pengaruh komunikasi internal terhadap peningkatan kinerja

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Komunikasi
Manusia selalu terlibat dalam aktivitas kegiatan “komunikasi”. Terjadinya
komunikasi merupakan konsekuensi dari akibat adanya interaksi di antara sesama
manusia (human interactions), atau hubungan yang bersifat sosial (social relations),
karena kenyataannya yang paling banyak terlibat dalam proses komunikasi adalah
manusia.
Umumnya jika seseorang mengerti tentang sesuatu yang dinyatakan orang
lain kepadanya, maka komunikasi sedang berlangsung. Dengan kata lain, hubungan
antara komunikator dan komunikan sudah komunikatif. Sebaliknya, jika tidak ada
kesamaan pemahaman atau komunikan tidak mengerti apa yang disampaikan
komunikator, maka kornunikasi tidak terjadi. Komunikasi dalam pengertian umum
mencakup dua segi, yaitu :
1. Pengertian Komunikasi Secara Etimologis
Secara etimologis (menurut asal-usul kata), istilah komunikasi dalam bahasa
Inggris “communication”, berasal dari bahasa Latin “communicatio”, dan perkataan
ini bersumber pada kata “communis”. Kata communis mengandung arti sama,
maksudnya sama makna. Sedangkan bentuk dari kata kerja “comunicatio” adalah
“Communicare”
yang
artinya
bermusyawarah,
berunding
atau
berdialog.
11
Universitas Sumatera Utara
12
Komunikasi menyarankan adanya suatu pikiran, suatu makna atau suatu pesan dianut
secara sama. (Mulyana, 2005 : 41).
Komunikasi dapat berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat
terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Komunikasi
dalam pengertian ini sering terlihat pada perjumpaan dua orang. Mereka saling
memberikan salam, bertanya tentang sesuatu atau tentang kesehatan, mengenai
keluarga, dan lain sebagainya.
2. Pengertian Komunikasi Secara Terminologis
Secara terminologis, komunikasi berarti suatu proses penyampaian pernyataan
oleh seseorang kepada orang lain (Effendy, 1993:4). Dalam pengertian tersebut, jelas
bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, dimana seseorang menyatakan
sesuatu kepada orang lain. Masyarakat paling sedikit terdiri dari dua orang atau lebih
yang saling berhubungan satu sama lain, sehingga dapat menimbulkan interaksi sosial
(social interaction), di mana komunikasi sebagai penjalinnya. Jadi komunikasi
mengandung makna adalah sebagai proses penyampaian suatu pernyataan oleh
seseorang kepada orang lain.
3. Pengertian Komunikasi Secara Paradigmatis
Pengertian komunikasi secara paradigmatis, banyak dikemukakan oleh para
ahli secara lengkap dengan menampilkan maknanya yang hakiki, yaitu “komunikasi
adalah proses penyampaian gagasan, harapan, pesan yang disampaikan melalui
lambang tertentu yang mengandung arti yang dilakukan oleh penyampai pesan
ditujukan kepada penerima pesan” . (Depari, Edward dalam Purba, Amir 2006:33)
Universitas Sumatera Utara
13
Onong Uchjana Effendy (1989:60) mengatakan dalam bukunya “Kamus
Komunikasi” bahwa komunikasi (communication) adalah proses penyampaian pesan
dalam bentuk lambang bermakna sebagai paduan pikiran dan perasaan berupa ide,
informasi, kepercayaan, harapan, himbauan dan sebagainya, yang dilakukan
seseorang kepada orang lain, baik langsung secara tatap muka maupun tak langsung
melalui media, dengan tujuan mengubah sikap, pandangan atau perilaku. Sedangkan
menurut Richard West dan Lynn H. Turner (2008:5) bahwa komunikasi
(communication) adalah proses sosial di mana individu-individu menggunakan
simbol-simbol untuk menciptakan dan mengintepretasikan makna dalam lingkungan
mereka.
Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada
komunikan, dengan efek yang diharapkan adanya perubahan-perubahan yang terjadi
pada diri komunikan. Di mana di dalamnya tersimpul adanya tujuan yang
mengandung makna tertentu, yakni memberi tahu atau mengubah sikap (attitude),
pendapat (opinion), atau perilaku (behavior). Komunikasi yang efektif lebih banyak
bergantung pada sikap pengirim (sander’s attitude) untuk mendekati penerima pesan
(receiver).
Ada beberapa definisi secara paradigmatis yang diberikan oleh para sarjana
pemerhati masalah komunikasi, sebagaimana diuraikan Amir Purba, dkk. (2006 : 2930) dalam bukunya “Pengantar Ilmu Komunikasi” dijelaskan sebagai berikut :
Universitas Sumatera Utara
14
1. Carl I Hovland
Komunikasi adalah proses dimana seseorang (communicator) menyampaikan
perangsang-perangsang (biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata-kata)
untuk merubah tingkah laku orang lain (communicatee).
2. Wilbur Schramm
Menurut Wilbur Schrarmm jika kita mengadakan komunikasi dengan suatu pihak
maka kita menyatakan gagasan kita untuk memperoleh kesamaan (commenes)
dengan pihak lain mengenai suatu objek tertentu.
3. Sir Gerald Barry
Mengatakan komunikasi adalah “to talk together, confer, discouse and to consult
with another” (bicara bersama-sama, merundingkan, berbicara dan berunding
dengan pihak lain).
4. Harold Laswell
Mengatakan bahwa cara yang terbaik untuk menjelaskan kegiatan komunikasi
adalah dengan menjawab beberapa pertanyaan “Who – Say what – In which
channel – To whom – And with what effect ?” (Siapa – berkata apa – melalui
saluran apa – kepada siapa – dan dengan efek apa ?).
Berdasarkan sejumlah definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi
berlangsung antara seseorang dengan orang lain, di mana seorang individu dapat
mengungkapkan perasaan yang dialami dan menerima informasi yang diberikan oleh
orang lain sehingga menimbulkan pengertian yang sama terhadap pesan atau
informasi, sehingga pesan atau informasi tersebut menjadi milik bersama.
