28. Prosiding - Waskito Budi-Ok - MMT – ITS

advertisement
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
PERANCANGAN PENGUKURAN KINERJA BISNIS UNIT
dengan PERFORMANCE PRISM
di PT. XYZ
Waskito Budi Susanto, Patdono Suwignjo
Manajemen Industri, Magister Manajemen Teknologi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
ABSTRAK
Dalam era globalisasi sekarang ini setiap perusahaan dituntut berkompetisi
secara
ketat. Supaya perusahaan mampu bertahan dibutuhkan sebuah sistem
pengukuran kinerja yang dapat membantu perusahaan melakukan continous
improvement. Selama ini sistem pengukuran kinerja yang telah dilakukan adalah secara
tradisional. Pengukuran kinerja ini hanya melihat dari sudut pandang finansial saja.
Menurut para executive dan scientists sistem pengukuran kinerja ini tidak mampu
menggambarkan kondisi real perusahaan sehingga tidak mendukung continous
improvement bagi perusahaan. Pada kondisi saat ini dan masa depan, cara terbaik bagi
perusahaan untuk bisa bersaing adalah dengan mengedepankan pemenuhan nilai
terhadap keinginan dan kebutuhan seluruh stakeholder. Stakeholders yang dimaksud
adalah customer, investor, supplier, tenaga kerja dan masyarakat. Peneliti memilih
sistem pengukuran kinerja dalam kerangka Performance Prism yang pertama kali
diperkenalkan pada tahun 2000 oleh Andy Neely dan Chris Adams dan mencoba
mengimplementasikan di PT. XYZ.
Langkah pertama didalam perancang sistem pengukuran kinerja menggunakan
Performance Prism adalah menterjemahkan stakeholder satisfaction dan stakeholder
contributions kedalam pengukuran secara kuantitatif. Peneliti menggunakan Analytic
Hierarchy Process (AHP) dalam pembobotan dan Objective Matrix (OMAX) dalam
scoring system untuk mengukur kinerja setiap perspektif stakeholders. Dari hasil
tersebut perusahaan dapat memprioritaskan tindakan perbaikan yang akan dilakukan .
Dari hasil pengukuran kinerja tersebut terdapat 29 Key Performance Indicators
(KPI). 7 indikator mewakili perspektif customer, 3 indikator mewakili investor, 6
indikator mewakili supplier, 9 indikator mewakili tenaga kerja dan 4 indikator mewakili
perspektif masyarakat. Dari hasil pembobotan, indikator yang memiliki pengaruh
terbesar terhadap kinerja perusahaan adalah earning power dari perusahaan pada
perspektif finansial. Dari pencapaian kinerja terdapat 6 KPI yang tercapai sesuai target,
18 KPI belum sesuai target dan 5 KPI jauh dari target dan merupakan kondisi kritis
yang membutuhkan tindakan perbaikan segera.
Kata kunci : Pengukuran kinerja, Performance Prism
PENDAHULUAN
Latar Belakang Permasalahan
Intensitas persaingan bisnis yang meningkat dewasa ini memacu dunia usaha
untuk lebih perduli terhadap strategi yang membawa kepada dua hal, yaitu keunggulan
dan nilai. Perusahaan terus berupaya untuk merumuskan dan menyempurnakan strategi
– strategi bisnis mereka dalam rangka memenangkan persaingan (the winning strategy).
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
Untuk mendukung efektifitas strategi tersebut maka manajemen perusahaan perlu
mengukur kinerja bisnis mereka.
Dalam mengukur kinerja bisnis suatu perusahaan dapat dikaji dari berbagai
sudut pandang. Pengukuran kinerja secara tradisional cenderung mengedepankan
pengukuran kinerja dari segi finansial saja. Dimana kinerja bisnis hanya diukur dari segi
keuangan saja, seperti tingkat profitabilitas dan revenue. Harus diakui, memang
sesungguhnya bahwa aspek keuangan merupakan muara segala keputusan dari aktivitas
management. Tetapi menilai kinerja bisnis perusahaan hanya dari aspek keuangan akan
sangat merugikan management dimasa yang akan datang. Sebab pengukuran kinerja
bisnis perusahaan yang hanya mengkaji dari aspek financial, lebih mementingkan rasio
keuangan, terutama laba perusahaan daripada aspek – aspek yang berhubungan dengan
investasi untuk mencapai nilai tambah jangka panjang perusahaan sehingga tidak
mendukung adanya continuous improvement. Kinerja keuangan yang baik saat ini
mungkin diciptakan dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan jangka panjang
perusahaan. Sebaliknya, kinerja keuangan yang tidak baik saat ini bisa saja disebabkan
karena perusahaan melakukan investasi-investasi demi kepentingan jangka panjang,
sehingga kinerja keuangan tidak mampu menggambarkan kondisi riil perusahaan.
