riset unggulan terpadu (rut) - lembaga penerbitan universitas esa

advertisement
Jurnal FASILKOM Vol. 6 No.2 Oktober 2008
PEMBANGUNAN PERANGKAT LUNAK ITMG (INTEGRATED TOURISTIC
MAP GENERATOR)
Surya Afnarius
Teknik Elektro, Universitas Andalas, Padang
Kampus Limau Manis, Padang 25163
[email protected]
Abstract
One study to generate SVG Touristic Map using shapefile had been done. The study solved
the problem cost of e-government implementation using Internet-GIS in tourism service.
This reports the results of an effort to develop a software called “ITMG”. To develop
software, the waterfall methodology was used in this study. The study used Visual Basic,
Access, MapObjects and ASP. The ITMG was tested using Padang Map.The results showed
that the ITMG fulfills the user requirements in tourism service.
Keywords: e-Governmen, Internet, GIS, Map - Shapefile
Pendahuluan
Presiden Republik Indonesia Susilo
Bambang Yudhoyono telah mengungkapkan
bahwa po-tensi wisata adalah aset negara yang
perlu terus dikembangkan karena dapat
memberikan masu-kan devisa yang besar.
Presiden mengajak semua sektor untuk
mendukung pariwisata (Iman, 2007). Selain itu,
menurut hasil studi UNDP dan USAID
pariwisata
merupakan
sektor
unggulan
perekonomian Indonesia de-ngan multiplier
effect terbesar (Susanto, 2007). Dengan upaya
dan biaya yang lebih kecil dibanding dengan
Investasi dan Ekspor, pariwi-sata akan
memberikan hasil lebih besar. Pari-wisata ini
langsung
menyentuh
ekonomi
rakyat.
Seharusnya pariwisata menjadi pilar ekonomi
Indonesia. Namun saat ini pariwisata kurang
mendapat perhatian (Susanto, 2007). Hal ini
dapat dilihat dari anggaran yang disediakan.
Menurut Menteri Kebudayaan dan
Pariwisata Republik Indonesia Jero Wacik,
pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan
mancanegara ke Indonesia tahun 2005 sebanyak 6 juta orang dengan dana promosi Rp. 90
miliar dan pemasukan devisa US$6 milyar
(Wacik, 2005). Namun wisatawan yang datang
hanya lima juta orang, bahkan tahun 2006 turun
menjadi 4.8 juta orang (Kompas, 2007). Dibandingkan dengan pencapaian yang telah diraih
oleh Malaysia tahun 2004 sebanyak 14 juta,
pencapaian kita sangat rendah (Wacik, 2005).
Salah satu penyebabnya adalah kurangnya
promosi karena dana promosi yang tersedia tidak mencukupi. Menurut Iqbal Allan Abdullah
(Sekjen DPI), Indonesia membutuhkan dana
sekitar 1-2 persen dari devisa sektor pariwisata
tahun 2006 sebesar US$ 4.8 milliar untuk
promosi wisata Indonesia tahun 2007 dengan
target wisatawan 6 juta orang (Kompas, 2007).
Satu jumlah yang sangat besar yang tidak
mungkin dipenuhi oleh Indonesia yang saat ini
sering ditimpa berbagai bencana. Karena itu
promosi pariwisata Indonesia perlu ditunjang
dengan teknologi informasi.
Internet-GIS adalah salah satu media
yang sesuai untuk promosi pariwisata Indonesia
dan sesuai pula dengan kemajuan teknologi
informasi. Delapan puluh sembilan juta dari 101
juta pemakai internet di Amerika Serikat
menggunakan internet dan peta untuk keperluan
wisata mereka (Puhretmair, Rumetshofer dan
Schaumlechner, 2002). Dengan Internet, wisatawan dari penjuru dunia dapat mengetahui
objek-objek wisata yang ada di Indonesia.
Dengan peta pemahaman wisatawan akan daerah tujuan wisata menjadi lebih baik (Pollock
dalam Benckendorff dan Black, 2000). Untuk
dapat memproses informasi peta diperlukan teknologi Geographical Information System (GIS).