Universitas Sumatera Utara
15
2.1.1. Proses Komunikasi
Pengertian proses menurut David K. Berlo (1960 : 23) “Process, as any
phenomenon which shows a continuous change in time” (Proses adalah suatu
penomena yang ditunjukkan adanya suatu perubahan berkelanjutan dalam kurun
waktu tertentu). Proses berarti suatu rangkaian kegiatan atau peristiwa yang sedang
berlangsung dalam mencapai hasil tertentu. Proses komunikasi adalah keseluruhan
rangkaian atau peristiwa dari mulai pesan disampaikan sampai terjadi tindakan
sebagai akibat dari pesan pada diri objek, sasaran, atau komunikan.
Proses komunikasi bagaimana terjadi dapat dilihat dari dua perspektif yaitu
perspektif proses komunikasi secara psikologis dan secara mekanistis. Proses
komunikasi dalam perspektif psikhologis terjadi pada komunikator dan komunikan.
Ketika seseorang komunikator berniat akan menyampaikan suatu pesan kepada
komunikan, maka dalam dirinya terjadi suatu proses (Effendy, 2003 : 31). Proses
komunikasi secara psikhologis mencakup isi dan lambang pesan. Isi pesan berupa
pikiran, atau apa yang terlintas dalam otaknya (picture in our head), sedangkan
lambang pesan berupa: bahasa, baik bahasa verbal (dapat berupa oral/ terucap
ataupun berupa tulisan (write) maupun dalam bahasa yang non verbal.
Pada proses perspektif komunikasi psikologis, komunikator dalam pikirannya
berusaha melakukan persepsi atau memahami dan memberikan makna dari isi pesan
komunikasi tersebut. Proses bagaimana mengemas atau membungkus pikiran dengan
bahasa yang dilakukan komunikator itu disebut “encoding”. Kemudian pesan tadi
ditransmisikan, dioperkan, atau dikirimkan kepada komunikan. Maka dalam pikiran
Universitas Sumatera Utara
16
komunikan juga terjadi proses, berupa upaya untuk melakukan persepsi untuk
memahami dan memaknai isi pesan komunikasi tadi, seolah-olah seperti membuka
kemasan yang telah diterima dari komunikator disebut “decoding”.
Sebelum komunikator mengirimkan pesan-pesan kepada komunikan ia
memberi makna pada pesan-pesan itu (encode). Pesan ditangkap oleh komunikan dan
diberi makna sesuai dengan konsep-konsep yang ia miliki pesan “didecode”. Melalui
proses interpretasi, yaitu menafsirkan makna-makna tersebut dari berbagai sudut
pandang (perspektif), akan dihasilkan makna tertentu sesuai dengan kerangka
pengalaman (field of reference) dan kerangka acuan (frame of reference) yang
dimiliki oleh komunikan.
Komunikasi dengan orang lain, merupakan “kesamaan”. Komunikasi pada
hakekatnya adalah membuat komunikator dan komunikan sama-sama sesuai untuk
suatu pesan. Apa yang terjadi kalau komunikator berusaha membentuk kesamaan
dengan komunikan? Pertama - tama komunikator melakukan apa yang disebut
“encode”, ia meng-encode pesannya, berarti ia memformulasikan sedemikian rupa,
sehingga dengan menggunakan suatu simbol tertentu ia dapat operkan pesannya
kepada komunikan. Gambaran dalam otak kita tidak mungkin dapat dioperkan kepada
orang lain, kalau tidak “dicode” terebih dahulu dengan lambang yang dapat
dimengerti oleh komunikan. Komunikan kini menginterpretasikan lambang yang
membawakan pesan tadi ke dalam konteks pengertiannya sendiri. Komunikan
”mengdecode“ pesan yang diterimanya itu. Oleh karena itu, komunikator dinamai
“encoder“, sedangkan komunikan disebut “decoder”.
Universitas Sumatera Utara
17
Untuk kesamaan dan ketidaksamaan dalam derajat pasangan komunikator
dengan komunikan dalam proses komunikasi, Everett M. Roger dalam Effendy
(1983:51) menyebutkannya dengan istilah :
1. Homophily adalah sebuah istilah yang menggambarkan derajat pasangan
perorangan yang berinteraksi, yang memiliki kesamaan dalam sifat, seperti
kepercayaan, nilai, pendidikan, status sosial dan sebagainya.
2. Heterophily adalah derajat pasangan orang-orang yang berinteraksi yang
berbeda dengan sifat-sifat tertentu.
Keberhasilan komunikasi (komunikasi efektif) sangat ditentukan oleh
seberapa besar kesamaan pengertian yang berhasil dibangun bersama (sharing).
Semakin luas daerah overlap (saling pengertian) tercipta, semakin berhasil suatu
proses komunikasi mencapai sasarannya. Tetapi komunikator utama adalah si
pembawa pesan atau yang pertama-tama menyampaikan pesan (message) sebab
dialah yang memulai komunikasi dan mempunyai tujuan. Sedangkan efek
komunikasi dapat terlihat langsung, baik secara verbal (dengan ucapan mengiyakan
atau menjawab) maupun secara non-verbal (dengan bahasa tubuh, kinesik, kial,
isyarat dan lain sebagainya).
Berdasarkan penjelasan di atas, pada proses komunikasi secara psikhologis
dapat dikatakan bahwa seorang komunikator akan mampu melakukan perubahan
sikap, apabila ia berusaha mengadakan persamaan dengan komunikan, atau
melakukan perubahan sikap, pendapat dan tingkah laku komunikan melalui
mekanisme daya tarik. Jika pihak komunikan merasa bahwa komunikator ikut serta
Universitas Sumatera Utara
18
dengannya, maka dengan demikian pihak komunikan merasa ada kesamaan di
antaranya (kesamaan antara komunikator dan komunikan). Sikap komunikator yang
harus menyamakan dirinya dengan komunikan akan menimbulkan sikap komunikan
kepada komunikator.
Proses komunikasi dalam perspektif mekanistis dapat berlangsung, ketika
komunikator mengoperkan atau melemparkan dengan bibir (bentuk lisan), atau
tangan (bentuk tulisan) sampai pesannya dapat ditangkap oleh komunikan melalui
telinga, mata atau indera-indera lainnya.
Proses komunikasi dalam perspektif mekanistis menurut Onong Uchjana
Effendy (2003:33-40), dalam bukunya “Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi”
diklasifikasikan ke dalam empat proses, yaitu proses komunikasi secara primer,
sekunder, linear dan sirkular.
