang tidak
memberi ventilasi yang adekuat (NANDA, 2010).
Penulis memprioritaskan diagnosa ketidakefektifan pola nafas,
karena berdasarkan pada keaktualan masalah yang sesuai dengan tipe-tipe
diagnosa (Maslow) terlihat dari fisik pasien yang menggambarkan bahwa
dirinya sedang memerlukan bantuan dalam hal oksigenasi, untuk menghindari terjadinya sianosis dan dipsneu.
3. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan meliputi penentuan prioritas masalah,
tujuan, kriteria hasil dan intervensi. Tahap ini dimulai setelah menentukan
diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi. Tahap
perencanaan merupakan suatu proses penyusunan berbagai intervensi
keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah, menurunkan atau
mengurangi masalah - masalah pasien. Perencanaan ini merupakan
langkah ketiga dalam membuat suatu proses keperawatan (Hidayat, 2004).
Intervensi dilakukan selama 3x24 jam untuk mengetahui keadaan
pasien secara maksimal. Intervensi disesuaikan dengan kondisi pasien dan
fasilitas yang ada, sehingga rencana tindakan dapat dilaksanakan dengan
specific (jelas atau khusus), measurable (dapat diukur), achieveble (dapat
diterima), rasional and time (ada kriteria waktu), selanjutnya akan dibahas
intervensi dari masing-masing diagnosa yang ditegakkan.
18
Diagnosa keperawatan pola nafas tidak efektif berhubungan dengan perubahan sekuncup jantung, setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3x24 jam diharapkan pola nafas efektif dengan kriteria hasil pasien
tidak sesak nafas lagi, tidak ada tanda – tanda kesulitan dalam bernafas dan
pernafasan dalam rentang normal (16 – 24 kali permenit).
Intervensi keperawatan yang penulis rencanakan pada diagnosa
pola nafas tidak efektif berhubungan dengan perubahan sekuncup jantung
yaitu observasi dalam status pernafasan, atur posisi tidur yang nyaman
untuk pasien (semi fowler), anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas
sesuai dengan toleransinya dan batasi aktivitas pasien, kolaborasi dengan
terapi dokter dalam pemberian oksigen, kolaborasikan dalam pemberian
obat (furosemid dan ranitidin).
Dari teori yang ada, penulis menemukan bahwa intervensi pada diagnosa keperawatan pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
perubahan sekuncup jantung adalah observasi dalam status pernafasan,
atur posisi tidur yang nyaman untuk pasien (semi fowler), anjurkan pasien
untuk bedrest total, kolaborasi dengan terapi dokter dalam pemberian
oksigen, kolaborasikan dalam pemberian obat (Udjianti, 2011). Dalam hal
ini penulis membandingkan antara teori yang ada dengan kasus dari Tn.L
tersebut. Penulis menemukan 1 perbedaan antara teori dengan kasus pada
Tn.L yaitu lakukan bedrest total pada pasien decompensasi cordis. Perbedaan tersebut menimbulkan kesenjangan antara kasus dilapangan dan teori
yang ada, yaitu akibat dari bedrest total tersebut mengakibatkan pasien
19
bertambah lemah, lebih cepat lelah karena stamina semakin rendah,
gerakan semakin bertambah berat karena semua anggota gerak menjadi
kaku dan timbul komplikasi – komplikasi lain, misal dekubitus (Rosiana,
2009).
4. Implementasi keperawatan
Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan
dimana rencana keperawatan dilaksanakan dan melaksanakan intervensi atau
aktivitas yang telah ditentukan. Implementasi adalah kegiatan pelaksanaan
tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional.
Pembahasan implementasi meliputi rencana tindakan yang dapat dilakukan
dan tindakan yang tidak dapat dilakukan sesuai dengan intervensi pada
masing-masing diagnosa (Handayaningsih, 2007).
Pada diagnosa utama yaitu pola nafas tidak efektif berhubungan dengan perubahan sekuncup jantung telah dilakukan tindakan keperawatan
adalah mengobservasi status pernafasan, dalam hal ini pasien mengalami
takikardi. Takikardi yang terjadi pada Tn.L adalah denyut nadi yang cepat,
yang melebihi 60 – 100 kali per menit (Udjianti, 2011).