Integrasi teknologi Internet dan GIS ini disebut
dengan Internet-GIS. Namun Internet-GIS ini
155
Jurnal FASILKOM Vol. 6 No.2 Oktober 2008
sangat mahal, seperti : ArcIMS : US$ 7.500;
MapGuide 5 US$ 9.900; SpatialDirect US$
20.000 dan EarthKey Internet Mapping US$
25.000 (GIS Lounge, 2002; Plewe, 2005 dan
Clarke, 2006). Itu baru harga Internet-GIS
engine-nya, belum lagi pengadaan server yang
khusus, pembangunan sistem yang jauh lebih
mahal dan SDM dengan keahlian yang tinggi
(Plewe, 2005 dan Clarke, 2006). Akibatnya
penerapan Internet-GIS di dalam e-government
pelayanan pariwisata Indonesia menjadi terhambat. Selain dari itu, kemampuan InternetGIS juga terbatas, seperti kualitas peta yang
jelek, lambat karena petanya dalam bentuk
grafik bitmap, terbatasnya kemampuan interaksi dan hanya query sederhana yang tersedia
(Plewe, 2005).
Salah satu alternatif pengganti InternetGIS itu adalah Scalable Vector Graphics (SVG)
(Siirila, 2000 dan Andreas, 2000). Menurut
The Word Wide Web Consortium (W3C)
(2001), SVG itu adalah “a language for describing two dimensional graphics in XML.
SVG allows for tree types of graphic objects :
vector graphic shapes (e.g., paths consisting of
straight lines and curves) images and text.
Graphical objects can be grouped, styled,
transformed and composited into previously
rendered objects.“ SVG itu dikembangkan karena dua alasan mendasar, yaitu (i) keperluan
adanya format grafik berbasiskan XML
(Extensible Markup Language) dan (ii) adanya
kekurangan-kekurangan dari grafik bitmap
(Watt et. al., 2003). Diharapkan nantinya SVG
menjadi standar visualisasi aplikasi berbasiskan
XML, seperti Geography Markup Language
(GML). Saat ini SVG telah mempunyai kemampuan interaksi dan animasi serta bentuk
grafik: line, polyline, polygon, rectangle,
ellipse, circle, path. Namun SVG belum
mempunyai bentuk grafik point.
Beberapa riset telah dilakukan oleh para
peneliti untuk menunjukkan kesesuaian SVG
sebagai alternatif pengganti Internet-GIS.
Menurut Watt et. al. (2003) SVG telah memasukkan ikatan grafik pada fitur-fiturnya. Ikatan
grafik ini dapat membuka SVG berikutnya yang
lebih detail pada jendala tambahan. Dengan
cara ini, lapisan-lapisan pada peta dapat diak-
tifkan secara langsung sesuai dengan keinginan
pemakai.
Johannson dan Siirila (2001) menyatakan SVG ini cocok untuk memvisualkan peta
vektor di Internet. Menurut Siirila (2000) dan
Andreas (2000), dengan menggunakan vektor,
proses interaksi, analisa serta operasi Zoom dan
panning menjadi lebih mudah. Andreas (2000)
menambahkan adanya kesesuaian SVG dengan
teknik pewarnaan dan sistem koordinat kartesian yang dapat ditransformasikan semakin
mendekatkan SVG dengan GIS.
Pada tahun-tahun berikutnya, kajian peta
web SVG tetap menjadi kajian utama. Hal ini
dapat dilihat pada SVG Open Conference 2003,
dimana 25% paper yang ditampilkan adalah
aplikasi peta web SVG (Takagi et. al. 2004).