1. Proses komunikasi secara primer.
Proses komunikasi secara primer (primary process) adalah proses penyampaian
pikiran oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan suatu lambang
(simbol) sebagai media atau saluran. Jadi komunikasinya terjadi secara langsung
di antara kedua belah pihak (face to face communicatioan).
2. Proses komunikasi secara sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh
seseorang kepada orang lain yang dilakukan secara tidak langsung, dengan
menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua, setelah memakai lambang
sebagai media pertama.
Universitas Sumatera Utara
19
3. Proses komunikasi secara linear
Proses komunikasi secara linear yaitu proses perjalanan komunikasi berupa
penyampaian pesan secara lurus. Kata linear berasal dari kata line (Bahasa
Inggris) berarti garis. Dalam hal ini penyampaian pesan hanya bersifat sepihak
saja dari komunikator ke komunikan, tanpa ada feedback (umpan balik).
Komunikasi seperti ini tidak belangsung secara dilogis (tidak secara timbal balik).
4. Proses komunikasi secara sirkular
Proses komunikasi secara sirkular, adalah proses komunikasi yang terjadi dengan
disertai adanya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan
ke komunikator. Feedback dapat berupa respon atau tanggapan bersifat mengalir
oleh komunikan terhadap pesan yang diterima dari komunikator. Respon bisa
positif (diterima dengan baik), ataupun negatif (ditolak), bisa juga seketika
(langsung atau immediate feedback) maupun tertunda (tidak mendapat tanggapan
langsung).
Husein Umar (2002:5-6) menjelaskan bahwa proses komunikasi mekanistis
hanya mencakup dua cara saja, yaitu proses komunikasi secara primer dan proses
secara skunder. Selanjutnya proses komunikasi secara primer ini dapat dibagi menjadi
dua bagian lagi, yaitu :
a. Verbal communication yaitu penggunaan bahasa sebagai media. Hal ini
mencakup bahasa lisan maupun bahasa tulisan.
b. Non verbal communication yaitu pemakaian gejala yang menyangkut gerakgerik (gestures), sikap (postures), ekspresi muka (facial expressional),
Universitas Sumatera Utara
20
pakaian yang bersifat simbolik (symbolic clothing) dan gejala-gejala lainnya
yang memiliki arti tertentu.
Dalam tataran teoritis, dalam proses komunikasi paling tidak orang mengenal
komunikasi dari dua perspektif, yaitu perspektif kognitif dan perspektif perilaku
(Senjaya, 2007:46). Pada sumber yang sama, tentang perspektif kognitif menurut
Colin Cherry mengatakan bahwa penggunaan lambang-lambang (simbol) untuk
mencapai kesamaan makna atau berbagai informasi tentang suatu objek atau kejadian.
Jika pesan yang disampaikan dan diterima secara akurat, penerima (receiver) akan
menerima informasi yang sama seperti yang dimiliki pengirim (sender), oleh karena
itu tindakan komunikasi telah terjadi. Sedangkan dalam perspektif perilaku,
B.F.
Skinner memandang bahwa komunikasi sebagai perilaku verbal atau simbolik dimana
pengirim (sender)berusaha mendapatkan suatu efek yang dikehendaki pada penerima
(receiver).
Berdasarkan pandangan beberapa pakar di atas, mengenai proses komunikasi
secara mekanistis dapat disimpulkan bahwa Proses komunikasi adalah proses
pengoperan lambang-lambang yang mempunyai arti, dengan mempergunakan ruang
dan waktu dalam usaha untuk membentuk opini publik dan sikap publik dalam
kehidupan masyarakat.
Seseorang melakukan proses komunikasi, diperlukan minimal adanya
sejumlah komponen atau unsur komunikasi yang merupakan persyaratan terjadinya
proses komunikasi. Adapun unsur-unsur komunikasi (Senjaya, 2007:54) adalah :
Universitas Sumatera Utara
21
1. Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan, mengatakan atau menyiarkan
pesan (message).
2. Pesan (message) yaitu ide, informasi, opini atau pernyataan yang didukung
oleh lambang.
3. Saluran atau media, ialah alat yang digunakan oleh komunikator untuk
menyampaikan atau mendukung pesan.
4. Komunikan yakni orang yang menerima pesan.
5. Efek yakni dampak sebagai pengaruh dari kegiatan komunikasi yang
dilakukan komunikator kepada komunikan.
Menurut
K.
Berlo
(1960:32)
dalam
bukunya
“The
Process
of
Communication” menjadi enam unsur proses komunikasi antara lain :
1.
The communication source (sumber komunikasi)
2.
The encoder (penyampai atau komunikator)
3.
The message (pesan)
4.
The channel (saluran atau media)
5.
The decoder (penerima atau komunikan)
6.
The communication receiver (penerima pesan komunikasi)
Untuk lebih jelasnya, proses komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut:
Who
Source
Says what
Message
In which
channel
Channel
To whom
Receiver
With what
effect.
Effect
Sumber: Formula Lasswell dalam Lubis (2005: 37)
Gambar. 2.1. Proses Komunikasi
Universitas Sumatera Utara
22
Penyampaian pesan oleh komunikator melalui media kepada komunikan, di
mana pihak komunikator mengharapkan adanya efek pada diri komunikan, baik efek
kognitif (pengetahuan), efek psikomotor (perubahan tingkah laku), dan efek afektif
(perubahan sikap) sebagai mana yang diharapkan komunikator. Pada prinsipnya yang
terpenting dalam proses komunikasi adalah adanya kecocokan antara pengalaman dan
pengertian. Jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman
komunikan, komunikasi akan berlangsung lancar. Sebaliknya, bila pengalaman
komunikan berlainan akan terdapat kesukaran untuk mengerti satu sama lain.
2.1.2. Fungsi Komunikasi
Fungsi komunikasi menurut Husein Umar
(2002:7) adalah untuk
menyampaikan informasi (to inform), mendidik (to educate), menghibur (to
entertain), mempengaruhi (to influence).
Fungsi memberikan informasi dan menyampaikan informasi, sangat
diperlukan karena perilaku menerima informasi merupakan perilaku alamiah. Dengan
menerima informasi yang benar, maka akan tercipta rasa aman dan tenteram.