(Adam & Neely ,2000)
Untuk mengantipisasi kelemahan dari pengukuran kinerja bisnis perusahaan
secara tradisional, maka Robert S. Kaplan (Guru besar Akuntansi di Havard Business
School) dan David P. Norton (Presiden dari Renaissance Solutions, Inc) mencoba
melakukan kajian yang lebih mendalam dalam pengukur kinerja bisnis perusahaan,
tidak hanya mempertimbangkan dari perspektive financial saja tetapi juga dari
perspektif pelanggan ( customer perspective ), perspektif proses bisnis internal (
process bisnis internal perspective ), dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (
learn and growth perspective). Metode pendekatan tersebut dikenal dengan Balanced
Scorecard ( BSC ). Metode ini menyediakan kerangka secara komprehensif yang dapat
menterjemahkan tujuan strategis yang menjabarkan visi, misi dan strategi perusahaan ke
dalam tujuan operasional dan tolok ukur kinerja bisnis perusahaan. ( Adam & Neely
,2000 )
Selanjutnya pada tahun 2000, Chris Adams ( experienced Finance &
Performance manager, United Kingdom ) dan Andy Neely ( Professor- Cranfield
School of Management, United Kingdom ) melihat ada kelemahan dalam pengukur
kinerja bisnis perusahaan dengan metode Balanced Scorecard. Menurut Chris Adams &
Andy Neely kesalahan besar yang ada pada pengukuran kinerja diawali dari strategi dan
tidak berasal pada keinginan stakeholder secara keseluruhan. Dalam metode Balanced
Scorecard hanya fokus pada dua stakeholder yaitu financial (shareholder) dan customer
saja, sedangkan stakeholder yang lain, yaitu supplier, tenaga kerja dan masyarakat
tidak dikaji. Sebenarnya, tujuan perusahaan menetapkan strategi karena ingin
memberikan nilai (value) kepada para seluruh stakeholder. Oleh karena itu, starting
point haruslah terletak pada keinginan dan kebutuhan seluruh stakeholder. Untuk
mengatasi hal ini, Chris Adams & Andy Neely memperkenalkan suatu pengukuran
kinerja yang mengedepankan pentingnya menyelaraskan aspek perusahaan
(stakeholder) secara keseluruhan ke dalam suatu framework pengukuran yang strategis.
Stakeholder ini meliputi investor, customer, tenaga kerja, supplier, dan masyarakat.
Konsep pengukuran kinerja ini dikenal dengan istilah Performance Prism. ( Adam &
Neely ,2000 )
Performance Prism merupakan salah satu pengukuran kinerja yang mempunyai
lima sisi (facets) yang membentuk framework tiga dimensi berupa prisma segitiga. Sisi
ISBN : 979-99735-1-1
A-28-2
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
atas dan bawah merupakan stakeholder satisfaction dan stakeholder contribution.
Sedangkan tiga sisi yang lain adalah strategies, processes, dan capabilities.





Stakeholder satisfaction
Strategies
Process
Capabilities
Stakeholder contribution

Demikian juga dengan PT.XYZ, sebagai perusahaan yang relative baru masih
melihat dari segi financial saja dalam mengukur kinerja unit bisnisnya. Oleh sebab itu
peneliti dalam hal ini mencoba untuk mengukur kinerja unit bisnis ini tidak hanya dari
sisi financial saja tetapi juga dari aspek yang lainnya, sebab didalam usaha memperbaiki
kinerjanya, PT XYZ diperlukan suatu pengukuran kinerja yang baik dan lebih
komprehensif, yang dapat merefleksikan tujuan (objektive) tiap perspektif, baik internal
maupun eksternal. Pengukuran kinerja yang baik haruslah merupakan pengukuran yang
terintegrasi, meliputi seluruh aspek perusahaan (stakeholder) dan dapat menerjemahkan
kepuasan stakeholder dan kontribusi yang diberikannya kepada perusahaan.