Begitu juga pada SVG Open Conference 2004
dan 2005, peta web SVG tetap menjadi kajian
utama, seperti yang dilakukan oleh Clark dan
Krupnikov (2004), Garcia dan Gelle (2004),
Nakata et. al. (2004), Förster (2005) dan Danzar
dan Potier (2005). Tidak banyak yang melakukan kajian pembangkitan peta web SVG
seperti yang dilakukan oleh Rogers (2002). Namun Rogers (2002) menggunakan server dan
program ArcView untuk membaca shapefile
yang berharga US$ 1,500. Satu harga yang
mahal untuk digunakan bagi promosi pariwisata
sampai ke tingkat desa di Indonesia.
Dimotivasi oleh pernyataan Presiden RI
Susilo Bambang Yudhoyono (Iman, 2007),
Iqbal Allan Abdullah (Kompas, 2007), Clarke
(2006), Wacik (2005) dan Plewe (2005), dalam
paper ini dilaporkan hasil pembangunan perangkat lunak ITMG yang bertujuan untuk membangkitkan peta SVG dari shapefile untuk
kepentingan pariwisata dengan harga murah.
Harga murah didapatkan karena luaran ITMG
ini, yaitu peta pariwisata menggunakan SVG
yang royalty free.
Metode Penelitian
Untuk dapat menjadikan SVG sebagai
alternatif pengganti dari Internet-GIS bagi pembangunan portal situs pariwisata Indonesia perlu
diadakan terlebih dahulu beberapa kajian literatur. Dari kajian literatur akan diketahui hasilhasil riset sejenis, termasuk didalamnya persoalan apa yang sedang dihadapi, apa yang telah
156
Jurnal FASILKOM Vol. 6 No.2 Oktober 2008
dibuat oleh peneliti lain dan apa rencana
mereka selanjutnya. Setelah itu baru dapat
dilakukan pembangunan perangkat lunak
ITMG.
Untuk itu Research and Applied
Development adalah pendekatan untuk kajian
ini. Metode untuk pengembangan perangkat
lunak yang diguna-kan adalah Waterfall yang
terdiri dari (i) pen-definisian awal sistem,
seperti apa sistem yang akan dibangun, (ii)
disain antarmuka pemakai, (iii) disain sistem
dan (iv) implementasi dan pengujian sistem.
Dalam membaca objek poly-line dan polygon
shapefile digunakan koleksi parts yang
terbentuk dari objek point. Hubu-ngan diantara
objek itu dapat dilihat pada gambar 1. Gambar
2 adalah cara pembacaan shapefile dan
pembentukan
peta
SVG.
Selan-jutnya
pengujian sistem dilakukan dengan cara black
box test dan menggunakan peta pari-wisata
Kota Padang yang terdiri dari fitur polygon
(kecamatan dan sungai), polyline (jalan) dan
point (hotel dan attraksi wisata). Pengujian
dilakukan secara terintegrasi. Ketiga fitur peta
Kota Padang secara serentak diwarnai dan
diekspor ke bentuk SVG. Peta pariwisata Kota
Padang, struktur dan isi tabel kecamatan yang
digunakan dapat dilihat pada gambar 3, 4 dan 5.
Selain menggunakan metode Waterfall, juga
diperhatikan pendapat dari Watt et. al (2003),
yaitu “for many web-mapping applica-tions
that use SVG, there are a three-step progression.” Langkah-langkah tersebut adalah : 1)
peta yang diekspor ke bentuk SVG, 2) pembangunan fungsi JavaScript untuk merespons
event dari fitur SVG dan 3) pembangunan
fungsi-fungsi pada sisi server untuk kedinamis
data.
Analisis dan Perancangan
Keperluan sistem perangkat lunak
ITMG didapat dari kajian yang dilakukan
melalui internet, baik tulisan, demo program
(GeoColors) ataupun web site pariwisata yang
ada, terutama bentuk peta yang diperlukan.
Adapun keperluan sistem ITMG dari sudut
pandang pemakai (conceptual design) adalah
seperti tergambar pada gambar 6. Pemakai
memasukkan peta dalam bentuk shapefile ke
dalam pewarnaan untuk pengaturan warna atau
simbol dari objek-objek wisata yang diteruskan
ke pengekspor untuk menghasilkan peta SVG.