Informasi akurat diperlukan untuk bahan dalam pembuatan keputusan bagi pihak
sekolah. Fungsi mendidik dilaksanakan agar perkembangan sekolah menjadi lebih
baik, lebih maju, lebih berkembang kebudayaannya. Kegiatan mendidik dalam arti
luas adalah memberikan berbagai informasi yang dapat menambah kemajuan.
Sedangkan kegiatan mendidik dalam arti sempit adalah pelaksanaan proses belajar
mengajar di kelas sehingga dapat menumbuhkan kedewasaan siswa. Komunikasi
Universitas Sumatera Utara
23
dapat berfungsi menghibur, banyak dilakukan dengan penyajian informasi melalui
sarana seni hiburan. Hiburan yang menarik sebagai selingan merupakan sarana yang
paling praktis dan efektif dalam proses komunikasi. Karena dengan hiburan pesan
akan sangat mudah dapat diterima. Sedangkan fungsi mempengaruhi, adalah adanya
perubahan sikap dan perilaku yang diharapkan pada diri komunikan. Mempengaruhi
dapat dilakukan melalui bentuk kampanye, propaganda, selebaran-selebaran,
spanduk, buletin sekolah, majalah dinding dan lain sebagainya.
Menurut Sasa Djuarsa Senjaya, dkk. (2007:4.8) dalam bukunya “Teori
Komunikasi” menyebutkan adanya empat fungsi komunikasi, yaitu fungsi informatif,
regulatif, persuasif dan integratif.
Fungsi informatif yaitu bagaimana siswa memperoleh informasi yang lebih
banyak, lebih baik dan tepat waktu. Semua komponen diharapkan mendapat
informasi sesuai kebutuhannya masing-masing. Fungsi regulatif adalah fungsi yang
berkaitan dengan peraturan-peraturan yang ditetapkan di sekolah. Dimana pihak
sekolah memiliki kewenangan untuk mengendalikan informasi atau memberi
instruksi atau perintah. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada
aktivitas siswa. Maksudnya, siswa membutuhkan kepastian peraturan tentang hal-hal
yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan. Fungsi persuasif adalah fungsi
mempengaruhi yaitu bagaimana guru bimbingan dan konseling dapat mempengaruhi
siswa dengan memberikan perintah. Sedangkan fungsi integratif adalah fungsi
mempersatukan rasa persaudaraan di antara siswa, sehingga dapat menumbuhkan
Universitas Sumatera Utara
24
keinginan unuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri siswa terhadap keberadaan
sekolah.
2.2. Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam
organisasi yang kompleks. Yang termasuk dalam bidang ini adalah komunikasi
internal, hubungan manusia, hubungan persatuan pengelola, komunikasi dari atasan
kepada bawahan, komunikasi dari bawahan kepada atasan, komunikasi dari orangorang yang sama atau komunikasi horizontal dalam organisasi, keterampilan
berkomunikasi dan berbicara, mendengarkan, menulis dan komunikasi evaluasi
program. (Redding dan Sanborn dalam Muhammad 2005 : 65)
Komunikasi organisasi dapat didefenisikan sebagai pertunjukan dan
penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu
organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari unit-unit komunikasi dalam
hubungan-hubungan hierarki antara satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu
lingkungan. Komunikasi organisasi terjadi kapanpun setidak-tidaknya satu orang
yang menduduki suatu jabatan dalam suatu organisasi menafsirkan suatu pertunjukan.
Karena fokus penelitian ini adalah komunikasi di antara anggota-anggota suatu
organisasi, analisis komunikasi organisasi menyangkut penelaah banyak transaksi
yang terjadi secara simultan. (Wayne, 2005 : 32)
Sistem tersebut menyangkut pertunjukan dan penafsiran di antara lusinan atau
bahkan ratusan individu. Pada saat yang sama memiliki jenis-jenis hubungan
Universitas Sumatera Utara
25
berlainan yang menghubungkan mereka dengan pikiran, keputusan, dan perilakunya
diatur oleh kebijakan-kebijakan, regulasi, aturan-aturan yang mempunyai gaya
berlainan dalam berkomunikasi, mengelola dan memimpin yang dimotivasi oleh
kemungkinan-kemungkinan yang berbeda yang berada pada tahap perkembangan
berlainan dalam berbagai kelompok; yang mempersepsi iklim komunikasi berbeda;
yang mempunyai tingkat kepuasan berbeda dan tingkat kecukupan informasi yang
berbeda pula; yang lebih menyukai dan menggunakan jenis, bentuk dan metode
komunikasi yang berbeda dalam jaringan yang berbeda; yang mempunyai tingkat
ketelitian pesan yang berlainan; dan yang membutuhkan penggunaan tingkat materi
dan energi yang berbeda untuk berkomunikasi efektif. Interaksi di antara semua
faktor tersebut, dan mungkin lebih banyak lagi disebut sistem komunikasi organisasi.
Ada tiga bentuk utama dari arus pesan dalam jaringan komunikasi formal
yang mengikuti garis komunikasi seperti yang digambarkan dalam struktur
organisasi (Muhammad, 2004 :107) yaitu:
1. Downward communication atau komunikasi kepada bawahan.
2. Upward communication atau komunikasi kepada atasan.
3. Horizontal communication atau komunikasi horizontal.
2.2.1. Bentuk Komunikasi Vertikal
Komunikasi vertikal adalah arus komunikasi dua arah timbal balik yang
dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen memegang peranan yang sangat
vital, yaitu komunikasi dari atas ke bawah (downward communication) dan dari
Universitas Sumatera Utara
26
bawahan kepada atasan (upward communication). Dalam arus komunikasi secara
vertikal (downward communication), atasan memberikan instruksi, petunjuk,
informasi, penjelasan dan penugasan dan lain sebagainya kepada ketua unit
kelompok dan bawahan. Kemudian arus komunikasi diterima dalam bentuk
horizontal (upward communication), bawahan memberikan laporan pelaksanaan
tugas, sumbang saran, dan hingga pengaduan kepada pimpinannya masing-masing.