Mengatur posisi tidur yang nyaman, posisi tidur yang baik dan
nyaman untuk pasien decompensasi cordis adalah semi fowler. Yang
dimaksud dengan posisi tidur semi fowler adalah berbaring tidur dan
memberikan posisi 20 derajat – 30 derajat (Wilkinson, 2005). Tujuan dari
posisi tersebut untuk mengurangi kerusakan membran alveolus akibat
20
tertimbunnya cairan (Supadi, 2008). Pemberian posisi semi fowler ini untuk
membuka jalan nafas agar terbuka dan pasien tampak rileks dan nyaman.
Teori ini pasien harus diperhatikan, terutama pergerakan anggota badan
karena untuk mencegah terjadinya kecacatan dan memberi rasa nyaman
kepada pasien (Enny, 2002).
Membatasi aktivitas pasien dan menganjurkan pasien untuk
melakukan aktivitas sesuai toleransinya. Menurut teori yang ada
pembatasan aktivitas yang dilakukan pasien sangat berguna untuknya,
karena untuk membatasi aktivitas dan istirahat mengurangi decompensasi
cordis konsumsi oksigen miokard dan beban kerja jantung (Udjianti,
2011).
Melaksanakan terapi dokter dalam pemberian oksigen kanul nasal 3
liter per menit. Terapi oksigen ini merupakan salah satu dari terapi
keperawatan dalam hal pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi
jaringan yang adekuat (Harahap, 2005). Kasus yang penulis temui di lapangan berdasarkan hasil pengkajian mempunyai keluhan utama yaitu pasien
mengalami sesak nafas dan pasien mengatakan sulit bernafas. Keluhan diatas sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa salah satu tanda dan gejala dari decompensasi cordis yaitu dispneu (sesak nafas). Pasien
decompensasi cordis mengalami tanda dan gejala dispneu, yang berupa
sesak nafas ketika mengalami aktivitas. Menurut New – York Heart
Association (NYHA) ada 4 pembagian tanda dan gejala sesak nafas
decompensasi cordis (gagal jantung) adalah kelas 1, aktivitas sehari – hari
21
tidak terganggu, sesak timbul jika melakukan aktivitas fisik yang berat, kelas
2 yaitu aktivitas terganggu sedikit, kelas 3 yaitu aktivitas sehari – hari
terganggu, pasien merasa nyaman bila beristirahat, kelas 4 yaitu walaupun
istirahat pasien masih merasa sesak (Kabo, 2010).
Melaksanakan terapi dari dokter dalam pemberian obat oral dan injeksi. Ketika pengkajian pasien sudah terpasang infus RL. Terapi obat injeksi
meliputi furosemide 25 mg, untuk meringankan gejala edema jantung akibat
decompensasi cordis, terapi injeksi ranitidine 25 mg, untuk tukak lambung.
Terapi oral juga didapatkan pasien yaitu, digoxin 0,25 mg, yang berguna
untuk kongestif decompensasi cordis akibat dari infark miokard.
ISDN/Isosorbid dinitrat 0,25 mg, yang berguna untuk penderita decompensasi cordis yang memiliki riwayat penyakit jantung koroner. Aspilet 80 mg,
yang berguna untuk penderita decompensasi cordis akibat dari infark
miokard (Kabo, 2010).
5.
Evaluasi keperawatan
Evaluasi adalah sebagian yang direncanakan dan diperbandingkan
yang sistematik pada status kesehatan pasien. Dengan mengukur
perkembangan pasien dalam mencapai suatu tujuan. Evaluasi ini dilakukan
dengan menggunakan format evaluasi SOAP meliputi data subyektif, data
obyektif, data analisa dan data perencanaan (Handayaningsih, 2007).
Evaluasi diagnosa keperawatan yang utama yaitu pola nafas tidak
efektif berhubungan dengan perubahan sekuncup jantung, setelah
22
dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam pola nafas efektif. Data
subyektif pasien mengatakan sesak nafas. Data obyektif pasien tampak
menggunakan otot bantu pernafasan. Analisa masalah belum teratasi, sehingga intervensi dilanjutkan, yaitu dengan observasi status pernafasan pasien, atur posisi yang nyaman untuk pasien dengan semi fowler, anjurkan
pasien untuk melakukan aktivitas sesuai toleransi dan batasi aktivitas, melaksanakan terapi dari dokter dalam pemberian oksigen kanul nasal 3 liter
per menit dan obat.
Dalam 3 hari asuhan keperawatan yang dilakukan pada Tn.L,
disimpulkan masih terjadi sesak nafas dan nyeri dada sebelah kiri, dengan
ditandai dengan pasien menggunakan otot bantu pernafasan 34 kali per
menit, pasien tampak menggunakan oksigen kanul nasal 3 liter per menit.