Peta SVG yang didapat dari pengekspor
dimasukkan ke dalam kerangka web yang telah
dilengkapi dengan program sisi server. Peta
SVG yang dihasilkan telah berada di dalam
lingkungan Internet.
Rancangan perangkat lunak ITMG yang
dibuat terdiri dari : 1) bagian pewarnaan, 2) bagian pengekspor dan 3) bagian kerangka web.
Rancangan ITMG ini dapat dilihat pada gambar
7. Bagian pewarnaan adalah bagian untuk
mengatur pewarnaan atau simbol dari objekobjek wisata dan layer peta (menambah dan
mengeluarkan layer peta, zoom in, zoom out,
pan, full extent dll). Pewarnaan fitur dalam
bentuk single symbol classification dan unique
values classification. Layer peta yang diatur
tersebut adalah jenis shapefile dengan data
atribut minimal terdiri dari field name dan
HTML.
Bagian pengekspor adalah bagian yang
mengekspor bentuk peta shapefile ke bentuk
peta SVG. Aturan pengeksporan yang dibuat
adalah polygon menjadi polygon, polyline menjadi polyline dan point menjadi polygon
(lingkaran). Pada bagian ini disediakan juga
fasilitas warna filter : dropShadow dan gradient: linear dan radial untuk fitur polygon.
Bagian kerangka web adalah bagian
yang menampung peta SVG hasil ekspor dan
membangkitkan laman web yang interaktif, berupa pengendalian data atribut dari fitur pariwisata yang diprogram dengan satu bahasa sisi
server. Bagian ini terdiri dari kumpulan frame,
yaitu frame0 tempat menu data dinamis, frame1
digunakan untuk meletakkan laman web yang
meng-embbed peta SVG dan frame2 digunakan
untuk menghasilkan laman web yang dinamis.
Bagian ini juga mengendalikan database pariwisata yang terdiri dari tabel Master, Attraksi,
Kegiatan, Hotel, Berita dan Travel. Hubungan
antara tabel Master dengan tabel-tabel lainnya
adalah 1 : N.
Implementasi dan Pengujian
ITMG: bagian pewarnaan dan pengekspor diimplementasikan dengan menggunakan Ms Visual Basic 6.0 dan MapObjects 2.0,
sedangkan bagian kerangka web diimplementasikan dengan menggunakan Ms ASP, Ms
157
Jurnal FASILKOM Vol. 6 No.2 Oktober 2008
Access, Ms Frontpage dan Web Server Ms IIS.
Bentuk tampilan bagian-bagian ini dapat dilihat
pada gambar 8, 9 dan 10. Setelah diimplementasikan, ITMG diuji. Pengujian yang dilakukan
bertujuan untuk melihat apakah rancangan yang
dibuat telah sesuai dengan conceptual design.
Untuk itu a) Peta pariwisata Kota Padang yang
terdiri dari ketiga fitur polygon, polyline dan
point didijitasi menggunakan MapInfo dan
dijadikan bentuk shapefile dengan menggunakan Universal Translator. Hasil perubahan
bentuk ini dapat dilihat pada gambar 3. b) Bentuk shapefile Kota Padang ini dimasukkan ke
dalam perangkat lunak ITMG bagian pewarnaan untuk pengaturan warna atau simbol dari
fitur-fitur peta. Gambar 11 menunjukkan peta
pariwisata Kota Padang telah berada di dalam
ITMG. Untuk pengujian ini, fitur polygon layer
kecamatan diwarnai dengan cara single values
classification dan unique values classification.
Hasil pewarnaannya dapat dilihat pada gambar
12 dan 13. c) Hasil pada gambar 12 dan 13
diekspor ke bentuk SVG dengan menggunakan
fasilitas warna filter dan tidak difilter. Hasil
ekspor ini dapat dilihat pada gambar 14, 15, 16
dan 17. d) Hasil pada gambar 14 dimasukkan
ke dalam kerangka web ITMG. Kemudian
kecamatan dengan nomor 40010 (Kecamatan
Koto Tangah) diaktifkan. Kerangka web membangkitkan laman web kecamatan Koto
Tangah. Hasil pembangkitan ini dapat dilihat
pada gambar 18.