(Effendi, dalam Ruslan, 2002:86)
2.2.2. Komunikasi ke Bawah
Komunikasi ke bawah menunjukkan arus pesan yang mengalir dari para
atasan atau para pimpinan kepada bawahannya. (Muhammad, 2004 :108)
Komunikasi ke bawah dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi
mengalir dari jabatan berotoritas lebih tinggi kepada jabatan yang berotoritas lebih
rendah. Ada lima jenis informasi yang biasa dikomunikasikan dari atasan kepada
bawahan (Katz & Kahn dalam Pace dan Faules, 2000 : 185) yaitu:
1. Informasi mengenai bagaimana melakukan pekerjaan.
2. Informasi mengenai dasar pemikiran untuk melakukan pekerjaan.
3. Informasi mengenai kebijakan dan praktik-praktik organisasi.
4. Informasi mengenai kinerja pegawai.
5. Informasi untuk mengembangkan rasa memiliki tugas (sense of mission).
Kebanyakan komunikasi ke bawah digunakan untuk menyampaikan
pesan-pesan yang berkenaan dengan tugas-tugas dan pemeliharaan. Pesan tersebut
Universitas Sumatera Utara
27
biasanya berhubungan dengan pengarahan, tujuan atau disiplin, perintah, pertanyaan
dan kebijaksanaan umum. Lewis menyebutkan bahwa komunikasi ke bawah adalah
untuk menyampaikan tujuan, untuk merubah sikap, membentuk pendapat,
mengurangi ketakutan dan kecurigaan yang timbul karena salah informasi, mencegah
kesalahpahaman karena kurang informasi dan mempersiapkan anggota organisasi
untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. (Muhammad, 2004 :108)
Pimpinan menyampaikan informasi kepada bawahan dapat dilakukan dengan
berbagai metode. Empat klasifikasi metode yaitu: metode lisan, tulisan, gambar
dan campuran dari lisan-tulisan dan gambar. Berdasarkan beberapa penelitian para
ahli ditemukan bahwa metode lisan saja paling efektif digunakan untuk situasi
memberikan teguran atau menyelesaikan perselisihan di antara anggota organisasi.
Metode tulisan saja paling efektif digunakan untuk memberikan informasi yang
memerlukan tindakan di masa yang akan datang, memberikan informasi yang
bersifat umum, dan tidak memerlukan kontak personal. Sementara itu hasil
penelitian setiap level menyatakan metode yang paling efektif adalah metode lisan
diikuti tulisan. Mereka juga mengatakan bahwa pemakaian papan pengumuman
dan metode tulisan saja kurang efektif digunakan. (Muhammad, 2004 :115)
2.2.3. Komunikasi ke Atas
Komunikasi ke atas dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi
mengalir dari tingkat yang lebih rendah (bawahan) ke tingkat yang lebih tinggi
(penyelia). Semua tenaga kesehatan dalam sebuah organisasi, kecuali mungkin yang
Universitas Sumatera Utara
28
menduduki posisi puncak, mungkin berkomunikasi ke atas yaitu, setiap bawahan
dapat mempunyai alasan yang baik atau meminta informasi dari atau memberi
informasi kepada seseorang yang otoritasnya lebih tinggi. Suatu permohonan atau
komentar yang diarahkan kepada individu yang otoritasnya lebih besar, lebih
tinggi, atau lebih luas merupakan esensi komunikasi ke atas. (Pace dan Faules,
2000 :189)
Komunikasi ke atas adalah pesan yang mengalir dari bawahan kepada
atasan atau dari tingkat yang lebih rendah kepada tingkat yang lebih tinggi.
Tujuan dari komunikasi ini adalah untuk memberikan balikan, memberikan saran
dan
mengajukan
pertanyaan.
Komunikasi
ini
mempunyai
efek
pada
penyempurnaan moral dan sikap karyawan, tipe pesan adalah integrasi dan
pembaruan. (Muhammad, 2004 :116)
Komunikasi ke atas penting karena beberapa alasan, yaitu:
1. Aliran informasi ke atas memberi informasi berharga untuk pembuatan
keputusan oleh mereka yang mengarahkan organisasi dan mengawasi kegiatan
orang-orang lainnya.
2. Komunikasi ke atas memberitahukan kepada penyelia kapan bawahan mereka
siap menerima informasi dari mereka dan seberapa baik bawahan menerima
apa yang dikatakan kepada mereka.
3. Komunikasi ke atas memungkinkan bahkan mendorong omelan dan keluh
kesah muncul ke permukaan sehingga penyelia tahu apa yang mengganggu
mereka yang paling dekat dengan operasi-operasi sebenarnya.
Universitas Sumatera Utara
29
4. Komunikasi ke atas menumbuhkan apresiasi dan loyalitas ke pada organisasi
dengan memberi kesempatan kepada tenaga kesehatan untuk mengajukan
pertanyaan
dan menyumbang gagasan serta saran-saran mengenai operasi organisasi.
5. Komunikasi ke atas mengizinkan penyelia untuk menentukan apakah
bawahan memahami apa yang diharapkan dari aliran informasi ke bawah.
6. Komunikasi ke atas membantu tenaga kesehatan mengatasi masalah pekerjaan
mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dengan pekerjaan mereka dan
dengan organisasi tersebut. (Pace dan Faules, 2000 :190)
Selanjutnya, Smith menjelaskan bahwa komunikasi ke atas berfungsi sebagai
balikan bagi pimpinan memberikan petunjuk tentang keberhasilan suatu pesan yang
disampaikan kepada bawahan dan dapat memberikan stimulus kepada karyawan
untuk
berpartisipasi
dalam
merumuskan
pelaksanaan
kebijaksanaan
bagi
departemennya atau organisasinya. (Muhammad, 2004:117)
Kebanyakan analisis dan penelitian dalam komunikasi ke atas menyatakan
bahwa penyelia dan manajer harus menerima informasi dari bawahan mereka
yang (Pace dan Faules, 2000 : 190) :
1. Memberitahukan
yang
dilakukan
bawahan
tentang
pekerjaan,
prestasi, kemajuan, dan rencana-rencana untuk waktu mendatang.
2. Menjelaskan persoalan-persoalan kerja yang belum dipecahkan bawahan yang
mungkin memerlukan beberapa macam bantuan.
Universitas Sumatera Utara
30
3. Memberikan saran atau gagasan untuk perbaikan dalam unit-unit mereka atau
dalam organisasi sebagai suatu keseluruhan.