Model perancangan pengukuran kinerja bisnis yang akan digunakan pada
penelitian ini adalah Performance Prism. Selain relatif masih baru, model perancangan
ini dipandang telah memberikan pengukuran yang komprehensif dan sudut pandang
yang luas, sehingga menghasilkan gambaran yang realistis mengenai penentu
kesuksesan bisnis. Selain itu, Performance Prism tidak hanya mengukur hasil akhir,
tetapi juga aktivitas-aktivitas penentu hasil akhir. Dengan demikian, pengukuran kinerja
dapat memberikan gambaran yang jelas dan nyata tentang kondisi perusahaan yang
sebenarnya.
Perumusan Masalah
Untuk mendapatkan hasil pengukuran kinerja bisnis yang optimal, maka dapat
dirumuskan permasalah dalam penelitian thesis ini dalam bentuk :
1. Indikator – indikator kinerja yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja bisnis
PT XYZ berdasarkan konsep Performance Prism .
2. Bagaimana hasil pengukuran kinerja dalam konsep Performance Prism.
3. Usaha – usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kinerja bisnis PT. XYZ
Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Mengetahui indikator – indikator kinerja yang dapat digunakan untuk mengukur
kinerja bisnis PT XYZ berdasarkan konsep Performance Prism .
2. Mengetahui hasil pengukuran kinerja dalam model Performance Prism
3. Menentukan usaha – usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kinerja bisnis
PT. XYZ.
ISBN : 979-99735-1-1
A-28-3
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
METODE
Survey Pendahuluan
Studi pustaka
Perumusan masalah
& tujuan
Penelitian
Pengumpulan data
Identifikasi Stakeholder satisfaction & Stakeholder contribution
Identifikasi tujuan ( objective ) bisnis
Identifikasi strategi, Proses dan Kapabilitas perusahaan
Identifikasi Key Performance Indicators ( KPI )
Verifikasi KPI
Pembobotan dengan metode AHP
Scoring system dengan metode OMAX
Hasil pengukuran kinerja & Traffic light system
Identifikasi tindakan perbaikan
HASIL DAN DISKUSI
Dari hasil Identifikasi stakeholder satisfaction , stakeholder contribution
diperoleh objective dari perusahaan dalam memenuhi satisfaction dari stakeholder .
Adapun tujuan bisnis dario perusahaan adalah sebagai berikut :
Stakeholder
Customer
Investor
Supplier
Objective
1. Meningkatkan kepuasan customer
2.
Meningkatkan jumlah customer
3. Mempertahankan loyalitas customer
4. Meningkatkan image perusahaan
1. Meningkatkan profit
2. Meningkatkan kemampuan daya saing (competitive advantages)
1. Meningkatkan kualitas supplier
2. Tepat waktu pengiriman oleh supplier
3. Pembayaran yang tepat waktu pada supplier
ISBN : 979-99735-1-1
A-28-4
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
Employees
Community
1. Aktivitas proses bisnis yang optimal
2. Meningkatkan kualitas / produktivitas SDM
3. Meningkatkan kepuasa & kesejahteraan karyawan
4. Menciptakan tempat kerja yang aman & nyaman
5. Meningkatkan keamanan & keselamatan kerja
6. Meningkatkan kedisiplinan karyawan
1. Menciptakan hubungan yang harmonis
2. Menjalin hubungan baik dengan keluarga karyawan
3. Meningkatkan perhatian kepada bidang pendidikan
Identifikasi dari strategi , proses dan kapasibitas perusahaan yang dapat
memberikan nilai ( value ) kepada stakeholder perusahaan sebagai berikut :
1. Mengutamakan customer dengan cara memahami kebutuhan customer, memenuhi
persyaratan customer dan berusaha melampaui harapan customer.
2. Menerapkan kepemimpinan dan keteladanan manajemen dengan wawasan yang
sama. Menciptakan hubungan kerja yang harmonis antara atasan dan bawahan,
serta sesama tenaga kerja dengan cara menumbuhkan rasa kekeluargaan dan
keakraban, sehingga tercipta suasana kerja yang menyenangkan.