Dari hasil pengujian tadi, dapat dilihat
bahwa bentuk peta pariwisata Kota Padang
yang dihasilkan ITMG untuk ketiga fiturnya
adalah sama dengan bentuk aslinya. Kemudian
dari warna yang dihasilkan antara pewarnaan
ITMG dengan luaran pengeksporan ITMG juga
sama. Kerangka web ITMG berhasil mengaktifkan peta pariwisata SVG Kota Padang dan
membangkitkan laman web satu kecamatan.
Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa
ITMG yang dibuat telah sesuai dengan conceptual design-nya.
Pembahasan
Ada dua cara dalam membangkitkan
peta SVG dari berkas GIS, yaitu 1) peta SVG
dibangkitkan di dalam server dengan menggunakan program sisi server atau 2) peta SVG
secara keseluruhan dibangkitkan pada komputer
biasa (stand alone). Cara pertama ini telah
dibuat oleh beberapa perusahaan perangkat
lunak, seperti OpenSVGMap Server dan
SVGMapper, sedangkan cara kedua telah dibuat
oleh GeoColors. Pada cara pertama, lalulintas
pada jaringan komputer menjadi sibuk dan
berat. Karena setiap ada aksi yang mempengaruhi bentuk peta, seperti zoom atau pan,
terjadi permintaan ke server untuk membangkitkan peta yang diminta oleh pemakai. Sedangkan pada cara kedua, semua peta telah dibangkitkan. Kalau ada perintah zoom atau pan,
Adobe SVG Viewer akan menggerakkan peta
yang diinginkan pemakai pada sisi client saja.
Tidak ada komunikasi dengan server. Berdasarkan kemudahan ini, maka riset yang kami
lakukan memilih cara kedua. Semua fitur dari
peta pariwisata dibangkitkan dengan komputer
biasa, bukan server.
Hasil riset ini berbeda jauh dengan apa
yang telah dibuat oleh Geo-Colors. Walaupun
cara membangkitkan peta SVG-nya sama,
namun implementasi database-nya berbeda.
Luaran ITMG telah menggunakan konsep
Hypermap yang diimplementasikan menggunakan satu database server dan mendukung
promosi pariwisata. Dengan cara ini akan
diperoleh kedinamikan laman web. Sedangkan
luaran Geo-Colors lebih mengutamakan tampilan yang mirip dengan GIS yang mempunyai
Over View Map dan semua data atribut dari satu
fitur digabungkan ke dalam satu berkas SVG.
Akibatnya 1) ukuran berkas SVG Geo-Colors
menjadi lebih besar, 2) lambat dalam proses
mengekspor shapefile ke SVG, 3) tidak dapat
dilakukan perbaikan data atribut dari satu fitur
dan 4) laman web yang dihasilkannya statis.
Sedangkan luaran ITMG tidak seperti itu,
bahkan kebalikannya. Dengan demikian secara
keseluruhan, ITMG lebih baik dari pada GeoColors.
Perangkat lunak ITMG yang dibuat ini
dapat menerima bentuk template dan program
dinamik penghubung fitur dengan data atribut
lainnya. Bentuk template dapat dibuat untuk
mengubah-ubah bentuk kerangka web. Pada
template itu dipasang frame main1 dan main2.
Frame main1 digunakan untuk meletakkan
SVG.htm yang meng-embed file SVG. Frame
158
Jurnal FASILKOM Vol. 6 No.2 Oktober 2008
main2 digunakan untuk meletakkan data atribut
dari satu fitur. Dengan mengganti-ganti Graphical User Interface (GUI) dari template, kita
dapat membangkitkan bentuk lembaran kerangka web yang berbeda-beda. Sedangkan program
dinamik penghubung fitur dengan data atribut
lainnya dapat digunakan untuk mengubah-ubah
bentuk GUI dari data atribut. Dengan menggunakan logika yang sama dan mengubah bentuk
tampilannya akan terbentuk tampilan baru. Dua
cara ini akan memperkaya luaran dari ITMG.