4. Mengungkapkan bagaimana pikiran dan perasaan bawahan tentang pekerjaan
rekan kerja, dan organisasi.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dijelaskan bahwa jika terdapat
keseimbangan komunikasi ke atas dan komunikasi ke bawah maka diharapkan
informasi yang disampaikan oleh atasan kepada bawahan akan dapat diterima
dengan baik oleh bawahan. Apabila bawahan menginginkan informasi tambahan
maka bawahan akan dapat menanyakan informasi tambahan tersebut kepada atasan.
Dengan demikian maka akan terjadi arus informasi sehingga antara pimpinan dan
bawahan diharapkan dapat tercipta suasana yang menggairahkan yang pada akhirnya
akan menimbulkan semangat kerja yang produktif di dalam usaha mencapai tujuan.
2.2.4. Komunikasi Horizontal
Merupakan arus pesan sesama antara ketua bidang ke ketua bidang dan
anggota ke anggota. Pesan semacam ini bergerak di bagian bidang yang sama di
dalam organisasi atau mengalir antar bagian.
Masalah yang timbul dalam komunikasi horizontal adalah:
1. Bahasa yang khusus dikembangkan oleh divisi tertentu di dalam organisasi
2. Merasa bidangnya adalah yang paling penting dalam organisasi
Universitas Sumatera Utara
31
2.3. Tujuan dan Fungsi Komunikasi dalam Organisasi
2.3.1. Tujuan Komunikasi Organisasi
Ada tiga tujuan utama dari komunikasi organisasi yaitu (a) Sebagai tindakan
koordinasi, (b) Membagi informasi (information sharing), (c) Menyatakan perasaan
dan emosi. (Liliweri,2004:64)
2.3.2. Fungsi Komunikasi Organisasi
1. Fungsi Informatif
Organisasi dipandang sebagai suatu sistem proses informasi. Maksudnya,
seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi
yang lebih banyak, lebih baik dan lebih tepat.
2. Fungsi Regulatif
Fungsi regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam
suatu organisasi. Ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif
Pertama, atasan atau orang yang berada dalam tataran managemen, yaitu
mereka memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang
disampaikan. Kedua, berkaitan dengan pesan atau message, pesan-pesan
regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja.
3. Fungsi Persuasif
Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan
selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini,
maka banyak pimpinan lebih suka memersuasi bawahanya dari pada memberi
perintah.
Universitas Sumatera Utara
32
d. Fungsi Integratif
Setiap organisasi berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan
karyawan dapat melaksanakan tugas atau pekerjaan dengan baik. (Alo
Liliweri, 2004)
2.4. Komunikasi Internal dan Eksternal
Komunikasi dalam organisasi atau disebut juga komunikasi manajemen
meliputi dua bagian berdasarkan tempat di mana khalayak sasaran berada, yaitu
Komunikasi Internal (Internal Communication) untuk khalayak anggota organisasi
dan Komunikasi Eksternal (External Communication) untuk khalayak di luar anggota
organisasi.
2.4.1. Komunikasi Internal
Adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan para tenaga kesehatan
secara timbal balik. Komunikasi internal terbagi dalam tiga kegiatan :
1. Komunikasi Vertikal adalah komunikasi secara timbal balik (two way traffic
communication) dari atas (pimpinan atau manajer) ke bawah (karyawan atau
tenaga
kesehatan)
disebut
Upper
Communication
atau
Downward
Communication, dan komunikasi dari bawah (karyawan atau tenaga kesehatan) ke
atas (pimpinan atau manajer) disebut Down Up Communication atau Upward
Communication. Dalam proses komunikasi vertikal secara Upper Communication
atau Downward Communication tersebut pimpinan memberikan instruksi,
petunjuk, pengarahan, informasi, penjelasan, teguran, dan lain-lain pada bawahan.
Universitas Sumatera Utara
33
Dalam proses komunikasi vertikal secara Down Up Communication atau Upward
Communication tersebut bawahan memberikan laporan, gagasan, usul atau saran
kepada pimpinan. Komunikasi dua arah secara timbal balik dalam organisasi
sangat penting sekali. Pimpinan harus mengetahui laporan, tenggapan, gagasan,
saran dari bawahan sebagai petunjuk efektif tidaknya atau effisien tidaknya
kebijakan yang telah dilakukan. Oleh karena itu jika komunikasi hanya satu arah
saja dari pimpinan ke bawahan maka proses manajemen dalam organisasi besar
kemungkinan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Komunikasi vertikal
dapat dilakukan secara langsung antara pimpinan tertinggi dengan seluruh tenaga
kesehatan, atau juga dapat dilakukan secara berjenjang melalui kepala biro,
bagian, sub bagian, seksi, dan sub seksi. Komunikasi vertikal yang timbal balik
dua arah merupakan pencerminan dari kepemimpinan demokratis (democratic
leadership) suatu jenis kepemimpinan yang sementera ini dianggap yang paling
baik diantara kepemimpinan lainnya.
2. Komunikasi Horizontal adalah komunikasi secara mendatar diantara tenaga
kesehatan dalam suatu unit atau antara anggota staf dengan anggota staf lainnya.
Kalau dalam komunikasi vertikal lebih bersifat formal, maka dalam komunikasi
horizontal seringkali berlangsung dalam suasana tidak formal. Sering tampak
dilakukan dalam waktu istirahat, sedang dalam perjalanan pulang, atau waktu
rekreasi. Yang dibicarakan lebih banyak hal-hal yang menyangkut pekerjaan atau
tindakan pimpinan. Gravevenis mengenai kebijakan pimpinan sering muncul
dalam komunikasi horizontal, kadang tidak mempunyai dasar sama sekali.
Universitas Sumatera Utara
34
3. Komunikasi Diagonal atau disebut juga dengan komunikasi silang (cross
communication) adalah komunikasi dalam organisasi antara seseorang dengan
lainnya yang satu sama lain berbeda dalam kedudukan dan unitnya. Komunikasi
diagonal tidak menunjukkan kekakuan sebagaimana dalam komunikasi vertikal,
tetapi tidak juga menunjukkan keakraban sebagaimana dalam komunikasi
horizontal. Dilain hal komunikasi diagonal dapat terjadi penyimpangan dari jalur
prosedur birokrasi, misalnya, seorang tenaga kesehatan suatu unit mengeluhkan
masalah pekerjaan kepada kepala unit lain. Hal ini termasuk dalam
miscommunication dan jika diketahui oleh pimpinan unitnya maka mungkin akan
terjadi benturan psikologis.