3. Meningkatkan motivasi dan kemampuan kerja (produktifitas) secara individu
maupun kelompok pada semua jajaran sebagai salah satu sebagai salah orientasi
didalam pengelola aktifitas dan sumber daya sebagai suatu proses.
4. Melakukan penyempurnaan secara terus menerus pada semua unit kerja.
Pelaksanakan tindakan perbaikan dan continual improvement dapat meningkatkan
efektifitas sistem manajemen secara berkesinambungan melalui penggunaan
antara lain: pemantauan kebijakan mutu, pencapaian sasaran kerja, hasil audit
yang telah dilaksanakan.
5. Keputusan organisasi berdasarkan pada analisa data.
6. Membangun kerja sama yang saling menguntungkan tidak hanya dengan customer
tetapi juga dengan supplier.
7. Mendapatkan hasil / profit yang sebesar – besarnya melalui peningkatan penjualan
dan penekanan biaya operasional seoptimal mungkin Strategi ini bertujuan untuk
memenuhi keinginan dan kepuasan pemegang saham / investor. Dengan laba yang
maksimal, diharapkan dana investasi yang diberikan dapat kembali dan bahkan
menguntungkan perusahaan.
8. Menjaga hubungan baik dengan masyarakat disekitar pabrik terus ditingkatkan
dengan selalu proaktif berperan serta didalam kegiatan – kegiatan sosial
dimasyarakat.
Identifikasi strategi ini dilakukan untuk mengetahui apakah strategi yang
dimiliki oleh perusahaan telah dapat memberikan nilai (value) kepada stakeholders
perusahaan atau tidak. Kemudian diidentifikasi pula proses dan kapabilitas yang
dimiliki perusahaan. Identifikasi ini dibutuhkan untuk mengetahui apakah proses yang
dimiliki perusahaan dapat mendukung strategi dari perusahaan. Dan identifikasi
kapabilitas dibutuhkan untuk mengetahui seberapa besar kapasibitas yang dimiliki
perusahaan dapat melaksanakan dan memperbaiki proses untuk mendukung strategi
yang diimplementasikan.
Dari tujuan bisnis perusahaan yang telah diidentifikasi diatas, selanjutnya
dilakukan identifikasi pada Key Performance Indivcators (KPI). Setiap KPI yang
diukur atau dihitung harus dapat mengukur pencapaian tujuan (objective) perusahaan
dan mampu mengukur tingkat performansi aktivitas bisnis perusahaan. Setelah
ISBN : 979-99735-1-1
A-28-5
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
dilakukan verifikasi dari KPI yang ada, diperoleh 29 KPI yang akan digunakan dalam
mengukur kinerja perusahaan, adapun 29 KPI tersebut sebagai berikut :
PT. XYZ
Customer
Investor
Supplier
Employee
Masyarakat
KPI 1
KPI 2
KPI 3
KPI 4
KPI 5
KPI 6
KPI 7
KPI 8
KPI 9
KPI 10
KPI 11
KPI 12
KPI 13
KPI 14
KPI 15
KPI 16
KPI 17
KPI 18
KPI 19
KPI 20
KPI 21
KPI 22
KPI 23
KPI 24
KPI 25
KPI 26
KPI 27
KPI 28
KPI 29
Setelah seluruh KPI dapat dibuat formulasinya, kemudian dilakukan
pembobotan KPI dengan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP).
Hasil perkalian bobot indikator kinerja PT. XYZ dapat diinterpretasikan kedalam hirarki
kinerja.
Hasil dari pengukuran KPI dengan scoring system menggunakan metode
Objective Matrix (OMAX) ini dilengkapi dengan traffic light system untuk menentukan
tanda status dari level ( tingkat ) pencapaian KPI.
KESIMPULAN
Setelah dilakukan pembobotan dengan menggunakan metode Analytic
Hierarchy Process ( AHP ), diperoleh hasil bahwa pengaruh paling besar terhadap
kinerja perusahaan secara keseluruhan adalah KPI 10 : Earning Power pada prespektif
investor dengan bobot sebesar 19.7 %, sedangkan dari aspek kriteria stakeholder,
perspektif customer memiliki bobot terbesar dibandingkan stakeholder yang lain
sebesar 38.6 %.