Fasilitas ini tidak terdapat pada Geo-Colors.
Beberapa aturan dalam mengubah peta
spatial yang berada di dalam format shapefile
ke dalam bentuk SVG telah dibuat. Aturan itu
mengatur pengeksporan polygon menjadi polygon, polyline menjadi polyline dan point
menjadi polygon (lingkaran). Ada dua masalah
utama yang ada di dalam bagian pengekspor,
yaitu penentuan warna masing-masing objek
dan koordinat dari objek yang akan dipindahkan. Untuk penentuan warna digunakan
kembali teknik renderer dan objeknya yang ada
pada bagian pewarnaan. Fungsi single symbol
classification diaktifkan jika renderer dari satu
layer bernilai nothing, sedangkan fungsi unique
values classification diaktifkan jika nilai
renderer dari satu layer bernilai ValueMap
Render. Warna untuk fungsi single symbol
classification ditentukan dengan menggunakan
properti warna dari objek symbol, yaitu:
lyr.Symbol.Color, sedangkan untuk fungsi
unique values classification, warna diambil dari
struktur data (r) objek ValueMapRender. Untuk penentuan koordinat satu objek, sesuai dengan struktur berkas shapefile yang diimplementasikan oleh ESRI ke dalam MapObjects
versi 2.0, maka digunakan properti parts untuk
mendapatkan kumpulan titik-titik (pts) yang
membentuk satu objek geometri. Titik yang ada
di dalam pts inilah yang diambil, kemudian
ditentukan titik koordinatnya di dalam control
space (window tempat peta ditampilkan).
Untuk menentukan titik koordinat tersebut
digunakan metoda FromMapPoint.
Kesimpulan
fungsi pada sisi server telah berhasil mengatasi
persoalan implementasi e-government pariwisata berupa mahalnya harga Internet-GIS.
Perangkat lunak ini juga menunjukkan bahwa
SVG yang royalty free telah menjadi alternatif
pengganti Internet-GIS. Bagian pewarnaan dan
pengekspor telah menjawab persoalan pembangkitan peta SVG yang berwarna secara
interaktif untuk kepentingan pariwisata. Fungsifungsi sisi server yang ada pada kerangka web
telah menjawab persoalan kajian pembentukan
laman web dari pangkalan data spatial dan
atribut secara otomatis dan dinamis. Keberhasilan ITMG ini ditunjukkan melalui pengujian dengan menggunakan data pariwisata Kota
Padang.
Daftar Pustaka
Andreas, Newmann, “Vector-based Web Cartography”, Institute of Cartogrphy, Zurich,
2000.
Benckendorff, Pierre J. dan Black, Neil L,
“Destination marketing on the Internet :
A case study of Australian Regional Tourism Authorities”, The Journal of Tourism
Studies, Vol. 11 No.1, 2000.
Clark, Andy dan Krupnikov, K Ari, “OpenSource Airport and Instrument Procedure
Diagrams in SVG”, SVG Open Conference 2004, Tokyo, 2004.
Clarke, Paul, “Dynamic Web-Mapping Using
Scalable Vector Graphics (SVG)”, ESRI
Conference, Tokyo, 2006.
Danzart, Annie dan Potier, Christine, SVG
“Dynamic Cartographic Application”,
SVG Open 2005 Conference, Eschede,
Belanda, 2005.
Förster, Klaus, Tirol Atlas Topo, “SVG on top
of a dynamic mapping system”, SVG
Open Conference 2005, Eschede, Belanda,
2005.
Perangkat lunak ITMG berbasiskan
SVG yang terdiri dari bagian pewarnaan,
pengekspor dan kerangka web dengan fungsi159
Jurnal FASILKOM Vol. 6 No.2 Oktober 2008
Garcia, Rudrigo dan Gelle, Esther, “SVG for
Scada Applications”, SVG Open Conference 2004, Tokyo, Jepang, 2004.