2.4.2. Komunikasi Eksternal
Komunikasi Eksternal adalah komunikasi antara pimpinan atau pejabat lain
yang mewakilinya dengan khalayak atau publik di luar organisasi. Yang termasuk
khalayak di luar organisasi meliputi : khalayak sekitar (community), instansi
pemerintah (government), pers, dan pelanggan (customer). Komunikasi eksternal
terdiri dari dua jalur yang berlangsung secara timbal balik, yaitu Komunikasi dari
organisasi ke khalayak, pada umumnya bersifat informatif yang dilakukan
sedemikian rupa sehingga khalayak atau publik merasa terlibat atau sedikitnya terjadi
hubungan batin. Bagi suatu perusahaan komunikasi booking bersifat informatif
semata tetapi juga bersifat persuasif dalam bentuk penyiaran iklan komersial
(commercial advertisement) Komunikasi dari khalayak ke organisasi, yaitu
Universitas Sumatera Utara
35
merupakan proses umpan balik (feedback) yang disebut sebagai public opinion
(Effendi, dalam Ruslan, 2002:52).
2.5. Kinerja
Ada beberapa pendapat tentang kinerja yaitu:
1. Mangkunegara (2004:67) memberikan pengertian tentang kinerja yaitu hasil
kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya.
2. Teori Robbins menyebutkan mengenai beberapa faktor yang saling berkaitan
diantaranya kepemimpinan (leadership), motivasi (motivation), kemampuan
(ability), dimana faktor-faktor tersebut akan berinteraksi menjadi satu fungsi
kinerja pada tenaga kesehatan (Robbins, 1996:95).
3. Kinerja menurut As’ad (2001:48) keberhasilan seseorang pekerja terkait
dengan keberhasilan dalam menyelesaikan tugasnya. Hal tersebut dapat dilihat
dari sisi kualitas, ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut.
4. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kinerja adalah sesuatu yang dicapai,
prestasi yang diperlihatkan, kemampuan kerja (Depdiknas 2002:570).
5. Sedangkan Keith Davis yang dikutip oleh Mangkunegara (2004:67)
menyatakan kinerja merupakan gabungan antara kemampuan dan motivasi.
Universitas Sumatera Utara
36
Kinerja (performance) sebagai konsekuensi tuntutan masyarakat terhadap
kebutuhan akan pelayanan prima atau pelayanan yang bermutu tinggi. Mutu tidak
terpisahkan dari standar, karena kinerja diukur berdasarkan standar. Melalui kinerja
klinis perawat dan bidan, diharapkan dapat menunjukkan kontribusi profesionalnya
secara nyata dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan kebidanan yang
berdampak terhadap pelayanan kesehatan secara umum pada organisasi tempatnya
bekerja, dan dampak akhir bermuara pada kualitas hidup dan kesejahteraan
masyarakat.
Mengukur kinerja perawat dan bidan pada tatanan klinis, peneliti
menggunakan indikator kinerja klinis sebagai langkah untuk mewujudkan
komitmennya guna dapat menilai tingkat kemampuan individu dalam tim kerja.
Dengan demikian, diharapkan kesadaran akan tumbuh, mau, dan mampu
mengidentifikasi kualitas kinerja masing-masing, untuk dimonitor, diperbaiki serta
ditingkatkan secara terus menerus. Sistem pengembangan dan manajemen kinerja
klinis (SPMKK) bagi perawat dan bidan, dimulai dari elemen terkecil dalam
organisasi yaitu pada tingkat First Line Manager, karena produktifitas (jasa) berada
langsung ditangan individu-individu dalam kerja tim.
Komitmen dan dukungan pimpinan puncak dan stakeholder lainnya tetap
menjadi kunci utama. Bertemunya persepsi yang sama antara dua komponen tersebut
dalam menentukan sasaran dan tujuan, merupakan modal utama untuk meningkatkan
kinerja dalam suatu organisasi. Menentukan tingkat prestasi melalui indikator kinerja
klinis akan menyentuh langsung faktor-faktor yang menunjukkan indikasi-indikasi
Universitas Sumatera Utara
37
obyektif terhadap pelaksanaan fungsi/tugas seorang perawat atau bidan, sejauh mana
fungsi dan tugas yang dilakukan memenuhi standar yang ditentukan.
2.5.1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut Mathis dan Jackson (2001:308) banyak faktor yang mempengaruhi
kenerja diantaranya (1) Jumlah kerja, (2) Kualitas kerja, (3) Kecocokan dengan rekan
kerja, (4) Kehadiran, (5) Masa bakti, (6) Fleksibilitas.
Sedangkan menurut Bernardin dalam Robbins (1996:260), ada enam kriteria
dalam kinerja diantaranya :
1. Kualitas Kerja
Pengertian kualitas kerja adalah hasil aktivitas yang dilakukan mendekati
sempurna dalam arti menyesuaikan beberapa cara yang ideal dari penampilan
aktivitas ataupun memenuhi tujuan-tujuan yang diharapkan di suatu aktivitas kualitas
kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan serta
kesempurnaan tugas terhadap keterampilan dan kemampuan karyawan.
2. Kuantitas Kerja
Merupakan jumlah yang dihasilkan, dinyatakan dalam istilah seperti jumlah
unit, jumlah siklus aktifitas yang diselesaikan karyawan, dan jumlah aktivitas yang
dihasilkan.
3. Ketepatan Waktu
Tingkat suatu aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang diinginkan dilihat
dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia
Universitas Sumatera Utara
38
untuk aktivitas lain. Ketepatan waktu diukur dari persepsi karyawan terhadap suatu
aktivitas yang diselesaikan diawal waktu sampai menjadi output.
4. Efektivitas
Tingkat penggunaan Sumber Daya Organisasi (tenaga, uang, teknologi, bahan
baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikkan keuntungan dari setiap unit dalam
penggunaan sumber daya, efektifitas kerja, persepsi karyawan dalam menjalankan
tugas, efektivitas penyelesaian tugas yang ditentukan perusahaan.