Dari hasil pengukuran kinerja melalui scoring system dengan metode OMAX
diperoleh penilaian level KPI , yang digolongkan menjadi 3 tanda status berdasarkan
tingkat pencapaiannya. Dengan traffic light system ini maka rekomendasi dari tindakan
perbaikan akan didasarkan penggolongan sesaui dengan warna yang telah ditetapkan.
Ada 6 KPI yang berwana hijau, ini menandakan bahwa pencapaian kinerja telah
memenuhi bahkan melebihi target yang telah ditetapkan oleh Top management. KPI
yang berwarna kuning ada 18 KPI, ini menandakan bahwa realisasi pencapaian kinerja
belum memenuhi target yang telah ditetapkan meskipun nilainya sudah mendekati
target. Dan 5 KPI berwarna merah , ini menunjukkan bahwa realisasi pencapaian
kinerja masih jauh dibawah target yang telah ditetapkan. Dari tindakan perbaikan yang
telah direkomendasikan , pihak management perlu mengkaji lebih mendalam faktor –
faktor yang berpotensi untuk menurunkan pencapaian indikator kinerja ini dan segera
merujuk pada kebijakan strategi bisnisnya didalam rangka tindakan perbaikan untuk
meningkatkan pencapaian kinerja tahun berikutnya. Demikian juga untuk tindakan
ISBN : 979-99735-1-1
A-28-6
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
perbaikan KPI yang lainnya, pada dasarnya pihak management perlu waspada dan
bekerja lebih keras lagi intuk meningkatkan pencapaian kinerjanya.
Dari hasil pengukuran kinerja dengan metode OMAX ini pula diperoleh
penilaian level KPI secara keseluruhan sebesar 5.752 . Hasil ini menunjukkan bahwa
pencapaian kinerja perusahaan pada level warna kuning yang menandakan bahwa pihak
management tetap dituntut untuk meningkatkan pencapaian kinerjanya. Karena pada
dasarnya pencapaian kinerja tersebut masih belum memenuhi target yang ditetapkan
oleh pihak Top Management. Kebijakan tentang strategi bisnisnya dituntut untuk selalu
mengacu pada peningkatan pencapaian indikator kinerja yang tentunya didukung oleh
proses dan kapabilitas yang dimiliki perusahaan
DAFTAR PUSTAKA
Adam,C.A.,dan Neely, A.D. (2000) The New Spectrum: How the Performance Prism
Framework Helps. Centre for Business Performance. Cranfield School of
Management, United Kingdom.
http//www.som.cranfield.ac.uk/som/cbp/ThenewSpectrum.pdf
Adam,C.A.,dan Neely, A.D. (2000). Point Of View : using the Performance Prism to
Boost
the
Success
of
Mergers
&
Acquisitions.
http//www.accenture.com/xd/xd.asp?it=enweb&xd=ideas/outlook/pov/pov_pris
m.xml
Neely, A.D., Adam,C.A.,dan Crowe,P. (2000). Performance Prism in Practice. Centre
for Business Performance. Cranfield School of Management, United Kingdom.
http//www.som.cranfield.ac.uk/som/cbp/PrismInPractice.pdf
Neely, A.D., dan Kennerley, M., (2000) Performance Measurement Frameworks – A
review. Journal of Measuring Business Performance at Centre for Business
Performance, Cranfield School of Management, United Kingdom.
http//www.som.cranfield.ac.uk/som/cbp/pm2000%20paper%20%20kennerly.pdf
Neely, A.D. ,dan Adam,C.A. (2000) Perspective on Performance: The performance
Prism. Journal of Measuring Business Performance at Centre for Business
Performance, Cranfield School of Management, United Kingdom.
http//www.som.cranfield.ac.uk/som/cbp/prismarticle.pdf
Parsons,John,(2000) Productivity Measurement in The Service Sector. Report on the
APO Symposium on Productivity Measurement in The Service Sector, Kuala
Lumpur,Malaysia 1 -4 Agust 2000
http://www.apo-tokyo.org/ooe_books/is-12_ProdMeasure/02.parson1.
prod.
meas
ISBN : 979-99735-1-1
A-28-7
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
ISBN : 979-99735-1-1
A-28-8
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
ISBN : 979-99735-1-1
A-28-9
Download