GIS
Lounge, “Internet Map Servers”,
www.gislounge.com, diakses 8 Februari
2005.
Iman, “Presiden: Sektor Pariwisata Harus
Didukung”, Wisatanet.com, diakses 29
Maret 2007.
Johansson, Patrik dan Siirila, Robert,
“Construction of a Generator for Interactive Vector Maps”, Study of InternetGIS Using XML, University of Gavle,
2001.
Kompas, “Pariwisata: Anggaran Promosi Harus
Ditambah”, Rabu 7 Maret 2007. hlm. 18.
Nakata, Hideo; Osaki, Masayo; Teraoka,
Teruhiko dan Yamamura, Tadashi,
“Construction of Train Traffic Monitoring
System Using SVG”, SVG Open
Conference 2004, Tokyo, Jepang, 2004.
Plewe, Brandon, “A Simple Web Mapping
Solution for Complex Spatial Databases”,
SVG Open Conference 2005, Eschede,
Belanda, 2005.
Puhretmair, Franz; Rumetshofer, Hildegard dan
Schaumlechner,
Erwin,
“Extended
Decision Making in Tourism Information
Systems”, ECWEB, 2002.
Rogers, Nedjo, “Open SVG Map Server 1.01”,
www.freegis.org, diakses 4 juni 2004.
Siirila, Robert, “SVG for Web Mapping”,
University of Gavle, 2000.
Susanto, AB, “Musibah dan Pariwisata
Indonesia”, Kompas, Jum’at 9 Maret
2007.
Takagi, Satoru; Tanaka, Takaya; Muramatsu,
Shigeki dan Kobayashu, Arei, “goSVG –
Standardization and Promotion Activity
for LBS by SVG”, SVG Open Conference
2004, Tokyo, Jepang, 2004.
Wacik, Jero, “Meneg Budpar Targetkan 6 Juta
Wisman Tahun 2005”, BaliPost.Co.id.
diakses 1 Februari 2006.
Watt, Andrew H; Lilley, Chris; Ayers, Daniel
J.; George, Randi; Wenz, Christian;
Hauser,
Tobias;
Lindsey,
Kevin;
Gustavsson, Niklas, “SVG Unleashed”,
New Riders, Indiana, 2003.
160
Jurnal FASILKOM Vol. 6 No.2 Oktober 2008
Lampiran
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 3
Peta pariwisata Kota Padang
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 1
Hubungan objek-objek Shapefile
Gambar 2
Pembacaan shapefile dan pembentukan peta SVG
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 5
Isi tabel kecamatan
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 4
Struktur tabel kecamatan
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 6
Conceptual design perangkat lunak ITMG
161
Jurnal FASILKOM Vol. 6 No.2 Oktober 2008
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 7
Rancangan perangkat lunak ITMG
Sumber: Hasil Olahan Data
162
Jurnal FASILKOM Vol. 6 No.2 Oktober 2008
Gambar 8
Bagian Pewarnaan ITMG
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 9
Bagian Pengekspor ITMG
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 10
Bagian Kerangka Web ITMG
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 11
Peta pariwisata Kota Padang dimasukkan ke dalam ITMG
163
Jurnal FASILKOM Vol. 6 No.2 Oktober 2008
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 12
Peta pariwisata Kota Padang diwarnai dengan single symbol classification
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 13
Peta pariwisata Kota Padang diwarnai dengan unique values classification
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 14
Peta SVG kota Padang tidak difilter dari peta gambar 12
164
Jurnal FASILKOM Vol. 6 No.2 Oktober 2008
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 15
Peta SVG kota Padang difilter dengan dropShadow dari peta gambar 12
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 17
Peta SVG kota Padang difilter dengan
dropShadow dari peta gambar 13
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 16
Peta SVG kota Padang tidak difilter dari peta
gambar 13
Sumber: Hasil Olahan Data
Gambar 18
Pembangkitan laman web Koto Tangah di dalam kerangka web ITMG
165
Download