5. Kemandirian
Adalah tingkat seorang karyawan dapat melakukan fungsi kerjanya tanpa
meminta bantuan, bimbingan dari pengawas, atau keterlibatan pengawas mencampuri
kerja karyawan untuk menghindari hasil yang merugikan. Kemandiriaan akan diukur
dari persepsi karyawan terhadap tugas dalam melakukan fungsi kerjanya masingmasing karyawan sesuai dengan tanggung jawab karyawan itu sendiri.
6. Komitmen Kerja
Merupakan tingkat karyawan mempunyai komitmen kerja dengan perusahaan
dan
tanggung
jawab
karyawan
terhadap
perusahaan.
Pengukuran
dengan
menggunakan persepsi karyawan dalam membina hubungan dengan perusahaan dan
tanggung jawab, loyalitas terhadap perusahaan.
Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson (2001 : 82) faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu:
1. Kemampuan
2. Motivasi
Universitas Sumatera Utara
39
3. Dukungan
4. Keberadaan pekerjaan yang dilakukan
7. Hubungan Dengan Organisasi
Berdasarkan pengertian di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa kinerja
merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja (output) individu maupun
kelompok dalam suatu aktifitas tertentu yang diakibatkan oleh kemampuan alami atau
kemampuan yang diperoleh dari proses belajar serta keinginan untuk berprestasi.
Penilaian kinerja (performance appracial) sering disebut penilaian prestasi
kerja, penilaian tampilan kerja, penilaian unjuk kerja, penilaian pelaksanaan
pekerjaan merupakan proses mengevaluasi pelaksanaan jabatan karyawan yang
dilakukan secara periodik, dilakukan dengan membandingkan kinerja yang dicapai
karyawan dengan kinerja yang diharapkan berdasarkan standar (Silalahi 2002:292).
2.6. Landasan Teori
Teori S-O-R (S-O-R theory) adalah singkatan dari Stimulus (S), Organism
(O), dan Response (R). Sebenarnya teori ini awalnya diadopsi dari Model Stimulus –
Respons dalam pendekatan psikologi. Kemudian oleh DeFleur dimodifikasi dengan
memasukkan unsur organism. Alasan penambahan unsur organism tersebut, karena
dalam komunikasi maupun psikologi, menjadikan manusia sebagai objek yang diberi
stimulus sehingga menimbulkan respon.
Menurut teori S-O-R, bahwa dalam mempelajari sikap yang baru, ada tiga
variabel penting yang menunjang proses belajar, yaitu perhatian, pengertian dan
Universitas Sumatera Utara
40
penerimaan. Proses belajar terjadi, apabila ada respon terhadap rangsangan pada
organism.
Dengan
demikian
rangsangan
sangat
penting,
sehingga
dapat
menumbuhkan perhatian, pengertian dan penerimaan.
Adapun proses teori S-O-R dapat terlihat pada gambar berikut ini :
S
STIMULUS
(RANGSANGAN)
O
R
ORGANISM :
RESPON
(PERUBAHAN
SIKAP)
- PERHATIAN
- PENGERTIAN
- PENERIMAAN
Sumber: Lubis dalam Teori-teori Komunikasi
Gambar 2.2. Alur Proses Teori S-O-R.
Stimulus adalah rangsangan atau dorongan, sehingga unsur stimulus dalam
teori ini merupakan perangsang berupa message (pesan atau isi pernyataan).
Organism adalah badan yang hidup, maksudnya manusia sebagai komunikan.
Sehingga unsur manusia dalam teori ini adalah receiver (penerima pesan). Sedangkan
respon yang dimaksud adalah sebagai reaksi, tanggapan, jawaban, pengaruh, efek
atau akibat. Jadi yang dimaksud sebagai respon dalam hal ini adalah efek (pengaruh)
yang ditimbulkannya.
Stimulus pada penelitian ini adalah pesan komunikasi internal organisasi,
perhatian, pengertian dan penerimaan tenaga kesehatan rumah sakit dan respon
adalah efek kognitif berupa meningkatnya kinerja tenaga kesehatan. Gambar 2.2.
menunjukkan bahwa perubahan sikap bergantung pada proses yang terjadi pada
individu. Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkin
Universitas Sumatera Utara
41
diterima atau mungkin ditolak. Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari
komunikan, proses berikutnya komunikan mengerti maka kemampuan komunikan
inilah yang melanjutkan proses berikutnya. Setelah komunikan mengolahnya dan
menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap (Effendy, 2003 : 54).
2.7. Kerangka Konsep Penelitian
Berikut ini dikemukakan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
untuk memahami fenomena komunikasi internal pada organisasi Rumah Sakit Umum
Herna Medan. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, komunikasi internal
mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap
kinerja tenaga kesehatan.
Menurut defenisi Carl I. Hovland, Komunikasi adalah proses yang memungkinkan
seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang
verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan). Salah satu jenis
komunikasi yang sangat penting adalah komunikasi internal yang memungkinkan
respon
verbal
maupun
nonverbal
berlangsung
secara
langsung.
Dalam
operasionalnya, komunikasi internal berlangsung antar sesama tenaga kesehatan baik
yang bersifat vertikal dan horizontal dan diagonal.
kinerja tenaga kesehatan secara perorangan akan mendorong kinerja sumber
daya manusia secara keseluruhan dan memberikan feedback yang tepat terhadap
perubahan perilaku, yang direfleksikan dalam kenaikan produktifitas dan pelayanan.
Jadi dapat dikatakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat didukung dari
Universitas Sumatera Utara
42
tingkat kinerja tenaga kesehatan yang sangat dipengaruhi oleh proses komunikasi
yang terjadi antar tenaga kesehatan.
Komunikasi Internal
(X)
X1
Komunikasi Vertikal
X2
Komunikasi
Horizontal
Kinerja Tenaga Kesehatan
(Y)
-
Kualitas kerja
-
Kuantitas kerja
-
Ketepatan waktu
-
Efektivitas
-
Kemandirian.
-
Komitmen Kerja.
X3
Komunikasi Diagonal
Gambar 2.3. Kerangka Konsep
Keterangan :
X
= Komunikasi Internal
X1
= Komunikasi Vertikal
X2
= Komunikasi Horizontal
X3
= Komunikasi Diagonal
Y
= Kinerja Tenaga Kesehatan
Universitas Sumatera Utara
Download