Pasien telah diberikan terapi oksigen selama 3 hari ini dari tanggal 5 – 7
April 2012, akan tetapi pasien tidak menggunakannya secara efektif,
sehingga pernafasan pasien tidak mengalami perbaikan.
B. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
Setelah penulis melakukan pengkajian, analisa data, penentuan diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi tentang asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan oksigenasi pada Tn.L dengan gangguan
jantung decompensasi cordis di ruang Mawar 1 RSUD Karanganyar secara metode studi kasus, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
23
a. Hasil dari pengkajian penulis pada Tn.L dengan hasil didapat yaitu
pasien mengeluh sesak nafas ketika beraktivitas, hasil pengkajian
yang lain yaitu aktivitas latihan yang dilakukan dengan bantuan orang
lain, pola tidur pasien yang kurang, hanya 1 – 2 jam saja.
b. Masalah keperawatan yang muncul pada kasus Tn.L dengan
decompensasi cordis yaitu pola nafas tidak efektif berhubungan
dengan perubahan sekuncup jantung.
c. Dari diagnosa pola nafas tidak efektif berhubungan dengan perubahan
sekuncup jantung pada Tn.L menghasilkan tujuan dan kriteria hasil
keperawatan yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
1x24 jam diharapkan sesak nafas pasien berkurang, tidak ada tanda –
tanda kesulitan dalam bernafas, pernafasan normal 16 – 24 kali per
menit. Rencana keperawatan yang dapat muncul yaitu beri terapi
oksigenasi 3 liter per menit, berikan posisi yang nyaman (semi
fowler), anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas sesuai toleransi
dan membatasi aktivitas, laksanakan terapi dari dokter dalam
pemberian obat.
d. Tindakan keperawatan yang dilakukan penulis dari tanggal 5 – 7
April 2012 pada Tn.L yaitu pemberian terapi oksigen 3 liter per
menit, memberikan posisi yang nyaman untuk pasien (semi fowler),
menganjurkan pasien untuk melakukan aktivitas sesuai dengan toleransinya dan batasi aktivitas, melaksanakan terapi dari dokter dalam
pemberian obat.
24
e. Dari tindakan keperawatan yang dilakukan pada tanggal 5 – 7 April
2012 pada Tn.L dapat disimpulkan bahwa pasien mengatakan sesak
nafas belum berkurang, pasien masih mendapatkan terapi oksigen
kanul nasal 3 liter per menit, pernafasan 34 kali per menit,
penggunaan otot bantu pernafasan, masalah belum teratasi saat ini dan
intervensi dilanjutkan yaitu observasi status penafasan, atur posisi
yang nyaman (semi fowler), anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas sesuai dengan toleransinya dan batasi aktivitas, kolaborasi dalam
pemberian oksigen.
f. Dari analisa kondisi yang ditemukan penulis pada Tn. L dengan diagnosa medis pola nafas tidak efektif berhubungan dengan perubahan
sekuncup jantung yaitu bahwa pasien masih mengeluh sesak nafas,
pernafasan tercatat 34 kali per menit, ADL dibantu oleh keluarga. Dilakukan implementasi pada tanggal 5 – 7 April 2012 yaitu pemberian
terapi oksigen 3 liter per menit, memberikan posisi yang nyaman untuk pasien, menganjurkan pasien untuk melakukan aktivitas sesuai
dengan toleransinya dan batasi aktivitas, melaksanakan terapi dari
dokter dalam pemberian obat.
2. Saran
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan decompensasi cordis, penulis akan memberikan usulan dan masukan
yang positif khususnya dibidang kesehatan antara lain :
25
a.
Institusi Pendidikan
Agar dapat memotivasi mahasiswa untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penelitian yang lebih inovatif dan
waktu pengelolaan pada pasien decompensadi cordis ditambahkan
agar bisa lebih detail melakukan asuhan keperawatan
b.
Rumah Sakit
Diharapkan di dalam memberikan tindakan keperawatan dan
mencapai hasil evaluasi yang maksimal tentu perlu adanya kerja sama dengan tim kesehatan lain seperti dokter, fisioterapi, ahli gizi dan
yang lainnya, sehingga penulis mengharapkan agar mencapai hasil
yang maksimal tentu perlu adanya kerja keras dalam melaksanakan
tindakan baik secara mandiri maupun kolaborasi dengan tim kesehatan lain
c.
Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya yang ingin mengambil kasus pemenuhan
kebutuhan oksigenasi pada penderita decompensasi cordis untuk dapat lebih memberikan tindakan asuhan keperawatan yang lebih maksimal.
Download